Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lahan gambut merupakan lahan hasil akumulasi timbunan bahan organik yang

berasal dari pelapukan vegetasi yang tumbuh disekitarnya dan terbentuk secara alami

dalam jangka waktu yang lama. Menurut Wahyunto dan Subiksa (2011) Indonesia

merupakan negara yang memiliki areal gambut terluas di zona tropis, yakni

mencapai 70%. Luas gambut Indonesia mencapai 21 juta ha, yang tersebar di pulau

Sumatera (35%), Kalimantan (32%), Papua (30%) dan pulau lainnya (3%). Provinsi

Riau memiliki lahan gambut terluas di Sumatera, yakni mencapai 56,1% (Wahyunto

dan Heryanto, 2005).

Menurut Utama & Handoko (2007) pemanfaatan lahan gambut sebagai lahan

pertanian termasuk perkebunan memerlukan perhatian khusus dan manajemen

pertanian yang tepat. Pemanfaataan sumberdaya alam berupa lahan rawa gambut

secara bijaksana perlu perencanaan yang teliti, penerapan teknologi yang sesuai dan

pengelolaan yang tepat (Wahyunto dan Heryanto, 2005). Hal ini karena lahan rawa

gambut merupakan salah satu sumberdaya alam yang mempunyai fungsi hidrologi

dan fungsi lingkungan lain yang penting bagi kehidupan seluruh makhluk hidup.

Menurut Agus dan Subiksa (2008) pada kondisi alami lahan gambut menjadi habitat

bagi beberapa jenis flora dan fauna. Namun demikian, seiring dengan perkembangan

waktu lahan gambut telah banyak yang beralih fungsi menjadi lahan pertanian.
2

Alih fungsi hutan rawa gambut menjadi lahan pertanian mencakup kegiatan:

(1) pembuatan drainase untuk mengurangi kejenuhan air dan pengendalian muka air

tanah (water table); (2) pembukaan lahan (land clearing) berupa penebangan hutan

dan penebasan semak, pembakaran untuk menghilangkan vegetasi yang ditebang dan

menghasilkan abu yang dapat memperbaiki kesuburan tanah dan penyiapan lahan

untuk pertanaman (Andriesse, 1988).

Lahan gambut memiliki sifat kimia dan fisika yang cukup berbeda dengan

tanah mineral, sehingga perlu memperhatikan karakteristiknya dalam melakukan

pengolahan. Tanah gambut di Indonesia memilki karakteristik kimia yang beragam

tergantung pada jenis mineral pada subtrum, ketebalan dan jenis vegetasi yang

menyusun gambut tersebut serta tingkat dekomposisinya (Alwi, 2006). Pengukuran

sifat kimia gambut dalam menilai tingkat kematangan menunjukkan keragaman yang

sangat tinggi, hal ini dipengaruhi oleh proses transformasi bahan kimia yang ada

dalam gambut. Sifat kimia tanah gambut dapat meningkat seiring terjadinya

perombakan bahan organik (Kurnain, 2010).

Tanaman nenas banyak kegunaannya, antara lain mengandung vitamin A dan C

sebagaiantioksidan. Jugamengandungkalsium, fosfor, magnesium, besi, natrium, kalium,

dekstrosa, sukrosa, dan enzim bromelain. Bromelain berkhasiat sebagai anti radang,

membantu melunakkan makanan di lambung, serta menghambat pertumbuhan sel kanker.

Kandungan seratnya dapat mempermudah buang air besar pada penderita sembelit.

Tanaman nenas termasuk salah satu jenis tanaman yang sangat toleran terhadap tingkat

keasaman yang tinggi yaitu pH antara 3 4. Gambut merupakan tanah yang terbentuk dari

bahan organic pada fisiografi cekungan atau rawa, akumulasi bahan organic pada kondisi

jenuh air, anaerob, menyebabkan proses perombakan bahan organic berjalan sangat lambat,
3

sehingga terjadi akumulasi bahan organic yang membentuk tanah gambut. Di Kalimantan

Proses pembentukan gambut terjadi baik pada daerah pantai maupun di daerah pedalaman

dengan fisiografi yang memungkinkan terbentuknya gambut, oleh sebab itu kesuburan

gambut sangat bervariasi, gambut pantai yang tipis umumnya cukup subur, sedang gambut

pedalaman seperti di Bereng Bengkel Kalimantan Tengah kurang subur (Tim Fakultas

Pertanian IPB, 1986; Harjowigeno,1996; danNoor, 2001).

