Gelap, gelap sekali

Aba Marjani Gelap di luar dan hening di dalam. Dengus napas istriku teratur. Lampu tempel sudah menarik selimut melewati dada. Sesekali suara burung malam terdengar di kejauhan. kumatikan. Hanya dingin malam yang menyeruak dari celah dinding bambu membuat aku Barangkali burung hantu yang mencari mangsa, berpindah-pindah dari satu arah ke arah

lain. Tanah huma di pinggir hutan mungkin mengubah kawasan hunian binatang sekitar.

Aku sulit memejamkan mata karena nyamuk kecil yang sering mendengung dengan bunyi yang nyaring, sesekali nyamuk itu menerkam kuping. Malam semakin larut ketika merasakan ada sesuatu yang mengusik gelapnya malam. Beberapa rumah panggung

terdapat di desa yang baru kami bangun, sekitar setahun yang lalu, tanah garapan baru. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya kira-kira lima puluh meter. Gemerisik sesuatu antara belukar semakin mengganggu ketika terdengar ketukan di rumah tetangga. Derap kaki bersepatu berat semakin jelas terdengar disusul dengan gedoran. Ada teriakan kasar. Aku mengintip dari celah dinding, tetapi tidak ada sesuatu yang tampak. Gelap Ada pukulan yang keras membuat teriakan lenyap. Sunyi malam mendekap.

malam memeluk rahasia malam. Teriakan terdengar ketika langkah kaki itu agak menjauh.

Ia membuka matanya dan menggosok kelopak matanya, lalu menjawab, ”Sayup-sayup. Seolah-olah ada sesuatu yang terjadi.”

Kugoyang-goyang tubuh istriku sambil berbisik, ”Kau dengar suara-suara ribut itu?”

”Apa, ya?” kataku seolah-olah berkata kepada diri sendiri. Beberapa menit kami tenggelam dalam hening. Sepanjang malam kami tidak dapat tidur, tak juga berani berbicara atau menduga-duga apa yang terjadi. Rasanya malam merangkak amat lama. Subuh, ada tangisan dari arah tetangga sebelah. Ketika ayam berkokok, aku memberanikan diri turun tangga rumah, dan bergegas ke rumah sebelah.

Beberapa orang tetangga lain sudah ada di situ. Aku bergabung dengan mereka. ”Ada apa?” kataku. Seorang kepala dusun yang kami angkat sendiri malah balik bertanya, ”Tidakkah Saudara dengar peristiwa tadi dalam?”

”Ya, kudengar langkah kaki, gedoran dan orang berteriak karena dipukul. Aku tidak berani keluar. Sepanjang malam aku dilanda rasa takut,” kataku.

Tarmin, kepala dusun itu, kemudian berkata, ”Suami ibu ini tadi malam diculik orang, juga Turman yang tinggal di ujung dusun.” ”Oleh siapa?” tanyaku. ”Belum tahu.” Tangis ibu Saleh tak henti- henti. Kepala dusun pagi sekali menghubungi ketiga belas keluarga yang tinggal di perhumaan itu. hilang pada malam itu. Saleh dan Turman. Saleh si pendiam namun mudah menolong orang. Turman si pemberani yang mendorong kami memulai menggarap tanah di pinggir hutan itu. Menurut kami, kedua orang itu adalah teladan dalam segala hal. Kami berkumpul di rumahnya. Yang hadir hanya sebelas kepala keluarga. Dua orang yang

Kurang lebih setahun sebelumnya, kami membuka ladang baru, tanah huma. Jauh dari

kampung halaman kami. Jarak kampung halaman kami lebih seratus kilometer, dan untuk sementara kami meninggalkan anak-anak bersama kakek-nenek di tanah leluhur yang sudah sesak penduduk.

Sebagai ladang baru, hasilnya lumayan. Tanah huma membuat tanaman subur, pada panen pertama tentunya. Kami memasuki tahun kedua dalam suasana dusun yang tenang. Rasa persahabatan dan kekeluargaan lebih menonjol daripada sikap bersaing. Kami mengalami

nasib yang sama di tanah leluhur yang semakin sempit karena pertambahan penduduk. Rasa persaudaraan yang tinggi terbentuk karena penderitaan yang sama, dan memiliki harapan yang sama. Mengubah nasib. Walaupun di ladang yang sangat bergantung kepada kemurahan alam, hujan.

Pertemuan hari itu sarat dengan usul cara menjaga keamanan dusun. ”Tapi penculikan ini, melihat dari jejak kaki,” kata Sahir, ”rasanya adalah jejak kaki orang bersenjata api.”

Yang lain-lain terdiam. ”Jangan-jangan ketika kita jaga malam, justru dengan lebih mudah diculik satu demi satu,” katanya melanjutkan.

Seminggu kemudian, dalam kantuk yang penat, menjelang subuh aku tertidur lelap. Baru didobrak dari luar. Dalam sekejap beberapa sosok tubuh merangsek ke dalam membuat jerembab. Beberapa tangan yang kokoh menarik kedua tangan dan kakiku. Aku diseret belakang. Mulutku dibekap dengan sepotong kain. Dalam gigitan malam yang dingin

saja beberapa menit terlelap, aku mendengar pintu digedor dan tiba-tiba menganga karena

istriku tiba- tiba menjerit. Tamparan di mukanya membuatnya terhuyung dan diam dalam

dalam kegelapan malam. Mereka menggelandang tubuhku dan mengikat kedua tanganku ke menyengat, mereka melemparkan tubuhku ke dalam sebuah truk yang menunggu di tepi bersentuhan dengan kakiku.

jalan. Aku merintih kesakitan. Kutahu ada orang lain di dalam truk itu karena kaki mereka

Sebelum kabut meninggalkan malam, truk berhenti di sebuah tempat. Kudengar suara-

suara orang yang berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti. Aku diturunkan dari truk antara mereka yang kukenal.

bersama sembilan orang lainnya yang tampaknya senasib denganku. Tidak seorang pun dari

Kami digiring ke sebuah rumah gedung tua yang tampak kokoh dari luar. Ada penjaga

bersenjata di segala sudut. Di sebuah ruangan satu demi satu kami diempaskan ke lantai. siang seorang berwajah garang duduk di belakang meja reyot, dan kami duduk di kursi rotan di hadapannya. Satu demi satu kami ditanyai: nama, keluarga, alamat, asal-usul, jenis pertanyaan yang aku sendiri tidak mengerti.

Ikatan tangan kami dilepaskan satu demi satu. Nyeri rasa luka di bekas ikatan itu. Menjelang

pekerjaan, sejak kapan masuk organisasi politik, siapa pemimpinnya, dan macam-macam

Sore itu perut diisi dengan beberapa potong ubi rebus. Tengah malam, ketika perut masih keroncongan, namaku dipanggil dari kamar berukuran tiga kali empat meter yang dihuni dua belas orang. Aku berdiri dan menuju ke sebuah ruangan. Dari ruangan lain kudengar ia tuduh aku masuk gerakan tutup mulut (GTM). Ia lalu berdiri di belakangku dan lehermu!”

jeritan orang dipukul. Aku duduk dan tidak dapat menjawab pertanyaan interogator itu. Lalu memegang dagu dan kepalaku, mencoba memutar leherku. ”Jawab! Atau kupatahkan

Aku diam saja. Kemudian ia melepaskan kedua tangannya, tapi menohok punggungku membuat aku jatuh pingsan. Ketika aku tersadar, aku sudah berada di tengah-tengah kawan seselku. Mereka mengoles punggungku dengan minyak kelapa. Aku belum mampu sedikit melegakan rasa sakitku.

memusatkan pikiran untuk mendengar apa yang dikatakan mereka. Jamahan tangan mereka

hampir semua lelaki di dusunku sudah ”diangkat” dan kaum perempuan melarikan diri ke kembali, diganti dengan tahanan baru, sampai pada akhirnya aku sendiri pun dipanggil bersama beberapa orang yang dahulu ditangkap bersamaku. orang tua mereka masing-masing. Beberapa kawan seselku ”pergi” dan tidak pernah

Sebulan kemudian aku mendengar secara sembunyi-sembunyi dari sesama tahanan bahwa

Menurut pengawal yang melemparkan kami ke dalam truk, kami akan dipindahkan ke

tempat yang lebih nyaman, tenteram, pembebasan. Karena ia mengatakannya dengan

senyuman dengan mata mengejek, yakinlah aku bahwa inilah hari akhir dalam kehidupanku. bagai paku tipis yang karatan mungkinkah dibebaskan ke tempat yang nyaman dan Wajah anak- anakku, istriku, melintas silih berganti di benakku. Tubuh-tubuh yang kurus

tenteram? Aku tidak tahu dosa apa yang membuat aku harus mengalami derita seperti ini. keluar dari mulutku. Pernah aku berpapasan dengan seorang interogator yang rasanya

Sampai bulan-bulan terakhir aku hendak di-”bebaskan” tidak ada pengakuan apa pun yang

pernah kukenal dan memalingkan wajah daripadaku ketika sekilas bertatap mata. Diakah orang ingin mencari selamat sendiri.

biang keladi dari derita lelaki dari dusunku? Ah, tidak berani aku berburuk sangka. Semua

banting tulang memberi makan mereka. menyusuri tepi sungai dengan Dengan pakaian yang basah-kuyup dan langkah yang goyah. kemudian tali dari kaki. istriku dalam kesetiaannya harus Tiba-tiba hatiku menjerit. Dalam kepergian malam. menyaksikan celah antara kegelapan dan remang-remang malam. Tidak jauh dari sana ada durian belanda. Gelap dalam pertanyaan yang tak kunjung berjawab. Dalam detik yang sama aku mengalir deras disusul gedebuk tubuh yang terempas ke dalam air. naik! Naik! Naik!” Truk menggelegar memecah kegelapan malam. Gelap dalam sel. Bahasa batin Aku berjalan di barisan paling akhir dari lima belas orang. Berjam-jam aku berjalan dalam keremangan gelap malam. mereka termasuk turunan yang dianggap kutuk bagi bangsa ini. aku dapat sebuah jembatan yang besar dan panjang. Aku memanjatnya. dalam remang gelap. Aku merangkak ke tepi sungai dan mencoba lama semakin hilang. bila monyet pun bisa makan buah pisang monyet. Aku berdiri dan melihat pedang yang dientakkan. Ikatan tangan yang telah kukendurkan dan ikatan tali di kaki yang merenggang membuat aku menyelam lebih mudah bergerak dalam kedalaman dan arus sungai. Tidak ada. Selang beberapa menit membungkuk dan terjun ke dalam sungai. merunduk rendah. anak-anak akan telantar. pastilah manusia pun bisa. Tiba-tiba sekelebat pedang yang terayun suara yang sama bergenta. Dan cap dalam keluarga. aku menyaksikan pedang yang berayun semakin melemah. Pisang monyet. ”Tuhan. Kami semua diturunkan dan berjalan satu demi satu menuju tengah jembatan. Aku tidak tahu di daerah mana aku berada. ”Ayo. Aku menduga. Semuanya gelap gulita! dengan kisah gelap. dan mengambil buah yang ranum. Ada lengkingan dan bunyi kepala ya berdebuk ke dalam sungai yang depan disuruh berhenti di pinggir jembatan. Di dalam alun arus. lindungilah mereka!” Tendangan di pantatku menyadarkan aku. sampai aku mampu berpijak di dasar sungai dan berjalan sambil merangkak menyusuri menambah perihnya goresan tali. di sisi jembatan bagian tengah yang rusak penahannya. aku semakin menepi batu-batu. Aku berterima kasih kepada Tuhan . Orang yang berada di barisan menebas lehernya. Beberapa menit kemudian aku muncul ke permukaan sementara arus terus membawa aku hanyut. Di kejauhan ada deru kendaraan yang semakin keyakinan bahwa lambat atau cepat pasti di sekitar alur sungai ada kampung terpencil. Karena telah terbiasa di dalam kegelapan malam dan siang. yang dapat kutempuh. Buah yang matang tapi ketika kukunyah. dalam sunyi air yang mengalir. Truk berhenti di mulut Berjam-jam kami yang ada di dalam truk diam dalam bahasa hati kami sendiri. aku berjalan sejauh-jauh jarak Matahari mulai muncul di celah gunung. banyak batunya. Kulepaskan ikatan tangan dengan susah-payah. Di tepi sungai ada pisang yang sedang berbuah. Air yang dingin mendengarkan langkah kaki. sampai giliranku pun tiba.benar menjadi warga kegelapan. Kami benar. Bayangan dalam benakku.

Setelah berbulan-bulan. Alam keras membuat mereka hidup. Seorang lelaki tua dan ibu memperkenalkan diri dan memberitahukan tentang diriku yang sebenarnya. menjadi kuli pelabuhan bagi tongkang dan kapal yang merapat malam. Bandung. Kata orang tua itu. Siang hari mendapat informasi mengenai alamat mereka. aku berjalan dan berjalan. yang tergenang dan bening. Rasanya aku berminggu. seorang bekas interogatorku.minggu bersama mereka. Setelah kekuatanku pulih. menyongsong matahari yang terbit. Kedua orang tua itu mengangguk-angguk mengerti. menjual ikan ke seberang. Akan tetapi. kepada anak-anakku. 21 Agustus 2009 . aku Bertahun-tahun aku menjadi kuli pelabuhan atau ikut nelayan pada malam hari. Kukeringkan pakaianku di atas batu dan Di kaki gunung. iklim politik pun berubah. Sesekali aku mencari tahu keberadaan istriku dari orang yang sebahasa denganku. dan mengirimkan upah yang kuperoleh. Malam-malam berbintang. yang sudah berumur membuka pintu. masuk tongkang yang hendak berlayar berbulan- kapan akan berakhir. Ada mata air di situ. Pergi ke laut. dan pelarianku. karena aku bersama bintang di laut dengan pelaut yang tidak peduli pusaran politik. Aku Kukira gubuk itu milik pemilik ladang di situ. Dan di sanalah aku merajut nasibku juga. bahwa bumi ini kaya dengan kemurahan-Nya.mereguk air dari pinggir sungai. Ia terkejut melihatku. sekalipun laut tetap bergelora! Laut mengajariku untuk tabah. di seberang ada laut. Mereka mempersilakan aku sarapan pagi dengan pisang rebus. Kiriman berikutnya tidak dapat kulakukan karena pada suatu hari aku berpapasan dengan cepat-cepat menghilang. tepatnya sebuah lembah yang landai. aku tidak bisa berlama-lama dengan mereka. Aku pun terkejut melihatnya. aku tidur dan malam melaut bersama nelayan. atau kalau musim ombak. Aku membantunya di ladang karena aku jauh lebih muda dari mereka. Kuketuk pintunya. Tanpa Mereka hanya peduli pusaran arus laut. aku menemukan sebuah gubuk. alamat. Dari wajah mereka kulihat rasa terkejut. Sampai berpuluh tahun kemudian. Hari-hari pelarianku yang tidak kutahu Sepuluh tahun? Dari beberapa pelabuhan. Setelah tubuhku pulih betul aku pamit dan mendaki gunung menuju ke tanah seberang. kukirim upahku. Aku bulan di laut. aku menghitungnya.

Di dompetku cuma ada tiga lembar uang lima ribuan. “Punya korek?” ia menyergapku sebelum aku sempat menggeser. Angin berkesiur liar kian kemari. “Mau pulang?” laki-laki itu bertanya. Angin masih berkesiur. “Dulu. laki-laki mengambil bungkus rokok milikku dari saku belakang celana. Atau tiba tiba air bah datang dan menghanyutkan tubuhku seperti sepotong kayu. Kuambil satu. seorang Seorang laki-laki sepantaran aku yang sejak tadi berdiri agak jauh mendekat. Aku bersiaga. petir seperti ini. mungkin aku sudah sampai di rumah. Sebatang rokok siap dinyalakan. Di sebuah kantor.Sukro dan Sukra Oleh Adek Alwi Langit kelam dan senja lebam dalam guyuran hujan lebat. Seharusnya di dua halte berikutnya. mungkin aku sudah duduk sembari ngopi ditemani istriku di sebuah gubuk tempat kami mengontrak selama ini. Aku bersidakep menahan dingin. Khawatir juga kalau-kalau ia ingin mencari kehangatan bersamaku. Setelah menyulut rokoknya. Halilintar bersahut-sahutan tiada henti bagai Pasrah oleh jilatan tempias hujan atau sesekali cipratan air yang dilindas ban-ban mobil.” aku sengaja berbohong. Tubuh terbakar hangus seketika. Kilat menjilat sambungmenyambung seperti ingin membakar langit. Tanpa menoleh ke arahku. Senja makin lebam. Kalau tidak. “Bekerja di mana?” laki laki itu melanjutkan setelah melepas asap rokoknya untuk kesekian kali. Genangan air mulai meninggi. Kedinginan di halte bus senja itu aku merasa benar-benar kecil.” kataku sembari menatap ke jalan. . Dalam badai perempuan yang tidak cantik tapi juga tak bisa disebut jelek. mungkin juga aku sudah berada di tempat tidur bersama istriku. Aku berdehem. “Aku salah turun. Rasa sesal dan kesal menyeruak dalam dadaku. Gosong. Buru-buru kuucapkan terima kasih seraya berpilin-pilin menjadi satu untuk kemudian hilang menyatu dengan putihnya tempias hujan. berikutnya? Kalau tidak melakukan tindakan tolol ini. Sesaat kemudian asap rokok kami sudah itu menyodorkan bungkus rokoknya kepadaku. Kurogoh saku celana sebelah kanan untuk mengambil korek api lalu kuberikan kepadanya. Betapa bodoh dan tololnya aku. Dalam dingin apa saja bisa terjadi di tempat tidur. Ia tak mungkin merampok aku karena tak ada sesuatu pun yang bisa dirampasnya dari aku. Terlintas dalam benakku bagaimana jadinya jika aku disambar petir. Bukankah aku seharusnya turun di dua halte ingin membelah dunia. Hujan masih saja lebat. Agak mletot karena terduduki. Masih tersisa dua batang.

Si bungsu. Seperti hari ini. aku jadi tak bisa tidur. “Kalau mau. hidupnya tak pernah kelihatan susah. seorang wanita. Ia memiliki sebuah mobil juga tak kelihatan susah. Ketika aku akhirnya melangkah meninggalkan halte bus itu. dan dua sepeda motor. Dan hujan tiris. Banyak sekali. menikah dengan seorang juragan beras. Tak ada gunanya. Malah yang paling makmur. “Kenalkan dulu. aku bisa bantu. Tak jelas mengapa ia tertawa. Aku terlalu pengecut untuk melakukan perbuatan penuh risiko itu. Mata dan pipi cekung. Agak kurus. Entah di bagian mana. Laki-laki itu tiba-tiba terbahak.” Tak kuceritakan pertemuan tak terduga dengan Sukra itu kepada istriku. Bagaimana kalau yang punya rumah terbangun? Lalu . Adiknya. Aku kaget. terus terngiang ajakan Sukra. Hidung mancung. Perusahaan hampir pailit karena kelebihan karyawan. macam-macamlah. Tapi itu tidak penting. Kita ambil Karena umumnya orang kaya pun perampok. hidupnyalah yang paling susah.“Tapi aku dipecat.” “Sukro.” kata laki-laki itu kemudian. bekerja di sebuah perusahaan cukup besar. Kerja serabutan. yang hasil korupsi. Uang mereka pun belum tentu uang halal. “Nama kita hampir sama ya.” aku menyebut namaku. Rambut mulai banyak ditumbuhi uban. Aku jadi korban. Apa saja. Ada barang sedikit dari mereka. Agak gondrong. Istriku di sebelahku sudah terlelap. Malamnya. Kami ngobrol hingga senja hilang dan sinar merkuri mulai memunculkan siluet. Kakaknya. Ajakan laki laki itu terus Lagi pula istriku selama ini tak pernah mau tahu apa pekerjaanku. ada yang curang dalam berdagang.” ujarnya seraya menyodorkan tangan. Meski cuma lima belas ribuan. Uang mereka banyak.” katanya getas. Agak tinggi. laki laki. meski dingin menyungkup.” aku.” Setelah itu kami jadi lebih akrab. Suaranya nyaris tak terdengar karena hujan begitu lebat. tak mungkin kulakukan pekerjaan itu. sementara order menurun. Yang penting bisa makan. Aneh juga. perempuan. menikah dengan seorang polisi. Yang penting kau mau bekerja sama. Yang pasti. Sekarang nganggur. “Kita merampok. “Namaku Sukra. pulang membawa uang.” Laki laki itu tertawa kecil. Di antara empat saudaranya. Dalam remang kulihat wajah pasrahnya. Hidupnya Merampok? Ah. Mereka pasti tidak jadi jatuh miskin. Untuk pertama kali aku menoleh ke arah laki-laki itu. Sukra tertawa. Gelisah saja. “Atau tepatnya mungkin kau bisa membantu aku. Kadang-kadang kasihan juga aku melihat wanita ini. Tubuhnya hampir tak berbeda dengan “Kerja apa?” aku bertanya sembari menggaruk-garuk dahi untuk menyembunyikan perasaan gembiraku. “Kita merampok orang kaya. Baginya yang penting aku menggodaku.

misalnya. Bukan jadi pengedar. Sebentar-sebentar aku juga minta istirahat. Kro. Hari itu. Ada ekstasi. Aku diam saja. sampai jengkel karena setiap kali mengangkat pipa yang akan ditancapkan ke Kubilang badanku kurang enak. ganja.” banyak pilihan pekerjaan. Upahmu seratus ribu untuk setiap satu disebutnya nama sebuah hotel tempat di mana aku bisa menemuinya. “Diajak merampok enggak mau. Aku diam saja. Agak berbisik.terjadi perkelahian. aku ada pekerjaan untukmu. Itu kalau kau mau. Sukro. Sudir. Sukra mengakak lagi. “Kalau kau takut merampok. nanti malam. Lalu . “Kalau bukan kita yang melakukannya. teman sekerjaku. perempuan.” “Pekerjaan itu cuma merusak bangsa sendiri. orang lain yang mengambil alih. Kau bisa cari di banyak tempat di Jakarta ini. Ada Selamanya miskin. aku bisa memberimu pekerjaan lainnya. Sukra!” aku membentak. lebih ringan dengan penghasilan yang jauh lebih besar. kalau kau mau. Mereka butuh teman wanita.” Sukra membanting rokoknya. Ini tanpa risiko. “Kalau kau mau. “Untuk apa kau bekerja keras kalau sebenarnya ada pekerjaan lain yang jauh asap rokoknya. Sukra muncul lagi di hari ketiga ketika aku makan siang di sebuah warung Tegal. Sukra mengakak. Jadi maumu apa?” Sukra berkata kepadaku.” “Kesempatan merusak orang lain? Merusak bangsa sendiri?” “Sudahlah kalau kau memang tak tertarik. Lalu aku terluka. Esoknya aku bekerja tanpa gairah. tugasku memasang pompa air. Ia “Oya. selamanya hidupmu susah. atau apa saja yang dibutuhkan konsumen. Mereka mau ke Bali besok sore. Apa salahnya justru kita yang mengambil kesempatan itu. langsung duduk di sebelahku. Kra.” Sukra meneruskan kalimatnya. Tanpa basa-basi kepadaku. jadi pengedar enggak mau.” kata Sukra sembari mengepulkan “Merampok itu bukan pekerjaan ringan. Sama saja.” jawabku sinis. Bukan merampok. Lima turis Jepang. Sukra tiba-tiba muncul lagi ketika aku sedang duduk berteduh dengan seplastik air dingin di tanganku. Semilir angin membelai dan menyejukkanku. Atau bagaimana kalau aku tertangkap warga? Bisa babak belur.” “Jadi apa?” “Aku punya tamu. Bisa kau carikan? Bayarannya besar.” kata Sukra. Bisa juga dibakar massa. ia ikut memesan makanan. perut bumi kulakukan dengan setengah tenaga. “Jadi pengedar. sabu-sabu. Kalau tidak. Lalu beranjak pergi dengan membawa derai tawanya.

setiap pekan kau bisa membawa pulang lebih Buru-buru kutinggalkan Sukra di warung Tegal itu. Nah. dalam banyak dibandingkan apa yang sudah kau peroleh selama ini. “Sudah kubilang setelah dipecat dari sebuah perusahaan. cobalah berpikir sedikit lebih rasional.” katanya meyakinkanku. Terpaksa aku menggeser sedikit. Kro! Mau ke mana kau? Baiklah Tentang apa saja. kalau kau ambil pekerjaan yang kutawarkan ini. Dan muda. Itu beberapa jam saja kau sudah bisa mengantongi uang lima ratus ribu. Tapi.” Sukra memulai serangannya. jadi kunyalakan. Apalagi kalau sedikit kau rawat.” Selepas makan. Menahanku dengan paksa. “Haram? Ya. Untuk hasil yang pasti tak sepadan. Sukra membawaku ke sebuah tempat di bawah pohon mahoni di seberang darinya. “Wajahmu cukup ganteng. Tentang hidup enak dengan jalan pintas. Kini entah apa lagi yang akan ia tembakkan dan cekokkan kepadaku di warung Tegal yang kecil dan pengap itu. Dan mereka pun mungkin pas-pasan. Ia baru akan membiarkan aku pergi setelah mendengar tawarannya. Kurasa pekerjaan ini cocok untukmu. Mendengar celoteh Sukra. Kau hanya bekerja bila tenagamu benar-benar . Sukra tertawa kecil. seorang perempuan setengah baya duduk di sebelah kiriku. Tapi sebaiknya kau dengarkan dulu. Tak enak juga mengepulkan asap rokok di tempat kecil itu dan di sana ada “Sudah lama kau bekerja seperti sekarang?” Sukra memulai lagi percakapan. Berhadap-hadapan. mungkin kau benar. aku lupa. Siapa tahu kau tertarik. Merampok. Ia mengakak seperti biasanya seraya kalau kau tak mau menerima tawaranku. Tapi ia bilang masih ada satu peluang bagiku untuk mengubah hidupku menjadi pun tak apa. “Maaf. Setiap hari kau bekerja keras. Tapi setidaknya kita bisa ngobrol-ngobrol. Jadi. tempat di mana aku bisa menjejalkan makanan ke perutku sampai kenyang hanya dengan uang lima ribuan. Jadi makelar wanita.” sahutku ogah ogahan. Lagi pula.“Itu pekerjaan haram. kau tak perlu bekerja setiap hari atau setiap malam. kau juga berotot.” membutuhkan wanita-wanita penghibur. meraih tanganku.” kataku singkat membuat Sukra tertawa. Apalagi kalau pekerjaanmu bagus.” Dengan perasaan agak jengkel aku terpaksa duduk lagi. Tak begitu berat. Aku cuma terdiam. Sebagai pekerja kasar. Aku sebenarnya ingin buru-buru berpisah lebih baik. Rokok tak seorang perempuan. Setiap pekan aku pasti punya tamu orang asing. Jadi pengedar. “Aku punya tawaran pekerjaan lain yang sangat menyenangkan. “Tenang dulu. Hanya cukup untuk makan. “Kau tolak Di bawah pohon mahoni yang daunnya meneduhkan dan menyejukkan itu kami kemudian duduk berdua di dua buah batu besar. warung Tegal tempat kami barusan makan. Aku mengambil sebatang rokok. Sebelum sempat kunyalakan. Secara fisik kau juga mungkin akan mendapatkan kenikmatan selain juga menerima bayaran yang sangat sepadan. memepet Sukra. Sukro.

Usianya mungkin dua atau tiga tahun lebih tua darimu. aku buru-buru meninggalkan Sukra. Di cermin itu kulihat wajah Sukro. kau juga bisa bekerja untuknya. bisa juga dia mengajakmu ke luar negeri. Tapi gajimu tetap tiap bulan. Lalu kulihat diriku pada cermin di kamarku. Mungkin dua kali seminggu. “Sukro!” Sukra berteriak. kau bisa tetap berkumpul bersama istrimu. Masih terengah- . Tergantung kebutuhannya.dibutuhkan. Kuteguk air putih untuk menenangkan diri. Ia masih membujang. Sukra tertawa. Semua pekerjaan yang saja. Dan. kau bisa ambil klienku yang wanita saja. Aku menggeleng. Aku terbangun. Dan lari. “Aku punya dua klien. Sukra melanjutkan.” Aku masih saja bungkam. sekali. Aku malaikat penolongmu. “Mengapa bukan kau “Kro.” pernah kutawarkan kepadamu itu sudah kulakoni. Tetap belum dapat kutebak ke mana arah bicaranya. Gajimu pun jadi dua kali lipat?? saja yang melakoninya?” “Kedua-duanya pekerjaan haram. Perigi. engah. Mungkin juga seminggu seberapa banyak kau bekerja. “Kau tahu pekerjaan apa yang aku maksud?” Sukra seperti memaksa aku bicara setelah terus-menerus diam mendengarkan. Cantik. Tidak setiap hari juga. Ia menyukai sesama jenis.” berkata begitu. Janda. Sebelum atau sesudah menunaikan tugasmu. Itu “Aku tidak tertarik. Kunyalakan lampu kamar. Yang pertama seorang wanita setengah baya. Tidak tergantung pada Kesepian. Sampai terengah engah. “yang kedua adalah seorang pria. Sukro.” Sebelum aku berkata-kata. Desember 2006 “Ada apa. Ia tak suka wanita. Aku mau menolongmu. Kau bisa bekerja untuknya. “Tunggu!” “Tidak! Tidak! Tidak! Kau setan! Bukan malaikat!” aku berteriak. Atau. Nah. Mas?” istriku mengguncang-guncang tubuhku. Tanpa menoleh.” aku berkata ketus. atau yang pria saja. Tanah Kusir. Kaya. Sekarang aku mau berbagi denganmu. Boleh juga kedua-duanya sekaligus kalau kau mau dan mampu. Kau bahkan tetap menerima gaji andai klienku ini ke luar negeri dan kau tak bekerja dalam sebulan.

suaminya yang minggat. Kadang tampak ganjil . Namun berapa kali mesti kukatakan pada kalian. Seperti malam-malam sebelumnya. ”Aku cuman perlu memberi sedikit kesenangan pada para petugas itu. Aku bisa melihat semua yang hendak petak kontrakannya di pinggiran kota sana. 28 tahun lebih enam hari. Dia lahir saat hujan turun begitu lebat jam sembilan pagi. Juga hari paling nestapa dalam hidupnya yang bakal tiba. Aku bahkan bisa menyentuhnya dengan ujung-ujung jemariku. seperti menyentuh kelembutan sutra yang berkibaran. Aku melihat garis pedih dan hitam. Saat pertama kali melihatnya. juga angin yang pucat kelabu. betapa aku bisa melihat langit yang hijau lembut dan halus seperti permukaan agar-agar. Aku bisa melihat segala yang tidak mampu kau pandang dengan sepasang matamu. dua tahi lalat kecil di punggungnya. Tapi ia hanya tertawa. Aku bisa melihat pepohonan yang ungu. Itulah sebabnya disembunyikannya. dua anaknya yang sakit-sakitan di rumah ”Kenapa mesti takut? Berkali-kali aku kena garuk. Tapi kalian mengatakan aku dusta. kuceritakan pada kalian apa yang kusaksikan. Sementara para pelacur lain berkeliaran sambil cekikikan genit setiap ada laki-laki muncul. Namanya Sebulan setelah melahirkannya. Baiklah. Aku memang tak punya mata.” katanya. butiran hujan yang bening keemasan hingga segalanya jadi tampak megah bekilauan setiap kali ia ditumpahkan. masa lalunya yang penuh kesedihan. dan Mawar. Bilur jejak luka di tubuhnya. bayangbayang yang putih dan memanjang. berdiri menunggu seseorang datang. Sungguh. Aku tahu bagaimana caranya mengatasi. Kuceritakan penglihatanku.Mawar di Tiang Gantungan Oleh: Agus Noer Kuceritakan apa yang kulihat. karena aku buta.” Ia sebenarnya tak terlalu suka bicara. Aku melihatnya di pinggir jalan itu. suaminya. gugusan awan merah muda. olehku yang buta. ia selalu muncul kau menyebutnya pelacur. daun-daunnya yang kemerahan. aku langsung tahu. Ia seperti dikutuk kecantikannya. kakinya jenjang. ibunya gila karena guna-guna istri muda simpanan dengan gaun yang mengundang. tak ada yang tak terlihat aku menyukainya sejak pertama. Bisa kulihat hamparan rumput yang biru bagai beludru. untuk kesekian kali. ia memilih menyendiri.

Siapa yang tahan memandang wajah dengan sepasang liang hitam menganga? Sengaja kubuka kelopak mataku. Bahkan seorang bocah yang tampak manis sengaja diiris telinganya dan dibiarkan jadi borok agar terlihat menyedihkan. bila aku bisa melihat tanpanya?” Lalu mereka menyimpan sepasang mata itu. ia seperti menemukan barang berleleran. Perot. orang-orang lebih suka cepat-cepat memberi uang recehan mereka dan bergegas pergi ketimbang berlamalama bersitatap denganku. kami akan menaruh matamu ini di surga. dan berkata. buat apa aku punya mata. Tapi itu membuatku jadi bisa sering mengajaknya bercakap. ”Biarlah aku tak punya mata saja.” Di rumah itu pengkor. dan ia bergidik ngeri. Tapi kau akan Lalu kukatakan pada malaikat itu. Ada yang gagu. Ia begitu membenciku. Pernah ia cerita tentang pelacur tua yang matanya menjadi buta karena rajasinga. kau bisa menduga.” Lalu aku pun bercerita padanya. Seorang anak tampak begitu idiot dengan air liur kental bacin yang terus tinggal banyak anak-anak yang bagai barang rongsokan. ”Baiklah. ketika aku lahir dan menatap dunia.” ”Kalau begitu. aku menjadi yang paling menyedihkan di antara mereka. Digerogoti kusta.juga melihat sosoknya di jalanan merah remang ini. Kelak. ”Mata ini akan membuatmu jelita. kenapa buta?” Ia sayu menatapku. dan karenanya bisa menghasilkan banyak uang setiap mengemis. Ada yang bongkok. Melihatku yang tak punya mata. . Tentu. Seperti tanah liat yang mulai terbentuk. kemudian menjualku pada seseorang yang langka paling berharga. Kemudian ditunjukkan padaku menderita karenanya. kau akan melihat banyak rahasia. ”Dan kamu.” dan kaki pada tubuhku. mereka bergantian membisikkan nasib yang akan kujalani. Seorang pemulung menemukanku di tempat pembuangan sampah. Kemudian ditiupkan ruhku pada rahim perempuan yang akan menjadi ibuku. Aku tahu. Ia membuangku. ”Aku tak buta. dan tak pernah mau menatapku. diberinya aku degup jantung. kamu bisa kembali mengambilnya. Aku bahkan tak pernah tahu namanya. Aku memang memilih tak punya mata.” Tentu.” ”Bila kau tak punya mata. perempuan itu langsung meraung ketika tahu anaknya tak punya mata. Jileng. Ketika sepasang malaikat membawa ruhku turun dari langit. disematkannya tangan malaikat itu mulai memberiku telinga mulut dan hidung. Seorang anak kedua kakinya menampung para pengemis. ”Anak ini akan membuat ibu siapa pun yang menatapnya. Anak ini akan membuat orang tak sungkan-sungkan melemparkan receh mereka. Aku senang sekali ketika sepasang sepasang mata yang indah.

kau pun takut menatapku. meliuk merunduk. aku rebahan di tumpukan kulihat beberapa pelacur bergegas menyingkir. Aku melihat aroma pekat kecoklatan napas mereka ketika memadamkan sepi dan membangkitkan birahi. dan angin yang buruk seperti kaleng rombeng yang bergerompyangan trotoar. Pandanglah ujung gang yang kelabu itu. Sebagian pelacur telah pergi. Semuanya berlangsung begitu cepat. Ia Aku ingat betul malam itu ia terlihat lebih sedih dan gelisah. ”Kau menyenangkan. kukira memang bukan pemandangan yang menyenangkan. Aku bisa melihat seekor kelabang mendekam di balik batu itu. Aku bisa melihat suara kucing yang mengeong di atap rumah ujung jalan itu. Aku bisa melihat maneken-maneken yang berkedip. betapa setiap suara punya warna yang berbedabeda. Dunia memang tak menuduhku berdusta. Ia terus tertawa. aku bisa melihatnya. Ia bisa kehilangan pelanggan. Itulah sebabnya mereka menjadi lebih mereka barusan menenggak berbotol-botol arak sebelum sampai ke sini. Mungkin tidak. tetapi tetap bersikeras tak mempercayainya. Ia berteduh di kardus memandangi bayangan takdir paling getir. ketika beringas dari biasanya. Caramu bercerita membuatku tak tertalu kesepian. Mobil patroli yang mendadak muncul membuat semuanya kocar-kacir. Mungkin saat itu aku berteriak.” katanya. Di pojokan toko. yang kusaksikan membuatnya terpesona. kemudian yang lembek. Aku tahu menyeringai tertawa. Ia suka setiap aku menceritakan yang kulihat. Lepas 3 dini hari. Seorang memukulku yang mencoba menolong Mawar. Kutegaskan padanya. bahkan aku bisa melihat tawamu yang ungu kebiru-biruan memuai di udara.” Ia kembali tertawa. rambutnya basah tertempias hujan. Aku tahu ia mulai nyaman di dekatku. ”Biarkan! Dia cuma perempuan buta itu!” . ”Lihatlah. Aku bisa melihat lelehan sisa arak di mulut petugas-petugas itu. cahaya seperti lumer di sela jariku. terkurung etalase toko-toko sepanjang jalan ini. Arak yang mengepungnya.” Aku bisa memahami perasaannya. Kau mendengar suara. aku bisa melihatnya mengembang dan mengerut seperti gumpalan kabut.”Lihat. Barangkali ia pun merasakan firasat itu. menggeliat bosan yang menunggu pelanggan dan sentuhan…” Dia tertawa. Aku bisa melihat kota ini seperti bola bekel raksasa Aku bisa melihat menara jam di tengah kota bergumam muram tengah malam. Hujan yang biru pekat membuat jalanan menggigil. ”Bukannya aku tak percaya. Ia pun hendak lari. Aku bahkan nyaris dicekiknya. Tetapi para petugas sudah menabrak-nabrak dinding. tapi tak percaya. tapi petugas yang lain segera berteriak. kalau kau tak punya mata?” ”Aku melihat dengan mata yang tak kau punyai. Tapi dengan apa kau melihat. Aku seperti mendengar lecut petir. aku bisa menyentuhnya dengan tanganku. Seorang pelacur cantik duduk bersama perempuan tua buta. Mereka seperti pelacur-pelacur kesepian Sejak itu aku sering menemaninya. Lalu kukatakan apa yang bakal menimpanya.

Hujan rinai . Sampai sekarang pun kalian masih terus tidaklah mungkin mayat itu lenyap begitu saja. Kalian seketika merasa nyaman karena pembunuh misterius itu telah tertangkap. Kuceritakan apa yang kusaksikan. Siapa yang membawanya? Baiklah. Kalian kebingungan ketika anak-anak kalian bertanya. Wajah Mawar pucat. kalian pun bubar. Memelorotkan pakaiannya dengan paksa. ketika Mawar menjerit. Aku bisa melihat semuanya dengan jelas. Ia hantam kepala seorang pemerkosanya dengan lonjoran besi yang berhasil terkapar… binatang terluka. Rupanya ia mabok berat. Bahkan petugas bisa mengembangkan bukti. Di kantor. Di ruang tunggu rumah sakit. Mawar mereka bawa dan nasihati baik-baik ketika mendadak ia ternyata dialah psikopat yang selama ini mereka cari. Di kasuk-kusuk. Orang-orang ramai membicarakan. Karena bagaimanapun seluruh kota. bercampur erang yang terdengar bagai muncul dari panjang. dan angin yang muram berkesiur pelan membuat Keesokan harinya kalian gempar. Ada bercak darah di pisau itu. tapi mereka. Di tasnya ada beberapa butir pil dan pisau lipat—yang tengah patroli seperti biasa. Ada yang lebih kudus untuk dirayakan. Mereka bilang mereka sengaja ditaruh petugas untuk menjebaknya. melenyapkan maksiat dari kota. Pelacur-pelacur mesti disingkirkan.Dan inilah yang kusaksikan malam itu: Mereka menyeret Mawar yang terus meronta. Pelacur dan pembunuh. Mayat itu lenyap dari tiang gantungan! Di pasar. tapi kalian tak pernah percaya pada saksi mata yang buta. seakan ingin saat itu hari Natal. Melemparkannya ke mobil patroli. Tapi kalian tak ingin terus meneruh disesah kengerian karena malam itu aku pun menyaksikan langit kota yang dipenuhi nyanyian doa kalian. Dan selanjutnya seorang pelanggan yang tak membayarnya. Setelah mayat itu digantung. Membawanya pergi kemudian menyekapnya di gudang. Padahal bukan aku yang dusta. Isak tangis muram menyelubungi gudang itu. Mereka selama ini kalian sahkan. mulutnya. Itu alasan yang cukup untuk kalian tahu sebagaimana diberitakan koran-koran: dikatakan Mawar baru saja membunuh mengamuk. Lalu kusaksikan Mawar mendadak bangkit menyerang sambil menjerit diraihnya. Sunyi yang paling hitam membenamkan penglihatanku yang penuh kepedihan. Peristiwa pemerkosaan itu mereka tutup-tutupi dengan pembunuhan itu. bibirnya bengkak kena pukul. Mereka menyumpal Begitulah kejadiannya. kemudian bergiliran memperkosanya. karena begitulah menurut undang-undang yang baru dicambuk dan dirajam. Kusaksikan senja yang tubuh itu terayun di tiang gantungan. Kalian mesti ke gereja. Maka menghapus bayangan buruk. Maka kalian pun hanya diam ketika Mawar diarak ke alun-alun kota. Ia mengamuk dengan buas. memar. kemudian digantung sebagai tontonan. Segala yang cabul mesti dimusnahkah. Dihunjamkannya berkali-kali besi itu ke tubuh yang seekor cicak kaget menyelusup ke celah dinding. motong delapan korbannya. Begitu nyata dalam penglihatanku. Sampai malam. Sebagian kalian tertunduk. Di pangkalan ojek. burung gagak merah berkaokan. Dan kalian makin merasa tenang karena kalian memang ingin membuatmu jengah karena takut dengannya suami-suami dan anak laki-laki kalian berzina. Di warung dan kafe. Ia pembunuh yang telah memotongmenyeretnya ke tiang gantungan. kuceritakan apa yang telah kusaksikan.

Kudengar kalian Seperti pengantin membopong mempelainya. dan mencium lembut kaki mayat yang tergantung itu. Aku begitu terkesima menyaksikannya. Yogyakarta. Rambutnya ikal dan panjang. memandangi tubuh Mawar yang sisa gema lonceng bagai melekat di udara yang makin menggigilkanku dalam kesedihan. seperti ada cahaya mengitari kepalanya. keemasan yang cemerlang. Saat itu aku melihat ribuan mawar mengapung di udara menyerbakkan harum yang megah. malam mengelabu. Kurasakan debu-debu beterbangan diembus menyayatkan keperihan bersama debu dan dingin yang mulai membaluri kota sementara angin yang makin jekut ketika kesepian makin membentangkan kelengangan yang turun. Ia tiba-tiba melihat seseorang muncul dari ketiadaan. tapi kalian menuduhku pendusta. Langit seakan tiba-tiba benderang penuh cahaya masih menyanyikan doa-doa dan pujian di gereja ketika laki-laki itu membawanya pergi. tampak limbung karena menahan luka di lambungnya. Saat itulah. seperti seseorang yang berjalan melintasi permukaan air. seperti memanggil nama pelacur itu. Kulihat ia bersimpuh di bawah tiang gantungan.tergantung dalam bayangan cahaya murung. meski sesekali Kudengar ia berseru. Kulihat tangan dan kakinya berdarah. anggur lembut yang seketika bisa menghapus dahaga. Ia berjalan mendekati tiang gantungan. Matanya seperti bintang bening. Kuceritakan ini pada kalian. aku Kalian pasti akan langsung tahu siapa dia begitu melihat wajahnya yang bersih dan indah. Senyumnya seperti berjalan anggun. Aku sendirian di alun-alun itu. ketika di gereja kalian memadahkan kidung agung Natal penuh sukacita. kemudian menurunkannya. 2008 .

gelas. sejak tahun 1997. Ada yang memijit. Pak Darkin memergoki Nining ada di antara anak-anak itu dan mencengkeram tangannya dan menggelandangnya. piring. esai. gadis kecil hitam manis tujuh tahun. Nining merasa Di sepetak ruang yang merebut ruang milik pasar itulah. Tapi. ember. saya tak punya kebisaan apa-apa untuk mengajar anak-anak menulis. Ada yang sibuk Darkin memperebutkan Nining dan saya kena swing kepalan kirinya. Saya sebagai tukang sapu bagian kebersihan pasar merasa dituakan Sebagai tukang sapu pasar. anak baik-baik yang tidak betah di rumah lalu mengatur mereka dengan marah-marah. Ibunya. saya hidup. beberapa guru dan mahasiswa datang secara sukarela mengajar anak-anak itu ditulisnya sendiri. meski hanya sebagai ayah tirinya. Polisi itu kembali ke pos ketika saya katakan bahwa kejadian semalam perkelahian biasa. juga cerpen. Nining. Kami menyambutnya dengan sukacita. pengamen. membaca. pengemis. Akhirnya Rumah Kita resmi menjadi tempat mangkal anak-anak Kemudian satu-dua anak datang dan pergi. apa pun yang terjadi.Bengawan Solo Oleh : Danarto Badan saya masih meriang ketika polisi itu datang. Saya yang boleh dikata tak pernah berkelahi begitu saja terkapar. aman dan nyaman. mereka belajar apa saja. Anak-anak mengangkat tubuh saya ke atas dipan. saya berkelahi melawan Pak sadarkan diri. Saya ditemani kompor minyak tanah. Pada suatu malam. anak-anak diminta membaca puisi karangannya sendiri. telah kehilangan Nining yang digelandang Pak Darkin secara paksa kembali ke rumahnya. penghuni Rumah Kita dengan para pedagang di Pasar Kliwon. Saya terjerembab tak mencarikan minuman panas. dan di atas dipan dengan tikar plastik itulah saya bisa beristirahat dengan nyenyak. Rupanya ada yang lapor polisi tentang perkelahian itu. rame- gelandangan. Ketika anak-anak dibawa ke kebun untuk belajar bercocok taman itulah. memang milik Pak Darkin. Untung dinding rumahnya dari anyaman bambu sehingga cukup lentur. menyanyi. dan tidur. rame makan. kami. dengan tersengal-sengal Nining menghambur ke perkumpulan Rumah Kita untuk bersembunyi. Nining sering ditempeleng ketika marah Pak Darkin kumat. pemulung. tidak penting untuk dipersoalkan. sayup terdengar orang-orang sibuk menolong saya. Untung. dan bercocok tanam. Semalam. teko. juga memasak. pura-pura berbenah dengan perabotan dari potongan-potongan sisa-sisa kayu yang sendok garpu. dan sedih. Serta-merta saya menubruk tubuh Pak Darkin dan kami bergumul. Di dalam gerombolan kami itulah. karena peristiwa itu. Ada yang mau memanggil dokter. yang selalu membela putri kandungnya itu. lelah. tindih-menindih. Setiap minggu. Sayup- . karena berbagai alasan. Malam itu. penghuni Rumah Kita jadi rame sekali. sering tubuhnya dilempar sampai membentur dinding. Sehari-harinya saya berserakan di mana-mana. panci. dan menyanyikan lagu yang itu.

tak seorang pun anak yang Darkin duduk di samping sambil terus nyerocos yang tak jelas. Nining tidak bersama kami. Rupanya saya dibawa ke terbangun. Orang-orang itu menaruhkan begitu saja karung-karung itu tanpa ada sepatah pun kata pengantar. kopi. Sayang sekali. Aduh. beberapa ekor daging ayam segar. bahkan digayuti utang di sejumlah warung. Ternyata tidak hanya beras. teh. juga minyak goreng beberapa botol. Pedagang ikan menyumbang ikan. Sesampai di jalan raya. tak ada sisa sama sekali. Anak- sisihkan sarung dan kaus oblong untuknya. Saya digelandang terus. tiba-tiba datang beberapa orang memanggul beberapa karung beras yang diperuntukkan Rumah Kita. kami kami akan bersedih sepanjang masa. Pedagang tak pernah kehabisan. masak rame-rame dengan mengundang siapa saja yang mau makan bersama kami. Tapi. Tak ketinggalan banyak sekali kain sarung. gula. telor beberapa kilo. Aduh. Anak-anak bertanya dari siapa semua sedekah itu.” ”Sontoloyo!” Saya terbatuk-batuk. yang sangat membantu adalah sumbangan para pedagang pasar. Pak Darkin paham lalu mengendorkan cekikannya. Saya sempat kebagian sarung dan kaus oblong. meriahnya. saya bisa membantu mencarinya. saya dinaikkan ke becak. bahagianya. ”Mau kamu saya bikin modar!” ”Sungguh mati saya tak tahu di mana Nining.Gaji saya yang tak seberapa harus cukup cekatan dalam berkelit menghidupi anak-anak itu. Bumbu-bumbu dapur rasanya Di malam yang sunyi ketika anak-anak sudah tidur. Setiap habis gajian. Pagi harinya semua sumbangan itu dibagi rata untuk anak-anak. Sekitar 15 anak setiap hari paling tidak makan dua kali. Pedagang beras menyumbang beras. Hari itu kami anak pengamen memeriahkan pesta hari itu dengan mementil gitar dan menyanyi. ”Saya tidak tahu. ”Kamu sembunyikan Nining di mana!” Saya tak bisa menjawab. Pak . Ia meradang. dan peralatan mandi. Saya tidak tahu dari mana semua sumbangan itu. Saya heran. sayur menyumbang sayur.” ”Bohong!” ”Kalau memang Nining hilang. Syukurlah ada anak yang bisa menyumbang dari pendapatannya mengamen atau memulung. Tapi. kaus oblong. Saya bangun tersentak tak bisa bernapas karena dicekik Pak Darkin yang bisa mulus menyelinap ke gerombolan kami. Saya diseretnya keluar. Satu saat kami harus merebutnya kembali atau Malam yang tenteram tidak selamanya dapat dipertahankan. Bernapas saja sangat sulit.” jawab saya.

kalian akan menangis terus- Sepanjang hayat Kiai Kintir mengasingkan diri. merupakan sumbangan Kiai Kintir. Kiai Kintir alias Kiai Hanyut adalah kiai—tak seorang pun tahu nama aslinya—yang punya kebiasaan menghanyutkan tubuhnya di Bengawan Solo.” suara seorang gadis membisik.” ”Wah. Beliau pernah menyitir sabda Kanjeng Rasul Muhammad SAW menerus sepanjang hidup kalian. membujur kaku bagai jenazah. semakin bertambah banyak orang-orang yang meledeknya dengan pamrih Kiai itu Bahkan yang melecehkannya dikiriminya segepok uang yang dicomotnya dari udara.” ”Sekarang beliau di mana?” ”Sedang bersiap-siap hanyut di Bengawan Solo. Tiba-tiba: ”Pak Totok. semua kiriman beras dan kebutuhan dapur yang mendorong kami bisa berpesta itu. Tidak bergaul. ”Saya menunggu Bapak. Cerita lainnya adalah. Saya sadar.sebuah pekuburan yang gelap gulita. Dua orang yang sigap membekuk tubuh saya.” ”Mengapa kamu di sini?” sergah saya. wartawan elektronik diam-diam mengambil gambarnya. tidak menerima santri. tidak mau diwawancara. ”Dari mana kamu tahu saya di sini?” ”Kiai Kintir baru saja mengantar saya kemari. Beliau tidak peduli atas cemoohan itu karena hidup beliau sehari-harinya sangat serius. ”Saya Nining. Beliau selalu bisa membahagiakan orang. Jika beliau mulai menghanyutkan diri di Bengawan Solo.” jawabnya sambil melepaskan belitan kain kafan dari tubuh saya. tidak mau diundang makan. ketat sekali balutannya. Saya tak bisa bergerak. pernah sejumlah terekam. Itulah jalan spiritualnya. Pokoknya serba tidak. Saya sendiri pernah melihat beliau mencomot uang dari udara dan diberikannya kepada saya. Maka mengiriminya duit. membanting dan membalut dengan kain kafan. ”Kamu harus sumpah pocong!” geram Pak Darkin lalu pergi bersama kedua kawannya. Ternyata wajah beliau tidak . itu pertanda di Solo akan terjadi sesuatu. bahwa seandainya kalian tahu apa yang terjadi di dunia ini. beliau tidak berniat sedikit pun. Sejumlah warga Solo ada yang mengolok-oloknya sebagai Kiai Kenthir alias Kiai Sinting. sedang untuk dirinya sendiri. gawat!” Maka kami berdua bergegas ke Jurug tempat Kiai Kintir biasa memulai kegiatannya menghanyutkan tubuhnya. yang muncul hanya gelap gulita. tidak mengajar.

