Anda di halaman 1dari 45

CARA HITUNG KEUNTUNGAN

PETERNAKAN BROILER
Dalam setiap usaha tentunya kita selalu menginginkan
adanya keuntungan. Seperti dalam berdagang barang, maka
keuntungan yang kita peroleh adalah hasil penjualan barang
dikurangi modal yang telah kita keluarkan. Dalam usaha
peternakan broiler pun kita tentunya menginginkan adanya
keuntungan dalam usaha kita tersebut, namun bagaimana
perhitungan keuntungan dalam sebuah usaha broiler? Apa
indicator keberhasilan sebuah usaha peternakan broiler?
Nah, jika ini menjadi pertanyaan anda juga maka semoga
informasi berikut ini bermanfaat bagi anda.
Dalam perhitungan keuntungan dalam sebuah peternakan
broiler maka ada beberapa cara pengukuran dan
pengukuran yang paling utama adalah Indeks Permormance
atau biasanya disingkat dengan IP. Nilai IP ini biasanya
digunakan untuk menentukan nilai insentif/ bonus bagi
peternak (bagi kemitraan) maupun pekerja kandang. Berikut
rumus indeks performan (IP) tersebut.
Keterangan :
P : Indeks performan
D : persentase deplesi (%)
BB : bobot badan rata-rata saat panen (kg)
FCR : feed conversion ratio
A/U : umur rata-rata panen (hari)
Standar IP yang baik ialah di atas 300. Oleh karena itu,
semakin tinggi nilai IP maka semakin berhasil suatu
peternakan broiler tersebut. Menilik rumus IP di atas, untuk
menghitung IP dibutuhkan empat parameter lain yaitu:

1. Bobot badan (BB) rata-rata


Rumus ini digunakan untuk mengukur berat badan baik saat
kontrol berat badan maupun saat panen. Berikut rumus
tersebut :

www.dokterternak.com
Bandingkan hasil perhitungan di atas dengan data
dari breeder. Idealnya, bobot badan rata-rata kandang lebih
besar atau sama dengan standar. Jika bobot badan rata-rata
lebih kecil dari standar lakukan beberapa perbaikan misalnya
dalam tata laksana pemberian pakan dan pengaturan
kepadatan kandang.
Penimbangan berat badan dapat dilakukan secara rutin tiap
minggu dan saat panen. Penimbangan rutin tiap minggu
dinamakan pula kontrol berat badan. Teknik kontrol badan
tersebut ialah mengambil sampel 50100 ekor tiap kandang
secara merata di setiap bagian kandang. Kontrol berat
badan merupakan metode penimbangan individu yang
berarti seekor ayam ditimbang untuk berat badannya.
Sebaiknya gunakan timbangan yang memiliki sensitivitas
lebih tinggi agar berat badan ayam perindividu dapat lebih
teliti diamati. Kegiatan ini dilakukan pada waktu yang sama
tiap minggunya misalnya Senin pagi ketika kondisi tembolok
kosong.

Penimbangan
saat
panen
menggunakan
metode
penimbangan massal karena jumlah populasi yang harus
ditimbang banyak. Faktor efisiensi waktu dan tingkat stres
ayam menjadi hal yang penting. Secara teknis, penimbangan
ayam bisa berbeda misalnya ayam ditimbang sekaligus
keranjangnya atau ada juga yang mengikat ayamnya dahulu
baru digantung.
2. Rasio konsumsi pakan terhadap peningkatan berat badan
atau Feed Conversion Ratio (FCR)
Rumus menghitung FCR ialah :

Dengan kata lain, FCR didefinisikan berapa jumlah kilogram


pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu kilogram
berat badan. Idealnya satu kilogram pakan dapat
menghasilkan berat badan 1 kg atau bahkan lebih (FCR 1).
Sayangnya, kondisi tersebut tidak selalu terjadi.
Pada broiler biasanya target FCR = 1 maksimal dapat
dicapai sebelum ayam berumur 2 minggu (FCR dua
minggu 1,047-1,071. Setelahnya, FCR akan meningkat
sesuai umur ayam.
Breeder biasanya sudah menyertakan standar FCR tiap
minggu dalam buku panduannya agar peternak bisa terus
memantau FCR ayamnya tiap minggu. Nilai FCR yang sama
atau lebih kecil dibandingkan standar, menandakan
terjadinya efisiensi pakan yang didukung dengan tata
laksana pemeliharaan yang baik. Namun jika nilai FCR lebih

besar dibandingkan standar maka mengindikasikan terjadi


pemborosan pakan sebagai akibat tidak maksimalnya
manfaat pakan terhadap pertambahan bobot badan ayam.
Salah satu faktor yang berperan penting menyebabkan hal
ini ialah stres. Stres direspon oleh tubuh dengan
memobilisasi glukosa untuk diubah menjadi energi dan
digunakan untuk menekan stres itu sendiri. Akibatnya, hanya
sedikit energi yang diarahkan ke pertambahan bobot badan.
3. Rata-rata umur ayam saat panen (A/U)
Parameter ini menghitung rata-rata umur ayam yang
dipanen. Pemanenan yang termasuk ke dalam parameter ini
ialah pemanenan ayam sehat pada bobot badan tertentu.
Jadi, ayam afkir tidak masuk ke dalam perhitungan ini.
Misalnya ada permintaan 600 ekor ayam broilerberat 1 kg
kepada peternak broiler yang memiliki populasi 3.000 ekor.
Sehingga peternak memutuskan memanen 600 ekor ayam
yang sudah mencapai berat 1 kg sedang yang lainnya (2400
ekor,red) tidak. Rumus menghitung A/U ialah :

Keterangan :
U : umur ayam dipelihara
P : populasi ayam yang dipanen
4. Tingkat deplesi populasi
Deplesi populasi atau penyusutan jumlah ayam bisa berasal
dari dua hal yaitu kematian dan afkir ayam (culling ayam).
Rumus menghitung tingkat deplesi (D) ialah sebagai berikut :

Kematian ayam merupakan sesuatu yang tidak dapat


dihindari baik karena sakit atau faktor-faktor lain. Biasanya
peternakan menetapkan batas maksimal kematian yang
dapat ditoleransi yaitu +5% semakin banyak ayam yang mati
maka semakin besar kerugian peternak.
Keputusan pengafkiran ayam broiler biasanya karena sakit
dan cacat yang ditinjau berdasarkan pertimbangan resiko
dan ekonomis di bawah ini.
a) Pertimbangan resiko
Beberapa hal yang dapat dijadikan pertimbangan resiko
ialah potensi kesembuhan ayam, seberapa parah penyakit
ayam, seberapa besar resiko yang dihadapi (kematian dan
hambatan pertumbuhan,red) bila ayam lain tertular penyakit
tersebut dan resiko kematian.
Ayam yang masih mau makan dan minum serta mau
bergerak tentu kemungkinan sembuhnya lebih besar
dibandingkan yang sudah tidak mau makan dan minum. Hal
serupa juga terjadi jika ayam terkena penyakit yang sulit
disembuhkan seperti ND terutama tipe saraf dan AI.
Meskipun sembuh, ayam yang sudah terinfeksi penyakit
tersebut sulit kembali mencapai produktivitas optimal. Belum
lagi, resiko penularan penyakit dan kematian ayam tersebut
jika tidak segera diafkir.
b) Pertimbangan ekonomis

Pendeknya umur pemeliharaan broiler adalah alasan utama


mengapa pertimbangan ekonomis sangat penting. Salah
satu konsekuensi hal tersebut ialah kecenderungan
keputusan afkir untuk ayam yang sakit saat mendekati
panen dibandingkan melakukan pengobatan. Pertimbangan
ekonomis utama ialah terkait dengan berkurangnya
keuntungan akibat pengeluaran biaya pengobatan dan
pakan selama ayam sakit. Contoh kasus ialah
ayam broiler sakit colibacillosis umur 33 hari (panen +35
hari). Dianjurkan ayam tersebut dipanen daripada diobati.
Alasannya ialah berat badan ayam sudah hampir mencapai
berat penjualan. Dengan penambahan waktu pemeliharaan
untuk pengobatan, terjadi penambahan biaya untuk
pengobatan dan pakan. Hal di atas belum termasuk resiko
penurunan berat badan dan juga kematian ayam.

Standard FCR ayam broiler DOC CP 707

UMUR

BW

FCR

38

55

0.24

66

0.41

80

0.58

98

0.68

120

0.78

143

0.87

170

0.93

200

0.99

233

1.05

10

270

1.09

11

309

1.14

12

352

1.18

13

398

1.21

14

447

1.25

15

500

1.27

16

556

1.30

17

614

1.32

18

675

1.34

19

739

1.36

20

804

1.38

21

871

1.39

UMUR

BW

FCR

22

939

1.40

23

1,009

1.42

24

1,080

1.43

25

1,153

1.45

26

1,226

1.46

27

1,300

1.47

28

1,375

1.49

29

1,450

1.51

30

1,527

1.53

31

1,604

1.54

32

1,681

1.57

33

1,760

1.59

34

1,838

1.61

35

1,918

1.63

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena atas segala rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya sehingga
penulis dapat menyusun tugas Makalah Budidaya Ternak Unggas
tentang Pemeliharaan Ayam Broiler.
Makalah ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi
dalam menyelesaikan tugas mata kuliah Manajemen Kesehatan
Ternak. Makalah ini telah diupayakan agar dapat sesuai apa yang
diharapkan dan dengan terselesainya Makalah ini sekiranya
bermanfaat bagi setiap pembacanya. Makalah ini penulis sajikan

sebagai bagian dari proses pembelajaran agar kiranya kami sebagai


mahasiswa dapat memahami betul tentang perlunya sebuah tugas
agar menjadi bahan pembelajaran.
Selesainya makalah ini tidak terlepas dari bantuan dan
kerjasama berbagai pihak. Oleh karena itu, kami mengucapkan rasa
syukur yang tulus dan ikhlas kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta
ucapan terima kasih kepada : Dosen Pembimbing dan Teman teman
berkat kerjasamanya sehingga Makalah ini dapat terselesaikan
dengan baik.
Penulis menyadari bahwa Makalah ini jauh dari kesempurnaan
dan dengan segala kerendahan hati kami mohon kritik dan saran
yang bersifat membangun, sehingga apa yang kita harapkan dapat
tercapai. Dan merupakan bahan kesempurnaan untuk makalah ini
selanjutnya. Besar harapan penulis, semoga makalah yang penulis
buat ini mendapat ridho dari Tuhan Yang Maha Esa
BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Peningkatan jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun
berdampak pada peningkatan konsumsi produk peternakan (daging,
telur, susu). Meningkatnya kesejahteraan dan tingkat kesadaran
masyarakat akan pemenuhan gizi khususnya protein hewani juga
turut meningkatkan angka perminataan produk peternakan. Daging
banyak dimanfaatkan olehmasyarakat karena mempunyai rasayang
enak dan kandungan zat gizi yangtinggi.Salah satu sumber daging
yangpaling banyak dimanfaatkan olehmasyarakat Indonesia adalah
ayam.Daging ayam yang sering dikonsumsi oleh masyarakat
diperoleh dari pemotongan ayam broiler, petelur afkir, dan ayam
kampung.
Ayam broiler merupakan salah satu penyumbang terbesar
protein hewani asal ternak dan merupakan komoditas
unggulan.Industri ayam broiler berkembang pesat karena daging
ayam menjadi sumber utama menu konsumen.Daging ayam broiler
mudah
didapatkan
baik
di
pasar
modern
maupun
tradisional.Produksi daging ayam broiler lebih besar dilakukan oleh
rumah potong ayam modern dan tradisional.Proses penanganan di
RPA merupakan kunci yang menentukan kelayakan daging untuk

dikonsumsi. Perusahaan rumah potong ayam (RPA) atau tempat


pendistribusian umumnya sudah memiliki sarana penyimpanan yang
memadai, namun tidak dapat dihindari adanyakontaminasi dan
kerusakan selama prosesing dan distribusi.
Mengingat tingginya kewaspadaan masyarakat terhadap
keamanan pangan, menuntut produsen bahan pangan termasuk
pengusaha
peternakan
untuk
meningkatkan
kualitas
produknya.Walaupun kualitas karkas tergantung pada preferensi
konsumen namun ada standar khusus yang dijadikan acuan.Karkas
yang layak konsumsi harus sesuai dengan standar SNI mulai dari
cara penanganan, cara pemotongan karkas, ukuran dan mutu,
persyaratan yang meliputi bahan asal, penyiapan karkas,
penglolahan pascapanen, bahan pembantu, bahan tambahan, mutu
produk akhir hingga pengemasan.Untuk itu perlu ada penerapan
manajemen yang baik sejak masih di sektor hulu sampai ke sektor
hilir.
1.2

