Anda di halaman 1dari 16

Pengaruh Bauran Promosi Terhadap Minat Beli Deodoran Rexona

Teens Pada Siswi SMK Negeri 2 Buduran Sidoarjo

Oleh: WIDYA DEWI AGUSTIN *)


UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh antara bauran promosi terhadap minat
beli Deodorant Rexona Teens pada siswi SMK Negeri 2 Buduran Sidoarjo.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, dimana
peneliti mulai dengan hipotesis yang didasari teori yang terkait, kemudian dilakukan pengumpulan
data melalui kuisioner pada responden. Dari data tersebut kemudian diuji sehingga menciptakan
hasil yang dapat digunakan untuk membuat prediksi, serta mendapatkan makna dari implikasi dari
suatu masalah yang ingin dipecahkan. Populasi dalam penelitian ini adalah siswi SMK Negeri 2
Buduran Sidoarjo sebanyak 320 siswi kelas 2 tahun ajaran 2009-2010 yang sebagaian besar para
penggunanya adalah siswi dalam masa pubertas. Dalam penelitian ini yang dijadikan sampel adalah
siswi Kelas 2 SMK Negeri 2 Buduran Sidoarjo yang mengetahui produk Deodorant Rexona Teens.
SMK Negeri 2 Buduran sendiri dipilih sebagai objek penelitian karena memiliki jumlah siswi yang
mendominasi sekolah tersebut dan para siswinya masih dalam masa pubertas yakni usia 16-17 tahun.
(Sumber:Tata Usaha SMK Negeri 2 Buduran).
Dari analisis yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh yang signifikan
dari variabel periklanan (X1), promosi penjualan (X2), sponsorship (X3), public relation (X4) dan
penjualan pribadi (X5) terhadap minat beli (Y), dan besarnya kontribusi pengaruh variabel periklanan
(X1), promosi penjualan (X2), acara khusus dan pengalaman (X3), hubungan masyarakat dan
pemberitaan (X4) dan penjualan pribadi (X5) terhadap minat beli (Y) adalah sebesar 0,756 atau
75,6%. Sedangkan sisanya sebesar 24,4% dipengaruh oleh variabel lain diluar variabel yang
digunakan dalam penelitian ini seperti bauran pemasaran, kualitas produk dll.
Variabel public relation (X4) mempunyai pengaruh yang paling dominan terhadap minat beli
Deodoran Rexona Teens pada siswi SMK Negeri 2 Buduran Sidoarjo (Y).

Kata Kunci : Periklanan, Promosi Penjualan, sponsorship, public relation, Penjualan Pribadi
Dan Minat Beli.
Effect Of Buying Interest of Promotional Mix Deodorant Rexona Teens In
Student SMK Negeri 2 Buduran Sidoarjo

By: WIDYA DEWI AGUSTIN *)


UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

ABSTRAC

This study is to analyze influence between promotion mix towards buying interest of
deodorant rexona teens in student SMK Negeri 2 Buduran Sidoarjo
The approach used in this research is quantitative approach, where researchers begin with a
hypothesis based on relevant theory, then performed the data collection by questionnaire
respondents. From this data and then tested so as to create results that can be used to make
predictions, and gain meaning from the implications of a problem to be solved. The population in
this study were female students of SMK Negeri 2 Buduran Sidoarjo 320 grade 2 students of the
school year 2009-2010 that most of its users are girls in puberty. In this study sampled are Class 2
student of SMK Negeri 2 Buduran Sidoarjo, who know the product Deodorant Rexona Teens. SMK
Negeri 2 Buduran himself selected as an object of study because it has a number of girls who
dominate the school and the student still in the puberty age of 16-17 years. (Source: Administrative
of SMK Negeri 2 Buduran).
From the analysis conducted can be seen that there is significant influence of the advertising
variable (X1), sales promotion (X2), special events and experiences (X3), public relations and
reporting (X4) and private sales (X5) to purchase interest ( Y), and the contribution of the influence
of advertising (X1), sales promotion (X2), sponsorship (X3), public relations (X4) and private sales
(X5) to buying interest (Y) amounted to 0.756 or 75.6%. While the rest of 24.4% influenced by other
variables outside of the variables used in this study as the marketing mix, product quality etc.
Variable public relation (X4) has influence dominant test towards buying interest of
deodorant rexona teens in student SMK Negeri 2 Buduran Sidoarjo (Y).

Keywords: Advertising, Sales Promotions, Sponsorship, Public Relations, Personal Selling,


