Anda di halaman 1dari 17

Tugas 1 Pengelolaan Laboratorium

STRATEGI PENGELOLAAN
LABORATORIUM SAINS
DOSEN PENGAMPU :

Prof.Drs. Manihar Situmorang, M.Sc, Ph.D

O
L
E
H

D E W I S Y A F R I A N I

N I M. 809 142 025

PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN KIMIA


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2011
0
BAB I
PENDAHULUAN

Laboratorium sains (IPA) adalah suatu tempat di mana guru dan siswa melakukan
percobaan dan penelitian. Dengan mempelajari materi IPA secara langsung
maka siswa akan mudah untuk memahami materi tersebut. Untuk mengoptimalkan fungsi
laboratorium IPA, kegiatan dalam kerja laboratorium IPA harus dituntun oleh langkah-langkah
ilmiah atau yang disebut metode ilmiah, selain itu laboratorium diharapkan dapat
mengembangkan kreatifitas subyek belajar.
Laboratorium memiliki peran sebagai tempat dilakukannya percobaan atau penelitian. Di
dalam pembelajaran sains, laboratorium berperan sebagai tempat kegiatan penunjang dari
kegiatan kelas. Bahkan mungkin sebaliknya bahwa yang berperan utama dalam pembelajaran
sain adalah laboratorium, sedangkan kelas sebagai tempat kegiatan penunjang. Fungsi lain dari
laboratorium adalah sebagai tempat display atau pameran. Contohnya kita dapat menyaksikan
adanya sejumlah spesimen hewan atau tumbuhan yang sengaja dipampang untuk pembelajaran.
Kadang-kadang di dalam laboratorium juga dikoleksi sejumlah spesies langka atau bahkan yang
sudah punah, baik yang mikroskopis maupun yang makroskopis. Dalam hal ini laboratorium
ternyata juga dapat berperan sebagai musium kecil. Selain itu masih banyak lagi peranan
laboratorium, sebagai perpustakaan IPA, sumber-sumber IPA.
Pengelolaan laboratorium merupakan suatu proses pendayagunaan sumber daya secara
efektif dan efisien untuk mencapai suatu sasaran yang diharapkan secara optimal dengan
memperhatikan keberlanjutan fungsi sumber daya. Pengelolaan hendaknya dijalankan berkaitan
dengan unsur atau fungsi-fungsi manajer, yakni perencanaan, pengorganisasian, pemberian
komando, pengkoordinasian, dan pengendalian. Sementara Luther M. Gullick (1993)
menyatakan fungsi-fungsi manajemen yang penting adalah perencanaan, pengorganisasian,
pengadaan tenaga kerja, pemberian bimbingan, pengkoordinasian, pelaporan, dan penganggaran.
Dalam pengelolaan laboratorium meliputi beberapa aspek yaitu sebagai berikut: 1. Perencanaan;
2. Penataan; 3. Pengadministrasian; 4. Pengamanan, perawatan, dan pengawasan
Pengelolaan laboratorium berkaitan dengan pengelola dan pengguna, fasilitas
laboratorium (bangunan, peralatan laboratorium, spesimen biologi, bahan kimia), dan aktivitas
yang dilaksanakan di laboratorium yang menjaga keberlanjutan fungsinya.
Pada dasarnya pengelolaan laboratorium merupakan tanggung jawab bersama baik
pengelola maupun pengguna. Oleh karena itu, setiap orang yang terlibat harus memiliki
kesadaran dan merasa terpanggil untuk mengatur, memelihara, dan mengusahakan keselamatan
1
kerja. Mengatur dan memelihara laboratorium merupakan upaya agar laboratorium selalu tetap
berfungsi sebagaimana mestinya. Sedangkan upaya menjaga keselamatan kerja mencakup usaha
untuk selalu mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan sewaktu bekerja di laboratorium dan
penangannya bila terjadi kecelakaan.
Para pengelola laboratorium hendaknya memiliki pemahaman dan keterampilan kerja di
laboratorium, bekerja sesuai tugas dan tanggung jawabnya, dan mengikuti peraturan. Pengelola
laboratorium di sekolah umumnya sebagai berikut :1. Kepala Sekolah; 2. Wakil Kepala Sekolah;
3. Koordinator Laboratorium; 4. Penanggung jawab Laboratorium; 5. Laboran.
Para pengelola tersebut mempunyai tugas dan kewenangan yang berbeda namun tetap
sinergi dalam pencapaian tujuan bersama yang telah ditetapkan.
Agar siswa dapat menggunakan laboratorium secara optimal, maka kondisi laboratorium
juga perlu diupayakan tetap bersih dan nyaman. Kondisi laboratorium yang baik memiliki
beberapa syarat, diantaranya: ada tidaknya organisasi dan administrasi laboratorium,
kelengkapan ruangan, kelengkapan perabot, penataan alat dan bahan,
kebersihan dan kerapian serta keselamatan kerja laboratorium.
Untuk itulah pemahaman tentang pengelolaan laboratorium sangat penting untuk dimilki
oleh pihak-pihak yang terkait dengan laboratorium, baik secara langsung maupun tidak. Pada
bab berikut akan dibahas tentang strategi pengelolaan laboratorium.
   

2
BAB II
ISI

2.1 Pengertian Laboratorium


Kata laboratorium merupakan bentuk serapan dari bahasa Belanda dengan bentuk asalnya
laboratorium. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, laboratorium diartikan sebagai tempat
mengadakan percobaan (penyelidikan dan sebagainya).
Menurut Soejitno (1983) laboratorium dapat diartikan dalam bermacam-macam segi,
yaitu:
1. Laboratorium dapat merupakan wadah, yaitu tempat, gedung, ruang dengan segala
macam peralatan yang diperlukan untuk kegiatan ilmiah. Dalam hal ini laboratorium
dilihat sebagai perangkat keras (hard ware)
2. Laboratorium dapat merupakan sarana media dimana dilakukan kegiatan belajar
mengajar. Dalam pengertian ini laboratorium dilihat sebagai perangkat lunaknya (soft
ware).
3. Laboratorium dapat diartikan sebagai pusat kegiatan ilmiah untuk menemukan
kebenaran ilmiah dan penerapannya.
4. Laboratorium dapat diartikan sebagai pusat inovasi. Dengan sarana dan prasarana
yang dimiliki oleh sebuah laboratorium diadakanlah kegiatan ilmiah, eksperimentasi
sehingga terdapat penemuan-penemuan baru, cara-cara kerja, dan sebagainya.
5. Dilihat dari segi “clientele” maka laboratorium merupakan tempat dimana dosen,
mahasiswa, guru, siswa, dan orang lain melaksanakan kegiatan kerja ilmiah dalam
rangka kegiatan belajar mengajar.
6. Dilihat dari segi kerjanya laboratorium merupakan tempat dimana dilakukan kegiatan
kerja untuk menghasilkan sesuatu. Dalam hal demikian ini dalam bidang teknik
laboratorium, di sini dapat diartikan sebagai bengkel kerja (work shop).
7. Dilihat dari segi hasil yang diperoleh maka laboratorium dengan segala sarana dan
prasarana yang dimiliki dapat merupakan dan berfungsi sebagai Pusat Sumber Belajar
(PSB).

3
2.2. Fungsi Laboratorium Dalam Pembelajaran
Adanya kelengkapan sarana pembelajaran seperti tersedianya laboratorium diharapkan
dapat mendukung kelancaran proses belajar mengajar biologi.
Secara garis besar fungsi laboratorium adalah sebagai berikut :
1. Memberikan kelengkapan bagi pelajaran teori yang telah diterima sehingga antara teori
dan praktik bukan merupakan dua hal yang terpisah. Keduanya saling kaji-mengkaji dan
saling mencari dasar.
2. Memberikan keterampilan kerja ilmiah bagi mahasiswa/ siswa.
3. Memberikan dan memupuk keberanian untuk mencari hakikat kebenaran ilmiah dari
sesuatu obyek dalam lingkungan alam dan lingkungan sosial
4. Menambah keterampilan dalam menggunakan alat dan media yang tersedia untuk
mencari dan menemukan kebenaran.
5. Memupuk rasa ingin tahu mahasiswa/ siswa sebagai modal sikap ilmiah seorang calon
ilmuwan.
6. Memupuk dan membina rasa percaya diri sebagai akibat keterampilan yang diperoleh,
penemuan yang didapat dalam proses kegiatan kerja laboratorium.
Di dalam pembelajaran sains/ IPA, laboratorium berperan sebagai tempat kegiatan
penunjang dari kegiatan di kelas. Bahkan mungkin sebaliknya bahwa yang berperan utama
dalam pembelajaran sains adalah laboratorium, sedangkan kelas sebagai tempat kegiatan
penunjang. Fungsi lain dari laboratorium adalah sebagai tempat display atau pameran, sebagai
museum kecil, perpustakaan IPA dan tempat sumber belajar IPA (Wirjosoemanto, dkk, 2004).
Secara umum kegiatan pemanfaatan laboratorium di sekolah-sekolah adalah melalui
kegiatan praktikum, yang bertujuan agar siswa mendapat kesempatan untuk menguji dan
melaksanakan dalam keadaan nyata apa yang diperoleh dalam teori. Kegiatan praktikum dalam
pembelajaran IPA merupakan hal yang penting untuk dilaksanakan seperti yang dijelaskan oleh
Woolnough (dalam Rustaman, dkk, 2003) yang mengemukakan empat alasan mengenai
pentingnya kegiatan praktikum IPA. Pertama, praktikum membangkitkan motivasi belajar IPA.
Kedua, praktikum mengembangkan kemampuan dasar melakukan eksperimen. Ketiga,
praktikum menjadi wahana pendekatan ilmiah. Keempat, praktikum menunjang materi pelajaran.
Melalui kegiatan praktikum yang biasanya dilakukan di laboratorium, siswa diharapkan
dapat: mengembangkan berbagai keterampilan secara terintegrasi; mengenal berbagai peralatan
laboratorium; mengenal berbagai desain dan peralatan untuk eksperimen; mengembangkan
keterampilan mengumpulkan dan menginterprestasikan data; mengembangkan sikap untuk
melakukan sesuatu secara tepat dan akurat; mengembangkan keterampilan dalam

4
mengobservasi; menambah keberanian berfikir sendiri dan menanggung resiko; merangsang
berfikir siswa melalui eksperimen; mengembangkan keterampilan dalam memecahkan masalah
dengan berbagai variabel yang banyak dan berbagai kemungkinan pemecahannya;
mengembangkan keberanian untuk mengadakan kerja sama, mengembangkan inisiatif, dan
menggunakan berbagai sumber; mengembangkan tanggung jawab pribadi; mengembangkan
kecakapan untuk bekerja secara efektif sebagai anggota dari suatu tim.

2.3. Manajemen Laboratorium


Agar pengelolaan laboratorium berjalan dengan baik maka kita harus mengenal
perangkat-perangkat laboratorium. Perangkat-perangkat laboratorium yang dimaksud adalah :1)
Tata ruang, 2) Peralatan yang baik dan terkalibrasi, 3) Infrastruktur, 4) Administrasi
laboratorium, 5) Organisasi laboratorium, 6) Fasilitas pendanaan, 7) Inventarisasi dan
Keamanan, 8) Pengamanan laboratorium, 9) Disiplin yang tinggi, 10) Keterampilan SDM, 11)
Peraturan dasar, 12) Penanganan masalah umum, 13) Jenis-jenis pekerjaan.
Semua perangkat-perangkat di atas jika dikelola secara optimal akan mendukung
implementasi manajemen laboratorium yang baik. Dengan demikian manajemen laboratorium
dapat dipahami sebagai sesuatu tindakan pengelolaan yang kompleks dan terarah sejak dari
perencanaan tata ruang sampai dengan perencanaan semua perangkat penunjang lainnya dengan
pusat aktivitasnya adalah tata ruang.

2.4. Tata Ruang


Tata ruang (lay-out) sebaiknya ditata sedemikian rupa (baik) sehingga laboratorium dapat
berfungsi dengan baik. Tata ruang yang baik dimulai sejak perencanaan pembangunan gedung
yang harus mengikutsertakan penggunna (user). Tata ruang yang baik adalah laboratorium harus
mempunyai : pintu masuk (in) dan pintu keluar (out), pintu darurat, ruang persiapan, ruang
peralatan, ruang penangas, gudang/ruang penyimpanan, ruang staf, ruang teknisi, ruang seminar,
ruang bekerja, ruang istirahat/ibadah, ruang prasarana kebersihan, ruang peralatan keselamatan
kerja, lemari praktikan, lemari gelas, lemari alat optic, fan.

2.5. Fasilitas Laboratorium


Laboratorium yang baik harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk memudahkan
pemakai laboratorium dalam melakukan aktivitasnya. Fasilitas tersebut ada yang berupa fasilitas
umum (utilities) dan fasilitas khusus. Fasilitas umum merupakan fasilitas yang dapat digunakan
oleh semua pemakai laboratorium contohnya penerangan, ventilasi, air, bak cuci (sinks), aliran

5
listrik, gas. Fasilitas khusus berupa peralatan dan mebelair, contohnya meja siswa/mahasiswa,
meja guru/dosen, kursi, papan tulis, lemari alat, lemari bahan, dan ruang timbang, lemari asam,
perlengkapan P3K, pemadam kebakaran dll.
Penerangan
Ruang laboratorium harus memiliki pengatur penerangan yang dapat diubah-ubah sesuai
kebutuhan. Sumber cahaya dapat berasal dari cahaya matahari atau dari listrik.
Ventilasi
Laboratorium IPA membutuhkan ventilasi yang baik. Kadang-kadang ventilasi tidak dapat
dicukup dari jendela, sehingga dibutuhkan alat perotasi udara seperti kipas penyedot (ceiling
fans). Adanya kipas penyedot ini dapat membantu pergantian udara menjadi lebih baik.
Air
Air merupakan fasilitas yang penting dalam laboratorium IPA. Pasokan air ke dalam
laboratorium tersebut harus cukup. Kualitas air juga harus baik, kualitas air yang kurang baik
dapat mempercepat kerusakan alat-alat terutama alat-alat yang terbuat dari logam. Aliran air
yang masuk ke dalam laboratorium harus lancar. Demikian juga aliran air yang ke luar
laboratorium. Air yang masuk dan ke luar laboratorium biasanya lewat pipa-pipa. Harus
diperhatikan pembuangan air sisa cucian yang mengandung bahan-bahan yang dapat merusakkan
pipa-pipa tersebut. Pembuangan sisa asam atau basa kuat atau bahan korosif lainnya harus
melalui pengenceran dahulu sebelum dibuang lewat pipa. Hal ini untuk menghindari kerusakan
pipa-pipa saluran air.
Bak cuci
Bak cuci atau sinks dapat terbuat dari beton atau porcelen. Bak cuci yang terbuat dari porcelain
mudah ternoda apabila kena bahan-bahan kimia. Bak cuci harus dilengkapi dengan saringan
untuk mencegah masuknya sisa-sisa praktikum yang berupa bahan padat. Untuk menghindari
adanya kerusakan bak cuci, hindarkan pembuangan bahan-bahan kimia seperti asam-basa kuat
dan bahan-bahan korosif lainnya.
Listrik
Pada laboratoium IPA, listrik merupakan fasilitas yang sangat penting. Besarnya daya yang
terpasang harus mencukupi kebutuhan alat-alat laboratorium, terutama alat-alat laboratorium
yang membutuhkan daya besar, seperti oven. Tegangan listrik harus stabil. Harus diperhatikan
pula instalasi listrik, jangan didekatkan dengan aliran air dan gas. Selain itu harus dilengkapi
dengan pengaman yang mudah dijangkau. Terminal out let harus mudah dijangkau. Instalasi
listrik secara periodic perlu diperiksa kondisinya. Kabel-kabel listrik secara periodik disikat
untuk menghilangkan bahan-bahan korosif yang biasanya menempel pada permukaan kabel.

6
2.6. Penataan dan Penyimpanan Alat /Bahan Didasarkan pada
Penataan dan penyimpanan alat /bahan didasarkan pada :
a. Keadaan laboratorium yang ditentukan oleh fasilitas dan , susunan laboratorium, dan keadaan
alat/bahan
b. Kepentingan pemakai ditentukan berdasarkan kemudahan dicari dan dicagapai, keamanan
dalam penyimpanan dan pengambilannya.
Keadaan Alat dan Bahan
Berdasarkan Keadaan:
Alat : maka alat dapat dikelompokkan atas jenis alat, jenis bahan pembuat alat, seberapa sering
alat tersebut digunakan, atau jenis percobaan.
Bahan/Zat : maka bahan dapat dikelompokkan pada jenis bahan ( fasa/wujud zat, sifat asam basa
dari zat), seberapa bahaya bahan tersebut, dan seberapa sering bahan tersebut digunakan
Dasar dari Penyimpanan Alat yaitu :
1. Jenis Alat
Gelas Kimia; Corong ; Lumpang dan Alu ; Cawan Petri
2. Jenis Bahan Pembuat
Kaca ; Porselin ; Logam ; Kayu
3. Percobaan
Laju Reaksi ; Kesetimbangan; Anatomi; Ekologi
4. Seberapa sering alat digunakan
Yang sering digunakan : Gelas kimia
Yang jarang digunakan : lumpang & Alu
Dasar Penyimpanan Bahan
1. Wujud Bahan (Padat dan Cair)
2. Sifat Bahan (Asam dan Basa)
3. Sifat Bahaya (Korosif; Racun; Mudah Terbakar; dll
4. Seberapa sering digunakan
Langkah – Langkah Penyimpanan
a. Bersihkan ruang dan penyimpanan alat dan bahan
b. Periksa data ulang alat dan bahan yang ada
c. Kelompokkan alat dan bahan yang ada berdasarkan pada keadaan alat dan bahan di atas
d. Penyimpanan dan penataan alat dan bahan disesuaikan dengan fasilitas laboratorium,
keadaan alat dan bahan diatas.

7
Berikut ini dijelaskan simbol-simbol bahaya termasuk notasi bahaya dan huruf kode
(catatan:huruf kode bukan bagian dari simbol bahaya)

1. Inflammable substances (bahan mudah terbakar)


Bahan mudah terbakar terdiri dari sub-kelompok bahan peledak, bahan pengoksidasi, bahan
amat sangat mudah terbakar (extremely flammable substances), dan bahan sangat mudah
terbakar (highly flammable substances). Bahan dapat terbakar (flammable substances) juga
termasuk kategori bahan mudah terbakar (inflammable substances) tetapi penggunaan simbol
bahaya tidak diperlukan untuk bahan-bahan tersebut.

Explosive (bersifat mudah meledak)

Huruf kode: E

Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya “explosive“ dapat meledak
dengan pukulan/benturan, gesekan, pemanasan, api dan sumber nyala lain bahkan tanpa oksigen
atmosferik. Ledakan akan dipicu oleh suatu reaksi keras dari bahan. Di laboratorium, campuran
senyawa pengoksidasi kuat dengan bahan mudah terbakar atau bahan pereduksi dapat meledak .
Sebagai contoh, asam nitrat dapat menimbulkan ledakan jika bereaksi dengan beberapa solven
seperti aseton, dietil eter, etanol, dll.

Hal-hal yang dapat menyebabkan ledakan adalah:

a. Karena adanya pelarut mudah terbakar.


b. Karena ada udara cair. Udara dapat meledak jika dicampur dengan unsur-unsur pereduksi
dan hidrokarbon
c. Karena ada debu. Debu padat dari bahan mudah terbakar bercampur dengan udara dapat
menimbulkan ledakan dahsyat
d. Karena ada gas-gas
e. Karena ada peroksida.

8
Ledakan yang mungkin ditimbulkan oleh bahan-bahan mudah meledak ini dapat dicegah
dengan cara:

a. Biasakan melakukan eksperimen di tempat terbuka atau di dalam lemari uap


b. Jika ragu tentang sifat kimia bahan, gunakanlah dalam jumlah yang sedikit dan lakukan
percobaan di atas penangas air
c. Gunakan alat-alat yang layak (sesuai) seperti gelas tebal yang stabil oleh tekanan
d. Selain hal di atas untuk keamanan maka lakukan pengamatan dari belakang layar pengaman
atau gunakan pelindung seperti masker.

Oxiding (Pengoksidasi)

Huruf kode: O

Bahan-bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya ”oxidizing“ biasanya
tidakmudah terbakar. Tetapi bila kontak dengan bahan mudah terbakar atau bahan sangat mudah
terbakar. Bahan organik penoksidasi sering menimbulkan ledakan dahsyat, terutama peroksida.
Untuk laboratorium SMA/SMP sebaiknya tidak usah menyediakan bahan ini seperti misalnya:
Chlorat, Perklorat, Bromat, Peroksida, Asam Nitrat, Kalium Nitrat, Kalium Permanganat,
Bromin, Klorin, Fluorin, dan Iodin yang mudah bereaksi dengan Oksigen (dalam kondisi
tertentu) sehingga dikelompokkan menjadi bahan pengoksidasi.

Extremely flammable (amat sangat mudah terbakar)

Huruf kode:F+

Bahan-bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya “extremely flammable“
merupakan bahan yang sangat mudah terbakar. Contoh bahan dengan sifat tersebut adalah dietil
eter (cairan) dan propane (gas)

9
Kebakaran dapat terjadi karena berbagai hal. Sumber-sumber yang dapat menyebabkan
timbulnya perapian/kebakaran diantaranya: nyala api, permukaan panas, hubungan pendek
(korsluiting) listrik, muatan listrik statis, puntung rokok menyala, korek api dan sumber lainnya.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menangani bahan-bahan kimia yang
mudah terbakar, agar keselamatan dan keamanan tetap terjaga, yaitu:

a. Bahan tidak boleh dipanaskan secara langsung atau disimpan pada permukaan panas.
Gunakan penangas uap atau penangas air
b. Simpan bahan di tempat yang ventilasinya baik
c. Di laboratorium, sediakan dalam jumlah yang minimum. Pelarut yang tidak digunakan
lagi dikembalikan ke botol pelarut
d. Sediakan alat pemadam kebakaran. Bila terjadi kebakaran dengan api kecil gunakan kain
basah atau pasir, tapi bila api besar gunakan alat pemadam
e. Pada saat memanaskan jangan mengisi gelas kimia dengan cairan mudah terbakar
melebihi ½ kapasitasnya. Gunakan batu ddih guna menghindarkan ledakan/letupan
f. Jangan membuang cairan yang mudah terbakar ke dalam bak cuci
g. Jangan menyimpan cairan mudah terbakar dekat dengan bahan pengoksidasi atau bahan
korosif
h. Botoil penyimpanan bahan mudah terbakar jangan diisi sampai penuh, sediakan 1/8
isinya untuk udara. Gunakan botol yang tidak mudah terbakar dan jauhkan dari sumber
perapian
i. Bahan padat mudah terbakar simpan di tempat sejuk, jauhkan dari sumber panas, bahan
lembab dan air, bahan pengoksidasi atau asam
j. Kontrol semua bahan secara periodic

2. Bahan – bahan berbahaya bagi kesehatan


Istilah bahan berbahaya untuk kesehatan termasuk sub-grup bahan bersifat sangat
beracun(very toxic substances), bahan beracun (toxic substances) dan bahan berbahaya (harmful
substances).

Very toxic (sangat beracun)

Huruf kode: T+

10
Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya ‘very toxic’ dapat
menyebabkan kerusakan kesehatan akut atau kronis dan bahkan kematian pada konsentrasi
sangat rendah jika masuk ke tubuh melalui inhalasi, melalui mulut (ingestion), atau kontak
dengan kulit. Contoh bahan dengan sifat tersebut misalnya kalium sianida, hydrogen sulfida,
nitrobenzene dan atripin.

Toxic (beracun)

Huruf Kode : F

Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya ‘toxic’ dapat menyebabkan
kerusakan kesehatan akut atau kronis dan bahkan kematian pada konsentrasi sangat rendah jika
masuk ke tubuh melalui inhalasi, melalui mulut (ingestion), atau kontak dengan kulit.Demi
keamanan sebaiknya kita menganggap semua bahan kimia itu beracun. Berdasarkan tempat
masuknya melalui tubuh kita, bahan-bahan beracun dikelompokkan menjai tiga kelompok besar
yaitu bahan beracun yang masuk melalui pencernaan (mulut), absorbsi kulit, dan pernapasan.
Untuk menghindari masukknya bahan-bahan tersebut ke dalam tubuh ada beberapa hal yang
dapat kita lakukan, yaitu:

a. Untuk menghindari racun melalui mulut:


 Hindarkan makan, minum atau merokok saat bekerja
 Cuci tangan dan keringkan sebelum meninggalkan laboratorium
 Hati-hati jangan menggunakan pipet isap.
b. Untuk menghindari racun melalui kulit:
 Cegah kontak dengan kulit
 Gunakan sarung tangan
 Cuci tangan dengan sabun dan air dengan segera

Untuk pengamatan saat bekerja dengan bahan-bahan beracun, maka sebaiknya:

a. Gunakan bahan sidung di tutup atau di tempat yang berventilasi baik. Jika tidak
digunakan, botol harus tetap di tutup

11
b. Gunakan pelindung seperti sarung tangan dan jas lab.
c. Botol harus selalu memiliki label dan disimpan di dalam lemari terkunci
d. Cuci tangan sampai bersih sebelum meninggalkan laboratorium, tidak boleh membaui
senyawa kimia secara langsung dan tidak boleh makan di laboratorium
e. Taburkan pasir atau tanah jika bahan tumpah ke lantai asmpai terserap kemudian uapkan
tanah/pasir tersebut di dalam oven.

Harmful (berbahaya)

Huruf kode: Xn

Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya ‘harmful’ memiliki resiko
merusak kesehatan sedang jika masuk ke tubuh melalui inhalasi, melalui mulut (ingestion), atau
kontak dengan kulit. Yang tidak diberi notasi toxic, akan ditandai dengan simbol bahaya
‘harmful substances’ dan kode huruf Xn. Contoh bahan yang memiliki sifat tersebut misalnya
solven 1,2-etane-1,2-diol atau etilen glikol (berbahaya) dan diklorometan (berbahaya, dicurigai
karsinogenik).

3. Bahan-bahan yang merusak jaringan (tissue destroying substances)


Corrosive (korosif)

Huruf kode: C

Bahan dan formulasi dengan notasi ‘corrosive’ adalah merusak jaringan hidup. Jika suatu bahan
merusak kesehatan dan kulit hewan uji atau sifat ini dapat diprediksi karena karakteristik kimia
bahan uji, seperti asam (pH <2) dan basa (pH>11,5), ditandai sebagai bahan korosif.

12
Contoh bahan dengan sifat tersebut misalnya asam mineral seperti HCl dan H2SO4 maupun basa
seperti larutan NaOH (>2%).

Hal-hal yang perlu dilakukan untuk pengamanan dalam bahan – bahan yang mudah
korosif adalah:

a. Simpan bahan di tempat yang sesuai (cocok) dan lakukan pengontrolan atau pengawasan
secara teratur
b. Ikuti aturan-aturan penyimpanan, pemberian label, pemakaian, dan pembuangannya
c. Simpan persediaan di laboratorium dalam jumlah minimum
d. Gunakan pelindung
e. Hindarkan jangan sampai tumpah dan jika bersentuhan dengan kulit, cucilah segara dengan
air dan sabun
Irritant (menyebabkan iritasi)

Huruf kode : Xi

Bahan dan formulasi dengan notasi ‘irritant’ adalah tidak korosif tetapi dapat
menyebabkan inflamasi jika kontak dengan kulit atau selaput lendir. Contoh bahan dengan sifat
tersebut misalnya isopropilamina, kalsium klorida dan asam danbasa encer.

4. Bahan berbahaya bagi lingkungan

Huruf kode: N

Bahan dan formulasi dengan notasi ‘dangerous for environment’ adalah dapat
menyebabkan efek tiba-tiba atau dalam sela waktu tertentu pada satu kompartemen lingkungan
atau lebih (air, tanah, udara, tanaman, mikroorganisma) dan menyebabkan gangguan ekologi.
Contoh bahan yang memiliki sifat tersebut misalnya tributil timah kloroda, tetraklorometan, dan
petroleum hidrokarbon seperti pentana dan petroleum bensin.
13
2.7. Administrasi Laboratorium
Administrasi laboratorium meliputi semua kegiatan administrasi di laboratorium, antara
lain :
a. Inventarisasi peralatan yang ada. Daftar kebutuhan peralatan baru, alat tambahan, alat
rusak, dan alat – alat yang dipinjam/dikembalikan.
b. Surat menyurat (keluar-masuk)
c. Jadwal pemakaian laboratorium (praktikum dan penelitian)
d. Daftar bahan
e. Sistem evaluasi dan pelaporan

Inventarisasi juga harus memuat sumber alat dan bahan yang diperoleh (tahun berapa
diperoleh). Inventarisasi bertujuan untuk :
a. Mencegah kehilangan dan penyalahgunaan
b. Mengurangi biaya operasional
c. Meningkatkan proses pekerjaan dan hasilnya
d. Meningkatkan kualitas kerja
e. Mencegah pemakaian berlebihan
f. Meningkatkan kerjasama

2.8. Organisasi Laboratorium


Organisasi laboratorium meliputi struktur organisasi, deskripsi pekerjaan dan susunan
personalia yang mengelola laboratorium tersebut. Penanngung jawab tertinggi adalah Kepala
Laboratorium. Kepala Laboratorium bertanggung jawab terhadap semua kegiatan di
laboratorium, seluruh peralatan dan bahan. Personalia laboratorium bertanggung jawab terhadap
tugas yang dibebankan kepada yang bersangkutan.

14
BAB III
KESIMPULAN

Laboratorium sains (IPA) dituntut untuk menyediakan peralatan yang dapat digunakan
untuk memperoleh gejala benda maupun gejala peristiwa, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Sehubungan dengan hal itu, laboratorium dapat menjadi model alam
atau diatur sedemikian rupa sehingga mirip dengan situasi sesungguhnya di alam.
Pengelolaan laboratorium berkaitan dengan pengelola dan pengguna, fasilitas
laboratorium (bangunan, peralatan laboratorium, spesimen biologi, bahan kimia), dan aktivitas
yang dilaksanakan di laboratorium yang menjaga keberlanjutan fungsinya.
Pada dasarnya pengelolaan laboratorium merupakan tanggung jawab bersama baik pengelola
maupun pengguna. Oleh karena itu, setiap orang yang terlibat harus memiliki kesadaran dan
merasa terpanggil untuk mengatur, memelihara, dan mengusahakan keselamatan kerja. Mengatur
dan memelihara laboratorium merupakan upaya agar laboratorium selalu tetap berfungsi
sebagaimana mestinya. Sedangkan upaya menjaga keselamatan kerja mencakup usaha untuk
selalu mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan sewaktu bekerja di laboratorium dan
penangannya bila terjadi kecelakaan. Para pengelola laboratorium hendaknya memiliki
pemahaman dan keterampilan kerja di laboratorium, bekerja sesuai tugas dan tanggung
jawabnya, dan mengikuti peraturan.

15
DAFTAR PUSTAKA

Ganesha Global Sains, (2009), Pengadministrasian dan Penataan Alat/Bahan Laboratorium IPA,
http://ganeshaglobalsains.blogspot.com/

Lubis, M., (1993), Pengelolaan Laboratorium IPA, Jakarta: Depdikbud Dirjen Pendidikan
Dasar dan Menengah

Rustaman, N.; Dirdjosoemarto, S.; Yudianto, S. A.; Achmad, Y.; Subekti, R.; Rochintaniawati,
D. & Nurjhani, M., (2003), Strategi Belajar Mengajar. Bandung : FMIPA UPI.

Sri, L., (2008), Pengelolaan Laboratorium,


http://stari17.blog.friendster.com/2008/06/pengelolaan-laboratorium/

Supriatna, M., (2008), Laboratorium Sains SMA Sebagai Analisis Kebutuhan Untuk Program
Diklat Pengelola Laboratorium, http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/66084753.pdf

Tim Dosen, (2010), Pengelolaan Laboratorium, Medan : FMIPA UNIMED

Wirjosoemarto, K.; Adisendjaja, Y. H.; Supriatno, B. & Riandi., (2004), Teknik Laboratorium.
Bandung : FMIPA UPI.

16