Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.
Puji syukur Penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT karena
hanya dengan limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nyalah Penyusun
dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat serta salam semoga
tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan
pengikut-pengikutnya hingga akhir zaman.
Alhamdulillah kami dapat membuat makalah
keperawatan pada pasien anak dengan penyakit diare.

asuhan

Penyusun menyadari banyak kekurangan dalam penyusunan


makalah ini. Namun, Penyusun berharap semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi Penyusun pada khususnya dan pembaca pada
umumnya.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Penyusun

Kelompok 8

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Diare atau dikenal dengan sebutan mencret memang
merupakan penyakit yang masih banyak terjadi pada masa kanak dan
bahkan menjadi salah satu penyakit yang banyak menjadi penyebab
kematian anak yang berusia di bawah lima tahun (balita). Karenanya,
kekhawatiran orang tua terhadap penyakit diare adalah hal yang wajar
dan harus dimengerti. Justru yang menjadi masalah adalah apabila ada
orang tua yang bersikap tidak acuh atau kurang waspada terhadap
anak yang mengalami diare. Misalnya, pada sebagian kalangan
masyarakat, diare dipercaya atau dianggap sebagai pertanda bahwa
anak akan bertumbuh atau berkembang. Kepercayaan seperti itu
secara tidak sadar dapat mengurangi kewaspadaan orang tua.
sehingga mungkin saja diare akan membahayakan anak.
Menurut data United Nations Childrens Fund (UNICEF) dan World
Health Organization (WHO) pada 2009, diare merupakan penyebab
kematian nomor 2 pada balita di dunia, nomor 3 pada bayi, dan nomor
5 bagi segala umur. Data UNICEF memberitakan bahwa 1,5 juta anak
meninggal dunia setiap tahunnya karena diare.
Angka tersebut bahkan masih lebih besar dari korban AIDS,
malaria, dan cacar jika digabung. Sayang, di beberapa negara
berkembang, hanya 39 persen penderita mendapatkan penanganan
serius.
Di Indonesia sendiri, sekira 162 ribu balita meninggal setiap
tahun atau sekira 460 balita setiap harinya akibat diare. Daerah Jawa
Barat merupakan salah satu yang tertinggi, di mana kasus kematian
akibat diare banyak menimpa anak berusia di bawah 5 tahun.
Umumnya, kematian disebabkan dehidrasi karena keterlambatan
orangtua memberikan perawatan pertama saat anak terkena diare.
Diare disebabkan faktor cuaca, lingkungan, dan makanan.
Perubahan iklim, kondisi lingkungan kotor, dan kurang memerhatikan
kebersihan makanan merupakan faktor utamanya. Penularan diare
umumnya melalui 4F, yaitu Food, Fly , Feces, dan Finger.

Oleh karena itu, upaya pencegahan diare yang praktis adalah dengan
memutus rantai penularan tersebut. Sesuai data UNICEF awal Juni
2010,
ditemukan
salah
satu
pemicu
diare
baru,
yaitu
bakteri Clostridium
difficile yang
dapat
menyebabkan
infeksi
mematikan di saluran pencernaan. Bakteri ini hidup di udara dan dapat
dibawa oleh lalat yang hinggap di makanan.
Angka kejadian diare di sebagian besar wilayah Indonesia hingga
saat ini masih tinggi. Di Indonesia, sekitar 162 ribu balita meninggal
setiap tahun atau sekitar 460 balita setiap harinya. Dari hasil Survey
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di Indonesia, diare merupakan
penyebab kematian nomor 2 pada balita dan nomor 3 bagi bayi serta
nomor 5 bagi semua umur. Setiap anak di Indonesia mengalami
episode diare sebanyak 1,6 2 kali per tahun.

1.2

Rumusan Masalah

1. 2.1

Sebutkan jenis-jenis diare.

1.2.2

Apa sajakah penyebab diare ?

1.2.3

Bagaiman patofisiologi terjadinya diare ?

1.2.4

Sebutkan tanda dan gejala diare ?

1.2.5

Apa akibat dari penyakit diare ?

1.2.6

Bagaiman cara pencegahan terhadap penyakit diare ?

