Gelap, gelap sekali

Aba Marjani Gelap di luar dan hening di dalam. Dengus napas istriku teratur. Lampu tempel sudah menarik selimut melewati dada. Sesekali suara burung malam terdengar di kejauhan. kumatikan. Hanya dingin malam yang menyeruak dari celah dinding bambu membuat aku Barangkali burung hantu yang mencari mangsa, berpindah-pindah dari satu arah ke arah

lain. Tanah huma di pinggir hutan mungkin mengubah kawasan hunian binatang sekitar.

Aku sulit memejamkan mata karena nyamuk kecil yang sering mendengung dengan bunyi yang nyaring, sesekali nyamuk itu menerkam kuping. Malam semakin larut ketika merasakan ada sesuatu yang mengusik gelapnya malam. Beberapa rumah panggung

terdapat di desa yang baru kami bangun, sekitar setahun yang lalu, tanah garapan baru. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya kira-kira lima puluh meter. Gemerisik sesuatu antara belukar semakin mengganggu ketika terdengar ketukan di rumah tetangga. Derap kaki bersepatu berat semakin jelas terdengar disusul dengan gedoran. Ada teriakan kasar. Aku mengintip dari celah dinding, tetapi tidak ada sesuatu yang tampak. Gelap Ada pukulan yang keras membuat teriakan lenyap. Sunyi malam mendekap.

malam memeluk rahasia malam. Teriakan terdengar ketika langkah kaki itu agak menjauh.

Ia membuka matanya dan menggosok kelopak matanya, lalu menjawab, ”Sayup-sayup. Seolah-olah ada sesuatu yang terjadi.”

Kugoyang-goyang tubuh istriku sambil berbisik, ”Kau dengar suara-suara ribut itu?”

”Apa, ya?” kataku seolah-olah berkata kepada diri sendiri. Beberapa menit kami tenggelam dalam hening. Sepanjang malam kami tidak dapat tidur, tak juga berani berbicara atau menduga-duga apa yang terjadi. Rasanya malam merangkak amat lama. Subuh, ada tangisan dari arah tetangga sebelah. Ketika ayam berkokok, aku memberanikan diri turun tangga rumah, dan bergegas ke rumah sebelah.

Beberapa orang tetangga lain sudah ada di situ. Aku bergabung dengan mereka. ”Ada apa?” kataku. Seorang kepala dusun yang kami angkat sendiri malah balik bertanya, ”Tidakkah Saudara dengar peristiwa tadi dalam?”

”Ya, kudengar langkah kaki, gedoran dan orang berteriak karena dipukul. Aku tidak berani keluar. Sepanjang malam aku dilanda rasa takut,” kataku.

Tarmin, kepala dusun itu, kemudian berkata, ”Suami ibu ini tadi malam diculik orang, juga Turman yang tinggal di ujung dusun.” ”Oleh siapa?” tanyaku. ”Belum tahu.” Tangis ibu Saleh tak henti- henti. Kepala dusun pagi sekali menghubungi ketiga belas keluarga yang tinggal di perhumaan itu. hilang pada malam itu. Saleh dan Turman. Saleh si pendiam namun mudah menolong orang. Turman si pemberani yang mendorong kami memulai menggarap tanah di pinggir hutan itu. Menurut kami, kedua orang itu adalah teladan dalam segala hal. Kami berkumpul di rumahnya. Yang hadir hanya sebelas kepala keluarga. Dua orang yang

Kurang lebih setahun sebelumnya, kami membuka ladang baru, tanah huma. Jauh dari

kampung halaman kami. Jarak kampung halaman kami lebih seratus kilometer, dan untuk sementara kami meninggalkan anak-anak bersama kakek-nenek di tanah leluhur yang sudah sesak penduduk.

Sebagai ladang baru, hasilnya lumayan. Tanah huma membuat tanaman subur, pada panen pertama tentunya. Kami memasuki tahun kedua dalam suasana dusun yang tenang. Rasa persahabatan dan kekeluargaan lebih menonjol daripada sikap bersaing. Kami mengalami

nasib yang sama di tanah leluhur yang semakin sempit karena pertambahan penduduk. Rasa persaudaraan yang tinggi terbentuk karena penderitaan yang sama, dan memiliki harapan yang sama. Mengubah nasib. Walaupun di ladang yang sangat bergantung kepada kemurahan alam, hujan.

Pertemuan hari itu sarat dengan usul cara menjaga keamanan dusun. ”Tapi penculikan ini, melihat dari jejak kaki,” kata Sahir, ”rasanya adalah jejak kaki orang bersenjata api.”

Yang lain-lain terdiam. ”Jangan-jangan ketika kita jaga malam, justru dengan lebih mudah diculik satu demi satu,” katanya melanjutkan.

Seminggu kemudian, dalam kantuk yang penat, menjelang subuh aku tertidur lelap. Baru didobrak dari luar. Dalam sekejap beberapa sosok tubuh merangsek ke dalam membuat jerembab. Beberapa tangan yang kokoh menarik kedua tangan dan kakiku. Aku diseret belakang. Mulutku dibekap dengan sepotong kain. Dalam gigitan malam yang dingin

saja beberapa menit terlelap, aku mendengar pintu digedor dan tiba-tiba menganga karena

istriku tiba- tiba menjerit. Tamparan di mukanya membuatnya terhuyung dan diam dalam

dalam kegelapan malam. Mereka menggelandang tubuhku dan mengikat kedua tanganku ke menyengat, mereka melemparkan tubuhku ke dalam sebuah truk yang menunggu di tepi bersentuhan dengan kakiku.

jalan. Aku merintih kesakitan. Kutahu ada orang lain di dalam truk itu karena kaki mereka

Sebelum kabut meninggalkan malam, truk berhenti di sebuah tempat. Kudengar suara-

suara orang yang berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti. Aku diturunkan dari truk antara mereka yang kukenal.

bersama sembilan orang lainnya yang tampaknya senasib denganku. Tidak seorang pun dari

Kami digiring ke sebuah rumah gedung tua yang tampak kokoh dari luar. Ada penjaga

bersenjata di segala sudut. Di sebuah ruangan satu demi satu kami diempaskan ke lantai. siang seorang berwajah garang duduk di belakang meja reyot, dan kami duduk di kursi rotan di hadapannya. Satu demi satu kami ditanyai: nama, keluarga, alamat, asal-usul, jenis pertanyaan yang aku sendiri tidak mengerti.

Ikatan tangan kami dilepaskan satu demi satu. Nyeri rasa luka di bekas ikatan itu. Menjelang

pekerjaan, sejak kapan masuk organisasi politik, siapa pemimpinnya, dan macam-macam

Sore itu perut diisi dengan beberapa potong ubi rebus. Tengah malam, ketika perut masih keroncongan, namaku dipanggil dari kamar berukuran tiga kali empat meter yang dihuni dua belas orang. Aku berdiri dan menuju ke sebuah ruangan. Dari ruangan lain kudengar ia tuduh aku masuk gerakan tutup mulut (GTM). Ia lalu berdiri di belakangku dan lehermu!”

jeritan orang dipukul. Aku duduk dan tidak dapat menjawab pertanyaan interogator itu. Lalu memegang dagu dan kepalaku, mencoba memutar leherku. ”Jawab! Atau kupatahkan

Aku diam saja. Kemudian ia melepaskan kedua tangannya, tapi menohok punggungku membuat aku jatuh pingsan. Ketika aku tersadar, aku sudah berada di tengah-tengah kawan seselku. Mereka mengoles punggungku dengan minyak kelapa. Aku belum mampu sedikit melegakan rasa sakitku.

memusatkan pikiran untuk mendengar apa yang dikatakan mereka. Jamahan tangan mereka

hampir semua lelaki di dusunku sudah ”diangkat” dan kaum perempuan melarikan diri ke kembali, diganti dengan tahanan baru, sampai pada akhirnya aku sendiri pun dipanggil bersama beberapa orang yang dahulu ditangkap bersamaku. orang tua mereka masing-masing. Beberapa kawan seselku ”pergi” dan tidak pernah

Sebulan kemudian aku mendengar secara sembunyi-sembunyi dari sesama tahanan bahwa

Menurut pengawal yang melemparkan kami ke dalam truk, kami akan dipindahkan ke

tempat yang lebih nyaman, tenteram, pembebasan. Karena ia mengatakannya dengan

senyuman dengan mata mengejek, yakinlah aku bahwa inilah hari akhir dalam kehidupanku. bagai paku tipis yang karatan mungkinkah dibebaskan ke tempat yang nyaman dan Wajah anak- anakku, istriku, melintas silih berganti di benakku. Tubuh-tubuh yang kurus

tenteram? Aku tidak tahu dosa apa yang membuat aku harus mengalami derita seperti ini. keluar dari mulutku. Pernah aku berpapasan dengan seorang interogator yang rasanya

Sampai bulan-bulan terakhir aku hendak di-”bebaskan” tidak ada pengakuan apa pun yang

pernah kukenal dan memalingkan wajah daripadaku ketika sekilas bertatap mata. Diakah orang ingin mencari selamat sendiri.

biang keladi dari derita lelaki dari dusunku? Ah, tidak berani aku berburuk sangka. Semua

Kami semua diturunkan dan berjalan satu demi satu menuju tengah jembatan. Dalam detik yang sama aku mengalir deras disusul gedebuk tubuh yang terempas ke dalam air. Aku berterima kasih kepada Tuhan . sampai giliranku pun tiba. Selang beberapa menit membungkuk dan terjun ke dalam sungai. dalam sunyi air yang mengalir. banyak batunya. lindungilah mereka!” Tendangan di pantatku menyadarkan aku. ”Tuhan. Dalam kepergian malam. Buah yang matang tapi ketika kukunyah. yang dapat kutempuh. Di dalam alun arus. Truk berhenti di mulut Berjam-jam kami yang ada di dalam truk diam dalam bahasa hati kami sendiri. Aku memanjatnya. aku menyaksikan pedang yang berayun semakin melemah. dan mengambil buah yang ranum. Aku berdiri dan melihat pedang yang dientakkan. Di tepi sungai ada pisang yang sedang berbuah. Aku tidak tahu di daerah mana aku berada. kemudian tali dari kaki. Tiba-tiba sekelebat pedang yang terayun suara yang sama bergenta. Gelap dalam sel. Air yang dingin mendengarkan langkah kaki. sampai aku mampu berpijak di dasar sungai dan berjalan sambil merangkak menyusuri menambah perihnya goresan tali. bila monyet pun bisa makan buah pisang monyet. Aku merangkak ke tepi sungai dan mencoba lama semakin hilang.banting tulang memberi makan mereka. Kulepaskan ikatan tangan dengan susah-payah. Bahasa batin Aku berjalan di barisan paling akhir dari lima belas orang. Beberapa menit kemudian aku muncul ke permukaan sementara arus terus membawa aku hanyut.benar menjadi warga kegelapan. Semuanya gelap gulita! dengan kisah gelap. Tidak ada. Berjam-jam aku berjalan dalam keremangan gelap malam. Ikatan tangan yang telah kukendurkan dan ikatan tali di kaki yang merenggang membuat aku menyelam lebih mudah bergerak dalam kedalaman dan arus sungai. aku semakin menepi batu-batu. di sisi jembatan bagian tengah yang rusak penahannya. Bayangan dalam benakku. Karena telah terbiasa di dalam kegelapan malam dan siang. istriku dalam kesetiaannya harus Tiba-tiba hatiku menjerit. Pisang monyet. Gelap dalam pertanyaan yang tak kunjung berjawab. aku dapat sebuah jembatan yang besar dan panjang. Dan cap dalam keluarga. menyaksikan celah antara kegelapan dan remang-remang malam. aku berjalan sejauh-jauh jarak Matahari mulai muncul di celah gunung. Kami benar. Ada lengkingan dan bunyi kepala ya berdebuk ke dalam sungai yang depan disuruh berhenti di pinggir jembatan. Aku menduga. Tidak jauh dari sana ada durian belanda. menyusuri tepi sungai dengan Dengan pakaian yang basah-kuyup dan langkah yang goyah. mereka termasuk turunan yang dianggap kutuk bagi bangsa ini. pastilah manusia pun bisa. Orang yang berada di barisan menebas lehernya. anak-anak akan telantar. merunduk rendah. ”Ayo. Di kejauhan ada deru kendaraan yang semakin keyakinan bahwa lambat atau cepat pasti di sekitar alur sungai ada kampung terpencil. dalam remang gelap. naik! Naik! Naik!” Truk menggelegar memecah kegelapan malam.

Aku bulan di laut. aku tidur dan malam melaut bersama nelayan. Hari-hari pelarianku yang tidak kutahu Sepuluh tahun? Dari beberapa pelabuhan. 21 Agustus 2009 . sekalipun laut tetap bergelora! Laut mengajariku untuk tabah. Rasanya aku berminggu. karena aku bersama bintang di laut dengan pelaut yang tidak peduli pusaran politik. aku tidak bisa berlama-lama dengan mereka. Setelah tubuhku pulih betul aku pamit dan mendaki gunung menuju ke tanah seberang. Malam-malam berbintang. aku menemukan sebuah gubuk. tepatnya sebuah lembah yang landai. aku menghitungnya. Alam keras membuat mereka hidup. Kiriman berikutnya tidak dapat kulakukan karena pada suatu hari aku berpapasan dengan cepat-cepat menghilang. Bandung. atau kalau musim ombak. Dari wajah mereka kulihat rasa terkejut. Mereka mempersilakan aku sarapan pagi dengan pisang rebus. masuk tongkang yang hendak berlayar berbulan- kapan akan berakhir. menyongsong matahari yang terbit. alamat. aku berjalan dan berjalan. iklim politik pun berubah.mereguk air dari pinggir sungai. Setelah kekuatanku pulih. Pergi ke laut. Kata orang tua itu. di seberang ada laut. bahwa bumi ini kaya dengan kemurahan-Nya. Kuketuk pintunya. Tanpa Mereka hanya peduli pusaran arus laut. Dan di sanalah aku merajut nasibku juga. aku Bertahun-tahun aku menjadi kuli pelabuhan atau ikut nelayan pada malam hari. Ada mata air di situ. dan pelarianku. Ia terkejut melihatku. menjual ikan ke seberang. Kukeringkan pakaianku di atas batu dan Di kaki gunung. Setelah berbulan-bulan. Aku pun terkejut melihatnya. yang sudah berumur membuka pintu. dan mengirimkan upah yang kuperoleh. Aku membantunya di ladang karena aku jauh lebih muda dari mereka. Seorang lelaki tua dan ibu memperkenalkan diri dan memberitahukan tentang diriku yang sebenarnya. Siang hari mendapat informasi mengenai alamat mereka.minggu bersama mereka. kukirim upahku. yang tergenang dan bening. menjadi kuli pelabuhan bagi tongkang dan kapal yang merapat malam. seorang bekas interogatorku. Sampai berpuluh tahun kemudian. Sesekali aku mencari tahu keberadaan istriku dari orang yang sebahasa denganku. Kedua orang tua itu mengangguk-angguk mengerti. Akan tetapi. kepada anak-anakku. Aku Kukira gubuk itu milik pemilik ladang di situ.

Betapa bodoh dan tololnya aku. Rasa sesal dan kesal menyeruak dalam dadaku.” kataku sembari menatap ke jalan. “Mau pulang?” laki-laki itu bertanya. Gosong. mungkin juga aku sudah berada di tempat tidur bersama istriku. Kuambil satu. seorang Seorang laki-laki sepantaran aku yang sejak tadi berdiri agak jauh mendekat. “Punya korek?” ia menyergapku sebelum aku sempat menggeser. laki-laki mengambil bungkus rokok milikku dari saku belakang celana. “Dulu. Aku bersiaga. Dalam dingin apa saja bisa terjadi di tempat tidur. mungkin aku sudah duduk sembari ngopi ditemani istriku di sebuah gubuk tempat kami mengontrak selama ini. mungkin aku sudah sampai di rumah. Senja makin lebam. Halilintar bersahut-sahutan tiada henti bagai Pasrah oleh jilatan tempias hujan atau sesekali cipratan air yang dilindas ban-ban mobil. Kilat menjilat sambungmenyambung seperti ingin membakar langit. Terlintas dalam benakku bagaimana jadinya jika aku disambar petir. Ia tak mungkin merampok aku karena tak ada sesuatu pun yang bisa dirampasnya dari aku. Agak mletot karena terduduki. Sesaat kemudian asap rokok kami sudah itu menyodorkan bungkus rokoknya kepadaku. petir seperti ini. Hujan masih saja lebat. Aku bersidakep menahan dingin. Aku berdehem. “Aku salah turun. berikutnya? Kalau tidak melakukan tindakan tolol ini. Kedinginan di halte bus senja itu aku merasa benar-benar kecil. Buru-buru kuucapkan terima kasih seraya berpilin-pilin menjadi satu untuk kemudian hilang menyatu dengan putihnya tempias hujan. “Bekerja di mana?” laki laki itu melanjutkan setelah melepas asap rokoknya untuk kesekian kali. Bukankah aku seharusnya turun di dua halte ingin membelah dunia. Di sebuah kantor. Kurogoh saku celana sebelah kanan untuk mengambil korek api lalu kuberikan kepadanya.Sukro dan Sukra Oleh Adek Alwi Langit kelam dan senja lebam dalam guyuran hujan lebat. . Genangan air mulai meninggi. Masih tersisa dua batang.” aku sengaja berbohong. Khawatir juga kalau-kalau ia ingin mencari kehangatan bersamaku. Kalau tidak. Atau tiba tiba air bah datang dan menghanyutkan tubuhku seperti sepotong kayu. Di dompetku cuma ada tiga lembar uang lima ribuan. Angin berkesiur liar kian kemari. Tubuh terbakar hangus seketika. Setelah menyulut rokoknya. Seharusnya di dua halte berikutnya. Sebatang rokok siap dinyalakan. Tanpa menoleh ke arahku. Angin masih berkesiur. Dalam badai perempuan yang tidak cantik tapi juga tak bisa disebut jelek.

sementara order menurun. menikah dengan seorang juragan beras. Aku terlalu pengecut untuk melakukan perbuatan penuh risiko itu. Aku jadi korban. Sukra tertawa. Bagaimana kalau yang punya rumah terbangun? Lalu . aku bisa bantu. Uang mereka banyak.” Tak kuceritakan pertemuan tak terduga dengan Sukra itu kepada istriku. Kadang-kadang kasihan juga aku melihat wanita ini. “Atau tepatnya mungkin kau bisa membantu aku. Mereka pasti tidak jadi jatuh miskin. Dan hujan tiris. Yang pasti. seorang wanita. Uang mereka pun belum tentu uang halal. Untuk pertama kali aku menoleh ke arah laki-laki itu. “Namaku Sukra. Si bungsu. Tak jelas mengapa ia tertawa. terus terngiang ajakan Sukra. Apa saja.” Setelah itu kami jadi lebih akrab. yang hasil korupsi. Adiknya.” “Sukro. Tak ada gunanya. Malamnya. Perusahaan hampir pailit karena kelebihan karyawan. Aku kaget. bekerja di sebuah perusahaan cukup besar. Baginya yang penting aku menggodaku. hidupnya tak pernah kelihatan susah. Rambut mulai banyak ditumbuhi uban. Di antara empat saudaranya. menikah dengan seorang polisi. Agak kurus. Tubuhnya hampir tak berbeda dengan “Kerja apa?” aku bertanya sembari menggaruk-garuk dahi untuk menyembunyikan perasaan gembiraku. Hidupnya Merampok? Ah. Ketika aku akhirnya melangkah meninggalkan halte bus itu.” ujarnya seraya menyodorkan tangan. Ia memiliki sebuah mobil juga tak kelihatan susah. “Kita merampok orang kaya. meski dingin menyungkup. perempuan. pulang membawa uang. Kerja serabutan. “Kalau mau. Agak gondrong. Sekarang nganggur. Ajakan laki laki itu terus Lagi pula istriku selama ini tak pernah mau tahu apa pekerjaanku. Kita ambil Karena umumnya orang kaya pun perampok. Hidung mancung. ada yang curang dalam berdagang. Banyak sekali. tak mungkin kulakukan pekerjaan itu. macam-macamlah. Ada barang sedikit dari mereka.” Laki laki itu tertawa kecil.” katanya getas. Istriku di sebelahku sudah terlelap. “Nama kita hampir sama ya.” aku. Aneh juga. laki laki. Yang penting bisa makan. “Kenalkan dulu. aku jadi tak bisa tidur.“Tapi aku dipecat.” kata laki-laki itu kemudian. Malah yang paling makmur. hidupnyalah yang paling susah. Entah di bagian mana. Seperti hari ini. Yang penting kau mau bekerja sama. Dalam remang kulihat wajah pasrahnya. Kami ngobrol hingga senja hilang dan sinar merkuri mulai memunculkan siluet. dan dua sepeda motor. Gelisah saja. Laki-laki itu tiba-tiba terbahak. Agak tinggi. Suaranya nyaris tak terdengar karena hujan begitu lebat. “Kita merampok.” aku menyebut namaku. Kakaknya. Meski cuma lima belas ribuan. Mata dan pipi cekung. Tapi itu tidak penting.

ia ikut memesan makanan. Bisa kau carikan? Bayarannya besar.” jawabku sinis. kalau kau mau. Bukan merampok. Sebentar-sebentar aku juga minta istirahat. Sukra!” aku membentak. Sukra muncul lagi di hari ketiga ketika aku makan siang di sebuah warung Tegal. “Jadi pengedar. Ada Selamanya miskin. Lalu aku terluka. Semilir angin membelai dan menyejukkanku. Kra. Lalu . “Untuk apa kau bekerja keras kalau sebenarnya ada pekerjaan lain yang jauh asap rokoknya. Tanpa basa-basi kepadaku.” “Jadi apa?” “Aku punya tamu.” kata Sukra. Sudir. Aku diam saja. “Kalau kau mau. langsung duduk di sebelahku. sampai jengkel karena setiap kali mengangkat pipa yang akan ditancapkan ke Kubilang badanku kurang enak. Sukro. teman sekerjaku.terjadi perkelahian. aku ada pekerjaan untukmu. sabu-sabu. Upahmu seratus ribu untuk setiap satu disebutnya nama sebuah hotel tempat di mana aku bisa menemuinya.” Sukra membanting rokoknya. perut bumi kulakukan dengan setengah tenaga. Hari itu.” “Kesempatan merusak orang lain? Merusak bangsa sendiri?” “Sudahlah kalau kau memang tak tertarik. Lima turis Jepang.” kata Sukra sembari mengepulkan “Merampok itu bukan pekerjaan ringan. orang lain yang mengambil alih. tugasku memasang pompa air. Kalau tidak. Itu kalau kau mau. Sukra mengakak. Esoknya aku bekerja tanpa gairah. Bukan jadi pengedar. atau apa saja yang dibutuhkan konsumen. misalnya. Sama saja. Kau bisa cari di banyak tempat di Jakarta ini. perempuan. aku bisa memberimu pekerjaan lainnya. Sukra mengakak lagi. Apa salahnya justru kita yang mengambil kesempatan itu. Atau bagaimana kalau aku tertangkap warga? Bisa babak belur. jadi pengedar enggak mau. Bisa juga dibakar massa. “Diajak merampok enggak mau. Jadi maumu apa?” Sukra berkata kepadaku. ganja. “Kalau bukan kita yang melakukannya. Kro. lebih ringan dengan penghasilan yang jauh lebih besar. Ini tanpa risiko.” Sukra meneruskan kalimatnya. “Kalau kau takut merampok. Mereka mau ke Bali besok sore. Lalu beranjak pergi dengan membawa derai tawanya. Ada ekstasi.” banyak pilihan pekerjaan. Sukra tiba-tiba muncul lagi ketika aku sedang duduk berteduh dengan seplastik air dingin di tanganku.” “Pekerjaan itu cuma merusak bangsa sendiri. Aku diam saja. selamanya hidupmu susah. nanti malam. Agak berbisik. Ia “Oya. Mereka butuh teman wanita.

setiap pekan kau bisa membawa pulang lebih Buru-buru kutinggalkan Sukra di warung Tegal itu. Kurasa pekerjaan ini cocok untukmu. kau tak perlu bekerja setiap hari atau setiap malam. Dan mereka pun mungkin pas-pasan. Sukra tertawa kecil. Mendengar celoteh Sukra. Hanya cukup untuk makan. Siapa tahu kau tertarik. Tak begitu berat. aku lupa. mungkin kau benar. Untuk hasil yang pasti tak sepadan. Tapi sebaiknya kau dengarkan dulu. warung Tegal tempat kami barusan makan. kau juga berotot. memepet Sukra. Terpaksa aku menggeser sedikit. Tapi. meraih tanganku. “Tenang dulu. Kini entah apa lagi yang akan ia tembakkan dan cekokkan kepadaku di warung Tegal yang kecil dan pengap itu. “Aku punya tawaran pekerjaan lain yang sangat menyenangkan.“Itu pekerjaan haram. “Wajahmu cukup ganteng. “Maaf. Aku sebenarnya ingin buru-buru berpisah lebih baik. Lagi pula. Jadi pengedar. Jadi. Jadi makelar wanita.” Selepas makan. cobalah berpikir sedikit lebih rasional. “Haram? Ya.” kataku singkat membuat Sukra tertawa. seorang perempuan setengah baya duduk di sebelah kiriku. Apalagi kalau pekerjaanmu bagus. Sukro. Setiap pekan aku pasti punya tamu orang asing. Sebelum sempat kunyalakan. Aku cuma terdiam. “Sudah kubilang setelah dipecat dari sebuah perusahaan. Apalagi kalau sedikit kau rawat. Setiap hari kau bekerja keras. Kau hanya bekerja bila tenagamu benar-benar . dalam banyak dibandingkan apa yang sudah kau peroleh selama ini. Tapi ia bilang masih ada satu peluang bagiku untuk mengubah hidupku menjadi pun tak apa. Sebagai pekerja kasar.” sahutku ogah ogahan. Aku mengambil sebatang rokok. Tak enak juga mengepulkan asap rokok di tempat kecil itu dan di sana ada “Sudah lama kau bekerja seperti sekarang?” Sukra memulai lagi percakapan. Secara fisik kau juga mungkin akan mendapatkan kenikmatan selain juga menerima bayaran yang sangat sepadan. “Kau tolak Di bawah pohon mahoni yang daunnya meneduhkan dan menyejukkan itu kami kemudian duduk berdua di dua buah batu besar.” Sukra memulai serangannya. Berhadap-hadapan. Ia baru akan membiarkan aku pergi setelah mendengar tawarannya. Dan muda. Tentang hidup enak dengan jalan pintas. tempat di mana aku bisa menjejalkan makanan ke perutku sampai kenyang hanya dengan uang lima ribuan. kalau kau ambil pekerjaan yang kutawarkan ini. Merampok. Kro! Mau ke mana kau? Baiklah Tentang apa saja. Ia mengakak seperti biasanya seraya kalau kau tak mau menerima tawaranku. Sukra membawaku ke sebuah tempat di bawah pohon mahoni di seberang darinya.” katanya meyakinkanku.” Dengan perasaan agak jengkel aku terpaksa duduk lagi. jadi kunyalakan. Nah. Itu beberapa jam saja kau sudah bisa mengantongi uang lima ratus ribu. Rokok tak seorang perempuan.” membutuhkan wanita-wanita penghibur. Tapi setidaknya kita bisa ngobrol-ngobrol. Menahanku dengan paksa.

Tergantung kebutuhannya. Sekarang aku mau berbagi denganmu.” Aku masih saja bungkam. Yang pertama seorang wanita setengah baya. Tidak tergantung pada Kesepian. Aku mau menolongmu. Cantik.” aku berkata ketus.” berkata begitu. “Sukro!” Sukra berteriak. Boleh juga kedua-duanya sekaligus kalau kau mau dan mampu. “Kau tahu pekerjaan apa yang aku maksud?” Sukra seperti memaksa aku bicara setelah terus-menerus diam mendengarkan. Perigi. Usianya mungkin dua atau tiga tahun lebih tua darimu. Gajimu pun jadi dua kali lipat?? saja yang melakoninya?” “Kedua-duanya pekerjaan haram. Itu “Aku tidak tertarik. Aku terbangun. Aku malaikat penolongmu. Kau bisa bekerja untuknya. Sebelum atau sesudah menunaikan tugasmu. kau juga bisa bekerja untuknya.” pernah kutawarkan kepadamu itu sudah kulakoni. Kuteguk air putih untuk menenangkan diri.dibutuhkan. Ia tak suka wanita. Kaya. bisa juga dia mengajakmu ke luar negeri. Lalu kulihat diriku pada cermin di kamarku. kau bisa tetap berkumpul bersama istrimu. Nah. Janda. Sukra tertawa. Kunyalakan lampu kamar. engah. “yang kedua adalah seorang pria. Sukro. “Tunggu!” “Tidak! Tidak! Tidak! Kau setan! Bukan malaikat!” aku berteriak. Mas?” istriku mengguncang-guncang tubuhku. sekali. Sukra melanjutkan. Tidak setiap hari juga. atau yang pria saja. Semua pekerjaan yang saja. Dan lari. “Aku punya dua klien. Desember 2006 “Ada apa. Tapi gajimu tetap tiap bulan. Kau bahkan tetap menerima gaji andai klienku ini ke luar negeri dan kau tak bekerja dalam sebulan. Dan. Tanah Kusir.” Sebelum aku berkata-kata. aku buru-buru meninggalkan Sukra. Mungkin juga seminggu seberapa banyak kau bekerja. Aku menggeleng. Ia menyukai sesama jenis. kau bisa ambil klienku yang wanita saja. Tetap belum dapat kutebak ke mana arah bicaranya. Tanpa menoleh. Atau. Di cermin itu kulihat wajah Sukro. Ia masih membujang. Sampai terengah engah. Mungkin dua kali seminggu. Masih terengah- . “Mengapa bukan kau “Kro.

Sungguh. suaminya yang minggat. kakinya jenjang. Dia lahir saat hujan turun begitu lebat jam sembilan pagi. ibunya gila karena guna-guna istri muda simpanan dengan gaun yang mengundang. juga angin yang pucat kelabu. masa lalunya yang penuh kesedihan.” Ia sebenarnya tak terlalu suka bicara. Bilur jejak luka di tubuhnya. berdiri menunggu seseorang datang. Baiklah. dan Mawar. olehku yang buta. Tapi ia hanya tertawa. Kadang tampak ganjil . ia memilih menyendiri. ia selalu muncul kau menyebutnya pelacur. dua anaknya yang sakit-sakitan di rumah ”Kenapa mesti takut? Berkali-kali aku kena garuk. Itulah sebabnya disembunyikannya. Namanya Sebulan setelah melahirkannya. untuk kesekian kali. Tapi kalian mengatakan aku dusta. Aku bisa melihat semua yang hendak petak kontrakannya di pinggiran kota sana. Aku melihat garis pedih dan hitam. daun-daunnya yang kemerahan. 28 tahun lebih enam hari. Kuceritakan penglihatanku. Juga hari paling nestapa dalam hidupnya yang bakal tiba. Seperti malam-malam sebelumnya. aku langsung tahu. karena aku buta. suaminya. Aku bisa melihat segala yang tidak mampu kau pandang dengan sepasang matamu. Aku tahu bagaimana caranya mengatasi. Ia seperti dikutuk kecantikannya. bayangbayang yang putih dan memanjang. Sementara para pelacur lain berkeliaran sambil cekikikan genit setiap ada laki-laki muncul. Aku bisa melihat pepohonan yang ungu. betapa aku bisa melihat langit yang hijau lembut dan halus seperti permukaan agar-agar. Aku melihatnya di pinggir jalan itu. butiran hujan yang bening keemasan hingga segalanya jadi tampak megah bekilauan setiap kali ia ditumpahkan. Namun berapa kali mesti kukatakan pada kalian.” katanya. Aku bahkan bisa menyentuhnya dengan ujung-ujung jemariku. kuceritakan pada kalian apa yang kusaksikan.Mawar di Tiang Gantungan Oleh: Agus Noer Kuceritakan apa yang kulihat. gugusan awan merah muda. seperti menyentuh kelembutan sutra yang berkibaran. ”Aku cuman perlu memberi sedikit kesenangan pada para petugas itu. Saat pertama kali melihatnya. Bisa kulihat hamparan rumput yang biru bagai beludru. Aku memang tak punya mata. tak ada yang tak terlihat aku menyukainya sejak pertama. dua tahi lalat kecil di punggungnya.

buat apa aku punya mata. dan karenanya bisa menghasilkan banyak uang setiap mengemis. kau akan melihat banyak rahasia. Seorang anak kedua kakinya menampung para pengemis. Jileng. dan berkata. ”Baiklah. Aku senang sekali ketika sepasang sepasang mata yang indah. ia seperti menemukan barang berleleran. Siapa yang tahan memandang wajah dengan sepasang liang hitam menganga? Sengaja kubuka kelopak mataku. Pernah ia cerita tentang pelacur tua yang matanya menjadi buta karena rajasinga. Kemudian ditiupkan ruhku pada rahim perempuan yang akan menjadi ibuku. Anak ini akan membuat orang tak sungkan-sungkan melemparkan receh mereka. kemudian menjualku pada seseorang yang langka paling berharga.” ”Kalau begitu. Ada yang bongkok. orang-orang lebih suka cepat-cepat memberi uang recehan mereka dan bergegas pergi ketimbang berlamalama bersitatap denganku. Kemudian ditunjukkan padaku menderita karenanya. mereka bergantian membisikkan nasib yang akan kujalani. Bahkan seorang bocah yang tampak manis sengaja diiris telinganya dan dibiarkan jadi borok agar terlihat menyedihkan.” Lalu aku pun bercerita padanya. ”Aku tak buta. Melihatku yang tak punya mata. Tapi itu membuatku jadi bisa sering mengajaknya bercakap. Digerogoti kusta.” ”Bila kau tak punya mata. Aku bahkan tak pernah tahu namanya. dan tak pernah mau menatapku. ketika aku lahir dan menatap dunia. diberinya aku degup jantung. Ia membuangku.juga melihat sosoknya di jalanan merah remang ini.” dan kaki pada tubuhku. Aku memang memilih tak punya mata. Ia begitu membenciku. Tentu. ”Anak ini akan membuat ibu siapa pun yang menatapnya. Ada yang gagu. dan ia bergidik ngeri. ”Dan kamu. Seorang pemulung menemukanku di tempat pembuangan sampah. perempuan itu langsung meraung ketika tahu anaknya tak punya mata. ”Mata ini akan membuatmu jelita. Perot. bila aku bisa melihat tanpanya?” Lalu mereka menyimpan sepasang mata itu. kau bisa menduga. kamu bisa kembali mengambilnya. Ketika sepasang malaikat membawa ruhku turun dari langit. Seperti tanah liat yang mulai terbentuk. ”Biarlah aku tak punya mata saja. Seorang anak tampak begitu idiot dengan air liur kental bacin yang terus tinggal banyak anak-anak yang bagai barang rongsokan. kami akan menaruh matamu ini di surga. disematkannya tangan malaikat itu mulai memberiku telinga mulut dan hidung. Aku tahu. Kelak.” Di rumah itu pengkor.” Tentu. Tapi kau akan Lalu kukatakan pada malaikat itu. aku menjadi yang paling menyedihkan di antara mereka. . kenapa buta?” Ia sayu menatapku.

Aku bisa melihat maneken-maneken yang berkedip. ”Bukannya aku tak percaya. Hujan yang biru pekat membuat jalanan menggigil. Ia bisa kehilangan pelanggan. Aku bisa melihat seekor kelabang mendekam di balik batu itu. aku bisa menyentuhnya dengan tanganku. tapi tak percaya. Aku tahu menyeringai tertawa.” Aku bisa memahami perasaannya. cahaya seperti lumer di sela jariku. kau pun takut menatapku. menggeliat bosan yang menunggu pelanggan dan sentuhan…” Dia tertawa.”Lihat. Mungkin saat itu aku berteriak. Ia pun hendak lari. dan angin yang buruk seperti kaleng rombeng yang bergerompyangan trotoar. Kau mendengar suara. tetapi tetap bersikeras tak mempercayainya. kemudian yang lembek. Itulah sebabnya mereka menjadi lebih mereka barusan menenggak berbotol-botol arak sebelum sampai ke sini. Mereka seperti pelacur-pelacur kesepian Sejak itu aku sering menemaninya. Lepas 3 dini hari. aku bisa melihatnya mengembang dan mengerut seperti gumpalan kabut. yang kusaksikan membuatnya terpesona. aku bisa melihatnya. Semuanya berlangsung begitu cepat. Ia berteduh di kardus memandangi bayangan takdir paling getir. Pandanglah ujung gang yang kelabu itu. Seorang memukulku yang mencoba menolong Mawar. Ia terus tertawa. Aku bisa melihat suara kucing yang mengeong di atap rumah ujung jalan itu. terkurung etalase toko-toko sepanjang jalan ini. Aku bisa melihat lelehan sisa arak di mulut petugas-petugas itu. betapa setiap suara punya warna yang berbedabeda. Aku bahkan nyaris dicekiknya. Tetapi para petugas sudah menabrak-nabrak dinding. Mobil patroli yang mendadak muncul membuat semuanya kocar-kacir. Aku melihat aroma pekat kecoklatan napas mereka ketika memadamkan sepi dan membangkitkan birahi. ”Lihatlah. Mungkin tidak. Dunia memang tak menuduhku berdusta. kalau kau tak punya mata?” ”Aku melihat dengan mata yang tak kau punyai. Seorang pelacur cantik duduk bersama perempuan tua buta. tapi petugas yang lain segera berteriak. Arak yang mengepungnya. Ia suka setiap aku menceritakan yang kulihat. kukira memang bukan pemandangan yang menyenangkan. ”Biarkan! Dia cuma perempuan buta itu!” . Aku bisa melihat kota ini seperti bola bekel raksasa Aku bisa melihat menara jam di tengah kota bergumam muram tengah malam. Lalu kukatakan apa yang bakal menimpanya.” katanya. Sebagian pelacur telah pergi. Ia Aku ingat betul malam itu ia terlihat lebih sedih dan gelisah. ketika beringas dari biasanya. Caramu bercerita membuatku tak tertalu kesepian. Di pojokan toko. rambutnya basah tertempias hujan. Kutegaskan padanya. Barangkali ia pun merasakan firasat itu.” Ia kembali tertawa. Tapi dengan apa kau melihat. Aku tahu ia mulai nyaman di dekatku. aku rebahan di tumpukan kulihat beberapa pelacur bergegas menyingkir. Aku seperti mendengar lecut petir. ”Kau menyenangkan. bahkan aku bisa melihat tawamu yang ungu kebiru-biruan memuai di udara. meliuk merunduk.

seakan ingin saat itu hari Natal. Bahkan petugas bisa mengembangkan bukti. Di pangkalan ojek. mulutnya. Tapi kalian tak ingin terus meneruh disesah kengerian karena malam itu aku pun menyaksikan langit kota yang dipenuhi nyanyian doa kalian. Ia pembunuh yang telah memotongmenyeretnya ke tiang gantungan. Pelacur dan pembunuh. Sebagian kalian tertunduk. Mereka selama ini kalian sahkan. kuceritakan apa yang telah kusaksikan. Di kantor. Pelacur-pelacur mesti disingkirkan. karena begitulah menurut undang-undang yang baru dicambuk dan dirajam. Aku bisa melihat semuanya dengan jelas. Siapa yang membawanya? Baiklah. Rupanya ia mabok berat. Begitu nyata dalam penglihatanku. Di tasnya ada beberapa butir pil dan pisau lipat—yang tengah patroli seperti biasa. tapi kalian tak pernah percaya pada saksi mata yang buta. bibirnya bengkak kena pukul. Peristiwa pemerkosaan itu mereka tutup-tutupi dengan pembunuhan itu. Di ruang tunggu rumah sakit. Karena bagaimanapun seluruh kota. Ia hantam kepala seorang pemerkosanya dengan lonjoran besi yang berhasil terkapar… binatang terluka. Membawanya pergi kemudian menyekapnya di gudang.Dan inilah yang kusaksikan malam itu: Mereka menyeret Mawar yang terus meronta. Kuceritakan apa yang kusaksikan. Mayat itu lenyap dari tiang gantungan! Di pasar. Setelah mayat itu digantung. burung gagak merah berkaokan. bercampur erang yang terdengar bagai muncul dari panjang. Sunyi yang paling hitam membenamkan penglihatanku yang penuh kepedihan. Kalian mesti ke gereja. melenyapkan maksiat dari kota. Orang-orang ramai membicarakan. Dan selanjutnya seorang pelanggan yang tak membayarnya. Maka menghapus bayangan buruk. Di kasuk-kusuk. Wajah Mawar pucat. Padahal bukan aku yang dusta. Dihunjamkannya berkali-kali besi itu ke tubuh yang seekor cicak kaget menyelusup ke celah dinding. motong delapan korbannya. Hujan rinai . Itu alasan yang cukup untuk kalian tahu sebagaimana diberitakan koran-koran: dikatakan Mawar baru saja membunuh mengamuk. Segala yang cabul mesti dimusnahkah. Kalian kebingungan ketika anak-anak kalian bertanya. tapi mereka. Kusaksikan senja yang tubuh itu terayun di tiang gantungan. Mereka bilang mereka sengaja ditaruh petugas untuk menjebaknya. Di warung dan kafe. Kalian seketika merasa nyaman karena pembunuh misterius itu telah tertangkap. dan angin yang muram berkesiur pelan membuat Keesokan harinya kalian gempar. kemudian bergiliran memperkosanya. Ia mengamuk dengan buas. Mawar mereka bawa dan nasihati baik-baik ketika mendadak ia ternyata dialah psikopat yang selama ini mereka cari. Memelorotkan pakaiannya dengan paksa. Isak tangis muram menyelubungi gudang itu. Lalu kusaksikan Mawar mendadak bangkit menyerang sambil menjerit diraihnya. Ada bercak darah di pisau itu. Melemparkannya ke mobil patroli. ketika Mawar menjerit. Sampai malam. kemudian digantung sebagai tontonan. Dan kalian makin merasa tenang karena kalian memang ingin membuatmu jengah karena takut dengannya suami-suami dan anak laki-laki kalian berzina. Maka kalian pun hanya diam ketika Mawar diarak ke alun-alun kota. Sampai sekarang pun kalian masih terus tidaklah mungkin mayat itu lenyap begitu saja. Mereka menyumpal Begitulah kejadiannya. kalian pun bubar. memar. Ada yang lebih kudus untuk dirayakan.

Aku begitu terkesima menyaksikannya. memandangi tubuh Mawar yang sisa gema lonceng bagai melekat di udara yang makin menggigilkanku dalam kesedihan. Ia berjalan mendekati tiang gantungan. meski sesekali Kudengar ia berseru. Kulihat tangan dan kakinya berdarah. Saat itu aku melihat ribuan mawar mengapung di udara menyerbakkan harum yang megah. ketika di gereja kalian memadahkan kidung agung Natal penuh sukacita. Kuceritakan ini pada kalian. dan mencium lembut kaki mayat yang tergantung itu. anggur lembut yang seketika bisa menghapus dahaga. malam mengelabu. 2008 . Ia tiba-tiba melihat seseorang muncul dari ketiadaan. Kurasakan debu-debu beterbangan diembus menyayatkan keperihan bersama debu dan dingin yang mulai membaluri kota sementara angin yang makin jekut ketika kesepian makin membentangkan kelengangan yang turun. seperti ada cahaya mengitari kepalanya. Rambutnya ikal dan panjang. Aku sendirian di alun-alun itu. tapi kalian menuduhku pendusta. keemasan yang cemerlang. seperti seseorang yang berjalan melintasi permukaan air.tergantung dalam bayangan cahaya murung. kemudian menurunkannya. Langit seakan tiba-tiba benderang penuh cahaya masih menyanyikan doa-doa dan pujian di gereja ketika laki-laki itu membawanya pergi. Senyumnya seperti berjalan anggun. Matanya seperti bintang bening. Kulihat ia bersimpuh di bawah tiang gantungan. aku Kalian pasti akan langsung tahu siapa dia begitu melihat wajahnya yang bersih dan indah. Kudengar kalian Seperti pengantin membopong mempelainya. tampak limbung karena menahan luka di lambungnya. Saat itulah. seperti memanggil nama pelacur itu. Yogyakarta.

