Anda di halaman 1dari 35

TINJAUAN PENGARUH PROSEDUR PENGAJUAN

PEMBAYARAN PERJALANAN DINAS TERHADAP


LIKUIDITAS UANG PERSEDIAAN
PADA KEMENTERIAN BUMN

MARTA KURNIAWAN
NIP 19850310 200701 1 002

UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V


TAHUN ANGGARAN 2010

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
KATA PENGANTAR

Dengan segala kerendahan hati, pertama-tama penulis memanjatkan puji

syukur kepada Allah SWT karena atas rahmat dan pertolongan-Nya penulis dapat

menyelesaikan karya tulis ini.

Dalam kesempatan ini pula penulis hendak menyampaikan rasa terima kasih

kepada semua pihak yang telah banyak membantu penulis selama penyusunan

karya tulis ini, terutama kepada :

1. Bapak dan ibu yang telah mendidik dan memberikan kasih sayang yang tulus.

2. Bapak Sri Bagus Guritno dan Ibu Hera Zera selaku atasan penulis, rekan-rekan

di Bagian Keuangan Kementerian BUMN, dan rekan-rekan di Bagian SDM

Kementerian BUMN yang mendorong penulis untuk dapat menyelesaikan karya

tulis ini.

3. Rekan-rekan di Bagian Keuangan maupun bahan-bahan yang diberikan dalam

penulisan karya tulis ini.

4. Pihak-pihak lain yang turut membantu dalam penyelesaian karya tulis ini yang

tidak dapat disebutkan satu per satu.

Akhirnya, penulis menyadari bahwa karena berbagai keterbatasan, maka

dalam tulisan ini masih banyak kekurangan. Namun demikian, penulis berharap

semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Jakarta, 07 Mei 2010

Penulis

ii
SURAT PERNYATAAN TIDAK MELAKUKAN PLAGIARISME

Saya yang bertanda tangan di bawah ini,

Nama : Marta Kurniawan

NIP : 060114762

Unit : Sekretariat Jenderal dipekerjakan pada Kementerian

Negara BUMN

Diklat : UPKP V

Judul Karya Tulis : TINJAUAN PENGARUH PROSEDUR PENGAJUAN

PEMBAYARAN PERJALANAN DINAS TERHADAP

LIKUIDITAS UANG PERSEDIAAN PADA KEMENTERIAN

BUMN

Dengan ini menyatakan bahwa saya tidak melakukan plagiarisme dalam

penyusunan karya tulis. Apabila pernyataan saya ini tidak benar, saya sanggup

dijatuhi sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Jakarta, 07 Mei 2010

Marta Kurniawan

NIP 060114762

iii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ..............................................................................................ii

Surat Pernyataan Tidak Melakukan Plagiarisme ................................................. iii

Bab I Pendahuluan......................................................................................... 1

A. Latar Belakang ...................................................................................... 1

B. Perumusan Masalah ............................................................................... 2

C. Tujuan Penulisan ................................................................................... 2

D. Metode Pengumpulan Data ..................................................................... 2

E. Ruang Lingkup Penelitian ........................................................................ 3

F. Sistematika Penulisan ............................................................................ 3

BAB II Keadaan Yang Diinginkan Dan Keadaan Sekarang .................................... 5

A. Keadaan Yang Diinginkan ....................................................................... 5

1. Sekilas Sistem Uang Persediaan Sesuai Aturan Peraturan Direktur

Jenderal Perbendaharaan Nomor Per-66/Pb/2005 Tentang Mekanisme

Pelaksanaan Pembayaran Atas Beban Anggaran Pendapatan Dan Belanja

Negara .............................................................................................................. 5

2. Prosedur Pelaksanaan Pengajuan Pembayaran Surat Perintah Perjalanan

Dinas (Sppd) .................................................................................................... 8

3. Sistem Pembuatan Spm-Gup Dan Spm-Gu Nihil Pada Kementerian Bumn .

........................................................................................................................ 10

B. Keadaan Saat Ini ..................................................................................12

Bab III Analisis Masalah Dan Pembahasannya ..................................................15

A. Analisis Masalah ...................................................................................15

1. Belum Terdapat Peraturan Yang Baku Atas Prosedur Pengajuan

Pembayaran Perjalanan Dinas Pegawai / Pejabat Kementerian Bumn ..... 15

iv
2. Keandalan Pertanggungjawaban Biaya Perjalanan Dinas Untuk

Kepentingan Internal Kementerian Bumn Kurang Terjamin ...................... 16

B. Pemecahan Masalah ..............................................................................17

1. Penyempurnaan Rancangan Sop-106-0/Si.002/2007 Tentang Pengajuan

Pembayaran Perjalanan Dinas Pegawai/ Pejabat Kementerian Badan

Usaha Milik Negara ........................................................................................ 18

2. Keandalan Pertanggungjawaban Biaya Perjalanan Dinas Untuk

Kepentingan Internal Kementerian Bumn Ditingkatkan ............................. 18

Bab IV Penutup ............................................................................................20

A. Simpulan .............................................................................................20

B. Saran .............................................................................................20

Daftar Pustaka .............................................................................................22

Lampiran I Standar Operasional Prosedur Nomor SOP-106-0/SI.002/2007 tentang

Pengajuan Pembayaran Perjalanan Dinas Pegawai/ Pejabat Kementerian Negara

Badan Usaha Milik Negara .............................................................................23

Riwayat Hidup Penulis ...................................................................................30

v
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kementerian BUMN, sebagaimana instansi pemerintah lainnya, memiliki

tugas pokok dan fungsi yang harus dilaksanakan. Dalam pelaksanaan tugas

pokok dan fungsi tersebut terkadang harus dilakukan diluar kantor atau dengan

perjalanan dinas baik dalam maupun luar negeri. Untuk melakukan perjalanan

dinas, setiap atasan pegawai yang bersangkutan (minimal eselon II) harus

membuat surat tugas perjalanan dinas sebelum pelaksanaan perjalanan dinas

dilakukan.

Bagian keuangan, sebagai fungsi pengelolah pencairan anggaran

Kementerian BUMN, memiliki peranan dalam perjalanan dinas seperti

pembayaran uang muka, pembayaran penyelesaian perjalanan dinas, dll.