1.2.7
Sebutkan upaya pertolongan pertama yang perlu segera
dilakukan terhadap
penyakit diare ?

1.3
1.3.1

Tujuan Umum dan Khusus


Tujuan umum

Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk mendapatkan gambaran


epidemiologi, distribusi, frekuensi, determinan, isu dan program
penanganan penyakit diare.

1.3.2

Tujuan khusus

Mampu memberikan keperawatan yang tepat untuk pasien.

Agar dapat mengetahui penyebab diare.


Agar dapat mengetahui gejala diare.
Agar dapat mengetahui cara penanggulangan diare.
Agar dapat mengetahui cara pencegahan diare.

1.4

Manfaat

1.4.1
Dapat mengetahui
penyakit diare dan

dan

mempelajari

lebih

rinci

tentang

mampu menerapkan teori teori yang di dapat di dalam


instisusi pendidikan.
1.4.2
Sebagai salah satu sumber literatur dalam perkembangan
dibidang profesi
keperawatan.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anak
a. Pengertian Anak
Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang
perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Masa
anak merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai
dari bayi (0-1 tahun) usia bermain/oddler (1-2,5 tahun), pra sekolah
(2,5-5), usia sekolah (5-11 tahun) hingga remaja (11-18 tahun).
Rentang ini berada antara anak satu dengan yang lain mengingat latar
belakang anak berbeda. Pada anak terdapat rentang perubahan
pertumbuhan dan perkembangan yaitu rentang cepat dan lambat.
Dalam proses perkembangan anak memiliki ciri fisik, kognitif, konsep
diri, pola koping dan perilaku sosial. Ciri fisik adalah semua anak tidak
mungkin pertumbuhan fisik yang sama akan tetapi mempunyai
perbedaan dan pertumbuhannya. Demikian juga halnya perkembangan
kognitif juga mengalami perkembangan yang tidak sama. Adakalanya
anak dengan perkembangan kognitif yang cepat dan juga adakalanya
perkembangan kognitif yang lambat. Hal tersebut juga dapat
dipengaruhi oleh latar belakang anak. Perkembangan konsep diri ini
sudah ada sejak bayi, akan tetapi belum terbentuk secara sempurna
dan akan mengalami perkembangan seiring dengan pertambahan usia
pada anak. Demikian juga pola koping yang dimiliki anak hamper sama
dengan konsep diri yang dimiliki anak. Bahwa pola koping pada anak
juga sudah terbentuk mulai bayi, hal ini dapat kita lihat pada saat bayi
anak menangis.Salah satu pola koping yang 6 Universitas Sumatera
Utara dimiliki anak adalah menangis seperti bagaimana anak lapar,
tidak sesuai dengan keinginannya, dan lain sebagainya. Kemudian
perilaku sosial pada anak juga mengalami perkembangan yang
terbentuk mulai bayi. Pada masa bayi perilaku social pada anak sudah
dapat dilihat seperti bagaimana anak mau diajak orang lain, dengan

orang banyak dengan menunjukkan keceriaan. Hal tersebut sudah


mulai menunjukkan terbentuknya perilaku social yang seiring dengan
perkembangan usia. Perubahan perilaku social juga dapat berubah
sesuai dengan lingkungan yang ada, seperti bagaimana anak sudah
mau bermain dengan kelompoknya yaitu anak-anak (Azis, 2005).

2.2 Konsep Dasar Penyakit


2.2.1 Pengertian
Menurut Haroen N, S. Suraatmaja dan P.O Asdil (1998), diare
adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah
atau lendir dalam tinja.
Sedangkan menurut C.L Betz & L.A Sowden (1996) diare merupakan
suatu keadaan terjadinya inflamasi mukosa lambung atau usus.
Menurut Suradi & Rita (2001), diare diartikan sebagai suatu keadaan
dimana terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan
yang terjadi karena frekuensi buang air besar satu kali atau lebih
dengan bentuk encer atau cair.
Jadi diare dapat diartikan suatu kondisi, buang air besar yang tidak
normal yaitu lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang
encer dapat disertai atau tanpa disertai darah atau lendir sebagai
akibat dari terjadinya proses inflamasi pada lambung atau usus.
Jenis-jenis Diare
a.

