Anda di halaman 1dari 21

Bab I

Pendahuluan

Tanaman pertanian sering diganggu atau dirusak oleh organisme penggangu yang secara
ekonomis sangat merugikan petani. Organisme pengganggu tanaman/tumbuhan ini di kenal
sebagai hama tanaman, penyakit tanaman, dan gulma (tumbuhan pengganggu), organism
penggangu tanaman/tumbuhan sering disingkat OPT. Untuk menghindari kerugian karena
serangan OPT, tanaman perlu dilindungi dengan mengendalikan OPTnya. Dengan usaha
pengendalian, populasi atau tingkat kerusakkan karena OPT ditekan serendah mungkin sehingga
secara ekonomis tidak merugikan.
Dari berbagai pengendalian yang ada, terlihat bahwa pengendalian secara kimiawi lebih
banyak dipakai oleh para petani. Meskipun demikian, pengendalian OPT secara kimiawi telah
memegang peranan yang terlalu dominan sehingga kita sering lupa bahwa ada banyak cara lain
untuk mengendalikan OPT selain menyemprotkan pestisida.. disamping terlalu dominan,
penggunaan pestisida juga sering dilakukan secara tidak benar.
Bab II
Pembahasan

A. Pestisida Nabati

Pestisida nabati adalah bahan aktif tunggal atau majemuk yang berasal dari tumbuhan
yang dapat digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (PPT). Pestisida
nabati ini dapat berfungsi sebagai penolak, penarik, antifertilitas (pemandul), pembunuh dan
bentuk lainnya.

Secara umum pestisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya
berasal dari tumbuhan yang relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan yang
terbatas. Oleh karen terbuat dari bahan alami / nabati maka jenis pestisida ini bersifat mudah
terurai (bio-degradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan, dan relatif aman bagi
manusia dan ternak peliharaan karena residu mudah hilang.

Berkembangnya penggunaan pestisida sintesis (menggunakan bahan kimia sintetis) yang


dinilai praktis oleh para pencinta tanaman untuk mengobati tanamannya yang terserang hama,
ternyata membawa dampak negatif bagi lingkungan sekitar bahkan bagi penggunanya sendiri.
Catatan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia mencatat bahwa di seluruh dunia setiap tahunnya
terjadi keracunan pestisida antara 44.000 - 2.000.000 orang dan dari angka tersebut yang
terbanyak terjadi di negara berkembang. Dampak negatif dari penggunaan pestisida diantaranya
adalah meningkatnya daya tahan hama terhadap pestisida, membengkaknya biaya perawatan
akibat tingginya harga pestisida dan penggunaan yang salah dapat mengakibatkan racun bagi
lingkungan, manusia serta ternak.

Cukup tingginya bahaya dalam penggunaan pestisida sintetis, mendorong usaha untuk
menekuni pemberdayaan pestisida alami yang mudah terurai dan tidak mahal. Penyemprotan
terhadap hama yang dapat mengakibatkan rasa gatal, pahit rasanya atau bahkan bau yang kurang
sedap ternyata dapat mengusir hama untuk tidak bersarang di tanaman yang disemprotkan oleh
pestisida alami. Oleh karena itu jangan heran bila penggunaan pestisida alami umumnya tidak
mematikan hama yang ada, hanya bersifat mengusir hama dan membuat tanaman yang kita rawat
tidak nyaman ditempati.

Bahan yang digunakan pun tidak sulit untuk kita jumpai bahkan tersedia bibit secara
gratis. Contohnya seperti tanaman bunga kenikir yang masih dapat di temui ditanah-tanah
kosong pada daerah yang cukup tinggi.. Jenis lain yang digunakan pun harus sesuai dengan
karakter dari bahan yang akan digunakan serta karakter dari hama yang ada. Seperti peribahasa,
tak kenal maka tak sayang, sehingga menjadi: tak kenal bahan dan jenis hama maka tak dapat
mengusir dan mengendalikan hama. Bahan lainnya adalah kunyit, sereh, bawang putih, daun
jatropa, daun diffen, jenis rempah-rempah dan lainnya.