Tujuan
Tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk mengetahui
permasalahan-permasalahan yang terjadi di peternakan ayam niaga
pedaging, rumah potong ayam dan pasar yang berkaitan dengan
rendahnya kualitas karkas ayam niaga pedaging serta mencari
solusi pemecahannya.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Ayam Broiler
Ayam broiler merupakan hasil teknologi yaitu persilangan
antara ayam Cornish dengan Plymouth Rock. Karakteristik
ekonomis, pertumbuhan yang cepat sebagai penghasil daging,
konversi pakan rendah, dipanen cepat karena pertumbuhannya
yang cepat, dan sebagai penghasil daging dengan serat lunak
(Murtidjo, 1987). Menurut Northe (1984) pertambahan berat badan

yang ideal 400 gram per minggu untuk jantan dan untuk betina 300
gram per minggu.
Menurut Suprijatna et al. (2005) Ayam broiler adalah ayam
yang mempunyai sifat tenang, bentuk tubuh besar, pertumbuhan
cepat, bulu merapat ke tubuh, kulit putih dan produksi telur rendah.
Dijelaskan lebih lanjut oleh Siregar et al. (1980) bahwa ayam Broiler
dalam klasifikasi ekonomi memiliki sifat-sifat antara lain : ukuran
badan besar, penuh daging yang berlemak, temperamen tenang,
pertumbuhan badan cepat serta efisiensi penggunaan ransum
tinggi.
Ayam broiler adalah ayam tipe pedaging yang telah
dikembangbiakan secara khusus untuk pemasaran secara dini.
Ayam pedaging ini biasanya dijual dengan bobot rata-rata 1,4 kg
tergantung pada efisiensinya perusahaan. Menurut Rasyaf (1992)
ayam pedaging adalah ayam jantan dan ayam betina muda yang
berumur dibawah 6 minggu ketika dijual dengan bobot badan
tertentu, mempunyai pertumbuhan yang cepat, serta dada yang
lebar dengan timbunan daging yang banyak. Ayam broiler
merupakan jenis ayam jantan atau betina yang berumur 6 sampai 8
minggu yang dipelihara secara intensif untuk mendapatkan produksi
daging yang optimal. Ayam broiler dipasarkan pada umur 6 sampai 7
minggu untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan permintaan
daging. Ayam broiler terutama unggas yang pertumbuhannya cepat
pada fase hidup awal, setelah itu pertumbuhan menurun dan
akhirnya berhenti akibat pertumbuhan jaringan yang membentuk
tubuh. Ayam broiler mempunyai kelebihan dalam pertumbuhan
dibandingkan dengan jenis ayam piaraan dalam klasifikasinya,
karena ayam broiler mempunyai kecepatan yang sangat tinggi
dalam pertumbuhannya. Hanya dalam tujuh atau delapan minggu
saja, ayam tersebut sudah dapat dikonsumsi dan dipasarkan
padahal ayam jenis lainnya masih sangat kecil, bahkan apabila
ayam broiler dikelola secara intensif sudah dapat diproduksi
hasilnya pada umur enam minggu dengan berat badan mencapai 2
kilogram per ekor (Anonimus, 1994).
Untuk mendapatkan bobot badan yang sesuai dengan yang
dikehendaki pada waktu yang tepat, maka perlu diperhatikan pakan
yang tepat. Kandungan energi pakan yang tepat dengan kebutuhan
ayam dapat mempengaruhi konsumsi pakannya, dan ayam jantan
memerlukan energy yang lebih banyak daripada betina, sehingga
ayam jantan mengkonsumsi pakan lebih banyak, (Anggorodi, 1985).

Hal-hal yang terus diperhatikan dalam pemeliharaan ayam broiler


antara lain perkandangan, pemilihan bibit, manajemen pakan,
sanitasi dan kesehatan, recording dan pemasaran. Banyak kendala
yang akan muncul apabila kebutuhan ayam tidak terpenuhi, antara
lain penyakit yang dapat menimbulkan kematian, dan bila ayam
dipanen lebih dari 8 minggu akan menimbulkan kerugian karena
pemberian
pakan
sudah
tidak
efisien
dibandingkan
kenaikkan/penambahan berat badan, sehingga akan menambah
biaya produksi (Anonimus, 1994).
Daghir (1998) membagi tiga tipe fase pemeliharaan ayam
broiler yaitu fase starter umur 0 sampai 3 minggu, fase grower 3
sampai 6 minggu dan fase finisher 6 minggu hingga dipasarkan.
Ayam broiler ini baru populer di Indonesia sejak tahun 1980-an
dimana pemegang kekuasaan mencanangkan panggalakan
konsumsi daging ruminansia yang pada saat itu semakin sulit
keberadaannya. Hingga kini ayam broiler telah dikenal masyarakat
Indonesia dengan berbagai kelebihannya. Hanya 5-6 minggu sudah
bisa dipanen. Dengan waktu pemeliharaan yang relatif singkat dan
menguntungkan, maka banyak peternak baru serta peternak
musiman yang bermunculan diberbagai wilayah Indonesia.
Banyak strain ayam pedaging yang dipelihara di Indonesia.
Strain merupakan sekelompok ayam yang dihasilkan oleh
perusahaan pembibitan melalui proses pemuliabiakan untuk tujuan
ekonomis tertentu. Contoh strain ayam pedaging antara lain CP 707,
Starbro, Hybro (Suprijatna et al., 2005).
2.2.

Perkandangan
Kandang yang baik adalah kandang yang dapat memberikan
kenyamanan bagi ayam, mudah dalam tata laksana, dapat
memberikan produksi yang optimal, memenuhi persyaratan
kesehatan dan bahan kandang mudah didapat serta murah
harganya. Bangunan kandang yang baik adalah bangunan yang
memenuhi persyaratan teknis, sehingga kandang tersebut biasa
berfungsi untuk melindungi ternak terhadap lingkungan yang
merugikan, mempermudah tata laksana, menghemat tempat,
menghindarkan gangguan binatang buas, dan menghindarkan ayam
kontak langsung dengan ternak unggas lain (Anonimus, 1994).
Kandang serta peralatan yang ada di dalamnya merupakan
sarana pokok untuk terselenggarakannya pemeliharaan ayam
secara intensive, berdaya guna dan berhasil guna. Ayam akan terus

menerus berada di dalam kandang, oleh karena itu kandang harus


dirancang dan ditata agar menyenangkan dan memberikan
kebutuhan hidup yang sesuai bagi ayam-ayam yang berada di
dalamnya. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam hal ini
adalah pemilihan tempat atau lokasi untuk mendirikan kandang
serta konstruksi atau bentuk kandang itu sendiri. Kandang
merupakan modal tetap (investasi) yang cukup besar nilainya, maka
sedapat mungkin semenjak awal dihindarkan kesalahan-kesalahan
dalam pembangunannya, apabila keliru akibatnya akan
menimbulkan problema-problema terus menerus sedangkan
perbaikan tambal sulam tidak banyak membantu (Williamsons dan
Payne, 1993).
Sistem perkandangan yang ideal untuk usaha ternak ayam ras
meliputi: persyaratan temperatur berkisar antara 32,2-35 derajat C,
kelembaban berkisar antara 60-70%, penerangan/pemanasan
kandang sesuai dengan aturan yang ada, tata letak kandang agar
mendapat sinar matahari pagi dan tidak melawan arah mata angin
kencang, model kandang disesuaikan dengan umur ayam, untuk
anakan sampai umur 2 minggu atau 1 bulan memakai kandang box,
untuk ayam remaja 1 bulan sampai 2 atau 3 bulan memakai
kandang box yang dibesarkan dan untuk ayam dewasa bisa dengan
kandang postal atapun kandang bateray. Untuk kontruksi kandang
tidak harus dengan bahan yang mahal, yang penting kuat, bersih
dan tahan lama(Bambang,1995).
Persiapan dalam perkandangan adalah :
a.
Lokasi kandang
Kandang ideal terletak di daerah yang jauh dari pemukiman
penduduk, mudah dicapai sarana transportasi, terdapat sumber air,
arahnya membujur dari timur ke barat.
b.
Pergantian udara dalam kandang.
Ayam bernapas membutuhkan oksigen dan mengeluarkan
karbondioksida. Supaya kebutuhan oksigen selalu terpenuhi,
ventilasi kandang harus baik.
c.
Suhu udara dalam kandang.
Tabel 1. Suhu ideal kandang sesuai umur adalah :
Umur
Suhu (
0
(hari)
C)
01 - 07 34 32
08 - 14 29 27

15 - 21 26 25
21 - 28 4 23
29 - 35 23 21
d.

Kemudahan mendapatkan sarana produksi


Lokasi kandang sebaiknya dekat dengan poultry shop atau
toko sarana peternakan.
e.
Kepadatan Kandang
Pada awal pemeliharaan, kandang ditutupi plastik untuk
menjaga kehangatan, sehingga energi yang diperoleh dari pakan
seluruhnya untuk pertumbuhan, bukan untuk produksi panas tubuh.
Kepadatan kandang yang ideal untuk daerah tropis seperti
Indonesia adalah 8-10 ekor/m2, lebih dari angka tersebut, suhu
kandang cepat meningkat terutama siang hari pada umur dewasa
yang menyebabkan konsumsi pakan menurun, ayam cenderung
banyak minum, stress, pertumbuhan terhambat dan mudah
terserang penyakit.
Pengaturan kepadatan kandang dilakukan sedemikian rupa
untuk mengatasi kanibalisme akibat terlalu padatnya kandang. Hal
ini juga bermanfaat untuk kenyamanan ayam. Kepadatan kandang
juga berpengaruh terhadap produksi, performen dan tingkat
kenyamanan ayam broiler (May dan Lott, 1992).
Tabel 2. Tingkat kepadatan kandang ayam per bobot hidup
Bobot Badan Ekor/m2
(kg)
1,4
13 17
1,8
10 13
2,3
8 10
2,7
68
Siregar et al., 1980
Tabel 3. Standar Bobot Badan Ayam Broiler Berdasarkan Jenis
Kelamin pada Umur 1 sampai 6 Minggu ((NRC, 1994)
Umur (minggu)
Jenis Kelamin
Jantan (g)
Betina (g)
1
152
144
2
376
344
3
686
617
4
1085
965

