Anda di halaman 1dari 19

REFERAT

INSOMNIA

Disusun Oleh :
Riezky Yudha Dewanty
20110310097

Diajukan Kepada :
Dr. Y. Kristiyanta, Sp.Kj

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA


RSUD SARAS HUSADA PURWOREJO
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

BAB I
PENDAHULUAN

I.

Latar Belakang
Insomnia adalah gejala kelainan dalam tidur berupa

kesulitan berulang untuk tidur atau mempertahankan tidur


walaupun ada kesempatan untuk itu.1 Gejala tersebut biasanya
diikuti gangguan fungsional saat bangun dan beraktivitas di siang
hari. Insomnia umumnya merupakan kondisi sementara atau
jangka pendek. Dalam beberapa kasus, insomnia dapat menjadi
kronis. Hal ini sering disebut sebagai gangguan penyesuaian tidur
karena paling sering terjadi dalam konteks situasional stres akut,
seperti pekerjaan baru atau menjelang ujian. Insomnia ini
biasanya hilang ketika stressor hilang atau individu telah
beradaptasi dengan stressor. Namun, insomnia sementara sering
berulang ketika tegangan baru atau serupa muncul dalam
kehidupan pasien.3
Insomnia merupakan salah satu faktor risiko depresi dan
gejala dari sejumlah gangguan medis, psikiatris, dan tidur.
Bahkan,
gangguan,

insomnia

tampaknya

termasuk

depresi,

menjadi

prediksi

kecemasan,

sejumlah

ketergantungan

alkohol, ketergantungan obat, dan bunuh diri.


Insomnia jangka pendek berlangsung selama 1-6 bulan.
Hal ini biasanya berhubungan dengan faktor-faktor stres yang
persisten, dapat situasional (seperti kematian atau penyakit) atau
lingkungan (seperti kebisingan). Insomnia kronis adalah setiap
insomnia yang berlangsung lebih dari 6 bulan. Hal ini dapat

dikaitkan dengan berbagai kondisi medis dan psikiatri biasanya


pada

pasien

dengan

predisposisi

yang

mendasari

untuk

insomnia.3
Meskipun kurang tidur, banyak pasien dengan insomnia
tidak mengeluh mengantuk di siang hari. Namun, mereka
mengeluhkan rasa lelah dan letih, dengan konsentrasi yang
buruk. Hal ini mungkin berkaitan dengan keadaan fisiologis
hyperarousal. Bahkan, meskipun tidak mendapatkan tidur cukup,
pasien dengan insomnia seringkali mengalami kesulitan tidur
bahkan untuk tidur siang.
Insomnia

kronis

juga

memiliki

kesehatan seperti berkurangnya

banyak

konsekuensi

kualitas hidup, sebanding

dengan yang dialami oleh pasien dengan kondisi seperti diabetes,


arthritis, dan penyakit jantung. Kualitas hidup meningkat dengan
pengobatan tetapi masih tidak mencapai tingkat yang terlihat
pada populasi umum. Selain itu, insomnia kronis dikaitkan
dengan terganggunya kinerja pekerjaan dan sosial.
II.

Tujuan dan Manfaat


1) Tujuan
Untuk mengetahui lebih dalam tentang insomnia
2) Manfaat
Untuk membantu memahami pola gangguan tidur insomnia dan sebagai
proses belajar bagi penulis.

BAB II
ISI

I.

Fisiologi Tidur
Semua makhluk hidup mempunyai irama kehidupan yang

sesuai dengan beredarnya waktu dalam siklus 24 jam. Irama


yang seiring dengan rotasi bola dunia disebut sebagai irama
sirkadian1,4.
Tidur tidak dapat diartikan sebagai meanifestasi proses
deaktivasi sistem Saraf Pusat. Saat tidur, susunan saraf pusat
masih bekerja dimana neuron-neuron di substansia retikularis
ventral batang otak melakukan sinkronisasi.
Bagian susunan saraf pusat yang mengadakan kegiatan
sinkronisasi terletak pada substansia ventrikulo retikularis batang
otak yang disebut sebagai pusat tidur (sleep center). Bagian
susunan

saraf

pusat

yang

menghilangkan

sinkronisasi/desinkronisasi terdapat pada bagian rostral batang


otak disebut sebagai pusat penggugah (arousal center).
Tidur dibagi menjadi 2 tipe, yaitu:
1. Tipe Rapid Eye Movement (REM)
2. Tipe Non Rapid Eye Movement (NREM)
Fase awal tidur didahului oleh fase NREM yang terdiri dari 4
stadium, kemudian diikuti oleh fase REM. Keadaan tidur normal
antara fase NREM dan REM terjadi secara bergantian antara 4-6
kali siklus semalam.
Tidur NREM yang meliputi 75% dari keseluruhan waktu tidur,
dibagi dalam empat stadium, antara lain:

1) Tidur Stadium 1
Fase ini merupakan antara fase terjaga dan fase awal tidur.
Fase ini didapatkan kelopak mata tertutup, tonus otot
berkurang dan tampak gerakan bola mata kekanan dan kekiri.
Fase ini hanya berlangsung 3-5 menit dan mudah sekali
dibangunkan.

Gambaran

Elektro

Ensefalo

Gram

(EEG)

biasanya terdiri dari gelombang campuran alfa, beta, dan


kadang gelombang theta dengan amplitude yang rendah.
Tidak didapatkan adanya gelombang sleep spindle dan
kompleks K.
2) Tidur Stadium 2
Pada fas ini didapatkan bola mata berhenti bergerak, tonus
otot masih berkurang, tidur lebih dalam dari pada fase
pertama. Gambaran EEGterdiri dari gelombang theta simetris.
Terlihat adanya gelombang sleep spindle, gelombang vortex
dan kompleks K.
3) Tidur Stadium 3
Fase ini tidur lebih dalam dari fase sebelumnya. Gambaran
EEG terdapat lebih banyak gelombang delta simetris antara
25%-50% serta tampak gelombang sleep spindle.
4) Tidur Stasium 4
Merupakan tidur yang dalam serta suka dibangunkan.
Gambaran EEG didominasi oleh gelombang delta sampai 50%
tampak gelombang sleep spindle.
Fase tidur NREM biasanya berlangsung antara 70-100 menit,
setelah itu akan masuk ke fase REM.
Pola tidur REM ditandai adanya gerakan bola mata yang
cepat, tonus otot yang sangat rendah, apabila dibangunkan
hamper semua organ akan dapat menceritakan mimpinya,
denyut nadi bertambah dan pada laki-laki terjadi ereksi penis,
tonus otot menunjukkan relaksasi yang dalam.

Pada saat tidur aktif atau REM inilah seseorang mengalami


mimpi yang sebagian vesar tidak akan diingat pada saat bangun
tidur.

Kita

juga

mngalami

imobilitas

yaitu

tidak

dapat

menggerakan otot-otot kita. Hal ini berguna agar kita tidak


brgerak

sesuai

mimpi

kita

sehingga

membahayakan

kita.

Biasanya seseorang mengalami mimpi kira-kira 90 menit sekali


dalam sebuah siklus tidur.
Pola siklus tidur dan bangun adalah bangun sepanjang hari
saat cahaya terang dan tidur sepanjang malam saat gelap. Jadi
faktor kunci adalah adanya perubahan gelap dan terang.
Stimulasi

cahaya

terang

akan

masuk

melalui

mata

dan

mempengaruhi suatu bagian di hipotalamus yang disebut nucleus


supra chiasmatic (NSC). NSC akan mengeluarkan neurotransmiter
yang mempengaruhi pengeluaran berbagai hormon pengatur
temperatur badan, kortisol, growth hormone, dan lain-lain yang
memegang peranan untuk bangun tidur. NSC bekerja seperti jam,
meregulasi segala kegiatan bangun tidur. Jika pagi hari cahaya
terang

masuk,

NSC

segera

mengeluarkan

hormon

yang

menstimulasi peningkatan temperatur badan, kortisol dan GH


sehingga orang terbangun. Jila malam tiba, NSC merangsang
pengeluaran hormon melatonin sehingga orang mengantuk dan
tidur. Melatonin adalah hormon yang diproduksi oleh glandula
pineal. Saat hari mulai gelap, melatonin dikeluarkan dalam darah
dan

akan mempengaruhi terjadinya relaksasi serta penurunan

temperatur badan dan kortisol. Kadar melatonin dalam darah


mulai meningkat pada jam 9 malam, terus meningkat sepanjang
malam dan menghilang pada jam 9 pagi.5
II.