Dosis yang digunakan pun tidak terlalu mengikat dan beresiko dibandingkan dengan
penggunaan pestisida sintesis. Untuk mengukur tingkat keefektifan dosis yang digunakan, dapat
dilakukan eksperimen dan sesuai dengan pengalaman pengguna. Jika satu saat dosis yang
digunakan tidak mempunyai pengaruh, dapat ditingkatkan hingga terlihat hasilnya. Karena
penggunaan pestisida alami relatif aman dalam dosis tinggi sekali pun, maka sebanyak apapun
yang diberikan tanaman sangat jarang ditemukan tanaman mati. Yang ada hanya kesalahan
teknis, seperti tanaman yang menyukai media kering, karena terlalu sering disiram dan lembab,
malah akan memacu munculnya jamur. Kuncinya adalah aplikasi dengan dosis yang diamati
dengan perlakuan sesuai dengan karakteristik dan kondisi ideal tumbuh untuk tanamannya.

Selain harus mengenal karakter dari bahan yang akan digunakan, karakter hamanya
sendiri pun harus diperhatikan dengan baik. Dengan mencari informasi karakter hidup hama,
mendengarkan dari pengalaman orang lain serta mengamati sendiri, kita dapat mencari
kelemahan dari hama tersebut. Contohnya untuk kutu yang menempel kuat di batang atau daun
dapat diatasi dengan menggunakan campuran sedikit minyak agar kutu tidak dapat menempel.
Selain itu, untuk semut yang menyukai cairan manis pada tanaman, dapat disemprotkan air sari
dari daun yang sifatnya pahit seperti daun pepaya, daun diffen, dan lainnya.

2.2 Prospek Pestisida Nabati dalam kerangka PHT

Dengan semakin meningkatnya kesadaran lingkungan dan keinginan untuk hidup selaras
dengan alam serta berkembangnya konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) pestisida nabati
kembali memperoleh perhatian dari paara pakar dan praktisi termasuk di indonesia setelah
beberapa dekade teknik pengendalian hama tersebut nyaris dilupakan. Namun perlu dicatat di
sini bahwa banyak kelompok pestisida sintetik yang sudah dikembangkan dan dipasarkan saat ini
berasal dari pestisida nabati seperti karbamat dan piretroid.

Perhatian banyak peneliti Indonesia terhadap pestisida nabati sangat meningkat pada
dekade terakhir ini. Banyak jenis tanaman yang telah diteliti indikasi sifat insektisidal, fungisidal
dan sifat-sifat pengendalian hama lainnya, seperti kunyit, jahe, kecubung, temu hitam, laos,
gadung, biji bengkuang dan sirih (Martono, 1997). Seminar hasil penelitian dalam Rangka
Pemanfaatan Pestisida Nabati yang diselenggarakan bulan Desember 1993 (Anonim, 1994) telah
membahas banyak hasil penelitian mengenai siifat-sifat pestisida nabati antara lain yang berasal
dari tanaman cengkeh, serai wangi, jeruju/mangrove, sirih, gadung, nimba, lada hitam, duku,
nilam, piretrum, vitex trifola, nona sabrang, deris dan bengkuang. Pada kesempatan seminar
tersebut Direktorat Jenderal Perkebunan telah membuat daftar sebanyak 45 jenis tumbuhan di
Indonesia yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati.

Namun dari berbagai hasil penelitian baik yang dilakukan di Indonesia maupun di luar
negeri masih banyak langkah penelitian dan pengembangan yang harus ditempuh agar jenis-jenis
tumbuhan tersebut dapat digunakan sebagai pestisida nabati yang dapat efektif mengendalikan
hama, ekonomi, praktis dan tidak membahayakan manusia dan lingkungan. Nimba, mimba atau
Azadirachta indica merupakan tanaman yang sangat intensif diteliti oleh banyak peneliti dan
ditinjau dari berbagai aspek pengendalian hama yang menunjukkan bahwa tanaman tersebut
dapat dijadikan pestisida nabati yang dapat dimanfaatkan di lapangan, baik dilakukan secara
manual maupun secara industri (Schumutterer, 1995).

Dilihat dari konsep dan prinsip PHT pestisida nabati mempunyai banyak
keuntungan/keunggulan tetapi juga masih banyak kelemahannya yang secara rinci diuraikan
berikut ini:

• Keunggulan
Menurut Stoll (1995) dibandingkan dengan pestisida sintetik pestisida nabati mempunyai
sifat yang lebih menguntungkan yaitu: a) mengurangi resiko hama mengembangkan sifat
resistensi, b) tidak mempunyai dampak yang merugikan bagi musuh alami hama, c)
mengurangi resiko terjadinya letusan hama kedua, d) mgnurangi bahaya bagi kesehatan
manusia dan ternak, e) tidak merusak lingkungan dan persediaan air tanah dan air
permukaan, f) mengurangi ketergantungan petani terhadap agrokimia dan g) biaya dapat
lebih murah.

