Anda di halaman 1dari 70

RINGKASAN

MATA KULIAH HUKUM ADAT

Oleh
JANUARSE H. DJAMI RIWU
NIM.1202011076
Bagian Hukum Acara
Fakultas Hukum
Universitas Nusa Cendana

Kupang
2016

BAB I
MENGENAL ADAT DAN HUKUM ADAT
1. ADAT dan HUKUM ADAT
Adat adalah kebiasaan masyarakat, dan kelompok-kelompok
masyarakat lambat laun menjadikan adat itu menjadi adat yang sehaeusnya
berlaku bagi anggota masyarakat dengan dilengkapi oleh sanksi, sehingga
menjadi hukum adat. Jadi, hukum adat adalah adat yang harus diterima dan
harus dilaksanakan dalam masyarakat yang bersangkutan. Untuk
mempertahankan pelaksanaan hukum adatitu agar tidak terjadi
penyimpangan atau pelanggaran, maka di antra anggota masyarakat ada
yang diserahi tugas untuk mengawasinya. Denan demikian lambat laun
petugas-petugas adat menjadi, kepala adat.
Adat dan hukum adat kemudian secara historis-filosofis dianggap
sebagai perwujudan atau pencerminan kepribadian suatu bangsa dan
merupakan penjelmaan dari jiwa bangsa (volkgeist) suatu masyarakat
negara yang bersangkutan dari zaman ke zaman. Oleh kkarna itu setiap
bangsa, setiap bangsa di dunia memiliki adat (kebiasaan) sendiri- sendiri
yang yang satu dengan yang lainnya tidaklah sama.
2. Manfaat dari mempelajari HUKUM ADAT
Demikian yang di kemukakan oleh beberapa pakar sarjana hukum antara
lain:
Prof. H. Hilman Hadikusuma, S.H. (1992:3) menegaskan sebagai
berikut,
Istilah PANCASILA berasal dari bagain kitab (surga) ke 53 bait
kedua dari kitab NEGARA KERTAGAMA yaitu kitab yang diubah di
masa pemerintahn Hayam Wuruk sebagai syair pujian taentang kemegahan
negara majapahit oleh MPU Prapanca pada tahun 1365 yang antara lain
menyatakan
Yatnanggewani
pancasila
kertasangskara
bhisekakakrama maksudnya (Raja) melaksanakan dengan setia
kelima pantangan. Begiyu juga uapacara ibadah dan penobatan.
Kemudian istilah Bineka Tunggal Ika berasal dari lontar Sutasoma
karya MPU Tantular yang antara lain menyatakan Bhineka Tunggal

Ika, tanhana Dharma mangrwa maksudnya berbeda itu satu itu,


tidak ada kebenaran (agama) mendua.
Ditegaskan kemudian oleh Prof. H. Hilman Hadikusuma, S.H,
bahwa:
dengan mempelajari hukum adat maka kita akan memahami budaya
hukum indonesia, kita tidak menolak hukum asing sepanjag ia tidak
bertentangan dengan hukum indonesia. Begitu pula dengan mempelajari
hukum adat maka akan dapat kita ketahui hukum adat yang mana tidak
sesuai lagi dengan perkembangan zaman , dan hukum adat yang mana
mendekati keseragaman yang dapat diberlakuakan sebagai hukum inter
nasional.
3. Istilah HUKUM ADAT
a. Istilah umum
Istilah hukum adat merupakan terjemahan dari istilah (bahasa)
Belanda ADAT RECH yang pertama kaliya dikemukakan oleh Prof.
Dr. Christian Snouck Hurgronje (H. Abdul Gaffar) didalam bukunya
yang berjudul DE ATJEHERS (dua jilid yang diterbitkan pada tahun
1893-1894). Beliau dikenal sebagai salah seorang dari Trio penemu
hukum adat yang tekemuka disamping George Alexander Wilken
(1847-1891) dan Frederik Albert Sir Thomas Stamford Ralffles (17181618), Willliam Marsden (1754-1857), dan Crawfurd (1783-1869).
Istilah adatrech ini kemudian lebih popular lagi setelah di
perkenalkan oleh prof. dr. cornelis van vollenhoven sebagai ilmu
pengetahuan sejak 3 oktober 1901.
Kemudian secara resmi istilah adat rech dikenal sejak diatur
didalam stb. 1929 221 jo 487 yang mulai dibelakukan sejak tanggal 1
januari 1929. (sebagai pelaksanaan dari pasal 134 ayat 2 I.S ( indsische
staats 1924 447 ) ( pasal 34 ayat 2).
Menurut prof. iman sudiat, s.h. dinyatakan :
dasar berlakunya hukum adat yag berasal dari zaman kolonil belanda pada
masa sekarang masih berlaku ketentuan pasal 131 ayat 2 sub b I.S yang
menyatakan bagi golongan hukum (rechtsgroep) indonesia asli dan
golongan timur sig berlaku hukum adat .
Kemudian DJAREN SARAGIH, S.H menyebutkan:

berdasarkan ketentuan pasal 163 I.S ditentukan bahwa golongan


penduduk indonesia (hindia belanda) terdiri dari :
1) Golongn eropa ( europeanen )
2) Golongan timur asing ( oosterlingen )
3) Golongan bumi putra ( inglanders )
b. Istilah Lain
istilah dalam perundang-undangan
1) Didalam ab (algemene bepelingen van watgeving voor nederlands
indie) (ketentuan ketentuan umum perundang undangan hindia
belanda) pasal 11 dipakai istilah gods dientige wetten, folks
instellingen en gebriken ( peraturan perturan keagamaan,
lembaga-lembaga rakyat dan kebiasaan kebiasan)
2) Didalam r.r. ( regelling regalement ) 1854 pasal 75 ayat 3 dipakai
istilah gods dientige wetten, folks instellingen en gebriken (
peraturan perturan keagamaan, lembaga-lembaga rakyat dan
kebiasaan kebiasan)
3) Dalam r.r ( regelling regalement ) pasal 78 ayat 2 dipakai istilah
gods dientige wetent in oude herkonmsten ( pereturan-peraturan
keagamaan, dan naluri naluri.
4) Didalam I.S ( indische staatch regeling) (peraturan hukum negara
hindia belanda) (semacam undang-undang dasar bagi hindia
belanda pasal 28 ayat 4 di pakai istilah instellingen des volk
(lembaga lembaga dari rakyat)
5) Didalam I.S (indische staatch regeling ) pasal 131 ayat sub b
dipakai istilah med hunne gods dienten en gewoonten samen
hagende rech sregelen ( aturan aturan hukum yang berhubungan
dengan hukum dan kebiasaan mereka)
6) Stb.1929 nomor 221 jo 487 engan istilah adat rech, istilah
dikalangan para pakar barat diantaranya :
1. Nederburg -wetten adat
2. Joynbollg -handleiding tot de kennis van de mohammedansche
wet
3. Scheuer -het personenrechts voor de inlanders op java an
Madura

c. Istilah Dikalangan Msyarakat Daerah (Suku Bangsa)


Kebanyakan para pakar menyebutkan, bahwa dikalangn
masyarakat banyak adat jarang sekali dipergunakan atau dipakaki istilah
hukum adat bahkan tiak dikenal ecara serius. Dalam hal ini yang lazim
dipergunakan adalah istilah adat saja daninipun yang berasal dari kata
bahas arab yang artinya kebiasaan.
Adah atau adat artinya kebiasaan yaitu perilaku masyarakat yag
selalu dan senantiasa terjadi didalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Dengan demikian dapat dikatakan oula bahwa yang dimaksud dengan
hukum adat adalah hukum kebiasaan.
Didlam bahasa-bahasadaerah para pelbagai suku bangsa atau
golongan penduduk yang ada di indonesia dipakai berbagai ragam istilah
yaitu diantaranya :
1) Di gayo
-ODOT (EUDEUT)
2) Di Jateng/Jatim
-ADAT, NGADAT
3) Di Minangkabau
-LEMBAGA (LEMBAGO) ( ADAT
LEMBAGA)
4) Di Minahasa-Maluku -ADAT KEBIASAAN
5) Di Batak ( karo)
-BSA (BICARA)
4. PENGERTIAN HUKUM ADAT
a. Pengertian Pada Masyarakat Daerah
1) Daerah Minangkabau
a. Adat yang sebenarnya adat.
Adat yang dimaksud disini adalah adat yang tidak lekang dipanas
dan tidak lapuk dihujan, yaitu adat ciptaan TUHAN maha pencipta,
Sebagaimana dikatakan dalam peribahasa
ikan adatnya beradai, air adatnya membasahi, pisau adatnya melukai.
Jad hal ini menunjukkan bahwa hukum adat itu dipengaruhi adat
keagamaan segala sesuatunya di kusai dan diatur oleh TUHAN YANG
MAHA ESA
b. Adat istiadat
Yang dimaksud adalah adat sebagai aturan ( kaidah) yag ditentukan
oleh nenek moyang luhur yang di minangkabau dikatakan berasal dari ninik
kata manggungan dan ninik arpatih nan sabatang di balai balairung
heriangan padang panjang.

Sebagaimana dikatakan didalam peribahasa


negeri berpenghulu, suku berbuah perut, kampong bertuah, rumah
bertungganai, diasak layu dibubut mati.
Dalam hl ini adat mengandung ati sebagai kaidah- kaidah yag berlaku
tradisional sejak zaman oyang asal sampai anak cucu di masa sekarang.
c. Adat Nan Diadatkan
Yang dimaksud adalah sebagai aturan yang ditetapkan atas dasra
blat mufakat para penghulu, tua-tua adat, cerdik pandai dalam majelis
kerapatan adat atas dasar halor dan patut.
Ketentuan ini dapat berubah menurut keadaan tempat dan waktu. Oleh
karena lain nagari. Maka oleh karenya sifat adat nan diadatka itu adalah
lain pandang lain belakang, lain lubuk lain ikannya.
a. Adat Nan Teradat
yang dimaksud adalah kebiasan bertingkah laku yang dipakai karena hasil
tiru meniru diantara anggota masyarakat namun karena kebiasaan perilaku
itu sudah terbiasa dipakai maka dirasakan tidak bai untuk ditinggalkan.
2). Daeah bugis
Di tanah bugis, adat juga termasuk juga hukum adat disebut juga dengan
istilah ade atau adat. Antara lain misalnya sebagaimana diuraikan dalam
LONTARA SUKU NA WAJO, sebagai berikut
a) ADE URA OURO
Yang dimaksud adalah adat yang sudah tetap dan tidak boleh diubah karena
sudah disepakati bersama raja dan rakyat untuk dilaksanakan dan ditaati.
Apabila ketentuan tersebut diubah atau dibatalkan maka akibatnya negeri
akan rusak Karen menyalahi sesuatu yang sudah betul dan menyingkirkan
kejujuran.
b) ADE ASSITURUSENG
yang dimaksud adalah adat yang ditetapkan atas prsetujuan raja dan rakyat
yang dapat dirubah karena tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.
c) ADE MARAJA RI ARUNGGO
Yang dimaksud adalah adat yang berlaku bagi raja dan para bangsawan yan
berasal dari ADE ASSITURUSENG karena dianggap tidak ada lagi
cacatnya, maka harus dilaksanakan raja dan bangsawan.
d) ADE ABIASANG RI WANUE

Yang dimaksud adalah adat yang berlaku bagi seluruh rakyat atas
persetujuan bersama yang tidak cacat lagi dan harus dilaksanakan
seterusnya oleh rakyat.
e) ADE TARU ANANG
Yang dimaksud adalah adat yang lahir dari tua-tua desa yang intinya
dikatakan LUKKA TARO DATU TELLIKA TARO ADE, LUKKA
TARO ADE TELLUKA TARO ANANG. LLUKA TARO ANANG
TELLUKA TAMA EGA ( Batal ketetapan raja tidak batal ketetapan dewan
pemangku adat, batal ketetapan pemangku adat tidak batal ketentan tua- tua
adat, batal ketentuan-ketentuan adat tidak batal ketetapan orang banyak.
Jadi, keputusa rakyat berarti keputusan yang kedudukannya diatas
keputusan yang lain.
b. pengertian sarjana barat
1) prof. dr. Christian snouchk hurgronje
nama muslimnya abdul al gaffar menyatakan bahwa:
hukum adat adalah adat yang memounyai sanksi (reaksi), sedangkan adat
yang tidak mempunyai sanksi(reaksi) adalah merupakan kebiasaan
normatif, yaitu kebiasaan yang brwujud sebagai tingkah laku yang berlaku
dalam masyarakat. pada kenyataanya antara hukum adat dan adat kebiasaan
itu batasnya tidak jelas.
2) prof. dr. chornellis van vollenhoven
Sebagai seorang yang pertama-tama menjadikan hikum adat sebagai ilmu
pengetahuan, sehingga hukum adat menjadi sejajar kedudukannya dengan
hukum lain. Didalam ilmu hukum menyatakan sebagai berikut
hukum adat adalah aturan \- aturan perilaku yang berlaku bagi orang
pribumi dan orang-orang timur asing yang di satu pihak mempunyai sanksi
( maka dikatakan sebagai hukum) dan di lain pihak dikodifikasikan (maka
dikatakan adat)
3) roelof van dijk
Di dalam bukunya pengantar hukum adat indonesia menyatakan bahwa:
hukum adat itu adalah istilah untuk menunjukkan hukum yang tidak
dikodifikasikan dikalangan orang indonesi dan kalangan orang timur asing(
china, arab, Pakistan, jepang, india, dan sebagainya)
Dengan istilah tersebut sekarang yang dimaksud dengan semua manifestasi
kesusilaan di semua lapangan hidup yakni semua peraturan tingkah laku
macam apapun yang biasanya dijalankan orang indonesia termasuk pula

peraturan-perturan hukum yang mengatur hidup bersama orang indonesia.


Untuk membedakan peraturan-peraturan hukum kita mempunyai isilah
yang tepat untuk menyatakannya sebagai hukum rakyat indonesia. Hanya
mungkin dapat dibedakan sebagai adat yang mempunyai akibat hukum
dan adat yang tidak mempunyai akibat hukum.
4) prof. dr. barend ter haar bzn
Beliau menjadi guru besar pada skolah tinggi hukum (rechts hoge school)
yang berdiri pada tahun 1924 di Batavia Jakarta melanjutkan usha prof. dr.
chornellis van vollenhoven didalam membina hukum adat.
a). didalam pidato dies RHS 1930 dengan judul peradilan landraad
bedasarkan hukum tak tertulis menyatakan
hukum adat lahir dan dipelihara oleh keputusan-keputusan; keputusan
para warga masyarakat hukum terutama keputusan berwibawa dari kepala
kepala rakyat yang membantu pelaksanaan perbuatan-perbuatan hukum
atau hal pertentngan kepentingan keputusan para hakim yng bertugas
mengadil Sengketa sepanjang keputusan keputusan itu. Karena
kesewenangannya atau kuarang pengertian tidak bertentangan dengan
keyakinan hukum rakyat melainkan senafas seirama dengan kesedaran
tersebut, diterima atau diakui atau setdak-tidaknya di toleransikan
olehnya.
b) di dalam orasi tahun 1937 yang berobyek hukum adat hindia belanda
dalam ilmu, dalam praktek dan pengajaran, menyatakn:
hukum adat itu dengan mengabaikan bagian-bagianny yanag tertulis yang
terdiri dari perturan-peraturan desa, surat-surat perintah raja adalah
keseluruhan peraturan yang menjelma dalam keputusan keputusan para
fungsionaris hukum yang mempunyai wibawa serta pengaruh yang dalam
tahap pelaksananya berlaku seta-merta dengan sepenuh hati.
Dengan melihat uraian-uraian tersebut dapat disimpulakan bahwa
: hkum adat adalah keseluruhan aturan yang menjelma dari keputusan
keputusan para fungsionaris hukum serta mempunyai pengaruh dan yang
dalam pelaksanaan berlaku serta merta dan ditaati dengan sepenuh hati.
Hukum adat dalam proses abadi dibentuk dan dipelihara dan dalam
keputuan pemegang kekuasaan.
Sehubungan dengan itu beliau menyatakan dengan pula: bahwa
tidak ada alasan untuk menyatakan sesuatu itu dengan sebutan hukum tanpa
adanya keputusan tentang hukum oleh para petugas hukum masyarakat.