Bagian keuangan melakukan pembayaran uang muka perjalanan dinas dari

dana uang persediaan pada bendahara pengeluaran, atau melalui pembayaran

langsung. Pembayaran langsung memiliki pengendalian yang kurang dalam hal

tertib dokumen pendukung untuk kepentingan internal/audit, sedangkan

pembayaran melalui uang persediaan memiliki risiko lainnya yaitu

keterlambatan dokumen pendukung dari pegawai yang melakukan perjalanan

dinas sehingga penggantian uang persediaan menjadi terlambat untuk

mempertahankan likuiditas persediaan.

Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi likuiditas uang persediaan

adalah belum ada rencana bulanan pada unit-unit kerja Kementerian sehingga

1
2

sering terjadi pengeluaran yang tidak tertuga melebih cadangan uang

persediaan yang ada

B. Perumusan Masalah

Dari uraian tersebut diatas, penulis dapat merumuskan masalah sebagai

berikut : “Belum terlaksananya prosedur sistem pengajuan pembayaran

perjalanan dinas secara baik di Kementerian BUMN sehingga mengganggu

likuiditas uang persediaan Kementerian BUMN”

C. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan karya tulis ini adalah untuk memahami prosedur

pengajuan pembayaran perjalanan dinas pada Kementerian BUMN,

mengevaluasi secara prosedural prosedur tersebut terhadap kelangsungan

kegiatan perjalanan dinas Kementerian BUMN, dan memberikan saran-saran

perbaikan yang dipandang perlu dalam upaya peningkatan siklus persediaan

uang persediaan dalam rangka menunjang perjalanan dinas di Kementerian

BUMN.

D. Metode Pengumpulan Data

Metode penelitian yang digunakan oleh penulis dalam penulisan karya

tulis ini adalah melalui:

1. Metode Penelitian Lapangan (Field Research Method) yaitu dengan

melakukan peninjauan pada Kementerian Negara BUMN dan Direktorat

Jenderal Perbendaharaan, Departemen Keuangan untuk mendapatkan data

yang diperlukan yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Metode yang

digunakan ialah observasi langsung serta kegiatan tanya jawab dengan

pihak-pihak yang berkepentingan.


3

2. Metode Penelitian Kepustakaan (Library Research Method) yaitu penelitian

literatur melalui buku, majalah, maupun peraturan-peraturan yang berlaku

untuk mendapatkan landasan teoritis yang mencukupi.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Uang Persediaan dapat digunakan untuk melakukan pembayaran pada

beberapa kegiatan antara lain pengadaan barang selain barang modal, kegiatan

rapat, workshop dan honorarium partisipan, perjalanan dinas dalam dan luar

negeri, serta kompensasi atas PNBP tahun lalu yang belum disetor. Mengingat

Kementerian BUMN hanya memiliki bendahara pengeluaran yang ditunjuk oleh

Penggunaan Anggaran tidak ada bendahara pengeluaran, maka pengguanaan

uang persediaan hanya dipengaruhi oleh pengeluaran anggaran dengan rupiah

murni. Komponen yang mempengaruhi likuiditas uang persediaan cukup

banyak, maka disini pembahasan dibatasi pada kegiatan perjalanan dinas dalam

dan luar negeri sebagai faktor utama yang mempengaruhi kegiatan pengisian

kembali uang persediaan.

F. Sistematika Penulisan

Karya tulis ini terbagi menjadi empat bab dan tiap bab terbagi dalam

subbab-subbab dengan urutan pembahasan sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab ini, penulis akan menguraikan latar belakang penulisan,

merumuskan permasalahan, tujuan penulisan, metode penelitian, ruang lingkup

pembahasan, serta sistematika penulisan.

BAB II KEADAAN YANG DIINGINKAN DAN KEADAAN SEKARANG

Dalam bab ini, penulis akan menguraikan gambaran keadaan yang

diinginkan, serta ketentuan yang berlaku dan gambaran keadaan sekarang.

BAB III ANALISIS DAN PEMECAHAN MASALAH


4

Dalam bab ini, penulis akan melakukan analisis permasalahan dan

pemecahan masalah mengacu pada bab-bab sebelumnya.

BAB IV PENUTUP

Dalam bab ini, penulis akan mengambil kesimpulan berdasarkan hasil

penelaahan yang telah dibahas pada bab-bab sebelumnya, serta akan mencoba

menyusun saran-saran perbaikan yang dipandang perlu.


BAB II

KEADAAN YANG DIINGINKAN DAN KEADAAN SEKARANG

A. Keadaan yang Diinginkan

1. Sekilas Sistem Uang Persediaan sesuai aturan Peraturan Direktur

Jenderal Perbendaharaan Nomor Per-66/PB/2005 Tentang

Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran Atas Beban Anggaran

Pendapatan Dan Belanja Negara

Uang Persediaan yang selanjutnya disebut UP adalah uang muka kerja

dengan jumlah tertentu yang bersifat daur ulang (revolving), diberikan

kepada bendahara pengeluaran hanya untuk membiayai kegiatan

operasional kantor sehari-hari yang tidak dapat dilakukan dengan

pembayaran langsung.

a. Uang Persediaan dan Penggantian Uang Persediaan

Uang Persediaan dapat diberikan untuk pengeluaran-pengeluaran

Belanja Barang pada klasifikasi belanja 5211, 5212, 5221, 5231, 5241,

dan 5811. Diluar ketentuan tersebut, dapat diberikan pengecualian oleh

Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk Daftar Isian Pelaksanaan

Anggaran (DIPA) Pusat dan Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan

setempat untuk DIPA Pusat yang kegiatannya berlokasi di daerah dan

DIPA yang ditetapkan oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan.

Untuk mengelola Uang Persediaan bagi satuan kerja (satker) di

lingkungan Kementerian Negara/Lembaga, sebelum diberlakukannya

ketentuan dan/atau dilakukannya pengangkatan pejabat fungsional

5
6

Bendahara, menteri/pimpinan lembaga atau pejabat yang diberi

kewenangan dapat mengangkat seorang Bendahara Pengeluaran pada

Kementerian Negara/Lembaga atau satker yang dipimpinnya.

Untuk membantu pengelolaan Uang Persediaan pada kantor/satker

di lingkungan Kementerian Negara/Lembaga, kepala satker dapat

menunjuk Pemegang Uang Muka (PUM). Dalam pelaksanaan tugasnya

Pemegang Uang Muka bertanggung jawab kepada Bendahara

Pengeluaran.