Bahan nabati mempunyai sifat yang menguntungkan karena daya racun rendah, tidak
mendorong resistensi, mudah terdegradasi, kisaran organisme sasaran sempit, lebih akrab
lingkungan serta lebih sesuai dengan kebutuhan keberlangsungan usaha tani skala kecil. Oka
(1993) juga mengemukakan bahwa pestisida nabati tidak mencemari lingkungan, lebih bersifat
spesifik, residu lebih pendek dan kemungkinan berkembangnya resistensi lebih kecil.

Kelemahan
Menurut Martono (1997) kelemahan pestisida nabati yang perlu kita ketahui antara lain:

• Karena bahan nabati kurang stabil mudah terdegradasi oleh pengaruh fisik, kimia maupun
biotik dari lingkungannya, maka penggunaannya memerlukan frekuensi penggunaan yang lebih
banyak dibandingkan pestisida kimiawi sintetik sehingga mengurangi aspek kepraktisannya

• Kebanyakan senyawa organik nabati tidak polar sehingga sukar larut di air karena itu
diperlukan bahan pengemulsi

• Bahan nabati alami juga terkandung dalam kadar rendah, sehingga untuk mencapai efektivitas
yang memadai diperlukan jumlah bahan tumbuhan yang banyak

• Bahan nabati hanya sesuai bila digunakan pada tingkat usaha tani subsisten bukan pada usaha
pengadaaan produk pertanian massal

• Apabila bahan bioaktif terdapat di bunga, biji, buah atau bagian tanaman yang muncul secara
musiman, mengakibatkan kepastian ketersediaannya yang akan menjadi kendala
pengembangannya lebih lanjut

• Kesulitan menentukan dosis, kandungan kadar bahan aktif di bahan nabati yang diperlukan
untuk pelaksanaan pengendalian di lapangan, sehingga hasilnya sulir diperhitungkan sebelumnya
2.3 Pestisida Mimba (Azadirachta indica A. Juss; Mileaceae)

Indonesia memiliki flora yang sangat beragam, mengandung cukup banyak jenis tumbuh-
tumbuhan yang merupakan sumber bahan insektisida yang dapat dimanfaatkan untuk
pengendalian hama. Lebih dari 1500 jenis tumbuhan di dunia telah dilaporkan dapat berpengaruh
buruk terhadap serangga. Di Indonesia terdapat 50 famili tumbuhan penghasil racun. Famili
tumbuhan yang dianggap merupakan sumber potensial insektisida nabati adalah Meliaceae,
Annonaceae, Asteraceae, Piperaceae dan Rutaceae.

Mimba (Azadirachta indica A. Juss; Mileaceae), merupakan salah satu tumbuhan sumber
bahan pestisida (pestisida nabati) yang dapat dimanfaatkan untuk pengendalian hama. Tanaman
ini tersebar di daratan India. Di Indonesia tanaman ini banyak ditemukan di sekitar provinsi Jawa
Tengah, Jawa Timur, Bali, dan NTB. Dataran rendah dan lahan kering dengan ketinggian 0-800
dpl. merupakan habitat yang terbaik untuk pertumbuhan tanaman mimba. Penanaman dapat
dilakukan melalui stek, cangkok, dan biji. Pembibitan lewat biji dilakukan segera mungkin
setelah panen. Biji yang dijadikan benih, dimasukkan dalam karung basah selama 3-7 hari, atau
direndam semalam agar cepat berkecambah. Benih yang telah berkecambah kemudian dipindah
dalam polybag ukuran 30 cm yang berisi campuran tanah dan humus sampai tanaman berumur 3
bulan. Pemindahan bibit ke lahan penanaman sebaiknya dilakukan pada musim penghujan, agar
tanaman tidak kekeringan. Tanaman mimba umumnya berbuah pada umur 3-5 tahun, dan pada
umur 10 tahun tanaman mulai produktif berbuah. Buah yang dihasilkan dapat mencapai 50 kg
per pohon. Tanaman mimba hanya berbuah setahun sekali (sekitar bulan Desember-Januari).

Bagian tanaman mimba yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati adalah daun dan
bijinya. Ekstrak daun dan biji mimba mengandung senyawa aktif utama azadiraktin. Selain
bersifat sebagai insektisida, mimba juga memiliki sifat sebagai fungisida, virusida, nematisida,
bakterisida, maupun akarisida.

