Anda di halaman 1dari 17

Perencanaan Tambang (mine plan)

Posted by Rachmat Risejet Friday, 6 September 2013 0 comments

1. Arti Perencanaan
Perencanaan tambang dapat diartikan sebagai kegiatan berikut :

Penentuan tujuan dan sasaran kegiatan yang ingin dicapai.

Proses persiapan secara sistematik mengenai kegiatan yang akan dilakukan.

Cara mencapai tujuan dan sasaran dengan menggunakan sumber dan


kemampuan yang tersedia secara berdaya guna dan berdaya hasil.

Pembahasan dari persoalan, kemungkinan dan kesempatan yang dapat terjadi


yang dapat mempengaruhi pencapaian tujuan.

Penentuan dari tindakan yang akan diambil untuk mencapai tujuan berdasarkan
analisa tujuan dan kesempatan.

2. Fungsi Perencanaan
Fungsi perencanaan Tambang tergantung dari jenis perencanaan yang digunakan dan
sasaran yang dituju, tetapi secara umum fungsi perencanaan dapat dikatakan antara
lain sebagai berikut :

Pengarahan kegiatan, adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan dalam


pencapaian tujuan.

Perkiraan terhadap masalah pelaksanaan, kemampuan, harapan, hambatan dan


kegagalannya mungkin terjadi.

Usaha untuk mengurangi ketidakpastian.

Kesempatan untuk memilih kemungkinan terbaik.

Penyusunan urutan kepentingan tujuan.

Alat pengukur atau dasar ukuran dalam pengawasan dan penilaian.

Cara penggunaan dan penempatan sumber secara berdaya guna dan berdaya
hasil.

3. Tujuan Perencanaan Tambang


Tujuan dari pekerjaan perencanaan tambang adalah membuat suatu rencana produksi
tambang untuk sebuah cebakan bijih yang akan :

Menghasilkan tonase bijih pada tingkat produksi yang telah ditentukan dengan
biaya yang semurah mungkin.

Menghasilkan aliran kas (cash flow) yang akan memaksimalkan beberapa


kriteria ekonomik seperti rate of return atau net present value.

4. Masalah Perencanaan Tambang


Masalah perencanaan tambang merupakan masalah yang kompleks karena merupakan
problem geometrik tiga dimensi yang selalu berubah dengan waktu. Geometri
tambang bukan satu-satunya parameter yang berubah dengan waktu.Parameterparameter ekonomi penting yang lain pun sering merupakan fungsi waktu pula.

5. Ruang Lingkup Perencanaan Tambang


Agar perencanaan tambang dapat dilakukan dengan lebih mudah, masalah ini biasanya
dibagi menjadi tugas-tugas sebagai berikut :

a. Penentuan batas dari pit


Menentukan batas akhir dari kegiatan penambangan (ultimate pit limit) untuk suatu
cebakan bijih. Ini berarti menentukan berapa besar cadangan bijih yang akan
ditambang (tonase dan kadarnya) yang akan memaksimalkan nilai bersih total dari

cebakan bijih tersebut. Dalam penentuan batas akhir dari pit, nilai waktu dari uang
belum diperhitungkan.

b. Perancangan pushback
Merancang bentuk-bentuk penambangan (minable geometries) untuk menambang
habis cadangan bijih tersebut mulai dari titik masuk awal hingga ke batas akhir
daripit. Perancangan pushback atau tahap-tahap penambangan ini membagi
ultimate pitmenjadi unit-unit perencanaan yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola.
Hal ini akan membuat masalah perancangan tambang tiga dimensi yang kompleks
menjadi lebih sederhana. Pada tahap ini elemen waktu sudah mulai dimasukkan ke
dalam rancangan penambangan karena urut-urutan penambangan pushback telah
mulai dipertimbangkan.

c. Penjadwalan produksi
Menambang bijih dan lapisan penutupnya (waste) di atas kertas, jenjang demi jenjang
mengikuti urutan pushback, dengan menggunakan tabulasi tonase dan kadar untuk
tiap pushback yang diperoleh dari tahap 2). Pengaruh dari berbagai kadar batas (cut
off grade) dan berbagai tingkat produksi bijih dan waste dievaluasi dengan
menggunakan kriteria nilai waktu dari uang, misalnya net present value. Hasilnya
akan dipakai untuk menentukan sasaran jadwal produksi yang akan memberikan
tingkat produksi dan strategi kadar batas yang terbaik.