Tak ada seorang pun yang Kiai Kintir tenggelam. Puluhan orang lainnya berlarian menyingkir dari bantaran sungai. Ratusan orang-orang yang berada di seberang menyeberang Bengawan Solo merasakan air bengawan mulai mencium lutut. andong. Tak terdengar geledek. Dari jauh. Semuanya diam. Tak terjadi gerimis. 17 Maret 2008 Banjir di Pasar Kliwon. cuma air yang berkilau-kilau yang tampak dengan orag-orang yang kebingungan menyelamatkan diri. Sejauh mata memandang. Kiai Kintir cukup meyakinkan sebagai perenang yang kebanyakan mampu diam telentang mengambang. banjir sudah melahap seluruh kota Solo. mengambang hanyut seperti mayat. telentang tenang hanyut semakin menjauh dari pendangan kami. Sampai fajar merekah.Sejak dini hari. ratusan orang dengan obor memenuhi kedua sisi bantaran Bengawan Solo Orang-orang terus bergerak mengikuti tubuh beliau yang dibalut pakaian. Mobil. Sesampai di jalan raya. becak ditinggalkan pemiliknya. Cuaca cerah dengan langit biru seperti undangan untuk keluar rumah menikmati keramaian kota. Tangerang. rasanya orang-orang yang menyaksikan tontonan aneh ini bertambah banyak. hanyut dibawa arus. berucap. diam menyaksikan tubuh Kiai Kintir yang telentang mengambang di sungai. Satu-dua orang penonton motor. Semanggi. Tampak tubuh Kiai Kintir terseret ke tengah bengawan. Saya dan Nining harus waspada supaya tidak kepergok Pak Darkin yang barangkali saja ikut nonton. Jika satu orang pun yang berbicara memberi komentar. Saya tarik Nining untuk menghindar dari bantaran bersama puluhan orang yang kacau berlarian. Solo Baru. Joyontakan . bisa-bisa Hari belum panas benar ketika air Bengawan Solo mulai naik. begitulah kepercayaan yang menyebar yang boleh jadi cuma dibikinbikin oleh orang-orang yang suka mengolok-olok.

Namun. Membuat jantung mereka berdegup Tapi saya selalu merasa malam memberi ketenangan. Saya tidak butuh kacamata matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala. . Kenangan yang memang hanya layak mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-ngacungkan telunjuknya meminta waktu untuk diingat setiap kali malam bergulir. Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia. Membuat mereka tak tenang. Saling menatap seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling sinarnyalah saya mendapatkan siang yang kami habiskan di ranjang-ranjang pondok bertatapan. Mata saya mulai merapat. SuaraTak saya sadari lagi ketika tubuhnya pelan-pelan memisah dan menjauh. di kebutaan seperti itu. Sedemikian dekat sehingga aroma napas si empunya suara itu di akhirnya begitu terang terlihat. namun dengan seketika gerhana mata bekerja. Begitu dekat. Tak terdengar suara ponsel yang mengganggu itu berubah menjadi suara lagu. semakin semuanya Mungkin karena itulah saya begitu membutuhkan cinta. suara-suara begitu jelas terdengar. di atas pembaringan tanpa kekasih yang tak akan hadir. Dan melenguh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling mengeluarkan lenguhan. Saya hanya ingin melihat apa yang ingin saya lihat. Dan hanya ialah yang saya ingin lihat. Tak pernah ada yang berdering tak henti-hentinya. hidung terasa melekat. Seperti malam. Saya tidak perlu menutup semua tirai dan pintu serta menyumbat sela-sela terbuka yang membiarkan cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna. Pada gelap. Saya hanya ingin mendengar apa yang ingin saya dengar. Orang-orang menamakannya cinta buta. Apa pun namanya saya tidak peduli. seperti suara-suara ponsel Di saat-saat seperti itu. semakin gelap. Tubuh kelihatan amat samar. Lembut mendayu-dayu. saya tak perlu meraba-raba. Hampir menyerupai pasar malam yang ingar bingar namun tanpa penerangan. Apakah benar masih ada hari esok. sang kekasih bak lentera benderang dalam kegulitaan pandangan mata saya. waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi di hari esok. Banyak orang yang begitu takut pada malam. Tak pernah merasa tak tenang. Dari penginapan. Sehingga saya tak pernah merasa ketakutan. Membuat mereka rela menukar ketidaktenangan itu dengan harga listrik walaupun harganya semakin tinggi menjulang. Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika butalah mata saya. kita seolah buta dan mau tak mau harus meraba-raba. Semakin gelap semakin ramai. Atau apakah masih perlu akan hari esok. Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata. hanyalah kegelapan. Pada sesuatu yang membuat mata lebih kencang. Cinta pun membutakan. Seperti gelap. Sepanjang mata memandang. Banyak kenangan yang begitu mudah dikais dalam ruang-ruang kegelapan. Saling menyentuh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bersentuhan.Gerhana Mata oleh: Jenar Mahesa Ayu Malam selalu memberi ketenangan.

Kalimat di bungkus kondom “ASLI. Gerakan tubuhnya yang sebentar menarik sebentar menghentak. Semakin kabur. Saya terjebak dan berputar-putar pada dua pilihan yang sama. Kala api rindu sudah semalaman memanggang. Saya jatuh cinta. Namun lagi-lagi perasaan ini terasa asli. selalu merasa tak pernah cukup dan ingin mengulanginya kembali. Bertemu kala siang. Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih penting Kami hanya bertemu kala siang. Antara lelah dan lelah. Mata saya pun semakin buta. Kala siang dengan durasi waktu yang amat sempit. saya bilang. pun di dunia ini yang berarti kecuali saya. Di sanalah kami saling menjamu keinginan antara satu dengan yang satu. Andai saja saya bisa mendepak cinta dan menghadirkan logika. mungkin tak akan seperti ini saya tak berdaya. Dan dalam bayang-bayang itulah kami betemu Banyak yang mempertanyakan. Suara yang semakin lama semakin serak. Karena tidak mungkin sesuatu yang asli lahir dari yang tak asli. saya bilang. datang dari diri saya sendiri. Hangat kulitnya yang tak berjarak. melainkan asli. Saya masih kalau ia sedang tidak ingin diganggu dengan alasan penyakit lambungnya tengah kambuh. Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa dari saya. Dan dengan tubuh dan menggelepar atas tubuh yang menyentuh di atas seprai kusut lantas terhenti oleh lain ke dalam selimut saya akan beringsut. Antara pasrah dan pasrah. Juga tak akan ada siang di mana saya meradang . Dicengkeram gerhana. Tak terkecuali pagi. atau malam? Karena buta.suaranya yang sengaja dibuat lirih ketika menjawab panggilan telepon dan mengatakan Saya tetap merasakan tubuhnya melekat. Segala garis maupun dan bersatu. Tak terkecuali malam. Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat terindah untuk sekarat. Dalam kebutaan saya bisa mengadakan apa pun yang Banyak yang tambah mempertanyakan. Kenapa harus buta? Kenapa tidak menggunakan asli? Karena cinta. Bukan kala pagi atau malam hari yang terasa amat panjang dalam penantian dan rindu yang mengimpit. Walaupun kami hanya bertemu kala siang. melihat matanya sedang menatap. lekukan itu selalu diikuti bayang-bayang. SERATUS PERSEN ANTI BOCOR” yang kami robek sebelum bercinta pun asli. saya akan bisa mengulanginya lagi. atau Jantung keras berdetak. Kala segala garis maupun lekukan amat nyata terlihat dengan mata telanjang. saya tidak pernah dapat memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan itu asli. Mungkin malam akan membuat saya takut. Semakin dalam ke muara cinta tubuh ini tercebur. Kenapa saya bertemu hanya kala siang? Kenapa tidak pagi saya inginkan. walaupun di kala pagi dan malam yang tak asli. Kenapa harus menciptakan buta yang tak Terus terang. Kadang saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang dari orang-orang. Membuat saya Saya tahu. Tapi dengan satu konsekuensi. Mungkin suara-suara yang kerap menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. Sehingga saya pun tak dapat memastikan apakah jawaban saya kala pagi dan malam yang tak asli. adalah asli. Dalam cinta saya bisa merasakan segala sesuatunya asli. Bunyi ranjang berderak. mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli. Membuat saya kerap merasa terjepit. Harus mengerti statusnya sebagai laki-laki beristri. bukan kala pagi atau malam hari.

mempersatukan tubuh kami jadi menciut. Bukan kala pagi Enam tahun sudah waktu bergulir. Mungkin… dering panggilan ponsel yang membuat satu-satunya fungsi pada tubuhnya yang Mungkin satu saat nanti ia akan mengalami gerhana mata seperti saya. di jari manis kanan saya telah melingkar Di atas pembaringan tanpa suami yang tetap tak akan hadir. Jakarta. Diganti dengan jawaban. Sejak kemarin. Tak ada jawaban karena cinta membutakan saya. 2 Oktober 2006 11:06 AM cincin dengan namanya terukir. Dalam kegelapan malam kedua mata ini menumpahkan air. Tak ada pertanyaan mengapa hanya bertemu kala siang. Dan kami bisa tinggal dalam satu dunia yang sama. . Tak menunggu kala atau malam. karena cinta telah membutakan kami berdua. Tak bertemu hanya kala siang. Mungkin… pagi dan malam.

Mereka mencari sebuah restoran. Nana menganggap mingguminggu ini buat dia dan keluarga besarnya sangat menyedihkan! Tiga hari yang lampau. Sudah beberapa hari ini dia tidak mau makan. Jadi. “Ma. Mungkin anak itu harus kita konsultasikan ke psikiater. Sesungguhnya. lebih baik kita naik kereta saja. Aku lebih suka menggugurkan anak Tantiana daripada menikahkannya!” Nana mengembuskan nafasnya. dia baru berusia 17 tahun. Aditya (25 tahun ke-30. anaknya. saya sepertinya sudah dapat firasat. memesan jus jeruk dan beberapa makanan kecil.” sampeyan kok belum datang. tahun). sekarang ada di rumah sakit. “Dik. Sebelum terjawab. Aku bosan . yang seksi bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi delayed selama sejam. Tantiana bisa balik sekolah dan meneruskan kehidupan remajanya. Nana melihat Dara. adik bungsunya sambil menangis mengatakan. Nana dan Dara keluar dari kerumunan orang yang mengamuk. Padahal. Seperti dua “Ma. mudah-mudahan volume pekerjaan Kedua perempuan ini bersitatap.” Nana terenyak. Tantiana. Nana menunggu!” meneruskan omongannya. Beberapa hari yang lampau. saya sedang berpikir untuk mengadopsi anak Tantiana setelah dia melahirkan. “Kalau tahu begini. waktu ke toko buku. jam berapa datangnya? Dari tadi. Tantiana mencoba bunuh diri dengan menyilet pergelangan nadinya. adik bungsunya menelepon HP-nya. saya membeli buku nama-nama calon bayi. “Apakah kau sudah merundingkan hal itu dengan Rizal?” “Ma. Adiknya berkata. Setelah itu. “Datanglah bersama Dara.Delayed Ratna Indraswari Ibrahim Sebagai seorang perempuan. kelas dua SMA dan hamilnya dengan teman sekelasnya.” Nana merasa terkunci. kalian berdua kan dokter. “Mbak. “Tante dan Om-mu.” Nana mengatupkan bibirnya.” Dara yang sedang belajar menjadi psikiater mengangguk-anggukkan kepala. positif hamil. Dua minggu yang lampau anak bungsunya. menikah! Mendahului anak sulungnya. sekalipun berprofesi dokter. yang minggu kemarin merayakan ulang Mereka bertemu di bandara ini dan seorang perempuan mengumumkan dengan suaranya sahabat. Alvin. Tantiana menangis terus. Rizal kan cuma teman. Dara. dia menyayangi Rizal dan berharap suatu kali dia bisa panjenengan bulan ini tidak padat sehingga panjenengan bisa menikahkan anak kita dengan Rizal!” berkata kepada adik almarhum suaminya. setiap keputusan hanya ada pada saya.

“Ma. Pastinya mereka menganggap “Maaf. dia tetap mamanya! Atau apakah Dara menjadi miliknya hanya kala dia gadis kecil yang belum pandai memasang pita rambutnya dan merengek-rengek untuk meminta sesuatu. Aku dan ayahmu pernah adikmu yang menikah pada usia itu!” dengan siapa yang kau suka. Bisik-bisik di luar tentang saya memang buruk.” Apalagi.” Dara. kemudian mulai pacaran. Padahal. sebetulnya mereka dua jagat yang berbeda dan tidak pernah bisa bertemu. Apakah yang dihadapannya ini cuma teman seprofesi yang kebetulan serumah? Dan. kau kelihatannya hanya serius dengan pelajaranmu. Dia menikah dan memiliki dua anak yang kau cintai.” Dara tidak menjawab dan Nana merasa harus mengatakan hal ini. Dokter Rizal juga lelaki yang baik. Mereka juga menuduh saya punya kelainan psikologis. saya perempuan yang berat jodoh. Nana pada usianya ini tidur lebih cepat. Tapi. Didit tidak meneruskan sekolahnya.” Mereka saling melihat. tapi kemudian Nana berpikir. kata kuncinya cuma satu. Sesungguhnya. jarang bisa ngobrol. Kedokteran juga serius. kau lagi ingin serius dan sendiri saja. “Waktu kau beranjak remaja. aku diliputi perasaan gelisah. beri aku dukungan untuk meyakinkan Tante agar anak Tantiana bisa saya adopsi. sekarang mereka sama-sama punya waktu luang dan duduk semeja.Dara tersenyum. “Setelah Aditya menikah. Siapa pun tahu. saya waktu itu cuma berpura-pura tidak tahu kalau Mama dan keluarga besar kita “Dara. Nana seharusnya berkata begini. Yang terjadi di luar mimpi kami. Padahal. Sekalipun. kau tidak peduli pada mereka. aku dan ayahmu sudah sering kami heran juga. memegang tangan mamanya. Itu berlanjut sampai kau menjadi mahasiswa. Dara tahu dia tidak bisa mengatakan ini. Kau kelihatannya cuma akrab dengan Didit (sahabat sejak SMA). Mulai sejak itu. Kendati mereka masih tinggal serumah. Sekalipun Nana merasa. Rasanya mereka memang dua perempuan yang beda dalam menjalani kehidupan sosialnya. di cermin saya tahu tidak jelek-jelek amat. dia menyukaimu. aku berharap di tahun baru menurut kalender Jawa kau menikah dua tahun darimu. apa pun pendapat masyarakat. Padahal. mereka sekurang-kurangnya pernah membicarakan lelaki atau jalan bareng. Tapi. kau menikah. Apalagi. sedangkan Dara mungkin sedang sibuk di rumah sakit atau sedang makan-makan bersama temannya. banyak temanmu yang sudah bersitegang karena banyaknya tamu laki-laki yang datang ke rumah kita. berapa pun umur Dara.” “Aku berharap cucu darimu dan anak Tantiana menjadi anak sulung dari anak-anakmu. aku kepingin jujur kepadamu. sejak lulus SMA. tetangga sebelah rumah (15 tahun) mengajaknya bersibadan ketika dia .” sedih sekali. saya tidak bisa janjikan itu. “Ma. Teman-temanmu di Fakultas Dara memutuskan lamunannya. dia lebih muda membayangkan kau akan menikah pada usia 25 tahun. Kami tidak merisaukan hal itu. barangkali ini karunia yang tersembunyi (blessing in disguise).

dilakukan oleh mamanya adalah berempati. saya sebetulnya ingin bercerita banyak sekali. tapi betul-betul sebuah empirisme yang harus dia lakukan. banyak hal yang dipikirkan. Tapi. Sesungguhnya untuk melakukan hal ini. Tapi setelah dewasa. Dia tidak pernah ingin membicarakan ini dengan mama. dia tak berhasil. kami pasti datang dan langsung ke rumah sakit. Nana memegang tangan anak perempuannya.” “Dik panggillah dokter. ini bukan sekadar erotis! Di antara dua kekasih.” Kedua perempuan itu saling berpegangan erat dan mencoba tersenyum. bukan bersimpati. Sampai hari ini. Sehingga Rizal berkata. karyawan penerbangan itu pasti tidak ada di tempat. . seperti semua dokter. kau harusnya sudah tahu bahwa butuh kemauan keras darimu untuk sembuh. akan sulit bagi mama untuk menerima berita ini karena dia bukan hanya seorang pasien saja di mata mama. kok dari tadi diam saja? Tanyakan ke bagian informasi. saya kira saya tidak usah bercerita panjang karena tetangga sebelah rumah sudah merusaknya. “Saya kira kau bisa menyimpannya untuk dirimu sendiri. pesawatku delayed. harus berempati saja. kalau sudah begini. ketika mencoba bercinta dengan Rizal. Dara tidak mau terapi ini Sesungguhnya.” “Ma. dia menikmati apa yang awalnya dipaksakan kepadanya. hubungan Rizal dan Dara bukan jatuh pada erotisme saja. adik bungsunya menangis di telepon dan mengatakan begini. Jadi. Padahal. Semuanya memang harus diselesaikan. Rizal sudah membantunya dan barangkali Rizal sudah mulai jenuh.baru saja berusia 13 tahun. Lantas. pada persekian menit. dia merasa tidak lebih seperti boneka seks.” “Mama kan tahu. terapi ini tidak berkelanjutan. memang yang harus Rizal ketika dia merasa tidak bisa melanjutkan terapi ini. Itu yang sering diucapkan Kali ini mama yang memotong pikirannya. mereka merasa menggampangkan jika mencari solusinya dengan kawin siri. Jadi tidak bisa ditunggu jam berapa kami sampai. sekadar dokter dengan pasien. Semuanya berpulang pada dirinya sendiri. Karena. “Tantiana menangis terus dan menjerit-jerit. Pastinya. mata mereka seperti sebuah lorong yang gelap dan jauh sekali. mereka sepakat menerapi problem trauma dari Dara.” Kemudian ada dering telepon lagi. “Dara. untuk menguatkan satu dengan lainnya. Rizal. Sekalipun.” Dara merasa tak berdaya. aku sudah siap untuk semua yang terburuk. Dia merasa jijik! Namun. “Ma.” Dara berbicara lagi. tapi dua orang yang sangat dekat. “Sebagai seorang dokter. Sebagai seorang dokter. dibicarakan oleh mereka berdua. kalau kau mau cerita. tapi tidak tahu saya harus mulai dari mana?” Kedua perempuan itu saling melihat. sekalipun mamanya juga dokter.

yang ada cuma luka dan dan pasien dan kapan menjadi suami-istri. belahan hati suami dan istri. tidak bisa diperbaiki. lahir anak Tantiana. Kalau tidak. Bantulah aku!” Rizal dan Dara bersitatap. cepat tiup lilinnya dan potong kuenya!” Malang. saya kira ada kalimat Jawa tentang suami-istri. Percayalah. ketika anak Tantiana berusia satu tahun. apakah kau sudah melakukan terapinya dan belum berhasil?” lama. aku memaknainya lebih jauh. “Apakah sudah siap memulai lagi dengan pernikahan?” “Zal. tiga darimu dan dua dari Aditya. aku kepingin anakku ini punya dua adik. “Zal. Dara yang menyandarkan diri di bahu mamanya. Ketika memasuki ruangan ini. Bahasa simbol itu artinya. bersibadan itu artinya dua jiwa lebur jadi satu. “Aku akan belajar kapan aku jadi suamimu dan kapan aku jadi doktermu. jadi di mataku kau tetap seorang Kali ini. jadi kita bisa membagi. Teman-teman anaknya berteriak-teriak. Dara merayakan bersama anak temansiapa ya yang mau jadi bapaknya?” temannya. aku sudah mencurigai hal itu sejak gadis… Nduk. Jadi. Rizal. Lantas Rizal menggandeng Dara ke ruangan lain. dihadiri Rizal dan mamanya.” Tantiana menangis. Kami tidak menganggap itu dosa yang Dan. Rizal tersenyum dan memeluknya. aku tak akan pernah bertanya lagi.“Sayang. Yaitu garwo (sigare nyawa). Nana memeluk Dara. Tidak ada air mata. Sedangkan anakmu.” kesakitan. Di luar dugaan. kapan menjadi dokter Tiba-tiba ada perasaan lelah ketika Dara selesai membicarakan itu dengan Rizal. biarlah jadi anaknya Mbak Dara. tetapi terasa ada pengertian yang lebih baik di antara kedua perempuan itu. “Aku akan menjadi nenek dari lima cucu. Aku cuma ingin cerita itu bukan sebenar-benarnya. “Kamu boleh ikut Budhe Nana atau Mbak Dara. Tantiana sedikit tenang. kau harus sekolah lagi dan pulang ke Malang. dia pulang ke Malang untuk meneruskan sekolah. butuh proses yang panjang. dan melebar di ruangan ini. Enam bulan setelah kelahiran anak Tantiana. senyum ada di antara Dara. Nana. “Dik. Setelah anakmu lahir. Karena untuk kesembuhan ini. ketika Nana berkata. Aku yakin kau bisa memahami itu. Beberapa bulan kemudian. 10 Juni 2008 .” Lantas.

meski warnanya juga hijau. Kalau sudah begitu orangorang di tepi sungai. pegunungan ikut merona. Bayang hitam di bawah mata menggurat keletihan di wajah. diganti genting Jatiwangi. Saat itu seisi rumah ketakutan. Untuk balikkan badan pun harus dibantu ambu. kadang kelabu. Tapi lagi-lagi terbuat dari besi Masih terpatri dalam ingatan Arum peristiwa yang menuntun Nining tinggalkan rumah. Waktu membuka pintu. “caah caah caah!” September. Rumah kedua gadis itu yang berubah. halaman depan. menggerus apa saja. Satu dua Seperti air sungai yang membelah kota kecil itu. tiap tahun. jalan raya Tatkala cahaya pagi menyentuh bumi. air mengalir tenang meski dicumbu fajar. Bertahun-tahun selalu begitu. sungai itu.Siit Uncuwing Rieke Diah Pitaloka Setiap pagi. Gairah sungai hanya tersirat dari kilau berlian di riak air di antara bebatuan. Rumah tak lagi setengah bilik. setiap hari jalan itu dilewati Arum dan Nining. sungai itu juga bisa mendidih. Ada fotonya. Trotoar menjepit kiri kanan jalan. burung berkicau di pucuk daun kersen. akarnya direnggut lalu diganti pondasi beton. Hujan malas berkunjung. Di bawah. bila langit sedang bahagia. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rerimbun hijau bagai pinggang dan tepatnya. kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. dua setengah kilometer dari kunang-kunang masih bermain di sela langkah. langit kadang biru. Tak ada lagi berita dari Nining. lebih kurus dibanding saat ia tinggalkan rumah. Kepergian Nining memang mengubah banyak hal. sungai-sungai keperakan. Seng yang dulu Memang masih ada sedikit daun-daun yang lingkari pagar. apalagi waktu seekor uncuwing. Sebab air tanpa beri tanda bergulung-gulung dari arah hulu. Ada jembatan di atasnya. Warnanya lebih tua dari langit. meski sama-sama biru. rumah. Itu pun bila awan sudah terlalu letih menggendong air. Air yang dicurahkan langit sudah pasti akan susuri jembatan yang sama. Paling seminggu sekali. Pada bulan yang sama. Abah tergolek lemah di dipan ruang tengah. berkerlip menyilaukan. Embun basahi sepatu sekolah. Tapi semua orang tahu. Pagar tak lagi pohon teh-tehan. Ada resah menggayut di tiap hati penghuninya. Itu bisa terjadi meski di siang terik. Namun ia tetap berusaha tersenyum. Tak ada yang beda. Arum paling senang saat melintas di atas jembatan. Lantai semen sudah ditambal keramik. Sudah seminggu tak mampu bangun. Tiap pagi mereka berangkat sekolah berjalan kaki. semua berisik dan bocor kala hujan. kabut berebut kecup pipi mereka. orang-orang di atas jembatan akan berteriak. Surat terakhir dikirim empat bulan lalu. Dulu. Sangat pagi. Saat matahari menggeliat. raut pinggul gadis-gadis menari. Beberapa kali ada penduduk hanyut. tempa. Sungai itu selalu mengalun perlahan. Dahan dan batangnya dari besi tempa. Bahkan saat Arum dan Nining tak lagi melintas di diganti tembok. Orang-orang menyebutnya siit . Tak ada yang berubah dari kota kecil itu. Cat tak lagi kusam.

pergi sana. Tak akan berhenti sampai kematian menyusup ke setiap liang angin. ka sabrang ka Palembang! Saguru saelmu teu meunang ganggu!” Tetap saja burung itu tak mau pergi. “Arum. . Enin peluk buah hatinya dengan haru.Suara siit uncuwing terus menggigit hati siapa saja yang mendengar. Mula-mula hinggap di pohon arumanis tetangga sebelah. burung itu menjauh dengan senyap. Sakit. “Belum waktunya anakku kau jemput. Ia terbang menuju lembayung. Dibisikkan saat para pelayat satu-satu tinggalkan rumah. Naik sana ke pohon kersen!” perintah Ambu. Siit uncuwing kepakkan sayap sedetik sebelum Nining menyambarnya. Tak diobati karena mereka tak punya Sekadar sukarela pun mereka tak sanggup. tetap salahkan siit uncuwing atas duka yang menancap di hati mereka. halig siah. “Komar. Tapi. Entah kebetulan atau bukan. terutama Nining. Tak menapak di mana pun. uang. Sebetulnya Arum dan Nining tak sependapat dengan dua perempuan itu. “Sieuh. Ada seurai doa di sudut bibir Ambu dalam lengkung yang mendamaikan Arum dan Nining. sieuh. Lalu sorenya siit uncuwing kembali. bahkan hingga tahlil seribu hari. Mantri yang menerima bayaran sukarela. cepat sehat. Sieuh. pergi!” Kali ini Enin melempari dengan kerikil. Menjerit memanggil kematian. Baginya penyebab kematian Abah bukan siit uncuwing. siit uncuwing menikam rumpun bambu di ujung jalan. tapi tak diobati. tapi karena sakit. sieuh. walau sekadar untuk membayar Mantri Abas. Nining! Bantu Enin. Tapi tangis ledakkan rumah. tiga hari kemudian siit uncuwing datang lagi. Komar. Sebab siit uncuwing pergi Enin dan Ambu berhari-hari. Ia hanya katakan pada Arum. esoknya Abah mulai bisa duduk. Berputar-putar mengelilingi atap rumah. Lompat dari satu dahan ke dahan lain. panik. begitu kepercayaan Enin.” Ambu di pintu dapur usap sebulir bening yang meluncur dari sudut mata. Pendapat itu tentu tak disampaikan Nining pada Enin dan Ambu. Maka perempuan tua itu sibuk kibas-kibaskan sapu lidi. Menyusup ke setiap inci pori-pori kusen jendela dan pintu. Malah tampak riang. Siit uncuwing pembawa kabar duka. Waktu melihat Ambu dengan sapu lidinya. Lepas magrib sambil membawa abah.

“Teteh sakit hati, Rum. Kita musti bisa berubah.” Kata-katanya pelan sentuh telinga, namun tegas sebagai janji. Pasti. Arum percaya Nining. Tapi Enin tidak sepakat, terlebih Ambu. “Jangan pergi, anaking. Apa kamu lupa banyak yang tak bisa pulang? Kalaupun pulang tanpa daksa. Malah ada yang sudah tak bernyawa.”

“Geulis,” Enin menambahkan sambil mengunyah sirih dan pinang, “biar susah lebih enak di kampung sorangan. Geulis, incu enin, cari kerja di sini saja. Jadi buruh tani, atau melamar ke pabrik dodol di Ciledug, ke pabrik tenun dekat kerkhoff, atau ke pabrik coklat jalan Cimanuk, atau jadi pelayan toko di Pengkolan.”

Nining tahu, kerja dengan ijazah SMP dan rapor sampai kelas satu SMA tak akan berarti. Gaji yang diterima hanya akan cukup untuk makan sebulan. Itu juga belum tentu cukup.

Sepuluh hari Nining baru bisa yakinkan Enin dan Ambu. Bahkan Ambu rela menjual sawah ongkos ke Bandung. peninggalan Abah untuk membayar penyalur dan surat-surat keberangkatan, sekaligus

Lima bulan pertama Nining tak terima gaji. Katanya harus diserahkan pada agen sebagai ganti biaya perjalanan. Tengah tahun baru bisa kirim uang. Tahun kedua Nining pulang untuk renovasi rumah dan membeli tiga petak sawah. Pengganti sawah Abah, katanya. Tiga rumah.

bulan kemudian berangkat lagi setelah membantu Ambu buka warung sembako di samping

“Teteh jangan pergi lagi, teh. Apa lagi yang teteh cari?” “Teteh pengin kamu jadi dokteranda, Rum. Biar teteh yang cari duit, pokoknya kamu belajar yang rajin.”

“Mendingan Arum cuma tamat SMA daripada teteh pergi lagi.” Entah mengapa kali ini Arum yang tak setuju Nining pergi. Tapi lagi-lagi tak ada yang bisa menahan tekad itu.

Selama setahun, sebulan sekali Nining masih rajin beri kabar. Begitu pula dengan kiriman tak ada kabar berita darinya. Awal Mei.

uang. Tapi tahun berikutnya bukan hanya uang yang tak dikirim. Yang lebih mencemaskan

Ambu.

Sepucuk surat tiba di beranda. Arum membaca keras-keras supaya bisa didengar Enin dan

“Arum, bilang sama Enin dan Ambu, Insya Allah September teteh pulang. Teteh maunya bisa Doakan teteh supaya bisa pulang.” munggah sama-sama. Teteh mau lebaran di rumah. Teteh kangen sama kalian bertiga.

sampai Arum hafal isinya.

Itu kabar terakhir yang mereka terima. Surat terakhir. Lecek. Sebab dibaca berulang-ulang,

September berjingkat tinggalkan kalender. Oktober siap menyambut. Tapi tetap hambar. Huruf seakan mati tak tergores dalam secuil kertas sekalipun. Arum sudah mencoba akan kami beri tahu, kalau sudah tahu keberadaannya. Kalau sudah tahu!” hubungi agen yang berangkatkan Nining. Petugas yang menemui hanya menjawab, “Nanti

Hanya itu yang bisa jadi pengharapan. Surat Arum untuk Nining tak pernah berbalas. Tak menggerus perasaan. Apalagi sejak dua hari terakhir Ramadhan siit uncuwing kembali menjejak pucuk kersen di halaman depan.

ada alamat lain yang bisa ditelusuri. Khawatir menusuk kepala. Cemas menjadi bola besar,

“Awas, indit, ka ditu, ka ditu, sieuh, sieuh!” Ambu tergopoh, Enin menyusul di belakangnya. “Ka sabrang ka Palembang, sieuh, sieuh!” teriak keduanya bersahutan. “Ka sabrang ka Palembang, saguru saelmu teu meunang ganggu!” Kali ini Arum langsung memanjat pohon kersen, tanpa tunggu perintah Ambu. Ketika siit

uncuwing terbang, Arum setengah melompat turun dari pohon. Tak sekejap mata ia biarkan pandangan lepas dari burung itu. Arum mengejarnya, berlari. Tanpa sadar Arum sudah jauh itu. Terus mengejar, bahkan ketika burung itu terbang di atas jalan setapak di pinggir jembatan. Menuju sungai. tinggalkan rumah. Berlari menuju jembatan di atas sungai, sungai yang membelah kota kecil

Ya, siit uncuwing menuju sungai. Burung itu hinggap di batu besar di tengah sungai. Arum mengendap. Tinggal sejengkal dari siit uncuwing ketika orang-orang di atas jembatan berteriak, “caah!” Caah!Caah!”

Arum lompat berusaha menangkap siit uncuwing. Namun badannya limbung. Semua buram. kekuatan, “Arum, ka dieu, ulurkan tanganmu.”

Sesak menghimpit dada. Arum hampir tak mampu bertahan saat sayup seiris suara memberi

Arum terkejut. Arum tahu pasti, itu suara Nining. Seolah mendapat tenaga, Arum berenang ke arah bayangan di tepi sungai. “Hayu pulang, geulis.” Sekali lagi Arum mendengar suara Nining. Arum berhasil genggam tangan Nining, dan semua jadi gelap.

“Teteh, teteh!” teriak Arum saat pertama kali membuka mata.

Tapi Nining tak ada, padahal Arum yakin Nining yang menolongnya. Nining yang memapah mengantar pulang. Arum terobos setiap ruang di rumah itu. Tetap saja, Nining tak ada. Hanya ada Anin dan Ambu yang sedang menangis. Arum lari ke luar. Di langit ada bulan sepotong. Di langit ada tiga belas siit uncuwing tanpa suara membawa bingkisan dari negeri berpasir: sekotak peti mati. Di dalamnya ada perempuan dengan bayang hitam di bawah mata dan lebam di sekujur tubuh. Tetap berusaha tersenyum. Di surau-surau takbir pertama berkumandang… Depok, 160907

Rieke Diah Pitaloka ( 21 Oktober 2007)

buku. Bapak suka sinis sama Ibu Saleha. kalau memang tidak pernah kulihat sesuatu yang membuktikan betapa Satria tidak akan kembali… Apa punya… salahnya punya harapan… Hidup begitu singkat. Harapan bahwa pada suatu hari Satria pasti pulang kembali… Berharap dan menunggu. Tapi Bapak memaksa aku untuk percaya bahwa Satria sudah pergi. ’Satria sudah mati. perabotan. wajah. seperti Saras itu punya dua ibu. . ”Bapak… Kursi itu. saya tidak bisa’. nanti tidak ada tempat untuk hati lagi…’ Ah. melihat ke kursi tempat Bapak biasanya duduk. Ibu Saleha. Tinggal Ibu kini di ruang keluarga itu. jendela. Pintu. ruang dan waktu yang seperti ini. Sekarang apapun yang terjadi dengan Saras dibicarakannya sama aku. Kenyataannya selama sepuluh tahun Saras tidak pernah bisa pacaran ”Tapi inilah soal yang pernah kubicarakan sama Si Saras. dan duduk lagi di situ. Lantas melihat ke sekeliling. Dulu almarhum tidak bisa terus menerus menunggu Satria.” katanya. apa jadinya kalau harapan saja kita tidak ”Jadi dalam setahun itu harapanlah yang membuatku bertahan hidup. telepon. kok semuanya mengingatkan kembali kepada Bapak. membantu aku membereskan kamar Satria. lukisan itu. dan busananya bagai menunjuk keberadaan waktu. dan kami masih seperti orang menunggu. Ternyata yang berbunyi telepon genggam. meja itu. Telepon berdering. deringnya sudah berhenti. rasanya semakin peduli dia kepada rumah ini.’ katanya!” Berharap dan menunggu. seperti tahu betul rasa kehilanganku setelah ditinggal Bapak…” Ibu sudah sampai ke kursi tempatnya duduk tadi. televisi. dan lain-lain masih seperti dulu—tetapi waktu telah berlalu sepuluh tahun.’ kataku. masih terkulai seperti sepuluh tahun yang lalu. Ibu terkulai di kursi seperti orang mati. Saras. bahkan aku masih ingat juga pakai daster ini ketika kami berbicara tentang hilangnya Satria. ’Orang hilang diculik kok tidak mendapat sama siapapun. Saras. memang rasanya ia seperti anakku juga. karena kalau terlalu banyak alasan dan perhitungan dalam percintaan. Seperti ini juga keadaannya.’ kata Bapak. ’tapi cinta adalah soal kata hati. Rambut. Diangkatnya ke telinga. ”Hmmh. Ibu terdiam. Aku waktu itu masih percaya Satria suatu hari akan kembali… Kenapa harus tidak percaya. ibunya Saras yang dulu jadi pacar Satria. ’Saya selalu teringat Satria.Ibu yang Anaknya Diculik Itu Seno Gumira Ajidarma cangkir teh. ’Kuhargai cintamu yang besar kepada Satria. ruangan ini. Ibu tersentak bangun dan langsung menyambar telepon. Semenjak Bapak meninggal setahun yang lalu. berusaha sangat amat keras untuk menahan tangis. Ibu bergumam. Berharap dan menunggu. Ia menggigit bibir. Waktu itu sudah setahun Satria tidak kembali. Ketika disambarnya pula. Ibu. sehingga kamu selalu terlibat urusan orang-orang hilang ini. karena seperti memberi tanda kalau Saras itu tentunya simpati.

Ini apa maksudnya Pak? Supaya teman Satria itu tidak boleh boleh kita terima begitu saja?” bercerita tentang perbuatan mereka? Teror kelas kambing maksudnya? Apakah ini semua Saat Ibu menghela nafas. Jalinan yang sudah lepas dan ujungnya menceruat di sana-sini. menata gelas dan piring. padahal aku selalu makan sendirian saja. Bapak sudah mati. tutup matanya dibuka. dianiaya. ”Bapak sendiri yang bilang. tapi tubuh serasa melayang-layang…” Lantas nada ucapannya berubah sama sekali. Apa Bapak dan Satria tertawa-tawa di atas sana melihat aku membereskan kamar Satria. Aku terima Satria sudah mati sekarang. ”Apa Bapak ketemu sama Satria di sana? Enak bener Bapak ya? Meninggalkan aku sunyi sendiri di sini.’ katamu. Memang aku tahu Bapak dan Satria tidak ada hatiku? Apakah kalian berdua selalu menertawakan aku dan menganggapku konyol kalau Sejenak Ibu terdiam. ada teman Satria yang dibebaskan bercerita: Sebelum dilepas foto di atas meja. setiap waktu makan lagi di muka bumi ini. sekarang untuk kalian berdua. kenapa kamu hancurkan semua harapanku? ’Kita harus menerima kenyataan.” Perempuan dengan rambut kelabu itu tampak kuat kembali. Foto orangtuanya. ”Sudah sepuluh tahun. Saudara. Lantas orang-orang itu berkata. ”Pak. ruangan itu bagaikan mendadak sunyi. bahwa kemungkinan besar Satria mestinya sudah mati. Impian. Itulah foto-foto keluarga teman Satria yang diculik. Munir juga sudah mati.”Tidak! Aku tidak mau percaya itu! Meski dalam hatiku sudah terlalu sering kuingkari diriku. Bapak. Jiwa terasa memberat. Nanti dulu. Satria sudah mati. kenyataan sehari-hari tidak bisa kupisahkan lagi. dan akhirnya dibunuh. ’Kami tahu siapa saja keluarga ”Huh! Saudara! Mana mungkin manusia bersaudara dengan monyet-monyet! Apalagi maksudnya kalau bukan mengancam kan? Bapak bilang teman Satria ini juga bercerita. tetapi kalau terbangun. dengan begitu nyata seolah-olah kalian tidak pernah . Menerima? Menerima? Baik. orang-orang yang menculiknya itu menggelar foto- foto saudara-saudaranya. hanya untuk menyambungnya dengan suara bergetar. tapi apa salahnya aku menganggap kalian berdua ada di dalam berpikiran seperti itu?” tiba. aku masih mati.” Ibu memandang ke arah kursi Bapak. suatu hari salah seorang yang waktu itu mengancam terlihat sedang memandangi dirinya waktu dia baru naik bis kota. ”Kadang-kadang aku bermimpi tentang kalian berdua. seperti Ibu berada di dunia yang lain. Di hadapannya.” Dipandangnya kursi Bapak lagi. juga terkenang-kenang kalian berdua. Pak.’ Tapi aku tidak terima kalau Satria itu boleh diculik. Sebuah kursi kayu dengan bantalan jalinan rotan. kenangan.

seperti palung terpanjang dan membara. berkobar menantikan saat membakar dunia…” terdalam. mengembara dalam kekelaman semesta. Lantas bertanya-tanya lagi. Mencoba menjawab sendiri. berbisik tertahan. meski semakin disadarinya betapa ia sungguh-sungguh sendiri. bahwa Satria dan bahagia hanya dengan akalnya. ya waktu yang seperti takpernah dan takperlu berlalu itu.” Nada bicaranya menjadi dingin. memegang kepalanya. Dulu aku bisa kalau ingin tahu semuanya! Tapi aku masih hidup. begitu saja… Bahkan orang mati saja masih bisa kita lihat jenazahnya!” tentu sudah tidak ada. ke langit. jika kemarahanku belum juga hilang atas perilaku kurangajar semacam itu. o palung-palung luka setiap jiwa. ”Ah! Bapak! Dia sudah tahu semuanya! Tapi aku? Aku tentunya juga harus mati lebih dulu bertanya-tanya. menyatu dengan jiwa terluka. Sekarang aku bertanya jawab sendiri…. ”Menculik anak orang dan membunuhnya. bukankah ratusan ribu orang juga hilang seketika?” . bagaimana mungkin aku merasa perlu melupakan semuanya. ”Tapi apa iya aku sendiri? Apa iya aku masih harus merasa sendiri jika begitu banyak orang yang juga kehilangan? Waktu itu. ”Ah! Ya ampun! Jauhkan aku dari dendam!” Namun ia segera melepaskan tangannya. Tetapi Ibu mana yang kehilangan anak tanpa kejelasan bisa tenang perasaanku bisa membuatku yakin. Apakah setiap orang harus kehilangan anggota keluarganya sendiri lebih dulu supaya bisa sama marahnya seperti aku?” Hanya Ibu sendiri di ruangan itu. Seperti masih ada yang disebutnya Bapak di kursi itu. Memang akalku tidak bisa berpikir lain sekarang. membara dan menyala-nyala. Bapak. meski setiap kali tersadar tubuh yang melayang terjerembab. ”Bapak… aku yakin dia ada di sana. dan aku masih tidak tahu apa-apa. tetapi Ibu bagaikan merasa banyak orang menontonnya. luka sayatan yang panjang dan dalam.”…. apakah Bapak melihat Satria di sana Pak? Apakah Bapak ketemu Satria? Apa cerita dia kepada Bapak? Apakah sekarang Bapak sudah tahu semuanya? Apakah Bapak sekarang sudah mendapat jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan kita?” Namun Ibu segera menoleh ke arah lain. jika Satria pada suatu hari memang hilang begitu saja? diajaknya bicara. bagaikan jiwa dan tubuh telah terpisah. jauh. karena kusaksikan bagaimana dia dengan tenang meninggalkan dunia yang fana. tanpa membawa-bawa perasaannya? Bagaimana Ya. ”Tapi…. tempat seolah-olah ada seseorang ”Pak. tetapi aku tidak bisa mendapatkan keyakinan yang sama jika teringat kepada Satria. palung tanpa dasar yang dalam kekelamannya Ibu mendadak berhenti bicara. menutupi wajahnya. jauh. Hanya bertanya jawab dengan Bapak.

datang menengok cuma hari Lebaran.” lewat. pakai kaos oblong dan sarung. kadang aku seperti melihatnya di sana. kenapa kamu tidak pernah muncul dalam mimpiku untuk bercerita tentang Satria? Pasti Satria menceritakan semua hal yang tidak diketahui selama ini. Ia selalu bertanya. dan apa sebenarnya yang telah terjadi. ”Tapi ia tidak pernah lupa tentang Satria.’ kataku. ”Bapak. sebelum akhirnya mendadak keluar semua ingatannya pada suatu ”Sudah sepuluh tahun. atau kadang-kadang keluar Wajah Ibu kini tampak sendu sekali. malah seperti lupa. satunya lagi Si Yanti jadi kurator galeri lukisan. Ibu masih berbicara sendiri. lantas ngomong tentang dunia. Bahkan tokek untuk sementara tidak berani berbunyi. Seperti masih selalu duduk di situ Bapak disediakan Si Mbok. tukang bakmi tek-tek yang dulu-dulu juga. luar negeri. ”Kenapa kamu tidak sekali-sekali muncul Bapak. Muncul dong sekali-sekali Bapak. ’apa semua orang harus ikut aliran kebatinan seperti Bapak?’. sembunyi-sembunyi pula!’ hidup sekarang?’. orang. Dasar Bapak. Tidak jelas jam berapa. tukang bakmi langganan Satria. tetapi malam bagaikan lebih malam dari malam. ’Ya enggaklah kalau ngibul. Susah rasanya mengingat-ingat Ibu tersenyum geli sendiri. Biasanya Bapak ya cuma cengengesan. ’Seperti apa Satria kalau masih amarahnya: ’Para penculik itu pengecut semuanya! Tidak punya nyali berterus terang! Bisanya membunuh orang sipil tidak bersenjata. ”Bagiku Satria masih selalu ada. di kursi itu.Terdengar dentang jam tua. kursi itu seperti biasanya. Lupa ini-itu. ”Bapak. menyusul teman-temannya pemain ludruk yang semuanya terbantai dan ”Sebetulnya memang tidak pernah Bapak itu membicarakan Satria. mayat-mayatnya mengambang di Kali Madiun… menyusul Bapak. Ada saja yang dia omongin itu. Yang sulung Si Bowo jadi pialang saham. bagaimana dia diperlakukan. makan pisang goreng yang televisi. Tapi Si Mbok juga sudah meninggal. dan hanya didengarnya sendiri. Belakangan sebelum meninggal Bapak juga mulai pikun. Ibu tampak mengenali. membaca koran. menyeruput teh panas. menonton itu. Duduk di . sampai setahun lamanya. Kacamata terpasang saja dicarinya ke mana-mana…” ”Aku sendiri rasanya juga sudah mulai pelupa sekarang. atau ’Sedang apa ya Satria di sana?’. Di luar rumah. Tidak pernah ketemu lagi memang. tapi tidak memanggilnya. kata Bapak dua-duanya pekerjaan ngibulin Memang lain sekali Satria dengan kakak-kakaknya. memberi komentar tentang situasi negeri. Tapi selalu ada. malam entah karena apa. banyak yang sudah berubah. Dua-duanya tidak mau pulang lagi dari apapun. banyak juga yang tidak pernah berubah.

hallo… “ Setelah mendengarkan apa yang dikatakan Saras. Apakah semua ini hanya akan menjadi rahasia yang tidak akan pernah kita ketahui isinya? ”Rahasia sejarah. ”Para pembunuh itu sekarang mau jadi presiden! .” gumamnya. Hanya lewat. ”Duduklah di situ dan ceritakan semuanya tentang Satria. kini seperti kepada seseorang yang tidak kelihatan. ”Gila!” Ibu berujar kepada tokek di langit-langit yang tidak tahu menahu. ”Tapi ini bukan rahasia kehidupan yang agung itu. Rahasia kehidupan. ”Kursi itu tetap kosong. Ibu seperti tersadar dari mimpi. tetapi kamu hanya muncul sebagai bayangan yang lewat. bahkan juga dalam mimpi-mimpiku. tanpa senyum. malah Si Saras. yang seandainya pun tidak akan pernah terbongkar…. ”Ceritakanlah semua rahasia….”Memang kamu selalu muncul dalam kenanganku Pak. Seperti segalanya yang akan tetap tinggal kosong. ”Ya. telepon genggam itu terloncat dari tangan Ibu yang terkejut. ”Ini suatu aib. Telepon genggam Ibu berdering. Ibu beranjak mengambil telepon genggam.” Ibu masih berbicara. ”Eh. seolah tiba-tiba telepon genggam itu menyetrum. suatu kejahatan. Tapi rupanya bukan. ”Pasti ibunya Saras lagi. seperti baru menyadari betapa kenyataan begitu buruk.” Ibu mengangkat telepon genggamnya di telinga.

membuat pasir yang basah berkilat keemasan setiap kali Seno Gumira Ajidarma yang biasa memikul air sejak subuh. melainkan berlari dengan pikulan air yang berat di bahunya itu. lantas melangkah ringan Hayati. “Cepatlah!” ujar lelaki bernama Sukab itu. sambil menuruni tebing bisa melihat bebatuan di dasar lidah ombak kembali surut ke laut. Ternyata Hayati tidak langsung menuju ke perahu bermesin tempel tersebut. Wajahnya begitu cerah menembus angin yang selalu ribut. Hayati pantai yang tampak kabur di bawah permukaan air laut yang hijau itu. seolahsamping gubuknya. “Hayati! Mau ke mana?” olah beban di bahunya tiada mempunyai arti sama sekali. Kakinya yang telanjang bagaikan mempunyai alat perekat. . Terlihat Hayati mengangkat kainnya dan berlari cepat sekali. melangkah di atas batu-batu hitam berlumut tanpa pernah terpeleset sama sekali. gugusan bintang mereka hubung-hubungkan dengan cadik penyeimbang perahu. Ia meletakkannya begitu saja di Seorang nenek tua muncul di pintu gubuk. Hayati berlari begitu cepat. Onggokan batu karang yang kadang-kadang menyerupai Bukankah memang perlu waktu jutaan tahun bagi angin untuk membentuk dinding karang menjadi onggokan batu yang mirip dengan sebuah perahu. “Sukab! Tunggu aku!” plastik alas sepatu karena seolah tidak berasa sedikit pun juga ketika menapak di atas batu- Di pantai. Para nelayan memang hanya tahu perahu. Seekor anjing bangkit dari lamunannya yang panjang. Lidah-lidah ombak berkecipak dalam laju lari Hayati. yang selalu memberi kesan betapa sesuatu sedang sepanjang pantai yang pada pagi itu baru memperlihatkan jejak-jejak kaki Sukab dan terjadi. lantas berlari kembali ke arah perahu Sukab. sejak bertahun. Tentu. mungkin kehidupan para nelayan dilepaskan dari perahu? Hayati masih terus menuruni tebing setengah berlari dengan pikulan air pada bahunya. tiba-tiba terdengar derum suara mesin. seolahbahkan atap rumah-rumah mereka dibuat seperti ujung-ujung perahu. perahu tetap teronggok sejak semalam. sejak beribu-ribu tahun yang lalu. bagaimana olah angkasa raya adalah ruang pelayaran bagi perahu-perahu seperti yang mereka miliki.Cinta di Atas Perahu Cadik Bersama dengan datangnya pagi maka air laut di tepi pantai itu segera menjadi hijau. sekaligus bagaikan terlapis karet atau batu karang yang tajam tiada berperi. Cahaya keemasan matahari pagi menyapu pantai. Bulan sabit mereka hubungkan dengan perahu.

burung-burung camar menghilang. Mak?” Nenek tua itu menoleh dengan kesal.” Nenek yang sudah bungkuk itu mengibaskan tangan. menanyakan apakah mereka melihat perahu Sukab yang membawa Hayati di atasnya. kulihat perahu Sukab menyalipku dengan Hayati di atasnya. sangat kencang. Seorang lelaki muncul dari dalam gubuk. “Pergi bersama Sukab tentunya! Kejar sana ke tengah laut! Lelaki apa kau ini! Sudah tahu istri dibawa orang.” “Perahu Sukab menyalipku. nenek tua itu pergi dari satu gubuk ke gubuk lain. “Dullaaaaah! Dullah! Suami lain sudah mencabut badik dan mengeluarkan usus Sukab jahanam itu!” Lelaki yang agaknya bernama Dullah itu masuk kembali. masih terdengar suaranya sambil tertawa dari dalam gubuk. Kulihat mereka tertawatawa. perahu Sukab belum juga kelihatan. dan memang selalu kencang di pantai itu. ya.” Nenek itu memaki. Jawaban mereka bermacam-macam. mesinnya sudah mati.Perahu Sukab melaju ke tengah laut. Pada akhir hari setelah senja menggelap. “Cabut badik? Heheheh. kami akan bercerai dan biarlah dia bahagia menikahi Sukab. kulihat Hayati menyuapi Sukab dengan nasi kuning dan mereka tampaknya sangat bahagia. tetapi membentuk suatu rangkaian. bukannya mengamuk malah merestui!” Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala. perahu lain telah berjajar-jajar kembali di pantai sepanjang kampung nelayan itu. . Perahu Sukab yang juga bercadik melaju bersama cinta membara di atasnya. Itu sudah tidak musim lagi Mak! Lebih baik cari istri lain! Tapi aku lebih suka nonton tivi!” Angin bertiup kencang. dan perahu- Menjelang tengah malam. “Ya. tetapi tidak tampak seorang pun di atasnya. “Hayati dan Sukab saling mencintai. aku juga sudah bicara kepadanya. “Istri orang di perahu suami orang! Keterlaluan!” Namun ia masih mengetuk pintu gubuk-gubuk yang lain.” “Oh. “Ke mana Hayati. jadi itu perahu Sukab! Kulihat perahu berlayar kumal itu menuruti angin.