5
6

1576
2088

1344
1741

Jika dilihat dari perbandingan table 2 dan 3 maka dapat


dibandingkan perbandingan antara umur dengan luas kandang yang
dibutuhkan sesuai dengan jenis kelamin dan bobot badan.
Kepadatan tinggi menurunkan berat badan pullet umur 18
minggu (Anderson dan Adams, 1997), meningkatkan kerusakan
dada pada broiler, menimbulkan kanibalisme pada ayam, yakni
ayam saling patuk mematuk sehingga menimbulkan luka pada tubuh
ternak sehingga memudahkan masuknya parasit dan menimbulkan
penyakit dan akhirnya meningkatkan angka kematian, pencapaian
berat badan yang rendah dan mengurangi konsumsi pakan pada
broiler, sedangkan konsumsi pakan broiler umur 7 minggu menurun
sebesar 3,7% pada jantan dan 3,9% pada betina ketika kepadatan
kandang ditingkatkan dari 10 ekor/m2 menjadi 15 ekor/m2.
Kepadatan tinggi yang diasumsikan dengan bobot badan perluasan
lantai mengurangi aktivitas broiler menjadi lebih sedikit berjalan,
sebaliknya lebih banyak mengantuk dan tidur (Cravener et al.,
1992).
f.
Tipe Kandang
1.
Kandang postal.
Kandang ini tidak terdapat halaman umbaran sehingga dalam
pemeliharaan sistem ini ayam-ayam selalu terkurung sepanjang hari
di dalam kandang. Litter yang baik harus dapat memenuhi beberapa
kriteria yakni: memiliki daya serap yang tinggi, lembut sehingga tidak
menyebabkan kerusakan dada, mempertahankan kehangatan,
menyerap panas, dan menyeragamkan temperatur dalam kandang
(Prayitno dan Yuwono, 1997). Litter merupakan sistem kandang
pemeliharaan unggas dengan lantai kandang ditutup oleh bahan
penutup lantai seperti, sekam padi, serutan gergaji, dan jerami padi
(Rasyaf, 1994). Keuntungan sistem ini adalah biaya relatif rendah,
menghilangkan bau kotoran, jika litter kering maka pembuangan
kotoran lebih mudah dan dapat menahan panas didalam kandang.
Kekurangannya adalah penyebaran penyakit lebih mudah,
Pengawasan kesehatan lewat kotoran sulit diamati (Campa, 1994).
2.
Cage
Bangunan kandang berbentuk sangkar berderet, menyerupai
batere dan alasnya dibuat berlubang (bercelah). Keuntungan sistem

ini adalah tingkat produksi individual dan kesehatan masing-masing


terkontrol, memudahkan tata laksana, penyebaran penyakit tidak
mudah. Kelemahannya adalah biaya pembuatan semakin tinggi,
ayam dapat kekurangan mineral, dan sering banyak lalat (Rasyaf,
1994).
3.
Panggung
Sistem ini biasanya dibuat diatas kolam ikan. Bahan yang biasa
digunakan untuk alas lantai adalah bambu yang dipasang secara
berderet agar ayam tidak terperosok. Kelebihannya adalah sisa
pakan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan, penyebaran
penyakit relatif rendah. Kekurangannya jika jarak pemasangan
bambu untuk alas terlalu lebar, akan dapat mengakibatkan ayam
terperosok, biaya pembuatan relatif mahal (Martono, 2006).
2.3.
Pakan
Ayam broiler sebagai bangsa unggas umumnya tidak dapat
membuat makanannya sendiri. Oleh sebab itu ia harus makan
dengan cara mengambil makanan yang layak baginya agar
kebutuhan nutrisinya dapat dipenuhi. Protein, asam amino, energi,
vitamin, mineral harus dipenuhi agar pertumbuhan yang cepat itu
dapat terwujud tanpa menunggu fungsi- fungsi tubuhnya secara
normal. Dari semua unsur nutrisi itu kebutuhan energi bagi ayam
broiler sangat besar (Rasyaf, 1994).
Suprijatna et al. (2005) pakan adalah campuran dari berbagai
macam bahan organik maupun anorganik untuk ternak yang
berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan zat-zat makanan dalam
proses pertumbuhan. Ransum dapat diartikan sebagai pakan
tunggal atau campuran dari berbagai bahan pakan yang diberikan
pada ternak untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi ternak selama 24
jam baik diberikan sekaligus maupun sebagian (Lubis, 1992).
Rasyaf (1994) menyatakan ransum adalah kumpulan dari beberapa
bahan pakan ternak yang telah disusun dan diatur sedemikian rupa
untuk 24 jam.
Ransum memiliki peran penting dalam kaitannya dengan aspek
ekonomi yaitu sebesar 65-70% dari total biaya produksi yang
dikeluarkan (Fadilah, 2004). Pemberian ransum bertujuan untuk
memenuhi kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan, pemeliharaan
panas tubuh dan produksi (Suprijatna et al. 2005). Pakan yang
diberikan harus memberikan zat pakan (nutrisi) yang dibutuhkan
ayam, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral,
sehingga pertambahan berat badan perhari (Average Daily

Gain/ADG) tinggi. Pemberian pakan dengan sistem ad libitum


(selalu tersedia/tidak dibatasi). Apabila menggunakan pakan dari
pabrik, maka jenis pakan disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan
ayam, yang dibedakan menjadi 2 (dua) tahap. Tahap pertama
disebut tahap pembesaran (umur 1 sampai 20 hari), yang harus
mengandung kadar protein minimal 23%. Tahap kedua disebut
penggemukan (umur diatas 20 hari), yang memakai pakan berkadar
protein 20 %. Jenis pakan biasanya tertulis pada kemasannya.
Efisiensi pakan dinyatakan dalam perhitungan FCR (Feed
Convertion Ratio). Cara menghitungnya adalah, jumlah pakan
selama pemeliharaan dibagi total bobot ayam yang dipanen.
Contoh perhitungan :
Diketahui ayam yang dipanen 1000 ekor, berat rata-rata 2 kg,
berat pakan selama pemeliharaan 3125 kg, maka FCR-nya adalah :
Berat total ayam hasil panen = 1000 x 2 = 2000 kg
FCR = 3125 : 2000 = 1,6
Semakin rendah angka FCR, semakin baik kualitas pakan, karena
lebih efisien (dengan pakan sedikit menghasilkan bobot badan yang
tinggi).
Konsumsi
pakan
adalah
kemampuan
ternak
dalam
mengkonsumsi sejumlah ransum yang digunakan dalam proses
metabolisme tubuh (Anggorodi, 1985). Blakely dan Blade (1998)
menjelaskan bahwa tingkat konsumsi ransum akan mempengaruhi
laju pertumbuhan dan bobot akhir karena pembentukan bobot,
bentuk dan komposisi tubuh pada hakekatnya adalah akumulasi
pakan yang dikonsumsi ke dalam tubuh ternak. Kebutuhan ransum
ayam broiler tergantung pada strain, aktivitas, umur, besar ayam
dan temperature( Ichwan , 2003). Faktor yang mempengaruhi
konsumsi pakan antara lain umur, nutrisi ransum, kesehatan, bobot
badan, suhu dan kelembaban serta kecepatan pertumbuhan (Wahju,
1997).
Pakan pemula (starter) harus diberi setelah ayam memperoleh
minum, pada beberapa hari pertama pakan dapat diberi dengan
cara ditaburkan pada katon box DOC atau tempat pakan untuk anak
ayam. Sisa pakan harus dibuang tiap pagi dan jangan dibuang di
litter karena akan membahayakan kesehatan ayam. Pada 2 hari
pertama gunakan air hangat bersuhu 16 sampai 20 0C. Untuk air
minum larutkan 50 gram gula dan 2 gram vitamin (dalam 1 liter air
minum untuk 12 jam pertama) Perlu juga memakai meter air agar
dapat diketahui dengan pasti berapa banyak air yang digunakan

pada 2 minggu pertama tempat minum dibersihkan 3 kali sehari


setelah itu 2 kali sehari (Anonimus, 2004).
Pada ayam broiler fase starter kebutuhan energi adalah 3200
kcal/kg dengan kebutuhan asam amino methionin 0,38%.
Sedangkan pada finisher kebutuhan energi sama tetapi kebutuhan
protein berkurang dan kebutuhan asam amino methionin juga
berkurang menjadi 0,32% (NRC. 1994).
Faktor yang dapat mempengaruhi ransum pada ayam broiler,
diantaranya yaitu temperatur lingkungan, kesehatan ayam, tingkat
energi ransum yang diberikan sistem pemberian makanan pada
ayam, jenis kelamin ayam dan genetik ayam (Rasyaf, 1994).
Bentuk fisik ransum yang diberikan pada ayam broiler ada tiga
bentuk fisik ransum yang diberikan yaitu bentuk halus seperti tepung
(mesh) yang didalamnya merupakan campuran berbagai bahan
makanan yang telah diramu dalam suatu sistem formula. Ransum
berbentuk butiran lengkap atau pellet yang didasarkan pada sifat
ayam broiler yang memang gemar sekali makanan-makanan butiran
dan ransum bentuk butiran pecah atau crumble yang berbentuk
butiran tetapi kecil-kecil (Rasyaf, 1994).
Menurut Bambang (1995) kualitas pakan ayam ras broiler ada 2
(dua) fase yaitu fase starter (umur 0-4 minggu) dan fase finisher
(umur 4-6 minggu):
a. Kualitas pakan fase starter adalah terdiri dari protein 22-24%,
lemak 2,5%, serat kasar 4%, Kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,70,9%, ME 2800-3500 Kcal.
b. Kualitas pakan fase finisher adalah terdiri dari protein 18,121,2%; lemak 2,5%, serat kasar 4,5%, kalsium (Ca) 1%, Phospor
(P) 0,7-0,9% dan energy (ME) 2900-3400 Kcal.
Tabel 4. Kebutuhan Nutrisi Pakan Ayam Broiler pada Periode
Starter dan Periode Finisher (NRC, 1994)
Nutrisi
Periode Starter Periode
Finisher
Protein (%)
23,00%
20,00%
Energi
2800-3200
2900-3200
Metabolis
(kkal/ kg)
Kalsium (%) 1,00
0,90
Fosfor (%)
0,45
0,35

2.4.

Manajemen Pemeliharaan
Pemeliharaan ayam daging ditujukan untuk mencapai
beberapa sasaran yaitu tingkat kematian serendah mungkin,
kesehatan ternak baik, berat timbangan setiap ekor setinggi
mungkin dan daya alih makanan baik (hemat). Untuk mencapai halhal tersebut ada beberapa hal pokok yang perlu dipertimbangkan
sebaik-baiknya dalam pemeliharaan ayam pedaging yaitu
perkandangan dan peralatan serta persiapannya, pemeliharaan
masa awal dan akhir, pemberian pakan, pencegahan dan
pemberantasan penyakit dan pengelolaan (Suyoto, 1983).
Ayam broiler atau ayam daging dipelihara selama kurang lebih
6 sampai 7 minggu. Ayam ini tidak dimaksudkan untuk produksi
telur, tetapi diharapkan dagingnya. Sampai umur 5 minggu beratnya
kira-kira sama dengan ayam telur dewasa yaitu kurang lebih 1,5 kg.
Cara pemeliharaan ayam daging hampir sama dengan ayam telur
dari periode starter sampai grower (Jahja, 2000).
Pemeliharaan dilakukan dengan pembersihan secara tuntas
terhadap kandang dan peralatan yang akan dipakai didalamnya,
baik tempat makanan, tempat minuman,brooder, alat pelingkan dan
lain-lain. Terutama pada kandang lama yang sudah dipakai, sisasisa dari ternak yang lama, baik kotoran, bahan-bahan yang
tercecer harus dibersihkan secara tuntas sehingga tidak ada yang
tertinggal, sebab setiap butir sisa dari kawanan ayam yang lama
akan ada kemungkinan akan menularkan sesuatu penyakit kepada
kawanan berikutnya. Pembersih dilakukan dengan air dan bahan
pencuci (sabun atau detergen) (Suyoto, 1983).
Kebersihan lingkungan kandang (sanitasi) pada areal
peternakan merupakan usaha pencegahan penyakit yang paling
murah, hanya dibutuhkan tenaga yang ulet/terampil saja. Tindakan
preventif dengan memberikan vaksin pada ternak dengan merek
dan dosis sesuai catatan pada label yang dari poultry shoup. Agar
bangunan kandang dapat berguna secara efektif, maka bangunan
kandang perlu dipelihara secara baik yaitu kandang selalu
dibersihkan dan dijaga/dicek apabila ada bagian yang rusak supaya
segera disulam/diperbaiki kembali. Dengan demikian daya guna
kandang bisa maksimal tanpa mengurangi persyaratan kandang
bagi ternak yang dipelihara.
Teknis pemeliharaan ayam broiler yang baik menurut
(Anonimus, 2009), yaitu minggu pertama (hari ke-1 sampai ke-7).