Setiap minggu. Untung dinding rumahnya dari anyaman bambu sehingga cukup lentur. sayup terdengar orang-orang sibuk menolong saya. dan bercocok tanam.Bengawan Solo Oleh : Danarto Badan saya masih meriang ketika polisi itu datang. Saya yang boleh dikata tak pernah berkelahi begitu saja terkapar. membaca. Pak Darkin memergoki Nining ada di antara anak-anak itu dan mencengkeram tangannya dan menggelandangnya. piring. Pada suatu malam. Nining. dan sedih. Ibunya. karena peristiwa itu. Saya ditemani kompor minyak tanah. karena berbagai alasan. Semalam. beberapa guru dan mahasiswa datang secara sukarela mengajar anak-anak itu ditulisnya sendiri. sering tubuhnya dilempar sampai membentur dinding. saya tak punya kebisaan apa-apa untuk mengajar anak-anak menulis. ember. Rupanya ada yang lapor polisi tentang perkelahian itu. kami. pengemis. aman dan nyaman. rame- gelandangan. Serta-merta saya menubruk tubuh Pak Darkin dan kami bergumul. juga memasak. esai. dan tidur. Di dalam gerombolan kami itulah. meski hanya sebagai ayah tirinya. dan di atas dipan dengan tikar plastik itulah saya bisa beristirahat dengan nyenyak. saya berkelahi melawan Pak sadarkan diri. Ada yang mau memanggil dokter. Kami menyambutnya dengan sukacita. pemulung. pengamen. Saya sebagai tukang sapu bagian kebersihan pasar merasa dituakan Sebagai tukang sapu pasar. Malam itu. tidak penting untuk dipersoalkan. Nining merasa Di sepetak ruang yang merebut ruang milik pasar itulah. juga cerpen. anak baik-baik yang tidak betah di rumah lalu mengatur mereka dengan marah-marah. penghuni Rumah Kita jadi rame sekali. lelah. Tapi. gadis kecil hitam manis tujuh tahun. menyanyi. Akhirnya Rumah Kita resmi menjadi tempat mangkal anak-anak Kemudian satu-dua anak datang dan pergi. Anak-anak mengangkat tubuh saya ke atas dipan. Sehari-harinya saya berserakan di mana-mana. panci. anak-anak diminta membaca puisi karangannya sendiri. sejak tahun 1997. dengan tersengal-sengal Nining menghambur ke perkumpulan Rumah Kita untuk bersembunyi. Untung. penghuni Rumah Kita dengan para pedagang di Pasar Kliwon. tindih-menindih. telah kehilangan Nining yang digelandang Pak Darkin secara paksa kembali ke rumahnya. Polisi itu kembali ke pos ketika saya katakan bahwa kejadian semalam perkelahian biasa. Ketika anak-anak dibawa ke kebun untuk belajar bercocok taman itulah. Ada yang sibuk Darkin memperebutkan Nining dan saya kena swing kepalan kirinya. Sayup- . Ada yang memijit. Nining sering ditempeleng ketika marah Pak Darkin kumat. yang selalu membela putri kandungnya itu. gelas. mereka belajar apa saja. saya hidup. apa pun yang terjadi. pura-pura berbenah dengan perabotan dari potongan-potongan sisa-sisa kayu yang sendok garpu. teko. memang milik Pak Darkin. dan menyanyikan lagu yang itu. rame makan. Saya terjerembab tak mencarikan minuman panas.

dan peralatan mandi. kopi. gula. Saya bangun tersentak tak bisa bernapas karena dicekik Pak Darkin yang bisa mulus menyelinap ke gerombolan kami. Pedagang beras menyumbang beras. Nining tidak bersama kami. ”Kamu sembunyikan Nining di mana!” Saya tak bisa menjawab. Ia meradang. Tapi. Aduh. Sesampai di jalan raya. saya bisa membantu mencarinya. Pak . meriahnya.” ”Sontoloyo!” Saya terbatuk-batuk. Orang-orang itu menaruhkan begitu saja karung-karung itu tanpa ada sepatah pun kata pengantar. Setiap habis gajian. Hari itu kami anak pengamen memeriahkan pesta hari itu dengan mementil gitar dan menyanyi. Ternyata tidak hanya beras. bahkan digayuti utang di sejumlah warung.” ”Bohong!” ”Kalau memang Nining hilang. Sekitar 15 anak setiap hari paling tidak makan dua kali. Saya heran. tiba-tiba datang beberapa orang memanggul beberapa karung beras yang diperuntukkan Rumah Kita. Pedagang tak pernah kehabisan. Saya tidak tahu dari mana semua sumbangan itu. Rupanya saya dibawa ke terbangun. tak seorang pun anak yang Darkin duduk di samping sambil terus nyerocos yang tak jelas. Pedagang ikan menyumbang ikan.” jawab saya. ”Mau kamu saya bikin modar!” ”Sungguh mati saya tak tahu di mana Nining. masak rame-rame dengan mengundang siapa saja yang mau makan bersama kami. Pagi harinya semua sumbangan itu dibagi rata untuk anak-anak. Bumbu-bumbu dapur rasanya Di malam yang sunyi ketika anak-anak sudah tidur. yang sangat membantu adalah sumbangan para pedagang pasar. Aduh. tak ada sisa sama sekali. beberapa ekor daging ayam segar. Satu saat kami harus merebutnya kembali atau Malam yang tenteram tidak selamanya dapat dipertahankan. Anak- sisihkan sarung dan kaus oblong untuknya.Gaji saya yang tak seberapa harus cukup cekatan dalam berkelit menghidupi anak-anak itu. kaus oblong. bahagianya. Tapi. ”Saya tidak tahu. Anak-anak bertanya dari siapa semua sedekah itu. Sayang sekali. kami kami akan bersedih sepanjang masa. Bernapas saja sangat sulit. teh. juga minyak goreng beberapa botol. Saya diseretnya keluar. Pak Darkin paham lalu mengendorkan cekikannya. Syukurlah ada anak yang bisa menyumbang dari pendapatannya mengamen atau memulung. Saya sempat kebagian sarung dan kaus oblong. Saya digelandang terus. sayur menyumbang sayur. Tak ketinggalan banyak sekali kain sarung. telor beberapa kilo. saya dinaikkan ke becak.

kalian akan menangis terus- Sepanjang hayat Kiai Kintir mengasingkan diri. Itulah jalan spiritualnya. bahwa seandainya kalian tahu apa yang terjadi di dunia ini. ”Saya Nining. Saya sendiri pernah melihat beliau mencomot uang dari udara dan diberikannya kepada saya. Tiba-tiba: ”Pak Totok. tidak menerima santri. semakin bertambah banyak orang-orang yang meledeknya dengan pamrih Kiai itu Bahkan yang melecehkannya dikiriminya segepok uang yang dicomotnya dari udara.” ”Wah. gawat!” Maka kami berdua bergegas ke Jurug tempat Kiai Kintir biasa memulai kegiatannya menghanyutkan tubuhnya. membanting dan membalut dengan kain kafan. Cerita lainnya adalah. Kiai Kintir alias Kiai Hanyut adalah kiai—tak seorang pun tahu nama aslinya—yang punya kebiasaan menghanyutkan tubuhnya di Bengawan Solo. membujur kaku bagai jenazah. itu pertanda di Solo akan terjadi sesuatu. Beliau pernah menyitir sabda Kanjeng Rasul Muhammad SAW menerus sepanjang hidup kalian. Beliau tidak peduli atas cemoohan itu karena hidup beliau sehari-harinya sangat serius. yang muncul hanya gelap gulita. Jika beliau mulai menghanyutkan diri di Bengawan Solo. tidak mau diwawancara. Sejumlah warga Solo ada yang mengolok-oloknya sebagai Kiai Kenthir alias Kiai Sinting. tidak mau diundang makan.sebuah pekuburan yang gelap gulita.” jawabnya sambil melepaskan belitan kain kafan dari tubuh saya. merupakan sumbangan Kiai Kintir. beliau tidak berniat sedikit pun. ”Saya menunggu Bapak. Saya tak bisa bergerak. semua kiriman beras dan kebutuhan dapur yang mendorong kami bisa berpesta itu. sedang untuk dirinya sendiri.” suara seorang gadis membisik. pernah sejumlah terekam. Beliau selalu bisa membahagiakan orang. Maka mengiriminya duit. Ternyata wajah beliau tidak . ”Kamu harus sumpah pocong!” geram Pak Darkin lalu pergi bersama kedua kawannya. Dua orang yang sigap membekuk tubuh saya.” ”Mengapa kamu di sini?” sergah saya. tidak mengajar. Pokoknya serba tidak. Tidak bergaul. ketat sekali balutannya. wartawan elektronik diam-diam mengambil gambarnya.” ”Sekarang beliau di mana?” ”Sedang bersiap-siap hanyut di Bengawan Solo. Saya sadar. ”Dari mana kamu tahu saya di sini?” ”Kiai Kintir baru saja mengantar saya kemari.

becak ditinggalkan pemiliknya. rasanya orang-orang yang menyaksikan tontonan aneh ini bertambah banyak. Solo Baru. Tak terjadi gerimis. Cuaca cerah dengan langit biru seperti undangan untuk keluar rumah menikmati keramaian kota. Tampak tubuh Kiai Kintir terseret ke tengah bengawan. Tak terdengar geledek. Mobil. Kiai Kintir cukup meyakinkan sebagai perenang yang kebanyakan mampu diam telentang mengambang. Joyontakan . mengambang hanyut seperti mayat. Sampai fajar merekah. diam menyaksikan tubuh Kiai Kintir yang telentang mengambang di sungai. Satu-dua orang penonton motor. berucap. Puluhan orang lainnya berlarian menyingkir dari bantaran sungai. Semuanya diam. Ratusan orang-orang yang berada di seberang menyeberang Bengawan Solo merasakan air bengawan mulai mencium lutut. telentang tenang hanyut semakin menjauh dari pendangan kami. Semanggi. Saya dan Nining harus waspada supaya tidak kepergok Pak Darkin yang barangkali saja ikut nonton. 17 Maret 2008 Banjir di Pasar Kliwon. andong. Tak ada seorang pun yang Kiai Kintir tenggelam. bisa-bisa Hari belum panas benar ketika air Bengawan Solo mulai naik. Saya tarik Nining untuk menghindar dari bantaran bersama puluhan orang yang kacau berlarian.Sejak dini hari. banjir sudah melahap seluruh kota Solo. Jika satu orang pun yang berbicara memberi komentar. begitulah kepercayaan yang menyebar yang boleh jadi cuma dibikinbikin oleh orang-orang yang suka mengolok-olok. cuma air yang berkilau-kilau yang tampak dengan orag-orang yang kebingungan menyelamatkan diri. Sesampai di jalan raya. Sejauh mata memandang. ratusan orang dengan obor memenuhi kedua sisi bantaran Bengawan Solo Orang-orang terus bergerak mengikuti tubuh beliau yang dibalut pakaian. hanyut dibawa arus. Dari jauh. Tangerang.

SuaraTak saya sadari lagi ketika tubuhnya pelan-pelan memisah dan menjauh.Gerhana Mata oleh: Jenar Mahesa Ayu Malam selalu memberi ketenangan. Banyak kenangan yang begitu mudah dikais dalam ruang-ruang kegelapan. Tak terdengar suara ponsel yang mengganggu itu berubah menjadi suara lagu. Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika butalah mata saya. waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi di hari esok. Tak pernah ada yang berdering tak henti-hentinya. Banyak orang yang begitu takut pada malam. Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia. Hampir menyerupai pasar malam yang ingar bingar namun tanpa penerangan. Dan hanya ialah yang saya ingin lihat. Pada sesuatu yang membuat mata lebih kencang. semakin semuanya Mungkin karena itulah saya begitu membutuhkan cinta. di kebutaan seperti itu. Semakin gelap semakin ramai. Seperti malam. hanyalah kegelapan. Apakah benar masih ada hari esok. Begitu dekat. sang kekasih bak lentera benderang dalam kegulitaan pandangan mata saya. Lembut mendayu-dayu. Seperti gelap. Saya tidak butuh kacamata matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala. Atau apakah masih perlu akan hari esok. Pada gelap. Kenangan yang memang hanya layak mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-ngacungkan telunjuknya meminta waktu untuk diingat setiap kali malam bergulir. Orang-orang menamakannya cinta buta. Saling menyentuh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bersentuhan. Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata. Sepanjang mata memandang. Mata saya mulai merapat. namun dengan seketika gerhana mata bekerja. semakin gelap. Dan melenguh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling mengeluarkan lenguhan. Saya hanya ingin mendengar apa yang ingin saya dengar. Saya tidak perlu menutup semua tirai dan pintu serta menyumbat sela-sela terbuka yang membiarkan cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna. seperti suara-suara ponsel Di saat-saat seperti itu. Cinta pun membutakan. Tubuh kelihatan amat samar. Namun. hidung terasa melekat. suara-suara begitu jelas terdengar. Tak pernah merasa tak tenang. di atas pembaringan tanpa kekasih yang tak akan hadir. Membuat mereka tak tenang. kita seolah buta dan mau tak mau harus meraba-raba. . Apa pun namanya saya tidak peduli. Membuat mereka rela menukar ketidaktenangan itu dengan harga listrik walaupun harganya semakin tinggi menjulang. Dari penginapan. Sedemikian dekat sehingga aroma napas si empunya suara itu di akhirnya begitu terang terlihat. Membuat jantung mereka berdegup Tapi saya selalu merasa malam memberi ketenangan. Sehingga saya tak pernah merasa ketakutan. saya tak perlu meraba-raba. Saya hanya ingin melihat apa yang ingin saya lihat. Saling menatap seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling sinarnyalah saya mendapatkan siang yang kami habiskan di ranjang-ranjang pondok bertatapan.

Suara yang semakin lama semakin serak. Bertemu kala siang. Dicengkeram gerhana. Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa dari saya. Saya jatuh cinta. Juga tak akan ada siang di mana saya meradang . Membuat saya Saya tahu. Tapi dengan satu konsekuensi. Andai saja saya bisa mendepak cinta dan menghadirkan logika. Kala siang dengan durasi waktu yang amat sempit. Dalam kebutaan saya bisa mengadakan apa pun yang Banyak yang tambah mempertanyakan. melainkan asli. Di sanalah kami saling menjamu keinginan antara satu dengan yang satu. Dan dalam bayang-bayang itulah kami betemu Banyak yang mempertanyakan. Mungkin malam akan membuat saya takut. Hangat kulitnya yang tak berjarak. Tak terkecuali pagi. adalah asli. Antara pasrah dan pasrah. Harus mengerti statusnya sebagai laki-laki beristri. Mata saya pun semakin buta. Membuat saya kerap merasa terjepit. saya bilang. pun di dunia ini yang berarti kecuali saya. datang dari diri saya sendiri. mungkin tak akan seperti ini saya tak berdaya. Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih penting Kami hanya bertemu kala siang. Kalimat di bungkus kondom “ASLI.suaranya yang sengaja dibuat lirih ketika menjawab panggilan telepon dan mengatakan Saya tetap merasakan tubuhnya melekat. Mungkin suara-suara yang kerap menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. Antara lelah dan lelah. walaupun di kala pagi dan malam yang tak asli. Saya terjebak dan berputar-putar pada dua pilihan yang sama. Gerakan tubuhnya yang sebentar menarik sebentar menghentak. melihat matanya sedang menatap. Kenapa harus buta? Kenapa tidak menggunakan asli? Karena cinta. Segala garis maupun dan bersatu. Kenapa harus menciptakan buta yang tak Terus terang. lekukan itu selalu diikuti bayang-bayang. Tak terkecuali malam. Bunyi ranjang berderak. SERATUS PERSEN ANTI BOCOR” yang kami robek sebelum bercinta pun asli. Semakin dalam ke muara cinta tubuh ini tercebur. Semakin kabur. Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat terindah untuk sekarat. atau malam? Karena buta. Saya masih kalau ia sedang tidak ingin diganggu dengan alasan penyakit lambungnya tengah kambuh. Bukan kala pagi atau malam hari yang terasa amat panjang dalam penantian dan rindu yang mengimpit. atau Jantung keras berdetak. mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli. selalu merasa tak pernah cukup dan ingin mengulanginya kembali. Walaupun kami hanya bertemu kala siang. saya tidak pernah dapat memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan itu asli. bukan kala pagi atau malam hari. Kadang saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang dari orang-orang. Karena tidak mungkin sesuatu yang asli lahir dari yang tak asli. saya akan bisa mengulanginya lagi. Dalam cinta saya bisa merasakan segala sesuatunya asli. Dan dengan tubuh dan menggelepar atas tubuh yang menyentuh di atas seprai kusut lantas terhenti oleh lain ke dalam selimut saya akan beringsut. Namun lagi-lagi perasaan ini terasa asli. Kala api rindu sudah semalaman memanggang. Kenapa saya bertemu hanya kala siang? Kenapa tidak pagi saya inginkan. Kala segala garis maupun lekukan amat nyata terlihat dengan mata telanjang. Sehingga saya pun tak dapat memastikan apakah jawaban saya kala pagi dan malam yang tak asli. saya bilang.

Sejak kemarin. Diganti dengan jawaban. di jari manis kanan saya telah melingkar Di atas pembaringan tanpa suami yang tetap tak akan hadir. Jakarta. Mungkin… dering panggilan ponsel yang membuat satu-satunya fungsi pada tubuhnya yang Mungkin satu saat nanti ia akan mengalami gerhana mata seperti saya. karena cinta telah membutakan kami berdua. Tak menunggu kala atau malam.mempersatukan tubuh kami jadi menciut. . Dan kami bisa tinggal dalam satu dunia yang sama. Mungkin… pagi dan malam. Bukan kala pagi Enam tahun sudah waktu bergulir. Tak bertemu hanya kala siang. 2 Oktober 2006 11:06 AM cincin dengan namanya terukir. Tak ada pertanyaan mengapa hanya bertemu kala siang. Tak ada jawaban karena cinta membutakan saya. Dalam kegelapan malam kedua mata ini menumpahkan air.

Aku lebih suka menggugurkan anak Tantiana daripada menikahkannya!” Nana mengembuskan nafasnya. waktu ke toko buku. mudah-mudahan volume pekerjaan Kedua perempuan ini bersitatap. memesan jus jeruk dan beberapa makanan kecil. “Dik. Nana menunggu!” meneruskan omongannya. saya membeli buku nama-nama calon bayi. yang minggu kemarin merayakan ulang Mereka bertemu di bandara ini dan seorang perempuan mengumumkan dengan suaranya sahabat. Nana dan Dara keluar dari kerumunan orang yang mengamuk. “Datanglah bersama Dara. Sebelum terjawab. Sudah beberapa hari ini dia tidak mau makan. Tantiana. Dara. “Kalau tahu begini. Beberapa hari yang lampau. Mungkin anak itu harus kita konsultasikan ke psikiater.Delayed Ratna Indraswari Ibrahim Sebagai seorang perempuan. Jadi. positif hamil. sekalipun berprofesi dokter. Setelah itu.” Nana mengatupkan bibirnya. Rizal kan cuma teman.” Nana terenyak. saya sepertinya sudah dapat firasat. Seperti dua “Ma. setiap keputusan hanya ada pada saya. Tantiana mencoba bunuh diri dengan menyilet pergelangan nadinya. “Tante dan Om-mu. Tantiana bisa balik sekolah dan meneruskan kehidupan remajanya.” sampeyan kok belum datang. kalian berdua kan dokter. Dua minggu yang lampau anak bungsunya. “Ma. adik bungsunya menelepon HP-nya. dia menyayangi Rizal dan berharap suatu kali dia bisa panjenengan bulan ini tidak padat sehingga panjenengan bisa menikahkan anak kita dengan Rizal!” berkata kepada adik almarhum suaminya. jam berapa datangnya? Dari tadi. Mereka mencari sebuah restoran. Tantiana menangis terus. “Apakah kau sudah merundingkan hal itu dengan Rizal?” “Ma. Aditya (25 tahun ke-30. dia baru berusia 17 tahun. Alvin. Nana melihat Dara. anaknya.” Nana merasa terkunci. Sesungguhnya. lebih baik kita naik kereta saja. “Mbak. saya sedang berpikir untuk mengadopsi anak Tantiana setelah dia melahirkan. Aku bosan . Nana menganggap mingguminggu ini buat dia dan keluarga besarnya sangat menyedihkan! Tiga hari yang lampau. sekarang ada di rumah sakit. kelas dua SMA dan hamilnya dengan teman sekelasnya. adik bungsunya sambil menangis mengatakan. yang seksi bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi delayed selama sejam. tahun). Adiknya berkata. Padahal. menikah! Mendahului anak sulungnya.” Dara yang sedang belajar menjadi psikiater mengangguk-anggukkan kepala.

Itu berlanjut sampai kau menjadi mahasiswa. Rasanya mereka memang dua perempuan yang beda dalam menjalani kehidupan sosialnya. Dokter Rizal juga lelaki yang baik. Teman-temanmu di Fakultas Dara memutuskan lamunannya. “Waktu kau beranjak remaja. Dara tahu dia tidak bisa mengatakan ini. Tapi. kau kelihatannya hanya serius dengan pelajaranmu. Kendati mereka masih tinggal serumah. beri aku dukungan untuk meyakinkan Tante agar anak Tantiana bisa saya adopsi. aku diliputi perasaan gelisah. berapa pun umur Dara. Padahal. kau tidak peduli pada mereka. di cermin saya tahu tidak jelek-jelek amat. Bisik-bisik di luar tentang saya memang buruk. Pastinya mereka menganggap “Maaf. Nana pada usianya ini tidur lebih cepat. saya perempuan yang berat jodoh. dia menyukaimu. saya waktu itu cuma berpura-pura tidak tahu kalau Mama dan keluarga besar kita “Dara. kau menikah. apa pun pendapat masyarakat. kau lagi ingin serius dan sendiri saja. “Ma. Siapa pun tahu. sekarang mereka sama-sama punya waktu luang dan duduk semeja. “Ma. memegang tangan mamanya. Kedokteran juga serius. Padahal. Tapi. sedangkan Dara mungkin sedang sibuk di rumah sakit atau sedang makan-makan bersama temannya. Apalagi.” Dara. Kami tidak merisaukan hal itu. tetangga sebelah rumah (15 tahun) mengajaknya bersibadan ketika dia .” Dara tidak menjawab dan Nana merasa harus mengatakan hal ini. saya tidak bisa janjikan itu. Apakah yang dihadapannya ini cuma teman seprofesi yang kebetulan serumah? Dan.” sedih sekali. dia tetap mamanya! Atau apakah Dara menjadi miliknya hanya kala dia gadis kecil yang belum pandai memasang pita rambutnya dan merengek-rengek untuk meminta sesuatu. kata kuncinya cuma satu. “Setelah Aditya menikah. aku berharap di tahun baru menurut kalender Jawa kau menikah dua tahun darimu.” Mereka saling melihat. Dia menikah dan memiliki dua anak yang kau cintai. banyak temanmu yang sudah bersitegang karena banyaknya tamu laki-laki yang datang ke rumah kita.Dara tersenyum. Kau kelihatannya cuma akrab dengan Didit (sahabat sejak SMA). Mereka juga menuduh saya punya kelainan psikologis. mereka sekurang-kurangnya pernah membicarakan lelaki atau jalan bareng.” “Aku berharap cucu darimu dan anak Tantiana menjadi anak sulung dari anak-anakmu. Didit tidak meneruskan sekolahnya. Mulai sejak itu. Yang terjadi di luar mimpi kami. Padahal. Nana seharusnya berkata begini. barangkali ini karunia yang tersembunyi (blessing in disguise). aku dan ayahmu sudah sering kami heran juga. Aku dan ayahmu pernah adikmu yang menikah pada usia itu!” dengan siapa yang kau suka. sebetulnya mereka dua jagat yang berbeda dan tidak pernah bisa bertemu. kemudian mulai pacaran. aku kepingin jujur kepadamu.” Apalagi. Sekalipun Nana merasa. tapi kemudian Nana berpikir. Sesungguhnya. Sekalipun. dia lebih muda membayangkan kau akan menikah pada usia 25 tahun. sejak lulus SMA. jarang bisa ngobrol.

untuk menguatkan satu dengan lainnya. Tapi. akan sulit bagi mama untuk menerima berita ini karena dia bukan hanya seorang pasien saja di mata mama. Rizal sudah membantunya dan barangkali Rizal sudah mulai jenuh. Sebagai seorang dokter. Rizal. harus berempati saja. Semuanya berpulang pada dirinya sendiri. bukan bersimpati. dibicarakan oleh mereka berdua. Sesungguhnya untuk melakukan hal ini. Tapi setelah dewasa. kau harusnya sudah tahu bahwa butuh kemauan keras darimu untuk sembuh. seperti semua dokter. “Saya kira kau bisa menyimpannya untuk dirimu sendiri. adik bungsunya menangis di telepon dan mengatakan begini. ketika mencoba bercinta dengan Rizal.” Dara berbicara lagi. karyawan penerbangan itu pasti tidak ada di tempat. memang yang harus Rizal ketika dia merasa tidak bisa melanjutkan terapi ini. “Ma. Dia merasa jijik! Namun.” Dara merasa tak berdaya. Dia tidak pernah ingin membicarakan ini dengan mama. dia menikmati apa yang awalnya dipaksakan kepadanya.baru saja berusia 13 tahun. Lantas. dia merasa tidak lebih seperti boneka seks. pesawatku delayed. aku sudah siap untuk semua yang terburuk. saya kira saya tidak usah bercerita panjang karena tetangga sebelah rumah sudah merusaknya. pada persekian menit. saya sebetulnya ingin bercerita banyak sekali. mata mereka seperti sebuah lorong yang gelap dan jauh sekali.” “Dik panggillah dokter.” “Mama kan tahu. Sehingga Rizal berkata. Karena. Semuanya memang harus diselesaikan. Jadi tidak bisa ditunggu jam berapa kami sampai. kami pasti datang dan langsung ke rumah sakit. Dara tidak mau terapi ini Sesungguhnya. terapi ini tidak berkelanjutan.” “Ma. Sekalipun. dilakukan oleh mamanya adalah berempati. kalau kau mau cerita.” Kedua perempuan itu saling berpegangan erat dan mencoba tersenyum. ini bukan sekadar erotis! Di antara dua kekasih. mereka sepakat menerapi problem trauma dari Dara. Padahal. sekalipun mamanya juga dokter. kok dari tadi diam saja? Tanyakan ke bagian informasi. . “Dara. Jadi. “Sebagai seorang dokter. banyak hal yang dipikirkan. tapi tidak tahu saya harus mulai dari mana?” Kedua perempuan itu saling melihat. Sampai hari ini.” Kemudian ada dering telepon lagi. Pastinya. kalau sudah begini. tapi dua orang yang sangat dekat. tapi betul-betul sebuah empirisme yang harus dia lakukan. sekadar dokter dengan pasien. dia tak berhasil. Itu yang sering diucapkan Kali ini mama yang memotong pikirannya. Nana memegang tangan anak perempuannya. hubungan Rizal dan Dara bukan jatuh pada erotisme saja. “Tantiana menangis terus dan menjerit-jerit. mereka merasa menggampangkan jika mencari solusinya dengan kawin siri.

“Dik. Tantiana sedikit tenang. Jadi. apakah kau sudah melakukan terapinya dan belum berhasil?” lama. bersibadan itu artinya dua jiwa lebur jadi satu. Yaitu garwo (sigare nyawa). jadi di mataku kau tetap seorang Kali ini. Ketika memasuki ruangan ini. aku kepingin anakku ini punya dua adik. tetapi terasa ada pengertian yang lebih baik di antara kedua perempuan itu. Karena untuk kesembuhan ini. cepat tiup lilinnya dan potong kuenya!” Malang. Kami tidak menganggap itu dosa yang Dan. Bahasa simbol itu artinya. Aku yakin kau bisa memahami itu. Teman-teman anaknya berteriak-teriak. Nana memeluk Dara.“Sayang. ketika Nana berkata. Setelah anakmu lahir. kau harus sekolah lagi dan pulang ke Malang. Nana. tiga darimu dan dua dari Aditya. dia pulang ke Malang untuk meneruskan sekolah. biarlah jadi anaknya Mbak Dara. 10 Juni 2008 . “Aku akan menjadi nenek dari lima cucu. saya kira ada kalimat Jawa tentang suami-istri. Aku cuma ingin cerita itu bukan sebenar-benarnya. “Aku akan belajar kapan aku jadi suamimu dan kapan aku jadi doktermu. butuh proses yang panjang. tidak bisa diperbaiki. Lantas Rizal menggandeng Dara ke ruangan lain. Sedangkan anakmu. Enam bulan setelah kelahiran anak Tantiana. kapan menjadi dokter Tiba-tiba ada perasaan lelah ketika Dara selesai membicarakan itu dengan Rizal. Bantulah aku!” Rizal dan Dara bersitatap. “Zal. Beberapa bulan kemudian. Rizal. lahir anak Tantiana. dan melebar di ruangan ini. yang ada cuma luka dan dan pasien dan kapan menjadi suami-istri. Dara merayakan bersama anak temansiapa ya yang mau jadi bapaknya?” temannya. Di luar dugaan. “Apakah sudah siap memulai lagi dengan pernikahan?” “Zal. senyum ada di antara Dara. belahan hati suami dan istri. Dara yang menyandarkan diri di bahu mamanya.” Lantas. aku tak akan pernah bertanya lagi. aku sudah mencurigai hal itu sejak gadis… Nduk. dihadiri Rizal dan mamanya. ketika anak Tantiana berusia satu tahun. Rizal tersenyum dan memeluknya. Kalau tidak.” Tantiana menangis. jadi kita bisa membagi. aku memaknainya lebih jauh. “Kamu boleh ikut Budhe Nana atau Mbak Dara. Percayalah.” kesakitan. Tidak ada air mata.

rumah. “caah caah caah!” September. tiap tahun. diganti genting Jatiwangi. kadang kelabu. Dulu. Pagar tak lagi pohon teh-tehan. Kalau sudah begitu orangorang di tepi sungai. Tak ada yang berubah dari kota kecil itu. Pada bulan yang sama. Beberapa kali ada penduduk hanyut. Sebab air tanpa beri tanda bergulung-gulung dari arah hulu. Gairah sungai hanya tersirat dari kilau berlian di riak air di antara bebatuan. Lantai semen sudah ditambal keramik. langit kadang biru. kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. Sungai itu selalu mengalun perlahan. Di bawah. menggerus apa saja. Tapi semua orang tahu. Seng yang dulu Memang masih ada sedikit daun-daun yang lingkari pagar. burung berkicau di pucuk daun kersen. lebih kurus dibanding saat ia tinggalkan rumah. Tiap pagi mereka berangkat sekolah berjalan kaki. Rumah tak lagi setengah bilik. Rumah kedua gadis itu yang berubah. halaman depan. semua berisik dan bocor kala hujan. Bayang hitam di bawah mata menggurat keletihan di wajah. berkerlip menyilaukan. bila langit sedang bahagia. Warnanya lebih tua dari langit. Paling seminggu sekali. tempa. Air yang dicurahkan langit sudah pasti akan susuri jembatan yang sama.Siit Uncuwing Rieke Diah Pitaloka Setiap pagi. Ada jembatan di atasnya. Itu pun bila awan sudah terlalu letih menggendong air. Sangat pagi. jalan raya Tatkala cahaya pagi menyentuh bumi. sungai-sungai keperakan. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rerimbun hijau bagai pinggang dan tepatnya. Kepergian Nining memang mengubah banyak hal. Tak ada lagi berita dari Nining. sungai itu juga bisa mendidih. Embun basahi sepatu sekolah. Saat matahari menggeliat. Tak ada yang beda. Orang-orang menyebutnya siit . Trotoar menjepit kiri kanan jalan. Namun ia tetap berusaha tersenyum. Surat terakhir dikirim empat bulan lalu. meski sama-sama biru. meski warnanya juga hijau. Dahan dan batangnya dari besi tempa. Abah tergolek lemah di dipan ruang tengah. Hujan malas berkunjung. dua setengah kilometer dari kunang-kunang masih bermain di sela langkah. orang-orang di atas jembatan akan berteriak. Untuk balikkan badan pun harus dibantu ambu. Ada resah menggayut di tiap hati penghuninya. Ada fotonya. pegunungan ikut merona. Waktu membuka pintu. Saat itu seisi rumah ketakutan. Tapi lagi-lagi terbuat dari besi Masih terpatri dalam ingatan Arum peristiwa yang menuntun Nining tinggalkan rumah. Arum paling senang saat melintas di atas jembatan. Satu dua Seperti air sungai yang membelah kota kecil itu. Sudah seminggu tak mampu bangun. Bahkan saat Arum dan Nining tak lagi melintas di diganti tembok. Cat tak lagi kusam. Itu bisa terjadi meski di siang terik. akarnya direnggut lalu diganti pondasi beton. sungai itu. setiap hari jalan itu dilewati Arum dan Nining. air mengalir tenang meski dicumbu fajar. raut pinggul gadis-gadis menari. apalagi waktu seekor uncuwing. Bertahun-tahun selalu begitu. kabut berebut kecup pipi mereka.

Nining! Bantu Enin. sieuh. Mula-mula hinggap di pohon arumanis tetangga sebelah. begitu kepercayaan Enin. Entah kebetulan atau bukan. Lepas magrib sambil membawa abah.” Ambu di pintu dapur usap sebulir bening yang meluncur dari sudut mata. Ia hanya katakan pada Arum. Sakit. tiga hari kemudian siit uncuwing datang lagi. “Sieuh. Lompat dari satu dahan ke dahan lain. Malah tampak riang. Siit uncuwing pembawa kabar duka. burung itu menjauh dengan senyap. Dibisikkan saat para pelayat satu-satu tinggalkan rumah. Enin peluk buah hatinya dengan haru. Tak menapak di mana pun. Berputar-putar mengelilingi atap rumah. Komar. Sebab siit uncuwing pergi Enin dan Ambu berhari-hari. . Tak akan berhenti sampai kematian menyusup ke setiap liang angin. “Arum. Tapi tangis ledakkan rumah. pergi!” Kali ini Enin melempari dengan kerikil. esoknya Abah mulai bisa duduk. bahkan hingga tahlil seribu hari. Sebetulnya Arum dan Nining tak sependapat dengan dua perempuan itu. siit uncuwing menikam rumpun bambu di ujung jalan. terutama Nining. Waktu melihat Ambu dengan sapu lidinya. Mantri yang menerima bayaran sukarela. Ada seurai doa di sudut bibir Ambu dalam lengkung yang mendamaikan Arum dan Nining. “Belum waktunya anakku kau jemput. Maka perempuan tua itu sibuk kibas-kibaskan sapu lidi. halig siah. Menyusup ke setiap inci pori-pori kusen jendela dan pintu. uang. walau sekadar untuk membayar Mantri Abas. ka sabrang ka Palembang! Saguru saelmu teu meunang ganggu!” Tetap saja burung itu tak mau pergi. Pendapat itu tentu tak disampaikan Nining pada Enin dan Ambu. Tapi. “Komar. Baginya penyebab kematian Abah bukan siit uncuwing. tapi tak diobati. pergi sana. tapi karena sakit. Lalu sorenya siit uncuwing kembali. cepat sehat. sieuh. tetap salahkan siit uncuwing atas duka yang menancap di hati mereka.Suara siit uncuwing terus menggigit hati siapa saja yang mendengar. Ia terbang menuju lembayung. Menjerit memanggil kematian. Sieuh. Naik sana ke pohon kersen!” perintah Ambu. Siit uncuwing kepakkan sayap sedetik sebelum Nining menyambarnya. Tak diobati karena mereka tak punya Sekadar sukarela pun mereka tak sanggup. panik.

“Teteh sakit hati, Rum. Kita musti bisa berubah.” Kata-katanya pelan sentuh telinga, namun tegas sebagai janji. Pasti. Arum percaya Nining. Tapi Enin tidak sepakat, terlebih Ambu. “Jangan pergi, anaking. Apa kamu lupa banyak yang tak bisa pulang? Kalaupun pulang tanpa daksa. Malah ada yang sudah tak bernyawa.”

“Geulis,” Enin menambahkan sambil mengunyah sirih dan pinang, “biar susah lebih enak di kampung sorangan. Geulis, incu enin, cari kerja di sini saja. Jadi buruh tani, atau melamar ke pabrik dodol di Ciledug, ke pabrik tenun dekat kerkhoff, atau ke pabrik coklat jalan Cimanuk, atau jadi pelayan toko di Pengkolan.”

Nining tahu, kerja dengan ijazah SMP dan rapor sampai kelas satu SMA tak akan berarti. Gaji yang diterima hanya akan cukup untuk makan sebulan. Itu juga belum tentu cukup.

Sepuluh hari Nining baru bisa yakinkan Enin dan Ambu. Bahkan Ambu rela menjual sawah ongkos ke Bandung. peninggalan Abah untuk membayar penyalur dan surat-surat keberangkatan, sekaligus

Lima bulan pertama Nining tak terima gaji. Katanya harus diserahkan pada agen sebagai ganti biaya perjalanan. Tengah tahun baru bisa kirim uang. Tahun kedua Nining pulang untuk renovasi rumah dan membeli tiga petak sawah. Pengganti sawah Abah, katanya. Tiga rumah.

bulan kemudian berangkat lagi setelah membantu Ambu buka warung sembako di samping

“Teteh jangan pergi lagi, teh. Apa lagi yang teteh cari?” “Teteh pengin kamu jadi dokteranda, Rum. Biar teteh yang cari duit, pokoknya kamu belajar yang rajin.”

“Mendingan Arum cuma tamat SMA daripada teteh pergi lagi.” Entah mengapa kali ini Arum yang tak setuju Nining pergi. Tapi lagi-lagi tak ada yang bisa menahan tekad itu.

Selama setahun, sebulan sekali Nining masih rajin beri kabar. Begitu pula dengan kiriman tak ada kabar berita darinya. Awal Mei.

uang. Tapi tahun berikutnya bukan hanya uang yang tak dikirim. Yang lebih mencemaskan

Ambu.

Sepucuk surat tiba di beranda. Arum membaca keras-keras supaya bisa didengar Enin dan

“Arum, bilang sama Enin dan Ambu, Insya Allah September teteh pulang. Teteh maunya bisa Doakan teteh supaya bisa pulang.” munggah sama-sama. Teteh mau lebaran di rumah. Teteh kangen sama kalian bertiga.

sampai Arum hafal isinya.

Itu kabar terakhir yang mereka terima. Surat terakhir. Lecek. Sebab dibaca berulang-ulang,

September berjingkat tinggalkan kalender. Oktober siap menyambut. Tapi tetap hambar. Huruf seakan mati tak tergores dalam secuil kertas sekalipun. Arum sudah mencoba akan kami beri tahu, kalau sudah tahu keberadaannya. Kalau sudah tahu!” hubungi agen yang berangkatkan Nining. Petugas yang menemui hanya menjawab, “Nanti

Hanya itu yang bisa jadi pengharapan. Surat Arum untuk Nining tak pernah berbalas. Tak menggerus perasaan. Apalagi sejak dua hari terakhir Ramadhan siit uncuwing kembali menjejak pucuk kersen di halaman depan.

ada alamat lain yang bisa ditelusuri. Khawatir menusuk kepala. Cemas menjadi bola besar,

“Awas, indit, ka ditu, ka ditu, sieuh, sieuh!” Ambu tergopoh, Enin menyusul di belakangnya. “Ka sabrang ka Palembang, sieuh, sieuh!” teriak keduanya bersahutan. “Ka sabrang ka Palembang, saguru saelmu teu meunang ganggu!” Kali ini Arum langsung memanjat pohon kersen, tanpa tunggu perintah Ambu. Ketika siit

uncuwing terbang, Arum setengah melompat turun dari pohon. Tak sekejap mata ia biarkan pandangan lepas dari burung itu. Arum mengejarnya, berlari. Tanpa sadar Arum sudah jauh itu. Terus mengejar, bahkan ketika burung itu terbang di atas jalan setapak di pinggir jembatan. Menuju sungai. tinggalkan rumah. Berlari menuju jembatan di atas sungai, sungai yang membelah kota kecil

Ya, siit uncuwing menuju sungai. Burung itu hinggap di batu besar di tengah sungai. Arum mengendap. Tinggal sejengkal dari siit uncuwing ketika orang-orang di atas jembatan berteriak, “caah!” Caah!Caah!”

Arum lompat berusaha menangkap siit uncuwing. Namun badannya limbung. Semua buram. kekuatan, “Arum, ka dieu, ulurkan tanganmu.”

Sesak menghimpit dada. Arum hampir tak mampu bertahan saat sayup seiris suara memberi

Arum terkejut. Arum tahu pasti, itu suara Nining. Seolah mendapat tenaga, Arum berenang ke arah bayangan di tepi sungai. “Hayu pulang, geulis.” Sekali lagi Arum mendengar suara Nining. Arum berhasil genggam tangan Nining, dan semua jadi gelap.

“Teteh, teteh!” teriak Arum saat pertama kali membuka mata.

