Anda di halaman 1dari 7

TUGAS KELOMPOK REGIONALISME

“PRO DAN KONTRA: PERAN HEGEMONI DALAM


ORGANISASI INTERNASIONAL”
STUDI KASUS: HEGEMONI AMERIKA SERIKAT DALAM APEC

Disusun oleh:
Senapati Panji Nusantara 170210080116
Rina Setiawati 170210080136
Ferdi Kusuma Nagara 170210080148
Catur Olprima Nanda 170210080163
Selly Hanidah 170210080185
Cantika Amalia 170210080207
Fauziah Sholihah 170210080222
Erditya M. Putra 170210080002
Tina Febriyanti GB050234

JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2010
PRO DAN KONTRA: PERAN HEGEMONI DALAM ORGANISASI
INTERNASIONAL

STUDI KASUS: HEGEMONI AMERIKA SERIKAT DALAM APEC

1. Hegemoni dan Organisasi Internasional

Istilah hegemoni berasal dari istilah yunani, hegeisthai yang berarti “to lead”.
Hegemoni bisa didefinisikan sebagai dominasi oleh satu kelompok terhadap kelompok
lainnya, dengan atau tanpa ancaman kekerasan, sehingga ide-ide yang didiktekan oleh
kelompok dominan terhadap kelompok yang didominasi diterima sebagai sesuatu yang wajar
(common sense).1

Jika dilihat sebagai strategi, maka konsep hegemoni bukanlah strategi eksklusif milik
penguasa. Maksudnya, kelompok manapun bisa menerapkan konsep hegemoni dan menjadi
penguasa. Sebagai contoh hegemoni, adalah kekuasaan dolar amerika terhadap ekonomi
global. Kebanyakan transaksi internasional dilakukan dengan dolar amerika. Gramsci (1891-
1937) merupakan tokoh yang terkenal dengan analisa hegemoninya. Analisa Gramsci
merupakan usaha perbaikan terhadap konsep determinisme ekonomi dan dialektika sejarah
Karl Marx (lihat Das Capital Marx).2

Berdasarkan perspektif realis, hegemoni menjadi sebuah unsur yang penting dalam
upaya mewujudkan kepentingan nasional. Hurrell sendiri juga menyebutkan bahwa bagi
negara yang relatif kuat, institusi regional menjadi tempat untuk mengaktualisasikan strategi,
tempat mewadahi hegemoni, dan untuk melegitimasi power.3 Perkembangan organisasi
internasional saat ini layaknya menjadi ajang bagi negara berkuasa untuk mempertahankan
hegemoni di dalam hubungan internasional. Dalam kasus ini, Amerika Serikat-lah yang
paling berperan dalam mempertahankan hegemoninya dalam organisasi internasional, salah
satunya adalah APEC.

1
http://synaps.wordpress.com/2005/12/01/pengantar-hegemoni/
2
Ibid.
3
http://ranilukita.wordpress.com/2009/03/30/pendekatan-teoritis-dalam-menganalisis-
regionalisme/
2. Perkembangan APEC

Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) merupakan sebuah forum negara-negara


di pinggiran Samudera Pasifik guna melangsungkan kerja sama perdagangan regional,
liberalisasi dan kemudahan investasi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pertumbuhan
ekonomi dan kemakmuran di kawasan dan memperkuat komunitas Asia Pasifik.4

Forum Kerjasama Ekonomi negara-negara di kawasan Asia Pasifik (Asia Pacific


Economic Cooperation-APEC) dibentuk pada tahun 1989 berdasarkan gagasan Perdana
Menteri Australia, Bob Hawke. Tujuan forum ini selain untuk memperkuat pertumbuhan
ekonomi kawasan juga mengembangkan dan memproyeksikan kepentingan-kepentingan
kawasan dalam konteks multilateral. Mengingat APEC lebih dititikberatkan pada hubungan
ekonomi, maka setiap anggota, termasuk negara, disebut sebagai entitas ekonomi.5

Negara-negara anggota APEC adalah: AS, Australia, Brunei Darusssalam, Canada,


Chili, China, Filipina, Hong Kong, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, Mexico, New
Zealand, Papua New Guinea, Peru, Rusia, Singapura, Taiwan, Thailand, Vietnam.

Sebagai forum regional, APEC memiliki karakteristik yang membedakannya dari


berbagai forum kerjasama ekonomi kawasan lainnya, yakni sifatnya yang tidak mengikat
(non-binding). Berbagai keputusan diperoleh secara konsensus dan komitmen
pelaksanaannya didasarkan pada kesukarelaan (voluntarism). Selain itu APEC juga dilandasi
oleh prinsip-prinsip konsultatif, komprehensif, fleksibel, transparan, regionalisme terbuka dan
pengakuan atas perbedaan pembangunan antara ekonomi maju dan ekonomi berkembang.

