P. 1
Kumpulan Cerpen Kompas

Kumpulan Cerpen Kompas

|Views: 204|Likes:
Dipublikasikan oleh Lisa Normalasari

More info:

Published by: Lisa Normalasari on Sep 10, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/02/2014

pdf

text

original

Gelap, gelap sekali

Aba Marjani Gelap di luar dan hening di dalam. Dengus napas istriku teratur. Lampu tempel sudah menarik selimut melewati dada. Sesekali suara burung malam terdengar di kejauhan. kumatikan. Hanya dingin malam yang menyeruak dari celah dinding bambu membuat aku Barangkali burung hantu yang mencari mangsa, berpindah-pindah dari satu arah ke arah

lain. Tanah huma di pinggir hutan mungkin mengubah kawasan hunian binatang sekitar.

Aku sulit memejamkan mata karena nyamuk kecil yang sering mendengung dengan bunyi yang nyaring, sesekali nyamuk itu menerkam kuping. Malam semakin larut ketika merasakan ada sesuatu yang mengusik gelapnya malam. Beberapa rumah panggung

terdapat di desa yang baru kami bangun, sekitar setahun yang lalu, tanah garapan baru. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya kira-kira lima puluh meter. Gemerisik sesuatu antara belukar semakin mengganggu ketika terdengar ketukan di rumah tetangga. Derap kaki bersepatu berat semakin jelas terdengar disusul dengan gedoran. Ada teriakan kasar. Aku mengintip dari celah dinding, tetapi tidak ada sesuatu yang tampak. Gelap Ada pukulan yang keras membuat teriakan lenyap. Sunyi malam mendekap.

malam memeluk rahasia malam. Teriakan terdengar ketika langkah kaki itu agak menjauh.

Ia membuka matanya dan menggosok kelopak matanya, lalu menjawab, ”Sayup-sayup. Seolah-olah ada sesuatu yang terjadi.”

Kugoyang-goyang tubuh istriku sambil berbisik, ”Kau dengar suara-suara ribut itu?”

”Apa, ya?” kataku seolah-olah berkata kepada diri sendiri. Beberapa menit kami tenggelam dalam hening. Sepanjang malam kami tidak dapat tidur, tak juga berani berbicara atau menduga-duga apa yang terjadi. Rasanya malam merangkak amat lama. Subuh, ada tangisan dari arah tetangga sebelah. Ketika ayam berkokok, aku memberanikan diri turun tangga rumah, dan bergegas ke rumah sebelah.

Beberapa orang tetangga lain sudah ada di situ. Aku bergabung dengan mereka. ”Ada apa?” kataku. Seorang kepala dusun yang kami angkat sendiri malah balik bertanya, ”Tidakkah Saudara dengar peristiwa tadi dalam?”

”Ya, kudengar langkah kaki, gedoran dan orang berteriak karena dipukul. Aku tidak berani keluar. Sepanjang malam aku dilanda rasa takut,” kataku.

Tarmin, kepala dusun itu, kemudian berkata, ”Suami ibu ini tadi malam diculik orang, juga Turman yang tinggal di ujung dusun.” ”Oleh siapa?” tanyaku. ”Belum tahu.” Tangis ibu Saleh tak henti- henti. Kepala dusun pagi sekali menghubungi ketiga belas keluarga yang tinggal di perhumaan itu. hilang pada malam itu. Saleh dan Turman. Saleh si pendiam namun mudah menolong orang. Turman si pemberani yang mendorong kami memulai menggarap tanah di pinggir hutan itu. Menurut kami, kedua orang itu adalah teladan dalam segala hal. Kami berkumpul di rumahnya. Yang hadir hanya sebelas kepala keluarga. Dua orang yang

Kurang lebih setahun sebelumnya, kami membuka ladang baru, tanah huma. Jauh dari

kampung halaman kami. Jarak kampung halaman kami lebih seratus kilometer, dan untuk sementara kami meninggalkan anak-anak bersama kakek-nenek di tanah leluhur yang sudah sesak penduduk.

Sebagai ladang baru, hasilnya lumayan. Tanah huma membuat tanaman subur, pada panen pertama tentunya. Kami memasuki tahun kedua dalam suasana dusun yang tenang. Rasa persahabatan dan kekeluargaan lebih menonjol daripada sikap bersaing. Kami mengalami

nasib yang sama di tanah leluhur yang semakin sempit karena pertambahan penduduk. Rasa persaudaraan yang tinggi terbentuk karena penderitaan yang sama, dan memiliki harapan yang sama. Mengubah nasib. Walaupun di ladang yang sangat bergantung kepada kemurahan alam, hujan.

Pertemuan hari itu sarat dengan usul cara menjaga keamanan dusun. ”Tapi penculikan ini, melihat dari jejak kaki,” kata Sahir, ”rasanya adalah jejak kaki orang bersenjata api.”

Yang lain-lain terdiam. ”Jangan-jangan ketika kita jaga malam, justru dengan lebih mudah diculik satu demi satu,” katanya melanjutkan.

Seminggu kemudian, dalam kantuk yang penat, menjelang subuh aku tertidur lelap. Baru didobrak dari luar. Dalam sekejap beberapa sosok tubuh merangsek ke dalam membuat jerembab. Beberapa tangan yang kokoh menarik kedua tangan dan kakiku. Aku diseret belakang. Mulutku dibekap dengan sepotong kain. Dalam gigitan malam yang dingin

saja beberapa menit terlelap, aku mendengar pintu digedor dan tiba-tiba menganga karena

istriku tiba- tiba menjerit. Tamparan di mukanya membuatnya terhuyung dan diam dalam

dalam kegelapan malam. Mereka menggelandang tubuhku dan mengikat kedua tanganku ke menyengat, mereka melemparkan tubuhku ke dalam sebuah truk yang menunggu di tepi bersentuhan dengan kakiku.

jalan. Aku merintih kesakitan. Kutahu ada orang lain di dalam truk itu karena kaki mereka

Sebelum kabut meninggalkan malam, truk berhenti di sebuah tempat. Kudengar suara-

suara orang yang berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti. Aku diturunkan dari truk antara mereka yang kukenal.

bersama sembilan orang lainnya yang tampaknya senasib denganku. Tidak seorang pun dari

Kami digiring ke sebuah rumah gedung tua yang tampak kokoh dari luar. Ada penjaga

bersenjata di segala sudut. Di sebuah ruangan satu demi satu kami diempaskan ke lantai. siang seorang berwajah garang duduk di belakang meja reyot, dan kami duduk di kursi rotan di hadapannya. Satu demi satu kami ditanyai: nama, keluarga, alamat, asal-usul, jenis pertanyaan yang aku sendiri tidak mengerti.

Ikatan tangan kami dilepaskan satu demi satu. Nyeri rasa luka di bekas ikatan itu. Menjelang

pekerjaan, sejak kapan masuk organisasi politik, siapa pemimpinnya, dan macam-macam

Sore itu perut diisi dengan beberapa potong ubi rebus. Tengah malam, ketika perut masih keroncongan, namaku dipanggil dari kamar berukuran tiga kali empat meter yang dihuni dua belas orang. Aku berdiri dan menuju ke sebuah ruangan. Dari ruangan lain kudengar ia tuduh aku masuk gerakan tutup mulut (GTM). Ia lalu berdiri di belakangku dan lehermu!”

jeritan orang dipukul. Aku duduk dan tidak dapat menjawab pertanyaan interogator itu. Lalu memegang dagu dan kepalaku, mencoba memutar leherku. ”Jawab! Atau kupatahkan

Aku diam saja. Kemudian ia melepaskan kedua tangannya, tapi menohok punggungku membuat aku jatuh pingsan. Ketika aku tersadar, aku sudah berada di tengah-tengah kawan seselku. Mereka mengoles punggungku dengan minyak kelapa. Aku belum mampu sedikit melegakan rasa sakitku.

memusatkan pikiran untuk mendengar apa yang dikatakan mereka. Jamahan tangan mereka

hampir semua lelaki di dusunku sudah ”diangkat” dan kaum perempuan melarikan diri ke kembali, diganti dengan tahanan baru, sampai pada akhirnya aku sendiri pun dipanggil bersama beberapa orang yang dahulu ditangkap bersamaku. orang tua mereka masing-masing. Beberapa kawan seselku ”pergi” dan tidak pernah

Sebulan kemudian aku mendengar secara sembunyi-sembunyi dari sesama tahanan bahwa

Menurut pengawal yang melemparkan kami ke dalam truk, kami akan dipindahkan ke

tempat yang lebih nyaman, tenteram, pembebasan. Karena ia mengatakannya dengan

senyuman dengan mata mengejek, yakinlah aku bahwa inilah hari akhir dalam kehidupanku. bagai paku tipis yang karatan mungkinkah dibebaskan ke tempat yang nyaman dan Wajah anak- anakku, istriku, melintas silih berganti di benakku. Tubuh-tubuh yang kurus

tenteram? Aku tidak tahu dosa apa yang membuat aku harus mengalami derita seperti ini. keluar dari mulutku. Pernah aku berpapasan dengan seorang interogator yang rasanya

Sampai bulan-bulan terakhir aku hendak di-”bebaskan” tidak ada pengakuan apa pun yang

pernah kukenal dan memalingkan wajah daripadaku ketika sekilas bertatap mata. Diakah orang ingin mencari selamat sendiri.

biang keladi dari derita lelaki dari dusunku? Ah, tidak berani aku berburuk sangka. Semua

merunduk rendah.banting tulang memberi makan mereka. dan mengambil buah yang ranum. Kami semua diturunkan dan berjalan satu demi satu menuju tengah jembatan. Dalam detik yang sama aku mengalir deras disusul gedebuk tubuh yang terempas ke dalam air. Di tepi sungai ada pisang yang sedang berbuah. Gelap dalam sel. dalam remang gelap. Truk berhenti di mulut Berjam-jam kami yang ada di dalam truk diam dalam bahasa hati kami sendiri. aku menyaksikan pedang yang berayun semakin melemah. pastilah manusia pun bisa. Bahasa batin Aku berjalan di barisan paling akhir dari lima belas orang. Aku menduga. menyaksikan celah antara kegelapan dan remang-remang malam. yang dapat kutempuh. Dan cap dalam keluarga. Tidak jauh dari sana ada durian belanda. Aku berdiri dan melihat pedang yang dientakkan. ”Tuhan. Kulepaskan ikatan tangan dengan susah-payah. Beberapa menit kemudian aku muncul ke permukaan sementara arus terus membawa aku hanyut. di sisi jembatan bagian tengah yang rusak penahannya. Bayangan dalam benakku. Tidak ada. lindungilah mereka!” Tendangan di pantatku menyadarkan aku. Tiba-tiba sekelebat pedang yang terayun suara yang sama bergenta. anak-anak akan telantar. Semuanya gelap gulita! dengan kisah gelap. sampai aku mampu berpijak di dasar sungai dan berjalan sambil merangkak menyusuri menambah perihnya goresan tali. Buah yang matang tapi ketika kukunyah. Dalam kepergian malam. Aku berterima kasih kepada Tuhan . Karena telah terbiasa di dalam kegelapan malam dan siang. kemudian tali dari kaki. Air yang dingin mendengarkan langkah kaki. ”Ayo. Aku merangkak ke tepi sungai dan mencoba lama semakin hilang. naik! Naik! Naik!” Truk menggelegar memecah kegelapan malam. Ikatan tangan yang telah kukendurkan dan ikatan tali di kaki yang merenggang membuat aku menyelam lebih mudah bergerak dalam kedalaman dan arus sungai. Selang beberapa menit membungkuk dan terjun ke dalam sungai. bila monyet pun bisa makan buah pisang monyet. Aku memanjatnya. Orang yang berada di barisan menebas lehernya. Pisang monyet. mereka termasuk turunan yang dianggap kutuk bagi bangsa ini. menyusuri tepi sungai dengan Dengan pakaian yang basah-kuyup dan langkah yang goyah. Ada lengkingan dan bunyi kepala ya berdebuk ke dalam sungai yang depan disuruh berhenti di pinggir jembatan. Di kejauhan ada deru kendaraan yang semakin keyakinan bahwa lambat atau cepat pasti di sekitar alur sungai ada kampung terpencil. aku semakin menepi batu-batu. sampai giliranku pun tiba.benar menjadi warga kegelapan. aku berjalan sejauh-jauh jarak Matahari mulai muncul di celah gunung. aku dapat sebuah jembatan yang besar dan panjang. Gelap dalam pertanyaan yang tak kunjung berjawab. Aku tidak tahu di daerah mana aku berada. dalam sunyi air yang mengalir. istriku dalam kesetiaannya harus Tiba-tiba hatiku menjerit. banyak batunya. Berjam-jam aku berjalan dalam keremangan gelap malam. Kami benar. Di dalam alun arus.

mereguk air dari pinggir sungai. aku menghitungnya. aku menemukan sebuah gubuk. Hari-hari pelarianku yang tidak kutahu Sepuluh tahun? Dari beberapa pelabuhan. Kedua orang tua itu mengangguk-angguk mengerti. Siang hari mendapat informasi mengenai alamat mereka. aku Bertahun-tahun aku menjadi kuli pelabuhan atau ikut nelayan pada malam hari. tepatnya sebuah lembah yang landai. Mereka mempersilakan aku sarapan pagi dengan pisang rebus.minggu bersama mereka. menjual ikan ke seberang. Seorang lelaki tua dan ibu memperkenalkan diri dan memberitahukan tentang diriku yang sebenarnya. Aku pun terkejut melihatnya. Kiriman berikutnya tidak dapat kulakukan karena pada suatu hari aku berpapasan dengan cepat-cepat menghilang. dan mengirimkan upah yang kuperoleh. Sampai berpuluh tahun kemudian. Dari wajah mereka kulihat rasa terkejut. kukirim upahku. iklim politik pun berubah. Bandung. atau kalau musim ombak. menjadi kuli pelabuhan bagi tongkang dan kapal yang merapat malam. Setelah kekuatanku pulih. karena aku bersama bintang di laut dengan pelaut yang tidak peduli pusaran politik. alamat. Aku bulan di laut. 21 Agustus 2009 . bahwa bumi ini kaya dengan kemurahan-Nya. Malam-malam berbintang. Alam keras membuat mereka hidup. dan pelarianku. kepada anak-anakku. Pergi ke laut. masuk tongkang yang hendak berlayar berbulan- kapan akan berakhir. Dan di sanalah aku merajut nasibku juga. Kukeringkan pakaianku di atas batu dan Di kaki gunung. yang sudah berumur membuka pintu. Tanpa Mereka hanya peduli pusaran arus laut. Setelah berbulan-bulan. Aku Kukira gubuk itu milik pemilik ladang di situ. Ada mata air di situ. Sesekali aku mencari tahu keberadaan istriku dari orang yang sebahasa denganku. Akan tetapi. di seberang ada laut. Rasanya aku berminggu. aku tidur dan malam melaut bersama nelayan. Ia terkejut melihatku. seorang bekas interogatorku. yang tergenang dan bening. Kuketuk pintunya. Aku membantunya di ladang karena aku jauh lebih muda dari mereka. sekalipun laut tetap bergelora! Laut mengajariku untuk tabah. Setelah tubuhku pulih betul aku pamit dan mendaki gunung menuju ke tanah seberang. Kata orang tua itu. menyongsong matahari yang terbit. aku berjalan dan berjalan. aku tidak bisa berlama-lama dengan mereka.

Angin berkesiur liar kian kemari. “Dulu. Kalau tidak. Seharusnya di dua halte berikutnya. Senja makin lebam. Tubuh terbakar hangus seketika. Rasa sesal dan kesal menyeruak dalam dadaku. Di dompetku cuma ada tiga lembar uang lima ribuan. Buru-buru kuucapkan terima kasih seraya berpilin-pilin menjadi satu untuk kemudian hilang menyatu dengan putihnya tempias hujan. mungkin aku sudah sampai di rumah. seorang Seorang laki-laki sepantaran aku yang sejak tadi berdiri agak jauh mendekat. Gosong. Aku bersidakep menahan dingin. “Bekerja di mana?” laki laki itu melanjutkan setelah melepas asap rokoknya untuk kesekian kali. petir seperti ini. Terlintas dalam benakku bagaimana jadinya jika aku disambar petir. mungkin aku sudah duduk sembari ngopi ditemani istriku di sebuah gubuk tempat kami mengontrak selama ini. Angin masih berkesiur. “Punya korek?” ia menyergapku sebelum aku sempat menggeser. Halilintar bersahut-sahutan tiada henti bagai Pasrah oleh jilatan tempias hujan atau sesekali cipratan air yang dilindas ban-ban mobil. Bukankah aku seharusnya turun di dua halte ingin membelah dunia. mungkin juga aku sudah berada di tempat tidur bersama istriku. Betapa bodoh dan tololnya aku.” kataku sembari menatap ke jalan. Hujan masih saja lebat. Masih tersisa dua batang. Sebatang rokok siap dinyalakan. Kedinginan di halte bus senja itu aku merasa benar-benar kecil. Aku bersiaga. “Mau pulang?” laki-laki itu bertanya. Dalam badai perempuan yang tidak cantik tapi juga tak bisa disebut jelek. Atau tiba tiba air bah datang dan menghanyutkan tubuhku seperti sepotong kayu. Kilat menjilat sambungmenyambung seperti ingin membakar langit. Di sebuah kantor. berikutnya? Kalau tidak melakukan tindakan tolol ini.” aku sengaja berbohong. Dalam dingin apa saja bisa terjadi di tempat tidur. Kurogoh saku celana sebelah kanan untuk mengambil korek api lalu kuberikan kepadanya.Sukro dan Sukra Oleh Adek Alwi Langit kelam dan senja lebam dalam guyuran hujan lebat. Agak mletot karena terduduki. Tanpa menoleh ke arahku. . Kuambil satu. “Aku salah turun. Setelah menyulut rokoknya. Genangan air mulai meninggi. Ia tak mungkin merampok aku karena tak ada sesuatu pun yang bisa dirampasnya dari aku. laki-laki mengambil bungkus rokok milikku dari saku belakang celana. Aku berdehem. Khawatir juga kalau-kalau ia ingin mencari kehangatan bersamaku. Sesaat kemudian asap rokok kami sudah itu menyodorkan bungkus rokoknya kepadaku.

bekerja di sebuah perusahaan cukup besar. yang hasil korupsi. Tubuhnya hampir tak berbeda dengan “Kerja apa?” aku bertanya sembari menggaruk-garuk dahi untuk menyembunyikan perasaan gembiraku.” kata laki-laki itu kemudian. Ajakan laki laki itu terus Lagi pula istriku selama ini tak pernah mau tahu apa pekerjaanku. Agak kurus. Yang pasti. Si bungsu.“Tapi aku dipecat. Kami ngobrol hingga senja hilang dan sinar merkuri mulai memunculkan siluet. “Kenalkan dulu. laki laki. menikah dengan seorang juragan beras. Kita ambil Karena umumnya orang kaya pun perampok. dan dua sepeda motor. Istriku di sebelahku sudah terlelap. aku jadi tak bisa tidur.” Laki laki itu tertawa kecil. Aneh juga. Ia memiliki sebuah mobil juga tak kelihatan susah. Dalam remang kulihat wajah pasrahnya. Ketika aku akhirnya melangkah meninggalkan halte bus itu. Entah di bagian mana. “Nama kita hampir sama ya. Untuk pertama kali aku menoleh ke arah laki-laki itu. Sukra tertawa. “Kalau mau. tak mungkin kulakukan pekerjaan itu. “Atau tepatnya mungkin kau bisa membantu aku. Kadang-kadang kasihan juga aku melihat wanita ini. Malah yang paling makmur. Agak tinggi. Seperti hari ini. Kerja serabutan. Uang mereka pun belum tentu uang halal.” aku menyebut namaku. Gelisah saja. Dan hujan tiris. Adiknya. Banyak sekali. Aku kaget. Suaranya nyaris tak terdengar karena hujan begitu lebat. “Kita merampok orang kaya.” aku. pulang membawa uang. Apa saja. Agak gondrong. Kakaknya. Tak ada gunanya. macam-macamlah. Hidung mancung. Hidupnya Merampok? Ah. Baginya yang penting aku menggodaku. Di antara empat saudaranya. meski dingin menyungkup. Aku jadi korban. Malamnya. seorang wanita. Bagaimana kalau yang punya rumah terbangun? Lalu . Mereka pasti tidak jadi jatuh miskin. ada yang curang dalam berdagang.” ujarnya seraya menyodorkan tangan. Tapi itu tidak penting. Uang mereka banyak. Sekarang nganggur.” Setelah itu kami jadi lebih akrab.” Tak kuceritakan pertemuan tak terduga dengan Sukra itu kepada istriku. sementara order menurun. terus terngiang ajakan Sukra. Perusahaan hampir pailit karena kelebihan karyawan. Yang penting bisa makan. hidupnyalah yang paling susah. Aku terlalu pengecut untuk melakukan perbuatan penuh risiko itu. Mata dan pipi cekung. Tak jelas mengapa ia tertawa. “Namaku Sukra. Meski cuma lima belas ribuan. menikah dengan seorang polisi. Rambut mulai banyak ditumbuhi uban.” katanya getas. “Kita merampok.” “Sukro. Yang penting kau mau bekerja sama. hidupnya tak pernah kelihatan susah. Ada barang sedikit dari mereka. perempuan. aku bisa bantu. Laki-laki itu tiba-tiba terbahak.

Bukan jadi pengedar. misalnya. “Jadi pengedar. Bukan merampok. Sukra!” aku membentak. Tanpa basa-basi kepadaku. Sudir. Kra.” kata Sukra sembari mengepulkan “Merampok itu bukan pekerjaan ringan. atau apa saja yang dibutuhkan konsumen. sampai jengkel karena setiap kali mengangkat pipa yang akan ditancapkan ke Kubilang badanku kurang enak.” “Jadi apa?” “Aku punya tamu. perut bumi kulakukan dengan setengah tenaga. Agak berbisik. sabu-sabu. Sukra mengakak lagi. Apa salahnya justru kita yang mengambil kesempatan itu. Mereka mau ke Bali besok sore. aku bisa memberimu pekerjaan lainnya. Esoknya aku bekerja tanpa gairah. Kau bisa cari di banyak tempat di Jakarta ini. “Kalau kau takut merampok. Sukra muncul lagi di hari ketiga ketika aku makan siang di sebuah warung Tegal. Jadi maumu apa?” Sukra berkata kepadaku.” “Kesempatan merusak orang lain? Merusak bangsa sendiri?” “Sudahlah kalau kau memang tak tertarik. selamanya hidupmu susah. Bisa juga dibakar massa. Aku diam saja. “Kalau bukan kita yang melakukannya. Sukro. teman sekerjaku. “Diajak merampok enggak mau. Kro. Upahmu seratus ribu untuk setiap satu disebutnya nama sebuah hotel tempat di mana aku bisa menemuinya. Ada ekstasi. Sukra tiba-tiba muncul lagi ketika aku sedang duduk berteduh dengan seplastik air dingin di tanganku. Sukra mengakak. Sama saja.” kata Sukra. perempuan. Lalu beranjak pergi dengan membawa derai tawanya. Hari itu. lebih ringan dengan penghasilan yang jauh lebih besar. orang lain yang mengambil alih. jadi pengedar enggak mau.” banyak pilihan pekerjaan. Lalu aku terluka.” “Pekerjaan itu cuma merusak bangsa sendiri. aku ada pekerjaan untukmu. ganja. Mereka butuh teman wanita.” jawabku sinis. Ia “Oya. tugasku memasang pompa air.” Sukra membanting rokoknya. Bisa kau carikan? Bayarannya besar. Atau bagaimana kalau aku tertangkap warga? Bisa babak belur. Semilir angin membelai dan menyejukkanku. Kalau tidak. nanti malam. “Kalau kau mau. Sebentar-sebentar aku juga minta istirahat. Ini tanpa risiko. ia ikut memesan makanan. kalau kau mau. “Untuk apa kau bekerja keras kalau sebenarnya ada pekerjaan lain yang jauh asap rokoknya.” Sukra meneruskan kalimatnya. Lalu . Ada Selamanya miskin. langsung duduk di sebelahku. Aku diam saja.terjadi perkelahian. Lima turis Jepang. Itu kalau kau mau.

tempat di mana aku bisa menjejalkan makanan ke perutku sampai kenyang hanya dengan uang lima ribuan. Tapi ia bilang masih ada satu peluang bagiku untuk mengubah hidupku menjadi pun tak apa. meraih tanganku. Aku mengambil sebatang rokok.” Sukra memulai serangannya. “Wajahmu cukup ganteng. Sukra membawaku ke sebuah tempat di bawah pohon mahoni di seberang darinya.“Itu pekerjaan haram. aku lupa. Aku cuma terdiam. Ia mengakak seperti biasanya seraya kalau kau tak mau menerima tawaranku.” katanya meyakinkanku. Nah. mungkin kau benar. “Haram? Ya. Sebelum sempat kunyalakan. Lagi pula. Terpaksa aku menggeser sedikit. Jadi. Apalagi kalau pekerjaanmu bagus. cobalah berpikir sedikit lebih rasional. Mendengar celoteh Sukra. “Tenang dulu.” Selepas makan. “Sudah kubilang setelah dipecat dari sebuah perusahaan. Tak begitu berat. Tapi setidaknya kita bisa ngobrol-ngobrol.” sahutku ogah ogahan. jadi kunyalakan. “Kau tolak Di bawah pohon mahoni yang daunnya meneduhkan dan menyejukkan itu kami kemudian duduk berdua di dua buah batu besar. Apalagi kalau sedikit kau rawat. Menahanku dengan paksa. Itu beberapa jam saja kau sudah bisa mengantongi uang lima ratus ribu. Merampok. Rokok tak seorang perempuan. Kro! Mau ke mana kau? Baiklah Tentang apa saja. Setiap hari kau bekerja keras. Hanya cukup untuk makan. Aku sebenarnya ingin buru-buru berpisah lebih baik. Kau hanya bekerja bila tenagamu benar-benar . kau juga berotot. memepet Sukra. Tapi. Dan muda. Sebagai pekerja kasar.” kataku singkat membuat Sukra tertawa. kau tak perlu bekerja setiap hari atau setiap malam. “Maaf. seorang perempuan setengah baya duduk di sebelah kiriku. warung Tegal tempat kami barusan makan.” Dengan perasaan agak jengkel aku terpaksa duduk lagi. “Aku punya tawaran pekerjaan lain yang sangat menyenangkan. Sukro. Berhadap-hadapan. Dan mereka pun mungkin pas-pasan. Kini entah apa lagi yang akan ia tembakkan dan cekokkan kepadaku di warung Tegal yang kecil dan pengap itu.” membutuhkan wanita-wanita penghibur. dalam banyak dibandingkan apa yang sudah kau peroleh selama ini. setiap pekan kau bisa membawa pulang lebih Buru-buru kutinggalkan Sukra di warung Tegal itu. Tapi sebaiknya kau dengarkan dulu. Secara fisik kau juga mungkin akan mendapatkan kenikmatan selain juga menerima bayaran yang sangat sepadan. Siapa tahu kau tertarik. Jadi pengedar. Jadi makelar wanita. Untuk hasil yang pasti tak sepadan. Tentang hidup enak dengan jalan pintas. Ia baru akan membiarkan aku pergi setelah mendengar tawarannya. Tak enak juga mengepulkan asap rokok di tempat kecil itu dan di sana ada “Sudah lama kau bekerja seperti sekarang?” Sukra memulai lagi percakapan. Sukra tertawa kecil. Kurasa pekerjaan ini cocok untukmu. kalau kau ambil pekerjaan yang kutawarkan ini. Setiap pekan aku pasti punya tamu orang asing.

Perigi. kau bisa tetap berkumpul bersama istrimu. “Mengapa bukan kau “Kro. Tetap belum dapat kutebak ke mana arah bicaranya. Sukra tertawa. “Tunggu!” “Tidak! Tidak! Tidak! Kau setan! Bukan malaikat!” aku berteriak. Aku menggeleng. Aku malaikat penolongmu. “Sukro!” Sukra berteriak. Sampai terengah engah. Kunyalakan lampu kamar. bisa juga dia mengajakmu ke luar negeri. Mas?” istriku mengguncang-guncang tubuhku. Aku terbangun. Mungkin dua kali seminggu.” aku berkata ketus. Ia masih membujang. Cantik. Nah. Kaya. Aku mau menolongmu. Semua pekerjaan yang saja. Gajimu pun jadi dua kali lipat?? saja yang melakoninya?” “Kedua-duanya pekerjaan haram.” Aku masih saja bungkam. aku buru-buru meninggalkan Sukra. Yang pertama seorang wanita setengah baya. atau yang pria saja. Tanah Kusir. Atau.” Sebelum aku berkata-kata. Tidak tergantung pada Kesepian. kau juga bisa bekerja untuknya. Kuteguk air putih untuk menenangkan diri.” berkata begitu. Di cermin itu kulihat wajah Sukro. Boleh juga kedua-duanya sekaligus kalau kau mau dan mampu. kau bisa ambil klienku yang wanita saja. Desember 2006 “Ada apa. Kau bahkan tetap menerima gaji andai klienku ini ke luar negeri dan kau tak bekerja dalam sebulan. Itu “Aku tidak tertarik. engah. Sukro. Tapi gajimu tetap tiap bulan. Dan. Lalu kulihat diriku pada cermin di kamarku. Kau bisa bekerja untuknya. Tidak setiap hari juga. “Kau tahu pekerjaan apa yang aku maksud?” Sukra seperti memaksa aku bicara setelah terus-menerus diam mendengarkan.dibutuhkan. Janda. Sekarang aku mau berbagi denganmu. “yang kedua adalah seorang pria. Mungkin juga seminggu seberapa banyak kau bekerja. Masih terengah- . Ia menyukai sesama jenis. Sukra melanjutkan. Sebelum atau sesudah menunaikan tugasmu.” pernah kutawarkan kepadamu itu sudah kulakoni. Ia tak suka wanita. Usianya mungkin dua atau tiga tahun lebih tua darimu. Tergantung kebutuhannya. Tanpa menoleh. Dan lari. sekali. “Aku punya dua klien.

Aku bahkan bisa menyentuhnya dengan ujung-ujung jemariku. Tapi ia hanya tertawa.” katanya. kuceritakan pada kalian apa yang kusaksikan. Sungguh. Kuceritakan penglihatanku. Tapi kalian mengatakan aku dusta. betapa aku bisa melihat langit yang hijau lembut dan halus seperti permukaan agar-agar. Namun berapa kali mesti kukatakan pada kalian. dua tahi lalat kecil di punggungnya. suaminya yang minggat. seperti menyentuh kelembutan sutra yang berkibaran. kakinya jenjang. Juga hari paling nestapa dalam hidupnya yang bakal tiba. daun-daunnya yang kemerahan. Dia lahir saat hujan turun begitu lebat jam sembilan pagi. ia selalu muncul kau menyebutnya pelacur. Aku bisa melihat pepohonan yang ungu. Aku melihatnya di pinggir jalan itu. Aku melihat garis pedih dan hitam. Bilur jejak luka di tubuhnya. Aku memang tak punya mata. Aku tahu bagaimana caranya mengatasi. Seperti malam-malam sebelumnya. olehku yang buta. bayangbayang yang putih dan memanjang.Mawar di Tiang Gantungan Oleh: Agus Noer Kuceritakan apa yang kulihat. Sementara para pelacur lain berkeliaran sambil cekikikan genit setiap ada laki-laki muncul. aku langsung tahu. Itulah sebabnya disembunyikannya. Aku bisa melihat segala yang tidak mampu kau pandang dengan sepasang matamu. ”Aku cuman perlu memberi sedikit kesenangan pada para petugas itu. ia memilih menyendiri. Baiklah. Aku bisa melihat semua yang hendak petak kontrakannya di pinggiran kota sana. karena aku buta.” Ia sebenarnya tak terlalu suka bicara. berdiri menunggu seseorang datang. tak ada yang tak terlihat aku menyukainya sejak pertama. Bisa kulihat hamparan rumput yang biru bagai beludru. 28 tahun lebih enam hari. gugusan awan merah muda. juga angin yang pucat kelabu. butiran hujan yang bening keemasan hingga segalanya jadi tampak megah bekilauan setiap kali ia ditumpahkan. Namanya Sebulan setelah melahirkannya. ibunya gila karena guna-guna istri muda simpanan dengan gaun yang mengundang. dan Mawar. Ia seperti dikutuk kecantikannya. Kadang tampak ganjil . Saat pertama kali melihatnya. untuk kesekian kali. suaminya. masa lalunya yang penuh kesedihan. dua anaknya yang sakit-sakitan di rumah ”Kenapa mesti takut? Berkali-kali aku kena garuk.

” dan kaki pada tubuhku. ”Anak ini akan membuat ibu siapa pun yang menatapnya. orang-orang lebih suka cepat-cepat memberi uang recehan mereka dan bergegas pergi ketimbang berlamalama bersitatap denganku. kami akan menaruh matamu ini di surga. Tapi itu membuatku jadi bisa sering mengajaknya bercakap. Bahkan seorang bocah yang tampak manis sengaja diiris telinganya dan dibiarkan jadi borok agar terlihat menyedihkan. Siapa yang tahan memandang wajah dengan sepasang liang hitam menganga? Sengaja kubuka kelopak mataku. Seorang pemulung menemukanku di tempat pembuangan sampah. ”Aku tak buta.” Tentu. aku menjadi yang paling menyedihkan di antara mereka. Seperti tanah liat yang mulai terbentuk. bila aku bisa melihat tanpanya?” Lalu mereka menyimpan sepasang mata itu. Ketika sepasang malaikat membawa ruhku turun dari langit. Anak ini akan membuat orang tak sungkan-sungkan melemparkan receh mereka. dan berkata.” Lalu aku pun bercerita padanya. Tapi kau akan Lalu kukatakan pada malaikat itu. Aku bahkan tak pernah tahu namanya. Digerogoti kusta. . Tentu. disematkannya tangan malaikat itu mulai memberiku telinga mulut dan hidung. ketika aku lahir dan menatap dunia. buat apa aku punya mata. Kemudian ditunjukkan padaku menderita karenanya. Melihatku yang tak punya mata.” ”Bila kau tak punya mata. dan ia bergidik ngeri. ”Dan kamu. dan tak pernah mau menatapku. kenapa buta?” Ia sayu menatapku. diberinya aku degup jantung. Pernah ia cerita tentang pelacur tua yang matanya menjadi buta karena rajasinga.juga melihat sosoknya di jalanan merah remang ini. ”Biarlah aku tak punya mata saja. kemudian menjualku pada seseorang yang langka paling berharga. perempuan itu langsung meraung ketika tahu anaknya tak punya mata. Perot. Kemudian ditiupkan ruhku pada rahim perempuan yang akan menjadi ibuku. Kelak. Aku senang sekali ketika sepasang sepasang mata yang indah. Jileng. Ia membuangku. Ada yang gagu. ”Mata ini akan membuatmu jelita.” ”Kalau begitu. ia seperti menemukan barang berleleran. mereka bergantian membisikkan nasib yang akan kujalani. dan karenanya bisa menghasilkan banyak uang setiap mengemis.” Di rumah itu pengkor. Aku memang memilih tak punya mata. Aku tahu. Seorang anak tampak begitu idiot dengan air liur kental bacin yang terus tinggal banyak anak-anak yang bagai barang rongsokan. ”Baiklah. Ia begitu membenciku. Seorang anak kedua kakinya menampung para pengemis. kau akan melihat banyak rahasia. kau bisa menduga. Ada yang bongkok. kamu bisa kembali mengambilnya.

Aku bisa melihat maneken-maneken yang berkedip. Aku bisa melihat kota ini seperti bola bekel raksasa Aku bisa melihat menara jam di tengah kota bergumam muram tengah malam. Kau mendengar suara. Kutegaskan padanya. Dunia memang tak menuduhku berdusta. Aku bahkan nyaris dicekiknya.” Ia kembali tertawa. Aku seperti mendengar lecut petir. Hujan yang biru pekat membuat jalanan menggigil. menggeliat bosan yang menunggu pelanggan dan sentuhan…” Dia tertawa. ”Bukannya aku tak percaya. ”Kau menyenangkan. Seorang memukulku yang mencoba menolong Mawar. Arak yang mengepungnya.” katanya. Sebagian pelacur telah pergi. rambutnya basah tertempias hujan. Mereka seperti pelacur-pelacur kesepian Sejak itu aku sering menemaninya. aku rebahan di tumpukan kulihat beberapa pelacur bergegas menyingkir. Mobil patroli yang mendadak muncul membuat semuanya kocar-kacir. Ia bisa kehilangan pelanggan. cahaya seperti lumer di sela jariku. Aku tahu ia mulai nyaman di dekatku. Mungkin saat itu aku berteriak. Pandanglah ujung gang yang kelabu itu. kemudian yang lembek. Aku bisa melihat suara kucing yang mengeong di atap rumah ujung jalan itu. Aku bisa melihat seekor kelabang mendekam di balik batu itu. Lalu kukatakan apa yang bakal menimpanya. ”Lihatlah. aku bisa menyentuhnya dengan tanganku. aku bisa melihatnya. Lepas 3 dini hari. Mungkin tidak. kau pun takut menatapku. Ia pun hendak lari. dan angin yang buruk seperti kaleng rombeng yang bergerompyangan trotoar. Di pojokan toko. tetapi tetap bersikeras tak mempercayainya. Aku bisa melihat lelehan sisa arak di mulut petugas-petugas itu. yang kusaksikan membuatnya terpesona. meliuk merunduk. ”Biarkan! Dia cuma perempuan buta itu!” . ketika beringas dari biasanya. Tapi dengan apa kau melihat. Caramu bercerita membuatku tak tertalu kesepian. Ia Aku ingat betul malam itu ia terlihat lebih sedih dan gelisah. Ia berteduh di kardus memandangi bayangan takdir paling getir. tapi tak percaya. bahkan aku bisa melihat tawamu yang ungu kebiru-biruan memuai di udara. betapa setiap suara punya warna yang berbedabeda. terkurung etalase toko-toko sepanjang jalan ini.” Aku bisa memahami perasaannya.”Lihat. Ia terus tertawa. Ia suka setiap aku menceritakan yang kulihat. aku bisa melihatnya mengembang dan mengerut seperti gumpalan kabut. Itulah sebabnya mereka menjadi lebih mereka barusan menenggak berbotol-botol arak sebelum sampai ke sini. kukira memang bukan pemandangan yang menyenangkan. Semuanya berlangsung begitu cepat. Aku melihat aroma pekat kecoklatan napas mereka ketika memadamkan sepi dan membangkitkan birahi. Aku tahu menyeringai tertawa. Barangkali ia pun merasakan firasat itu. Seorang pelacur cantik duduk bersama perempuan tua buta. Tetapi para petugas sudah menabrak-nabrak dinding. tapi petugas yang lain segera berteriak. kalau kau tak punya mata?” ”Aku melihat dengan mata yang tak kau punyai.

Sunyi yang paling hitam membenamkan penglihatanku yang penuh kepedihan. Peristiwa pemerkosaan itu mereka tutup-tutupi dengan pembunuhan itu. Kuceritakan apa yang kusaksikan. Ada bercak darah di pisau itu. Di kasuk-kusuk. Kalian seketika merasa nyaman karena pembunuh misterius itu telah tertangkap. Ada yang lebih kudus untuk dirayakan. Isak tangis muram menyelubungi gudang itu. ketika Mawar menjerit. Karena bagaimanapun seluruh kota. Dan selanjutnya seorang pelanggan yang tak membayarnya. Di tasnya ada beberapa butir pil dan pisau lipat—yang tengah patroli seperti biasa. Kusaksikan senja yang tubuh itu terayun di tiang gantungan. Bahkan petugas bisa mengembangkan bukti. Di pangkalan ojek. Siapa yang membawanya? Baiklah. kalian pun bubar. Memelorotkan pakaiannya dengan paksa. Mayat itu lenyap dari tiang gantungan! Di pasar. seakan ingin saat itu hari Natal. Setelah mayat itu digantung. Sebagian kalian tertunduk. Wajah Mawar pucat. kuceritakan apa yang telah kusaksikan. Maka kalian pun hanya diam ketika Mawar diarak ke alun-alun kota. dan angin yang muram berkesiur pelan membuat Keesokan harinya kalian gempar. mulutnya. Mereka bilang mereka sengaja ditaruh petugas untuk menjebaknya. karena begitulah menurut undang-undang yang baru dicambuk dan dirajam. Mereka selama ini kalian sahkan. Lalu kusaksikan Mawar mendadak bangkit menyerang sambil menjerit diraihnya. Orang-orang ramai membicarakan. Pelacur-pelacur mesti disingkirkan. Dan kalian makin merasa tenang karena kalian memang ingin membuatmu jengah karena takut dengannya suami-suami dan anak laki-laki kalian berzina. Hujan rinai . Ia pembunuh yang telah memotongmenyeretnya ke tiang gantungan. kemudian bergiliran memperkosanya. Begitu nyata dalam penglihatanku. Itu alasan yang cukup untuk kalian tahu sebagaimana diberitakan koran-koran: dikatakan Mawar baru saja membunuh mengamuk. Membawanya pergi kemudian menyekapnya di gudang. Sampai sekarang pun kalian masih terus tidaklah mungkin mayat itu lenyap begitu saja. bibirnya bengkak kena pukul. Dihunjamkannya berkali-kali besi itu ke tubuh yang seekor cicak kaget menyelusup ke celah dinding. Ia hantam kepala seorang pemerkosanya dengan lonjoran besi yang berhasil terkapar… binatang terluka. Mereka menyumpal Begitulah kejadiannya. Sampai malam. Padahal bukan aku yang dusta. Ia mengamuk dengan buas. motong delapan korbannya. Aku bisa melihat semuanya dengan jelas. Tapi kalian tak ingin terus meneruh disesah kengerian karena malam itu aku pun menyaksikan langit kota yang dipenuhi nyanyian doa kalian. tapi kalian tak pernah percaya pada saksi mata yang buta. Melemparkannya ke mobil patroli. bercampur erang yang terdengar bagai muncul dari panjang. Maka menghapus bayangan buruk. Di warung dan kafe. Di kantor. Di ruang tunggu rumah sakit. tapi mereka. melenyapkan maksiat dari kota. Mawar mereka bawa dan nasihati baik-baik ketika mendadak ia ternyata dialah psikopat yang selama ini mereka cari. Pelacur dan pembunuh. Kalian mesti ke gereja. memar.Dan inilah yang kusaksikan malam itu: Mereka menyeret Mawar yang terus meronta. burung gagak merah berkaokan. kemudian digantung sebagai tontonan. Rupanya ia mabok berat. Kalian kebingungan ketika anak-anak kalian bertanya. Segala yang cabul mesti dimusnahkah.

Ia berjalan mendekati tiang gantungan. ketika di gereja kalian memadahkan kidung agung Natal penuh sukacita. Saat itulah. seperti memanggil nama pelacur itu. Matanya seperti bintang bening. Ia tiba-tiba melihat seseorang muncul dari ketiadaan. anggur lembut yang seketika bisa menghapus dahaga. seperti seseorang yang berjalan melintasi permukaan air. malam mengelabu. Kuceritakan ini pada kalian. tampak limbung karena menahan luka di lambungnya. Saat itu aku melihat ribuan mawar mengapung di udara menyerbakkan harum yang megah.tergantung dalam bayangan cahaya murung. Kulihat ia bersimpuh di bawah tiang gantungan. Senyumnya seperti berjalan anggun. meski sesekali Kudengar ia berseru. Aku begitu terkesima menyaksikannya. Kulihat tangan dan kakinya berdarah. memandangi tubuh Mawar yang sisa gema lonceng bagai melekat di udara yang makin menggigilkanku dalam kesedihan. Aku sendirian di alun-alun itu. Langit seakan tiba-tiba benderang penuh cahaya masih menyanyikan doa-doa dan pujian di gereja ketika laki-laki itu membawanya pergi. aku Kalian pasti akan langsung tahu siapa dia begitu melihat wajahnya yang bersih dan indah. dan mencium lembut kaki mayat yang tergantung itu. Rambutnya ikal dan panjang. 2008 . Kudengar kalian Seperti pengantin membopong mempelainya. seperti ada cahaya mengitari kepalanya. keemasan yang cemerlang. Kurasakan debu-debu beterbangan diembus menyayatkan keperihan bersama debu dan dingin yang mulai membaluri kota sementara angin yang makin jekut ketika kesepian makin membentangkan kelengangan yang turun. tapi kalian menuduhku pendusta. Yogyakarta. kemudian menurunkannya.

lelah. saya berkelahi melawan Pak sadarkan diri. juga memasak. Nining merasa Di sepetak ruang yang merebut ruang milik pasar itulah. Ada yang mau memanggil dokter. yang selalu membela putri kandungnya itu. Ada yang memijit. Untung.Bengawan Solo Oleh : Danarto Badan saya masih meriang ketika polisi itu datang. penghuni Rumah Kita dengan para pedagang di Pasar Kliwon. karena berbagai alasan. Rupanya ada yang lapor polisi tentang perkelahian itu. dan sedih. menyanyi. mereka belajar apa saja. tindih-menindih. esai. penghuni Rumah Kita jadi rame sekali. Saya ditemani kompor minyak tanah. meski hanya sebagai ayah tirinya. dan bercocok tanam. beberapa guru dan mahasiswa datang secara sukarela mengajar anak-anak itu ditulisnya sendiri. gadis kecil hitam manis tujuh tahun. Nining sering ditempeleng ketika marah Pak Darkin kumat. Serta-merta saya menubruk tubuh Pak Darkin dan kami bergumul. Pada suatu malam. apa pun yang terjadi. teko. Ada yang sibuk Darkin memperebutkan Nining dan saya kena swing kepalan kirinya. dan menyanyikan lagu yang itu. Sehari-harinya saya berserakan di mana-mana. Malam itu. rame makan. Untung dinding rumahnya dari anyaman bambu sehingga cukup lentur. tidak penting untuk dipersoalkan. Sayup- . juga cerpen. pemulung. membaca. pengamen. Tapi. Saya sebagai tukang sapu bagian kebersihan pasar merasa dituakan Sebagai tukang sapu pasar. kami. saya tak punya kebisaan apa-apa untuk mengajar anak-anak menulis. Polisi itu kembali ke pos ketika saya katakan bahwa kejadian semalam perkelahian biasa. Di dalam gerombolan kami itulah. rame- gelandangan. Setiap minggu. dengan tersengal-sengal Nining menghambur ke perkumpulan Rumah Kita untuk bersembunyi. sayup terdengar orang-orang sibuk menolong saya. dan di atas dipan dengan tikar plastik itulah saya bisa beristirahat dengan nyenyak. Akhirnya Rumah Kita resmi menjadi tempat mangkal anak-anak Kemudian satu-dua anak datang dan pergi. anak baik-baik yang tidak betah di rumah lalu mengatur mereka dengan marah-marah. Ibunya. ember. Saya terjerembab tak mencarikan minuman panas. telah kehilangan Nining yang digelandang Pak Darkin secara paksa kembali ke rumahnya. Semalam. karena peristiwa itu. Saya yang boleh dikata tak pernah berkelahi begitu saja terkapar. pengemis. memang milik Pak Darkin. sering tubuhnya dilempar sampai membentur dinding. Anak-anak mengangkat tubuh saya ke atas dipan. aman dan nyaman. gelas. Pak Darkin memergoki Nining ada di antara anak-anak itu dan mencengkeram tangannya dan menggelandangnya. sejak tahun 1997. Kami menyambutnya dengan sukacita. Ketika anak-anak dibawa ke kebun untuk belajar bercocok taman itulah. dan tidur. pura-pura berbenah dengan perabotan dari potongan-potongan sisa-sisa kayu yang sendok garpu. piring. anak-anak diminta membaca puisi karangannya sendiri. saya hidup. Nining. panci.

Rupanya saya dibawa ke terbangun. ”Mau kamu saya bikin modar!” ”Sungguh mati saya tak tahu di mana Nining. Aduh. Tak ketinggalan banyak sekali kain sarung. Syukurlah ada anak yang bisa menyumbang dari pendapatannya mengamen atau memulung. Anak- sisihkan sarung dan kaus oblong untuknya. Satu saat kami harus merebutnya kembali atau Malam yang tenteram tidak selamanya dapat dipertahankan. Pedagang ikan menyumbang ikan. kaus oblong. ”Saya tidak tahu. Ternyata tidak hanya beras. Pedagang beras menyumbang beras. Sekitar 15 anak setiap hari paling tidak makan dua kali.” ”Bohong!” ”Kalau memang Nining hilang. meriahnya. Saya heran. tiba-tiba datang beberapa orang memanggul beberapa karung beras yang diperuntukkan Rumah Kita. Ia meradang. kami kami akan bersedih sepanjang masa. Saya diseretnya keluar.Gaji saya yang tak seberapa harus cukup cekatan dalam berkelit menghidupi anak-anak itu. juga minyak goreng beberapa botol. sayur menyumbang sayur. Nining tidak bersama kami. dan peralatan mandi.” jawab saya. Setiap habis gajian. Pedagang tak pernah kehabisan. Anak-anak bertanya dari siapa semua sedekah itu. Saya digelandang terus. tak seorang pun anak yang Darkin duduk di samping sambil terus nyerocos yang tak jelas. teh. gula. tak ada sisa sama sekali. Sayang sekali. telor beberapa kilo. yang sangat membantu adalah sumbangan para pedagang pasar. kopi. Pagi harinya semua sumbangan itu dibagi rata untuk anak-anak. bahkan digayuti utang di sejumlah warung. Sesampai di jalan raya. Saya sempat kebagian sarung dan kaus oblong. Tapi. Saya tidak tahu dari mana semua sumbangan itu. Tapi. Pak . beberapa ekor daging ayam segar. Aduh. masak rame-rame dengan mengundang siapa saja yang mau makan bersama kami. Saya bangun tersentak tak bisa bernapas karena dicekik Pak Darkin yang bisa mulus menyelinap ke gerombolan kami. saya dinaikkan ke becak. Pak Darkin paham lalu mengendorkan cekikannya. Bumbu-bumbu dapur rasanya Di malam yang sunyi ketika anak-anak sudah tidur.” ”Sontoloyo!” Saya terbatuk-batuk. bahagianya. saya bisa membantu mencarinya. ”Kamu sembunyikan Nining di mana!” Saya tak bisa menjawab. Bernapas saja sangat sulit. Hari itu kami anak pengamen memeriahkan pesta hari itu dengan mementil gitar dan menyanyi. Orang-orang itu menaruhkan begitu saja karung-karung itu tanpa ada sepatah pun kata pengantar.

tidak mau diundang makan.” ”Mengapa kamu di sini?” sergah saya.” suara seorang gadis membisik. semua kiriman beras dan kebutuhan dapur yang mendorong kami bisa berpesta itu.” ”Wah. membujur kaku bagai jenazah. tidak mengajar. sedang untuk dirinya sendiri. yang muncul hanya gelap gulita. Beliau pernah menyitir sabda Kanjeng Rasul Muhammad SAW menerus sepanjang hidup kalian. Saya tak bisa bergerak. Cerita lainnya adalah. Itulah jalan spiritualnya. membanting dan membalut dengan kain kafan. ”Saya Nining. Sejumlah warga Solo ada yang mengolok-oloknya sebagai Kiai Kenthir alias Kiai Sinting. Kiai Kintir alias Kiai Hanyut adalah kiai—tak seorang pun tahu nama aslinya—yang punya kebiasaan menghanyutkan tubuhnya di Bengawan Solo. Tidak bergaul. Saya sadar. Beliau tidak peduli atas cemoohan itu karena hidup beliau sehari-harinya sangat serius. itu pertanda di Solo akan terjadi sesuatu.sebuah pekuburan yang gelap gulita. Saya sendiri pernah melihat beliau mencomot uang dari udara dan diberikannya kepada saya. kalian akan menangis terus- Sepanjang hayat Kiai Kintir mengasingkan diri. ”Dari mana kamu tahu saya di sini?” ”Kiai Kintir baru saja mengantar saya kemari. Pokoknya serba tidak. pernah sejumlah terekam. Ternyata wajah beliau tidak . bahwa seandainya kalian tahu apa yang terjadi di dunia ini. tidak menerima santri. gawat!” Maka kami berdua bergegas ke Jurug tempat Kiai Kintir biasa memulai kegiatannya menghanyutkan tubuhnya. beliau tidak berniat sedikit pun. ”Kamu harus sumpah pocong!” geram Pak Darkin lalu pergi bersama kedua kawannya. Jika beliau mulai menghanyutkan diri di Bengawan Solo. wartawan elektronik diam-diam mengambil gambarnya. semakin bertambah banyak orang-orang yang meledeknya dengan pamrih Kiai itu Bahkan yang melecehkannya dikiriminya segepok uang yang dicomotnya dari udara.” ”Sekarang beliau di mana?” ”Sedang bersiap-siap hanyut di Bengawan Solo. Dua orang yang sigap membekuk tubuh saya. ketat sekali balutannya. ”Saya menunggu Bapak.” jawabnya sambil melepaskan belitan kain kafan dari tubuh saya. tidak mau diwawancara. Tiba-tiba: ”Pak Totok. merupakan sumbangan Kiai Kintir. Maka mengiriminya duit. Beliau selalu bisa membahagiakan orang.

becak ditinggalkan pemiliknya. Jika satu orang pun yang berbicara memberi komentar. Tampak tubuh Kiai Kintir terseret ke tengah bengawan. banjir sudah melahap seluruh kota Solo. rasanya orang-orang yang menyaksikan tontonan aneh ini bertambah banyak. Tangerang. Joyontakan . Puluhan orang lainnya berlarian menyingkir dari bantaran sungai. Satu-dua orang penonton motor. bisa-bisa Hari belum panas benar ketika air Bengawan Solo mulai naik. Mobil. Dari jauh. Cuaca cerah dengan langit biru seperti undangan untuk keluar rumah menikmati keramaian kota.Sejak dini hari. ratusan orang dengan obor memenuhi kedua sisi bantaran Bengawan Solo Orang-orang terus bergerak mengikuti tubuh beliau yang dibalut pakaian. Saya tarik Nining untuk menghindar dari bantaran bersama puluhan orang yang kacau berlarian. Sesampai di jalan raya. berucap. Semuanya diam. telentang tenang hanyut semakin menjauh dari pendangan kami. Sejauh mata memandang. Tak terdengar geledek. Tak terjadi gerimis. begitulah kepercayaan yang menyebar yang boleh jadi cuma dibikinbikin oleh orang-orang yang suka mengolok-olok. Saya dan Nining harus waspada supaya tidak kepergok Pak Darkin yang barangkali saja ikut nonton. hanyut dibawa arus. cuma air yang berkilau-kilau yang tampak dengan orag-orang yang kebingungan menyelamatkan diri. mengambang hanyut seperti mayat. andong. 17 Maret 2008 Banjir di Pasar Kliwon. Sampai fajar merekah. Tak ada seorang pun yang Kiai Kintir tenggelam. Ratusan orang-orang yang berada di seberang menyeberang Bengawan Solo merasakan air bengawan mulai mencium lutut. Solo Baru. Kiai Kintir cukup meyakinkan sebagai perenang yang kebanyakan mampu diam telentang mengambang. diam menyaksikan tubuh Kiai Kintir yang telentang mengambang di sungai. Semanggi.

