P. 1
Activity Based Costing

Activity Based Costing

|Views: 2,970|Likes:
Dipublikasikan oleh carnox

More info:

Published by: carnox on Sep 18, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/14/2013

pdf

text

original

Sections

  • 2.8 Cost Driver
  • 2.9 Keunggulan Metode ABC
  • 2.10 Kelemahan Sistem akuntansi Biaya Tradisional
  • 3.1.1. Sejarah berdirinya RSUD BATANG
  • 3.1.2.1 Visi
  • 3.1.2.2 Misi
  • 3.1.2.3 Motto
  • 3.1.2.4 Tujuan
  • 3.1.2.5 Filosofi
  • 3.1.2.6 Tugas RSU
  • 3.1.2.7 Fungsi RSU
  • 3.1.2.8 Nilai dasar
  • 3.1.3 Pemegang jabatan
  • 3.1.4 Fasilitas Pelayanan
  • 3.1.4.1 Rawat Jalan
  • 3.1.4.2 Rawat Inap
  • JUMLAH RUANG RAWAT INAP DAN KAPASITAS TEMPAT TIDUR
  • 3.1.5 Penunjang Pelayanan
  • 3.1.5.1 Penunjang Medik
  • 3.1.5.2 Penunjang Non Medik
  • 3.1.6 Kerjasama Dengan Institusi Pendidikan
  • 3.1.7 Tenaga Pengelola
  • 3.1.8 Sarana
  • 3.1.9 Struktur Organisasi
  • 3.1.10 Kelas Jasa dan Tarif RSU
  • 3.1.10.1 Kelas Jasa
  • KLASIFIKASI BIAYA KE DALAM BERBAGAI AKTIVITAS
  • PENGELOMPOKAN BIAYA RAWAT INAP DAN COST DRIVER
  • TARIF JASA RAWAT INAP KELAS VIP
  • TARIF JASA RAWAT INAP KELAS UTAMA I
  • TARIF JASA RAWAT INAP KELAS UTAMA II
  • TARIF JASA RAWAT INAP KELAS I
  • TARIF JASA RAWAT IANAP KELAS II
  • TARIF JASA RAWAT INAP KELAS III
  • DAFTAR PUSTAKA

PENERAPAN METODE ACTIVITY-BASED COSTING SYSTEM DALAM

MENENTUKAN BESARNYA TARIF JASA RAWAT INAP

(STUDI PADA RSUD KABUPATEN BATANG)

SKRIPSI

Oleh :

Nama

: Fieda Femala

No Mahasiswa : 00312268

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

YOGYAKARTA

2007

PENERAPAN METODE ACTIVITY-BASED COSTING SYSTEM DALAM

MENENTUKAN BESARNYA TARIF JASA RAWAT INAP

(STUDI PADA RSUD KABUPATEN BATANG)

SKRIPSI

disusun dan diajukan untuk memenuhi sebagai salah satu syarat untuk

mencapai derajat Sarjana Strata-1 jurusan Akuntansi

pada Fakultas Ekonomi UII

Oleh :

Nama

: Fieda Femala

No Mahasiswa : 00312268

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

YOGYAKARTA

2007

i

PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang

pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi,

dan sepanjang sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang

pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu

dalam naskah ini dan disebutkan dalam referensi. Dan apabila dikemudian hari

terbukti bahwa pernyataan ini tidak benar maka saya sanggup menerima

hukuman/sangsi apapun sesuai peraturan yang berlaku.”

Yogyakarta, 21-09-2007

Penyusun,

(FIEDA FEMALA)

ii

PENERAPAN METODE ACTIVITY-BASED COSTING SYSTEM DALAM

MENENTUKAN BESARNYA TARIF JASA RAWAT INAP

(STUDI PADA RSUD KABUPATEN BATANG)

Hasil Penelitian

Diajukan oleh :

Nama

: Fieda Femala

No Mahasiswa : 00312268

Jurusan

: Akuntansi

Telah disetujui oleh Dosen Pembimbing

Pada tanggal

Dosen Pembimbing

(Drs Kesit Bambang Prakosa, MSi)

iii

BERITA ACARA UJIAN SKRIPSI

SKRIPSI BERJUDUL

Penerapan Metode Activity-Based Costing System Dalam
Menentukan Besarnya Tarif Jasa Rawat Inap
(Studi Pada RSUD Kabupaten Batang)

Disusun Oleh: FIEDA FEMALA
Nomor Mahasiswa: 00312268

Telah dipertahankan di depan Tim Penguji dan dinyatakan LULUS

Pada tanggal : 7 September 2007

Pembimbing Skripsi/Penguji : Drs. Kesit Bambang Prakosa, M.Si ………….

Penguji : Drs. Johan Arifin, M.Si

………….

Mengetahui

Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Islam Indonesia

Drs. Asmai Ishak, M.Bus, Ph.D

iv

MOTTO

“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum (golongan) kecuali kaum (golongan)

itu sendiri yang mengubahnya”

(Qs. Ar-Ra’du : 11)

“ Katakanlah : Setiap kamu berkarya menurut bakat masing-masing, hanya

Allah Tuhanmu yang paling mengetahui siapa yang benar-benar mendapat

Petunjuk di jalan yang ditempuhnya.”

