Anda di halaman 1dari 19

TUGAS BESAR DINDING, KOLOM DAN BALOK

PEMBAHASAN
1. Dinding
1.1

Pengertian Dinding
Menurut Ir. Tono Setiadi dinding merupakan salah satu elemen vertikal/tegak bangunan,
berupa bidang, dan berfungsi sebagai penutup atau batas ruangan.
Pengertian dinding dalam kamus besar bahasa indonesia adalah penutup sisi samping
(penyekat) ruang, rumah, bilik, dsb (dibuat) dr papan, anyaman bambu, tembok.
Definisi lain juga mengatakan dinding adalah bagian dari bangunan yang berfungsi
sebagai pemisah antara ruangan luar dengan ruangan dalam, melindungi terhadap intrusi dan
cuaca, penyokong atap dan sebagai pembatas ruangan satu dengan ruangan lainnya, berfungsi
pula sebagai penahan cahaya panas dari matahari, menahan tiupan angin dari luar, dan untuk
menghindari gangguan binatang atau templas. Tiga jenis utama dinding struktural adalah
dinding bangunan, dinding pembatas (boundary), serta dinding penahan (retaining).

1.2
a.

Dinding perlu ditinjau dari segi konsepsi :


Struktural :
Menelaah kondisi pembebanan dan memanfaatkan memecahkan dengan tepat dan ekonomis.
Aspek yang ditinjau :
Hirarkhi pembebanan, kwalitas dan kwantitas beban pengaruh structural terhadap elemen
lain.

b. Fisikal :
Untuk memanfaatkan dan memelihara kondisi alamiah yang terjadi.
Aspek peninjauan :
Pengaruh klimatikal, masalah akustikal, keamanan fisik dan psikologik, kesehatan/
keselamatan dan faktor pemeliharaan.
c.

Arsitektual :

Kemungkinan optimasi penampilan fungsional dan aspek visual dan emosional.


Aspek peninjauan :
Tata letak dan optimasi nilai-nilai estatik keruangan, warna, pola, tekstur, keharmonisan
hubungan dengan elemen lain.
1.3

Dinding, bahan dan persyaratannya.

a.

Struktural ( memikul beban )

Bahan : - Batu alam ( min. tebal 30 cm )


Batu buatan ( min. 1 batu )

Beban merata/ terpusat, atau gabungan

Beton bertulang ( min. tebal 10 cm )


Bahan harus cukup kaku dan kokoh

b. Non struktural (tidak memikul beban lain, kecuali berat sendiri).


-

Bahan : - Batu alam


Batu buatan ( bata, teraso, blok beton )

Kayu ( papan, kayu lapis/plywood )

Metal ( baja, seng, aluminium )

Plastik

Kaca

Gabungan
Dinding pengisi/penyekat/penutup
Beban
Kolom

1.4

Fungsi Dinding

Secara umum dinding berfungsi :


a).

Sebagai pemikul beban diatasnya.

b). Sebagai pembatas ruang, mempunyai sifat : Privasi, Indah dan bagus dalam skala, warna,
tekstur, Dapat dibuat transparan, Sebagai peredam terhadap bunyi baik dari dalam maupun
dari luar
c). Pelindung terhadap gangguan dari luar (sinar matahari, Isolasi terhadap suhu, air hujan dan
kelembapan, hembusan angin, dan gangguan dari luar lainnya).

Fungsi Dinding dilihat dari Nilai Kenyamanan, Kesehatan dan Keamanan :


a).

Sebagai pemisah antar ruangan

b).

Sebagai pemisah ruang yang bersifat probadi, dan bersifat umum

c). Sebagai penahan cahaya, angin, hujan, banjir dan lain-lain yang bersumber dari alam
d). Sebagai pembatas dan penahan struktur (untuk fungsi tertentu seperti dinding, lift, resovoar dan
lain-lain)
e). Sebagai penahan kebisingan untuk ruang yang memerlukan ambang kekedapan suara tertentu
seperti studio rekaman atau studio siaran
f). Sebagai penahan radiasi sinar atau zat-zat tertentu seperti pada ruang radiologi, ruang operasi,
laboratorium, dan lain-lain
g). Sebagai fungsi artistik tertentu dan penyimpan surat-surat berharga seperti brankas di bank dan
lain-lain,
Fungsi Dinding Menurut Konstruksi :
a).