Definisi Insomnia

Menurut DSM-IV, Insomnia didefinisikan sebagai keluhan


dalam hal kesulitan untuk memulai atau mempertahankan tidur
atau tidur non-restoratif yang berlangsung setidaknya satu bulan
dan menyebabkan gangguan signifikan atau gangguan dalam
fungsi individu. The International Classification of Diseases
mendefinisikan

Insomnia

sebagai

kesulitan

memulai

atau

mempertahankan tidur yang terjadi minimal 3 malam/minggu


selama

minimal

satu

bulan.

Menurut

The

International

Classification of Sleep Disorders, insomnia adalah kesulitan tidur


yang terjadi hampir setiap malam, disertai rasa tidak nyaman
setelah episode tidur tersebut. Jadi, Insomnia adalah gejala
kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang untuk tidur atau
mempertahankan

tidur

walaupun

ada

kesempatan

untuk

melakukannya. Insomnia bukan suatu penyakit, tetapi merupakan


suatu gejala yang memiliki berbagai penyebab, seperti kelainan
emosional, kelainan fisik dan pemakaian obat-obatan. Insomnia
dapat mempengaruhi tidak hanya tingkat energi dan suasana
hati tetapi juga kesehatan, kinerja dan kualitas hidup.
III.

Patofisiologi Insomnia
Keadaan jaga atau bangun sangat dipengaruhi oleh sistim

ARAS (Ascending Reticulary Activity System). Bila aktifitas ARAS


ini meningkat orang tersebut alam keadaan tidur. Aktifitas ARAS
menurun, orang tersebut akan dalam keadaan tidur. Aktifitas
ARAS ini sangat dipengaruhi oleh aktifitas neurotransmitter
seperti

system

serotoninegrik,

histaminergik.
System Serotoninergik

noradrenergic,

kholonergik,

Serotonin,

yang

dikenal

juga

dengan

nama

5-

hidroksitriptamin (5-HT) merupakan salah satu neurotransmitter


yang memgang peranan penting dalam mood, presepsi terhadap
rasa sakit, aktivitas sadar seperti makan, siklus bangun-tidur
aktivitas motorik, perilaku seksual, dan regulasi temperature
tubuh. Serotonin berasal dari asam amino trypthopan, serotonin
juga dapat dikonversi oleh otak menjadi melatonin.7,8
Hasil serotonegrik sangat dipengaruhi oleh
metabolism

asam

amino

trypthopan.dengan

hasil

bertambahnya

jumlah tryptopan, maka jumlah serotonin yang terbentuk juga


meningkat akan menyebabkan keadaan mengantuk/tidur. Bila
serotonin dari tryptopan terhambat pembentukannya, maka
terjadi keadaan tidak bias tidur/jaga. Lokasi yang terbanyak
system serotonegrik ini terletak pada nucleus raphe dorsalis di
batang otak, yang mana terdapat hubungan aktifitas serotonis
dinukleus raphe dorsalis dengan tidur REM.
System Adrenergik
Neuron-neuron yang terbanyak mengandung norepineprin
terletak dibadan sel nucleus cereleus di batang otak. Walaupun
dalam jumlah sedikit, neuron noradrenergic sangat penting. NE
memegang peranan penting dalam kewaspadaan, pembakaran di
lokus cereleus meningkatkan sepanjang spectrum dari keadaan
mengantuk

menjadi

waspada,

dengan

keadaan

terendah

ditemukan ketika tidur dan tertinggi ketika dalam keadaan


berjaga-jaga.

Norepineprin

memiliki

peranan

utama

dalam

regulasi mood, kecemasan, dan kewaspadaan. Kerusakan sel


neuron pada lokus cereleus sangat mempengaruhi penurunan
atau hilangnya REM tidur. Obat-obatan yang mempengaruhi

peningkatan

aktifitas

noradrenergic

akan

menyebabkan

penurunan yang jelaspada tidur REM dan peningkatan keadaan


jaga.
System kolinergik
Ada berbagai reseptor kolinergik yaitu reseptor nikotinik
dan reseptor muskarinik. Reseptop nikotinik yang terdapat di
ganglia otonom, adrenal medulla dan SSP disebut reseptor
nikotinik neuronal dan yang diotot disebut reseptor nikotinik otot.
Asetilkolin

berperan

dalam

transmisi

neurohormonal

pada

beberapa bagia otak dan Ach hanya merupakan salh satu


transmitter

dalam

SSP.