and Buying Interests.
BAB I PENDAHULUAN pasar toiletries di Indonesia tiap tahun tumbuh
cukup stabil, berdasarkan data sejumlah
A. Latar Belakang Masalah lembaga riset pasar, diperkirakan tumbuh
Pemasaran modern memerlukan lebih sekitar 15-20% per tahun. Data dari Perkosmi
daripada sekedar mengembangkan produk yang (Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia)
baik, menetapkan harga yang menarik, dan memperkiraan omset pasar kosmetika dan
membuatnya dapat terjangkau. Perusahaan- toiletries tahun ini sekitar Rp. 18 trilyun. Tahun
perusahaan juga harus berkomunikasi dengan depan diperkirakan jumlahnya akan tumbuh
pihak-pihak yang berkepentingan sekarang, sekitar 20% atau akan mendekati sekitar Rp. 22
yang akan datang dan masyarakat umum. Bagi trilyun. Dari jumlah itu, omset terbesar
sebagian besar perusahaan, pertanyaannya disumbangkan oleh pasar produk-produk
bukanlah apakah berkomunikasi, melainkan apa toiletries yang menguasai hampir 75% dari
yang harus disampaikan, kepada siapa, dan pasar industri kosmetika dan toiletries, atau
seberapa sering. Namun, komunikasi sekian omsetnya sekitar Rp. 13 trilyun. Sedangkan
lama menjadi semakin sulit ketika semakin produk-produk kosmetika menyumbang 25%
banyak perusahaan berteriak untuk menarik dari omset, atau sekitar Rp. 5 trilyun.
perhatian konsumen yang semakin terbagi. Jumlah perusahaan kosmetika dan
Untuk menjangkau pasar sasaran dan toiletries di Indonesia saat ini, menurut data
membangun ekuitas merek, pemasar semakin Perkosmi, sekitar 744 perusahaan berskala
kreatif memanfaatkan berbagai bentuk besar, menengah dan kecil. Dari total jumlah
komunikasi. (Kotler dan Keller, 2007:203) perusahaan kosmetik dan toiletries yang
Setiap perusahaan akan berusaha tergabung dalam Perkosmi itu, sekitar 500
melakukan strategi pemasaran dalam setiap perusahaan di antaranya berskala Usaha Kecil
produk yang mereka ciptakan, kegiatan Menengah. Banyaknya jumlah perusahaan ini,
pemasaran tersebut tidak terlepas dari istilah karena memang kebutuhan pasar kosmetik
bauran pemasaran yang terdiri dari produk, domestik yang besar, yang sebagian besar
harga, distribusi, dan promosi. masih dipenuhi oleh produk-produk dari
Menurut Kotler dan Keller (2007:204) perusahaan-perusahaan lokal. (Wahyu dalam
kebijakan promosi yang dapat dilakukan adalah artikelnya di Majalah JIEF Magazine:2007).
bauran komunikasi pemasaran yang terdiri atas Salah satu produk deodoran yang laku
enam cara komunikasi utama yaitu : iklan, dipasaran adalah Rexona. Merek Rexona
promosi penjualan, sponsorship, public diciptakan untuk pertama kalinya kira-kira satu
relation, pemasaran langsung dan penjualan abad yang lalu, tepatnya pada tahun 1908, oleh
pribadi. Untuk bisa berkomunikasi secara pasangan ahli farmasi Australia. Sejak saat itu,
efektif, perusahaan merancang program- teknologi deodoran yang ditawarkan oleh
program promosinya dengan menarik sehingga Rexona mengalami banyak kemajuan. Produk
mampu menarik khalayak sasarannya. terbaru Rexona adalah Rexona Teens,
Industri toiletries seperti tak mengenal Deodoran Rexona Teens ini diciptakan khusus
krisis. Ketika terjadi krisis ekonomi tahun untuk remaja perempuan yang sedang
1998-1999 di Indonesia, yang menyebabkan mengalami masa pubertas.
turunnya semua pangsa pasar kebutuhan produk Teknologi terbaru Rexona Teens
industri, pasar toiletries tetap tumbuh. Hal ini menggunakan microcapsule dengan efisiensi
karena kebutuhan toiletries tak lagi hanya yang belum pernah ada sebelumnya.
sekedar menjadi kebutuhan gaya hidup, tetapi Microcapsule larut dalam keringat dan
telah menjadi salah satu kebutuhan pokok melepaskan parfum pada saat suhu tubuh naik
masyarakat modern. Orang tak lagi merasa sehingga menjamin daya pengharum yang lebih
bersih, kalau mandi tanpa menggunakan sabun tahan lama jika dibandingkan dengan produk
dan keramas memakai shampo. Demikian juga deodoran lain.
orang tak lagi akan percaya diri, jika keluar Bau badan memang identik dengan bau
rumah dan bergaul dengan teman-temannya ketiak. Tak heran jika daerah ketiak merupakan
tanpa menggunakan parfum atau deodoran. daerah yang memerlukan perawatan ekstra.
Demikian juga kebutuhan akan toiletries Apalagi secara histologis, ketiak memiliki
terus tumbuh meningkat. Dengan jumlah banyak kelenjar sebasea (kelenjar keringat).
penduduk 231 juta jiwa pada tahun 2009, Inilah yang menyebabkan ketiak selalu lebih
potensi pasar toiletries Indonesia masih sangat basah dari bagian tubuh lain. Bicara soal
besar dan potensial. Tak heran pertumbuhan keringat, semua orang sebenarnya sudah
mengeluarkannya sejak lahir. Namun pada konsumen dalam menentukan minat beli.”
masa pubertas, kelenjar keringat menjadi Engel dkk (1993:201) juga mengemukakan
semakin aktif dan mulai mengeluarkan zat-zat jika minat beli merupakan pemikiran konsumen
kimia tertentu. Akibatnya, keringat tentang apa yang akan mereka beli. Minat beli
mengeluarkan bau yang lebih kuat, dan, muncul pada tahapan afektif manusia setelah
bebauan yang khas ini muncul terutama di melewati tahapan kognitifnya sebelum
bawah ketiak. Produksi keringat yang memasuki tahap konatif (tindakan pembelian).
berlebihan, plus bau badan yang menyengat ini Namun, menurut penelitian yang dilakukan
tentu bisa membuat kita menjadi kurang oleh Kumar dkk (2009), Knight dan Kim
percaya diri. (Kathleen M. Cronan, MD, dalam (2007), serta Mario (2008) menunjukkan bahwa
artikelnya Hygiene Basics:2008). pengukuran minat beli dapat mempergunakan
Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia, konsumen yang pernah menggunakan produk
Remaja adalah waktu manusia berumur belasan yang diteliti sebagai sampelnya, karena
tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat konsumen yang pernah menggunakan suatu
disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula produk telah memiliki pengalaman, sehingga
disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa memperkuat minat belinya. Engel dkk
peralihan manusia dari anak-anak menuju (1993:200) juga mengemukakan dalam model
dewasa.Remaja merupakan masa peralihan perilaku konsumen jika konsumen yang telah
antara masa anak dan masa dewasa yang membeli suatu produk tertentu, sudah pasti
berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 memiliki minat beli yang kuat terhadap produk
tahun.Dari bahasa inggris "teenager" yakni tersebut.
manusia usia 13-19 tahun. Dimana usia tersebut Peluang pasar sehubungan dengan
merupakan perkembangan untuk menjadi perubahan gaya hidup remaja perempuan
dewasa. berdasarkan fenomena di atas dapat dibaca oleh
Pada saat pubertas aktivitas para remaja Rexona. Sebagai salah satu merek Deodoran
juga semakin bertambah sehingga rawan sekali terdepan di Indonesia, Rexona meluncurkan
dengan bau tak sedap atau bau badan (BB). inovasi terbaru Deodoran Rexona Teens yang
Kalenjar keringat berada di sekujur tubuh, kali ini khusus diciptakan untuk remaja
kecuali bibir dan telinga, setiap orang memiliki perempuan yang sedang mengalami masa
kurang lebih 2,5 juta kalenjar. Wanita memiliki pubertas untuk agar dapat tampil lebih percaya
lebih banyak kalenjar apocrine (kalenjar diri.
keringat dalam) dibandingkan pria. Pria dan Sejak tahun 2008, Rexona telah
wanita memiliki jenis keringat yang berbeda. berkomitmen untuk memberi informasi kepada
Keringat wanita dapat mencapai 10 kali lebih para siswi Indonesia tentang kesehatan,
basah dibandingkan pria. Oleh karena itu kamu kebersihan, dan kepercayaan diri. Dengan
membutuhkan antiperspirant atau deodoran mempromosikan slogan “Menciptakan atau
yang dirancang khusus untuk wanita (Kenali Merusak Suasana”, Rexona mempersiapkan
Dirimu,seputar pubertas Fresh Whisper para siswa untuk mengatasi masalah-masalah
Ultra;2000). remaja, masalah pubertas, pendidikan seks, dan
Bauran peromosi adalah sarana yang kebersihan dengan cara yang menyenangkan
digunakan perusahaan dalam upaya untuk dan membangun rasa percaya diri.
menginformasikan, membujuk, dan Program dari sekolah ke sekolah diawasi
mengingatkan konsumen langsung atau tidak oleh ahli profesional untuk menjamin hasil
langsung tentang produk dan merek yang yang terbaik. Hasilnya luar biasa, program
mereka jual. Dalam pengertian tertentu, bauran tersebut diterima baik oleh para siswa dan para
promosi menggambarkan “suara” merek dan pendidik, sehingga generasi siswa berikutnya
merupakan sarana yang dapat digunakan untuk akan lebih siap untuk mengatasi berbagai
membangun dialog dan membangun hubungan masalah, khususnya masalah bau badan.
dengan konsumen. (www.unilever.com;2009)
Menurut Adams and Yellen, 1976, Berdasarkan artikel diatas penulis
”Pembungkus dari produk, komponen produk, melakukan penelitian pada remaja putri yang
dan layanan sangat penting bagi perusahaan sedang mengalami masa pubertas, yaitu pada
manufaktur, pengecer, dan pemberi layanan usia antara 16-17 tahun. Sehingga penulis
