Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA FISIKA

ADSORSI ZAT WARNA OLEH KARON AKTIF

NAMA : FADLIAH
NIM : H31108264
KELOMPOK : VI(ENAM)
HARI/TGL.PERC : SENIN/ 29 MARET 2010
ASISITEN : BAKTI WIGUNA MOO

LABORATUORIUM KIMIA FISIKA


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2010
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Secara alamiah air permukaan selalu kelihatan berwarna walaupun

sebenarnya tidak berwarna. Warna air permukaan juga dapat disebabkan oleh air

limbah industri seperti pada proses dyeing di pabrik tekstil dan pulping di pabrik

kertas, pertambangan/mining, refining/kilang minyak, industri makanan-minuman

dan kimia. Dye wastes atau dye stuff adalah penyebab warna yang sangat tinggi.

Bubur kayu (pulping wood) juga menghasilkan turunan (derivative) lignin yang

tahan terhadap pengolahan biologi (biological treatment seperti activated sludge).

Adsorpsi ialah pengumpulan zat terlarut di permukaan media dan

merupakan jenis adhesi yang terjadi pada zat padat atau zat cair yang kontak

dengan zat lainnya. Proses ini menghasilkan akumulasi konsentrasi zat tertentu di

permukaan media setelah terjadi kontak antarmuka atau bidang batas (paras,

interface) cairan dengan cairan, cairan dengan gas atau cairan dengan padatan

dalam waktu tertentu.

Salah satu adsorban yang biasa diterapkan dalam pengolahan air minum

(juga air limbah) adalah karbon aktif atau arang aktif. Arang ini digunakan untuk

menghilangkan bau, warna, dan rasa air termasuk ion-ion logam berat. Karena

merupakan fenomena permukaan maka semakin luas permukaan kontaknya makin

tinggilah efisiensi pengolahannya. Syarat ini dapat dipenuhi oleh arang yang

sudah diaktifkan sehingga menjadi porus dan kaya saluran kapiler.

Dalam percobaan ini, dilakukan penentuan adsorpsi zat warna Rhodamin

B dari larutan oleh karbon aktif, sehingga dengan melekukan percobaan ini kita

akan lebig memahami sifat adsorpsi karbon, serta dapat menentukan adsorpsi zat
warna Rhodamin B oleh karbon. Hal inilah yang meletarbelakangi sehingga

percobaan ini dilakukan.

1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan

1.2.1 Maksud Percobaan

Maksud dilakukannya percobaan ini adalah untuk mempelajari dan

memahami penentuan adsorpsi zat warna dari laruan dengan menggunakan karbon

aktif.

1.2.2 Tujuan Percobaan

Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah :

1. Menemukan model yag sesuai untuk adsorpsi zat warna Rhodamin B oleh

karbon aktif.

2. Menghitung kapasitansi adsorpsi Rhodamin B oleh karbon aktif.

1.1 Prinsip Percobaan

Menentukan model adsorbansi yang sesuai untuk Rhodamin B oleh karbon

aktif dengan cara menghitung konsetrasi larutan Rhodamin B setelah adsorpsi

oleh karbon aktif dengan konsentrasi awal yang bervariasi yang diaduk dengan

waktu pengadukan 30 menit melalui absorbansi dengan spektronik 20 D+.

1.2 Manfaat Percobaan

Dengan melakukan percobaan ini, kita akan lebih memahami sifat karbon
sebagai adsorban, mengetahui model yang sesuai untuk asorpsi Rhodamin B oleh
karbn aktif, dapat menentukan konsentrasi lartan Rhodamin B setelah adsorbansi,
serta lebih terampil dalam menggunakan alat-alat laboratorium.
BAB III

METODE PERCOBAAN
3.1 Bahan

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah larutan Rhodamin 10

ppm, larutan Metilen blue 10 ppm, karbon aktif, aquadest, kertas saring,

aluminium foil, kertas label, dan tissue rol.

3.2 Alat

Alat yang digunakan dalam percobaaan ini adalah erlemeyer 500 mL, labu

ukur 50 mL, labu ukur 100 mL, cawan petri, gelas kimia 400 mL, gelas kimia

1000 mL, spektrometer spectronik 20 D+, buret 50 mL, magnetik stirrer, statif,

klem, pipet tetes, pompa vakum, corong Buchner, batang pengaduk magnetik, dan

sendok tanduk.

