Anda di halaman 1dari 30

MODUL

PERENCANAAN PEMBANGUNAN
DAN PENGANGGARAN

Oleh Eko Subhan


MODUL
PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAN PENGANGGARAN
Oleh Eko Subhan

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
A. Deskripsi Singkat 1
B. Hasil Belajar 1
C. Indikator Hasil Belajar 1
D. Pokok Bahasan 2

BAB II SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL


A. Pengertian Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional 3
B. Hubungan Antara Rencana Pembangunan Nasional dengan 4
Rencana Pembangunan Daerah
C. Apa yang Direncanakan? 5
D. Lembaga Perencanaan 6
E. Proses Perencanaan 6
F. Tahapan Penyusunan Rencana

BAB III SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH


A. Pengertian Perencanaan Pembangunan Daerah 14
B. Tujuan dan Manfaat Perencanaan Pembangunan Daerah 14
C. Siklus Perencanaan Teoritis 14
D. Tata Cara Penyusunan RPJP Daerah 15
E. Tahapan Penyusunan RPJM Daerah. 16
F. Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 19
G. Proses Pengambilan Keputusan Dalam Penyusunan 22
Perencanaan

EVALUASI 24
BAB I
PENDAHULUAN

A. Deskripsi Singkat

Peraturan dan perundangan di era desentralisasi memperlihatkan komitmen


politik pemerintah untuk menata kembali dan meningkatkan sistem,
mekanisme, prosedur dan kualitas roses perencanaan dan penanggaran
daerah. Ini diakukan dengan tujuan untuk mewujudkan tata kelola
pemerintahan di daerah yang lebih baik, demokratis, dan pembangunan
yang berkelanjutan.

RPJMD atau Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah


merupakan produk resmi daerah yang berfungsi sebagai panduan
pembangunan di daerah selama 5 tahun kepemimpinan daerah. RPJMD
sebagai produk panduan daerah, sudah barang tentu tidak lepas dari
konsepsi visi dan misi daerah dan harus terkait dan mendukung pada RPJP
Daerah.

Pada dasarnya RPJMD menjawab 3 hal, yaitu (1) kemana daerah akan
diarahkan dan apa yang hendak dicapai dalam kurun waktu 5 tahun, (2)
bagaimana proses pencapaian tersebut akan dilakukan, dan (3) langkah-
langkah strategis apa yang dilakukan untuk mencapai tujuan.

B. Hasil Belajar

Setelah mempelajari modul ini, peserta diharapkan dapat memahami dan


menerapkan sistem perencanaan pembangunan daerah hingga menyusun
Rencana Kerja Anggaran SKPD dan melakukan proses evaluasi produk-
produk perencanaanpembangunannya.

C. Indikator Hasil Belajar

Setelah mengikuti proses pembelajaran modul ini, para peserta mampu


untuk:

1. Menjelaskan menjelaskan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional


(SPPN).
2. Menerapkan prinsip-prinsip penyusunan perencanaan pembangunan
daerah yang baik.
4. Menyusun penyusunan perencanaan pembangunan daerah.
6. Menjelaskan tahapan penyusunan rencana pembangunan daerah
7. Menjelaskan siklus perencanaan teoritis.
8. Menjelaskan Tata cara penyusunan perencanaan RPJP, RPJM,
perencanaan Daerah lainnya.

MODUL 1/URDI/ES 1
D. Pokok Bahasan

1. Kebijakan Nasional tentang Perencanaan dan penganggaran; RPJMD


hingga RKPD dan Rencana Kerja SKPD
2. Kebijakan Umum APBD
3. Pelaksanaan SWOT Analysis dan SWOT Sederhana
4. Mekanisme penyusunan TOR dan indicator kegiatan
5. Monitoring dan evaluasi RPJMD sebagai bahan masukan dalam
penyusunan RPJMD selanjutnya
BAB II
SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

A. Pengertian Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional

Dalam Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 (UU 25/2004) tentang Sistem


Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), perencanaan didefinisikan
sebagai suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat,
melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang
tersedia. Dalam SPPN dijelaskan adanya banyak rencana-rencana, mulai
dari rencana tingkat nasional sampai rencana tingkat daerah. Dalam Bab 1
Pasal ayat 3, UU 25/2004 dikatakan bahwa;

”Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata


cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana
pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang
dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat
Pusat dan Daerah”

Hubungan antara Perencanaan Perencanaan Pusat dan Perencanaan


Pemerintahan Daerah digambarkan seperti berikut:

Pedoman
Pemerintah Pusat

Renstra Renja -
KL KL

Pedoman Diacu

Pedoman Dijabarkan
RPJP RPJM
RKP
Nasional Nasional

Diserasikan
melalui
Diacu Diperhatikan Musrenbang
Pemerintah Daerah

Pedoman Dijabarkan
RPJP RPJM RKP
Daerah Daerah Daerah

Pedoma Diacu

Pedoman
Renstra Renja -
SKPD SKPD

Gambar 1. Hubungan Antar Dokumen Perencanaan


B. Hubungan Antara Rencana Pembangunan Nasional dengan Rencana
Pembangunan Daerah

Gambar 1 memperlihatkan hubungan antar perencanaan pusat dan daerah,


dimana perencanaannya dimulai dengan Rencana Pembangunan Jangka
Panjang (RPJP), Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM),
Rencana Stretgis (Renstra KL dan SKPD), Rencana Kerja Pemerintah (RKP
dan RKPD), dan Rencana Kerja (Renja KL/SKPD). Dokumen rencana yang
dihasilkan adalah sebagai berikut:

Dokumen Perencanaan Pemerintahan Pusat:

1. Rencana Pembangunan Jangka Panjang, yang selanjutnya disingkat


RPJP, adalah dokumen perencanaan untuk periode 20 (dua puluh)
tahun yang memuat Visi, Misi, dan Arah Pembangunan.

2. Rencana Pembangunan Jangka Menengah, yang selanjutnya disingkat


RPJM, adalah dokumen perencanaan untuk periode 5 (lima) tahun yang
merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program Presiden dan
memuat strategi pembangunan nasional, kebijakan umum, kerangka
ekonomi makro, program-program dan kegiatan pembangunan

3. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kementerian/Lembaga,


yang selanjutnya disebut Rencana Strategis Kementerian/Lembaga
(Renstra-KL), adalah dokumen perencanaan kementerian/lembaga
untuk periode 5 (lima) tahun.

4. Rencana Pembangunan Tahunan Kementerian/Lembaga, yang


selanjutnya disebut Rencana Kerja Kementerian/Lembaga (Renja-KL),
adalah dokumen perencanaan kementerian/ lembaga untuk periode 1
(satu) tahun.

5. Rencana Pembangunan Tahunan Nasional, yang selanjutnya disebut


Rencana Kerja Pemerintah (RKP), adalah dokumen perencanaan
nasional untuk periode 1 (satu) tahun.

Dokumen Perencanaan Pemerintah Daerah:

1. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, yang selanjutnya


disingkat RPJPD, adalah dokumen perencanaan untuk periode 20 (dua
puluh) tahun yang memuat Visi, Misi, dan Arah Pembangunan.

2. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat


Daerah, yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD, adalah dokumen
perencanaan satuan kerja perangkat daerah untuk periode 5 (lima)
tahun.
3. Rencana Pembangunan Tahunan Daerah, yang selanjutnya disebut
Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), adalah dokumen
perencanaan daerah untuk periode 1 (satu) tahun.

4. Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah,


yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat
Daerah (Renja-SKPD), adalah dokumen perencanaan satuan kerja
perangkat daerah untuk periode 1 (satu) tahun.

C. Apa yang Direncanakan?

Ada dua bidang yang dicakup dalam perencanaan, yaitu :

1. Arahan dan bimbingan bagi seluruh elemen bangsa mencapai tujuan


pembangunan nasional yang tercantum dalam Pembukaan UUD
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Arahan ini dituangkan dalam rencana pembangunan nasional sebagai


penjabaran langkah-langkah untuk mencapai masyarakat yang
terlindungi, sejahtera, cerdas dan berkeadilan dan dituangkan dalam
bidang-bidang kehidupan bangsa: politik, sosial, ekonomi, budaya, serta
pertahanan dan keamanan. Inilah yang menjadi isi utama RPJP
Nasional/Daerah yang dirumuskan ke dalam Visi, Misi, dan Arah
Pembangunan.

2. Arahan bagi pemerintah dalam menjalankan fungsinya untuk mencapai


tujuan pembangunan nasional yang dituangkan ke dalam RPJM
Nasional/Daerah dan RKP/RKPD.

Arahan bagi pemerintah ini dimaksudkan agar dapat memenuhi


kebutuhan masyarakat itu dalam membangun dirinya sendiri.

Selanjutnya ada dua kelompok kegiatan pemerintah yang dibutuhkan oleh


masyarakat.

1. Kegiatan pemerintah dalam kerangka regulasi. Melalui kegiatan ini


pemerintah menghasilkan dan menegakkan regulasi agar: (1) kegiatan
masyarakat sesuai dengan amanat UUD NRI Tahun 1945; (2) ada
jaminan bagi masyarakat memperoleh insentif dari prakarsa-prakarsa
yang dilakukannya; dan (3) kegiatan di masyarakat tersebut
terkoordinasi dengan baik guna mendapatkan sinergi yang maksimal.

2. Kegiatan dalam kerangka investasi pemerintah dan layanan publik.


Kegiatan ini diperlukan karena tidak semua barang dan jasa dapat
dihasilkan oleh masyarakat. Ada barang dan jasa yang harus
disediakan pemerintah, seperti jalan, irigasi, jembatan, pelabuhan,
layanan dasar kesehatan, layanan dasar pendidikan, dan layanan
kependudukan (barang dan jasa publik).
Untuk melaksanakan kedua kegiatan di atas, jelas diperlukan pelaku (aktor)
pembangunan. Dalam hal tentunya pelaku pembangunan adalah
pemerintah dan masyarakat.

D. Lembaga Perencanaan

Perlukah lembaga perencanaan? Rencana diperlukan oleh setiap pelaku


pembangunan. Karena tanpa itu, pembangunan sebagai pergerakan
masyarakat berlangsung secara acak sehingga tidak ada jaminan tujuan
yang dicita-citakan tercapai dalam kurun waktu yang diinginkan. Hanya saja,
siapa yang harus membuat rencana tersebut: apakah seluruhnya
diserahkan ke masing-masing pelaku atau tidak. Menurut Alexander,
diperlukan satu lembaga untuk mengelola penyusunan rencana
pembangunan nasional. Dengan menggunakan teori biaya transaksi
(transaction cost theory) Alexander berargumentasi bahwa bila semua
proses perencanaan diserahkan ke masing-masing pelaku maka diperlukan
transaksi dalam jumlah yang sangat besar untuk mencapai konvergensi
rencana, bahkan bisa mencapai tak berhingga. Biaya transaksi tersebut
akan jauh lebih kecil, bila ada satu lembaga yang bertugas mengelola dan
menyusun rencana pembangunan.

E. Proses Perencanaan1

Pada mulanya ahli-ahli perencanaan publik menganjurkan untuk


menggunakan informasi preferensi semua penduduk sebagai awal dari
proses perencanaan. Dengan data preferensi tersebut, pilihan-pilihan serta
prioritas pembangunan dapat disusun dengan seksama. Hanya saja
pandangan ini tidak praktis. Sehingga pengumpulan preferensi penduduk
hampir tidak pernah dilaksanakan secara utuh. Sementara itu, berkembang
pemikiran tentang bagaimana pemerintah berperan dalam pembangunan
bangsa yaitu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Ketiadaan barang publik akibat kegagalan pasar dialami langsung oleh


masyarakat. Sehingga kalau ada pihak yang menawarkannya, akan terjadi
semacam transaksi. Inilah yang terjadi dalam pemilihan umum, sehingga
pemilu dipandang sebagai “market of plan”. Pemilih akan menimang-nimang
program-program yang ditawarkan masing-masing calon presiden, dan bila
ada yang sesuai dia akan memilih calon presiden yang menawarkannya.
Sehingga visi, misi, dan program pasangan Presideng/Wapres terpilih
menjadi sebuah dokumen rencana yang diakui oleh Undang-undang. Inilah
yang dinamakan proses politik dalam perencanaan.

1
Proses Perencanaan yang diutarakan disini adalah dikutip dari Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional , Bappenas, 2004, Jakarta. Hal 4:5.
Sementara itu, para profesional juga dapat menjadi sumber
pengidentifikasian kebutuhan masyarakat. Walau tidak mengalami sendiri,
berbekal pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, para profesional
dapat dengan baik mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi oleh
masyarakat, termasuk permasalahan yang tidak disadari oleh masyarakat
itu sendiri. Hasil pengamatannya inilah yang menjadi titik tolak
perencanaannya. Penyusunan rencana yang demikian dinamakan proses
teknokratik. Rencana-rencana yang dihasilkan proses ini sering diberi label
“perspektif”, dan kalau itu untuk jangka menengah, maka dinamakan
“perspektif jangka menengah”.

Baik proses politik maupun proses teknokratik dipandu oleh visi jangka
panjang. Inilah yang menjamin adanya konsistensi antar rencana menengah
dalam perioda jangka panjang. Karena rencana yang dihasilkan proses
politik dan proses teknokratik dapat berbeda, oleh karenanya, keduanya
harus diserasikan dan diterjemahkan ke dalam bahasa yang dapat
dijalankan oleh para birokrat. Hasil penyerasian inilah yang akan menjadi
Agenda Nasional yang tertuang dalam RPJP dan RPJM.

Berangkat dari praktek-praktek pengelolaan masyarakat secara tradisional,


maka dirumuskanlah apa yang dinamakan dengan perencanaan
partisipatif. Untuk itu, setiap perencanaan prakarsa publik perlu
diidentifikasi siapa-siapa saja yang menjadi pemangku kepentingan
(stakeholders), dan melibatkan mereka daam proses perencanaannya. Di
dalam SPPN proses ini dilaksanakan antara lain melalui Musyawarah
Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).

Karena pada akhirnya, jajaran birokrasi pemerintahan adalah pelaksana


utama rencana-rencana yang dihasilkan. Namun perlu adanya upaya
penyelarasan rencana tersebut ke dalam dokumen yang dapat
diterjemahkan ke dalam fungsi dan kewenangan masing-masing instansi
pelaksana. Untuk itulah diperlukan proses perencanaan dari atas ke bawah
(top down) dan sebaliknya dari bawah ke atas (bottom up) yang seimbang.

Semua proses perencanaan yang diuraikan di atas, dilebur ke dalam empat


tahapan perencanaan, yaitu:

1. Evaluasi Kinerja pelaksanaan rencana pembangunan perioda


sebelumnya. Tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi tentang
kapasitas lembaga pelaksana, kualitas rencana sebelumnya, serta untuk
memperkirakan kapasitas pencapaian kinerja di masa yang akan datang.