DOC dipindahkan ke indukan atau pemanas, segera diberi air


minum hangat yang ditambah gula untuk mengganti energi yang
hilang selama transportasi. Pakan dapat diberikan dengan
kebutuhan per ekor 13 gram atau 1,3 kg untuk 100 ekor ayam.
Jumlah tersebut adalah kebutuhan minimal, pada prakteknya
pemberian tidak dibatasi. Pakan yang diberikan pada awal
pemeliharaan berbentuk butiran-butiran kecil (crumbles).
Mulai hari ke-2 hingga ayam dipanen sudah diberi air munum.
Vaksinasi yang pertama dilaksanakan pada hari ke-4. Minggu Kedua
(hari ke-8 sampai ke-14). Pemeliharaan minggu kedua masih
memerlukan pengawasan seperti minggu pertama, meskipun lebih
ringan. Pemanas sudah bisa dikurangi suhunya. Kebutuhan pakan
untuk minggu kedua adalah 33 gram per ekor atau 3,3 kg untuk 100
ekor ayam.
Minggu Ketiga (hari ke-15 sampai ke-21). Pemanas sudah
dapat dimatikan terutama pada siang hari yang terik. Kebutuhan
pakan adalah 48 gram per ekor atau 4,8 kg untuk 100 ekor. Pada
akhir minggu (umur 21 hari) dilakukan vaksinasi yang kedua
menggunakan vaksin ND strain Lasotta melalui suntikan atau air
minum. Jika menggunakan air minum, sebaiknya ayam tidak diberi
air minum untuk beberapa saat lebih dahulu, agar ayam benarbenar merasa haus sehingga akan meminum air mengandung
vaksin sebanyak-banyaknya.
Minggu Keempat (hari ke-22 sampai ke-28). Pemanas sudah
tidak diperlukan lagi pada siang hari karena bulu ayam sudah lebat.
Pada umur 28 hari, dilakukan sampling berat badan untuk
mengontrol tingkat pertumbuhan ayam. Pertumbuhan yang normal
mempunyai berat badan minimal 1,25 kg. Kebutuhan pakan adalah
65 gram per ekor atau 6,5 kg untuk 100 ekor ayam. Kontrol terhadap
ayam juga harus ditingkatkan karena pada umur ini ayam mulai
rentan terhadap penyakit.
Minggu Kelima (hari ke-29 sampai ke-35). Pada minggu ini,
yang perlu diperhatikan adalah tatalaksana lantai kandang. Karena
jumlah kotoran yang dikeluarkan sudah tinggi, perlu dilakukan
pengadukan dan penambahan alas lantai untuk menjaga lantai tetap
kering. Kebutuhan pakan adalah 88 gram per ekor atau 8,8 kg untuk
100 ekor ayam. Pada umur 35 hari juga dilakukan sampling
penimbangan ayam. Bobot badan dengan pertumbuhan baik
mencapai 1,8 sampai 2 kg. Dengan bobot tersebut, ayam sudah

dapat dipanen. Maka dapat disimpulkan bahwa kebutuhan pakan


hingga berumur 5 minggu adalah 24,7 kg untuk 100 ekor ayam.
Minggu Keenam (hari ke-36 sampai ke-42). Jika ingin
diperpanjang untuk mendapatkan bobot yang lebih tinggi, maka
kontrol terhadap ayam dan lantai kandang tetap harus dilakukan.
Pada umur ini dengan pertumbuhan yang baik, ayam sudah
mencapai bobot 2,25 kg.
Menurut Bambang (1995) untuk pemberian pakan ayam ras
broiler ada 2 (dua) fase yaitu fase starter (umur 0-4 minggu) dan
fase finisher (umur 4-6 minggu):
a.
Kuantitas pakan fase starter adalah terbagi/digolongkan menjadi 4
(empat) golongan yaitu minggu pertama (umur 1-7 hari) 17
gram/hari/ekor, minggu kedua (umur 8-14 hari) 43 gram/hari/ekor,
minggu ke-3 (umur 15-21 hari) 66 gram/hari/ekor dan minggu ke-4
(umur 22-29 hari) 91 gram/hari/ekor. Jadi jumlah pakan yang
dibutuhkan tiap ekor sampai pada umur 4 minggu sebesar 1.520
gram.
b.
Kuantitas pakan fase finisher adalah terbagi/digolongkan dalam
empat golongan umur yaitu: minggu ke-5 (umur 30-36 hari) 111
gram/hari/ekor, minggu ke-6 (umut 37-43 hari) 129 gram/hari/ekor,
minggu ke-7 (umur 44-50 hari) 146 gram/hari/ekor dan minggu ke-8
(umur 51-57 hari) 161 gram/hari/ekor. Jadi total jumlah pakan per
ekor pada umur 30-57 hari adalah 3.829 gram.
Sedangkan Pemberian minum disesuaikan dangan umur ayam
yang dikelompokkan dalam 2 (dua) fase yaitu:
a.
Fase starter (umur 1-29 hari), kebutuhan air minum terbagi lagi
pada masing-masing minggu, yaitu minggu ke-1 (1-7 hari) 1,8
lliter/hari/100 ekor; minggu ke-2 (8-14 hari) 3,1 liter/hari/100 ekor,
minggu ke-3 (15-21 hari) 4,5 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-4 (2229 hari) 7,7 liter/hari/ekor. Jadi jumlah air minum yang dibutuhkan
sampai umur 4 minggu adalah sebanyak 122,6 liter/100 ekor.
Pemberian air minum pada hari pertama hendaknya diberi
tambahan gula dan obat anti stress kedalam air minumnya.
Banyaknya gula yang diberikan adalah 50 gram/liter air.
b.
Fase finisher (umur 30-57 hari), terkelompok dalam masingmasing minggu yaitu minggu ke-5 (30-36 hari) 9,5 liter/hari/100 ekor,
minggu ke-6 (37-43 hari) 10,9 liter/hari/100 ekor, minggu ke-7 (44-50
hari) 12,7 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-8 (51-57 hari) 14,1
liter/hari/ekor. Jadi total air minum 30-57 hari sebanyak 333,4
liter/hari/ekor.

Cara Pemberian Pakan:


a.
Untuk anak ayam umur 1 - 6 hari (kutuk), pakan ditabur atau
sediakan pada wadah yang mudah terjangkau, jenis pakan yang
dipakai adalah ransum ayam ras starter (pakan komersial).
b.
Ayam umur 7 hari s/d 1 bulan dapat diberikan pakan campuran
yaitu pakan ayam ras starter dicampur dengan katul dan dedak
halus, dengan perbandingan 1: 1 atau jagung giling dan katul
dengan perbandingan 2 : 1 dan dapat di tambah protein hewani.
c.
Ayam umur 2-4 bulan dan seterusnya, diberikan pakan campuran,
dedak halus, jagung giling, dan pakan komersil dengan
perbandingan 3:1:1 dan dapat di tambahan gabah, gaplek dan
tepung ikan.
2.5.

Vaksinasi dan Pencegahan Penyakit

2.5.1. Vaksinasi
Vaksinasi adalah pemasukan bibit penyakit yang dilemahkan ke
tubuh ayam untuk menimbulkan kekebalan alami. Vaksinasi penting
yaitu vaksinasi ND/tetelo. Dilaksanakan pada umur 4 hari dengan
metode tetes mata, dengan vaksin ND strain B1 dan pada umur 21
hari dengan vaksin ND Lasotta melalui suntikan atau air minum.
Vaksin adalah mikroorganisme penyebab penyakit yang sudah
dilemahkan atau dimatikan dan mempunyai sifat immunogenik.
Immunogenik artinya dapat merangsang pembentukan kekebalan.
Vaksinasi adalah proses memasukkan vaksin ke dalam tubuh ternak
dengan tujuan supaya ternak tersebut kebal terhadap penyakit yang
disebabkan organisme tersebut. Vaksin ada dua macam, yaitu
vaksin aktif dan vaksin inaktif. Vaksin aktif adalah vaksin yang
mikroorganismenya masih aktif atau masih hidup. Biasanya vaksin
aktif berbentuk sediaan kering beku, contoh: MEDIVAC ND LA
SOTA, MEDIVAC ND-IB dan MEDIVAC GUMBORO A. Vaksin inaktif
adalah vaksin yang mikroorganismenya telah dimatikan. Biasanya
berbentuk sediaan emulsi atau suspensi, contoh: MEDIVAC NDEDS EMULSION, MEDIVAC CORYZA B (Jahja, 2000).
Pelaksanaan Kegiatan vaksinasi dapat dilakukan dengan cara
membagi ayam menjadi 2 kelompok besar dalam sekatan. Ayam
kemudian digiring ke dalam 2 sekatan yang terbentuk. Vaksinasi
dilakukan mulai dari pen terakhir hingga pen pertama. Ayam yang
telah divaksinasi diletakan diluar sekatan hingga kemungkinan
terjadinya pengulangan vaksinasi dapat diminimalisir.

Pemberian vaksin dapat dilakukan dengan beberapa cara,


seperti tetes mata, hidung, mulut (cekok), atau melalui air minum.
Vaksinasi harus dilakukan dengan benar sehingga tidak menyakiti,
unggas dan mempercepat proses vaksinasi, dan tidak meninggalkan
sisa sampah dari peralatan vaksinasi seperti suntikan, sarung
tangan, masker maupun sisa vaksin yang digunakan (botol vaksin).
Unggas yang divaksin harus benar- benar dalam keadaan sehat
tidak dalam kondisi sakit maupun stress sehingga akan
mendapatkan hasil yang maksimal dan tidak terjadi kematian dalam
proses vaksinasi. Tata cara vaksinasi harus ditempat yang teduh,
bersih, vaksin tidak dalam kondisi sakit maupun stress sehingga
tidak merusak vaksin. Program vaksinasi untuk unggas, harus
disesuaikan dengan umur dari unggas tersebut dan harus berhatihati dalam memvaksin karena sangat sensitif terhadap jarum suntik
dan dapat menimbulkan stress dan kematian mendadak (Jahja,
2000).
5.2.2. Penyakit dan pencegahannya
Penyakit yang sering menyerang ayam broiler yaitu:
1)
Tetelo (Newcastle Disease/ND)
Pertama kali ditemukan oleh Kraneveld di Jakarta (1926).
Setahun kemudian, virus tetelo ditemukan juga di Newcastle
(Inggris). Sejak saat itu, penyakit ini dikenal sebagai newcastle
disease (NCD) dan ditemukan di berbagai penjuru dunia. Di India,
penyakit ini dikenal dengan nama aanikhet. Penyakit ini merupakan
suatu infeksi viral yang menyebabkan gangguan pada saraf
pernapasan.
Disebabkan
virus
Paramyxo
yang
bersifat
menggumpalkan sel darah dan biasanya dikualifikasikan menjadi:
a.
Velogenik
b.
Mesogenic
c.
Lentogenik
1. Tipe Velogenik, yaitu Strain yang sangat berbahaya atau disebut
dengan Viscerotropic Velogenic Newcastle Disease (VVND) Tipe
Velogenic ini menyebabkan kematian yang luar biasa bahkan hingga
100%.
2.
Tipe Mesogenic, Kematian tipe mesogenic pada anak ayam
mencapai 10% tetapi ayam dewasa jarang mengalami kematian.
Pada tingkat ini ayam akan menampakan gejala seperti gangguan
pernapasan dan saraf.