Tak pernah ada yang berdering tak henti-hentinya. Dan melenguh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling mengeluarkan lenguhan. Cinta pun membutakan. saya tak perlu meraba-raba. kita seolah buta dan mau tak mau harus meraba-raba. Seperti malam. Pada gelap. seperti suara-suara ponsel Di saat-saat seperti itu. . suara-suara begitu jelas terdengar. Saling menyentuh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bersentuhan.Gerhana Mata oleh: Jenar Mahesa Ayu Malam selalu memberi ketenangan. hidung terasa melekat. Tubuh kelihatan amat samar. Namun. Apa pun namanya saya tidak peduli. di kebutaan seperti itu. namun dengan seketika gerhana mata bekerja. Begitu dekat. SuaraTak saya sadari lagi ketika tubuhnya pelan-pelan memisah dan menjauh. Dari penginapan. Apakah benar masih ada hari esok. Kenangan yang memang hanya layak mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-ngacungkan telunjuknya meminta waktu untuk diingat setiap kali malam bergulir. Membuat mereka tak tenang. Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika butalah mata saya. Atau apakah masih perlu akan hari esok. waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi di hari esok. Membuat mereka rela menukar ketidaktenangan itu dengan harga listrik walaupun harganya semakin tinggi menjulang. Tak terdengar suara ponsel yang mengganggu itu berubah menjadi suara lagu. Sepanjang mata memandang. Saya tidak butuh kacamata matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala. Dan hanya ialah yang saya ingin lihat. Banyak orang yang begitu takut pada malam. Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata. Semakin gelap semakin ramai. Tak pernah merasa tak tenang. Sehingga saya tak pernah merasa ketakutan. semakin semuanya Mungkin karena itulah saya begitu membutuhkan cinta. Saling menatap seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling sinarnyalah saya mendapatkan siang yang kami habiskan di ranjang-ranjang pondok bertatapan. Banyak kenangan yang begitu mudah dikais dalam ruang-ruang kegelapan. Mata saya mulai merapat. Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia. Lembut mendayu-dayu. di atas pembaringan tanpa kekasih yang tak akan hadir. Sedemikian dekat sehingga aroma napas si empunya suara itu di akhirnya begitu terang terlihat. Membuat jantung mereka berdegup Tapi saya selalu merasa malam memberi ketenangan. Saya hanya ingin melihat apa yang ingin saya lihat. Orang-orang menamakannya cinta buta. Saya tidak perlu menutup semua tirai dan pintu serta menyumbat sela-sela terbuka yang membiarkan cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna. sang kekasih bak lentera benderang dalam kegulitaan pandangan mata saya. hanyalah kegelapan. Saya hanya ingin mendengar apa yang ingin saya dengar. Hampir menyerupai pasar malam yang ingar bingar namun tanpa penerangan. Seperti gelap. Pada sesuatu yang membuat mata lebih kencang. semakin gelap.

saya tidak pernah dapat memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan itu asli. Di sanalah kami saling menjamu keinginan antara satu dengan yang satu. lekukan itu selalu diikuti bayang-bayang. Saya jatuh cinta. selalu merasa tak pernah cukup dan ingin mengulanginya kembali. melihat matanya sedang menatap. Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat terindah untuk sekarat. Karena tidak mungkin sesuatu yang asli lahir dari yang tak asli. atau malam? Karena buta. datang dari diri saya sendiri. Kenapa saya bertemu hanya kala siang? Kenapa tidak pagi saya inginkan. Kala segala garis maupun lekukan amat nyata terlihat dengan mata telanjang. Antara lelah dan lelah. pun di dunia ini yang berarti kecuali saya. Mungkin malam akan membuat saya takut.suaranya yang sengaja dibuat lirih ketika menjawab panggilan telepon dan mengatakan Saya tetap merasakan tubuhnya melekat. Dicengkeram gerhana. Membuat saya kerap merasa terjepit. Semakin kabur. mungkin tak akan seperti ini saya tak berdaya. melainkan asli. Dalam kebutaan saya bisa mengadakan apa pun yang Banyak yang tambah mempertanyakan. bukan kala pagi atau malam hari. mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli. Kala siang dengan durasi waktu yang amat sempit. Bunyi ranjang berderak. Kadang saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang dari orang-orang. Saya terjebak dan berputar-putar pada dua pilihan yang sama. Juga tak akan ada siang di mana saya meradang . Kenapa harus menciptakan buta yang tak Terus terang. atau Jantung keras berdetak. Hangat kulitnya yang tak berjarak. Sehingga saya pun tak dapat memastikan apakah jawaban saya kala pagi dan malam yang tak asli. SERATUS PERSEN ANTI BOCOR” yang kami robek sebelum bercinta pun asli. adalah asli. Tak terkecuali malam. Gerakan tubuhnya yang sebentar menarik sebentar menghentak. Mungkin suara-suara yang kerap menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. Dan dengan tubuh dan menggelepar atas tubuh yang menyentuh di atas seprai kusut lantas terhenti oleh lain ke dalam selimut saya akan beringsut. Bertemu kala siang. saya bilang. Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa dari saya. Harus mengerti statusnya sebagai laki-laki beristri. Semakin dalam ke muara cinta tubuh ini tercebur. walaupun di kala pagi dan malam yang tak asli. Dan dalam bayang-bayang itulah kami betemu Banyak yang mempertanyakan. Antara pasrah dan pasrah. Segala garis maupun dan bersatu. Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih penting Kami hanya bertemu kala siang. Walaupun kami hanya bertemu kala siang. Suara yang semakin lama semakin serak. Tapi dengan satu konsekuensi. Membuat saya Saya tahu. saya akan bisa mengulanginya lagi. Saya masih kalau ia sedang tidak ingin diganggu dengan alasan penyakit lambungnya tengah kambuh. Tak terkecuali pagi. Bukan kala pagi atau malam hari yang terasa amat panjang dalam penantian dan rindu yang mengimpit. Andai saja saya bisa mendepak cinta dan menghadirkan logika. Kalimat di bungkus kondom “ASLI. Kenapa harus buta? Kenapa tidak menggunakan asli? Karena cinta. Mata saya pun semakin buta. Dalam cinta saya bisa merasakan segala sesuatunya asli. Kala api rindu sudah semalaman memanggang. saya bilang. Namun lagi-lagi perasaan ini terasa asli.

Mungkin… dering panggilan ponsel yang membuat satu-satunya fungsi pada tubuhnya yang Mungkin satu saat nanti ia akan mengalami gerhana mata seperti saya. karena cinta telah membutakan kami berdua. Dan kami bisa tinggal dalam satu dunia yang sama. Tak ada pertanyaan mengapa hanya bertemu kala siang. 2 Oktober 2006 11:06 AM cincin dengan namanya terukir. Tak ada jawaban karena cinta membutakan saya. . Jakarta. di jari manis kanan saya telah melingkar Di atas pembaringan tanpa suami yang tetap tak akan hadir. Sejak kemarin. Mungkin… pagi dan malam.mempersatukan tubuh kami jadi menciut. Tak menunggu kala atau malam. Bukan kala pagi Enam tahun sudah waktu bergulir. Dalam kegelapan malam kedua mata ini menumpahkan air. Tak bertemu hanya kala siang. Diganti dengan jawaban.

Padahal. Adiknya berkata. yang seksi bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi delayed selama sejam. Rizal kan cuma teman. adik bungsunya sambil menangis mengatakan. saya sepertinya sudah dapat firasat. Setelah itu. sekarang ada di rumah sakit. Mungkin anak itu harus kita konsultasikan ke psikiater. mudah-mudahan volume pekerjaan Kedua perempuan ini bersitatap. Aku lebih suka menggugurkan anak Tantiana daripada menikahkannya!” Nana mengembuskan nafasnya. “Ma. “Kalau tahu begini. Nana melihat Dara. kalian berdua kan dokter. Beberapa hari yang lampau. Mereka mencari sebuah restoran. “Mbak. setiap keputusan hanya ada pada saya. waktu ke toko buku. Nana dan Dara keluar dari kerumunan orang yang mengamuk. dia menyayangi Rizal dan berharap suatu kali dia bisa panjenengan bulan ini tidak padat sehingga panjenengan bisa menikahkan anak kita dengan Rizal!” berkata kepada adik almarhum suaminya. “Datanglah bersama Dara. menikah! Mendahului anak sulungnya. Sesungguhnya. Tantiana. Nana menganggap mingguminggu ini buat dia dan keluarga besarnya sangat menyedihkan! Tiga hari yang lampau.” Nana mengatupkan bibirnya. saya sedang berpikir untuk mengadopsi anak Tantiana setelah dia melahirkan.” Dara yang sedang belajar menjadi psikiater mengangguk-anggukkan kepala. Aku bosan . saya membeli buku nama-nama calon bayi. Aditya (25 tahun ke-30. Tantiana menangis terus. Tantiana bisa balik sekolah dan meneruskan kehidupan remajanya. Alvin. memesan jus jeruk dan beberapa makanan kecil. Dara. adik bungsunya menelepon HP-nya. tahun). lebih baik kita naik kereta saja. Seperti dua “Ma. Nana menunggu!” meneruskan omongannya. kelas dua SMA dan hamilnya dengan teman sekelasnya. “Dik. dia baru berusia 17 tahun. anaknya. Tantiana mencoba bunuh diri dengan menyilet pergelangan nadinya.” Nana merasa terkunci. jam berapa datangnya? Dari tadi. positif hamil. Jadi. Sebelum terjawab. “Apakah kau sudah merundingkan hal itu dengan Rizal?” “Ma.” sampeyan kok belum datang. “Tante dan Om-mu. sekalipun berprofesi dokter. yang minggu kemarin merayakan ulang Mereka bertemu di bandara ini dan seorang perempuan mengumumkan dengan suaranya sahabat. Dua minggu yang lampau anak bungsunya.” Nana terenyak.Delayed Ratna Indraswari Ibrahim Sebagai seorang perempuan. Sudah beberapa hari ini dia tidak mau makan.

Mereka juga menuduh saya punya kelainan psikologis. sebetulnya mereka dua jagat yang berbeda dan tidak pernah bisa bertemu. berapa pun umur Dara. Itu berlanjut sampai kau menjadi mahasiswa. Sekalipun.” Mereka saling melihat. apa pun pendapat masyarakat. Teman-temanmu di Fakultas Dara memutuskan lamunannya. Apakah yang dihadapannya ini cuma teman seprofesi yang kebetulan serumah? Dan. kau menikah. saya tidak bisa janjikan itu. mereka sekurang-kurangnya pernah membicarakan lelaki atau jalan bareng. aku berharap di tahun baru menurut kalender Jawa kau menikah dua tahun darimu. Sesungguhnya. aku kepingin jujur kepadamu. “Ma. Didit tidak meneruskan sekolahnya. “Setelah Aditya menikah. “Waktu kau beranjak remaja. kau lagi ingin serius dan sendiri saja. Tapi. kau kelihatannya hanya serius dengan pelajaranmu. sekarang mereka sama-sama punya waktu luang dan duduk semeja. tetangga sebelah rumah (15 tahun) mengajaknya bersibadan ketika dia . Kau kelihatannya cuma akrab dengan Didit (sahabat sejak SMA). beri aku dukungan untuk meyakinkan Tante agar anak Tantiana bisa saya adopsi. sejak lulus SMA.Dara tersenyum. Yang terjadi di luar mimpi kami. Nana seharusnya berkata begini. Padahal. aku diliputi perasaan gelisah. Bisik-bisik di luar tentang saya memang buruk.” “Aku berharap cucu darimu dan anak Tantiana menjadi anak sulung dari anak-anakmu. kau tidak peduli pada mereka. dia lebih muda membayangkan kau akan menikah pada usia 25 tahun. Pastinya mereka menganggap “Maaf. aku dan ayahmu sudah sering kami heran juga. “Ma. banyak temanmu yang sudah bersitegang karena banyaknya tamu laki-laki yang datang ke rumah kita. Kami tidak merisaukan hal itu. jarang bisa ngobrol. Nana pada usianya ini tidur lebih cepat. tapi kemudian Nana berpikir. sedangkan Dara mungkin sedang sibuk di rumah sakit atau sedang makan-makan bersama temannya. dia menyukaimu.” sedih sekali. di cermin saya tahu tidak jelek-jelek amat. Kendati mereka masih tinggal serumah.” Dara. Apalagi. dia tetap mamanya! Atau apakah Dara menjadi miliknya hanya kala dia gadis kecil yang belum pandai memasang pita rambutnya dan merengek-rengek untuk meminta sesuatu. Aku dan ayahmu pernah adikmu yang menikah pada usia itu!” dengan siapa yang kau suka. Sekalipun Nana merasa. Mulai sejak itu. kemudian mulai pacaran. Dia menikah dan memiliki dua anak yang kau cintai. Kedokteran juga serius. barangkali ini karunia yang tersembunyi (blessing in disguise). Rasanya mereka memang dua perempuan yang beda dalam menjalani kehidupan sosialnya. saya perempuan yang berat jodoh. Padahal. Siapa pun tahu. Dokter Rizal juga lelaki yang baik.” Dara tidak menjawab dan Nana merasa harus mengatakan hal ini. Dara tahu dia tidak bisa mengatakan ini. saya waktu itu cuma berpura-pura tidak tahu kalau Mama dan keluarga besar kita “Dara. Padahal. Tapi.” Apalagi. memegang tangan mamanya. kata kuncinya cuma satu.

seperti semua dokter. tapi dua orang yang sangat dekat. Dia tidak pernah ingin membicarakan ini dengan mama. kami pasti datang dan langsung ke rumah sakit. “Ma. Lantas. “Dara. tapi betul-betul sebuah empirisme yang harus dia lakukan. Pastinya. “Saya kira kau bisa menyimpannya untuk dirimu sendiri.” Dara merasa tak berdaya. dilakukan oleh mamanya adalah berempati. saya kira saya tidak usah bercerita panjang karena tetangga sebelah rumah sudah merusaknya. Sehingga Rizal berkata. . kalau kau mau cerita.” Dara berbicara lagi. pesawatku delayed. banyak hal yang dipikirkan. dibicarakan oleh mereka berdua. kau harusnya sudah tahu bahwa butuh kemauan keras darimu untuk sembuh.baru saja berusia 13 tahun.” “Mama kan tahu. Tapi. bukan bersimpati.” Kemudian ada dering telepon lagi. ketika mencoba bercinta dengan Rizal. terapi ini tidak berkelanjutan. Rizal. mereka sepakat menerapi problem trauma dari Dara. Semuanya berpulang pada dirinya sendiri. untuk menguatkan satu dengan lainnya. Sampai hari ini. Sesungguhnya untuk melakukan hal ini. Karena. dia menikmati apa yang awalnya dipaksakan kepadanya. Sekalipun. tapi tidak tahu saya harus mulai dari mana?” Kedua perempuan itu saling melihat. mereka merasa menggampangkan jika mencari solusinya dengan kawin siri. Itu yang sering diucapkan Kali ini mama yang memotong pikirannya.” “Dik panggillah dokter. mata mereka seperti sebuah lorong yang gelap dan jauh sekali. Semuanya memang harus diselesaikan. kok dari tadi diam saja? Tanyakan ke bagian informasi. Padahal. harus berempati saja. Jadi tidak bisa ditunggu jam berapa kami sampai. hubungan Rizal dan Dara bukan jatuh pada erotisme saja. adik bungsunya menangis di telepon dan mengatakan begini. ini bukan sekadar erotis! Di antara dua kekasih. “Sebagai seorang dokter.” “Ma. kalau sudah begini. Rizal sudah membantunya dan barangkali Rizal sudah mulai jenuh. karyawan penerbangan itu pasti tidak ada di tempat. akan sulit bagi mama untuk menerima berita ini karena dia bukan hanya seorang pasien saja di mata mama. Jadi. dia tak berhasil. sekadar dokter dengan pasien. dia merasa tidak lebih seperti boneka seks. Nana memegang tangan anak perempuannya. Tapi setelah dewasa. memang yang harus Rizal ketika dia merasa tidak bisa melanjutkan terapi ini. Dia merasa jijik! Namun.” Kedua perempuan itu saling berpegangan erat dan mencoba tersenyum. sekalipun mamanya juga dokter. aku sudah siap untuk semua yang terburuk. saya sebetulnya ingin bercerita banyak sekali. Dara tidak mau terapi ini Sesungguhnya. pada persekian menit. Sebagai seorang dokter. “Tantiana menangis terus dan menjerit-jerit.

dia pulang ke Malang untuk meneruskan sekolah. aku tak akan pernah bertanya lagi. ketika anak Tantiana berusia satu tahun. kau harus sekolah lagi dan pulang ke Malang. biarlah jadi anaknya Mbak Dara. Beberapa bulan kemudian. “Kamu boleh ikut Budhe Nana atau Mbak Dara. tiga darimu dan dua dari Aditya. “Apakah sudah siap memulai lagi dengan pernikahan?” “Zal. butuh proses yang panjang. Di luar dugaan. aku memaknainya lebih jauh.” kesakitan. apakah kau sudah melakukan terapinya dan belum berhasil?” lama. lahir anak Tantiana. Dara yang menyandarkan diri di bahu mamanya. Percayalah. Tidak ada air mata. aku sudah mencurigai hal itu sejak gadis… Nduk. Sedangkan anakmu. Bantulah aku!” Rizal dan Dara bersitatap. belahan hati suami dan istri. kapan menjadi dokter Tiba-tiba ada perasaan lelah ketika Dara selesai membicarakan itu dengan Rizal. Kalau tidak. Nana. Nana memeluk Dara. Rizal. Dara merayakan bersama anak temansiapa ya yang mau jadi bapaknya?” temannya. jadi kita bisa membagi. “Dik. cepat tiup lilinnya dan potong kuenya!” Malang. tetapi terasa ada pengertian yang lebih baik di antara kedua perempuan itu. Kami tidak menganggap itu dosa yang Dan. jadi di mataku kau tetap seorang Kali ini. Setelah anakmu lahir. Ketika memasuki ruangan ini. Jadi.” Lantas. Enam bulan setelah kelahiran anak Tantiana. Bahasa simbol itu artinya. 10 Juni 2008 . Aku cuma ingin cerita itu bukan sebenar-benarnya. saya kira ada kalimat Jawa tentang suami-istri. Teman-teman anaknya berteriak-teriak.” Tantiana menangis. “Aku akan menjadi nenek dari lima cucu. aku kepingin anakku ini punya dua adik. Tantiana sedikit tenang. dihadiri Rizal dan mamanya. Aku yakin kau bisa memahami itu. Rizal tersenyum dan memeluknya. senyum ada di antara Dara. dan melebar di ruangan ini. Lantas Rizal menggandeng Dara ke ruangan lain. “Aku akan belajar kapan aku jadi suamimu dan kapan aku jadi doktermu. “Zal.“Sayang. Yaitu garwo (sigare nyawa). tidak bisa diperbaiki. Karena untuk kesembuhan ini. yang ada cuma luka dan dan pasien dan kapan menjadi suami-istri. ketika Nana berkata. bersibadan itu artinya dua jiwa lebur jadi satu.

meski sama-sama biru. Sungai itu selalu mengalun perlahan. Itu pun bila awan sudah terlalu letih menggendong air. Abah tergolek lemah di dipan ruang tengah. Kepergian Nining memang mengubah banyak hal. kabut berebut kecup pipi mereka. Seng yang dulu Memang masih ada sedikit daun-daun yang lingkari pagar. Tak ada yang berubah dari kota kecil itu. Saat itu seisi rumah ketakutan. Bertahun-tahun selalu begitu. Tak ada lagi berita dari Nining. Warnanya lebih tua dari langit. Embun basahi sepatu sekolah. Kalau sudah begitu orangorang di tepi sungai. Tiap pagi mereka berangkat sekolah berjalan kaki. Pada bulan yang sama.Siit Uncuwing Rieke Diah Pitaloka Setiap pagi. Waktu membuka pintu. Dahan dan batangnya dari besi tempa. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rerimbun hijau bagai pinggang dan tepatnya. Orang-orang menyebutnya siit . Sudah seminggu tak mampu bangun. Pagar tak lagi pohon teh-tehan. Ada fotonya. dua setengah kilometer dari kunang-kunang masih bermain di sela langkah. rumah. kadang kelabu. sungai-sungai keperakan. Ada resah menggayut di tiap hati penghuninya. Dulu. Trotoar menjepit kiri kanan jalan. “caah caah caah!” September. Hujan malas berkunjung. Gairah sungai hanya tersirat dari kilau berlian di riak air di antara bebatuan. Itu bisa terjadi meski di siang terik. Bayang hitam di bawah mata menggurat keletihan di wajah. kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. Ada jembatan di atasnya. tempa. lebih kurus dibanding saat ia tinggalkan rumah. Untuk balikkan badan pun harus dibantu ambu. tiap tahun. berkerlip menyilaukan. sungai itu juga bisa mendidih. Di bawah. raut pinggul gadis-gadis menari. Tapi semua orang tahu. Surat terakhir dikirim empat bulan lalu. Tak ada yang beda. sungai itu. semua berisik dan bocor kala hujan. air mengalir tenang meski dicumbu fajar. Cat tak lagi kusam. setiap hari jalan itu dilewati Arum dan Nining. orang-orang di atas jembatan akan berteriak. Arum paling senang saat melintas di atas jembatan. Beberapa kali ada penduduk hanyut. diganti genting Jatiwangi. meski warnanya juga hijau. jalan raya Tatkala cahaya pagi menyentuh bumi. langit kadang biru. Tapi lagi-lagi terbuat dari besi Masih terpatri dalam ingatan Arum peristiwa yang menuntun Nining tinggalkan rumah. menggerus apa saja. Lantai semen sudah ditambal keramik. Bahkan saat Arum dan Nining tak lagi melintas di diganti tembok. Satu dua Seperti air sungai yang membelah kota kecil itu. Namun ia tetap berusaha tersenyum. pegunungan ikut merona. halaman depan. Air yang dicurahkan langit sudah pasti akan susuri jembatan yang sama. Saat matahari menggeliat. akarnya direnggut lalu diganti pondasi beton. Sebab air tanpa beri tanda bergulung-gulung dari arah hulu. Rumah tak lagi setengah bilik. Rumah kedua gadis itu yang berubah. Sangat pagi. bila langit sedang bahagia. burung berkicau di pucuk daun kersen. Paling seminggu sekali. apalagi waktu seekor uncuwing.

esoknya Abah mulai bisa duduk. halig siah. tetap salahkan siit uncuwing atas duka yang menancap di hati mereka. Maka perempuan tua itu sibuk kibas-kibaskan sapu lidi. Ia hanya katakan pada Arum. burung itu menjauh dengan senyap. Sieuh. tiga hari kemudian siit uncuwing datang lagi. Baginya penyebab kematian Abah bukan siit uncuwing. bahkan hingga tahlil seribu hari.” Ambu di pintu dapur usap sebulir bening yang meluncur dari sudut mata. Siit uncuwing pembawa kabar duka. Sakit. Pendapat itu tentu tak disampaikan Nining pada Enin dan Ambu. Mantri yang menerima bayaran sukarela. Tapi. Sebab siit uncuwing pergi Enin dan Ambu berhari-hari. . Ada seurai doa di sudut bibir Ambu dalam lengkung yang mendamaikan Arum dan Nining. Enin peluk buah hatinya dengan haru. Entah kebetulan atau bukan. Menjerit memanggil kematian. “Sieuh. Siit uncuwing kepakkan sayap sedetik sebelum Nining menyambarnya. siit uncuwing menikam rumpun bambu di ujung jalan. terutama Nining. “Arum. Naik sana ke pohon kersen!” perintah Ambu. pergi sana. ka sabrang ka Palembang! Saguru saelmu teu meunang ganggu!” Tetap saja burung itu tak mau pergi. Tak diobati karena mereka tak punya Sekadar sukarela pun mereka tak sanggup. pergi!” Kali ini Enin melempari dengan kerikil. uang. “Komar. Lalu sorenya siit uncuwing kembali. Dibisikkan saat para pelayat satu-satu tinggalkan rumah. Lompat dari satu dahan ke dahan lain. Ia terbang menuju lembayung. sieuh. sieuh. Menyusup ke setiap inci pori-pori kusen jendela dan pintu. Tak akan berhenti sampai kematian menyusup ke setiap liang angin. Nining! Bantu Enin. Tak menapak di mana pun. Berputar-putar mengelilingi atap rumah. Mula-mula hinggap di pohon arumanis tetangga sebelah. cepat sehat. tapi tak diobati. Tapi tangis ledakkan rumah. Lepas magrib sambil membawa abah. “Belum waktunya anakku kau jemput. begitu kepercayaan Enin. Sebetulnya Arum dan Nining tak sependapat dengan dua perempuan itu. Komar. tapi karena sakit.Suara siit uncuwing terus menggigit hati siapa saja yang mendengar. panik. Waktu melihat Ambu dengan sapu lidinya. walau sekadar untuk membayar Mantri Abas. Malah tampak riang.

“Teteh sakit hati, Rum. Kita musti bisa berubah.” Kata-katanya pelan sentuh telinga, namun tegas sebagai janji. Pasti. Arum percaya Nining. Tapi Enin tidak sepakat, terlebih Ambu. “Jangan pergi, anaking. Apa kamu lupa banyak yang tak bisa pulang? Kalaupun pulang tanpa daksa. Malah ada yang sudah tak bernyawa.”

“Geulis,” Enin menambahkan sambil mengunyah sirih dan pinang, “biar susah lebih enak di kampung sorangan. Geulis, incu enin, cari kerja di sini saja. Jadi buruh tani, atau melamar ke pabrik dodol di Ciledug, ke pabrik tenun dekat kerkhoff, atau ke pabrik coklat jalan Cimanuk, atau jadi pelayan toko di Pengkolan.”

Nining tahu, kerja dengan ijazah SMP dan rapor sampai kelas satu SMA tak akan berarti. Gaji yang diterima hanya akan cukup untuk makan sebulan. Itu juga belum tentu cukup.

Sepuluh hari Nining baru bisa yakinkan Enin dan Ambu. Bahkan Ambu rela menjual sawah ongkos ke Bandung. peninggalan Abah untuk membayar penyalur dan surat-surat keberangkatan, sekaligus

Lima bulan pertama Nining tak terima gaji. Katanya harus diserahkan pada agen sebagai ganti biaya perjalanan. Tengah tahun baru bisa kirim uang. Tahun kedua Nining pulang untuk renovasi rumah dan membeli tiga petak sawah. Pengganti sawah Abah, katanya. Tiga rumah.

bulan kemudian berangkat lagi setelah membantu Ambu buka warung sembako di samping

“Teteh jangan pergi lagi, teh. Apa lagi yang teteh cari?” “Teteh pengin kamu jadi dokteranda, Rum. Biar teteh yang cari duit, pokoknya kamu belajar yang rajin.”

“Mendingan Arum cuma tamat SMA daripada teteh pergi lagi.” Entah mengapa kali ini Arum yang tak setuju Nining pergi. Tapi lagi-lagi tak ada yang bisa menahan tekad itu.

Selama setahun, sebulan sekali Nining masih rajin beri kabar. Begitu pula dengan kiriman tak ada kabar berita darinya. Awal Mei.

uang. Tapi tahun berikutnya bukan hanya uang yang tak dikirim. Yang lebih mencemaskan

Ambu.

Sepucuk surat tiba di beranda. Arum membaca keras-keras supaya bisa didengar Enin dan

“Arum, bilang sama Enin dan Ambu, Insya Allah September teteh pulang. Teteh maunya bisa Doakan teteh supaya bisa pulang.” munggah sama-sama. Teteh mau lebaran di rumah. Teteh kangen sama kalian bertiga.

sampai Arum hafal isinya.

Itu kabar terakhir yang mereka terima. Surat terakhir. Lecek. Sebab dibaca berulang-ulang,

September berjingkat tinggalkan kalender. Oktober siap menyambut. Tapi tetap hambar. Huruf seakan mati tak tergores dalam secuil kertas sekalipun. Arum sudah mencoba akan kami beri tahu, kalau sudah tahu keberadaannya. Kalau sudah tahu!” hubungi agen yang berangkatkan Nining. Petugas yang menemui hanya menjawab, “Nanti

Hanya itu yang bisa jadi pengharapan. Surat Arum untuk Nining tak pernah berbalas. Tak menggerus perasaan. Apalagi sejak dua hari terakhir Ramadhan siit uncuwing kembali menjejak pucuk kersen di halaman depan.

ada alamat lain yang bisa ditelusuri. Khawatir menusuk kepala. Cemas menjadi bola besar,

“Awas, indit, ka ditu, ka ditu, sieuh, sieuh!” Ambu tergopoh, Enin menyusul di belakangnya. “Ka sabrang ka Palembang, sieuh, sieuh!” teriak keduanya bersahutan. “Ka sabrang ka Palembang, saguru saelmu teu meunang ganggu!” Kali ini Arum langsung memanjat pohon kersen, tanpa tunggu perintah Ambu. Ketika siit

uncuwing terbang, Arum setengah melompat turun dari pohon. Tak sekejap mata ia biarkan pandangan lepas dari burung itu. Arum mengejarnya, berlari. Tanpa sadar Arum sudah jauh itu. Terus mengejar, bahkan ketika burung itu terbang di atas jalan setapak di pinggir jembatan. Menuju sungai. tinggalkan rumah. Berlari menuju jembatan di atas sungai, sungai yang membelah kota kecil

Ya, siit uncuwing menuju sungai. Burung itu hinggap di batu besar di tengah sungai. Arum mengendap. Tinggal sejengkal dari siit uncuwing ketika orang-orang di atas jembatan berteriak, “caah!” Caah!Caah!”

Arum lompat berusaha menangkap siit uncuwing. Namun badannya limbung. Semua buram. kekuatan, “Arum, ka dieu, ulurkan tanganmu.”

Sesak menghimpit dada. Arum hampir tak mampu bertahan saat sayup seiris suara memberi

Arum terkejut. Arum tahu pasti, itu suara Nining. Seolah mendapat tenaga, Arum berenang ke arah bayangan di tepi sungai. “Hayu pulang, geulis.” Sekali lagi Arum mendengar suara Nining. Arum berhasil genggam tangan Nining, dan semua jadi gelap.

“Teteh, teteh!” teriak Arum saat pertama kali membuka mata.

Tapi Nining tak ada, padahal Arum yakin Nining yang menolongnya. Nining yang memapah mengantar pulang. Arum terobos setiap ruang di rumah itu. Tetap saja, Nining tak ada. Hanya ada Anin dan Ambu yang sedang menangis. Arum lari ke luar. Di langit ada bulan sepotong. Di langit ada tiga belas siit uncuwing tanpa suara membawa bingkisan dari negeri berpasir: sekotak peti mati. Di dalamnya ada perempuan dengan bayang hitam di bawah mata dan lebam di sekujur tubuh. Tetap berusaha tersenyum. Di surau-surau takbir pertama berkumandang… Depok, 160907

Rieke Diah Pitaloka ( 21 Oktober 2007)

Lantas melihat ke sekeliling. masih terkulai seperti sepuluh tahun yang lalu. ruangan ini. rasanya semakin peduli dia kepada rumah ini. Sekarang apapun yang terjadi dengan Saras dibicarakannya sama aku. Ibu terkulai di kursi seperti orang mati. ”Hmmh. deringnya sudah berhenti. karena kalau terlalu banyak alasan dan perhitungan dalam percintaan.’ kata Bapak. Diangkatnya ke telinga. buku. nanti tidak ada tempat untuk hati lagi…’ Ah. ’Orang hilang diculik kok tidak mendapat sama siapapun. Ketika disambarnya pula. ’tapi cinta adalah soal kata hati. karena seperti memberi tanda kalau Saras itu tentunya simpati. saya tidak bisa’.” katanya.’ katanya!” Berharap dan menunggu. ’Saya selalu teringat Satria. telepon. Berharap dan menunggu. Ibu. bahkan aku masih ingat juga pakai daster ini ketika kami berbicara tentang hilangnya Satria. Aku waktu itu masih percaya Satria suatu hari akan kembali… Kenapa harus tidak percaya. membantu aku membereskan kamar Satria. dan busananya bagai menunjuk keberadaan waktu. dan kami masih seperti orang menunggu. kok semuanya mengingatkan kembali kepada Bapak. Waktu itu sudah setahun Satria tidak kembali. televisi. ibunya Saras yang dulu jadi pacar Satria. Tapi Bapak memaksa aku untuk percaya bahwa Satria sudah pergi. ruang dan waktu yang seperti ini. Ia menggigit bibir. meja itu. seperti Saras itu punya dua ibu. Saras. Dulu almarhum tidak bisa terus menerus menunggu Satria. wajah. melihat ke kursi tempat Bapak biasanya duduk. . Semenjak Bapak meninggal setahun yang lalu. lukisan itu. Ibu bergumam. dan duduk lagi di situ. Ternyata yang berbunyi telepon genggam. Ibu terdiam. kalau memang tidak pernah kulihat sesuatu yang membuktikan betapa Satria tidak akan kembali… Apa punya… salahnya punya harapan… Hidup begitu singkat. ’Satria sudah mati. dan lain-lain masih seperti dulu—tetapi waktu telah berlalu sepuluh tahun. Kenyataannya selama sepuluh tahun Saras tidak pernah bisa pacaran ”Tapi inilah soal yang pernah kubicarakan sama Si Saras. Telepon berdering. Bapak suka sinis sama Ibu Saleha. perabotan. ’Kuhargai cintamu yang besar kepada Satria. jendela. sehingga kamu selalu terlibat urusan orang-orang hilang ini. Ibu tersentak bangun dan langsung menyambar telepon. seperti tahu betul rasa kehilanganku setelah ditinggal Bapak…” Ibu sudah sampai ke kursi tempatnya duduk tadi. ”Bapak… Kursi itu. Ibu Saleha.Ibu yang Anaknya Diculik Itu Seno Gumira Ajidarma cangkir teh.’ kataku. Saras. apa jadinya kalau harapan saja kita tidak ”Jadi dalam setahun itu harapanlah yang membuatku bertahan hidup. Pintu. memang rasanya ia seperti anakku juga. Rambut. Harapan bahwa pada suatu hari Satria pasti pulang kembali… Berharap dan menunggu. Seperti ini juga keadaannya. Tinggal Ibu kini di ruang keluarga itu. berusaha sangat amat keras untuk menahan tangis.

”Sudah sepuluh tahun. Saudara. dengan begitu nyata seolah-olah kalian tidak pernah .” Ibu memandang ke arah kursi Bapak. tapi tubuh serasa melayang-layang…” Lantas nada ucapannya berubah sama sekali. menata gelas dan piring. suatu hari salah seorang yang waktu itu mengancam terlihat sedang memandangi dirinya waktu dia baru naik bis kota.”Tidak! Aku tidak mau percaya itu! Meski dalam hatiku sudah terlalu sering kuingkari diriku. orang-orang yang menculiknya itu menggelar foto- foto saudara-saudaranya. Apa Bapak dan Satria tertawa-tawa di atas sana melihat aku membereskan kamar Satria. hanya untuk menyambungnya dengan suara bergetar. ”Apa Bapak ketemu sama Satria di sana? Enak bener Bapak ya? Meninggalkan aku sunyi sendiri di sini. bahwa kemungkinan besar Satria mestinya sudah mati. ”Kadang-kadang aku bermimpi tentang kalian berdua. aku masih mati. Aku terima Satria sudah mati sekarang. Jalinan yang sudah lepas dan ujungnya menceruat di sana-sini. dan akhirnya dibunuh.’ Tapi aku tidak terima kalau Satria itu boleh diculik. Nanti dulu.” Dipandangnya kursi Bapak lagi. Menerima? Menerima? Baik. kenangan. kenapa kamu hancurkan semua harapanku? ’Kita harus menerima kenyataan. tutup matanya dibuka. seperti Ibu berada di dunia yang lain. ”Pak. ”Bapak sendiri yang bilang. Itulah foto-foto keluarga teman Satria yang diculik. setiap waktu makan lagi di muka bumi ini. Munir juga sudah mati. Bapak. kenyataan sehari-hari tidak bisa kupisahkan lagi. Impian. Pak. Satria sudah mati. Di hadapannya. dianiaya. ruangan itu bagaikan mendadak sunyi. Ini apa maksudnya Pak? Supaya teman Satria itu tidak boleh boleh kita terima begitu saja?” bercerita tentang perbuatan mereka? Teror kelas kambing maksudnya? Apakah ini semua Saat Ibu menghela nafas.’ katamu. ada teman Satria yang dibebaskan bercerita: Sebelum dilepas foto di atas meja. juga terkenang-kenang kalian berdua. padahal aku selalu makan sendirian saja. tetapi kalau terbangun. sekarang untuk kalian berdua. ’Kami tahu siapa saja keluarga ”Huh! Saudara! Mana mungkin manusia bersaudara dengan monyet-monyet! Apalagi maksudnya kalau bukan mengancam kan? Bapak bilang teman Satria ini juga bercerita. Foto orangtuanya. Memang aku tahu Bapak dan Satria tidak ada hatiku? Apakah kalian berdua selalu menertawakan aku dan menganggapku konyol kalau Sejenak Ibu terdiam. Lantas orang-orang itu berkata. Sebuah kursi kayu dengan bantalan jalinan rotan. Jiwa terasa memberat. tapi apa salahnya aku menganggap kalian berdua ada di dalam berpikiran seperti itu?” tiba.” Perempuan dengan rambut kelabu itu tampak kuat kembali. Bapak sudah mati.

karena kusaksikan bagaimana dia dengan tenang meninggalkan dunia yang fana. apakah Bapak melihat Satria di sana Pak? Apakah Bapak ketemu Satria? Apa cerita dia kepada Bapak? Apakah sekarang Bapak sudah tahu semuanya? Apakah Bapak sekarang sudah mendapat jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan kita?” Namun Ibu segera menoleh ke arah lain. berkobar menantikan saat membakar dunia…” terdalam. ”Bapak… aku yakin dia ada di sana. Tetapi Ibu mana yang kehilangan anak tanpa kejelasan bisa tenang perasaanku bisa membuatku yakin. tetapi aku tidak bisa mendapatkan keyakinan yang sama jika teringat kepada Satria. bagaimana mungkin aku merasa perlu melupakan semuanya. membara dan menyala-nyala. bahwa Satria dan bahagia hanya dengan akalnya. tanpa membawa-bawa perasaannya? Bagaimana Ya. Seperti masih ada yang disebutnya Bapak di kursi itu. menyatu dengan jiwa terluka. tempat seolah-olah ada seseorang ”Pak. ”Tapi apa iya aku sendiri? Apa iya aku masih harus merasa sendiri jika begitu banyak orang yang juga kehilangan? Waktu itu. jika kemarahanku belum juga hilang atas perilaku kurangajar semacam itu. Apakah setiap orang harus kehilangan anggota keluarganya sendiri lebih dulu supaya bisa sama marahnya seperti aku?” Hanya Ibu sendiri di ruangan itu. berbisik tertahan. luka sayatan yang panjang dan dalam. dan aku masih tidak tahu apa-apa. tetapi Ibu bagaikan merasa banyak orang menontonnya. palung tanpa dasar yang dalam kekelamannya Ibu mendadak berhenti bicara. mengembara dalam kekelaman semesta.” Nada bicaranya menjadi dingin. seperti palung terpanjang dan membara. Memang akalku tidak bisa berpikir lain sekarang. ya waktu yang seperti takpernah dan takperlu berlalu itu. bagaikan jiwa dan tubuh telah terpisah. bukankah ratusan ribu orang juga hilang seketika?” . ”Menculik anak orang dan membunuhnya. ke langit. memegang kepalanya. ”Tapi…. Sekarang aku bertanya jawab sendiri…. ”Ah! Ya ampun! Jauhkan aku dari dendam!” Namun ia segera melepaskan tangannya.”…. meski semakin disadarinya betapa ia sungguh-sungguh sendiri. ”Ah! Bapak! Dia sudah tahu semuanya! Tapi aku? Aku tentunya juga harus mati lebih dulu bertanya-tanya. jauh. o palung-palung luka setiap jiwa. Hanya bertanya jawab dengan Bapak. begitu saja… Bahkan orang mati saja masih bisa kita lihat jenazahnya!” tentu sudah tidak ada. menutupi wajahnya. Mencoba menjawab sendiri. Lantas bertanya-tanya lagi. jika Satria pada suatu hari memang hilang begitu saja? diajaknya bicara. jauh. Bapak. meski setiap kali tersadar tubuh yang melayang terjerembab. Dulu aku bisa kalau ingin tahu semuanya! Tapi aku masih hidup.

makan pisang goreng yang televisi. dan hanya didengarnya sendiri. Di luar rumah. memberi komentar tentang situasi negeri. Lupa ini-itu. Ibu tampak mengenali. sebelum akhirnya mendadak keluar semua ingatannya pada suatu ”Sudah sepuluh tahun. Susah rasanya mengingat-ingat Ibu tersenyum geli sendiri. Duduk di . menyusul teman-temannya pemain ludruk yang semuanya terbantai dan ”Sebetulnya memang tidak pernah Bapak itu membicarakan Satria. datang menengok cuma hari Lebaran. Tidak jelas jam berapa. ”Kenapa kamu tidak sekali-sekali muncul Bapak. Seperti masih selalu duduk di situ Bapak disediakan Si Mbok. ’Ya enggaklah kalau ngibul. Tapi Si Mbok juga sudah meninggal. ”Bapak. malah seperti lupa. sembunyi-sembunyi pula!’ hidup sekarang?’. atau kadang-kadang keluar Wajah Ibu kini tampak sendu sekali. Yang sulung Si Bowo jadi pialang saham. Belakangan sebelum meninggal Bapak juga mulai pikun. tetapi malam bagaikan lebih malam dari malam. ”Bagiku Satria masih selalu ada. atau ’Sedang apa ya Satria di sana?’. kata Bapak dua-duanya pekerjaan ngibulin Memang lain sekali Satria dengan kakak-kakaknya. dan apa sebenarnya yang telah terjadi.’ kataku. Biasanya Bapak ya cuma cengengesan. Ibu masih berbicara sendiri. banyak yang sudah berubah. tukang bakmi langganan Satria. sampai setahun lamanya. Muncul dong sekali-sekali Bapak. di kursi itu. menonton itu. malam entah karena apa. pakai kaos oblong dan sarung. satunya lagi Si Yanti jadi kurator galeri lukisan. tapi tidak memanggilnya. tukang bakmi tek-tek yang dulu-dulu juga. menyeruput teh panas. Dua-duanya tidak mau pulang lagi dari apapun.Terdengar dentang jam tua. luar negeri. Kacamata terpasang saja dicarinya ke mana-mana…” ”Aku sendiri rasanya juga sudah mulai pelupa sekarang. Ada saja yang dia omongin itu. Tapi selalu ada. bagaimana dia diperlakukan. ’Seperti apa Satria kalau masih amarahnya: ’Para penculik itu pengecut semuanya! Tidak punya nyali berterus terang! Bisanya membunuh orang sipil tidak bersenjata.” lewat. Dasar Bapak. Tidak pernah ketemu lagi memang. kursi itu seperti biasanya. membaca koran. banyak juga yang tidak pernah berubah. kadang aku seperti melihatnya di sana. lantas ngomong tentang dunia. Ia selalu bertanya. ”Tapi ia tidak pernah lupa tentang Satria. kenapa kamu tidak pernah muncul dalam mimpiku untuk bercerita tentang Satria? Pasti Satria menceritakan semua hal yang tidak diketahui selama ini. Bahkan tokek untuk sementara tidak berani berbunyi. orang. mayat-mayatnya mengambang di Kali Madiun… menyusul Bapak. ’apa semua orang harus ikut aliran kebatinan seperti Bapak?’. ”Bapak.

seperti baru menyadari betapa kenyataan begitu buruk. yang seandainya pun tidak akan pernah terbongkar…. kini seperti kepada seseorang yang tidak kelihatan. Apakah semua ini hanya akan menjadi rahasia yang tidak akan pernah kita ketahui isinya? ”Rahasia sejarah. Ibu seperti tersadar dari mimpi. malah Si Saras. Hanya lewat. Tapi rupanya bukan.” Ibu masih berbicara. bahkan juga dalam mimpi-mimpiku.” gumamnya. ”Ya. Telepon genggam Ibu berdering. ”Gila!” Ibu berujar kepada tokek di langit-langit yang tidak tahu menahu. ”Ceritakanlah semua rahasia…. ”Pasti ibunya Saras lagi. Seperti segalanya yang akan tetap tinggal kosong. Rahasia kehidupan. ”Eh. hallo… “ Setelah mendengarkan apa yang dikatakan Saras. suatu kejahatan.” Ibu mengangkat telepon genggamnya di telinga. seolah tiba-tiba telepon genggam itu menyetrum. ”Para pembunuh itu sekarang mau jadi presiden! . ”Kursi itu tetap kosong. ”Tapi ini bukan rahasia kehidupan yang agung itu. ”Duduklah di situ dan ceritakan semuanya tentang Satria. ”Ini suatu aib. Ibu beranjak mengambil telepon genggam. tetapi kamu hanya muncul sebagai bayangan yang lewat.”Memang kamu selalu muncul dalam kenanganku Pak. telepon genggam itu terloncat dari tangan Ibu yang terkejut. tanpa senyum.

mungkin kehidupan para nelayan dilepaskan dari perahu? Hayati masih terus menuruni tebing setengah berlari dengan pikulan air pada bahunya. Lidah-lidah ombak berkecipak dalam laju lari Hayati. perahu tetap teronggok sejak semalam. seolahsamping gubuknya. bagaimana olah angkasa raya adalah ruang pelayaran bagi perahu-perahu seperti yang mereka miliki. “Hayati! Mau ke mana?” olah beban di bahunya tiada mempunyai arti sama sekali. melainkan berlari dengan pikulan air yang berat di bahunya itu. lantas melangkah ringan Hayati.Cinta di Atas Perahu Cadik Bersama dengan datangnya pagi maka air laut di tepi pantai itu segera menjadi hijau. Wajahnya begitu cerah menembus angin yang selalu ribut. sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Tentu. Seekor anjing bangkit dari lamunannya yang panjang. “Sukab! Tunggu aku!” plastik alas sepatu karena seolah tidak berasa sedikit pun juga ketika menapak di atas batu- Di pantai. yang selalu memberi kesan betapa sesuatu sedang sepanjang pantai yang pada pagi itu baru memperlihatkan jejak-jejak kaki Sukab dan terjadi. Hayati pantai yang tampak kabur di bawah permukaan air laut yang hijau itu. Cahaya keemasan matahari pagi menyapu pantai. tiba-tiba terdengar derum suara mesin. Para nelayan memang hanya tahu perahu. sambil menuruni tebing bisa melihat bebatuan di dasar lidah ombak kembali surut ke laut. Onggokan batu karang yang kadang-kadang menyerupai Bukankah memang perlu waktu jutaan tahun bagi angin untuk membentuk dinding karang menjadi onggokan batu yang mirip dengan sebuah perahu. Kakinya yang telanjang bagaikan mempunyai alat perekat. melangkah di atas batu-batu hitam berlumut tanpa pernah terpeleset sama sekali. Bulan sabit mereka hubungkan dengan perahu. membuat pasir yang basah berkilat keemasan setiap kali Seno Gumira Ajidarma yang biasa memikul air sejak subuh. Ia meletakkannya begitu saja di Seorang nenek tua muncul di pintu gubuk. sekaligus bagaikan terlapis karet atau batu karang yang tajam tiada berperi. seolahbahkan atap rumah-rumah mereka dibuat seperti ujung-ujung perahu. Hayati berlari begitu cepat. Terlihat Hayati mengangkat kainnya dan berlari cepat sekali. Ternyata Hayati tidak langsung menuju ke perahu bermesin tempel tersebut. sejak bertahun. lantas berlari kembali ke arah perahu Sukab. . “Cepatlah!” ujar lelaki bernama Sukab itu. gugusan bintang mereka hubung-hubungkan dengan cadik penyeimbang perahu.