2. Penyusunan Rencana yang terdiri dari langkah-langkah sebagai


berikut:
a. Penyiapan rancangan rencana pembangunan oleh Lembaga
Perencana yang bersifat rasional, ilmiah, menyeluruh, dan
terukur.
b. Penyiapan rancangan rencana kerja oleh lembaga-lembaga
pemerintah sesuai dengan kewenangan dengan mengacu pada
rancangan pada butir (a).
c. Musyawarah perencanaan pembangunan.
d. Penyusunan rancangan akhir rencana pembangunan.

3. Penetapan rencana untuk menetapkan landasan hukum bagi rencana


pembangunan yang dihasilkan pada langkah (ii).

4. Pengendalian Pelaksanaan Rencana yang merupakan wewenang dan


tanggung-jawab pimpinan lembaga / departemen.

F. Tahapan Penyusunan Rencana

1. Rencana Panjang Jangka Panjang (RPJP) Nasional

Tahapan penyusunan rencana RPJPN disajikan pada diagram pada


Gambar 2 di bawah.
DPR
Presiden
Menteri PPN
Penyelenggara
Negara
Masyarakat

Gambar 2 Tahapan Penyusunan RPJP Nasional

Penyusunan rencana jangka panjang dimulai dengan pengumpulan


bahan-bahan evaluasi pembangunan pada periode sebelumnya, baik
yang dilakukan oleh lembaga perencana, lembaga penyelenggaran
negara, dan masyarakat. Pada saat yang sama juga dilakukan
pengumpulan pemikiran-pemikiran visioner yang dilakukan oleh
lembaga perencana, lembaga penyelenggaran negara, dan oleh
masyarakat. Berdasarkan kedua bahan ini Menteri Perencanaan
menyusun rancangan awal RPJP Nasional.

Rancangan Awal RPJP Nasional selanjutnya dibahas dalam


Musrenbang RPJP Nasional yang hadiri oleh segenap pemangku
kepentingan baik dari kalangan akademisi, dunia usaha, lembaga-
lembaga non-pemerintah, para penyelenggaran negara, maupun
individu yang berminat terhadap pemikiran-pemikiran jangka panjang.
Dengan mempertimbanngkan aspirasi para pemangku kepentingan
yang tertampung dalam Musrenbang ini, Rancangan Awal di atas
diperbaiki menjadi Rancangan Akhir RPJP Nasional.

Sebelum diajukan ke DPR, Rancangan Akhir RPJP Nasional


disampaikan kepada Presiden dan bila perlu dibahas dalam Sidang
Kabinet. Rancangan Akhir RPJP Nasional selanjutnya diajukan ke DPR
sebagai Rancangan Undang Undang tentang RPJP Nasional inisiatif
Pemerintah. Setelah melewati proses legislasi dan disetujui untuk
diundangkan, RPJP Nasioanl ditetapkan dengan Undang Undang.

2. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional

Tahapan penyusunan rencana RPJM Nasional disajikan pada diagram


pada Gambar 3 di bawah.

Gambar 3 Tahapan Penyusunan RPJM Nasional


Penyusunan RPJM dimulai pada tahun terakhir dari perioda RPJM yang
berjalan dengan melaksanakan perencanaan teknokratik baik oleh
Kementerian Perencanaan maupun oleh Departemen/Lembaga. Dalam
proses ini, aspirasi masyarakat yang teramati ataupun sebagai hasil
olah pikir para profesional menjadi bahan penyusunan rencana.

Proses politik dalam penyusunan RPJM terjadi pada saat Pemilihan


Umum dengan anggapan bahwa masyarakat memilih Presiden
berdasarkan visi, misi, dan program yang ditawarkan selama
kampanye. Dengan menggunakan rencana teknokratik serta visi, misi,
program Presiden terpilih, Kementerian PPN menyusun Rancangan
Awal RPJM Nasional. Rancangan Awal ini dibahas di Sidang kabinet
untuk mendapatkan kesepakatan dan komitmen.

Rancangan Awal yang disepakati ini digunakan pedoman bagi


Kementerian/Lembaga dalam menyusun rancangan Rencana Strategis
(Renstra) mereka. Selanjutnya rancangan Rensra ini disampaikn ke
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) untuk
digunakan sebagai bahan penyusunan Rancangan RPJM.

Rancangan RPJM dibahas di Musrenbang untuk mendapatkan aspirasi


dari para pemangku kepentingan yang hasilnya digunakan untuk
menyempurnakan Rancangan RPJM menjadi Rancangan Akhir RPJM.
Kemudian Presiden menetapkan RPJM dengan Peraturan Presiden,
yang selanjutnya digunakan sebagai pedoman bagi Kementerian/
Lembaga untuk menyempurnakan Renstranya masing-masing.
Pemerintah daerah juga menyesuaikan RPJM mereka dengan
memperhatikan sasaran-sasaran pembangunan dalam RPJM Nasional
tersebut.

3. Rencana Kerja Pemerintah (RKP)

Undang-Undang 25/2004 tentang SPPN menyebutkan bahwa RKP


adalah penjabaran RPJM Nasional. Rancangan Awal RKP memuat tiga
hal utama: (1) Prioritas Pembangunan Nasional untuk thun rencana; (2)
Rancangan Kerangka Ekonomi Makro; dan (3) indikasi pagu bagi
masing-masing kementerian/lembaga /daerah. Penyusunan kerangka
ekonomi makro dilakukan dengan berkoordinasi dengan Departemen
Keuangan, Badan Pusat Statistik, Kantor Menko Perekonomian, dan
Bank Indonesia. Sedangkan penyusunan pagu indikatif dilaksanakan
bersama dengan Departemen keuangan.

Tahapan penyusunan rencana Rencana Kerja Pemerintah (PKP)


Nasional disajikan pada diagram pada Gambar 2 di bawah.
Kabinet /
Presiden
Mentri PPN
Keuangan
Menteri
Penyelenggara
Negara
Daerah

Gambar 4 Tahapan Penyusunan RKP (Januari – April)

Setelah rancangan awal ini disepakati dalam Sidang Kabinet, maka


Menteri Keuangan dan Menteri PPN menerbitkan Surat Edaran
Bersama yang memuat pagu indikatif dan prioritas-prioritas
pembangunan nasional yang disampaikan ke kementerian/lembaga dan
pemerintah daerah provinsi. Oleh kementerian/lembaga, SEB
digunakan sebagai rujukan penyusunan rancangan rencana kerja
mereka yang disampaikan ke Kementerian PPN dan Departemen
Keuangan.

Kementerian PPN bersama Departemen Keuangan menelaah


Rancangan Renja-KL tersebut untuk mensinkronkannya dengan
Prioritas Pembangunan Nasional dan rancangan kebijakan ekonomi
makro. Selanjutnya Rancangan rancangan Renja yang telah ditelaah ini
digunakan sebagai bahan oleh kementerian PPN menyusun Rancangan
RKP yang lengkap.

Selanjutnya Pemerintah Provinsi sebagai wakil pemerintah pusat di


daerah menyelenggarakan Musrenbang Provinsi untuk membahas
Rancangan RKP yang lengkap guna menyelaraskan RKP dengan RKP
Daerah baik itu daerah provinsi, maupun kabupaten kota di provinsi
tersebut. Musrebang Nasional dilaksanakan untuk penyerasian akhir
secara serentak antara kementerian/lembaga dengnan pemerintah
daerah provinsi.

