BAB I
PENDAHULUAN
1.1. SASARAN KULIAH
1)
Mahasiswa
diharapkan
dapat
merangkum
dan
mensintesiskan
pengetahuan kerekayasaan dan keekonomian yang telah diperoleh ke
dalam suatu perancangan pit
(penentuan
limit
) dan perencanaan
(pentahapan) serta evaluasi suatu tambang terbuka yang modern.
2)
Mahasiswa diharapkan dapat memahami tentang :
a.
Falsafah perencanaan
cutb.off Pengertian
grade, stripping
ratio
dan kadar ekivalen
c.
Penaksiran cadangan bijih
d.
Perancangan batas
final/ultimate
penambangan
pit limit
(
e.
f.
g.
h.
Pentahapan
mine phases/pushbacks
tambang (
Penjadwalan
mine
produksi
production
tambang
schedule
(
Perancangan
waste
tempat
dump
penimbunan
design (
)
)
)
)
Perhitungan kebutuhan alat dan tenaga kerja
capital and
i. operating
Perhitungan
costs
j.
Evaluasi finansial
1.2. PENGERTIAN PERENCANAAN
1.2.1. Definisi Perencanaan
Banyak sekali definisi yang dicetuskan mengenai perencanaan ditinjau dari
berbagai sudut pandangan dan tujuan. Salah satu di antaranya adalah
sebagai berikut.
I-1
waste dump.
mit.
Perencanaan adalah penentuan persyaratan teknik pencapaian sasaran
kegiatan serta urutan teknis pelaksanaan dalam berbagai macam anak
kegiatan yang harus dilaksanakan untuk pencapaian tujuan dan sasaran
kegiatan.
Perencanaan adalah salah satu tahapan kegiatan dalam proses manajemen
seperti terlihat pada Gambar 1.1.
Perencanaan tambang :
Bagaimana
ultimate
kita bisa membuat rancangan tambang (mencapai
) dalam jangka waktu tertentu secara aman dan menguntungkan.
Bagaimana menentukan tahapan penambangan.
Perencanaan berhubungan dengan waktu.
Perancangan tambang :
Istilah
biasanya dimaksudkan sebagai bagian dari
proses perencanaan tambang yang berkaitan dengan masalah-masalah
geometrik.
Di
dalamnya
termasuk
penambangan, tahapan (
perancangan
batas
akhir
), urutan penambangan tahunan/
bulanan, penjadwalan produksi dan
Bagaimana menentukan
Perancangan tidak berhubungan dengan waktu.
Aspek perencanaan tambang yang tidak berkaitan dengan masalah geometri
meliputi perhitungan kebutuhan alat dan tenaga kerja, perkiraan biaya
kapital dan biaya operasi.
Pada Gambar 1.2 ditunjukkan posisi perencanaan dalam suatu siklus dan
pada Gambar 1.3 adalah tahapan kegiatan pada industri pertambangan.
I-2
Gambar 1.1. Perencanaan Sebagai Salah Satu Tahapan Kegiatan
Dalam Proses Manajemen
I-3
Gambar 1.2. M
ineral Supply Process (McKenzie, 1980)
1.2.2. Arti Perencanaan
Perencanaan dapat diartikan sebagai kegiatan berikut.
1)
Penentuan tujuan dan sasaran kegiatan yang ingin dicapai.
2)
Proses persiapan secara sistematik mengenai kegiatan yang akan
dilakukan.
3)
Cara mencapai tujuan dan sasaran dengan menggunakan sumber dan
kemampuan yang tersedia secara berdaya guna dan berdaya hasil.
4)
Pembahasan dari persoalan, kemungkinan dan kesempatan yang dapat
terjadi yang dapat mempengaruhi pencapaian tujuan.
5)
Penentuan dari tindakan yang akan diambil untuk mencapai tujuan
berdasarkan analisa tujuan dan kesempatan.
I-4
Prospeksi
Peta topografi
Geologi
Mineralogi
Geofisika
Geokimia
Peta temuan
Percontoh batuan
Pemboran inti
Jumlah & sifat cadangan
Kadar endapan
Terowongan buntu (adit)
Sifat fisik, kimia,
Eksplorasi
Sumur uji (tes pit)
mekanik
Stratigrafi & litologi
Penentuan sasaran
Layak/tidak layak
(target) produksi
Pemilihan metoda
Studi
penambangan
Pemilihan peralatan :
macam dan ukurannya
Evaluasi teknis & ekonomis
ditambang ?
Kerusakan lingkungan
dapat ditangani
Dokumen Amdal, RKL,
RPL
Kelayakan
Layak Tambang
(mineable)
Tidak Layak Tambang
(unmineable)
Masuk Arsip
Ada agunan
Jaminan
kepercayaan
Mencari Dana
Jual saham
Pinjaman bank
Uang sendiri
Penentuan sasaran produksi
Pemilihan metoda penambangan
& batas penambangan
Penentuan macam & ukuran
peralatan
Analisis kemantapan lereng
I-5
Rekacipta Tambang
Peta rancangan
kemajuan
Tata letak sarana &
prasarana tambang
Pengupasan tanah penutup
Pembangunan sarana
prasarana tambang
Persiapan
Penambangan
Geologi & pemercontohan
Penambangan
Pemetaan kemajuan tambang
Pemberaian, pemuatan &
penangkutan
Energi, bahan kerja, suku cadang
Pengelolaan & pemantauan
lingkungan
Pengecilan ukuran &
klasifikasi
Pencucian & konsentrasi
Pengelolaan & pemantauan
lingkungan
Proses ekstraktif metalurgi
Pemurnian logam
Pengelolaan & pemantauan
lingkungan
Pengangkutan
Promosi
Penelitian & pengembangan
produksi
Medan kerja awal
Sumuran dalam
Terowongan buntu
Produksi bijih
Re-vegetasi
Pengolahan
Konsentrat
Metalurgi
Paduan logam
Logam murni
Bahan
Galian
Pemasaran
Gambar 1.3. Tahap Kegiatan Pada Industri Pertambangan
I-6
1.2.3. Fungsi Perencanaan
Fungsi perencanaan tergantung dari jenis perencanaan yang digunakan
dalam sasaran yang dituju, tetapi secara umum fungsi perencanaan dapat
dikatakan antara lain sebagai berikut.
1)
Pengarahan kegiatan, adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan
dalam pencapaian tujuan.
2)
Perkiraan terhadap masalah pelaksanaan, kemampuan, harapan,
hambatan dan kegagalannya mungkin terjadi.
3)
Usaha untuk mengurangi ketidakpastian.
4)
Kesempatan untuk memilih kemungkinan terbaik.
5)
Penyusunan urutan kepentingan tujuan.
6)
Alat pengukur atau dasar ukuran dalam pengawasan dan penilaian.
7)
Cara dan penggunaan dan penempatan sumber daya secara berdaya
guna dan berdaya hasil.
1.2.4. Tujuan Perencanaan Tambang
Tujuan dari pekerjaan perencanaan tambang adalah membuat suatu
rencana produksi tambang untuk sebuah cebakan bijih yang akan :
1)
Menghasilkan tonase bijih pada tingkat produksi yang telah ditentukan
dengan biaya yang semurah mungkin.
2)
Menghasilkan aliran kas (
) yang akan memaksimalkan
beberapa kriteria ekonomik seperti
atau
1.2.5. Masalah Perencanaan Tambang
Masalah perencanaan tambang merupakan masalah yang kompleks karena
merupakan problem geometrik tiga dimensi yang selalu berubah dengan
I-7
waktu. Geometri tambang bukan satu-satunya parameter yang berubah
dengan waktu. Parameter-perameter ekonomi penting yang lain pun sering
merupakan fungsi waktu pula.
Berikut
ini
adalah
parameter-parameter
yang
digunakan
didalam
perancangan tambang terbuka.
Gambar 1.4.
(D.J. Charbonneau, 1991)
1.2.6. Biaya Perencanaan
Biaya perencanaan (Lee, 1984) bervariasi bergantung kepada ukuran dan
faktor alamiah proyek, tipe dari studi yang dilakukan, jumlah alternatif yang
harus diteliti dan sejumlah faktor lain.
I-8
Atau bisa dinyatakan dalam persamaan berikut.
Biaya = f (ukuran dan sifat dari proyek, jenis studi,
jumlah alternatif yang diinvestigasi, dll)
Dalam rangka menghitung biaya atau bagian teknik dari studi tidak
termasuk seperti ongkos pemilikan, ongkos pengeboran eksplorasi, uji
metalurgi, lingkungan dan studi hukum, atau studi pendukung lainnya,
biasanya dinyatakan sebagai persentase dari biaya modal dari proyek :
Studi konseptual
= 0,10,3 % dari biaya total
Studi pra kelayakan
= 0,20,8 % dari biaya total
Studi kelayakan
= 0,51,5 % dari biaya total
Gambar 1.5 memperlihatkan beberapa tahapan untuk melakukan suatu
kegiatan tambang yang berhubungan dengan pengaruh biaya yang harus
dikeluarkan.
I-9
Gambar 1.5. Pengaruh Tahapan Perencanaan Terhadap Biaya (Lee,
1984)
1.2.7. Akurasi Dari Estimasi
1) Tonase dari kadar
Pada tahap studi kelayakan, karena pengambilan sampel yang banyak dan
pemeriksaan yang berulang, kadar rata-rata dari penambangan dari
beberapa tonase yang diumumkan, disukai karena diketahui memiliki limit
yang dapat diterima, katakanlah 5%, dan diturunkan dari metoda statistik
yang standar. Walaupun tonase yang pasti dari bijih mungkin untuk
tambang terbuka diketahui jika pemboran eksplorasi dari permukaan, dalam
kenyataannya tonase ultimate dari banyak endapan bervariasi karena ia
tergantung pada biaya harga dihubungkan dengan panjang waktu proyek.
Dua standar yang penting yang dapat didefinisikan untuk sebagian tambang
terbuka adalah :
a.
Cadangan minimum bijih harus sebanding untuk keperluan yang
dibutuhkan untuk seluruh tahun
yang diproyeksikan dalam
laporan studi kelayakan haruslah diketahui dengan akurat dan dapat
dipertanggungjawabkan.
b.
Sebuah tonase
yang potensial, diproyeksikan berlanjut dan
optimistik, seharusnya dikalkulasikan dengan baik untuk mendefinisikan
area tambahan yang berpengaruh untuk penambangan dan dimana
serta bangunan pabrik harus diletakkan.
2) Unjuk kerja
I - 10
Unit-unit dari penambangan open pit sudah memiliki rate unjuk kerja yang
stabil dan biasanya dicapai jika bekerja dalam organisasi yang baik dan
pengorganisasian alat (misal
dan
) secara tepat. Unjuk kerja
akan terganggu jika pekerjaan tambahan (pengupasan tanah penutup dalam
sebuah pit) tidak mencukupi. Pemeliharaan harus dilakukan dan pekerjaan
ini harus dijadwalkan secara baik dan disediakan dalam laporan studi
kelayakan.
3) Biaya
Beberapa mata biaya, terutama ongkos operasi dilapangan, hanya berbeda
sedikit dari setiap tambang dan dapat diketahui secara detail. Beberapa
mungkin unik atau sukar untuk diperkirakan. Umumnya akurasi dalam modal
atau operasi estimasi biaya operasi kembali pada akurasi dalam kuantitas,
kuota yang ada atau unit harga, kecukupan ketentuan untuk ongkos tidak
langsung dan
. Tendensi terakhir menunjukkan adanya batas yang
meningkat.
Akurasi dari modal dan estimasi dari biaya operasi meningkat ketika proyek
meningkat dari studi konseptual ke pra kelayakan dan tahap studi
kelayakan. Normalnya range yang bisa diterima untuk akurasi diberikan
sebagai berikut.
Faktor kesalahan dari studi konseptual + 30% dari biaya total
Faktor kesalahan dari pra studi kelayakan + 20% dari biaya total
Faktor kesalahan dari studi kelayakan + 10% dari biaya total
4) Harga dan perolehan
Pendapatan selama umur tambang adalah kategori utama dari uang. Itu
harus membayar seluruhnya, termasuk pembayaran kembali dari investasi
awal dari uang, karena pendapatan adalah dasar yang terbesar dalam
I - 11
mengukur faktor ekonomi tambang sehingga lebih sensitif mengubah
penerimaan
daripada
mengubah
faktor-faktor
lain
dari
jenis-jenis
pengeluaran.
Penerimaan ditentukan oleh kadar,
, dan harga dari produk metal.
Oleh karenanya, harga adalah : (a) sejauh ini sangat sulit untuk diestimasi
dan (b) suatu jumlah yang besar diluar dari kontrol estimator. Walaupun
mengabaikan inflasi, harga pembelian secara lebar bervariasi terhadap
waktu. Kecuali komoditi yang bisa dikontrol dengan tepat, mereka mengarah
untuk mengikuti bentuk siklus.
Departemen pemasaran harus menginformasikan hubungan suplai dan
permintaan dan pergerakan harga metal. Mereka dapat juga menyediakan
harga rata-rata metal di luar negeri dalam harga dolar sekarang, baik
kemungkinan naupun konservatif. Harga terakhir berkisar 80% dari
kemungkinan atau lebih. Idealnya, walaupun pada harga konservatif, harus
tetap menguntungkan.
1.3. CHECKLIST DATA AWAL YANG HARUS DIKUMPULKAN
Pada awal tahap perencanaan untuk setiap proyek (tambang) yang baru,
terdapat banyak faktor dari berbagai jenis yang harus dipertimbangkan.
Beberapa faktor tersebut dapat dengan mudah diperoleh, sedangkan
beberapa faktor lain diperoleh dengan suatu keharusan melakukan studi
yang mendalam (misalnya geometri pit).
Untuk menghindari ketidaklengkapan data, maka sebaiknya dibuat suatu
(Rebel, 1975,
).
Checklist Item
1.
Topografi
a. USGS maps 1 : 500, 1 : 1000
I - 12
b.
2.
Kodisi iklim (
a. Ketinggian
b. Temperatur rata-rata bulanan sudah cukup
c. Presipitasi (untuk penirisan)
rata-rata presipitasi tahunan
rata-rata curah hujan bulanan
rata-rata
(keadaan normal dan
/banjir)
d. Angin, maks, tercatat dalam arah
e. Kelembaban
g. Awan, fog
3.
Air
a. Sumber : mata air, sungai, danau, bor.
b. Ketersediaan : hukum, kepemilikan, biaya.
c. Kuantitas : ketersediaan perbulan, kesempatan aliran, kemung-kinan
lokasi bendungan.
d. Kualitas : sampel, perubahan-perubahan kualitas, efek kontaminasi.
e.
4.
Struktur geologi
a. Dalam daerah tambang
b. Di sekeliling daerah tambang
c. Kemungkinan gempa bumi
d. Akibat pada slope (
e. Estimasi dan kondisi fondasi
5.
Air tambang
a. Kedalaman
b. Konduktivitas
c. Metode Penirisan
I - 13
6.
Permukaan
a. Vegetasi : tipe, metode pembabatan, biaya
b. Kondisi yang tidak biasa : danau, endapan deposit, pohon-pohon
besar
7.
Tipe/jenis batuan (bijih
a. Sampel untuk uji kemampuan dibor
b. Fragmentasi
derajat
pelapukan,
bidang-bidang
diskontinu, kecocokan untuk jalan
8.
Lokasi untuk konsentrator
a. Lokasi tambang,
b. Preparasi lokasi (
c. Proses air : gravitasi, pompa
e. Fasilitas pemeliharaan
9.
(daerah)
a. Lokasi pipa
b. Alamiah, bendungan, danau
10. Jalan
a.
Peta jalan
b.
Informasi jalan-jalan yang ada :
lebar, permukaan, batas maksimum beban
batas maksimum load sesuai musim
pemeliharaan
c.
Jalan yang dibuat (harus) oleh perusahaan
panjang
jembatan
I - 14
pengkondisian tanah
dll.
11. Power
a.
Ketersediaan (PLN) : kilovolt, jarak (terdekat), biaya
b.
Kabel ke SIB
c.
Lokasi sub station
d.
Kemungkinan untuk
sendiri
12. Smelting
a.
Ketersediaan pabrik
b.
Metode pengapalan : jarak, alat angkut, awak reet, dll.
c.
Biaya
d.
Aspek terhadap lingkungan
e.
Rel KA, dok.
13. Kepemilikan lahan
a.
Kepemilikan : negara, pribadi
b.
Tata guna lahan
c.
Harga tanah
d.
Jenis oplians : sewa, beli, dll.
14. Pemerintah
a.
Suasana politik
b.
Hukum, UU pertambangan
c.
Keadaan lokal
15. Kondisi ekonomi
a.
Industri utama yang ada, berpengaruh ke infrastruktur
b.
Kesediaan tenaga kerja
c.
Skala penggalian
d.
Struktur pajak
e.
Ketersediaan sarana, toko, rumah sakit, sekolah, rumah
f.
Ketersediaan material, termasuk bensin, semen, gravel
I - 15
g.
Pembelian
16. Lokasi pembuangan (
) : tambang, rumah sakit, perumahan
a.
Jarak
b.
Profil jalan
c.
Kemungkinan proses lebih lajut
17. Aksesibilitas dari kota utama ke luar
a.
Metode transportasi
b.
Realibilitas dan transportasi yang tersedia
c.
Komunikasi
18. Metode mendapatkan informasi
a.
(pemerintah)
b.
Memelihara alat-alat komunikasi
c.
Mengumpulkan conto
d.
Pengukuran dan pengamatan lokasi lapangan
e.
Survey lapangan
f.
Layout pabrik
g.
Check untuk load informasi
h.
Check hukum lokal
i.
Personal inquiry dan observasi suasana politik dan ekonomi
j.
Peta-peta
k.
l.
Material
m.
Membuat
I - 16
PEKERJAAN RUMAH 1
Dalam perencanaan tambang, agar pekerjaan perencanaan dapat lebih
mudah dilakukan maka masalah tersebut dibagi menjadi tugas-tugas seperti
berikut.
Penentuan
Perancangan
Penjadwalan Produksi
Perencanaan Tambang berdasarkan urutan waktu
Pemilihan alat
Perhitungan Ongkos-ongkos Oprerasi dan Kapital.
Tugas anda adalah memberikan mata kuliah apa saja yang menunjang
tugas-tugas dalam penyelesaian tersebut, dan gambarkan diagramnya.
I - 17
BAB II
PENAKSIRAN CADANGAN BIJIH (REVIEW)
2.1. PENTINGNYA PENAKSIRAN CADANGAN
1)
Memberikan taksiran dari kuantitas (ton) dari cadangan bijih.
2)
Memberikan perkiraan bentuk 3-dimensi dari cadangan bijih serta
distribusi
ruang (
) dari nilainya.
Hal ini
penting untuk
menentukan urutan/tahapan penambangan, yang pada gilirannya akan
mempengaruhi pemilihan peralatan dan NPV (
) dari
tambang.
3)
Jumlah cadangan menentukan umur tambang. Hal ini penting dalam
perancangan pabrik pengolahan dan kebutuhan infrastruktur lainnya.
4)
Batas-batas kegiatan penambangan (pit limit) dibuat berdasarkan
taksiran cadangan. Faktor ini harus diperhatikan dalam menentukan
lokasi pembuangan tanah/batuan penutup dan tailing (
), pabrik pengolahan bijih, bengkel dan fasilitas
lainnya.
Karena semua keputusan teknis di atas amat tergantung padanya,
penaksiran cadangan merupakan salah satu tugas terpenting dan berat
tanggung jawabnya dalam mengevaluasi suatu proyek pertambangan.
I - 18
Harus pula diingat bahwa penaksiran cadangan menghasilkan suatu
taksiran. Model cadangan yang kita buat adalah pendekatan dari realitas,
berdasarkan data/informasi yang kita miliki, dan masih mengandung
ketidakpastian.
2.2. PERSYARATAN DARI PENAKSIRAN CADANGAN
1) Suatu taksiran cadangan harus mencerminkan secara tepat kondisi
geologis dan karakter/sifat dari mineralisasi.
2) Selain itu iapun harus sesuai dengan tujuan dari evaluasi. Suatu model
cadangan bijih yang akan digunakan untuk perancangan tambang harus
konsisten dengan metoda penambangan dan teknik perencanaan
tambang yang akan diterapkan.
3) Taksiran yang baik harus berdasarkan pada data faktual yang
diolah/diperlakukan secara objektif. Keputusan apaka suatu data akan
dipakai/tidak dipakai harus diambil dengan tak semena-mena. Tidak
boleh ada pembobotan data secara sewenang-wenang, pembobotan
yang berbeda harus dengan dasar yang jelas.
4) Metoda penaksiran yang digunakan harus memberikan hasil yang dapat
dicek/diperiksa.
Tahap
pertama
setelah
penaksiran
cadangan
diselesaikan adalah memeriksa taksiran kadar dari unit penambangan
(blok) dengan data (komposit atau assay bor) yang ada di sekitarnya.
Setelah penambangan dimulai, taksiran kadar dari model cadangan kita
harus cek ulang dengan kadar dan tonase hasil penambangan yang
sesungguhnya.
2.3. ASPEK LEGAL/HUKUM DARI PENAKSIRAN CADANGAN
I - 19
Nilai suatu perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan berkaitan
langsung dengan kuantitas dan kualitas cadangan mineral yang dimilikinya.
Untuk perusahaan-perusahaan tambang yang sahamnya dijual-belikan
kepada publik melalui pasar modal, badan pemerintah seperti SEC
(
) di Amerika Serikat mementau dan
mengawsi cadangan mineral mereka.