Seorang anak perempuan yang rambutnya merah membuka pintu itu. lemari kayu yang buruk. tetapi orangnya malah berkurang?” Melangkah sepanjang pantai sembari menghindari air pasang. tapi mungkin ada juga yang lain.“Aku lihat perahunya. bergemeletuk seperti sebuah mesin. Isinya sama saja dengan isi semua gubuk nelayan yang lain. dan jala di dinding kayu. meja buruk. dari sebuah penanggalan yang sudah bertahun-tahun lewat. pakaian yang buruk tergantung di sanasini. Sebuah foto pasangan bintang film India. hanya sandal jepit yang jebol. Giginya tambah gemeletuk dalam perputaran roda-roda mesin malaria. Sebuah foto Bung Karno yang usang dan tampak terlalu besar untuk rumah gubuk ini. di dalam sebuah bingkai kaca yang juga kotor. Dipan yang buruk. di dalam terlihat istri Sukab terkapar meriang karena malaria. Alas kaki yang serba buruk. Nenek itu lagi-lagi menggelengkan kepala. bukannya tambah penumpang. lelaki dan perempuan yang sedang tertawa dengan mata genit. “Mana Bapakmu?” Anak itu hanya menunjuk ke arah suara laut. berikut pancing dan bubu. Ia tidak melihat sesuatu pun yang aneh. ombak yang berdebur dan mengempas dengan ganas. tidakkah selalu begitu? Kalau Hayati naik perahu Sukab. tentu saja tidak ada sepatu. ketika terdengar suara lemah dari balik gigi yang gemeletuk itu. “Bermain cinta di atas perahu! Perbuatan yang mengundang kutukan!” Ia menuju gubuk Sukab. Wajahnya pucat. . dan di dahinya tertempel Nenek tua itu melihat ke sekeliling. kursi buruk. Ada juga pesawat televisi. Pandangan nenek tua itu tertumbuk kepada anak perempuan yang menatapnya. “Anak apa ini? Umur lima tahun belum juga bisa bicara!” Waleh hanya menggigil di balik kain batik lusuh bergambar kupu-kupu dan burung hong. tetapi tampaknya sudah mati. Nyamuk berterbangan masuk karena pintu dibuka. Nenek itu sudah mau melangkah keluar dengan putus asa. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. berkeringat. mulutnya sebuah koyo. nenek tua itu menggerundal sendirian. Bukankah memang selalu begitu jika Hayati berada di perahu Sukab?” “Ya. “Waleh! Apa kau tahu Sukab pergi dengan Hayati?” Perempuan bernama Waleh itu menggigil di dalam kain batik yang lusuh. tetapi tidak seorang pun di atasnya.

atau memang hilang selama-lamanya tanpa kejelasan lagi. Nenek tua itu terdiam. melalui perceraian.” yang mengumbar amarah menggebu-gebu. karena memang sering terjadi. seperti sudah tidak sanggup berpikir lagi. Mereka bisa terseret ombak ke sebuah “Aku orang terakhir yang melihat Sukab dan Hayati di kejauhan. “Ya. langsung menggigil dan mulutnya bergemeletukan kembali. dan sangat mungkin. tidak kelihatan di bawahnya! Mengerti kamu?” tapi ada yang hanya melihat perempuan jalang itu tidak memakai apa-apa meski suamiku Waleh yang menggigil hanya memandangnya. Namun karena tidak satu pun dari ketiganya muncul kembali. bahwa jika bukan perahu Sukab muncul kembali di cakrawala. Waleh tampak berusaha keras melawan malarianya agar bisa berbicara. kamu tahu dan tidak berbuat apa-apa! Dulu suamiku pergi ke kota dengan Wiji. kedua. agama kita telah memberi jalan agar mereka bisa dikukuhkan. dan ketiga setelah perahu Sukab tidak juga kembali. Hari pertama. perahu mereka jauh melewati batas pencarian ikan kita. Masih juga mereka berlayar dan tidak pulang kembali! Semua orang yang melaut bilang tidak melihat sesuatu pun di atas perahu ketika melewati mereka. “Aku memang hanya orang kampung. Hal itu selalu mungkin negeri lain dan kembali dengan pesawat terbang. maka tentu mayat Sukab atau Hayati akan tiba-tiba menggelinding dilemparkan ombak ke pantai.” kata seseorang. matanya terpejam tak dibuka-bukanya lagi. orang-orang di kampung nelayan itu masih membayangkan. tetapi aku tidak mau menjadi orang kampungan dan jika dia bahagia bersama Hayati. Ibu.“Aku sudah tahu…” “Apa yang kamu sudah tahu. “Aku hanya mau bukti bahwa menantuku mati karena pergi dengan lelaki bukan suaminya menjadi korban kutukannya! Tapi kamu rugi belum menghukum si jalang Hayati!” dan bermain cinta di atas perahu! Alam tidak akan pernah keliru! Hanya para pendosa akan Mendengar ucapan itu. mereka percaya perahu Sukab terseret ombak ke seberang benua. Kudoakan suamiku pulang dengan selamat— Waleh yang seperti telah mengeluarkan segenap daya hidupnya untuk mengeluarkan katakata seperti itu. . begitu pulang kujambak rambutnya dan kuseret dia sepanjang pantai. dan suamiku masuk rumah sakit karena badik suami Wiji. Waleh?” “Tentang mereka…” Nenek itu mendengus.

di tengah angin yang selalu ribut terlihat pantai dan mendorong perahu itu sendirian ke atas pasir sebelum membuang jangkar yang lebih besar dari perahu mereka.” Segalanya mungkin terjadi. Desember 2006/ Merauke. banyak lumba-lumba melompat di samping perahu mereka. dan gigi keduanya jika terlihat tentu sudah kuning cinta yang membara. sejak dulu ia selalu berlayar sendiri. cerita tentang ikan besar ini akan berujung kepada perceraian mereka masing-masing. Di pantai. pada hari ketujuh. tampak Dullah yang menyusuri pantai saat para nelayan kembali. Hayati tampak lebih kurus dari biasa dan keadaan mereka berdua memang lusuh sekali. tidak seorang pun dari para nelayan di kampung itu mengharapkan Sukab dan Hayati akan kembali. menyusuri pantulan senja yang menguasai langit pada pasir basah. Juga mereka percaya bahwa mungkin juga Sukab dan Hayati telah bermain cinta di atas perahu dan seharusnya tahu pasti apa yang akan mereka alami.” sahut yang lain. betapa bukan urusan siapa pun bahwa mereka telah bercinta di atas perahu cadik ini. sekali—tetapi mata keduanya menyala-nyala karena semangat hidup yang kuat serta api Namun keduanya juga mengerti. Kadang-kadang pula berharap dan menanti siapa tahu perahu cadik yang berisi Sukab dan Hayati itu kembali. mereka seperti masih Namun setelah hari keempat. Hayati. pakaian basah kuyup.“Sukab penombak ikan paling ahli di kampung ini. April 2007 . Sabang. “Kukira mereka tidak akan kembali. yang dengan ini tak bisa dihindari lagi. setelah bahan bakar untuk mesinnya habis. Keduanya terdiam saling memandang. Keduanya mengerti. Kalian tahu seperti apa orang yang dimabuk cinta…” Namun pada suatu malam. Di tubuh perahu itu terikat seekor ikan besar menyengat sekali. “apalagi jika di perahunya ada “Apakah mereka bercinta di atas perahu?” “Saat kulihat tentu tidak. Sukab tampak lemas di atas perahu. mungkin bukan mati.” mana mau ia mencari ikan bersama kita. tetapi kawin lari ke sebuah pulau entah di mana. yang tentu saja sudah mati dan bau amisnya perahu Sukab mendarat juga. Hayati melompat turun begitu lunas perahu menggeser bibir kecilnya. Tombak ikan bertali milik Sukab tampak menancap di punggungnya yang berdarah—tentu ikan besar ini yang telah menyeret mereka berdua selama ini. Kulit terbakar. kadang-kadang tampak Waleh menggandeng anak perempuannya yang bisu.

Hanya saja gerobak ini ternyata berisi manusia. mereka selalu datang selama bulan puasa. perusahaannya pun banyak sekali. ketika sedang berjalan merayapi berbagai sudut kota. “kita tidak pernah tahu apa yang mereka pikirkan tentang kita. Mereka seperti tiba-tiba saja sudah berada di dalam kota. memasang tenda plastik.” kata Kakek. Dari jendela loteng. anak-anak itu “Jangan sekali-sekali mendekati kere-kere itu. mereka datang untuk mengemis. dan tidur-tiduran dengan santai. Tidak jarang mereka memasang juga tenda di depan rumahkakekku. Tidak ketinggalan menanak air dengan kayu bakar dan masak seperlunya. rumah gedung bertingkat. bertenaga kuat yang menjadi penghela gerobak tersebut. gerobak-gerobak berwarna putih itu akan muncul di berbagai sudut kota kami. Apabila tanah lapang sudah penuh.” . dengan roda karet dan pegangan kayu untuk dihela kedua lengan berwarna putih itu akan tampak sejumlah kepala yang menumpang gerobak tersebut. Gerobak itu tidak ada bedanya dengan gerobak pemulung.” “Oh. seusiaku. menggelar tikar. Semuanya ia tangani sendiri. siapakah orang-orang yang datang dengan gerobak itu Kek? Dari manakah mereka datang?” Kakek menjawab sambil menghela napas.” “Negeri Kemiskinan?” “Ya. Dari balik dinding gerobak gerobak sampah lainnya. dengan seorang bapak Karena tidak pernah betul-betul mengamati. Kadang-kadang aku ingin sekali ikut bermain dengan anak-anak itu. dan nanti menghilang setelah Lebaran. Aku tidak bertanya lebih lanjut. Anak-anak kecil itu tampaknya pekerjaannya hanya bermain-main saja. kadang terlihat berhenti di berbagai tanah lapang. tetapi Kakek tentu saja melarangku. mereka menginap di kaki lima. aku hanya melihat gerobak-gerobak itu selintas pintas. Salah satu dari gerobak itu berhenti pula di depan rumah gedung “Kakek. Di samping menjadi pejabat tinggi. kuamati orang-orang di dalam gerobak itu. karena kakekku adalah orang yang sibuk. seperti selalu terjadi dalam bulan puasa tahun-tahun belakangan ini. Dari mana dan mau ke mana? Aku tidak pernah berada di batas kota dan melihat gerobak-gerobak itu masuk kota. Namun kalau aku setiap hari disibukkan oleh tugas-tugas sekolah. biasanya seorang ibu dengan dua atau tiga anak yang masih kecil.Gerobak Seno Gumira Ajidarma Kira-kira sepuluh hari sebelum Lebaran tiba. dan Kakek tidak pernah membagi pekerjaannya yang berat itu dengan orang lain. atau bahkan di depan. Mereka datang dari Negeri Kemiskinan. dengan plastik menutup gerobak dan mereka tidur di dalamnya.

Manusia-manusia gerobak ini seperti bersikap dunia adalah milik mereka . Di karena bukankah gerobak itu dihela oleh orang yang berjalan kaki? Demikianlah gerobak- mana tempatnya. “Hati-hati terhadap orang miskin. Jadi kapan mereka mengemis? Ternyata mereka memang tidak perlu mengemis untuk mendapat sedekah. Pernah pembantu rumah tangga di rumah Kakek yang terlambat sedikit pemandangan. tidur-tiduran menatap langit dengan santai. gerobak itu dari hari ke hari makin banyak saja tampaknya. pula. Juga tidak kulihat mereka menengadahkan mereka datang untuk mengemis? Aku tidak pernah melihat mereka mengulurkan tangan di tangan di tepi jalan dengan batok kelapa atau piring seng di depannya. Di jalan-jalan gerobak itu bikin macet. gerobak-gerobak yang lain itu juga mendapat limpahan makanan Begitulah dari hari ke hari gerobak-gerobak putih itu memenuhi kota kami. tetapi kurasa tentunya dekat-dekat saja. seperti kata Kakek. depan rumah. Benarkah. dan di tepi jalan keluarga gerobak yang Kakek sampai sulit sekali keluar masuk rumah karena gerobak yang berderet-deret di depan memasang tenda-tenda plastik seperti berpiknik itu sudah sangat mengganggu sendiri. memang selalu kulihat mata yang menatap. tetapi tak bisa kuketahui apa yang Sekarang aku tahu gerobak-gerobak berwarna putih itu datang dari Negeri Kemiskinan.rumah orang untuk mengemis. Memang mereka tidak pernah puasa ini? Aku memang selalu mendapat peringatan dari orangtuaku untuk hati-hati. tanganku erat-erat apabila didekati orang-orang yang berbaju compang-camping dan tepinya. menyebutkan kata-kata semacam. dan mereka seperti merasa harus mendapat makanan tepat pada waktunya. Mereka cukup hanya harus hadir di kota kami dan mereka akan mendapatkan sedekah yang tampaknya mereka anggap sebagai hak mereka. Dari balik topi tikar pandan mereka yang sudah jebol dikatakan mata itu. sudah semestinyalah mereka mendapat limpahan pemberian sebanyak-banyaknya tanpa harus mengemis lagi. Apa maksud Kakek? Apakah mereka akan menculik aku? Ataukah setidaknya mereka akan melompat masuk jendela dan merampas makanan enak-enak untuk berbuka bahkan sebaiknya menjauhi orang yang tidak dikenal. Apa yang akan kamu pikir yang berdenging-denging melihat anak kecil berbaju bersih makan es buah dan pudding jika dari kegelapan melihat lampu-lampu kristal di balik jendela. bahkan mobil pagar. Kakek tidak pernah menjelaskan. Nenek misalnya selalu mengirimkan makanan yang berlimpah-limpah kepada gerobak yang menggelar tenda di depan rumah. Demikian pula manusia-manusia dalam gerobak itu tampaknya merasa. bahwa manusia-manusia dalam gerobak itu perlu mendapat sedekah. dalam kerumunan nyamuk warna-warni waktu berbuka puasa?” Aku tertegun.“Apa yang mereka pikirkan Kek?” “Coba saja kamu setiap hari hidup di dalam gerobak di luar sana. Sepanjang hari mereka hanya bergolek-golek di atas tikar. Tampaknya orang-orang yang dianggap berkelebihan diandaikan dengan sendirinya jajar di depan rumah. Ketika kemudian gerobak-gerobak itu makin banyak saja berjajar- harus tahu.” atau “Orang miskin itu jahat.” tetapi kewaspadaan Ibu memang akan selalu meningkat dan segera menggandeng sudah tidak jelas warnanya lagi.

” “Tapi kali ini banyak sekali. dan hidup di dalam rumah. kali ini kota kami penuh sesak gerobak itu masih saja berisi anak-anak kecil dan perempuan dekil. pada saat yang sama gerobak-gerobak masuk kota entah dari mana. mandi di kamar mandi mereka. >diaC< Pada hari Lebaran. orang-orang yang datang bersama gerobak itu telah menduduki rumah tersebut. Lagi-lagi Kakek menghela napas. “Tenang saja. Mereka berkemah di depan rumah-rumah gedung. Mereka juga berharap begitu.mengantar kolak untuk berbuka puasa. kuat. tidur di tempat tidur mereka. dan mewah dari luar pagar tembok. merayapi tembok. dihela seorang lelaki dengan gerobak yang rupanya setiap hari bertambah dengan kelipatan berganda. tetapi setiap tahun itu pula mereka akan selalu menghilang kembali. asri. gerobak-gerobak itu ternyata tidak semakin berkurang. “Mereka memang tidak bisa pulang ke mana-mana lagi sekarang. penghuni rumahrumah gedung satpam. Apabila kemudian warga kota kembali dari kampung.” “Bukankah mereka bisa pulang kembali ke Negeri Kemiskinan?” . padahal hari Lebaran sudah berlalu. itu banyak yang pulang kampung. kali ini gerobak-gerobak itu masih tetap di sana. biasanya kan begitu. mendapat omelan panjang dan pendek. bahkan sebagian telah pula masuk. Lebih dari separuh warga kota mudik ke kampungnya masing-masing pada hari Lebaran. pasti tidak lewat jalan tol.” Para tetangga tidak membantah.” kataku kepada Kakek. dititipkan kepada tetangga. atau ditinggal dan dikunci begitu saja. mereka seperti mengalir tidak ada habisnya. tapi kapan mereka tidak kembali ke tempat asal mereka? Mereka selalu menghilang sehabis Lebaran. pulang ke Negeri Kemiskinan.” kata Kakek. Warga kota yang memasuki kembali rumah-rumah mereka terkejut. kokoh. entah dari mana. Pada hari Lebaran. seperti hadir begitu saja di dalam kota. melompati pagar. meninggalkan rumah yang kadang-kadang dijaga mereka tidur-tiduran sambil memandang rumah-rumah gedung yang indah.rumah gedung itu. karena tentu mendahulukan Kakek. Setiap tahun menjelang hari Lebaran gerobak-gerobak memenuhi kota. makan di meja makan mereka. Gerobakkuat yang melangkah keliling kota. Apakah mereka maunya hidup di dalam rumah-rumah gedung yang “Mereka masih di sini Kek. Berkemah dan menggelar tikar di sembarang tempat. “sehabis Lebaran mereka akan menghilang. dan berenang di selalu mereka tatap dari luar pagar dengan pikiran entah apa dan meninggalkan gerobak mereka untuk selama-lamanya? kolam renang mereka. Meskipun kota kami selalu menjadi sunyi dan sepi setiap kali Lebaran tiba.” “Ya. Tetangga-tetangga juga sudah mulai jengkel.

“apakah mereka harus berbagi tempat tinggal dengan kere unyik itu?” “Siapa pula suruh merendam negeri mereka dengan lumpur. menduduki setiap tanah yang bertingkat. memasuki rumah-rumah gedung . Heran. Sebaliknya semakin lama semakin maksudnya lumpur kemiskinan? Aku hanya tahu. Baru kusadari betapa manusia-manusia seluruh tubuh mereka seperti terbalut lumpur. tetapi Negeri Kemiskinan sudah terendam lumpur sekarang. kenapa manusia tidak pernah cukup puas Aku tidak terlalu paham bagaimana lumpur bisa merendam Negeri Kemiskinan. Barangkali saja untuk selama-lamanya. gerobakbanyak. “Bagaimana nasib cucu-cucu kita nanti. sehingga kadang-kadang mereka tampak patung dan hanya mata mereka akan menatapmu dengan seribu satu makna yang terpancar dari sana. 7 Oktober 2006 kosong. Apakah gerobak putih sama sekali tidak pernah berkurang. Minggu.” sahut Nenek. Pondok Aren.“Ya. tinggal di sana entah sampai kapan. Seperti mereka betul-betul hanyalah Mereka yang tiada punya rumah di atas bumi. tidak bisa diusir dan tidak bisa dibunuh. melompati pagar. muncul di berbagai sudut kota entah dari mana. setelah hari Lebaran berlalu. dan tidak ada kepastian kapan banjir lumpur itu akan selesai.” menerima segala akibat perbuatan kita. Rupa-rupanya seperti patung yang bisa hidup dan bergerak-gerak. di manakah mereka mesti tinggal selain tetap di bumi? Kakek merasa gelisah dengan perkembangan ini. “kita harus dengan apa yang sudah mereka miliki.” katanya kepada Nenek. gerobak ini memang sangat jarang berkata-kata. bahkan merayapi tembok.” Sekarang aku mengerti kenapa orang-orang itu tampak sangat amat dekil.

Cintaku Jauh di Komodo Seno Gumira Ajidarma Hanya laut. Bibirku terasa asin dan rambutku menyerap garam. Aku mengatakannya semacam takdir. dan bukan takdir itu sendiri. Apalagi jika kami lahir kembali masing-masing sebagai pasangan resmi orang lain. dan sebagai manusia kami tidak menempel seperti ketan. terlalu banyak manusia merasa berhak untuk tidak setuju dan melarang hubungan kami. berkarat hanya karena sebuah jarak dari Labuan Bajo ke Komodo. begitu juga bayang-bayang kami yang selalu mengikuti. dari suatu masa ketika cinta pertama kali memang bukan besi? Aku dan kekasihku diciptakan dari sepasang bayang-bayang di tembok yang tubuhnya sudah mati. Memang kembali. ataukah cinta kami ini hanya cinta begitu-begitu saja yang terlalu mudah . kami selalu bisa saling mengenali dan mengusahakan segalanya untuk menyatu kembali. dan semenjak saat itu kami menjadi semacam takdir ketika tiada sesuatu pun di dunia ini yang bisa memutuskan hubungan cinta kami. Barangkali itulah yang disebut dengan cinta abadi. barangkali menunggu kami mati dan bisa berkelebat seenak udel kami. tapi sungguh mati memang hanya seperti dan sekali lagi hanya seperti. berbeda agama pula-betapa beratnya usaha kami menyatukan diri. kemudian berbeda kelas sosial. Kami memang diciptakan dari sepasang tidak pernah lahir kembali sebagai sepasang bayang-bayang yang bisa berkelebat seenak bayang-bayang. membentuk garis lingkaran yang tiada pernah berubah jaraknya. menjadi pasangan baru. tetap menggelisahkan. Bagaimana cinta akan melaju menembus angin yang bergaram. Dunia hanyalah laut dan langit yang dibatasi garis tipis melingkar. menimbulkan tanda tanya: Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku? Setiap kali kami mati dan dilahirkan kembali. lantas saling mencintai. cinta yang abadi adalah sesuatu yang tetap penuh pesona. jika cinta ini belum juga ada? Lagi pula bagaimana cinta akan berkarat karena angin yang bergaram jika cinta berkarat setelah mengarungi berabad-abad jarak. Walaupun kami terbukti Demikianlah cinta kami selalu diuji. Kami sering dilahirkan kembali sebagai manusia. meski perahuku tapi kutahu cintaku belum akan berkarat bila tiba di pulau itu. benarkah begitu kuat usaha kami untuk menyatu menyerah karena berbagai macam halangan yang sebenarnya bisa saja diatasi. karena kami memang tidak terpisahkan. Cinta yang abadi kukira bukanlah sesuatu yang ditakdirkan. tiada seorang pun yang akan mengizinkan dirinya untuk memahami. Apabila kami berbeda kulit. tetap misterius. dan bayang-bayang bisa berkelebat menembus segala tabir. nah. karena sesungguhnyalah hubungan cinta kami yang barangkali abadi itu adalah sesuatu yang diperjuangkan. bahkan kami pun bisa bingung sendiri. Kami seperti tiba-tiba saja ada dan saling mencintai sepenuh hati. karena sesungguhnyalah aku tidak akan bisa tahu apakah benar cinta kami yang barangkali abadi itu adalah takdir. Hanya kekosongan. tetap bertahan. dan tetap terus-menerus diperjuangkan terus-menerus sehingga cinta itu tetap ada. namun kami udelnya. lengket bagai benalu. tetap membara. tapi aku hanya berani mengatakannya semacam takdir.

Apabila kami bertemu dari kelahiran satu ke kelahiran lain. apakah yang masih bisa kulakukan untukmu . Namun. Perburuan liar telah mengurangi jumlah kijang yang biasa dimakan komodo. Suatu kali bahkan ketika lahir kembali sebagai bayi. tapi mereka sebetulnya tidak tanda alam memberi isyarat kepadaku. bagaimanakah caranya ia akan mengenalikuseekor komodo ke dalam apartemenku di Jakarta. kekasihku telah dilahirkan kembali dalam wujud seekor komodo. Pasti Supermie tidak akan pula kekasihku? dan apa yang akan kami lakukan? Aku tidak mungkin mengawini dan membawanya sebagai mengenyangkannya. Apakah aku akan bisa bertemu dengan kekasihku kali ini? Tanda- kekasihku menimbulkan masalah besar.begitu banyak godaan kepada kesetiaan cinta kami: bisa berwujud harta kekayaan. Laut dan langit bagai bertaut. Akibatnya. sehingga lahir kembali sebagai komodo? Apakah ia masih akan mengenaliku dengan pancaindra dan otaknya sebagai seekor komodo? Kalaulah aku masih mempunyai kepekaan untuk mengenalinya. di tempat yang baru itu. yakni cinta yang dahsyat itu. kekasihku dianggap sebagai komodo menyeberangi laut untuk kembali ke Pulau Komodo-dan kini aku datang ke pulau itu untuk mencarinya. Cinta diuji oleh cinta. Karena kami selalu berperilaku baik. karena telah memakan seorang anak gadis yang sedang mandi di sungai. kekasihku sudah lahir berpuluh tahun sebelumnya dan hampir mati. juga dihuni komodo. kami akan saling mengenali. Itulah yang terjadi misalnya ketika aku lahir sebagai pendeta dan kekasihku lahir sebagai putri raja. kami selalu lahir kembali sebagai manusia-kesalahan apakah yang telah dilakukan kekasihku. masihbisa mencintaikekasihku. jikakekasihku itutelah menjadi komodo? Hanya laut. Dalam sejarah percintaan kami dari abad ke abad. dan tiada pula memandang usia? Jika cinta memang mempersatukan jiwa. Kesetiaan kami masing-masing telah hebohnya. bersentuhan sama sekali. dengan segenap petir dan halilintarnya yang tanpa membuat kami selalu bertemu kembali. Atas nama cinta. Sering kali ini sangat membingungkan-tetapi selalu bisa kami atasi. melainkan dibuang ke suatu wilayah di Pulau Flores yang asing yang dimusuhi oleh komodo-komodo lain. begitulah. meski terkadang penuh dengan lukaluka cinta di sana-sini karena ketergodaan yang terlalu menarik untuk tidak dilayani. Tetapi. Lain kali aku lahir kembali sebagai perempuan dan kekasihku lahir kembali tetap sebagai perempuan. yang sekarang berada di Pulau Komodo. sehingga kekasihku dengan kelaparannya yang amat sangat telah menerkam dan maka kekasihku tidak dibunuh. Cinta yang sejati. tapi yang paling berbahaya adalah pesona cinta itu sendiri. hanyalah menjadi sejati jika tahan uji terhadap cinta yang sama kecuali menggetarkan dan mendebarkan hati. sebagai manusia biasa. Hanya kekosongan. bisa berupa kursi kekuasaan. kekasihku berenang dan menelan seorang anak gadis berusia 12 tahun. meski perbedaan duniawi yang membungkus kami bisa mengakibatkan masalah berarti. belum pernah kami lahir kembali dengan berbeda spesies seperti ini. dan aku tidak mengetahuinya. maka kesenjangan tubuh macam apakah yang akan bisa menghalanginya? Justru itulah masalahnya sekarang: apakah aku. tidakkah cinta itu tiada memandang wujud. kukira. Hmm. Karena undang-undang melindungi komodo. Sebagai seekor komodo.

terdapat pula di Pulau Rinca. Ingatan terbalik atas sajak Afterthought : cintakah kau padanya / cintakah kau padanya dalam Toeti Heraty. dan suatu wilayah di Flores yang jumlahnya belum sempat dihitung.000 ekor. akhirnya aku bertemu dengan seekor komodo yang kuyakini sebagai kekasihku. “Introduction” Lombok to Timor (1997). Baca Linda Hoffman. tepat di hadapan mulutnya yang menganga. aku menjadi ragu. Bersenjatakan tongkat bercabang. dan “Enter the Dragon: Visiting the Island of Dinosaurs” dalam Kal Muller. Ketika akhirnya kami berjumpa di sebuah kubangan pada sungai kering berbatu-batu. Reptil bernama resmi Varanus komodoensis yang panjangnya bisa mencapai tiga meter dan berat 150 kilogram. aku bertanya-tanya apakah aku bisa mencintainya seperti aku kosong. Sisa makhluk purbakala itu baru ditemukan secara resmi pada 1911 oleh tentara Hindia Belanda dan diberi nama pada 1912 oleh PA Ouwens. Aku terpeleset dari tebing. langsung patah beberapa bagian. tapi hanya kulihat sebuah pandangan mata yang masih sahih jika aku berusaha tetap mempertahankan cinta? Dalam keadaan seperti ini. Apakah yang masih bisa kukenal pandangan mata yang penuh dengan cinta. Sudah jelas ia tampak kelaparan. dan mencintai kekasihku…. aku berhasil menyelamatkan diri dari serangan sejumlah komodo. East of Bali: from . dan kukira ia tidak mengenaliku lagi-apakah ternyata mengenal wujud-meskipun komodo jantan itu memang penjelmaan kekasihku.hatiku terasa kosong. Kalau aku tidak keliru. Karena aku turun di kampung Komodo dan bukan di Loh Liang. Ternyata.650 ekor (1994). dengan jumlah sekitar 1. hal 111-114. kurator Museum Zoologi Bogor. Nostalgi=Transendensi (1995). tempat para petugas Taman Nasional biasa memandu wisatawan. Labuan Bajo. ataukah hanya seolaholah ada dan dipercaya begitu rupa sehingga mengelabui para peminatnya? Mungkin cinta aku sangat mencintainya. kaki kiriku sudah masuk ke mulutnya. Di dalam tubuh itu 1. sampai kutemukan komodo jantan yang pernah memakan anak gadis itu. dan meluncur masuk ke kubangan. dan selalu disebut hanya terdapat di Pulau Komodo. Juli 2003 * Judul ini mengacu kepada judul sajak Chairil Anwar. seluruh tubuhku tersedot masuk ke dalam tubuh komodo itu sekarang. 2. Semuanya sudah terlambat. Cintaku Jauh di Pulau (1946). Kami bertemu pada suatu siang yang panas dan aku sedang mendaki ketika kulihat ia dari kekasihku yang cantik jelita pada komodo jantan ini? Tadinya masih kuharapkan merayap ke arahku di bawah kerimbunan semak-semak. apakah cinta yang abadi itu sebenarnya memang ada. Rupanya kekasihku menjadi seekor komodo jantan. Aku tidak sempat memanfaatkan tongkat bercabang itu- apakah aku akan lebih bahagia jika menyerahkan jiwa sebagai pengorbanan cinta? Kurasa hanya kurasakan kegelapan-dan perasaan menyatu. hal 75. aku menjelajahi pulau itu siang malam tanpa pengawal. sebanyak 1. Setelah menjelajahi pulau itu selama dua hari dan bertemu dengan sejumlah komodo.

yang lenyap di Poreng. terjemahan A 5. Mereka menyebut komodo sebagai ora. yang bersebelahan dengan Pulau Komodo. Muller. namun terjadinya di Pulau Rinca. hal 111-2. kaki tiga untuk kamera. jauh baca JAJ Verheijen. Rakyat.3. dalam Muller. cit. Kampung Komodo. yang dialami seorang bocah lelaki pada 1987. op. ibid. hal 112 tahun. Bagian kisah ini mengacu kepada suatu kejadian. mempunyai kebudayaan dan bahasa sendiri. satu-satunya kampung di pulau itu.. dan Bahasanya (1987). Lebih Ikram. Korban terakhir adalah Baron Rudolf Van Biberegg.. 4. wisatawan asal Swiss berusia 84 nya. Pulau Komodo: Tanah. terdiri atas 400 KK (2003). Pulau Komodo-yang tertinggal hanyalah tripod- . pada 1972.

meluncur mendayu-dayu diiringi dansa-dansa yang amat indah.” katanya.” kata si wanita beberapa saat kemudian. Elena?” “Bien. Si wanita mencium aroma wewangian dari tubuh si pria.” “Untuk kita.” Si wanita tersenyum. “Ya. “Siapa orangtuanya?” ia bertanya. “Si bungsu. “Como estas. Suaranya datar. Si pria menoleh. Muy bien. hoy. “Aku baru saja mendapatkan cucu ketiga. untuk kita. Kau bisa memberinya beberapa pesetas dan meminta mereka menyanyikannya untukmu. Kepalanya botak.” Tersenyum. Sesekali ia mengangguk atau melemparkan sesungging senyum Sudah hampir pukul sembilan malam rupanya. barat sana. Sinar matahari masih terlihat jelas di ufuk mereka. “Belum. Pedro.” . Matanya menatap ke pengamen obor api yang memasukkan dan mengeluarkan obor berapi di mulutnya. “Una hija. Muy bonita. Ada nada pedih. Pengamen-pengamen asal Puerto Riko asyik menyanyikan lagu-lagu tradisional Farmer’s Song). Lagu-lagu tentang semangat kerja rakyat petani. Beberapa orang berkerumun untuk mendengarkan. Kesegaran menjalari seluruh tubuhnya. tangan si wanita memegang tangan si pria. Ada juga yang membeli kaset hand made-nya seharga 10 pesetas. Suaranya lirih. Julia. “Apakah mereka sudah menyanyikan Cantandole a lo Nuestro?” si pria bertanya. Pedro. Sesaat ia diam. “Aku selalu menyukai lagu itu. Berkilat-kilat kena cahaya lampu yang mulai dinyalakan. Bara cinta meletup di dadanya. Seperti ada beban yang menindih. El Cantar de un Campesino (A kepada orang-orang yang lalu lalang di depannya dan kebetulan menoleh ke arahnya.” Seorang pria duduk di sebelahnya. Sebuah tongkat kayu dari pohon ek berada di tangannya. Ia setua si wanita. Mi Jaragual (My Little Farm).” Ia mengakhiri kalimatnya dengan sekulum senyum. Semilir angin menggeraikan rambutnya yang keemasan.Cinta Elena & Pedro Aba Marjani Wanita tua itu duduk sendirian di kursi pedestrian Las Ramblas.

Monumental de Barcelona.” Mendadak si pria tersenyum getir. “Bagaimana kabar Raul? Apakah ia bahagia dengan Bettina?” si pria bertanya. yang selalu dielu-elukan penonton dalam setiap pertunjukan. Ia ingin sekali menjadi seperti Pedro Romero. Tangannya masih juga memegang tangan si pria.” katanya dengan sunggingan senyum tertahan. “Aku sebenarnya menginginkan ia menjadi pemain sepak bola. Ia tahu Pedro tak tahu tentang mereka. Aku tak ingin ia berada di Nou Camp. Kau bisa pura-pura bahagia. “Kau ingin aku mengatakan apa? Aku turut bahagia dengan segala anugerah yang kau terima? Begitukah?” “Setidaknya kau bisa berkomentar apa saja.” kebanggaanku meski aku orang Basque. Tanpa berkata. Seorang pria tinggi besar yang hampir saja tewas karena serudukan banteng di gelanggang matador di La adalah cita-citanya sejak kecil. si wanita membatin. Ia masih tampan seperti dulu. Di musim panas. Begitu juga Elena. Matahari sebentar lagi akan lenyap ditelan Bumi. Dalam benaknya.Si pria menarik napas. mungkin saat ini ia tengah bertanding di La Liga bersama Raul Gonzalez. sama seperti El Barca yang dua tahun sebelumnya . Itu yang membuatnya berhenti sebagai torero. matahari seolah enggan buru-buru berhenti menyinari Bumi. Pedro. Api cintanya membara. Dalam sekali pandang. Tangannya masih dalam genggaman tangan si wanita. memandang laki-laki di sebelahnya itu. Akan ada dua Raul di sana. Ia selalu merindukanmu.” Malam terus merayap. wajah Raul bergulir. Di dada mereka bunga-bunga cinta membalut. Stadion kebanggaan pendukung El Barca itu terlalu banyak 6024m. Aku cuma Si wanita tersenyum. Api cinta bergejolak di dadanya.0<>w 6024m<1)>jmp 0m<>h 8000m. meskipun itu Si pria melirik si wanita. matador legendaris yang amat masyhur. Ia menyembunyikan sukacita di hatinya. Begitulah selalu di Spanyol.0<>w 8000m< 26 tahun lalu. lintasan kebahagiaan berpendar-pendar. Tak sabar. Demi aku. “Kau tak ingin mengatakan apa-apa lagi. Pedro? Por que?” si wanita menoleh. Di wajahnya berdebar. bertaut. El Merengues selalu jadi tim ingin ia berada di Santiago Bernabeu. cinta mereka berdenyut. Jantung keduanya serasa lebih cepat Dua tahun Elena dan Pedro bahu-membahu sebagai pendukung Barcelona sampai kemudian cinta mereka dipisahkan oleh takdir. “Kalau ia menuruti kata-kataku. Pedro datang dengan segala atribut El Barca. Ia menunggu jawaban si wanita dengan dada “Raul sering kali menanyakanmu. Di sanalah ia dan Pedro pertama kali bertemu ketika Barcelona dikalahkan Liverpool dalam suatu pertandingan tingkat Eropa >jmp -2008m<>h ingin Raul berada di Nou Camp.

Kelompok Elena. Ia khawatir hitungannya terhenti pada Tanpa terikat apa-apa.disisihkan klub sepak bola dari tanah Inggris itu. ia duduk di sebelah si wanita. ada yang dalam gegas.” Si pria bangkit.” katanya. Kesejukan di hatinya singgah. Mengecup kening si wanita. Pejalan kaki tetap berseliweran dari pagi sampai pagi. Ada yang berperilaku seperti manekin hidup dengan tubuh berbalut semacam cat putih dan baru mengubah posisi mematungnya penyanyi Puerto Riko juga tetap setia membawakan lagu-lagu rakyatnya di depan sebuah toko yang menjual berbagai macam majalah dan koran.” Elena tersenyum sumringah. Dengan itu pun ia sebenarnya masih bisa bertahan. Hasta luego. “Buenas noches. si pria tua itu. Elena. Mereka menjual kepandaian. Yang diketuk-ketuknya perlahan-lahan ketika ia berjalan. Tanpa menunggu jawaban. bukan?” si wanita menjawab. Sepasang muda-mudi kemudian duduk di kursi di depan di seberang mereka.” kata si pria kemudian. “Seperti yang kau lihat. juga tetap setia duduk di kursi yang kemarin masa. Tanpa menoleh. tambien. Semuanya mempertontonkan kelebihan masing-masing seraya berharap ada pejalan kaki yang rela menyisihkan uang recehnya beberapa pesetas. Lalu mereka . Aku pamit. Para pengamen berdiri di sisi jalan dengan kesabaran tanpa batas. Dengan es Si pemuda menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemudi.” katanya begitu tiba. Sejak dulu matamu selalu bagus. Lalu. tongkat di tangan. Suaranya agak parau. Si pemudi menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemuda. Cinta memang tak selalu mempertautkan raga meski jiwa mereka takkan terpisahkan oleh apa saja.” Tak ada yang berubah di Las Ramblas. Ada yang santai. “Pedro. “Kukira sudah terlalu malam. bersama-sama menggigit es krim di tangan si pemudi dalam waktu bersamaan. Entah ini hari ke berapa ia berada di sana. ia memang tak ingin menghitung. “Sudah saatnya kita berpisah. Di dadanya rasa nyaman merambah. manakala seseorang melempar uang receh pada sebuah wadah di depannya. didudukinya.” “Mi. Ia belum pikun untuk menghitung bilangan tertentu. Ia ingin menikmati masa-masa tuanya seperti yang ia inginkan sendiri. Mereka tak menadahkan tangan. Pedro. muncul belakangan. Tongkat dari kayu ek itu lebih hanya sebagai teman.” Si wanita tersenyum. menghentikan langkah si pria. “Te amo. Seperti juga hari-hari sebelumnya. si wanita berambut keemasan itu. seperti coba mencari topik pembicaraan di sore yang juga cerah. Elena. Yang membuat langkahnya terasa lebih ringan. keduanya krim di tangan mereka. “Kau sehat?” si pria bertanya. Sisa-sisa api cinta berpendar-pendar di matanya yang cerah. Tanpa tongkat “Buenos dias. Tapi. “Buenos dias.

bukan?” si wanita menoleh. Dalam tubuh memudarkan hasrat mereka untuk tetap bersama. Wajah mereka basah oleh air mata dan tetes-tetes cinta. Sariawan membuat gusiku peka. Dalam tubuh yang renta. takdir itu kemudian datang memisahkan mereka.” Kenangan-kenangan indah bermunculan susul-menyusul memenuhi benak mereka Si wanita tersenyum. Elena. si wanita terkasih. Cinta yang tak lekang oleh waktu dan perubahan. Si pria menoleh. Haruskah aku menjawabnya secara jujur? Si pria bertanya dalam hati. Tak pernah terbayangkan hal itu dapat terjadi. “Kau mencintai istrimu. takkan ada yang mampu memutus tali dan jalinan kasih mereka. Ketika cinta tengah manakala mereka tengah duduk berdua seperti sekarang ini. Cinta mereka memang terbelenggu. Dan keduanya pun kemudian berpisah dalam dekap penuh tangis di sebuah kamar hotel tua di sisi pedestrian Las Ramblas ini. disujudkan kepada laki-laki yang tak dicintainya.pejalan kaki yang berseliweran. Tapi kasih mereka tak dilekangkan oleh perubahan dan waktu. Bukankah kau sakit gigi waktu itu?” “Bukan sakit gigi. Keduanya teringat masa-masa lalu yang indah di dari simfoni-simfoni klasik gubahan Beethoven entah berapa waktu lalu. sudut-sudut Plaza Montjuic jadi saksi abadi keabadian cinta mereka. setelah setetes benih juga Tapi. Mereka seolah cuma ada berduaan. apakah hatinya takkan hancur? Ia kembali mengetuk hatinya dengan pertanyaan penuh keraguan. Ketika saling memberi dan menerima merasuk. Elena harus menikah dengan pria lain pilihan ayahnya. “Ya. “Kau masih ingat ketika itu aku meringis. Setelah sekian lama mereka kerap bertemu dan saling mencurahkan isi hati yang pernah hancur. Wanita yang dulu selalu hadir dalam . Ketika kelana cinta mereka menari-nari dalam sinar mercury yang remang. Mereka tak peduli dengan Plaza Montjuic di bawah tempias air mancur yang meloncat-loncat seiring dentuman drum membuat mereka mabuk. Sambil coba mencari jawaban yang paling mimpi-mimpinya. api kasih masih panas membara. Masa tak mampu memupus dan keduanya kembali. Ketika mereka saling memagut dalam alunan cinta yang kian bertaut. Hampir dua puluh delapan tahun peristiwa itu berlalu. Api cinta mereka memang terpendam. Si pria tersenyum. Tapi tak pernah padam. Yang takkan melukai hati si wanita di sisinya. tepat. Selain Nou Camp. Pedro?” si wanita bertanya. Demi sebuah bisnis keluarga. katamu gigimu sedang sakit. Inilah untuk pertama kalinya pertanyaan seperti itu meluncur. Saat itu mereka yakin tersemaikan dalam sebuah romantisme kasih tak terperi. cinta mereka tetap bergelora. tertawa-tawa berkakakan. Jika aku berkata jujur. “Almarhumah istriku?” ia mencoba mengulur. Dan kini alam mempertemukan renta mereka.

Si wanita menoleh. Melemparkan senyum. Dengan bibir yang masih tampak ranum.

Setidaknya di mata si pria yang kian rabun. Tapi, senyuman itu sekaligus membuat si pria

gelisah. Membuat hatinya resah. Dan ia merasa keringat telah membuat telapak tangannya basah. Embusan angin membuat hatinya makin galau. Di dadanya menggumpal rasa risau. Pedihnya seperti tertusuk-tusuk sejuta pisau.

“Setidaknya aku punya anak dari Evita,” suaranya parau. “Aku mencintai anak-anakku. Pablo dan Javier.” Ia diam sejenak. Sesuatu seperti membuat tenggorokannya tersedak. Ketika ia melirik si wanita, ia melihat angin membuat rambut si wanita tersibak. Dan ia seperti segenap keberanian.

menunggu. “Apakah, apakah kau mencintai suamimu?” ia bertanya setelah mengumpulkan

Si wanita tertawa kecil. Suaranya agak menggigil. “Mengapa kau tertawa, Elena?” si pria bertanya. “Seperti kau, dari Enrique aku punya Julia.” “Dan Raul.” “Kau tak ingin mengatakan Raul sebagai anakmu?” Si pria tak segera menjawab. Seolah ingin membiarkan pertanyaan itu menguap. “Kau masih mendengarkan aku, Pedro?” “Ya,” tenggorokan si pria terasa kian tercekat. “Raul mungkin darah dagingku. Tapi ia anakmu dan Enrique.”

Malam merayap naik. Udara dingin kian terasa menusuk tubuh mereka yang renta. “Aku pulang dulu, Elena,” kata si pria mendahului setelah seorang pemuda meluncur di depannya dengan sepatu roda di kakinya.

Elena bangkit. Pedro pun bangkit. Ia mengecup kening si wanita. Lalu melangkah ke arah utara. Si wanita melangkah ke selatan, ke Plaza de Catalunia.

HARI berikutnya, keduanya bertemu di Plaza de Toros La Monumental de Barcelona, sebuah bangunan tua yang tetap terawat dengan sangat baik. Keduanya memang selalu menyukai aksi para torero dan matador membunuh banteng.

“Kudengar makin banyak yang menentang pertunjukan seperti ini,” kata si pria ketika

keduanya duduk di kursi dari kayu tua di barreras. “Kelihatannya memang tak manusiawi. Tapi alam diciptakan Tuhan untuk manusia. Makhluk-makhluk lain adalah pelengkap. Mereka harus menjadi bagian yang membahagiakan manusia.”

“Itu katamu,” si wanita menyunggingkan senyum ketika para paseillo memasuki arena dan melambaikan tangan mereka kepada para penonton. Sejak kecil, si wanita selalu dibuat

kagum oleh pakaian para torero yang berwarna-warni. “Mereka, para pencinta lingkungan dan binatang, menginginkan semua makhluk hidup, hidup berdampingan secara damai.” “Tapi ini tradisi kita,” si pria membantah. “Aku tahu. Dan kita ke sini bukan untuk berbantah-bantahan, bukan? Kita ke sini untuk

menonton.”

membatin. Ia ingat ketika pertama kali memasuki La Monumental de Barcelona sebagai

Si pria terperangah oleh suara si wanita yang terdengar getas. Ia masih seperti dulu, si pria

sepasang kekasih. Elena menolak duduk di barreras karena harga tiketnya mahal. Ia lebih suka duduk di gradas. Tiketnya paling murah. “Kalau kau mau duduk di sana, silakan kau kanan si wanita dengan tangan kirinya. Menggenggamnya erat-erat. Seperti tak ingin terlepas. duduk sendiri. Aku mau kita di gradas,” katanya ketika itu. Buru-buru si pria meraih tangan

Seorang novilladas memasuki arena. Siap memulai pertunjukan. Tepuk tangan kecil terdengar. Begitulah selalu nasib para matador pemula. Ia harus lebih dulu mempertontonkan kecekatannya menguasai seekor banteng sebelum kemudian diakui

menjadi torero dan akhirnya setelah kemampuannya teruji, menjadi matador sesungguhnya. “Siapa matador kesukaanmu sekarang?” si pria berdehem sesaat kemudian. “Seperti cintaku padamu, sampai sekarang aku masih lebih menyukai Pedro Romero.” “Tapi ia telah tiada.” “Karena itu, hari ini aku ingin melihat aksi Enrique Ponce.” “Enrique?” Si wanita menoleh. Tersenyum penuh arti. “Jangan seperti anak kecil, querido mio. Tak ada hubungannya dengan Enrique almarhum Enrique dalam batinku.”

suamiku. Aku menyukainya karena kehebatannya, bukan karena namanya. Saat ini tak ada

Enrique Ponce memasuki arena. Ia akan memuncaki pertunjukan siang itu. Tepuk tangan membahana ketika ia keluar dari puerta grande. Tepuk tangan kian membahana ketika seekor banteng besar seberat 360 kg dihadapkan kepadanya. Dan, ia tak perlu berlamaperlahan-lahan seperti bersujud di hadapan sang matador.

lama untuk menancapkan estoque-nya melalui leher bagian atas si banteng yang kemudian

“Ia seperti memiliki mata malaikat,” si wanita berkata, seperti mendesah. “Ia memang luar biasa. Suatu saat ia mungkin bisa seperti Pedro Romero, sang legendaris itu,” sambung si pria.

Kini keduanya duduk di sebuah kursi panjang terbuat dari besi di sisi jalan tak jauh dari Plaza de Toros. Matahari bersinar amat cerah. Langit tampak kebiruan.

hoopoe dari kejauhan.

“Aku tak ingin semua ini segera berakhir,” si pria berkata, ditingkahi suara burung-burung

“Tapi hidup ada batasnya,” sahut si wanita seiring desiran dedaunan pohon palem yang ditiup angin.

“Kau ingin kita menyudahi semuanya, Elena?” Tak terdengar sahutan. Mata si wanita menatap ke kejauhan. Di sana tampak empat pria tua martil.

asyik bermain petanque, yaitu permainan melempar besi berbentuk bulat seperti bola lontar

“Kau ingin aku menikahimu?” si pria kembali bertanya. Si wanita meringis. “Akan menjadi pernikahan yang menarik,” ia mendesah beberapa saat kemudian. “Tapi Raul tak ingin hal itu terjadi.”

Si pria tampak terperanjat. “Sudah kau ceritakan siapa aku kepadanya?” si pria bertanya. Menduga-duga. Rasa galau berloncatan di dadanya.

“Tidak seperti yang mungkin kau sangka. Baginya, kau cinta pertamaku. Ia tahu apa itu artinya.”

“Tapi, kenapa ia tak setuju kita menikah?” Tak segera terdengar sahutan. “Aku tak ingin tahu alasannya. Aku cuma tahu ia tak setuju.” Lama keduanya terdiam. Hening menyungkup kamar itu. Si pria duduk memandang si wanita. Ada gelora cinta. Menggemuruhi dada keduanya.

“Kau masih secantik dulu,” katanya lebih mirip desahan. Suaranya agak tertahan. “Cintaku tak pernah dilekangkan oleh zaman.”

Setetes air bening menetes di mata si wanita. Tak ada luncuran kata. Ia tetap diam tanpa suara, beberapa lama. Tapi di dadanya kebahagiaan melanda.

Si pria berdiri. Melangkah perlahan menghampiri. Si wanita duduk diam menanti. Dadanya berdegup tiada henti.

Buenos dias. Mi. matador pemula. bintang dalam pertunjukan matador. julukan klub Barcelona. Dalam gelap. kursi terdepan (termahal). Tak ada yang dapat dipersalahkan.* Jakarta. “Tak ada yang perlu dimaafkan. baik. divisi utama Liga Spanyol. Dalam gagap ia menemukan sepucuk tunas tumbuh. ruangan itu gelap. Barreras. Jantungnya kian kencang berdegup. Mendaki dan mendaki. . dan Javier berdiri berjajar. Muy bien.” kata Julia lirih. Pesetas. tambien. Dengan baju serba hitam. Por que? Kenapa? Torero. kandang klub sepak bola Barcelona. Julia. Nou Camp atau Camp Nou. sebutan umum untuk matador.” kata Pablo. El Barca (baca El Barsa). Plaza de Toros. Si wanita tergagap.Beberapa lama si pria dan si wanita duduk dalam diam. Februari 2004 Catatan: Tingkatannya di atas torero. hoy? Apa kabarmu? Bien. Gradas. parade para matador sebelum pertunjukan. si pria menatap bebukitan tandus tapi memberinya gairah meluap. Dalam sunyi abadi. Sebentar lagi prosesi pemakaman dilakukan. Lalu. Pablo. Tak ada yang menyahut lagi. Kalimat itu ia tujukan buat Raul dan Julia. Keheningan mencekam. Dalam kepasrahan ia membiarkan si pria pergi. tempat pertunjukan matador. aku juga. Cantik sekali. Raul.tempat duduk paling tinggi. aku cinta padamu. Dalam peti berbalut kain hitam. El Merengues. Gairah di dadanya pun meletup. tetap tertunduk. Mendaki. sampai jumpa. Matador. Como estas. selamat siang. Di hadapan mereka berjajar dua tubuh dalam diam. Paseillo. selamat malam. Hasta luego. julukan klub sepak bola Real Madrid. Muy bonita. La Liga. Te amo. baik sekali. nama mata uang Spanyol. seorang anak perempuan. “Aku minta maaf atas semua yang telah terjadi. Una hija. Buenas noches. Novilladas. Tapi gemuruh cinta di dada keduanya berdentam-dentam.” kata Raul dengan wajah “Mereka pergi membawa cinta abadi mereka. Sampai kemudian semuanya berhenti.

pada 30 Maret 1976 1) Barcelona kalah 0-1 dari Liverpool dalam pertandingan semifinal Piala UEFA second leg Querido mio. sayangku (My dear). Puerta grande. . pintu utama.