d. Perencanaan tambang berdasarkan urutan waktu


Dengan menggunakan sasaran jadwal produksi yang dihasilkan pada tahap 3), gambar
atau peta-peta rencana penambangan dibuat untuk setiap periode waktu (biasanya
per tahun). Peta-peta ini menunjukkan dari bagian mana di dalam tambang
datangnya bijih dan waste untuk tahun tersebut. Rencana penambangan tahunan ini
sudah cukup rinci, di dalamnya sudah termasuk pula jalan angkut dan ruang kerja
alat, sedemikian rupa sehingga merupakan bentuk yang dapat ditambang. Peta
rencana pembuangan lapisan penutup (waste dump) dibuat pula untuk periode waktu
yang sama sehingga gambaran keseluruhan dari kegiatan penambangan dapat terlihat.

e. Pemilihan alat
Berdasarkan peta-peta rencana penambangan dan penimbunan lapisan penutup dari
tahap 4) dapat dibuat profil jalan angkut untuk setiap periode waktu. Dengan
mengukur profil jalan angkut ini, kebutuhan armada alat angkut dan alat muatnya
dapat dihitung untuk setiap periode (setiap tahun). Jumlah alat bor untuk peledakan
serta alat-alat bantu lainnya (dozer, grader, dll.) dihitung pula.

f. Perhitungan ongkos-ongkos operasi dan kapital

Dengan menggunakan tingkat produksi untuk peralatan yang dipilih, dapat dihitung
jumlah gilir kerja (operating shift) yang diperlukan untuk mencapai sasaran produksi.
Jumlah dan jadwal kerja dari personil yang dibutuhkan untuk operasi, perawatan dan
pengawasan dapat ditentukan. Akhirnya, ongkos-ongkos operasi, kapital dan
penggantian alat dapat dihitung.
Catatan:
peta-peta yang dihasilkan dalam tahap 1), tahap 2) dan tahap 4) merupakan peta
tampak atas (plan/level maps).

6. TAHAPAN DALAM PERENCANAAN


6.1 Pendahuluan
Tahapan dalam perencanaan menurut LEE (1984) dan Taylor (1977) dapat terbagi tiga
tahap, yaitu :
1. Studi Konseptual.
Studi pada tahap pekerjaan awal ini merepresentasikan suatu transformasi dari suatu
ide proyek kedalam usulan investasi yang luas dengan menggunakan metoda-metoda
perbandingan dari definisi ruang lingkup dan teknik-teknik estimasi biaya untuk
mengidentifikasikan suatu kesempatan investasi yang potensial. Biaya modal dan
biaya operasi biasanya didekati dengan perkiraan nisbah yang menggunakan data
historik.
Studi ini akan menekankan pada aspek investasi yang utama dari usulan penambangan
yang memungkinkan. Persiapan studi ini pada umumnya adalah pekerjaan dari satu
atau dua insinyur. Hasil dari studi ini dilaporkan sebagai evaluasi awal.
Studi ini sering juga disebut order of magnitudes studies atau scoping studies.
Pada umumnya berdasarkan data sementara/tak lengkap dan yang keabsahannya
masih diragukan.
Hasilnya biasanya merupakan suatu dokumen intern dan tidak disebarluaskan di luar
perusahaan yang bersangkutan.
Di samping meninjau kemungkinan diteruskannya proyek ini, tujuan lainnya adalah
menentukan topik yang harus dievaluasi secara mendalam pada studi yang lebih rinci
di masa yang akan datang.
2. Pra Studi Kelayakan
Srudi ini adalah suatu pekerjaan pada tingkat menengah (intermedia) dan secara
normal tidak untuk mengambil keputusan. Studi ini mempunyai obyektif didalam
penentuan apakah konsep proyek tersebut menjustifikasi suatu analisis detail oleh