Bendahara pengeluaran dapat membagi uang persediaan kepada

beberapa PUM. Apabila diantara PUM telah merealisasikan penggunaan

UP-nya sekurang-kurangnya 75 %, Kuasa Pengguan Anggaran (KPA)/

pejabat yang ditunjuk (misalnya Pejabat Pembuat Komitmen, PPK) dapat

mengajukan Surat Perintah Membayar Ganti Uang Persediaan (SPM-GUP)

bagi PUM berkenaan tanpa menunggu realisasi PUM lain yang belum

mencapai 75 %. PA/Kuasa PA menerbitkan SPM-UP berdasarkan DIPA

atas permintaan Bendahara Pengeluaran yang dibebankan pada MAK

transito.

Penggunaan UP menjadi tanggung jawab Bendahara Pengeluaran.

Bendahara Pengeluaran melakukan pengisian kembali UP setelah UP

dimaksud digunakan (revolving) sepanjang masih tersedia dana dalam

DIPA. Bagi bendahara yang dibantu oleh beberapa PUM, dalam pengajuan

SPM-UP diwajibkan melampirkan daftar rincian yang menyatakan jumlah

uang yang dikelola oleh masing-masing PUM yang ditandatangani oleh

Kuasa PA/ pejabat yang ditunjuk.

Surat Perintah Membayar Uang Persediaan yang selanjutnya

disebut SPM-UP adalah surat perintah membayar yang diterbitkan oleh

Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran untuk pekerjaan yang

akan dilaksanakan dan membebani MAK transito. SPM UP diterbitkan

dengan menggunakan kode kegiatan untuk rupiah murni


7

0000.0000.825111, pinjaman luar negeri 9999.9999.825112, dan PNBP

0000.0000.825113. Sisa UP yang masih ada pada bendahara pada akhir

tahun anggaran harus disetor kembali ke Rekening Kas Negara selambat-

lambatnya tanggal 31 Desember tahun anggaran berkenaan. Setoran sisa

UP dimaksud, oleh KPPN dibukukan sebagai pengembalian UP sesuai MAK

yang ditetapkan.

Dalam rangka pengisian kembali UP, setiap satker diwajibkan

menyampaikan dokumen berupa SPM GUP dengan melampirkan:

a. surat Pernyataan Tanggung Jawab Belanja (SPTB) yang merinci setiap

pengeluaran UP berdasarkan sub kegiatan, yang dilampiri dengan

daftar rincian tanggung jawab belanja.

b. Berkas lampiran.

Pengeluaran UP selain perjalanan dinas:

asli faktur pajak standar atas pengadaan yang dikenai Pajak

Pertambahan Nilai (PPN),

daftar penerimaan honorarium yang telah rampung dan

disahkan oleh bendahara pengeluaran dan pejabat pembuat

komitmen,

fotokopi Surat Setoran Pajak (SSP) yang dilegalisir oleh Kuasa

Pengguna Anggaran atau pejabat yang ditunjuk, untuk

transaksi yang menurut ketentuan harus dipungut PPN dan

pajak penghasilan (PPh),

Pengeluaran UP perjalanan dinas:

Daftar Pengeluaran Riil.

Sedangkan untuk SPM-GUP Nihil, Kementerian BUMN harus

menyampaikan berkas-berkas pendukung sama seperti pada SPM-GUP

ditambah dengan bukti penyetoran kembali sisa TUP yang tidak terpakai

sehingga nilai SPM-GUP ditambah sisa TUP sama dengan jumlah TUP

yang akan dipertanggungjawabkan.


8

b. Tambahan Uang Persediaan dan Pertanggungjawaban TUP

Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya disebut TUP adalah

uang yang diberikan kepada satker untuk kebutuhan yang sangat

mendesak dalam satu bulan melebihi pagu UP yang ditetapkan. Pengajuan

TUP harus dilengkapi dengan bukti saldo rekening bendahara pengeluaran,

daftar rincian pengunaan TUP, serta Surat Pernyataan bahwa kegiatan

yang dibiayai tersebut tidak dapat dilaksanakan/dibayar melalui

penerbitan SPM-LS.

Surat Perintah Membayar Tambahan Uang Persediaan (SPM-TUP)

adalah surat perintah membayar yang diterbitkan oleh Pengguna

Anggaran / Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat yang ditunjuk karena

kebutuhan dananya melebihi pagu uang persediaan dan membebani MAK

transito. Sisa TUP yang belum digunakan harus disetor dengan Surat

Setoran Pengembalian Belanja (SSPB) dan dilampirkan bersama SPM-TUP.

SPM Tambahan UP diterbitkan dengan menggunakan kode kegiatan untuk

rupiah murni 0000.0000.825111, pinjaman luar negeri

9999.9999.825112, dan PNBP 0000.0000.825113

2. Prosedur pelaksanaan pengajuan pembayaran surat perintah

perjalanan dinas (SPPD)

Pelaksanaan pengajuan pembayaran SPPD dilakukan sedemikian

sehingga tidak mengganggu tertib administrasi untuk pelaksanaan

penggantian UP dan pertanggungjawaban TUP, baik untuk kepentingan

KPPN selaku pihak eksternal maupun pihak internal yaitu Bagian Keuangan

Kementerian BUMN. Prosedur tersebut dituangkan dalam keputusan menteri

BUMN sehingga mempunyai daya ikat dan daya laku yang kuat bagi

birokrasi intrnal. Berkas-berkas pertanggungjawaban atas pelaksanaan

perjalanan dinas untuk kepentingan internal Kementerian BUMN yaitu:

a. Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD). SPPD diterbitkan untuk satu


9

pegawai yang berisi informasi a.l. data pegawai yang bersangkutan, hal-

ihwal perjalanan dinas, cap dan pengesahan pada tempat keberangkatan

dan tempat tujuan, dan pengesahan dari pejabat yang memberi tugas

dan kuasa pengguna anggaran/pejabat lain yang ditunjuk;

b. Lampiran SPPD antara lain:

Rincian Biaya Perjalanan Dinas yang berisi perincian pengeluaran

biaya oleh Bendahara, penerimaan uang muka oleh pegawai, dan

pengesahan perhitungan SPPD rampung oleh kuasa pengguna

anggaran/pejabat yang berwenang.

Daftar Pengeluaran Riil, apabila diperlukan, untuk

mempertanggungjawabkan biaya penginapan atau biaya transport

yang tidak dapat diperoleh bukti pengeluarannya, yang

ditandatangani oleh pegawai yang melakukan perjalanan dinas dan

disahkan oleh PPK.

Kuitansi penerimaan uang perjalanan rampung dari Bendahara

Pengeluaran kepada pegawai yang melakukan perjalanan dinas

disahkan oleh PPK.