(Qs. Al-Israa : 84)

“Wahai orang yang beriman, jika kamu menolong (melaksanakan semua perintah) Allah, maka Ia

akan menolong kamu dan memantapkan langkah-langkahmu.”

(Qs. Muhammad : 7)

Halaman Persembahan

v

¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤

Skripsi ini ku persembahkan :

¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤

Mama tercinta Tati Sugiharti

Papaku Achmad Sobirin

Kakakku Mia Marisa

Adikku Rengga Dan Adya

Yayangku Popied feriyanto

Keponakanku Asty Amanda

KATA PENGANTAR

vi

Assalamualaikum Wr.Wb

Alhamdulillahirrabilallamin, penulis panjatkan ke hadirat Allah

SWT atas karunia dan nikmat-Nya, sehingga akhirnya penyusunan skripsi ini

dapat berjalan dengan lancar. Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat

dalam menyelesaikan pendidikan Program Strata (S1) untuk memperoleh gelar

kesarjanaan pada Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi UNiversitas Islam

IndonesiaYogyakarta.

Proses penyusunan skripsi ini sudah diusahakan semaksimal

mungkin, kalaupun ada kekurangan itu karena keterbatasan yang dimiliki penulis

layaknya sebagaimana manusia biasa, karena proses penyusunan skripsi ini tidak

lepas dari bimbingan, pengarahan dan bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu

dalam kesempatan ini penulis hendak memberikan ucapan terima kasih yang tulus

kepada

1. Bapak Prof. Dr. Edy Suwandi Hamid, M.Ec selaku Rektor

Universitas Islam Indonesia.

2. Bapak Drs. Asmai Ishak, M. Bus, Ph.D selaku Dekan Fakultas

Ekonomi Universitas Islam Indonesia.

3. Ibu Dra. Erna Hidayah, M.Si selaku Ketua Jurusan Akuntansi

Universitas Islam Indonesia.

vii

4. Bapak Drs. Kesit Bambang Prakosa, M.Si selaku Dosen

Pembimbing Skripsi yang telah banyak meluangkan waktu untuk

membimbing dan mengarahkan sehingga skripsi ini dapat

terselesaikan.

5. Bapak Drs. Johan Arifin, M.Si selaku Dosen Penguji yang telah

memberikan pengarahan dan masukan yang sangat berguna bagi

penulis.

6. Pak Gunawan, Pak Pri, Pak Utoyo terimakasih atas segala bantuan-

bantuannya disaat yang tepat.

7. Mama tercinta yang selalu dengan sabar memberikan semangat

kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Setiap

dukungannya sangat berarti bagi penulis. I love You Mam.

8. Papaku yang selalu memberikan nasehat kepada penulis agar

segera menyelesaikan skripsi ini.

9. Kakakku tercinta yang selalu memberi dorongan kepada penulis

untuk selalu kuat,tegar dan percaya diri..

10. adik-adikku, kalian adalah motivasi penulis dalam menyelesaikan

skripsi ini.

11. Yayangku yang selalu berada didekatku dalam keadaan susah

maupun senang.

12. Dewi Husin, makasih ya pinjaman laptopnya.

viii

13. Teman-teman lamaku di wisma pugeran, mbak nana, mbak leni,

mbak tati, mia, ony, ade, lia, rini, siti. Semoga di lain waktu kita

bisa ketemu lagi.

14. Teman-temanku di wisma cantik, Rhinie, Umi, Dian, Egha, Heni,

Winda, Heny, July, Vivi, Yuyun, Sandra, Icun, Mb ita, Yuni.

Tanpa kalian wisma cantik terasa sepi.

15. Keponakanku Asty Amanda yang lucu dan imut

16. Semua pihak yang tidak mungkin disebutkan satu persatu yang

telah memberikan dukungan dan bantuannya hinggga

terselesaikannya skripsi ini.

Harapan penulis semoga Allah SWT senantiasa memberikan

karunia-Nya atas Budi baik dan amal mereka.

Akhir kata bila ada kekurangan dalam penulisan skripsi ini penulis

menyadari bahwa itu semua merupakan kekurangan dari penulis sebagai manusia

biasa. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis pada khususnya

dan pembaca pada umumnya serta semua pihak yang memerlukannya. Amin.