Dinding berfungsi sebagai pemikul. Itulah sebabnya konstruksinya harus kuat dan kokoh agar
mampu menahan beban super struktur, bebannya sendiri serta beban horizontal.

b). Dinding berfungsi sebagai pembatas/partisi, tidak perlu kokoh tetapi harus kaku sehingga perlu
kolom penguat ( kolom praktis ).
1.5

Bahan-Bahan Dinding
Adapun bahan-bahan dinding yaitu :
Macam Bahan

Keterangan

Dinding
Batu Bata

Pemasangan dinding menggunakan adukan


(spesi) dari campuran semen (PC) dengan pasir
yang dicampur air, dengan ukuran 1:5.
Kemudian kedua belah sisi dinding dilapis
dengan plesteran.

Bata Pres

Pembuatannya menggunakan cetakan yang


dipres secara maksimal, dan dibakar dengan
tungku khusus, dengan panas yang tinggi.
Ukuran harus tepat sehingga pemasangannya

Batako

tidak perlu diadakan plesteran.


Dari bahan tanah tras (batu cadas dan gamping),

Beton Blok

atau campuran semen dengan pasir


Berguna untuk mengurangi kebisingan suara

Selcon

yang datangnya dari luar tembok.


Berbahan beton ringan, ukurannya besar dan
biasa digunakan untuk dinding bangunan tinggi

Beton/Bata

(karena bobotnya ringan).


Membentuk lubang-lubang yang menerawang

Kerawang

tembus padang, tidak boleh menerima beban dari


atas karena mempunyai sifat sebagai dinding

1.6

Blok Kaca (Glass

pemisah saja.
Transparan, tembus cahaya tetapi tidak tembus

Block)

pandang

Macam Macam Dinding


Macam-macam dinding menurut bahan pembuatannya :

a) Dinding Batu.
Daya tahan yang kuat, rembesan air, kelembaban, dan tahan cuaca tapi pengerjaannya sulit.
1. Batu Bata.
Batu bata merah dibuat dari tanah liat yang dicetak, kemudian dibakar. Tidak semua tanah
lihat bisa digunakan. Hanya yang terdiri dari kandungan pasir tertentu.
Umumnya memiliki ukuran: panjang 17 23 cm, lebar 7 11 cm, tebal 3 5 cm.
Berat rata-rata 3 kg/biji (tergantung merek dan daerah asal pembuatannya).
Kelebihan dinding bata merah:

Kedap air, sehingga jarang terjadi rembesan pada tembol akibat air hujan

Keretakan relatif jarang terjadi.

Kuat dan tahan lama.

Penggunanaan rangka beton pengakunya lebih luas, antara 9 12 m2.


Kekurangan dinding bata merah:

Waktu pemasangan lebih lama dibandingkan batako dan bahan dinding lainnya.

Biaya lebih tinggi.


2. Batako Putih (Tras)

Batako putih dibuat dari campuran tras, batu kapur, dan air. Campuran tersebut dicetak, lalu
dibakar. Tras merupakan jenis tanah berwarna putih / putih kecoklatan yang berasal dari
pelapukan batu-batu gunung berapi.
Umumnya memiliki ukuran panjang 25 30 cm, tebal 8 10 cm, dan tinggi 14 18 cm.
Kelebihan dinding batako putih:

Pemasangan relatif lebih cepat.

Harga relatif murah.

Kekurangan dinding batako putih:

Rapuh dan mudah pecah.

Menyerap air sehingga dapat menyebabkan tembok lembab.

Dinding mudah retak.


3. Batako Semen Pc / Batako Pres
Batako pres dibuat dari campuran semen PC dan pasir atau abu batu.
Ada yang dibuat secara manual (menggunakan tangan), ada juga yang menggunakan mesin.
Perbedaannya bisa dilihat pada kepadatan permukaan batakonya.
Umumnya memiliki ukuran panjang 36 40 cm, tebal 8 10 cm, dan tinggi 18 20 cm.
Kelebihan dinding batako pres:

Kedap air sehingga sangat kecil kemungkinan terjadinya rembesan air.

