Anda di halaman 1dari 36

Makalah 1

Laporan kasus

H I P O S P A D I A

Oleh :
dr. Prihantono

Pembimbing :
dr. A. J. Rieuwpassa, Sp.B, Sp.BP
Pendahuluan
• Hipospadia
– Greek ; Hipo = bawah, Spadon = celah
– Kelainan bawaan pada penis
– Muara urethra terletak proksimal dan ventral
ujung glans penis
– Prepusium dorsal berlebihan (dorsal hood)
– Penis angulasi keventral (chordee)
• Terbatas pada penis atau bagian dari kelainan
kompleks seperti intersex.
Insidens

• 1 : 350 kelahiran bayi laki – laki


• Hipospadia distal : 80 – 90 %
• Hipospadia proksimal 10 – 20 %
Etiologi
Belum diketahui pasti, diduga :
• Gagalnya testis memproduksi testosteron dalam
jumlah yang cukup
• Sel – sel struktur genital kekurangan reseptor –
reseptor androgen
• Sel – sel kekurangan enzim 5 alfa reduktese
sehingga rangsangan androgen untuk merubah
testosterone menjadi dihydrotestosteron menjadi
tidak adekuat.
• Silver 2000 : Faktor genetik, endokrinologi dan
lingkungan
Anatomi
Patologi Anatomi
Embriologi
• Minggu 2: ektoderm dan
endoderm  lekukan
ditengah (mesoderm)
memisahkan ekto dan
endoderm yang kemudian
bersatu di kaudal.
• Minggu 6 : terbentuk
genital tuberkel dan
dilateral terdapat genital
fold
• Minggu 7 : genital tuberkel
membentuk glans  Bila
terjadi agenesis dari
mesoderm maka genital
tuberkel tidak terbentuk
Embriologi

• Bagian anterior dari


membrana kloaka
akan ruptur dan
membentuk sinus, dan
genital fold
membentuk sisi – sisi
dari sinus urogenitalia
• Bila genital fold gagal
bersatu di atas sinus
urogenitalia maka
akan terjadi
hipospadia
Klasifikasi
Kelainan biasa bersama
hipospadia

• Undescensus testis
• Hernia inguinalis
• Intersexuality
Diagnosis
• Gejala klinik
– Meatus uretra tidak terdapat di ujung penis.
– Chordee  pelekukan dan pembengkokan
batang penis
– Bentuk penis yang abnormal (kulit penis
bagian ventral kurang atau tidak ada sama
sekali)
– Kesulitan mengarahkan aliran urine
– Penis melengkung ke arah bawah yang tampak jelas
saat ereksi problem infertilitas.
– Stenosis (hipospadia meatus)
– Terjadi peningkatan insidens undesensus
testis.
Diagnosis
Pemeriksaan Lab. X-Ray, & Endoskopik

• Apusan buccal dan karyotipe untuk membantu


menentukan jenis kelamin
• Uretroskopi dan sistoskopi membantu dalam
mengevaluasi perkembangan organ reproduksi
internal
• Urografi untuk mendeteksi kelainan kongenital
lain pada ginjal dan ureter
Penatalaksanaan
• Umur 6 – 18 bulan
• Sirkumsisi  KI absolut
• Prosedur operasi selesai sebelum anak masuk
sekolah.
• Langkah – langkah pada operasi hipospadia
1. Koreksi meatus
2. Koreksi chordee bila ada
3. Rekonstruksi uretra
4. Pengalihan kulit dorsal penis yang berlebihan
ke ventral
5. Koreksi malformasi – malformasi yg
Teknik operasi

Teknik operasi secara garis besar ada dua :


• Perbaikan multi tahap
• Perbaikan satu tahap
Perbaikan multi tahap
1. Perbaikan dua tahap
Tahap I : Chordectomy
Chordectomy dgn memotong uretra plat distal,
meluruskan penis sehingga meatus tertarik
lebih proksimal
Perbaikan multi tahap
Perbaikan dua tahap
Stage II: Urethroplasty
• Penutupan kulit bagian
ventral dilakukan dengan
memindahkan prepusium
dorsal dan kulit penis
mengelilingi bagian ventral
dalam tahap uretroplasti
• Contoh :
Browne (1953),
Byars (1955),
Smith (1981)
Penatalaksanaan
1. Perbaikan satu tahap
– Akhir tahun 1950
– Pelepasan korde  kendala utama, tetapi
dapat dihilangkan sejak ditemukan teknik
ereksi buatan.
– Contoh : Broadbent (1961), McCormack
(1954), Devine & Horton (1961), Teknik Y-V
modifikasi Mathieu, Teknik Lateral Based (LB)
Flap
Teknik Y-V Modifikasi Mathieu
Teknik Lateral Based (LB) Flap
Komplikasi
• Komplikasi awal:
Perdarahan, Infeksi, dehisensi, nekrosis flap, edema.

• Komplikasi jangka panjang :


Fistel uretrokutaneus
Striktur
Divertikulum
Residual chordee/rekuren chordee
Prognosis
• Anastesi, alat jahit, antibiotik menunjang
kesuksesan operasi hipospadia.
• Setelah operasi, buang air kecil dapat dilakukan
dengan penis yang lurus maupun mendepositkan
semen ke dalam vagina.
• Tantangan terbesar pada koreksi hipospadia
adalam pencegahan terjadinya fistel dan
gambaran kosmetik secara keseluruhan.
Laporan Kasus
Tn. I, 16 tahun.