suatu studi kelayakan (apakah studi kelayakan diperlukan) dan apakah setiap aspek
dari proyek adalah kritis dan memerlukan suatu investigasi yang mendalam melalui
suatu studi pendukung.
Studi ini harus dipandang sebagai suatu tahap menengah antara studi konseptual yang
tidak mahal dan suatu studi kelayakan yang relatif mahal. beberapa dari studi ini
dibuat oleh suatu tim (terdiri 2 & 3 orang). Kedua atau ketiga orang ini mempunyai
akses ke konsultan dalam berbagai bidang, selain dapat berupa usaha dari multi
group.
Data yang digunakan lebih lengkap dan kualitasnya lebih baik.
Beberapa pekerjaan paling tidak telah dilakukan untuk semua aspek penting dari
proyek seperti pengujian metalurgi bijih, geoteknik, lingkungan, dsb.
Bagi perusahaan tambang besar, studi pra-kelayakan ini cenderung masih dianggap
sebagai dokumen intern. Perusahaan yang lebih kecil sering menggunakan dokumen ini
untuk mencari dana di pasar modal untuk membiayai studi-studi selanjutnya. (Ingat
kasus Bre-X/Busang!).
3. Studi Kelayakan
Sering pula disebut sebagai bankable feasibility study. Hasilnya merupakan
suatubankble document yang hampir selalu ditujukan untuk mencari modal untuk
membiayai proyek tersebut. Karena itu, dokumen yang dihasilkan ini biasanya
disebarluaskan pula di luar perusahaan.
Semua aspek utama harus dibahas dalam tahap ini. Hampir semua aspek tambahan
harus dibahas pula.
3.2 Biaya Perencanaan
Biaya perencanaan (Lee, 1984) bervariasi bergantung kepada ukuran dan faktor
alamiah proyek, tipe dari studi yang dilakukan, jumlah alternatif yang harus diteliti
dan sejumlah faktor lain.
Atau bisa dinyatakan dalam persamaan berikut :
Biaya = f (ukuran & sifat dari proyek, jenis studi, jumlah
alternatif yang diinvestigasi, dll).
Dalam rangka menghitung biaya atau bagian teknik dari studi tidak termasuk seperti
ongkos pemilikan seperti ongkos pengeboran eksplorasi, uji metalurgi, lingkungan dan
studi hukum, atau studi pendukung lainnya, biasanya dinyatakan sebagai persentase
dari biaya modal dari proyek :
Studi konseptual = 0,1 0,3 % dari biaya total
Studi pra kelayakan

= 0,2 0,8 % dari biaya total

Studi kelayakan = 0,5 1,5 % dari biaya total


3.3 Akurasi dari Estimasi
3.3.1 Tonase dan kadar
Pada tahap studi kelayakan, karena pengambilan sampel yang banyak dan
pemeriksaan yang berulang, kadar rata-rata dari penambangan dari beberapa tonase
yang diumumkan, disukai karena diketahui memiliki limit yang dapat diterima,
katakanlah 5%, dan diturunkan dari metoda statistik yang standar. Walaupun tonase
yang pasti dari bijih mungkin untuk tambang terbuka diketahui jika pemboran
eksplorasi dari permukaan, dalam kenyataannya tonase ultimat dari banyak endapan
bervariasi karena ia tergantung pada biaya harga dihubungkan dengan panjang waktu
proyek.
Dua standar yang penting yang dapat didefinisikan untuk sebagian besar tambang
terbuka adalah :
1. Cadangan minimum bijih harus sebanding untuk keperluan yang dibutuhkan untuk
seluruh tahun Cash Flow yang diproyeksikan dalam laporan studi kelayakan haruslah
diketahui dengan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
2. Sebuah tonase ultimat yang potensial, diproyeksikan berlanjut dan optimistik,
seharusnya dikalkulasikan dengan baik untuk mendefinisikan area tambahan yang
berpengaruh untuk penambangan, dan dimana dumping area serta abngunan pabrik
musti diletakkan.
3.3.2 Unjuk kerja
Unit-unit dari penambangan open pit sudah memiliki rate unjuk kerja yang stabil dan
biasanya dicapai jika bekerja dalam organisasi yang baik dan pengorganisasian alat
(misal Shovel dan Truck) secara tepat. Unjuk kerja akan terganggu jika pekerjaan
tambahan (pengupasan tanah penutup dalam sebuah pit) tidak mencukupi.
Pemeliharaan harus dilakukan dan pekerjaan ini harus dijadwalkan secara baik dan
disediakan dalam laporan studi kelayakan.
3.3.3 Biaya
Beberapa mata biaya, terutama ongkos oeprasi di lapangan, hanya berbeda sedikit
dari tiap tambang dan dapat diketahui secara detail. Beberapa mungkin unik atau
sukar untuk diperkirakan. Umumnya akurasi dalam modal atau estimasi biaya operasi
kembali kepada akurasi dalam kuantitas, kuota yang ada atau unit harga, kecukupan
ketentuan untuk ongkos tidak langsung dan overhead. Tendensi terakhir menunjukkan
adanya batas yang meningkat.
Akurasi dari modal dan estimasi dari biaya operasi meningkat ketika proyek meningkat
dari studi konseptual ke pra kelayakan dan tahap studi kelayakan. Normalnya range
yang bisa diterima untuk akurasi diberikan sebagai berikut :