Wassalamu’alakum Wr.Wb

Yogyakarta, September 2007

Penulis

ix

DAFTAR ISI

Halaman Judul……………………………………………………………… i

Halaman Pernyataan Bebas Plagiarisme…………………………………… ii

Halaman Pengesahan………………………………………………………. iii

Berita Acara Ujian Skripsi…………………………………………………. iv

Halaman Motto…………………………………………………………….. v

Halaman Persembahan…………………………………………………….. vi

Kata Pengantar……………………………………………………………... vii

Daftar Isi…………………………………………………………………… x

DAftar Tabel……………………………………………………………….. xiv

Daftar Gambar……………………………………………………………… xv

Abstrak……………………………………………………………………… xvi

BAB I PENDAHULUAN………………………………………………… 1

1.1 Latar Belakang Masalah…………………………………….. 1

1.2 Rumusan Masalah………………………………………….... 5

1.3 Tujuan Penelitian……………………………………………. 5

1.4 Manfaat Penelitian…………………………………………… 5

BAB II LANDASAN TEORI……………………………………………… 6

2.1 Pengertian Activity Based-Costing………………………….. 6

2.2 Konsep-Konsep Dasar Activity Based-Costing……………... 6

2.3 Perbandingan Biaya Produk Tradisional Dan ABC…

8

2.4 Struktur Sistem ABC………………………………………... 10

x

2.5 Syarat Penerapan Sistem ABC……………………………… 11

2.6 Pembebanan BOP Pada ABC………………………………. 13

2.6.1 Prosedure Pembebanan BOP Dengan ABC Sistem… 14

2.7 Manfaat Penentuan HPP Berdasarkan Aktifitas……………. 16

2.8 Cost Driver………………………………………………….. 18

2.9 Keunggulan Metode ABC…………………………………... 20

2.10 Kelemahan Sistem Akuntansi Biaya Tradisional…………… 21

2.11 Pengertian Dan Penentuan Tarif Dengan Menggunakan

Metode Cost Plus Pricing…………………………………… 24

2.12 ABC Untuk Perusahaan Jasa………………………………

27

BAB III TINJAUAN OBYEK PENELITIAN……………………………

29

3.1 Gambaran Umum RSUD Kab. Batang……………………

29

3.1.1 Sejarah Berdirinya RSUD Kab. Batang…………..

29

3.1.2 Visi, Misi, Moto, Tujuan, Filosofi, Tugas RSU

Fungsi RSU Dan Nilai Dasar……………………...

30

3.1.2.1 Visi………………………………………

30

3.1.2.2 Misi………………………………………

30

3.1.2.3 Moto……………………………………..

30

3.1.2.4 Tujuan……………………………………

30

3.1.2.5 Filosofi…………………………………..

30

3.1.2.6 Tugas RSU………………………………

31

3.1.2.7 Fungsi RSU……………………………..

31

xi

3.1.2.8 Nilai Dasar………………………………

31

3.1.3 Pemegang Jabatan…………………………………

32

3.1.4 Fasilitas Pelayanan………………………………..

32

3.1.4.1 Rawat Jalan……………………………..

32

3.1.4.2 Rawat Inap………………………………

33

3.1.5 Penunjang Pelayanan……………………………..

33

3.1.5.1 Penunjang Medik……………………….

33

3.1.5.2 Penunjang Non Medik………………….

34

3.1.6 Kerjasama Dengan Institusi Pendidikan………….

34

3.1.7 Tenaga Pengelola…………………………………

35

3.1.8 Sarana……………………………………………..

36

3.1.9 Struktur Organisasi………………………………..

37

3.1.10 Kelas Jasa, Dan Tarif RSU………………………… 43

3.1.10.1 Kelas Jasa………………………………..

43

3.1.10.2 Penentuan Tarif Jasa Rawat Inap

RSUD Kab. Batang……………………...

45

3.1.11 Data Pendukung ABC……………………………..

47

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN……………………………… 52

4.1 Perhitungan HPP Rawat Inap Dengan Menggunakan ABC… 52

4.1.1 Mengidentifikasi Dan Mendefinisikan Aktivitas Dan

Pusat Aktivitas……………………………………... 52

4.1.2 Mengklasifikan Aktivitas Biaya Kedalam Berbagai

Aktifitas……………………………………………. 56

xii

4.1.3 Mengidentifikasi Cost Driver……………………… 58

4.1.4 Menentukan Tarif Per Unit Cost Driver…………… 61

4.1.5 Membebankan Biaya Ke Produk Dengan Menggunakan

Tarif Cost Driver Dan Ukuran Aktifitas…………… 64

4.2 Perbandingan Metode Tradisional Dan ABC Dalam Penetapan

Tarif Jasa Rawat Inap……………………………………….. 71

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan………………………………………………….. 73

5.2 Saran…………………………………………………………. 74

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 75

LAMPIRAN

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

2.1 Perbedaan Penetapan HPP Melalui Metodse Tradisional
Dengan ABC…………………………………………………………. 9
3.1 Jumlah Ruang Rawat Inap dan Kapasitas Tempat tidur RSUD Batang 33
3.2 Tarif Jasa Rawat Inap RSUD Kab. Batang…………………………... 47
3.3 Data Biaya Rawat Inap Pada RSUD Batang…………………………. 48
3.4 Data Pendukung Lama Hari Pasien Rawat Inap Pada RSUD Batang... 49
3.5 Data Pendukung Jumlah Pasien Rawat ianap Pada RSUD Batang…… 50
3.6 Data Pendukung Luas Ruangan Rawat Inap Pada RSUD Batang……. 50
3.7 Tarif Konsumsi Tiap Kelas Rawat Inap Pada RSUD Batang………… 51
4.1 Data Penggunaan Listrik Pada RSUD Batang………………………... 54
4.2 Klasifikasi Biaya Ke Dalam Berbagai Aktifitas……………………… 58
4.3 Pengelompokan Biaya Rawat Inap dan Cost Driver Kamar Rawat Inap 59
4.4 Penentuan Tarif Per Unit Cost Driver Kamar Rawat Inap Dengan
Menggunakan Metode ABC………………………………………….. 62
4.5 Tarif Jasa Rawat Inap Kelas VIP……………………………………… 65
4.6 Tarif Jasa Rawat Inap Kelas Utama I…………………………………. 66
4.7 Tarif Jasa Rawat Inap Kelas Utama II………………………………… 67
4.8 Tarif Jasa Rawat Inap Kelas I…………………………………………. 68
4.9 Tarif Jasa Rawat Inap Kelas II…………………………………………. 69
4.10 Tarif Jasa Rawat Inap Kelas III…………………………………………70
4.11 Perbandingan Metode Akuntansi Biaya Tradisional Dengan ABC
Dalam Penetapan Tarif Jasa Rawat Inap………………………………. 71