Lembar pertanggungjawaban SPPD yang ditandatangani oleh

pegawai yang bersangkutan yang digunakan khusus sebagai

pertanggungjawaban biaya akomodasi yaitu biaya perjalanan (tiket,

bukti taksi, dan airport tax untuk perjalanan udara), biaya

penginapan.

Lembar verifikasi terhadap perhitungan biaya perjalanan dinas.

Lembar ini digunakan untuk mengevaluasi administrasi dan

perhitungan biaya yang tertulis pada SPPD dan lampirannya pada

butir 1) s.d. 4) di atas, kemudian disahkan oleh verifikator dan

bendahara pengeluaran.
10

Waktu penyerahan SPPD dari pegawai yang melakukan perjalanan

dinas kepada pejabat yang berwenang untuk mengesahkan, bendahara

pengeluaran, dan kuasa pengguna anggaran / pejabat yang ditunjuk harus

diatur sedemikian rupa sehingga pelaksanaan pertanggungjawaban UP dan

TUP dapat dilakukan secepatnya agar rencana perjalanan dinas berikutnya

tidak terhambat.

3. Sistem Pembuatan SPM-GUP dan SPM-GU Nihil pada Kementerian

BUMN

Kementerian BUMN sebagaimana Kementerian Lembaga / Satker yang

lainnya diwajibkan melakukan mekanisme penggunaan DIPA sebagaimana

yang ditetapkan oleh Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor Per-

66/PB/2005 Tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran Atas Beban

Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara, yang telah dijelaskan secara

sekilas sebelumnya. Kementerian BUMN hanya terdiri dari satu satker dan

memiliki struktur pejabat pengelolah keuangan yang dtetapkan melalui

Keputusan Menteri BUMN sebagai berikut:

a. Pejabat kuasa pengguna anggaran (KPA) dan dibantu oleh 2 (dua) staf

KPA;

b. 3 (tiga) Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan tiap-tiap PPK dibantu oleh

2 (dua) staf PPK;

c. 1 (satu) Pejabat Penguji Tagihan / Penandatangan SPM;

d. 1 (satu) bendahara yakni bendahara pengeluaran dan dibantu oleh 3

(tiga) Bendahara Pengeluaran Pembantu;

Kementerian BUMN, pada awal tahun, mengajukan SPM-DU (Dana Uang

Persediaan) dalam rangka pengisian UP pertama kali dalam tahun anggaran

berjalan, disertai daftar rincian yang menyatakan jumlah uang yang dikelola

oleh masing-masing PUM yang ditandatangani oleh Kuasa PA/ pejabat yang

ditunjuk. Proses tersebut berjalan lancar setiap tahunnya dan tidak terkendala

secara berarti.
11

Setelah UP digunakan sesuai dengan aturan pengeluaran UP, maka

PPK mengajukan Surat Perintah Pembayaran (SPP) dalam rangka pengisian

kembali UP dengan menyampaikan dokumen-dokumen pendukung yaitu:

a. surat Pernyataan Tanggung Jawab Belanja (SPTB) yang merinci setiap

pengeluaran UP berdasarkan sub kegiatan, yang dilampiri dengan daftar

rincian tanggung jawab belanja.

b. Berkas lampiran:

Pengeluaran UP selain perjalanan dinas

asli faktur pajak standar atas pengadaan yang dikenai Pajak

Pertambahan Nilai (PPN),

daftar penerimaan honorarium yang telah rampung dan disahkan

oleh bendahara pengeluaran dan pejabat pembuat komitmen,

fotokopi Surat Setoran Pajak (SSP) yang dilegalisir oleh Kuasa

Pengguna Anggaran atau pejabat yang ditunjuk, untuk transaksi

yang menurut ketentuan harus dipungut PPN dan pajak

penghasilan (PPh),

semua berkas terkait yang mendukung keyakinan bahwa

pengeluaran UP telah dilakukan dengan sebenar-benarnya dan

diterima dengan baik oleh pihak yang berhak.

Pengeluaran UP perjalanan dinas. Berkas yang dilampikan adalah

semua berkas perjalanan dinas sebagaimana yang telah dikemukakan

sebelumnya yaitu:

Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD). Lampiran SPPD antara

lain:

Rincian Biaya Perjalanan Dinas.

Daftar Pengeluaran Riil.

Kuitansi penerimaan uang perjalanan rampung dari Bendahara

Pengeluaran kepada pegawai yang melakukan perjalanan dinas

disahkan oleh PPK.


12

Lembar pertanggungjawaban SPPD atas biaya akomodasi.

Lembar verifikasi terhadap perhitungan biaya perjalanan dinas.

Sedangkan untuk SPM-GUP Nihil, Kementerian BUMN harus

menyampaikan berkas-berkas pendukung sama seperti pada SPM-GUP

ditambah dengan bukti penyetoran kembali sisa TUP yang tidak terpakai

sehingga nilai SPM-GUP ditambah sisa TUP sama dengan jumlah TUP yang

akan dipertanggungjawabkan.

B. Keadaan Saat ini

Pengajuan SPPD saat ini belum diatur melalui peraturan keputusan

Menteri BUMN sehingga pelaksanaannya berdasarkan seberapa efektif tingkat

koordinasi antara pihak-pihak terkait, yakni antara pemberi tugas, pelaksana

tugas, pelaksana penerbit SPPD, pejabat yang mengesahkan dokumen SPPD

dan lampirannya, serta bendahara pengeluaran. Kementerian BUMN telah

membuat rancangan SOP-106-0/SI.002/2007 tentang Pengajuan Pembayaran

Perjalanan Dinas Pegawai/ Pejabat Kementerian Negara Badan Usaha Milik

Negara. Namun, SOP tersebut masih dalam penyelesaian sehingga belum

mengakomodasi pemecahan permasalahan di atas sehingga perlu

disempurnakan kembali.

Dokumen-dokumen SPPD yang disampaikan dalam rangka pelaksanaan

tertib administrasi pertanggungjawaban belanja perjalanan dinas yaitu:

a. Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD). SPPD diterbitkan untuk satu

pegawai yang berisi informasi a.l. data pegawai yang bersangkutan, hal-

ihwal perjalanan dinas, cap dan pengesahan pada tempat keberangkatan

dan tempat tujuan, dan pengesahan dari pejabat yang memberi tugas dan

kuasa pengguna anggaran/pejabat lain yang ditunjuk;

b. Lampiran SPPD antara lain:

Rincian Biaya Perjalanan Dinas yang berisi perincian pengeluaran

biaya oleh Bendahara, penerimaan uang muka oleh pegawai, dan


13

pengesahan perhitungan SPPD rampung oleh kuasa pengguna

anggaran/pejabat yang berwenang.