Tanggapan beberapa pakar TER HAAR


a) SOEROJO WINJO DIPOERO, S.H (1991:17)
menegaskan sebagai berikut. jadi, untuk melihat apakah sesuatu adat
istiadat itu sudah merupajkan hkum adt maka kita wajib melihat sikap
penguasamasyarakat hukum yang bersangkuta terhadap sipelanggar
peraturan adat- istiadat yang bersangkutan. Kalau penguasa terhadap si
pelanggan menjatuhkan putusan hukuman, maa adat istiadat itu sudah
menjadi hukum adat.
b) prof. HILMAN ADIKUSUMA, S.H (1912:14-15)
menyebutkan sebagai beriut pendapat TER HAAR tersebut telah
dipengaruhi oleh peNdapat dari JHON CHIPMAN GRAY ( inggris) yang
terkenal dengan teorinya all the law is judge made law (semua hukum
itu adalah keputusan hakim) sebagaimana berlaku di negara-negara angli
saxon ( amerika serikat-afrika selatan) yang menganut system peradilan
precident dimana para hakim wajib mengikuti yurisprudensi atau
keputusan hakim terdahulu didalam memutuskan perkara yang sama.
c) prof. IMAN SUDIYAT, S.H. (1991:7-8)
Menyebutkan sebagai berikut.
bahwa dari ajaran itu terlihat pula pandangan TER HAAR yang
mendalam dan penuh perhatian dan pengetian. Hal ini terbukti dngan katakata bahwa adat, harus menginsyafi sedalam-dalamnyatentang
system/stelsel hukum adat, kenyataan sosial serta tuntutan keadilan dan
kemanusiaan untuk dapat melakukan tugasnya dengan baik.
Ini berarti bahwa TER HAAR tidak melupakan kenyataan-kenyataan
dalam masyarakt Indonesia dan alam pikirannya yng khas yang harus
dipakai oleh seorang Hakim yang bijaksana sebagai pangkal haluan. Alam
pikiran yang khas itu pernah ditulis beliau dalam Bukunya Arti dari
pertentangan alam pikiran kritis dengan alam pikiran participerend
dan peradilan menurut Hukum Adat ( Alam pikiran dari orang yang
merasa dirinya sebagai begian yang tak terpisahkan dari
kesatuan/keseluruhan, konsekuensinya selalu mencari perdamaian,
kedamaian dan harmoni).
Keputusan hakim harus menjadi, pembawa serta pemikkul nyata dari nilainilai kemasyarakatan didalam kehidupan nersama suatu persekutuan atau
masyarakat hukum.
d) prof. BuS.Harmuhammad, S.H. (1994:9)

menguraikan sebagai berikut.


sungguhpun banyak sekali hukum adat yang menentang pendapat TER
HAAR tersebut, namun tidak dapat disangkal bahwa pandangan TER
HAAR tersebut sngat mendalam serta penuh perhatian dan pengertian. Hal
ini terbukti dari kata-katanya bahwa setiap Hakim yang harus mengambil
keputusan menurut adat haruslah menginsyafi sedalam-dalamnya tentang
system atau stelsel hukum adat, kemyataan-kenyataan sosial (sociale
werkelijkeheid) dan tuntutan keadilan serta kemanusiaan untuk dapat
melakukan tugasnya dengan baik. Ini berarti bahwa TER HAAR tidak
melupakan kenyataan-kenyataan dalam masyarakat Indonesia dan cara
berfikir yang khas yang harus dipakai oleh seorang hakim yang bijaksana,
sebagai pangkal haluan. Kemudian sangat penting bagi hakim itu untuk
mencari penyelesaian perkara yang dihadapinya untuk memberi
keputusanhukum, berdasarkan keyakinannya sendiri dalam pengaruh
timbal balik dengan segala sesuatu yang menjadi, keyakinan rakyat.
Keputusan hakim harus jadi, pembawa serta pemikul yang nyata dari nilainilai kerohanian serta nilai-nilai kemasyarakatan dalam hidup bersama
dalam suatu persekutuan hukum.
e) Soleman B Taneko, S.H. (1987:7)dalam bukunya Hukum Adat Suatu
Pengantar awal dan prediksi masa mendatang, menytakan :
dari pernyataan TER HAAR tersebut kitamenemukan kriterium yang
dapat digunakan untuk membedakan ADAT dan HUKUM ADAT, bahwa
yang termasuk HUKUM ADAT ialah apabila ada putusan, baik yang
iberikan oleh pemegang kekuasaan maupun oleh para warga masyarakat.
Jadi, untuk menemukan Hukum Adat perlu kita menelaah apakah ada
putusan yang pernah atau telah ditetapkan oleh para pemegang kekuasaan
dan atau dari para warga masyarakat.
f) prof. Koentjaraningrat
bahwa pendirian TER HAAR itu mempunyai dasar kebenaran, namun
kurang lengkap untuk membatasi dengan jelas ruang lingkup konsep
Hukum Adat karena hanya ada satu ciri saja yaitu ciri otoritas (keputusan).
5) Prof. Mr. FD. Hollemann
Yang juga pernah lama berada di Indonesi sepedapat dengan VAN
VOLLENHOVEN dengan memberikan pengertian kepada Hukum Adat:

Hukum itu tidak tergantung pada keputusan. Bahwa norma-norma hukum


yang hidup yang disertai dengan sanksi da yang jika perlu dapat dipaksakan
oleh masyarakat atau badan-badn yang bersangkutan agar ditaati dan
dihormati oleh para warga msyarakat. Tidak merupakan masalah apakah
terhadap norma-norma terebut teah pernah ad atau tidak pernah adanya
keputusan petugas hukum.
6) Prof. Dr. JHA. Logemann
Cenderung sependapat dengan VAN VOLLENHOVEN dan tidak
sepenuhnya mnyetujui TER HAAR, dengan menyatakan :
Hukum adat mutlak sebagai hukum keputusan. Norma-norma yang hidup
itu adalah norma-norma kehidupan bersama yang merupakan aturan-atuan
perilaku yang haus diikuti oleh semua warga didalam pergaulan hidu
bersama. Jiak ternyata bahwa ada Sesutu norma yang berlaku, maka norma
itu tent mempunyai sanksi ialah berupa sanksi apapun, baik dari yang
sangat ringan maupun sampai yng sangat berat. Orang dapat menganggap
bahwa semua norma yang ada sanksinya itu kesemuanya adalah norma
hukum.
LOGEMANN tidak sependapat bahwa adat itu baru merupakan HUKUM
ADAT apabila telah dimasukkan kedalam putusan Hakim walaupun
keputusan Hakim itu adalah merupakan faktor yang sangat penting dalam
menentukan mana yang merupakan HUKUM ADAT dan mana yang
merupakan ADAT saja.
7) E. ADAMSON HOEBEL
Seorang ahli antropologi hukum Amerika Serikat mengemukakan
tentang jenis sanksi sosial. Sanksi sosial terdiri dari sanksi positif dan
sanksi negatif.
tidak semua kebiasaan itu bersifat hukum. Di antara ciri apakah
kebiasaan (Adat) itu bersifat hukum ialah adanya sanksi sosial baik
yang bersifat positif (pengukuhan) maupun bersifat negatif
(ancaman). Sanksi yang bersifat positif adalah penggugat atau
pengukuhan, misalnya beberapa pujian, kehormatan, tanda jasa,
medali, piagam.
Sedangkan sanksi negatif (yang bersifat ancaman) misalnya seperti
alis naik, bibir keriting, ejek cela, ditertawakan, telinga dijiwir, tidak

diundang makan, disisihkan dari pergaula, diboikot sumber


pencaharian, siksa tubuh, dikurung atau dibuang. Dengan adanya
sanksi-sanksi itu maka norma sosial menjadi norma hukum.
8) Mr. JHP. Bellefroid
Dalam bukunya INLEIDING TOT DE RECHTSWETENSCHAP IN
NEDERLAND menyatakan bahwa:
Hukum adat sebagai peraturan-perturan hidup yang meskipun tidak
diundangkan oleh penguasa tokh dihormati dan ditaati oleh rakyat dengan
keyakinan bahwa peraturan-peraturan tersebut berlaku sebagai hukum.
(Het gewoonterechts, ook gewonte genoemd, om vat de overhead, vast
gesteld, toch door het volk, worden nageleefdvin de overtuiging, dat zij als
rechtgelden).
9) L. Pospisil
Adalah ahli antroplogi dari Universitas YALE Amerika Serikat yang pada
tahun 1953-1955 melakukan penelitian di daerah suku KAPAUKU IRIAN
JAYA. Untuk membedakan ADAT dan HUKUM ADAT dengan
mengemukakan
Ada 4 (empat) ciri Hukum Adat yaitu:
a) Attribute of authority
Ciri otorita (kekuasaan) menentukan bahwa aktivitas budaya yang
dinamakan hukum itu adalah keputusan-keputusan melalui sesuatu
mekanisme yang diberi wewenang dan kekuasaan didalam masyarakat.
Keputusan-keputusan itu memcahkan ketegangan sosial yang timbul
seperti pelanggaran-pelanggaran terhadap pribadi, pelanggaran terhadap
hak dari orang lain, pelanggaran terhadap keamanan.
b) Attribute of intention of universal application
Ciri kelanggengan berlaku. Keputusan penguasa itu mempunyai waktu
panjang berlakunya terhadap berbagai peristiwa yang sama dimas yang
akan datang.

c) Attribute of obligation
Ciri hak dan kewajiban. Bahwa keputusan penguasa itu mengandung hak
dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh pihak yang satu dengan pihak yang
satu dengan pihak yang lain yangmasih hidup. Jika keputusan itu tidak
berisikan hak dan kewajiban maka keputusan itu tidak membawa akibat
hukum.
d) Attribute of sanction
Ciri pengaut. Bahwa keputusan itu harus mempunyai sanksi dalam arti
yang seluas-luasnya baik berupa sanksi jasmaniah seperti hukuman badan,
deprivasi hak milik (penyitaan harta) maupun rasa takut, rasa malu, rasa
benci, dan sebagainya.
c. pengertian sarana indonesia
1) Prof. Dr. R. Soepomo, s.h.
Beliau adalah seorang pakar hukum indonesia dan sebagai guru
besar dalam hukum adat sejak tahun 1938 di RHS (rechts hoge school) di
Batavia (Jayakarta-Jakarta) yang sejak tahun 1941 menggantikan Prof. Dr.
Barend Ter Haar, Bzn. Banyak jasa dalam perjuangan bangsa Indonesia di
bidang hukum, bahkan beliau pula membuat rancangan penjelasan UUD
1945 yang menegaskan sebagai berikut.
a) hukum adat adalah hukum non statutair
hukum adat adalah hukum non statutair yang sebahagian besar adalah
hukum kebasaan dan sebahagian kecil adalah hukum islam. Hukum adat
inipun melingkupi hukum yng berdasarkan keputusan-keputusan hakim
yang berisi asas-asas hukum dalam lingkungan dimana ia memutuskan
perkara. Hukum adat adalah suatu hukum yang hidup karena ia masih
menjelmakan perasaan hukum yang nyata dari rakyat.
b) Hukum adat adalah hukum tidak tertulis
Dalam tahta hukum baru Indonesia agar dapat menghindarkan
kebingungan kirannya pengertian hukum adat dipakai sebagai sinonim
darihukum yang tidak tertulis di dalam peraturan legislatif (unstatury law).
Hukum yang timbul karna putusan hakim (judge made law). Hukum yang

hidup sebagai peraturan kebiasaan yang dipertahankan dalam pergaulan


hidup baik di kota-kota maupun di desa-desa (custommary law). Semua
inilah yang merupakan hukum adat atau hukum yang tidak tertulis
sebagaimana yang disebutkan oleh ketentuan pasal 32 UUD 1950
Jadi, yang dimaksud dengan hukum adat sebagai hukum yang tidak tertulis
menurut Prof. Dr. Soepomo, S.H. meliputi:
(1) Peraturan legislatif yang tidak tertulis
(2) Hukum yang hidup di dalam hukum kenegaraan
(3) Keputusan-keputusan hakim
(4) Hukum kebiasaan, termasuk pula aturan aturan pedesaan dan
aturan keagamaan
2) Prof. Dr. Soekanto
Bliau pernah mengajar hukum adat pada akadeis dinas luar negeri, didalam
bukunya yang berjudul Meninjau hukum adat Indonesia mengatakan:
a) Dilihat dari mata seorang ahli hukum yang memegang teguh undanundang (Wetboek jurist) memang hukum keseluruhan di Indonesia tidak
teratur, tidak sempurna, tidak tegas.
b) jika kita menyelidiki adat istiadat ini terdapat peraturan-peraturan yang
bersangsi, dan mereka yang melanggar akan ditutut dan kemudian
dihukum. Kompleks tersebut disebut hukum adat. Jadi, hukum adat itu
merupakan keseluruhan adat (yang tidak tertulis dan hidup di dalam
masyarakat berupa kesusilaan , kebiasaan dan kelajiman) yang mempunyai
akibat hukum
3) Prof. Dr. Mr. Hazairin
Beliau adalah seorang ahli hukum adat yang berasal dari Bengkulu dan
ketika hidupnya beliau adalah guru besar hukum adat pada Fakultas Hukum
Universitas Indonesia (UI) Jakarta. Berbeda dengan yang lainya beliau
lebih banyak mendekatkan hukum adat dengan hukum Islam, dan beliau
mengatakan:
a)Adat adalah endapan kesusilaan dalam masyarakat yaitu bahwa kaidahkaidah adat itu berupa kaidah kesusilaan yang kebenarannya telah
mendapat pengakuan umum dalam masyarakat. Maka untuk memahami
bagi rakyat biasa cukup memakai istilah Adat baik dalam arti Adat sopan

santun maupun dalam arti Hukum. Maka rakyat tidak usah memakai
istilah Hukum Adat.
b) perbedaan sifat atau Corak antara kaidah kesusilaan dengan hukum adat
dilihat dari bentuk sanksinya. Di dalam ajaran agama Islam ada lima jenis
kaidah atau hukum yang disebut sebagai Al Ahkamul Khamsah, yang
menurut bahasa ilmu fiqih terdiri dari:
(1) Fard (wajib)
(2) Haram (larangan)
(3) Sunnah mandubmustahab (anjuran)
(4) Makhruh (celaan)
(5) Jaiz atau mubah (kebolehan)
c) ada tiga macam hukum di Indonesia, yaitu:
(1) Hukum perdata (hukum Eropa)
Memberi jembatan bagi negara kita dalam hubungan keluar,
mengenal hukum Internasional, hukum dagang, dan sebagainya.
(2) Hukum Adat
Terletak pada perasaan kebangsaan kita , penghargaan bagi
kebudayaan kita yang masih tergantung jiwa kita.
(3) Hukum Agama
Keistimewaan hukum Agama bagi rakyat yang beragama Islam
sebagai bagian dari perkara imannya yang mengandung
penghargaan keberuntungan bagi hidup di dunia dan akhirat.
4) Prof. Mr. M.M. Djojodigoeno
Ketika hidupnya beliau adalah guru besar Hukum Adat pada Fakultas
Hukum Universitas Gajah Mada (UNGAMA) Yogyakarta, mengatakan:
Hukum Adat berpangkal tolak dari konsepsi umum yang dikemukakan
oleh Prof. Mr. j. Van Kaan, bahwa hukum itu adalah rangkaian normayang
mengatur hubungan kepentingan. Bahwa dengan demikian maka sumber
hukum adat Indonesia adalah norma-norma kehidupan sehari-hari yang
langsung timbul sebagai pernyataan kebudayaan Indonesia asli, tegasnya
sebagai pernyataan rasa keaadilannya dalam hubungan pamrih. Hubungan
pamrih adalah hubungan antara orang dengan sesamanya guna usaha
memenuhi kepentingan (bussines relation) (zakelijke verhoudingen).
Sehubungan dengan hal tersebut, beliau menegaskan lagi bahwa:

a) sesungguhnya hukum itu bukanlah suatu fenomena yang tegar (statis)


seperti halnya rangkaian ugeran (norma) melainkan karya manusia
sesuatu hal yang hidup dalam arti berangkap dua ia dapat berkembang
(berevolusi)dan dapat bervariasi (plastis). Itulah yang saya maksud dengan
hukum yang hidup atau Living Law. Jadi hukum adat sebagai hukum
yang hidup yang pelaksanaanya tidak terkait pada ugeran-ugeran hukum
(pepacak-pepacak perundang-undangan dan norma precedent yang telah
ada.
b) hukum adat apabila dilawankan dengan hukum perundang-undangan
(hukum kodifikasi), maka hukum adat itu adalah hukum yang tidak
bersumber pada peraturan. Jadi hukum adat itu tidak memiliki peraturanperaturan desa dan peraturan-peraturan raja-raja, karna peraturan desa dan
peraturan raja-raja itu bukan hukum adat.
c) Ada dua kategori sumber hukum itu, ialah yang bersumber dari
kekuasaan negara dan bersumber dari kekuasaan rakyat.
(1) Yang bersumber dari kekuasaan negara adalah:
(a) perundang-undangan sebagai keputusan legislative
(b) keputusan pejabat seperti keputusan eksekutif maupun
yudikatif(yurisprudensi)
(c) keputusan kekuasaan tertinggi dalam negara seperti perjanjian
Internasional, pernyataan perang, perjanjian damai, dll
(2) Yang bersumber dari kekuasaan rakyat ialah:
(a) adat kebiasaan seperti berbagai perilaku masyarakat dalam
hubungan pamrih (kepentingannya)
(b) keputusan kelembagaan seperti Rukun Tetangga, Rukun Tani,
Kamar Dagang, Lembaga Asuransi, dll.
(c) pemberontakan terhadap kekuasaan pemerintahaan dan perang
saudara
Kesemuanya itu merupakan sumber hukum yang berupa pertanyaan
keadilan dan hubungan pamrih
d) Dalam rangka pembinaan Hukum Nasional menurut beliau harusnya
bahan-bahannya adalah bahan Nasional yaitu Hukum Adat. Selanjutnya
kecenderungan suka mengadakan perdamaian perlu dipertahankan dalam
Hukum Nasional.