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

2.1 Konsep Dasar Activity Based-Costing.............................................. 8

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Surat Keterangan Penelitian dari BAPPEDA……………………………... 76
2. Surat Keterangan Penelitian dari RSUD Kabupaten Batang........................ 77

xvi

ABSTRAK

Dalam penentuan harga pokok produk, sistim akuntansi biaya
tradisional kurang sesuai lagi untuk diterapkan di era tekhnologi yang modern
seperti saat ini. Karena sistem ini mempunyai beberapa kelemahan. Diantaranya
adalah memberikan informasi biaya yang terdistorsi. Distorsi timbul karena
adanya ketidakakuratan dalam pembebanan biaya, sehingga mengakibatkan
kesalahan penentuan biaya, pembuatan keputusan, perencanaan, dan pengendalian
(Supriyono, 1999: 259). Distorsi tersebut juga mengakibatkan undercost/overcost
terhadap produk (Hansen & Mowen, 2005). Adanya berbagai kelemahan tersebut
dapat diatasi dengan penggunaan metode Activity-Based Costing.
Activity-Based Costing adalah metode penentuan harga pokok
yang menelusur biaya ke aktivitas, kemudian ke produk. Perbedaan utama
penghitungan harga pokok produk antara akuntansi biaya tradisional dengan ABC
adalah jumlah cost driver (pemicu biaya) yang digunakan dalam metode ABC
lebih banyak dibandingkan dalam sistem akuntansi biaya tradisional.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari perhitungan tarif rawat
inap dengan menggunakan metode ABC, apabila dibandingkan dengan metode
tradisional maka metode ABC memberikan hasil yang lebih besar kecuali pada
kelas VIP dan Utama I yang memberikan hasil lebih kecil. Hal ini disebabkan
karena pembebanan biaya overhead pada masing-masing produk. Pada metode
akuntansi biaya tradisional biaya overhead pada masing-masing produk hanya
dibebankan pada satu cost driver saja. Akibatnya cenderung terjadi distorsi pada
pembebanan biaya overhead. Sedangkan pada metode ABC, biaya overhead pada
masing-masing produk dibebankan pada banyak cost driver. Sehingga dalam
metode ABC, telah mampu mengalokasikan biaya aktivitas kesetiap kamar secara
tepat berdasarkan konsumsi masing-masing aktivitas.

xvii

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang masalah

Dalam era globalisasi dan ditunjang perkembangan dunia usaha

yang semakin pesat mengakibatkan naiknya persaingan bisnis. Masing-

masing perusahaan saling beradu strategi dalam usaha menarik konsumen.

Persaingan tersebut tidak hanya persaingan bisnis dibidang

manufaktur/industri tetapi juga dibidang usaha pelayanan jasa. Salah satu

bentuk usaha pelayanan jasa adalah jasa kesehatan, terutama jasa rumah

sakit. Hal ini terbukti semakin banyaknya rumah sakit yang didirikan baik

pemerintah maupun swasta. Akibat dari perkembangan rumah sakit yang

semakin pesat ini, menimbulkan persaingan yang ketat pula. Sehingga

menuntut adanya persaingan atas produk dan kepercayaan pelanggan.

Tugas utama rumah sakit adalah memberikan jasa pengobatan,

perawatan, dan pelayanan kesehatan. Dalam memberikan jasa pelayanan

kesehatan, rumah sakit memperoleh penghasilan dari pendapatan jasa dan

fasilitas yang diberikan. Salah satunya adalah jasa rawat inap. Dimana

pendapatan dari jasa tersebut didapat dari tarif yang harus dibayar oleh

pemakai jasa rawat inap. Penentuan tarif jasa rawat inap merupakan suatu

keputusan yang sangat penting. Karena dapat mempengaruhi profitabilitas

suatu rumah sakit. Dengan adanya berbagai macam fasilitas pada jasa

2

rawat inap, serta jumlah biaya overhead yang tinggi, maka semakin

menuntut ketepatan dalam pembebanan biaya yang sesungguhnya.

Dalam menentukan harga pokok produk terkadang rumah sakit

masih menggunakan akuntansi biaya tradisional. Dimana sistem ini tidak

sesuai dengan lingkungan pemanufakturan yang maju, pada diversifiksi

(keanekaragaman) produk yang tinggi (Bunyamin Lumenta, 1989). Biaya

produk yang dihasilkan oleh sistem akuntansi biaya tradisional

memberikan informasi biaya yang terdistorsi. Distorsi timbul karena

adanya ketidakakuratan dalam pembebanan biaya, sehingga

mengakibatkan kesalahan penentuan biaya, pembuatan keputusan,

perencanaan, dan pengendalian (Supriyono, 1999: 259). Distorsi tersebut

juga mengakibatkan undercost/overcost terhadap produk (Hansen &

Mowen, 2005).

