Anda di halaman 1dari 147

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. SASARAN KULIAH


1)

Mahasiswa

diharapkan

dapat

merangkum

dan

mensintesiskan

pengetahuan kerekayasaan dan keekonomian yang telah diperoleh ke


dalam suatu perancangan pit
(penentuan
limit

) dan perencanaan

(pentahapan) serta evaluasi suatu tambang terbuka yang modern.


2)

Mahasiswa diharapkan dapat memahami tentang :


a.

Falsafah perencanaan

cutb.off Pengertian
grade, stripping

ratio

dan kadar ekivalen

c.

Penaksiran cadangan bijih

d.

Perancangan batas
final/ultimate
penambangan
pit limit
(

e.
f.
g.
h.

Pentahapan
mine phases/pushbacks
tambang (

Penjadwalan
mine
produksi
production
tambang
schedule
(
Perancangan
waste
tempat
dump
penimbunan
design (

)
)
)
)

Perhitungan kebutuhan alat dan tenaga kerja

capital and
i. operating
Perhitungan
costs
j.

Evaluasi finansial

1.2. PENGERTIAN PERENCANAAN


1.2.1. Definisi Perencanaan
Banyak sekali definisi yang dicetuskan mengenai perencanaan ditinjau dari
berbagai sudut pandangan dan tujuan. Salah satu di antaranya adalah
sebagai berikut.

I-1

waste dump.

mit.

Perencanaan adalah penentuan persyaratan teknik pencapaian sasaran


kegiatan serta urutan teknis pelaksanaan dalam berbagai macam anak
kegiatan yang harus dilaksanakan untuk pencapaian tujuan dan sasaran
kegiatan.
Perencanaan adalah salah satu tahapan kegiatan dalam proses manajemen
seperti terlihat pada Gambar 1.1.
Perencanaan tambang :
Bagaimana
ultimate
kita bisa membuat rancangan tambang (mencapai
) dalam jangka waktu tertentu secara aman dan menguntungkan.
Bagaimana menentukan tahapan penambangan.
Perencanaan berhubungan dengan waktu.
Perancangan tambang :
Istilah

biasanya dimaksudkan sebagai bagian dari

proses perencanaan tambang yang berkaitan dengan masalah-masalah


geometrik.

Di

dalamnya

termasuk

penambangan, tahapan (

perancangan

batas

akhir

), urutan penambangan tahunan/

bulanan, penjadwalan produksi dan


Bagaimana menentukan
Perancangan tidak berhubungan dengan waktu.
Aspek perencanaan tambang yang tidak berkaitan dengan masalah geometri
meliputi perhitungan kebutuhan alat dan tenaga kerja, perkiraan biaya
kapital dan biaya operasi.
Pada Gambar 1.2 ditunjukkan posisi perencanaan dalam suatu siklus dan
pada Gambar 1.3 adalah tahapan kegiatan pada industri pertambangan.

I-2

Gambar 1.1. Perencanaan Sebagai Salah Satu Tahapan Kegiatan


Dalam Proses Manajemen

I-3

Gambar 1.2. M
ineral Supply Process (McKenzie, 1980)
1.2.2. Arti Perencanaan
Perencanaan dapat diartikan sebagai kegiatan berikut.
1)

Penentuan tujuan dan sasaran kegiatan yang ingin dicapai.

2)

Proses persiapan secara sistematik mengenai kegiatan yang akan


dilakukan.

3)

Cara mencapai tujuan dan sasaran dengan menggunakan sumber dan


kemampuan yang tersedia secara berdaya guna dan berdaya hasil.

4)

Pembahasan dari persoalan, kemungkinan dan kesempatan yang dapat


terjadi yang dapat mempengaruhi pencapaian tujuan.

5)

Penentuan dari tindakan yang akan diambil untuk mencapai tujuan


berdasarkan analisa tujuan dan kesempatan.

I-4

Prospeksi

Peta topografi
Geologi
Mineralogi
Geofisika
Geokimia

Peta temuan
Percontoh batuan

Pemboran inti

Jumlah & sifat cadangan


Kadar endapan
Terowongan buntu (adit)

Sifat fisik, kimia,

Eksplorasi

Sumur uji (tes pit)

mekanik

Stratigrafi & litologi

Penentuan sasaran

Layak/tidak layak

(target) produksi
Pemilihan metoda
Studi
penambangan
Pemilihan peralatan :
macam dan ukurannya
Evaluasi teknis & ekonomis

ditambang ?
Kerusakan lingkungan
dapat ditangani
Dokumen Amdal, RKL,
RPL

Kelayakan

Layak Tambang
(mineable)

Tidak Layak Tambang


(unmineable)
Masuk Arsip

Ada agunan
Jaminan
kepercayaan

Mencari Dana

Jual saham
Pinjaman bank
Uang sendiri

Penentuan sasaran produksi


Pemilihan metoda penambangan
& batas penambangan
Penentuan macam & ukuran
peralatan
Analisis kemantapan lereng

I-5

Rekacipta Tambang
Peta rancangan
kemajuan
Tata letak sarana &
prasarana tambang

Pengupasan tanah penutup


Pembangunan sarana
prasarana tambang

Persiapan

Penambangan

Geologi & pemercontohan


Penambangan
Pemetaan kemajuan tambang
Pemberaian, pemuatan &
penangkutan
Energi, bahan kerja, suku cadang
Pengelolaan & pemantauan
lingkungan

Pengecilan ukuran &


klasifikasi
Pencucian & konsentrasi
Pengelolaan & pemantauan
lingkungan

Proses ekstraktif metalurgi


Pemurnian logam
Pengelolaan & pemantauan
lingkungan
Pengangkutan
Promosi
Penelitian & pengembangan
produksi

Medan kerja awal


Sumuran dalam
Terowongan buntu

Produksi bijih
Re-vegetasi

Pengolahan

Konsentrat

Metalurgi

Paduan logam
Logam murni

Bahan

Galian

Pemasaran

Gambar 1.3. Tahap Kegiatan Pada Industri Pertambangan


I-6

1.2.3. Fungsi Perencanaan


Fungsi perencanaan tergantung dari jenis perencanaan yang digunakan
dalam sasaran yang dituju, tetapi secara umum fungsi perencanaan dapat
dikatakan antara lain sebagai berikut.
1)

Pengarahan kegiatan, adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan


dalam pencapaian tujuan.

2)

Perkiraan terhadap masalah pelaksanaan, kemampuan, harapan,


hambatan dan kegagalannya mungkin terjadi.

3)

Usaha untuk mengurangi ketidakpastian.

4)

Kesempatan untuk memilih kemungkinan terbaik.

5)

Penyusunan urutan kepentingan tujuan.

6)

Alat pengukur atau dasar ukuran dalam pengawasan dan penilaian.

7)

Cara dan penggunaan dan penempatan sumber daya secara berdaya


guna dan berdaya hasil.

1.2.4. Tujuan Perencanaan Tambang


Tujuan dari pekerjaan perencanaan tambang adalah membuat suatu
rencana produksi tambang untuk sebuah cebakan bijih yang akan :
1)

Menghasilkan tonase bijih pada tingkat produksi yang telah ditentukan


dengan biaya yang semurah mungkin.

2)

Menghasilkan aliran kas (

) yang akan memaksimalkan

beberapa kriteria ekonomik seperti

atau

1.2.5. Masalah Perencanaan Tambang


Masalah perencanaan tambang merupakan masalah yang kompleks karena
merupakan problem geometrik tiga dimensi yang selalu berubah dengan
I-7

waktu. Geometri tambang bukan satu-satunya parameter yang berubah


dengan waktu. Parameter-perameter ekonomi penting yang lain pun sering
merupakan fungsi waktu pula.
Berikut

ini

adalah

parameter-parameter

yang

digunakan

didalam

perancangan tambang terbuka.

Gambar 1.4.

(D.J. Charbonneau, 1991)

1.2.6. Biaya Perencanaan


Biaya perencanaan (Lee, 1984) bervariasi bergantung kepada ukuran dan
faktor alamiah proyek, tipe dari studi yang dilakukan, jumlah alternatif yang
harus diteliti dan sejumlah faktor lain.
I-8

Atau bisa dinyatakan dalam persamaan berikut.

Biaya = f (ukuran dan sifat dari proyek, jenis studi,


jumlah alternatif yang diinvestigasi, dll)
Dalam rangka menghitung biaya atau bagian teknik dari studi tidak
termasuk seperti ongkos pemilikan, ongkos pengeboran eksplorasi, uji
metalurgi, lingkungan dan studi hukum, atau studi pendukung lainnya,
biasanya dinyatakan sebagai persentase dari biaya modal dari proyek :
Studi konseptual

= 0,10,3 % dari biaya total

Studi pra kelayakan

= 0,20,8 % dari biaya total

Studi kelayakan

= 0,51,5 % dari biaya total

Gambar 1.5 memperlihatkan beberapa tahapan untuk melakukan suatu


kegiatan tambang yang berhubungan dengan pengaruh biaya yang harus
dikeluarkan.

I-9

Gambar 1.5. Pengaruh Tahapan Perencanaan Terhadap Biaya (Lee,


1984)

1.2.7. Akurasi Dari Estimasi


1) Tonase dari kadar
Pada tahap studi kelayakan, karena pengambilan sampel yang banyak dan
pemeriksaan yang berulang, kadar rata-rata dari penambangan dari
beberapa tonase yang diumumkan, disukai karena diketahui memiliki limit
yang dapat diterima, katakanlah 5%, dan diturunkan dari metoda statistik
yang standar. Walaupun tonase yang pasti dari bijih mungkin untuk
tambang terbuka diketahui jika pemboran eksplorasi dari permukaan, dalam
kenyataannya tonase ultimate dari banyak endapan bervariasi karena ia
tergantung pada biaya harga dihubungkan dengan panjang waktu proyek.
Dua standar yang penting yang dapat didefinisikan untuk sebagian tambang
terbuka adalah :

a.

Cadangan minimum bijih harus sebanding untuk keperluan yang


dibutuhkan untuk seluruh tahun

yang diproyeksikan dalam

laporan studi kelayakan haruslah diketahui dengan akurat dan dapat


dipertanggungjawabkan.

b.

Sebuah tonase

yang potensial, diproyeksikan berlanjut dan

optimistik, seharusnya dikalkulasikan dengan baik untuk mendefinisikan


area tambahan yang berpengaruh untuk penambangan dan dimana
serta bangunan pabrik harus diletakkan.
2) Unjuk kerja
I - 10

Unit-unit dari penambangan open pit sudah memiliki rate unjuk kerja yang
stabil dan biasanya dicapai jika bekerja dalam organisasi yang baik dan
pengorganisasian alat (misal

dan

) secara tepat. Unjuk kerja

akan terganggu jika pekerjaan tambahan (pengupasan tanah penutup dalam


sebuah pit) tidak mencukupi. Pemeliharaan harus dilakukan dan pekerjaan
ini harus dijadwalkan secara baik dan disediakan dalam laporan studi
kelayakan.

3) Biaya
Beberapa mata biaya, terutama ongkos operasi dilapangan, hanya berbeda
sedikit dari setiap tambang dan dapat diketahui secara detail. Beberapa
mungkin unik atau sukar untuk diperkirakan. Umumnya akurasi dalam modal
atau operasi estimasi biaya operasi kembali pada akurasi dalam kuantitas,
kuota yang ada atau unit harga, kecukupan ketentuan untuk ongkos tidak
langsung dan

. Tendensi terakhir menunjukkan adanya batas yang

meningkat.
Akurasi dari modal dan estimasi dari biaya operasi meningkat ketika proyek
meningkat dari studi konseptual ke pra kelayakan dan tahap studi
kelayakan. Normalnya range yang bisa diterima untuk akurasi diberikan
sebagai berikut.

Faktor kesalahan dari studi konseptual + 30% dari biaya total

Faktor kesalahan dari pra studi kelayakan + 20% dari biaya total

Faktor kesalahan dari studi kelayakan + 10% dari biaya total

4) Harga dan perolehan


Pendapatan selama umur tambang adalah kategori utama dari uang. Itu
harus membayar seluruhnya, termasuk pembayaran kembali dari investasi
awal dari uang, karena pendapatan adalah dasar yang terbesar dalam
I - 11

mengukur faktor ekonomi tambang sehingga lebih sensitif mengubah


penerimaan

daripada

mengubah

faktor-faktor

lain

dari

jenis-jenis

pengeluaran.
Penerimaan ditentukan oleh kadar,

, dan harga dari produk metal.

Oleh karenanya, harga adalah : (a) sejauh ini sangat sulit untuk diestimasi
dan (b) suatu jumlah yang besar diluar dari kontrol estimator. Walaupun
mengabaikan inflasi, harga pembelian secara lebar bervariasi terhadap
waktu. Kecuali komoditi yang bisa dikontrol dengan tepat, mereka mengarah
untuk mengikuti bentuk siklus.
Departemen pemasaran harus menginformasikan hubungan suplai dan
permintaan dan pergerakan harga metal. Mereka dapat juga menyediakan
harga rata-rata metal di luar negeri dalam harga dolar sekarang, baik
kemungkinan naupun konservatif. Harga terakhir berkisar 80% dari
kemungkinan atau lebih. Idealnya, walaupun pada harga konservatif, harus
tetap menguntungkan.

1.3. CHECKLIST DATA AWAL YANG HARUS DIKUMPULKAN


Pada awal tahap perencanaan untuk setiap proyek (tambang) yang baru,
terdapat banyak faktor dari berbagai jenis yang harus dipertimbangkan.
Beberapa faktor tersebut dapat dengan mudah diperoleh, sedangkan
beberapa faktor lain diperoleh dengan suatu keharusan melakukan studi
yang mendalam (misalnya geometri pit).
Untuk menghindari ketidaklengkapan data, maka sebaiknya dibuat suatu
(Rebel, 1975,

).

Checklist Item
1.

Topografi
a. USGS maps 1 : 500, 1 : 1000
I - 12

b.
2.

Kodisi iklim (

a. Ketinggian
b. Temperatur rata-rata bulanan sudah cukup
c. Presipitasi (untuk penirisan)
rata-rata presipitasi tahunan
rata-rata curah hujan bulanan
rata-rata

(keadaan normal dan

/banjir)

d. Angin, maks, tercatat dalam arah


e. Kelembaban
g. Awan, fog
3.

Air
a. Sumber : mata air, sungai, danau, bor.
b. Ketersediaan : hukum, kepemilikan, biaya.
c. Kuantitas : ketersediaan perbulan, kesempatan aliran, kemung-kinan
lokasi bendungan.
d. Kualitas : sampel, perubahan-perubahan kualitas, efek kontaminasi.
e.

4.

Struktur geologi
a. Dalam daerah tambang
b. Di sekeliling daerah tambang
c. Kemungkinan gempa bumi
d. Akibat pada slope (

e. Estimasi dan kondisi fondasi


5.

Air tambang
a. Kedalaman
b. Konduktivitas
c. Metode Penirisan
I - 13

6.

Permukaan
a. Vegetasi : tipe, metode pembabatan, biaya
b. Kondisi yang tidak biasa : danau, endapan deposit, pohon-pohon
besar

7.

Tipe/jenis batuan (bijih

a. Sampel untuk uji kemampuan dibor


b. Fragmentasi

derajat

pelapukan,

bidang-bidang

diskontinu, kecocokan untuk jalan


8.

Lokasi untuk konsentrator


a. Lokasi tambang,
b. Preparasi lokasi (

c. Proses air : gravitasi, pompa


e. Fasilitas pemeliharaan
9.

(daerah)
a. Lokasi pipa
b. Alamiah, bendungan, danau

10. Jalan
a.

Peta jalan

b.

Informasi jalan-jalan yang ada :

lebar, permukaan, batas maksimum beban

batas maksimum load sesuai musim

pemeliharaan

c.

Jalan yang dibuat (harus) oleh perusahaan

panjang

jembatan
I - 14

pengkondisian tanah

dll.

11. Power
a.

Ketersediaan (PLN) : kilovolt, jarak (terdekat), biaya

b.

Kabel ke SIB

c.

Lokasi sub station

d.

Kemungkinan untuk

sendiri

12. Smelting
a.

Ketersediaan pabrik

b.

Metode pengapalan : jarak, alat angkut, awak reet, dll.

c.

Biaya

d.

Aspek terhadap lingkungan

e.

Rel KA, dok.

13. Kepemilikan lahan


a.

Kepemilikan : negara, pribadi

b.

Tata guna lahan

c.

Harga tanah

d.

Jenis oplians : sewa, beli, dll.

14. Pemerintah
a.

Suasana politik

b.

Hukum, UU pertambangan

c.

Keadaan lokal

15. Kondisi ekonomi


a.

Industri utama yang ada, berpengaruh ke infrastruktur

b.

Kesediaan tenaga kerja

c.

Skala penggalian

d.

Struktur pajak

e.

Ketersediaan sarana, toko, rumah sakit, sekolah, rumah

f.

Ketersediaan material, termasuk bensin, semen, gravel


I - 15

g.

Pembelian

16. Lokasi pembuangan (

) : tambang, rumah sakit, perumahan

a.

Jarak

b.

Profil jalan

c.

Kemungkinan proses lebih lajut

17. Aksesibilitas dari kota utama ke luar


a.

Metode transportasi

b.

Realibilitas dan transportasi yang tersedia

c.

Komunikasi

18. Metode mendapatkan informasi


a.

(pemerintah)

b.

Memelihara alat-alat komunikasi

c.

Mengumpulkan conto

d.

Pengukuran dan pengamatan lokasi lapangan

e.

Survey lapangan

f.

Layout pabrik

g.

Check untuk load informasi

h.

Check hukum lokal

i.

Personal inquiry dan observasi suasana politik dan ekonomi

j.

Peta-peta

k.
l.

Material

m.

Membuat

I - 16

PEKERJAAN RUMAH 1
Dalam perencanaan tambang, agar pekerjaan perencanaan dapat lebih
mudah dilakukan maka masalah tersebut dibagi menjadi tugas-tugas seperti
berikut.

Penentuan

Perancangan

Penjadwalan Produksi

Perencanaan Tambang berdasarkan urutan waktu

Pemilihan alat

Perhitungan Ongkos-ongkos Oprerasi dan Kapital.


Tugas anda adalah memberikan mata kuliah apa saja yang menunjang

tugas-tugas dalam penyelesaian tersebut, dan gambarkan diagramnya.

I - 17

BAB II
PENAKSIRAN CADANGAN BIJIH (REVIEW)

2.1. PENTINGNYA PENAKSIRAN CADANGAN


1)

Memberikan taksiran dari kuantitas (ton) dari cadangan bijih.

2)

Memberikan perkiraan bentuk 3-dimensi dari cadangan bijih serta


distribusi

ruang (

) dari nilainya.

Hal ini

penting untuk

menentukan urutan/tahapan penambangan, yang pada gilirannya akan


mempengaruhi pemilihan peralatan dan NPV (

) dari

tambang.
3)

Jumlah cadangan menentukan umur tambang. Hal ini penting dalam


perancangan pabrik pengolahan dan kebutuhan infrastruktur lainnya.

4)

Batas-batas kegiatan penambangan (pit limit) dibuat berdasarkan


taksiran cadangan. Faktor ini harus diperhatikan dalam menentukan
lokasi pembuangan tanah/batuan penutup dan tailing (
), pabrik pengolahan bijih, bengkel dan fasilitas
lainnya.

Karena semua keputusan teknis di atas amat tergantung padanya,


penaksiran cadangan merupakan salah satu tugas terpenting dan berat
tanggung jawabnya dalam mengevaluasi suatu proyek pertambangan.

I - 18

Harus pula diingat bahwa penaksiran cadangan menghasilkan suatu


taksiran. Model cadangan yang kita buat adalah pendekatan dari realitas,
berdasarkan data/informasi yang kita miliki, dan masih mengandung
ketidakpastian.

2.2. PERSYARATAN DARI PENAKSIRAN CADANGAN


1) Suatu taksiran cadangan harus mencerminkan secara tepat kondisi
geologis dan karakter/sifat dari mineralisasi.
2) Selain itu iapun harus sesuai dengan tujuan dari evaluasi. Suatu model
cadangan bijih yang akan digunakan untuk perancangan tambang harus
konsisten dengan metoda penambangan dan teknik perencanaan
tambang yang akan diterapkan.
3) Taksiran yang baik harus berdasarkan pada data faktual yang
diolah/diperlakukan secara objektif. Keputusan apaka suatu data akan
dipakai/tidak dipakai harus diambil dengan tak semena-mena. Tidak
boleh ada pembobotan data secara sewenang-wenang, pembobotan
yang berbeda harus dengan dasar yang jelas.
4) Metoda penaksiran yang digunakan harus memberikan hasil yang dapat
dicek/diperiksa.

Tahap

pertama

setelah

penaksiran

cadangan

diselesaikan adalah memeriksa taksiran kadar dari unit penambangan


(blok) dengan data (komposit atau assay bor) yang ada di sekitarnya.
Setelah penambangan dimulai, taksiran kadar dari model cadangan kita
harus cek ulang dengan kadar dan tonase hasil penambangan yang
sesungguhnya.
2.3. ASPEK LEGAL/HUKUM DARI PENAKSIRAN CADANGAN

I - 19

Nilai suatu perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan berkaitan


langsung dengan kuantitas dan kualitas cadangan mineral yang dimilikinya.
Untuk perusahaan-perusahaan tambang yang sahamnya dijual-belikan
kepada publik melalui pasar modal, badan pemerintah seperti SEC
(

) di Amerika Serikat mementau dan

mengawsi cadangan mineral mereka.