Hasil pembahasan Musrenbang digunakan utnuk menyempurnakan


Rancangan RKP menjadi Rancangan Akhir RKP. Rancangan Akhir ini
selanjutnya disampaikan ke Presiden untuk dibahas dalam Sidang
Kabinet. RKP hasil perbaikan setelah Sidang Kabinet ditetapkan
dengan Peraturan Presiden untuk digunakan sebagai pedoman
penyusunan RAPBN.

4. Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan Penyusunan APBN

Penyusunan APBN dibagi dalam tiga fase. Fase pertama adalah


penyusunan RKP yang berlangsung dari Januari hingga April. Fase
kedua adalah penyusunan RAPBN yang berlangsung dari Mei hingga
Agustus. Fase ketiga adalah penyusunan APBN dan dokumen
pelaksanaan anggaran yang berlangsung dari bulan September hingga
Desember. Gambar 5 menunjukkan proses lengkap penyusunan APBN
berdasarkan PP 20/2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan
PP 21/2004 tentang Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian /
Lembaga (RKA-KL).

RKP yang telah ditetapkan melalui PerPres digunakan sebagai


pedoman bagi Pemerintah saat pembicaraan pendahuluan dengan DPR
tentang pokok-pokok kebijakan fiskal dan ekonomi makro yang menurut
UU no. 17/2003 tentang keuangan Negara. Pembicaraan pendahuluan
ini adalah awal proses penyusunan APBN dan dokumen pelaksanaan
anggaran.

Gambar 5 RKP dalam Proses Penyusunan APBN


Refleksi

1. Apakah Sistem Perencanaan Pembangunan kita sudah mencakup


semua hal yang memang betul-betul dibutuhkan oleh sebuah sistem
perencanaan?

2. Kelompok Anti Planning (Randal O’Toole) berpendapat bahwa saat ini


ilmu perencanaan seperti barang usang yang tidak diperlukan,
bagaimana pendapat saudara tentang hal ini?

3. Apa sebenarnya yang tidak jalan dengan baik dan benar dalam sistem
perencanaan pembangunan kita selama ini?
BAB III

SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

A. Pengertian Perencanaan Pembangunan Daerah

Perencanaan Pembangunan Daerah adalah

“…suatu yang sistematik dari pelbagai pelaku (aktor), baik umum (publik),
swasta maupun kelompok masyarakat lainnya pada tingkatan yang berbeda
untuk menghadapi saling ketergantungan aspek-aspek fisik, sosial-ekonomi
dan aspek-aspek lingkungan lainnya dengan cara: (a) secara terus-menerus
menganalisis kondisi dan pelaksanaan pembangunan daerah; (b)
merumuskan tujuan-tujuan dan kebijakan-kebijakan pembangunan daerah;
(c) Menyusun konsep strategi-strategi bagi pemecahan masalah (solusi),
dan (d) melaksanakannya dengan menggunakan sumber-sumber daya
masalah sehingga peluang-peluang baru untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat daerah dapat ditangkap secara berkelanjutan”.

B. Tujuan dan Manfaat Perencanaan Pembangunan Daerah

Tujuan Perencanaan Pembangunan Daerah adalah menyusun suatu


rencana pembangunan yang merupakan pegangan atau acuan Pemerintah
Daerah untuk melaksanakan pembangunnya yang didasarkan pada
kemampuan dan potensi sumber daya (alam dan manusia) serta peluang-
peluang ekonomi yang ada, sehingga memungkinkan dapat ditangkap
secara cepat. Manfaat yang diharapkan adalah terjadinya peningkatan
kualitas/taraf hidup masyarakat sehingga menikmati kehidupan yang lebih
baik dari sebelumnya dan daerah dapat berkembang secara cepat dan
berkelanjutan.

Perencanaan pembangunan daerah menghasilkan Rencana Pembangunan


Daerah yang menetapkan kegiatan-kegiatan pembangunan sosial-ekonomi,
fisik (infrastruktur), yang dilaksanakan secara terpadu oleh sektoral, publik,
dan swasta.

C. Siklus Perencanaan Teoritis

Secara teoritis, perencanaan sebagai proses digambarkan sebagai


sejumlah tahapan kegiatan yang membentuk siklus seperti diperlihatkan
pada Gambar 6. Siklus perencanaan teoritis yang digambar olah Son
Diamar (2007)2, menunjukkan bahwa setiap tahap dilakukan monitoring,
selanjutnya proses perencanaan dimulai dengan penentuan atau

2
Siklus Perencanaan Teoritis digambar oleh Ir. Son Diamar, M.Sc, Ph.D dalam kumpulan slide Percepatan
Pembangunan Daerah. Koleksi Pribadi, 2007.

MODUL 1/URDI/ES 14
kesepakatan tata nilai (nilai-nilai) yang dianut dilanjutkan dengan
pengenalan potensi dan masalah3, sebelum sampai pada tahap Perumusan
Rencana, maka dilakukan analisis sebab-akibat dan Prakiraan.

Tahap berikutnya ialah menentukan Alternatif Rencana, untuk sampai pada


tahap Rencana terpilih maka dilakukan evaluasi terhadap alternatif rencana.

Tahap selanjutnya adalah Pelaksanaan yang akan mengeluarkan hasil dan


dampak (output dan outcomes). Hasil dan dampak dievaluasi dengan tujuan
untuk mengatahui apakah sesuai dan/atau memcapai tujuan/sasaran yang
telah ditetapkan pada awal proses perencanaan yang diukur dengan nilai-
nilai (tata nilai) yang disepakati.

Pengenalan
Potens i
S ebab
Nilai Mas alah
Akibat
Nilai
Teori

Evaluas i
Ex -Pos t Analis is

Outputs
MONITORING Prakiraan
Outcomes

Perumus an
PELAKS ANAAN
Rancangan

Rencana Alternatif
Terpilih Evaluas i Rencana
Ex -Ante

Gambar 6 Siklus Perencanaan Teoritis

D. Tata Cara Penyusunan RPJP Daerah

Perencanaan pembangunan daerah merupakan bagian yang tidak


terpisahkan dari sistem perencanaan pembangunan nasional (SPPN) yang
diatur dalam UU 25/2004. Menurut UU 25/2004 Pasal 33 ajat (3) ditegaskan
bahwa ”dalam penyelenggaraan perencanaan pembangunan Daerah,

3
Pengenalan potensi dan masalah sangat penting perannya untuk menemukan isu-isu strategis yang akan
menjadi dasar penentuan prioritas pembangunan. Pendekatan yang dapat digunakan dalam penilaian
terhadao potensi dan masalah adalah penstrukturan kebijakan (Policy Structured). Pembahasan
mendalam tentang Policy Structured dapat dilihat dalam Modul 2- Masalah dan Potensi Daerah.
Kepala Daerah dibantu oleh Kepala Bappeda”. Pasal 33 ayat (2) dikatakan
bahwa ”Pimpinan Satuam Kerja Perangkat Daerah menyelenggarakan
perencanaan pembangunan Daerah sesuai dengan tugas dan
kewenangannya”. Pasal 33 ayat (4) menuliskan bahwa ”Gubernur
menyelenggarakan koodinasi, integrasi, songkronisasi, dan sinergi
perencanaan pembangunan antar kabupaten/kota.

