Anda di halaman 1dari 10

Prosedur Kerja

Prosedur kerja pelayanan imunisasi meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut :


1.

Penyiapan Pelayanan Imunisasi

2.

Persiapan Tempat Pelayanan Imunisasi

3.

Pelaksanaan Pelayanan Imunisasi

4.

Pemantauan Kejadian Ikutan Paska Imunisasi

1. Penyiapan Pelayanan Imunisasi, meliputi peralatan logistik imunisasi. Logistik yang


dimaksud antara lain meliputi :
No.
1.
2.
3.
4.
5.

Persiapan Peralatan
Vaksin
Auto Disable Syringe
safety box
emergency kit
Dokumen pencatatan status
imunisasi.

Ada

Tidak

2. Peralatan yang diperlukan untuk pelaksanaan pelayanan imunisasi tergantung pada perkiraan
jumlah sasaran yang akan diimunisasi. Jenis peralatan yang diperlukan untuk pelayanan
muniasi secara lengkap antara lain:
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Peralatan
Termos/Vaksin carrier
Cool Pack / Kotak dingin cair
Vaksin, Pelarut dan penetes (dropper)
Alat suntik
Safety box (kotak pengaman)
Pemotong/kikir ampul pelarut
Formulir
Kapas dan wadah
Bahan penyuluhan (poster, leaflet, dan
lainnya)
Alat tulis (kertas, pensil dan pena)
Kartu-kartu Imunisasi (KMS, kartu TT)

Ada

Tidak

12
13
14

Buku register bayi dan WUS


Tempat sampah
Sabun untuk cuci tangan

3. Prosedur Pengeluaran vaksin dan pelarut dari lemari es


No
1

Prosedur Pengeluaran Vaksin


Sebelum membuka lemari es, tentukan seberapa
banyak vial vaksin yang dibutuhkan untuk
pelayanan.
Catat suhu di dalam lemari es.
Pilih dan keluarkan vaksin sesuai ketentuan yang
telah ditetapkan untuk VVM dan tanggal
kedaluarsa (EEFO, FIFO).

2
3

Ya

Tidak

4. Prosedur pemeriksaan keamanan vaksin


Sebelum melakukan imunisasi, kita harus yakin bahwa vaksin telah aman untuk diberikan,
dengan prosedur sebagai berikut :
No
1

Pemeriksaan Keamanan Vaksin


Periksa label vaksin dan pelarut. Jika label
tidak ada, jangan gunkan vaksin atau pelarut
tersebut.
Periksa alat pemantau botol vaksin (VVM).
Jika vaksin sudah masuk kriteria C dan D
jangan dipergunakan.
Periksa tanggal kadaluarsa, jangan gunakan
vaksin dan pelarut jika tanggal kadaluarsa
telah lewat.
Periksa alat pemantau suhu beku dalam lemari
es. Jika indikator ini menunjukkan adanya
pembekuan atau anda menduga bahwa vaksin
yang sensitif beku (vaksin-vaksin DTP, DT,
TT, HepB, DTP-HepB ) telah membeku, anda
sebaiknya melakukan tes kocok.

Ya

Tidak

5. Pemeliharaan cold chain, dengan beberapa poin penting berikut:


No
1

2
3

4
5
6
7

8
9

Pemeliharaan Cold Chain


Selama pelayanan imunisasi, vaksin dan
pelarut harus disimpan dalam vaccine carrier
dengan menggunakan cool pack, agar suhu
tetap terjaga pada temperature 20-80 C dan
vaksin yang sensitive terhadap pembekuan
tidak beku.
Hindari vaccine carrier yang berisi vaccine
dari cahaya matahari langsung.
Sebelum sasaran datang vaksin dan pelarut
harus tersimpan dalam vaccine carrier yang
tertutup rapat.
Jangan membuka vaccine atau melarutkan
vaccine bila belum ada sasaran datang.
Pada saat pelarutan suhu pelarut dan vaksin
harus sama.
Petugas imunisasi tidak diperbolehkan
membuka vial baru sebelum vial lama habis.
Bila sasaran belum datang, vaksin yang sudah
dilarutkan harus dilindungi dari cahaya
matahari dan suhu luar, seharusnya dengan
cara diletakkan di lubang busa yang terdapat
diatas vaksin carrier (lihat gambar di bawah).
Dalam setiap vaccine carrier sebaiknya
terdapat empat cool pack.
Bila vaksin yang sudah dilarutkan sudah habis,
pelarutan selanjutnya dilakukan bila telah ada
anak yang hendak diimunisasi.