Tapi Nining tak ada, padahal Arum yakin Nining yang menolongnya. Nining yang memapah mengantar pulang. Arum terobos setiap ruang di rumah itu. Tetap saja, Nining tak ada. Hanya ada Anin dan Ambu yang sedang menangis. Arum lari ke luar. Di langit ada bulan sepotong. Di langit ada tiga belas siit uncuwing tanpa suara membawa bingkisan dari negeri berpasir: sekotak peti mati. Di dalamnya ada perempuan dengan bayang hitam di bawah mata dan lebam di sekujur tubuh. Tetap berusaha tersenyum. Di surau-surau takbir pertama berkumandang… Depok, 160907

Rieke Diah Pitaloka ( 21 Oktober 2007)

membantu aku membereskan kamar Satria. Rambut. dan busananya bagai menunjuk keberadaan waktu.’ katanya!” Berharap dan menunggu. kok semuanya mengingatkan kembali kepada Bapak. Semenjak Bapak meninggal setahun yang lalu. Ibu terkulai di kursi seperti orang mati. telepon. melihat ke kursi tempat Bapak biasanya duduk. ’Kuhargai cintamu yang besar kepada Satria. Ia menggigit bibir. Aku waktu itu masih percaya Satria suatu hari akan kembali… Kenapa harus tidak percaya. memang rasanya ia seperti anakku juga. seperti tahu betul rasa kehilanganku setelah ditinggal Bapak…” Ibu sudah sampai ke kursi tempatnya duduk tadi. jendela. bahkan aku masih ingat juga pakai daster ini ketika kami berbicara tentang hilangnya Satria. kalau memang tidak pernah kulihat sesuatu yang membuktikan betapa Satria tidak akan kembali… Apa punya… salahnya punya harapan… Hidup begitu singkat. perabotan. ’tapi cinta adalah soal kata hati. Berharap dan menunggu.Ibu yang Anaknya Diculik Itu Seno Gumira Ajidarma cangkir teh. Ibu bergumam. masih terkulai seperti sepuluh tahun yang lalu. Tapi Bapak memaksa aku untuk percaya bahwa Satria sudah pergi. ruang dan waktu yang seperti ini. Telepon berdering. karena kalau terlalu banyak alasan dan perhitungan dalam percintaan. ruangan ini. lukisan itu.’ kata Bapak. Diangkatnya ke telinga. saya tidak bisa’. Ibu Saleha. dan kami masih seperti orang menunggu. ’Orang hilang diculik kok tidak mendapat sama siapapun. buku. Kenyataannya selama sepuluh tahun Saras tidak pernah bisa pacaran ”Tapi inilah soal yang pernah kubicarakan sama Si Saras. . Seperti ini juga keadaannya. Ternyata yang berbunyi telepon genggam. Sekarang apapun yang terjadi dengan Saras dibicarakannya sama aku.” katanya. nanti tidak ada tempat untuk hati lagi…’ Ah. deringnya sudah berhenti. Waktu itu sudah setahun Satria tidak kembali. televisi. ’Saya selalu teringat Satria. meja itu. ibunya Saras yang dulu jadi pacar Satria. ’Satria sudah mati. Ibu terdiam. Dulu almarhum tidak bisa terus menerus menunggu Satria. Ibu. Ketika disambarnya pula. sehingga kamu selalu terlibat urusan orang-orang hilang ini. apa jadinya kalau harapan saja kita tidak ”Jadi dalam setahun itu harapanlah yang membuatku bertahan hidup. Harapan bahwa pada suatu hari Satria pasti pulang kembali… Berharap dan menunggu. ”Bapak… Kursi itu. Bapak suka sinis sama Ibu Saleha.’ kataku. berusaha sangat amat keras untuk menahan tangis. Saras. Tinggal Ibu kini di ruang keluarga itu. ”Hmmh. rasanya semakin peduli dia kepada rumah ini. dan lain-lain masih seperti dulu—tetapi waktu telah berlalu sepuluh tahun. Ibu tersentak bangun dan langsung menyambar telepon. wajah. karena seperti memberi tanda kalau Saras itu tentunya simpati. seperti Saras itu punya dua ibu. Pintu. Saras. dan duduk lagi di situ. Lantas melihat ke sekeliling.

tetapi kalau terbangun.” Dipandangnya kursi Bapak lagi.’ katamu. kenapa kamu hancurkan semua harapanku? ’Kita harus menerima kenyataan. Nanti dulu. aku masih mati. Jiwa terasa memberat. tutup matanya dibuka. Di hadapannya. Munir juga sudah mati. sekarang untuk kalian berdua. ”Bapak sendiri yang bilang. Lantas orang-orang itu berkata. dengan begitu nyata seolah-olah kalian tidak pernah . kenangan. suatu hari salah seorang yang waktu itu mengancam terlihat sedang memandangi dirinya waktu dia baru naik bis kota.” Ibu memandang ke arah kursi Bapak. tapi apa salahnya aku menganggap kalian berdua ada di dalam berpikiran seperti itu?” tiba. bahwa kemungkinan besar Satria mestinya sudah mati. ruangan itu bagaikan mendadak sunyi. Aku terima Satria sudah mati sekarang. juga terkenang-kenang kalian berdua. Satria sudah mati. padahal aku selalu makan sendirian saja. ”Apa Bapak ketemu sama Satria di sana? Enak bener Bapak ya? Meninggalkan aku sunyi sendiri di sini. menata gelas dan piring. Itulah foto-foto keluarga teman Satria yang diculik. Bapak. Saudara.’ Tapi aku tidak terima kalau Satria itu boleh diculik. hanya untuk menyambungnya dengan suara bergetar. dianiaya. ’Kami tahu siapa saja keluarga ”Huh! Saudara! Mana mungkin manusia bersaudara dengan monyet-monyet! Apalagi maksudnya kalau bukan mengancam kan? Bapak bilang teman Satria ini juga bercerita. Sebuah kursi kayu dengan bantalan jalinan rotan. tapi tubuh serasa melayang-layang…” Lantas nada ucapannya berubah sama sekali. Apa Bapak dan Satria tertawa-tawa di atas sana melihat aku membereskan kamar Satria. Pak. Impian. Foto orangtuanya. Ini apa maksudnya Pak? Supaya teman Satria itu tidak boleh boleh kita terima begitu saja?” bercerita tentang perbuatan mereka? Teror kelas kambing maksudnya? Apakah ini semua Saat Ibu menghela nafas. dan akhirnya dibunuh. seperti Ibu berada di dunia yang lain. orang-orang yang menculiknya itu menggelar foto- foto saudara-saudaranya.” Perempuan dengan rambut kelabu itu tampak kuat kembali. Jalinan yang sudah lepas dan ujungnya menceruat di sana-sini. ”Kadang-kadang aku bermimpi tentang kalian berdua. kenyataan sehari-hari tidak bisa kupisahkan lagi. setiap waktu makan lagi di muka bumi ini. ada teman Satria yang dibebaskan bercerita: Sebelum dilepas foto di atas meja. Menerima? Menerima? Baik.”Tidak! Aku tidak mau percaya itu! Meski dalam hatiku sudah terlalu sering kuingkari diriku. Memang aku tahu Bapak dan Satria tidak ada hatiku? Apakah kalian berdua selalu menertawakan aku dan menganggapku konyol kalau Sejenak Ibu terdiam. ”Sudah sepuluh tahun. ”Pak. Bapak sudah mati.

seperti palung terpanjang dan membara. tetapi Ibu bagaikan merasa banyak orang menontonnya. Mencoba menjawab sendiri. berbisik tertahan.”…. mengembara dalam kekelaman semesta. meski semakin disadarinya betapa ia sungguh-sungguh sendiri. menutupi wajahnya. Hanya bertanya jawab dengan Bapak. Tetapi Ibu mana yang kehilangan anak tanpa kejelasan bisa tenang perasaanku bisa membuatku yakin. Bapak. dan aku masih tidak tahu apa-apa. ”Tapi…. Sekarang aku bertanya jawab sendiri…. bagaikan jiwa dan tubuh telah terpisah. berkobar menantikan saat membakar dunia…” terdalam. tanpa membawa-bawa perasaannya? Bagaimana Ya. jauh. karena kusaksikan bagaimana dia dengan tenang meninggalkan dunia yang fana. Memang akalku tidak bisa berpikir lain sekarang. begitu saja… Bahkan orang mati saja masih bisa kita lihat jenazahnya!” tentu sudah tidak ada. apakah Bapak melihat Satria di sana Pak? Apakah Bapak ketemu Satria? Apa cerita dia kepada Bapak? Apakah sekarang Bapak sudah tahu semuanya? Apakah Bapak sekarang sudah mendapat jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan kita?” Namun Ibu segera menoleh ke arah lain. ya waktu yang seperti takpernah dan takperlu berlalu itu. jauh. membara dan menyala-nyala. Seperti masih ada yang disebutnya Bapak di kursi itu. Dulu aku bisa kalau ingin tahu semuanya! Tapi aku masih hidup. ”Bapak… aku yakin dia ada di sana. jika Satria pada suatu hari memang hilang begitu saja? diajaknya bicara. Lantas bertanya-tanya lagi. memegang kepalanya. luka sayatan yang panjang dan dalam. menyatu dengan jiwa terluka. ”Tapi apa iya aku sendiri? Apa iya aku masih harus merasa sendiri jika begitu banyak orang yang juga kehilangan? Waktu itu. tetapi aku tidak bisa mendapatkan keyakinan yang sama jika teringat kepada Satria. jika kemarahanku belum juga hilang atas perilaku kurangajar semacam itu. palung tanpa dasar yang dalam kekelamannya Ibu mendadak berhenti bicara. ke langit. ”Ah! Ya ampun! Jauhkan aku dari dendam!” Namun ia segera melepaskan tangannya. Apakah setiap orang harus kehilangan anggota keluarganya sendiri lebih dulu supaya bisa sama marahnya seperti aku?” Hanya Ibu sendiri di ruangan itu. ”Menculik anak orang dan membunuhnya. bahwa Satria dan bahagia hanya dengan akalnya. meski setiap kali tersadar tubuh yang melayang terjerembab. bagaimana mungkin aku merasa perlu melupakan semuanya. bukankah ratusan ribu orang juga hilang seketika?” . o palung-palung luka setiap jiwa. ”Ah! Bapak! Dia sudah tahu semuanya! Tapi aku? Aku tentunya juga harus mati lebih dulu bertanya-tanya. tempat seolah-olah ada seseorang ”Pak.” Nada bicaranya menjadi dingin.

Duduk di . sembunyi-sembunyi pula!’ hidup sekarang?’. mayat-mayatnya mengambang di Kali Madiun… menyusul Bapak. ”Bapak. Belakangan sebelum meninggal Bapak juga mulai pikun. ’apa semua orang harus ikut aliran kebatinan seperti Bapak?’. sebelum akhirnya mendadak keluar semua ingatannya pada suatu ”Sudah sepuluh tahun. kata Bapak dua-duanya pekerjaan ngibulin Memang lain sekali Satria dengan kakak-kakaknya. kursi itu seperti biasanya. ”Kenapa kamu tidak sekali-sekali muncul Bapak. Yang sulung Si Bowo jadi pialang saham. menyeruput teh panas. orang. sampai setahun lamanya. luar negeri. Lupa ini-itu. Dua-duanya tidak mau pulang lagi dari apapun. lantas ngomong tentang dunia. Di luar rumah. Ibu tampak mengenali. tapi tidak memanggilnya. memberi komentar tentang situasi negeri. bagaimana dia diperlakukan. dan apa sebenarnya yang telah terjadi. Ia selalu bertanya. Bahkan tokek untuk sementara tidak berani berbunyi. ”Tapi ia tidak pernah lupa tentang Satria. ’Ya enggaklah kalau ngibul. datang menengok cuma hari Lebaran. satunya lagi Si Yanti jadi kurator galeri lukisan. atau ’Sedang apa ya Satria di sana?’. Susah rasanya mengingat-ingat Ibu tersenyum geli sendiri. Tidak jelas jam berapa. malam entah karena apa. malah seperti lupa. Tapi selalu ada. di kursi itu.” lewat. Ibu masih berbicara sendiri. menyusul teman-temannya pemain ludruk yang semuanya terbantai dan ”Sebetulnya memang tidak pernah Bapak itu membicarakan Satria. Muncul dong sekali-sekali Bapak. tukang bakmi langganan Satria. pakai kaos oblong dan sarung. Tidak pernah ketemu lagi memang. atau kadang-kadang keluar Wajah Ibu kini tampak sendu sekali. Biasanya Bapak ya cuma cengengesan. menonton itu. Seperti masih selalu duduk di situ Bapak disediakan Si Mbok. banyak juga yang tidak pernah berubah. ”Bagiku Satria masih selalu ada. kadang aku seperti melihatnya di sana. membaca koran. tukang bakmi tek-tek yang dulu-dulu juga. ’Seperti apa Satria kalau masih amarahnya: ’Para penculik itu pengecut semuanya! Tidak punya nyali berterus terang! Bisanya membunuh orang sipil tidak bersenjata. Tapi Si Mbok juga sudah meninggal. Ada saja yang dia omongin itu. makan pisang goreng yang televisi. ”Bapak. dan hanya didengarnya sendiri. Kacamata terpasang saja dicarinya ke mana-mana…” ”Aku sendiri rasanya juga sudah mulai pelupa sekarang. tetapi malam bagaikan lebih malam dari malam. kenapa kamu tidak pernah muncul dalam mimpiku untuk bercerita tentang Satria? Pasti Satria menceritakan semua hal yang tidak diketahui selama ini.’ kataku. banyak yang sudah berubah.Terdengar dentang jam tua. Dasar Bapak.

”Ini suatu aib. ”Ceritakanlah semua rahasia…. Rahasia kehidupan. malah Si Saras. tanpa senyum.”Memang kamu selalu muncul dalam kenanganku Pak.” gumamnya. telepon genggam itu terloncat dari tangan Ibu yang terkejut.” Ibu mengangkat telepon genggamnya di telinga. ”Duduklah di situ dan ceritakan semuanya tentang Satria. ”Tapi ini bukan rahasia kehidupan yang agung itu. ”Kursi itu tetap kosong. tetapi kamu hanya muncul sebagai bayangan yang lewat. Apakah semua ini hanya akan menjadi rahasia yang tidak akan pernah kita ketahui isinya? ”Rahasia sejarah. ”Eh. Ibu seperti tersadar dari mimpi. suatu kejahatan. bahkan juga dalam mimpi-mimpiku. Hanya lewat. Seperti segalanya yang akan tetap tinggal kosong. Tapi rupanya bukan. seolah tiba-tiba telepon genggam itu menyetrum. Telepon genggam Ibu berdering. yang seandainya pun tidak akan pernah terbongkar…. ”Para pembunuh itu sekarang mau jadi presiden! . ”Pasti ibunya Saras lagi. seperti baru menyadari betapa kenyataan begitu buruk.” Ibu masih berbicara. hallo… “ Setelah mendengarkan apa yang dikatakan Saras. kini seperti kepada seseorang yang tidak kelihatan. ”Gila!” Ibu berujar kepada tokek di langit-langit yang tidak tahu menahu. Ibu beranjak mengambil telepon genggam. ”Ya.

Wajahnya begitu cerah menembus angin yang selalu ribut. Cahaya keemasan matahari pagi menyapu pantai.Cinta di Atas Perahu Cadik Bersama dengan datangnya pagi maka air laut di tepi pantai itu segera menjadi hijau. Seekor anjing bangkit dari lamunannya yang panjang. bagaimana olah angkasa raya adalah ruang pelayaran bagi perahu-perahu seperti yang mereka miliki. Bulan sabit mereka hubungkan dengan perahu. “Cepatlah!” ujar lelaki bernama Sukab itu. lantas melangkah ringan Hayati. membuat pasir yang basah berkilat keemasan setiap kali Seno Gumira Ajidarma yang biasa memikul air sejak subuh. tiba-tiba terdengar derum suara mesin. sejak bertahun. . Lidah-lidah ombak berkecipak dalam laju lari Hayati. melainkan berlari dengan pikulan air yang berat di bahunya itu. “Hayati! Mau ke mana?” olah beban di bahunya tiada mempunyai arti sama sekali. yang selalu memberi kesan betapa sesuatu sedang sepanjang pantai yang pada pagi itu baru memperlihatkan jejak-jejak kaki Sukab dan terjadi. Kakinya yang telanjang bagaikan mempunyai alat perekat. “Sukab! Tunggu aku!” plastik alas sepatu karena seolah tidak berasa sedikit pun juga ketika menapak di atas batu- Di pantai. Tentu. lantas berlari kembali ke arah perahu Sukab. sejak beribu-ribu tahun yang lalu. sambil menuruni tebing bisa melihat bebatuan di dasar lidah ombak kembali surut ke laut. seolahsamping gubuknya. sekaligus bagaikan terlapis karet atau batu karang yang tajam tiada berperi. Para nelayan memang hanya tahu perahu. Ia meletakkannya begitu saja di Seorang nenek tua muncul di pintu gubuk. perahu tetap teronggok sejak semalam. mungkin kehidupan para nelayan dilepaskan dari perahu? Hayati masih terus menuruni tebing setengah berlari dengan pikulan air pada bahunya. melangkah di atas batu-batu hitam berlumut tanpa pernah terpeleset sama sekali. Ternyata Hayati tidak langsung menuju ke perahu bermesin tempel tersebut. Hayati berlari begitu cepat. Onggokan batu karang yang kadang-kadang menyerupai Bukankah memang perlu waktu jutaan tahun bagi angin untuk membentuk dinding karang menjadi onggokan batu yang mirip dengan sebuah perahu. seolahbahkan atap rumah-rumah mereka dibuat seperti ujung-ujung perahu. Hayati pantai yang tampak kabur di bawah permukaan air laut yang hijau itu. gugusan bintang mereka hubung-hubungkan dengan cadik penyeimbang perahu. Terlihat Hayati mengangkat kainnya dan berlari cepat sekali.

“Ke mana Hayati.” Nenek itu memaki.” “Perahu Sukab menyalipku. “Istri orang di perahu suami orang! Keterlaluan!” Namun ia masih mengetuk pintu gubuk-gubuk yang lain.” Nenek yang sudah bungkuk itu mengibaskan tangan. perahu Sukab belum juga kelihatan. masih terdengar suaranya sambil tertawa dari dalam gubuk. Seorang lelaki muncul dari dalam gubuk. Itu sudah tidak musim lagi Mak! Lebih baik cari istri lain! Tapi aku lebih suka nonton tivi!” Angin bertiup kencang. aku juga sudah bicara kepadanya. bukannya mengamuk malah merestui!” Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala. Pada akhir hari setelah senja menggelap. Mak?” Nenek tua itu menoleh dengan kesal. kulihat perahu Sukab menyalipku dengan Hayati di atasnya. mesinnya sudah mati. Perahu Sukab yang juga bercadik melaju bersama cinta membara di atasnya. dan memang selalu kencang di pantai itu. jadi itu perahu Sukab! Kulihat perahu berlayar kumal itu menuruti angin. “Cabut badik? Heheheh. tetapi tidak tampak seorang pun di atasnya. burung-burung camar menghilang.Perahu Sukab melaju ke tengah laut. tetapi membentuk suatu rangkaian. kami akan bercerai dan biarlah dia bahagia menikahi Sukab. ya. “Pergi bersama Sukab tentunya! Kejar sana ke tengah laut! Lelaki apa kau ini! Sudah tahu istri dibawa orang. “Hayati dan Sukab saling mencintai. “Dullaaaaah! Dullah! Suami lain sudah mencabut badik dan mengeluarkan usus Sukab jahanam itu!” Lelaki yang agaknya bernama Dullah itu masuk kembali. Kulihat mereka tertawatawa. dan perahu- Menjelang tengah malam. menanyakan apakah mereka melihat perahu Sukab yang membawa Hayati di atasnya. Jawaban mereka bermacam-macam. “Ya. . kulihat Hayati menyuapi Sukab dengan nasi kuning dan mereka tampaknya sangat bahagia. sangat kencang. perahu lain telah berjajar-jajar kembali di pantai sepanjang kampung nelayan itu. nenek tua itu pergi dari satu gubuk ke gubuk lain.” “Oh.

Sebuah foto Bung Karno yang usang dan tampak terlalu besar untuk rumah gubuk ini. Nenek itu sudah mau melangkah keluar dengan putus asa. tetapi orangnya malah berkurang?” Melangkah sepanjang pantai sembari menghindari air pasang. dari sebuah penanggalan yang sudah bertahun-tahun lewat. Alas kaki yang serba buruk. di dalam sebuah bingkai kaca yang juga kotor. tapi mungkin ada juga yang lain.“Aku lihat perahunya. Pandangan nenek tua itu tertumbuk kepada anak perempuan yang menatapnya. hanya sandal jepit yang jebol. Isinya sama saja dengan isi semua gubuk nelayan yang lain. berikut pancing dan bubu. berkeringat. . dan jala di dinding kayu. dan di dahinya tertempel Nenek tua itu melihat ke sekeliling. tetapi tidak seorang pun di atasnya. Wajahnya pucat. tidakkah selalu begitu? Kalau Hayati naik perahu Sukab. ombak yang berdebur dan mengempas dengan ganas. Nyamuk berterbangan masuk karena pintu dibuka. Dipan yang buruk. lelaki dan perempuan yang sedang tertawa dengan mata genit. di dalam terlihat istri Sukab terkapar meriang karena malaria. bergemeletuk seperti sebuah mesin. bukannya tambah penumpang. Ia tidak melihat sesuatu pun yang aneh. Giginya tambah gemeletuk dalam perputaran roda-roda mesin malaria. “Bermain cinta di atas perahu! Perbuatan yang mengundang kutukan!” Ia menuju gubuk Sukab. tentu saja tidak ada sepatu. ketika terdengar suara lemah dari balik gigi yang gemeletuk itu. kursi buruk. lemari kayu yang buruk. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. mulutnya sebuah koyo. nenek tua itu menggerundal sendirian. “Anak apa ini? Umur lima tahun belum juga bisa bicara!” Waleh hanya menggigil di balik kain batik lusuh bergambar kupu-kupu dan burung hong. Nenek itu lagi-lagi menggelengkan kepala. Sebuah foto pasangan bintang film India. Ada juga pesawat televisi. meja buruk. Seorang anak perempuan yang rambutnya merah membuka pintu itu. “Mana Bapakmu?” Anak itu hanya menunjuk ke arah suara laut. Bukankah memang selalu begitu jika Hayati berada di perahu Sukab?” “Ya. pakaian yang buruk tergantung di sanasini. tetapi tampaknya sudah mati. “Waleh! Apa kau tahu Sukab pergi dengan Hayati?” Perempuan bernama Waleh itu menggigil di dalam kain batik yang lusuh.

tetapi aku tidak mau menjadi orang kampungan dan jika dia bahagia bersama Hayati.“Aku sudah tahu…” “Apa yang kamu sudah tahu. orang-orang di kampung nelayan itu masih membayangkan. agama kita telah memberi jalan agar mereka bisa dikukuhkan. melalui perceraian. Ibu. “Aku memang hanya orang kampung. Masih juga mereka berlayar dan tidak pulang kembali! Semua orang yang melaut bilang tidak melihat sesuatu pun di atas perahu ketika melewati mereka. atau memang hilang selama-lamanya tanpa kejelasan lagi. Waleh?” “Tentang mereka…” Nenek itu mendengus. karena memang sering terjadi. dan sangat mungkin. “Ya. Mereka bisa terseret ombak ke sebuah “Aku orang terakhir yang melihat Sukab dan Hayati di kejauhan. Waleh tampak berusaha keras melawan malarianya agar bisa berbicara. Kudoakan suamiku pulang dengan selamat— Waleh yang seperti telah mengeluarkan segenap daya hidupnya untuk mengeluarkan katakata seperti itu. seperti sudah tidak sanggup berpikir lagi. Namun karena tidak satu pun dari ketiganya muncul kembali. dan ketiga setelah perahu Sukab tidak juga kembali. mereka percaya perahu Sukab terseret ombak ke seberang benua. Hari pertama. perahu mereka jauh melewati batas pencarian ikan kita. maka tentu mayat Sukab atau Hayati akan tiba-tiba menggelinding dilemparkan ombak ke pantai. tidak kelihatan di bawahnya! Mengerti kamu?” tapi ada yang hanya melihat perempuan jalang itu tidak memakai apa-apa meski suamiku Waleh yang menggigil hanya memandangnya. kamu tahu dan tidak berbuat apa-apa! Dulu suamiku pergi ke kota dengan Wiji. langsung menggigil dan mulutnya bergemeletukan kembali. dan suamiku masuk rumah sakit karena badik suami Wiji.” kata seseorang. . Nenek tua itu terdiam. Hal itu selalu mungkin negeri lain dan kembali dengan pesawat terbang. kedua. bahwa jika bukan perahu Sukab muncul kembali di cakrawala.” yang mengumbar amarah menggebu-gebu. matanya terpejam tak dibuka-bukanya lagi. “Aku hanya mau bukti bahwa menantuku mati karena pergi dengan lelaki bukan suaminya menjadi korban kutukannya! Tapi kamu rugi belum menghukum si jalang Hayati!” dan bermain cinta di atas perahu! Alam tidak akan pernah keliru! Hanya para pendosa akan Mendengar ucapan itu. begitu pulang kujambak rambutnya dan kuseret dia sepanjang pantai.

Di pantai. Di tubuh perahu itu terikat seekor ikan besar menyengat sekali. betapa bukan urusan siapa pun bahwa mereka telah bercinta di atas perahu cadik ini. kadang-kadang tampak Waleh menggandeng anak perempuannya yang bisu. Hayati tampak lebih kurus dari biasa dan keadaan mereka berdua memang lusuh sekali. Desember 2006/ Merauke. April 2007 . Tombak ikan bertali milik Sukab tampak menancap di punggungnya yang berdarah—tentu ikan besar ini yang telah menyeret mereka berdua selama ini. Kalian tahu seperti apa orang yang dimabuk cinta…” Namun pada suatu malam. Kulit terbakar. sejak dulu ia selalu berlayar sendiri. Juga mereka percaya bahwa mungkin juga Sukab dan Hayati telah bermain cinta di atas perahu dan seharusnya tahu pasti apa yang akan mereka alami. pada hari ketujuh. mereka seperti masih Namun setelah hari keempat. Sabang. yang dengan ini tak bisa dihindari lagi. banyak lumba-lumba melompat di samping perahu mereka. menyusuri pantulan senja yang menguasai langit pada pasir basah. sekali—tetapi mata keduanya menyala-nyala karena semangat hidup yang kuat serta api Namun keduanya juga mengerti. Kadang-kadang pula berharap dan menanti siapa tahu perahu cadik yang berisi Sukab dan Hayati itu kembali. yang tentu saja sudah mati dan bau amisnya perahu Sukab mendarat juga.” mana mau ia mencari ikan bersama kita. Keduanya terdiam saling memandang.“Sukab penombak ikan paling ahli di kampung ini. “Kukira mereka tidak akan kembali. Sukab tampak lemas di atas perahu. Keduanya mengerti. tidak seorang pun dari para nelayan di kampung itu mengharapkan Sukab dan Hayati akan kembali.” sahut yang lain. setelah bahan bakar untuk mesinnya habis. pakaian basah kuyup. tetapi kawin lari ke sebuah pulau entah di mana. Hayati melompat turun begitu lunas perahu menggeser bibir kecilnya. mungkin bukan mati. dan gigi keduanya jika terlihat tentu sudah kuning cinta yang membara. cerita tentang ikan besar ini akan berujung kepada perceraian mereka masing-masing. “apalagi jika di perahunya ada “Apakah mereka bercinta di atas perahu?” “Saat kulihat tentu tidak.” Segalanya mungkin terjadi. di tengah angin yang selalu ribut terlihat pantai dan mendorong perahu itu sendirian ke atas pasir sebelum membuang jangkar yang lebih besar dari perahu mereka. Hayati. tampak Dullah yang menyusuri pantai saat para nelayan kembali.

Apabila tanah lapang sudah penuh. Dari mana dan mau ke mana? Aku tidak pernah berada di batas kota dan melihat gerobak-gerobak itu masuk kota. mereka selalu datang selama bulan puasa. anak-anak itu “Jangan sekali-sekali mendekati kere-kere itu. mereka datang untuk mengemis. menggelar tikar. Semuanya ia tangani sendiri. dengan roda karet dan pegangan kayu untuk dihela kedua lengan berwarna putih itu akan tampak sejumlah kepala yang menumpang gerobak tersebut. Di samping menjadi pejabat tinggi. memasang tenda plastik. kuamati orang-orang di dalam gerobak itu.” “Negeri Kemiskinan?” “Ya. Tidak jarang mereka memasang juga tenda di depan rumahkakekku. Dari balik dinding gerobak gerobak sampah lainnya. mereka menginap di kaki lima. Dari jendela loteng. Salah satu dari gerobak itu berhenti pula di depan rumah gedung “Kakek.” . Namun kalau aku setiap hari disibukkan oleh tugas-tugas sekolah. Anak-anak kecil itu tampaknya pekerjaannya hanya bermain-main saja. Hanya saja gerobak ini ternyata berisi manusia. kadang terlihat berhenti di berbagai tanah lapang. “kita tidak pernah tahu apa yang mereka pikirkan tentang kita. dan tidur-tiduran dengan santai.” kata Kakek.” “Oh. seusiaku. karena kakekku adalah orang yang sibuk. seperti selalu terjadi dalam bulan puasa tahun-tahun belakangan ini. tetapi Kakek tentu saja melarangku. Aku tidak bertanya lebih lanjut. bertenaga kuat yang menjadi penghela gerobak tersebut. Mereka datang dari Negeri Kemiskinan. biasanya seorang ibu dengan dua atau tiga anak yang masih kecil. ketika sedang berjalan merayapi berbagai sudut kota. Gerobak itu tidak ada bedanya dengan gerobak pemulung. siapakah orang-orang yang datang dengan gerobak itu Kek? Dari manakah mereka datang?” Kakek menjawab sambil menghela napas.Gerobak Seno Gumira Ajidarma Kira-kira sepuluh hari sebelum Lebaran tiba. atau bahkan di depan. rumah gedung bertingkat. aku hanya melihat gerobak-gerobak itu selintas pintas. Mereka seperti tiba-tiba saja sudah berada di dalam kota. gerobak-gerobak berwarna putih itu akan muncul di berbagai sudut kota kami. dengan plastik menutup gerobak dan mereka tidur di dalamnya. dan nanti menghilang setelah Lebaran. perusahaannya pun banyak sekali. Kadang-kadang aku ingin sekali ikut bermain dengan anak-anak itu. dengan seorang bapak Karena tidak pernah betul-betul mengamati. dan Kakek tidak pernah membagi pekerjaannya yang berat itu dengan orang lain. Tidak ketinggalan menanak air dengan kayu bakar dan masak seperlunya.

dalam kerumunan nyamuk warna-warni waktu berbuka puasa?” Aku tertegun. Nenek misalnya selalu mengirimkan makanan yang berlimpah-limpah kepada gerobak yang menggelar tenda di depan rumah. Demikian pula manusia-manusia dalam gerobak itu tampaknya merasa. tetapi kurasa tentunya dekat-dekat saja. tanganku erat-erat apabila didekati orang-orang yang berbaju compang-camping dan tepinya. dan di tepi jalan keluarga gerobak yang Kakek sampai sulit sekali keluar masuk rumah karena gerobak yang berderet-deret di depan memasang tenda-tenda plastik seperti berpiknik itu sudah sangat mengganggu sendiri. Benarkah. Memang mereka tidak pernah puasa ini? Aku memang selalu mendapat peringatan dari orangtuaku untuk hati-hati. Manusia-manusia gerobak ini seperti bersikap dunia adalah milik mereka . depan rumah. tetapi tak bisa kuketahui apa yang Sekarang aku tahu gerobak-gerobak berwarna putih itu datang dari Negeri Kemiskinan. bahkan mobil pagar. memang selalu kulihat mata yang menatap. bahwa manusia-manusia dalam gerobak itu perlu mendapat sedekah. Juga tidak kulihat mereka menengadahkan mereka datang untuk mengemis? Aku tidak pernah melihat mereka mengulurkan tangan di tangan di tepi jalan dengan batok kelapa atau piring seng di depannya. Apa yang akan kamu pikir yang berdenging-denging melihat anak kecil berbaju bersih makan es buah dan pudding jika dari kegelapan melihat lampu-lampu kristal di balik jendela. gerobak-gerobak yang lain itu juga mendapat limpahan makanan Begitulah dari hari ke hari gerobak-gerobak putih itu memenuhi kota kami. Apa maksud Kakek? Apakah mereka akan menculik aku? Ataukah setidaknya mereka akan melompat masuk jendela dan merampas makanan enak-enak untuk berbuka bahkan sebaiknya menjauhi orang yang tidak dikenal.rumah orang untuk mengemis. sudah semestinyalah mereka mendapat limpahan pemberian sebanyak-banyaknya tanpa harus mengemis lagi.” tetapi kewaspadaan Ibu memang akan selalu meningkat dan segera menggandeng sudah tidak jelas warnanya lagi. Mereka cukup hanya harus hadir di kota kami dan mereka akan mendapatkan sedekah yang tampaknya mereka anggap sebagai hak mereka. “Hati-hati terhadap orang miskin. menyebutkan kata-kata semacam.“Apa yang mereka pikirkan Kek?” “Coba saja kamu setiap hari hidup di dalam gerobak di luar sana. Jadi kapan mereka mengemis? Ternyata mereka memang tidak perlu mengemis untuk mendapat sedekah. Dari balik topi tikar pandan mereka yang sudah jebol dikatakan mata itu. Di jalan-jalan gerobak itu bikin macet. Kakek tidak pernah menjelaskan. dan mereka seperti merasa harus mendapat makanan tepat pada waktunya. seperti kata Kakek. Pernah pembantu rumah tangga di rumah Kakek yang terlambat sedikit pemandangan.” atau “Orang miskin itu jahat. gerobak itu dari hari ke hari makin banyak saja tampaknya. Tampaknya orang-orang yang dianggap berkelebihan diandaikan dengan sendirinya jajar di depan rumah. tidur-tiduran menatap langit dengan santai. Di karena bukankah gerobak itu dihela oleh orang yang berjalan kaki? Demikianlah gerobak- mana tempatnya. pula. Sepanjang hari mereka hanya bergolek-golek di atas tikar. Ketika kemudian gerobak-gerobak itu makin banyak saja berjajar- harus tahu.

Lagi-lagi Kakek menghela napas. bahkan sebagian telah pula masuk. mandi di kamar mandi mereka.” kata Kakek. Setiap tahun menjelang hari Lebaran gerobak-gerobak memenuhi kota. atau ditinggal dan dikunci begitu saja. padahal hari Lebaran sudah berlalu. Pada hari Lebaran. Warga kota yang memasuki kembali rumah-rumah mereka terkejut. tetapi setiap tahun itu pula mereka akan selalu menghilang kembali. itu banyak yang pulang kampung. makan di meja makan mereka. tapi kapan mereka tidak kembali ke tempat asal mereka? Mereka selalu menghilang sehabis Lebaran. kuat. Berkemah dan menggelar tikar di sembarang tempat. mereka seperti mengalir tidak ada habisnya.rumah gedung itu. Apabila kemudian warga kota kembali dari kampung. pasti tidak lewat jalan tol. orang-orang yang datang bersama gerobak itu telah menduduki rumah tersebut.” Para tetangga tidak membantah. melompati pagar. karena tentu mendahulukan Kakek. Gerobakkuat yang melangkah keliling kota. “Mereka memang tidak bisa pulang ke mana-mana lagi sekarang. pada saat yang sama gerobak-gerobak masuk kota entah dari mana. kali ini gerobak-gerobak itu masih tetap di sana. asri. entah dari mana. gerobak-gerobak itu ternyata tidak semakin berkurang. seperti hadir begitu saja di dalam kota. kali ini kota kami penuh sesak gerobak itu masih saja berisi anak-anak kecil dan perempuan dekil. “sehabis Lebaran mereka akan menghilang. dan berenang di selalu mereka tatap dari luar pagar dengan pikiran entah apa dan meninggalkan gerobak mereka untuk selama-lamanya? kolam renang mereka. Meskipun kota kami selalu menjadi sunyi dan sepi setiap kali Lebaran tiba. Lebih dari separuh warga kota mudik ke kampungnya masing-masing pada hari Lebaran. “Tenang saja. dan mewah dari luar pagar tembok. Apakah mereka maunya hidup di dalam rumah-rumah gedung yang “Mereka masih di sini Kek. tidur di tempat tidur mereka. Mereka juga berharap begitu. penghuni rumahrumah gedung satpam. dihela seorang lelaki dengan gerobak yang rupanya setiap hari bertambah dengan kelipatan berganda.mengantar kolak untuk berbuka puasa.” kataku kepada Kakek. kokoh. Tetangga-tetangga juga sudah mulai jengkel. mendapat omelan panjang dan pendek. merayapi tembok. dititipkan kepada tetangga.” “Bukankah mereka bisa pulang kembali ke Negeri Kemiskinan?” . Mereka berkemah di depan rumah-rumah gedung. meninggalkan rumah yang kadang-kadang dijaga mereka tidur-tiduran sambil memandang rumah-rumah gedung yang indah.” “Ya.” “Tapi kali ini banyak sekali. >diaC< Pada hari Lebaran. dan hidup di dalam rumah. pulang ke Negeri Kemiskinan. biasanya kan begitu.

tidak bisa diusir dan tidak bisa dibunuh. Heran. melompati pagar.” katanya kepada Nenek. gerobakbanyak. Baru kusadari betapa manusia-manusia seluruh tubuh mereka seperti terbalut lumpur. Sebaliknya semakin lama semakin maksudnya lumpur kemiskinan? Aku hanya tahu. kenapa manusia tidak pernah cukup puas Aku tidak terlalu paham bagaimana lumpur bisa merendam Negeri Kemiskinan. Seperti mereka betul-betul hanyalah Mereka yang tiada punya rumah di atas bumi. Rupa-rupanya seperti patung yang bisa hidup dan bergerak-gerak. gerobak ini memang sangat jarang berkata-kata. bahkan merayapi tembok. Pondok Aren. tetapi Negeri Kemiskinan sudah terendam lumpur sekarang. “apakah mereka harus berbagi tempat tinggal dengan kere unyik itu?” “Siapa pula suruh merendam negeri mereka dengan lumpur. menduduki setiap tanah yang bertingkat. “Bagaimana nasib cucu-cucu kita nanti.” sahut Nenek. muncul di berbagai sudut kota entah dari mana. Barangkali saja untuk selama-lamanya.“Ya.” Sekarang aku mengerti kenapa orang-orang itu tampak sangat amat dekil. 7 Oktober 2006 kosong. dan tidak ada kepastian kapan banjir lumpur itu akan selesai. di manakah mereka mesti tinggal selain tetap di bumi? Kakek merasa gelisah dengan perkembangan ini.” menerima segala akibat perbuatan kita. setelah hari Lebaran berlalu. Minggu. sehingga kadang-kadang mereka tampak patung dan hanya mata mereka akan menatapmu dengan seribu satu makna yang terpancar dari sana. memasuki rumah-rumah gedung . “kita harus dengan apa yang sudah mereka miliki. Apakah gerobak putih sama sekali tidak pernah berkurang. tinggal di sana entah sampai kapan.

menjadi pasangan baru. Apabila kami berbeda kulit. tetap bertahan. dan semenjak saat itu kami menjadi semacam takdir ketika tiada sesuatu pun di dunia ini yang bisa memutuskan hubungan cinta kami. Kami seperti tiba-tiba saja ada dan saling mencintai sepenuh hati. tetap menggelisahkan. karena sesungguhnyalah aku tidak akan bisa tahu apakah benar cinta kami yang barangkali abadi itu adalah takdir. jika cinta ini belum juga ada? Lagi pula bagaimana cinta akan berkarat karena angin yang bergaram jika cinta berkarat setelah mengarungi berabad-abad jarak. Walaupun kami terbukti Demikianlah cinta kami selalu diuji. Cinta yang abadi kukira bukanlah sesuatu yang ditakdirkan. dan bayang-bayang bisa berkelebat menembus segala tabir. begitu juga bayang-bayang kami yang selalu mengikuti. kami selalu bisa saling mengenali dan mengusahakan segalanya untuk menyatu kembali. Dunia hanyalah laut dan langit yang dibatasi garis tipis melingkar. Bagaimana cinta akan melaju menembus angin yang bergaram. Hanya kekosongan. barangkali menunggu kami mati dan bisa berkelebat seenak udel kami. tiada seorang pun yang akan mengizinkan dirinya untuk memahami. tetap membara. karena sesungguhnyalah hubungan cinta kami yang barangkali abadi itu adalah sesuatu yang diperjuangkan. Aku mengatakannya semacam takdir. membentuk garis lingkaran yang tiada pernah berubah jaraknya. berbeda agama pula-betapa beratnya usaha kami menyatukan diri. Kami sering dilahirkan kembali sebagai manusia. tapi aku hanya berani mengatakannya semacam takdir. dan bukan takdir itu sendiri. namun kami udelnya. Kami memang diciptakan dari sepasang tidak pernah lahir kembali sebagai sepasang bayang-bayang yang bisa berkelebat seenak bayang-bayang. ataukah cinta kami ini hanya cinta begitu-begitu saja yang terlalu mudah . Apalagi jika kami lahir kembali masing-masing sebagai pasangan resmi orang lain. dan tetap terus-menerus diperjuangkan terus-menerus sehingga cinta itu tetap ada. cinta yang abadi adalah sesuatu yang tetap penuh pesona. kemudian berbeda kelas sosial. meski perahuku tapi kutahu cintaku belum akan berkarat bila tiba di pulau itu. karena kami memang tidak terpisahkan. lantas saling mencintai. tapi sungguh mati memang hanya seperti dan sekali lagi hanya seperti. Barangkali itulah yang disebut dengan cinta abadi. berkarat hanya karena sebuah jarak dari Labuan Bajo ke Komodo. Memang kembali. Bibirku terasa asin dan rambutku menyerap garam. menimbulkan tanda tanya: Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku? Setiap kali kami mati dan dilahirkan kembali. bahkan kami pun bisa bingung sendiri. dan sebagai manusia kami tidak menempel seperti ketan. dari suatu masa ketika cinta pertama kali memang bukan besi? Aku dan kekasihku diciptakan dari sepasang bayang-bayang di tembok yang tubuhnya sudah mati.Cintaku Jauh di Komodo Seno Gumira Ajidarma Hanya laut. lengket bagai benalu. benarkah begitu kuat usaha kami untuk menyatu menyerah karena berbagai macam halangan yang sebenarnya bisa saja diatasi. terlalu banyak manusia merasa berhak untuk tidak setuju dan melarang hubungan kami. tetap misterius. nah.

sebagai manusia biasa. kukira. juga dihuni komodo. tapi mereka sebetulnya tidak tanda alam memberi isyarat kepadaku. belum pernah kami lahir kembali dengan berbeda spesies seperti ini. Apabila kami bertemu dari kelahiran satu ke kelahiran lain. maka kesenjangan tubuh macam apakah yang akan bisa menghalanginya? Justru itulah masalahnya sekarang: apakah aku. di tempat yang baru itu. begitulah. Karena undang-undang melindungi komodo. Cinta yang sejati. karena telah memakan seorang anak gadis yang sedang mandi di sungai. bersentuhan sama sekali. kami akan saling mengenali. Suatu kali bahkan ketika lahir kembali sebagai bayi. bagaimanakah caranya ia akan mengenalikuseekor komodo ke dalam apartemenku di Jakarta. kami selalu lahir kembali sebagai manusia-kesalahan apakah yang telah dilakukan kekasihku. yang sekarang berada di Pulau Komodo.begitu banyak godaan kepada kesetiaan cinta kami: bisa berwujud harta kekayaan. sehingga kekasihku dengan kelaparannya yang amat sangat telah menerkam dan maka kekasihku tidak dibunuh. Atas nama cinta. Akibatnya. Kesetiaan kami masing-masing telah hebohnya. Itulah yang terjadi misalnya ketika aku lahir sebagai pendeta dan kekasihku lahir sebagai putri raja. Apakah aku akan bisa bertemu dengan kekasihku kali ini? Tanda- kekasihku menimbulkan masalah besar. jikakekasihku itutelah menjadi komodo? Hanya laut. meski terkadang penuh dengan lukaluka cinta di sana-sini karena ketergodaan yang terlalu menarik untuk tidak dilayani. hanyalah menjadi sejati jika tahan uji terhadap cinta yang sama kecuali menggetarkan dan mendebarkan hati. Dalam sejarah percintaan kami dari abad ke abad. dengan segenap petir dan halilintarnya yang tanpa membuat kami selalu bertemu kembali. kekasihku berenang dan menelan seorang anak gadis berusia 12 tahun. Laut dan langit bagai bertaut. bisa berupa kursi kekuasaan. apakah yang masih bisa kulakukan untukmu . tidakkah cinta itu tiada memandang wujud. meski perbedaan duniawi yang membungkus kami bisa mengakibatkan masalah berarti. Karena kami selalu berperilaku baik. sehingga lahir kembali sebagai komodo? Apakah ia masih akan mengenaliku dengan pancaindra dan otaknya sebagai seekor komodo? Kalaulah aku masih mempunyai kepekaan untuk mengenalinya. Namun. masihbisa mencintaikekasihku. Perburuan liar telah mengurangi jumlah kijang yang biasa dimakan komodo. yakni cinta yang dahsyat itu. Tetapi. kekasihku telah dilahirkan kembali dalam wujud seekor komodo. Lain kali aku lahir kembali sebagai perempuan dan kekasihku lahir kembali tetap sebagai perempuan. Cinta diuji oleh cinta. tapi yang paling berbahaya adalah pesona cinta itu sendiri. melainkan dibuang ke suatu wilayah di Pulau Flores yang asing yang dimusuhi oleh komodo-komodo lain. Sebagai seekor komodo. dan tiada pula memandang usia? Jika cinta memang mempersatukan jiwa. kekasihku sudah lahir berpuluh tahun sebelumnya dan hampir mati. dan aku tidak mengetahuinya. Pasti Supermie tidak akan pula kekasihku? dan apa yang akan kami lakukan? Aku tidak mungkin mengawini dan membawanya sebagai mengenyangkannya. Sering kali ini sangat membingungkan-tetapi selalu bisa kami atasi. Hanya kekosongan. Hmm. kekasihku dianggap sebagai komodo menyeberangi laut untuk kembali ke Pulau Komodo-dan kini aku datang ke pulau itu untuk mencarinya.