untuk memasarkan produk dan layanan kepada mengambil lokasi penelitian di SMK Negeri 2
pasar. Harga diskon dan kelengkapan dari Buduran Sidoarjo yang beralamat di Jl. Siwalan
komponen produk menjadi kunci bagi Panji No. 2A Jenggolo Sidoarjo. SMK Negeri 2
Buduran Sidoarjo merupakan sekolah yang disimpulkan bahwa promosi adalah suatu usaha
telah mendapatkan SBI (Sekolah Bertaraf kegiatan dalam menginformasikan, membujuk,
Internasional) yang berkerja sama dengan IGI dan mengingatkan konsumen tentang produk
(Indonesian German Institute) dalam proses dan merek yang mereka jual.
pembelajarannya. Sehingga SMK Negeri 2
Buduran menjadi salah satu sekolah terfavorit 1. Bauran Promosi
di Sidoarjo dan sekolah yang telah dikunjungi Untuk melakukan kegiatan promosi
oleh Rexona Teens untuk mengadakan event dibutuhkan sarana-sarana penunjang yang
berupa pentas seni dan seminar. Sebagai disebut bauran promosi. Menurut Kotler dan
sekolah yang memiliki siswi terbanyak di Keller (2007:204) bauran komunikasi
Sidoarjo, yaitu 1253 siswa yang terdiri dari pemasaran yang terdiri atas lima cara
1051 siswa perempuan dan 202 siswa laki-laki komunikasi utama yaitu : iklan (advertising),
pada tahun ajaran 2009-2010. (Sumber : Tata promosi penjualan (sales promotion),
Usaha SMK Negeri 2 Buduran Sidoarjo) Sponsorship, public relation, dan penjualan
Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik pribadi (personal selling).
untuk meneliti lebih lanjut mengenai pengaruh 1) Periklanan, Setiap bentuk presentasi yang
bauran promosi terhadap minat pembelian bukan dilakukan orang dan berupa
dengan mengambil judul ” Pengaruh Bauran promosi, gagasan, barang, atau jasa oleh
Promosi Terhadap Minat Beli Deodoran sponsor yang telah ditentukan. Contoh :
Rexona Teens Pada Siswi SMK Negeri 2 iklan cetak dan siaran, reklame, brosur dan
Buduran Sidoarjo.” booklet, poster dan liflet, dan lain-lain.
2) Promosi penjualan, Berbagai jenis
B. Rumusan Masalah insentif jangka pendek untuk mendorong
Berdasarkan uraian diatas rumusan orang mencoba atau membeli produk atau
masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini jasa. Contoh : pameran, kupon, rabat,
adalah : potongan harga, undian, dan hadiah.
1 Apakah bauran promosi berpengaruh 3) Sponsorship, Perusahaan mensponsori
secara simultan terhadap minat beli kegiatan dan program-program yang
Deodoran Rexona Teens pada siswi SMK dirancang untuk menciptakan interaksi
Negeri 2 Buduran Sidoarjo? setiap hari atau interaksi yang berkaitan
2 Apakah bauran promosi berpengaruh dengan merek. Contoh : olah raga,
secara parsial terhadap minat beli hiburan, festival seni, dan kegiatan amal.
Deodoran Rexona Teens pada siswi SMK 4) Public Relation, Berbagai program yang
Negeri 2 Buduran Sidoarjo? dirancang untuk mempromosikan dan
melindungi citra perusahaan atau masing-
BAB II KAJIAN PUSTAKA masing produknya. Contoh : Peralatan
pers, ceramah, seminar, pemberitaan,
C. Pengertian Promosi hubungan lingkungan, media identitas, dan
Para ahli ekonomi mempunyai definisi lain-lain.
yang berbeda-beda terhadap promosi, hal ini 5) Penjualan pribadi, Interaksi tatap muka
disebabkan adanya perbedaan sudut pandang dengan satu atau beberapa calon pembeli
dan pendekatan yang diambil. Tetapi pada dengan maksud untuk melakukan
hakekatnya definisi-definisi yang mereka presentasi, menjawab pertanyaan, dan
kemukakan mempunyai arti yang kurang lebih memperoleh pemesanan. Penjualan
sama. personal merupakan sarana promosi yang
Menurut Henry Simamora (2007:614), paling efektif dalam menanamkan
promosi adalah usaha perusahaan untuk pemilihan pembeli, keyakinan pembeli,
mempengaruhi dengan merayu (persuasive dan tindakan pembelian pada tingkat
communication) calon pembeli melalui tertentu dalam proses pembelian. Contoh :
pemakaian segala unsur acuan atau bauran presentasi pemasaran, pertemuan
pemasaran. penjualan, program intensif, pekan raya
Sedangkan menurut Ricky W. Griffin dan dan pameran dagang, dan contoh produk.
Ronald J. Ebert (2002:419), Promosi adalah
setiap teknik yang dirancang untuk menjual 2. Minat Beli
produk. Minat merupakan salah satu unsur
Dari beberapa definisi di atas dapat kepribadian seseorang yang memegang peranan
penting dalam pengambilan keputusan. Minat dapat berkontribusi pada ekuitas merek dengan
beli diketahui dari kecendrungan terpikat atau membangun merek dalam ingatan dan
tertarik terhadap suatu pengalaman dan ingin menciptakan citra merek.
melestarikan pengalaman tersebut. Menurut Schiffman dan Kanuk (1994)
Menurut John Rosister dan Larry Percy dalam Albari (2002): ”Motivasi sebagai
(1987:55), Minat pembelian adalah “brand kekuatan dorongan dari dalam diri individu
purchase intention is the buyer’s self yang memaksa mereka untuk melakukan
instruction to purchase the brand or take other tindakan. Jika seseorang mempunyai motivasi
relevant purchase the brand or take other yang tinggi terhadap obyek tertentu, maka dia
relevant purchase-related action” minat akan terdorong untuk berperilaku menguasai
pembelian konsumen terhadap merek adalah produk tersebut. Sebaliknya jika motivasinya
perintah seorang pembeli kepada dirinya sendiri rendah, maka dia akan mencoba untuk
untuk membeli sebuah merek produk atau menghindari obyek yang bersangkutan.
mengambil tindakan lain yang berhubungan Implikasinya dalam pemasaran adalah untuk
dengan pembelian. Menurut mereka, minat kemungkinan orang tersebut berminat untuk
pembelian merupakan tahap perencanaan membeli produk atau merek yang ditawarkan
sebelum seorang pembeli melakukan tindakan pemasaran atau tidak.”
(action). Minat pembelian merupakan bagian Jadi, Salah satu faktor yang mempengaruhi
dari tanggapan konsumen. perilaku konsumen adalah sikap, minat beli
Sedangkan Mehta (1994: 66) konsumen termasuk salah satu dari sikap
mendefinisikan minat beli sebagai : konsumen. “Bundling of products, product
”Kecenderungan konsumen untuk membeli components, and services is an important
suatu merek atau mengambil tindakan yang consideration for manufacturers, retailers, and
berhubungan dengan pembelian yang diukur service providers bringing their goods and
dengan tingkat kemungkinan konsumen services to market. Price discount and
melakukan pembelian.” complementarity of bundle components appear
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan to be key drivers of purchase intention”.
bahwa minat beli merupakan suatu keinginan Pembungkus dari produk, komponen produk,
atau rasa suka dan ketertarikan pada suatu dan layanan sangat penting bagi perusahaan
merek untuk melalukan suatu tindakan (action). manufaktur, pengecer, dan pemberi layanan
untuk memasarkan produk dan layanan kepada
3. Hubungan Bauran Promosi Terhadap pasar. Harga diskon dan kelengkapan dari
Minat Beli komponen produk menjadi kunci bagi
Bauran peromosi adalah sarana yang konsumen dalam menentukan minat beli.
digunakan perusahaan dalam upaya untuk (Adams and Yellen, 1976).
menginformasikan, membujuk, dan Teori diatas di perkuat oleh Ujang
mengingatkan konsumen langsung atau tidak Sumarwan (2002:310) bahwa keinginan untuk
langsung tentang produk dan merek yang membeli seringkali muncul di toko atau mal.
mereka jual. Dalam pengertian tertentu, bauran Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut.
promosi menggambarkan “suara” merek dan Display pemotongan harga 50 %, yang terlihat
merupakan sarana yang dapat digunakan untuk mencolok menarik perhatian konsumen.
membangun dialog dan membangun hubungan Konsumen akan merasakan kebutuhan membeli
dengan konsumen. produk.
Bauran promosi membentuk banyak fungsi Dari keterangan diatas penulis dapat
bagi konsumen. Konsumen dapat diberitahu menyimpulkan bahwa pemotongan harga
atau ditunjuk bagaimana dengan mengapa (potongan penjualan) yang termasuk dalam
sebuah produk digunakan, oleh orang seperti bauran promosi berperan penting bagi
apa, dan dimana, serta kapan konsumen dapat konsumen dalam membentuk sikap atau minat
belajar tentang siapa yang membuat produk dan konsumen untuk membeli suatu produk.
apa yang dipertahankan perusahaan dan merek,
konsumen dapat diberikan satu intensif atau 4. Hipotesis
imbalan untuk percobaan atau penggunaan. Berdasarkan rumusan masalah dan
Bauran promosi memungkinkan perusahaan landasan teori, serta untuk memberikan arah
menghubungkan merek-merek mereka dengan dalam menganalisis permasalahan yang ada,
orang lain, tempat, acara khusus, pengalaman hipotesis dari penelitian adalah:
merek, perasaan, dan barang. Bauran promosi H1 : Bauran promosi berpengaruh secara
simultan terhadap minat beli deodoran d) Public Relation, Berbagai program yang
Rexona Teens pada siswi SMK Negeri dirancang untuk mempromosikan atau
2 Buduran Sidoarjo. melindungi citra perusahaan atau masing-
H2 : Bauran promosi berpengaruh secara masing produknya. Contoh : Siaran pers