Ya

Tidak

6. Penyiapan Tempat Pelayanan Imunisasi


Beberapa persyaratan ruangan pelayanan imunisasi yang menetap (fasilitas pelayanan
kesehatan), antara lain:
No
1
2

Syarat- syarat Ruang Pelayanan


Imunisasi
Mudah diakses
Tidak terkena langsung oleh sinar

Ya

Tidak

matahari, hujan atau debu;


Cukup tenang
Jika di dalam gedung maka harus
cukup terang dan cukup ventilasi.
Jika di tempat terbuka dan di dalam
cuaca yang panas, tempat itu harus
teduh

3
4
5

7. Pengaturan tempat imunisasi, kita juga harus memperhatikan beberapa hal berikut:
No
1

3
4

Pengaturan Tempat Imunisasi


Pintu masuk terpisah dari pintu keluar
sehingga orang-orang dapat masuk dan
keluar dari pelayanan dengan lebih
cepat dan mudah;
Tempat menunggu bersih, nyaman dan
dalam cuaca yang panas tidak terkena
sinar matahari;
Mengatur letak meja dan menyiapkan
perlengkapan yang diperlukan
Melaksanakan kegiatan system 5 meja
yaitu pelayanan terpadu yang lengkap
yang memberikan pelayanan 5 program
(KB, KIA, Diare, Imunisasi dan Gizi);
Jumlah orang yang ada di tempat
imunisasi atau tempat lain dibatasi
sehingga tidak penuh sesak;
Segala sesuatu yang anda perlukan
berada dalam jangkauan atau dekat
dengan meja imunisasi anda.

Pelaksanaan Imunisasi

Sesuai

Tidak Sesuai

1.
2.
3.
4.

Nama Anak :
Usia Anak
:
JK Anak
:
Jenis Imunisasi : DPT3 +Hb+Hib , Polio 4

ALAT DAN BAHAN IMUNISASI


1. Spuit disposibel 2,5 cc dan jarumnya
2. Vaksin DPT dan pelarutnya dalam termos es
3. Kapas alcohol
4. Sarung tangan
8. Prosedur Pemberian Imunisasi
No
1
2
3
4
5

7
8
9
10
11
12

Langkah-Langkah
Cuci tangan
Gunakan sarung tangan
Jelaskan kepada orang tua prosedur
yang akan dilakukan
Ambil vaksin DPT dengan spuit sesuai
dengan program /anjuran, yaitu 0,5 ml
Atur posisi bayi (bayi dipangku ibunya,
tangan kiri ibu merangkul bayi,
meyangga kepala bahu, dan memegang
sisi luar tangan kiri bayi. Tangan kanan
bayi melingkar ke belakang tubuh ibu
dan tangan kanan ibu memegang kaki
bayi dengan kuat).
Lakukan desinfeksi 1/3 area tengah paha
bagian luar yang akan diinjeksi dengan
kapas alcohol
Regangkan daerah yang akan diinjeksi
Lakukan injeksi dengan memasukkan
jarum ke intramuskular di daerah femur
Lepaskan sarung tangan
Cuci tangan
Catat reaksi yang terjadi
Menjelaskan KIPI kepada ibu bayi yang
diimunisasi dan penanganannya jika
anak :
- Bengkak
- Nyeri dan kemerahan pada lokasi
suntikan
- Demam

Ya

Tidak

13

- Irritabilitas (rewel)
- Menangis dengan nada tinggi, dalam
24 jam setelah pemberian
Memberi KIE kepada ibu bayi

Cara Pemberian Imunisasi DPT-Hb-Hib (Pentavalen) :


1. Disuntikkan secara intramuskuler di anterolateral paha atas pada bayi dan lengan kanan
pada anak usia 1,5 tahun
2. Tidak dianjurkan pada : Bagian bokong anak karena dapat menyebabkan luka saraf siatik.
3. Pemberian intrakutan dapat meningkatkan reaksi local
4. Satu dosis adalah 0,5 ml
Waktu Pemberian :
Pentavalen TIDAK BOLEH digunakan pada bayi yang baru lahir.
1. Pemberian pentavalen merupakan bagian dari imunisasi dasar pada bayi. Diberikan pada
bayi usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan dan pada anak usia 1,5 tahun
2. Vaksin ini aman dan efektif diberikan bersamaan dengan vaksin BCG, campak, polio
(OPV atau IPV) dan suplemen vitamin A.
3. Jika vaksin ini diberikan bersamaan dengan vaksin lain, harus disuntikkan pada lokasi
yang berlainan.
Di negara-negara dimana pertusis menjadi bahaya tertentu pada bayi, vaksin ini harus
dimulai secepat mungkin dengan dosis pertama pada usia 6 minggu, dan dua dosis berikutnya
diberikan dengan jarak waktu 4 minggu. Vaksin ini aman dan efektif diberikan bersamaan
dengan vaksin BCG, campak, polio (OPV atau IPV),yellow fever dan suplemen vitamin A.