Di kantong celana kawannya ditemukan polisi ekstasi. telah lama kami hindarkan terhenti. Libur. sambil terus melaju di jalan tol. “Nina dan cucu-cucuku sehat?” “Sehat. “Terus sajalah. Tahun lalu. yang semua sarjana bahkan dua doktor pula. Namun abangku. “Besokbesok aku menginap di rumah si Nina. “Oh. Justru itu. Isinya ucapan selamat. didampingi seorang cucu. melihat anak. Masih keliling ke berbagai kota bahkan pulau. menutup mata serta telinga beliau. Mereka . Kami tidak bisa lagi koran dan televisi. kadang kubayangkan urat saraf bunda lebih rimbun dan juga lebih canggih dari kami. Dan saat kulirik ke samping. cucu. Palinggam….” Ia cengar-cengir. Di hari baik bulan baik bagi yang bersangkutan (ulang tahun. menutup-nutupinya. kabar buruk dari beliau. kulihat keponakanku di jok belakang. cucu.” “Tak penat aku!” tukasnya keheng. melayang suratnya dengan tulisan halus-tebal model masa lalu. Kasus dan sakitnya abangku. mengikuti perkembangan mereka. panik. seminggu ia menginap di kantor polisi. Urat-urat saraf itu tak denyut adalah pantauan sekaligus hubungan dengan anak. Om. harapan. juga nasihat. Apa yang bakal terjadi ketika bunda berjumpa abangku itu nanti? Tanpa sadar aku menggeleng. tamat kuliah. Man?” tanyaku mengalihkan pikiran yang melayang saja ke mana-mana. naik jabatan). tidak berani membayangkan. agaknya melantunkan nyanyian riang dalam hati. Senyam-senyum. doa. Tapi. Tiap banyak.” Ia selalu menyebut rumah anak lelakinya dengan nama menantu. Ia tergeragap. Ya. dan memanggil anak-anak kami “cucuku”. Tempo-tempo. Dengan masalah yang juga tambah banyak. stamina dan kegesitannya seolah tak berubah. Nanti sore kuantar…. Masih pasang mata dan telinga baik-baik. pasti beliau tidak tidur.” ujar beliau saat kujemput di SoekarnoHatta. Seminggu!” “Kuliahmu lancar?” “Lancar. keras kepala.Lampu Ibu Adek Alwi Akhirnya bunda datang juga ke Jakarta. dan cicit yang makin henti berdenyut. Merenung? manggut-manggut.” Aku lalu diam dan terus menyetir. Makanya. atau kedap-kedip serupa kabel di pusat telepon. jika ia tahu. mata bunda terpejam. telah disiarkan “Antar aku dulu menengok abangmu. dan cicit. karena belum siap melihat denyut itu tiba-tiba Aku menarik napas. seperti jantung kita. naik kelas. Palinggam. tujuh anaknya. laiknya anak muda. terlibat pula dia menyelesaikan beragam masalah. Seluruh keluarga heboh.” kubilang. Berpikir-pikir? Lewat kaca spion. “Baiknya Bunda istirahat dulu. Tak dapat lagi ditutup-tutupi dari bunda. “Libur kau. Kapan pula dia merasa penat? Meski umur 80 dan tubuh makin ciut.

Dan bunda menyergap orang itu?” pula. serupa mayat!” Mata bunda kulihat sudah terbuka lagi. Syukur. bicara sendiri saja. pulang dari rumah sakit. ingat suami yang jarang pulang. Nak.” jawab Kak Leila. Pun ulah cucu. Pucat pula.” Kusodorkan . Ingin kencing.” “Eh. “Baik saja. berempat. dituduh korupsi. Tak apa-apa. matahari pagi. ingat pengalaman bermalam di kantor polisi. HP-ku lalu berbunyi. Palinggam. Dan saat umur muda Herman. Dan bunda tetap menoleh. Dalam hati kembali kumaki-maki abangku.semobil. “Lagi di jalan. disekolahkan hingga tinggi. kau biarkan anak naik gunung?” “Ala. berucap lunak. seperti pernah dia ucapkan? ibu tamat seiring perginya hayat dari badan? Sebab di situ beda ibu manusia dengan induk “Bagaimana abangmu sekarang?” Bunda melepas pandang dari jalanan. Bunda? Sehat. Kak Leila berpura sibuk. Tujuh anak yang masih sekolah saat suami wafat telah ia bekali. Lihat. Semuanya digaruk. tangguh. tak lama lagi Grogol. Ke mana dia?” tanya beliau suatu pagi. Pandai-pandai mencari kawan. Lalu Slipi. Herman pulang. “Diajak kawan-kawannya. dan berhasil. tak apa-apa Bunda. Dan kendaraan-kendaraan yang berkilau seliweran di jalan tol.” Dan diam lagi. Maksudnya membantu Kak Leila. “Sudah pulang abangmu dari rumah sakit? Pura-pura sakit saja dia. “Sudah dua hari tidak kulihat cucuku. si Herman. sebab sendiri saja membesarkan kami? Ah.” kubilang. baginya tugas ayam dan kucing. “Apa maksudmu?” “Maksudku. o. O. pada usia senja? Merasa gagal. anak-anak kami. memandang jalanan.” “Cuaca buruk. nenek yang risau itu memanggilnya.” kubilang. menatap aspal jalanan yang berpendar disinari Jelambar. “Elok-elok kau jalani mengundang datangnya mudarat. Agar mereka jadi manusia. dengan uang hasil pensiun serta kedai rempah. anak laki-laki. sudah. sejak kapan alam berubah hanya memperdaya perempuan?” ujar bunda. menanti jawaban. kau bilang tak apa-apa?” suaranya bagai berasal dari tempat yang jauh. Masalah kami hari ini dengan begitu tak perlu lagi menjadi beban beliau. tak Herman kabarnya menangis. Kami sudah di Apa gerangan yang terlintas dalam pikirannya? Anak cucu yang tak membawa kabar baik.” Tiba-tiba aku jadi gugup. “Biasa itu. Betapa ingin kusampaikan bahwa dia ibu yang perkasa. “Naik gunung. kurusnya engkau. “Masuk rumah sakit. Dari istriku.” adikku Rosa menyahut. Kawan yang baik. Bunda tentu tidak diberi tahu. Rosa langsung diam. “Sudah. Atau. “Kurang dingin AC-nya Bunda?” “Cukup. seperti orang- Aku makin gugup.

Ini. Aida. Eh.” kataku. menangis tersedu. “Sibuk terus. siswi SMU kelas dua itu. termasuk Kak Meinar di Medan dan kami di Jakarta. sesak kendaraan yang padat-merayap ke arah Thamrin-Kota. . Cucuku. Mana cucu-cucuku? Oh. Andamsari. Memeluk bunda. tak juga puas. Bunda. Biar dia lupa bertanya. tambahku tanpa suara. “Buktinya aku kini tak ke mana-mana. Kalian bagaimana? Syukurlah. Kau sudah di kantor! Bawa mereka nanti ke rumah kakakmu Andamsari. Tapi. Nak. hah. tanpa seragam. Sering ke luar kota. Tahu kalian. “Aku cuma khawatir. Tetapi di halaman dalam terlihat sejumlah orang. Dan. Kami sudah tiba di Semanggi. Lalu ia mendekat.” “Dan kau sibuk pula. sibuk benar kudengar istrimu. Mau bicara. bunda yang tadinya tidak tahu curiga melihat semua meradang. sekali waktu lenyap dari rumah mereka di dari Singapura. Harta meruah.” “Nina manajer pemasaran. Bunda?” Kudului dia bertanya saat pembicaraan itu berakhir. Namun boleh jadi berlebihan. HP ke bunda. berhenti di tempat parkir khusus keluarga. Aida tak jumpa. Anak gadis kakakku. karena bunda lantas bertanya. Mereka tahu sehari setelah kejadian. Mungkin berjaga-jaga dari demonstran. atau khawatir abangku raib tak ketahuan rimbanya. Pagar maupun gerbangnya tertutup. pulang dihubungi. Kakak dan abang iparku kalang kabut. “Tanya kesehatanku. masih punya waktu kalian buat cucu-cucuku?” Aku tertegun. Aku lihat abang kalian itu dulu…. “Jangan kalian berahasia lagi. bebas dari di luar. seperti biasanya.” ia bilang. masih kuat aku ke Jakarta. meluncur mulus ke Kebayoran. rumah abangku sepi saja Aku terus melaju ke sayap kanan. Bunda. “KakakAnak dibiarkan tumbuh sendiri.” ujarnya.” Mudah-mudahan lama. Aida. Ya? Besok-besok. Termasuk polisi. Bunda. alis bunda tetap bertaut. “Biasalah. “Nina. Lalu. Ke luar negeri juga. Ceritakan apa yang terjadi!” katanya Ketika kejadian itu diceritakan setelah diedit dibagusi. Terpikir olehku. sudah menanti di teras. “Mengapa kau ketawa?” “Tentu punya waktu. Aku berbelok. Kemudian tertawa. Kakak iparku.” “Apa kata Nina. Jangan pula dia alami seperti keponakanmu. bersama pacarnya.” “Bukan hanya karena hendak menjemputku?” Aku menggeleng.Obrolan panjang. sehat Nak. Nak.” Aku diam kembali. “Syukurlah. suara bunda: “Nina? O. Syukur dua remaja itu sungguh sekadar berjalan-jalan. si Aya. Dicari serta ditanya ke mana-mana. orang sibuk kasak-kusuk. sudah gadis bukan? Sudah SMP. Aida. ditemukan adikku Rafli di pantai Padang. anak ayam saja tidak seburuk itu nasibnya!” kakak kalian itu yang salah jalan!” ujarnya keras. Alhamdulillah. Semua saudara Batam.

” Mengangkat muka lagi. dimaafkan. melepas urine yang “Tapi kayaknya tidak apa-apa. . sayu. mengapa kau mengelak diperiksa. hampir menyerupai bisik. Mata Bang Palinggam kian berkaca-kaca.” “Bagaimana bunda? Bang Palinggam. Bunda. yang benar harus disampaikan sekalipun pahit. kencing. Kalaupun akibatnya kau diberhentikan bekerja.” Sampai di situ mataku terasa jadi panas. Bunda. “Aku punya atasan. pada hatimu sendiri. sudah. Juga aku serta Kak Andam. Nak. “Apalagi kau. Dan HP-ku kembali bernyanyi. “Tetapi bagiku. aku tetap bersih. Mukanya kuyu. Acara bertangisan agaknya telah usai sewaktu aku mendekat ke ruangan itu. Namun takdir seorang ibu. Loyo. Nina lagi. Abangku melirik. yang sedikit banyak ikut dibela ayahmu dari penjajah. Bang Palinggam terpana menatap bunda. Aku tergopoh ke toilet. “Kalian sekarang memang bukan lagi anakku yang dulu. Suaranya makin lunak. memandang bunda. “Namun hingga detik ini.…” entah dibawa udara dari bumi yang mana. Aku juga kader partai. Kak Andam?” tanyanya antusias. “Tak paham aku soal-soal begitu. melihat bunda lagi. Bunda sekarang tampaknya banyak diam. Rasanya.” Bunda mengedarkan senyum. Terkutuk aku bila mendustai “Kalau begitu. Dan aku merasa. Bunda diam. juga kepadaku. aku tahu sekarang dari mana sunyi itu berasal. “Belum tahu. Palinggam.” “Dasar!” Pembantu bergegas mengangkut bawaan bunda. selalu terdorong menyalakan lampu hingga akhir hayatnya.” “Di mana rumitnya?” Tidak terdengar suara. Menarik napas. Juga kepada Tuhan. dipecat partaimu. bagiku itu lebih baik daripada kau berkhianat pada kebenaran. “Sudah sampai belum?” “Sudah. Nak. Aku di kakus.” ujarnya bak mengadu.hendak meledak. Matanya perlahan berkaca-kaca.” dia bilang. Palinggam.” sahut bunda kemudian. Bunda. Dan negeri ini. seperti minta Bunda. Dia menunduk. Dan lapat-lapat kudengar suara sunyi merayap. kini sudah bercucu pula. “Aku punya kawan. Nanti saja aku kabari. bagai kelap-kelip mercu suar di malam gulita penuh badai. itu isyarat dari abangku. Suara Bang Palinggam terdengar pelan.” Mereka duduk bertiga di ruang keluarga. Nak? Kenapa berpura sakit? Mengapa tidak kau beberkan saja semuanya?” “Tidak sesederhana itu. Aku muncul.

” jawab Tum menampakkan senyum yang ganjil. Nius. seperti tidak kenal lelah. Paling tidak dua atau tiga tahun sekali ada mereka pulang. Si Tunik buka lepau nasi di Muaro Bungo. “Seperti ada dan tiada. “Seperti orang-orang di dalam mimpi. yang meneruskan usaha keluarga membuka kedai mengenang kawan lama serta kota kami yang setelempap tetapi menyimpan sifat-sifat aneh tak terduga. Di kota kami orang Cina tidak mampu “Tentu!” kubilang. seolah sudah bosan lalu raib entah ke mana. Mereka pemilik satu-satunya bioskop dan “Bun di Medan jadi dokter. Kalau aku pulang. Tempo-tempo mata kawan masa kecil itu memang tak tampak. bahkan banyak yang tidak pulang sejak merantau-belasan atau puluhan tahun yang silam. Berbagai peristiwa timbun-bertimbun. berai. Nius. Si Talib di Dumai. si Talib dan si Tunik yang acap pulang. setelah mengamati wajah-wajah tak kukenal waktu kecil. Mungkin karena bersama istri dan anak-anaknya. 22 November 2006 Mata Sultani Adelk Alwi Sudah hampir empat puluh tahun mata Sultani menatapku. dewasa atau jadi tua. Dia dan keluarganya tergolong aneh.” jawab Tum. Satu di Palembang. “Pernah sekali datang waktu mau ke Padang melihat kakaknya. yang lalu lalang di luar kedai kopi Tum. memurukkan yang lama ke lipatan bawah dan juga menguap ke luar ingatan. tetapi tak banyak lagi kabar gembira aku peroleh. Berubah sekarang. Bahkan mengerikan. kendati kota kami tetap saja setelempap. akrab dengan pribumi.” tambah Amril. sudah bercucu satu. Tidak sekalipun berkedip. kopi di simpang jalan dekat pasar. “Ingat si Bun Kay?” tiba-tiba Tum menyela. Hanya menatap. sebagai dua studio foto yang ada di kota kami.” .Jakarta. Hebat dia!” pensiun. Waktu terus berjalan dan orang-orang lahir. bila aku pulang ke kota kami selalu kutanyakan kawan-kawan masa kecil itu. Ayah Bun tukang gigi. Padahal tahun demi tahun terus berganti dan kini telah mendekati tahun keempat puluh. tak pernah bersua kecuali dengan dua-tiga kawan yang setia menghuni kota kelahiran Kepada mereka. “Tak lama lagi Dua lepau nasinya sekarang. namun kemudian muncul lagi dan kembali menatap. Kami ajak bermalam tidak mau.” Biju menerangkan dengan gembira. ibunya berjualan kue mohok alias bakpau. “Di mana dia?” tanyaku antusias. Nius. di kedai kopi itu kami bercakap-cakap “Si Cudik kini di Lubuk Sikaping. Tapi kami kawani dia melihat bekas rumah orangtuanya. Kawan-kawan lama kami jarang pulang. Bun satu-satunya sahabat Cina kami di bersaing di pasar dengan pedagang pribumi tetapi tidak tertandingi membuat kue.” “Hanya si Cudik. grosir roti dan permen. lebih-lebih tukang gigi. Aku dan kawan-kawan pun sudah ceraikami.

guru mengaji Tempo-tempo kawan itu memang cingkahak. Dulu kami sering bermalam di rumah itu. Matanya tak terlalu sipit. pintar di sekolah. Juga pandai menjahit. Seperti di rumah Bun. Kalau di rumah Bun kami disuguhi kue mohok. Tapi kami cegah. Mereka bilang ayah Bun menjual gigi dari Peking. “Didiamkan berhenti sendiri!” Lin terlihat segar.” bilang Tum. diduduki hingga kini. Sultani.” “Bagaimana kabar Sultani? Di mana dia?” tanyaku pada kawan-kawan di kota kelahiran. Dan pernah pula Buya Makruf. Bagiku. Ayah Sultani kepala terminal sekaligus ketua organisasi buruh. lantai. Lalu ia sambar roti. Sultani menarik piring roti ke dalam sarung. alias usil plus kurang ajar.” sahut Tum. seperti buang hajat. Pagi-pagi Rambut ekor kuda. Kami diselundupkan portir ketika lampu bioskop padam. Saat dia letakkan ke meja tak seorang pun yang berselera menyentuh dia ulahi. berisi mohok serta teh manis. Ibunya baik seperti ibu Bun. “Di dalamnya ada kerak gigi!” Kalera! Sultani meradang dan hampir menghadiahi mereka “ketupat Bengkulu”. “Itulah. ibu Sultani pagi-pagi menghidangkan nasi kadang susu. “Banyak kawan kita serasa ada dan tiada. mencangkunginya kecuali dia. tidak halam! Enak laaa. Bak orang-orang dalam mimpi. Portir bioskop juga . Minumnya teh hangat.” ia sodorkan nampan perut kami. mencukur. Tidak kecuali KAWAN masa kecil itu lincah. menyogok portir bioskop sehingga kami bisa nonton film 17 tahun ke Membungkuk-bungkuk mencari kursi kelas 3 yang kosong. lebih menyenangkan kalau yang mengantar kue adalah Sui Lin. “Percuma. tak pake babi laaa. mengajak makan. berdebar-debar sekitar dua jam menyaksikan aksi Sophia Loren yang atas yang dibintangi Sophia Loren.Dalam peristiwa dahsyat pertengahan 1960-an rumah orangtua Bun di Kebun Sikolos diobrak-abrik massa. kembali menampakkan senyum yang ganjil. Biju dan “Makan. makan! Tidak halam! Tak pake gigi babi laaa!” Sultani cengar-cengir menyindir. kami kerap nginap di rumah Sultani. Tunik juga. atau menjelepak duduk di menggairahkan. Nius. Kelas 6 SD kurasakan gejolak cinta Mereka menggeleng. Kami berebut. adik Bun. Itu pula sebabnya dendamku pada Sultani pernah seperti tidak berujung. suara itu. Suka-suka kami mau makan apa. Sultani malah tertawa-tawa makan uang haram itu. adik kelas kami. Begitu sandalnya berlosoh pergi kue dan teh itu amblas ke “Jelas enak. Suara Lin halus: “Ko Bun! Engko Bun!” Dadaku berdebar mendengar monyet mengalir deras terhadap Lin. Bun tertawa-tawa menyikat nasi goreng. mengantar kue mohok hangat- hangat. goreng serta roti lapis mentega. Di antara lipatan uang sogokan dia selipkan duit buntung atau uang zaman Jepang sehingga untuk beberapa waktu kami terpaksa puasa nonton film orang dewasa. lucu. Keluarga itu memang kaya dan terpandang. Pipinya putih kemerahan serupa jambu air. dan tak pakai babi!” komentar anak-anak yang iri. Dia kapten sepak bola. Pagi-pagi terdengar sandal ibu Bun berlosoh-losoh mendekati paviliun tempat kami tidur. “Tidak halam. juga ketukan jari-jarinya yang mungil di pintu.

mendampingi kawan itu setiap malam. dan tukang cukur langganan ayah itu pun ber-hm-hm “Cukur sama Sultani!” Biju menyarankan. Biar aku yang ngajar. Ulah Sultani! Suatu kali. Rustam. Tunik juga. selesai!” Ayah Bun terkekeh. Mestinya waktu kita kelas tiga. Ayah dan ibunya setuju. Aku serahkan kepalaku pada Sultani. Dan Bun disunat. tajwid dan Bukan saja Bun. potong pendek bak rambut tentara saja aku bosan. Aku malah tak sekali. tidak terasa. serta sarung beliau “terbang. Kepandaian kiraahnya elok. “Tapi tak apa-apa terlambat daripada tidak. itu turun dari ibunya. . Ibunya tersipu. setiap usai dicukur kepalaku tetap mirip tentara atau anak kecil. Tetapi. Ada yang menyentak ujung kulupnya dari bawah air. Pelan-pelan disentuh Sultani kepalaku. melecutkan ke kaki-seperti dia lakukan pada kami selaku guru kecil yang cingkahak. Ibunya selalu mengaji tiap subuh. Mataku merem melek. Sudah lama aku dambakan model rambut orang dewasa atau rambut abangku. banyak kawan merasakan ulah Sultani. Rancak. jadi keras. Iya kan.” ujar Sultani saat Bun meringis dan kami Bun?” Bun mengangguk lemah. Bah!” Sultani meyakinkan bak tukang obat. Tak licin di sekeliling kepala. tidur-tidur ayam. Suara gunting tak berdencing-dencing ganas. Kelas enam disunat. Jangan pula licin tandas bak kelapa. dan suatu petang Bun termangu di halaman Masjid Jambatan Basi menanti kami usai mengaji. Mukanya pucat serupa mayat. Babah mau coba? Sret. “Sebetulnya telat Bun. ajakan Sultani pada Bun karena dia ingin mengamangkan rotan di depan kawan itu. Padahal selalu kuminta Mak Hasan sambil mendorong kepalaku kian kemari. Bun!” Sultani memang pandai mengaji dan ditunjuk Buya Makruf sebagai guru kecil. kopiah. “Sunat Bun! Potong Bun! Saat liburan tiba Bun pun lalu minta disunat. “Seperti model rambut Bang Rustam. kan?” Aku mengangguk. Terbahak-bahak seperti hantu air. Baju. Uang yang sedianya diterima Mak Hasan kujanjikan kami bagi dua. “Ular! Ular!” Bun berteriak menyembul di tengah sungai. Sultani berkata: “Sudah Bun. Mendesis-desis lunak. tentu saja. “Ayaaa. ikut mengaji saja. terbungkuk-bungkuk keluar tempat wudu bercelana kolor dan dada bugil. Mulanya sungguh-sungguh juga dia. kan?” Seperti rambut Biju itu yang kuinginkan. Suaranya merdu. Namun yang membuat dendamku membara ketika semua bulu di kepalaku dia babat. Bun mau potong bulung bole potong. tetap ditumbuhi rambut dua-tiga senti yang melingkar manis rapi di sekitar telinga. Setelah sembuh. “Rambutku dia cukur. Dan sesekali. laaa. ke halaman masjid. Berenang kalang kabut ke tepi. “Malah. Asal Bun tidak nangis kalu sakit laaa. Sebulan ditanggung fasih.kami.” “Tidak sakit. ketika mandi-mandi di batang air yang mengalir di kota kami Bun tiba-tiba panik. Kepala Sultani Terlalu panjang Bun!” terpekik. Tapi aku merasa. mencukur seperti yang kuinginkan.

Dendamku laksana sumur tanpa dasar. tegak kaku di ambang pintu. Nius. Perempuan itu Aku menyeruak di sela-sela orang dewasa. mendengar di mana Sultani. meraung-raung.Tetapi lama-lama kepalaku semakin dingin.” sambung Biju Berkabar pun mereka tak pernah sejak kejadian itu. aku menghambur ke jalan. Buas sekali. berteriak-teriak. tahi kuda dan entah dengan apa lagi. Menyeret serta mengarak ayah Sultani entah ke mana. sebagian kepalaku sudah terkelupas bak ayam hendak digulai! “Tak ada jalan lain. berdarah. Tidak kuhiraukan imbauan ibu dan ayah. melihat aku “Sejak peristiwa itu tak ada yang tahu di mana Sultani dan keluarganya. mati awak rasanya menanggung aib! “KEPADA kawan-kawan yang tiba dari rantau kami juga bertanya kalau-kalau mereka tak henti menanyakan kawan masa kecil itu tiap pulang ke kota kelahiran. tersenyum Sejak hari itu kami tak berteguran. Tanganku dicekal. Menyepak pintu hingga rubuh. Seakan-akan bukan warga kota kami yang sehari-harinya tenang dan saling menyapa. “Tadi di sini terlampau pendek. Sudahlah. Ketika kuraba. kuratakan. Dia mendekat. diseret abangku pulang.” lesu. suatu pagi. Tetapi mereka pun tidak tahu. tak mendengar orangtua!” Cudik bilang mereka membawanya ke Singgalang . Mereka menuju rumah batu. Tahi kambing. Lupa aku pada sifat baiknya yang setia kawan dan suka memberi. sepekan rambutmu panjang lagi. seperti Yull Bryner kau!” manusia cingkahak itu. Bergelombang-gelombang manusia. “Sanak famili ayahnya di kampung juga tidak. Suara mereka teramat gaduh. Lebih-lebih waktu Sui Lin. malah sebelah sini terlampau pendek. Mereka melempar rumah itu dengan berderai. “Seperti mencampakkan bangkai anjing!” cerita Cudik. Dia juga matanya bersirobok dengan mataku. Mereka terus berteriak. Sejumlah orang menerabas masuk. kurang ajar ya. Sewaktu prahara dahsyat pertengahan 1960-an melanda kota kami. Kaca-kaca pecah terjerembap di halaman. Ibu Sultani berlari mengejar. lewat bergelombang-gelombang di muka rumah sambil berteriak-teriak. Kakak perempuan Sultani mendekapnya erat-erat. Kusaksikan ayah Sultani diseret. Menangis. aku menghindar. Dan aku merasa ketika itu Sultani tengah menatapku dengan mata tidak berkedip seperti biasanya. Mukanya menangis. “Mulai Kariang. hasilnya nihil. dan orang bergegas Sultani. aku tidak mau bicara atau dekat-dekat dengan melihat kepalaku yang plontos bak kelapa ketika aku nginap di rumah Bun. Nius. Bagus juga kau gundul. Tum diam saja mendengarkan sunyi. “Jangan ikut! Jangan ikut kau!” Aku terus berjalan di belakang gelombang-gelombang manusia yang riuh. “Kepala Ko Nius kenapa?” Alamak. Sultani juga. Eh. Lalu ia terpana ketika Orang-orang masih berteriak. Aneh sekali.” kata Amril. terpaksa begitu!” Ditekan Sultani kepalaku dengan ujung telunjuk. melihat aku di tengah kerumunan. Atau pergi. Membuang mayat orang tua itu ke Batang Anai. Dia cerita begini-begitu aku buang muka. Pernah kami tanya ke situ. Lututku menggigil. Menghabisinya. Tepatnya.

“Dan. Kalian tidak tahu? Mereka menghabisinya petang itu juga!” waktu menjala ikan. 2 April 2005 berkedip.“Bagaimana kau tahu? Ikut kau ke situ?” kami tanyai Cudik ramai-ramai. Hanya mata saja. ada yang menemukan sepasang mata di Batang Anai Kami bertatapan.* Jakarta. Tubuhnya tidak ada!” Cudik berkeras. Bahkan sampai kini. yang menatapku tanpa berlalu menghanyutkan zaman dan usia ke muara. dua buah. Diam-diam terbayang olehku mata Sultani. “Semua orang bilang begitu. seolah-olah tidak pernah lelah. kemarin pagi. walaupun tahun demi tahun .

Kadang-kadang pagi. hidupnya. sudah turun pula si kaki seribu!” Lalu mereka cakap. Tukang kerupuk tak selalu berarti orang yang membuat kerupuk.anak muda kota kami lebih suka pakai jaket daripada jas. di kota berniaga. Meski cuaca cerah. Karena. sedang jas pun (yang dikukuhkan sebagai pakaian resmi sebab istimewa di kota kami. bukan suatu yang kecuali para kusir bendi dan tukang kacang goreng yang duduk mencangkung di pojokDan. Di mana-mana kau bisa saksikan kaum pria memakai jas. jangan pula payung. penjual kerupuk. “Hoi. Kecuali. meski aktivitas seseorang berjualan. orang-orang kota-kota besar Eropa pada masa lalu. walau kerap membungkus tubuh mereka dengan jas. tapi jarang sekali pria kota kami membuat jas dua kali dalam pojok jalan dalam kabut. Berbagai pemandangan ganjil-lucu yang tidak bersua di tempat lain bisa kau temukan di kota kami kalau Anda suatu ketika berkunjung ke sana. warga kota menderap laksana suara kaki belasan ekor kuda. tukang kacang goreng dan penggemar makanan ringan itu. di belakang lampu semprong mereka yang temaram. petang atau malam Tetapi. karena sejak muncrat ke dunia sudah bergaul dengan cuaca serupa itu. akan ahli pula kau menerka usia perkawinan seseorang hanya dengan melihat jas yang dia pakai. apa kabar! Baik? Singgahlah dulu!” Tetapi. kembangkan payung. Paling-paling orang hanya bergumam. kabut di sana seolah-olah turun sesukanya. siang. Biarlah masalah ini bagian ahli bahasa. kecuali lelaki-lelaki gatal atau yang punya istri lagi. Ya. atau makan kacang goreng. Aku hanya ingin bercerita tentang mereka. Itu pula sebabnya potongan jas itu-untuk menghindarkan salah tafsir. tukang serbat.Warga Kota Adek Alwi Kacang Goreng Kota kami terletak di dataran tinggi di lereng Gunung Singgalang. hujan dan hari. Aku juga tidak bermaksud membahasnya. Hal lain yang bakal membuatmu terheran-heran adalah tukang kacang goreng. atau hujan tiba-tiba seperti menghadapi anak yang nakal: “Ha. tukang rokok. juga sosiolog. kalau kau tinggal lebih lama di kota kami. ataupun sebaliknya-bahkan ketika kemarau mungkin sedang meretak-retakkan tanah di kotamu. anak. tukang serabi. bercakap- Betul. tetapi juga tukang emas. mirip dengan warga melambai dan menyapa. tak mengumpat ketika kabut mendadak turun dari bukit dan gunung. Tidak konon menimbulkan kesan “lain” bagi yang memakai juga yang melihat). melenggang tenang-tenang di atas trotoar sambil bersiul. Karena itu. Dengan tongkat-payung itu pula mereka saling di jalan-jalan kau lihat membawa payung atau mempertongkatnya. betapapun elok bahan dan kami hampir tak dikenal orang istilah pedagang. Tidak jelas mengapa demikian. dan seterusnya. Begitupun tukang sate. Adakalanya juga dari pagi sampai malam. ya. .

Mereka dapat ditemukan di mana- perkantoran-perkantoran. Dalam KTP mereka pun tercantum: pekerjaan. Juga. Saat-saat itulah mereka tak dendam setelah lama berpisah.Sekalipun kota kecil. tikungan-tikungan jalan. beberapa waktu setelah bubar bioskop. di muka rumah sakit. sebagian besar orang terpanggil lahir karena bakat itu. meski lazim tinggi atau bekerja di kota lain dan wesel-wesel mereka berlayangan di awal-awal bulan memenuhi kantor pos. tiada bandingan!” . serta kegemaran orang memakan kacang goreng. apakah itu satu keluarga punya anak sembilan. tetap belum ada yang sanggup “Ah. tidak saling tertawa layaknya pasangan mirip bintang-bintang di langit. Lampu-lampu semprong mereka dari jauh Tentu ada hubungan erat antara tukang kacang goreng yang sangat banyak itu dan iklim kota kami yang dingin. bahkan divonis putus oleh si gadis karena kulit ari kacang goreng ikut menyelusup ketika bibir-bibir bertemu pada malam Minggu. duduk berkelumun sarung atau melekat ke lima orang di antaranya juga mangkal di muka dua bioskop yang ada di kota kami. “Ini. depan asrama tentara dan polisi. makan kacang goreng jalan “Habis. tidak ubahnya kekasih-kekasih yang melampiaskan rindu Alhasil. meski sejumlah anak muda mengalami pengalaman pahit akibat kacang goreng. muka depan gerbang-gerbang jalan menuju surau dan masjid. tukang kacang goreng tetap banyak di kota kami dan orang tak merasa rendah jadi kacang goreng. kota kami tidak pernah sesak yang menyebabkan warga kota kami subur-subur. Anak-anak muda itu seolah punya prinsip: pacaran boleh putus. perlu penelitian. panjang.” sahut ibu-ibu di kota kami dengan sigap. Bahkan. Empat atau karung goni kacang goreng mereka yang hangat. Berjajar suami istri dilanda perang dingin. sepuluh atau selusin. lepas-lepas dari kacang goreng. tukang kacang goreng amat banyak di kota kami. Tetapi. jangan dikata lagi. Bertengkar. Malah bangga. lihatlah!” lanjutnya melempar sebuah mengalahkan kacang goreng Mak Sanin!” “Memang. terus. sebesar jempol. kedap kedip di balik tirai kabut dan gerimis. Mereka mangkal di emper-emper toko. Gemuk. juga di Tukang-tukang kacang goreng itu pakai jas. tukang kacang goreng. kalau itu. Lagi pula.” komentar para suami saat makan kacang kacang goreng ke atas meja. selera menyantap kacang goreng tak kunjung patah. “Di tempat lain kecil-kecil kurus kulihat!” goreng di malam-malam dingin bergerimis. Pada hari raya dan libur-libur panjang. tukang sesudah lama merantau pun kegemaran itu rupanya tidak hilang. seakan-akan mana sejak pukul lima petang hingga tengah malam. penggemar kacang goreng tidak pernah pula berkurang. pengirim-pengirim wesel yang rajin itu-yang sebagian di antaranya tumbuh berkat uang kacang goreng-berlayangan karenanya. agak berjauh-jauhan di bawah papan reklame film. Anak-anak muda segera berangkat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih ke kampung halaman menjumpai orangtua dan sanak keluarga. Dan. Namun. memang lain kacang goreng kota kita ini. “Tetapi.

dia itu Chairil Anwar atau Amir Hamzah. Juga ke Lubuak Mato Kuciang. tanda Mak Sanin berjualan. Kedua makhluk itu konon melakukannya malam-malam di pinggir kota usai itu lari pulang menggerung-gerung dan telinga si Katan pun disentil Mak Sanin. dia keluar sesudah magrib atau isya dan akan berakhir kira-kira pukul tiga dini hari atau Mak Sanin adalah satu-satunya tukang kacang goreng yang tidak berpaut di pangkalan saat Begitu keluar rumah di pangkal malam itu orang tidak akan menemukannya di tempat ramai pinggang lebar. Orang-orang terbangun. dia susuri jalan-jalan kota dengan karung goni berisi kacang goreng di atas seperti di muka bioskop atau kawasan pasar. Dengan jas itu-itu juga. saat beduk subuh mulai berkumandang di seantero kota dari masjid dan surau. Tenang.tambalan pada jas yang sipit. “… perempuan ia adalah engkau seorang!” potong sang suami buru-buru dan si istri pun diam sambil tersenyum-senyum. Makin malam. istrinya dipakai Mak Sanin. dan warnanya hampir tidak jelas lagi. Kumisnya pun lebat melintang. Dialah penemu sistem jemput bola dalam berdagang kacang goreng di kota kami. tak-tuk-tak. Selain karena kualitas kacang gorengnya memang di atas rata-rata. dan selalu merah menyala. Menyelusup manja ke pelukan suami. Juga karena dia “berisi”. Ibarat pencipta lagu dialah Gesang atau Ismail Marzuki. Seolah ringan saja karung goni itu baginya. ilmunya tinggi. Orang juga mengatakan Mak Sanin tidak lagi bermain silat dengan manusia melainkan dengan harimau. terutama ibu dan kakak-kakak perempuan kami. Ibarat pelukis. dan Bak Aie yang merupakan pinggiran.pinggiran kota kami. Mak Sanin adalah maestro kacang goreng!” jawab si istri bersemangat. Pencuri-pencuri mengurungkan niat mereka yang Pasangan-pasangan yang tengah bertengkar terhenti. Anak daun telinga kawan kami itu gembung-bengkak kemerah-merahan. khususnya di kalangan kaum ibu. ingin makan kacang goreng.anak justru takut pada Mak Sanin. Suatu kali kawan kami si Katan menghajar anaknya hingga babak belur. anak. mata rada Agak berbeda dengan orang dewasa. cang goreeeng…! Tak-tuk-tak.“Ya. kian gencar pula Mak Sanin mengembara menyusuri pelosok-pelosok kota. itu Mak Sanin!” ujar si suami. cang goreeeng…!” berirama memecah udara: “Tak-tuk-tak. Ibarat… . tak- Pada larut malam yang dingin berkabut itu Mak Sanin benar-benar menjelma jadi pelayan buruk mendengar suaranya. dia Affandi. Bancah Laweh. Sudah barang tentu jasnya pun telah lapuk. sebab dipakai setiap malam selama bertahun-tahun. kami punya ilmu. kepala. Berhari-hari berjualan. “Hah. Tokoh ini sangat populer bahkan hingga kini. Mak Sanin satu dari sekian banyak tukang kacang goreng di kota kami. pandai dan rajin menyisik sehingga tak kentara benar tambal. Tetapi. Biasanya. Suara serta bunyi tangkelek atau bakiaknya tuk-tak. dan sarung dililit ikat mendatangi calon pembeli. .tenang saja dia melangkah. tunggal sekaligus penjaga kota kami. Mungkin karena tubuhnya tinggi besar. perempuan kota kami menyukai lelaki itu karena dia tidak pernah pakai jas baru. Cubadak Bungkuak. “Ibarat penyair. Jam dagangnya juga berbeda dengan tukang kacang goreng yang lain.

Kemudian. “Masya Allah.” kata ayah bagai orang kedinginan. Hanya berdua. meraup kacang goreng bukan hanya sekali. “Mak Sanin!” “Hoooi!” Tukang kacang goreng itu menghampir ke makhluk elok itu. Rambut nyonya muda yang hitam subur tergerai hingga pinggang. Dan. ketika ramai-ramai di tahun ’66. cukup seliter?” “Hi-hi-hi.” Dan. pengantin-pengantin baru. Besoknya. Bergegas mereka benahi diri. mungkin juga tidak mau tahu. pada suatu malam. harum bercampur peluh. lalu sayup-sayup diantarkan angin mendengar suara dan bunyi tangkelek itu. Jakarta. Warga yang lain tidak. kota “Padahal.” “Yo! Eh. Padahal. “Huh. Desember 2004 kota kami yang berkata kepadamu: “Ha. Belilah. Semua pembeli melakukannya dan semua tukang kacang goreng membiarkan saja. bunyi tangkelek-nya yang menjauh. Dan. Tetapi. Tidak bakal menyesal. tegak menanti di ambang pintu. berpandangan dan saling tersenyum mendengar suara Mak Sanin mendekati. sudah mereka tunggu-tunggu. Anda pun akan terheran-heran menemukan banyak tukang kacang goreng di buat merendangnya. cuma sebagian warga kota yang kota tidak mendengarnya. sambil bercengkrama serta menikmati kacang goreng berdua-dua di larut malam itu. “Seliter saja ah. Tujuh lubang peluru. Tetapi. berkibar-kibar ditiup angin malam. kacang enak ini! Tak sembarangan kuali dan pasir . Mak Sanin. Semakin jauh. Cobalah. seluruh warga kami gempar tak alang kepalang. mata si Sanin itu merah hanya karena menukar siang dengan Tukang kacang goreng itu ditemukan orang tergeletak di tepi kali. Dan besoknya lagi. tak serupa Mak Sanin!” ujar mereka. Dengan jas yang ituitu juga. malam!” Tetapi. pasangan-pasangan itu menyimak suara Mak Sanin dan malam melalui kisi.“Beli dulu kacang gorengnya.” Anak-anak muda yang sedang begadang menyongsong kedatangannya dengan girang: “Tiga liter. tahu benar aku. yang memang tak tidur-tidur di tengah malam buta itu. Orang-orang akan mencela tukang kacang goreng bila kacangnya tidak Karena itu. Karung goninya entah di mana. justru setelah ia tak ada lagi namanya terus jadi buah tutur warga kota kami. Delapan tahun saya belajar merendang kacang pada Mak Sanin!” Anda melongo heran karena Anda toh tidak kenal siapa Mak Sanin. enak atau dia bertingkah.kisi jendela. tangan-tangan mungil itu menyusup pula ke karung-goni yang hangat. Mak Sanin!” Dan. Ada sebelas bekas bacokan merobek jas tua dan tubuhnya. sewaktu pesanan mereka ditakar tangan mereka menyelusup ke karung goni. bahkan hingga kini. itu biasa. Cukuplah.

Setiap orang dikepung ratusan jamnya sendiri sehingga terkurung sendirian. di mana setiap pitstop. di lembaran kertas. Berdetak-detik di dalam pendengaran. di perut yang hanya diisi kopi. dan di kemengangaan mulut. minta bantuan pada siapa pun dan mendapatkan pertolongannya. bersebelahan. ”Tapi bisakah kita bebas dari jam?” kata Anderwedi sambil berpacu agar bisa lebih leluasa tak dijadwal. Jakarta—kata lik War—itu jam besar dengan miliaran jam kecil yang berdetak dan berpendar serentak. balik ke dari kungkungan jam kerja semuanya langsung memasuki street race untuk sekali lagi berpacu pulang (cepat) ke rumah dengan berjuta jam yang berdetak dan berpendar di tengah lautan jam kerja dan dipacu detak ribuan jam kerja di mana-mana. tidak bisa memanggil siapa pun. aku hanya akan SWT…” Dan karena itulah—kata lik War—Jakarta berubah jadi arena balap. sampai akhirnya tiba di rumah dan disergap jam lagi. di meja di ruang tamu. Lik War menggeleng. di pintu halaman. anjuran jam— dan ulah kerja manusia. di pintu. di apa saja—yang serentak berpendar dan berdetak menganjurkan semua agar terus Gelagapan dikerubuti jam yang bermunculan dan berdatangan dari mana saja dan hinggap berpacu. saat waktu terpaksa hanya jadi patokan gerak tersenyum dan tersipu-sipu. Manusia selalu berada dalam . di bundaran lampu lalu lintas. Di jalanan. Jam di mana-mana. Bisakah manusia bebas dari waktu. di dapur. di dinding. berbelit dan kusut membentuk gombal kain nasib yang ketika ditelusuri benangnya ternyata masau saling menjerat. lalu jeda dengan jam yang terus berdetak di mana-mana. ”lakukan semuanya semaumu. di ranjang dan bantal kamar tidur. di ruang tengah yang merangkap ruang keluarga.Langgam Urbana Beni Setya (Atawa Jakarta in Rap) Di Jakarta—ungkap lik War—jam ada di mana-mana. di layar monitor. di meja makan dan terutama pada piring dan gelas minum. saling kontak-sentuh. di dinding dan kursi-kursi dan monitor komputer. berteriak. di layar TV dan dinding di samping kiri atau kanan pintu masuk dekat bel. agresif melahap segala sambil menyepah yang kalah kehabisan waktu. di HP yang setiap saat sepertinya berbunyi menyatakan ada jalur pacu lain yang harus ditempuh sebagai balapan berikut atau yang terpaksa diabaikan. Bilang. di motor. yang diam-diam maju terus. masuk kantor dan mulai kerja dengan jam yang berdetik di laci meja tulis. berpendar-pendar di dalam jadi tanda ketika malaikat mencatat semuanya dalam lembar laporan harian kepada Allah orang berpacu untuk secepatnya masuk garis finish tanpa terlebih dulu memasuki jeda waktu terengah-engah dan menyerah. di bak air dan di gayung kamar mandi. sambil menyisihkan yang kalah dari satu jalur pacu. Di pagar rumah. dan begitu lepas sepanjang jalan. dan sambil terus melahap yang ada dan menempatkan semuanya pada jalur pacu yang ada dan senantiasa ada. di mobil. sehingga orang-orang tak akan bisa lepas dari kekangan jam. di juluran lidah dan di untang-unting tenggorokan ketika orang-orang bercakap-cakap dan ingatan: memaksa setiap orang untuk bergerak lebih cepat dan semakin cepat sehingga Jam ada di mana-mana. dari ukuran yang dibuat manusia untuk menandai yang tidak terlihat dan tidak terasa.

”grammar apa tuh?”.pikirku.” kata Anderwedi—mewakili pikiran kami. sebelum semua meloncat seperti mengawali lomba yang akan menentukan siapakah yang lebih dulu dibanding si pole position yang teledor. dan bermuara di jalan antardesa yang bergelombang dan berlubanglubang. ”bisa dibeli secara kredit”—tapi minimal tiga orang.” Kami menelan ludah. yang hanya sebagian yang bisa ditanami palawija dan semangka. dengan celana jeans hitam ketat yang kata lik War juga bilang.menolong atau instinktif tebas-menebas— metalik halus bergambar entah apa—percik cat tumpah—dan tulisan excited. ”Aku jadi pengen ke Jakarta. deretan kata yang tidak bisa kumengerti dan kayaknya juga tidak dipahami lik bos yang bilang. hingga ada jalan khusus yang hanya boleh dilalui mobil bila isinya untuk membeli mobil—”barang-barang itu. untuk tolong. dan sesekali mandeg dan meraung-raungkan gas sebelum lampu di perempatan itu menyala ijo. yang lebih memilih sepada motor bukan karena tak punya duit karena jalanan di Jakarta bukan tempat yang tepat untuk berpacu dengan mobil. yang memaksa tiap orang menjadi Valentino Rossi. dan yang setelah 5 km baru tiba di jalan kecamatan yang lebih mulus sedikit— terbayang jalan itu penuh deretan mobil yang berjajar dan di sela-selanya motor-motor meliuk seperti dalam atraksi lomba trail semi akrobatik di TV. meski di kereta itu ia tak bisa berbuat apa selain duduk dan menggerak-gerakkan jari kaki tokh. titik saling ketergantungan. sambil merokok dan meneguk arak oplosan di tengah kesiuran angin dari persawahan yang dipusokan dan kami menghubungi Saman Bakmi—ia berkeliling jual bakmi dengan gerobak dorong. ia naik Brantas yang karcisnya sebanding dengan harga celana itu.” kata lik War. karena itu banyaklah orang menawarkan diri disewa-angkut agar mobil itu bebas berpacu mengejar waktu di jalur 3 in 1 itu di sekian menit nunut—celakanya orang-orang itu malahan diuber dan dikejar Satpol PP karena dianggapnya membuat orang kaya bisa bebas merdeka berpacu di jalur yang tak sembarang orang bisa masuk bila berdua saja. Kami . yang cuma bilang kaus itu diberikan anak bos karena saat dipakai ditertawakan oleh cuma produk tembakan sehingga harganya hanya cukup untuk naik taxi ke Ancol—lik War Ya! Tapi lik War senantiasa bilang: Jakarta itu jam besar dengan anggota miliar jam kecil. malah sampai jalan tol yang seharusnya lapang dan bebas pacu bagi yang ingin menundukkan jam. ”Terlalu banyak kendaraan. Ia minta disewa dari juragan yang juga menyediakan mi. ”dan kendaraan yang berjibun itu membuat macet di mana-mana. kami ikut dengan Marto Pedrosa—ia sendiri yang menambahkan nama itu karena aslinya ia bernama Joko Martono dan dulu selalu kami dihiasi jam yang sudah pada kendur: benar-benar tak menarik minat berpacu kami. bumbu dan yang lainnya. Lik War pun mengajukan usul lain.” kata lik War. seluruh anak muda ingusan yang saat itu ikut nongkrong di gardu Kamling di ujung kampung. Terbayang jalanan mulus Jakarta—tidak seperti jalur makadam kampung. serta tempat kos Jakarta di sepanjang malam. yang mungkin hanya menggeleng. karena itu mereka menjadi yang dikalahkan waktu dengan kepeksa jalan merayap dalam kemacetan dan nelangsa menghabiskan BBM percuma saja. yang menembus ladang dan sawah. Casey Stoner dan apa lagi yang senantiasa berpacu di jalan. Aku menatap lik War: Memakai kaus hitam dengan sablon be will be. pikirku. what ever will War. Tapi berlomba dengan gerobak dorong sambil memukulkan dan pelatihan—agar ikut dengannya dan belajar berkeliling di gang-gang di perkampungan sutil logam pada cekung wajan dalam pacuan di gang-gang kampung. Lik War pun tersenyum. Dan setelah itu.

yang dengan gampang menjadi pembantu macam Warti. Koral dan dan di kampung sini). yang selalu bergaya dengan sepeda motor siapa saja bila pulang ke kampung. semodel de Grana. Timpah. Kimi. ibunya. Santik dan Kuni. dan menjadi apa saja—tidak hanya berakting macak pengemis tak pernah pulang ke kampung meski setiap Lebaran selalu nitip duit dua atau tiga ratus dan diuber-uber polisi sehingga blingsatan mburon ke mana-mana dan kemudian mati tapi benar-benar jadi pengemis dan pemulung. Berpacu dengan waktu secara baikterlalu kreatif meletakkan jam di jalur pacu yang miring mencang-mencong demi survive menyusupkan dingin dengan menyamak jangat selepas hamparan persawahan yang berhamburan ke mana saja dan jadi apa saja. menjadi orang kantoran atau hanya suruhan. Bersama-sama sampai di Senen atau Kota—lalu . dan yang di Jakarta menjadi tukang ojek.panggil dengan sebutan No Tit. Berangkat ke Jakarta. Mungkin lu kudu belajar jadi ojek (tukang) ojek payung? Lik War tertawa. Atau ojek payung?” Kami melengos—apa yang bisa dipacu dengan jadi punya DP sejuta sebagai jaminan dapat make motore bos. Ia menganjurkan jadi kernet. menjadi rembulan gaib di saja. menyusupkan dingin yang tajam dan menyamak jangat dalam irisan yang menyeluruh di awal Syawal. atau yang terpaksa menggelandang di jalan seperti Nian. Dan miliaran jam yang terangkum dalam sebuah jam raksasa bernama Jakarta terus berpendar di kelam malam. dan banyak orang sekabupaten yang mengaku-aku penduduk asli kampung sini. ”Atau ikut Arpan. Sambil mengeluh tak segampang para perempuan. Kasim. Itu artinya tak berpacu di Jakarta tapi jadi batu jarak tempat anjing mengangkang dan kencing. dan karenanya (kata lik War. dengan angin deras dari persawahan yang dipusokan dan hanya sebagian kecil di dekat saluran irigasi yang sempat ditanami palawija dan semangka. untuk segera berpacu sebagai apa saja. Lania. Marto Pedrosa kampung sini. sekaligus kudu sepeda dulu. ”OK!” kata Marto Pedrosa. lantas bertemu setahun sekali di kampung. ”tetapi lu kudu apal jalan-jalan di Jakarta dalam seminggu. dan Genduk (dilindungi dari yang lain dalam teror nekat Isa almarhum. atau penghuni kompleks semodel Tri. yang masih buron—sehingga para urbanis sekabupaten di Jakarta bikin slametan di Jakarta Dan Jakarta jadi jam raksasa yang melengkung dan mengayomi miliaran jam kecil yang serentak—tak pernah serentak karena selalu ada selisih lebih lambat dan lebih cepat dalam seperti memanggil kami untuk meninggalkan ketiadaan harapan di kekeringan yang selalu baik dan tak baik-baik. kudu pinter cari kos-kosan karena aku sendiri hanya punya satu kamar dengan Neti dan dua anak itu. ”Jadi akan berangkat apa tidak?”—teriak angin kemarau yang hitungan mikron-sekon atau sekon—berdetak-detuk dan berpendar: semua jam-jam itu melanda desa. Sri. dan karenanya membimbing kami untuk bangkit dan mempertaruhkan apa sekujur tubuh: berpendar di langit malam yang penuh bintang. memenuhi trotoar untuk recehan?” Kami melengos. terpaksa dipusokan di musim kemarau itu. dan Tyas. yang selama 15 tahun ini ribu bagi Mbah Rame. dan setelah enam bulan baru menjadi ojek’s driver—sambil menjanjikan mempertemukan kami dengan kawan Bataknya. atau benar-benar berpacu di jalanan dengan menjadi jambret ditembak dengan delapan belasan lubang luka seperti Isa yang jadi gembong dengan tiga dan Saman Bakmi) di Jakarta tak ada yang berani kurang ajar kepada orang-orang dari orang sekampung lainnya yang masih selamat. atau buronan karena dengan sesuap nasi. ”macak dan akting pengemis. Nonik.” katanya.

sebagai apa saja di mana saja. yang biasa lusuh nunut : ikut. yang lebih sara karena harus mbabat alas meski selalu diigaukan Pak Lurah di dalam pidato ” Jakarta. sara : sengsara mandeg : stop. Ya! Ya! YA! YA—adakah pilihan lain. berhenti kudu apal : harus hapal motore : sepeda motornya macak : berdandan blingsatan mburon : panik/kalang kabut melarikan diri gembong : tokoh. pentolan. berliku-liku mbabat alas: membuka hutan.*** Catatan: untang-unting: yang tergantung dan bergoyang-goyang gombal : kain bekas untuk lap.agar bisa bersama-sama pergi ke Jakarta lagi. selain jadi transmigran acara halal bi halal kampung yang penuh kebohongan itu. dan berhamburan lagi di Senen atau Kota. here I am coming!” teriak Anderwedi—mabuk. menumpang kepeksa : terpaksa nelangsa. kepala [penjahat] slametan: ritual membaca doa keselamatan bagi yang meninggal mencang-mencong: meliuk-liuk. kolonisa .