5) Prof. Mr. Soediman Kartohadiprodjo


Beliau semasa hidupnya adalah guru besar Fakultas Hukum Universitas
Indonesia (UI) Jakarta, kemudian di UNPAD dan UNPAR,
mengemukakan:
a) Perbedaan Hukum Adat dan Hukum tidak tertuli
Dunia pemrkiran (denk structuur) yang menjadi dasar hukum jauh
berlainan dari hukum tidak tertulis atau hukum kebiasaan sebagaimana
terdapat dalam ketentuan pasal 15 AB. Istilah hukum adat tertulis lebih luas
dari arti Hukum Adat, karena Hukum Adat adalah suatu jenis hukum tidak
tertulis yang tertentu mempunyai dasar pemikiran yang khas, yang prinsipil
berbeda dari hukum tertulis lainya.
Hukum adat bukanlah hukum adat karena bentuknya tidak tertulis
melainkan hukum adat itu tersusun dengan dasar pemikiran tertentu yang
berbeda dari dasar pemikiran barat.
b) Hukum Nasional harus berlandaskan Hukum Adat
Beliau menyatakan bahwa arti dari berdasarkan hukum adat yaitu
berlandaskan asas-asas hukum adat atau lebih tepat lagi asas-asas
pemikiran hukum adat.
c) Apa arti jika Pancasila sebagai dasar pokok Hukum Nasional
Beliau menjawab tidak lain bahwa hukum itu seolah-olah dengan
ketentuan-ketentuan bangkitnya dari dalam dank arena pergaulan hidup
yang anggotanya berjiwa kekeluargaan.
6) Prof. Kusumadi Pudjosewojo, S.H.
Didalam bukunya yang berjudul pedoman pembelajaran tahta hukum
Indonesia,
a)Hukum Adat ada didalam UUDS 1950
Istilah hukum adat yang disebut dalam pasal 104 ayat 1 UUDS 1950
hendaknya diartikan sebagai hukum yang tidak tertulis. Hukum adat itu
bukan merupakan lapangan tersendiri melainkan meliputi semua lapangan
hukum. Dengan demikian tata Hukum Indonesia itu terdiri dari dua macam,

yaitu hukum perundang-undangan dan hukum adat sebagai sinonim dari


hukum yang tidak tertulis.
b) Adat RECHT didalam tata Hukum Hindia Belanda (Nederlands
Indie)
Istilah ADATRECHT dalam dogmatic hukum Hindia Belanda
(sebagaimana dikemukakan Snouck Hurgronje, Van Vollenhoven dan Ter
Haar) ialah hukum yang terdiri dari hukum asli dari zaman Melayu
Polinesia dan Hukum Rakyat Timur Asing Termasuk unsur-unsur agama
yang telah memengaruhi hukum asli di daerah-daerah. Hukum asli itu ada
yang tidak tertulis dan ada yang tertulis.
c) Kesamaan Hukum ADATRECHT dan Hukum Adat
Kesamaanya dikarenakan hukum ADATRECHT pada pokoknya
merupakan unsur yang tidak tertulis dan Hukum Adat yang dimaksud
adalah hukum adat yang tidak tertulis. Tetapi ADATRECHT masih juga
meliputi hukum yang tertulis asal sungguh-sungguh merupakan hukum
yang hidup.
d) Istilah ADATRECHT tidak perlu diterjemahkan
Biarlah hukum tersebut merupakan tanda peringatan dan penghormatan
bagi maha sarjana pengukirnya yg tidak dapat di hapus dari sejarah
Indonesia. Biarlah tetap ada didalam bidang kajian mata kuliah Hukum
Adat itu sendiri.
7) Prof Bus. Haar Muhamad, S.h.
a) Dalam arti sempit (pengertian sehari-hari), maka hukum adat
adalah:
Hukum asli yang tidak tertulis yang berdasarkan kebudayaan dan
pandangan hidup Bangsa Indonesia yang mamberi pedoman pada sebagian
besar orang-orang Indonesia dalam kehidupan sehari-hari dalam hubungan
antara yang satu dengan yang lain baik dikota maupun di desa.

b) Dengan bertitik tolak dari pendapat Soepomo dan Hzairin beliau


menyatakan sebagai berikut:
Hukum Adat terutama yang mengtur tingkah laku manusia Indonesia dalam
hubungannya satusama lain, baik yang merupakan keseluruhan kelajiman,
kebiasaan dan kesusilaan yang benar-bernar hidup di masyarakat adat
karena dianut dan dipertahankan oleh anggota-anggota masyarakat itu
maupun yang merupakan keseluruhan pengaturan mengenai sanksi atas
pelangaran dan yang ditetapkan keputusan-keputusan para penguasa adat
{mereka yang mempunyai kewibawaan dan berkuasa memberi keputusan
dalam masyarakat adat itu) yaitu dalam keputusan lurah, penghulu,
pembantu Lurah, Wali tanah, kepala adat, hakim.
8) Prof. Dr Soerjono Soekanto, S.H.
Hukum adat pada hakekatnya merupakan hukum kebiasaan, artinya
kebiasaan-kebiasaan yang mempunyai hakekat-hakekat hukum. Berbeda
dengan kbiasan belaka, kebiasaan yang merupakan hukum adat adalah
perbuatan yang diulang-ulang dalam perbuatan yang sama.

9) Soerojo Wignjodipoero, S.H.


dengan menyimpulkan beberapa pendapat para pakar hukum adat
menyatakan:
Hukum adat itu adalah suatu kompleks norma-norma yang bersumber
pada keadilan masyarakat yang selalu berkembang serta meliputi peraturan
tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat,
sebagian besar tidak tertulis, senantiasa ditaati dan dihormati oleh
masyarakat karena mempunyai akibat hukum atau (sanksi).
10) Prof H. Hilman Hadikusuma, S.H.
yang disebut hukum adat adalah adat yang mempunyai sanksi, sedangkan
istilah adat yang mengandung sanksi adalah kebiasaan yang normatif yaitu
kebiasaan yang berujud tingkah laku yang berlaku didalam masyarakat.
Pada kenyataannya antara hukum adat dengan adat kebiasaan itu batasnya
tidak jelas.
11) Djaren Saragih, S.H.
Hukum adat adalah suatu kompleks norma-norma yang bersumber pada
peraturan keadilan rakyat yang selalu berkembang meliputi peraturan
tingkah laku manusia dalam kehidupan bermasyarakat, sebagian besar
tidak tertulis, mempunyai sanksi.
D, Pengertian Hukum Adat lainya
1) Di dalam perundang-undang Hindia Belanda
Untuk pertama kalinya pemerintah Hindia Belanda menaruh perhatian dan
menetapkannya didalam perundang-undangan yaitu sejak berlakunya A.B.
(Algemene Bepalingen Van Wetgeving voor Nederland Indie) (Stb. 1847
No. 23) kemudian dilanjutkan didalam R.R (Regelling Reglement) dan I.S
(Indische Staats Regeling) sebagai berikut:
a) Di dalam pasal 11 A.B
Istilah yang mengandung arti hukum Adat didalam pasal 11A.B. ialah yang
dalam bahasa Belandanya dikenal dengan sebutan Gods dientige wetten
(aturan-aturan keagamaan), Volks Intellingen (lembaga-lembaga rakyat),

en Gebruiken ( dan kebiasaan-kebiasaan). (Pada waktu itu ADATRECH


belum dekenal).
b) Di dalam pasal 75 R.R (1854)
Istilah yang mengandung dalam pasal ini sama dengan pasal 11 A.B. (pasal
ini dirubah redaksinya menjadi pasal 75 R.R. yang baru). Kemudian pada
tahun 1925 pemerintah Hindia Belanda membuat Indische Staats
Regelling, maka pada asal 75 R.R dijadikan ketentuan pasal 131 I.S, dan
istilah hukum adat tercantum di dalam ketentua pasal 131 ayat (2) Sub b
I.S.
c) Di dalam ketentuan pasal 131 ayat (2) sub b I.S
sejak berlakunya Wet Op De Staats Inrichting Van Nederland Indie yang
di singkat menjadi, I.S (Indische Staats Regelling Stb. 1925 No. 415 jo 577)
yang berlaku sejak tanggal 1-1-1926, maka terhadap orang-orang Indonesia
Asli dan Timur Asing berlaku peraturan-peratura keagamaan dan
kebiasaan-kebiasaan yang saling bertautan. Tetapi jika kebuthan sosial
mereka memerlukan, maka terhadap mereka dapat diberlakukan hukum
Eropa. Jadi di dalam ketentuan di dalam pasal 131 ayat (2) sub b. I.S yang
selanjutnya merupakan dasar hukum perundag-undangan berlakunya
hukum adat. Yang diartikan sebagai hujum adat disini adalah istilah
Hunne gods dienten en semenhangen de rechts regelen (peraturan
keagamaan dan kebiasaan yang saling bertautan).
d) Di dalam etentuan pasal 134 ayat (2) I.S
Istilah yang digunakan adalah ADATRECHT (Hukum Adat)
sebagaimnana antara lain dikatakan:
Evenwel staan de burgerlijke rechtszaken tusschen mohammedaanen,
indian hun adatrecht dat medebrengt terkennisreming van den
godsdientigeen rechter voor zoover niet bij ordonnantie anders is bepaald.
(Apabila timbul perkara perdata diantara orang-orang Islam, apabila
hukum adatnya mengkehendaki penyelesaiannya, maka diselesakan oleh
hakim agama, kecuali ordonansi menetapkan lain). Dengan kata lain, pasal
ini sudah menggunaan ADATRECHT (Hukum Adat).

2) Di dalam putusa Kongres Pemuda 1928


Sbelum tahum 1928 telah berdirinya beberapa organisasi perjuangan,
antara lain:
a) Boedi Oetomo berdiri di Jakarta 20 Mei 1908
b) Sarekat Islam (berdiri dari SDI) erdiri sebelum 1912 di Surakarta
c) Moehammadiyah, berdiri di Yogya 18-11-1912
d) Persareatan Komoenis di Hindia (PKI) 23 Mei 1920
e) Nahdatoel Oelama (NOE) berdiri di Surabaya 31 Januari 1926
f) Persarekatan Nasional Indonesia (PNI) berdiri di Bandung 4 Juli 1927
Setelah para pemuda berkongres di Jakarta, kerapatan-kerapaan pemudapemudi Indonesia diadakan perkumpulan-perkumpulan Indonesia yang
berdasarkan kebangsaan dengan nama Jong Java, Jong Soematra (Pemuda
Sumatara), Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, Jong Islamieten Bond,
Jong Bataks Bond, Jong Celebes, Pemoeda kaoem Betawi dan
Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia. Membuka rapat pada tanggal 27
dan 28 oktober 1928 di Jakarta, sesudah menimbang segala hal tersebut,
kerapatan lalu mengambil putusan:
PERTAMA
:Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah
darah jang satoe, Tanah Indonesia
KEDOEA
:Kami poetra dan poetri Indonesia Mengakoe berbangsa
yang satu, bangsa Indonesia
KETIGA
:Kami poetra dan poetry Indonesia menjoenjoeng tinggi
bahasa persatoean, bahasa Indonesia
Setelah mendengar keputusan ini, kerapatan mengeluarkan keyakinan asas
ini wajib dipakai oleh segala perkumpulan kebangsaan Indonesia.
Mengeluarkan keyakinan persatuan Indonesia diperkuat dengan
memperhatikan dasar persetujuannya,
- Kemauan
- Sedjarah
- Bahasa
- Hukum Adat
- Pendidikan dan Kepanduan
Dan mengeluarkan harapan supaya putusan ini disiarkan dalam segala surat
kabar dan dibatjikan dimuka rapat perkumpulan-perkumpulan kita.

Jadi, hukum adat di dalam putusan kongres pemuda tahun 1928 adalah
Sebagai dasar persatuan bangsa, sebagai dasar persatuan hukum
perjuangan melawan penjajahan, untuk mewujudkan kemerdekaan.
3) Di dalam perundang-undangan Republik Indonesia
a) Di dalam UUD 1945
Hal-hal yang dapat dilihat antara lain:
(1) Di dalam UUD 1945 memuat unsur-unsur PANCASILA.
(2) Pasal 29 ayat (1) menyatakan Bahwa negara berdasarkan
Ketuhanan yang Maha Esa
(3) Pasal 33 ayat (1) menyatakan bahwa perekonomian di susun secara
bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan
(4) Pasal 2 aturan peralihan menyatakan bahwa segala badan negara
dan peraturan yang ada masih langsung berlaku selama belum diadakan
yang baru menurut undang-undang ini.
(5) Didalam penjelasan umum ke IV di nyatakan antara lain Yang
sangat penting dalam pemerintahan dan dalam hidupnya ialah semangat.
Meskipun di buat UUD dengan kata-katanya yg bersifat kekeluargaan,
UUD tidak tentu sempurna. Jadi yang paling penting ialah semangat.
b) Di dalam konstitusi RIS 1949
Yang menyangkut hukum adat ditegaskan sebagai berikut:
(1) Di dalam Mukaddimah koonstitusi RIS 1949
Unsur-unsur Pancasila juga dinyatakan dengan uraian yang singkat
yaitu, Ketuhanan yang Maha Esa,peri kemanusiaan, kebangsaan,
kerakyatan, keadilan sosial.
(2) Pasal 4 ayat (1) menyatakan segala kkeputusan pengadilan harus
diberi alas an-alasannya dan dalam perkara hukuman menyebutkan aturanaturab hukum adat yang dijadikan dasar hukum itu.
(3) Pasal 142 menyatakan peraturan-peraturan dan ketentuanketentuan tata usaha yang
sudah ada sejak tanggal 17 Agustus 1950
tetap berlaku dan tidak berubah, selama peraturan
peraturan
dan
ketentuan-ketentuan itu tidak di cabut atau diubah oleh Undang-Undang.
(4) Hasil dalam SEMINAR di Yogyakarta, 1975

Hasil dalam Seminar yang di adakan pada tanggal 15-17 Januari 1975
oleh BHPN dengan UNGAMA:
Hukum Inonesia asli yang tidak di tulis dalam buku perundangundangan Republik Indonesia yang san-sisni mengandung agama.
Selanjutnya bahan-bahan pengambilan dari hukum adat pada dasarnya
berarti:
a) Penggunaan konsepsi-konsepsi dan asas-asas hukum dari hukum adat
untuk dirumuskan dalam norma-norma hukum yang memenuhi
kebutuhan masyarakat.
b) Pengunaan lembaga-lembaga hukum adat yang di modernisir dan
disesuaikan dengan kebutuhan zaman
memasukan konsep-konsep dan asa-asas hukum adat kedalam lembagalembaga hukum baru.
5. Unsur-unsur pembentuk Hukum Adat
Dalam Seminar adat dan Pembinaan Hukum Nasional di Yogyakarta
menyatakan bahwa terwujudnya hukum adat itu dipengaruhi agama.
Menurut Prof. Dr. Mr. Soekanto (1985:57)bahwa unsur agama memberi
pengaruh terhadap perwujudan hukum adat bukanlah pandangan baru,
demikian pula Prof. Mr. MM. Djojodigoeno mengemukakan batasan
yang sama.
Dengan demikian kita sepakat bahwa pengaruh agama terhadap proses
terwujudnya Hukum Adat sangat bersifat umum dan diakui oleh para
pakar hukum adat pada umumnya.
6. Teori Receptio In Complexo
MR. LWC. Van Den Berg dan Mr. Salomon Skeyzer (guru besar pada
Koninklijke Academic di DELFT pada tahun 1850-1868). Teorinya
dikenal sebagai teori Receptio in Complexu yang menegaskan:
Adat istiadat dan hukum adat suatu golongan masyarakat adalah
resepsi seluruhnya dari agama yang dianut oleh golongan masyarakat
itu (bahwa hukum adat suatu golongan masyarakat, adalah hasil
penerimaan secara bulat-bulat hukum agama yang dianut oleh golongan
masyarakat tersebut).

Inti dari teori Receptio in Complexu tersebut menurut Soerojo


Wignjopdipoero, S.H., (1990:29) di dalam bukunya pengantar dan asas
asas hukum adat, adalah:
selama bukan sebaliknya dapat dibuktikan menurut ajaran ini,
hukum pribumi ikut agamanya, karena jika memeluk agama harus juga
mengikuti hukum-hukum agama itu dengan setia. (bahwa kalau dalam
suatu masyarakat memeluk agama tertentu, maka hukum adat
masyarakat yang besangkutan adalah hukum agama yang diperlukannya
itu).
Sanggahan para pakar terhadap teori Receptio In Complexu
a. Prof. Dr. Christian Snuck Hurgronje
Tidak semua bagian dari hukum agama diterima, diresepsi dalam
hukum adat, hanya beberapa bageian tertentu saja yang diterima yaitu
terutama bagian-bagian hidup manusia yang sifatnya mesra yang
berhubungan erat dengan kepercayaan dan hidup batin. Bagian itu
adalah hukum keluarga, hukum perkawinan, dan hukum waris.
b.Prof. Dr. Baren Ter Haar Bzn.
Membantah sebagian pendapat Snuck Hurgronje dengan menyatakan,
Hukum waris tidak dipengaruhi hukum islam melainkan asli .
c. Prof. Dr. Cornelis Van Vollen Hoven
Memberikan ketegasan dan kterangan ang jitu atas persoalan tersebut di
dalam bukunya ADATRECH Jilid 1 degan menjelaskan:
Bahwa hal itu harus diterangkan dengan meninjau sejarah, yaitu
harus diadakan tinjauan kembali sampai pada waktunya.
Kesimpulannya hukum keluarga, hukum perkawinan, hukum waris, dan
hukum wakaf dipengaruhi hukum Islam.
Ditegaskan pula dimuka bahwa hukum adat mempunyai unsur-unsur
keagamaan walaupun pengaruh agama itu tidak besar dan terbatas pada
beberapa daerah saja.