1)
Dokumen
yang berisi pernyataan jumlah
cadangan
bijih (10k
document) harus diisi dan diperbaharui setiap tahun.
2)
SEC juga memeriksa pernyataan mengenai jumlah cadangan yang
dibuat dalam prospektus penawaran saham perusahaan.
Formulir S-18 dari SEC merupakan dokumen yang digunakan dalam
pendaftaran sekuritas. Butir 17A dari formulir ini layak diperhatikan, karena
menyangkut juga definisi yang dipakai SEC untuk menentukan
(cadangan terbukti dan terkira sering pula disebut
1)
Cadangan (reserve) :
Bagian dari cebakan mineral yang secara ekonomik dan secara hukum
dapat ditambang atau diproduksi pada waktu perhitungan cadangan
dilakukan.
2)
Cadangan terbukti/terukur (
):
Suatu cadangan yang :
kuantitas
atau
jumlahnya
dihitung
dari
data
singkapan,
sumur-sumur uji, galian atau lubang-lubang bor, kualitas atau
kadarnya dihitung dari hasil pengambilan percontoh secara detail,
dan
lokasi pengamatan, pengambilan percontoh dan pengukuran cukup
dekat satu sama lain dan sifat-sifat geologinya cukup diketahui
sehingga ukuran, bentuk, kedalaman, serta kadar mineral dari
cadangan dapat ditentukan dengan pasti.
I - 20
3)
Cadangan terkira (
Cadangan yang kuantitas dan kualitasnya dihitung dari data yang
serupa dengan data pada cadangan terbukti, tetapi yang lokasi
pengamatan, pengukuran dan pengambilan percontohnya berjarak
lebih jauh satu sama lain atau yang jaraknya masih kurang cukup
dekat. Tingkat keyakinan cadangan terkira ini, walaupun lebih rendah
daripada
untuk
cadangan
terbukti,
masih cukup
tinggi
untuk
menganggap adanya kesinambungan (kontinuitas) antara titik-titik
pengamatan.
4)
Harap diperhatikan bahwa SEC hanya mengakui klasifikasi cadangan
Terbukti/Proven dan Terkira/Probable. Klasifikasi yang lebih rendah
atau yang kurang pasti, seperti Mungkin/Possible tidak dianggap
sebagai cadangan dan tak boleh dimasukkan kedalam prospektus yang
ditawarkan.
5)
Harap diperhatikan pula bahwa definisi di atas masih agak subyektif,
sehingga memberikan fleksibilitas yang cukup kepada para ahli
pertambangan/geologi dalam menafsirkannya.
6)
Akhirnya, ada beberapa informasi tambahan yang perlu diperhatikan
dalam mengisi formulir S-18 dari SEC ini.
Dokumen-dokumen lain.
1)
Revisi sistem Amerika Serikat yang diusulkan SME (
#79, Society of Mining, Metallurgy, and Exploration, Inc., 1991).
2)
Kode Australasia (
, 1992).
3)
Rekomendasi CIM (
, prepared by
the Mineral Economics Society of CIM, 1994).
I - 21
4)
Klasifikasi Cadangan/Sumberdaya Mineral oleh USBM/USGS (
, Circular 831, 1980).
2.4. MODEL KOMPUTER
1)
Model Blok Teratur (
a)
Cebakan bijih dan daerah sekitarnya dibagi menjadi unit-unit yang
lebih kecil atau blok-blok, yang memiliki ukuran (panjang, lebar
dan tinggi) tertentu. Tinggi blok biasanya disesuaikan dengan
tinggi jenjang penambangan.
b)
Tiap-tiap blok memiliki atribut-atribut seperti jenis batuan, jenis
alterasi, jenis mineralisasi, kadar (bisa lebih dari satu mineral),
kode topografi, dll.
c)
Model blok teratur adalah model komputer yang paling umum
dipakai hingga saaat ini untuk tambang-tambang logam/bijih
berbatuan keras.
2)
Gridded Seam Model
a)
Untuk permodelan batubara dan cebakan-cebakan berlapis lainnya.
b)
Cebakan mineral dan daerah sekitarnya dibagi menjadi sel-sel
yang teratur, dengan lebar dan panjang tertentu.
c)
Adapun dimensi vertikalnya tidak dikaitkan dengan tinggi jenjang
tertentu, melainkan dengan unit stratigrafi dari cebakan yang
bersangkutan; pemodelan dilakukan dalam bentuk puncak, dasar
dan ketebalan dari unit stratigrafi (lapisan batubara, dll). Kadar
dari berbagai mineral atau variabel dimodelkan untuk setiap
lapisan.
3)
Model Blok Tak Teratur (
a)
Beberapa paket perangkat lunak memungkinkan struktur data
yang lebih canggih sehingga ukuran blok dalam model tak perlu
I - 22
harus sama. Blok-blok berukuran amat besar
dapat digunakan
dalam daerah-daerah tepi yang tidak termineralisasi, dimana
informasi detail tidak diperlukan. Sebaliknya, blok-blok berukuran
kecil dapat diterapkan didaerah mineralisasi bijih yang penting
dimana detail amat diperlukan.
b)
Namun demikian, model semacam ini tidak mudah dipindahkan
dari suatu perangkat lunak ke perangkat lunak yang lainnya.
2.5. DATA UTAMA
1)
Geologi
a)
Hasil
geologi dari data pemboran.
b)
Percontoh yang representatif dari program pemboran.
i. Percontoh bor inti (
ii. Percontoh bor RC dengan tempatnya (
c)
2)
Peta-peta geologi dari pemetaan permukaan, dll
Data Kadar (
a)
Sertifikat kadar
) dari laboratorium
b)
Data assay biasanya digabung menjadi data komposit untuk
tinggi jenjang tertentu untuk keperluan penaksiran kadar blok.
Analisa statistik dapat dilakukan untuk assay dan/atau komposit.
3)
4)
Data Lokasi
a)
Data survai koordinat permukaan dari titik bor.
b)
Data survai bawah tanah dari kemiringan dan deviasi pemboran.
Peta-peta topografi
2.6. METODA-METODA PENAKSIRAN
I - 23
1)
Penaksiran Cadangan Secara Manual (
a)
Masih kerap dilakukan pada tahap-tahap paling awal dari proyek.
b)
Hasil penaksiran secara manual ini dapat dipakai sebagai alat
pembanding untuk mengecek hasil penaksiran yang lebih canggih
menggunakan komputer.
c)
Hasil penaksiran secara manual ini tak dapat langsung digunakan
dalam perencanaan tambang dengan bantuan komputer.
2)
Metoda Poligon
Ada dua metoda poligon yang berbeda :
a)
Penaksiran
cadangan secara
manual dengan metoda
poligon daerah pengaruh pada dasarnya tak lagi dilakukan
(usang).
b)
Sebaliknya, metoda poligon menggunakan percontoh terdekat
untuk penaksiran kadar blok dalam model (dimana setiap blok
memperoleh kadar dari komposi terdekat) masih umum dilakukan.
3)
Metoda Segitiga
a)
Penaksiran kadar blok dengan cara ini tidak dilakukan/sudah
usang.
b)
Metoda ini penting dalam aplikasi pembuatan kontur dengan
komputer
4)
Metoda Jarak Terbalik (
a)
Suatu cara penaksiran dimana kadar suatu blok merupakan
kombinasi linier atau harga rata-rata berbobot (
dari komposit lubang bor disekitar blok tersebut. Komposit yang
dekat memperoleh bobot yang relatif lebih besar, sedangkan
komposit yang jauh dari blok bobotnya relatif lebih kecil.
b)
Pilihan dari pangkat yang digunakan (ID1, ID2, ID3, ...)
berpengaruh terhadap hasil taksiran. Semakin tinggi pangkat yang
digunakan hasilnya akan semakin mendekati metoda poligon
komposit terdekat.
I - 24
c)
Sifat/kelakuan
anisotropik
dari
diperhitungkan (
d)
5)
cebakan
mineral
dapat
).
Merupakan metoda yang masih umum dipakai.
Metoda Geostatistik dan Kriging
a)
Metoda inipun menggunakan kombinasi linier atau harga rata-rata
berbobot (
) dari komposit lubang bor di sekitar
blok untuk menghitung kadar blok yang ditaksir.
b)
Pembobotan tidak semata-mata berdasarkan jarak, melainkan
menggunakan korelasi statistik antar percontoh (data komposit)
yang juga merupakan fungsi jarak. Karena itu, cara ini lebih
canggih dan kelakuan anisotropik dapat dengan mudah dapat
diperhitungkan.
c)
Cara ini memungkinkan penafsiran data cebakan mineral atau
cadangan bijih secara probabilistik. Selain itu, ia memungkinkan
pula interpretasi statistik mengenai hal-hal seperti bias,
, dll.
d)
Berbagai varian/jenis penaksiran yang berdasarkan pada metoda
kriging dan geostatistik dapat dilakukan.
e)
Merupakan metoda yang paling umum dipakai dalam penaksiran
kadar blok dalam suatu model cadangan.
2.7.
1)
PEMERIKSAAN DARI SUATU MODEL CADANGAN MINERAL
Bandingkan peta-peta (penampang atas dan penampang melintang)
dari data pemboran (assay/komposit) dengan peta-peta yang sama
untuk model blok. Apakah kadar blok mengikuti kecenderungan kadar
yang tampak pada data yang digunakan? Apakah kadar dalam model
blok selalu lebih tinggi atau lebih rendah jika dibandingkan dengan
data? Apakah kadar blok diekstrapolasi terlalu jauh ke daerah yang
belum dibor ?
I - 25
2)
Lakukan perbandingan secara statistik antara kadar blok dengan kadar
percontoh (komposit)
statistika
dasar
yang digunakan. Beberapa teknik seperti
(rata-rata,
simpangan baku,
median, dll)
dan
perbandingan distribusi kadar/probability plot dapat dicoba.
3)
Lakukan perhitungan cadangan secara terpisah, secara manual atau
menggunakan
komputer.
Apakah
taksiran
ini
sensitif terhadap
parameter-parameter penaksiran seperti jarak pengaruh dalam mencari
percontoh, kadar
data yang tinggi
atau
kadar tertinggi yang
diperbolehkan, dsb ?
4)
Untuk tambang yang sudah berjalan, satu cara yang dapat dikerjakan
untuk mengetahui kinerja model cadangan adalah membandingkannya
dengan produksi historis. Dua sumber data produksi adalah laporan
produksi tambang (dari analisa lubang-lubang tembak) dan laporan
pabrik pengolahan.
5)
Lakukan pemeriksaan yang rinci terhadap data assay pemboran itu
sendiri. Apakah data dari bor RC sesuai dengan data dari bor inti yang
berdekatan. Pemeriksaan integritas data dapat pula dilakukan dengan
melukakan assay ulang (biasanya di laboratorium yang berbeda)
pemeriksaan
2.8.
BEBERAPA
terhadap komposit metalurgi, dll.
HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN UNTUK
BERBAGAI KOMODITAS
1)
Tembaga (terutama untuk sistem porfiri)
a)
Zona mineralisasi : biasanya ada beberapa daerah dengan
karakter yang berbeda misalnya sulfida, zona terlindi (
),
oksida, pengkayaan sekunder atau supergene, dan zona primer
atau hypogene.
I - 26
i.
Zona sulfida biasanya menghasilkan asam selama proses
pelapukan, yang dapat melarutkan logam tembaga dan
membawanya ke tempat lain.
ii.
Zona terlindi dicirikan oleh kadar
dan
yang rendah,
merupakan bagian besar dari
.
iii.
Zona teroksidasi biasanya dicirikan oleh
yang persentasenya paling tidak 50% dari total copper.
Mineraloginya terdiri dari malachit, azurit, dll. Merupakan
target yang baik untuk proses pelindian secara
tetapi tidak dapat diproses dengan flotasi.
iv.
Zona sekunder
b)
Tidak jarang didapati intrusi berkadar rendah disekitar titik
pusat dari zona bijih/mineralisasi utama. Material ini sering harus
dipisahkan.
2)
Emas
a)
Mineralisasi emas diendapkan oleh cairan/fluida mediumnya
menuruti hubungan antara temperatur dan tekanan. Garis yang
membatasi zona-zona mineralisasi emas biasanya dapat ditarik.
Kadar
emas
dalam
model
cadangan
harus
menghormati
batas-batas mineralisasi yang ada.
b)
Analisa kadar emas seringkali amat sulit. Jika partikel-partikel
emas bebas di dalam bijih mulai melampaui ukuran 100 mikron,
replikasi atau pengulangan untuk memperoleh hasil yang sama
biasanya sukar dicapai. Biasanya perlu dilakukan assay ulang
dalam jumlah cukup besar.
c)
Jenis atau teknik pemboran yang berbeda (bor inti atau bor RC)
seringkali
memberikan
hasil
analisa
Kontaminasi pada hasil pemboran RC (
assay
yang
berbeda.
) harus
dicegah, terutama pada kedalaman di bawah muka air tanah.
I - 27
3)
Molibdenum
Banyak cebakan moli primer yang memperlihatkan dengan jelas
zona-zona kadar moli. Biasanya ini dapat dengan mudah dibuat
garis-garis konturnya,
baik
dari penampang atas maupun dari
penampang melintang. Kadar dalam model blok perlu merefleksikan hal
ini.
4)
Uranium
Penaksirancadangan
bijih
untuk
komoditas
ini
amat kompleks.
Sebaiknya anda panggil ahlinya; terlalu banyak sandungan yang akan
menjatuhkan para pemula atau mereka yang belum berpengalaman.
PEKERJAAN RUMAH 2
Topik : Pembobotan rata-rata
Saudara memiliki dua
bijih tembaga, yang terdiri dari supergene
dan hypogene, sebagai berikut :
Material
Supergen
Ton
Total
Perolehan
Kadar
Bijih
Tembaga
91.025
0.410 %
85 %
22.7 %
151.853
0.520 %
92 %
26.7 %
Konsentrat
e
Hypogene
1. Berapakah total tonase bijih dan kadar tembaga rata-rata?
2. Berapakah perolehan rata-rata tembaga?
3. Berapakah kadar rata-rata konsentrat?
I - 28
BAB III
KADAR BATAS, NISBAH PENGUPASAN,
DAN KADAR EKIVALEN
3.1. PERHITUNGAN KADAR BATAS (CUT-OFF GRADE)
1) Kadar Batas Pulang Pokok (
= BECOG)
a) Dalam teori ekonomi, analisis pulang pokok terdiri dari penentuan
nilai parameter yang diinginkan (misalnya : berapa jumlah produk
yang harus dijual) sedemikian rupa sehinga pendapatan tepat sama
dengan ongkos atau biaya yang dikeluarkan (keuntungan = nol)
b) Dalam pertambangan, yang ingin kita ketahui adalah berapa kadar
bijih yang menghasilkan angka yang sama antara pendapatan yang
diperoleh dari penjualan bijih tadi dengan biaya yang dikeluarkan
untuk menambang serta memprosesnya. Kadar ini dikenal dengan
nama kadar batas pulang pokok atau
BECOG =
I - 29
c)
Biasanya
hanya biaya atau
ongkos
operasi langsung
diperhitungkan dalam penentuan
yang
. Ongkos-ongkos
kapital dan biaya tak langsung seperti penyusutan (depresiasi) pada
umumnya tidak dimasukkan.
Untuk keperluan perancangan batas akhir penambangan (pit design)
asumsi yang diambil adalah bahwa umur tambang cukup panjang
sehingga depresiasi tidak lagi merupakan faktor yang penting. Mengapa
?
Karena pada tahap terakhir dari penambangan dimana batas lereng
akhir
dari tambang telah dicapai,
kapital dan
peralatan telah
terdepresiasi secara penuh.
2) Kadar Batas Internal (
= ICOG)
a) Jika diasumsikan bahwa satu ton material pasti akan ditambang,
berapa kadar minimum yang akan menghasilkan kerugian lebih kecil
dari
dua
alternatif
berikut
mengirimkan
material
hasil
penambangan ke pabrik pemrosesan, atau mengirimkan material ini
ke tempat pembuangan ? (ingat bahwa ongkos penambangan
walau bagaimanapun tetap harus dikeluarkan).
b) Gunakan persamaan yang sama (seperti untuk BECOG), hanya
dalam hal ini ongkos penambangan tidak dimasukkan. Jadi untuk
menghitung ICOG, ongkos penambangan = nol.
3) Kadar Batas Proses
a) Bila tingkat produksi dari pabrik pemrosesan bijih telah ditentukan,
misalnya untuk pabrik flotasi bijih fluida, maka perhitungan
harus memasukkan ongkos G&A.
b) Sebaliknya, bila tingkat produksinya tidak tertentu seperti pada
kasus pelindian bijih oksida di
, argumen bahwa kadar
batas dapat dihitung tanpa memasukan ongkos-ongkos G&A adalah
argumen yang dapat diterima. Selama jangka waktu satu tahun
I - 30
pasti akan ada bijih yang berkadar lebih tinggi yang dapat menutupi
biaya-biaya ini.
c)
Kadar batas ini kadang-kadang disebut kadar batas pengolahan
(
), yakni kadar terendah yang dapat menutupi biaya
pengolahan langsung. Dalam
operasi penambangan, jika anda
mempunyai pabrik pengolahan (
) dan tambang mengalami
kekurangan bijih yang akut, maka
ini biasanya
merupakan kadar terendah yang masih dapat dipertimbangkan
untuk dapat dikirimkan ke pabrik
Namun demikian, tujuan dari perencanaan tambang jangka panjang
adalah menghindari keadaan tadi di atas.
3.2.
NISBAH PENGUPASAN PULANG POKOK (BREAK EVEN
STRIPPING RATIO =BESR)
1) Nisbah pengupasan didefinisikan sebagai nisbah dari jumlah material
penutup (
) terhadap jumlah material bijih (
). Pada tambang
bijih, nisbah ini biasanya dinyatakan dalam ton waste/ton ore. Di
tambang batubara sering dipakai m3 waste/ ton batubara.
SR =
atau
SR =
Untuk geometri penambangan yang ditetapkan, nisbah pengupasan
merupakan fungsi dari kadar batas.
2) Jika kadar bijih diketahui dan jika semua keuntungan bersih dari
menambang bijih tersebut dipakai untuk mengupas tanah penutup
(
), berapa jumlah tanah penutup yang dapat dikupas
Inilah konsep BESR.
BESR =
I - 31
Catatan :
Nilai BESR adalah 0 pada titik BECOG (tidak dapat mendukung
).
Untuk harga komoditas, perolehan, ukuran pabrik, tingkat produksi
dan ongkos tertentu, BESR merupakan fungsi linier dari kadar bijih.
BESR merupakan masukan dalam metoda perancangan tambang secara
manual.
3.3. PERHITUNGAN KADAR EKIVALEN
1) Bilamana dalam cebakan bijijh kita dapati lebih dari satu meneral
(utama dan ikutan), biasanya perlu dipakai konsep dasar ekivalen untuk
mengevaluasinya.
2) Pertama kali, kita definisikan dahulu NSR (
) sebagai
nilai kotor dari satu ton bijih setelah dikurangi dengan ongkos-ongkos
dan
3) Tahap-tahap perhitungan kadar ekivalen (misalnya Cu ekivalen) adalah
sebagai berikut.
a) Hitung NSR dari 1 ton (atau 1 tonne) tembaga yang berkadar bijih 1
%.
b) Hitung NSR dari 1 ton (atau 1 tonne) mineral ikutan, misalnya moly
dengan kadar 1% (atau emas dengan kadar 1 oz/ton atau
g/tonne, dst).
c)
Hitung faktor ekivalensi sebagai nisbah (ratio) antara NSR untuk
mineral ikutan terhadap NSR untuk mineral utama.
d) Jadi kadar Cu Ekivalen = total Cu + Faktor x moly.
e) Jika kadar total Cu dan kadar moly (emas, perak, dst) dalam blok
diketahui, maka kadar Cu Ekivalen dari blok tersebut dapat dihitung.
I - 32
4) Kadar ekivalen dapat pula dipahami atau didefinikan sebagai kadar yang
menghasilkan gabungan nilai NSR dari semua mineral yang ada.
5) Kadang-kadang lebih mudah bagi kita untuk menggunakan nilai NSR
dan bukan kadar ekivalen.
Hitung nilai NSR untuk suatu blok dan gunakan angka ini sebagai
sebuah variabel kadar ekonomik untuk perencanaan tambang.
Kadar
batas
pulang
pokok
(BECOG)
hanyalah
mengandung
ongkos-ongkos penambangan, pengolahan dan G&A. Perolehan
,
ongkos-ongkos
SRF
dan
harga
komoditas
dan
sudah
diperhitung-kan dalam NSR.
PERHITUNGAN KADAR BATAS
Contoh untuk Cu :
Ongkos penambangan (
Ongkos pengolahan (
Ongkos G & A
Perolehan pabrik (
per ton material
$ 0.75
per ton bijih
$ 3.25
per ton bijih
$ 0.25
94 %
per pound product
Perolehan smelter
Harga tembaga
$ 0.275
96.15 %
per pound
$0.95
Penghasilan = Biaya (titik pulang pokok ; untuk satu ton bijih)
Harga x Kadar x Mill Rec x Smlt Rec x 20 = Ongkos (Mine + Mill + G&A) +
SRF x Kadar x Mill Rec x SMLT Rec x 20
Harga x Kadar x Mill Rec x Smlt Rec x 20 SRF x Kadar x Mill Rec x Smlt
Rec x 20 = Ongkos (Mine + Mill + G&A)
(Harga SRF) x Kadar x Mill Rec x Smlt Rec x 20 = Ongkos (Mine + Mill +
G&A)
I - 33
Kadar batas pulang pokok =
=
= 0.35 % Cu
Catatan :
Angka 20 adalah faktor konversi dari % ke pound (dengan satuan pound per
persen. Untuk proyek dengan satuan metrik faktor konversinya adalah
22.046. untuk logam mulia (mis : emas) tidak diperlukan faktor konversi
karena satuannya sudah langsung dalam satuan produksi (oz/ton atau
gram/ton).