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, kemudian pada tahun

1800-an dan awal 1900-an lahirlah suatu sistem penentuan harga pokok

produk berbasis aktivitas yang dirancang untuk mengatasi distorsi pada

akuntansi biaya tradisional. Sistem akuntansi ini disebut Activit-Based

Costing. Definisi metode Activity-Based Costing (ABC) merupakan suatu

sistem kalkulasi biaya yang pertama kali menelusuri biaya keaktivitas dan

kemudian keproduk (Hansen & Mowen, 1992)

Perbedaan utama penghitungan harga pokok produk antara

akuntansi biaya tradisional dengan ABC adalah jumlah cost driver (pemicu

biaya) yang digunakan. Dalam sistem penentuan harga pokok produk

3

dengan metode ABC menggunakan cost driver dalam jumlah lebih banyak

dibandingkan dalam sistem akuntansi biaya tradisional yang hanya

menggunakan satu atau dua cost driver berdasarkan unit.

Dalam metode ABC, menganggap bahwa timbulnya biaya

disebabkan oleh adanya aktivitas yang dihasilkan produk. Pendekatan ini

menggunakan cost driver yang berdasar pada aktivitas yang menimbulkan

biaya dan akan lebih baik apabila diterapakan pada perusahaan yang

menghasilkan keanekaragaman produk.

Rumah sakit merupakan salah satu perusahaan jasa yang

menghasilkan keanekaragaman produk. Dimana output yang dijual lebih

dari satu. Keanekaragaman produk pada rumah sakit mengakibatkan

banyaknya jenis biaya dan aktivitas yang terjadi pada rumah sakit,

sehingga menuntut ketepatan pembebanan biaya overhead dalam

penentuan harga pokok produk. Metode ABC dinilai dapat mengukur

secara cermat biaya-biaya yang keluar dari setiap aktivitas. Hal ini

disebabkan karena banyaknya cost driver yang digunakan dalam

pembebanan biaya overhead, sehingga dalam metode ABC dapat

meningkatkan ketelitian dalam perincian biaya, dan ketepatan pembebanan

biaya lebih akurat.

RSUD Batang merupakan salah satu rumah sakit milik pemerintah

yang melayani kesehatan bagi masyarakat sekitar Batang. Dalam

perhitungan biaya rawat inap, RSUD Batang masih menggunakan sistem

akuntansi biaya tradisional. Padahal perhitungan biaya rawat inap sangat

4

penting karena berkaitan dengan masalah penentuan harga pokok rawat

inap.Yang pada akhirnya akan mempengaruhi penentuan harga jualnya

atau tarif rawat inap.Dari latar belakang diatas penulis tertarik untuk

menyusun skripsi dengan judul :

‘‘PENERAPAN METODE ACTIVITY-BASED COSTING SYSTEM

DALAM MENENTUKAN BESARNYA TARIF JASA RAWAT INAP

(STUDI PADA RSUD KABUPATEN BATANG)”

5

1.2 Rumusan masalah

1. Bagaimanakah cara menghitung tarif jasa rawat inap pada RSUD

Batang dengan menggunakan Activity-Based Costing System.

2. Apakah ada perbedaan besarnya tarif jasa rawat inap pada RSUD

Batang dengan menggunakan perhitungan akuntansi biaya tradisional

dan Activity-Based Costing System.

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui penerapan Activity-Based Costing System dalam

kaitannya dengan penentuan tarif jasa rawat inap pada RSUD Batang.

2. Untuk mengetahui perbandingan besarnya tarif jasa rawat inap, dengan

menggunakan metode akuntansi biaya tradisional dan Activity-Based

Costing System pada RSUD Batang.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Memberikan pengetahuan mengenai penerapan Activity-Based Costing

System dalam kaitannya dengan penentuan tarif jasa rawat inap.

2. Memberikan alternative cara perhitungan tarif jasa rawat inap dengan

menggunakan konsep Activity-Based Costing System.

3. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan cara penghitunagan tarif

jasa rawat inap dengan menggunakan konsep Activity-Based Costing

System.

4. Membantu rumah sakit dalam menghitung dan menentukan tarif jasa

rawat inap dengan menggunakan metode Activity-Based Costing Syste

6

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Activity-Based Costing

Activity Based Costing merupakan metode yang menerapkan

konsep-konsep akuntansi aktivitas untuk menghasilkan perhitungan harga

pokok produk yang lebih akurat. Namun dari perspektif manajerial, sistem

ABC menawarkan lebih dari sekedar informasi biaya produk yang akurat

akan tetapi juga menyediakan informasi tentang biaya dan kinerja dari

aktivitas dan sumber daya serta dapat menelusuri biaya-biaya secara akurat

ke objek biaya selain produk, misalnya pelanggan dan saluran distribusi.

Pengertian akuntansi aktivitas menurut Amin Widjaja (1992; 27) adalah :

“Bahwa ABC Sistem tidak hanya memberikan kalkulasi biaya produk
yang lebih akurat, tetapi juga memberikan kalkulasi apa yang
menimbulkan biaya dan bagaimana mengelolanya, sehingga ABC System
juga dikenal sebagai sistem manajemen yang pertama.”