3.

Tipe Lentogenik, merupakan stadium yang hampir tidak


menyebabkan kematian. Hanya saja dapat menyebabkan
produktivitas telur menjadi turun dan kualitas kulit telur menjadi
jelek. Gejala yang tampak tidak terlalu nyata hanya terdapat sedikit
gangguan pernapasan.
Virus ini tidak akan bertahan lebih dari 30 hari pada lokasi
pemaparan.
Gejala: ayam sering megap-megap, nafsu makan turun, diare
dan senang berkumpul pada tempat yang hangat, ayam sulit
bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata
ngantuk, Jengger dan kepala kebiruan, kornea menjadi keruh, sayap
turun, tinja encer kehijauan kadang berdarah. Setelah 1 sampai 2
hari muncul gejala (tortikolis) syaraf, yaitu kaki lumpuh, leher
berpuntir dan kepala ayam berputar-putar yang akhirnya mati.
Belum ada obat yang dapat menyembuhkan, maka untuk
mengurangi kematian, ayam yang masih sehat divaksin ulang atau
dengan melakukan vaksinasi melalui tetes mata atau hidung pada
anak ayam umur 3-4 hari, umur 3 minggu dan setiap 3 bulan secara
teratur, peralatan dan kandang dijaga supaya tetap bersih. Vaksinasi
pertama ayam umur 3-4 hari dengan vaksin Bl, diulangi setelah 3
minggu dengan vaksin Lasota dan kemudian setiap 3 bulan. Dan
dijaga agar lantai kandang tetap kering.
Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungan dan
peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam
yang mati segera dibakar/dibuang; (2) pisahkan ayam yang sakit,
mencegah tamu masuk areal peternakan tanpa baju yang
mensucihamakan/ steril serta melakukan vaksinasi NCD. Sampai
sekarang belum ada obatnya.
2)
Penyakit cacar ayam
Dengan memberikan vaksinasi, mencungkil kutil-kutil dengan
gunting dan diolesi dengan yodium tintur, atau obat anti infeksi dan
cuci hamakan kandang.

3)

Gumboro (Infectious Bursal Disease/IBD)


Penyakit gumboro (Infectious Bursal Disease / IBD) ini
ditemukan tahun 1962 oleh Cosgrove di daerah Delmarva Amerika
Serikat. Penyakit Gumboro merupakan penyakit yang menyerang
sistem kekebalan tubuh yang disebabkan virus golongan Reovirus.

Ayam yang terkena penyakit Gumboro akan menunjukkan gejala


seperti hilangnya nafsu makan, gangguan saraf, merejan, suka
bergerak tidak teratur, diare, tubuh gemetar, peradangan disekitar
dubur, bulu di sekitar anus kotor dan lengket serta diakhiri dengan
kematian ayam. Sering menyerang pada umur 36 minggu. Dapat
dilakukan adalah pencegahan dengan vaksin Gumboro. Penyakit
Gumboro menyerang kekebalan tubuh ayam, terutama bagian
fibrikus dan thymus. Kedua bagian ini merupakan pertahanan tubuh
ayam. Pada kerusakan yang parah, antibodi ayam tersebut tidak
terbentuk. Karena menyerang system kekebalan tubuh, maka
penyakit ini sering disebut sebagai AIDSnya ayam. Penyakit
Gumboro sendiri sebenarnya memang tidak menyebabkan kematian
secara langsung pada ayam, tetapi karena adanya infeksi sekunder
yang mengikutinya akan menyebabkan kematian dengan cepat
karena virus Avibirnavirus bersifat imunosupresif yang menyebabkan
kekebalan tubuhnya tidak bekerja sehingga memudahkan kawanan
ayam yang diserang oleh virus dan infeksi sekunder oleh bakteri.
penyakit Gumboro merupakan penyakit yang dapat merusak
morfologi dan fungsi organ limfoid primer, terutama bursa fabricius.
Rusaknya bursa fabricius akan mengakibatkan suboptimalnya
pembentukan antibodi terhadap berbagai program vaksinasi,
sehingga kepekaan terhadap berbagai agen penyakit menjadi
meningkat.. Penyakit ini menyerang bursa fabrisius, khususnya
menyerang anak ayam umur 36 minggu.
Penularan penyakit Gumboro atau IBD dapat melalui kontak
langsung antara ayam yang muda dengan ayam yang sakit atau
terinfeksi pada peternakan yang mempunyai ayam berbagai umur
dapat mengakibatkan infeksi ini terus menyebar dan sangat sulit
dikendalikan. Penularan secara langsung melalui kotoran dan tidak
langsung melalui pakan, air minum dan peralatan yang tercemar.
Peralatan, kandang, air minum dan pakaian petugas yang
terkontaminasi Gumboro dapat juga memperparah kejadian penyakit
tersebut. Penyakit Gumboro tidak menular dengan perantaraan telur
dan ayam yanng sudah sembuh tidak menjadi carrier.
Penanggulangan Gumboro ini dapat dilakukan dengan
beberapa cara yaitu vaksinasi, dan menjaga kebersihan lingkungan
kandang. Tips yang dapat digunakan untuk disinfeksi kandang ayam
yang pernah tercemar virus gumboro. Disarankan penggunaan
formalin 10 % (1 bagian formalin 38 % dicampur ke dalam 9 bagian

air) atau dengan 0,25% larutan soda api (2,5 gram soda api
kedalam 1 liter air).
Pengobatan Gumboro dapat dengan pemberian obat-obat
untuk gumboro, juga ada obat tradisional dengan penggunaan daun
teh.
4)

Penyakit Ngorok (Chronic Respiratory Disease)

Merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh


bakteri Mycoplasma gallisepticum. Gejala yang nampak adalah
ayam sering bersin dan ingus keluar lewat hidung dan ngorok saat
bernapas. Pada ayam muda menyebabkan tubuh lemah, sayap
terkulai, mengantuk dan diare dengan kotoran berwarna hijau,
kuning keputih-keputihan. Penularan melalui pernapasan dan lendir
atau melalui perantara seperti alat-alat. Pengobatan dapat dilakukan
dengan obat-obatan yang sesuai. Untuk ayam broiler atau ayam
pedaging penyakit CRD masih menduduki posisi pertama (yang
sering menyerang ayam pedaging).
Berikut urutan penyakit yang sering menyerang ayam
pedaging:
1. CRD komplek 20.32%
2. CRD 19.36%
3. Korisa 17.97%
4. Colibacillosis 14.12%
5. Gumboro 8.24 %
6. Koksi 4.49%
7 ND 3.85%
8. Leucocytozoonosis 3.21%
9. Kolera 2.14 %
10. AI 2.03%
Jadi kesimpulan dari data di atas bahwa penyakit CRD
kompleks sangat berbahaya pada ayam dewasa tidak sampai
menimbulkan kematian yang terlihat secara signifikan. walaupun
kadar kesakitan terhadap ayam tersebut sangat tinggi.
Apabila sudah terlihat gejala dari penyakit ngorok maka segera
mungkin untuk ditangani karena dikhawatirkan penyakit E.coli akan
masuk kedalam tubuh ayam dan menjangkit secara perlahan dan
akan terjadilah penyakit yang sangat berbahaya yang di sebut
dengan CRD komplek.

Dan dalam penggunaan obat, sangat di anjurkan sekali bahwa


setiap 4 periode pemeliharaan, pemakaian obat-obatan atau
antibiotik harus di lakukan penggantian, maksudnya untuk
mencegah terjadinya resistensi obat pada ayam.
5)

Berak Kapur (Pullorum)


Disebut penyakit berak kapur karena gejala yang mudah
terlihat adalah ayam diare mengeluarkan kotoran berwarna putih
dan setelah kering menjadi seperti serbuk kapur. Disebabkan oleh
bakteri Salmonella pullorum (Anonimus, 2009).
Kematian dapat terjadi pada hari ke-4 setelah infeksi.
Penularan melalui kotoran. Pengobatan belum dapat memberikan
hasil yang memuaskan, yang sebaiknya dilakukan adalah
pencegahan dengan perbaikan sanitasi kandang. Infeksi bibit
penyakit mudah menimbulkan penyakit, jika ayam dalam keadaan
lemah atau stres. Kedua hal tersebut banyak disebabkan oleh
kondisi lantai kandang yang kotor, serta cuaca yang jelek. Cuaca
yang mudah menyebabkan ayam lemah dan stres adalah suhu yang
terlalu panas, terlalu dingin atau berubah-ubah secara drastis.
Penyakit, terutama yang disebabkan oleh virus sukar untuk
disembuhkan. Untuk itu harus dilakukan sanitasi secara rutin dan
ventilasi kandang yang baik (Anonimus, 2009). Pullorum merupakan
penyakit menular pada ayam yang dikenal dengan nama berak putih
atau berak kapur (Bacilary White Diarrhea= BWD). Penyakit ini
menimbulkan mortalitas yang sangat tinggi pada anak ayam umur 110 hari. Selain ayam, penyakit ini juga menyerang unggas lain
seperti kalkun, puyuh, merpati, beberapa burung liar.
Etiologi
Pullorum atau Berak kapur disebabkan oleh bakteri salmonella
pullorum dan bakteri gram negatif. Bakteri ini mampu bertahan
ditanah
selama
1
tahun.
Kejadian penyakit. Di Indonesia penyakit pullorum merupakan
penyakit menular yang sering ditemui. Meskipun segala umur ayam
bisa terserang pullorum tapi angka kematian tertinggi terjadi pada
anak ayam yang baru menetas. Angka morbiditas pada anak ayam
sering mencapai lebih dari 40% sedangkan angka mortalitas atau
angka kematian dapat mencapai 85%.
Cara penularan
Penularan penyakit Pullorum dapat melalui 2 jalan yaitu:
-Secara vertikal yaitu induk menularkan kepada anaknya melalui

telur.
-Secara horizontal terjadi melalui kontak langsung antara unggas
secara klinis sakit dengan ayam karier yang telah sembuh,
sedangkan penularan tidak langsung dapat melalui kontak dengan
peralatan, kandang, litter dan pakaian dari pegawai kandang yang
terkontaminasi.
Gejala klinis
Nafsu makan menurun
Feses (kotoran) kotoran berwarna putih seperti kapur
Kotorannya menempel di sekitar dubur berwarna putih
Kloaka akan menjadi putih karena feses yang telah kering
Jengger berwarna keabuan
Mata menutup dan nafsu makan turun
Badan anak ayam menjadi lemas
Sayap menggantung dan kusam
Lumpuh karena arthritis
Suka bergerombol
Diagnosis
Isolasi dan identifikasi salmonella pullorum dapat diambil
melalui hati, usus maupun kuning telur dapat dilakukan pembiakan
kedalam medium. Ayam karier yang sudah sembuh dapat
diidentifikasi dengan penggumpalan darah secara cepat (rapid
whole blood plate aglutination test).
Pengobatan
Pengobatan Berak Kapur dilakukan dengan menyuntikkan
antibiotik seperti furozolidon, coccilin, neo terramycin, tetra atau
mycomas di dada ayam. Obat-obatan ini hanya efektif untuk
pencegahan kematian anak ayam, tapi tidak dapat menghilangkan
infeksi penyakit tersebut. Sebaiknya ayam yang terserang
dimusnahkan untuk menghilangkan karier yang bersifat kronis.
Pencegahan
Beberapa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan oleh
para peternak ayam adalah :
Menjaga kebersihan lingkungan hidup ayam.
Menjaga kebersihan kandang dengan cara disucihamakan dengan
menggunakan larutan kaporit ( takaran 1 : 1.000 ).
Pengapuran kandang.
Pembuangan kotoran ayam jauh dari lokasi peternakan.
Perlindungan dari serangan berbagai macam hewan liar.