Stimulasi

jalur

kolinergik

ini,

mengakibatkan aktifitas gambaran EEG seperti dalam keadaan


jaga. Gangguan aktifitas kolinergiksentral yang berhubungan
dengan perubahan tidur ini terlihat pada orang depresi, sehingga
terjadi pemendekkan latensi tidur REM.
System histaminergik
Histamine tidak hanya pada alergi. Walaupun histamine
dikeluarkan dari sel mast sebagai bagian dari reaksi alergi di
perifer, pada otak histamine terlibat dalam perhatian dan
waspada. Kebanyakan dari bodi sel memulai dari nucleus
tuberomammilari hipotalamus posterior, jarang tetapi menyebar
luas ke semua daerah otak dan medulla spinalis. Ketika binatang
dalam keadaan bahaya histamine akan meningkat, dan histamine
berkurang ketika binatang sedang tidur.
IV.
Etiologi Insomnia
1) Faktor Ekstrinsik
Misalnya cahaya, kebisingan, hygiene, suhu, kelembaban dan
perubahan lingkungan sekitar atau jadwal kerja. Kelelahan

akibat perjalanan jauh atau pergeseran waktu kerja dapat


menyebabkan terganggunya irama sirkadian tubuh, sehingga
sulit untuk tidur. Ritme sirkadian bertindak sebagai jam
internal, mengatur siklus tidur-bangun, metabolisme, dan
suhu tubuh
2) Faktor Intrinsik
a. Stres. Kekhawatiran tentang pekerjaan, kesehatan, sekolah,
atau keluarga dapat membuat pikiran menjadi aktif di
malam hari, sehingga sulit untuk tidur. Peristiwa kehidupan
yang penuh stres, seperti kematian atau penyakit dari
orang yang dicintai, perceraian atau kehilangan pekerjaan,
dapat menyebabkan insomnia.
b. Kecemasan & Depresi. Hal
ketidakseimbangan

kimia

ini

dalam

mungkin
otak

disebabkan

atau

karena

kekhawatiran yang menyertai depresi.


c. Kondisi Medis. Jika seseorang memiliki gejala nyeri kronis,
kesulitan bernapas dan sering buang air kecil, kemungkinan
mereka

untuk

mengalami

insomnia

lebih

besar

dibandingkan mereka yang tanpa gejala tersebut. Kondisi


ini dikaitkan dengan insomnia akibat artritis, kanker, gagal
jantung,

penyakit

paru-paru,

gastroesophageal

reflux

disease (GERD), stroke, penyakit Parkinson dan penyakit


Alzheimer.
3) Faktor Iatrogenik
a. Obat-obatan. Beberapa resep obat dapat mempengaruhi
proses tidur, termasuk beberapa antidepresan, obat jantung
dan tekanan darah, obat alergi, stimulan (seperti Ritalin)
dan kortikosteroid.
b. Kafein, nikotin dan alkohol. Kopi, teh, cola dan minuman
yang mengandung kafein adalah stimulan yang terkenal.

Nikotin merupakan stimulan yang dapat menyebabkan


insomnia. Alkohol adalah obat penenang yang dapat
membantu seseorang jatuh tertidur, tetapi mencegah tahap
lebih dalam tidur dan sering menyebabkan terbangun di
tengah malam.
V.
Klasifikasi Insomnia
1) Berdasarkan penyebab
a. Insomnia primer
Insomnia yang tidak berhubungan dengan gangguan
mental atau factor organic.
b. Insomnia sekunder
Insomnia yang berhubungan dengan gangguan mental
atau factor organic.
2) Berdasarkan onset
a. Transient insomnia
Yang berlangsung selama beberapa hari, short term
insomnia yang berlangsung selama 1-3 minggu.
b. Chronic insomnia
Yang berlangsung selama lebih dari 3 minggu.
c. Transient and short term insomnia
Berhubungan erat dengan factor presipitasi, misalnya
stressor social.
d. Chronic insomnia
Biasanya bersifat kompleks dan hubungannya dengan
suatu factor presipitasi tidak jelas. Factor presispitasinya
mungkin

muncul

berbulan-bulan

atau

bertahun-tahun

sebelum timbulnya keluhan insomnia.