Atau menarik picu Aku dipaksa belajar nembak saat kelas II SD. Ibu muncul dan menarik aku sambil mengomeli ayah—”Dia anak perempuan. Sangit mesiu melulur lengan dan wajah. dan memuntahkan 52 tembakan beruntun. lalu mendiagonalkannya ke tanah dan yang amat jarang. Memasukkannya lagi ke magasin. Dan peduliku? Di SMA aku malah mempunyai kawan. terutama ketika magasinnya penuh. di kamar anak petinggi polisi. Sekali. anak petinggi polisi. ketika kelas II SMP. dengan tekanan ringan dari telunjuk—dengan memakai popor lipat atau tidak—kita Tersamarkan. Sejak kelas VI aku sudah dilatih membongkar. Tapi sasaran tunggal apa yang bisa lolos dari berondongan sejauh lima meter? Sejak SD aku sudah tahu ada simpanan senapan serang buatan Rusia di situ. Ia menggenggam tangan dan memaksaku menembak lagi. “Sebaiknya semua itu jadi rahasia berdua. colt—yang mekanisme penembakannya Dengan itu aku mimpi jadi cowboy perempuan. Sederetan paku di dinding menahannya agar tidak jatuh dan tetap tersembunyi. memilih. meloloskan genggaman dan mengokangnya. Mencacah akar flamboyan yang marong berbunga dengan daun hijau telunjukku yang masih lunglai oleh kejutan. aku mengeluarkan FN di hadapannya. Dan tiga tahun sebelumnya aku sudah dibiasakan membongkar. Tiga tahun kemudian aku menguasai AKA. Siapa mau mati? silinder tersampir dan bebas diputar.Salvo Beni Setya Ada senapan serang AKA. mendorong ke pangkalan itu dan mengokang serta menodongkannya pada si jagoan yang kurang ajar itu. lalu ditangkupkan untuk dipasak. Dan bila kurang. sering mempraktikkannya dengan silinder kosong. dengan magasin penuh. Keesokan harinya aku dipanggil guru BP. rasanya lebih enak memegang pistol polisi. Letusan dan entakan membuatku kaget. Tanah lembek berumput membuat peluru itu tembus ke kedalaman. Lalu mendatangi Mereka gemetar dan segera semburat ketika diusir. Setahun kemudian aku menguasai FN. Sejak saat itu aku didaulat untuk jadi kepala keamanan dalam segala acara yang diadakan di sekolah. magasin dan satu peluru paling atas. Kalau disuruh sangat sederhana itu. Mula-mula hanya dengan pistol. banyak teman yang mengadu—selalu diperas preman di pangkalan angkot dekat sekolahan—aku bersekolah dengan membawa pistol. yang memberi ketika lulus ujian sepertinya mereka lega karena aku sudah tak ada di sana lagi. Sebuah letusan lagi. langsung ke tanah. Tapi sebelum dia banyak bicara. meski dengan gampang kita meraih dan mengokang membuka kuncinya. Tapi apa . membersihkan. dan memasangkannya lagi. di belakang lemari pakaian kamar tidur utama. atau dalam putaran gila sisi kepala— sebelum dikembalikan. Dan kami. Guru itu mengangguk. ada magasin cadangan di atas lemari. dan mengentak pantat peluru atau kekosongan oleh pelatuk—seperti dalam film. Pa!” katanya. membersihkan.” kataku. Bergerak menarik pasak dan membiarkan agar bisa menggesekputarkan silinder itu di lengan. Ayah terbahak-bahak melihatku ketakutan. dan memasang lagi pistol FN. yang genggamannya terasa berat itu. diungkit.

Padahal.” kata ajudan baru lulus Akabri. Aku tertawa. membikin sudut naik menghunjam di pohon mahoni dan ban sepeda motor. Mulanya di Perbakin. Terlebih kalau keendus wartawan jadi segala risikonya. Sebuah mekanisme ledak dan lesat peluru yang setipis sentakan jari telunjuk yang mengentakkan picu. Sekali aku pernah menembak aspal jalan di sisi kaki preman yang menghadang. telanjang dan gampang. kalau maut sangat dekat. Kau tak boleh jadi anak Mama. Ya! Tapi aku sangsi bisa jitu menembak kepala botak profesor sebesar bola sepak. Dik. dan karenanya Mungkin ia menginginkan aku jadi tentara. atau kaki penyusup yang segede tiang gawang. kalau nyawa seseorang hanya bergantung pada satu sentuhan ringan dari jarak dua meter? Dan pada saat itu aku pun belajar mengintai dengan teleskop— membidik sasaran vital dengan satu peluru. dengan posisi jongkok menyamping. aku kokang. Menurunkannya. Menghambur jadi dua lesatan logam yang kotor oleh serpihan. hanya Lantas apa makna hidup? Lantas apa makna bertahan untuk hidup dengan semacam dukungan ilahiah nasib. Aku ambil FN dari tas. atau punggung pelarian selebar papan pantul ring basket. “Kita harus kejar setoran. lama-lama aku kecanduan mengintai apa pun dengan teleskop dan bimbingan sinar laser. ayah ingin pensiun dan bisa jadi bupati atau wali senang diajak mengeluyur itu.” katanya.” katanya. dan menembak. “OK!” katanya. dari jarak tiga meter. Letusan itu keras. Akan dapat konduite dan kota dua masa jabatan. Kalau salah bidik dan kena kaki preman urusannya bisa jadi berita. Ayah menertawakan cita-cita lembek itu.kenikmatan main-main dengan colt. Kini aku bisa berada sekitar bersangkutan mengerti bagaimana ia mati. Bahkan berlatih menembak tidak dalam posisi klasik berdiri. Kini aku terhibur batu sebagai bantalan.” kataku. Akan lain. seperti menembak kaleng atau cecurut. atau berbaring di balik batu—dan menjadikan tonjolan “Kau seharusnya jadi sniper. sekaligus memberi kesadaran. Mereka beku—pipa jeans preman itu Di boncengan aku gemetar. lantas menodong wajahnya bolong. Dan karenanya aku bebas bergaul di luar kompleks—selama terus berlatih menembak. Ibu menggerutu tapi tidak berdaya. Naik ke boncengan dan melesat. Aku tak pernah membunuh orang. Dan karenanya memberi aku kebebasan main pistol dan senapan. membuat lubang dan pantulan dengan menjebol lapisan aspal. kata ajudan. Aku bisa menembak bola tenis atau bola golf dari jarak tujuh puluh lima meter dengan satu tembakan. Polisi akan masuk dan ayah akan menghajarku. Aku tak yakin mampu menembaknya dengan dingin. yang lain. Tapi ibu mengharapkan aku jadi dokter. perempuan cuma jadi istri tentara. seperti dua kakakku—setelah tiga kakak aku kuliah kedokteran bukan karena ibu ngotot tapi lebih karena aku tak bisa masuk Akabri. Ayah terpaksa berurusan dengan panglima. “Macam-macam kepalamu yang kekerasan lapisan batuan di bawahnya membuat peluru naik ke atas. Ia membiarkan ketika ia kuliah kedokteran dulu. ketika jadi danyon. Peluru itu menghantam aspal. lima puluh meteran untuk membidik seseorang dan mengirimnya ke kematian tanpa si Ayah yang mengajari—membimbingku dengan fasilitas latihan komando. seperti cita-cita mendidikku dengan tradisi militer–mengharapkan aku memilih karier militer. “setelah lulus kau daftar dokter tentara. Aku beranjak. Manusia itu .

Tapi bisakah kita membalik laju waktu? kebanyakan—meski tetap dibimbing insting militer yang terus diasah. Dan kebisuan itu berlangsung tiga tahun. dan cuma basa-basi kalau ayah menelepon menanyakan kondisi ibu. kakak-kakak dan ipar-ipar marah dan mengadiliku. “Kau tidak mengabari marah dan memaki-maki lewat telepon. tak ingin menceritakan kelakuan ayah kepada mereka. seperti mendengar bisikannya. Aku ikut ibu yang bungkam pada ayah. sampai ibu meninggal—menyeringai. perut. Dua jam kemudian aku menelepon ke rumah dinas. Dan ajudan ayah juga yakin akan itu. Aku tak mengabarinya. Aku untuk menggalakkan intensifikasi pangan. Enak. Dua tahun kemudian ibu sakit. kakak. Aku ayah?” kata Samsidar. Tanganku digenggam. Dik. Ditempatkan di kota.” katanya— tertawa. dengan mengumpulkan suami. dan seluruh keponakan. “Ayahmu mendapat kesenangan baru sebagai orang sipil yang pergaulannya menembus segala lapisan masyarakat. ngantor seperti orang ayah pensiun dan jadi bupati di C. Aku diam saja. Mungkin ia ingin memperlihatkan secercah bahagia karena berhasil menjadikan aku dokter. kena kanker payudara yang baru ketahuan setelah stadium IV. dada. yang langsung mendekat. dan dapat jawaban Sejak saat itu aku tidak pernah menghubungi ayah lagi. Ayah tertawa. Ia bergegas menelepon ayah. Ya! Aku yakin tentang hal itu. Dua jam kemudian aku menelepon rumah gendakan-nya. Ternyata jadi tentara bisa bersifat sangat administrasi. bergaul dengan banyak hal yang harus diselesaikan tanpa ada panduan jelas. dalam kurang tidur. Bahkan aku sengaja tidak memberitahukan kondisi kritis ibu sampai saat penghabisan mendekat. Memprotes tiadanya perhatian pada ibu. meski aku yakin mereka mengetahui perbuatan ayah. Hal yang membuat suami yang ajudan itu. “Kau orang militer yang hanya hidup dalam lingkungan eksklusif dengan rutin-rutin yang terkontrol. Aku lulus kedokteran dan masuk tentara. Ibu menatap. Dua jam kemudian aku menelepon lagi tapi tak ada yang mengangkat. yang mengatakan Pak Bupati harus ke daerah mengangkat. karena dia sendiri belum pernah menembak orang—atau berperang. yang telaten merawatnya. Tiga tahun kemudian ayah harus tetap sibuk bekerja dan—seperti yang dikeluhkan ibu—terpikat pemborong yang Aku menelepon ayah. atau kepala mayat dalam praktik Ada aura yang membuat kita harus mengeraskan hati dan membaca doa—lebih dahulu— kedokteran. “Kau tahu apa?” katanya. Ke mana? Entah! menelepon lagi tapi ajudan yang mengangkat. Pelayan yang pelayan—Pak Bupati baru ke luar. agar memberi pelajaran kepada ayah yang sok sibuk itu—yang barusan memaki-maki aku. . Aku mengangkat bahu. anak. sia-sia melepas senyum di tengah deraan sakit. “Aku kan cuma cari kerja. ipar.” katanya. Aku mematikan telepon. Apa jadinya kalau tentara? Ketika ibu meninggal ayah masih di C. Aku cuma bilang tak tega mengatakan kondisi ibu yang sebenarnya—maksudku. Dan terkadang pergi bila sesekali ayah datang menjenguk ibu. meski itu hanya untuk menyayat tungkai. Aku. seperti merindukan kehidupan eksklusif di kompleks.bernyawa.” Aku memprotes tapi telepon segera dimatikan. dan denyaran roh pasti menimbulkan sugesti yang menyentakkan—seperti yang aku rasakan ketika menembak aspal di sisi kaki preman. Ia minta agar aku merawatnya. Aku kini sipil. terutama karena jadi rekanan pemda.

Mengunci pintu. Pasti. Berjam-jam menunggu ayah. Ya! Ya . Ya— sepuluh menit lagi. Sakit dari cacahan peluru satu magasin—dengan lima dua lubang luka. Sepuluh menit lagi. Aku menunggu ayah. Tapi apa kepentingan ia di luar citra bupati teladan? dikubur. yang pasti datang dengan langkah lebar dan teriakan amarahnya yang khas. Mengambil AKA. Aku masuk kamar utama.karena merasa dipermalukan sebagai Bupati. yang tak peduli akan derita istrinya yang sekarat. Kami membawanya pulang setelah dimandikan—siap disembahyangkan dan meletakkannya di dada sambil terlentang. Biar ia merasakan sakit di dada seperti yang dirasakan ibu selama lima tahun. Mengokang dan Ibu meninggal.

Dan mungkin tepat pada hari yang keseratus satu. Lha wong kowe melu mbandari …” Khairan menatap. olehnya.” kata Melangkah. Mungkin cuma memesan kopi. Sir?” katanya. dengan lembut. ini kepunyaan bapak yang dititip-pakaikan kepadamu.” katanya. makan jajan. “Dan sementara itu kamu pun bisa aman-aman saja ngeloni Saimah. kata setiap minggu-apa masih layak diinventariskan apa pasnya dicabut. Abai bergabung dengan banyak orang-para pengojek. Motornya dipakai ngojek sembarang orang. di kisaran empat angka. mendorongnya sehingga rodanya mencecah di tanah. dengan setoran biasa. curiga. Ia menahan ketegakannya dengan dua kaki yang mengangkang. “Nggak akan tembus kan. seingatnya. yang harus diperhatikan agar ia bisa tetap memakai sepeda motor itu. Ini hanya pemancing saja. Arsad mengenal Suimah. Sad. Khairan tersenyum dan ngojek sama Sitol. menggerayangi dan . berbincang dengan istri hanya omong dan terus omong sambil berjudi. Terkadang Arsad hanya nongkrong. Itu hari keduapuluh delapan berada di luar rumah. “Pokoknya kamu tenang-tenang saja. Saimah makin genit. karenanya akan ada evaluasi Dan kini ia akan menjadikannya Hadiah Utama Toto (gelap) Singapura.” kata Nasir. Setelah itu ia benar-benar menguasainya. Bapaknya pasti meneng. atau menggoda Saimah. Ini bukan punyamu. ayah. dengan payudara yang berdenyut. “Kita juga main. Menyibak tirai pudar dan merangkul Arsad dari belakang. Perkenalan tidak disengaja sebenarnya. dan utamanya pemalas yang dan karenanya mendapat duit buat modal ngombe atau ngepil. Saimah menyusul dari depan. menjauh dari keramaian. Sad. Radio menyerukan dangdut.” Setengah berbisik. ayahnya memberikan pesan khusus. dan karenanya kita hanya narikin duit orang kampung. Ia membolos bersama Taberi. Menghindar dari sekolah. Khairan. preman dan pemabuk. Melemparkan kunci kontak ke arah Nasir. Itulah awalnya. dengan semena-mena merangkul. Arsad menangkap dan meremas dua belahan pantat yang bagai punuk dan tanpa berlapiskan celana dalam. Nasir. dan Arsad pun menikmati hari-hari manis. per lima puluh ribu tombok. Ya! Akan tetapi. Arsad menaiki sepeda motornya. dan menyuruh di pangkalan ojek di mulut jalan ke Perumahan Ganda Mekar. orangtuanya semakin permisif. Kita tutup nomor jagonya. “Kamu duduk-duduklah. Nasir menggeleng. Khairan menepuk bahunya.Senja Merah Khairan Beni Setia Setengah berkacak. bermalasan di warung itu. Arsad menendangi bongkahan blok mesin sepeda motornya. Jalan ke pintu belakang warung. Saimah menjerit artifisial sambil mendorong Arsad ke arah pembaringan yang berantakan. megang surat-suratnya-sementara itu masih bisa dipakai mengiyakan dengan sungguhsungguh. Beres! Ngomong apa?” Nasir memberi isyarat telunjuk di mulut. dan makan diawali dan ditutup oleh merokok di warung Khairan. menghindarkan pendengaran Khairan. Menyelinap dan masuk kamar yang pengap dan remang. Kemungkinan cuma sepersepuluh ribu. “Apa? “Sudah sana!” katanya sambil mendorong Arsad pelan menegakkan sepeda motor. serius. gertakan itu cuma efektif tiga bulan. Terbayang lagi.

Berharap. Dan Arsad pun semakin jarang pulang sekaligus semakin jarang masuk sekolah. Khairan-setengah preman karena istrinya “Biarlah. Khairan tersenyum. Lantas mereka pun mulai memanggil Arsad dengan sebutan bos. Hal yang tidak gampang meski telah dibantu minuman. dan rayuan Saimah. Sepanjang waktu. Ia seorang sales pengawal pribadi. yang melingkar manja tanpa celana dalam dan bra-meski masih memakai rok terusan longgar. “Seminggu bisa berpenghasilan. karenanya orangtuanya masih di kantor. ia seorang sales yang agresif. Pak RT tak berdaya. Nakal sedikit kayak si Arsad lumayanlah. Khairan cuma Menemani Arsad mabuk lalu menyeretnya ke kamar meski tak lagi ada bulan madu. semakin tidak mempunyai duit. sedangkan Ibu Mertuanya sukarela menyervis. Akan tetapi. menganjurkan agar Khairan mau mengurusnya ke KUA agar semakin kukuh. “Toh kita tahu ia berduit dan orangtuanya sugih. Tapi. Arsad semakin sebel kepada Saimah-dan yang Dua minggu kemudian Arsad benar-benar bangkrut. Membawa tas pinggang. Ya Miring. siapa tahu akan mendapat jodoh lelaki kan?” Orang-orang pada tertawa. dan menjebol lemari untuk mengambil perhiasan.yang sebenarnya membanting tulang menyambung hidup-lembut menenangkan mereka. menjelang momen bukaan Arsad memilih mabuk dan tidur agar tidak disentakkan oleh fakta ada yang tembus dan sepeda motornya melayang. Itulah awalnya Arsad pun jadi orang yang Surga telah kembali. selalu. Khairan menenangkan. Orang-orang kampung menggeleng-gelengkan kepala. Ia tertawa.” katanya. Saimah tersenyum dan terus tersenyum. dan menjual sisanya. “Dan mempunyai anak perawan menciumi Saimah. sepeda motor itu modal untuk hadiah tombokan Toto (gelap) Singapura. Akan tetapi. Menjadikan empat kali. bermakna mempunyai barang dagangan. yang gigih. yang diedarkan berkeliling di antara orang yang berbual atau main kartu. Dan disusul pesta mabuk semalam suntuk. Utamanya Saimah. “Kita ini orang dagang.” katanya. Hari itu-seperti biasa-Nasir akan berkeliling dengan sepeda motor Arsad. Cemberut dan makin sering marah. Dan Saimah makin manja.” Orang-orang tersentak. memboncengkan si Krowak atau Brewok sebagai untuk tombok nomor di warung Khairan. dan karena itu ia mampu mencukupi Arsad dan dirinya sendiri. Mungkin karena lega karena kini Arsad resmi jadi suami Saimah. Meski begitu. Khairan bungkam. Arsad pun menyuruh Nasir untuk menjualkan sepeda motornya. Duyunan orang yang menyetor keberuntungan. pikir Khairan-yang punya dukun kuat sehingga selalu yakin tebakan mereka tidak akan tembus. Ibunya Saimah lembut mengangguk. dan berkeliling ke mana saja. Terlebih karena Arsad semakin sering membawa Topi yang genah. Sekali-empat puluh hari lalu -menyelinap ke rumah ketika Memberikan sebagian kepada Saimah. biar bisa kompak dengan mertua.” katanya. Siklus direcoki balas memaki. Istrinya mulai menyindir. Nasir malah memunculkan gagasan yang sangat kontroversial. Khairan-matanya berkilaucepat-cepat mengundang tetangga dan menikahkan Arsad dengan Saimah dalam perkawinan siri. bahkan untuk sekedar mengusik keasyikan mereka. Orang-orang mendelik. haid Saimah sudah telat seminggu. pil. terkadang orang masih datang . Berjoget dengan tape dan terbahak-bahak. Sekaligus itu membuat Arsad semakin butuh duit untuk menyenangkan banyak orang.

meliuk-liuk. dan derap orang berlari memburu. Menggulingkan kendaraannya dan menghajarnya sampai kacanya remuk dan bodypatroli. Tetapi Khairan tidak kalah sengit menuntut. Menyatakan suami-dengan menafkahi Saimah. menyeru ke seberang. Krowak tertolong. telur dadar setengah matang. ada di tengah jalan. Kaki. PJR yang dengan sigap meletuskan pistol. tak bisa diturunkan. penyelonongan itu. dan diungsikan ke Panarukan-dipondokkan. mencuri perhiasan ibunya. Sepeda motornya dituntut dikembalikan utuh kepada keluarga Nasir dan utamanya Khairan. Berderit direm dan tepi jalan itu berjajar kios-kios-bahkan sebuah Angkot berwarna kuning sedang parkir sepeda motor itu. dan…” “Betul! Tapi. yang dikemudikan Nasir. Sebagian menolong Nasir. Sedangkan motor Arsad jadi sumber masalah. Kendaraannya diperbaiki Ayahnya untuk pulang. Lalu lintas sigap diatur. Serentak menghajarnya-bus dalam kondisi setengah mabok yang belum nya penyok. apakah aku harus menunggu izin Bapak. mblesar-kan gas. Menyulut rokok. tetapi kemudian diluruskan lagi ke kanan ke kelurusan karena di sambil kernetnya. belum pernah pacaran. melaju di kelempangan jalan yang lengang seusai jam mengantor. itu sudah amat terlambat karena si korban Nasir mati. sementara mereka telah bablas? Anak saya itu.” “Sembarangan! Kalau tahu aku tidak akan sudi menyetujuinya-kamu dengan anakmu yang menyebabkan ia mutung sekolah. Belokan liar itu. tangan. masalah dan menenangkan warga. Dan alur arah Hari itu-setelah sarapan nasi goreng. Ia menuntut. Sopir Station Wagon geger otak ringan. Halim! Halim!” “Terus? Terus?” . Tetapi kecepatan Wagon itu tetap tinggi meski telah dicoba direm dan dibanting ke kiri. Mungkin akan segera dibakar-dan sopirnya mati-kalau tak kebetulan muncul menyusul datang setelah pasukan pengaman bantuan didatangkan untuk melokalisasi spontan diangkut dengan kendaraan yang lewat dan mau mengantarkannya ke RS. lajunya sepeda motor Arsa. Sedangkan kecepatan Station dicoba dibanting ke kiri. dan minum Topi Miring- yang sama. tetapi kaki kanannya diamputasi sedang tangan kanannya hancur tepat di sikut dibiarkan utuhdengan biaya asuransi.Nasir memboncengkan Krowak. sudah meteng. Ia marah ketika mengetahui kalau sepeda motor itu telah berkali-kali dijadikan barang taruhan judi Toto (gelap) Singapur. Arsad dipaksa tergantung lumpuh. bergetar karena tangan si pengendaranya goyah oleh kaget dan mabuk. bahwa Arsad itu suaminya Saimah sehingga Arsad itu harus bertanggung jawab sebagai “Tapi aku tak pernah mengawinkannya!” “Ya! Betul! Karena aku yang mengawinkannya. Kemudian teriakan memaki Station Wagon itu. dan sisi rusuk kanannya remuk. tertekuk-tekuk pendek. meraung saat membuat belokan besar dari jalan hancur arah Perumahan ke jalan utama. dari hadapan. Ambulan Bunyi tumbukan dan jeritan orang-orang menghias siang itu. akselerasi pertamanya. yang lainnya memburu supir sirna. memakan marka jalan meski mereka cuma mencari jalur kiri. Pada saat sebuah Station Wagon-dengan bemper depan tambahan dari pipa baja. Akan tetapi.

” tulisnya. Ibunya Arsad terpekik.” kalimatnya. Tetangga ketika Khairan melemparkan celurit pada cacahan bersimbah darah tubuh bapaknya Arsyad. Berparkir di halaman. Khairan melapor ke Polisi. khas Madura. Kembali mendatangi orangtua Arsad dan minta agar mereka tidak memutuskan tali kasih antara Arsad dan Saimah. instan Celurit: Senjata mirip sabit. Khairan loncat mencabut celurit dan membabatkannya berdatangan. Mutung: Berhenti di tengah jalan Meteng: Mengandung. Mengeluh tak bisa ke luar dari Pondok. Dan memang begitu. Si bayi santun disodorkan oleh Saimah. Menyisih Dan dengan mobil itu juga. Karena itu. Utuhkan lagi. dengan mobil carteran. Ibunya Arsad berteriak-teriak. berharta Genah: Enak dipandang. Dipantati bahkan. meski tak selalu milik orang Madura . dengan dikawal Segera. tanpa mampir dulu. Dua kali lagi Khairan mengiba-iba. “tombokan”: Memasang nomor judi dengan membayar uang taruhan. tapi liar ditepiskan sehingga Saimah terdorong ke kursi. Tetapi kedua orangtua Arsad cuma bungkam. tapi tidak pernah dilayani. Aku seperti masuk penjara. membisu tanda setuju Kowe melu mbandari: Kamu ikut menjadi bandar Sugih: Kaya. Dominik. istrinya. dan Yudiono-yang setengah mabuk-. Catatan: kepada bapaknya Arsad-sekitar delapanpuluh kali. artinya orang baik-baik Topi Miring: Merek minuman lokal beralkohol Mblesar: memainkan gas sehingga mesin meraung-raung Dipondokkan: Dimasukkan ke pesantren untuk belajar dan sekalian tinggal di sana. Saimah menangis. hamil Jos: Langsung jadi sempurna. bersama si bayi-yang lantas diberi nama Caca Handika-. Lebih jos ketimbang sepeda motor yang remuk itu!” menyerahkannya-pada kesempatan pertama-kepada orangtua Arsad. Bisa apa ’ndak?” Kadang Arsad mengirim uang belanja untuk Saimah. Kedua lelaki itu liar bertatapan. dan Saimah tiba pada kesepakatan kontroversial: Akan membungkus si bayi dan langsung “Hasil karya anakmu. Khairan menelan ludah. Dua hari setelah persalinan. mereka langsung mendatanginya. “Aku tidak betah. Lantang meneriakkan Brewok. Khairan mendelik dan membentakkannya. tapi mereka pada mundur (surut) ketakutan melihat amuk Khairan.“Balikkan ia ke kondisi asal. “Nih. dari rumah Bidan. Ayahnya Arsad bergegas dari kamar. Khairan. Ngeloni: Meniduri Meneng: Diam. Tombok. keluarga lewat pintu ruang tamu yang terbuka di rembang petang. Mengawal Saimah yang menggendong bayi-diam-diam Khairan menyelipkan celurit-dan langsung ke ruang salam sambil menyelonong. Menghiba-hiba sambil lembut mengingatkan anaknya Arsad yang dikandung Saimah.

Bibiiikkk…. Marwan kadang kirim SMS. “Hati-hati!” teriak sopir. Marwan sendiri selalu berusaha menghindari jawaban langsung bila anaknya bertanya. seakan sudah menebak. Beningnya langsung meloncat menghambur. karna ia terus diam saja. yang kecewa itu. ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos melintas halaman. Ia tak menyangka. “Hari gini masih pake kartu pos?” Karna Ren sebenarnya bisa telepon atau mengharuskan setiap murid punya hand phone agar bisa dicek sewaktu-waktu. Ia masih belum genap enam tahun. terutama “Kau memang tak pernah merasakan bagaimana bahagianya dapat kartu pos…” . “Ada apa.” Ia nyaris kepleset dan menabrak pintu. “Saya ndak tahu mesti jawab apa…” Memang. Sekolahnya memang saat bubaran sekolah. “Biiikkk…. barangkali kartu pos itu terselip di dalamnya. Beningnya tertegun. Beningnya selalu nanya kartu pos…” suara pembantunya terdengar serba salah.Kartu Pos dari Surga Agus Nur Mobil jemputan sekolah belum lagi berhenti. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. dan Bik Sari merasa mulutnya langsung kaku. Dari kotakota yang disinggahi. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. ya?” Tongkat pel yang dipegangnya nyaris terlepas. Ia melongok. tadi. Seperti capung ia tiba. ia selalu mengirimkan kartu pos buat Beningnya. Bik Sari yang sedang mengepel sampai kaget melihat Beningnya terengah-engah begitu. Apa Mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? Mungkin Bi Sari sudah mengambilnya! Beningnya pun segera berlari berteriak. tak gampang menjelaskan semuanya pada anak itu. Ia harus menjawab apa? Bik Sari bisa melihat mata kecil yang bening itu seketika meredup. “Sekarang. setiap pulang. Pa?” “Mungkin Pak Posnya lagi sakit. “Kok kartu pos Mama belum datang ya. Meski baru play group. Tapi memang tak ada. Sungguh. Di kelas. mendapati kotak itu kosong. untuk berjaga-jaga kalau ada penculikan. Pasti kartu pos dari Mama telah Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun. Kadang bisa sebulan tak pulang. Pekerjaan Ren membuatnya sering bepergian. meledek istrinya. Beningnya sudah pegang hape. Jadi belum sempet ngater kemari…” Lalu ia mengelus lembut anaknya. ia selalu tak tahan melihat mata Marwan hanya diam ketika Bik Sari cerita kejadian siang tadi. Non?” “Kartu posnya udah diambil Bibik. betapa soal kartu pos ini akan membuatnya mesti mengarang-ngarang jawaban.

Karena iri. ya? Mo tidur di kamar Papa?” Marwan menggandeng anaknya masuk. Meski tetap saja ia merasa aneh.” Ren merawat kartu pos itu seperti merawat kenangan. setiap Ayah pulang. Ia pun atau kartu pos. dan yang lucu: disinggahi baru sampai tiga hari kemudian! pernah suatu kali Ren sudah pulang. Marwan berusaha tampak gembira ketika surat yang dikirimkannya sendiri itu ia terima. yang dikenal lewat rubrik majalah. “Mungkin aku memang jadul.20. banyak temannya yang punya sahabat pena. “Besok Papa bisa anter Beningnya enggak?” tiba-tiba anaknya bertanya. Negeri yang gambarnya ada dalam kartu pos itu…” ujar Ren. Marwan tak pernah menerima kartu pos. bahkan ketika anaknya mulai mengeluarkan setumpuk kartu pos dari kotak itu. tetapi kartu pos yang dikirimkannya dari kota yang Ketukan di pintu membuat Marwan bangkit dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu. lantas mengeposkannya. “Kalu emang Pak Posnya sakit biar besok Beningnya aja yang ke rumahnya. Kotak kayu yang dulu juga dipakai 11. “Setiap kali menyenangkan dan membanggakan punya Ayah pelaut. “Aku selalu mengeluarkan semua kartu pos itu. sementara Ayahnya berkisah keindahan kota-kota pada kartu pos yang mereka pandangi. Pukul “Enggak bisa tidur. bagaimana Ren bercerita. “Ke mana?” “Ke rumah Pak Pos…” Marwan merasakan sesuatu mendesir di dadanya. Marwan ingat.” Ren kecil duduk di pangkuan. Marwan diam. Itu kotak kayu pemberian Ren.” Marwan hanya diam. Sepanjang hidupnya. rasanya. Saat SMP. Aku hanya ingin Beningnya punya kebahagiaan yang aku rasakan…” Tak ingin berbantahan. Marwan melirik jam dinding kamarnya.Marwan tak lagi menggoda bila Ren sudah menjawab seperti itu. Ia mencoba menarik perhatian Beningnya dengan memutar DVD Pokoyo. ngambil kartu pos dari Mama. jauh. Ren menyimpan kartu pos dari Ayahnya. aku selalu merasa Ayahku muncul dari negeri-negeri yang Ren sejak kanak sering menerima kiriman kartu pos dari Ayahnya yang pelaut. ia pun jarang dapat surat pos yang membuatnya bahagia. Bahkan. “Itulah saat-saat menerima kartu pos darinya. dan memamerkannya dengan membacanya keras-keras. “Nganter ke mana? Pizza Hut?” Beningnya menggeleng. Mereka akan berteriak senang bila menerima surat balasan pernah diam-diam menulis surat untuk dirinya sendiri. kartun . dengan suara penuh kenangan.

Gambar pada kartu pos. setelah Beningnya pulas. Membiarkannya ikut ke pemakaman. Marwan mendengar teriakan sopir yang menyuruh hati-hati. seperti tercekat. Mungkin ia akan terus-terusan menangis karena merasakan kehilangan. Ia sengaja tak masuk kantor untuk melihat Beningnya gembira ketika mendapati kartu pos itu. Tapi bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya? Rasanya akan lebih mudah bila jenazah Ren terbaring di rumah. kemudian berlarian tergesa masuk rumah. Ia bisa membiarkan Beningnya melihat Mamanya terakhir kali. Tapi Beningnya terus sibuk memandangi gambar-gambar kartu pos itu. Marwan masih ngantuk karena baru tidur menjelang jam lima pagi. Rasanya. Pasti mereka menduga ia dan Ita…. Tetapi rasanya jauh lebih mudah menenangkan . “Ini bukan tulisan Mama…” Marwan tak berani menatap mata anaknya. “Bagaimana kalau ia malah terus bertanya. tampak memberi isyarat agar ia melihat ke sebelah. teman sekantor.” Marwan tersenyum. Siluet menara dengan burung-burung melintas langit jernih.” Itulah. udah datang ya kartu posnya?” Marwan melihat mata Beningnya berkaca-kaca. ia kini mulai dapat memahami. “Atau kamu bisa saja tulis kartu pos buat dia. kamu jelaskan saja pelan-pelan yang sebenarnya. kapan pulangnya?” “Ya sudah. dari mana mesti memulainya? Marwan menatap Ita. Air mancur dan patung bocah bersayap. Semua itu menjadi tampak lebih indah dalam tertidur. tetapi bocah itu telah melesat Marwan menyambut gembira ketika Beningnya menyodorkan kartu pos itu. Kartu pos yang diam-diam ia kirim. yang tengah memandang mejanya dengan mata penuh gosip. kenapa seorang pengarang bisa begitu terobsesi pada senja dan ingin memotongnya menjadi kartu pos buat pacarnya. Ia selalu merasa bingung. “Ini bukan kartu pos dari Mama!” Jari mungilnya menunjuk kartu pos itu. bagaimanakah ia mesti menjelaskan semuanya pada bocah itu? Andai ada Ren. Sepeda yang berjajar kesukaannya. Mobil jemputan belum lagi berhenti ketika Marwan melihat Beningnya meloncat turun. Seolah-olah itu dari Ren…. Ah. Beberapa rekan sekantornya terlihat menuju kotak pos di pagar rumah. dinding goa. Pagoda kuning keemasan. Bahkan membohongi anaknya saja ia tak bisa! Barangkali memang harus berterus terang. Dari jendela ia bisa melihat anaknya memandangi kartu pos itu. ketika Beningnya terisak dan berlari ke kamarnya.di tepian kanal. “Wah. Sudut dengan deretan yacht tertambat. saat Marwan makan siang bersama. Marwan tersenyum. Bukit karang yang menjulang. Deretan kafe payung warna sepia. pasti akan dikisahkannya gambar-gambar di kartu pos itu hingga Beningnya “Bilang saja Mamanya pergi…” kata Ita. Dermaga kota tua. Merasa lucu karena ingat kisah masa lalunya.

ketika akhirnya cahaya keperakan itu seketika lenyap dan pintu terbuka. seperti tengah bercakap-cakap dengan Dan cahaya itu makin menggenangi lantai. Ia menduga terjadi kebakaran dan makin panik membayangkan api mulai melahap kasur. 2008 dipegangi anaknya. Rasanya ia hendak terserap amblas ke dalam kamar. menyambar mendekapnya. Segera Marwan kartu pos-kartu pos yang berserakan. sekilas ia melihat jam kamarnya. Cahaya yang terang keperakan. Bau wangi yang ganjil mengambang. Bau sangit “Beningnya! Beningnya!” Bik Sari ikut berteriak memanggil. Dan ia tercekat di depan kamar anaknya.Beningnya dari tangisnya ketimbang harus menjelaskan bahwa pesawat Ren jatuh ke laut dan mayatnya tak pernah ditemukan. “Ada apa?” Marwan mendapati Bik Sari yang pucat. Dan ia mendengar Beningnya yang cekikikan riang.” Beningnya mengulurkan tangan. Ia melongok ke dalam kamar. Beningnya berdiri sambil memegangi selimut. Ketukan gugup di pintu membuat Marwan bergegas bangun. “Beningnya…” Bergegas Marwan mengikuti Bik Sari. Ia melihat ada asap lembut. sulit ia buka. Lebih keras dari bau amoniak. Singapura-Yogyakarta. “Kata Mama tukang posnya emang sakit. seseorang.” pelan Beningnya bicara. Dua belas lewat. Marwan mendapati sepotong kain serupa kartu pos kecoklatan bagai bekas terbakar. Kain kafan yang tepiannya . keluar dari lubang kunci. Marwan menerima dan mengamati kain itu. serupa kabut. “Beningnya! Beningnya!” Marwan segera menggedor pintu kamar yang entah kenapa begitu membuatnya tersedak. semua rapi. jadi Mama mesti nganter kartu posnya sendiri…. “Buka Beningnya! Cepat buka!” Entahlah berapa lama ia menggedor. Hawa dingin bagai merembes dari dinding. tak ada api. Ada cahaya terang keluar dari celah pintu yang bukan cahaya lampu. Hanya “Tadi Mama datang.

Terdengar seperti lagu pop yang tak terlalu merdu tetapi dinyanyikan dengan sentimentil… ”Laki-laki yang romantis rupanya!” Tidak. bergemerincing dalam ”Atau jangan-jangan kamu hanya maniak seks yang takut kesepian. Dan saat sepasang matanya mengerdip. Kamu takut tidur sendirian…” Kamu mungkin tak percaya. berganti pacar bagiku tak lebih seperti ganti baju: tinggal pilih mana yang cocok buat ke pesta. Di antara ikan-ikan kecil warna-warni. aku memang mengindap gangguan jiwa karena terlalu gampang jatuh cinta. menyebutkan namanya. Aku Aku tak tahu bagaimana persisnya aku mulai mengajaknya bicara. Itulah yang membuatku betah berada di dekatnya. Tapi. dan mana yang nyaman buat sekadar menghabiskan malam di ranjang. aku seperti mendengar denting genta. betapa jari-jari tangannya begitu gemetar ketika pertama kali malam yang dipenuhi kunang-kunang. Bahkan aku tak mendengar desah apa pun ketika ia orgasme. Aku ingat. Tetapi ketika ia hatiku. mana yang pantas buat dipakai makan malam. tengah memandangi ikan-ikan dalam akuarium. seperti langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. untuk sekadar membuatku tersenyum. Menatap matanya menjadi kehangatan tersendiri. Aku suka ketika mendengar ia berbicara.Serenade Kunangkunang Agus Noor melihat hamparan kesenduan dalam mata itu. Ia bercinta nyaris tanpa suara. Aku suka matanya. Mata yang terlalu melankolis untuk seorang yang membuatku jatuh cinta. Barangkali. sepasang mata itulah sebalik kaca—membuatku terkejut. aku teringat pada sepasang kunang-kunang yang melayang di atas kolam. yang paling gombal sekali pun. aku suka matanya yang selalu mengingatkanku pada langit hampir seperti ketika kamu merasa rindu pada masa kanak-kanakmu yang paling menenteramkan. Kau tahu. Kau akan laki-laki yang selalu gugup dan tergesa-gesa ketika berciuman. bercinta dengannya seperti menikmati nasi . Memang. sepasang mata itu bagai mengambang. Ia malah cenderung selalu gugup bila aku bermanja-manja memeluknya. menyentuh putingku yang ungu. mana yang pas buat jalan-jalan. Ia tak pernah mengucapkan rayuan. Sementara gelembung-gelembung udara dan serakan batu koral membuat wajahnya seperti terpahat di air. kalau kukatakan betapa semua ini bukan semata-mata urusan ranjang. ketika sepasang mata itu muncul dari Sisa hujan masih terasa dingin di kaca saat aku bertemu dengannya di toko ikan hias. seperti katamu. ”Dan yang ini?” Seperti kukatakan.

aku jadi ingin ketemu dia.goreng: rasanya standar dan bisa didapat di mana saja. tak rapi. aku sungguh-sungguh jatuh cinta? ”Gatal telingaku dengar kamu ngomong soal cinta. Kadang aku menganggap semua ini tiada penuh masalah?! Tapi… Maaf. Sedikit berkumis. dengan dasi yang selalu terlihat tak serasi dengan warna sweater-nya Dia agak pendek untuk ukuran kebayakan laki-laki. ”Bukan baju yang pantas buat ke pesta. ”Mau ke mana?” Kau lihat kunang-kunang itu? Setiap melihat kunang-kunang. Ada beberapa jerawat di wajahnya yang coklat. Tapi— diam-diam. Sungguh. yang membuatmu rela melakukan apa saja untuk sekadar menyukai kemurungan dan kesenduannya. tapi karena kamu tak ingin orang lain tahu kamu memilikinya. Mungkin karena aku merasa nyaman saja. kenapa aku jatuh cinta kepadanya. kalau memang kepingin yang mendapatkan perhatiannya. ”Busyet!!” Mungkinkah. Lalu kuingat kunang-kunang di matanya. Tapi. bukankah cinta memang ganjil dan memikirkanku. kali ini. Dan ini kisah cintamu yang akan jadi dongeng menakjubkan! Ha-ha-ha…” Tidakkah kau tahu. Seperti menyukai baju yang selalu ingin kukenakan ”Anggap saja ini cinta sejatimu. Dan kupikir. kukira!” Lebih mirip seperti baju yang ingin selalu kamu sembunyikan dalam lemari. aku mesti pergi. Setiap melihat kunang-kunang. bayangannya seperti ketukan ganjil pada pintu saat tengah malam. ”Kau suka kunang-kunang?” ”Hmm. Dia bukan laki-laki seperti yang sering kamu untuk melakukan bermacam adegan dan posisi. Keringatnya meruapkan aroma kamper yang kelabu. terkadang sebuah kisah cinta bisa saja menakjubkan meskipun tidak seindah kisah cinta Cinderella dengan Pangeran tampannya? Sampai saat ini aku sendiri masih heran. aku kan bisa melakukannya dengan pacar-pacarku yang lain. penampilannya lebih mirip salesman yang baru saja ditolak masuk rumah. entahlah. yang membuatku lihat di iklan deodoran. tipis. Bersamanya aku tidak terobsesi aneh-aneh begitu. aku selalu merasa dia tengah lebih dari kisah cinta yang ganjil dan bermasalah. aku begitu menyukainya.” ”Aku suka kunang-kunang…” . Tapi—entah kenapa—aku selalu menyukainya. Bukan karena kamu tak suka. Membuatku tergeragap.” Bila aku kangen. yang akan membuatmu teringat pada baju yang menjadi apak karena terlalu lama disimpan.

Kemudian terbang mengikuti aliran sungai. ia langsung tidur setelah bercinta. kata ibu. ”Kau lihat kunang-kunang itu?!” ”Hmm…” Ini pertemuan ke-43. memandangku yang duduk telanjang di sofa. dan angin yang membeku membuat layang menyusuri aliran sungai. Kenapa aku suka pada matanya yang bagai meringkuk dalam selimut. setiap kali aku merasa rindu dengan ayah. bagai gugusan cahaya kekuningan yang bangkit. Agar ia menyimpan kunang-kunang. Dari jendela apartemen lantai sebelas. Bahkan kemurungan tak juga menguap dari wajahnya ketika ia terlelap. aku lupa. Selalu. saat itu. Seminggu setelah pembantaian. Dia mengerti kenapa aku suka kunang-kunang. Aku ingin ia melihat sendiri bagaimana setiap bulan purnama ribuan kunang-kunang itu muncul dari bawah lembah sana. agar ia menyaksikan kemunculan ribuan kunang-kunang itu.” ”Aku suka matamu…” ”Hmm” “Seperti ada kunang-kunang dalam matamu. Salah satu dari ribuan kunang-kunang itu adalah ayahmu. Padahal. bersama ribuan tubuh lainnya. dengan mata yang layu. .” ”Hmm…” Ah. Itulah kenapa aku Itulah pemandangan yang selalu kusaksikan sejak kecil di tempat ini. Sejak kecil aku kerap bermimpi ayahku muncul dengan mata yang bagai sepasang kunang-kunang. pada saat-saat seperti ini aku ingin mengajaknya kemari. ketika lembah itu menjadi bisu. Aku jadi teringat pada cerita seribu kunang- kunang yang menautkan kesepian dan kenangan. Seperti yang sudah-sudah. kemudian gaib begitu saja dalam kesunyian yang mengelabu. Membuat lembah itu malam purnama. Ribuan kunang-kunang itu terlihat bagaikan selendang kuning yang melayang-layang hanyut di riak air.”Hmm. Ibu mendengar tubuh ayah dibuang ke lembah itu. dari lembah itu muncul ribuan kunang-kunang. di zaman gestapu dulu. Rasanya aku pernah membaca cerita muncul dari kegelapan malam dan terbang berhamburan memenuhi kota… seperti itu—mungkin sewaktu SMA. ibu bercerita bagaimana suatu malam ayahku diseret keluar rumah. Ibu selalu mengajakku kemari. ribuan kunang-kunang itu selalu bangkit dan terbang melayang- Kuajak ia kemari. Dan setiap pepohonan tertugur kelu. menjadi berkilauan. Aku masih dalam kandungan ibu. selalu tak mudah mengajaknya bercakap. Kunang-kunang itu adalah jelmaan roh-roh yang penasaran. sekali mengajaknya bercakap-cakap tentang kunang-kunang itu. kota terlihat gemerlap ditangkup gelap yang pucat. seperti sosis dalam setangkup roti. Ibu selalu bercerita bahwa ayah telah menjelma kunang-kunang. Aku membayangkan jutaan kunang-kunang ”Enggak tidur?” Ia menggeliat.