3.3 Prosedur Percobaan

– Dibuat larutan standar dengan konsentasi 0,5 ppm, 1 ppm, 2 ppm, 4 ppm, dan

8 ppm masing-masing 50 mL dengan menencerkan larutan Metilen blue

10 ppm, kemudian ditentukan absorbansinya pada panjang gelombang (λ)

590 nm.

– Dibuat larutan contoh dengan konsentrasi 5 ppm, 10 ppm, 15 ppm, 20 ppm,

dan 25 ppm masing-masing 100 mL dengan mengencekan larutan Rhodamin

100 ppm.

– Dibersihkan dan dikeringkan 5 buah erlemeyer 500 mL, kemudian masing-

masing dimasukkan 1 g karbon aktif.

– Ditambahkan 100 mL larutan Rhodamin contoh dengan konsentrasi 5, 10, 15,

20 dan 25 ppm.
– Kelima erlemeyer ditutup menggunakan aluminium foil, kemudian diaduk

menggunakan magnetik stirrer selama 30 menit.

– Larutan kemudian disaring menggunakan penyaring vakum. Kemudian

diukur absorbansi larutan pada panjang gelombang (λ) 590 nm.

– Dibuat kurva standar dan ditentukan konsentrasi larutan setelah adsorpsi

dengan menggunkan kurva standar.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Pengamatan

Data Kurva Klibrasi/ Standar Rodhamin B

Konsentrasi (ppm) Absorban

0 0

0,5 0,121

1 0,168

2 0,317

4 0,574

Data Absorbansi Larutan Rodhamin B setelah adsorpsi

Massa adsorben (g) Konsentrasi (M) Absorban

1 2 0,182

1 4 0,306

1 6 0,372

1 8 0,314

1 10 0,764

4.2 kurva kalibrasi

4.3 Perhitungan

4.3.1. Perhitungan Konsentrasi Larutan setelah Adsorpsi

Dari kurfa rhodamin B diperoleh persamaan garis :


y = 0,134x –(-0,167)

x=
y − (−0,167)
0,134

dimana x = konsentrasi larutan setelah adsorpsi

y = adsorbans larutan setelah adsorpsi

maka berdasarkan persamaan garis tesebut diperoleh konsentrasi masing–

masing setelah adsorpsi :

1. Untuk konsentrasi awal 2 ppm

x=
absorban− (−0,167)
0,134

x=
0,182 − (−0,167)
0,134

x = 2,6044

2. Untuk konsentrasi awal 4 ppm

x=
absorban− (−0,167)
0,134

x=
0,306 − (−0,167)
0,134

x = 3,5299

3. Untuk konsentrasi awal 6 ppm


x=
absorban− (−0,167)
0,134

x=
0,372 − (−0,167)
0,134

x = 4,0224

4. Untuk konsentrasi awal 8 ppm

x=
absorban− (−0,167)
0,134

x=
0,314 − (−,167)
0,134

x = 3,5896

5. Untuk konsentrasi awal 10 ppm

x=
absorban− (−0,167)
0,134

x=
0,764 − (−0,167)
0,134

x = 6,9478

4.3.2 Perhitungan Efektifitas Adsorpsi

efektifitas adsorpsi qe;xm=co-cexVlarutanlmassa adsorpben g

Dimana : Co = konsentrasi awal

Ce = konsentrasi setelah adsorpsi


1. Untuk konsentrasi awal 2 ppm

qe=2-2,6044x 0.1 l1 g=-0,06044mgg

2. Untuk konsentrasi 4 ppm

qe=4-3,5299x 0.1 l1 g=0,04701mgg

3. Untuk konsentrasi 6 ppm

qe=6-4,0224x 0.1 l1 g=0,19776mgg

4. Untuk konsentrasi 8 ppm

qe=8-3,5896x 0.1 l1 g=0.44104mgg

5. Untuk konsentrasi 10 ppm

qe=10-6,9478x 0.1 l1 g=0,30522mgg

4.4 Kurva Isotermal Adsorpsi

No Co Ce qe (x/m) Ce/qe log Ce log qe (x/m)