2.4 Cara Kerja Mimba

Berdasarkan kandungan bahan aktifnya, biji dan daun mimba mengandung


azadirachtinmeliantriol, salanin, dan nimbin, yang merupakan hasil metabolit sekunder dari
tanaman mimba. Senyawa aktif tanaman mimba tidak membunuh hama secara cepat, tapi
berpengaruh terhadap daya makan, pertumbuhan, daya reproduksi, proses ganti kulit,
menghambat perkawinan dan komunikasi seksual, penurunan daya tetas telur, dan menghambat
pembentukan kitin. Selain itu juga berperan sebagai pemandul. Selain bersifat sebagai
insektisida, tumbuhan tersebut juga memiliki sifat sebagai fungisida, virusida, nematisida,
bakterisida, mitisida dan rodentisida. Senyawa aktif tersebut telah dilaporkan berpengaruh
terhadap lebih kurang 400 serangga. sebagai senyawa aktif utama.

2.5 Keunggulan Mimba

Pengendalian hama dengan menggunakan mimba sebagai insektisida nabati mempunyai


beberapa keunggulan antara lain :

• Di alam senyawa aktif mudah terurai, sehingga kadar residu relatif kecil, peluang untuk
membunuh serangga bukan sasaran rendah dan dapat digunakan beberapa saat menjelang
panen.
• Cara kerja spesifik, sehingga aman terhadap vertebrata (manusia dan ternak)
• Tidak mudah menimbulkan resistensi, karena jumlah senyawa aktif lebih dari satu.

Dengan keunggulan di atas, maka akan dihasilkan produk pertanian dengan kualitas yang prima,
dan kelestarian ekosistem tetap terpelihara.

Kelemahan mimba

• Persitensi insektisida yang singkat kadang kurang menguntungkan dari segi ekonomis,
karena pada populasi yang tinggi diperlukan aplikasi yang berulang-ulang agar mencapai
keefektifan pengendalian yang maksimal.

• Biaya produksi lebih mahal, sehingga harga jualnya belum tentu lebih murah dari
insektisida sintetik.
Kendala pengembangan mimba sebagai insektisida alami

• Aplikasi kurang praktis dan hasilnya tidak dapat segera dilihat, di samping itu petani
harus membuat sedia sendiri. Dengan alasan tersebut petani akan lebih memilih pestisida
kimia dari pada nabati.
• Kurangnya dorongan penentu kebijakan
• Bahan, seperti halnya biji mimba tidak tersedia secara berkesinambungan, hal tersebut
disebabkan karena biji mimba hanya dapat dipanen setahun sekali.
• Frekuensi pemakaian lebih tinggi, yang disebabkan karena sifat racunnya mudah
terdegradasi
• Memerlukan persiapan yang agak lama, untuk mendapatkan konsentrasi bahan pestisida
yang baik harus dilakukan perendaman selama 12 jam (semalam).

Pembuatan Ekstrak Air Biji Mimba

1. Kering anginkan biji mimba beserta kulit biji sampai kering agar tidak berjamur.

2. Giling biji dan kulit biji mimba sampai halus, kemudian saring dengan ayakan (850 µm).

3 .Timbang 25-50 g serbuk biji mimba + 1 l air + 1 ml alkohol aduk rata, kemudian rendam

semalam (12 jam).

4. Keesokan harinya rendaman bahan disaring dengan kain furing

5. Larutan hasil penyaringan kemudian ditambah dengan 1 g deterjen atau 0,5 ml perata (apsa),

aduk rata dan larutan siap disemprotkan.

6. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada sore hari, dengan volume semprot yang memadai

400-600 l air, tergantung umur tanaman yang akan disemprot

Pembuatan Ekstrak Air Daun Mimba

1. Blender 50 g daun mimba segar dengan 1 l air + 1 ml alkohol aduk rata, kemudian rendam
semalam (12 jam).
2. Keesokan harinya rendaman bahan disaring dengan kain furing
3. Larutan hasil penyaringan kemudian ditambah dengan 1 g deterjen atau 0,5 ml perata (apsa),
aduk rata dan larutan siap disemprotkan.