Sedangakan menurut Mulyadi (1993:34) memberikan pengertian ABC
sebagai berikut :

“ABC merupakan metode penentuan HPP (product costing) yang ditujukan
untuk menyajikan informasi harga pokok secara cermat bagi kepentingan
manajemen, dengan mengikursecara cermat konsumsi sumber daya alam
setiap aktivitas yang digunakan untuk menghasilkan produk.”

Pengertian ABC Sistem yang lain juga dikemukakan oleh Hansen and

Mowen (1999: 321) sebagai berikut :

“Suatu sistem kalkulasi biaya yang pertama kali menelusuri biaya ke
aktivitas kemudian ke produk.”

7

Pengertian akuntansi aktivitas menurut Brimson (1991: 47) adalah:

“Suatu proses pengumpulan dan menelusuri biaya dan data performan
terhadap suatu aktivitas perusahaan dan memberikan umpan balik dari
hasil aktual terhadap biaya yang direncanakan untuk melakukan tindakan
koreksi apabila diperlukan.”

Definisi lain dikemukakan oleh Garrison dan Norren (2000: 292)
sebagai berikut:

“Metode costing yang dirancang untuk menyediakan informasi biaya bagi
manajer untuk keputusan strategik dan keputusan lainnya yang mungkin
akan mempengaruhi kapasitas dan juga biaya tetap.”

2.2 Konsep-Konsep Dasar Activity Based Costing

Activity Based Costing Sistem adalah suatu sistem akuntansi yang

terfokus pada aktivitas-aktifitas yang dilakukan untuk menghasilkan

produk/jasa. Activity Based Costing menyediakan informasi perihal

aktivitas-aktivitas dan sumber daya yang dibutuhkan untuk melaksanakan

aktivitas-aktivitas tersebut. Aktivitas adalah setiap kejadian atau transaksi

yang merupakan pemicu biaya (cost driver) yakni, bertindak sebagai faktor

penyebab dalam pengeluaran biaya dalam organisasi. Aktivitas-aktivitas

ini menjadi titik perhimpunan biaya. Dalam sistem ABC, biaya ditelusur ke

aktivitas dan kemudian ke produk. System ABC mengasumsikan bahwa

aktivitas-aktivitaslah, yang mengkonsumsi sumber daya dan bukannya

produk.

8

Gambar 2.1

Konsep Dasar Activity Based Costing

Resources

Process View

Cost Driver

Activities

Performance

Cost Object

Sumber: Hansen, Don .R. dan Maryanne, M. Mowen, 2005

2.3 Perbandingan Biaya Produk Tradisional dan ABC

Metode ABC memandang bahwa biaya overhead dapat dilacak

dengan secara memadai pada berbagai produk secara individual. Biaya

yang ditimbulkan oleh cost driver berdasarkan unit adalah biaya yang

dalam metode tradisional disebut sebagai biaya variabel.

Metode ABC memperbaiki keakuratan perhitungan harga pokok

produk dengan mengakui bahwa banyak dari biaya overhead tetap

bervariasi dalam proporsi untuk berubah selain berdasarkan volume

9

produksi. Dengan memahami apa yang menyebabkan biaya-biaya tersebut

meningkat dan menurun, biaya tersebut dapat ditelusuri kemasing-masing

produk. Hubungan sebab akibat ini memungkinkan manajer untuk

memperbaiki ketepatan kalkulasi biaya produk yang dapat secara

signifikan memperbaiki pengambilan keputusan (Hansen dan Mowen,

1999: 157-158)

Digambarkan dalam tabel, perbedaan antara penentuan harga

pokok produk tradisional dan sistem ABC, yaitu:

Tabel 2.1

Perbedaan penetapan harga pokok produk

Tradisional dengan Metode Activity Based Costing

Metode Penentuan Harga
Pokok Produk Tradisional

Metode Activity Based
Costing

Tujuan

Inventory level

Product Costing

Lingkup

Tahap produksi

Tahap desain, produksi,
Tahap pengembangan

Fokus

Biaya bahan baku, tenaga
kerja langsung

Biaya overhead

Periode

Perode akuntansi

Daur hidup produk

Teknologi yang
digunakan

Metode manual

Komputer
telekomunikasi

Sumber: Mulyadi, 1993

10

2.4 Struktur sistem ABC

Desain ABC difokuskan pada kegiatan, yaitu apa yang dilakukan

oleh tenaga kerja dan peralatan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

Kegiatan adalah segala sesuatu yang mengkonsumsi sumber daya

perusahaan. Dengan memusatkan perhatian pada kegiatan dan bukannya

departemen atau fungsi, maka sistem ABC akan dapat menjadi media

untuk memahami, memanajemeni, dan memperbaiki suatu usaha.Ada dua

asumsi penting yang mendasari Metode Activity Based Costing, yaitu:

1) Aktivitas-aktivitas yang menyebabkan timbulnya biaya

Metode Activity Based Costing bahwa sumber daya pembantu atau

sumber daya tidak langsung menyediakan kemampuannya untuk

melaksanakan kegiatan bukan hanya sekedar penyebab timbulnya

biaya.