Faktor kesalahan dari studi konseptual + 30% dari biaya total


Faktor kesalahan dari pra studi kelayakan + 20% dari biaya total
Faktor kesalahan dari studi kelayakan + 10% dari biaya total.
3.3.4 Harga dan perolehan
Pendapatan selama umur tambang adalah kategori utama dari uang. Itu harus
membayar seluruhnya, termasuk pembayaran kembali dari investasi awal dari uang.
Krena pendapatan adalah dasar yang terbesar dalam mengukur faktor ekonomi
tambang sehingga lebih sensitif mengubah penerimaan daripada mengubah faktorfaktor lain dari jenis-jenis pengeluaran.
Penerimaan ditentukan oleh kadar, recovery, dan harga dari produk metal. Oleh
karenanya, harga adalah: (a) sejaun ini sangat sulit untuk estimasi dan (b) suatu
jumlah yang besar diluar dari kontrol estimator. Walaupun mengabaikan inflasi, harga
pembelian secara lebar bervariasi terhadap waktu. kecuali komoditi yang bisa
dikontrol dengan tepat, mereka mengarah untuk mengikuti bentuk siklus.
Departemen pemasaran harus menginformasikan hubungan suplai dan permintaan dan
pergerakan harga metal. Mereka dapat juga menyediakan harga rata-rata metal di
luar negeri dalam harga dolar sekarang, baik kemungkinan maupun konservatif. Harga
terakhir berkisar 80% dari kemungkinan atau lebih. Idealnya, walaupun pada harga
konservatif, harus tetap menguntungkan.

7. CHECKLIST DATA AWAL YANG HARUS DIKUMPULKAN


Pada awal tahap perencanaan untuk setiap proyek (tambang) yang baru, terdapat
banyak faktor dari berbagai jenis yang harus dipertimbangkan. Beberapa faktor
tersebut dapat dengan mudah diperoleh, sedangkan beberapa faktor lain diperoleh
dengan suatu keharusan melakukan studi yang mendalam (misalnya geometri pit).
Untuk menghindari ketidaklengkapan data, maka sebaiknya dibuat suatu checklist
(rebel, 1975, Field Work Program Checklist for New Properties).
Checklist Item

1. Topografi
1.

USGS maps 1 : 500

1 : 1000

b. Special Aerial or lamd survey establish control stations

2. Kondisi iklim (Climate condition)


a. Ketinggian

b. Temperatur rata-rata bulanan sudah cukup.


c. Prespitasi (untuk penirisan)

rata-rata presipitasi tahunan

rata-rata curah hujan bulanan

rata-rata Run-off (keadaan normal dan flood/banjir)


d. Angin, maks, tercatat dalam arah.
e. Kelembaban.
f. Delay.
g. Awan, fog.

3. Air
a. Sumber : mata air, sungai, danau, bor.
b. Ketersediaan : hukum, kepemilikan, biaya.
c. Kuantitas : ketersediaan perbulan, kesempatan aliran, kemungkinan lokasi
bendungan.
d. Kualitas : sampel, perubahan-perubahan kualitas, efek kontaminasi.
e. Sewage Disposal Methode.

4. Struktur Geologi
a. Dalam daerah tambang.
b. Disekeliling daerah tambang.
c. Kemungkinan gempa bumi.
d. Akibat pada slope (maks. slope).
e. Estimasi dan kondisi fondasi.