Sejak pembentukannya, berbagai kegiatan APEC telah menghasilkan berbagai


komitmen antara lain pengurangan tariff dan hambatan non tariff lainnya di kawasan Asia-
Pasifik, menciptakan kondisi ekonomi domestik yang lebih efisien dan meningkatkan
perdagangan secara dramatis. Visi utama APEC tertuang dalam 'Bogor Goals' of free and
open trade and investment in the Asia-Pacific by 2010 for industrialised economies and 2020
for developing economies yang diterima dan disepakati oleh Kepala Negara dalam pertemuan
di Bogor, Indonesia pada tahun 1994.

4
Suparman, Nuraeni & Sylvia, Deasy & Sudirman, Arif. 2010. Regionalisme dalam Studi
Hubungan Internasional.
5
http://ditpolkom.bappenas.go.id/basedir/Politik%20Luar%20Negeri/3)%20Keanggotaan
%20Indonesia%20dalam%20Organisasi%20Internasional/5)%20APEC/APEC.pdf
Guna mencapai Bogor Goals, APEC menentukan tiga bidang yang menjadi focus
kinerjanya, yaitu:

1. Liberisasi perdagangan dan investasi (rata-rata hambatan perdagangan menurun dari


16,9% pada 1989, menjadi 5,5% pada 2004).

2. Memperlancar fasilitas bisnis. Antara 2002-2006, biaya transaksi bisnis di seluruh


kawasan berkurang hingga 6%. Antara 2007-2010, APEC menargetkan pengurangan
hingga 5%.

3. Kerja sama ekonomi dan teknis. Sejak 2006, ABAC menyuarakan pembentukan free
trade guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menjamin pertumbuhan
perekonomian yang stabil.

3. Hegemoni Amerika Serikat dalam APEC: Argumen Pro

Teori Stabilitas Hegemoni oleh Charles Kindleberg, menyatakan ekonomi dunia


liberal yang terbuka memerlukan keberadaan seorang hegemoni atau kekuatan dominan.
Hegemoni dan stabilitas dalam ekonomi politik internasional menggunakan kerangka
penjelasan yang dikemukakan oleh teori ini. Robert Keohane seorang neo-realis strukturalis
mengungkapkan hal serupa yang mana keadaan dunia dengan hegemoni menjamin kestabilan
seperti semasa system dunia bipolar (Keohane 1980, p. 132).

Kekuatan hegemoni harus mampu membuat dan menjaga keberlangsungan peraturan


yang ia buat dipatuhi oleh seluruh negara. Kekuatan hegemoni dalam menjaga kestabilan
ekonomi terletak pada komitmen untuk mematuhi peraturan dan norma-norma internasional
yang ia tetapkan misalnya norma yang dibentuk dalam rezim internasional. Sumber kekuatan
ekonomi menurut teori stabilitas hegemoni Kindleberg terdapat pada tiga hal, yakni
hegemoni, norma liberal, dan kepentingan sama.6

Keberadaan APEC sangat berguna bagi negara anggotanya. Suatu hegemoni


dibutuhkan dalam organisasi ini untuk menciptakan stabilitas ekonomi. Amerika Serikat
dalam APEC memiliki peran dalam menyokong perkembangan ekonomi negara anggota

6
http://frenndw.wordpress.com/2010/04/10/leadership-hegemoni-dan-stabilitas-tatanan-
ekonomi-politik-internasional/
APEC lainnya, seperti Jepang dan Korea Selatan yang perekonomiannya sudah sangat maju
sekarang.

Bukan berarti negara lain menjadi tergantung terhadap Amerika Serikat. Negara-
negara tersebut saling bergantung untuk mendapatkan keuntungan masing-masing. Dalam
organisasi ekonomi, memang dibutuhkan satu atau beberapa negara yang memiliki modal
besar dan memegang hegemoni di dalamnya untuk menjaga kestabilan organisasi tersebut.