Tabel 3.1
Perhitungan Kadar Ekivalen
Harga Komoditas
Perolehan Pabrik
Perolehan Smelter/Konverter
Biaya Smelting Konversi per pound
1.
Tembaga
$ 0.90
88 %
96.1 %
$ 0.324
Moly
$ 3.00
70 %
99 %
$ 0.81
Hitung nilai NSR dari 1 ton bijih dengan kadar 1% Cu
($ 0.90 - $ 0.324) (1%) (0.88) (0.961) (20 lb/%) = $ 9.74
2.
Hitung nilai NSR dari 1 ton bijih dengan kadar 1% Moly
($ 3.00 - $ 0.81) (1%) (0.70) (0.99) (20 lb/%) = $ 30.35
3.
Faktor Ekivalen = NSR Moly / NSR Tembaga $ 30.35 / $ 9.74 = 3.1160
4.
Tembaga Ekivalen = Kadar Cu + 3.1160 x Kadar Moly
Tabel 3.2
Perhitungan NSR dan BESR
Cu Eq
0.266
0.30
0.35
NSR
3.40
3.83
4.47
BESR
-0.00
0.79
1.95
I - 34
0.40
0.45
0.50
0.55
0.60
0.65
0.70
0.75
0.80
0.85
0.90
0.95
1.00
1.05
1.10
1.15
1.20
5.11
5.75
6.39
7.03
7.66
8.30
8.94
9.58
10.22
10.86
11.50
12.13
12.77
13.41
14.05
14.69
15.33
3.11
4.27
5.43
6.59
7.75
8.91
10.08
11.24
12.40
13.56
14.72
15.88
17.04
18.20
19.37
20.53
21.69
I - 35
Gambar 3.1. Grafik Hubungan Antara BESR Dan NSR Dengan Kadar
Cu Eq
PEKERJAAN RUMAH 3
Topik : Perhitungan BECOG, ICOG, dan Faktor Eq
Data Ekonomik Awal untuk Cebakan KS Creek (dalam $US)
Mining Cost Per Tonne Total Material
$ 0.55
Milling Cost Per Tonne Ore
$ 2.10
General and Administrative (G&A) Per Tonne Ore
$ 0.75
Mill Recovery of Copper
92 %
Mill Recovery of Gold
80 %
Smelting, Freight, Refining (SFR) Per Pound
$ 0.345
Payable Copper
Smelter Payable (Recovery) of Copper
96.15 %
Smelter Payable (Recovery) of Gold
98 %
Copper Price Per Pound
$ 1.00
Gold Price Per Tr Oz and (Per Gram)
$ 375 ($ 12.06)
I - 36
Breakeven Cutoff Grade for Copper
Internal Cutoff Grade for Copper
Copper Equivalent = Total Copper + .?. x Gold
BAB IV
PERTIMBANGAN DASAR RENCANA PENAMBANGAN
4.1. PERTIMBANGAN EKONOMIS
4.1.1. Cut off Grade
Ada 2 pengertian tentang
a.
ade, yaitu :
Kadar endapan bahan galian terendah yang masih memberikan
keuntungan apabila ditambang.
b. Kadar rata-rata terendah dari endapan bahan galian yang masih
memberikan keuntungan apabila endapan tersebut ditambang.
inilah yang akan menentukan batas-batas atau besarnya
cadangan, serta menentukan perlu tidaknya dilakukan
I - 37
4.1.2. Break Even Stripping Ratio (BESR)
Untuk
menganalisis
kemungkinan
sistem
penambangan
yang
akan
digunakan, apakah tambang terbuka ataukah tambang bawah tanah, maka
dipelajari
(BESR), yaitu perbandingan antara
biaya penggalian endapan bijih (
penutup (
) dengan biaya pengupasan tanah
) atau merupakan perbandingan biaya penambangan
bawah tanah dengan penambangan terbuka. BESR ini juga disebut
.
BESR =
Misalnya biaya penambangan secara tambang bawah tanah = 2,00/ton ore,
biaya penambangan secara tambang terbuka = 0,30/ton ore dan ongkos
pengupasan tanah penutup = 0,35/ton waste. Maka untuk memilih salah
satu sistem penambangan digunakan rumus BESR (1).
BESR(1) =
Ini berarti bahwa hanya bagian endapan yang mempunyai BESR yang lebih
rendah dari 4,86 yang dapat ditambang secara tambang terbuka dengan
menguntungkan. Jadi 4,86 adalah BESR(1) tertinggi yang masih dibolehkan
untuk operasi tambang terbuka dengan kondisi tersebut di atas. Setelah
ditentukan bahwa akan digunakan sistem tambang terbuka, maka dalam
rangka pengembangan rencana penambangan digunakan BESR (2) dengan
rumus sebagai berikut.
BESR(2) =
BESR(2) ini juga disebut
yang artinya berapa besar
keuntungan yang dapat diperoleh bila endapan bijih itu ditambang secara
I - 38
tambang terbuka. Contoh perhitungan BESR (2) untuk
bijih tembaga kadar
0,80%, 0,75% dan 0,60%Cu adalah sebagai berikut.
Dari hasil perhitungan seperti terlihat pada Tabel 4.1 bila harga logam
Cu
= $0,35/lb, ternyata untuk bijih Cu (ore) dengan kadar 0,80% mempunyai
BESR 1,5 : 1 dan kadar 0,60% Cu mempunyai BESR 0,6 :1. dengan
demikian selanjutnya untuk harga metal $0,30/lb dan $0,35/lb Cu juga
dihitung BESR-nya. Setelah masing-masing BESR dihitung untuk setiap
kadar Cu dan untuk berbagai harga logam Cu, kemudian dapat dibuat grafik
BESR vs kadar Cu (lihat Gambar 4.1).
Dari grafik BESR (lihat Gambar 4.1) terlihat bahwa tinggi rendahnya BESR
sangat dipengaruhi oleh :
- kadar logam dari bijih yang akan ditambang
- harga logam di pasaran
Jadi pada dasarnya, jika terjadi kenaikan harga logam di pasaran, dapat
mengakibatkan perluasan tambang karena cadangan bertambah, sebaliknya
jika harga logam turun maka jumlah cadangan akan berkurang.
Tabel 4.1
Contoh Perhitungan Break Even Stripping Ratio (BESR)
Kadar bijih, % Cu
,%
Cu/ton ore, lb
0,80
81,80
14,10
0,70
83,02
12,20
0,60
85,80
10,30
ONGKOS PRODUKSI
Penambangan
Miling, Dpr. & Gen. Cost
etc.
Ongkos produksi total
$
$
$
$
ONGKOS PENGUPASAN
Ongkos pengupasan /ton waste
$ 0,40
$ 0,40
$ 0,40
Harga jual per ton bijih
1. Untuk $ 0,25/lb Cu
BESR
2. Untuk $ 0,30/lb Cu
$ 3,53
2,5 : 1
$ 4,23
$ 3,05
1,5 : 1
$ 4,23
$ 2,58
0,6 : 1
$ 3,09
TIAP TON BIJIH
0,45
$ 0,45
1,25
$ 1,25
0,85
$ 0,76
2,55
$ 2,46
I - 39
$
$
$
$
0,45
1,25
0,65
2,35
BESR
3. Untuk $ 0,35/lb Cu
BESR
4,2 : 1
$ 4,94
6,0 : 1
3,0 : 1
$ 4,27
4,5 : 1
1,8 : 1
$ 3,61
3,2 : 1
Gambar 4.1. Contoh Grafik BESR
4.2. PERTIMBANGAN TEKNIS
4.2.1. Ultimate pit slope
adalah batas akhir atau paling luar dari suatu tambang
terbuka yang masih diperbolehkan, dan pada kemiringan ini jenjang masih
tetap mantap (stabil).
Jadi dalam menentukan kemiringan lereng suatu tambang harus ditinjau dari
dua segi, yaitu :
dari segi ekonomis masih menguntungkan
dari segi teknis keamanannya bisa dijamin.
Dengan demikian, maka faktor-faktor yang mempengaruhi kemiringan
lereng (
) suatu tambang adalah :
I - 40
BESR yang masih diperbolehkan
Struktur geologi yang meliputi joint, bidang-bidang geser, patahan, dll.
Ada air, yaitu kandungan air tanah di dalam lapisan-lapisan batuan.
Unsur waktu.
Hubungan antara
dengan BESR dapat berubah-ubah
tergantung dari harga metal di pasaran (lihat Gambar 4.2).
4.2.2. Sistem penirisan
Secara garis besar sistem penirisan tambang (
) dapat dibagi
menjadi 2 (dua) golongan yaitu :
- sistem penirisan langsung (
- sistem penirisan tidak langsung (
1) Sistem Penirisan Langsung
Adalah sistem penirisan dengan cara mengeluarkan (memompa) air yang
sudah masuk ke dalam tambang.
Gambar 4.2. Hubungan Antara Ultimate Pit Limit Dengan BESR
I - 41
Sistem penirisan langsung dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :
a)
Penirisan dengan
atau
Cara penirisan ini hanya bisa diterapkan untuk tambang yang terletak di
daerah pegunungan atau berbentuk bukit.
Air
yang
masuk
mengalirkan air
ke dalam
tambang dikeluarkan dengan
dari dasar tambang ke
terowongan (
luar
cara
tambang melalui
).
b) Penirisan dengan
Cara penirisan inilah yang pada umumnya banyak digunakan di
tambang-tambang terbuka.
Air yang masuk ke dalam tambang dikumpulkan ke suatu sumuran
(
) yang biasanya dibuat di dasar tambang dan dari sumuran
tersebut kemudian air dipompa keluar tambang.
2) Sistem penirisan tak langsung
Adalah sistem penirisan dengan cara mencegah masuknya air ke dalam
tambang (
) artinya dengan cara membuat
beberapa lubang bor dibagian luar daerah penambangan atau di jenjang
kemudian dari lubang-lubang bor tersebut air dipompa ke luar tambang.
Ada beberapa macam cara penirisan tak langsung, yaitu :
4.2.3. Ukuran Jenjang (bench dimension)
Cara-cara
pembongkaran
akan mempengaruhi ukuran jenjang.
beberapa pendapat tentang ukuran jenjang itu, antara lain :
I - 42
Ada
1)
Menurut Head Quarter of US Army (pits and quarry tehnical
bulletin) No : (5-352)
W minimum = Y + Wt + Ls + G + Wb
keterangan :
W minimum : lebar jenjang minimum, m
Y
: lebar yang disediakan untuk pengeboran, m
Wt : lebar yang disediakan untuk alat-alat, m
Ls
: panjang power shovel tanpa panjang boom, m
dari power shovel, m
Wb : lebar untuk
,m
2) Menurut Lewis (elements mining)
Tinggi jenjang adalah sebagai berikut.
a.
Untuk cara
yang baik adalah 200 ft dan maksimum
600 ft.
b. Untuk
kedalaman ideal antara 50 ft-80 ft, tetapi ada yang
sampai 130 m.
c.
Untuk
antara 12 ft75 ft; yang baik adalah 30 ft.
Sedangkan untuk tambang bijih dapat sampai 225 ft. Lebar jenjang
disesuaikan dengan
, daerah operasi
serta untuk peledakan, lebarnya antara 20 ft76 ft, umumnya 50 ft
dan yang ideal 30 ft.
3) Menurut L. Sheyyakov (mining of mineral deposits)
Lebar jenjang tergantung pada metoda penggalian dan kekerasan
mateial yang ditambang.
a.
Untuk material lunak
B = (1,00 sampai 1,50) Ro + L + L1 + L2
keterangan :
I - 43
= lebar jenjang, m
Ro =
L
dari alat muat, m
= jarak antara sisi jenjang (
) dengan rel, 3-4 m
L1 = lebar lori, 1,753,00 m
L2 = jarak untuk menjaga agar tidak longsor, m
b. Untuk material keras
B = N + L + L1 + L2
keterangan :
B
= lebar jenjang, m
= lebar yang dibutuhkan untuk
,m
Disini tidak disediakan lebar untuk alat-muat/gali karena dianggap alat
muat bekerja disamping
4) Menurut Melinkov dan Chevnokoy (safety in open cast mining)
a. Untuk lapisan yang lunak (
B = 2R + C + C1 + L
keterangan :
B = lebar jenjang, m
R =
dari alat muat, m
C = jarak sisi jenjang
ke garis tengah rel, m
L = lebar yang disediakan untuk pengaman (
selebar
, m
b. Untuk lapisan yang keras (
B = a + C + C1 + L + A
keterangan :
B = lebar jenjang, m
a = lebar untuk
,m
A = lebar pemotongan pertama (awal), m
5) Menurut Popov (the working of mineral deposit)
I - 44
), biasanya
a.
Tinggi jenjang dan kemiringannya
(i) Kemiringan jenjang tergantung dari kandungan air pada
material. Material yang relatif kering biasanya memungkinkan
kemiringan jenjang yang lebih besar.
(ii) Umumnya tinggi jenjang berkisar antara 1215 m, dengan
kemiringan :
untuk batuan beku
: 70o - 80o
untuk batuan sedimen
: 50o - 60o
untuk pasir kering
: 40o - 50o
untuk batuan yang
: 35o - 45o
b. Lebar jenjang
Lebar jenjang antara 4060 m, biasanya juga dibuat antara
80100 m. Jika memakai
. Lebar minimum
untuk batuan keras :
Vr = A + C + C1 + L + B
keterangan :
Vr = lebar jenjang minimum, m
A = lebar
,m
C = jarak sisi timbunan ke sisi tengah rel, m
C1 = 0,50 lebar lori = 23 m
B = lebar endapan yang diledakkan = 612 m
L = lebar yang disediakan untuk menjamin
dari endapan pada jenjang di bawahnya.
6) Menurut Young (elements of mining)
a.
Tinggi jenjang
Untuk tambang bijih besi antara 20 40 ft
Untuk tambang bijih tembaga 30 70 ft
Untuk
b.
dapat sampai 200 ft
Lebar jenjang
I - 45
Antara 50250 ft
c.
Kemiringan jenjang
Antara 45o 65o
7) Menururt E. P. Pfleider (surface mining)
Tinggi jenjang : L = Lm x Sf
keterangan :
L
= tinggi jenjang, m
Lm =
dan alat muat
Sf =
= 1/3 untuk cara
dan = 0,50 untuk cara
8) Menurut Hustrulid (open pit mine planning and design)
Pada tambang terbuka, masing-masing jenjang memiliki permukaan
bagian atas dan bagian bawah yang dipisahkan oleh jarak H yang
disebut dengan tinggi jenjang. Kemudian permukaan sub-vertikal yang
tersingkap
dan
disebut
dengan
digambarkan dengan kaki lereng (
jenjang (
muka
jenjang.
), puncak (
Semuanya
itu
) dan sudut muka
. Sudut muka jenjang ini dapat bervariasi
tergantung dari karakteristik batuan, orientasi jenjang dan peledakan.
Pada batuan keras sudut ini bervariasi antara 550 800 . Bagian-bagian
jenjang tersebut dapat digambarkan pada Gambar 4.3.
I - 46
Gambar 4.3. Bagian-Bagian Jenjang Menurut Hustrulid
Permukaan jenjang yang tersingkap paling bawah disebut jenjang dasar
(
. Lebar jenjang ini adalah jarak antara
dan
diukur sepanjang permukaan jenjang bagian atas. Lebar
yang
adalah
proyeksi horisontal dari muka jenjang. Terdapat beberapa tipe jenjang.
Jenjang kerja adalah suatu jenjang dimana dilakukan proses penambangan.
lebar yang digali dari jenjang kerja ini disebut
didefinisikan sebagai jarak dari
baru setelah
Setelah
. Lebar jenjang kerja (WB)
pada jenjang dasar keposisi
yang
digali (lihat Gambar 4.4).
dipindahkan maka akan terlihat sisanya adalah sebagai jenjang
pengaman atau jenjang penangkap (
) dengan lebar SB. Tujuan
pembuatan jenjang penangkap ini adalah :
a.
Untuk mengumpulkan material yang meluncur dari jenjang yang ada di
atasnya
b. Untuk memberhentikan pergerakan
I - 47
yang bergerak ke bawah
Kedua fungsi tersebut dapat digambarkan pada Gambar 4.5.
Gambar 4.4. Penampang Jenjang Kerja
Gambar 4.5. Fungsi Jenjang Penangkap
Secara umum lebar dari jenjang penangkap adalah 2/3 dari tinggi jenjang
sedangkan
pada
kadang-kadang
akhir
umur
tambang
lebar
jenjang
penangkap
dikurangi sampai kira-kira 1/3 dari tinggi jenjang.
I - 48
Kadang-kadang jenjang ganda (
) ditinggalkan sepanjang
seperti pada Gambar 4.6.
Gambar 4.6. Jenjang Ganda Pada Final Pit Limit
Sebagai tambahan pada jenjang penangkap, tumpukan material bongkahan
(
) biasanya sering terdapat di sepanjang crest. Dengan terdapatnya
tumpukan tersebut maka akan terbentuk suatu saluran antara tumpukan
dan kaki lereng (
) untuk menangkap batuan yang jatuh (
).
Menurut Call (1986) bahwa geometri jenjang penangkap direkomendasikan
untuk didesain seperti pada Gambar 4.7 dan Tabel 4.2.
I - 49
Gambar 4.7. Geometri Jenjang Penangkap (Call, 1986)
Tabel 4.2. Dimensi Jenjang Penangkap (Call, 1986)
Bench height
(m)
Impact
zone (m)
Berm height
(m)
Berm width
(m)
Minimum berm
width (m)
15
3.5
30
4.5
1.5
7.5
5.5
10
45
13
Berikut ini adalah suatu lereng yang terdiri dari 5 jenjang (Gambar 4.8)
dimana sudut lerengnya dibuat dari garis yang menghubungkan kaki lereng
yang paling rendah sampai ke puncak lereng yang paling tinggi sehingga
kemiringan lereng keseluruhannya (
) dapat dihitung sebagai
berikut.
(overall) = tan-1
O
= 50.4
I - 50
Gambar 4.8. Sudut Lereng Keseluruhan
Jika pada Gambar 4.9 terlihat bahwa pada jenjang ketiga terdapat jalan
masuk yang berbelok (
dengan lebar 100 ft maka kemiringan
lerengnya menjadi :
(overall) = tan-1
O
= 39.2
Apabila pada lereng tersebut terdapat jenjang kerja dengan lebar 125 ft
pada jenjang 2 seperti pada Gambar 4.10 maka sudut lereng keseluruhan
menjadi :
I - 51
(overall) = tan-1
O
= 36.98
Gambar 4.9. Sudut Lereng Keseluruhan Dengan Adanya R
amp
Jika
tersebut dibagi menjadi 2 bagian seperti pada Gambar 4.10 yang
masing-masing
tersebut dapat digambarkan dengan sudut lereng.
Sudut ini disebut sudut antar
. Dalam hal ini berlaku
IR1 = IR2 = tan-1
O
= 50.4
I - 52
Gambar 4.10. Sudut Lereng Antar R
amp (Interramp)
I - 53
Gambar 4.11. Sudut Lereng Keseluruhan Dengan Adanya
Jenjang Kerja
I - 54
BAB V
PERANCANGAN BATAS AKHIR PENAMBANGAN
(PIT LIMIT DESIGN)
5.1. KONSEP DASAR
1) Data yang ada :
Model blok cebakan bijih
Data tekno-ekonomik (termasuk sudut lereng)
Pertanyaannya :
Bagaimana menentukan batas akhir penambangan (bentuk/geometri
dari final pit) ?
2) Kadar Batas Pulang Pokok (
) dan Nisbah
Pengupasan Pulang Pokok (
) : berdasarkan
data ekonomik dan perolehan (
) kita dapat menghitung BECOG
dan membuat suatu tabel yang menunjukkan BESR untuk berbagai
kadar batas.
3) Beberapa algoritma perancangan (penentuan pit limit)
a.
b.
Metoda penampang (
/ 2-D)
Pemrograman dinamik 2 Dimensi (2-D
atau
Metoda Lerchs-Grossmann)
c.
Metoda Kerusut mengambang (
d.
Metoda tiga dimensi lainnya :
Teori grafik (
3-D
Aliran Jaringan (
I - 55
) 3-D
5.2.
PERANCANGAN
TAMBANG
DEFINISI
DAN
DASAR
PEMIKIRAN
1) Istilah perancangan tambang biasanya dimaksudkan sebagai bagian dari
proses perencanaan tambang yang berkaitan dengan masalah-masalah
geometrik.
Di
dalamnya
termasuk
penambangan, tahapan
perancangan
batas
akhir
), urutan penambangan tahunan/
bulanan, penjadwalan produksi dan
2) Aspek perencanaan tambang yang tidak berkaitan dengan masalah
geometrik meliputi kebutuhan alat dan tenaga kerja, perkiraan biaya
kapital dan biaya operasi.
3) Penentuan Batas Penambangan (
a.
Tujuan
yang
ingin dicapai adalah
menentukan batas-batas
penambangan pada suatu cebakan bijih (yakni jumlah cadangan
dan kadarnya) yang akan memaksimalkan nilai bersih total dari
cebakan bijih tersebut sebelum memasukkan faktor nilai waktu dari
uang.
i.