B. Rumusan Masalah

a. Lahan gambut.?

b. Mengapa lahan gambut digolongkan sebagai salah satu jenis lahan marginal

dalam pengembangan pertanian.?

c. Sifat fisika dan sifat kimia tanah gambut.?

d. Kendala atau hambatan yang dihadapi dalam penggunaan lahan gambut

untuk pengembangan budidaya pertanian.?

e. Cara mengelola lahan gambut yang baik dan berkelanjutan untuk usaha

pengembangan pertanian.?

f. Syarat tumbuh tanaman nenas.?

g. Budidaya nenas di lahan gambut.?

C. Tujuan Penulisan

a. Untuk mengetahui pengertian lahan gambut

b. Untuk mengetahui Mengapa lahan gambut digolongkan sebagai salah satu

jenis lahan marginal dalam pengembangan pertanian

c. Untuk mengetahui sifat fisika dan sifat kimia tanah gambut

d. Untuk mengetahui Proses pembentukan lahan gambut yang ada di Indonesia


4

e. Untuk mengetahui kendala pemanfaatan lahan gambut untuk budidaya

pertanian

f. Untuk mengetahui cara mengelola lahan gambut yang baik dan berkelanjutan

untuk usaha pengembangan pertanian

g. Untuk mengetahui syarat tumbuh nenas

h. Untuk mengetahui budidaya nenas di lahan gambut

D. Manfaat Penulisan

Manfaat yang bisa di dapatkan dari penulisan ini adalah di harapkan kepada

pembaca atau para petani nenas bisa mengembangkan tanaman nenas di lahan

gambut khususnya di daerah Rimbo Panjang, Panam Pekanbaru.


5

BAB II

PEMBAHASAN

A. Lahan Gambut

Menurut Napitupulu dan Mudiantoro (2015), lahan gambut tergolong

sebagai lahan marginal dan mudah mengalami kerusakan (fragile) yang memiliki

tingkat produktivitas yang rendah. Lebih lanjut dikatakan bahwa lahan gambut

merupakan lahan yang tersusun atas tanah yang jenuh air dan bahan organik, yaitu

sisa-sisa tanaman dan jaringan tanaman yang melapuk dengan ketebalan lebih dari

50 cm. Wetlands (2007) menerangkan bahwa dalam taksonomi tanah atau sistem

klasifikasi baru lahan gambut disebut sebagai lahan yang tersusun atas tanah

Histosol (histos: jaringan).

Lahan gambut dalam sistem klasifikasi tanah nasional merupakan lahan yang

tersusun atas tanah Organosol yaitu tanah yang tersusun dari bahan organik(Dudal

dan Soepraptohardjo, 1957) . Hardjowigeno dan Abdullah (1987)mendefinisikan

lahan gambut sebagai lahan yang tersusun atas tanah yang terbentuk dari timbunan

sisa-sisa tanaman yang telah mati, baik yang sudah mengalami pelapukan maupun

yang belum mengalami dekomposisi. Timbunan ini terus bertambah karena proses

dekomposisinya terhambat karena kondisi anaerob dan/ atau kondisi lingkungan

lainnya yang menyebabkan rendahnya tingkat perkembangan biota pengurai.

B. Lahan gambut sebagai salah satu jenis lahan marginal

Lahan gambut termasuk dalam golongan lahan marginal atau sub-optimal.

Hal ini dikarenakan mutunya yang rendah sebagai akibatadanya faktor pembatas jika

digunakan untuk suatu keperluan tertentu termasuk usaha pengembangan budidaya


6

pertanian. Faktor pembatas tersebut dapat diatasi dengan memberikan beberapa

masukan (input) atau biaya yang harus dikeluarkan untuk meningkatkan

produktifitasnya. Tanpa masukan yang berarti maka budidaya pertanian di lahan ini

tidak akan memberikan keuntungan seperti yang diharapkan (Yuwono, 2009).