5. Air Tambang
a. Kedalaman.
b. Konduktivitas.
c. Metode Penirisan.

6. Permukaan
a. Vegetasi : tipe, metode pembabatan, biaya.
b. Kondisi yang tidak biasa : danau, endapan deposit, pohon-pohon besar.

7. Tipe/Jenis Batuan (Bijih, overburden)


a. Sample untuk uji kemampuan dibor.
b. Fragmentasi : Hardness, derajat pelapukan, bidang-bidang diskontinu, kecocokan
untuk jalan.

8. Lokasi untuk Konsentrator.


a. Lokasi tambang, Haul up hill, down hill.
b. Preparasi lokasi (cut, fill).
c. Proses air : gravitasi, pompa.
d. Tailing Disposal.
e. Fasilitas pemeliharaan.

9. Tailing Pond (daerah)


a. Lokasi pipa.
b. Alamiah, bendungan, danau.
c. Pond overflow.

10. Jalan
a. Peta jalan
b. Informasi jalan-jalan yang ada :
lebar, permukaan, batas maksimum beban
batas maksimum load sesuai musim
pemeliharaan.
c. Jalan yang dibuat (harus) oleh perusahaan
panjang
profile

cut and file


jembatan
pengkondisian tanah
dll.

11.

Power

a. Ketersediaan (PLN) : kilovolt, jarak (terdekat), biaya.


b. Kabel ke SIB.
c. Lokasi sub station.
d. Kemungkinan untuk power station sendiri.

12.

Smelting

a. Ketersediaan pabrik.
b. Metode pengapalan : jarak, alat angkut, awak, reet, dll.
c. Biaya.
d. Aspek terhadap lingkungan.
e. Rel KA, dok.

13.

Kepemilikan lahan

a. Kepemilikan : begara, pribadi.


b. Tata guna lahan.
c. Harga tanah.
d. Jenis oplians : sewa, beli, dll.

14. Pemerintah
a. Suasana politik.
b. Hukum, UU pertambangan.
c. Keadaan lokal.

15. Kondisi ekonomi

a. Industri utama yang ada, berpengaruh ke infrastruktur.


b. Kesediaan tenaga kerja.
c. Skala penggalian.
d. Struktur pajak.
e. Ketersediaan sarana, toko, rumah sakit, sekolah, rumah.
1.

Ketersediaan material, termasuk bensin, semen, gravel.

g. Pembelian.

16.

Lokasi Pembuangan (waste) : tambang, rumah sakit, perumahan

a. Jarak.
b. Profil jalan.
c. Kekungkinan proses lebih lanjut.

17. Aksessibilitas dari kota utama ke luar


a. Metode transportasi.
b. Realibilitas dan transportasi yang tersedia.
c. Komunikasi.

18. Metode mendapatkan informasi


a. Past records (pemerintah).
b. Memelihara alat-alat komunikasi
c. Mengunpulkan conto.
d. Pengukuran dan pengamatan lokasi lapangan.
e. Survey lapangan
1.

Layout pabrik.

g. Check untuk load informasi


h. Check hukum lokal.
1.

Personal inquiry dan observasi suasana politik dan ekonomi.

Peta-peta.

2.

k. Cost inquiries.
Material.

1.

m. Membuat utility, avaliability, inquiries.


Sekian dulu postingan Perencanaan Tambang kali ini miners blogger
Semoga bermanfaat buat kalian semua
#salamtambang
Categories: Materi Kuliah
Related Post:
teri Kuliah

Metode Perhitungan Cadangan Emas

Emas Dan Metode Pengolahannya

Klasifikasi Struktur Batuan Beku

Batu Bara Secara Umum

Metode Peledakan Tambang Bawah Tanah

PERENCANAAN TAMBANG

1.1 Pengertian perencanaan


1.Perencanaan tambang merupakan suatu tahap penting dalam studi
kelayakan dan rencana operasi penambangan. Perencanaan suatu tambang terbuka
yang modern memerlukan model komputer dari sumberdaya yang akan ditambang,
baik berupa block model untuk tambang bijih atau kuari, maupun gridded seam
model untuk endapan tabular seperti batubara.2. Dua aspek penting dalam
pekerjaan perencanaan tambang adalah perancangan pit atau penentuan batas
akhir penambangan, serta pentahapan dan penjadwalan produksi hingga ke
perencanaan tahunan dan bulanan.
Masukan