Sudah jelas ia tampak kelaparan. tempat para petugas Taman Nasional biasa memandu wisatawan. aku menjadi ragu. kaki kiriku sudah masuk ke mulutnya. dan kukira ia tidak mengenaliku lagi-apakah ternyata mengenal wujud-meskipun komodo jantan itu memang penjelmaan kekasihku. kurator Museum Zoologi Bogor. ataukah hanya seolaholah ada dan dipercaya begitu rupa sehingga mengelabui para peminatnya? Mungkin cinta aku sangat mencintainya. Reptil bernama resmi Varanus komodoensis yang panjangnya bisa mencapai tiga meter dan berat 150 kilogram. Juli 2003 * Judul ini mengacu kepada judul sajak Chairil Anwar. dan suatu wilayah di Flores yang jumlahnya belum sempat dihitung. East of Bali: from . aku menjelajahi pulau itu siang malam tanpa pengawal. Sisa makhluk purbakala itu baru ditemukan secara resmi pada 1911 oleh tentara Hindia Belanda dan diberi nama pada 1912 oleh PA Ouwens. Aku terpeleset dari tebing. hal 111-114. Setelah menjelajahi pulau itu selama dua hari dan bertemu dengan sejumlah komodo. Labuan Bajo. apakah cinta yang abadi itu sebenarnya memang ada. Rupanya kekasihku menjadi seekor komodo jantan. dan “Enter the Dragon: Visiting the Island of Dinosaurs” dalam Kal Muller. Baca Linda Hoffman.000 ekor. dan meluncur masuk ke kubangan. Apakah yang masih bisa kukenal pandangan mata yang penuh dengan cinta. Cintaku Jauh di Pulau (1946). seluruh tubuhku tersedot masuk ke dalam tubuh komodo itu sekarang. tapi hanya kulihat sebuah pandangan mata yang masih sahih jika aku berusaha tetap mempertahankan cinta? Dalam keadaan seperti ini. Ingatan terbalik atas sajak Afterthought : cintakah kau padanya / cintakah kau padanya dalam Toeti Heraty. Aku tidak sempat memanfaatkan tongkat bercabang itu- apakah aku akan lebih bahagia jika menyerahkan jiwa sebagai pengorbanan cinta? Kurasa hanya kurasakan kegelapan-dan perasaan menyatu. Di dalam tubuh itu 1. Ketika akhirnya kami berjumpa di sebuah kubangan pada sungai kering berbatu-batu.650 ekor (1994). Kami bertemu pada suatu siang yang panas dan aku sedang mendaki ketika kulihat ia dari kekasihku yang cantik jelita pada komodo jantan ini? Tadinya masih kuharapkan merayap ke arahku di bawah kerimbunan semak-semak. dengan jumlah sekitar 1. terdapat pula di Pulau Rinca. Ternyata. dan mencintai kekasihku…. sebanyak 1. Kalau aku tidak keliru. aku bertanya-tanya apakah aku bisa mencintainya seperti aku kosong. dan selalu disebut hanya terdapat di Pulau Komodo. Nostalgi=Transendensi (1995). hal 75. akhirnya aku bertemu dengan seekor komodo yang kuyakini sebagai kekasihku. tepat di hadapan mulutnya yang menganga. “Introduction” Lombok to Timor (1997). sampai kutemukan komodo jantan yang pernah memakan anak gadis itu. Semuanya sudah terlambat. Bersenjatakan tongkat bercabang. 2.hatiku terasa kosong. Karena aku turun di kampung Komodo dan bukan di Loh Liang. aku berhasil menyelamatkan diri dari serangan sejumlah komodo. langsung patah beberapa bagian.

. terjemahan A 5. pada 1972. jauh baca JAJ Verheijen. dan Bahasanya (1987). Muller. wisatawan asal Swiss berusia 84 nya. yang dialami seorang bocah lelaki pada 1987. 4. kaki tiga untuk kamera. yang bersebelahan dengan Pulau Komodo. Bagian kisah ini mengacu kepada suatu kejadian. Rakyat. Mereka menyebut komodo sebagai ora. hal 112 tahun. ibid. Pulau Komodo: Tanah.3. Kampung Komodo. Pulau Komodo-yang tertinggal hanyalah tripod- . yang lenyap di Poreng. cit. terdiri atas 400 KK (2003).. mempunyai kebudayaan dan bahasa sendiri. hal 111-2. dalam Muller. satu-satunya kampung di pulau itu. namun terjadinya di Pulau Rinca. op. Korban terakhir adalah Baron Rudolf Van Biberegg. Lebih Ikram.

Kepalanya botak.Cinta Elena & Pedro Aba Marjani Wanita tua itu duduk sendirian di kursi pedestrian Las Ramblas. Julia. meluncur mendayu-dayu diiringi dansa-dansa yang amat indah. Suaranya datar. Mi Jaragual (My Little Farm). Suaranya lirih. “Apakah mereka sudah menyanyikan Cantandole a lo Nuestro?” si pria bertanya. “Siapa orangtuanya?” ia bertanya. Beberapa orang berkerumun untuk mendengarkan. Elena?” “Bien. Sinar matahari masih terlihat jelas di ufuk mereka.” . “Ya. Muy bien. Seperti ada beban yang menindih. “Como estas. Bara cinta meletup di dadanya.” “Untuk kita. Matanya menatap ke pengamen obor api yang memasukkan dan mengeluarkan obor berapi di mulutnya.” Ia mengakhiri kalimatnya dengan sekulum senyum.” kata si wanita beberapa saat kemudian. Kesegaran menjalari seluruh tubuhnya. “Una hija. “Belum. hoy. “Aku selalu menyukai lagu itu. Semilir angin menggeraikan rambutnya yang keemasan. tangan si wanita memegang tangan si pria. Lagu-lagu tentang semangat kerja rakyat petani. “Aku baru saja mendapatkan cucu ketiga. Pengamen-pengamen asal Puerto Riko asyik menyanyikan lagu-lagu tradisional Farmer’s Song). Pedro. Si pria menoleh. Si wanita mencium aroma wewangian dari tubuh si pria. Muy bonita.” Si wanita tersenyum. El Cantar de un Campesino (A kepada orang-orang yang lalu lalang di depannya dan kebetulan menoleh ke arahnya. “Si bungsu.” Tersenyum. untuk kita. Sesekali ia mengangguk atau melemparkan sesungging senyum Sudah hampir pukul sembilan malam rupanya. Ia setua si wanita.” katanya. Ada nada pedih. barat sana. Pedro.” Seorang pria duduk di sebelahnya. Sebuah tongkat kayu dari pohon ek berada di tangannya. Kau bisa memberinya beberapa pesetas dan meminta mereka menyanyikannya untukmu. Sesaat ia diam. Ada juga yang membeli kaset hand made-nya seharga 10 pesetas. Berkilat-kilat kena cahaya lampu yang mulai dinyalakan.

0<>w 8000m< 26 tahun lalu. Stadion kebanggaan pendukung El Barca itu terlalu banyak 6024m. Seorang pria tinggi besar yang hampir saja tewas karena serudukan banteng di gelanggang matador di La adalah cita-citanya sejak kecil. wajah Raul bergulir. Jantung keduanya serasa lebih cepat Dua tahun Elena dan Pedro bahu-membahu sebagai pendukung Barcelona sampai kemudian cinta mereka dipisahkan oleh takdir. Ia menunggu jawaban si wanita dengan dada “Raul sering kali menanyakanmu. memandang laki-laki di sebelahnya itu. matahari seolah enggan buru-buru berhenti menyinari Bumi. meskipun itu Si pria melirik si wanita. Api cintanya membara. Akan ada dua Raul di sana. Ia ingin sekali menjadi seperti Pedro Romero. Tangannya masih juga memegang tangan si pria. Pedro. Ia menyembunyikan sukacita di hatinya.0<>w 6024m<1)>jmp 0m<>h 8000m. Pedro? Por que?” si wanita menoleh. Ia masih tampan seperti dulu. Pedro datang dengan segala atribut El Barca. “Aku sebenarnya menginginkan ia menjadi pemain sepak bola. Demi aku. Dalam sekali pandang. “Kau ingin aku mengatakan apa? Aku turut bahagia dengan segala anugerah yang kau terima? Begitukah?” “Setidaknya kau bisa berkomentar apa saja. Di sanalah ia dan Pedro pertama kali bertemu ketika Barcelona dikalahkan Liverpool dalam suatu pertandingan tingkat Eropa >jmp -2008m<>h ingin Raul berada di Nou Camp. cinta mereka berdenyut. Monumental de Barcelona. Di wajahnya berdebar. bertaut. El Merengues selalu jadi tim ingin ia berada di Santiago Bernabeu. Matahari sebentar lagi akan lenyap ditelan Bumi.” Mendadak si pria tersenyum getir. Begitu juga Elena. sama seperti El Barca yang dua tahun sebelumnya . mungkin saat ini ia tengah bertanding di La Liga bersama Raul Gonzalez. Tak sabar. Api cinta bergejolak di dadanya.” Malam terus merayap. yang selalu dielu-elukan penonton dalam setiap pertunjukan. Begitulah selalu di Spanyol.Si pria menarik napas. Di dada mereka bunga-bunga cinta membalut.” katanya dengan sunggingan senyum tertahan. Tangannya masih dalam genggaman tangan si wanita. Dalam benaknya. Itu yang membuatnya berhenti sebagai torero. “Kau tak ingin mengatakan apa-apa lagi. Aku tak ingin ia berada di Nou Camp. si wanita membatin. Di musim panas.” kebanggaanku meski aku orang Basque. “Bagaimana kabar Raul? Apakah ia bahagia dengan Bettina?” si pria bertanya. “Kalau ia menuruti kata-kataku. lintasan kebahagiaan berpendar-pendar. Ia tahu Pedro tak tahu tentang mereka. Kau bisa pura-pura bahagia. Tanpa berkata. Aku cuma Si wanita tersenyum. matador legendaris yang amat masyhur. Ia selalu merindukanmu.

“Pedro. Sepasang muda-mudi kemudian duduk di kursi di depan di seberang mereka. ia memang tak ingin menghitung. Dengan es Si pemuda menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemudi. Sisa-sisa api cinta berpendar-pendar di matanya yang cerah. Tanpa tongkat “Buenos dias. Yang membuat langkahnya terasa lebih ringan.” “Mi. Tanpa menoleh.” Si pria bangkit. Dengan itu pun ia sebenarnya masih bisa bertahan. Tongkat dari kayu ek itu lebih hanya sebagai teman. Mereka tak menadahkan tangan. menghentikan langkah si pria. keduanya krim di tangan mereka. Elena. Ada yang berperilaku seperti manekin hidup dengan tubuh berbalut semacam cat putih dan baru mengubah posisi mematungnya penyanyi Puerto Riko juga tetap setia membawakan lagu-lagu rakyatnya di depan sebuah toko yang menjual berbagai macam majalah dan koran. ia duduk di sebelah si wanita.” kata si pria kemudian. Tanpa menunggu jawaban. tambien. Lalu mereka .” Si wanita tersenyum. Semuanya mempertontonkan kelebihan masing-masing seraya berharap ada pejalan kaki yang rela menyisihkan uang recehnya beberapa pesetas.” katanya begitu tiba. Pedro. Ia belum pikun untuk menghitung bilangan tertentu.” katanya. “Kukira sudah terlalu malam. tongkat di tangan. Si pemudi menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemuda. si pria tua itu. Cinta memang tak selalu mempertautkan raga meski jiwa mereka takkan terpisahkan oleh apa saja. Mereka menjual kepandaian. si wanita berambut keemasan itu. Entah ini hari ke berapa ia berada di sana. Ia khawatir hitungannya terhenti pada Tanpa terikat apa-apa. bersama-sama menggigit es krim di tangan si pemudi dalam waktu bersamaan. Sejak dulu matamu selalu bagus. “Seperti yang kau lihat. Pejalan kaki tetap berseliweran dari pagi sampai pagi. muncul belakangan. Ada yang santai. didudukinya. Di dadanya rasa nyaman merambah. juga tetap setia duduk di kursi yang kemarin masa. Tapi. Kelompok Elena. bukan?” si wanita menjawab.” Tak ada yang berubah di Las Ramblas. ada yang dalam gegas. Ia ingin menikmati masa-masa tuanya seperti yang ia inginkan sendiri. Seperti juga hari-hari sebelumnya. Hasta luego. Kesejukan di hatinya singgah. Mengecup kening si wanita. Suaranya agak parau. “Te amo. “Buenos dias. Para pengamen berdiri di sisi jalan dengan kesabaran tanpa batas. manakala seseorang melempar uang receh pada sebuah wadah di depannya. Yang diketuk-ketuknya perlahan-lahan ketika ia berjalan.disisihkan klub sepak bola dari tanah Inggris itu. Elena. Lalu.” Elena tersenyum sumringah. “Kau sehat?” si pria bertanya. seperti coba mencari topik pembicaraan di sore yang juga cerah. Aku pamit. “Sudah saatnya kita berpisah. “Buenas noches.

Tak pernah terbayangkan hal itu dapat terjadi.” Kenangan-kenangan indah bermunculan susul-menyusul memenuhi benak mereka Si wanita tersenyum. Keduanya teringat masa-masa lalu yang indah di dari simfoni-simfoni klasik gubahan Beethoven entah berapa waktu lalu. Tapi tak pernah padam. Ketika saling memberi dan menerima merasuk. Wanita yang dulu selalu hadir dalam . Inilah untuk pertama kalinya pertanyaan seperti itu meluncur. tepat. Dalam tubuh memudarkan hasrat mereka untuk tetap bersama. Jika aku berkata jujur. Masa tak mampu memupus dan keduanya kembali.pejalan kaki yang berseliweran. Bukankah kau sakit gigi waktu itu?” “Bukan sakit gigi. Demi sebuah bisnis keluarga. “Kau masih ingat ketika itu aku meringis. takkan ada yang mampu memutus tali dan jalinan kasih mereka. Si pria menoleh. apakah hatinya takkan hancur? Ia kembali mengetuk hatinya dengan pertanyaan penuh keraguan. takdir itu kemudian datang memisahkan mereka. disujudkan kepada laki-laki yang tak dicintainya. “Kau mencintai istrimu. Yang takkan melukai hati si wanita di sisinya. Selain Nou Camp. Pedro?” si wanita bertanya. Dalam tubuh yang renta. Wajah mereka basah oleh air mata dan tetes-tetes cinta. sudut-sudut Plaza Montjuic jadi saksi abadi keabadian cinta mereka. Ketika cinta tengah manakala mereka tengah duduk berdua seperti sekarang ini. Mereka seolah cuma ada berduaan. Sariawan membuat gusiku peka. “Ya. si wanita terkasih. Si pria tersenyum. Cinta yang tak lekang oleh waktu dan perubahan. bukan?” si wanita menoleh. Hampir dua puluh delapan tahun peristiwa itu berlalu. Saat itu mereka yakin tersemaikan dalam sebuah romantisme kasih tak terperi. Ketika mereka saling memagut dalam alunan cinta yang kian bertaut. Setelah sekian lama mereka kerap bertemu dan saling mencurahkan isi hati yang pernah hancur. Tapi kasih mereka tak dilekangkan oleh perubahan dan waktu. “Almarhumah istriku?” ia mencoba mengulur. setelah setetes benih juga Tapi. Elena. api kasih masih panas membara. Dan kini alam mempertemukan renta mereka. tertawa-tawa berkakakan. Cinta mereka memang terbelenggu. cinta mereka tetap bergelora. Haruskah aku menjawabnya secara jujur? Si pria bertanya dalam hati. Dan keduanya pun kemudian berpisah dalam dekap penuh tangis di sebuah kamar hotel tua di sisi pedestrian Las Ramblas ini. Api cinta mereka memang terpendam. Elena harus menikah dengan pria lain pilihan ayahnya. Mereka tak peduli dengan Plaza Montjuic di bawah tempias air mancur yang meloncat-loncat seiring dentuman drum membuat mereka mabuk. katamu gigimu sedang sakit. Ketika kelana cinta mereka menari-nari dalam sinar mercury yang remang. Sambil coba mencari jawaban yang paling mimpi-mimpinya.

Si wanita menoleh. Melemparkan senyum. Dengan bibir yang masih tampak ranum.

Setidaknya di mata si pria yang kian rabun. Tapi, senyuman itu sekaligus membuat si pria

gelisah. Membuat hatinya resah. Dan ia merasa keringat telah membuat telapak tangannya basah. Embusan angin membuat hatinya makin galau. Di dadanya menggumpal rasa risau. Pedihnya seperti tertusuk-tusuk sejuta pisau.

“Setidaknya aku punya anak dari Evita,” suaranya parau. “Aku mencintai anak-anakku. Pablo dan Javier.” Ia diam sejenak. Sesuatu seperti membuat tenggorokannya tersedak. Ketika ia melirik si wanita, ia melihat angin membuat rambut si wanita tersibak. Dan ia seperti segenap keberanian.

menunggu. “Apakah, apakah kau mencintai suamimu?” ia bertanya setelah mengumpulkan

Si wanita tertawa kecil. Suaranya agak menggigil. “Mengapa kau tertawa, Elena?” si pria bertanya. “Seperti kau, dari Enrique aku punya Julia.” “Dan Raul.” “Kau tak ingin mengatakan Raul sebagai anakmu?” Si pria tak segera menjawab. Seolah ingin membiarkan pertanyaan itu menguap. “Kau masih mendengarkan aku, Pedro?” “Ya,” tenggorokan si pria terasa kian tercekat. “Raul mungkin darah dagingku. Tapi ia anakmu dan Enrique.”

Malam merayap naik. Udara dingin kian terasa menusuk tubuh mereka yang renta. “Aku pulang dulu, Elena,” kata si pria mendahului setelah seorang pemuda meluncur di depannya dengan sepatu roda di kakinya.

Elena bangkit. Pedro pun bangkit. Ia mengecup kening si wanita. Lalu melangkah ke arah utara. Si wanita melangkah ke selatan, ke Plaza de Catalunia.

HARI berikutnya, keduanya bertemu di Plaza de Toros La Monumental de Barcelona, sebuah bangunan tua yang tetap terawat dengan sangat baik. Keduanya memang selalu menyukai aksi para torero dan matador membunuh banteng.

“Kudengar makin banyak yang menentang pertunjukan seperti ini,” kata si pria ketika

keduanya duduk di kursi dari kayu tua di barreras. “Kelihatannya memang tak manusiawi. Tapi alam diciptakan Tuhan untuk manusia. Makhluk-makhluk lain adalah pelengkap. Mereka harus menjadi bagian yang membahagiakan manusia.”

“Itu katamu,” si wanita menyunggingkan senyum ketika para paseillo memasuki arena dan melambaikan tangan mereka kepada para penonton. Sejak kecil, si wanita selalu dibuat

kagum oleh pakaian para torero yang berwarna-warni. “Mereka, para pencinta lingkungan dan binatang, menginginkan semua makhluk hidup, hidup berdampingan secara damai.” “Tapi ini tradisi kita,” si pria membantah. “Aku tahu. Dan kita ke sini bukan untuk berbantah-bantahan, bukan? Kita ke sini untuk

menonton.”

membatin. Ia ingat ketika pertama kali memasuki La Monumental de Barcelona sebagai

Si pria terperangah oleh suara si wanita yang terdengar getas. Ia masih seperti dulu, si pria

sepasang kekasih. Elena menolak duduk di barreras karena harga tiketnya mahal. Ia lebih suka duduk di gradas. Tiketnya paling murah. “Kalau kau mau duduk di sana, silakan kau kanan si wanita dengan tangan kirinya. Menggenggamnya erat-erat. Seperti tak ingin terlepas. duduk sendiri. Aku mau kita di gradas,” katanya ketika itu. Buru-buru si pria meraih tangan

Seorang novilladas memasuki arena. Siap memulai pertunjukan. Tepuk tangan kecil terdengar. Begitulah selalu nasib para matador pemula. Ia harus lebih dulu mempertontonkan kecekatannya menguasai seekor banteng sebelum kemudian diakui

menjadi torero dan akhirnya setelah kemampuannya teruji, menjadi matador sesungguhnya. “Siapa matador kesukaanmu sekarang?” si pria berdehem sesaat kemudian. “Seperti cintaku padamu, sampai sekarang aku masih lebih menyukai Pedro Romero.” “Tapi ia telah tiada.” “Karena itu, hari ini aku ingin melihat aksi Enrique Ponce.” “Enrique?” Si wanita menoleh. Tersenyum penuh arti. “Jangan seperti anak kecil, querido mio. Tak ada hubungannya dengan Enrique almarhum Enrique dalam batinku.”

suamiku. Aku menyukainya karena kehebatannya, bukan karena namanya. Saat ini tak ada

Enrique Ponce memasuki arena. Ia akan memuncaki pertunjukan siang itu. Tepuk tangan membahana ketika ia keluar dari puerta grande. Tepuk tangan kian membahana ketika seekor banteng besar seberat 360 kg dihadapkan kepadanya. Dan, ia tak perlu berlamaperlahan-lahan seperti bersujud di hadapan sang matador.

lama untuk menancapkan estoque-nya melalui leher bagian atas si banteng yang kemudian

“Ia seperti memiliki mata malaikat,” si wanita berkata, seperti mendesah. “Ia memang luar biasa. Suatu saat ia mungkin bisa seperti Pedro Romero, sang legendaris itu,” sambung si pria.

Kini keduanya duduk di sebuah kursi panjang terbuat dari besi di sisi jalan tak jauh dari Plaza de Toros. Matahari bersinar amat cerah. Langit tampak kebiruan.

hoopoe dari kejauhan.

“Aku tak ingin semua ini segera berakhir,” si pria berkata, ditingkahi suara burung-burung

“Tapi hidup ada batasnya,” sahut si wanita seiring desiran dedaunan pohon palem yang ditiup angin.

“Kau ingin kita menyudahi semuanya, Elena?” Tak terdengar sahutan. Mata si wanita menatap ke kejauhan. Di sana tampak empat pria tua martil.

asyik bermain petanque, yaitu permainan melempar besi berbentuk bulat seperti bola lontar

“Kau ingin aku menikahimu?” si pria kembali bertanya. Si wanita meringis. “Akan menjadi pernikahan yang menarik,” ia mendesah beberapa saat kemudian. “Tapi Raul tak ingin hal itu terjadi.”

Si pria tampak terperanjat. “Sudah kau ceritakan siapa aku kepadanya?” si pria bertanya. Menduga-duga. Rasa galau berloncatan di dadanya.

“Tidak seperti yang mungkin kau sangka. Baginya, kau cinta pertamaku. Ia tahu apa itu artinya.”

“Tapi, kenapa ia tak setuju kita menikah?” Tak segera terdengar sahutan. “Aku tak ingin tahu alasannya. Aku cuma tahu ia tak setuju.” Lama keduanya terdiam. Hening menyungkup kamar itu. Si pria duduk memandang si wanita. Ada gelora cinta. Menggemuruhi dada keduanya.

“Kau masih secantik dulu,” katanya lebih mirip desahan. Suaranya agak tertahan. “Cintaku tak pernah dilekangkan oleh zaman.”

Setetes air bening menetes di mata si wanita. Tak ada luncuran kata. Ia tetap diam tanpa suara, beberapa lama. Tapi di dadanya kebahagiaan melanda.

Si pria berdiri. Melangkah perlahan menghampiri. Si wanita duduk diam menanti. Dadanya berdegup tiada henti.

* Jakarta. aku cinta padamu. sebutan umum untuk matador. baik. seorang anak perempuan. Matador. tambien.tempat duduk paling tinggi. Gairah di dadanya pun meletup. “Tak ada yang perlu dimaafkan. Raul. Plaza de Toros. divisi utama Liga Spanyol.” kata Julia lirih. Dalam sunyi abadi. Tapi gemuruh cinta di dada keduanya berdentam-dentam. ruangan itu gelap. kandang klub sepak bola Barcelona. Sebentar lagi prosesi pemakaman dilakukan. Pesetas. “Aku minta maaf atas semua yang telah terjadi. Lalu. Novilladas. Cantik sekali.Beberapa lama si pria dan si wanita duduk dalam diam. Hasta luego. hoy? Apa kabarmu? Bien. Sampai kemudian semuanya berhenti. parade para matador sebelum pertunjukan. julukan klub Barcelona. bintang dalam pertunjukan matador. Tak ada yang menyahut lagi. El Barca (baca El Barsa). Muy bonita. Por que? Kenapa? Torero. selamat siang. sampai jumpa. . Dalam gelap. Dalam kepasrahan ia membiarkan si pria pergi. Februari 2004 Catatan: Tingkatannya di atas torero. Jantungnya kian kencang berdegup. Dengan baju serba hitam. Mi. Di hadapan mereka berjajar dua tubuh dalam diam. Julia. matador pemula. nama mata uang Spanyol. Barreras. Gradas. Mendaki. El Merengues. julukan klub sepak bola Real Madrid. Paseillo. Tak ada yang dapat dipersalahkan. Mendaki dan mendaki. tetap tertunduk. Buenos dias. Muy bien. Te amo. tempat pertunjukan matador.” kata Pablo. aku juga.” kata Raul dengan wajah “Mereka pergi membawa cinta abadi mereka. selamat malam. Nou Camp atau Camp Nou. Buenas noches. Dalam peti berbalut kain hitam. Una hija. Como estas. Dalam gagap ia menemukan sepucuk tunas tumbuh. baik sekali. kursi terdepan (termahal). La Liga. dan Javier berdiri berjajar. Keheningan mencekam. Kalimat itu ia tujukan buat Raul dan Julia. si pria menatap bebukitan tandus tapi memberinya gairah meluap. Si wanita tergagap. Pablo.

Puerta grande.pada 30 Maret 1976 1) Barcelona kalah 0-1 dari Liverpool dalam pertandingan semifinal Piala UEFA second leg Querido mio. . pintu utama. sayangku (My dear).

agaknya melantunkan nyanyian riang dalam hati. atau kedap-kedip serupa kabel di pusat telepon. doa. naik jabatan). Di hari baik bulan baik bagi yang bersangkutan (ulang tahun. “Nina dan cucu-cucuku sehat?” “Sehat. telah lama kami hindarkan terhenti. karena belum siap melihat denyut itu tiba-tiba Aku menarik napas. naik kelas. Ia tergeragap.” ujar beliau saat kujemput di SoekarnoHatta. Merenung? manggut-manggut. Masih pasang mata dan telinga baik-baik. Kami tidak bisa lagi koran dan televisi. pasti beliau tidak tidur. Tahun lalu. cucu. Makanya. seperti jantung kita. “Besokbesok aku menginap di rumah si Nina. Masih keliling ke berbagai kota bahkan pulau. Namun abangku. menutup-nutupinya.” Ia selalu menyebut rumah anak lelakinya dengan nama menantu. Ya. jika ia tahu. yang semua sarjana bahkan dua doktor pula. Dengan masalah yang juga tambah banyak. “Libur kau. kadang kubayangkan urat saraf bunda lebih rimbun dan juga lebih canggih dari kami. telah disiarkan “Antar aku dulu menengok abangmu. Tempo-tempo.” “Tak penat aku!” tukasnya keheng. mengikuti perkembangan mereka. cucu. Tiap banyak.” Aku lalu diam dan terus menyetir. kulihat keponakanku di jok belakang. Justru itu. Nanti sore kuantar…. panik. menutup mata serta telinga beliau. Palinggam. tamat kuliah. “Oh.” kubilang. Tak dapat lagi ditutup-tutupi dari bunda. seminggu ia menginap di kantor polisi. Tapi. laiknya anak muda.” Ia cengar-cengir. dan cicit. Di kantong celana kawannya ditemukan polisi ekstasi. Man?” tanyaku mengalihkan pikiran yang melayang saja ke mana-mana. tidak berani membayangkan. dan memanggil anak-anak kami “cucuku”. kabar buruk dari beliau. melayang suratnya dengan tulisan halus-tebal model masa lalu. terlibat pula dia menyelesaikan beragam masalah. Seminggu!” “Kuliahmu lancar?” “Lancar. Berpikir-pikir? Lewat kaca spion. dan cicit yang makin henti berdenyut. Kasus dan sakitnya abangku. juga nasihat. “Terus sajalah. Palinggam…. melihat anak. Libur. Om. sambil terus melaju di jalan tol. stamina dan kegesitannya seolah tak berubah. Kapan pula dia merasa penat? Meski umur 80 dan tubuh makin ciut. Senyam-senyum. Urat-urat saraf itu tak denyut adalah pantauan sekaligus hubungan dengan anak. Mereka .Lampu Ibu Adek Alwi Akhirnya bunda datang juga ke Jakarta. didampingi seorang cucu. “Baiknya Bunda istirahat dulu. tujuh anaknya. Seluruh keluarga heboh. mata bunda terpejam. Isinya ucapan selamat. Dan saat kulirik ke samping. harapan. keras kepala. Apa yang bakal terjadi ketika bunda berjumpa abangku itu nanti? Tanpa sadar aku menggeleng.

“Diajak kawan-kawannya. Dan saat umur muda Herman. “Sudah pulang abangmu dari rumah sakit? Pura-pura sakit saja dia.” Tiba-tiba aku jadi gugup. tak Herman kabarnya menangis. Syukur.” “Cuaca buruk. serupa mayat!” Mata bunda kulihat sudah terbuka lagi. Semuanya digaruk. berucap lunak. Agar mereka jadi manusia. Rosa langsung diam. Lalu Slipi. anak-anak kami. “Naik gunung. “Sudah dua hari tidak kulihat cucuku. seperti pernah dia ucapkan? ibu tamat seiring perginya hayat dari badan? Sebab di situ beda ibu manusia dengan induk “Bagaimana abangmu sekarang?” Bunda melepas pandang dari jalanan. disekolahkan hingga tinggi. sudah. bicara sendiri saja. kurusnya engkau. Dan bunda tetap menoleh. “Lagi di jalan. matahari pagi. “Elok-elok kau jalani mengundang datangnya mudarat. “Masuk rumah sakit. O. berempat. Palinggam. tak apa-apa Bunda. Tak apa-apa. Nak. ingat pengalaman bermalam di kantor polisi.” Kusodorkan . Masalah kami hari ini dengan begitu tak perlu lagi menjadi beban beliau. kau biarkan anak naik gunung?” “Ala. Herman pulang. Lihat. Bunda? Sehat. dituduh korupsi. Ke mana dia?” tanya beliau suatu pagi. Pandai-pandai mencari kawan. Ingin kencing. si Herman. anak laki-laki.” kubilang. Kami sudah di Apa gerangan yang terlintas dalam pikirannya? Anak cucu yang tak membawa kabar baik. pulang dari rumah sakit. menanti jawaban. HP-ku lalu berbunyi. tangguh. Pun ulah cucu. “Baik saja. Bunda tentu tidak diberi tahu.” jawab Kak Leila.” adikku Rosa menyahut. menatap aspal jalanan yang berpendar disinari Jelambar. tak lama lagi Grogol. pada usia senja? Merasa gagal. kau bilang tak apa-apa?” suaranya bagai berasal dari tempat yang jauh. o. Dan bunda menyergap orang itu?” pula. memandang jalanan. sebab sendiri saja membesarkan kami? Ah. nenek yang risau itu memanggilnya. Tujuh anak yang masih sekolah saat suami wafat telah ia bekali. sejak kapan alam berubah hanya memperdaya perempuan?” ujar bunda. Betapa ingin kusampaikan bahwa dia ibu yang perkasa. Maksudnya membantu Kak Leila. Dalam hati kembali kumaki-maki abangku. ingat suami yang jarang pulang. “Biasa itu. baginya tugas ayam dan kucing. Pucat pula.” “Eh.” kubilang. “Kurang dingin AC-nya Bunda?” “Cukup. dengan uang hasil pensiun serta kedai rempah. Kak Leila berpura sibuk. dan berhasil. Atau.” Dan diam lagi. Kawan yang baik.semobil. seperti orang- Aku makin gugup. “Apa maksudmu?” “Maksudku. Dari istriku. “Sudah. Dan kendaraan-kendaraan yang berkilau seliweran di jalan tol.

Aida. Kakak iparku. bersama pacarnya. Kami sudah tiba di Semanggi. Aida. pulang dihubungi. “Jangan kalian berahasia lagi. tak juga puas. Aida tak jumpa. Harta meruah. Namun boleh jadi berlebihan. siswi SMU kelas dua itu.” ia bilang. Nak. Mana cucu-cucuku? Oh. Tahu kalian. tambahku tanpa suara. Sering ke luar kota. sibuk benar kudengar istrimu. Bunda. Lalu ia mendekat. Mereka tahu sehari setelah kejadian. suara bunda: “Nina? O. Lalu. karena bunda lantas bertanya.” “Nina manajer pemasaran. Semua saudara Batam. Dicari serta ditanya ke mana-mana. Ini. Eh. rumah abangku sepi saja Aku terus melaju ke sayap kanan. si Aya. Kemudian tertawa. alis bunda tetap bertaut. anak ayam saja tidak seburuk itu nasibnya!” kakak kalian itu yang salah jalan!” ujarnya keras. Mungkin berjaga-jaga dari demonstran. Ya? Besok-besok. “Syukurlah. bunda yang tadinya tidak tahu curiga melihat semua meradang. sudah gadis bukan? Sudah SMP. Bunda. Memeluk bunda. Alhamdulillah. sesak kendaraan yang padat-merayap ke arah Thamrin-Kota. Terpikir olehku. Dan.” “Bukan hanya karena hendak menjemputku?” Aku menggeleng. “KakakAnak dibiarkan tumbuh sendiri. Cucuku. Bunda. Ceritakan apa yang terjadi!” katanya Ketika kejadian itu diceritakan setelah diedit dibagusi.” kataku. berhenti di tempat parkir khusus keluarga.” “Dan kau sibuk pula. Tapi. Syukur dua remaja itu sungguh sekadar berjalan-jalan. “Aku cuma khawatir. Tetapi di halaman dalam terlihat sejumlah orang. Pagar maupun gerbangnya tertutup. masih kuat aku ke Jakarta. Anak gadis kakakku.” “Apa kata Nina.Obrolan panjang. “Mengapa kau ketawa?” “Tentu punya waktu. hah. HP ke bunda. seperti biasanya.” ujarnya. Ke luar negeri juga.” Aku diam kembali. Aku berbelok. Biar dia lupa bertanya. “Biasalah. orang sibuk kasak-kusuk. meluncur mulus ke Kebayoran. Nak. sudah menanti di teras. termasuk Kak Meinar di Medan dan kami di Jakarta. Termasuk polisi. Bunda?” Kudului dia bertanya saat pembicaraan itu berakhir. “Tanya kesehatanku. Andamsari. ditemukan adikku Rafli di pantai Padang. Mau bicara. atau khawatir abangku raib tak ketahuan rimbanya. . “Sibuk terus. Kalian bagaimana? Syukurlah. menangis tersedu. sehat Nak. Kakak dan abang iparku kalang kabut. Jangan pula dia alami seperti keponakanmu. “Buktinya aku kini tak ke mana-mana. Aida. Kau sudah di kantor! Bawa mereka nanti ke rumah kakakmu Andamsari. tanpa seragam. masih punya waktu kalian buat cucu-cucuku?” Aku tertegun. sekali waktu lenyap dari rumah mereka di dari Singapura. Aku lihat abang kalian itu dulu…. “Nina. bebas dari di luar.” Mudah-mudahan lama.

“Apalagi kau. Aku juga kader partai. “Aku punya atasan. “Tak paham aku soal-soal begitu. Acara bertangisan agaknya telah usai sewaktu aku mendekat ke ruangan itu. Abangku melirik. bagai kelap-kelip mercu suar di malam gulita penuh badai. Suaranya makin lunak. Nak? Kenapa berpura sakit? Mengapa tidak kau beberkan saja semuanya?” “Tidak sesederhana itu. Bang Palinggam terpana menatap bunda. Nak. Dan negeri ini. Bunda. Bunda diam. Kalaupun akibatnya kau diberhentikan bekerja. kini sudah bercucu pula.…” entah dibawa udara dari bumi yang mana.” Mengangkat muka lagi. Aku muncul. Bunda.” “Dasar!” Pembantu bergegas mengangkut bawaan bunda. Nanti saja aku kabari. “Belum tahu. “Aku punya kawan. Dan HP-ku kembali bernyanyi. dipecat partaimu. Dan lapat-lapat kudengar suara sunyi merayap. Matanya perlahan berkaca-kaca. yang sedikit banyak ikut dibela ayahmu dari penjajah. melepas urine yang “Tapi kayaknya tidak apa-apa. memandang bunda. juga kepadaku. selalu terdorong menyalakan lampu hingga akhir hayatnya. hampir menyerupai bisik. “Sudah sampai belum?” “Sudah. Namun takdir seorang ibu. bagiku itu lebih baik daripada kau berkhianat pada kebenaran. mengapa kau mengelak diperiksa. “Namun hingga detik ini. Aku di kakus. Aku tergopoh ke toilet. aku tahu sekarang dari mana sunyi itu berasal.” Bunda mengedarkan senyum.” dia bilang. dimaafkan. Palinggam. Nak.hendak meledak. Bunda. Rasanya. Nina lagi.” “Di mana rumitnya?” Tidak terdengar suara. Juga kepada Tuhan. Mukanya kuyu. kencing. pada hatimu sendiri. Palinggam.” Sampai di situ mataku terasa jadi panas. sudah.” Mereka duduk bertiga di ruang keluarga. Mata Bang Palinggam kian berkaca-kaca. Terkutuk aku bila mendustai “Kalau begitu. aku tetap bersih. . Juga aku serta Kak Andam.” “Bagaimana bunda? Bang Palinggam.” ujarnya bak mengadu. melihat bunda lagi. “Tetapi bagiku. Dia menunduk. Suara Bang Palinggam terdengar pelan. yang benar harus disampaikan sekalipun pahit. Bunda sekarang tampaknya banyak diam. Loyo. “Kalian sekarang memang bukan lagi anakku yang dulu. Dan aku merasa.” sahut bunda kemudian. itu isyarat dari abangku. sayu. Menarik napas. Kak Andam?” tanyanya antusias. seperti minta Bunda.

“Seperti ada dan tiada. “Pernah sekali datang waktu mau ke Padang melihat kakaknya. 22 November 2006 Mata Sultani Adelk Alwi Sudah hampir empat puluh tahun mata Sultani menatapku. Hanya menatap. setelah mengamati wajah-wajah tak kukenal waktu kecil. Kalau aku pulang. tetapi tak banyak lagi kabar gembira aku peroleh. tak pernah bersua kecuali dengan dua-tiga kawan yang setia menghuni kota kelahiran Kepada mereka. grosir roti dan permen. Tapi kami kawani dia melihat bekas rumah orangtuanya. “Ingat si Bun Kay?” tiba-tiba Tum menyela. seolah sudah bosan lalu raib entah ke mana. Nius. dewasa atau jadi tua. Aku dan kawan-kawan pun sudah ceraikami. Si Talib di Dumai. kendati kota kami tetap saja setelempap. Mungkin karena bersama istri dan anak-anaknya.” tambah Amril. yang meneruskan usaha keluarga membuka kedai mengenang kawan lama serta kota kami yang setelempap tetapi menyimpan sifat-sifat aneh tak terduga. Waktu terus berjalan dan orang-orang lahir. ibunya berjualan kue mohok alias bakpau. namun kemudian muncul lagi dan kembali menatap. si Talib dan si Tunik yang acap pulang. kopi di simpang jalan dekat pasar. seperti tidak kenal lelah. akrab dengan pribumi.” Biju menerangkan dengan gembira.” jawab Tum menampakkan senyum yang ganjil. Mereka pemilik satu-satunya bioskop dan “Bun di Medan jadi dokter. Di kota kami orang Cina tidak mampu “Tentu!” kubilang. di kedai kopi itu kami bercakap-cakap “Si Cudik kini di Lubuk Sikaping. Kawan-kawan lama kami jarang pulang. lebih-lebih tukang gigi. Bahkan mengerikan. Bun satu-satunya sahabat Cina kami di bersaing di pasar dengan pedagang pribumi tetapi tidak tertandingi membuat kue. berai. “Tak lama lagi Dua lepau nasinya sekarang. sudah bercucu satu. Padahal tahun demi tahun terus berganti dan kini telah mendekati tahun keempat puluh. Si Tunik buka lepau nasi di Muaro Bungo.Jakarta.” . Tidak sekalipun berkedip. Ayah Bun tukang gigi. yang lalu lalang di luar kedai kopi Tum. bila aku pulang ke kota kami selalu kutanyakan kawan-kawan masa kecil itu. Dia dan keluarganya tergolong aneh. Hebat dia!” pensiun. Nius. Satu di Palembang. sebagai dua studio foto yang ada di kota kami. Paling tidak dua atau tiga tahun sekali ada mereka pulang.” “Hanya si Cudik.” jawab Tum. bahkan banyak yang tidak pulang sejak merantau-belasan atau puluhan tahun yang silam. “Seperti orang-orang di dalam mimpi. Tempo-tempo mata kawan masa kecil itu memang tak tampak. Berbagai peristiwa timbun-bertimbun. Berubah sekarang. memurukkan yang lama ke lipatan bawah dan juga menguap ke luar ingatan. Nius. Kami ajak bermalam tidak mau. “Di mana dia?” tanyaku antusias.

Ibunya baik seperti ibu Bun. tidak halam! Enak laaa. Suka-suka kami mau makan apa. atau menjelepak duduk di menggairahkan. tak pake babi laaa. mengantar kue mohok hangat- hangat. Dan pernah pula Buya Makruf. Suara Lin halus: “Ko Bun! Engko Bun!” Dadaku berdebar mendengar monyet mengalir deras terhadap Lin. Keluarga itu memang kaya dan terpandang. Pagi-pagi Rambut ekor kuda. Juga pandai menjahit. berisi mohok serta teh manis.” bilang Tum. “Banyak kawan kita serasa ada dan tiada. Dia kapten sepak bola. Tunik juga. Itu pula sebabnya dendamku pada Sultani pernah seperti tidak berujung. Sultani malah tertawa-tawa makan uang haram itu. Kelas 6 SD kurasakan gejolak cinta Mereka menggeleng.” sahut Tum. “Itulah. Bagiku. Bun tertawa-tawa menyikat nasi goreng. menyogok portir bioskop sehingga kami bisa nonton film 17 tahun ke Membungkuk-bungkuk mencari kursi kelas 3 yang kosong. Di antara lipatan uang sogokan dia selipkan duit buntung atau uang zaman Jepang sehingga untuk beberapa waktu kami terpaksa puasa nonton film orang dewasa.” “Bagaimana kabar Sultani? Di mana dia?” tanyaku pada kawan-kawan di kota kelahiran.” ia sodorkan nampan perut kami. diduduki hingga kini. Lalu ia sambar roti. pintar di sekolah. Tidak kecuali KAWAN masa kecil itu lincah. Kami berebut. Saat dia letakkan ke meja tak seorang pun yang berselera menyentuh dia ulahi. seperti buang hajat. Minumnya teh hangat. Sultani. makan! Tidak halam! Tak pake gigi babi laaa!” Sultani cengar-cengir menyindir. goreng serta roti lapis mentega. “Didiamkan berhenti sendiri!” Lin terlihat segar. lebih menyenangkan kalau yang mengantar kue adalah Sui Lin. alias usil plus kurang ajar. “Tidak halam. adik Bun. Nius. Sultani menarik piring roti ke dalam sarung. guru mengaji Tempo-tempo kawan itu memang cingkahak. mencangkunginya kecuali dia. dan tak pakai babi!” komentar anak-anak yang iri. Kalau di rumah Bun kami disuguhi kue mohok. lantai. suara itu. “Di dalamnya ada kerak gigi!” Kalera! Sultani meradang dan hampir menghadiahi mereka “ketupat Bengkulu”. Kami diselundupkan portir ketika lampu bioskop padam. Matanya tak terlalu sipit. “Percuma. adik kelas kami. ibu Sultani pagi-pagi menghidangkan nasi kadang susu.Dalam peristiwa dahsyat pertengahan 1960-an rumah orangtua Bun di Kebun Sikolos diobrak-abrik massa. Tapi kami cegah. Pagi-pagi terdengar sandal ibu Bun berlosoh-losoh mendekati paviliun tempat kami tidur. Pipinya putih kemerahan serupa jambu air. Mereka bilang ayah Bun menjual gigi dari Peking. mencukur. Biju dan “Makan. kami kerap nginap di rumah Sultani. Portir bioskop juga . Begitu sandalnya berlosoh pergi kue dan teh itu amblas ke “Jelas enak. Seperti di rumah Bun. kembali menampakkan senyum yang ganjil. Dulu kami sering bermalam di rumah itu. lucu. juga ketukan jari-jarinya yang mungil di pintu. Ayah Sultani kepala terminal sekaligus ketua organisasi buruh. Bak orang-orang dalam mimpi. mengajak makan. berdebar-debar sekitar dua jam menyaksikan aksi Sophia Loren yang atas yang dibintangi Sophia Loren.

tetap ditumbuhi rambut dua-tiga senti yang melingkar manis rapi di sekitar telinga. Uang yang sedianya diterima Mak Hasan kujanjikan kami bagi dua. itu turun dari ibunya. Dan sesekali. kan?” Aku mengangguk. Aku malah tak sekali. “Rambutku dia cukur. . Bun!” Sultani memang pandai mengaji dan ditunjuk Buya Makruf sebagai guru kecil. banyak kawan merasakan ulah Sultani. Rustam. Tunik juga. selesai!” Ayah Bun terkekeh. Asal Bun tidak nangis kalu sakit laaa. dan tukang cukur langganan ayah itu pun ber-hm-hm “Cukur sama Sultani!” Biju menyarankan. Padahal selalu kuminta Mak Hasan sambil mendorong kepalaku kian kemari. Tapi aku merasa. Mulanya sungguh-sungguh juga dia. Namun yang membuat dendamku membara ketika semua bulu di kepalaku dia babat. Ulah Sultani! Suatu kali. Tetapi. Sebulan ditanggung fasih. tidur-tidur ayam. mencukur seperti yang kuinginkan. Berenang kalang kabut ke tepi. mendampingi kawan itu setiap malam. Pelan-pelan disentuh Sultani kepalaku. Mestinya waktu kita kelas tiga. Mataku merem melek. Ayah dan ibunya setuju. Babah mau coba? Sret. Mukanya pucat serupa mayat. dan suatu petang Bun termangu di halaman Masjid Jambatan Basi menanti kami usai mengaji. tajwid dan Bukan saja Bun.” “Tidak sakit. Biar aku yang ngajar. “Malah. potong pendek bak rambut tentara saja aku bosan. “Ayaaa. Tak licin di sekeliling kepala. Setelah sembuh. Sultani berkata: “Sudah Bun. Bun mau potong bulung bole potong. Rancak. Ada yang menyentak ujung kulupnya dari bawah air. Mendesis-desis lunak.kami. Terbahak-bahak seperti hantu air. tidak terasa. Aku serahkan kepalaku pada Sultani. Kepandaian kiraahnya elok. Ibunya selalu mengaji tiap subuh.” ujar Sultani saat Bun meringis dan kami Bun?” Bun mengangguk lemah. “Ular! Ular!” Bun berteriak menyembul di tengah sungai. serta sarung beliau “terbang. Suaranya merdu. Kelas enam disunat. Baju. ikut mengaji saja. “Tapi tak apa-apa terlambat daripada tidak. jadi keras. Sudah lama aku dambakan model rambut orang dewasa atau rambut abangku. melecutkan ke kaki-seperti dia lakukan pada kami selaku guru kecil yang cingkahak. Kepala Sultani Terlalu panjang Bun!” terpekik. Ibunya tersipu. Bah!” Sultani meyakinkan bak tukang obat. Suara gunting tak berdencing-dencing ganas. Jangan pula licin tandas bak kelapa. Dan Bun disunat. “Sunat Bun! Potong Bun! Saat liburan tiba Bun pun lalu minta disunat. tentu saja. setiap usai dicukur kepalaku tetap mirip tentara atau anak kecil. terbungkuk-bungkuk keluar tempat wudu bercelana kolor dan dada bugil. kan?” Seperti rambut Biju itu yang kuinginkan. “Sebetulnya telat Bun. ke halaman masjid. ketika mandi-mandi di batang air yang mengalir di kota kami Bun tiba-tiba panik. “Seperti model rambut Bang Rustam. kopiah. ajakan Sultani pada Bun karena dia ingin mengamangkan rotan di depan kawan itu. laaa. Iya kan.