Anamnesis
keluhan utama: Penis bengkok.
Dialami sejak lahir, penis membengkok, bila kencing tidak
diujung penis, air kencing merembes kebawah, air kencing
memancar menyebar, bila penis tegang kadang terasa
nyeri. Tidak ada riwayat panas bila kencing. Tidak ada
riwayat keluarga dengan penyakit serupa.

Pemeriksaan fisik
Status generalis: Sakit ringan dengan gizi baik dan sadar.
Status vitalis : T: 100/70 mmHg, N: 76 x/mnt, P: 20 x/mnt, S:
37,1C
Pemeriksaan fisik

Status lokalis
Pada genitalia externa ditemukan:
• Penis : tampak belum disunat, penis
bengkok, prepusium bagian dorsal
berlebih, muara OUE berada di distal
corpus penis.
• Scrotum : Warna kulit gelap dibanding
sekitar, tak tampak tanda radang, teraba
dua buah testis sama besar.
• Perineum: Warna kulit sama dengan
sekitar
Pemeriksaan penunjang
Laboratorium
Hemoglobin: 13,5 g% GDS: 92 CT: 2’00’
Lekosit: 7800 mg/dl SGOT: 49 BT: 7’00”
Erytrosit: 5.380.000 mg/dl SGPT: 27 PT: 14,2
Trombosit: 266.000 mg/dl Ureum: 20A PTT: 38,4
Hematokrit: 40,1 % Creatinin: 1,11 HbsAg: -

Foto Thorax
Dalam batas normal
Foto Klinis

Meatus terletak Dorsal hood Abnormal penile curvature


proksimal & ventral
Diagnosis
Hypospadia medius type distal penile

Penatalaksanaan
Two stage operation ( Stage 1: Chordectomy, Stage 2:
Urethroplasty )

Operasi I : Chordectomy
• Pasien dalam posisi supine dibawah general anestesia
• Prosedur desinfeksi dan drapping
• Insersi catheter silicon no. 14, keluarkan urine.
• Infiltrasi lidocain dan adrenalin pada ventral penis
• Insisi kulit sejajar dengan urethra
• Eksisi chordae sampai bersih
• Tes ereksi dengan menyuntikkan normal saline pada corpus
cavernosus
• Penis telah lurus
• Jahit luka operasi
• Operasi selesai
Operasi 1 : Chordectomy

Insisi Release chorde Test ereksi dengan Nacl

Penis telah lurus Jahit luka operasi Tutup luka operasi


Diagnosis Post Operasi
Hipospadia medius type midshaft penile

Post operasi
• IVFD RL: D5% 2:3 28 tts/mnt
• Injeksi antibiotik, Injeksi analgetik
• Rawat luka operasi
• Pasien dilepas catheter hari ke-10
• Pasien dipulangkan hari ke-13
• Informed consent kepada pasien dan
keluarga tentang operasi stage 2.
Follow up post chordectomy

Meatus
urethra edem
Pro Operasi tahap II: Urethroplasty

Anamnesis
Pasien telah menjalani operasi hipospadia tahap
pertama 7 bulan lalu, sekarang akan menjalani operasi
tahap kedua. Tidak ada riwayat sering demam, tidak ada
riwayat nyeri sewaktu kencing, tidak ada riwayat kencing
panas.

Pemeriksaan fisik
• Status generalis: Sakit ringan dengan gizi baik dan sadar.
• Status vitalis: T: 110/70 mmHg, N: 84 x/, P: 20 x/, S:
37,2C
• Status lokalis: pada genitalia externa ditemukan
• Penis: tampak penis telah lurus, OUE midshaft
penis.
tak tampak tanda radang
• Scrotum : warna kulit gelap dibanding sekitar, radang
(-)
teraba dua buah testis sama besar.
• Perineum: warna kulit sama dengan sekitar
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
• WBC: 7,19x103/dl Glucose: 113mg/dl Prot Total : 7,5 gr/dl
• RBC : 5,37x106/dl Ureum : 17 mg/dl Albumin : 4,6 gr/dl
• Hb : 15,3 gr/dl Kreatinin: 1,3 mg/dl PT : 12,8 detik
• PLT : 445.000/Ul SGOT: 19 APTT: 32,8 detik
• LED : 10/19 SGPT : 17

Foto Thorax
Tak tampak kelainan radiologis pada foto thorax
Diagnosis
Hypospadia medius type midshaft penile post
chordectomy

Operasi II : Urethroplasty
• Pasien posisi supine dalam pengaruh general
anestesi
• Prosedur desinfeksi dan drapping
• Identifikasi muara urethra externa, pasang
kateter silicon, keluarkan urin.
• Insisi paramedian kiri dan kanan, dilakukan
undermining, dilakukan penutupan kateter
dengan kulit sebagai tract urethra.
• Over hecting di jaringan kulit penis.
• Operasi selesai
Operasi 2 : Urethroplasty

Pasang kateter Insisi paramedian Dilakukan


silicon kiri dan kanan undermining

Penutupan kateter Over hecting dgn Tutup luka


sebagai tract jaringan kulit penis operasi
Post operasi

• IVFD RL: D5% 2:3 28 tts/mnt


• Injeksi antibiotik, Injeksi analgetik
• Rawat luka operasi
• Pasien dilepas catheter hari ke-15
• Pasien dipulangkan hari ke-19
Follow up

OUE di ujung glans


Terima Kasih