Tahapan perencanaan pembangunana daerah adalah sama dengan


tahapan penyusunan RPJPN. Namun tata cara penyusunan RPJPD diatur
dalam Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 050/2020/SJ. Diagram
tata cara tersebut di sajikan pada Gambar 7.

Saran,
Rumusan Hasil
Rancangan Tanggapan,
Kesepakatan &
Visi & Misi Rekomendasi Komitmen
Stakeholders

Rancangan Akhir
Predikisi Kondisi Rancangan RPJP RPJPD
Umum Daerah ---------------------- ---------------------- Penetapan
------------------------- Merumuskan Sosialisasi, Musrenbang • Visi Perda ttg
• Geomorfologi & LH Gambaran Awal Konsultasi Jangka • Misi RPJPD
• Ekonomi & SDA • Visi Publik, dan Panjang • Arah Pemba- ----------------
• Demografi • Misi Jaringasmara Daerah ngunan Perda Ttg
• Prasarana&Sarana • Arah Pemba- • Arah Umum RPJP Daerah
• Dll. ngunan • Fungsi /
Wilayah

Rancangan Arah
Pembangunan
-----------------------
Rencana Tata Ruang

Gambar 7 Tata Cara Penyusunan RPJPD (SE Mendagri No 050/20202/SJ)

Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Daerah merupakan suatu


dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk periode 20 tahun.
RPJPD ini digunakan sebagai acuan dalam penyusunan Rencana Jangka
Menengah (RPJM) Daerah untuk setiap 5 (lima) tahunan. Domumen ini
bersifat makro yang memuat visi, misi, dan arah pembangunan jangka
panjang daerah, dengan proses penyusunannya harus dilakukan secara
partispatif dengan melibatkan seluruh unsur pelaku pembangunan.

E. Tahapan Penyusunan RPJM Daerah.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah merupakan dari


visi, misi,dan program Kepala Darah yang penyusunannya berpedoman
pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional, memuat arah
kebijakan keuangan Daerah, strategi pembangunan Daerah, kebijakan
umum, dan program Satuan Kerja Perangkat Daerah, lintas Satuan Kerja
Perangkat Daerah, dan program kewilayahan disertai dengan rencana-
rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang
bersifat endikatif (UU 25/2004 Pasal 5 ayat (2)).

Dalam upaya agar RJPM Daerah dapat mengantisipasi kebutuhan


pembangunan daerah dalam jangka waktu lima tahunan, maka
penyusunannya perlu dilakukan secara komprehensif dan lintas pemangku
kepentingan (stakeholder) pembangunan. Untuk itu dilaksanakan tahapan
penyusunan RPJM Daerah sebagai berikut:

Pertama, penyiapan rancangan awal RPJM Daerah, kegiatan ini dibutuhkan


guna mendapatkan gambaran awal dari jabaran visi, misi dan program
Kepala Daerah terpilih.

Kedua, penyiapan rancangan Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat


Daerah (rancangan Renstra SKPD), yang dilakukan oleh seluruh SKPD.
Penyusunan rancangan Renstra SKPD bertujuan untuk merumuskan visi,
misi, tujuan strategi, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang
sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD, agar selaras dengan program
prioritas Kepala Daerah terpilih.

Ketiga, Penyusunan rancangan RPJM Daerah. Tahap ini merupakan upaya


mengintegrasikan rancangan awal RPJM Daerah dengan rancangan
Renstra SKPD, yang menghasilkan rancangan RPJM Daerah:

Keempat, musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) jangka


menengah daerah. Kegiatan ini dilaksanakan guna memperoleh berbagai
masukan dan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan pembangunan
atas rancangan RPJM Daerah.

Kelima, penyusunan rancangan akhir RPJM Daerah, dimana seluruh


masukan dan komitmen hasil Musrenbang Jangka Menengah Daerah
menjadi masukan utama penyempurnaan rancangan RPJM Daerah,
menjadi rancangan akhir RPJM Daerah. Rancangan akhir RPJM Daerah
disampaikan oleh Kepala Bappeda kepada Kepala Daerah terpilih.

Keenam, penetapan Peraturan Daerah tentang Rencana Pembangunan


Jangka Menengah (RPJM) Daerah, dibawah koordinasi Kepala Satuan
Kerja Perangkat Daerah yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan
tugas dan fungsi hukum. Rancangan akhir RPJM Daerah beserta
lampirannya disampaikan kepada DPRD sebagai inisiatif Pemerintah
Daerah, untuk diproses lebih lanjut menjadi Peraturan Daerah tentang
RPJM Daerah.
Penyusunan RPJMD
Menurut UU 25/2004 dan UU 32 / 2004
TATACARA PENYUSUNAN RPJM DAERAH
KD Dilantik 3 Bulan Setelah Kepala Daerah Terpilih Dilantik

Nasional /
Provinsi
RPJM Nas /
Evaluasi Perda
Prov
RPJMD
DPRD

Perda RPJMD
Setuju?

Visi, Misi,
DAERAH
KEPALA

Perkada
Program KD
Setuju? RPJMD
Terpilih
BAPPEDA

Musrenbang
Rancangan Rancangan Rancangan
Jangka
Awal RPJMD RPJMD Akhir RPJMD
Menengah
Daerah
SKPD

Rancangan
Memutakhirkan Renstra SKPD
Renstra
Renstra

Gambar 8 Diagram Tatacara Penyusunan RPJM Daerah Menurut UU


25/2004 dan UU 32/2004

Dibawah ini disajikan kerangka outline RPJMD dan isi RPJP Nasional dan
RPJM Daerah baik ditingkat nasional dan tingkat daerah seperti berikut:

SE Mendagri 050/2020/SJ tentang Outline RPJMD

BAB I PENDAHULUAN
BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
BAB III VISI DAN MISI
BAB IV STRATEGI PEMBANGUNAN DAERAH
BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH
- Arah Pengelolaan Pendapatan dan Belanja Daerah, serta
- Kebijakan Umum Anggaran
BAB VI ARAH KEBIJAKAN UMUM
BAB VII PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH
- Menurut Urusan
- Program-program Pembangunan
- Kegiatan Kerangka Regulasi
- Kerangka Investasi Pemerintah dan Layanan Umum
- Yang dilengkapi dengan pendanaan dan sasaran yang
bersifat indikatif
BAB VIII PENUTUP
Sedangkan isi dari RPJM Daerah (dibandingkan dengan RPJM Nasional)
adalah sebagai berikut:

ISI RPJM

RPJM Nasional: RPJM Daerah:

Penjabaran visi, misi, program Penjabaran visi, misi, program


Presiden Kepala Daerah

Berpedoman pada RPJP Nasional Berpedoman pada RPJP Daerah


dan memperhatikan RPJM Nasional

1. Strategi Pembangunan Nasional 1. Strategi Pembangunan Daerah


2. Kebijakan Umum 2. Kebijakan Umum
3. Kerangka Ekonomi Makro 3. Arah Kebijakan Keuangan
4. Program-program Daerah
- Kementerian 4. Program-program
- Lintas Kementerian - SKPD
- Lintas Kewilayahan - Lintas SKPD
Yang memuat kegiatan pokok - Kewilayahan
dalam: - Lintas Kewilayahan
- Kerangka Regulasi Yang memuat kegiatan pokok
- Kerangka Anggaran dalam:
- Kerangka Regulasi
- Kerangka Anggaran

F. Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)

Posisi Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan Rencana Kerja Pemerintah


Daerah (RKPD) merupakan penjabaran RPJM Nasional dan RPJMD yang
menjadi pedoman dalam penyusunan RAPBN dan RAPBD. Proses
penyusunan RKP dan RKPD dilakukan melalui Musrembang4.