B. Pestisida Sintesis
2.1 Klasifikasi
 Golongan senyawa kimia
Pestisida dikelompokkan menurut golongan atau kelas kimianya, yakni
sekelompok pestisida yang mempunyai persamaan dalam rumus struktur molekulnya.
Misalnya semua pestisida yang termasuk dalam kelompok triazin dalam
persenyawaannya. Demikina juga, semua kimia dari golongan urea mempunyai gugus
urea dalam struktur molekulnya. Senyawa kimia yang tergabung dalam kelompok yang
sama umumnya mempunyai kemiripan dalam sifat-sifat kimanya, meskipun sifat-sifat
khususnya dapat sangat berbeda.
Pengetahuan mengenai kelompok kimia pestisida ini bermanfaat sedikitnya untuk
dua hal, yakni :
1. Untuk menentukan pergiliran penggunaan pestisida (terutama insektisida dan lebih
terbatas lagi fungisida) dalam program pengolahan resisten. Untuk menghindarkan
atau edikitnya menunda resistensi hama, biasanya disarankan untuk menggunakan
insektisida yang berbeda kelompok kimianya secara bergantian.
2. Bila terjadi kecelakaan atau keracuna pesitida, dokter yang merawat akan sangat
terbantu bila kita tahu jenis bahan aktifnya serta kelompok kima dari pestisida sintetik
tersebut.

 Bentuk formulasi
Bahan aktif pestisida tidak dijual begitu saja dalam bentuk yang murni. Nahan
aktif murni, kecuali harganya sangat mahal, sangat berbahaya dan sangat beracun serta
sulit digunakan di lapangan (misalnya tidak larut dalam air). Karena itu dalam
perdagangan, bahan aktif ini diformulasikan terlebih dahulu dengan cara dicampur
bahan-bahanpembantu, misalnya solvent (bahan pelarut),emulsifier (bahan pembuat
emulsi), diluent (bahan pembasah atau pengence, carrier (bahan pembawa), dan kadang-
kadang synergist (bahan untuk meningkatkan efikasi pestisida).
 Mode of action
Menurut cara kerja atau gerakannya pada tanaman setelah diaplikasikan secara kasar
dibedakan menjadi tigas macam, yaitu;
o Pestisida sistemik
Pestisida sistemik diserap oleh organ-organ tanaman, baik lewat akar, batang atau
daun. Selanjutnya, pestisida sistemik tersebut mengikuti gerakan cairan tanaman
dan ditransportasikan ke bagian-bagian tanaman lainnya, baik ke atas maupun ke
bawah termasuk ke tunas yang baru tumbuh.
o Pestisida nonsistemik
Pesrisida nonsistemik setelah diaplikasikan pada tanaman sasaran tidak diserap
oleh jaringan tanaman, tetapi hanya menempel di bagian luar tanaman. Pestisida
ini sering disebut pestisida kontak.tapi istilahnya kurang tepat dan lebih tepat bagi
cara kerja pestisida yang berhubungan dengan cara masuknya ke dalam tubuh
OPT.
o Pestisida sistemik local
Pestisida sistemik local adalah kelompok pestisida yang dapat diserap oleh
jaringan tanaman, umumnya daun, tetapi tidak ditranslokasikan ke bagian
tanaman lainnya.

 Mode of entry
• Pada insektisida
Menurut cara masuk insektisida ke dalam tubuh serangga sasaran dibedakan menjadi 3
kelompok insektisida yaitu;
o Racun lambung
Merupakan insektisida yang membunuh serangga sasaran bila insektisida tersebut
masuk ke dalam organ pencernaan serangga dan diserap oleh dinding saluran
pencarnaan.
o Racun kontak
Merupakan insektisida yang masuk ke dalam tubuh serangga lewat kulit
(bersinggungan langsung).
o Racun pernapasan
Merupakan insektisida yang bekerja lewat saluran pernapasan. Serangga akan
mati bila mengghirup insektisida dalam jumlah yang cukup.
• Pada fungisida
o Multisite inhibitor
Merupakan fungisida yang bekerja menghambat beberapa proses metabolism
cendawan.
o Monosite inhibitor
Merupakan fungisida yang bekerja dengan menghambat salah satu proses
metabolisme cendawan, misalnya hanya menghambat sintesis protein.

 Toxisitas
Toksisitas atau daya racun pestisida adalah bawaan sifat pestisida yang
menggambarkan potensi pestisida tersebut dalam menimbulkan kematian langsung pada
hewan tingkat tinggi (termasuk manusia).