7. Corak Hukum Adat


Prof. Hilman Hadikusuma, S.H., menegaskan bahwa hukum adat
Indonesia yang normatif pada ummnya menunjukkan corak-corak
sebagai berikut:
a. Tradisional
Hukum adat itu pada umumnya bercorak tradisional, artinya bersifat
turun temuun dari zaman nenek moyang sampai ke anak-cucu-cicit
sekarang dimana keadaannya masih tetap berlaku dan tetap
dipertahankan oleh masyarakat yang bersangkutan. Misalnya,

1) Di dalam hukum kekerabatan adat orang Batak


Sejak dahulu sampai sekarang tetap saja mempertahankan hubungan
kekerabatan yang disebut Dalihan Na Tolu (bertungku tiga) yaitu
hubungan antara marga hula-hula, Dongan Tobu (Dongan Sebutuha)
dan Boru. Sehingga dengan adanya hubungan kekerabatan tersebut
tidak terjadi perkawinan antar pria dan wanita yang satu keturunan (satu
marga).
2) Di Lampung
Corak tradisional di Lampung ditandai dengan ketentuan bahwa dalam
hukum kewarisan berlaku Sistem Mayorat Laki-Laki, artinya anak
tertua laki-laki menguasai seluruh harta peninggalan (orang tuanya)
dengan kewajiban mengurus adik-adiknya sampai dewasa dan sampai
dapat hidup mandiri. Harta peninggalan itu tetap tidak terbagi-bagi,
merupakan milik keluarga bersama, yang kegunaanya untuk
kepentingan anggota keluarga/kerabat bersama dibawah pengaturan dr
anak laki-laki tertua sebagai pengganti kedudukan ayahnya.
b. Keagamaan
Hukum adat itu pada umumnya bersifat keagamaan (MAGIS
RELIGIUS) artinya perilaku hukum atau kaidah-kaidah hukumya
berkaitan dengan kepercayaan terhadap yang gaib dan atas berdasarkan
ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa.
Corak keagamaan didalam hukum adat ini tertuang pula dalam
pembukaan UUD 1945 alinea ke-3.

c. Kebersamaan
Hukum adat mempunyai corak yang bersifat kebersamaan (Communal),
artinya ia lebih menguatamakan kepentingan bersama dimana
kepentingan pribadi itu diliputi oleh kepentingan bersama (satu untuk
semua, semua untuk satu). Hubungan hukum antara anggota masyarakat
antara yang satu dengan yang lainnya didasarkan oleh rasa
kebersamaan, kekeluargaan, tolung menolong dan gotong royong,
d. Konkrit dan Visual
Corak hukum adat adalah konkrit, artinya jelas, nyata, berwujud. Visual
artinya dapat terlihat, tampak, terbuka, tidak tersembunyi. Jadi, sifat
hubuungan hukum yang berlaku didalam hukum adat itu adalah terang
dan tnai, tidak samar-samar, terang disaksikan, diketahui, dilihat dan
didengar orang lain.
e. Terbuka dan Sederhana
Corak hukum adat terbuka artinya dapat menerima masukkannya unsurunsur yang datang dari luar asal saja tidak bertentangan dengan jiwa
huku adat itu sendiri. Sederhana, artinya bersahaja, tidak rumit, tidak
banyakadministrasinya, bahkan kebanyakan tidak tertulis, mudah
dimengerti dan dilaksanakan berdasarkan saling percaya mempercayai.
f. Dapat Berubah dan Menyesuaikan
Menurut Prof. Dr. Soepomo S.H., sebagaimana yang telah ditegaskan
oleh Pof. Dr. Mr. Cornelis Van VollenHoven dinyatakan sebagai
berikut.
Hukum adat terus menerus dalam keadaan tumbuh dan
berkembang seperti keadaan hidup itu sendiri. Hukum adat yang pada
waktu yang telah lampau agak berbed isinya. Hukum adat menunjukkan
perkembangan, dan seterusnya . Kemudian didalam buku Soleman B.
Taneko, S.H. (1987:98-99) telah ditegaskan oleh Prof. Dr. Mr. Cornelis
Van Vallenhoven dalam Orientatie In Adatrech Van Nederland Indie.
Kemudian Moch Koesnoe (1993:67) menjelaskan:
Di Indonesia hukum adat menyesuaikan diri dengan kehidupan
bangsa yang ada di Indonesia sepanjang perjalanan sejarahnya.

Dengan demikian hukum adat dapat berubah menurut keadaan, waktu


dan tempat (dinamis). MAKA TERTINGGALLAH ADAT YANG
TAK LEKANG DI PANAS DAN TAK LAPUK DI HUJAN, karena
telah berubah sesuai dengan tuntutan perkembangan pola perilaku
masyarakat sekarang.
g. Tidak Dikodifikasi
Hukum adat kebanyakan tidak ditulis walaupun ada juga diantaranya
yang dicatat di aksara daerah, bahkan ada yang dibukukan denga cara
yag tidak sistematis, namun hanya sekedar sebagai pedoman dan buka
mutlak harus dilaksanakan oleh masyarakat, kecuali yang bersifat
perintah Tuhan.
h. Musyawarah dan Mufakat
Hukum adat mengutamakan adanya musyawara dan mufakat dalam
keluarga, didalam hubungan kekerabatan dan ketetanggaan baik untuk
memulai sesuatu pekerjaan maupun didalam meyelesaikna perselisihan
antara satu dengan yang lainnya.
8. Sifat Umum Hukum Adat
4 sifat hukum adat di Indonesia yaitu:
a. Sifat Relegio Magis
sehubungan denga sifat Religio Magis ini Dr. Kuntjara Ningrat dalam
thesisnya menulis bahwa alam pikira Religio Magis mempuyai unsurunsur sebagai berikut:
1) Kepercayaan kepada makhluk-makhluk halus, roh-roh dan hantuhantu yang menempati seluruh alam seemesta.
2) Kepercayaan kepada kekuatan sakti yang meliputi seluruh aam
semesta dan khusus terdapat dalam peristiwa-peristiwa luar biasa,
tumbuh-tumbuhan yang luar biasa, benda-benda yang luar biasa, dan
suara-suara yang luar biasa.
3) Anggapan bahwa kekuatan sakti yang pasif dipergunakan sebagai
Magiche Krach dalam berbagai perbuatan ilmu ghaib untuk mencapai
kemauan manusia menolak bahaya ghaib

4) Anggapan bahwa kelebihan kekuatan sakti dalam alam menyebabkan


timbulnya berbagai macam bahaya ghaib yang hanya dapat dihindari
atau dihindari dengan berbagai macam pantangan.
b. Sifat Komun (Kemasyarakatan)
Adalah suatu corak yang khas dari masyarakat kita masih hidup sangat
bergantung kepada tanah atau alam pada umumnya.
Prof. Dr. Achmad Sanusi, S.H., M.P.A. (1991:126) ditegaskan bahwa
dalam hal sifat commun ini:
Setiap orang merasa dirinya benar-benar selaku anggota
masarakat bukan sebagai
oknum yang berdiri sendiri terlepas dari
imbangan-imbangan sesamanya, ia menerima hak serta menanggung
kewajiban sesuai dengan kedudukannya. Kepentingan pribadi
seseorang selalu diimbangi dengan kepentingan umum, begitu juga
dengan hak-haknya. Hukum
selalu
disertai
asas-asas
permusyawaratan,
kerukunan,
perdamaian
keputusan
dan
keadilan.
Kemudian sehubung dengan masalah ini Prof. Dr. Soepomo, S.H.,
didalam pidato di Batavia (Jakarta) dengan judul De Veerhouding Van
Individu en Gemenschap in het adatrechts (1941) menyatakan sebagai
berikut:
Didalam hukum adat manusia sama sekali bukan individu yang
terasing, bebas dari segala ikatan dan semata-mata hanya ingat
keuntungan sendiri, tapi terutama ialah anggota masyarakat. Menurut
tanggapan hukum adat kehidupan individu ialah kehidupan yang
terutama diuntukan buat mengabdi pada masyarakat, tetapi pengabdian
kepada masyarakat ini oleh individu tidak dirasakan sebagai beban yang
diberikan kepadanya oleh suatu kekuasaan yang berdiri di luar dirinya.
Jadi menurut cara berpikir tersebut individu adalah suatu makhluk mana
dalam masyarakat mengkhususkan dia.
c. Sifat Kontant
Sifat Kontant atau Tunai ini mengandung arti bahwa dengan suatu
perbuatan nyata atau suatau perbuatan simbolis atau suatu pengucapan,
tindakan hukum yang dimaksud telah selesai seketika itu jugadengan
serentak bersama waktunya mengucapkan yang diharuskan oleh adat.

Contoh: JUal beli lepas, perkawinan jujur, adopsi, dan lain sebagainya
d. Sifat Kontkrit
di dalam arti berpikir yang tertentu senantiasa dicoba dan diusahakan
supaya hal-hal yang dimaksud, diinginkan, dikehendaki, atau di
kerjakan, diberi tanda yang kelihatan baik langsung maupun hanya
menyerupai objek yang dikehendaki
Contoh: Panjer di dalam jual beli, paningset dalam pertunangan, barangbarng lain lalu barang itu dimusnahkan.
9. Sistem Hukum Adat
Suatu system adalah merupakan susunan yang teratur dari berbagai
unsur, di mana unsur yang satu dengan yang lain secara fungsional
saling bertautan sehingga memberikan suatu kesatuan pengertian.
Selanjutnya berbicara mengenai system hukum adat ini Prof. Dr.
Soepomo S.H, menyebutkan sebagai berikut.
tiap-tiap hukum merupakan suatu system yaitu peraturanperaturanya merupakan suatu kebulatan berdasarkan atas kesatuan alam
pikiran, begitupun hukum adat. System hukum
adat
bersendi
atas dasar-dasar pikiran bangsa Indonesia yang tidak sama dengan alam
pikiran yang menguasai system hukum barat.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka hal-hal yang mencakup
hukum adat adalah sebagai berikut:
a. Mendekati system hukum Inggris
Di Inggris dikenal adanya juru damai yang disebut Justice of The Peace.
Hal ini mirip dengan peradilan adat di Indonesia yang menyelesaikan
perkara perselisihan secara damai (di masa-masa lalu dan sekarang
sudah tidak berlaku). Namun di Inggris seseorang menuntut orang lain
di muka hakim pidana tanpa nelalui badan penuntut.
b) Tidak membedakan hukum publik dan hukum privat
Hukum publik yang menyangkut kepentingan umum seperti Hukum
Ketata Negaraan yang mengatur tugas-tugas kenegaraan dalam
hubungan antara badan-badan negara dan tugas-tugas pemerintahan dan
anggota-anggota masyarakat. Hukum perdata atau hukum sipil (privat)

yang mengatur hubungan antara anggota-anggota masyarakat yang satu


dengan yang lainnya, dan anggota masyarakat terhadap badan negara
sebagai badan hukum. Pembagian Hukum Publik dan Hukum Privat ini
berasal dari Hukum Romawi.
c) Tidak membedakan HAK KEBENDAAN dan HAK
PERORANGAN
Hukum adat tidak membedakan antara hak kebendaan (zakelitjke
rechten) yaitu
hak-hak atas benda yang berlaku bagi setiap
orang dan hak perseorangan (personlijke rechten) yaitu hk seseorang
untuk menuntut orang ain agar berbuat atau tidak berbuat terhadap hakhaknya.
d) Tidak membedakan pelanggaran PERDATA dan PIDANA
Hukum Adat juga tidak membedaka antara perbuatan yang sifatnya
pelanggaran hukum perdata dan pelanggaran hukum pidana sehingga
perkara perdata diperiksa oleh hakim perdata dan perkara pidana
diperiksa oleh hakim pidana.
Menurut peradilan adat ke-2 pelanggaran dimaksud yang dilakukan
seseorang diperiksa, dipertimbangkan dan diputuskan sekaligus dalam
suatu persidangan yang tidak terpisah.

BAB III
TATA SUSUNAN MASYARAKAT DI INDONESIA
1. Persekutuan Hukum (RECHTS GEMEENSCHAP)
Menurut Prof. Dr. R. SOEPOMO, S.H., (1993:45) dijelaskan bahwa
VAN VOLLENHOVEN didalam orasinya tanggal 2 oktober 1901
menegaskan :
Bahwa untuk mengetahui hukum, maka yang terutama perlu
diselidiki adalah pada waktu dan bilamana serta didaerah mana sifat dan
susunan badan-badan persekutuan hukum dimana orang-orang yang
dikuasai oleh hukum itu hidup sehari-hari.
Kemudian menurut Soepomo sendiri dikemukakan bahwa:
penguraian tentang badan-badan persekutuan itu harus tidak
didasarkan atas sesuatu yang dogmatic, melainkan harus berdasar atas
kehidupan yang nyata dri masyarkat yang bersangkutan.
Dari apa yang dikemukkan oleh VAN VALLNHOVEN dan SOEPOMO
kelihatanlah bahwa masyarakat yang mengembangkan ciri khas hukum
adat itu adalah persekutuan hukum adat (Adatrechts
Gemeenschapen).
Di samping pimpinan dan kekayaan (benda berujud dan tidak berujud),
tiap-tiap kelompok mempunyai wilayah tertentu atas dan di dalam
batas-batas wilayah itu kelompik yang bersangkutan menjalani
kehidupannya. Kelompok yang demikian dinamakan Persekutuan
Hukum atau Masyarakat Hukum.
Jadi Persekutuan Hukum atau Masyarakat Hukum (Rechtsgemensghap)
adalah:
sekelompok orang-orang yang terkait sebagai suatu kesatuan
dalam suatu susunan yang teratur, yang bersifat abadi dan memiliki
pimpinan serta kekayaan sendiri baik berujud maupun tidak berujud
dan mendiami atau hidup di atas wilayah tertentu.
Menurut Soerjono Soekanto (2001:93) didalam bukunya Beginselen
En Stelsel Van Het Adatrech, Prof. Dr. Ter Haar Bzn (1950:16)
merumuskan masyarakat hukum adat sebagai:
Ge ordende groepen van blijven karakter met eigen bewind en
eigen materiel en
immaterial vermogen. (kelompok-kelompok

teratur yang sifatnya ajek dengan


pemerintahaan sendiri yang
memiliki benda-benda materil dan imateril).
Kemudian Prof. Dr. Hazairin memberikan suatu uraian mengenai
masyarakat hukum adat:
Masyarakat
hukum
adat
adalah
kesatuan-kesatuan
kemasyarakatan yang mempunyai
kelengkapan-kelengkapan untuk
sanggup berdiri sendiri yaitu mempunyai kesatuan hukum, kesatuan
penguasa, dan kesatuan lingkup hidup berdasarkan hak bersama atas
tanah dan air bagi semua anggotanya.
Sehubungan dengan hal tersebut {rpf. Dr. Barend Ter Haar .Bzn., di
dalam bukunya Asas-asas dan sesunan hukum adat Indonesia
menyatakan:
Di seluruh kepulauan Indonesia pada tingkatan rakyat jelata
terdapat pergaulan hidup di dalam
golongan-golongan
yang
bertingkah laku sebagai kesatuan terhadap dunia lahir dan
batin.
Golongan ini mempunyai pengururs sendiri, harta benda sendiri, milik
keduniawian, milik ghaib. Golongan demikianlah yang bersifat
hukum.
Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa sebagaimana yang
ditegaskan oleh Prof. Buzhar Muhammad, S.H., inti dari persekutuan
hukum adalah:
a. Kesatuan manusia yang teratur
b. Menetap di daerah tertentu
c. Mempunyai penguasa-penguasa
d. Mempunyai kekayaan yang berujud dan tidak berujud.
Contoh Persekutuan Hukum atau Masyarakat Hukum
a. Fammilie di Minangkabau, memiliki:
1) Tata susunan yang tetap
2) Pengurus sendiri
3) Harta pusaka sendiri
b. Desa di Jawa, memiliki:
1) Tata susunan yang tetap
2) Pengurus sendiri
3) Harta kekayaan sensdiri