UU 17/2004 Pasal 17 ayat (2) menyebutkan bahwa RKPD sebagai


pedoman penyusunan RAPBD, maka RKPD memuat hal-hal yang harus
diperjuangkan oleh tim pemerintah daerah pada saat duduk bersama
dengan DPRD menyusun RAPBD.

4
Tatacara Penyelenggaraan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Tahun 2005 (Musrembang Tahun
2005) dapat dilihat pada Lampiran Surat Edaran Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Negara
Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bepenas. Nomor: 0259/M.PPN/I/2005 dan 050/166/SJ.
Tanggal 20 Januari 2005.
Penyusunan rancangan RKPD dilakukan melalui proses pembahasan yang
terkoordinasi antara Bappeda dengan seluruh SKPD melalui Musrembang
di daerah masing-masing.

Musrembang berfungsi sebagai forum untuk menghasilkan kesepakatan


antar pelaku pembangunan tentang rancangan RKPD, yang menitik
beratkan pada pembahasan untuk sinkronisasi rencana kegiatan antar
kementerian/lembaga/SKPD dan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah
dan masyarakat dalam pencapaian tujuan pembangunan nasional dan
daerah.

UU 25/2004, Pasal 5 ayat (3) menjelaskan bahwa ”RKPD merupakan


penjabaran dari RPJM Daerah dan mengacu pada RKP, memuat rancangan
kerangka ekonomi Daerah, prioritas pembangunan Daerah, rencana kerja,
dan pendanaannya, baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah
maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat”.
Gambar 9 memperlihatkan diagram Rencana Kerja Pemerintah Daerah,
penjabaran RPJM Daerah; mengacu pada Rencana Kerja Pemerintah
Pusat.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah


Penjabaran RPJM Daerah; Mengacu pada RKP

Arahan
1. Prioritas Pembangunan Daerah
Topdown 2. Rancangan Kerangka Ekonomi MakroDaerah
3. Rencana Kerja dan Pendanaan:
Program–program Disusun Menurut
– SKPD, Fungsi-subfungsi
– Lintas SKPD, SKPD Pelaksana
Dari – Kewilayahan,
SKPD
yang memuat kegiatan:
¾ Kerangka Regulasi
¾ Kerangka Anggaran

Gambar 9 Diagram Rencana Kerja Pemerintah Daerah,


penjabaran RPJM Daerah

Dalam penyusunan RKPD, pemerintah daerah harus mempertimbangkan:

1. Amanat peraturan perundang-undangan yang terdiri dari:


a. Urusan Wajib, khusus untuk palayanan dasar dengan mengacuh
pada Standar Pelayanan Manimum.
b. Urusan pilihan sesuai dengan kekhasan dan sumber keunggulan
daerah.
2. Kondisi, strategi, dan sasaran yang diperoleh dari proses
perencanaan teknokratik:
a. Analisis Ekonomi Daerah
b. Estimasi Pendapatan Asli Daerah
c. Survey Kebutuhan/Kepuasan Masyarakat

3. Kontribusi terhadap Sasaran Pembangunan Nasional yang tercantum


dalam RPJM Nasional dan/atau RKP.

Pertimbangan di atas digunakan untuk menetapkan Sasaran–sararan


Pembangunan Daerah dan selanjutnya Meancang Program dan Kegiatan.

Adapun penentuan Program Prioritas RKPD atau yang dikenal sebagai


Penyusunan Prioritas dan Plafon Anggaran (PPAS) dilakukan dengan
mempertimbangkan: (1) sumber daya yang tersedia (dana, SDM, waktu,
kelembagaan), (2) jumlah kegiatan yang teridentifikasi dalam program, dan
(3) bentuk kegiatan sebagai implementasi program.

Adapun langkah penentuan PPAS adalah:

1. Tetapkan urutan prioritas dari urusan wajib dan urusan pilihan;


2. Tetapkan urutan program dalam masing-masing urusan
3. Susun plafon anggaran sementara untuk masing-masing program

Tabel Urusan Wajib dan Urusan Plihan Dalam PPAS

URUSAN
URUSAN WAJIB
PILIHAN
1. Pendidikan 13. Tenaga Kerja dan 1. Pertanian
Transmigrasi
2. Kesehatan 2. Kehutanan
14. Koperasi dan UKM
3. Pekerjaan Umum 3. Energi dan
15. Pananaman Modal Sumberdaya
4. Perumahan Rakyat
Mineral
16. Kebudayaan dan Pariwisata
5. Perencanaan
4. Kelautan dan
Pembangunan, Penataan 17. Pemuda dan Olah Raga
Perikanan
Ruang, & Statistik
18. Kesatuan Bangsa dan
5. Perdagangan
6. Perhubungan Politik Dalam Negeri
6. Perindustrian
7. Lingkungan Hidup 19. Pemerintahan Umum
8. Pertanahan 20. Kepegawaian
9. Kependudukan dan Catatan 21. Pemberdayaan Masyarakat
Sipil Desa
10. Pemberdaaan Perempuan 22. Kearsipan
11. KB dan Keluarga Sejahtera 23. Komunikasi dan
12. Sosial Informatika
G. Proses Pengambilan Keputusan Dalam Penyusunan Perencanaan

Perencanaan dan pengambilan keputusan adalah dua hal yang tidak


dipisahkan, karena perencanaan adalah bagian dari pengambilan
keputusan. Suatu rencana dapat dilaksanakan apabila telah diterima oleh
para pemangku kepentingan (stakeholders). Dalam hal ini diperlukan proses
interaktif antar semua yang berkepentingan dengan rencana tersebut
melalui proses pengambilan keputusan. Tujuan pengambilan keputusan
adalah mempertimbang semua hal-hal yang berpengaruh terhadap rencana,
atau dengan kata lain memilih tindakan untuk menyelesaikan
permasalahan.

Perencanaan adalah suatu proses pengambilan keputusan untuk hal-hal


yang berhubungan dengan masa depan. Oleh karena itu, prosesnya cukup
rumit. Pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kebutuhan
sesaat atau jangka pendek tidak masuk kategori perencanaan. Demikian
pula halnya dengan pengambilan keputusan yang memiliki dampak jauh ke
depan, tetapi karena proses penyusunannya lebih pendek tidak
dikategorikan sebagai perencanaan. Karena sifatnya sama, yaitu memilih
tindakan untuk menyelesaikan permasalahan, ada juga yang menganggap
perencanaan identik dengan pengambilan keputusan (Tarigan 2004:6-7)

Perencanaan terkait dengan penyelesaian permasalahan di masa yang


akan datang sehingga berisikan tindakan yang akan dilakukan di masa
datang dan dampaknya juga baru terlihat di masa depan. Hal ini tidak berarti
perencanaan tidak memperhatikan apa yang sedang terjadi saat ini, karena
permasalahan di masa yang akan datang adalah produk dari apa yang
terjadi saat ini dan pengaruh faktor luar.