C. Sifat Fisika Dan Sifat Kimia Lahan Gambut

a) Sifat fisika

Karakteristik fisik gambut yang penting dalam pemanfaatannya untuk

pertanian meliputi kadar air, berat isi (bulk density, BD), daya menahan beban

(bearing capacity), subsiden (penurunan permukaan), dan mengering tidak balik

(irriversible drying). Gambut tropis umumnya berwarna coklat kemerahan hingga

coklat tua (gelap) tergantung dari tahapan dekomposisinya. Kandungan air yang

tinggi dan kapasitas memegang air 15-30 kali dari berat kering, rendahnya bulk

density (0,05-0,4 g/cm3) dan porositas total diantara 75-95% menyebabkan

terbatasnya penggunaan mesin-mesin pertanian dan pemilihan komoditas yang

akan diusahakan (Ambak dan Melling, 2000).Tiga komoditas utama yaitu kelapa

sawit, karet dan kelapa di Malaysia cenderung pertumbuhannya miring bahkan

ambruk sebagai akibat akar tidak mempunyai tumpuan tanah yang kuat (Singh et

al, 1986).

Sifat lain yang merugikan adalah apabila gambut mengalami pengeringan

yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak. Terjadi gejala kering tak

balik (irreversible drying) dan gambut berubah sifat seperti arang sehingga tidak

mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo et al., 1996). Gambut akan
7

kehilangan air tersedia setelah 4-5 minggu pengeringan dan ini mengakibatkan

gambut mudah terbakar.

b) Sifat kimia

Ketebalan horison organik, sifat subsoil dan frekuensi luapan air sungai

sangat mempengaruhi komposisi kimia gambut. Pada lahan gambut yang sering

mendapat luapan sungai memiliki kandungan mineral tanah yang semakin tinggi

sehingga lahan ini relatif lebih subur.Lahan gambut tropis mempunyai kandungan

mineral tanah yang rendah dengan kandungan bahan organik lebih dari 90%.

Menurut Andriesse (1988), secara kimiawi gambut bereaksi masam dengan pH di

bawah 4. Gambut dangkal memiliki pH lebih tinggi yaitu 4,0 sampai

5,1dangambut dalam memiliki pH 3,1 sampai 3,9. Kandungan N total pada lahan

gambut ini tergolong tinggi, namun tidak tersedia bagi tanaman karena rasio C/N

yang tinggi. Kandungan unsur mikro pada lahan gambut khususnya Cu, B dan Zn

juga tergolong sangat rendah (Subagyo et al., 1996).

Noor (2011) menjelaskan bahwa karakteristik kimia lahan gambut sangat

ditentukan oleh kandungan mineral, ketebalan, jenis mineral pada substratum

(dasar gambut), dan tingkat dekomposisi gambut. Di Indonesia, lahan gambut

umumnya mempunyai tingkat kemasaman relatif tinggi yaitu memiliki pH antara

3 sampai 4. Umumnya mempunyai kation basa seperti Ca, Mg, K, dan Nasangat

rendah, pH tanah sangat masam, kandungan asam organik tinggi yang sebagian

bersifat racun, KTK tinggi yang sebagian besar dibentuk oleh muatan tergantung

pH, kejenuhan basa sangat rendah, mampu membentuk ikatan kompleks dengan

kation polivalen, kadar hara makro dan mikro sangat rendah yang sangat
8

ditentukan oleh kandungan mineral, serta penyimpan karbon yang sangat besar.

Tingkat kesuburan tanah gambut sangat ditentukan oleh ketebalan dan

kematangan gambut, jenis substratum di bawah gambut, bahan pembentuk

gambut, kandungan mineral, dan tingkat pengkayaan yang diperoleh dari

limpasan air pasang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk tanaman padi,

semakin tebal gambut lebih dari 80 cm maka semakin rendah hasil padi yang

dicapai.

D. Kendala Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pengembangan Budidaya

Pertanian

Pengembangan lahan gambut sebagai lahan pertanian dihadapkan pada

berbagai kendala baik fisik, kimia maupun biologis. Secara teoritis permasalahan

pertanian lahan gambut sesungguhnya disebabkan oleh drainase yang jelek,

kemasaman gambut tinggi, tingkat kesuburan dan kerapatan lindak gambut yang

rendah. Kemasaman gambut yang tinggi dan ketersediaan hara serta kejenuhan basa

(KB) rendah. (Sagiman, 2007).