1 2 2,604 0.06044 43,0907 0,4157 -1,2187
4
2 4 0.04701 75,0883 0,5478 - 1,3278
3,529
3 6 0.19776 20,3398 0,6045 - 0,7039
9
4 8 0.44104 8,1389 0,5550 - 0,3555
4,022
5 10 4 0.30522 22,7633 0,8418 - 0,5154

3,589
6

6,947
8
1. Kurva isotermal adsorpsi Langmuir
y = -5,007 + 54,61

slope = -5,007

intercept = 54,61

R2 = 0.099

Kapasitas adsorpsi (Qo) = 1slope=1-5,007=-0,1997mggadsorben

Energi adsorpsi (b) = 1Qo x Intercept=1-0,1997x54,61=-0,0917

l/mg

1. Kurva isotermal adsorpsi Freundlich

y = 1,579x – 1,760

slope = 1,579

intercept = - 1,760

R2 = 0,327
maka;

kapasitas adsorpsi (k) = Inv. log Intercept = 0,6668 mg/g adsorben

intercept adsorpsi (b) = 1slope=11,579=0,6333gl

4.5 Pembahasan

Adsorpsi ialah pengumpulan zat terlarut di permukaan media dan

merupakan jenis adhesi yang terjadi pada zat padat atau zat cair yang kontak

dengan zat lainnya. Proses ini menghasilkan akumulasi konsentrasi zat tertentu di

permukaan media setelah terjadi kontak antarmuka atau bidang batas (paras,

interface) cairan dengan cairan, cairan dengan gas atau cairan dengan padatan

dalam waktu tertentu. Contohnya antara lain dehumidifikasi, yaitu pengeringan

udara dengan desiccant (penyerap), pemisahan zat yang tidak diinginkan dari

udara atau air menggunakan karbon aktif, ion exchanger untuk zat terlarut di

dalam larutan dengan ion dari media exchanger. Artinya, pengolahan air minum

dengan karbon aktif hanyalah salah satu dari terapan adsorpsi.

Dalam percobaan ini, yang akan ditentukan adalah nilai kapasitas adsoprsi

zat warna oleh karbon aktif, dimana zat warna yang digunakan adalah Rodhamin

B, selain itu akan ditentukan juga energi adsorpsi karbon aktif.

Dalam menentukan nilai kapasitas adsorpsi suatu zat, maka dapat

digunakan beberapa model yaitu model Langmuir dan model freundlich.

Percobaan ini membutuhkan ketelitian yang akurat dalam menghitung dan

mengukur hasil percobaan.

Percobaan ini diawali dengan menimbang 1 g suatu karbon aktif secara

teliti, karbon aktif digunakan sebagai zat yang nantinya akan menyerap zat warna

dari suatu larutan berwarna. Perlakuan selanjutnya adalah membuat larutan zat

warna (Rodhamin B) dengan konsentrasi yang berbeda-beda yaitu 2 ppm, 4 ppm,


6 ppm, 8 ppm, dan 10 ppm dengan cara mengencerkannya hingga volume 100 mL

dengan menggunakan aquadest, hal ini dimaksudkan agar hasil adsorpsi yang

dilakukan oleh karbon aktif dapat dibandingkan satu dengan yang lainnya.

Larutan zat warna yang telah diencerkan, masing-masing dipindahkan ke

Erlenmeyer dan memasukkan magnet dari magnetik stirer, selanjutnya karbon

aktif dimasukkan ke dalam larutan tadi dan Erlenmeyer ditutup dengan aluminium

foil agar selama pengadukan nantinya tidak ada larutan yang terpercik keluar labu.

Setelah itu masing-masing Erlenmeyer diletakkan diatas magnetik stirer untuk

proses pengandukan. Magnetik stirer berfungsi sebagai alat untuk

menghomogenkan larutan yang berada di dalam labu Erlenmeyer tersebut. Lama

waktu yang digunakan adalah 30 menit dengan menggunakan stopwatch, hal ini

dimaksudkan agar larutan zat warna dengan karbon aktif benar-benar tercampur

sempurna. Sementara larutan zat warna diauduk, dibuat larutan standar sebanyak

4 dengan konsentrasi 0.5; 1; 2; dan 4 ppm dengan cara pengenceran larutan warna

sampai volume 50 mL. Larutan stansar tersebut diukur absorbansinya dengan

menggunakan spektronik 20D+ dan sebagai blanko digunakan aquadest. Adapun

hasil absorpbansinya berturut-turut adalah 0,121; 0,168; 0,317; 0,574 nm

Setelah 30 menit, magnetik stirer dimatikan dan campuran didiamkan

selama 10 menit agar karbon aktif mengendap ke dasar labu. Setelah itu, larutan

disaring dengan menggunakan penyaring Buchner agar karbon aktif terpisah

dengan zat warna. Sebanyak ±10 mL saringan pertama dibuang untuk

menghindari adsorpsi seluloid maupun zat warna dari kertas saring.