Pemasangan lebih cepat

Penggunaan rangka beton pengakunya lebih luas, antara 9 12 m2.


Kekurangan dinding batako pres:

Harga relatif lebih mahal dibanding batako tras.

Mudah terjadi retak rambut pada dinding.

Mudah dilubangi karena terdapat lubang pada bagian sisi dalamnya.


4. Bata Ringan (Hebel/Celcon)
Bata hebel dibuat dengan mesin di pabrik. Bata ini cukup ringan, halus, dan memiliki tingkat
kerataan yang baik.
Bisa langsung diberi aci tanpa harus diplester terlebih dulu, dengan menggunakan semen
khusus. Bahan dasar acian/semen tersebut adalah pasir silika, semen, filler, dan zat aditif.

Untuk menggunakannya, semen ini hanya dicampur dengan air. Tetapi bisa juga
menggunakan bahan seperti pemasangan batako.
Umumnya memiliki ukuran 60 cm x 20 cm dengan ketebalan 8 cm 10 cm.
Kelebihan dinding bata hebel/celcon:

Kedap air sehingga sangat kecil kemungkinan terjadinya rembesan air.

Pemasangan lebih cepat.

Penggunaan rangka beton pengakunya lebih luas, antara 9 12.

Ringan, tahan api, dan mempunyai kekedapan suara yang baik.


Kekurangan dinding batahebel/celcon:

Harga relatif lebih mahal.

Tidak semua tukang pernah memasang bata jenis ini.

Hanya toko material besar yang menjual dan penjualannya dalam jumlah m3.

b) Dinding Tipis (Dinding Partisi).


Digunakan sebagai penyekat atau sebagai tirai pada bangunan. Bisa terbuat dari
beton, aluminium, plastic dan kayu.
Membuat Dinding Partisi
Ruangan menjadi luas atau terbagibagi dapat diakali dengan partisi unik yang menyerupai
dinding. Berikut cara membuat nya;
1. Tentukan model partisi yang diinginkan. Kini ada banyak variasi untuk menyamarkan
ruangan, partisi dapat menyerupai dinding utuh dengan modifikasi material atau partisi yang
menyerupai lemari untuk menyimpan barang.
2. Ukur jarak antar ruang yang akan ditutupi. Sebaik nya sewaktu membagi ruang didukung
oleh struktur dinding, sehingga partisi akan terlihat seperti dinding sungguhan.
3. Pilih material sesuai dengan kebutuhan, lalu buat rangka struktur partisi dengan
menggunakan material tersebut.
4. Setelah partisi terbentuk, beri finishing warna yang sesuai dengan warna kusen dan pintu
5. Langkah terakhir, pasang pintu pada ruang yang telah ditentukan. Untuk menyamarkan pintu,
handel dapat dipasang pada satu sisi, yakni bagian dalam.
6. Jika dinding pintu partisi memiliki jarak yang cukup lebar, meja kecil dapat menjadi
penghias sebagian pintu. Melalui cara ini, sebagian orang akan mengira bahwa partisi yang
dibuat adalah dinding.
7. Agar tampil lebih cantik, berikan sejumlah lampu sorot pada titik tertentu.

Papan gypsum

Papan gypsum adalah salah satu produk jadi setelah raw material gypsum diolah melalui
proses pabrik. Papan gypsum digunakan sebagai salah satu elemen dari dinding partisi dan
plafon. Dulu sebelum papan gypsum popular, masyarakat menggunakan triplek sebagai
bahan penutup plafon. Saat ini triplek menjadi material yang cukup mahal dikarenakan bahan
baku pembuat triplek tersebut sudah sangat sulit didapat. Gipsum merupakan alternative yang
tepat untuk menggantikan triplek, sayangnya masih banyak masyarakat yang belum melihat
manfaat dari papan gypsum.
Perbandingan antara Papan Gipsum dan Triplek
Tahan api
Tahan kelembaban
Tahan benturan
Mudah diperbaiki
Harga untuk ketebal