Oleh karena itu, lahan gambut merupakan lahan yang sangat fragile dan

tingkat produktivitasnya sangat rendah. Kendala sifat fisik gambut yang paling

utama adalah sifat kering tidak balik (irriversible drying), sehingga gambut tidak

dapat berfungsi lagi sebagai koloid organik. Produktivitas lahan gambut yang rendah

karena rendahnya kandungan unsur hara makro maupun mikro yang tersedia untuk

tanaman, tingkat kemasaman tinggi, serta rendahnya kejenuhan basa. Tingkat

marginalitas dan fragilitas lahan gambut sangat ditentukan oleh sifat-sifat gambut

yang inherent, baik sifat fisik, kimia maupun biologisnya.


9

E. Pengelolaan Lahan Gambut untuk Pengembangan Budidaya Pertanian

Pemanfaatan lahan gambut untuk pengembangan budidaya pertanian

dilakukan dengan melakukan beberpa tindakan pengelolaan yang bertujuan untuk

mengurangi faktor penghambat dari lahan gambut baik faktor fisik maupun kimia

tanah sehingga lahan tersebut mampu menyediakan kondisi yang optimal bagi

pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang akan dibudidayakan. Pengembangan

pertanian pada lahan gambutditentukan oleh beberapa faktor, yaitu faktor kesuburan

alami gambut dan tingkat manajemen usaha tani yang akan diterapkan. Pengelolaan

lahan gambut pada tingkat petani, dengan pengelolaan usaha tani termasuk tingkat

rendah (low inputs) sampai sedang (medium inputs), akan berbeda dengan

produktivitas lahan dengan tingkat manajemen tinggi yang dikerjakan oleh swasta

atau perusahaan besar (Subagyo et al, 1996)

Abdurachman dan Suriadikarta (2000) menyatakan bahwa padatingkat

manajemen sedang,pengelolaan lahan gambut dilakukan melalui perbaikan sifat

tanah dengan penggunaan input yang terjangkau oleh petani seperti pengolahan

tanah, tata air mikro, pemupukan, pengapuran dan pemberantasan hama dan

penyakit.Tindakan pengelolaan lahan gambut untuk pengembangan pertanian

dilakukan melalui beberapa tindakan sebagai berikut:

1. Pengelolaan air

a. Pengelolaan Drainase Lahan

Drainase merupakan prasyarat untuk usaha pertanian, walaupun hal

tersebut bukanlah suatu yang mudah untuk dilakukan mengingat sifat dari

gambut yang bisa mengalami penyusutan dan kering tidak balik akibat
10

drainase, sehingga sebelum mereklamasi lahan gambut perlu diketahui sifat

spesifik gambut, peranan dan fungsinya bagi lingkungan.

Drainase yang baik untuk pertanian gambut adalah drainase yang tetap

mempertahankan batas air kritis gambut akan tetapi tetap tidak mengakibatkan

kerugian pada tanaman yang akan berakibat pada hasil. Intensitas drainase

bervariasi tergantung kondisi alami tanah dan curah hujan. Curah hujan yang

tinggi yaitu antara 4000 sampai 5000 mm per tahun membutuhkan sistem

drainase untuk meminimalkan pengaruh banjir(Ambak dan Melling, 2000).

Setelah drainase dan pembukaan lahan gambut, umumnya terjadi

subsidence yang relatif cepat yang akan berakibat menurunya permukaan

tanah. Subsidence dan dekomposisi bahan organik dapat menimbulkan masalah

apabila bahan mineral di bawah lapis gambut terdiri dari lempeng pirit atau

pasir kuarsa. Kerapatan lindak yang rendah berakibat kemampuan menahan

(bearing capacity) tanah gambut juga rendah, sehingga pengolahan tanah sulit

dilakukan secara mekanis atau dengan ternak. Kemampuan menahan yang

rendah juga juga merupakan masalah bagi untuk tanaman pohon-pohonan atau

tanaman semusim yang rentan terhadap kerebahan (lodging) (Radjagukguk,

1990).