Aku hanya memandang keluar jendela. Seperti jeritan yang teredam. Karena. tak tercatat pada termometer. handphone di atas meja bergetar tanpa suara. seperti langit yang bertambah memucat di atas kota yang di penuhi kunangkunang. ”Anakku sakit …” Bukan sesuatu yang mengagetkan. seperti kerap kau katakan. aku tetap saja merasakan kemurungan yang makin membentang. Ia masih saja tak terbiasa melihatku telanjang. Barangkali. Kesunyian tak terpermanai. Dan dingin. Sampai ia mematikan handphone dan mendekatiku. dan dengan gerakan pelan menjauhiku. Tak ada percakapan. Tapi. Ia meraih handphone itu. selalu saja. Jakarta. Kemudian ia bangkit. Kurasakan kemurungan yang ganjil ketika ia mendekatiku. Tak ada pelukan untuk saat-saat seperti ini. dan tergesa mengenakan pakaian. aku memang wanita paling menyedihkan yang yang sudah beristri…. 2005-2008 pernah kau kenal. ”Aku mesti pergi…” suaranya pelan dan datar. Membelakangiku. Desah napas waktu meruapkan basah pada kaca jendela. Seolah ia menginginkan semua ini berlangsung tanpa percakapan yang akan menjadi terlalu sarat kenangan. Cahaya perlahan susut dan aus. aku selalu saja gampang jatuh cinta pada laki-laki . meraih celana dan kemeja di sisi ranjang. seperti dalam sebuah puisi. berbicara setengah berbisik.Ia sungkan dan jengah.

aku pernah begitu mencintainya. Padahal. ”Kalau tiga ditambah empat?” ”Tujuh. Bila ada ular masuk ke rumah.Parousia Agus Noor Pada malam Natal tahun 3026. Aku tak pernah mengerti. Mungkin karena celanaku yang selalu melorot. aku ingin dilahirkan kembali di kota ini. nari.” jawabku. Apabila melihat aku lagi berjalan. Seorang Sinterklas terkantuk-kantuk di dalam kehidupanku yang lain. Mungkin karena itulah orang- memperbolehkan aku masuk rumah mereka. mendesing lalu lalang di jalanan. sambil menunjukkan empat jariku. melihatku memasuki halaman rumah mereka. Di kulitku yang licin. Dulu aku memang berharap. Mungkin mereka hanya menggodaku. Mungkin karena tampangku yang terlihat dungu dengan liur kental yang terus menetes. dan langit hanya basah. orang-orang akan menghentikanku. Kota di mana bertahun-tahun lampau.” jawabku. mereka selalu memberi telur atau sejumput beras buat ular . Aku benar-benar tak lagi mengenali kota ini. Tak ada bintang. Aku ingat. kenapa orang-orang tak orang melihatku dengan jijik. ”Dasar idiot!” Aku tak pernah mengerti kenapa mereka mengatakan aku idiot. seperti rintihan kesepian. sambil menunjukkan empat jariku. Sayup kudengar gemerincing lonceng mekanik Jingle Bells mengalun dari juke box di etalase hypermarket. Mobil-mobil silver metalik bertenaga magnetik keluar dari cangkang kesunyianku. Mereka selalu membiarkan ular masuk ke rumah mereka. Orang-orang bergegas membawa keranjang belanjaan dan kado-kado Natal berbungkus kertas warna-warni. Mungkin mereka butuh hiburan. udara terasa seperti permukaan piring keramik yang dingin. Mereka tertawa. Pasti aku tampak lucu di mata mereka. ”Berapa dua ditambah dua?” ”Tujuh. bagaimana orang-orang selalu mengusirku bila mereka tak pernah mengusirnya. yang membuat kepalaku berdenyut-denyut lembut. Mendesis pelan dan muncul lewat gorong-gorong. Biasanya. Dan mereka kembali tertawa. Lalu mereka menyuruhku menyanyi dan menari. Mungkin karena mulutku yang peyot. Aku tak mengerti. kenapa dulu orang-orang di kota ini begitu senang menggangguku. Memberiku moke. tidak lagi sebagai bocah idiot yang sering diganggu dilempari kerikil atau tomat busuk. trotoar. aku terlahir kembali ke dunia ini sebagai seekor ular. Aku Kusaksikan cahaya terang kota yang gemerlapan. Aku ikut tertawa saat mereka tertawa. Mereka tertawa-tawa melihat aku menarimereka kemudian akan bertanya hal-hal yang terdengar aneh di telingaku. Mungkin mereka merasa bahagia bila bisa menggangguku. bila ada ular masuk ke pekarangan.

saat tanah masih serupa Dari omongan orang-orang. Tapi kudengar seseorang berteriak. Kini terentang jalan layang dan jembatan penyeberangan yang bagai sederhana. menatapku yang mendesis merayap pelan menyeberangi trotoar. Aku tiba-tiba terkenang pada gereja-gereja yang dulu sering aku singgahi. Kerlapmenerangi pertokoan yang berderet sepanjang jalan. Di ladang. menganga mengisap orang-orang yang lalu lalang. Cahaya seperti telah menyihir kota ini kerlip pohon Natal menjulang di tengah-tengah plaza. Lampu-lampu aneka warna Kudengar lonceng gereja. mendengar suara lonceng gereja yang mengapung menggetarkan udara senja. ketika batu masih berupa buah muda. teringat bagaimana dulu orang-orang memberi makanan menyambut kedatangan ular Instingku merasakan bahaya dan dengan cepat aku melesat menyelusup tumpukan tong sampah. ”Cepat bunuh ular itu! Usir! Pukul” Dan dengan gerakan cepat seseorang mengacungkan tongkat. Aku leluhur mereka. Kudengar kembali gema lonceng itu. di pinggir jalan. Aku begitu ketakutan. sepanjang jalan ini hanya berderet pepohonan. banyak berkeliaran di kota ini. Aku senang dan merasa tenang bila penuh dengan gereja. di pojokan itu ada sebuah gereja.itu. Seperti sayup ingatan yang membuatku merasa tak tersesat. Terdengar suara-suara tong ditendang. Aku ingin Tuhan akan melahirkanku kembali ke kota ini sebagai seekor ular. Meski terkejut dengan reaksi mereka. Ketika mula dunia tercipta. Seingatku. . kendaraan yang lewat berhenti. takjub sekaligus merasa asing memandangi kota yang gemerlapan. Aku suka berjalan mengelilingi kota karena aku suka mendengarkan lonceng gereja. ular-ular itulah muasal leluhur yang mendiami pulau. Kota dengan seribu gereja. kota ini seperti memanggilku. Kenapa mereka ingin membunuhku? Kudengar teriakan-teriakan mengejarku. ”Ular! Ular!” Kulihat orang-orang beringsut ketakutan. Leluhur yang mulai berkhayal. Bunyi lonceng seperti itulah yang dulu selalu menuntun perjalananku. Aku sering bertemu ular-ular itu. Aku benar-benar bingung dengan kota ini. yang berkelok turun digantungkan begitu saja di udara. Sejak itulah aku ular. aku mulai tahu kenapa orang-orang di kota ini suka pada ular. Kadang kulihat seekor ular melintas menyeberang jalan. Tiba-tiba kudengar suara jeritan. yang kudengar sepotong-sepotong dan tak gampang aku ular-ular itulah leluhur mereka. kuntum yang ranum. Saat itulah kudengar suara mendesis pelan. juga beberapa rumah kayu menuju bukit kecil. Gerbangnya yang menjulang bagai mulut raksasa dan membuatku tak mengenalinya lagi. betapa enaknya jadi ular. Alangkah menyenangkan jadi ular. betapa orang-orang lebih menyukai ular pahami. Begitu aku selalu merasa iri pada ular-ular yang di pepohonan. Dulu. kabut selalu membawa rezeki dan nasib baik bagi siapa pun yang didatanginya. kini aku melihat sebuah mal yang megah. Aku merayap menyeberangi jalan. Mereka percaya bagaikan putih telur. setiap hari. Tapi di situ. aku mencoba tak panik. Dulu. Kurasakan. menghilang dalam kegelapan. dan semua ketimbang diriku. ketika Bumi masih rapuh. aku selalu berjalan sepanjang jalanan ini. Mestinya. Aku ingin suatu hari nanti bisa berubah menjadi Aku mendesis.

belajar memahami apa yang sesungguhnya telah terjadi. Cepat sini…. Dan seperti menyusuri ingatan. Ketika gelap dan sepi terasa lengket seperti ampas kopi. hanya dipisahkan oleh kenangan. Sungguh kota ganjil yang serba temaram. Ditentengnya rosario itu seperti ia gadis cilik yang mendekapku ini mengeluarkan rosario dari kantung roknya. Dengan tangannya yang mungil. Aku diam melingkar di pojokan. di mana matahari terlihat menyandarkan cahayanya. reruntuhan gereja yang kini hanya terlihat sebagai tetumpukan batu bata. Sampai kemudian aku melihat bayangan deretan rumah yang rapuh. meski aku bisa segera menyaksikan bayangan rumah-rumah kumuh yang bagai mengapung dalam kegelapan. Lorong di mana dulu gadis cilik itu membawaku adalah jalan menuju ke kota yang penuh cahaya itu. ”Kita sampai. lorong yang berkelok-kelok. Kulihat rosario menenteng lentera.”Ssttt…. sambil menurunkanku dari dekapannya. mendesis-desis menatapku. Aku merasa nyaman dalam yang kudengar masih memburuku. Kota ini terletak di pinggiran kota yang gemerlapan itu. sampah. Inilah kota yang pada kehidupanku yang dulu selalu kususuri jalan-jalannya. aku merayapi jalanan kota ini. Sepasang matanya yang bening membuatku pelan-pelan merasa tenang. mengenali jajaran pepohonan di sepanjang jalan kota ini. Cara mereka mengingatkanku. Ia mengulurkan tangan. ”Cepat sembunyi sini…. Suara-suara itu perlahan lenyap dalam gelap. kulihat itu menyala kemerahan. ratusan ular. juga bayangan bukit-bukit di kejauhan. gadis itu memungutku. memberiku cuilan roti yang dipungutnya dari tumpukan kepalaku. Aku merasa asing. cahaya kota yang gemerlapan kulihat meredup perlahan ketika gadis ini terus memasuki lorong kelam.” kata gadis cilik. berdesakan dan bau tengik. Aku langsung teringat pada kelokan jalan itu. memancarkan sulfur cahaya. menjauhkan aku dari orang-orang belakangku.” Kulihat gadis cilik meringkuk di pojok gelap. Saat itulah kudengar suara-suara mendesis pelan keluar dari reruntuhan tembok dan tumpukan kayu lapuk. ”Kamu bandel sekali berani keluar gorong-gorong. Kulihat puluhan ular. Kemudian ia berjalan mengendap-endap. membuatku merasa seperti menyusuri labirin kesunyian yang pastilah akan membuatku tersesat bila sendirian.” Aku memandanginya ragu. seperti tengah meyakinkan betapa tempat terbaik . Cahaya pucat kemerahan menerangi lorong yang kami lalui. >diaC< Kudengar lonceng gereja yang layu dari kejauhan.” Ia berkata sambil mengelus Kupandangi mata gadis itu. seperti kupandangi sepasang bintang yang menandai kelahiranku kembali ke dunia ini. Aku kemudian tahu bahwa kota ini sesungguhnya tak terlalu jauh jaraknya dengan kota yang kulihat saat malam Natal sebulan lalu. Aku merasa ini tak lebih dari kota lama yang ingin dikekalkan dalam ingatan. Di dekapannya. Tapi ularular yang kutemui selalu mengingatkan agar aku jangan pernah berani-berani lagi muncul bagi ular macam kami adalah di kota ini di kota itu.

Ketika bangunan-bangunan menyanyikan kesedihan. salib itu seperti pokok pohon karet yang tengah disadap. Ia kemudian mengatakan kalau karena sekarang ini sudah jarang yang mau membeli rosario. Berusaha membangunnya kembali sebagai tumpukan-tumpukan kenangan. bila menjelang Natal. sebagian orang yang mencoba bertahan memunguti sisa bangunan gereja itu. akan ia ingin agar aku mengenal setiap cuil kota ini. menyadap air mata Tuhan…” Aku ingat. Di kota yang remang dalam menampungnya dalam gelas. pada waktu-waktu tertentu akan mengalir. Para penduduk memberi kami anak-anak. gadis cilik itu pernah berkata kepadaku. untuk diganti dengan malmal. Kami belajar saling mengerti kesepian masing-masing. kalau aku mau menjual rosario. Sering kami duduk-duduk dekat terpinggirkan dari kota. Kadang air mata itu menetes bening. Ada salib di tengah reruntuhan gereja di kota ini. Kami mesti menjualnya diam-diam. Ketika banyak gereja diruntuhkan. kami Aku belajar mencintai kota ini. ”Begitulah. Ketika kota mempercantik diri. kan? sekarang ia makin sulit menjual rosario. menyimpannya dalam botol. kami bisa ditangkap petugas keamanan. Dulu aku sering memang sering berjualan rosario. membawanya masuk ke dalam kabut kesunyian. Aku pernah melihat bagaimana rosario itu dibuat. kami—ular-ular—memang dibiarkan berkeliaran. rempah-rempah dan artefak kenangan. Kadang merah serupa darah. Ia bercerita bahwa sebenarnya ada jalan tembus melalui gorong-gorong untuk pergi lewat jalan itu. Para penduduk di kota ini menampung air mata Kristus. dulu kami bertahan: dengan . Dan ular-ular mengikuti mereka ingatan inilah para ibu mencoba bertahan hidup dengan memetik embun di daun-daun. Mereka memunguti puing kota lama yang nyanyian dan upacara yang penuh ratapan pada leluhur. tetapi selalu diusir. tetapi kota itu lebih suka dapat hadiah Natal boneka Barbie atau nitendo daripada rosario. Kuingat rosario yang memancarkan cahaya itu. Kami bercakap-kacap dengan bahasa leluhur yang hanya bisa kami mengerti. dengan karena di kota yang baru mereka diburu dan tak lagi dituahkan. Padahal Aku mendesis mengangguk. Kamu sudah melihatnya. yang mereka percaya. Itulah selang yang dipakai untuk menampung air mata Kristus. terdengar seperti tengah bertingkat mulai dibangun. dan menghidangkannya buat sarapan pagi anak-anak mereka. menjualnya di lapak trotoar. Pelan-pelan mereka kembali membangun kota mereka. dengan mangkuk perak berbentuk piala di ujung selang itu. anak-anak di rosario buatan kami luar biasa. Sudah lama. Sebab bila ketahuan. dan Kristus tampak murung dan sengsara dalam lindap cahaya. berjualan biji-biji embun dan bermacam daun. Aku menemukannya tak sengaja. Salib itu menjulang. Tak hanya karena dikejar-kejar petugas. Kemudian dijual. Dan pada malam hari mereka memeras air mata. dan meminumkannya saat anak-anak mereka sakit. Dulu. seakan- mencapai kota di seberang sana. Dulu banyak warga kota ini yang setiap hari pergi ke kota itu. Pada saat itulah. Aku sisa makanan mereka meski kadang busuk dan berjamur. katanya. Pada tubuh Kristus terlilit selang kecil. tapi terlihat rapuh. dihancurkan kemajuan.Di kota ini. Dalam keremangan. Butiran air mata itulah yang kemudian mereka kumpulkan untuk diuntai jadi rosario. Apalagi gadis cilik itu selalu mengajakku jalan-jalan. saat mereka berkumpul mendengarkan orangtua mereka mendongeng. Dongeng tentang kehidupan mereka yang perlahan-lahan sangat senang mendengarkan dongeng-dongeng itu dituturkan.

Maka pada malam Natal beberapa bulan kemudian. gorong-gorong. ia seperti tengah membawa keranjang makanan dan hendak pergi tamasya. gereja. ”Kamu Pater?” Aku mendesis tersenyum. nyanyian puji-pujian.” katanya. Kenangan-kenangan dalam kehidupanku yang dulu seperti bermunculan kurasakan cahaya kota yang gemerlapan. ia memang gadis yang usil dan nakal. Sampai kemudian aku menyadari.” katanya. Ia begitu senang saat mendengar kalau pada kehidupanku yang dulu. kulihat stereo set diputar untuk mengumandangkan melihat tubuh Kristus yang tersalib memandangi bangku-bangku kosong. ”Kau tahu. siapa tahu aku ini salah satu keturunanmu. Ia mendadak terbelalak saat aku bercerita tentang Gereja St Paulus yang sering kudatangi dulu. boleh jadi sebagai tugu kenangan. gadis itu memasukkanku ke dalam keranjang kecil. Terdengar syahdu dan megah. Ketika ia berjalan. Ia menyimak ceritaku dengan mata berkejap- kejap. Mataku nanar Ledalero. ”Wow. tepat di belakang gereja. tapi setidaknya ia memahami kerinduanku. Jangan sampai orang-orang di kota itu melihatmu. ”Kita bisa diam-diam ke sana. Cahaya terasa ultim dan kusaksikan fresko katakombe di atas altar itu bagai bergetar. ”Itu satu-satunya gereja yang masih berdiri!” Mungkin tepatnya: itulah satu-satunya gereja yang sengaja dibiarkan berdiri. Aku takut ada penduduk yang memergoki gadis cilik ini. Tidak. 2006 .Kepada gadis cilik itu pun aku bercerita tenang kehidupanku dulu. Pelan aku dikeluarkan dari dalam keranjang. Ah. Kami menuju kota itu melalui gorong-gorong rahasia. Tak ada seorang pun perempuan suka dengan orang idiot. aku juga penduduk kota ini. samar-samar bisa menenteramkanku. Kukatakan betapa aku ingin melihat gereja itu. kudengar gadis itu berbisik pelan mengatakan kalau kami sudah sampai dalam seperti rongga semesta. Kusaksikan ruangan yang remang.” teriaknya riang. Pasti mereka mengusir kami…. Ia hendak membawaku mendatangi gereja yang kurindukan itu. Aku melingkar tenang dalam keranjang. Tak ada seorang pun mengikuti misa Natal. katanya. betapa sunyi gereja ini. Di dekat altar. Ada perasaan sendu ketika kudengar itu. kataku. Kami keluar dari Puji Tuhan. Kulihat gadis kecil di sampingku yang hanya menunduk. Dulu aku idiot. Aku tidak menikah. Kudengar koor Malam Kudus dinyanyikan. Dari dalam keranjang anyaman. ”Tapi aku suka kamu!” Aku menggeliat-geliat dalam dekapannya. ternyata.

Catatan: 1. Dikutip dan ditulis ulang dari puisi ”Ibu yang Tabah” karya Joko Pinurbo. Nama tuak/minuman keras lokal di Maumere. versi Krowe-Sika. 3. Agus Noor (23 Desember 2007) . Disitir dan ditulis ulang dari syair tradisi yang mengisahkan penciptaan alam semesta. 2. Nusa Tenggara Timur.

Tukang Jahit Agus Noor Tukang jahit itu selalu muncul setiap kali menjelang Lebaran. gunting. Tapi semakin lama kian menyusut tukang jahit yang muncul ke kota ini. mangkuk-mangkuk berisi kancing warna-warni. Karena para tukang jahit itu mesti jahit itu tampak bergegas keluar kota. Mungkin juga mereka memilih berhenti jadi tukang jahit. Nak. Kemunculan mereka selalu menjadi pemandangan yang menakjubkan. di emper pertokoan. Nak. jahit lipat dari dalam kotak yang dibawanya. Kata orang. setiap menjelang Lebaran. sementara tangan kirinya lincah dan cepat mengarahkan pola potongan kain yang dijahit. Para penduduk antre menjahitkan pakaian dan hiruk dalam keramaian menyambut Lebaran. butik dan pusat perbelanjaan di kota ini. dan benang. silet. dari tahun ke tahun. di pojokan jalan. orang-orang lebih suka . ia tak hanya bisa menjahit pakaian. Begitulah. Ketika cahaya matahari pagi yang masih lembut kekuningan menyepuh tukang jahit yang masing-masing memikul dua kotak kayu berbaris muncul dari balik lekuk perbukitan dan halimun perlahan-lahan menyingkap. datang! Asyiik! Lebaran jadi datang!” Seakan-akan bila para tukang jahit itu tak muncul. diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya. Mereka menggelar dasaran di trotoar. Atau mereka tak mau lagi datang. kota akan terlihat penuh tukang jahit yang berkeliling menawarkan menjahitkan pakaian. Sejak banyak toko fashion. Seperti kemunculannya yang entah dari mana. tukang jahit itu pun menghilang entah ke mana. yang konon. karena makin lama makin banyak warga yang malas menjahitkan pakaian pada tukang jahit-tukang jahit itu. Kanak-kanak akan berlarian senang menyambut kemunculan mereka. Tukang jahit itu punya jarum dan benang ajaib yang bisa menjahit hatimu yang sakit. Seperti menyaksikan dalam sekejap. Di hari-hari menjelang Lebaran itulah. betapa dulu. menata bundelan-bundelan benang. para tukang malam. Mereka mengeluarkan mesin dondom dan jarum pentul. Dan di malam takbiran. Kau akan mendengar gema mesin jahit yang terus bergemeretak hingga larut menyelesaikan semua jahitan sebelum hari Lebaran. meletakkannya di atas kotak kayu yang digunakan sebagai meja. Nak. Nak. kota ini selalu didatangi banyak sekali tukang jahit. jarum Selalu menyenangkan memperhatikan tukang jahit itu bekerja. yang mampu mengubah kain-kain warna-warni menjadi baju-baju indah kanannya. Mungkin banyak dari tukang jahit itu yang mati. para para tukang jahit itu muncul setiap kali menjelang Lebaran dan menghilang di malam takbiran. “Tukang jahit maka Lebaran tidak jadi datang ke kota ini. Anak-anak berceloteh riang tentang baju baru yang akan mereka kenakan. Serasa ada gema burung pelatuk di mana-mana. Jarum Ibu pernah bercerita. Entahlah. Nak. Ia juga bisa menjahit kebahagiaan. factory outlet. kau bisa menyaksikan serombongan bukit. selalu. Mereka duduk bersila menggerakkan engkol mesin jahit dengan tangan tukang sulap. di keteduhan pepohonan. Seolah muncul begitu saja ke kota ini.

satu-satunya tukang jahit. Di kampung itulah ia tinggal. kulitnya seperti kulit mahoni yang menua. dari tahun ke tahun. memancarkan cahaya lembut ketika dipegangi tukang jahit itu. seperti senar. Dan itu karena ia tak hanya pintar menjahit pakaian. Rabalah. halus. kadang tampak itulah tukang jahit itu menjahit kembali kebahagiaan orang-orang…. Yang jelas sudah sejak lama. selalu saja ada orang yang datang Tinggal tukang jahit itu. Bila ada orang sedih yang datang padanya. membutuhkan mereka. Namun sudah berpuluh tahun lalu kampung itu lenyap. Kau tahu. tetapi tak bisa menyentuhnya. lalu mereka memilih mendatangi kota-kota lain yang masih mau Lebaran. Hanya ia. Mereka hanya duduk-duduk tanpa mengerjakan jahitan. Memberi tukang jahit itu segulung benang untuk menjahit seluruh pakaian yang ada di dunia ini.membeli pakaian jadi. rambutmu. di tangan tukang jahit itu. Ia seperti wajahnya seperti rahasia yang tak mau dibuka. Tak Lalu Ibu bercerita tentang jarum dan benang yang dimiliki tukang jahit itu. Tapi juga ingin bahagia di saat hati orang yang lagi sedih itu. Tak ada lagi keriuhan suara mesin jahit di kota ini setiap menjelang masih muncul pun lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan melinting dan orang-orang yang lalu lalang keluar masuk pusat perbelanjaan menenteng tas-tas lebaran. Kau masih empat tahun saat itu. Orang tak hanya menginginkan baju baru saat Lebaran. Entahlah. Mungkin kau tak ingat. Sebuah kampung. Nak. Nak. Delapan Lebaran lampau. Nak. Lebaran. Kisah tentang kampung para penjahit juga pernah aku dengar. Tapi ia lebih sering terlihat di sudut dekat gang kecil agak di pinggiran kota. yang seluruh penghuninya adalah tukang jahit. Memang tak banyak lagi orang yang mau padanya. dan jarum. tiga bulan sebelum Lebaran. Benang itu tipis dan bening. Saat itu Ayahmu baru meninggal. dan menjahitkan pakaian padanya. Dengan jarum dan benang Begitulah. Nak. Nak. Zaman. maka tukang jahit itu akan menjahit robek dan koyak menjadi seperti selembar kain lembut yang bisa dijahit kembali. Seluruh tukang jahit yang tinggal di kampung itu mati oleh wabah yang tak pernah diketahui apa. dan membuat orang-orang itu merasa tenteram. setiap menjelang yang muncul di kota ini. Tak berbekas. Nak. tukang tentang tukang jahit itu. Lalu diantar Pamanmu. Tapi . Maka. Cerita Ibu hanyalah salah satu cerita dari banyak cerita yang kudengar cerita lain membantahnya. Nak. barangkali. ia sebenarnya tinggal di balik bukit itu. Ibu merasa kesepian dan sedih membayangkan Lebaran tanpa Ayahmu. Menisik dan menjahit. memandangi belanjaan berisi pakaian. kebahagiaan yang Ibu pernah menggendongmu datang ke tukang jahit itu. Ada yang mengatakan. Kau tahu. Ia menjahitnya dengan rapi. yang masih muncul di kota ini. tak ada lagi pemandangan menakjubkan arak-arakan serombongan tukang jahit laskar terakhir prajurit yang terusir. memang mengubah selera. Dan jarum itu. tak banyak bicara. tetapi lebih lembut dan halus. Nak. Ia menjahit luka hati ibu. Ibu mendatangi tukang jahit itu. Nak. selalu kulihat tukang jahit itu muncul di kota ini setiap kali menjelang lebaran. Ia sempat mengelus bertilas. Perawakannya kurus. para tukang jahit yang mengisap tembakau. tapi kau lihat. Di dada sebelah sini. tetapi juga kebahagiaan. Berjalan keliling kota menawarkan jahitan. Kau bisa melihatnya. Mungkin para tukang jahit itu merasa betapa kota ini tak lagi menerima kedatangannya. begitu halus. Benang yang tak akan habis bila dipakai Nabi Khidir muncul dalam mimpinya suatu kali.

kulihat antrean itu sudah sedemikian mengular panjang memacetkan jalanan.masih muncul ke kota ini. Aku ingat. di sebuah perbatasan antara hidup dan kematian. Tapi barangkali pula karena dari Lebaran ke Lebaran memang semakin banyak orang yang kian tenggelam dalam kekecewaan. Yang lain bilang kalau ia memang sempat bertemu Nabi Khidir jahit itu. sepanjang hari memintal benang kesabaran. Padahal tukang jahit itu. Kemunculannya selalu dalam diam. Menjelang Lebaran ini. Mereka sudah menunggu sejak dini hari. jahit itu belum lagi muncul! Mereka tampak sudah tak sabar menunggu kemunculan tukang Saat melintas sepulang belanja kue penganan dan pakaian buat Lebaran. Ia tinggal di sebalik cakrawala. malah makin menyelimutinya dengan misteri. bahkan ada yang sudah menunggu berhari-hari. seakan meledek tukang topeng monyet keliling. sewaktu kanak. Itulah sebabnya. jalan. Ia sendiri tak pernah mau bercerita tentang dirinya. Dan tukang jahit itu tetap saja diam. aku menjalankan mobil pelan-pelan. Tak pernah bercakap ia dengan para penjual loakan di situ. Mereka antre agar bisa menikmati kebahagiaan Lebaran. Rasanya. yang membuat jalanya jadi agak membungkuk. Ia tinggal di sana. Mereka ingin menjahitkan kekecewaan mereka pada tukang jahit itu. Dengan benang itulah ia ditugaskan oleh Nabi Khidir Semua cerita itu sesungguhnya tak pernah menjelaskan tentang tukang jahit itu. Gang yang rindang dan lengang meski ada juga beberapa lapak penjual barang loakan. Ayah?” “Mau menjahitkan…” “Menjahitkan pakaian?” “Bukan. dipintal dari bulu-bulu sayap malaikat.” “Kok kayak mau ngantre minyak tanah?” . anakku memandang heran antrean itu. Cerita tentang jarum dan benang ajaib itu mungkin membuat banyak orang penasaran. Dari radio terdengar nyanyian riang: Lebaran “Sedang antre apakah orang-orang itu. Benang yang untuk menjahit hati orang-orang yang sedih menjelang Lebaran. Menjahit dan tidur di Tapi dari Lebaran ke Lebaran semakin banyak saja orang-orang yang datang ke tukang jahit itu. Karena banyaknya antrean yang meluber hingga ke tengah sebentar lagi…. Nyaris tanpa suara berkeliling memikul dua kotak kayu kawan sepermainan kerap mengikuti di belakangnya sambil berteriak-teriak. inilah antrean terpanjang yang pernah kulihat di kota ini. gang itulah tukang jahit itu selalu menggelar dasaran dan istirahat. Di pojokan situ selama hari-hari menjelang Lebaran. Menjahitkan kebahagiaan. Tak banyak juga orang yang mendatanginya. aku dan kawan- Agak di pinggiran kota ada gang buntu kecil yang letaknya di tikungan jalan. satu-satunya yang selamat. kini ia satu-satunya tukang jahit yang dan menjadi muridnya.

hingga Agus Noor (7 Oktober 2007) . Pusing karena semuanya makin mahal. Mungkin juga mereka hanya merasa makin sedih saja…. Kuceritakan tentang tukang jahit itu. Tidak semua orang hari Lebaran pun kini orang mesti antre berdesak-desakan. Bahkan untuk sekadar bisa menikmati kebahagiaan di “Kenapa menjelang Lebaran begini mereka kok tidak bahagia. dengan gampang mendapatkannya. Brisbane-Yogyakarta. Ayah?” “Ya.” “Bagaimana kalau tukang jahit itu tak muncul. Tak bisa membelikan baju baru.Barangkali. 2007 orang-orang yang antre itu. kemudian memandang gamang ke arah menyentuh ujung terjauh cakrawala yang mulai menggelap.” Lalu kuceritakan apa yang dulu pernah diceritakan Ibu padaku. Tentang jarum dan benang yang bisa menjahit kesedihan. Bingung karena masih nganggur. Ayah?” “Mungkin mereka tak punya uang buat pulang kampung. sekarang ini kebahagiaan memang seperti minyak tanah. “Jadi mereka menunggu tukang jahit itu. Ayah?” Aku menatap matanya yang menunggu jawaban. Kulihat antrean itu sudah sedemikian panjangnya.

Anak-anak begitu bergembira ketika nenek sihir itu membagikan biji-biji yang rasanya manis dan mereka sudah hilang. pastilah ada peri yang sedih masuk ke dalam kamarnya. Bantal mungil warna-warni milik peri. Neal tak akan pernah lupa dongeng masa kecilnya itu. itu biasa. suka sekali permen. Ia manis dan lembut karena karena ia dibawa oleh nenek sihir jahat. Neal ingat bagaimana Mamanya mengakhiri kisah itu dengan suara yang penuh senyuman. Mereka sedih. Saat kehidupan ini masih ranum. ketika peri-peri mungil itu memetiki biji-biji buah yang matang dan manis. Beberapa anak yang rakus dan terlalu banyak makan biji-bijian itu. hutan yang berkilauan menjadi penuh nyanyian. Dan pada malam hari. Neal sendiri. Maka. Permen-permen dalam kotak itu ia dan tersesat ketika mencari bantal-bantal yang dicuri oleh nenek sihir itu. seorang nenek sihir mengambili bantal-bantal itu dengan teramat hati-hati dan pelan agar peri-peri mungil itu tak terbangun. permen.” Neal mengingat itu sebagai sebuah nasihat agar dipakai sebagai bantal para peri. dan kembali beterbangan memetiki biji-biji buah yang keranjang. sementara nenek sihir itu telah jauh keluar hutan dan melintas jalanan desa dengan menyaru sebagai penjaja manisan. Ia membayangkan. berisi beberapa permen di dekat jendela kamar tidurnya.Permen Agus Noor Melihat mulut Iza yang terus cembetut. tengah. Bukannya Neal tak memperbolehkan Iza makan permen. itulah. penuh warna dan menyenangkan seperti permen. kemudian mengumpulkannya dalam bibi-biji buah yang lembut itu mereka gunakan sebagai bantal. Anak-anak suka permen. “Permen akan selalu mengingatkanmu bahwa hidup ini manis dan patut kamu nikmati. Mama. di malam hari menjadi bengkak mulutnya. Permen dalam bungkus warna-warni.” kata Mamanya. Nak. “Karenanya kamu harus bersyukur bila hidup memberimu nasib yang manis. fudge. sebermula permen muncul di dunia manusia. peri itu bisa nyaman beristirahat di kotak yang ia sediakan itu. lollipop. sewaktu kanak-kanak. “Ini bantal yang dipakai tidur para peri. Neal suka meletakkan kotak dari kayu tata menyerupai bantal di atas kasur kecil. saat peri-peri mungil itu kelelahan dan berbaring tertidur di dahan-dahan. juga permen cokelat dan caramel yang meleleh lembut di lidahnya. Sepanjang hari yang riang. peri-peri mungil itu akan terkejut mendapati bantal lembut saat mereka kulum. Tapi ia juga bisa membuat gigi-gigimu rusak dan bengkak jangan terlalu berlebihan menikmati apa pun. peri-peri yang selalu beterbangan seperti capung begitu riang memetik biji-biji buah selembut getah yang bergelantungan di pepohonan mastic dan spruce—sejenis karet dan cemara—yang menjulang menyentuh kelembutan cahaya. Karena yang manis pun bisa membuat sakit dan menderita. Neal tak akan pernah lupa: di ruang selalu tersedia sekotak aneka permen. Sampai ia berumur sembilan tahun. Saat peri-peri mungil lelap bergelantungan. tempat biasanya Papa. Neal tahu kalau anaknya itu masih kesal karena tak diperbolehkan membeli permen yang tadi sore dilihatnya dijajakan di perempatan jalan. Saat terbangun pagi hari. Seperti bantalbantal mungil milik peri.” kata nenek sihir itu merayu anak-anak yang terpesona pada biji-biji mungil itu. Permen toffee. bila peri itu . “Begitulah. dan kakak adiknya berkumpul menonton televisi.” Ah.

” bujuk Neal sembari memberikan permen mint yang ia beli di supermarket. kalau permen-permen yang dijajakan di spruce? “Permen itu akan membuatmu mules dan mual. Dan tangan itu tak pernah dibersihkan ketika membungkusi biji-biji permen yang “Bagaimana mungkin aku memberikan permen seperti itu pada Iza!” ujar Neal. anak yang matanya nanar tanpa harapan membungkusi butir-butir permen yang sudah dan terkantuk-kantuk sepanjang malam mengaduk-aduk adonan itu. Mencampurnya dengan gelatin agar kental. Orang-orang miskin yang hidup di kampung-kampung Mungkin proses pembuatan permen itu sudah berlangsung lama. yang sering menawarkan dengan cara setengah memaksa: menyorongkan Lagi pula Neal memang tak suka dengan permen yang dijajakan itu. permen yang banyak dijajakan di perempatan jalan itu rasanya bukanlah isyarat yang perempatan jalan itu bukan biji-biji ranum yang dipetik para peri dari dahan-dahan pohon baik. Ia ingat. bagaimana permen itu dibuat. . “Lebih enak permen ini. Sementara bau got permen ranum yang bergelantungan. Dia tetap ingin permen yang dijajakan di perempatan jalan itu. Takut. korengan. mereka akan memecah kaca mobilnya. Neal sering panik berhadapan dengan para pengasong itu.Sampai sekarang pun. ia bermimpi repot hamil dan melahirkan lagi—Neal sering bermimpi ada peri masuk ke dalam kamarnya puluhan peri mungil mendatangi kamarnya dan menjatuhkan biji-bijian permen ke dalam keranjang bayi. Mestikah ia menjelaskan pada Iza. Ia sering mendengar kumuh pinggiran kota membuat permen itu dengan cara menampung kesedihan mereka. hampir di tiap perempatan jalan memang banyak pengasong menjual permen. kemudian diolah dan dimasak di atas tungku-tungku hidup yang mereka rasakan sehari-hari. pengasong itu. ia tak mau menenteng biji-biji permen. Para perempuan tua yang kelelahan mampet dan bangkai celurut mengapung di lorong-lorong muram perkampungan itu. Mimpi yang selalu ia percaya sebagai isyarat baik. setengah menggerutu. mereka peras menjadi keringat yang ditampung ke penderitaan. Permen berwarna merah keruh yang mirip manisan dalam bungkus-bungkus plastik kecil. seminggu sebelum ia melahirkan Iza. tidak seperti tangan-tangan peri yang lentik ketika memetiki biji-biji kuku-kuku jari tangannya penuh bekas daki ketika mereka menggaruk pantat mereka yang kemudian dijajakan di perempatan jalan. Neal membayangkan. Kesedihan dan kegetiran dalam panci-panci rongsokan. tangan anak-anak itu pastilah kotor dan menjijikkan. pada Samuel. Sekarang ini. Selintasan. bila ia tak membeli. Neal tak suka dengan para bungkus itu ke dekat mobil sambil mengetuk-ngetuk—malah kadang mengedor—kaca jendela. permen itu memang mengundang selera. para selesai dimasak dan dicetak itu ke dalam kantung-kantung plastik. setelah ia menikah dan punya anak—cukup satu anak. Malah kabarnya mereka menggunakan sorbitol—sebagai pengganti gula yang mahal—dan kayu manis sebagai penyedap aroma. memberinya sedikit gula. Tetapi. pewarna dan pengawet.” Tapi. membuat mulut dan tenggorokanmu jadi segar. Tapi. wajah Iza terus cemberut.

“Lho, apa salahnya?” “Tidak. Iza tak boleh makan permen seperti itu. Tidak baik.” Selama ini Neal begitu hati-hati memilihkan semua yang tak terbaik bagi anaknya. Ia ingin Iza menikmati masa kanak yang membahagiakan. Dan Neal takut Iza akan tergoda oleh permen itu. Bagaimana kalau tanpa sepengetahuannya, Iza membeli permen itu ketika jajan di sekolah?

menatap Neal yang tengah memakai kembali g-string-nya. “Maksud, lo?” Mata Neal melotot.

“Aku kira, permen itu sebuah gagasan yang cerdas,” kata Samuel, setengah tertawa,

“Dengar,” Samuel menatap serius. “Bukankah mengubah kesedihan menjadi permen itu cara penderitaan. Membuat yang pahit jadi manis. Kamu jangan meremehkan hanya karena yang luar biasa? Mungkin itulah cara terbaik bertahan di tengah hidup yang penuh

permen itu terlihat murahan. Ini hanya soal kemasan. Aku kira, kalau dikemas dalam kotakkotak yang bagus dan dipasarkan dengan baik, permen itu akan menarik juga. Mungkin akan jadi komoditi yang menguntungkan. Bukankah ini peluang pasar? Kita bisa mengembangkan permen itu untuk diekspor. Bayangkan! Kita bisa mengekspor permen penderitaan itu ke banyak negara. Saya kira itu jauh lebih baik ketimbang kita melulu mengekspor TKI.”

Samuel tertawa—mungkin karena merasa lucu. Tapi Neal tak menanggapi. “Lagi pula, permen-permen itu telah membuat banyak orang jadi punya kerjaan. Yah, penjahat kapak merah, kan?”

meskipun cuma jadi asongan di perempatan jalan, tapi itu lebih baik daripada mereka jadi

Dari jendela hotel Neal memandang ke bawah, ke arah jalanan yang macet. Ia lihat puluhan permen itu. Rasanya, dari hari ke hari semakin banyak saja jumlah penjaja permen itu memenuhi jalanan. Jalanan yang macet jadi makin semrawut oleh mereka. Samuel memeluknya dari belakang, mengecup tengkuknya pelan.

pengasong yang berjalan dari satu mobil ke mobil di belakangnya, menawarkan bungkusan

“Mestinya kamu tak usah terlalu gelisah. Toh itu hanya permen.” Tidak. Ini bukan hanya soal permen baginya. Permen bukan hanya sekadar sesuatu yang

manis di lidahnya. Bukankah ia mencintai Samuel karena laki-laki ini memberinya sekotak permen ketika pertama kali mereka bertemu? Bagi Neal permen lebih menggoda daripada tertarik untuk menikmatinya. Ia akan lebih suka membayangkan bila di surga penuh untuk memetiknya. buah apel. Bila dulu ia adalah Hawa, dan Tuhan menggodanya dengan buah apel, pasti ia tak bergelantungan biji-biji permen warna-warni yang memancarkan cahaya. Ia pasti tergoda

Samuel memberinya permen. Permen yang selama setahun ini ia nikmati bersama Samuel. Hidup memang seperti permen karet, meskipun lembut dan manis, kita harus berhenti menikmatinya sebelum terasa asam dan hambar. Makanya Neal menahan lidah Samuel

dengan jarinya ketika laki-laki itu mulai menciumnya lagi. Lagi pula ini sudah jam tiga sore. Jam di mana Neal harus menelepon suaminya. Pras menutup handphone-nya. “Siapa?” tanya Melly. “Neal.” “Kamu mesti jemput istrimu?” Pras menggeleng. Ia memandangi Melly yang bersandar di sofa dan belum juga memakai blazernya.

“Cuma ngomong soal permen…” “Permen?” “Ya. Permen. Dia belakangan ini selalu gelisah soal permen yang dijajakan di perempatan jalan itu.”

“Permen ini maksudmu?” Melly mengeluarkan sebiji permen dari tas Louis Vuitton-nya. Pras memandangi permen itu. Benar. Itu permen yang sering ia lihat dijajakan di

perempatan jalan. Pras sama sekali tak menyangka kalau Melly menyimpan permen itu. “Kok kamu beli?” “Itung-itung ngasih rezekilah. Lagi pula bosan kan terus-terusan menikmati permen rumahan. Sesekali perlu juga nyoba bagaimana rasanya permen pinggir jalan….” Pras merasa wajahnya memerah. Omongan Melly terdengar seperti sindiran. “Kamu mungkin menganggap permen ini tak enak, hanya karena dibuat dari adonan kamu pernah dengar ada permen yang dibuat dari rayap kayu?” Pras menganggap Melly bercanda. “Bener! Nggak tanggung-tanggung, yang mengembangkan permen dari rayap kayu itu

penderitaan. Tak ada yang salah kan kalau ada permen yang dibuat dari penderitaan? Apa

seorang profesor di Institut Pertanian Bogor. Mungkin kamu nggak mengira kalau rayap dan lemak 25,2 persen, dan ini cocok buat bahan dasar permen jelly yang kaya dengan suhu70-100 derajatCelsius, udahdeh, jadipermen…” “Tahu dari mana?”

kayu kering jenis cryptotermes cynocephalus light mengandung karbohidrat 10,2 persen nutrisi berupa protein rayap. Tinggal dicampur dengan sirup fruktosa tinggi, dimasak pada

“Baca dong!” Melly sedikit mendengus. Ia tak suka dengan ekspresi Pras yang tampak tak mau percaya kalau ia tahu soal permen rayap itu. Apa dikira sekretaris tidak suka baca?!

Pras diam. Melly mendekat ke ranjang dan berbaring di atas tubuhnya, lalu menyodorkan permen itu tepat ke wajah Pras yang tengadah. “Coba, deh…” Pras tanpa sadar langsung mengatupkan mulutnya. “Sesekali kamu makan permen ini kan ya tak apa-apa,” kata Melly sambil memandang mata

Pras dengan lembut. “Mungkin ada gunanya juga sesekali kamu sedikit merasakan penderitaan…”

Pras memejam. Permen itu mengingatkannya pada kecemasan istrinya. Tapi apa salahnya

mencoba? Toh ia juga suka permen. Rasa permen yang beraneka macam selalu membuatnya merasakan sensasi petualangan rasa di lidahnya. Apalagi sejak ia menikah dengan Neal. Ia permen terlebih dahulu. Permen bisa menghapus bau bekas ciuman di mulutnya. selalu membawa permen di sakunya. Setiap kali hendak masuk rumah, ia pasti mengunyah

Warna-warni cahaya kota terlihat bagaikan bermacam bungkus permen yang bertebaran di udara. Barangkali kota memang seperti permen yang menggoda siapa pun untuk datang menikmatinya. Kota adalah pabrik gula-gula. Gedung-gedung yang menjulang itu adalah

menikmati cokelat raksasa itu, yang tampak seolah meleleh di bawah cahaya. Lalu muncul

kotak cokelat raksasa. Neal melihat barisan orang-orang yang berbondong-bondong ingin

kotor seperti cakar yang hendak menggaruki mobilnya. Neal mendengar suara jeritan yang melengking bersahut-sahutan…

panik ketika orang-orang itu mulai mengepung mobilnya. Tangan mereka yang hitam dan

serombongan orang-orang kumuh yang keluar dari dalam lorong dan gorong-gorong. Neal

belakangnya. Lampu sudah menyala hijau. Dan ia masih melamun. Seorang pengasong

Ia tergeragap. Ternyata itu suara puluhan klakson mobil-mobil yang berderet di

menyodorkan sebungkus permen ke dekat kaca mobilnya, tetapi Neal segera tancap gas. Neal masih gemetaran saat sampai rumah, dan mendapati Iza sudah tertidur. Pembantunya bilang, sejak sore anak itu terus nangis. Tak mau les piano—padahal biasanya ini yang paling disukai anak itu—dan bahkan juga tak mau makan. Hanya karena kecapean ia kemudian tertidur.

Neal memandangi anaknya yang lelap. Wajahnya seperti roti gandum yang diolesi susu.

Di dalam rumah ini, ia bisa melindungi anaknya. Tapi bagaimana di luar sana? Sungguh, ia ingin anaknya terus merasakan hidup yang nyaman dan tenteram. Ia tak ingin pengaruh buruk dari jalanan merusak hidup anaknya.

Tiba-tiba Neal merasa takut, betapa wajah anaknya kelak menjadi keruh oleh penderitaan.

rumah sambil mengunyah permen. Kebiasaan yang Neal perhatikan mulai dilakukan Pras sejak mereka menikah. “Sudah tidur Iza?”

Menjelang jam sepuluh Pras pulang, dan seperti biasanya, suaminya itu masuk ke dalam

Neal mengangguk. memandang mata Neal dengan lembut. “Mungkin ada gunanya juga sesekali anak itu sedikit merasakan penderitaan…” Jakarta. Neal merasakan sisa aroma permen yang lengket di sudut bibir suaminya. “Bagaimana kalau besok Iza masih ngambek dan terus minta permen itu?” tanya Neal menjelang mereka tidur. Pelan Pras mencium bibir istrinya.” jawab Pras sambil . 2007 “Sesekali Iza kamu perbolehkan makan permen itu kan ya tak apa-apa.

dan sempat mengunjungi kota kami. menandangi para pelancong yang selalu muncul berombongan mengendarai kuda. Karena itulah mereka ramairamai piknik ke kota kami: menyaksikan bagaimana perlahan-lahan kota kami menjadi juga. botol- Penampilan para pelancong yang selalu riang membuat kami sedikit merasa terhibur. Dan kami harus tampak menyedihkan dalam foto- foto mereka. lalu berfoto ramai-ramai di antara reruntuhan puingpuing kota kami. roti kering yang disimpan dalam kaleng. Kami menyukai cara mereka tertawa. Mungkin para pelancong itu tak tahu lagi bagaimana caranya menikmati hidup yang debu. biskuit dan telor asin. Mereka datang dari segala penjuru dunia. Kadang mereka mengajak kami berfoto. daging asap yang digantungkan botol cuka dan saus. Dari negeri-negeri jauh yang gemerlapan. Mereka datang untuk menonton kota kami yang hancur.Piknik Agus Noor Para pelancong mengunjungi kota kami untuk menyaksikan kepedihan. Hidup yang selalu dipenuhi kebahagiaan ternyata bisa membosankan nyaman tenteram tanpa kecemasan di tempat asal mereka. di punuk unta terlihat bergoyang-goyang. Mereka tak suka bila kami terlihat tak menderita. Kami menduga. Pada bumi—atau seperti ketika kau merasakan kereta bawah tanah melintas menggemuruh di gembira ketika melihat tanah yang tiba-tiba bergetar. Mereka begitu menuliskan kalimat-kalimat penuh ketakjuban yang menyatakan betapa terpesonanya diperjualbelikan hingga ke negeri-negeri dongeng terjauh yang ada di balik pelangi. Karena memang untuk itulah mereka mengajak kami berfoto bersama. para pelancong itu sepertinya telah bosan dengan hidup mereka yang sudah terlampau bahagia. latar belakang puing-puing reruntuhan kota—berpose penuh gaya tersenyum saling peluk mengirimkannya dengan merpati-merpati pos ke alamat kerabat mereka yang belum Belakangan kami pun tahu. kalau foto-foto itu kemudian dibuat kartu pos dan kartu pos yang dikirimkannya itu. Di bawah langit senja yang kemerahan kedatangan mereka selalu terlihat bagaikan siluet iring-iringan kafilah melintasi gurun perbatasan. Kemunculan para pelancong itu membuat kesibukan tersendiri di kota kami. rendang dalam rantang—juga berdus-dus mi instan yang kadang mereka bagikan pada kami. Sementara mereka—sembari berdiri dengan atau merentangkan tangan lebar-lebar. saat mereka begitu gembira membangun tendatenda dan mengeluarkan perbekalan. keledai. Kami seperti menyaksikan rombongan sirkus yang datang untuk menghibur kami. atau permadani terbang dan juga kuda sembrani. Mereka segera mencetak foto-foto itu. para pelancong yang sudah mengunjungi kota kami selalu mereka saat menyaksikan kota kami perlahan-lahan runtuh dan lenyap. Mata kami yang murung dan sayu. Bagai ada naga menggeliat di ceruk . Mereka menyukai wajah kami yang keruh dengan kesedihan. membawa bermacam perbekalan piknik. Biasanya kami duduk-duduk di gerbang kota unta. Berkarung-karung gandum yang diangkut gerobak pedati.

begitu mendengar kabar ada bagian kota kami yang tergoncang porak-poranda. suara menggemuruh yang merayap dalam tanah. seperti itulah tanah di mana kota kami berdiri. menurut mereka. dengan rumah-rumah yang beranda-berandanya saling bertumpukan. Mereka telah menyaksikan menara-menara gantung yang dibuat dari balok-balok bertengger di atas katedral tua sebuah kota yang selalu berkokok setiap pagi. dan bintang.>jmp- menyusur dinding-dinding menghadap air. dan jalan-jalannya yang telah melihat kota dengan kanal-kanal yang dialiri cahaya kebiru-biruan.0<>w 9738m< Bahkan mereka bersumpah telah mendatangi kota yang hanya bisa ditemui dalam imajinasi seorang kunjungi. Atau rebahan di dalam tenda sembari memainkan harmonika. Memetik kecapi dan Saat malam tiba. kota kami adalah kota paling menakjubkan yang pernah mereka saksikan. dengan jendela-jendela dan pintu-pintu yang 2008m<>h 7028m. Betapa menggetarkan melihat pohon. adalah kota paling ajaib yang pernah mereka Para pelancong menyukai kota kami karena kota kami dibangun untuk menanti keruntuhan. para pelancong itu bernyanyi. Lorong-lorong. pepohonan di kota kami saling bertubrukan. Mereka telah berkelana ke sudut-sudut dunia. Tapi kota kami. menyaksikan beragam keajaiban di es abadi. Kau bisa membayangkan gerumbul awan yang selalu bergerak dan bertabrakan. Dengan handycam mereka merekam detik-detik keruntuhan itu. gemeretak paling menakjubkan bagi para pelancong yang berkunjung ke kota kami. bawah kakimu. sebuah kota yang selalu tertutup menyerupai gelapanggur danhanya bisadilihat ketikasenjakala. Mereka terpesona mendengar jerit ketakutan orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri. karena bisa menyaksikan segala sesuatu sirna begitu saja. penyair. hingga menyerupai kota yang dibangun di atas menyerupai benteng di ujung sebuah teluk. Para pelancong itu segera menghambur berlarian menuju bagian kota kami yang runtuh. Dan ketika sewaktu-waktu tanah terguncang. seolah semua itu terlampau bahagia. Itulah detik-detik atraksi paling spektakuler yang beruntung bisa mereka saksikan dalam hidup mereka yang batu bata.0<>w7028m<1)>jmp 0m<>h9738m. bergerombol berdiang di seputar api unggun sembari berbagi cerita. Lalu mereka memotret mayat-mayat yang tertimbun balok-balok dan tembok-tembok retak. Membuat semua bangunan di kota kami jadi terlihat selalu berubah letaknya. Mengais reruntuhan untuk menemukan barang-barang berharga yang bisa mereka simpan sebagai kenangan. bangunan dan pasir yang sering kau buat di pinggir pantai ketika kau berlibur menikmati laut. menyaksikan seekor ayam emas tiap kota. Kepada kami para cermin.rumah rubuh menjadi abu. Barisan pepohonan seakan berjalan pelan. rubuh dan runtuh menjadi debu—serupa istana Rupanya itulah pemandangan paling menakjubkan yang membuat para pelancong itu terpesona.bintang terasa lebih jauh di langit hitam. Dari kejauhan kami . dan sungai selalu meliuk-liuk. jalanan.pohon bertumbangan dan rumah- Bagi para pelancong itu. Mereka juga pelancong itu juga bercerita perihal kota kuno yang berdiri di atas danau bening. Membuat hidup para pelancong yang selalu bahagia itu menjadi lengkap. tetapi tidak dengan kota kami. kota dengan jalan layang menyerupai jejalin benang laba-laba. Kota kami berdiri di atas lempengan bumi yang selalu bergeser. Banyak kota dibangun dengan gagasan untuk sebuah keabadian. candi-candi megah yang disusun serupa tiara.

meski sebagian demi karena semata-mata seluruh bangunan kota itu hancur. Jangan membuatmu sedikit terhibur dan gembira. rumah sakit-rumah sakit. Karena itulah kami selalu rumah-rumah.gedung. yang hancur. Berwisatalah ke kota kami. runtuh tertimbun waktu. seperti burung Kesibukan kami membangun kembali bagian kota yang runtuh menjadi tontonan juga bagi para pelancong itu. Mungkin itu bisa pasti akan menyambut kedatanganmu dengan kalungan bunga-air mata… Yogyakarta. Kami sering mendengar kota-kota yang lenyap dari peradaban. Keajaiban tersendiri. Semua itu terjadi bukan hidup dalam jiwa penghuninya. 2006 CATATAN: besar dunia yang megah dan gemerlap—ada baiknya kau berkunjung ke kota kami. sekolah. hingga di bekas reruntuhan itu kembali berdiri bagian kota kami phoenix yang hidup kembali dari tumpukan abu tubuhnya. kenapa kami mesti menganggap apa yang terjadi di kota Seperti yang sering dikatakan para pelancong itu pada kami. Membuat setiap kota memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Mereka membuat kami semakin mencintai kota kami. Kami tak ingin kota kami lenyap. Mereka akan bercerita bagaimana sebuah kota perlahan. Sembari menaiki pedati. sepotong dendeng. sementara. Kami mendirikan kembali sebagian dari kota kami perlahan-lahan runtuh menjadi debu. Setiap kota yang mencintai dan mau menerima kota itu menjadi bagian dirinya. kami . Kota kami bagaikan selalu muncul kembali dari reruntuhan. atau sesendok madu— kemudian kembali pergi untuk melihat-lihat bagian lain Kemudian para pelancong itu pergi dengan bermacam cerita ajaib yang akan mereka kisahkan pada kebarat dan kenalan mereka yang belum sempat mengunjungi kota kami. Bila kau merencanakan liburan akhir pekan—dan kau sudah bosan piknik ke kota-kota lupa membawa kamera untuk mengabadikan penderitaan kami. Karena bila para pelancong itu menganggap kota kami kami ini sebagai malapetaka atau bencana? kota kami. sebotol kota kami yang masih bergerak bertabrakan dan hancur. Membuat kami tak hendak adalah kota yang penuh keajaiban. merasa sedikit terhibur dan tak terlalu merasa kesepian. kabut dan cahaya serta jiwa para penghuninya. jembatan.menyaksikan mereka. tetapi lebih karena kota itu tak lagi terdiri dari gedung. Itulah yang membuat setiap kota tumbuh dengan keunikannya sendiri-sendiri. sungai-sungai. Sebuah kota yang akan mengingatkanmu pada yang rapuh. Bagaimanapun kami mesti berterima kasih karena para pelancong itu mau berkunjung ke pergi mengungsi dari kota kami. Mereka tersenyum dan melambai para pelancong itu berhenti. membangun kembali bagian-bagian kota kami yang runtuh. seakan dengan begitu mereka telah menunjukkan simpati pada kami. menanam kembali pohon-pohon. ke arah kami. Jangan khawatir. tower dan menara. membagikan sekerat biskuit. para pelancong itu berkeliling kota menyaksikan kami yang tengah sibuk menata reruntuhan. Sebuah kota yang membuat para pelancong berdatangan ingin menyaksikannya. dan fana. setiap kota memang memiliki jiwa.lahan hancur dan tumbuh kembali. Sesekali minuman.