Tidak
diperhitungkannya
nilai
waktu
dari
uang
akan
menghasilkan bentuk pit yang paling besar untuk suatu set
parameter ekonomik tertentu.
ii.
Dengan menambahkan faktor bunga (
), besar pit akan
berkurang.
b.
Mengapa faktor nilai waktu dari uang tidak dimasukkan ? Beberapa
alasan :
i.
Untuk proyek dengan jangka waktu panjang (misal : lebih dari
15 tahun), tahap-tahap penambangan terakhir akan memiliki
dampak yang minimal terhadap tingkat pengembalian modal
atau
I - 56
ii.
Selain itu, untuk proyek yang berjangka waktu panjang seperti
ini, cukup masuk akal bahwa faktor teknologi yang semakin
canggih akan mengimbangi faktor nilai waktu dari uang.
c.
Walaupun butir (a) di atas merupakan tujuan yang paling umum,
ada beberapa kasus terutama pada cebakan bijih dengan nisbah
pengupasan yang tinggidimana nilai waktu dari uang perlu
dipertimbangkan pada tahap awal dari evaluasi.
4) Berapa banyak energi yang harus dicurahkan untuk menentukan batas
penambangan ?
a.
Pada fase kelayakan suatu proyek yang berjangka panjang,
tahap-tahap penambangan terakhir akan memiliki dampak yang
minimal terhadap
. Karena itu, mencurahkan terlalu
banyak waktu untuk perancangan batas penambangan barangkali
kurang memiliki alasan yang kuat.
i.
Usaha yang tidak begitu memakan waktu dapat meliputi
penggunaan program
atau 3-D Lerchs-Grossmann
untuk menentukan pit limit, dan melakukan pengecekan awal
apakah hasilnya masuk akal.
ii.
Studi sensitivitas dengan melakukan perubahan-perubahan
kecil pada parameter pokok seperti sudut lereng, harga
komodits, ongkos-ongkos, dan lain-lain. Akan membantu dalam
pemilihan skenario untuk dasar perancangan.
b.
Untuk proyek penambangan dengan jangka waktu yang relatif
singkat, misalnya kurang dari 15 tahun, diperlukan energi dan
waktu lebih banyak untuk menentukan batas penambangan,
terutama bila lereng akhir (
) akan dibuat pada
tahap-tahap awal.
Usaha yang lebih serius dapat meliputi perancangan dua geometri
pit yang berbeda, lengkap dengan jalan angkutnya dan dengan
I - 57
lereng akhir pada berbagai posisi yang berlainan, kemudian dipilih
alternatif mana yang terbaik.
c.
Pada tahap-tahap belakangan, khususnya ketika lereng akhir
dengan nisbah pengupasan yang relatif besar akan dibuat, energi
yang besar perlu dicurahkan untuk perancangan pit limit ini.
Studi kelayakan yang memakan waktu beberapa bulan dapat
dilakukan. Beberapa alternatif rancangan dapat dibuat untuk
melihat detail dari penjadwalan produksi, kebutuhan alat serta
ongkos-ongkos.
5.2.1. Metoda Penampang 2 Dimensi
1) Penentuan
batas
penambangan
secara
manual
membutuhkan
pertimbangan-pertimbangan yang sifatnya subyektif. Dua orang yang
berbeda mungkin akan memperoleh batas-batas penambangan (
) yang tidak persisi sama.
2) Deskripsi metoda penampang (2-D
a.
Mulai dengan model blok (skala horisontal = skala vertikal).
Tentukan sudut lereng keseluruhan. Hitung BECOG dan buat tabel
yang menunjukkan BESR untuk berbagai kadar batas.
b.
Untuk setiap penampang tentukan batas penambangan (
) pada sudut lereng tersebut. Tentukan posisi lereng akhir
dimana BESR kumulatif dari blok-blok bijih akan dapat membayar
pengupasan tanah penutupnya.
c.
Pindahkan
horisontal (
dari penampang vertikal (
) ke
). Dalam memindahkan rancangan pit,
hanya titik-titik pada level dimana terjadi perubahan rancangan
yang berarti perlu dipindahkan.
I - 58
Level atau jenjang yang penting meliputi bagian atas dan bawah
dan lereng yang panjang, dan jenjang dimana sudut lereng
berubah. Tidak semua titik pada setiap jenjang perlu dipindahkan.
d.
Buat kontur batas penambangan pada penampang horisontal.
Rancangan
batas
akhir
penambangan
harus
cukup
halus.
Menghubungkan setiap titik secara kaku pada level map tidak akan
memberikan hasil yang diinginkan. Beberapa titik pada level map ini
mungkin harus diabaikan.
e.
Untuk penampang-penampang (
) di dekat ujung cebakan
bijih, sudut lereng dapat dibuat sedikit lebih landai.
f.
Kuantitas dan kadar cadangan yang terdapat di dalam batas
penambangan dapat ditabulasikan dari jumlah, berat dan kadar
blok di tiap-tiap jenjang.
3) Asumsi Implisit metoda penampang 2-D
a.
Walau
bagaimanapun, penambangan di bagian tengah dari
cadangan pasti akan terjadi. Kita hanya perlu menetapkan batas
penambangan yang paling luar saja.
b.
Cebakan bijih memiliki bentuk cukup memanjang ke arah yang
tegak lurus dari penampang-penampang vertikal yang digunakan.
4) Pedoman pokok dalam menentukan batas penambangan
a.
Setiap blok bijih yang akan ditambang harus dapat membayar atau
mendukung pengupasan (
b.
) dirinya sendiri.
Jika sebuah blok bijih dapat ditambang karena kontribusi dari
blok-blok bijih lain yang terletak diatasnya (dan pada jalur
penambangan blok ini), maka blok bijih ini harus ditambang.
Kontribusi dari tiap-tiap blok dapat dijumlahkan, jadi rata-rata untuk
beberapa blok diperbolehkan.
I - 59
c.
Jika dua blok bijih yang terpisah satu sama lain dapat ditambang
karena kontribusi simultan dari pengupasan waste yang sama,
maka kedua blok ini harus ditambang.
d.
Tidak ada blok waste yang boleh ditambang kecuali bila ia terletak
pada jalur penambangan dari suatu blok bijih yang terletak di
bawahnya.
5.2.2. Pemrograman Dinamik 2-D (Metoda Lerchs-Grossman)
1) Pemrograman Linier vs. Pemrograman Dinamik
a.
Pemrograman linier (linier programing) dirancang untuk proses
suatu tahap. Biasanya di dalamnya tidak terlibat elemen waktu atau
urut-urutan berdasarkan waktu (
T (D,S)
).
S
Masukan
keluaran
S
Return R1
Solusi
optimal (yaitu nilai-nilai keputusan) diperoleh dengan
mengikuti algoritma simplex.
Tujuan : mengoptimalkan R1.
b.
Pemrograman dinamik (
) ditujukan untuk
proses beberapa tahap (
). Biasanya melibatkan
elemen
(
waktu
dari
keputusan-keputusan
).
yang
berurutan
atau CPM adalah suatu
contoh baik. Proses multi tahap merupakan uatu masalah dimana
keputusan yang berurutan harus diambil, dansetiap keputusan akan
mempengaruhi ruang lingkup pengambilan keputusan berikutnya.
I - 60
n
Tujuan : mengoptimalkan R = RI dengan
memilih secara tepat
i=1
nilai-nilai variabel keputusan. Solusi optimal diperoleh dengan
mengikuti prinsip Optimalitas Dinamik dari Bellman yang intinya:
apapun
yang
telah
kita
lakukan
dimasa
yang
lalu,
keputusan-keputusan mendatang harus optimal relatif terhadap
situasi
saat
ini.
Solusi
optimal
ini
merupakan
suatu
kumpulan-kumpulan keputusan yang berurutan, misalnya sebuah
kebijakan (
2) Pemrograman Dinamik 2- Dimensi (Metoda Lerchs-Grossman)
Memiliki motivasi bahwa pada dasarnya penentuan batas penambangan
yang optimum menggunakan penampang (2-D cross section) mudah
dilakukan.
3) Asumsi-asumsi dasar
a.
Nilai ekonomik tiap blok diketahui/dapat dihitung.
b.
Sudut lereng keseluruhan diberikan sebagai masukan.
c.
Tujuan : memaksimalkan keuntungan total (nilai material yang
ditambang dikurangi ongkos penambangan)
4) Algoritma
a.
Sudut lereng
i.
Jika ukuran blok dalam model sudah pasti, tentukan jumlah
blok ke
atas dan ke bawah untuk setiap blok (pada
penampang) yang paling mendekati kendala sudut lereng.
I - 61
ii.
Jika ukuran blok masih dapat diatur, pilihlah sedemikian rupa
sehingga geometri ukuran blok sesuai dengan sudut lereng.
b.
Hitung nilai ekonomik dari tiap blok, yaitu pendapatan dari nilai jual
dikurangi ongkos penambangan blok tersebut, ongkos pengolahan
dan ongkos G&A (
). Nilai
ekonomik ini kita sebut sebagai
atau mij.
Pada penampang 2-dimensi, blok (i,j) terletak pada baris i dan
kolom j.
c.
Hitung jumlah nilai ekonomik dari blok-blok yang berada di satu
kolom dengan blok (i,j). Ini kita definisikan sebagai
atau Mij.
i
Mij = mkj
k=1
d. Pada penampang kita tambahkan baris 0, lalu hitung
atau Pij sebagai berikut.
Poj = 0
Kemudian, untuk tiap kolom mulai dari kolom 1 :
Pij = Mij + max (Pi+k,j-1) untuk k = -1,0,1
e. Beri tanda panah untuk menandai maksimum dari blok (i,j) ke blok
(i+k,j-1) tanda panah ini harus mengarah dari kanan ke kiri.
i.
Untuk kolom pertama (j = 1), buatlah Pij = Mij
ii.
Pij mewakili nilai paling besar yang dapat diperoleh dari
penambangan blok (i,j) dan semua blok di atasnya, serta
blok-blok di sebelah kirinya
f.
Pilih jalur optimal (yang akan menandai kontur permukaan tambang
atau batas penambangan) dengan mencari kolom j yang memiliki
nilai Pij positif dan terbesar di permukaan (di baris 1).
i.
Kontur batas penambangan akan diperoleh dengan mengikuti
arah anak panah dari kanan ke kiri, mulai dari blok ini.
I - 62
ii.
Jika nilai Pij di permukaan (baris 1) semua negatif, berarti tidak
ada blok yang ekonomik untuk ditambang pada penampang
yang bersangkutan.
Langkah-langkah tersebut di atas dapat direpresentasikan sebagai berikut.
Gambar 5.1. Geometri Badan Bijih Untuk Contoh
Lerchs-Grossman 2-D (Hustrulid & Kutcha,1995)
Gambar 5.2. Nilai Ekonomik Mula-Mula dari Setiap Model Blok
(Hustrulid & Kutcha,1995)
I - 63
Gambar 5.3. Nilai Ekonomik Akhir dari Setiap Model Blok
(Hustrulid & Kutcha,1995)
Gambar 5.4. Perhitungan dari Penjumlahan Kumulatif Untuk Kolom 6
(Hustrulid & Kutcha,1995)
Gambar 5.5. Kumulatif Penjumlahan Yang Lengkap
(Hustrulid & Kutcha,1995)
I - 64
Gambar 5.6. Prosedur Penentuan Arah Nilai Kumulatif Maksimum
dan Minimum (Hustrulid & Kutcha,1995)
Gambar 5.7. Pergerakan Proses penjumlahan Pada Kolom 7
(Hustrulid & Kutcha,1995)
I - 65
Gambar 5.8. Penentuan Pit dan Nilai Total Dengan Anak Panah
(Hustrulid & Kutcha,1995)
Gambar 5.9. Nilai Blok Individu Untuk Dua Bagian Pit
(Hustrulid & Kutcha,1995)
Gambar 5.10. Proses Penjumlahan Pada Seluruh Bagian (Hustrulid &
Kutcha,1995)
Gambar 5.11. Penentuan Pit Yang Optimum
I - 66
(Hustrulid & Kutcha,1995)
Gambar 5.12. Perpaduan Batas akhir Pit Yang Optimum Pada Blok
Model (Hustrulid & Kutcha,1995)
5.2.3. Metoda Kerucut Mengambang (Floating Cone 3-Dimensi)
1) Tujuan
a.
Menentukan batas akhir satu tambang terbuka (
dengan menggunakan analisis ekonomik pulang pokok (
).
b) Sasaran
yang
penambangan
ingin
dicapai
mengharuskan
dalam
penentuan
batas
akhir
batas akhir
tersebut
dihitung
menggunakan dasar ekonomik pulang pokok.
c)
Keuntungan dari menambang tahapan bijih terakhir harus tepat
membayar biaya pengupasan lapisan penutupnya.
2) Masukan Data Yang diperlukan
a) Model Blok Cadangan Bijih
i. Model komputer yang membagi cebakan bijih menjadi blok-blok
yang seragam
ii. Tiap blok memiliki informasi tentang tofografi, geologi dan
taksiran kadar mineral
iii. Informasi
yang
disimpan
dalam
tiap blok
cukup
menghitung nilai ekonomiknya dari data ekonomi yang ada
I - 67
untuk
b) Data Ekonomik
i. Harga komoditas (Cu, Au, Ag, Mo, ...... dll)
ii. Semua ongkos-ongkos yang berkaitan dengan penambangan
dan pengolahan bijih :
Ongkos penambangan per ton bijih
Ongkos penambangan/pengupasan per ton lapisan penutup
Ongkos pengolahan (penggerusan,
) per ton
bijih
Perolehan (
) dari proses pengolahan
Ongkos peleburan, pemurnian dan pengangkutan (SRF) per
unit produk akhir komoditas
Perolehan (
) dari peleburan dan pemurnian
Ongkos umum dan administrasi (G&A) per ton bijih
Ongkos royalti
c)
Data Sudut Lereng
i. Satu sudut lereng yang sama untuk pit , atau
ii. Sudut lereng yang bervariasi dengan zona-zona di pit
d) Lebar Pit Bottom Minimum cukup untuk ruang kerja peralatan
3) Algoritma
bekerja dalam dua tahap :
a) Pada tahap pertama, taksiran kadar blok dan parameter ekonomik
(harga
komoditas,
ongkos
penambangan
dan
pengolahan,
perolehan dan royalti) digunakan untuk membuat suatu model blok
ekonomik. Setiap blok memiliki nilai moneter, blok bijih nilainya
positif dan blok lapisan penutup (
mewakili
keuntungan
bersih
dari
) negatif. Nilai uang ini
penambangan
blok
yang
bersangkutan.
b) Pada tahap kedua analisis kerucut mengambang dilakukan terhadap
blok-blok dalam model, dari atas ke bawah. Dasar (bagian lancip)
dari suatu kerucut terbalik diletakkan di pusat setiap blok bijih (blok
yang nilainya positif)
I - 68
i.
Suatu
analisis
ekonomik
kemudian
dilakukan
dengan
menjumlahkan nilai uang dari seluruh blok di dalam kerucut
terbalik ini. Jika hasilnya positif, semua blok ini harus
ditambang/dikeluarkan dari model dan tidak lagi diperhitungkan
dalam analisis berikutnya.
ii.
Kerucut ini digerakkan secara sistematis dalam model blok
hingga semua material yang ekonomis habis ditambang.
Kerucut dimulai dari atas dan bergerak ke bawah, kemudian
mulai lagi dari atas model blok untuk mengambil blok-blok yang
mungkin sekarang menjadi ekonomis karena pengupasan
material
berlangsung
oleh blok-blok bijih di bawahnya. Ini akan
hingga tak ada
lagi
material yang dapat
ditambang.
iii. Dinding lereng dari kerucut ini memililki sudut yang sama
dengan sudut lereng tambang yang ditentukan.
iv. Jari-jari penambangan minimum atau lebar minimum pada
merupakan salah satu masukan. Biasanya jari-jari ini
dibuat berukuran 1,5 kali ukuran blok, sehingga lebar minimum
di
adalah 9 blok (cukup untuk beroperasinya
peralatan).
v.
Analisis kerucut mengambang ini menggunakan pendekatan
blok utuh terdekat. Jadi, jika pusat blok berada di dalam
kerucut maka seluruh blok itu dianggap berada dalam kerucut.
vi. Sembarang
bentuk pit dapat didekati dengan membuat
kerucut-kerucut
satu
sama
lain.
dimungkinkan karena blok-blok yang ditambang pada kerucut
sebelumnya berubah statusnya menjadi blok udara, sehingga
tidak lagi diperhitungkan dalam analisis ekonomik kerucut
berikutnya. Jika semua kerucut terbalik ini kita gabungkan,
sebuah geometri
akan terbentuk. Selubung paling luardari
I - 69
bentu
ini berada pada posisi pulang pokok relatif terhadap
data masukan (input) yang kita berikan.
4) Aspek
lain
Penerapan
metoda
kerucut
mengambang
untuk
perancangan penahapan penambangan (pushback)
a)
Jika harga komomditas diturunkan, BECOG akan naik dan BESR
akan turun. Geometri kerucut mengambang yang diperoleh akan
menjadi lebih kecil dan cadangan tertambangnya lebih kecil pula.
b) Jika harga komoditas terus diturunka, akan diperoleh suatu serial
geometri pit (bentuk/geometri
penambangannya
dari besar ke kecil). Proses
akan mentargetkan
dulu blok-blok dengan
potensi keuntungan paling besar (untuk harga komoditas paling
rendah). Blok-blok yang merupakan target berikutnya secara
bertahap akan ditambang hingga batas akhir dari pit tercapai (pada
harga komoditas yang diproyeksikan)
c)
Serial geometri ini menjadi indikator atau pedoman urutan
pengambilan bijih. Hal ini amat berguna dalam merancang
tahap-tahap penambangan (
Berikut ini adalah cara mengoptimasi
).
dengan cara
dengan data nilai ekonomik dari setiap blok model yang sama dengan pada
Lerch-Grossman 2D.
Gambar 5.13. Nilai Ekonomik Model Blok Untuk F
loating Cone
I - 70
(Hustrulid & Kutcha,1995)
Gambar 5.14. Keadaan Setelah Membuat Floating Cone 2 Baris
(Hustrulid & Kutcha,1995)
Gambar 5.15. Keadaan Setelah Membuat Floating Cone 3 Baris
(Hustrulid & Kutcha,1995)
I - 71
Gambar 5.16. Keadaan Setelah Membuat Floating Cone 4 Baris
(Hustrulid & Kutcha,1995)
Gambar 5.17. Keadaan Setelah Membuat Floating Cone 5 Baris
(Hustrulid & Kutcha,1995)
Gambar 5.18. Keadaan Setelah Membuat Floating Cone 6 Baris
(Hustrulid & Kutcha,1995)
Pada Gambar 5.18 terlihat bahwa hasil penentuan pit yang optimum dengan
cara
memberikan
hasil
yang
sama
dengan
cara
.
Contoh Soal :
Dengan menggunakan pendekatan kerucut mengambang (
yang benar, hitunglah keuntungan bersih yang akan diperoleh dari
I - 72
penampang tambang terbuka di bawah ini. Tunjukan pula blok-blok yang
akan ditambang/tidak akan ditambang.
Permukaan
45o sudut lereng
1
nilai blok 1 = Rp.
80 juta
nilai blok 2 = Rp. 100 juta
nilai blok 3 = Rp.
20 juta
Ongkos Penggalian/penambangan = Rp. 10 juta/blok
Catatan :
Nilai blok adalah
dikurangi biaya pengolahan dan biaya tak
langsung, tetapi tidak termasuk biaya penambangan.
Jawaban :
2
3
Blok yang ditambang
Blok yang tidak ditambang
Net profit
penggalian/penambangan
= nilai blok 1 + nilai blok 2 - ongkos
= 80 juta + 100 juta - (12 x 10 juta)
= 180 juta 120 juta
I - 73
= 60 juta
PEKERJAAN RUMAH 4
Topik : Penentuan Ultimate Pit Limit dengan Metode Manual
Buatlah Resume mengenai Metode Penampang 2 Dimensi Secara Manual.
PEKERJAAN RUMAH 5
Topik : Penentuan Ultimate Pit Limit dengan Metode Lerchs-Grossman
Suatu penampang blok model dengan Net Value untuk tiap-tiap blok sebagai
berikut
I - 74
-2
-2
-2
-2
-2
-2
-2
-2
-8
-8
-15
1 -15
-23
-7
-7
-7
-7
-7
-7 -23
1. Tulis prosedur dasar untuk penggunaan metode Dynamic Programming
(Lerchs-Grossman) bagi penentuan Ultimate Pit Limit!
2. Berikan komentar atas hasil yang diperoleh!
PEKERJAAN RUMAH 6
Topik : Evaluasi Ekonomi Pit dengan metode Kerucut Mengambang
(Floating Cone)
Wakil Direktur operasi suatu perusahaan pertambangan emas skala kecil meminta
Saudara untuk memeriksa kembali pit yang dihasilkan oleh stafnya dengan
mennggunakan metode floating cone. Data-data ekonomi yang digunakan untuk
floating cone adalah sebagai berikut :
Biaya penambangan per total ton
$ 0.591
Biaya pengolahan per ton bijih
$ 1.80
Biaya Umum dan Administrasi per ton bijih
$ 0.50
Perolehan emas
85.6 %
Harga emas per troy ounce
$ 400
Kemiringan lereng
45
I - 75
Saudara melakukan perhitungan menggunakan metode floating cone dengan
parameter yang sama dan mendapatkan geometri pit yang lebih kecil. Gambar 1
menunjukkan pit klien anda dan gambar 2 menunjukkan hasil perhitungan anda.