parsial terhadap minat beli deodoran melalui TV, Radio atau surat kabar tentang
Rexona Teens pada siswi SMK Negeri Rexona Teens, seminar mengenai pubertas
2 Buduran Sidoarjo. yang dilakukan Rexona Teens oleh
psikolog dan juga para ahli kesehatan
BAB III METODE PENELITIAN remaja, pencarian inmformasi melalui
teman dengan menanyakan langsung
D. Definisi Operasional Variabel tentang deodoran yang aman digunakan,
Variabel penelitian menurut Simamora harem dan juga dapat membuat remaja
(2004:26) adalah karakteristik, sifat, atau menjadi tampil lebih percaya diri, bertanya
atribut yang memiliki beragam nilai. Adapun kepada anggota keluarga tentang
definisi dari variabel-variabel yang digunakan keunggulan produk Rexona Teens, apakah
dalam penelitian ini adalah : sudah sesuai dengan kebutuhan remaja
1. Bauran Promosi tersebut atau tidak.
Bauran Promosi adalah hal yang terpenting e) Penjualan pribadi, Interaksi tatap muka
untuk diketahui oleh perusahaan agar dengan satu atau beberapa calon pembeli
perusahaan dapat memilih alat-alat promosi dengan maksud untuk melakukan
sesuai dengan produk atau jasa yang dihasilkan presentasi, menjawab pertanyaan, dan
serta dapat mencapai tujuan yang telah memperoleh pemesanan. Penjualan
ditetapkan. Bauran promosi memiliki indikator personal merupakan sarana promosi yang
sebagai berikut : paling efektif dalam menanamkan
a) Periklanan, Setiap bentuk presentasi yang pemilihan pembeli, keyakinan pembeli,
bukan dilakukan orang dan berupa dan tindakan pembelian pada tingkat
promosi, gagasan, barang, atau jasa oleh tertentu dalam proses pembelian. Contoh :
sponsor yang telah ditentukan. Contoh : Cara penyampaian tenaga penjual yang
iklan yang dilakukan Rexona Teens, memberikan informasi secara jelas tentang
melalui iklan media cetak atau media produk Rexona Teens sangat bermanfaat
elektronik, reklame yang dipasang bagi remaja dalam menentukan produk
dipinggir jalan, brosur Rexona Teens yang yang akan dibeli, pemberian sampel atau
disebarkan di toko atau sekolah, booklet contoh produk Rexona Teens sangat
yang diberikan pada siswi tentang seputar membantu para siswa untuk menemukan
masalah remaja, kemasan Rexona Teens deodorant yang sesuai dengan
yang menarik, dan poster yang kebutuhannya, dan semakin sering acara
ditempelkan di mading sekolah. promosi Rexona Teens diadakan di
b) Promosi penjualan, Berbagai jenis sekolah – sekolah, maka diharapkan akan
insentif jangka pendek untuk mendorong semakin tinggi pula keinginan siswi untuk
orang mencoba atau membeli produk atau membeli Rexona Teens.
jasa. Contoh : pameran Rexona Teens
disekolah-sekolah, undian atau doorprise 2. Minat Beli
berhadiah produk Rexona Teens, potongan Minat beli merupakan pemikiran
harga yang diberikan terkait produk konsumen tentang apa yang akan mereka beli.
Rexona, serta pemberian hadiah secara Indikator yang digunakan untuk mengukur
cuma-cuma kepada siswa. minat beli adalah berniat sering membeli merek
c) Sponsorship, Perusahaan mensponsori tertentu dan berencana membeli merek tertentu
kegiatan dan program-program yang lebih sering. (Knight dan Kim (2007) serta
dirancang untuk menciptakan interaksi Kumar dkk (2009)).
setiap hari atau interaksi yang berkaitan
dengan merek. Contoh : acara hiburan E. Populasi dan Sampel
berupa lomba dance yang diadakan 1. Populasi
Rexona Teens antar kelas, pentas seni Menurut Suharsimi Arikunto (2006:130)
berupa festival band dan cheerleaders, dan Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian.
kegiatan amal berupa menggalang dana Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen
untuk para korban bencana di Indonesia. yang ada dalam wilayah penelitian, maka
penelitiannya merupakan penelitian populasi. 1. Dokumentasi dan observasi, dilakukan
Studi atau penelitiannya juga disebut studi untuk mendapatkan gambaran
populasi atau studi sensus. Dalam penelitian permasalahan dan data-data mengenai
yang dilakukan pada bulan Mei-Juni 2010, bauran promosi diantaranya manajemen
yang diambil sebagai dasar populasi adalah pemasaran, strategi pemasaran,
siswi SMK Negeri 2 Buduran Sidoarjo komunikasi pemasaran, dan perilaku
sebanyak 320 siswi kelas 2 tahun ajaran 2009- konsumen yang dibutuhkan dalam
2010 yang penggunanya adalah siswi dalam penelitian ini, dengan cara membaca,
masa pubertas. memahami, mempelajari buku literatur
tersebut, serta sumber data lainnya baik
2. Sampel yang diperoleh dari media cetak melalui
Sampel adalah sebagian atau wakil majalah dan koran atau elektronik melalui
populasi yang diteliti (Arikunto, 2006:131). internet, televisi, dan radio yang berkaitan
Sedangkan sampel menurut Sugiyono dengan masalah penelitian.
(2009:116) adalah bagian dari jumlah 2. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan
karakteristik yang dimiliki populasi tersebut. data primer. Wawancara dilakukan pada
Roscoe (dalam Sekaran 2006:160) memberikan responden sebelum memberikan kuesioner.
gagasan bahwa aturan untuk menentukan Dimana dalam wawancara tersebut penulis
ukuran sampel yaitu lebih dari 30 dan kurang memberikan informasi tambahan
dari 500 adalah tepat untuk kebanyakan mengenai bauran promosi Rexona Teens
penelitian. Dalam penelitian multivariat dan Minat Beli agar responden tidak
(termasuk analisis regresi berganda), ukuran kesulitan pada saat melakukan pengisian
sampel sebaiknya 10 kali atau lebih besar dari kuisioner. Dalam penelitian ini wawancara
jumlah variabel yang diteliti. dilakukan secara terstruktur, yaitu
Teknik pengambilan sampel yang wawancara di mana peneliti menggunakan
digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman wawancara yang telah disusun
“Purposive Sampling”, yaitu teknik penentuan secara sistematis dan lengkap untuk
sampling dengan pertimbangan tertentu. pengumpulan datanya (Sugiyono,
(Sugiyono, 2006:61). Adapun pertimbangan 2009:197).
yang dilakukan penulis dalam pengambilan 3. Penyebaran kuesioner dilakukan untuk
sampel adalah sebagai berikut : mendapatkan data primer. Penyebaran
a. Remaja perempuan berusia 16-17 tahun. kuisioner ini diharapkan penulis dapat
b. Remaja perempuan yang mengetahui memperoleh informasi yang lebih
bauran promosi pejualan Rexona Teens. mengenai keinginan serta harapan
Dalam penelitian ini yang dijadikan konsumen tentang produk Rexona Teens
sampel adalah siswi Kelas 2 SMK Negeri 2 serta mengetahui pengaruh bauran promosi
Buduran Sidoarjo yang mengetahui produk tehadap minat beli Deodorant Rexona
Deodorant Rexona Teens. SMK Negeri 2 Teens di SMK Negeri 2 Buduran Sidoarjo,
Buduran sendiri dipilih sebagai objek penelitian membimbing pengisian, dan
karena memiliki jumlah siswi yang mengumpulkan hasil penelitian.
mendominasi sekolah tersebut dan para
siswinya masih dalam masa pubertas yakni usia G. Uji Validitas, Reliabilitas, dan Asumsi
15-19 tahun. (Sumber:Tata Usaha SMK Negeri Klasik
2 Buduran). 1. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk
F. Teknik Pengumpulan Data mengetahui kelayakan butir-butir dalam
Kegiatan pengumpulan data dalam suatu daftar pertanyaan dalam
penelitian merupakan suatu hal yang penting. mendefinisikan suatu variabel. Hasil uji
Teknik pengumpulan data dapat dilakukan validitas dapat dijelaskan sebagai berikut.
dengan interview (wawancara), kuesioner Berdasarkan perhitungan yang telah
(angket), observasi (pengamatan), dan dilakukan dapat diketahui bahwa semua
gabungan ketiganya (Sugiyono, 2009:193). butir pernyataan yang mengukur variabel
Adapun teknik pengumpulan data yang periklanan (X1 ), promosi penjualan(X2 ),
digunakan dalam penelitian ini dilakukan sponsorship (X3 ), public relation (X4 ),
dengan tahap-tahap: penjualan pribadi (X5 ) dan minat beli (Y)
adalah valid karena total pearson Uji Normalitas dengan alat bantu komputer
correlation > nilai r kritis sebesar 0,220. yang menggunakan bantuan program SPSS.
12.0. for windows diperoleh hasil :
2. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas adalah uji untuk mengukur Tabel 2
suatu kuesioner yang merupakan indikator dari Hasil Uji Normalitas
suatu konstruk. Suatu kuesioner dikatakan
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
reliabel atau handal jika jawaban seseorang
terhadap pernyataan adalah konsisten. Metode Unstandardiz
ed Residual
yang digunakan adalah metode One shot atau N 84
pengukuran sekali saja, di sini pengukuran Normal Parameters a,b Mean ,2367893
hanya sekali dan kemudian hasilnya Std. Deviation ,18658960
dibandingkan dengan pertanyaan lain atau Most Extreme Absolute ,105
Differences Positive ,101
mengukur korelasi antar jawaban pertanyaan.
Negative -,105
SPSS memberikan fasilitas untuk melakukan Kolmogorov-Smirnov Z ,959
uji statistik Cronbach Alpha, di mana suatu Asymp. Sig. (2-tailed) ,317
variabel dikatakan reliabel jika nilai Cronbach a. Test distribution is Normal.
Alpha > 0,6. b. Calculated from data.