Pengkarantinaan ayam yang terserang penyakit.


Pemusnahan bangkai ayam ( dibakar atau dipendam ).
Ayam yang dibeli dari distributor penetasan atau suplier harus
memiliki sertifikat bebas salmonella pullorum.
Melakukan desinfeksi pada kandang dengan formaldehyde 40%.
Ayam yang terkena penyakit sebaiknya dipisahkan dari
kelompoknya, sedangkan ayam yang parah dimusnahkan.
6)

Berak darah (Coccidiosis)


Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang,
sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan.
Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga
litter tetap kering; (2) dengan Tetra Chloine Capsule diberikan
melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air minum
atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox.

7)

Pasteurellosis (Kolera unggas)


Kholera atau dikenal juga dengan nama fowl cholera, avian
pasteurellosis dan avian hemorrhagic septicaemia merupakan salah
satu penyakit infeksius yang banyak menyebabkan masalah di
peternakan ayam dan kalkun. Kholera merupakan penyakit bakterial
yang umum ditemukan pada peternakan kecil di Asia. Mortalitas
dapat mencapai 80% terutama pada musim penghujan. Penyakit ini
biasanya menyerang ayam diatas 6 minggu ditandai dengan adanya
peningkatan angka kematian yang mendadak dan tidak terduga.
Kholera banyak ditemukan pada ayam yang stress akibat sanitasi
yang jelek, malnutrisi, kandang terlalu padat, dan adanya penyakit
lain. Kalkun lebih rentan terhadap penyakit ini dibandingkan dengan
ayam, dan ayam yang tua lebih rentan dibanding yang masih muda.
Mengingat tingkat kerentanan dan pengelolaan peternakan, kasus
kholera di Indonesia lebih banyak ditemukan pada ayam petelur
dibandingkan dengan ayam pedaging. Hal ini terkait dengan masa
pemeliharaan ayam pedaging yang cukup pendek, serta kebiasaan
peternak yang akan memanen ayamnya lebih cepat apabila
ditemukan kasus penyakit untuk mencegah kerugian yang besar.
Kholera disebabkan oleh Pasteurella multocida, bakteri gram negatif
yang ditemukan oleh Louis Pasteur pada tahun 1880-an. P.
multocida sangat rentan terhadap disinfektan biasa, sinar matahari

dan panas. Akan tetapi masih bisa bertahan sekitar 1 bulan di


kotoran, 3 bulan di karkas dan antara 2-3 bulan di tanah yang
lembab. Infeksi dapat terjadi melalui rute mulut dan saluran
pernafasan.
Kholera dapat masuk ke peternakan melalui burung, tikus,
orang atau peralatan yang pernah kontak dengan penyakit.
Penyebaran antar flok dapat disebabkan oleh minuman yang
terkontaminasi, kotoran dan discharge hidung.
Pada kasus yang akut, kematian ayam merupakan gejala
pertama yang nampak. Demam, turunnya konsumsi pakan,
discharge dari mulut, diare dan gejala pernafasan dapat pula
terlihat. Gejala lain termasuk sianosis dan pembengkakan jengger.
Ayam yang bertahan hidup menjadi kronis atau dapat pula sembuh,
sedangkan yang lain bisa mati karena dehidrasi. Pada kasus lebih
lanjut, ayam akan menunjukan gejala penurunan berat badan dan
pincang karena infeksi pada persendian.
Pada awal kasus angka kematian berkisar antara 5-15%
bahkan bisa lebih tinggi apabila terjadi bersamaan denga kasus
penyakit lain. Angka kematian akan menurun sampai 2-5% ketika
kasusnya menjadi kronis. Ayam yang tertular secara kronis dapat
mati, tetap tertular dalam jangka waktu yang panjang atau sembuh.
Persentase yang tinggi dari ayam di dalam flok akan menjadi
carriers walaupun terlihat normal atau sehat dan merupakan sumber
utama penularan. Penyebaran P multocida didalam flok terjadi
melalui eksresi dari mulut, hidung, dan konjungtiva unggas yang
sakit dan kemudian mengkontaminasi lingkungan. Selain dari ayam
yang selamat dari bentuk akut, kasus kronis ditemukan pada ayam
yang tertular agen yang tidak terlalu ganas.
Ayam yang tertular secara kronis akan mengeluarkan agen
penyakit sepanjang hidupnya. P. multocida dapat ditemukan dalam
semua jaringan pada unggas yang mati dengan gejala septicemia,
sehingga praktek kanibalisme juga merupakan faktor penyebaran
yang sangat penting bagi penyakit ini.
Diagnosa
Diagnosa positif hanya dapat dilakukan apabila dilakukan
isolasi serta identifikasi P. Multocida di laboratorium. Diagnosa
tentatif bisa dilakukan berdasarkan sejarah, gejala klinis dan
patologi anatomi. Walaupun sejarah dan gejala klinis menunjukan
kemungkinan ditemukannya kholera, agen penyebab sebaiknya

tetap diisolasi sehinga isolat dapat diuji untuk tingkat kepekaannya


terhadap antibiotik.
Pencegahan
Pencegahan terbaik adalah melalui penerapan biosecuriti yang
baik, kontrol rodensia, dan hygiene peternakan. Selain itu sebagai
alat pencegahan, bacterin dapat digunakan pada umur 8 dan 12
minggu serta vaksin pada umur 6 minggu. Semua langkah dasar
dari program biosekuriti diperlukan untuk mencegah masuknya
penyakit. Orang sebagai sumber penularan yang paling dominan
harus dikontrol dengan baik. Hanya orang-orang yang perlu masuk
kandang saja yang bisa masuk kedalam kandang dan inipun harus
melalu prosedur pencucian tangan dengan sabun dan kalau
memang memungkinkan untuk selalu memakai pakaian kandang
yang baru dan sepatu boot yang bersih. Program sanitasi yang baik
untuk kandang dan peralatan juga sangat penting, terutama ketika
persiapan memasukan unggas baru. Hal yang paling penting adalah
pembersihan dan disinfeksi peralatan pakan dan minum.
Pengawasan yang ketat untuk tiap pemasukan pakan, peralatan
kandang dan juga orang sangat diperlukan untuk mencegah
masuknya kholera.
Berikut hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah kasus
kholera:
1. Ayam yang sakit dan mati di pisahkan dari ayam yang sehat
untuk kemudian di musnahkan (disposal yang baik)
2. Apabila wabah telah terjadi, dilakukan depopulasi, pembersihan
dan desinfeksi kandang serta peralatan kandang
3. Jeda waktu antara ayam tua yang di afkir dan penggantinya
4. Kontrol rodensia dan hama lainnya
5. Sumber air minum yang aman dan bersih
6.
Mencegah kontak antara ayam dengan hewan lain dan
burung liar
7.
Bacterin dan vaksinasi
8.
Pengobatan Jenis sulfa dan antibiotik (sulfadimethoxine,
sulfaquinoxaline, sulfamethazine, sulfaquinoxalene, penicillin,
tetracycline, erythromycin, streptomycin).
Penggunaan vaksin atau bacterin
Vaksinasi dapat dilakukan untuk mencegah penyakit ini, akan
tetapi perlu diingat bahwa vaksinasi hanya merupakan alat

pencegahan bagi peternakan yang berisiko tinggi terkena kholera


karena berdekatan dengan peternakan tertular. Vaksinasi kholera
sendiri sebenarnya mempunyai risiko, sebagai contoh: vaksin hidup
walaupun akan memberikan pertahanan juga akan menghasilkan
efek samping yang tidak diharapkan. Bacterin killed, akan
memberikan hasil tingkat antibodi yang baik, tetapi hanya spesifik
untuk strain yang digunakan.
Pengobatan
Pengobatan untuk kholera sebaiknya dijadikan alternatif
terakhir. Pengobatan hanya efektif apabila dilakukan pada awal-awal
kasus sebelum terlalu banyak ayam yang tertular dan penyakit
menjadi kronis. Walaupun pengobatan dapat mengurangi dampak
dari wabah, ayam tertular dapat saja kambuh lagi apabila
pengobatan dihentikan. Sehingga pengobatan perlu diperpanjang
dengan penambahan obat ke pakan dan minuman. Perlu diingat
bahwa penggunaan antibiotik atau sulfa harus berdasarkan hasil tes
sensitifitas terhadap agen yang diisolasi dari lokasi kasus.
Pengobatan
dapat
mengurangi
angka
kematian
dan
mempertahankan tingkat produksi. Akan tetepi apabila infeksi kronis
sudah ditemukan, keuntungan pengobatan sangat sulit untuk dapat
dilihat. Sulfaquinoxaline sodium dalam pakan atau air minum
biasanya dapat mengontrol angka kematian, begitu pula halnya
dengan sulfamethazine dan sulfadimethoxine.
Penggunaan tetracycline dosis tinggi dalam pakan (0.04%), air
minum atau injeksi dapat pula bermanfaat untuk pengobatan.
Penicillin efektif digunakan untuk infeksi yang resisten terhadap
sulfa. Perlu diperhatikan bahwa pengobatan dengan sulfa akan
menghasilkan residu di daging dan telur. Antibiotik dapat digunakan
dengan menggunakan dengan dosis yang lebih tinggi dan jangka
waktu yang cukup panjang untuk menghentikan wabah. Mengingat
adanya efek samping residu yang tidak diharapkan, semua
pengobatan sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter hewan yang
dapat menilai efektifitas dan keamanan dari penggunaan sulfa dan
antibiotik ini.
8)

Sindrom Kerdil Ayam


Masih kerap terdengar bila kita melakukan kunjungan lapangan
ke peternak peternak ayam pedaging (broiler), adanya keluhan
mengenai ketidak seragaman ayam yang dipeliharanya. Menurut
penuturan mereka, pada saat doc tiba kondisinya terlihat seragam,

tetapi setelah ayam mulai menginjak usia di atas 14 hari, baru


terlihat adanya ayam yang terlambat pertumbuhannya.
Pertumbuhan yang tidak seragam pada ayam broiler memang
banyak penyebabnya seperti :
Doc berasal dari Bibit Muda atau Bibit Tua Sekali
Multi strain dalam satu flock / kandang
Kurang tempat pakan dan tempat minum
Kepadatan ayam di kandang yang terlalu tinggi
Penyakit infectious seperti Coccidiosis
Sindroma Kekerdilan pada Broiler ( Runting and Stunting
Syndrome )
Pada umumnya para peternak berpendapat bahwa beberapa
penyebab yang menyebabkan ayamnya tidak seragam seperti
karena doc, multistrain dalam satu kandang, kurang peralatan
makan dan minum, kepadatan ayam dalam kandang dan penyakit
coccidiosis, mereka sudah dapat mengatasinya di lapangan. Tetapi
untuk sindroma kekerdilan atau runting and stunting syndrome, para
peternak masih meraba-raba penyebabnya, karena kejadian di
lapangan kadang ada dan kadang tidak ada atau hilang dengan
sendirinya.
Sindroma Kekerdilan pada Broiler mempunyai berbagai ragam
nama lain seperti :
Malabsorption Syndrome
Stunting Syndrome
Reovirus Malabsorption
Pale Bird Syndrome
Helicopter Disease
Brittle bone Disease
Sindroma kekerdilan didefinisikan sebagai : Sekelompok ayam
(umumnya terjadi 5-40% populasi ) yang mengalami laju
pertumbuhan yang kurang pada kisaran usia 4-14 hari. Dimana
setelah pada awalnya pertumbuhan tertekan, kemudian kembali
normal, tetapi tetap lebih kecil dari yang normal.
Bila kondisi di atas dialami peternak broiler maka beberapa
kerugian sudah nampak di depan mata seperti : tingginya ayam
culling; tingginya FCR; rataan berat badan di bawah standar; berat
badan yang sangat bervariasi, hal mana akan menjadi masalah bila
ada kontrak dengan slaughter house / rumah potong ayam;
masalah dengan penjualan karena banyaknya ayam yang kecil.
Penyebab

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya yaitu :


Penyebab berasal dari Pembibitan
Penyebab berasal dari Penetasan / Hatchery
Penyebab berasal dari Manajemen Produksi
Penyebab berasal dari Pakan / Nutrisi
Penyebab berasal dari Lingkungan
Penyebab berasal Penyakit
1.