 Persistensi
Pestisida disebut persistensi (persistent) bila sesudah diaplikasi dapat bertahan
pada bidang sasaran atau pada lingkungan dalam jangka waktu yang lama. Pestisida yang
persisten tidak mudah diuraikan di alam. Senyawa-senyawa ini bertahan pada lingkungan
tidak hanya dalam hitungan bulan tetapi puluhan tahun. Senyawa hidrokarbon berklor
juga tidak mudah disekresikan bila masuk kedalam tubuh hewan dan manusia. Oleh
karena itu, senyawa ini dapat terus berada dalam tubuh organisme dan berpindah dari
organisme yang satu ke organisme lainnya melalui rantai makanan. Konsentrasinya juga
cendrung makin meningkat jika tingkat trofik yang dilalui makin tinggi.
Pestisida yang persisten juga meninggalkan residu yang sulit dibersihkanpada
tanaman yang disemprot. DDT dan senyawa hidrokarbon lainnya dilarang untuk dipakai
bukan hanya karena toksisitasnya tinggi,teetapi karena sifatnya yang sangat persisten.
Pestisida yang tidak persisten.
Pestisida yang tidak persisten dapat diurai (didekomposisi) di alam menjadi
senyawa lain yang tidak berbahaya (detoksifikasi). Penguraian ini dapat berlangsung
scara kimiawi (fotolisis,hidrolisis) atau secara biologis oleh tanaman dan
mikroorganisme. Efek residu pestisida yang tidak persisten hanya bertahan beberapa hari
hingga beberapa bulan saja. Pestisida-pestisida modern seperti organofosfat, karbamat,
umumnya tidak lagi bersifat persisten.

2.2 Alat Semprot

Semua alat yang digunakan untuk mengaplkasikan pestisida dengan cara penyemprotan
disebut alat semprot atau sprayer. Apapun bentuk dan mekanisme kerjanya, sprayer berfungsi
untuk mengubah atau memecah lautan semprot, yang dilakukan oleh nozzle, menjadi bagian-
bagian atau butiran-butiran yang halus(droplet).
Macam-macam spayer :
1. Sprayer manual
Sprayer manual adalah sprayer yag digerakkan dengan tangan. Contoh sprayer
manual adalah sebagai berikut :
• Trigger pump, yakni pompa tangan (hand pump) yang banyak digunakan
untuk pengendalian hama dirumah tangga.
• Bucket pump atau trombone pump dan garden hose sprayer, untuk
mengendalikan hama dan penyakit di pekarangan
• Sprayer gendong otomatis (prepressurized knapsack sprayer, compression
sprayer), yang banyak digunakan di bidang pertanian.
• Lever operated knapsack sprayer (sprayer gendong yang harus dipompa
terus-menerus). Jenis sprayer ini juga banyak digunakan di bidang pertanian
di Indonesia.
2. Sprayer tenaga mesin
Sprayer tenaga mesin adalah sprayer yang digerakkan oleh tenaga mesin. Contoh
sprayer tenaga mesin adalah sebagai berikut :
• Sprayer punggung bermesin (motorized knapsack sprayer)
• Mesin pengkabut (mist blower)
• Power sprayer atau gun sprayer yang digerakkan leh motor stasioner atau
traktor. Jenis sprayer ini didesain untuk mengaplikasikan pestisida pada
pepohonan tinggin, namun banyak digunakan traktor atau truk : boom
sprayer, boomles sprayer, air blast sprayer (air assisted sprayer)
• Sprayer dan atomizer yang dipasang pada pesawat udara (termasuk
helicopter) untuk penyemprotan di udara.