Tabel 1 Sumber: Lampiran


Hasil Uji Reliabilitas
Variabel Cronbach Ket. Berdasarkan pada tabel 2 di atas
Alpha menunjukkan bahwa nilai asymp.
X1 0,755 Reliabel signifikansi lebih besar dari 5% (0,05) maka
X2 0,823 Reliabel data tersebut berdistribusi normal, sehingga
X3 0,768 Reliabel dapat digunakan dalam penelitian.
X4 0,642 Reliabel
X5 0,764 Reliabel b. Uji Heterokokedastisitas.
Y 0,672 Reliabel Untuk menguji apakah model regresi
terjadi ketidaksamaan varians dari residual
Sumber: lampiran pada satu pengamatan ke pengamatan lain.
Jika varians dari residual pada satu
Dari tabel 1 dapat diketahui bahwa pengamatan yang lain adalah tetap, disebut
semua variabel yaitu variabel periklanan homoskedastisitas.
(X1 ), promosi penjualan(X2 ), sponsorship Berdasarkan hasil Uji
(X3 ), public relation (X4 ), penjualan pribadi Heteroskedastisitas dengan alat bantu
(X5 ) dan minat beli (Y) adalah reliabel komputer yang menggunakan Program
karena cronbach alphanya lebih besar dari SPSS. 12.0, dapat diketahui bahwa seluruh
0,6. variabel bebas (X) yaitu yang terdiri dari
variabel periklanan (X1 ), promosi
3. Uji Asumsi Klasik penjualan(X2 ), acara khusus dan pengalaman
a. Uji Normalitas (X3 ), hubungan masyarakat dan pemberitaan
Uji asumsi ini akan menguji data variabel (X4 ) dan penjualan pribadi (X5 ) mempunyai
bebas (X) dan variabel terikat (Y) pada nilai Sig (2-tailed) > 0,05, maka maka hal ini
persamaan regresi yang dihasilkan, apakah berarti dalam model regresi tidak terjadi
berdistribusi normal atau berdistribusi tidak ketidaksamaan variance dari residual satu
normal. pengamatan ke pengamatan lainnya atau
Persamaan regresi dikatakan baik jika bebas heteroskedastisitas, sehingga seluruh
mempunyai data variabel bebas dan data variabel bebas (X) tersebut dapat digunakan
variabel terikat berdistribusi mendekati normal dalam penelitian.
atau normal sama sekali. Uji normalias adalah c. Uji Multikolinieritas
pengujian tentang kenormalan distribusi data. Uji ini merupakan bentuk pengujian
Penggunaan uji normalitas karena pada analisis untuk asumsi dalam analisis regresi
statistic parametric, asumsi yang harus dimiliki berganda. Asumsi multikolinieritas
oleh data adalah bahwa data tersebut menyatakan bahwa variabel bebas harus
terdistribusi secara normal. Berdasarkan hasil terbebas dari gejala multikolinieritas. Gejala
multikolinieritas adalah gejala korelasi searah bila variabel bebas lainnya dalam
antarvariabel bebas. Multikolinieritas dapat keadaan konstan.
terjadi jika hasil VIF (variance inflation Untuk variabel promosi penjualan (X2)
factor) yang lebih besar dari satu, sedangkan mempunyai pengaruh yang positif terhadap
nilai VIF yang mendekati satu menunjukkan minat beli yaitu sebesar 0,172. Hal ini
tidak adanya gejala multikolinieritas. menunjukkan bahwa setiap perubahan variabel
Berdasarkan hasil uji multikolinieritas promosi penjualan akan mengakibatkan
dengan alat bantu komputer yang perubahan terhadap minat beli sebesar 0,172
menggunakan Program SPSS. 12.0. dengan arah yang sama atau searah bila
diperoleh hasildapat diketahui bahwa variabel bebas lainnya dalam keadaan konstan.
seluruh variabel bebas (X) yang digunakan Untuk variabel acara khusus dan
dalam penelitian ini mempunyai nilai VIF pengalaman (X3) mempunyai pengaruh yang
(Variance Inflation Factor) < 10, maka hal positif terhadap minat beli yaitu sebesar 0,166.
ini berarti dalam persamaan regresi tidak Hal ini menunjukkan bahwa setiap perubahan
ditemukan adanya korelasi antar variabel variabel acara khusus dan pengalaman akan
bebas atau bebas multikolinieritas, sehingga mengakibatkan perubahan terhadap minat beli
seluruh variabel bebas (X) tersebut dapat sebesar 0,166 dengan arah yang sama atau
digunakan dalam penelitian. searah bila variabel bebas lainnya dalam
keadaan konstan.
H. Teknik Analisis Data Untuk variabel hubungan masyarakat dan
1. Regresi Linier pemberitaan (X4) mempunyai pengaruh yang
Untuk mengetahui pengaruh variabel positif terhadap minat beli yaitu sebesar 0,341.
bauran promosi terhadap minat beli, maka Hal ini menunjukkan bahwa setiap perubahan
digunakan teknik analisis regresi linier variabel hubungan masyarakat dan pemberitaan
berganda. Regresi linier berganda adalah suatu akan mengakibatkan perubahan terhadap minat
metode statistik umum yang digunakan untuk beli sebesar 0,341 dengan arah yang sama atau
meneliti hubungan fungsional ataupun kausal searah bila variabel bebas lainnya dalam
antara satu variabel terikat dengan beberapa keadaan konstan.
variabel bebas. . Perhitungan data dilakukan Untuk variabel penjualan pribadi (X5)
dengan menggunakan Statistic Program of mempunyai pengaruh yang positif terhadap
Social Science (SPSS) for Windows. Diperoleh minat beli yaitu sebesar 0,245. Hal ini
model persamaan regresi linier berganda menunjukkan bahwa setiap perubahan variabel
sebagai berikut : penjualan pribadi akan mengakibatkan
perubahan terhadap minat beli sebesar 0,245
Y = -0,850 + 0,227X1 + 0,172X2 + 0,166X 3 + dengan arah yang sama atau searah bila
0,341X4 + 0,245X 5
variabel bebas lainnya dalam keadaan konstan.
Dari bentuk persamaan regresi linier Dari tabel di atas, juga dapat diketahui
berganda di atas, dapat diketahui bahwa bahwa nilai koefisien determinasi berganda R
variabel bebas yaitu periklanan (X1), promosi square sebesar 0,756 hal ini berarti bahwa
penjualan(X2), acara khusus dan pengalaman besarnya kontribusi pengaruh variabel bebas
(X3), hubungan masyarakat dan pemberitaan yang terdiri dari periklanan (X1), promosi
(X4) dan penjualan pribadi (X5) mempunyai penjualan (X2), sponsorship (X3), public
pengaruh yang positif terhadap minat beli. relation (X4) dan penjualan pribadi (X5) secara
Dari model analisis diketahui nilai bersama-sama terhadap variabel terikat minat
konstanta sebesar -0,850, jika periklanan (X1 ), beli adalah sebesar 0,756 atau 75,6%.
promosi penjualan(X2), acara khusus dan Sedangkan sisanya sebesar 24,4% dipengaruh
pengalaman (X3), hubungan masyarakat dan oleh variabel lain diluar model penelitian ini.
pemberitaan (X4) dan penjualan pribadi (X5)
sama dengan nol maka minat beli akan sebesar 2. Uji Hipotesis
-0,850. 1) Uji F (Simultan)
Variabel periklanan (X1) mempunyai Uji F menunjukkan apakah semua variabel
pengaruh positif terhadap minat beli sebesar bebas yang dimasukkan dalam model
0,227. Hal ini menunjukkan bahwa setiap mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat
perubahan variabel periklanan akan secara bersama-sama. Hasil uji F pada
mengakibatkan perubahan terhadap minat beli penelitian ini dapat dijelaskan pada tabel di
sebesar 0,227 dengan arah yang sama atau bawah ini.
Tabel 3 Tabel 4
Hasil Uji F Hasil uji “t”
Keterangan Nilai Sig.
a
Coefficients
F hitung 48,304 0,000
Sumber: Lampiran Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
Dari tabel diatas, dapat digunakan untuk 1 (Constant) -,850 ,320 -2,653 ,010
pengujian hipotesa dengan langkah-langkah x1 ,227 ,090 ,199 2,509 ,014
sebagai berikut : x2 ,172 ,077 ,162 2,240 ,028
a. Merumuskan Hipotesa secara statistik x3 ,166 ,050 ,232 3,332 ,001
Ho : b1 =b2 =b3 =b4 =b5 = 0 Dugaan tidak x4 ,341 ,079 ,305 4,324 ,000
x5 ,245 ,072 ,241 3,395 ,001
ada pengaruh signifikan variabel bebas
a. Dependent Variable: y
secara simultan terhadap variabel
terikat. Sumber: Lampiran
H1 : b1 ≠b2 ≠b3 ≠b4 ≠b5 ≠ 0 Dugaan ada
pengaruh signifikan variabel bebas Dari tabel diatas dapat digunakan untuk
secara simultan terhadap variabel pengujian hipotesa kedua dengan langkah-
terikat. langkah sebagai berikut :
b. Menentukan tingkat signifikansi atau 1) Merumuskan hipotesa secara statistik
level of signifikan (α) sebesar 0,05 atau H0 : bi = 0, tidak ada pengaruh yang
5%. signifikan secara parsial antara
c. Kriteria pengujian: X1,X2,X3,X4,X5 terhadap variabel Y.
Jika Sig. F < 0,05 maka H0 ditolak
dan H i diterima, artinya variabel bebas Hi : bi ≠ 0, ada pengaruh yang signifikan
(X) secara bersama-sama mempunyai secara parsial antara X1 ,X2,X3,X4,X5
pengaruh yang signifikan terhadap terhadap variabel Y.
variabel terikat (Y). 2) Menentukan tingkat signifikansi atau
Jika Sig. F > 0,05 maka H0 diterima level of signifikan (α) sebesar 0,05 atau
dan Hi ditolak, bebas (X) secara 5%.
bersama-sama tidak mempunyai 3) Kriteria pengujian:
pengaruh yang signifikan terhadap Jika Sig. t < 0,05 maka H0 ditolak
variabel terikat (Y). dan H i diterima, artinya variabel-
d. Penjelasan variabel bebas (X) secara parsial
Dari tabel di atas dapat diketahui mempunyai pengaruh yang signifikan
bahwa F hitung sebesar 48,304 terhadap variabel terikat (Y).
didukung pula dengan tingkat Jika Sig. t > 0,05 maka H0 diterima
signifikansi sebesar 0,000 yang nilainya dan H i ditolak, artinya variabel-variabel
lebih kecil dari 0,05 atau 5%. Sehingga bebas (X) secara parsial tidak
periklanan (X1 ), promosi penjualan mempunyai pengaruh yang signifikan
(X2 ), acara khusus dan pengalaman terhadap variabel terikat (Y).
(X3 ), hubungan masyarakat dan 4) Penjelasan
pemberitaan (X4 ) dan penjualan pribadi Dari tabel 4 di atas dapat diketahui
(X5 ) mempunyai pengaruh yang bahwa t hitung untuk variabel
signifikan secara simultan terhadap periklanan (X1 ) sebesar 2,509 didukung
minat beli. pula dengan tingkat signifikansi sebesar
2) Uji t (Parsial) 0,014 < 0,05 atau 5%. Jadi dapat