Dengan perbandingan sebagai berikut:
Perbandingan Hasil Floating Cone.
Dengan Cutoff Grade 0.007 oz/ton
Kton bijih
Emas (oz/ton)
Total Kton
Pit klien
3.160
0.0207
11.010
Pit anda
2.656
0.0219
7.686
Saudara sangat yakin bahwa hasil perhitungan saudara betul, tetapi perlu
didemonstrasikan secara analitis pada kasus ini. Anda memutuskan untuk
melakukan suatu analisis ekonomi pada material pada pit dan pada selisih
perbedaannya.
1. Lakukan analisis ekonomi pada material pit dan increment dengan
melengkapi tabel terlampir. Kadar selisih adalah 0.0144 oz/ton.
Darimana kadar selisih tersebut berasal?
2. Apakah pit klien anda memiliki geometri yang layak pada harga emas $
400? Jika ya mengapa? Dan jika tidak mengapa?
Pit
klien
Kton bijih
Kadar emas (oz/ton)
Emas yang dikandung (koz)
Perolehan pengolahan
Emas yang diperoleh (koz)
Kton total yang ditambang
Harga emas ($ per troy oz)
Pendapatan kotor ($x1000)
Biaya penambangan per total ton
Biaya pengolahan per ton bijih
I - 76
Pit anda
Selisih
Biaya umum & administrasi per ton
bijih
Biaya penambangan total ($x1000)
Biaya pengolahan total ($x1000)
Biaya umum & administrasi total
($x1000)
Biaya total ($x1000)
Keuntungan bersih ($x1000)
Biaya total per oz yang diperoleh ($)
I - 77
Gambar 1.
Pit Klien
I - 78
Gambar 2.
Pit Anda
I - 79
BAB VI
PENJADWALAN PRODUKSI
6.1. PENDAHULUAN
1) Suatu penjadwalan produksi tambang menyatakan, dalam periode
waktu (misalnya tahun), ton bijih, kadar dan pemindahan material total
yang akan dihasilkan oleh tambang tersebut.
2) Sasarannya
beberapa
adalah
menghasilkan suatu
jadwal
untuk mencapai
sasaran/kriteria ekonomik seperti memaksimumkan
(NPV) atau
(ROR). Kriteria lain di
antaranya dapat menghasilkan suatu kuantitas material semurah
mungkin, dll.
3) Fokus kita adalah perencanaan jangka panjang. Kita akan menghasilkan
suatu jadwal produksi dan kemudian menentukan kebutuhan peralatan
untuk mengoperasikan jadwal tersebut. Pada penjadwalan jangka
pendek fokusnya mungkin berbeda; dengan kendala jumlah peralatan,
kita menentukan jadwal yang terbaik.
4) Selama proses penjadwalan, evaluasi beberapa alternatif sering
dilakukan.
5) Data masukan dasar adalah penyataan tonase dari tahap-tahap
penambangan yaitu tabulasi ton dan kadar per jenjang dari material
yang akan ditambang untuk tiap tahap.
6.2.
ASUMSI
AWAL
YANG
DIPERLUKAN
UNTUK
MENGEMBANG-KAN SUATU JADWAL
1) Tingkat produksi bijih untuk tiap periode waktu
a.
Dapat ditentukan dengan studi perbandingan tingkat produksi.
I - 80
b. Tingkat produksi dapat berubah dengan waktu.
2)
untuk tiap periode waktu.
Beberapa jadwal sering dibuat untuk mengevaluasi strategi
yang berbeda.
3) Dua butir di atas akan mempengaruhi jadwal pengupasan tanah
penutup.
6.3.
PENGAMATAN
TERHADAP
TABULASI
CADANGAN
PER
JENJANG UNTUK TIAP TAHAP
1) Jenjang atas biasanya terdiri dari tanah penutup yang harus dikupas
2) Jenjang dasar umumnya terdiri kebanyakan dari bijih. Bijih ini
merupakan
sumber
yang
akan
menjaga
kelangsungan
pabrik
pengolahan
3) Pada elevasi berapa akan terjadi peralihan dari tanah penutup ke bijih ?
4) Suatu kriteria dalam nisbah kupas. Pada jenjang ke berapa nisbah kupas
akan lebih rendah dari nisbah kupas rata-rata ?
6.4. KEBUTUHAN PENGUPASAN PRA PRODUKSI
1) Berapa banyak material/tanah penutup yang harus dikupas selama
masa pra-produksi ?
2) Jumlah
minimum
adalah
material/tanah
penutup
yang
harus
dipindahkan dari pushback/tahap pertama sehingga pushback ini akan
menjadi sumber penambangan bijih untuk produksi tahun pertama.
3) Proses penjadwalan dapat mengindikasikan jumlah material/tanah
penutup yang disebut diatas, jadi mungkin perlu dilakukan pengupasan
pada
kedua, dan seterusnya.
4) Material bijih yang ditambang selama pra-produksi biasanya ditumpuk di
dekat
dan menjadi bagian dari bijih untuk tahun pertama.
I - 81
6.5.
PENENTUAN JADWAL PENGUPASAN MATERIAL PENUTUP
1) Jadwalkan bijih dari tahap-tahap penambangan (
) sesuai
urutannya.
Untuk tiap periode waktu, kumulatif
dibagi dengan jumlah tahun.
Hasilnya memberikan tingkat produksi rata-rata yang diperlukan untuk
memperoleh bijih.
2) Tabulasikan
(atau material total) berdasarkan tahun.
3) Puncak pemindahan
berhubungan dengan pra-pengupasan yang
dibutuhkan pada setiap tahap. Kita ingin meratakan jadwal produksi
waste dengan pemindahan tanah penutup ini jauh dimuka, misalnya
mulai pengupasan pushback sebelum bijih diperlukan.
a.
Untuk tiap periode waktu, kumulatif waste dibagi dengan jumlah
tahun. Hasilnya memberikan tingkat produksi waste rata-rata yang
diperlukan untuk memperoleh bijih.
b. Hitung nilai kumulatif waste maksimum dibagi dengan jumlah
tahun. Hasilnya adalah tingkat produksi waste per tahun untuk
penjadwalan yang baik dan rata.
c.
Penjadwalan pertama adalah untuk melampaui puncak tertinggi
kemudian mengatur kembali persoalan tersebut untuk puncak
berikutnya.
6.6. KESEIMBANGAN JADWAL
1) Saat ini kita telah mempunyai tingkat produksi bijih dan pemindahan
material total berdasarkan perioda waktu.
2) Langkah berikutnya adalah menambang dari tahap bijih utama dan dari
tahap yang memerlukan pengupasan selama satu periode waktu untuk
mencapai sasaran produksi
I - 82
a.
Persoalannya adalah akan ada waste di dalam bijih dan sebagian
bijih terdapat di dalam material waste.
b. Harus diseimbangkan sehingga jumlah bijih dari semua sumber
mencapai target pula.
i.
(metode coba-coba)
ii.
(menggunakan persamaan serentak)
3) Setelah bijih dan waste (atau material total) dari tiap tahap ditentukan
untuk suatu periode waktu, kadar untuk tahun itu dapat ditentukan
sebagai ton rata-rata berbobot untuk bijih yang ditambang.
6.7. KOMENTAR LAIN-LAIN
1) Kebutuhan bijih tahun pertama harus dikurangi sehingga jumlah bijih
yang dikumpulkan selama pra-produksi dan yang ditambang selama
tahun pertama sama dengan sasaran pabrik tahun pertama.
2) Untuk pabrik yang besar, adalah biasa mengurangi sasaran produksi
tahun pertama misalnya 75% dari kapasitas.
3) Adalah sangat sulit mencegah kesalahan numerik. Lakukan pengecekan
sebanyak mungkin, antara lain :
a.
Bila suatu tahap/
selesai, pastikan bahwa material yang
ditargetkan setiap tahun untuk tahap tersebut sama jumlahnya
dengan jumlah material tahap tersebut untuk bijih dan waste
b. Buat suatu tabel untuk tiap tahun yang memperlihatkan material
berdasarkan
4) Selama proses penjadwalan mungkin terdapat batasan penambangan
lain yang tidak diperhitungkan
a.
Total ton yang dapat ditambang dari suatu tahap selama satu
tahun.
b. Total jumlah jenjang yang dapat ditambang dari satu tahap selama
satu tahun.
I - 83
6.8. PETA TAMBANG
1) Setelah proses penjadwalan dilakukan, maka akan sangat mudah
membuat gambar konseptual tentang keadaan tambang pada akhir
setiap tahun.
2) Kita akan mengetahui jenjang mana yang ditambang dari tiap tahap
selama satu tahun dan kita mempunyai rancangan untuk tiap tahap.
3) Adalah penting membuat peta agar kita dapat mengetahui apakah
jadwal yang telah dibuat dapat dilaksanakan.
a.
akses ke daerah yang diperlukan.
b. Pastikan bahwa suatu jumlah material yang sangat banyak tidak
harus keluar dari satu jalan angkut.
6.9. STRATEGI KADAR BATAS (CUT OFF GRADE STRATEGY)
1) Dapat ditunjukkan bahwa untuk suatu tambang yang mempunyai batas
keuntungan yang cukup memadai, jadwal yang terbaik (di dalam
pengertian pemaksimuman NPV atau ROI) akan dimulai pada
yang lebih tinggi dari
selama tahun-tahun awal dan
menurun ke
pada saat menuju ke akhir umur
tambang.
2) Kan Lane menjelaskan mengapa hal ini terjadi pada teori ekonomik dari
3) Tambang dengan umur yang pendek dan keuntungan yang margin akan
mulai pada strategi internal
pada wal dan tetap pada kadar
batas ini untuk keseluruhan umum tambang.
4) Dengan sebuah program yang secara cepat dapat mengevaluasi jadwal,
strategi cutoff yang terbaik dapat ditentukan dengan cara
.
I - 84
5)
yang lain adalah mencoba mencapai penghasilan sekitar
dua kali biaya operasi untuk 4 atau 5 tahun pertama dari umur
tambang. Hal ini akan memberikan pengembalian modal yang cepat
(
).
Kelemahan metoda manual, jika ada parameter rancangan yang berubah,
maka prosesnya harus diulang kembali. Kelemahan lain adalah tiap pit dapat
dirancang per penampang, tetapi jika telah digabung dan dihaluskan,
hasilnya tidak menggambarkan pit secara keseluruhan dengan baik.
Penggunaan metoda komputer dapat menangani jumlah data dan alternatif
yang lebih banyak dibandingkan dengan metoda manual. Komputer
merupakan
alat
yang
baik
untuk
memisahkan,
memproses
dan
menunjukkan data dari proyek penambangan.
Penggunaan metoda komputer dapat dibagi atas dua kelompok :
a. Computer assisted methods
Perhitungan dilakukan komputer di bawah pengawasan langsung desainer.
Komputer tidak mengerjakan rancangan seluruh rancangan tetapi hanya
melakukan perhitungan dengan pengawasan desainer terhadap prosesnya.
Contohnya akan diberikan pada metoda Lerch-Grossman pada 2 dimensi dan
metoda
pada 3 dimensi.
b. Automated methods
Metoda ini sangat baik dalam merancang
untuk memberikan
pembatasan-pembatasan fisik dan ekonomi tanpa campur tangan insinyur.
Satu
kategori
dari
adalah
melibatkan
teknik
mengoptimalkan secara matematis dengan menggunakan program linear,
program dinamik, atau aliran kerja. Kategori kedua menggunakan metoda
seperti
, tetapi belum tentu merupakan metoda yang
I - 85
paling optimal. Semakin murahnya biaya memproses dengan komputer
maka lebih baik digunakan
untuk masa mendatang.
Karakter lain yang membedakan tipe metode komputer adalah penggunaan
salah satu dari blok secara keseluruhan dari penambangan. Dalam metode
blok keseluruhan, setiap blok ditambang sebagai satu unit atau ditinggalkan
secara utuh, sedangkan dalam metoda blok pembagian satu bagian dari blok
dapat ditambang. Setiap tipe memiliki keuntungan sendiri.
Berikut ini adalah contoh penjadwalan produksi dari suatu penambangan
bijih yang dapat memberikan nilai NPV optimum.
Contoh Soal :
Berdasarkan hasil interpretasi geologi dan perencanaan tambang diperoleh
gambaran blok penambangan bijih sebagai berikut.
W
O
W
O
W
O
W
O
W
O
W
O
W
O
W
O
W
O
W
O
keterangan : W =
O =
Berdasarkan hasil kajian kelayakan awal diperoleh data bahwa :
net value tiap ore blok adalah US$ 2.0
biaya untuk menambang waste tiap blok adalah US$ 1.0
laju produksi per tahun adalah 5 blok
interest rate diasumsikan 10 % (present value factor : 1/ (1+1)0 )
Berdasarkan hasil perencanaan diperoleh 3 (tiga) skenario penjadwalan
produksi sebagai berikut.
1) Pengupasan 5 blok
diikuti oleh penambangan 5 blok
2)
selama 1 tahun kemudian dilanjutkan oleh penambangan 3
blok
/tahun dan pengupasan 2 blok
3) Pengupasan
penambangan
diupayakan
/tahun.
lebih dulu 1
I - 86
blok dibandingkan
Tugas kita adalah menentukan skenario penjadwalan produksi yang mana
diantara
(tiga)
skenario
diatas
yang
akan
diterapkan
dengan
langkah-langkah sebagai berikut.
a.
Menggambarkan kemajuan penambangan blok tiap skenario tiap tahun.
b. Menghitung besarnya Net Present Value untuk tiap skenario.
c.
Berdasarkan nilai Net Present Value tentukan skenario penambangan
yang akan diterapkan.
I - 87
Gambar 6.1. Tahapan Penambangan Skenario 1
(Hustrulid & Kutcha,1995)
-$5
NPV
-$5
+
(1.10)1
$10
+
(1.10)2
$10
+
(1.10)3
(1.10)4
= -$4.55 - $4.13 + $7.51 + $6.83 = $5.66
Gambar 6.2. Tahapan Penambangan Skenario 2
(Hustrulid & Kutcha,1995)
-$5
NPV
$4
+
(1.10)1
$4
+
(1.10)2
$7
+
(1.10)3
(1.10)4
= -$4.54 + $3.31 + $3.01 + $4.78 = $6.56
I - 88
Gambar 6.3. Tahapan Penambangan Skenario 3
(Hustrulid & Kutcha,1995)
$1
NPV
$2.50
+
(1.10)1
$2.50
+
(1.10)2
$4
+
(1.10)3
(1.10)4
= $0.91 + $2.07 + $1.88 + $2.73 = $7.59
I - 89
Dengan
melihat
nilai
NPV
untuk
setiap
skenario,
maka
skenario
penambangan bijih yang akan diterapkan adalah skenario ke-3 dengan nilai
NPV yang paling besar.
PEKERJAAN RUMAH 7
Topik: Penjadwalan Produksi
Tabel di bawah ini menunjukkan banyaknya bijih dan waste pada jenjang
untuk 3 fase suatu tambang terbuka. Gambar terlampir menunjukkan
geometri bijih dan waste. Buat jadwal produksi untuk badan bijih tersebut.
Tandai gambar tersebut untuk menunjukkan jenjang yang mana yang
ditambang dari setiap fase pada periode fase tersebut.
Gunakan kriteria berikut ini:
1. Tingkat produksi bijih yang diinginkan adalah 7 unit per tahun untuk
jangka waktu proyek 10 tahun .
2. Pada tahap pra produksi tidak melakukan penambangan bijih tetapi
harus dapat menambang bijih mulai pada tahun 1.
3. Seluruh fase harus ditambang berdasarkan urutan jenjang. Anda tidak
dapat menambang bijih pada fase 2 dari jenjang 7 sebelum waste pada
jenjang 1-6 ditambang.
4. Buat jadwal pemindahan waste sebaik mungkin (setelah target
pemindahan waste dari tahap pra produksi tercapai).
I - 90
Data Tonase Fase Penambangan
Fase 1
Fase 2
Fase 3
Total
Jenjan
g
Biji
h
Wast
e
Bijih
Wast
e
Bijih
Waste
Bijih
Waste
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Total
0
0
7
7
7
7
13
12
4
3
2
1
0
0
0
0
0
0
7
7
7
3
3
3
3
3
3
3
2
1
28
35
21
24
0
0
0
0
0
0
0
0
0
7
7
7
21
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
1
33
0
0
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
70
19
18
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
92
Jadwal Produksi Penambangan menunjukkan Distribusi Material Per Fase Per
Tahun
Fase 1
Fase 2
Fase 3
Total
Tahun
PP
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Total
Biji
h
Waste
Bijih
Waste
Bijih
Wast
e
Biji
h
Wast
e
28
35
21
24
21
33
70
92
I - 91
I - 92
BAB VII
PERANCANGAN PIT DAN PUSHBACK
7.1. PENDAHULUAN
1) Pembahasan akan ditekankan pada perancangan geometri yang dapat
ditambang dengan masukan geometri pit yang dihasilkan oleh program
.
I - 93
2) Dinding-dinding lereng dari tambang (
) harus diperhalus, dan
jalan masuk ke tambang harus diperhitungkan dalam perencanaan.
3) Dalam bab ini kita akan membahas pula sudut lereng dan jalan angkut.
4) Perancangan pentahapan tambang (
) akan
dibahas pula.
7.2. SUDUT LERENG
1) Geometri Jenjang
Geometri jenjang terdiri dari tinggi jenjang, sudut lereng jenjang
tunggal,
dan lebar dari jenjang penangkap
).
Rancangan geoteknik jenjang biasanya dinyatakan dalam bentuk
parameter-parameter untuk ketiga aspek ini.
Tinggi jenjang : Biasanya alat muat yang digunakan harus mampu
pula mencapai pucuk atau bagian atas jenjang. Jika tingkat produksi
atau faktor lain mengharuskan ketinggian jenjang tertentu, alat
muat yang akan digunakan harus disesuaikan pula ukurannya.
c.
Sudut lereng jenjang : penggalian oleh alat gali mekanis seperti
atau
di permukaan jenjang pada umumnya akan
menghasilkan sudut lereng antara 6065 derajat. Sudut lereng yang
lebih curam biasanya memerlukan peledakan
d. Lebar
jenjang
penangkap
ditentukan
.
oleh
pertimbangan
keamanan. Tujuannya adalah menangkap batu-batuan yang jatuh.
Perlu bulldozer kecil atau grader untuk membersihkan
ini secara berkala.
Di beberapa tambang terkadang digunakan konfigurasi multi-jenjang
(
), pada umumnya untuk jenjang yang tingginya 5-8
meter. Dalam hal ini jenjang perangkap dibuat setiap dua atau tiga jenjang.
Tujuannya adalah untuk menerjalkan sudut lereng keseluruhan. Jenjang
penangkap ini biasanya dibuat lebih lebar dibandingkan untuk jenjang
tunggal.
I - 94
Dalam operasi di pit, pengontrolan sudut lereng biasa dilakukan dengan
menandai lokasi pucuk jenjang (
) yang diinginkan menggunakan
bendera kecil. Operator shovel diperintahkan untuk menggali sampai
mangkuknya mencapai lokasi bendera tersebut. Lokasi lubang-lubang
tembak dapat pula menjadi pedoman.
2) Sudut lereng
a.
Sudut lereng antar-jalan (
) adalah sudut
lereng gabungan beberapa jenjang diantara dua jalan angkut. Inilah
yang
dihasilkan
oleh
ahli-ahli
geoteknik
sewaktu
menetapkan sudut lereng jenjang tunggal (
jenjang penangkap (
mereka
) dan lebar
b. Sudut lereng keseluruhan (
) adalah sudut
yang
sebenarnya dari dinding pit keseluruhan, dengan memperhitungkan
jalan angkut, jenjang penangkap dan semua profil lain di
c.
Penggambaran dengan metoda garis tengah (
i.
Ada beberapa cara menggambarkan lokasi jenjang dalam peta
tambang. Satu alternatif adalah dengan menggambar garis
ketinggian kaki (
) dan puncak jenjang (
) menggunakan
dua jenis garis, misalnya tipis/tebal, putus-putus/penuh atau
dua warna yang berbeda. Gambar peta yang dihasilkan
cenderung lebih rumit.
ii.
Alternatif yang lebih sederhana adalah menggunakan ketinggian
titik tengah jenjang (
) untuk mewakili suatu
jenjang. Dengan demikian hanya diperlukan satu garis saja
untuk menggambarkan suatu jenjang di peta. Letak kontur ini
tepat di tengah-tengah antara lokasi
iii. Di
luar
pit,
garis-garis kontur ditandai
.
dengan
elevasi
sebenarnya. Di dalam pit, jenjang digambarkan pada lokasi titik
tengahnya (
jenjang (
) tetapi ditandai dengan elevasi kaki
). Pada kenyataannya, label ini mengacu
I - 95
kepada dataran (misalnya elevasi
) diantara dua
.
iv. Garis kontur titik tengah (
) ini memotong jalan
angkut di tengah-tengah antara dua jenjang (separo jalan antar
jenjang).
7.3.
JALAN ANGKUT
1) Letak jalan keluar tambang
a.
Untuk suatu tambang yang baru, penting diperhitungkan dimana
letak jalan-jalan keluar dari tambang. Biasanya kita ingin akses yang
baik ke lokasi pembuangan tanah penutup (
peremuk bijih (
) dan
r).
b. Topografi merupakan faktor yang penting. Akan sulit sekali bagi
truk untuk keluar dari pit ke medan yang curam.