Ketika kuraba. Tum diam saja mendengarkan sunyi. Lalu ia terpana ketika Orang-orang masih berteriak. Menangis. melihat aku “Sejak peristiwa itu tak ada yang tahu di mana Sultani dan keluarganya. “Kepala Ko Nius kenapa?” Alamak. Nius. sebagian kepalaku sudah terkelupas bak ayam hendak digulai! “Tak ada jalan lain. Atau pergi. Pernah kami tanya ke situ. meraung-raung. Bergelombang-gelombang manusia. Dan aku merasa ketika itu Sultani tengah menatapku dengan mata tidak berkedip seperti biasanya. berdarah. diseret abangku pulang. Eh. Kaca-kaca pecah terjerembap di halaman. “Jangan ikut! Jangan ikut kau!” Aku terus berjalan di belakang gelombang-gelombang manusia yang riuh. mendengar di mana Sultani. “Seperti mencampakkan bangkai anjing!” cerita Cudik. Tidak kuhiraukan imbauan ibu dan ayah. Dia juga matanya bersirobok dengan mataku. tersenyum Sejak hari itu kami tak berteguran. Mukanya menangis. Kakak perempuan Sultani mendekapnya erat-erat. “Sanak famili ayahnya di kampung juga tidak. Ibu Sultani berlari mengejar. aku tidak mau bicara atau dekat-dekat dengan melihat kepalaku yang plontos bak kelapa ketika aku nginap di rumah Bun. tak mendengar orangtua!” Cudik bilang mereka membawanya ke Singgalang . Menyepak pintu hingga rubuh. kurang ajar ya. Menyeret serta mengarak ayah Sultani entah ke mana. Membuang mayat orang tua itu ke Batang Anai. Buas sekali. mati awak rasanya menanggung aib! “KEPADA kawan-kawan yang tiba dari rantau kami juga bertanya kalau-kalau mereka tak henti menanyakan kawan masa kecil itu tiap pulang ke kota kelahiran. malah sebelah sini terlampau pendek. Sewaktu prahara dahsyat pertengahan 1960-an melanda kota kami. Kusaksikan ayah Sultani diseret. Dendamku laksana sumur tanpa dasar. Dia cerita begini-begitu aku buang muka. Bagus juga kau gundul. Lututku menggigil. seperti Yull Bryner kau!” manusia cingkahak itu. Seakan-akan bukan warga kota kami yang sehari-harinya tenang dan saling menyapa. Menghabisinya. “Tadi di sini terlampau pendek. hasilnya nihil. Tepatnya. kuratakan. Aneh sekali. melihat aku di tengah kerumunan. Mereka terus berteriak. aku menghindar. Sejumlah orang menerabas masuk. Tahi kambing. Nius. lewat bergelombang-gelombang di muka rumah sambil berteriak-teriak. terpaksa begitu!” Ditekan Sultani kepalaku dengan ujung telunjuk. Sultani juga. suatu pagi. Mereka melempar rumah itu dengan berderai. Tanganku dicekal.” kata Amril.” sambung Biju Berkabar pun mereka tak pernah sejak kejadian itu. dan orang bergegas Sultani. Tetapi mereka pun tidak tahu. aku menghambur ke jalan. sepekan rambutmu panjang lagi. Lupa aku pada sifat baiknya yang setia kawan dan suka memberi. berteriak-teriak. tahi kuda dan entah dengan apa lagi. “Mulai Kariang. Lebih-lebih waktu Sui Lin. Mereka menuju rumah batu. Suara mereka teramat gaduh. Sudahlah.” lesu.Tetapi lama-lama kepalaku semakin dingin. Dia mendekat. Perempuan itu Aku menyeruak di sela-sela orang dewasa. tegak kaku di ambang pintu.

seolah-olah tidak pernah lelah. “Semua orang bilang begitu. walaupun tahun demi tahun .* Jakarta. “Dan. Kalian tidak tahu? Mereka menghabisinya petang itu juga!” waktu menjala ikan. dua buah. Diam-diam terbayang olehku mata Sultani. 2 April 2005 berkedip. Bahkan sampai kini.“Bagaimana kau tahu? Ikut kau ke situ?” kami tanyai Cudik ramai-ramai. Hanya mata saja. kemarin pagi. ada yang menemukan sepasang mata di Batang Anai Kami bertatapan. yang menatapku tanpa berlalu menghanyutkan zaman dan usia ke muara. Tubuhnya tidak ada!” Cudik berkeras.

juga sosiolog. Di mana-mana kau bisa saksikan kaum pria memakai jas. Hal lain yang bakal membuatmu terheran-heran adalah tukang kacang goreng. Itu pula sebabnya potongan jas itu-untuk menghindarkan salah tafsir. warga kota menderap laksana suara kaki belasan ekor kuda. hujan dan hari. apa kabar! Baik? Singgahlah dulu!” Tetapi. atau makan kacang goreng. kembangkan payung. tetapi juga tukang emas. Kadang-kadang pagi. Paling-paling orang hanya bergumam. Adakalanya juga dari pagi sampai malam. ataupun sebaliknya-bahkan ketika kemarau mungkin sedang meretak-retakkan tanah di kotamu. di belakang lampu semprong mereka yang temaram. jangan pula payung. Karena itu. kalau kau tinggal lebih lama di kota kami. Kecuali. Meski cuaca cerah. hidupnya. Karena.anak muda kota kami lebih suka pakai jaket daripada jas. Dengan tongkat-payung itu pula mereka saling di jalan-jalan kau lihat membawa payung atau mempertongkatnya. Biarlah masalah ini bagian ahli bahasa. Tidak jelas mengapa demikian. Aku hanya ingin bercerita tentang mereka. di kota berniaga. Aku juga tidak bermaksud membahasnya. walau kerap membungkus tubuh mereka dengan jas. . tukang rokok. tak mengumpat ketika kabut mendadak turun dari bukit dan gunung. betapapun elok bahan dan kami hampir tak dikenal orang istilah pedagang. Begitupun tukang sate.Warga Kota Adek Alwi Kacang Goreng Kota kami terletak di dataran tinggi di lereng Gunung Singgalang. dan seterusnya. ya. akan ahli pula kau menerka usia perkawinan seseorang hanya dengan melihat jas yang dia pakai. tukang kacang goreng dan penggemar makanan ringan itu. tukang serabi. kecuali lelaki-lelaki gatal atau yang punya istri lagi. penjual kerupuk. tapi jarang sekali pria kota kami membuat jas dua kali dalam pojok jalan dalam kabut. melenggang tenang-tenang di atas trotoar sambil bersiul. sedang jas pun (yang dikukuhkan sebagai pakaian resmi sebab istimewa di kota kami. tukang serbat. bukan suatu yang kecuali para kusir bendi dan tukang kacang goreng yang duduk mencangkung di pojokDan. sudah turun pula si kaki seribu!” Lalu mereka cakap. atau hujan tiba-tiba seperti menghadapi anak yang nakal: “Ha. meski aktivitas seseorang berjualan. mirip dengan warga melambai dan menyapa. orang-orang kota-kota besar Eropa pada masa lalu. Ya. kabut di sana seolah-olah turun sesukanya. Tukang kerupuk tak selalu berarti orang yang membuat kerupuk. “Hoi. petang atau malam Tetapi. anak. bercakap- Betul. Berbagai pemandangan ganjil-lucu yang tidak bersua di tempat lain bisa kau temukan di kota kami kalau Anda suatu ketika berkunjung ke sana. siang. karena sejak muncrat ke dunia sudah bergaul dengan cuaca serupa itu. Tidak konon menimbulkan kesan “lain” bagi yang memakai juga yang melihat).

makan kacang goreng jalan “Habis. sebagian besar orang terpanggil lahir karena bakat itu. meski sejumlah anak muda mengalami pengalaman pahit akibat kacang goreng. meski lazim tinggi atau bekerja di kota lain dan wesel-wesel mereka berlayangan di awal-awal bulan memenuhi kantor pos. agak berjauh-jauhan di bawah papan reklame film. Berjajar suami istri dilanda perang dingin. Gemuk. “Tetapi.” sahut ibu-ibu di kota kami dengan sigap. kalau itu. kedap kedip di balik tirai kabut dan gerimis. juga di Tukang-tukang kacang goreng itu pakai jas. muka depan gerbang-gerbang jalan menuju surau dan masjid. pengirim-pengirim wesel yang rajin itu-yang sebagian di antaranya tumbuh berkat uang kacang goreng-berlayangan karenanya. serta kegemaran orang memakan kacang goreng. Anak-anak muda segera berangkat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih ke kampung halaman menjumpai orangtua dan sanak keluarga. Dalam KTP mereka pun tercantum: pekerjaan. Malah bangga. Lagi pula.” komentar para suami saat makan kacang kacang goreng ke atas meja. Dan. beberapa waktu setelah bubar bioskop. penggemar kacang goreng tidak pernah pula berkurang. lepas-lepas dari kacang goreng. duduk berkelumun sarung atau melekat ke lima orang di antaranya juga mangkal di muka dua bioskop yang ada di kota kami. Bertengkar. perlu penelitian. depan asrama tentara dan polisi. Mereka dapat ditemukan di mana- perkantoran-perkantoran. kota kami tidak pernah sesak yang menyebabkan warga kota kami subur-subur. tidak ubahnya kekasih-kekasih yang melampiaskan rindu Alhasil. memang lain kacang goreng kota kita ini. Empat atau karung goni kacang goreng mereka yang hangat. panjang. Tetapi. “Di tempat lain kecil-kecil kurus kulihat!” goreng di malam-malam dingin bergerimis. bahkan divonis putus oleh si gadis karena kulit ari kacang goreng ikut menyelusup ketika bibir-bibir bertemu pada malam Minggu. tiada bandingan!” . seakan-akan mana sejak pukul lima petang hingga tengah malam. “Ini. Mereka mangkal di emper-emper toko. Anak-anak muda itu seolah punya prinsip: pacaran boleh putus. tetap belum ada yang sanggup “Ah. apakah itu satu keluarga punya anak sembilan. tukang sesudah lama merantau pun kegemaran itu rupanya tidak hilang. Saat-saat itulah mereka tak dendam setelah lama berpisah. Pada hari raya dan libur-libur panjang. Lampu-lampu semprong mereka dari jauh Tentu ada hubungan erat antara tukang kacang goreng yang sangat banyak itu dan iklim kota kami yang dingin. tukang kacang goreng. Bahkan. di muka rumah sakit. tidak saling tertawa layaknya pasangan mirip bintang-bintang di langit. terus. selera menyantap kacang goreng tak kunjung patah. lihatlah!” lanjutnya melempar sebuah mengalahkan kacang goreng Mak Sanin!” “Memang. tukang kacang goreng tetap banyak di kota kami dan orang tak merasa rendah jadi kacang goreng. tukang kacang goreng amat banyak di kota kami.Sekalipun kota kecil. sebesar jempol. Namun. jangan dikata lagi. tikungan-tikungan jalan. sepuluh atau selusin. Juga.

cang goreeeng…! Tak-tuk-tak.anak justru takut pada Mak Sanin. Sudah barang tentu jasnya pun telah lapuk. Bancah Laweh. Biasanya. dan selalu merah menyala. terutama ibu dan kakak-kakak perempuan kami.tenang saja dia melangkah. sebab dipakai setiap malam selama bertahun-tahun. Suara serta bunyi tangkelek atau bakiaknya tuk-tak. kami punya ilmu. Cubadak Bungkuak. Tetapi.tambalan pada jas yang sipit. “… perempuan ia adalah engkau seorang!” potong sang suami buru-buru dan si istri pun diam sambil tersenyum-senyum. Orang juga mengatakan Mak Sanin tidak lagi bermain silat dengan manusia melainkan dengan harimau. ingin makan kacang goreng. Selain karena kualitas kacang gorengnya memang di atas rata-rata. Seolah ringan saja karung goni itu baginya. Dengan jas itu-itu juga. Kumisnya pun lebat melintang. Juga ke Lubuak Mato Kuciang. kian gencar pula Mak Sanin mengembara menyusuri pelosok-pelosok kota. Ibarat pelukis.pinggiran kota kami. “Hah. khususnya di kalangan kaum ibu. tak-tuk-tak. itu Mak Sanin!” ujar si suami. Orang-orang terbangun. perempuan kota kami menyukai lelaki itu karena dia tidak pernah pakai jas baru. tunggal sekaligus penjaga kota kami. Makin malam. tanda Mak Sanin berjualan. dia susuri jalan-jalan kota dengan karung goni berisi kacang goreng di atas seperti di muka bioskop atau kawasan pasar. tak- Pada larut malam yang dingin berkabut itu Mak Sanin benar-benar menjelma jadi pelayan buruk mendengar suaranya. Juga karena dia “berisi”. Menyelusup manja ke pelukan suami. Berhari-hari berjualan. dan sarung dililit ikat mendatangi calon pembeli. Tokoh ini sangat populer bahkan hingga kini. dan Bak Aie yang merupakan pinggiran. Ibarat pencipta lagu dialah Gesang atau Ismail Marzuki. dan warnanya hampir tidak jelas lagi. Mak Sanin adalah maestro kacang goreng!” jawab si istri bersemangat. pandai dan rajin menyisik sehingga tak kentara benar tambal. Suatu kali kawan kami si Katan menghajar anaknya hingga babak belur. ilmunya tinggi.“Ya. Jam dagangnya juga berbeda dengan tukang kacang goreng yang lain. . dia Affandi. Mak Sanin satu dari sekian banyak tukang kacang goreng di kota kami. Kedua makhluk itu konon melakukannya malam-malam di pinggir kota usai itu lari pulang menggerung-gerung dan telinga si Katan pun disentil Mak Sanin. Pencuri-pencuri mengurungkan niat mereka yang Pasangan-pasangan yang tengah bertengkar terhenti. Anak daun telinga kawan kami itu gembung-bengkak kemerah-merahan. dia itu Chairil Anwar atau Amir Hamzah. cang goreeeng…!” berirama memecah udara: “Tak-tuk-tak. Ibarat… . saat beduk subuh mulai berkumandang di seantero kota dari masjid dan surau. “Ibarat penyair. Dialah penemu sistem jemput bola dalam berdagang kacang goreng di kota kami. anak. dia keluar sesudah magrib atau isya dan akan berakhir kira-kira pukul tiga dini hari atau Mak Sanin adalah satu-satunya tukang kacang goreng yang tidak berpaut di pangkalan saat Begitu keluar rumah di pangkal malam itu orang tidak akan menemukannya di tempat ramai pinggang lebar. istrinya dipakai Mak Sanin. kepala. Mungkin karena tubuhnya tinggi besar. Tenang. mata rada Agak berbeda dengan orang dewasa.

meraup kacang goreng bukan hanya sekali. Dan. mungkin juga tidak mau tahu. itu biasa. Mak Sanin. “Masya Allah.” Dan. Desember 2004 kota kami yang berkata kepadamu: “Ha. “Huh. Rambut nyonya muda yang hitam subur tergerai hingga pinggang. Besoknya. pengantin-pengantin baru. Jakarta. sewaktu pesanan mereka ditakar tangan mereka menyelusup ke karung goni. Ada sebelas bekas bacokan merobek jas tua dan tubuhnya. Hanya berdua. kota “Padahal. bahkan hingga kini. cuma sebagian warga kota yang kota tidak mendengarnya. Dan besoknya lagi. “Mak Sanin!” “Hoooi!” Tukang kacang goreng itu menghampir ke makhluk elok itu. tak serupa Mak Sanin!” ujar mereka. yang memang tak tidur-tidur di tengah malam buta itu. seluruh warga kami gempar tak alang kepalang. Belilah. Bergegas mereka benahi diri. Mak Sanin!” Dan.” kata ayah bagai orang kedinginan. Semakin jauh. berkibar-kibar ditiup angin malam. cukup seliter?” “Hi-hi-hi. Padahal. Tujuh lubang peluru. Cukuplah. sudah mereka tunggu-tunggu.” Anak-anak muda yang sedang begadang menyongsong kedatangannya dengan girang: “Tiga liter. Warga yang lain tidak.kisi jendela. Tetapi. tegak menanti di ambang pintu. harum bercampur peluh. Dan. justru setelah ia tak ada lagi namanya terus jadi buah tutur warga kota kami. “Seliter saja ah. lalu sayup-sayup diantarkan angin mendengar suara dan bunyi tangkelek itu. ketika ramai-ramai di tahun ’66. tahu benar aku. Karung goninya entah di mana. mata si Sanin itu merah hanya karena menukar siang dengan Tukang kacang goreng itu ditemukan orang tergeletak di tepi kali.” “Yo! Eh. Dengan jas yang ituitu juga. pasangan-pasangan itu menyimak suara Mak Sanin dan malam melalui kisi. tangan-tangan mungil itu menyusup pula ke karung-goni yang hangat. pada suatu malam. Tetapi. sambil bercengkrama serta menikmati kacang goreng berdua-dua di larut malam itu. kacang enak ini! Tak sembarangan kuali dan pasir . Semua pembeli melakukannya dan semua tukang kacang goreng membiarkan saja. Orang-orang akan mencela tukang kacang goreng bila kacangnya tidak Karena itu. berpandangan dan saling tersenyum mendengar suara Mak Sanin mendekati. Tidak bakal menyesal. enak atau dia bertingkah. Cobalah. Kemudian. Anda pun akan terheran-heran menemukan banyak tukang kacang goreng di buat merendangnya. Delapan tahun saya belajar merendang kacang pada Mak Sanin!” Anda melongo heran karena Anda toh tidak kenal siapa Mak Sanin.“Beli dulu kacang gorengnya. bunyi tangkelek-nya yang menjauh. malam!” Tetapi.

di dinding. Di pagar rumah. di layar monitor. sambil menyisihkan yang kalah dari satu jalur pacu. sampai akhirnya tiba di rumah dan disergap jam lagi. di dapur. saat waktu terpaksa hanya jadi patokan gerak tersenyum dan tersipu-sipu. bersebelahan. di mobil. saling kontak-sentuh. dan sambil terus melahap yang ada dan menempatkan semuanya pada jalur pacu yang ada dan senantiasa ada. minta bantuan pada siapa pun dan mendapatkan pertolongannya. di meja makan dan terutama pada piring dan gelas minum. Bilang. Jakarta—kata lik War—itu jam besar dengan miliaran jam kecil yang berdetak dan berpendar serentak. sehingga orang-orang tak akan bisa lepas dari kekangan jam. di ruang tengah yang merangkap ruang keluarga. Lik War menggeleng. di dinding dan kursi-kursi dan monitor komputer.Langgam Urbana Beni Setya (Atawa Jakarta in Rap) Di Jakarta—ungkap lik War—jam ada di mana-mana. dan begitu lepas sepanjang jalan. lalu jeda dengan jam yang terus berdetak di mana-mana. Berdetak-detik di dalam pendengaran. Manusia selalu berada dalam . di pintu. dari ukuran yang dibuat manusia untuk menandai yang tidak terlihat dan tidak terasa. Setiap orang dikepung ratusan jamnya sendiri sehingga terkurung sendirian. di perut yang hanya diisi kopi. aku hanya akan SWT…” Dan karena itulah—kata lik War—Jakarta berubah jadi arena balap. di HP yang setiap saat sepertinya berbunyi menyatakan ada jalur pacu lain yang harus ditempuh sebagai balapan berikut atau yang terpaksa diabaikan. ”lakukan semuanya semaumu. tidak bisa memanggil siapa pun. di layar TV dan dinding di samping kiri atau kanan pintu masuk dekat bel. berteriak. Bisakah manusia bebas dari waktu. Di jalanan. di ranjang dan bantal kamar tidur. di juluran lidah dan di untang-unting tenggorokan ketika orang-orang bercakap-cakap dan ingatan: memaksa setiap orang untuk bergerak lebih cepat dan semakin cepat sehingga Jam ada di mana-mana. di mana setiap pitstop. di bak air dan di gayung kamar mandi. berbelit dan kusut membentuk gombal kain nasib yang ketika ditelusuri benangnya ternyata masau saling menjerat. anjuran jam— dan ulah kerja manusia. di meja di ruang tamu. di pintu halaman. agresif melahap segala sambil menyepah yang kalah kehabisan waktu. masuk kantor dan mulai kerja dengan jam yang berdetik di laci meja tulis. di bundaran lampu lalu lintas. ”Tapi bisakah kita bebas dari jam?” kata Anderwedi sambil berpacu agar bisa lebih leluasa tak dijadwal. di apa saja—yang serentak berpendar dan berdetak menganjurkan semua agar terus Gelagapan dikerubuti jam yang bermunculan dan berdatangan dari mana saja dan hinggap berpacu. berpendar-pendar di dalam jadi tanda ketika malaikat mencatat semuanya dalam lembar laporan harian kepada Allah orang berpacu untuk secepatnya masuk garis finish tanpa terlebih dulu memasuki jeda waktu terengah-engah dan menyerah. dan di kemengangaan mulut. Jam di mana-mana. di lembaran kertas. di motor. balik ke dari kungkungan jam kerja semuanya langsung memasuki street race untuk sekali lagi berpacu pulang (cepat) ke rumah dengan berjuta jam yang berdetak dan berpendar di tengah lautan jam kerja dan dipacu detak ribuan jam kerja di mana-mana. yang diam-diam maju terus.

titik saling ketergantungan. yang lebih memilih sepada motor bukan karena tak punya duit karena jalanan di Jakarta bukan tempat yang tepat untuk berpacu dengan mobil. Terbayang jalanan mulus Jakarta—tidak seperti jalur makadam kampung.” kata Anderwedi—mewakili pikiran kami.” kata lik War. ”grammar apa tuh?”.pikirku. Aku menatap lik War: Memakai kaus hitam dengan sablon be will be. Lik War pun mengajukan usul lain. Ia minta disewa dari juragan yang juga menyediakan mi. Lik War pun tersenyum. serta tempat kos Jakarta di sepanjang malam. yang cuma bilang kaus itu diberikan anak bos karena saat dipakai ditertawakan oleh cuma produk tembakan sehingga harganya hanya cukup untuk naik taxi ke Ancol—lik War Ya! Tapi lik War senantiasa bilang: Jakarta itu jam besar dengan anggota miliar jam kecil. Tapi berlomba dengan gerobak dorong sambil memukulkan dan pelatihan—agar ikut dengannya dan belajar berkeliling di gang-gang di perkampungan sutil logam pada cekung wajan dalam pacuan di gang-gang kampung. seluruh anak muda ingusan yang saat itu ikut nongkrong di gardu Kamling di ujung kampung.” kata lik War. Kami . malah sampai jalan tol yang seharusnya lapang dan bebas pacu bagi yang ingin menundukkan jam. yang hanya sebagian yang bisa ditanami palawija dan semangka. dan sesekali mandeg dan meraung-raungkan gas sebelum lampu di perempatan itu menyala ijo. what ever will War. dan yang setelah 5 km baru tiba di jalan kecamatan yang lebih mulus sedikit— terbayang jalan itu penuh deretan mobil yang berjajar dan di sela-selanya motor-motor meliuk seperti dalam atraksi lomba trail semi akrobatik di TV. dengan celana jeans hitam ketat yang kata lik War juga bilang.menolong atau instinktif tebas-menebas— metalik halus bergambar entah apa—percik cat tumpah—dan tulisan excited. Dan setelah itu. ”dan kendaraan yang berjibun itu membuat macet di mana-mana. meski di kereta itu ia tak bisa berbuat apa selain duduk dan menggerak-gerakkan jari kaki tokh. untuk tolong. deretan kata yang tidak bisa kumengerti dan kayaknya juga tidak dipahami lik bos yang bilang. karena itu mereka menjadi yang dikalahkan waktu dengan kepeksa jalan merayap dalam kemacetan dan nelangsa menghabiskan BBM percuma saja. yang mungkin hanya menggeleng.” Kami menelan ludah. ”Aku jadi pengen ke Jakarta. yang memaksa tiap orang menjadi Valentino Rossi. ia naik Brantas yang karcisnya sebanding dengan harga celana itu. dan bermuara di jalan antardesa yang bergelombang dan berlubanglubang. sebelum semua meloncat seperti mengawali lomba yang akan menentukan siapakah yang lebih dulu dibanding si pole position yang teledor. Casey Stoner dan apa lagi yang senantiasa berpacu di jalan. ”Terlalu banyak kendaraan. karena itu banyaklah orang menawarkan diri disewa-angkut agar mobil itu bebas berpacu mengejar waktu di jalur 3 in 1 itu di sekian menit nunut—celakanya orang-orang itu malahan diuber dan dikejar Satpol PP karena dianggapnya membuat orang kaya bisa bebas merdeka berpacu di jalur yang tak sembarang orang bisa masuk bila berdua saja. bumbu dan yang lainnya. kami ikut dengan Marto Pedrosa—ia sendiri yang menambahkan nama itu karena aslinya ia bernama Joko Martono dan dulu selalu kami dihiasi jam yang sudah pada kendur: benar-benar tak menarik minat berpacu kami. hingga ada jalan khusus yang hanya boleh dilalui mobil bila isinya untuk membeli mobil—”barang-barang itu. pikirku. yang menembus ladang dan sawah. ”bisa dibeli secara kredit”—tapi minimal tiga orang. sambil merokok dan meneguk arak oplosan di tengah kesiuran angin dari persawahan yang dipusokan dan kami menghubungi Saman Bakmi—ia berkeliling jual bakmi dengan gerobak dorong.

Itu artinya tak berpacu di Jakarta tapi jadi batu jarak tempat anjing mengangkang dan kencing. Nonik. Lania. menjadi orang kantoran atau hanya suruhan. Sri. Marto Pedrosa kampung sini. yang selalu bergaya dengan sepeda motor siapa saja bila pulang ke kampung. atau benar-benar berpacu di jalanan dengan menjadi jambret ditembak dengan delapan belasan lubang luka seperti Isa yang jadi gembong dengan tiga dan Saman Bakmi) di Jakarta tak ada yang berani kurang ajar kepada orang-orang dari orang sekampung lainnya yang masih selamat. dengan angin deras dari persawahan yang dipusokan dan hanya sebagian kecil di dekat saluran irigasi yang sempat ditanami palawija dan semangka. ”macak dan akting pengemis. lantas bertemu setahun sekali di kampung. Berangkat ke Jakarta. dan karenanya membimbing kami untuk bangkit dan mempertaruhkan apa sekujur tubuh: berpendar di langit malam yang penuh bintang. dan yang di Jakarta menjadi tukang ojek. menyusupkan dingin yang tajam dan menyamak jangat dalam irisan yang menyeluruh di awal Syawal. Mungkin lu kudu belajar jadi ojek (tukang) ojek payung? Lik War tertawa. Bersama-sama sampai di Senen atau Kota—lalu . Koral dan dan di kampung sini). terpaksa dipusokan di musim kemarau itu. dan menjadi apa saja—tidak hanya berakting macak pengemis tak pernah pulang ke kampung meski setiap Lebaran selalu nitip duit dua atau tiga ratus dan diuber-uber polisi sehingga blingsatan mburon ke mana-mana dan kemudian mati tapi benar-benar jadi pengemis dan pemulung. semodel de Grana.” katanya. ”OK!” kata Marto Pedrosa.panggil dengan sebutan No Tit. dan Genduk (dilindungi dari yang lain dalam teror nekat Isa almarhum. memenuhi trotoar untuk recehan?” Kami melengos. Ia menganjurkan jadi kernet. Santik dan Kuni. yang selama 15 tahun ini ribu bagi Mbah Rame. yang dengan gampang menjadi pembantu macam Warti. Timpah. Atau ojek payung?” Kami melengos—apa yang bisa dipacu dengan jadi punya DP sejuta sebagai jaminan dapat make motore bos. yang masih buron—sehingga para urbanis sekabupaten di Jakarta bikin slametan di Jakarta Dan Jakarta jadi jam raksasa yang melengkung dan mengayomi miliaran jam kecil yang serentak—tak pernah serentak karena selalu ada selisih lebih lambat dan lebih cepat dalam seperti memanggil kami untuk meninggalkan ketiadaan harapan di kekeringan yang selalu baik dan tak baik-baik. Sambil mengeluh tak segampang para perempuan. ibunya. untuk segera berpacu sebagai apa saja. Berpacu dengan waktu secara baikterlalu kreatif meletakkan jam di jalur pacu yang miring mencang-mencong demi survive menyusupkan dingin dengan menyamak jangat selepas hamparan persawahan yang berhamburan ke mana saja dan jadi apa saja. Dan miliaran jam yang terangkum dalam sebuah jam raksasa bernama Jakarta terus berpendar di kelam malam. ”Atau ikut Arpan. dan banyak orang sekabupaten yang mengaku-aku penduduk asli kampung sini. dan Tyas. Kasim. Kimi. atau buronan karena dengan sesuap nasi. ”Jadi akan berangkat apa tidak?”—teriak angin kemarau yang hitungan mikron-sekon atau sekon—berdetak-detuk dan berpendar: semua jam-jam itu melanda desa. kudu pinter cari kos-kosan karena aku sendiri hanya punya satu kamar dengan Neti dan dua anak itu. atau yang terpaksa menggelandang di jalan seperti Nian. ”tetapi lu kudu apal jalan-jalan di Jakarta dalam seminggu. dan setelah enam bulan baru menjadi ojek’s driver—sambil menjanjikan mempertemukan kami dengan kawan Bataknya. sekaligus kudu sepeda dulu. menjadi rembulan gaib di saja. atau penghuni kompleks semodel Tri. dan karenanya (kata lik War.

kepala [penjahat] slametan: ritual membaca doa keselamatan bagi yang meninggal mencang-mencong: meliuk-liuk. here I am coming!” teriak Anderwedi—mabuk. sara : sengsara mandeg : stop.*** Catatan: untang-unting: yang tergantung dan bergoyang-goyang gombal : kain bekas untuk lap. Ya! Ya! YA! YA—adakah pilihan lain. pentolan.agar bisa bersama-sama pergi ke Jakarta lagi. dan berhamburan lagi di Senen atau Kota. berliku-liku mbabat alas: membuka hutan. berhenti kudu apal : harus hapal motore : sepeda motornya macak : berdandan blingsatan mburon : panik/kalang kabut melarikan diri gembong : tokoh. sebagai apa saja di mana saja. selain jadi transmigran acara halal bi halal kampung yang penuh kebohongan itu. kolonisa . menumpang kepeksa : terpaksa nelangsa. yang lebih sara karena harus mbabat alas meski selalu diigaukan Pak Lurah di dalam pidato ” Jakarta. yang biasa lusuh nunut : ikut.

ada magasin cadangan di atas lemari. Dan bila kurang. Dan peduliku? Di SMA aku malah mempunyai kawan. Memasukkannya lagi ke magasin. banyak teman yang mengadu—selalu diperas preman di pangkalan angkot dekat sekolahan—aku bersekolah dengan membawa pistol. Tapi sebelum dia banyak bicara. Sekali. membersihkan. Guru itu mengangguk. ketika kelas II SMP. Ibu muncul dan menarik aku sambil mengomeli ayah—”Dia anak perempuan. Sejak saat itu aku didaulat untuk jadi kepala keamanan dalam segala acara yang diadakan di sekolah. Dan kami. dan memasangkannya lagi. Pa!” katanya. dan memuntahkan 52 tembakan beruntun. Sebuah letusan lagi. dan mengentak pantat peluru atau kekosongan oleh pelatuk—seperti dalam film. colt—yang mekanisme penembakannya Dengan itu aku mimpi jadi cowboy perempuan. Tapi sasaran tunggal apa yang bisa lolos dari berondongan sejauh lima meter? Sejak SD aku sudah tahu ada simpanan senapan serang buatan Rusia di situ. dengan magasin penuh. Tapi apa . lalu mendiagonalkannya ke tanah dan yang amat jarang. memilih. Tiga tahun kemudian aku menguasai AKA. dan memasang lagi pistol FN. Siapa mau mati? silinder tersampir dan bebas diputar. magasin dan satu peluru paling atas. yang memberi ketika lulus ujian sepertinya mereka lega karena aku sudah tak ada di sana lagi. Ia menggenggam tangan dan memaksaku menembak lagi. lalu ditangkupkan untuk dipasak. Sejak kelas VI aku sudah dilatih membongkar. Sederetan paku di dinding menahannya agar tidak jatuh dan tetap tersembunyi. Mencacah akar flamboyan yang marong berbunga dengan daun hijau telunjukku yang masih lunglai oleh kejutan. meloloskan genggaman dan mengokangnya. membersihkan. Lalu mendatangi Mereka gemetar dan segera semburat ketika diusir. langsung ke tanah. anak petinggi polisi. Keesokan harinya aku dipanggil guru BP. di belakang lemari pakaian kamar tidur utama. mendorong ke pangkalan itu dan mengokang serta menodongkannya pada si jagoan yang kurang ajar itu. Bergerak menarik pasak dan membiarkan agar bisa menggesekputarkan silinder itu di lengan. Atau menarik picu Aku dipaksa belajar nembak saat kelas II SD. Tanah lembek berumput membuat peluru itu tembus ke kedalaman. Letusan dan entakan membuatku kaget. dengan tekanan ringan dari telunjuk—dengan memakai popor lipat atau tidak—kita Tersamarkan. Dan tiga tahun sebelumnya aku sudah dibiasakan membongkar. aku mengeluarkan FN di hadapannya. Mula-mula hanya dengan pistol. di kamar anak petinggi polisi. “Sebaiknya semua itu jadi rahasia berdua. Setahun kemudian aku menguasai FN. terutama ketika magasinnya penuh. Sangit mesiu melulur lengan dan wajah. yang genggamannya terasa berat itu. diungkit. meski dengan gampang kita meraih dan mengokang membuka kuncinya. atau dalam putaran gila sisi kepala— sebelum dikembalikan. Ayah terbahak-bahak melihatku ketakutan. rasanya lebih enak memegang pistol polisi.” kataku. sering mempraktikkannya dengan silinder kosong. Kalau disuruh sangat sederhana itu.Salvo Beni Setya Ada senapan serang AKA.

” katanya.” katanya. Sebuah mekanisme ledak dan lesat peluru yang setipis sentakan jari telunjuk yang mengentakkan picu. “Macam-macam kepalamu yang kekerasan lapisan batuan di bawahnya membuat peluru naik ke atas. Ia membiarkan ketika ia kuliah kedokteran dulu. Aku beranjak. “Kita harus kejar setoran. Aku ambil FN dari tas. Dan karenanya memberi aku kebebasan main pistol dan senapan. Aku bisa menembak bola tenis atau bola golf dari jarak tujuh puluh lima meter dengan satu tembakan. Kalau salah bidik dan kena kaki preman urusannya bisa jadi berita. membikin sudut naik menghunjam di pohon mahoni dan ban sepeda motor. Akan dapat konduite dan kota dua masa jabatan. Bahkan berlatih menembak tidak dalam posisi klasik berdiri. atau kaki penyusup yang segede tiang gawang. Naik ke boncengan dan melesat. dari jarak tiga meter. Terlebih kalau keendus wartawan jadi segala risikonya. aku kokang. Ya! Tapi aku sangsi bisa jitu menembak kepala botak profesor sebesar bola sepak. Letusan itu keras. Kau tak boleh jadi anak Mama. kata ajudan. “setelah lulus kau daftar dokter tentara. Dik. atau berbaring di balik batu—dan menjadikan tonjolan “Kau seharusnya jadi sniper.” kata ajudan baru lulus Akabri. Ibu menggerutu tapi tidak berdaya. dan karenanya Mungkin ia menginginkan aku jadi tentara. lima puluh meteran untuk membidik seseorang dan mengirimnya ke kematian tanpa si Ayah yang mengajari—membimbingku dengan fasilitas latihan komando. Akan lain. seperti dua kakakku—setelah tiga kakak aku kuliah kedokteran bukan karena ibu ngotot tapi lebih karena aku tak bisa masuk Akabri. Sekali aku pernah menembak aspal jalan di sisi kaki preman yang menghadang. Aku tak pernah membunuh orang. Dan karenanya aku bebas bergaul di luar kompleks—selama terus berlatih menembak. hanya Lantas apa makna hidup? Lantas apa makna bertahan untuk hidup dengan semacam dukungan ilahiah nasib. Kini aku bisa berada sekitar bersangkutan mengerti bagaimana ia mati. dengan posisi jongkok menyamping. “OK!” katanya.” kataku. Padahal. kalau nyawa seseorang hanya bergantung pada satu sentuhan ringan dari jarak dua meter? Dan pada saat itu aku pun belajar mengintai dengan teleskop— membidik sasaran vital dengan satu peluru. Menghambur jadi dua lesatan logam yang kotor oleh serpihan. telanjang dan gampang. seperti cita-cita mendidikku dengan tradisi militer–mengharapkan aku memilih karier militer. atau punggung pelarian selebar papan pantul ring basket. Mereka beku—pipa jeans preman itu Di boncengan aku gemetar. Peluru itu menghantam aspal. lama-lama aku kecanduan mengintai apa pun dengan teleskop dan bimbingan sinar laser. ayah ingin pensiun dan bisa jadi bupati atau wali senang diajak mengeluyur itu. sekaligus memberi kesadaran. Ayah menertawakan cita-cita lembek itu. Manusia itu . Aku tertawa. dan menembak. Aku tak yakin mampu menembaknya dengan dingin. Menurunkannya. yang lain. kalau maut sangat dekat.kenikmatan main-main dengan colt. Mulanya di Perbakin. perempuan cuma jadi istri tentara. Kini aku terhibur batu sebagai bantalan. Tapi ibu mengharapkan aku jadi dokter. Ayah terpaksa berurusan dengan panglima. lantas menodong wajahnya bolong. membuat lubang dan pantulan dengan menjebol lapisan aspal. Polisi akan masuk dan ayah akan menghajarku. seperti menembak kaleng atau cecurut. ketika jadi danyon.

ngantor seperti orang ayah pensiun dan jadi bupati di C. Bahkan aku sengaja tidak memberitahukan kondisi kritis ibu sampai saat penghabisan mendekat. Dan kebisuan itu berlangsung tiga tahun. Aku. seperti merindukan kehidupan eksklusif di kompleks. Apa jadinya kalau tentara? Ketika ibu meninggal ayah masih di C. Aku diam saja. Dua jam kemudian aku menelepon ke rumah dinas. Aku ayah?” kata Samsidar. kakak. kena kanker payudara yang baru ketahuan setelah stadium IV. dan seluruh keponakan. Mungkin ia ingin memperlihatkan secercah bahagia karena berhasil menjadikan aku dokter. dan dapat jawaban Sejak saat itu aku tidak pernah menghubungi ayah lagi. Dan ajudan ayah juga yakin akan itu. meski aku yakin mereka mengetahui perbuatan ayah.” katanya— tertawa. Ke mana? Entah! menelepon lagi tapi ajudan yang mengangkat. terutama karena jadi rekanan pemda. anak. Memprotes tiadanya perhatian pada ibu. Aku ikut ibu yang bungkam pada ayah. yang mengatakan Pak Bupati harus ke daerah mengangkat. perut. agar memberi pelajaran kepada ayah yang sok sibuk itu—yang barusan memaki-maki aku. dengan mengumpulkan suami. dan denyaran roh pasti menimbulkan sugesti yang menyentakkan—seperti yang aku rasakan ketika menembak aspal di sisi kaki preman. Ditempatkan di kota. dan cuma basa-basi kalau ayah menelepon menanyakan kondisi ibu. . Ibu menatap. karena dia sendiri belum pernah menembak orang—atau berperang. Ayah tertawa. Aku kini sipil. “Kau tidak mengabari marah dan memaki-maki lewat telepon. Aku tak mengabarinya. Aku lulus kedokteran dan masuk tentara. sia-sia melepas senyum di tengah deraan sakit. Ia bergegas menelepon ayah.” Aku memprotes tapi telepon segera dimatikan. Dan terkadang pergi bila sesekali ayah datang menjenguk ibu. Ternyata jadi tentara bisa bersifat sangat administrasi. seperti mendengar bisikannya.” katanya. Aku mengangkat bahu. ipar. Ya! Aku yakin tentang hal itu. atau kepala mayat dalam praktik Ada aura yang membuat kita harus mengeraskan hati dan membaca doa—lebih dahulu— kedokteran. “Kau tahu apa?” katanya. yang telaten merawatnya. Aku mematikan telepon. Dua jam kemudian aku menelepon rumah gendakan-nya. dada. Enak. Dua jam kemudian aku menelepon lagi tapi tak ada yang mengangkat. Dik. Hal yang membuat suami yang ajudan itu. Tanganku digenggam. yang langsung mendekat. Ia minta agar aku merawatnya. Tapi bisakah kita membalik laju waktu? kebanyakan—meski tetap dibimbing insting militer yang terus diasah. Pelayan yang pelayan—Pak Bupati baru ke luar. bergaul dengan banyak hal yang harus diselesaikan tanpa ada panduan jelas. sampai ibu meninggal—menyeringai. Tiga tahun kemudian ayah harus tetap sibuk bekerja dan—seperti yang dikeluhkan ibu—terpikat pemborong yang Aku menelepon ayah.bernyawa. kakak-kakak dan ipar-ipar marah dan mengadiliku. “Kau orang militer yang hanya hidup dalam lingkungan eksklusif dengan rutin-rutin yang terkontrol. Dua tahun kemudian ibu sakit. meski itu hanya untuk menyayat tungkai. dalam kurang tidur. tak ingin menceritakan kelakuan ayah kepada mereka. “Aku kan cuma cari kerja. “Ayahmu mendapat kesenangan baru sebagai orang sipil yang pergaulannya menembus segala lapisan masyarakat. Aku cuma bilang tak tega mengatakan kondisi ibu yang sebenarnya—maksudku. Aku untuk menggalakkan intensifikasi pangan.

yang pasti datang dengan langkah lebar dan teriakan amarahnya yang khas. Sakit dari cacahan peluru satu magasin—dengan lima dua lubang luka. Aku menunggu ayah. Mengokang dan Ibu meninggal. Ya— sepuluh menit lagi. Kami membawanya pulang setelah dimandikan—siap disembahyangkan dan meletakkannya di dada sambil terlentang. Aku masuk kamar utama.karena merasa dipermalukan sebagai Bupati. Tapi apa kepentingan ia di luar citra bupati teladan? dikubur. Sepuluh menit lagi. Berjam-jam menunggu ayah. Mengunci pintu. Ya! Ya . yang tak peduli akan derita istrinya yang sekarat. Biar ia merasakan sakit di dada seperti yang dirasakan ibu selama lima tahun. Mengambil AKA. Pasti.