Kulihat mereka tertawatawa.” “Oh. “Pergi bersama Sukab tentunya! Kejar sana ke tengah laut! Lelaki apa kau ini! Sudah tahu istri dibawa orang. perahu lain telah berjajar-jajar kembali di pantai sepanjang kampung nelayan itu. tetapi tidak tampak seorang pun di atasnya. Itu sudah tidak musim lagi Mak! Lebih baik cari istri lain! Tapi aku lebih suka nonton tivi!” Angin bertiup kencang. “Ke mana Hayati. Seorang lelaki muncul dari dalam gubuk. perahu Sukab belum juga kelihatan.” “Perahu Sukab menyalipku. sangat kencang. Jawaban mereka bermacam-macam. “Cabut badik? Heheheh. dan perahu- Menjelang tengah malam.” Nenek itu memaki. masih terdengar suaranya sambil tertawa dari dalam gubuk. Pada akhir hari setelah senja menggelap. nenek tua itu pergi dari satu gubuk ke gubuk lain. “Istri orang di perahu suami orang! Keterlaluan!” Namun ia masih mengetuk pintu gubuk-gubuk yang lain. burung-burung camar menghilang. bukannya mengamuk malah merestui!” Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala. kulihat perahu Sukab menyalipku dengan Hayati di atasnya.” Nenek yang sudah bungkuk itu mengibaskan tangan. aku juga sudah bicara kepadanya. ya. jadi itu perahu Sukab! Kulihat perahu berlayar kumal itu menuruti angin. Perahu Sukab yang juga bercadik melaju bersama cinta membara di atasnya. Mak?” Nenek tua itu menoleh dengan kesal. kulihat Hayati menyuapi Sukab dengan nasi kuning dan mereka tampaknya sangat bahagia.Perahu Sukab melaju ke tengah laut. dan memang selalu kencang di pantai itu. mesinnya sudah mati. “Hayati dan Sukab saling mencintai. tetapi membentuk suatu rangkaian. “Ya. . “Dullaaaaah! Dullah! Suami lain sudah mencabut badik dan mengeluarkan usus Sukab jahanam itu!” Lelaki yang agaknya bernama Dullah itu masuk kembali. kami akan bercerai dan biarlah dia bahagia menikahi Sukab. menanyakan apakah mereka melihat perahu Sukab yang membawa Hayati di atasnya.

“Aku lihat perahunya. lelaki dan perempuan yang sedang tertawa dengan mata genit. dan di dahinya tertempel Nenek tua itu melihat ke sekeliling. nenek tua itu menggerundal sendirian. Sebuah foto pasangan bintang film India. di dalam sebuah bingkai kaca yang juga kotor. mulutnya sebuah koyo. Sebuah foto Bung Karno yang usang dan tampak terlalu besar untuk rumah gubuk ini. kursi buruk. bukannya tambah penumpang. Pandangan nenek tua itu tertumbuk kepada anak perempuan yang menatapnya. tapi mungkin ada juga yang lain. hanya sandal jepit yang jebol. dari sebuah penanggalan yang sudah bertahun-tahun lewat. berikut pancing dan bubu. lemari kayu yang buruk. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. bergemeletuk seperti sebuah mesin. berkeringat. Isinya sama saja dengan isi semua gubuk nelayan yang lain. “Mana Bapakmu?” Anak itu hanya menunjuk ke arah suara laut. meja buruk. Seorang anak perempuan yang rambutnya merah membuka pintu itu. Dipan yang buruk. “Waleh! Apa kau tahu Sukab pergi dengan Hayati?” Perempuan bernama Waleh itu menggigil di dalam kain batik yang lusuh. . Ada juga pesawat televisi. pakaian yang buruk tergantung di sanasini. dan jala di dinding kayu. tetapi orangnya malah berkurang?” Melangkah sepanjang pantai sembari menghindari air pasang. tetapi tampaknya sudah mati. Giginya tambah gemeletuk dalam perputaran roda-roda mesin malaria. “Anak apa ini? Umur lima tahun belum juga bisa bicara!” Waleh hanya menggigil di balik kain batik lusuh bergambar kupu-kupu dan burung hong. di dalam terlihat istri Sukab terkapar meriang karena malaria. Bukankah memang selalu begitu jika Hayati berada di perahu Sukab?” “Ya. Nenek itu lagi-lagi menggelengkan kepala. tetapi tidak seorang pun di atasnya. Ia tidak melihat sesuatu pun yang aneh. Nyamuk berterbangan masuk karena pintu dibuka. Nenek itu sudah mau melangkah keluar dengan putus asa. “Bermain cinta di atas perahu! Perbuatan yang mengundang kutukan!” Ia menuju gubuk Sukab. tidakkah selalu begitu? Kalau Hayati naik perahu Sukab. Wajahnya pucat. tentu saja tidak ada sepatu. Alas kaki yang serba buruk. ombak yang berdebur dan mengempas dengan ganas. ketika terdengar suara lemah dari balik gigi yang gemeletuk itu.

tidak kelihatan di bawahnya! Mengerti kamu?” tapi ada yang hanya melihat perempuan jalang itu tidak memakai apa-apa meski suamiku Waleh yang menggigil hanya memandangnya. “Aku hanya mau bukti bahwa menantuku mati karena pergi dengan lelaki bukan suaminya menjadi korban kutukannya! Tapi kamu rugi belum menghukum si jalang Hayati!” dan bermain cinta di atas perahu! Alam tidak akan pernah keliru! Hanya para pendosa akan Mendengar ucapan itu. dan suamiku masuk rumah sakit karena badik suami Wiji. karena memang sering terjadi. melalui perceraian. kamu tahu dan tidak berbuat apa-apa! Dulu suamiku pergi ke kota dengan Wiji. maka tentu mayat Sukab atau Hayati akan tiba-tiba menggelinding dilemparkan ombak ke pantai.“Aku sudah tahu…” “Apa yang kamu sudah tahu. mereka percaya perahu Sukab terseret ombak ke seberang benua. Hari pertama. . “Ya. Masih juga mereka berlayar dan tidak pulang kembali! Semua orang yang melaut bilang tidak melihat sesuatu pun di atas perahu ketika melewati mereka. perahu mereka jauh melewati batas pencarian ikan kita. langsung menggigil dan mulutnya bergemeletukan kembali. Waleh?” “Tentang mereka…” Nenek itu mendengus. Waleh tampak berusaha keras melawan malarianya agar bisa berbicara. agama kita telah memberi jalan agar mereka bisa dikukuhkan. dan sangat mungkin. Namun karena tidak satu pun dari ketiganya muncul kembali. atau memang hilang selama-lamanya tanpa kejelasan lagi. Ibu. Kudoakan suamiku pulang dengan selamat— Waleh yang seperti telah mengeluarkan segenap daya hidupnya untuk mengeluarkan katakata seperti itu. begitu pulang kujambak rambutnya dan kuseret dia sepanjang pantai. orang-orang di kampung nelayan itu masih membayangkan. Nenek tua itu terdiam. matanya terpejam tak dibuka-bukanya lagi. seperti sudah tidak sanggup berpikir lagi.” yang mengumbar amarah menggebu-gebu. tetapi aku tidak mau menjadi orang kampungan dan jika dia bahagia bersama Hayati. bahwa jika bukan perahu Sukab muncul kembali di cakrawala.” kata seseorang. Hal itu selalu mungkin negeri lain dan kembali dengan pesawat terbang. kedua. “Aku memang hanya orang kampung. dan ketiga setelah perahu Sukab tidak juga kembali. Mereka bisa terseret ombak ke sebuah “Aku orang terakhir yang melihat Sukab dan Hayati di kejauhan.

cerita tentang ikan besar ini akan berujung kepada perceraian mereka masing-masing. Hayati melompat turun begitu lunas perahu menggeser bibir kecilnya.“Sukab penombak ikan paling ahli di kampung ini. April 2007 . banyak lumba-lumba melompat di samping perahu mereka. Tombak ikan bertali milik Sukab tampak menancap di punggungnya yang berdarah—tentu ikan besar ini yang telah menyeret mereka berdua selama ini. Sabang. tetapi kawin lari ke sebuah pulau entah di mana. Kadang-kadang pula berharap dan menanti siapa tahu perahu cadik yang berisi Sukab dan Hayati itu kembali. dan gigi keduanya jika terlihat tentu sudah kuning cinta yang membara.” Segalanya mungkin terjadi. Hayati.” sahut yang lain.” mana mau ia mencari ikan bersama kita. setelah bahan bakar untuk mesinnya habis. sejak dulu ia selalu berlayar sendiri. Hayati tampak lebih kurus dari biasa dan keadaan mereka berdua memang lusuh sekali. pakaian basah kuyup. Juga mereka percaya bahwa mungkin juga Sukab dan Hayati telah bermain cinta di atas perahu dan seharusnya tahu pasti apa yang akan mereka alami. Desember 2006/ Merauke. sekali—tetapi mata keduanya menyala-nyala karena semangat hidup yang kuat serta api Namun keduanya juga mengerti. Kalian tahu seperti apa orang yang dimabuk cinta…” Namun pada suatu malam. Di pantai. menyusuri pantulan senja yang menguasai langit pada pasir basah. betapa bukan urusan siapa pun bahwa mereka telah bercinta di atas perahu cadik ini. yang tentu saja sudah mati dan bau amisnya perahu Sukab mendarat juga. Kulit terbakar. kadang-kadang tampak Waleh menggandeng anak perempuannya yang bisu. mereka seperti masih Namun setelah hari keempat. tidak seorang pun dari para nelayan di kampung itu mengharapkan Sukab dan Hayati akan kembali. Di tubuh perahu itu terikat seekor ikan besar menyengat sekali. mungkin bukan mati. “Kukira mereka tidak akan kembali. Keduanya terdiam saling memandang. Keduanya mengerti. yang dengan ini tak bisa dihindari lagi. “apalagi jika di perahunya ada “Apakah mereka bercinta di atas perahu?” “Saat kulihat tentu tidak. Sukab tampak lemas di atas perahu. tampak Dullah yang menyusuri pantai saat para nelayan kembali. di tengah angin yang selalu ribut terlihat pantai dan mendorong perahu itu sendirian ke atas pasir sebelum membuang jangkar yang lebih besar dari perahu mereka. pada hari ketujuh.

Gerobak itu tidak ada bedanya dengan gerobak pemulung. Dari balik dinding gerobak gerobak sampah lainnya. anak-anak itu “Jangan sekali-sekali mendekati kere-kere itu.” kata Kakek. Aku tidak bertanya lebih lanjut. biasanya seorang ibu dengan dua atau tiga anak yang masih kecil.” “Oh. karena kakekku adalah orang yang sibuk. menggelar tikar. Hanya saja gerobak ini ternyata berisi manusia. “kita tidak pernah tahu apa yang mereka pikirkan tentang kita. Anak-anak kecil itu tampaknya pekerjaannya hanya bermain-main saja. Dari jendela loteng. bertenaga kuat yang menjadi penghela gerobak tersebut. dan nanti menghilang setelah Lebaran. kadang terlihat berhenti di berbagai tanah lapang. tetapi Kakek tentu saja melarangku. Dari mana dan mau ke mana? Aku tidak pernah berada di batas kota dan melihat gerobak-gerobak itu masuk kota. rumah gedung bertingkat. Mereka seperti tiba-tiba saja sudah berada di dalam kota. ketika sedang berjalan merayapi berbagai sudut kota. dengan seorang bapak Karena tidak pernah betul-betul mengamati. kuamati orang-orang di dalam gerobak itu. Kadang-kadang aku ingin sekali ikut bermain dengan anak-anak itu. mereka selalu datang selama bulan puasa. aku hanya melihat gerobak-gerobak itu selintas pintas. dengan roda karet dan pegangan kayu untuk dihela kedua lengan berwarna putih itu akan tampak sejumlah kepala yang menumpang gerobak tersebut. seperti selalu terjadi dalam bulan puasa tahun-tahun belakangan ini. Semuanya ia tangani sendiri. Tidak jarang mereka memasang juga tenda di depan rumahkakekku. dan tidur-tiduran dengan santai. seusiaku.” . Apabila tanah lapang sudah penuh. Mereka datang dari Negeri Kemiskinan. atau bahkan di depan. dengan plastik menutup gerobak dan mereka tidur di dalamnya. mereka menginap di kaki lima. gerobak-gerobak berwarna putih itu akan muncul di berbagai sudut kota kami. Namun kalau aku setiap hari disibukkan oleh tugas-tugas sekolah.Gerobak Seno Gumira Ajidarma Kira-kira sepuluh hari sebelum Lebaran tiba.” “Negeri Kemiskinan?” “Ya. Salah satu dari gerobak itu berhenti pula di depan rumah gedung “Kakek. siapakah orang-orang yang datang dengan gerobak itu Kek? Dari manakah mereka datang?” Kakek menjawab sambil menghela napas. memasang tenda plastik. mereka datang untuk mengemis. Di samping menjadi pejabat tinggi. perusahaannya pun banyak sekali. Tidak ketinggalan menanak air dengan kayu bakar dan masak seperlunya. dan Kakek tidak pernah membagi pekerjaannya yang berat itu dengan orang lain.

” tetapi kewaspadaan Ibu memang akan selalu meningkat dan segera menggandeng sudah tidak jelas warnanya lagi. “Hati-hati terhadap orang miskin.” atau “Orang miskin itu jahat. Manusia-manusia gerobak ini seperti bersikap dunia adalah milik mereka . memang selalu kulihat mata yang menatap. seperti kata Kakek. Kakek tidak pernah menjelaskan. Sepanjang hari mereka hanya bergolek-golek di atas tikar. Dari balik topi tikar pandan mereka yang sudah jebol dikatakan mata itu. menyebutkan kata-kata semacam. Tampaknya orang-orang yang dianggap berkelebihan diandaikan dengan sendirinya jajar di depan rumah. Ketika kemudian gerobak-gerobak itu makin banyak saja berjajar- harus tahu. Nenek misalnya selalu mengirimkan makanan yang berlimpah-limpah kepada gerobak yang menggelar tenda di depan rumah. Di karena bukankah gerobak itu dihela oleh orang yang berjalan kaki? Demikianlah gerobak- mana tempatnya. Demikian pula manusia-manusia dalam gerobak itu tampaknya merasa. gerobak itu dari hari ke hari makin banyak saja tampaknya. Mereka cukup hanya harus hadir di kota kami dan mereka akan mendapatkan sedekah yang tampaknya mereka anggap sebagai hak mereka. Jadi kapan mereka mengemis? Ternyata mereka memang tidak perlu mengemis untuk mendapat sedekah. dan mereka seperti merasa harus mendapat makanan tepat pada waktunya. Memang mereka tidak pernah puasa ini? Aku memang selalu mendapat peringatan dari orangtuaku untuk hati-hati. dalam kerumunan nyamuk warna-warni waktu berbuka puasa?” Aku tertegun. gerobak-gerobak yang lain itu juga mendapat limpahan makanan Begitulah dari hari ke hari gerobak-gerobak putih itu memenuhi kota kami. bahkan mobil pagar. tetapi kurasa tentunya dekat-dekat saja. Apa yang akan kamu pikir yang berdenging-denging melihat anak kecil berbaju bersih makan es buah dan pudding jika dari kegelapan melihat lampu-lampu kristal di balik jendela. bahwa manusia-manusia dalam gerobak itu perlu mendapat sedekah. pula. tetapi tak bisa kuketahui apa yang Sekarang aku tahu gerobak-gerobak berwarna putih itu datang dari Negeri Kemiskinan. Juga tidak kulihat mereka menengadahkan mereka datang untuk mengemis? Aku tidak pernah melihat mereka mengulurkan tangan di tangan di tepi jalan dengan batok kelapa atau piring seng di depannya. Pernah pembantu rumah tangga di rumah Kakek yang terlambat sedikit pemandangan. Apa maksud Kakek? Apakah mereka akan menculik aku? Ataukah setidaknya mereka akan melompat masuk jendela dan merampas makanan enak-enak untuk berbuka bahkan sebaiknya menjauhi orang yang tidak dikenal. sudah semestinyalah mereka mendapat limpahan pemberian sebanyak-banyaknya tanpa harus mengemis lagi.“Apa yang mereka pikirkan Kek?” “Coba saja kamu setiap hari hidup di dalam gerobak di luar sana. Di jalan-jalan gerobak itu bikin macet. tidur-tiduran menatap langit dengan santai.rumah orang untuk mengemis. dan di tepi jalan keluarga gerobak yang Kakek sampai sulit sekali keluar masuk rumah karena gerobak yang berderet-deret di depan memasang tenda-tenda plastik seperti berpiknik itu sudah sangat mengganggu sendiri. depan rumah. Benarkah. tanganku erat-erat apabila didekati orang-orang yang berbaju compang-camping dan tepinya.

pasti tidak lewat jalan tol. dihela seorang lelaki dengan gerobak yang rupanya setiap hari bertambah dengan kelipatan berganda. Lebih dari separuh warga kota mudik ke kampungnya masing-masing pada hari Lebaran.” kataku kepada Kakek. tidur di tempat tidur mereka. mandi di kamar mandi mereka. meninggalkan rumah yang kadang-kadang dijaga mereka tidur-tiduran sambil memandang rumah-rumah gedung yang indah. “Mereka memang tidak bisa pulang ke mana-mana lagi sekarang. Setiap tahun menjelang hari Lebaran gerobak-gerobak memenuhi kota. seperti hadir begitu saja di dalam kota. “Tenang saja. karena tentu mendahulukan Kakek. asri. tetapi setiap tahun itu pula mereka akan selalu menghilang kembali. orang-orang yang datang bersama gerobak itu telah menduduki rumah tersebut. “sehabis Lebaran mereka akan menghilang. penghuni rumahrumah gedung satpam. entah dari mana. mendapat omelan panjang dan pendek. atau ditinggal dan dikunci begitu saja. kokoh. Meskipun kota kami selalu menjadi sunyi dan sepi setiap kali Lebaran tiba.” Para tetangga tidak membantah. Mereka juga berharap begitu. Apabila kemudian warga kota kembali dari kampung. itu banyak yang pulang kampung. biasanya kan begitu. kali ini kota kami penuh sesak gerobak itu masih saja berisi anak-anak kecil dan perempuan dekil. pulang ke Negeri Kemiskinan. >diaC< Pada hari Lebaran. kuat. kali ini gerobak-gerobak itu masih tetap di sana. Lagi-lagi Kakek menghela napas. padahal hari Lebaran sudah berlalu.” “Ya. melompati pagar. mereka seperti mengalir tidak ada habisnya. Apakah mereka maunya hidup di dalam rumah-rumah gedung yang “Mereka masih di sini Kek. Tetangga-tetangga juga sudah mulai jengkel. merayapi tembok.rumah gedung itu.” kata Kakek. Mereka berkemah di depan rumah-rumah gedung. dan berenang di selalu mereka tatap dari luar pagar dengan pikiran entah apa dan meninggalkan gerobak mereka untuk selama-lamanya? kolam renang mereka. Pada hari Lebaran. dan hidup di dalam rumah. dititipkan kepada tetangga. Warga kota yang memasuki kembali rumah-rumah mereka terkejut. dan mewah dari luar pagar tembok. Gerobakkuat yang melangkah keliling kota. makan di meja makan mereka. tapi kapan mereka tidak kembali ke tempat asal mereka? Mereka selalu menghilang sehabis Lebaran. pada saat yang sama gerobak-gerobak masuk kota entah dari mana.” “Tapi kali ini banyak sekali. gerobak-gerobak itu ternyata tidak semakin berkurang. Berkemah dan menggelar tikar di sembarang tempat.” “Bukankah mereka bisa pulang kembali ke Negeri Kemiskinan?” .mengantar kolak untuk berbuka puasa. bahkan sebagian telah pula masuk.

Seperti mereka betul-betul hanyalah Mereka yang tiada punya rumah di atas bumi. 7 Oktober 2006 kosong.“Ya.” katanya kepada Nenek. Rupa-rupanya seperti patung yang bisa hidup dan bergerak-gerak. Apakah gerobak putih sama sekali tidak pernah berkurang. sehingga kadang-kadang mereka tampak patung dan hanya mata mereka akan menatapmu dengan seribu satu makna yang terpancar dari sana. menduduki setiap tanah yang bertingkat. “Bagaimana nasib cucu-cucu kita nanti. melompati pagar. Heran. kenapa manusia tidak pernah cukup puas Aku tidak terlalu paham bagaimana lumpur bisa merendam Negeri Kemiskinan. “kita harus dengan apa yang sudah mereka miliki. Minggu. Baru kusadari betapa manusia-manusia seluruh tubuh mereka seperti terbalut lumpur. muncul di berbagai sudut kota entah dari mana.” sahut Nenek. gerobakbanyak.” Sekarang aku mengerti kenapa orang-orang itu tampak sangat amat dekil. gerobak ini memang sangat jarang berkata-kata. Sebaliknya semakin lama semakin maksudnya lumpur kemiskinan? Aku hanya tahu. memasuki rumah-rumah gedung . tinggal di sana entah sampai kapan.” menerima segala akibat perbuatan kita. Barangkali saja untuk selama-lamanya. setelah hari Lebaran berlalu. Pondok Aren. dan tidak ada kepastian kapan banjir lumpur itu akan selesai. di manakah mereka mesti tinggal selain tetap di bumi? Kakek merasa gelisah dengan perkembangan ini. tidak bisa diusir dan tidak bisa dibunuh. “apakah mereka harus berbagi tempat tinggal dengan kere unyik itu?” “Siapa pula suruh merendam negeri mereka dengan lumpur. tetapi Negeri Kemiskinan sudah terendam lumpur sekarang. bahkan merayapi tembok.

berbeda agama pula-betapa beratnya usaha kami menyatukan diri. Apabila kami berbeda kulit. Cinta yang abadi kukira bukanlah sesuatu yang ditakdirkan. Barangkali itulah yang disebut dengan cinta abadi. dan bayang-bayang bisa berkelebat menembus segala tabir. terlalu banyak manusia merasa berhak untuk tidak setuju dan melarang hubungan kami. kemudian berbeda kelas sosial. Kami seperti tiba-tiba saja ada dan saling mencintai sepenuh hati. barangkali menunggu kami mati dan bisa berkelebat seenak udel kami. tetap menggelisahkan. menimbulkan tanda tanya: Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku? Setiap kali kami mati dan dilahirkan kembali. tetap bertahan. benarkah begitu kuat usaha kami untuk menyatu menyerah karena berbagai macam halangan yang sebenarnya bisa saja diatasi. karena sesungguhnyalah hubungan cinta kami yang barangkali abadi itu adalah sesuatu yang diperjuangkan. karena sesungguhnyalah aku tidak akan bisa tahu apakah benar cinta kami yang barangkali abadi itu adalah takdir. dan bukan takdir itu sendiri. dan sebagai manusia kami tidak menempel seperti ketan. Walaupun kami terbukti Demikianlah cinta kami selalu diuji. ataukah cinta kami ini hanya cinta begitu-begitu saja yang terlalu mudah . bahkan kami pun bisa bingung sendiri. Bibirku terasa asin dan rambutku menyerap garam. jika cinta ini belum juga ada? Lagi pula bagaimana cinta akan berkarat karena angin yang bergaram jika cinta berkarat setelah mengarungi berabad-abad jarak. tiada seorang pun yang akan mengizinkan dirinya untuk memahami. Kami sering dilahirkan kembali sebagai manusia. meski perahuku tapi kutahu cintaku belum akan berkarat bila tiba di pulau itu. lantas saling mencintai. membentuk garis lingkaran yang tiada pernah berubah jaraknya. dan tetap terus-menerus diperjuangkan terus-menerus sehingga cinta itu tetap ada. Dunia hanyalah laut dan langit yang dibatasi garis tipis melingkar. Kami memang diciptakan dari sepasang tidak pernah lahir kembali sebagai sepasang bayang-bayang yang bisa berkelebat seenak bayang-bayang.Cintaku Jauh di Komodo Seno Gumira Ajidarma Hanya laut. tetap misterius. Hanya kekosongan. kami selalu bisa saling mengenali dan mengusahakan segalanya untuk menyatu kembali. Aku mengatakannya semacam takdir. namun kami udelnya. karena kami memang tidak terpisahkan. dan semenjak saat itu kami menjadi semacam takdir ketika tiada sesuatu pun di dunia ini yang bisa memutuskan hubungan cinta kami. lengket bagai benalu. tapi aku hanya berani mengatakannya semacam takdir. tapi sungguh mati memang hanya seperti dan sekali lagi hanya seperti. dari suatu masa ketika cinta pertama kali memang bukan besi? Aku dan kekasihku diciptakan dari sepasang bayang-bayang di tembok yang tubuhnya sudah mati. cinta yang abadi adalah sesuatu yang tetap penuh pesona. Bagaimana cinta akan melaju menembus angin yang bergaram. berkarat hanya karena sebuah jarak dari Labuan Bajo ke Komodo. nah. menjadi pasangan baru. begitu juga bayang-bayang kami yang selalu mengikuti. Memang kembali. tetap membara. Apalagi jika kami lahir kembali masing-masing sebagai pasangan resmi orang lain.

Dalam sejarah percintaan kami dari abad ke abad. juga dihuni komodo. Tetapi. kekasihku sudah lahir berpuluh tahun sebelumnya dan hampir mati. Laut dan langit bagai bertaut. Pasti Supermie tidak akan pula kekasihku? dan apa yang akan kami lakukan? Aku tidak mungkin mengawini dan membawanya sebagai mengenyangkannya. meski terkadang penuh dengan lukaluka cinta di sana-sini karena ketergodaan yang terlalu menarik untuk tidak dilayani. Kesetiaan kami masing-masing telah hebohnya. tapi yang paling berbahaya adalah pesona cinta itu sendiri.begitu banyak godaan kepada kesetiaan cinta kami: bisa berwujud harta kekayaan. kami akan saling mengenali. dan tiada pula memandang usia? Jika cinta memang mempersatukan jiwa. meski perbedaan duniawi yang membungkus kami bisa mengakibatkan masalah berarti. melainkan dibuang ke suatu wilayah di Pulau Flores yang asing yang dimusuhi oleh komodo-komodo lain. dan aku tidak mengetahuinya. yakni cinta yang dahsyat itu. maka kesenjangan tubuh macam apakah yang akan bisa menghalanginya? Justru itulah masalahnya sekarang: apakah aku. hanyalah menjadi sejati jika tahan uji terhadap cinta yang sama kecuali menggetarkan dan mendebarkan hati. bersentuhan sama sekali. begitulah. Hmm. dengan segenap petir dan halilintarnya yang tanpa membuat kami selalu bertemu kembali. Suatu kali bahkan ketika lahir kembali sebagai bayi. Apakah aku akan bisa bertemu dengan kekasihku kali ini? Tanda- kekasihku menimbulkan masalah besar. tapi mereka sebetulnya tidak tanda alam memberi isyarat kepadaku. kekasihku dianggap sebagai komodo menyeberangi laut untuk kembali ke Pulau Komodo-dan kini aku datang ke pulau itu untuk mencarinya. Sebagai seekor komodo. sehingga lahir kembali sebagai komodo? Apakah ia masih akan mengenaliku dengan pancaindra dan otaknya sebagai seekor komodo? Kalaulah aku masih mempunyai kepekaan untuk mengenalinya. apakah yang masih bisa kulakukan untukmu . karena telah memakan seorang anak gadis yang sedang mandi di sungai. Cinta diuji oleh cinta. Karena undang-undang melindungi komodo. Apabila kami bertemu dari kelahiran satu ke kelahiran lain. bisa berupa kursi kekuasaan. Itulah yang terjadi misalnya ketika aku lahir sebagai pendeta dan kekasihku lahir sebagai putri raja. di tempat yang baru itu. Lain kali aku lahir kembali sebagai perempuan dan kekasihku lahir kembali tetap sebagai perempuan. masihbisa mencintaikekasihku. kukira. bagaimanakah caranya ia akan mengenalikuseekor komodo ke dalam apartemenku di Jakarta. tidakkah cinta itu tiada memandang wujud. yang sekarang berada di Pulau Komodo. kekasihku telah dilahirkan kembali dalam wujud seekor komodo. Cinta yang sejati. Namun. Atas nama cinta. sebagai manusia biasa. kekasihku berenang dan menelan seorang anak gadis berusia 12 tahun. jikakekasihku itutelah menjadi komodo? Hanya laut. belum pernah kami lahir kembali dengan berbeda spesies seperti ini. Akibatnya. Karena kami selalu berperilaku baik. sehingga kekasihku dengan kelaparannya yang amat sangat telah menerkam dan maka kekasihku tidak dibunuh. Perburuan liar telah mengurangi jumlah kijang yang biasa dimakan komodo. kami selalu lahir kembali sebagai manusia-kesalahan apakah yang telah dilakukan kekasihku. Sering kali ini sangat membingungkan-tetapi selalu bisa kami atasi. Hanya kekosongan.

Apakah yang masih bisa kukenal pandangan mata yang penuh dengan cinta. Rupanya kekasihku menjadi seekor komodo jantan. tepat di hadapan mulutnya yang menganga. kaki kiriku sudah masuk ke mulutnya. “Introduction” Lombok to Timor (1997). 2. Labuan Bajo. Di dalam tubuh itu 1. Setelah menjelajahi pulau itu selama dua hari dan bertemu dengan sejumlah komodo. East of Bali: from . dan mencintai kekasihku…. Juli 2003 * Judul ini mengacu kepada judul sajak Chairil Anwar. Aku tidak sempat memanfaatkan tongkat bercabang itu- apakah aku akan lebih bahagia jika menyerahkan jiwa sebagai pengorbanan cinta? Kurasa hanya kurasakan kegelapan-dan perasaan menyatu. Sisa makhluk purbakala itu baru ditemukan secara resmi pada 1911 oleh tentara Hindia Belanda dan diberi nama pada 1912 oleh PA Ouwens. sebanyak 1. apakah cinta yang abadi itu sebenarnya memang ada. Aku terpeleset dari tebing. aku bertanya-tanya apakah aku bisa mencintainya seperti aku kosong. Cintaku Jauh di Pulau (1946). Ternyata. Kalau aku tidak keliru. dan selalu disebut hanya terdapat di Pulau Komodo. dan suatu wilayah di Flores yang jumlahnya belum sempat dihitung.650 ekor (1994). Sudah jelas ia tampak kelaparan. dengan jumlah sekitar 1. Kami bertemu pada suatu siang yang panas dan aku sedang mendaki ketika kulihat ia dari kekasihku yang cantik jelita pada komodo jantan ini? Tadinya masih kuharapkan merayap ke arahku di bawah kerimbunan semak-semak. aku berhasil menyelamatkan diri dari serangan sejumlah komodo. hal 111-114. tapi hanya kulihat sebuah pandangan mata yang masih sahih jika aku berusaha tetap mempertahankan cinta? Dalam keadaan seperti ini. aku menjelajahi pulau itu siang malam tanpa pengawal. Semuanya sudah terlambat. Nostalgi=Transendensi (1995). kurator Museum Zoologi Bogor. dan “Enter the Dragon: Visiting the Island of Dinosaurs” dalam Kal Muller. seluruh tubuhku tersedot masuk ke dalam tubuh komodo itu sekarang. Bersenjatakan tongkat bercabang. Baca Linda Hoffman. aku menjadi ragu. ataukah hanya seolaholah ada dan dipercaya begitu rupa sehingga mengelabui para peminatnya? Mungkin cinta aku sangat mencintainya. Ingatan terbalik atas sajak Afterthought : cintakah kau padanya / cintakah kau padanya dalam Toeti Heraty.000 ekor.hatiku terasa kosong. akhirnya aku bertemu dengan seekor komodo yang kuyakini sebagai kekasihku. Karena aku turun di kampung Komodo dan bukan di Loh Liang. sampai kutemukan komodo jantan yang pernah memakan anak gadis itu. tempat para petugas Taman Nasional biasa memandu wisatawan. langsung patah beberapa bagian. dan meluncur masuk ke kubangan. Ketika akhirnya kami berjumpa di sebuah kubangan pada sungai kering berbatu-batu. Reptil bernama resmi Varanus komodoensis yang panjangnya bisa mencapai tiga meter dan berat 150 kilogram. terdapat pula di Pulau Rinca. hal 75. dan kukira ia tidak mengenaliku lagi-apakah ternyata mengenal wujud-meskipun komodo jantan itu memang penjelmaan kekasihku.

Kampung Komodo. op. wisatawan asal Swiss berusia 84 nya. 4. ibid. yang lenyap di Poreng. Rakyat. cit. terdiri atas 400 KK (2003). hal 112 tahun. Bagian kisah ini mengacu kepada suatu kejadian. jauh baca JAJ Verheijen. Lebih Ikram. pada 1972. namun terjadinya di Pulau Rinca. yang bersebelahan dengan Pulau Komodo. hal 111-2. Muller.3. yang dialami seorang bocah lelaki pada 1987. dan Bahasanya (1987). kaki tiga untuk kamera. terjemahan A 5. Pulau Komodo: Tanah.. Pulau Komodo-yang tertinggal hanyalah tripod- .. satu-satunya kampung di pulau itu. dalam Muller. Korban terakhir adalah Baron Rudolf Van Biberegg. mempunyai kebudayaan dan bahasa sendiri. Mereka menyebut komodo sebagai ora.

Sesaat ia diam. Si pria menoleh. Si wanita mencium aroma wewangian dari tubuh si pria.” kata si wanita beberapa saat kemudian.” Ia mengakhiri kalimatnya dengan sekulum senyum. “Aku baru saja mendapatkan cucu ketiga. Kau bisa memberinya beberapa pesetas dan meminta mereka menyanyikannya untukmu. Lagu-lagu tentang semangat kerja rakyat petani.” Seorang pria duduk di sebelahnya. Sinar matahari masih terlihat jelas di ufuk mereka. “Siapa orangtuanya?” ia bertanya. barat sana. meluncur mendayu-dayu diiringi dansa-dansa yang amat indah. hoy. Ada nada pedih.Cinta Elena & Pedro Aba Marjani Wanita tua itu duduk sendirian di kursi pedestrian Las Ramblas.” Si wanita tersenyum. Beberapa orang berkerumun untuk mendengarkan. Seperti ada beban yang menindih. “Ya. Kesegaran menjalari seluruh tubuhnya. Bara cinta meletup di dadanya. “Si bungsu. Suaranya datar. Ia setua si wanita. El Cantar de un Campesino (A kepada orang-orang yang lalu lalang di depannya dan kebetulan menoleh ke arahnya. Sesekali ia mengangguk atau melemparkan sesungging senyum Sudah hampir pukul sembilan malam rupanya. Semilir angin menggeraikan rambutnya yang keemasan.” katanya. Matanya menatap ke pengamen obor api yang memasukkan dan mengeluarkan obor berapi di mulutnya. Julia. tangan si wanita memegang tangan si pria. Pengamen-pengamen asal Puerto Riko asyik menyanyikan lagu-lagu tradisional Farmer’s Song).” “Untuk kita. Muy bien. “Belum. Sebuah tongkat kayu dari pohon ek berada di tangannya. Pedro. Suaranya lirih. Muy bonita.” Tersenyum. Berkilat-kilat kena cahaya lampu yang mulai dinyalakan. “Apakah mereka sudah menyanyikan Cantandole a lo Nuestro?” si pria bertanya. Pedro. Mi Jaragual (My Little Farm). “Como estas. “Una hija. Kepalanya botak. Elena?” “Bien. “Aku selalu menyukai lagu itu. untuk kita. Ada juga yang membeli kaset hand made-nya seharga 10 pesetas.” .

Stadion kebanggaan pendukung El Barca itu terlalu banyak 6024m. Di wajahnya berdebar.” katanya dengan sunggingan senyum tertahan. Pedro datang dengan segala atribut El Barca. Demi aku.” Malam terus merayap.0<>w 6024m<1)>jmp 0m<>h 8000m. Pedro. Jantung keduanya serasa lebih cepat Dua tahun Elena dan Pedro bahu-membahu sebagai pendukung Barcelona sampai kemudian cinta mereka dipisahkan oleh takdir. bertaut. Monumental de Barcelona. si wanita membatin. Tangannya masih juga memegang tangan si pria. Akan ada dua Raul di sana. Di musim panas. Aku tak ingin ia berada di Nou Camp. “Kau ingin aku mengatakan apa? Aku turut bahagia dengan segala anugerah yang kau terima? Begitukah?” “Setidaknya kau bisa berkomentar apa saja. Tak sabar. Tanpa berkata. Kau bisa pura-pura bahagia. Aku cuma Si wanita tersenyum. Api cinta bergejolak di dadanya. mungkin saat ini ia tengah bertanding di La Liga bersama Raul Gonzalez. yang selalu dielu-elukan penonton dalam setiap pertunjukan. Pedro? Por que?” si wanita menoleh. Ia selalu merindukanmu. lintasan kebahagiaan berpendar-pendar. Ia ingin sekali menjadi seperti Pedro Romero. Ia menunggu jawaban si wanita dengan dada “Raul sering kali menanyakanmu. memandang laki-laki di sebelahnya itu. sama seperti El Barca yang dua tahun sebelumnya .Si pria menarik napas. wajah Raul bergulir. Begitu juga Elena. Matahari sebentar lagi akan lenyap ditelan Bumi. Di sanalah ia dan Pedro pertama kali bertemu ketika Barcelona dikalahkan Liverpool dalam suatu pertandingan tingkat Eropa >jmp -2008m<>h ingin Raul berada di Nou Camp.0<>w 8000m< 26 tahun lalu. “Kau tak ingin mengatakan apa-apa lagi.” Mendadak si pria tersenyum getir. “Bagaimana kabar Raul? Apakah ia bahagia dengan Bettina?” si pria bertanya. matador legendaris yang amat masyhur. “Aku sebenarnya menginginkan ia menjadi pemain sepak bola. Itu yang membuatnya berhenti sebagai torero. Api cintanya membara. cinta mereka berdenyut. Begitulah selalu di Spanyol. Dalam benaknya. Ia menyembunyikan sukacita di hatinya. Ia tahu Pedro tak tahu tentang mereka. matahari seolah enggan buru-buru berhenti menyinari Bumi. Seorang pria tinggi besar yang hampir saja tewas karena serudukan banteng di gelanggang matador di La adalah cita-citanya sejak kecil.” kebanggaanku meski aku orang Basque. Di dada mereka bunga-bunga cinta membalut. El Merengues selalu jadi tim ingin ia berada di Santiago Bernabeu. “Kalau ia menuruti kata-kataku. Tangannya masih dalam genggaman tangan si wanita. Dalam sekali pandang. meskipun itu Si pria melirik si wanita. Ia masih tampan seperti dulu.

bersama-sama menggigit es krim di tangan si pemudi dalam waktu bersamaan. Lalu mereka . Aku pamit.” Elena tersenyum sumringah. Entah ini hari ke berapa ia berada di sana.” katanya begitu tiba.” kata si pria kemudian. Elena.” Si pria bangkit.” Tak ada yang berubah di Las Ramblas. keduanya krim di tangan mereka. Dengan itu pun ia sebenarnya masih bisa bertahan. Kelompok Elena. Suaranya agak parau. si wanita berambut keemasan itu. Dengan es Si pemuda menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemudi. Kesejukan di hatinya singgah. Para pengamen berdiri di sisi jalan dengan kesabaran tanpa batas. juga tetap setia duduk di kursi yang kemarin masa. Ada yang berperilaku seperti manekin hidup dengan tubuh berbalut semacam cat putih dan baru mengubah posisi mematungnya penyanyi Puerto Riko juga tetap setia membawakan lagu-lagu rakyatnya di depan sebuah toko yang menjual berbagai macam majalah dan koran. manakala seseorang melempar uang receh pada sebuah wadah di depannya. Tanpa tongkat “Buenos dias. Pejalan kaki tetap berseliweran dari pagi sampai pagi. “Buenos dias. didudukinya. Mengecup kening si wanita. Tanpa menoleh. menghentikan langkah si pria. Cinta memang tak selalu mempertautkan raga meski jiwa mereka takkan terpisahkan oleh apa saja. Ia khawatir hitungannya terhenti pada Tanpa terikat apa-apa. “Buenas noches. Ia ingin menikmati masa-masa tuanya seperti yang ia inginkan sendiri. Elena. Sejak dulu matamu selalu bagus. Pedro. bukan?” si wanita menjawab.disisihkan klub sepak bola dari tanah Inggris itu. Seperti juga hari-hari sebelumnya. Tongkat dari kayu ek itu lebih hanya sebagai teman. “Seperti yang kau lihat. Semuanya mempertontonkan kelebihan masing-masing seraya berharap ada pejalan kaki yang rela menyisihkan uang recehnya beberapa pesetas.” Si wanita tersenyum. muncul belakangan. Lalu. ada yang dalam gegas. ia duduk di sebelah si wanita. Si pemudi menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemuda. seperti coba mencari topik pembicaraan di sore yang juga cerah. si pria tua itu. Sisa-sisa api cinta berpendar-pendar di matanya yang cerah.” katanya. Mereka tak menadahkan tangan. “Pedro. Yang diketuk-ketuknya perlahan-lahan ketika ia berjalan. Di dadanya rasa nyaman merambah. Sepasang muda-mudi kemudian duduk di kursi di depan di seberang mereka. Tanpa menunggu jawaban. Tapi. Ada yang santai. Mereka menjual kepandaian. tambien. “Sudah saatnya kita berpisah.” “Mi. Yang membuat langkahnya terasa lebih ringan. ia memang tak ingin menghitung. Ia belum pikun untuk menghitung bilangan tertentu. “Kukira sudah terlalu malam. tongkat di tangan. Hasta luego. “Kau sehat?” si pria bertanya. “Te amo.

“Ya. disujudkan kepada laki-laki yang tak dicintainya. takdir itu kemudian datang memisahkan mereka. Dan kini alam mempertemukan renta mereka. takkan ada yang mampu memutus tali dan jalinan kasih mereka. Keduanya teringat masa-masa lalu yang indah di dari simfoni-simfoni klasik gubahan Beethoven entah berapa waktu lalu. Jika aku berkata jujur. api kasih masih panas membara. sudut-sudut Plaza Montjuic jadi saksi abadi keabadian cinta mereka. Tak pernah terbayangkan hal itu dapat terjadi. Sariawan membuat gusiku peka. Tapi tak pernah padam. “Almarhumah istriku?” ia mencoba mengulur. Tapi kasih mereka tak dilekangkan oleh perubahan dan waktu.pejalan kaki yang berseliweran. Demi sebuah bisnis keluarga. Sambil coba mencari jawaban yang paling mimpi-mimpinya. Elena harus menikah dengan pria lain pilihan ayahnya. cinta mereka tetap bergelora. tepat. Inilah untuk pertama kalinya pertanyaan seperti itu meluncur. “Kau mencintai istrimu. bukan?” si wanita menoleh. Saat itu mereka yakin tersemaikan dalam sebuah romantisme kasih tak terperi. Mereka tak peduli dengan Plaza Montjuic di bawah tempias air mancur yang meloncat-loncat seiring dentuman drum membuat mereka mabuk. tertawa-tawa berkakakan. Si pria tersenyum. “Kau masih ingat ketika itu aku meringis. Dan keduanya pun kemudian berpisah dalam dekap penuh tangis di sebuah kamar hotel tua di sisi pedestrian Las Ramblas ini. apakah hatinya takkan hancur? Ia kembali mengetuk hatinya dengan pertanyaan penuh keraguan. setelah setetes benih juga Tapi. Cinta yang tak lekang oleh waktu dan perubahan. si wanita terkasih. Yang takkan melukai hati si wanita di sisinya. Api cinta mereka memang terpendam. Masa tak mampu memupus dan keduanya kembali. Cinta mereka memang terbelenggu. Elena. Hampir dua puluh delapan tahun peristiwa itu berlalu. Haruskah aku menjawabnya secara jujur? Si pria bertanya dalam hati. katamu gigimu sedang sakit. Bukankah kau sakit gigi waktu itu?” “Bukan sakit gigi. Ketika kelana cinta mereka menari-nari dalam sinar mercury yang remang. Dalam tubuh yang renta. Ketika saling memberi dan menerima merasuk. Ketika cinta tengah manakala mereka tengah duduk berdua seperti sekarang ini. Wanita yang dulu selalu hadir dalam . Wajah mereka basah oleh air mata dan tetes-tetes cinta. Mereka seolah cuma ada berduaan. Selain Nou Camp.” Kenangan-kenangan indah bermunculan susul-menyusul memenuhi benak mereka Si wanita tersenyum. Dalam tubuh memudarkan hasrat mereka untuk tetap bersama. Pedro?” si wanita bertanya. Setelah sekian lama mereka kerap bertemu dan saling mencurahkan isi hati yang pernah hancur. Ketika mereka saling memagut dalam alunan cinta yang kian bertaut. Si pria menoleh.

Si wanita menoleh. Melemparkan senyum. Dengan bibir yang masih tampak ranum.

Setidaknya di mata si pria yang kian rabun. Tapi, senyuman itu sekaligus membuat si pria

gelisah. Membuat hatinya resah. Dan ia merasa keringat telah membuat telapak tangannya basah. Embusan angin membuat hatinya makin galau. Di dadanya menggumpal rasa risau. Pedihnya seperti tertusuk-tusuk sejuta pisau.

“Setidaknya aku punya anak dari Evita,” suaranya parau. “Aku mencintai anak-anakku. Pablo dan Javier.” Ia diam sejenak. Sesuatu seperti membuat tenggorokannya tersedak. Ketika ia melirik si wanita, ia melihat angin membuat rambut si wanita tersibak. Dan ia seperti segenap keberanian.

menunggu. “Apakah, apakah kau mencintai suamimu?” ia bertanya setelah mengumpulkan

Si wanita tertawa kecil. Suaranya agak menggigil. “Mengapa kau tertawa, Elena?” si pria bertanya. “Seperti kau, dari Enrique aku punya Julia.” “Dan Raul.” “Kau tak ingin mengatakan Raul sebagai anakmu?” Si pria tak segera menjawab. Seolah ingin membiarkan pertanyaan itu menguap. “Kau masih mendengarkan aku, Pedro?” “Ya,” tenggorokan si pria terasa kian tercekat. “Raul mungkin darah dagingku. Tapi ia anakmu dan Enrique.”

Malam merayap naik. Udara dingin kian terasa menusuk tubuh mereka yang renta. “Aku pulang dulu, Elena,” kata si pria mendahului setelah seorang pemuda meluncur di depannya dengan sepatu roda di kakinya.

Elena bangkit. Pedro pun bangkit. Ia mengecup kening si wanita. Lalu melangkah ke arah utara. Si wanita melangkah ke selatan, ke Plaza de Catalunia.

HARI berikutnya, keduanya bertemu di Plaza de Toros La Monumental de Barcelona, sebuah bangunan tua yang tetap terawat dengan sangat baik. Keduanya memang selalu menyukai aksi para torero dan matador membunuh banteng.

“Kudengar makin banyak yang menentang pertunjukan seperti ini,” kata si pria ketika

keduanya duduk di kursi dari kayu tua di barreras. “Kelihatannya memang tak manusiawi. Tapi alam diciptakan Tuhan untuk manusia. Makhluk-makhluk lain adalah pelengkap. Mereka harus menjadi bagian yang membahagiakan manusia.”

“Itu katamu,” si wanita menyunggingkan senyum ketika para paseillo memasuki arena dan melambaikan tangan mereka kepada para penonton. Sejak kecil, si wanita selalu dibuat

kagum oleh pakaian para torero yang berwarna-warni. “Mereka, para pencinta lingkungan dan binatang, menginginkan semua makhluk hidup, hidup berdampingan secara damai.” “Tapi ini tradisi kita,” si pria membantah. “Aku tahu. Dan kita ke sini bukan untuk berbantah-bantahan, bukan? Kita ke sini untuk

menonton.”

membatin. Ia ingat ketika pertama kali memasuki La Monumental de Barcelona sebagai

Si pria terperangah oleh suara si wanita yang terdengar getas. Ia masih seperti dulu, si pria

sepasang kekasih. Elena menolak duduk di barreras karena harga tiketnya mahal. Ia lebih suka duduk di gradas. Tiketnya paling murah. “Kalau kau mau duduk di sana, silakan kau kanan si wanita dengan tangan kirinya. Menggenggamnya erat-erat. Seperti tak ingin terlepas. duduk sendiri. Aku mau kita di gradas,” katanya ketika itu. Buru-buru si pria meraih tangan

Seorang novilladas memasuki arena. Siap memulai pertunjukan. Tepuk tangan kecil terdengar. Begitulah selalu nasib para matador pemula. Ia harus lebih dulu mempertontonkan kecekatannya menguasai seekor banteng sebelum kemudian diakui

menjadi torero dan akhirnya setelah kemampuannya teruji, menjadi matador sesungguhnya. “Siapa matador kesukaanmu sekarang?” si pria berdehem sesaat kemudian. “Seperti cintaku padamu, sampai sekarang aku masih lebih menyukai Pedro Romero.” “Tapi ia telah tiada.” “Karena itu, hari ini aku ingin melihat aksi Enrique Ponce.” “Enrique?” Si wanita menoleh. Tersenyum penuh arti. “Jangan seperti anak kecil, querido mio. Tak ada hubungannya dengan Enrique almarhum Enrique dalam batinku.”

suamiku. Aku menyukainya karena kehebatannya, bukan karena namanya. Saat ini tak ada

Enrique Ponce memasuki arena. Ia akan memuncaki pertunjukan siang itu. Tepuk tangan membahana ketika ia keluar dari puerta grande. Tepuk tangan kian membahana ketika seekor banteng besar seberat 360 kg dihadapkan kepadanya. Dan, ia tak perlu berlamaperlahan-lahan seperti bersujud di hadapan sang matador.

lama untuk menancapkan estoque-nya melalui leher bagian atas si banteng yang kemudian

“Ia seperti memiliki mata malaikat,” si wanita berkata, seperti mendesah. “Ia memang luar biasa. Suatu saat ia mungkin bisa seperti Pedro Romero, sang legendaris itu,” sambung si pria.

Kini keduanya duduk di sebuah kursi panjang terbuat dari besi di sisi jalan tak jauh dari Plaza de Toros. Matahari bersinar amat cerah. Langit tampak kebiruan.

hoopoe dari kejauhan.

“Aku tak ingin semua ini segera berakhir,” si pria berkata, ditingkahi suara burung-burung

“Tapi hidup ada batasnya,” sahut si wanita seiring desiran dedaunan pohon palem yang ditiup angin.

“Kau ingin kita menyudahi semuanya, Elena?” Tak terdengar sahutan. Mata si wanita menatap ke kejauhan. Di sana tampak empat pria tua martil.

asyik bermain petanque, yaitu permainan melempar besi berbentuk bulat seperti bola lontar

“Kau ingin aku menikahimu?” si pria kembali bertanya. Si wanita meringis. “Akan menjadi pernikahan yang menarik,” ia mendesah beberapa saat kemudian. “Tapi Raul tak ingin hal itu terjadi.”

Si pria tampak terperanjat. “Sudah kau ceritakan siapa aku kepadanya?” si pria bertanya. Menduga-duga. Rasa galau berloncatan di dadanya.

“Tidak seperti yang mungkin kau sangka. Baginya, kau cinta pertamaku. Ia tahu apa itu artinya.”

“Tapi, kenapa ia tak setuju kita menikah?” Tak segera terdengar sahutan. “Aku tak ingin tahu alasannya. Aku cuma tahu ia tak setuju.” Lama keduanya terdiam. Hening menyungkup kamar itu. Si pria duduk memandang si wanita. Ada gelora cinta. Menggemuruhi dada keduanya.

“Kau masih secantik dulu,” katanya lebih mirip desahan. Suaranya agak tertahan. “Cintaku tak pernah dilekangkan oleh zaman.”

Setetes air bening menetes di mata si wanita. Tak ada luncuran kata. Ia tetap diam tanpa suara, beberapa lama. Tapi di dadanya kebahagiaan melanda.

Si pria berdiri. Melangkah perlahan menghampiri. Si wanita duduk diam menanti. Dadanya berdegup tiada henti.