Papan Gipsum
Ya
Ya
Ya
Ya
Lebih Murah

Triplek
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Lebih Mahal

9mm
* Papan gypsum tahan terhadap api karena gypsum termasuk kategori material yang non
combustible
Papan gypsum diklasifikasikan dari jenis performa papan dan ketebalannya. Secara lebih detil
kita bahas sebagai berikut :
1. Papan gipsum standard
Papan gipsum ini merupakan varian umum dari Papan Gipsum. Tebal yang tersedia yaitu
9mm, 12mm dan 15mm.
2. Papan gipsum tahan api
Papan gipsum ini mempunyai performa ketahanan terhadap api, durasi ketahanan apinya
tergantung dari sistem dinding partisi yang digunakan. Tebal yang tersedia yaitu 12mm dan
15mm
3. Papan gipsum tahan kelembaban
Papan gipsum ini mempunyai performa ketahanan terhadap kelembaban, cocok digunakan
untuk daerah daerah yang lembab dalam bangunan, seperti toilet, dapur dan gudang. Bila
papan gipsum ini digunakan sebagi dinding kamar mandi, maka disarankan untuk melapisi
permukaan papan gipsum tersebut dengan keramik dinding, tahan kelembaban bukan berarti
tahan air. Tebal yang tersedia yaitu 9mm, 12mm dan 15mm.
4. Papan gipsum tahan benturan
Papan gipsum ini mempunyai performa ketahanan terhadap benturan. Mungkin kita akan
bertanya tanya, benturan apa yang sanggup ditahan oleh papan gipsum? Benturan yang
dimaksud disini adalah benturan tubuh manusia, trolley, meja kursi dan sebagainya. Cocok

dipergunakan di koridor, ruang fitness, dinding kamar rumah sakit dan sebagainya. Tebal
yang tersedia yaitu 12mm dan 15mm.
Selain itu ada pula produk papan gipsum yang difungsikan untuk memperbaiki kualitas
akustik ruang. Papan gipsum ini biasanya dibuat berperforasi atau bolong bolong. Selain
fungsi akustik, papan gipsum ini terlihat sangat indah penampilannya.
Dengan semua variasi papan gipsum dengan kehebatan kehebatannya, sayang sekali bila
kita masih menggunakan triplek dalam bangunan kita. Papan gipsum tidak membatasi
kreatifitas desain seorang arsitek, bentuk datar dan lengkung dapat dengan mudah
diaplikasikan. Dengan tidak meggunakan triplek, kita sudah berpartisipasi dalam membantu
konservasi alam, tidak menggunakan kayu berarti menjaga hutan kita.
Macam Dinding Menurut Fungsinya:
a) Dinding Interior.
Dinding partisi ini merupakan sekat pembatas yang dapat dipindahkan.
Gbr. Contoh dinding interior

b)

Dinding Exterior. harus kuat, indah, dan tahan cuaca.


Gbr. Contoh dinding exterior
Gbr. Turap juga merupakan salah satu jenis dinding exterior

c)

Dinding Fungsi Khusus; contoh dinding kedap suara.

1.7

Permasalahan Pada Dinding Dan Solusinya

a). Rembesan air pada dinding biasa disebabkan oleh atap rumah yang bocor. Solusinya :