2) Lebar jalan
a.
Tergantung pada lebar alat angkut, biasanya 4 kali lebar truk.
b. Lebar jalan seperti di atas memungkinkan lau lintas dua arah,
ruangan untuk truk yang akan menyusul, juga cukup untuk selokan
penyaliran dan tanggul pengaman. Untuk truk tambang yang paling
besar saat ini (240 ton) lebar jalan biasanya 3035 m.
3) Kemiringan jalan
a.
Jalan angkut di jalan tambang biasanya dirancang pada kemiringan
8% atau 10%
b. Untuk tambang-tambang yang besar, kemiringan jalan 8% paling
umum. Ini akan memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam
pembuatannya, serta memudahkan dalam pengaturan masuk ke
jenjang tanpa menjadi terlalu terjal di beberapa tempat.
I - 96
c.
Untuk jalan-jalan angkut yang panjang, kemiringan 10% adalah
kemiringan maksimum yang masih praktis. Tambang-tambang kecil
banyak yang dirancang dengan kemiringan jalan 10%.
4) Rancangan
a.
vs.
Pada umumnya
ingin dihindari sebisa mungkin, karena
cenderung melambatkan laulintas. Juga ban akan lebih cepat aus
dan perawatan ban akan lebih besar lagi. Faktor lain adalah
keamanan.
b. Tetapi jika ada sisi tambang yang jauh lebih rendah dari dinding
lainnya di sekeliling pit,
di sisi ini sering lebih murah
daripada membuat jalan angkut spiral mengelilingi dinding pit.
c.
Jika
harus dipakai, buatlah cukup panjang sehingga
dibagian sebelah dalam dari tikungan kemiringannya tidak terlalu
terjal.
5)
Pertimbangan Keamanan
a.
Di lokasi jalan tambang dapat dibuat belokan tanjangan darurat
(
) untuk menghentikan truk yang tak terkontrol, bila
geometri pit memungkinkan. Melakukan pengupasan ekstra yang
besar hanya untuk membuat fasilitas ini tidak umum dilakukan.
b. Tanggul pemisah di tengahjalan dapat dibuat beberapa tempat
untuk tujuan ini.
semacam ini murah biayanya.
6) Dampak penggalian untuk membuat jalan
a.
Baik di batuan bijih atau
, material yang diatasnya menjadi
jalan tambang (atau yang harus digali untuk membuat jalan),
volumenya luar biasa besarnya. Dampak ekonomik dari pembuatan
jalan tambang cukup berarti.
b. Sering ada kecenderungan untuk membuat studi kelayakan awal
dengan tahap-tahap penambangan tanpa memperhitungkan jumlah
material untuk membuat jalan angkut. Kesalahan yang diperoleh
biasanya cukup besar. Dampak jalan angkut pada tahap-tahap awal
I - 97
penambangan (yaitu tahap-tahap yang menghasilkan uang untuk
mengembalikan
modal)
biasanya jauh lebih besar
daripada
dampaknya pada rancangan akhir penambangan.
7.4. TAHAPAN TAMBANG (MINING PHASES/PUSHBACK)
1) Definisi, Filosofi, Metodologi
adalah
)
yang
bentuk-bentuk
menunjukkan
penambangan
bagaimana
suatu
(
pit
akan
ditambang, dari titik masuk awal hingga ke bentuk akhir pit.
Nama-nama lain adalah
Tujuan utama dari pentahapan ini adalah untuk membagi seluruh
volume yang ada dalam pit ke dalam unit-unit perencanaan yang
lebih kecil sehingga lebih mudah ditangani.
c.
Dengan demikian, problem perancangan tambang 3-Dimensi yang
amat kompleks ini dapat disederhanakan. Selain itu, elemen waktu
dapat mulai diperhitungkan dalam rancangan ini karena urutan
penambangan tiap-tiap
d.
merupakan pertimbangan penting
ini biasanya dirancang mengikuti urutan penambangan
dengan algoritma
komoditas. Bentuk
untuk berbagai skenario harga
ini tidak akan sama persis sama
dengan geometri yang dihasilkan
operasi seperti lebar
e.
karena kendala
minimum dll.
Tahapan-tahapan penambangan yang dirancang secara baik akan
memberikan akses ke semua daerah kerja, dan menyediakan ruang
kerja yang cukup untuk operasi peralatan yang efisien.
2) Kriteria perancangan
a.
Harus cukup lebar agar peralatan tambang dapat bekerja dengan
baik. Untuk truk dan shovel besar yang ada sekarang, lebar
minimum adalah 10100 meter. Untuk loader dan truk
I - 98
berukuran sedang 60 meter sudah cukup lebar. Jumlah shovel yang
diperkirakan akan bekerja bersama-sama pada sebuah
juga mempengaruhi lebar minimum ini.
b. Tak kurang pentingnya untuk memperlihatkan paling tidak satu
jalan angkut untuk setiap
, untuk memperhitungkan
jumlah material yang terlibat dan memungkinkan akses keluar.
Jalan angkut ini harus menunjukkan pula akses ke seluruh pemuka
kerja.
c.
Perlu diperhatikan bahwa penambahan jalan pada suatu pushback
akan mengurangi lebar daerah kerja (sebanyak lebar jalan) di
bawah lokasi jalan tersebut. Jika beberapa jalan atau
akan dimasukkan ke suatu
, lebar awal di sebelah atas
harus ditambah untuk memberi ruangan ekstra.
d. Perlu diperhatikan pula bahwa tambang kita tidak akan pernah
sama bentuknya dengan rancangan tahap-tahap penambangan
(
). Ini karena dalam kenyatannya, beberapa
akan aktif pada waktu yang sama (dikerjakan secara bersamaan).
3) Penampilan Rancangan
a.
Peta
penampang
horisontal
tampak
atas
memperlihatkan bentuk pit pada akhir tiap tahap. Bila mungkin
tandai setiap perubahan.
b. Peta penampang horisontal yang menunjukkan batas seluruh
pushback pada satu atau dua elevasi jenjang.
c.
Peta penampang vertikal tampak samping (
) yang
menunjukkan geometri seluruh pushback sering berguna pula.
Suatu tabel yang memberikan jumlah ton bijih, kadarnya, jumlah material
total dan nisbah pengupasan untuk setiap
jumlah dan kadar material per jenjang untuk tiap
penjadwalan produksi (Tabel 7.2).
I - 99
(Tabel 7.1). Tabulasi
diperlukan untuk
Tabel 7.1. Tabulasi Material Setiap Tahapan
Untuk Tiap Tahunnya
TABULATION OF ORE TONS PER PHASE PER YEAR
Year
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
TOTAL
Phase 1
4808.
6225.
17483.
9175.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
37691.
Phase 2
0.
5167.
4073.
12418.
2730.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
24388.
Phase 3
0.
0.
0.
0.
17704.
6019.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
23723.
Phase 4
0.
0.
45.
6.
654.
9816.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
10521.
I - 100
Phase 5
0.
0.
0.
0.
513.
5765.
21370.
18100.
7042.
0.
0.
0.
52790.
Phase 6
0.
0.
0.
0.
0.
0.
230.
3501.
14558.
21600.
21600.
7583.
69071.
Phase
TABULATION OF WASTE TONS PER PHASE PER YEAR
Year
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
TOTAL
Phase 1
13069.
8350.
6770.
761.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
28950.
Phase 2
0.
16870.
11660.
9350.
7.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
37887.
Phase 3
0.
0.
0.
0.
1526.
33.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
1559.
Phase 4
0.
0.
6790.
15109.
16275.
4107.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
42281.
Phase 5
0.
0.
0.
0.
7412.
21084.
10488.
1745.
1270.
0.
0.
0.
41999.
Phase 6
0.
0.
0.
0.
0.
0.
14405.
23148.
23622.
17196.
3018.
17.
81406.
Phase
Phase 5
0.
0.
0.
0.
7925.
26849.
31858.
19844.
8312.
0.
0.
0.
94789.
Phase 6
0.
0.
0.
0.
0.
0.
14635.
26649.
38179.
38796.
24618.
7599.
150477.
Phase
TABULATION OF TOTAL TONS PER PHASE PER YEAR
Year
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
TOTAL
Phase 1
17877.
14575.
24253.
9936.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
66641.
Phase 2
0.
22038.
15732.
21768.
2737.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
62275.
Phase 3
0.
0.
0.
0.
19230.
6052.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
25282.
Phase 4
0.
0.
6835.
15115.
16929.
13923.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
52802.
Tabel 7.2. Tabulasi Jumlah dan Kadar Material Per jenjang
Untuk Tiap Tahapan
Year Phase
1
P
P
1
2
1335
0,000
Total
Coppe
r
0,000
0,000
Waste
Ktonne
s
1,051
1320
1,811
0,687
0,242
0,242
4,090
5,901
1.0000
1305
1290
Total
1275
1350
1335
1320
2,997
4,714
9,522
1,324
0
581
1,161
0,683
0,725
0,705
0,801
0,000
0,710
0,622
0,209
0,213
0,217
0,214
0,000
0,234
0,167
0,209
0,213
0,217
0,214
0,000
0,234
0,167
7,918
7,268
20.337
948
331
1,206
2,215
10.915
11.982
29.859
2,272
331
1,787
3,376
1.0000
1.0000
Bench
Ktonnes
Ore
Ktonnes
Cu
Eq
I - 101
Gold
g/t
Total
Ktonne
s
1,061
Bench
Fractio
n
1.0000
0.2166
1.0000
1.0000
1.0000
1305
1290
1275
Total
1,212
1,239
1,161
6,678
0,709
0,797
0,901
0,762
0,202
0,219
0,250
0,213
0,202
0,219
0,250
0,213
3,508
5,448
4,958
18.614
4,720
6,687
6,119
25.292
Example of Bench Average Mining Ratio
Year 1:
Ore Target
Year Phase
Bench
6,678
1275
Ore
Ktonnes
6114
1350
1335
1320
1305
1290
1275
0
581
1161
1212
1239
1403
Waste Target :
18,614
Waste
Ktonnes
4377
Bench
Fraction
x
331
1206
2215
3508
54446
59993
1
1
1
1
1
y
I - 102
Cumulative
Ore
6114
0
581
1742
2954
4193
5596
Cumulative
Waste
4377
331
1537
3752
7260
12708
18701
1.0000
1.0000
0.8275
Ore
: 4193 + 6114x + 1403y = 6678
Waste : 12708 + 4377x + 5993y = 18614
x = 0.2166, y = 0.6273
Berikut ini adalah beberapa contoh pushback untuk suatu tambang
I - 103
Gambar 7.1. Mining Phase 1
(American Gold Resources, 1996)
I - 104
Gambar 7.2. Mining Phase 2
(American Gold Resources, 1996)
I - 105
Gambar 7.3. Mining Phase 3
(American Gold Resources, 1996)
I - 106
Gambar 7.4. Mining Phase 4
(American Gold Resources, 1996)
I - 107
Gambar 7.5. Final Pit
(American Gold Resources, 1996)
I - 108
PEKERJAAN RUMAH 8
Topik : Ramp Design
Buatlah desain jalan (ramp design) dari suatu pit seperti terlihat pada
gambar dibawah ini. Jelaskanlah tahap-tahap pembuatan jalan tersebut
(lihatlah buku Open Pit Mine Planing and Design, Hustrulid & Kutcha,
1995)
Keadaan awal :
I - 109
BAB VIII
WASTE DUMP DAN STOCKPILE
8.1. PENDAHULUAN
1) Suatu
adalah suatu daerah dimana suatu operasi tambang
terbuka dapat membuang material kadar rendah dan/atau material
bukan bijih yang harus digali dari pit untuk memperoleh bijih/material
kadar tinggi.
2)
digunakan untuk menyimpan material yang akan digunakan
pada saat yang akan datang.
a.
Bijih kadar rendah yang dapat diproses pada saat yang akan
datang.
b. Tanah penutup atau tanah pucuk yang dapat digunakan untuk
reklamasi.
3) Rancangan
sangat
keekonomian. Lokasi dan bentuk dari
penting
untuk
perhitungan
dan
akan
berpengaruh terhadap jumlah gilir truk yang diperlukan, demikian pula
biaya operasi dan jumlah truk dalam satu armada yang diperlukan.
4) Daerah yang diperlukan untuk
kali dari daerah penambangan (
a.
pada umumnya luasnya 2-3
).
Material yang telah dibongkar (loose material) berkembang
30-45 %
dibandingkan dengan material in situ.
b. Sudut kemiringan untuk suatu dump umumnya lebih landai dari pit.
c.
Material pada umumnya tidak dapat ditumpuk setinggi kedalaman
dari pit.
I - 110
5) Berdasarkan alasan politik, banyak perusahaan menjauhi nama
. Istilah yang disukai adalah
dan lain-lain.
8.2. JENIS DUMP
1)
a.
Dapat diterapkan di daerah ayng mempunyai topografi curam. Dumps
dibangun pada lereng.
b. Elevasi puncak (
) ditetapkan pada awal pembuatan
dump. Truk membawa muatannya ke elevasi ini dan membuang
muatannya ke lembah di bawahnya. Elevasi crest ini dipertahankan
sepanjang umur tambang.
c.
dibangun pada
d. Membangun suatu dump ke arah atas (dalam beberapa
) pada
daerah yang topografinya curam biayanya mahal. Dumping akan
mulai pada kaki (
) dari
final yang berarti pengangkutan
truk yang panjang pada awal proyek.
e.
Diperlukan usaha yang cukup besar untuk pemadatan yang
memenuhi persyaratan reklamasi.
2)
/Dump yang dibangun ke atas (dalam lift)
a.
Dapat diterapkan jika topografi tidak begitu curam pada lokasi
dump.
b. Dump dibangun dari bawah ke atas. Dalam lift biasanya 20-40 m
tingginya.
c.
Ada untung ruginya dari segi ekonomi antara jarak horizontal untuk
perluasan lift terhadap kapan memulai suatu lift baru.
d. Lift-lift berikutnya terletak lebih ke belakang sehingga sudut lereng
keseluruhan (
) mendekati yang dibutuhkan untuk
reklamasi.
I - 111
8.3. PEMILIHAN LOKASI
1) Tergantung pada beberapa faktor:
a.
Lokasi dan ukuran pit sebagai fungsi waktu.
b. Topografi.
c.
Volume
sebagai fungsi waktu dan sumber.
d. Batas KP/CoW.
e.
Jalur penirisan yang ada.
f.
Persyaratan reklamasi.
g. Kondisi pondasi.
h. Peralatan penanganan material.
2) Selama rancangan detail dapat dipertimbangkan beberapa lokasi yang
berbeda untuk perbandingan faktor ekonomik.
8.4. PARAMETER RANCANGAN
1) Angle of Repose
a.
Batuan kering run of mine umumnya mempunyai angle of repose antara
3437 derajat.
b. Sudut ini dipengaruhi oleh tinggi dump, ketidakteraturan bongkah
batuan, kecepatan dumping.
c.
Dapat dibuat pengukuran pada suatu lereng (bongkah-bongkah
alami/talus) yang ada di daerah tersebut.
2) Faktor Pengembangan (
a.
Pada batuan keras, faktor pengembangan pada umumnya antara 30
dan 45%. Satu meter kubik in situ akan mengembang menjadi
1,31,45 meter kubik material lepas
b. Pengukuran bobot isi
).
dapat dilakukan.
I - 112
c.
Dengan waktu, material dapat dikompakkan dari 515%. Material
yang dibuang dengan truk akan menjadi lebih kompak daripada
material yang dibuang oleh ban berjalan (
).
3) Tinggi Lift/Jarak Setback
a.
Hanya berlaku untuk
yang dibangun ke atas (dengan lift).
b. Tinggi lift umumnya adalah 15-40 meter.
c.
Rancangan
jarak
sedemikian
rupa
sehingga
sudut
kemiringan keseluruhan rata-rata (
adalah 2H:1V (27 derajat) sampai 2.5H:1V (22 derajat) untuk
memudahkan reklamasi.
4) Jarak Dari Pit Limit
a.
Jarak minimum adalah ruangan yang cukup untuk suatu jalan
antara pit limit dan kaki
). Kestabilan pit akibat
dump harus diperhitungkan.
b. Jarak yang sama atau lebih besar dari kedalaman pit akan
mengurangi resiko yang berhubungan dengan kestabilan lereng pit.
5) Makalah Bonhet/Kunze (
Bab 5.6) merekomendasikan
sedikit tanjakan ke arah
dengan alasan penirisan dan
keamanan.
a.
Limpasan air hujan menjauhi
b. Truk harus menggunakan tenaga mesin untuk menuju ke
dan
bukan meluncur bebas. Juga akan mengurangi resiko alat/
kendaraan yang diparkir meluncur jatuh dari puncak
(
).
8.5. PERHITUNGAN VOLUME
1) Penampang Horizontal
a.
Ukur luas daerah pada kaki (
Rata-ratanya adalah luas
) dan puncak (
.
I - 113
) dari setiap
b. Tinggi
c.
memberikan dimensi ke tiga dan volume untuk
Jumlahkan volume untuk tiap
untuk memperoleh volume total
.
2) Penampang Vertikal
a.
Buat beberapa penampang melintang dengan jarak yang sama melalui
dump.
b. Ukur luas pada tiap penampang.
c.
Luas ini dianggap sama sehingga separuh jalan ke penampang
berikutnya pada kedua sisi untuk memperoleh dimensi ke tiga dan
volume untuk setiap penampang.
d. Jumlahkan volume tiap-tiap penampang untuk memperoleh volume
total
3) Rancangan
a.
.
adalah dengan cara coba-coba (
Gambar rancangan
secara coba-coba dan hitung volumenya.
Bandingkan dengan volume
yang diperlukan.
b. Sesuaikan rancangan dan ukur kembali sampai volume yang
diinginkan dicapai. Umumnya 23 kali dicoba sudah cukup.
Perbedaan antara ukuran yang diperlukan dan rancangan sampai
5% umumnya dapat diterima.
8.6. REKLAMASI
1) Untuk memenuhi syarat lingkungan pada umumnya
akan
dirancang dengan kemiringan 2H:1V atau 2.5H:1V.
a.
Stabilitas jangka panjang.
b. Memudahkan penanaman kembali (revegetasi).
2) Mungkin harus ditimbun dengan
atau
3) Mungkin harus memelihara saluran air dan kolam pengendapan
sedimen.
4) Harus memantau air dari
(masalah air asam tambang, dll).
I - 114
8.7. KOMENTAR LAIN
1) Biasanya satu
a.
ditugasi pada
Menjaga dump tetap bersih dan memelihara kemiringan.
b. Sering truk menimbun dekat dengan
material melalui
c.
yang aktif.
dan
mendorong
Membebaskan truk dan peralatan lain yang terperangkap.
2)
yang besar memerlukan perhitungan rekayasa geoteknik yang
cukup.
a.
Penentuan kestabilan pondasi.
b. Kecepatan maksimum dari kemajuan dump.
c.
Pengaruh air. Bagaimana membuang material ke jalur penirisan.
d. Masalah gempa bumi pada daerah seismik yang aktif.
3) Jika rencana tambang mengijinkan, penimbunan kembali ke daerah
yang sudah habis ditambang banyak memberi keuntungan (dilakukan
misalnya di Gn. Muro).
a.
Umumnya pengangkutan jarak pendek.
b. Mengurangi dampak visual dari aktivitas tambang.
4) Menjadwalkan penempatan material pada
produksi umum dilakukan.
I - 115
sesuai penjadwalan
BAB IX
EVALUASI FINANSIAL
9.1. PENDAHULUAN
1) Tujuan dari suatu usaha bisnis dalam ekonomi pasar bebas adalah
memberikan pengembalian finansial (
) kepada para
pemilk usaha, konsisten dengan tujuan dari perusahaan. Perusahaan itu
sendiri bisa berupa perusahaan publik atau milik individu.
2) Tujuan
evaluasi
finansial
adalah
untuk
menentukan
apakah
pengembalian finansial yang cukup dapat diperoleh dari suatu proyek.
Salah satu hal yang mungkin dapat diperoleh dari suatu proyek. Salah
satu hal yang mungkin ingin dievaluasi adalah bagaimana sebaiknya
mengalokasikan dana perusahaan di beberapa proyek yang saling
bersaing untuk mendapatkan dana.
3) Aspek-aspek evaluasi finansial spesifik untuk pertambangan :
a.
Intensitas kapital
b. Masa pra-produksi yang panjang
c.
Resiko besar
I - 116
4) Sumberdaya tak terbarukanpenghasilan diperoleh dengan mengambil/
menjual aset (cadangan).
9.2.
NILAI WAKTU DARI UANG
1) Dalam ekonomi pasar bebas, nilai waktu dari uang terletak di jantung
dari semua transaksi financial.
2) Bunga (
a.
) adalah sewa yang dibayar untuk pemakaian uang.
FV = PV (1+i)n
PV =
b. PV = FV / (1+i)n
FV =
9.3. MENENTUKAN TINGKAT BUNGA (DISCOUNT RATE)
1) Walaupun telah ada kesepakatan tentang perlunya konsep nilai waktu
dari uang, pemilihan atau penentuan tingkat bunga yang pantas sering
menjadi bahan diskusi dan perdebatan.
2) Komponen utama dari
a.
b.
c.
i.
Penggantian peralatan di tambang yang sedang beroperasi
ii.
Program ekspansi di tambang yang sedang beroperasi
iii. Pengembangan tambang baru, komoditas sama, di negara yang
sama
iv. Pengembangan tambang baru, komoditas lain dan/atau di
negara lain.
d.