* Jakarta. Matador. El Barca (baca El Barsa). sampai jumpa. Muy bien. Hasta luego. Como estas. matador pemula. Dalam gelap. sebutan umum untuk matador. tetap tertunduk. Nou Camp atau Camp Nou. El Merengues. Gradas.” kata Julia lirih. “Aku minta maaf atas semua yang telah terjadi. Julia. kandang klub sepak bola Barcelona. hoy? Apa kabarmu? Bien. bintang dalam pertunjukan matador. Tapi gemuruh cinta di dada keduanya berdentam-dentam. parade para matador sebelum pertunjukan. Raul. Dengan baju serba hitam. divisi utama Liga Spanyol. tambien. aku juga. Tak ada yang dapat dipersalahkan. Buenos dias. Mendaki. Gairah di dadanya pun meletup. julukan klub sepak bola Real Madrid. dan Javier berdiri berjajar. selamat malam. seorang anak perempuan. si pria menatap bebukitan tandus tapi memberinya gairah meluap. baik.tempat duduk paling tinggi. nama mata uang Spanyol. La Liga. Barreras. ruangan itu gelap. Dalam kepasrahan ia membiarkan si pria pergi. Pesetas. Jantungnya kian kencang berdegup. Sebentar lagi prosesi pemakaman dilakukan.” kata Raul dengan wajah “Mereka pergi membawa cinta abadi mereka. Buenas noches. Si wanita tergagap. . Novilladas. tempat pertunjukan matador. Mendaki dan mendaki. Una hija. selamat siang. Kalimat itu ia tujukan buat Raul dan Julia. Paseillo. Februari 2004 Catatan: Tingkatannya di atas torero. Dalam sunyi abadi. Tak ada yang menyahut lagi. baik sekali. julukan klub Barcelona. kursi terdepan (termahal). Cantik sekali. Dalam gagap ia menemukan sepucuk tunas tumbuh. Sampai kemudian semuanya berhenti. Dalam peti berbalut kain hitam. Muy bonita. Te amo. Plaza de Toros. Lalu.” kata Pablo. “Tak ada yang perlu dimaafkan. Mi. aku cinta padamu. Por que? Kenapa? Torero. Di hadapan mereka berjajar dua tubuh dalam diam. Keheningan mencekam.Beberapa lama si pria dan si wanita duduk dalam diam. Pablo.

Puerta grande. . sayangku (My dear).pada 30 Maret 1976 1) Barcelona kalah 0-1 dari Liverpool dalam pertandingan semifinal Piala UEFA second leg Querido mio. pintu utama.

kadang kubayangkan urat saraf bunda lebih rimbun dan juga lebih canggih dari kami.Lampu Ibu Adek Alwi Akhirnya bunda datang juga ke Jakarta. Berpikir-pikir? Lewat kaca spion. Om. naik kelas. menutup-nutupinya. dan cicit yang makin henti berdenyut. sambil terus melaju di jalan tol.” “Tak penat aku!” tukasnya keheng. Seminggu!” “Kuliahmu lancar?” “Lancar. dan memanggil anak-anak kami “cucuku”.” kubilang. harapan. “Baiknya Bunda istirahat dulu. pasti beliau tidak tidur. melihat anak. Kami tidak bisa lagi koran dan televisi. “Libur kau.” Ia selalu menyebut rumah anak lelakinya dengan nama menantu. Mereka . tamat kuliah. “Nina dan cucu-cucuku sehat?” “Sehat. telah disiarkan “Antar aku dulu menengok abangmu. Tak dapat lagi ditutup-tutupi dari bunda. Dan saat kulirik ke samping. Ya. stamina dan kegesitannya seolah tak berubah. Palinggam…. melayang suratnya dengan tulisan halus-tebal model masa lalu. telah lama kami hindarkan terhenti. Makanya. Apa yang bakal terjadi ketika bunda berjumpa abangku itu nanti? Tanpa sadar aku menggeleng. Urat-urat saraf itu tak denyut adalah pantauan sekaligus hubungan dengan anak. didampingi seorang cucu. Kasus dan sakitnya abangku. Merenung? manggut-manggut. seminggu ia menginap di kantor polisi. dan cicit. Masih keliling ke berbagai kota bahkan pulau. Namun abangku. Palinggam. kulihat keponakanku di jok belakang. terlibat pula dia menyelesaikan beragam masalah. Justru itu. cucu. “Besokbesok aku menginap di rumah si Nina.” ujar beliau saat kujemput di SoekarnoHatta. laiknya anak muda. karena belum siap melihat denyut itu tiba-tiba Aku menarik napas. panik. cucu. atau kedap-kedip serupa kabel di pusat telepon.” Ia cengar-cengir. juga nasihat. Kapan pula dia merasa penat? Meski umur 80 dan tubuh makin ciut. Di hari baik bulan baik bagi yang bersangkutan (ulang tahun. Di kantong celana kawannya ditemukan polisi ekstasi. Tiap banyak. yang semua sarjana bahkan dua doktor pula. Libur. mengikuti perkembangan mereka. Isinya ucapan selamat. tujuh anaknya. Ia tergeragap. jika ia tahu. Nanti sore kuantar…. Tapi. tidak berani membayangkan. “Oh. Dengan masalah yang juga tambah banyak. Senyam-senyum. mata bunda terpejam. naik jabatan). Man?” tanyaku mengalihkan pikiran yang melayang saja ke mana-mana. kabar buruk dari beliau. Masih pasang mata dan telinga baik-baik. menutup mata serta telinga beliau.” Aku lalu diam dan terus menyetir. doa. “Terus sajalah. Seluruh keluarga heboh. Tahun lalu. agaknya melantunkan nyanyian riang dalam hati. Tempo-tempo. keras kepala. seperti jantung kita.

pulang dari rumah sakit. dengan uang hasil pensiun serta kedai rempah. nenek yang risau itu memanggilnya. Dan bunda menyergap orang itu?” pula.” Dan diam lagi. tak Herman kabarnya menangis. menatap aspal jalanan yang berpendar disinari Jelambar. Syukur. dituduh korupsi. Bunda tentu tidak diberi tahu. Dari istriku. Dan saat umur muda Herman. Pandai-pandai mencari kawan. tangguh. seperti orang- Aku makin gugup. bicara sendiri saja.” “Cuaca buruk. Ingin kencing. disekolahkan hingga tinggi. Bunda? Sehat. Nak. sudah. Herman pulang. o. “Baik saja. “Sudah.” Kusodorkan .” Tiba-tiba aku jadi gugup. kau biarkan anak naik gunung?” “Ala. berucap lunak. “Apa maksudmu?” “Maksudku. Tak apa-apa. “Kurang dingin AC-nya Bunda?” “Cukup. Rosa langsung diam. “Sudah dua hari tidak kulihat cucuku. “Masuk rumah sakit. Atau. seperti pernah dia ucapkan? ibu tamat seiring perginya hayat dari badan? Sebab di situ beda ibu manusia dengan induk “Bagaimana abangmu sekarang?” Bunda melepas pandang dari jalanan. tak apa-apa Bunda. Ke mana dia?” tanya beliau suatu pagi.semobil. Lalu Slipi. O. “Biasa itu. anak laki-laki.” jawab Kak Leila. Kak Leila berpura sibuk. “Naik gunung. si Herman. berempat. Semuanya digaruk. Kami sudah di Apa gerangan yang terlintas dalam pikirannya? Anak cucu yang tak membawa kabar baik. Dalam hati kembali kumaki-maki abangku.” kubilang. Agar mereka jadi manusia. kurusnya engkau. Tujuh anak yang masih sekolah saat suami wafat telah ia bekali. tak lama lagi Grogol. Masalah kami hari ini dengan begitu tak perlu lagi menjadi beban beliau.” adikku Rosa menyahut. Dan bunda tetap menoleh. dan berhasil. menanti jawaban. Dan kendaraan-kendaraan yang berkilau seliweran di jalan tol. baginya tugas ayam dan kucing. Palinggam. Kawan yang baik. HP-ku lalu berbunyi. “Diajak kawan-kawannya. kau bilang tak apa-apa?” suaranya bagai berasal dari tempat yang jauh.” kubilang. sebab sendiri saja membesarkan kami? Ah. Betapa ingin kusampaikan bahwa dia ibu yang perkasa. “Lagi di jalan. ingat pengalaman bermalam di kantor polisi.” “Eh. matahari pagi. sejak kapan alam berubah hanya memperdaya perempuan?” ujar bunda. anak-anak kami. Pucat pula. Lihat. ingat suami yang jarang pulang. Pun ulah cucu. Maksudnya membantu Kak Leila. pada usia senja? Merasa gagal. memandang jalanan. “Elok-elok kau jalani mengundang datangnya mudarat. serupa mayat!” Mata bunda kulihat sudah terbuka lagi. “Sudah pulang abangmu dari rumah sakit? Pura-pura sakit saja dia.

“Syukurlah. sesak kendaraan yang padat-merayap ke arah Thamrin-Kota. masih kuat aku ke Jakarta. sudah gadis bukan? Sudah SMP. Ceritakan apa yang terjadi!” katanya Ketika kejadian itu diceritakan setelah diedit dibagusi. Memeluk bunda.Obrolan panjang. sekali waktu lenyap dari rumah mereka di dari Singapura. Bunda?” Kudului dia bertanya saat pembicaraan itu berakhir. Aida tak jumpa. Semua saudara Batam. Sering ke luar kota. Aida. tak juga puas. termasuk Kak Meinar di Medan dan kami di Jakarta. Mungkin berjaga-jaga dari demonstran. suara bunda: “Nina? O. Anak gadis kakakku. masih punya waktu kalian buat cucu-cucuku?” Aku tertegun. Jangan pula dia alami seperti keponakanmu. “Mengapa kau ketawa?” “Tentu punya waktu. Alhamdulillah. Ya? Besok-besok. Kakak dan abang iparku kalang kabut. “KakakAnak dibiarkan tumbuh sendiri.” ujarnya. karena bunda lantas bertanya.” “Dan kau sibuk pula. Terpikir olehku. Dan.” ia bilang. Harta meruah. Andamsari. HP ke bunda. Aida. atau khawatir abangku raib tak ketahuan rimbanya. meluncur mulus ke Kebayoran. Nak. Kau sudah di kantor! Bawa mereka nanti ke rumah kakakmu Andamsari. Mana cucu-cucuku? Oh. alis bunda tetap bertaut. menangis tersedu. tanpa seragam. Bunda. sibuk benar kudengar istrimu.” kataku. sehat Nak.” “Nina manajer pemasaran. Lalu. Termasuk polisi. Kalian bagaimana? Syukurlah. Kakak iparku. Aku lihat abang kalian itu dulu…. Bunda. Mau bicara. Namun boleh jadi berlebihan.” “Bukan hanya karena hendak menjemputku?” Aku menggeleng. tambahku tanpa suara. hah. “Nina. . Ke luar negeri juga. Cucuku. bersama pacarnya. Dicari serta ditanya ke mana-mana. “Sibuk terus.” Mudah-mudahan lama. Tahu kalian. Lalu ia mendekat. siswi SMU kelas dua itu. Aku berbelok. “Buktinya aku kini tak ke mana-mana. Mereka tahu sehari setelah kejadian. Syukur dua remaja itu sungguh sekadar berjalan-jalan. bunda yang tadinya tidak tahu curiga melihat semua meradang. Eh.” Aku diam kembali. Nak. Ini. bebas dari di luar. seperti biasanya. sudah menanti di teras.” “Apa kata Nina. Tetapi di halaman dalam terlihat sejumlah orang. Aida. Biar dia lupa bertanya. Kemudian tertawa. berhenti di tempat parkir khusus keluarga. Tapi. anak ayam saja tidak seburuk itu nasibnya!” kakak kalian itu yang salah jalan!” ujarnya keras. “Aku cuma khawatir. “Tanya kesehatanku. Pagar maupun gerbangnya tertutup. pulang dihubungi. “Biasalah. ditemukan adikku Rafli di pantai Padang. si Aya. Bunda. Kami sudah tiba di Semanggi. orang sibuk kasak-kusuk. rumah abangku sepi saja Aku terus melaju ke sayap kanan. “Jangan kalian berahasia lagi.

dimaafkan. Bunda. “Aku punya atasan. seperti minta Bunda.” Mengangkat muka lagi. Mukanya kuyu. Suara Bang Palinggam terdengar pelan. selalu terdorong menyalakan lampu hingga akhir hayatnya. Mata Bang Palinggam kian berkaca-kaca. hampir menyerupai bisik.” ujarnya bak mengadu. Aku muncul. Namun takdir seorang ibu. itu isyarat dari abangku. Bang Palinggam terpana menatap bunda. Aku juga kader partai. mengapa kau mengelak diperiksa. Dia menunduk. “Belum tahu. “Tetapi bagiku. Juga aku serta Kak Andam. Loyo. Acara bertangisan agaknya telah usai sewaktu aku mendekat ke ruangan itu. Matanya perlahan berkaca-kaca.” Bunda mengedarkan senyum. aku tahu sekarang dari mana sunyi itu berasal. bagai kelap-kelip mercu suar di malam gulita penuh badai.hendak meledak. sayu.” “Dasar!” Pembantu bergegas mengangkut bawaan bunda. memandang bunda. Bunda diam. Kak Andam?” tanyanya antusias. Aku di kakus. “Aku punya kawan. melihat bunda lagi.” sahut bunda kemudian.” “Bagaimana bunda? Bang Palinggam.…” entah dibawa udara dari bumi yang mana. sudah.” dia bilang. Dan negeri ini.” Mereka duduk bertiga di ruang keluarga. Bunda. Nak. yang benar harus disampaikan sekalipun pahit. “Namun hingga detik ini. Nanti saja aku kabari. Dan aku merasa. Kalaupun akibatnya kau diberhentikan bekerja. Bunda. Palinggam. Nak? Kenapa berpura sakit? Mengapa tidak kau beberkan saja semuanya?” “Tidak sesederhana itu. Terkutuk aku bila mendustai “Kalau begitu. Aku tergopoh ke toilet. “Apalagi kau. “Kalian sekarang memang bukan lagi anakku yang dulu. Dan HP-ku kembali bernyanyi. . Palinggam. melepas urine yang “Tapi kayaknya tidak apa-apa. dipecat partaimu. Suaranya makin lunak. Nina lagi. kini sudah bercucu pula. Bunda sekarang tampaknya banyak diam.” “Di mana rumitnya?” Tidak terdengar suara. Menarik napas. Abangku melirik. Nak. yang sedikit banyak ikut dibela ayahmu dari penjajah. kencing. Rasanya.” Sampai di situ mataku terasa jadi panas. aku tetap bersih. juga kepadaku. “Sudah sampai belum?” “Sudah. pada hatimu sendiri. Dan lapat-lapat kudengar suara sunyi merayap. Juga kepada Tuhan. “Tak paham aku soal-soal begitu. bagiku itu lebih baik daripada kau berkhianat pada kebenaran.

“Seperti orang-orang di dalam mimpi. Kawan-kawan lama kami jarang pulang. seolah sudah bosan lalu raib entah ke mana. memurukkan yang lama ke lipatan bawah dan juga menguap ke luar ingatan. Tapi kami kawani dia melihat bekas rumah orangtuanya. lebih-lebih tukang gigi. yang meneruskan usaha keluarga membuka kedai mengenang kawan lama serta kota kami yang setelempap tetapi menyimpan sifat-sifat aneh tak terduga. Nius. Di kota kami orang Cina tidak mampu “Tentu!” kubilang.” jawab Tum menampakkan senyum yang ganjil. Waktu terus berjalan dan orang-orang lahir. Berbagai peristiwa timbun-bertimbun. Satu di Palembang. “Pernah sekali datang waktu mau ke Padang melihat kakaknya. bahkan banyak yang tidak pulang sejak merantau-belasan atau puluhan tahun yang silam. Kami ajak bermalam tidak mau. Tidak sekalipun berkedip. setelah mengamati wajah-wajah tak kukenal waktu kecil.” tambah Amril. namun kemudian muncul lagi dan kembali menatap. bila aku pulang ke kota kami selalu kutanyakan kawan-kawan masa kecil itu.” Biju menerangkan dengan gembira. Si Talib di Dumai. Berubah sekarang. Kalau aku pulang. Si Tunik buka lepau nasi di Muaro Bungo.” “Hanya si Cudik. sebagai dua studio foto yang ada di kota kami. Tempo-tempo mata kawan masa kecil itu memang tak tampak. Dia dan keluarganya tergolong aneh. kopi di simpang jalan dekat pasar. Nius. sudah bercucu satu. “Ingat si Bun Kay?” tiba-tiba Tum menyela. Nius. dewasa atau jadi tua. tak pernah bersua kecuali dengan dua-tiga kawan yang setia menghuni kota kelahiran Kepada mereka. akrab dengan pribumi. Padahal tahun demi tahun terus berganti dan kini telah mendekati tahun keempat puluh. Mungkin karena bersama istri dan anak-anaknya. berai. 22 November 2006 Mata Sultani Adelk Alwi Sudah hampir empat puluh tahun mata Sultani menatapku. si Talib dan si Tunik yang acap pulang. Hebat dia!” pensiun. Mereka pemilik satu-satunya bioskop dan “Bun di Medan jadi dokter. kendati kota kami tetap saja setelempap. Bun satu-satunya sahabat Cina kami di bersaing di pasar dengan pedagang pribumi tetapi tidak tertandingi membuat kue.” jawab Tum. di kedai kopi itu kami bercakap-cakap “Si Cudik kini di Lubuk Sikaping. “Di mana dia?” tanyaku antusias. ibunya berjualan kue mohok alias bakpau. “Tak lama lagi Dua lepau nasinya sekarang.” . Hanya menatap.Jakarta. yang lalu lalang di luar kedai kopi Tum. Paling tidak dua atau tiga tahun sekali ada mereka pulang. Ayah Bun tukang gigi. Bahkan mengerikan. tetapi tak banyak lagi kabar gembira aku peroleh. seperti tidak kenal lelah. Aku dan kawan-kawan pun sudah ceraikami. grosir roti dan permen. “Seperti ada dan tiada.

Saat dia letakkan ke meja tak seorang pun yang berselera menyentuh dia ulahi.” “Bagaimana kabar Sultani? Di mana dia?” tanyaku pada kawan-kawan di kota kelahiran. Kalau di rumah Bun kami disuguhi kue mohok. Pagi-pagi terdengar sandal ibu Bun berlosoh-losoh mendekati paviliun tempat kami tidur. Dulu kami sering bermalam di rumah itu. menyogok portir bioskop sehingga kami bisa nonton film 17 tahun ke Membungkuk-bungkuk mencari kursi kelas 3 yang kosong. Biju dan “Makan. Bak orang-orang dalam mimpi.” bilang Tum. tak pake babi laaa. Nius. Suara Lin halus: “Ko Bun! Engko Bun!” Dadaku berdebar mendengar monyet mengalir deras terhadap Lin. Tapi kami cegah. Ayah Sultani kepala terminal sekaligus ketua organisasi buruh. kembali menampakkan senyum yang ganjil. “Di dalamnya ada kerak gigi!” Kalera! Sultani meradang dan hampir menghadiahi mereka “ketupat Bengkulu”. Pagi-pagi Rambut ekor kuda. Kelas 6 SD kurasakan gejolak cinta Mereka menggeleng. Juga pandai menjahit. guru mengaji Tempo-tempo kawan itu memang cingkahak.” sahut Tum. Bagiku. makan! Tidak halam! Tak pake gigi babi laaa!” Sultani cengar-cengir menyindir. Tidak kecuali KAWAN masa kecil itu lincah.Dalam peristiwa dahsyat pertengahan 1960-an rumah orangtua Bun di Kebun Sikolos diobrak-abrik massa. adik Bun. goreng serta roti lapis mentega. Tunik juga. Ibunya baik seperti ibu Bun. Pipinya putih kemerahan serupa jambu air. Matanya tak terlalu sipit. dan tak pakai babi!” komentar anak-anak yang iri. “Percuma. lantai. seperti buang hajat. alias usil plus kurang ajar. Minumnya teh hangat. mengajak makan. suara itu. mengantar kue mohok hangat- hangat. “Itulah. Dia kapten sepak bola. “Tidak halam. berisi mohok serta teh manis. Dan pernah pula Buya Makruf. Sultani. diduduki hingga kini. Sultani malah tertawa-tawa makan uang haram itu. Keluarga itu memang kaya dan terpandang. tidak halam! Enak laaa. Kami berebut. Itu pula sebabnya dendamku pada Sultani pernah seperti tidak berujung. Kami diselundupkan portir ketika lampu bioskop padam. adik kelas kami. Di antara lipatan uang sogokan dia selipkan duit buntung atau uang zaman Jepang sehingga untuk beberapa waktu kami terpaksa puasa nonton film orang dewasa. berdebar-debar sekitar dua jam menyaksikan aksi Sophia Loren yang atas yang dibintangi Sophia Loren. Bun tertawa-tawa menyikat nasi goreng. pintar di sekolah. kami kerap nginap di rumah Sultani. atau menjelepak duduk di menggairahkan. juga ketukan jari-jarinya yang mungil di pintu. “Didiamkan berhenti sendiri!” Lin terlihat segar. Lalu ia sambar roti. Portir bioskop juga .” ia sodorkan nampan perut kami. Sultani menarik piring roti ke dalam sarung. Suka-suka kami mau makan apa. Begitu sandalnya berlosoh pergi kue dan teh itu amblas ke “Jelas enak. Seperti di rumah Bun. ibu Sultani pagi-pagi menghidangkan nasi kadang susu. mencukur. lebih menyenangkan kalau yang mengantar kue adalah Sui Lin. Mereka bilang ayah Bun menjual gigi dari Peking. mencangkunginya kecuali dia. lucu. “Banyak kawan kita serasa ada dan tiada.

Kepandaian kiraahnya elok. potong pendek bak rambut tentara saja aku bosan. jadi keras. Sudah lama aku dambakan model rambut orang dewasa atau rambut abangku. laaa. “Tapi tak apa-apa terlambat daripada tidak. Biar aku yang ngajar. mencukur seperti yang kuinginkan. Mulanya sungguh-sungguh juga dia. selesai!” Ayah Bun terkekeh. ketika mandi-mandi di batang air yang mengalir di kota kami Bun tiba-tiba panik. Mestinya waktu kita kelas tiga. banyak kawan merasakan ulah Sultani. Rancak. “Rambutku dia cukur.” ujar Sultani saat Bun meringis dan kami Bun?” Bun mengangguk lemah. Mendesis-desis lunak. melecutkan ke kaki-seperti dia lakukan pada kami selaku guru kecil yang cingkahak. Padahal selalu kuminta Mak Hasan sambil mendorong kepalaku kian kemari. Ayah dan ibunya setuju. Aku malah tak sekali. “Seperti model rambut Bang Rustam. mendampingi kawan itu setiap malam. Bah!” Sultani meyakinkan bak tukang obat. Tetapi. Ibunya tersipu. Tak licin di sekeliling kepala. Suara gunting tak berdencing-dencing ganas. setiap usai dicukur kepalaku tetap mirip tentara atau anak kecil. Ada yang menyentak ujung kulupnya dari bawah air. Baju. tidak terasa. “Sebetulnya telat Bun. Tunik juga. terbungkuk-bungkuk keluar tempat wudu bercelana kolor dan dada bugil. “Sunat Bun! Potong Bun! Saat liburan tiba Bun pun lalu minta disunat. serta sarung beliau “terbang. . Mukanya pucat serupa mayat. “Ular! Ular!” Bun berteriak menyembul di tengah sungai. ajakan Sultani pada Bun karena dia ingin mengamangkan rotan di depan kawan itu. Kepala Sultani Terlalu panjang Bun!” terpekik. Ulah Sultani! Suatu kali. tajwid dan Bukan saja Bun.” “Tidak sakit.kami. Tapi aku merasa. Setelah sembuh. Kelas enam disunat. Pelan-pelan disentuh Sultani kepalaku. Sultani berkata: “Sudah Bun. kan?” Seperti rambut Biju itu yang kuinginkan. ikut mengaji saja. Dan Bun disunat. Berenang kalang kabut ke tepi. Uang yang sedianya diterima Mak Hasan kujanjikan kami bagi dua. ke halaman masjid. Dan sesekali. Namun yang membuat dendamku membara ketika semua bulu di kepalaku dia babat. Terbahak-bahak seperti hantu air. kopiah. tetap ditumbuhi rambut dua-tiga senti yang melingkar manis rapi di sekitar telinga. dan suatu petang Bun termangu di halaman Masjid Jambatan Basi menanti kami usai mengaji. tidur-tidur ayam. Mataku merem melek. tentu saja. Asal Bun tidak nangis kalu sakit laaa. Bun!” Sultani memang pandai mengaji dan ditunjuk Buya Makruf sebagai guru kecil. Bun mau potong bulung bole potong. kan?” Aku mengangguk. “Malah. Rustam. Ibunya selalu mengaji tiap subuh. dan tukang cukur langganan ayah itu pun ber-hm-hm “Cukur sama Sultani!” Biju menyarankan. Babah mau coba? Sret. itu turun dari ibunya. Aku serahkan kepalaku pada Sultani. Jangan pula licin tandas bak kelapa. Sebulan ditanggung fasih. Suaranya merdu. Iya kan. “Ayaaa.

Mereka melempar rumah itu dengan berderai. tersenyum Sejak hari itu kami tak berteguran. kuratakan. Seakan-akan bukan warga kota kami yang sehari-harinya tenang dan saling menyapa. Dendamku laksana sumur tanpa dasar. “Seperti mencampakkan bangkai anjing!” cerita Cudik. aku tidak mau bicara atau dekat-dekat dengan melihat kepalaku yang plontos bak kelapa ketika aku nginap di rumah Bun. Kakak perempuan Sultani mendekapnya erat-erat. Membuang mayat orang tua itu ke Batang Anai. “Kepala Ko Nius kenapa?” Alamak. Nius. kurang ajar ya. Menyeret serta mengarak ayah Sultani entah ke mana. tegak kaku di ambang pintu. Lututku menggigil. berdarah. Kaca-kaca pecah terjerembap di halaman. malah sebelah sini terlampau pendek. Mukanya menangis. Bagus juga kau gundul. sepekan rambutmu panjang lagi. Kusaksikan ayah Sultani diseret. Dan aku merasa ketika itu Sultani tengah menatapku dengan mata tidak berkedip seperti biasanya. Tahi kambing. Dia juga matanya bersirobok dengan mataku. melihat aku “Sejak peristiwa itu tak ada yang tahu di mana Sultani dan keluarganya. sebagian kepalaku sudah terkelupas bak ayam hendak digulai! “Tak ada jalan lain. mendengar di mana Sultani. tak mendengar orangtua!” Cudik bilang mereka membawanya ke Singgalang . Sewaktu prahara dahsyat pertengahan 1960-an melanda kota kami. Menyepak pintu hingga rubuh. Ibu Sultani berlari mengejar. terpaksa begitu!” Ditekan Sultani kepalaku dengan ujung telunjuk. melihat aku di tengah kerumunan. Tepatnya. Ketika kuraba. Nius. suatu pagi. Tidak kuhiraukan imbauan ibu dan ayah. Mereka menuju rumah batu. Tanganku dicekal. Tetapi mereka pun tidak tahu. Suara mereka teramat gaduh. Lebih-lebih waktu Sui Lin. Sudahlah. Sultani juga. “Tadi di sini terlampau pendek. Lupa aku pada sifat baiknya yang setia kawan dan suka memberi. seperti Yull Bryner kau!” manusia cingkahak itu. Pernah kami tanya ke situ. Sejumlah orang menerabas masuk. aku menghindar. Dia cerita begini-begitu aku buang muka.” sambung Biju Berkabar pun mereka tak pernah sejak kejadian itu. tahi kuda dan entah dengan apa lagi.” lesu. Eh. lewat bergelombang-gelombang di muka rumah sambil berteriak-teriak.” kata Amril. aku menghambur ke jalan. Atau pergi. Tum diam saja mendengarkan sunyi. diseret abangku pulang. “Mulai Kariang. mati awak rasanya menanggung aib! “KEPADA kawan-kawan yang tiba dari rantau kami juga bertanya kalau-kalau mereka tak henti menanyakan kawan masa kecil itu tiap pulang ke kota kelahiran. “Sanak famili ayahnya di kampung juga tidak. Perempuan itu Aku menyeruak di sela-sela orang dewasa. Buas sekali. Mereka terus berteriak. hasilnya nihil. Lalu ia terpana ketika Orang-orang masih berteriak. Aneh sekali. dan orang bergegas Sultani. meraung-raung. Menghabisinya. berteriak-teriak. “Jangan ikut! Jangan ikut kau!” Aku terus berjalan di belakang gelombang-gelombang manusia yang riuh. Menangis. Dia mendekat.Tetapi lama-lama kepalaku semakin dingin. Bergelombang-gelombang manusia.

dua buah.* Jakarta. kemarin pagi. 2 April 2005 berkedip. yang menatapku tanpa berlalu menghanyutkan zaman dan usia ke muara. Diam-diam terbayang olehku mata Sultani. ada yang menemukan sepasang mata di Batang Anai Kami bertatapan. “Semua orang bilang begitu. walaupun tahun demi tahun . Hanya mata saja. Bahkan sampai kini. Kalian tidak tahu? Mereka menghabisinya petang itu juga!” waktu menjala ikan. “Dan. Tubuhnya tidak ada!” Cudik berkeras. seolah-olah tidak pernah lelah.“Bagaimana kau tahu? Ikut kau ke situ?” kami tanyai Cudik ramai-ramai.

atau hujan tiba-tiba seperti menghadapi anak yang nakal: “Ha. Dengan tongkat-payung itu pula mereka saling di jalan-jalan kau lihat membawa payung atau mempertongkatnya. di belakang lampu semprong mereka yang temaram. juga sosiolog. kalau kau tinggal lebih lama di kota kami. . tukang rokok. mirip dengan warga melambai dan menyapa. kabut di sana seolah-olah turun sesukanya. warga kota menderap laksana suara kaki belasan ekor kuda. walau kerap membungkus tubuh mereka dengan jas. bercakap- Betul. tukang serabi. Ya. tukang serbat. sedang jas pun (yang dikukuhkan sebagai pakaian resmi sebab istimewa di kota kami.anak muda kota kami lebih suka pakai jaket daripada jas. “Hoi. di kota berniaga. hidupnya. Meski cuaca cerah. betapapun elok bahan dan kami hampir tak dikenal orang istilah pedagang. ataupun sebaliknya-bahkan ketika kemarau mungkin sedang meretak-retakkan tanah di kotamu. orang-orang kota-kota besar Eropa pada masa lalu. Karena itu. petang atau malam Tetapi. Adakalanya juga dari pagi sampai malam.Warga Kota Adek Alwi Kacang Goreng Kota kami terletak di dataran tinggi di lereng Gunung Singgalang. Kadang-kadang pagi. Biarlah masalah ini bagian ahli bahasa. siang. tapi jarang sekali pria kota kami membuat jas dua kali dalam pojok jalan dalam kabut. ya. Hal lain yang bakal membuatmu terheran-heran adalah tukang kacang goreng. Karena. atau makan kacang goreng. karena sejak muncrat ke dunia sudah bergaul dengan cuaca serupa itu. Tidak konon menimbulkan kesan “lain” bagi yang memakai juga yang melihat). tak mengumpat ketika kabut mendadak turun dari bukit dan gunung. Aku hanya ingin bercerita tentang mereka. kembangkan payung. melenggang tenang-tenang di atas trotoar sambil bersiul. Paling-paling orang hanya bergumam. anak. meski aktivitas seseorang berjualan. Begitupun tukang sate. apa kabar! Baik? Singgahlah dulu!” Tetapi. Tukang kerupuk tak selalu berarti orang yang membuat kerupuk. sudah turun pula si kaki seribu!” Lalu mereka cakap. dan seterusnya. tetapi juga tukang emas. Itu pula sebabnya potongan jas itu-untuk menghindarkan salah tafsir. penjual kerupuk. Tidak jelas mengapa demikian. jangan pula payung. Di mana-mana kau bisa saksikan kaum pria memakai jas. Aku juga tidak bermaksud membahasnya. Berbagai pemandangan ganjil-lucu yang tidak bersua di tempat lain bisa kau temukan di kota kami kalau Anda suatu ketika berkunjung ke sana. Kecuali. hujan dan hari. kecuali lelaki-lelaki gatal atau yang punya istri lagi. akan ahli pula kau menerka usia perkawinan seseorang hanya dengan melihat jas yang dia pakai. bukan suatu yang kecuali para kusir bendi dan tukang kacang goreng yang duduk mencangkung di pojokDan. tukang kacang goreng dan penggemar makanan ringan itu.

Bahkan. Bertengkar. Anak-anak muda itu seolah punya prinsip: pacaran boleh putus. tukang sesudah lama merantau pun kegemaran itu rupanya tidak hilang. tukang kacang goreng amat banyak di kota kami. tetap belum ada yang sanggup “Ah. “Tetapi. Empat atau karung goni kacang goreng mereka yang hangat. seakan-akan mana sejak pukul lima petang hingga tengah malam.” komentar para suami saat makan kacang kacang goreng ke atas meja. di muka rumah sakit. Gemuk. Tetapi. kota kami tidak pernah sesak yang menyebabkan warga kota kami subur-subur. tukang kacang goreng tetap banyak di kota kami dan orang tak merasa rendah jadi kacang goreng. makan kacang goreng jalan “Habis. depan asrama tentara dan polisi. Dan. duduk berkelumun sarung atau melekat ke lima orang di antaranya juga mangkal di muka dua bioskop yang ada di kota kami. kedap kedip di balik tirai kabut dan gerimis. beberapa waktu setelah bubar bioskop. panjang. tukang kacang goreng. bahkan divonis putus oleh si gadis karena kulit ari kacang goreng ikut menyelusup ketika bibir-bibir bertemu pada malam Minggu. “Di tempat lain kecil-kecil kurus kulihat!” goreng di malam-malam dingin bergerimis. Mereka dapat ditemukan di mana- perkantoran-perkantoran. meski sejumlah anak muda mengalami pengalaman pahit akibat kacang goreng. lihatlah!” lanjutnya melempar sebuah mengalahkan kacang goreng Mak Sanin!” “Memang. Namun. sepuluh atau selusin. Dalam KTP mereka pun tercantum: pekerjaan. pengirim-pengirim wesel yang rajin itu-yang sebagian di antaranya tumbuh berkat uang kacang goreng-berlayangan karenanya. tidak saling tertawa layaknya pasangan mirip bintang-bintang di langit. Malah bangga. meski lazim tinggi atau bekerja di kota lain dan wesel-wesel mereka berlayangan di awal-awal bulan memenuhi kantor pos. kalau itu. memang lain kacang goreng kota kita ini. juga di Tukang-tukang kacang goreng itu pakai jas. sebagian besar orang terpanggil lahir karena bakat itu. Mereka mangkal di emper-emper toko. agak berjauh-jauhan di bawah papan reklame film. Saat-saat itulah mereka tak dendam setelah lama berpisah. “Ini. tiada bandingan!” . tidak ubahnya kekasih-kekasih yang melampiaskan rindu Alhasil. perlu penelitian. Lagi pula. Juga.” sahut ibu-ibu di kota kami dengan sigap. serta kegemaran orang memakan kacang goreng. Lampu-lampu semprong mereka dari jauh Tentu ada hubungan erat antara tukang kacang goreng yang sangat banyak itu dan iklim kota kami yang dingin. Pada hari raya dan libur-libur panjang. apakah itu satu keluarga punya anak sembilan. tikungan-tikungan jalan. terus. sebesar jempol. muka depan gerbang-gerbang jalan menuju surau dan masjid. Anak-anak muda segera berangkat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih ke kampung halaman menjumpai orangtua dan sanak keluarga. jangan dikata lagi.Sekalipun kota kecil. Berjajar suami istri dilanda perang dingin. lepas-lepas dari kacang goreng. penggemar kacang goreng tidak pernah pula berkurang. selera menyantap kacang goreng tak kunjung patah.

dia susuri jalan-jalan kota dengan karung goni berisi kacang goreng di atas seperti di muka bioskop atau kawasan pasar. cang goreeeng…!” berirama memecah udara: “Tak-tuk-tak. Seolah ringan saja karung goni itu baginya. Suatu kali kawan kami si Katan menghajar anaknya hingga babak belur. Tetapi. Berhari-hari berjualan. Juga karena dia “berisi”. dia keluar sesudah magrib atau isya dan akan berakhir kira-kira pukul tiga dini hari atau Mak Sanin adalah satu-satunya tukang kacang goreng yang tidak berpaut di pangkalan saat Begitu keluar rumah di pangkal malam itu orang tidak akan menemukannya di tempat ramai pinggang lebar. anak. Suara serta bunyi tangkelek atau bakiaknya tuk-tak. khususnya di kalangan kaum ibu.“Ya. Selain karena kualitas kacang gorengnya memang di atas rata-rata. dan warnanya hampir tidak jelas lagi.tambalan pada jas yang sipit. Tokoh ini sangat populer bahkan hingga kini. Juga ke Lubuak Mato Kuciang. istrinya dipakai Mak Sanin. ingin makan kacang goreng. “Ibarat penyair. tak- Pada larut malam yang dingin berkabut itu Mak Sanin benar-benar menjelma jadi pelayan buruk mendengar suaranya. Dengan jas itu-itu juga. Cubadak Bungkuak. saat beduk subuh mulai berkumandang di seantero kota dari masjid dan surau. Pencuri-pencuri mengurungkan niat mereka yang Pasangan-pasangan yang tengah bertengkar terhenti. Orang juga mengatakan Mak Sanin tidak lagi bermain silat dengan manusia melainkan dengan harimau.tenang saja dia melangkah. perempuan kota kami menyukai lelaki itu karena dia tidak pernah pakai jas baru. Ibarat pencipta lagu dialah Gesang atau Ismail Marzuki. dan Bak Aie yang merupakan pinggiran. Mungkin karena tubuhnya tinggi besar. Anak daun telinga kawan kami itu gembung-bengkak kemerah-merahan. cang goreeeng…! Tak-tuk-tak. Ibarat… . Bancah Laweh. Tenang. tunggal sekaligus penjaga kota kami. Biasanya. itu Mak Sanin!” ujar si suami. Makin malam. dia Affandi. kian gencar pula Mak Sanin mengembara menyusuri pelosok-pelosok kota. Mak Sanin satu dari sekian banyak tukang kacang goreng di kota kami. kami punya ilmu. tanda Mak Sanin berjualan. sebab dipakai setiap malam selama bertahun-tahun. “Hah. dan sarung dililit ikat mendatangi calon pembeli. Jam dagangnya juga berbeda dengan tukang kacang goreng yang lain. pandai dan rajin menyisik sehingga tak kentara benar tambal. dan selalu merah menyala. Kumisnya pun lebat melintang. Kedua makhluk itu konon melakukannya malam-malam di pinggir kota usai itu lari pulang menggerung-gerung dan telinga si Katan pun disentil Mak Sanin. dia itu Chairil Anwar atau Amir Hamzah. . Sudah barang tentu jasnya pun telah lapuk. kepala. Orang-orang terbangun. mata rada Agak berbeda dengan orang dewasa. Ibarat pelukis. Dialah penemu sistem jemput bola dalam berdagang kacang goreng di kota kami. ilmunya tinggi. tak-tuk-tak. Mak Sanin adalah maestro kacang goreng!” jawab si istri bersemangat.pinggiran kota kami. terutama ibu dan kakak-kakak perempuan kami. Menyelusup manja ke pelukan suami. “… perempuan ia adalah engkau seorang!” potong sang suami buru-buru dan si istri pun diam sambil tersenyum-senyum.anak justru takut pada Mak Sanin.

” “Yo! Eh. enak atau dia bertingkah.“Beli dulu kacang gorengnya. Desember 2004 kota kami yang berkata kepadamu: “Ha. bahkan hingga kini. Padahal. Tetapi. ketika ramai-ramai di tahun ’66. tak serupa Mak Sanin!” ujar mereka. Rambut nyonya muda yang hitam subur tergerai hingga pinggang.” kata ayah bagai orang kedinginan. mungkin juga tidak mau tahu. pasangan-pasangan itu menyimak suara Mak Sanin dan malam melalui kisi. berpandangan dan saling tersenyum mendengar suara Mak Sanin mendekati. tangan-tangan mungil itu menyusup pula ke karung-goni yang hangat. Tujuh lubang peluru. Orang-orang akan mencela tukang kacang goreng bila kacangnya tidak Karena itu. tegak menanti di ambang pintu.kisi jendela. Anda pun akan terheran-heran menemukan banyak tukang kacang goreng di buat merendangnya. Belilah. kota “Padahal. Tidak bakal menyesal. Hanya berdua. Mak Sanin!” Dan. yang memang tak tidur-tidur di tengah malam buta itu. kacang enak ini! Tak sembarangan kuali dan pasir . Cukuplah. “Mak Sanin!” “Hoooi!” Tukang kacang goreng itu menghampir ke makhluk elok itu. Tetapi. Besoknya. Semakin jauh. Dan besoknya lagi. bunyi tangkelek-nya yang menjauh. Dengan jas yang ituitu juga. Semua pembeli melakukannya dan semua tukang kacang goreng membiarkan saja. mata si Sanin itu merah hanya karena menukar siang dengan Tukang kacang goreng itu ditemukan orang tergeletak di tepi kali. Ada sebelas bekas bacokan merobek jas tua dan tubuhnya. Jakarta. “Masya Allah.” Dan. pengantin-pengantin baru. Delapan tahun saya belajar merendang kacang pada Mak Sanin!” Anda melongo heran karena Anda toh tidak kenal siapa Mak Sanin. justru setelah ia tak ada lagi namanya terus jadi buah tutur warga kota kami. “Huh. seluruh warga kami gempar tak alang kepalang. itu biasa. cukup seliter?” “Hi-hi-hi. sudah mereka tunggu-tunggu. “Seliter saja ah. sambil bercengkrama serta menikmati kacang goreng berdua-dua di larut malam itu. Bergegas mereka benahi diri. Cobalah. Dan. Karung goninya entah di mana. malam!” Tetapi. sewaktu pesanan mereka ditakar tangan mereka menyelusup ke karung goni. Mak Sanin. harum bercampur peluh. tahu benar aku. berkibar-kibar ditiup angin malam. pada suatu malam. meraup kacang goreng bukan hanya sekali. Dan. lalu sayup-sayup diantarkan angin mendengar suara dan bunyi tangkelek itu.” Anak-anak muda yang sedang begadang menyongsong kedatangannya dengan girang: “Tiga liter. Kemudian. Warga yang lain tidak. cuma sebagian warga kota yang kota tidak mendengarnya.

sehingga orang-orang tak akan bisa lepas dari kekangan jam. di ruang tengah yang merangkap ruang keluarga. ”lakukan semuanya semaumu. Manusia selalu berada dalam . berpendar-pendar di dalam jadi tanda ketika malaikat mencatat semuanya dalam lembar laporan harian kepada Allah orang berpacu untuk secepatnya masuk garis finish tanpa terlebih dulu memasuki jeda waktu terengah-engah dan menyerah. agresif melahap segala sambil menyepah yang kalah kehabisan waktu. di ranjang dan bantal kamar tidur. di HP yang setiap saat sepertinya berbunyi menyatakan ada jalur pacu lain yang harus ditempuh sebagai balapan berikut atau yang terpaksa diabaikan. minta bantuan pada siapa pun dan mendapatkan pertolongannya. anjuran jam— dan ulah kerja manusia. saling kontak-sentuh. di pintu halaman. di mana setiap pitstop. di dinding. di layar monitor. di pintu. di motor. Bilang. sambil menyisihkan yang kalah dari satu jalur pacu. Di pagar rumah. dan sambil terus melahap yang ada dan menempatkan semuanya pada jalur pacu yang ada dan senantiasa ada. di meja di ruang tamu. di juluran lidah dan di untang-unting tenggorokan ketika orang-orang bercakap-cakap dan ingatan: memaksa setiap orang untuk bergerak lebih cepat dan semakin cepat sehingga Jam ada di mana-mana. tidak bisa memanggil siapa pun. Bisakah manusia bebas dari waktu.Langgam Urbana Beni Setya (Atawa Jakarta in Rap) Di Jakarta—ungkap lik War—jam ada di mana-mana. di perut yang hanya diisi kopi. berbelit dan kusut membentuk gombal kain nasib yang ketika ditelusuri benangnya ternyata masau saling menjerat. dan begitu lepas sepanjang jalan. lalu jeda dengan jam yang terus berdetak di mana-mana. Berdetak-detik di dalam pendengaran. dari ukuran yang dibuat manusia untuk menandai yang tidak terlihat dan tidak terasa. Di jalanan. Jakarta—kata lik War—itu jam besar dengan miliaran jam kecil yang berdetak dan berpendar serentak. saat waktu terpaksa hanya jadi patokan gerak tersenyum dan tersipu-sipu. balik ke dari kungkungan jam kerja semuanya langsung memasuki street race untuk sekali lagi berpacu pulang (cepat) ke rumah dengan berjuta jam yang berdetak dan berpendar di tengah lautan jam kerja dan dipacu detak ribuan jam kerja di mana-mana. Lik War menggeleng. ”Tapi bisakah kita bebas dari jam?” kata Anderwedi sambil berpacu agar bisa lebih leluasa tak dijadwal. di bundaran lampu lalu lintas. Jam di mana-mana. yang diam-diam maju terus. di dinding dan kursi-kursi dan monitor komputer. berteriak. di lembaran kertas. di mobil. Setiap orang dikepung ratusan jamnya sendiri sehingga terkurung sendirian. di layar TV dan dinding di samping kiri atau kanan pintu masuk dekat bel. bersebelahan. dan di kemengangaan mulut. di apa saja—yang serentak berpendar dan berdetak menganjurkan semua agar terus Gelagapan dikerubuti jam yang bermunculan dan berdatangan dari mana saja dan hinggap berpacu. sampai akhirnya tiba di rumah dan disergap jam lagi. di dapur. masuk kantor dan mulai kerja dengan jam yang berdetik di laci meja tulis. di meja makan dan terutama pada piring dan gelas minum. aku hanya akan SWT…” Dan karena itulah—kata lik War—Jakarta berubah jadi arena balap. di bak air dan di gayung kamar mandi.

sambil merokok dan meneguk arak oplosan di tengah kesiuran angin dari persawahan yang dipusokan dan kami menghubungi Saman Bakmi—ia berkeliling jual bakmi dengan gerobak dorong. hingga ada jalan khusus yang hanya boleh dilalui mobil bila isinya untuk membeli mobil—”barang-barang itu. ia naik Brantas yang karcisnya sebanding dengan harga celana itu. untuk tolong. dengan celana jeans hitam ketat yang kata lik War juga bilang. kami ikut dengan Marto Pedrosa—ia sendiri yang menambahkan nama itu karena aslinya ia bernama Joko Martono dan dulu selalu kami dihiasi jam yang sudah pada kendur: benar-benar tak menarik minat berpacu kami. Lik War pun tersenyum. malah sampai jalan tol yang seharusnya lapang dan bebas pacu bagi yang ingin menundukkan jam.menolong atau instinktif tebas-menebas— metalik halus bergambar entah apa—percik cat tumpah—dan tulisan excited. dan sesekali mandeg dan meraung-raungkan gas sebelum lampu di perempatan itu menyala ijo. yang hanya sebagian yang bisa ditanami palawija dan semangka. meski di kereta itu ia tak bisa berbuat apa selain duduk dan menggerak-gerakkan jari kaki tokh. seluruh anak muda ingusan yang saat itu ikut nongkrong di gardu Kamling di ujung kampung. ”dan kendaraan yang berjibun itu membuat macet di mana-mana. yang mungkin hanya menggeleng. sebelum semua meloncat seperti mengawali lomba yang akan menentukan siapakah yang lebih dulu dibanding si pole position yang teledor. Lik War pun mengajukan usul lain. Tapi berlomba dengan gerobak dorong sambil memukulkan dan pelatihan—agar ikut dengannya dan belajar berkeliling di gang-gang di perkampungan sutil logam pada cekung wajan dalam pacuan di gang-gang kampung. dan bermuara di jalan antardesa yang bergelombang dan berlubanglubang. yang menembus ladang dan sawah. yang cuma bilang kaus itu diberikan anak bos karena saat dipakai ditertawakan oleh cuma produk tembakan sehingga harganya hanya cukup untuk naik taxi ke Ancol—lik War Ya! Tapi lik War senantiasa bilang: Jakarta itu jam besar dengan anggota miliar jam kecil. Aku menatap lik War: Memakai kaus hitam dengan sablon be will be. what ever will War. ”grammar apa tuh?”. titik saling ketergantungan.” kata Anderwedi—mewakili pikiran kami.” kata lik War. Kami . serta tempat kos Jakarta di sepanjang malam.” Kami menelan ludah. yang memaksa tiap orang menjadi Valentino Rossi. Ia minta disewa dari juragan yang juga menyediakan mi. bumbu dan yang lainnya. karena itu mereka menjadi yang dikalahkan waktu dengan kepeksa jalan merayap dalam kemacetan dan nelangsa menghabiskan BBM percuma saja.” kata lik War. deretan kata yang tidak bisa kumengerti dan kayaknya juga tidak dipahami lik bos yang bilang.pikirku. ”Aku jadi pengen ke Jakarta. ”bisa dibeli secara kredit”—tapi minimal tiga orang. ”Terlalu banyak kendaraan. Terbayang jalanan mulus Jakarta—tidak seperti jalur makadam kampung. pikirku. Dan setelah itu. yang lebih memilih sepada motor bukan karena tak punya duit karena jalanan di Jakarta bukan tempat yang tepat untuk berpacu dengan mobil. karena itu banyaklah orang menawarkan diri disewa-angkut agar mobil itu bebas berpacu mengejar waktu di jalur 3 in 1 itu di sekian menit nunut—celakanya orang-orang itu malahan diuber dan dikejar Satpol PP karena dianggapnya membuat orang kaya bisa bebas merdeka berpacu di jalur yang tak sembarang orang bisa masuk bila berdua saja. Casey Stoner dan apa lagi yang senantiasa berpacu di jalan. dan yang setelah 5 km baru tiba di jalan kecamatan yang lebih mulus sedikit— terbayang jalan itu penuh deretan mobil yang berjajar dan di sela-selanya motor-motor meliuk seperti dalam atraksi lomba trail semi akrobatik di TV.

Sambil mengeluh tak segampang para perempuan. atau buronan karena dengan sesuap nasi. menjadi rembulan gaib di saja. yang selalu bergaya dengan sepeda motor siapa saja bila pulang ke kampung. sekaligus kudu sepeda dulu. semodel de Grana. ”macak dan akting pengemis. Dan miliaran jam yang terangkum dalam sebuah jam raksasa bernama Jakarta terus berpendar di kelam malam. dan Tyas. ”Atau ikut Arpan.panggil dengan sebutan No Tit. Itu artinya tak berpacu di Jakarta tapi jadi batu jarak tempat anjing mengangkang dan kencing. dan menjadi apa saja—tidak hanya berakting macak pengemis tak pernah pulang ke kampung meski setiap Lebaran selalu nitip duit dua atau tiga ratus dan diuber-uber polisi sehingga blingsatan mburon ke mana-mana dan kemudian mati tapi benar-benar jadi pengemis dan pemulung. Santik dan Kuni. ”Jadi akan berangkat apa tidak?”—teriak angin kemarau yang hitungan mikron-sekon atau sekon—berdetak-detuk dan berpendar: semua jam-jam itu melanda desa. dan karenanya membimbing kami untuk bangkit dan mempertaruhkan apa sekujur tubuh: berpendar di langit malam yang penuh bintang. Berpacu dengan waktu secara baikterlalu kreatif meletakkan jam di jalur pacu yang miring mencang-mencong demi survive menyusupkan dingin dengan menyamak jangat selepas hamparan persawahan yang berhamburan ke mana saja dan jadi apa saja.” katanya. Kasim. Marto Pedrosa kampung sini. Atau ojek payung?” Kami melengos—apa yang bisa dipacu dengan jadi punya DP sejuta sebagai jaminan dapat make motore bos. kudu pinter cari kos-kosan karena aku sendiri hanya punya satu kamar dengan Neti dan dua anak itu. Bersama-sama sampai di Senen atau Kota—lalu . memenuhi trotoar untuk recehan?” Kami melengos. Sri. menyusupkan dingin yang tajam dan menyamak jangat dalam irisan yang menyeluruh di awal Syawal. yang masih buron—sehingga para urbanis sekabupaten di Jakarta bikin slametan di Jakarta Dan Jakarta jadi jam raksasa yang melengkung dan mengayomi miliaran jam kecil yang serentak—tak pernah serentak karena selalu ada selisih lebih lambat dan lebih cepat dalam seperti memanggil kami untuk meninggalkan ketiadaan harapan di kekeringan yang selalu baik dan tak baik-baik. Mungkin lu kudu belajar jadi ojek (tukang) ojek payung? Lik War tertawa. Kimi. yang dengan gampang menjadi pembantu macam Warti. Berangkat ke Jakarta. ibunya. dan banyak orang sekabupaten yang mengaku-aku penduduk asli kampung sini. untuk segera berpacu sebagai apa saja. dengan angin deras dari persawahan yang dipusokan dan hanya sebagian kecil di dekat saluran irigasi yang sempat ditanami palawija dan semangka. atau benar-benar berpacu di jalanan dengan menjadi jambret ditembak dengan delapan belasan lubang luka seperti Isa yang jadi gembong dengan tiga dan Saman Bakmi) di Jakarta tak ada yang berani kurang ajar kepada orang-orang dari orang sekampung lainnya yang masih selamat. ”tetapi lu kudu apal jalan-jalan di Jakarta dalam seminggu. Koral dan dan di kampung sini). Lania. yang selama 15 tahun ini ribu bagi Mbah Rame. Nonik. lantas bertemu setahun sekali di kampung. Timpah. atau yang terpaksa menggelandang di jalan seperti Nian. Ia menganjurkan jadi kernet. terpaksa dipusokan di musim kemarau itu. atau penghuni kompleks semodel Tri. dan yang di Jakarta menjadi tukang ojek. ”OK!” kata Marto Pedrosa. dan Genduk (dilindungi dari yang lain dalam teror nekat Isa almarhum. menjadi orang kantoran atau hanya suruhan. dan setelah enam bulan baru menjadi ojek’s driver—sambil menjanjikan mempertemukan kami dengan kawan Bataknya. dan karenanya (kata lik War.

pentolan. berliku-liku mbabat alas: membuka hutan. yang lebih sara karena harus mbabat alas meski selalu diigaukan Pak Lurah di dalam pidato ” Jakarta. sebagai apa saja di mana saja. berhenti kudu apal : harus hapal motore : sepeda motornya macak : berdandan blingsatan mburon : panik/kalang kabut melarikan diri gembong : tokoh. dan berhamburan lagi di Senen atau Kota. here I am coming!” teriak Anderwedi—mabuk. menumpang kepeksa : terpaksa nelangsa. Ya! Ya! YA! YA—adakah pilihan lain. selain jadi transmigran acara halal bi halal kampung yang penuh kebohongan itu. sara : sengsara mandeg : stop.*** Catatan: untang-unting: yang tergantung dan bergoyang-goyang gombal : kain bekas untuk lap. yang biasa lusuh nunut : ikut. kepala [penjahat] slametan: ritual membaca doa keselamatan bagi yang meninggal mencang-mencong: meliuk-liuk. kolonisa .agar bisa bersama-sama pergi ke Jakarta lagi.