1)

Dokumen

yang berisi pernyataan jumlah

cadangan

bijih (10k

document) harus diisi dan diperbaharui setiap tahun.


2)

SEC juga memeriksa pernyataan mengenai jumlah cadangan yang


dibuat dalam prospektus penawaran saham perusahaan.

Formulir S-18 dari SEC merupakan dokumen yang digunakan dalam


pendaftaran sekuritas. Butir 17A dari formulir ini layak diperhatikan, karena
menyangkut juga definisi yang dipakai SEC untuk menentukan
(cadangan terbukti dan terkira sering pula disebut

1)

Cadangan (reserve) :
Bagian dari cebakan mineral yang secara ekonomik dan secara hukum
dapat ditambang atau diproduksi pada waktu perhitungan cadangan
dilakukan.

2)

Cadangan terbukti/terukur (

):

Suatu cadangan yang :


kuantitas

atau

jumlahnya

dihitung

dari

data

singkapan,

sumur-sumur uji, galian atau lubang-lubang bor, kualitas atau


kadarnya dihitung dari hasil pengambilan percontoh secara detail,
dan
lokasi pengamatan, pengambilan percontoh dan pengukuran cukup
dekat satu sama lain dan sifat-sifat geologinya cukup diketahui
sehingga ukuran, bentuk, kedalaman, serta kadar mineral dari
cadangan dapat ditentukan dengan pasti.
I - 20

3)

Cadangan terkira (

Cadangan yang kuantitas dan kualitasnya dihitung dari data yang


serupa dengan data pada cadangan terbukti, tetapi yang lokasi
pengamatan, pengukuran dan pengambilan percontohnya berjarak
lebih jauh satu sama lain atau yang jaraknya masih kurang cukup
dekat. Tingkat keyakinan cadangan terkira ini, walaupun lebih rendah
daripada

untuk

cadangan

terbukti,

masih cukup

tinggi

untuk

menganggap adanya kesinambungan (kontinuitas) antara titik-titik


pengamatan.
4)

Harap diperhatikan bahwa SEC hanya mengakui klasifikasi cadangan


Terbukti/Proven dan Terkira/Probable. Klasifikasi yang lebih rendah
atau yang kurang pasti, seperti Mungkin/Possible tidak dianggap
sebagai cadangan dan tak boleh dimasukkan kedalam prospektus yang
ditawarkan.

5)

Harap diperhatikan pula bahwa definisi di atas masih agak subyektif,


sehingga memberikan fleksibilitas yang cukup kepada para ahli
pertambangan/geologi dalam menafsirkannya.

6)

Akhirnya, ada beberapa informasi tambahan yang perlu diperhatikan


dalam mengisi formulir S-18 dari SEC ini.

Dokumen-dokumen lain.
1)

Revisi sistem Amerika Serikat yang diusulkan SME (


#79, Society of Mining, Metallurgy, and Exploration, Inc., 1991).

2)

Kode Australasia (
, 1992).

3)

Rekomendasi CIM (
, prepared by
the Mineral Economics Society of CIM, 1994).
I - 21

4)

Klasifikasi Cadangan/Sumberdaya Mineral oleh USBM/USGS (


, Circular 831, 1980).

2.4. MODEL KOMPUTER


1)

Model Blok Teratur (


a)

Cebakan bijih dan daerah sekitarnya dibagi menjadi unit-unit yang


lebih kecil atau blok-blok, yang memiliki ukuran (panjang, lebar
dan tinggi) tertentu. Tinggi blok biasanya disesuaikan dengan
tinggi jenjang penambangan.

b)

Tiap-tiap blok memiliki atribut-atribut seperti jenis batuan, jenis


alterasi, jenis mineralisasi, kadar (bisa lebih dari satu mineral),
kode topografi, dll.

c)

Model blok teratur adalah model komputer yang paling umum


dipakai hingga saaat ini untuk tambang-tambang logam/bijih
berbatuan keras.

2)

Gridded Seam Model


a)

Untuk permodelan batubara dan cebakan-cebakan berlapis lainnya.

b)

Cebakan mineral dan daerah sekitarnya dibagi menjadi sel-sel


yang teratur, dengan lebar dan panjang tertentu.

c)

Adapun dimensi vertikalnya tidak dikaitkan dengan tinggi jenjang


tertentu, melainkan dengan unit stratigrafi dari cebakan yang
bersangkutan; pemodelan dilakukan dalam bentuk puncak, dasar
dan ketebalan dari unit stratigrafi (lapisan batubara, dll). Kadar
dari berbagai mineral atau variabel dimodelkan untuk setiap
lapisan.

3)

Model Blok Tak Teratur (


a)

Beberapa paket perangkat lunak memungkinkan struktur data


yang lebih canggih sehingga ukuran blok dalam model tak perlu
I - 22

harus sama. Blok-blok berukuran amat besar

dapat digunakan

dalam daerah-daerah tepi yang tidak termineralisasi, dimana


informasi detail tidak diperlukan. Sebaliknya, blok-blok berukuran
kecil dapat diterapkan didaerah mineralisasi bijih yang penting
dimana detail amat diperlukan.
b)

Namun demikian, model semacam ini tidak mudah dipindahkan


dari suatu perangkat lunak ke perangkat lunak yang lainnya.

2.5. DATA UTAMA


1)

Geologi
a)

Hasil

geologi dari data pemboran.

b)

Percontoh yang representatif dari program pemboran.


i. Percontoh bor inti (

ii. Percontoh bor RC dengan tempatnya (


c)
2)

Peta-peta geologi dari pemetaan permukaan, dll

Data Kadar (

a)

Sertifikat kadar

) dari laboratorium

b)

Data assay biasanya digabung menjadi data komposit untuk


tinggi jenjang tertentu untuk keperluan penaksiran kadar blok.
Analisa statistik dapat dilakukan untuk assay dan/atau komposit.

3)

4)

Data Lokasi
a)

Data survai koordinat permukaan dari titik bor.

b)

Data survai bawah tanah dari kemiringan dan deviasi pemboran.

Peta-peta topografi

2.6. METODA-METODA PENAKSIRAN

I - 23

1)

Penaksiran Cadangan Secara Manual (

a)

Masih kerap dilakukan pada tahap-tahap paling awal dari proyek.

b)

Hasil penaksiran secara manual ini dapat dipakai sebagai alat


pembanding untuk mengecek hasil penaksiran yang lebih canggih
menggunakan komputer.

c)

Hasil penaksiran secara manual ini tak dapat langsung digunakan


dalam perencanaan tambang dengan bantuan komputer.

2)

Metoda Poligon
Ada dua metoda poligon yang berbeda :
a)

Penaksiran

cadangan secara

manual dengan metoda

poligon daerah pengaruh pada dasarnya tak lagi dilakukan


(usang).
b)

Sebaliknya, metoda poligon menggunakan percontoh terdekat


untuk penaksiran kadar blok dalam model (dimana setiap blok
memperoleh kadar dari komposi terdekat) masih umum dilakukan.

3)

Metoda Segitiga
a)

Penaksiran kadar blok dengan cara ini tidak dilakukan/sudah


usang.

b)

Metoda ini penting dalam aplikasi pembuatan kontur dengan


komputer

4)

Metoda Jarak Terbalik (


a)

Suatu cara penaksiran dimana kadar suatu blok merupakan


kombinasi linier atau harga rata-rata berbobot (

dari komposit lubang bor disekitar blok tersebut. Komposit yang


dekat memperoleh bobot yang relatif lebih besar, sedangkan
komposit yang jauh dari blok bobotnya relatif lebih kecil.
b)

Pilihan dari pangkat yang digunakan (ID1, ID2, ID3, ...)


berpengaruh terhadap hasil taksiran. Semakin tinggi pangkat yang
digunakan hasilnya akan semakin mendekati metoda poligon
komposit terdekat.
I - 24

c)

Sifat/kelakuan

anisotropik

dari

diperhitungkan (
d)
5)

cebakan

mineral

dapat

).

Merupakan metoda yang masih umum dipakai.

Metoda Geostatistik dan Kriging


a)

Metoda inipun menggunakan kombinasi linier atau harga rata-rata


berbobot (

) dari komposit lubang bor di sekitar

blok untuk menghitung kadar blok yang ditaksir.


b)

Pembobotan tidak semata-mata berdasarkan jarak, melainkan


menggunakan korelasi statistik antar percontoh (data komposit)
yang juga merupakan fungsi jarak. Karena itu, cara ini lebih
canggih dan kelakuan anisotropik dapat dengan mudah dapat
diperhitungkan.

c)

Cara ini memungkinkan penafsiran data cebakan mineral atau


cadangan bijih secara probabilistik. Selain itu, ia memungkinkan
pula interpretasi statistik mengenai hal-hal seperti bias,
, dll.

d)

Berbagai varian/jenis penaksiran yang berdasarkan pada metoda


kriging dan geostatistik dapat dilakukan.

e)

Merupakan metoda yang paling umum dipakai dalam penaksiran


kadar blok dalam suatu model cadangan.

2.7.
1)

PEMERIKSAAN DARI SUATU MODEL CADANGAN MINERAL


Bandingkan peta-peta (penampang atas dan penampang melintang)
dari data pemboran (assay/komposit) dengan peta-peta yang sama
untuk model blok. Apakah kadar blok mengikuti kecenderungan kadar
yang tampak pada data yang digunakan? Apakah kadar dalam model
blok selalu lebih tinggi atau lebih rendah jika dibandingkan dengan
data? Apakah kadar blok diekstrapolasi terlalu jauh ke daerah yang
belum dibor ?

I - 25

2)

Lakukan perbandingan secara statistik antara kadar blok dengan kadar


percontoh (komposit)
statistika

dasar

yang digunakan. Beberapa teknik seperti

(rata-rata,

simpangan baku,

median, dll)

dan

perbandingan distribusi kadar/probability plot dapat dicoba.


3)

Lakukan perhitungan cadangan secara terpisah, secara manual atau


menggunakan

komputer.

Apakah

taksiran

ini

sensitif terhadap

parameter-parameter penaksiran seperti jarak pengaruh dalam mencari


percontoh, kadar

data yang tinggi

atau

kadar tertinggi yang

diperbolehkan, dsb ?

4)

Untuk tambang yang sudah berjalan, satu cara yang dapat dikerjakan
untuk mengetahui kinerja model cadangan adalah membandingkannya
dengan produksi historis. Dua sumber data produksi adalah laporan
produksi tambang (dari analisa lubang-lubang tembak) dan laporan
pabrik pengolahan.

5)

Lakukan pemeriksaan yang rinci terhadap data assay pemboran itu


sendiri. Apakah data dari bor RC sesuai dengan data dari bor inti yang
berdekatan. Pemeriksaan integritas data dapat pula dilakukan dengan
melukakan assay ulang (biasanya di laboratorium yang berbeda)
pemeriksaan

2.8.

BEBERAPA

terhadap komposit metalurgi, dll.

HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN UNTUK

BERBAGAI KOMODITAS
1)

Tembaga (terutama untuk sistem porfiri)


a)

Zona mineralisasi : biasanya ada beberapa daerah dengan


karakter yang berbeda misalnya sulfida, zona terlindi (

),

oksida, pengkayaan sekunder atau supergene, dan zona primer


atau hypogene.

I - 26

i.

Zona sulfida biasanya menghasilkan asam selama proses


pelapukan, yang dapat melarutkan logam tembaga dan
membawanya ke tempat lain.

ii.

Zona terlindi dicirikan oleh kadar


dan

yang rendah,

merupakan bagian besar dari


.

iii.

Zona teroksidasi biasanya dicirikan oleh

yang persentasenya paling tidak 50% dari total copper.


Mineraloginya terdiri dari malachit, azurit, dll. Merupakan
target yang baik untuk proses pelindian secara
tetapi tidak dapat diproses dengan flotasi.
iv.

Zona sekunder

b)

Tidak jarang didapati intrusi berkadar rendah disekitar titik


pusat dari zona bijih/mineralisasi utama. Material ini sering harus
dipisahkan.

2)

Emas
a)

Mineralisasi emas diendapkan oleh cairan/fluida mediumnya


menuruti hubungan antara temperatur dan tekanan. Garis yang
membatasi zona-zona mineralisasi emas biasanya dapat ditarik.
Kadar

emas

dalam

model

cadangan

harus

menghormati

batas-batas mineralisasi yang ada.


b)

Analisa kadar emas seringkali amat sulit. Jika partikel-partikel


emas bebas di dalam bijih mulai melampaui ukuran 100 mikron,
replikasi atau pengulangan untuk memperoleh hasil yang sama
biasanya sukar dicapai. Biasanya perlu dilakukan assay ulang
dalam jumlah cukup besar.

c)

Jenis atau teknik pemboran yang berbeda (bor inti atau bor RC)
seringkali

memberikan

hasil

analisa

Kontaminasi pada hasil pemboran RC (

assay

yang

berbeda.
) harus

dicegah, terutama pada kedalaman di bawah muka air tanah.


I - 27

3)

Molibdenum
Banyak cebakan moli primer yang memperlihatkan dengan jelas
zona-zona kadar moli. Biasanya ini dapat dengan mudah dibuat
garis-garis konturnya,

baik

dari penampang atas maupun dari

penampang melintang. Kadar dalam model blok perlu merefleksikan hal


ini.
4)

Uranium
Penaksirancadangan

bijih

untuk

komoditas

ini

amat kompleks.

Sebaiknya anda panggil ahlinya; terlalu banyak sandungan yang akan


menjatuhkan para pemula atau mereka yang belum berpengalaman.

PEKERJAAN RUMAH 2
Topik : Pembobotan rata-rata
Saudara memiliki dua

bijih tembaga, yang terdiri dari supergene

dan hypogene, sebagai berikut :


Material

Supergen

Ton

Total

Perolehan

Kadar

Bijih

Tembaga

91.025

0.410 %

85 %

22.7 %

151.853

0.520 %

92 %

26.7 %

Konsentrat

e
Hypogene

1. Berapakah total tonase bijih dan kadar tembaga rata-rata?


2. Berapakah perolehan rata-rata tembaga?
3. Berapakah kadar rata-rata konsentrat?

I - 28

BAB III
KADAR BATAS, NISBAH PENGUPASAN,
DAN KADAR EKIVALEN

3.1. PERHITUNGAN KADAR BATAS (CUT-OFF GRADE)


1) Kadar Batas Pulang Pokok (

= BECOG)

a) Dalam teori ekonomi, analisis pulang pokok terdiri dari penentuan


nilai parameter yang diinginkan (misalnya : berapa jumlah produk
yang harus dijual) sedemikian rupa sehinga pendapatan tepat sama
dengan ongkos atau biaya yang dikeluarkan (keuntungan = nol)
b) Dalam pertambangan, yang ingin kita ketahui adalah berapa kadar
bijih yang menghasilkan angka yang sama antara pendapatan yang
diperoleh dari penjualan bijih tadi dengan biaya yang dikeluarkan
untuk menambang serta memprosesnya. Kadar ini dikenal dengan
nama kadar batas pulang pokok atau

BECOG =

I - 29

c)

Biasanya

hanya biaya atau

ongkos

operasi langsung

diperhitungkan dalam penentuan

yang

. Ongkos-ongkos

kapital dan biaya tak langsung seperti penyusutan (depresiasi) pada


umumnya tidak dimasukkan.
Untuk keperluan perancangan batas akhir penambangan (pit design)
asumsi yang diambil adalah bahwa umur tambang cukup panjang
sehingga depresiasi tidak lagi merupakan faktor yang penting. Mengapa
?
Karena pada tahap terakhir dari penambangan dimana batas lereng
akhir

dari tambang telah dicapai,

kapital dan

peralatan telah

terdepresiasi secara penuh.


2) Kadar Batas Internal (

= ICOG)

a) Jika diasumsikan bahwa satu ton material pasti akan ditambang,


berapa kadar minimum yang akan menghasilkan kerugian lebih kecil
dari

dua

alternatif

berikut

mengirimkan

material

hasil

penambangan ke pabrik pemrosesan, atau mengirimkan material ini


ke tempat pembuangan ? (ingat bahwa ongkos penambangan
walau bagaimanapun tetap harus dikeluarkan).
b) Gunakan persamaan yang sama (seperti untuk BECOG), hanya
dalam hal ini ongkos penambangan tidak dimasukkan. Jadi untuk
menghitung ICOG, ongkos penambangan = nol.
3) Kadar Batas Proses
a) Bila tingkat produksi dari pabrik pemrosesan bijih telah ditentukan,
misalnya untuk pabrik flotasi bijih fluida, maka perhitungan
harus memasukkan ongkos G&A.
b) Sebaliknya, bila tingkat produksinya tidak tertentu seperti pada
kasus pelindian bijih oksida di

, argumen bahwa kadar

batas dapat dihitung tanpa memasukan ongkos-ongkos G&A adalah


argumen yang dapat diterima. Selama jangka waktu satu tahun

I - 30

pasti akan ada bijih yang berkadar lebih tinggi yang dapat menutupi
biaya-biaya ini.
c)

Kadar batas ini kadang-kadang disebut kadar batas pengolahan


(

), yakni kadar terendah yang dapat menutupi biaya

pengolahan langsung. Dalam

operasi penambangan, jika anda

mempunyai pabrik pengolahan (

) dan tambang mengalami

kekurangan bijih yang akut, maka

ini biasanya

merupakan kadar terendah yang masih dapat dipertimbangkan


untuk dapat dikirimkan ke pabrik
Namun demikian, tujuan dari perencanaan tambang jangka panjang
adalah menghindari keadaan tadi di atas.

3.2.

NISBAH PENGUPASAN PULANG POKOK (BREAK EVEN


STRIPPING RATIO =BESR)

1) Nisbah pengupasan didefinisikan sebagai nisbah dari jumlah material


penutup (

) terhadap jumlah material bijih (

). Pada tambang

bijih, nisbah ini biasanya dinyatakan dalam ton waste/ton ore. Di


tambang batubara sering dipakai m3 waste/ ton batubara.

SR =

atau

SR =

Untuk geometri penambangan yang ditetapkan, nisbah pengupasan


merupakan fungsi dari kadar batas.
2) Jika kadar bijih diketahui dan jika semua keuntungan bersih dari
menambang bijih tersebut dipakai untuk mengupas tanah penutup
(

), berapa jumlah tanah penutup yang dapat dikupas

Inilah konsep BESR.

BESR =
I - 31

Catatan :
Nilai BESR adalah 0 pada titik BECOG (tidak dapat mendukung
).
Untuk harga komoditas, perolehan, ukuran pabrik, tingkat produksi
dan ongkos tertentu, BESR merupakan fungsi linier dari kadar bijih.
BESR merupakan masukan dalam metoda perancangan tambang secara
manual.

3.3. PERHITUNGAN KADAR EKIVALEN


1) Bilamana dalam cebakan bijijh kita dapati lebih dari satu meneral
(utama dan ikutan), biasanya perlu dipakai konsep dasar ekivalen untuk
mengevaluasinya.
2) Pertama kali, kita definisikan dahulu NSR (

) sebagai

nilai kotor dari satu ton bijih setelah dikurangi dengan ongkos-ongkos
dan
3) Tahap-tahap perhitungan kadar ekivalen (misalnya Cu ekivalen) adalah
sebagai berikut.
a) Hitung NSR dari 1 ton (atau 1 tonne) tembaga yang berkadar bijih 1
%.
b) Hitung NSR dari 1 ton (atau 1 tonne) mineral ikutan, misalnya moly
dengan kadar 1% (atau emas dengan kadar 1 oz/ton atau

g/tonne, dst).
c)

Hitung faktor ekivalensi sebagai nisbah (ratio) antara NSR untuk


mineral ikutan terhadap NSR untuk mineral utama.

d) Jadi kadar Cu Ekivalen = total Cu + Faktor x moly.


e) Jika kadar total Cu dan kadar moly (emas, perak, dst) dalam blok
diketahui, maka kadar Cu Ekivalen dari blok tersebut dapat dihitung.
I - 32

4) Kadar ekivalen dapat pula dipahami atau didefinikan sebagai kadar yang
menghasilkan gabungan nilai NSR dari semua mineral yang ada.
5) Kadang-kadang lebih mudah bagi kita untuk menggunakan nilai NSR
dan bukan kadar ekivalen.
Hitung nilai NSR untuk suatu blok dan gunakan angka ini sebagai
sebuah variabel kadar ekonomik untuk perencanaan tambang.
Kadar

batas

pulang

pokok

(BECOG)

hanyalah

mengandung

ongkos-ongkos penambangan, pengolahan dan G&A. Perolehan


,

ongkos-ongkos

SRF

dan

harga

komoditas

dan
sudah

diperhitung-kan dalam NSR.

PERHITUNGAN KADAR BATAS


Contoh untuk Cu :
Ongkos penambangan (

Ongkos pengolahan (

Ongkos G & A
Perolehan pabrik (

per ton material

$ 0.75

per ton bijih

$ 3.25

per ton bijih

$ 0.25

94 %
per pound product

Perolehan smelter

Harga tembaga

$ 0.275
96.15 %

per pound

$0.95

Penghasilan = Biaya (titik pulang pokok ; untuk satu ton bijih)


Harga x Kadar x Mill Rec x Smlt Rec x 20 = Ongkos (Mine + Mill + G&A) +
SRF x Kadar x Mill Rec x SMLT Rec x 20
Harga x Kadar x Mill Rec x Smlt Rec x 20 SRF x Kadar x Mill Rec x Smlt
Rec x 20 = Ongkos (Mine + Mill + G&A)
(Harga SRF) x Kadar x Mill Rec x Smlt Rec x 20 = Ongkos (Mine + Mill +
G&A)

I - 33

Kadar batas pulang pokok =

=
= 0.35 % Cu
Catatan :
Angka 20 adalah faktor konversi dari % ke pound (dengan satuan pound per
persen. Untuk proyek dengan satuan metrik faktor konversinya adalah
22.046. untuk logam mulia (mis : emas) tidak diperlukan faktor konversi
karena satuannya sudah langsung dalam satuan produksi (oz/ton atau
gram/ton).