Uji t digunakan untuk menguji dikatakan bahwa variabel periklanan
mengetahui pengaruh variabel bebas (X1 ) mempunyai pengaruh yang
terhadap variabel terikat secara parsial. signifikan secara parsial terhadap minat
Nilai hasil uji t untuk masing-masing beli.
variabel dapat dilihat pada tabel di Untuk variabel promosi penjualan
bawah ini: (X2 ) mempunyai nilai t hitung sebesar
2,240 didukung pula dengan tingkat
tingkat signifikansi sebesar 0,028 lebih
kecil dari taraf signifikansi sebesar 0,05
atau 5%. Jadi dapat dikatakan bahwa
variabel promosi penjualan (X2 ) BAB IV PEMBAHASAN
berpengaruh signifikan secara parsial
terhadap minat beli. I. Pembahasan
Untuk variabel sponsorship (X3 ) 1. Periklanan (X1), Promosi Penjualan
mempunyai nilai t hitung sebesar 3,332 (X2), Sponsorship (X3), Public Relation
didukung pula dengan tingkat (X4), dan Penjualan Pribadi (X5)
signifikansi sebesar 0,001 lebih kecil berpengaruh secara simultan terhadap
dari taraf signifikansi sebesar 0,05 atau Minat Beli Deodoran Rexona Teens
5%. Jadi dapat dikatakan bahwa Pada Siswi SMK Negeri 2 Buduran
variabel sponsorship (X3 ) berpengaruh Sidoarjo.
signifikan secara parsial terhadap minat Berdasarkan hasil analisis regresi linier
beli. berganda, maka diketahui nilai koefisisen
Untuk variabel public relation (X4 ) regresi dari masing-masing variabel bebas
mempunyai nilai t hitung sebesar 4,324 memiliki tanda positif. Hal ini menunjukkan
didukung pula dengan tingkat hubungan yang searah antara variabel
signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil periklanan (X1), promosi penjualan (X2),
dari taraf signifikansi sebesar 0,05 atau Sponsorship (X3), Public Relation (X4 ), dan
5%. Jadi dapat dikatakan bahwa penjualan pribadi (X5) terhadap minat beli (Y),
variabel public relation (X4 ) dan besarnya kontribusi pengaruh variabel
berpengaruh signifikan secara parsial periklanan (X1), promosi penjualan (X2),
terhadap minat beli (Y). Sponsorship (X3), Public Relation (X4 ), dan
Untuk variabel penjualan pribadi penjualan pribadi (X5) terhadap minat beli (Y)
(X5 ) mempunyai nilai t hitung sebesar adalah sebesar 0,756 atau 75,6%. Sedangkan
3,395 didukung pula dengan tingkat sisanya sebesar 24,4% dipengaruh oleh variabel
signifikansi sebesar 0,001 lebih kecil lain diluar variabel yang digunakan dalam
dari taraf signifikansi sebesar 0,05 atau penelitian ini seperti produk, saluran distribusi,
5%. Jadi dapat dikatakan bahwa harga, kualitas produk, dan lain-lain.
variabel penjualan pribadi (X5 ) Dari hasil wawancara 84 Responden,
berpengaruh signifikan secara parsial diketahui bahwa konsumen yang berminat
terhadap minat beli (Y). membeli Deodorant Rexona Teens ternyata
Dari analisis di atas diketahui sebelumnya telah menggunakan dan merasakan
bahwa besarnya kontribusi pengaruh keunggulan deodorant tersebut sebanyak 56
variabel periklanan (X1 ), promosi responden. Mereka berpendapat jika formulasi
penjualan (X2 ), sponsorship (X3 ), public yang terdapat dalam deodorant tersebut mampu
relation (X4 ) dan penjualan pribadi (X5 ) mengurangi bau badan. Dengan kondisi ketiak
secara bersama-sama terhadap variabel yang harum, maka penampilan mereka akan
terikat minat beli (Y) adalah sebesar menjadi lebih baik. Pada akhirnya mereka
0,756 atau 75,6%. Sedangkan sisanya percaya diri dalam beraktifitas dan bergaul
sebesar 24,4% dipengaruhi oleh variabel dengan kelompoknya. Responden yang pernah
lain di luar variabel yang digunakan menggunakan suatu produk telah memiliki
dalam penelitian ini seperti faktor pengalaman, sehingga memperkuat minat
produk, harga, dan saluran distribusi. belinya. Engel dkk (1993:200) juga
Hasil penelitian itu juga menunjukkan mengemukakan dalam model perilaku
bahwa variabel bebas yaitu Bauran konsumen jika konsumen yang telah membeli
Promosi Deodoran Rexona Teens suatu produk tertentu, sudah pasti memiliki
memiliki pengaruh yang signifikan minat beli yang kuat terhadap produk tersebut.
secara simultan terhadap minat beli Sedangkan bagi responden yang belum
Deodorant rexona Teens, maka dengan pernah memakai Deodorant Rexona sebanyak
demikian model Regresi dapat dipakai 28 orang berminat untuk membeli deodoran
untuk memprediksikan minat beli. tersebut selain karena ingin penampilannya
Sehingga dapat di artikan bahwa lebih baik untuk menunjang aktivitasnya,
variabel periklanan (X1 ), promosi mereka juga berminat untuk membeli deodoran
penjualan (X2 ), sponsorship (X3 ), public tersebut karena formula yang diciptakan
relation (X4 ) dan penjualan pribadi (X5 ) memang khusus untuk remaja.
secara parsial mempunyai pengaruh Beracuan dari hasil acara atau event yang
terhadap variabel terikat minat beli (Y). dilakukan Rexona Teens pada SMK Negeri 2
Buduran Sidoarjo, para siswi semakin berminat produk lebih dikenal oleh konsumen, maka para
untuk membeli Rexona Teens. Selain informasi pemasar Unilever memberikan stimuli dengan
yang diberikan Rexona Teens cukup mewakili menggunakan bauran promosi yang terdiri dari
masalah yang remaja alami saat ini, seperti, Iklan, Promosi Penjualan, Sponsorship, Public
pubertas, pendidikan seks, dan kebersihan relation, dan penjualan pribadi.
dengan cara yang menyenangkan dan Menurut pendapat dari Schiffman dan
membangun rasa percaya diri. Kanuk (1994) dalam Albari (2002), motivasi
Program dari sekolah ke sekolah diawasi sebagai kekuatan dorongan dari dalam diri
oleh ahli profesional untuk menjamin hasil individu yang memaksa mereka untuk
yang terbaik.Hasilnya luar biasa, program melakukan tindakan. Jika seseorang
tersebut diterima baik oleh para siswa dan para mempunyai motivasi yang tinggi terhadap
pendidik, sehingga generasi siswi berikutnya obyek tertentu, maka dia akan terdorong untuk
akan lebih siap untuk mengatasi berbagai berperilaku menguasai produk tersebut.
masalah, khususnya masalah bau badan yang Sebaliknya jika motivasinya rendah, maka dia
sering dialami oleh para siswi. akan mencoba untuk menghindari obyek yang
Alasan mereka berminat membeli bersangkutan. Implikasinya dalam pemasaran
deodoran tersebut, karena menurut pendapat adalah untuk kemungkinan orang tersebut
mereka Rexona Teens memiliki bau yang lebih berminat untuk membeli produk atau merek
harum, mempunyai kemasan yang lebih yang ditawarkan pemasaran atau tidak.
menarik. Disamping itu, banyak juga responden Dari uji t yang telah dilakukan dapat
yang mengatakan bahwa Rexona Teens diketahui bahwa variabel bebas yang terdiri dari
memiliki formula yang mampu mengurangi periklanan (X1), promosi penjualan (X2),
gejala timbulnya keringat berlebih dan baunya Sponsorship (X3), Public Relation (X4 ), dan
yang lebih tahan lama dibandingkan deodoran penjualan pribadi (X5) mempunyai pengaruh
remaja lain. Dengan kondisi terbebas dari yang signifikan secara parsial terhadap minat
keringat, maka penampilan mereka akan beli (Y).
menjadi lebih baik. Mereka akan merasa Bauran promosi adalah sarana yang
nyaman ketika melakukan segala aktifitas digunakan perusahaan dalam upaya untuk
kegiatannya dan dapat tampil percaya diri menginformasikan, membujuk, dan
dalam bergaul dengan teman-temannya. mengingatkan konsumen langsung atau tidak
Hal ini menunjukkan bahwa deodoran langsung tentang produk dan merek yang
Rexona Teens mampu memenuhi kebutuhan mereka jual. Dalam pengertian tertentu, bauran
gaya hidup para remaja yang ingin dapat tampil promosi menggambarkan “suara” merek dan
percaya diri. Dengan kondisi ketiak yang bebas merupakan sarana yang dapat digunakan untuk
bau badan, maka penampilan mereka akan membangun dialog dan membangun hubungan
menjadi lebih baik. Pada akhirnya mereka dengan konsumen. Peluang pasar sehubungan
percaya diri dalam beraktifitas dan bergaul dengan perubahan gaya hidup remaja
dengan kelompoknya. perempuan berdasarkan fenomena yang ada,
Dari hasil uji F juga diketahui bahwa dapat berhasil dibaca oleh Rexona. Sebagai
variabel bebas yaitu periklanan (X1 ), promosi salah satu merek Deodoran terdepan di
penjualan (X2), sponsorship(X3), public Indonesia, Rexona meluncurkan inovasi
relation (X4) dan penjualan pribadi (X5) terbaru, yaitu Deodoran Rexona Teens yang
mempunyai pengaruh yang signifikan secara kali ini khusus diciptakan untuk remaja
bersama-sama (simultan) terhadap minat beli. perempuan yang sedang mengalami masa
Hal ini menunjukkan jika terjadi perubahan pubertas untuk agar dapat tampil lebih percaya
pada periklanan (X1), promosi penjualan (X2 ), diri. Seiring dengan tujuan Rexona Teens untuk
sponsorship(X3), public relation (X4) dan menjadi produk Deodoran terbaik dalam dunia
penjualan pribadi (X5) akan menyebabkan toiletries, Rexona Teens terus-menerus bekerja
perubahan pula terhadap minat beli konsumen untuk memperluas ragam produk melalui
Deodoran Rexona Teens. berbagai inovasi yang kreatif. Rexona Teens
Rexona Teens adalah salah satu merek juga telah memastikan bahwa masing-masing
deodoran PT. Unilever Indonesia Tbk yang produknya lebih unggul di kalangan konsumen
diciptakan khusus untuk remaja yang sedang karena kualitasnya yang tinggi serta
mengalami masa pubertas yang selalu profesionalisme tenaga penjual atau sales
memperhatikan penampilan serta kondisi promotion yang bertugas melayani dan
kebersihan badannya terutama area ketiak. Agar memberikan informasi kepada konsumen.