2.3 Teknik Aplikasi

2.3.1 Sasaran aplikasi pestisida pertanian


• Aplikasi biologis
Aplikasi pestisidda di bidang pertanian bertujuan untuk mengendalikan organisme
pengganggu tanamna/tumbuhan (OPT). sasaran biologis aplikasi pestisida pertanian
adalah OPT yang dikenal sebagai :
o hama tanaman,
o penyakit tanaman dan
o gulma
• Kepekaan sasaran
pestisida hanya mampu mengendalikan OPT apabila OPT sasaran masih peka
(sensitive, belum kebal) terhadap pestisida tersebut. Penuruna kepekaan OPT
terhadap pestisida tertentu tidak mudah dijelaskan. Penurunan kepekaan OPT terhdap
jenis pestisida tersebut antara lain dapat terjadi apabila penggunaan pestisida yang
sama atau dari kelompok kimia yang sama secara terus menerus dalam jangka waktu
yang lama.
• Bidang sasaran aplikasi
Beberapa bidang sasaran atau sasaran fisik yang umum dalam aplikasi pestisida
pertanian antara lain sebagai berikut:
1. Tanaman atau bagian tanaman (terutama daun)
Bidang sasaran ini sangan umum pada aplikasi penyemprotan insektisida dan
fungisida untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Tanaman atau
bagian tanaman juga meruoakan bidang sasaran untuk aplikasi dengan cara
pengenbusan (dusting, mist blowing dsb.)
2. Tanah
Tanah merupakan bidang sasaran pada aplikasi herbisida pra-tumbuh dan aplikasi
pestisida butiran serta sterilisasi tanah. Perhitungan aplikasi didasarkan atas luas
lahan yang akan diaplikasi.
3. Gulma
Pada penyemprotan herbisida pasca-tumbuh, bidang sasaran dan sasaran biologis
yang sama yakni gulma. Perhitungan aplikasi didasarkan atas luas lahan yang
akan diaplikasi.
4. Air
Pada aplikasi herbisida pra-tumbuh di lahan sawah dan di daerah perairan
herbisida langsung disemprotkan ke permukaan air. Perhitungan aplikasinya
didasarkan atas luas lahan atau perkiraaan volume air yang akan diperlakukan
pestisida.
5. Ruangan
Ruangan merupakan sasaran fisik yang umum pada pengendalian hama gudang
dengan sistim fumigasi. Perhitungan aplikasi fumigan didasarkan atas volume
ruangan yang akan diaplikasi.

2.3.2 Waktu aplikasi


• Saat aplikasi dan perkembangan OPT
Pestisida paling tepat jika diaplikasikan pada saat OPT berada pada stadia paling peka
terhadap pestisida. Umumnya, makin dini tahap perkembangan OPT, makin peka
terhadap pestisida. Aplikasi pestisida pada waktu yang tepat tidak hanya berlaku pada
serangga hama saja, tetapi juga berlaku pada penyakit dan gulma umumnya.
• Saat aplikasi insektisida
Jika dikatakan dengan tahap perkembangan hama, maka dikenal dengan beberapa
saat aplikasi insektisida, yakni ;
o aplikasi preventif
 perlakuan benih
 penaburan insektisida butiran
 pencelupan benih tanaman kedalam larutan insektisida
 penyemprotan dengan insektisida
o aplikasi dengan sistem kalender
o aplikasi kuratif
o aplikasi berdasarka ambang ekonomi
• Saat aplikasi fungisida
Aplikasi fungisida dapat dikelompokkan seperti aplikasi insektisida. Akan tetapi,
karena sifat serangan dan cara hidup fungi berbeda dengan hama dan cara kerja
fungisida juga berbeda dengan insektisida, maka saat aplikasi fungisida mengalami
sedikit perubahan yaitu ;
o aplikasi protektif, preventif, atau propilaktik
o aplikasi kuratif dan eradikatif
o aplikasi berdasarkan ambang pengendalian
• Saat aplikasi herbisida
Herbisida pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu ;
o Herbisida pra-tumbuh
o Herbisida pasca-tumbuh
o Herbisida pasca-tumbuh awal
• Pertimbangan cuaca dalam penentuan aplikasi
Faktor cuaca sangat menentukan kapan pestisida diaplikasikan. Factor-faktor cuaca
yang penting untuk dipertimbangkan adalah ;
o Gerakan udara
o Presipitasi
o Kelembapan udara
o Suhu udara
• Pertimbangan-pertimbangan lain untuk menentukan aplikasi
Ada beberapa pertimbangan untuk menentukan aplikasi, yaitu ;
o Saat aplikasi dan perkembangan tanaman
o Strategi pencegahan/penundaan resistensi
o Peramalan hama dan penyakit
o Masa tunggu