Tabel 3.1
Perhitungan Kadar Ekivalen
Harga Komoditas
Perolehan Pabrik
Perolehan Smelter/Konverter
Biaya Smelting Konversi per pound

1.

Tembaga
$ 0.90
88 %
96.1 %
$ 0.324

Moly
$ 3.00
70 %
99 %
$ 0.81

Hitung nilai NSR dari 1 ton bijih dengan kadar 1% Cu


($ 0.90 - $ 0.324) (1%) (0.88) (0.961) (20 lb/%) = $ 9.74

2.

Hitung nilai NSR dari 1 ton bijih dengan kadar 1% Moly


($ 3.00 - $ 0.81) (1%) (0.70) (0.99) (20 lb/%) = $ 30.35

3.

Faktor Ekivalen = NSR Moly / NSR Tembaga $ 30.35 / $ 9.74 = 3.1160

4.

Tembaga Ekivalen = Kadar Cu + 3.1160 x Kadar Moly

Tabel 3.2
Perhitungan NSR dan BESR
Cu Eq
0.266
0.30
0.35

NSR
3.40
3.83
4.47

BESR
-0.00
0.79
1.95

I - 34

0.40
0.45
0.50
0.55
0.60
0.65
0.70
0.75
0.80
0.85
0.90
0.95
1.00
1.05
1.10
1.15
1.20

5.11
5.75
6.39
7.03
7.66
8.30
8.94
9.58
10.22
10.86
11.50
12.13
12.77
13.41
14.05
14.69
15.33

3.11
4.27
5.43
6.59
7.75
8.91
10.08
11.24
12.40
13.56
14.72
15.88
17.04
18.20
19.37
20.53
21.69

I - 35

Gambar 3.1. Grafik Hubungan Antara BESR Dan NSR Dengan Kadar
Cu Eq

PEKERJAAN RUMAH 3
Topik : Perhitungan BECOG, ICOG, dan Faktor Eq
Data Ekonomik Awal untuk Cebakan KS Creek (dalam $US)

Mining Cost Per Tonne Total Material

$ 0.55

Milling Cost Per Tonne Ore

$ 2.10

General and Administrative (G&A) Per Tonne Ore

$ 0.75

Mill Recovery of Copper

92 %

Mill Recovery of Gold

80 %

Smelting, Freight, Refining (SFR) Per Pound

$ 0.345

Payable Copper
Smelter Payable (Recovery) of Copper

96.15 %

Smelter Payable (Recovery) of Gold

98 %

Copper Price Per Pound

$ 1.00

Gold Price Per Tr Oz and (Per Gram)

$ 375 ($ 12.06)

I - 36

Breakeven Cutoff Grade for Copper

Internal Cutoff Grade for Copper

Copper Equivalent = Total Copper + .?. x Gold

BAB IV
PERTIMBANGAN DASAR RENCANA PENAMBANGAN

4.1. PERTIMBANGAN EKONOMIS


4.1.1. Cut off Grade
Ada 2 pengertian tentang
a.

ade, yaitu :

Kadar endapan bahan galian terendah yang masih memberikan


keuntungan apabila ditambang.

b. Kadar rata-rata terendah dari endapan bahan galian yang masih


memberikan keuntungan apabila endapan tersebut ditambang.
inilah yang akan menentukan batas-batas atau besarnya
cadangan, serta menentukan perlu tidaknya dilakukan
I - 37

4.1.2. Break Even Stripping Ratio (BESR)


Untuk

menganalisis

kemungkinan

sistem

penambangan

yang

akan

digunakan, apakah tambang terbuka ataukah tambang bawah tanah, maka


dipelajari

(BESR), yaitu perbandingan antara

biaya penggalian endapan bijih (


penutup (

) dengan biaya pengupasan tanah

) atau merupakan perbandingan biaya penambangan

bawah tanah dengan penambangan terbuka. BESR ini juga disebut


.

BESR =
Misalnya biaya penambangan secara tambang bawah tanah = 2,00/ton ore,
biaya penambangan secara tambang terbuka = 0,30/ton ore dan ongkos
pengupasan tanah penutup = 0,35/ton waste. Maka untuk memilih salah
satu sistem penambangan digunakan rumus BESR (1).

BESR(1) =
Ini berarti bahwa hanya bagian endapan yang mempunyai BESR yang lebih
rendah dari 4,86 yang dapat ditambang secara tambang terbuka dengan
menguntungkan. Jadi 4,86 adalah BESR(1) tertinggi yang masih dibolehkan
untuk operasi tambang terbuka dengan kondisi tersebut di atas. Setelah
ditentukan bahwa akan digunakan sistem tambang terbuka, maka dalam
rangka pengembangan rencana penambangan digunakan BESR (2) dengan
rumus sebagai berikut.

BESR(2) =
BESR(2) ini juga disebut

yang artinya berapa besar

keuntungan yang dapat diperoleh bila endapan bijih itu ditambang secara
I - 38

tambang terbuka. Contoh perhitungan BESR (2) untuk


bijih tembaga kadar

0,80%, 0,75% dan 0,60%Cu adalah sebagai berikut.


Dari hasil perhitungan seperti terlihat pada Tabel 4.1 bila harga logam

Cu

= $0,35/lb, ternyata untuk bijih Cu (ore) dengan kadar 0,80% mempunyai


BESR 1,5 : 1 dan kadar 0,60% Cu mempunyai BESR 0,6 :1. dengan
demikian selanjutnya untuk harga metal $0,30/lb dan $0,35/lb Cu juga
dihitung BESR-nya. Setelah masing-masing BESR dihitung untuk setiap
kadar Cu dan untuk berbagai harga logam Cu, kemudian dapat dibuat grafik
BESR vs kadar Cu (lihat Gambar 4.1).
Dari grafik BESR (lihat Gambar 4.1) terlihat bahwa tinggi rendahnya BESR
sangat dipengaruhi oleh :
- kadar logam dari bijih yang akan ditambang
- harga logam di pasaran
Jadi pada dasarnya, jika terjadi kenaikan harga logam di pasaran, dapat
mengakibatkan perluasan tambang karena cadangan bertambah, sebaliknya
jika harga logam turun maka jumlah cadangan akan berkurang.

Tabel 4.1
Contoh Perhitungan Break Even Stripping Ratio (BESR)
Kadar bijih, % Cu
,%
Cu/ton ore, lb

0,80
81,80
14,10

0,70
83,02
12,20

0,60
85,80
10,30

ONGKOS PRODUKSI
Penambangan
Miling, Dpr. & Gen. Cost
etc.
Ongkos produksi total

$
$
$
$

ONGKOS PENGUPASAN
Ongkos pengupasan /ton waste

$ 0,40

$ 0,40

$ 0,40

Harga jual per ton bijih


1. Untuk $ 0,25/lb Cu
BESR
2. Untuk $ 0,30/lb Cu

$ 3,53
2,5 : 1
$ 4,23

$ 3,05
1,5 : 1
$ 4,23

$ 2,58
0,6 : 1
$ 3,09

TIAP TON BIJIH


0,45
$ 0,45
1,25
$ 1,25
0,85
$ 0,76
2,55
$ 2,46

I - 39

$
$
$
$

0,45
1,25
0,65
2,35

BESR
3. Untuk $ 0,35/lb Cu
BESR

4,2 : 1
$ 4,94
6,0 : 1

3,0 : 1
$ 4,27
4,5 : 1

1,8 : 1
$ 3,61
3,2 : 1

Gambar 4.1. Contoh Grafik BESR


4.2. PERTIMBANGAN TEKNIS
4.2.1. Ultimate pit slope
adalah batas akhir atau paling luar dari suatu tambang
terbuka yang masih diperbolehkan, dan pada kemiringan ini jenjang masih
tetap mantap (stabil).
Jadi dalam menentukan kemiringan lereng suatu tambang harus ditinjau dari
dua segi, yaitu :
dari segi ekonomis masih menguntungkan
dari segi teknis keamanannya bisa dijamin.
Dengan demikian, maka faktor-faktor yang mempengaruhi kemiringan
lereng (

) suatu tambang adalah :


I - 40

BESR yang masih diperbolehkan


Struktur geologi yang meliputi joint, bidang-bidang geser, patahan, dll.
Ada air, yaitu kandungan air tanah di dalam lapisan-lapisan batuan.
Unsur waktu.
Hubungan antara

dengan BESR dapat berubah-ubah

tergantung dari harga metal di pasaran (lihat Gambar 4.2).

4.2.2. Sistem penirisan


Secara garis besar sistem penirisan tambang (

) dapat dibagi

menjadi 2 (dua) golongan yaitu :


- sistem penirisan langsung (

- sistem penirisan tidak langsung (

1) Sistem Penirisan Langsung


Adalah sistem penirisan dengan cara mengeluarkan (memompa) air yang
sudah masuk ke dalam tambang.

Gambar 4.2. Hubungan Antara Ultimate Pit Limit Dengan BESR

I - 41

Sistem penirisan langsung dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :


a)

Penirisan dengan

atau

Cara penirisan ini hanya bisa diterapkan untuk tambang yang terletak di
daerah pegunungan atau berbentuk bukit.
Air

yang

masuk

mengalirkan air

ke dalam

tambang dikeluarkan dengan

dari dasar tambang ke

terowongan (

luar

cara

tambang melalui

).

b) Penirisan dengan
Cara penirisan inilah yang pada umumnya banyak digunakan di
tambang-tambang terbuka.
Air yang masuk ke dalam tambang dikumpulkan ke suatu sumuran
(

) yang biasanya dibuat di dasar tambang dan dari sumuran

tersebut kemudian air dipompa keluar tambang.

2) Sistem penirisan tak langsung


Adalah sistem penirisan dengan cara mencegah masuknya air ke dalam
tambang (

) artinya dengan cara membuat

beberapa lubang bor dibagian luar daerah penambangan atau di jenjang


kemudian dari lubang-lubang bor tersebut air dipompa ke luar tambang.
Ada beberapa macam cara penirisan tak langsung, yaitu :

4.2.3. Ukuran Jenjang (bench dimension)


Cara-cara

pembongkaran

akan mempengaruhi ukuran jenjang.

beberapa pendapat tentang ukuran jenjang itu, antara lain :

I - 42

Ada

1)

Menurut Head Quarter of US Army (pits and quarry tehnical


bulletin) No : (5-352)
W minimum = Y + Wt + Ls + G + Wb
keterangan :
W minimum : lebar jenjang minimum, m
Y

: lebar yang disediakan untuk pengeboran, m

Wt : lebar yang disediakan untuk alat-alat, m


Ls

: panjang power shovel tanpa panjang boom, m

dari power shovel, m

Wb : lebar untuk

,m

2) Menurut Lewis (elements mining)


Tinggi jenjang adalah sebagai berikut.
a.

Untuk cara

yang baik adalah 200 ft dan maksimum

600 ft.
b. Untuk

kedalaman ideal antara 50 ft-80 ft, tetapi ada yang

sampai 130 m.
c.

Untuk

antara 12 ft75 ft; yang baik adalah 30 ft.

Sedangkan untuk tambang bijih dapat sampai 225 ft. Lebar jenjang
disesuaikan dengan

, daerah operasi

serta untuk peledakan, lebarnya antara 20 ft76 ft, umumnya 50 ft


dan yang ideal 30 ft.

3) Menurut L. Sheyyakov (mining of mineral deposits)


Lebar jenjang tergantung pada metoda penggalian dan kekerasan
mateial yang ditambang.
a.

Untuk material lunak


B = (1,00 sampai 1,50) Ro + L + L1 + L2
keterangan :
I - 43

= lebar jenjang, m

Ro =
L

dari alat muat, m

= jarak antara sisi jenjang (

) dengan rel, 3-4 m

L1 = lebar lori, 1,753,00 m


L2 = jarak untuk menjaga agar tidak longsor, m
b. Untuk material keras
B = N + L + L1 + L2
keterangan :
B

= lebar jenjang, m

= lebar yang dibutuhkan untuk

,m

Disini tidak disediakan lebar untuk alat-muat/gali karena dianggap alat


muat bekerja disamping

4) Menurut Melinkov dan Chevnokoy (safety in open cast mining)


a. Untuk lapisan yang lunak (

B = 2R + C + C1 + L
keterangan :
B = lebar jenjang, m
R =

dari alat muat, m

C = jarak sisi jenjang

ke garis tengah rel, m

L = lebar yang disediakan untuk pengaman (


selebar

, m

b. Untuk lapisan yang keras (

B = a + C + C1 + L + A
keterangan :
B = lebar jenjang, m
a = lebar untuk

,m

A = lebar pemotongan pertama (awal), m

5) Menurut Popov (the working of mineral deposit)


I - 44

), biasanya

a.

Tinggi jenjang dan kemiringannya


(i) Kemiringan jenjang tergantung dari kandungan air pada
material. Material yang relatif kering biasanya memungkinkan
kemiringan jenjang yang lebih besar.
(ii) Umumnya tinggi jenjang berkisar antara 1215 m, dengan
kemiringan :
untuk batuan beku

: 70o - 80o

untuk batuan sedimen

: 50o - 60o

untuk pasir kering

: 40o - 50o

untuk batuan yang

: 35o - 45o

b. Lebar jenjang
Lebar jenjang antara 4060 m, biasanya juga dibuat antara
80100 m. Jika memakai

. Lebar minimum

untuk batuan keras :


Vr = A + C + C1 + L + B
keterangan :
Vr = lebar jenjang minimum, m
A = lebar

,m

C = jarak sisi timbunan ke sisi tengah rel, m


C1 = 0,50 lebar lori = 23 m
B = lebar endapan yang diledakkan = 612 m
L = lebar yang disediakan untuk menjamin
dari endapan pada jenjang di bawahnya.

6) Menurut Young (elements of mining)


a.

Tinggi jenjang
Untuk tambang bijih besi antara 20 40 ft
Untuk tambang bijih tembaga 30 70 ft
Untuk

b.

dapat sampai 200 ft

Lebar jenjang

I - 45

Antara 50250 ft
c.

Kemiringan jenjang
Antara 45o 65o

7) Menururt E. P. Pfleider (surface mining)


Tinggi jenjang : L = Lm x Sf
keterangan :
L

= tinggi jenjang, m

Lm =

dan alat muat

Sf =
= 1/3 untuk cara

dan = 0,50 untuk cara

8) Menurut Hustrulid (open pit mine planning and design)


Pada tambang terbuka, masing-masing jenjang memiliki permukaan
bagian atas dan bagian bawah yang dipisahkan oleh jarak H yang
disebut dengan tinggi jenjang. Kemudian permukaan sub-vertikal yang
tersingkap

dan

disebut

dengan

digambarkan dengan kaki lereng (


jenjang (

muka

jenjang.

), puncak (

Semuanya

itu

) dan sudut muka

. Sudut muka jenjang ini dapat bervariasi

tergantung dari karakteristik batuan, orientasi jenjang dan peledakan.


Pada batuan keras sudut ini bervariasi antara 550 800 . Bagian-bagian
jenjang tersebut dapat digambarkan pada Gambar 4.3.

I - 46

Gambar 4.3. Bagian-Bagian Jenjang Menurut Hustrulid


Permukaan jenjang yang tersingkap paling bawah disebut jenjang dasar
(

. Lebar jenjang ini adalah jarak antara

dan

diukur sepanjang permukaan jenjang bagian atas. Lebar

yang
adalah

proyeksi horisontal dari muka jenjang. Terdapat beberapa tipe jenjang.


Jenjang kerja adalah suatu jenjang dimana dilakukan proses penambangan.
lebar yang digali dari jenjang kerja ini disebut
didefinisikan sebagai jarak dari
baru setelah
Setelah

. Lebar jenjang kerja (WB)

pada jenjang dasar keposisi

yang

digali (lihat Gambar 4.4).

dipindahkan maka akan terlihat sisanya adalah sebagai jenjang

pengaman atau jenjang penangkap (

) dengan lebar SB. Tujuan

pembuatan jenjang penangkap ini adalah :


a.

Untuk mengumpulkan material yang meluncur dari jenjang yang ada di


atasnya

b. Untuk memberhentikan pergerakan


I - 47

yang bergerak ke bawah

Kedua fungsi tersebut dapat digambarkan pada Gambar 4.5.

Gambar 4.4. Penampang Jenjang Kerja

Gambar 4.5. Fungsi Jenjang Penangkap


Secara umum lebar dari jenjang penangkap adalah 2/3 dari tinggi jenjang
sedangkan

pada

kadang-kadang

akhir

umur

tambang

lebar

jenjang

penangkap

dikurangi sampai kira-kira 1/3 dari tinggi jenjang.


I - 48

Kadang-kadang jenjang ganda (

) ditinggalkan sepanjang

seperti pada Gambar 4.6.

Gambar 4.6. Jenjang Ganda Pada Final Pit Limit


Sebagai tambahan pada jenjang penangkap, tumpukan material bongkahan
(

) biasanya sering terdapat di sepanjang crest. Dengan terdapatnya

tumpukan tersebut maka akan terbentuk suatu saluran antara tumpukan


dan kaki lereng (

) untuk menangkap batuan yang jatuh (

).

Menurut Call (1986) bahwa geometri jenjang penangkap direkomendasikan


untuk didesain seperti pada Gambar 4.7 dan Tabel 4.2.

I - 49

Gambar 4.7. Geometri Jenjang Penangkap (Call, 1986)

Tabel 4.2. Dimensi Jenjang Penangkap (Call, 1986)


Bench height
(m)

Impact
zone (m)

Berm height
(m)

Berm width
(m)

Minimum berm
width (m)

15

3.5

30

4.5

1.5

7.5

5.5

10

45

13

Berikut ini adalah suatu lereng yang terdiri dari 5 jenjang (Gambar 4.8)
dimana sudut lerengnya dibuat dari garis yang menghubungkan kaki lereng
yang paling rendah sampai ke puncak lereng yang paling tinggi sehingga
kemiringan lereng keseluruhannya (

) dapat dihitung sebagai

berikut.

(overall) = tan-1

O
= 50.4

I - 50

Gambar 4.8. Sudut Lereng Keseluruhan


Jika pada Gambar 4.9 terlihat bahwa pada jenjang ketiga terdapat jalan
masuk yang berbelok (

dengan lebar 100 ft maka kemiringan

lerengnya menjadi :

(overall) = tan-1

O
= 39.2

Apabila pada lereng tersebut terdapat jenjang kerja dengan lebar 125 ft
pada jenjang 2 seperti pada Gambar 4.10 maka sudut lereng keseluruhan
menjadi :

I - 51

(overall) = tan-1

O
= 36.98

Gambar 4.9. Sudut Lereng Keseluruhan Dengan Adanya R


amp
Jika

tersebut dibagi menjadi 2 bagian seperti pada Gambar 4.10 yang

masing-masing

tersebut dapat digambarkan dengan sudut lereng.

Sudut ini disebut sudut antar

. Dalam hal ini berlaku

IR1 = IR2 = tan-1

O
= 50.4

I - 52

Gambar 4.10. Sudut Lereng Antar R


amp (Interramp)

I - 53

Gambar 4.11. Sudut Lereng Keseluruhan Dengan Adanya


Jenjang Kerja

I - 54

BAB V
PERANCANGAN BATAS AKHIR PENAMBANGAN
(PIT LIMIT DESIGN)

5.1. KONSEP DASAR


1) Data yang ada :
Model blok cebakan bijih
Data tekno-ekonomik (termasuk sudut lereng)
Pertanyaannya :
Bagaimana menentukan batas akhir penambangan (bentuk/geometri
dari final pit) ?
2) Kadar Batas Pulang Pokok (

) dan Nisbah

Pengupasan Pulang Pokok (

) : berdasarkan

data ekonomik dan perolehan (

) kita dapat menghitung BECOG

dan membuat suatu tabel yang menunjukkan BESR untuk berbagai


kadar batas.
3) Beberapa algoritma perancangan (penentuan pit limit)
a.
b.

Metoda penampang (

/ 2-D)

Pemrograman dinamik 2 Dimensi (2-D

atau

Metoda Lerchs-Grossmann)
c.

Metoda Kerusut mengambang (

d.

Metoda tiga dimensi lainnya :


Teori grafik (

3-D
Aliran Jaringan (

I - 55

) 3-D

5.2.

PERANCANGAN

TAMBANG

DEFINISI

DAN

DASAR

PEMIKIRAN
1) Istilah perancangan tambang biasanya dimaksudkan sebagai bagian dari
proses perencanaan tambang yang berkaitan dengan masalah-masalah
geometrik.

Di

dalamnya

termasuk

penambangan, tahapan

perancangan

batas

akhir

), urutan penambangan tahunan/

bulanan, penjadwalan produksi dan

2) Aspek perencanaan tambang yang tidak berkaitan dengan masalah


geometrik meliputi kebutuhan alat dan tenaga kerja, perkiraan biaya
kapital dan biaya operasi.
3) Penentuan Batas Penambangan (
a.