“Apa? “Sudah sana!” katanya sambil mendorong Arsad pelan menegakkan sepeda motor. Itulah awalnya. Setelah itu ia benar-benar menguasainya. Khairan menepuk bahunya. Sir?” katanya. ayah. Arsad menaiki sepeda motornya. Terkadang Arsad hanya nongkrong. di kisaran empat angka. Perkenalan tidak disengaja sebenarnya. Ia membolos bersama Taberi. ayahnya memberikan pesan khusus. “Pokoknya kamu tenang-tenang saja. Arsad menendangi bongkahan blok mesin sepeda motornya. “Dan sementara itu kamu pun bisa aman-aman saja ngeloni Saimah. dengan setoran biasa. Khairan tersenyum dan ngojek sama Sitol. Khairan. curiga. Kemungkinan cuma sepersepuluh ribu. dengan payudara yang berdenyut. dan karenanya kita hanya narikin duit orang kampung. dengan lembut.” kata Melangkah. Beres! Ngomong apa?” Nasir memberi isyarat telunjuk di mulut. Menyibak tirai pudar dan merangkul Arsad dari belakang. “Kamu duduk-duduklah. preman dan pemabuk. Saimah makin genit. Ya! Akan tetapi. yang harus diperhatikan agar ia bisa tetap memakai sepeda motor itu. dan Arsad pun menikmati hari-hari manis.” kata Nasir. Nasir menggeleng. dan utamanya pemalas yang dan karenanya mendapat duit buat modal ngombe atau ngepil. Bapaknya pasti meneng. Dan mungkin tepat pada hari yang keseratus satu. Motornya dipakai ngojek sembarang orang. dengan semena-mena merangkul. Saimah menjerit artifisial sambil mendorong Arsad ke arah pembaringan yang berantakan. atau menggoda Saimah. Radio menyerukan dangdut.Senja Merah Khairan Beni Setia Setengah berkacak. Arsad menangkap dan meremas dua belahan pantat yang bagai punuk dan tanpa berlapiskan celana dalam. Lha wong kowe melu mbandari …” Khairan menatap. Sad. Menghindar dari sekolah. Itu hari keduapuluh delapan berada di luar rumah. bermalasan di warung itu. Jalan ke pintu belakang warung. serius. Melemparkan kunci kontak ke arah Nasir. olehnya. berbincang dengan istri hanya omong dan terus omong sambil berjudi. “Kita juga main. Saimah menyusul dari depan. Ia menahan ketegakannya dengan dua kaki yang mengangkang. Abai bergabung dengan banyak orang-para pengojek.” Setengah berbisik. menggerayangi dan . dan menyuruh di pangkalan ojek di mulut jalan ke Perumahan Ganda Mekar. ini kepunyaan bapak yang dititip-pakaikan kepadamu. mendorongnya sehingga rodanya mencecah di tanah. kata setiap minggu-apa masih layak diinventariskan apa pasnya dicabut. Ini hanya pemancing saja. “Nggak akan tembus kan. Sad. karenanya akan ada evaluasi Dan kini ia akan menjadikannya Hadiah Utama Toto (gelap) Singapura.” katanya. Mungkin cuma memesan kopi. megang surat-suratnya-sementara itu masih bisa dipakai mengiyakan dengan sungguhsungguh. dan makan diawali dan ditutup oleh merokok di warung Khairan. Kita tutup nomor jagonya. Nasir. orangtuanya semakin permisif. Ini bukan punyamu. Terbayang lagi. gertakan itu cuma efektif tiga bulan. Arsad mengenal Suimah. per lima puluh ribu tombok. seingatnya. makan jajan. menghindarkan pendengaran Khairan. menjauh dari keramaian. Menyelinap dan masuk kamar yang pengap dan remang.

pil. siapa tahu akan mendapat jodoh lelaki kan?” Orang-orang pada tertawa. yang diedarkan berkeliling di antara orang yang berbual atau main kartu. dan rayuan Saimah. memboncengkan si Krowak atau Brewok sebagai untuk tombok nomor di warung Khairan. Ibunya Saimah lembut mengangguk. Arsad semakin sebel kepada Saimah-dan yang Dua minggu kemudian Arsad benar-benar bangkrut. Orang-orang mendelik. yang melingkar manja tanpa celana dalam dan bra-meski masih memakai rok terusan longgar. sedangkan Ibu Mertuanya sukarela menyervis. Khairan tersenyum. Orang-orang kampung menggeleng-gelengkan kepala.” katanya.” Orang-orang tersentak. Meski begitu. Nakal sedikit kayak si Arsad lumayanlah. Sekali-empat puluh hari lalu -menyelinap ke rumah ketika Memberikan sebagian kepada Saimah. bahkan untuk sekedar mengusik keasyikan mereka. Berharap. Hal yang tidak gampang meski telah dibantu minuman. Saimah tersenyum dan terus tersenyum. Ya Miring. Terlebih karena Arsad semakin sering membawa Topi yang genah. Nasir malah memunculkan gagasan yang sangat kontroversial. sepeda motor itu modal untuk hadiah tombokan Toto (gelap) Singapura. Dan Arsad pun semakin jarang pulang sekaligus semakin jarang masuk sekolah. Duyunan orang yang menyetor keberuntungan. “Toh kita tahu ia berduit dan orangtuanya sugih. Khairan-setengah preman karena istrinya “Biarlah. Itulah awalnya Arsad pun jadi orang yang Surga telah kembali. Akan tetapi. “Dan mempunyai anak perawan menciumi Saimah. karenanya orangtuanya masih di kantor. Dan disusul pesta mabuk semalam suntuk. Pak RT tak berdaya.yang sebenarnya membanting tulang menyambung hidup-lembut menenangkan mereka. ia seorang sales yang agresif. Menjadikan empat kali. Arsad pun menyuruh Nasir untuk menjualkan sepeda motornya. terkadang orang masih datang . Cemberut dan makin sering marah.” katanya. menjelang momen bukaan Arsad memilih mabuk dan tidur agar tidak disentakkan oleh fakta ada yang tembus dan sepeda motornya melayang. dan menjebol lemari untuk mengambil perhiasan. Ia seorang sales pengawal pribadi.” katanya. haid Saimah sudah telat seminggu. Ia tertawa. Khairan menenangkan. Utamanya Saimah. Lantas mereka pun mulai memanggil Arsad dengan sebutan bos. biar bisa kompak dengan mertua. bermakna mempunyai barang dagangan. Tapi. menganjurkan agar Khairan mau mengurusnya ke KUA agar semakin kukuh. Khairan-matanya berkilaucepat-cepat mengundang tetangga dan menikahkan Arsad dengan Saimah dalam perkawinan siri. Khairan cuma Menemani Arsad mabuk lalu menyeretnya ke kamar meski tak lagi ada bulan madu. Khairan bungkam. dan berkeliling ke mana saja. pikir Khairan-yang punya dukun kuat sehingga selalu yakin tebakan mereka tidak akan tembus. Istrinya mulai menyindir. “Seminggu bisa berpenghasilan. Berjoget dengan tape dan terbahak-bahak. Siklus direcoki balas memaki. Membawa tas pinggang. semakin tidak mempunyai duit. dan karena itu ia mampu mencukupi Arsad dan dirinya sendiri. yang gigih. Dan Saimah makin manja. Sepanjang waktu. dan menjual sisanya. Mungkin karena lega karena kini Arsad resmi jadi suami Saimah. selalu. Akan tetapi. “Kita ini orang dagang. Hari itu-seperti biasa-Nasir akan berkeliling dengan sepeda motor Arsad. Sekaligus itu membuat Arsad semakin butuh duit untuk menyenangkan banyak orang.

Sopir Station Wagon geger otak ringan. Kaki. menyeru ke seberang. Ambulan Bunyi tumbukan dan jeritan orang-orang menghias siang itu. mblesar-kan gas. akselerasi pertamanya. mencuri perhiasan ibunya. Sebagian menolong Nasir. dari hadapan. melaju di kelempangan jalan yang lengang seusai jam mengantor. yang lainnya memburu supir sirna. Dan alur arah Hari itu-setelah sarapan nasi goreng. dan minum Topi Miring- yang sama. dan…” “Betul! Tapi. Belokan liar itu. tangan. Sedangkan kecepatan Station dicoba dibanting ke kiri. Berderit direm dan tepi jalan itu berjajar kios-kios-bahkan sebuah Angkot berwarna kuning sedang parkir sepeda motor itu. meliuk-liuk. lajunya sepeda motor Arsa. Arsad dipaksa tergantung lumpuh. sementara mereka telah bablas? Anak saya itu. Halim! Halim!” “Terus? Terus?” . Menyatakan suami-dengan menafkahi Saimah. Kendaraannya diperbaiki Ayahnya untuk pulang. yang dikemudikan Nasir. masalah dan menenangkan warga. dan sisi rusuk kanannya remuk. Lalu lintas sigap diatur. memakan marka jalan meski mereka cuma mencari jalur kiri. ada di tengah jalan. Kemudian teriakan memaki Station Wagon itu. meraung saat membuat belokan besar dari jalan hancur arah Perumahan ke jalan utama. Sepeda motornya dituntut dikembalikan utuh kepada keluarga Nasir dan utamanya Khairan. itu sudah amat terlambat karena si korban Nasir mati. dan derap orang berlari memburu. PJR yang dengan sigap meletuskan pistol. Ia menuntut.Nasir memboncengkan Krowak. penyelonongan itu. Pada saat sebuah Station Wagon-dengan bemper depan tambahan dari pipa baja. apakah aku harus menunggu izin Bapak. tetapi kaki kanannya diamputasi sedang tangan kanannya hancur tepat di sikut dibiarkan utuhdengan biaya asuransi. Tetapi Khairan tidak kalah sengit menuntut. tak bisa diturunkan. tertekuk-tekuk pendek. Krowak tertolong. Menggulingkan kendaraannya dan menghajarnya sampai kacanya remuk dan bodypatroli. belum pernah pacaran. bahwa Arsad itu suaminya Saimah sehingga Arsad itu harus bertanggung jawab sebagai “Tapi aku tak pernah mengawinkannya!” “Ya! Betul! Karena aku yang mengawinkannya. bergetar karena tangan si pengendaranya goyah oleh kaget dan mabuk. Akan tetapi.” “Sembarangan! Kalau tahu aku tidak akan sudi menyetujuinya-kamu dengan anakmu yang menyebabkan ia mutung sekolah. sudah meteng. tetapi kemudian diluruskan lagi ke kanan ke kelurusan karena di sambil kernetnya. Serentak menghajarnya-bus dalam kondisi setengah mabok yang belum nya penyok. Tetapi kecepatan Wagon itu tetap tinggi meski telah dicoba direm dan dibanting ke kiri. Menyulut rokok. Mungkin akan segera dibakar-dan sopirnya mati-kalau tak kebetulan muncul menyusul datang setelah pasukan pengaman bantuan didatangkan untuk melokalisasi spontan diangkut dengan kendaraan yang lewat dan mau mengantarkannya ke RS. Ia marah ketika mengetahui kalau sepeda motor itu telah berkali-kali dijadikan barang taruhan judi Toto (gelap) Singapur. telur dadar setengah matang. Sedangkan motor Arsad jadi sumber masalah. dan diungsikan ke Panarukan-dipondokkan.

” kalimatnya. Si bayi santun disodorkan oleh Saimah. artinya orang baik-baik Topi Miring: Merek minuman lokal beralkohol Mblesar: memainkan gas sehingga mesin meraung-raung Dipondokkan: Dimasukkan ke pesantren untuk belajar dan sekalian tinggal di sana. bersama si bayi-yang lantas diberi nama Caca Handika-. Dua kali lagi Khairan mengiba-iba. “tombokan”: Memasang nomor judi dengan membayar uang taruhan. Khairan mendelik dan membentakkannya. Karena itu. instan Celurit: Senjata mirip sabit. Lebih jos ketimbang sepeda motor yang remuk itu!” menyerahkannya-pada kesempatan pertama-kepada orangtua Arsad. Ibunya Arsad berteriak-teriak. Khairan menelan ludah. Kedua lelaki itu liar bertatapan. Menyisih Dan dengan mobil itu juga. Saimah menangis. dan Yudiono-yang setengah mabuk-. tanpa mampir dulu. Menghiba-hiba sambil lembut mengingatkan anaknya Arsad yang dikandung Saimah. “Nih. Khairan loncat mencabut celurit dan membabatkannya berdatangan. Kembali mendatangi orangtua Arsad dan minta agar mereka tidak memutuskan tali kasih antara Arsad dan Saimah. Bisa apa ’ndak?” Kadang Arsad mengirim uang belanja untuk Saimah. dan Saimah tiba pada kesepakatan kontroversial: Akan membungkus si bayi dan langsung “Hasil karya anakmu. tapi liar ditepiskan sehingga Saimah terdorong ke kursi. dengan mobil carteran. Mutung: Berhenti di tengah jalan Meteng: Mengandung. berharta Genah: Enak dipandang. Ayahnya Arsad bergegas dari kamar. Ngeloni: Meniduri Meneng: Diam. hamil Jos: Langsung jadi sempurna. dengan dikawal Segera. Catatan: kepada bapaknya Arsad-sekitar delapanpuluh kali. Ibunya Arsad terpekik. Dan memang begitu. Aku seperti masuk penjara. dari rumah Bidan. Tombok. membisu tanda setuju Kowe melu mbandari: Kamu ikut menjadi bandar Sugih: Kaya.” tulisnya.“Balikkan ia ke kondisi asal. Berparkir di halaman. Mengeluh tak bisa ke luar dari Pondok. “Aku tidak betah. Lantang meneriakkan Brewok. tapi mereka pada mundur (surut) ketakutan melihat amuk Khairan. Utuhkan lagi. meski tak selalu milik orang Madura . Tetapi kedua orangtua Arsad cuma bungkam. keluarga lewat pintu ruang tamu yang terbuka di rembang petang. Khairan. khas Madura. Tetangga ketika Khairan melemparkan celurit pada cacahan bersimbah darah tubuh bapaknya Arsyad. mereka langsung mendatanginya. Dua hari setelah persalinan. tapi tidak pernah dilayani. istrinya. Dipantati bahkan. Mengawal Saimah yang menggendong bayi-diam-diam Khairan menyelipkan celurit-dan langsung ke ruang salam sambil menyelonong. Dominik. Khairan melapor ke Polisi.

ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos melintas halaman. mendapati kotak itu kosong. “Sekarang. “Hari gini masih pake kartu pos?” Karna Ren sebenarnya bisa telepon atau mengharuskan setiap murid punya hand phone agar bisa dicek sewaktu-waktu. Marwan sendiri selalu berusaha menghindari jawaban langsung bila anaknya bertanya. Kadang bisa sebulan tak pulang. Di kelas. “Hati-hati!” teriak sopir. Beningnya sudah pegang hape. tak gampang menjelaskan semuanya pada anak itu. terutama “Kau memang tak pernah merasakan bagaimana bahagianya dapat kartu pos…” . Bik Sari yang sedang mengepel sampai kaget melihat Beningnya terengah-engah begitu. Bibiiikkk…. Apa Mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? Mungkin Bi Sari sudah mengambilnya! Beningnya pun segera berlari berteriak. ia selalu mengirimkan kartu pos buat Beningnya. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. yang kecewa itu. Beningnya langsung meloncat menghambur. Non?” “Kartu posnya udah diambil Bibik. Pekerjaan Ren membuatnya sering bepergian. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. Sungguh. Marwan kadang kirim SMS. untuk berjaga-jaga kalau ada penculikan. “Ada apa. “Kok kartu pos Mama belum datang ya. Beningnya tertegun. Sekolahnya memang saat bubaran sekolah. ya?” Tongkat pel yang dipegangnya nyaris terlepas. ia selalu tak tahan melihat mata Marwan hanya diam ketika Bik Sari cerita kejadian siang tadi. “Biiikkk….” Ia nyaris kepleset dan menabrak pintu. meledek istrinya. betapa soal kartu pos ini akan membuatnya mesti mengarang-ngarang jawaban.Kartu Pos dari Surga Agus Nur Mobil jemputan sekolah belum lagi berhenti. seakan sudah menebak. Tapi memang tak ada. setiap pulang. dan Bik Sari merasa mulutnya langsung kaku. Dari kotakota yang disinggahi. Ia masih belum genap enam tahun. Ia harus menjawab apa? Bik Sari bisa melihat mata kecil yang bening itu seketika meredup. Pasti kartu pos dari Mama telah Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun. Ia tak menyangka. karna ia terus diam saja. Ia melongok. barangkali kartu pos itu terselip di dalamnya. Pa?” “Mungkin Pak Posnya lagi sakit. Jadi belum sempet ngater kemari…” Lalu ia mengelus lembut anaknya. Meski baru play group. Beningnya selalu nanya kartu pos…” suara pembantunya terdengar serba salah. “Saya ndak tahu mesti jawab apa…” Memang. Seperti capung ia tiba. tadi.

ngambil kartu pos dari Mama. dan memamerkannya dengan membacanya keras-keras. Marwan diam. tetapi kartu pos yang dikirimkannya dari kota yang Ketukan di pintu membuat Marwan bangkit dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu. Marwan ingat. setiap Ayah pulang. rasanya. Pukul “Enggak bisa tidur. yang dikenal lewat rubrik majalah. Aku hanya ingin Beningnya punya kebahagiaan yang aku rasakan…” Tak ingin berbantahan.” Marwan hanya diam. “Setiap kali menyenangkan dan membanggakan punya Ayah pelaut. Bahkan. “Ke mana?” “Ke rumah Pak Pos…” Marwan merasakan sesuatu mendesir di dadanya. bahkan ketika anaknya mulai mengeluarkan setumpuk kartu pos dari kotak itu. “Itulah saat-saat menerima kartu pos darinya. Ia pun atau kartu pos. Negeri yang gambarnya ada dalam kartu pos itu…” ujar Ren. bagaimana Ren bercerita. Sepanjang hidupnya. lantas mengeposkannya. Karena iri. “Nganter ke mana? Pizza Hut?” Beningnya menggeleng. Marwan tak pernah menerima kartu pos. jauh. dengan suara penuh kenangan. dan yang lucu: disinggahi baru sampai tiga hari kemudian! pernah suatu kali Ren sudah pulang. aku selalu merasa Ayahku muncul dari negeri-negeri yang Ren sejak kanak sering menerima kiriman kartu pos dari Ayahnya yang pelaut.20. Marwan melirik jam dinding kamarnya. Ren menyimpan kartu pos dari Ayahnya. “Aku selalu mengeluarkan semua kartu pos itu. Itu kotak kayu pemberian Ren. “Kalu emang Pak Posnya sakit biar besok Beningnya aja yang ke rumahnya.Marwan tak lagi menggoda bila Ren sudah menjawab seperti itu. sementara Ayahnya berkisah keindahan kota-kota pada kartu pos yang mereka pandangi. ya? Mo tidur di kamar Papa?” Marwan menggandeng anaknya masuk. Ia mencoba menarik perhatian Beningnya dengan memutar DVD Pokoyo.” Ren merawat kartu pos itu seperti merawat kenangan. Kotak kayu yang dulu juga dipakai 11. Meski tetap saja ia merasa aneh. Saat SMP. “Besok Papa bisa anter Beningnya enggak?” tiba-tiba anaknya bertanya. ia pun jarang dapat surat pos yang membuatnya bahagia. “Mungkin aku memang jadul. kartun . banyak temannya yang punya sahabat pena. Mereka akan berteriak senang bila menerima surat balasan pernah diam-diam menulis surat untuk dirinya sendiri.” Ren kecil duduk di pangkuan. Marwan berusaha tampak gembira ketika surat yang dikirimkannya sendiri itu ia terima.

bagaimanakah ia mesti menjelaskan semuanya pada bocah itu? Andai ada Ren. Marwan tersenyum.” Marwan tersenyum. Tapi bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya? Rasanya akan lebih mudah bila jenazah Ren terbaring di rumah. “Atau kamu bisa saja tulis kartu pos buat dia. teman sekantor. Ia sengaja tak masuk kantor untuk melihat Beningnya gembira ketika mendapati kartu pos itu. Deretan kafe payung warna sepia. Seolah-olah itu dari Ren…. Dermaga kota tua. Air mancur dan patung bocah bersayap. Semua itu menjadi tampak lebih indah dalam tertidur. “Ini bukan tulisan Mama…” Marwan tak berani menatap mata anaknya. kemudian berlarian tergesa masuk rumah. Sepeda yang berjajar kesukaannya. Tapi Beningnya terus sibuk memandangi gambar-gambar kartu pos itu. kapan pulangnya?” “Ya sudah. Pagoda kuning keemasan. Ia bisa membiarkan Beningnya melihat Mamanya terakhir kali. setelah Beningnya pulas. Mungkin ia akan terus-terusan menangis karena merasakan kehilangan. Kartu pos yang diam-diam ia kirim. ketika Beningnya terisak dan berlari ke kamarnya. seperti tercekat. “Ini bukan kartu pos dari Mama!” Jari mungilnya menunjuk kartu pos itu. “Bagaimana kalau ia malah terus bertanya. Dari jendela ia bisa melihat anaknya memandangi kartu pos itu. Gambar pada kartu pos. Bahkan membohongi anaknya saja ia tak bisa! Barangkali memang harus berterus terang. Marwan masih ngantuk karena baru tidur menjelang jam lima pagi. kenapa seorang pengarang bisa begitu terobsesi pada senja dan ingin memotongnya menjadi kartu pos buat pacarnya. pasti akan dikisahkannya gambar-gambar di kartu pos itu hingga Beningnya “Bilang saja Mamanya pergi…” kata Ita. Merasa lucu karena ingat kisah masa lalunya. “Wah. kamu jelaskan saja pelan-pelan yang sebenarnya. Beberapa rekan sekantornya terlihat menuju kotak pos di pagar rumah. Tetapi rasanya jauh lebih mudah menenangkan . Rasanya. saat Marwan makan siang bersama.di tepian kanal. Bukit karang yang menjulang. yang tengah memandang mejanya dengan mata penuh gosip. Marwan mendengar teriakan sopir yang menyuruh hati-hati. Pasti mereka menduga ia dan Ita…. dari mana mesti memulainya? Marwan menatap Ita. Mobil jemputan belum lagi berhenti ketika Marwan melihat Beningnya meloncat turun. Membiarkannya ikut ke pemakaman. tampak memberi isyarat agar ia melihat ke sebelah. tetapi bocah itu telah melesat Marwan menyambut gembira ketika Beningnya menyodorkan kartu pos itu. Ah. Sudut dengan deretan yacht tertambat. Ia selalu merasa bingung.” Itulah. dinding goa. Siluet menara dengan burung-burung melintas langit jernih. ia kini mulai dapat memahami. udah datang ya kartu posnya?” Marwan melihat mata Beningnya berkaca-kaca.

Bau sangit “Beningnya! Beningnya!” Bik Sari ikut berteriak memanggil. “Beningnya…” Bergegas Marwan mengikuti Bik Sari. Dan ia tercekat di depan kamar anaknya. semua rapi. seseorang. Hawa dingin bagai merembes dari dinding. jadi Mama mesti nganter kartu posnya sendiri….” Beningnya mengulurkan tangan. seperti tengah bercakap-cakap dengan Dan cahaya itu makin menggenangi lantai. “Buka Beningnya! Cepat buka!” Entahlah berapa lama ia menggedor. Cahaya yang terang keperakan. Ia melongok ke dalam kamar. ketika akhirnya cahaya keperakan itu seketika lenyap dan pintu terbuka.” pelan Beningnya bicara. Dan ia mendengar Beningnya yang cekikikan riang. Ketukan gugup di pintu membuat Marwan bergegas bangun. Hanya “Tadi Mama datang. Marwan menerima dan mengamati kain itu. Dua belas lewat. tak ada api. sulit ia buka. “Kata Mama tukang posnya emang sakit. keluar dari lubang kunci.Beningnya dari tangisnya ketimbang harus menjelaskan bahwa pesawat Ren jatuh ke laut dan mayatnya tak pernah ditemukan. serupa kabut. Singapura-Yogyakarta. menyambar mendekapnya. Lebih keras dari bau amoniak. Ia menduga terjadi kebakaran dan makin panik membayangkan api mulai melahap kasur. sekilas ia melihat jam kamarnya. Rasanya ia hendak terserap amblas ke dalam kamar. Marwan mendapati sepotong kain serupa kartu pos kecoklatan bagai bekas terbakar. Segera Marwan kartu pos-kartu pos yang berserakan. “Ada apa?” Marwan mendapati Bik Sari yang pucat. 2008 dipegangi anaknya. “Beningnya! Beningnya!” Marwan segera menggedor pintu kamar yang entah kenapa begitu membuatnya tersedak. Kain kafan yang tepiannya . Ada cahaya terang keluar dari celah pintu yang bukan cahaya lampu. Ia melihat ada asap lembut. Bau wangi yang ganjil mengambang. Beningnya berdiri sambil memegangi selimut.

Tetapi ketika ia hatiku. Ia tak pernah mengucapkan rayuan. Itulah yang membuatku betah berada di dekatnya. menyentuh putingku yang ungu. Sementara gelembung-gelembung udara dan serakan batu koral membuat wajahnya seperti terpahat di air. Aku suka matanya. Ia malah cenderung selalu gugup bila aku bermanja-manja memeluknya. sepasang mata itu bagai mengambang. aku teringat pada sepasang kunang-kunang yang melayang di atas kolam. aku seperti mendengar denting genta. betapa jari-jari tangannya begitu gemetar ketika pertama kali malam yang dipenuhi kunang-kunang. Mata yang terlalu melankolis untuk seorang yang membuatku jatuh cinta. mana yang pantas buat dipakai makan malam. Kau akan laki-laki yang selalu gugup dan tergesa-gesa ketika berciuman. Aku ingat. ketika sepasang mata itu muncul dari Sisa hujan masih terasa dingin di kaca saat aku bertemu dengannya di toko ikan hias. Aku Aku tak tahu bagaimana persisnya aku mulai mengajaknya bicara. Menatap matanya menjadi kehangatan tersendiri. menyebutkan namanya. Kau tahu. seperti katamu. Barangkali. bergemerincing dalam ”Atau jangan-jangan kamu hanya maniak seks yang takut kesepian. Bahkan aku tak mendengar desah apa pun ketika ia orgasme. kalau kukatakan betapa semua ini bukan semata-mata urusan ranjang. tengah memandangi ikan-ikan dalam akuarium. Memang. aku suka matanya yang selalu mengingatkanku pada langit hampir seperti ketika kamu merasa rindu pada masa kanak-kanakmu yang paling menenteramkan. yang paling gombal sekali pun. seperti langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. Tapi. sepasang mata itulah sebalik kaca—membuatku terkejut. berganti pacar bagiku tak lebih seperti ganti baju: tinggal pilih mana yang cocok buat ke pesta. ”Dan yang ini?” Seperti kukatakan. dan mana yang nyaman buat sekadar menghabiskan malam di ranjang. mana yang pas buat jalan-jalan. Di antara ikan-ikan kecil warna-warni. Terdengar seperti lagu pop yang tak terlalu merdu tetapi dinyanyikan dengan sentimentil… ”Laki-laki yang romantis rupanya!” Tidak. Aku suka ketika mendengar ia berbicara. untuk sekadar membuatku tersenyum. aku memang mengindap gangguan jiwa karena terlalu gampang jatuh cinta. bercinta dengannya seperti menikmati nasi . Kamu takut tidur sendirian…” Kamu mungkin tak percaya. Ia bercinta nyaris tanpa suara.Serenade Kunangkunang Agus Noor melihat hamparan kesenduan dalam mata itu. Dan saat sepasang matanya mengerdip.

Dan ini kisah cintamu yang akan jadi dongeng menakjubkan! Ha-ha-ha…” Tidakkah kau tahu. terkadang sebuah kisah cinta bisa saja menakjubkan meskipun tidak seindah kisah cinta Cinderella dengan Pangeran tampannya? Sampai saat ini aku sendiri masih heran. kukira!” Lebih mirip seperti baju yang ingin selalu kamu sembunyikan dalam lemari. aku kan bisa melakukannya dengan pacar-pacarku yang lain. tak rapi. ”Bukan baju yang pantas buat ke pesta. Keringatnya meruapkan aroma kamper yang kelabu. penampilannya lebih mirip salesman yang baru saja ditolak masuk rumah. aku sungguh-sungguh jatuh cinta? ”Gatal telingaku dengar kamu ngomong soal cinta. ”Kau suka kunang-kunang?” ”Hmm. kenapa aku jatuh cinta kepadanya. aku mesti pergi. Tapi—entah kenapa—aku selalu menyukainya. ”Mau ke mana?” Kau lihat kunang-kunang itu? Setiap melihat kunang-kunang. Mungkin karena aku merasa nyaman saja. Sedikit berkumis. Bukan karena kamu tak suka. Membuatku tergeragap. Tapi. Kadang aku menganggap semua ini tiada penuh masalah?! Tapi… Maaf. aku begitu menyukainya. Seperti menyukai baju yang selalu ingin kukenakan ”Anggap saja ini cinta sejatimu. Dia bukan laki-laki seperti yang sering kamu untuk melakukan bermacam adegan dan posisi. yang akan membuatmu teringat pada baju yang menjadi apak karena terlalu lama disimpan. Bersamanya aku tidak terobsesi aneh-aneh begitu. kalau memang kepingin yang mendapatkan perhatiannya. tapi karena kamu tak ingin orang lain tahu kamu memilikinya. bayangannya seperti ketukan ganjil pada pintu saat tengah malam. dengan dasi yang selalu terlihat tak serasi dengan warna sweater-nya Dia agak pendek untuk ukuran kebayakan laki-laki. entahlah.” ”Aku suka kunang-kunang…” . Dan kupikir. aku jadi ingin ketemu dia. Sungguh. Ada beberapa jerawat di wajahnya yang coklat. Setiap melihat kunang-kunang. bukankah cinta memang ganjil dan memikirkanku. yang membuatmu rela melakukan apa saja untuk sekadar menyukai kemurungan dan kesenduannya.goreng: rasanya standar dan bisa didapat di mana saja. Tapi— diam-diam. kali ini.” Bila aku kangen. tipis. Lalu kuingat kunang-kunang di matanya. yang membuatku lihat di iklan deodoran. ”Busyet!!” Mungkinkah. aku selalu merasa dia tengah lebih dari kisah cinta yang ganjil dan bermasalah.

” ”Hmm…” Ah. dan angin yang membeku membuat layang menyusuri aliran sungai. dari lembah itu muncul ribuan kunang-kunang. Seminggu setelah pembantaian. ketika lembah itu menjadi bisu. ibu bercerita bagaimana suatu malam ayahku diseret keluar rumah. seperti sosis dalam setangkup roti. Aku ingin ia melihat sendiri bagaimana setiap bulan purnama ribuan kunang-kunang itu muncul dari bawah lembah sana. Rasanya aku pernah membaca cerita muncul dari kegelapan malam dan terbang berhamburan memenuhi kota… seperti itu—mungkin sewaktu SMA. Ibu selalu mengajakku kemari. Ibu mendengar tubuh ayah dibuang ke lembah itu. Kemudian terbang mengikuti aliran sungai. selalu tak mudah mengajaknya bercakap. kota terlihat gemerlap ditangkup gelap yang pucat. bagai gugusan cahaya kekuningan yang bangkit. Padahal. Membuat lembah itu malam purnama. Sejak kecil aku kerap bermimpi ayahku muncul dengan mata yang bagai sepasang kunang-kunang. memandangku yang duduk telanjang di sofa. Dari jendela apartemen lantai sebelas. kemudian gaib begitu saja dalam kesunyian yang mengelabu. Dia mengerti kenapa aku suka kunang-kunang. ribuan kunang-kunang itu selalu bangkit dan terbang melayang- Kuajak ia kemari. dengan mata yang layu. Selalu. Itulah kenapa aku Itulah pemandangan yang selalu kusaksikan sejak kecil di tempat ini. ia langsung tidur setelah bercinta. Bahkan kemurungan tak juga menguap dari wajahnya ketika ia terlelap. Aku membayangkan jutaan kunang-kunang ”Enggak tidur?” Ia menggeliat. di zaman gestapu dulu. setiap kali aku merasa rindu dengan ayah. pada saat-saat seperti ini aku ingin mengajaknya kemari. Salah satu dari ribuan kunang-kunang itu adalah ayahmu. agar ia menyaksikan kemunculan ribuan kunang-kunang itu. Dan setiap pepohonan tertugur kelu. kata ibu. aku lupa.” ”Aku suka matamu…” ”Hmm” “Seperti ada kunang-kunang dalam matamu. Seperti yang sudah-sudah. menjadi berkilauan. Kenapa aku suka pada matanya yang bagai meringkuk dalam selimut. ”Kau lihat kunang-kunang itu?!” ”Hmm…” Ini pertemuan ke-43. Ibu selalu bercerita bahwa ayah telah menjelma kunang-kunang. Aku jadi teringat pada cerita seribu kunang- kunang yang menautkan kesepian dan kenangan. sekali mengajaknya bercakap-cakap tentang kunang-kunang itu. saat itu.”Hmm. Agar ia menyimpan kunang-kunang. Kunang-kunang itu adalah jelmaan roh-roh yang penasaran. Ribuan kunang-kunang itu terlihat bagaikan selendang kuning yang melayang-layang hanyut di riak air. . bersama ribuan tubuh lainnya. Aku masih dalam kandungan ibu.

Kurasakan kemurungan yang ganjil ketika ia mendekatiku.Ia sungkan dan jengah. Ia masih saja tak terbiasa melihatku telanjang. Karena. Kemudian ia bangkit. aku tetap saja merasakan kemurungan yang makin membentang. Tapi. selalu saja. seperti dalam sebuah puisi. Dan dingin. Seperti jeritan yang teredam. Sampai ia mematikan handphone dan mendekatiku. aku selalu saja gampang jatuh cinta pada laki-laki . Tak ada percakapan. dan tergesa mengenakan pakaian. Seolah ia menginginkan semua ini berlangsung tanpa percakapan yang akan menjadi terlalu sarat kenangan. Desah napas waktu meruapkan basah pada kaca jendela. Ia meraih handphone itu. 2005-2008 pernah kau kenal. seperti kerap kau katakan. Tak ada pelukan untuk saat-saat seperti ini. Membelakangiku. ”Aku mesti pergi…” suaranya pelan dan datar. seperti langit yang bertambah memucat di atas kota yang di penuhi kunangkunang. ”Anakku sakit …” Bukan sesuatu yang mengagetkan. tak tercatat pada termometer. Kesunyian tak terpermanai. Cahaya perlahan susut dan aus. handphone di atas meja bergetar tanpa suara. dan dengan gerakan pelan menjauhiku. Jakarta. Aku hanya memandang keluar jendela. meraih celana dan kemeja di sisi ranjang. berbicara setengah berbisik. Barangkali. aku memang wanita paling menyedihkan yang yang sudah beristri….

tidak lagi sebagai bocah idiot yang sering diganggu dilempari kerikil atau tomat busuk. Aku tak pernah mengerti. yang membuat kepalaku berdenyut-denyut lembut. udara terasa seperti permukaan piring keramik yang dingin. Dan mereka kembali tertawa. Mungkin karena mulutku yang peyot. Mungkin karena celanaku yang selalu melorot. Mereka tertawa-tawa melihat aku menarimereka kemudian akan bertanya hal-hal yang terdengar aneh di telingaku.” jawabku.Parousia Agus Noor Pada malam Natal tahun 3026. sambil menunjukkan empat jariku. Mobil-mobil silver metalik bertenaga magnetik keluar dari cangkang kesunyianku. bila ada ular masuk ke pekarangan. Pasti aku tampak lucu di mata mereka. Tak ada bintang. Mungkin mereka butuh hiburan. Dulu aku memang berharap. dan langit hanya basah. Aku benar-benar tak lagi mengenali kota ini. Aku tak mengerti. Bila ada ular masuk ke rumah. orang-orang akan menghentikanku. Padahal. Memberiku moke. Lalu mereka menyuruhku menyanyi dan menari. seperti rintihan kesepian. aku pernah begitu mencintainya. Aku Kusaksikan cahaya terang kota yang gemerlapan. Di kulitku yang licin. Sayup kudengar gemerincing lonceng mekanik Jingle Bells mengalun dari juke box di etalase hypermarket. ”Dasar idiot!” Aku tak pernah mengerti kenapa mereka mengatakan aku idiot. sambil menunjukkan empat jariku. trotoar. Mereka selalu membiarkan ular masuk ke rumah mereka. Mungkin karena tampangku yang terlihat dungu dengan liur kental yang terus menetes. Mungkin mereka merasa bahagia bila bisa menggangguku. nari. ”Kalau tiga ditambah empat?” ”Tujuh. Biasanya. Orang-orang bergegas membawa keranjang belanjaan dan kado-kado Natal berbungkus kertas warna-warni. aku terlahir kembali ke dunia ini sebagai seekor ular. Mereka tertawa. aku ingin dilahirkan kembali di kota ini. bagaimana orang-orang selalu mengusirku bila mereka tak pernah mengusirnya. kenapa dulu orang-orang di kota ini begitu senang menggangguku. Seorang Sinterklas terkantuk-kantuk di dalam kehidupanku yang lain. Mungkin mereka hanya menggodaku. Mungkin karena itulah orang- memperbolehkan aku masuk rumah mereka. ”Berapa dua ditambah dua?” ”Tujuh. Aku ikut tertawa saat mereka tertawa. mendesing lalu lalang di jalanan. Apabila melihat aku lagi berjalan. Mendesis pelan dan muncul lewat gorong-gorong. mereka selalu memberi telur atau sejumput beras buat ular . Aku ingat. Kota di mana bertahun-tahun lampau. melihatku memasuki halaman rumah mereka.” jawabku. kenapa orang-orang tak orang melihatku dengan jijik.

Kurasakan. Ketika mula dunia tercipta. Seperti sayup ingatan yang membuatku merasa tak tersesat. Mestinya. yang kudengar sepotong-sepotong dan tak gampang aku ular-ular itulah leluhur mereka. Aku begitu ketakutan. kota ini seperti memanggilku. ketika batu masih berupa buah muda. ”Cepat bunuh ular itu! Usir! Pukul” Dan dengan gerakan cepat seseorang mengacungkan tongkat. kabut selalu membawa rezeki dan nasib baik bagi siapa pun yang didatanginya. Cahaya seperti telah menyihir kota ini kerlip pohon Natal menjulang di tengah-tengah plaza. Kota dengan seribu gereja. Lampu-lampu aneka warna Kudengar lonceng gereja. . betapa enaknya jadi ular. Bunyi lonceng seperti itulah yang dulu selalu menuntun perjalananku. Kerlapmenerangi pertokoan yang berderet sepanjang jalan. juga beberapa rumah kayu menuju bukit kecil. Aku sering bertemu ular-ular itu. Mereka percaya bagaikan putih telur. Leluhur yang mulai berkhayal. menganga mengisap orang-orang yang lalu lalang. Dulu. Gerbangnya yang menjulang bagai mulut raksasa dan membuatku tak mengenalinya lagi. menghilang dalam kegelapan. kendaraan yang lewat berhenti. aku mencoba tak panik. Aku ingin suatu hari nanti bisa berubah menjadi Aku mendesis. Alangkah menyenangkan jadi ular. Saat itulah kudengar suara mendesis pelan. ular-ular itulah muasal leluhur yang mendiami pulau. Terdengar suara-suara tong ditendang. Kini terentang jalan layang dan jembatan penyeberangan yang bagai sederhana. di pojokan itu ada sebuah gereja. takjub sekaligus merasa asing memandangi kota yang gemerlapan. Seingatku. Tapi di situ. Aku tiba-tiba terkenang pada gereja-gereja yang dulu sering aku singgahi. teringat bagaimana dulu orang-orang memberi makanan menyambut kedatangan ular Instingku merasakan bahaya dan dengan cepat aku melesat menyelusup tumpukan tong sampah. Meski terkejut dengan reaksi mereka.itu. betapa orang-orang lebih menyukai ular pahami. di pinggir jalan. Aku leluhur mereka. ”Ular! Ular!” Kulihat orang-orang beringsut ketakutan. Di ladang. Kenapa mereka ingin membunuhku? Kudengar teriakan-teriakan mengejarku. mendengar suara lonceng gereja yang mengapung menggetarkan udara senja. setiap hari. banyak berkeliaran di kota ini. Aku benar-benar bingung dengan kota ini. aku selalu berjalan sepanjang jalanan ini. aku mulai tahu kenapa orang-orang di kota ini suka pada ular. Aku senang dan merasa tenang bila penuh dengan gereja. Sejak itulah aku ular. kuntum yang ranum. Aku merayap menyeberangi jalan. ketika Bumi masih rapuh. dan semua ketimbang diriku. Aku suka berjalan mengelilingi kota karena aku suka mendengarkan lonceng gereja. saat tanah masih serupa Dari omongan orang-orang. Kudengar kembali gema lonceng itu. Aku ingin Tuhan akan melahirkanku kembali ke kota ini sebagai seekor ular. Begitu aku selalu merasa iri pada ular-ular yang di pepohonan. sepanjang jalan ini hanya berderet pepohonan. Dulu. menatapku yang mendesis merayap pelan menyeberangi trotoar. Kadang kulihat seekor ular melintas menyeberang jalan. kini aku melihat sebuah mal yang megah. Tiba-tiba kudengar suara jeritan. yang berkelok turun digantungkan begitu saja di udara. Tapi kudengar seseorang berteriak.

Saat itulah kudengar suara-suara mendesis pelan keluar dari reruntuhan tembok dan tumpukan kayu lapuk. sampah. aku merayapi jalanan kota ini. lorong yang berkelok-kelok. Aku merasa ini tak lebih dari kota lama yang ingin dikekalkan dalam ingatan. membuatku merasa seperti menyusuri labirin kesunyian yang pastilah akan membuatku tersesat bila sendirian. juga bayangan bukit-bukit di kejauhan. Suara-suara itu perlahan lenyap dalam gelap. Dengan tangannya yang mungil. Lorong di mana dulu gadis cilik itu membawaku adalah jalan menuju ke kota yang penuh cahaya itu. belajar memahami apa yang sesungguhnya telah terjadi.” Aku memandanginya ragu. hanya dipisahkan oleh kenangan. Cahaya pucat kemerahan menerangi lorong yang kami lalui. Sepasang matanya yang bening membuatku pelan-pelan merasa tenang. Aku kemudian tahu bahwa kota ini sesungguhnya tak terlalu jauh jaraknya dengan kota yang kulihat saat malam Natal sebulan lalu.” kata gadis cilik. Dan seperti menyusuri ingatan. ratusan ular. seperti tengah meyakinkan betapa tempat terbaik . reruntuhan gereja yang kini hanya terlihat sebagai tetumpukan batu bata. Ketika gelap dan sepi terasa lengket seperti ampas kopi. Aku merasa nyaman dalam yang kudengar masih memburuku. Aku merasa asing. di mana matahari terlihat menyandarkan cahayanya. Kulihat puluhan ular. berdesakan dan bau tengik. kulihat itu menyala kemerahan. gadis itu memungutku. meski aku bisa segera menyaksikan bayangan rumah-rumah kumuh yang bagai mengapung dalam kegelapan. menjauhkan aku dari orang-orang belakangku. mengenali jajaran pepohonan di sepanjang jalan kota ini. ”Kita sampai. Aku diam melingkar di pojokan. memberiku cuilan roti yang dipungutnya dari tumpukan kepalaku. Kulihat rosario menenteng lentera. Cara mereka mengingatkanku. seperti kupandangi sepasang bintang yang menandai kelahiranku kembali ke dunia ini. cahaya kota yang gemerlapan kulihat meredup perlahan ketika gadis ini terus memasuki lorong kelam. Ditentengnya rosario itu seperti ia gadis cilik yang mendekapku ini mengeluarkan rosario dari kantung roknya.”Ssttt…. Tapi ularular yang kutemui selalu mengingatkan agar aku jangan pernah berani-berani lagi muncul bagi ular macam kami adalah di kota ini di kota itu. Sampai kemudian aku melihat bayangan deretan rumah yang rapuh. Di dekapannya. Aku langsung teringat pada kelokan jalan itu. Cepat sini….” Kulihat gadis cilik meringkuk di pojok gelap. memancarkan sulfur cahaya. Ia mengulurkan tangan. mendesis-desis menatapku. >diaC< Kudengar lonceng gereja yang layu dari kejauhan.” Ia berkata sambil mengelus Kupandangi mata gadis itu. Kemudian ia berjalan mengendap-endap. sambil menurunkanku dari dekapannya. ”Cepat sembunyi sini…. Sungguh kota ganjil yang serba temaram. Inilah kota yang pada kehidupanku yang dulu selalu kususuri jalan-jalannya. Kota ini terletak di pinggiran kota yang gemerlapan itu. ”Kamu bandel sekali berani keluar gorong-gorong.