Jika digunakan evaluasi
, komponen inflasi harus
dikeluarkan dari
9.4. PERHITUNGAN INFLASI
I - 117
1) Tiga cara mendasar untuk memasukkan inflasi dalam statement aliran
kas :
a.
, tanpa perubahan untuk inflasi :
i.
Semua ongkos/biaya dan penghasilan dihitung untuk waktu itu
ii.
Ongkos dan penghasilan dianggap akan terinflasi pada tingkat
yang sama
iii. Ongkos kapital dan pajak biasanya terlalu kecil dari seharusnya
b. Semua variabel diinflasikan ke awal proyek, setelah itu tetap
konstan.
i.
Digunakan
oleh
beberapa
institusi
keuangan
karena
memperhitungkan inflasi untuk ongkos kapital tersebut.
ii.
c.
Pajak masih terlalu kecil dari yang seharusnya.
Semua variabel diinflasikan selama jangka waktu proyek.
i.
Dalam teorinya paling realistik
ii.
Harus mengasumsikan tingkat inflasi per tahun untuk tiap
variabel.
2) Tanpa memperhitungkan inflasi akan membuat pajak terlalu kecil.
Depresiasi
dan deflesi
dihitung
pada awal proyek
yang tidak
terpengaruh oleh inflasi. Pengaruh netto dari inflasi ialah mengurangi
kredit pajak dari keduanya.
9.5. UKURAN KINERJA
1)
2)
3)
9.6. ANALISIS SENSITIVITAS
I - 118
1) Problem utama dengan analisis finansial ialah mencoba memprediksikan
hasil dari banyak parameter.
2) Dalam analisis sensitivitas tiap variabel yang penting untuk evaluasi
(kadar
bijih, perolehan,
ongkos kapital,
ongkos operasi, harga
komoditas) diubah-ubah untuk menentukan pengaruhnya terhadap
ukuran kinerja.
9.7. ANALISIS RESIKO
1) Mirip dengan analisis sensitivitas, hanya di sini suatu distribusi
probabilitas dibuat untuk parameter-parameter yang penting.
2) Simulasi Monte Carlo dipakai untuk membuat suatu distribusi ukuran
kinerja (lihat artikel 4.3
dalam
Berikut ini adalah contoh perhitungan evaluasi finansial dari suatu tambang.
Contoh Soal :
Suatu konsultan tambang diminta untuk mengkaji kelayakan suatu endapan
porfiri
. Berdasarkan hasil studi kelayakan awal (
) telah diperoleh data-data sebagai berikut :
A. Data produksi
Dengan mempertimbangkan tingkat produksi dan topografi daerah
penambangan maka diputuskan untuk melakukan penambangan secara
tambang terbuka, dengan data-data :
-
: 3500 Kton/tahun
-
: 0.0207 oz/tahun
: 0.6 %
- perbandingan
: 5.5 (tahun 1-3); 4.0 (tahun 4); dan
3.0 (tahun 5)
- umur
: 5 tahun
Catatan: Pada tahun ke-0 hanya memproduksi waste sebesar 15.000 Ktons
I - 119
B. Data Pengolahan
Dengan mempertimbangkan karakteristik mineral yang ada maka diputuskan
bahwa metoda pengolahan yang digunakan adalah dengan metoda flotasi,
dengan data-data :
-
: 80%
-
: 92%
C. Data Ekonomi
Dengan
mempertimbangkan
pasar
logam,
teknologi
penambangan dan pengolahan serta kondisi makro ekonomi maka data-data
dasar yang digunakan untuk analisis ekonomi adalah :
-
: US$ 0.55 per tonne
: US$ 1.8 per tonne
: US$ 0.5 per tonne
: US$ 1.0 per pound
: US$ 400 per troy ounce
: 96%
: 98%
: US$ 0.345
: US$ 20.000.000
Akusisi lahan
: US$ 10.000.000
: 15%
: 1/(1+i)n
Ekskalasi biaya
: 1%
Ekskalasi pendapatan
: 1%
Pajak perusahaan
: 20%
Royalti
: 2% dari
I - 120
Tugas kita sebagai
yang bekerja pada konsultan tersebut
adalah menghitung kelayakan penambangan dengan menyusun langkah
perhitungan sebagai berikut :
1) Menghitung (untuk tahun 1) :
a.
b.
c.
2) Menghitung
(NPV) selama umur tambang setelah
pajak.
Berdasarkan hasil perhitungan yang kita lakukan tentukan apakah skenario
penambangan yang telah disusun layak untuk diterapkan atau tidak ?
Catatan : 1 ton = 2000 pound ; 1 ounce = 0.9114 troy ounce
Jawaban :
Tabel 9.1. Data Ekonomik Awal Untuk Cebakan Bijih (dalam US$ )
Mining cost per tonne Total material
Milling cost per tonne Ore
General & Administration cost per tonne ore
Mill recovery of gold
Mill recovery of copper
SRF per pound payable copper
Smelter payable (Recovery) of copper
Smelter payable (Recovery) of gold
Copper price per pound
Gold price per troy ounce (per gram)
Breakeven Cut off Grade for copper
Internal Cut off Grade for Copper
Copper Equivalent
US$ 0.55
US$ 1.8
US$ 0.5
80%
92%
US$ 0.345
96%
98%
US$ 1.0
US$ 400 ($12.86)
?
?
?
Perhitungan :
a.
BECOG
Penghasilan = Biaya
Price x Gradex Mill Rec x Smelter Rec x 20 = Cost (Mine+Mill+G&A) + SRF
x Grade x Mill Rec x Smelter Rec x 20
(Price-SRF) x Grade x Mill Rec x Smel. Rec x 20 = Cost (mine + Mill + G&A)
I - 121
Cost Cost (mine + Mill + G&A)
BECOG =
(Price-SRF) x Mill Rec x Smelter Rec x 20
($0.55 + $1.80 + $0.50)
=
($1.00 -$0.345) x 0.92 x 0.96 x 20
=
0.246 %
Catatan :
Angka 20 adalah faktor konversi dari % ke pound (dengan satuan pound %)
b. ICOG
Rumusnya sama dengan BECOG namun ongkos penambangannya tidak ikut
diperhitungkan.
Cost (Mill + G&A)
ICOG
=
(Price-SRF) x Mill Rec x Smelter Rec x 20
( $1.80 + $0.50)
=
($1.00 -$0.345) x 0.92 x 0.96 x 20
=
c.
0.20 %
Tabel 9.2. Data Pengolahan Bijih
Price
Mill Rec
Smelter Rec
SRF
Copper
$ 1.00/lb
98%
96%
$0.345
Gold
$ 12.86/gr
80%
98%
-
1) Hitung nilai NSR (Net Smelter Return) dari 1 ton bijih dengan kadar
1%
Cu.
($1.00/lb - $0.345/lb) x (1%) x 0.92 x 0.96 x 20 lb/% = $ 11.57
2) Hitung nilai NSR (Net Smelter Return) dari 1 ton bijih dengan kadar
gr/ton Au.
($ 12.86/gr) x 1 gr x (0.80) x (0.98) = $ 10.08
I - 122
Faktor Eq =
Faktor Eq =
= 0.871
3)
= total Cu + 0.871 x
: 15%
: 400 US$/tr oz
: 1 US$/lb
: 80%
: 92%
Present Value Factors at 15 % interest
Year
Factor
0
1.000
Year
Waste : ore
1
0.870
0
2
0.756
1
5.5
3
0.658
4
0.572
2
5.5
3
5.5
5
0.497
4
4
5
3
Tabel 9.3. Hasil Perhitungan NPV
Economic Parameter
Ore (ktons)
Year
PP
3500
3500
3500
3500
Total
3500
17500
15000 19250 19250 19250 14000 10500
97250
Total (ktons)
15000 22750 22750 22750 17500 14000
114750
Grade Gold (ktons)
0.0207 0.0207 0.0207 0.0207 0.0207 0.0207
0.0207
0 72.45 72.45 72.45 72.45 72.45
362.25
Waste (ktons)
Recovereed Gold (koz)
Grade Copper (%)
0.6
0.6
0.6
0.6
0.6
0.6
0.6
Recovered Copper (ktons)
21
21
21
21
21
105
Gross Revenue ($ x 1000)
0 64076 64076 64076 64076 64076
320381
Mining Cost per total ton
0.55
0.55
0.55
0.55
0.55
0.55
Total Mining Cost ($ x 1000)
8250 12513 12513 12513
9625
7700
63113
I - 123
0.55
Processing Cost Per ton ore
1.8
1.8
1.8
1.8
1.8
1.8
1.8
Total Processing Cost
6300
6300
6300
6300
6300
32500
G&A Cost per ton ore
0.5
0.5
0.5
0.5
0.5
0.5
0.5
1750
1750
1750
1750
1750
8750
Total G&A Cost per ton ore
Plant and Infrastructure Capital
20000
Akuisisi Lahan
10000
Royalti
Taxable Income ($ x 1000)
10000
0 1281.5 1281.5 1281.5 1281.5 1281.5
6407.6
38250 42232 42232 42232 45120 47045
180610
0 8446.4 8446.4 8446.4 9023.9 9408.9
43772
38250 33786 33786 33786 36096 37636
136838
Tax (20%)
Cash flow
20000
PEKERJAAN RUMAH 9
Proyek 1
Topik : Perhitungan NPV Proyek
Hitung pre-tax cash flow untuk tiap tahun dengan jadwal produksi dan
parameter ekonomi sebagi berikut. Juga hitung NPV untuk proyek
menggunakan tingkat bunga 15%.
Jadwal Produksi Penambangan
Tahun
Kton
Emas
Emas (oz)
Kton
Ktol total
bijih
(oz/t)
PP
0,000
11.000
11.000
2.700
0,072
199.400
14.300
17.000
2.700
0,074
199.800
14.300
17.000
2.700
0,068
183.600
14.300
17.000
2.700
0,060
162.000
13.683
16.383
2.700
0,063
170.100
4.011
6.711
1.531
0,059
90.300
2.098
3.629
TOTAL
15.031
0,067
1.005.200
73.692
88.723
waste
I - 124
Parameter Ekonomi
Biaya penambangan per total ton
$ 0,85
Biaya pengolahan per ton bijih
$ 3,10
Biaya umum & administrasi per tahun
$ 1.377
(termasuk PP) ($x1000)
Perolehan pengolahan
80 %
Harga emas per troy oz
$ 400
Modal pabrik dan infrastruktur
$ 30.000
($x1000)
Tingkat suku bunga
15 %
Buat asumsi yang layak untuk modal awal tambang. Modal penggantian
pealatan tidak diperhitungkan.
Present Value Factor pada tingkat suku bunga 15 %. Faktor = 1/(1+i)n.
Tahun
Faktor
1,00
0,87
0,75
0,65
0,57
0,49
0,432
1. Hitunglah NPV proyek dengan data-data Ekonomi di atas.
2. Dikerjakan dalam bentuk tabel sebagai berikut.
3.
Paramete
r
Ekonomik
PP
I - 125
Total
NPV pada
15%
BAB XI
ONGKOS OPERASI TAMBANG
11.1. KOMPONEN UTAMA
1) Tenaga Kerja
2) Suku Cadang dan Bahan Habis
a.
Penggantian karena rusak atau aus
b.
Bahan bakar
c.
Bahan peledak dan aksesorinya
d.
Oli, pelumas, filter
I - 126
11.2.
ONGKOS OPERASI BIASA DINYATAKAN UNTUK TIAP UNIT
OPERASI
1) Pemboran
a.
Ongkos suku cadang dan bahan habis yang terkait dengan operasi dan
perawatan alat bor lubang tembak. Meliputi ongkos mata bor, batang bor
dan aksesori lainnya.
b.
Ongkos tenaga kerja (operator alat bor dan asistennya serta sebagian dari
personel perawatan alat).
2) Peledakan
a.
Ongkos suku cadang dan bahan habis yang terkait dengan operasi
peledakan.
b.
Ongkos tenaga kerja (juru ledak dan asistennya).
3) Pemuatan
a.
Ongkos suku cadang dan bahan habis yang terkait dengan operasi dan
perawatan alat muat (shovel, loader).
b.
Ongkos tenaga kerja (operator shovel, loader dan sebagian dari personel
perawatan alat).
4) Pengangkutan
a.
Ongkos suku cadang dan bahan habis yang terkait dengan operasi dan
perawatan alat angkut (truk).
b.
Ongkos tenaga kerja (operator truk dan sebagian dari personel perawatan
alat).
5) Kegiatan Pendukung Utama
a.
Ongkos suku cadang dan bahan habis yang terkait dengan operasi dan
perawatan alat pendukung utama (bulldozer, grader, truk air)
b.
Ongkos tenaga kerja alat-alat tersebut (operator dan sebagian dari
personel perawatan alat).
6) Kegiatan Penunjang Tambang
I - 127
a.
Ongkos suku cadang dan bahan habis yang terkait dengan operasi dan
perawatan alat penunjang kegiatan tambang (alat bor kecil, truk bahan
peledak, alat gali kecil, dll juga suplai untuk bagian engineering dan
operasi). Sebagai patokan (rule of thumb) dapat digunakan angka US$ 0.
01 per total ton.
b.
Ongkos tenaga kerja personel tambang yang terkait (juru pompa, kru
servis dan tenaga kerja umum).
7) Perawatan Umum
a.
Ongkos suku cadang dan bahan habis yang terkait dengan pemeliharaan
alat pendukung perawatan tambang (truk bahan bakar, truk pelumas,
crane, dll juga suplai untuk bagian perawatan, bengkel dan gudang).
Sebagai patokan (rule of thumb) dapat digunakan angka US$ 0. 01 per
total ton.
b.
Ongkos tenaga kerja personel perawatan seperti teknisi ban, kru bahan
bakar/pelumas dan tenaga kerja umum.
c.
Termasuk pula biaya servis oleh kontraktor atau agen. Dapat
diperkirakan sebagai persentase dari ongkos tenaga kerja perawatan total.
8) General dan Administrative (G & A)
Gaji pegawai di bidang-bidang umum dan administrasi (biasanya disebut
dengan biaya upah overhead) ditambah dengan tunjangan-tunjangan lainnya.
11.3. PARAMETER PENTING DALAM PENAKSIRAN ONGKOS/BIAYA
1) Tingkat Upah Pekerja
a.
Perlu data tentang tingkat upah yang berlaku untuk keahlian ekivalen
yang diperlukan oleh operasi penambangan.
I - 128
b.
Tambahan tunjangan-tunjangan lain di luar gaji besarnya tergantung pada
peraturan yang berlaku. Di Amerika Serikat berkisar sekitar 35%; di
beberapa negara lain dapat lebih tinggi.
c.
Tingkat upah ini dikalikan dengan jumlah personel yang dihitung
sebelumnya dalam bab Kebutuhan Tenaga Kerja.
2) Harga diesel (untuk bahan bakar dan campuran bahan peledak ANFO) hingga
ke tambang.
3) Biaya listrik (untuk peralatan shovel dan bor listrik).
4) Harga bahan peledak sampai ke tambang.
5) Jumlah gilir yang dijadwalkan untuk tiap jenis alat (dari Perhitungan
Kebutuhan Peralatan Tambang).
11.4. ONGKOS OPERASI ALAT PER GILIR
Berdasarkan pada biaya operasi per jam dan jumlah aktual jam pemakaian alat per
gilir.
11.5. ONGKOS PELEDAKAN
Ongkos bahan peledak dan aksesorinya yang dibutuhkan untuk suatu pola
peledakan tipikal, dibagi dengan jumlah ton batuan yang dihasilkan.
1) Alternatif lain untuk memperkirakan biaya aksesori peledakan adalah dengan
menggunakan persentase dari ongkos bahan peledak. Persentase untuk suplai
aksesori bahan peledak ini berkisar dari 2-3% untuk tinggi jenjang dan spasi
(jarak antar lubang tembak) yang besar, hingga 33% untuk jenjang dan spasi
kecil.
2) Suplai aksesori lainnya ini meliputi primer, b ooster, detonating cord, dll.
I - 129
Contoh ongkos operasi tambang :
Tabel 11.1. Ongkos Operasi Tambang Selama 25 Tahun
BAB XII
PERENCANAAN TAMBANG BATUBARA
12.1. PENAKSIRAN CADANGAN
I - 130
Penaksiran cadangan merupakan salah satu tugas terpenting dan berat
tanggung jawabnya dalam mengevaluasi suatu proyek pertambangan
karena keputusan-keputusan teknis amat tergantung padanya. Model
cadangan yang dibuat adalah pendekatan dari keadaan cadangan nyata
berdasarkan
data/informasi
yang
tersedia
dan
masih
mengandung
ketidakpastian.
Ada beberapa hal yang mendasari sehingga penaksiran cadangan dianggap
penting, antara lain :
1) Penaksiran cadangan memberikan taksiran dari kuantitas (tonase) dan
kualitas (kadar dan lain-lain) dari cadangan.
2) Penaksiran cadangan memberikan perkiraan bentuk tiga dimensi dari
cadangan serta distribusi ruang (
) dari nilainya. Hal ini penting
untuk menentukan urutan atau tahapan penambangan, yang pada
gilirannya akan mempengaruhi pemilihan peralatan dan
(NPV) dari tambang.
3) Jumlah cadangan menentukan umur tambang. Hal ini penting dalam
perancangan pabrik pengolahan dan kebutuhan infrastruktur lainnya.
4) Batas-batas kegiatan penambangan (
) dibuat berdasarkan
taksiran cadangan. Faktor ini harus diperhatikan dalam menentukan
lokasi pembuangan tanah atau batuan penutup dan
dan
), pabrik pengolahan bijih, bengkel dan fasilitas
lainnya.
Syarat-syarat untuk dapat melaksanakan penaksiran cadangan suatu daerah
penambangan, antara lain :
1) Suatu taksiran cadangan harus mencerminkan kondisi geologis dan
karakter atau sifat dari mineralisasi.
2) Model cadangan yang akan digunakan untuk perancangan tambang
harus konsisten dengan metode penambangan dan teknik perencanaan
tambang yang akan diterapkan.
I - 131
3) Taksiran yang baik harus didasarkan pada data faktual yang diolah atau
diperlakukan secara objektif.
4) Metode penaksiran yang digunakan harus memberikan hasil yang dapat
diuji ulang atau diverifikasi.
Tahap pertama setelah penaksiran cadangan selesai dilakukan adalah
memeriksa atau mengecek taksiran kadar blok (unit penambangan terkecil).
Hal ini dilakukan dengan menggunakan data pemboran (komposit data
assay) yang ada disekitarnya. Setelah penambangan dimulai, taksiran kadar
dari model cadangan harus dicek ulang dengan kadar dan tonase hasil
penambangan yang sesungguhnya.
12.2. METODE PENAKSIRAN CADANGAN
Prinsip utama dalam penaksiran cadangan adalah bagaimana mendapatkan
suatu nilai pengganti terbaik dari sejumlah perconto yang diambil dari suatu
badan mineral. Secara lebih spesifik kita ingin menaksir kadar pada suatu lokasi
dimana kita tidak memiliki data dengan menggunakan sejumlah perconto yang
letaknya dekat dengan lokasi tersebut.
Ada berbagai metode untuk menghitung cadangan sesuai dengan kondisi
geologi
dan
mineralogi
endapan.
Berbagai
metode
tersebut
telah
dikembangkan dari metode konvensional (klasik) yang manual sampai
metode geostatistik dengan komputer. Metode geostatistik secara bertahap
telah menggantikan penggunaan metode konvensional. Metode geostatistik
penjelasan secara rinci tidak akan dibahas dalam kesempatan ini.
Untuk memilih salah satu di antara metode itu diperlukan beberapa
pertimbangan,
yaitu
analisis
geologi
cadangan, tujuan perhitungan
cadangan, sistem penambangan dan prinsip-prinsip dari interpretasi dan
eksplorasi yang dipakai. Metode tertentu lebih sesuai dipakai untuk endapan
dengan bentuk geometri dan distribusi kadar yang tertentu pula. Endapan
dengan bentuk geometri kompleks dan distribusi kadar yang tinggi akan
lebih cocok bila dihitung dengan Metode Krigging. Untuk endapan dengan
I - 132
bentuk geometri sederhana dengan distribusi kadar atau koefisien variasi
rendah akan lebih efektif dihitung dengan metode penampang yang
sederhana.
Metode-metode konvensional yang digunakan untuk perhitungan cadangan
adalah sebagai berikut :
1)
Menurut G. Popov :
Metode rata-rata faktor dan luas
a. Metode analog
b.
Metode blok-blok geologi
Metode blok-blok penambangan
a. Blok terbuka pada empat sisi pekerjaan bawah tanah
b. Blok terbuka pada tiga sisi pekerjaan bawah tanah
c. Blok terbuka pada dua sisi pekerjaan bawah tanah
d. Blok terbuka pada satu level dan perpotongan pada kedalaman
pemboran
Metode cross-section
a. Metode standar
b. Metode
c. Metode
Metode Analitik
a. Metode
(segitiga)
b. Metode poligon
1)
Penyebaran lubang bor tidak teratur
2)
Penyebaran lubang bor teratur
i. Jaringan kerja bujur sangkar
ii. Grid papan catur
2)
Menurut Park adalah :
I - 133
Regular
a.
b.
c.
Irregular
a.
b.
c.
Berikut ini uraian mengenai beberapa metoda yang biasa
diaplikasikan :
1) Metode Penampang Melintang
Penampang melintang disusun dari kombinasi antara peta garis singkapan
(
) batubara dengan data pemboran (log bor). Penampang melintang per
seam disusun dengan melakukan interpolasi antar data lapisan (
) pada
setiap titik bor yang berdekatan. Garis penampang melintang sebaiknya selalu
diusahakan tegak lurus jurus garis singkapan batubara.