yang

diperlukan

dalam

perancangan

limit

adalah

aspek

teknoekonomik seperti kemiringan lereng tunggal dan lereng keseluruhan, ongkosongkos penambangan, pengolahan, pemurnian G&A ( overhead ), faktor-faktor
perolehan (recovery) serta harga komoditas. Keluaran yang dihasilkan adalah
jumlah cadangan serta distribusi ton dan kadarnya yang harus direncanakan tingkat
produksi serta tahap-tahap penambangannya. Tingkat produksi ore dan waste yang
direncanakan
dibutuhkan.

akan
Tingkat

menentukan
produksi,

jumlah

peralatan

pentahapan

dan

penambangan

tenaga

kerja

(pushback

yang
)

dan

penjadwalan produksi yang optimum ditunjukkan untuk memaksimalkan beberapa


criteria finansial seperti net present value.
Buku ini bertujuan untuk memberikan tambahan wawasan kepada para
insinyur perencana tambang, yang dititikberatkan pada pemahaman aspek-aspek
perancangan pit dan waste dump, perencanaan produksi ore dan waste, aspek
geoteknik serta lingkungan. Para insinyur perencana tambang diharapkan akan
lebih memahami pula aspek analisis finansial, yang pada akhirnya menentukan
tingkat keuntungan (profitability) dari suatu usaha pertambangan.

1.2 Tahapan perencanaan

Banyak definisi tentang perencanaan dan tahapannya. Dalam buku ini


tahapan perencanaan dibagi menjadi tiga tahapan (Lee, 1984 dan Taylor, 1977):
a.

Studi Konseptual
Studi pada tahap pekerjaan awal ini mempresentasikan suatu transformasi
dari suatu ide proyek ke dalam usulan investasi yang luaas dengan menggunakan
metode-metode

perbandingan

dari

definisi

ruang

lingkup

dan

teknik-teknik

estimasi, biaya modal dan biaya operasi biasanya didekati dengan perkiraan nisbah
yang menggunakan data historik.
Studi ini menekankan pada aspek investasi yang utama dari usulan
penambangan yang memungkinkan. Persiapan studi ini pada umumnya adalah
pekerjaan dari satu atau dua insinyur. Hasil dari studi ini dilaporkan sebagai
evaluasi awal. Studi ini sering juga disebut order of magnitudes studies atau
scoping studies. Pada umumnya berdasarkan data sementara (tak lengkap) dan
keabsahannya

masih

diragukan.

Hasilnya

biasanya

meninjau

kemungkinan

diteruskannya proyek ini. Tujuan lainnya adalah menentukan topik yang harus
dievaluasi secara mendalam pada studi yang lebih rinci di masa yang akan datang.

b.

Pra Studi Kelayakan


Studi ini adalah suatu pekerjaan ditingkat menengah (intermediate) dan
secara normal tidak untuk mengambil keputusan. Studi ini mempunyai obyektivitas
di dalam penentuan apakah konsep proyek tersebut menjustifikasi suatu analisis
detail oleh suatu studi kelayakan (apakah studi kelayakan diperlukan) dan apakah
setiap aspek proyek adalah kritis dan memerlukan suatu investigasi yang
mendalam melalui suatu studi pendukung.
Studi ini harus dipandang sebagai suatu tahap menengah antara studi
konseptual yang tidak mahal dan suatu studi kelayakan yang relatif mahal.
Beberapa dari studi ini dibuat oleh suatu tim (terdiri dari 2 dan 3 orang). Kedua atau
ketiga orang ini mempunyai akses dalam berbagai bidang, selain dapat berupa
usaha dari multi group. Data yang digunakan lebih lengkap dan kualitasnya lebih
baik. Beberapa pekerjaan yang paling tidak telah dilakukan untuk semua aspek

penting dari proyek seperti pengujian metalurgi bijihm geoteknik, lingklungan, dan
sebagainya.
Bagi perusahaan tambang besar, studi pra-kelayakan ini cenderung masih
dianggap sebagai dokumen intern, namun bagi perusahaan yang lebih kecil sering
menggunakan dokumen ini untuk mencari dana di pasar modal untuk membiayai
studi-studi selanjutnya (ingat kasus Bre-X/Busang).

c.