3) Berdasarkan bentuknya (pattern of insomnia)
a. Difficulty in initiating sleep (DIS)
Sleep onset insomnia, yaitu sulit masuk tidur.
b. Difficulty in maintaining sleep (DSM)
Sleep maintenance insomnia, yaitu bias tidur tapi sering
kebangun.
c. Early morning waking, without further sleep (EMW)

Sleep onset insomnia, yaitu dengan terbangun dini hari


dan sulit tidur lagi.
VI. Penatalaksanaan
1) Non Farmakoterapi
a. Terapi Tingkah Laku
Terapi tingkah laku bertujuan untuk mengatur pola tidur yang
baru dan mengajarkan cara untuk menyamankan suasana
tidur. Terapi tingkah laku ini umumnya direkomendasikan
sebagai terapi tahap pertama untuk penderita insomnia.
Terapi tingkah laku meliputi :
-

Edukasi tentang kebiasaan tidur yang baik.


Teknik Relaksasi.
Meliputi merelaksasikan otot secara progresif, membuat
biofeedback, dan latihan pernapasan. Cara ini dapat
membantu mengurangi kecemasan saat tidur. Strategi ini
dapat membantu Anda mengontrol pernapasan, nadi,

tonus otot, dan mood.


Terapi kognitif.
Meliputi merubah pola pikir dari kekhawatiran tidak tidur
dengan pemikiran yang positif. Terapi kognitif dapat

dilakukan pada konseling tatap muka atau dalam grup.


Restriksi Tidur.
Terapi ini dimaksudkan untuk mengurangi waktu yang
dihabiskan di tempat tidur yang dapat membuat lelah

pada malam berikutnya.3,6


Kontrol stimulus
Terapi ini dimaksudkan untuk membatasi waktu yang
dihabiskan untuk beraktivitas.

Instruksi dalam terapi stimulus-kontrol:8

Gunakan tempat tidur hanya untuk tidur, tidak untuk

membaca, menonton televisi, makan atau bekerja.


Pergi ke tempat tidur hanya bila sudah mengantuk. Bila
dalam waktu 20 menit di tempat tidur seseorang tidak
juga bisa tidur, tinggalkan tempat tidur dan pergi ke
ruangan lain dan melakukan hal-hal yang membuat santai.
Hindari menonton televisi. Bila sudah merasa mengantuk
kembali ke tempat tidur, namun bila alam 20 menit di
tempat tidur tidak juga dapat tidur, kembali lakukan hal
yang membuat santai, dapat berulang dilakukan sampat

seseorang dapat tidur.


Bangun di pagi hari
mengindahkan

pada

berapa

jam

lama

yang

tidur

sama
pada

tanpa
malam

sebelumnya. Hal ini dapat memperbaiki jadwal tidur-

bangun (kontrol waktu).


Tidur siang harus dihindari.

b. Gaya hidup dan pengobatan di rumah


Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi insomnia
:
-

Mengatur jadwal tidur yang konsisten termasuk pada hari


libur

Tidak berada di tempat tidur ketika tidak tidur.

Tidak memaksakan diri untuk tidur jika tidak bisa.

Hanya menggunakan tempat tidur hanya untuk tidur.

Relaksasi

sebelum

tidur,

seperti

mandi

air

hangat,

membaca, latihan pernapasan atau beribadah


-

Menghindari atau membatasi tidur siang karena akan


menyulitkan tidur pada malam hari.

Menyiapkan suasana nyaman pada kamar untuk tidur,


seperti menghindari kebisingan

Olahraga dan tetap aktif, seperti olahraga selama 20


hingga 30 menit setiap hari sekitar lima hingga enam jam
sebelum tidur.

Menghindari kafein, alkohol, dan nikotin

Menghindari makan besar sebelum tidur

Cek kesehatan secara rutin

Jika terdapat nyeri dapat digunakan analgesik1,2,3,6

2) Farmakologi
Pengobatan insomnia secara farmakologi dibagi menjadi dua
golongan yaitu benzodiazepine dan non-benzodiazepine.
a. Benzodiazepine (Nitrazepam,Trizolam, dan Estazolam)
b. Non benzodiazepine (Chloral-hydrate, Phenobarbital)

Pemilihan obat, ditinjau dari sifat gangguan tidur :


-

Initial Insomnia (sulit masuk ke dalam proses tidur)

Obat yang dibutuhkan adalah bersifat Sleep inducing antiinsomnia yaitu golongan benzodiazepine (Short Acting).
-

Misalnya pada gangguan anxietas.


