Anda di halaman 1dari 7

TIPE-TIPE ALTERASI HIDROTERMAL

Alterasi hidrotermal adalah pergantian mineralogi dan


komposisi kimia yang terjadi ketika batuan berinteraksi dengan
larutan hidrotermal (White, 1996). Alterasi merupakan proses
penggantian mineral untuk mencapai kesetimbangan baru.
Alterasi

hidrotermal

dipengaruhi

oleh

suhu,

tekanan,

dan

komposisi fluida hidrotermal. Fluida hidrotermal ini berasal dapat


berasal dari air magmatik, air meteorik, maupun air metamorfik.
Faktor pengaruh alterasi hidrotermal tersebut akan tercermin
pada mineral-mineral sekunder yang terbentuk. Berdasarkan
asosiasi mineral-mineral sekunder, alterasi dapat dibagi menjadi
beberapa tipe (menurut Guilbert, 1986), yaitu:
1. Alterasi Potassik
Alterasi potassik merupakan alterasi yang dicirikan dengan
mineral biotit sekunder dan K feldspar (ortoklas). Pada alterasi ini
terjadi pembentukan K feldspar bersama atau tanpa kandungan
biotit dan serisit, umumnya disertai dengan sisa kandungan
kalsium-garam dalam mineral aksesoris, seperti anhidrit, apatit,
flourit, kalsit atau sideromagnesio kalsit, kalkopirit, molibdenit,
pirit,

magnetit,

atau

hematit.

Ditemukan

juga

adanya

penggantian hornblende atau klorit oleh biotit dan plagioklas K


feldspar.
Alterasi ini terbentuk pada suhu 320 0C dengan kondisi pH
fluida hidrotermal yang netral dan kandungan

K+/zH+ tinggi.

Alterasi ini ditemukan pada inti dari endapan porfiri yang


mempunyai host rocks berupa intrusi batuan beku felsik
intermediet, atau batuan volkanik.

Gambar 1. Alterasi potassik ditandai dengan adanya kehadiran K feldspar dan


biotit

2. Alterasi Propilitik
Alterasi propilitik merupakan alterasi yang dicirikan dengan
penambahan H2O, CO2, dan sedikit sulfur. Terjadi juga proses
metasomatisme pada kandungan alkali tanah atau leaching yang
tidak berpengaruh. Mineral penciri alterasi propilitik adalah
epidot, klorit, dan karbonat yang menggantikan komposisi
mineral plagioklas serta hornblende-biotit (klorit, montmorilonit,
dan epidot) pada batuan.
Alterasi propilitik mempunyai zona yang luas dan berada
pada bagian terluar dari zona alterasi pada sistem dengan
kedalaman menengah.

Gambar 2. Alterasi propilitik ditandai adanya klorit, kalsit, dan epidot

3. Alterasi Serisitik/Filik
Alterasi serisitik merupakan alterasi dimana semua mineral
asli batuan seperti feldspar, mika, dan mineral mafik terubah

menjadi mineral serisit dan kuarsa. Alterasi ini didominasi oleh


serisit filosilikat yaitu asosiasi mineral mika berbutir halus seprti
muskovit, hydromika, dan phengite. Dijumpai juga kehadiran
mineral aksesoris minor seperti pirit, klorit, leukoksen, rutil yang
terbentuk dari titanium biotit, sphene, dan mineral lainnya.
Terdapat tambahan mineral biotit atau biotit klorit yang tidak
dibarengi dengan kehadiran K feldspar. Alterasi serisitik dijumpai
dengan batuan asal seperti andesit mafik pada sistem porfiri.

Gambar 3. Alterasi filik ditandai dengan adanya kehadiran klorit dan muskovit

4. Alterasi Argilik
Alterasi argilik merupakan alterasi yang dicirikan dengan
adanya kehadiran mineral lempung berupa kaolin yang berasal
dari plagioklas dan montmorilonit yang berasal dari amfibol dan
plagioklas. Terdapat K feldspar yang tidak berpengaruh, terjadi
peluluhan kandungan alkali tanah dalam jumlah besar. Alterasi
argilik terjadi pada suhu rendah (<200 0C) dan pH netral dengan
rasio K+/H+ yang rendah.
Alterasi argilik merupakan zona alterasi di antara alterasi
propilitik dan argilik lanjut.

Gambar 4. Alterasi argilik yang ditandai dengan adanya kehadiran


montmorilonit dan kaolin

5. Alterasi Argilik Lanjut


Alterasi argilik lanjut merupakan alterasi yang terbentuk
pada kondisi asam dengan fluida yang kaya kandungan H + dan
rasio K+/H+ dan Na+/H+ yang rendah. Pada alterasi ini terjadi
peluluhan yang kuat terhadap semua kandungan alkali. Pada
suhu tinggi (3000C), terbentuk mineral pirofilit dan pirofilitandalusit, sedangkan pada suhu yang lebih rendah terbentuk
mineral kaolin atau dickit dalam jumlah banyak. Mineral lain
yang terbentuk antara lain kuarsa, alunit, topaz, zunyite,
turmalin,

dan

hidro-kloro-flour-boro-aluminosilika.

Distribusi

argilik lanjut kurang beraturan daripada tipe alterasi lain tetapi


umum dijumpai pada daerah mineralisasi.

Gambar 5. Alterasi argilik lanjut

6. Alterasi Greisen

Alterasi greisen hampir sama dengan alterasi argilik lanjut


atau filik tetapi kandungan serisit atau muskovitnya lebih banyak
dan tidak adanya mineral pirofilit. Kuarsa, muskovit, dan topaz
mendominasi dengan turmalin, flourit, rutil, kasiterit, wolframit,
dan magnetit sebagai mineral aksesoris umum. Alterasi greisen
terjadi pada temperatur tinggi yang berasosiasi dengan granit
peralumina dan mineralisasi yang terkait.

Gambar 6. Alterasi greisen ditandai dengan adanya muskovit

7. Alterasi Skarn
Alterasi skarn merupakan alterasi yang tersusun oleh silikat
Ca-Fe-Mg-Mn yang terbentuk oleh penggantian batuan kaya
karbonat selama proses metamorfisme regional ataupun kontak
dan metasomatisme. Alterasi ini mengandung amfibol, piroksen,
garnet,

epidot-zoisit,

dan

piroksenid

yang

menggantikan

batugamping atau dolomite. Umumnya terdapat kandungan


silika, aluminium, besi, dan magnesium dalam jumlah yang
melimpah.
Berdasarkan jenis mineralnya, skarn dibagi menjadi dua
macam, yaitu:
-

Skarn prograde yang terbentuk pada fase awal (T tinggi).


Umumnya dijumpai

pada mineral bersuhu tinggi seperti

garnet, biotit, humit, montiselit, dll.


Skarn retrograde yang terbentuk pada fase pendinginan (T
rendah). Umumnya tersusun oleh mineral serpentin, amfibol,
tremolit, epidot, klorit, kalsit, dll.

Gambar 7. Alterasi skarn

DAFTAR PUSTAKA
Dosen dan Staf Asisten Geologi Sumberdaya Mineral, 2013, Buku
Panduan Praktikum Geologi Sumberdaya Mineral, Jurusan
Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.