Pengambilan keputusan sering dikaitkan dengan kebutuhan mendadak


terutama untuk mengatasi permasalahan jangka pendek. Tindakan yang
dipilih segera dilaksanakan atau berlaku dan dampaknya juga segera
terasa. Kalaupun pengambilan keputusan itu juga berisikan tindakan di
masa yang akan datang, seringkali tindakan itu berupa regulasi atau
pengulangan atau bersifat rutin, berbeda dengan perencanaan di mana
tindakan itu bersifat variatif (berbeda untuk kurun waktu atau kondisi yang
berbeda). Berdasarkan kurun waktu yang dicakup, proses perencanaan
membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan proses pengambilan
keputusan. Alat analisis yang digunakan juga seringkali berbeda, misalnya
perencanaan membutuhkan kemampuan untuk melakukan proyeksi,
sedangkan dalam pengambilan keputusan (di luar perencanaan), analisis
seperti itu belum tentu dibutuhkan. Secara singkat, pengambilan keputusan
ditujukan untuk menyelesaikan suatu masalah sedangkan perencanaan
ditujukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu di masa yang akan datang.
Perlu diingat bahwa tujuan dalam perencanaan juga untuk menyelesaikan
masalah, hanya umumnya masalahnya bersifat jangka panjang. Oleh
karena itu, faktor-faktor yang harus diperhatikan pun menjadi lebih banyak.
Dalam konteks Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Undang-
Undang Nomor 25 Tahun 2004) dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah, Pemerintah dan Pemerintah Daerah
wajib menyusun rencana pembangunan jangka panjang (RPJP/D), rencana
pembangunan jangka menengah (RPJM/D), dan rencana kerja pemerintah
(RKP/D) sebagai rencana tahunan. Dalam setiap proses penyusunan
dokumen rencana tersebut diperlukan koordinasi antar instansi pemerintah
dan partisipasi seluruh pelaku pembangunan, melalui suatu forum yang
disebut sebagai Musyawarah Perencanaan Pembangunan atau
Musrenbang.

Musrenbang ini dapat dilihat sebagai suatu proses pengambilan keputusan


karena melalui Musrenbang dapat terkumpul berbagai usulan-usulan,
masukan-masukan, prioritas pembangunan dari berbagai sumber (dinas-
dinas sektoral, masyarakat, dan organisasi masyarakat) dan tingkat
administrasi pemerintahan (mulai dari tingkat desa/kelurahan,
Kabupaten/kota, Provinsi, sampai tingkat Pusat)5

5
Penjelasan lebih rinci tentang dilihat pada Lampiran Surat Edaran Bersama, Menteri Negara Perencanaan
Pembangunan Nasional/Kepala BAPPENAS dan Menteri Dalam Negeri, Nomor: 0259/M.PPN/I/2005
dan 050/166/SJ, Prihal: TATA CARA PENYELENGGARAAN MUSYAWARAH PERENCANAAN
PEMBANGUNAN TAHUN 2005 (MUSRENBANG TAHUN 2005).
EVALUASI

Peserta dibagi dalam 4 (empat) kelompok dan masing-masing melakukan


diskusi intensif tentang:

1. Kasus Kota Tarakan

Setelah meraih Kalpataru dan Adipura beberapa waktu lalu, kota Tarakan
kembali mendapatkan penghargaan tingkat nasional yakni penghargaan
“Penyusun Status Lingkungan Hidup Daerah Tahun 2005 Terbaik” kategori
kota.

Dokumen Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) sendiri adalah


merupakan dokumen yang mengulas kondisi aktual dan terkini tentang
lingkungan hidup daerah. SLDH terdiri dari dua buku, yakni buku berupa
dokumen status lingkungan hidup daerah dan buku yang berisi basis data
lingkungan hidup daerah yang merupakan rekapitulasi data sebagai acuan
penyusun buku satu. SLDH bermuatan analisis kebijakan pembangunan
selama satu tahun yang dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam
melaksanakan pembangunan lingkungan hidup yang bersifat operasional
dalam menunjang pembangunan yang berkelanjutan di Kota Tarakan.

Kota Tarakan membangun Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan


(KKMB) pada tahun 2001 seluas 9 ha di jl. Gajah Mada, yang merupakan
cikal bakal KKMB. Beberapa ekor Bekantan (Nasalis larvatus) dan monyet
ekor panjang (Macaca fascicularis) yang asli hidup dikawasan tersebut
masih bisa disaksikan oleh masyarakat sekitarnya.

Dari aspek lokasi yang berada di tengah-tengah kota yang dekat dengan
pusat perbelanjaan, pertokoan dan permukiman yang secara ekonomis
menghadapi tantangan konversi yang sangat kuat, penetapan kawasan
konservasi hutan mangrove ini sangat penting dalam mendukung kegiatan
ekotourisme, pendidikan dan penelitian serta perlindungan
keanekaragaman hayati yang cukup melimpah di lokasi tersebut.

Pada tahun 2006 upaya perluasan KKMB mula dilakukan oleh Pemerintah
Kota Tarakan dengan melakukan penanaman mangrove dan pembangunan
sarana pendukung secara bertahap pada lahan seluas 12 ha.

2. Kasus Kota Solo

Pembangunan Kota Solo merupakan bukti tentang pentingnya


kepemimpinan ke depan. Walikota Joko Widodo, sangat percaya dalam
'Pembangunan Kota yang Berpihak pada Manusia', dan mendorong
partisipasi masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan Solo Berseri
Tanpa Korupsi '(Solo Bersih Sehat Rapi dan Indah - Solo sebagai Bersih,
Sehat, Rapi dan Indah Kota tanpa Korupsi) sejak tahun 2005. Pendekatan
dalam pembangunan kota Solo ini tercermin dalam cara isu-isu kota seperti
sektor informal, ekonomi lokal, dan pemukiman kumuh.

Program-program yang menarik dari Kota Solo adalah: (a) pengelolaan


PKL, (b) peningkatan rumah kumuh, (c) Relokasi Pemukiman Tepi Sungai
dan Huta Kota, (d) Pengembangan dan Revitalisasi Pasar Tradisional; dan
e) Pilot Proyek Pemetaan Solo. Melalui program ini, kota menjaga inklusif
partisipasi masyarakat, hak-hak rakyat dan kebutuhannya dihargai,
sementara pada saat yang sama, membuat kota nyaman untuk ditinggali
dan senantiasa mendukung pada tata pemerintahan yang baik.

3. Kasus Kota Pekalongan

Kabupaten Pekalongan kaya akan budaya tradisional. Berbagai macam


kesenian tradisional banyak dimiliki beberapa desa dan kecamatan di
wilayah Kabupaten Pekalongan yang tentu saja dengan ciri khas masing-
masing. Keanekaragaman itu tidak memecah belah masyarakat tapi justru
semakin memperkaya khasanah budaya di daerah Kabupaten Pekalongan.

Untuk menjalankan program rumah aman bagi warga miskin di kota itu,
Walikota Pekalongan mengaku tidak bisa hanya mengandalkan dana
APBD. Bila hanya mengandalkan APBD, kota yang PAD-nya pada tahun
2006 senilai Rp 20 milyar itu, ia perkirakan baru bisa mewujudkan kota yang
bebas dari rumah tidak layak huni 21 tahun kemudian. Karena itulah
sebagai walikota, A.M. Basyir menempuh strategi “sapu lidi” guna
mendapatkan pendanaan di luar APBD.

Dengan strategi itu, Walikota Pekalongan memadukan dan menyinergikan


dana penanggulangan kemiskinan yang berasal dari berbagai sumber.
Dengan cara ini program rumah aman dibiayai bukan hanya dari dana
APBD Kota Pekalongan, tetapi juga dari APBD provinsi Jawa Tengah,
APBN, pihak swasta atau sektor privat, swadaya masyarakat dan potensi-
potensi sah lainnya. Dengan beragam sumber pendanaan tersebut, walikota
Pekalongan membangun rumah inti tumbuh, memugar rumah, dan menata
lingkungan pemukiman. Dalam membangun rumah inti, 20 persen biaya
pembangunan didanai sendiri oleh masyarakat secara swadaya.