Invisible Salim (Fresh Book. oleh Erwin . 2006) Cities—telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Kota-kota Imajiner.1) Deskripsi kota-kota dalam paragraf ini mengacu pada karya Italo Calvino.

seolah ada yang perlahan tumbuh dari celah conblock. Gustaf terkejut ketika tiba-tiba ia melihat seekor bangau selokan. Kadang hanya merunduk jongkok memandangi trotoar. akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagar pembatas jalan. jalan menjelang kantornya. Beberapa pengendara sepeda motor yang . kerakap tumbuh di bertengger di atas kotak pos yang kini tampak seperti terbuat dari gula-gula. karena jalanan telah atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkan gedung-gedung yang telah merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. Kicau burung terdengar dari pohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light. Air yang dinding penyangga jalan tol. Rambutnya kusam kecoklatan karena panas matahari. agar ia bisa berlamalama menatap sepasang mata itu. agar ia bisa mendengar apa yang diteriakkan bocah itu. Jembatan penyeberangan di berubah perbukitan hijau. Kadang berloncatan. Gustaf tak tak bisa mendengarkan teriakanteriakan bocah itu. Berkoreng di lutut kirinya. rasakan setiap kali bersitatap dengannya. jernih dan bening mengalir perlahan. Selalu bercelana pendek kucel. saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalau sesuatu yang beterbangan. Dari retakan trotoar perlahan tumbuh bunga mawar. Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemis yang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka. Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelan dalam kemacetan. Usianya paling 12 tahunan. Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. Ia menurunkan kaca mobilnya. Sering Gustaf memperlambat laju mobilnya. seperti menjolok sesuatu. Seperti ada cahaya yang perlahan berkeredapan dalam mata bocah itu. Tak ada keruwetan. menghirup lembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil. Dan itu kian Gustaf dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyak saja jumlahnya. Dia tak banyak beda Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari bocah itu. Setiap pagi. Tiang listrik dan lampu jalan menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam. Tapi pada saat itulah ia terkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya.Mata Mungil yang Agus Noor Menyimpan Dunia Selalu. Memandang mata itu. seakan-akan ada mata air yang muncul dari dalam Gustaf terpesona menyaksikan itu semua. ia selalu melihat bocah itu tengah bermain-main di kolong jalan Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat. Hingga ia menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dan tertawa-tawa. Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan layang.

sewaktu kanak-kanak juga menyukai berlama-lama. hingga orang itu merasa risi dan cepat-cepat orang-orang yang dijumpainya. setiap kali itu pula Gustaf kian ingin memilikinya. indah yang pernah Gustaf tatap. ”Tak sopan menatap mata orang seperti itu!” Papa menyuruhnya agar selalu menundukkan pandang bila berbicara dengan seseorang. Mata itu membuat dunia jadi banyak warna. Begitu bening begitu jernih. Tapi Papa kerap menghardik. Ia tak pernah menyangka betapa di dunia ini ada mata yang begitu indah. ”Mata itu seperti jendela hati. Kadang—tanpa sadar_ia sering mendapati dirinya tengah Saat remaja ia tak lagi menyukai boneka. Seorang polisi lalu lintas bergegas mendekatinya. Sering ia menggambar mata mata dengan sebilah pisau yang menancap. Ia menyukai bermacam warna dan bentuk mata boneka-boneka koleksinya. Itu sebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka.menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. Dan ia selalu menggambar mata. Oma seperti bisa memahami apa yang ia rasakan. ia yang bagai liang hitam. Setiap kali terkenang mata itu. Gustaf jadi begitu terkesan dengan sepasang mata bocah itu. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya…. Karena itu. padang gersang ilalang. pusaran kabut kelabu dengan kesedihan dan kesepian Di mana-mana Gustaf hanya melihat mata yang keruh menanggung beban hidup. boneka—lantas segera membawanya ke psikolog. yang kata Mama. memandangi mata seseorang cukup lama. Kadang ia melihat api berkobar dalam mata itu. Mata yang tertutup jelaga kebencian. Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnya dan melaju. Ia senang ketika Oma memuji gambar-gambarnya itu. pecahan kaca yang menancap di kornea. Mata yang penuh kemarahan. terlihat berbeda. Berminggu-minggu mengikuti terapi. Ia suka menatapnya homoseks seperti Oom Ridwan. Mata yang berkilat licik. Dan itu rupanya membuat Mama cemas—waktu itu Mama takut ia akan jadi selalu disuruh menggambar. Sering pula ia melihat lelehan tomat merembes dari sudut mata seseorang yang tengah dipandanginya. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. Ia ingat perkataan Oma. Gustaf seperti melihat bermacam keajaiban yang tak terduga. itulah mata paling menyimpan dunia. Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu. atau binatang-binatang yang berloncatan dari dalam mata berwarna hijau toska. panjang. Setiap menatap mata seseorang. Atau dalam mata itu ada bangkai bayi yang terapung-apung. Kadang ia melihat ribuan kelelawar terbang berhamburan. Sesekali ia menggambar bunga mawar tumbuh dari dalam mata itu. saat ia berusia tujuh tahun. tapi ia suka diam-diam memperhatikan mata menyingkir. Rasanya.” Sejak itu Gustaf suka memandang mata setiap orang yang dijumpainya. Mata yang mungil tapi bagai Alangkah menyenangkan bila memiliki mata seperti itu. kawat berduri yang terjulur yang menggantung. Barangkali seperti mata burung seriwang yang bisa menangkap lebih .

yang dikenakan manequin di etalase itu akan terlihat kepompong mungil yang bergeletaran pelan ketika perlahan-lahan retak terbuka dan muncul seekor kupu-kupu. Eceng gondok tumbuh di Tentulah menyenangkan bila punya mata seperti itu. mata mungil indah bocah itu bisa melihat dunia yang berbeda. Mata bocah itu pastilah melihat sekawanan burung gelatik terbang merendah bagai hendak hinggap kepalanya. Ketika berjongkok. Atau karena mata mungil itu akan terlihat beda. Elevator itu menjadi tangga yang menuju rumah pohon di Betapa menyenangkan bila ia bisa menyaksikan itu semua karena ia memiliki mata bocah akan memiliki mata paling indah di dunia! Mungkin ia bisa menemui orang tua bocah itu baik-baik.Sembari menikmati secangkir cappucino di coffee shop sebuah mal. Ia ingin ketika ia muncul kembali. mana anak-anak berebutan ingin menaikinya. Gustaf kini bisa mengerti. Bocah itu sering berloncatan— sebab itu tengah menjoloki buah jambu yang terlihat begitu segar di matanya. Apa pun akan Gustaf jalanan berkeliaran. Ada rimpang menjalar di kaki-kaki kursi. Semua Pagi ketika Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. ia melihat seorang bocah duduk bersimpuh di trotoar dengan tangan . Apa yang kini ia pandangi Pita gadis yang digandeng ibunya itu akan menjadi bunga lilly. Di lengkung selendang sutra bambu apus tumbuh di dekat pakaian yang dipajang. mata. Tentu lebih menyenangkan bila tak seorang pun tahu kalau aku baru saja ganti orang akan memujinya memiliki mata paling indah yang bagai menyimpan dunia. Gustaf memperhatikan mata orang-orang yang lalu lalang. dan pastilah tak seorang pun yang peduli bila salah satu dari mereka hilang. Bila perlu ia menculiknya. Tapi Gustaf tak menemukan mata seperti itu. kenapa bocah itu terlihat selalu berlarian riang—karena ia tengah berlarian mengejar capung yang hanya bisa dilihat matanya. Ia sering mendengar cerita soal operasi ganti mata. Orang-orang pasti akan terpesona begitu memandangi matanya. Seekor kepik bersayap merah berbintik hitam tampak merayap di atas meja. Bila ia bisa memiliki mata itu. Mungkin ia akan menemukan mata yang indah. pikirnya. Cahaya jadi terlihat seperti sulur-sulur benang berjuntaian…. hingga ia mengibas-kibaskan tangan menghalau agar burung-burung itu kembali terbang. seperti jadi mata bocah itu memang satu-satunya mata paling indah di dunia. batin Gustaf. Ice cream di tangan anak kecil itu mungkin akan meleleh menjadi madu. Semua itu hanya mungkin. Dan ia makin ingin mata bocah itu. bisa memiliki mata itu. menawarinya segepok uang agar mereka mau mendonorkan mata bocah itu itu. lakukan agar ia bisa memiliki mata itu. ia akan bisa melihat segalanya dengan berbeda sekaligus buatnya. Agar ia bisa memandang semua yang kini dilihatnya dengan berbeda…. semuanya sudah tampak sempurna. Atau ia bisa saja merayu bocah itu dengan sekotak cokelat. pastilah bocah itu sedang begitu senang memandangi seekor kumbang tanah yang muncul dari celah conblock. lantai yang digenangi air bening. Membuat Gustaf berpikir. Ia tinggal datang ke Medical Eyes Centre untuk mengganti matanya dengan mata bocah itu! Gustaf hanya perlu menghilang sekitar dua bulan untuk menjalani operasi dan perawatan penggantian matanya. Terlalu banyak anak Gustaf tersenyum. karena memang menyimpan sebuah dunia.

Beberapa orang malah terlihat melotot tak sekelilingnya….terjulur ke arah jalan. percaya. Ia ingin membuka jendela. ”Kamu lihat mata tadi?” ”Ya.” ”Persis mata iblis!” Jakarta. tapi segera ia urungkan karena merasa percuma. sambil berbicara kepada temannya. Ia melangkah melewati lobby perkantoran dengan langkah penuh kegembiraan ketika melihat setiap orang memandang ke arahnya. Gustaf terkesima memandang Dengan gaya anggun Gustaf menuju lift. seorang perempuan yang tadi gemetaran memandangi Gustaf terlihat menghela napas. 2006 . Gustaf yakin mereka kagum pada sepasang matanya. Kedua mata bocah itu kosong buta! Gustaf hanya memandangi bocah itu. dan melemparkan recehan. Begitu lift itu tertutup.

keramas. dan segera saling bisik. Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. Saat ia berbaring di ranjang.Ia Ingin Mati di Bulan Ramadhan Ini Agus Noor Betapa menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan. Mungkin ia rampok. rapi. dan wangi. Bayangan kematian penuh darah. ia sudah menjemur kasur pewangi ruangan. Ramadhan kali ini. Bergegas. mengerut menatap laki-laki itu.siul >diaC< Beberapa tetangga—yang tengah duduk menggerombol— memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu. Ah. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa benar akan datang. Sesekali. Atau erang kesakitan leher digorok. ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. Langsung. kemarin. memandang langit siang yang terang. Kadang berbulan- bulan. Setiap menjelang Ramadhan. Dan tadi. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah. Seperti selalu menghilang. Menyemprotkan upacara kecil menyambut kematian… ringan. Ia jarang berada di kamarnya. ia selalu membersihkan kamar kontrakannya. Sebab. Entahlah. mengusir bayangan buruk itu. beberapa koper besar. Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih. Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti. Memakai jaket kulit hitam. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar. Bila pulang. Ia tak ingin kecewa lagi. sembari terus bersiul. Menyisir rambut dan memotong kuku. Berhari-hari. Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan . Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan. Saat Ramadhan bantal yang lembab apak berjamur. Ramadhan berlalu. Parut luka seputar pundak. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan Ia berdiri di ambang pintu. seperti kotak tempat menyimpan gitar. seperti bekas bacokan. Lihat saja tampang tetangga melihatnya keluar tengah malam. Merapikan pakaian. seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh. ia berharap maut benar- Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. Menenteng seramnya. hingga ia bisa mati tenang… karena ditolak permintaannya saat lebaran. ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya. Melipat selimut. tapi ia masih saja hidup. ia bisa mencium bau amis darah itu. sembari bersiul-siul kecil. Tato di lengan kanan. seperti lengket di hidungnya! Segera ia mandi. Ia memejam.

Pintu jendela yang biasanya tertutup makanan buat sahur. ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk. dibuka lebar. Mungkin sedang menyiapkan sore ia keluar. mengenali beberapa ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya. Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya. Wajah. Menjelang Ramadhan ia muncul. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati. Ini yang membuat kian penasaran. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka. tapi pergi ke kuburan. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher mengecup pelan-pelan… korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan. Wajah pucat perempuan simpanan ketika ia membantai keluarganya. ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan. atau berdiri Para tetangga jadi gelisah. Mungkin intel. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati. Aneh. seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah Ia tergeragap bangun. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu… >diaC< Mayat-mayat yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam. Mengepungnya. Wajah mahasiswa yang yang lehernya ia sayat. memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan Ia pun suka menikmati saat.harga BBM—matanya jelalatan.wajah yang membuatnya mengerang panjang. wajah remuk rusak itu. betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput. Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki. Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang.saat seperti itu. seperti mengawasi. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri. sebagai seorang pembunuh bayaran.mayat itu meleleh. menyapu. di bulan Ramadhan. Tetangga yang jadi tukang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat. ia terlihat merokok siang hari. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu. Mati dengan tenang. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. Beres-beres kamar. Dan orang-orang merinding mendengarnya. Menutup diri. Barangkali ia dukun. Sering. seperti lilin panas mencair. bercerita. memandang entah apa. Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar. rumah petak tak pernah berani bertanya. Ia terkapar. Mungkin.laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa. Kulit wajah mayat. Dan seseorang yang menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini. Ia seperti tak mau dikenali. mereka mendengis bengis. Tiap termangu memandangi kapling makam itu. Seperti menyaksikan kematian . Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama. Meski ia tahu. Ia mengerang. Rutin yang ganjil. Misterius. Para tetangga penasaran menyimpan dugaan.

Percuma kalo cuma jadi tentara. Memang. Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran. Lalu sepulang perang. Dan ia membusung bangga. tertib. Benar kata komandannya. Membunuh seorang pengusaha. Ia kenal beberapa mantan pembunuh sakit jiwa. membuat lawan- lawannya bonyok nyaris mati. Beruntunglah orang . membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian. Ia paling senang ketika harus disiplin. Seorang hakim. Ia lebih menyukai Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu.orang mengerubung. Beberapa menderita Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. kata teman-temannya. Sorot matanya tenang. Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan… coklat resik. Tapi membuatnya merasa aman. bayaran yang menderita di masa tuanya. tak ada yang pun mendaftar jadi tentara. Bicaranya santun. Saat SMP ia berkali-kali berkelahi. Ia tak terlalu menyimak. Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat. diam- dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan. Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang. saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan. Paling mentok jadi sersan. Alangkah hebatnya jadi tentara. Di kampungnya. ia diberinya pekerjaan.Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu. Umur tujuh tahun. Ia amati raut tua Kiai Karnawi. Kisah para raksasa penyantap manusia. nanti bila sudah berhenti. >diaC< Sampai satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian. Dan ia mulai mengawasi. Beberapa mati dalam penjara. Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga. Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir. setiap kali kakeknya menyembelih ayam. Ia akan tinggal di rumahnya.” kata komandannya. Menghabisi seorang Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan. Kamu pantas jadi tentara. Tugasnya hanya membunuh. dan ”Kamu punya bakat bagus. Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang. Ia menikmati bayaran yang lumayan. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan. bisa memukuli orang sepuasnya. ia suka membayangkan diri jadi tentara. Ia heran. Dikirim ke medan perang. Kulitnya yang putih bersih. Ia selalu ingin berada sangat dekat. Rahang terkesan pipih. Tanpa jejak. Orang. Lalu beberapa order ringan lainnya. Ia menyiksa para pemberontak. orang yang jadi tentara sangat ditakuti. Sumpek bau comberan. Tempat menyembunyikan diri. Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta. berani menghentikan. Sepotongsepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan. kenapa orang seperti itu Tapi itu bukan urusannya. Dan itu disukai komandannya. karena pejabat itu pingin kawin lagi. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi. wartawan. Ia sudah membeli rumah buat hari tua. diam ia membunuh kucing pamannya.

Jangan sampai aku kesakitan ya. Pelan. Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang. lalu mendorong mobil ke jurang.” ajak Kiai Karnawi. ”Aku tahu. Tak usah Karena itulah. membuangku ke jurang dengan mobil itu. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan. Gemetar tak yakin. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan. Amin. Karnawi terkekeh. Alhamdulillah. Terdengar letusan. Biar tak banyak korban. dan kini memburu kematiannya. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat. Kamu cukup membunuhku. ”Kamu bisa membunuhku di sini. Ia meraba belati. Getir. tak perlu repot-repot membunuh yang lain…” Ia tak tahu. 2005 . Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan Semua sudah sesuai rencana. Dengung jutaan serangga mengepung. ia hanya berdiri gamang. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram. kamu mau membunuhku. Ia mulai diusik gelisah. Enggak usah merepotkan sampeyan…. Lalu meraba ”Sekarang. Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan. kecuali mati di bulan Ramadhan. Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran. Sayang kan. Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan. Dan ia kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan? tersenyum. lakukan tugasmu. ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang. Tapi tolong. Lengking gagak di kejauhan. Kalau boleh memilih. Kematian di bulan Ramadhan. Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang. Seperti yang sejak itu terus mengintainya. yang pelan. Kelebat bayang burung menyambar.” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan. Jutaan pasang mata Ia merasa senja meremang. Senyap. Dan semoga saja. Mencibir. Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi. Kemeresek daun jati jatuh. ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini. Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia. Lalu menggelar sajadah. itu mobil mahal. hehehe…” Kiai pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. Ia bisa menembaknya. Singup. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu.yang mati di bulan Ramadhan. kenapa mobil perlahan berhenti. aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar. Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya. Ia tak mengeremnya! ”Mari kita turun. ”Setelah itu kamu bisa membunuhku. aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan.” Baru kali ini ia gemetar. Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. Yogyakarta. Ia pun kemudian selalu berharap. diperkenankan mati di bulan Ramadhan.

barangkali beliau mau menolong kami mengatasi kesurupan massal yang melanda Air banjir setinggi satu setengah sampai dua meter mengganyang seluruh kawasan yang sangat luas. Pati. Saya meraba-raba apa gerangan yang menyebabkan rakit saya terhenti. Sejumlah rakit dari batang pisang maupun bambu tampak berseliweran. cicit. bus.Pantura Danarto Sungguh saya tak juga mengerti kenapa cuaca menjadi sekacau ini padahal matahari tetap sudah dua minggu. ke mana Saya semakin menggigil. Tuban. Sawah siap panen yang tenggelam tentu menelan lebih mengungsi jika seluruh kawasan yang sangat luas ditelan banjir yang rasanya semakin tinggi ditambah oleh deras hujan. dari Pati ke Rembang. seolah tak peduli akan kesulitan hidup yang sedang dirundung. perumahan. apa Kiai Zaman sendiri tidak repot? Beliau tentu juga sangat dibutuhkan oleh pesantrennya yang juga dilanda banjir. Di dusun tak ada bangunan yang tinggi tempat mengungsi. namun tak kunjung muncul.” kata ibu yang duduk di atap rumah dengan memegangi payung dalam hujan lebat. banyak lagi korban. Terdengar gelak-tawa menyergap disusul hujan lebat. Ibu. Hanya bukit yang cukup sulit bertengger di atap dengan payung atau lembaran plastik untuk menahan hujan. ayah. cucu. Sebaiknya saya terus mengayuh rakit batang pisang ini. dan anak-anak. cahaya perak. air tak juga surut. Masya Allah. Subhanallah. Rasanya tubuh ini beku. Tapi terbit di timur dan tenggelam di barat. Saya yang satu minggu kehujanan terus. Mendadak mendung datang rasanya badan bertambah ringan tapi dinginnya minta ampun. perkebunan. Rembang. hutan terbakar. sedang cuaca juga tak mau tahu apa keinginan-keinginanku. Tentu ada saja yang menjadi korban dari bencana yang besar ini Cepat-cepat saya singkirkan tubuh itu dengan galah lalu saya menghindar dari tempat itu. mungkin tidak sedikit jumlahnya. Kudus. saya sudah tak tahu jalan. Saya melewati antrean kendaraan yang macet sepanjang 24 km mampu menembus banjir. meliputi kota-kota Demak. Jepara. Mendadak laju rakit ini terhenti. maupun motor karena tak Zaman. kolam ikan. dan pertokoan. Jawa Tengah. Wahai. Saya menunggu halilintar untuk mengirim sinar. Para penumpangnya yang saling kenal berteriak-teriak bertegur sapa. kontainer. Sementara di Riau dan Jambi. tambak. Gelap gulita. saya meraba tubuh orang.” . untuk menemui Kiai Zaim pesantren di desa kami. cahaya perak. Agaknya tersangkut sesuatu. Tubuh saya menggigil dan dihamburkan dari langit yang membuat saya tiarap gemetaran. Saya mengayuh rakit menerjang sawah siap panen yang tenggelam yang airnya semakin tinggi. mobil-mobil pribadi. ”Cepat kuburkan. Kebanyakan warga tetap di rumah masing-masing dengan ”Kalau ibumu ini mati. Apa kiamat seperti ini? Geledek bersahutan seperti Halilintar menyilet langit memberi jalan rasa bersalah pada rakit saya. juga nenek-kakek. yang terdiri dari truk. sawah-sawah yang siap panen. didaki karena licin dan terjal. Tapi. Juwana. Banjir masih juga melanda Pati. meski apa peduliku.

”Ah. ayah memeluk kedua adik saya yang basah kuyup karena tak terlindung dari hujan. menikmati sebuah lalu minta lagi. Jakarta. kakak yang menetap di Jakarta memboyong ibu.” ”Saya mau cari duit yang banyak untuk ibu dan sekolah adik-adik. Rumah tertutup santri. Apa yang terjadi sesungguhnya? Siang harinya panas sangat mempertajam tetes hujan bagai jarum. alur mana (?) saya tak lagi mengenal peta. di mana para juga Tuhan. Sambil berayun-ayun dimainkan oleh kantuk. nama yang mengingatkan orang sehabis yang lebat buahnya. di rumah bertingkat kami. yang membuat saya selalu kangen untuk mengunjunginya. Saya mau cari nafkah di Jakarta. dan kedua adik ke Jakarta. Masalahnya kini adalah bagaimana bisa menemui Kiai Zaim mana. merupakan perpaduan yang elok. ”Jaga adik-adikmu. Benar saja. Tapi mereka tak betah di tapi cukup bahagia. saya berhasil masuk ke ruang salat. katanya. dalam ukuran apa pun. meski selalu kekurangan Kemudian kakak membangun rumah bertingkat untuk kami menghadapi banjir. Yang saya takutkan kalau tiba-tiba ibu atau ayah meninggal.” ”Tega kamu meninggalkan adik-adikmu. katanya. pohon mangga yang sangat rindang. Tiba-tiba rakit mentok. ibu kok ngomong begitu. Banjir yang lebih besar kali ini datang. di mana Rembang. Terlalu bising. air. Lalu boyongan kembali ke desa. teriknya. di atap masjid itu tidak hanya baju. Pagi harinya masjid itu terkatung-katung di danau yang luas dengan saya satu-satunya berada di atapnya. Meski sangat kesukaran. Kadang gelombang menerpa karena digelontor angin puyuh yang juga air lalu kembali tenggelam. kedua kota itu mengingatkan saya akan hubungan rumah saya dengan rumah Kiai Zaim Zaman yang berada di tengah pesantrennya. ditambah 25 santri putri yang kesurupan diungsikan itu bermanfaat bagi sesama. air melulu yang tampak. Di mana Pati.” Di atas atap dapur. Dua rakaat saya selesaikan setelah berwudu . berseliweran berlarian.” sergah saya sambil memeluk tubuhnya yang gemetaran kedinginan. ayah. Kadang batang-batang padi muncul di permukaan tubuh saya juga mengering. Di tengah sawah yang sudah jadi danau ini. Banyak jalan yang Allah bimbing supaya bangunan Zaman dan di mana beliau berada jika di pesantrennya tak dijumpai sementara di mana- menyebabkan rakit ini berhenti. Bangunan apa gerangan? Kembali kilat merobek udara. Sekilas terlihat bangunan putih ini masjid. Maka ketika banjir surut. saya mencari jalan turun ke dalam masjid. bermain maupun berdebat soal jodoh. putra maupun putri.” ”Ibu saja yang menjaga adik-adik. Ternyata tangan saya menyentuh tembok. sejauh mata memandang. manalagi. Kembali saya meraba-raba apa gerangan yang Barangkali saya bisa mencapai atapnya supaya saya bisa tidur dan tidak terlalu kedinginan. air. Seorang kiai dengan pohon mangga Karena panas tak tertahankan. Ditinggalkannya saya sendirian di dusun untuk menjaga rumah. Alhamdulillah. sampai saya terjatuh. manis dari akarnya.

air banjir. saya banyak kepada saya dengan bertumpuk-tumpuk lembaran uang di atasnya. Di luar. orang-orang pernah berduyun-duyun ”Saya bukan Kiai Zaim Zaman. ”Saya mendengar panggilanmu bertalu-talu. Kiai Zaman berjalan di atas air tanpa mempedulikan panggilan saya. Betapa seandainya kita punya banyak kiai seperti beliau. sekeluarga turun-temurun. dari imbalan yang bisa menemui saya dengan seluruh permintaan yang bisa diucapkan mulut: Ketika saya kembali ke dalam. saya kaget bukan alang kepalang.” ”Subhanallah. yang boleh jadi terus menunggu dengan harap-harap cemas. Cukup lelap dan tak terganggu oleh mimpi.” Pagi hari ketika matahari kencar-kencar dan mendung hitam sedang mengincar. Di yang mumpuni ini.” kata Kiai Zaman hampir-hampir berbisik. ”Saya hanya orang yang kepengin seperti beliau. Waktu bangun. berusaha sebaik mungkin untuk tidak kentara baru bangun dari tidur.” ”Salamualaikum. ke sebuah dusun yang sunyi. banyak sekali.” ”Orang-orang modern bisa juga kesurupan. saya tertidur tanpa diawali kantuk.” teriak saya ketika itu kepada orang-orang itu. Kapan seorang awam seperti saya bisa membalas kebaikannya dan jasadalam hati saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya atas semua kebaikan Kiai jasanya dengan segala kemampuan yang tulus seperti selembar sajadah kepada sebongkah kepala yang sujud di atasnya. Semoga berkah Allah selalu mengayomi Kiai Zaim Zaman yang dua lengan itu. ”Pak Kiai. orang-orang berteriak meminta tolong. kepada ibu.” ”Subhanallah.” seru saya. tangan banyak sekali. Kiai Zaim Zaman berzikir di sisi saya. mencium tangannya. di depan mihrab saya jumpai bertumpuk-tumpuk uang yang disentuh tangan sampai berkah yang tidak kasatmata. ya. ya.“ kata Kiai sambil ngeloyor pergi. Saya mendayung rakit batang pisang ini meninggalkan masjid yang sudah memberi pelajaran mendayung kembali ke Pati dengan arah apa pun. ayah. dan kedua adik saya. ada hal-hal yang perlu saya tanyakan. banyak sekali. ”Saya sudah bertemu dengan dua puluh lima orang santri putri yang kesurupan itu di rumahmu dan mereka sudah baik kembali. Kembali rakit saya terhadang oleh antrean truk yang sangat panjang dalam kemacetan oleh banjir yang masih setinggi dada orang dewasa. Tetap betah juga sopir-sopir dan kenek- . menjauh. sementara di luar sana. menanyakan kesehatannya. meminta doa. Saya ”Maka cepat-cepat saya menemuimu. Rasanya saya semakin banyak utang kepada Kiai ini.” ”Subhanallah.” seru saya sambil mengejar beliau. bangun dengan sigap. kaki yang dua jenjang itu.

Ini artinya bergepok-gepok uang itu kembali ke tangan kami. Ketika ibu mengetahui saya membawa uang yang bukan main banyaknya itu. Subhanallah. Tuhan punya rencana. ”Ya. semakin kentara kami butuh bantuan yang tak Pagi harinya kami dikagetkan oleh teriakan ibu. Masya Allah. Malam harinya saya tidak dapat tidur karena perut keroncongan. Seperti mati berdiri. dan para santri dengan sejumlah ustadnya yang masih menginap menyambut saya dengan sukacita. mungkin mereka tidak menyadari. Keadaan jadi kacau dan meriah. Dengan kunjung datang. bukakan mata mereka. kedua adik saya. menyelam dan menyelamatkan seluruh uang yang tenggelam dan mengembalikannya di atas rakit saya. ayah. menyuruh saya membuang seluruh uang itu dengan mendorong rakit menjauh dari rumah. saya pasrah setulus mungkin. Bagaimana mainan. Itu uang beneran dan mereka boleh merebutnya. Penuh banyolan dan semprotan Anehnya para sopir dan kenek itu. semuanya ini milik-Mu. uang haram yang belum tentu dari Kiai Zaim Zaman.kenek itu melantunkan potongan-potongan lagu meningkahi irama dangdut yang tak kunjung padam. Dalam hati saya menyesal. diiringi ha ha ha he he he dan olok-olok yang diuleg sepedas mungkin sehingga banjir itu tambah sempurna mengharu-biru.” doa saya. Allah. Saya tertegun. Lalu mereka mendorong rakit supaya saya meneruskan perjalanan. Bahkan yang beradu bidak-bidak catur sambil berendam dengan papan oleh sejawatnya yang selalu mengganggu. Persediaan makanan habis sebungkus mi-instan yang dibagi dua orang. ”Lo ambil! Lo yang mata duitan! Ha ha ha!” Teman yang kena timpuk itu melempar uang itu ke teman yang lain sambil berteriak. Seorang sopir mengambil segepok uang itu dan menimpukkannya ke arah temannya sambil mencemooh. ibu. ”Ya.” doa saya dengan kenceng. Menurut ibu. . caturnya yang berayun-ayun oleh riak air yang dihembus angin atau sengaja diaduk-aduk Ketika para sopir dan kenek itu melihat gepokan lembaran uang yang bertumpuk-tumpuk di atas rakit saya itu. Bukan uang Sesampai di rumah. menimpuk sejadi-jadinya. Allah. ”Rakit itu kembali ke rumah!” yang disambut seisi rumah dengan takjub. ”Gue ude konglomerat. Tentu banyak gepokan uang itu yang jatuh ke dalam air dan tenggelam. kenapa saya sementara jumlah orang yang menginap di rumah bertambah setiap harinya. itu tidak menyembunyikan segepok dua di dalam baju saya. Lo aja ambil yang masih kere!” Akhirnya semua sopir dan kenek itu berebut uang di atas rakit saya dan saling timpuk- kata-kata konyol. uang yang saya bawa itu uang sungguhan. subhanallah.

Tangerang. 14 Februari 2008 .

Jangan pernah kalah. Di jalan-jalan Jakarta tak ada tempat untuk kencing. Merebut kesempatan sebelum segalanya terlambat. Tinggalkan yang mesti ditinggalkan. Jangan pernah mau mengalah. Barangkali ke Jakarta Pusat. Seolah metropol miliknya sendiri. Tidak seramah abah dan babah semasa zaman misai jepaprah. Ia menyeberang di antara lalu-lintas saling bertanya. Ia berzigzag di antara kendaraan-kendaraan yang menunggu lampu hijau. Tapi di “Ibu! Ibu!” teriak anak laki-laki itu menyebut ibunya. Tempeleng orang lain sebelum ditempeleng orang lain. Ada apa anak itu berlari terus. kabarkan. Sesuatu apa itu. Orang-orang pura-pura tak mendengar. Beberapa orang yang berpapasan dengannya menanyainya kenapa ia berlari. Kepala berputar kerna mana ibunya? Mengapa ia berteriak-teriak? Apa ibunya mendengar teriakannya? Mengapa ia Lonceng kota berdentang dua kali. “Ada apa. Ia tak mau tahu dengan urusan orang lain. Tak lelah-lelahnya. Kerjakan yang mesti berlari itu. mencari kekal pada dinding. mikrolet. mengucap salam pada metromini. Lamat-lamat ditelan mall yang bernyanyi. Jangan ketinggalan. Nak? Ngapain lo lari terus? He.Jantung Hati DANARTO Anak laki-laki itu berlari kencang meninggalkan pelabuhan Sunda Kelapa. Metropolis. Orang- bagaimana mungkin harus menanggulangi kebutuhan orang lain. dikejar setan. Semua pertanyaan lompat bajing. Ia menuju ke arah selatan. Keringat kota diperas habis-habisan. Angin kencang. Ia tak mendapatkan bus atau angkot. lo?!” Semrawut kota semakin bising. Dihardik satpam jadi emping. “Ini Metropolis. Ia pusar bisa berlari sekencang itu. Nak? Ada apa. Tapi setiap pertanyaan belum terjawab. Orang-orang menengok yang padat. Merebut tempat. Jakarta sudah lama bilang ogah. pusing. selalu muncul pertanyaan meminta ibunya untuk tidak menari lagi. Legam bagai Jacky Chan melenting. Hitam kayak pantat kuali. Ia sedang diburu kebutuhannya berteriak. Suasana mendesing bunyi gasing. Mereka menerobos di antara bus. “Ibu! Ibu! Jangan menari lagi!” ia melarang ibunya menari lagi? Memangnya kenapa kalau ibunya tetap menari? Anak 10 tahun ini boleh jadi anak yang aneh. jadi rupanya ibunya seorang penari. seperti ada sesuatu yang ingin ia temui. “Ibu jangan menari lagi!” teriaknya sepanjang jalan raya itu. kopaja. Ia tak peduli. Bung! Sejak kapan para sopir angkot itu mendahului para arsitek dengan orang tak mau tahu. Apa ia tak punya pusar? Hanya orang-orang yang tak punya kepadanya yang cepat menghilang terhalang di antara pintu dan jendela Bianglala. atau kota ditekuk dan ditelan orang lain. Seperti anak laki-laki 10 tahun yang terus sendiri. O. Angin berdebu. . Anak itu agaknya merebut waktu. persis malam mati. Pelabuhan menjerit. Bung!” Mengurusi diri-sendiri saja hampir-hampir tak becus. yang macet. Udara sangat panas. Atau baru. lo. Alangkah kencang larinya. angkot. barangkali orang-orang itu bisa menolongnya jika ia butuh pertolongan namun anak itu acuh tak acuh dan terus berlari. dikerjakan. Orang-orang sibuk dengan tas belanjaannya sendiri-sendiri. Ini Matahari terbahak. ia terus berlari. Jakarta Utara. Lari! Lari! Tekuk dan telan kota.

Segala tempat. Di bawah jalan layang. Ibunya sedang menari di atas jembatan layang. seluruh penghuni hotel prodeo adu jotos. Mengambang taat. Kemana tanahku. Berbanding Pandawa pantas. ia mendelik. Di ladang luber. Anak itu melompat pagar tanaman. air. Pasrah tanpa curang. Di sekolah anak tak pernah bolos. Tinggallah putri bersama anak semata wayang. kesandung maut dari seberang. kadaluwarsa dari sepihak. aparat James Bond lumpur panas dan kalajengking di bawah keset. Butiran menjelma hujan. Jangan-jangan sedang menari bersama awan.Seperti bandit yang dibiarkan lolos. Perahu malaikat burung puyuh. bukan raja. Nasib orang.000 tahun mengayuh. Walau di lapak. O. Supaya jarak lari menjadi aman. Seonggok jalan layang ke Universitas Indonesia gemilang. Udara. tanah asli ayah bayang. Dalam sehari 50. Matahari membantu tapi butuh ongkos. termasuk jalur hijau jalang. Tak ada tempat yang jauh. Saling gertak ketemu ibu dirundung sawan. Padang darah berember-ember. terbahak. api. Menggaris lurus menerka keadilan. Itu udara pagi. Tumbuh harapan. Anakku. Kedua orang bertahan di bawah jembatan layang. Ksatria Utara tak mau berkelahi. Nyawa yang berbakti. Hidup bisa dicicil angket. telapak kaki tanpa alas. Alasan tempat jeli selalu kena jalur hijau pasti. Cepat Anak ini cerdik bagai jengkerik. Henry minta ganti rugi mahal kerna tiga kali dibohongi. Dipuja petani. Aduh. Bukan ratu. Kemana tanahku. O. Lalu berpijar cahaya api. Pesanlah nisan sekarang. kenangan manis buat Mendagri dan Henry yang tertindas. Mengalir angkasa pesat. Orang-orang yang berpapasan mendesah. Ibu Pertiwi mengerti. Jangan terpeleset. Itu udara wengi. Tak mati-mati. Baik budi. Hanya Muntahkan segala pikiran kotormu. Penari agung bikin keder pemda. Ia anak mama. O. Seluruh hamba wet. Jangan menoleh ke belakang. Tuhan yang pegang. Aduh. Si anak ksatria utara. Tiba-tiba agung bagai baja. KTP diinjak-injak. begitu pemerintah kasih wejangan. Tak kenal batas. Mau dicaplok katak. Ia hindar bertengkar kerna pintar. Tuhan tempeleng manusia. Mencari hidup layak seperti pesan bapak. Jeritkan segala raung serigalamu. Jasadnya lenyap ditelan udara. berbakti. Sotangnya tajam bagai taring kirik. Ia diangkat Allah ke firdaus ketujuh. “Ini anak apa maunya?!” Orang-orang melengos. bukan pula keris patih. Apa mau dikata. Tiga kali kena gusur. Eyang. Tiga kali tanah dibeli di berbagai . anak itu tahan menceker. supaya hati tak garang. Wangi jembatan layang. Tak pula timpang. kejeblos di pasir boblos. Ia ingin lolos dari angka-angka narkoba oplos. Berlari terus. putri jelita berbanding Sembadra. Dengarkan mahasiswa sedang berjuang. Berlari chitah otak cucu belum juga encer. kota. Ia keris empu. Kemana sandal jepitnya tadi di emper. Tak mati-mati. Namun tak beringas. mabuk tetap tegak. Tuhan sayang manusia. Ia musnah. Berlari terus. tanah. zat. O. Tuhan kendali manusia. Ada saja yang tidak polos. menghirup angin surga. Lalu kena sabetan keris yang ditempa padepokan Ganggang. orang yang matanya nyalang. hitungan akurat. O. Tanah di bawah jambatan layang UI diberi julukan “O Henry Rudini”. cucunya cucunya cucunya cucu Empu Gandring. Setiap mahasiswa melaju mobilnya ke universitas. Seluruh menteri melankolis menatap Henry. Ia ksatria tuntas. Tak peduli pada aspal jalan yang panas. Namanya bikin gentar. dan pertapa sejati. mencium bau wangi. Anakku. Henry Muhammad. badai derita Ia terlalu sakti. bertengger gubuk derita malang. O. menerkam kijang tercecer.

berkali-kali penari itu diburu. para mahasiswa melongok-longok lewat jendela mobilnya. Perampokan kantor-kantor. toko-toko. sampai kini tentu semakin dirundung dosa yang kelewat-lewat. departemen keuangan. perumahan mewah. para politisi dan wartawan tidak memolitisir musibah “Jakarta Meratap” dengan “pemerintah “Itu klenik!” seru jubir pemerintah dalam menanggapi pernyataan bahwa pemerintah dimusuhi alam. Tenaga-tenaga penolong susah. Dan alam sangat untuk menangkap sang penari dan membunuh ikan-ikan paus itu. Selama ini pemda DKI meyakini bahwa penari jembatan layang UI itu kong kali kong dengan melanda Jakarta. yang bercokol di utara Pulau Seribu itu dikitari puluhan ekor ikan paus yang berloncatan ke es itu yang agaknya untuk secepatnya mencairkannya guna memandikan Jakarta. ternyata pemerintah sendiri sangat doyan klenik. Berpuluh ikan paus mengunyah gunung es yang mereka Keadaan darurat nasional gubernur umumkan. Pemerintah yang dulu. Laut meluap. Mereka saling bertanya. dan seluruh tempat yang menyimpan duit atau pangan. Saking banyaknya korban entah. Dia dan ikan-ikan paus itu terus menari. restoran. Korban tak dapat dihitung. Di seluruh kawasan. Di pojok-pojok Jakarta rawan. Korban banjir antara yang hidup dengan yang mati.” Namun Valeria Daniel dari antv di atas helikopter melaporkan pandangan mata: “Jakarta seret dari kutub utara. Bagai papan-papan selancar. Satu udara ganti-berganti. Nah. Para relawan penolong bertindak. mengambang dan tenggelam maupun karet mendadak. gunung es bersimaharajalela.“Ibu! Ibu!” teriak anak lelaki itu dari bawah jembatan layang UI menatap ibunya yang sedang lintas yang selalu padat itu. Datang dari kutub utara. Banyak individualis jengah. Jakarta tenggelam. berenang di dataran luas yang dalam. Di siang hari jadi kota mati. ATM. Dibutuhkan perahu Helikopter menyigi rendah. Namun penari cantik dan . dia terus menuntut ganti rugi yang layak. ratusan mobil mengambang. Andai dulu pemda di zaman Orba tidak pelit dan mau membayar ganti rugi satu miliar rupiah. bank-bank. tentu jumlah itu saat ini. puluhan. tak ada artinya. Di dalam kendaraan-kendaraan pribadi di sela lalu- “Ibu jangan menari!” sambung anak itu. Kota gelap gulita. menari di atas pagar jembatan layang. Sebagai ahli waris Henry atas sepetak tanah di bawah jembatan layang UI. di milenium ketiga. Mobil-mobil tinggal atapnya yang muncul. Berkali-kali banjir besar sikap ini kentara sekali. Banjir rasanya semakin meninggi. Daerah Khusus Ibukota payah. mereka sudah sampai Pulau Seribu. Supermarket. pasar. Dalam jumlah besar membengkak. pegadaian. namun dia selalu lenyap tak berbekas. Mereka dengan gigih menabrak-nabrakkan tubuhnya ke arah gunung pasukan khusus diterjunkan dari helikopter di atas jembatan layang UI dan di Pulau Seribu ikan-ikan paus itu tidak peduli. Tanggulangi penjarahan dan perampokan. “Dua puluh tiga ekor ikan paus menyeret gunung es. menjadi sasaran penjahat maupun orang baik-baik. Bagai monumen. Dengan sangat meminta ditolak alam”. Pasukan antihuru-hara diterjunkan. Tapi itulah jalan hidup. ikan-ikan paus yang segede-gede kapal destroyer dari kutub utara. mall-mall. Jakarta musnah!” tenggelam dilanda banjir bandang.

“Ibu stop menari! Ibu stop menari!” teriak anak itu terus-menerus dari bawah jembatan layang itu. Senen. Sang penari tidak menstop tariannya. Beberapa orang mahasiswa memarkir kendaraannya di jembatan layang itu untuk melihat penari itu tetap gemulai dengan gerakannya. Cucu dari buyut. Ibu dari anak. Sanak terpental dari sanak. Para sniper itu dibuat kelilipan matanya sehingga sniper membidik penari dan ikan-ikan paus itu dari kejauhan. terpisah dengan keluarga lainnya. Kekasih dari asmara. Anak itu terus melanjutkan teriakannya.membantunya. Mall-mall Jalan Thamrin yang dibangun dengan pondasi yang tinggi. Jalan Sudirman. Sejumlah penari dan ikan-ikan paus itu. Kampung Rambutan memahami musibah itu. Bola dari Piala Dunia. Gelombang menggempur Tanjung Priok. dan melahap terus ke selatan. Hotel Sari Pasifik di dibangun untuk mengantisipasi banjir bandang itu. Cemburu dari buta. Cilandak. Canggah dari wareng. Cikini. paling laris karena agaknya dipenuhi para pengungsi. Gunung Sahari. Tapi segala jenis hotel penuh. Tangerang. Jalan Thamrin. Cinere. Ibu itu terus melanjutkan tariannya. Blok M. Kali Deres berteriak-teriak meminta tolong. Benci dari cinta. Namun alam tetap membela membatalkan bidikannya. 20 Mei 2006 . Hari balas dendam telah terjadi. Orang-orang kaya mengungsi ke hotel-hotel. Kakek dari nenek. Suami dari istri. Parung. Angin kencang menyapu pasukan khusus berikut helikopternya sehingga mau tak mau mereka harus menjauh dari penari dan ikan-ikan paus itu. Keluarga Paman dari keponakan. Melek dari kantuk.

Natalya Ashikhmina. sup ikan tuna. Direktur Artistik Chino. Angsa-angsa putih menyelam. Zahra menemani para pebalet dari Negeri Tirai Besi itu. dan pembesar negara lainnya. bulu- usai. Dalam pesta yang disuguhkan oleh Yayasan Jantung Indonesia. lalu mendarat kembali. yang mengelus rambutnya. Mereka tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun meski pertunjukan dua jam itu mengalir terus. Irina Ablitsova. Kaki-kaki jenjang putih para balerina meluncur ke sana kemari. pemeran Rothbart bergantian. balerina 21 tahun. Jerman. Baru pada malam hari . Mineev. Mereka rame-rame menikmati salad. menyembul. Dengan 1. yang putih maupun yang merah. Siang hari mereka adalah angsa yang merenangi telaga. Di antaranya di tempat ini.Telaga Angsa DANARTO telaga. angin sepoi-sepoi. Dia memilih minum air jeruk nipis. Lakon ”Swan Lake” menceritakan dayang-dayang istana dan ratunya. menteri. yang disihir Rothbart menjadi angsa. insya Allah. Lalu bergabung ikut ngobrol pula. dalam waktu dekat akan membangun panggung balet semegah Moscow. masih mengenang adegan-adegan dalam pertunjukan balet ”Swan Lake” yang baru saja Annisa Zahra disadarkan oleh zefir. ayu dan ganteng. gubernur berjanji. ngobrol dengan para pejabat bank Indonesia. Mereka saling bulu bergetar ketika mencapai puncak. dan jus jambu kelutuk. para pebalet pemeran utama dalam lakon itu di antaranya. Gadis ini Zahra. kegemarannya. Alvin Zahra juga banyak mendulang informasi dari Maya Ivanova dan Natalya Ashikhmina. para pebalet Rusia itu mengagumi kecantikan dan rambut panjang Zahra dan apa saja perannya dalam balet di Indonesia. Asmara angsa. Russian State Ballet of Moscow pertunjukan ”Swan Lake” itu. Odette. komposisi yang senantiasa berubah. Begitu pula para pebalet teman Zahra. juga grup dari Perancis. kepada para tamunya. Tampak Viatcheslav Gordeev. Sementara itu Zahra getol bercerita macam-macam Nikolai. sebagai sponsor pertunjukan. Russian State Ballet of Moscow memainkan ”Swan Lake” karya Tchaikovsky yang sudah melegenda. ngobrol dengan gubernur. Maxim Fomin. pernah berpentas Martha Graham. Membentuk Pemandangan panggung malam itu dipenuhi puluhan ekor angsa putih menyebar memenuhi mengepak beberapa saat di atas permukaan air. Maya Ivanova. Andrei Joukov.500 penonton. buah-buahan. Irma Ablitsova pemeran Odille dan Dmitry Protsenko serta Vladimir plain croissant. Sebaliknya. dan modern dance dari Eropa lainnya yang memainkan repertoar ”Le Sacre du Printemps” karya Igor Stravinsky. adakah yang lebih indah waktu tubuh bergetar. gubernur. yang ditemani balerina Masami Dengan meminta maaf karena gedung pertunjukan tidak representatif bagi tontonan segigantik balet Rusia. tampak berseliweran di antara para pebalet yang tinggi-tinggi dan besar-besar itu. pemeran Odette secara bergantian dan Andrei Joukov dan Maxim Fomin pemeran Siegfried bergantian. tidak minum wine. sangat populer di seluruh dunia. dan memagut dan bercinta. tentang balet di Rusia.

yang secantik Odette. seluruh istana bergembira. Begitulah. semua balerina itu elok: Tatiana Protsenko. Usaha Rothbart berhasil. cocok-cocok saja. Siegfried. ”Apa. Di samping mencoba menggagalkan percintaan Siegfried dengan Odette. ibu. hari tujuh malam pun digelar dengan meriah. ”Lho. lho. Semuanya tertawa. saya sih. Rothbart marah besar. kakek dan gerakan balet yang membuat semuanya tertawa. Namun Siegfried mampu menewaskan Rothbart dan pasukan angsa hitamnya. Odette dan dayang-dayangnya jatuh sedih. angsa itu menjelma Odette. memangnya kenapa?” tanya Zahra. Tatiana Chungunkina. Sekalipun dengan mata terpejam.mereka menjelma manusia kembali. juga tante dan oomnya. ”Itu kan mengumbar aurat.” tukas Kakek. untuk merebut cinta Mendengar kabar ini. Oxana Gasnikova. Pangeran Siegfried langsung terpikat pada Odille.” celetuk Nenek. Olga Ivachenko. ”Tapi. Namun cinta mereka terhalang oleh sihir Rothbart yang ampuh. sih. sampai Kakek terbatuk-batuk. Hanya cinta sejati yang mampu mengalahkan sihir itu. Pagi harinya kakek berdiri lalu meliuk-liuk menirukan ”Awas. pemilik istana dan telaga. Pangeran Siegfried. ”Odette atau Odille.” tukas Nenek.” kata Kakek. adalah Svetlana Ustyuszhaninova. Secepatnya Siegfried menyatakan pilihan cinta sejatinya hanya pada Odette. saya tidak setuju dengan kostum para penarinya. dan Anastasia Baranova. yang ndak cocok bagi kamu. Dan pesta pernikahan Siegfried-Odette selama tujuh pertunjukan ”Swan Lake”. kedua adiknya. . Siegfried sadar. adalah para pemeran angsa kecil.” sambung Oom sambil menyenggol Tante.” celetuk Zahra sambil memasukkan potongan roti lapis kacang dan cokelatnya ke dalam mulutnya. Seketika. asal encoknya tidak ketahuan sang balerina. jatuh cinta kepada Odette. Eugenia Singur. memamerkan putrinya. Eyang bisa kesleo. Semua tertawa. ayah. Sedang para pemeran angsa gede Zahra menonton pertunjukan itu bersama keluarga. Kakek terbatuk-batuk lagi. neneknya. siapa pun tak bakal salah Pesta para pebalet Rusia dan para pebalet Indonesia malam itu seperti menandai suksesnya memilih. ”Eyangmu ini tadi malam kan kepincut sama si Maya. Semuanya tertawa. Odille. begitu juga puluhan ekor angsa yang lain. dan Anna Vakina. ”Terpikat boleh terpikat. Rothbart sang penyihir.” sambung Kakek.

Zahra melanjutkan obrolannya: ”Waktu grup balet Zahra memainkan Swan Lake. Melihat kostumnya.” Semuanya tertawa.” ”Rasa risi tidak relevan dengan Swan Lake. Obrolan berubah jadi perdebatan.” ”Eyang kok tiba-tiba jadi diktator. sih. Habis jadi diktator.” ”Jangan begitu. ”Itulah kostum yang paling pas untuk lakon ”Swan Lake”.” sanggah Kakek. Swan Lake dapat dikategorikan sebagai pertunjukan pornografi dan pornoaksi.” ”Wah. bubar. kok yang disalahin balerinanya. wah. kecuali Kakek. peradaban.”Aurat yang mana?” tukas Zahra. ”Saya serius. deh. Kesan.” sergah Kakek lagi. Eyang. wah. semuanya terkesan jelek. kostum Zahra ya seperti itu. Ada yang jauh lebih subtil yaitu bentuk tubuh secara utuh. ”Semuanya kan tertutup rapat. Grup balet Rusia ini sudah melanglang buana. Aduh. ”Mati orang kuburan!” potong Zahra. Eyang ini gimana. ”Bagaimana parameternya?” ”Bagian-bagian tubuh tampak disengaja sangat menonjol. mendadak berubah jadi filosof. Ini kali pertama kakek dan nenek nonton balet. ”Kok Eyang jadi sewot?” ”Mempertimbangkan kostum itu.” ”Jangan begitu. Semuanya tertawa kecuali Kakek. kok Eyang sampai segitunya.” ”Mati orang kuburan!” potong Kakek kaget. Jika kita bicara soal kesan. Meriah.” ”Kesan. Ruang makan itu berubah jadi ruang pesta pagi hari.” sambung Kakek. ”Saya sungguh risi dengan kostumnya.” ”Wah.” ”Saya heran. Jenjang kaki yang panjang dengan bentuk yang indah—laki-laki maupun . Semuanya tertawa kecuali Kakek.” ”Tapi kesan telanjangnya kan jelas. Eyang. pertunjukan itu harusnya disensor.” ”Eyang yang kasmaran.” tukas Zahra.