Teori stabilitas hegemoni, isu keamanan dan politik menjadi subjek utama yang
mengakibatkan dinamika pada ekonomi internasional. Kedua hal tersebut saling
mempengaruhi satu sama lain dimana ekonomi internasional tidak bisa dipisahkan dari
politik dan kebijakan suatu negara apalagi yang berkaitan dengan isu keamanan. Suatu
hegemoni mutlak diperlukan untuk menjaga kestabilan politik dan keamanan. Secara
langsung keamanan dan politik menjadi lingkungan tempat berkembangnya ekonomi
internasional.7

Inilah yang menjadi dasar bagi Amerika Serikat untuk memasukkan isu terorisme
selama beberapa tahun terakhir. Pasca runtuhnya menara kembar WTC, keadaan ekonomi di
Amerika Serikat sempat collapse. Tentunya Amerika Serikat tidak ingin terorisme yang
mengancam perekonomian ini terjadi lagi sehingga Amerika Serikat berusaha mengajak
negara anggota APEC untuk lebih memperhatikan isu keamanan semacam ini demi menjaga
stabilitas perekonomian APEC maupun perekonomian dunia.

4. Hegemoni Amerika Serikat dalam APEC: Argumen Kontra

Terdapat pergeseran isu APEC dari isu perdagangan bebas menjadi isu politis. Hal ini
ditunjukkan oleh lemahnya komitmen AS pada pertemuan puncak APEC Oktober 2001.
Presiden George W. Bush lebih banyak membahasa perang melawan terorisme dengan
Presiden China, Jiang Zemin dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, presiden Indonesia
Megawati dan PM Malaysia Ahmad Badawi. Melihat perkembangan ini diperkirakan bahwa
APEC akan sulit memfokuskan dirinya pada tujuannya semula yaitu mengurangi hambatan-
hambatan perdagangan dan investasi. (Lincoln 2001: 1) Kegairahan perdagangan di kalangan

7
http://frenndw.wordpress.com/2010/04/10/leadership-hegemoni-dan-stabilitas-tatanan-
ekonomi-politik-internasional/
anggotanya menjadi menurun sehingga APEC tidak lagi bisa disandarkan sebagai pemantik
gairah menuju persaingan di pasar bebas.8

Pergeseran isu inilah yang membuat kita berpikir bahwa seharusnya dalam suatu
organisasi internasional tidak dibutuhkan hegemoni atau dominasi suatu negara. Terlebih lagi
jika organisasi tersebut memiliki kepentingan atau fungsi spesifik seperti APEC yang
berfokus pada bidang ekonomi. Negara pemegang hegemoni yaitu Amerika Serikat
mengangkat isu terorisme demi kepentingan nasionalnya sendiri. Inilah yang dikhawatirkan,
bahwa Amerika Serikat menggunakan power semata-mata hanya untuk kepentingan
nasionalnya sendiri. Aerika Serikat menyalahgunakan hegemoninya dalam pengalihan isu di
APEC.

Pergeseran isu semacam ini sebetulnya tidak baik bagi keberlangsungan APEC itu
sendiri. APEC merupakan organisasi kerjasama regional yang bergerak di bidang ekonomi,
bukan di bidang politik atau keamanan. Pergeseran isu dari ekonomi menjadi keamanan yang
terkesan dipaksakan oleh Amerika Serikat ini dapat berdampak menjadi tidak fokusnya
APEC pada tujuan utamanya yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan
kemakmuran di kawasan Asia Pasifik.

5. Kesimpulan

APEC merupakan organisasi kerjasama regional yang bergerak di bidang ekonomi.


Tujuannya adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran di kawasan
Asia Pasifik. Selama ini yang mendominasi atau memegang dominasi dalam APEC adalah
Amerika Serikat yang memiliki power serta modal yang paling kuat di antara negara anggota
APEC lainnya.

Pada dasarnya, tidak ada yang salah dengan hegemoni di dalam suatu organisasi
internasional. Hegemoni itu sendiri dapat berfungsi menyokong keberlangsungan atau
kestabilan organisasi itu sendiri. Hal yang menjadi perdebatan adalah ketika hegemoni itu
disalahgunakan untuk kepentingan nasional negara pemegang hegemoni yang bersangkutan.

8
http://baiq-wardhani-df.blogspot.com/2008/12/apec-2020-bagi-indonesia-mitra-
atau.html
Amerika Serikat yang memiliki masalah dengan terorisme mengangkat isu ini dalam
forum APEC. Hal ini tentunya tidak sesuai karena APEC merupakan organisasi yang
memiliki tujuan spesifik yaitu di bidang ekonomi. Meskipun begitu, berdasarkan teori yang
ada ekonomi tidak dapat dipisahkan dari isu keamanan dan politik. Ketiganya saling
berkaitan demi stabilitas regional maupun dunia. Jadi, pergeseran isu ini masih menjadi
perdebatan. Posisi Amerika Serikat sebagai pemegang hegemoni dalam APEC pun turut serta
dipertanyakan, apakah hegemoni memang benar dibutuhkan dalam suatu organisasi
internasional.