Daftar Pengeluaran Riil, apabila diperlukan, untuk

mempertanggungjawabkan biaya penginapan atau biaya transport

yang tidak dapat diperoleh bukti pengeluarannya, yang ditandatangani

oleh pegawai yang melakukan perjalanan dinas dan disahkan oleh PPK.

Kuitansi penerimaan uang perjalanan rampung dari Bendahara

Pengeluaran kepada pegawai yang melakukan perjalanan dinas

disahkan oleh PPK.

Lembar pertanggungjawaban SPPD yang ditandatangani oleh pegawai

yang bersangkutan yang digunakan khusus sebagai

pertanggungjawaban biaya akomodasi yaitu biaya perjalanan (tiket,

bukti taksi, dan airport tax untuk perjalanan udara), biaya

penginapan.

Lembar verifikasi terhadap perhitungan biaya perjalanan dinas.

Lembar ini digunakan untuk mengevaluasi administrasi dan

perhitungan biaya yang tertulis pada SPPD dan lampirannya pada butir

1) s.d. 4) di atas, kemudian disahkan oleh verifikator dan bendahara

pengeluaran.

Waktu penyerahan SPPD dari pegawai yang melakukan perjalanan

dinas kepada pejabat yang berwenang untuk mengesahkan, bendahara

pengeluaran, dan kuasa pengguna anggaran / pejabat yang ditunjuk harus

diatur sedemikian rupa sehingga pelaksanaan pertanggungjawaban UP dan

TUP memakan waktu sangat lama sehingga dokumen-dokumen lampiran

SPPD yaitu Rincian Biaya Perjalanan Dinas , Daftar Pengeluaran Riil, Kuitansi

penerimaan uang perjalanan rampung, Lembar pertanggungjawaban SPPD

tidak dapat diisi sesuai dengan yang sebenarnya. Oleh karena itu, lembar

verifikasi perhitungan biaya perjalanan dinas tidak dapat diisi dikarenakan


14

data verifikasi tidak disahkan dan tidak didukung oleh bukti yang memadai

seperti tiket perjalanan, tagihan biaya penginapan dan penerimaan uang

perjalanan dinas (uang harian dan uang representasi).


BAB III

ANALISIS MASALAH DAN PEMBAHASANNYA

A. Analisis Masalah

Dari uraian yang disampaikan pada Bab II Keadaan yang Diinginkan dan

Keadaan Sekarang, dapat diketahui terdapat beberapa perbedaan yang

mengakibatkan perputaran uang persediaan menjadi kurang lancar karena

variabel prosedur pengajuan perjalanan dinas yang kurang terlaksana dengan

baik. Perbedaan tersebut antara lain:

1. Belum terdapat peraturan yang baku atas prosedur pengajuan

pembayaran perjalanan dinas pegawai / pejabat Kementerian

BUMN

Kementerian BUMN telah membuat rancangan SOP-106-

0/SI.002/2007 tentang Pengajuan Pembayaran Perjalanan Dinas Pegawai/

Pejabat Kementerian Badan Usaha Milik Negara dalam rangka reformasi

birokrasi oleh Tim Penyusunan SOP Kementerian BUMN (lampiran I). SOP

tersebut masih dalam penyelesaian sehingga belum mengakomodasi

pemecahan permasalahan di atas sehingga perlu disempurnakan kembali.

Beberapa kekurangan SOP yang diamati penulis antara lain:

15
16

a. Belum terdapat fungsi pengendalian atas surat tugas yang ganda atau

SPPD yang terikat pada bagian/fungsi tertentu sebagai pembuat

keputusan untuk membatalkan salah satu dari perintah perjalanan yang

tumpang tindih hari pelaksanaannya sehingga kesalahan dalam

pertanggungjawaban SPPD dapat terjadi. Hal ini dikarenakan, meskipun

secara perhitungan total jumlah biaya perjalanan yang dikeluarkan dan

pertanggungjawaban SPM-GUP sama, akan tetapi secara administrasi

tidak diperbolehkan seorang pegawai melakukan perjalanan yang sama

dalam hari yang sama sehingga dapat menjadi Temuan dalam audit

oleh BPK.

b. Belum terdapat target waktu dalam pelaksanaan prosedur pengajuan

pembayaran SPPD sehingga keterlambatan penyampaian dokumen tidak

dikenakan sanksi/hukuman yang membuat pelaksanaan birokrasi

pengajuan pembayaran SPPD membaik.

2. Keandalan pertanggungjawaban biaya perjalanan dinas untuk

kepentingan internal Kementerian BUMN kurang terjamin

Keandalan pertanggungjawaban biaya perjalanan dinas dipertanyakan

ketika bendahara pengeluaran melakukan pengajuan GUP dalam rangka

pelaksanaan rencana perjalanan dinas pada bulan berikutnya. Hal ini

dimungkinkan karena kebutuhan administrasi pada KPPN guna penerbitan

SP2D penggantian uang persediaan berbeda dengan kebutuhan administrasi

dalam rangka kepentingan internal Kementerian BUMN.

Pada Bab II Keadaan yang Diinginkan dan Keadaan Sekarang, terlihat

perbedaan kebutuhan administrasi menurut peraturan Menteri Keuangan

dalam rangka penerbitan SP2D SPM GU/GU Nihil dan dalam rangka

penerbitan SPM GU/GU Nihil pada internal Kementerian BUMN, perbedaan

tersebut a.l. pada dokumen:

a. SPP
17

b. Berkas lampiran:

Pengeluaran UP selain perjalanan dinas

semua berkas terkait yang mendukung keyakinan bahwa

pengeluaran UP telah dilakukan dengan sebenar-benarnya dan

diterima dengan baik oleh pihak yang berhak.

Pengeluaran UP perjalanan dinas:

Daftar Pengeluaran Riil.

Kuitansi penerimaan uang perjalanan rampung dari Bendahara

Pengeluaran kepada pegawai yang melakukan perjalanan dinas

disahkan oleh PPK.

Lembar pertanggungjawaban SPPD atas biaya akomodasi.

Lembar verifikasi terhadap perhitungan biaya perjalanan dinas.