2) Produk atau pelanggan jasa

Produk menyebabkan timbulnya permintaan atas dasar aktivitas

untuk membuat produk atau jasa yang diperlukan berbagai kegiatan

yang menimbulkan sumber daya untuk melaksanakan aktivitas

tersebut.

Asumsi tersebut diatas merupakan konsep dasar dari sitem ABC.

Selanjutnya, karena adanya aktivitas akan menimbulkanan biaya, maka

untuk dapat menjalankan usahanya secara efisien, perusahaan harus dapat

mengelola aktivitasnya. Dalam hubungannya dengan biaya produk, maka

biaya yang dikonsumsi untuk menghasilkan produk adalah biaya-biaya

11

untuk aktivitas merancang, merekayasa, memproduksi, menjual dan

memberikan pelayanan produk (Cokins dkk, 1996:12)

2.5 Syarat Penerapan Sistem Activity-Based Costing

Dalam penerapannya, penentuan harga pokok dengan

menggunakan sistem ABC menyaratkan tiga hal:

1. Perusahaan mempunyai tingkat diversitas yang tinggi

Sistem ABC mensyaratkan bahwa perusahaan memproduksi beberapa

macam produk atau lini produk yang diproses dengan menggunakan

fasilitas yang sama. Kondisi yang demikian tentunya akan

menimbulkan masalah dalam membebankan biaya ke masing-masing

produk.

2. Tingkat persaingan industri yang tinggi

Yaitu terdapat beberapa perusahaan yang menghasilkan produk yang

sama atau sejenis. Dalam persaingan antar perusahaan yang sejenis

tersebut maka perusahaan akan semakin meningkatkan persaingan

untuk memperbesar pasarnya. Semakin besar tingkat persaingan maka

semakin penting peran informasi tentang harga pokok dalam

mendukung pengambilan keputusan manajemen.

3. Biaya pengukuran yang rendah

Yaitu bahwa biaya yang digunakan system ABC untuk menghasilkan

informasi biaya yang akurat harus lebih rendah dibandingkan dengan

manfaat yang diperoleh (Supriyono, 1994:664-665).

12

Ada dua hal mendasar yang harus dipenuhi sebelum kemungkinan

penerapan metode ABC, yaitu (Supriyono, 2002: 247)

1. Biaya berdasarkan non unit harus merupakan prosentase yang

signifikan dari biaya overhead. Jika hanya terdapat biaya overhead

yang dipengaruhi hanya oleh volume produksi dari keseluruhan

overhead pabrik maka jika digunakan akuntansi biaya tradisionalpun

informasi biaya yang dihasilkan masih akurat sehingga penggunaan

sisitem ABC kehilangan relevansinya. Artinya Activity Based Costing

akan lebih baik diterapkan pada perusahaan yang biaya overheadnya

tidak hanya dipengaruhi oleh volume produksi saja.

2. Rasio konsumsi antara aktivitas berdasarkan unit dan berdasarkan non

unit harus berbeda. Jika rasio konsumsi antar aktivitas sama, itu artinya

semua biaya overhead yang terjadi bisa diterangkan dengan satu

pemicu biaya. Pada kondisi ini penggunaan system ABC justru tidak

tepat karena sistem ABC hanya dibebankan ke produk dengan

menggunakan pemicu biaya baik unit maupun non unit (memakai

banyak cost driver). Apabila berbagai produk rasio konsumsinya sama,

maka sistem akuntansi biaya tradisional atau sistem ABC

membebankan biaya overhead dalam jumlah yang sama. Jadi

perusahaan yang produksinya homogen (diversifikasi paling rendah)

mungkin masih dapat mengunakan sistem tradisional tanpa ada

masalah.

13

2.6 Pembebanan Biaya Overhead pada Activity-Based Costing

Pada Activity-Based Costing meskipun pembebanan biaya-biaya

overhad pabrik dan produk juga menggunakan dua tahap seperti pada

akuntansi biaya tradisional, tetapi pusat biaya yang dipakai untuk

pengumpulan biaya-biaya pada tahap pertama dan dasar pembebanan dari

pusat biaya kepada produk pada tahap kedua sangat berbeda dengan

akuntansi biaya tradisional (cooper, 1991:269-270).

Activity-Based costing menggunakan lebih banyak cost driver bila

dibandingkan dengan sistem pembebanan biaya pada akuntansi biaya

tradisional.

Sebelum sampai pada prosedure pembebanan dua tahap dalam

Activity-Based Costing perlu dipahami hal-hal sebagai berikut:

1. Cost Driver adalah suatu kejadian yang menimbulkan biaya. Cost

Driver merupakan faktor yang dapat menerangkan konsumsi biaya-

biaya overhead. Faktor ini menunjukkan suatu penyebab utama

tingkat aktivitas yang akan menyebabkan biaya dalam aktivitas-

aktivitas selanjutnya.

2. Rasio Konsumsi adalah proporsi masing-masing aktivitas yang

dikonsumsi oleh setiap produk, dihitung dengan cara membagi

jumlah aktivitas yang dikonsumsi oleh suatu produk dengan jumlah

keseluruhan aktivitas tersebut dari semua jenis produk.