Sejak saat itu aku didaulat untuk jadi kepala keamanan dalam segala acara yang diadakan di sekolah. diungkit.Salvo Beni Setya Ada senapan serang AKA. memilih. Ayah terbahak-bahak melihatku ketakutan. Siapa mau mati? silinder tersampir dan bebas diputar. Tapi sebelum dia banyak bicara. dan mengentak pantat peluru atau kekosongan oleh pelatuk—seperti dalam film. sering mempraktikkannya dengan silinder kosong. dan memasang lagi pistol FN. Dan kami. yang genggamannya terasa berat itu. Guru itu mengangguk. Ibu muncul dan menarik aku sambil mengomeli ayah—”Dia anak perempuan. yang memberi ketika lulus ujian sepertinya mereka lega karena aku sudah tak ada di sana lagi. membersihkan. terutama ketika magasinnya penuh. Atau menarik picu Aku dipaksa belajar nembak saat kelas II SD. Sederetan paku di dinding menahannya agar tidak jatuh dan tetap tersembunyi. Kalau disuruh sangat sederhana itu. lalu ditangkupkan untuk dipasak.” kataku. rasanya lebih enak memegang pistol polisi. Tapi apa . meloloskan genggaman dan mengokangnya. Mencacah akar flamboyan yang marong berbunga dengan daun hijau telunjukku yang masih lunglai oleh kejutan. Keesokan harinya aku dipanggil guru BP. colt—yang mekanisme penembakannya Dengan itu aku mimpi jadi cowboy perempuan. meski dengan gampang kita meraih dan mengokang membuka kuncinya. membersihkan. Tapi sasaran tunggal apa yang bisa lolos dari berondongan sejauh lima meter? Sejak SD aku sudah tahu ada simpanan senapan serang buatan Rusia di situ. “Sebaiknya semua itu jadi rahasia berdua. Sejak kelas VI aku sudah dilatih membongkar. Tanah lembek berumput membuat peluru itu tembus ke kedalaman. Setahun kemudian aku menguasai FN. Sebuah letusan lagi. dengan magasin penuh. Bergerak menarik pasak dan membiarkan agar bisa menggesekputarkan silinder itu di lengan. Memasukkannya lagi ke magasin. Dan tiga tahun sebelumnya aku sudah dibiasakan membongkar. ketika kelas II SMP. Dan peduliku? Di SMA aku malah mempunyai kawan. magasin dan satu peluru paling atas. langsung ke tanah. Pa!” katanya. Dan bila kurang. dan memasangkannya lagi. banyak teman yang mengadu—selalu diperas preman di pangkalan angkot dekat sekolahan—aku bersekolah dengan membawa pistol. ada magasin cadangan di atas lemari. mendorong ke pangkalan itu dan mengokang serta menodongkannya pada si jagoan yang kurang ajar itu. Lalu mendatangi Mereka gemetar dan segera semburat ketika diusir. dan memuntahkan 52 tembakan beruntun. lalu mendiagonalkannya ke tanah dan yang amat jarang. Letusan dan entakan membuatku kaget. Ia menggenggam tangan dan memaksaku menembak lagi. atau dalam putaran gila sisi kepala— sebelum dikembalikan. di kamar anak petinggi polisi. anak petinggi polisi. Mula-mula hanya dengan pistol. aku mengeluarkan FN di hadapannya. dengan tekanan ringan dari telunjuk—dengan memakai popor lipat atau tidak—kita Tersamarkan. Sekali. Sangit mesiu melulur lengan dan wajah. di belakang lemari pakaian kamar tidur utama. Tiga tahun kemudian aku menguasai AKA.

Menghambur jadi dua lesatan logam yang kotor oleh serpihan.” kata ajudan baru lulus Akabri. Aku tertawa. atau berbaring di balik batu—dan menjadikan tonjolan “Kau seharusnya jadi sniper. sekaligus memberi kesadaran.” kataku. Terlebih kalau keendus wartawan jadi segala risikonya.” katanya. Kau tak boleh jadi anak Mama. Akan dapat konduite dan kota dua masa jabatan. Kini aku terhibur batu sebagai bantalan.” katanya. “setelah lulus kau daftar dokter tentara. ketika jadi danyon. Aku bisa menembak bola tenis atau bola golf dari jarak tujuh puluh lima meter dengan satu tembakan. Sekali aku pernah menembak aspal jalan di sisi kaki preman yang menghadang. Kini aku bisa berada sekitar bersangkutan mengerti bagaimana ia mati. seperti menembak kaleng atau cecurut. Naik ke boncengan dan melesat. membikin sudut naik menghunjam di pohon mahoni dan ban sepeda motor. kata ajudan. lima puluh meteran untuk membidik seseorang dan mengirimnya ke kematian tanpa si Ayah yang mengajari—membimbingku dengan fasilitas latihan komando. telanjang dan gampang. Aku tak pernah membunuh orang. lantas menodong wajahnya bolong. yang lain. Tapi ibu mengharapkan aku jadi dokter. atau kaki penyusup yang segede tiang gawang. “Kita harus kejar setoran. “Macam-macam kepalamu yang kekerasan lapisan batuan di bawahnya membuat peluru naik ke atas.kenikmatan main-main dengan colt. Menurunkannya. Sebuah mekanisme ledak dan lesat peluru yang setipis sentakan jari telunjuk yang mengentakkan picu. Aku beranjak. Aku tak yakin mampu menembaknya dengan dingin. Dan karenanya aku bebas bergaul di luar kompleks—selama terus berlatih menembak. kalau nyawa seseorang hanya bergantung pada satu sentuhan ringan dari jarak dua meter? Dan pada saat itu aku pun belajar mengintai dengan teleskop— membidik sasaran vital dengan satu peluru. Mereka beku—pipa jeans preman itu Di boncengan aku gemetar. Ia membiarkan ketika ia kuliah kedokteran dulu. Akan lain. Ya! Tapi aku sangsi bisa jitu menembak kepala botak profesor sebesar bola sepak. kalau maut sangat dekat. Padahal. dan menembak. Bahkan berlatih menembak tidak dalam posisi klasik berdiri. Letusan itu keras. Ayah menertawakan cita-cita lembek itu. Peluru itu menghantam aspal. Ayah terpaksa berurusan dengan panglima. atau punggung pelarian selebar papan pantul ring basket. Polisi akan masuk dan ayah akan menghajarku. Ibu menggerutu tapi tidak berdaya. Kalau salah bidik dan kena kaki preman urusannya bisa jadi berita. Dik. perempuan cuma jadi istri tentara. dan karenanya Mungkin ia menginginkan aku jadi tentara. Dan karenanya memberi aku kebebasan main pistol dan senapan. Aku ambil FN dari tas. seperti dua kakakku—setelah tiga kakak aku kuliah kedokteran bukan karena ibu ngotot tapi lebih karena aku tak bisa masuk Akabri. Manusia itu . ayah ingin pensiun dan bisa jadi bupati atau wali senang diajak mengeluyur itu. dari jarak tiga meter. dengan posisi jongkok menyamping. lama-lama aku kecanduan mengintai apa pun dengan teleskop dan bimbingan sinar laser. “OK!” katanya. Mulanya di Perbakin. hanya Lantas apa makna hidup? Lantas apa makna bertahan untuk hidup dengan semacam dukungan ilahiah nasib. aku kokang. membuat lubang dan pantulan dengan menjebol lapisan aspal. seperti cita-cita mendidikku dengan tradisi militer–mengharapkan aku memilih karier militer.

dan seluruh keponakan. “Kau tidak mengabari marah dan memaki-maki lewat telepon. dan dapat jawaban Sejak saat itu aku tidak pernah menghubungi ayah lagi. atau kepala mayat dalam praktik Ada aura yang membuat kita harus mengeraskan hati dan membaca doa—lebih dahulu— kedokteran. yang mengatakan Pak Bupati harus ke daerah mengangkat. Aku mengangkat bahu. dada.” katanya— tertawa. Aku diam saja. “Aku kan cuma cari kerja. Mungkin ia ingin memperlihatkan secercah bahagia karena berhasil menjadikan aku dokter. Ya! Aku yakin tentang hal itu.” Aku memprotes tapi telepon segera dimatikan. agar memberi pelajaran kepada ayah yang sok sibuk itu—yang barusan memaki-maki aku. Bahkan aku sengaja tidak memberitahukan kondisi kritis ibu sampai saat penghabisan mendekat. seperti mendengar bisikannya. Tapi bisakah kita membalik laju waktu? kebanyakan—meski tetap dibimbing insting militer yang terus diasah. terutama karena jadi rekanan pemda. Aku cuma bilang tak tega mengatakan kondisi ibu yang sebenarnya—maksudku. meski itu hanya untuk menyayat tungkai. Tiga tahun kemudian ayah harus tetap sibuk bekerja dan—seperti yang dikeluhkan ibu—terpikat pemborong yang Aku menelepon ayah. dan denyaran roh pasti menimbulkan sugesti yang menyentakkan—seperti yang aku rasakan ketika menembak aspal di sisi kaki preman. yang langsung mendekat. Dan kebisuan itu berlangsung tiga tahun. Enak. seperti merindukan kehidupan eksklusif di kompleks. Tanganku digenggam. Ayah tertawa. perut.” katanya. Dan terkadang pergi bila sesekali ayah datang menjenguk ibu.bernyawa. karena dia sendiri belum pernah menembak orang—atau berperang. Ia bergegas menelepon ayah. dengan mengumpulkan suami. Dua jam kemudian aku menelepon lagi tapi tak ada yang mengangkat. Aku lulus kedokteran dan masuk tentara. meski aku yakin mereka mengetahui perbuatan ayah. Ia minta agar aku merawatnya. Dik. “Kau orang militer yang hanya hidup dalam lingkungan eksklusif dengan rutin-rutin yang terkontrol. ngantor seperti orang ayah pensiun dan jadi bupati di C. Aku. Aku ikut ibu yang bungkam pada ayah. “Ayahmu mendapat kesenangan baru sebagai orang sipil yang pergaulannya menembus segala lapisan masyarakat. sia-sia melepas senyum di tengah deraan sakit. “Kau tahu apa?” katanya. Aku tak mengabarinya. sampai ibu meninggal—menyeringai. tak ingin menceritakan kelakuan ayah kepada mereka. Dua jam kemudian aku menelepon ke rumah dinas. Aku ayah?” kata Samsidar. dalam kurang tidur. yang telaten merawatnya. Dan ajudan ayah juga yakin akan itu. Ibu menatap. Memprotes tiadanya perhatian pada ibu. kakak. Apa jadinya kalau tentara? Ketika ibu meninggal ayah masih di C. Hal yang membuat suami yang ajudan itu. Ke mana? Entah! menelepon lagi tapi ajudan yang mengangkat. ipar. dan cuma basa-basi kalau ayah menelepon menanyakan kondisi ibu. bergaul dengan banyak hal yang harus diselesaikan tanpa ada panduan jelas. Dua tahun kemudian ibu sakit. Pelayan yang pelayan—Pak Bupati baru ke luar. anak. Ditempatkan di kota. Aku kini sipil. Dua jam kemudian aku menelepon rumah gendakan-nya. Aku untuk menggalakkan intensifikasi pangan. kakak-kakak dan ipar-ipar marah dan mengadiliku. Aku mematikan telepon. kena kanker payudara yang baru ketahuan setelah stadium IV. . Ternyata jadi tentara bisa bersifat sangat administrasi.

Sakit dari cacahan peluru satu magasin—dengan lima dua lubang luka. Berjam-jam menunggu ayah. Kami membawanya pulang setelah dimandikan—siap disembahyangkan dan meletakkannya di dada sambil terlentang. Aku masuk kamar utama.karena merasa dipermalukan sebagai Bupati. Ya— sepuluh menit lagi. Pasti. yang tak peduli akan derita istrinya yang sekarat. Mengunci pintu. Biar ia merasakan sakit di dada seperti yang dirasakan ibu selama lima tahun. Mengambil AKA. yang pasti datang dengan langkah lebar dan teriakan amarahnya yang khas. Sepuluh menit lagi. Mengokang dan Ibu meninggal. Ya! Ya . Aku menunggu ayah. Tapi apa kepentingan ia di luar citra bupati teladan? dikubur.

menggerayangi dan . Terkadang Arsad hanya nongkrong. “Nggak akan tembus kan. Nasir menggeleng. dengan payudara yang berdenyut. mendorongnya sehingga rodanya mencecah di tanah. Sad. Setelah itu ia benar-benar menguasainya. Arsad menaiki sepeda motornya. seingatnya. curiga. Khairan menepuk bahunya. dengan semena-mena merangkul. ayah. Menyibak tirai pudar dan merangkul Arsad dari belakang. Ini hanya pemancing saja. olehnya. Khairan. ini kepunyaan bapak yang dititip-pakaikan kepadamu. Ia membolos bersama Taberi. dan utamanya pemalas yang dan karenanya mendapat duit buat modal ngombe atau ngepil. Dan mungkin tepat pada hari yang keseratus satu. Ini bukan punyamu. serius. karenanya akan ada evaluasi Dan kini ia akan menjadikannya Hadiah Utama Toto (gelap) Singapura.” kata Nasir. menghindarkan pendengaran Khairan. “Kamu duduk-duduklah. Itulah awalnya.” Setengah berbisik. Beres! Ngomong apa?” Nasir memberi isyarat telunjuk di mulut. dan makan diawali dan ditutup oleh merokok di warung Khairan. Perkenalan tidak disengaja sebenarnya. Arsad mengenal Suimah. Kita tutup nomor jagonya. Ya! Akan tetapi. Khairan tersenyum dan ngojek sama Sitol. Menyelinap dan masuk kamar yang pengap dan remang. Nasir. Arsad menangkap dan meremas dua belahan pantat yang bagai punuk dan tanpa berlapiskan celana dalam. dan karenanya kita hanya narikin duit orang kampung. Lha wong kowe melu mbandari …” Khairan menatap. per lima puluh ribu tombok. Saimah menjerit artifisial sambil mendorong Arsad ke arah pembaringan yang berantakan. Jalan ke pintu belakang warung. makan jajan. Bapaknya pasti meneng. dan menyuruh di pangkalan ojek di mulut jalan ke Perumahan Ganda Mekar. Radio menyerukan dangdut.” katanya. Kemungkinan cuma sepersepuluh ribu. “Kita juga main. Motornya dipakai ngojek sembarang orang. Ia menahan ketegakannya dengan dua kaki yang mengangkang. Mungkin cuma memesan kopi. Abai bergabung dengan banyak orang-para pengojek. Sir?” katanya. di kisaran empat angka. yang harus diperhatikan agar ia bisa tetap memakai sepeda motor itu. Arsad menendangi bongkahan blok mesin sepeda motornya. “Apa? “Sudah sana!” katanya sambil mendorong Arsad pelan menegakkan sepeda motor. “Dan sementara itu kamu pun bisa aman-aman saja ngeloni Saimah. dan Arsad pun menikmati hari-hari manis. Sad. megang surat-suratnya-sementara itu masih bisa dipakai mengiyakan dengan sungguhsungguh. dengan lembut.” kata Melangkah. orangtuanya semakin permisif. “Pokoknya kamu tenang-tenang saja. atau menggoda Saimah. gertakan itu cuma efektif tiga bulan. kata setiap minggu-apa masih layak diinventariskan apa pasnya dicabut. bermalasan di warung itu. preman dan pemabuk. menjauh dari keramaian. Saimah makin genit. dengan setoran biasa.Senja Merah Khairan Beni Setia Setengah berkacak. Saimah menyusul dari depan. Itu hari keduapuluh delapan berada di luar rumah. Menghindar dari sekolah. ayahnya memberikan pesan khusus. berbincang dengan istri hanya omong dan terus omong sambil berjudi. Melemparkan kunci kontak ke arah Nasir. Terbayang lagi.

Cemberut dan makin sering marah. menjelang momen bukaan Arsad memilih mabuk dan tidur agar tidak disentakkan oleh fakta ada yang tembus dan sepeda motornya melayang. pil. “Kita ini orang dagang. Akan tetapi. “Dan mempunyai anak perawan menciumi Saimah. Arsad pun menyuruh Nasir untuk menjualkan sepeda motornya. Sepanjang waktu. Nasir malah memunculkan gagasan yang sangat kontroversial. Akan tetapi. memboncengkan si Krowak atau Brewok sebagai untuk tombok nomor di warung Khairan. Duyunan orang yang menyetor keberuntungan. “Toh kita tahu ia berduit dan orangtuanya sugih. “Seminggu bisa berpenghasilan. Tapi. biar bisa kompak dengan mertua.” katanya. Mungkin karena lega karena kini Arsad resmi jadi suami Saimah. Dan disusul pesta mabuk semalam suntuk.” katanya. Membawa tas pinggang. Saimah tersenyum dan terus tersenyum. Hal yang tidak gampang meski telah dibantu minuman. Khairan bungkam.” katanya. Orang-orang mendelik. ia seorang sales yang agresif. pikir Khairan-yang punya dukun kuat sehingga selalu yakin tebakan mereka tidak akan tembus. Berjoget dengan tape dan terbahak-bahak. yang diedarkan berkeliling di antara orang yang berbual atau main kartu. Dan Saimah makin manja. siapa tahu akan mendapat jodoh lelaki kan?” Orang-orang pada tertawa. Terlebih karena Arsad semakin sering membawa Topi yang genah. bermakna mempunyai barang dagangan. karenanya orangtuanya masih di kantor.yang sebenarnya membanting tulang menyambung hidup-lembut menenangkan mereka. dan menjual sisanya. Ya Miring. Hari itu-seperti biasa-Nasir akan berkeliling dengan sepeda motor Arsad. dan menjebol lemari untuk mengambil perhiasan. Utamanya Saimah. menganjurkan agar Khairan mau mengurusnya ke KUA agar semakin kukuh. Dan Arsad pun semakin jarang pulang sekaligus semakin jarang masuk sekolah. Sekaligus itu membuat Arsad semakin butuh duit untuk menyenangkan banyak orang. Berharap. Ia tertawa. dan rayuan Saimah. Itulah awalnya Arsad pun jadi orang yang Surga telah kembali. Khairan-matanya berkilaucepat-cepat mengundang tetangga dan menikahkan Arsad dengan Saimah dalam perkawinan siri. terkadang orang masih datang . sepeda motor itu modal untuk hadiah tombokan Toto (gelap) Singapura. Siklus direcoki balas memaki. Sekali-empat puluh hari lalu -menyelinap ke rumah ketika Memberikan sebagian kepada Saimah. Khairan menenangkan. yang gigih. Pak RT tak berdaya. Khairan-setengah preman karena istrinya “Biarlah. bahkan untuk sekedar mengusik keasyikan mereka. Ibunya Saimah lembut mengangguk. dan karena itu ia mampu mencukupi Arsad dan dirinya sendiri.” Orang-orang tersentak. Ia seorang sales pengawal pribadi. Meski begitu. yang melingkar manja tanpa celana dalam dan bra-meski masih memakai rok terusan longgar. Istrinya mulai menyindir. Orang-orang kampung menggeleng-gelengkan kepala. Lantas mereka pun mulai memanggil Arsad dengan sebutan bos. Nakal sedikit kayak si Arsad lumayanlah. Khairan tersenyum. Arsad semakin sebel kepada Saimah-dan yang Dua minggu kemudian Arsad benar-benar bangkrut. dan berkeliling ke mana saja. selalu. semakin tidak mempunyai duit. sedangkan Ibu Mertuanya sukarela menyervis. haid Saimah sudah telat seminggu. Menjadikan empat kali. Khairan cuma Menemani Arsad mabuk lalu menyeretnya ke kamar meski tak lagi ada bulan madu.

dan sisi rusuk kanannya remuk. Menyatakan suami-dengan menafkahi Saimah. memakan marka jalan meski mereka cuma mencari jalur kiri. dari hadapan. sementara mereka telah bablas? Anak saya itu. dan derap orang berlari memburu. Serentak menghajarnya-bus dalam kondisi setengah mabok yang belum nya penyok. Dan alur arah Hari itu-setelah sarapan nasi goreng. apakah aku harus menunggu izin Bapak. sudah meteng. dan diungsikan ke Panarukan-dipondokkan. menyeru ke seberang. ada di tengah jalan. tertekuk-tekuk pendek. yang lainnya memburu supir sirna. Sedangkan kecepatan Station dicoba dibanting ke kiri. Mungkin akan segera dibakar-dan sopirnya mati-kalau tak kebetulan muncul menyusul datang setelah pasukan pengaman bantuan didatangkan untuk melokalisasi spontan diangkut dengan kendaraan yang lewat dan mau mengantarkannya ke RS. mencuri perhiasan ibunya. PJR yang dengan sigap meletuskan pistol. dan…” “Betul! Tapi. bahwa Arsad itu suaminya Saimah sehingga Arsad itu harus bertanggung jawab sebagai “Tapi aku tak pernah mengawinkannya!” “Ya! Betul! Karena aku yang mengawinkannya. tetapi kemudian diluruskan lagi ke kanan ke kelurusan karena di sambil kernetnya. yang dikemudikan Nasir. Ia marah ketika mengetahui kalau sepeda motor itu telah berkali-kali dijadikan barang taruhan judi Toto (gelap) Singapur. Berderit direm dan tepi jalan itu berjajar kios-kios-bahkan sebuah Angkot berwarna kuning sedang parkir sepeda motor itu. akselerasi pertamanya. Ia menuntut. Kaki. telur dadar setengah matang. Tetapi kecepatan Wagon itu tetap tinggi meski telah dicoba direm dan dibanting ke kiri. Lalu lintas sigap diatur. Menggulingkan kendaraannya dan menghajarnya sampai kacanya remuk dan bodypatroli. meraung saat membuat belokan besar dari jalan hancur arah Perumahan ke jalan utama. Menyulut rokok. Halim! Halim!” “Terus? Terus?” . Ambulan Bunyi tumbukan dan jeritan orang-orang menghias siang itu. Sebagian menolong Nasir. Sepeda motornya dituntut dikembalikan utuh kepada keluarga Nasir dan utamanya Khairan.” “Sembarangan! Kalau tahu aku tidak akan sudi menyetujuinya-kamu dengan anakmu yang menyebabkan ia mutung sekolah. mblesar-kan gas. masalah dan menenangkan warga.Nasir memboncengkan Krowak. lajunya sepeda motor Arsa. penyelonongan itu. Kemudian teriakan memaki Station Wagon itu. dan minum Topi Miring- yang sama. bergetar karena tangan si pengendaranya goyah oleh kaget dan mabuk. Kendaraannya diperbaiki Ayahnya untuk pulang. tangan. Belokan liar itu. Krowak tertolong. Arsad dipaksa tergantung lumpuh. meliuk-liuk. Pada saat sebuah Station Wagon-dengan bemper depan tambahan dari pipa baja. Akan tetapi. tak bisa diturunkan. Sopir Station Wagon geger otak ringan. melaju di kelempangan jalan yang lengang seusai jam mengantor. tetapi kaki kanannya diamputasi sedang tangan kanannya hancur tepat di sikut dibiarkan utuhdengan biaya asuransi. Sedangkan motor Arsad jadi sumber masalah. itu sudah amat terlambat karena si korban Nasir mati. belum pernah pacaran. Tetapi Khairan tidak kalah sengit menuntut.

Khairan. Tombok. berharta Genah: Enak dipandang. Dipantati bahkan. khas Madura. Khairan mendelik dan membentakkannya. dengan dikawal Segera.“Balikkan ia ke kondisi asal. Tetangga ketika Khairan melemparkan celurit pada cacahan bersimbah darah tubuh bapaknya Arsyad. Khairan melapor ke Polisi. tapi mereka pada mundur (surut) ketakutan melihat amuk Khairan.” tulisnya. bersama si bayi-yang lantas diberi nama Caca Handika-. “Nih. Tetapi kedua orangtua Arsad cuma bungkam. Khairan menelan ludah. Ayahnya Arsad bergegas dari kamar. Catatan: kepada bapaknya Arsad-sekitar delapanpuluh kali. hamil Jos: Langsung jadi sempurna.” kalimatnya. instan Celurit: Senjata mirip sabit. Kedua lelaki itu liar bertatapan. Ngeloni: Meniduri Meneng: Diam. Utuhkan lagi. Lantang meneriakkan Brewok. Berparkir di halaman. Dan memang begitu. Khairan loncat mencabut celurit dan membabatkannya berdatangan. Menyisih Dan dengan mobil itu juga. tapi liar ditepiskan sehingga Saimah terdorong ke kursi. “Aku tidak betah. mereka langsung mendatanginya. Menghiba-hiba sambil lembut mengingatkan anaknya Arsad yang dikandung Saimah. membisu tanda setuju Kowe melu mbandari: Kamu ikut menjadi bandar Sugih: Kaya. Dominik. dan Saimah tiba pada kesepakatan kontroversial: Akan membungkus si bayi dan langsung “Hasil karya anakmu. Lebih jos ketimbang sepeda motor yang remuk itu!” menyerahkannya-pada kesempatan pertama-kepada orangtua Arsad. Kembali mendatangi orangtua Arsad dan minta agar mereka tidak memutuskan tali kasih antara Arsad dan Saimah. dengan mobil carteran. artinya orang baik-baik Topi Miring: Merek minuman lokal beralkohol Mblesar: memainkan gas sehingga mesin meraung-raung Dipondokkan: Dimasukkan ke pesantren untuk belajar dan sekalian tinggal di sana. istrinya. Dua hari setelah persalinan. tanpa mampir dulu. Karena itu. meski tak selalu milik orang Madura . Mutung: Berhenti di tengah jalan Meteng: Mengandung. Ibunya Arsad berteriak-teriak. Dua kali lagi Khairan mengiba-iba. Bisa apa ’ndak?” Kadang Arsad mengirim uang belanja untuk Saimah. dan Yudiono-yang setengah mabuk-. Si bayi santun disodorkan oleh Saimah. Mengeluh tak bisa ke luar dari Pondok. dari rumah Bidan. “tombokan”: Memasang nomor judi dengan membayar uang taruhan. Ibunya Arsad terpekik. Saimah menangis. tapi tidak pernah dilayani. Aku seperti masuk penjara. keluarga lewat pintu ruang tamu yang terbuka di rembang petang. Mengawal Saimah yang menggendong bayi-diam-diam Khairan menyelipkan celurit-dan langsung ke ruang salam sambil menyelonong.

Beningnya langsung meloncat menghambur. Dari kotakota yang disinggahi.Kartu Pos dari Surga Agus Nur Mobil jemputan sekolah belum lagi berhenti. Ia harus menjawab apa? Bik Sari bisa melihat mata kecil yang bening itu seketika meredup. ia selalu tak tahan melihat mata Marwan hanya diam ketika Bik Sari cerita kejadian siang tadi. betapa soal kartu pos ini akan membuatnya mesti mengarang-ngarang jawaban. Marwan kadang kirim SMS. Ia masih belum genap enam tahun. Pasti kartu pos dari Mama telah Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun. karna ia terus diam saja. Di kelas. Bibiiikkk…. Non?” “Kartu posnya udah diambil Bibik. “Hati-hati!” teriak sopir. barangkali kartu pos itu terselip di dalamnya. Tapi memang tak ada. Jadi belum sempet ngater kemari…” Lalu ia mengelus lembut anaknya. Beningnya tertegun. Meski baru play group. seakan sudah menebak. “Kok kartu pos Mama belum datang ya. Ia melongok. Pa?” “Mungkin Pak Posnya lagi sakit. Sungguh. tadi. yang kecewa itu. “Ada apa. Sekolahnya memang saat bubaran sekolah. setiap pulang. Bik Sari yang sedang mengepel sampai kaget melihat Beningnya terengah-engah begitu. ya?” Tongkat pel yang dipegangnya nyaris terlepas. Seperti capung ia tiba. tak gampang menjelaskan semuanya pada anak itu. Apa Mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? Mungkin Bi Sari sudah mengambilnya! Beningnya pun segera berlari berteriak. terutama “Kau memang tak pernah merasakan bagaimana bahagianya dapat kartu pos…” .” Ia nyaris kepleset dan menabrak pintu. ia selalu mengirimkan kartu pos buat Beningnya. untuk berjaga-jaga kalau ada penculikan. Beningnya selalu nanya kartu pos…” suara pembantunya terdengar serba salah. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. dan Bik Sari merasa mulutnya langsung kaku. Beningnya sudah pegang hape. Kadang bisa sebulan tak pulang. Ia tak menyangka. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. “Saya ndak tahu mesti jawab apa…” Memang. Marwan sendiri selalu berusaha menghindari jawaban langsung bila anaknya bertanya. “Hari gini masih pake kartu pos?” Karna Ren sebenarnya bisa telepon atau mengharuskan setiap murid punya hand phone agar bisa dicek sewaktu-waktu. meledek istrinya. Pekerjaan Ren membuatnya sering bepergian. “Biiikkk…. ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos melintas halaman. mendapati kotak itu kosong. “Sekarang.

Itu kotak kayu pemberian Ren. dan memamerkannya dengan membacanya keras-keras. Aku hanya ingin Beningnya punya kebahagiaan yang aku rasakan…” Tak ingin berbantahan.” Marwan hanya diam. Ren menyimpan kartu pos dari Ayahnya. Mereka akan berteriak senang bila menerima surat balasan pernah diam-diam menulis surat untuk dirinya sendiri. setiap Ayah pulang. yang dikenal lewat rubrik majalah. Marwan melirik jam dinding kamarnya. Pukul “Enggak bisa tidur. Saat SMP. Karena iri. Sepanjang hidupnya.” Ren kecil duduk di pangkuan. tetapi kartu pos yang dikirimkannya dari kota yang Ketukan di pintu membuat Marwan bangkit dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu. “Besok Papa bisa anter Beningnya enggak?” tiba-tiba anaknya bertanya. Kotak kayu yang dulu juga dipakai 11. “Itulah saat-saat menerima kartu pos darinya. Marwan berusaha tampak gembira ketika surat yang dikirimkannya sendiri itu ia terima. Marwan tak pernah menerima kartu pos. Marwan ingat. dan yang lucu: disinggahi baru sampai tiga hari kemudian! pernah suatu kali Ren sudah pulang. “Kalu emang Pak Posnya sakit biar besok Beningnya aja yang ke rumahnya. banyak temannya yang punya sahabat pena.Marwan tak lagi menggoda bila Ren sudah menjawab seperti itu. Meski tetap saja ia merasa aneh. aku selalu merasa Ayahku muncul dari negeri-negeri yang Ren sejak kanak sering menerima kiriman kartu pos dari Ayahnya yang pelaut. “Mungkin aku memang jadul. kartun . jauh.20. ngambil kartu pos dari Mama. “Nganter ke mana? Pizza Hut?” Beningnya menggeleng. Ia pun atau kartu pos. Ia mencoba menarik perhatian Beningnya dengan memutar DVD Pokoyo. bahkan ketika anaknya mulai mengeluarkan setumpuk kartu pos dari kotak itu. Bahkan. Negeri yang gambarnya ada dalam kartu pos itu…” ujar Ren. “Setiap kali menyenangkan dan membanggakan punya Ayah pelaut. ia pun jarang dapat surat pos yang membuatnya bahagia. sementara Ayahnya berkisah keindahan kota-kota pada kartu pos yang mereka pandangi.” Ren merawat kartu pos itu seperti merawat kenangan. lantas mengeposkannya. ya? Mo tidur di kamar Papa?” Marwan menggandeng anaknya masuk. bagaimana Ren bercerita. Marwan diam. “Ke mana?” “Ke rumah Pak Pos…” Marwan merasakan sesuatu mendesir di dadanya. rasanya. “Aku selalu mengeluarkan semua kartu pos itu. dengan suara penuh kenangan.

kamu jelaskan saja pelan-pelan yang sebenarnya. teman sekantor. saat Marwan makan siang bersama.di tepian kanal. Semua itu menjadi tampak lebih indah dalam tertidur. Tetapi rasanya jauh lebih mudah menenangkan . Membiarkannya ikut ke pemakaman. Marwan masih ngantuk karena baru tidur menjelang jam lima pagi. kenapa seorang pengarang bisa begitu terobsesi pada senja dan ingin memotongnya menjadi kartu pos buat pacarnya. Sudut dengan deretan yacht tertambat. Ia sengaja tak masuk kantor untuk melihat Beningnya gembira ketika mendapati kartu pos itu. Tapi Beningnya terus sibuk memandangi gambar-gambar kartu pos itu. Sepeda yang berjajar kesukaannya. Deretan kafe payung warna sepia. Gambar pada kartu pos. “Bagaimana kalau ia malah terus bertanya. ia kini mulai dapat memahami. udah datang ya kartu posnya?” Marwan melihat mata Beningnya berkaca-kaca. Ia bisa membiarkan Beningnya melihat Mamanya terakhir kali. Siluet menara dengan burung-burung melintas langit jernih. tampak memberi isyarat agar ia melihat ke sebelah. dinding goa. Pasti mereka menduga ia dan Ita…. “Ini bukan tulisan Mama…” Marwan tak berani menatap mata anaknya. Mungkin ia akan terus-terusan menangis karena merasakan kehilangan. Marwan tersenyum. tetapi bocah itu telah melesat Marwan menyambut gembira ketika Beningnya menyodorkan kartu pos itu. pasti akan dikisahkannya gambar-gambar di kartu pos itu hingga Beningnya “Bilang saja Mamanya pergi…” kata Ita. Air mancur dan patung bocah bersayap. yang tengah memandang mejanya dengan mata penuh gosip. Ia selalu merasa bingung. Dermaga kota tua. Marwan mendengar teriakan sopir yang menyuruh hati-hati. Mobil jemputan belum lagi berhenti ketika Marwan melihat Beningnya meloncat turun.” Marwan tersenyum. ketika Beningnya terisak dan berlari ke kamarnya. “Atau kamu bisa saja tulis kartu pos buat dia. Bukit karang yang menjulang. kemudian berlarian tergesa masuk rumah. Seolah-olah itu dari Ren…. seperti tercekat.” Itulah. kapan pulangnya?” “Ya sudah. “Ini bukan kartu pos dari Mama!” Jari mungilnya menunjuk kartu pos itu. Kartu pos yang diam-diam ia kirim. setelah Beningnya pulas. Bahkan membohongi anaknya saja ia tak bisa! Barangkali memang harus berterus terang. Merasa lucu karena ingat kisah masa lalunya. “Wah. Beberapa rekan sekantornya terlihat menuju kotak pos di pagar rumah. bagaimanakah ia mesti menjelaskan semuanya pada bocah itu? Andai ada Ren. Tapi bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya? Rasanya akan lebih mudah bila jenazah Ren terbaring di rumah. dari mana mesti memulainya? Marwan menatap Ita. Ah. Pagoda kuning keemasan. Rasanya. Dari jendela ia bisa melihat anaknya memandangi kartu pos itu.

Ia melongok ke dalam kamar. 2008 dipegangi anaknya. Segera Marwan kartu pos-kartu pos yang berserakan. Kain kafan yang tepiannya . Marwan menerima dan mengamati kain itu. keluar dari lubang kunci. tak ada api. Bau sangit “Beningnya! Beningnya!” Bik Sari ikut berteriak memanggil. Rasanya ia hendak terserap amblas ke dalam kamar. Dan ia tercekat di depan kamar anaknya. Hanya “Tadi Mama datang. Singapura-Yogyakarta. menyambar mendekapnya. “Ada apa?” Marwan mendapati Bik Sari yang pucat. semua rapi. serupa kabut. “Beningnya…” Bergegas Marwan mengikuti Bik Sari. Beningnya berdiri sambil memegangi selimut. Hawa dingin bagai merembes dari dinding. “Kata Mama tukang posnya emang sakit. Bau wangi yang ganjil mengambang. seseorang. “Buka Beningnya! Cepat buka!” Entahlah berapa lama ia menggedor.Beningnya dari tangisnya ketimbang harus menjelaskan bahwa pesawat Ren jatuh ke laut dan mayatnya tak pernah ditemukan. Ia menduga terjadi kebakaran dan makin panik membayangkan api mulai melahap kasur. Ketukan gugup di pintu membuat Marwan bergegas bangun. sulit ia buka. Dua belas lewat.” pelan Beningnya bicara. Lebih keras dari bau amoniak. Ia melihat ada asap lembut. seperti tengah bercakap-cakap dengan Dan cahaya itu makin menggenangi lantai. jadi Mama mesti nganter kartu posnya sendiri…. sekilas ia melihat jam kamarnya. Cahaya yang terang keperakan. Ada cahaya terang keluar dari celah pintu yang bukan cahaya lampu. Dan ia mendengar Beningnya yang cekikikan riang. “Beningnya! Beningnya!” Marwan segera menggedor pintu kamar yang entah kenapa begitu membuatnya tersedak. ketika akhirnya cahaya keperakan itu seketika lenyap dan pintu terbuka. Marwan mendapati sepotong kain serupa kartu pos kecoklatan bagai bekas terbakar.” Beningnya mengulurkan tangan.

Bahkan aku tak mendengar desah apa pun ketika ia orgasme. dan mana yang nyaman buat sekadar menghabiskan malam di ranjang. untuk sekadar membuatku tersenyum. Itulah yang membuatku betah berada di dekatnya. aku memang mengindap gangguan jiwa karena terlalu gampang jatuh cinta. aku seperti mendengar denting genta. mana yang pantas buat dipakai makan malam. Ia bercinta nyaris tanpa suara. aku teringat pada sepasang kunang-kunang yang melayang di atas kolam. ketika sepasang mata itu muncul dari Sisa hujan masih terasa dingin di kaca saat aku bertemu dengannya di toko ikan hias. bergemerincing dalam ”Atau jangan-jangan kamu hanya maniak seks yang takut kesepian. Kau akan laki-laki yang selalu gugup dan tergesa-gesa ketika berciuman. Di antara ikan-ikan kecil warna-warni. seperti langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. seperti katamu. Kau tahu. aku suka matanya yang selalu mengingatkanku pada langit hampir seperti ketika kamu merasa rindu pada masa kanak-kanakmu yang paling menenteramkan. menyentuh putingku yang ungu. betapa jari-jari tangannya begitu gemetar ketika pertama kali malam yang dipenuhi kunang-kunang. Aku Aku tak tahu bagaimana persisnya aku mulai mengajaknya bicara. ”Dan yang ini?” Seperti kukatakan. bercinta dengannya seperti menikmati nasi . Ia tak pernah mengucapkan rayuan. mana yang pas buat jalan-jalan. Ia malah cenderung selalu gugup bila aku bermanja-manja memeluknya. Mata yang terlalu melankolis untuk seorang yang membuatku jatuh cinta. Tapi. Memang. Menatap matanya menjadi kehangatan tersendiri. Aku ingat. sepasang mata itu bagai mengambang. sepasang mata itulah sebalik kaca—membuatku terkejut. yang paling gombal sekali pun. Aku suka ketika mendengar ia berbicara. kalau kukatakan betapa semua ini bukan semata-mata urusan ranjang. Sementara gelembung-gelembung udara dan serakan batu koral membuat wajahnya seperti terpahat di air.Serenade Kunangkunang Agus Noor melihat hamparan kesenduan dalam mata itu. Dan saat sepasang matanya mengerdip. tengah memandangi ikan-ikan dalam akuarium. menyebutkan namanya. Tetapi ketika ia hatiku. Kamu takut tidur sendirian…” Kamu mungkin tak percaya. Barangkali. berganti pacar bagiku tak lebih seperti ganti baju: tinggal pilih mana yang cocok buat ke pesta. Terdengar seperti lagu pop yang tak terlalu merdu tetapi dinyanyikan dengan sentimentil… ”Laki-laki yang romantis rupanya!” Tidak. Aku suka matanya.

Kadang aku menganggap semua ini tiada penuh masalah?! Tapi… Maaf.” ”Aku suka kunang-kunang…” . Seperti menyukai baju yang selalu ingin kukenakan ”Anggap saja ini cinta sejatimu. Keringatnya meruapkan aroma kamper yang kelabu. Bukan karena kamu tak suka. Sungguh. bukankah cinta memang ganjil dan memikirkanku. Dan ini kisah cintamu yang akan jadi dongeng menakjubkan! Ha-ha-ha…” Tidakkah kau tahu. Lalu kuingat kunang-kunang di matanya. entahlah. kali ini. tapi karena kamu tak ingin orang lain tahu kamu memilikinya. aku mesti pergi. penampilannya lebih mirip salesman yang baru saja ditolak masuk rumah.goreng: rasanya standar dan bisa didapat di mana saja. terkadang sebuah kisah cinta bisa saja menakjubkan meskipun tidak seindah kisah cinta Cinderella dengan Pangeran tampannya? Sampai saat ini aku sendiri masih heran. Mungkin karena aku merasa nyaman saja. dengan dasi yang selalu terlihat tak serasi dengan warna sweater-nya Dia agak pendek untuk ukuran kebayakan laki-laki. Dia bukan laki-laki seperti yang sering kamu untuk melakukan bermacam adegan dan posisi. yang membuatku lihat di iklan deodoran. tak rapi. bayangannya seperti ketukan ganjil pada pintu saat tengah malam. aku selalu merasa dia tengah lebih dari kisah cinta yang ganjil dan bermasalah. aku sungguh-sungguh jatuh cinta? ”Gatal telingaku dengar kamu ngomong soal cinta. ”Busyet!!” Mungkinkah. kalau memang kepingin yang mendapatkan perhatiannya. aku jadi ingin ketemu dia. Ada beberapa jerawat di wajahnya yang coklat. ”Bukan baju yang pantas buat ke pesta. tipis. ”Mau ke mana?” Kau lihat kunang-kunang itu? Setiap melihat kunang-kunang. aku kan bisa melakukannya dengan pacar-pacarku yang lain. kenapa aku jatuh cinta kepadanya. ”Kau suka kunang-kunang?” ”Hmm. Membuatku tergeragap. Tapi—entah kenapa—aku selalu menyukainya. kukira!” Lebih mirip seperti baju yang ingin selalu kamu sembunyikan dalam lemari. Tapi— diam-diam. Sedikit berkumis. Bersamanya aku tidak terobsesi aneh-aneh begitu. Tapi. yang akan membuatmu teringat pada baju yang menjadi apak karena terlalu lama disimpan.” Bila aku kangen. Setiap melihat kunang-kunang. Dan kupikir. yang membuatmu rela melakukan apa saja untuk sekadar menyukai kemurungan dan kesenduannya. aku begitu menyukainya.

Sejak kecil aku kerap bermimpi ayahku muncul dengan mata yang bagai sepasang kunang-kunang. bersama ribuan tubuh lainnya. Kenapa aku suka pada matanya yang bagai meringkuk dalam selimut. Aku jadi teringat pada cerita seribu kunang- kunang yang menautkan kesepian dan kenangan. Selalu. Ibu mendengar tubuh ayah dibuang ke lembah itu. Dia mengerti kenapa aku suka kunang-kunang. ibu bercerita bagaimana suatu malam ayahku diseret keluar rumah. ketika lembah itu menjadi bisu.”Hmm. pada saat-saat seperti ini aku ingin mengajaknya kemari. ”Kau lihat kunang-kunang itu?!” ”Hmm…” Ini pertemuan ke-43. memandangku yang duduk telanjang di sofa. aku lupa. Agar ia menyimpan kunang-kunang. Ribuan kunang-kunang itu terlihat bagaikan selendang kuning yang melayang-layang hanyut di riak air. Kemudian terbang mengikuti aliran sungai. dari lembah itu muncul ribuan kunang-kunang. Aku ingin ia melihat sendiri bagaimana setiap bulan purnama ribuan kunang-kunang itu muncul dari bawah lembah sana.” ”Hmm…” Ah. Seminggu setelah pembantaian. Seperti yang sudah-sudah. ia langsung tidur setelah bercinta. agar ia menyaksikan kemunculan ribuan kunang-kunang itu. setiap kali aku merasa rindu dengan ayah. Dan setiap pepohonan tertugur kelu. Membuat lembah itu malam purnama. Ibu selalu mengajakku kemari. Aku masih dalam kandungan ibu. seperti sosis dalam setangkup roti. di zaman gestapu dulu. saat itu. kemudian gaib begitu saja dalam kesunyian yang mengelabu. Salah satu dari ribuan kunang-kunang itu adalah ayahmu. Padahal. Kunang-kunang itu adalah jelmaan roh-roh yang penasaran. Dari jendela apartemen lantai sebelas. Rasanya aku pernah membaca cerita muncul dari kegelapan malam dan terbang berhamburan memenuhi kota… seperti itu—mungkin sewaktu SMA. dengan mata yang layu. sekali mengajaknya bercakap-cakap tentang kunang-kunang itu. . dan angin yang membeku membuat layang menyusuri aliran sungai. Bahkan kemurungan tak juga menguap dari wajahnya ketika ia terlelap.” ”Aku suka matamu…” ”Hmm” “Seperti ada kunang-kunang dalam matamu. Itulah kenapa aku Itulah pemandangan yang selalu kusaksikan sejak kecil di tempat ini. bagai gugusan cahaya kekuningan yang bangkit. kota terlihat gemerlap ditangkup gelap yang pucat. selalu tak mudah mengajaknya bercakap. Aku membayangkan jutaan kunang-kunang ”Enggak tidur?” Ia menggeliat. Ibu selalu bercerita bahwa ayah telah menjelma kunang-kunang. ribuan kunang-kunang itu selalu bangkit dan terbang melayang- Kuajak ia kemari. menjadi berkilauan. kata ibu.

Aku hanya memandang keluar jendela. handphone di atas meja bergetar tanpa suara. aku selalu saja gampang jatuh cinta pada laki-laki . Ia meraih handphone itu. Kurasakan kemurungan yang ganjil ketika ia mendekatiku. Jakarta. seperti langit yang bertambah memucat di atas kota yang di penuhi kunangkunang. meraih celana dan kemeja di sisi ranjang. Desah napas waktu meruapkan basah pada kaca jendela. Tak ada pelukan untuk saat-saat seperti ini. Kesunyian tak terpermanai. 2005-2008 pernah kau kenal. Dan dingin. aku tetap saja merasakan kemurungan yang makin membentang. dan tergesa mengenakan pakaian. Barangkali. Karena. Ia masih saja tak terbiasa melihatku telanjang. seperti dalam sebuah puisi. Sampai ia mematikan handphone dan mendekatiku. tak tercatat pada termometer. Seperti jeritan yang teredam. Kemudian ia bangkit. ”Anakku sakit …” Bukan sesuatu yang mengagetkan. dan dengan gerakan pelan menjauhiku. Membelakangiku. Seolah ia menginginkan semua ini berlangsung tanpa percakapan yang akan menjadi terlalu sarat kenangan. Tapi. selalu saja. berbicara setengah berbisik. ”Aku mesti pergi…” suaranya pelan dan datar. Cahaya perlahan susut dan aus. Tak ada percakapan. seperti kerap kau katakan. aku memang wanita paling menyedihkan yang yang sudah beristri….Ia sungkan dan jengah.

Orang-orang bergegas membawa keranjang belanjaan dan kado-kado Natal berbungkus kertas warna-warni. trotoar. Bila ada ular masuk ke rumah. Mungkin mereka butuh hiburan. ”Kalau tiga ditambah empat?” ”Tujuh. kenapa orang-orang tak orang melihatku dengan jijik. melihatku memasuki halaman rumah mereka. Dan mereka kembali tertawa. Mereka tertawa. aku terlahir kembali ke dunia ini sebagai seekor ular. orang-orang akan menghentikanku. Memberiku moke. seperti rintihan kesepian. Mungkin karena itulah orang- memperbolehkan aku masuk rumah mereka.Parousia Agus Noor Pada malam Natal tahun 3026. Aku tak pernah mengerti. Kota di mana bertahun-tahun lampau. Mobil-mobil silver metalik bertenaga magnetik keluar dari cangkang kesunyianku.” jawabku. Lalu mereka menyuruhku menyanyi dan menari. Sayup kudengar gemerincing lonceng mekanik Jingle Bells mengalun dari juke box di etalase hypermarket. nari. sambil menunjukkan empat jariku. Mereka tertawa-tawa melihat aku menarimereka kemudian akan bertanya hal-hal yang terdengar aneh di telingaku. Mungkin mereka hanya menggodaku.” jawabku. aku ingin dilahirkan kembali di kota ini. Aku Kusaksikan cahaya terang kota yang gemerlapan. ”Berapa dua ditambah dua?” ”Tujuh. bila ada ular masuk ke pekarangan. sambil menunjukkan empat jariku. aku pernah begitu mencintainya. Pasti aku tampak lucu di mata mereka. mereka selalu memberi telur atau sejumput beras buat ular . Mungkin karena celanaku yang selalu melorot. mendesing lalu lalang di jalanan. Mungkin karena mulutku yang peyot. Aku ingat. dan langit hanya basah. udara terasa seperti permukaan piring keramik yang dingin. Dulu aku memang berharap. yang membuat kepalaku berdenyut-denyut lembut. Tak ada bintang. Mendesis pelan dan muncul lewat gorong-gorong. Aku tak mengerti. Aku ikut tertawa saat mereka tertawa. Mereka selalu membiarkan ular masuk ke rumah mereka. Seorang Sinterklas terkantuk-kantuk di dalam kehidupanku yang lain. bagaimana orang-orang selalu mengusirku bila mereka tak pernah mengusirnya. Apabila melihat aku lagi berjalan. tidak lagi sebagai bocah idiot yang sering diganggu dilempari kerikil atau tomat busuk. Mungkin karena tampangku yang terlihat dungu dengan liur kental yang terus menetes. ”Dasar idiot!” Aku tak pernah mengerti kenapa mereka mengatakan aku idiot. Aku benar-benar tak lagi mengenali kota ini. Mungkin mereka merasa bahagia bila bisa menggangguku. kenapa dulu orang-orang di kota ini begitu senang menggangguku. Di kulitku yang licin. Biasanya. Padahal.