Penyebab berasal dari Pembibitan.


Beberapa hal yang berasal dari Pembibitan yang dapat
menyebabkan doc yang dihasilkan mengalami sindroma kekerdilan
antara lain :
Telur tetas kecil (telur tetas yang berasal dari usia induk < 35 minggu
dan atau biasanya pada saat puncak produksi)
Maternal antibodi Reo-virus yang diturunkan rendah, padahal DOC
perlu Maternal Antibodi yang tinggi
Akan lebih parah apabila induknya positif Salmonella enteritidis
Walaupun demikian kekerdilan bukan merupakan penyakit yang
diturunkan
2.
Penyebab berasal dari Penetasan / Hatchery.
Beberapa hal yang berasal dari Penetasan / Hatchery yang
dapat menyebabkan doc yang dihasilkan mengalami sindroma
kekerdilan antara lain :
Waktu koleksi telur tetas yang terlalu lama
Tidak dilakukannya grading telur tetas yang akan dimasukkan ke
mesin tetas
Bercampurnya telur tetas yang berasal dari usia induk yang sangat
jauh berbeda
Terlalu lama proses penanganan di ruang seleksi sehingga doc
mengalami stress
Kurang representatifnya alat angkut doc (chick van) dari Hatchery ke
Peternak / kandang pemeliharaan.
3.
Penyebab berasal dari Manajemen Produksi
Manajemen Produksi juga dapat menjadi penyebab terjadinya
sindroma kekerdilan seperti :
Biosecurity yang buruk
Farm terdiri dari beberapa usia (multi ages)
Kurang baiknya kualitas doc yang dipelihara
Penanganan doc yang kurang baik terutama waktu periode brooding

Cara pemberian, kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan tidak


benar
4.

Penyebab berasal dari Pakan / Nutrisi


Kandungan yang terdapat pada pakan jika kurang atau
berlebihan kadang menimbulkan pertumbuhan yang kurang baik
bagi ayam yang dipelihara misalnya
Gejala sering seperti ayam yang terserang mycotoxicosis,
khususnya Aflatoxicosis
Penggunaan Bungkil Kacang Kedelai yang berkualitas rendah
Penggunaan Canola Meal dan Protein Hewani lebih daripada 8%
Tidak ada atau rendah kandungan Natrium (khusus di Asia)
Penggunaan vitamin yang kurang, khususnya pada pakan Breeder.
5.

Penyebab berasal dari Lingkungan.


Menempatkan ayam pada kondisi lingkungan yang kurang
kondusif akan juga mengakibatkan ayam terkena sindroma
kekerdilan, seperti :
Lingkungan kandang yang bersuhu dan kelembaban terlalu tinggi
Liingkungan kandang yang terlalu padat populasi ayamnya dan
terdiri dari berbagai usia
Lingkungan kandang merupakan daerah endemik penyakit yang
bersifat imunosupresif.
Penyebab berasal dari Penyakit.
Ada beberapa penyakit yang dapat memicu timbulnya
sindroma kekerdilan, dimana penyakit tersebut umumnya
menimbulkan stress dan khususnya bersifat immunosupresif, seperti
:
Infeksi Reo virus
Infeksi Mareks Disease, hal ini dapat terjadi terutama di Asia karena
Broiler di Asia tidak divaksinasi
Chicken Anemia Virus, vaksinasi tidak dilakukan di beberapa negara
ALV J, diduga ada korelasi positif dengan sindroma kekerdilan
Infectious Bursal Disease / Gumboro, beberapa negara hanya
memakai strain klasik untuk vaksinasinya
Avian Nephritis Virus
Reaksi yang berlebihan dari vaksinasi ND dan IB
Penyebab utama yang paling berperanan adalah Reo virus
dengan spesifikasi sebagai berikut :
Virus tidak berselubung / amplop, tahan panas dan dapat hidup

pada 600 C selama 8 10 jam


pada 560 C selama 22 24 jam
pada 370 C selama 15 16 minggu
pada 220 C selama 48 51 minggu
pada 40 C selama lebih dari 3 tahun
pada - 630 C selama lebih dari 10 tahun

Penularan
Penularan dapat terjadi secara horizontal
Melalui jalur respirasi
Penularan secara vertikal dengan suatu percobaan dengan cara
inokulasi induk usia 15 bulan, ternyata pada doc hasil tetasannya
(17 19 hari post inokulasi) mengandung virus reo

Gejala Klinis
Biasanya mulai terlihat pada usia 4 8 hari dengan ciri-ciri :
Malas bergerak
Bulu kusam
Coprophagia (faeces / litter eating)
Bila di uji gula darahnya Hypoglycaemic
Hanya sebagian populasi yang terkena dengan kategori :

5 10 % populasi dengan kategori RINGAN

10 30 % populasi dengan kategori BURUK

30 % populasi dengan kategori BENCANA


Biasanya terlihat pada usia 2 minggu :
Bulu sekitar kepala dan leher tetap Yellow Heads
Bulu primer sayap patah / dislokasi Helicopter Birds /
Stress Banding
Tulang kering / betis berwarna pucat
Jika diperiksa kotorannya masih utuh / makanan hanya lewat
saja.
9) Colibacillosis
Collibacillosis adalah Penyakit infeksius pada unggas yang
disebabkan oleh kuman Echerichia coli yang pathogen / ganas baik
secara primer maupun secara sekunder. Colibacillosis pertama kali
ditemukan pada tahun 1894, setelah itu banyak kejadian-kejadian
colibacillosis sehingga memperkaya dan saling melengkapi
mengenai penyakit ini baik kejadian di lapangan maupun penelitian
di laboratorium.

Kuman pada umumnya menular secara horizontal, dan secara


garis besar dibagi menjadi 2 penyebab utama yaitu :
Dari dalam, yaitu yang berasal dari anak ayam / ayam itu sendiri,
seperti kejadian Radang pusar atau Omphalitis, Stress ataupun
Dehydrasi akibat perjalanan. Dalam saluran pencernaan ayam ada
106 /gr, dimana 10 15 % adalah berpotensi menjadi pathogen /
ganas.
Dari luar, yaitu yang berasal dari kontaminan lingkungan sekitar /
area kandang dan atau yang berasal dari bahan sapronak yang
tidak bersih misalnya kontaminan berasal dari pakan, air dan udara
yang tercemar Escherichia coli.
Walaupun penyebabnya sama yaitu infeksi bakteri Escherichia
coli, tetapi di lapangan banyak dikenal berbagai macam penyakit
yang merupakan berbagai bentuk manifestasi akibat terinfeksi
bakteri ini, diantaranya adalah :
1.
Kematian Embrio / Omphalitis
2.
Air Sacculitis / Radang Kantung Hawa
3.
Colisepticemia/ Koliseptisemia
4.
Panophthalmitis
5.
Swolen Head Syndrome
6.
Coli Granuloma / Hjarres Diseases
Pencegahan
Usahakan agar anak ayam yang dipelihara berasal dari pembibitan
yang bebas dari penyakit pernapasan seperti CRD, IB dan ND.
Jika anak ayam sudah terlanjur masuk di kandang, anak ayam yang
sudah terinfeksi dengan bakteri Escherichia coli agar diafkir.
Jalankan selalu prinsip water treatment / pengobatan air secara
efektif dan berkesinambungan, untuk menurunkan populasi bakteri
dalam air minum.
Perhatikan selalu ventilasi, agar ayam selalu mendapat udara yang
segar, bersih dan sehat.
Laksanakan biosecurity secara terpadu, agar kondisi farm sesedikit
mungkin mengandung kontaminan khususnya bakteri Escherichia
coli.
Jaga selalu kekeringan litter kandang agar tidak terlalu kering juga
tidak terlalu basah, Untuk itu perlu diperhatikan selalu kepadatan
populasi agar kondisi kekeringan litter mudah untuk dikendalikan.
Spray ruang kandang setiap hari menggunakan campuran air
dengan BIODES-100, SEPTOCID atau GLUTAMAS sangat berguna

disamping untuk menjaga kelembaban juga mengurangi density


bakteri di ruang kandang.
Bila ayam selalu terserang infeksi Escherichia coli yang parah pada
usia di atas tiga minggu, tidak ada salahnya lakukan penyuntikan
doc pada usia 4 hari pertama dengan antibiotika secara subkutan
bisa dengan memakai GENTIPRA atau HIPRASULFA TS sesuai
dengan dosis yang dianjurkan.
Alternatif vaksinasi inaktif kombinasi O2K1 dan O78K80, dalam
pelaksanaannya masih terjadi pro dan kontra akan efektifitas
kegunaannya, karena belum ada hasil yang sangat nyata.
Hal yang paling penting untuk dilakukan agar serangan infeksi
bakteri Escherichia coli tidak menjadikan ayam peliharaan menjadi
menderita adalah dengan cara menciptakan ayam senyaman
mungkin tinggal dalam kandangnya, dengan kata lain jangan sampai
ayam mengalami stress, karena stress merupakan pencetus utama
ayam terserang infeksi bakteri ini.
Pengobatan
Kuman E. coli kebanyakan sensitif / peka terhadap beberapa
antibiotika seperti kelompok aminoglukosida (NEOXIN), polipeptida
(MOXACOL), tetrasiklin, Sulfonamida, trimethoprim (COLIMAS) dan
Quinolon (CIPROMAS, ENROMAS).
Apabila setelah diobati dengan berbagai antimikroba tidak
terjadi perubahan kearah penyembuhan, maka perlu dilakukan uji
sensitivitas.
Pencegahan dengan menggunakan obat suntik Hiprasulfa TS
dan Gentipra, serta spray kandang dengan desinfektan Biodes-100,
Septocid dan Glutamas, maupun pengobatan dengan menggunakan
Neoxin, Moxacol, Colimas, Cipromas maupun Enromas, agar
diperhatikan benar cara dan dosis pemakaiannya dan dilaksanakan
sesuai dengan anjuran dari pembuatnya, agar mendapatkan efek
pengobatan yang maksimal.
10)