1) Tutupi tembok yang retak-retak tersebut dengan adukan semen dan aqua proof.
2) Perbaiki genteng. Mulai dari nok atap hingga dudukan genteng secara keseluruhan.
b). Retakan karena kualitas beton dinding basement jelek, tebal plesteran dan acian tidak
sempurna sehingga dinding mudah retak, karena beban terpusat (atap : dapat dihindari
dengan balok ring), penyusutan dan pemuaian kusen kayu dan factor alam. Solusinya :
1) Injection (grouting); memasukkan bahan yang bersifat encer kedalam celah atau retakan pada
beton, kemudian diinjection dengan tekanan, sampai terlihat pada lubang atau celah lain telah
terisi atau mengalir keluar.
2) Epoxy injection. Menyiapkan cairan kimia khusus yang sifatnya mengikat dan cepat kering
(epoxy), selanjutnya suntikkan/grouting pada daerah retakan
3) Mengganti plesteran yang lama dengan yang baru.
c). Efflorescence (Kotoran Putih Berbentuk Bunga-bunga); terjadi saat dinding mengering
pertama kali, dapat diminimalisasi dengan mengefektifkan pengaman kelembaban,
menghindari penggunaan batu bata yang mengandung garam, membiarkan batu bata
mongering terlebih dahulu sebelum dipasang dan menutup dinding setiap hari sebelum
pekerjaan benar-benar selesai. Untungnya efflorescence normalnya akan hilang pada saat
hujan dan tidak perlu perawatan khusus.
d). Noda; seperti efflorescence terapi tidak bisa hilang saat hujan, biasanya akibat tumpukan
kapur. Penanganannya adalah sebagai berikut :
1). Bersihkan dinding dengan air bersih
2). Disikat dengan sikat dan ditambah cairan tertentu
3). Setelah noda dibersihkan, bersihkan lagi dengan air bersih
4). Dilakukan perawatan secara teratur untuk membersihkan noda
e). Serangan Sulfat adalah hasil reaksi tricalcium aluminate pada semen Portland, sebab lain yaitu
air tanah dari batu bata sendiri (tanah liat), juga dari air hujan.Solusinya untuk daerah yang
banyak terkena sulfat ini harus dihindari menggunakan semen Portland (menggunakan semen
yang bisa mengatasi pengaruh sulfat), menggunakan bahan penahan kelembaban dan dinding
diusahakan selalu kering.
f). Penurunan bangunan yang normal tidak akan berpengaruh pada keretakan bangunan, tetapi
penurunan bangunan secara differensial dapat mengakibatkan keretakan bangunan.
g). Stabilitas Dinding diatasi dengan cara-cara berikut :
1) Memasang balok antara dua dinding baik pada bagian atas ataupun bawah dinding.
2) Membuat dinding penopang pada dinding yang tidak stabil
3) Pada bagian dinding yang mengalami kerusakan diganti dengan material yang baru.

h). Karatan Besi/Baja Kerusakan yang timbul : keretakan pada plester, kotoran pada dinding.
i). Penyusutan karena kering dan pemuaian akibat kondisi basah Penangannya sama seperti pada
batako yaitu menggunakan batu bata yang sudah matang.
j). Lumut, jamur dan tumbuhan lainnya Solusinya dengan membersihkan secara periodic atau
menggunakan cairan tertentu seperti sodium ortho pentachlorophenate.
k). Dinding pagar miring Solusi Gali tanah di sekitar pondasi, luruskan pagar yang miring dengan
penambahan perkuatan sementara, berupa penopang kayu/besi pada dinding pagar. Buat
pondasi dan sloof di belakang pagar sebagai tempat dudukan kolom/tiang penopang. Buat
kolom/tiang berbentuk segitiga untuk menahan kemiringan pagar. Ukuran tiang disesuaikan
dengan beban dinding yang ditopang.

2.

Kolom
2.1

Pengertian Kolom

Kolom adalah batang tekan vertikal dari rangka struktur yang memikul beban dari balok.
Kolom merupakan suatu elemen struktur tekan yang memegang peranan penting dari suatu
bangunan, sehingga keruntuhan pada suatu kolom merupakan lokasi kritis yang dapat
menyebabkan runtuhnya (collapse) lantai yang bersangkutan dan juga runtuh total (total
collapse) seluruh struktur (Sudarmoko, 1996).
Bedasarkan SK SNI T-15-1991-03 kolom didefinisikan sebagai komponen struktur
bangunan yang tugas utamanya menyangga beban aksial tekan vertikal dengan bagian tinggi
yang tidak ditopang paling tidak tiga kali dimensi lateral terkecil.
Menurut Ir. Tono Setiadi Kolom merupakan elemen vertikal struktur rangka, yang
berfungsi meneruskan beban-beban seluruh elemen bangunan kepondasi
2.2
a.