Tujuan

yang

ingin dicapai adalah

menentukan batas-batas

penambangan pada suatu cebakan bijih (yakni jumlah cadangan


dan kadarnya) yang akan memaksimalkan nilai bersih total dari
cebakan bijih tersebut sebelum memasukkan faktor nilai waktu dari
uang.
i.

Tidak

diperhitungkannya

nilai

waktu

dari

uang

akan

menghasilkan bentuk pit yang paling besar untuk suatu set


parameter ekonomik tertentu.
ii.

Dengan menambahkan faktor bunga (

), besar pit akan

berkurang.
b.

Mengapa faktor nilai waktu dari uang tidak dimasukkan ? Beberapa


alasan :
i.

Untuk proyek dengan jangka waktu panjang (misal : lebih dari


15 tahun), tahap-tahap penambangan terakhir akan memiliki
dampak yang minimal terhadap tingkat pengembalian modal
atau

I - 56

ii.

Selain itu, untuk proyek yang berjangka waktu panjang seperti


ini, cukup masuk akal bahwa faktor teknologi yang semakin
canggih akan mengimbangi faktor nilai waktu dari uang.

c.

Walaupun butir (a) di atas merupakan tujuan yang paling umum,


ada beberapa kasus terutama pada cebakan bijih dengan nisbah
pengupasan yang tinggidimana nilai waktu dari uang perlu
dipertimbangkan pada tahap awal dari evaluasi.

4) Berapa banyak energi yang harus dicurahkan untuk menentukan batas


penambangan ?
a.

Pada fase kelayakan suatu proyek yang berjangka panjang,


tahap-tahap penambangan terakhir akan memiliki dampak yang
minimal terhadap

. Karena itu, mencurahkan terlalu

banyak waktu untuk perancangan batas penambangan barangkali


kurang memiliki alasan yang kuat.
i.

Usaha yang tidak begitu memakan waktu dapat meliputi


penggunaan program

atau 3-D Lerchs-Grossmann

untuk menentukan pit limit, dan melakukan pengecekan awal


apakah hasilnya masuk akal.
ii.

Studi sensitivitas dengan melakukan perubahan-perubahan


kecil pada parameter pokok seperti sudut lereng, harga
komodits, ongkos-ongkos, dan lain-lain. Akan membantu dalam
pemilihan skenario untuk dasar perancangan.

b.

Untuk proyek penambangan dengan jangka waktu yang relatif


singkat, misalnya kurang dari 15 tahun, diperlukan energi dan
waktu lebih banyak untuk menentukan batas penambangan,
terutama bila lereng akhir (

) akan dibuat pada

tahap-tahap awal.
Usaha yang lebih serius dapat meliputi perancangan dua geometri
pit yang berbeda, lengkap dengan jalan angkutnya dan dengan

I - 57

lereng akhir pada berbagai posisi yang berlainan, kemudian dipilih


alternatif mana yang terbaik.
c.

Pada tahap-tahap belakangan, khususnya ketika lereng akhir


dengan nisbah pengupasan yang relatif besar akan dibuat, energi
yang besar perlu dicurahkan untuk perancangan pit limit ini.
Studi kelayakan yang memakan waktu beberapa bulan dapat
dilakukan. Beberapa alternatif rancangan dapat dibuat untuk
melihat detail dari penjadwalan produksi, kebutuhan alat serta
ongkos-ongkos.

5.2.1. Metoda Penampang 2 Dimensi


1) Penentuan

batas

penambangan

secara

manual

membutuhkan

pertimbangan-pertimbangan yang sifatnya subyektif. Dua orang yang


berbeda mungkin akan memperoleh batas-batas penambangan (
) yang tidak persisi sama.
2) Deskripsi metoda penampang (2-D
a.

Mulai dengan model blok (skala horisontal = skala vertikal).


Tentukan sudut lereng keseluruhan. Hitung BECOG dan buat tabel
yang menunjukkan BESR untuk berbagai kadar batas.

b.

Untuk setiap penampang tentukan batas penambangan (


) pada sudut lereng tersebut. Tentukan posisi lereng akhir
dimana BESR kumulatif dari blok-blok bijih akan dapat membayar
pengupasan tanah penutupnya.

c.

Pindahkan
horisontal (

dari penampang vertikal (

) ke

). Dalam memindahkan rancangan pit,

hanya titik-titik pada level dimana terjadi perubahan rancangan


yang berarti perlu dipindahkan.

I - 58

Level atau jenjang yang penting meliputi bagian atas dan bawah
dan lereng yang panjang, dan jenjang dimana sudut lereng
berubah. Tidak semua titik pada setiap jenjang perlu dipindahkan.
d.

Buat kontur batas penambangan pada penampang horisontal.


Rancangan

batas

akhir

penambangan

harus

cukup

halus.

Menghubungkan setiap titik secara kaku pada level map tidak akan
memberikan hasil yang diinginkan. Beberapa titik pada level map ini
mungkin harus diabaikan.
e.

Untuk penampang-penampang (

) di dekat ujung cebakan

bijih, sudut lereng dapat dibuat sedikit lebih landai.


f.

Kuantitas dan kadar cadangan yang terdapat di dalam batas


penambangan dapat ditabulasikan dari jumlah, berat dan kadar
blok di tiap-tiap jenjang.

3) Asumsi Implisit metoda penampang 2-D


a.

Walau

bagaimanapun, penambangan di bagian tengah dari

cadangan pasti akan terjadi. Kita hanya perlu menetapkan batas


penambangan yang paling luar saja.
b.

Cebakan bijih memiliki bentuk cukup memanjang ke arah yang


tegak lurus dari penampang-penampang vertikal yang digunakan.

4) Pedoman pokok dalam menentukan batas penambangan


a.

Setiap blok bijih yang akan ditambang harus dapat membayar atau
mendukung pengupasan (

b.

) dirinya sendiri.

Jika sebuah blok bijih dapat ditambang karena kontribusi dari


blok-blok bijih lain yang terletak diatasnya (dan pada jalur
penambangan blok ini), maka blok bijih ini harus ditambang.
Kontribusi dari tiap-tiap blok dapat dijumlahkan, jadi rata-rata untuk
beberapa blok diperbolehkan.

I - 59

c.

Jika dua blok bijih yang terpisah satu sama lain dapat ditambang
karena kontribusi simultan dari pengupasan waste yang sama,
maka kedua blok ini harus ditambang.

d.

Tidak ada blok waste yang boleh ditambang kecuali bila ia terletak
pada jalur penambangan dari suatu blok bijih yang terletak di
bawahnya.

5.2.2. Pemrograman Dinamik 2-D (Metoda Lerchs-Grossman)


1) Pemrograman Linier vs. Pemrograman Dinamik
a.

Pemrograman linier (linier programing) dirancang untuk proses


suatu tahap. Biasanya di dalamnya tidak terlibat elemen waktu atau
urut-urutan berdasarkan waktu (

T (D,S)

).
S

Masukan

keluaran

S
Return R1

Solusi

optimal (yaitu nilai-nilai keputusan) diperoleh dengan

mengikuti algoritma simplex.


Tujuan : mengoptimalkan R1.
b.

Pemrograman dinamik (

) ditujukan untuk

proses beberapa tahap (

). Biasanya melibatkan

elemen
(

waktu

dari

keputusan-keputusan

).

yang

berurutan

atau CPM adalah suatu

contoh baik. Proses multi tahap merupakan uatu masalah dimana


keputusan yang berurutan harus diambil, dansetiap keputusan akan
mempengaruhi ruang lingkup pengambilan keputusan berikutnya.

I - 60

n
Tujuan : mengoptimalkan R = RI dengan
memilih secara tepat

i=1
nilai-nilai variabel keputusan. Solusi optimal diperoleh dengan
mengikuti prinsip Optimalitas Dinamik dari Bellman yang intinya:
apapun

yang

telah

kita

lakukan

dimasa

yang

lalu,

keputusan-keputusan mendatang harus optimal relatif terhadap


situasi

saat

ini.

Solusi

optimal

ini

merupakan

suatu

kumpulan-kumpulan keputusan yang berurutan, misalnya sebuah


kebijakan (

2) Pemrograman Dinamik 2- Dimensi (Metoda Lerchs-Grossman)


Memiliki motivasi bahwa pada dasarnya penentuan batas penambangan
yang optimum menggunakan penampang (2-D cross section) mudah
dilakukan.
3) Asumsi-asumsi dasar
a.

Nilai ekonomik tiap blok diketahui/dapat dihitung.

b.

Sudut lereng keseluruhan diberikan sebagai masukan.

c.

Tujuan : memaksimalkan keuntungan total (nilai material yang


ditambang dikurangi ongkos penambangan)

4) Algoritma
a.

Sudut lereng
i.

Jika ukuran blok dalam model sudah pasti, tentukan jumlah


blok ke

atas dan ke bawah untuk setiap blok (pada

penampang) yang paling mendekati kendala sudut lereng.

I - 61

ii.

Jika ukuran blok masih dapat diatur, pilihlah sedemikian rupa


sehingga geometri ukuran blok sesuai dengan sudut lereng.

b.

Hitung nilai ekonomik dari tiap blok, yaitu pendapatan dari nilai jual
dikurangi ongkos penambangan blok tersebut, ongkos pengolahan
dan ongkos G&A (

). Nilai

ekonomik ini kita sebut sebagai

atau mij.

Pada penampang 2-dimensi, blok (i,j) terletak pada baris i dan


kolom j.
c.

Hitung jumlah nilai ekonomik dari blok-blok yang berada di satu


kolom dengan blok (i,j). Ini kita definisikan sebagai
atau Mij.
i
Mij = mkj
k=1

d. Pada penampang kita tambahkan baris 0, lalu hitung


atau Pij sebagai berikut.
Poj = 0
Kemudian, untuk tiap kolom mulai dari kolom 1 :
Pij = Mij + max (Pi+k,j-1) untuk k = -1,0,1
e. Beri tanda panah untuk menandai maksimum dari blok (i,j) ke blok
(i+k,j-1) tanda panah ini harus mengarah dari kanan ke kiri.
i.

Untuk kolom pertama (j = 1), buatlah Pij = Mij

ii.

Pij mewakili nilai paling besar yang dapat diperoleh dari


penambangan blok (i,j) dan semua blok di atasnya, serta
blok-blok di sebelah kirinya

f.

Pilih jalur optimal (yang akan menandai kontur permukaan tambang


atau batas penambangan) dengan mencari kolom j yang memiliki
nilai Pij positif dan terbesar di permukaan (di baris 1).
i.

Kontur batas penambangan akan diperoleh dengan mengikuti


arah anak panah dari kanan ke kiri, mulai dari blok ini.
I - 62

ii.

Jika nilai Pij di permukaan (baris 1) semua negatif, berarti tidak


ada blok yang ekonomik untuk ditambang pada penampang
yang bersangkutan.

Langkah-langkah tersebut di atas dapat direpresentasikan sebagai berikut.

Gambar 5.1. Geometri Badan Bijih Untuk Contoh


Lerchs-Grossman 2-D (Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.2. Nilai Ekonomik Mula-Mula dari Setiap Model Blok


(Hustrulid & Kutcha,1995)

I - 63

Gambar 5.3. Nilai Ekonomik Akhir dari Setiap Model Blok


(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.4. Perhitungan dari Penjumlahan Kumulatif Untuk Kolom 6


(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.5. Kumulatif Penjumlahan Yang Lengkap


(Hustrulid & Kutcha,1995)

I - 64

Gambar 5.6. Prosedur Penentuan Arah Nilai Kumulatif Maksimum


dan Minimum (Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.7. Pergerakan Proses penjumlahan Pada Kolom 7


(Hustrulid & Kutcha,1995)

I - 65

Gambar 5.8. Penentuan Pit dan Nilai Total Dengan Anak Panah
(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.9. Nilai Blok Individu Untuk Dua Bagian Pit


(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.10. Proses Penjumlahan Pada Seluruh Bagian (Hustrulid &


Kutcha,1995)

Gambar 5.11. Penentuan Pit Yang Optimum


I - 66

(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.12. Perpaduan Batas akhir Pit Yang Optimum Pada Blok
Model (Hustrulid & Kutcha,1995)
5.2.3. Metoda Kerucut Mengambang (Floating Cone 3-Dimensi)
1) Tujuan
a.

Menentukan batas akhir satu tambang terbuka (

dengan menggunakan analisis ekonomik pulang pokok (


).
b) Sasaran

yang

penambangan

ingin

dicapai

mengharuskan

dalam

penentuan

batas

akhir

batas akhir

tersebut

dihitung

menggunakan dasar ekonomik pulang pokok.


c)

Keuntungan dari menambang tahapan bijih terakhir harus tepat


membayar biaya pengupasan lapisan penutupnya.

2) Masukan Data Yang diperlukan


a) Model Blok Cadangan Bijih
i. Model komputer yang membagi cebakan bijih menjadi blok-blok
yang seragam
ii. Tiap blok memiliki informasi tentang tofografi, geologi dan
taksiran kadar mineral
iii. Informasi

yang

disimpan

dalam

tiap blok

cukup

menghitung nilai ekonomiknya dari data ekonomi yang ada


I - 67

untuk

b) Data Ekonomik
i. Harga komoditas (Cu, Au, Ag, Mo, ...... dll)
ii. Semua ongkos-ongkos yang berkaitan dengan penambangan
dan pengolahan bijih :
Ongkos penambangan per ton bijih
Ongkos penambangan/pengupasan per ton lapisan penutup
Ongkos pengolahan (penggerusan,

) per ton

bijih
Perolehan (

) dari proses pengolahan

Ongkos peleburan, pemurnian dan pengangkutan (SRF) per


unit produk akhir komoditas
Perolehan (

) dari peleburan dan pemurnian

Ongkos umum dan administrasi (G&A) per ton bijih


Ongkos royalti
c)

Data Sudut Lereng


i. Satu sudut lereng yang sama untuk pit , atau
ii. Sudut lereng yang bervariasi dengan zona-zona di pit

d) Lebar Pit Bottom Minimum cukup untuk ruang kerja peralatan


3) Algoritma

bekerja dalam dua tahap :

a) Pada tahap pertama, taksiran kadar blok dan parameter ekonomik


(harga

komoditas,

ongkos

penambangan

dan

pengolahan,

perolehan dan royalti) digunakan untuk membuat suatu model blok


ekonomik. Setiap blok memiliki nilai moneter, blok bijih nilainya
positif dan blok lapisan penutup (
mewakili

keuntungan

bersih

dari

) negatif. Nilai uang ini


penambangan

blok

yang

bersangkutan.
b) Pada tahap kedua analisis kerucut mengambang dilakukan terhadap
blok-blok dalam model, dari atas ke bawah. Dasar (bagian lancip)
dari suatu kerucut terbalik diletakkan di pusat setiap blok bijih (blok
yang nilainya positif)
I - 68

i.

Suatu

analisis

ekonomik

kemudian

dilakukan

dengan

menjumlahkan nilai uang dari seluruh blok di dalam kerucut


terbalik ini. Jika hasilnya positif, semua blok ini harus
ditambang/dikeluarkan dari model dan tidak lagi diperhitungkan
dalam analisis berikutnya.
ii.

Kerucut ini digerakkan secara sistematis dalam model blok


hingga semua material yang ekonomis habis ditambang.
Kerucut dimulai dari atas dan bergerak ke bawah, kemudian
mulai lagi dari atas model blok untuk mengambil blok-blok yang
mungkin sekarang menjadi ekonomis karena pengupasan
material
berlangsung

oleh blok-blok bijih di bawahnya. Ini akan


hingga tak ada

lagi

material yang dapat

ditambang.
iii. Dinding lereng dari kerucut ini memililki sudut yang sama
dengan sudut lereng tambang yang ditentukan.
iv. Jari-jari penambangan minimum atau lebar minimum pada
merupakan salah satu masukan. Biasanya jari-jari ini
dibuat berukuran 1,5 kali ukuran blok, sehingga lebar minimum
di

adalah 9 blok (cukup untuk beroperasinya

peralatan).
v.

Analisis kerucut mengambang ini menggunakan pendekatan


blok utuh terdekat. Jadi, jika pusat blok berada di dalam
kerucut maka seluruh blok itu dianggap berada dalam kerucut.

vi. Sembarang

bentuk pit dapat didekati dengan membuat

kerucut-kerucut

satu

sama

lain.

dimungkinkan karena blok-blok yang ditambang pada kerucut


sebelumnya berubah statusnya menjadi blok udara, sehingga
tidak lagi diperhitungkan dalam analisis ekonomik kerucut
berikutnya. Jika semua kerucut terbalik ini kita gabungkan,
sebuah geometri

akan terbentuk. Selubung paling luardari


I - 69

bentu

ini berada pada posisi pulang pokok relatif terhadap

data masukan (input) yang kita berikan.


4) Aspek

lain

Penerapan

metoda

kerucut

mengambang

untuk

perancangan penahapan penambangan (pushback)


a)

Jika harga komomditas diturunkan, BECOG akan naik dan BESR


akan turun. Geometri kerucut mengambang yang diperoleh akan
menjadi lebih kecil dan cadangan tertambangnya lebih kecil pula.

b) Jika harga komoditas terus diturunka, akan diperoleh suatu serial


geometri pit (bentuk/geometri
penambangannya

dari besar ke kecil). Proses

akan mentargetkan

dulu blok-blok dengan

potensi keuntungan paling besar (untuk harga komoditas paling


rendah). Blok-blok yang merupakan target berikutnya secara
bertahap akan ditambang hingga batas akhir dari pit tercapai (pada
harga komoditas yang diproyeksikan)
c)

Serial geometri ini menjadi indikator atau pedoman urutan


pengambilan bijih. Hal ini amat berguna dalam merancang
tahap-tahap penambangan (

Berikut ini adalah cara mengoptimasi

).
dengan cara

dengan data nilai ekonomik dari setiap blok model yang sama dengan pada
Lerch-Grossman 2D.

Gambar 5.13. Nilai Ekonomik Model Blok Untuk F


loating Cone
I - 70

(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.14. Keadaan Setelah Membuat Floating Cone 2 Baris


(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.15. Keadaan Setelah Membuat Floating Cone 3 Baris


(Hustrulid & Kutcha,1995)

I - 71

Gambar 5.16. Keadaan Setelah Membuat Floating Cone 4 Baris


(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.17. Keadaan Setelah Membuat Floating Cone 5 Baris


(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.18. Keadaan Setelah Membuat Floating Cone 6 Baris


(Hustrulid & Kutcha,1995)
Pada Gambar 5.18 terlihat bahwa hasil penentuan pit yang optimum dengan
cara

memberikan

hasil

yang

sama

dengan

cara

.
Contoh Soal :
Dengan menggunakan pendekatan kerucut mengambang (
yang benar, hitunglah keuntungan bersih yang akan diperoleh dari
I - 72

penampang tambang terbuka di bawah ini. Tunjukan pula blok-blok yang


akan ditambang/tidak akan ditambang.
Permukaan

45o sudut lereng


1

nilai blok 1 = Rp.

80 juta

nilai blok 2 = Rp. 100 juta


nilai blok 3 = Rp.

20 juta

Ongkos Penggalian/penambangan = Rp. 10 juta/blok


Catatan :
Nilai blok adalah

dikurangi biaya pengolahan dan biaya tak

langsung, tetapi tidak termasuk biaya penambangan.


Jawaban :

2
3

Blok yang ditambang


Blok yang tidak ditambang
Net profit
penggalian/penambangan

= nilai blok 1 + nilai blok 2 - ongkos

= 80 juta + 100 juta - (12 x 10 juta)


= 180 juta 120 juta
I - 73

= 60 juta

PEKERJAAN RUMAH 4

Topik : Penentuan Ultimate Pit Limit dengan Metode Manual


Buatlah Resume mengenai Metode Penampang 2 Dimensi Secara Manual.

PEKERJAAN RUMAH 5
Topik : Penentuan Ultimate Pit Limit dengan Metode Lerchs-Grossman

Suatu penampang blok model dengan Net Value untuk tiap-tiap blok sebagai
berikut

I - 74

-2

-2

-2

-2

-2

-2

-2

-2

-8

-8

-15

1 -15

-23

-7

-7

-7

-7

-7

-7 -23

1. Tulis prosedur dasar untuk penggunaan metode Dynamic Programming


(Lerchs-Grossman) bagi penentuan Ultimate Pit Limit!
2. Berikan komentar atas hasil yang diperoleh!

PEKERJAAN RUMAH 6
Topik : Evaluasi Ekonomi Pit dengan metode Kerucut Mengambang
(Floating Cone)
Wakil Direktur operasi suatu perusahaan pertambangan emas skala kecil meminta
Saudara untuk memeriksa kembali pit yang dihasilkan oleh stafnya dengan
mennggunakan metode floating cone. Data-data ekonomi yang digunakan untuk
floating cone adalah sebagai berikut :

Biaya penambangan per total ton

$ 0.591

Biaya pengolahan per ton bijih

$ 1.80

Biaya Umum dan Administrasi per ton bijih

$ 0.50

Perolehan emas

85.6 %

Harga emas per troy ounce

$ 400

Kemiringan lereng

45
I - 75

Saudara melakukan perhitungan menggunakan metode floating cone dengan


parameter yang sama dan mendapatkan geometri pit yang lebih kecil. Gambar 1
menunjukkan pit klien anda dan gambar 2 menunjukkan hasil perhitungan anda.
Dengan perbandingan sebagai berikut:

Perbandingan Hasil Floating Cone.