Setelah semua larutan disaring maka diukurlah adsorbansinya dengan

menggunakan spektronik 20D+ dan sebagai blanko digunakan aquadest. Adapun

hasil adsorpbansinya berturut-turut dari konsentrasi 2; 4; 6; 8; dan 10 ppm adalah


0,182; 0,306; 0,372; 0,314; 0,764. Nilai adsorbansi diukur pada panjang

gelombang 590 nm. Dari data yang diperoleh kemudian dihitung konsentrasi

larutan setelah adsorpsi dan dibuat kurva standar, kurva isotermal adsorpsi

Langmuir dan Freundlich.

Untuk kurva isotermal adsorpsi Langmuir diperoleh slope = -5,007,

intercept = 54,61, R2 = 0,099, kapasitas adsorpsi = -0,1997 mgg, dan energi

adsorpsi = -0,0917lmg, sedangkan untuk kurva isotermal Freundlich diperoleh

slope = 1,579, intercept = - 1,760, R2 = 0,327, kapasitas adsorpsi = 0,6668 mg/g

dan energi adsorpsi=0,6333gl.

Berdasarkan percobaan yang dilakukan, karbon aktif sangat baik

digunakan untuk mengadsorpsi suatu zat warna dengan kapasitas adsorpsi

-0,1997mgg untuk adsorpsi Langmuir dan 0,6668 mg/g untuk adsorpsi

freundlich. Dari kedua kurva menunjukkan nilai R yang berbeda, freundlich

memiliki nilai R yang lebih mendekati 0,9 jadi dapat disimpulkan bahwa kurva

yang sesuai untuk percobaan ini adalah isotermal freunlich.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Adsorpsi terjadi pada permukaan zat padat karena adanya gaya tarik atom

atau molekul pada permukaan zat padat. Energi ptensial permukaan dan molekul

turun dengan mendekatnya molekul ke permukaan, yang menyatakan energi

potensial dua atom sebagai fungsi jarak. Molekul yang teradsorpsi dapat dianggap

membentuk fasa dua dimensi. Dalam fasa dua dimensi molekul dapat

mempertahankan dua derajad kebebasan (Alberty dan Daniels, 1983).


Adsorpsi terbagi dua, yaitu fisisorpsi (adsorpsi fisika) dan khemisorpsi

(adsorpsi kimia). Gaya yang menybabkan adsorpsi fisika adalah sama seperti yang

menyebabkan kondensasi gas untuk membentuk cairan dan umumnya dikenel

sebagai van der Waals. Banyaknya yang teradsorpsi dapat berupa beberapa

lapisan momolekul. Adsorpsi fisika dapat dengan mudah dibalik dengan

menurunkan tekanan gas atau konsentrasi zat terlarut, dan banyaknya adsorpsi

akan makin kecil pada suhu yang menaik (Alberty dan Daniels, 1983).

Khemisorpsi mencakup pembentkan ikatan kimia. Oleh karena itu,

sifatnya lebih spesifik daripada adsorpsi fisika. Dalam khemisorpsi, ikatannya

dapat sedemikian kuatnya, sehingga spesies aslinya tak dapat lagi ditemukan

(Alberty dan Daniels, 1983).

Dalam Fisisorpsi ( kependakan diri “ adsorpsi fisika”), terdapat interaksi

van der Waals ( contoh disperse atau antaraksi dipolar) antara adsorpat dan

subtrakt. Antaraksi van der Waals mempunyai jarak jauh tetapi lemah, dan energi

yang dilepaskan jika partikel terfisisorpsi mempunyai orde besaran yang sama

dengan entalpi kondensasi. Kuantitas energi sekecil ini dapat diadsorpsi sebagai

vibrasi kisi dan dihilangkan sebagai gerakan termal. Molekul yang melambung

pada permukaan seperti batuan itu, akan kehilangan energinya perlahan-lahan dan

akhirnya teradsorpsi pada permukaan itu, dalam prose situ disebut akomodasi

(Atkins, 1997).