Studi Kelayakan
Sering pula disebut sebagai bankable feasibility study. Hasilnya merupakan
suatu bankable document yang hampir selalu ditunjukkan untuk mencari modal
untuk membiayai proyek tersebut. Dokumen yang dihasilkan ini biasanya
disebarluaskan pula keluar perusahaan. Semua aspek utama harus dibahas dalam
tahap ini. Hampir semua aspek tambahan harus dibahas pula.

1.3 Biaya perencanaan


Biaya perencanaan (Lee, 1984) bervariasi bergantung kepada ukuran dan
faktor alamiah proyek, tipe dari studi yang dilakukan, jumlah alternatif yang harus
diteliti dan sejumlah faktor lain. Biaya perencanaan dinyatakan dalam persamaan
berikut:
Biaya = f (ukuran dan sifat dari proyek, jenis studi, jumlah alternatif yang
diinvestasigasi, dan lain-lain).
Dalam rangka menghitung biaya atau bagian teknik dari studi tidak termasuk
seperti ongkos pemilikan seperti ongkos pengeboran eksplorasi, uji metalurgi,
lingkungan dan studi hukum, atau studi pendukung lainnya, biasanya dinyatakan
sebagai presentase dari biaya modal dari proyek:
Studi konseptual

= 0,1 0,3% dari biaya total

Studi pra kelayakan


Studi kelayakan

= 0,2 0,8% dari biaya total

= 0,5 1,5% dari biaya total

Akurasi estimasi dari biaya operasi meningkat ketika proyek meningkat dari
studi konseptual ke pra kelayakan dan tahap kelayakan. Pada umumnya faktor
kesalahan diperkirakan sebagai berikut:
Faktor kesalahan dari studi konseptual +/- 30% dari biaya total
Faktor kesalahan dari pra studi kelayakan +/- 20% dari biaya total
Faktor kesalahan dari studi kelayakan +/- 10% dari biaya total

1.4 Checklist data awal yang diperlukan


Data awal yang diperlukan untuk perencanaan adalah:
a.

Topografi
Peta topografi untuk perencanaan berskala 1:500 atau 1:1.000
b.

Kondisi iklim (climate condition)


Ketinggian
Temperatur

c.

Presipitasi (untuk penirisan): rata-rata presipitasi tahunan, rata-rata curah hujan


bulanan, rata-rataa run of (keadaan normal dan banjir), angin, kelembaban, awan

d.

Air: diperoleh dari mata air, sungai, danau, bor

e.

Struktur Geologi: dalam daerah tambang, di sekeliling daerah tambang.

f.
g.

Air tambang: kedalaman, konduktivitas, metode penirisan


Kondisi permukaan: vegetasi: tipe, metode pembabatan, biaya; danau, endapan
deposit, pohon-pohon besar

h.

Tipe/jenis batuan (bijih, overburden): sampling, fragmentasi: hardness, derajat


pelapukan, bidang-bidang diskontinu, kecocokan untuk jalan.

i.

Lokasi untuk konsentrator

j.

Lokasi tambang, haul: up hill, down hill

k.

Lokasi preparasi (cut, fill)

l.

Talling disposal

m. Fasilitas pemeliharaan
n.

Tailing pond

o.

Lokasi pipa: pond overflow

p.

Jalan: informasi jalan-jalan yang ada: lebar, permukaan, batas maksimum, beban,
pemeliharaan. Jalan yang dibuat oleh perusahaan: panjang, profile, cut dan fill,
jembatan

q.

Power

r.

Kepemilikan lahan, kepemilikan:negara, pribadi, tata guna lahan, harga tanah

s.

Pemerintah: suasana politik, hukum, UU pertambangan, sosial budaya

t.

Kondisi ekonomi: industri utama yang ada, kesediaan tenaga kerja, struktur pajak,
ketersediaan sarana, toko, rumah sakit, sekolah, rumah, ketersediaan material,
termasuk bensin, semen, gravel

u.
v.

Lokasi pembuangan (waste dump)


Aksesibilitas dari kota utama ke luar: metode transportasi, realibilitas dan
transportasi yang tersedia, komunikasi