Pilek Pada Ayam


Penyakit pilek yang menyerang pada ayam masuk ke dalam
kategori penyakit yang berbahaya dikarenakan penyakit ini dapat
menular dengan sangat cepat dan dapat menyerang ke semua jenis
ayam. Ayam yang menderita penyakit pilek pergerakannya berubah
menjadi pasif. Gejala lain yang muncul pada ayam yang terserang
pilek adalah nafsu makannya menghilang, kepalanya bergoyang
goyang dan sering bersin bersin. Jika kondisi ini dibiarkan berlarut

larut, kondisi ayam akan semakin parah. Dari lubang hidung dan
kedua matanya akan keluar semacam cairan yang pada akhirnya
nanti dapat membuat hidung ayam tersumbat sehingga membuat
ayam menjadi susah bernafas. Penyakit ayam ini disebabkan oleh
bakteri haemophilus galloinarum dan dapat menyebar melalui
makanan, minuman dan udara. Untuk mengatasi penyebaran
penyakit pilek ini, peternak ayam harus segera memindahkan ayam
yang sedang sakit ke kandang khusus untuk dikarantina.
Pengobatan
Beberapa obat yang dapat digunakan untuk mengobati
penyakit pilek pada ayam adalah neofet, kapsul anti snot dan bubuk
coryuit. Dosis pemakaian obat dan cara pemberian obat harus
disesuaikan dengan petunjuk yang ada dikemasan obat. Selain itu,
penyakit ini juga dapat disembuhkan dengan cara menyuntikkan
cairan streptomycim berdosis 0,2 cc / suntikkan / hari. Proses
penyuntikkan berlangsung selama 5 hari dengan bagian tubuh ayam
yang disuntik adalah leher bagian belakang. Beberapa jenis obat
yang biasa dikonsumsi oleh manusia ditengarai juga dapat
digunakan untuk mengobati ayam yang sedang terserang penyakit
pilek. Mereka adalah refagan dan bodrex. Caranya adalah : satu
tablet obat dilarutkan ke dalam 1 sendok air teh dan kemudian
diminumkan kepada ayam.
Pencegahan
Pemberian antibiotik (streptomycin dan sulfanilamida) secara
berkala dapat membantu mencegah ayam tidak mudah terserang
pilek. Vaksinasi (corryta naccin dan vaksin snot) juga harus
dilakukan ketika ayam masih berumur 2 minggu, 1 bulan, 3 bulan
dan menjelang usia dewasa.
11) Hama

Tungau (kutuan)
Gejala: ayam gelisah, sering mematuk-matuk dan mengibasngibaskan bulu karena gatal, nafsu makan turun, pucat dan kurus.
Pengendalian: (1) sanitasi lingkungan kandang ayam yang baik;
pisahkan ayam yang sakit dengan yang sehat; (2) dengan
menggunakan karbonat sevin dengan konsentrasi 0,15% yang
encerkan dengan air kemudian semprotkan dengan menggunakan
karbonat sevin dengan konsentrasi 0,15% yang encerkan dengan
air kemudian semprotkan ketubuh pasien. Dengan fumigasi atau

pengasepan menggunakan insektisida yang mudah menguap


seperti Nocotine sulfat atau Black leaf 40.
2.6. Mortalitas
Mortalitas merupakan angka kematian dalam pemeliharaan
ternak. Ada banyak hal yang berpengaruh terhadap mortalitas dalam
pemeliharaan unggas. Misalnya, adalah karena penyakit,
kekurangan pakan, kekurangan minum, temperatur, sanitasi, dan
lain
sebagainya.
Penyakit
didefinisikan
sebagai
segala
penyimpangan gejala dari keadaan kesehatan yang normal. Tingkat
kematian yang disebabkan oleh penyakit tergantung dari jenis
penyakit yang menyerang unggas. Dalam pemeliharaan petelur
yang berhasil, tingkat kematian 10 sampai 12% dianggap normal
dalam satu tahun produksi. Dalam kelompok pedaging, kematian
maksimum per tahun normalnya adalah sekitar 4%. Setiap kematian
yang melebihi angka tersebut harus dianggap sebagai kondisi yang
serius yang harus mendapat perhatian segera dari peternak yang
bersangkutan (Blakely and Bade, 1991).
Menurut Sidadolog (2001) ayam dewasa dan merpati mampu
bertahan hidup tanpa makan selama 2 sampai 3 minggu.
Kehilangan berat akibat kekurangan pakan (kelaparan) pada
merpati antara 38 sampai 42% dari berat badan semula, sedangkan
pada ayam setelah berpuasa selama 11 hari dan bebas minum,
kehilangan berat 25% dari berat semula. Pemberian pakan yang
terkontrol dan teratur dapat menurunkan mortalitas ayam dan daya
hidup bertambah.
Kecukupan air minum pada ayam sangat penting diperhatikan.
Ayam lebih baik mengalami kelaparan daripada kehausan dan
kehilangan air. Ayam akan mati apabila kehilangan air 5 sampai 15%
berat hidup. Kematian terjadi pada ayam akibat kekurangan air
dinyatakan sebagai berikut, ayam berumur 8 minggu selama 72 jam,
merpati dewasa selama 12 sampai 13 hari, ayam petelur selama 8
sampai 13 hari dan ayam dewasa yang tidak bertelur sampai 32
hari. Pada periode starter, ayam broiler yang dipelihara pada
temperatur rendah (5 0C) terjadi kematian pada 4 minggu pertama
sekitar 18%, karena secara nyata temperature tubuh terlalu rendah
di bawah soll wert (Sidadolog, 2001).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menekan angka
kematian adalah mengontrol kesehatan ayam, mengontrol
kebersihan tempat pakan dan minum serta kandang, melakukan

vaksinasi secara teratur, memisahkan ayam yang terkena penyakit


dengan ayam yang sehat, dan memberikan pakan dan minum pada
waktunya (Siregar et al., 1980).

2.7 Analisis Hubungan


Usaha perunggasan pada saat sekarang dan masa
mendatang memiliki prospek yang cukup baik. Hal ini karena produk
unggas memiliki kemampuan produksi yang cepat dan masal,
produk daging dan telur disukai semua lapisan masyarakat dan
didukung oleh industri penunjang secara paripurna diantaranya
industry pembibitan, pabrik pakan, obat- obatan dan peralatan.
Untuk mendirikan suatu peternakan diperlukan adanya modal
yang menurut Kadarson (1992) merupakan salah satu faktor
produksi yang disediakan, diolah dan dikontrol di dalam suatu
perusahaan agrobisnis maupun usaha tani yang masih sederhana.
Berdasarkan arah pemakainnya, modal terbagi menjadi modal
investasi dan modal operasional (Kadarson, 1992). Modal
operasional atau modal kerja disebut juga modal lancar yang dipakai
untuk membiayai semua pengeluaran yang menyebabkan
perusahaan aktif, misalnya untuk membeli bahan-bahan produksi,
perlengkapan-perlengkapan, upah pengawas borongan dan
pengeluaran-pengeluaran konsumtif pada masa operasional
(Kadarson, 1992).
Menurut Rasyaf (1994) biaya ransum merupakan biaya
terbesar dari seluruh komponen biaya produksi unggas umumnya
dan ayam broiler khususnya. Biaya ini tergantung pada harga
ransum dan konsumsi ransum secara kuantitatif dan kualitatif
ditentukan secara teknis dan sudah ada standarnya, maka yang
pertama harus dilihat dari sudut harga ransum itu sendiri.
Tujuan setiap perusahaan adalah meraih keuntungan
semaksimal mungkin dan mempertahankan kelestarian perusahaan
(Kadarson, 1992). Oleh karena output yang digunakan, maka
perusahaan akan berusaha mencapai suatu tingkat produksi yang
dapat memberikan laba maksimal, yaitu suatu kondisi dimana
marginal costnya adalah sama dengan marginal revenue
(Prawirokusumo, 1981).
2.8. Panen

Hasil Utama, untuk usaha ternak ayam pedaging, hasil


utamanya adalah berupa daging ayam

Hasil Tambahan, usaha ternak ayam broiler (pedaging) adalah


berupa tinja atau kotoran kandang dan bulu ayam.

2.9. Pasca Panen


1. Stoving
Penampungan ayam sebelum dilakukan pemotongan, biasanya
ditempatkan di kandang penampungan (Houlding Ground)
2. Pemotongan
Pemotongan ayam dilakukan dilehernya, prinsipnya agar darah
keluar keseluruhan atau sekitar 2/3 leher terpotong dan ditunggu 1-2
menit. Hal ini agar kualitas daging bagus, tidak mudah tercemar dan
mudah busuk.
3. Pengulitan atau Pencabutan Bulu
Caranya ayam yang telah dipotong itu dicelupkan ke dalam air
panas (51,7- 54,4 0C). Lama pencelupan ayam broiler adalah 30
detik. Bulu-bulu yang halus dicabut dengan membubuhkan lilin cair
atau dibakar dengan nyala api biru.
4. Pengeluaran Jeroan
Bagian bawah dubut dipotong sedikit, seluruh isi perut (hati, usus
dan ampela) dikeluarkan. Isi perut ini dapat dijual atau diikut
sertakan pada daging siap dimasak dalam kemasan terpisah.
5. Pemotongan Karkas
Kaki dan leher ayam dipotong. Tunggir juga dipotong bila tidak
disukai. Setelah semua jeroan sudah dikeluarkan dan karkas telah
dicuci bersih, kaki ayam/paha ditekukan dibawah dubur. Kemudian
ayam didinginkan dan dikemas.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1. Kesimpulan

Ayam merupakan salah satu ternak yang potensial di daerah


kita,dilihat dari segi konsumsi masyarakat dan kebutuhan
masyarakat akan daging dan telur ayam sangat tinggi karena
hamper setiap hari dikonsumsi,sehingga beternak ayam adalah
salah satu peluang bisnis yang sangat menguntungkan jika kita mau
menekuninya dengan sungguh sungguh.
Beternak ayam juga memerlukan profesionalisme dan dedikasi
yang penuh terhadap peternakan ayamnya, agar hasil yang didapat
juga maksimal dan sangat memuaskan. Dalam arti kita mendapat
keuntungan dari sisi ekonomi dan juga kita akan mendapatkan
kepuasan batin dan itu merupakan kebanggaan tersendiri dari diri
kita atas usaha yang kita tekuni.
3.2. Saran
Semoiga makalah ini dapat menjadi panduan yang berguna bagi
para peternak ayam baik bagi pemula maupun yang professional.

DAFTAR PUSTAKA
Anonimous.
2011
Pendahuluan.
http://micksihite.blogspot.com/p/laporan-semester-praktikumproduksi.html
Cahyono dan Bambang, 1995. Cara Meningkatkan Budidaya Ayam Ras
Pedaging (broiler). Penerbit Pustaka Nusatama: Yogyakarta.
Fadillah. R, 2007. Sukses Berternak Ayam Broiler. PT.Agromedia
Pustaka:. Ciganjur.
Kartini.
2011.
Kandungan
Zat
Pakan
Jagung.
http://putramegatawang.com/kandungan-zat pakan-jagung.html.
R, 2008. Panduan Mengelola Peternakan Ayam Broiler Komersial.
Agromedia pustaka: Jakarta
Priatno, Martono.A, 2004. Membuat Kandanng Ayam. PT. Penebar
Swadaya:. Jakarta

Rasyaf. M, 1994. Beternak Ayam Petelur. Penebar Swadaya: Jakarta


Sugandi, 1978. Tatalaksana Pemeliharaan Ayam Pedaging Strain MB
202-p Periode StarterFinisher. PT. Janu Putro Sentosa: Bogor.