Khusus untuk pengeluaran UP perjalanan dinas, berkas yang paling

sulit dilengkapi adalah pada berkas lampiran yaitu pada Kuitansi penerimaan

uang perjalanan rampung dari Bendahara Pengeluaran kepada pegawai yang

melakukan perjalanan dinas disahkan oleh PPK, dan Lembar

pertanggungjawaban SPPD atas biaya akomodasi dikarenakan terkadang

dokumen tersebut belum ditandatangani oleh pegawai yang melakukan

perjalanan dinas, atau belum semuanya kembali dan terkumpul sehingga

Daftar rincian perjalanan dinas yang dilampirkan pada SPM GUP yang dikirim

ke KPPN kurang dapat diandalkan. Selain itu, verifikator yang mengevaluasi

pada lembar verifikasi atas rincian SPPD tidak dapat dilakukan dikarenakan

data pada lembar SPPD belum lengkap atau belum disahkan.

B. Pemecahan Masalah

Berdasarkan analisis masalah di atas, maka penulis melihat terdapat

pokok permasalahan tunggal yang apabila dilaksanakan dapat membuat

pelaksanaan pengajuan pembayaran perjalanan dinas dapat berjalan lancar

sehingga perputaran uang persediaan menjadi lebih cepat dan kegiatan


18

perjalanan dinas yang direncanakan pada bulan berikutnya dapat berjalan

sesuai rencana. Solusi yang dimaksud adalah:

1. Penyempurnaan rancangan SOP-106-0/SI.002/2007 tentang

Pengajuan Pembayaran Perjalanan Dinas Pegawai/ Pejabat

Kementerian Badan Usaha Milik Negara

Berdasarkan analisis kekurangan SOP yang diamati penulis antara

lain, maka penulis merekomendasikan agar dilakukan:

a. Penugasan fungsi pengendalian atas surat tugas yang ganda atau SPPD

yang terikat pada bagian/fungsi tertentu sebagai pembuat keputusan

untuk membatalkan salah satu dari perintah perjalanan yang tumpang

tindih hari pelaksanaannya sehingga kesalahan dalam

pertanggungjawaban SPPD tidak terjadi dan tidak menjadi temuan

dalam audit oleh BPK.

b. Dibuat target waktu dalam pelaksanaan prosedur pengajuan

pembayaran SPPD sehingga keterlambatan penyampaian dokumen

dapat dicegah dan keterlambatan dapat dikenakan sanksi yang tegas

dan efektif dalam perbaikan birokrasi pengajuan pembayaran dinas.

2. Keandalan pertanggungjawaban biaya perjalanan dinas untuk

kepentingan internal Kementerian BUMN ditingkatkan

Meningkatkan keandalan pertanggungjawaban biaya perjalanan

dinas dapat dilakukan dengan menjaga konsistensi atas pengawasan

penerbitan SPP dan SPM-GUP / GU Nihil. Hal ini dilakukan dengan cara

menolak pembayaran pertanggungjawaban biaya perjalanan dinas ketika

ditemukan bahwa kelengkapan administrasi tidak memadai dan tidak dapat

menjamin bahwa UP dikeluarkan dengan sebenar-benarnya dan diterima

oleh orang yang berhak menerimanya. Namun, dampak dari penerapan

kebijakan ini adalah rencana perjalanan dinas pada bulan berikutnya dapat
19

terhambat dikarenakan waktu jatuh tempo pertanggungjawaban UP sesuai

rencana Kementerian BUMN menjadi tertunda.

Berdasarkan alternatif solusi di atas, penulis merekomendasikan agar

solusi pertama yakni perbaikan rancangan atas SOP-106-0/SI.002/2007

tentang Pengajuan Pembayaran Perjalanan Dinas Pegawai/ Pejabat

Kementerian Badan Usaha Milik Negara dilengkapi dengan SOP lainnya yang

berkaitan yang mengatur tentang konsekuensi atas keterlambatan

pernyampaian berkas pertanggungjawaban perjalanan dinas dimana pejabat

penandatangan SPM berhak untuk menolak apabila berkas yang disampaikan

belum lengkap atau belum disahkan seluruhnya oleh pejabat yang berwenang.

Solusi ini memberikan payung hukum bagi pejabat penandatangan SPM untuk

menjaga keandalan pertanggungjawaban pembayaran UP untuk perjalanan

dinas dan menjaga perputaran likuiditas UP agar lebih cepat dikarenakan

terdapat sisi penegakan disiplin atas ketidakpatuhan pada standar yang

berlaku.
BAB II

PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan analisis masalah pada Bab III dan pemahaman keadaaan

pada Bab II diketahui bahwa prosedur pengajuan pertanggungjawaban

pembayaran perjalanan dinas pada Kementerian BUMN kurang baik atau belum

optimal. Hal ini disebabkan belum adanya kesadaran pegawai dalam

melaksanakan birokrasi dengan efektif dan efesien serta belum adanya payung

hukum yang menetapkan prosedur pengajuan pertanggungjawaban

pembayaran perjalanan dinas yang dapat dijadikan sebagai sistem reward and

punishment dalam birokrasi tersebut.

B. Saran

Atas dasar pemecahan masalah pada Bab III maka penulis

merekomendasikan agar dilakukan perbaikan rancangan atas SOP-106-

0/SI.002/2007 tentang Pengajuan Pembayaran Perjalanan Dinas Pegawai/

Pejabat Kementerian Badan Usaha Milik Negara. SOP tersebut juga dilengkapi

dengan SOP lainnya yang berkaitan yang mengatur tentang konsekuensi atas

keterlambatan pernyampaian berkas pertanggungjawaban perjalanan dinas

dimana pejabat penandatangan SPM berhak untuk menolak apabila berkas

yang disampaikan belum lengkap atau belum disahkan seluruhnya oleh pejabat

yang berwenang. Solusi ini memberikan payung hukum bagi pejabat

penandatangan SPM untuk menjaga keandalan pertanggungjawaban

pembayaran UP untuk perjalanan dinas dan menjaga perputaran likuiditas UP

20
21

agar lebih cepat dikarenakan terdapat sisi penegakan disiplin atas

ketidakpatuhan pada standar yang berlaku.


22

DAFTAR PUSTAKA

Keputusan Menteri Keuangan Nomor 7/KMK.02/2003 tentang Perjalanan

Dinas Dalam Negeri Bagi Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil, dan Pegawai Tidak

Tetap.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 45/PMK.05/2007 Tentang Perjalanan

Dinas Jabatan Dalam Negeri Bagi Pejabat Negara, Pegawai Negeri, Dan Pegawai

Tidak Tetap.