Ia kemudian mengatakan kalau karena sekarang ini sudah jarang yang mau membeli rosario. Kamu sudah melihatnya. akan ia ingin agar aku mengenal setiap cuil kota ini. untuk diganti dengan malmal. dan Kristus tampak murung dan sengsara dalam lindap cahaya. dengan mangkuk perak berbentuk piala di ujung selang itu. Di kota yang remang dalam menampungnya dalam gelas. Kami bercakap-kacap dengan bahasa leluhur yang hanya bisa kami mengerti. Dulu aku sering memang sering berjualan rosario. katanya. Tak hanya karena dikejar-kejar petugas. Aku sisa makanan mereka meski kadang busuk dan berjamur. yang mereka percaya. Kami belajar saling mengerti kesepian masing-masing. sebagian orang yang mencoba bertahan memunguti sisa bangunan gereja itu. kami—ular-ular—memang dibiarkan berkeliaran. bila menjelang Natal. Kami mesti menjualnya diam-diam. Kadang air mata itu menetes bening. Itulah selang yang dipakai untuk menampung air mata Kristus. Dulu. Dongeng tentang kehidupan mereka yang perlahan-lahan sangat senang mendengarkan dongeng-dongeng itu dituturkan. dan menghidangkannya buat sarapan pagi anak-anak mereka.Di kota ini. Sudah lama. dan meminumkannya saat anak-anak mereka sakit. seakan- mencapai kota di seberang sana. tetapi kota itu lebih suka dapat hadiah Natal boneka Barbie atau nitendo daripada rosario. anak-anak di rosario buatan kami luar biasa. Aku pernah melihat bagaimana rosario itu dibuat. Dan pada malam hari mereka memeras air mata. pada waktu-waktu tertentu akan mengalir. Sebab bila ketahuan. kan? sekarang ia makin sulit menjual rosario. tapi terlihat rapuh. terdengar seperti tengah bertingkat mulai dibangun. Dulu banyak warga kota ini yang setiap hari pergi ke kota itu. Sering kami duduk-duduk dekat terpinggirkan dari kota. Ketika kota mempercantik diri. gadis cilik itu pernah berkata kepadaku. Dan ular-ular mengikuti mereka ingatan inilah para ibu mencoba bertahan hidup dengan memetik embun di daun-daun. dihancurkan kemajuan. dulu kami bertahan: dengan . Ada salib di tengah reruntuhan gereja di kota ini. Ia bercerita bahwa sebenarnya ada jalan tembus melalui gorong-gorong untuk pergi lewat jalan itu. Kadang merah serupa darah. Mereka memunguti puing kota lama yang nyanyian dan upacara yang penuh ratapan pada leluhur. Dalam keremangan. Berusaha membangunnya kembali sebagai tumpukan-tumpukan kenangan. Apalagi gadis cilik itu selalu mengajakku jalan-jalan. Para penduduk di kota ini menampung air mata Kristus. membawanya masuk ke dalam kabut kesunyian. saat mereka berkumpul mendengarkan orangtua mereka mendongeng. Pada tubuh Kristus terlilit selang kecil. Salib itu menjulang. rempah-rempah dan artefak kenangan. salib itu seperti pokok pohon karet yang tengah disadap. Padahal Aku mendesis mengangguk. Butiran air mata itulah yang kemudian mereka kumpulkan untuk diuntai jadi rosario. Pada saat itulah. kami Aku belajar mencintai kota ini. Kuingat rosario yang memancarkan cahaya itu. Pelan-pelan mereka kembali membangun kota mereka. kalau aku mau menjual rosario. Kemudian dijual. ”Begitulah. menyimpannya dalam botol. berjualan biji-biji embun dan bermacam daun. Para penduduk memberi kami anak-anak. menjualnya di lapak trotoar. Aku menemukannya tak sengaja. menyadap air mata Tuhan…” Aku ingat. kami bisa ditangkap petugas keamanan. dengan karena di kota yang baru mereka diburu dan tak lagi dituahkan. Ketika banyak gereja diruntuhkan. tetapi selalu diusir. Ketika bangunan-bangunan menyanyikan kesedihan.

Aku takut ada penduduk yang memergoki gadis cilik ini. ”Tapi aku suka kamu!” Aku menggeliat-geliat dalam dekapannya. ia seperti tengah membawa keranjang makanan dan hendak pergi tamasya. Ada perasaan sendu ketika kudengar itu. Aku tidak menikah. Tidak. tapi setidaknya ia memahami kerinduanku. Kukatakan betapa aku ingin melihat gereja itu. ternyata. gereja. ”Itu satu-satunya gereja yang masih berdiri!” Mungkin tepatnya: itulah satu-satunya gereja yang sengaja dibiarkan berdiri. katanya. Maka pada malam Natal beberapa bulan kemudian. Kenangan-kenangan dalam kehidupanku yang dulu seperti bermunculan kurasakan cahaya kota yang gemerlapan. betapa sunyi gereja ini. Kami menuju kota itu melalui gorong-gorong rahasia. ia memang gadis yang usil dan nakal. tepat di belakang gereja. ”Kau tahu. kudengar gadis itu berbisik pelan mengatakan kalau kami sudah sampai dalam seperti rongga semesta. Aku melingkar tenang dalam keranjang. Tak ada seorang pun mengikuti misa Natal.” katanya. Ia mendadak terbelalak saat aku bercerita tentang Gereja St Paulus yang sering kudatangi dulu. Ia hendak membawaku mendatangi gereja yang kurindukan itu. Cahaya terasa ultim dan kusaksikan fresko katakombe di atas altar itu bagai bergetar. gorong-gorong. Pasti mereka mengusir kami….” katanya. Pelan aku dikeluarkan dari dalam keranjang. boleh jadi sebagai tugu kenangan. Terdengar syahdu dan megah. Tak ada seorang pun perempuan suka dengan orang idiot. gadis itu memasukkanku ke dalam keranjang kecil. kataku. Kami keluar dari Puji Tuhan. Dari dalam keranjang anyaman.” teriaknya riang.Kepada gadis cilik itu pun aku bercerita tenang kehidupanku dulu. Kulihat gadis kecil di sampingku yang hanya menunduk. Mataku nanar Ledalero. 2006 . Ketika ia berjalan. siapa tahu aku ini salah satu keturunanmu. Sampai kemudian aku menyadari. Kusaksikan ruangan yang remang. ”Kamu Pater?” Aku mendesis tersenyum. Di dekat altar. samar-samar bisa menenteramkanku. ”Kita bisa diam-diam ke sana. Ah. Ia menyimak ceritaku dengan mata berkejap- kejap. kulihat stereo set diputar untuk mengumandangkan melihat tubuh Kristus yang tersalib memandangi bangku-bangku kosong. aku juga penduduk kota ini. Kudengar koor Malam Kudus dinyanyikan. Ia begitu senang saat mendengar kalau pada kehidupanku yang dulu. Dulu aku idiot. ”Wow. nyanyian puji-pujian. Jangan sampai orang-orang di kota itu melihatmu.

Dikutip dan ditulis ulang dari puisi ”Ibu yang Tabah” karya Joko Pinurbo. Nusa Tenggara Timur.Catatan: 1. versi Krowe-Sika. 3. Agus Noor (23 Desember 2007) . 2. Nama tuak/minuman keras lokal di Maumere. Disitir dan ditulis ulang dari syair tradisi yang mengisahkan penciptaan alam semesta.

Jarum Ibu pernah bercerita. Kemunculan mereka selalu menjadi pemandangan yang menakjubkan. mangkuk-mangkuk berisi kancing warna-warni. diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya. para para tukang jahit itu muncul setiap kali menjelang Lebaran dan menghilang di malam takbiran. Seolah muncul begitu saja ke kota ini. Mereka mengeluarkan mesin dondom dan jarum pentul. Atau mereka tak mau lagi datang. Di hari-hari menjelang Lebaran itulah. Serasa ada gema burung pelatuk di mana-mana. yang konon. Mereka duduk bersila menggerakkan engkol mesin jahit dengan tangan tukang sulap. meletakkannya di atas kotak kayu yang digunakan sebagai meja. datang! Asyiik! Lebaran jadi datang!” Seakan-akan bila para tukang jahit itu tak muncul. setiap menjelang Lebaran. gunting. di emper pertokoan. Kau akan mendengar gema mesin jahit yang terus bergemeretak hingga larut menyelesaikan semua jahitan sebelum hari Lebaran. Ia juga bisa menjahit kebahagiaan. “Tukang jahit maka Lebaran tidak jadi datang ke kota ini. betapa dulu. di keteduhan pepohonan. Kata orang. di pojokan jalan. factory outlet. kau bisa menyaksikan serombongan bukit. Kanak-kanak akan berlarian senang menyambut kemunculan mereka. kota akan terlihat penuh tukang jahit yang berkeliling menawarkan menjahitkan pakaian. Nak. dan benang. kota ini selalu didatangi banyak sekali tukang jahit. jarum Selalu menyenangkan memperhatikan tukang jahit itu bekerja. menata bundelan-bundelan benang. Mungkin juga mereka memilih berhenti jadi tukang jahit. Mereka menggelar dasaran di trotoar. tukang jahit itu pun menghilang entah ke mana. jahit lipat dari dalam kotak yang dibawanya. Seperti kemunculannya yang entah dari mana. silet. sementara tangan kirinya lincah dan cepat mengarahkan pola potongan kain yang dijahit. para tukang malam. karena makin lama makin banyak warga yang malas menjahitkan pakaian pada tukang jahit-tukang jahit itu. Karena para tukang jahit itu mesti jahit itu tampak bergegas keluar kota. yang mampu mengubah kain-kain warna-warni menjadi baju-baju indah kanannya. ia tak hanya bisa menjahit pakaian. dari tahun ke tahun. Anak-anak berceloteh riang tentang baju baru yang akan mereka kenakan. orang-orang lebih suka . Begitulah. Para penduduk antre menjahitkan pakaian dan hiruk dalam keramaian menyambut Lebaran. Entahlah. Dan di malam takbiran. Tapi semakin lama kian menyusut tukang jahit yang muncul ke kota ini. butik dan pusat perbelanjaan di kota ini. Sejak banyak toko fashion. Tukang jahit itu punya jarum dan benang ajaib yang bisa menjahit hatimu yang sakit. Nak. Nak. selalu. Nak.Tukang Jahit Agus Noor Tukang jahit itu selalu muncul setiap kali menjelang Lebaran. Ketika cahaya matahari pagi yang masih lembut kekuningan menyepuh tukang jahit yang masing-masing memikul dua kotak kayu berbaris muncul dari balik lekuk perbukitan dan halimun perlahan-lahan menyingkap. Seperti menyaksikan dalam sekejap. Nak. Mungkin banyak dari tukang jahit itu yang mati.

Nak. yang seluruh penghuninya adalah tukang jahit. begitu halus. tetapi tak bisa menyentuhnya. halus. selalu saja ada orang yang datang Tinggal tukang jahit itu. tetapi lebih lembut dan halus. Mungkin para tukang jahit itu merasa betapa kota ini tak lagi menerima kedatangannya. Lebaran. Ia seperti wajahnya seperti rahasia yang tak mau dibuka. Nak. Memberi tukang jahit itu segulung benang untuk menjahit seluruh pakaian yang ada di dunia ini. selalu kulihat tukang jahit itu muncul di kota ini setiap kali menjelang lebaran. Tapi ia lebih sering terlihat di sudut dekat gang kecil agak di pinggiran kota. Mungkin kau tak ingat. satu-satunya tukang jahit. Kisah tentang kampung para penjahit juga pernah aku dengar. tukang tentang tukang jahit itu. Ada yang mengatakan. Dan jarum itu. memancarkan cahaya lembut ketika dipegangi tukang jahit itu. Nak. Ibu merasa kesepian dan sedih membayangkan Lebaran tanpa Ayahmu. Rabalah.membeli pakaian jadi. tiga bulan sebelum Lebaran. Delapan Lebaran lampau. Benang itu tipis dan bening. setiap menjelang yang muncul di kota ini. Tak berbekas. dan jarum. tak ada lagi pemandangan menakjubkan arak-arakan serombongan tukang jahit laskar terakhir prajurit yang terusir. ia sebenarnya tinggal di balik bukit itu. kulitnya seperti kulit mahoni yang menua. kadang tampak itulah tukang jahit itu menjahit kembali kebahagiaan orang-orang…. yang masih muncul di kota ini. dari tahun ke tahun. Sebuah kampung. Perawakannya kurus. Nak. Seluruh tukang jahit yang tinggal di kampung itu mati oleh wabah yang tak pernah diketahui apa. di tangan tukang jahit itu. Menisik dan menjahit. tetapi juga kebahagiaan. Tak ada lagi keriuhan suara mesin jahit di kota ini setiap menjelang masih muncul pun lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan melinting dan orang-orang yang lalu lalang keluar masuk pusat perbelanjaan menenteng tas-tas lebaran. Cerita Ibu hanyalah salah satu cerita dari banyak cerita yang kudengar cerita lain membantahnya. Maka. lalu mereka memilih mendatangi kota-kota lain yang masih mau Lebaran. rambutmu. Benang yang tak akan habis bila dipakai Nabi Khidir muncul dalam mimpinya suatu kali. Tapi juga ingin bahagia di saat hati orang yang lagi sedih itu. tak banyak bicara. Ibu mendatangi tukang jahit itu. Nak. Kau bisa melihatnya. Kau masih empat tahun saat itu. Saat itu Ayahmu baru meninggal. membutuhkan mereka. Nak. Lalu diantar Pamanmu. Dengan jarum dan benang Begitulah. Namun sudah berpuluh tahun lalu kampung itu lenyap. Dan itu karena ia tak hanya pintar menjahit pakaian. tapi kau lihat. Zaman. barangkali. Entahlah. dan membuat orang-orang itu merasa tenteram. para tukang jahit yang mengisap tembakau. Di kampung itulah ia tinggal. Nak. Tak Lalu Ibu bercerita tentang jarum dan benang yang dimiliki tukang jahit itu. Ia menjahit luka hati ibu. Ia sempat mengelus bertilas. maka tukang jahit itu akan menjahit robek dan koyak menjadi seperti selembar kain lembut yang bisa dijahit kembali. Berjalan keliling kota menawarkan jahitan. Nak. memandangi belanjaan berisi pakaian. Tapi . Kau tahu. Memang tak banyak lagi orang yang mau padanya. Di dada sebelah sini. seperti senar. Bila ada orang sedih yang datang padanya. Nak. memang mengubah selera. Hanya ia. Mereka hanya duduk-duduk tanpa mengerjakan jahitan. Kau tahu. Orang tak hanya menginginkan baju baru saat Lebaran. dan menjahitkan pakaian padanya. Yang jelas sudah sejak lama. Ia menjahitnya dengan rapi. kebahagiaan yang Ibu pernah menggendongmu datang ke tukang jahit itu.

kini ia satu-satunya tukang jahit yang dan menjadi muridnya. anakku memandang heran antrean itu. Ia sendiri tak pernah mau bercerita tentang dirinya. Menjahit dan tidur di Tapi dari Lebaran ke Lebaran semakin banyak saja orang-orang yang datang ke tukang jahit itu. Ayah?” “Mau menjahitkan…” “Menjahitkan pakaian?” “Bukan. satu-satunya yang selamat. di sebuah perbatasan antara hidup dan kematian. gang itulah tukang jahit itu selalu menggelar dasaran dan istirahat. Di pojokan situ selama hari-hari menjelang Lebaran. Menjelang Lebaran ini. yang membuat jalanya jadi agak membungkuk. Nyaris tanpa suara berkeliling memikul dua kotak kayu kawan sepermainan kerap mengikuti di belakangnya sambil berteriak-teriak. sewaktu kanak. seakan meledek tukang topeng monyet keliling. inilah antrean terpanjang yang pernah kulihat di kota ini. Padahal tukang jahit itu. Ia tinggal di sebalik cakrawala. sepanjang hari memintal benang kesabaran. Dengan benang itulah ia ditugaskan oleh Nabi Khidir Semua cerita itu sesungguhnya tak pernah menjelaskan tentang tukang jahit itu. aku menjalankan mobil pelan-pelan.” “Kok kayak mau ngantre minyak tanah?” . Menjahitkan kebahagiaan. Mereka sudah menunggu sejak dini hari. malah makin menyelimutinya dengan misteri. Cerita tentang jarum dan benang ajaib itu mungkin membuat banyak orang penasaran. jalan.masih muncul ke kota ini. Aku ingat. Karena banyaknya antrean yang meluber hingga ke tengah sebentar lagi…. aku dan kawan- Agak di pinggiran kota ada gang buntu kecil yang letaknya di tikungan jalan. Yang lain bilang kalau ia memang sempat bertemu Nabi Khidir jahit itu. Ia tinggal di sana. Rasanya. bahkan ada yang sudah menunggu berhari-hari. Dan tukang jahit itu tetap saja diam. Gang yang rindang dan lengang meski ada juga beberapa lapak penjual barang loakan. jahit itu belum lagi muncul! Mereka tampak sudah tak sabar menunggu kemunculan tukang Saat melintas sepulang belanja kue penganan dan pakaian buat Lebaran. Dari radio terdengar nyanyian riang: Lebaran “Sedang antre apakah orang-orang itu. kulihat antrean itu sudah sedemikian mengular panjang memacetkan jalanan. dipintal dari bulu-bulu sayap malaikat. Kemunculannya selalu dalam diam. Tak pernah bercakap ia dengan para penjual loakan di situ. Tak banyak juga orang yang mendatanginya. Mereka ingin menjahitkan kekecewaan mereka pada tukang jahit itu. Itulah sebabnya. Tapi barangkali pula karena dari Lebaran ke Lebaran memang semakin banyak orang yang kian tenggelam dalam kekecewaan. Benang yang untuk menjahit hati orang-orang yang sedih menjelang Lebaran. Mereka antre agar bisa menikmati kebahagiaan Lebaran.

” Lalu kuceritakan apa yang dulu pernah diceritakan Ibu padaku. Bahkan untuk sekadar bisa menikmati kebahagiaan di “Kenapa menjelang Lebaran begini mereka kok tidak bahagia. 2007 orang-orang yang antre itu. Pusing karena semuanya makin mahal. Mungkin juga mereka hanya merasa makin sedih saja…. dengan gampang mendapatkannya.Barangkali. Ayah?” “Ya. Kuceritakan tentang tukang jahit itu. Tidak semua orang hari Lebaran pun kini orang mesti antre berdesak-desakan. hingga Agus Noor (7 Oktober 2007) . Ayah?” “Mungkin mereka tak punya uang buat pulang kampung. kemudian memandang gamang ke arah menyentuh ujung terjauh cakrawala yang mulai menggelap. “Jadi mereka menunggu tukang jahit itu. Tak bisa membelikan baju baru. Kulihat antrean itu sudah sedemikian panjangnya. sekarang ini kebahagiaan memang seperti minyak tanah. Tentang jarum dan benang yang bisa menjahit kesedihan.” “Bagaimana kalau tukang jahit itu tak muncul. Bingung karena masih nganggur. Brisbane-Yogyakarta. Ayah?” Aku menatap matanya yang menunggu jawaban.

” Ah. saat peri-peri mungil itu kelelahan dan berbaring tertidur di dahan-dahan. Neal tahu kalau anaknya itu masih kesal karena tak diperbolehkan membeli permen yang tadi sore dilihatnya dijajakan di perempatan jalan. “Karenanya kamu harus bersyukur bila hidup memberimu nasib yang manis. Dan pada malam hari. Ia membayangkan. Nak. sebermula permen muncul di dunia manusia. Mama. Neal suka meletakkan kotak dari kayu tata menyerupai bantal di atas kasur kecil. Sepanjang hari yang riang. kemudian mengumpulkannya dalam bibi-biji buah yang lembut itu mereka gunakan sebagai bantal. Permen-permen dalam kotak itu ia dan tersesat ketika mencari bantal-bantal yang dicuri oleh nenek sihir itu. Bantal mungil warna-warni milik peri. seorang nenek sihir mengambili bantal-bantal itu dengan teramat hati-hati dan pelan agar peri-peri mungil itu tak terbangun. itu biasa. tempat biasanya Papa.Permen Agus Noor Melihat mulut Iza yang terus cembetut. suka sekali permen. Bukannya Neal tak memperbolehkan Iza makan permen. itulah. peri itu bisa nyaman beristirahat di kotak yang ia sediakan itu. Karena yang manis pun bisa membuat sakit dan menderita. hutan yang berkilauan menjadi penuh nyanyian. Neal sendiri. “Begitulah.” Neal mengingat itu sebagai sebuah nasihat agar dipakai sebagai bantal para peri. Saat kehidupan ini masih ranum. permen. dan kembali beterbangan memetiki biji-biji buah yang keranjang. Neal tak akan pernah lupa: di ruang selalu tersedia sekotak aneka permen. Neal tak akan pernah lupa dongeng masa kecilnya itu. tengah. Seperti bantalbantal mungil milik peri. Permen dalam bungkus warna-warni. lollipop. Sampai ia berumur sembilan tahun. Beberapa anak yang rakus dan terlalu banyak makan biji-bijian itu. Anak-anak begitu bergembira ketika nenek sihir itu membagikan biji-biji yang rasanya manis dan mereka sudah hilang. sementara nenek sihir itu telah jauh keluar hutan dan melintas jalanan desa dengan menyaru sebagai penjaja manisan. Permen toffee. dan kakak adiknya berkumpul menonton televisi. Mereka sedih. sewaktu kanak-kanak. “Ini bantal yang dipakai tidur para peri. Ia manis dan lembut karena karena ia dibawa oleh nenek sihir jahat. bila peri itu . ketika peri-peri mungil itu memetiki biji-biji buah yang matang dan manis. Saat peri-peri mungil lelap bergelantungan. peri-peri yang selalu beterbangan seperti capung begitu riang memetik biji-biji buah selembut getah yang bergelantungan di pepohonan mastic dan spruce—sejenis karet dan cemara—yang menjulang menyentuh kelembutan cahaya. Tapi ia juga bisa membuat gigi-gigimu rusak dan bengkak jangan terlalu berlebihan menikmati apa pun. juga permen cokelat dan caramel yang meleleh lembut di lidahnya.” kata Mamanya. berisi beberapa permen di dekat jendela kamar tidurnya. di malam hari menjadi bengkak mulutnya. fudge. Saat terbangun pagi hari. peri-peri mungil itu akan terkejut mendapati bantal lembut saat mereka kulum. Anak-anak suka permen.” kata nenek sihir itu merayu anak-anak yang terpesona pada biji-biji mungil itu. pastilah ada peri yang sedih masuk ke dalam kamarnya. Maka. Neal ingat bagaimana Mamanya mengakhiri kisah itu dengan suara yang penuh senyuman. penuh warna dan menyenangkan seperti permen. “Permen akan selalu mengingatkanmu bahwa hidup ini manis dan patut kamu nikmati.

Sekarang ini. setelah ia menikah dan punya anak—cukup satu anak. hampir di tiap perempatan jalan memang banyak pengasong menjual permen. Neal sering panik berhadapan dengan para pengasong itu. “Lebih enak permen ini. Dan tangan itu tak pernah dibersihkan ketika membungkusi biji-biji permen yang “Bagaimana mungkin aku memberikan permen seperti itu pada Iza!” ujar Neal. Orang-orang miskin yang hidup di kampung-kampung Mungkin proses pembuatan permen itu sudah berlangsung lama. wajah Iza terus cemberut. pewarna dan pengawet. Selintasan. membuat mulut dan tenggorokanmu jadi segar. permen itu memang mengundang selera. Sementara bau got permen ranum yang bergelantungan. permen yang banyak dijajakan di perempatan jalan itu rasanya bukanlah isyarat yang perempatan jalan itu bukan biji-biji ranum yang dipetik para peri dari dahan-dahan pohon baik. Ia sering mendengar kumuh pinggiran kota membuat permen itu dengan cara menampung kesedihan mereka. memberinya sedikit gula. ia tak mau menenteng biji-biji permen. Neal membayangkan. Kesedihan dan kegetiran dalam panci-panci rongsokan. anak yang matanya nanar tanpa harapan membungkusi butir-butir permen yang sudah dan terkantuk-kantuk sepanjang malam mengaduk-aduk adonan itu. kalau permen-permen yang dijajakan di spruce? “Permen itu akan membuatmu mules dan mual. Malah kabarnya mereka menggunakan sorbitol—sebagai pengganti gula yang mahal—dan kayu manis sebagai penyedap aroma. Tapi. kemudian diolah dan dimasak di atas tungku-tungku hidup yang mereka rasakan sehari-hari. pada Samuel. Dia tetap ingin permen yang dijajakan di perempatan jalan itu.Sampai sekarang pun. Tetapi. mereka akan memecah kaca mobilnya. Takut. bila ia tak membeli.” bujuk Neal sembari memberikan permen mint yang ia beli di supermarket. yang sering menawarkan dengan cara setengah memaksa: menyorongkan Lagi pula Neal memang tak suka dengan permen yang dijajakan itu. seminggu sebelum ia melahirkan Iza. Neal tak suka dengan para bungkus itu ke dekat mobil sambil mengetuk-ngetuk—malah kadang mengedor—kaca jendela. korengan. bagaimana permen itu dibuat. Ia ingat. Mencampurnya dengan gelatin agar kental. tangan anak-anak itu pastilah kotor dan menjijikkan. Mestikah ia menjelaskan pada Iza. pengasong itu. Permen berwarna merah keruh yang mirip manisan dalam bungkus-bungkus plastik kecil. para selesai dimasak dan dicetak itu ke dalam kantung-kantung plastik. tidak seperti tangan-tangan peri yang lentik ketika memetiki biji-biji kuku-kuku jari tangannya penuh bekas daki ketika mereka menggaruk pantat mereka yang kemudian dijajakan di perempatan jalan. ia bermimpi repot hamil dan melahirkan lagi—Neal sering bermimpi ada peri masuk ke dalam kamarnya puluhan peri mungil mendatangi kamarnya dan menjatuhkan biji-bijian permen ke dalam keranjang bayi. mereka peras menjadi keringat yang ditampung ke penderitaan. .” Tapi. Para perempuan tua yang kelelahan mampet dan bangkai celurut mengapung di lorong-lorong muram perkampungan itu. setengah menggerutu. Mimpi yang selalu ia percaya sebagai isyarat baik.

“Lho, apa salahnya?” “Tidak. Iza tak boleh makan permen seperti itu. Tidak baik.” Selama ini Neal begitu hati-hati memilihkan semua yang tak terbaik bagi anaknya. Ia ingin Iza menikmati masa kanak yang membahagiakan. Dan Neal takut Iza akan tergoda oleh permen itu. Bagaimana kalau tanpa sepengetahuannya, Iza membeli permen itu ketika jajan di sekolah?

menatap Neal yang tengah memakai kembali g-string-nya. “Maksud, lo?” Mata Neal melotot.

“Aku kira, permen itu sebuah gagasan yang cerdas,” kata Samuel, setengah tertawa,

“Dengar,” Samuel menatap serius. “Bukankah mengubah kesedihan menjadi permen itu cara penderitaan. Membuat yang pahit jadi manis. Kamu jangan meremehkan hanya karena yang luar biasa? Mungkin itulah cara terbaik bertahan di tengah hidup yang penuh

permen itu terlihat murahan. Ini hanya soal kemasan. Aku kira, kalau dikemas dalam kotakkotak yang bagus dan dipasarkan dengan baik, permen itu akan menarik juga. Mungkin akan jadi komoditi yang menguntungkan. Bukankah ini peluang pasar? Kita bisa mengembangkan permen itu untuk diekspor. Bayangkan! Kita bisa mengekspor permen penderitaan itu ke banyak negara. Saya kira itu jauh lebih baik ketimbang kita melulu mengekspor TKI.”

Samuel tertawa—mungkin karena merasa lucu. Tapi Neal tak menanggapi. “Lagi pula, permen-permen itu telah membuat banyak orang jadi punya kerjaan. Yah, penjahat kapak merah, kan?”

meskipun cuma jadi asongan di perempatan jalan, tapi itu lebih baik daripada mereka jadi

Dari jendela hotel Neal memandang ke bawah, ke arah jalanan yang macet. Ia lihat puluhan permen itu. Rasanya, dari hari ke hari semakin banyak saja jumlah penjaja permen itu memenuhi jalanan. Jalanan yang macet jadi makin semrawut oleh mereka. Samuel memeluknya dari belakang, mengecup tengkuknya pelan.

pengasong yang berjalan dari satu mobil ke mobil di belakangnya, menawarkan bungkusan

“Mestinya kamu tak usah terlalu gelisah. Toh itu hanya permen.” Tidak. Ini bukan hanya soal permen baginya. Permen bukan hanya sekadar sesuatu yang

manis di lidahnya. Bukankah ia mencintai Samuel karena laki-laki ini memberinya sekotak permen ketika pertama kali mereka bertemu? Bagi Neal permen lebih menggoda daripada tertarik untuk menikmatinya. Ia akan lebih suka membayangkan bila di surga penuh untuk memetiknya. buah apel. Bila dulu ia adalah Hawa, dan Tuhan menggodanya dengan buah apel, pasti ia tak bergelantungan biji-biji permen warna-warni yang memancarkan cahaya. Ia pasti tergoda

Samuel memberinya permen. Permen yang selama setahun ini ia nikmati bersama Samuel. Hidup memang seperti permen karet, meskipun lembut dan manis, kita harus berhenti menikmatinya sebelum terasa asam dan hambar. Makanya Neal menahan lidah Samuel

dengan jarinya ketika laki-laki itu mulai menciumnya lagi. Lagi pula ini sudah jam tiga sore. Jam di mana Neal harus menelepon suaminya. Pras menutup handphone-nya. “Siapa?” tanya Melly. “Neal.” “Kamu mesti jemput istrimu?” Pras menggeleng. Ia memandangi Melly yang bersandar di sofa dan belum juga memakai blazernya.

“Cuma ngomong soal permen…” “Permen?” “Ya. Permen. Dia belakangan ini selalu gelisah soal permen yang dijajakan di perempatan jalan itu.”

“Permen ini maksudmu?” Melly mengeluarkan sebiji permen dari tas Louis Vuitton-nya. Pras memandangi permen itu. Benar. Itu permen yang sering ia lihat dijajakan di

perempatan jalan. Pras sama sekali tak menyangka kalau Melly menyimpan permen itu. “Kok kamu beli?” “Itung-itung ngasih rezekilah. Lagi pula bosan kan terus-terusan menikmati permen rumahan. Sesekali perlu juga nyoba bagaimana rasanya permen pinggir jalan….” Pras merasa wajahnya memerah. Omongan Melly terdengar seperti sindiran. “Kamu mungkin menganggap permen ini tak enak, hanya karena dibuat dari adonan kamu pernah dengar ada permen yang dibuat dari rayap kayu?” Pras menganggap Melly bercanda. “Bener! Nggak tanggung-tanggung, yang mengembangkan permen dari rayap kayu itu

penderitaan. Tak ada yang salah kan kalau ada permen yang dibuat dari penderitaan? Apa

seorang profesor di Institut Pertanian Bogor. Mungkin kamu nggak mengira kalau rayap dan lemak 25,2 persen, dan ini cocok buat bahan dasar permen jelly yang kaya dengan suhu70-100 derajatCelsius, udahdeh, jadipermen…” “Tahu dari mana?”

kayu kering jenis cryptotermes cynocephalus light mengandung karbohidrat 10,2 persen nutrisi berupa protein rayap. Tinggal dicampur dengan sirup fruktosa tinggi, dimasak pada

“Baca dong!” Melly sedikit mendengus. Ia tak suka dengan ekspresi Pras yang tampak tak mau percaya kalau ia tahu soal permen rayap itu. Apa dikira sekretaris tidak suka baca?!

Pras diam. Melly mendekat ke ranjang dan berbaring di atas tubuhnya, lalu menyodorkan permen itu tepat ke wajah Pras yang tengadah. “Coba, deh…” Pras tanpa sadar langsung mengatupkan mulutnya. “Sesekali kamu makan permen ini kan ya tak apa-apa,” kata Melly sambil memandang mata

Pras dengan lembut. “Mungkin ada gunanya juga sesekali kamu sedikit merasakan penderitaan…”

Pras memejam. Permen itu mengingatkannya pada kecemasan istrinya. Tapi apa salahnya

mencoba? Toh ia juga suka permen. Rasa permen yang beraneka macam selalu membuatnya merasakan sensasi petualangan rasa di lidahnya. Apalagi sejak ia menikah dengan Neal. Ia permen terlebih dahulu. Permen bisa menghapus bau bekas ciuman di mulutnya. selalu membawa permen di sakunya. Setiap kali hendak masuk rumah, ia pasti mengunyah

Warna-warni cahaya kota terlihat bagaikan bermacam bungkus permen yang bertebaran di udara. Barangkali kota memang seperti permen yang menggoda siapa pun untuk datang menikmatinya. Kota adalah pabrik gula-gula. Gedung-gedung yang menjulang itu adalah

menikmati cokelat raksasa itu, yang tampak seolah meleleh di bawah cahaya. Lalu muncul

kotak cokelat raksasa. Neal melihat barisan orang-orang yang berbondong-bondong ingin

kotor seperti cakar yang hendak menggaruki mobilnya. Neal mendengar suara jeritan yang melengking bersahut-sahutan…

panik ketika orang-orang itu mulai mengepung mobilnya. Tangan mereka yang hitam dan

serombongan orang-orang kumuh yang keluar dari dalam lorong dan gorong-gorong. Neal

belakangnya. Lampu sudah menyala hijau. Dan ia masih melamun. Seorang pengasong

Ia tergeragap. Ternyata itu suara puluhan klakson mobil-mobil yang berderet di

menyodorkan sebungkus permen ke dekat kaca mobilnya, tetapi Neal segera tancap gas. Neal masih gemetaran saat sampai rumah, dan mendapati Iza sudah tertidur. Pembantunya bilang, sejak sore anak itu terus nangis. Tak mau les piano—padahal biasanya ini yang paling disukai anak itu—dan bahkan juga tak mau makan. Hanya karena kecapean ia kemudian tertidur.

Neal memandangi anaknya yang lelap. Wajahnya seperti roti gandum yang diolesi susu.

Di dalam rumah ini, ia bisa melindungi anaknya. Tapi bagaimana di luar sana? Sungguh, ia ingin anaknya terus merasakan hidup yang nyaman dan tenteram. Ia tak ingin pengaruh buruk dari jalanan merusak hidup anaknya.

Tiba-tiba Neal merasa takut, betapa wajah anaknya kelak menjadi keruh oleh penderitaan.

rumah sambil mengunyah permen. Kebiasaan yang Neal perhatikan mulai dilakukan Pras sejak mereka menikah. “Sudah tidur Iza?”

Menjelang jam sepuluh Pras pulang, dan seperti biasanya, suaminya itu masuk ke dalam

” jawab Pras sambil . Pelan Pras mencium bibir istrinya. memandang mata Neal dengan lembut. 2007 “Sesekali Iza kamu perbolehkan makan permen itu kan ya tak apa-apa. “Mungkin ada gunanya juga sesekali anak itu sedikit merasakan penderitaan…” Jakarta. Neal merasakan sisa aroma permen yang lengket di sudut bibir suaminya.Neal mengangguk. “Bagaimana kalau besok Iza masih ngambek dan terus minta permen itu?” tanya Neal menjelang mereka tidur.

Kami menyukai cara mereka tertawa. para pelancong yang sudah mengunjungi kota kami selalu mereka saat menyaksikan kota kami perlahan-lahan runtuh dan lenyap. di punuk unta terlihat bergoyang-goyang. Bagai ada naga menggeliat di ceruk . Mereka segera mencetak foto-foto itu. Di bawah langit senja yang kemerahan kedatangan mereka selalu terlihat bagaikan siluet iring-iringan kafilah melintasi gurun perbatasan. Mereka menyukai wajah kami yang keruh dengan kesedihan. kalau foto-foto itu kemudian dibuat kartu pos dan kartu pos yang dikirimkannya itu. roti kering yang disimpan dalam kaleng. menandangi para pelancong yang selalu muncul berombongan mengendarai kuda. Kami menduga. keledai. dan sempat mengunjungi kota kami. Kami seperti menyaksikan rombongan sirkus yang datang untuk menghibur kami. Mata kami yang murung dan sayu. rendang dalam rantang—juga berdus-dus mi instan yang kadang mereka bagikan pada kami. Kemunculan para pelancong itu membuat kesibukan tersendiri di kota kami. Mereka begitu menuliskan kalimat-kalimat penuh ketakjuban yang menyatakan betapa terpesonanya diperjualbelikan hingga ke negeri-negeri dongeng terjauh yang ada di balik pelangi. Karena itulah mereka ramairamai piknik ke kota kami: menyaksikan bagaimana perlahan-lahan kota kami menjadi juga. Hidup yang selalu dipenuhi kebahagiaan ternyata bisa membosankan nyaman tenteram tanpa kecemasan di tempat asal mereka. Mereka datang untuk menonton kota kami yang hancur. para pelancong itu sepertinya telah bosan dengan hidup mereka yang sudah terlampau bahagia. Berkarung-karung gandum yang diangkut gerobak pedati. Sementara mereka—sembari berdiri dengan atau merentangkan tangan lebar-lebar. Mereka tak suka bila kami terlihat tak menderita. Mungkin para pelancong itu tak tahu lagi bagaimana caranya menikmati hidup yang debu. daging asap yang digantungkan botol cuka dan saus. saat mereka begitu gembira membangun tendatenda dan mengeluarkan perbekalan. Dari negeri-negeri jauh yang gemerlapan. botol- Penampilan para pelancong yang selalu riang membuat kami sedikit merasa terhibur. Dan kami harus tampak menyedihkan dalam foto- foto mereka. biskuit dan telor asin. latar belakang puing-puing reruntuhan kota—berpose penuh gaya tersenyum saling peluk mengirimkannya dengan merpati-merpati pos ke alamat kerabat mereka yang belum Belakangan kami pun tahu. Mereka datang dari segala penjuru dunia. Pada bumi—atau seperti ketika kau merasakan kereta bawah tanah melintas menggemuruh di gembira ketika melihat tanah yang tiba-tiba bergetar. Kadang mereka mengajak kami berfoto. membawa bermacam perbekalan piknik. atau permadani terbang dan juga kuda sembrani. lalu berfoto ramai-ramai di antara reruntuhan puingpuing kota kami. Biasanya kami duduk-duduk di gerbang kota unta. Karena memang untuk itulah mereka mengajak kami berfoto bersama.Piknik Agus Noor Para pelancong mengunjungi kota kami untuk menyaksikan kepedihan.

Mereka juga pelancong itu juga bercerita perihal kota kuno yang berdiri di atas danau bening. menyaksikan seekor ayam emas tiap kota. Mereka telah menyaksikan menara-menara gantung yang dibuat dari balok-balok bertengger di atas katedral tua sebuah kota yang selalu berkokok setiap pagi. Membuat semua bangunan di kota kami jadi terlihat selalu berubah letaknya. Membuat hidup para pelancong yang selalu bahagia itu menjadi lengkap. rubuh dan runtuh menjadi debu—serupa istana Rupanya itulah pemandangan paling menakjubkan yang membuat para pelancong itu terpesona. penyair. kota dengan jalan layang menyerupai jejalin benang laba-laba. Kepada kami para cermin. Dari kejauhan kami . bergerombol berdiang di seputar api unggun sembari berbagi cerita. Mengais reruntuhan untuk menemukan barang-barang berharga yang bisa mereka simpan sebagai kenangan. gemeretak paling menakjubkan bagi para pelancong yang berkunjung ke kota kami. adalah kota paling ajaib yang pernah mereka Para pelancong menyukai kota kami karena kota kami dibangun untuk menanti keruntuhan. Kota kami berdiri di atas lempengan bumi yang selalu bergeser. dan bintang. seperti itulah tanah di mana kota kami berdiri. Banyak kota dibangun dengan gagasan untuk sebuah keabadian. Mereka terpesona mendengar jerit ketakutan orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri. kota kami adalah kota paling menakjubkan yang pernah mereka saksikan. Dengan handycam mereka merekam detik-detik keruntuhan itu. Atau rebahan di dalam tenda sembari memainkan harmonika. bawah kakimu. Dan ketika sewaktu-waktu tanah terguncang.0<>w7028m<1)>jmp 0m<>h9738m. tetapi tidak dengan kota kami. dan sungai selalu meliuk-liuk. pepohonan di kota kami saling bertubrukan. suara menggemuruh yang merayap dalam tanah. dengan jendela-jendela dan pintu-pintu yang 2008m<>h 7028m. karena bisa menyaksikan segala sesuatu sirna begitu saja. Tapi kota kami.>jmp- menyusur dinding-dinding menghadap air. Kau bisa membayangkan gerumbul awan yang selalu bergerak dan bertabrakan. bangunan dan pasir yang sering kau buat di pinggir pantai ketika kau berlibur menikmati laut.0<>w 9738m< Bahkan mereka bersumpah telah mendatangi kota yang hanya bisa ditemui dalam imajinasi seorang kunjungi. jalanan. para pelancong itu bernyanyi. dan jalan-jalannya yang telah melihat kota dengan kanal-kanal yang dialiri cahaya kebiru-biruan. Memetik kecapi dan Saat malam tiba. menurut mereka.pohon bertumbangan dan rumah- Bagi para pelancong itu. Para pelancong itu segera menghambur berlarian menuju bagian kota kami yang runtuh. dengan rumah-rumah yang beranda-berandanya saling bertumpukan. Lorong-lorong. Lalu mereka memotret mayat-mayat yang tertimbun balok-balok dan tembok-tembok retak. menyaksikan beragam keajaiban di es abadi. Barisan pepohonan seakan berjalan pelan. Mereka telah berkelana ke sudut-sudut dunia. Itulah detik-detik atraksi paling spektakuler yang beruntung bisa mereka saksikan dalam hidup mereka yang batu bata. begitu mendengar kabar ada bagian kota kami yang tergoncang porak-poranda.bintang terasa lebih jauh di langit hitam. sebuah kota yang selalu tertutup menyerupai gelapanggur danhanya bisadilihat ketikasenjakala. Betapa menggetarkan melihat pohon.rumah rubuh menjadi abu. candi-candi megah yang disusun serupa tiara. hingga menyerupai kota yang dibangun di atas menyerupai benteng di ujung sebuah teluk. seolah semua itu terlampau bahagia.

lahan hancur dan tumbuh kembali. Setiap kota yang mencintai dan mau menerima kota itu menjadi bagian dirinya. Mereka membuat kami semakin mencintai kota kami. menanam kembali pohon-pohon. jembatan. sementara. membagikan sekerat biskuit. Sesekali minuman. Mereka akan bercerita bagaimana sebuah kota perlahan. sebotol kota kami yang masih bergerak bertabrakan dan hancur. Karena bila para pelancong itu menganggap kota kami kami ini sebagai malapetaka atau bencana? kota kami. kabut dan cahaya serta jiwa para penghuninya. Membuat setiap kota memiliki kisahnya sendiri-sendiri. tower dan menara. Sebuah kota yang akan mengingatkanmu pada yang rapuh. Kami mendirikan kembali sebagian dari kota kami perlahan-lahan runtuh menjadi debu. merasa sedikit terhibur dan tak terlalu merasa kesepian. Sebuah kota yang membuat para pelancong berdatangan ingin menyaksikannya. setiap kota memang memiliki jiwa. meski sebagian demi karena semata-mata seluruh bangunan kota itu hancur. Membuat kami tak hendak adalah kota yang penuh keajaiban. kami . rumah sakit-rumah sakit. membangun kembali bagian-bagian kota kami yang runtuh. yang hancur. ke arah kami. Semua itu terjadi bukan hidup dalam jiwa penghuninya. Keajaiban tersendiri. Jangan membuatmu sedikit terhibur dan gembira. kenapa kami mesti menganggap apa yang terjadi di kota Seperti yang sering dikatakan para pelancong itu pada kami. runtuh tertimbun waktu.gedung. sepotong dendeng. tetapi lebih karena kota itu tak lagi terdiri dari gedung. Bagaimanapun kami mesti berterima kasih karena para pelancong itu mau berkunjung ke pergi mengungsi dari kota kami. atau sesendok madu— kemudian kembali pergi untuk melihat-lihat bagian lain Kemudian para pelancong itu pergi dengan bermacam cerita ajaib yang akan mereka kisahkan pada kebarat dan kenalan mereka yang belum sempat mengunjungi kota kami. sekolah. 2006 CATATAN: besar dunia yang megah dan gemerlap—ada baiknya kau berkunjung ke kota kami. seakan dengan begitu mereka telah menunjukkan simpati pada kami. Mungkin itu bisa pasti akan menyambut kedatanganmu dengan kalungan bunga-air mata… Yogyakarta. Jangan khawatir. para pelancong itu berkeliling kota menyaksikan kami yang tengah sibuk menata reruntuhan. Kota kami bagaikan selalu muncul kembali dari reruntuhan. hingga di bekas reruntuhan itu kembali berdiri bagian kota kami phoenix yang hidup kembali dari tumpukan abu tubuhnya. Kami tak ingin kota kami lenyap. seperti burung Kesibukan kami membangun kembali bagian kota yang runtuh menjadi tontonan juga bagi para pelancong itu. Berwisatalah ke kota kami. sungai-sungai. dan fana. Itulah yang membuat setiap kota tumbuh dengan keunikannya sendiri-sendiri.menyaksikan mereka. Karena itulah kami selalu rumah-rumah. Sembari menaiki pedati. Mereka tersenyum dan melambai para pelancong itu berhenti. Bila kau merencanakan liburan akhir pekan—dan kau sudah bosan piknik ke kota-kota lupa membawa kamera untuk mengabadikan penderitaan kami. Kami sering mendengar kota-kota yang lenyap dari peradaban.