Jika vaksin ini diberikan bersamaan dengan vaksin lain, harus disuntikkan pada lokasi yang
berlainan. Vaksin ini tidak boleh dicampur dalam satu vial atausyringe dengan vaksin lain.
Sasaran imunisasi untuk anak dikategorikan menjadi 2, yaitu untuk bayi dan batita. Untuk
bayi, imunisasi yang diberikan merupakan imunisasi dasar yang terdiri atas Hepatitis, BCG,
Polio 1-4, Pentavalen (DPT-BH-Hib), dan campak. Pembagiannya sesuai dengan usia bayi
dibagi menjadi sebagai berikut:

Sasaran dan Jadwal Pemberian Sasaran


1. Imunisasi dasar

: Bayi

2. Imunisasi lanjutan

: Batita

3. Imunisasi DPT Memberikan kekebalan bagi bayi terhadapat penyakit Dipteri, Pertusis
(batuk rejan) dan tetanus.
4. Imunisasi Hib: Mencegah bayi terkena infeksi Haemophils influenza tipe b yang dapat
menyebabkan penyakit meningitis, infeksi tenggorokan dan pnemonia. Imunisasi Hib ini
sangat mahal, maka belum di wajibkan.
Sedangkan untuk batita, imunisasi yang diberikan merupakan imunisasi lanjutan.
Imunisasi lanjutan ini tak kalah pentingnya untuk pencegahan penyakit pada anak. Untuk
imunisasi lanjutan, anak akan diberikan DPT-HB-Hib dan campak. Pembagian imunisasi
lanjutan untuk usia batita dibagi menjadi sebagai berikut:
1. Batita berusia 18 bulan (1,5 tahun) diberikan imunisasi DPT-HB-Hib (minimum berjarak
12 bulan dari DPT-HB-Hib dosis terakhir)
2. Batita berusia 24 bulan (2 tahun) diberikan imunisasi campak (minimum berjarak 6 bulan
dari campak dosis pertama)

KONTRAINDIKASI DAN INDIKASI


KONTRAINDIKASI:
Imunisasi DPT tidak boleh diberikan kepada anak yang sakit parah, pernah menderita kejang
atau pada penyakit gangguan kekebalan (defisiensi imunologik). Sakit batuk, pilek, demam atau
diare yang sifatnya ringan, bukan merupakan kontraindikasi yang mutlak. Dokter akan
mempertimbangkan pemberian imunisasi, seandainya anak anda sedang menderita sakit ringan.
1. Kontraindikasi absolute dosis berikutnya :
Hipersensitif terhadap komponen vaksin, atau reaksi berat terhadap dosis vaksin
kombinasi sebelumnya atau bentuk-bentuk reaksi sejenis lainnya.
2. Kontraindikasi dosis pertama DPT
Kejang atau gejala kelainan otak pada bayi baru lahir atau kelainan saraf serius lainnya.

INDIKASI:
Vaksin digunakan untuk pencegahan terhadap difteri, tetanus, pertusis (batuk rejan), hepatitis B,
dan infeksi Haemophilus influenzae tipe b secara simultan.
PERINGATAN DAN PERHATIAN
1. Vial vaksin harus dikocok sebelum digunakan untuk menghomogenkan suspense.
2. Gunakan alat suntik steril untuk setiap kali penyuntikan.
3. Vaksin ini tidak boleh dicampur dalam satu vial atau syringe dengan vaksin lain.

4. Sebelum vaksin digunakan, informasi pada gambar Vaccine Vial Monitor


(VVM) harus diikuti.

11
PENYIMPANAN
1. Pentavalen harus disimpan dan ditransportasikan pada suhu antara +2oC sampai dengan
+8oC.
2. Vaksin DPT-HB-HiB TIDAK BOLEH DIBEKUKAN.
3. Vaksin dari kemasan vial dosis ganda yang sudah diambil satu dosis atau lebih dalam satu
sesi imunisasi, dapat digunakan untuk sesi imunisasi berikutnya selama maksimal sampai
4 minggu, jika kondisi berikut terpenuhi :
a)
b)
c)
d)
e)

Tidak melewati batas kadaluarsa


Vaksin disimpan dalam kondisi rantai dingin yang tepat
Tutup vial vaksin tidak terendam air
Semua dosis diambil secara aseptis
VVM (Vaccine Vial Monitor) tidak mencapai discard point

KEMASAN
1 Dus @ 10 vial @ 2,5 ml (5 dosis)
KEUNTUNGAN PENTAVALEN
1. Lima perlindungan satu kemasan
2. Mudah digunakan karena vaksin HiB sudah tergabung dalam bentuk cairan
3. Efisiensi biaya hingga 66,6% karena menghemat penggunaan jarum suntik (dari 12
menjadi 4 jarum suntik saja)*

4. Menurunkan angka drop out


5.

Dengan asumsi penghematan 3 jarum suntik (DPT,HB, dan HiB) untuk 4 kali

pemberian (3 + 1 booster)

PENTAVALEN AMAN
Vaksin pentavalen aman. Sebelum diberikan pada manusia, setiap jenis vaksin sudah dipastikan
keamanannya melalui proses pemeriksaan oleh Badab POM dan lembaga internasional. Demam
setelah imunisasi merupakan reaksi normal yang dapat diatasi dengan obat penurun panas.
KOMPOSISI
Tiap dosis (0,5 mL) mengandung
Zat aktif
Toksoid Difteri murni

20 Lf (k. 30 IU)

Toksoid Tetanus murni

5 Lf 60 IU)

B. pertussis inaktif

12 OU (k 4 IU)

HbsAg

10 mcg

Konjugat Hib

10 mcg

Zat tambahan
sebagai aluminium fosfat

0,33 mg

Thimerosal

0,025 mg