Kementerian Negara BUMN, Standar Operasional Prosedur Nomo SOP-106-

0/SI.002/2007 tentang Pengajuan Pembayaran Perjalanan Dinas Pegawai/ Pejabat

Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62/PMK.05/2007 Tentang Perubahan

Pertama atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 45/PMK.05/2007 Perjalanan

Dinas Jabatan Dalam Negeri Bagi Pejabat Negara, Pegawai Negeri, Dan Pegawai

Tidak Tetap.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 07/PMK.05/2008 Tentang Perubahan

Kedua atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 45/PMK.05/2007 Perjalanan Dinas

Jabatan Dalam Negeri Bagi Pejabat Negara, Pegawai Negeri, Dan Pegawai Tidak

Tetap.

Peraturan Direktorat Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-21/PB/2008

Tentang Petunjuk Pelaksanaan Perjalanan Dinas Jabatan Dalam Negeri Bagi Pejabat

Negara, Pegawai Negeri, Dan Pegawai Tidak Tetap.

Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor Per-66/PB/2005

Tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran Atas Beban Anggaran Pendapatan

Dan Belanja Negara

22
Lampiran I

Standard Operating Procedure


Nomor : SOP-106-0/SI.002/2007
Tanggal :

KEMENTERIAN NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA

Subyek : PENGAJUAN PEMBAYARAN PERJALANAN


DINAS PEGAWAI/ PEJABAT KEMENTERIAN
NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA.

Organisasi/Fungsi Yang Terlibat :  Unit Kerja.


 Biro Perencanaan dan SDM.
 Bagian SDM.
 Bendahara Pengeluaran.
 Bagian Keuangan.
 Kuasa Pengguna Anggaran/ Pejabat Pembuat
Komitmen
 Bagian Perlengkapan Dan Rumah Tangga.

Referensi :  Salinan Peraturan Menteri Negara Badan Usaha


Milik Negara Nomor : PER-01/MBU/2005 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara
Badan Usaha Milik Negara.
 Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor
PER-66/PB/2005, tentang Mekanisme Pelaksanaan
Pembayaran atas Beban Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara.

A. Maksud dan Tujuan


Prosedur Pengajuan Pembayaran Perjalanan Dinas Pegawai/ Pejabat Kementerian Negara
Badan Usaha Milik Negara ini dimaksudkan untuk mengatur tata cara, wewenang dan
tanggung jawab setiap Organisasi/ Fungsi terkait pada kegiatan pengajuan pembayaran belanja
perjalanan dinas untuk pegawai/ pejabat, agar dalam pelaksanaannya dapat berjalan dengan
lancer dan tertib, serta berkesinambungan sesuai dengan aturan dan sasaran Organisasi.

23
Lampiran I

Standard Operating Procedure


Nomor : SOP-106-0/SI.002/2007
Tanggal :

KEMENTERIAN NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA

B. Ruang Lingkup
Ruang lingkup prosedur ini meliputi pembuatan Surat Tugas Pegawai/ Pejabat, pembuatan
Surat Perintah Perjalanan Dinas Pegawai/ Pejabat, pemeriksaan dan pengesahan surat tugas dan
surat perintah perjalanan dinas, pemeriksaan absensi/ penugasan pegawai/ pejabat pejalan
dinas, pembayaran dengan menggunakan prosedur Uang Muka Kerja (UMK), pembayaran
dengan menggunakan prosedur Uang Persediaan (UP), dan pengajuan pembayaran dengan
menggunakan prosedur Pembayaran Langsung (SPM LS). Prosedur ini digunakan untuk
Kementerian BUMN.

C. Definisi
1. APBN, adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan
Perwakilan Rakyat, yang masa berlakuknya dari tanggal 1 Jnauari sampai dengan 31
Desember tahun berkenaan.
2. DIPA adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh Menteri/ Pimpinan
Lembaga atau Satuan Kerja(Satker) serta disahkan oleh Direktur Jenderal Pebendaharaan
atas nama Menteri Keuangan dan berfungsi sebagai dasar untuk melakukan tindakan yang
engakibatkan pengeluaran Negara dan pencairan dana atas beban APBN serta dokumen
pendukung kegiatan akuntansi Pemerintah.
3. Pagu Definitif adalah dokumen berisi rincian batasan anggaran/ program bagi masing2
Kementerian Negara/ Lembaga yang ditetapkan dalam Surat Edaran Menteri Keuangan,
dan menjadi acuan setiap Kementerian Negara/ Lembaga dalam merancang anggaran
tahunan.
4. Uang Persediaan (UP) adalah uang muka kerja dengan jumlah tertentu yang bersifat daur
ulang (Revolving) diberikan kepada Bendahara Pengeluaran hanya untuk membiayai
kegiatan operasional kantor sehari-hari yang tidak dapat dilakukan dengan pembayaran
langsung.
5. SPP adalah suatu dokumen yang dibuat/ diterbitkan oleh pejabat yang bertanggunag jawab
atas pelaksanaan kegiatan dan disampaikan kepada Pengguna Anggaran/ Kuasa Pengguna
Anggaran atau pejabat lain yang ditunjuk selaku pemberi kerja untuk selanjutkanya
diteruskan kepada pejabat penerbit SPM berkenaan..

24
Lampiran I

Standard Operating Procedure


Nomor : SOP-106-0/SI.002/2007
Tanggal :

KEMENTERIAN NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA

6. SPM, adalah dokumen yang diterbitkan oleh Pengguna Anggaran/ Kuasa Pengguna
Anggaran atau pejabat yang ditunjuk untuk mencairkan dana yang bersumber dari DIPA
atau dokumen lain yang dipersamakan.
7. SPM LS adalah surat perintah membayar langsung kepada pihak ketiga yang diterbitkan
oleh Pengguna Anggaran/ Kuasa Pengguna Anggaran atas dasar perjanjian kontrak kerja
atau surat perintah kerja lainnya.
8. SPPD adalah Surat Perintah Perjalanan Dinas.
.
D. Gambaran Umum dan Ketentuan.
Pembayaran Perjalanan Dinas Pegawai/ Pejabat apabila nilai uang yang harus dibayarkan <
sama dengan Rp 10.000.000,- dapat dilakukan pembayaran langsung oleh Bendahara
Pengeluaran dengan menggunakan Uang Muka Kerja, atau dengan menggunakan Uang
Persediaan. Apabila nilai uang perjalanan dinas yang harus dibayarkan lebih besar dari Rp
10.000.000,- maka pegawai/ pejabat yang akan melaksanakan perjalanan dinas diberikan
sebagian dana sesuai dengan jumlah minimum biaya perjalanan dinas dengan menggunakan
Uang Muka Kerja, dan pengajuan pembayaran dilanjutkan dengan prosedur Pembayaran
Langsung (SPM LS).
Pengajuan Pembayaran Belanja Perjalanan Dinas dilengkapi dengan :
1. Daftar Nominatif pegawai/ pejabat yang akan melakukan perjalanan dinas.
2. Surat Tugas.
3. Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD).
Daftar Nominatif pegawai/ pejabat yang akan melakukan perjalanan dinas berisi antara lain
1. Data pegawai/ pejabat : nama, pangkat, golongan.
2. Tujuan, tanggal keberangkatan, lama perjalanan dinas, dan biaya yang diperlukan untuk
masing2 pegawai/ pejabat.