Usaha perbaikan drainase untuk tanaman perkebunan dilakukan dengan

pembuatan kanal primer, kanal sekunder dan kanal tersier. Hasil penelitian

sementara di PT. RSUP menunjukkan bahwa kelapa hybrida PB 121 pada

umur 4 tahun (4-5 tahun setelah tanam adalah 1,5 ton kopra/ha). Angka ini

sementara 5 kali lebih besar dari hasil yang dicapai di negara asalnya Afrika
11

dimana PB 121 pada umur 4 tahun menghasilkan 0,26 ton kopral/ha (Thampan,

1981 dalam Sudradjat dan Qusairi, 1992).

b. Pengaturan Irigasi

Ketika batas kritis air dapat dikontrol pada level optimum untuk

pertumbuhan tanaman, pengelolan air bukan merupakan suatu masalah kecuali

pada tahap awal pertumbuhan tanaman. Jika batas kritis air tidak dapat

terkontrol dan lebih rendah dari kebutuhan air semestinya, irigasi perlu

dilakukan terutama bagi tanaman tertentu. Hal ini penting untuk memasok

kebutuhan air tanaman dan menghindari sifat kering tidak balik. Sayuran

berdaun banyak, menunjukkan layu pada keadaan udara panas. Kondisi ini

mungkin merupakan pengaruh dari dangkalnya profil tanah yang dapat dicapai

oleh akar tanaman dan kehilangan air akibat transpirasi yang lebih cepat

daripada tanah mineral (Ambak dan Melling, 2000).

Tanaman mempunyai tahapan pertumbuhan yang sensitif terhadap

stress air yang berbeda. Pengetahuan tentang tahapan tersebut akan

mempermudah irigasi pada saat yang tepat sehingga mengurangi terjadinya

stress air dan penggunaan air yang optimum. Untuk penanaman tanaman

semusim, pengaturan irigasi harus mempertimbangkan saat dan kebutuhan

tanaman dan disesuaikan dengan ketersediaan air tanah diatas water table,

jumlah air hujan, distribusi dan jumlah evapotranspirasi (Lucas,1982).

Tabel 3. Daftar kebutuhan air tanaman yang diusahakan di lahan gambut


12

Tanaman Kebutuhan Sumber

air (cm)

Kelapa Sawit 50-75 Singh et al (1986)

Nanas 60-90 Tay (1980); Zahari et al (1989)

Sagu 20-40 Melling et al, 1998

Cassava 15-30 Tan dan Ambak (1989); Zahari et al, (1989)

Kacang Tanah 65-85 Ambak et al, (1992)

Kedelai 25-45 Ambak et al (opcit)

Jagung 75 Ambak et al, (opcit)

Ubi jalar 25 Ambak et al, (opcit)

Asparagus 25 Ambak et al, (opcit)

Sayuran 30-60 Leong dan Ambak, (1987)

Sumber : Ambak dan Melling (2000)

c. Penggenangan

Untuk meminimalkan terjadinya subsidence, langkah yang bisa

dilakukan adalah tetap mempertahankan kondisi tergenang tersebut dengan

mengadopsi tanaman-tanaman sejenis hidrofilik atau tanaman toleran air yang

memberikan nilai ekonomi seperti halnya Eleocharis tuberosa, bayam cina

(Amaranthus hybridus), kangkung (Ipomoea aquatica) dan seledri air. Di

Florida ketika tanaman tertentu tidak bisa dibudidayakan karena perubahan

musim, penggenangan dilakukan dan digunakan untuk budidaya tanaman air

tersebut (Ambak dan Melling, 2000).


13

2. Pengelolaan Tanah

Tanah gambut sebenarnya merupakan tanah yang baik untuk pertumbuhan

tanaman bila ditinjau dari jumlah pori-pori yang berkaitan dengan pertukaran

oksigen untuk pertumbuhan akar tanaman. Kapasitas memegang air yang tinggi

daripada tanah mineral menyebabkan tanaman bisa berkembang lebih cepat. Akan

tetapi dengan keberadaan sifat inheren yang lain seperti kemasaman yang tinggi,

kejenuhan basa yang rendah dan miskin unsur hara baik mikro maupun makro

menyebabkan tanah gambut digolongkan sebagai tanah marginal (Limin et al,

2000). Untuk itulah perlunya usaha untuk mengelola tanah tersebut dengan

semestinya.

a. Pembakaran

Pembakaran merupakan cara tradisional yang sering dilakukan petani

untuk menurunkan tingkat kemasaman tanah gambut. Terjadinya pembakaran

bahan organik menjadi abu berakibat penghancuran tanah serta menurunkan

permukaan tanah. Pembakaran berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan

tanaman pada tahun pertama dan meningkatkan serapan P tanaman, namun

akan menurunkan serapan Ca dan Mg (Mawardi et al, 2001).