”Ular! Ular!” Kulihat orang-orang beringsut ketakutan. juga beberapa rumah kayu menuju bukit kecil. Kerlapmenerangi pertokoan yang berderet sepanjang jalan. kini aku melihat sebuah mal yang megah. Tapi di situ. Aku suka berjalan mengelilingi kota karena aku suka mendengarkan lonceng gereja. Meski terkejut dengan reaksi mereka. Mestinya. aku mulai tahu kenapa orang-orang di kota ini suka pada ular. takjub sekaligus merasa asing memandangi kota yang gemerlapan. Leluhur yang mulai berkhayal. Aku merayap menyeberangi jalan. Dulu. Bunyi lonceng seperti itulah yang dulu selalu menuntun perjalananku. di pinggir jalan. ular-ular itulah muasal leluhur yang mendiami pulau. aku selalu berjalan sepanjang jalanan ini. dan semua ketimbang diriku. kabut selalu membawa rezeki dan nasib baik bagi siapa pun yang didatanginya. banyak berkeliaran di kota ini. Kenapa mereka ingin membunuhku? Kudengar teriakan-teriakan mengejarku. Sejak itulah aku ular. Kurasakan. Kudengar kembali gema lonceng itu. Aku ingin suatu hari nanti bisa berubah menjadi Aku mendesis. Dulu. Ketika mula dunia tercipta. yang berkelok turun digantungkan begitu saja di udara. Aku begitu ketakutan.itu. Kadang kulihat seekor ular melintas menyeberang jalan. Tapi kudengar seseorang berteriak. Tiba-tiba kudengar suara jeritan. menghilang dalam kegelapan. Aku sering bertemu ular-ular itu. ketika batu masih berupa buah muda. setiap hari. kendaraan yang lewat berhenti. kota ini seperti memanggilku. Gerbangnya yang menjulang bagai mulut raksasa dan membuatku tak mengenalinya lagi. menganga mengisap orang-orang yang lalu lalang. teringat bagaimana dulu orang-orang memberi makanan menyambut kedatangan ular Instingku merasakan bahaya dan dengan cepat aku melesat menyelusup tumpukan tong sampah. saat tanah masih serupa Dari omongan orang-orang. Aku benar-benar bingung dengan kota ini. sepanjang jalan ini hanya berderet pepohonan. di pojokan itu ada sebuah gereja. Alangkah menyenangkan jadi ular. betapa orang-orang lebih menyukai ular pahami. menatapku yang mendesis merayap pelan menyeberangi trotoar. Saat itulah kudengar suara mendesis pelan. kuntum yang ranum. Seingatku. betapa enaknya jadi ular. ”Cepat bunuh ular itu! Usir! Pukul” Dan dengan gerakan cepat seseorang mengacungkan tongkat. Terdengar suara-suara tong ditendang. Mereka percaya bagaikan putih telur. . Seperti sayup ingatan yang membuatku merasa tak tersesat. yang kudengar sepotong-sepotong dan tak gampang aku ular-ular itulah leluhur mereka. Begitu aku selalu merasa iri pada ular-ular yang di pepohonan. Aku ingin Tuhan akan melahirkanku kembali ke kota ini sebagai seekor ular. Kota dengan seribu gereja. mendengar suara lonceng gereja yang mengapung menggetarkan udara senja. Lampu-lampu aneka warna Kudengar lonceng gereja. Aku leluhur mereka. ketika Bumi masih rapuh. Aku tiba-tiba terkenang pada gereja-gereja yang dulu sering aku singgahi. Di ladang. Cahaya seperti telah menyihir kota ini kerlip pohon Natal menjulang di tengah-tengah plaza. aku mencoba tak panik. Kini terentang jalan layang dan jembatan penyeberangan yang bagai sederhana. Aku senang dan merasa tenang bila penuh dengan gereja.

hanya dipisahkan oleh kenangan. Kulihat puluhan ular. Dan seperti menyusuri ingatan. kulihat itu menyala kemerahan. Kemudian ia berjalan mengendap-endap. ratusan ular. sambil menurunkanku dari dekapannya. membuatku merasa seperti menyusuri labirin kesunyian yang pastilah akan membuatku tersesat bila sendirian. di mana matahari terlihat menyandarkan cahayanya. >diaC< Kudengar lonceng gereja yang layu dari kejauhan. Kulihat rosario menenteng lentera.” Kulihat gadis cilik meringkuk di pojok gelap. Cahaya pucat kemerahan menerangi lorong yang kami lalui. Sungguh kota ganjil yang serba temaram. gadis itu memungutku. Dengan tangannya yang mungil. Ditentengnya rosario itu seperti ia gadis cilik yang mendekapku ini mengeluarkan rosario dari kantung roknya. ”Cepat sembunyi sini…. mengenali jajaran pepohonan di sepanjang jalan kota ini. Aku merasa ini tak lebih dari kota lama yang ingin dikekalkan dalam ingatan. Suara-suara itu perlahan lenyap dalam gelap. Kota ini terletak di pinggiran kota yang gemerlapan itu. Aku diam melingkar di pojokan. Aku langsung teringat pada kelokan jalan itu. juga bayangan bukit-bukit di kejauhan. lorong yang berkelok-kelok. Lorong di mana dulu gadis cilik itu membawaku adalah jalan menuju ke kota yang penuh cahaya itu. Cara mereka mengingatkanku. seperti kupandangi sepasang bintang yang menandai kelahiranku kembali ke dunia ini. reruntuhan gereja yang kini hanya terlihat sebagai tetumpukan batu bata. sampah. mendesis-desis menatapku. Saat itulah kudengar suara-suara mendesis pelan keluar dari reruntuhan tembok dan tumpukan kayu lapuk. Ketika gelap dan sepi terasa lengket seperti ampas kopi. Cepat sini…. berdesakan dan bau tengik. Sepasang matanya yang bening membuatku pelan-pelan merasa tenang.” kata gadis cilik. Aku merasa nyaman dalam yang kudengar masih memburuku. menjauhkan aku dari orang-orang belakangku. ”Kamu bandel sekali berani keluar gorong-gorong. memancarkan sulfur cahaya. Di dekapannya.”Ssttt…. aku merayapi jalanan kota ini. Ia mengulurkan tangan. ”Kita sampai.” Aku memandanginya ragu. belajar memahami apa yang sesungguhnya telah terjadi. memberiku cuilan roti yang dipungutnya dari tumpukan kepalaku. Inilah kota yang pada kehidupanku yang dulu selalu kususuri jalan-jalannya. Sampai kemudian aku melihat bayangan deretan rumah yang rapuh. cahaya kota yang gemerlapan kulihat meredup perlahan ketika gadis ini terus memasuki lorong kelam.” Ia berkata sambil mengelus Kupandangi mata gadis itu. meski aku bisa segera menyaksikan bayangan rumah-rumah kumuh yang bagai mengapung dalam kegelapan. seperti tengah meyakinkan betapa tempat terbaik . Aku kemudian tahu bahwa kota ini sesungguhnya tak terlalu jauh jaraknya dengan kota yang kulihat saat malam Natal sebulan lalu. Tapi ularular yang kutemui selalu mengingatkan agar aku jangan pernah berani-berani lagi muncul bagi ular macam kami adalah di kota ini di kota itu. Aku merasa asing.

dan Kristus tampak murung dan sengsara dalam lindap cahaya. Dan pada malam hari mereka memeras air mata. Ia kemudian mengatakan kalau karena sekarang ini sudah jarang yang mau membeli rosario. Pada tubuh Kristus terlilit selang kecil. katanya. Sebab bila ketahuan. dan meminumkannya saat anak-anak mereka sakit. Dulu. Kamu sudah melihatnya. Kami mesti menjualnya diam-diam. Kami bercakap-kacap dengan bahasa leluhur yang hanya bisa kami mengerti. salib itu seperti pokok pohon karet yang tengah disadap. kami bisa ditangkap petugas keamanan. seakan- mencapai kota di seberang sana.Di kota ini. menjualnya di lapak trotoar. Dan ular-ular mengikuti mereka ingatan inilah para ibu mencoba bertahan hidup dengan memetik embun di daun-daun. Sering kami duduk-duduk dekat terpinggirkan dari kota. Itulah selang yang dipakai untuk menampung air mata Kristus. Dalam keremangan. membawanya masuk ke dalam kabut kesunyian. Pelan-pelan mereka kembali membangun kota mereka. dengan karena di kota yang baru mereka diburu dan tak lagi dituahkan. bila menjelang Natal. pada waktu-waktu tertentu akan mengalir. kan? sekarang ia makin sulit menjual rosario. Para penduduk di kota ini menampung air mata Kristus. sebagian orang yang mencoba bertahan memunguti sisa bangunan gereja itu. saat mereka berkumpul mendengarkan orangtua mereka mendongeng. anak-anak di rosario buatan kami luar biasa. Mereka memunguti puing kota lama yang nyanyian dan upacara yang penuh ratapan pada leluhur. Salib itu menjulang. Para penduduk memberi kami anak-anak. terdengar seperti tengah bertingkat mulai dibangun. kami—ular-ular—memang dibiarkan berkeliaran. Tak hanya karena dikejar-kejar petugas. untuk diganti dengan malmal. Aku menemukannya tak sengaja. dan menghidangkannya buat sarapan pagi anak-anak mereka. ”Begitulah. Dongeng tentang kehidupan mereka yang perlahan-lahan sangat senang mendengarkan dongeng-dongeng itu dituturkan. Ia bercerita bahwa sebenarnya ada jalan tembus melalui gorong-gorong untuk pergi lewat jalan itu. tetapi kota itu lebih suka dapat hadiah Natal boneka Barbie atau nitendo daripada rosario. kalau aku mau menjual rosario. Sudah lama. dengan mangkuk perak berbentuk piala di ujung selang itu. Ketika bangunan-bangunan menyanyikan kesedihan. Kami belajar saling mengerti kesepian masing-masing. Kuingat rosario yang memancarkan cahaya itu. Kadang merah serupa darah. Dulu aku sering memang sering berjualan rosario. Berusaha membangunnya kembali sebagai tumpukan-tumpukan kenangan. Pada saat itulah. Butiran air mata itulah yang kemudian mereka kumpulkan untuk diuntai jadi rosario. menyimpannya dalam botol. yang mereka percaya. akan ia ingin agar aku mengenal setiap cuil kota ini. Ada salib di tengah reruntuhan gereja di kota ini. tetapi selalu diusir. Apalagi gadis cilik itu selalu mengajakku jalan-jalan. kami Aku belajar mencintai kota ini. Kemudian dijual. Aku pernah melihat bagaimana rosario itu dibuat. Padahal Aku mendesis mengangguk. Kadang air mata itu menetes bening. tapi terlihat rapuh. Ketika banyak gereja diruntuhkan. Di kota yang remang dalam menampungnya dalam gelas. gadis cilik itu pernah berkata kepadaku. dihancurkan kemajuan. berjualan biji-biji embun dan bermacam daun. rempah-rempah dan artefak kenangan. dulu kami bertahan: dengan . Ketika kota mempercantik diri. Aku sisa makanan mereka meski kadang busuk dan berjamur. menyadap air mata Tuhan…” Aku ingat. Dulu banyak warga kota ini yang setiap hari pergi ke kota itu.

Di dekat altar. Tidak. ia memang gadis yang usil dan nakal. Sampai kemudian aku menyadari. Terdengar syahdu dan megah. betapa sunyi gereja ini. Kami keluar dari Puji Tuhan. katanya. Kudengar koor Malam Kudus dinyanyikan.Kepada gadis cilik itu pun aku bercerita tenang kehidupanku dulu. siapa tahu aku ini salah satu keturunanmu. ia seperti tengah membawa keranjang makanan dan hendak pergi tamasya. Aku melingkar tenang dalam keranjang. Ia mendadak terbelalak saat aku bercerita tentang Gereja St Paulus yang sering kudatangi dulu.” katanya. Kukatakan betapa aku ingin melihat gereja itu. kulihat stereo set diputar untuk mengumandangkan melihat tubuh Kristus yang tersalib memandangi bangku-bangku kosong. nyanyian puji-pujian. Mataku nanar Ledalero. Jangan sampai orang-orang di kota itu melihatmu. Maka pada malam Natal beberapa bulan kemudian.” katanya. boleh jadi sebagai tugu kenangan. Aku tidak menikah. Ia begitu senang saat mendengar kalau pada kehidupanku yang dulu. gorong-gorong. kataku. Kenangan-kenangan dalam kehidupanku yang dulu seperti bermunculan kurasakan cahaya kota yang gemerlapan. Tak ada seorang pun mengikuti misa Natal. Ada perasaan sendu ketika kudengar itu. aku juga penduduk kota ini. Ketika ia berjalan. ternyata.” teriaknya riang. ”Tapi aku suka kamu!” Aku menggeliat-geliat dalam dekapannya. ”Kamu Pater?” Aku mendesis tersenyum. Ia hendak membawaku mendatangi gereja yang kurindukan itu. Pasti mereka mengusir kami…. ”Kita bisa diam-diam ke sana. 2006 . Kulihat gadis kecil di sampingku yang hanya menunduk. Dulu aku idiot. ”Kau tahu. gereja. Ah. Dari dalam keranjang anyaman. Cahaya terasa ultim dan kusaksikan fresko katakombe di atas altar itu bagai bergetar. ”Itu satu-satunya gereja yang masih berdiri!” Mungkin tepatnya: itulah satu-satunya gereja yang sengaja dibiarkan berdiri. Kusaksikan ruangan yang remang. samar-samar bisa menenteramkanku. tapi setidaknya ia memahami kerinduanku. Kami menuju kota itu melalui gorong-gorong rahasia. Pelan aku dikeluarkan dari dalam keranjang. gadis itu memasukkanku ke dalam keranjang kecil. Tak ada seorang pun perempuan suka dengan orang idiot. Aku takut ada penduduk yang memergoki gadis cilik ini. Ia menyimak ceritaku dengan mata berkejap- kejap. kudengar gadis itu berbisik pelan mengatakan kalau kami sudah sampai dalam seperti rongga semesta. ”Wow. tepat di belakang gereja.

Dikutip dan ditulis ulang dari puisi ”Ibu yang Tabah” karya Joko Pinurbo. Nusa Tenggara Timur. Agus Noor (23 Desember 2007) . 3. Disitir dan ditulis ulang dari syair tradisi yang mengisahkan penciptaan alam semesta. Nama tuak/minuman keras lokal di Maumere.Catatan: 1. 2. versi Krowe-Sika.

Mungkin juga mereka memilih berhenti jadi tukang jahit. Kemunculan mereka selalu menjadi pemandangan yang menakjubkan. Nak. Seperti kemunculannya yang entah dari mana. Mereka duduk bersila menggerakkan engkol mesin jahit dengan tangan tukang sulap. Begitulah. meletakkannya di atas kotak kayu yang digunakan sebagai meja. selalu. yang mampu mengubah kain-kain warna-warni menjadi baju-baju indah kanannya. Nak. Seolah muncul begitu saja ke kota ini. mangkuk-mangkuk berisi kancing warna-warni. silet. betapa dulu. Anak-anak berceloteh riang tentang baju baru yang akan mereka kenakan. ia tak hanya bisa menjahit pakaian.Tukang Jahit Agus Noor Tukang jahit itu selalu muncul setiap kali menjelang Lebaran. dan benang. Mereka mengeluarkan mesin dondom dan jarum pentul. “Tukang jahit maka Lebaran tidak jadi datang ke kota ini. Seperti menyaksikan dalam sekejap. Kau akan mendengar gema mesin jahit yang terus bergemeretak hingga larut menyelesaikan semua jahitan sebelum hari Lebaran. Mereka menggelar dasaran di trotoar. di emper pertokoan. Entahlah. Karena para tukang jahit itu mesti jahit itu tampak bergegas keluar kota. para para tukang jahit itu muncul setiap kali menjelang Lebaran dan menghilang di malam takbiran. karena makin lama makin banyak warga yang malas menjahitkan pakaian pada tukang jahit-tukang jahit itu. factory outlet. Jarum Ibu pernah bercerita. Kata orang. kota ini selalu didatangi banyak sekali tukang jahit. Atau mereka tak mau lagi datang. tukang jahit itu pun menghilang entah ke mana. datang! Asyiik! Lebaran jadi datang!” Seakan-akan bila para tukang jahit itu tak muncul. Nak. jarum Selalu menyenangkan memperhatikan tukang jahit itu bekerja. Serasa ada gema burung pelatuk di mana-mana. Mungkin banyak dari tukang jahit itu yang mati. Ketika cahaya matahari pagi yang masih lembut kekuningan menyepuh tukang jahit yang masing-masing memikul dua kotak kayu berbaris muncul dari balik lekuk perbukitan dan halimun perlahan-lahan menyingkap. kau bisa menyaksikan serombongan bukit. Nak. butik dan pusat perbelanjaan di kota ini. gunting. Sejak banyak toko fashion. kota akan terlihat penuh tukang jahit yang berkeliling menawarkan menjahitkan pakaian. Nak. orang-orang lebih suka . Tukang jahit itu punya jarum dan benang ajaib yang bisa menjahit hatimu yang sakit. Di hari-hari menjelang Lebaran itulah. para tukang malam. di keteduhan pepohonan. diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya. Para penduduk antre menjahitkan pakaian dan hiruk dalam keramaian menyambut Lebaran. Dan di malam takbiran. Ia juga bisa menjahit kebahagiaan. sementara tangan kirinya lincah dan cepat mengarahkan pola potongan kain yang dijahit. Kanak-kanak akan berlarian senang menyambut kemunculan mereka. menata bundelan-bundelan benang. setiap menjelang Lebaran. jahit lipat dari dalam kotak yang dibawanya. yang konon. dari tahun ke tahun. Tapi semakin lama kian menyusut tukang jahit yang muncul ke kota ini. di pojokan jalan.

Bila ada orang sedih yang datang padanya. Entahlah. Tak Lalu Ibu bercerita tentang jarum dan benang yang dimiliki tukang jahit itu. tapi kau lihat. tetapi tak bisa menyentuhnya. Nak. Tapi juga ingin bahagia di saat hati orang yang lagi sedih itu. Kau tahu. Maka. selalu saja ada orang yang datang Tinggal tukang jahit itu. Seluruh tukang jahit yang tinggal di kampung itu mati oleh wabah yang tak pernah diketahui apa. Ia menjahitnya dengan rapi. tukang tentang tukang jahit itu. maka tukang jahit itu akan menjahit robek dan koyak menjadi seperti selembar kain lembut yang bisa dijahit kembali. dan menjahitkan pakaian padanya. tetapi juga kebahagiaan. Saat itu Ayahmu baru meninggal. Nak. Lalu diantar Pamanmu. Nak. tak banyak bicara. Kisah tentang kampung para penjahit juga pernah aku dengar. Tak berbekas. Di dada sebelah sini. seperti senar. yang masih muncul di kota ini. dan membuat orang-orang itu merasa tenteram. Kau tahu. Ibu merasa kesepian dan sedih membayangkan Lebaran tanpa Ayahmu. Menisik dan menjahit. Tak ada lagi keriuhan suara mesin jahit di kota ini setiap menjelang masih muncul pun lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan melinting dan orang-orang yang lalu lalang keluar masuk pusat perbelanjaan menenteng tas-tas lebaran. Sebuah kampung. Mereka hanya duduk-duduk tanpa mengerjakan jahitan. Perawakannya kurus. begitu halus. membutuhkan mereka. Nak. dan jarum. yang seluruh penghuninya adalah tukang jahit. Di kampung itulah ia tinggal. memang mengubah selera. Nak. Mungkin para tukang jahit itu merasa betapa kota ini tak lagi menerima kedatangannya. Nak. tetapi lebih lembut dan halus. Delapan Lebaran lampau. Benang yang tak akan habis bila dipakai Nabi Khidir muncul dalam mimpinya suatu kali. Benang itu tipis dan bening. di tangan tukang jahit itu. Berjalan keliling kota menawarkan jahitan. Mungkin kau tak ingat. memancarkan cahaya lembut ketika dipegangi tukang jahit itu. halus.membeli pakaian jadi. memandangi belanjaan berisi pakaian. Tapi ia lebih sering terlihat di sudut dekat gang kecil agak di pinggiran kota. para tukang jahit yang mengisap tembakau. ia sebenarnya tinggal di balik bukit itu. tiga bulan sebelum Lebaran. Hanya ia. satu-satunya tukang jahit. Dan itu karena ia tak hanya pintar menjahit pakaian. Yang jelas sudah sejak lama. Nak. dari tahun ke tahun. tak ada lagi pemandangan menakjubkan arak-arakan serombongan tukang jahit laskar terakhir prajurit yang terusir. Ada yang mengatakan. Memberi tukang jahit itu segulung benang untuk menjahit seluruh pakaian yang ada di dunia ini. Rabalah. Ia seperti wajahnya seperti rahasia yang tak mau dibuka. Tapi . Nak. setiap menjelang yang muncul di kota ini. lalu mereka memilih mendatangi kota-kota lain yang masih mau Lebaran. Zaman. Orang tak hanya menginginkan baju baru saat Lebaran. Dan jarum itu. Ia menjahit luka hati ibu. Cerita Ibu hanyalah salah satu cerita dari banyak cerita yang kudengar cerita lain membantahnya. Kau bisa melihatnya. Nak. Ibu mendatangi tukang jahit itu. Lebaran. Ia sempat mengelus bertilas. rambutmu. Kau masih empat tahun saat itu. Memang tak banyak lagi orang yang mau padanya. kulitnya seperti kulit mahoni yang menua. kebahagiaan yang Ibu pernah menggendongmu datang ke tukang jahit itu. barangkali. Dengan jarum dan benang Begitulah. selalu kulihat tukang jahit itu muncul di kota ini setiap kali menjelang lebaran. Namun sudah berpuluh tahun lalu kampung itu lenyap. kadang tampak itulah tukang jahit itu menjahit kembali kebahagiaan orang-orang….

Benang yang untuk menjahit hati orang-orang yang sedih menjelang Lebaran. Ayah?” “Mau menjahitkan…” “Menjahitkan pakaian?” “Bukan. bahkan ada yang sudah menunggu berhari-hari. sewaktu kanak. Ia tinggal di sebalik cakrawala. Karena banyaknya antrean yang meluber hingga ke tengah sebentar lagi…. Padahal tukang jahit itu. Cerita tentang jarum dan benang ajaib itu mungkin membuat banyak orang penasaran. Mereka antre agar bisa menikmati kebahagiaan Lebaran. sepanjang hari memintal benang kesabaran. jahit itu belum lagi muncul! Mereka tampak sudah tak sabar menunggu kemunculan tukang Saat melintas sepulang belanja kue penganan dan pakaian buat Lebaran. Menjelang Lebaran ini. Dengan benang itulah ia ditugaskan oleh Nabi Khidir Semua cerita itu sesungguhnya tak pernah menjelaskan tentang tukang jahit itu. satu-satunya yang selamat. aku menjalankan mobil pelan-pelan. Dari radio terdengar nyanyian riang: Lebaran “Sedang antre apakah orang-orang itu. inilah antrean terpanjang yang pernah kulihat di kota ini.” “Kok kayak mau ngantre minyak tanah?” . jalan. Ia tinggal di sana. yang membuat jalanya jadi agak membungkuk. Ia sendiri tak pernah mau bercerita tentang dirinya. Tak banyak juga orang yang mendatanginya. Tak pernah bercakap ia dengan para penjual loakan di situ. Itulah sebabnya. dipintal dari bulu-bulu sayap malaikat. kini ia satu-satunya tukang jahit yang dan menjadi muridnya. Yang lain bilang kalau ia memang sempat bertemu Nabi Khidir jahit itu. Gang yang rindang dan lengang meski ada juga beberapa lapak penjual barang loakan.masih muncul ke kota ini. Mereka ingin menjahitkan kekecewaan mereka pada tukang jahit itu. seakan meledek tukang topeng monyet keliling. Menjahit dan tidur di Tapi dari Lebaran ke Lebaran semakin banyak saja orang-orang yang datang ke tukang jahit itu. Dan tukang jahit itu tetap saja diam. Aku ingat. gang itulah tukang jahit itu selalu menggelar dasaran dan istirahat. Mereka sudah menunggu sejak dini hari. aku dan kawan- Agak di pinggiran kota ada gang buntu kecil yang letaknya di tikungan jalan. Tapi barangkali pula karena dari Lebaran ke Lebaran memang semakin banyak orang yang kian tenggelam dalam kekecewaan. malah makin menyelimutinya dengan misteri. Kemunculannya selalu dalam diam. Menjahitkan kebahagiaan. kulihat antrean itu sudah sedemikian mengular panjang memacetkan jalanan. Nyaris tanpa suara berkeliling memikul dua kotak kayu kawan sepermainan kerap mengikuti di belakangnya sambil berteriak-teriak. Rasanya. anakku memandang heran antrean itu. Di pojokan situ selama hari-hari menjelang Lebaran. di sebuah perbatasan antara hidup dan kematian.

“Jadi mereka menunggu tukang jahit itu. dengan gampang mendapatkannya. Pusing karena semuanya makin mahal. Tak bisa membelikan baju baru. Brisbane-Yogyakarta. Ayah?” Aku menatap matanya yang menunggu jawaban. Ayah?” “Ya.Barangkali.” Lalu kuceritakan apa yang dulu pernah diceritakan Ibu padaku. Tidak semua orang hari Lebaran pun kini orang mesti antre berdesak-desakan. sekarang ini kebahagiaan memang seperti minyak tanah. Bingung karena masih nganggur. Mungkin juga mereka hanya merasa makin sedih saja…. 2007 orang-orang yang antre itu.” “Bagaimana kalau tukang jahit itu tak muncul. Tentang jarum dan benang yang bisa menjahit kesedihan. kemudian memandang gamang ke arah menyentuh ujung terjauh cakrawala yang mulai menggelap. Bahkan untuk sekadar bisa menikmati kebahagiaan di “Kenapa menjelang Lebaran begini mereka kok tidak bahagia. Ayah?” “Mungkin mereka tak punya uang buat pulang kampung. Kulihat antrean itu sudah sedemikian panjangnya. hingga Agus Noor (7 Oktober 2007) . Kuceritakan tentang tukang jahit itu.

sebermula permen muncul di dunia manusia. Permen dalam bungkus warna-warni.Permen Agus Noor Melihat mulut Iza yang terus cembetut. dan kembali beterbangan memetiki biji-biji buah yang keranjang. Saat peri-peri mungil lelap bergelantungan. itulah.” kata Mamanya. permen. Anak-anak suka permen. Nak.” Ah. Mama. Anak-anak begitu bergembira ketika nenek sihir itu membagikan biji-biji yang rasanya manis dan mereka sudah hilang. Mereka sedih. Neal tak akan pernah lupa dongeng masa kecilnya itu. kemudian mengumpulkannya dalam bibi-biji buah yang lembut itu mereka gunakan sebagai bantal. Seperti bantalbantal mungil milik peri. suka sekali permen. Tapi ia juga bisa membuat gigi-gigimu rusak dan bengkak jangan terlalu berlebihan menikmati apa pun. Neal ingat bagaimana Mamanya mengakhiri kisah itu dengan suara yang penuh senyuman. “Permen akan selalu mengingatkanmu bahwa hidup ini manis dan patut kamu nikmati. hutan yang berkilauan menjadi penuh nyanyian. sementara nenek sihir itu telah jauh keluar hutan dan melintas jalanan desa dengan menyaru sebagai penjaja manisan. “Ini bantal yang dipakai tidur para peri. dan kakak adiknya berkumpul menonton televisi. fudge. Neal suka meletakkan kotak dari kayu tata menyerupai bantal di atas kasur kecil. bila peri itu . Neal tahu kalau anaknya itu masih kesal karena tak diperbolehkan membeli permen yang tadi sore dilihatnya dijajakan di perempatan jalan. penuh warna dan menyenangkan seperti permen. Saat kehidupan ini masih ranum.” kata nenek sihir itu merayu anak-anak yang terpesona pada biji-biji mungil itu. itu biasa. Permen toffee. tengah. saat peri-peri mungil itu kelelahan dan berbaring tertidur di dahan-dahan. “Karenanya kamu harus bersyukur bila hidup memberimu nasib yang manis. peri-peri mungil itu akan terkejut mendapati bantal lembut saat mereka kulum. Sepanjang hari yang riang. seorang nenek sihir mengambili bantal-bantal itu dengan teramat hati-hati dan pelan agar peri-peri mungil itu tak terbangun. Neal tak akan pernah lupa: di ruang selalu tersedia sekotak aneka permen. peri-peri yang selalu beterbangan seperti capung begitu riang memetik biji-biji buah selembut getah yang bergelantungan di pepohonan mastic dan spruce—sejenis karet dan cemara—yang menjulang menyentuh kelembutan cahaya. Dan pada malam hari. ketika peri-peri mungil itu memetiki biji-biji buah yang matang dan manis.” Neal mengingat itu sebagai sebuah nasihat agar dipakai sebagai bantal para peri. peri itu bisa nyaman beristirahat di kotak yang ia sediakan itu. “Begitulah. Beberapa anak yang rakus dan terlalu banyak makan biji-bijian itu. Permen-permen dalam kotak itu ia dan tersesat ketika mencari bantal-bantal yang dicuri oleh nenek sihir itu. Saat terbangun pagi hari. di malam hari menjadi bengkak mulutnya. sewaktu kanak-kanak. lollipop. Neal sendiri. juga permen cokelat dan caramel yang meleleh lembut di lidahnya. Ia manis dan lembut karena karena ia dibawa oleh nenek sihir jahat. pastilah ada peri yang sedih masuk ke dalam kamarnya. Bukannya Neal tak memperbolehkan Iza makan permen. Bantal mungil warna-warni milik peri. berisi beberapa permen di dekat jendela kamar tidurnya. Maka. tempat biasanya Papa. Karena yang manis pun bisa membuat sakit dan menderita. Ia membayangkan. Sampai ia berumur sembilan tahun.

ia bermimpi repot hamil dan melahirkan lagi—Neal sering bermimpi ada peri masuk ke dalam kamarnya puluhan peri mungil mendatangi kamarnya dan menjatuhkan biji-bijian permen ke dalam keranjang bayi. setelah ia menikah dan punya anak—cukup satu anak. permen itu memang mengundang selera. Ia ingat. Malah kabarnya mereka menggunakan sorbitol—sebagai pengganti gula yang mahal—dan kayu manis sebagai penyedap aroma. Tapi. Para perempuan tua yang kelelahan mampet dan bangkai celurut mengapung di lorong-lorong muram perkampungan itu. Neal membayangkan. . bagaimana permen itu dibuat. anak yang matanya nanar tanpa harapan membungkusi butir-butir permen yang sudah dan terkantuk-kantuk sepanjang malam mengaduk-aduk adonan itu. Takut. mereka akan memecah kaca mobilnya. mereka peras menjadi keringat yang ditampung ke penderitaan. ia tak mau menenteng biji-biji permen. tangan anak-anak itu pastilah kotor dan menjijikkan. Neal sering panik berhadapan dengan para pengasong itu. Orang-orang miskin yang hidup di kampung-kampung Mungkin proses pembuatan permen itu sudah berlangsung lama. bila ia tak membeli. Mestikah ia menjelaskan pada Iza. pengasong itu. Dan tangan itu tak pernah dibersihkan ketika membungkusi biji-biji permen yang “Bagaimana mungkin aku memberikan permen seperti itu pada Iza!” ujar Neal. permen yang banyak dijajakan di perempatan jalan itu rasanya bukanlah isyarat yang perempatan jalan itu bukan biji-biji ranum yang dipetik para peri dari dahan-dahan pohon baik. kalau permen-permen yang dijajakan di spruce? “Permen itu akan membuatmu mules dan mual. Sementara bau got permen ranum yang bergelantungan. Tetapi. Permen berwarna merah keruh yang mirip manisan dalam bungkus-bungkus plastik kecil. seminggu sebelum ia melahirkan Iza. Sekarang ini. yang sering menawarkan dengan cara setengah memaksa: menyorongkan Lagi pula Neal memang tak suka dengan permen yang dijajakan itu. Selintasan.Sampai sekarang pun. Neal tak suka dengan para bungkus itu ke dekat mobil sambil mengetuk-ngetuk—malah kadang mengedor—kaca jendela. “Lebih enak permen ini. Mimpi yang selalu ia percaya sebagai isyarat baik.” bujuk Neal sembari memberikan permen mint yang ia beli di supermarket. Kesedihan dan kegetiran dalam panci-panci rongsokan. Dia tetap ingin permen yang dijajakan di perempatan jalan itu. korengan. Ia sering mendengar kumuh pinggiran kota membuat permen itu dengan cara menampung kesedihan mereka. Mencampurnya dengan gelatin agar kental. kemudian diolah dan dimasak di atas tungku-tungku hidup yang mereka rasakan sehari-hari. membuat mulut dan tenggorokanmu jadi segar. wajah Iza terus cemberut. memberinya sedikit gula. hampir di tiap perempatan jalan memang banyak pengasong menjual permen.” Tapi. pewarna dan pengawet. tidak seperti tangan-tangan peri yang lentik ketika memetiki biji-biji kuku-kuku jari tangannya penuh bekas daki ketika mereka menggaruk pantat mereka yang kemudian dijajakan di perempatan jalan. setengah menggerutu. para selesai dimasak dan dicetak itu ke dalam kantung-kantung plastik. pada Samuel.

“Lho, apa salahnya?” “Tidak. Iza tak boleh makan permen seperti itu. Tidak baik.” Selama ini Neal begitu hati-hati memilihkan semua yang tak terbaik bagi anaknya. Ia ingin Iza menikmati masa kanak yang membahagiakan. Dan Neal takut Iza akan tergoda oleh permen itu. Bagaimana kalau tanpa sepengetahuannya, Iza membeli permen itu ketika jajan di sekolah?

menatap Neal yang tengah memakai kembali g-string-nya. “Maksud, lo?” Mata Neal melotot.

“Aku kira, permen itu sebuah gagasan yang cerdas,” kata Samuel, setengah tertawa,

“Dengar,” Samuel menatap serius. “Bukankah mengubah kesedihan menjadi permen itu cara penderitaan. Membuat yang pahit jadi manis. Kamu jangan meremehkan hanya karena yang luar biasa? Mungkin itulah cara terbaik bertahan di tengah hidup yang penuh

permen itu terlihat murahan. Ini hanya soal kemasan. Aku kira, kalau dikemas dalam kotakkotak yang bagus dan dipasarkan dengan baik, permen itu akan menarik juga. Mungkin akan jadi komoditi yang menguntungkan. Bukankah ini peluang pasar? Kita bisa mengembangkan permen itu untuk diekspor. Bayangkan! Kita bisa mengekspor permen penderitaan itu ke banyak negara. Saya kira itu jauh lebih baik ketimbang kita melulu mengekspor TKI.”

Samuel tertawa—mungkin karena merasa lucu. Tapi Neal tak menanggapi. “Lagi pula, permen-permen itu telah membuat banyak orang jadi punya kerjaan. Yah, penjahat kapak merah, kan?”

meskipun cuma jadi asongan di perempatan jalan, tapi itu lebih baik daripada mereka jadi

Dari jendela hotel Neal memandang ke bawah, ke arah jalanan yang macet. Ia lihat puluhan permen itu. Rasanya, dari hari ke hari semakin banyak saja jumlah penjaja permen itu memenuhi jalanan. Jalanan yang macet jadi makin semrawut oleh mereka. Samuel memeluknya dari belakang, mengecup tengkuknya pelan.

pengasong yang berjalan dari satu mobil ke mobil di belakangnya, menawarkan bungkusan

“Mestinya kamu tak usah terlalu gelisah. Toh itu hanya permen.” Tidak. Ini bukan hanya soal permen baginya. Permen bukan hanya sekadar sesuatu yang

manis di lidahnya. Bukankah ia mencintai Samuel karena laki-laki ini memberinya sekotak permen ketika pertama kali mereka bertemu? Bagi Neal permen lebih menggoda daripada tertarik untuk menikmatinya. Ia akan lebih suka membayangkan bila di surga penuh untuk memetiknya. buah apel. Bila dulu ia adalah Hawa, dan Tuhan menggodanya dengan buah apel, pasti ia tak bergelantungan biji-biji permen warna-warni yang memancarkan cahaya. Ia pasti tergoda

Samuel memberinya permen. Permen yang selama setahun ini ia nikmati bersama Samuel. Hidup memang seperti permen karet, meskipun lembut dan manis, kita harus berhenti menikmatinya sebelum terasa asam dan hambar. Makanya Neal menahan lidah Samuel

dengan jarinya ketika laki-laki itu mulai menciumnya lagi. Lagi pula ini sudah jam tiga sore. Jam di mana Neal harus menelepon suaminya. Pras menutup handphone-nya. “Siapa?” tanya Melly. “Neal.” “Kamu mesti jemput istrimu?” Pras menggeleng. Ia memandangi Melly yang bersandar di sofa dan belum juga memakai blazernya.

“Cuma ngomong soal permen…” “Permen?” “Ya. Permen. Dia belakangan ini selalu gelisah soal permen yang dijajakan di perempatan jalan itu.”

“Permen ini maksudmu?” Melly mengeluarkan sebiji permen dari tas Louis Vuitton-nya. Pras memandangi permen itu. Benar. Itu permen yang sering ia lihat dijajakan di

perempatan jalan. Pras sama sekali tak menyangka kalau Melly menyimpan permen itu. “Kok kamu beli?” “Itung-itung ngasih rezekilah. Lagi pula bosan kan terus-terusan menikmati permen rumahan. Sesekali perlu juga nyoba bagaimana rasanya permen pinggir jalan….” Pras merasa wajahnya memerah. Omongan Melly terdengar seperti sindiran. “Kamu mungkin menganggap permen ini tak enak, hanya karena dibuat dari adonan kamu pernah dengar ada permen yang dibuat dari rayap kayu?” Pras menganggap Melly bercanda. “Bener! Nggak tanggung-tanggung, yang mengembangkan permen dari rayap kayu itu

penderitaan. Tak ada yang salah kan kalau ada permen yang dibuat dari penderitaan? Apa

seorang profesor di Institut Pertanian Bogor. Mungkin kamu nggak mengira kalau rayap dan lemak 25,2 persen, dan ini cocok buat bahan dasar permen jelly yang kaya dengan suhu70-100 derajatCelsius, udahdeh, jadipermen…” “Tahu dari mana?”

kayu kering jenis cryptotermes cynocephalus light mengandung karbohidrat 10,2 persen nutrisi berupa protein rayap. Tinggal dicampur dengan sirup fruktosa tinggi, dimasak pada

“Baca dong!” Melly sedikit mendengus. Ia tak suka dengan ekspresi Pras yang tampak tak mau percaya kalau ia tahu soal permen rayap itu. Apa dikira sekretaris tidak suka baca?!

Pras diam. Melly mendekat ke ranjang dan berbaring di atas tubuhnya, lalu menyodorkan permen itu tepat ke wajah Pras yang tengadah. “Coba, deh…” Pras tanpa sadar langsung mengatupkan mulutnya. “Sesekali kamu makan permen ini kan ya tak apa-apa,” kata Melly sambil memandang mata

Pras dengan lembut. “Mungkin ada gunanya juga sesekali kamu sedikit merasakan penderitaan…”

Pras memejam. Permen itu mengingatkannya pada kecemasan istrinya. Tapi apa salahnya

mencoba? Toh ia juga suka permen. Rasa permen yang beraneka macam selalu membuatnya merasakan sensasi petualangan rasa di lidahnya. Apalagi sejak ia menikah dengan Neal. Ia permen terlebih dahulu. Permen bisa menghapus bau bekas ciuman di mulutnya. selalu membawa permen di sakunya. Setiap kali hendak masuk rumah, ia pasti mengunyah

Warna-warni cahaya kota terlihat bagaikan bermacam bungkus permen yang bertebaran di udara. Barangkali kota memang seperti permen yang menggoda siapa pun untuk datang menikmatinya. Kota adalah pabrik gula-gula. Gedung-gedung yang menjulang itu adalah

menikmati cokelat raksasa itu, yang tampak seolah meleleh di bawah cahaya. Lalu muncul

kotak cokelat raksasa. Neal melihat barisan orang-orang yang berbondong-bondong ingin

kotor seperti cakar yang hendak menggaruki mobilnya. Neal mendengar suara jeritan yang melengking bersahut-sahutan…

panik ketika orang-orang itu mulai mengepung mobilnya. Tangan mereka yang hitam dan

serombongan orang-orang kumuh yang keluar dari dalam lorong dan gorong-gorong. Neal

belakangnya. Lampu sudah menyala hijau. Dan ia masih melamun. Seorang pengasong

Ia tergeragap. Ternyata itu suara puluhan klakson mobil-mobil yang berderet di

menyodorkan sebungkus permen ke dekat kaca mobilnya, tetapi Neal segera tancap gas. Neal masih gemetaran saat sampai rumah, dan mendapati Iza sudah tertidur. Pembantunya bilang, sejak sore anak itu terus nangis. Tak mau les piano—padahal biasanya ini yang paling disukai anak itu—dan bahkan juga tak mau makan. Hanya karena kecapean ia kemudian tertidur.

Neal memandangi anaknya yang lelap. Wajahnya seperti roti gandum yang diolesi susu.

Di dalam rumah ini, ia bisa melindungi anaknya. Tapi bagaimana di luar sana? Sungguh, ia ingin anaknya terus merasakan hidup yang nyaman dan tenteram. Ia tak ingin pengaruh buruk dari jalanan merusak hidup anaknya.

Tiba-tiba Neal merasa takut, betapa wajah anaknya kelak menjadi keruh oleh penderitaan.

rumah sambil mengunyah permen. Kebiasaan yang Neal perhatikan mulai dilakukan Pras sejak mereka menikah. “Sudah tidur Iza?”

Menjelang jam sepuluh Pras pulang, dan seperti biasanya, suaminya itu masuk ke dalam

Neal mengangguk. “Mungkin ada gunanya juga sesekali anak itu sedikit merasakan penderitaan…” Jakarta. “Bagaimana kalau besok Iza masih ngambek dan terus minta permen itu?” tanya Neal menjelang mereka tidur. 2007 “Sesekali Iza kamu perbolehkan makan permen itu kan ya tak apa-apa. Pelan Pras mencium bibir istrinya.” jawab Pras sambil . Neal merasakan sisa aroma permen yang lengket di sudut bibir suaminya. memandang mata Neal dengan lembut.

Dari negeri-negeri jauh yang gemerlapan. Berkarung-karung gandum yang diangkut gerobak pedati. Di bawah langit senja yang kemerahan kedatangan mereka selalu terlihat bagaikan siluet iring-iringan kafilah melintasi gurun perbatasan. roti kering yang disimpan dalam kaleng. rendang dalam rantang—juga berdus-dus mi instan yang kadang mereka bagikan pada kami. para pelancong yang sudah mengunjungi kota kami selalu mereka saat menyaksikan kota kami perlahan-lahan runtuh dan lenyap. Mungkin para pelancong itu tak tahu lagi bagaimana caranya menikmati hidup yang debu. Kemunculan para pelancong itu membuat kesibukan tersendiri di kota kami. saat mereka begitu gembira membangun tendatenda dan mengeluarkan perbekalan.Piknik Agus Noor Para pelancong mengunjungi kota kami untuk menyaksikan kepedihan. Biasanya kami duduk-duduk di gerbang kota unta. keledai. Mereka menyukai wajah kami yang keruh dengan kesedihan. Pada bumi—atau seperti ketika kau merasakan kereta bawah tanah melintas menggemuruh di gembira ketika melihat tanah yang tiba-tiba bergetar. Kadang mereka mengajak kami berfoto. Mereka datang dari segala penjuru dunia. Bagai ada naga menggeliat di ceruk . Karena memang untuk itulah mereka mengajak kami berfoto bersama. para pelancong itu sepertinya telah bosan dengan hidup mereka yang sudah terlampau bahagia. Mereka begitu menuliskan kalimat-kalimat penuh ketakjuban yang menyatakan betapa terpesonanya diperjualbelikan hingga ke negeri-negeri dongeng terjauh yang ada di balik pelangi. Mereka tak suka bila kami terlihat tak menderita. menandangi para pelancong yang selalu muncul berombongan mengendarai kuda. kalau foto-foto itu kemudian dibuat kartu pos dan kartu pos yang dikirimkannya itu. Kami menduga. Mereka datang untuk menonton kota kami yang hancur. Mereka segera mencetak foto-foto itu. membawa bermacam perbekalan piknik. Kami seperti menyaksikan rombongan sirkus yang datang untuk menghibur kami. latar belakang puing-puing reruntuhan kota—berpose penuh gaya tersenyum saling peluk mengirimkannya dengan merpati-merpati pos ke alamat kerabat mereka yang belum Belakangan kami pun tahu. Mata kami yang murung dan sayu. biskuit dan telor asin. Kami menyukai cara mereka tertawa. Karena itulah mereka ramairamai piknik ke kota kami: menyaksikan bagaimana perlahan-lahan kota kami menjadi juga. atau permadani terbang dan juga kuda sembrani. Sementara mereka—sembari berdiri dengan atau merentangkan tangan lebar-lebar. daging asap yang digantungkan botol cuka dan saus. lalu berfoto ramai-ramai di antara reruntuhan puingpuing kota kami. Hidup yang selalu dipenuhi kebahagiaan ternyata bisa membosankan nyaman tenteram tanpa kecemasan di tempat asal mereka. di punuk unta terlihat bergoyang-goyang. botol- Penampilan para pelancong yang selalu riang membuat kami sedikit merasa terhibur. Dan kami harus tampak menyedihkan dalam foto- foto mereka. dan sempat mengunjungi kota kami.

dan sungai selalu meliuk-liuk. Kota kami berdiri di atas lempengan bumi yang selalu bergeser. adalah kota paling ajaib yang pernah mereka Para pelancong menyukai kota kami karena kota kami dibangun untuk menanti keruntuhan. Barisan pepohonan seakan berjalan pelan. Membuat hidup para pelancong yang selalu bahagia itu menjadi lengkap. seperti itulah tanah di mana kota kami berdiri. Dari kejauhan kami . menyaksikan seekor ayam emas tiap kota.0<>w 9738m< Bahkan mereka bersumpah telah mendatangi kota yang hanya bisa ditemui dalam imajinasi seorang kunjungi. dengan jendela-jendela dan pintu-pintu yang 2008m<>h 7028m. dengan rumah-rumah yang beranda-berandanya saling bertumpukan. Lalu mereka memotret mayat-mayat yang tertimbun balok-balok dan tembok-tembok retak. Kepada kami para cermin.rumah rubuh menjadi abu. begitu mendengar kabar ada bagian kota kami yang tergoncang porak-poranda. dan jalan-jalannya yang telah melihat kota dengan kanal-kanal yang dialiri cahaya kebiru-biruan. Atau rebahan di dalam tenda sembari memainkan harmonika. Kau bisa membayangkan gerumbul awan yang selalu bergerak dan bertabrakan. suara menggemuruh yang merayap dalam tanah. Lorong-lorong. pepohonan di kota kami saling bertubrukan. Para pelancong itu segera menghambur berlarian menuju bagian kota kami yang runtuh. kota kami adalah kota paling menakjubkan yang pernah mereka saksikan. Betapa menggetarkan melihat pohon. Dengan handycam mereka merekam detik-detik keruntuhan itu. bawah kakimu. gemeretak paling menakjubkan bagi para pelancong yang berkunjung ke kota kami. bergerombol berdiang di seputar api unggun sembari berbagi cerita. Memetik kecapi dan Saat malam tiba. Mereka telah menyaksikan menara-menara gantung yang dibuat dari balok-balok bertengger di atas katedral tua sebuah kota yang selalu berkokok setiap pagi. Dan ketika sewaktu-waktu tanah terguncang. Banyak kota dibangun dengan gagasan untuk sebuah keabadian. para pelancong itu bernyanyi. rubuh dan runtuh menjadi debu—serupa istana Rupanya itulah pemandangan paling menakjubkan yang membuat para pelancong itu terpesona. tetapi tidak dengan kota kami. candi-candi megah yang disusun serupa tiara.>jmp- menyusur dinding-dinding menghadap air. Mengais reruntuhan untuk menemukan barang-barang berharga yang bisa mereka simpan sebagai kenangan.pohon bertumbangan dan rumah- Bagi para pelancong itu. hingga menyerupai kota yang dibangun di atas menyerupai benteng di ujung sebuah teluk.bintang terasa lebih jauh di langit hitam. menurut mereka. bangunan dan pasir yang sering kau buat di pinggir pantai ketika kau berlibur menikmati laut. Membuat semua bangunan di kota kami jadi terlihat selalu berubah letaknya. seolah semua itu terlampau bahagia. Tapi kota kami. dan bintang. sebuah kota yang selalu tertutup menyerupai gelapanggur danhanya bisadilihat ketikasenjakala. Mereka telah berkelana ke sudut-sudut dunia. menyaksikan beragam keajaiban di es abadi. penyair. Mereka terpesona mendengar jerit ketakutan orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri. jalanan.0<>w7028m<1)>jmp 0m<>h9738m. Mereka juga pelancong itu juga bercerita perihal kota kuno yang berdiri di atas danau bening. kota dengan jalan layang menyerupai jejalin benang laba-laba. Itulah detik-detik atraksi paling spektakuler yang beruntung bisa mereka saksikan dalam hidup mereka yang batu bata. karena bisa menyaksikan segala sesuatu sirna begitu saja.

Keajaiban tersendiri. Karena bila para pelancong itu menganggap kota kami kami ini sebagai malapetaka atau bencana? kota kami. para pelancong itu berkeliling kota menyaksikan kami yang tengah sibuk menata reruntuhan. Bagaimanapun kami mesti berterima kasih karena para pelancong itu mau berkunjung ke pergi mengungsi dari kota kami. sebotol kota kami yang masih bergerak bertabrakan dan hancur. seperti burung Kesibukan kami membangun kembali bagian kota yang runtuh menjadi tontonan juga bagi para pelancong itu. Sebuah kota yang membuat para pelancong berdatangan ingin menyaksikannya. Jangan khawatir. ke arah kami. Mungkin itu bisa pasti akan menyambut kedatanganmu dengan kalungan bunga-air mata… Yogyakarta. dan fana. meski sebagian demi karena semata-mata seluruh bangunan kota itu hancur.gedung. membagikan sekerat biskuit. tetapi lebih karena kota itu tak lagi terdiri dari gedung. kami . runtuh tertimbun waktu. sekolah. Setiap kota yang mencintai dan mau menerima kota itu menjadi bagian dirinya. menanam kembali pohon-pohon. Kami mendirikan kembali sebagian dari kota kami perlahan-lahan runtuh menjadi debu. jembatan. kabut dan cahaya serta jiwa para penghuninya.menyaksikan mereka. Kota kami bagaikan selalu muncul kembali dari reruntuhan. Semua itu terjadi bukan hidup dalam jiwa penghuninya. 2006 CATATAN: besar dunia yang megah dan gemerlap—ada baiknya kau berkunjung ke kota kami. atau sesendok madu— kemudian kembali pergi untuk melihat-lihat bagian lain Kemudian para pelancong itu pergi dengan bermacam cerita ajaib yang akan mereka kisahkan pada kebarat dan kenalan mereka yang belum sempat mengunjungi kota kami. Membuat kami tak hendak adalah kota yang penuh keajaiban. rumah sakit-rumah sakit. yang hancur.lahan hancur dan tumbuh kembali. seakan dengan begitu mereka telah menunjukkan simpati pada kami. Itulah yang membuat setiap kota tumbuh dengan keunikannya sendiri-sendiri. Bila kau merencanakan liburan akhir pekan—dan kau sudah bosan piknik ke kota-kota lupa membawa kamera untuk mengabadikan penderitaan kami. tower dan menara. Sesekali minuman. Kami sering mendengar kota-kota yang lenyap dari peradaban. hingga di bekas reruntuhan itu kembali berdiri bagian kota kami phoenix yang hidup kembali dari tumpukan abu tubuhnya. Karena itulah kami selalu rumah-rumah. setiap kota memang memiliki jiwa. Jangan membuatmu sedikit terhibur dan gembira. membangun kembali bagian-bagian kota kami yang runtuh. sementara. Mereka akan bercerita bagaimana sebuah kota perlahan. Berwisatalah ke kota kami. kenapa kami mesti menganggap apa yang terjadi di kota Seperti yang sering dikatakan para pelancong itu pada kami. Membuat setiap kota memiliki kisahnya sendiri-sendiri. merasa sedikit terhibur dan tak terlalu merasa kesepian. Mereka tersenyum dan melambai para pelancong itu berhenti. Sembari menaiki pedati. Kami tak ingin kota kami lenyap. Mereka membuat kami semakin mencintai kota kami. Sebuah kota yang akan mengingatkanmu pada yang rapuh. sungai-sungai. sepotong dendeng.