Dengan Cutoff Grade 0.007 oz/ton
Kton bijih

Emas (oz/ton)

Total Kton

Pit klien

3.160

0.0207

11.010

Pit anda

2.656

0.0219

7.686

Saudara sangat yakin bahwa hasil perhitungan saudara betul, tetapi perlu
didemonstrasikan secara analitis pada kasus ini. Anda memutuskan untuk
melakukan suatu analisis ekonomi pada material pada pit dan pada selisih
perbedaannya.

1. Lakukan analisis ekonomi pada material pit dan increment dengan


melengkapi tabel terlampir. Kadar selisih adalah 0.0144 oz/ton.
Darimana kadar selisih tersebut berasal?
2. Apakah pit klien anda memiliki geometri yang layak pada harga emas $
400? Jika ya mengapa? Dan jika tidak mengapa?

Pit
klien
Kton bijih
Kadar emas (oz/ton)
Emas yang dikandung (koz)
Perolehan pengolahan
Emas yang diperoleh (koz)
Kton total yang ditambang
Harga emas ($ per troy oz)
Pendapatan kotor ($x1000)
Biaya penambangan per total ton
Biaya pengolahan per ton bijih
I - 76

Pit anda

Selisih

Biaya umum & administrasi per ton


bijih
Biaya penambangan total ($x1000)
Biaya pengolahan total ($x1000)
Biaya umum & administrasi total
($x1000)
Biaya total ($x1000)
Keuntungan bersih ($x1000)
Biaya total per oz yang diperoleh ($)

I - 77

Gambar 1.
Pit Klien

I - 78

Gambar 2.
Pit Anda

I - 79

BAB VI
PENJADWALAN PRODUKSI

6.1. PENDAHULUAN
1) Suatu penjadwalan produksi tambang menyatakan, dalam periode
waktu (misalnya tahun), ton bijih, kadar dan pemindahan material total
yang akan dihasilkan oleh tambang tersebut.
2) Sasarannya
beberapa

adalah

menghasilkan suatu

jadwal

untuk mencapai

sasaran/kriteria ekonomik seperti memaksimumkan


(NPV) atau

(ROR). Kriteria lain di

antaranya dapat menghasilkan suatu kuantitas material semurah


mungkin, dll.
3) Fokus kita adalah perencanaan jangka panjang. Kita akan menghasilkan
suatu jadwal produksi dan kemudian menentukan kebutuhan peralatan
untuk mengoperasikan jadwal tersebut. Pada penjadwalan jangka
pendek fokusnya mungkin berbeda; dengan kendala jumlah peralatan,
kita menentukan jadwal yang terbaik.
4) Selama proses penjadwalan, evaluasi beberapa alternatif sering
dilakukan.
5) Data masukan dasar adalah penyataan tonase dari tahap-tahap
penambangan yaitu tabulasi ton dan kadar per jenjang dari material
yang akan ditambang untuk tiap tahap.

6.2.

ASUMSI

AWAL

YANG

DIPERLUKAN

UNTUK

MENGEMBANG-KAN SUATU JADWAL


1) Tingkat produksi bijih untuk tiap periode waktu
a.

Dapat ditentukan dengan studi perbandingan tingkat produksi.

I - 80

b. Tingkat produksi dapat berubah dengan waktu.


2)

untuk tiap periode waktu.


Beberapa jadwal sering dibuat untuk mengevaluasi strategi
yang berbeda.

3) Dua butir di atas akan mempengaruhi jadwal pengupasan tanah


penutup.

6.3.

PENGAMATAN

TERHADAP

TABULASI

CADANGAN

PER

JENJANG UNTUK TIAP TAHAP


1) Jenjang atas biasanya terdiri dari tanah penutup yang harus dikupas
2) Jenjang dasar umumnya terdiri kebanyakan dari bijih. Bijih ini
merupakan

sumber

yang

akan

menjaga

kelangsungan

pabrik

pengolahan
3) Pada elevasi berapa akan terjadi peralihan dari tanah penutup ke bijih ?
4) Suatu kriteria dalam nisbah kupas. Pada jenjang ke berapa nisbah kupas
akan lebih rendah dari nisbah kupas rata-rata ?

6.4. KEBUTUHAN PENGUPASAN PRA PRODUKSI


1) Berapa banyak material/tanah penutup yang harus dikupas selama
masa pra-produksi ?
2) Jumlah

minimum

adalah

material/tanah

penutup

yang

harus

dipindahkan dari pushback/tahap pertama sehingga pushback ini akan


menjadi sumber penambangan bijih untuk produksi tahun pertama.
3) Proses penjadwalan dapat mengindikasikan jumlah material/tanah
penutup yang disebut diatas, jadi mungkin perlu dilakukan pengupasan
pada

kedua, dan seterusnya.

4) Material bijih yang ditambang selama pra-produksi biasanya ditumpuk di


dekat

dan menjadi bagian dari bijih untuk tahun pertama.

I - 81

6.5.

PENENTUAN JADWAL PENGUPASAN MATERIAL PENUTUP

1) Jadwalkan bijih dari tahap-tahap penambangan (

) sesuai

urutannya.
Untuk tiap periode waktu, kumulatif

dibagi dengan jumlah tahun.

Hasilnya memberikan tingkat produksi rata-rata yang diperlukan untuk


memperoleh bijih.
2) Tabulasikan

(atau material total) berdasarkan tahun.

3) Puncak pemindahan

berhubungan dengan pra-pengupasan yang

dibutuhkan pada setiap tahap. Kita ingin meratakan jadwal produksi


waste dengan pemindahan tanah penutup ini jauh dimuka, misalnya
mulai pengupasan pushback sebelum bijih diperlukan.
a.

Untuk tiap periode waktu, kumulatif waste dibagi dengan jumlah


tahun. Hasilnya memberikan tingkat produksi waste rata-rata yang
diperlukan untuk memperoleh bijih.

b. Hitung nilai kumulatif waste maksimum dibagi dengan jumlah


tahun. Hasilnya adalah tingkat produksi waste per tahun untuk
penjadwalan yang baik dan rata.
c.

Penjadwalan pertama adalah untuk melampaui puncak tertinggi


kemudian mengatur kembali persoalan tersebut untuk puncak
berikutnya.

6.6. KESEIMBANGAN JADWAL


1) Saat ini kita telah mempunyai tingkat produksi bijih dan pemindahan
material total berdasarkan perioda waktu.
2) Langkah berikutnya adalah menambang dari tahap bijih utama dan dari
tahap yang memerlukan pengupasan selama satu periode waktu untuk
mencapai sasaran produksi

I - 82

a.

Persoalannya adalah akan ada waste di dalam bijih dan sebagian


bijih terdapat di dalam material waste.

b. Harus diseimbangkan sehingga jumlah bijih dari semua sumber


mencapai target pula.
i.

(metode coba-coba)

ii.

(menggunakan persamaan serentak)

3) Setelah bijih dan waste (atau material total) dari tiap tahap ditentukan
untuk suatu periode waktu, kadar untuk tahun itu dapat ditentukan
sebagai ton rata-rata berbobot untuk bijih yang ditambang.
6.7. KOMENTAR LAIN-LAIN
1) Kebutuhan bijih tahun pertama harus dikurangi sehingga jumlah bijih
yang dikumpulkan selama pra-produksi dan yang ditambang selama
tahun pertama sama dengan sasaran pabrik tahun pertama.
2) Untuk pabrik yang besar, adalah biasa mengurangi sasaran produksi
tahun pertama misalnya 75% dari kapasitas.
3) Adalah sangat sulit mencegah kesalahan numerik. Lakukan pengecekan
sebanyak mungkin, antara lain :
a.

Bila suatu tahap/

selesai, pastikan bahwa material yang

ditargetkan setiap tahun untuk tahap tersebut sama jumlahnya


dengan jumlah material tahap tersebut untuk bijih dan waste
b. Buat suatu tabel untuk tiap tahun yang memperlihatkan material
berdasarkan
4) Selama proses penjadwalan mungkin terdapat batasan penambangan
lain yang tidak diperhitungkan
a.

Total ton yang dapat ditambang dari suatu tahap selama satu
tahun.

b. Total jumlah jenjang yang dapat ditambang dari satu tahap selama
satu tahun.

I - 83

6.8. PETA TAMBANG


1) Setelah proses penjadwalan dilakukan, maka akan sangat mudah
membuat gambar konseptual tentang keadaan tambang pada akhir
setiap tahun.
2) Kita akan mengetahui jenjang mana yang ditambang dari tiap tahap
selama satu tahun dan kita mempunyai rancangan untuk tiap tahap.
3) Adalah penting membuat peta agar kita dapat mengetahui apakah
jadwal yang telah dibuat dapat dilaksanakan.
a.

akses ke daerah yang diperlukan.

b. Pastikan bahwa suatu jumlah material yang sangat banyak tidak


harus keluar dari satu jalan angkut.

6.9. STRATEGI KADAR BATAS (CUT OFF GRADE STRATEGY)


1) Dapat ditunjukkan bahwa untuk suatu tambang yang mempunyai batas
keuntungan yang cukup memadai, jadwal yang terbaik (di dalam
pengertian pemaksimuman NPV atau ROI) akan dimulai pada
yang lebih tinggi dari

selama tahun-tahun awal dan

menurun ke

pada saat menuju ke akhir umur

tambang.
2) Kan Lane menjelaskan mengapa hal ini terjadi pada teori ekonomik dari
3) Tambang dengan umur yang pendek dan keuntungan yang margin akan
mulai pada strategi internal

pada wal dan tetap pada kadar

batas ini untuk keseluruhan umum tambang.


4) Dengan sebuah program yang secara cepat dapat mengevaluasi jadwal,
strategi cutoff yang terbaik dapat ditentukan dengan cara
.
I - 84

5)

yang lain adalah mencoba mencapai penghasilan sekitar


dua kali biaya operasi untuk 4 atau 5 tahun pertama dari umur
tambang. Hal ini akan memberikan pengembalian modal yang cepat
(

).

Kelemahan metoda manual, jika ada parameter rancangan yang berubah,


maka prosesnya harus diulang kembali. Kelemahan lain adalah tiap pit dapat
dirancang per penampang, tetapi jika telah digabung dan dihaluskan,
hasilnya tidak menggambarkan pit secara keseluruhan dengan baik.
Penggunaan metoda komputer dapat menangani jumlah data dan alternatif
yang lebih banyak dibandingkan dengan metoda manual. Komputer
merupakan

alat

yang

baik

untuk

memisahkan,

memproses

dan

menunjukkan data dari proyek penambangan.


Penggunaan metoda komputer dapat dibagi atas dua kelompok :

a. Computer assisted methods


Perhitungan dilakukan komputer di bawah pengawasan langsung desainer.
Komputer tidak mengerjakan rancangan seluruh rancangan tetapi hanya
melakukan perhitungan dengan pengawasan desainer terhadap prosesnya.
Contohnya akan diberikan pada metoda Lerch-Grossman pada 2 dimensi dan
metoda

pada 3 dimensi.

b. Automated methods
Metoda ini sangat baik dalam merancang

untuk memberikan

pembatasan-pembatasan fisik dan ekonomi tanpa campur tangan insinyur.


Satu

kategori

dari

adalah

melibatkan

teknik

mengoptimalkan secara matematis dengan menggunakan program linear,


program dinamik, atau aliran kerja. Kategori kedua menggunakan metoda
seperti

, tetapi belum tentu merupakan metoda yang

I - 85

paling optimal. Semakin murahnya biaya memproses dengan komputer


maka lebih baik digunakan

untuk masa mendatang.

Karakter lain yang membedakan tipe metode komputer adalah penggunaan


salah satu dari blok secara keseluruhan dari penambangan. Dalam metode
blok keseluruhan, setiap blok ditambang sebagai satu unit atau ditinggalkan
secara utuh, sedangkan dalam metoda blok pembagian satu bagian dari blok
dapat ditambang. Setiap tipe memiliki keuntungan sendiri.
Berikut ini adalah contoh penjadwalan produksi dari suatu penambangan
bijih yang dapat memberikan nilai NPV optimum.
Contoh Soal :
Berdasarkan hasil interpretasi geologi dan perencanaan tambang diperoleh
gambaran blok penambangan bijih sebagai berikut.
W
O

W
O

W
O

W
O

W
O

W
O

W
O

W
O

W
O

W
O

keterangan : W =
O =
Berdasarkan hasil kajian kelayakan awal diperoleh data bahwa :
net value tiap ore blok adalah US$ 2.0

biaya untuk menambang waste tiap blok adalah US$ 1.0

laju produksi per tahun adalah 5 blok

interest rate diasumsikan 10 % (present value factor : 1/ (1+1)0 )

Berdasarkan hasil perencanaan diperoleh 3 (tiga) skenario penjadwalan


produksi sebagai berikut.
1) Pengupasan 5 blok
diikuti oleh penambangan 5 blok
2)

selama 1 tahun kemudian dilanjutkan oleh penambangan 3


blok

/tahun dan pengupasan 2 blok

3) Pengupasan
penambangan

diupayakan

/tahun.

lebih dulu 1

I - 86

blok dibandingkan

Tugas kita adalah menentukan skenario penjadwalan produksi yang mana


diantara

(tiga)

skenario

diatas

yang

akan

diterapkan

dengan

langkah-langkah sebagai berikut.


a.

Menggambarkan kemajuan penambangan blok tiap skenario tiap tahun.

b. Menghitung besarnya Net Present Value untuk tiap skenario.


c.

Berdasarkan nilai Net Present Value tentukan skenario penambangan


yang akan diterapkan.

I - 87

Gambar 6.1. Tahapan Penambangan Skenario 1


(Hustrulid & Kutcha,1995)
-$5
NPV

-$5
+

(1.10)1

$10
+

(1.10)2

$10
+

(1.10)3

(1.10)4

= -$4.55 - $4.13 + $7.51 + $6.83 = $5.66

Gambar 6.2. Tahapan Penambangan Skenario 2


(Hustrulid & Kutcha,1995)

-$5
NPV

$4
+

(1.10)1

$4
+

(1.10)2

$7
+

(1.10)3

(1.10)4

= -$4.54 + $3.31 + $3.01 + $4.78 = $6.56


I - 88

Gambar 6.3. Tahapan Penambangan Skenario 3


(Hustrulid & Kutcha,1995)
$1
NPV

$2.50
+

(1.10)1

$2.50
+

(1.10)2

$4
+

(1.10)3

(1.10)4

= $0.91 + $2.07 + $1.88 + $2.73 = $7.59

I - 89

Dengan

melihat

nilai

NPV

untuk

setiap

skenario,

maka

skenario

penambangan bijih yang akan diterapkan adalah skenario ke-3 dengan nilai
NPV yang paling besar.

PEKERJAAN RUMAH 7
Topik: Penjadwalan Produksi
Tabel di bawah ini menunjukkan banyaknya bijih dan waste pada jenjang
untuk 3 fase suatu tambang terbuka. Gambar terlampir menunjukkan
geometri bijih dan waste. Buat jadwal produksi untuk badan bijih tersebut.
Tandai gambar tersebut untuk menunjukkan jenjang yang mana yang
ditambang dari setiap fase pada periode fase tersebut.
Gunakan kriteria berikut ini:
1. Tingkat produksi bijih yang diinginkan adalah 7 unit per tahun untuk
jangka waktu proyek 10 tahun .
2. Pada tahap pra produksi tidak melakukan penambangan bijih tetapi
harus dapat menambang bijih mulai pada tahun 1.
3. Seluruh fase harus ditambang berdasarkan urutan jenjang. Anda tidak
dapat menambang bijih pada fase 2 dari jenjang 7 sebelum waste pada
jenjang 1-6 ditambang.
4. Buat jadwal pemindahan waste sebaik mungkin (setelah target
pemindahan waste dari tahap pra produksi tercapai).

I - 90

Data Tonase Fase Penambangan


Fase 1
Fase 2

Fase 3

Total

Jenjan
g

Biji
h

Wast
e

Bijih

Wast
e

Bijih

Waste

Bijih

Waste

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Total

0
0
7
7
7
7

13
12
4
3
2
1

0
0
0
0
0
0
7
7
7

3
3
3
3
3
3
3
2
1

28

35

21

24

0
0
0
0
0
0
0
0
0
7
7
7
21

3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
1
33

0
0
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
70

19
18
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
92

Jadwal Produksi Penambangan menunjukkan Distribusi Material Per Fase Per


Tahun
Fase 1
Fase 2
Fase 3
Total
Tahun

PP
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Total

Biji
h

Waste

Bijih

Waste

Bijih

Wast
e

Biji
h

Wast
e

28

35

21

24

21

33

70

92

I - 91

I - 92

BAB VII
PERANCANGAN PIT DAN PUSHBACK

7.1. PENDAHULUAN
1) Pembahasan akan ditekankan pada perancangan geometri yang dapat
ditambang dengan masukan geometri pit yang dihasilkan oleh program
.
I - 93

2) Dinding-dinding lereng dari tambang (

) harus diperhalus, dan

jalan masuk ke tambang harus diperhitungkan dalam perencanaan.


3) Dalam bab ini kita akan membahas pula sudut lereng dan jalan angkut.
4) Perancangan pentahapan tambang (

) akan

dibahas pula.

7.2. SUDUT LERENG


1) Geometri Jenjang
Geometri jenjang terdiri dari tinggi jenjang, sudut lereng jenjang
tunggal,

dan lebar dari jenjang penangkap

).

Rancangan geoteknik jenjang biasanya dinyatakan dalam bentuk


parameter-parameter untuk ketiga aspek ini.
Tinggi jenjang : Biasanya alat muat yang digunakan harus mampu
pula mencapai pucuk atau bagian atas jenjang. Jika tingkat produksi
atau faktor lain mengharuskan ketinggian jenjang tertentu, alat
muat yang akan digunakan harus disesuaikan pula ukurannya.
c.

Sudut lereng jenjang : penggalian oleh alat gali mekanis seperti


atau

di permukaan jenjang pada umumnya akan

menghasilkan sudut lereng antara 6065 derajat. Sudut lereng yang


lebih curam biasanya memerlukan peledakan
d. Lebar

jenjang

penangkap

ditentukan

.
oleh

pertimbangan

keamanan. Tujuannya adalah menangkap batu-batuan yang jatuh.


Perlu bulldozer kecil atau grader untuk membersihkan
ini secara berkala.
Di beberapa tambang terkadang digunakan konfigurasi multi-jenjang
(

), pada umumnya untuk jenjang yang tingginya 5-8

meter. Dalam hal ini jenjang perangkap dibuat setiap dua atau tiga jenjang.
Tujuannya adalah untuk menerjalkan sudut lereng keseluruhan. Jenjang
penangkap ini biasanya dibuat lebih lebar dibandingkan untuk jenjang
tunggal.
I - 94

Dalam operasi di pit, pengontrolan sudut lereng biasa dilakukan dengan


menandai lokasi pucuk jenjang (

) yang diinginkan menggunakan

bendera kecil. Operator shovel diperintahkan untuk menggali sampai


mangkuknya mencapai lokasi bendera tersebut. Lokasi lubang-lubang
tembak dapat pula menjadi pedoman.
2) Sudut lereng
a.

Sudut lereng antar-jalan (

) adalah sudut

lereng gabungan beberapa jenjang diantara dua jalan angkut. Inilah


yang

dihasilkan

oleh

ahli-ahli

geoteknik

sewaktu

menetapkan sudut lereng jenjang tunggal (


jenjang penangkap (

mereka

) dan lebar

b. Sudut lereng keseluruhan (

) adalah sudut

yang

sebenarnya dari dinding pit keseluruhan, dengan memperhitungkan


jalan angkut, jenjang penangkap dan semua profil lain di
c.

Penggambaran dengan metoda garis tengah (


i.

Ada beberapa cara menggambarkan lokasi jenjang dalam peta


tambang. Satu alternatif adalah dengan menggambar garis
ketinggian kaki (

) dan puncak jenjang (

) menggunakan

dua jenis garis, misalnya tipis/tebal, putus-putus/penuh atau


dua warna yang berbeda. Gambar peta yang dihasilkan
cenderung lebih rumit.
ii.

Alternatif yang lebih sederhana adalah menggunakan ketinggian


titik tengah jenjang (

) untuk mewakili suatu

jenjang. Dengan demikian hanya diperlukan satu garis saja


untuk menggambarkan suatu jenjang di peta. Letak kontur ini
tepat di tengah-tengah antara lokasi
iii. Di

luar

pit,

garis-garis kontur ditandai

.
dengan

elevasi

sebenarnya. Di dalam pit, jenjang digambarkan pada lokasi titik


tengahnya (
jenjang (

) tetapi ditandai dengan elevasi kaki


). Pada kenyataannya, label ini mengacu
I - 95

kepada dataran (misalnya elevasi

) diantara dua

.
iv. Garis kontur titik tengah (

) ini memotong jalan

angkut di tengah-tengah antara dua jenjang (separo jalan antar


jenjang).

7.3.

JALAN ANGKUT

1) Letak jalan keluar tambang


a.

Untuk suatu tambang yang baru, penting diperhitungkan dimana


letak jalan-jalan keluar dari tambang. Biasanya kita ingin akses yang
baik ke lokasi pembuangan tanah penutup (
peremuk bijih (

) dan

r).

b. Topografi merupakan faktor yang penting. Akan sulit sekali bagi


truk untuk keluar dari pit ke medan yang curam.
2) Lebar jalan
a.

Tergantung pada lebar alat angkut, biasanya 4 kali lebar truk.

b. Lebar jalan seperti di atas memungkinkan lau lintas dua arah,


ruangan untuk truk yang akan menyusul, juga cukup untuk selokan
penyaliran dan tanggul pengaman. Untuk truk tambang yang paling
besar saat ini (240 ton) lebar jalan biasanya 3035 m.
3) Kemiringan jalan
a.

Jalan angkut di jalan tambang biasanya dirancang pada kemiringan


8% atau 10%

b. Untuk tambang-tambang yang besar, kemiringan jalan 8% paling


umum. Ini akan memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam
pembuatannya, serta memudahkan dalam pengaturan masuk ke
jenjang tanpa menjadi terlalu terjal di beberapa tempat.

I - 96

c.

Untuk jalan-jalan angkut yang panjang, kemiringan 10% adalah


kemiringan maksimum yang masih praktis. Tambang-tambang kecil
banyak yang dirancang dengan kemiringan jalan 10%.

4) Rancangan
a.

vs.

Pada umumnya

ingin dihindari sebisa mungkin, karena

cenderung melambatkan laulintas. Juga ban akan lebih cepat aus


dan perawatan ban akan lebih besar lagi. Faktor lain adalah
keamanan.
b. Tetapi jika ada sisi tambang yang jauh lebih rendah dari dinding
lainnya di sekeliling pit,

di sisi ini sering lebih murah

daripada membuat jalan angkut spiral mengelilingi dinding pit.


c.

Jika

harus dipakai, buatlah cukup panjang sehingga

dibagian sebelah dalam dari tikungan kemiringannya tidak terlalu


terjal.
5)

Pertimbangan Keamanan
a.

Di lokasi jalan tambang dapat dibuat belokan tanjangan darurat


(

) untuk menghentikan truk yang tak terkontrol, bila

geometri pit memungkinkan. Melakukan pengupasan ekstra yang


besar hanya untuk membuat fasilitas ini tidak umum dilakukan.
b. Tanggul pemisah di tengahjalan dapat dibuat beberapa tempat
untuk tujuan ini.

semacam ini murah biayanya.

6) Dampak penggalian untuk membuat jalan


a.

Baik di batuan bijih atau

, material yang diatasnya menjadi

jalan tambang (atau yang harus digali untuk membuat jalan),


volumenya luar biasa besarnya. Dampak ekonomik dari pembuatan
jalan tambang cukup berarti.
b. Sering ada kecenderungan untuk membuat studi kelayakan awal
dengan tahap-tahap penambangan tanpa memperhitungkan jumlah
material untuk membuat jalan angkut. Kesalahan yang diperoleh
biasanya cukup besar. Dampak jalan angkut pada tahap-tahap awal
I - 97

penambangan (yaitu tahap-tahap yang menghasilkan uang untuk


mengembalikan

modal)

biasanya jauh lebih besar

daripada

dampaknya pada rancangan akhir penambangan.

7.4. TAHAPAN TAMBANG (MINING PHASES/PUSHBACK)


1) Definisi, Filosofi, Metodologi
adalah
)

yang

bentuk-bentuk
menunjukkan

penambangan

bagaimana

suatu

(
pit

akan

ditambang, dari titik masuk awal hingga ke bentuk akhir pit.


Nama-nama lain adalah
Tujuan utama dari pentahapan ini adalah untuk membagi seluruh
volume yang ada dalam pit ke dalam unit-unit perencanaan yang
lebih kecil sehingga lebih mudah ditangani.
c.

Dengan demikian, problem perancangan tambang 3-Dimensi yang


amat kompleks ini dapat disederhanakan. Selain itu, elemen waktu
dapat mulai diperhitungkan dalam rancangan ini karena urutan
penambangan tiap-tiap

d.

merupakan pertimbangan penting

ini biasanya dirancang mengikuti urutan penambangan


dengan algoritma
komoditas. Bentuk

untuk berbagai skenario harga


ini tidak akan sama persis sama

dengan geometri yang dihasilkan


operasi seperti lebar
e.

karena kendala

minimum dll.

Tahapan-tahapan penambangan yang dirancang secara baik akan


memberikan akses ke semua daerah kerja, dan menyediakan ruang
kerja yang cukup untuk operasi peralatan yang efisien.

2) Kriteria perancangan
a.

Harus cukup lebar agar peralatan tambang dapat bekerja dengan


baik. Untuk truk dan shovel besar yang ada sekarang, lebar
minimum adalah 10100 meter. Untuk loader dan truk

I - 98

berukuran sedang 60 meter sudah cukup lebar. Jumlah shovel yang


diperkirakan akan bekerja bersama-sama pada sebuah
juga mempengaruhi lebar minimum ini.
b. Tak kurang pentingnya untuk memperlihatkan paling tidak satu
jalan angkut untuk setiap

, untuk memperhitungkan

jumlah material yang terlibat dan memungkinkan akses keluar.


Jalan angkut ini harus menunjukkan pula akses ke seluruh pemuka
kerja.
c.

Perlu diperhatikan bahwa penambahan jalan pada suatu pushback


akan mengurangi lebar daerah kerja (sebanyak lebar jalan) di
bawah lokasi jalan tersebut. Jika beberapa jalan atau
akan dimasukkan ke suatu

, lebar awal di sebelah atas

harus ditambah untuk memberi ruangan ekstra.


d. Perlu diperhatikan pula bahwa tambang kita tidak akan pernah
sama bentuknya dengan rancangan tahap-tahap penambangan
(

). Ini karena dalam kenyatannya, beberapa

akan aktif pada waktu yang sama (dikerjakan secara bersamaan).


3) Penampilan Rancangan
a.

Peta

penampang

horisontal

tampak

atas

memperlihatkan bentuk pit pada akhir tiap tahap. Bila mungkin


tandai setiap perubahan.
b. Peta penampang horisontal yang menunjukkan batas seluruh
pushback pada satu atau dua elevasi jenjang.
c.

Peta penampang vertikal tampak samping (

) yang

menunjukkan geometri seluruh pushback sering berguna pula.


Suatu tabel yang memberikan jumlah ton bijih, kadarnya, jumlah material
total dan nisbah pengupasan untuk setiap
jumlah dan kadar material per jenjang untuk tiap
penjadwalan produksi (Tabel 7.2).
I - 99

(Tabel 7.1). Tabulasi


diperlukan untuk

Tabel 7.1. Tabulasi Material Setiap Tahapan


Untuk Tiap Tahunnya
TABULATION OF ORE TONS PER PHASE PER YEAR
Year
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
TOTAL

Phase 1
4808.
6225.
17483.
9175.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
37691.

Phase 2
0.
5167.
4073.
12418.
2730.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
24388.

Phase 3
0.
0.
0.
0.
17704.
6019.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
23723.

Phase 4
0.
0.
45.
6.
654.
9816.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
10521.

I - 100

Phase 5
0.
0.
0.
0.
513.
5765.
21370.
18100.
7042.
0.
0.
0.
52790.

Phase 6
0.
0.
0.
0.
0.
0.
230.
3501.
14558.
21600.
21600.
7583.
69071.

Phase

TABULATION OF WASTE TONS PER PHASE PER YEAR


Year
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
TOTAL

Phase 1
13069.
8350.
6770.
761.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
28950.

Phase 2
0.
16870.
11660.
9350.
7.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
37887.

Phase 3
0.
0.
0.
0.
1526.
33.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
1559.

Phase 4
0.
0.
6790.
15109.
16275.
4107.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
42281.

Phase 5
0.
0.
0.
0.
7412.
21084.
10488.
1745.
1270.
0.
0.
0.
41999.

Phase 6
0.
0.
0.
0.
0.
0.
14405.
23148.
23622.
17196.
3018.
17.
81406.

Phase

Phase 5
0.
0.
0.
0.
7925.
26849.
31858.
19844.
8312.
0.
0.
0.
94789.

Phase 6
0.
0.
0.
0.
0.
0.
14635.
26649.
38179.
38796.
24618.
7599.
150477.

Phase

TABULATION OF TOTAL TONS PER PHASE PER YEAR


Year
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
TOTAL

Phase 1
17877.
14575.
24253.
9936.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
66641.

Phase 2
0.
22038.
15732.
21768.
2737.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
62275.

Phase 3
0.
0.
0.
0.
19230.
6052.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
25282.

Phase 4
0.
0.
6835.
15115.
16929.
13923.
0.
0.
0.
0.
0.
0.
52802.

Tabel 7.2. Tabulasi Jumlah dan Kadar Material Per jenjang


Untuk Tiap Tahapan

Year Phase
1
P
P

1
2

1335

0,000

Total
Coppe
r
0,000

0,000

Waste
Ktonne
s
1,051

1320

1,811

0,687

0,242

0,242

4,090

5,901

1.0000

1305
1290
Total
1275
1350
1335
1320

2,997
4,714
9,522
1,324
0
581
1,161

0,683
0,725
0,705
0,801
0,000
0,710
0,622

0,209
0,213
0,217
0,214
0,000
0,234
0,167

0,209
0,213
0,217
0,214
0,000
0,234
0,167

7,918
7,268
20.337
948
331
1,206
2,215

10.915
11.982
29.859
2,272
331
1,787
3,376

1.0000
1.0000

Bench
Ktonnes

Ore
Ktonnes

Cu
Eq

I - 101

Gold
g/t

Total
Ktonne
s
1,061

Bench
Fractio
n
1.0000

0.2166
1.0000
1.0000
1.0000

1305
1290
1275
Total

1,212
1,239
1,161
6,678

0,709
0,797
0,901
0,762

0,202
0,219
0,250
0,213

0,202
0,219
0,250
0,213

3,508
5,448
4,958
18.614

4,720
6,687
6,119
25.292

Example of Bench Average Mining Ratio


Year 1:

Ore Target

Year Phase

Bench

6,678

1275

Ore
Ktonnes
6114

1350
1335
1320
1305
1290
1275

0
581
1161
1212
1239
1403

Waste Target :

18,614

Waste
Ktonnes
4377

Bench
Fraction
x

331
1206
2215
3508
54446
59993

1
1
1
1
1
y

I - 102

Cumulative
Ore
6114
0
581
1742
2954
4193
5596

Cumulative
Waste
4377
331
1537
3752
7260
12708
18701

1.0000
1.0000
0.8275

Ore
: 4193 + 6114x + 1403y = 6678
Waste : 12708 + 4377x + 5993y = 18614
x = 0.2166, y = 0.6273

Berikut ini adalah beberapa contoh pushback untuk suatu tambang

I - 103

Gambar 7.1. Mining Phase 1


(American Gold Resources, 1996)

I - 104

Gambar 7.2. Mining Phase 2


(American Gold Resources, 1996)
I - 105

Gambar 7.3. Mining Phase 3


(American Gold Resources, 1996)

I - 106

Gambar 7.4. Mining Phase 4


(American Gold Resources, 1996)

I - 107

Gambar 7.5. Final Pit


(American Gold Resources, 1996)

I - 108

PEKERJAAN RUMAH 8

Topik : Ramp Design

Buatlah desain jalan (ramp design) dari suatu pit seperti terlihat pada
gambar dibawah ini. Jelaskanlah tahap-tahap pembuatan jalan tersebut
(lihatlah buku Open Pit Mine Planing and Design, Hustrulid & Kutcha,
1995)
Keadaan awal :

I - 109

BAB VIII
WASTE DUMP DAN STOCKPILE

8.1. PENDAHULUAN
1) Suatu

adalah suatu daerah dimana suatu operasi tambang

terbuka dapat membuang material kadar rendah dan/atau material


bukan bijih yang harus digali dari pit untuk memperoleh bijih/material
kadar tinggi.
2)

digunakan untuk menyimpan material yang akan digunakan


pada saat yang akan datang.
a.

Bijih kadar rendah yang dapat diproses pada saat yang akan
datang.

b. Tanah penutup atau tanah pucuk yang dapat digunakan untuk


reklamasi.
3) Rancangan

sangat

keekonomian. Lokasi dan bentuk dari

penting

untuk

perhitungan

dan

akan

berpengaruh terhadap jumlah gilir truk yang diperlukan, demikian pula


biaya operasi dan jumlah truk dalam satu armada yang diperlukan.
4) Daerah yang diperlukan untuk
kali dari daerah penambangan (

a.

pada umumnya luasnya 2-3


).

Material yang telah dibongkar (loose material) berkembang

30-45 %

dibandingkan dengan material in situ.


b. Sudut kemiringan untuk suatu dump umumnya lebih landai dari pit.
c.

Material pada umumnya tidak dapat ditumpuk setinggi kedalaman


dari pit.

I - 110

5) Berdasarkan alasan politik, banyak perusahaan menjauhi nama


. Istilah yang disukai adalah

dan lain-lain.

8.2. JENIS DUMP


1)

a.

Dapat diterapkan di daerah ayng mempunyai topografi curam. Dumps


dibangun pada lereng.

b. Elevasi puncak (

) ditetapkan pada awal pembuatan

dump. Truk membawa muatannya ke elevasi ini dan membuang


muatannya ke lembah di bawahnya. Elevasi crest ini dipertahankan
sepanjang umur tambang.
c.

dibangun pada

d. Membangun suatu dump ke arah atas (dalam beberapa

) pada

daerah yang topografinya curam biayanya mahal. Dumping akan


mulai pada kaki (

) dari

final yang berarti pengangkutan

truk yang panjang pada awal proyek.


e.

Diperlukan usaha yang cukup besar untuk pemadatan yang


memenuhi persyaratan reklamasi.

2)

/Dump yang dibangun ke atas (dalam lift)


a.

Dapat diterapkan jika topografi tidak begitu curam pada lokasi


dump.

b. Dump dibangun dari bawah ke atas. Dalam lift biasanya 20-40 m


tingginya.
c.

Ada untung ruginya dari segi ekonomi antara jarak horizontal untuk
perluasan lift terhadap kapan memulai suatu lift baru.

d. Lift-lift berikutnya terletak lebih ke belakang sehingga sudut lereng


keseluruhan (

) mendekati yang dibutuhkan untuk

reklamasi.

I - 111

8.3. PEMILIHAN LOKASI


1) Tergantung pada beberapa faktor:
a.

Lokasi dan ukuran pit sebagai fungsi waktu.

b. Topografi.
c.

Volume

sebagai fungsi waktu dan sumber.

d. Batas KP/CoW.
e.

Jalur penirisan yang ada.

f.

Persyaratan reklamasi.

g. Kondisi pondasi.
h. Peralatan penanganan material.
2) Selama rancangan detail dapat dipertimbangkan beberapa lokasi yang
berbeda untuk perbandingan faktor ekonomik.

8.4. PARAMETER RANCANGAN


1) Angle of Repose

a.

Batuan kering run of mine umumnya mempunyai angle of repose antara


3437 derajat.

b. Sudut ini dipengaruhi oleh tinggi dump, ketidakteraturan bongkah


batuan, kecepatan dumping.
c.

Dapat dibuat pengukuran pada suatu lereng (bongkah-bongkah


alami/talus) yang ada di daerah tersebut.

2) Faktor Pengembangan (
a.

Pada batuan keras, faktor pengembangan pada umumnya antara 30


dan 45%. Satu meter kubik in situ akan mengembang menjadi
1,31,45 meter kubik material lepas

b. Pengukuran bobot isi

).

dapat dilakukan.

I - 112

c.

Dengan waktu, material dapat dikompakkan dari 515%. Material


yang dibuang dengan truk akan menjadi lebih kompak daripada
material yang dibuang oleh ban berjalan (

).

3) Tinggi Lift/Jarak Setback


a.

Hanya berlaku untuk

yang dibangun ke atas (dengan lift).

b. Tinggi lift umumnya adalah 15-40 meter.


c.

Rancangan

jarak

sedemikian

rupa

sehingga

sudut

kemiringan keseluruhan rata-rata (

adalah 2H:1V (27 derajat) sampai 2.5H:1V (22 derajat) untuk


memudahkan reklamasi.
4) Jarak Dari Pit Limit
a.

Jarak minimum adalah ruangan yang cukup untuk suatu jalan


antara pit limit dan kaki

). Kestabilan pit akibat

dump harus diperhitungkan.


b. Jarak yang sama atau lebih besar dari kedalaman pit akan
mengurangi resiko yang berhubungan dengan kestabilan lereng pit.
5) Makalah Bonhet/Kunze (

Bab 5.6) merekomendasikan

sedikit tanjakan ke arah

dengan alasan penirisan dan

keamanan.
a.

Limpasan air hujan menjauhi

b. Truk harus menggunakan tenaga mesin untuk menuju ke

dan

bukan meluncur bebas. Juga akan mengurangi resiko alat/


kendaraan yang diparkir meluncur jatuh dari puncak
(

).

8.5. PERHITUNGAN VOLUME


1) Penampang Horizontal
a.

Ukur luas daerah pada kaki (


Rata-ratanya adalah luas

) dan puncak (

.
I - 113

) dari setiap

b. Tinggi
c.

memberikan dimensi ke tiga dan volume untuk

Jumlahkan volume untuk tiap

untuk memperoleh volume total

.
2) Penampang Vertikal

a.

Buat beberapa penampang melintang dengan jarak yang sama melalui


dump.

b. Ukur luas pada tiap penampang.


c.

Luas ini dianggap sama sehingga separuh jalan ke penampang


berikutnya pada kedua sisi untuk memperoleh dimensi ke tiga dan
volume untuk setiap penampang.

d. Jumlahkan volume tiap-tiap penampang untuk memperoleh volume


total
3) Rancangan
a.

.
adalah dengan cara coba-coba (

Gambar rancangan

secara coba-coba dan hitung volumenya.

Bandingkan dengan volume

yang diperlukan.

b. Sesuaikan rancangan dan ukur kembali sampai volume yang


diinginkan dicapai. Umumnya 23 kali dicoba sudah cukup.
Perbedaan antara ukuran yang diperlukan dan rancangan sampai
5% umumnya dapat diterima.

8.6. REKLAMASI
1) Untuk memenuhi syarat lingkungan pada umumnya

akan

dirancang dengan kemiringan 2H:1V atau 2.5H:1V.


a.

Stabilitas jangka panjang.

b. Memudahkan penanaman kembali (revegetasi).


2) Mungkin harus ditimbun dengan

atau

3) Mungkin harus memelihara saluran air dan kolam pengendapan


sedimen.
4) Harus memantau air dari

(masalah air asam tambang, dll).

I - 114

8.7. KOMENTAR LAIN


1) Biasanya satu
a.

ditugasi pada

Menjaga dump tetap bersih dan memelihara kemiringan.

b. Sering truk menimbun dekat dengan


material melalui
c.

yang aktif.
dan

mendorong

Membebaskan truk dan peralatan lain yang terperangkap.

2)

yang besar memerlukan perhitungan rekayasa geoteknik yang


cukup.
a.

Penentuan kestabilan pondasi.

b. Kecepatan maksimum dari kemajuan dump.


c.

Pengaruh air. Bagaimana membuang material ke jalur penirisan.

d. Masalah gempa bumi pada daerah seismik yang aktif.


3) Jika rencana tambang mengijinkan, penimbunan kembali ke daerah
yang sudah habis ditambang banyak memberi keuntungan (dilakukan
misalnya di Gn. Muro).
a.

Umumnya pengangkutan jarak pendek.

b. Mengurangi dampak visual dari aktivitas tambang.


4) Menjadwalkan penempatan material pada
produksi umum dilakukan.

I - 115

sesuai penjadwalan

BAB IX
EVALUASI FINANSIAL

9.1. PENDAHULUAN
1) Tujuan dari suatu usaha bisnis dalam ekonomi pasar bebas adalah
memberikan pengembalian finansial (

) kepada para

pemilk usaha, konsisten dengan tujuan dari perusahaan. Perusahaan itu


sendiri bisa berupa perusahaan publik atau milik individu.
2) Tujuan

evaluasi

finansial

adalah

untuk

menentukan

apakah

pengembalian finansial yang cukup dapat diperoleh dari suatu proyek.


Salah satu hal yang mungkin dapat diperoleh dari suatu proyek. Salah
satu hal yang mungkin ingin dievaluasi adalah bagaimana sebaiknya
mengalokasikan dana perusahaan di beberapa proyek yang saling
bersaing untuk mendapatkan dana.
3) Aspek-aspek evaluasi finansial spesifik untuk pertambangan :
a.

Intensitas kapital

b. Masa pra-produksi yang panjang


c.

Resiko besar

I - 116

4) Sumberdaya tak terbarukanpenghasilan diperoleh dengan mengambil/


menjual aset (cadangan).

9.2.

NILAI WAKTU DARI UANG

1) Dalam ekonomi pasar bebas, nilai waktu dari uang terletak di jantung
dari semua transaksi financial.
2) Bunga (
a.

) adalah sewa yang dibayar untuk pemakaian uang.

FV = PV (1+i)n

PV =

b. PV = FV / (1+i)n

FV =

9.3. MENENTUKAN TINGKAT BUNGA (DISCOUNT RATE)


1) Walaupun telah ada kesepakatan tentang perlunya konsep nilai waktu
dari uang, pemilihan atau penentuan tingkat bunga yang pantas sering
menjadi bahan diskusi dan perdebatan.
2) Komponen utama dari
a.
b.
c.
i.

Penggantian peralatan di tambang yang sedang beroperasi

ii.

Program ekspansi di tambang yang sedang beroperasi

iii. Pengembangan tambang baru, komoditas sama, di negara yang


sama
iv. Pengembangan tambang baru, komoditas lain dan/atau di
negara lain.
d.
Jika digunakan evaluasi

, komponen inflasi harus

dikeluarkan dari
9.4. PERHITUNGAN INFLASI
I - 117

1) Tiga cara mendasar untuk memasukkan inflasi dalam statement aliran


kas :
a.

, tanpa perubahan untuk inflasi :


i.

Semua ongkos/biaya dan penghasilan dihitung untuk waktu itu

ii.

Ongkos dan penghasilan dianggap akan terinflasi pada tingkat


yang sama

iii. Ongkos kapital dan pajak biasanya terlalu kecil dari seharusnya
b. Semua variabel diinflasikan ke awal proyek, setelah itu tetap
konstan.
i.

Digunakan

oleh

beberapa

institusi

keuangan

karena

memperhitungkan inflasi untuk ongkos kapital tersebut.


ii.
c.

Pajak masih terlalu kecil dari yang seharusnya.

Semua variabel diinflasikan selama jangka waktu proyek.


i.

Dalam teorinya paling realistik

ii.

Harus mengasumsikan tingkat inflasi per tahun untuk tiap


variabel.

2) Tanpa memperhitungkan inflasi akan membuat pajak terlalu kecil.


Depresiasi

dan deflesi

dihitung

pada awal proyek

yang tidak

terpengaruh oleh inflasi. Pengaruh netto dari inflasi ialah mengurangi


kredit pajak dari keduanya.

9.5. UKURAN KINERJA


1)
2)
3)

9.6. ANALISIS SENSITIVITAS

I - 118

1) Problem utama dengan analisis finansial ialah mencoba memprediksikan


hasil dari banyak parameter.
2) Dalam analisis sensitivitas tiap variabel yang penting untuk evaluasi
(kadar

bijih, perolehan,

ongkos kapital,

ongkos operasi, harga

komoditas) diubah-ubah untuk menentukan pengaruhnya terhadap


ukuran kinerja.

9.7. ANALISIS RESIKO


1) Mirip dengan analisis sensitivitas, hanya di sini suatu distribusi
probabilitas dibuat untuk parameter-parameter yang penting.
2) Simulasi Monte Carlo dipakai untuk membuat suatu distribusi ukuran
kinerja (lihat artikel 4.3

dalam

Berikut ini adalah contoh perhitungan evaluasi finansial dari suatu tambang.
Contoh Soal :

Suatu konsultan tambang diminta untuk mengkaji kelayakan suatu endapan


porfiri

. Berdasarkan hasil studi kelayakan awal (

) telah diperoleh data-data sebagai berikut :


A. Data produksi
Dengan mempertimbangkan tingkat produksi dan topografi daerah
penambangan maka diputuskan untuk melakukan penambangan secara
tambang terbuka, dengan data-data :
-
: 3500 Kton/tahun
-

: 0.0207 oz/tahun

: 0.6 %

- perbandingan

: 5.5 (tahun 1-3); 4.0 (tahun 4); dan


3.0 (tahun 5)

- umur

: 5 tahun

Catatan: Pada tahun ke-0 hanya memproduksi waste sebesar 15.000 Ktons

I - 119

B. Data Pengolahan
Dengan mempertimbangkan karakteristik mineral yang ada maka diputuskan
bahwa metoda pengolahan yang digunakan adalah dengan metoda flotasi,
dengan data-data :
-
: 80%
-

: 92%

C. Data Ekonomi
Dengan

mempertimbangkan

pasar

logam,

teknologi

penambangan dan pengolahan serta kondisi makro ekonomi maka data-data


dasar yang digunakan untuk analisis ekonomi adalah :
-

: US$ 0.55 per tonne

: US$ 1.8 per tonne

: US$ 0.5 per tonne

: US$ 1.0 per pound

: US$ 400 per troy ounce

: 96%

: 98%

: US$ 0.345

: US$ 20.000.000

Akusisi lahan

: US$ 10.000.000

: 15%

: 1/(1+i)n

Ekskalasi biaya

: 1%

Ekskalasi pendapatan

: 1%

Pajak perusahaan

: 20%

Royalti

: 2% dari

I - 120

Tugas kita sebagai


yang bekerja pada konsultan tersebut
adalah menghitung kelayakan penambangan dengan menyusun langkah
perhitungan sebagai berikut :
1) Menghitung (untuk tahun 1) :
a.
b.
c.
2) Menghitung

(NPV) selama umur tambang setelah

pajak.
Berdasarkan hasil perhitungan yang kita lakukan tentukan apakah skenario
penambangan yang telah disusun layak untuk diterapkan atau tidak ?
Catatan : 1 ton = 2000 pound ; 1 ounce = 0.9114 troy ounce
Jawaban :

Tabel 9.1. Data Ekonomik Awal Untuk Cebakan Bijih (dalam US$ )
Mining cost per tonne Total material
Milling cost per tonne Ore
General & Administration cost per tonne ore
Mill recovery of gold
Mill recovery of copper
SRF per pound payable copper
Smelter payable (Recovery) of copper
Smelter payable (Recovery) of gold
Copper price per pound
Gold price per troy ounce (per gram)
Breakeven Cut off Grade for copper
Internal Cut off Grade for Copper
Copper Equivalent

US$ 0.55
US$ 1.8
US$ 0.5
80%
92%
US$ 0.345
96%
98%
US$ 1.0
US$ 400 ($12.86)
?
?
?

Perhitungan :
a.

BECOG
Penghasilan = Biaya

Price x Gradex Mill Rec x Smelter Rec x 20 = Cost (Mine+Mill+G&A) + SRF


x Grade x Mill Rec x Smelter Rec x 20
(Price-SRF) x Grade x Mill Rec x Smel. Rec x 20 = Cost (mine + Mill + G&A)
I - 121

Cost Cost (mine + Mill + G&A)


BECOG =
(Price-SRF) x Mill Rec x Smelter Rec x 20
($0.55 + $1.80 + $0.50)
=
($1.00 -$0.345) x 0.92 x 0.96 x 20
=

0.246 %

Catatan :
Angka 20 adalah faktor konversi dari % ke pound (dengan satuan pound %)
b. ICOG
Rumusnya sama dengan BECOG namun ongkos penambangannya tidak ikut
diperhitungkan.

Cost (Mill + G&A)

ICOG

=
(Price-SRF) x Mill Rec x Smelter Rec x 20
( $1.80 + $0.50)
=
($1.00 -$0.345) x 0.92 x 0.96 x 20
=

c.

0.20 %

Tabel 9.2. Data Pengolahan Bijih

Price
Mill Rec
Smelter Rec
SRF

Copper
$ 1.00/lb
98%
96%
$0.345

Gold
$ 12.86/gr
80%
98%
-

1) Hitung nilai NSR (Net Smelter Return) dari 1 ton bijih dengan kadar

1%

Cu.
($1.00/lb - $0.345/lb) x (1%) x 0.92 x 0.96 x 20 lb/% = $ 11.57
2) Hitung nilai NSR (Net Smelter Return) dari 1 ton bijih dengan kadar
gr/ton Au.
($ 12.86/gr) x 1 gr x (0.80) x (0.98) = $ 10.08
I - 122

Faktor Eq =

Faktor Eq =

= 0.871

3)

= total Cu + 0.871 x

: 15%

: 400 US$/tr oz

: 1 US$/lb

: 80%

: 92%

Present Value Factors at 15 % interest


Year
Factor

0
1.000

Year
Waste : ore

1
0.870
0

2
0.756
1
5.5

3
0.658

4
0.572

2
5.5

3
5.5

5
0.497
4
4

5
3

Tabel 9.3. Hasil Perhitungan NPV

Economic Parameter
Ore (ktons)

Year
PP

3500

3500

3500

3500

Total

3500

17500

15000 19250 19250 19250 14000 10500

97250

Total (ktons)

15000 22750 22750 22750 17500 14000

114750

Grade Gold (ktons)

0.0207 0.0207 0.0207 0.0207 0.0207 0.0207

0.0207

0 72.45 72.45 72.45 72.45 72.45

362.25

Waste (ktons)

Recovereed Gold (koz)


Grade Copper (%)

0.6

0.6

0.6

0.6

0.6

0.6

0.6

Recovered Copper (ktons)

21

21

21

21

21

105

Gross Revenue ($ x 1000)

0 64076 64076 64076 64076 64076

320381

Mining Cost per total ton

0.55

0.55

0.55

0.55

0.55

0.55

Total Mining Cost ($ x 1000)

8250 12513 12513 12513

9625

7700

63113

I - 123

0.55

Processing Cost Per ton ore

1.8

1.8

1.8

1.8

1.8

1.8

1.8

Total Processing Cost

6300

6300

6300

6300

6300

32500

G&A Cost per ton ore

0.5

0.5

0.5

0.5

0.5

0.5

0.5

1750

1750

1750

1750

1750

8750

Total G&A Cost per ton ore


Plant and Infrastructure Capital

20000

Akuisisi Lahan

10000

Royalti
Taxable Income ($ x 1000)

10000

0 1281.5 1281.5 1281.5 1281.5 1281.5

6407.6

38250 42232 42232 42232 45120 47045

180610

0 8446.4 8446.4 8446.4 9023.9 9408.9

43772

38250 33786 33786 33786 36096 37636

136838

Tax (20%)
Cash flow

20000

PEKERJAAN RUMAH 9
Proyek 1
Topik : Perhitungan NPV Proyek
Hitung pre-tax cash flow untuk tiap tahun dengan jadwal produksi dan
parameter ekonomi sebagi berikut. Juga hitung NPV untuk proyek
menggunakan tingkat bunga 15%.

Jadwal Produksi Penambangan


Tahun

Kton

Emas

Emas (oz)

Kton

Ktol total

bijih

(oz/t)

PP

0,000

11.000

11.000

2.700

0,072

199.400

14.300

17.000

2.700

0,074

199.800

14.300

17.000

2.700

0,068

183.600

14.300

17.000

2.700

0,060

162.000

13.683

16.383

2.700

0,063

170.100

4.011

6.711

1.531

0,059

90.300

2.098

3.629

TOTAL

15.031

0,067

1.005.200

73.692

88.723

waste

I - 124

Parameter Ekonomi
Biaya penambangan per total ton

$ 0,85

Biaya pengolahan per ton bijih

$ 3,10

Biaya umum & administrasi per tahun

$ 1.377

(termasuk PP) ($x1000)


Perolehan pengolahan

80 %

Harga emas per troy oz

$ 400

Modal pabrik dan infrastruktur

$ 30.000

($x1000)
Tingkat suku bunga

15 %

Buat asumsi yang layak untuk modal awal tambang. Modal penggantian
pealatan tidak diperhitungkan.
Present Value Factor pada tingkat suku bunga 15 %. Faktor = 1/(1+i)n.
Tahun

Faktor

1,00

0,87

0,75

0,65

0,57

0,49

0,432

1. Hitunglah NPV proyek dengan data-data Ekonomi di atas.


2. Dikerjakan dalam bentuk tabel sebagai berikut.
3.
Paramete
r
Ekonomik

PP

I - 125

Total

NPV pada
15%

BAB XI
ONGKOS OPERASI TAMBANG

11.1. KOMPONEN UTAMA

1) Tenaga Kerja
2) Suku Cadang dan Bahan Habis
a.

Penggantian karena rusak atau aus

b.

Bahan bakar

c.

Bahan peledak dan aksesorinya

d.

Oli, pelumas, filter

I - 126

11.2.

ONGKOS OPERASI BIASA DINYATAKAN UNTUK TIAP UNIT


OPERASI

1) Pemboran
a.

Ongkos suku cadang dan bahan habis yang terkait dengan operasi dan
perawatan alat bor lubang tembak. Meliputi ongkos mata bor, batang bor
dan aksesori lainnya.

b.

Ongkos tenaga kerja (operator alat bor dan asistennya serta sebagian dari
personel perawatan alat).

2) Peledakan
a.

Ongkos suku cadang dan bahan habis yang terkait dengan operasi
peledakan.

b.

Ongkos tenaga kerja (juru ledak dan asistennya).

3) Pemuatan
a.

Ongkos suku cadang dan bahan habis yang terkait dengan operasi dan
perawatan alat muat (shovel, loader).

b.

Ongkos tenaga kerja (operator shovel, loader dan sebagian dari personel
perawatan alat).

4) Pengangkutan
a.

Ongkos suku cadang dan bahan habis yang terkait dengan operasi dan
perawatan alat angkut (truk).

b.

Ongkos tenaga kerja (operator truk dan sebagian dari personel perawatan
alat).

5) Kegiatan Pendukung Utama


a.

Ongkos suku cadang dan bahan habis yang terkait dengan operasi dan
perawatan alat pendukung utama (bulldozer, grader, truk air)

b.

Ongkos tenaga kerja alat-alat tersebut (operator dan sebagian dari


personel perawatan alat).

6) Kegiatan Penunjang Tambang


I - 127

a.

Ongkos suku cadang dan bahan habis yang terkait dengan operasi dan
perawatan alat penunjang kegiatan tambang (alat bor kecil, truk bahan
peledak, alat gali kecil, dll juga suplai untuk bagian engineering dan
operasi). Sebagai patokan (rule of thumb) dapat digunakan angka US$ 0.
01 per total ton.

b.

Ongkos tenaga kerja personel tambang yang terkait (juru pompa, kru
servis dan tenaga kerja umum).

7) Perawatan Umum
a.

Ongkos suku cadang dan bahan habis yang terkait dengan pemeliharaan
alat pendukung perawatan tambang (truk bahan bakar, truk pelumas,
crane, dll juga suplai untuk bagian perawatan, bengkel dan gudang).
Sebagai patokan (rule of thumb) dapat digunakan angka US$ 0. 01 per
total ton.

b.

Ongkos tenaga kerja personel perawatan seperti teknisi ban, kru bahan
bakar/pelumas dan tenaga kerja umum.

c.

Termasuk pula biaya servis oleh kontraktor atau agen. Dapat


diperkirakan sebagai persentase dari ongkos tenaga kerja perawatan total.

8) General dan Administrative (G & A)


Gaji pegawai di bidang-bidang umum dan administrasi (biasanya disebut
dengan biaya upah overhead) ditambah dengan tunjangan-tunjangan lainnya.

11.3. PARAMETER PENTING DALAM PENAKSIRAN ONGKOS/BIAYA

1) Tingkat Upah Pekerja


a.

Perlu data tentang tingkat upah yang berlaku untuk keahlian ekivalen
yang diperlukan oleh operasi penambangan.

I - 128

b.

Tambahan tunjangan-tunjangan lain di luar gaji besarnya tergantung pada


peraturan yang berlaku. Di Amerika Serikat berkisar sekitar 35%; di
beberapa negara lain dapat lebih tinggi.

c.

Tingkat upah ini dikalikan dengan jumlah personel yang dihitung


sebelumnya dalam bab Kebutuhan Tenaga Kerja.

2) Harga diesel (untuk bahan bakar dan campuran bahan peledak ANFO) hingga
ke tambang.
3) Biaya listrik (untuk peralatan shovel dan bor listrik).
4) Harga bahan peledak sampai ke tambang.
5) Jumlah gilir yang dijadwalkan untuk tiap jenis alat (dari Perhitungan
Kebutuhan Peralatan Tambang).

11.4. ONGKOS OPERASI ALAT PER GILIR

Berdasarkan pada biaya operasi per jam dan jumlah aktual jam pemakaian alat per
gilir.

11.5. ONGKOS PELEDAKAN

Ongkos bahan peledak dan aksesorinya yang dibutuhkan untuk suatu pola
peledakan tipikal, dibagi dengan jumlah ton batuan yang dihasilkan.
1) Alternatif lain untuk memperkirakan biaya aksesori peledakan adalah dengan
menggunakan persentase dari ongkos bahan peledak. Persentase untuk suplai
aksesori bahan peledak ini berkisar dari 2-3% untuk tinggi jenjang dan spasi
(jarak antar lubang tembak) yang besar, hingga 33% untuk jenjang dan spasi
kecil.
2) Suplai aksesori lainnya ini meliputi primer, b ooster, detonating cord, dll.
I - 129

Contoh ongkos operasi tambang :

Tabel 11.1. Ongkos Operasi Tambang Selama 25 Tahun

BAB XII
PERENCANAAN TAMBANG BATUBARA

12.1. PENAKSIRAN CADANGAN


I - 130

Penaksiran cadangan merupakan salah satu tugas terpenting dan berat


tanggung jawabnya dalam mengevaluasi suatu proyek pertambangan
karena keputusan-keputusan teknis amat tergantung padanya. Model
cadangan yang dibuat adalah pendekatan dari keadaan cadangan nyata
berdasarkan

data/informasi

yang

tersedia

dan

masih

mengandung

ketidakpastian.
Ada beberapa hal yang mendasari sehingga penaksiran cadangan dianggap
penting, antara lain :
1) Penaksiran cadangan memberikan taksiran dari kuantitas (tonase) dan
kualitas (kadar dan lain-lain) dari cadangan.
2) Penaksiran cadangan memberikan perkiraan bentuk tiga dimensi dari
cadangan serta distribusi ruang (

) dari nilainya. Hal ini penting

untuk menentukan urutan atau tahapan penambangan, yang pada


gilirannya akan mempengaruhi pemilihan peralatan dan
(NPV) dari tambang.
3) Jumlah cadangan menentukan umur tambang. Hal ini penting dalam
perancangan pabrik pengolahan dan kebutuhan infrastruktur lainnya.
4) Batas-batas kegiatan penambangan (

) dibuat berdasarkan

taksiran cadangan. Faktor ini harus diperhatikan dalam menentukan


lokasi pembuangan tanah atau batuan penutup dan
dan

), pabrik pengolahan bijih, bengkel dan fasilitas

lainnya.
Syarat-syarat untuk dapat melaksanakan penaksiran cadangan suatu daerah
penambangan, antara lain :
1) Suatu taksiran cadangan harus mencerminkan kondisi geologis dan
karakter atau sifat dari mineralisasi.
2) Model cadangan yang akan digunakan untuk perancangan tambang
harus konsisten dengan metode penambangan dan teknik perencanaan
tambang yang akan diterapkan.
I - 131

3) Taksiran yang baik harus didasarkan pada data faktual yang diolah atau
diperlakukan secara objektif.
4) Metode penaksiran yang digunakan harus memberikan hasil yang dapat
diuji ulang atau diverifikasi.
Tahap pertama setelah penaksiran cadangan selesai dilakukan adalah
memeriksa atau mengecek taksiran kadar blok (unit penambangan terkecil).
Hal ini dilakukan dengan menggunakan data pemboran (komposit data
assay) yang ada disekitarnya. Setelah penambangan dimulai, taksiran kadar
dari model cadangan harus dicek ulang dengan kadar dan tonase hasil
penambangan yang sesungguhnya.
12.2. METODE PENAKSIRAN CADANGAN
Prinsip utama dalam penaksiran cadangan adalah bagaimana mendapatkan
suatu nilai pengganti terbaik dari sejumlah perconto yang diambil dari suatu
badan mineral. Secara lebih spesifik kita ingin menaksir kadar pada suatu lokasi
dimana kita tidak memiliki data dengan menggunakan sejumlah perconto yang
letaknya dekat dengan lokasi tersebut.
Ada berbagai metode untuk menghitung cadangan sesuai dengan kondisi
geologi

dan

mineralogi

endapan.

Berbagai

metode

tersebut

telah

dikembangkan dari metode konvensional (klasik) yang manual sampai


metode geostatistik dengan komputer. Metode geostatistik secara bertahap
telah menggantikan penggunaan metode konvensional. Metode geostatistik
penjelasan secara rinci tidak akan dibahas dalam kesempatan ini.
Untuk memilih salah satu di antara metode itu diperlukan beberapa
pertimbangan,

yaitu

analisis

geologi

cadangan, tujuan perhitungan

cadangan, sistem penambangan dan prinsip-prinsip dari interpretasi dan


eksplorasi yang dipakai. Metode tertentu lebih sesuai dipakai untuk endapan
dengan bentuk geometri dan distribusi kadar yang tertentu pula. Endapan
dengan bentuk geometri kompleks dan distribusi kadar yang tinggi akan
lebih cocok bila dihitung dengan Metode Krigging. Untuk endapan dengan
I - 132

bentuk geometri sederhana dengan distribusi kadar atau koefisien variasi


rendah akan lebih efektif dihitung dengan metode penampang yang
sederhana.
Metode-metode konvensional yang digunakan untuk perhitungan cadangan
adalah sebagai berikut :
1)

Menurut G. Popov :

Metode rata-rata faktor dan luas


a. Metode analog
b.

Metode blok-blok geologi

Metode blok-blok penambangan


a. Blok terbuka pada empat sisi pekerjaan bawah tanah
b. Blok terbuka pada tiga sisi pekerjaan bawah tanah
c. Blok terbuka pada dua sisi pekerjaan bawah tanah
d. Blok terbuka pada satu level dan perpotongan pada kedalaman
pemboran

Metode cross-section
a. Metode standar
b. Metode
c. Metode

Metode Analitik
a. Metode
(segitiga)
b. Metode poligon
1)

Penyebaran lubang bor tidak teratur

2)

Penyebaran lubang bor teratur


i. Jaringan kerja bujur sangkar
ii. Grid papan catur

2)

Menurut Park adalah :

I - 133

Regular
a.
b.
c.
Irregular
a.
b.
c.

Berikut ini uraian mengenai beberapa metoda yang biasa


diaplikasikan :

1) Metode Penampang Melintang


Penampang melintang disusun dari kombinasi antara peta garis singkapan
(
) batubara dengan data pemboran (log bor). Penampang melintang per
seam disusun dengan melakukan interpolasi antar data lapisan (
) pada
setiap titik bor yang berdekatan. Garis penampang melintang sebaiknya selalu
diusahakan tegak lurus jurus garis singkapan batubara.
Penampang seam berguna untuk memudahkan perhitungan sumberdaya
sekaligus cadangan batubara salah satunya dengan menggunakan rumus
. Data tersebut juga dapat digunakan untuk menghitung cadangan
tertambang dengan memasukkan asumsi sudut lereng ke dalamnya.
Cadangan dihitung berdasarkan luas daerah batas seam pada penampang yang
bersebelahan. Volume cadangan yang dihitung adalah volume antara dua
penampang yang bersebelahan. Perhitungan volume dilakukan menggunakan
rumus
.
V = L /2 (S1 + S2)

keterangan :
V = Volume daerah yang ditaksir (m3 )
L = Jarak antar Penampang (m)
S = Luas daerah penampang batubara pertama dan kedua (ton/m3 )
Selain menggunakan rumus mean area, perhitungan ini juga dapat dilakukan
menggunakan rumus kerucut terpancung, rumus prismoida dan rumus obelisk.
I - 134

Faktor tonase biasanya diperoleh untuk masing-masing material secara


.
Kemudian tonase untuk masing-masing penampang dijumlahkan untuk
memberikan gambaran total tonase cadangan batubara. Perkiraan akhir untuk
kualitas batubara diperoleh dengan menghitung nilai rata-rata tertimbang
(
untuk masing-masing seam atau area perhitungan.

2) Metode Penampang Horizontal


Walaupun metode penampang vertikal telah banyak digunakan untuk
penaksiran cadangan bijih pada masa lalu, sekarang metode ini telah banyak
digantikan oleh teknik-teknik berdasar pada penggunaan penampang
horizontal.
Metode penampang horizontal pada dasarnya melakukan perhitungan volume
berdasarkan luas daerah juga. Nilai-nilai elevasi yang diperoleh dari data
pemboran dikorelasikan secara horizontal membentuk permukaan lapisan
menggunakan prinsip triangulasi atau daerah pengaruh. Kemudian permukaan
ini dihitung luasnya, dan luas permukaannya dikalikan dengan rata-rata
ketebalan lapisan untuk memperoleh volume seam yang diinginkan.

3) Metode Triangular
Metode triangular adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk
menghitung cadangan batubara. Di dalam metode triangular, masing-masing
titik batas material pada lubang bor dijadikan ujung sebuah segitiga sehingga
akan dihasilkan suatu permukaan yang terdiri dari gabungan segitiga-segitiga
dan dihasilkan seam berupa prisma-prisma segitiga yang teridiri dari dua buah
segitiga yang sejajar dengan jarak vertikal sebesar ketebalan lapisan. Jika
prisma segitiga yang terbentuk memiliki ketebalan yang tetap, maka volumenya
akan sama dengan luas daerah dikalikan dengan ketebalan, dan untuk
memperoleh tonnase, maka dikenakanlah faktor tonase yang sesuai.

4) Metode Poligon
Metode poligon merupakan metode penaksiran yang konvensional. Metode ini
umum diterapkan pada endapan-endapan yang relatif homogen dan
mempunyai geometri sederhana.
Kadar pada suatu luasan di dalam poligon ditaksir dengan nilai conto yang
berada ditengah-tengah poligon sehingga metode ini sering disebut metode
I - 135

poligon daerah pengaruh (


Daerah pengaruh dibuat dengan
membagi dua jarak antara dua titik sampel dengan satu garis sumbu. Poligon
dibangun dari titik-titik pada garis hubung dengan jarak batas terhadap pusat
poligon yang selalu sama dengan jarak batas pusat poligon disebelahnya. Di
dalam poligon, kadar diasumsikan konstan dan sama dengan kadar pada lubang
bor di dalamnya. Dalam kerangka model blok, dikenal jenis penaksiran poligon
dengan jarak titik terdekat
yaitu nilai hasil penaksiran
hanya dipengaruhi oleh nilai sampel yang terdekat.

5) Menurut U.S. Geological Survey, 1980


Perhitungan sumberdaya batubara dilakukan berdasarkan berat batubara per
unit volume, luas daerah yang melingkupi sumberdaya yang akan dihitung, dan
rata-rata ketebalan seam.
Metode

ini

dianggap

sesuai

untuk

diterapkan

dalam

perhitungan

sumberdaya batubara yang berbentuk tabular dengan ketebalan dan


kemiringan yang relatif konsisten. Prosedur perhitungan dalam sistem USGS
adalah dengan membuat lingkaran-lingkaran (setengah lingkaran) pada
setiap titik informasi endapan batubara, yaitu singkapan batubara dan lokasi
pemboran.
Untuk batubara dengan kemiringan lapisan kurang dari 30 derajat, daerah
dalam radius lingkaran 0-400 m adalah untuk perhitungan sumberdaya terukur
dan daerah radius 400-1200 m adalah untuk perhitungan sumberdaya terunjuk.
Sedangkan untuk batubara dengan kemiringan lebih dari 30 derajat, radius
lingkaran-lingkaran dicari harga proyeksinya ke permukaan terlebih dahulu.
Tonase batubara diperkirakan dengan rumus sebagai berikut :
A x B x C = tonase batubara
Keterangan :
A

= rata-rata ketebalan seam (m)

= berat batubara per unit volume yang sesuai (ton/m3 )

= luas daerah dasar batubara (m2 )

I - 136

6) Model Gridded Seam (Model Blok stratigrafi)


Dasar aplikasi teknik-teknik komputer untuk penaksiran tonase dan kadar
adalah membagi-bagi cebakan dan memvisualisasikan cebakan sebagai
kumpulan blok-blok, kemudian blok-blok inilah yang akan diamati untuk
memperkirakan tonase dan kadar. Untuk pemodelan batubara dan
cebakan-cebakan berlapis yang memiliki penyebaran lateral biasanya digunakan
model
. Secara lateral endapan batubara dan daerah sekitarnya
dibagi menjadi sel-sel yang teratur, dengan lebar dan panjang tertentu. Adapun
dimensi vertikalnya tidak dikaitkan dengan tinggi jenjang tertentu, melainkan
dengan unit stratigrafi dari cebakan yang bersangkutan. Permodelan dilakukan
dalam bentuk puncak, dasar, dan ketebalan dari unit stratigrafi. Kadar dari
berbagai bahan galian atau variabel dimodelkan untuk setiap lapisan.
Dalam

melakukan perhitungan

cadangan, parameter-parameter yang

penting adalah :

a.

Ketebalan dan luas

b.

Kadar dari bijih

c.

Berat jenis bijih

12.3. KONSEP PENAMBANGAN


Dalam merencanakan suatu tambang batubara perlu pemahaman mengenai
Konsep Penambangan dan Perancangan Penambangan yang benar untuk
suatu tambang terbuka batubara. Hal ini menjadi penting karena penataan
lahan bekas tambang seharusnya menjadi bagian perencanaan tambang.
12.3.1. Pemilihan Daerah Penambangan
Pemilihan daerah penambangan tentunya harus didasarkan pada hasil
Kajian Geologi Tambang akan diperoleh daerah penambangan tersebut.
Beberapa faktor yang menyebabkan suatu daerah dapat dikatagorikan
potensial adalah :

Penyebaran batubara yang merata.

Jumlah cadangan yang besar.

Lapisan batubara yang tebal.


I - 137

Kualitas batubara yang baik.

Perhitungan cadangan tertambang pada daerah tambang tersebut dapat


menghasilkan nisbah kupas yang bervariasi. Besarnya nisbah kupas
pada tambang-tambang ini disebabkan antara lain oleh kondisi topografi
dan hilangnya penyebaran lapisan batubara pada daerah tersebut.

Oleh karena itu daerah yang mempunyai nisbah kupas > 12 : 1


dianggap tidak ekonomis untuk ditambang saat ini. Lapisan penutup di
atas lapisan batubara maupun antara lapisan batubara pada umumnya
terdiri dari
dan

kadang-kadang dengan sisipan


.

Kemiringan lapisan batubara berkisar antar 8 35 derajat.

12.3.2. Tahapan Penambangan


Dua pendekatan rancangan tambang terbuka :

Mempertimbangkan persoalan tahapan pemindahan material per blok


untuk memenuhi produksi.

Mempertimbangkan pemindahan material yang berhubungan sangat


erat dengan peralatan yang digunakan.

Pada tambang terbuka

daerah

penambangan cukup

luas sehingga

memungkinkan pemakaian alat-alat yang besar. Dalam pemilihan metoda


penambangan perlu memperhatikan pertimbangan teknis yang didasarkan
atas :

Faktor geografi dan geologi

Lokasi :penentuan pemakaian alat penambangan

Curah hujan, temperatur, iklim dan ketinggian akan berpengaruh terhadap


produktifitas alat.

Faktor geologi yang berpengaruh seperti keadaan permukaan, jumlah


lapisan batubara, kemiringan batubara, dan ketebalan tanah penutup.

Ukuran dan distribusi lapisan batubara


I - 138

Ketersediaan peralatan dan kesesuaian dengan peralatan lain

Geoteknik

Umur tambang

Produksi

Sistem Penambangan Batubara

Kegiatan-kegiatan dalam tambang batubara terbuka meliputi :

Persiapan daerah penambangan

Pemboran dan peledakan atau penggaruan

Pengupasan dan pembuangan tanah penutup

Pemuatan dan pembuangan tanah penutup

Reklamasi

Teknik penambangan pada umumnya sangat dipengaruhi oleh kondisi


geologi dan topografi daerah yang akan ditambang.

Kegiatan penambangan selalu menimbulkan pengaruh terhadap lingkungan,


oleh karena itu dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam penambangan
harus mengetahui/mengerti akibat-akibat yang mungkin akan ditimbulkan
dari kegiatan-kegiatan tersebut, sehingga dapat diusahakan dampak negatif
yang sekecil mungkin.
Contoh jenis peralatan tambang dan peralatan bantu utama yang akan
digunakan dalam sistem penambangan seperti yang telah diuraikan di atas
adalah seperti yang terlihat pada Tabel 12.1.

Tabel 12.1. Contoh Peralatan Tambang Yang Diperlukan Berdasarkan Aktivitas


(Laporan Akhir Proyek Bina Pertambangan, ITB, 2000)

Aktivitas
Pembongkaran, penggaruan, dan
penggusuran
Pemboran dan peledakan

Peralatan/Bahan
Buldoser dengan
dan
- Alat bor : CRD dan Kompresor

I - 139

- Bahan peledak : ANFO (bahan peledak


utama) dan Power Gel (primer)
- Alat bantu peledakan : NONEL, sumbu
ledak, sumbu api,
.
dan

Penggalian dan pemuatan


Pengangkutan

Truk jungkit

12.3.3. Cadangan Tertambang


Seperti telah dijelaskan dalam Kajian Geologi Tambang, perhitungan
cadangan tertambang dilakukan dengan perhitungan dilakukan dengan
metode penampang atau metode lainnya.
12.3.4. Strategi Penambangan
Perancangan penambangan pada daerah tambang pada umumnya dilakukan
berdasarkan batasan nisbah kupas.
12.4. PERANCANGAN PENAMBANGAN
12.4.1. Rencana Produksi
Semua perusahaan tambang merencanakan beroperasi dengan tingkat
produksi batubara per tahun. Produksi tahun ke-1 biasanya lebih kecil dari
tahun-tahun berikutnya. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa pada
tahun awal penambangan selain kegiatan penambangan juga diperlukan
berbagai kegiatan lainnya seperti persiapan permuka kerja, pembuatan jalan
ke

, dan lain sebagainya.

Rencana produksi untuk setiap tahun memperhatikan pengaruh curah hujan


terhadap produksi batubara.
Rencana produksi bertahap seperti yang dijelaskan di atas selanjutnya
menjadi panduan untuk menentukan batas kemajuan penambangan setiap
tahun.
I - 140

12.4.2. Kriteria Penambangan


Kriteria penambangan pada umumnya dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor berikut :

Faktor struktur geologi

Faktor geoteknik

Faktor hidrologi dan hidrogeologi

Data dan asumsi yang digunakan dalam perhitungan :

Waktu kerja

Sifat fisik material

Efisiensi kerja peralatan

12.4.3. Rancangan Penambangan


1) Permuka kerja penambangan
Permuka kerja penambangan adalah medan kerja di mana kegiatan
penggalian/penambangan batubara sedang berlangsung. Satu permuka
kerja membutuhkan satu armada peralatan tambang yang terdiri dari satu
unit alat gali-muat dengan beberapa unit alat angkut dan dibantu satu unit
alat garu-dorong. Dalam satu pit penambangan mungkin terdapat satu atau
lebih permuka kerja. Jika pit cukup luas dan dengan alasan kebutuhan
produksi maka beberapa permuka kerja dapat beroperasi secara bersamaan.
Banyaknya permuka kerja yang harus beroperasi dalam penambangan
ditentukan oleh jumlah armada peralatan penambangan batubara yang
dibutuhkan berdasarkan target produksi.
2) Batas penambangan
Faktor-faktor yang mempengaruhi penentuan batas tambang terbuka adalah
batas Kuasa Pertambangan (KP) Eksploitasi, penyebaran lapisan batubara,

I - 141

dimensi lereng aman, rencana produksi, nisbah kupas, aliran sungai, dan
jalan negara yang melewati tambang tersebut
Penentuan batas lereng akhir tambang juga mengacu pada nisbah kupas
dan dimensi maksimum lereng yang aman berdasarkan rekomendasi Kajian
Geoteknik. Rencana produksi akan menentukan batas pit yang akan
ditambang setiap tahun dengan nisbah kupas tertentu.
Batas penambangan tiap semester/tahun baik ke arah lateral (luas bukaan
tambang) maupun vertikal (posisi lantai tambang) diwujudkan dalam peta
kemajuan tambang tiap tahun.
3) Arah dan urutan penambangan
Arah kemajuan penambangan adalah dari daerah singkapan ke arah tegak
lurus jurus lapisan batubara sampai lereng akhir penambangan, kemudian
bergerak maju ke daerah penambangan tahun berikutnya mengikuti
penyebaran lapisan batubara.
Pemilihan

urut-urutan

penambangan

terutama

didasarkan

pada

pertimbangan teknis operasional serta cadangan yang ada


4) Kegiatan Penambangan
Penambangan batubara biasanya dilakukan dengan siklus
yaitu menggunakan kombinasi peralatan

konvensional

dan truk jungkit

serta buldoser. Metode ini mempunyai fleksibilitas dan selektivitas dalam


penggalian, serta ketersedian alat baik jenis maupun ukuran di pasaran.
Operasi penambangan setiap tahunnya terdiri kegiatan pembersihan lahan
yang dilaksanakan terlebih dahulu, kemudian diikuti dengan penggalian/
pemberaian, pemuatan dan pengangkutan yang dilaksanakan dalam waktu
yang bersamaan. Artinya, sementara kegiatan pembersihan lahan terus
I - 142

berlangsung dan setelah luas lahan yang dibersihkan cukup dan aman untuk
tempat kerja alat gali, maka kegiatan penggalian/pemberaian dapat segera
dimulai. Kegiatan ini diikuti dengan kegiatan pemuatan dan pengangkutan,
baik untuk batubara maupun lapisan penutup.
5) Pembersihan lahan
Untuk menyediakan tempat kerja bagi alat gali-muat dan alat angkut perlu
dilakukan pembersihan lahan. Pembersihan lahan ini dilakukan terhadap
vegetasi/pohon-pohon

yang

terdapat

di

sekitar

daerah

operasi

penambangan dengan menggunakan buldoser.


6) Penanganan tanah pucuk
Pertimbangan

penanaman

kembali

daerah

bekas

tambang

untuk

mengurangi kerusakan lingkungan (reklamasi) memerlukan suatu strategi


untuk penanganan tanah pucuk. Tanah pucuk ini nantinya akan disebar
pada bagian teratas dari tumpukan lapisan penutup, baik di lokasi
maupun di lokasi

Tanah pucuk akan dikupas dan dimuat ke dalam truk jungkit dengan
menggunakan alat muat kemudian diangkut ke lokasi penimbunan dan
langsung disebar di atas timbunan lapisan penutup, kecuali pada awal
penambangan karena belum ada timbunan lapisan penutup maka tanah
pucuk akan ditumpuk di dekat lokasi

sebelum disebar di atas

timbunan lapisan penutup.


7)

Penggalian/pemberaian, pemuatan dan pengangkutan lapisan


penutup

Seperti

telah

diuraikan

sebelumnya,

direkomendasikan adalah :
I - 143

teknik

penggalian

yang

Penggalian bebas untuk tanah pucuk

Penggaruan untuk batubara,

Peledakan untuk sebagian batuan keras, bila ada.

, sebagian

dan

Oleh sebab itu penanganan lapisan penutup (overburden dan interburden)


akan dilakukan dengan cara sebagai berikut :

Penggalian/pemberaian

Pemuatan
Pemuatan lapisan penutup ke dalam alat angkut baik dari hasil
penggaruan maupun hasil peledakan adalah menggunakan alat muat.

Pengangkutan
Pengangkutan lapisan penutup ke lokasi penimbunan adalah menggunakan
truk jungkit.

8) Penggalian/pemberaian,

pemuatan

dan

pengangkutan

batubara
Pada umumnya penanganan lapisan batubara akan dilakukan dengan cara
sebagai berikut :

Penggaruan

Penggaruan batubara dengan menggunakan buldoser yang dapat


dilengkapi dengan

Pemuatan

Pemuatan batubara ke dalam alat angkut menggunakan alat muat.

Pengangkutan

Pengangkutan lapisan batubara ke


jungkit (

menggunakan truk

).

9) Jalan tambang
Yang dimaksud dengan jalan tambang adalah jalan yang menghubungkan
permuka kerja dengan lokasi

dan lokasi penimbunan lapisan

I - 144

penutup. Jalan tambang disiapkan untuk untuk dua jalur pengangkutan truk
jungkit.
10) Perencanaan penimbunan lapisan penutup
Dalam perencanaan penimbunan lapisan penutup, penimbunan di lokasi
hanya akan dilaksanakan sampai tersedianya daerah bekas
penambangan yang cukup luas untuk dapat melaksanakan

Cara seperti ini selain mengurangi biaya produksi (karena jarak angkut
lapisan penutup berkurang) juga mengurangi kerusakan lingkungan akibat
bekas penambangan. Dengan

lubang-lubang bekas tambang diisi

kembali sehingga persiapan pelaksanaan reklamasi dapat segera berjalan.


Untuk keperluan penimbunan di luar pit ini telah dipilih lokasi timbunan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi penimbunan tanah
adalah sebagai berikut :

jarak yang tidak terlalu jauh dari permuka kerja tambang

tidak ada cadangan batubara di bawah lokasi yang dipilih

tidak mengganggu daerah yang akan ditambang

topografi permukaan berupa lembah.

Untuk menjaga agar lereng timbunan tetap aman, perancangan penimbunan


tanah di luar pit maupun

selalu mengikuti dimensi timbunan yang

telah direkomendasikan oleh Kajian Geoteknik.

11) Kebutuhan Peralatan


Kebutuhan alat-alat tambang dihitung dengan cara membagi target produksi
per jam dengan produktivitas alat per jam. Target produksi per jam

I - 145

didapatkan dengan cara membagi target produksi per tahun dengan jam
kerja efektif alat per tahun.
Peralatan tersebut dapat dikelompokkan menjadi peralatan tambang utama
dan peralatan penunjang.

12.5. APLIKASI MINESCAPE 4


Minescape 4 merupakan salah satu perangkat lunak terpadu yang dirancang
khusus untuk industri pertambangan. Minescape yang berintikan sistem
grafik

CAD

3D

dengan

produk-produk

aplikasinya

memungkinkan

penggunanya secara interaktif membuat dan mengolah model-model geologi


tiga dimensi serta desain tambang dalam

dan

. Aplikasi Minescape merupakan inti dari sistem Minescape meliputi


sistem dasar dari program, bahasa pemrograman, struktur data,

alat-alat dan modul-modul yang merupakan bagian perangkat lunak


Minescape.
Komponen-komponen Minescape meliputi :

GTI (

GTI merupakan sistem minescape yang menyediakan manajemen


yang akan gambar-gambar dan secara visual berbeda dari
lingkungan Minescape. GTI terdiri dari

dan berisi sejumlah

yang dapat dikonfigurasikan untuk kebutuhan pemakai dan


ditampilkan sebagai tab-tab dalam

(halaman layar) merupakan gabungan jendela yang menjalankan


fungsi-fungsi khusus dan ditampilkan di dalam GTI
umum

ada dua macam, yaitu

. Secara

yang menyediakan

layanan pemantauan dan kontrol terhadap modul-modul yang dijalankan


dan minescape page yang menyediakan fungsi-fungsi Minescape.

I - 146

CAD
CAD

menampilkan grafis 3D CAD dari Minescape (


).

Form
Format merupakan

tersendiri yang menampilkan parameter dan

data yang relevan untuk mengoperasikan Minescape secara khusus


serta memungkinkan anda untuk melihat, memanipulasi parameter
secara

interaktif dan menyerahkan modul-modul tersebut untuk

dijalankan.
adalah perangkat lunak khusus yang dipadukan dengan aplikasi
Minescape.

tambahan

memberikan kehandalan

dalam

aplikasi dan fungsi-fungsi tambahan yang khusus pada operasi-operasi


tertentu

(misalnya

dan

). Produk-produk yang tersedia dalam keluaran ini meliputi :

I - 147