Arang merupakan suatu padatan berpori yang mengandung 85-95%

karbon, dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon dengan pemanasan

pada suhu tinggi. Selain digunakan sebagai bahan bakar, juga dapat digunakan

sebagai adsorben (penyerap). Daya serap ditentukan oleh luas permukaan partikel

dan kemampuan ini dapat menjadi lebih tinggi jika terhadap arang tersebut
dilakukan aktifasi dengan aktif faktor bahan-bahan kimia ataupun dengan

pemanasan pada temperatur tinggi, yang disebut arang aktif

(Sembiring dan Sinaga, 2003).

Karbon aktif dapat digunakan sebagai adsorben karena selain dapat

menyerap logam dapat pula menarik warna dari suatu larutan. Arang aktif dapat

mengadsorpsi gas dan senyawa-senyawa kimia tertentu atau sifat adsorpsinya

selektif, tergantung pada besar atau volume pori-pori dan luas permukaan. Daya

serap arang aktif sangat besar, yaitu 25 - 1000% terhadap berat arang aktif

(Masykur dan Pranoto., 2003).

Isoterm adsorpsi adalah hubungan yang menunjukkan distribusi adsorben

antara fasa teradsorpsi pada permukaan adsorben dengan fasa ruah saat

kesetimbangan pada temperatur tertentu. Ada tiga jenis hubungan matematik yang

umumnya digunakan untuk menjelaskan isoterm adsorpsi (Anonim, 2008):

1. Isotermal Langmuir

Isoterm ini berdasar asumsi bahwa:

a. Adsorben mempunyai permukaan yang homogen dan hanya dapat

mengadsorpsi satu molekul adsorbat untuk setiap molekul adsorbennya. Tidak

ada interaksi antara molekul-molekul yang terserap.

b. Semua proses adsorpsi dilakukan dengan mekanisme yang sama.

c. Hanya terbentuk satu lapisan tunggal saat adsorpsi maksimum.

2. Isotermal Freundlich

Untuk rentang konsentrasi yang kecil dan campuran yang cair, isoterm

adsorpsi dapat digambarkan dengan persamaan empirik yang dikemukakan oleh

Freundlich. Isoterm ini berdasarkan asumsi bahwa adsorben mempunyai


permukaan yang heterogen dan tiap molekul mempunyai potensi penyerapan yang

berbeda-beda. Persamaan ini merupakan persamaan yang paling banyak

digunakan saat ini. Persamaannya adalah

x/m = kC1/n

dengan,

x = banyaknya zat terlarut yang teradsorpsi (mg)

m = massa dari adsorben (mg)

C = konsentrasi dari adsorbat yang tersisa dalam kesetimbangan

k,n,= konstanta adsorben

Dari persamaan tersebut, jika konstentrasi larutan dalam kesetimbangan

diplot sebagai ordinat dan konsentrasi adsorbat dalam adsorben sebagai absis pada

koordinat logaritmik, akan diperoleh gradien n dan intersep k. Dari isoterm ini,

akan diketahui kapasitas adsorben dalam menyerap air. Isoterm ini akan

digunakan dalam penelitian yang akan dilakukan, karena dengan isoterm ini dapat

ditentukan efisiensi dari suatu adsorben.

3. Isotermal Brunauer, Emmet, and Teller (BET)

Isoterm ini berdasar asumsi bahwa adsorben mempunyai permukaan yang

homogen. Perbedaan isoterm ini dengan Langmuir adalah BET berasumsi bahwa

molekul-molekul adsorbat bisa membentuk lebih dari satu lapisan adsorbat di

permukaannya. Pada isoterm ini, mekanisme adsoprsi untuk setiap proses adsorpsi

berbeda-beda. Mekanisme yang diajukan dalam isoterm ini adalah:Isoterm

Langmuir biasanya lebih baik apabila diterapkan untuk adsorpsi kimia, sedangkan

isoterm BET akan lebih baik daripada isotherm Langmuir bila diterapkan untuk

adsoprsi fisik.
Penggunaan karbon aktif sebagai media adsorpsi gas CO dan NO2 pada

emisi gas buang kendaraan bermotor. Dari hasil penelitian diketahui bahwa media

karbon aktif yang dipasang sepanjang 5 cm, 10 cm dan 15 cm pada tabung

adsorpsi memberikan hasil penurunan konsentrasi gas CO sebesar 76,316 %,

80,866 % dan 82,785 %. Pada konsentrasi TiO2 15 %, 10 % dan 15 % yang

ditambahkan pada media karbon aktif dengan panjang media 15 cm memberikan

penurunan konsentrasi CO sebesar 83,88 %, 87,5 % dan 92,76 % (Basuki, 2007).