1) Deskripsi kota-kota dalam paragraf ini mengacu pada karya Italo Calvino. 2006) Cities—telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Kota-kota Imajiner. oleh Erwin . Invisible Salim (Fresh Book.

Tak ada keruwetan. Berkoreng di lutut kirinya. Hingga ia menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalau sesuatu yang beterbangan. menghirup lembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. Dia tak banyak beda Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari bocah itu. Jembatan penyeberangan di berubah perbukitan hijau. jernih dan bening mengalir perlahan. ia selalu melihat bocah itu tengah bermain-main di kolong jalan Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat. Dan itu kian Gustaf dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyak saja jumlahnya. Kadang berloncatan. Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil.Mata Mungil yang Agus Noor Menyimpan Dunia Selalu. Air yang dinding penyangga jalan tol. akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagar pembatas jalan. Usianya paling 12 tahunan. Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. Tiang listrik dan lampu jalan menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam. seperti menjolok sesuatu. seolah ada yang perlahan tumbuh dari celah conblock. Setiap pagi. rasakan setiap kali bersitatap dengannya. Ia menurunkan kaca mobilnya. Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemis yang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka. Tapi pada saat itulah ia terkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya. Sering Gustaf memperlambat laju mobilnya. Selalu bercelana pendek kucel. Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dan tertawa-tawa. Gustaf terkejut ketika tiba-tiba ia melihat seekor bangau selokan. agar ia bisa berlamalama menatap sepasang mata itu. Rambutnya kusam kecoklatan karena panas matahari. Beberapa pengendara sepeda motor yang . Kicau burung terdengar dari pohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light. seakan-akan ada mata air yang muncul dari dalam Gustaf terpesona menyaksikan itu semua. Gustaf tak tak bisa mendengarkan teriakanteriakan bocah itu. jalan menjelang kantornya. Kadang hanya merunduk jongkok memandangi trotoar. agar ia bisa mendengar apa yang diteriakkan bocah itu. Dari retakan trotoar perlahan tumbuh bunga mawar. karena jalanan telah atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkan gedung-gedung yang telah merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. kerakap tumbuh di bertengger di atas kotak pos yang kini tampak seperti terbuat dari gula-gula. Memandang mata itu. Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelan dalam kemacetan. Seperti ada cahaya yang perlahan berkeredapan dalam mata bocah itu. Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan layang.

hingga orang itu merasa risi dan cepat-cepat orang-orang yang dijumpainya. Atau dalam mata itu ada bangkai bayi yang terapung-apung. Seorang polisi lalu lintas bergegas mendekatinya. pecahan kaca yang menancap di kornea. Setiap menatap mata seseorang. pusaran kabut kelabu dengan kesedihan dan kesepian Di mana-mana Gustaf hanya melihat mata yang keruh menanggung beban hidup. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya…. terlihat berbeda. Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnya dan melaju. Mata itu membuat dunia jadi banyak warna. itulah mata paling menyimpan dunia. Ia suka menatapnya homoseks seperti Oom Ridwan. Mata yang berkilat licik. Mata yang penuh kemarahan. Sering pula ia melihat lelehan tomat merembes dari sudut mata seseorang yang tengah dipandanginya. Berminggu-minggu mengikuti terapi. Gustaf jadi begitu terkesan dengan sepasang mata bocah itu. Tapi Papa kerap menghardik. Oma seperti bisa memahami apa yang ia rasakan. indah yang pernah Gustaf tatap.” Sejak itu Gustaf suka memandang mata setiap orang yang dijumpainya. Ia tak pernah menyangka betapa di dunia ini ada mata yang begitu indah. Gustaf seperti melihat bermacam keajaiban yang tak terduga. panjang. Begitu bening begitu jernih. Ia senang ketika Oma memuji gambar-gambarnya itu. Sesekali ia menggambar bunga mawar tumbuh dari dalam mata itu. sewaktu kanak-kanak juga menyukai berlama-lama. Mata yang tertutup jelaga kebencian. Ia menyukai bermacam warna dan bentuk mata boneka-boneka koleksinya. Sering ia menggambar mata mata dengan sebilah pisau yang menancap. Mata yang mungil tapi bagai Alangkah menyenangkan bila memiliki mata seperti itu. memandangi mata seseorang cukup lama. boneka—lantas segera membawanya ke psikolog. Barangkali seperti mata burung seriwang yang bisa menangkap lebih . ”Mata itu seperti jendela hati. padang gersang ilalang. Kadang—tanpa sadar_ia sering mendapati dirinya tengah Saat remaja ia tak lagi menyukai boneka. yang kata Mama. Itu sebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka. Dan itu rupanya membuat Mama cemas—waktu itu Mama takut ia akan jadi selalu disuruh menggambar. Kadang ia melihat ribuan kelelawar terbang berhamburan. atau binatang-binatang yang berloncatan dari dalam mata berwarna hijau toska. ”Tak sopan menatap mata orang seperti itu!” Papa menyuruhnya agar selalu menundukkan pandang bila berbicara dengan seseorang. kawat berduri yang terjulur yang menggantung. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. setiap kali itu pula Gustaf kian ingin memilikinya. Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu. Setiap kali terkenang mata itu. saat ia berusia tujuh tahun. Kadang ia melihat api berkobar dalam mata itu.menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. tapi ia suka diam-diam memperhatikan mata menyingkir. Rasanya. Dan ia selalu menggambar mata. Ia ingat perkataan Oma. ia yang bagai liang hitam. Karena itu.

Ia sering mendengar cerita soal operasi ganti mata. ia melihat seorang bocah duduk bersimpuh di trotoar dengan tangan . Ice cream di tangan anak kecil itu mungkin akan meleleh menjadi madu. Terlalu banyak anak Gustaf tersenyum. Semua Pagi ketika Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. Tentu lebih menyenangkan bila tak seorang pun tahu kalau aku baru saja ganti orang akan memujinya memiliki mata paling indah yang bagai menyimpan dunia. Ada rimpang menjalar di kaki-kaki kursi. ia akan bisa melihat segalanya dengan berbeda sekaligus buatnya. Gustaf kini bisa mengerti. Bila perlu ia menculiknya. kenapa bocah itu terlihat selalu berlarian riang—karena ia tengah berlarian mengejar capung yang hanya bisa dilihat matanya. Cahaya jadi terlihat seperti sulur-sulur benang berjuntaian…. Orang-orang pasti akan terpesona begitu memandangi matanya. dan pastilah tak seorang pun yang peduli bila salah satu dari mereka hilang. pastilah bocah itu sedang begitu senang memandangi seekor kumbang tanah yang muncul dari celah conblock. pikirnya. seperti jadi mata bocah itu memang satu-satunya mata paling indah di dunia. lakukan agar ia bisa memiliki mata itu. batin Gustaf. semuanya sudah tampak sempurna. Apa pun akan Gustaf jalanan berkeliaran. Atau karena mata mungil itu akan terlihat beda. lantai yang digenangi air bening. Ketika berjongkok. Membuat Gustaf berpikir. menawarinya segepok uang agar mereka mau mendonorkan mata bocah itu itu. Semua itu hanya mungkin. Elevator itu menjadi tangga yang menuju rumah pohon di Betapa menyenangkan bila ia bisa menyaksikan itu semua karena ia memiliki mata bocah akan memiliki mata paling indah di dunia! Mungkin ia bisa menemui orang tua bocah itu baik-baik. Bila ia bisa memiliki mata itu.Sembari menikmati secangkir cappucino di coffee shop sebuah mal. Agar ia bisa memandang semua yang kini dilihatnya dengan berbeda…. Eceng gondok tumbuh di Tentulah menyenangkan bila punya mata seperti itu. Bocah itu sering berloncatan— sebab itu tengah menjoloki buah jambu yang terlihat begitu segar di matanya. Gustaf memperhatikan mata orang-orang yang lalu lalang. bisa memiliki mata itu. hingga ia mengibas-kibaskan tangan menghalau agar burung-burung itu kembali terbang. Ia ingin ketika ia muncul kembali. mata. Seekor kepik bersayap merah berbintik hitam tampak merayap di atas meja. Ia tinggal datang ke Medical Eyes Centre untuk mengganti matanya dengan mata bocah itu! Gustaf hanya perlu menghilang sekitar dua bulan untuk menjalani operasi dan perawatan penggantian matanya. yang dikenakan manequin di etalase itu akan terlihat kepompong mungil yang bergeletaran pelan ketika perlahan-lahan retak terbuka dan muncul seekor kupu-kupu. Mungkin ia akan menemukan mata yang indah. Dan ia makin ingin mata bocah itu. Tapi Gustaf tak menemukan mata seperti itu. Mata bocah itu pastilah melihat sekawanan burung gelatik terbang merendah bagai hendak hinggap kepalanya. Di lengkung selendang sutra bambu apus tumbuh di dekat pakaian yang dipajang. karena memang menyimpan sebuah dunia. Apa yang kini ia pandangi Pita gadis yang digandeng ibunya itu akan menjadi bunga lilly. Atau ia bisa saja merayu bocah itu dengan sekotak cokelat. mana anak-anak berebutan ingin menaikinya. mata mungil indah bocah itu bisa melihat dunia yang berbeda.

Gustaf yakin mereka kagum pada sepasang matanya.” ”Persis mata iblis!” Jakarta. sambil berbicara kepada temannya. Kedua mata bocah itu kosong buta! Gustaf hanya memandangi bocah itu. Gustaf terkesima memandang Dengan gaya anggun Gustaf menuju lift. Begitu lift itu tertutup.terjulur ke arah jalan. Beberapa orang malah terlihat melotot tak sekelilingnya…. Ia ingin membuka jendela. ”Kamu lihat mata tadi?” ”Ya. seorang perempuan yang tadi gemetaran memandangi Gustaf terlihat menghela napas. percaya. tapi segera ia urungkan karena merasa percuma. Ia melangkah melewati lobby perkantoran dengan langkah penuh kegembiraan ketika melihat setiap orang memandang ke arahnya. dan melemparkan recehan. 2006 .

Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan . memandang langit siang yang terang. ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh. Lihat saja tampang tetangga melihatnya keluar tengah malam. Menyemprotkan upacara kecil menyambut kematian… ringan. kemarin. Memakai jaket kulit hitam. Ia memejam. Ia jarang berada di kamarnya. Mungkin ia rampok. Bergegas. Bila pulang. Ramadhan kali ini. seperti lengket di hidungnya! Segera ia mandi. beberapa koper besar. Ah. Saat ia berbaring di ranjang. Kadang berbulan- bulan. Berhari-hari. rapi. Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti. seperti kotak tempat menyimpan gitar. ia selalu membersihkan kamar kontrakannya. keramas. banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah. Dan tadi. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan Ia berdiri di ambang pintu. Entahlah. Sesekali. seperti bekas bacokan. Tato di lengan kanan. dan segera saling bisik. ia sudah menjemur kasur pewangi ruangan. Menyisir rambut dan memotong kuku. Langsung. ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya. sembari bersiul-siul kecil.siul >diaC< Beberapa tetangga—yang tengah duduk menggerombol— memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu. Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan. Saat Ramadhan bantal yang lembab apak berjamur. Merapikan pakaian. dan wangi. Atau erang kesakitan leher digorok. Setiap menjelang Ramadhan. tapi ia masih saja hidup. Melipat selimut. Bayangan kematian penuh darah. Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa benar akan datang. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar. Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. ia bisa mencium bau amis darah itu. Parut luka seputar pundak. Seperti selalu menghilang. mengerut menatap laki-laki itu. Ia tak ingin kecewa lagi. ia berharap maut benar- Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. Ramadhan berlalu. mengusir bayangan buruk itu. hingga ia bisa mati tenang… karena ditolak permintaannya saat lebaran. sembari terus bersiul.Ia Ingin Mati di Bulan Ramadhan Ini Agus Noor Betapa menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. Sebab. Menenteng seramnya.

Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki. Mungkin intel. Ia mengerang. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri. seperti mengawasi. tapi pergi ke kuburan. seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan Ia pun suka menikmati saat. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput. Dan orang-orang merinding mendengarnya. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu… >diaC< Mayat-mayat yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam. Ia terkapar. rumah petak tak pernah berani bertanya. Misterius. mengenali beberapa ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya. Ia seperti tak mau dikenali. Sering. Wajah. Barangkali ia dukun. bercerita. Mungkin sedang menyiapkan sore ia keluar. mereka mendengis bengis. Ini yang membuat kian penasaran. Mati dengan tenang.saat seperti itu. Kulit wajah mayat. wajah remuk rusak itu. ia terlihat merokok siang hari. Meski ia tahu. Aneh. Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang.laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa. Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama. di bulan Ramadhan. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka. seperti lilin panas mencair. Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah Ia tergeragap bangun. Wajah mahasiswa yang yang lehernya ia sayat. Menjelang Ramadhan ia muncul. Seperti menyaksikan kematian . ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk. memandang entah apa. Rutin yang ganjil.mayat itu meleleh.wajah yang membuatnya mengerang panjang. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini. Menutup diri. ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati. Tetangga yang jadi tukang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat. atau berdiri Para tetangga jadi gelisah. Beres-beres kamar. Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya. Dan seseorang yang menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi. Pintu jendela yang biasanya tertutup makanan buat sahur. Tiap termangu memandangi kapling makam itu. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu. Mungkin. Wajah pucat perempuan simpanan ketika ia membantai keluarganya.harga BBM—matanya jelalatan. sebagai seorang pembunuh bayaran. menyapu. Mengepungnya. Para tetangga penasaran menyimpan dugaan. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati. Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher mengecup pelan-pelan… korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan. dibuka lebar.

kata teman-temannya. Memang. nanti bila sudah berhenti. Dan itu disukai komandannya. Seorang hakim. Ia tak terlalu menyimak. membuat lawan- lawannya bonyok nyaris mati. Beberapa mati dalam penjara. Beberapa menderita Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir. Ia menyiksa para pemberontak. Paling mentok jadi sersan. ia diberinya pekerjaan. Sorot matanya tenang. Sumpek bau comberan. Ia heran.Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi. karena pejabat itu pingin kawin lagi. dan ”Kamu punya bakat bagus. Bicaranya santun. tertib. Tugasnya hanya membunuh. Tapi membuatnya merasa aman. Ia lebih menyukai Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu. Beruntunglah orang . Lalu beberapa order ringan lainnya. Saat SMP ia berkali-kali berkelahi. wartawan. Dikirim ke medan perang. saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan.” kata komandannya. Kamu pantas jadi tentara. Rahang terkesan pipih. membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian. Dan ia mulai mengawasi. Tanpa jejak. Ia kenal beberapa mantan pembunuh sakit jiwa. ia suka membayangkan diri jadi tentara. Ia selalu ingin berada sangat dekat. Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan… coklat resik. diam ia membunuh kucing pamannya. Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta. kenapa orang seperti itu Tapi itu bukan urusannya. Ia menikmati bayaran yang lumayan. diam- dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan. Di kampungnya. Alangkah hebatnya jadi tentara. Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran. Umur tujuh tahun. Ia paling senang ketika harus disiplin. Kulitnya yang putih bersih.orang mengerubung. Percuma kalo cuma jadi tentara. bisa memukuli orang sepuasnya. Orang. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan. tak ada yang pun mendaftar jadi tentara. orang yang jadi tentara sangat ditakuti. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian. berani menghentikan. >diaC< Sampai satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan. Dan ia membusung bangga. Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang. Menghabisi seorang Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan. Benar kata komandannya. Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat. Ia akan tinggal di rumahnya. setiap kali kakeknya menyembelih ayam. bayaran yang menderita di masa tuanya. Lalu sepulang perang. Kisah para raksasa penyantap manusia. Sepotongsepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan. Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga. Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang. Tempat menyembunyikan diri. Membunuh seorang pengusaha. Ia amati raut tua Kiai Karnawi. Ia sudah membeli rumah buat hari tua.

Yogyakarta. Ia pun kemudian selalu berharap. membuangku ke jurang dengan mobil itu. kamu mau membunuhku. Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan. Gemetar tak yakin. Kalau boleh memilih. 2005 . Tapi tolong. Kelebat bayang burung menyambar.” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan. lakukan tugasmu. Ia mulai diusik gelisah.” Baru kali ini ia gemetar. ”Kamu bisa membunuhku di sini. Karnawi terkekeh. Kemeresek daun jati jatuh. Mencibir. yang pelan. diperkenankan mati di bulan Ramadhan. Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang. hehehe…” Kiai pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan. Singup. Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. Getir. Dan ia kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan? tersenyum. dan kini memburu kematiannya. Biar tak banyak korban. aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar. Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang. Amin. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan. Pelan. Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya. Ia meraba belati. ia hanya berdiri gamang. itu mobil mahal. tak perlu repot-repot membunuh yang lain…” Ia tak tahu. Tak usah Karena itulah. Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia. Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran. Dan semoga saja. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan. ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang. ”Aku tahu. Ia bisa menembaknya. Kamu cukup membunuhku. ”Setelah itu kamu bisa membunuhku. lalu mendorong mobil ke jurang. Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan Semua sudah sesuai rencana. Kematian di bulan Ramadhan. Lengking gagak di kejauhan. Jangan sampai aku kesakitan ya. Lalu meraba ”Sekarang.yang mati di bulan Ramadhan. Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu. Seperti yang sejak itu terus mengintainya. kenapa mobil perlahan berhenti. Lalu menggelar sajadah. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram. Dengung jutaan serangga mengepung. Enggak usah merepotkan sampeyan…. ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini. Ia tak mengeremnya! ”Mari kita turun. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri. Sayang kan. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu.” ajak Kiai Karnawi. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat. Alhamdulillah. kecuali mati di bulan Ramadhan. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi. Terdengar letusan. Jutaan pasang mata Ia merasa senja meremang. Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan. Senyap.

mungkin tidak sedikit jumlahnya. cahaya perak. banyak lagi korban. Saya yang satu minggu kehujanan terus. Jawa Tengah. barangkali beliau mau menolong kami mengatasi kesurupan massal yang melanda Air banjir setinggi satu setengah sampai dua meter mengganyang seluruh kawasan yang sangat luas. bus. Sejumlah rakit dari batang pisang maupun bambu tampak berseliweran. hutan terbakar. Jepara. Pati. sawah-sawah yang siap panen. Agaknya tersangkut sesuatu. Saya meraba-raba apa gerangan yang menyebabkan rakit saya terhenti.Pantura Danarto Sungguh saya tak juga mengerti kenapa cuaca menjadi sekacau ini padahal matahari tetap sudah dua minggu. namun tak kunjung muncul. Kudus. Sementara di Riau dan Jambi. Rasanya tubuh ini beku. perumahan. Banjir masih juga melanda Pati. didaki karena licin dan terjal. kolam ikan. meski apa peduliku. Mendadak mendung datang rasanya badan bertambah ringan tapi dinginnya minta ampun. tambak. Kebanyakan warga tetap di rumah masing-masing dengan ”Kalau ibumu ini mati. Masya Allah.” kata ibu yang duduk di atap rumah dengan memegangi payung dalam hujan lebat. Rembang. saya meraba tubuh orang. meliputi kota-kota Demak. Para penumpangnya yang saling kenal berteriak-teriak bertegur sapa. Tubuh saya menggigil dan dihamburkan dari langit yang membuat saya tiarap gemetaran. cicit. Juwana. air tak juga surut. untuk menemui Kiai Zaim pesantren di desa kami. yang terdiri dari truk. cucu. Tapi. Mendadak laju rakit ini terhenti. sedang cuaca juga tak mau tahu apa keinginan-keinginanku. dari Pati ke Rembang.” . juga nenek-kakek. perkebunan. saya sudah tak tahu jalan. Saya melewati antrean kendaraan yang macet sepanjang 24 km mampu menembus banjir. apa Kiai Zaman sendiri tidak repot? Beliau tentu juga sangat dibutuhkan oleh pesantrennya yang juga dilanda banjir. Ibu. Wahai. Saya menunggu halilintar untuk mengirim sinar. Sebaiknya saya terus mengayuh rakit batang pisang ini. Sawah siap panen yang tenggelam tentu menelan lebih mengungsi jika seluruh kawasan yang sangat luas ditelan banjir yang rasanya semakin tinggi ditambah oleh deras hujan. Subhanallah. Tapi terbit di timur dan tenggelam di barat. Gelap gulita. Terdengar gelak-tawa menyergap disusul hujan lebat. dan pertokoan. dan anak-anak. Tuban. Di dusun tak ada bangunan yang tinggi tempat mengungsi. Saya mengayuh rakit menerjang sawah siap panen yang tenggelam yang airnya semakin tinggi. mobil-mobil pribadi. seolah tak peduli akan kesulitan hidup yang sedang dirundung. cahaya perak. Tentu ada saja yang menjadi korban dari bencana yang besar ini Cepat-cepat saya singkirkan tubuh itu dengan galah lalu saya menghindar dari tempat itu. maupun motor karena tak Zaman. Apa kiamat seperti ini? Geledek bersahutan seperti Halilintar menyilet langit memberi jalan rasa bersalah pada rakit saya. ayah. Hanya bukit yang cukup sulit bertengger di atap dengan payung atau lembaran plastik untuk menahan hujan. ke mana Saya semakin menggigil. kontainer. ”Cepat kuburkan.

sampai saya terjatuh. ibu kok ngomong begitu. di rumah bertingkat kami. manalagi. dan kedua adik ke Jakarta. Kadang batang-batang padi muncul di permukaan tubuh saya juga mengering. ayah.” ”Saya mau cari duit yang banyak untuk ibu dan sekolah adik-adik. pohon mangga yang sangat rindang. ”Jaga adik-adikmu. Ternyata tangan saya menyentuh tembok. Lalu boyongan kembali ke desa. Benar saja. Tapi mereka tak betah di tapi cukup bahagia. Maka ketika banjir surut. sejauh mata memandang. berseliweran berlarian. nama yang mengingatkan orang sehabis yang lebat buahnya. Kadang gelombang menerpa karena digelontor angin puyuh yang juga air lalu kembali tenggelam. Di tengah sawah yang sudah jadi danau ini. saya mencari jalan turun ke dalam masjid. Saya mau cari nafkah di Jakarta. Terlalu bising. Meski sangat kesukaran. ditambah 25 santri putri yang kesurupan diungsikan itu bermanfaat bagi sesama. air melulu yang tampak. air. Apa yang terjadi sesungguhnya? Siang harinya panas sangat mempertajam tetes hujan bagai jarum. putra maupun putri. yang membuat saya selalu kangen untuk mengunjunginya.” Di atas atap dapur. ayah memeluk kedua adik saya yang basah kuyup karena tak terlindung dari hujan. Seorang kiai dengan pohon mangga Karena panas tak tertahankan.” sergah saya sambil memeluk tubuhnya yang gemetaran kedinginan. teriknya. Tiba-tiba rakit mentok. bermain maupun berdebat soal jodoh. Alhamdulillah. di mana para juga Tuhan. Ditinggalkannya saya sendirian di dusun untuk menjaga rumah. dalam ukuran apa pun.”Ah. kedua kota itu mengingatkan saya akan hubungan rumah saya dengan rumah Kiai Zaim Zaman yang berada di tengah pesantrennya. katanya. Banjir yang lebih besar kali ini datang. merupakan perpaduan yang elok. di mana Rembang. katanya. Dua rakaat saya selesaikan setelah berwudu . Pagi harinya masjid itu terkatung-katung di danau yang luas dengan saya satu-satunya berada di atapnya.” ”Tega kamu meninggalkan adik-adikmu. Sekilas terlihat bangunan putih ini masjid. meski selalu kekurangan Kemudian kakak membangun rumah bertingkat untuk kami menghadapi banjir. Bangunan apa gerangan? Kembali kilat merobek udara. kakak yang menetap di Jakarta memboyong ibu. Sambil berayun-ayun dimainkan oleh kantuk. Banyak jalan yang Allah bimbing supaya bangunan Zaman dan di mana beliau berada jika di pesantrennya tak dijumpai sementara di mana- menyebabkan rakit ini berhenti. manis dari akarnya. di atap masjid itu tidak hanya baju. Yang saya takutkan kalau tiba-tiba ibu atau ayah meninggal. saya berhasil masuk ke ruang salat. alur mana (?) saya tak lagi mengenal peta. Di mana Pati. Kembali saya meraba-raba apa gerangan yang Barangkali saya bisa mencapai atapnya supaya saya bisa tidur dan tidak terlalu kedinginan. air. Masalahnya kini adalah bagaimana bisa menemui Kiai Zaim mana. Jakarta. menikmati sebuah lalu minta lagi.” ”Ibu saja yang menjaga adik-adik. Rumah tertutup santri.

Tetap betah juga sopir-sopir dan kenek- . saya banyak kepada saya dengan bertumpuk-tumpuk lembaran uang di atasnya. saya tertidur tanpa diawali kantuk. menanyakan kesehatannya.” kata Kiai Zaman hampir-hampir berbisik. Betapa seandainya kita punya banyak kiai seperti beliau. ya. ada hal-hal yang perlu saya tanyakan. ”Pak Kiai. tangan banyak sekali. Saya ”Maka cepat-cepat saya menemuimu. mencium tangannya. meminta doa. Kapan seorang awam seperti saya bisa membalas kebaikannya dan jasadalam hati saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya atas semua kebaikan Kiai jasanya dengan segala kemampuan yang tulus seperti selembar sajadah kepada sebongkah kepala yang sujud di atasnya. sementara di luar sana. berusaha sebaik mungkin untuk tidak kentara baru bangun dari tidur.” Pagi hari ketika matahari kencar-kencar dan mendung hitam sedang mengincar.” ”Subhanallah. banyak sekali. menjauh.” ”Salamualaikum. Di luar.” teriak saya ketika itu kepada orang-orang itu. dari imbalan yang bisa menemui saya dengan seluruh permintaan yang bisa diucapkan mulut: Ketika saya kembali ke dalam. kepada ibu.” seru saya sambil mengejar beliau. banyak sekali. Semoga berkah Allah selalu mengayomi Kiai Zaim Zaman yang dua lengan itu. Waktu bangun. ”Saya hanya orang yang kepengin seperti beliau. ”Saya mendengar panggilanmu bertalu-talu.” seru saya. Kiai Zaman berjalan di atas air tanpa mempedulikan panggilan saya. dan kedua adik saya. Di yang mumpuni ini. ayah. Rasanya saya semakin banyak utang kepada Kiai ini. di depan mihrab saya jumpai bertumpuk-tumpuk uang yang disentuh tangan sampai berkah yang tidak kasatmata.” ”Subhanallah. saya kaget bukan alang kepalang.” ”Subhanallah. Cukup lelap dan tak terganggu oleh mimpi. yang boleh jadi terus menunggu dengan harap-harap cemas. Saya mendayung rakit batang pisang ini meninggalkan masjid yang sudah memberi pelajaran mendayung kembali ke Pati dengan arah apa pun. bangun dengan sigap. Kiai Zaim Zaman berzikir di sisi saya. orang-orang pernah berduyun-duyun ”Saya bukan Kiai Zaim Zaman.“ kata Kiai sambil ngeloyor pergi.air banjir. kaki yang dua jenjang itu. sekeluarga turun-temurun. ya.” ”Orang-orang modern bisa juga kesurupan. ke sebuah dusun yang sunyi. ”Saya sudah bertemu dengan dua puluh lima orang santri putri yang kesurupan itu di rumahmu dan mereka sudah baik kembali. orang-orang berteriak meminta tolong. Kembali rakit saya terhadang oleh antrean truk yang sangat panjang dalam kemacetan oleh banjir yang masih setinggi dada orang dewasa.

Lo aja ambil yang masih kere!” Akhirnya semua sopir dan kenek itu berebut uang di atas rakit saya dan saling timpuk- kata-kata konyol. Bagaimana mainan. kedua adik saya. Menurut ibu. Keadaan jadi kacau dan meriah.” doa saya. itu tidak menyembunyikan segepok dua di dalam baju saya. Dengan kunjung datang. mungkin mereka tidak menyadari. . Tuhan punya rencana. Penuh banyolan dan semprotan Anehnya para sopir dan kenek itu. menyelam dan menyelamatkan seluruh uang yang tenggelam dan mengembalikannya di atas rakit saya. ibu. Seorang sopir mengambil segepok uang itu dan menimpukkannya ke arah temannya sambil mencemooh. Allah. Bahkan yang beradu bidak-bidak catur sambil berendam dengan papan oleh sejawatnya yang selalu mengganggu. Seperti mati berdiri. ayah. ”Lo ambil! Lo yang mata duitan! Ha ha ha!” Teman yang kena timpuk itu melempar uang itu ke teman yang lain sambil berteriak. ”Gue ude konglomerat. saya pasrah setulus mungkin.kenek itu melantunkan potongan-potongan lagu meningkahi irama dangdut yang tak kunjung padam. dan para santri dengan sejumlah ustadnya yang masih menginap menyambut saya dengan sukacita. Persediaan makanan habis sebungkus mi-instan yang dibagi dua orang. bukakan mata mereka. Ini artinya bergepok-gepok uang itu kembali ke tangan kami. kenapa saya sementara jumlah orang yang menginap di rumah bertambah setiap harinya. semakin kentara kami butuh bantuan yang tak Pagi harinya kami dikagetkan oleh teriakan ibu. Itu uang beneran dan mereka boleh merebutnya. ”Rakit itu kembali ke rumah!” yang disambut seisi rumah dengan takjub. Dalam hati saya menyesal. Ketika ibu mengetahui saya membawa uang yang bukan main banyaknya itu. subhanallah. uang yang saya bawa itu uang sungguhan. ”Ya. Allah. Saya tertegun.” doa saya dengan kenceng. Malam harinya saya tidak dapat tidur karena perut keroncongan. Lalu mereka mendorong rakit supaya saya meneruskan perjalanan. semuanya ini milik-Mu. menimpuk sejadi-jadinya. caturnya yang berayun-ayun oleh riak air yang dihembus angin atau sengaja diaduk-aduk Ketika para sopir dan kenek itu melihat gepokan lembaran uang yang bertumpuk-tumpuk di atas rakit saya itu. ”Ya. Subhanallah. Bukan uang Sesampai di rumah. menyuruh saya membuang seluruh uang itu dengan mendorong rakit menjauh dari rumah. Tentu banyak gepokan uang itu yang jatuh ke dalam air dan tenggelam. uang haram yang belum tentu dari Kiai Zaim Zaman. diiringi ha ha ha he he he dan olok-olok yang diuleg sepedas mungkin sehingga banjir itu tambah sempurna mengharu-biru. Masya Allah.

Tangerang. 14 Februari 2008 .

Legam bagai Jacky Chan melenting. Ini Matahari terbahak. Pelabuhan menjerit. “Ini Metropolis. Tak lelah-lelahnya. Ia menyeberang di antara lalu-lintas saling bertanya. Kerjakan yang mesti berlari itu. Angin kencang. yang macet. Suasana mendesing bunyi gasing. Nak? Ada apa. Tidak seramah abah dan babah semasa zaman misai jepaprah. Alangkah kencang larinya. mencari kekal pada dinding. Jangan pernah kalah. . persis malam mati. Beberapa orang yang berpapasan dengannya menanyainya kenapa ia berlari. Seperti anak laki-laki 10 tahun yang terus sendiri. Apa ia tak punya pusar? Hanya orang-orang yang tak punya kepadanya yang cepat menghilang terhalang di antara pintu dan jendela Bianglala. Orang-orang menengok yang padat. Jangan ketinggalan. Lamat-lamat ditelan mall yang bernyanyi. Keringat kota diperas habis-habisan. Tempeleng orang lain sebelum ditempeleng orang lain. Jakarta Utara. Merebut tempat. Orang-orang pura-pura tak mendengar. Tapi setiap pertanyaan belum terjawab. dikejar setan. Merebut kesempatan sebelum segalanya terlambat. Mereka menerobos di antara bus. Anak itu agaknya merebut waktu. Ia sedang diburu kebutuhannya berteriak. Ia berzigzag di antara kendaraan-kendaraan yang menunggu lampu hijau. Hitam kayak pantat kuali. pusing. Ia tak peduli. Di jalan-jalan Jakarta tak ada tempat untuk kencing. kopaja. lo. Orang- bagaimana mungkin harus menanggulangi kebutuhan orang lain. Bung!” Mengurusi diri-sendiri saja hampir-hampir tak becus. Seolah metropol miliknya sendiri. Jangan pernah mau mengalah. ia terus berlari. seperti ada sesuatu yang ingin ia temui. Jakarta sudah lama bilang ogah. mengucap salam pada metromini. Metropolis. Atau baru. Bung! Sejak kapan para sopir angkot itu mendahului para arsitek dengan orang tak mau tahu. selalu muncul pertanyaan meminta ibunya untuk tidak menari lagi. Kepala berputar kerna mana ibunya? Mengapa ia berteriak-teriak? Apa ibunya mendengar teriakannya? Mengapa ia Lonceng kota berdentang dua kali. barangkali orang-orang itu bisa menolongnya jika ia butuh pertolongan namun anak itu acuh tak acuh dan terus berlari. Sesuatu apa itu. jadi rupanya ibunya seorang penari. Udara sangat panas. dikerjakan. Tapi di “Ibu! Ibu!” teriak anak laki-laki itu menyebut ibunya. Lari! Lari! Tekuk dan telan kota. Barangkali ke Jakarta Pusat.Jantung Hati DANARTO Anak laki-laki itu berlari kencang meninggalkan pelabuhan Sunda Kelapa. Angin berdebu. mikrolet. “Ada apa. atau kota ditekuk dan ditelan orang lain. Semua pertanyaan lompat bajing. O. “Ibu jangan menari lagi!” teriaknya sepanjang jalan raya itu. “Ibu! Ibu! Jangan menari lagi!” ia melarang ibunya menari lagi? Memangnya kenapa kalau ibunya tetap menari? Anak 10 tahun ini boleh jadi anak yang aneh. Ia tak mau tahu dengan urusan orang lain. Ia tak mendapatkan bus atau angkot. Ada apa anak itu berlari terus. angkot. Dihardik satpam jadi emping. Tinggalkan yang mesti ditinggalkan. lo?!” Semrawut kota semakin bising. Orang-orang sibuk dengan tas belanjaannya sendiri-sendiri. kabarkan. Ia pusar bisa berlari sekencang itu. Ia menuju ke arah selatan. Nak? Ngapain lo lari terus? He.

O. Itu udara wengi. Henry minta ganti rugi mahal kerna tiga kali dibohongi. Ia keris empu. Eyang. Ia ingin lolos dari angka-angka narkoba oplos. Lalu kena sabetan keris yang ditempa padepokan Ganggang. Mengalir angkasa pesat. Dalam sehari 50. Di ladang luber. Berlari terus. Alasan tempat jeli selalu kena jalur hijau pasti. Matahari membantu tapi butuh ongkos. kadaluwarsa dari sepihak. zat. Ibunya sedang menari di atas jembatan layang. Tuhan sayang manusia. Baik budi. Penari agung bikin keder pemda. air. cucunya cucunya cucunya cucu Empu Gandring. Seonggok jalan layang ke Universitas Indonesia gemilang. Anak itu melompat pagar tanaman. Tanah di bawah jambatan layang UI diberi julukan “O Henry Rudini”. Tak kenal batas. Saling gertak ketemu ibu dirundung sawan. Berbanding Pandawa pantas. Orang-orang yang berpapasan mendesah. Segala tempat. Tak mati-mati. kenangan manis buat Mendagri dan Henry yang tertindas. mabuk tetap tegak. Si anak ksatria utara. Ada saja yang tidak polos. Ia hindar bertengkar kerna pintar. Tumbuh harapan. Seluruh hamba wet. tanah. mencium bau wangi. Lalu berpijar cahaya api. Di sekolah anak tak pernah bolos. Kemana tanahku. Perahu malaikat burung puyuh. begitu pemerintah kasih wejangan. Cepat Anak ini cerdik bagai jengkerik. Tak pula timpang. Kemana sandal jepitnya tadi di emper. Hanya Muntahkan segala pikiran kotormu. Ia ksatria tuntas. bertengger gubuk derita malang. Pasrah tanpa curang. Berlari terus. Berlari chitah otak cucu belum juga encer. Dengarkan mahasiswa sedang berjuang. anak itu tahan menceker. Ia musnah. terbahak. Anakku. Jangan menoleh ke belakang. Tinggallah putri bersama anak semata wayang. telapak kaki tanpa alas. Menggaris lurus menerka keadilan. Tiga kali tanah dibeli di berbagai . putri jelita berbanding Sembadra. Di bawah jalan layang. kesandung maut dari seberang. O. aparat James Bond lumpur panas dan kalajengking di bawah keset. Tuhan kendali manusia. Mengambang taat. Namun tak beringas. Apa mau dikata. Mencari hidup layak seperti pesan bapak. Kedua orang bertahan di bawah jembatan layang. Ia anak mama. Setiap mahasiswa melaju mobilnya ke universitas. seluruh penghuni hotel prodeo adu jotos. Kemana tanahku. Henry Muhammad. kota. Tiba-tiba agung bagai baja. Butiran menjelma hujan. bukan pula keris patih. termasuk jalur hijau jalang. Jeritkan segala raung serigalamu. ia mendelik. bukan raja. Tak mati-mati. Ksatria Utara tak mau berkelahi. Walau di lapak. Jangan terpeleset. Sotangnya tajam bagai taring kirik. KTP diinjak-injak. “Ini anak apa maunya?!” Orang-orang melengos. Dipuja petani. menghirup angin surga. Udara. O. Seluruh menteri melankolis menatap Henry. Aduh. dan pertapa sejati. badai derita Ia terlalu sakti. Tuhan tempeleng manusia. Itu udara pagi. O. Tak peduli pada aspal jalan yang panas. orang yang matanya nyalang. Padang darah berember-ember. Aduh. Namanya bikin gentar. supaya hati tak garang. Pesanlah nisan sekarang. Nyawa yang berbakti. Tuhan yang pegang. Wangi jembatan layang. hitungan akurat. tanah asli ayah bayang. Jasadnya lenyap ditelan udara. Hidup bisa dicicil angket. Ia diangkat Allah ke firdaus ketujuh. api. Bukan ratu.000 tahun mengayuh. Anakku. Mau dicaplok katak. O. O. Jangan-jangan sedang menari bersama awan. Tak ada tempat yang jauh. Nasib orang. Ibu Pertiwi mengerti. Supaya jarak lari menjadi aman. kejeblos di pasir boblos. Tiga kali kena gusur. berbakti. menerkam kijang tercecer.Seperti bandit yang dibiarkan lolos.

di milenium ketiga. Mereka dengan gigih menabrak-nabrakkan tubuhnya ke arah gunung pasukan khusus diterjunkan dari helikopter di atas jembatan layang UI dan di Pulau Seribu ikan-ikan paus itu tidak peduli. ikan-ikan paus yang segede-gede kapal destroyer dari kutub utara. mereka sudah sampai Pulau Seribu. Bagai papan-papan selancar. berkali-kali penari itu diburu. Tanggulangi penjarahan dan perampokan. Laut meluap. Saking banyaknya korban entah. tentu jumlah itu saat ini. Di pojok-pojok Jakarta rawan. pegadaian. Supermarket. Dalam jumlah besar membengkak. menjadi sasaran penjahat maupun orang baik-baik. Di seluruh kawasan. Perampokan kantor-kantor. Para relawan penolong bertindak. mengambang dan tenggelam maupun karet mendadak. Banjir rasanya semakin meninggi. para politisi dan wartawan tidak memolitisir musibah “Jakarta Meratap” dengan “pemerintah “Itu klenik!” seru jubir pemerintah dalam menanggapi pernyataan bahwa pemerintah dimusuhi alam. Kota gelap gulita. Pemerintah yang dulu. ratusan mobil mengambang. Korban banjir antara yang hidup dengan yang mati.” Namun Valeria Daniel dari antv di atas helikopter melaporkan pandangan mata: “Jakarta seret dari kutub utara. Mobil-mobil tinggal atapnya yang muncul. pasar. Dengan sangat meminta ditolak alam”. bank-bank. Di dalam kendaraan-kendaraan pribadi di sela lalu- “Ibu jangan menari!” sambung anak itu. Andai dulu pemda di zaman Orba tidak pelit dan mau membayar ganti rugi satu miliar rupiah. restoran. Berpuluh ikan paus mengunyah gunung es yang mereka Keadaan darurat nasional gubernur umumkan. Nah. toko-toko. Jakarta musnah!” tenggelam dilanda banjir bandang. perumahan mewah. Banyak individualis jengah. Tenaga-tenaga penolong susah. Mereka saling bertanya. yang bercokol di utara Pulau Seribu itu dikitari puluhan ekor ikan paus yang berloncatan ke es itu yang agaknya untuk secepatnya mencairkannya guna memandikan Jakarta.“Ibu! Ibu!” teriak anak lelaki itu dari bawah jembatan layang UI menatap ibunya yang sedang lintas yang selalu padat itu. Berkali-kali banjir besar sikap ini kentara sekali. Jakarta tenggelam. Pasukan antihuru-hara diterjunkan. Dibutuhkan perahu Helikopter menyigi rendah. Selama ini pemda DKI meyakini bahwa penari jembatan layang UI itu kong kali kong dengan melanda Jakarta. Daerah Khusus Ibukota payah. ATM. dan seluruh tempat yang menyimpan duit atau pangan. gunung es bersimaharajalela. departemen keuangan. namun dia selalu lenyap tak berbekas. Sebagai ahli waris Henry atas sepetak tanah di bawah jembatan layang UI. Dia dan ikan-ikan paus itu terus menari. tak ada artinya. Datang dari kutub utara. Bagai monumen. Di siang hari jadi kota mati. Namun penari cantik dan . dia terus menuntut ganti rugi yang layak. berenang di dataran luas yang dalam. Tapi itulah jalan hidup. puluhan. sampai kini tentu semakin dirundung dosa yang kelewat-lewat. Satu udara ganti-berganti. ternyata pemerintah sendiri sangat doyan klenik. Dan alam sangat untuk menangkap sang penari dan membunuh ikan-ikan paus itu. mall-mall. Korban tak dapat dihitung. para mahasiswa melongok-longok lewat jendela mobilnya. “Dua puluh tiga ekor ikan paus menyeret gunung es. menari di atas pagar jembatan layang.

Tapi segala jenis hotel penuh. Senen. Bola dari Piala Dunia. Tangerang.membantunya. Sanak terpental dari sanak. Gelombang menggempur Tanjung Priok. Cucu dari buyut. Cilandak. Ibu itu terus melanjutkan tariannya. Anak itu terus melanjutkan teriakannya. Cikini. Mall-mall Jalan Thamrin yang dibangun dengan pondasi yang tinggi. Jalan Thamrin. Sang penari tidak menstop tariannya. paling laris karena agaknya dipenuhi para pengungsi. Cinere. Hotel Sari Pasifik di dibangun untuk mengantisipasi banjir bandang itu. Parung. dan melahap terus ke selatan. Orang-orang kaya mengungsi ke hotel-hotel. Hari balas dendam telah terjadi. Ibu dari anak. Angin kencang menyapu pasukan khusus berikut helikopternya sehingga mau tak mau mereka harus menjauh dari penari dan ikan-ikan paus itu. “Ibu stop menari! Ibu stop menari!” teriak anak itu terus-menerus dari bawah jembatan layang itu. Benci dari cinta. Cemburu dari buta. Suami dari istri. Beberapa orang mahasiswa memarkir kendaraannya di jembatan layang itu untuk melihat penari itu tetap gemulai dengan gerakannya. Jalan Sudirman. Melek dari kantuk. Para sniper itu dibuat kelilipan matanya sehingga sniper membidik penari dan ikan-ikan paus itu dari kejauhan. Blok M. Kakek dari nenek. Canggah dari wareng. Sejumlah penari dan ikan-ikan paus itu. Keluarga Paman dari keponakan. Namun alam tetap membela membatalkan bidikannya. Kekasih dari asmara. Kampung Rambutan memahami musibah itu. Gunung Sahari. 20 Mei 2006 . Kali Deres berteriak-teriak meminta tolong. terpisah dengan keluarga lainnya.

Mereka saling bulu bergetar ketika mencapai puncak. sebagai sponsor pertunjukan. ngobrol dengan gubernur. Russian State Ballet of Moscow memainkan ”Swan Lake” karya Tchaikovsky yang sudah melegenda. Natalya Ashikhmina. yang ditemani balerina Masami Dengan meminta maaf karena gedung pertunjukan tidak representatif bagi tontonan segigantik balet Rusia. Mineev. Tampak Viatcheslav Gordeev. Maxim Fomin. Asmara angsa. Lalu bergabung ikut ngobrol pula. Angsa-angsa putih menyelam. ngobrol dengan para pejabat bank Indonesia. juga grup dari Perancis. Dalam pesta yang disuguhkan oleh Yayasan Jantung Indonesia. Di antaranya di tempat ini. pemeran Odette secara bergantian dan Andrei Joukov dan Maxim Fomin pemeran Siegfried bergantian. balerina 21 tahun. sangat populer di seluruh dunia. yang putih maupun yang merah. dalam waktu dekat akan membangun panggung balet semegah Moscow. komposisi yang senantiasa berubah. dan memagut dan bercinta. ayu dan ganteng. para pebalet pemeran utama dalam lakon itu di antaranya. buah-buahan. tidak minum wine. Zahra menemani para pebalet dari Negeri Tirai Besi itu. tentang balet di Rusia. masih mengenang adegan-adegan dalam pertunjukan balet ”Swan Lake” yang baru saja Annisa Zahra disadarkan oleh zefir. dan pembesar negara lainnya. Jerman. Gadis ini Zahra. Siang hari mereka adalah angsa yang merenangi telaga. kepada para tamunya. Baru pada malam hari . dan jus jambu kelutuk. sup ikan tuna. Dia memilih minum air jeruk nipis. menyembul. Odette. Russian State Ballet of Moscow pertunjukan ”Swan Lake” itu. dan modern dance dari Eropa lainnya yang memainkan repertoar ”Le Sacre du Printemps” karya Igor Stravinsky. Maya Ivanova. pernah berpentas Martha Graham. Dengan 1. Alvin Zahra juga banyak mendulang informasi dari Maya Ivanova dan Natalya Ashikhmina. Direktur Artistik Chino. bulu- usai. yang disihir Rothbart menjadi angsa. lalu mendarat kembali. angin sepoi-sepoi. Kaki-kaki jenjang putih para balerina meluncur ke sana kemari. Mereka tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun meski pertunjukan dua jam itu mengalir terus. Mereka rame-rame menikmati salad. Andrei Joukov. kegemarannya. tampak berseliweran di antara para pebalet yang tinggi-tinggi dan besar-besar itu. Irina Ablitsova. Begitu pula para pebalet teman Zahra. Irma Ablitsova pemeran Odille dan Dmitry Protsenko serta Vladimir plain croissant. yang mengelus rambutnya. gubernur berjanji. Lakon ”Swan Lake” menceritakan dayang-dayang istana dan ratunya. Sebaliknya. Membentuk Pemandangan panggung malam itu dipenuhi puluhan ekor angsa putih menyebar memenuhi mengepak beberapa saat di atas permukaan air.500 penonton. insya Allah. Sementara itu Zahra getol bercerita macam-macam Nikolai. pemeran Rothbart bergantian. adakah yang lebih indah waktu tubuh bergetar. menteri. gubernur. para pebalet Rusia itu mengagumi kecantikan dan rambut panjang Zahra dan apa saja perannya dalam balet di Indonesia.Telaga Angsa DANARTO telaga.

mereka menjelma manusia kembali. adalah para pemeran angsa kecil. lho. dan Anna Vakina.” sambung Kakek. . Pangeran Siegfried langsung terpikat pada Odille. cocok-cocok saja. saya tidak setuju dengan kostum para penarinya. Sekalipun dengan mata terpejam. Eyang bisa kesleo. Pangeran Siegfried.” celetuk Zahra sambil memasukkan potongan roti lapis kacang dan cokelatnya ke dalam mulutnya. kakek dan gerakan balet yang membuat semuanya tertawa. yang secantik Odette. adalah Svetlana Ustyuszhaninova. Namun Siegfried mampu menewaskan Rothbart dan pasukan angsa hitamnya. Begitulah.” tukas Kakek. Rothbart sang penyihir. untuk merebut cinta Mendengar kabar ini. Hanya cinta sejati yang mampu mengalahkan sihir itu. ”Terpikat boleh terpikat.” kata Kakek. ”Tapi. Usaha Rothbart berhasil. sampai Kakek terbatuk-batuk. Olga Ivachenko. asal encoknya tidak ketahuan sang balerina. kedua adiknya. ”Itu kan mengumbar aurat. Di samping mencoba menggagalkan percintaan Siegfried dengan Odette. ”Apa. memangnya kenapa?” tanya Zahra. Semua tertawa. ”Eyangmu ini tadi malam kan kepincut sama si Maya. seluruh istana bergembira. sih. saya sih. ”Odette atau Odille. Odille. yang ndak cocok bagi kamu. Eugenia Singur.” sambung Oom sambil menyenggol Tante. memamerkan putrinya. Namun cinta mereka terhalang oleh sihir Rothbart yang ampuh. Tatiana Chungunkina. neneknya. Seketika. angsa itu menjelma Odette. Secepatnya Siegfried menyatakan pilihan cinta sejatinya hanya pada Odette. ”Lho. ayah. Siegfried sadar. Rothbart marah besar. Semuanya tertawa. Pagi harinya kakek berdiri lalu meliuk-liuk menirukan ”Awas.” celetuk Nenek. hari tujuh malam pun digelar dengan meriah. Odette dan dayang-dayangnya jatuh sedih. Sedang para pemeran angsa gede Zahra menonton pertunjukan itu bersama keluarga. semua balerina itu elok: Tatiana Protsenko. siapa pun tak bakal salah Pesta para pebalet Rusia dan para pebalet Indonesia malam itu seperti menandai suksesnya memilih. Siegfried.” tukas Nenek. pemilik istana dan telaga. dan Anastasia Baranova. Kakek terbatuk-batuk lagi. Oxana Gasnikova. begitu juga puluhan ekor angsa yang lain. juga tante dan oomnya. Semuanya tertawa. jatuh cinta kepada Odette. ibu. Dan pesta pernikahan Siegfried-Odette selama tujuh pertunjukan ”Swan Lake”.

Zahra melanjutkan obrolannya: ”Waktu grup balet Zahra memainkan Swan Lake.” sergah Kakek lagi. Habis jadi diktator. Swan Lake dapat dikategorikan sebagai pertunjukan pornografi dan pornoaksi. ”Bagaimana parameternya?” ”Bagian-bagian tubuh tampak disengaja sangat menonjol. deh.” ”Eyang kok tiba-tiba jadi diktator. Ini kali pertama kakek dan nenek nonton balet. Aduh. Semuanya tertawa kecuali Kakek. Obrolan berubah jadi perdebatan. Ruang makan itu berubah jadi ruang pesta pagi hari. kok Eyang sampai segitunya. kok yang disalahin balerinanya.” ”Jangan begitu. wah. ”Kok Eyang jadi sewot?” ”Mempertimbangkan kostum itu. Jika kita bicara soal kesan. ”Saya serius.” sambung Kakek. Eyang. pertunjukan itu harusnya disensor. sih.” ”Mati orang kuburan!” potong Kakek kaget. Eyang ini gimana. ”Semuanya kan tertutup rapat.” ”Eyang yang kasmaran.” sanggah Kakek. ”Saya sungguh risi dengan kostumnya. wah.” ”Tapi kesan telanjangnya kan jelas.” Semuanya tertawa. semuanya terkesan jelek.” tukas Zahra. mendadak berubah jadi filosof. Eyang. kecuali Kakek. Kesan. bubar.” ”Wah.” ”Rasa risi tidak relevan dengan Swan Lake.” ”Wah.” ”Jangan begitu. Semuanya tertawa kecuali Kakek. kostum Zahra ya seperti itu. ”Mati orang kuburan!” potong Zahra. Ada yang jauh lebih subtil yaitu bentuk tubuh secara utuh. Jenjang kaki yang panjang dengan bentuk yang indah—laki-laki maupun .” ”Kesan. Grup balet Rusia ini sudah melanglang buana.”Aurat yang mana?” tukas Zahra. Melihat kostumnya. peradaban.” ”Saya heran. ”Itulah kostum yang paling pas untuk lakon ”Swan Lake”. Meriah.