Diare Akut

Merupakan diare yang disebabkan oleh virus yang disebut Rotaviru


yang ditandai dengan buang air besar lembek/cair bahkan dapat
berupa air saja yang frekuensinya biasanya (3kali atau lebih dalam
sehari) dan berlangsung kurang dari 14 hari. Diare Rotavirus ini
merupakan virus usus patogen yang menduduki urutan pertama
sebagai penyebab diare akut pada anak-anak.

b.

Diare Bermasalah

Merupakan yang disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, parasit,


intoleransi laktosa, alergi protein susu sapi. Penularan secara fecaloral, kontak dari orang ke orang atau kontak orang dengan alat rumah
tangga. Diarae ini umumnya diawali oleh diare cair kemudian pada hari
kedua atau ketiga baru muncul darah, dengan maupun tanpa lendir,
sakit perut yang diikuti munculnya tenesmus panas disertai hilangnya
nafsu makan dan badan terasa lemah.

c.

Diare Persisten

Merupakan diare akut yang menetap, dimana titik sentral patogenesis


diare persisten adalah keruskan mukosa usus. Penyebab diare
persisten sama dengan diare akut.

2.3 Etiologi
a.

Infeksi enteral; infeksi saluran pencernaan yang merupakan


penyebab utama diare, meliputi infeksi bakteri (Vibrio, E. coli,
Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dsb),
infeksi virus (Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dll),
infeksi parasit (E. hystolytica, G.lamblia, T. hominis) dan jamur (C.
albicans).

b.

Infeksi parenteral; merupakan infeksi di luar sistem pencernaan


yang dapat menimbulkan diare seperti: otitis media akut, tonsilitis,
bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya.

c.

Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltosa


dan sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan
galaktosa). Intoleransi laktosa merupakan penyebab diare yang
terpenting pada bayi dan anak. Di samping itu dapat pula terjadi
malabsorbsi lemak dan protein.

d.

Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi, beracun


dan alergi terhadap jenis makanan tertentu.

e. Diare dapat terjadi karena faktor psikologis (rasa takut dan


cemas).

2.4 Tanda dan Gejala

Gejala diare adalah tinja yang encer dengan frekuensi 4kali atau lebih
dalam sehari, yang kadang disertai:
a.

Muntah

b.

Badan lesu atau lemah

c.

Panas

d.

Tidak nafsu makan

e.

Darah dan lendir dalam kotoran

2.5 Manifestasi klinis


Diare akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah,
demam, tenesmus, hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang
perut. Akibat paling fatal dari diare yang berlangsung lama tanpa
rehidrasi yang adekuat adalah kematian akibat dehidrasi yang
menimbulkan renjatan hipovolemik atau gangguan biokimiawi
berupa asidosis metabolik yang berlanjut. Seseoran yang
kekurangan cairan akan merasa haus, berat badan berkurang,
mata cekung, lidah kering, tulang pipi tampak lebih menonjol,
turgor kulit menurun serta suara menjadi serak. Keluhan dan gejala
ini disebabkan oleh deplesi air yang isotonik.
Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya
dengan asam karbonat berkurang mengakibatkan penurunan pH
darah yang merangsang pusat pernapasan sehingga frekuensi
pernapasan meningkat dan lebih dalam (pernapasan Kussmaul)
Gangguan kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat
dapat berupa renjatan dengan tanda-tanda denyut nadi cepat (>
120 x/menit), tekanan darah menurun sampai tidak terukur. Pasien
mulai gelisah, muka pucat, akral dingin dan kadang-kadang
sianosis. Karena kekurangan kalium pada diare akut juga dapat
timbul aritmia jantung.
Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal
menurun sampai timbul oliguria/anuria. Bila keadaan ini tidak
segera diatsi akan timbul penyulit nekrosis tubulus ginjal akut yang
berarti suatu keadaan gagal ginjal akut.