b. Penambahan Bahan Pembenah Tanah

Pemberian pupuk dan amandemen dalam komposisi dan takaran yang

tepat dapat mengatasi masalah keharaan dan kemasaman tanah gambut. Unsur

hara yang umumnya perlu ditambahkan dalam bentuk pupuk adalah N, P, K,

Ca, Mg serta sejumlah unsur hara mikro terutama Cu, Zn dan Mo. Pemberian
14

Cu diduga lebih efektif melalui daun (foliar spray) karena sifat sematannya

yang sangat kuat pada gambut, kurang mobil dalam tanaman dan kelarutan

yang menurun ketika terjadi peningkatan pH akibat penggenangan. Sebagai

amandemen, abu hasil pembakaran gambut itu sendiri akan berpengaruh

menurunkan kemasaman tanah, memasok unsur hara dan mempercepat

pembentukan lapis olah yang lebih baik sifat fisikanya (Radjagukguk, 1990).

Di Sumatera Barat ditemukan bahan amelioran baru Harzburgite yang

defositnya cukup besar dan kandungan Mg yang tinggi (27,21 32,07% MgO)

yang merupakan bahan potensial untuk ameliorasi lahan gambut (Mawardi et

al, 2001).

Pupuk kandang khususnya kotoran ayam dibandingkan dengan kotoran

ternak yang lainnya mengandung beberapa unsur hara makro dan mikro

tertentu dalam jumlah yang banyak. Kejenuhan basanya tinggi, tetapi kapasitas

tukar kation rendah. Kotoran ayam, dalam melepaskan haranya berlangsung

secara bertahap dan lama. Tampaknya, pemberian kotoran ayam

memungkinkan untuk memperbaiki sifat fisika dan kimia tanah gambut. Pada

jagung manis, pemberian kotoran ayam sampai 14 ton/ha pada tanah gambut

pedalaman bereng bengkel dapat meningkatkan jumlah tongkol (Limin, 1992

dalam Darung et al., 2001).

F. Syarat Tumbuh Nenas

Menurut Sunarjono (2006), tanaman nanas menghendaki dataran rendah

hingga dataran tinggi 1.200 mdpl. Tanaman ini tidak tahan terhadap salju, tetapitahan

sekali terhadap kekeringan. Namun, tanaman nanas lebih senang terhadap tanah
15

subur, daerah beriklim basah dengan curah hujan 1.000-2.500 mm per tahun.

Tanaman nanas tahan terhadap tanah asam yang mempunyai pH 3-5, tetapi

paling baik adalah pH tanah antara 5-6,5. Oleh karena itu, tanaman nanas bagus pula

dikembangkan di lahan gambut. Tanaman nanas dapat tumbuh di lahan terbuka,

tetapi dapat pula tumbuh subur di tempat yang ternaungi pohon besar. Namun, di

tempat terbuka yang mendapat sinar matahari terik, buahnya sering hangus.

Tanaman masih mampu berbuah di daerah beriklim kering (4-6 bulan kering),

asalkan kedalaman air tanah antara 50-150cm. Hal ini disebabkan akarnya yang

dangkal, tetapi tanaman mampu menyimpan air.

Suhu merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam budidaya nanas.

Laju pertumbuhan dan perkembangan berhubun gan positif dengan kenaikan suhu

sampai 29 oC, pada suhu yang tinggi ukuran tanaman dan daun lebih besar, dan lebih

lentur, teksturnya halus dan warnanya gelap, ukuran buah lebih besar dan kandungan

asamnya lebih rendah. Pada suhu yang rendah dan daerah dataran tinggi tanaman

nanas mempunyai ukuran yang lebih pendek, daunnya sempit dengan tekstur yang

cukup keras, ukuran buah kecil (kurangdari 1.8 kg), warna daging buah kuning

pucat, kandungan asam cukup tinggi ( 1 %),kandungan gula rendah, tangkai buah

lebih panjang dari pada ukuran tanaman,mata buah lebih menonjol. Pada suhu yang

sedang tanaman lebih besar dan datar, daging buah lebih kuning, kandungan gula

lebih tinggi, kandungan asam lebih rendah dari pada buah dataran tinggi. Suhu yang

optimim untuk pertumbuhan akar yaitu 29 oC, pertumbuhan daun 32 oCdan untuk

pemasakan buah yaitu 25 oC (Nakasone and Paull, 1999).