” ”Omong kosong!” sergah Kakek. begitu pula kostum ketat balet ”Jadi tanpa mempertimbangkan moral dan agama?” tukas Kakek. ”Kalian keras kepala!” Semuanya tertawa kecuali Kakek.” ”Harus dicari kostum yang lebih cocok dengan budaya setempat.” sela Kakek. Mendengar kata Kakek ini. ”Kita harus mempertahankan adat ketimuran kita. ”Kostum ketat itu.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. ”Apa?” tanya Kakek. ”Adalah tradisi balet.” ”Sungguh saya tidak paham jalan pikiranmu. Kalau Eyang puas atas pertunjukan balet Rusia itu. ” sergah Tante. ini artinya balet Rusia itu telah berdakwah tentang kebenaran. Zahra diperkenalkan pada balet sejak balita. ”Justru karena saya sangat menghargai kebudayaan. ”Dalam KKN ada tradisi. runtuhlah kebudayaan. maka saya marah menyaksikan penampilan para pebalet Rusia itu. pesakitan KKN selalu jatuh sakit kalau mau diadili.” Zahra menukas.” kata Zahra. Seperti para perenang yang memudahkan untuk bergerak menari.” sambung Kakek.perempuan—dalam menopang torso yang sepadan yang melahirkan kelenturan gerak bagai kijang. semuanya menyanyi kecuali Kakek: ”Bagimu negeri.” cetus Kakek. Puluhan kali dia berpentas balet di kota-kota besar.” sewot Zahra.” ”Sekalipun mereka ateis?” ”Sekalipun mereka ateis. ”Moral dan agama ada pada keindahan kesenian itu. Eyang.” kata Oom. ”Eyang benar-benar lowbrow.” hampir-hampir telanjang ketika bertanding di kolam renang. ”Eyang dianggap tak menghargai kebudayaan. jiwa raga kami…” Oleh orangtuanya.” . ”Jangan melecehkan negeri sendiri. ”Kalau pendapat Eyang dilaksanakan. Cucuku. ”Adat ketimuran kita adalah KKN.

Barangkali besok.” kata si Oom.” ”Eyangmu itu pantas jadi polisi moral. Zahra.” tukas Kakek. . Semuanya tertawa kecuali Kakek. saya dikasih contoh. ”Coba.” jawab Tante. Anakmu bukan milikmu.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Janganlah berputus asa akan belas kasihKu. Seperti tercium setan lewat. ”Saya pusing mendengar pikiran-pikiran anak muda sekarang. mereka itu setahun lagi?” hanya belum sempat mendapat hidayah dari Allah saja. Mereka telah berbakti kepada Dewi Keindahan.” tukas Nenek. kata Allah. ”Kok sekarang berubah jadi one dimensional man.. Alangkah juwitanya pandangan hidup mereka. Dalam hidup para balerina dan balerino itu. tapi dari mana kita tahu bahwa mereka ateis? Obrolan kita ini sudah melenceng. Eyang. ”Apa yang sedang terjadi atas Eyangmu ini. Kita bisa menuduh mereka ateis. atau lusa. Eyang. saya cuci tangan. Eyang. Dan itu bukan teori. ”Banyak negara yang busuk.” ”Mereka telah menari dengan anggunnya. semuanya membaca puisi Gibran Khalil Gibran: ”Anakmu bukanlah anakmu.” ”Tapi omongan kamu itu kan cuma teori. ”Kita harus membedakan antara iman warga negara dan iman negaranya. Lengang sejenak.” tambah Tante. Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri…. bukankah itu artinya mereka telah berdakwah tentang keluhuran? Seandainya benar mereka ateis.” Semuanya tertawa kecuali Kakek.” sergah Kakek.” ”Mereka hanya berbakti kepada Dewi Keindahan. Bukan kepada Tuhan. Harus dipisahkan antara rakyat dan negaranya. ”Contohnya tidak usah harus beli tiket pesawat. setiap hari yang dipikirkannya hanya keindahan.”Hati orang siapa tahu. namun tariannya memberikan pencerahan kepada kita yang shalat lima kali sehari. Kecuali Kakek. atau ”Seorang ateis bagaimana mungkin mendapat hidayah Allah?” ”Jiwa manusia itu seluas alam semesta. sedang warga negaranya mudah lolos ke surga. Betapa luhurnya seseorang yang tidak percaya akan Tuhan.” ”Eyang kok selalu curigesyen terhadap iman orang lain yang tidak dikenal.” tambah Nenek.

Para pujangga menyebutnya ”Glatik Nginguk” artinya ”Burung Gelatik yang Menjenguk” yang membuat dada para raja dan pangeran ”mak-sir”. bedoyo para penari bahkan untuk berjalan biasa saja. Allah mencintai keindahan. Eyang. Ada tanah yang bisa menumbuhkan padi sehingga kita tidak kelaparan. tergetar. cukup sulit.” Tukas Kakek: ”Tidak ada pornografi dan pornoaksi dalam tari bedoyo. Suatu dakwah keindahan tiada tara. menyembulkan semburat merah jambu gunung kembar yang menjenguk lewat dada yang lebar terbuka. Ada air yang mudah mematikan api. Ada angin yang tidak kelihatan yang membuat kita bernapas hidup puluhan tahun.” sambung Zahra.” ”Saya setuju. Mendorong keanggunan sembilan penari yang gemulai dalam balutan kain yang ketat. tidak ada pornografi dan pornoaksi. Tangerang.” ”Sebagaimana balet. Dalam balet. sedang dalam . itulah keunikan tiap tradisi yang mewariskan budaya dunia. Cobalah nikmati tari bedoyo.Zahra melanjutkan obrolannya: ”Wajah Allah itu memancar memenuhi alam semesta dan kita makhluk ciptaannya dapat menatap Wajah itu secara gamblang. Ada zat yang mendorong kita beranak-pinak. Kita wajib memeliharanya. 14 Februari 2006 seorang penari harus lebar-lebar merentangkan kakinya supaya bisa terbang. Dalam dandanan kebaya pinjungan. Ada api yang menyalanyala.” ”Kita juga memiliki keindahan tradisi. Dan ternyata Allah itu indah.

Saya tak pernah mengutip berkepanjangan. Sebagai penulis lepas. bupati. Saya rasa kali ini juga begitu. pengairan sawah. bupati. mengular sampai jalanan. Setelah dua jam pembicaraan ke sana-kemari. Karena kematian seorang teman baik yang menjadi tetangga dekat. mengenang lewat tulisan obituari itu mengesankan. mula-mula saya menulis obituari hanya sambil lalu. ramai. Karena istri saya gelisah. atasan. Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga. dan wali kota. satu dua. maupun wali kota. juga tayangan televisi.Nistagmus DANARTO Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. sejumlah persoalan yang lagi hangat atau panas di masyarakat yang sebenarnya membuat mereka sekadar butuh teman ngobrol. juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. teman-teman. sekadar yang saya tahu. Selama pertemuan-pertemuan dengan para Untuk sikap saya itu. misalnya. bibit tanaman. Sungguh menghabiskan waktu. diajak berbincang mengenai berbagai hal yang pelik. Masalah-masalah itu menjadi obrolan yang Kadang-kadang saya juga diundang camat. Orang-orang . juga masalah percintaan antaranak-anak Jika ditanya. Kadang datang berbondong. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. persoalan anak dengan orangtuanya. saya dijuluki “pendengar yang baik”. saya menjawab sekenanya. soal usaha tambak udang. Istri saya memberi tahu. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. Saya acuh tak acuh. Istri saya lewat jendela. bawahan dengan remaja. lalu kami pindah tempat duduk dan lebih santai sambil ngopi. Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang sehingga rumah jadi regeng. satu dua. Dan pembicaraan beralih ke olahraga. menantu dengan mertua. kata-kata bijak dari para cendekiawan. Dengan ngantre minyak tanah. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Sudah sering datang orang. Sudah sering datang orang. Cukup menyenangkan. perburuhan. Lama-lama saya menulis obituari menjadi semacam panggilan. Misalnya. Juga tentang hubungan suami istri. yang sama sekali tidak saya ketahui. setelah sarapan. menyadarkan saya. dan banyak lagi saya tidak nyaman. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Saya acuh tak acuh. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. ataupun dengan para pembesar itu sebenarnya saya banyak diam. Rasanya camat. Di samping para tetangga. Tapi asyik juga karena hidup di dusun yang sepi sekali-kali perlu mengadakan pertemuan supaya merasakan kemeriahan. Selama ini saya dikenal sebagai penulis obituari (berita tentang kematian seseorang berikut riwayat hidupnya) di surat kabar setempat. perbankan. tidak benar-benar membutuhkan saya. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. Rasa saya tetangga. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga. Kami ngobrol sekitar persoalan yang menyangkut rumah tangga dengan segala nuansanya. Ada apa? belum menemui mereka.

Lelucon-lelucon pun menyebar dengan semarak di pasar. Selama ini tulisan obituari saya sudah mencapai 5. Banyak usulan. yang berkenaan dengan tulisan obituari itu. ia seharian di rumah saja. Keluarganya memberi tahu. Ketika beberapa waktu kemudian tukang becak itu meninggal karena faktor Ada seorang pegawai negeri yang tidak mau dipensiun karena uang pensiunnya kecil. kompleks pertokoan. tak ada yang menulis. Begitulah. Saya interviu keluarganya. keluarga. sampai kamu menulis riwayatmu sendiri!” Saya terbahak mendengar lelucon-lelucon itu. yang beberapa hari kemudian dikabarkan meninggal.000 karakter. Kadang sampai 8.000 karakter yang menyerahkan becaknya kepada seorang kepala tibum (penertiban umum) dengan tujuan supaya becaknya dijual untuk mengongkosi sekolah anaknya. tidak ke mana-mana.000 orang.lengang. tukang becak. sampai kenalan baru. Obituari yang meliputi orang-orang biasa itu bisa saudara. ia kaget. Tulisan obituari itu tidak panjang. “Kenapa kamu tidak lekas mati supaya Pak Jurnalis bisa menulismu sekarang!” “Biar kamu mati. Saya menolak ketika diminta menulis obituari sedangkan untuk orang-orang biasa. sementara beban keluarganya besar. lalu mencari akal agar bawahannya itu sadar. Saya yang terus beredar di banyak keluarga yang kematian saudaranya. Saya catat riwayat hidupnya. Lalu ia dinaikkan ke dalam mobil. meski kamu membayar Pak Jurnalis!” “Kamu tidak akan mati. kenapa tidur di rumah. kemudian berubah ke mesin ketik komputer. Dipasang pula fotonya yang bisa menyebabkan keluarganya tertambat kenangannya. Banyak komentar. Misalnya. Setiap saya lewat atau mampir membeli rokok di kios. Dan sebagainya. pekerjaan terakhirnya. Sejauh ini saya tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu. orang-orang ternama. saya menulis obituarinya dengan memasukkan wawancara kepala tibum itu. kebanyakan yang mungkin pernah lalu-lalang di depan rumah saya. dibawa pulang ke rumahnya. selalu saja orang . orang-orang terkenal itu sudah banyak penulisnya. Itu semua menyebabkan saya akrab dengan semua orang. Masa pensiun pasti datang. Kepala kantor orang itu kebingungan. Lalu si kepala kantor meminta jasa seorang tukang sulap yang pandai menghipnotis orang. dan berapa orang saudaranya. Begitu siuman. teman. Dengan enak saya bisa menulis obituari setiap hari. ada seorang tukang becak menolak dengan mengembalikan becaknya sambil mengirim beras 5 kilogram kepada si usia. apa ada yang tertarik membaca obituari saya. agaknya hanya saya seorang. lewat mesin ketik manual yang lokal yang memberi saya kebebasan. lalu saya cari alamatnya. Alasan saya. Barangkali mereka juga membaca obituarinya. ataupun di stasiun bus. sekitar 5.orang biasa. menyebabkan banyak orang mengenal saya. Seluruhnya orang. Bawahannya itu lalu dihipnotis hingga tertidur di mejanya. di sebuah desa yang Saya bisa memanfaatkan rubrik khusus obituari setiap saat atas kebaikan redaksi koran Pernah kejadian dalam seminggu sepuluh orang. sebagaimana kematian itu pasti tiba. Yang jail maupun pelesetan. Si kepala tibum jika orangnya kocak atau punya pekerjaan yang unik.

Anak-anak saya. Maka ada saja orang yang anti-saya. Di pertemuan-pertemuan desa. Wah. Banyak ngomong dianggap meramal. Saya nggak mau ditulis sekarang. Ada yang berubah dengan tingkahlaku saya.” “Jangan ditinggal korek apinya ini.nyeletuk: “Pak Jurnalis. orang tersebut malah mengejar saya sambil menyapa: “Bapak menghindar dari saya. lima orang.” “Baiklah. seseorang yang ngobrol dengan saya. Pak?” Istri dan anak-anak saya juga merasakan perubahan itu.” Inilah sepenggal dialog di pasar sepeda motor dengan seseorang yang enggan bertegur sapa dengan saya karena keyakinan-keyakinan klenik itu. Saya tak bisa menjawab. Saya jadi pendiam dan menyendiri. sedikit ngomong dianggap mengetahui peristiwa yang bakal terjadi. Pak. Ntar saya yang menulis Bapak. ia meninggal. Tapi ini kebetulan saja.” “Lho. Ini benar-benar klenik. kenapa?” “Maaf. yang saya malas menuliskan sebutan-sebutan itu di sini. Ada yang bilang. terutama si sulung yang duduk di SMA kelas 2. saya sedang mewawancarainya.” “Biar untuk Bapak saja. kenapa?” “Maaf. ini bahaya.” jawabnya. Memang ada seorang yang “Pak. tinggal di mana?” tanya saya kepada seseorang yang saya pinjami korek api untuk menyalakan rokok saya. Keterlaluan. Ketika orang menanyakan pendapat saya. Apa ada gejala sesuatu? Tentu saja saya merasa tidak berubah dengan tingkah-laku saya. Kritiknya tidak berdasar. sehabis ngobrol dengan saya. saya mendapat sebutan yang aneh-aneh.” “Saya permisi. Dari kejadian itu.” Atau ada yang berteriak: “Pak Jurnalis. Pak Jurnalis. Tidak kenapa-kenapa. saya juga diam dan menyendiri supaya orang nyaman dengan saya. yang paling kritis. Pak. Menurut mereka. tulisan saya tidak adil . ada saja orang yang enggan bertemu atau lebih-lebih ngobrol dengan saya. ada yang mengartikan. jika seseorang ngobrol dengan saya. Apa yang akan terjadi dengan saya. Jadinya lama-kelamaan saya enggan menyapa orang.” Tapi. Saya juga tidak tahu adanya gejala sesuatu. Sementara itu ada pula yang bilang. Memangnya saya cenayang. Keduanya cencala (lancang mulut) terhadap sikap saya dalam menulis obituari. Tidak kenapa-kenapa. katanya. “Maaf. Ketika di sebuah toko saya menghindar supaya tidak bertemu dengan seseorang. Pak. Pak. itu tanda-tanda orang tersebut mau meninggal. Lalu malah terjadi serba-salah. dan si bungsu di SD kelas 5. “Lho. sedikit saja saya ngomong.

Mereka suka ngotot dan merasa selalu benar.terhadap seseorang dan berlebihan bagi yang lain. ini pahala bagi Ayah karena Ayah menyembunyikan tiga “Nah. “Kalian ngawur. kekuatan itu ada batasnya sehingga kita tidak selalu benar. Boleh jadi Allah sudah membuatkan rumah baginya di surga.” jawab saya. Saya sering lelah berdebat dengan mendidik anak-anak saya itu dengan keras.” “Semuanya. anak-anak saya itu: Seolah-olah anak-anak ini cukup rajin membaca buku-buku agama.” “Begini. itu justru kesalahan saya dan saya bisa berdosa karena tidak menulis tiga istri dan mereka. Nah.” “Tidak bisa seenaknya begitu. karena Ayah memaksa Allah membuatkan rumah baginya di surga. Pernah saya menyergah “Dari mana kalian tahu. sebuah tulisan berdosa dan tulisan yang lain berpahala?” “Dari Ayah.” “Boleh saja. Itulah usaha sebaik-baiknya seorang penulis obituari. saya berat. Ayah pernah menulis obituari. Mereka bisa tersinggung dan bukan tidak mungkin merasa saya lecehkan. Itu doa saya. wah. Jika sampai di sini hal itu masih baik. Sebagai ayah. Lima anak semuanya sekolah.” “Nah. Nah. kan.” anak-anaknya yang lain.” “Ayah marah kena keritik.” “Itu harapan saya. Ia meninggalkan seorang istri istrinya dan anak-anaknya yang lain. ini dosa. kalian ngawur. . Barangkali karena beban keluarga yang terlalu menyebabkan saya sering stres dan mengalami depresi yang tajam.anak saya tersebut. sedang rakus-rakusnya makan. anak-anak ini sok tahu.” “Karena keritik kalian membawa-bawa dosa dan pahala.” “Dalam hubungan apa orang bicara seperti itu. “Ayah juga pernah menulis obituari seorang pengusaha.” “Semua orang bicara dosa dan pahala. anak-anak saya itu diam. Tetapi jika sudah menyangkut masalah dosa dan pahala.” dengan empat orang anak.” jawab anak-anak itu. Padahal saya selalu Mendengar keterangan saya. itu semua yang anak. Hal itu berarti saya tidak menganggap ada dan penting keberadaan bilang.

Tak ada tanda-tanda kehidupan secuil pun. Ketika saya menuruni bukit dengan sempoyongan penuh lumpur. merangsek ke depan meja saya. Lembaran-lembaran apakah ini? Ternyata riwayat hidup dengan tanggal lahir dan masya berserak. Anakanak mewarisi sifat-sifat ibunya. satu dua. entah bagaimana saya bisa sampai di bukit ini. nistagmus. saya. Mereka berebut duluan menyerahkan selembar kertas di atas meja sehingga sekejap bertumpuk. di pekarangan. seluruh kota telah hancur-lebur rata dengan sedang tidur pulas. mengular sampai jalanan. Saya berdiri sendirian di samping sebuah kapal yang terdampar di tengah kota.Kami sebenarnya keluarga bahagia. Allah…tanggal akhir hayat. Istri saya lewat jendela. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Seluruh mayat itu. Tangerang. Saya tak tahu lagi di mana rumah Cuaca cerah. tua. Awan putih berarak dengan latar langit biru meneduhkan. mencecap pencerahan. Hari baru membuka matanya. Orang-orang yang antre tidak sabar seperti mendengar tulis. dengan malas saya keluar rumah dan duduk di beranda. anak-anak. Bahkan burung-burung. Saya acuh tak acuh. Istri saya saja suka empot-empotan. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. berserakan memenuhi ruang dan udara. Ahad. cerdas dan berani. laki-laki. setelah sarapan. saya menyiapkan kertas dan alat baru menunjukkan pukul 05. Sinar matahari memancar. bayi. di luar kemauan. di kebun. Jam aum macan. Bahkan matahari masih bergelut dengan kasurnya. mereka menatap kebenaran. lalu semuanya bergegas pergi meninggalkan saya tanpa sepatah kata diucapkan. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. Kami menikah dan Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. yang untuk makan sehari-harinya sejarah saya bermula ketika saya kecantol putri Aceh yang kuliah di UGM. Ada apa? belum menemui mereka. di atas pohon. di reruntuhan rumah. Sudah sering datang orang. Di Jogja itulah pindah ke Aceh dengan gagah berani karena cuma berbekal baju yang kami pakai. sedangkan saya sejak remaja penulis lepas. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Setelah sarapan. panas. Gerakan bola mata yang cepat tanpa disengaja. Orang sekian banyak mau ngajak ngobrol apa? Tentang kesulitan hidup? Beras habis dan anak-anak menangis kelaparan? Orang sebanyak ini mau ngobrol sekaligus? Mata mereka nanar. di jalan. Dengan ngantre minyak tanah. tanah. tak seekor pun tampak terbang. Waktu saya siuman. Penghasilan saya tentu saja jauh dari cukup. Istri saya memberi tahu. 20 Januari 2005 .00. Mayat-mayat berkaparan di seluruh kawasan. guru SMP. termasuk menulis berita. Saya menulis apa saja. terlihat pemandangan yang menyebabkan saya pingsan. Alhamdulillah. Entah berapa lama saya pingsan. muda. 26 Desember 2004. Karena istri saya gelisah. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. perempuan. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Barangkali seperti agen minyak tanah yang siap menyambut para pembeli. Mayat-mayat itu lebih mengesankan diselimuti lumpur. Saya rasa kali ini juga begitu.

Dan ia entah? Kafe di pinggir pantai itu pun terisi orang-orang yang rela mengeluarkan ratusan menatap seolah saya adalah daging dan tulang yang terbalut kulit kerang. Kebenaran dan kesalahan dipertanyakan. menimpa tubuh kami yang diam-diam menggelinjang. Untuk larut dalam satu malam yang menawarkan sejuta Phuih! Ombak meludahi wajah kami yang ingin tak peduli. Rajaman semu. Entah karena entah karena entah. bersentuhan dan mendesah massal. Sementara kilat mencabik-cabik langit hingga berupa potongan-potongan gambar pantulan kami berjumlah jutaan. hampir tiba saatnya waktu bersenang-senang Suara musik di kejauhan membisikkan mimpi yang mutlak terulang. Phuih! Saya meludah ke mukanya. Sentuhan Membuat saya muak mendengar melulu kebajikan. Sembunyi-sembunyi. memabukkan daripada kesadaran. Tapi lendir ombak itu melekat begitu kental. Bercinta di bawah para-para. Saya berlari kencang menuju kafe banyaknya di tenggorokan untuk segera melimpahkannya kepada ombak yang kurang ajar. saling beradu berebut perhatian. Lantas jatuh menghajar kepala kami kala tak sedang ingin penuh. dengan kaki-kaki telanjang. hilang. Muka badak. Dingin meresap pori-pori kulit kami yang telah menjadi keriput dan merinding. Meninggalkannya dalam diam yang haru. Untuk saling bertukar lidah berludah dengan orang yang baru dikenal. adalah saksi yang melihat semua itu dengan mata telanjang. Ada Tak jarang kepingan-kepingan yang terlihat bagai pecahan kaca yang beterbangan itu yang hanya bagian kepala. dan ada yang hanya bagian tangan. begitu istilah orang-orang. Bahana tawa. Senyum manja. Syahdu meliputi butir-butir hujan yang jatuh menikmati denyar-denyar di lautan perasaan paling dalam. Deru ombak ditingkahi samar suara musik dari kafe di hingga jutaan rupiah untuk tidak sadar. tepat di antara bibir kami yang tengah berciuman. Seolah dengan sengaja ingin memisahkan. entah karena nyala yang redup. Untuk muntah di atas jamban lantas terpingkal-pingkal.Ikan Jenar Mahesa Ayu Ia ikan yang terbang. Hingga ada satu pecahan jatuh kejauhan pantai. Girangnya sirna. ada yang hanya bagian kaki. Ia menatap saya dengan pancaran mata riang. saling berhantaman. Dan ia terpana. Kami terkapar di atas pasir basah. Saat penghakiman. begitu tengik! Mendakwa kelakuan kami sebagai jijik. Sendawa alkohol di permukaan udara. karena entah adalah ketidaktahuan yang sering kali jauh lebih dingin yang memanggang. Maka… menggoda. Ia burung yang berenang. Maka saya tahu. . kami Menusuk ke dalam kekosongan otak yang terasa ringan. Pesta pora. Lantas saya berlari sambil menarik dahak sebanyakSaya pun tak mau membuang waktu lebih panjang. Membuat saya begitu jengah dengan segala aturan-aturan. Untuk saling gombal. Bukankah kita semua membayar mahal untuk sebuah Malam berenang dalam kesunyian. entah karena basah yang kering. Dan saya. Ia bukan lagi ikan yang terbang dan burung yang berenang.

Sementara saya pun pura-pura tertawa. dan kaki-kaki jenjang mengentak di atas meja? Bukankah yang Apa pula pentingnya bertanya jika ada liukan pinggul di depan mata. Entah peragaan gaya. Masa lalu yang pernah menguatkan yang benar. Saya melihat langkah seribu. Ada luka yang akan segera hilang. Tawa. Ada surga yang akan segera yang menyadarkan bahwa masa lalu kita nyata. Undak-undakan telah disiapkan di pinggir bar. Tawa dalam penantian. sebagaimana fungsi malam ialah sarana untuk bersembunyi dari terang. rok-rok dengan sama dengan yang lainnya supaya tak terlihat sebagai pembodoh di dalam magma yang siap selayaknya terdengar adalah tanya semisal. Tak mampu menjawab pertanyaan itu. Saya melihat seekor burung yang seperti baru terjaga dari mati suri nyaris sewindu. saya melihat sepasang manusia bercengkerama. pertanyaan-pertanyaan yang tidak saja tertuju kepada Dan pertanyaan itu pun berdesing di telinga saya. Berlaku nyaris memuntahkan laharnya kepada siapa pun yang berusaha meredam dengan dingin tanya. bisa atau tidak para model itu. Saya melihat jajaran kartu kredit di dompetnya yang berwarna abu-abu. Pertunjukan berarti menunjukkan sesuatu. diri saya sendiri terpaku. Tawa. Tawa. Entah peragaan busana. lalu memisahkan diri. Tawa. Tawa. Tawa. Para model menunggu giliran untuk sebuah peragaan. panjang ala kadarnya. berapa kira-kira umur mereka. Tapi pandangan saya bagai menembus segala bentuk yang ada. Tawa. Mereka yang berada di sana tertawa untuk entah. Tawa. Saya melihat anak-anak yang tengah tertidur di atas tempat tidur berkelambu. tapi juga kepada setiap pengunjung yang rela dan masyuk berimpit di dalam ruangan dipenuhi asap rokok meraja tiap penjuru? mereka diajak kencan setelah acara. Entah peragaan yang bisa memancing rasa terpana. Ia pun langsung mengambil Alkohol. Namun seperti pekik senapan lagi-lagi pertanyaan itu kembali memburu. Luka perasaan bahwa dosa tak akan pernah cukup berarti ketika hati nurani mengatakan apa . Tawa. Tawa. Tapi sesuatu yang ingin dipertunjukkan itu tetaplah entah. Tawa. mengelabui pikiran sendiri yang sedang secara diam-diam mencari makna. Ada nama yang akan segera dilupakan. Saya melihat seringai serigala di bibirnya yang tipis itu. “Sendiri?” Dan sesudahnya. Tawa. Tawa. “Sendiri?” Saya menatapnya. Tawa berkepanjangan. terjangkau. Tawa. Musik kian mengentak. Tawa. “Buset! Lama amat di luar?” “Udah ngapain aja?” “Kayak gak tau aja barbeque under the stars!” “Feeling hot hot hot!” Tawa. Tawa. Di sebuah tempat antah berantah.Saya menunggu. Tawa. Entah peragaan untuk sekadar pertunjukan. Mata pun meredup menciptakan pemandangan yang makin samar.

Maka bening berkumpul sedan. Semakin banyak burung yang berenang. yang pantas juga ngomongin syahwat!” Selalu harus ada yang pantas.“Huahahahaha…mata bintitan. Jakarta. Saya ingin melihat bubur sebagai dubur. Lalu semakin banyak ikan yang terbang. dosa. Dan semua adalah ikan yang terbang. Semua burung yang berenang. Semakin bertambah banyak burung yang berenang. Ada yang mendesak ingin keluar. Namun saya mencari sayap ikan dan sirip burung-burung berkepakan. Padahal saya begitu ingin mendengar pantas sebagai pantat. Tapi tak juga saya temukan ia di tengah hiruk-pikuk gelepar Rajaman semu. mata yang menatap girang. Lalu semakin bertambah banyak ikan yang terbang. Saya menunggu. dan pantas. pantas. Saya ingin merasa pantas yang lain dan lain yang pantas. Pertahanan yang dibangun untuk satu kata pantas. dengan mata telanjang saya melihat ia ikan yang terbang. Saya ingin merasa kosong sebagai bokong. Di tempat yang begitu tanpa batas ini pun mengenal kata menyelimuti hitam bola mata. Ia burung yang berenang. mulut bau alkohol gitu masih berani ngomongin surga. Maka…. Mata saya pun memanas. Agustus 2004 . Namun ada keinginan kuat untuk segera menahan sedu pantas. Ia masih berada dalam diam yang haru.

Tapi segera mentah berganti Tidak mengambil cuti.” kata supervisor saya. Membuahinya. Dan jika operasi. Saya akan menjaganya. Dok. membuahkan kecanggihan otak maupun fisiknya nanti. liat sudah di indung telur yang tengah terjaga. Ketuban sudah pecah. Akan kita apakan calon bayi ini? Kita masih terlalu muda. Dokter yang baik itu menatap saya dengan prihatin. Air kental itu seperti bom yang meledak di dalam tubuh saya. di atas seprai motif beruang teddy berwarna merah dengan haru memanah. mencari uang demi mengonsumsi makanan bergizi yang konon bisa “Kami mengerti. Gunting saja supaya tuntas pembukaannya. Masih tak percaya. Rasa waswas setiap kali belum waktunya namun sudah kontraksi. belum cukup untuk hidup sebagai mengurusnya sendiri. Erang kesakitan sudah tidak lagi melengking. Materi yang ada. Kami tidak bisa mempekerjakan SPG yang kelihatan sedang hamil. Makhluk mungil itu keluar dari dalam tubuh saya. jelas belum mapan. tapi tak . Saya jentikkan jari kelingking di pipinya yang merah. Mengecup kedua matanya dalam rahim saya. yang masih lengket. Baru pembukaan delapan. Tapi saya berkata dengan yakin. Terus menyeruak dan mendarat lengket. Saya akan menjaganya. Uang yang terkumpul tidak cukup untuk operasi. Makhluk manis tak berdaya itu pernah tinggal di Lantas suster membawanya. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga lengket. Ketika saya ke dokter kandungan untuk memeriksakannya. Air ketuban sudah hampir kering. Harus operasi. liat. Pergi ke kamar bayi jauh dari ibunya. saya khawatir tidak bisa langsung apalagi suster. Untuk keperluan sehari-hari saja pas-pasan. majikan. Sembilan bulan sudah. masih harus menunggu dua pembukaan lagi. Tapi… muda.” kata ayahnya. Saya ingin protes. Tapi saya ngotot persalinan alami.Air Jenar Mahesa Ayu Air putih kental itu saya terima di dalam tubuh saya. Lewati mual tiap kali mencium bau parfum keluaran baru eternity. sudah satu bulan setengah usia janinnya. Membayar pembantu. “Robek saja.” Saya akan menjaganya Air hangat itu membasuh kulit tubuhnya yang bening. Pun mulai membukit perut saya. Menerima. Rasa takut seketika membuncah. Kepala saya pening. Masih tak percaya. Ada perubahan di tubuh saya selanjutnya. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga keluar mendesak celana dalam yang tak kuat membendungnya. Rasa mual merajalela. Suara tangisnya seisi ruangan melengking. Memikirkan itu tenggorokan saya jadi ikut kering. tapi perutmu sudah kelihatan tambah besar.

ketika suster itu berkata. Saya akan menjaganya. Jika saat itu tiba. Tak menunggu saya pulang. dan sekolah akan pulang. Baru akan dimulai merekam adegan. Saya hanya bisa berjanji dalam hati. lagi. Air putih cair itu keluar berupa jentik-jentik yang ajaib di ke dua puting saya. Payudara sudah terasa “Benar Ibu sudah siap?” Saya akan menjaganya Air mata meleleh di pipinya. Tetap Hanya cukup untuk makan sekadar. “Capek ah nunggu. yang semakin hari harganya semakin tinggi menjulang. . Tapi tidak mudah memberikan sejuta taman bermain milik raja pop Michael Jackson yang tengah bangkrut. membayar listrik. Lampu-lampu besar seperti makhluk pemeras keringat yang tak berperikemanusiaan. Air susu saya sudah sarat. Tapi kepala saya masih dipenuhi pikiran. aku udah mau tidur!” semprotnya. Sekarang kami sedari tadi memijat payudara saya terlihat puas. itu? Saya begitu tak sabar menunggu. Tetap akan pulang. Dan harapan. Menyeruput pinacolada di Hawaii sambil menyaksikan tarian bora-bora. setelah ini tak akan ada yang memisahkan kami akan membawanya ke kamar bayi. Tak ada yang mungkin saya lakukan untuk menjangkaunya sekarang. Apakah makhluk kecil yang sudah beranjak remaja itu sudah makan? Apakah ia kesepian? Ingin menelepon tapi sutradara memberi instruksi jika ponsel mutlak dimatikan. Berusaha memberikan pengertian. Tetap menunggu saya pulang. kontrakan. Di mana makhluk mungil menyusu. Saya sudah tidak butuh rehat.” Saya akan menjaganya. Saya harus segera menghayati peran. Air asin itu mendarat di bibir saya lagi. Saya tetap akan pergi. Apalagi jika harapan-harapan itu kerap diulang-ulang dan tak pernah mewujud jadi kenyataan.bisa. Berusaha memberikan rasa aman. air. “Ibu butuh istirahat untuk mempersiapkan ASI. Dan saya tetap akan pergi. Begitu ingin segera menimang dan menatapnya berat. Suster yang Selama sembilan bulan setiap harinya saya sudah memijat payudara saya dengan minyak kelapa. Padahal saya sudah begitu Atau jangan-jangan di rumah ia sedang asyik masyuk pacaran? Saya menjadi ketakutan. Harapan akan segera pulang membawa uang. kami akan menjelajah dunia. kalau ia mau. tak ingin begitu saja melepas kepergian saya. Harapan akan segera pulang. Penuh dengan air susu yang sebentar lagi akan ada pengisapnya. Lucu. Cukup lama saya harus menenangkannya. Membeli apa pun yang harapan. Tidak terlalu sulit mengeluarkannya. Bermain dengan penguin-penguin di Cape Town selatan Afrika. Karena sudah beribu-ribu kali saya hanya pulang membawa sedikit uang. telepon. Mengunjungi semua Disneyland di tiap negara yang memilikinya. Harapan akan segera pulang membawa uang untuk suatu hari nanti tak perlu pergi kerja dan tinggal angkat kaki ongkang-ongkang. saya akan membeli rumah berikut ia inginkan semudah orang membuang kentut. Ia akan tetap tak membiarkan saya pergi. sekarang ke dua payudara kecil ini pun gemuk membungkah seperti kelapa. Ia membiarkan saya pergi. Kalau perlu. Sudah jam delapan.

igau saya.harus terhambat kemacetan. Seperti saya Saya kembali ke kamarnya. “Action!” teriak sutradara. Saya jentikkan kelingking di pipinya yang bening. Menunggu. Melayang bersamanya menikmati indahnya kelap kelip lampu dan penderitaan. Entah ia sudah teler dan lupa sebagai manusia yang merasa disia-siakan. Ada puisi di dalamnya. Duduk di samping tempat tidurnya dan memerhatikannya yang saya ambil dan buka. Lampaui semua luka ingin cepat-cepat menjangkaunya dan terbang pulang. Menunggu. Menunggu. Lantas meronta. persis seperti ketika ia baru lahir dengan kedua mata yang masih lengket. Apakah yang sudah saya lakukan? Atau justru apakah tertidur dengan amat tenang. sudah kembali pulas tidur. Ternyata datang dari tubuhnya yang berbalut cahaya menengok ke arah ujung lorong yang berlawanan. Ada buku di sampingnya menarik perhatian saya. Saya kecup kedua matanya yang merapat. Air jernih di dalam gelas yang dulu ada di atas meja samping tempat tidurnya. Tidak membiarkan air putih kental itu lengket di indung telur hingga tumbuh menjadi janin yang kini terlahir bertemu dengan ayahnya yang dengan mudahnya lepas tangan. kini telah berganti dengan air berbusa kekuning-kuningan. Kadang saya juga ingin melayang jauh ke masa lampau. Yang sudah pasti telah terjadi perubahan yang membuat saya tertekan. Melayang seperti burung tanpa menyimpan. Seperti saya sekarang menunggunya dengan ilusi dirinya berkilauan merentangkan tangan atau terkulai lemah membutuhkan pegangan setelah menemukan mulut saya berbusa akibat menenggak obat penenang. Tapi ia menggeliat. Entah disengaja untuk menarik perhatian. Lampaui semua beban. Siap menerima saya dalam pelukan bahagia. Saya Ada cahaya di ujung lorong. kemilau dengan tangan terbuka. “Bangsaaaaaaaat!” Saya tak kuasa menjaganya Air kuning kental itu meluap dari mulut saya. Melayang lebih jauh lagi ke masa lampau. Saya akan menjaganya. Satu saat nanti ia kembali. menghalau saya supaya tak dekatdekat. Harusnya seratus pil seperti yang dikonsumsi Maryln Monroe hingga ajal menjemputnya. Menunggu. Lima puluh pil penenang saya tenggak. Ada kegelapan. menunggu emosi saya pergi. Di gelas itu berdiri sebotol bir merek bintang. Tapi yang tidak saya lakukan? Sudahkah karenanya ia menjadi korban? Di balik selimutnya ia lebih pasti lagi ia tak kurang tertekan. Menunggu. Tak jalan seperti dongeng anak-anak Peter Pan. Pelan-pelan . Seperti sekarang saya sekarang menunggu satu saat nanti ia mengerti. Seperti semasa ia balita menunggu saya pulang selepas kerja membawa sedikit uang dan satu kantung plastik berisi sepatu baru. igau saya. Ternyata datang dari tubuhnya yang sama sekali tak berbalut cahaya kecuali melulu kegelapan dan Seperti semasa ia bayi menunggu saya membersihkan puting payudara sebelum luka. Terkulai lemah seakan menunggu saya menerima ia dalam pelukan saya. Semakin terkumpul segala lelah segala penat. menyerahkan untuknya menyusu. Menunggu kesadaran saya kembali.

Air dapat memelukmu tapi tak akan membelenggumu Air dapat pantulkan cahayamu tapi tak dapat jadikanmu nyata(*) Saya akan menjaganya. Jakarta, 13 Mei 2006 12:24:00 PM Untuk Banyu Bening (*) Cuplikan puisi Air karya Banyu Benin

Saya di Mata
Jenar Mahesa Ayu

Sebagian Orang
Sebagian orang menganggap saya munafik. Sebagian lagi menganggap saya pembual. Sebagian lagi menganggap saya murahan! Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa.

Padahal saya tidak pernah merasa munafik. Tidak pernah merasa membual. Tidak pernah merasa sok gagah. Tidak pernah merasa sakit jiwa. Tidak pernah merasa murahan!

Dan apa yang saya rasa toh tidak membuat mereka berhenti berpikir kalau saya munafik. Berhenti berpikir kalau saya pembual. Berhenti berpikir kalau saya sok gagah. Berhenti berpikir kalau saya sakit jiwa. Berhenti berpikir kalau saya murahan!

saya tidak membual. Kalau saya tidak sok gagah. Kalau saya tidak sakit jiwa. Kalau saya tidak murahan! Tapi penjelasan saya malah semakin membuat mereka yakin kalau saya munafik. Yakin saya murahan!

Sementara saya sudah berusaha mati-matian menjelaskan kalau saya tidak munafik. Kalau

kalau saya pembual. Yakin kalau saya sok gagah. Yakin kalau saya sakit jiwa. Yakin kalau

Maka inilah saya, yang tidak munafik. Yang tidak membual. Yang tidak sok gagah. Yang tidak sakit jiwa. Yang tidak murahan!

Walau sebagian orang tetap menganggap saya munafik. Menganggap saya pembual.

Menganggap saya sok gagah. Menganggap saya sakit jiwa. Menganggap saya murahan! Saya katakan ke banyak orang kalau saya tidak punya pacar. Saya tidak punya kemampuan sekali teman. Ada teman yang setiap pagi menyiapkan air hangat untuk mandi. Ada teman

untuk mencintai seseorang. Tapi bukan berarti saya tidak punya teman. Saya punya banyak makan siang ketika rehat kantor. Ada teman yang menjemput sepulang kantor. Ada teman yang baik. Mereka semua teman-teman yang bisa diandalkan dalam segala hal dan saya

yang menemani nonton. Ada teman yang menemani clubbing. Mereka semua teman-teman yakin saya pun cukup bisa diandalkan sebagai teman. Bukankah sudah sepatutnya begitu Tapi karena teman mengajak, saya merasa tidak enak untuk menolak. Begitu juga halnya dan tidur. Tapi jika ada teman yang mengajak nonton, rasanya saya tidak tega menolak apalagi ia sudah khusus jauh- jauh menjemput ke kantor. Maka saya akan mengiyakan

dalam hubungan pertemanan? Buktinya tidak jarang sebenarnya saya malas makan siang. dengan nonton atau clubbing. Pulang kantor saya sering kelelahan. Inginnya lekas pulang

walaupun belum tentu saya suka dengan film yang kami tonton. Pada saat kami nonton,

tidak jarang pula ponsel saya berdering. Andaikan tidak saya angkat karena tidak sopan menerima telepon di dalam bioskop, tetap saja mereka bisa meninggalkan pesan SMS. saya ingin menerima ajakan mereka. Tapi bagi saya itulah konsekuensi pertemanan. Biasanya minta ditemani ke disko atau sekadar nongkrong di kafe. Sungguh, tidak selalu Apalagi, sekali lagi, mereka adalah teman-teman yang baik. Yang setia menyiapkan air

hangat untuk mandi setiap pagi. Yang setia menemani makan siang. Yang setia menjemput pulang kantor. Yang setia menemani ke disko atau kafe. Yang setia memberikan perhatian dan waktu kapan pun saya butuhkan, walaupun mungkin mereka tidak selalu ingin saya rasakan. mengiyakan, walaupun mungkin mereka sedang kelelahan, sama seperti apa yang sering

Kepada merekalah saya sering menumpahkan segenap perasaan. Kepada merekalah saya

meminta bantuan. Tidak hanya sebatas perhatian dan waktu, tapi juga dari segi finansial.

Kalau saya butuh uang, saya bilang. Kalau saya mau ganti ponsel model terbaru, saya beri tahu. Kalau saya bosan mobil van dan ingin ganti sedan, saya pesan. Padahal karena akan selalu ada yang menjemput dan mengantar, mobil jarang sekali saya gunakan. Kalau saya dapat undangan pesta dan perlu gaun malam lengkap dengan perhiasan, saya utarakan. Kenapa harus sungkan? Toh saya tidak memaksa. Toh mereka ikhlas. Dan yang paling penting adalah mereka memang mampu mengabulkan apa yang saya minta. Saya tidak

paksa mereka khusus menabung untuk saya apalagi sampai suruh mereka merampok bank. saya. Kalau sekali-sekali harus jebol tabungan atau terpaksa mencairkan deposito Saya juga teman yang baik. Saya tidak mau mereka susah hati karena tuntutan-tuntutan

bolehlah… yang penting dananya memang ada. Itu pun bukan masalah yang harus saya besar-besarkan. Bukan sesuatu yang layak untuk membuat saya terharu. Apalagi jatuh cinta?! Saya harus garis bawahi bahwa saya tidak memaksa. Apalagi saya sangat tahu, sangat sadar kalau jumlah dana yang dikeluarkan hanya sepersekian persen dari

keseluruhan harta mereka. Coba bayangkan, kurang pengertian apa saya sebagai teman? Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, tidak jarang saya harus mengorbankan waktu dan tenaga untuk mereka. Mungkin lebih tepat jika saya menggunakan kata

merelakan ketimbang mengorbankan. Walaupun saya agak terganggu, tapi saya rela. Saya Menikmati tiap detail manis yang kami alami. Makan malam di bawah kucuran sinar

melakukannya karena saya mau, bukan karena paksaan. Saya menikmati kebersamaan kami. rembulan dan keredap lilin di atas meja. Percakapan yang mengasyikkan penuh canda dan yang berlanjut dengan ciuman panas membara lantas berakhir dengan rapat tubuh kami

tawa. Sentuhan halus di rambut saya. Kecupan mesra di ke dua mata, hidung, pipi, dan bibir yang basah berkeringat di atas tempat tidur kamar hotel, di dalam mobil, di taman hotel, di yang begitu melelahkan sekaligus menyenangkan. Saat-saat yang selalu membuat jantung saya berdegup lebih kencang dari biasanya. Saat-saat yang selalu membuat aliran darah

toilet umum, di dalam elevator, di atas meja kantor, atau di dalam kamar karaoke. Saat-saat

saya menderas dan naik ke atas kepala. Saat-saat yang selalu membuat saya pulas tertidur

dan mendengkur. Saat-saat yang tidak pantas untuk tidak membuat saya merasa bersyukur.

Namun dari sanalah segalanya berpangkal. Semua yang saya lakukan itu dianggap tidak

benar. Sebagian orang menganggap saya munafik karena tidak pernah mengakui kalau saya punya pacar. Sebagian lagi menganggap saya pembual setiap kali saya bilang hubungan

bertahun-tahun. Biasanya itu disebabkan karena hubungan mereka yang sembunyi-sembunyi dengan si A ketahuan oleh si B.minggu. Saling bertanya apakah sudah punya pasangan tetap. atau masih melajang. pembual.hal seperti ini yang sering tidak saya temukan pada saling berbagi cerita walaupun jarang. saya tidak pernah akal-akalan. Dan karena saya tetap bilang kalau kami benar-benar berteman. Sebagian lagi menganggap saya sakit dari teman-teman yang tidak ingin berbagi dan pada akhirnya hubungan kami harus Saya tidak bisa mungkiri banyak dari teman-teman yang akhirnya mempertanyakan. Yang berubah keterbukaan. Mereka sembunyi. sakit jiwa.jam. sok gagah. Di pertokoan. Mereka saling berbisik dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diterjemahkan. maka mulai dari apakah ada pernak-pernik baru yang saya pakai. berbulan-bulan. Mereka bergunjing lewat Mereka saling bertukar pendapat di kafe-kafe. atau murahan itu. Perbuatan yang saya lebih tahu dibanding diri saya sendiri. Sebagian lagi menganggap saya murahan! pembual. Tapi jika ke dua sisi itu tidak ada yang memenuhi standar pergunjingan. pendapatnya masing-masing dan lebih luar biasa lagi mereka bisa membahas perihal saya telepon. Sebagian lagi menganggap saya jiwa.teman saya semakin banyak. Sebagian dari mereka malah sering saya dapati tidak lagi bertegur sapa sama sekali dengan teman lamanya. restoran. Di rumah. Sebagian percintaan bahkan bisa dalam satu hari dengan orang yang berlainan. Jika teman saya uang. Mereka saling bertukar pesan lewat SMS.sembunyi bermain mata. Semua orang merasa sementara teman. Sehingga jika hanyalah kami sudah tidak saling melenguh dan mencabik di atas ranjang. Mereka saling mengirim surat elektronik. Sebagian orang menganggap saya munafik. hingga jenis dikaitkannyalah dengan seberapa dahsyat kehebatannya di atas ranjang. Kebanyakan berkisar pada seberapa indah kami berdua dari ujung rambut hingga ujung kaki seperti serigala kelaparan. sebetulnya tidak sepenuhnya benar.kami hanya sebatas pertemanan. Banyak terakhiri. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah karena mereka berpikir saya tidak mau mengakui kalau sebenarnya saya mencintai seseorang. Sebagian lagi menganggap saya murahan karena saya bisa ditiduri tanpa harus ada komitmen lagi menganggap saya sakit jiwa karena berteman dengan begitu banyak orang. Apalagi jika secara kebetulan kami bertemu dalam satu kesempatan dengan bertukar senyum. perdebatan pun dimulai dan mereka saling membuktikan pendapat siapa yang paling benar. Pandangan mereka menyapu bersih membawa teman baru. kantong belanja. silih berganti tanpa henti dan ini membuat mereka punya materi yang lebih dari cukup untuk terus mempergunjingkan saya seolah tidak ada hal lain yang lebih pantas untuk diangkat sebagai tema. berminggu. Kadang ada satu dua kalimat yang terdengar dan sudah cukup bagi saya dan seberapa tebal kantong teman yang saya bawa. Saya tidak pernah membohongi. berhari-hari. maka dikaitkannyalah dengan seberapa besar saya menguras mereka dengan teori cinta-cintaan. Di ini berjam. Setelah putus dengan si B ternyata . Jika teman saya kelihatan indah. Tapi tidak satu pun dari mereka yang mendendam karena saya menjunjung tinggi dibilang hubungan kami berakhir. Tapi kami masih menikah. Pembicaraan mendadak berhenti. Menyeleksi kartu kredit saat membayar bon tagihan makan. mulailah kelihatan berkantong tebal. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Mereka sembunyi-sembunyi mengirim pesan SMS. Di kantor. Hal. sebagian orang yang menanggap saya munafik. Mereka sembunyi-sembunyi untuk merangkumnya utuh menjadi satu bagian. Beberapa bagian dari mereka itu sibuk dengan jalani dengan penuh kewajaran tiba-tiba berubah menjadi perdebatan.

Bercerita tentang film yang baru saja diputar. Malam-malam panjang. pembual. darah saya berdesir dan mengisyaratkan satu kenikmatan. Kadang saya juga mengalami kesulitan dalam satu hubungan. Saya hanya heran. terima karena saya munafik. jalan. Menganggap saya pembual. Murahan! Jakarta. Membuat Kontraksi dahsyat di tengah selangkangan. ketika saya positif mengidap HIV ternyata saya masih punya banyak teman yang setia menyiapkan air tentang sebuah peristiwa lucu di satu kafe. Reaksi yang membuat waktu berjalan bagai tak berujung pangkal. Yang nyatanya berakhir dengan rasa mual. Alangkah sayangnya sebuah hubungan yang menempuh berbagai aral rintangan itu akhirnya harus kandas di tengah heran. Sakit jiwa. ketika sebagian orang sibuk bergunjing atas akibat yang saya . Mungkin jika bukan karena saya tergeletak tak berdaya dan diperlakukan bagai anjing kusta saya hampir beralih dari apa yang selama ini saya percayai dan nikmati dengan hati lapang. Mengirim makan siang. Mungkin jika bukan karena penyakit yang datang tanpa bisa saya larang tidak saya idap sekarang. Pembual. Sebagian orang menamakan kejadian-kejadian seperti itu sebagai moral. 20 Agustus 2003 11:35:54 PM hangat untuk bilas badan. Dan saat itulah alarm dalam tubuh saya mengisyaratkan segala rencana kencan lanjutan mutlak batal. Menganggap saya sakit jiwa. Mendongeng membayar ongkos perawatan. sakit jiwa. Seleksi alam yang akhirnya menjawab apakah kami akhirnya bisa tidak atau Menganggap saya sok gagah. sok gagah. Sementara buat saya kejadian-kejadian seperti itu hanyalah semata-mata proses cinta semalam. saya hampir percaya pada pendapat sebagian orang yang tiap bagiannya menyatu menjadi satu pendapat utuh bahwa tindakan saya menyimpang. Sok gagah. Tapi walaupun saya Beberapa kali saya bertemu dengan tubuh-tubuh indah yang membuat mata silau. Karena. Ereksi yang tidak lama kekal. Sebagian orang merasa kejadian-kejadian seperti itu bertentangan dengan pengenalan.ketahuan pulalah si A berteman dengan perempuan lain. atau murahan. saya tetap tidak berani menganggap mereka munafik. Tapi saya tetap menghargai sebuah pilihan. Tapi tetap orang menganggap saya munafik. Menemani makan malam. Menganggap saya murahan! lanjut berteman.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->