Anda di halaman 1dari 3

AKIBAT DAN SEBAB KETIDAKSEIMBANGAN RANTAI MAKANAN

PADA EKOSISTEM SAWAH

Rantai makanan merupakan

perpindahan energi makanan dari sumber daya

tumbuhan melalui seri organisme atau melalui jenjang makan. Ada dua tipe dasar
rantai makanan, yaitu rantai makanan rerumputan dan rantai makanan sisa. Rantai
makanan reumputan itu misalnya terdiri dari tumbuhan - herbivora - karnivora omnivora. Rantai makanan sisa terdiri dari bahan mati mikroorganisme (detritivora =
organisme pemakan sisa) predator dan bangkai. Sedangkan ekosistem adalah suatu
sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara
makhluk hidup dan lingkungannya yang menimbulkan ketergantungan pada antar
komponen biotik atau antara komponen biotik dan abiotik.
Pada artikel ini, dibahas tentang ketidakseimbangan rantai makanan pada suatu
ekosistem sawah, akibat bertambahnya tikus serta berkurangnya ular dan elang.
Rantai makanan pada ekosistem sawah, dapat digambarkan sebagai berikut :

Taken from : blog.unnes.ac.id

Pada gambar tersebut, padi bertindak sebagai produsen, tikus sebagai konsumen tingkat I, ular
sebagai konsumen tingkat II, dan elang sebagai konsumen tingkat III.

Jika populasi tikus lebih banyak daripada produsen dan konsumen tingkat di
atasnya, maka akan menimbulkan berbagai akibat, diantaranya :

Kerusakan tanaman padi secara besar-besaran


Hal ini disebabkan karena perkembangbiakan tikus sangat cepat, dan sifat
rakus dari tikus itu sendiri. Selain itu, bertambahnya populasi tikus tidak diikuti
dengan bertambahnya populasi konsumen tingkat II dan III, yang semakin
memperparah kerusakan tanaman padi. Perkembangan populasi tikus semakin
bertambah, pada saat tanaman padi masuk pada fase bunting, yaitu bulir padi
masih ada di batang. Bulir ini penghasil hormon geberelin yang bisa memacu
tikus betina terangsang untuk bereproduksi dan membentuk sel telur. 1 ekor tikus
bisa melahirkan 12 anakan.

Kerusakan kontur tanah lahan tanam


Hal ini disebabkan karena sifat tikus yang suka menggali lubang tanah
pada sawah untuk membuat sarang. Kebiasaaan tikus ini menyebabkan tanah
berlubang-lubang dan mudah ambles tertutama pada lahan yang konturnya
muring sehingga mengganggu perkembangan tanaman padi, serta mengganggu
sistem irigasi yang ada pada petak-petak sawah.
Ketidakseimbangan rantai makanan pada ekosistem sawah ini disebabkan oleh

beberapa hal, diantaranya :

Kucing sudah tidak menyukai lagi tikus sebagai makanannya.


Pada saat ini, kucing lebih banyak dipelihara daripada dibiarkan di alam
bebas. Selain itu kebanyakan kucing telah dimanjakan oleh manusia dengan
menyediakan makanan, sehingga kucing menjadi manja dan naluri berburu
tikusnya hilang sedikit demi sedikit.

Ular dan predator lainnya sering diburu.


Maraknya perburuan ular, elang, dan burung hantu untuk dijual dan
dikonsumsi mengakibatkan populasi predator ini berkurang. Hal ini menjadi
salah satu pendukung bertambahnya populasi tikus dengan cepat.

Terlambatnya penangan hama tikus oleh petani.


Biasanya, para petani baru terjun secara langsung untuk menangani hama
tikus setelah petani mengalami kerugian yang besar, bukan sejak dini.

Anggota Kelompok :
Nofi Putri A. W.

292011121

Winny Agustina

292011128

R. Gita Ardhy N.

292011142

Nur Rohayat

292011153