16

G. Budidaya Nenas Di Lahan Gambut

a) Pembukaan lahan

Pembukaan lahan di lakukan dengan menebang pohon yang ada di lahan

gambut bisa menggunakan mesin gergaji. Ataupun juga bisa membuka lahan

dengan membakar lahan, pembakaran juga bertujuan untuk menurunkan

keasaman yang ada di lahan gambut.

b) Perkecambahan Batang Stek

Bibit nanas diperoleh dengan melakukan stek batang, Lakukan

perkecambahan pada belahan batang stek tanaman nanas dengan

menggunakan media tepung agar akar cepat tumbuh. Lakukan penanaman

batang stek tersebut pada media perkecambahan dengan kedlaman 1 atau 2

cm dan jarak antar benih sekitar 5 hingga 10 cm. Agar kelembaban terjaga

dan sirkulasi udara lahan persemaian baik, tutup media perkecambahan

dengan mulsa plastik bening. Setelah 1 minggu tunas dan akar pada stek

batang akan mulai tumbuh.

c) Persemaiaan Bibit

Setelah stek batang sudah tumbuh akar dan tunas selanjutnya lakukan

penyemaian. Siapkan dahulu media tanam berupa campuran dari tanah halus,

pupuk kandang yang telah matang dan pasir dengan perbandingan 1:1:1.

Setelah media semai siap selanjutnya pindahkan stek batang nanas. Lakukan

penyiraman secara rutin pada pagi hari dan sore hari secara berkala agar stek

batang tetap lembab. Agar bertambah maksimal pertumbuhannya maka

lakukan pemupukan sebulan sekali dengan pupuk kandang. Setelah sekitar 3


17

hingga 5 bulan atau telah memiliki tinggi sekitar 25cm-30cm, bibit stek

batang nanas dapat dipindahkan pada lahan tanam.

d) Penanaman Tanaman Nanas

Setelah semua siap, lakukanlah penanaman masukkan bibit stek batang

nanas dalam lubang tanam yang telah dibuat kemudian timbun kembali

dengan tanah (Usahakan jangan terlalu dalam melakukan penanamannya

cukup sekitar 3-5 cm pangkal bibit stek yang tertimbun)lalu padatkan agar

bibit tidak mudah roboh. Setelah selesai melakukan penanaman selanjutnya

lakukan penyiraman secukupnya.

Gambar 2.1 Penanaman nanas. Sumber: Praktikum di kebun nanas.

e) Pemeliharaan Tanaman Nanas

Penyulaman

Setelah tanaman nanas berumur sekitar 1 hingga 2 bulan maka lakukan

penyulaman yaitu mengganti tanaman nans yang mati atau tidak tumbuh

dengan baik dengan tanaman yang baru.


18

Penyiangan

Penyiangan juga perlu dilakukan pada gulma atau tanaman pengganggu

lainnya yang akan mengganggu pertumbuhan tanama nanas.

Pembubunan

Pembubunan dilakukan untuk memperbaiki keadaan tanah serta menutup

kembali akar tanaman nanas yang muncul ke permukaan.

Pemupukan

Pemupukan susulan pertama dilakukan setelah tanaman berumur sekitar 2

hingga 3 bulan setelah tanam. Pemupukan selanjutnya dilakukan setiap 3

hingga 4 bulan sekali hingga tanaman berbunga. Jenis pupuk yang

digunakan antara lain Pupuk kandang, ZA,SP-36 dan NPK.

Penyiraman

Lakukan penyiraman seminggu sekali terutama pada musim kemarau,

setelah tanaman dewasa, penyiraman cukup dilakukan 2 minggu sekali.

f ) Pemanenan

Nanas dapat dipanen setelah berumur 1 hingga 2 tahun setelah tanam

tergantung varietas jenis nanas yang ditanam. Ciri nanas yang sudah dapat

dipanen, seperti berikut: Mahkota buah telah terbuka , tangkai buah telah

mengkerut, sudah memiliki aroma yang khas, buahnya telah mulai

menguning, serta mata buah sudah bulat, besar dan lebih mendatar.
19

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Lahan gambut merupakan lahan marginal yang memiliki potensi besar untuk

pengembangan budidaya pertanian, khusunya untuk budidaya tanaman nenas.