• Rekomendasi umum penentuan waktu aplikasi


o Insektisida dan fungisida
o Herbisida
o Cuaca

2.3.3 Takaran aplikasi

• Dosis aplikasi
Merupakan jumlah pestisida yang diaplikasikan untuk mengendalikan OPT pada
setiap satuan luas idang sasaran. Dosis dapat dinyatakan dalam dosis produk atau
dosis bahan aktif. Bila dosis dinyatakan dalam banyaknya bahan aktif, maka untuk
mengubah ke dosis produk harus dikonversikan dengan kandungan bahan aktif
produk tersebut. Kadar bahan aktif produk umumnya dapat diperkirakan dari angka-
angka dalam nama dagangnya. Rekomendasi takaran penggunaan dalam bentuk dosis
sangat umum digunakan dalam aplikasi herbisida, pestisida butiran, fumigan,
pestisida yang diaplikasikan dengan penghembusan, dan rodentisida.
• Konsentrasi aplikasi
Konsentrasi aplikasi digunakan dalam aplikasi dengan cara penyemprotan atau
penggunaan lainnya seperti injeksi,drenching,dsb. Dalam penyemprotan pestisida
umumnya tidak digunakan dalam bentuk sediaan aslinya,tetpai diencerkan terlebih
dahulu hingga konsentrasi penggunaan seperti yang direkomendasikan oleh
produsennya. Konsentrasi banyak sekali digunakan dalam penggunaan insektisida
dan fungisida. Konsentrasi penyemprotan adalah jumlah pestisida yang d icampurkan
dalam 1 liter untuk mengendalikan OPT tertentu. Onsentrasi dinyatakan dalam
milliliter produk per liter air,gram produk per liter air atau persen seperti halnya
dosis, konsentrasi dapat dinyatakan dalam konsentrasi produk atau konsentrasi bahan
aktif.
• Hal yang mempengaruhi takaran aplikasi
Ada beberapa keadaan yang kadang-kadang memaksa kita untuk menyesuaikan
takaran aplikasi antara lain :
o Penelitian untuk menetapkan takaran aplikasi umumnya dilakukan atas OPT
yang masih peka terhadap pestisida. OPT yang sudah berkurang kepekaannya
sering memerlukan takaran yang lebih tinggi
o Intensitas serangan OPT yang sangat berat kadang-kadang juga memerlukan
takaran yang lebih tinggi.
o Untuk herbisida tanah, takaran dapat berbeda pada jenis tanah yang berbeda.
Dosis aplikasi dan konsentrasi aplikasi pestisida umumnya diberikan dalam suatu
kisaran atau range. Misalnya,dosis antara 1-1,5 L per hectare dan konsentrasi antara
1,5-2 cc per Liter. Bila serangan OPT tidak terlalu berat , maka disarankan untuk
menggunakan takaran terendah. Takaran yang tinggi hanya digunakan bila serangan
OPT berat.

2.4 Teknik Penyemprotan

Penyemprotan merupakan cara aplikasi yang paling banyak digunakan para pengguna
pestisida pertanian di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Dalam penyemprotan, larutan semprot
(pestisida tanpa air), dengan alat semprot akan dipecah menjadi buiran butiran-halus (droplet),
dan didistribusikan keseluruh bidang sasaran penyemprotan, sehingga seluruh bidang sasaran
tertutup droplet.

2.4.1 Menyemprot secara benar

Pestisida yang digunakan akan mampu menampilkan efikasi biologis yang optimal jika
penyemprotan dilakukan dengan benar yaitu memenuhi syarat, kriteria, atau paramaeter berikut ;
1. Permukaan bidang sasaran tertutup oleh butiran semprot atau droplet dalam jumlah
yang memenuhi syarat.
2. Menggunakan ukuran droplet yang tepat
3. Menggunakan volume aplikasi yang cocok untuk berbagai jenis tanaman dan stadia
pertumbuhan tanaman yang berbeda.
4. Pestisida yang disemprotkan menempel sebanyak mungkin pada bidang sasaran.
5. Droplet semprotan didistribusikan diseluruh permukaan bidang sasaran secara merata.
Bab III
Penutup

3.1 Kesimpulan

Teknik aplikasi pestisida sangat menentukan berhasil tidaknya pengendalian OPT.


kegagalan pengendalian OPT secara kimiawi dapat disebabkan oleh kesalahan aplikasi pestisida.
Disamping itu, kesalahan aplikasi pestisida juga sangat berbahaya bagi pengguna, konsumen,
dan lingkungan. Dan aplikasi penggunaan pestisida pasti memiliki kelebihan dan kekurangan
tersendiri baik pestisida nabati maupun sintetis.
Bab IV
Daftar Pustaka

 Djojosumarto,Panut.2008.Teknik Aplikasi Pestida Pertanian.Kanisius:Jakarta


Makalah Teknik Perlindungan Tanaman II
“Pestisida”

Kelompok 3
Disusun oleh :
Martha Christy 150110080209
Yessikha Valerine 150110080219
Redy Adtya Permadi 150110080220
Imam Muddin 150110080225
Muh Fadhil Asrodi 150110080226

JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJAJARAN
2009