2. Public Relation (X4), adalah variabel didasari oleh iklan. Jadi jelaslah disini bahwa
dominan yang mempengaruhi Minat intensitas promosi yang dilakukan
Beli Deodoran Rexona Teens Pada Siswi mempengaruhi minat beli ulang suatu produk.
SMK Negeri 2 Buduran Sidoarjo.
Dari nilai thitung, dapat dilihat bahwa BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
variabel yang memiliki pengaruh yang lebih
dominan adalah daripada variabel lain adalah J. Simpulan
Public Relation (X4). Konsumen lebih banyak Berdasarkan hasil pengolahan data dalam
menggali informasi tentang produk Rexona penelitian ini dapat ditarik kesimpulan sebagai
Teens untuk mengetahui keunggulan dari berikut :
produk tersebut. 1. Terdapat pengaruh yang signifikan secara
Hal ini sejalan dengan pendapat Kotler dan simultan dari variabel periklanan (X1),
Keller (2007:204), bahwa public relation promosi penjualan (X2 ), sponsorship (X3),
adalah berbagai program yang dirancang untuk public relation (X4) dan penjualan pribadi
mempromosikan dan melindungi citra (X5) terhadap minat beli (Y) yaitu sebesar
perusahaan atau masing-masing produknya. 75,6%, Sedangkan sisanya sebesar 24,4%
Contohnya melalui, siaran pers, seminar, dipengaruh oleh variabel lain diluar
pemberitaan, hubungan lingkungan, dan lain- variabel yang digunakan dalam penelitian
lain. Penggalian informasi yang dilakukan ini.
konsumen tentang produk Rexona Teens adalah 2. Terdapat pengarh yang signifikan secara
untuk mengetahui keunggulan dari produk parsial dari variabel periklanan (X1),
tersebut. promosi penjualan (X2 ), sponsorship (X3),
Pendapat yang disampaikan oleh Kotler public relation (X4) dan penjualan pribadi
(2006) bahwa aktivitas promosi merupakan (X5) terhadap minat beli (Y).
usaha pemasaran yang memberikan berbagai
upaya intensif jangka pendek untuk mendorong K. Saran
keinginan konsumen untuk mencoba atau 1. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk
membeli suatu produk atau jasa. Beberapa studi melakukan penelitian di luar variabel
menunjukkan bahwa konteks iklan dapat bebas yang digunakan dalam penelitian ini,
mempengaruhi persepsi pemirsa terhadap iklan, misalnya menggunakan faktor marketing
sehingga iklan itu menjadi efektif (Singh and mix yang lainnya (harga, produk dan
Churchill, 1987; Soldow dan Pricipe 1981 distribusi), Word of Mouth, kualitas
dalam Coulter, 1998, p.41). Hasil penelitian produk, dan lain- lain, taupun
dari Ehrenberg (1974: 33) menunjukkan bahwa mengkombinasikan salah satu variabel
preferensi produk dibentuk setelah percobaan dalam penelitian ini dengan variabel lain di
awal yang didasari oleh iklan. Penelitian dari luar variabel dalam penelitian ini,
Kopalle, K Praven dan Dobald Lehman (1995) mengingat terdapat pengaruh sebesar
juga menunjukkan bahwa promosi yang 24.4% dari variabel lain yang tidak diikut
dilakukan terhadap suatu produk berpengaruh sertakan dalam penelitian ini.
dalam menimbulkan minat beli konsumen. 2. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat
Sethi (2001) menyatakan bahwa promosi diketahui bahwa variabel yang
berarti melakukan persuasi langsung untuk pengaruhnya paling kecil adalah variabel
merangsang pembelian produk dengan daya sponsorship (X3). Untuk itu perusahaan
tarik jangkauan serta frekuensi promosi. Iklan harus dapat lebih meningkatkan promosi
dapat mempengaruhi persepsi pemirsa terhadap melalui berbagai acara atau event, aspek
iklan sehingga iklan itu menjadi efektif untuk sponsorship dalam hal ini dapat menjadi
mendorong terjadinya pembelian. Penelitian strategi awal yaitu dengan menciptakan
yang dilakukan oleh Hawkins et all (1998) kesan yang lebih baik kepada konsumen
dalam Nugroho (2003) telah menunjukkan melalui peningkatan sales promotion.
bahwa konsumen cenderung bereaksi atas Menjalin hubungan dengan berbagai pihak
promosi khususnya iklan yang menyenangkan atau produsen terkait dengan cara
dimana menunjukkan bahwa produk yang mensponsori berbagai acara yang berkaitan
benar-benar diiklankan adalah produk yang dengan remaja, juga merupakan salah satu
benar-benar unggul. Sedangkan menurut nilai positif dalam upaya meningkatkan
Ehrenberg (1974) menyatakan, preferensi sponsorship yang lebih baik.
produk dibentuk setelah percobaan awal yang
3. Terkait dengan Deodoran Rexona Teens, Kasali, Rhenald. 1998. Membidik Pasar
hendaknya konsumen lebih memperdalam Indonesia: Segmentasi, Targeting dan
lagi pencarian informasi, baik melalui Positioning. Jakarta: PT Gramedia
iklan, tenaga penjual atau sales, teman,
Pustaka Utama.
maupun keluarga, sehingga dapat lebih
tepat dalam memilih produk perawatan Keller, Kevin Lane. 1998. Strategic Brand
tubuh, serta diharapkan konsumen lebih Management: Building, Measuring and
aktif terlibat dalam berbagai acara yang Managing Brand Equity. New Jersey:
diadakan oleh Rexona Teens. Prentice Hall.
Kotler, Philip. 1997. Manajemen Pemasaran.
DAFTAR PUSTAKA Jilid 1. Jakarta. Prentice Hall
International.
Alma, Buchari. 2007. Manajemen Pemasaran
dan Pemasaran Jasa. Bandung: Kotler, Philip dan Armstrong, Gary.
Alfabeta. 2001.Dasar-Dasar Pemasaran. Edisi
Kesembilan. Jilid 1. Terjemahan oleh
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Benyamin Molan. 2007. Jakarta: PT.
Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta. Indeks.
Rineka Cipta. Kotler, Philip dan Keller, Kevin Lane. 2006.
Manajemen Pemasaran. Edisi Kedua
Assael, Henry. 1998. Consumer Behavior and belas. Jilid 1. Terjemahan oleh
Marketing Action. Eight Edition. South Benyamin Molan. 2007. Jakarta: PT
Western College Publishing. Indeks.
Kotler, Philip dan Kevin Lane Keller. 2007.
Azwar, Saifuddin. 2007. Sikap Manusia Teori Manajemen Pemasaran. Edisi 12. Jilid
dan Pengukurannya. Cetakan 2. Jakarta. Indeks Indonesia.
Kesepuluh. Yogyakarta. Pustaka
Pelajar. Kumar, Archana dkk. 2009. Indian Consumers’
Purchase Behavior toward US Versus
Engel, James F, dkk. 1992. Perilaku Konsumen. Local Brands. International Journal of
Edisi Keenam. Jilid 1. Terjemahan oleh Retail & Distribution Management,
F.X. Budiyanto. 1994. Jakarta: (Online), Vol. 37. No. 6,
Binarupa Aksara. (http//www.emeraldinsight.com,
Engel, James F, dkk. 1993. Perilaku Konsumen. diakses 10 Februari 2010).
Edisi Keenam. Jilid 2. Terjemahan oleh Lwin, May dan Jim Aitchinson. 2005. Clueless
Budijanto. 1995. Jakarta: Binarupa In Marketing Communication. Jakarta.
Aksara. Bhuana Ilmu Populer.
Ghozali, Imam. 2007. Aplikasi Analisis
Multivariate dengan Program SPSS. Malhotra, Naresh K. 2004. Riset Pemasaran
Semarang: Badan Penerbit Universitas Pendekatan Terapan. Edisi Keempat.
Diponegoro. Jilid 1. Terjemahan oleh Soleh Rusyadi
Griffin, Ricky W. dan Ronald J. Ebert. 2003. Maryam. 2009. Jakarta: PT Indeks.
Bisnis. Jakarta. Indeks Indonesia.
Malhotra, Naresh K. 2004. Riset Pemasaran
Herman, Andreas, Frank Huber and Robin Pendekatan Terapan. Edisi Keempat.
Higie Coulter. 2009. Product and Jilid 2. Terjemahan oleh Soleh Rusyadi
service bundling decisions and their Maryam. 2005. Jakarta: PT Indeks
effects on purchase intention (online). Kelompok Gramedia.
(http___www.emeraldinsight.com_Insi
ght_ViewContentServlet_contentType= Mangkunegara, A.A Anwar Prabu. 2002.
Article&Filename=_published_emeral Perilaku Konsumen. Edisi Revisi.
dfulltextarticle_pdf_1770110205) Bandung: PT. Refika Aditama.
diakses 15 Oktober 2009). Morissan. 2007. Periklanan dan Komunikasi
Pemasaran Terpadu. Jakarta: Ramdina
Jefkins, Frank. 1997. Periklanan. Edisi Ketiga Prakarsa.
Terjemahan. Jakarta. Erlangga.
Munoto, dkk. 2006. Panduan Penulisan dan Sugiyono. 2007. Statistik Untuk Penelitian.
Penilaian Skripsi. Surabaya: Unesa Bandung. Alfabeta.
University Press.
Sugiyono. 2009. Statistik Untuk Penelitian.
Panitia Penyusunan Pedoman Skripsi. 2006. Bandung. Alfabeta.
Panduan Penulisan dan Penilaian
Skripsi. Surabaya: Unesa. Sumarwan, Ujang. 2002. Perilaku Konsumen
Teori dan Penerapannya Dalam
Percy, Larry, John Rossifer, and Richard Ellior. Pemasaran. Cetakan Pertama. Bogor.
2004. Strategic Advertising Ghalia Indonesia.
Manajemen. Second Edition. Oxford
University Press. Sunyoto, Danang. 2008. Analisis Regresi dan
Uji Hipotesis. Cetakan Pertama.
Prisgunanto, Ilham. 2006. Komunikasi Yogyakarta. Media Pressindo.
Pemasaran Strategi dan Taktik.
Jakarta. Ghalia Indonesia. Sutisna. 2001. Perilaku Konsumen dan
Komunikasi Pemasaran. Edisi Pertama.
Rowley, Jennifer. 1998. Promotion and Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.
Marketing communications in the
information marketplace (online) Swasta, Basu. 2000. Azas-Azas Marketing.
.(http___www.emeraldinsight.com_Insi Edisi Kedua. Yogyakarta. Liberty.
ght_ViewContentServlet_contentType=
Article&Filename=_published_emeral Tjiptono, Fandi, dkk. 2008. Pemasaran
dfulltextarticle_pdf_0800210407)diaks Strategik. Yogyakarta. ANDI.
es 14 Oktober 2009.
Widarjono, Agus. 2010. Analisis Statistika
Sarwono, Jonathan. 2005. Teori dan Praktik Multivariat Terapan. Yogyakarta:
Riset Pemasaran dengan SPSS. STIM YKPN.
Yogyakarta: CV. Andi Offset.
Winardi, 1989. Strategi Pemasaran. Bandung.
Schiffman, Leon G. dan Leslie Lazar Kanuk. Mandar Maju.
2004. Consumer Behavior. Eight
Edition.New Jersey. Prentice Hall (www.unilever.co.id/rexona/teens) diakses 20
International. Oktober 2009.