Jumlah teradsorpsi per gram padatan bergantung pada luas permukaan

spesifik dari padatan, konsentrasi padatan, konsentrasi kesetimbangan zat terlarut

dalam larutan (atau tekanan dalam kasus adsorpsi dari fase gas, suhu dan sifat

molekul yang terlibat. Dari pengukuran pada suhu tetap, kurva jumlah molekul

yang teradsorpsi per gram adsorben ( N) terhadap konsentrasi kesetimbangan zat

terlarut (c) diperoleh. Kurva ini disebut isotermal adsorpsi (Atkins, 1997).

Absorben adalah cairan yang dapat melarutkan bahan yang akan

diabsorpsi pada permukaannya, baik secara fisik maupun secara reaksi

kimia.Absorben sering juga disebut sebagai cairan pencuci.

Persyaratan absorben :

1. Memiliki daya melarutkan bahan yang akan diabsorpsi yang sebesar

mungkin (kebutuhan akan cairan lebih sedikit, volume alat lebih kecil).

2. Selektif.

3. Memiliki tekanan uap yang rendah.

4. Tidak korosif.

5. Mempunyai viskositas yang rendah.

6. Stabil secara termis.

7. Murah.
Jenis-jenis bahan yang dapat digunakan sebagai absorben adalah air (untuk

gas-gas yang dapat larut, atau untuk pemisahan partikel debu dan tetesan cairan),

natrium hidroksida (untuk gas-gas yang dapat bereaksi seperti asam) dan asam

sulfat (untuk gas-gas yang dapat bereaksi seperti basa) (Endang, 2010).

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan pecobaan yang dilakukan, dapat disimpulkan :

1. Model yang sesuai untuk adsorpsi zat warna Rhodamin B oleh karbon aktif

adalah model persamaan Freunlich

2. Dari kurva isotermal Freundlich diperoleh nilai kapasistansi adsorpsi

Rhodamin B adalah 0,6668 mg/g adsorban.

5.2 Saran

5.2.1 Untuk Laboratorium


Sebaiknya dalam percobaan selanjutnya alat-alat yang digunakan dalam

laboratorium merupakan alat-alat yang layak pakai agar kesalahan dalam

percobaan dapat diminimalisir.

5.2.2 Untuk asisten

Cara membimbing praktikan dalam percobaan sudah baik dan tetap

dipertahankan

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2008, Isotherm Adsorpsi (online), http://smk3ae.wordpress.com, diakses


20 November 2009, pukul 15.00 WITA, Makassar.

Alberty, R. A., Danniels, F., 1983, Kimia Fisika versi S1 edisi kelima jilid 1,
diterjemahkan oleh N.M. Surdia, Erlangga, Jakarta.

Atkins, P. W., 1997, Kimia Fisika, Jilid 2, Erlangga, Jakarta.

Endang, K., 2007, Larutan Absorben (online), http://lppm.uns.ac.id/tag/larutan-


absorben/, diakses 1 April 2010, pukul 11.48 WITA, Makassar.

Masykur, A., Pranoto, M., 2003, Penurunan Kadar Timbal dan Zat Warna Tekstil
dalam Larutan dengan Menggunakan Karbon Aktif Bagasse, ENVIRO
PPLH-Lemit UNS Surakarta, (online) 2(1), http://enviro.co.id, diakes 22
April 2009.

Sembiring, T. M. dan Sinaga, T. S., 2003, Arang Aktif Pengenalan dan Proses
Pembuatannya, USU Digital Library, (online), http://usudigitallibray.co.id,
diakses 21 April 2009.
Roda

- D
LEMBAR PENGESAHAN

Makassar, 1 April 2010

Asisten Praktikan

(BAKTI WIGUNA MOO) ( FADLIAH)