3. Homogeneous Cost Pool merupakan kumpulan biaya dari overhead

yang variasi biayanya dapat dikaitkan dengan satu pemicu biaya saja.

14

Atau untuk dapat disebut suatu kelompok biaya yang homogen,

aktivitas-aktivitas overhead secara logis harus berhubungan dan

mempunyai rasio konsumsi yang sama untuk semua produk.

2.6.1 Prosedure Pembebanan Biaya Overhead dengan Sistem ABC

Menurut Mulyadi (1993: 94), prosedure pembebanan biaya

overhead dengan sisitem ABC melalui dua tahap kegiatan:

a. Tahap Pertama

Pengumpulan biaya dalam cost pool yang memiliki aktifitas yang

sejenis atau homogen, terdiri dari 4 langkah :

1. Mengidentifikasi dan menggolongkan biaya kedalam berbagai

aktifitas

2. Mengklasifikasikan aktifitas biaya kedalam berbagai aktifitas,

pada langkah ini biaya digolongkan kedalam aktivitas yang

terdiri dari 4 kategori yaitu: Unit level activity costing, Batch

related activity costing, product sustaining activity costing,

facility sustaining activity costing.

Level tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Aktivitas Berlevel Unit (Unit Level Activities)

Aktivitas ini dilakukan untuk setiap unit produksi. Biaya

aktivitas berlevel unit bersifat proporsional dengan jumlah

unit produksi. Sebagai contoh, menyediakan tenaga untuk

menjalankan peralatan, karena tenaga tersebut cenderung

15

dikonsumsi secara proporsional dengan jumlah unit yang

diproduksi.

b. Aktivitas Berlevel Batch (Batch Level Activities)

Aktivitas dilakukan setiap batch diproses, tanpa

memperhatikan berapa unit yang ada pada batch tersebut.

Misalnya, pekerjaan seperti membuat order produksi dan

pengaturan pengiriman konsumen adalah aktivitas berlevel

batch.

c. Aktivitas Berlevel Produk (Produk Level Activities)

Aktivitas berlevel produk berkaitan dengan produk spesifik

dan biasanya dikerjakan tanpa memperhatikan berapa batch

atau unit yang diproduksi atau dijual. Sebagai contoh

merancang produk atau mengiklankan produk.

d. Aktivitas Berlevel Fasilitas (Fasility level activities)

Aktivitas berlevel fasilitas adalah aktivitas yang menopang

proses operasi perusahaan namun banyak sedikitnya

aktivitas ini tidak berhubungan dengan volume. Aktivitas

ini dimanfaatkan secara bersama oleh berbagai jenis produk

yang berbeda. Kategori ini termasuk aktivitas seperti

kebersihan kantor, penyediaan jaringan komputer dan

sebagainya.

16

3. Mengidentifikasikan Cost Driver

Dimaksudkan untuk memudahkan dalam penentuan tarif/unit

cost driver.

4. Menentukan tarif/unit Cost Driver

Adalah biaya per unit Cost Driver yang dihitung untuk suatu

aktivitas. Tarif/unit cost driver dapat dihitung dengan rumus

sbb:

Tarif per unit Cost Driver =

CostDriver

fitas

JumlahAkti

b.

Tahap Kedua

Penelusuran dan pembebanan biaya aktivitas kemasing-masing

produk yang menggunakan cost driver. Pembebanan biaya

overhead dari setiap aktivitas dihitung dengan rumus sbb:

BOP yang dibebankan = Tarif/unit Cost Driver X Cost Driver yang dipilih

2.7 Manfaat Penentuan Harga Pokok Produk Berdasarkan Aktivitas

Jika syarat-syarat penerapan sistem ABC sudah terpenuhi, maka

sebaiknya perusahaan menerapkan sistem ABC dan segera mendesain

ulang sistem akuntansi biayanya karena akan bermanfaat sebagai berikut:

(Supriyono, 2002:698)

17

1) Memperbaiki mutu pengambilan keputusan

Dengan informasi biaya produk yang lebih teliti, kemungkinan

manajer melakukan pengambilan keputusan yang salah dapat

dikurangi. Informasi biaya produk yang lebih teliti sangat penting

artinya bagi manajemen jika perusahaan menghadapi persaingan

yang tajam.

2) Memungkinkan manajemen melakukan perbaikan terus menerus

terhadap kegiatan untuk mengurangi biaya overhead.

Sistem ABC mengidentifikasi biaya overhed dengan kegiatan yang

menimbulkan biaya tersebut. Pembebanan overhead harus

mencerminkan jumlah permintaan overhead (yang dikonsumsi) oleh

setiap produk. Sistem ABC mengakui bahwa tidak semua overhed

bervariasi dengan jumlah unit yang diproduksi. Dengan

menggunakan biaya berdasarkan unit dan non unit overhead dapat

lebih akurat ditelusuri ke masing-masing produk.

3) Memberikan kemudahan dalam menentukan biaya relevan.

Karena sistem ABC menyediakan informasi biaya yang relevan yang

dihubungkan dengan berbagai kegiatan untuk menghasilkan produk,

maka manajemen akan menghasilkan kemudahan dalam memperoleh

informasi yang relevan dengan pengambilan keputusan yang

menyangkut berbagai kegiatan bisnis mereka.

18

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->