Konsep pembebanan pada kolom


Jenis gaya- gaya yang mungkin membebani sebuah kolom :

1. Gaya normal/ vertical


2. Gaya lateral/ horizontal
3. Momen ( akibat eksentrisitas gaya )
4. Punter
b. Hubungan kolom dengan elemen struktural lain :
1. Pada struktur rangka, hubungan dapat terjadi :
-

Rijid/ kaku (jepit)

Tidak rijid/ tidak kaku ( sendi atai engsel)

2. Kasus bahan :
-

Beton : a. rijid ( dicor/ dibuat sekaligus)


b. tidak rijid (sebagai elemen pracetak)

Baja : a. rijid ( hubungtan dilas atau dibaut)


b. tidak rijid ( hubungan dibaut)

Kayu : a. tidak rijid ( hubungan dipaku, dibaut, di pasak, dan lain- lain)

2.3

Fungsi Kolom

Fungsi kolom adalah sebagai penerus beban seluruh bangunan ke pondasi. Bila
diumpamakan, kolom itu seperti rangka tubuh manusia yang memastikan sebuah bangunan
berdiri. Kolom termasuk struktur utama untuk meneruskan berat bangunan dan beban lain
seperti beban hidup (manusia dan barang-barang), serta beban hembusan angin. Kolom
berfungsi sangat penting, agar bangunan tidak mudah roboh. Beban sebuah bangunan dimulai
dari atap. Beban atap akan meneruskan beban yang diterimanya ke kolom. Seluruh beban
yang diterima kolom didistribusikan ke permukaan tanah di bawahnya.
Kesimpulannya, sebuah bangunan akan aman dari kerusakan bila besar dan jenis
pondasinya sesuai dengan perhitungan. Namun, kondisi tanah pun harus benar-benar sudah
mampu menerima beban dari pondasi. Kolom menerima beban dan meneruskannya ke
pondasi, karena itu pondasinya juga harus kuat, terutama untuk konstruksi rumah bertingkat,
harus diperiksa kedalaman tanah kerasnya agar bila tanah ambles atau terjadi gempa tidak
mudah roboh.
2.4

Jenis jenis Kolom


Jenis-jenis kolom menurut bahan pembuatannya :

a). Kolom beton


Kolom beton dapat dibentuk dengan bermacam-macam bentuk, seperti : persegi, segi empat,
bulat dan lain-lain dengan luasan penampang yang diinginkan
Gbr. bentuk kolom beton bulat
Dalam buku struktur beton bertulang (Istimawan Dipohusodo, 1994) ada tiga jenis kolom
beton bertulang yaitu :
1). Kolom menggunakan pengikat sengkang lateral. Kolom ini merupakan kolom beton yang
ditulangi dengan batang tulangan pokok memanjang, yang pada jarak spasi tertentu diikat
dengan pengikat sengkang ke arah lateral. Tulangan ini berfungsi untuk memegang tulangan
pokok memanjang agar tetap kokoh pada tempatnya.
2). Kolom menggunakan pengikat spiral. Bentuknya sama dengan yang pertama hanya saja
sebagai pengikat tulangan pokok memanjang adalah tulangan spiral yang dililitkan keliling

membentuk heliks menerus di sepanjang kolom. Fungsi dari tulangan spiral adalah memberi
kemampuan kolom untuk menyerap deformasi cukup besar sebelum runtuh, sehingga mampu
mencegah terjadinya kehancuran seluruh struktur sebelum proses redistribusi momen dan
tegangan terwujud.
3). Struktur kolom komposit merupakan komponen struktur tekan yang diperkuat pada arah
memanjang dengan gelagar baja profil atau pipa, dengan atau tanpa diberi batang tulangan
pokok memanjang.
b). Kolom kayu
Kolom kayu dapat berfungsi sebagai kolom struktural dan non-struktural. Penampang kolom
struktural kayu dapat berbentuk kotak dan lingkaran
Gbr. bentuk kolom kayu kotak struktural
c). Kolom baja
Kolom baja ditugaskan hanya sebagai kolom panjang atau kolom langsing dan kolom sedang.
Kolom baja dapat dirancang dengan profil tunggal maupun tersusun.
Gbr. bentuk kolom baja
2.5

Dasar- dasar Perhitungan


Menurut SNI-03-2847-2002 ada empat ketentuen terkait perhitungan kolom:

1.

Kolom harus direncanakan untuk memikul beban aksial terfaktor yang bekerja pada semua
lantai atau atap dan momen maksimum yang berasal dari beban terfaktor pada satu bentang
terdekat dari lantai atau atap yang ditinjau. Kombinasi pembebanan yang menghasilkan rasio
maksimum dari momen terhadap beban aksial juga harus diperhitungkan.

2.