Delayed Insomnia (proses tidur terlalu cepat berakhir dan
sulit masuk kembali ke proses tidur selanjutnya)
Obat yang dibutuhkan adalah bersifat Prolong latent
phase

Anti-Insomnia,

yaitu

golongan

heterosiklik

antidepresan (Trisiklik dan Tetrasiklik). Misalnya pada


-

gangguan depresi.
Broken Insomnia (siklus proses tidur yang normal tidak
utuh

dan

terpecah-pecah

menjadi

beberapa

bagian

(multiple awakening).
Obat yang dibutuhkan adalah bersifat Sleep Maintining
Anti-Insomnia,

yaitu

golongan

phenobarbital

atau

golongan benzodiazepine (Long acting). Misalnya pada


gangguan stres psikososial.
Pengaturan Dosis
-

Pemberian tunggal dosis anjuran 15 sampai 30 menit

sebelum pergi tidur.


Dosis awal dapat dinaikkan sampai mencapai dosis efektif
dan

dipertahankan

secepatnya
-

off

1-2

(untuk

minggu,

kemudian

mencegah

timbulnya

rebound dan toleransi obat)


Pada usia lanjut, dosis harus lebih kecil dan peningkatan
dosis

tapering

sampai

lebih

perlahan-lahan,

untuk

menghindari

oversedation dan intoksikasi


Ada laporan yang menggunakan antidepresan sedatif
dosis kecil 2-3 kali seminggu (tidak setiap hari) untuk
mengatasi insomnia pada usia lanjut

Lama Pemberian
-

Pemakaian

obat

antiinsomnia

sebaiknya

sekitar

1-2

minggu saja, tidak lebih dari 2 minggu, agar resiko


ketergantungan kecil. Penggunaan lebih dari 2 minggu
dapat menimbulkan perubahan Sleep EEG yang menetap
-

sekitar 6 bulan lamanya.


Kesulitan pemberhetian

obat

seringkali

oleh

karena

Psychological Dependence (habiatuasi) sebagai akibat


rasa nyaman setelah gangguan tidur dapat ditanggulangi.

BAB III
PENUTUP

I.

Kesimpulan
Insomnia merupalan kesulitan untuk masuk tidur, kesulitan

dalam mempertahankan tidur, atau tidak cukup tidur. Insomnia


merupakan gangguan fisiologis yang cukup serius, dimana
apabila tidak ditangani dengan baik dapat mempengaruhi
kinerja dan kehidupan sehari-hari.
Insomnia dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti
stres, kecemasan berlebihan, pengaruh makanan dan obatobatan, perubahan lingkungan, dan kondisi medis. Insomnia
didiagnosis dengan melakukan penilaian terhadap pola tidur
penderita, pemakaian obat-obatan, alkohol, atau obat terlarang,
tingkatan stres psikis, riwayat medis, aktivitas fisik, dan
kebutuhan tidur secara individual.
Insomnia dapat ditatalaksana dengan cara farmakologi dan
non farmakologi, bergantung pada jenis dan penyebab insomnia.
Obat-obatan

yang

biasanya

digunakan

untuk

mengatasi

insomnia dapat berupa golongan benzodiazepin (Nitrazepam,


Trizolam, dan Estazolam), dan non benzodiazepine (Chloralhydrate,

Phenobarbital).

Tatalaksana

insomnia

secara

non

farmakologis dapat berupa terapi tingkah laku dan pengaturan


gaya hidup dan pengobatan di rumah seperti mengatur jadwal
tidur.

DAFTAR PUSTAKA
1. Kaplan, H.I, Sadock BJ. 2010. Kaplan dan Sadock Sinopsis
Psikiatri. Ed: Wiguna, I Made. Tangerang: Bina Rupa Aksara
Publisher
2. American Academy of Sleep Medicine. ICSD2 - International
Classification of Sleep Disorders. American Academy of Sleep
Medicine Diagnostic and Coding Manual . Diagnostik dan
Coding Manual. 2nd. 2. Westchester, Ill: American Academy of
Sleep Medicine; 2005:1-32.
3. Zeidler, M.R. 2011. Insomnia. Editor: Selim R Benbadis.
(http://www.emedicina.medscape.com/article/1187829.com)
4. Tomb, David A. 2004. Buku Saku Psikiatri Ed 6. Jakarta: EGC
5. Sudoyo. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat
Penerbitan

Departemen

Ilmu

Penyakit

Dalam

Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia.


6. Insomnia.
(http://www.mayoclinic.com/health/insomnia/DS00187/DSECTI
ON=alternative-medicine)
7. Hazzard. 2009. Hazzards Geriatric Medicine and Gerontology
6th ed. New York: McGraw-Hill.

8. Maslim, Rusdi. 2001. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat

Psikotropik. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika


Atmajaya.