Pemanfaatan lahan gambut untuk pengembangan budidaya pertanian dihadapkan

pada kendala drainase yang jelek, kemasaman gambut tinggi, tingkat kesuburan dan

kerapatan lindak gambut yang rendah serta ketersediaan hara dan kejenuhan basa

(KB) rendah. Pengelolaan lahan gambut untuk pertanian dilakukan melalui

pengelolaan air tanah, pengolahan tanah, pemilihan tanaman bududaya sesuai

kondisi lahan, dan melalui kultur teknis.

B. Saran

Untuk kedapanya lahan gambut yang ada di riau bisa di manfaatkan untuk

budidaya tanaman nenas varietas madu ataupun varietas yang lainya. Sehingga bisa

menaikkan ekonomi di daerah riau yang daerahnya terdapat banyak lahan gambut.

Dalam praktikum kali ini lahan gambut yang berada di daerah Rimbo panjang ,

Panam Pekanbaru sudah banyak yang memanfaatkan tanaman nenas untuk di

kembangkan di lahan gambut


20

DAFTAR PUSTAKA

Abdurachman dan Suriadikarta, 2000. Pemanfaatan Lahan Rawa eks PLG


Kalimantan Tengah untuk Pengembangan Pertanian Berwawasan Lingkungan.
Jurnal Litbang Pertanian 19 (3).

Ambak, K., dan Melling, L., 2000. Management Practices for Sustainable
Cultivation of Crop Plants on Tropical Peatlands. Proc. Of The International
Symposium on Tropical Peatlands 22-23 November 1999. Bogor-Indonesia,
hal 119.

Andriesse, 1988. Nature and Management of Tropical Peat Soils. FAO Soils Bulletin
59. Food and Agriculture Organisation of The United Nations. Rome.

Dudal, R and M. Soepraptohardjo. 1957. Soil classification in Indonesia. Coutr. Res.


Gen Agric. Bogor. No. 148

Lucas, R.E., 1982. Organic Soils (Histosols): Formation, distribution, physical and
Chemical properties and management for crop production. Research Report
435 Far Science. Michigan University, East Lansing.

Mawardi, E., Azwar dan Tambidjo, A., 2001. Potensi dan Peluang Pemanfaatan
Harzeburgite sebagai Amelioran Lahan Gambut. Prosiding Seminar Nasional
Memantapkan Rekayasa Paket Teknologi Pertanian dan Ketahanan Pangan
dalam Era Otonomi Daerah, 31 Oktober 1 November 2001. Bengkulu.

Noor, M. 2001. Pertanian Lahan Gambut. Potensi dan Kendala.


Kanisius.Yogyakarta.174 hlm.

Mulyani, A dan M. Noor. 2011. Evaluasi kesesuaian lahan untuk pembembangan


pertanian di lahan gambut. Pengelolaan lahan gambut berkelanjutan. Nurida,
N. L., A. Mulyani dan F. Agus (ed). Balai Penelitian Tanah, Balai Besar
Litbang Lahan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian,
Kementerian Pertanian.

Radjagukguk, B. 1990. Pengelolaan sawah bukaan baru di lahan gambut menunjang


swasembada pangan dan program transmigrasi. Seminar Pertanian Fakultas
Pertanian Universitas Ekasakti dan Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukarami
Padang 17-18 September 1990. Padang.

Subagyo, Marsoedi dan Karama, S., 1996. Prospek Pengembangan Lahan Gambut
untuk Pertanian dalam Seminar Pengembangan Teknologi Berwawasan
Lingkungan untuk Pertanian pada Lahan Gambut, 26 September 1996. Bogor.
21

DOKUMENTASI

Gambar .1 Gambar 2.

Gamabr 3. Gambar 4.

Keterangan :

Gambar 1. Tekstur tanah gambut

Gambar 2. Tanaman nanas yang di

tanaman di lahan gambut

Gambar 3. Tanaman pakis yang berada

di sekitar tanaman nanas

Gambar 4. Pengamatan tekstur tanah

gambut

Gambar 5. Gambar 5. Dokumentasi Kelompok