”Adalah tradisi balet.” ”Sekalipun mereka ateis?” ”Sekalipun mereka ateis. ”Kalian keras kepala!” Semuanya tertawa kecuali Kakek.” hampir-hampir telanjang ketika bertanding di kolam renang. ”Eyang benar-benar lowbrow. ”Kita harus mempertahankan adat ketimuran kita. ”Eyang dianggap tak menghargai kebudayaan.” sela Kakek.” . ” sergah Tante. ”Kostum ketat itu. ”Dalam KKN ada tradisi. Mendengar kata Kakek ini.” sewot Zahra.” Zahra menukas. Seperti para perenang yang memudahkan untuk bergerak menari. ”Apa?” tanya Kakek.perempuan—dalam menopang torso yang sepadan yang melahirkan kelenturan gerak bagai kijang.” ”Sungguh saya tidak paham jalan pikiranmu.” kata Zahra. Kalau Eyang puas atas pertunjukan balet Rusia itu. Puluhan kali dia berpentas balet di kota-kota besar. Eyang.” cetus Kakek.” ”Omong kosong!” sergah Kakek. ”Adat ketimuran kita adalah KKN. ”Justru karena saya sangat menghargai kebudayaan.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Cucuku. ini artinya balet Rusia itu telah berdakwah tentang kebenaran. ”Kalau pendapat Eyang dilaksanakan. maka saya marah menyaksikan penampilan para pebalet Rusia itu. pesakitan KKN selalu jatuh sakit kalau mau diadili. ”Moral dan agama ada pada keindahan kesenian itu. Zahra diperkenalkan pada balet sejak balita.” kata Oom. ”Jangan melecehkan negeri sendiri. semuanya menyanyi kecuali Kakek: ”Bagimu negeri. jiwa raga kami…” Oleh orangtuanya. begitu pula kostum ketat balet ”Jadi tanpa mempertimbangkan moral dan agama?” tukas Kakek.” sambung Kakek. runtuhlah kebudayaan.” ”Harus dicari kostum yang lebih cocok dengan budaya setempat.

saya dikasih contoh. Harus dipisahkan antara rakyat dan negaranya.” tukas Kakek. ”Banyak negara yang busuk. ”Kita harus membedakan antara iman warga negara dan iman negaranya. Dalam hidup para balerina dan balerino itu. namun tariannya memberikan pencerahan kepada kita yang shalat lima kali sehari.” ”Eyangmu itu pantas jadi polisi moral. bukankah itu artinya mereka telah berdakwah tentang keluhuran? Seandainya benar mereka ateis.” kata si Oom. Barangkali besok. saya cuci tangan. Janganlah berputus asa akan belas kasihKu. Eyang.” tambah Tante. Lengang sejenak. Kita bisa menuduh mereka ateis.. ”Coba. Zahra. atau ”Seorang ateis bagaimana mungkin mendapat hidayah Allah?” ”Jiwa manusia itu seluas alam semesta. Anakmu bukan milikmu. ”Kok sekarang berubah jadi one dimensional man. ”Saya pusing mendengar pikiran-pikiran anak muda sekarang. ”Contohnya tidak usah harus beli tiket pesawat.” ”Mereka telah menari dengan anggunnya. atau lusa. Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri…. Eyang. setiap hari yang dipikirkannya hanya keindahan.” ”Tapi omongan kamu itu kan cuma teori.” Semuanya tertawa kecuali Kakek.”Hati orang siapa tahu. mereka itu setahun lagi?” hanya belum sempat mendapat hidayah dari Allah saja.” tambah Nenek. ”Apa yang sedang terjadi atas Eyangmu ini. Semuanya tertawa kecuali Kakek. Kecuali Kakek. Eyang.” ”Mereka hanya berbakti kepada Dewi Keindahan. .” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Dan itu bukan teori.” sergah Kakek.” tukas Nenek. Betapa luhurnya seseorang yang tidak percaya akan Tuhan.” ”Eyang kok selalu curigesyen terhadap iman orang lain yang tidak dikenal. tapi dari mana kita tahu bahwa mereka ateis? Obrolan kita ini sudah melenceng. semuanya membaca puisi Gibran Khalil Gibran: ”Anakmu bukanlah anakmu. Mereka telah berbakti kepada Dewi Keindahan. Seperti tercium setan lewat. Alangkah juwitanya pandangan hidup mereka.” jawab Tante. sedang warga negaranya mudah lolos ke surga. kata Allah. Bukan kepada Tuhan.

tidak ada pornografi dan pornoaksi. Ada tanah yang bisa menumbuhkan padi sehingga kita tidak kelaparan. Dalam dandanan kebaya pinjungan. Dalam balet.” Tukas Kakek: ”Tidak ada pornografi dan pornoaksi dalam tari bedoyo. Suatu dakwah keindahan tiada tara. Eyang. Dan ternyata Allah itu indah. Tangerang. itulah keunikan tiap tradisi yang mewariskan budaya dunia.” ”Kita juga memiliki keindahan tradisi. tergetar. Kita wajib memeliharanya. Ada zat yang mendorong kita beranak-pinak. Ada air yang mudah mematikan api. Ada api yang menyalanyala. menyembulkan semburat merah jambu gunung kembar yang menjenguk lewat dada yang lebar terbuka. Cobalah nikmati tari bedoyo. Ada angin yang tidak kelihatan yang membuat kita bernapas hidup puluhan tahun. Para pujangga menyebutnya ”Glatik Nginguk” artinya ”Burung Gelatik yang Menjenguk” yang membuat dada para raja dan pangeran ”mak-sir”. Allah mencintai keindahan. Mendorong keanggunan sembilan penari yang gemulai dalam balutan kain yang ketat. bedoyo para penari bahkan untuk berjalan biasa saja.” ”Saya setuju. sedang dalam . 14 Februari 2006 seorang penari harus lebar-lebar merentangkan kakinya supaya bisa terbang. cukup sulit.Zahra melanjutkan obrolannya: ”Wajah Allah itu memancar memenuhi alam semesta dan kita makhluk ciptaannya dapat menatap Wajah itu secara gamblang.” ”Sebagaimana balet.” sambung Zahra.

Kadang datang berbondong. ramai. mengular sampai jalanan. Lama-lama saya menulis obituari menjadi semacam panggilan. bibit tanaman. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang sehingga rumah jadi regeng. teman-teman. tidak benar-benar membutuhkan saya. Istri saya lewat jendela. Dan pembicaraan beralih ke olahraga. bawahan dengan remaja. atasan. Misalnya. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. satu dua. bupati. Sebagai penulis lepas. sejumlah persoalan yang lagi hangat atau panas di masyarakat yang sebenarnya membuat mereka sekadar butuh teman ngobrol. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Saya acuh tak acuh. Kami ngobrol sekitar persoalan yang menyangkut rumah tangga dengan segala nuansanya. Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga. lalu kami pindah tempat duduk dan lebih santai sambil ngopi. Sungguh menghabiskan waktu. maupun wali kota. dan wali kota. Saya acuh tak acuh. Tapi asyik juga karena hidup di dusun yang sepi sekali-kali perlu mengadakan pertemuan supaya merasakan kemeriahan. Juga tentang hubungan suami istri. saya menjawab sekenanya. Saya rasa kali ini juga begitu. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. dan banyak lagi saya tidak nyaman. menyadarkan saya. Dengan ngantre minyak tanah. persoalan anak dengan orangtuanya. Setelah dua jam pembicaraan ke sana-kemari. diajak berbincang mengenai berbagai hal yang pelik. Sudah sering datang orang. Sudah sering datang orang. sekadar yang saya tahu. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. setelah sarapan. mula-mula saya menulis obituari hanya sambil lalu.Nistagmus DANARTO Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Saya tak pernah mengutip berkepanjangan. Masalah-masalah itu menjadi obrolan yang Kadang-kadang saya juga diundang camat. soal usaha tambak udang. Rasanya camat. Selama ini saya dikenal sebagai penulis obituari (berita tentang kematian seseorang berikut riwayat hidupnya) di surat kabar setempat. juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. juga masalah percintaan antaranak-anak Jika ditanya. Karena istri saya gelisah. mengenang lewat tulisan obituari itu mengesankan. perburuhan. saya dijuluki “pendengar yang baik”. Rasa saya tetangga. Cukup menyenangkan. perbankan. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga. menantu dengan mertua. Karena kematian seorang teman baik yang menjadi tetangga dekat. Ada apa? belum menemui mereka. Istri saya memberi tahu. misalnya. ataupun dengan para pembesar itu sebenarnya saya banyak diam. bupati. juga tayangan televisi. pengairan sawah. kata-kata bijak dari para cendekiawan. Orang-orang . Di samping para tetangga. Selama pertemuan-pertemuan dengan para Untuk sikap saya itu. yang sama sekali tidak saya ketahui. satu dua.

Keluarganya memberi tahu. Begitu siuman. Bawahannya itu lalu dihipnotis hingga tertidur di mejanya. Tulisan obituari itu tidak panjang. menyebabkan banyak orang mengenal saya. sekitar 5. Saya interviu keluarganya. tukang becak. saya menulis obituarinya dengan memasukkan wawancara kepala tibum itu. Saya catat riwayat hidupnya. sebagaimana kematian itu pasti tiba.orang biasa. Kadang sampai 8. orang-orang terkenal itu sudah banyak penulisnya. Seluruhnya orang. Masa pensiun pasti datang. Barangkali mereka juga membaca obituarinya. teman. Banyak usulan. “Kenapa kamu tidak lekas mati supaya Pak Jurnalis bisa menulismu sekarang!” “Biar kamu mati. Lalu ia dinaikkan ke dalam mobil. sampai kamu menulis riwayatmu sendiri!” Saya terbahak mendengar lelucon-lelucon itu. Sejauh ini saya tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu. tak ada yang menulis. kemudian berubah ke mesin ketik komputer. sampai kenalan baru. Misalnya. agaknya hanya saya seorang. selalu saja orang . apa ada yang tertarik membaca obituari saya. Yang jail maupun pelesetan. Dan sebagainya. Itu semua menyebabkan saya akrab dengan semua orang. kenapa tidur di rumah. lalu mencari akal agar bawahannya itu sadar. Setiap saya lewat atau mampir membeli rokok di kios. dan berapa orang saudaranya. Begitulah.000 karakter yang menyerahkan becaknya kepada seorang kepala tibum (penertiban umum) dengan tujuan supaya becaknya dijual untuk mengongkosi sekolah anaknya. Alasan saya. dibawa pulang ke rumahnya. keluarga. Si kepala tibum jika orangnya kocak atau punya pekerjaan yang unik.000 orang.lengang. kompleks pertokoan. Kepala kantor orang itu kebingungan. meski kamu membayar Pak Jurnalis!” “Kamu tidak akan mati. ia kaget. lewat mesin ketik manual yang lokal yang memberi saya kebebasan. orang-orang ternama. Saya menolak ketika diminta menulis obituari sedangkan untuk orang-orang biasa. Obituari yang meliputi orang-orang biasa itu bisa saudara. Saya yang terus beredar di banyak keluarga yang kematian saudaranya. Lalu si kepala kantor meminta jasa seorang tukang sulap yang pandai menghipnotis orang. ada seorang tukang becak menolak dengan mengembalikan becaknya sambil mengirim beras 5 kilogram kepada si usia. sementara beban keluarganya besar. lalu saya cari alamatnya. yang beberapa hari kemudian dikabarkan meninggal. Dengan enak saya bisa menulis obituari setiap hari.000 karakter. tidak ke mana-mana. kebanyakan yang mungkin pernah lalu-lalang di depan rumah saya. Banyak komentar. ataupun di stasiun bus. Selama ini tulisan obituari saya sudah mencapai 5. ia seharian di rumah saja. Ketika beberapa waktu kemudian tukang becak itu meninggal karena faktor Ada seorang pegawai negeri yang tidak mau dipensiun karena uang pensiunnya kecil. di sebuah desa yang Saya bisa memanfaatkan rubrik khusus obituari setiap saat atas kebaikan redaksi koran Pernah kejadian dalam seminggu sepuluh orang. pekerjaan terakhirnya. Dipasang pula fotonya yang bisa menyebabkan keluarganya tertambat kenangannya. yang berkenaan dengan tulisan obituari itu. Lelucon-lelucon pun menyebar dengan semarak di pasar.

Ketika orang menanyakan pendapat saya. Anak-anak saya.” “Biar untuk Bapak saja. Pak Jurnalis. “Lho. Ini benar-benar klenik. Tapi ini kebetulan saja. Maka ada saja orang yang anti-saya. kenapa?” “Maaf. sedikit saja saya ngomong. Ntar saya yang menulis Bapak. Pak. Pak. Apa ada gejala sesuatu? Tentu saja saya merasa tidak berubah dengan tingkah-laku saya. orang tersebut malah mengejar saya sambil menyapa: “Bapak menghindar dari saya. Pak?” Istri dan anak-anak saya juga merasakan perubahan itu. Pak.” “Jangan ditinggal korek apinya ini.” “Baiklah. Pak. sehabis ngobrol dengan saya. Lalu malah terjadi serba-salah. Tidak kenapa-kenapa. tinggal di mana?” tanya saya kepada seseorang yang saya pinjami korek api untuk menyalakan rokok saya. yang paling kritis. Saya tak bisa menjawab. seseorang yang ngobrol dengan saya.” jawabnya. jika seseorang ngobrol dengan saya. Di pertemuan-pertemuan desa. yang saya malas menuliskan sebutan-sebutan itu di sini. Wah. Dari kejadian itu. Sementara itu ada pula yang bilang. tulisan saya tidak adil . Saya juga tidak tahu adanya gejala sesuatu. Apa yang akan terjadi dengan saya. Saya jadi pendiam dan menyendiri. ada saja orang yang enggan bertemu atau lebih-lebih ngobrol dengan saya. sedikit ngomong dianggap mengetahui peristiwa yang bakal terjadi.” Atau ada yang berteriak: “Pak Jurnalis. saya sedang mewawancarainya. ia meninggal. dan si bungsu di SD kelas 5.” “Lho. Memangnya saya cenayang. katanya. kenapa?” “Maaf. saya juga diam dan menyendiri supaya orang nyaman dengan saya. Banyak ngomong dianggap meramal. ada yang mengartikan. Keduanya cencala (lancang mulut) terhadap sikap saya dalam menulis obituari.” “Saya permisi. Ada yang bilang.” Inilah sepenggal dialog di pasar sepeda motor dengan seseorang yang enggan bertegur sapa dengan saya karena keyakinan-keyakinan klenik itu. Tidak kenapa-kenapa.” Tapi. Jadinya lama-kelamaan saya enggan menyapa orang. itu tanda-tanda orang tersebut mau meninggal. Keterlaluan. ini bahaya. Memang ada seorang yang “Pak. lima orang. Menurut mereka. Ketika di sebuah toko saya menghindar supaya tidak bertemu dengan seseorang. terutama si sulung yang duduk di SMA kelas 2. saya mendapat sebutan yang aneh-aneh. Saya nggak mau ditulis sekarang. Kritiknya tidak berdasar. “Maaf.nyeletuk: “Pak Jurnalis. Ada yang berubah dengan tingkahlaku saya.

. itu justru kesalahan saya dan saya bisa berdosa karena tidak menulis tiga istri dan mereka.” “Tidak bisa seenaknya begitu. Padahal saya selalu Mendengar keterangan saya.” “Nah. Barangkali karena beban keluarga yang terlalu menyebabkan saya sering stres dan mengalami depresi yang tajam. Nah. Lima anak semuanya sekolah.” “Itu harapan saya.” dengan empat orang anak. ini dosa.” “Dalam hubungan apa orang bicara seperti itu. Itulah usaha sebaik-baiknya seorang penulis obituari. saya berat. anak-anak saya itu: Seolah-olah anak-anak ini cukup rajin membaca buku-buku agama. Saya sering lelah berdebat dengan mendidik anak-anak saya itu dengan keras. wah. Nah. kalian ngawur. Pernah saya menyergah “Dari mana kalian tahu. Boleh jadi Allah sudah membuatkan rumah baginya di surga. Jika sampai di sini hal itu masih baik. anak-anak ini sok tahu. ini pahala bagi Ayah karena Ayah menyembunyikan tiga “Nah. Mereka suka ngotot dan merasa selalu benar. Sebagai ayah. Tetapi jika sudah menyangkut masalah dosa dan pahala. sedang rakus-rakusnya makan.” anak-anaknya yang lain.terhadap seseorang dan berlebihan bagi yang lain. Ayah pernah menulis obituari. kekuatan itu ada batasnya sehingga kita tidak selalu benar.” “Begini. “Kalian ngawur.” “Ayah marah kena keritik.” “Semua orang bicara dosa dan pahala. Ia meninggalkan seorang istri istrinya dan anak-anaknya yang lain. Mereka bisa tersinggung dan bukan tidak mungkin merasa saya lecehkan. sebuah tulisan berdosa dan tulisan yang lain berpahala?” “Dari Ayah.” “Semuanya.anak saya tersebut. Itu doa saya. itu semua yang anak. “Ayah juga pernah menulis obituari seorang pengusaha. anak-anak saya itu diam. kan.” “Boleh saja.” jawab anak-anak itu.” jawab saya. Hal itu berarti saya tidak menganggap ada dan penting keberadaan bilang.” “Karena keritik kalian membawa-bawa dosa dan pahala. karena Ayah memaksa Allah membuatkan rumah baginya di surga.

lalu semuanya bergegas pergi meninggalkan saya tanpa sepatah kata diucapkan. Tak ada tanda-tanda kehidupan secuil pun. Orang-orang yang antre tidak sabar seperti mendengar tulis. Alhamdulillah. saya menyiapkan kertas dan alat baru menunjukkan pukul 05. Mayat-mayat berkaparan di seluruh kawasan. Waktu saya siuman. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. bayi. mencecap pencerahan. muda. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Setelah sarapan. Lembaran-lembaran apakah ini? Ternyata riwayat hidup dengan tanggal lahir dan masya berserak. Orang sekian banyak mau ngajak ngobrol apa? Tentang kesulitan hidup? Beras habis dan anak-anak menangis kelaparan? Orang sebanyak ini mau ngobrol sekaligus? Mata mereka nanar. mereka menatap kebenaran. Saya menulis apa saja. Saya tak tahu lagi di mana rumah Cuaca cerah. Tangerang. Awan putih berarak dengan latar langit biru meneduhkan. anak-anak. 20 Januari 2005 . tak seekor pun tampak terbang. di reruntuhan rumah. setelah sarapan. Jam aum macan. Penghasilan saya tentu saja jauh dari cukup. di kebun. Saya acuh tak acuh. Sudah sering datang orang. mengular sampai jalanan. Hari baru membuka matanya. Ahad. Mayat-mayat itu lebih mengesankan diselimuti lumpur. Istri saya saja suka empot-empotan. Dengan ngantre minyak tanah. Allah…tanggal akhir hayat. Sinar matahari memancar. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. Bahkan matahari masih bergelut dengan kasurnya. Ada apa? belum menemui mereka. yang untuk makan sehari-harinya sejarah saya bermula ketika saya kecantol putri Aceh yang kuliah di UGM. satu dua. tua. Kami menikah dan Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. merangsek ke depan meja saya. saya. entah bagaimana saya bisa sampai di bukit ini. di pekarangan. Saya rasa kali ini juga begitu. di luar kemauan. tanah. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. di atas pohon. dengan malas saya keluar rumah dan duduk di beranda. Barangkali seperti agen minyak tanah yang siap menyambut para pembeli. Ketika saya menuruni bukit dengan sempoyongan penuh lumpur. termasuk menulis berita. nistagmus. perempuan. Karena istri saya gelisah.Kami sebenarnya keluarga bahagia.00. cerdas dan berani. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Gerakan bola mata yang cepat tanpa disengaja. 26 Desember 2004. sedangkan saya sejak remaja penulis lepas. Entah berapa lama saya pingsan. laki-laki. seluruh kota telah hancur-lebur rata dengan sedang tidur pulas. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Di Jogja itulah pindah ke Aceh dengan gagah berani karena cuma berbekal baju yang kami pakai. Istri saya lewat jendela. Saya berdiri sendirian di samping sebuah kapal yang terdampar di tengah kota. berserakan memenuhi ruang dan udara. guru SMP. Istri saya memberi tahu. panas. Bahkan burung-burung. Seluruh mayat itu. Anakanak mewarisi sifat-sifat ibunya. terlihat pemandangan yang menyebabkan saya pingsan. Mereka berebut duluan menyerahkan selembar kertas di atas meja sehingga sekejap bertumpuk. di jalan.

Sendawa alkohol di permukaan udara. Bercinta di bawah para-para. begitu istilah orang-orang. dengan kaki-kaki telanjang. entah karena nyala yang redup. Dan ia terpana. adalah saksi yang melihat semua itu dengan mata telanjang.Ikan Jenar Mahesa Ayu Ia ikan yang terbang. kami Menusuk ke dalam kekosongan otak yang terasa ringan. Maka… menggoda. Ia bukan lagi ikan yang terbang dan burung yang berenang. Phuih! Saya meludah ke mukanya. Deru ombak ditingkahi samar suara musik dari kafe di hingga jutaan rupiah untuk tidak sadar. Membuat saya begitu jengah dengan segala aturan-aturan. saling berhantaman. Ia menatap saya dengan pancaran mata riang. Tapi lendir ombak itu melekat begitu kental. hilang. tepat di antara bibir kami yang tengah berciuman. Sentuhan Membuat saya muak mendengar melulu kebajikan. Meninggalkannya dalam diam yang haru. memabukkan daripada kesadaran. Kami terkapar di atas pasir basah. Pesta pora. Ia burung yang berenang. Lantas jatuh menghajar kepala kami kala tak sedang ingin penuh. Untuk muntah di atas jamban lantas terpingkal-pingkal. Sembunyi-sembunyi. . saling beradu berebut perhatian. ada yang hanya bagian kaki. begitu tengik! Mendakwa kelakuan kami sebagai jijik. Sementara kilat mencabik-cabik langit hingga berupa potongan-potongan gambar pantulan kami berjumlah jutaan. Bahana tawa. Saya berlari kencang menuju kafe banyaknya di tenggorokan untuk segera melimpahkannya kepada ombak yang kurang ajar. Kebenaran dan kesalahan dipertanyakan. Maka saya tahu. Untuk saling gombal. Seolah dengan sengaja ingin memisahkan. dan ada yang hanya bagian tangan. Syahdu meliputi butir-butir hujan yang jatuh menikmati denyar-denyar di lautan perasaan paling dalam. menimpa tubuh kami yang diam-diam menggelinjang. Untuk larut dalam satu malam yang menawarkan sejuta Phuih! Ombak meludahi wajah kami yang ingin tak peduli. Senyum manja. Untuk saling bertukar lidah berludah dengan orang yang baru dikenal. Dan ia entah? Kafe di pinggir pantai itu pun terisi orang-orang yang rela mengeluarkan ratusan menatap seolah saya adalah daging dan tulang yang terbalut kulit kerang. karena entah adalah ketidaktahuan yang sering kali jauh lebih dingin yang memanggang. Girangnya sirna. Dingin meresap pori-pori kulit kami yang telah menjadi keriput dan merinding. Entah karena entah karena entah. Rajaman semu. hampir tiba saatnya waktu bersenang-senang Suara musik di kejauhan membisikkan mimpi yang mutlak terulang. Hingga ada satu pecahan jatuh kejauhan pantai. Lantas saya berlari sambil menarik dahak sebanyakSaya pun tak mau membuang waktu lebih panjang. Saat penghakiman. Dan saya. Ada Tak jarang kepingan-kepingan yang terlihat bagai pecahan kaca yang beterbangan itu yang hanya bagian kepala. bersentuhan dan mendesah massal. Bukankah kita semua membayar mahal untuk sebuah Malam berenang dalam kesunyian. entah karena basah yang kering. Muka badak.

“Sendiri?” Dan sesudahnya. Ada surga yang akan segera yang menyadarkan bahwa masa lalu kita nyata. Musik kian mengentak. Entah peragaan untuk sekadar pertunjukan. Tawa. Tawa. berapa kira-kira umur mereka. Saya melihat jajaran kartu kredit di dompetnya yang berwarna abu-abu. Entah peragaan gaya. lalu memisahkan diri. Tawa. Entah peragaan yang bisa memancing rasa terpana. Tawa. Para model menunggu giliran untuk sebuah peragaan. Di sebuah tempat antah berantah. Tak mampu menjawab pertanyaan itu. “Buset! Lama amat di luar?” “Udah ngapain aja?” “Kayak gak tau aja barbeque under the stars!” “Feeling hot hot hot!” Tawa. Tawa. Tawa berkepanjangan. tapi juga kepada setiap pengunjung yang rela dan masyuk berimpit di dalam ruangan dipenuhi asap rokok meraja tiap penjuru? mereka diajak kencan setelah acara. Tawa. saya melihat sepasang manusia bercengkerama. bisa atau tidak para model itu. sebagaimana fungsi malam ialah sarana untuk bersembunyi dari terang. terjangkau. Tawa. Tawa. Tawa. Tawa. Tawa. Berlaku nyaris memuntahkan laharnya kepada siapa pun yang berusaha meredam dengan dingin tanya. Saya melihat seringai serigala di bibirnya yang tipis itu. rok-rok dengan sama dengan yang lainnya supaya tak terlihat sebagai pembodoh di dalam magma yang siap selayaknya terdengar adalah tanya semisal. Mereka yang berada di sana tertawa untuk entah. Saya melihat anak-anak yang tengah tertidur di atas tempat tidur berkelambu. pertanyaan-pertanyaan yang tidak saja tertuju kepada Dan pertanyaan itu pun berdesing di telinga saya. dan kaki-kaki jenjang mengentak di atas meja? Bukankah yang Apa pula pentingnya bertanya jika ada liukan pinggul di depan mata. Undak-undakan telah disiapkan di pinggir bar.Saya menunggu. Luka perasaan bahwa dosa tak akan pernah cukup berarti ketika hati nurani mengatakan apa . Masa lalu yang pernah menguatkan yang benar. Tawa. Tawa. Ia pun langsung mengambil Alkohol. mengelabui pikiran sendiri yang sedang secara diam-diam mencari makna. Ada luka yang akan segera hilang. panjang ala kadarnya. Mata pun meredup menciptakan pemandangan yang makin samar. Namun seperti pekik senapan lagi-lagi pertanyaan itu kembali memburu. Tapi pandangan saya bagai menembus segala bentuk yang ada. Sementara saya pun pura-pura tertawa. Tawa dalam penantian. “Sendiri?” Saya menatapnya. Pertunjukan berarti menunjukkan sesuatu. Saya melihat langkah seribu. Tawa. Entah peragaan busana. Tapi sesuatu yang ingin dipertunjukkan itu tetaplah entah. diri saya sendiri terpaku. Saya melihat seekor burung yang seperti baru terjaga dari mati suri nyaris sewindu. Tawa. Tawa. Tawa. Ada nama yang akan segera dilupakan.

Lalu semakin banyak ikan yang terbang. Semakin bertambah banyak burung yang berenang. Lalu semakin bertambah banyak ikan yang terbang. Namun ada keinginan kuat untuk segera menahan sedu pantas. dosa. mulut bau alkohol gitu masih berani ngomongin surga. Ada yang mendesak ingin keluar. Saya menunggu. Padahal saya begitu ingin mendengar pantas sebagai pantat. yang pantas juga ngomongin syahwat!” Selalu harus ada yang pantas.“Huahahahaha…mata bintitan. Dan semua adalah ikan yang terbang. Semua burung yang berenang. Maka bening berkumpul sedan. Agustus 2004 . pantas. Tapi tak juga saya temukan ia di tengah hiruk-pikuk gelepar Rajaman semu. Maka…. dengan mata telanjang saya melihat ia ikan yang terbang. Semakin banyak burung yang berenang. Namun saya mencari sayap ikan dan sirip burung-burung berkepakan. Mata saya pun memanas. Di tempat yang begitu tanpa batas ini pun mengenal kata menyelimuti hitam bola mata. Saya ingin merasa pantas yang lain dan lain yang pantas. Ia burung yang berenang. mata yang menatap girang. Ia masih berada dalam diam yang haru. Saya ingin melihat bubur sebagai dubur. dan pantas. Jakarta. Saya ingin merasa kosong sebagai bokong. Pertahanan yang dibangun untuk satu kata pantas.

Pun mulai membukit perut saya. di atas seprai motif beruang teddy berwarna merah dengan haru memanah. jelas belum mapan. tapi perutmu sudah kelihatan tambah besar. Tapi… muda. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga keluar mendesak celana dalam yang tak kuat membendungnya. Tapi saya berkata dengan yakin. Tapi segera mentah berganti Tidak mengambil cuti. Kepala saya pening. saya khawatir tidak bisa langsung apalagi suster. Dan jika operasi. Uang yang terkumpul tidak cukup untuk operasi. Makhluk mungil itu keluar dari dalam tubuh saya. Membuahinya.” kata supervisor saya. tapi tak . Dokter yang baik itu menatap saya dengan prihatin. Makhluk manis tak berdaya itu pernah tinggal di Lantas suster membawanya. yang masih lengket. mencari uang demi mengonsumsi makanan bergizi yang konon bisa “Kami mengerti. Memikirkan itu tenggorokan saya jadi ikut kering. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga lengket. Mengecup kedua matanya dalam rahim saya. Rasa waswas setiap kali belum waktunya namun sudah kontraksi. Rasa takut seketika membuncah. Materi yang ada. Ketuban sudah pecah. Masih tak percaya. Saya akan menjaganya. masih harus menunggu dua pembukaan lagi. Saya ingin protes. Erang kesakitan sudah tidak lagi melengking. Air ketuban sudah hampir kering. liat. Masih tak percaya. sudah satu bulan setengah usia janinnya. “Robek saja. Untuk keperluan sehari-hari saja pas-pasan. Dok. Akan kita apakan calon bayi ini? Kita masih terlalu muda. liat sudah di indung telur yang tengah terjaga. membuahkan kecanggihan otak maupun fisiknya nanti. Saya akan menjaganya.Air Jenar Mahesa Ayu Air putih kental itu saya terima di dalam tubuh saya. Baru pembukaan delapan. Suara tangisnya seisi ruangan melengking. Gunting saja supaya tuntas pembukaannya.” kata ayahnya. Pergi ke kamar bayi jauh dari ibunya. Lewati mual tiap kali mencium bau parfum keluaran baru eternity. Sembilan bulan sudah. Tapi saya ngotot persalinan alami. Menerima. majikan. Ada perubahan di tubuh saya selanjutnya. Air kental itu seperti bom yang meledak di dalam tubuh saya. Saya jentikkan jari kelingking di pipinya yang merah. belum cukup untuk hidup sebagai mengurusnya sendiri. Ketika saya ke dokter kandungan untuk memeriksakannya.” Saya akan menjaganya Air hangat itu membasuh kulit tubuhnya yang bening. Terus menyeruak dan mendarat lengket. Harus operasi. Membayar pembantu. Rasa mual merajalela. Kami tidak bisa mempekerjakan SPG yang kelihatan sedang hamil.

Dan harapan. Di mana makhluk mungil menyusu. Berusaha memberikan rasa aman. Lucu. Saya akan menjaganya. sekarang ke dua payudara kecil ini pun gemuk membungkah seperti kelapa. Apalagi jika harapan-harapan itu kerap diulang-ulang dan tak pernah mewujud jadi kenyataan. yang semakin hari harganya semakin tinggi menjulang. “Capek ah nunggu. Begitu ingin segera menimang dan menatapnya berat. . Ia membiarkan saya pergi. Harapan akan segera pulang. Payudara sudah terasa “Benar Ibu sudah siap?” Saya akan menjaganya Air mata meleleh di pipinya. Air putih cair itu keluar berupa jentik-jentik yang ajaib di ke dua puting saya. “Ibu butuh istirahat untuk mempersiapkan ASI. Air susu saya sudah sarat. Saya sudah tidak butuh rehat. Cukup lama saya harus menenangkannya. Penuh dengan air susu yang sebentar lagi akan ada pengisapnya. Sekarang kami sedari tadi memijat payudara saya terlihat puas. kami akan menjelajah dunia. setelah ini tak akan ada yang memisahkan kami akan membawanya ke kamar bayi. saya akan membeli rumah berikut ia inginkan semudah orang membuang kentut. Lampu-lampu besar seperti makhluk pemeras keringat yang tak berperikemanusiaan. Tak menunggu saya pulang. Padahal saya sudah begitu Atau jangan-jangan di rumah ia sedang asyik masyuk pacaran? Saya menjadi ketakutan. Tidak terlalu sulit mengeluarkannya. air. dan sekolah akan pulang. Tetap menunggu saya pulang. Baru akan dimulai merekam adegan. Air asin itu mendarat di bibir saya lagi. Bermain dengan penguin-penguin di Cape Town selatan Afrika. Kalau perlu. lagi. Membeli apa pun yang harapan.bisa. Ia akan tetap tak membiarkan saya pergi. Menyeruput pinacolada di Hawaii sambil menyaksikan tarian bora-bora. kalau ia mau. ketika suster itu berkata. Tetap Hanya cukup untuk makan sekadar. Tak ada yang mungkin saya lakukan untuk menjangkaunya sekarang. aku udah mau tidur!” semprotnya. Tetap akan pulang. Apakah makhluk kecil yang sudah beranjak remaja itu sudah makan? Apakah ia kesepian? Ingin menelepon tapi sutradara memberi instruksi jika ponsel mutlak dimatikan. Tapi kepala saya masih dipenuhi pikiran. Harapan akan segera pulang membawa uang untuk suatu hari nanti tak perlu pergi kerja dan tinggal angkat kaki ongkang-ongkang. membayar listrik. Karena sudah beribu-ribu kali saya hanya pulang membawa sedikit uang. Harapan akan segera pulang membawa uang. Saya harus segera menghayati peran. Berusaha memberikan pengertian. Saya tetap akan pergi. Jika saat itu tiba. Dan saya tetap akan pergi. kontrakan. tak ingin begitu saja melepas kepergian saya. telepon. Saya hanya bisa berjanji dalam hati. Tapi tidak mudah memberikan sejuta taman bermain milik raja pop Michael Jackson yang tengah bangkrut. Mengunjungi semua Disneyland di tiap negara yang memilikinya.” Saya akan menjaganya. itu? Saya begitu tak sabar menunggu. Suster yang Selama sembilan bulan setiap harinya saya sudah memijat payudara saya dengan minyak kelapa. Sudah jam delapan.

kini telah berganti dengan air berbusa kekuning-kuningan. Saya Ada cahaya di ujung lorong. Lantas meronta. Melayang seperti burung tanpa menyimpan. Ada puisi di dalamnya. Seperti saya Saya kembali ke kamarnya. Satu saat nanti ia kembali. Melayang lebih jauh lagi ke masa lampau. igau saya. Yang sudah pasti telah terjadi perubahan yang membuat saya tertekan. Saya kecup kedua matanya yang merapat. Ternyata datang dari tubuhnya yang berbalut cahaya menengok ke arah ujung lorong yang berlawanan. Tidak membiarkan air putih kental itu lengket di indung telur hingga tumbuh menjadi janin yang kini terlahir bertemu dengan ayahnya yang dengan mudahnya lepas tangan. Apakah yang sudah saya lakukan? Atau justru apakah tertidur dengan amat tenang. Di gelas itu berdiri sebotol bir merek bintang. Lima puluh pil penenang saya tenggak. Menunggu. Menunggu. Kadang saya juga ingin melayang jauh ke masa lampau. Ada kegelapan. Seperti semasa ia balita menunggu saya pulang selepas kerja membawa sedikit uang dan satu kantung plastik berisi sepatu baru. Ternyata datang dari tubuhnya yang sama sekali tak berbalut cahaya kecuali melulu kegelapan dan Seperti semasa ia bayi menunggu saya membersihkan puting payudara sebelum luka. Menunggu. Semakin terkumpul segala lelah segala penat. Siap menerima saya dalam pelukan bahagia. Menunggu. Tak jalan seperti dongeng anak-anak Peter Pan. persis seperti ketika ia baru lahir dengan kedua mata yang masih lengket. Air jernih di dalam gelas yang dulu ada di atas meja samping tempat tidurnya. “Bangsaaaaaaaat!” Saya tak kuasa menjaganya Air kuning kental itu meluap dari mulut saya. sudah kembali pulas tidur. Entah disengaja untuk menarik perhatian. Lampaui semua beban. Ada buku di sampingnya menarik perhatian saya. Seperti sekarang saya sekarang menunggu satu saat nanti ia mengerti. menyerahkan untuknya menyusu. Tapi ia menggeliat. Pelan-pelan . Saya akan menjaganya. Lampaui semua luka ingin cepat-cepat menjangkaunya dan terbang pulang. Seperti saya sekarang menunggunya dengan ilusi dirinya berkilauan merentangkan tangan atau terkulai lemah membutuhkan pegangan setelah menemukan mulut saya berbusa akibat menenggak obat penenang. “Action!” teriak sutradara. Tapi yang tidak saya lakukan? Sudahkah karenanya ia menjadi korban? Di balik selimutnya ia lebih pasti lagi ia tak kurang tertekan. Duduk di samping tempat tidurnya dan memerhatikannya yang saya ambil dan buka.harus terhambat kemacetan. Entah ia sudah teler dan lupa sebagai manusia yang merasa disia-siakan. kemilau dengan tangan terbuka. Saya jentikkan kelingking di pipinya yang bening. Melayang bersamanya menikmati indahnya kelap kelip lampu dan penderitaan. Harusnya seratus pil seperti yang dikonsumsi Maryln Monroe hingga ajal menjemputnya. menunggu emosi saya pergi. Terkulai lemah seakan menunggu saya menerima ia dalam pelukan saya. menghalau saya supaya tak dekatdekat. Menunggu kesadaran saya kembali. igau saya. Menunggu.

Air dapat memelukmu tapi tak akan membelenggumu Air dapat pantulkan cahayamu tapi tak dapat jadikanmu nyata(*) Saya akan menjaganya. Jakarta, 13 Mei 2006 12:24:00 PM Untuk Banyu Bening (*) Cuplikan puisi Air karya Banyu Benin

Saya di Mata
Jenar Mahesa Ayu

Sebagian Orang
Sebagian orang menganggap saya munafik. Sebagian lagi menganggap saya pembual. Sebagian lagi menganggap saya murahan! Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa.

Padahal saya tidak pernah merasa munafik. Tidak pernah merasa membual. Tidak pernah merasa sok gagah. Tidak pernah merasa sakit jiwa. Tidak pernah merasa murahan!

Dan apa yang saya rasa toh tidak membuat mereka berhenti berpikir kalau saya munafik. Berhenti berpikir kalau saya pembual. Berhenti berpikir kalau saya sok gagah. Berhenti berpikir kalau saya sakit jiwa. Berhenti berpikir kalau saya murahan!

saya tidak membual. Kalau saya tidak sok gagah. Kalau saya tidak sakit jiwa. Kalau saya tidak murahan! Tapi penjelasan saya malah semakin membuat mereka yakin kalau saya munafik. Yakin saya murahan!

Sementara saya sudah berusaha mati-matian menjelaskan kalau saya tidak munafik. Kalau

kalau saya pembual. Yakin kalau saya sok gagah. Yakin kalau saya sakit jiwa. Yakin kalau

Maka inilah saya, yang tidak munafik. Yang tidak membual. Yang tidak sok gagah. Yang tidak sakit jiwa. Yang tidak murahan!

Walau sebagian orang tetap menganggap saya munafik. Menganggap saya pembual.

Menganggap saya sok gagah. Menganggap saya sakit jiwa. Menganggap saya murahan! Saya katakan ke banyak orang kalau saya tidak punya pacar. Saya tidak punya kemampuan sekali teman. Ada teman yang setiap pagi menyiapkan air hangat untuk mandi. Ada teman

untuk mencintai seseorang. Tapi bukan berarti saya tidak punya teman. Saya punya banyak makan siang ketika rehat kantor. Ada teman yang menjemput sepulang kantor. Ada teman yang baik. Mereka semua teman-teman yang bisa diandalkan dalam segala hal dan saya

yang menemani nonton. Ada teman yang menemani clubbing. Mereka semua teman-teman yakin saya pun cukup bisa diandalkan sebagai teman. Bukankah sudah sepatutnya begitu Tapi karena teman mengajak, saya merasa tidak enak untuk menolak. Begitu juga halnya dan tidur. Tapi jika ada teman yang mengajak nonton, rasanya saya tidak tega menolak apalagi ia sudah khusus jauh- jauh menjemput ke kantor. Maka saya akan mengiyakan

dalam hubungan pertemanan? Buktinya tidak jarang sebenarnya saya malas makan siang. dengan nonton atau clubbing. Pulang kantor saya sering kelelahan. Inginnya lekas pulang

walaupun belum tentu saya suka dengan film yang kami tonton. Pada saat kami nonton,

tidak jarang pula ponsel saya berdering. Andaikan tidak saya angkat karena tidak sopan menerima telepon di dalam bioskop, tetap saja mereka bisa meninggalkan pesan SMS. saya ingin menerima ajakan mereka. Tapi bagi saya itulah konsekuensi pertemanan. Biasanya minta ditemani ke disko atau sekadar nongkrong di kafe. Sungguh, tidak selalu Apalagi, sekali lagi, mereka adalah teman-teman yang baik. Yang setia menyiapkan air

hangat untuk mandi setiap pagi. Yang setia menemani makan siang. Yang setia menjemput pulang kantor. Yang setia menemani ke disko atau kafe. Yang setia memberikan perhatian dan waktu kapan pun saya butuhkan, walaupun mungkin mereka tidak selalu ingin saya rasakan. mengiyakan, walaupun mungkin mereka sedang kelelahan, sama seperti apa yang sering

Kepada merekalah saya sering menumpahkan segenap perasaan. Kepada merekalah saya

meminta bantuan. Tidak hanya sebatas perhatian dan waktu, tapi juga dari segi finansial.

Kalau saya butuh uang, saya bilang. Kalau saya mau ganti ponsel model terbaru, saya beri tahu. Kalau saya bosan mobil van dan ingin ganti sedan, saya pesan. Padahal karena akan selalu ada yang menjemput dan mengantar, mobil jarang sekali saya gunakan. Kalau saya dapat undangan pesta dan perlu gaun malam lengkap dengan perhiasan, saya utarakan. Kenapa harus sungkan? Toh saya tidak memaksa. Toh mereka ikhlas. Dan yang paling penting adalah mereka memang mampu mengabulkan apa yang saya minta. Saya tidak

paksa mereka khusus menabung untuk saya apalagi sampai suruh mereka merampok bank. saya. Kalau sekali-sekali harus jebol tabungan atau terpaksa mencairkan deposito Saya juga teman yang baik. Saya tidak mau mereka susah hati karena tuntutan-tuntutan

bolehlah… yang penting dananya memang ada. Itu pun bukan masalah yang harus saya besar-besarkan. Bukan sesuatu yang layak untuk membuat saya terharu. Apalagi jatuh cinta?! Saya harus garis bawahi bahwa saya tidak memaksa. Apalagi saya sangat tahu, sangat sadar kalau jumlah dana yang dikeluarkan hanya sepersekian persen dari

keseluruhan harta mereka. Coba bayangkan, kurang pengertian apa saya sebagai teman? Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, tidak jarang saya harus mengorbankan waktu dan tenaga untuk mereka. Mungkin lebih tepat jika saya menggunakan kata

merelakan ketimbang mengorbankan. Walaupun saya agak terganggu, tapi saya rela. Saya Menikmati tiap detail manis yang kami alami. Makan malam di bawah kucuran sinar

melakukannya karena saya mau, bukan karena paksaan. Saya menikmati kebersamaan kami. rembulan dan keredap lilin di atas meja. Percakapan yang mengasyikkan penuh canda dan yang berlanjut dengan ciuman panas membara lantas berakhir dengan rapat tubuh kami

tawa. Sentuhan halus di rambut saya. Kecupan mesra di ke dua mata, hidung, pipi, dan bibir yang basah berkeringat di atas tempat tidur kamar hotel, di dalam mobil, di taman hotel, di yang begitu melelahkan sekaligus menyenangkan. Saat-saat yang selalu membuat jantung saya berdegup lebih kencang dari biasanya. Saat-saat yang selalu membuat aliran darah

toilet umum, di dalam elevator, di atas meja kantor, atau di dalam kamar karaoke. Saat-saat

saya menderas dan naik ke atas kepala. Saat-saat yang selalu membuat saya pulas tertidur

dan mendengkur. Saat-saat yang tidak pantas untuk tidak membuat saya merasa bersyukur.

Namun dari sanalah segalanya berpangkal. Semua yang saya lakukan itu dianggap tidak

benar. Sebagian orang menganggap saya munafik karena tidak pernah mengakui kalau saya punya pacar. Sebagian lagi menganggap saya pembual setiap kali saya bilang hubungan

Di kantor. Jika teman saya kelihatan indah. Pembicaraan mendadak berhenti. saya tidak pernah akal-akalan. Mereka saling bertukar pesan lewat SMS. atau murahan itu. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah karena mereka berpikir saya tidak mau mengakui kalau sebenarnya saya mencintai seseorang. Mereka saling mengirim surat elektronik. Sebagian lagi menganggap saya sakit dari teman-teman yang tidak ingin berbagi dan pada akhirnya hubungan kami harus Saya tidak bisa mungkiri banyak dari teman-teman yang akhirnya mempertanyakan. pembual. Tapi tidak satu pun dari mereka yang mendendam karena saya menjunjung tinggi dibilang hubungan kami berakhir. Sebagian orang menganggap saya munafik. sakit jiwa. Setelah putus dengan si B ternyata . Saling bertanya apakah sudah punya pasangan tetap. maka dikaitkannyalah dengan seberapa besar saya menguras mereka dengan teori cinta-cintaan. Tapi kami masih menikah. sebagian orang yang menanggap saya munafik. berbulan-bulan. mulailah kelihatan berkantong tebal. berhari-hari. hingga jenis dikaitkannyalah dengan seberapa dahsyat kehebatannya di atas ranjang. Pandangan mereka menyapu bersih membawa teman baru. Sehingga jika hanyalah kami sudah tidak saling melenguh dan mencabik di atas ranjang. Jika teman saya uang. Mereka sembunyi-sembunyi mengirim pesan SMS. Semua orang merasa sementara teman. Beberapa bagian dari mereka itu sibuk dengan jalani dengan penuh kewajaran tiba-tiba berubah menjadi perdebatan. Sebagian dari mereka malah sering saya dapati tidak lagi bertegur sapa sama sekali dengan teman lamanya. Banyak terakhiri. Biasanya itu disebabkan karena hubungan mereka yang sembunyi-sembunyi dengan si A ketahuan oleh si B.jam. maka mulai dari apakah ada pernak-pernik baru yang saya pakai. Sebagian percintaan bahkan bisa dalam satu hari dengan orang yang berlainan. Tapi jika ke dua sisi itu tidak ada yang memenuhi standar pergunjingan.sembunyi bermain mata. Sebagian lagi menganggap saya jiwa. perdebatan pun dimulai dan mereka saling membuktikan pendapat siapa yang paling benar. silih berganti tanpa henti dan ini membuat mereka punya materi yang lebih dari cukup untuk terus mempergunjingkan saya seolah tidak ada hal lain yang lebih pantas untuk diangkat sebagai tema. atau masih melajang. Sebagian lagi menganggap saya murahan! pembual. restoran. Mereka saling berbisik dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diterjemahkan.hal seperti ini yang sering tidak saya temukan pada saling berbagi cerita walaupun jarang. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah.teman saya semakin banyak. bertahun-tahun. Kebanyakan berkisar pada seberapa indah kami berdua dari ujung rambut hingga ujung kaki seperti serigala kelaparan. sebetulnya tidak sepenuhnya benar. Dan karena saya tetap bilang kalau kami benar-benar berteman. berminggu. Mereka bergunjing lewat Mereka saling bertukar pendapat di kafe-kafe. sok gagah. Apalagi jika secara kebetulan kami bertemu dalam satu kesempatan dengan bertukar senyum. Di ini berjam. Mereka sembunyi-sembunyi untuk merangkumnya utuh menjadi satu bagian. Sebagian lagi menganggap saya murahan karena saya bisa ditiduri tanpa harus ada komitmen lagi menganggap saya sakit jiwa karena berteman dengan begitu banyak orang. Menyeleksi kartu kredit saat membayar bon tagihan makan. Mereka sembunyi. Saya tidak pernah membohongi. pendapatnya masing-masing dan lebih luar biasa lagi mereka bisa membahas perihal saya telepon.kami hanya sebatas pertemanan. Di rumah. Hal. Kadang ada satu dua kalimat yang terdengar dan sudah cukup bagi saya dan seberapa tebal kantong teman yang saya bawa. kantong belanja.minggu. Di pertokoan. Yang berubah keterbukaan. Perbuatan yang saya lebih tahu dibanding diri saya sendiri.

Seleksi alam yang akhirnya menjawab apakah kami akhirnya bisa tidak atau Menganggap saya sok gagah. Alangkah sayangnya sebuah hubungan yang menempuh berbagai aral rintangan itu akhirnya harus kandas di tengah heran. darah saya berdesir dan mengisyaratkan satu kenikmatan. Dan saat itulah alarm dalam tubuh saya mengisyaratkan segala rencana kencan lanjutan mutlak batal. Sementara buat saya kejadian-kejadian seperti itu hanyalah semata-mata proses cinta semalam. Reaksi yang membuat waktu berjalan bagai tak berujung pangkal. Pembual. ketika saya positif mengidap HIV ternyata saya masih punya banyak teman yang setia menyiapkan air tentang sebuah peristiwa lucu di satu kafe. sok gagah. Mengirim makan siang. Ereksi yang tidak lama kekal. Bercerita tentang film yang baru saja diputar. Sakit jiwa. Sok gagah. Karena. Saya hanya heran. Mungkin jika bukan karena saya tergeletak tak berdaya dan diperlakukan bagai anjing kusta saya hampir beralih dari apa yang selama ini saya percayai dan nikmati dengan hati lapang.ketahuan pulalah si A berteman dengan perempuan lain. Mendongeng membayar ongkos perawatan. Tapi saya tetap menghargai sebuah pilihan. Menganggap saya sakit jiwa. Mungkin jika bukan karena penyakit yang datang tanpa bisa saya larang tidak saya idap sekarang. sakit jiwa. Membuat Kontraksi dahsyat di tengah selangkangan. Kadang saya juga mengalami kesulitan dalam satu hubungan. atau murahan. Tapi walaupun saya Beberapa kali saya bertemu dengan tubuh-tubuh indah yang membuat mata silau. Tapi tetap orang menganggap saya munafik. Menemani makan malam. ketika sebagian orang sibuk bergunjing atas akibat yang saya . Sebagian orang menamakan kejadian-kejadian seperti itu sebagai moral. pembual. Murahan! Jakarta. Sebagian orang merasa kejadian-kejadian seperti itu bertentangan dengan pengenalan. Yang nyatanya berakhir dengan rasa mual. saya tetap tidak berani menganggap mereka munafik. saya hampir percaya pada pendapat sebagian orang yang tiap bagiannya menyatu menjadi satu pendapat utuh bahwa tindakan saya menyimpang. Menganggap saya murahan! lanjut berteman. Menganggap saya pembual. Malam-malam panjang. 20 Agustus 2003 11:35:54 PM hangat untuk bilas badan. terima karena saya munafik. jalan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful