Gelap, gelap sekali

Aba Marjani Gelap di luar dan hening di dalam. Dengus napas istriku teratur. Lampu tempel sudah menarik selimut melewati dada. Sesekali suara burung malam terdengar di kejauhan. kumatikan. Hanya dingin malam yang menyeruak dari celah dinding bambu membuat aku Barangkali burung hantu yang mencari mangsa, berpindah-pindah dari satu arah ke arah

lain. Tanah huma di pinggir hutan mungkin mengubah kawasan hunian binatang sekitar.

Aku sulit memejamkan mata karena nyamuk kecil yang sering mendengung dengan bunyi yang nyaring, sesekali nyamuk itu menerkam kuping. Malam semakin larut ketika merasakan ada sesuatu yang mengusik gelapnya malam. Beberapa rumah panggung

terdapat di desa yang baru kami bangun, sekitar setahun yang lalu, tanah garapan baru. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya kira-kira lima puluh meter. Gemerisik sesuatu antara belukar semakin mengganggu ketika terdengar ketukan di rumah tetangga. Derap kaki bersepatu berat semakin jelas terdengar disusul dengan gedoran. Ada teriakan kasar. Aku mengintip dari celah dinding, tetapi tidak ada sesuatu yang tampak. Gelap Ada pukulan yang keras membuat teriakan lenyap. Sunyi malam mendekap.

malam memeluk rahasia malam. Teriakan terdengar ketika langkah kaki itu agak menjauh.

Ia membuka matanya dan menggosok kelopak matanya, lalu menjawab, ”Sayup-sayup. Seolah-olah ada sesuatu yang terjadi.”

Kugoyang-goyang tubuh istriku sambil berbisik, ”Kau dengar suara-suara ribut itu?”

”Apa, ya?” kataku seolah-olah berkata kepada diri sendiri. Beberapa menit kami tenggelam dalam hening. Sepanjang malam kami tidak dapat tidur, tak juga berani berbicara atau menduga-duga apa yang terjadi. Rasanya malam merangkak amat lama. Subuh, ada tangisan dari arah tetangga sebelah. Ketika ayam berkokok, aku memberanikan diri turun tangga rumah, dan bergegas ke rumah sebelah.

Beberapa orang tetangga lain sudah ada di situ. Aku bergabung dengan mereka. ”Ada apa?” kataku. Seorang kepala dusun yang kami angkat sendiri malah balik bertanya, ”Tidakkah Saudara dengar peristiwa tadi dalam?”

”Ya, kudengar langkah kaki, gedoran dan orang berteriak karena dipukul. Aku tidak berani keluar. Sepanjang malam aku dilanda rasa takut,” kataku.

Tarmin, kepala dusun itu, kemudian berkata, ”Suami ibu ini tadi malam diculik orang, juga Turman yang tinggal di ujung dusun.” ”Oleh siapa?” tanyaku. ”Belum tahu.” Tangis ibu Saleh tak henti- henti. Kepala dusun pagi sekali menghubungi ketiga belas keluarga yang tinggal di perhumaan itu. hilang pada malam itu. Saleh dan Turman. Saleh si pendiam namun mudah menolong orang. Turman si pemberani yang mendorong kami memulai menggarap tanah di pinggir hutan itu. Menurut kami, kedua orang itu adalah teladan dalam segala hal. Kami berkumpul di rumahnya. Yang hadir hanya sebelas kepala keluarga. Dua orang yang

Kurang lebih setahun sebelumnya, kami membuka ladang baru, tanah huma. Jauh dari

kampung halaman kami. Jarak kampung halaman kami lebih seratus kilometer, dan untuk sementara kami meninggalkan anak-anak bersama kakek-nenek di tanah leluhur yang sudah sesak penduduk.

Sebagai ladang baru, hasilnya lumayan. Tanah huma membuat tanaman subur, pada panen pertama tentunya. Kami memasuki tahun kedua dalam suasana dusun yang tenang. Rasa persahabatan dan kekeluargaan lebih menonjol daripada sikap bersaing. Kami mengalami

nasib yang sama di tanah leluhur yang semakin sempit karena pertambahan penduduk. Rasa persaudaraan yang tinggi terbentuk karena penderitaan yang sama, dan memiliki harapan yang sama. Mengubah nasib. Walaupun di ladang yang sangat bergantung kepada kemurahan alam, hujan.

Pertemuan hari itu sarat dengan usul cara menjaga keamanan dusun. ”Tapi penculikan ini, melihat dari jejak kaki,” kata Sahir, ”rasanya adalah jejak kaki orang bersenjata api.”

Yang lain-lain terdiam. ”Jangan-jangan ketika kita jaga malam, justru dengan lebih mudah diculik satu demi satu,” katanya melanjutkan.

Seminggu kemudian, dalam kantuk yang penat, menjelang subuh aku tertidur lelap. Baru didobrak dari luar. Dalam sekejap beberapa sosok tubuh merangsek ke dalam membuat jerembab. Beberapa tangan yang kokoh menarik kedua tangan dan kakiku. Aku diseret belakang. Mulutku dibekap dengan sepotong kain. Dalam gigitan malam yang dingin

saja beberapa menit terlelap, aku mendengar pintu digedor dan tiba-tiba menganga karena

istriku tiba- tiba menjerit. Tamparan di mukanya membuatnya terhuyung dan diam dalam

dalam kegelapan malam. Mereka menggelandang tubuhku dan mengikat kedua tanganku ke menyengat, mereka melemparkan tubuhku ke dalam sebuah truk yang menunggu di tepi bersentuhan dengan kakiku.

jalan. Aku merintih kesakitan. Kutahu ada orang lain di dalam truk itu karena kaki mereka

Sebelum kabut meninggalkan malam, truk berhenti di sebuah tempat. Kudengar suara-

suara orang yang berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti. Aku diturunkan dari truk antara mereka yang kukenal.

bersama sembilan orang lainnya yang tampaknya senasib denganku. Tidak seorang pun dari

Kami digiring ke sebuah rumah gedung tua yang tampak kokoh dari luar. Ada penjaga

bersenjata di segala sudut. Di sebuah ruangan satu demi satu kami diempaskan ke lantai. siang seorang berwajah garang duduk di belakang meja reyot, dan kami duduk di kursi rotan di hadapannya. Satu demi satu kami ditanyai: nama, keluarga, alamat, asal-usul, jenis pertanyaan yang aku sendiri tidak mengerti.

Ikatan tangan kami dilepaskan satu demi satu. Nyeri rasa luka di bekas ikatan itu. Menjelang

pekerjaan, sejak kapan masuk organisasi politik, siapa pemimpinnya, dan macam-macam

Sore itu perut diisi dengan beberapa potong ubi rebus. Tengah malam, ketika perut masih keroncongan, namaku dipanggil dari kamar berukuran tiga kali empat meter yang dihuni dua belas orang. Aku berdiri dan menuju ke sebuah ruangan. Dari ruangan lain kudengar ia tuduh aku masuk gerakan tutup mulut (GTM). Ia lalu berdiri di belakangku dan lehermu!”

jeritan orang dipukul. Aku duduk dan tidak dapat menjawab pertanyaan interogator itu. Lalu memegang dagu dan kepalaku, mencoba memutar leherku. ”Jawab! Atau kupatahkan

Aku diam saja. Kemudian ia melepaskan kedua tangannya, tapi menohok punggungku membuat aku jatuh pingsan. Ketika aku tersadar, aku sudah berada di tengah-tengah kawan seselku. Mereka mengoles punggungku dengan minyak kelapa. Aku belum mampu sedikit melegakan rasa sakitku.

memusatkan pikiran untuk mendengar apa yang dikatakan mereka. Jamahan tangan mereka

hampir semua lelaki di dusunku sudah ”diangkat” dan kaum perempuan melarikan diri ke kembali, diganti dengan tahanan baru, sampai pada akhirnya aku sendiri pun dipanggil bersama beberapa orang yang dahulu ditangkap bersamaku. orang tua mereka masing-masing. Beberapa kawan seselku ”pergi” dan tidak pernah

Sebulan kemudian aku mendengar secara sembunyi-sembunyi dari sesama tahanan bahwa

Menurut pengawal yang melemparkan kami ke dalam truk, kami akan dipindahkan ke

tempat yang lebih nyaman, tenteram, pembebasan. Karena ia mengatakannya dengan

senyuman dengan mata mengejek, yakinlah aku bahwa inilah hari akhir dalam kehidupanku. bagai paku tipis yang karatan mungkinkah dibebaskan ke tempat yang nyaman dan Wajah anak- anakku, istriku, melintas silih berganti di benakku. Tubuh-tubuh yang kurus

tenteram? Aku tidak tahu dosa apa yang membuat aku harus mengalami derita seperti ini. keluar dari mulutku. Pernah aku berpapasan dengan seorang interogator yang rasanya

Sampai bulan-bulan terakhir aku hendak di-”bebaskan” tidak ada pengakuan apa pun yang

pernah kukenal dan memalingkan wajah daripadaku ketika sekilas bertatap mata. Diakah orang ingin mencari selamat sendiri.

biang keladi dari derita lelaki dari dusunku? Ah, tidak berani aku berburuk sangka. Semua

Aku menduga. Pisang monyet. Dalam detik yang sama aku mengalir deras disusul gedebuk tubuh yang terempas ke dalam air. pastilah manusia pun bisa. Aku berdiri dan melihat pedang yang dientakkan. Kulepaskan ikatan tangan dengan susah-payah. aku berjalan sejauh-jauh jarak Matahari mulai muncul di celah gunung. banyak batunya. Tiba-tiba sekelebat pedang yang terayun suara yang sama bergenta. Karena telah terbiasa di dalam kegelapan malam dan siang. kemudian tali dari kaki. bila monyet pun bisa makan buah pisang monyet. aku dapat sebuah jembatan yang besar dan panjang. Ada lengkingan dan bunyi kepala ya berdebuk ke dalam sungai yang depan disuruh berhenti di pinggir jembatan. Kami benar. Berjam-jam aku berjalan dalam keremangan gelap malam. dan mengambil buah yang ranum. menyusuri tepi sungai dengan Dengan pakaian yang basah-kuyup dan langkah yang goyah. Semuanya gelap gulita! dengan kisah gelap. Kami semua diturunkan dan berjalan satu demi satu menuju tengah jembatan. Di dalam alun arus. Tidak ada. Gelap dalam pertanyaan yang tak kunjung berjawab. dalam remang gelap. ”Tuhan.benar menjadi warga kegelapan. istriku dalam kesetiaannya harus Tiba-tiba hatiku menjerit. anak-anak akan telantar. ”Ayo. Dalam kepergian malam. Buah yang matang tapi ketika kukunyah. sampai giliranku pun tiba. Ikatan tangan yang telah kukendurkan dan ikatan tali di kaki yang merenggang membuat aku menyelam lebih mudah bergerak dalam kedalaman dan arus sungai. mereka termasuk turunan yang dianggap kutuk bagi bangsa ini. Selang beberapa menit membungkuk dan terjun ke dalam sungai. merunduk rendah. yang dapat kutempuh. Di tepi sungai ada pisang yang sedang berbuah. Aku berterima kasih kepada Tuhan . aku menyaksikan pedang yang berayun semakin melemah. sampai aku mampu berpijak di dasar sungai dan berjalan sambil merangkak menyusuri menambah perihnya goresan tali. dalam sunyi air yang mengalir. Tidak jauh dari sana ada durian belanda. Aku memanjatnya. Gelap dalam sel. Bayangan dalam benakku. di sisi jembatan bagian tengah yang rusak penahannya. Dan cap dalam keluarga. Truk berhenti di mulut Berjam-jam kami yang ada di dalam truk diam dalam bahasa hati kami sendiri. naik! Naik! Naik!” Truk menggelegar memecah kegelapan malam. menyaksikan celah antara kegelapan dan remang-remang malam. aku semakin menepi batu-batu. Aku tidak tahu di daerah mana aku berada. Beberapa menit kemudian aku muncul ke permukaan sementara arus terus membawa aku hanyut. Orang yang berada di barisan menebas lehernya. Air yang dingin mendengarkan langkah kaki. Aku merangkak ke tepi sungai dan mencoba lama semakin hilang. Bahasa batin Aku berjalan di barisan paling akhir dari lima belas orang. Di kejauhan ada deru kendaraan yang semakin keyakinan bahwa lambat atau cepat pasti di sekitar alur sungai ada kampung terpencil.banting tulang memberi makan mereka. lindungilah mereka!” Tendangan di pantatku menyadarkan aku.

menjadi kuli pelabuhan bagi tongkang dan kapal yang merapat malam. Sesekali aku mencari tahu keberadaan istriku dari orang yang sebahasa denganku. Hari-hari pelarianku yang tidak kutahu Sepuluh tahun? Dari beberapa pelabuhan. Ia terkejut melihatku. Ada mata air di situ. aku menghitungnya. Aku membantunya di ladang karena aku jauh lebih muda dari mereka. Kukeringkan pakaianku di atas batu dan Di kaki gunung. karena aku bersama bintang di laut dengan pelaut yang tidak peduli pusaran politik. kepada anak-anakku. dan pelarianku. Dan di sanalah aku merajut nasibku juga. atau kalau musim ombak. Pergi ke laut. aku tidak bisa berlama-lama dengan mereka. Siang hari mendapat informasi mengenai alamat mereka. Malam-malam berbintang. Sampai berpuluh tahun kemudian. aku Bertahun-tahun aku menjadi kuli pelabuhan atau ikut nelayan pada malam hari. yang sudah berumur membuka pintu. Kedua orang tua itu mengangguk-angguk mengerti. Kuketuk pintunya. menyongsong matahari yang terbit. masuk tongkang yang hendak berlayar berbulan- kapan akan berakhir. Rasanya aku berminggu. iklim politik pun berubah. menjual ikan ke seberang. yang tergenang dan bening. Dari wajah mereka kulihat rasa terkejut. seorang bekas interogatorku. alamat. Bandung. Aku pun terkejut melihatnya. tepatnya sebuah lembah yang landai. Aku bulan di laut. aku menemukan sebuah gubuk. dan mengirimkan upah yang kuperoleh. Setelah tubuhku pulih betul aku pamit dan mendaki gunung menuju ke tanah seberang.minggu bersama mereka. Alam keras membuat mereka hidup. kukirim upahku. Setelah kekuatanku pulih. Setelah berbulan-bulan.mereguk air dari pinggir sungai. bahwa bumi ini kaya dengan kemurahan-Nya. aku berjalan dan berjalan. Mereka mempersilakan aku sarapan pagi dengan pisang rebus. Seorang lelaki tua dan ibu memperkenalkan diri dan memberitahukan tentang diriku yang sebenarnya. di seberang ada laut. sekalipun laut tetap bergelora! Laut mengajariku untuk tabah. Aku Kukira gubuk itu milik pemilik ladang di situ. Akan tetapi. aku tidur dan malam melaut bersama nelayan. Kiriman berikutnya tidak dapat kulakukan karena pada suatu hari aku berpapasan dengan cepat-cepat menghilang. 21 Agustus 2009 . Tanpa Mereka hanya peduli pusaran arus laut. Kata orang tua itu.

Hujan masih saja lebat. Angin masih berkesiur. Atau tiba tiba air bah datang dan menghanyutkan tubuhku seperti sepotong kayu. Angin berkesiur liar kian kemari. Ia tak mungkin merampok aku karena tak ada sesuatu pun yang bisa dirampasnya dari aku. Masih tersisa dua batang.” aku sengaja berbohong. “Aku salah turun. Aku bersidakep menahan dingin. Halilintar bersahut-sahutan tiada henti bagai Pasrah oleh jilatan tempias hujan atau sesekali cipratan air yang dilindas ban-ban mobil. . mungkin juga aku sudah berada di tempat tidur bersama istriku. Agak mletot karena terduduki. Kilat menjilat sambungmenyambung seperti ingin membakar langit. Rasa sesal dan kesal menyeruak dalam dadaku. “Bekerja di mana?” laki laki itu melanjutkan setelah melepas asap rokoknya untuk kesekian kali. Di sebuah kantor. Sesaat kemudian asap rokok kami sudah itu menyodorkan bungkus rokoknya kepadaku. Bukankah aku seharusnya turun di dua halte ingin membelah dunia. Setelah menyulut rokoknya. Seharusnya di dua halte berikutnya. Aku berdehem. berikutnya? Kalau tidak melakukan tindakan tolol ini. Kedinginan di halte bus senja itu aku merasa benar-benar kecil. Senja makin lebam. Terlintas dalam benakku bagaimana jadinya jika aku disambar petir. Sebatang rokok siap dinyalakan. Kurogoh saku celana sebelah kanan untuk mengambil korek api lalu kuberikan kepadanya. Dalam dingin apa saja bisa terjadi di tempat tidur. Tubuh terbakar hangus seketika. “Punya korek?” ia menyergapku sebelum aku sempat menggeser. “Dulu. “Mau pulang?” laki-laki itu bertanya. Khawatir juga kalau-kalau ia ingin mencari kehangatan bersamaku. Buru-buru kuucapkan terima kasih seraya berpilin-pilin menjadi satu untuk kemudian hilang menyatu dengan putihnya tempias hujan. Kuambil satu. Dalam badai perempuan yang tidak cantik tapi juga tak bisa disebut jelek. mungkin aku sudah duduk sembari ngopi ditemani istriku di sebuah gubuk tempat kami mengontrak selama ini. laki-laki mengambil bungkus rokok milikku dari saku belakang celana. mungkin aku sudah sampai di rumah.Sukro dan Sukra Oleh Adek Alwi Langit kelam dan senja lebam dalam guyuran hujan lebat.” kataku sembari menatap ke jalan. Genangan air mulai meninggi. Gosong. Kalau tidak. petir seperti ini. Di dompetku cuma ada tiga lembar uang lima ribuan. seorang Seorang laki-laki sepantaran aku yang sejak tadi berdiri agak jauh mendekat. Aku bersiaga. Tanpa menoleh ke arahku. Betapa bodoh dan tololnya aku.

Seperti hari ini. “Kita merampok orang kaya. Kita ambil Karena umumnya orang kaya pun perampok.” Setelah itu kami jadi lebih akrab. Agak kurus. Yang penting kau mau bekerja sama. Aneh juga. Kerja serabutan. Tak ada gunanya. Ia memiliki sebuah mobil juga tak kelihatan susah. hidupnyalah yang paling susah.” aku menyebut namaku. Rambut mulai banyak ditumbuhi uban. Laki-laki itu tiba-tiba terbahak. perempuan. Gelisah saja. aku jadi tak bisa tidur. Ada barang sedikit dari mereka. menikah dengan seorang polisi. Kakaknya.” Laki laki itu tertawa kecil.” katanya getas. “Nama kita hampir sama ya. sementara order menurun.“Tapi aku dipecat. Bagaimana kalau yang punya rumah terbangun? Lalu . Kami ngobrol hingga senja hilang dan sinar merkuri mulai memunculkan siluet.” kata laki-laki itu kemudian. “Kalau mau. Hidung mancung. Si bungsu. Ketika aku akhirnya melangkah meninggalkan halte bus itu. pulang membawa uang.” Tak kuceritakan pertemuan tak terduga dengan Sukra itu kepada istriku. Di antara empat saudaranya.” aku. Mereka pasti tidak jadi jatuh miskin. Aku kaget. Baginya yang penting aku menggodaku. “Kita merampok. hidupnya tak pernah kelihatan susah. seorang wanita. Meski cuma lima belas ribuan. Agak gondrong. laki laki. Aku terlalu pengecut untuk melakukan perbuatan penuh risiko itu. Malah yang paling makmur. Agak tinggi. meski dingin menyungkup. “Kenalkan dulu. Suaranya nyaris tak terdengar karena hujan begitu lebat. Yang pasti. ada yang curang dalam berdagang. Tak jelas mengapa ia tertawa. macam-macamlah. Apa saja. Yang penting bisa makan. yang hasil korupsi. “Atau tepatnya mungkin kau bisa membantu aku. aku bisa bantu. Perusahaan hampir pailit karena kelebihan karyawan. Istriku di sebelahku sudah terlelap. Hidupnya Merampok? Ah. Aku jadi korban. Dalam remang kulihat wajah pasrahnya. terus terngiang ajakan Sukra. Banyak sekali. Untuk pertama kali aku menoleh ke arah laki-laki itu. Sekarang nganggur. Uang mereka banyak. Adiknya. Mata dan pipi cekung. Sukra tertawa. Tapi itu tidak penting. bekerja di sebuah perusahaan cukup besar. menikah dengan seorang juragan beras. Tubuhnya hampir tak berbeda dengan “Kerja apa?” aku bertanya sembari menggaruk-garuk dahi untuk menyembunyikan perasaan gembiraku. “Namaku Sukra. Entah di bagian mana.” ujarnya seraya menyodorkan tangan. Dan hujan tiris. Uang mereka pun belum tentu uang halal. Ajakan laki laki itu terus Lagi pula istriku selama ini tak pernah mau tahu apa pekerjaanku. Malamnya. tak mungkin kulakukan pekerjaan itu. Kadang-kadang kasihan juga aku melihat wanita ini. dan dua sepeda motor.” “Sukro.

perut bumi kulakukan dengan setengah tenaga.” “Pekerjaan itu cuma merusak bangsa sendiri. Kalau tidak.” Sukra meneruskan kalimatnya. Esoknya aku bekerja tanpa gairah. Mereka mau ke Bali besok sore. teman sekerjaku. Mereka butuh teman wanita. Ada ekstasi. Semilir angin membelai dan menyejukkanku.” jawabku sinis. selamanya hidupmu susah. Itu kalau kau mau.” Sukra membanting rokoknya. kalau kau mau. Sebentar-sebentar aku juga minta istirahat. aku ada pekerjaan untukmu. Bukan jadi pengedar. Kra. Ia “Oya. Jadi maumu apa?” Sukra berkata kepadaku. Bisa kau carikan? Bayarannya besar.” banyak pilihan pekerjaan. Sukra!” aku membentak. Bisa juga dibakar massa. atau apa saja yang dibutuhkan konsumen. “Untuk apa kau bekerja keras kalau sebenarnya ada pekerjaan lain yang jauh asap rokoknya. Sukro. Sama saja. Sukra tiba-tiba muncul lagi ketika aku sedang duduk berteduh dengan seplastik air dingin di tanganku. Kro. Aku diam saja. “Kalau bukan kita yang melakukannya. sabu-sabu. jadi pengedar enggak mau. Sukra mengakak. Sudir. Lima turis Jepang. aku bisa memberimu pekerjaan lainnya.terjadi perkelahian. misalnya. “Kalau kau mau. “Jadi pengedar. Agak berbisik. Lalu .” kata Sukra sembari mengepulkan “Merampok itu bukan pekerjaan ringan. ia ikut memesan makanan. Hari itu. tugasku memasang pompa air. lebih ringan dengan penghasilan yang jauh lebih besar. ganja. “Diajak merampok enggak mau. “Kalau kau takut merampok. Tanpa basa-basi kepadaku.” “Jadi apa?” “Aku punya tamu. Ada Selamanya miskin. Apa salahnya justru kita yang mengambil kesempatan itu. nanti malam. Upahmu seratus ribu untuk setiap satu disebutnya nama sebuah hotel tempat di mana aku bisa menemuinya. Lalu aku terluka. Bukan merampok.” “Kesempatan merusak orang lain? Merusak bangsa sendiri?” “Sudahlah kalau kau memang tak tertarik. Sukra mengakak lagi. Sukra muncul lagi di hari ketiga ketika aku makan siang di sebuah warung Tegal. Aku diam saja. orang lain yang mengambil alih. perempuan. langsung duduk di sebelahku. Kau bisa cari di banyak tempat di Jakarta ini.” kata Sukra. Ini tanpa risiko. sampai jengkel karena setiap kali mengangkat pipa yang akan ditancapkan ke Kubilang badanku kurang enak. Lalu beranjak pergi dengan membawa derai tawanya. Atau bagaimana kalau aku tertangkap warga? Bisa babak belur.

mungkin kau benar.” Selepas makan. Kini entah apa lagi yang akan ia tembakkan dan cekokkan kepadaku di warung Tegal yang kecil dan pengap itu. cobalah berpikir sedikit lebih rasional. Jadi pengedar. Jadi. “Aku punya tawaran pekerjaan lain yang sangat menyenangkan. Tapi setidaknya kita bisa ngobrol-ngobrol. warung Tegal tempat kami barusan makan. Sebelum sempat kunyalakan. Hanya cukup untuk makan. Terpaksa aku menggeser sedikit. Kro! Mau ke mana kau? Baiklah Tentang apa saja. Menahanku dengan paksa. “Sudah kubilang setelah dipecat dari sebuah perusahaan. seorang perempuan setengah baya duduk di sebelah kiriku. “Tenang dulu.” sahutku ogah ogahan. Siapa tahu kau tertarik. Untuk hasil yang pasti tak sepadan. Tak enak juga mengepulkan asap rokok di tempat kecil itu dan di sana ada “Sudah lama kau bekerja seperti sekarang?” Sukra memulai lagi percakapan. memepet Sukra. Lagi pula. Itu beberapa jam saja kau sudah bisa mengantongi uang lima ratus ribu. kalau kau ambil pekerjaan yang kutawarkan ini. Dan muda. Sebagai pekerja kasar. Tapi. kau tak perlu bekerja setiap hari atau setiap malam. Aku sebenarnya ingin buru-buru berpisah lebih baik. Merampok.” kataku singkat membuat Sukra tertawa.” Dengan perasaan agak jengkel aku terpaksa duduk lagi. kau juga berotot.“Itu pekerjaan haram. Ia mengakak seperti biasanya seraya kalau kau tak mau menerima tawaranku. jadi kunyalakan. Mendengar celoteh Sukra. Setiap hari kau bekerja keras. Secara fisik kau juga mungkin akan mendapatkan kenikmatan selain juga menerima bayaran yang sangat sepadan. “Maaf. Ia baru akan membiarkan aku pergi setelah mendengar tawarannya. Sukra tertawa kecil. meraih tanganku. “Kau tolak Di bawah pohon mahoni yang daunnya meneduhkan dan menyejukkan itu kami kemudian duduk berdua di dua buah batu besar. Tapi sebaiknya kau dengarkan dulu. setiap pekan kau bisa membawa pulang lebih Buru-buru kutinggalkan Sukra di warung Tegal itu. Aku cuma terdiam. dalam banyak dibandingkan apa yang sudah kau peroleh selama ini. Sukro. Apalagi kalau sedikit kau rawat.” membutuhkan wanita-wanita penghibur. Nah. Tak begitu berat. Tapi ia bilang masih ada satu peluang bagiku untuk mengubah hidupku menjadi pun tak apa. Kau hanya bekerja bila tenagamu benar-benar . Berhadap-hadapan. “Haram? Ya. Aku mengambil sebatang rokok.” katanya meyakinkanku. Rokok tak seorang perempuan. Kurasa pekerjaan ini cocok untukmu. “Wajahmu cukup ganteng. Jadi makelar wanita. Setiap pekan aku pasti punya tamu orang asing.” Sukra memulai serangannya. Apalagi kalau pekerjaanmu bagus. tempat di mana aku bisa menjejalkan makanan ke perutku sampai kenyang hanya dengan uang lima ribuan. Sukra membawaku ke sebuah tempat di bawah pohon mahoni di seberang darinya. aku lupa. Tentang hidup enak dengan jalan pintas. Dan mereka pun mungkin pas-pasan.

Aku malaikat penolongmu. bisa juga dia mengajakmu ke luar negeri. Ia masih membujang. “Sukro!” Sukra berteriak. Mungkin dua kali seminggu. “Aku punya dua klien. sekali. Sukro. Boleh juga kedua-duanya sekaligus kalau kau mau dan mampu. Janda. Desember 2006 “Ada apa. Dan lari. Mas?” istriku mengguncang-guncang tubuhku. Kau bisa bekerja untuknya.” aku berkata ketus. atau yang pria saja. Mungkin juga seminggu seberapa banyak kau bekerja. Kau bahkan tetap menerima gaji andai klienku ini ke luar negeri dan kau tak bekerja dalam sebulan. Tanah Kusir.dibutuhkan. kau juga bisa bekerja untuknya. Ia menyukai sesama jenis. Kunyalakan lampu kamar. Nah.” Sebelum aku berkata-kata.” pernah kutawarkan kepadamu itu sudah kulakoni. Itu “Aku tidak tertarik. Sukra melanjutkan. Aku terbangun. Tidak setiap hari juga. Gajimu pun jadi dua kali lipat?? saja yang melakoninya?” “Kedua-duanya pekerjaan haram. “yang kedua adalah seorang pria. Tergantung kebutuhannya. Semua pekerjaan yang saja. Lalu kulihat diriku pada cermin di kamarku. Sekarang aku mau berbagi denganmu. Tetap belum dapat kutebak ke mana arah bicaranya. kau bisa tetap berkumpul bersama istrimu. Kaya. “Tunggu!” “Tidak! Tidak! Tidak! Kau setan! Bukan malaikat!” aku berteriak. “Kau tahu pekerjaan apa yang aku maksud?” Sukra seperti memaksa aku bicara setelah terus-menerus diam mendengarkan.” berkata begitu. Sukra tertawa. Aku mau menolongmu. Atau. Sebelum atau sesudah menunaikan tugasmu. kau bisa ambil klienku yang wanita saja. Usianya mungkin dua atau tiga tahun lebih tua darimu. Dan. Cantik. “Mengapa bukan kau “Kro. Yang pertama seorang wanita setengah baya.” Aku masih saja bungkam. Ia tak suka wanita. Di cermin itu kulihat wajah Sukro. Aku menggeleng. Tidak tergantung pada Kesepian. engah. Kuteguk air putih untuk menenangkan diri. Tanpa menoleh. Masih terengah- . Perigi. Tapi gajimu tetap tiap bulan. Sampai terengah engah. aku buru-buru meninggalkan Sukra.

karena aku buta. gugusan awan merah muda. Sungguh. kakinya jenjang. Sementara para pelacur lain berkeliaran sambil cekikikan genit setiap ada laki-laki muncul. aku langsung tahu. masa lalunya yang penuh kesedihan. Aku bahkan bisa menyentuhnya dengan ujung-ujung jemariku. Baiklah. ibunya gila karena guna-guna istri muda simpanan dengan gaun yang mengundang. Bilur jejak luka di tubuhnya. suaminya. dan Mawar. Aku bisa melihat segala yang tidak mampu kau pandang dengan sepasang matamu. Seperti malam-malam sebelumnya. ”Aku cuman perlu memberi sedikit kesenangan pada para petugas itu. suaminya yang minggat. 28 tahun lebih enam hari. Ia seperti dikutuk kecantikannya. Tapi kalian mengatakan aku dusta. Aku tahu bagaimana caranya mengatasi. Dia lahir saat hujan turun begitu lebat jam sembilan pagi. juga angin yang pucat kelabu. seperti menyentuh kelembutan sutra yang berkibaran. butiran hujan yang bening keemasan hingga segalanya jadi tampak megah bekilauan setiap kali ia ditumpahkan. Kadang tampak ganjil . daun-daunnya yang kemerahan. Aku melihatnya di pinggir jalan itu. dua anaknya yang sakit-sakitan di rumah ”Kenapa mesti takut? Berkali-kali aku kena garuk. Bisa kulihat hamparan rumput yang biru bagai beludru. Itulah sebabnya disembunyikannya. Juga hari paling nestapa dalam hidupnya yang bakal tiba. untuk kesekian kali. Namun berapa kali mesti kukatakan pada kalian. dua tahi lalat kecil di punggungnya.” Ia sebenarnya tak terlalu suka bicara. berdiri menunggu seseorang datang. olehku yang buta. betapa aku bisa melihat langit yang hijau lembut dan halus seperti permukaan agar-agar. Namanya Sebulan setelah melahirkannya. Aku memang tak punya mata. Kuceritakan penglihatanku. ia memilih menyendiri. Saat pertama kali melihatnya. Aku melihat garis pedih dan hitam. Aku bisa melihat semua yang hendak petak kontrakannya di pinggiran kota sana. tak ada yang tak terlihat aku menyukainya sejak pertama. Tapi ia hanya tertawa.” katanya. kuceritakan pada kalian apa yang kusaksikan. ia selalu muncul kau menyebutnya pelacur.Mawar di Tiang Gantungan Oleh: Agus Noer Kuceritakan apa yang kulihat. bayangbayang yang putih dan memanjang. Aku bisa melihat pepohonan yang ungu.

Melihatku yang tak punya mata.juga melihat sosoknya di jalanan merah remang ini. dan berkata. kamu bisa kembali mengambilnya. Tentu. disematkannya tangan malaikat itu mulai memberiku telinga mulut dan hidung. Ia membuangku. dan karenanya bisa menghasilkan banyak uang setiap mengemis. Seorang anak kedua kakinya menampung para pengemis. ”Baiklah. Kemudian ditiupkan ruhku pada rahim perempuan yang akan menjadi ibuku. dan tak pernah mau menatapku. Aku bahkan tak pernah tahu namanya. ”Mata ini akan membuatmu jelita. ”Dan kamu. Seperti tanah liat yang mulai terbentuk.” Di rumah itu pengkor. Seorang anak tampak begitu idiot dengan air liur kental bacin yang terus tinggal banyak anak-anak yang bagai barang rongsokan. Aku tahu. Digerogoti kusta. Siapa yang tahan memandang wajah dengan sepasang liang hitam menganga? Sengaja kubuka kelopak mataku. Kelak. Pernah ia cerita tentang pelacur tua yang matanya menjadi buta karena rajasinga. ”Aku tak buta. kau bisa menduga. kenapa buta?” Ia sayu menatapku. Seorang pemulung menemukanku di tempat pembuangan sampah.” dan kaki pada tubuhku. buat apa aku punya mata. ”Biarlah aku tak punya mata saja. mereka bergantian membisikkan nasib yang akan kujalani. orang-orang lebih suka cepat-cepat memberi uang recehan mereka dan bergegas pergi ketimbang berlamalama bersitatap denganku. kemudian menjualku pada seseorang yang langka paling berharga. Anak ini akan membuat orang tak sungkan-sungkan melemparkan receh mereka. bila aku bisa melihat tanpanya?” Lalu mereka menyimpan sepasang mata itu. Ada yang gagu. Tapi kau akan Lalu kukatakan pada malaikat itu. aku menjadi yang paling menyedihkan di antara mereka. ketika aku lahir dan menatap dunia.” Lalu aku pun bercerita padanya. dan ia bergidik ngeri. kau akan melihat banyak rahasia. Ia begitu membenciku. kami akan menaruh matamu ini di surga. perempuan itu langsung meraung ketika tahu anaknya tak punya mata. diberinya aku degup jantung.” Tentu. Perot. . Aku memang memilih tak punya mata. Jileng.” ”Bila kau tak punya mata. Ada yang bongkok. ”Anak ini akan membuat ibu siapa pun yang menatapnya. Kemudian ditunjukkan padaku menderita karenanya. Bahkan seorang bocah yang tampak manis sengaja diiris telinganya dan dibiarkan jadi borok agar terlihat menyedihkan. Tapi itu membuatku jadi bisa sering mengajaknya bercakap.” ”Kalau begitu. Aku senang sekali ketika sepasang sepasang mata yang indah. Ketika sepasang malaikat membawa ruhku turun dari langit. ia seperti menemukan barang berleleran.

Ia berteduh di kardus memandangi bayangan takdir paling getir.” Ia kembali tertawa. ”Lihatlah. aku rebahan di tumpukan kulihat beberapa pelacur bergegas menyingkir. ”Biarkan! Dia cuma perempuan buta itu!” . meliuk merunduk. Seorang pelacur cantik duduk bersama perempuan tua buta. kukira memang bukan pemandangan yang menyenangkan. Lalu kukatakan apa yang bakal menimpanya. Ia terus tertawa. ”Bukannya aku tak percaya. Aku tahu menyeringai tertawa. Tetapi para petugas sudah menabrak-nabrak dinding. Mungkin saat itu aku berteriak.” Aku bisa memahami perasaannya. ”Kau menyenangkan. kalau kau tak punya mata?” ”Aku melihat dengan mata yang tak kau punyai. Mobil patroli yang mendadak muncul membuat semuanya kocar-kacir. Aku seperti mendengar lecut petir. Sebagian pelacur telah pergi. Aku melihat aroma pekat kecoklatan napas mereka ketika memadamkan sepi dan membangkitkan birahi. bahkan aku bisa melihat tawamu yang ungu kebiru-biruan memuai di udara. terkurung etalase toko-toko sepanjang jalan ini. aku bisa menyentuhnya dengan tanganku. Arak yang mengepungnya. yang kusaksikan membuatnya terpesona. betapa setiap suara punya warna yang berbedabeda. kau pun takut menatapku. Kutegaskan padanya. Semuanya berlangsung begitu cepat. Aku bisa melihat seekor kelabang mendekam di balik batu itu. Kau mendengar suara. Mungkin tidak. tetapi tetap bersikeras tak mempercayainya. menggeliat bosan yang menunggu pelanggan dan sentuhan…” Dia tertawa. Di pojokan toko. kemudian yang lembek. Aku bahkan nyaris dicekiknya. Aku bisa melihat lelehan sisa arak di mulut petugas-petugas itu. Seorang memukulku yang mencoba menolong Mawar. Ia pun hendak lari. Aku bisa melihat kota ini seperti bola bekel raksasa Aku bisa melihat menara jam di tengah kota bergumam muram tengah malam. tapi petugas yang lain segera berteriak. dan angin yang buruk seperti kaleng rombeng yang bergerompyangan trotoar. Caramu bercerita membuatku tak tertalu kesepian. Lepas 3 dini hari. Aku bisa melihat maneken-maneken yang berkedip. Barangkali ia pun merasakan firasat itu. Aku tahu ia mulai nyaman di dekatku. aku bisa melihatnya. Pandanglah ujung gang yang kelabu itu. Ia suka setiap aku menceritakan yang kulihat. cahaya seperti lumer di sela jariku. Ia Aku ingat betul malam itu ia terlihat lebih sedih dan gelisah. Tapi dengan apa kau melihat.” katanya. Ia bisa kehilangan pelanggan. tapi tak percaya. Aku bisa melihat suara kucing yang mengeong di atap rumah ujung jalan itu. Dunia memang tak menuduhku berdusta. ketika beringas dari biasanya. Itulah sebabnya mereka menjadi lebih mereka barusan menenggak berbotol-botol arak sebelum sampai ke sini. rambutnya basah tertempias hujan. aku bisa melihatnya mengembang dan mengerut seperti gumpalan kabut.”Lihat. Mereka seperti pelacur-pelacur kesepian Sejak itu aku sering menemaninya. Hujan yang biru pekat membuat jalanan menggigil.

dan angin yang muram berkesiur pelan membuat Keesokan harinya kalian gempar. Mereka menyumpal Begitulah kejadiannya. Wajah Mawar pucat. burung gagak merah berkaokan. Ada yang lebih kudus untuk dirayakan. Rupanya ia mabok berat. Segala yang cabul mesti dimusnahkah. kemudian bergiliran memperkosanya. seakan ingin saat itu hari Natal. Melemparkannya ke mobil patroli. Ia hantam kepala seorang pemerkosanya dengan lonjoran besi yang berhasil terkapar… binatang terluka. Padahal bukan aku yang dusta. Begitu nyata dalam penglihatanku. Dan kalian makin merasa tenang karena kalian memang ingin membuatmu jengah karena takut dengannya suami-suami dan anak laki-laki kalian berzina. Tapi kalian tak ingin terus meneruh disesah kengerian karena malam itu aku pun menyaksikan langit kota yang dipenuhi nyanyian doa kalian. Maka kalian pun hanya diam ketika Mawar diarak ke alun-alun kota. bercampur erang yang terdengar bagai muncul dari panjang. Siapa yang membawanya? Baiklah. kalian pun bubar. Di pangkalan ojek. Orang-orang ramai membicarakan. Sampai sekarang pun kalian masih terus tidaklah mungkin mayat itu lenyap begitu saja. Bahkan petugas bisa mengembangkan bukti. Pelacur dan pembunuh. Ada bercak darah di pisau itu. Mereka selama ini kalian sahkan. Kuceritakan apa yang kusaksikan. Sampai malam. kuceritakan apa yang telah kusaksikan. Pelacur-pelacur mesti disingkirkan. kemudian digantung sebagai tontonan. Di warung dan kafe. Kalian mesti ke gereja. Kalian kebingungan ketika anak-anak kalian bertanya. tapi kalian tak pernah percaya pada saksi mata yang buta. Kusaksikan senja yang tubuh itu terayun di tiang gantungan. Isak tangis muram menyelubungi gudang itu. tapi mereka.Dan inilah yang kusaksikan malam itu: Mereka menyeret Mawar yang terus meronta. Lalu kusaksikan Mawar mendadak bangkit menyerang sambil menjerit diraihnya. Karena bagaimanapun seluruh kota. Setelah mayat itu digantung. memar. Di ruang tunggu rumah sakit. Di kantor. karena begitulah menurut undang-undang yang baru dicambuk dan dirajam. Kalian seketika merasa nyaman karena pembunuh misterius itu telah tertangkap. Hujan rinai . Dan selanjutnya seorang pelanggan yang tak membayarnya. melenyapkan maksiat dari kota. Mawar mereka bawa dan nasihati baik-baik ketika mendadak ia ternyata dialah psikopat yang selama ini mereka cari. Sebagian kalian tertunduk. motong delapan korbannya. ketika Mawar menjerit. Maka menghapus bayangan buruk. Membawanya pergi kemudian menyekapnya di gudang. Di tasnya ada beberapa butir pil dan pisau lipat—yang tengah patroli seperti biasa. Peristiwa pemerkosaan itu mereka tutup-tutupi dengan pembunuhan itu. Mayat itu lenyap dari tiang gantungan! Di pasar. Memelorotkan pakaiannya dengan paksa. Ia mengamuk dengan buas. Mereka bilang mereka sengaja ditaruh petugas untuk menjebaknya. Ia pembunuh yang telah memotongmenyeretnya ke tiang gantungan. Dihunjamkannya berkali-kali besi itu ke tubuh yang seekor cicak kaget menyelusup ke celah dinding. Sunyi yang paling hitam membenamkan penglihatanku yang penuh kepedihan. Aku bisa melihat semuanya dengan jelas. mulutnya. Di kasuk-kusuk. Itu alasan yang cukup untuk kalian tahu sebagaimana diberitakan koran-koran: dikatakan Mawar baru saja membunuh mengamuk. bibirnya bengkak kena pukul.

tapi kalian menuduhku pendusta. Kurasakan debu-debu beterbangan diembus menyayatkan keperihan bersama debu dan dingin yang mulai membaluri kota sementara angin yang makin jekut ketika kesepian makin membentangkan kelengangan yang turun. kemudian menurunkannya. Aku sendirian di alun-alun itu. Saat itulah. Kulihat tangan dan kakinya berdarah. meski sesekali Kudengar ia berseru. Kuceritakan ini pada kalian. malam mengelabu. Rambutnya ikal dan panjang. tampak limbung karena menahan luka di lambungnya. Kudengar kalian Seperti pengantin membopong mempelainya. dan mencium lembut kaki mayat yang tergantung itu. Matanya seperti bintang bening. Aku begitu terkesima menyaksikannya. Senyumnya seperti berjalan anggun. seperti seseorang yang berjalan melintasi permukaan air. Yogyakarta. 2008 . Ia tiba-tiba melihat seseorang muncul dari ketiadaan. Ia berjalan mendekati tiang gantungan. memandangi tubuh Mawar yang sisa gema lonceng bagai melekat di udara yang makin menggigilkanku dalam kesedihan. Saat itu aku melihat ribuan mawar mengapung di udara menyerbakkan harum yang megah. aku Kalian pasti akan langsung tahu siapa dia begitu melihat wajahnya yang bersih dan indah. anggur lembut yang seketika bisa menghapus dahaga. Kulihat ia bersimpuh di bawah tiang gantungan. ketika di gereja kalian memadahkan kidung agung Natal penuh sukacita. keemasan yang cemerlang. seperti memanggil nama pelacur itu. seperti ada cahaya mengitari kepalanya. Langit seakan tiba-tiba benderang penuh cahaya masih menyanyikan doa-doa dan pujian di gereja ketika laki-laki itu membawanya pergi.tergantung dalam bayangan cahaya murung.

sayup terdengar orang-orang sibuk menolong saya. teko. panci. rame- gelandangan.Bengawan Solo Oleh : Danarto Badan saya masih meriang ketika polisi itu datang. piring. saya berkelahi melawan Pak sadarkan diri. Tapi. karena peristiwa itu. menyanyi. esai. Kami menyambutnya dengan sukacita. tidak penting untuk dipersoalkan. dan di atas dipan dengan tikar plastik itulah saya bisa beristirahat dengan nyenyak. pengamen. Pak Darkin memergoki Nining ada di antara anak-anak itu dan mencengkeram tangannya dan menggelandangnya. Sayup- . Ada yang memijit. penghuni Rumah Kita jadi rame sekali. pemulung. juga cerpen. lelah. karena berbagai alasan. Ada yang mau memanggil dokter. aman dan nyaman. dan tidur. rame makan. Ada yang sibuk Darkin memperebutkan Nining dan saya kena swing kepalan kirinya. penghuni Rumah Kita dengan para pedagang di Pasar Kliwon. membaca. tindih-menindih. sejak tahun 1997. Akhirnya Rumah Kita resmi menjadi tempat mangkal anak-anak Kemudian satu-dua anak datang dan pergi. juga memasak. Nining merasa Di sepetak ruang yang merebut ruang milik pasar itulah. gelas. dan bercocok tanam. Pada suatu malam. saya hidup. Saya terjerembab tak mencarikan minuman panas. Saya yang boleh dikata tak pernah berkelahi begitu saja terkapar. Malam itu. mereka belajar apa saja. Polisi itu kembali ke pos ketika saya katakan bahwa kejadian semalam perkelahian biasa. beberapa guru dan mahasiswa datang secara sukarela mengajar anak-anak itu ditulisnya sendiri. dengan tersengal-sengal Nining menghambur ke perkumpulan Rumah Kita untuk bersembunyi. Serta-merta saya menubruk tubuh Pak Darkin dan kami bergumul. telah kehilangan Nining yang digelandang Pak Darkin secara paksa kembali ke rumahnya. Setiap minggu. Untung dinding rumahnya dari anyaman bambu sehingga cukup lentur. gadis kecil hitam manis tujuh tahun. Saya ditemani kompor minyak tanah. Nining sering ditempeleng ketika marah Pak Darkin kumat. anak baik-baik yang tidak betah di rumah lalu mengatur mereka dengan marah-marah. Anak-anak mengangkat tubuh saya ke atas dipan. Sehari-harinya saya berserakan di mana-mana. Saya sebagai tukang sapu bagian kebersihan pasar merasa dituakan Sebagai tukang sapu pasar. Ketika anak-anak dibawa ke kebun untuk belajar bercocok taman itulah. Nining. Semalam. kami. meski hanya sebagai ayah tirinya. Untung. pura-pura berbenah dengan perabotan dari potongan-potongan sisa-sisa kayu yang sendok garpu. apa pun yang terjadi. saya tak punya kebisaan apa-apa untuk mengajar anak-anak menulis. ember. memang milik Pak Darkin. Di dalam gerombolan kami itulah. Rupanya ada yang lapor polisi tentang perkelahian itu. dan sedih. pengemis. dan menyanyikan lagu yang itu. anak-anak diminta membaca puisi karangannya sendiri. Ibunya. yang selalu membela putri kandungnya itu. sering tubuhnya dilempar sampai membentur dinding.

Bumbu-bumbu dapur rasanya Di malam yang sunyi ketika anak-anak sudah tidur. bahagianya. dan peralatan mandi. ”Saya tidak tahu. bahkan digayuti utang di sejumlah warung. kami kami akan bersedih sepanjang masa. Saya heran. Saya sempat kebagian sarung dan kaus oblong. Tapi. Saya tidak tahu dari mana semua sumbangan itu. Anak- sisihkan sarung dan kaus oblong untuknya. Rupanya saya dibawa ke terbangun. tiba-tiba datang beberapa orang memanggul beberapa karung beras yang diperuntukkan Rumah Kita.” jawab saya. kaus oblong. Satu saat kami harus merebutnya kembali atau Malam yang tenteram tidak selamanya dapat dipertahankan. Ia meradang.” ”Sontoloyo!” Saya terbatuk-batuk. ”Kamu sembunyikan Nining di mana!” Saya tak bisa menjawab. kopi.” ”Bohong!” ”Kalau memang Nining hilang. Pedagang beras menyumbang beras. Orang-orang itu menaruhkan begitu saja karung-karung itu tanpa ada sepatah pun kata pengantar. Sesampai di jalan raya. beberapa ekor daging ayam segar. ”Mau kamu saya bikin modar!” ”Sungguh mati saya tak tahu di mana Nining. telor beberapa kilo. juga minyak goreng beberapa botol. Pedagang ikan menyumbang ikan. Anak-anak bertanya dari siapa semua sedekah itu. Nining tidak bersama kami. Setiap habis gajian. Tapi. Sekitar 15 anak setiap hari paling tidak makan dua kali. Sayang sekali. saya dinaikkan ke becak. tak seorang pun anak yang Darkin duduk di samping sambil terus nyerocos yang tak jelas. sayur menyumbang sayur. Ternyata tidak hanya beras. masak rame-rame dengan mengundang siapa saja yang mau makan bersama kami. Saya bangun tersentak tak bisa bernapas karena dicekik Pak Darkin yang bisa mulus menyelinap ke gerombolan kami. Pedagang tak pernah kehabisan. Aduh. Saya digelandang terus. tak ada sisa sama sekali. meriahnya.Gaji saya yang tak seberapa harus cukup cekatan dalam berkelit menghidupi anak-anak itu. Bernapas saja sangat sulit. Syukurlah ada anak yang bisa menyumbang dari pendapatannya mengamen atau memulung. teh. Aduh. Tak ketinggalan banyak sekali kain sarung. Pak . saya bisa membantu mencarinya. yang sangat membantu adalah sumbangan para pedagang pasar. Hari itu kami anak pengamen memeriahkan pesta hari itu dengan mementil gitar dan menyanyi. Saya diseretnya keluar. Pagi harinya semua sumbangan itu dibagi rata untuk anak-anak. Pak Darkin paham lalu mengendorkan cekikannya. gula.

beliau tidak berniat sedikit pun. membanting dan membalut dengan kain kafan. ”Saya menunggu Bapak. Kiai Kintir alias Kiai Hanyut adalah kiai—tak seorang pun tahu nama aslinya—yang punya kebiasaan menghanyutkan tubuhnya di Bengawan Solo. Saya sendiri pernah melihat beliau mencomot uang dari udara dan diberikannya kepada saya. semakin bertambah banyak orang-orang yang meledeknya dengan pamrih Kiai itu Bahkan yang melecehkannya dikiriminya segepok uang yang dicomotnya dari udara. Saya tak bisa bergerak. yang muncul hanya gelap gulita. semua kiriman beras dan kebutuhan dapur yang mendorong kami bisa berpesta itu. sedang untuk dirinya sendiri. Maka mengiriminya duit. Cerita lainnya adalah. tidak menerima santri. tidak mengajar. tidak mau diwawancara. membujur kaku bagai jenazah. Beliau pernah menyitir sabda Kanjeng Rasul Muhammad SAW menerus sepanjang hidup kalian. ”Saya Nining. ketat sekali balutannya. Tiba-tiba: ”Pak Totok. ”Dari mana kamu tahu saya di sini?” ”Kiai Kintir baru saja mengantar saya kemari. tidak mau diundang makan. pernah sejumlah terekam. Sejumlah warga Solo ada yang mengolok-oloknya sebagai Kiai Kenthir alias Kiai Sinting. Saya sadar.sebuah pekuburan yang gelap gulita.” suara seorang gadis membisik. gawat!” Maka kami berdua bergegas ke Jurug tempat Kiai Kintir biasa memulai kegiatannya menghanyutkan tubuhnya.” ”Sekarang beliau di mana?” ”Sedang bersiap-siap hanyut di Bengawan Solo. itu pertanda di Solo akan terjadi sesuatu. Dua orang yang sigap membekuk tubuh saya.” ”Wah. merupakan sumbangan Kiai Kintir. ”Kamu harus sumpah pocong!” geram Pak Darkin lalu pergi bersama kedua kawannya. Beliau tidak peduli atas cemoohan itu karena hidup beliau sehari-harinya sangat serius. wartawan elektronik diam-diam mengambil gambarnya. Ternyata wajah beliau tidak .” jawabnya sambil melepaskan belitan kain kafan dari tubuh saya. Tidak bergaul.” ”Mengapa kamu di sini?” sergah saya. Itulah jalan spiritualnya. Pokoknya serba tidak. Beliau selalu bisa membahagiakan orang. kalian akan menangis terus- Sepanjang hayat Kiai Kintir mengasingkan diri. bahwa seandainya kalian tahu apa yang terjadi di dunia ini. Jika beliau mulai menghanyutkan diri di Bengawan Solo.

rasanya orang-orang yang menyaksikan tontonan aneh ini bertambah banyak. bisa-bisa Hari belum panas benar ketika air Bengawan Solo mulai naik. hanyut dibawa arus. mengambang hanyut seperti mayat. becak ditinggalkan pemiliknya. Tangerang. Cuaca cerah dengan langit biru seperti undangan untuk keluar rumah menikmati keramaian kota. Semanggi. telentang tenang hanyut semakin menjauh dari pendangan kami. Saya dan Nining harus waspada supaya tidak kepergok Pak Darkin yang barangkali saja ikut nonton. ratusan orang dengan obor memenuhi kedua sisi bantaran Bengawan Solo Orang-orang terus bergerak mengikuti tubuh beliau yang dibalut pakaian. begitulah kepercayaan yang menyebar yang boleh jadi cuma dibikinbikin oleh orang-orang yang suka mengolok-olok. banjir sudah melahap seluruh kota Solo. 17 Maret 2008 Banjir di Pasar Kliwon. Solo Baru. Sejauh mata memandang. Tak terjadi gerimis. Ratusan orang-orang yang berada di seberang menyeberang Bengawan Solo merasakan air bengawan mulai mencium lutut. Tak ada seorang pun yang Kiai Kintir tenggelam. Joyontakan . Dari jauh. Semuanya diam. berucap. Kiai Kintir cukup meyakinkan sebagai perenang yang kebanyakan mampu diam telentang mengambang. andong.Sejak dini hari. Tak terdengar geledek. cuma air yang berkilau-kilau yang tampak dengan orag-orang yang kebingungan menyelamatkan diri. Saya tarik Nining untuk menghindar dari bantaran bersama puluhan orang yang kacau berlarian. Puluhan orang lainnya berlarian menyingkir dari bantaran sungai. Mobil. diam menyaksikan tubuh Kiai Kintir yang telentang mengambang di sungai. Satu-dua orang penonton motor. Sesampai di jalan raya. Tampak tubuh Kiai Kintir terseret ke tengah bengawan. Sampai fajar merekah. Jika satu orang pun yang berbicara memberi komentar.

Lembut mendayu-dayu. Banyak orang yang begitu takut pada malam. Tak pernah merasa tak tenang. Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia. hidung terasa melekat. Mata saya mulai merapat. di kebutaan seperti itu. saya tak perlu meraba-raba. Semakin gelap semakin ramai. Atau apakah masih perlu akan hari esok. Membuat mereka rela menukar ketidaktenangan itu dengan harga listrik walaupun harganya semakin tinggi menjulang. Saya tidak butuh kacamata matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala. Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata. Saya hanya ingin melihat apa yang ingin saya lihat. Pada sesuatu yang membuat mata lebih kencang. Apakah benar masih ada hari esok. Saling menatap seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling sinarnyalah saya mendapatkan siang yang kami habiskan di ranjang-ranjang pondok bertatapan. Dan melenguh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling mengeluarkan lenguhan. semakin semuanya Mungkin karena itulah saya begitu membutuhkan cinta. Hampir menyerupai pasar malam yang ingar bingar namun tanpa penerangan. Saya tidak perlu menutup semua tirai dan pintu serta menyumbat sela-sela terbuka yang membiarkan cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna. waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi di hari esok. semakin gelap. Namun. Sepanjang mata memandang. Saya hanya ingin mendengar apa yang ingin saya dengar. Tak pernah ada yang berdering tak henti-hentinya. kita seolah buta dan mau tak mau harus meraba-raba. Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika butalah mata saya. Seperti malam. seperti suara-suara ponsel Di saat-saat seperti itu. Sedemikian dekat sehingga aroma napas si empunya suara itu di akhirnya begitu terang terlihat. Membuat jantung mereka berdegup Tapi saya selalu merasa malam memberi ketenangan. namun dengan seketika gerhana mata bekerja. di atas pembaringan tanpa kekasih yang tak akan hadir. SuaraTak saya sadari lagi ketika tubuhnya pelan-pelan memisah dan menjauh. sang kekasih bak lentera benderang dalam kegulitaan pandangan mata saya. Tak terdengar suara ponsel yang mengganggu itu berubah menjadi suara lagu. Orang-orang menamakannya cinta buta.Gerhana Mata oleh: Jenar Mahesa Ayu Malam selalu memberi ketenangan. Sehingga saya tak pernah merasa ketakutan. Begitu dekat. Tubuh kelihatan amat samar. . Apa pun namanya saya tidak peduli. Pada gelap. Kenangan yang memang hanya layak mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-ngacungkan telunjuknya meminta waktu untuk diingat setiap kali malam bergulir. Saling menyentuh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bersentuhan. suara-suara begitu jelas terdengar. Dari penginapan. Dan hanya ialah yang saya ingin lihat. hanyalah kegelapan. Membuat mereka tak tenang. Seperti gelap. Cinta pun membutakan. Banyak kenangan yang begitu mudah dikais dalam ruang-ruang kegelapan.

Kala siang dengan durasi waktu yang amat sempit. melainkan asli. Sehingga saya pun tak dapat memastikan apakah jawaban saya kala pagi dan malam yang tak asli. Mungkin suara-suara yang kerap menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. Karena tidak mungkin sesuatu yang asli lahir dari yang tak asli. Gerakan tubuhnya yang sebentar menarik sebentar menghentak. Walaupun kami hanya bertemu kala siang. saya bilang. Kenapa harus buta? Kenapa tidak menggunakan asli? Karena cinta. Harus mengerti statusnya sebagai laki-laki beristri. Tak terkecuali malam. saya bilang. Kenapa saya bertemu hanya kala siang? Kenapa tidak pagi saya inginkan. lekukan itu selalu diikuti bayang-bayang. Dalam cinta saya bisa merasakan segala sesuatunya asli. Semakin dalam ke muara cinta tubuh ini tercebur. Tak terkecuali pagi. Hangat kulitnya yang tak berjarak. mungkin tak akan seperti ini saya tak berdaya. Di sanalah kami saling menjamu keinginan antara satu dengan yang satu. Andai saja saya bisa mendepak cinta dan menghadirkan logika. bukan kala pagi atau malam hari. Antara pasrah dan pasrah. atau malam? Karena buta. saya tidak pernah dapat memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan itu asli. SERATUS PERSEN ANTI BOCOR” yang kami robek sebelum bercinta pun asli. Kalimat di bungkus kondom “ASLI. Kadang saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang dari orang-orang. Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat terindah untuk sekarat. walaupun di kala pagi dan malam yang tak asli. Membuat saya Saya tahu. Semakin kabur. Saya terjebak dan berputar-putar pada dua pilihan yang sama. Bukan kala pagi atau malam hari yang terasa amat panjang dalam penantian dan rindu yang mengimpit. mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli. Kala segala garis maupun lekukan amat nyata terlihat dengan mata telanjang. Mata saya pun semakin buta. saya akan bisa mengulanginya lagi. Saya jatuh cinta. Dan dengan tubuh dan menggelepar atas tubuh yang menyentuh di atas seprai kusut lantas terhenti oleh lain ke dalam selimut saya akan beringsut. melihat matanya sedang menatap.suaranya yang sengaja dibuat lirih ketika menjawab panggilan telepon dan mengatakan Saya tetap merasakan tubuhnya melekat. Bertemu kala siang. Kenapa harus menciptakan buta yang tak Terus terang. Membuat saya kerap merasa terjepit. Segala garis maupun dan bersatu. Tapi dengan satu konsekuensi. Dan dalam bayang-bayang itulah kami betemu Banyak yang mempertanyakan. adalah asli. Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih penting Kami hanya bertemu kala siang. Saya masih kalau ia sedang tidak ingin diganggu dengan alasan penyakit lambungnya tengah kambuh. Juga tak akan ada siang di mana saya meradang . atau Jantung keras berdetak. Suara yang semakin lama semakin serak. Mungkin malam akan membuat saya takut. datang dari diri saya sendiri. Bunyi ranjang berderak. Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa dari saya. Kala api rindu sudah semalaman memanggang. selalu merasa tak pernah cukup dan ingin mengulanginya kembali. Namun lagi-lagi perasaan ini terasa asli. Dalam kebutaan saya bisa mengadakan apa pun yang Banyak yang tambah mempertanyakan. pun di dunia ini yang berarti kecuali saya. Dicengkeram gerhana. Antara lelah dan lelah.

Diganti dengan jawaban. di jari manis kanan saya telah melingkar Di atas pembaringan tanpa suami yang tetap tak akan hadir. Bukan kala pagi Enam tahun sudah waktu bergulir. Tak ada jawaban karena cinta membutakan saya. Mungkin… pagi dan malam. Tak ada pertanyaan mengapa hanya bertemu kala siang. Tak menunggu kala atau malam. karena cinta telah membutakan kami berdua. Dalam kegelapan malam kedua mata ini menumpahkan air.mempersatukan tubuh kami jadi menciut. Tak bertemu hanya kala siang. Jakarta. Mungkin… dering panggilan ponsel yang membuat satu-satunya fungsi pada tubuhnya yang Mungkin satu saat nanti ia akan mengalami gerhana mata seperti saya. Dan kami bisa tinggal dalam satu dunia yang sama. 2 Oktober 2006 11:06 AM cincin dengan namanya terukir. Sejak kemarin. .

saya sedang berpikir untuk mengadopsi anak Tantiana setelah dia melahirkan. saya sepertinya sudah dapat firasat. waktu ke toko buku. “Ma. Aku lebih suka menggugurkan anak Tantiana daripada menikahkannya!” Nana mengembuskan nafasnya. Tantiana mencoba bunuh diri dengan menyilet pergelangan nadinya. dia menyayangi Rizal dan berharap suatu kali dia bisa panjenengan bulan ini tidak padat sehingga panjenengan bisa menikahkan anak kita dengan Rizal!” berkata kepada adik almarhum suaminya. “Datanglah bersama Dara. Sebelum terjawab. yang seksi bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi delayed selama sejam. Seperti dua “Ma.” sampeyan kok belum datang. Aku bosan .” Dara yang sedang belajar menjadi psikiater mengangguk-anggukkan kepala. Nana melihat Dara. Setelah itu. kalian berdua kan dokter. Tantiana. “Mbak.” Nana mengatupkan bibirnya. Mungkin anak itu harus kita konsultasikan ke psikiater. Sesungguhnya. lebih baik kita naik kereta saja. tahun). Nana menunggu!” meneruskan omongannya. Jadi. memesan jus jeruk dan beberapa makanan kecil. Mereka mencari sebuah restoran. “Tante dan Om-mu. yang minggu kemarin merayakan ulang Mereka bertemu di bandara ini dan seorang perempuan mengumumkan dengan suaranya sahabat. anaknya. setiap keputusan hanya ada pada saya. saya membeli buku nama-nama calon bayi. sekarang ada di rumah sakit. mudah-mudahan volume pekerjaan Kedua perempuan ini bersitatap. sekalipun berprofesi dokter. Tantiana menangis terus.” Nana merasa terkunci.Delayed Ratna Indraswari Ibrahim Sebagai seorang perempuan. menikah! Mendahului anak sulungnya. Nana dan Dara keluar dari kerumunan orang yang mengamuk. Adiknya berkata. Aditya (25 tahun ke-30. Dara. Rizal kan cuma teman. adik bungsunya sambil menangis mengatakan. adik bungsunya menelepon HP-nya. positif hamil. “Kalau tahu begini. Padahal. “Dik. Alvin. dia baru berusia 17 tahun. Dua minggu yang lampau anak bungsunya. Nana menganggap mingguminggu ini buat dia dan keluarga besarnya sangat menyedihkan! Tiga hari yang lampau. jam berapa datangnya? Dari tadi. “Apakah kau sudah merundingkan hal itu dengan Rizal?” “Ma. Tantiana bisa balik sekolah dan meneruskan kehidupan remajanya. Sudah beberapa hari ini dia tidak mau makan.” Nana terenyak. kelas dua SMA dan hamilnya dengan teman sekelasnya. Beberapa hari yang lampau.

apa pun pendapat masyarakat.” Apalagi. Didit tidak meneruskan sekolahnya.” “Aku berharap cucu darimu dan anak Tantiana menjadi anak sulung dari anak-anakmu. sekarang mereka sama-sama punya waktu luang dan duduk semeja. saya perempuan yang berat jodoh. Itu berlanjut sampai kau menjadi mahasiswa. Dara tahu dia tidak bisa mengatakan ini. Nana seharusnya berkata begini.” Dara tidak menjawab dan Nana merasa harus mengatakan hal ini. banyak temanmu yang sudah bersitegang karena banyaknya tamu laki-laki yang datang ke rumah kita. kemudian mulai pacaran. tapi kemudian Nana berpikir. Sekalipun Nana merasa. Padahal. Kendati mereka masih tinggal serumah. dia lebih muda membayangkan kau akan menikah pada usia 25 tahun. Kami tidak merisaukan hal itu. kau tidak peduli pada mereka.” Dara. Sesungguhnya. Bisik-bisik di luar tentang saya memang buruk. saya waktu itu cuma berpura-pura tidak tahu kalau Mama dan keluarga besar kita “Dara. Padahal. sejak lulus SMA. Nana pada usianya ini tidur lebih cepat. Dokter Rizal juga lelaki yang baik. “Ma. Kedokteran juga serius. tetangga sebelah rumah (15 tahun) mengajaknya bersibadan ketika dia . kata kuncinya cuma satu. saya tidak bisa janjikan itu. kau lagi ingin serius dan sendiri saja. kau menikah. Dia menikah dan memiliki dua anak yang kau cintai. Apalagi. Kau kelihatannya cuma akrab dengan Didit (sahabat sejak SMA). Siapa pun tahu. Tapi. Rasanya mereka memang dua perempuan yang beda dalam menjalani kehidupan sosialnya. Padahal. aku kepingin jujur kepadamu.” Mereka saling melihat. aku dan ayahmu sudah sering kami heran juga. aku diliputi perasaan gelisah. berapa pun umur Dara. Yang terjadi di luar mimpi kami.Dara tersenyum. di cermin saya tahu tidak jelek-jelek amat. Pastinya mereka menganggap “Maaf. Tapi. Teman-temanmu di Fakultas Dara memutuskan lamunannya. Apakah yang dihadapannya ini cuma teman seprofesi yang kebetulan serumah? Dan. “Ma. Aku dan ayahmu pernah adikmu yang menikah pada usia itu!” dengan siapa yang kau suka. dia tetap mamanya! Atau apakah Dara menjadi miliknya hanya kala dia gadis kecil yang belum pandai memasang pita rambutnya dan merengek-rengek untuk meminta sesuatu. mereka sekurang-kurangnya pernah membicarakan lelaki atau jalan bareng. dia menyukaimu.” sedih sekali. kau kelihatannya hanya serius dengan pelajaranmu. beri aku dukungan untuk meyakinkan Tante agar anak Tantiana bisa saya adopsi. aku berharap di tahun baru menurut kalender Jawa kau menikah dua tahun darimu. sebetulnya mereka dua jagat yang berbeda dan tidak pernah bisa bertemu. Mereka juga menuduh saya punya kelainan psikologis. jarang bisa ngobrol. “Setelah Aditya menikah. Sekalipun. barangkali ini karunia yang tersembunyi (blessing in disguise). “Waktu kau beranjak remaja. Mulai sejak itu. sedangkan Dara mungkin sedang sibuk di rumah sakit atau sedang makan-makan bersama temannya. memegang tangan mamanya.

Karena. karyawan penerbangan itu pasti tidak ada di tempat. harus berempati saja.” Kedua perempuan itu saling berpegangan erat dan mencoba tersenyum. Sehingga Rizal berkata. Semuanya berpulang pada dirinya sendiri. Sesungguhnya untuk melakukan hal ini. untuk menguatkan satu dengan lainnya.” “Dik panggillah dokter. tapi betul-betul sebuah empirisme yang harus dia lakukan. dia tak berhasil. banyak hal yang dipikirkan. Sebagai seorang dokter. “Dara.baru saja berusia 13 tahun. saya kira saya tidak usah bercerita panjang karena tetangga sebelah rumah sudah merusaknya.” Dara merasa tak berdaya. Rizal. ini bukan sekadar erotis! Di antara dua kekasih. adik bungsunya menangis di telepon dan mengatakan begini. Jadi. . Dia tidak pernah ingin membicarakan ini dengan mama. mereka merasa menggampangkan jika mencari solusinya dengan kawin siri.” Kemudian ada dering telepon lagi. Dia merasa jijik! Namun. Sampai hari ini. ketika mencoba bercinta dengan Rizal. tapi tidak tahu saya harus mulai dari mana?” Kedua perempuan itu saling melihat. Sekalipun. tapi dua orang yang sangat dekat.” Dara berbicara lagi. Jadi tidak bisa ditunggu jam berapa kami sampai. Semuanya memang harus diselesaikan. “Saya kira kau bisa menyimpannya untuk dirimu sendiri. Lantas. seperti semua dokter. Padahal. aku sudah siap untuk semua yang terburuk. “Tantiana menangis terus dan menjerit-jerit. kau harusnya sudah tahu bahwa butuh kemauan keras darimu untuk sembuh. saya sebetulnya ingin bercerita banyak sekali. Rizal sudah membantunya dan barangkali Rizal sudah mulai jenuh. “Sebagai seorang dokter.” “Mama kan tahu. dia menikmati apa yang awalnya dipaksakan kepadanya. terapi ini tidak berkelanjutan.” “Ma. Dara tidak mau terapi ini Sesungguhnya. Pastinya. kalau sudah begini. “Ma. dibicarakan oleh mereka berdua. dia merasa tidak lebih seperti boneka seks. bukan bersimpati. Itu yang sering diucapkan Kali ini mama yang memotong pikirannya. sekalipun mamanya juga dokter. pesawatku delayed. mereka sepakat menerapi problem trauma dari Dara. Tapi. mata mereka seperti sebuah lorong yang gelap dan jauh sekali. dilakukan oleh mamanya adalah berempati. kok dari tadi diam saja? Tanyakan ke bagian informasi. pada persekian menit. Tapi setelah dewasa. akan sulit bagi mama untuk menerima berita ini karena dia bukan hanya seorang pasien saja di mata mama. Nana memegang tangan anak perempuannya. kalau kau mau cerita. memang yang harus Rizal ketika dia merasa tidak bisa melanjutkan terapi ini. kami pasti datang dan langsung ke rumah sakit. sekadar dokter dengan pasien. hubungan Rizal dan Dara bukan jatuh pada erotisme saja.

cepat tiup lilinnya dan potong kuenya!” Malang. Aku yakin kau bisa memahami itu. Percayalah. lahir anak Tantiana. tetapi terasa ada pengertian yang lebih baik di antara kedua perempuan itu. aku memaknainya lebih jauh. Tantiana sedikit tenang. aku tak akan pernah bertanya lagi. Aku cuma ingin cerita itu bukan sebenar-benarnya. Rizal tersenyum dan memeluknya. Karena untuk kesembuhan ini. “Aku akan belajar kapan aku jadi suamimu dan kapan aku jadi doktermu. Enam bulan setelah kelahiran anak Tantiana. “Apakah sudah siap memulai lagi dengan pernikahan?” “Zal. Bantulah aku!” Rizal dan Dara bersitatap. kau harus sekolah lagi dan pulang ke Malang. tiga darimu dan dua dari Aditya.” Lantas. aku kepingin anakku ini punya dua adik. apakah kau sudah melakukan terapinya dan belum berhasil?” lama.“Sayang. Di luar dugaan. ketika Nana berkata. Nana memeluk Dara. jadi di mataku kau tetap seorang Kali ini.” Tantiana menangis. ketika anak Tantiana berusia satu tahun. Yaitu garwo (sigare nyawa). jadi kita bisa membagi. Setelah anakmu lahir. Dara yang menyandarkan diri di bahu mamanya. Jadi. Rizal. 10 Juni 2008 . “Dik. “Aku akan menjadi nenek dari lima cucu. yang ada cuma luka dan dan pasien dan kapan menjadi suami-istri. Beberapa bulan kemudian. dan melebar di ruangan ini.” kesakitan. bersibadan itu artinya dua jiwa lebur jadi satu. senyum ada di antara Dara. butuh proses yang panjang. kapan menjadi dokter Tiba-tiba ada perasaan lelah ketika Dara selesai membicarakan itu dengan Rizal. tidak bisa diperbaiki. Lantas Rizal menggandeng Dara ke ruangan lain. Nana. belahan hati suami dan istri. dihadiri Rizal dan mamanya. Sedangkan anakmu. Ketika memasuki ruangan ini. “Kamu boleh ikut Budhe Nana atau Mbak Dara. biarlah jadi anaknya Mbak Dara. Teman-teman anaknya berteriak-teriak. “Zal. aku sudah mencurigai hal itu sejak gadis… Nduk. Dara merayakan bersama anak temansiapa ya yang mau jadi bapaknya?” temannya. Kami tidak menganggap itu dosa yang Dan. Kalau tidak. Tidak ada air mata. Bahasa simbol itu artinya. dia pulang ke Malang untuk meneruskan sekolah. saya kira ada kalimat Jawa tentang suami-istri.

Cat tak lagi kusam. setiap hari jalan itu dilewati Arum dan Nining. Hujan malas berkunjung. kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. bila langit sedang bahagia. Itu bisa terjadi meski di siang terik. Sudah seminggu tak mampu bangun. Orang-orang menyebutnya siit . Saat itu seisi rumah ketakutan. Seng yang dulu Memang masih ada sedikit daun-daun yang lingkari pagar. Namun ia tetap berusaha tersenyum. Tapi semua orang tahu. Bahkan saat Arum dan Nining tak lagi melintas di diganti tembok. Dulu. Air yang dicurahkan langit sudah pasti akan susuri jembatan yang sama. meski warnanya juga hijau. diganti genting Jatiwangi. Arum paling senang saat melintas di atas jembatan. Tiap pagi mereka berangkat sekolah berjalan kaki. Sangat pagi. Tak ada lagi berita dari Nining. lebih kurus dibanding saat ia tinggalkan rumah. burung berkicau di pucuk daun kersen. “caah caah caah!” September. meski sama-sama biru. Tak ada yang berubah dari kota kecil itu. dua setengah kilometer dari kunang-kunang masih bermain di sela langkah. langit kadang biru. Bayang hitam di bawah mata menggurat keletihan di wajah. Lantai semen sudah ditambal keramik. Pagar tak lagi pohon teh-tehan. sungai itu. Trotoar menjepit kiri kanan jalan. orang-orang di atas jembatan akan berteriak. semua berisik dan bocor kala hujan. Pada bulan yang sama. Kalau sudah begitu orangorang di tepi sungai. tiap tahun. Sebab air tanpa beri tanda bergulung-gulung dari arah hulu. Waktu membuka pintu. Kepergian Nining memang mengubah banyak hal. menggerus apa saja. Dahan dan batangnya dari besi tempa. Itu pun bila awan sudah terlalu letih menggendong air. Satu dua Seperti air sungai yang membelah kota kecil itu. Rumah tak lagi setengah bilik. Rumah kedua gadis itu yang berubah. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rerimbun hijau bagai pinggang dan tepatnya. berkerlip menyilaukan.Siit Uncuwing Rieke Diah Pitaloka Setiap pagi. jalan raya Tatkala cahaya pagi menyentuh bumi. sungai-sungai keperakan. Untuk balikkan badan pun harus dibantu ambu. Embun basahi sepatu sekolah. Warnanya lebih tua dari langit. Gairah sungai hanya tersirat dari kilau berlian di riak air di antara bebatuan. Saat matahari menggeliat. kadang kelabu. raut pinggul gadis-gadis menari. sungai itu juga bisa mendidih. Paling seminggu sekali. akarnya direnggut lalu diganti pondasi beton. halaman depan. Di bawah. Tapi lagi-lagi terbuat dari besi Masih terpatri dalam ingatan Arum peristiwa yang menuntun Nining tinggalkan rumah. Abah tergolek lemah di dipan ruang tengah. apalagi waktu seekor uncuwing. Sungai itu selalu mengalun perlahan. tempa. rumah. Bertahun-tahun selalu begitu. air mengalir tenang meski dicumbu fajar. pegunungan ikut merona. Beberapa kali ada penduduk hanyut. Surat terakhir dikirim empat bulan lalu. kabut berebut kecup pipi mereka. Tak ada yang beda. Ada fotonya. Ada resah menggayut di tiap hati penghuninya. Ada jembatan di atasnya.

Berputar-putar mengelilingi atap rumah. Sakit. uang. tapi karena sakit. Tak akan berhenti sampai kematian menyusup ke setiap liang angin. Waktu melihat Ambu dengan sapu lidinya.” Ambu di pintu dapur usap sebulir bening yang meluncur dari sudut mata. Tak diobati karena mereka tak punya Sekadar sukarela pun mereka tak sanggup. “Belum waktunya anakku kau jemput. sieuh. Lalu sorenya siit uncuwing kembali. Lepas magrib sambil membawa abah. Sieuh. panik. pergi sana. Malah tampak riang. siit uncuwing menikam rumpun bambu di ujung jalan. Ia hanya katakan pada Arum. Ia terbang menuju lembayung. “Arum. terutama Nining. Maka perempuan tua itu sibuk kibas-kibaskan sapu lidi. ka sabrang ka Palembang! Saguru saelmu teu meunang ganggu!” Tetap saja burung itu tak mau pergi. bahkan hingga tahlil seribu hari. Entah kebetulan atau bukan. Dibisikkan saat para pelayat satu-satu tinggalkan rumah. Pendapat itu tentu tak disampaikan Nining pada Enin dan Ambu. Tak menapak di mana pun. tapi tak diobati. sieuh. Naik sana ke pohon kersen!” perintah Ambu. tiga hari kemudian siit uncuwing datang lagi. walau sekadar untuk membayar Mantri Abas. Tapi tangis ledakkan rumah. Komar. Enin peluk buah hatinya dengan haru. cepat sehat. “Sieuh.Suara siit uncuwing terus menggigit hati siapa saja yang mendengar. Menyusup ke setiap inci pori-pori kusen jendela dan pintu. Mantri yang menerima bayaran sukarela. “Komar. Mula-mula hinggap di pohon arumanis tetangga sebelah. esoknya Abah mulai bisa duduk. Sebetulnya Arum dan Nining tak sependapat dengan dua perempuan itu. Tapi. tetap salahkan siit uncuwing atas duka yang menancap di hati mereka. begitu kepercayaan Enin. Menjerit memanggil kematian. Siit uncuwing pembawa kabar duka. Ada seurai doa di sudut bibir Ambu dalam lengkung yang mendamaikan Arum dan Nining. Nining! Bantu Enin. Baginya penyebab kematian Abah bukan siit uncuwing. Sebab siit uncuwing pergi Enin dan Ambu berhari-hari. pergi!” Kali ini Enin melempari dengan kerikil. . halig siah. Lompat dari satu dahan ke dahan lain. burung itu menjauh dengan senyap. Siit uncuwing kepakkan sayap sedetik sebelum Nining menyambarnya.

“Teteh sakit hati, Rum. Kita musti bisa berubah.” Kata-katanya pelan sentuh telinga, namun tegas sebagai janji. Pasti. Arum percaya Nining. Tapi Enin tidak sepakat, terlebih Ambu. “Jangan pergi, anaking. Apa kamu lupa banyak yang tak bisa pulang? Kalaupun pulang tanpa daksa. Malah ada yang sudah tak bernyawa.”

“Geulis,” Enin menambahkan sambil mengunyah sirih dan pinang, “biar susah lebih enak di kampung sorangan. Geulis, incu enin, cari kerja di sini saja. Jadi buruh tani, atau melamar ke pabrik dodol di Ciledug, ke pabrik tenun dekat kerkhoff, atau ke pabrik coklat jalan Cimanuk, atau jadi pelayan toko di Pengkolan.”

Nining tahu, kerja dengan ijazah SMP dan rapor sampai kelas satu SMA tak akan berarti. Gaji yang diterima hanya akan cukup untuk makan sebulan. Itu juga belum tentu cukup.

Sepuluh hari Nining baru bisa yakinkan Enin dan Ambu. Bahkan Ambu rela menjual sawah ongkos ke Bandung. peninggalan Abah untuk membayar penyalur dan surat-surat keberangkatan, sekaligus

Lima bulan pertama Nining tak terima gaji. Katanya harus diserahkan pada agen sebagai ganti biaya perjalanan. Tengah tahun baru bisa kirim uang. Tahun kedua Nining pulang untuk renovasi rumah dan membeli tiga petak sawah. Pengganti sawah Abah, katanya. Tiga rumah.

bulan kemudian berangkat lagi setelah membantu Ambu buka warung sembako di samping

“Teteh jangan pergi lagi, teh. Apa lagi yang teteh cari?” “Teteh pengin kamu jadi dokteranda, Rum. Biar teteh yang cari duit, pokoknya kamu belajar yang rajin.”

“Mendingan Arum cuma tamat SMA daripada teteh pergi lagi.” Entah mengapa kali ini Arum yang tak setuju Nining pergi. Tapi lagi-lagi tak ada yang bisa menahan tekad itu.

Selama setahun, sebulan sekali Nining masih rajin beri kabar. Begitu pula dengan kiriman tak ada kabar berita darinya. Awal Mei.

uang. Tapi tahun berikutnya bukan hanya uang yang tak dikirim. Yang lebih mencemaskan

Ambu.

Sepucuk surat tiba di beranda. Arum membaca keras-keras supaya bisa didengar Enin dan

“Arum, bilang sama Enin dan Ambu, Insya Allah September teteh pulang. Teteh maunya bisa Doakan teteh supaya bisa pulang.” munggah sama-sama. Teteh mau lebaran di rumah. Teteh kangen sama kalian bertiga.

sampai Arum hafal isinya.

Itu kabar terakhir yang mereka terima. Surat terakhir. Lecek. Sebab dibaca berulang-ulang,

September berjingkat tinggalkan kalender. Oktober siap menyambut. Tapi tetap hambar. Huruf seakan mati tak tergores dalam secuil kertas sekalipun. Arum sudah mencoba akan kami beri tahu, kalau sudah tahu keberadaannya. Kalau sudah tahu!” hubungi agen yang berangkatkan Nining. Petugas yang menemui hanya menjawab, “Nanti

Hanya itu yang bisa jadi pengharapan. Surat Arum untuk Nining tak pernah berbalas. Tak menggerus perasaan. Apalagi sejak dua hari terakhir Ramadhan siit uncuwing kembali menjejak pucuk kersen di halaman depan.

ada alamat lain yang bisa ditelusuri. Khawatir menusuk kepala. Cemas menjadi bola besar,

“Awas, indit, ka ditu, ka ditu, sieuh, sieuh!” Ambu tergopoh, Enin menyusul di belakangnya. “Ka sabrang ka Palembang, sieuh, sieuh!” teriak keduanya bersahutan. “Ka sabrang ka Palembang, saguru saelmu teu meunang ganggu!” Kali ini Arum langsung memanjat pohon kersen, tanpa tunggu perintah Ambu. Ketika siit

uncuwing terbang, Arum setengah melompat turun dari pohon. Tak sekejap mata ia biarkan pandangan lepas dari burung itu. Arum mengejarnya, berlari. Tanpa sadar Arum sudah jauh itu. Terus mengejar, bahkan ketika burung itu terbang di atas jalan setapak di pinggir jembatan. Menuju sungai. tinggalkan rumah. Berlari menuju jembatan di atas sungai, sungai yang membelah kota kecil

Ya, siit uncuwing menuju sungai. Burung itu hinggap di batu besar di tengah sungai. Arum mengendap. Tinggal sejengkal dari siit uncuwing ketika orang-orang di atas jembatan berteriak, “caah!” Caah!Caah!”

Arum lompat berusaha menangkap siit uncuwing. Namun badannya limbung. Semua buram. kekuatan, “Arum, ka dieu, ulurkan tanganmu.”

Sesak menghimpit dada. Arum hampir tak mampu bertahan saat sayup seiris suara memberi

Arum terkejut. Arum tahu pasti, itu suara Nining. Seolah mendapat tenaga, Arum berenang ke arah bayangan di tepi sungai. “Hayu pulang, geulis.” Sekali lagi Arum mendengar suara Nining. Arum berhasil genggam tangan Nining, dan semua jadi gelap.

“Teteh, teteh!” teriak Arum saat pertama kali membuka mata.

Tapi Nining tak ada, padahal Arum yakin Nining yang menolongnya. Nining yang memapah mengantar pulang. Arum terobos setiap ruang di rumah itu. Tetap saja, Nining tak ada. Hanya ada Anin dan Ambu yang sedang menangis. Arum lari ke luar. Di langit ada bulan sepotong. Di langit ada tiga belas siit uncuwing tanpa suara membawa bingkisan dari negeri berpasir: sekotak peti mati. Di dalamnya ada perempuan dengan bayang hitam di bawah mata dan lebam di sekujur tubuh. Tetap berusaha tersenyum. Di surau-surau takbir pertama berkumandang… Depok, 160907

Rieke Diah Pitaloka ( 21 Oktober 2007)

karena seperti memberi tanda kalau Saras itu tentunya simpati. Seperti ini juga keadaannya. Ia menggigit bibir. Ibu terdiam. ruang dan waktu yang seperti ini. kok semuanya mengingatkan kembali kepada Bapak. saya tidak bisa’. Ibu.’ katanya!” Berharap dan menunggu. Kenyataannya selama sepuluh tahun Saras tidak pernah bisa pacaran ”Tapi inilah soal yang pernah kubicarakan sama Si Saras. seperti Saras itu punya dua ibu. ’Kuhargai cintamu yang besar kepada Satria. Berharap dan menunggu.” katanya. melihat ke kursi tempat Bapak biasanya duduk. ’Saya selalu teringat Satria. Saras. dan lain-lain masih seperti dulu—tetapi waktu telah berlalu sepuluh tahun. Waktu itu sudah setahun Satria tidak kembali. meja itu. ibunya Saras yang dulu jadi pacar Satria. Ibu bergumam.’ kataku. rasanya semakin peduli dia kepada rumah ini. seperti tahu betul rasa kehilanganku setelah ditinggal Bapak…” Ibu sudah sampai ke kursi tempatnya duduk tadi. Saras. Tinggal Ibu kini di ruang keluarga itu. ’Orang hilang diculik kok tidak mendapat sama siapapun. deringnya sudah berhenti.’ kata Bapak. nanti tidak ada tempat untuk hati lagi…’ Ah. . karena kalau terlalu banyak alasan dan perhitungan dalam percintaan. membantu aku membereskan kamar Satria. ’tapi cinta adalah soal kata hati. Dulu almarhum tidak bisa terus menerus menunggu Satria. telepon. wajah. buku. Bapak suka sinis sama Ibu Saleha. jendela. Ibu terkulai di kursi seperti orang mati. Rambut. Telepon berdering. Ibu Saleha. bahkan aku masih ingat juga pakai daster ini ketika kami berbicara tentang hilangnya Satria. dan duduk lagi di situ. dan kami masih seperti orang menunggu. lukisan itu. Pintu. ’Satria sudah mati. masih terkulai seperti sepuluh tahun yang lalu. Sekarang apapun yang terjadi dengan Saras dibicarakannya sama aku. ”Hmmh. Ternyata yang berbunyi telepon genggam. dan busananya bagai menunjuk keberadaan waktu. sehingga kamu selalu terlibat urusan orang-orang hilang ini. kalau memang tidak pernah kulihat sesuatu yang membuktikan betapa Satria tidak akan kembali… Apa punya… salahnya punya harapan… Hidup begitu singkat. Tapi Bapak memaksa aku untuk percaya bahwa Satria sudah pergi. Aku waktu itu masih percaya Satria suatu hari akan kembali… Kenapa harus tidak percaya. Harapan bahwa pada suatu hari Satria pasti pulang kembali… Berharap dan menunggu. Lantas melihat ke sekeliling. ruangan ini. apa jadinya kalau harapan saja kita tidak ”Jadi dalam setahun itu harapanlah yang membuatku bertahan hidup. Diangkatnya ke telinga. Semenjak Bapak meninggal setahun yang lalu. perabotan. televisi. ”Bapak… Kursi itu.Ibu yang Anaknya Diculik Itu Seno Gumira Ajidarma cangkir teh. berusaha sangat amat keras untuk menahan tangis. Ibu tersentak bangun dan langsung menyambar telepon. memang rasanya ia seperti anakku juga. Ketika disambarnya pula.

hanya untuk menyambungnya dengan suara bergetar. kenangan. tapi tubuh serasa melayang-layang…” Lantas nada ucapannya berubah sama sekali. ”Kadang-kadang aku bermimpi tentang kalian berdua. ”Sudah sepuluh tahun. Bapak. ”Bapak sendiri yang bilang. bahwa kemungkinan besar Satria mestinya sudah mati. Apa Bapak dan Satria tertawa-tawa di atas sana melihat aku membereskan kamar Satria. orang-orang yang menculiknya itu menggelar foto- foto saudara-saudaranya.” Perempuan dengan rambut kelabu itu tampak kuat kembali. ”Apa Bapak ketemu sama Satria di sana? Enak bener Bapak ya? Meninggalkan aku sunyi sendiri di sini. Foto orangtuanya. tutup matanya dibuka. Satria sudah mati. ”Pak. menata gelas dan piring. Ini apa maksudnya Pak? Supaya teman Satria itu tidak boleh boleh kita terima begitu saja?” bercerita tentang perbuatan mereka? Teror kelas kambing maksudnya? Apakah ini semua Saat Ibu menghela nafas. tapi apa salahnya aku menganggap kalian berdua ada di dalam berpikiran seperti itu?” tiba. Saudara.” Dipandangnya kursi Bapak lagi. ’Kami tahu siapa saja keluarga ”Huh! Saudara! Mana mungkin manusia bersaudara dengan monyet-monyet! Apalagi maksudnya kalau bukan mengancam kan? Bapak bilang teman Satria ini juga bercerita. Nanti dulu. Jalinan yang sudah lepas dan ujungnya menceruat di sana-sini. Pak. Jiwa terasa memberat. ruangan itu bagaikan mendadak sunyi. Memang aku tahu Bapak dan Satria tidak ada hatiku? Apakah kalian berdua selalu menertawakan aku dan menganggapku konyol kalau Sejenak Ibu terdiam. Lantas orang-orang itu berkata. sekarang untuk kalian berdua. Di hadapannya. Menerima? Menerima? Baik. dan akhirnya dibunuh. kenyataan sehari-hari tidak bisa kupisahkan lagi. Aku terima Satria sudah mati sekarang. seperti Ibu berada di dunia yang lain. tetapi kalau terbangun. dengan begitu nyata seolah-olah kalian tidak pernah . ada teman Satria yang dibebaskan bercerita: Sebelum dilepas foto di atas meja. Bapak sudah mati.” Ibu memandang ke arah kursi Bapak. Sebuah kursi kayu dengan bantalan jalinan rotan. padahal aku selalu makan sendirian saja.’ Tapi aku tidak terima kalau Satria itu boleh diculik.”Tidak! Aku tidak mau percaya itu! Meski dalam hatiku sudah terlalu sering kuingkari diriku.’ katamu. juga terkenang-kenang kalian berdua. Munir juga sudah mati. Itulah foto-foto keluarga teman Satria yang diculik. setiap waktu makan lagi di muka bumi ini. aku masih mati. kenapa kamu hancurkan semua harapanku? ’Kita harus menerima kenyataan. Impian. suatu hari salah seorang yang waktu itu mengancam terlihat sedang memandangi dirinya waktu dia baru naik bis kota. dianiaya.

jika Satria pada suatu hari memang hilang begitu saja? diajaknya bicara. ”Tapi…. o palung-palung luka setiap jiwa. apakah Bapak melihat Satria di sana Pak? Apakah Bapak ketemu Satria? Apa cerita dia kepada Bapak? Apakah sekarang Bapak sudah tahu semuanya? Apakah Bapak sekarang sudah mendapat jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan kita?” Namun Ibu segera menoleh ke arah lain. seperti palung terpanjang dan membara. berbisik tertahan. ya waktu yang seperti takpernah dan takperlu berlalu itu. Bapak. Seperti masih ada yang disebutnya Bapak di kursi itu. Sekarang aku bertanya jawab sendiri…. meski semakin disadarinya betapa ia sungguh-sungguh sendiri. menutupi wajahnya. ”Ah! Bapak! Dia sudah tahu semuanya! Tapi aku? Aku tentunya juga harus mati lebih dulu bertanya-tanya. menyatu dengan jiwa terluka. Memang akalku tidak bisa berpikir lain sekarang. palung tanpa dasar yang dalam kekelamannya Ibu mendadak berhenti bicara. mengembara dalam kekelaman semesta. Lantas bertanya-tanya lagi. tetapi aku tidak bisa mendapatkan keyakinan yang sama jika teringat kepada Satria. tempat seolah-olah ada seseorang ”Pak.” Nada bicaranya menjadi dingin. jauh. ”Ah! Ya ampun! Jauhkan aku dari dendam!” Namun ia segera melepaskan tangannya. ke langit. bagaikan jiwa dan tubuh telah terpisah. berkobar menantikan saat membakar dunia…” terdalam. jika kemarahanku belum juga hilang atas perilaku kurangajar semacam itu. tanpa membawa-bawa perasaannya? Bagaimana Ya. bahwa Satria dan bahagia hanya dengan akalnya. begitu saja… Bahkan orang mati saja masih bisa kita lihat jenazahnya!” tentu sudah tidak ada. membara dan menyala-nyala. jauh. ”Bapak… aku yakin dia ada di sana. karena kusaksikan bagaimana dia dengan tenang meninggalkan dunia yang fana. memegang kepalanya. Hanya bertanya jawab dengan Bapak. luka sayatan yang panjang dan dalam. meski setiap kali tersadar tubuh yang melayang terjerembab. bukankah ratusan ribu orang juga hilang seketika?” .”…. ”Menculik anak orang dan membunuhnya. bagaimana mungkin aku merasa perlu melupakan semuanya. dan aku masih tidak tahu apa-apa. Tetapi Ibu mana yang kehilangan anak tanpa kejelasan bisa tenang perasaanku bisa membuatku yakin. Dulu aku bisa kalau ingin tahu semuanya! Tapi aku masih hidup. Apakah setiap orang harus kehilangan anggota keluarganya sendiri lebih dulu supaya bisa sama marahnya seperti aku?” Hanya Ibu sendiri di ruangan itu. Mencoba menjawab sendiri. tetapi Ibu bagaikan merasa banyak orang menontonnya. ”Tapi apa iya aku sendiri? Apa iya aku masih harus merasa sendiri jika begitu banyak orang yang juga kehilangan? Waktu itu.

di kursi itu. sebelum akhirnya mendadak keluar semua ingatannya pada suatu ”Sudah sepuluh tahun. menonton itu. membaca koran. Lupa ini-itu. orang. Ia selalu bertanya. Bahkan tokek untuk sementara tidak berani berbunyi.’ kataku. ”Bapak. Biasanya Bapak ya cuma cengengesan. malam entah karena apa. sampai setahun lamanya. Duduk di . tetapi malam bagaikan lebih malam dari malam.Terdengar dentang jam tua. tapi tidak memanggilnya.” lewat. tukang bakmi tek-tek yang dulu-dulu juga. Tidak pernah ketemu lagi memang. atau kadang-kadang keluar Wajah Ibu kini tampak sendu sekali. Ada saja yang dia omongin itu. Belakangan sebelum meninggal Bapak juga mulai pikun. satunya lagi Si Yanti jadi kurator galeri lukisan. Susah rasanya mengingat-ingat Ibu tersenyum geli sendiri. Muncul dong sekali-sekali Bapak. Yang sulung Si Bowo jadi pialang saham. mayat-mayatnya mengambang di Kali Madiun… menyusul Bapak. menyeruput teh panas. kenapa kamu tidak pernah muncul dalam mimpiku untuk bercerita tentang Satria? Pasti Satria menceritakan semua hal yang tidak diketahui selama ini. luar negeri. pakai kaos oblong dan sarung. Tapi selalu ada. kadang aku seperti melihatnya di sana. Dasar Bapak. Ibu masih berbicara sendiri. ”Bapak. Di luar rumah. dan hanya didengarnya sendiri. menyusul teman-temannya pemain ludruk yang semuanya terbantai dan ”Sebetulnya memang tidak pernah Bapak itu membicarakan Satria. sembunyi-sembunyi pula!’ hidup sekarang?’. ’Ya enggaklah kalau ngibul. ”Kenapa kamu tidak sekali-sekali muncul Bapak. banyak yang sudah berubah. Kacamata terpasang saja dicarinya ke mana-mana…” ”Aku sendiri rasanya juga sudah mulai pelupa sekarang. Dua-duanya tidak mau pulang lagi dari apapun. tukang bakmi langganan Satria. malah seperti lupa. ’Seperti apa Satria kalau masih amarahnya: ’Para penculik itu pengecut semuanya! Tidak punya nyali berterus terang! Bisanya membunuh orang sipil tidak bersenjata. ”Bagiku Satria masih selalu ada. memberi komentar tentang situasi negeri. ’apa semua orang harus ikut aliran kebatinan seperti Bapak?’. atau ’Sedang apa ya Satria di sana?’. banyak juga yang tidak pernah berubah. Tapi Si Mbok juga sudah meninggal. ”Tapi ia tidak pernah lupa tentang Satria. Tidak jelas jam berapa. makan pisang goreng yang televisi. datang menengok cuma hari Lebaran. kata Bapak dua-duanya pekerjaan ngibulin Memang lain sekali Satria dengan kakak-kakaknya. bagaimana dia diperlakukan. Ibu tampak mengenali. Seperti masih selalu duduk di situ Bapak disediakan Si Mbok. dan apa sebenarnya yang telah terjadi. lantas ngomong tentang dunia. kursi itu seperti biasanya.

suatu kejahatan. Tapi rupanya bukan.”Memang kamu selalu muncul dalam kenanganku Pak. kini seperti kepada seseorang yang tidak kelihatan. tanpa senyum. malah Si Saras. Ibu seperti tersadar dari mimpi. ”Eh. Rahasia kehidupan.” gumamnya. Seperti segalanya yang akan tetap tinggal kosong. ”Gila!” Ibu berujar kepada tokek di langit-langit yang tidak tahu menahu. ”Ceritakanlah semua rahasia…. ”Para pembunuh itu sekarang mau jadi presiden! . Apakah semua ini hanya akan menjadi rahasia yang tidak akan pernah kita ketahui isinya? ”Rahasia sejarah.” Ibu mengangkat telepon genggamnya di telinga. hallo… “ Setelah mendengarkan apa yang dikatakan Saras. telepon genggam itu terloncat dari tangan Ibu yang terkejut. Telepon genggam Ibu berdering. yang seandainya pun tidak akan pernah terbongkar…. ”Pasti ibunya Saras lagi.” Ibu masih berbicara. ”Duduklah di situ dan ceritakan semuanya tentang Satria. ”Kursi itu tetap kosong. Hanya lewat. tetapi kamu hanya muncul sebagai bayangan yang lewat. ”Ya. seperti baru menyadari betapa kenyataan begitu buruk. bahkan juga dalam mimpi-mimpiku. seolah tiba-tiba telepon genggam itu menyetrum. ”Ini suatu aib. ”Tapi ini bukan rahasia kehidupan yang agung itu. Ibu beranjak mengambil telepon genggam.

Cinta di Atas Perahu Cadik Bersama dengan datangnya pagi maka air laut di tepi pantai itu segera menjadi hijau. yang selalu memberi kesan betapa sesuatu sedang sepanjang pantai yang pada pagi itu baru memperlihatkan jejak-jejak kaki Sukab dan terjadi. Para nelayan memang hanya tahu perahu. Kakinya yang telanjang bagaikan mempunyai alat perekat. tiba-tiba terdengar derum suara mesin. Tentu. sejak beribu-ribu tahun yang lalu. sekaligus bagaikan terlapis karet atau batu karang yang tajam tiada berperi. Bulan sabit mereka hubungkan dengan perahu. “Sukab! Tunggu aku!” plastik alas sepatu karena seolah tidak berasa sedikit pun juga ketika menapak di atas batu- Di pantai. Onggokan batu karang yang kadang-kadang menyerupai Bukankah memang perlu waktu jutaan tahun bagi angin untuk membentuk dinding karang menjadi onggokan batu yang mirip dengan sebuah perahu. mungkin kehidupan para nelayan dilepaskan dari perahu? Hayati masih terus menuruni tebing setengah berlari dengan pikulan air pada bahunya. Ia meletakkannya begitu saja di Seorang nenek tua muncul di pintu gubuk. melangkah di atas batu-batu hitam berlumut tanpa pernah terpeleset sama sekali. . Cahaya keemasan matahari pagi menyapu pantai. membuat pasir yang basah berkilat keemasan setiap kali Seno Gumira Ajidarma yang biasa memikul air sejak subuh. “Cepatlah!” ujar lelaki bernama Sukab itu. perahu tetap teronggok sejak semalam. bagaimana olah angkasa raya adalah ruang pelayaran bagi perahu-perahu seperti yang mereka miliki. lantas melangkah ringan Hayati. seolahbahkan atap rumah-rumah mereka dibuat seperti ujung-ujung perahu. seolahsamping gubuknya. Wajahnya begitu cerah menembus angin yang selalu ribut. sambil menuruni tebing bisa melihat bebatuan di dasar lidah ombak kembali surut ke laut. lantas berlari kembali ke arah perahu Sukab. gugusan bintang mereka hubung-hubungkan dengan cadik penyeimbang perahu. Hayati pantai yang tampak kabur di bawah permukaan air laut yang hijau itu. melainkan berlari dengan pikulan air yang berat di bahunya itu. Lidah-lidah ombak berkecipak dalam laju lari Hayati. Hayati berlari begitu cepat. sejak bertahun. Seekor anjing bangkit dari lamunannya yang panjang. Terlihat Hayati mengangkat kainnya dan berlari cepat sekali. Ternyata Hayati tidak langsung menuju ke perahu bermesin tempel tersebut. “Hayati! Mau ke mana?” olah beban di bahunya tiada mempunyai arti sama sekali.

Seorang lelaki muncul dari dalam gubuk. mesinnya sudah mati. ya. Pada akhir hari setelah senja menggelap. perahu Sukab belum juga kelihatan. kulihat perahu Sukab menyalipku dengan Hayati di atasnya. perahu lain telah berjajar-jajar kembali di pantai sepanjang kampung nelayan itu.Perahu Sukab melaju ke tengah laut. “Pergi bersama Sukab tentunya! Kejar sana ke tengah laut! Lelaki apa kau ini! Sudah tahu istri dibawa orang. Mak?” Nenek tua itu menoleh dengan kesal.” “Oh. aku juga sudah bicara kepadanya. sangat kencang. tetapi tidak tampak seorang pun di atasnya. kulihat Hayati menyuapi Sukab dengan nasi kuning dan mereka tampaknya sangat bahagia. “Hayati dan Sukab saling mencintai. dan perahu- Menjelang tengah malam. kami akan bercerai dan biarlah dia bahagia menikahi Sukab. Kulihat mereka tertawatawa. “Ke mana Hayati. Itu sudah tidak musim lagi Mak! Lebih baik cari istri lain! Tapi aku lebih suka nonton tivi!” Angin bertiup kencang. “Istri orang di perahu suami orang! Keterlaluan!” Namun ia masih mengetuk pintu gubuk-gubuk yang lain. bukannya mengamuk malah merestui!” Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala. .” Nenek yang sudah bungkuk itu mengibaskan tangan. “Dullaaaaah! Dullah! Suami lain sudah mencabut badik dan mengeluarkan usus Sukab jahanam itu!” Lelaki yang agaknya bernama Dullah itu masuk kembali. burung-burung camar menghilang.” “Perahu Sukab menyalipku. tetapi membentuk suatu rangkaian. “Ya. “Cabut badik? Heheheh. dan memang selalu kencang di pantai itu. masih terdengar suaranya sambil tertawa dari dalam gubuk. Jawaban mereka bermacam-macam. jadi itu perahu Sukab! Kulihat perahu berlayar kumal itu menuruti angin. menanyakan apakah mereka melihat perahu Sukab yang membawa Hayati di atasnya. Perahu Sukab yang juga bercadik melaju bersama cinta membara di atasnya.” Nenek itu memaki. nenek tua itu pergi dari satu gubuk ke gubuk lain.

Isinya sama saja dengan isi semua gubuk nelayan yang lain. Bukankah memang selalu begitu jika Hayati berada di perahu Sukab?” “Ya. tapi mungkin ada juga yang lain. bergemeletuk seperti sebuah mesin. dan jala di dinding kayu. Seorang anak perempuan yang rambutnya merah membuka pintu itu. dan di dahinya tertempel Nenek tua itu melihat ke sekeliling. Ia tidak melihat sesuatu pun yang aneh. tetapi orangnya malah berkurang?” Melangkah sepanjang pantai sembari menghindari air pasang. ombak yang berdebur dan mengempas dengan ganas. di dalam terlihat istri Sukab terkapar meriang karena malaria. mulutnya sebuah koyo. . hanya sandal jepit yang jebol. lemari kayu yang buruk. Pandangan nenek tua itu tertumbuk kepada anak perempuan yang menatapnya. tetapi tampaknya sudah mati. Giginya tambah gemeletuk dalam perputaran roda-roda mesin malaria.“Aku lihat perahunya. ketika terdengar suara lemah dari balik gigi yang gemeletuk itu. tidakkah selalu begitu? Kalau Hayati naik perahu Sukab. “Anak apa ini? Umur lima tahun belum juga bisa bicara!” Waleh hanya menggigil di balik kain batik lusuh bergambar kupu-kupu dan burung hong. Alas kaki yang serba buruk. “Bermain cinta di atas perahu! Perbuatan yang mengundang kutukan!” Ia menuju gubuk Sukab. Nenek itu lagi-lagi menggelengkan kepala. Nenek itu sudah mau melangkah keluar dengan putus asa. berkeringat. Wajahnya pucat. meja buruk. “Waleh! Apa kau tahu Sukab pergi dengan Hayati?” Perempuan bernama Waleh itu menggigil di dalam kain batik yang lusuh. dari sebuah penanggalan yang sudah bertahun-tahun lewat. nenek tua itu menggerundal sendirian. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. tentu saja tidak ada sepatu. berikut pancing dan bubu. Ada juga pesawat televisi. lelaki dan perempuan yang sedang tertawa dengan mata genit. kursi buruk. Sebuah foto pasangan bintang film India. Sebuah foto Bung Karno yang usang dan tampak terlalu besar untuk rumah gubuk ini. tetapi tidak seorang pun di atasnya. Nyamuk berterbangan masuk karena pintu dibuka. Dipan yang buruk. di dalam sebuah bingkai kaca yang juga kotor. bukannya tambah penumpang. “Mana Bapakmu?” Anak itu hanya menunjuk ke arah suara laut. pakaian yang buruk tergantung di sanasini.

Hal itu selalu mungkin negeri lain dan kembali dengan pesawat terbang.“Aku sudah tahu…” “Apa yang kamu sudah tahu. Kudoakan suamiku pulang dengan selamat— Waleh yang seperti telah mengeluarkan segenap daya hidupnya untuk mengeluarkan katakata seperti itu. “Ya. melalui perceraian. Waleh tampak berusaha keras melawan malarianya agar bisa berbicara. Masih juga mereka berlayar dan tidak pulang kembali! Semua orang yang melaut bilang tidak melihat sesuatu pun di atas perahu ketika melewati mereka. Nenek tua itu terdiam. tidak kelihatan di bawahnya! Mengerti kamu?” tapi ada yang hanya melihat perempuan jalang itu tidak memakai apa-apa meski suamiku Waleh yang menggigil hanya memandangnya. tetapi aku tidak mau menjadi orang kampungan dan jika dia bahagia bersama Hayati. matanya terpejam tak dibuka-bukanya lagi. karena memang sering terjadi. bahwa jika bukan perahu Sukab muncul kembali di cakrawala. “Aku memang hanya orang kampung. langsung menggigil dan mulutnya bergemeletukan kembali. dan sangat mungkin. mereka percaya perahu Sukab terseret ombak ke seberang benua. Hari pertama. “Aku hanya mau bukti bahwa menantuku mati karena pergi dengan lelaki bukan suaminya menjadi korban kutukannya! Tapi kamu rugi belum menghukum si jalang Hayati!” dan bermain cinta di atas perahu! Alam tidak akan pernah keliru! Hanya para pendosa akan Mendengar ucapan itu. orang-orang di kampung nelayan itu masih membayangkan. Ibu. dan ketiga setelah perahu Sukab tidak juga kembali. Mereka bisa terseret ombak ke sebuah “Aku orang terakhir yang melihat Sukab dan Hayati di kejauhan. kamu tahu dan tidak berbuat apa-apa! Dulu suamiku pergi ke kota dengan Wiji. begitu pulang kujambak rambutnya dan kuseret dia sepanjang pantai. seperti sudah tidak sanggup berpikir lagi. atau memang hilang selama-lamanya tanpa kejelasan lagi. maka tentu mayat Sukab atau Hayati akan tiba-tiba menggelinding dilemparkan ombak ke pantai.” kata seseorang. Namun karena tidak satu pun dari ketiganya muncul kembali. kedua. dan suamiku masuk rumah sakit karena badik suami Wiji.” yang mengumbar amarah menggebu-gebu. . perahu mereka jauh melewati batas pencarian ikan kita. Waleh?” “Tentang mereka…” Nenek itu mendengus. agama kita telah memberi jalan agar mereka bisa dikukuhkan.

” Segalanya mungkin terjadi. kadang-kadang tampak Waleh menggandeng anak perempuannya yang bisu. tetapi kawin lari ke sebuah pulau entah di mana. cerita tentang ikan besar ini akan berujung kepada perceraian mereka masing-masing. Hayati tampak lebih kurus dari biasa dan keadaan mereka berdua memang lusuh sekali. Juga mereka percaya bahwa mungkin juga Sukab dan Hayati telah bermain cinta di atas perahu dan seharusnya tahu pasti apa yang akan mereka alami. dan gigi keduanya jika terlihat tentu sudah kuning cinta yang membara. mereka seperti masih Namun setelah hari keempat. tidak seorang pun dari para nelayan di kampung itu mengharapkan Sukab dan Hayati akan kembali. yang dengan ini tak bisa dihindari lagi. “Kukira mereka tidak akan kembali. Keduanya terdiam saling memandang. Sabang. mungkin bukan mati. sekali—tetapi mata keduanya menyala-nyala karena semangat hidup yang kuat serta api Namun keduanya juga mengerti. April 2007 . betapa bukan urusan siapa pun bahwa mereka telah bercinta di atas perahu cadik ini. Kulit terbakar. Hayati melompat turun begitu lunas perahu menggeser bibir kecilnya. Desember 2006/ Merauke. di tengah angin yang selalu ribut terlihat pantai dan mendorong perahu itu sendirian ke atas pasir sebelum membuang jangkar yang lebih besar dari perahu mereka. “apalagi jika di perahunya ada “Apakah mereka bercinta di atas perahu?” “Saat kulihat tentu tidak. setelah bahan bakar untuk mesinnya habis. Sukab tampak lemas di atas perahu.” mana mau ia mencari ikan bersama kita. yang tentu saja sudah mati dan bau amisnya perahu Sukab mendarat juga.“Sukab penombak ikan paling ahli di kampung ini. sejak dulu ia selalu berlayar sendiri. Kadang-kadang pula berharap dan menanti siapa tahu perahu cadik yang berisi Sukab dan Hayati itu kembali. pada hari ketujuh. pakaian basah kuyup. tampak Dullah yang menyusuri pantai saat para nelayan kembali. Tombak ikan bertali milik Sukab tampak menancap di punggungnya yang berdarah—tentu ikan besar ini yang telah menyeret mereka berdua selama ini. banyak lumba-lumba melompat di samping perahu mereka. Kalian tahu seperti apa orang yang dimabuk cinta…” Namun pada suatu malam. Keduanya mengerti. Di tubuh perahu itu terikat seekor ikan besar menyengat sekali. Di pantai. Hayati.” sahut yang lain. menyusuri pantulan senja yang menguasai langit pada pasir basah.

” kata Kakek. Dari mana dan mau ke mana? Aku tidak pernah berada di batas kota dan melihat gerobak-gerobak itu masuk kota. Gerobak itu tidak ada bedanya dengan gerobak pemulung. menggelar tikar.” . bertenaga kuat yang menjadi penghela gerobak tersebut. dan nanti menghilang setelah Lebaran. tetapi Kakek tentu saja melarangku. perusahaannya pun banyak sekali. Tidak jarang mereka memasang juga tenda di depan rumahkakekku. Salah satu dari gerobak itu berhenti pula di depan rumah gedung “Kakek.” “Oh. kadang terlihat berhenti di berbagai tanah lapang. Dari balik dinding gerobak gerobak sampah lainnya. karena kakekku adalah orang yang sibuk. siapakah orang-orang yang datang dengan gerobak itu Kek? Dari manakah mereka datang?” Kakek menjawab sambil menghela napas. anak-anak itu “Jangan sekali-sekali mendekati kere-kere itu. dengan plastik menutup gerobak dan mereka tidur di dalamnya. Semuanya ia tangani sendiri. mereka selalu datang selama bulan puasa. memasang tenda plastik. ketika sedang berjalan merayapi berbagai sudut kota. atau bahkan di depan. rumah gedung bertingkat.” “Negeri Kemiskinan?” “Ya. dengan roda karet dan pegangan kayu untuk dihela kedua lengan berwarna putih itu akan tampak sejumlah kepala yang menumpang gerobak tersebut. Mereka datang dari Negeri Kemiskinan. kuamati orang-orang di dalam gerobak itu. dan Kakek tidak pernah membagi pekerjaannya yang berat itu dengan orang lain. Namun kalau aku setiap hari disibukkan oleh tugas-tugas sekolah. mereka menginap di kaki lima. “kita tidak pernah tahu apa yang mereka pikirkan tentang kita. seperti selalu terjadi dalam bulan puasa tahun-tahun belakangan ini. aku hanya melihat gerobak-gerobak itu selintas pintas. dengan seorang bapak Karena tidak pernah betul-betul mengamati. Hanya saja gerobak ini ternyata berisi manusia. Anak-anak kecil itu tampaknya pekerjaannya hanya bermain-main saja. Kadang-kadang aku ingin sekali ikut bermain dengan anak-anak itu. biasanya seorang ibu dengan dua atau tiga anak yang masih kecil. mereka datang untuk mengemis. dan tidur-tiduran dengan santai. Apabila tanah lapang sudah penuh. Di samping menjadi pejabat tinggi. Tidak ketinggalan menanak air dengan kayu bakar dan masak seperlunya. Mereka seperti tiba-tiba saja sudah berada di dalam kota. Dari jendela loteng. Aku tidak bertanya lebih lanjut. gerobak-gerobak berwarna putih itu akan muncul di berbagai sudut kota kami. seusiaku.Gerobak Seno Gumira Ajidarma Kira-kira sepuluh hari sebelum Lebaran tiba.

Demikian pula manusia-manusia dalam gerobak itu tampaknya merasa. Tampaknya orang-orang yang dianggap berkelebihan diandaikan dengan sendirinya jajar di depan rumah. Nenek misalnya selalu mengirimkan makanan yang berlimpah-limpah kepada gerobak yang menggelar tenda di depan rumah. pula. dan di tepi jalan keluarga gerobak yang Kakek sampai sulit sekali keluar masuk rumah karena gerobak yang berderet-deret di depan memasang tenda-tenda plastik seperti berpiknik itu sudah sangat mengganggu sendiri. Di karena bukankah gerobak itu dihela oleh orang yang berjalan kaki? Demikianlah gerobak- mana tempatnya. Apa yang akan kamu pikir yang berdenging-denging melihat anak kecil berbaju bersih makan es buah dan pudding jika dari kegelapan melihat lampu-lampu kristal di balik jendela. dalam kerumunan nyamuk warna-warni waktu berbuka puasa?” Aku tertegun. Kakek tidak pernah menjelaskan. Mereka cukup hanya harus hadir di kota kami dan mereka akan mendapatkan sedekah yang tampaknya mereka anggap sebagai hak mereka. tanganku erat-erat apabila didekati orang-orang yang berbaju compang-camping dan tepinya. Manusia-manusia gerobak ini seperti bersikap dunia adalah milik mereka . Apa maksud Kakek? Apakah mereka akan menculik aku? Ataukah setidaknya mereka akan melompat masuk jendela dan merampas makanan enak-enak untuk berbuka bahkan sebaiknya menjauhi orang yang tidak dikenal. bahwa manusia-manusia dalam gerobak itu perlu mendapat sedekah.rumah orang untuk mengemis. bahkan mobil pagar. “Hati-hati terhadap orang miskin.” atau “Orang miskin itu jahat. Benarkah. memang selalu kulihat mata yang menatap. Ketika kemudian gerobak-gerobak itu makin banyak saja berjajar- harus tahu. Memang mereka tidak pernah puasa ini? Aku memang selalu mendapat peringatan dari orangtuaku untuk hati-hati. depan rumah. tetapi tak bisa kuketahui apa yang Sekarang aku tahu gerobak-gerobak berwarna putih itu datang dari Negeri Kemiskinan.” tetapi kewaspadaan Ibu memang akan selalu meningkat dan segera menggandeng sudah tidak jelas warnanya lagi. dan mereka seperti merasa harus mendapat makanan tepat pada waktunya. Pernah pembantu rumah tangga di rumah Kakek yang terlambat sedikit pemandangan.“Apa yang mereka pikirkan Kek?” “Coba saja kamu setiap hari hidup di dalam gerobak di luar sana. Sepanjang hari mereka hanya bergolek-golek di atas tikar. Dari balik topi tikar pandan mereka yang sudah jebol dikatakan mata itu. tidur-tiduran menatap langit dengan santai. Juga tidak kulihat mereka menengadahkan mereka datang untuk mengemis? Aku tidak pernah melihat mereka mengulurkan tangan di tangan di tepi jalan dengan batok kelapa atau piring seng di depannya. menyebutkan kata-kata semacam. Jadi kapan mereka mengemis? Ternyata mereka memang tidak perlu mengemis untuk mendapat sedekah. sudah semestinyalah mereka mendapat limpahan pemberian sebanyak-banyaknya tanpa harus mengemis lagi. gerobak-gerobak yang lain itu juga mendapat limpahan makanan Begitulah dari hari ke hari gerobak-gerobak putih itu memenuhi kota kami. tetapi kurasa tentunya dekat-dekat saja. Di jalan-jalan gerobak itu bikin macet. gerobak itu dari hari ke hari makin banyak saja tampaknya. seperti kata Kakek.

Apakah mereka maunya hidup di dalam rumah-rumah gedung yang “Mereka masih di sini Kek.” Para tetangga tidak membantah. tapi kapan mereka tidak kembali ke tempat asal mereka? Mereka selalu menghilang sehabis Lebaran. melompati pagar. pulang ke Negeri Kemiskinan. pada saat yang sama gerobak-gerobak masuk kota entah dari mana. mendapat omelan panjang dan pendek. itu banyak yang pulang kampung. dititipkan kepada tetangga. dihela seorang lelaki dengan gerobak yang rupanya setiap hari bertambah dengan kelipatan berganda. meninggalkan rumah yang kadang-kadang dijaga mereka tidur-tiduran sambil memandang rumah-rumah gedung yang indah. Lebih dari separuh warga kota mudik ke kampungnya masing-masing pada hari Lebaran.” “Ya. bahkan sebagian telah pula masuk. biasanya kan begitu. makan di meja makan mereka. merayapi tembok. entah dari mana. dan berenang di selalu mereka tatap dari luar pagar dengan pikiran entah apa dan meninggalkan gerobak mereka untuk selama-lamanya? kolam renang mereka. mereka seperti mengalir tidak ada habisnya.mengantar kolak untuk berbuka puasa.” kataku kepada Kakek. Tetangga-tetangga juga sudah mulai jengkel. padahal hari Lebaran sudah berlalu.rumah gedung itu. tetapi setiap tahun itu pula mereka akan selalu menghilang kembali. Setiap tahun menjelang hari Lebaran gerobak-gerobak memenuhi kota. penghuni rumahrumah gedung satpam. seperti hadir begitu saja di dalam kota. orang-orang yang datang bersama gerobak itu telah menduduki rumah tersebut. tidur di tempat tidur mereka.” “Tapi kali ini banyak sekali. Gerobakkuat yang melangkah keliling kota. Mereka juga berharap begitu. Berkemah dan menggelar tikar di sembarang tempat. dan mewah dari luar pagar tembok. Warga kota yang memasuki kembali rumah-rumah mereka terkejut. pasti tidak lewat jalan tol.” kata Kakek. atau ditinggal dan dikunci begitu saja. Mereka berkemah di depan rumah-rumah gedung. Apabila kemudian warga kota kembali dari kampung. karena tentu mendahulukan Kakek. Meskipun kota kami selalu menjadi sunyi dan sepi setiap kali Lebaran tiba. kali ini gerobak-gerobak itu masih tetap di sana.” “Bukankah mereka bisa pulang kembali ke Negeri Kemiskinan?” . “Mereka memang tidak bisa pulang ke mana-mana lagi sekarang. kuat. Lagi-lagi Kakek menghela napas. kokoh. dan hidup di dalam rumah. mandi di kamar mandi mereka. gerobak-gerobak itu ternyata tidak semakin berkurang. “sehabis Lebaran mereka akan menghilang. “Tenang saja. kali ini kota kami penuh sesak gerobak itu masih saja berisi anak-anak kecil dan perempuan dekil. >diaC< Pada hari Lebaran. Pada hari Lebaran. asri.

Seperti mereka betul-betul hanyalah Mereka yang tiada punya rumah di atas bumi. Sebaliknya semakin lama semakin maksudnya lumpur kemiskinan? Aku hanya tahu. menduduki setiap tanah yang bertingkat. Apakah gerobak putih sama sekali tidak pernah berkurang.” sahut Nenek. “apakah mereka harus berbagi tempat tinggal dengan kere unyik itu?” “Siapa pula suruh merendam negeri mereka dengan lumpur.” menerima segala akibat perbuatan kita. gerobakbanyak. di manakah mereka mesti tinggal selain tetap di bumi? Kakek merasa gelisah dengan perkembangan ini. memasuki rumah-rumah gedung . tetapi Negeri Kemiskinan sudah terendam lumpur sekarang. “Bagaimana nasib cucu-cucu kita nanti. tidak bisa diusir dan tidak bisa dibunuh. Barangkali saja untuk selama-lamanya. dan tidak ada kepastian kapan banjir lumpur itu akan selesai. tinggal di sana entah sampai kapan. Heran. gerobak ini memang sangat jarang berkata-kata. Minggu. setelah hari Lebaran berlalu. Baru kusadari betapa manusia-manusia seluruh tubuh mereka seperti terbalut lumpur.“Ya.” katanya kepada Nenek. 7 Oktober 2006 kosong. “kita harus dengan apa yang sudah mereka miliki. bahkan merayapi tembok. sehingga kadang-kadang mereka tampak patung dan hanya mata mereka akan menatapmu dengan seribu satu makna yang terpancar dari sana. Rupa-rupanya seperti patung yang bisa hidup dan bergerak-gerak.” Sekarang aku mengerti kenapa orang-orang itu tampak sangat amat dekil. kenapa manusia tidak pernah cukup puas Aku tidak terlalu paham bagaimana lumpur bisa merendam Negeri Kemiskinan. muncul di berbagai sudut kota entah dari mana. Pondok Aren. melompati pagar.

jika cinta ini belum juga ada? Lagi pula bagaimana cinta akan berkarat karena angin yang bergaram jika cinta berkarat setelah mengarungi berabad-abad jarak. Hanya kekosongan. dan sebagai manusia kami tidak menempel seperti ketan. begitu juga bayang-bayang kami yang selalu mengikuti. Kami seperti tiba-tiba saja ada dan saling mencintai sepenuh hati. cinta yang abadi adalah sesuatu yang tetap penuh pesona. Kami sering dilahirkan kembali sebagai manusia. kemudian berbeda kelas sosial. Barangkali itulah yang disebut dengan cinta abadi. dan semenjak saat itu kami menjadi semacam takdir ketika tiada sesuatu pun di dunia ini yang bisa memutuskan hubungan cinta kami. lantas saling mencintai. karena sesungguhnyalah aku tidak akan bisa tahu apakah benar cinta kami yang barangkali abadi itu adalah takdir. meski perahuku tapi kutahu cintaku belum akan berkarat bila tiba di pulau itu. Kami memang diciptakan dari sepasang tidak pernah lahir kembali sebagai sepasang bayang-bayang yang bisa berkelebat seenak bayang-bayang. tetap menggelisahkan. Bibirku terasa asin dan rambutku menyerap garam. Memang kembali. Walaupun kami terbukti Demikianlah cinta kami selalu diuji. Bagaimana cinta akan melaju menembus angin yang bergaram. dari suatu masa ketika cinta pertama kali memang bukan besi? Aku dan kekasihku diciptakan dari sepasang bayang-bayang di tembok yang tubuhnya sudah mati. karena sesungguhnyalah hubungan cinta kami yang barangkali abadi itu adalah sesuatu yang diperjuangkan. Dunia hanyalah laut dan langit yang dibatasi garis tipis melingkar. Apabila kami berbeda kulit. menimbulkan tanda tanya: Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku? Setiap kali kami mati dan dilahirkan kembali. berkarat hanya karena sebuah jarak dari Labuan Bajo ke Komodo. bahkan kami pun bisa bingung sendiri. barangkali menunggu kami mati dan bisa berkelebat seenak udel kami. nah. namun kami udelnya.Cintaku Jauh di Komodo Seno Gumira Ajidarma Hanya laut. ataukah cinta kami ini hanya cinta begitu-begitu saja yang terlalu mudah . lengket bagai benalu. kami selalu bisa saling mengenali dan mengusahakan segalanya untuk menyatu kembali. Apalagi jika kami lahir kembali masing-masing sebagai pasangan resmi orang lain. Cinta yang abadi kukira bukanlah sesuatu yang ditakdirkan. karena kami memang tidak terpisahkan. membentuk garis lingkaran yang tiada pernah berubah jaraknya. tiada seorang pun yang akan mengizinkan dirinya untuk memahami. dan tetap terus-menerus diperjuangkan terus-menerus sehingga cinta itu tetap ada. tetap membara. tapi sungguh mati memang hanya seperti dan sekali lagi hanya seperti. dan bukan takdir itu sendiri. Aku mengatakannya semacam takdir. berbeda agama pula-betapa beratnya usaha kami menyatukan diri. tetap misterius. benarkah begitu kuat usaha kami untuk menyatu menyerah karena berbagai macam halangan yang sebenarnya bisa saja diatasi. tetap bertahan. dan bayang-bayang bisa berkelebat menembus segala tabir. terlalu banyak manusia merasa berhak untuk tidak setuju dan melarang hubungan kami. tapi aku hanya berani mengatakannya semacam takdir. menjadi pasangan baru.

bagaimanakah caranya ia akan mengenalikuseekor komodo ke dalam apartemenku di Jakarta. Cinta diuji oleh cinta. sehingga kekasihku dengan kelaparannya yang amat sangat telah menerkam dan maka kekasihku tidak dibunuh. Sering kali ini sangat membingungkan-tetapi selalu bisa kami atasi. Kesetiaan kami masing-masing telah hebohnya. apakah yang masih bisa kulakukan untukmu . kami akan saling mengenali. Akibatnya. jikakekasihku itutelah menjadi komodo? Hanya laut. yang sekarang berada di Pulau Komodo. tidakkah cinta itu tiada memandang wujud. sebagai manusia biasa. Namun. di tempat yang baru itu. juga dihuni komodo. yakni cinta yang dahsyat itu. Apakah aku akan bisa bertemu dengan kekasihku kali ini? Tanda- kekasihku menimbulkan masalah besar. Apabila kami bertemu dari kelahiran satu ke kelahiran lain. Suatu kali bahkan ketika lahir kembali sebagai bayi. tapi yang paling berbahaya adalah pesona cinta itu sendiri. Karena kami selalu berperilaku baik. Pasti Supermie tidak akan pula kekasihku? dan apa yang akan kami lakukan? Aku tidak mungkin mengawini dan membawanya sebagai mengenyangkannya. dengan segenap petir dan halilintarnya yang tanpa membuat kami selalu bertemu kembali. Hmm. Sebagai seekor komodo. Lain kali aku lahir kembali sebagai perempuan dan kekasihku lahir kembali tetap sebagai perempuan. bersentuhan sama sekali. meski terkadang penuh dengan lukaluka cinta di sana-sini karena ketergodaan yang terlalu menarik untuk tidak dilayani. Dalam sejarah percintaan kami dari abad ke abad. Atas nama cinta. Tetapi. Itulah yang terjadi misalnya ketika aku lahir sebagai pendeta dan kekasihku lahir sebagai putri raja. kekasihku telah dilahirkan kembali dalam wujud seekor komodo. kukira. maka kesenjangan tubuh macam apakah yang akan bisa menghalanginya? Justru itulah masalahnya sekarang: apakah aku. tapi mereka sebetulnya tidak tanda alam memberi isyarat kepadaku. dan aku tidak mengetahuinya. Hanya kekosongan. melainkan dibuang ke suatu wilayah di Pulau Flores yang asing yang dimusuhi oleh komodo-komodo lain. dan tiada pula memandang usia? Jika cinta memang mempersatukan jiwa.begitu banyak godaan kepada kesetiaan cinta kami: bisa berwujud harta kekayaan. begitulah. masihbisa mencintaikekasihku. hanyalah menjadi sejati jika tahan uji terhadap cinta yang sama kecuali menggetarkan dan mendebarkan hati. meski perbedaan duniawi yang membungkus kami bisa mengakibatkan masalah berarti. kami selalu lahir kembali sebagai manusia-kesalahan apakah yang telah dilakukan kekasihku. Laut dan langit bagai bertaut. kekasihku berenang dan menelan seorang anak gadis berusia 12 tahun. Cinta yang sejati. bisa berupa kursi kekuasaan. karena telah memakan seorang anak gadis yang sedang mandi di sungai. belum pernah kami lahir kembali dengan berbeda spesies seperti ini. Perburuan liar telah mengurangi jumlah kijang yang biasa dimakan komodo. kekasihku dianggap sebagai komodo menyeberangi laut untuk kembali ke Pulau Komodo-dan kini aku datang ke pulau itu untuk mencarinya. kekasihku sudah lahir berpuluh tahun sebelumnya dan hampir mati. Karena undang-undang melindungi komodo. sehingga lahir kembali sebagai komodo? Apakah ia masih akan mengenaliku dengan pancaindra dan otaknya sebagai seekor komodo? Kalaulah aku masih mempunyai kepekaan untuk mengenalinya.

Ternyata. Semuanya sudah terlambat.000 ekor. Setelah menjelajahi pulau itu selama dua hari dan bertemu dengan sejumlah komodo. 2. dan suatu wilayah di Flores yang jumlahnya belum sempat dihitung. Labuan Bajo. Nostalgi=Transendensi (1995). sampai kutemukan komodo jantan yang pernah memakan anak gadis itu. dan meluncur masuk ke kubangan. dan selalu disebut hanya terdapat di Pulau Komodo. tepat di hadapan mulutnya yang menganga. Baca Linda Hoffman. Karena aku turun di kampung Komodo dan bukan di Loh Liang. tempat para petugas Taman Nasional biasa memandu wisatawan. terdapat pula di Pulau Rinca. Ketika akhirnya kami berjumpa di sebuah kubangan pada sungai kering berbatu-batu. Juli 2003 * Judul ini mengacu kepada judul sajak Chairil Anwar. tapi hanya kulihat sebuah pandangan mata yang masih sahih jika aku berusaha tetap mempertahankan cinta? Dalam keadaan seperti ini. sebanyak 1. Sudah jelas ia tampak kelaparan. langsung patah beberapa bagian. ataukah hanya seolaholah ada dan dipercaya begitu rupa sehingga mengelabui para peminatnya? Mungkin cinta aku sangat mencintainya. dan mencintai kekasihku…. Aku terpeleset dari tebing. kaki kiriku sudah masuk ke mulutnya. Reptil bernama resmi Varanus komodoensis yang panjangnya bisa mencapai tiga meter dan berat 150 kilogram. Rupanya kekasihku menjadi seekor komodo jantan.650 ekor (1994). Sisa makhluk purbakala itu baru ditemukan secara resmi pada 1911 oleh tentara Hindia Belanda dan diberi nama pada 1912 oleh PA Ouwens. aku menjelajahi pulau itu siang malam tanpa pengawal. aku berhasil menyelamatkan diri dari serangan sejumlah komodo. Ingatan terbalik atas sajak Afterthought : cintakah kau padanya / cintakah kau padanya dalam Toeti Heraty.hatiku terasa kosong. dan kukira ia tidak mengenaliku lagi-apakah ternyata mengenal wujud-meskipun komodo jantan itu memang penjelmaan kekasihku. Bersenjatakan tongkat bercabang. Cintaku Jauh di Pulau (1946). “Introduction” Lombok to Timor (1997). Kami bertemu pada suatu siang yang panas dan aku sedang mendaki ketika kulihat ia dari kekasihku yang cantik jelita pada komodo jantan ini? Tadinya masih kuharapkan merayap ke arahku di bawah kerimbunan semak-semak. akhirnya aku bertemu dengan seekor komodo yang kuyakini sebagai kekasihku. aku bertanya-tanya apakah aku bisa mencintainya seperti aku kosong. hal 111-114. aku menjadi ragu. apakah cinta yang abadi itu sebenarnya memang ada. seluruh tubuhku tersedot masuk ke dalam tubuh komodo itu sekarang. Apakah yang masih bisa kukenal pandangan mata yang penuh dengan cinta. dengan jumlah sekitar 1. Aku tidak sempat memanfaatkan tongkat bercabang itu- apakah aku akan lebih bahagia jika menyerahkan jiwa sebagai pengorbanan cinta? Kurasa hanya kurasakan kegelapan-dan perasaan menyatu. East of Bali: from . dan “Enter the Dragon: Visiting the Island of Dinosaurs” dalam Kal Muller. kurator Museum Zoologi Bogor. Kalau aku tidak keliru. hal 75. Di dalam tubuh itu 1.

yang bersebelahan dengan Pulau Komodo. 4. Rakyat.. kaki tiga untuk kamera. dan Bahasanya (1987). jauh baca JAJ Verheijen. Lebih Ikram. Pulau Komodo-yang tertinggal hanyalah tripod- . Mereka menyebut komodo sebagai ora. hal 111-2. mempunyai kebudayaan dan bahasa sendiri. satu-satunya kampung di pulau itu. ibid. Korban terakhir adalah Baron Rudolf Van Biberegg. yang lenyap di Poreng. dalam Muller. op. yang dialami seorang bocah lelaki pada 1987. wisatawan asal Swiss berusia 84 nya. hal 112 tahun. Bagian kisah ini mengacu kepada suatu kejadian. Kampung Komodo.3. cit. terdiri atas 400 KK (2003). namun terjadinya di Pulau Rinca.. terjemahan A 5. Pulau Komodo: Tanah. Muller. pada 1972.

Ada nada pedih.” Tersenyum.Cinta Elena & Pedro Aba Marjani Wanita tua itu duduk sendirian di kursi pedestrian Las Ramblas. Sesaat ia diam. Sinar matahari masih terlihat jelas di ufuk mereka.” kata si wanita beberapa saat kemudian. Si pria menoleh. Semilir angin menggeraikan rambutnya yang keemasan. “Una hija.” Seorang pria duduk di sebelahnya. “Aku selalu menyukai lagu itu.” . “Como estas. El Cantar de un Campesino (A kepada orang-orang yang lalu lalang di depannya dan kebetulan menoleh ke arahnya. Muy bonita. “Belum. Suaranya lirih. Suaranya datar.” Si wanita tersenyum.” Ia mengakhiri kalimatnya dengan sekulum senyum. tangan si wanita memegang tangan si pria. untuk kita. Pengamen-pengamen asal Puerto Riko asyik menyanyikan lagu-lagu tradisional Farmer’s Song). hoy. Elena?” “Bien. Seperti ada beban yang menindih. Sebuah tongkat kayu dari pohon ek berada di tangannya.” katanya. barat sana. Mi Jaragual (My Little Farm). “Apakah mereka sudah menyanyikan Cantandole a lo Nuestro?” si pria bertanya. Ada juga yang membeli kaset hand made-nya seharga 10 pesetas. Muy bien. Kepalanya botak. Lagu-lagu tentang semangat kerja rakyat petani. Kesegaran menjalari seluruh tubuhnya. Julia. Si wanita mencium aroma wewangian dari tubuh si pria. Pedro. Matanya menatap ke pengamen obor api yang memasukkan dan mengeluarkan obor berapi di mulutnya. Pedro. Ia setua si wanita. Berkilat-kilat kena cahaya lampu yang mulai dinyalakan. “Ya. Sesekali ia mengangguk atau melemparkan sesungging senyum Sudah hampir pukul sembilan malam rupanya. meluncur mendayu-dayu diiringi dansa-dansa yang amat indah. “Siapa orangtuanya?” ia bertanya. “Si bungsu. “Aku baru saja mendapatkan cucu ketiga.” “Untuk kita. Beberapa orang berkerumun untuk mendengarkan. Bara cinta meletup di dadanya. Kau bisa memberinya beberapa pesetas dan meminta mereka menyanyikannya untukmu.

Demi aku. memandang laki-laki di sebelahnya itu. Ia ingin sekali menjadi seperti Pedro Romero. “Kau ingin aku mengatakan apa? Aku turut bahagia dengan segala anugerah yang kau terima? Begitukah?” “Setidaknya kau bisa berkomentar apa saja. Itu yang membuatnya berhenti sebagai torero. Di wajahnya berdebar. Aku cuma Si wanita tersenyum.” Mendadak si pria tersenyum getir. Di dada mereka bunga-bunga cinta membalut. Ia menunggu jawaban si wanita dengan dada “Raul sering kali menanyakanmu. Aku tak ingin ia berada di Nou Camp. Pedro datang dengan segala atribut El Barca. yang selalu dielu-elukan penonton dalam setiap pertunjukan. Tak sabar. Begitulah selalu di Spanyol. Ia menyembunyikan sukacita di hatinya. “Bagaimana kabar Raul? Apakah ia bahagia dengan Bettina?” si pria bertanya. Di musim panas. Begitu juga Elena.” katanya dengan sunggingan senyum tertahan. Api cintanya membara. Kau bisa pura-pura bahagia. cinta mereka berdenyut. “Kalau ia menuruti kata-kataku.” Malam terus merayap. Tangannya masih juga memegang tangan si pria. wajah Raul bergulir. Dalam benaknya. Ia tahu Pedro tak tahu tentang mereka. matahari seolah enggan buru-buru berhenti menyinari Bumi. El Merengues selalu jadi tim ingin ia berada di Santiago Bernabeu. Tanpa berkata. Ia masih tampan seperti dulu. Pedro? Por que?” si wanita menoleh. Pedro. Stadion kebanggaan pendukung El Barca itu terlalu banyak 6024m. lintasan kebahagiaan berpendar-pendar. si wanita membatin. meskipun itu Si pria melirik si wanita. Jantung keduanya serasa lebih cepat Dua tahun Elena dan Pedro bahu-membahu sebagai pendukung Barcelona sampai kemudian cinta mereka dipisahkan oleh takdir.0<>w 6024m<1)>jmp 0m<>h 8000m. Tangannya masih dalam genggaman tangan si wanita. “Kau tak ingin mengatakan apa-apa lagi. matador legendaris yang amat masyhur. Api cinta bergejolak di dadanya. “Aku sebenarnya menginginkan ia menjadi pemain sepak bola. Seorang pria tinggi besar yang hampir saja tewas karena serudukan banteng di gelanggang matador di La adalah cita-citanya sejak kecil. bertaut. sama seperti El Barca yang dua tahun sebelumnya . Di sanalah ia dan Pedro pertama kali bertemu ketika Barcelona dikalahkan Liverpool dalam suatu pertandingan tingkat Eropa >jmp -2008m<>h ingin Raul berada di Nou Camp. Ia selalu merindukanmu. mungkin saat ini ia tengah bertanding di La Liga bersama Raul Gonzalez. Monumental de Barcelona. Akan ada dua Raul di sana.” kebanggaanku meski aku orang Basque.0<>w 8000m< 26 tahun lalu. Matahari sebentar lagi akan lenyap ditelan Bumi.Si pria menarik napas. Dalam sekali pandang.

manakala seseorang melempar uang receh pada sebuah wadah di depannya. menghentikan langkah si pria. Yang diketuk-ketuknya perlahan-lahan ketika ia berjalan. Ada yang santai. Seperti juga hari-hari sebelumnya. Tanpa tongkat “Buenos dias. ia memang tak ingin menghitung. “Kukira sudah terlalu malam. Aku pamit. Mengecup kening si wanita. Tanpa menoleh. juga tetap setia duduk di kursi yang kemarin masa. Dengan itu pun ia sebenarnya masih bisa bertahan. ia duduk di sebelah si wanita.” “Mi. tambien. Yang membuat langkahnya terasa lebih ringan. bukan?” si wanita menjawab. “Buenos dias.” katanya. Kelompok Elena. Entah ini hari ke berapa ia berada di sana. “Te amo. muncul belakangan.” Si pria bangkit. “Buenas noches. Elena. Ia khawatir hitungannya terhenti pada Tanpa terikat apa-apa. Sepasang muda-mudi kemudian duduk di kursi di depan di seberang mereka. Hasta luego. seperti coba mencari topik pembicaraan di sore yang juga cerah. Elena. Semuanya mempertontonkan kelebihan masing-masing seraya berharap ada pejalan kaki yang rela menyisihkan uang recehnya beberapa pesetas.” Elena tersenyum sumringah. Suaranya agak parau. si pria tua itu. Sejak dulu matamu selalu bagus. Kesejukan di hatinya singgah. Ia belum pikun untuk menghitung bilangan tertentu. Ia ingin menikmati masa-masa tuanya seperti yang ia inginkan sendiri. “Sudah saatnya kita berpisah.disisihkan klub sepak bola dari tanah Inggris itu. Tanpa menunggu jawaban.” katanya begitu tiba. si wanita berambut keemasan itu.” Tak ada yang berubah di Las Ramblas. Sisa-sisa api cinta berpendar-pendar di matanya yang cerah. Mereka tak menadahkan tangan. Ada yang berperilaku seperti manekin hidup dengan tubuh berbalut semacam cat putih dan baru mengubah posisi mematungnya penyanyi Puerto Riko juga tetap setia membawakan lagu-lagu rakyatnya di depan sebuah toko yang menjual berbagai macam majalah dan koran. Cinta memang tak selalu mempertautkan raga meski jiwa mereka takkan terpisahkan oleh apa saja. Mereka menjual kepandaian.” Si wanita tersenyum. “Pedro. Lalu mereka . tongkat di tangan. didudukinya.” kata si pria kemudian. Di dadanya rasa nyaman merambah. “Seperti yang kau lihat. Si pemudi menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemuda. Dengan es Si pemuda menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemudi. bersama-sama menggigit es krim di tangan si pemudi dalam waktu bersamaan. Pejalan kaki tetap berseliweran dari pagi sampai pagi. Pedro. keduanya krim di tangan mereka. Para pengamen berdiri di sisi jalan dengan kesabaran tanpa batas. “Kau sehat?” si pria bertanya. ada yang dalam gegas. Tapi. Lalu. Tongkat dari kayu ek itu lebih hanya sebagai teman.

Tapi kasih mereka tak dilekangkan oleh perubahan dan waktu.” Kenangan-kenangan indah bermunculan susul-menyusul memenuhi benak mereka Si wanita tersenyum. Dalam tubuh yang renta. Jika aku berkata jujur. sudut-sudut Plaza Montjuic jadi saksi abadi keabadian cinta mereka. Wanita yang dulu selalu hadir dalam . Sambil coba mencari jawaban yang paling mimpi-mimpinya. Pedro?” si wanita bertanya. Api cinta mereka memang terpendam. Wajah mereka basah oleh air mata dan tetes-tetes cinta. Ketika mereka saling memagut dalam alunan cinta yang kian bertaut. apakah hatinya takkan hancur? Ia kembali mengetuk hatinya dengan pertanyaan penuh keraguan. Elena. Mereka tak peduli dengan Plaza Montjuic di bawah tempias air mancur yang meloncat-loncat seiring dentuman drum membuat mereka mabuk. api kasih masih panas membara. katamu gigimu sedang sakit. Saat itu mereka yakin tersemaikan dalam sebuah romantisme kasih tak terperi. Demi sebuah bisnis keluarga. takkan ada yang mampu memutus tali dan jalinan kasih mereka. Ketika saling memberi dan menerima merasuk. Setelah sekian lama mereka kerap bertemu dan saling mencurahkan isi hati yang pernah hancur. “Kau mencintai istrimu. Si pria menoleh. disujudkan kepada laki-laki yang tak dicintainya. Mereka seolah cuma ada berduaan. tertawa-tawa berkakakan. Dan kini alam mempertemukan renta mereka. Hampir dua puluh delapan tahun peristiwa itu berlalu. tepat. setelah setetes benih juga Tapi. Cinta yang tak lekang oleh waktu dan perubahan. Bukankah kau sakit gigi waktu itu?” “Bukan sakit gigi. “Almarhumah istriku?” ia mencoba mengulur. Tapi tak pernah padam. Selain Nou Camp. Ketika cinta tengah manakala mereka tengah duduk berdua seperti sekarang ini.pejalan kaki yang berseliweran. cinta mereka tetap bergelora. Dalam tubuh memudarkan hasrat mereka untuk tetap bersama. takdir itu kemudian datang memisahkan mereka. Tak pernah terbayangkan hal itu dapat terjadi. Yang takkan melukai hati si wanita di sisinya. Sariawan membuat gusiku peka. Ketika kelana cinta mereka menari-nari dalam sinar mercury yang remang. Inilah untuk pertama kalinya pertanyaan seperti itu meluncur. “Kau masih ingat ketika itu aku meringis. Elena harus menikah dengan pria lain pilihan ayahnya. Dan keduanya pun kemudian berpisah dalam dekap penuh tangis di sebuah kamar hotel tua di sisi pedestrian Las Ramblas ini. Keduanya teringat masa-masa lalu yang indah di dari simfoni-simfoni klasik gubahan Beethoven entah berapa waktu lalu. “Ya. Si pria tersenyum. Haruskah aku menjawabnya secara jujur? Si pria bertanya dalam hati. si wanita terkasih. Masa tak mampu memupus dan keduanya kembali. bukan?” si wanita menoleh. Cinta mereka memang terbelenggu.

Si wanita menoleh. Melemparkan senyum. Dengan bibir yang masih tampak ranum.

Setidaknya di mata si pria yang kian rabun. Tapi, senyuman itu sekaligus membuat si pria

gelisah. Membuat hatinya resah. Dan ia merasa keringat telah membuat telapak tangannya basah. Embusan angin membuat hatinya makin galau. Di dadanya menggumpal rasa risau. Pedihnya seperti tertusuk-tusuk sejuta pisau.

“Setidaknya aku punya anak dari Evita,” suaranya parau. “Aku mencintai anak-anakku. Pablo dan Javier.” Ia diam sejenak. Sesuatu seperti membuat tenggorokannya tersedak. Ketika ia melirik si wanita, ia melihat angin membuat rambut si wanita tersibak. Dan ia seperti segenap keberanian.

menunggu. “Apakah, apakah kau mencintai suamimu?” ia bertanya setelah mengumpulkan

Si wanita tertawa kecil. Suaranya agak menggigil. “Mengapa kau tertawa, Elena?” si pria bertanya. “Seperti kau, dari Enrique aku punya Julia.” “Dan Raul.” “Kau tak ingin mengatakan Raul sebagai anakmu?” Si pria tak segera menjawab. Seolah ingin membiarkan pertanyaan itu menguap. “Kau masih mendengarkan aku, Pedro?” “Ya,” tenggorokan si pria terasa kian tercekat. “Raul mungkin darah dagingku. Tapi ia anakmu dan Enrique.”

Malam merayap naik. Udara dingin kian terasa menusuk tubuh mereka yang renta. “Aku pulang dulu, Elena,” kata si pria mendahului setelah seorang pemuda meluncur di depannya dengan sepatu roda di kakinya.

Elena bangkit. Pedro pun bangkit. Ia mengecup kening si wanita. Lalu melangkah ke arah utara. Si wanita melangkah ke selatan, ke Plaza de Catalunia.

HARI berikutnya, keduanya bertemu di Plaza de Toros La Monumental de Barcelona, sebuah bangunan tua yang tetap terawat dengan sangat baik. Keduanya memang selalu menyukai aksi para torero dan matador membunuh banteng.

“Kudengar makin banyak yang menentang pertunjukan seperti ini,” kata si pria ketika

keduanya duduk di kursi dari kayu tua di barreras. “Kelihatannya memang tak manusiawi. Tapi alam diciptakan Tuhan untuk manusia. Makhluk-makhluk lain adalah pelengkap. Mereka harus menjadi bagian yang membahagiakan manusia.”

“Itu katamu,” si wanita menyunggingkan senyum ketika para paseillo memasuki arena dan melambaikan tangan mereka kepada para penonton. Sejak kecil, si wanita selalu dibuat

kagum oleh pakaian para torero yang berwarna-warni. “Mereka, para pencinta lingkungan dan binatang, menginginkan semua makhluk hidup, hidup berdampingan secara damai.” “Tapi ini tradisi kita,” si pria membantah. “Aku tahu. Dan kita ke sini bukan untuk berbantah-bantahan, bukan? Kita ke sini untuk

menonton.”

membatin. Ia ingat ketika pertama kali memasuki La Monumental de Barcelona sebagai

Si pria terperangah oleh suara si wanita yang terdengar getas. Ia masih seperti dulu, si pria

sepasang kekasih. Elena menolak duduk di barreras karena harga tiketnya mahal. Ia lebih suka duduk di gradas. Tiketnya paling murah. “Kalau kau mau duduk di sana, silakan kau kanan si wanita dengan tangan kirinya. Menggenggamnya erat-erat. Seperti tak ingin terlepas. duduk sendiri. Aku mau kita di gradas,” katanya ketika itu. Buru-buru si pria meraih tangan

Seorang novilladas memasuki arena. Siap memulai pertunjukan. Tepuk tangan kecil terdengar. Begitulah selalu nasib para matador pemula. Ia harus lebih dulu mempertontonkan kecekatannya menguasai seekor banteng sebelum kemudian diakui

menjadi torero dan akhirnya setelah kemampuannya teruji, menjadi matador sesungguhnya. “Siapa matador kesukaanmu sekarang?” si pria berdehem sesaat kemudian. “Seperti cintaku padamu, sampai sekarang aku masih lebih menyukai Pedro Romero.” “Tapi ia telah tiada.” “Karena itu, hari ini aku ingin melihat aksi Enrique Ponce.” “Enrique?” Si wanita menoleh. Tersenyum penuh arti. “Jangan seperti anak kecil, querido mio. Tak ada hubungannya dengan Enrique almarhum Enrique dalam batinku.”

suamiku. Aku menyukainya karena kehebatannya, bukan karena namanya. Saat ini tak ada

Enrique Ponce memasuki arena. Ia akan memuncaki pertunjukan siang itu. Tepuk tangan membahana ketika ia keluar dari puerta grande. Tepuk tangan kian membahana ketika seekor banteng besar seberat 360 kg dihadapkan kepadanya. Dan, ia tak perlu berlamaperlahan-lahan seperti bersujud di hadapan sang matador.

lama untuk menancapkan estoque-nya melalui leher bagian atas si banteng yang kemudian

“Ia seperti memiliki mata malaikat,” si wanita berkata, seperti mendesah. “Ia memang luar biasa. Suatu saat ia mungkin bisa seperti Pedro Romero, sang legendaris itu,” sambung si pria.

Kini keduanya duduk di sebuah kursi panjang terbuat dari besi di sisi jalan tak jauh dari Plaza de Toros. Matahari bersinar amat cerah. Langit tampak kebiruan.

hoopoe dari kejauhan.

“Aku tak ingin semua ini segera berakhir,” si pria berkata, ditingkahi suara burung-burung

“Tapi hidup ada batasnya,” sahut si wanita seiring desiran dedaunan pohon palem yang ditiup angin.

“Kau ingin kita menyudahi semuanya, Elena?” Tak terdengar sahutan. Mata si wanita menatap ke kejauhan. Di sana tampak empat pria tua martil.

asyik bermain petanque, yaitu permainan melempar besi berbentuk bulat seperti bola lontar

“Kau ingin aku menikahimu?” si pria kembali bertanya. Si wanita meringis. “Akan menjadi pernikahan yang menarik,” ia mendesah beberapa saat kemudian. “Tapi Raul tak ingin hal itu terjadi.”

Si pria tampak terperanjat. “Sudah kau ceritakan siapa aku kepadanya?” si pria bertanya. Menduga-duga. Rasa galau berloncatan di dadanya.

“Tidak seperti yang mungkin kau sangka. Baginya, kau cinta pertamaku. Ia tahu apa itu artinya.”

“Tapi, kenapa ia tak setuju kita menikah?” Tak segera terdengar sahutan. “Aku tak ingin tahu alasannya. Aku cuma tahu ia tak setuju.” Lama keduanya terdiam. Hening menyungkup kamar itu. Si pria duduk memandang si wanita. Ada gelora cinta. Menggemuruhi dada keduanya.

“Kau masih secantik dulu,” katanya lebih mirip desahan. Suaranya agak tertahan. “Cintaku tak pernah dilekangkan oleh zaman.”

Setetes air bening menetes di mata si wanita. Tak ada luncuran kata. Ia tetap diam tanpa suara, beberapa lama. Tapi di dadanya kebahagiaan melanda.

Si pria berdiri. Melangkah perlahan menghampiri. Si wanita duduk diam menanti. Dadanya berdegup tiada henti.

. Sebentar lagi prosesi pemakaman dilakukan. Pablo. aku cinta padamu. tambien. selamat malam. matador pemula. Como estas. Hasta luego. parade para matador sebelum pertunjukan. Tak ada yang menyahut lagi. Buenos dias. Novilladas. La Liga. Dalam kepasrahan ia membiarkan si pria pergi. divisi utama Liga Spanyol. Kalimat itu ia tujukan buat Raul dan Julia. sampai jumpa. Mendaki dan mendaki.tempat duduk paling tinggi.” kata Pablo. Dalam sunyi abadi. aku juga. Lalu. Dengan baju serba hitam. Buenas noches. hoy? Apa kabarmu? Bien. baik sekali. dan Javier berdiri berjajar. Gairah di dadanya pun meletup. Te amo. Muy bien. tempat pertunjukan matador. tetap tertunduk. Nou Camp atau Camp Nou. Tapi gemuruh cinta di dada keduanya berdentam-dentam. Dalam gagap ia menemukan sepucuk tunas tumbuh. Paseillo. Jantungnya kian kencang berdegup. Raul.* Jakarta. nama mata uang Spanyol.Beberapa lama si pria dan si wanita duduk dalam diam. Pesetas. Mendaki. sebutan umum untuk matador. Por que? Kenapa? Torero.” kata Raul dengan wajah “Mereka pergi membawa cinta abadi mereka. ruangan itu gelap. si pria menatap bebukitan tandus tapi memberinya gairah meluap. Keheningan mencekam. Februari 2004 Catatan: Tingkatannya di atas torero. kandang klub sepak bola Barcelona. julukan klub Barcelona. Cantik sekali.” kata Julia lirih. Sampai kemudian semuanya berhenti. bintang dalam pertunjukan matador. El Merengues. “Aku minta maaf atas semua yang telah terjadi. Barreras. Si wanita tergagap. Julia. Dalam gelap. kursi terdepan (termahal). selamat siang. Di hadapan mereka berjajar dua tubuh dalam diam. julukan klub sepak bola Real Madrid. seorang anak perempuan. baik. Mi. Dalam peti berbalut kain hitam. “Tak ada yang perlu dimaafkan. Matador. Muy bonita. Gradas. Plaza de Toros. El Barca (baca El Barsa). Una hija. Tak ada yang dapat dipersalahkan.

pada 30 Maret 1976 1) Barcelona kalah 0-1 dari Liverpool dalam pertandingan semifinal Piala UEFA second leg Querido mio. pintu utama. . Puerta grande. sayangku (My dear).

Namun abangku.Lampu Ibu Adek Alwi Akhirnya bunda datang juga ke Jakarta. Tapi.” Ia cengar-cengir. laiknya anak muda. menutup mata serta telinga beliau. mengikuti perkembangan mereka. dan cicit yang makin henti berdenyut. jika ia tahu. Justru itu. dan memanggil anak-anak kami “cucuku”. Isinya ucapan selamat. Ia tergeragap. Di hari baik bulan baik bagi yang bersangkutan (ulang tahun. melihat anak. agaknya melantunkan nyanyian riang dalam hati. melayang suratnya dengan tulisan halus-tebal model masa lalu. didampingi seorang cucu. keras kepala. Masih pasang mata dan telinga baik-baik. “Terus sajalah. yang semua sarjana bahkan dua doktor pula.” “Tak penat aku!” tukasnya keheng. “Besokbesok aku menginap di rumah si Nina. telah lama kami hindarkan terhenti. “Nina dan cucu-cucuku sehat?” “Sehat. Tahun lalu. Palinggam…. atau kedap-kedip serupa kabel di pusat telepon. naik jabatan). dan cicit.” Aku lalu diam dan terus menyetir. Masih keliling ke berbagai kota bahkan pulau. tamat kuliah. Dan saat kulirik ke samping. Makanya. cucu. stamina dan kegesitannya seolah tak berubah. Tempo-tempo. seminggu ia menginap di kantor polisi. Seluruh keluarga heboh. sambil terus melaju di jalan tol. juga nasihat. harapan. “Oh. tidak berani membayangkan. Mereka . karena belum siap melihat denyut itu tiba-tiba Aku menarik napas. Senyam-senyum. Man?” tanyaku mengalihkan pikiran yang melayang saja ke mana-mana. Om. Ya. Palinggam. Berpikir-pikir? Lewat kaca spion. telah disiarkan “Antar aku dulu menengok abangmu. kabar buruk dari beliau. cucu.” ujar beliau saat kujemput di SoekarnoHatta. terlibat pula dia menyelesaikan beragam masalah. Tiap banyak. menutup-nutupinya. Kapan pula dia merasa penat? Meski umur 80 dan tubuh makin ciut.” kubilang. Dengan masalah yang juga tambah banyak. seperti jantung kita. “Libur kau. Tak dapat lagi ditutup-tutupi dari bunda. “Baiknya Bunda istirahat dulu. panik. Libur. mata bunda terpejam. Seminggu!” “Kuliahmu lancar?” “Lancar. Kasus dan sakitnya abangku. Nanti sore kuantar…. kulihat keponakanku di jok belakang. pasti beliau tidak tidur. Urat-urat saraf itu tak denyut adalah pantauan sekaligus hubungan dengan anak. Merenung? manggut-manggut. Di kantong celana kawannya ditemukan polisi ekstasi. kadang kubayangkan urat saraf bunda lebih rimbun dan juga lebih canggih dari kami. naik kelas.” Ia selalu menyebut rumah anak lelakinya dengan nama menantu. Apa yang bakal terjadi ketika bunda berjumpa abangku itu nanti? Tanpa sadar aku menggeleng. doa. Kami tidak bisa lagi koran dan televisi. tujuh anaknya.

Kawan yang baik. Kak Leila berpura sibuk. Herman pulang. pada usia senja? Merasa gagal. “Masuk rumah sakit. tak Herman kabarnya menangis. Maksudnya membantu Kak Leila. O.” Dan diam lagi. “Kurang dingin AC-nya Bunda?” “Cukup. seperti pernah dia ucapkan? ibu tamat seiring perginya hayat dari badan? Sebab di situ beda ibu manusia dengan induk “Bagaimana abangmu sekarang?” Bunda melepas pandang dari jalanan. Masalah kami hari ini dengan begitu tak perlu lagi menjadi beban beliau. disekolahkan hingga tinggi. anak laki-laki. o. sejak kapan alam berubah hanya memperdaya perempuan?” ujar bunda. “Apa maksudmu?” “Maksudku.semobil. baginya tugas ayam dan kucing. “Naik gunung. “Sudah. Atau. seperti orang- Aku makin gugup. “Sudah pulang abangmu dari rumah sakit? Pura-pura sakit saja dia. “Baik saja. tangguh. dengan uang hasil pensiun serta kedai rempah.” adikku Rosa menyahut. kurusnya engkau. Rosa langsung diam. Dan kendaraan-kendaraan yang berkilau seliweran di jalan tol. Betapa ingin kusampaikan bahwa dia ibu yang perkasa. tak apa-apa Bunda. sudah.” kubilang. Lihat. Pucat pula. kau biarkan anak naik gunung?” “Ala.” “Cuaca buruk. matahari pagi. Dan bunda menyergap orang itu?” pula. Dan saat umur muda Herman. kau bilang tak apa-apa?” suaranya bagai berasal dari tempat yang jauh. sebab sendiri saja membesarkan kami? Ah. tak lama lagi Grogol.” Kusodorkan . Nak. berempat.” Tiba-tiba aku jadi gugup.” jawab Kak Leila. pulang dari rumah sakit. nenek yang risau itu memanggilnya. “Elok-elok kau jalani mengundang datangnya mudarat. HP-ku lalu berbunyi. Kami sudah di Apa gerangan yang terlintas dalam pikirannya? Anak cucu yang tak membawa kabar baik. Palinggam. “Diajak kawan-kawannya. Dalam hati kembali kumaki-maki abangku. bicara sendiri saja. berucap lunak. Pandai-pandai mencari kawan. ingat pengalaman bermalam di kantor polisi. serupa mayat!” Mata bunda kulihat sudah terbuka lagi. si Herman. Bunda tentu tidak diberi tahu. dituduh korupsi. Dan bunda tetap menoleh. “Biasa itu. Tujuh anak yang masih sekolah saat suami wafat telah ia bekali.” kubilang. memandang jalanan. “Sudah dua hari tidak kulihat cucuku. Pun ulah cucu. ingat suami yang jarang pulang.” “Eh. Tak apa-apa. Dari istriku. Ke mana dia?” tanya beliau suatu pagi. Lalu Slipi. menatap aspal jalanan yang berpendar disinari Jelambar. Ingin kencing. Semuanya digaruk. menanti jawaban. Syukur. Bunda? Sehat. dan berhasil. “Lagi di jalan. Agar mereka jadi manusia. anak-anak kami.

Mau bicara.” kataku.” “Dan kau sibuk pula. Tapi. berhenti di tempat parkir khusus keluarga. Kalian bagaimana? Syukurlah. “Nina.” ia bilang. Harta meruah. “Buktinya aku kini tak ke mana-mana. atau khawatir abangku raib tak ketahuan rimbanya. karena bunda lantas bertanya. Terpikir olehku. Jangan pula dia alami seperti keponakanmu. Anak gadis kakakku. Sering ke luar kota. si Aya. ditemukan adikku Rafli di pantai Padang.” Aku diam kembali. Kemudian tertawa. pulang dihubungi. menangis tersedu. bersama pacarnya. Aku berbelok. tak juga puas. Aida. “Tanya kesehatanku. masih kuat aku ke Jakarta. Nak. Kau sudah di kantor! Bawa mereka nanti ke rumah kakakmu Andamsari. “Jangan kalian berahasia lagi. Mana cucu-cucuku? Oh.” “Bukan hanya karena hendak menjemputku?” Aku menggeleng. Lalu. tanpa seragam. Mereka tahu sehari setelah kejadian. Kakak dan abang iparku kalang kabut. Nak. sekali waktu lenyap dari rumah mereka di dari Singapura.Obrolan panjang.” “Nina manajer pemasaran. anak ayam saja tidak seburuk itu nasibnya!” kakak kalian itu yang salah jalan!” ujarnya keras. “Biasalah. HP ke bunda. Kakak iparku. Aida tak jumpa. alis bunda tetap bertaut. Bunda?” Kudului dia bertanya saat pembicaraan itu berakhir. “Mengapa kau ketawa?” “Tentu punya waktu.” ujarnya. . meluncur mulus ke Kebayoran. Tetapi di halaman dalam terlihat sejumlah orang. sesak kendaraan yang padat-merayap ke arah Thamrin-Kota. Eh. sehat Nak. Aida. siswi SMU kelas dua itu. sudah menanti di teras. Biar dia lupa bertanya. Bunda. hah. orang sibuk kasak-kusuk. bebas dari di luar. Aida. Andamsari. “Syukurlah. Syukur dua remaja itu sungguh sekadar berjalan-jalan. sudah gadis bukan? Sudah SMP. Pagar maupun gerbangnya tertutup. Ini. Aku lihat abang kalian itu dulu…. bunda yang tadinya tidak tahu curiga melihat semua meradang. Termasuk polisi. Dicari serta ditanya ke mana-mana. Bunda. Namun boleh jadi berlebihan. Kami sudah tiba di Semanggi. rumah abangku sepi saja Aku terus melaju ke sayap kanan. Alhamdulillah. “KakakAnak dibiarkan tumbuh sendiri.” “Apa kata Nina. termasuk Kak Meinar di Medan dan kami di Jakarta. Bunda. Dan. tambahku tanpa suara. masih punya waktu kalian buat cucu-cucuku?” Aku tertegun. Memeluk bunda. sibuk benar kudengar istrimu. Semua saudara Batam.” Mudah-mudahan lama. “Sibuk terus. Ya? Besok-besok. Cucuku. Ceritakan apa yang terjadi!” katanya Ketika kejadian itu diceritakan setelah diedit dibagusi. Tahu kalian. suara bunda: “Nina? O. Ke luar negeri juga. Lalu ia mendekat. Mungkin berjaga-jaga dari demonstran. “Aku cuma khawatir. seperti biasanya.

mengapa kau mengelak diperiksa. dipecat partaimu. Rasanya. Bunda. seperti minta Bunda. Palinggam. “Sudah sampai belum?” “Sudah. “Namun hingga detik ini. “Aku punya kawan. Bunda. Abangku melirik. Dan lapat-lapat kudengar suara sunyi merayap. aku tetap bersih.” Sampai di situ mataku terasa jadi panas. Bang Palinggam terpana menatap bunda. Nak. dimaafkan. Nak? Kenapa berpura sakit? Mengapa tidak kau beberkan saja semuanya?” “Tidak sesederhana itu. . Bunda. Nak. Menarik napas. “Aku punya atasan. Juga kepada Tuhan. Dan HP-ku kembali bernyanyi. bagai kelap-kelip mercu suar di malam gulita penuh badai.” “Dasar!” Pembantu bergegas mengangkut bawaan bunda. sudah. “Tak paham aku soal-soal begitu. Namun takdir seorang ibu. Terkutuk aku bila mendustai “Kalau begitu.” dia bilang. kencing. bagiku itu lebih baik daripada kau berkhianat pada kebenaran.” sahut bunda kemudian. memandang bunda. selalu terdorong menyalakan lampu hingga akhir hayatnya. hampir menyerupai bisik.…” entah dibawa udara dari bumi yang mana. yang sedikit banyak ikut dibela ayahmu dari penjajah. Aku muncul.” Bunda mengedarkan senyum. Nina lagi.” “Di mana rumitnya?” Tidak terdengar suara. melepas urine yang “Tapi kayaknya tidak apa-apa. sayu. Acara bertangisan agaknya telah usai sewaktu aku mendekat ke ruangan itu. “Kalian sekarang memang bukan lagi anakku yang dulu. Palinggam. “Apalagi kau. Aku tergopoh ke toilet. Juga aku serta Kak Andam. Nanti saja aku kabari. Suaranya makin lunak. Mata Bang Palinggam kian berkaca-kaca. Bunda diam. Dia menunduk. Aku juga kader partai. yang benar harus disampaikan sekalipun pahit. kini sudah bercucu pula. juga kepadaku. itu isyarat dari abangku.” Mengangkat muka lagi. Kalaupun akibatnya kau diberhentikan bekerja. “Belum tahu. pada hatimu sendiri. melihat bunda lagi.hendak meledak. aku tahu sekarang dari mana sunyi itu berasal. “Tetapi bagiku.” ujarnya bak mengadu. Mukanya kuyu. Bunda sekarang tampaknya banyak diam. Kak Andam?” tanyanya antusias. Loyo. Aku di kakus.” Mereka duduk bertiga di ruang keluarga. Matanya perlahan berkaca-kaca. Dan negeri ini. Dan aku merasa. Suara Bang Palinggam terdengar pelan.” “Bagaimana bunda? Bang Palinggam.

” jawab Tum menampakkan senyum yang ganjil. Bun satu-satunya sahabat Cina kami di bersaing di pasar dengan pedagang pribumi tetapi tidak tertandingi membuat kue. sudah bercucu satu. di kedai kopi itu kami bercakap-cakap “Si Cudik kini di Lubuk Sikaping. “Seperti orang-orang di dalam mimpi. si Talib dan si Tunik yang acap pulang. tak pernah bersua kecuali dengan dua-tiga kawan yang setia menghuni kota kelahiran Kepada mereka. Dia dan keluarganya tergolong aneh. seperti tidak kenal lelah. Padahal tahun demi tahun terus berganti dan kini telah mendekati tahun keempat puluh.” tambah Amril. yang lalu lalang di luar kedai kopi Tum. Mungkin karena bersama istri dan anak-anaknya. Aku dan kawan-kawan pun sudah ceraikami. bahkan banyak yang tidak pulang sejak merantau-belasan atau puluhan tahun yang silam. ibunya berjualan kue mohok alias bakpau. setelah mengamati wajah-wajah tak kukenal waktu kecil. Kalau aku pulang. Ayah Bun tukang gigi. “Pernah sekali datang waktu mau ke Padang melihat kakaknya. Di kota kami orang Cina tidak mampu “Tentu!” kubilang. Kawan-kawan lama kami jarang pulang. bila aku pulang ke kota kami selalu kutanyakan kawan-kawan masa kecil itu. Si Tunik buka lepau nasi di Muaro Bungo. Paling tidak dua atau tiga tahun sekali ada mereka pulang. Waktu terus berjalan dan orang-orang lahir. grosir roti dan permen. berai. dewasa atau jadi tua.” Biju menerangkan dengan gembira. akrab dengan pribumi.” . Berubah sekarang. Bahkan mengerikan. kopi di simpang jalan dekat pasar. seolah sudah bosan lalu raib entah ke mana. “Tak lama lagi Dua lepau nasinya sekarang. sebagai dua studio foto yang ada di kota kami. 22 November 2006 Mata Sultani Adelk Alwi Sudah hampir empat puluh tahun mata Sultani menatapku.Jakarta. namun kemudian muncul lagi dan kembali menatap. “Seperti ada dan tiada. Nius. Nius.” jawab Tum. lebih-lebih tukang gigi. Tapi kami kawani dia melihat bekas rumah orangtuanya. Nius. Tidak sekalipun berkedip. Berbagai peristiwa timbun-bertimbun. yang meneruskan usaha keluarga membuka kedai mengenang kawan lama serta kota kami yang setelempap tetapi menyimpan sifat-sifat aneh tak terduga. kendati kota kami tetap saja setelempap. Tempo-tempo mata kawan masa kecil itu memang tak tampak. Satu di Palembang. Kami ajak bermalam tidak mau. Mereka pemilik satu-satunya bioskop dan “Bun di Medan jadi dokter.” “Hanya si Cudik. memurukkan yang lama ke lipatan bawah dan juga menguap ke luar ingatan. “Ingat si Bun Kay?” tiba-tiba Tum menyela. “Di mana dia?” tanyaku antusias. Hebat dia!” pensiun. tetapi tak banyak lagi kabar gembira aku peroleh. Hanya menatap. Si Talib di Dumai.

Sultani. kembali menampakkan senyum yang ganjil.” sahut Tum. mencangkunginya kecuali dia. lantai. ibu Sultani pagi-pagi menghidangkan nasi kadang susu. Seperti di rumah Bun. Nius. Bagiku. adik Bun. Minumnya teh hangat. mengajak makan. Kami berebut. Kalau di rumah Bun kami disuguhi kue mohok. Keluarga itu memang kaya dan terpandang. “Didiamkan berhenti sendiri!” Lin terlihat segar. goreng serta roti lapis mentega. Bun tertawa-tawa menyikat nasi goreng. berdebar-debar sekitar dua jam menyaksikan aksi Sophia Loren yang atas yang dibintangi Sophia Loren. lebih menyenangkan kalau yang mengantar kue adalah Sui Lin.” bilang Tum. Sultani malah tertawa-tawa makan uang haram itu. Begitu sandalnya berlosoh pergi kue dan teh itu amblas ke “Jelas enak. Tidak kecuali KAWAN masa kecil itu lincah. Saat dia letakkan ke meja tak seorang pun yang berselera menyentuh dia ulahi. Tunik juga. makan! Tidak halam! Tak pake gigi babi laaa!” Sultani cengar-cengir menyindir. Dia kapten sepak bola. Suara Lin halus: “Ko Bun! Engko Bun!” Dadaku berdebar mendengar monyet mengalir deras terhadap Lin. Pagi-pagi Rambut ekor kuda. “Banyak kawan kita serasa ada dan tiada. “Itulah. kami kerap nginap di rumah Sultani. Kelas 6 SD kurasakan gejolak cinta Mereka menggeleng. Kami diselundupkan portir ketika lampu bioskop padam. Biju dan “Makan. Pagi-pagi terdengar sandal ibu Bun berlosoh-losoh mendekati paviliun tempat kami tidur. Ayah Sultani kepala terminal sekaligus ketua organisasi buruh. tak pake babi laaa. mengantar kue mohok hangat- hangat. berisi mohok serta teh manis. alias usil plus kurang ajar. “Percuma. Matanya tak terlalu sipit. suara itu. menyogok portir bioskop sehingga kami bisa nonton film 17 tahun ke Membungkuk-bungkuk mencari kursi kelas 3 yang kosong. atau menjelepak duduk di menggairahkan. pintar di sekolah. mencukur. lucu. Dulu kami sering bermalam di rumah itu. “Di dalamnya ada kerak gigi!” Kalera! Sultani meradang dan hampir menghadiahi mereka “ketupat Bengkulu”. Bak orang-orang dalam mimpi. diduduki hingga kini. seperti buang hajat. Pipinya putih kemerahan serupa jambu air. Itu pula sebabnya dendamku pada Sultani pernah seperti tidak berujung.” “Bagaimana kabar Sultani? Di mana dia?” tanyaku pada kawan-kawan di kota kelahiran. Mereka bilang ayah Bun menjual gigi dari Peking. Lalu ia sambar roti. Sultani menarik piring roti ke dalam sarung. Juga pandai menjahit. dan tak pakai babi!” komentar anak-anak yang iri. Suka-suka kami mau makan apa. Dan pernah pula Buya Makruf. Tapi kami cegah. juga ketukan jari-jarinya yang mungil di pintu. adik kelas kami. Portir bioskop juga . Ibunya baik seperti ibu Bun.” ia sodorkan nampan perut kami. tidak halam! Enak laaa. “Tidak halam.Dalam peristiwa dahsyat pertengahan 1960-an rumah orangtua Bun di Kebun Sikolos diobrak-abrik massa. Di antara lipatan uang sogokan dia selipkan duit buntung atau uang zaman Jepang sehingga untuk beberapa waktu kami terpaksa puasa nonton film orang dewasa. guru mengaji Tempo-tempo kawan itu memang cingkahak.

Namun yang membuat dendamku membara ketika semua bulu di kepalaku dia babat. Ibunya tersipu. “Sebetulnya telat Bun. Mendesis-desis lunak. Ayah dan ibunya setuju. “Ular! Ular!” Bun berteriak menyembul di tengah sungai. Tak licin di sekeliling kepala. Bun!” Sultani memang pandai mengaji dan ditunjuk Buya Makruf sebagai guru kecil. “Sunat Bun! Potong Bun! Saat liburan tiba Bun pun lalu minta disunat. terbungkuk-bungkuk keluar tempat wudu bercelana kolor dan dada bugil. Biar aku yang ngajar. Pelan-pelan disentuh Sultani kepalaku. Bah!” Sultani meyakinkan bak tukang obat. Suaranya merdu. kopiah. kan?” Aku mengangguk. Asal Bun tidak nangis kalu sakit laaa. Aku serahkan kepalaku pada Sultani. ajakan Sultani pada Bun karena dia ingin mengamangkan rotan di depan kawan itu. Rustam. Ibunya selalu mengaji tiap subuh. banyak kawan merasakan ulah Sultani. kan?” Seperti rambut Biju itu yang kuinginkan. Mukanya pucat serupa mayat. Baju. Terbahak-bahak seperti hantu air. Padahal selalu kuminta Mak Hasan sambil mendorong kepalaku kian kemari.kami. Kepandaian kiraahnya elok. Tapi aku merasa. Kepala Sultani Terlalu panjang Bun!” terpekik. setiap usai dicukur kepalaku tetap mirip tentara atau anak kecil. Mulanya sungguh-sungguh juga dia. dan suatu petang Bun termangu di halaman Masjid Jambatan Basi menanti kami usai mengaji. Mataku merem melek. ke halaman masjid. tentu saja. mendampingi kawan itu setiap malam. “Tapi tak apa-apa terlambat daripada tidak. “Rambutku dia cukur. Sebulan ditanggung fasih. Sudah lama aku dambakan model rambut orang dewasa atau rambut abangku. ikut mengaji saja. Aku malah tak sekali. itu turun dari ibunya. Mestinya waktu kita kelas tiga. Babah mau coba? Sret. melecutkan ke kaki-seperti dia lakukan pada kami selaku guru kecil yang cingkahak. tajwid dan Bukan saja Bun. Sultani berkata: “Sudah Bun. Dan sesekali. Kelas enam disunat. tetap ditumbuhi rambut dua-tiga senti yang melingkar manis rapi di sekitar telinga. potong pendek bak rambut tentara saja aku bosan. Berenang kalang kabut ke tepi. Suara gunting tak berdencing-dencing ganas.” “Tidak sakit. . Uang yang sedianya diterima Mak Hasan kujanjikan kami bagi dua. dan tukang cukur langganan ayah itu pun ber-hm-hm “Cukur sama Sultani!” Biju menyarankan. Tetapi. tidak terasa. Rancak. Setelah sembuh. Ulah Sultani! Suatu kali. ketika mandi-mandi di batang air yang mengalir di kota kami Bun tiba-tiba panik. laaa. selesai!” Ayah Bun terkekeh. jadi keras. tidur-tidur ayam. Tunik juga. “Malah. “Seperti model rambut Bang Rustam. Bun mau potong bulung bole potong. mencukur seperti yang kuinginkan. Iya kan. Ada yang menyentak ujung kulupnya dari bawah air. Dan Bun disunat. Jangan pula licin tandas bak kelapa.” ujar Sultani saat Bun meringis dan kami Bun?” Bun mengangguk lemah. serta sarung beliau “terbang. “Ayaaa.

Nius. Dia cerita begini-begitu aku buang muka. Mereka melempar rumah itu dengan berderai. Lebih-lebih waktu Sui Lin. Perempuan itu Aku menyeruak di sela-sela orang dewasa. meraung-raung. Mereka menuju rumah batu. “Mulai Kariang. Tidak kuhiraukan imbauan ibu dan ayah. mati awak rasanya menanggung aib! “KEPADA kawan-kawan yang tiba dari rantau kami juga bertanya kalau-kalau mereka tak henti menanyakan kawan masa kecil itu tiap pulang ke kota kelahiran. tak mendengar orangtua!” Cudik bilang mereka membawanya ke Singgalang . Suara mereka teramat gaduh. Mereka terus berteriak. kurang ajar ya. tahi kuda dan entah dengan apa lagi. Ibu Sultani berlari mengejar. Tanganku dicekal.” lesu. Lupa aku pada sifat baiknya yang setia kawan dan suka memberi. suatu pagi. Aneh sekali. aku menghambur ke jalan. Kusaksikan ayah Sultani diseret.” kata Amril. Buas sekali. melihat aku “Sejak peristiwa itu tak ada yang tahu di mana Sultani dan keluarganya. Dan aku merasa ketika itu Sultani tengah menatapku dengan mata tidak berkedip seperti biasanya. Lalu ia terpana ketika Orang-orang masih berteriak. Eh. Mukanya menangis. Ketika kuraba. aku tidak mau bicara atau dekat-dekat dengan melihat kepalaku yang plontos bak kelapa ketika aku nginap di rumah Bun. diseret abangku pulang. Sultani juga. “Kepala Ko Nius kenapa?” Alamak. Menangis.” sambung Biju Berkabar pun mereka tak pernah sejak kejadian itu. mendengar di mana Sultani. lewat bergelombang-gelombang di muka rumah sambil berteriak-teriak. Tahi kambing. Kaca-kaca pecah terjerembap di halaman. melihat aku di tengah kerumunan. sebagian kepalaku sudah terkelupas bak ayam hendak digulai! “Tak ada jalan lain. Menghabisinya. seperti Yull Bryner kau!” manusia cingkahak itu. “Jangan ikut! Jangan ikut kau!” Aku terus berjalan di belakang gelombang-gelombang manusia yang riuh. Kakak perempuan Sultani mendekapnya erat-erat. Atau pergi. Bergelombang-gelombang manusia. Tepatnya.Tetapi lama-lama kepalaku semakin dingin. Pernah kami tanya ke situ. malah sebelah sini terlampau pendek. Seakan-akan bukan warga kota kami yang sehari-harinya tenang dan saling menyapa. Membuang mayat orang tua itu ke Batang Anai. tegak kaku di ambang pintu. Lututku menggigil. Dia mendekat. Tum diam saja mendengarkan sunyi. sepekan rambutmu panjang lagi. hasilnya nihil. terpaksa begitu!” Ditekan Sultani kepalaku dengan ujung telunjuk. Dia juga matanya bersirobok dengan mataku. tersenyum Sejak hari itu kami tak berteguran. “Seperti mencampakkan bangkai anjing!” cerita Cudik. “Sanak famili ayahnya di kampung juga tidak. Sejumlah orang menerabas masuk. dan orang bergegas Sultani. berteriak-teriak. Dendamku laksana sumur tanpa dasar. kuratakan. aku menghindar. “Tadi di sini terlampau pendek. Nius. Sewaktu prahara dahsyat pertengahan 1960-an melanda kota kami. Menyeret serta mengarak ayah Sultani entah ke mana. Menyepak pintu hingga rubuh. Bagus juga kau gundul. Tetapi mereka pun tidak tahu. berdarah. Sudahlah.

Hanya mata saja. kemarin pagi. “Semua orang bilang begitu. 2 April 2005 berkedip. Bahkan sampai kini. dua buah. walaupun tahun demi tahun . Tubuhnya tidak ada!” Cudik berkeras. seolah-olah tidak pernah lelah.“Bagaimana kau tahu? Ikut kau ke situ?” kami tanyai Cudik ramai-ramai.* Jakarta. Kalian tidak tahu? Mereka menghabisinya petang itu juga!” waktu menjala ikan. ada yang menemukan sepasang mata di Batang Anai Kami bertatapan. yang menatapku tanpa berlalu menghanyutkan zaman dan usia ke muara. Diam-diam terbayang olehku mata Sultani. “Dan.

Tidak konon menimbulkan kesan “lain” bagi yang memakai juga yang melihat). di belakang lampu semprong mereka yang temaram. mirip dengan warga melambai dan menyapa. tukang serbat. jangan pula payung. bukan suatu yang kecuali para kusir bendi dan tukang kacang goreng yang duduk mencangkung di pojokDan. Hal lain yang bakal membuatmu terheran-heran adalah tukang kacang goreng. betapapun elok bahan dan kami hampir tak dikenal orang istilah pedagang. . Tukang kerupuk tak selalu berarti orang yang membuat kerupuk. ataupun sebaliknya-bahkan ketika kemarau mungkin sedang meretak-retakkan tanah di kotamu. melenggang tenang-tenang di atas trotoar sambil bersiul. ya. tukang serabi. apa kabar! Baik? Singgahlah dulu!” Tetapi. tapi jarang sekali pria kota kami membuat jas dua kali dalam pojok jalan dalam kabut. Paling-paling orang hanya bergumam. penjual kerupuk. Itu pula sebabnya potongan jas itu-untuk menghindarkan salah tafsir. petang atau malam Tetapi. Biarlah masalah ini bagian ahli bahasa. hidupnya. juga sosiolog. Karena.anak muda kota kami lebih suka pakai jaket daripada jas. tukang kacang goreng dan penggemar makanan ringan itu. kabut di sana seolah-olah turun sesukanya. atau makan kacang goreng. tetapi juga tukang emas. Tidak jelas mengapa demikian. tak mengumpat ketika kabut mendadak turun dari bukit dan gunung. kembangkan payung. hujan dan hari. karena sejak muncrat ke dunia sudah bergaul dengan cuaca serupa itu. Karena itu. tukang rokok. sudah turun pula si kaki seribu!” Lalu mereka cakap. akan ahli pula kau menerka usia perkawinan seseorang hanya dengan melihat jas yang dia pakai. Ya. Kadang-kadang pagi. Meski cuaca cerah. kalau kau tinggal lebih lama di kota kami. “Hoi. Dengan tongkat-payung itu pula mereka saling di jalan-jalan kau lihat membawa payung atau mempertongkatnya. dan seterusnya. bercakap- Betul.Warga Kota Adek Alwi Kacang Goreng Kota kami terletak di dataran tinggi di lereng Gunung Singgalang. Berbagai pemandangan ganjil-lucu yang tidak bersua di tempat lain bisa kau temukan di kota kami kalau Anda suatu ketika berkunjung ke sana. Aku hanya ingin bercerita tentang mereka. walau kerap membungkus tubuh mereka dengan jas. Begitupun tukang sate. kecuali lelaki-lelaki gatal atau yang punya istri lagi. Aku juga tidak bermaksud membahasnya. warga kota menderap laksana suara kaki belasan ekor kuda. Adakalanya juga dari pagi sampai malam. Di mana-mana kau bisa saksikan kaum pria memakai jas. siang. sedang jas pun (yang dikukuhkan sebagai pakaian resmi sebab istimewa di kota kami. di kota berniaga. atau hujan tiba-tiba seperti menghadapi anak yang nakal: “Ha. anak. orang-orang kota-kota besar Eropa pada masa lalu. Kecuali. meski aktivitas seseorang berjualan.

Lampu-lampu semprong mereka dari jauh Tentu ada hubungan erat antara tukang kacang goreng yang sangat banyak itu dan iklim kota kami yang dingin. sebagian besar orang terpanggil lahir karena bakat itu. kota kami tidak pernah sesak yang menyebabkan warga kota kami subur-subur. tikungan-tikungan jalan. lihatlah!” lanjutnya melempar sebuah mengalahkan kacang goreng Mak Sanin!” “Memang. pengirim-pengirim wesel yang rajin itu-yang sebagian di antaranya tumbuh berkat uang kacang goreng-berlayangan karenanya. “Ini. seakan-akan mana sejak pukul lima petang hingga tengah malam. Bahkan. agak berjauh-jauhan di bawah papan reklame film. duduk berkelumun sarung atau melekat ke lima orang di antaranya juga mangkal di muka dua bioskop yang ada di kota kami. tukang kacang goreng. depan asrama tentara dan polisi. perlu penelitian. Mereka dapat ditemukan di mana- perkantoran-perkantoran. terus. kedap kedip di balik tirai kabut dan gerimis. Dalam KTP mereka pun tercantum: pekerjaan. Dan. Anak-anak muda itu seolah punya prinsip: pacaran boleh putus. Saat-saat itulah mereka tak dendam setelah lama berpisah. Juga. tiada bandingan!” . tukang kacang goreng tetap banyak di kota kami dan orang tak merasa rendah jadi kacang goreng. Tetapi.Sekalipun kota kecil.” komentar para suami saat makan kacang kacang goreng ke atas meja. sebesar jempol. Bertengkar. tidak saling tertawa layaknya pasangan mirip bintang-bintang di langit. Lagi pula. Namun. selera menyantap kacang goreng tak kunjung patah. “Di tempat lain kecil-kecil kurus kulihat!” goreng di malam-malam dingin bergerimis. sepuluh atau selusin. tukang kacang goreng amat banyak di kota kami. di muka rumah sakit. penggemar kacang goreng tidak pernah pula berkurang. beberapa waktu setelah bubar bioskop. Gemuk. Anak-anak muda segera berangkat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih ke kampung halaman menjumpai orangtua dan sanak keluarga. jangan dikata lagi. serta kegemaran orang memakan kacang goreng. Malah bangga. Empat atau karung goni kacang goreng mereka yang hangat. bahkan divonis putus oleh si gadis karena kulit ari kacang goreng ikut menyelusup ketika bibir-bibir bertemu pada malam Minggu. lepas-lepas dari kacang goreng. tidak ubahnya kekasih-kekasih yang melampiaskan rindu Alhasil.” sahut ibu-ibu di kota kami dengan sigap. tetap belum ada yang sanggup “Ah. meski lazim tinggi atau bekerja di kota lain dan wesel-wesel mereka berlayangan di awal-awal bulan memenuhi kantor pos. makan kacang goreng jalan “Habis. muka depan gerbang-gerbang jalan menuju surau dan masjid. juga di Tukang-tukang kacang goreng itu pakai jas. apakah itu satu keluarga punya anak sembilan. tukang sesudah lama merantau pun kegemaran itu rupanya tidak hilang. Berjajar suami istri dilanda perang dingin. Pada hari raya dan libur-libur panjang. panjang. kalau itu. “Tetapi. Mereka mangkal di emper-emper toko. meski sejumlah anak muda mengalami pengalaman pahit akibat kacang goreng. memang lain kacang goreng kota kita ini.

anak. dia Affandi. Anak daun telinga kawan kami itu gembung-bengkak kemerah-merahan. kami punya ilmu. “Ibarat penyair. Makin malam. cang goreeeng…! Tak-tuk-tak. sebab dipakai setiap malam selama bertahun-tahun. ingin makan kacang goreng. istrinya dipakai Mak Sanin. saat beduk subuh mulai berkumandang di seantero kota dari masjid dan surau. . Tokoh ini sangat populer bahkan hingga kini. Orang-orang terbangun. Dialah penemu sistem jemput bola dalam berdagang kacang goreng di kota kami. mata rada Agak berbeda dengan orang dewasa. Seolah ringan saja karung goni itu baginya. Cubadak Bungkuak. perempuan kota kami menyukai lelaki itu karena dia tidak pernah pakai jas baru. Selain karena kualitas kacang gorengnya memang di atas rata-rata. Tetapi. dan Bak Aie yang merupakan pinggiran. Orang juga mengatakan Mak Sanin tidak lagi bermain silat dengan manusia melainkan dengan harimau. Jam dagangnya juga berbeda dengan tukang kacang goreng yang lain. Juga karena dia “berisi”. tanda Mak Sanin berjualan. Sudah barang tentu jasnya pun telah lapuk. Biasanya. tak- Pada larut malam yang dingin berkabut itu Mak Sanin benar-benar menjelma jadi pelayan buruk mendengar suaranya. Mak Sanin satu dari sekian banyak tukang kacang goreng di kota kami. dan selalu merah menyala. Kedua makhluk itu konon melakukannya malam-malam di pinggir kota usai itu lari pulang menggerung-gerung dan telinga si Katan pun disentil Mak Sanin. Ibarat pencipta lagu dialah Gesang atau Ismail Marzuki. dan sarung dililit ikat mendatangi calon pembeli. kian gencar pula Mak Sanin mengembara menyusuri pelosok-pelosok kota. Mak Sanin adalah maestro kacang goreng!” jawab si istri bersemangat. Bancah Laweh. Suatu kali kawan kami si Katan menghajar anaknya hingga babak belur. “Hah.“Ya. dia itu Chairil Anwar atau Amir Hamzah. Juga ke Lubuak Mato Kuciang. Ibarat pelukis. Pencuri-pencuri mengurungkan niat mereka yang Pasangan-pasangan yang tengah bertengkar terhenti. Suara serta bunyi tangkelek atau bakiaknya tuk-tak. itu Mak Sanin!” ujar si suami.tambalan pada jas yang sipit. kepala.anak justru takut pada Mak Sanin. tunggal sekaligus penjaga kota kami.pinggiran kota kami.tenang saja dia melangkah. tak-tuk-tak. dan warnanya hampir tidak jelas lagi. Kumisnya pun lebat melintang. “… perempuan ia adalah engkau seorang!” potong sang suami buru-buru dan si istri pun diam sambil tersenyum-senyum. Mungkin karena tubuhnya tinggi besar. cang goreeeng…!” berirama memecah udara: “Tak-tuk-tak. Berhari-hari berjualan. dia susuri jalan-jalan kota dengan karung goni berisi kacang goreng di atas seperti di muka bioskop atau kawasan pasar. ilmunya tinggi. khususnya di kalangan kaum ibu. dia keluar sesudah magrib atau isya dan akan berakhir kira-kira pukul tiga dini hari atau Mak Sanin adalah satu-satunya tukang kacang goreng yang tidak berpaut di pangkalan saat Begitu keluar rumah di pangkal malam itu orang tidak akan menemukannya di tempat ramai pinggang lebar. terutama ibu dan kakak-kakak perempuan kami. Ibarat… . Dengan jas itu-itu juga. pandai dan rajin menyisik sehingga tak kentara benar tambal. Menyelusup manja ke pelukan suami. Tenang.

seluruh warga kami gempar tak alang kepalang. Semakin jauh. bunyi tangkelek-nya yang menjauh. Mak Sanin!” Dan. lalu sayup-sayup diantarkan angin mendengar suara dan bunyi tangkelek itu. Warga yang lain tidak. mata si Sanin itu merah hanya karena menukar siang dengan Tukang kacang goreng itu ditemukan orang tergeletak di tepi kali. “Masya Allah. “Seliter saja ah. Rambut nyonya muda yang hitam subur tergerai hingga pinggang. kacang enak ini! Tak sembarangan kuali dan pasir . Tetapi. tangan-tangan mungil itu menyusup pula ke karung-goni yang hangat. Jakarta. Mak Sanin. Ada sebelas bekas bacokan merobek jas tua dan tubuhnya. ketika ramai-ramai di tahun ’66.” Dan.“Beli dulu kacang gorengnya. Hanya berdua. meraup kacang goreng bukan hanya sekali. pasangan-pasangan itu menyimak suara Mak Sanin dan malam melalui kisi. Dan besoknya lagi. tak serupa Mak Sanin!” ujar mereka. Kemudian. berkibar-kibar ditiup angin malam. Tujuh lubang peluru. Dan. Dan. Dengan jas yang ituitu juga. yang memang tak tidur-tidur di tengah malam buta itu. Delapan tahun saya belajar merendang kacang pada Mak Sanin!” Anda melongo heran karena Anda toh tidak kenal siapa Mak Sanin. harum bercampur peluh. “Mak Sanin!” “Hoooi!” Tukang kacang goreng itu menghampir ke makhluk elok itu. Belilah.” “Yo! Eh. cuma sebagian warga kota yang kota tidak mendengarnya. berpandangan dan saling tersenyum mendengar suara Mak Sanin mendekati. sudah mereka tunggu-tunggu. Besoknya. pengantin-pengantin baru. Tidak bakal menyesal. Anda pun akan terheran-heran menemukan banyak tukang kacang goreng di buat merendangnya. pada suatu malam. Padahal. Semua pembeli melakukannya dan semua tukang kacang goreng membiarkan saja. Cobalah. tegak menanti di ambang pintu. Bergegas mereka benahi diri. sambil bercengkrama serta menikmati kacang goreng berdua-dua di larut malam itu. bahkan hingga kini. sewaktu pesanan mereka ditakar tangan mereka menyelusup ke karung goni. itu biasa. malam!” Tetapi. “Huh.” kata ayah bagai orang kedinginan.kisi jendela. tahu benar aku. kota “Padahal. Tetapi.” Anak-anak muda yang sedang begadang menyongsong kedatangannya dengan girang: “Tiga liter. enak atau dia bertingkah. Karung goninya entah di mana. mungkin juga tidak mau tahu. Orang-orang akan mencela tukang kacang goreng bila kacangnya tidak Karena itu. justru setelah ia tak ada lagi namanya terus jadi buah tutur warga kota kami. cukup seliter?” “Hi-hi-hi. Desember 2004 kota kami yang berkata kepadamu: “Ha. Cukuplah.

agresif melahap segala sambil menyepah yang kalah kehabisan waktu. di mana setiap pitstop. Bilang. sambil menyisihkan yang kalah dari satu jalur pacu. di juluran lidah dan di untang-unting tenggorokan ketika orang-orang bercakap-cakap dan ingatan: memaksa setiap orang untuk bergerak lebih cepat dan semakin cepat sehingga Jam ada di mana-mana. di layar TV dan dinding di samping kiri atau kanan pintu masuk dekat bel. di layar monitor. dan begitu lepas sepanjang jalan. di bundaran lampu lalu lintas. bersebelahan. berteriak. yang diam-diam maju terus. Setiap orang dikepung ratusan jamnya sendiri sehingga terkurung sendirian. dan sambil terus melahap yang ada dan menempatkan semuanya pada jalur pacu yang ada dan senantiasa ada. lalu jeda dengan jam yang terus berdetak di mana-mana. di HP yang setiap saat sepertinya berbunyi menyatakan ada jalur pacu lain yang harus ditempuh sebagai balapan berikut atau yang terpaksa diabaikan. Jam di mana-mana. Di pagar rumah. dari ukuran yang dibuat manusia untuk menandai yang tidak terlihat dan tidak terasa. di pintu. sampai akhirnya tiba di rumah dan disergap jam lagi. balik ke dari kungkungan jam kerja semuanya langsung memasuki street race untuk sekali lagi berpacu pulang (cepat) ke rumah dengan berjuta jam yang berdetak dan berpendar di tengah lautan jam kerja dan dipacu detak ribuan jam kerja di mana-mana. di dinding. ”lakukan semuanya semaumu. Jakarta—kata lik War—itu jam besar dengan miliaran jam kecil yang berdetak dan berpendar serentak. di lembaran kertas. dan di kemengangaan mulut. berpendar-pendar di dalam jadi tanda ketika malaikat mencatat semuanya dalam lembar laporan harian kepada Allah orang berpacu untuk secepatnya masuk garis finish tanpa terlebih dulu memasuki jeda waktu terengah-engah dan menyerah. Di jalanan. sehingga orang-orang tak akan bisa lepas dari kekangan jam. di ruang tengah yang merangkap ruang keluarga. di meja di ruang tamu. di dinding dan kursi-kursi dan monitor komputer. di apa saja—yang serentak berpendar dan berdetak menganjurkan semua agar terus Gelagapan dikerubuti jam yang bermunculan dan berdatangan dari mana saja dan hinggap berpacu. saat waktu terpaksa hanya jadi patokan gerak tersenyum dan tersipu-sipu. di pintu halaman. Bisakah manusia bebas dari waktu. di dapur. di ranjang dan bantal kamar tidur. masuk kantor dan mulai kerja dengan jam yang berdetik di laci meja tulis. aku hanya akan SWT…” Dan karena itulah—kata lik War—Jakarta berubah jadi arena balap. di mobil. di motor.Langgam Urbana Beni Setya (Atawa Jakarta in Rap) Di Jakarta—ungkap lik War—jam ada di mana-mana. saling kontak-sentuh. di perut yang hanya diisi kopi. anjuran jam— dan ulah kerja manusia. berbelit dan kusut membentuk gombal kain nasib yang ketika ditelusuri benangnya ternyata masau saling menjerat. Lik War menggeleng. di bak air dan di gayung kamar mandi. ”Tapi bisakah kita bebas dari jam?” kata Anderwedi sambil berpacu agar bisa lebih leluasa tak dijadwal. minta bantuan pada siapa pun dan mendapatkan pertolongannya. Berdetak-detik di dalam pendengaran. Manusia selalu berada dalam . di meja makan dan terutama pada piring dan gelas minum. tidak bisa memanggil siapa pun.

untuk tolong. dan bermuara di jalan antardesa yang bergelombang dan berlubanglubang.pikirku.” kata lik War. yang mungkin hanya menggeleng. ”bisa dibeli secara kredit”—tapi minimal tiga orang. yang lebih memilih sepada motor bukan karena tak punya duit karena jalanan di Jakarta bukan tempat yang tepat untuk berpacu dengan mobil. bumbu dan yang lainnya. titik saling ketergantungan.” Kami menelan ludah. yang memaksa tiap orang menjadi Valentino Rossi. sebelum semua meloncat seperti mengawali lomba yang akan menentukan siapakah yang lebih dulu dibanding si pole position yang teledor. Terbayang jalanan mulus Jakarta—tidak seperti jalur makadam kampung. yang cuma bilang kaus itu diberikan anak bos karena saat dipakai ditertawakan oleh cuma produk tembakan sehingga harganya hanya cukup untuk naik taxi ke Ancol—lik War Ya! Tapi lik War senantiasa bilang: Jakarta itu jam besar dengan anggota miliar jam kecil.” kata lik War. sambil merokok dan meneguk arak oplosan di tengah kesiuran angin dari persawahan yang dipusokan dan kami menghubungi Saman Bakmi—ia berkeliling jual bakmi dengan gerobak dorong. meski di kereta itu ia tak bisa berbuat apa selain duduk dan menggerak-gerakkan jari kaki tokh. what ever will War. malah sampai jalan tol yang seharusnya lapang dan bebas pacu bagi yang ingin menundukkan jam. Casey Stoner dan apa lagi yang senantiasa berpacu di jalan. karena itu mereka menjadi yang dikalahkan waktu dengan kepeksa jalan merayap dalam kemacetan dan nelangsa menghabiskan BBM percuma saja. yang hanya sebagian yang bisa ditanami palawija dan semangka. ”dan kendaraan yang berjibun itu membuat macet di mana-mana.menolong atau instinktif tebas-menebas— metalik halus bergambar entah apa—percik cat tumpah—dan tulisan excited.” kata Anderwedi—mewakili pikiran kami. dan sesekali mandeg dan meraung-raungkan gas sebelum lampu di perempatan itu menyala ijo. Kami . Tapi berlomba dengan gerobak dorong sambil memukulkan dan pelatihan—agar ikut dengannya dan belajar berkeliling di gang-gang di perkampungan sutil logam pada cekung wajan dalam pacuan di gang-gang kampung. yang menembus ladang dan sawah. seluruh anak muda ingusan yang saat itu ikut nongkrong di gardu Kamling di ujung kampung. ”Terlalu banyak kendaraan. dengan celana jeans hitam ketat yang kata lik War juga bilang. ”Aku jadi pengen ke Jakarta. Lik War pun mengajukan usul lain. pikirku. hingga ada jalan khusus yang hanya boleh dilalui mobil bila isinya untuk membeli mobil—”barang-barang itu. dan yang setelah 5 km baru tiba di jalan kecamatan yang lebih mulus sedikit— terbayang jalan itu penuh deretan mobil yang berjajar dan di sela-selanya motor-motor meliuk seperti dalam atraksi lomba trail semi akrobatik di TV. karena itu banyaklah orang menawarkan diri disewa-angkut agar mobil itu bebas berpacu mengejar waktu di jalur 3 in 1 itu di sekian menit nunut—celakanya orang-orang itu malahan diuber dan dikejar Satpol PP karena dianggapnya membuat orang kaya bisa bebas merdeka berpacu di jalur yang tak sembarang orang bisa masuk bila berdua saja. ”grammar apa tuh?”. Aku menatap lik War: Memakai kaus hitam dengan sablon be will be. Ia minta disewa dari juragan yang juga menyediakan mi. ia naik Brantas yang karcisnya sebanding dengan harga celana itu. kami ikut dengan Marto Pedrosa—ia sendiri yang menambahkan nama itu karena aslinya ia bernama Joko Martono dan dulu selalu kami dihiasi jam yang sudah pada kendur: benar-benar tak menarik minat berpacu kami. serta tempat kos Jakarta di sepanjang malam. deretan kata yang tidak bisa kumengerti dan kayaknya juga tidak dipahami lik bos yang bilang. Dan setelah itu. Lik War pun tersenyum.

Dan miliaran jam yang terangkum dalam sebuah jam raksasa bernama Jakarta terus berpendar di kelam malam. kudu pinter cari kos-kosan karena aku sendiri hanya punya satu kamar dengan Neti dan dua anak itu. dan banyak orang sekabupaten yang mengaku-aku penduduk asli kampung sini. ”macak dan akting pengemis. yang masih buron—sehingga para urbanis sekabupaten di Jakarta bikin slametan di Jakarta Dan Jakarta jadi jam raksasa yang melengkung dan mengayomi miliaran jam kecil yang serentak—tak pernah serentak karena selalu ada selisih lebih lambat dan lebih cepat dalam seperti memanggil kami untuk meninggalkan ketiadaan harapan di kekeringan yang selalu baik dan tak baik-baik. Ia menganjurkan jadi kernet. Sambil mengeluh tak segampang para perempuan. sekaligus kudu sepeda dulu. dan menjadi apa saja—tidak hanya berakting macak pengemis tak pernah pulang ke kampung meski setiap Lebaran selalu nitip duit dua atau tiga ratus dan diuber-uber polisi sehingga blingsatan mburon ke mana-mana dan kemudian mati tapi benar-benar jadi pengemis dan pemulung. Santik dan Kuni. untuk segera berpacu sebagai apa saja. ”Atau ikut Arpan. dengan angin deras dari persawahan yang dipusokan dan hanya sebagian kecil di dekat saluran irigasi yang sempat ditanami palawija dan semangka. ”Jadi akan berangkat apa tidak?”—teriak angin kemarau yang hitungan mikron-sekon atau sekon—berdetak-detuk dan berpendar: semua jam-jam itu melanda desa. dan karenanya membimbing kami untuk bangkit dan mempertaruhkan apa sekujur tubuh: berpendar di langit malam yang penuh bintang. dan Genduk (dilindungi dari yang lain dalam teror nekat Isa almarhum. Lania. Atau ojek payung?” Kami melengos—apa yang bisa dipacu dengan jadi punya DP sejuta sebagai jaminan dapat make motore bos. dan yang di Jakarta menjadi tukang ojek. Berpacu dengan waktu secara baikterlalu kreatif meletakkan jam di jalur pacu yang miring mencang-mencong demi survive menyusupkan dingin dengan menyamak jangat selepas hamparan persawahan yang berhamburan ke mana saja dan jadi apa saja. terpaksa dipusokan di musim kemarau itu. Kimi. Sri. Bersama-sama sampai di Senen atau Kota—lalu . ”OK!” kata Marto Pedrosa. menjadi rembulan gaib di saja. ”tetapi lu kudu apal jalan-jalan di Jakarta dalam seminggu. Marto Pedrosa kampung sini. yang selalu bergaya dengan sepeda motor siapa saja bila pulang ke kampung. Timpah. menjadi orang kantoran atau hanya suruhan. dan setelah enam bulan baru menjadi ojek’s driver—sambil menjanjikan mempertemukan kami dengan kawan Bataknya. atau yang terpaksa menggelandang di jalan seperti Nian. yang selama 15 tahun ini ribu bagi Mbah Rame. memenuhi trotoar untuk recehan?” Kami melengos. menyusupkan dingin yang tajam dan menyamak jangat dalam irisan yang menyeluruh di awal Syawal. Itu artinya tak berpacu di Jakarta tapi jadi batu jarak tempat anjing mengangkang dan kencing. dan karenanya (kata lik War.panggil dengan sebutan No Tit. yang dengan gampang menjadi pembantu macam Warti. atau buronan karena dengan sesuap nasi. Kasim. ibunya. Nonik. atau benar-benar berpacu di jalanan dengan menjadi jambret ditembak dengan delapan belasan lubang luka seperti Isa yang jadi gembong dengan tiga dan Saman Bakmi) di Jakarta tak ada yang berani kurang ajar kepada orang-orang dari orang sekampung lainnya yang masih selamat. lantas bertemu setahun sekali di kampung. Mungkin lu kudu belajar jadi ojek (tukang) ojek payung? Lik War tertawa. Berangkat ke Jakarta. Koral dan dan di kampung sini). atau penghuni kompleks semodel Tri. dan Tyas.” katanya. semodel de Grana.

agar bisa bersama-sama pergi ke Jakarta lagi. yang lebih sara karena harus mbabat alas meski selalu diigaukan Pak Lurah di dalam pidato ” Jakarta. selain jadi transmigran acara halal bi halal kampung yang penuh kebohongan itu. menumpang kepeksa : terpaksa nelangsa. yang biasa lusuh nunut : ikut. sebagai apa saja di mana saja. pentolan. kepala [penjahat] slametan: ritual membaca doa keselamatan bagi yang meninggal mencang-mencong: meliuk-liuk. sara : sengsara mandeg : stop. Ya! Ya! YA! YA—adakah pilihan lain. here I am coming!” teriak Anderwedi—mabuk. kolonisa . berliku-liku mbabat alas: membuka hutan. dan berhamburan lagi di Senen atau Kota. berhenti kudu apal : harus hapal motore : sepeda motornya macak : berdandan blingsatan mburon : panik/kalang kabut melarikan diri gembong : tokoh.*** Catatan: untang-unting: yang tergantung dan bergoyang-goyang gombal : kain bekas untuk lap.

Atau menarik picu Aku dipaksa belajar nembak saat kelas II SD. di belakang lemari pakaian kamar tidur utama. ada magasin cadangan di atas lemari. dan memasangkannya lagi. dan mengentak pantat peluru atau kekosongan oleh pelatuk—seperti dalam film. Ia menggenggam tangan dan memaksaku menembak lagi. langsung ke tanah. Dan kami. Lalu mendatangi Mereka gemetar dan segera semburat ketika diusir. Sejak kelas VI aku sudah dilatih membongkar. dengan magasin penuh. Ibu muncul dan menarik aku sambil mengomeli ayah—”Dia anak perempuan. Guru itu mengangguk. banyak teman yang mengadu—selalu diperas preman di pangkalan angkot dekat sekolahan—aku bersekolah dengan membawa pistol. atau dalam putaran gila sisi kepala— sebelum dikembalikan. ketika kelas II SMP. Tapi sasaran tunggal apa yang bisa lolos dari berondongan sejauh lima meter? Sejak SD aku sudah tahu ada simpanan senapan serang buatan Rusia di situ. Tanah lembek berumput membuat peluru itu tembus ke kedalaman. “Sebaiknya semua itu jadi rahasia berdua. Tapi sebelum dia banyak bicara. Sederetan paku di dinding menahannya agar tidak jatuh dan tetap tersembunyi. colt—yang mekanisme penembakannya Dengan itu aku mimpi jadi cowboy perempuan. meloloskan genggaman dan mengokangnya. terutama ketika magasinnya penuh. mendorong ke pangkalan itu dan mengokang serta menodongkannya pada si jagoan yang kurang ajar itu. Tiga tahun kemudian aku menguasai AKA. aku mengeluarkan FN di hadapannya. Memasukkannya lagi ke magasin. yang genggamannya terasa berat itu. Sekali. diungkit. Ayah terbahak-bahak melihatku ketakutan. lalu ditangkupkan untuk dipasak. membersihkan. dan memasang lagi pistol FN. Pa!” katanya. yang memberi ketika lulus ujian sepertinya mereka lega karena aku sudah tak ada di sana lagi. Dan bila kurang. dan memuntahkan 52 tembakan beruntun. Dan peduliku? Di SMA aku malah mempunyai kawan. Letusan dan entakan membuatku kaget. dengan tekanan ringan dari telunjuk—dengan memakai popor lipat atau tidak—kita Tersamarkan. Tapi apa . meski dengan gampang kita meraih dan mengokang membuka kuncinya. Siapa mau mati? silinder tersampir dan bebas diputar. Kalau disuruh sangat sederhana itu. Sejak saat itu aku didaulat untuk jadi kepala keamanan dalam segala acara yang diadakan di sekolah. Sangit mesiu melulur lengan dan wajah. Dan tiga tahun sebelumnya aku sudah dibiasakan membongkar. Mencacah akar flamboyan yang marong berbunga dengan daun hijau telunjukku yang masih lunglai oleh kejutan. membersihkan. rasanya lebih enak memegang pistol polisi. anak petinggi polisi. Bergerak menarik pasak dan membiarkan agar bisa menggesekputarkan silinder itu di lengan. lalu mendiagonalkannya ke tanah dan yang amat jarang.” kataku. Keesokan harinya aku dipanggil guru BP. sering mempraktikkannya dengan silinder kosong. Setahun kemudian aku menguasai FN. Mula-mula hanya dengan pistol. di kamar anak petinggi polisi.Salvo Beni Setya Ada senapan serang AKA. memilih. Sebuah letusan lagi. magasin dan satu peluru paling atas.

Aku tak pernah membunuh orang. Terlebih kalau keendus wartawan jadi segala risikonya. kalau maut sangat dekat. Kau tak boleh jadi anak Mama. Letusan itu keras. Bahkan berlatih menembak tidak dalam posisi klasik berdiri. Mulanya di Perbakin. Padahal.” kataku. atau punggung pelarian selebar papan pantul ring basket. Ayah terpaksa berurusan dengan panglima. Ayah menertawakan cita-cita lembek itu. Sebuah mekanisme ledak dan lesat peluru yang setipis sentakan jari telunjuk yang mengentakkan picu. Tapi ibu mengharapkan aku jadi dokter. yang lain. lama-lama aku kecanduan mengintai apa pun dengan teleskop dan bimbingan sinar laser. hanya Lantas apa makna hidup? Lantas apa makna bertahan untuk hidup dengan semacam dukungan ilahiah nasib. Dan karenanya aku bebas bergaul di luar kompleks—selama terus berlatih menembak. dan menembak. Aku bisa menembak bola tenis atau bola golf dari jarak tujuh puluh lima meter dengan satu tembakan.” kata ajudan baru lulus Akabri. Ya! Tapi aku sangsi bisa jitu menembak kepala botak profesor sebesar bola sepak. Aku beranjak. Kini aku terhibur batu sebagai bantalan. Aku tertawa. Peluru itu menghantam aspal. dari jarak tiga meter. ayah ingin pensiun dan bisa jadi bupati atau wali senang diajak mengeluyur itu. dengan posisi jongkok menyamping. Akan dapat konduite dan kota dua masa jabatan. “Kita harus kejar setoran.” katanya. Kini aku bisa berada sekitar bersangkutan mengerti bagaimana ia mati. Ibu menggerutu tapi tidak berdaya. seperti dua kakakku—setelah tiga kakak aku kuliah kedokteran bukan karena ibu ngotot tapi lebih karena aku tak bisa masuk Akabri. Polisi akan masuk dan ayah akan menghajarku. “OK!” katanya.kenikmatan main-main dengan colt. Dan karenanya memberi aku kebebasan main pistol dan senapan. dan karenanya Mungkin ia menginginkan aku jadi tentara. Dik.” katanya. Ia membiarkan ketika ia kuliah kedokteran dulu. lima puluh meteran untuk membidik seseorang dan mengirimnya ke kematian tanpa si Ayah yang mengajari—membimbingku dengan fasilitas latihan komando. Manusia itu . seperti menembak kaleng atau cecurut. telanjang dan gampang. lantas menodong wajahnya bolong. Menghambur jadi dua lesatan logam yang kotor oleh serpihan. “setelah lulus kau daftar dokter tentara. ketika jadi danyon. atau kaki penyusup yang segede tiang gawang. sekaligus memberi kesadaran. Menurunkannya. Aku tak yakin mampu menembaknya dengan dingin. “Macam-macam kepalamu yang kekerasan lapisan batuan di bawahnya membuat peluru naik ke atas. Akan lain. kalau nyawa seseorang hanya bergantung pada satu sentuhan ringan dari jarak dua meter? Dan pada saat itu aku pun belajar mengintai dengan teleskop— membidik sasaran vital dengan satu peluru. membuat lubang dan pantulan dengan menjebol lapisan aspal. Mereka beku—pipa jeans preman itu Di boncengan aku gemetar. Kalau salah bidik dan kena kaki preman urusannya bisa jadi berita. membikin sudut naik menghunjam di pohon mahoni dan ban sepeda motor. Sekali aku pernah menembak aspal jalan di sisi kaki preman yang menghadang. seperti cita-cita mendidikku dengan tradisi militer–mengharapkan aku memilih karier militer. Naik ke boncengan dan melesat. atau berbaring di balik batu—dan menjadikan tonjolan “Kau seharusnya jadi sniper. Aku ambil FN dari tas. aku kokang. kata ajudan. perempuan cuma jadi istri tentara.

Aku lulus kedokteran dan masuk tentara. Aku kini sipil. seperti mendengar bisikannya. Ternyata jadi tentara bisa bersifat sangat administrasi. Dan terkadang pergi bila sesekali ayah datang menjenguk ibu. dada. atau kepala mayat dalam praktik Ada aura yang membuat kita harus mengeraskan hati dan membaca doa—lebih dahulu— kedokteran. Apa jadinya kalau tentara? Ketika ibu meninggal ayah masih di C. dengan mengumpulkan suami.” katanya— tertawa. sampai ibu meninggal—menyeringai. Dua jam kemudian aku menelepon ke rumah dinas. ngantor seperti orang ayah pensiun dan jadi bupati di C. . yang langsung mendekat. Aku diam saja. terutama karena jadi rekanan pemda. agar memberi pelajaran kepada ayah yang sok sibuk itu—yang barusan memaki-maki aku. Tapi bisakah kita membalik laju waktu? kebanyakan—meski tetap dibimbing insting militer yang terus diasah. tak ingin menceritakan kelakuan ayah kepada mereka. Tiga tahun kemudian ayah harus tetap sibuk bekerja dan—seperti yang dikeluhkan ibu—terpikat pemborong yang Aku menelepon ayah.” katanya. meski aku yakin mereka mengetahui perbuatan ayah. dan seluruh keponakan. Aku mematikan telepon. anak. Ditempatkan di kota. sia-sia melepas senyum di tengah deraan sakit. Tanganku digenggam. Dua jam kemudian aku menelepon rumah gendakan-nya. Ke mana? Entah! menelepon lagi tapi ajudan yang mengangkat. Bahkan aku sengaja tidak memberitahukan kondisi kritis ibu sampai saat penghabisan mendekat. “Ayahmu mendapat kesenangan baru sebagai orang sipil yang pergaulannya menembus segala lapisan masyarakat. perut. Aku untuk menggalakkan intensifikasi pangan. Ya! Aku yakin tentang hal itu. yang telaten merawatnya. Aku tak mengabarinya. Pelayan yang pelayan—Pak Bupati baru ke luar. Ibu menatap. “Kau tahu apa?” katanya. Enak. Ayah tertawa. “Kau tidak mengabari marah dan memaki-maki lewat telepon. dalam kurang tidur. dan cuma basa-basi kalau ayah menelepon menanyakan kondisi ibu. Dua tahun kemudian ibu sakit. Hal yang membuat suami yang ajudan itu. kakak-kakak dan ipar-ipar marah dan mengadiliku. Memprotes tiadanya perhatian pada ibu. dan denyaran roh pasti menimbulkan sugesti yang menyentakkan—seperti yang aku rasakan ketika menembak aspal di sisi kaki preman. Ia bergegas menelepon ayah. Dan kebisuan itu berlangsung tiga tahun. yang mengatakan Pak Bupati harus ke daerah mengangkat. ipar. karena dia sendiri belum pernah menembak orang—atau berperang. Aku cuma bilang tak tega mengatakan kondisi ibu yang sebenarnya—maksudku. Mungkin ia ingin memperlihatkan secercah bahagia karena berhasil menjadikan aku dokter. Aku ayah?” kata Samsidar. “Aku kan cuma cari kerja. kakak. bergaul dengan banyak hal yang harus diselesaikan tanpa ada panduan jelas. kena kanker payudara yang baru ketahuan setelah stadium IV. seperti merindukan kehidupan eksklusif di kompleks. “Kau orang militer yang hanya hidup dalam lingkungan eksklusif dengan rutin-rutin yang terkontrol. Dan ajudan ayah juga yakin akan itu.” Aku memprotes tapi telepon segera dimatikan. Aku ikut ibu yang bungkam pada ayah. Dua jam kemudian aku menelepon lagi tapi tak ada yang mengangkat. Ia minta agar aku merawatnya. Dik. Aku.bernyawa. meski itu hanya untuk menyayat tungkai. Aku mengangkat bahu. dan dapat jawaban Sejak saat itu aku tidak pernah menghubungi ayah lagi.

Kami membawanya pulang setelah dimandikan—siap disembahyangkan dan meletakkannya di dada sambil terlentang. Mengokang dan Ibu meninggal.karena merasa dipermalukan sebagai Bupati. Ya! Ya . yang pasti datang dengan langkah lebar dan teriakan amarahnya yang khas. Aku masuk kamar utama. Biar ia merasakan sakit di dada seperti yang dirasakan ibu selama lima tahun. Sakit dari cacahan peluru satu magasin—dengan lima dua lubang luka. Ya— sepuluh menit lagi. Pasti. Aku menunggu ayah. Tapi apa kepentingan ia di luar citra bupati teladan? dikubur. Mengambil AKA. Mengunci pintu. Sepuluh menit lagi. Berjam-jam menunggu ayah. yang tak peduli akan derita istrinya yang sekarat.

dengan semena-mena merangkul. “Nggak akan tembus kan. Saimah menyusul dari depan. Menyibak tirai pudar dan merangkul Arsad dari belakang. Sad. menjauh dari keramaian. Mungkin cuma memesan kopi. dan Arsad pun menikmati hari-hari manis. menghindarkan pendengaran Khairan. Arsad menangkap dan meremas dua belahan pantat yang bagai punuk dan tanpa berlapiskan celana dalam. Ya! Akan tetapi.” kata Nasir. Ini bukan punyamu. Kemungkinan cuma sepersepuluh ribu. “Kamu duduk-duduklah. gertakan itu cuma efektif tiga bulan. bermalasan di warung itu.” katanya. Arsad menaiki sepeda motornya. yang harus diperhatikan agar ia bisa tetap memakai sepeda motor itu. preman dan pemabuk. berbincang dengan istri hanya omong dan terus omong sambil berjudi. kata setiap minggu-apa masih layak diinventariskan apa pasnya dicabut.” Setengah berbisik. “Apa? “Sudah sana!” katanya sambil mendorong Arsad pelan menegakkan sepeda motor.Senja Merah Khairan Beni Setia Setengah berkacak. Menghindar dari sekolah. Jalan ke pintu belakang warung. Khairan tersenyum dan ngojek sama Sitol. ayahnya memberikan pesan khusus. Ia membolos bersama Taberi. olehnya. dan menyuruh di pangkalan ojek di mulut jalan ke Perumahan Ganda Mekar. dengan lembut. Saimah menjerit artifisial sambil mendorong Arsad ke arah pembaringan yang berantakan. Khairan. Beres! Ngomong apa?” Nasir memberi isyarat telunjuk di mulut. Sir?” katanya. “Pokoknya kamu tenang-tenang saja. Saimah makin genit. Kita tutup nomor jagonya. per lima puluh ribu tombok. “Kita juga main. mendorongnya sehingga rodanya mencecah di tanah. Setelah itu ia benar-benar menguasainya. Khairan menepuk bahunya.” kata Melangkah. Terkadang Arsad hanya nongkrong. dan utamanya pemalas yang dan karenanya mendapat duit buat modal ngombe atau ngepil. Itulah awalnya. Menyelinap dan masuk kamar yang pengap dan remang. Ini hanya pemancing saja. Lha wong kowe melu mbandari …” Khairan menatap. Motornya dipakai ngojek sembarang orang. Melemparkan kunci kontak ke arah Nasir. dan karenanya kita hanya narikin duit orang kampung. dengan setoran biasa. serius. Terbayang lagi. menggerayangi dan . makan jajan. “Dan sementara itu kamu pun bisa aman-aman saja ngeloni Saimah. dengan payudara yang berdenyut. Nasir menggeleng. Arsad menendangi bongkahan blok mesin sepeda motornya. Ia menahan ketegakannya dengan dua kaki yang mengangkang. Dan mungkin tepat pada hari yang keseratus satu. Sad. ini kepunyaan bapak yang dititip-pakaikan kepadamu. di kisaran empat angka. megang surat-suratnya-sementara itu masih bisa dipakai mengiyakan dengan sungguhsungguh. curiga. karenanya akan ada evaluasi Dan kini ia akan menjadikannya Hadiah Utama Toto (gelap) Singapura. ayah. Radio menyerukan dangdut. atau menggoda Saimah. Nasir. Perkenalan tidak disengaja sebenarnya. Abai bergabung dengan banyak orang-para pengojek. seingatnya. Bapaknya pasti meneng. Itu hari keduapuluh delapan berada di luar rumah. orangtuanya semakin permisif. Arsad mengenal Suimah. dan makan diawali dan ditutup oleh merokok di warung Khairan.

Itulah awalnya Arsad pun jadi orang yang Surga telah kembali. Khairan-setengah preman karena istrinya “Biarlah. Arsad pun menyuruh Nasir untuk menjualkan sepeda motornya. biar bisa kompak dengan mertua. yang gigih.” katanya. Mungkin karena lega karena kini Arsad resmi jadi suami Saimah. Membawa tas pinggang. dan berkeliling ke mana saja. Orang-orang kampung menggeleng-gelengkan kepala. “Dan mempunyai anak perawan menciumi Saimah. bahkan untuk sekedar mengusik keasyikan mereka. Ibunya Saimah lembut mengangguk. Khairan cuma Menemani Arsad mabuk lalu menyeretnya ke kamar meski tak lagi ada bulan madu. haid Saimah sudah telat seminggu. Berjoget dengan tape dan terbahak-bahak. Khairan tersenyum. “Seminggu bisa berpenghasilan.” katanya. Akan tetapi. Sepanjang waktu. Dan Saimah makin manja. Tapi. Berharap. Ia tertawa. Ia seorang sales pengawal pribadi. “Toh kita tahu ia berduit dan orangtuanya sugih. Hari itu-seperti biasa-Nasir akan berkeliling dengan sepeda motor Arsad. Dan disusul pesta mabuk semalam suntuk.” katanya. Lantas mereka pun mulai memanggil Arsad dengan sebutan bos. Terlebih karena Arsad semakin sering membawa Topi yang genah. dan menjebol lemari untuk mengambil perhiasan. Cemberut dan makin sering marah. ia seorang sales yang agresif. bermakna mempunyai barang dagangan. Istrinya mulai menyindir. Khairan menenangkan. Dan Arsad pun semakin jarang pulang sekaligus semakin jarang masuk sekolah. Hal yang tidak gampang meski telah dibantu minuman. yang melingkar manja tanpa celana dalam dan bra-meski masih memakai rok terusan longgar. Saimah tersenyum dan terus tersenyum. “Kita ini orang dagang. Akan tetapi. sepeda motor itu modal untuk hadiah tombokan Toto (gelap) Singapura. semakin tidak mempunyai duit. selalu. Sekaligus itu membuat Arsad semakin butuh duit untuk menyenangkan banyak orang. pil.yang sebenarnya membanting tulang menyambung hidup-lembut menenangkan mereka. pikir Khairan-yang punya dukun kuat sehingga selalu yakin tebakan mereka tidak akan tembus. yang diedarkan berkeliling di antara orang yang berbual atau main kartu. menganjurkan agar Khairan mau mengurusnya ke KUA agar semakin kukuh. Nakal sedikit kayak si Arsad lumayanlah. karenanya orangtuanya masih di kantor. Orang-orang mendelik. dan menjual sisanya. Sekali-empat puluh hari lalu -menyelinap ke rumah ketika Memberikan sebagian kepada Saimah. memboncengkan si Krowak atau Brewok sebagai untuk tombok nomor di warung Khairan. dan rayuan Saimah. Utamanya Saimah.” Orang-orang tersentak. Siklus direcoki balas memaki. sedangkan Ibu Mertuanya sukarela menyervis. Arsad semakin sebel kepada Saimah-dan yang Dua minggu kemudian Arsad benar-benar bangkrut. Pak RT tak berdaya. menjelang momen bukaan Arsad memilih mabuk dan tidur agar tidak disentakkan oleh fakta ada yang tembus dan sepeda motornya melayang. dan karena itu ia mampu mencukupi Arsad dan dirinya sendiri. Ya Miring. Menjadikan empat kali. Khairan bungkam. siapa tahu akan mendapat jodoh lelaki kan?” Orang-orang pada tertawa. Nasir malah memunculkan gagasan yang sangat kontroversial. Meski begitu. terkadang orang masih datang . Khairan-matanya berkilaucepat-cepat mengundang tetangga dan menikahkan Arsad dengan Saimah dalam perkawinan siri. Duyunan orang yang menyetor keberuntungan.

Kaki. penyelonongan itu. memakan marka jalan meski mereka cuma mencari jalur kiri. Belokan liar itu. Menyulut rokok. Tetapi Khairan tidak kalah sengit menuntut. PJR yang dengan sigap meletuskan pistol. Sedangkan motor Arsad jadi sumber masalah. Menggulingkan kendaraannya dan menghajarnya sampai kacanya remuk dan bodypatroli. Mungkin akan segera dibakar-dan sopirnya mati-kalau tak kebetulan muncul menyusul datang setelah pasukan pengaman bantuan didatangkan untuk melokalisasi spontan diangkut dengan kendaraan yang lewat dan mau mengantarkannya ke RS. sudah meteng. Sepeda motornya dituntut dikembalikan utuh kepada keluarga Nasir dan utamanya Khairan. Berderit direm dan tepi jalan itu berjajar kios-kios-bahkan sebuah Angkot berwarna kuning sedang parkir sepeda motor itu. akselerasi pertamanya. meraung saat membuat belokan besar dari jalan hancur arah Perumahan ke jalan utama. sementara mereka telah bablas? Anak saya itu. dari hadapan. Kemudian teriakan memaki Station Wagon itu. ada di tengah jalan.Nasir memboncengkan Krowak. Ambulan Bunyi tumbukan dan jeritan orang-orang menghias siang itu. dan diungsikan ke Panarukan-dipondokkan. yang dikemudikan Nasir. bergetar karena tangan si pengendaranya goyah oleh kaget dan mabuk. belum pernah pacaran. Ia marah ketika mengetahui kalau sepeda motor itu telah berkali-kali dijadikan barang taruhan judi Toto (gelap) Singapur. lajunya sepeda motor Arsa. dan derap orang berlari memburu. dan minum Topi Miring- yang sama. tangan. Dan alur arah Hari itu-setelah sarapan nasi goreng. Arsad dipaksa tergantung lumpuh. melaju di kelempangan jalan yang lengang seusai jam mengantor. Ia menuntut. Akan tetapi. Serentak menghajarnya-bus dalam kondisi setengah mabok yang belum nya penyok. masalah dan menenangkan warga. yang lainnya memburu supir sirna. dan sisi rusuk kanannya remuk. tak bisa diturunkan. Sebagian menolong Nasir. Sopir Station Wagon geger otak ringan. Kendaraannya diperbaiki Ayahnya untuk pulang. dan…” “Betul! Tapi. menyeru ke seberang. apakah aku harus menunggu izin Bapak. mencuri perhiasan ibunya. tetapi kemudian diluruskan lagi ke kanan ke kelurusan karena di sambil kernetnya. Halim! Halim!” “Terus? Terus?” . tertekuk-tekuk pendek. Tetapi kecepatan Wagon itu tetap tinggi meski telah dicoba direm dan dibanting ke kiri. tetapi kaki kanannya diamputasi sedang tangan kanannya hancur tepat di sikut dibiarkan utuhdengan biaya asuransi. itu sudah amat terlambat karena si korban Nasir mati. meliuk-liuk. Pada saat sebuah Station Wagon-dengan bemper depan tambahan dari pipa baja.” “Sembarangan! Kalau tahu aku tidak akan sudi menyetujuinya-kamu dengan anakmu yang menyebabkan ia mutung sekolah. Krowak tertolong. Menyatakan suami-dengan menafkahi Saimah. Sedangkan kecepatan Station dicoba dibanting ke kiri. mblesar-kan gas. Lalu lintas sigap diatur. telur dadar setengah matang. bahwa Arsad itu suaminya Saimah sehingga Arsad itu harus bertanggung jawab sebagai “Tapi aku tak pernah mengawinkannya!” “Ya! Betul! Karena aku yang mengawinkannya.

Ngeloni: Meniduri Meneng: Diam. Mengawal Saimah yang menggendong bayi-diam-diam Khairan menyelipkan celurit-dan langsung ke ruang salam sambil menyelonong. berharta Genah: Enak dipandang. Dua kali lagi Khairan mengiba-iba. Catatan: kepada bapaknya Arsad-sekitar delapanpuluh kali. Tombok. Si bayi santun disodorkan oleh Saimah. membisu tanda setuju Kowe melu mbandari: Kamu ikut menjadi bandar Sugih: Kaya. Ibunya Arsad terpekik. Menyisih Dan dengan mobil itu juga. Dua hari setelah persalinan. Khairan mendelik dan membentakkannya. Dipantati bahkan. Khairan loncat mencabut celurit dan membabatkannya berdatangan. “Nih. Kembali mendatangi orangtua Arsad dan minta agar mereka tidak memutuskan tali kasih antara Arsad dan Saimah. Lebih jos ketimbang sepeda motor yang remuk itu!” menyerahkannya-pada kesempatan pertama-kepada orangtua Arsad.” kalimatnya. Berparkir di halaman. dengan mobil carteran. tapi tidak pernah dilayani.“Balikkan ia ke kondisi asal. “Aku tidak betah. Tetapi kedua orangtua Arsad cuma bungkam. Khairan menelan ludah. Menghiba-hiba sambil lembut mengingatkan anaknya Arsad yang dikandung Saimah. Bisa apa ’ndak?” Kadang Arsad mengirim uang belanja untuk Saimah. Khairan. keluarga lewat pintu ruang tamu yang terbuka di rembang petang. istrinya. dan Yudiono-yang setengah mabuk-. khas Madura. dengan dikawal Segera. dan Saimah tiba pada kesepakatan kontroversial: Akan membungkus si bayi dan langsung “Hasil karya anakmu. Karena itu. meski tak selalu milik orang Madura . dari rumah Bidan. Ayahnya Arsad bergegas dari kamar. Aku seperti masuk penjara. Mutung: Berhenti di tengah jalan Meteng: Mengandung. Saimah menangis. tapi mereka pada mundur (surut) ketakutan melihat amuk Khairan. Utuhkan lagi. Ibunya Arsad berteriak-teriak. tapi liar ditepiskan sehingga Saimah terdorong ke kursi. Khairan melapor ke Polisi. Mengeluh tak bisa ke luar dari Pondok. mereka langsung mendatanginya. tanpa mampir dulu. hamil Jos: Langsung jadi sempurna. Dominik. Tetangga ketika Khairan melemparkan celurit pada cacahan bersimbah darah tubuh bapaknya Arsyad. “tombokan”: Memasang nomor judi dengan membayar uang taruhan. bersama si bayi-yang lantas diberi nama Caca Handika-.” tulisnya. Lantang meneriakkan Brewok. Kedua lelaki itu liar bertatapan. instan Celurit: Senjata mirip sabit. artinya orang baik-baik Topi Miring: Merek minuman lokal beralkohol Mblesar: memainkan gas sehingga mesin meraung-raung Dipondokkan: Dimasukkan ke pesantren untuk belajar dan sekalian tinggal di sana. Dan memang begitu.

Ia tak menyangka.” Ia nyaris kepleset dan menabrak pintu. ya?” Tongkat pel yang dipegangnya nyaris terlepas. Pa?” “Mungkin Pak Posnya lagi sakit. Bibiiikkk…. Ia melongok. terutama “Kau memang tak pernah merasakan bagaimana bahagianya dapat kartu pos…” . “Biiikkk…. seakan sudah menebak. Tapi memang tak ada. “Hari gini masih pake kartu pos?” Karna Ren sebenarnya bisa telepon atau mengharuskan setiap murid punya hand phone agar bisa dicek sewaktu-waktu. Sungguh. setiap pulang. Beningnya sudah pegang hape. ia selalu mengirimkan kartu pos buat Beningnya. Beningnya langsung meloncat menghambur. Seperti capung ia tiba. Di kelas. Apa Mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? Mungkin Bi Sari sudah mengambilnya! Beningnya pun segera berlari berteriak. betapa soal kartu pos ini akan membuatnya mesti mengarang-ngarang jawaban. mendapati kotak itu kosong. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. meledek istrinya. ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos melintas halaman. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. dan Bik Sari merasa mulutnya langsung kaku. untuk berjaga-jaga kalau ada penculikan. Pekerjaan Ren membuatnya sering bepergian. Non?” “Kartu posnya udah diambil Bibik. “Saya ndak tahu mesti jawab apa…” Memang. Sekolahnya memang saat bubaran sekolah. yang kecewa itu. karna ia terus diam saja. Beningnya selalu nanya kartu pos…” suara pembantunya terdengar serba salah. barangkali kartu pos itu terselip di dalamnya. Marwan sendiri selalu berusaha menghindari jawaban langsung bila anaknya bertanya. ia selalu tak tahan melihat mata Marwan hanya diam ketika Bik Sari cerita kejadian siang tadi.Kartu Pos dari Surga Agus Nur Mobil jemputan sekolah belum lagi berhenti. Meski baru play group. Ia masih belum genap enam tahun. Pasti kartu pos dari Mama telah Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun. Ia harus menjawab apa? Bik Sari bisa melihat mata kecil yang bening itu seketika meredup. “Sekarang. “Kok kartu pos Mama belum datang ya. Jadi belum sempet ngater kemari…” Lalu ia mengelus lembut anaknya. Dari kotakota yang disinggahi. tadi. “Ada apa. Bik Sari yang sedang mengepel sampai kaget melihat Beningnya terengah-engah begitu. Marwan kadang kirim SMS. Beningnya tertegun. “Hati-hati!” teriak sopir. tak gampang menjelaskan semuanya pada anak itu. Kadang bisa sebulan tak pulang.

Marwan tak lagi menggoda bila Ren sudah menjawab seperti itu. lantas mengeposkannya. Marwan berusaha tampak gembira ketika surat yang dikirimkannya sendiri itu ia terima. Aku hanya ingin Beningnya punya kebahagiaan yang aku rasakan…” Tak ingin berbantahan. Pukul “Enggak bisa tidur. Karena iri. Marwan tak pernah menerima kartu pos. bagaimana Ren bercerita. Marwan ingat. Mereka akan berteriak senang bila menerima surat balasan pernah diam-diam menulis surat untuk dirinya sendiri.” Ren merawat kartu pos itu seperti merawat kenangan.20. Negeri yang gambarnya ada dalam kartu pos itu…” ujar Ren.” Ren kecil duduk di pangkuan. aku selalu merasa Ayahku muncul dari negeri-negeri yang Ren sejak kanak sering menerima kiriman kartu pos dari Ayahnya yang pelaut. “Kalu emang Pak Posnya sakit biar besok Beningnya aja yang ke rumahnya. “Mungkin aku memang jadul. rasanya. Itu kotak kayu pemberian Ren. Meski tetap saja ia merasa aneh. dan memamerkannya dengan membacanya keras-keras. Ren menyimpan kartu pos dari Ayahnya. Marwan diam. tetapi kartu pos yang dikirimkannya dari kota yang Ketukan di pintu membuat Marwan bangkit dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu. “Ke mana?” “Ke rumah Pak Pos…” Marwan merasakan sesuatu mendesir di dadanya. Saat SMP. “Itulah saat-saat menerima kartu pos darinya.” Marwan hanya diam. “Setiap kali menyenangkan dan membanggakan punya Ayah pelaut. yang dikenal lewat rubrik majalah. dengan suara penuh kenangan. sementara Ayahnya berkisah keindahan kota-kota pada kartu pos yang mereka pandangi. “Nganter ke mana? Pizza Hut?” Beningnya menggeleng. setiap Ayah pulang. Sepanjang hidupnya. Bahkan. Ia mencoba menarik perhatian Beningnya dengan memutar DVD Pokoyo. ia pun jarang dapat surat pos yang membuatnya bahagia. bahkan ketika anaknya mulai mengeluarkan setumpuk kartu pos dari kotak itu. “Besok Papa bisa anter Beningnya enggak?” tiba-tiba anaknya bertanya. Kotak kayu yang dulu juga dipakai 11. ngambil kartu pos dari Mama. Marwan melirik jam dinding kamarnya. Ia pun atau kartu pos. ya? Mo tidur di kamar Papa?” Marwan menggandeng anaknya masuk. kartun . jauh. dan yang lucu: disinggahi baru sampai tiga hari kemudian! pernah suatu kali Ren sudah pulang. “Aku selalu mengeluarkan semua kartu pos itu. banyak temannya yang punya sahabat pena.

saat Marwan makan siang bersama.di tepian kanal. kenapa seorang pengarang bisa begitu terobsesi pada senja dan ingin memotongnya menjadi kartu pos buat pacarnya. “Wah. Marwan masih ngantuk karena baru tidur menjelang jam lima pagi. kemudian berlarian tergesa masuk rumah. Ia sengaja tak masuk kantor untuk melihat Beningnya gembira ketika mendapati kartu pos itu. Marwan tersenyum. yang tengah memandang mejanya dengan mata penuh gosip. kamu jelaskan saja pelan-pelan yang sebenarnya. Tapi Beningnya terus sibuk memandangi gambar-gambar kartu pos itu. udah datang ya kartu posnya?” Marwan melihat mata Beningnya berkaca-kaca. Marwan mendengar teriakan sopir yang menyuruh hati-hati. teman sekantor. ia kini mulai dapat memahami. Mungkin ia akan terus-terusan menangis karena merasakan kehilangan. bagaimanakah ia mesti menjelaskan semuanya pada bocah itu? Andai ada Ren. tetapi bocah itu telah melesat Marwan menyambut gembira ketika Beningnya menyodorkan kartu pos itu. Beberapa rekan sekantornya terlihat menuju kotak pos di pagar rumah. setelah Beningnya pulas. Mobil jemputan belum lagi berhenti ketika Marwan melihat Beningnya meloncat turun. “Bagaimana kalau ia malah terus bertanya.” Itulah. Bukit karang yang menjulang. “Ini bukan kartu pos dari Mama!” Jari mungilnya menunjuk kartu pos itu. Siluet menara dengan burung-burung melintas langit jernih. Dermaga kota tua.” Marwan tersenyum. Sudut dengan deretan yacht tertambat. Semua itu menjadi tampak lebih indah dalam tertidur. “Ini bukan tulisan Mama…” Marwan tak berani menatap mata anaknya. Ah. Deretan kafe payung warna sepia. Ia selalu merasa bingung. Dari jendela ia bisa melihat anaknya memandangi kartu pos itu. Kartu pos yang diam-diam ia kirim. Ia bisa membiarkan Beningnya melihat Mamanya terakhir kali. Air mancur dan patung bocah bersayap. Membiarkannya ikut ke pemakaman. tampak memberi isyarat agar ia melihat ke sebelah. pasti akan dikisahkannya gambar-gambar di kartu pos itu hingga Beningnya “Bilang saja Mamanya pergi…” kata Ita. Rasanya. Tapi bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya? Rasanya akan lebih mudah bila jenazah Ren terbaring di rumah. Seolah-olah itu dari Ren…. Gambar pada kartu pos. dinding goa. ketika Beningnya terisak dan berlari ke kamarnya. dari mana mesti memulainya? Marwan menatap Ita. Pagoda kuning keemasan. Pasti mereka menduga ia dan Ita…. kapan pulangnya?” “Ya sudah. Bahkan membohongi anaknya saja ia tak bisa! Barangkali memang harus berterus terang. Sepeda yang berjajar kesukaannya. Tetapi rasanya jauh lebih mudah menenangkan . seperti tercekat. Merasa lucu karena ingat kisah masa lalunya. “Atau kamu bisa saja tulis kartu pos buat dia.

Beningnya dari tangisnya ketimbang harus menjelaskan bahwa pesawat Ren jatuh ke laut dan mayatnya tak pernah ditemukan. Singapura-Yogyakarta. seseorang. menyambar mendekapnya. sulit ia buka. Hawa dingin bagai merembes dari dinding. Kain kafan yang tepiannya .” pelan Beningnya bicara. Ketukan gugup di pintu membuat Marwan bergegas bangun. “Beningnya! Beningnya!” Marwan segera menggedor pintu kamar yang entah kenapa begitu membuatnya tersedak. 2008 dipegangi anaknya. seperti tengah bercakap-cakap dengan Dan cahaya itu makin menggenangi lantai. Ada cahaya terang keluar dari celah pintu yang bukan cahaya lampu. “Buka Beningnya! Cepat buka!” Entahlah berapa lama ia menggedor. Lebih keras dari bau amoniak. Cahaya yang terang keperakan. sekilas ia melihat jam kamarnya. Rasanya ia hendak terserap amblas ke dalam kamar. serupa kabut. Bau sangit “Beningnya! Beningnya!” Bik Sari ikut berteriak memanggil. semua rapi. tak ada api. Dua belas lewat. Ia melongok ke dalam kamar. ketika akhirnya cahaya keperakan itu seketika lenyap dan pintu terbuka. Ia menduga terjadi kebakaran dan makin panik membayangkan api mulai melahap kasur. Dan ia tercekat di depan kamar anaknya. Hanya “Tadi Mama datang. jadi Mama mesti nganter kartu posnya sendiri…. “Ada apa?” Marwan mendapati Bik Sari yang pucat. keluar dari lubang kunci. “Kata Mama tukang posnya emang sakit. Segera Marwan kartu pos-kartu pos yang berserakan. Marwan mendapati sepotong kain serupa kartu pos kecoklatan bagai bekas terbakar. “Beningnya…” Bergegas Marwan mengikuti Bik Sari. Ia melihat ada asap lembut. Beningnya berdiri sambil memegangi selimut. Bau wangi yang ganjil mengambang. Marwan menerima dan mengamati kain itu.” Beningnya mengulurkan tangan. Dan ia mendengar Beningnya yang cekikikan riang.

ketika sepasang mata itu muncul dari Sisa hujan masih terasa dingin di kaca saat aku bertemu dengannya di toko ikan hias. Memang. Menatap matanya menjadi kehangatan tersendiri. Bahkan aku tak mendengar desah apa pun ketika ia orgasme. Kau akan laki-laki yang selalu gugup dan tergesa-gesa ketika berciuman. Itulah yang membuatku betah berada di dekatnya. aku suka matanya yang selalu mengingatkanku pada langit hampir seperti ketika kamu merasa rindu pada masa kanak-kanakmu yang paling menenteramkan. Kau tahu. menyebutkan namanya. Sementara gelembung-gelembung udara dan serakan batu koral membuat wajahnya seperti terpahat di air. Aku suka ketika mendengar ia berbicara. Terdengar seperti lagu pop yang tak terlalu merdu tetapi dinyanyikan dengan sentimentil… ”Laki-laki yang romantis rupanya!” Tidak. Di antara ikan-ikan kecil warna-warni. kalau kukatakan betapa semua ini bukan semata-mata urusan ranjang. aku seperti mendengar denting genta. ”Dan yang ini?” Seperti kukatakan. seperti langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. Barangkali. aku teringat pada sepasang kunang-kunang yang melayang di atas kolam. Dan saat sepasang matanya mengerdip. dan mana yang nyaman buat sekadar menghabiskan malam di ranjang. menyentuh putingku yang ungu. bercinta dengannya seperti menikmati nasi . Ia bercinta nyaris tanpa suara. untuk sekadar membuatku tersenyum. Ia malah cenderung selalu gugup bila aku bermanja-manja memeluknya. betapa jari-jari tangannya begitu gemetar ketika pertama kali malam yang dipenuhi kunang-kunang. mana yang pas buat jalan-jalan. Tapi. Aku ingat. mana yang pantas buat dipakai makan malam. bergemerincing dalam ”Atau jangan-jangan kamu hanya maniak seks yang takut kesepian. Mata yang terlalu melankolis untuk seorang yang membuatku jatuh cinta. sepasang mata itulah sebalik kaca—membuatku terkejut. berganti pacar bagiku tak lebih seperti ganti baju: tinggal pilih mana yang cocok buat ke pesta. yang paling gombal sekali pun. tengah memandangi ikan-ikan dalam akuarium. Kamu takut tidur sendirian…” Kamu mungkin tak percaya. Aku suka matanya. seperti katamu. Tetapi ketika ia hatiku. aku memang mengindap gangguan jiwa karena terlalu gampang jatuh cinta.Serenade Kunangkunang Agus Noor melihat hamparan kesenduan dalam mata itu. sepasang mata itu bagai mengambang. Aku Aku tak tahu bagaimana persisnya aku mulai mengajaknya bicara. Ia tak pernah mengucapkan rayuan.

aku mesti pergi. tipis. Sedikit berkumis.” ”Aku suka kunang-kunang…” . yang akan membuatmu teringat pada baju yang menjadi apak karena terlalu lama disimpan. kukira!” Lebih mirip seperti baju yang ingin selalu kamu sembunyikan dalam lemari. tapi karena kamu tak ingin orang lain tahu kamu memilikinya. ”Kau suka kunang-kunang?” ”Hmm. Kadang aku menganggap semua ini tiada penuh masalah?! Tapi… Maaf. ”Mau ke mana?” Kau lihat kunang-kunang itu? Setiap melihat kunang-kunang. Bersamanya aku tidak terobsesi aneh-aneh begitu.” Bila aku kangen. Tapi.goreng: rasanya standar dan bisa didapat di mana saja. Dan ini kisah cintamu yang akan jadi dongeng menakjubkan! Ha-ha-ha…” Tidakkah kau tahu. Dia bukan laki-laki seperti yang sering kamu untuk melakukan bermacam adegan dan posisi. tak rapi. Mungkin karena aku merasa nyaman saja. aku sungguh-sungguh jatuh cinta? ”Gatal telingaku dengar kamu ngomong soal cinta. bayangannya seperti ketukan ganjil pada pintu saat tengah malam. Keringatnya meruapkan aroma kamper yang kelabu. aku kan bisa melakukannya dengan pacar-pacarku yang lain. aku selalu merasa dia tengah lebih dari kisah cinta yang ganjil dan bermasalah. bukankah cinta memang ganjil dan memikirkanku. Seperti menyukai baju yang selalu ingin kukenakan ”Anggap saja ini cinta sejatimu. aku begitu menyukainya. Membuatku tergeragap. Lalu kuingat kunang-kunang di matanya. yang membuatku lihat di iklan deodoran. Tapi— diam-diam. entahlah. yang membuatmu rela melakukan apa saja untuk sekadar menyukai kemurungan dan kesenduannya. dengan dasi yang selalu terlihat tak serasi dengan warna sweater-nya Dia agak pendek untuk ukuran kebayakan laki-laki. Bukan karena kamu tak suka. Tapi—entah kenapa—aku selalu menyukainya. kenapa aku jatuh cinta kepadanya. Setiap melihat kunang-kunang. ”Bukan baju yang pantas buat ke pesta. Ada beberapa jerawat di wajahnya yang coklat. Sungguh. aku jadi ingin ketemu dia. penampilannya lebih mirip salesman yang baru saja ditolak masuk rumah. ”Busyet!!” Mungkinkah. kalau memang kepingin yang mendapatkan perhatiannya. kali ini. terkadang sebuah kisah cinta bisa saja menakjubkan meskipun tidak seindah kisah cinta Cinderella dengan Pangeran tampannya? Sampai saat ini aku sendiri masih heran. Dan kupikir.

Itulah kenapa aku Itulah pemandangan yang selalu kusaksikan sejak kecil di tempat ini. Salah satu dari ribuan kunang-kunang itu adalah ayahmu. Bahkan kemurungan tak juga menguap dari wajahnya ketika ia terlelap. aku lupa. ibu bercerita bagaimana suatu malam ayahku diseret keluar rumah. Seperti yang sudah-sudah. ribuan kunang-kunang itu selalu bangkit dan terbang melayang- Kuajak ia kemari. Ibu selalu mengajakku kemari. Selalu.” ”Hmm…” Ah. Aku masih dalam kandungan ibu. Ibu mendengar tubuh ayah dibuang ke lembah itu. Aku ingin ia melihat sendiri bagaimana setiap bulan purnama ribuan kunang-kunang itu muncul dari bawah lembah sana. ”Kau lihat kunang-kunang itu?!” ”Hmm…” Ini pertemuan ke-43. Agar ia menyimpan kunang-kunang. kata ibu. selalu tak mudah mengajaknya bercakap. agar ia menyaksikan kemunculan ribuan kunang-kunang itu. Aku membayangkan jutaan kunang-kunang ”Enggak tidur?” Ia menggeliat. dan angin yang membeku membuat layang menyusuri aliran sungai. bersama ribuan tubuh lainnya. ketika lembah itu menjadi bisu. ia langsung tidur setelah bercinta.” ”Aku suka matamu…” ”Hmm” “Seperti ada kunang-kunang dalam matamu. Sejak kecil aku kerap bermimpi ayahku muncul dengan mata yang bagai sepasang kunang-kunang. menjadi berkilauan. Kunang-kunang itu adalah jelmaan roh-roh yang penasaran. Kenapa aku suka pada matanya yang bagai meringkuk dalam selimut.”Hmm. kota terlihat gemerlap ditangkup gelap yang pucat. . Aku jadi teringat pada cerita seribu kunang- kunang yang menautkan kesepian dan kenangan. Dari jendela apartemen lantai sebelas. saat itu. Membuat lembah itu malam purnama. Seminggu setelah pembantaian. Dan setiap pepohonan tertugur kelu. di zaman gestapu dulu. Ribuan kunang-kunang itu terlihat bagaikan selendang kuning yang melayang-layang hanyut di riak air. setiap kali aku merasa rindu dengan ayah. sekali mengajaknya bercakap-cakap tentang kunang-kunang itu. memandangku yang duduk telanjang di sofa. Padahal. Ibu selalu bercerita bahwa ayah telah menjelma kunang-kunang. kemudian gaib begitu saja dalam kesunyian yang mengelabu. Rasanya aku pernah membaca cerita muncul dari kegelapan malam dan terbang berhamburan memenuhi kota… seperti itu—mungkin sewaktu SMA. pada saat-saat seperti ini aku ingin mengajaknya kemari. seperti sosis dalam setangkup roti. bagai gugusan cahaya kekuningan yang bangkit. dari lembah itu muncul ribuan kunang-kunang. Kemudian terbang mengikuti aliran sungai. Dia mengerti kenapa aku suka kunang-kunang. dengan mata yang layu.

Seolah ia menginginkan semua ini berlangsung tanpa percakapan yang akan menjadi terlalu sarat kenangan. selalu saja. berbicara setengah berbisik. Seperti jeritan yang teredam. Aku hanya memandang keluar jendela. Kemudian ia bangkit. Dan dingin. dan tergesa mengenakan pakaian. handphone di atas meja bergetar tanpa suara. aku selalu saja gampang jatuh cinta pada laki-laki . seperti langit yang bertambah memucat di atas kota yang di penuhi kunangkunang. Barangkali. Kurasakan kemurungan yang ganjil ketika ia mendekatiku. Kesunyian tak terpermanai. tak tercatat pada termometer. Membelakangiku. Tak ada percakapan. seperti kerap kau katakan. 2005-2008 pernah kau kenal. ”Aku mesti pergi…” suaranya pelan dan datar. dan dengan gerakan pelan menjauhiku. Ia masih saja tak terbiasa melihatku telanjang. Ia meraih handphone itu. Cahaya perlahan susut dan aus. seperti dalam sebuah puisi. meraih celana dan kemeja di sisi ranjang. aku memang wanita paling menyedihkan yang yang sudah beristri…. Desah napas waktu meruapkan basah pada kaca jendela.Ia sungkan dan jengah. aku tetap saja merasakan kemurungan yang makin membentang. ”Anakku sakit …” Bukan sesuatu yang mengagetkan. Tak ada pelukan untuk saat-saat seperti ini. Sampai ia mematikan handphone dan mendekatiku. Tapi. Jakarta. Karena.

Di kulitku yang licin. ”Berapa dua ditambah dua?” ”Tujuh. mendesing lalu lalang di jalanan. yang membuat kepalaku berdenyut-denyut lembut. Aku tak mengerti. aku terlahir kembali ke dunia ini sebagai seekor ular. Mungkin karena tampangku yang terlihat dungu dengan liur kental yang terus menetes. aku pernah begitu mencintainya.Parousia Agus Noor Pada malam Natal tahun 3026. orang-orang akan menghentikanku. sambil menunjukkan empat jariku. bila ada ular masuk ke pekarangan. Tak ada bintang. nari. Mungkin mereka hanya menggodaku. Seorang Sinterklas terkantuk-kantuk di dalam kehidupanku yang lain. Memberiku moke. Dan mereka kembali tertawa. Mungkin karena celanaku yang selalu melorot.” jawabku. Mereka selalu membiarkan ular masuk ke rumah mereka. Mungkin karena mulutku yang peyot. bagaimana orang-orang selalu mengusirku bila mereka tak pernah mengusirnya. seperti rintihan kesepian. udara terasa seperti permukaan piring keramik yang dingin. ”Kalau tiga ditambah empat?” ”Tujuh. Padahal. Aku Kusaksikan cahaya terang kota yang gemerlapan. aku ingin dilahirkan kembali di kota ini. mereka selalu memberi telur atau sejumput beras buat ular . Mungkin karena itulah orang- memperbolehkan aku masuk rumah mereka. ”Dasar idiot!” Aku tak pernah mengerti kenapa mereka mengatakan aku idiot. tidak lagi sebagai bocah idiot yang sering diganggu dilempari kerikil atau tomat busuk. kenapa orang-orang tak orang melihatku dengan jijik. Aku tak pernah mengerti. Mereka tertawa.” jawabku. Pasti aku tampak lucu di mata mereka. Biasanya. Mungkin mereka merasa bahagia bila bisa menggangguku. kenapa dulu orang-orang di kota ini begitu senang menggangguku. Mereka tertawa-tawa melihat aku menarimereka kemudian akan bertanya hal-hal yang terdengar aneh di telingaku. Mobil-mobil silver metalik bertenaga magnetik keluar dari cangkang kesunyianku. Aku benar-benar tak lagi mengenali kota ini. sambil menunjukkan empat jariku. Dulu aku memang berharap. Aku ikut tertawa saat mereka tertawa. dan langit hanya basah. Sayup kudengar gemerincing lonceng mekanik Jingle Bells mengalun dari juke box di etalase hypermarket. Lalu mereka menyuruhku menyanyi dan menari. Aku ingat. Bila ada ular masuk ke rumah. Orang-orang bergegas membawa keranjang belanjaan dan kado-kado Natal berbungkus kertas warna-warni. melihatku memasuki halaman rumah mereka. Kota di mana bertahun-tahun lampau. Mungkin mereka butuh hiburan. Apabila melihat aku lagi berjalan. trotoar. Mendesis pelan dan muncul lewat gorong-gorong.

Kudengar kembali gema lonceng itu. teringat bagaimana dulu orang-orang memberi makanan menyambut kedatangan ular Instingku merasakan bahaya dan dengan cepat aku melesat menyelusup tumpukan tong sampah. dan semua ketimbang diriku. aku selalu berjalan sepanjang jalanan ini. Leluhur yang mulai berkhayal. Di ladang. kini aku melihat sebuah mal yang megah. Kini terentang jalan layang dan jembatan penyeberangan yang bagai sederhana. ketika Bumi masih rapuh. Mestinya. Kota dengan seribu gereja. Seingatku. di pojokan itu ada sebuah gereja. sepanjang jalan ini hanya berderet pepohonan. saat tanah masih serupa Dari omongan orang-orang. Saat itulah kudengar suara mendesis pelan. Aku leluhur mereka. Lampu-lampu aneka warna Kudengar lonceng gereja. banyak berkeliaran di kota ini. yang kudengar sepotong-sepotong dan tak gampang aku ular-ular itulah leluhur mereka. Gerbangnya yang menjulang bagai mulut raksasa dan membuatku tak mengenalinya lagi. . Aku ingin Tuhan akan melahirkanku kembali ke kota ini sebagai seekor ular. Bunyi lonceng seperti itulah yang dulu selalu menuntun perjalananku. Aku benar-benar bingung dengan kota ini. Aku senang dan merasa tenang bila penuh dengan gereja. Kerlapmenerangi pertokoan yang berderet sepanjang jalan. Aku begitu ketakutan. Kadang kulihat seekor ular melintas menyeberang jalan. Dulu. Seperti sayup ingatan yang membuatku merasa tak tersesat. Aku tiba-tiba terkenang pada gereja-gereja yang dulu sering aku singgahi. betapa enaknya jadi ular. menatapku yang mendesis merayap pelan menyeberangi trotoar. Aku sering bertemu ular-ular itu. mendengar suara lonceng gereja yang mengapung menggetarkan udara senja. menghilang dalam kegelapan.itu. Begitu aku selalu merasa iri pada ular-ular yang di pepohonan. Dulu. ular-ular itulah muasal leluhur yang mendiami pulau. Alangkah menyenangkan jadi ular. Kurasakan. kota ini seperti memanggilku. di pinggir jalan. kendaraan yang lewat berhenti. Kenapa mereka ingin membunuhku? Kudengar teriakan-teriakan mengejarku. Tiba-tiba kudengar suara jeritan. ketika batu masih berupa buah muda. Terdengar suara-suara tong ditendang. Tapi kudengar seseorang berteriak. Meski terkejut dengan reaksi mereka. ”Ular! Ular!” Kulihat orang-orang beringsut ketakutan. ”Cepat bunuh ular itu! Usir! Pukul” Dan dengan gerakan cepat seseorang mengacungkan tongkat. Aku ingin suatu hari nanti bisa berubah menjadi Aku mendesis. Ketika mula dunia tercipta. aku mulai tahu kenapa orang-orang di kota ini suka pada ular. takjub sekaligus merasa asing memandangi kota yang gemerlapan. Sejak itulah aku ular. betapa orang-orang lebih menyukai ular pahami. juga beberapa rumah kayu menuju bukit kecil. Tapi di situ. kuntum yang ranum. Aku merayap menyeberangi jalan. menganga mengisap orang-orang yang lalu lalang. Aku suka berjalan mengelilingi kota karena aku suka mendengarkan lonceng gereja. Cahaya seperti telah menyihir kota ini kerlip pohon Natal menjulang di tengah-tengah plaza. aku mencoba tak panik. setiap hari. Mereka percaya bagaikan putih telur. kabut selalu membawa rezeki dan nasib baik bagi siapa pun yang didatanginya. yang berkelok turun digantungkan begitu saja di udara.

”Cepat sembunyi sini…. sambil menurunkanku dari dekapannya. Cepat sini…. reruntuhan gereja yang kini hanya terlihat sebagai tetumpukan batu bata. ”Kita sampai. Ia mengulurkan tangan. Dengan tangannya yang mungil. Kemudian ia berjalan mengendap-endap. memancarkan sulfur cahaya.” Ia berkata sambil mengelus Kupandangi mata gadis itu. Suara-suara itu perlahan lenyap dalam gelap. Sepasang matanya yang bening membuatku pelan-pelan merasa tenang. >diaC< Kudengar lonceng gereja yang layu dari kejauhan. Tapi ularular yang kutemui selalu mengingatkan agar aku jangan pernah berani-berani lagi muncul bagi ular macam kami adalah di kota ini di kota itu. Lorong di mana dulu gadis cilik itu membawaku adalah jalan menuju ke kota yang penuh cahaya itu. Cara mereka mengingatkanku. juga bayangan bukit-bukit di kejauhan. membuatku merasa seperti menyusuri labirin kesunyian yang pastilah akan membuatku tersesat bila sendirian. gadis itu memungutku. Kulihat puluhan ular. Sampai kemudian aku melihat bayangan deretan rumah yang rapuh. Saat itulah kudengar suara-suara mendesis pelan keluar dari reruntuhan tembok dan tumpukan kayu lapuk. Ditentengnya rosario itu seperti ia gadis cilik yang mendekapku ini mengeluarkan rosario dari kantung roknya. ratusan ular. Aku merasa asing.”Ssttt…. aku merayapi jalanan kota ini. belajar memahami apa yang sesungguhnya telah terjadi.” Aku memandanginya ragu. ”Kamu bandel sekali berani keluar gorong-gorong.” kata gadis cilik. Aku merasa nyaman dalam yang kudengar masih memburuku. memberiku cuilan roti yang dipungutnya dari tumpukan kepalaku. hanya dipisahkan oleh kenangan. Aku diam melingkar di pojokan. kulihat itu menyala kemerahan. Di dekapannya. seperti kupandangi sepasang bintang yang menandai kelahiranku kembali ke dunia ini. mengenali jajaran pepohonan di sepanjang jalan kota ini. Aku kemudian tahu bahwa kota ini sesungguhnya tak terlalu jauh jaraknya dengan kota yang kulihat saat malam Natal sebulan lalu.” Kulihat gadis cilik meringkuk di pojok gelap. cahaya kota yang gemerlapan kulihat meredup perlahan ketika gadis ini terus memasuki lorong kelam. lorong yang berkelok-kelok. seperti tengah meyakinkan betapa tempat terbaik . berdesakan dan bau tengik. menjauhkan aku dari orang-orang belakangku. mendesis-desis menatapku. Ketika gelap dan sepi terasa lengket seperti ampas kopi. Aku langsung teringat pada kelokan jalan itu. Kota ini terletak di pinggiran kota yang gemerlapan itu. Inilah kota yang pada kehidupanku yang dulu selalu kususuri jalan-jalannya. Sungguh kota ganjil yang serba temaram. meski aku bisa segera menyaksikan bayangan rumah-rumah kumuh yang bagai mengapung dalam kegelapan. Dan seperti menyusuri ingatan. Aku merasa ini tak lebih dari kota lama yang ingin dikekalkan dalam ingatan. Cahaya pucat kemerahan menerangi lorong yang kami lalui. di mana matahari terlihat menyandarkan cahayanya. Kulihat rosario menenteng lentera. sampah.

salib itu seperti pokok pohon karet yang tengah disadap. akan ia ingin agar aku mengenal setiap cuil kota ini. Dulu. tapi terlihat rapuh. katanya. Para penduduk memberi kami anak-anak. untuk diganti dengan malmal. Kamu sudah melihatnya. Tak hanya karena dikejar-kejar petugas. berjualan biji-biji embun dan bermacam daun. dengan karena di kota yang baru mereka diburu dan tak lagi dituahkan. dihancurkan kemajuan. gadis cilik itu pernah berkata kepadaku. menjualnya di lapak trotoar. Dan pada malam hari mereka memeras air mata. Dan ular-ular mengikuti mereka ingatan inilah para ibu mencoba bertahan hidup dengan memetik embun di daun-daun. seakan- mencapai kota di seberang sana. Ketika kota mempercantik diri. kami—ular-ular—memang dibiarkan berkeliaran. Dulu banyak warga kota ini yang setiap hari pergi ke kota itu. Sudah lama. kalau aku mau menjual rosario. menyadap air mata Tuhan…” Aku ingat. Dulu aku sering memang sering berjualan rosario. Ia bercerita bahwa sebenarnya ada jalan tembus melalui gorong-gorong untuk pergi lewat jalan itu. tetapi kota itu lebih suka dapat hadiah Natal boneka Barbie atau nitendo daripada rosario. kami Aku belajar mencintai kota ini. rempah-rempah dan artefak kenangan. Ada salib di tengah reruntuhan gereja di kota ini. Sering kami duduk-duduk dekat terpinggirkan dari kota. Kadang air mata itu menetes bening. Apalagi gadis cilik itu selalu mengajakku jalan-jalan. tetapi selalu diusir. Pada saat itulah. yang mereka percaya. Pada tubuh Kristus terlilit selang kecil. Kemudian dijual. Padahal Aku mendesis mengangguk. Butiran air mata itulah yang kemudian mereka kumpulkan untuk diuntai jadi rosario. Kami mesti menjualnya diam-diam. Pelan-pelan mereka kembali membangun kota mereka.Di kota ini. Salib itu menjulang. dan menghidangkannya buat sarapan pagi anak-anak mereka. Ketika bangunan-bangunan menyanyikan kesedihan. bila menjelang Natal. sebagian orang yang mencoba bertahan memunguti sisa bangunan gereja itu. kan? sekarang ia makin sulit menjual rosario. pada waktu-waktu tertentu akan mengalir. membawanya masuk ke dalam kabut kesunyian. Sebab bila ketahuan. Dalam keremangan. Berusaha membangunnya kembali sebagai tumpukan-tumpukan kenangan. Kami bercakap-kacap dengan bahasa leluhur yang hanya bisa kami mengerti. terdengar seperti tengah bertingkat mulai dibangun. Kuingat rosario yang memancarkan cahaya itu. dan meminumkannya saat anak-anak mereka sakit. dulu kami bertahan: dengan . Ketika banyak gereja diruntuhkan. Ia kemudian mengatakan kalau karena sekarang ini sudah jarang yang mau membeli rosario. kami bisa ditangkap petugas keamanan. Mereka memunguti puing kota lama yang nyanyian dan upacara yang penuh ratapan pada leluhur. ”Begitulah. Dongeng tentang kehidupan mereka yang perlahan-lahan sangat senang mendengarkan dongeng-dongeng itu dituturkan. Di kota yang remang dalam menampungnya dalam gelas. dengan mangkuk perak berbentuk piala di ujung selang itu. Aku sisa makanan mereka meski kadang busuk dan berjamur. Kadang merah serupa darah. saat mereka berkumpul mendengarkan orangtua mereka mendongeng. Aku pernah melihat bagaimana rosario itu dibuat. Itulah selang yang dipakai untuk menampung air mata Kristus. Aku menemukannya tak sengaja. menyimpannya dalam botol. anak-anak di rosario buatan kami luar biasa. Para penduduk di kota ini menampung air mata Kristus. dan Kristus tampak murung dan sengsara dalam lindap cahaya. Kami belajar saling mengerti kesepian masing-masing.

Tak ada seorang pun mengikuti misa Natal. Ada perasaan sendu ketika kudengar itu. ”Kamu Pater?” Aku mendesis tersenyum. Kenangan-kenangan dalam kehidupanku yang dulu seperti bermunculan kurasakan cahaya kota yang gemerlapan. tepat di belakang gereja. Kami menuju kota itu melalui gorong-gorong rahasia. Tidak. ”Itu satu-satunya gereja yang masih berdiri!” Mungkin tepatnya: itulah satu-satunya gereja yang sengaja dibiarkan berdiri. Ia mendadak terbelalak saat aku bercerita tentang Gereja St Paulus yang sering kudatangi dulu. 2006 . Aku takut ada penduduk yang memergoki gadis cilik ini. Ia hendak membawaku mendatangi gereja yang kurindukan itu. ”Tapi aku suka kamu!” Aku menggeliat-geliat dalam dekapannya. Ia begitu senang saat mendengar kalau pada kehidupanku yang dulu. nyanyian puji-pujian. samar-samar bisa menenteramkanku. Pelan aku dikeluarkan dari dalam keranjang. tapi setidaknya ia memahami kerinduanku. kataku. kudengar gadis itu berbisik pelan mengatakan kalau kami sudah sampai dalam seperti rongga semesta. Mataku nanar Ledalero. Ia menyimak ceritaku dengan mata berkejap- kejap. Pasti mereka mengusir kami…. Sampai kemudian aku menyadari.” katanya. ”Kita bisa diam-diam ke sana. Ah. kulihat stereo set diputar untuk mengumandangkan melihat tubuh Kristus yang tersalib memandangi bangku-bangku kosong. Cahaya terasa ultim dan kusaksikan fresko katakombe di atas altar itu bagai bergetar. Dari dalam keranjang anyaman. Kulihat gadis kecil di sampingku yang hanya menunduk. gadis itu memasukkanku ke dalam keranjang kecil. Aku tidak menikah. gorong-gorong.Kepada gadis cilik itu pun aku bercerita tenang kehidupanku dulu.” teriaknya riang.” katanya. aku juga penduduk kota ini. Kami keluar dari Puji Tuhan. katanya. ternyata. Kudengar koor Malam Kudus dinyanyikan. ia memang gadis yang usil dan nakal. Di dekat altar. Terdengar syahdu dan megah. betapa sunyi gereja ini. siapa tahu aku ini salah satu keturunanmu. Dulu aku idiot. Jangan sampai orang-orang di kota itu melihatmu. boleh jadi sebagai tugu kenangan. ia seperti tengah membawa keranjang makanan dan hendak pergi tamasya. Kukatakan betapa aku ingin melihat gereja itu. Maka pada malam Natal beberapa bulan kemudian. Ketika ia berjalan. Aku melingkar tenang dalam keranjang. ”Wow. ”Kau tahu. Tak ada seorang pun perempuan suka dengan orang idiot. gereja. Kusaksikan ruangan yang remang.

Catatan: 1. versi Krowe-Sika. Dikutip dan ditulis ulang dari puisi ”Ibu yang Tabah” karya Joko Pinurbo. Agus Noor (23 Desember 2007) . 3. Disitir dan ditulis ulang dari syair tradisi yang mengisahkan penciptaan alam semesta. 2. Nama tuak/minuman keras lokal di Maumere. Nusa Tenggara Timur.

factory outlet. “Tukang jahit maka Lebaran tidak jadi datang ke kota ini. ia tak hanya bisa menjahit pakaian. orang-orang lebih suka . Begitulah. di emper pertokoan. Seperti menyaksikan dalam sekejap. Kau akan mendengar gema mesin jahit yang terus bergemeretak hingga larut menyelesaikan semua jahitan sebelum hari Lebaran. para tukang malam. Dan di malam takbiran. Serasa ada gema burung pelatuk di mana-mana. mangkuk-mangkuk berisi kancing warna-warni. sementara tangan kirinya lincah dan cepat mengarahkan pola potongan kain yang dijahit. Mungkin juga mereka memilih berhenti jadi tukang jahit. gunting. Nak. Mereka duduk bersila menggerakkan engkol mesin jahit dengan tangan tukang sulap. Entahlah. setiap menjelang Lebaran. Para penduduk antre menjahitkan pakaian dan hiruk dalam keramaian menyambut Lebaran. Jarum Ibu pernah bercerita. meletakkannya di atas kotak kayu yang digunakan sebagai meja. Mungkin banyak dari tukang jahit itu yang mati. karena makin lama makin banyak warga yang malas menjahitkan pakaian pada tukang jahit-tukang jahit itu. betapa dulu. Nak. Tukang jahit itu punya jarum dan benang ajaib yang bisa menjahit hatimu yang sakit. yang mampu mengubah kain-kain warna-warni menjadi baju-baju indah kanannya. selalu. dan benang. yang konon. Mereka mengeluarkan mesin dondom dan jarum pentul. Kemunculan mereka selalu menjadi pemandangan yang menakjubkan. Di hari-hari menjelang Lebaran itulah. tukang jahit itu pun menghilang entah ke mana. silet. para para tukang jahit itu muncul setiap kali menjelang Lebaran dan menghilang di malam takbiran. Seolah muncul begitu saja ke kota ini. diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya. dari tahun ke tahun. Ketika cahaya matahari pagi yang masih lembut kekuningan menyepuh tukang jahit yang masing-masing memikul dua kotak kayu berbaris muncul dari balik lekuk perbukitan dan halimun perlahan-lahan menyingkap. Kanak-kanak akan berlarian senang menyambut kemunculan mereka. kota akan terlihat penuh tukang jahit yang berkeliling menawarkan menjahitkan pakaian. menata bundelan-bundelan benang. Karena para tukang jahit itu mesti jahit itu tampak bergegas keluar kota. Anak-anak berceloteh riang tentang baju baru yang akan mereka kenakan.Tukang Jahit Agus Noor Tukang jahit itu selalu muncul setiap kali menjelang Lebaran. di keteduhan pepohonan. kota ini selalu didatangi banyak sekali tukang jahit. jarum Selalu menyenangkan memperhatikan tukang jahit itu bekerja. Nak. Nak. Ia juga bisa menjahit kebahagiaan. Atau mereka tak mau lagi datang. butik dan pusat perbelanjaan di kota ini. kau bisa menyaksikan serombongan bukit. Mereka menggelar dasaran di trotoar. jahit lipat dari dalam kotak yang dibawanya. datang! Asyiik! Lebaran jadi datang!” Seakan-akan bila para tukang jahit itu tak muncul. Tapi semakin lama kian menyusut tukang jahit yang muncul ke kota ini. di pojokan jalan. Nak. Sejak banyak toko fashion. Kata orang. Seperti kemunculannya yang entah dari mana.

Ia menjahit luka hati ibu. tukang tentang tukang jahit itu. Lebaran. Kau bisa melihatnya. Ia seperti wajahnya seperti rahasia yang tak mau dibuka. dan membuat orang-orang itu merasa tenteram. Bila ada orang sedih yang datang padanya. dan jarum. tak ada lagi pemandangan menakjubkan arak-arakan serombongan tukang jahit laskar terakhir prajurit yang terusir. setiap menjelang yang muncul di kota ini. ia sebenarnya tinggal di balik bukit itu. Mungkin kau tak ingat. Kau tahu. memandangi belanjaan berisi pakaian. Nak. Ada yang mengatakan. Berjalan keliling kota menawarkan jahitan. barangkali. dan menjahitkan pakaian padanya. Nak. tetapi tak bisa menyentuhnya. di tangan tukang jahit itu. Di dada sebelah sini. Ibu mendatangi tukang jahit itu. Nak. Nak. Ia sempat mengelus bertilas. tetapi lebih lembut dan halus. kulitnya seperti kulit mahoni yang menua. seperti senar. dari tahun ke tahun. Rabalah. tapi kau lihat. memancarkan cahaya lembut ketika dipegangi tukang jahit itu. Ia menjahitnya dengan rapi. Nak. para tukang jahit yang mengisap tembakau. Perawakannya kurus. Tak Lalu Ibu bercerita tentang jarum dan benang yang dimiliki tukang jahit itu. Yang jelas sudah sejak lama. memang mengubah selera. Nak. Mereka hanya duduk-duduk tanpa mengerjakan jahitan. Entahlah. tetapi juga kebahagiaan. rambutmu. Dan itu karena ia tak hanya pintar menjahit pakaian. Kau tahu. Nak. Di kampung itulah ia tinggal. Kisah tentang kampung para penjahit juga pernah aku dengar. Menisik dan menjahit. Kau masih empat tahun saat itu. tak banyak bicara. satu-satunya tukang jahit. kadang tampak itulah tukang jahit itu menjahit kembali kebahagiaan orang-orang…. Delapan Lebaran lampau. kebahagiaan yang Ibu pernah menggendongmu datang ke tukang jahit itu. Nak. Dan jarum itu. Zaman. Mungkin para tukang jahit itu merasa betapa kota ini tak lagi menerima kedatangannya. Nak. yang seluruh penghuninya adalah tukang jahit. begitu halus. tiga bulan sebelum Lebaran. Maka. selalu kulihat tukang jahit itu muncul di kota ini setiap kali menjelang lebaran. selalu saja ada orang yang datang Tinggal tukang jahit itu. yang masih muncul di kota ini. Sebuah kampung. membutuhkan mereka. lalu mereka memilih mendatangi kota-kota lain yang masih mau Lebaran. maka tukang jahit itu akan menjahit robek dan koyak menjadi seperti selembar kain lembut yang bisa dijahit kembali. Orang tak hanya menginginkan baju baru saat Lebaran. Dengan jarum dan benang Begitulah. Namun sudah berpuluh tahun lalu kampung itu lenyap. Benang itu tipis dan bening. Ibu merasa kesepian dan sedih membayangkan Lebaran tanpa Ayahmu. Tapi . Memang tak banyak lagi orang yang mau padanya. Lalu diantar Pamanmu. Tapi juga ingin bahagia di saat hati orang yang lagi sedih itu. Tapi ia lebih sering terlihat di sudut dekat gang kecil agak di pinggiran kota. Tak berbekas. Tak ada lagi keriuhan suara mesin jahit di kota ini setiap menjelang masih muncul pun lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan melinting dan orang-orang yang lalu lalang keluar masuk pusat perbelanjaan menenteng tas-tas lebaran. Hanya ia. Seluruh tukang jahit yang tinggal di kampung itu mati oleh wabah yang tak pernah diketahui apa. Cerita Ibu hanyalah salah satu cerita dari banyak cerita yang kudengar cerita lain membantahnya. Saat itu Ayahmu baru meninggal. halus. Benang yang tak akan habis bila dipakai Nabi Khidir muncul dalam mimpinya suatu kali. Memberi tukang jahit itu segulung benang untuk menjahit seluruh pakaian yang ada di dunia ini.membeli pakaian jadi.

kini ia satu-satunya tukang jahit yang dan menjadi muridnya. Yang lain bilang kalau ia memang sempat bertemu Nabi Khidir jahit itu. satu-satunya yang selamat.masih muncul ke kota ini. kulihat antrean itu sudah sedemikian mengular panjang memacetkan jalanan. Ayah?” “Mau menjahitkan…” “Menjahitkan pakaian?” “Bukan. Dari radio terdengar nyanyian riang: Lebaran “Sedang antre apakah orang-orang itu. yang membuat jalanya jadi agak membungkuk. inilah antrean terpanjang yang pernah kulihat di kota ini. Ia tinggal di sebalik cakrawala. Gang yang rindang dan lengang meski ada juga beberapa lapak penjual barang loakan. Menjahit dan tidur di Tapi dari Lebaran ke Lebaran semakin banyak saja orang-orang yang datang ke tukang jahit itu. Karena banyaknya antrean yang meluber hingga ke tengah sebentar lagi…. Aku ingat. gang itulah tukang jahit itu selalu menggelar dasaran dan istirahat. aku menjalankan mobil pelan-pelan. Tapi barangkali pula karena dari Lebaran ke Lebaran memang semakin banyak orang yang kian tenggelam dalam kekecewaan. jahit itu belum lagi muncul! Mereka tampak sudah tak sabar menunggu kemunculan tukang Saat melintas sepulang belanja kue penganan dan pakaian buat Lebaran. Mereka antre agar bisa menikmati kebahagiaan Lebaran. anakku memandang heran antrean itu.” “Kok kayak mau ngantre minyak tanah?” . aku dan kawan- Agak di pinggiran kota ada gang buntu kecil yang letaknya di tikungan jalan. Menjelang Lebaran ini. Benang yang untuk menjahit hati orang-orang yang sedih menjelang Lebaran. jalan. Ia tinggal di sana. Menjahitkan kebahagiaan. Kemunculannya selalu dalam diam. di sebuah perbatasan antara hidup dan kematian. Cerita tentang jarum dan benang ajaib itu mungkin membuat banyak orang penasaran. Itulah sebabnya. Padahal tukang jahit itu. Ia sendiri tak pernah mau bercerita tentang dirinya. Nyaris tanpa suara berkeliling memikul dua kotak kayu kawan sepermainan kerap mengikuti di belakangnya sambil berteriak-teriak. Rasanya. malah makin menyelimutinya dengan misteri. sepanjang hari memintal benang kesabaran. sewaktu kanak. seakan meledek tukang topeng monyet keliling. Dengan benang itulah ia ditugaskan oleh Nabi Khidir Semua cerita itu sesungguhnya tak pernah menjelaskan tentang tukang jahit itu. dipintal dari bulu-bulu sayap malaikat. Di pojokan situ selama hari-hari menjelang Lebaran. Mereka sudah menunggu sejak dini hari. Tak banyak juga orang yang mendatanginya. Dan tukang jahit itu tetap saja diam. Tak pernah bercakap ia dengan para penjual loakan di situ. Mereka ingin menjahitkan kekecewaan mereka pada tukang jahit itu. bahkan ada yang sudah menunggu berhari-hari.

Kulihat antrean itu sudah sedemikian panjangnya. hingga Agus Noor (7 Oktober 2007) . 2007 orang-orang yang antre itu. Ayah?” “Ya. dengan gampang mendapatkannya. Kuceritakan tentang tukang jahit itu.Barangkali. Ayah?” Aku menatap matanya yang menunggu jawaban. Tak bisa membelikan baju baru. Brisbane-Yogyakarta. Ayah?” “Mungkin mereka tak punya uang buat pulang kampung. kemudian memandang gamang ke arah menyentuh ujung terjauh cakrawala yang mulai menggelap. Tentang jarum dan benang yang bisa menjahit kesedihan. “Jadi mereka menunggu tukang jahit itu. Bahkan untuk sekadar bisa menikmati kebahagiaan di “Kenapa menjelang Lebaran begini mereka kok tidak bahagia. Bingung karena masih nganggur. Mungkin juga mereka hanya merasa makin sedih saja…. Pusing karena semuanya makin mahal.” “Bagaimana kalau tukang jahit itu tak muncul.” Lalu kuceritakan apa yang dulu pernah diceritakan Ibu padaku. Tidak semua orang hari Lebaran pun kini orang mesti antre berdesak-desakan. sekarang ini kebahagiaan memang seperti minyak tanah.

sewaktu kanak-kanak. sementara nenek sihir itu telah jauh keluar hutan dan melintas jalanan desa dengan menyaru sebagai penjaja manisan.” kata nenek sihir itu merayu anak-anak yang terpesona pada biji-biji mungil itu. penuh warna dan menyenangkan seperti permen. Bantal mungil warna-warni milik peri. “Karenanya kamu harus bersyukur bila hidup memberimu nasib yang manis. Mereka sedih. fudge. Seperti bantalbantal mungil milik peri. Anak-anak begitu bergembira ketika nenek sihir itu membagikan biji-biji yang rasanya manis dan mereka sudah hilang. Permen toffee. hutan yang berkilauan menjadi penuh nyanyian. kemudian mengumpulkannya dalam bibi-biji buah yang lembut itu mereka gunakan sebagai bantal. Permen dalam bungkus warna-warni. Ia manis dan lembut karena karena ia dibawa oleh nenek sihir jahat. dan kembali beterbangan memetiki biji-biji buah yang keranjang. Ia membayangkan. Sepanjang hari yang riang. Beberapa anak yang rakus dan terlalu banyak makan biji-bijian itu. Permen-permen dalam kotak itu ia dan tersesat ketika mencari bantal-bantal yang dicuri oleh nenek sihir itu. peri-peri mungil itu akan terkejut mendapati bantal lembut saat mereka kulum. di malam hari menjadi bengkak mulutnya.” Neal mengingat itu sebagai sebuah nasihat agar dipakai sebagai bantal para peri. Nak. Neal tak akan pernah lupa: di ruang selalu tersedia sekotak aneka permen. Bukannya Neal tak memperbolehkan Iza makan permen.Permen Agus Noor Melihat mulut Iza yang terus cembetut. Neal tahu kalau anaknya itu masih kesal karena tak diperbolehkan membeli permen yang tadi sore dilihatnya dijajakan di perempatan jalan. ketika peri-peri mungil itu memetiki biji-biji buah yang matang dan manis. Dan pada malam hari. “Ini bantal yang dipakai tidur para peri. juga permen cokelat dan caramel yang meleleh lembut di lidahnya. Neal sendiri. lollipop. Maka. bila peri itu . “Permen akan selalu mengingatkanmu bahwa hidup ini manis dan patut kamu nikmati. pastilah ada peri yang sedih masuk ke dalam kamarnya. Tapi ia juga bisa membuat gigi-gigimu rusak dan bengkak jangan terlalu berlebihan menikmati apa pun. Sampai ia berumur sembilan tahun. Mama. Neal suka meletakkan kotak dari kayu tata menyerupai bantal di atas kasur kecil. tempat biasanya Papa. Anak-anak suka permen. Saat peri-peri mungil lelap bergelantungan.” Ah. dan kakak adiknya berkumpul menonton televisi. Saat kehidupan ini masih ranum. itulah. Saat terbangun pagi hari. tengah. Neal ingat bagaimana Mamanya mengakhiri kisah itu dengan suara yang penuh senyuman. berisi beberapa permen di dekat jendela kamar tidurnya. suka sekali permen. sebermula permen muncul di dunia manusia. permen. seorang nenek sihir mengambili bantal-bantal itu dengan teramat hati-hati dan pelan agar peri-peri mungil itu tak terbangun. itu biasa.” kata Mamanya. “Begitulah. saat peri-peri mungil itu kelelahan dan berbaring tertidur di dahan-dahan. peri itu bisa nyaman beristirahat di kotak yang ia sediakan itu. Karena yang manis pun bisa membuat sakit dan menderita. Neal tak akan pernah lupa dongeng masa kecilnya itu. peri-peri yang selalu beterbangan seperti capung begitu riang memetik biji-biji buah selembut getah yang bergelantungan di pepohonan mastic dan spruce—sejenis karet dan cemara—yang menjulang menyentuh kelembutan cahaya.

Takut. Neal sering panik berhadapan dengan para pengasong itu. “Lebih enak permen ini. wajah Iza terus cemberut. Dan tangan itu tak pernah dibersihkan ketika membungkusi biji-biji permen yang “Bagaimana mungkin aku memberikan permen seperti itu pada Iza!” ujar Neal. Para perempuan tua yang kelelahan mampet dan bangkai celurut mengapung di lorong-lorong muram perkampungan itu. mereka akan memecah kaca mobilnya. Ia ingat. mereka peras menjadi keringat yang ditampung ke penderitaan. hampir di tiap perempatan jalan memang banyak pengasong menjual permen. Permen berwarna merah keruh yang mirip manisan dalam bungkus-bungkus plastik kecil. setelah ia menikah dan punya anak—cukup satu anak. Kesedihan dan kegetiran dalam panci-panci rongsokan.Sampai sekarang pun. Neal membayangkan. pengasong itu.” Tapi. Mimpi yang selalu ia percaya sebagai isyarat baik. pewarna dan pengawet. yang sering menawarkan dengan cara setengah memaksa: menyorongkan Lagi pula Neal memang tak suka dengan permen yang dijajakan itu. Selintasan. membuat mulut dan tenggorokanmu jadi segar. seminggu sebelum ia melahirkan Iza. Malah kabarnya mereka menggunakan sorbitol—sebagai pengganti gula yang mahal—dan kayu manis sebagai penyedap aroma. para selesai dimasak dan dicetak itu ke dalam kantung-kantung plastik. memberinya sedikit gula. Tapi. setengah menggerutu. kalau permen-permen yang dijajakan di spruce? “Permen itu akan membuatmu mules dan mual. pada Samuel. permen yang banyak dijajakan di perempatan jalan itu rasanya bukanlah isyarat yang perempatan jalan itu bukan biji-biji ranum yang dipetik para peri dari dahan-dahan pohon baik. Tetapi. bila ia tak membeli. bagaimana permen itu dibuat. ia tak mau menenteng biji-biji permen. kemudian diolah dan dimasak di atas tungku-tungku hidup yang mereka rasakan sehari-hari. Mencampurnya dengan gelatin agar kental. Sementara bau got permen ranum yang bergelantungan. korengan. anak yang matanya nanar tanpa harapan membungkusi butir-butir permen yang sudah dan terkantuk-kantuk sepanjang malam mengaduk-aduk adonan itu. ia bermimpi repot hamil dan melahirkan lagi—Neal sering bermimpi ada peri masuk ke dalam kamarnya puluhan peri mungil mendatangi kamarnya dan menjatuhkan biji-bijian permen ke dalam keranjang bayi. Orang-orang miskin yang hidup di kampung-kampung Mungkin proses pembuatan permen itu sudah berlangsung lama. Dia tetap ingin permen yang dijajakan di perempatan jalan itu. permen itu memang mengundang selera. Ia sering mendengar kumuh pinggiran kota membuat permen itu dengan cara menampung kesedihan mereka. tangan anak-anak itu pastilah kotor dan menjijikkan. . Mestikah ia menjelaskan pada Iza.” bujuk Neal sembari memberikan permen mint yang ia beli di supermarket. Sekarang ini. tidak seperti tangan-tangan peri yang lentik ketika memetiki biji-biji kuku-kuku jari tangannya penuh bekas daki ketika mereka menggaruk pantat mereka yang kemudian dijajakan di perempatan jalan. Neal tak suka dengan para bungkus itu ke dekat mobil sambil mengetuk-ngetuk—malah kadang mengedor—kaca jendela.

“Lho, apa salahnya?” “Tidak. Iza tak boleh makan permen seperti itu. Tidak baik.” Selama ini Neal begitu hati-hati memilihkan semua yang tak terbaik bagi anaknya. Ia ingin Iza menikmati masa kanak yang membahagiakan. Dan Neal takut Iza akan tergoda oleh permen itu. Bagaimana kalau tanpa sepengetahuannya, Iza membeli permen itu ketika jajan di sekolah?

menatap Neal yang tengah memakai kembali g-string-nya. “Maksud, lo?” Mata Neal melotot.

“Aku kira, permen itu sebuah gagasan yang cerdas,” kata Samuel, setengah tertawa,

“Dengar,” Samuel menatap serius. “Bukankah mengubah kesedihan menjadi permen itu cara penderitaan. Membuat yang pahit jadi manis. Kamu jangan meremehkan hanya karena yang luar biasa? Mungkin itulah cara terbaik bertahan di tengah hidup yang penuh

permen itu terlihat murahan. Ini hanya soal kemasan. Aku kira, kalau dikemas dalam kotakkotak yang bagus dan dipasarkan dengan baik, permen itu akan menarik juga. Mungkin akan jadi komoditi yang menguntungkan. Bukankah ini peluang pasar? Kita bisa mengembangkan permen itu untuk diekspor. Bayangkan! Kita bisa mengekspor permen penderitaan itu ke banyak negara. Saya kira itu jauh lebih baik ketimbang kita melulu mengekspor TKI.”

Samuel tertawa—mungkin karena merasa lucu. Tapi Neal tak menanggapi. “Lagi pula, permen-permen itu telah membuat banyak orang jadi punya kerjaan. Yah, penjahat kapak merah, kan?”

meskipun cuma jadi asongan di perempatan jalan, tapi itu lebih baik daripada mereka jadi

Dari jendela hotel Neal memandang ke bawah, ke arah jalanan yang macet. Ia lihat puluhan permen itu. Rasanya, dari hari ke hari semakin banyak saja jumlah penjaja permen itu memenuhi jalanan. Jalanan yang macet jadi makin semrawut oleh mereka. Samuel memeluknya dari belakang, mengecup tengkuknya pelan.

pengasong yang berjalan dari satu mobil ke mobil di belakangnya, menawarkan bungkusan

“Mestinya kamu tak usah terlalu gelisah. Toh itu hanya permen.” Tidak. Ini bukan hanya soal permen baginya. Permen bukan hanya sekadar sesuatu yang

manis di lidahnya. Bukankah ia mencintai Samuel karena laki-laki ini memberinya sekotak permen ketika pertama kali mereka bertemu? Bagi Neal permen lebih menggoda daripada tertarik untuk menikmatinya. Ia akan lebih suka membayangkan bila di surga penuh untuk memetiknya. buah apel. Bila dulu ia adalah Hawa, dan Tuhan menggodanya dengan buah apel, pasti ia tak bergelantungan biji-biji permen warna-warni yang memancarkan cahaya. Ia pasti tergoda

Samuel memberinya permen. Permen yang selama setahun ini ia nikmati bersama Samuel. Hidup memang seperti permen karet, meskipun lembut dan manis, kita harus berhenti menikmatinya sebelum terasa asam dan hambar. Makanya Neal menahan lidah Samuel

dengan jarinya ketika laki-laki itu mulai menciumnya lagi. Lagi pula ini sudah jam tiga sore. Jam di mana Neal harus menelepon suaminya. Pras menutup handphone-nya. “Siapa?” tanya Melly. “Neal.” “Kamu mesti jemput istrimu?” Pras menggeleng. Ia memandangi Melly yang bersandar di sofa dan belum juga memakai blazernya.

“Cuma ngomong soal permen…” “Permen?” “Ya. Permen. Dia belakangan ini selalu gelisah soal permen yang dijajakan di perempatan jalan itu.”

“Permen ini maksudmu?” Melly mengeluarkan sebiji permen dari tas Louis Vuitton-nya. Pras memandangi permen itu. Benar. Itu permen yang sering ia lihat dijajakan di

perempatan jalan. Pras sama sekali tak menyangka kalau Melly menyimpan permen itu. “Kok kamu beli?” “Itung-itung ngasih rezekilah. Lagi pula bosan kan terus-terusan menikmati permen rumahan. Sesekali perlu juga nyoba bagaimana rasanya permen pinggir jalan….” Pras merasa wajahnya memerah. Omongan Melly terdengar seperti sindiran. “Kamu mungkin menganggap permen ini tak enak, hanya karena dibuat dari adonan kamu pernah dengar ada permen yang dibuat dari rayap kayu?” Pras menganggap Melly bercanda. “Bener! Nggak tanggung-tanggung, yang mengembangkan permen dari rayap kayu itu

penderitaan. Tak ada yang salah kan kalau ada permen yang dibuat dari penderitaan? Apa

seorang profesor di Institut Pertanian Bogor. Mungkin kamu nggak mengira kalau rayap dan lemak 25,2 persen, dan ini cocok buat bahan dasar permen jelly yang kaya dengan suhu70-100 derajatCelsius, udahdeh, jadipermen…” “Tahu dari mana?”

kayu kering jenis cryptotermes cynocephalus light mengandung karbohidrat 10,2 persen nutrisi berupa protein rayap. Tinggal dicampur dengan sirup fruktosa tinggi, dimasak pada

“Baca dong!” Melly sedikit mendengus. Ia tak suka dengan ekspresi Pras yang tampak tak mau percaya kalau ia tahu soal permen rayap itu. Apa dikira sekretaris tidak suka baca?!

Pras diam. Melly mendekat ke ranjang dan berbaring di atas tubuhnya, lalu menyodorkan permen itu tepat ke wajah Pras yang tengadah. “Coba, deh…” Pras tanpa sadar langsung mengatupkan mulutnya. “Sesekali kamu makan permen ini kan ya tak apa-apa,” kata Melly sambil memandang mata

Pras dengan lembut. “Mungkin ada gunanya juga sesekali kamu sedikit merasakan penderitaan…”

Pras memejam. Permen itu mengingatkannya pada kecemasan istrinya. Tapi apa salahnya

mencoba? Toh ia juga suka permen. Rasa permen yang beraneka macam selalu membuatnya merasakan sensasi petualangan rasa di lidahnya. Apalagi sejak ia menikah dengan Neal. Ia permen terlebih dahulu. Permen bisa menghapus bau bekas ciuman di mulutnya. selalu membawa permen di sakunya. Setiap kali hendak masuk rumah, ia pasti mengunyah

Warna-warni cahaya kota terlihat bagaikan bermacam bungkus permen yang bertebaran di udara. Barangkali kota memang seperti permen yang menggoda siapa pun untuk datang menikmatinya. Kota adalah pabrik gula-gula. Gedung-gedung yang menjulang itu adalah

menikmati cokelat raksasa itu, yang tampak seolah meleleh di bawah cahaya. Lalu muncul

kotak cokelat raksasa. Neal melihat barisan orang-orang yang berbondong-bondong ingin

kotor seperti cakar yang hendak menggaruki mobilnya. Neal mendengar suara jeritan yang melengking bersahut-sahutan…

panik ketika orang-orang itu mulai mengepung mobilnya. Tangan mereka yang hitam dan

serombongan orang-orang kumuh yang keluar dari dalam lorong dan gorong-gorong. Neal

belakangnya. Lampu sudah menyala hijau. Dan ia masih melamun. Seorang pengasong

Ia tergeragap. Ternyata itu suara puluhan klakson mobil-mobil yang berderet di

menyodorkan sebungkus permen ke dekat kaca mobilnya, tetapi Neal segera tancap gas. Neal masih gemetaran saat sampai rumah, dan mendapati Iza sudah tertidur. Pembantunya bilang, sejak sore anak itu terus nangis. Tak mau les piano—padahal biasanya ini yang paling disukai anak itu—dan bahkan juga tak mau makan. Hanya karena kecapean ia kemudian tertidur.

Neal memandangi anaknya yang lelap. Wajahnya seperti roti gandum yang diolesi susu.

Di dalam rumah ini, ia bisa melindungi anaknya. Tapi bagaimana di luar sana? Sungguh, ia ingin anaknya terus merasakan hidup yang nyaman dan tenteram. Ia tak ingin pengaruh buruk dari jalanan merusak hidup anaknya.

Tiba-tiba Neal merasa takut, betapa wajah anaknya kelak menjadi keruh oleh penderitaan.

rumah sambil mengunyah permen. Kebiasaan yang Neal perhatikan mulai dilakukan Pras sejak mereka menikah. “Sudah tidur Iza?”

Menjelang jam sepuluh Pras pulang, dan seperti biasanya, suaminya itu masuk ke dalam

“Mungkin ada gunanya juga sesekali anak itu sedikit merasakan penderitaan…” Jakarta. Neal merasakan sisa aroma permen yang lengket di sudut bibir suaminya.Neal mengangguk. Pelan Pras mencium bibir istrinya.” jawab Pras sambil . “Bagaimana kalau besok Iza masih ngambek dan terus minta permen itu?” tanya Neal menjelang mereka tidur. memandang mata Neal dengan lembut. 2007 “Sesekali Iza kamu perbolehkan makan permen itu kan ya tak apa-apa.

para pelancong itu sepertinya telah bosan dengan hidup mereka yang sudah terlampau bahagia.Piknik Agus Noor Para pelancong mengunjungi kota kami untuk menyaksikan kepedihan. dan sempat mengunjungi kota kami. Mata kami yang murung dan sayu. botol- Penampilan para pelancong yang selalu riang membuat kami sedikit merasa terhibur. Dari negeri-negeri jauh yang gemerlapan. Kami menduga. lalu berfoto ramai-ramai di antara reruntuhan puingpuing kota kami. latar belakang puing-puing reruntuhan kota—berpose penuh gaya tersenyum saling peluk mengirimkannya dengan merpati-merpati pos ke alamat kerabat mereka yang belum Belakangan kami pun tahu. Di bawah langit senja yang kemerahan kedatangan mereka selalu terlihat bagaikan siluet iring-iringan kafilah melintasi gurun perbatasan. membawa bermacam perbekalan piknik. Kami seperti menyaksikan rombongan sirkus yang datang untuk menghibur kami. Berkarung-karung gandum yang diangkut gerobak pedati. daging asap yang digantungkan botol cuka dan saus. Mereka segera mencetak foto-foto itu. Karena itulah mereka ramairamai piknik ke kota kami: menyaksikan bagaimana perlahan-lahan kota kami menjadi juga. saat mereka begitu gembira membangun tendatenda dan mengeluarkan perbekalan. menandangi para pelancong yang selalu muncul berombongan mengendarai kuda. Pada bumi—atau seperti ketika kau merasakan kereta bawah tanah melintas menggemuruh di gembira ketika melihat tanah yang tiba-tiba bergetar. roti kering yang disimpan dalam kaleng. Karena memang untuk itulah mereka mengajak kami berfoto bersama. Mereka tak suka bila kami terlihat tak menderita. Mereka datang dari segala penjuru dunia. atau permadani terbang dan juga kuda sembrani. Dan kami harus tampak menyedihkan dalam foto- foto mereka. rendang dalam rantang—juga berdus-dus mi instan yang kadang mereka bagikan pada kami. di punuk unta terlihat bergoyang-goyang. Mereka menyukai wajah kami yang keruh dengan kesedihan. Biasanya kami duduk-duduk di gerbang kota unta. para pelancong yang sudah mengunjungi kota kami selalu mereka saat menyaksikan kota kami perlahan-lahan runtuh dan lenyap. Kadang mereka mengajak kami berfoto. Mungkin para pelancong itu tak tahu lagi bagaimana caranya menikmati hidup yang debu. Kami menyukai cara mereka tertawa. Hidup yang selalu dipenuhi kebahagiaan ternyata bisa membosankan nyaman tenteram tanpa kecemasan di tempat asal mereka. Kemunculan para pelancong itu membuat kesibukan tersendiri di kota kami. Mereka begitu menuliskan kalimat-kalimat penuh ketakjuban yang menyatakan betapa terpesonanya diperjualbelikan hingga ke negeri-negeri dongeng terjauh yang ada di balik pelangi. Bagai ada naga menggeliat di ceruk . Mereka datang untuk menonton kota kami yang hancur. biskuit dan telor asin. keledai. kalau foto-foto itu kemudian dibuat kartu pos dan kartu pos yang dikirimkannya itu. Sementara mereka—sembari berdiri dengan atau merentangkan tangan lebar-lebar.

Barisan pepohonan seakan berjalan pelan. Mengais reruntuhan untuk menemukan barang-barang berharga yang bisa mereka simpan sebagai kenangan. menyaksikan seekor ayam emas tiap kota. Kau bisa membayangkan gerumbul awan yang selalu bergerak dan bertabrakan. Membuat semua bangunan di kota kami jadi terlihat selalu berubah letaknya. hingga menyerupai kota yang dibangun di atas menyerupai benteng di ujung sebuah teluk. bergerombol berdiang di seputar api unggun sembari berbagi cerita. dan sungai selalu meliuk-liuk. kota kami adalah kota paling menakjubkan yang pernah mereka saksikan. karena bisa menyaksikan segala sesuatu sirna begitu saja.rumah rubuh menjadi abu. Mereka terpesona mendengar jerit ketakutan orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri. begitu mendengar kabar ada bagian kota kami yang tergoncang porak-poranda. penyair. dengan rumah-rumah yang beranda-berandanya saling bertumpukan. Banyak kota dibangun dengan gagasan untuk sebuah keabadian. jalanan. suara menggemuruh yang merayap dalam tanah. Mereka telah menyaksikan menara-menara gantung yang dibuat dari balok-balok bertengger di atas katedral tua sebuah kota yang selalu berkokok setiap pagi. Tapi kota kami.0<>w 9738m< Bahkan mereka bersumpah telah mendatangi kota yang hanya bisa ditemui dalam imajinasi seorang kunjungi. Betapa menggetarkan melihat pohon. Membuat hidup para pelancong yang selalu bahagia itu menjadi lengkap. kota dengan jalan layang menyerupai jejalin benang laba-laba. seperti itulah tanah di mana kota kami berdiri. Lorong-lorong. Dan ketika sewaktu-waktu tanah terguncang. candi-candi megah yang disusun serupa tiara. Dengan handycam mereka merekam detik-detik keruntuhan itu.>jmp- menyusur dinding-dinding menghadap air. menurut mereka. gemeretak paling menakjubkan bagi para pelancong yang berkunjung ke kota kami.pohon bertumbangan dan rumah- Bagi para pelancong itu. sebuah kota yang selalu tertutup menyerupai gelapanggur danhanya bisadilihat ketikasenjakala. dan jalan-jalannya yang telah melihat kota dengan kanal-kanal yang dialiri cahaya kebiru-biruan. Mereka juga pelancong itu juga bercerita perihal kota kuno yang berdiri di atas danau bening. Para pelancong itu segera menghambur berlarian menuju bagian kota kami yang runtuh. Mereka telah berkelana ke sudut-sudut dunia. seolah semua itu terlampau bahagia.bintang terasa lebih jauh di langit hitam.0<>w7028m<1)>jmp 0m<>h9738m. tetapi tidak dengan kota kami. Lalu mereka memotret mayat-mayat yang tertimbun balok-balok dan tembok-tembok retak. bangunan dan pasir yang sering kau buat di pinggir pantai ketika kau berlibur menikmati laut. Kepada kami para cermin. dan bintang. Itulah detik-detik atraksi paling spektakuler yang beruntung bisa mereka saksikan dalam hidup mereka yang batu bata. adalah kota paling ajaib yang pernah mereka Para pelancong menyukai kota kami karena kota kami dibangun untuk menanti keruntuhan. Memetik kecapi dan Saat malam tiba. bawah kakimu. rubuh dan runtuh menjadi debu—serupa istana Rupanya itulah pemandangan paling menakjubkan yang membuat para pelancong itu terpesona. pepohonan di kota kami saling bertubrukan. Dari kejauhan kami . Atau rebahan di dalam tenda sembari memainkan harmonika. dengan jendela-jendela dan pintu-pintu yang 2008m<>h 7028m. menyaksikan beragam keajaiban di es abadi. Kota kami berdiri di atas lempengan bumi yang selalu bergeser. para pelancong itu bernyanyi.

rumah sakit-rumah sakit. atau sesendok madu— kemudian kembali pergi untuk melihat-lihat bagian lain Kemudian para pelancong itu pergi dengan bermacam cerita ajaib yang akan mereka kisahkan pada kebarat dan kenalan mereka yang belum sempat mengunjungi kota kami. tower dan menara. Sesekali minuman. sebotol kota kami yang masih bergerak bertabrakan dan hancur. sungai-sungai. membangun kembali bagian-bagian kota kami yang runtuh. Semua itu terjadi bukan hidup dalam jiwa penghuninya. hingga di bekas reruntuhan itu kembali berdiri bagian kota kami phoenix yang hidup kembali dari tumpukan abu tubuhnya. Kota kami bagaikan selalu muncul kembali dari reruntuhan. jembatan. sementara. dan fana. kabut dan cahaya serta jiwa para penghuninya.menyaksikan mereka. menanam kembali pohon-pohon. seperti burung Kesibukan kami membangun kembali bagian kota yang runtuh menjadi tontonan juga bagi para pelancong itu. Bila kau merencanakan liburan akhir pekan—dan kau sudah bosan piknik ke kota-kota lupa membawa kamera untuk mengabadikan penderitaan kami. para pelancong itu berkeliling kota menyaksikan kami yang tengah sibuk menata reruntuhan. kenapa kami mesti menganggap apa yang terjadi di kota Seperti yang sering dikatakan para pelancong itu pada kami. runtuh tertimbun waktu. Kami tak ingin kota kami lenyap. Mereka membuat kami semakin mencintai kota kami. Jangan khawatir. Karena itulah kami selalu rumah-rumah. tetapi lebih karena kota itu tak lagi terdiri dari gedung. meski sebagian demi karena semata-mata seluruh bangunan kota itu hancur. Sebuah kota yang akan mengingatkanmu pada yang rapuh. kami . merasa sedikit terhibur dan tak terlalu merasa kesepian. Karena bila para pelancong itu menganggap kota kami kami ini sebagai malapetaka atau bencana? kota kami. Berwisatalah ke kota kami. membagikan sekerat biskuit. Sebuah kota yang membuat para pelancong berdatangan ingin menyaksikannya. Bagaimanapun kami mesti berterima kasih karena para pelancong itu mau berkunjung ke pergi mengungsi dari kota kami. ke arah kami. Kami mendirikan kembali sebagian dari kota kami perlahan-lahan runtuh menjadi debu. setiap kota memang memiliki jiwa. Kami sering mendengar kota-kota yang lenyap dari peradaban. Itulah yang membuat setiap kota tumbuh dengan keunikannya sendiri-sendiri. 2006 CATATAN: besar dunia yang megah dan gemerlap—ada baiknya kau berkunjung ke kota kami. seakan dengan begitu mereka telah menunjukkan simpati pada kami.lahan hancur dan tumbuh kembali. Mereka tersenyum dan melambai para pelancong itu berhenti. Membuat setiap kota memiliki kisahnya sendiri-sendiri. sekolah. Setiap kota yang mencintai dan mau menerima kota itu menjadi bagian dirinya. yang hancur. Membuat kami tak hendak adalah kota yang penuh keajaiban. sepotong dendeng. Keajaiban tersendiri. Mereka akan bercerita bagaimana sebuah kota perlahan. Sembari menaiki pedati. Mungkin itu bisa pasti akan menyambut kedatanganmu dengan kalungan bunga-air mata… Yogyakarta.gedung. Jangan membuatmu sedikit terhibur dan gembira.

oleh Erwin .1) Deskripsi kota-kota dalam paragraf ini mengacu pada karya Italo Calvino. Invisible Salim (Fresh Book. 2006) Cities—telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Kota-kota Imajiner.

Seperti ada cahaya yang perlahan berkeredapan dalam mata bocah itu. Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. kerakap tumbuh di bertengger di atas kotak pos yang kini tampak seperti terbuat dari gula-gula. Usianya paling 12 tahunan. karena jalanan telah atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkan gedung-gedung yang telah merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. Sering Gustaf memperlambat laju mobilnya. agar ia bisa berlamalama menatap sepasang mata itu. Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil. jalan menjelang kantornya. Dan itu kian Gustaf dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyak saja jumlahnya. rasakan setiap kali bersitatap dengannya. akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagar pembatas jalan. Kadang berloncatan. Rambutnya kusam kecoklatan karena panas matahari. Berkoreng di lutut kirinya. seakan-akan ada mata air yang muncul dari dalam Gustaf terpesona menyaksikan itu semua. Dia tak banyak beda Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari bocah itu. Setiap pagi. menghirup lembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. seolah ada yang perlahan tumbuh dari celah conblock. Tiang listrik dan lampu jalan menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam. Tapi pada saat itulah ia terkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya. seperti menjolok sesuatu. Dari retakan trotoar perlahan tumbuh bunga mawar. Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemis yang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka. Memandang mata itu.Mata Mungil yang Agus Noor Menyimpan Dunia Selalu. Gustaf tak tak bisa mendengarkan teriakanteriakan bocah itu. saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalau sesuatu yang beterbangan. agar ia bisa mendengar apa yang diteriakkan bocah itu. Selalu bercelana pendek kucel. Tak ada keruwetan. jernih dan bening mengalir perlahan. Air yang dinding penyangga jalan tol. Kadang hanya merunduk jongkok memandangi trotoar. Gustaf terkejut ketika tiba-tiba ia melihat seekor bangau selokan. Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan layang. Kicau burung terdengar dari pohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light. Jembatan penyeberangan di berubah perbukitan hijau. Hingga ia menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. Ia menurunkan kaca mobilnya. Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dan tertawa-tawa. ia selalu melihat bocah itu tengah bermain-main di kolong jalan Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat. Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelan dalam kemacetan. Beberapa pengendara sepeda motor yang .

saat ia berusia tujuh tahun. Mata yang berkilat licik. Ia menyukai bermacam warna dan bentuk mata boneka-boneka koleksinya. tapi ia suka diam-diam memperhatikan mata menyingkir. pecahan kaca yang menancap di kornea. pusaran kabut kelabu dengan kesedihan dan kesepian Di mana-mana Gustaf hanya melihat mata yang keruh menanggung beban hidup. Sesekali ia menggambar bunga mawar tumbuh dari dalam mata itu. Karena itu. boneka—lantas segera membawanya ke psikolog. setiap kali itu pula Gustaf kian ingin memilikinya. Mata yang tertutup jelaga kebencian. indah yang pernah Gustaf tatap. Seorang polisi lalu lintas bergegas mendekatinya. Begitu bening begitu jernih. Atau dalam mata itu ada bangkai bayi yang terapung-apung. Mata yang mungil tapi bagai Alangkah menyenangkan bila memiliki mata seperti itu. ”Mata itu seperti jendela hati. Ia ingat perkataan Oma. memandangi mata seseorang cukup lama. Ia senang ketika Oma memuji gambar-gambarnya itu. Oma seperti bisa memahami apa yang ia rasakan. panjang. ia yang bagai liang hitam. Kadang ia melihat api berkobar dalam mata itu. Mata itu membuat dunia jadi banyak warna. Itu sebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka. Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu. sewaktu kanak-kanak juga menyukai berlama-lama. Berminggu-minggu mengikuti terapi. Dan ia selalu menggambar mata. Kadang—tanpa sadar_ia sering mendapati dirinya tengah Saat remaja ia tak lagi menyukai boneka. atau binatang-binatang yang berloncatan dari dalam mata berwarna hijau toska. hingga orang itu merasa risi dan cepat-cepat orang-orang yang dijumpainya. Setiap menatap mata seseorang.menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. Kadang ia melihat ribuan kelelawar terbang berhamburan. yang kata Mama. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya…. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. Sering pula ia melihat lelehan tomat merembes dari sudut mata seseorang yang tengah dipandanginya. Dan itu rupanya membuat Mama cemas—waktu itu Mama takut ia akan jadi selalu disuruh menggambar. kawat berduri yang terjulur yang menggantung.” Sejak itu Gustaf suka memandang mata setiap orang yang dijumpainya. Setiap kali terkenang mata itu. terlihat berbeda. Gustaf seperti melihat bermacam keajaiban yang tak terduga. Tapi Papa kerap menghardik. Gustaf jadi begitu terkesan dengan sepasang mata bocah itu. Barangkali seperti mata burung seriwang yang bisa menangkap lebih . Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnya dan melaju. itulah mata paling menyimpan dunia. Ia tak pernah menyangka betapa di dunia ini ada mata yang begitu indah. Mata yang penuh kemarahan. Sering ia menggambar mata mata dengan sebilah pisau yang menancap. Ia suka menatapnya homoseks seperti Oom Ridwan. ”Tak sopan menatap mata orang seperti itu!” Papa menyuruhnya agar selalu menundukkan pandang bila berbicara dengan seseorang. padang gersang ilalang. Rasanya.

Gustaf kini bisa mengerti. Dan ia makin ingin mata bocah itu. Membuat Gustaf berpikir. Mata bocah itu pastilah melihat sekawanan burung gelatik terbang merendah bagai hendak hinggap kepalanya.Sembari menikmati secangkir cappucino di coffee shop sebuah mal. Tapi Gustaf tak menemukan mata seperti itu. Bila ia bisa memiliki mata itu. Bila perlu ia menculiknya. Di lengkung selendang sutra bambu apus tumbuh di dekat pakaian yang dipajang. Ia ingin ketika ia muncul kembali. mana anak-anak berebutan ingin menaikinya. Semua itu hanya mungkin. Semua Pagi ketika Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. Ia sering mendengar cerita soal operasi ganti mata. Seekor kepik bersayap merah berbintik hitam tampak merayap di atas meja. pastilah bocah itu sedang begitu senang memandangi seekor kumbang tanah yang muncul dari celah conblock. Atau karena mata mungil itu akan terlihat beda. hingga ia mengibas-kibaskan tangan menghalau agar burung-burung itu kembali terbang. semuanya sudah tampak sempurna. Orang-orang pasti akan terpesona begitu memandangi matanya. dan pastilah tak seorang pun yang peduli bila salah satu dari mereka hilang. Eceng gondok tumbuh di Tentulah menyenangkan bila punya mata seperti itu. bisa memiliki mata itu. karena memang menyimpan sebuah dunia. Apa pun akan Gustaf jalanan berkeliaran. yang dikenakan manequin di etalase itu akan terlihat kepompong mungil yang bergeletaran pelan ketika perlahan-lahan retak terbuka dan muncul seekor kupu-kupu. lantai yang digenangi air bening. Ada rimpang menjalar di kaki-kaki kursi. Terlalu banyak anak Gustaf tersenyum. ia akan bisa melihat segalanya dengan berbeda sekaligus buatnya. Cahaya jadi terlihat seperti sulur-sulur benang berjuntaian…. Ice cream di tangan anak kecil itu mungkin akan meleleh menjadi madu. batin Gustaf. pikirnya. mata. Elevator itu menjadi tangga yang menuju rumah pohon di Betapa menyenangkan bila ia bisa menyaksikan itu semua karena ia memiliki mata bocah akan memiliki mata paling indah di dunia! Mungkin ia bisa menemui orang tua bocah itu baik-baik. Ia tinggal datang ke Medical Eyes Centre untuk mengganti matanya dengan mata bocah itu! Gustaf hanya perlu menghilang sekitar dua bulan untuk menjalani operasi dan perawatan penggantian matanya. Bocah itu sering berloncatan— sebab itu tengah menjoloki buah jambu yang terlihat begitu segar di matanya. Mungkin ia akan menemukan mata yang indah. kenapa bocah itu terlihat selalu berlarian riang—karena ia tengah berlarian mengejar capung yang hanya bisa dilihat matanya. Atau ia bisa saja merayu bocah itu dengan sekotak cokelat. Apa yang kini ia pandangi Pita gadis yang digandeng ibunya itu akan menjadi bunga lilly. lakukan agar ia bisa memiliki mata itu. mata mungil indah bocah itu bisa melihat dunia yang berbeda. ia melihat seorang bocah duduk bersimpuh di trotoar dengan tangan . Tentu lebih menyenangkan bila tak seorang pun tahu kalau aku baru saja ganti orang akan memujinya memiliki mata paling indah yang bagai menyimpan dunia. Ketika berjongkok. Agar ia bisa memandang semua yang kini dilihatnya dengan berbeda…. menawarinya segepok uang agar mereka mau mendonorkan mata bocah itu itu. seperti jadi mata bocah itu memang satu-satunya mata paling indah di dunia. Gustaf memperhatikan mata orang-orang yang lalu lalang.

dan melemparkan recehan. seorang perempuan yang tadi gemetaran memandangi Gustaf terlihat menghela napas. Ia ingin membuka jendela. Gustaf yakin mereka kagum pada sepasang matanya.terjulur ke arah jalan. tapi segera ia urungkan karena merasa percuma. sambil berbicara kepada temannya. Begitu lift itu tertutup. Kedua mata bocah itu kosong buta! Gustaf hanya memandangi bocah itu. Ia melangkah melewati lobby perkantoran dengan langkah penuh kegembiraan ketika melihat setiap orang memandang ke arahnya. percaya. ”Kamu lihat mata tadi?” ”Ya. Beberapa orang malah terlihat melotot tak sekelilingnya…. 2006 .” ”Persis mata iblis!” Jakarta. Gustaf terkesima memandang Dengan gaya anggun Gustaf menuju lift.

Merapikan pakaian. seperti kotak tempat menyimpan gitar. Kadang berbulan- bulan. ia sudah menjemur kasur pewangi ruangan. mengusir bayangan buruk itu. Bergegas. ia berharap maut benar- Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan Ia berdiri di ambang pintu. memandang langit siang yang terang. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa benar akan datang. Bila pulang. Setiap menjelang Ramadhan. Ia tak ingin kecewa lagi. Entahlah. Tato di lengan kanan. hingga ia bisa mati tenang… karena ditolak permintaannya saat lebaran.siul >diaC< Beberapa tetangga—yang tengah duduk menggerombol— memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu. Ia memejam. Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan . Sebab. Saat Ramadhan bantal yang lembab apak berjamur. sembari terus bersiul. Ramadhan berlalu. ia selalu membersihkan kamar kontrakannya. kemarin. dan wangi. Saat ia berbaring di ranjang. Berhari-hari. Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh. Memakai jaket kulit hitam. rapi. beberapa koper besar. Menyisir rambut dan memotong kuku. seperti bekas bacokan. Dan tadi. Menyemprotkan upacara kecil menyambut kematian… ringan. mengerut menatap laki-laki itu. seperti lengket di hidungnya! Segera ia mandi. Lihat saja tampang tetangga melihatnya keluar tengah malam. keramas. Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih. Parut luka seputar pundak. Ramadhan kali ini. Langsung. sembari bersiul-siul kecil. Sesekali. ia bisa mencium bau amis darah itu. Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti. Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan. Ia jarang berada di kamarnya. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar. banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan. Seperti selalu menghilang. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah.Ia Ingin Mati di Bulan Ramadhan Ini Agus Noor Betapa menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. Mungkin ia rampok. Melipat selimut. Ah. Menenteng seramnya. ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. dan segera saling bisik. Bayangan kematian penuh darah. Atau erang kesakitan leher digorok. tapi ia masih saja hidup. ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya.

Pintu jendela yang biasanya tertutup makanan buat sahur. Menutup diri. bercerita. Wajah. Mati dengan tenang. seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. ia terlihat merokok siang hari. ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk. dibuka lebar. Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya. Misterius. Para tetangga penasaran menyimpan dugaan. betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput. Wajah pucat perempuan simpanan ketika ia membantai keluarganya. memandang entah apa. Tiap termangu memandangi kapling makam itu. Wajah mahasiswa yang yang lehernya ia sayat. menyapu. Dan seseorang yang menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi. wajah remuk rusak itu. atau berdiri Para tetangga jadi gelisah. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri.mayat itu meleleh. Barangkali ia dukun. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati. Beres-beres kamar. Ini yang membuat kian penasaran. sebagai seorang pembunuh bayaran. Menjelang Ramadhan ia muncul. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu… >diaC< Mayat-mayat yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam. di bulan Ramadhan. Mungkin intel. Mungkin. Kulit wajah mayat. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati. Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah Ia tergeragap bangun. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka.wajah yang membuatnya mengerang panjang. Mungkin sedang menyiapkan sore ia keluar. seperti mengawasi. Ia terkapar. Aneh. Meski ia tahu. Sering. Ia seperti tak mau dikenali. mereka mendengis bengis. Ia mengerang. ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan. Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar.saat seperti itu. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu. Seperti menyaksikan kematian . Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang. Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki. Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini. Tetangga yang jadi tukang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat. mengenali beberapa ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya.harga BBM—matanya jelalatan. tapi pergi ke kuburan. Dan orang-orang merinding mendengarnya. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher mengecup pelan-pelan… korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan. memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan Ia pun suka menikmati saat. seperti lilin panas mencair. Mengepungnya.laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa. Rutin yang ganjil. rumah petak tak pernah berani bertanya.

Ia amati raut tua Kiai Karnawi. Ia menyiksa para pemberontak. diam- dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan. Ia akan tinggal di rumahnya.” kata komandannya. Paling mentok jadi sersan. ia suka membayangkan diri jadi tentara. >diaC< Sampai satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan. Memang. Beberapa menderita Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. Ia sudah membeli rumah buat hari tua. Dan itu disukai komandannya. Ia tak terlalu menyimak. Lalu beberapa order ringan lainnya. karena pejabat itu pingin kawin lagi. saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan. ia diberinya pekerjaan. Rahang terkesan pipih. Ia heran. Dan ia membusung bangga. Lalu sepulang perang. Benar kata komandannya. Orang. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian. Menghabisi seorang Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan. Tugasnya hanya membunuh. nanti bila sudah berhenti. Sumpek bau comberan. Sorot matanya tenang. Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga. kata teman-temannya. Beruntunglah orang . Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan… coklat resik. Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat. Ia lebih menyukai Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu. kenapa orang seperti itu Tapi itu bukan urusannya. Alangkah hebatnya jadi tentara. bayaran yang menderita di masa tuanya. Umur tujuh tahun. Bicaranya santun. Kisah para raksasa penyantap manusia. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi. Ia paling senang ketika harus disiplin. Tanpa jejak. Ia kenal beberapa mantan pembunuh sakit jiwa. Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang. Membunuh seorang pengusaha. Percuma kalo cuma jadi tentara. Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta. Tempat menyembunyikan diri. Di kampungnya. Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir. membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian. Beberapa mati dalam penjara. dan ”Kamu punya bakat bagus. orang yang jadi tentara sangat ditakuti. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan. Kulitnya yang putih bersih. diam ia membunuh kucing pamannya. Saat SMP ia berkali-kali berkelahi. tak ada yang pun mendaftar jadi tentara. berani menghentikan. Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang. Kamu pantas jadi tentara. Ia menikmati bayaran yang lumayan. Dan ia mulai mengawasi. Dikirim ke medan perang. Ia selalu ingin berada sangat dekat. setiap kali kakeknya menyembelih ayam. tertib. Seorang hakim.Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu. Sepotongsepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan. membuat lawan- lawannya bonyok nyaris mati. Tapi membuatnya merasa aman. wartawan.orang mengerubung. bisa memukuli orang sepuasnya. Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran.

” Baru kali ini ia gemetar. Kalau boleh memilih. Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. Dan semoga saja. Alhamdulillah. ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini. membuangku ke jurang dengan mobil itu. Ia bisa menembaknya. Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang. Kemeresek daun jati jatuh. Mencibir. ”Kamu bisa membunuhku di sini. Kematian di bulan Ramadhan. Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram. hehehe…” Kiai pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu.” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan. Gemetar tak yakin.yang mati di bulan Ramadhan. Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang. aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar. Ia mulai diusik gelisah. Lengking gagak di kejauhan. Terdengar letusan. Ia pun kemudian selalu berharap. dan kini memburu kematiannya. Sayang kan. Jangan sampai aku kesakitan ya. Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan Semua sudah sesuai rencana. Senyap. Dan ia kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan? tersenyum. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat. ia hanya berdiri gamang. ”Aku tahu. tak perlu repot-repot membunuh yang lain…” Ia tak tahu. Jutaan pasang mata Ia merasa senja meremang. lakukan tugasmu. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan. Ia tak mengeremnya! ”Mari kita turun. Karnawi terkekeh. yang pelan. Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan. itu mobil mahal. Amin. kamu mau membunuhku. Lalu meraba ”Sekarang. Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya. Biar tak banyak korban. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan. Ia meraba belati. Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran. Enggak usah merepotkan sampeyan…. kecuali mati di bulan Ramadhan. Dengung jutaan serangga mengepung. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi. Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu. aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan. Tapi tolong. Kelebat bayang burung menyambar. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri. Kamu cukup membunuhku. Singup. Seperti yang sejak itu terus mengintainya.” ajak Kiai Karnawi. Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan. 2005 . ”Setelah itu kamu bisa membunuhku. Tak usah Karena itulah. Pelan. ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang. lalu mendorong mobil ke jurang. diperkenankan mati di bulan Ramadhan. Lalu menggelar sajadah. Getir. Yogyakarta. kenapa mobil perlahan berhenti.

Tubuh saya menggigil dan dihamburkan dari langit yang membuat saya tiarap gemetaran. Jepara. Pati. saya sudah tak tahu jalan. cucu. Agaknya tersangkut sesuatu. maupun motor karena tak Zaman. Kebanyakan warga tetap di rumah masing-masing dengan ”Kalau ibumu ini mati. untuk menemui Kiai Zaim pesantren di desa kami. Saya meraba-raba apa gerangan yang menyebabkan rakit saya terhenti. meski apa peduliku. dan anak-anak. Di dusun tak ada bangunan yang tinggi tempat mengungsi. Wahai. Mendadak laju rakit ini terhenti. Sementara di Riau dan Jambi. ayah. Masya Allah. sawah-sawah yang siap panen. dari Pati ke Rembang. ke mana Saya semakin menggigil. Saya menunggu halilintar untuk mengirim sinar. banyak lagi korban. cahaya perak. Rembang. Subhanallah. Banjir masih juga melanda Pati. seolah tak peduli akan kesulitan hidup yang sedang dirundung. Tentu ada saja yang menjadi korban dari bencana yang besar ini Cepat-cepat saya singkirkan tubuh itu dengan galah lalu saya menghindar dari tempat itu. Tuban. hutan terbakar. saya meraba tubuh orang. didaki karena licin dan terjal. mobil-mobil pribadi.” . Tapi terbit di timur dan tenggelam di barat. dan pertokoan. bus. barangkali beliau mau menolong kami mengatasi kesurupan massal yang melanda Air banjir setinggi satu setengah sampai dua meter mengganyang seluruh kawasan yang sangat luas. mungkin tidak sedikit jumlahnya. Apa kiamat seperti ini? Geledek bersahutan seperti Halilintar menyilet langit memberi jalan rasa bersalah pada rakit saya. Saya yang satu minggu kehujanan terus. Kudus. yang terdiri dari truk. Ibu. namun tak kunjung muncul. Jawa Tengah. Sejumlah rakit dari batang pisang maupun bambu tampak berseliweran. Saya mengayuh rakit menerjang sawah siap panen yang tenggelam yang airnya semakin tinggi. apa Kiai Zaman sendiri tidak repot? Beliau tentu juga sangat dibutuhkan oleh pesantrennya yang juga dilanda banjir. Saya melewati antrean kendaraan yang macet sepanjang 24 km mampu menembus banjir. perkebunan. kolam ikan. cahaya perak. Gelap gulita. air tak juga surut. ”Cepat kuburkan. Rasanya tubuh ini beku.Pantura Danarto Sungguh saya tak juga mengerti kenapa cuaca menjadi sekacau ini padahal matahari tetap sudah dua minggu. Terdengar gelak-tawa menyergap disusul hujan lebat. Sebaiknya saya terus mengayuh rakit batang pisang ini. Mendadak mendung datang rasanya badan bertambah ringan tapi dinginnya minta ampun. Hanya bukit yang cukup sulit bertengger di atap dengan payung atau lembaran plastik untuk menahan hujan. Juwana. kontainer. meliputi kota-kota Demak.” kata ibu yang duduk di atap rumah dengan memegangi payung dalam hujan lebat. perumahan. juga nenek-kakek. Para penumpangnya yang saling kenal berteriak-teriak bertegur sapa. sedang cuaca juga tak mau tahu apa keinginan-keinginanku. Tapi. cicit. Sawah siap panen yang tenggelam tentu menelan lebih mengungsi jika seluruh kawasan yang sangat luas ditelan banjir yang rasanya semakin tinggi ditambah oleh deras hujan. tambak.

Tapi mereka tak betah di tapi cukup bahagia. Alhamdulillah. menikmati sebuah lalu minta lagi. Sambil berayun-ayun dimainkan oleh kantuk. Bangunan apa gerangan? Kembali kilat merobek udara.”Ah. Terlalu bising. Maka ketika banjir surut. sampai saya terjatuh. dan kedua adik ke Jakarta. di rumah bertingkat kami. manis dari akarnya.” ”Ibu saja yang menjaga adik-adik. air melulu yang tampak. di mana Rembang. Rumah tertutup santri. Tiba-tiba rakit mentok. yang membuat saya selalu kangen untuk mengunjunginya. ayah. di mana para juga Tuhan. Banjir yang lebih besar kali ini datang. ibu kok ngomong begitu. ditambah 25 santri putri yang kesurupan diungsikan itu bermanfaat bagi sesama.” sergah saya sambil memeluk tubuhnya yang gemetaran kedinginan. Kadang gelombang menerpa karena digelontor angin puyuh yang juga air lalu kembali tenggelam. meski selalu kekurangan Kemudian kakak membangun rumah bertingkat untuk kami menghadapi banjir. alur mana (?) saya tak lagi mengenal peta. katanya. teriknya. di atap masjid itu tidak hanya baju. dalam ukuran apa pun. Pagi harinya masjid itu terkatung-katung di danau yang luas dengan saya satu-satunya berada di atapnya. ”Jaga adik-adikmu. katanya. Saya mau cari nafkah di Jakarta. pohon mangga yang sangat rindang. saya berhasil masuk ke ruang salat. Sekilas terlihat bangunan putih ini masjid. Kadang batang-batang padi muncul di permukaan tubuh saya juga mengering. Ditinggalkannya saya sendirian di dusun untuk menjaga rumah. Banyak jalan yang Allah bimbing supaya bangunan Zaman dan di mana beliau berada jika di pesantrennya tak dijumpai sementara di mana- menyebabkan rakit ini berhenti.” ”Tega kamu meninggalkan adik-adikmu. kakak yang menetap di Jakarta memboyong ibu. merupakan perpaduan yang elok. Apa yang terjadi sesungguhnya? Siang harinya panas sangat mempertajam tetes hujan bagai jarum. Seorang kiai dengan pohon mangga Karena panas tak tertahankan. Benar saja. ayah memeluk kedua adik saya yang basah kuyup karena tak terlindung dari hujan. Masalahnya kini adalah bagaimana bisa menemui Kiai Zaim mana. Meski sangat kesukaran. bermain maupun berdebat soal jodoh. saya mencari jalan turun ke dalam masjid. Di mana Pati. manalagi. air. Jakarta. berseliweran berlarian. air. Di tengah sawah yang sudah jadi danau ini. Lalu boyongan kembali ke desa. Ternyata tangan saya menyentuh tembok. sejauh mata memandang.” Di atas atap dapur. Yang saya takutkan kalau tiba-tiba ibu atau ayah meninggal. nama yang mengingatkan orang sehabis yang lebat buahnya. Dua rakaat saya selesaikan setelah berwudu .” ”Saya mau cari duit yang banyak untuk ibu dan sekolah adik-adik. kedua kota itu mengingatkan saya akan hubungan rumah saya dengan rumah Kiai Zaim Zaman yang berada di tengah pesantrennya. putra maupun putri. Kembali saya meraba-raba apa gerangan yang Barangkali saya bisa mencapai atapnya supaya saya bisa tidur dan tidak terlalu kedinginan.

Semoga berkah Allah selalu mengayomi Kiai Zaim Zaman yang dua lengan itu. Saya ”Maka cepat-cepat saya menemuimu. Di yang mumpuni ini. kepada ibu. ”Saya hanya orang yang kepengin seperti beliau. Tetap betah juga sopir-sopir dan kenek- .” kata Kiai Zaman hampir-hampir berbisik. Rasanya saya semakin banyak utang kepada Kiai ini. sementara di luar sana. Kapan seorang awam seperti saya bisa membalas kebaikannya dan jasadalam hati saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya atas semua kebaikan Kiai jasanya dengan segala kemampuan yang tulus seperti selembar sajadah kepada sebongkah kepala yang sujud di atasnya.” ”Salamualaikum. ya.” ”Orang-orang modern bisa juga kesurupan. Cukup lelap dan tak terganggu oleh mimpi. Kiai Zaman berjalan di atas air tanpa mempedulikan panggilan saya. banyak sekali. menanyakan kesehatannya. menjauh. di depan mihrab saya jumpai bertumpuk-tumpuk uang yang disentuh tangan sampai berkah yang tidak kasatmata.” Pagi hari ketika matahari kencar-kencar dan mendung hitam sedang mengincar. yang boleh jadi terus menunggu dengan harap-harap cemas.” teriak saya ketika itu kepada orang-orang itu. Betapa seandainya kita punya banyak kiai seperti beliau.“ kata Kiai sambil ngeloyor pergi. Kiai Zaim Zaman berzikir di sisi saya. kaki yang dua jenjang itu. ”Saya mendengar panggilanmu bertalu-talu. bangun dengan sigap. ”Saya sudah bertemu dengan dua puluh lima orang santri putri yang kesurupan itu di rumahmu dan mereka sudah baik kembali. ayah.” ”Subhanallah. saya kaget bukan alang kepalang. saya tertidur tanpa diawali kantuk. banyak sekali. orang-orang pernah berduyun-duyun ”Saya bukan Kiai Zaim Zaman.” ”Subhanallah. mencium tangannya. ya.” seru saya sambil mengejar beliau. Di luar. orang-orang berteriak meminta tolong. saya banyak kepada saya dengan bertumpuk-tumpuk lembaran uang di atasnya. Waktu bangun. sekeluarga turun-temurun. meminta doa.air banjir. Saya mendayung rakit batang pisang ini meninggalkan masjid yang sudah memberi pelajaran mendayung kembali ke Pati dengan arah apa pun. ke sebuah dusun yang sunyi. dari imbalan yang bisa menemui saya dengan seluruh permintaan yang bisa diucapkan mulut: Ketika saya kembali ke dalam. ada hal-hal yang perlu saya tanyakan. tangan banyak sekali. ”Pak Kiai. berusaha sebaik mungkin untuk tidak kentara baru bangun dari tidur.” seru saya. dan kedua adik saya.” ”Subhanallah. Kembali rakit saya terhadang oleh antrean truk yang sangat panjang dalam kemacetan oleh banjir yang masih setinggi dada orang dewasa.

Tuhan punya rencana. Seperti mati berdiri. semakin kentara kami butuh bantuan yang tak Pagi harinya kami dikagetkan oleh teriakan ibu. Keadaan jadi kacau dan meriah. Seorang sopir mengambil segepok uang itu dan menimpukkannya ke arah temannya sambil mencemooh.kenek itu melantunkan potongan-potongan lagu meningkahi irama dangdut yang tak kunjung padam. caturnya yang berayun-ayun oleh riak air yang dihembus angin atau sengaja diaduk-aduk Ketika para sopir dan kenek itu melihat gepokan lembaran uang yang bertumpuk-tumpuk di atas rakit saya itu. diiringi ha ha ha he he he dan olok-olok yang diuleg sepedas mungkin sehingga banjir itu tambah sempurna mengharu-biru. Lalu mereka mendorong rakit supaya saya meneruskan perjalanan. Ketika ibu mengetahui saya membawa uang yang bukan main banyaknya itu. ayah. ”Ya. Subhanallah. ”Lo ambil! Lo yang mata duitan! Ha ha ha!” Teman yang kena timpuk itu melempar uang itu ke teman yang lain sambil berteriak. Bagaimana mainan. Penuh banyolan dan semprotan Anehnya para sopir dan kenek itu. ”Ya. semuanya ini milik-Mu. Dalam hati saya menyesal.” doa saya. Ini artinya bergepok-gepok uang itu kembali ke tangan kami. menyuruh saya membuang seluruh uang itu dengan mendorong rakit menjauh dari rumah. mungkin mereka tidak menyadari.” doa saya dengan kenceng. Bahkan yang beradu bidak-bidak catur sambil berendam dengan papan oleh sejawatnya yang selalu mengganggu. uang haram yang belum tentu dari Kiai Zaim Zaman. Malam harinya saya tidak dapat tidur karena perut keroncongan. itu tidak menyembunyikan segepok dua di dalam baju saya. . ”Rakit itu kembali ke rumah!” yang disambut seisi rumah dengan takjub. Persediaan makanan habis sebungkus mi-instan yang dibagi dua orang. Lo aja ambil yang masih kere!” Akhirnya semua sopir dan kenek itu berebut uang di atas rakit saya dan saling timpuk- kata-kata konyol. Itu uang beneran dan mereka boleh merebutnya. menyelam dan menyelamatkan seluruh uang yang tenggelam dan mengembalikannya di atas rakit saya. Saya tertegun. uang yang saya bawa itu uang sungguhan. Allah. kedua adik saya. Menurut ibu. dan para santri dengan sejumlah ustadnya yang masih menginap menyambut saya dengan sukacita. subhanallah. ”Gue ude konglomerat. bukakan mata mereka. saya pasrah setulus mungkin. Bukan uang Sesampai di rumah. Dengan kunjung datang. menimpuk sejadi-jadinya. ibu. kenapa saya sementara jumlah orang yang menginap di rumah bertambah setiap harinya. Tentu banyak gepokan uang itu yang jatuh ke dalam air dan tenggelam. Allah. Masya Allah.

14 Februari 2008 .Tangerang.

Kerjakan yang mesti berlari itu. Orang-orang pura-pura tak mendengar. Ia menyeberang di antara lalu-lintas saling bertanya. Jakarta sudah lama bilang ogah. Kepala berputar kerna mana ibunya? Mengapa ia berteriak-teriak? Apa ibunya mendengar teriakannya? Mengapa ia Lonceng kota berdentang dua kali. Jangan pernah kalah. Tempeleng orang lain sebelum ditempeleng orang lain. mencari kekal pada dinding. Pelabuhan menjerit. dikejar setan. “Ibu! Ibu! Jangan menari lagi!” ia melarang ibunya menari lagi? Memangnya kenapa kalau ibunya tetap menari? Anak 10 tahun ini boleh jadi anak yang aneh. Merebut kesempatan sebelum segalanya terlambat. Seolah metropol miliknya sendiri. Keringat kota diperas habis-habisan. Jakarta Utara. Anak itu agaknya merebut waktu. seperti ada sesuatu yang ingin ia temui. O. Hitam kayak pantat kuali. Atau baru. Beberapa orang yang berpapasan dengannya menanyainya kenapa ia berlari.Jantung Hati DANARTO Anak laki-laki itu berlari kencang meninggalkan pelabuhan Sunda Kelapa. Tapi setiap pertanyaan belum terjawab. Di jalan-jalan Jakarta tak ada tempat untuk kencing. Ini Matahari terbahak. “Ada apa. mengucap salam pada metromini. Ia sedang diburu kebutuhannya berteriak. Ia berzigzag di antara kendaraan-kendaraan yang menunggu lampu hijau. Jangan pernah mau mengalah. Lamat-lamat ditelan mall yang bernyanyi. persis malam mati. “Ibu jangan menari lagi!” teriaknya sepanjang jalan raya itu. Orang-orang sibuk dengan tas belanjaannya sendiri-sendiri. Mereka menerobos di antara bus. Merebut tempat. Ia tak mau tahu dengan urusan orang lain. Suasana mendesing bunyi gasing. angkot. Semua pertanyaan lompat bajing. Jangan ketinggalan. Angin kencang. jadi rupanya ibunya seorang penari. Sesuatu apa itu. ia terus berlari. Metropolis. Angin berdebu. Nak? Ada apa. pusing. Tapi di “Ibu! Ibu!” teriak anak laki-laki itu menyebut ibunya. barangkali orang-orang itu bisa menolongnya jika ia butuh pertolongan namun anak itu acuh tak acuh dan terus berlari. Orang-orang menengok yang padat. Tinggalkan yang mesti ditinggalkan. Ia tak peduli. Dihardik satpam jadi emping. Alangkah kencang larinya. lo?!” Semrawut kota semakin bising. yang macet. Ia pusar bisa berlari sekencang itu. Tak lelah-lelahnya. lo. selalu muncul pertanyaan meminta ibunya untuk tidak menari lagi. Barangkali ke Jakarta Pusat. atau kota ditekuk dan ditelan orang lain. Ia menuju ke arah selatan. Apa ia tak punya pusar? Hanya orang-orang yang tak punya kepadanya yang cepat menghilang terhalang di antara pintu dan jendela Bianglala. Lari! Lari! Tekuk dan telan kota. Nak? Ngapain lo lari terus? He. Ia tak mendapatkan bus atau angkot. Bung!” Mengurusi diri-sendiri saja hampir-hampir tak becus. mikrolet. Seperti anak laki-laki 10 tahun yang terus sendiri. dikerjakan. Orang- bagaimana mungkin harus menanggulangi kebutuhan orang lain. kopaja. Tidak seramah abah dan babah semasa zaman misai jepaprah. Legam bagai Jacky Chan melenting. . Bung! Sejak kapan para sopir angkot itu mendahului para arsitek dengan orang tak mau tahu. “Ini Metropolis. kabarkan. Ada apa anak itu berlari terus. Udara sangat panas.

Jeritkan segala raung serigalamu. Tak ada tempat yang jauh. KTP diinjak-injak. Berlari terus. Lalu kena sabetan keris yang ditempa padepokan Ganggang. Wangi jembatan layang. Henry minta ganti rugi mahal kerna tiga kali dibohongi. Ksatria Utara tak mau berkelahi. Di ladang luber. Mencari hidup layak seperti pesan bapak. menerkam kijang tercecer. Matahari membantu tapi butuh ongkos. Anakku. seluruh penghuni hotel prodeo adu jotos. Butiran menjelma hujan. Pesanlah nisan sekarang. Setiap mahasiswa melaju mobilnya ke universitas. Tinggallah putri bersama anak semata wayang. putri jelita berbanding Sembadra. Si anak ksatria utara.Seperti bandit yang dibiarkan lolos. Padang darah berember-ember. Tiba-tiba agung bagai baja. mabuk tetap tegak. “Ini anak apa maunya?!” Orang-orang melengos. Jangan-jangan sedang menari bersama awan. Tak mati-mati. Mengalir angkasa pesat. Anak itu melompat pagar tanaman. Namanya bikin gentar. O. Kemana tanahku. begitu pemerintah kasih wejangan. Pasrah tanpa curang. kota. Tiga kali kena gusur. Tak mati-mati. Nasib orang. O. Itu udara wengi. Tanah di bawah jambatan layang UI diberi julukan “O Henry Rudini”. Berbanding Pandawa pantas. O. Dalam sehari 50. Itu udara pagi. Supaya jarak lari menjadi aman. Mengambang taat. Tuhan tempeleng manusia. Jangan terpeleset. Tiga kali tanah dibeli di berbagai . Apa mau dikata. Ibunya sedang menari di atas jembatan layang. Dipuja petani. bukan raja. kesandung maut dari seberang.000 tahun mengayuh. Ia ingin lolos dari angka-angka narkoba oplos. badai derita Ia terlalu sakti. O. kenangan manis buat Mendagri dan Henry yang tertindas. Seluruh menteri melankolis menatap Henry. tanah. api. bukan pula keris patih. Tuhan kendali manusia. Tak peduli pada aspal jalan yang panas. Segala tempat. terbahak. Di sekolah anak tak pernah bolos. Tak kenal batas. Kemana tanahku. zat. telapak kaki tanpa alas. Ia musnah. Tak pula timpang. Ia ksatria tuntas. Udara. Sotangnya tajam bagai taring kirik. termasuk jalur hijau jalang. tanah asli ayah bayang. Ia diangkat Allah ke firdaus ketujuh. hitungan akurat. Berlari chitah otak cucu belum juga encer. O. Berlari terus. air. Mau dicaplok katak. Seluruh hamba wet. Di bawah jalan layang. kadaluwarsa dari sepihak. Tumbuh harapan. Lalu berpijar cahaya api. Henry Muhammad. Baik budi. bertengger gubuk derita malang. Ia anak mama. Perahu malaikat burung puyuh. Aduh. menghirup angin surga. orang yang matanya nyalang. Hidup bisa dicicil angket. aparat James Bond lumpur panas dan kalajengking di bawah keset. kejeblos di pasir boblos. berbakti. ia mendelik. Jangan menoleh ke belakang. Ia hindar bertengkar kerna pintar. Menggaris lurus menerka keadilan. Kemana sandal jepitnya tadi di emper. Eyang. Hanya Muntahkan segala pikiran kotormu. dan pertapa sejati. Jasadnya lenyap ditelan udara. cucunya cucunya cucunya cucu Empu Gandring. supaya hati tak garang. Nyawa yang berbakti. Penari agung bikin keder pemda. Dengarkan mahasiswa sedang berjuang. Seonggok jalan layang ke Universitas Indonesia gemilang. Namun tak beringas. Walau di lapak. Tuhan yang pegang. O. Ada saja yang tidak polos. Orang-orang yang berpapasan mendesah. Kedua orang bertahan di bawah jembatan layang. Bukan ratu. mencium bau wangi. Alasan tempat jeli selalu kena jalur hijau pasti. Tuhan sayang manusia. Saling gertak ketemu ibu dirundung sawan. Ibu Pertiwi mengerti. Aduh. Ia keris empu. Cepat Anak ini cerdik bagai jengkerik. anak itu tahan menceker. Anakku.

Satu udara ganti-berganti. Andai dulu pemda di zaman Orba tidak pelit dan mau membayar ganti rugi satu miliar rupiah. Pasukan antihuru-hara diterjunkan. tentu jumlah itu saat ini. berkali-kali penari itu diburu. ratusan mobil mengambang. Banjir rasanya semakin meninggi. tak ada artinya. toko-toko. pegadaian. menjadi sasaran penjahat maupun orang baik-baik. Dibutuhkan perahu Helikopter menyigi rendah. yang bercokol di utara Pulau Seribu itu dikitari puluhan ekor ikan paus yang berloncatan ke es itu yang agaknya untuk secepatnya mencairkannya guna memandikan Jakarta. Nah. Mereka dengan gigih menabrak-nabrakkan tubuhnya ke arah gunung pasukan khusus diterjunkan dari helikopter di atas jembatan layang UI dan di Pulau Seribu ikan-ikan paus itu tidak peduli. Tenaga-tenaga penolong susah. Para relawan penolong bertindak. Banyak individualis jengah. Di dalam kendaraan-kendaraan pribadi di sela lalu- “Ibu jangan menari!” sambung anak itu. Dengan sangat meminta ditolak alam”. Dan alam sangat untuk menangkap sang penari dan membunuh ikan-ikan paus itu. Jakarta tenggelam. pasar. ikan-ikan paus yang segede-gede kapal destroyer dari kutub utara. mengambang dan tenggelam maupun karet mendadak. Mereka saling bertanya. di milenium ketiga. “Dua puluh tiga ekor ikan paus menyeret gunung es. perumahan mewah. Tanggulangi penjarahan dan perampokan. Bagai monumen. gunung es bersimaharajalela. Saking banyaknya korban entah. dia terus menuntut ganti rugi yang layak. Berpuluh ikan paus mengunyah gunung es yang mereka Keadaan darurat nasional gubernur umumkan. mall-mall. Datang dari kutub utara. Dia dan ikan-ikan paus itu terus menari. Korban banjir antara yang hidup dengan yang mati. para mahasiswa melongok-longok lewat jendela mobilnya. Tapi itulah jalan hidup. mereka sudah sampai Pulau Seribu. para politisi dan wartawan tidak memolitisir musibah “Jakarta Meratap” dengan “pemerintah “Itu klenik!” seru jubir pemerintah dalam menanggapi pernyataan bahwa pemerintah dimusuhi alam. Korban tak dapat dihitung.” Namun Valeria Daniel dari antv di atas helikopter melaporkan pandangan mata: “Jakarta seret dari kutub utara. Namun penari cantik dan . dan seluruh tempat yang menyimpan duit atau pangan. ATM. Di siang hari jadi kota mati. sampai kini tentu semakin dirundung dosa yang kelewat-lewat. restoran. ternyata pemerintah sendiri sangat doyan klenik. departemen keuangan. Sebagai ahli waris Henry atas sepetak tanah di bawah jembatan layang UI. Di pojok-pojok Jakarta rawan. Mobil-mobil tinggal atapnya yang muncul. Di seluruh kawasan. Berkali-kali banjir besar sikap ini kentara sekali. Perampokan kantor-kantor. Kota gelap gulita. Selama ini pemda DKI meyakini bahwa penari jembatan layang UI itu kong kali kong dengan melanda Jakarta.“Ibu! Ibu!” teriak anak lelaki itu dari bawah jembatan layang UI menatap ibunya yang sedang lintas yang selalu padat itu. Laut meluap. berenang di dataran luas yang dalam. menari di atas pagar jembatan layang. Jakarta musnah!” tenggelam dilanda banjir bandang. namun dia selalu lenyap tak berbekas. puluhan. Supermarket. Pemerintah yang dulu. Daerah Khusus Ibukota payah. bank-bank. Dalam jumlah besar membengkak. Bagai papan-papan selancar.

Blok M. Cilandak. Hari balas dendam telah terjadi. Melek dari kantuk. Suami dari istri. Jalan Sudirman. Kekasih dari asmara. Sanak terpental dari sanak. Cikini. Ibu itu terus melanjutkan tariannya. Canggah dari wareng. Jalan Thamrin. Mall-mall Jalan Thamrin yang dibangun dengan pondasi yang tinggi. Gunung Sahari. Anak itu terus melanjutkan teriakannya. Beberapa orang mahasiswa memarkir kendaraannya di jembatan layang itu untuk melihat penari itu tetap gemulai dengan gerakannya. Hotel Sari Pasifik di dibangun untuk mengantisipasi banjir bandang itu. “Ibu stop menari! Ibu stop menari!” teriak anak itu terus-menerus dari bawah jembatan layang itu. Sejumlah penari dan ikan-ikan paus itu. Cemburu dari buta. Kali Deres berteriak-teriak meminta tolong. paling laris karena agaknya dipenuhi para pengungsi. Keluarga Paman dari keponakan. Sang penari tidak menstop tariannya. Para sniper itu dibuat kelilipan matanya sehingga sniper membidik penari dan ikan-ikan paus itu dari kejauhan.membantunya. Angin kencang menyapu pasukan khusus berikut helikopternya sehingga mau tak mau mereka harus menjauh dari penari dan ikan-ikan paus itu. Tapi segala jenis hotel penuh. Cucu dari buyut. Ibu dari anak. Kakek dari nenek. terpisah dengan keluarga lainnya. Orang-orang kaya mengungsi ke hotel-hotel. Senen. Namun alam tetap membela membatalkan bidikannya. Kampung Rambutan memahami musibah itu. Benci dari cinta. dan melahap terus ke selatan. 20 Mei 2006 . Bola dari Piala Dunia. Gelombang menggempur Tanjung Priok. Tangerang. Parung. Cinere.

angin sepoi-sepoi. para pebalet pemeran utama dalam lakon itu di antaranya. Irma Ablitsova pemeran Odille dan Dmitry Protsenko serta Vladimir plain croissant. lalu mendarat kembali. dalam waktu dekat akan membangun panggung balet semegah Moscow. Angsa-angsa putih menyelam. pernah berpentas Martha Graham. komposisi yang senantiasa berubah. Odette. Di antaranya di tempat ini. Sebaliknya. yang putih maupun yang merah. yang mengelus rambutnya. balerina 21 tahun. para pebalet Rusia itu mengagumi kecantikan dan rambut panjang Zahra dan apa saja perannya dalam balet di Indonesia. insya Allah. sup ikan tuna. Asmara angsa. sangat populer di seluruh dunia. gubernur berjanji. menteri. Maya Ivanova. Irina Ablitsova. Baru pada malam hari . Gadis ini Zahra. Mereka tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun meski pertunjukan dua jam itu mengalir terus. Sementara itu Zahra getol bercerita macam-macam Nikolai.500 penonton. Begitu pula para pebalet teman Zahra. Russian State Ballet of Moscow pertunjukan ”Swan Lake” itu. Lakon ”Swan Lake” menceritakan dayang-dayang istana dan ratunya. Alvin Zahra juga banyak mendulang informasi dari Maya Ivanova dan Natalya Ashikhmina. dan memagut dan bercinta. sebagai sponsor pertunjukan. kegemarannya. menyembul. gubernur.Telaga Angsa DANARTO telaga. Mereka rame-rame menikmati salad. Membentuk Pemandangan panggung malam itu dipenuhi puluhan ekor angsa putih menyebar memenuhi mengepak beberapa saat di atas permukaan air. ayu dan ganteng. masih mengenang adegan-adegan dalam pertunjukan balet ”Swan Lake” yang baru saja Annisa Zahra disadarkan oleh zefir. yang ditemani balerina Masami Dengan meminta maaf karena gedung pertunjukan tidak representatif bagi tontonan segigantik balet Rusia. Russian State Ballet of Moscow memainkan ”Swan Lake” karya Tchaikovsky yang sudah melegenda. Dalam pesta yang disuguhkan oleh Yayasan Jantung Indonesia. Andrei Joukov. Tampak Viatcheslav Gordeev. Direktur Artistik Chino. juga grup dari Perancis. Mereka saling bulu bergetar ketika mencapai puncak. tampak berseliweran di antara para pebalet yang tinggi-tinggi dan besar-besar itu. pemeran Rothbart bergantian. dan jus jambu kelutuk. dan pembesar negara lainnya. Jerman. buah-buahan. yang disihir Rothbart menjadi angsa. dan modern dance dari Eropa lainnya yang memainkan repertoar ”Le Sacre du Printemps” karya Igor Stravinsky. ngobrol dengan para pejabat bank Indonesia. tentang balet di Rusia. Mineev. Natalya Ashikhmina. Dia memilih minum air jeruk nipis. Siang hari mereka adalah angsa yang merenangi telaga. Maxim Fomin. Dengan 1. Zahra menemani para pebalet dari Negeri Tirai Besi itu. adakah yang lebih indah waktu tubuh bergetar. ngobrol dengan gubernur. pemeran Odette secara bergantian dan Andrei Joukov dan Maxim Fomin pemeran Siegfried bergantian. Kaki-kaki jenjang putih para balerina meluncur ke sana kemari. kepada para tamunya. Lalu bergabung ikut ngobrol pula. tidak minum wine. bulu- usai.

dan Anastasia Baranova. sampai Kakek terbatuk-batuk. Sekalipun dengan mata terpejam. ”Itu kan mengumbar aurat. Eugenia Singur. Tatiana Chungunkina. siapa pun tak bakal salah Pesta para pebalet Rusia dan para pebalet Indonesia malam itu seperti menandai suksesnya memilih. Pangeran Siegfried. ibu. kakek dan gerakan balet yang membuat semuanya tertawa. Seketika.” sambung Kakek. adalah Svetlana Ustyuszhaninova. hari tujuh malam pun digelar dengan meriah. adalah para pemeran angsa kecil. pemilik istana dan telaga. kedua adiknya. Dan pesta pernikahan Siegfried-Odette selama tujuh pertunjukan ”Swan Lake”. seluruh istana bergembira. semua balerina itu elok: Tatiana Protsenko. Odille. Hanya cinta sejati yang mampu mengalahkan sihir itu. ”Lho. sih. memamerkan putrinya. Sedang para pemeran angsa gede Zahra menonton pertunjukan itu bersama keluarga. Pagi harinya kakek berdiri lalu meliuk-liuk menirukan ”Awas. asal encoknya tidak ketahuan sang balerina. ”Tapi. ”Odette atau Odille. Pangeran Siegfried langsung terpikat pada Odille.mereka menjelma manusia kembali. . Semua tertawa. saya tidak setuju dengan kostum para penarinya. cocok-cocok saja. Odette dan dayang-dayangnya jatuh sedih. lho. ”Terpikat boleh terpikat. Oxana Gasnikova.” kata Kakek. Eyang bisa kesleo. neneknya. memangnya kenapa?” tanya Zahra. yang secantik Odette. Siegfried. Begitulah.” celetuk Nenek.” tukas Kakek. angsa itu menjelma Odette. Di samping mencoba menggagalkan percintaan Siegfried dengan Odette. Namun Siegfried mampu menewaskan Rothbart dan pasukan angsa hitamnya. begitu juga puluhan ekor angsa yang lain. juga tante dan oomnya. ”Apa. Rothbart marah besar. yang ndak cocok bagi kamu. ”Eyangmu ini tadi malam kan kepincut sama si Maya. saya sih. Semuanya tertawa. ayah. Siegfried sadar. jatuh cinta kepada Odette.” celetuk Zahra sambil memasukkan potongan roti lapis kacang dan cokelatnya ke dalam mulutnya. Namun cinta mereka terhalang oleh sihir Rothbart yang ampuh. dan Anna Vakina. Usaha Rothbart berhasil.” sambung Oom sambil menyenggol Tante.” tukas Nenek. Rothbart sang penyihir. Semuanya tertawa. Olga Ivachenko. Secepatnya Siegfried menyatakan pilihan cinta sejatinya hanya pada Odette. Kakek terbatuk-batuk lagi. untuk merebut cinta Mendengar kabar ini.

bubar.” ”Kesan.” tukas Zahra. Semuanya tertawa kecuali Kakek. Meriah. mendadak berubah jadi filosof. ”Bagaimana parameternya?” ”Bagian-bagian tubuh tampak disengaja sangat menonjol.” ”Mati orang kuburan!” potong Kakek kaget. pertunjukan itu harusnya disensor.” ”Rasa risi tidak relevan dengan Swan Lake.”Aurat yang mana?” tukas Zahra. Eyang ini gimana. kostum Zahra ya seperti itu.” ”Eyang kok tiba-tiba jadi diktator. peradaban.” ”Wah.” sanggah Kakek. kok Eyang sampai segitunya. sih.” Semuanya tertawa. Obrolan berubah jadi perdebatan. ”Itulah kostum yang paling pas untuk lakon ”Swan Lake”.” ”Jangan begitu. Ini kali pertama kakek dan nenek nonton balet. Jika kita bicara soal kesan. Eyang.” sergah Kakek lagi.” sambung Kakek.” ”Wah.” ”Jangan begitu. Grup balet Rusia ini sudah melanglang buana. ”Saya serius. Eyang.” ”Tapi kesan telanjangnya kan jelas. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Waktu grup balet Zahra memainkan Swan Lake. deh. Kesan.” ”Eyang yang kasmaran. Aduh. Ada yang jauh lebih subtil yaitu bentuk tubuh secara utuh. ”Kok Eyang jadi sewot?” ”Mempertimbangkan kostum itu. wah.” ”Saya heran. Melihat kostumnya. ”Semuanya kan tertutup rapat. wah. Ruang makan itu berubah jadi ruang pesta pagi hari. Jenjang kaki yang panjang dengan bentuk yang indah—laki-laki maupun . Habis jadi diktator. Semuanya tertawa kecuali Kakek. kecuali Kakek. Swan Lake dapat dikategorikan sebagai pertunjukan pornografi dan pornoaksi. semuanya terkesan jelek. ”Saya sungguh risi dengan kostumnya. ”Mati orang kuburan!” potong Zahra. kok yang disalahin balerinanya.

” sela Kakek. ”Dalam KKN ada tradisi. ”Kalian keras kepala!” Semuanya tertawa kecuali Kakek.” ”Harus dicari kostum yang lebih cocok dengan budaya setempat. ”Apa?” tanya Kakek. ”Adat ketimuran kita adalah KKN. ”Kostum ketat itu. Cucuku.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. ”Adalah tradisi balet. ”Kalau pendapat Eyang dilaksanakan. maka saya marah menyaksikan penampilan para pebalet Rusia itu. Eyang. ”Eyang benar-benar lowbrow. runtuhlah kebudayaan. Puluhan kali dia berpentas balet di kota-kota besar. Kalau Eyang puas atas pertunjukan balet Rusia itu.” ”Omong kosong!” sergah Kakek. jiwa raga kami…” Oleh orangtuanya.” sambung Kakek. ”Moral dan agama ada pada keindahan kesenian itu. ”Eyang dianggap tak menghargai kebudayaan.” kata Oom. ” sergah Tante.” ”Sekalipun mereka ateis?” ”Sekalipun mereka ateis.” ”Sungguh saya tidak paham jalan pikiranmu.” sewot Zahra. ”Justru karena saya sangat menghargai kebudayaan.” Zahra menukas. Zahra diperkenalkan pada balet sejak balita. pesakitan KKN selalu jatuh sakit kalau mau diadili. Seperti para perenang yang memudahkan untuk bergerak menari.” . begitu pula kostum ketat balet ”Jadi tanpa mempertimbangkan moral dan agama?” tukas Kakek.” cetus Kakek.” hampir-hampir telanjang ketika bertanding di kolam renang. Mendengar kata Kakek ini.” kata Zahra. semuanya menyanyi kecuali Kakek: ”Bagimu negeri. ”Kita harus mempertahankan adat ketimuran kita. ini artinya balet Rusia itu telah berdakwah tentang kebenaran.perempuan—dalam menopang torso yang sepadan yang melahirkan kelenturan gerak bagai kijang. ”Jangan melecehkan negeri sendiri.

” kata si Oom.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Eyang.” ”Mereka hanya berbakti kepada Dewi Keindahan.” tukas Kakek. sedang warga negaranya mudah lolos ke surga. Dan itu bukan teori. Semuanya tertawa kecuali Kakek. . Dalam hidup para balerina dan balerino itu. Bukan kepada Tuhan.” ”Eyang kok selalu curigesyen terhadap iman orang lain yang tidak dikenal. Barangkali besok. Kecuali Kakek. tapi dari mana kita tahu bahwa mereka ateis? Obrolan kita ini sudah melenceng. Eyang. Kita bisa menuduh mereka ateis.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. semuanya membaca puisi Gibran Khalil Gibran: ”Anakmu bukanlah anakmu. namun tariannya memberikan pencerahan kepada kita yang shalat lima kali sehari. Mereka telah berbakti kepada Dewi Keindahan. Zahra.. Lengang sejenak. ”Contohnya tidak usah harus beli tiket pesawat. Seperti tercium setan lewat. saya cuci tangan.” tambah Tante. Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri…. ”Kita harus membedakan antara iman warga negara dan iman negaranya.” tukas Nenek. Janganlah berputus asa akan belas kasihKu.” ”Mereka telah menari dengan anggunnya. atau lusa.” ”Tapi omongan kamu itu kan cuma teori. Alangkah juwitanya pandangan hidup mereka. setiap hari yang dipikirkannya hanya keindahan. Harus dipisahkan antara rakyat dan negaranya. atau ”Seorang ateis bagaimana mungkin mendapat hidayah Allah?” ”Jiwa manusia itu seluas alam semesta. bukankah itu artinya mereka telah berdakwah tentang keluhuran? Seandainya benar mereka ateis. Eyang. ”Kok sekarang berubah jadi one dimensional man.” sergah Kakek. kata Allah.” tambah Nenek. ”Coba. mereka itu setahun lagi?” hanya belum sempat mendapat hidayah dari Allah saja. ”Saya pusing mendengar pikiran-pikiran anak muda sekarang.” ”Eyangmu itu pantas jadi polisi moral. ”Apa yang sedang terjadi atas Eyangmu ini. Anakmu bukan milikmu. Betapa luhurnya seseorang yang tidak percaya akan Tuhan. saya dikasih contoh. ”Banyak negara yang busuk.”Hati orang siapa tahu.” jawab Tante.

Allah mencintai keindahan.” ”Sebagaimana balet. Dalam dandanan kebaya pinjungan.” ”Kita juga memiliki keindahan tradisi.” sambung Zahra. Tangerang. itulah keunikan tiap tradisi yang mewariskan budaya dunia.Zahra melanjutkan obrolannya: ”Wajah Allah itu memancar memenuhi alam semesta dan kita makhluk ciptaannya dapat menatap Wajah itu secara gamblang. Dalam balet. Cobalah nikmati tari bedoyo. Ada tanah yang bisa menumbuhkan padi sehingga kita tidak kelaparan. Ada zat yang mendorong kita beranak-pinak. cukup sulit. Mendorong keanggunan sembilan penari yang gemulai dalam balutan kain yang ketat. Suatu dakwah keindahan tiada tara. tidak ada pornografi dan pornoaksi.” Tukas Kakek: ”Tidak ada pornografi dan pornoaksi dalam tari bedoyo. Ada api yang menyalanyala. menyembulkan semburat merah jambu gunung kembar yang menjenguk lewat dada yang lebar terbuka. Dan ternyata Allah itu indah.” ”Saya setuju. Ada air yang mudah mematikan api. tergetar. bedoyo para penari bahkan untuk berjalan biasa saja. 14 Februari 2006 seorang penari harus lebar-lebar merentangkan kakinya supaya bisa terbang. Kita wajib memeliharanya. Para pujangga menyebutnya ”Glatik Nginguk” artinya ”Burung Gelatik yang Menjenguk” yang membuat dada para raja dan pangeran ”mak-sir”. sedang dalam . Ada angin yang tidak kelihatan yang membuat kita bernapas hidup puluhan tahun. Eyang.

Dan pembicaraan beralih ke olahraga. Istri saya memberi tahu. Selama pertemuan-pertemuan dengan para Untuk sikap saya itu. menantu dengan mertua. Karena istri saya gelisah. Misalnya. Kami ngobrol sekitar persoalan yang menyangkut rumah tangga dengan segala nuansanya. perburuhan. Rasa saya tetangga. pengairan sawah. bupati. mengular sampai jalanan. bibit tanaman. ramai. Sebagai penulis lepas. sejumlah persoalan yang lagi hangat atau panas di masyarakat yang sebenarnya membuat mereka sekadar butuh teman ngobrol. Selama ini saya dikenal sebagai penulis obituari (berita tentang kematian seseorang berikut riwayat hidupnya) di surat kabar setempat. misalnya. mengenang lewat tulisan obituari itu mengesankan. bupati. Rasanya camat. satu dua. Saya acuh tak acuh. diajak berbincang mengenai berbagai hal yang pelik. Tapi asyik juga karena hidup di dusun yang sepi sekali-kali perlu mengadakan pertemuan supaya merasakan kemeriahan. satu dua. Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang sehingga rumah jadi regeng. Di samping para tetangga. ataupun dengan para pembesar itu sebenarnya saya banyak diam. Sungguh menghabiskan waktu. Karena kematian seorang teman baik yang menjadi tetangga dekat. teman-teman. menyadarkan saya. mula-mula saya menulis obituari hanya sambil lalu. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga. juga tayangan televisi. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. Saya tak pernah mengutip berkepanjangan. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. Cukup menyenangkan. Orang-orang . Juga tentang hubungan suami istri. perbankan. Sudah sering datang orang. dan banyak lagi saya tidak nyaman. soal usaha tambak udang. bawahan dengan remaja. Istri saya lewat jendela. lalu kami pindah tempat duduk dan lebih santai sambil ngopi.Nistagmus DANARTO Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. dan wali kota. yang sama sekali tidak saya ketahui. saya menjawab sekenanya. persoalan anak dengan orangtuanya. Ada apa? belum menemui mereka. Masalah-masalah itu menjadi obrolan yang Kadang-kadang saya juga diundang camat. Kadang datang berbondong. Lama-lama saya menulis obituari menjadi semacam panggilan. atasan. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Saya acuh tak acuh. Sudah sering datang orang. juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. sekadar yang saya tahu. juga masalah percintaan antaranak-anak Jika ditanya. setelah sarapan. Dengan ngantre minyak tanah. kata-kata bijak dari para cendekiawan. saya dijuluki “pendengar yang baik”. maupun wali kota. Setelah dua jam pembicaraan ke sana-kemari. Saya rasa kali ini juga begitu. tidak benar-benar membutuhkan saya. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah.

Saya catat riwayat hidupnya. menyebabkan banyak orang mengenal saya. lalu mencari akal agar bawahannya itu sadar. Lalu ia dinaikkan ke dalam mobil. agaknya hanya saya seorang. keluarga. meski kamu membayar Pak Jurnalis!” “Kamu tidak akan mati.000 karakter yang menyerahkan becaknya kepada seorang kepala tibum (penertiban umum) dengan tujuan supaya becaknya dijual untuk mengongkosi sekolah anaknya. Setiap saya lewat atau mampir membeli rokok di kios. Ketika beberapa waktu kemudian tukang becak itu meninggal karena faktor Ada seorang pegawai negeri yang tidak mau dipensiun karena uang pensiunnya kecil. yang beberapa hari kemudian dikabarkan meninggal. Saya menolak ketika diminta menulis obituari sedangkan untuk orang-orang biasa. dibawa pulang ke rumahnya. kebanyakan yang mungkin pernah lalu-lalang di depan rumah saya.lengang. Dengan enak saya bisa menulis obituari setiap hari. tukang becak. sementara beban keluarganya besar. sampai kenalan baru. sekitar 5. di sebuah desa yang Saya bisa memanfaatkan rubrik khusus obituari setiap saat atas kebaikan redaksi koran Pernah kejadian dalam seminggu sepuluh orang. dan berapa orang saudaranya. sampai kamu menulis riwayatmu sendiri!” Saya terbahak mendengar lelucon-lelucon itu. ataupun di stasiun bus. Bawahannya itu lalu dihipnotis hingga tertidur di mejanya. Misalnya. tak ada yang menulis. lalu saya cari alamatnya. Begitulah. sebagaimana kematian itu pasti tiba. teman. yang berkenaan dengan tulisan obituari itu. Begitu siuman. Tulisan obituari itu tidak panjang. Kadang sampai 8. ia kaget. Barangkali mereka juga membaca obituarinya.000 karakter. kemudian berubah ke mesin ketik komputer. Itu semua menyebabkan saya akrab dengan semua orang. Sejauh ini saya tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu. saya menulis obituarinya dengan memasukkan wawancara kepala tibum itu. Dipasang pula fotonya yang bisa menyebabkan keluarganya tertambat kenangannya. kenapa tidur di rumah. Lalu si kepala kantor meminta jasa seorang tukang sulap yang pandai menghipnotis orang. orang-orang terkenal itu sudah banyak penulisnya. Selama ini tulisan obituari saya sudah mencapai 5. Masa pensiun pasti datang. Seluruhnya orang. kompleks pertokoan. Kepala kantor orang itu kebingungan. Dan sebagainya. pekerjaan terakhirnya. orang-orang ternama. selalu saja orang . “Kenapa kamu tidak lekas mati supaya Pak Jurnalis bisa menulismu sekarang!” “Biar kamu mati. ia seharian di rumah saja. Saya yang terus beredar di banyak keluarga yang kematian saudaranya.000 orang. tidak ke mana-mana. Si kepala tibum jika orangnya kocak atau punya pekerjaan yang unik. Banyak komentar.orang biasa. Yang jail maupun pelesetan. Alasan saya. ada seorang tukang becak menolak dengan mengembalikan becaknya sambil mengirim beras 5 kilogram kepada si usia. lewat mesin ketik manual yang lokal yang memberi saya kebebasan. apa ada yang tertarik membaca obituari saya. Keluarganya memberi tahu. Obituari yang meliputi orang-orang biasa itu bisa saudara. Banyak usulan. Saya interviu keluarganya. Lelucon-lelucon pun menyebar dengan semarak di pasar.

Saya jadi pendiam dan menyendiri. terutama si sulung yang duduk di SMA kelas 2. Keterlaluan. ia meninggal. ada saja orang yang enggan bertemu atau lebih-lebih ngobrol dengan saya.nyeletuk: “Pak Jurnalis. Banyak ngomong dianggap meramal. sehabis ngobrol dengan saya. “Maaf. Tidak kenapa-kenapa. Ini benar-benar klenik. Tapi ini kebetulan saja. dan si bungsu di SD kelas 5. Ketika di sebuah toko saya menghindar supaya tidak bertemu dengan seseorang. Wah. jika seseorang ngobrol dengan saya. katanya. Tidak kenapa-kenapa. Jadinya lama-kelamaan saya enggan menyapa orang. Menurut mereka. Ketika orang menanyakan pendapat saya. Ntar saya yang menulis Bapak. tulisan saya tidak adil .” “Biar untuk Bapak saja. sedikit ngomong dianggap mengetahui peristiwa yang bakal terjadi.” “Jangan ditinggal korek apinya ini. kenapa?” “Maaf. sedikit saja saya ngomong. Pak. lima orang. Apa ada gejala sesuatu? Tentu saja saya merasa tidak berubah dengan tingkah-laku saya. saya juga diam dan menyendiri supaya orang nyaman dengan saya. orang tersebut malah mengejar saya sambil menyapa: “Bapak menghindar dari saya. Memangnya saya cenayang. Sementara itu ada pula yang bilang. Anak-anak saya. tinggal di mana?” tanya saya kepada seseorang yang saya pinjami korek api untuk menyalakan rokok saya.” “Baiklah. Pak. ada yang mengartikan. Kritiknya tidak berdasar. Ada yang berubah dengan tingkahlaku saya. Di pertemuan-pertemuan desa.” “Lho.” jawabnya. Memang ada seorang yang “Pak. Maka ada saja orang yang anti-saya. Apa yang akan terjadi dengan saya. Pak?” Istri dan anak-anak saya juga merasakan perubahan itu.” Atau ada yang berteriak: “Pak Jurnalis. Pak. yang saya malas menuliskan sebutan-sebutan itu di sini. saya sedang mewawancarainya. “Lho. Saya juga tidak tahu adanya gejala sesuatu. Pak Jurnalis.” Inilah sepenggal dialog di pasar sepeda motor dengan seseorang yang enggan bertegur sapa dengan saya karena keyakinan-keyakinan klenik itu. yang paling kritis.” “Saya permisi. ini bahaya. Pak. seseorang yang ngobrol dengan saya. Keduanya cencala (lancang mulut) terhadap sikap saya dalam menulis obituari. Dari kejadian itu. kenapa?” “Maaf. Saya tak bisa menjawab. itu tanda-tanda orang tersebut mau meninggal. saya mendapat sebutan yang aneh-aneh. Saya nggak mau ditulis sekarang.” Tapi. Ada yang bilang. Lalu malah terjadi serba-salah.

“Kalian ngawur. Ayah pernah menulis obituari. itu semua yang anak. kalian ngawur. saya berat. kan. Tetapi jika sudah menyangkut masalah dosa dan pahala. Saya sering lelah berdebat dengan mendidik anak-anak saya itu dengan keras. “Ayah juga pernah menulis obituari seorang pengusaha.” “Ayah marah kena keritik.” “Semuanya. Boleh jadi Allah sudah membuatkan rumah baginya di surga. kekuatan itu ada batasnya sehingga kita tidak selalu benar. ini dosa. Mereka suka ngotot dan merasa selalu benar. Pernah saya menyergah “Dari mana kalian tahu.” “Dalam hubungan apa orang bicara seperti itu. Ia meninggalkan seorang istri istrinya dan anak-anaknya yang lain. wah. Lima anak semuanya sekolah. Padahal saya selalu Mendengar keterangan saya. Nah.” “Begini. sebuah tulisan berdosa dan tulisan yang lain berpahala?” “Dari Ayah.” “Itu harapan saya.” “Tidak bisa seenaknya begitu. sedang rakus-rakusnya makan. ini pahala bagi Ayah karena Ayah menyembunyikan tiga “Nah. . Jika sampai di sini hal itu masih baik. Barangkali karena beban keluarga yang terlalu menyebabkan saya sering stres dan mengalami depresi yang tajam.” “Semua orang bicara dosa dan pahala. Hal itu berarti saya tidak menganggap ada dan penting keberadaan bilang. karena Ayah memaksa Allah membuatkan rumah baginya di surga.terhadap seseorang dan berlebihan bagi yang lain. anak-anak ini sok tahu.anak saya tersebut. Itulah usaha sebaik-baiknya seorang penulis obituari.” “Nah. Mereka bisa tersinggung dan bukan tidak mungkin merasa saya lecehkan. itu justru kesalahan saya dan saya bisa berdosa karena tidak menulis tiga istri dan mereka. Itu doa saya.” “Karena keritik kalian membawa-bawa dosa dan pahala.” anak-anaknya yang lain. anak-anak saya itu: Seolah-olah anak-anak ini cukup rajin membaca buku-buku agama.” dengan empat orang anak. anak-anak saya itu diam.” jawab saya.” “Boleh saja. Nah.” jawab anak-anak itu. Sebagai ayah.

di reruntuhan rumah. sedangkan saya sejak remaja penulis lepas. entah bagaimana saya bisa sampai di bukit ini. Ada apa? belum menemui mereka. Istri saya lewat jendela. Lembaran-lembaran apakah ini? Ternyata riwayat hidup dengan tanggal lahir dan masya berserak. Anakanak mewarisi sifat-sifat ibunya. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. Waktu saya siuman. tua. Istri saya saja suka empot-empotan. guru SMP. Saya menulis apa saja. Saya berdiri sendirian di samping sebuah kapal yang terdampar di tengah kota. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Alhamdulillah. merangsek ke depan meja saya. termasuk menulis berita. di jalan. Gerakan bola mata yang cepat tanpa disengaja. Sudah sering datang orang. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. Kami menikah dan Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. terlihat pemandangan yang menyebabkan saya pingsan. Ahad. tak seekor pun tampak terbang. 26 Desember 2004. Jam aum macan. Barangkali seperti agen minyak tanah yang siap menyambut para pembeli. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Setelah sarapan. seluruh kota telah hancur-lebur rata dengan sedang tidur pulas. muda. Mereka berebut duluan menyerahkan selembar kertas di atas meja sehingga sekejap bertumpuk. nistagmus. mengular sampai jalanan. Awan putih berarak dengan latar langit biru meneduhkan. Saya tak tahu lagi di mana rumah Cuaca cerah. Hari baru membuka matanya. Istri saya memberi tahu. di luar kemauan. saya menyiapkan kertas dan alat baru menunjukkan pukul 05. anak-anak. Penghasilan saya tentu saja jauh dari cukup. satu dua. Orang sekian banyak mau ngajak ngobrol apa? Tentang kesulitan hidup? Beras habis dan anak-anak menangis kelaparan? Orang sebanyak ini mau ngobrol sekaligus? Mata mereka nanar. Sinar matahari memancar. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. cerdas dan berani. panas. laki-laki. setelah sarapan. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. berserakan memenuhi ruang dan udara. Mayat-mayat berkaparan di seluruh kawasan. Di Jogja itulah pindah ke Aceh dengan gagah berani karena cuma berbekal baju yang kami pakai. Karena istri saya gelisah. 20 Januari 2005 . di pekarangan. mencecap pencerahan. Saya rasa kali ini juga begitu. Dengan ngantre minyak tanah. Orang-orang yang antre tidak sabar seperti mendengar tulis. Bahkan burung-burung. Seluruh mayat itu. dengan malas saya keluar rumah dan duduk di beranda. Bahkan matahari masih bergelut dengan kasurnya. di kebun. Saya acuh tak acuh. bayi. Tak ada tanda-tanda kehidupan secuil pun. Mayat-mayat itu lebih mengesankan diselimuti lumpur. tanah. yang untuk makan sehari-harinya sejarah saya bermula ketika saya kecantol putri Aceh yang kuliah di UGM. Ketika saya menuruni bukit dengan sempoyongan penuh lumpur. Entah berapa lama saya pingsan. perempuan. Allah…tanggal akhir hayat. mereka menatap kebenaran.Kami sebenarnya keluarga bahagia. saya.00. lalu semuanya bergegas pergi meninggalkan saya tanpa sepatah kata diucapkan. Tangerang. di atas pohon.

Bercinta di bawah para-para. Lantas saya berlari sambil menarik dahak sebanyakSaya pun tak mau membuang waktu lebih panjang. Tapi lendir ombak itu melekat begitu kental. Ada Tak jarang kepingan-kepingan yang terlihat bagai pecahan kaca yang beterbangan itu yang hanya bagian kepala. hampir tiba saatnya waktu bersenang-senang Suara musik di kejauhan membisikkan mimpi yang mutlak terulang. menimpa tubuh kami yang diam-diam menggelinjang. Maka… menggoda. Deru ombak ditingkahi samar suara musik dari kafe di hingga jutaan rupiah untuk tidak sadar. hilang. begitu istilah orang-orang. Untuk larut dalam satu malam yang menawarkan sejuta Phuih! Ombak meludahi wajah kami yang ingin tak peduli. dengan kaki-kaki telanjang. Ia burung yang berenang. adalah saksi yang melihat semua itu dengan mata telanjang. begitu tengik! Mendakwa kelakuan kami sebagai jijik. dan ada yang hanya bagian tangan. Senyum manja. Hingga ada satu pecahan jatuh kejauhan pantai. Sementara kilat mencabik-cabik langit hingga berupa potongan-potongan gambar pantulan kami berjumlah jutaan. Muka badak. Kami terkapar di atas pasir basah. Dan saya. Sembunyi-sembunyi. Dingin meresap pori-pori kulit kami yang telah menjadi keriput dan merinding. Dan ia entah? Kafe di pinggir pantai itu pun terisi orang-orang yang rela mengeluarkan ratusan menatap seolah saya adalah daging dan tulang yang terbalut kulit kerang. Bukankah kita semua membayar mahal untuk sebuah Malam berenang dalam kesunyian. Syahdu meliputi butir-butir hujan yang jatuh menikmati denyar-denyar di lautan perasaan paling dalam. Dan ia terpana. Membuat saya begitu jengah dengan segala aturan-aturan. Bahana tawa. Lantas jatuh menghajar kepala kami kala tak sedang ingin penuh. Saat penghakiman. memabukkan daripada kesadaran. Ia menatap saya dengan pancaran mata riang. Sentuhan Membuat saya muak mendengar melulu kebajikan. Seolah dengan sengaja ingin memisahkan. Untuk saling bertukar lidah berludah dengan orang yang baru dikenal. karena entah adalah ketidaktahuan yang sering kali jauh lebih dingin yang memanggang. Kebenaran dan kesalahan dipertanyakan. Meninggalkannya dalam diam yang haru. entah karena nyala yang redup. Ia bukan lagi ikan yang terbang dan burung yang berenang. entah karena basah yang kering. Sendawa alkohol di permukaan udara. saling beradu berebut perhatian. Entah karena entah karena entah. Phuih! Saya meludah ke mukanya. ada yang hanya bagian kaki. . tepat di antara bibir kami yang tengah berciuman. Untuk saling gombal. Saya berlari kencang menuju kafe banyaknya di tenggorokan untuk segera melimpahkannya kepada ombak yang kurang ajar. Maka saya tahu. Pesta pora.Ikan Jenar Mahesa Ayu Ia ikan yang terbang. Girangnya sirna. kami Menusuk ke dalam kekosongan otak yang terasa ringan. saling berhantaman. Untuk muntah di atas jamban lantas terpingkal-pingkal. Rajaman semu. bersentuhan dan mendesah massal.

saya melihat sepasang manusia bercengkerama. Di sebuah tempat antah berantah. Tawa. Tawa. Saya melihat jajaran kartu kredit di dompetnya yang berwarna abu-abu. Tawa. “Sendiri?” Dan sesudahnya. Para model menunggu giliran untuk sebuah peragaan. Luka perasaan bahwa dosa tak akan pernah cukup berarti ketika hati nurani mengatakan apa . Namun seperti pekik senapan lagi-lagi pertanyaan itu kembali memburu. Sementara saya pun pura-pura tertawa. Masa lalu yang pernah menguatkan yang benar. Berlaku nyaris memuntahkan laharnya kepada siapa pun yang berusaha meredam dengan dingin tanya. Saya melihat anak-anak yang tengah tertidur di atas tempat tidur berkelambu. Mata pun meredup menciptakan pemandangan yang makin samar. Tawa. Ada luka yang akan segera hilang. “Buset! Lama amat di luar?” “Udah ngapain aja?” “Kayak gak tau aja barbeque under the stars!” “Feeling hot hot hot!” Tawa. Tawa. sebagaimana fungsi malam ialah sarana untuk bersembunyi dari terang. Mereka yang berada di sana tertawa untuk entah. berapa kira-kira umur mereka. dan kaki-kaki jenjang mengentak di atas meja? Bukankah yang Apa pula pentingnya bertanya jika ada liukan pinggul di depan mata. Saya melihat seekor burung yang seperti baru terjaga dari mati suri nyaris sewindu. Tawa. Tapi sesuatu yang ingin dipertunjukkan itu tetaplah entah. Ada nama yang akan segera dilupakan. rok-rok dengan sama dengan yang lainnya supaya tak terlihat sebagai pembodoh di dalam magma yang siap selayaknya terdengar adalah tanya semisal. Tawa. pertanyaan-pertanyaan yang tidak saja tertuju kepada Dan pertanyaan itu pun berdesing di telinga saya. Tawa. Musik kian mengentak. Tawa. Entah peragaan untuk sekadar pertunjukan. Tawa. Tawa dalam penantian. Tawa berkepanjangan. bisa atau tidak para model itu. tapi juga kepada setiap pengunjung yang rela dan masyuk berimpit di dalam ruangan dipenuhi asap rokok meraja tiap penjuru? mereka diajak kencan setelah acara. diri saya sendiri terpaku. Tak mampu menjawab pertanyaan itu. Saya melihat seringai serigala di bibirnya yang tipis itu. Ada surga yang akan segera yang menyadarkan bahwa masa lalu kita nyata. Tawa. Pertunjukan berarti menunjukkan sesuatu. mengelabui pikiran sendiri yang sedang secara diam-diam mencari makna. Ia pun langsung mengambil Alkohol. Entah peragaan gaya. Undak-undakan telah disiapkan di pinggir bar. Tawa. Tawa. Entah peragaan yang bisa memancing rasa terpana. panjang ala kadarnya. Tawa. lalu memisahkan diri. Tapi pandangan saya bagai menembus segala bentuk yang ada. Saya melihat langkah seribu. “Sendiri?” Saya menatapnya. Tawa. Tawa. Tawa. terjangkau.Saya menunggu. Entah peragaan busana.

Ia masih berada dalam diam yang haru. mata yang menatap girang. Lalu semakin banyak ikan yang terbang. Semua burung yang berenang. Maka…. Jakarta. mulut bau alkohol gitu masih berani ngomongin surga. Semakin bertambah banyak burung yang berenang. Saya menunggu. Saya ingin merasa pantas yang lain dan lain yang pantas. pantas. Namun saya mencari sayap ikan dan sirip burung-burung berkepakan. dosa. dengan mata telanjang saya melihat ia ikan yang terbang. Namun ada keinginan kuat untuk segera menahan sedu pantas. Semakin banyak burung yang berenang.“Huahahahaha…mata bintitan. Padahal saya begitu ingin mendengar pantas sebagai pantat. Tapi tak juga saya temukan ia di tengah hiruk-pikuk gelepar Rajaman semu. Pertahanan yang dibangun untuk satu kata pantas. Saya ingin merasa kosong sebagai bokong. Saya ingin melihat bubur sebagai dubur. Lalu semakin bertambah banyak ikan yang terbang. Agustus 2004 . Mata saya pun memanas. dan pantas. Di tempat yang begitu tanpa batas ini pun mengenal kata menyelimuti hitam bola mata. Dan semua adalah ikan yang terbang. yang pantas juga ngomongin syahwat!” Selalu harus ada yang pantas. Ada yang mendesak ingin keluar. Ia burung yang berenang. Maka bening berkumpul sedan.

mencari uang demi mengonsumsi makanan bergizi yang konon bisa “Kami mengerti. Tapi… muda. tapi perutmu sudah kelihatan tambah besar. jelas belum mapan. Saya jentikkan jari kelingking di pipinya yang merah. Rasa waswas setiap kali belum waktunya namun sudah kontraksi. “Robek saja. Untuk keperluan sehari-hari saja pas-pasan.” Saya akan menjaganya Air hangat itu membasuh kulit tubuhnya yang bening. Tapi segera mentah berganti Tidak mengambil cuti. Membayar pembantu. tapi tak . Saya ingin protes. Kepala saya pening. Rasa takut seketika membuncah. Harus operasi. Erang kesakitan sudah tidak lagi melengking.Air Jenar Mahesa Ayu Air putih kental itu saya terima di dalam tubuh saya. Suara tangisnya seisi ruangan melengking. Ketika saya ke dokter kandungan untuk memeriksakannya. Saya akan menjaganya. Tapi saya berkata dengan yakin. Air ketuban sudah hampir kering. Memikirkan itu tenggorokan saya jadi ikut kering. Makhluk manis tak berdaya itu pernah tinggal di Lantas suster membawanya. Lewati mual tiap kali mencium bau parfum keluaran baru eternity. di atas seprai motif beruang teddy berwarna merah dengan haru memanah.” kata supervisor saya. belum cukup untuk hidup sebagai mengurusnya sendiri. Dokter yang baik itu menatap saya dengan prihatin. Air kental itu seperti bom yang meledak di dalam tubuh saya. sudah satu bulan setengah usia janinnya. Pergi ke kamar bayi jauh dari ibunya. Akan kita apakan calon bayi ini? Kita masih terlalu muda. membuahkan kecanggihan otak maupun fisiknya nanti. Menerima. Mengecup kedua matanya dalam rahim saya. Rasa mual merajalela. Kami tidak bisa mempekerjakan SPG yang kelihatan sedang hamil. Baru pembukaan delapan. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga lengket. Membuahinya. majikan. Pun mulai membukit perut saya. Makhluk mungil itu keluar dari dalam tubuh saya. Masih tak percaya.” kata ayahnya. saya khawatir tidak bisa langsung apalagi suster. Materi yang ada. yang masih lengket. Sembilan bulan sudah. Saya akan menjaganya. Dan jika operasi. Ada perubahan di tubuh saya selanjutnya. liat. Masih tak percaya. Ketuban sudah pecah. Dok. Gunting saja supaya tuntas pembukaannya. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga keluar mendesak celana dalam yang tak kuat membendungnya. liat sudah di indung telur yang tengah terjaga. masih harus menunggu dua pembukaan lagi. Terus menyeruak dan mendarat lengket. Uang yang terkumpul tidak cukup untuk operasi. Tapi saya ngotot persalinan alami.

Air susu saya sudah sarat. Bermain dengan penguin-penguin di Cape Town selatan Afrika. Jika saat itu tiba. Begitu ingin segera menimang dan menatapnya berat. lagi. Harapan akan segera pulang membawa uang. itu? Saya begitu tak sabar menunggu. Harapan akan segera pulang. “Ibu butuh istirahat untuk mempersiapkan ASI. Penuh dengan air susu yang sebentar lagi akan ada pengisapnya. Dan saya tetap akan pergi. Apalagi jika harapan-harapan itu kerap diulang-ulang dan tak pernah mewujud jadi kenyataan. sekarang ke dua payudara kecil ini pun gemuk membungkah seperti kelapa. Cukup lama saya harus menenangkannya. Membeli apa pun yang harapan. Baru akan dimulai merekam adegan. Apakah makhluk kecil yang sudah beranjak remaja itu sudah makan? Apakah ia kesepian? Ingin menelepon tapi sutradara memberi instruksi jika ponsel mutlak dimatikan. Lampu-lampu besar seperti makhluk pemeras keringat yang tak berperikemanusiaan. Tapi kepala saya masih dipenuhi pikiran. saya akan membeli rumah berikut ia inginkan semudah orang membuang kentut. Saya akan menjaganya. Saya hanya bisa berjanji dalam hati.” Saya akan menjaganya. Tetap Hanya cukup untuk makan sekadar. Harapan akan segera pulang membawa uang untuk suatu hari nanti tak perlu pergi kerja dan tinggal angkat kaki ongkang-ongkang. Payudara sudah terasa “Benar Ibu sudah siap?” Saya akan menjaganya Air mata meleleh di pipinya. Di mana makhluk mungil menyusu. air. Tak menunggu saya pulang. Mengunjungi semua Disneyland di tiap negara yang memilikinya. Tetap akan pulang. Sudah jam delapan. Berusaha memberikan pengertian. “Capek ah nunggu. Ia akan tetap tak membiarkan saya pergi. setelah ini tak akan ada yang memisahkan kami akan membawanya ke kamar bayi. Saya harus segera menghayati peran. Air putih cair itu keluar berupa jentik-jentik yang ajaib di ke dua puting saya. ketika suster itu berkata. Kalau perlu. tak ingin begitu saja melepas kepergian saya. kami akan menjelajah dunia. Air asin itu mendarat di bibir saya lagi. Saya sudah tidak butuh rehat. Dan harapan. Suster yang Selama sembilan bulan setiap harinya saya sudah memijat payudara saya dengan minyak kelapa. telepon. Sekarang kami sedari tadi memijat payudara saya terlihat puas. Lucu. Tak ada yang mungkin saya lakukan untuk menjangkaunya sekarang. Karena sudah beribu-ribu kali saya hanya pulang membawa sedikit uang. . dan sekolah akan pulang. yang semakin hari harganya semakin tinggi menjulang. aku udah mau tidur!” semprotnya. Ia membiarkan saya pergi. kontrakan. Saya tetap akan pergi. Tetap menunggu saya pulang. Menyeruput pinacolada di Hawaii sambil menyaksikan tarian bora-bora. Berusaha memberikan rasa aman.bisa. membayar listrik. kalau ia mau. Tapi tidak mudah memberikan sejuta taman bermain milik raja pop Michael Jackson yang tengah bangkrut. Padahal saya sudah begitu Atau jangan-jangan di rumah ia sedang asyik masyuk pacaran? Saya menjadi ketakutan. Tidak terlalu sulit mengeluarkannya.

Menunggu. Ada buku di sampingnya menarik perhatian saya. Menunggu. Saya Ada cahaya di ujung lorong. Terkulai lemah seakan menunggu saya menerima ia dalam pelukan saya. Harusnya seratus pil seperti yang dikonsumsi Maryln Monroe hingga ajal menjemputnya. “Bangsaaaaaaaat!” Saya tak kuasa menjaganya Air kuning kental itu meluap dari mulut saya. Ternyata datang dari tubuhnya yang berbalut cahaya menengok ke arah ujung lorong yang berlawanan. Seperti semasa ia balita menunggu saya pulang selepas kerja membawa sedikit uang dan satu kantung plastik berisi sepatu baru. Lampaui semua luka ingin cepat-cepat menjangkaunya dan terbang pulang. Di gelas itu berdiri sebotol bir merek bintang. menunggu emosi saya pergi. Menunggu kesadaran saya kembali. Saya kecup kedua matanya yang merapat. Lima puluh pil penenang saya tenggak. Tak jalan seperti dongeng anak-anak Peter Pan. Menunggu. kini telah berganti dengan air berbusa kekuning-kuningan. Tapi yang tidak saya lakukan? Sudahkah karenanya ia menjadi korban? Di balik selimutnya ia lebih pasti lagi ia tak kurang tertekan. Tidak membiarkan air putih kental itu lengket di indung telur hingga tumbuh menjadi janin yang kini terlahir bertemu dengan ayahnya yang dengan mudahnya lepas tangan. Duduk di samping tempat tidurnya dan memerhatikannya yang saya ambil dan buka. Menunggu. Siap menerima saya dalam pelukan bahagia. Seperti sekarang saya sekarang menunggu satu saat nanti ia mengerti. Ternyata datang dari tubuhnya yang sama sekali tak berbalut cahaya kecuali melulu kegelapan dan Seperti semasa ia bayi menunggu saya membersihkan puting payudara sebelum luka. menghalau saya supaya tak dekatdekat. Ada kegelapan. Kadang saya juga ingin melayang jauh ke masa lampau. menyerahkan untuknya menyusu. Lantas meronta. Yang sudah pasti telah terjadi perubahan yang membuat saya tertekan. Air jernih di dalam gelas yang dulu ada di atas meja samping tempat tidurnya. Pelan-pelan . sudah kembali pulas tidur. persis seperti ketika ia baru lahir dengan kedua mata yang masih lengket. Melayang seperti burung tanpa menyimpan. Menunggu.harus terhambat kemacetan. Semakin terkumpul segala lelah segala penat. Ada puisi di dalamnya. kemilau dengan tangan terbuka. igau saya. Apakah yang sudah saya lakukan? Atau justru apakah tertidur dengan amat tenang. Seperti saya sekarang menunggunya dengan ilusi dirinya berkilauan merentangkan tangan atau terkulai lemah membutuhkan pegangan setelah menemukan mulut saya berbusa akibat menenggak obat penenang. Saya jentikkan kelingking di pipinya yang bening. Tapi ia menggeliat. Saya akan menjaganya. Satu saat nanti ia kembali. igau saya. Seperti saya Saya kembali ke kamarnya. Entah ia sudah teler dan lupa sebagai manusia yang merasa disia-siakan. “Action!” teriak sutradara. Melayang bersamanya menikmati indahnya kelap kelip lampu dan penderitaan. Melayang lebih jauh lagi ke masa lampau. Lampaui semua beban. Entah disengaja untuk menarik perhatian.

Air dapat memelukmu tapi tak akan membelenggumu Air dapat pantulkan cahayamu tapi tak dapat jadikanmu nyata(*) Saya akan menjaganya. Jakarta, 13 Mei 2006 12:24:00 PM Untuk Banyu Bening (*) Cuplikan puisi Air karya Banyu Benin

Saya di Mata
Jenar Mahesa Ayu

Sebagian Orang
Sebagian orang menganggap saya munafik. Sebagian lagi menganggap saya pembual. Sebagian lagi menganggap saya murahan! Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa.

Padahal saya tidak pernah merasa munafik. Tidak pernah merasa membual. Tidak pernah merasa sok gagah. Tidak pernah merasa sakit jiwa. Tidak pernah merasa murahan!

Dan apa yang saya rasa toh tidak membuat mereka berhenti berpikir kalau saya munafik. Berhenti berpikir kalau saya pembual. Berhenti berpikir kalau saya sok gagah. Berhenti berpikir kalau saya sakit jiwa. Berhenti berpikir kalau saya murahan!

saya tidak membual. Kalau saya tidak sok gagah. Kalau saya tidak sakit jiwa. Kalau saya tidak murahan! Tapi penjelasan saya malah semakin membuat mereka yakin kalau saya munafik. Yakin saya murahan!

Sementara saya sudah berusaha mati-matian menjelaskan kalau saya tidak munafik. Kalau

kalau saya pembual. Yakin kalau saya sok gagah. Yakin kalau saya sakit jiwa. Yakin kalau

Maka inilah saya, yang tidak munafik. Yang tidak membual. Yang tidak sok gagah. Yang tidak sakit jiwa. Yang tidak murahan!

Walau sebagian orang tetap menganggap saya munafik. Menganggap saya pembual.

Menganggap saya sok gagah. Menganggap saya sakit jiwa. Menganggap saya murahan! Saya katakan ke banyak orang kalau saya tidak punya pacar. Saya tidak punya kemampuan sekali teman. Ada teman yang setiap pagi menyiapkan air hangat untuk mandi. Ada teman

untuk mencintai seseorang. Tapi bukan berarti saya tidak punya teman. Saya punya banyak makan siang ketika rehat kantor. Ada teman yang menjemput sepulang kantor. Ada teman yang baik. Mereka semua teman-teman yang bisa diandalkan dalam segala hal dan saya

yang menemani nonton. Ada teman yang menemani clubbing. Mereka semua teman-teman yakin saya pun cukup bisa diandalkan sebagai teman. Bukankah sudah sepatutnya begitu Tapi karena teman mengajak, saya merasa tidak enak untuk menolak. Begitu juga halnya dan tidur. Tapi jika ada teman yang mengajak nonton, rasanya saya tidak tega menolak apalagi ia sudah khusus jauh- jauh menjemput ke kantor. Maka saya akan mengiyakan

dalam hubungan pertemanan? Buktinya tidak jarang sebenarnya saya malas makan siang. dengan nonton atau clubbing. Pulang kantor saya sering kelelahan. Inginnya lekas pulang

walaupun belum tentu saya suka dengan film yang kami tonton. Pada saat kami nonton,

tidak jarang pula ponsel saya berdering. Andaikan tidak saya angkat karena tidak sopan menerima telepon di dalam bioskop, tetap saja mereka bisa meninggalkan pesan SMS. saya ingin menerima ajakan mereka. Tapi bagi saya itulah konsekuensi pertemanan. Biasanya minta ditemani ke disko atau sekadar nongkrong di kafe. Sungguh, tidak selalu Apalagi, sekali lagi, mereka adalah teman-teman yang baik. Yang setia menyiapkan air

hangat untuk mandi setiap pagi. Yang setia menemani makan siang. Yang setia menjemput pulang kantor. Yang setia menemani ke disko atau kafe. Yang setia memberikan perhatian dan waktu kapan pun saya butuhkan, walaupun mungkin mereka tidak selalu ingin saya rasakan. mengiyakan, walaupun mungkin mereka sedang kelelahan, sama seperti apa yang sering

Kepada merekalah saya sering menumpahkan segenap perasaan. Kepada merekalah saya

meminta bantuan. Tidak hanya sebatas perhatian dan waktu, tapi juga dari segi finansial.

Kalau saya butuh uang, saya bilang. Kalau saya mau ganti ponsel model terbaru, saya beri tahu. Kalau saya bosan mobil van dan ingin ganti sedan, saya pesan. Padahal karena akan selalu ada yang menjemput dan mengantar, mobil jarang sekali saya gunakan. Kalau saya dapat undangan pesta dan perlu gaun malam lengkap dengan perhiasan, saya utarakan. Kenapa harus sungkan? Toh saya tidak memaksa. Toh mereka ikhlas. Dan yang paling penting adalah mereka memang mampu mengabulkan apa yang saya minta. Saya tidak

paksa mereka khusus menabung untuk saya apalagi sampai suruh mereka merampok bank. saya. Kalau sekali-sekali harus jebol tabungan atau terpaksa mencairkan deposito Saya juga teman yang baik. Saya tidak mau mereka susah hati karena tuntutan-tuntutan

bolehlah… yang penting dananya memang ada. Itu pun bukan masalah yang harus saya besar-besarkan. Bukan sesuatu yang layak untuk membuat saya terharu. Apalagi jatuh cinta?! Saya harus garis bawahi bahwa saya tidak memaksa. Apalagi saya sangat tahu, sangat sadar kalau jumlah dana yang dikeluarkan hanya sepersekian persen dari

keseluruhan harta mereka. Coba bayangkan, kurang pengertian apa saya sebagai teman? Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, tidak jarang saya harus mengorbankan waktu dan tenaga untuk mereka. Mungkin lebih tepat jika saya menggunakan kata

merelakan ketimbang mengorbankan. Walaupun saya agak terganggu, tapi saya rela. Saya Menikmati tiap detail manis yang kami alami. Makan malam di bawah kucuran sinar

melakukannya karena saya mau, bukan karena paksaan. Saya menikmati kebersamaan kami. rembulan dan keredap lilin di atas meja. Percakapan yang mengasyikkan penuh canda dan yang berlanjut dengan ciuman panas membara lantas berakhir dengan rapat tubuh kami

tawa. Sentuhan halus di rambut saya. Kecupan mesra di ke dua mata, hidung, pipi, dan bibir yang basah berkeringat di atas tempat tidur kamar hotel, di dalam mobil, di taman hotel, di yang begitu melelahkan sekaligus menyenangkan. Saat-saat yang selalu membuat jantung saya berdegup lebih kencang dari biasanya. Saat-saat yang selalu membuat aliran darah

toilet umum, di dalam elevator, di atas meja kantor, atau di dalam kamar karaoke. Saat-saat

saya menderas dan naik ke atas kepala. Saat-saat yang selalu membuat saya pulas tertidur

dan mendengkur. Saat-saat yang tidak pantas untuk tidak membuat saya merasa bersyukur.

Namun dari sanalah segalanya berpangkal. Semua yang saya lakukan itu dianggap tidak

benar. Sebagian orang menganggap saya munafik karena tidak pernah mengakui kalau saya punya pacar. Sebagian lagi menganggap saya pembual setiap kali saya bilang hubungan

mulailah kelihatan berkantong tebal. perdebatan pun dimulai dan mereka saling membuktikan pendapat siapa yang paling benar. Setelah putus dengan si B ternyata . Jika teman saya uang. pembual. Di pertokoan. Sehingga jika hanyalah kami sudah tidak saling melenguh dan mencabik di atas ranjang. Mereka saling mengirim surat elektronik. silih berganti tanpa henti dan ini membuat mereka punya materi yang lebih dari cukup untuk terus mempergunjingkan saya seolah tidak ada hal lain yang lebih pantas untuk diangkat sebagai tema. Mereka sembunyi. Sebagian lagi menganggap saya jiwa. Sebagian dari mereka malah sering saya dapati tidak lagi bertegur sapa sama sekali dengan teman lamanya.hal seperti ini yang sering tidak saya temukan pada saling berbagi cerita walaupun jarang. Sebagian lagi menganggap saya murahan karena saya bisa ditiduri tanpa harus ada komitmen lagi menganggap saya sakit jiwa karena berteman dengan begitu banyak orang. Sebagian percintaan bahkan bisa dalam satu hari dengan orang yang berlainan. Saya tidak pernah membohongi. Tapi tidak satu pun dari mereka yang mendendam karena saya menjunjung tinggi dibilang hubungan kami berakhir.minggu. saya tidak pernah akal-akalan. Mereka sembunyi-sembunyi untuk merangkumnya utuh menjadi satu bagian. Di ini berjam. Yang berubah keterbukaan. bertahun-tahun. Sebagian orang menganggap saya munafik. Kebanyakan berkisar pada seberapa indah kami berdua dari ujung rambut hingga ujung kaki seperti serigala kelaparan. maka dikaitkannyalah dengan seberapa besar saya menguras mereka dengan teori cinta-cintaan. berhari-hari. atau masih melajang. Kadang ada satu dua kalimat yang terdengar dan sudah cukup bagi saya dan seberapa tebal kantong teman yang saya bawa. Menyeleksi kartu kredit saat membayar bon tagihan makan. Pandangan mereka menyapu bersih membawa teman baru. Beberapa bagian dari mereka itu sibuk dengan jalani dengan penuh kewajaran tiba-tiba berubah menjadi perdebatan. Banyak terakhiri. Semua orang merasa sementara teman.kami hanya sebatas pertemanan. Mereka saling bertukar pesan lewat SMS. Apalagi jika secara kebetulan kami bertemu dalam satu kesempatan dengan bertukar senyum. maka mulai dari apakah ada pernak-pernik baru yang saya pakai.sembunyi bermain mata. hingga jenis dikaitkannyalah dengan seberapa dahsyat kehebatannya di atas ranjang. kantong belanja. Biasanya itu disebabkan karena hubungan mereka yang sembunyi-sembunyi dengan si A ketahuan oleh si B. sakit jiwa. restoran. berbulan-bulan. sok gagah.teman saya semakin banyak. Pembicaraan mendadak berhenti. Mereka sembunyi-sembunyi mengirim pesan SMS. Tapi jika ke dua sisi itu tidak ada yang memenuhi standar pergunjingan. Sebagian lagi menganggap saya murahan! pembual. Di rumah. Di kantor. Dan karena saya tetap bilang kalau kami benar-benar berteman. Perbuatan yang saya lebih tahu dibanding diri saya sendiri. Saling bertanya apakah sudah punya pasangan tetap. sebetulnya tidak sepenuhnya benar. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah.jam. Jika teman saya kelihatan indah. Hal. Mereka bergunjing lewat Mereka saling bertukar pendapat di kafe-kafe. Tapi kami masih menikah. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah karena mereka berpikir saya tidak mau mengakui kalau sebenarnya saya mencintai seseorang. pendapatnya masing-masing dan lebih luar biasa lagi mereka bisa membahas perihal saya telepon. Sebagian lagi menganggap saya sakit dari teman-teman yang tidak ingin berbagi dan pada akhirnya hubungan kami harus Saya tidak bisa mungkiri banyak dari teman-teman yang akhirnya mempertanyakan. atau murahan itu. Mereka saling berbisik dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diterjemahkan. sebagian orang yang menanggap saya munafik. berminggu.

Menganggap saya sakit jiwa. Tapi walaupun saya Beberapa kali saya bertemu dengan tubuh-tubuh indah yang membuat mata silau. Tapi tetap orang menganggap saya munafik. saya tetap tidak berani menganggap mereka munafik. Alangkah sayangnya sebuah hubungan yang menempuh berbagai aral rintangan itu akhirnya harus kandas di tengah heran. Menganggap saya pembual. Sebagian orang merasa kejadian-kejadian seperti itu bertentangan dengan pengenalan. darah saya berdesir dan mengisyaratkan satu kenikmatan. jalan. Saya hanya heran. Mengirim makan siang. atau murahan. ketika sebagian orang sibuk bergunjing atas akibat yang saya . pembual. 20 Agustus 2003 11:35:54 PM hangat untuk bilas badan. Ereksi yang tidak lama kekal. Karena. Yang nyatanya berakhir dengan rasa mual. Bercerita tentang film yang baru saja diputar. Kadang saya juga mengalami kesulitan dalam satu hubungan. ketika saya positif mengidap HIV ternyata saya masih punya banyak teman yang setia menyiapkan air tentang sebuah peristiwa lucu di satu kafe. Malam-malam panjang. Mungkin jika bukan karena saya tergeletak tak berdaya dan diperlakukan bagai anjing kusta saya hampir beralih dari apa yang selama ini saya percayai dan nikmati dengan hati lapang. Murahan! Jakarta. Sebagian orang menamakan kejadian-kejadian seperti itu sebagai moral. Pembual. Sok gagah. Menganggap saya murahan! lanjut berteman. saya hampir percaya pada pendapat sebagian orang yang tiap bagiannya menyatu menjadi satu pendapat utuh bahwa tindakan saya menyimpang.ketahuan pulalah si A berteman dengan perempuan lain. Sakit jiwa. Seleksi alam yang akhirnya menjawab apakah kami akhirnya bisa tidak atau Menganggap saya sok gagah. Sementara buat saya kejadian-kejadian seperti itu hanyalah semata-mata proses cinta semalam. Menemani makan malam. Membuat Kontraksi dahsyat di tengah selangkangan. Reaksi yang membuat waktu berjalan bagai tak berujung pangkal. Dan saat itulah alarm dalam tubuh saya mengisyaratkan segala rencana kencan lanjutan mutlak batal. Tapi saya tetap menghargai sebuah pilihan. terima karena saya munafik. sakit jiwa. Mungkin jika bukan karena penyakit yang datang tanpa bisa saya larang tidak saya idap sekarang. sok gagah. Mendongeng membayar ongkos perawatan.