2.6 Patofisiologi

2.7 Pemeriksaan Diagnostik


a. Pemeriksaan tinja.

b.Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah


astrup, bila memungkinkan dengan menentukan PH keseimbangan
analisa gas darah atau astrup, bila memungkinkan.
c.Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin untuk mengetahui fungsi
ginjal.
d.Pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum untuk mengetahui
jasad renik atau
parasit secara kuantitatif, terutama dilakukan pada klien diare
kronik.

2.8 Penatalaksanaan
Penanggulangan kekurangan cairan merupakan tindakan
pertama dalam mengatasi pasien diare. Hal sederhana seperti
meminumkan banyak air putih atau oral rehidration solution (ORS)
seperti oralit harus cepat dilakukan. Pemberian ini segera apabila
gejala diare sudah mulai timbul dan kita dapat melakukannya sendiri
di rumah. Kesalahan yang sering terjadi adalah pemberian ORS baru
dilakukan setelah gejala dehidrasi nampak.
Pada penderita diare yang disertai muntah, pemberian larutan
elektrolit secara intravena merupakan pilihan utama untuk
mengganti cairan tubuh, atau dengan kata lain perlu diinfus.
Masalah dapat timbul karena ada sebagian masyarakat yang enggan
untuk merawat-inapkan penderita, dengan berbagai alasan, mulai
dari biaya, kesulitam dalam menjaga, takut bertambah parah
setelah masuk rumah sakit, dan lain-lain. Pertimbangan yang banyak
ini menyebabkan respon time untuk mengatasi masalah diare
semakin lama, dan semakin cepat penurunan kondisi pasien kearah
yang fatal.
Diare karena virus biasanya tidak memerlukan pengobatan lain
selain ORS. Apabila kondisi stabil, maka pasien dapat sembuh sebab
infeksi virus penyebab diare dapat diatasi sendiri oleh tubuh (selflimited disease).
Diare karena infeksi bakteri dan parasit seperti Salmonella sp,
Giardia lamblia, Entamoeba coli perlu mendapatkan terapi antibiotik
yang rasional, artinya antibiotik yang diberikan dapat membasmi
kuman.

Oleh karena penyebab diare terbanyak adalah virus yang tidak


memerlukan antibiotik, maka pengenalan gejala dan pemeriksaan
laboratorius perlu dilakukan untuk menentukan penyebab pasti.
Pada kasus diare akut dan parah, pengobatan suportif didahulukan
dan terkadang tidak membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut kalau
kondisi sudah membaik.

2.9 Komplikasi
Menurut Broyles (1997) komplikasi diare ialah: dehidrasi,
hipokalemia, hipokalsemia, disritmia jantung (yang disebabkan
oleh hipokalemia dan hipokalsemia), hiponatremia,
dan shock hipovolemik.

2.10 Pencegahan
Pencegahan muntaber bisa dilakukan dengan mengusahakan
lingkungan yang bersih dan sehat.
a.
Usahakan untuk selalu mencuci tangan sebelum
menyentuh makanan.
b.

Usahakan pula menjaga kebersihan alat-alat makan.

c.
Sebaiknya air yang diminum memenuhi kebutuhan
sanitasi standar di lingkungan tempat tinggal. Air dimasak
benar-benar mendidih, bersih, tidak berbau, tidak berwarna dan
tidak berasa.
d.

Tutup makanan dan minuman yang disediakan di meja.

e.
Setiap kali habis pergi usahakan selalu mencuci tangan,
kaki, dan muka.
f.
Biasakan anak untuk makan di rumah dan tidak jajan di
sembarangan tempat. Kalau bisa membawa makanan sendiri
saat ke sekolah
g.
Buatlah sarana sanitasi dasar yang sehat di lingkungan
tempat tinggal, seperti air
bersih dan jamban/WC yang
memadai.
h.
Pembuatan jamban harus sesuai persyaratan sanitasi
standar. Misalnya, jarak antara jamban (juga jamban tetangga)

dengan sumur atau sumber air sedikitnya 10 meter agar air


tidak
terkontaminasi.
Dengan
demikian,
warga
bisa
menggunakan air bersih untuk keperluan sehari-hari, untuk
memasak, mandi, dan sebagainya.