Sciffman, Leon G. dan Leslie Lazar Kanuk. (www.unilever.co.id/annualreport/2009)


2000. Consumer Behavior. Eventh diakses 20 Oktober 2009.
Edition.Upper Saddle. New Jersey.
Prentice Hall International. (http://andihoo.blogspot.com/2009_08_01_arch
ive.html) diakses 01November 2009.
Setiadi, Nugroho. 2003. Perilaku Konsumen :
Konsep dan Implikasi untuk Strategi http://wahyublocknote.blogspot.com/2007/11/p
dan Penelitian Pemasaran. Jakarta: asar-industri-kosmetika-dan-
toiletries.html diakses 12 Agustus 2010
Kencana.
http://mariskaayu.info/2010/03/13/kebersihan-
Simamora, Henry. 2007. Manajemen rambut-pada-wanita/ diakses 11
Pemasaran Internasional. Jakarta. Oktober 2010
Rineka Cipta.
http://www.unilever.co.id/id/produkkami/perso
Soeratno, dan Lincolin Arsyad. 1988. Metode nalcare/Rexona.asp diakses 23
Penelitian Untuk Ekonomi dan Bisnis. September 2010
Jakarta. UPP AMP YKPN.
Subandi, J. Nugroho. 2003. Perilaku konsumen.
Jakarta. PT. Prenada Media.
Sugiyono. 2006. Statistik Untuk Penelitian.
Cetakan kesembilan. Bandung.
Alfabeta.