E. Form Yang Dipergunakan

25
Lampiran I

Standard Operating Procedure


Nomor : SOP-106-0/SI.002/2007
Tanggal :

KEMENTERIAN NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA

F. Prosedur (Dalam Bentuk Diagram Alir)

26
Lampiran I

Standard Operating Procedure


Nomor : SOP-106-0/SI.002/2007
Tanggal :

KEMENTERIAN NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA

27
Lampiran I

Standard Operating Procedure


Nomor : SOP-106-0/SI.002/2007
Tanggal :

KEMENTERIAN NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA

G. Tanggung Jawab.
1. Unit Kerja.
a. Membuat Surat Tugas bagi pegawai/ pejabat yang akan melakukan perjalanan dinas.
b. Menghitung biaya perjalanan dinas yang diperlukan/ pegawai/ pejabat.
c. Membuat daftar nominative pegawai/ pejabat yang akan melakukan perjalanan dinas.
d. Mengesahkan Surat Tugas.
e. Mengajukan penugasan ke Bagian Pengadaan dan Rumah Tangga.

2. Biro Perencanaan dan SDM.


a. Memeriksa pengajuan pembayaran biaya perjalanan dinas pegawai/ pejabat.
b. Memeriksa ketersediaan anggaran dalam DIPA.
c. Memeriksa alokasi anggaran yang dapat digunakan.
d. Membuat disposisi pembayaran ke Bendahara Pengeluaran.
e. Membuat disposisi pemeriksaan absensi ke Bagian Sumber Daya Manusia.

3. Bagian SDM.
a. Memeriksa Surat Tugas dan Surat Perintah Perjalanan Dinas Pegawai/ Pejabat yang
akan melakukan perjalanan dinas..
b. Memeriksa jadual penugasan lain bagi pegawai/ pejabat yang akan melakukan
perjalanan dinas.
c. Memeriksa absensi pegawai/ pejabat yang akan melakukan perjalanan dinas .

4. Bagian Pengadaan dan Rumah Tangga.


Membuat Surat Perintah Perjalanan Dinas bagi Pegawai/ Pejabat yang akan melakukan
perjalanan Dinas sesuai surat tugas yang dikeluarkan Unitt Kerja masing2.

5. Bendahara Pengeluaran.
a. Memeriksa kelengkapan data SPPD pegawai/ pejabat.
b. Memeriksa jumlah nilai uang yang harus dibayarkan bagi perjalanan dinas setap
pegawai/ pejabat.

28
Lampiran I

Standard Operating Procedure


Nomor : SOP-106-0/SI.002/2007
Tanggal :

KEMENTERIAN NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA

c. Membayarkan langsung dengan Uang Persediaan apabila baiaya perjalanan dinas


dibawah Rp 10.000.000,- per-pegawai/ pejabat.
d. Membayarkan biaya perjalanan dinas minimum dengan Uang Muka Kerja (bukti kas
sementara) apabila biaya perjalanan dinas lebih besar dari Rp 10.000.000,-
e. Mengajukan pembayaran belanja perjalanan dinas pegawai/ pejabat dengan SPM LS
(pembayaran langsung).

6. Kuasa Pengguna Anggaran/ Pejabat Pembuat Komitmen.


a. Memeriksa Surat Tugas pegawai/ pejabat yang akan melakukan perjalanan dinas.
b. Memeriksa Surat Perintah Perjalanan Dinas pegawai/ pejabat yang akan melakukan
perjalanan dinas.
c. Memeriksa alokasi anggaran yang akan digunakan dalam DIPA.
d. Memeriksa ketersediaan anggaran dalam DIPA.
e. Menandatangani/ mengesahkan Daftar Nominatif pegawai/ pejabat yang akan
melakukan perjalanan dinas.

7. Bagian Keuangan.
a. Memeriksa daftar nominative pegawai/ pejabat yang akan melakukan perjalanan
dinas.
b. Memeriksa hasil perhitungan biaya perjalanan dinas setiap pegawai/ pejabat yang
akan melakukan perjalanan dinas.
c. Menyetujui hasil perhitungan perjalanan dinas pegawai/ pejabat yang akan
melakukan perjalanan dinas.

H. Lampiran – lampiran :
1. Surat Tugas Pegawai/ Pejabat yang melakukan perjalanan dinas.
2. Surat Perintah Perjalanan Dinas Pegawai/ Pejabat yang melakukan perjalanan dinas.
3. Daftar Nominatif Pegawai/ Pejabat yang melakukan perjalanan dinas.

29
30

RIWAYAT HIDUP PENULIS

Nama : Marta Kurniawan

NIP : 19850310 200701 1 002 / 060114762

Tempat/tanggal lahir : Palembang / 10 Maret 1985

Agama : Islam

Unit Organisasi/Kerja : Sekretariat Jenderal Departemen Keuangan dipekerjakan

pada Kementerian BUMN

Riwayat Pendidikan :

a. Pendidikan formal:

1. SD Negeri 63 Palembang lulus tahun 1994 (berijazah)

2. SMP Negeri 09 Palembang lulus tahun 2000 (berijazah)

3. SMU Negeri 17 Palembang lulus tahun 2003 (berijazah)

4. Diploma III Akuntansi STAN lulus tahun 2006 (berijazah)

5. S1 Akuntansi Universitas Indonesia lulus tahun 2009 (berijazah)

b. Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) kedinasan :

1. Diklat Pra Jabatan Golongan II tahun 2007 (STTP/Sertifikat)

c. Pengalaman Kerja :

1. Pelaksana pada Subbag Administrasi SDM BUMN, Bagian SDM, Biro

Perencanaan dan SDM, Sekretariat Kementerian Negara BUMN November

2006 s.d. Oktober 2009

2. Pelaksana pada Subbag Verifikasi dan Akuntansi, Bagian Keuangan, Biro

Perencanaan dan SDM, Sekretariat Kementerian Negara BUMN tanggal

Oktober 2009 s.d. Sekarang