Pada konstruksi rangka atau struktur menerus pengaruh dari adanya beban tak seimbang
pada lantai atau atap terhadap kolom luar atau dalam harus diperhitungkan. Demilkian pula
pengaruh dari beban eksentris karena sebab lainnya juga harus diperhitungkan.

3.

Dalam menghitung momen akibat beban gravitasi yang bekerja pada kolom, ujung-ujung
terjauh kolom dapat dianggap jepit, selama ujung-ujung tersebut menyatu (monolit) dengan
komponen struktur lainnya.

4.

Momen-momen yang bekerja pada setiap level lantai atau atap harus didistribusikan pada
kolom di atas dan di bawah lantai tersebut berdasarkan kekakuan relative kolom dengan juga
memperhatikan kondisi kekekangan pada ujung kolom.

2.6

Pendekatan dimensi kolom


Anggapan pembebanan: semua muatan membenani kolom secara vertikal
beton = 60 kg/cm2
Rumus: =
Perhatian :

Untuk kondisi normal, beban P yang terjadi ditambah 20-40 %. (karena kolom juga memikul
gaya-gaya horizontal, momen dan puntir)

Untuk kolom tunggal atau berdiri bebas (free standing), bahkan dapat ditambah 100 %
sebagai pendekatan perhitungan.

Untuk keamana struktural beton dikurangi 20

3.

Balok

3.1 Pengertian
Balok merupakan elemen struktur horizontal dan mengalami beban transfersal. Balok
mendukung beban-beban yang bekerja tegak lurus (melintang) terhadap sumbu longitudinal
batang, dimana beban-beban tersebut biasanya arah kebawah.
3.2 Klasifikasi balok
Berdasarkan fungsinya, balok struktural dapat dikelompokkan menjadi beberapa
kelompok :
c.

Balok dukung girder : suatu balok yang daya dukungnya perlu ditambahkan dengan cara
menambahkan pelat baja lebar pada bagian sayap atas dan bawah suatu penampang lintang
balok profil

d. Balok lantai : suatu balok yang berfungsi menompang balok anak dan balok induk dalam
suatu system struktur lantai.
e.

Balok anak dan balok induk pada system lantai : suatu balok yang berfungsi menompang
pelat lantai, dimana pelat lantai dapat terbuat dari beton, papan kayu, pelat baja, dan
aluminium.

f.

Balok atap ( kuda- kuda, kasau dan sebagainya ) ; balok struktur atap seperti balok gordeng
untuk menompang balok kasau, dan balok kasau menompang balok reng dan sebagainya.

g. Balok spandrel : balok batas pinggir bangunan dapat dibentuk lengkung, lurus horizontal.
h. Balok lintel : balok yang terletak diatas kusen pintu atau jendela, yang berfungsi sebagai
penompang horizontal yang mentransfer beban dinding diatas kusen.
i.

Balok pengikat berfugsi mentransfer beban vertical maupun lateral kebalok maupun
kekolom struktur.

j.

Balok stringer : balok yang berhubungan langsung kepada system lantai yang ditopang pada
titik sambungan panel lantai-balok rangka batang pada setiap sisi dek pelat lantai

k. Balok diaphragms : balok diantara balok girder pada suatu system struktur rangka batang

Berdasarkan bahan, balok juga di bagi menjadi beberapa kelompok, yaitu :


a.

Balok beton
Balok beton konversional tidak bertulang dapat juga memikul beban struktur (sebagai
balok structural) tetapi kemampuannya terbatas( tidak dapat untuk memikul beban konstruksi
berat). Pada balok beton bertulang konvensional yang menggunakan tulangan baja yang
terletak dibagian bawah balok yaitu pada bagian yang menahan raya tarik akibat balok
memikul bebannya.

b. Balok baja
Pada balok baja, sering sekali terdapat masalah yang dihadapi yaitu pemberian
kekuatan lentur dan geser yang cukup pada setiap tempat dalam suatu bentangtan balok. Dan
untuk bentangan pendek, yang paling ekonomis memakai tampang balok tunggal sepanjang
bentang, dan dalam hal ini hanya nilai nilai maksimum momen lentur dan geser yang perlu
ditentukan.
c.