Penampang seam berguna untuk memudahkan perhitungan sumberdaya
sekaligus cadangan batubara salah satunya dengan menggunakan rumus
. Data tersebut juga dapat digunakan untuk menghitung cadangan
tertambang dengan memasukkan asumsi sudut lereng ke dalamnya.
Cadangan dihitung berdasarkan luas daerah batas seam pada penampang yang
bersebelahan. Volume cadangan yang dihitung adalah volume antara dua
penampang yang bersebelahan. Perhitungan volume dilakukan menggunakan
rumus
.
V = L /2 (S1 + S2)
keterangan :
V = Volume daerah yang ditaksir (m3 )
L = Jarak antar Penampang (m)
S = Luas daerah penampang batubara pertama dan kedua (ton/m3 )
Selain menggunakan rumus mean area, perhitungan ini juga dapat dilakukan
menggunakan rumus kerucut terpancung, rumus prismoida dan rumus obelisk.
I - 134
Faktor tonase biasanya diperoleh untuk masing-masing material secara
.
Kemudian tonase untuk masing-masing penampang dijumlahkan untuk
memberikan gambaran total tonase cadangan batubara. Perkiraan akhir untuk
kualitas batubara diperoleh dengan menghitung nilai rata-rata tertimbang
(
untuk masing-masing seam atau area perhitungan.
2) Metode Penampang Horizontal
Walaupun metode penampang vertikal telah banyak digunakan untuk
penaksiran cadangan bijih pada masa lalu, sekarang metode ini telah banyak
digantikan oleh teknik-teknik berdasar pada penggunaan penampang
horizontal.
Metode penampang horizontal pada dasarnya melakukan perhitungan volume
berdasarkan luas daerah juga. Nilai-nilai elevasi yang diperoleh dari data
pemboran dikorelasikan secara horizontal membentuk permukaan lapisan
menggunakan prinsip triangulasi atau daerah pengaruh. Kemudian permukaan
ini dihitung luasnya, dan luas permukaannya dikalikan dengan rata-rata
ketebalan lapisan untuk memperoleh volume seam yang diinginkan.
3) Metode Triangular
Metode triangular adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk
menghitung cadangan batubara. Di dalam metode triangular, masing-masing
titik batas material pada lubang bor dijadikan ujung sebuah segitiga sehingga
akan dihasilkan suatu permukaan yang terdiri dari gabungan segitiga-segitiga
dan dihasilkan seam berupa prisma-prisma segitiga yang teridiri dari dua buah
segitiga yang sejajar dengan jarak vertikal sebesar ketebalan lapisan. Jika
prisma segitiga yang terbentuk memiliki ketebalan yang tetap, maka volumenya
akan sama dengan luas daerah dikalikan dengan ketebalan, dan untuk
memperoleh tonnase, maka dikenakanlah faktor tonase yang sesuai.
4) Metode Poligon
Metode poligon merupakan metode penaksiran yang konvensional. Metode ini
umum diterapkan pada endapan-endapan yang relatif homogen dan
mempunyai geometri sederhana.
Kadar pada suatu luasan di dalam poligon ditaksir dengan nilai conto yang
berada ditengah-tengah poligon sehingga metode ini sering disebut metode
I - 135
poligon daerah pengaruh (
Daerah pengaruh dibuat dengan
membagi dua jarak antara dua titik sampel dengan satu garis sumbu. Poligon
dibangun dari titik-titik pada garis hubung dengan jarak batas terhadap pusat
poligon yang selalu sama dengan jarak batas pusat poligon disebelahnya. Di
dalam poligon, kadar diasumsikan konstan dan sama dengan kadar pada lubang
bor di dalamnya. Dalam kerangka model blok, dikenal jenis penaksiran poligon
dengan jarak titik terdekat
yaitu nilai hasil penaksiran
hanya dipengaruhi oleh nilai sampel yang terdekat.
5) Menurut U.S. Geological Survey, 1980
Perhitungan sumberdaya batubara dilakukan berdasarkan berat batubara per
unit volume, luas daerah yang melingkupi sumberdaya yang akan dihitung, dan
rata-rata ketebalan seam.
Metode
ini
dianggap
sesuai
untuk
diterapkan
dalam
perhitungan
sumberdaya batubara yang berbentuk tabular dengan ketebalan dan
kemiringan yang relatif konsisten. Prosedur perhitungan dalam sistem USGS
adalah dengan membuat lingkaran-lingkaran (setengah lingkaran) pada
setiap titik informasi endapan batubara, yaitu singkapan batubara dan lokasi
pemboran.
Untuk batubara dengan kemiringan lapisan kurang dari 30 derajat, daerah
dalam radius lingkaran 0-400 m adalah untuk perhitungan sumberdaya terukur
dan daerah radius 400-1200 m adalah untuk perhitungan sumberdaya terunjuk.
Sedangkan untuk batubara dengan kemiringan lebih dari 30 derajat, radius
lingkaran-lingkaran dicari harga proyeksinya ke permukaan terlebih dahulu.
Tonase batubara diperkirakan dengan rumus sebagai berikut :
A x B x C = tonase batubara
Keterangan :
A
= rata-rata ketebalan seam (m)
= berat batubara per unit volume yang sesuai (ton/m3 )
= luas daerah dasar batubara (m2 )
I - 136
6) Model Gridded Seam (Model Blok stratigrafi)
Dasar aplikasi teknik-teknik komputer untuk penaksiran tonase dan kadar
adalah membagi-bagi cebakan dan memvisualisasikan cebakan sebagai
kumpulan blok-blok, kemudian blok-blok inilah yang akan diamati untuk
memperkirakan tonase dan kadar. Untuk pemodelan batubara dan
cebakan-cebakan berlapis yang memiliki penyebaran lateral biasanya digunakan
model
. Secara lateral endapan batubara dan daerah sekitarnya
dibagi menjadi sel-sel yang teratur, dengan lebar dan panjang tertentu. Adapun
dimensi vertikalnya tidak dikaitkan dengan tinggi jenjang tertentu, melainkan
dengan unit stratigrafi dari cebakan yang bersangkutan. Permodelan dilakukan
dalam bentuk puncak, dasar, dan ketebalan dari unit stratigrafi. Kadar dari
berbagai bahan galian atau variabel dimodelkan untuk setiap lapisan.
Dalam
melakukan perhitungan
cadangan, parameter-parameter yang
penting adalah :
a.
Ketebalan dan luas
b.
Kadar dari bijih
c.
Berat jenis bijih
12.3. KONSEP PENAMBANGAN
Dalam merencanakan suatu tambang batubara perlu pemahaman mengenai
Konsep Penambangan dan Perancangan Penambangan yang benar untuk
suatu tambang terbuka batubara. Hal ini menjadi penting karena penataan
lahan bekas tambang seharusnya menjadi bagian perencanaan tambang.
12.3.1. Pemilihan Daerah Penambangan
Pemilihan daerah penambangan tentunya harus didasarkan pada hasil
Kajian Geologi Tambang akan diperoleh daerah penambangan tersebut.
Beberapa faktor yang menyebabkan suatu daerah dapat dikatagorikan
potensial adalah :
Penyebaran batubara yang merata.
Jumlah cadangan yang besar.
Lapisan batubara yang tebal.
I - 137
Kualitas batubara yang baik.
Perhitungan cadangan tertambang pada daerah tambang tersebut dapat
menghasilkan nisbah kupas yang bervariasi. Besarnya nisbah kupas
pada tambang-tambang ini disebabkan antara lain oleh kondisi topografi
dan hilangnya penyebaran lapisan batubara pada daerah tersebut.
Oleh karena itu daerah yang mempunyai nisbah kupas > 12 : 1
dianggap tidak ekonomis untuk ditambang saat ini. Lapisan penutup di
atas lapisan batubara maupun antara lapisan batubara pada umumnya
terdiri dari
dan
kadang-kadang dengan sisipan
.
Kemiringan lapisan batubara berkisar antar 8 35 derajat.
12.3.2. Tahapan Penambangan
Dua pendekatan rancangan tambang terbuka :
Mempertimbangkan persoalan tahapan pemindahan material per blok
untuk memenuhi produksi.
Mempertimbangkan pemindahan material yang berhubungan sangat
erat dengan peralatan yang digunakan.
Pada tambang terbuka
daerah
penambangan cukup
luas sehingga
memungkinkan pemakaian alat-alat yang besar. Dalam pemilihan metoda
penambangan perlu memperhatikan pertimbangan teknis yang didasarkan
atas :
Faktor geografi dan geologi
Lokasi :penentuan pemakaian alat penambangan
Curah hujan, temperatur, iklim dan ketinggian akan berpengaruh terhadap
produktifitas alat.
Faktor geologi yang berpengaruh seperti keadaan permukaan, jumlah
lapisan batubara, kemiringan batubara, dan ketebalan tanah penutup.
Ukuran dan distribusi lapisan batubara
I - 138
Ketersediaan peralatan dan kesesuaian dengan peralatan lain
Geoteknik
Umur tambang
Produksi
Sistem Penambangan Batubara
Kegiatan-kegiatan dalam tambang batubara terbuka meliputi :
Persiapan daerah penambangan
Pemboran dan peledakan atau penggaruan
Pengupasan dan pembuangan tanah penutup
Pemuatan dan pembuangan tanah penutup
Reklamasi
Teknik penambangan pada umumnya sangat dipengaruhi oleh kondisi
geologi dan topografi daerah yang akan ditambang.
Kegiatan penambangan selalu menimbulkan pengaruh terhadap lingkungan,
oleh karena itu dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam penambangan
harus mengetahui/mengerti akibat-akibat yang mungkin akan ditimbulkan
dari kegiatan-kegiatan tersebut, sehingga dapat diusahakan dampak negatif
yang sekecil mungkin.
Contoh jenis peralatan tambang dan peralatan bantu utama yang akan
digunakan dalam sistem penambangan seperti yang telah diuraikan di atas
adalah seperti yang terlihat pada Tabel 12.1.
Tabel 12.1. Contoh Peralatan Tambang Yang Diperlukan Berdasarkan Aktivitas
(Laporan Akhir Proyek Bina Pertambangan, ITB, 2000)
Aktivitas
Pembongkaran, penggaruan, dan
penggusuran
Pemboran dan peledakan
Peralatan/Bahan
Buldoser dengan
dan
- Alat bor : CRD dan Kompresor
I - 139
- Bahan peledak : ANFO (bahan peledak
utama) dan Power Gel (primer)
- Alat bantu peledakan : NONEL, sumbu
ledak, sumbu api,
.
dan
Penggalian dan pemuatan
Pengangkutan
Truk jungkit
12.3.3. Cadangan Tertambang
Seperti telah dijelaskan dalam Kajian Geologi Tambang, perhitungan
cadangan tertambang dilakukan dengan perhitungan dilakukan dengan
metode penampang atau metode lainnya.
12.3.4. Strategi Penambangan
Perancangan penambangan pada daerah tambang pada umumnya dilakukan
berdasarkan batasan nisbah kupas.
12.4. PERANCANGAN PENAMBANGAN
12.4.1. Rencana Produksi
Semua perusahaan tambang merencanakan beroperasi dengan tingkat
produksi batubara per tahun. Produksi tahun ke-1 biasanya lebih kecil dari
tahun-tahun berikutnya. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa pada
tahun awal penambangan selain kegiatan penambangan juga diperlukan
berbagai kegiatan lainnya seperti persiapan permuka kerja, pembuatan jalan
ke
, dan lain sebagainya.
Rencana produksi untuk setiap tahun memperhatikan pengaruh curah hujan
terhadap produksi batubara.
Rencana produksi bertahap seperti yang dijelaskan di atas selanjutnya
menjadi panduan untuk menentukan batas kemajuan penambangan setiap
tahun.
I - 140
12.4.2. Kriteria Penambangan
Kriteria penambangan pada umumnya dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor berikut :
Faktor struktur geologi
Faktor geoteknik
Faktor hidrologi dan hidrogeologi
Data dan asumsi yang digunakan dalam perhitungan :
Waktu kerja
Sifat fisik material
Efisiensi kerja peralatan
12.4.3. Rancangan Penambangan
1) Permuka kerja penambangan
Permuka kerja penambangan adalah medan kerja di mana kegiatan
penggalian/penambangan batubara sedang berlangsung. Satu permuka
kerja membutuhkan satu armada peralatan tambang yang terdiri dari satu
unit alat gali-muat dengan beberapa unit alat angkut dan dibantu satu unit
alat garu-dorong. Dalam satu pit penambangan mungkin terdapat satu atau
lebih permuka kerja. Jika pit cukup luas dan dengan alasan kebutuhan
produksi maka beberapa permuka kerja dapat beroperasi secara bersamaan.
Banyaknya permuka kerja yang harus beroperasi dalam penambangan
ditentukan oleh jumlah armada peralatan penambangan batubara yang
dibutuhkan berdasarkan target produksi.
2) Batas penambangan
Faktor-faktor yang mempengaruhi penentuan batas tambang terbuka adalah
batas Kuasa Pertambangan (KP) Eksploitasi, penyebaran lapisan batubara,
I - 141
dimensi lereng aman, rencana produksi, nisbah kupas, aliran sungai, dan
jalan negara yang melewati tambang tersebut
Penentuan batas lereng akhir tambang juga mengacu pada nisbah kupas
dan dimensi maksimum lereng yang aman berdasarkan rekomendasi Kajian
Geoteknik. Rencana produksi akan menentukan batas pit yang akan
ditambang setiap tahun dengan nisbah kupas tertentu.
Batas penambangan tiap semester/tahun baik ke arah lateral (luas bukaan
tambang) maupun vertikal (posisi lantai tambang) diwujudkan dalam peta
kemajuan tambang tiap tahun.
3) Arah dan urutan penambangan
Arah kemajuan penambangan adalah dari daerah singkapan ke arah tegak
lurus jurus lapisan batubara sampai lereng akhir penambangan, kemudian
bergerak maju ke daerah penambangan tahun berikutnya mengikuti
penyebaran lapisan batubara.
Pemilihan
urut-urutan
penambangan
terutama
didasarkan
pada
pertimbangan teknis operasional serta cadangan yang ada
4) Kegiatan Penambangan
Penambangan batubara biasanya dilakukan dengan siklus
yaitu menggunakan kombinasi peralatan
konvensional
dan truk jungkit
serta buldoser. Metode ini mempunyai fleksibilitas dan selektivitas dalam
penggalian, serta ketersedian alat baik jenis maupun ukuran di pasaran.
Operasi penambangan setiap tahunnya terdiri kegiatan pembersihan lahan
yang dilaksanakan terlebih dahulu, kemudian diikuti dengan penggalian/
pemberaian, pemuatan dan pengangkutan yang dilaksanakan dalam waktu
yang bersamaan. Artinya, sementara kegiatan pembersihan lahan terus
I - 142
berlangsung dan setelah luas lahan yang dibersihkan cukup dan aman untuk
tempat kerja alat gali, maka kegiatan penggalian/pemberaian dapat segera
dimulai. Kegiatan ini diikuti dengan kegiatan pemuatan dan pengangkutan,
baik untuk batubara maupun lapisan penutup.
5) Pembersihan lahan
Untuk menyediakan tempat kerja bagi alat gali-muat dan alat angkut perlu
dilakukan pembersihan lahan. Pembersihan lahan ini dilakukan terhadap
vegetasi/pohon-pohon
yang
terdapat
di
sekitar
daerah
operasi
penambangan dengan menggunakan buldoser.
6) Penanganan tanah pucuk
Pertimbangan
penanaman
kembali
daerah
bekas
tambang
untuk
mengurangi kerusakan lingkungan (reklamasi) memerlukan suatu strategi
untuk penanganan tanah pucuk. Tanah pucuk ini nantinya akan disebar
pada bagian teratas dari tumpukan lapisan penutup, baik di lokasi
maupun di lokasi
Tanah pucuk akan dikupas dan dimuat ke dalam truk jungkit dengan
menggunakan alat muat kemudian diangkut ke lokasi penimbunan dan
langsung disebar di atas timbunan lapisan penutup, kecuali pada awal
penambangan karena belum ada timbunan lapisan penutup maka tanah
pucuk akan ditumpuk di dekat lokasi
sebelum disebar di atas
timbunan lapisan penutup.
7)
Penggalian/pemberaian, pemuatan dan pengangkutan lapisan
penutup
Seperti
telah
diuraikan
sebelumnya,
direkomendasikan adalah :
I - 143
teknik
penggalian
yang
Penggalian bebas untuk tanah pucuk
Penggaruan untuk batubara,
Peledakan untuk sebagian batuan keras, bila ada.
, sebagian
dan
Oleh sebab itu penanganan lapisan penutup (overburden dan interburden)
akan dilakukan dengan cara sebagai berikut :
Penggalian/pemberaian
Pemuatan
Pemuatan lapisan penutup ke dalam alat angkut baik dari hasil
penggaruan maupun hasil peledakan adalah menggunakan alat muat.
Pengangkutan
Pengangkutan lapisan penutup ke lokasi penimbunan adalah menggunakan
truk jungkit.
8) Penggalian/pemberaian,
pemuatan
dan
pengangkutan
batubara
Pada umumnya penanganan lapisan batubara akan dilakukan dengan cara
sebagai berikut :
Penggaruan
Penggaruan batubara dengan menggunakan buldoser yang dapat
dilengkapi dengan
Pemuatan
Pemuatan batubara ke dalam alat angkut menggunakan alat muat.
Pengangkutan
Pengangkutan lapisan batubara ke
jungkit (
menggunakan truk
).
9) Jalan tambang
Yang dimaksud dengan jalan tambang adalah jalan yang menghubungkan
permuka kerja dengan lokasi
dan lokasi penimbunan lapisan
I - 144
penutup. Jalan tambang disiapkan untuk untuk dua jalur pengangkutan truk
jungkit.
10) Perencanaan penimbunan lapisan penutup
Dalam perencanaan penimbunan lapisan penutup, penimbunan di lokasi
hanya akan dilaksanakan sampai tersedianya daerah bekas
penambangan yang cukup luas untuk dapat melaksanakan
Cara seperti ini selain mengurangi biaya produksi (karena jarak angkut
lapisan penutup berkurang) juga mengurangi kerusakan lingkungan akibat
bekas penambangan. Dengan
lubang-lubang bekas tambang diisi
kembali sehingga persiapan pelaksanaan reklamasi dapat segera berjalan.
Untuk keperluan penimbunan di luar pit ini telah dipilih lokasi timbunan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi penimbunan tanah
adalah sebagai berikut :
jarak yang tidak terlalu jauh dari permuka kerja tambang
tidak ada cadangan batubara di bawah lokasi yang dipilih
tidak mengganggu daerah yang akan ditambang
topografi permukaan berupa lembah.
Untuk menjaga agar lereng timbunan tetap aman, perancangan penimbunan
tanah di luar pit maupun
selalu mengikuti dimensi timbunan yang
telah direkomendasikan oleh Kajian Geoteknik.
11) Kebutuhan Peralatan
Kebutuhan alat-alat tambang dihitung dengan cara membagi target produksi
per jam dengan produktivitas alat per jam. Target produksi per jam
I - 145
didapatkan dengan cara membagi target produksi per tahun dengan jam
kerja efektif alat per tahun.
Peralatan tersebut dapat dikelompokkan menjadi peralatan tambang utama
dan peralatan penunjang.
12.5. APLIKASI MINESCAPE 4
Minescape 4 merupakan salah satu perangkat lunak terpadu yang dirancang
khusus untuk industri pertambangan. Minescape yang berintikan sistem
grafik
CAD
3D
dengan
produk-produk
aplikasinya
memungkinkan
penggunanya secara interaktif membuat dan mengolah model-model geologi
tiga dimensi serta desain tambang dalam
dan
. Aplikasi Minescape merupakan inti dari sistem Minescape meliputi
sistem dasar dari program, bahasa pemrograman, struktur data,
alat-alat dan modul-modul yang merupakan bagian perangkat lunak
Minescape.
Komponen-komponen Minescape meliputi :
GTI (
GTI merupakan sistem minescape yang menyediakan manajemen
yang akan gambar-gambar dan secara visual berbeda dari
lingkungan Minescape. GTI terdiri dari
dan berisi sejumlah
yang dapat dikonfigurasikan untuk kebutuhan pemakai dan
ditampilkan sebagai tab-tab dalam
(halaman layar) merupakan gabungan jendela yang menjalankan
fungsi-fungsi khusus dan ditampilkan di dalam GTI
umum
ada dua macam, yaitu
. Secara
yang menyediakan
layanan pemantauan dan kontrol terhadap modul-modul yang dijalankan
dan minescape page yang menyediakan fungsi-fungsi Minescape.
I - 146
CAD
CAD
menampilkan grafis 3D CAD dari Minescape (
).
Form
Format merupakan
tersendiri yang menampilkan parameter dan
data yang relevan untuk mengoperasikan Minescape secara khusus
serta memungkinkan anda untuk melihat, memanipulasi parameter
secara
interaktif dan menyerahkan modul-modul tersebut untuk
dijalankan.
adalah perangkat lunak khusus yang dipadukan dengan aplikasi
Minescape.
tambahan
memberikan kehandalan
dalam
aplikasi dan fungsi-fungsi tambahan yang khusus pada operasi-operasi
tertentu
(misalnya
dan
). Produk-produk yang tersedia dalam keluaran ini meliputi :
I - 147