2. Struktur Persekutuan Hukum


Pada dasarnya ikatan yang mengikat anggota-anggota persekutuan
dapat di bedakan menjadi dua actor utama, yaitu:
a. Faktor Genealogis (keturunan), yaitu faktor yang mendasar kepada
pertalian darah atau pertalian keturunan.
b. Faktor Territorial (wilayah), yaitu faktoryang mendasarkan
keterikatannya pada suatu daerah tertentu.
tiga tipe pokok utama persekutua hukum atau masyarakat hukum diwilayah
nusantara ini, yaitu:
a. persekutuan hukum GENEALOGIS
Persekutuan hukum atau masyarakat hukum Genealogis menitik
beratkan pada faktor keturunan atau pertalian darah. Secara sistematis
persekutuan genealogis inipun dapat dibagi menjadi:
1) masyarakat UNILATERAL, adalah masyarakat dimana anggotaanggotanya menarik garis hanya dari salah satu pihak saja yaitu baik
dari pihak laki-laki saja ataupun dari pihak wanita saja. Macam-macam
masyarakat hukum UNITERAL:
a) Masyarakat MATRILINEAL, yaitu masyarakat dimana anggotaanggotanya menarik garis keturunan hanya dari pihak ibu saja, terus
menerus ke atas (vertical) hingga berakhir pada suatu kepercayaan
bahwa mereka berasal dari seorang ibu asal.
b) Masyarakat PATRILINEAL, yaitu masyarakat dimana anggotaanggotanya menarik garis keturunan dari pihak ayah saja terus keatas
(vertical) sehingga berakhir pada suatu kepercayaan bahwa mereka
semua berasal dari satu bapak asal.
c) Masyarakat DUBBEL UNILATERAL, yaitu masyarakat yang
menarik garis keturunan dari PIHAK AYAH dan PIHAK IBU yang
dilakukan bersama-sama berdasarkan hal-hal tertentu.
2) Masyarakat BILATERAL,adalah masyarakat dimana anggotaanggota persekutuan menarik garis keturunan baik melalui ayah maupun
melalui ibu. Jadi garis keluarga ditarik melalui orang tua (parental).
3) Masyarakat ALTERNEREND (berganti-ganti), adalah
masyarakat dimana garis keturunan seseorang ditarik berganti-ganti
sesuai dengan bentuk perkawinan yang dilaksanakan oleh orang
tuannya.

b. Persekutuan Hukum TERRITORIAL


persekutuan-persekutuan hukum territorial adalah dimana para
warganya merasa terikat satu sama lainnya karena merasa dilahirkan dan
menjalani khidupan ditempat atau wilyah yang sama. Persekutuanpersekutuan territorial dapat dibedakan menjadi:
1) Persekutuan desa (Dorps Gemeenschap), adalah apabila
segolongan orang terikat pada suatu tempat kediaman, yang juga apabila
didalamnya terdiri dari tempat kediaman kecil yang meliputi
perkampungan dan dimana pemimpin atau pejabat pemerintahan desa
boleh dikatakan semunya bertempat tinggal di dalam pusat kediaman
itu.
2) Persekutun DAERAH (STREK GEMEENSCHP), adalah apabila
didalam sutu daerah tertentu merupakan kesatuan beberapa tempat
kediaman yang masing-masig mempunyai pimpinan sejenis, sendirisendiri dan sederajat tetapi semuanya merupakan bagin dari daerah
tersebut.
3) Perserikatan DESA-DESA (DORPENBOND) (beberapa
kampung), adalah gabungan dari beberapa persekutuan desa dimana
merek mengadakan permufakatn untuk melakukan kerja sama. Dimana
untuk memelihara keperluan bersama itu diadakan suatu badan
pengurus yang terdiri dari pengurus-pengurus desa tersebut.
c. Persekutun hukum GENEALOGIS-TERRITORIAL
Persekutuan hukum adalah persekutuan-persekutuan hukum dimana
faktor genealogis dan faktor territorial merupakan faktor yng penting.
Untuk menjadi anggota persekutuan wajib memenuhi 2 syarat sekaligus
yaitu harus masuk dalam suatu kesatuan genealogis dan harus berdiam
didalam daerah persekutuan yang bersangkutan. Sehubungan dengan
sruktur perekutuan hukum tersebut, SOEROJO WIGNJODIPOERO,
S.H., (1987:83-85) menyatakan:
Tentang sruktur persekutan hukum ini VAN VOLLENHOVEN
dalam bukunya Het adatrech van Nederland Indie (jilid 1)
(halaman 136-145) menjelaskan bahwa persekutuan-persekutuan
hukum di seluuh Indonesia ini mengingat akan strukturnya
dipisah-pisahkan kedalam 4 golongan dan besar kemungkinan

tidak semuanya masih dapat dicontoh lagi di Indonesia. Keempat


golongan hukum itu adalah:
1) Golongan 1 : persekutuan hukum berupa kesatuan genealogis.
2) Golongan 2 : persekutuan hukum berupa kesatuan territorial,
didlamnya terdapat kesatuan- kesatuan genealogis.
3) Golongan 3 : persekutuan hukum yang berupa kesatuan territorial
tanpa kesatuan genealogis didalamnya, melainkan dengan atau tidak
dengan kesatuan atau territorial yang lebih kecil.
4) Golongan 4 : persekutuan hukum yang berupa kesatuan territorial
dengan didalamnya terdapat persekutuan-persekutuan yang sengaja
didirikan warganya.
Bentk-bentuk persekutuan hukum lainnya
1) Masyarakat adat KEAGAMAAN
Didalam hal ini adalah merupakan masyarakat adat yang khusus
bersifat keagamaan di beberapa daerah tertentu.
2) Masyarakat adat di perantauan
Masyarakat desa adat keagamaan SADWIRAMA tersebut merupakan
suatu bentuk dari upaya bagi orang Bali di perantauan dalam upaya tetap
mempertahankan eksistensi adat dan agama hidupnya sebagaimana
kebiasaan-kebiasaan kehidupan kemasyarakatan keagamaan di daerah
asalnya yaitu pulau Bali.
3) Masyarakat Adat lainnya
Bentuk masyarakat ini kita temukan di berbagai instansi pemerintah
maupun swasta diberbagai lapangan kehidupan sosial-ekonomi yang
lain. Kesatuan masyarakat adatnya tidak lagi terikat pada hukum adat
yang lama melainkan dalam betuk hukum kebiasaan yang baru atau
katakanlah Hukum ADAT Indonesia atau hukum adat nasional.
3. Kepengurusan MASYRAKAT ADAT
Bentuk kepengurusan kesatuan masyarakat adat desa yang lama
sebagaimana diatur dalam peraturan haminte Bumiputera
(Inlansche gemeente ordonnantie) di zama Hindia Belanda terdapat

perbedaan-perbedaan menurut stuktur kemasyarakatan adat yang


bersifat territorial dan yang bersifat territorial-genealogis.
a. kepengurusan Masyarakat Adat TERRITORIAL
susunan kepengurusan adat yag bersifat territorial menunjukkan adanya
jalina hubungan kewargaan adat yang nersifat kekeluargaan dalam
ketetanggaan.
b. kepengurusan Masyarakat TERRITORIAL-GENEALOGIS
Susunan kepengurusan dalam pemerintahan adat yang bersifat
territorial-genealogis merupkan jalinan hubungan antara kewargaan
adat yang tidak saja besifat kekeluargaan dalam hubungan ketetenggaan
tetapi juga dalam hubungan keturuan dan kekerabatan.
c. kepengurusan Masyarakat Adat Keagamaan
1) Di lingkungan MASYARAKAT KEPERCAYAAN LAMA
Masyarakat Adat di Indonesia walaupun sudah banyak yang menjadi
penganut agama Islam, Kristen, Hindu dan Budha, masih banyak pula
yang menganut kepercayaan lama yang beraneka ragam. Adat yang
dianut bercampur dengan agama tanpa kesatuan anggota da nada pula
yang merupakan kesatuan-kesatuan warga sendiri dengan mempunyai
kepengursan sendiri, memelihara dan memuja tempat ata benda
keramatna sehingga mempunyai tata tertib hukum keagamaan sendiri
yang berbeda-beda atara yang satu dengan yang lainnya.
2) Di lingkungan masyarakat HINDU BALI
Masyarakat bali di masa sekarang tida saja terdapat di pulau BALI dan
LOMBOK BARAT tetapi juga di Sumatera selatan, Lampung,
Kalimantan Tengah, Sulawesi dan Nusatenggara, menempati daerahdaerah transmigrasi. Masyarakat desa di bali buan saja merpakan
kesatuan tempat kediaman (territorial) tetapi juga merupkn kesatua
kekerabatan yang patrilineal da kesatuan adat dan keagamaan Hindu.
3) Di lingkungan MASYARAKAT KRISTEN

Masyarakat Adat penganut agama Kristen di Indonesia dapat dibedakan


dalam 2 golongan besar yaitu golngan masyarakat Kristen katolik dan
golongan masyarakat Kristen protestan. Bagi umat Kristen
keanggotaannya terikat pada gereja tertentu, ummat katolik terikat pada
gereja katholik, umt protestan terikat pada gereja menurut aliran rotestan
yang dianutnya.
4) Di lingkungan MASYRAKAT ISLAM
Sebagian besar masyarakat adat di Indonesia adalah penganutagama
islam sehingga hukum islam dengan hukum adat setempatberlaku
berdampingan hukum islam yang sifanya nasional hanya Nampak dalam
pelaksanaan ibadah dan dalam pelaksanaan muamalah ialah dalam
hukum perkawinan tentang akad nikah dengan ijab kabl dan perceraian,
sedangkan yang lainnya masih tetap berpegang pada hukum adat.
d. Kepengurusan Masyarakat Adat lainnya
1) Masyarakat adat di perantauan
Sudah sejak lama terjadi perpindahan Masyarakat adat dari daera yyang
satu kedaerah yang lain karena berbagai alas an terutama disebabkan
mata pencaharian. Perpindahan masyarakat adat dari daerah yang satu
kedaerah yang lain setelah kemerdekaan Republik Indonesia bertambah
banyak terjadi baik yang diselenggarakan oleh pemerintah dalam bentuk
transmigrasi maupun yang beralih sendiri karena kebutuhan hidup.
2) Masyarakat KEORGANISASIAN UMUM
Sejak sebelum perang dunia pertama Rakyat Indonesia telah mengenal
system organisasi yang modern dengan angaran dasar dan susunan
pengurus yang teratur. Setelah kemerdekaan indonesia organisasiorganisasi itu semakin maju perkembangannya baik yang bergerak
dilingkungan instansi-instansi pemerintah maupun swasta dan didalam
kehidupan masyarakat umum.
3) Masyarakat KETURUNAN CINA
Masyarakat adat keturunan cina di zaman Hindia Belanda
kependudkannya digolongkan kedalam golongan timur asing

(VREENDE OOSTERLINGEN). Berdasarkan ketentuan pasal 131


ayat (2) B Indische Staatsregeling (I.S) terhadap mereka berlaku
hukum Adatnya masing-masing.Oleh karena itu di dalam UUD 1945
menurut pasal 26 orang Bangsa Indonesia Asli (pribumi) (Inlanders),
dan orang-orang bangsa lain yang disyahkan dengan undang-undang
sebagai warga negara.
4. LINGKARAN HUKUM ADAT (ADATRECHTSKRINGEN)
Lingkungan hukum adat atau disebut juga lingkungan hukum adat
atau juga kukuban hukum adat sangat erat kaitannya dengan
persekutuan hukum adat atau masyarakat hukum adat sebagaimana
dipaparkan dimuka.
VAN VOLLENHOVEN dalam karya terbesarnya ang berjudul Het
adatrecht van nederlandsch Indie menyebutkan bahwa seluruh daerah
Indonesia terbagi dalam 19 lingkaran hukum adat dan tiap-tiap
lingkaran huku adatpun akan terbagi lagi kedalam kukuban-kukuban
hukum. Ke-19 Lingkungan Hukum adat itu adalah sebagai berikut:
1. Aceh (Aceh besar, Pantai barat, Singkel, Simeuleu).
2. TANAH GAYO (Gayo lueus, Tanah Alas, Tanah Batak/Tapanuli).
3. TANAH MINAGKABAU (Padang, Agam, Tanah Datar, Lima puluh
kota, Tanah Kampar, Korinci) dan MENTAWAI (orang pagai)
4. SUMATERA SELATAN
5. TANAH MELAYU (Lingga riau, inderagiri, sumatera timur, orang
banjar).
6. BANGKA dan BELITUNG
7. KALIMANTAN
8. MINAHASA (menado)
9. GORONTALO
10. TANAH TORAJA
11. SULAWESI SELATAN
12. KEPULAUAN TERNATE
13. MALUKU-AMBON
14. IRIAN
15. KEPULAUAN TIMOR
16. BALI dan LOMBOK
17. JAWA TENGAH, JAWA TIMUR serta MADURA

18. DAERAH SWAPRADJA


19. JAWA BARAT
5. Tata Susunan PERSEKUTUAN HUKUM
VAN VOLLENHOVEN dalam bukunya adatrecht-1, menguraikan
tentang keadaan tata susunan persekutuan-persekutuan hukum dari
masing-masing lingkaran hukum, sedangkan TER HAAR Bzn dalam
bukunya Beginselen en stelsel van het adat recht menguraikan tentang
keadaan tata susunan persekutuan-persekutuan hukum menurut macammacam bentuk yang didapati pada berbagai susunan rakyat diseluruh
daerah di Indonesia.
6. Sifat pimpinan kepala-kepala rakyat
Kehidupan sehari-hari didalam lingkungan badan-badan persekutuan
hukum berada di bawah pimpinan kepala-kepala Rakyat yang bertugas
memelihara jalannya hukum adat sebagaimana mestinya. Sifat pimpinan
kepala rakyat adalah sangat erat hubungannya dengan sifat, corak serta
susunan masyarakat di dalam badan-badan persekutuan hukum tersebut.
Persekutuan hukum tidak bersifat badan kekuasaan seperti kotapraja.
Persekutuan hukum bukanlah merupakan persekutuan kekuasaan. Dalam
aliran pikiran tradisional Indonesia persekutuan hukum itu adalah sebagai
suatu kolektivitas dimana tiap warga merasa dirinya satu dengan golongan
seluruhnya. Oleh karena itu maka kepala persekutuan adalah kepala rakyat
dan bapak masyarakat.
7. Suasana tradisional MASYARAKAT DESA
Persekutuan desa sebagai suatu kesatuan hidup bersama bercorak sebagai
berikut.
a. RELIGIUS
Bersifat kesatuan batin. Orang segolongan merasa satu dengan golongan
seluruhnya bahkan seorang individu dalam persekutuan itu merasa dirinya
hanya sebagai suatu bagian saja dai lingkungan alam hidupnya, tidak ada
pembatasan antara dunia lahir dan dunia ghaib, serta tidak ada pemisah
anatara berbagai macam lingkungan hidup.menurut keoercayaan

tradisional Indonesia, setiap masyarakat diliputi oleh kekuatan ghaib yang


harus dipelihara agar supaya masyarakat itu tetap bahagia.
b. KEMASYARAKATAN
Hidu bersama didalam masyarakat tradisional Indonesia bercorak
kemasyarakatan. Manusia di dalam hukum adat adalah orang yang terikat
kepada masyarakat tidak sama sekali bebas dalam perbuatannya, ia
terutama menurut paham tradisional hukum adat adalah warga golongan.
c. DEMOKRATIS
Suasana demokratis didalam masyarakat kesatuan hukum ini selaras
dengan sifat kommunal dan gotong royong dari pada kehidupan masyarakat
Indonesia dimana kepentingan bersama lebih diutamakan dari pada hakhak dan kepentingan-kepentingan perseorangan.
8. perubahan-perubahan dalam suasana desa.
Tata susunan serta suasana masyrakat desa pada masa lampau yang
berdasarkan adat istiadat kemudian mengalami perubahan karena beberapa
pengaruh administrasi kerajaan dibeberapa daerah, kemudian brhubungan
dengan campur tangannya administrasi pemerintah colonial Belanda, dan
akhirnya sehubungan dengan proses modernisasi pemerintahhan negara
Republik Indonesia sejak kemerdekaan hingga kini dan akan terus berubah
sebagaimana dengan perkembangan kehidupan ketata negaraan negara kita
dewasa ini.
9. penggolongan rakyat
Penggolongan rakyat yang kita warisi dari zaman hindia belanda itu pernah
diatur dan terpampang dalam konstintusi nasonal yaitu dalam ketentuan
pasal 25 UUDS 1950, di mana pasal dimaksud menerima adanya
penggolongn rakyat sebagaimana suatu fakta sejarah, dengan tambahan
ketentuan sebagai beriku :
penggolongan itu tidak akan merugikan bagi mereka yang masuk
kedalam golongan manapun. Dengn kata lain golongan itu seharkatsederajat atau sama nilai didalam pandangan hukum.
Menurut ketentuan pasal 163 I.S di dalam masyarakat hukum Indonesia
terdapat 3 golongan rakyat yaitu:

a.
b.
c.