Balok kayu
Merupakan suatu elemen struktur yang digunakan untuk balok struktural dan non
struktural. Dan sekarang ini balok kayu masih banyak digunakan pada konstruksi bangunan
tradisional seperti rumah panggung.

3.3
a.

Sifat perletakan balok berdasarkan mekanika teknik :


Statis tertentu

Perletakan balok statis tertentu merupakan suatu perletakan dimana diagram momen
lentur untuk suatu struktur balok tersebut dapat ditentukan secara mudah menurut mekanika
teknik.
b. Statis tak tentu
Perletakan balok statis tak tentu merupakan suatu perletakan struktur balok dimana
momen lentur tidak dapat ditentukan hanya dengan menggunakan tiga persamaan
keseimbangan yang telah disebutkan pada penjelasan statis tertentu.
3.4 pendekatan dimensi balok
Balok yang memakai bahan beton mempunyai tinggi 1/10 sampai dengan 1/12
panjang bentang, dan mempunyai lebar sampai dengan 2/3 dari tinggi balok. Balok yang
memakai bahan kayu mempunyai tinggi 1/20 panjang bentang dan mempunyai lebar 5/3
dari tinggi balok. Balok yang memakai bahan baja mempunyai tinggi 1/25 bentang. Dimensi
balok-balok tersebut tidak mutlak benar, hanya digunakan sebagai pendekatan kasar saja pada
tahap pra-desain bangunan, karena kondisi diatas masih tergantung pada jarak antara balok
dan besarnya beban/ muatan yang bekerja pada elemen tersebut
Contoh perhitungan:
Untuk suatu balok bertulang bersegi dengan lebar b = 300 mm mendukung momen
beban guna yang terdiri dari beban hidup MLL= 95 kNm.dan beba mati MDL= 54 kNm, fc =
28 Mpa, fy = 350 Mpa, tentukan ukuran penampang dan penulangannya, periksa pula
tegangan-tegangannya dan gambar sketsa.
Penyelesaian:
Diketahui:
b = 300 mm
MLL= 95 kNm
MDL= 54 kNm
fc = 28 Mpa
fy = 350 Mpa
Ditanya:
Rencanakan tulangan balok dan gambar sketsanya.

Jawab:
1.

Perkirakan dimensi balok.


b = d, maka d = 2b
d = 2 x 300 = 600 mm.
d = h 100, maka h = d + 100
h = 600 + 100 = 700 mm.

2.

Menghitung momen rencana.


Mu = 1,6 MLL + 1,2 MDL
Mu = 1,6 (95) + 1,2 (54)
= 216,8 kNm.

3.

Terlebih dahulu deperhitungkan apakah memungkinkan jika menggunakan tulangan tunggal.


Kmaks = fc. (1-0,59 )
= 28 . 0,34225 (1 0,59 . 0,34225)
= 7,6479
MR maks = b d2 k = 0,8 . 300 . 6002 . 7,6379 . 10-6 = 660,77 kNm.
MR maks > MU,maka balok bertulang tunggal.

4.

Perkiraan ratio penulangan ( )


ambil = 0,01369
K = fc. (1-0,59 )
= 28 . 0,17113 (1 0,59 . 0,17113)
= 4,3078

5.

Cari d perlu.
M=
M = Mu, maka b = d.
M= dk
d perlu =
b = d = x 501,09 = 250,055 mm

b = 260 mm
d = 520 mm.
6.

Hitung luas tulangan yang diperlukan.


As = b d = 0,01369 x 260 x 520 = 1850,888 mm .

7.

Pilih tulangan.
Ambil 3D32 = 2412,8 mm > As perlu. OK

8.

Cek lebar balok.


b min = (2.40) + (2.10) + (5.32) = 260 mm = 260 mm OK.
Jarak tulangan terpasang = diameter tulangan OK

9.

Analisis penampang.
NT = As. fy = 2412,8 x 10 x 350 x 10 = 844,48 kN
ND = NT
0,85 fcab = 844,48
d actual = 560 40 10 18 = 494 mm.
Mn = ND (d - a)
Mn = 844,48 (494 - . 136,47)10 = 359,55 kNm.
M = Mn = 0,8 . 359,55 = 287,65 k Nm > Mu = 216,8 kNm OK.