Sementara untuk keluarga miskin yang tidak produktif diberikan dana dalam
bentuk bantuan hibah. Program untuk keluarga miskin produktif didanai dari
program rumah swadaya yang berasal dari Menpera. Sementara bantuan
hibah bagi keluarga miskin tak produktif didanai dari berbagai sumber:
APBD provinsi, APBD Kota Pekalongan, P2KP (DPU) dan KUBE (Depsos).
Dalam waktu empat bulan di tahun 2007, Pemkot Pekalongan berhasil
memugar 946 rumah dengan dana Rp2 milyar dan membangun 50 rumah
baru dengan dana Rp500 juta.

Untuk menjalankan program ini, Walikota Pekalongan mengoptimalkan


peran dan fungsi dari “Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan” dan
berbagai lembaga masyarakat yang ada, seperti Lembaga Pemberdayaan
Masyarakat (LPM), Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), dan
Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) di kelurahan-kelurahan.

Keberhasilan Pekalongan dalam menjalankan program pengembangan


rumah aman yang dipadukan dengan penanggulangan kemiskinan
membuat Pekalongan dijadikan sebagai Proyek Pilot Menpera dan konsep
Kota Pekalongan dipilih untuk mewakili Indonesia pada seminar di Nairobi.

Bukan hanya sistem yang baik yang dikembangkan Walikota Pekalongan,


tapi juga birokrat yang baik. Dalam hal ini, Walikota Pekalongan membuat
program pendidikan social entrepreneurship (kewirausahaan sosial) bagi
segenap jajaran birokrasi di kota Pekalongan. Dengan program ini
diharapkan, segenap jajaran birokrasi memiliki visi melayani rakyat dan
bukan sebaliknya, menuntut pelayanan dari rakyat. A.M. Basyir juga
menyiapkan kader-kader pembangunan kota dari lingkungan birokrasi yang
nantinya siap meneruskan apa yang sudah ia bangun.

4. Wilayah Mamminasata

Implementasi Rencana Tata Ruang (RTR) Kawasan Metropolitan Makassar-


Maros-Sungguminasa-Takalar (Mamminasata) telah mengambil bentuk
nyata. Hal ini dapat dilihat dari telah dimulainya berbagai program
pembangunan di Daerah. beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan di
Kawasan Metropolitan Mamminasata antara lain pembangunan jalan
Abdullah Daeng Sirua, jalan By Pass Mamminasata, dan peningkatan jalan
Jenderal Urip Sumoharjo sebagai arteri primer oleh Ditjen Bina Marga, serta
pembangunan jalan tol Reformasi Section 4 oleh swasta yang mulai
dioperasikan sejak tahun 2008.

Rencananya, tahun ini akan dilaksanakan penyusunan Rencana Tata


Bangunan dan Lingkungan (RTBL) di kawasan Benteng Rotterdam dan
kawasan bekas Gedung Radio Republik Indonesia (RRI)-Veteran-Dinas
Perindustrian dan Perdagangan oleh Ditjen Cipta Karya. Sebagai upaya
mendukung kegiatan tersebut, saat ini sedang dilakukan penyiapan lahan
pada Kawasan Bekas Gedung RRI-Veteran-Dinas Perindustrian dan
Perdagangan dalam penyiapan program Sulsel Go Green.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan segenap Pemerintah


Kabupaten/Kota di Kawasan Metropolitan Mamminasata akan berupaya
semaksimal mungkin untuk mendukung terlaksananya RTR Kawasan
Metropolitan Mamminasata.
Komitmen Departemen PU dalam pembangunan kawasan metropolitan
Mamminasata diwujudkan dengan penyusunan Rencana Tata Bangunan
dan Lingkungan untuk kawasan center point of Indonesia. Sedangka
kawasan Benteng Rotterdam melalui Ditjen Cipta Karya, ujar Kasubdit
Pembinaan Perencanaan Tata Ruang Perkotaan dan Metropolitan Wilayah
III, Erry Saptaria Achyar.

Proyek Prioritas yang akan dilaksanakan oleh BKSPMM terdiri dari


Pengembangan Jaringan Jalan, program Sulsel Go Green, Pengembangan
Kota Baru Gowa-Maros, Pengembangan TPA Regional Pattalassang,
Pengembangan Drainase, Penanganan Air Limbah, Penanganan Air Bersih,
Pengembangan Kawasan Industri Maros II (KIMA II), Pengembangan
Kampus Universitas Hasanuddin, dan Pengembangan Center Point of
Indonesia.

Pelaksanaan proyek prioritas ini dilakukan dalam rangka implementasi


Rencana Tata Ruang (RTR) Kawasan Metropolitan Mamminasata. Tindak
lanjut yang dilakukan terkait hasil pembahasan tersebut adalah dengan
penyiapan Detail Engineering Design (DED) untuk Pengembangan Jaringan
Jalan, penyusunan DED Program Sulsel Go Green, legalisasi dokumen
RTR kawasan Kota Baru Gowa-Maros, dan penandatanganan Nota
Kesepakatan antar Pemerintah Daerah terkait pembangunan TPA regional.
Selain itu juga dilakukan penyiapan masterplan drainase, pembebasan
lahan untuk fasilitas pengolahan air limbah, penyusunan Rencana Detail
Tata Ruang dan peraturan zonasi KIMA II, pembangunan kampus
Universitas Hasanuddin, serta penyiapan penataan kawasan Center Point of
Indonesia.

Masing-masing kelompok memilih satu topik kasus dari empat kasus tersebut di
atas, selanjutnya setelah memilih pemimpin kelompok diskusi dan seorang
notulen, para peserta mendiskusikan:

1. Faktor-faktor apa yang yang melandasi keputusan untuk membangun proyek


atau kegiatan tertentu yang dilaksanakan di kota tersebut
2. Pihak mana atau siapa yang bertanggung jawab atas keputusan
pembangunannya, dan fihak-fihak lain yang terkait siapa saja? Apakah dari
pemerintah daerah, sektor, swasta atau masyarakat? pendanaan dari mana?
3. Bagaimana kaitan program/proyek yang sedang di bangun itu, dengan
program pembangunan kota yang lain? Bagaimana kaitan program/proyek ini
dengan struktur atau bentuk kota saat ini (existing)?
4. Apa kaitannya antara kasus tersebut dengan RPJMD lokal dan RPJM
Nasional?
5. Adakah peran pemerintah pusat dan provinsi dapat terasakan? Dalam
bentuk apa peran tersebut dilaksanakan?
6. Dalam kerangka sistem regulasi dan mempertimbangkan kasus anda, apa
yang masih perlu disempurnakan dari sistem perencanaan pembangunan di
Indonesia.

Refleksi Sesi 2 (lanjutan)


1. Mempehatikan konsepsi dan idealisme pemerintah dalam melakukan
perencanaan pembangunan, apakah daerah sudah berada pada jalan yang
benar dalam melakukan perencanaannya?
2. Bila daerah sudah benar, mengapa masih terlalu banyak ketidak-sinkronan
pelaksanaan pembangunan di Indonesia?
3. Bila daerah belum benar, mengapa terjadi pembelokan dalam pelaksanaan
pembangunan? Sejauh mana penerintah memberikan pembinaan,
monitoring, dan evaluasi?