Golongan Eropa
Golongan TIMUR ASING
Golongan bumi putera

BAB VII
HUKUM ADAT KEKELUARGAAN
(VERWANTSCHAPS RECHT)
HUKUM ADAT KEKELUARGAAN ini oleh Prof. Dr. BAREND TER
HAAR,
BZn.
(1991:114)disebut
sebagai
HUKUM
KESANAKSAUDARAAN
(VERWANTSCHAPS
RECHT)dan
DJAREN SARAGIH, S.H. (1984:113) menamakannya sebagai HUKUM
KELUARGA (HUKUM KESAAKSAUDARAAN), sedangkan Prof. H.
HILMAN HADIKUSUMA, S.H. (1992:201) menyebut sebagai
HUKUM ADAT KEKERABATAN.
Pada dasarnya HUKUM ADAT KEKELUARGAAN atau
HUKUM ADAT KEKERABATAN, adalah:
Hukum Adat yang mengatur tentang bagaimana kedudukan
pribadi seseorang sebagai anggota kerabat (Keluarga),
kedudukan anak terhadap orang tua dan sebaliknya,
kedudukan anak terhadap kerabat dan sebaliknya, dan
masalah perwalian anak.
Dalam suasana Hukum dat Indonesia, perbedaan dalam hubunganhubungan yang ditimbulkan adalah merupakan akibat dari hubungan
hukum yang disebut dengan PERKAWINAN dan hubunga-hubungan
HUKUM KESANAK SAUDARAAN.
Di dalam masalah HUKUM ADAT KEKELUARGAAN atau
HUKUM ADAT KEKETABATAN akan dibahas secara singkat tetapi
gamblang mengenai hal-hal sebagai berikut:
1. KEDUDUKAN PRIBADI
Sesungguhnya manusia secara pribadi dilahirkan ke dunia
mempunyai nilai-nilan yang sama seperti Nilai Hidup, Kemerdekaan,
Kesejahteraan, Kehormatan, dan Kebendaan. Tetapi kehidupan
masyarakat, adat budaya serta pengaruh Agama yang dianut oleh manusia
menyebabkan penilaiannya menjadi tidak sama.
Dengan adanya perbedaan pribadi seseorang di dalam kehidupan
masyarakat, maka berbeda pula hak-hak dan kewajiban serta kewenangnya
dalam kemasyarakatan hukum adatnya.

2. KETURUNAN (PERTALIAN DARAH)


SOEREJO WIGNJODIPOERO, S.H, (1990:108) menyebutkan
sebagai berikut:
Keturunan (kewangsaan; Prof. DJOJODIGOENO, S.H.) adalah
KETUNGGALAN LELUHUR artinya ada perhubungan darah orang yang
seorang dengan orang yang lain. Dua orang atau lebih yang mempunyai
hubungan darah.
Jadi yang TUNGGAL LELUHUR adalah keturunan yang seorang
dari orang lain.
Terdapat suatu pandangan yang sama terhadap ,asalah
KETURUNAN ini di seluruh daerah Indoneia yaitu:
Bawasannya KETURUNAN adalah merupakan unsur essensiel serta
mutlak bagi sesuatu CLAN (SUKU) atau KERABAT yang
menginginkan dirinya tidak punah, ang menghendaki supaya ada
generasi penerusnya.
Oleh karena itu, maka apabiala ada sesuatu Clan atau Suku ataupun
Kerabat merasa khawatir akan menghadapi kenyataan tidak memiliki
keturunan, Clan atau Suku ataupun Kerabat ini pada umumnya akan
melakukan Pemungutan Anak (ADOPSI) untuk menghindari
kepunahannya, atau bahkan berdasarkan persetujuan isterinya
soerang suami akan diizikan menikah lagi untuk mendapatkan
ketrunannya.
SIFAT DAN KEDUDUKAN KETURUNAN
a. LURUS
Apabila orang yang satu itu merupakan langsung dari keturunan yang lain
.
b. MENYIMPANG atau BERCABANG
Apabila antara kedua orang atau lebuh dianggap terdapat adanya
KETUNGGALAN LELUHUR.
3. Hubungan ANAK dengan ORANGTUA-nya
ANAK KANDUNG memiliki kedudukan yang terpenting
didalam setiap SOMAH (GEZIN) Masyarakat adat. ANAK itu dilihat
sebagai generasi penerus, ANAK itu juga dipandang sebagai WADAH
(TEMPAT TUMPUAN) dimana semua harapan orang tuanya di kelak

kemudian hari wajib ditumpahkan, dan ANAK itu juga dipandang sebagai
pelindung orang tuanya kelak kalau orang tua itu sudah tidak mampu lagi
secara fisik untuk mencari nafkah sendiri.
Namun, sayang ternyata dalam kenyataannya dimasyarakat kita
banyak terjadi kejadian dimana kelahiran seorang anak tidak normal atau
tidak sa, diantaranya adalah:
a. ANAK lahir di luar perkawinan.
b. ANAK lahir karena hubugan ZINAH.
c. ANAK lahir setelah perceraian.
4. AKIBAT ANG TIMBUL DARI HUBUNGAN ANTARA ANAK
DAN ORANG TUA
Hubungan antara Anak dan Orang Tua menimbulkan akibat-akibat
hukum tertentu antara lain:
a. Adanya larangan perkawinan antara Orang Tua dan Anak.
b. Adanya kewajiban saling memeliharaantara Orang Tua dan
Anak (hak alimentasi).
c. Pada dasarnya setiap anak mempunyai hak waris terhadap orang
tuannya.
Di dalam Hukum Adat hubungan hukum antara anak dengan orang
tuangya khususnya dengan Ayanhnya dapat diputuskan dengan hubungan
hukum tertentu , misalnya Anak tersebut dibuang oleh Bapaknya.
5. HUBUNGAN ANAK DENGAN KELUARGA
Pada umumnya hubungan anak dengan keluaga ini sangat
tergantung dari keadaan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan.
6. ANAK TIRI
ANAK TIRI adalah anak kandung bawaan Isteri Janda atau
bawaan dari Suami Duda yang mengikat tali perkawinan.
7. MEMELIHARA ANAK YATIM (PIATU)
Apabila di dalam suatu keluarga salah satu dari keluarganya baik
Bapak atau Ibunya tidak ada lagi, maka apabila masih ada anak-anak yang
belum dewasa dalam susunan keluarga BAPAK-IBU (PARENTAL), maka
orang tua yang mash hiduplan yang memelihara anak-anak tersebut lebih

lanjut. Dan jika kedua-duanya tidak ada lagi maka yang memelihara anakanak yang ditinggalkan adalah salah satu dari ke;uarga pihak BAPAK atau
pihak IBU yang terdekat.
8. MENGANKAT ANAK (ADOPSI)
Jika dari suatu perkawinan tidak didapatkan keturunan yang akan
menjadi penerus silsilah orang tua dan kerabat maka keluarga tersebut
dianggap PUTUS KETURUNAN. Apabila dari seorang isteri tidak
terdapat keturunan maka para anggota kerabat dapat mendesak agar si
suami mencari wanita lain atau mengangkat anak kemenakan dari anggota
kerabat untuk menjadi penerus kehidupan keluarga bersangkutan.
Menurut SOEROJO WIMGJODIPOERO, S.H., mengangkat
anak adalah sebagai berikut:
Mengangkat anak atau ADOPSI (KIDS AANEMING) adalah suatu
perbuatan pengambilan anak orang lain ke dalam lingkungan
keluarga sendiri demikian rupa sehingga hubungan antara orang yang
mengambil anak dengan anak yang diambil timbul suatu hubungan
hukum kekeluargaan yang sama seperti hubungan yang ada diantara
orang tua dengan anak kandungnya sendiri.
Sedangkan menurut Prof. H. HILMAN HADIKUSUMA, S.H.,
(1995:149) menyebutkan sebagai berikut:
Angkat anak adalah anak orang lain yang dianggap anak sendiri oleh
orang tua anggkat dengan resmi menurut hukum adat setempat
dikarenakan tujuannya untuk melangsungan keturunan dan atua
pemeliharaan atas harta kekayaan rumah tangga.

BAB VIII
HUKUM ADAT PERKAWINAN
1. Ruang lingkup Hukum Adat PERKAWINAN
Manusia tidak akan dapat berkembang dengan baik dan beradab
tanpa adanya suatu proses atau lembaga yang disebut PERKAWINAN
karena dengan melalui PERKAWINAN menyebabkan adanya keturunan
yang baik dan, dan KETURUNAN yang baik dan sah itu kemudian dapat
menimbulkan tercipta suatu KELUARGA yang baikm dan sah pula
kemudian berkembang mejadi KERABAT dan MASYARAKAT yang
baik dan sah pula. Dengan demikian maka PERKAWINAN merupakan
unsur tali temali yang meneruskan kehidupan manusia dan
masyarakat yang baik secara sah.
Sehubungan dengan pernyataan di atas Prof. Dr. SPEKANTO,
S.H., (1985:100-101) menegaskan bahwa:
Perkawinan itu bukan hanya suatu peristiwa yangmengenai mereka
yang bersangkutan (perempuan dan laki-laki yang menikah) saja,
akan tetapi juga bagi orang tuannya, saudara-saudara dan
keluarganya.
Sedangkan menurut Prof. Dr. R. VAN DIJK adalah sebagai
berikut:
Perkawinan menurut hukum adat sangat bersangkutan dengan
urusan familie, keluarga, masyarakat, martabat dan pribadi. Hal ini
berbeda dengan perkawinan sepertai pada masyarakat Barat (Eropa)
yang modern bahwa perkawinan hanya merupakan urusan mereka
yang kawin itu saja.
Adat perkawinan telah mengalami perkembangan dan pergeseran
nilai, banhkan sering terjadi Perkawinan Campuran antar suku bangsa,
antar adat, antar orang-orang yang berbeda agama, bahkan perkawinan
antar bangsa.
Fungsi PERKAWINAN
Di kalangan masyarakat adat yang masih kuat mempertahankan
prinsip kekerabatan bedasarkan keturunan maka:
Fungsi perkawinan adalah merupakan suatu nilai hidup untuk dapat
meneruskan keturunan, mempertahankan silsilah dan kedudukan

keluarga yang bersangkutan. Disamping itu ada kalanya suatu


perkawinan merupakan suatu saran untuk memperbaiki hubungan
kekerabatan yang telah jauh atau retak, ia merupakan suatu sarana
pendekatan atau perdamaian antar kerabat dan begitu pula dengan
perkawinan itu bersangkut paut dengan masalah kedudukan, harta
kekayaan dan masalah pewarisan.
Guna mengatur tata tertib di kalangan Masyarakat Adat terdapat
kaidah-kaidah hukum yang tidak tertulis dalam bentuk perundangundangan yang pada masing-masing lingkungan masyarakat masyarakat
adat terdapat beberapa perbedaan prinsip dan asas-asas perkawinan yang
berlaku.
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 mengatur secara nasional
mengenai perkawinan-perkawinan bagi setiap warga negara Indonesia, dan
menurut sistematikanya Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tersebut
terdiri dari 14 bab dan 47 pasal yang mengatur mengenai:
a. Dasar-dasar perkawinan
b. Syarat-syarat perkawinan
c. Pencegahan perkawinan
d. Batalnya perkawinan
e. Perjanjian perkawinan
f. Hak dan kewajiban suami isteri
g. Harta benda dalam perkawinan
h. Putusnya perkawinan serta akibatnya
i. Kedudukan anak
j. Perwalian
k. Ketentuan lain
l. Ketentuan peraliahan dan ketentuan penutup
Prof. Dr. HAZAIRIN,S.H., (dalam buku tinjauan mengenai undangundang perkawinan) sebagai berikut.
Bahwa hukum adat yang terhapus dibidang perkawinan itu dapat
mengubah coraknya dengan menjadi upacara-upacara kebudayaan di
bidang kesenian dan kesusilaan, terserahlah kepada selera dan
kebijaksanaan masyarakat setempat, akan tetapi di bidang hukum negara
RI (hukum adat) sedemikian itu tidak ada lagi fungsinya berdasarkan

prinsip dalam aturan Peralihan Pasal II UUD 1945 bahwa undang-undang


berhak mengubah atau menghapuskan hukum adat.
Akan tetapi pendapat Prof. Dr. HAZAIRIN, S.H., disanggah oleh
Prof. HILMAN HADIKUSUMA, S.H., (1995;26) yang menyebutkan:
Oleh karena apabila kita dengan begitu saja lalu beranggapan
bahwa hukum adat yang terhapus oleh perundang-undangan di bidang
perkawinan dapat mengubah coraknya menjadi upacara-upacara
kebudayaan dibidang kesenian dan kesusilaan, maka seolah-olah kita
berpendapat bahwa Hukum Adat itu dapat saja diubah dan dihapus begitu
saja oleh perundang-undangan.
Kami berpendapat, bahwa hukum adat itu mengikuti masyarakatnya,
selama masyarakat tetap mempertahankan sesuatu perbuatan adat sebagai
suatu keharusan maka perbuatan itu adalah perbuatan hukum bukan hanya
perbuatan kesenian maupun perbuatan kesusilaan semata. Kemungkinan
sesuatuhukum adat itu dapat dihapus oleh hukum perundang-undangan
apabila masyarakat adat yang bersangkutan tidak lagi mempertahankannya.
Jadi tergantung pada kesadaran hukum adat pada masyarakat yang
bersangkutan.
2. Arti Perkawinan
Perkawinan adalah suatu peristiwa yang amat penting dalam
perikehidupan masyarakat kita, sebab masalah perkawinan itu
tidak hanya menyangkut wanita dan pria bakal mempelai saja
tetapi juga kedua bela pihak dari orang tua, saudara-saudaranya
bahkan keluarga mereka masing-masing.
Menurut Prof. Dr. BAREND TER HAAR, B.Zn. (1991;159)
disebutkan :
petkawinan adalah suatu usaha atau peristiwa hukum yang
menyebabkan terus berlangsungnya golangan denga tertibnya dan
merupakan suatu syarat yang menyebabkan terlahirnya angkatan
baru yang meneruskan golongan itu tersebut.
Sedangkan menurut DJAREN SARAGIH, S.H., (1992:1)
dinyatakan sebagai berikut.
Hukum perkawinan adat adalah keseluruhan kaidah hukum yang
menentukan prosedur yang harus di tempuh oleh dua orang yang

bertalian kelamin dalam menciptakan kehidupan bersama dalam


suatu rumah tangga dengan tujuan untuk meneruskan keturunan.
Prof. HILMAN HADIKUSUMA, S.H., (1992:182) kemudian
menyebutkan pula bahwa :
Hukum adat perkawinan adalah peraturan-peraturan hukum adat
yang mengatur tenang bentuk-bentuk perkawinan, cara-cara
pelamaran, upacara perkawinan dan putusnya perkawinan di
Indonesia.
Masalah perkawinan ini mempunyai arti yang sangat demikian
pentingnya, maka dalam pelaksanaaannya pun senantiasa dimulai
dari dan seterusnya disertai dengan berbagai upacara-upacara ritual
yang lengkap denagn sesajen-sesajen, doa-doa serta jampi-jampi.
Prof. Dr. HAZAIRIN, S.H., dalam bukunya yang berjudul
REDJANG, mengemukakan sebagai berikut.
Bahwa peristiwa perkawinan itu adalah sebagai tiga buah
rentetan-rentetan perbuatan magis yang bertujuan untuk
menjamin ketenangan, kebahagiaan, dan kesuburan.
3. Pertunangan
Pertunangan adalah merupakan suatu stadium atau suatu keadaan
yang bersifat khusus di Indonesia yang biasanya mendahului atau
mengawali proses dilangsungkannya suatu perkawinan.
Pertunangan baru mengikat apabila dari pihak laki-laki sudah
memberikan kepada pihak perempuan suatu tanda pengikat yang
kelihatan yang desibut PANJER atau PANINGSET. Tanda
pengikat dimaksud diberikan kepada kepada pihak perempuan atau
kepada orang tua pihak perempuan atau kepada bakal perempuan
sendiri.
Prof. H. HILMAN ADIKUSUMA, S.H., (1993:40-41)
menyatakan bahwa:
Alasan pertunangan tidak dapat diteruskan ke jenjang perkawinan
antara lain dikarenakan:
a. Terjadi perselisihan diantara orang tua, anggota keluarga, atau
pria dan wanita yang bertunangan.

b. Terjadinya kawin lari, baik dilakukan oleh pria atau wanita


yang bersangkutan atau wanita yang sedang bertunangan
tersebut dibawa lari oleh pria lain selama masih dalam masih
dalam ikatan pertunangan.
c. Salah satu pihak tidak mau melanjutkan pertunangannya
dikarenakan pria atau wanita yang akan dikawin tersebut
mempunyai cacat(tubuh).
4. PERKAWINAN
DALA
PELBAGAI
SIFAT
KEKELUARGAAN
BENTUK BENTUK PERKAWINAN sebagai berikut :
a. Perkawinan dalam susunan kekeluargaan PATRILINEAL
Dinamakan perkawina jujur. Corak utama dari perkawinan
adalah perkawinan dngan jujur.
Pada PERKAWINAN JUJUR ini pihak keluarga pengantin
laki-laki harus memberikan atau menyerahkan (membayar)
sesuatu yang disebut JUJUR kepada pihak keluarga pengantin
perempuan dengan tujuan untuk melepas atau memutuskan
hubungan kekeluargaan pengantin perempuan dari hubunga
kekeluargaan dengan Orang Tuannya, Nenek Moyangnya,
Kerabatnya serta Persekutuannya. Dan setelah perkawinan si
isteri masuk sama sekali kedalam lingkungan keluarga
suaminya termasuk juga anak-anak dan keturunannya.
Dengan demikian si isteri disini berubah statusnya dari
anggota clan-nya sendiri selagi gadis menjadi anggota clan
suaminya.
b. Perkawinan dalam susunan kekeluargaan MATRILINEAL
Perkawinan didalam susunan kekeluargaan MATRILINEAL
ini dikenal denga sebutan PERKAWINAN SEMENDO, yaitu
bentuk perkawinan yang bertujuan secara konsekuen
melanjutkan atau mempertahankan garis keturunan dari pihak
ibu.dikatakan SEMENDO artinya, adalah bahwa pihak lakilaki dari luar yang didatangkan tempat perempuan.Ia adalah
orang luar.

Macam macam perkawinan SEMENDO


1) Menurut Prof. H. Hilman hadikusuma, S.H., (1995:83
dan seterusnya):
a) SEMENDA RAJA-RAJA, dikarenakan keseimbangan
martabat kedudukan antara dua kerabat yang
bersangkutan, adakalanya dikarenakan si pria maupun
si wanita mengingini rumah tangga yang berdiri
sendiri atau karena suami tidak dapat melepaskan
kedudukannya sebagai waris dari orang tuanya dan
begitu pula dengan isterinya.
b) SEMANDA LEPAS, dalam arti setelah terjadi
perkawinan maka suami melepaskan hak dan
kedudukannya dipihak kerabatnaya dan masuk
kedalam kekerabatan isteri.
c) SEMENDA NUNGGU, adalah bentuk perkawinan
SEMENDA yang sifatnya sementara dimana setelah
perkawinan suami bertempat keddukan di pihak
kerabat isteri dengan ketentuan menunggu sampai
tugas pertanggungjawabannya terhadap keluarga
mertua selesai diurusnya.
d) SEMANDA ANAK DAGANG, adalah bentuk
perkawinan SEMENDA yang didaerah REJANG
tergolong dalam bentuk SEMENDA yang TIDAK
BERADAT.
e) SEMENDA NGANGKIT, berlakunya perkawinan ini
biasanya dikalangan masyarakat adat yang menganut
adat penguasaan atas harta kekayaan dipegang oleh
anak wanita.
2) Djaren Saragih, S. H., (1984:126-129)
Menyatakan bahwa kawin SEMENDO adalah bentuk
perkawinan yang bertujuan untuk secara konsekuen
melanjutkan garis keturunan dari pihak ibu, dilihat dari
jenisnya terdapat beberapa macam:
a) KAWIN SEMENDO sebagai keharusan,hal ini
diberlakukan didalam kehidupan masyarakat yang
bersifat keIbu-an.

b) KAWIN SEMENDO sebagai penyimpangan,


merupakan
penyimpangan
pada
masyarakat
PATRILINEAL yang pada dasarnya bahwa
masyarakat PATRILINEAL harus menjalankan
PERKAWINAN JUJUR akan tetapi hal ini
dimungkinkan karena didalam suatu masyarakat
PATRILINEAL terdapat keluarga yang tidak
mempunyai anak laki-laki.
c. PERKAWINAN dalam susunan KEKELUARGAAN
PARENTAL
Oleh Prof. H. HILMAN HADIKUSUMA. S.H., dinamakan
perkawinan bebas.
5. PERKAWINAN TANPA LAMARAN DAN TANPA
PERTUNANGAN
Di kenal dengan sebutan KAWIN LARI dimana corak
perkawinan yang demikian ini ditemukan kebanyakan dalam
persekutua yang bersifat PATRILINEAL walaupun dalam bentuk
persekutuan lain dalam praktenya ada juga.
Sesungguhnya perkawinan lari bukanlah bentuk dari suatu
perkawinan melainkan merupakan SISTEM PELAMARAN oleh
karena dalam kejadian perkawinan lari ini dapat berlaku bentuk
atau dapat dilanjutkan baik ke bentuk PERKAWINAN JUJUR,
PERKAWINAN SAMENDO, atau bahkan kedalam bentuk
PERKAWINAN BEBAS maupun PERKAWINAN MENTAS,
tergantung pada keadaan dan perundingan kedua belah pihak.
6. PERKAWINAN ANAK-ANAK
PERKAWINAN ANAK-ANAK ini baru dilaksanakan
apabila anak telah mencapai umur yang pantas yaitu 15 atau 16
tahun bagi perempuan dan 18 atau 19 tahun bagi laki-laki. Apabila
terjadi perkawinan dimana anak perempuan kurang dari 15 tahun
dan pria kurang dari 18 tahun maka setelah menikah, hidup
bersama antara mereka keduanya ditangguhkan sampai mencapai

usia yang telah ditentukan. Perkawinan semacam ini dinamakan


KAWIN GANTUNG atau GANTUNG NIKAH-JAWA.
Alasan melaksanakan gantung nikah adalah untuk segera
merealisasikan ikatan hubunga kekeluargaan antara kerabat
mempelai laki-laki dengan kerabat mempelai perempuan yang
memang diinginkan oleh mereka.
7. KAWIN BERMADU
Hampir disemua lingkungan masyarakat ada terdapat
PERKAWINAN BERMADU dimana seorang suami didala suatu
masa mempunyai beberapa isteri.
8. PERKAWINAN CAMPURAN
Yang dimaksud dengan perkawinan campuran menurut
Prof. H. Hilman Kusuma, S.H (1995:96):
Adalah perkawinan yang terjadi antara pria dan wanita yang
berbeda keanggotaan masyarakat hukum adatnya, misalnya
terjadi perkawinan antara pria dari masyarakat adat Lampung
beradat perpaduan dan wanita dari masyarakat adat peminngin
atau perkawinan antara pria dari masyarakat adat adat Batak
dengan wanita adat Jawa, atau juga terjadi perkawinan antara
orang Jawa dengan orang Cina Warga Negara Indonesia, dan
sebagainya.
Jadi PERKAWINAN CAMPUARAN menurut hukum
adat berbeda dari perkawinan menurut ketentuan UU Nomor 1
Tahun 1974 sebagaimana dinyatakan dalam ketentuan pasal 57
yang berbunyi sebagai berikut.
Yang dimaksud perkawinan campuran dalam UU ini adalah
perkawinan dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang
berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu
pihak berkewarganegaraan Indonesia.
Selanjutnya menurut ketentuan pasal 58 Undang-undang
nomor 1 tahun 1974 dinyatakan:
bahwa perkawinan campuran dapat berakibat memperoleh atau
kehilangan kewarganegaraan.

Dalam hal ini hampir sama dengan kaidah Hukum Adat di


mana perkawinan campuran antara warga adat dan bukan warga
adat dapat berakibat meemperoleh atau kehilangan kewargaan adat
yang bersangkutan.
9. Sistem PERKAWINAN
Kita mengenal adanya 3 macam SISTEM PERKAWINAN
yaitu:
a. SISTEM ENDOGAMIE
Seorang hanya boleh kawin dengan seorang dari suatu
suku keluarganya sendiri (satu Clan).
b. SISTEM EKSOGAMIE
Dalam sistem ini seorang diharuskan kawin dengan
seorang di luar suku keluarganya (keluarga Clan).
c. SISTEM ELEUTHEROGAMIE
Sistem ini tidak mengenal larangan-larangan atau
keharusan-keharusan seperti halnya dalam SISTEM
ENDOGAME dan SISTEM EKSOGAMIE. Laranganlarangannya yang terdapat dalam sistem ini adalah laranganlarangan yang bertalian dengan ikatan kekluargaan.

10. Pengaruh Agama ISLAM dan Agama KRISTEN dalam


PERKAWINAN ADAT
Pengaruh agama-agama yang ada terhadap perkawinanpun ternyata sangat berpengaruh sehingga dapat digambarkan
sebagai berikut:
a. Bagi yang beragama ISLAM, Nikah itu menjadi suatu bagian
dari Acara Perkawinan Adat keseluruhannya.
b. Bagi yang beragama KRISTEN hanya unsur-unsur dalam
perkawinan adat yang betul-betulsecara positif dapat
digabungkan dengan agama KRISTEN saja yang masih dapat
diturut.
Perkawinan merupakan juga hal yang amat penting, baik
bagi yang bersangkutan yaitu suami-isteri maupun bagi
masyarakan pada umumnya yaitu merupakan penentuan mulai
saat manakah dapat dan harus dikatakan bahwa ada suatu
perkawinan sealku kejadian hukum dengan segala akibatakibat hukumnya.
11. UPACARA-UPACARA PERKAWINAN ADAT
Upacara-upacara adat ini berakar pada adat istiadat serta
kepercayaan yang sejak dahulu sebelum masuknya agama ISLAM
ke Indonesia
a. Perkawinan di daerah PASUNDAN
Setelah pembicaraan yang pertama kali (NEUNDEUN
OMONG) kemudian dilaksanakan upacara pemberian
PANYANGCANG dari pihak laki-laki kepada pihak
perempuan dan biasanya juga dalam upacara tersebut
ditetapkan hari dan waktu pernikahan yang akan dilaksanakan
kemudian.
Pertunangan baru mengikat apa bila pihak laki-laki sudah
memberikan TANDA PENGIKAT yang kelihatan yang
dinamakan PANJER atau PANINGSET-Jawa.
b. Perkawinan di JAWA TENGAH
Pada dasarnya tidak terlalu berberda dengan Upacara
sebagaimana yang biasa di lakukan di daerah PASUNDAN
hanya mungkin istilah dan pelaksanaannya saja yang berbeda.

12. Larangan PERKAWINAN


Segala sesuatu yang dapat menjadi sebab perkawinan tidak
dapat dilakukan atau jika dilakukan maka keseimbangan
masyarakat menjadi terganggu, hal ini disebut LARANGAN
PERKAWINAN.
a. Larangan Menurut HUKUM ADAT
1) Karena HUBUNGAN KEKERABATAN
2) Karena perbadaan KEDUDUKAN
b. Larangan HUKUM AGAMA
1) Karena Pertalian Darah
2) Karena Pertalian Perkawinan
3) Karena Perlainan Sepersusuan
13. PERCERAIAN
a. Pengertian
Percaraian menurut Hukum Adat adalah merupakan
peristiwa yang luar biasa, merupakan problem sosial dan
yuridis yang penting dalam kebanyakan daerah di Indonesia.
Putusnya Perkawinan dikarenakan PERCERAIAN baik
menurut Hukum Adat maupun Hukum Agama adalah
perbuatan tercela.
Menurut pasal 39 Undang-ndang Nomor 1 Tahun 1974
mengatakan:
Perceraian hanya dapat dilakukan didepan sidang pengadilan
setelah pengadiian yang bersangkutan berusaha dan tidak
berhasil mendamaikan kedua belah piha,dan untuk melakukan
perceraian harus ada cukup alasan bahwa antara suami-isteri
tidak dapat hidup rukun.
b. Sebab-sebab PERCERAIAN
1) PERZINAHAN
2) Kemandulan Isteri
3) Suami meninggalkan isteri sangat lama
4) Isteri belaku tidak sopan
5) Adanya keinginan bersama dari kedua belah pihak atau
adanya persetujuan suami-isteri untuk bercerai
6) Salah satu pihak mendapatkan hukuman penjara 5 tahun
lebih

c. Perceraian menurut AGAMA ISLAM


Nikah menurut ISLAM adalh sudah menjelma menjadi suatu
bagian dari keseluruhan acara dan upacara YANG AKRAB
masih nampak adanya pengaruh Hukum Adat lama terutama
dikalangan masyarakat PARTILINEAL dan MARTILINEAL
juga barangkali masyarakan yang bersifat BILATERAL atau
juga yang ALTERNEREND.

BAB XIII
HUKUM ADAT DELIK
Hukum Adat Delik (ADATRECH DELICTEN) atau Hukum
Pidana Adat atau Hukum Pelanggaran Adat ialah aturan-aturan hukum adat
yang mengatur peristiwa atau perbuatan kesalahan yang berakibat
terganggunya keseimbangan masyarakat sehingga perlu diselesaikan
(dihukum) agar kesesimbangan masyarakat tidak terganggu.
1. Pengertian dan unsur-unsur HUKUM ADAT DELIK
a. Pengertian DELIK ADAT
Prof. Dr. Mr.Cornellis Van Vollenhoven
Yang dimaksud dengan DELI ADAT adalah perbuatan yang
tdak boleh dilakukan, walaupun pada kenyataannya peristiwa atau
perbuatan itu hanya sumbang (kesalahan) kecil saja.
Prof. Dr. Mr. Barend Ter Haar. B.Zn
Delik (pelanggaran) itu juga adalah setiap gangguan dari suatu
pihak terhadap keseimbangan dimana setiap pelanggaran itu dari
suatu pihak atau sokelompok orang berwujud atau tidak berwujud
berakibat menimbulkan reaksi (yang besar kecilnya menurut
ketentuan adat) suatu reaksi adat, dikarenakan adanya reaksi adat
itu maka keseimbangan harus dapat dipulihan kembali (dengan
pembayaran uang atau barang).
Prof. Bus. Har Muhamad, S.H.
Delik adat adalah suatu perbuatan sepihak darisesorang atau
kumpulan perseorangan ,engancam atau menyinggung atau
mengganggu keseimbangan dan kehidupan persekutuan bersifat
material atau immaterial terhadap orang seorang atau
masyarakatberupa kesatuan.
Prof. H. Hilman Hadikusuma, S.H.
Yang dimaksud dengan delik adat adalah peristiwa atau
perbuatan yang mengganggu keseimbangan masyarakat dan
dikarenakan adanya reaksi dari masyarakat maka keseimbangan
itu harus dipulihkan kembali.

Prof. I Made Widnyana, S.H.


Yang dimaksud dengan DELIK ADAT adalah hukum yang
hidup (LIVING LAW) yang diikuti dan ditaati oleh masyarakat
adat secara terus menerus dari satu generasi ke generasi
berikutnya.
LESQUILLIER
Pada dasarnya suatu DAT DELIK itu merupakan suatu tindakan
atau perbuatan atau peristiwa yang melanggar perasaan keadilan
dan kepatutan yang hidup di dalam masyarakat sehingga
menyebabkan terganggunya ketentraman serta keseimbangan
masyarakat yang bersangkutan.
b. Unsur-unsur DELIK ADAT (HUKUM PIDANA ADAT)
1) Ada perbuatan yang dilakukan oleh perseorangan, kelompok
atau pengurus (Pimpinan/Pejabat) Adat sendiri.
2) Perbuatan itu bertentangan dengan norma-norma hukum adat.
3) Perbuatan itu dipandang dapat menimbulkan kegoncangan
karena mengganggu keseimbangan dalam masyarakat.
4) Atas perbuatan itu timbul reaksi dari masyarakat yang berupa
sanksi adat.
c. Sifat HUKUM ADAT DELIK (HUKUM PIDANA ADAT)
Hukum Adat tidak mengadakna pemisahan antara pelanggaran
hukum yang mewajibkan tuntutan memperbaiki kembali hukum
di dalam lapangan hukum pidana dan lapangan hukum perdata,
oleh karena maka Sistem Hukm Adat hanya mengenal suatu
prosedur dalam hal penuntutan yaitu baik untuk penuntutan secara
perdata maupun penuntutan secara pidana (kriminal).
Berbicara mengenai Sifat Hukum Adat Delik ini penulis
akan mengentengkan beberapa pendapat para pakar yaitu
diantaranya:
Prof. I Made Widnyana, S.H.
Di dalam bukunya berjudul KAPITA SELEKTA HUKUM
PIDANA ADAT (1993:3-4) menyebutkan sebagai berikut.
Hukum Pidana Adat mempunyai sifat sebagai berikut.
1) Menyeluruh dan menyatukan
2) Ketentuan yang terbuka

3) Membeda-bedakan permasalahan
4) Peradilan dengan pemerintahan
5) Tindakan reaksi atau koreksi
Prof. H. Hilman Hadikusuma, S.H.
Di dalam bukunya PENGANTAR ILMU HUKUM ADAT
(1992:231-237) menyatakan sebagai berikut.
Aturan-aturan hukum mengenai pelanggaran ada
pada umumnya bersifat
1) Tradisional Magis Relegius
Artinya perbuatan yang tidak boleh dilakukan dan perbuatan
mana yang mengganggu masyarakat itu bersufat turun
temurun dan dikaitan dengan keagamaan.
2) Menyeluruh dan menyatukan
Artinya sebagaimana telah ditegaskan oleh Soerojo
Wignjodipoero, S.H., bahwa Hukum Adat Delik tidak
memisahkan antara delik yang bersifat pidana atau delik yang
bersifat perdata begitu pula tidak dibedakan antara kejahatan
sebagai delik dan pelanggaran sebagai delik undang-undang.
3) Tidak PRAE EXISTENCE
Artinya tidak seperti Hukum Pidana Barat sebagaimana
dinyatakan dalam Ketentuan pasal 1 ayat (1) KUHP (Stb
1915-732)
yang
menganut
ADAGIUM
dari
MONTESQUIEU
dan
PAUL
ANSELM
VON
FEUERBACH (1775-1883).
4) Tidak menyamaratakan
Apabila terjadi Delik Adat maka yang terutama diperhatikan
adalah reakasi atau koreksidan terganggunya keseimbangan
masyarakat serta siapa pelaku perbuatan delik itu dan apa latar
belakangnya.
5) Terbuka dan lentur
Aturan Hukum Adat Delik bersifat terbuka dan lentur
(flexsible) terhadap unsur-unsur yang baru yang berubahbaik
yang datang dari luar maupun karena perubahan dan
perkembangan masyarakat dan lingkungannya.

6) Terjadinya DELIK ADAT


Tejadi atau lahirnya delik adat tidak berbeda dengan lahirnya
peraturan-peraturan yang tidak tertulis. Suatu peraturan
mengenai tingkah laku manusia pada suatu waktu mendapat
sifat hukum apabila pada suatu ketika Petugas Hukum yang
bersangkutan mempertahankannya terhadap orang yang
melanggar peraturan itu atau suatu ketika Petugas Huku yang
bersangkutan bertindak untuk mencegah pelanggaran itu.
7) DELIK ADUAN
Apabila terjadi Delik Adat yang akibatnya mengganggu
keseimbangan keluarga maka untuk menyelesaikannya
tuntutan atau gugatan dari pihak yang bersangkutan harus ada
pengaduan, harus ada pemberitahuan dan permintaan untuk
diselesaikan kepada Kepala Adat.
8) REAKSI dan KOREKSI
Tujuan adanya tindakan reaksi dan koreksi terhadap peristiwa
atau perbuatan delik adalah untuk dapat memulihkan kembali
keseimbangan masyarakat yang terganggu.
9) PERTANGGUNG JAWABAN KESALAHAN
Apabila terjadi peristiwa atau perbuatan delik, menurut
Hukum Pidana Barat yang dipermasalahkan apabila perbuatan
itu terbukti kesalahannya dan dapat dihukum dan apakah
pelakunya dapat dipermasalahkan.
10) TEMPAT BERLAKUNYA HUKUM PIDANA ADAT
Tempat berlakunya Hukum Adat Delik tidak bersifan nasional
tetapi terbatas pada lingkungan masyarakat adat tertentu atau
bahkan pedesahan.
2. Beberapa macam DELIK ADAT
Di dalam buku VAN VOLLENHOVEN Jilid II dalaman 750 dst.
Yang kemudian diikuti oleh Prof. Dr. Mr. R. Seopomo, ada
beberapa jenis delik tertentu:
a. JENIS DELIK YANG PALING BERAT
Yaitu pelanggaran atas keseimbangan antara dunia lahir dan
dunia ghaib yang diantaranya adalah:

1) Perbuatan PENGHINAAN
Contohnya memperkosa keselamatan masyarakat dalam arti
yang sebenarnya dan sekaligus dinilai sebagai perbuatan
menentang kehidupan bersama.
2) Membuka rahasia Masyarakat
Contohnya bersekongkol dengan golongan musuh termasuk
delik penghinaan atau delik yang sangat berat.
3) Perbuatan mengadakan PEMBAKARAN
Sehingga memusnahkan rumah-rumah adalah menentang
keselamatan masyarakat dan merusak keseimbangan tiada
tara.
4) Perbuatan menghina secara pribadi kepada Kepala Adat
Penghinaan terhadap Kepala Adat atau Kepala Suku atau Raja
dianggap melibatkan atau merusak keseimbangan masyarakat
oleh karena Kepala Adat atau Kepala Suku atau Raja adalah
simbol penjelmaan dari masyarakat itu sendiri.
5) Perbuatan SIHIR atau TENUNG
Di dalam Sistem Hukum Adat digolongkan dalam delik yang
berat karena merupakan perbuatan yang mencelakakan
seluruh masyarakat.
6) Perbuatan INCEST
Inipun termasuk delik yang paling berat dan hukumannya
hampir selalu hukuman mati. Dan yang paling ringan adalah
diasingkan dari masyarakat.
b. Jenis delik yang menentang Kepentingan Hukum Masyarakat
dan Famili yaitu berupa:
1) Hamil di luar Perkawinan
Bila tidak dilakukan bentuk perkawinan untuk menanggulangi
keadaan maka pada suku Bugis perempuan itu harus dibunuh
oleh keluarganya sendiri dan bila dia sempat melarikan diri ke
kediaman Raja atau Kepala Adat diusahakan supaya kawin
dengan orang-orang tertentu agar anak yang akan lahir berada
dalam status perkawinan.

2)

Melarikan seorang perempuan


Delik inipun dapat meimbulkan delik lain yaitu sebagai
akibat dilarikan seorang perempuan itu. Antara keluarga yang
saling berbunuhan.
3) Perbuatan ZINAH
Di dalam hal khusus bila tertangkap laki-laki yang
melakukan Zinah dapat segera dibunuh keluarga yang dihina.
c. Jenis Delik Adat yang umum terjadi
1) PEMBUNUHAN
Dapat diberikan reaksi adat yang seberat-beratnya kemudian
membayar denda berupa hewan besar sebagai PEMBASUH
DUDUN karena tanpa ini kutukan yang dialami masyarakat
akan terus terjadi berupa bala bencana pada masa yang akan
datang.
d. Jenis delik dianggap delik tapi pada suku lain dianggap biasa
1) Jual beli manusia (budak belian) dan pemenggalan kepala
Pada orang DAYAK hal ini tidak merupakan suatu delik tetapi
bagi orang BUGIS, MAKASAR dan SUMATERA
SELATAN, MINANGKABAU merupakan delik berat.
e. Jenis Delik terhadap Harta Benda
1) PENCURIAN
Pada umumnya di seluruh Nusantara menurut Hukum Adat
Tradisional orang yang mencuri dihukum membayar kembali
barang-barang atu nilai barang-barang yang dicurinya serta
membayar denda kepada orang yang dicuri barangnya.
Selain
dari
apa
yang
diuraikan
VAN
VOLLENHOVEN tentang beberapa jenis delik tertentu,
maka penulis mencoba menguraikan mengenai beberapa
Delik Adat dari KITAB SIMBUR TJAHAJA dan KITAB
KUNTJARA RADJA NITI. Hal ini mencakup:
a. RINCIAN DELIK ADAT
1) Kesalahan mengganggu keamanann
2) Kesalahan mengganggu ketertiban
a) Kesalahan tata tertib masyarakat

b) Kesalahan tata tertib pemerintah


3) Kesalahan kesopanan dan kesususilaan
4) Kesalahan dalam perjanjian
5) Kesalahan menyangkut tanah
6) Kesalahan menyangkut hewan, ternak dan perikanan
b. Contoh KAEDAH-KAEDAH KESALAHAN
1) Kesa;ahan mengganggu keamanan
2) Kesalahan mengganggun ketertiban
3) Kesalahan kesopanan dan kesusilaan
4) Kasalahan dalam perjanjian
5) Kesalahan menyangkut tanah
6) Kesalahan menyangkut hewan, ternak dan perikanan
7)
3. Cara penyelesaian DELIK ADAT
a. Penyelesaian antara pribadi, keluarga, tetangga
Jika terjadi suatu peristiwa atau perbuatan delik adat dikampung,
didusun, ditempat pekerjaan dan dilainnya maka untuk
memulihkan gangguan keseimbangan keluarga atau masyarakat
bersangkutan daselesaikan langsung ditempat kejadian antara
pribadi yang bersangkutan yang bersangkutan atau diselesaikan
dirumah keluarga salah satu pihak antara keluarga yang
bersangkutan ditempat pekerjaan oleh pihak yang bersangkutan
dan teman-teman sekerja atau antar tetangga dalam kesatuan
Rukun Tetangga dan sebagainya.
b. Penyelesaian keapala Kerabat atau kepala Adat
Adakalanya pertemuan yang diselenggarakan pribadi, keluarga
atau tetangga tersebut tidak mencapai kesepakatan atau karena
salah satu dan lain hal sehingga tidak berkelanjutan sehingga
perkaranya perlu dilanjutkan kepada Kepala Kerabat atau Kepala
Adat.
c. Penyelesaian Kepala Desa
Apabila penyelesaian delik adat dilakukan oleh Kepala Kerabat
atau Kepala Adat menyangkut perselisihan khusus dikalangan
masyarakat adat kekerabatan yang tidak termasuk kewenangan
Kepala Desa atau juga yang masih berlaku dikalangan masyarakat
yang susunannya dengan kelompok-kelompok suku-suku maka

penyelesaian delik adat dari masyarakat yang bersifat ketentangan


atau pendudukunya campuran dilaksanakan oleh Kepala Desa.
d. Penyelesaian Keorganisasian
Di kota-kota kecil atau di kota-kota besar didaerah-daerah dimana
penduduknya heterogen serta terdapat berbagai perkumpulan atau
organisasi kemasyarakatan yang mempunyai susunan pengurus
dan keanggotaan seperti halnya perkumpulan-perkumpulan
kekeluargaan masyarakat adat di perantauan, perkumpulan
kepemudaan dan kewanitaan, perkumpulan keagamaan dan
lainnya.
4. HUKUM ADAT PERADILAN
Hukum adat peradilan adalah aturan-aturan hukum yang mengatur
tentang bagaimana cara berbuat untuk menyelesaikan suatu perkara
dan atau untuk menetapkan keputusan hukum suatu perkara menurut
hukum adat.
a. Luas lingkup PERADILAN ADAT
Istilah PERADILAN (RECHTSPRAAK) pada dasarnya berarti
pembicaraan tentang hukum dan keadilan yang dilakukan dengan
sistem persidangan (permusyawaratan) untuk menyelesaikan
perkara diluar pengadilan atau dimuka pengadilan.
Peradilan adat dapat dilaksanakan oleh anggota masyarakat secara
perorangan, oleh keluarga atau oleh tetangga, Kepala Kerabat atau
Kepala Adat (Hakim Adat), Kepala Desa (Hakim Desa) atau oleh
pengurus perkumpulan organisasi.
b. Penyelesaian perkara secara damai
Menyelesaikan perkara secara damai sudah merupakan budaya
hukum (adat) bangsa Indonesia yang Tradisional. Termasuk dalam
usaha penyelesaian perkara secara damai ini adalah yang dijamah
Hindia Belanda disebut PERADILAN DESA.
c. Penyelesaian perkara dimuka sidang
Dasar hukum perundang-undangan yang lama tentang pelaksanaan
peradilan adat dimuka pengadilan negara adalah ketentuan pasal
75 RR lama yang dinyatakan:

Bahwa apabila Gubernur Jendral tida memperlakukan


perundang-undangan Golongan Eropa bagi Golongan Bumi Putera
dan Golongan Bumi Putera tidak menyatakan dengan sukarela
untuk tunduk pada Hukum Perdata Eropa maka untuk Golongan
Bumi Putera Hakim harus memberlakukan hukum (perdata) adat
apabila hukum adat itu tidak bertentangan dengan dasar-dasar
keadilan yang umum dipakai. Tetapi jika aturan hukum adat itu
bertentangan dengan dasar-dasar keadilan atau jika terhadap
perkara yang bersangkutan tidak ada aturan hukum adatnya maka
Hakim harus memakai dasar-dasar umum hukumperdata dan hkum
dagang Eropa sebagai pedoman.
d. Pertimbangan dalam pemeriksaan perkara
Fungsi hakim dalam memeriksa dan mempertimbangkan perkara
menurut hukum adat tidak dibatasi undang-undang.
Bagi hakim yang penting adalah memperhatikan apakah hukum
adat itu masih hidup dan dipertahankan masyarakat adat yang
bersangkutan dan apakah hukum adat itu masih patut untuk dipakai
sebagai bahan pertimbangan ataukah hukum adat itu sudah tidak
sesuai lagi dengan perasaan dan kesadaran hukum masyarakat
yang umum.
e. Penetapan keputusan
Setelah perkara diperiksa di Pengadilan Negara dengan
menggunakan Hukum Adat maka Hakim dapat mengambil
keputusan sebagai berikut:
1) Putusan menyamakan
2) Putusan menyesuaikan
3) Putusan menyimpang
4) Putusan yang mengenyampingkan
5) Putusan jalan tengah
6) Putusan mengubah
7) Purusan baru
8) Putusan menolak

5. Perbedaan pokok antara SISTEM HUKUM PIDANA menurut


KUHP dengan SISTEM HUKUM ADAT DELIK
Sebagaimana diuraikan oleh VAN VOLLENHOVEN dalam
bukunya HET ADATRECH VAN INDONESIERES (halaman
145 dst) menyatakan terdapat beberapa perbedaan-perbedaan
pokok antara Sistem Hukum Pidana menurut KUHP dan Sistem
Hukum Adat Delik, yaitu:
a. Suatu pokok dasar hukum pidana adalah bahwa yang dapat
dipidana hanyalah seseorang (manusia) saja.
b. Pokok prinsip yang kedua dari KUHP, bahwa seorang hanya
dapat dihukum apabila perbuatannya dilakukan dengan sengaja
ataupun dengan kelalaian.
c. Sistem KUHP mengenal dan membeda-bedakan masalah
membantu perbuatan delik (medeplichtigheid, membujuk
(uitlokking) dan ikut serta melakukan (mededaderschap)
sebagaimana diatur di dalam pasal 55 dan 56 KUHP.
d. Sistem KUHP menetapkan percobaan sebagai tindak pidana
sebagaimana diatur di dalam ketentuan pasal 53 KUHP.
6. Alasan-alasan yang dapat ,emutup kemungkinan untuk dipidana
dapat meringankan dan dapat memberatkan pidana
Didalam KUHP Titel III (dimulai dari ketentuan pasal 44)
ditetapkan alasan-alasan untuk menutup kemungkinan seseorang
dapat dipidana, alasan-alasan yang memberatkan pidana. Apabila
untuk keperluan-keperluan tersebut orang terpaksa mengambil buahbuahan atau tanaman (mencuri) maka sipencuri itu tidak akan
mendapat reaksi adat dan tidak akan dihukum. Ini berarti bahwa dalam
alam pikiran adat bahwa perbuatan yang dimaksud tidak dianggap
mengganggu perimbangan hukum.
Alasan-alasan untuk memberatkan pidana adalah misalnya seorang
yang berkedudukan dan bermartabat di dalam persekutuan, makin
tinggi kedudukan dan martabat seorang di dalam persekutuan maka
semakin berat sifat delik yang dilakukan terhadapnya. Jadi akan
semakin berat juga hukuman yang akan dijatuhka kepadanya.

7. Kewajiban PETUGAS HUKUM ADAT


Para petugas hukum di dalam masyarakat adat melahirkan di dalam
penetapan-penetapannya apa yang hidup sebagai rasa keadilan di
dalam masyarakat. Dengan penetapan itu rasa keadilan tersebut
dituangkan dalam bentuk yang konkrit.
Menurut TER HAAR
memang ada ikatan batin antara penetapan petugas hukum adat
dan rasa keadilan yang hidup di dalam masyarakat. Hakim
Pengadilan Negeri yang harus mengadili menurut hukum adat
harus sadar akan struktur kerokhanian masyaraka agar supaya
putusan-putusannya benar-benar selaras dengan hubunganhubungan, lembaga-lembaga dan peraturan-peraturan tingkah
laku yang hidup di dalam masyarakat yang bersangkutan.
Kemudian VAN VOLLENHOVEN menegaskan bahwa:
Hakim tidak boleh mengadilimelulu menurut perasaa, ia adalah
terikat pada nilai-nilai yang berlakusecara obyektif di dalam
masyarakat.
Hakim terikat pada sistem hukuman yang telah terbentuk
dan yang berkembang didalam masyarakat. Dengan tiap
keputusannya hakim menyatakan dan memperkuat kehidupan
norma hukum yang tidak tertulis. Hakim juga terikat dalam
keputusannya sendiri, artinya dalamhal-hal yang serupa ia harus
memberikan keputusan yang sama pula. Ini berarti ia
berkewajiban untuk meninjau secara mendalamapakah
penetapan-oenetapan yang diambil pada waktu lampau masih
dapat dan harus ia pertahankan berhubung dengan adanya
perubahan-perubahan di dalam masyarakat dan berhubung
dengan pertumbuhan perasaan-perasaan keadilan yang baru.
Menurut Prof. Dr. Mr. R. Soepomo menegaskan bahwa:
Masyarakat adalah hidup, selalu bergerak. Berhubungan
dengan itu maka rasa keadilan rakyat bergerak pula sehingga
pada suatu waktu hakim tertentu akan memberikan putusan yang
menyimpang dari putusan-putusan yang diambil pada waktu
lampau dalam hal-hal yang serupa sebab kenyataan sosial dalam
masyarakat yang bersangkutan berubah oleh karena situasi baru
di dalam masyarakat menghendaki penetapan yang baru.

Kemudian
Prof.
Dr.
Mr.
CORNELLIS
VAN
VOLLENHOVEN menegaskan bahwa:
Hakim adalah berwenang bahkan berkewajiban untuk
menambah hukum adatberdasarkan atas pertimbangan bahwa
perubahan yang cukup besar di dalam situasi rakyat
mengkhendaki dibentuknya peraturan hukum yang baru.
Di dalam rangka Sistem Hukum Adat Hakim berwenang
malahan berkewajiban jikalau terhadap suatu soal belum ada
peraturan hukum yang positif memberikan putusan yang
mencerminkan rasa keadilan rakyat yang bertumbuh baru, wajib
memberi konkretisasi, wajib menuangkan menjadi konkrit di
dalam keputusannya apa yang menurut keyakinannya sesuai
dengan aliran masyarakat.