1) Deskripsi kota-kota dalam paragraf ini mengacu pada karya Italo Calvino. oleh Erwin . Invisible Salim (Fresh Book. 2006) Cities—telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Kota-kota Imajiner.

Memandang mata itu. Usianya paling 12 tahunan. jalan menjelang kantornya. seperti menjolok sesuatu. Ia menurunkan kaca mobilnya. Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. Jembatan penyeberangan di berubah perbukitan hijau. Dan itu kian Gustaf dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyak saja jumlahnya. Selalu bercelana pendek kucel. agar ia bisa mendengar apa yang diteriakkan bocah itu. akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagar pembatas jalan. Dia tak banyak beda Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari bocah itu. Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelan dalam kemacetan. Kadang hanya merunduk jongkok memandangi trotoar. Seperti ada cahaya yang perlahan berkeredapan dalam mata bocah itu. Rambutnya kusam kecoklatan karena panas matahari. kerakap tumbuh di bertengger di atas kotak pos yang kini tampak seperti terbuat dari gula-gula. seolah ada yang perlahan tumbuh dari celah conblock. seakan-akan ada mata air yang muncul dari dalam Gustaf terpesona menyaksikan itu semua. ia selalu melihat bocah itu tengah bermain-main di kolong jalan Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat. agar ia bisa berlamalama menatap sepasang mata itu. Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan layang. Gustaf terkejut ketika tiba-tiba ia melihat seekor bangau selokan. Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dan tertawa-tawa. menghirup lembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. Tiang listrik dan lampu jalan menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam. jernih dan bening mengalir perlahan. Setiap pagi. karena jalanan telah atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkan gedung-gedung yang telah merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. Kicau burung terdengar dari pohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light. Dari retakan trotoar perlahan tumbuh bunga mawar. Air yang dinding penyangga jalan tol. saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalau sesuatu yang beterbangan. Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil. Berkoreng di lutut kirinya. Tak ada keruwetan. Kadang berloncatan. Beberapa pengendara sepeda motor yang . Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemis yang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka. rasakan setiap kali bersitatap dengannya. Tapi pada saat itulah ia terkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya. Hingga ia menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. Gustaf tak tak bisa mendengarkan teriakanteriakan bocah itu. Sering Gustaf memperlambat laju mobilnya.Mata Mungil yang Agus Noor Menyimpan Dunia Selalu.

Kadang—tanpa sadar_ia sering mendapati dirinya tengah Saat remaja ia tak lagi menyukai boneka. Mata yang mungil tapi bagai Alangkah menyenangkan bila memiliki mata seperti itu. Ia senang ketika Oma memuji gambar-gambarnya itu. setiap kali itu pula Gustaf kian ingin memilikinya. itulah mata paling menyimpan dunia. saat ia berusia tujuh tahun. Berminggu-minggu mengikuti terapi. Itu sebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka. pecahan kaca yang menancap di kornea. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. pusaran kabut kelabu dengan kesedihan dan kesepian Di mana-mana Gustaf hanya melihat mata yang keruh menanggung beban hidup. Karena itu. hingga orang itu merasa risi dan cepat-cepat orang-orang yang dijumpainya. Atau dalam mata itu ada bangkai bayi yang terapung-apung. Ia suka menatapnya homoseks seperti Oom Ridwan. indah yang pernah Gustaf tatap. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya…. Gustaf jadi begitu terkesan dengan sepasang mata bocah itu. boneka—lantas segera membawanya ke psikolog. Sering ia menggambar mata mata dengan sebilah pisau yang menancap. ia yang bagai liang hitam. padang gersang ilalang. Tapi Papa kerap menghardik. Dan ia selalu menggambar mata. Sesekali ia menggambar bunga mawar tumbuh dari dalam mata itu. Oma seperti bisa memahami apa yang ia rasakan. memandangi mata seseorang cukup lama. tapi ia suka diam-diam memperhatikan mata menyingkir. Setiap menatap mata seseorang. sewaktu kanak-kanak juga menyukai berlama-lama. Sering pula ia melihat lelehan tomat merembes dari sudut mata seseorang yang tengah dipandanginya. kawat berduri yang terjulur yang menggantung. Ia tak pernah menyangka betapa di dunia ini ada mata yang begitu indah. Mata yang tertutup jelaga kebencian. terlihat berbeda. Ia menyukai bermacam warna dan bentuk mata boneka-boneka koleksinya. ”Tak sopan menatap mata orang seperti itu!” Papa menyuruhnya agar selalu menundukkan pandang bila berbicara dengan seseorang. Setiap kali terkenang mata itu. Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnya dan melaju. Ia ingat perkataan Oma.” Sejak itu Gustaf suka memandang mata setiap orang yang dijumpainya. Mata itu membuat dunia jadi banyak warna. Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu. ”Mata itu seperti jendela hati. Kadang ia melihat api berkobar dalam mata itu. Kadang ia melihat ribuan kelelawar terbang berhamburan. Seorang polisi lalu lintas bergegas mendekatinya. Rasanya. Gustaf seperti melihat bermacam keajaiban yang tak terduga. atau binatang-binatang yang berloncatan dari dalam mata berwarna hijau toska. panjang. Mata yang penuh kemarahan.menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. yang kata Mama. Barangkali seperti mata burung seriwang yang bisa menangkap lebih . Mata yang berkilat licik. Dan itu rupanya membuat Mama cemas—waktu itu Mama takut ia akan jadi selalu disuruh menggambar. Begitu bening begitu jernih.

Agar ia bisa memandang semua yang kini dilihatnya dengan berbeda…. Atau ia bisa saja merayu bocah itu dengan sekotak cokelat. Membuat Gustaf berpikir. mata mungil indah bocah itu bisa melihat dunia yang berbeda. Semua Pagi ketika Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. bisa memiliki mata itu. Mata bocah itu pastilah melihat sekawanan burung gelatik terbang merendah bagai hendak hinggap kepalanya. Mungkin ia akan menemukan mata yang indah. Bila perlu ia menculiknya. batin Gustaf. Ketika berjongkok. Bila ia bisa memiliki mata itu. seperti jadi mata bocah itu memang satu-satunya mata paling indah di dunia. pikirnya. menawarinya segepok uang agar mereka mau mendonorkan mata bocah itu itu. Ice cream di tangan anak kecil itu mungkin akan meleleh menjadi madu. semuanya sudah tampak sempurna. ia melihat seorang bocah duduk bersimpuh di trotoar dengan tangan . dan pastilah tak seorang pun yang peduli bila salah satu dari mereka hilang. Apa yang kini ia pandangi Pita gadis yang digandeng ibunya itu akan menjadi bunga lilly. karena memang menyimpan sebuah dunia. hingga ia mengibas-kibaskan tangan menghalau agar burung-burung itu kembali terbang. lantai yang digenangi air bening.Sembari menikmati secangkir cappucino di coffee shop sebuah mal. Orang-orang pasti akan terpesona begitu memandangi matanya. yang dikenakan manequin di etalase itu akan terlihat kepompong mungil yang bergeletaran pelan ketika perlahan-lahan retak terbuka dan muncul seekor kupu-kupu. Ia sering mendengar cerita soal operasi ganti mata. Di lengkung selendang sutra bambu apus tumbuh di dekat pakaian yang dipajang. Seekor kepik bersayap merah berbintik hitam tampak merayap di atas meja. Semua itu hanya mungkin. Apa pun akan Gustaf jalanan berkeliaran. Tentu lebih menyenangkan bila tak seorang pun tahu kalau aku baru saja ganti orang akan memujinya memiliki mata paling indah yang bagai menyimpan dunia. Ia tinggal datang ke Medical Eyes Centre untuk mengganti matanya dengan mata bocah itu! Gustaf hanya perlu menghilang sekitar dua bulan untuk menjalani operasi dan perawatan penggantian matanya. mana anak-anak berebutan ingin menaikinya. Gustaf memperhatikan mata orang-orang yang lalu lalang. lakukan agar ia bisa memiliki mata itu. Cahaya jadi terlihat seperti sulur-sulur benang berjuntaian…. kenapa bocah itu terlihat selalu berlarian riang—karena ia tengah berlarian mengejar capung yang hanya bisa dilihat matanya. ia akan bisa melihat segalanya dengan berbeda sekaligus buatnya. Gustaf kini bisa mengerti. Tapi Gustaf tak menemukan mata seperti itu. pastilah bocah itu sedang begitu senang memandangi seekor kumbang tanah yang muncul dari celah conblock. mata. Ia ingin ketika ia muncul kembali. Dan ia makin ingin mata bocah itu. Atau karena mata mungil itu akan terlihat beda. Eceng gondok tumbuh di Tentulah menyenangkan bila punya mata seperti itu. Elevator itu menjadi tangga yang menuju rumah pohon di Betapa menyenangkan bila ia bisa menyaksikan itu semua karena ia memiliki mata bocah akan memiliki mata paling indah di dunia! Mungkin ia bisa menemui orang tua bocah itu baik-baik. Ada rimpang menjalar di kaki-kaki kursi. Terlalu banyak anak Gustaf tersenyum. Bocah itu sering berloncatan— sebab itu tengah menjoloki buah jambu yang terlihat begitu segar di matanya.

Gustaf terkesima memandang Dengan gaya anggun Gustaf menuju lift. tapi segera ia urungkan karena merasa percuma. percaya. sambil berbicara kepada temannya. Ia melangkah melewati lobby perkantoran dengan langkah penuh kegembiraan ketika melihat setiap orang memandang ke arahnya. 2006 .terjulur ke arah jalan. seorang perempuan yang tadi gemetaran memandangi Gustaf terlihat menghela napas.” ”Persis mata iblis!” Jakarta. dan melemparkan recehan. Kedua mata bocah itu kosong buta! Gustaf hanya memandangi bocah itu. Gustaf yakin mereka kagum pada sepasang matanya. Ia ingin membuka jendela. ”Kamu lihat mata tadi?” ”Ya. Begitu lift itu tertutup. Beberapa orang malah terlihat melotot tak sekelilingnya….

Dan tadi. tapi ia masih saja hidup. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar. ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya. Ia memejam. Tato di lengan kanan. ia berharap maut benar- Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. mengerut menatap laki-laki itu. Kadang berbulan- bulan.Ia Ingin Mati di Bulan Ramadhan Ini Agus Noor Betapa menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. Langsung. Ia tak ingin kecewa lagi. ia selalu membersihkan kamar kontrakannya. Sebab. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan Ia berdiri di ambang pintu. seperti kotak tempat menyimpan gitar. sembari bersiul-siul kecil. Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan. ia bisa mencium bau amis darah itu. Parut luka seputar pundak. Sesekali. seperti bekas bacokan. Bila pulang. ia sudah menjemur kasur pewangi ruangan. Menyisir rambut dan memotong kuku. Bergegas. Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti. Ramadhan berlalu. memandang langit siang yang terang. banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan. mengusir bayangan buruk itu. Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. Menenteng seramnya. dan wangi. Seperti selalu menghilang. Memakai jaket kulit hitam. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah. kemarin. Ramadhan kali ini. keramas. ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. hingga ia bisa mati tenang… karena ditolak permintaannya saat lebaran. Saat ia berbaring di ranjang. Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih. beberapa koper besar. Saat Ramadhan bantal yang lembab apak berjamur. sembari terus bersiul. seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh. Berhari-hari. Atau erang kesakitan leher digorok. Menyemprotkan upacara kecil menyambut kematian… ringan. Melipat selimut. Lihat saja tampang tetangga melihatnya keluar tengah malam. Ah. dan segera saling bisik. Entahlah. Mungkin ia rampok. seperti lengket di hidungnya! Segera ia mandi. Ia jarang berada di kamarnya. Merapikan pakaian. rapi.siul >diaC< Beberapa tetangga—yang tengah duduk menggerombol— memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu. Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan . Setiap menjelang Ramadhan. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa benar akan datang. Bayangan kematian penuh darah.

Ia seperti tak mau dikenali. ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan. Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya. Mati dengan tenang. mengenali beberapa ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya. Menjelang Ramadhan ia muncul. wajah remuk rusak itu. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu. di bulan Ramadhan. betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput. Tiap termangu memandangi kapling makam itu. Seperti menyaksikan kematian . Ia mengerang. Mengepungnya. Rutin yang ganjil. ia terlihat merokok siang hari. Wajah pucat perempuan simpanan ketika ia membantai keluarganya.harga BBM—matanya jelalatan.saat seperti itu. Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar. menyapu. Para tetangga penasaran menyimpan dugaan. Mungkin sedang menyiapkan sore ia keluar. Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama. seperti lilin panas mencair. Meski ia tahu. ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk. tapi pergi ke kuburan. memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan Ia pun suka menikmati saat. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu… >diaC< Mayat-mayat yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam. Aneh. seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. rumah petak tak pernah berani bertanya. Beres-beres kamar. Mungkin intel. Dan seseorang yang menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi. memandang entah apa. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher mengecup pelan-pelan… korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan. Misterius. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka. sebagai seorang pembunuh bayaran. Mungkin. dibuka lebar. Wajah mahasiswa yang yang lehernya ia sayat. Barangkali ia dukun. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri. Ia terkapar.wajah yang membuatnya mengerang panjang. Tetangga yang jadi tukang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati. mereka mendengis bengis.mayat itu meleleh.laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa. Wajah. Sering. Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki. Dan orang-orang merinding mendengarnya. atau berdiri Para tetangga jadi gelisah. Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah Ia tergeragap bangun. Ini yang membuat kian penasaran. Menutup diri. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati. Kulit wajah mayat. seperti mengawasi. bercerita. Pintu jendela yang biasanya tertutup makanan buat sahur.

Menghabisi seorang Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan. berani menghentikan. ia diberinya pekerjaan. Alangkah hebatnya jadi tentara. Dan ia mulai mengawasi.Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu. Ia akan tinggal di rumahnya. Tapi membuatnya merasa aman. Beberapa mati dalam penjara. Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga. Tugasnya hanya membunuh. Ia sudah membeli rumah buat hari tua. Memang. Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat. Sepotongsepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan. bayaran yang menderita di masa tuanya. nanti bila sudah berhenti. wartawan. Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta. Saat SMP ia berkali-kali berkelahi. diam- dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan. Lalu beberapa order ringan lainnya. dan ”Kamu punya bakat bagus. setiap kali kakeknya menyembelih ayam. membuat lawan- lawannya bonyok nyaris mati. Rahang terkesan pipih. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi. Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir. Ia paling senang ketika harus disiplin. Beruntunglah orang . Percuma kalo cuma jadi tentara. Sumpek bau comberan. bisa memukuli orang sepuasnya. Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang. Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran. Kisah para raksasa penyantap manusia. Dikirim ke medan perang. tertib. Lalu sepulang perang. Dan ia membusung bangga. Ia lebih menyukai Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu. kata teman-temannya. Ia menikmati bayaran yang lumayan. orang yang jadi tentara sangat ditakuti. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian. kenapa orang seperti itu Tapi itu bukan urusannya. Tanpa jejak. Ia tak terlalu menyimak. Kulitnya yang putih bersih. Bicaranya santun.” kata komandannya. Ia selalu ingin berada sangat dekat. membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian. Beberapa menderita Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. ia suka membayangkan diri jadi tentara. Ia kenal beberapa mantan pembunuh sakit jiwa. Ia amati raut tua Kiai Karnawi. Ia heran. saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan. Seorang hakim. Dan itu disukai komandannya. Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan… coklat resik. >diaC< Sampai satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan. diam ia membunuh kucing pamannya.orang mengerubung. Benar kata komandannya. karena pejabat itu pingin kawin lagi. Kamu pantas jadi tentara. tak ada yang pun mendaftar jadi tentara. Umur tujuh tahun. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan. Tempat menyembunyikan diri. Sorot matanya tenang. Di kampungnya. Orang. Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang. Ia menyiksa para pemberontak. Paling mentok jadi sersan. Membunuh seorang pengusaha.

Sayang kan. Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu. Pelan. dan kini memburu kematiannya. ”Setelah itu kamu bisa membunuhku. Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan. Ia tak mengeremnya! ”Mari kita turun. Yogyakarta. Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu. Jangan sampai aku kesakitan ya. Ia pun kemudian selalu berharap. Lengking gagak di kejauhan.” Baru kali ini ia gemetar. membuangku ke jurang dengan mobil itu. Karnawi terkekeh. Dan semoga saja. ”Aku tahu. Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia. Tak usah Karena itulah. Lalu menggelar sajadah.” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan. Alhamdulillah. lakukan tugasmu. Jutaan pasang mata Ia merasa senja meremang. Kelebat bayang burung menyambar. Ia mulai diusik gelisah. kecuali mati di bulan Ramadhan. Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya. aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan. yang pelan. Singup. lalu mendorong mobil ke jurang. Kematian di bulan Ramadhan. Kalau boleh memilih. Senyap. ”Kamu bisa membunuhku di sini. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan. Tapi tolong.” ajak Kiai Karnawi. Kamu cukup membunuhku. Ia meraba belati. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan. Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran. ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang. kenapa mobil perlahan berhenti. Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang. hehehe…” Kiai pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan.yang mati di bulan Ramadhan. Ia bisa menembaknya. Amin. Biar tak banyak korban. aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar. itu mobil mahal. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram. Seperti yang sejak itu terus mengintainya. Gemetar tak yakin. Getir. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat. Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan Semua sudah sesuai rencana. Terdengar letusan. 2005 . diperkenankan mati di bulan Ramadhan. Dengung jutaan serangga mengepung. Kemeresek daun jati jatuh. ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini. Dan ia kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan? tersenyum. tak perlu repot-repot membunuh yang lain…” Ia tak tahu. Mencibir. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri. kamu mau membunuhku. Enggak usah merepotkan sampeyan…. Lalu meraba ”Sekarang. ia hanya berdiri gamang.

cucu. mungkin tidak sedikit jumlahnya. Agaknya tersangkut sesuatu. cahaya perak. Rasanya tubuh ini beku. Kebanyakan warga tetap di rumah masing-masing dengan ”Kalau ibumu ini mati. Apa kiamat seperti ini? Geledek bersahutan seperti Halilintar menyilet langit memberi jalan rasa bersalah pada rakit saya. dan pertokoan. hutan terbakar. Banjir masih juga melanda Pati.” . Sementara di Riau dan Jambi. Juwana. Hanya bukit yang cukup sulit bertengger di atap dengan payung atau lembaran plastik untuk menahan hujan. Mendadak laju rakit ini terhenti. Ibu. Pati. Tapi terbit di timur dan tenggelam di barat. Sebaiknya saya terus mengayuh rakit batang pisang ini. Kudus. Tapi. dari Pati ke Rembang. perumahan. yang terdiri dari truk. banyak lagi korban. Saya mengayuh rakit menerjang sawah siap panen yang tenggelam yang airnya semakin tinggi. untuk menemui Kiai Zaim pesantren di desa kami. sedang cuaca juga tak mau tahu apa keinginan-keinginanku. Mendadak mendung datang rasanya badan bertambah ringan tapi dinginnya minta ampun. mobil-mobil pribadi. bus. Saya meraba-raba apa gerangan yang menyebabkan rakit saya terhenti. meski apa peduliku.Pantura Danarto Sungguh saya tak juga mengerti kenapa cuaca menjadi sekacau ini padahal matahari tetap sudah dua minggu. seolah tak peduli akan kesulitan hidup yang sedang dirundung. Jawa Tengah. saya sudah tak tahu jalan. kontainer. sawah-sawah yang siap panen. ayah. Saya yang satu minggu kehujanan terus. apa Kiai Zaman sendiri tidak repot? Beliau tentu juga sangat dibutuhkan oleh pesantrennya yang juga dilanda banjir. cahaya perak. juga nenek-kakek. tambak. Di dusun tak ada bangunan yang tinggi tempat mengungsi. ”Cepat kuburkan. Tentu ada saja yang menjadi korban dari bencana yang besar ini Cepat-cepat saya singkirkan tubuh itu dengan galah lalu saya menghindar dari tempat itu. Subhanallah. Masya Allah. air tak juga surut. Tubuh saya menggigil dan dihamburkan dari langit yang membuat saya tiarap gemetaran. namun tak kunjung muncul. Sawah siap panen yang tenggelam tentu menelan lebih mengungsi jika seluruh kawasan yang sangat luas ditelan banjir yang rasanya semakin tinggi ditambah oleh deras hujan. kolam ikan. Jepara.” kata ibu yang duduk di atap rumah dengan memegangi payung dalam hujan lebat. Gelap gulita. perkebunan. Para penumpangnya yang saling kenal berteriak-teriak bertegur sapa. Saya melewati antrean kendaraan yang macet sepanjang 24 km mampu menembus banjir. didaki karena licin dan terjal. maupun motor karena tak Zaman. Wahai. ke mana Saya semakin menggigil. Rembang. meliputi kota-kota Demak. barangkali beliau mau menolong kami mengatasi kesurupan massal yang melanda Air banjir setinggi satu setengah sampai dua meter mengganyang seluruh kawasan yang sangat luas. Tuban. dan anak-anak. cicit. Saya menunggu halilintar untuk mengirim sinar. Sejumlah rakit dari batang pisang maupun bambu tampak berseliweran. Terdengar gelak-tawa menyergap disusul hujan lebat. saya meraba tubuh orang.

Kadang batang-batang padi muncul di permukaan tubuh saya juga mengering. kedua kota itu mengingatkan saya akan hubungan rumah saya dengan rumah Kiai Zaim Zaman yang berada di tengah pesantrennya. teriknya. Terlalu bising. di mana para juga Tuhan. manalagi. katanya. Lalu boyongan kembali ke desa. dan kedua adik ke Jakarta. Rumah tertutup santri. meski selalu kekurangan Kemudian kakak membangun rumah bertingkat untuk kami menghadapi banjir. Tapi mereka tak betah di tapi cukup bahagia. yang membuat saya selalu kangen untuk mengunjunginya. Banjir yang lebih besar kali ini datang. ibu kok ngomong begitu. saya berhasil masuk ke ruang salat. kakak yang menetap di Jakarta memboyong ibu. air. air. Jakarta.” Di atas atap dapur. di atap masjid itu tidak hanya baju. pohon mangga yang sangat rindang. di mana Rembang. Benar saja. Ternyata tangan saya menyentuh tembok. Seorang kiai dengan pohon mangga Karena panas tak tertahankan. Maka ketika banjir surut.” ”Saya mau cari duit yang banyak untuk ibu dan sekolah adik-adik. manis dari akarnya. nama yang mengingatkan orang sehabis yang lebat buahnya. ditambah 25 santri putri yang kesurupan diungsikan itu bermanfaat bagi sesama. Banyak jalan yang Allah bimbing supaya bangunan Zaman dan di mana beliau berada jika di pesantrennya tak dijumpai sementara di mana- menyebabkan rakit ini berhenti. di rumah bertingkat kami. berseliweran berlarian. Alhamdulillah. Masalahnya kini adalah bagaimana bisa menemui Kiai Zaim mana. saya mencari jalan turun ke dalam masjid. air melulu yang tampak.” ”Tega kamu meninggalkan adik-adikmu. sejauh mata memandang. Meski sangat kesukaran. sampai saya terjatuh. Yang saya takutkan kalau tiba-tiba ibu atau ayah meninggal. Apa yang terjadi sesungguhnya? Siang harinya panas sangat mempertajam tetes hujan bagai jarum. Pagi harinya masjid itu terkatung-katung di danau yang luas dengan saya satu-satunya berada di atapnya. putra maupun putri. ayah memeluk kedua adik saya yang basah kuyup karena tak terlindung dari hujan. menikmati sebuah lalu minta lagi. dalam ukuran apa pun. Di tengah sawah yang sudah jadi danau ini. Ditinggalkannya saya sendirian di dusun untuk menjaga rumah. bermain maupun berdebat soal jodoh. Tiba-tiba rakit mentok. ayah. merupakan perpaduan yang elok. Saya mau cari nafkah di Jakarta. Di mana Pati. Bangunan apa gerangan? Kembali kilat merobek udara.”Ah. Sekilas terlihat bangunan putih ini masjid.” sergah saya sambil memeluk tubuhnya yang gemetaran kedinginan.” ”Ibu saja yang menjaga adik-adik. alur mana (?) saya tak lagi mengenal peta. ”Jaga adik-adikmu. Dua rakaat saya selesaikan setelah berwudu . Kembali saya meraba-raba apa gerangan yang Barangkali saya bisa mencapai atapnya supaya saya bisa tidur dan tidak terlalu kedinginan. Kadang gelombang menerpa karena digelontor angin puyuh yang juga air lalu kembali tenggelam. katanya. Sambil berayun-ayun dimainkan oleh kantuk.

kaki yang dua jenjang itu.” ”Subhanallah. ”Saya mendengar panggilanmu bertalu-talu. berusaha sebaik mungkin untuk tidak kentara baru bangun dari tidur. yang boleh jadi terus menunggu dengan harap-harap cemas. Kembali rakit saya terhadang oleh antrean truk yang sangat panjang dalam kemacetan oleh banjir yang masih setinggi dada orang dewasa.” Pagi hari ketika matahari kencar-kencar dan mendung hitam sedang mengincar.” ”Salamualaikum. meminta doa.” ”Orang-orang modern bisa juga kesurupan. ya. menanyakan kesehatannya. ”Saya sudah bertemu dengan dua puluh lima orang santri putri yang kesurupan itu di rumahmu dan mereka sudah baik kembali. ke sebuah dusun yang sunyi. orang-orang berteriak meminta tolong.” seru saya sambil mengejar beliau. orang-orang pernah berduyun-duyun ”Saya bukan Kiai Zaim Zaman. Di luar. banyak sekali. bangun dengan sigap.” kata Kiai Zaman hampir-hampir berbisik. kepada ibu. Di yang mumpuni ini. ”Saya hanya orang yang kepengin seperti beliau. Tetap betah juga sopir-sopir dan kenek- .” seru saya. Betapa seandainya kita punya banyak kiai seperti beliau.” ”Subhanallah. ”Pak Kiai. Rasanya saya semakin banyak utang kepada Kiai ini. Kiai Zaim Zaman berzikir di sisi saya. ya. dari imbalan yang bisa menemui saya dengan seluruh permintaan yang bisa diucapkan mulut: Ketika saya kembali ke dalam. Semoga berkah Allah selalu mengayomi Kiai Zaim Zaman yang dua lengan itu. menjauh.air banjir. di depan mihrab saya jumpai bertumpuk-tumpuk uang yang disentuh tangan sampai berkah yang tidak kasatmata. Cukup lelap dan tak terganggu oleh mimpi. ayah. Saya mendayung rakit batang pisang ini meninggalkan masjid yang sudah memberi pelajaran mendayung kembali ke Pati dengan arah apa pun. banyak sekali. Kapan seorang awam seperti saya bisa membalas kebaikannya dan jasadalam hati saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya atas semua kebaikan Kiai jasanya dengan segala kemampuan yang tulus seperti selembar sajadah kepada sebongkah kepala yang sujud di atasnya. saya kaget bukan alang kepalang. saya banyak kepada saya dengan bertumpuk-tumpuk lembaran uang di atasnya. dan kedua adik saya. tangan banyak sekali. ada hal-hal yang perlu saya tanyakan. Saya ”Maka cepat-cepat saya menemuimu.“ kata Kiai sambil ngeloyor pergi. mencium tangannya. Waktu bangun. sekeluarga turun-temurun. saya tertidur tanpa diawali kantuk. Kiai Zaman berjalan di atas air tanpa mempedulikan panggilan saya.” ”Subhanallah.” teriak saya ketika itu kepada orang-orang itu. sementara di luar sana.

subhanallah. Allah. ibu. dan para santri dengan sejumlah ustadnya yang masih menginap menyambut saya dengan sukacita.kenek itu melantunkan potongan-potongan lagu meningkahi irama dangdut yang tak kunjung padam. menyuruh saya membuang seluruh uang itu dengan mendorong rakit menjauh dari rumah. caturnya yang berayun-ayun oleh riak air yang dihembus angin atau sengaja diaduk-aduk Ketika para sopir dan kenek itu melihat gepokan lembaran uang yang bertumpuk-tumpuk di atas rakit saya itu. Tuhan punya rencana. Bahkan yang beradu bidak-bidak catur sambil berendam dengan papan oleh sejawatnya yang selalu mengganggu. uang haram yang belum tentu dari Kiai Zaim Zaman. Masya Allah. menyelam dan menyelamatkan seluruh uang yang tenggelam dan mengembalikannya di atas rakit saya. uang yang saya bawa itu uang sungguhan. bukakan mata mereka. Ini artinya bergepok-gepok uang itu kembali ke tangan kami. kenapa saya sementara jumlah orang yang menginap di rumah bertambah setiap harinya. ayah. Malam harinya saya tidak dapat tidur karena perut keroncongan. Keadaan jadi kacau dan meriah. Saya tertegun. saya pasrah setulus mungkin. semuanya ini milik-Mu. Dengan kunjung datang. itu tidak menyembunyikan segepok dua di dalam baju saya. diiringi ha ha ha he he he dan olok-olok yang diuleg sepedas mungkin sehingga banjir itu tambah sempurna mengharu-biru. Seperti mati berdiri. Itu uang beneran dan mereka boleh merebutnya. kedua adik saya. ”Rakit itu kembali ke rumah!” yang disambut seisi rumah dengan takjub. Persediaan makanan habis sebungkus mi-instan yang dibagi dua orang. . ”Ya. menimpuk sejadi-jadinya. semakin kentara kami butuh bantuan yang tak Pagi harinya kami dikagetkan oleh teriakan ibu. Menurut ibu. mungkin mereka tidak menyadari. Bukan uang Sesampai di rumah. Lo aja ambil yang masih kere!” Akhirnya semua sopir dan kenek itu berebut uang di atas rakit saya dan saling timpuk- kata-kata konyol. Seorang sopir mengambil segepok uang itu dan menimpukkannya ke arah temannya sambil mencemooh. Ketika ibu mengetahui saya membawa uang yang bukan main banyaknya itu. Dalam hati saya menyesal.” doa saya dengan kenceng.” doa saya. Penuh banyolan dan semprotan Anehnya para sopir dan kenek itu. ”Ya. Tentu banyak gepokan uang itu yang jatuh ke dalam air dan tenggelam. Allah. Subhanallah. ”Gue ude konglomerat. Lalu mereka mendorong rakit supaya saya meneruskan perjalanan. Bagaimana mainan. ”Lo ambil! Lo yang mata duitan! Ha ha ha!” Teman yang kena timpuk itu melempar uang itu ke teman yang lain sambil berteriak.

14 Februari 2008 .Tangerang.

Barangkali ke Jakarta Pusat. Seolah metropol miliknya sendiri. Kerjakan yang mesti berlari itu. Sesuatu apa itu. Legam bagai Jacky Chan melenting. dikerjakan. Orang-orang sibuk dengan tas belanjaannya sendiri-sendiri. lo?!” Semrawut kota semakin bising. Tinggalkan yang mesti ditinggalkan. Angin berdebu. “Ada apa. mikrolet. Metropolis. barangkali orang-orang itu bisa menolongnya jika ia butuh pertolongan namun anak itu acuh tak acuh dan terus berlari.Jantung Hati DANARTO Anak laki-laki itu berlari kencang meninggalkan pelabuhan Sunda Kelapa. Lari! Lari! Tekuk dan telan kota. Ia tak peduli. Ia tak mau tahu dengan urusan orang lain. ia terus berlari. Di jalan-jalan Jakarta tak ada tempat untuk kencing. Jangan pernah mau mengalah. Tapi di “Ibu! Ibu!” teriak anak laki-laki itu menyebut ibunya. Alangkah kencang larinya. kopaja. Jakarta sudah lama bilang ogah. Orang- bagaimana mungkin harus menanggulangi kebutuhan orang lain. “Ini Metropolis. Apa ia tak punya pusar? Hanya orang-orang yang tak punya kepadanya yang cepat menghilang terhalang di antara pintu dan jendela Bianglala. “Ibu jangan menari lagi!” teriaknya sepanjang jalan raya itu. pusing. Ia tak mendapatkan bus atau angkot. Tempeleng orang lain sebelum ditempeleng orang lain. persis malam mati. Keringat kota diperas habis-habisan. Nak? Ngapain lo lari terus? He. angkot. atau kota ditekuk dan ditelan orang lain. jadi rupanya ibunya seorang penari. Hitam kayak pantat kuali. . Tapi setiap pertanyaan belum terjawab. Angin kencang. Ia sedang diburu kebutuhannya berteriak. Ia menyeberang di antara lalu-lintas saling bertanya. selalu muncul pertanyaan meminta ibunya untuk tidak menari lagi. Dihardik satpam jadi emping. Orang-orang menengok yang padat. Seperti anak laki-laki 10 tahun yang terus sendiri. Jakarta Utara. Bung!” Mengurusi diri-sendiri saja hampir-hampir tak becus. Mereka menerobos di antara bus. Suasana mendesing bunyi gasing. Ada apa anak itu berlari terus. Ini Matahari terbahak. Orang-orang pura-pura tak mendengar. mencari kekal pada dinding. Nak? Ada apa. O. Jangan pernah kalah. Bung! Sejak kapan para sopir angkot itu mendahului para arsitek dengan orang tak mau tahu. yang macet. Pelabuhan menjerit. Kepala berputar kerna mana ibunya? Mengapa ia berteriak-teriak? Apa ibunya mendengar teriakannya? Mengapa ia Lonceng kota berdentang dua kali. Jangan ketinggalan. kabarkan. Lamat-lamat ditelan mall yang bernyanyi. Semua pertanyaan lompat bajing. dikejar setan. lo. Ia berzigzag di antara kendaraan-kendaraan yang menunggu lampu hijau. Udara sangat panas. Tak lelah-lelahnya. seperti ada sesuatu yang ingin ia temui. “Ibu! Ibu! Jangan menari lagi!” ia melarang ibunya menari lagi? Memangnya kenapa kalau ibunya tetap menari? Anak 10 tahun ini boleh jadi anak yang aneh. mengucap salam pada metromini. Ia menuju ke arah selatan. Ia pusar bisa berlari sekencang itu. Merebut tempat. Anak itu agaknya merebut waktu. Tidak seramah abah dan babah semasa zaman misai jepaprah. Merebut kesempatan sebelum segalanya terlambat. Atau baru. Beberapa orang yang berpapasan dengannya menanyainya kenapa ia berlari.

Itu udara wengi. Ibunya sedang menari di atas jembatan layang. Anak itu melompat pagar tanaman. Tiba-tiba agung bagai baja. Aduh. Tak kenal batas. Seluruh hamba wet. Berlari terus. Itu udara pagi. Tuhan yang pegang. Bukan ratu. Tuhan kendali manusia. Segala tempat. bertengger gubuk derita malang. terbahak. bukan pula keris patih. kota. kadaluwarsa dari sepihak. Tumbuh harapan. seluruh penghuni hotel prodeo adu jotos. Tak mati-mati. Padang darah berember-ember. O. Walau di lapak. Di bawah jalan layang. Tiga kali kena gusur. Tanah di bawah jambatan layang UI diberi julukan “O Henry Rudini”. Kemana tanahku. hitungan akurat. Dengarkan mahasiswa sedang berjuang. Tiga kali tanah dibeli di berbagai . Wangi jembatan layang. Berlari terus. aparat James Bond lumpur panas dan kalajengking di bawah keset. Berbanding Pandawa pantas. mencium bau wangi. ia mendelik. Anakku. Jangan menoleh ke belakang. Si anak ksatria utara. Jeritkan segala raung serigalamu. Jangan terpeleset. Dalam sehari 50. kejeblos di pasir boblos. Pesanlah nisan sekarang. air. Apa mau dikata. Aduh. Tuhan sayang manusia. Butiran menjelma hujan. Henry minta ganti rugi mahal kerna tiga kali dibohongi. Supaya jarak lari menjadi aman. Hanya Muntahkan segala pikiran kotormu. bukan raja. Ia musnah. Ia hindar bertengkar kerna pintar. “Ini anak apa maunya?!” Orang-orang melengos. berbakti. Namanya bikin gentar. KTP diinjak-injak. Lalu berpijar cahaya api. Kemana tanahku. Alasan tempat jeli selalu kena jalur hijau pasti. Di sekolah anak tak pernah bolos. Udara. Kedua orang bertahan di bawah jembatan layang. anak itu tahan menceker. cucunya cucunya cucunya cucu Empu Gandring. Tuhan tempeleng manusia. Mengalir angkasa pesat. Perahu malaikat burung puyuh. Seluruh menteri melankolis menatap Henry.Seperti bandit yang dibiarkan lolos. Seonggok jalan layang ke Universitas Indonesia gemilang. Orang-orang yang berpapasan mendesah. Dipuja petani. Pasrah tanpa curang. orang yang matanya nyalang. mabuk tetap tegak. Matahari membantu tapi butuh ongkos. Ia ingin lolos dari angka-angka narkoba oplos. Henry Muhammad. Jasadnya lenyap ditelan udara. Nasib orang. O. Jangan-jangan sedang menari bersama awan. Anakku. Tinggallah putri bersama anak semata wayang. Mencari hidup layak seperti pesan bapak. menghirup angin surga. tanah. putri jelita berbanding Sembadra. Eyang. Berlari chitah otak cucu belum juga encer. Ibu Pertiwi mengerti. Cepat Anak ini cerdik bagai jengkerik. Lalu kena sabetan keris yang ditempa padepokan Ganggang. Ksatria Utara tak mau berkelahi. Mengambang taat. Sotangnya tajam bagai taring kirik. termasuk jalur hijau jalang. Tak ada tempat yang jauh. Hidup bisa dicicil angket. Ia keris empu. api. Saling gertak ketemu ibu dirundung sawan. begitu pemerintah kasih wejangan. Ia diangkat Allah ke firdaus ketujuh. Baik budi. Setiap mahasiswa melaju mobilnya ke universitas. O. zat. dan pertapa sejati. Tak mati-mati. O. Ia ksatria tuntas. Di ladang luber. supaya hati tak garang. Namun tak beringas. Mau dicaplok katak. Kemana sandal jepitnya tadi di emper. O. badai derita Ia terlalu sakti. kesandung maut dari seberang. Tak peduli pada aspal jalan yang panas. menerkam kijang tercecer. O.000 tahun mengayuh. kenangan manis buat Mendagri dan Henry yang tertindas. telapak kaki tanpa alas. tanah asli ayah bayang. Nyawa yang berbakti. Penari agung bikin keder pemda. Menggaris lurus menerka keadilan. Tak pula timpang. Ia anak mama. Ada saja yang tidak polos.

Di pojok-pojok Jakarta rawan. tentu jumlah itu saat ini. Saking banyaknya korban entah. Datang dari kutub utara. Satu udara ganti-berganti. Pemerintah yang dulu. para mahasiswa melongok-longok lewat jendela mobilnya. Jakarta musnah!” tenggelam dilanda banjir bandang. mall-mall. “Dua puluh tiga ekor ikan paus menyeret gunung es. ikan-ikan paus yang segede-gede kapal destroyer dari kutub utara. berenang di dataran luas yang dalam. Sebagai ahli waris Henry atas sepetak tanah di bawah jembatan layang UI. toko-toko. Supermarket. mengambang dan tenggelam maupun karet mendadak. ternyata pemerintah sendiri sangat doyan klenik. yang bercokol di utara Pulau Seribu itu dikitari puluhan ekor ikan paus yang berloncatan ke es itu yang agaknya untuk secepatnya mencairkannya guna memandikan Jakarta. tak ada artinya. Korban tak dapat dihitung. Banyak individualis jengah. di milenium ketiga. Dia dan ikan-ikan paus itu terus menari. pasar. Tenaga-tenaga penolong susah. Di dalam kendaraan-kendaraan pribadi di sela lalu- “Ibu jangan menari!” sambung anak itu. sampai kini tentu semakin dirundung dosa yang kelewat-lewat. dan seluruh tempat yang menyimpan duit atau pangan. Kota gelap gulita. dia terus menuntut ganti rugi yang layak. departemen keuangan. Banjir rasanya semakin meninggi. Dibutuhkan perahu Helikopter menyigi rendah. ratusan mobil mengambang. berkali-kali penari itu diburu. puluhan. Dan alam sangat untuk menangkap sang penari dan membunuh ikan-ikan paus itu. Para relawan penolong bertindak. Korban banjir antara yang hidup dengan yang mati. para politisi dan wartawan tidak memolitisir musibah “Jakarta Meratap” dengan “pemerintah “Itu klenik!” seru jubir pemerintah dalam menanggapi pernyataan bahwa pemerintah dimusuhi alam. ATM. Selama ini pemda DKI meyakini bahwa penari jembatan layang UI itu kong kali kong dengan melanda Jakarta. Nah. pegadaian. perumahan mewah. Mobil-mobil tinggal atapnya yang muncul. menjadi sasaran penjahat maupun orang baik-baik. Bagai papan-papan selancar. Tanggulangi penjarahan dan perampokan. Dengan sangat meminta ditolak alam”. Daerah Khusus Ibukota payah. Mereka saling bertanya. Perampokan kantor-kantor. Di siang hari jadi kota mati. Bagai monumen. Pasukan antihuru-hara diterjunkan.“Ibu! Ibu!” teriak anak lelaki itu dari bawah jembatan layang UI menatap ibunya yang sedang lintas yang selalu padat itu. mereka sudah sampai Pulau Seribu. Berkali-kali banjir besar sikap ini kentara sekali. gunung es bersimaharajalela. restoran. Tapi itulah jalan hidup. Berpuluh ikan paus mengunyah gunung es yang mereka Keadaan darurat nasional gubernur umumkan. Di seluruh kawasan. Jakarta tenggelam. Laut meluap. Mereka dengan gigih menabrak-nabrakkan tubuhnya ke arah gunung pasukan khusus diterjunkan dari helikopter di atas jembatan layang UI dan di Pulau Seribu ikan-ikan paus itu tidak peduli. namun dia selalu lenyap tak berbekas. bank-bank. Dalam jumlah besar membengkak. Namun penari cantik dan .” Namun Valeria Daniel dari antv di atas helikopter melaporkan pandangan mata: “Jakarta seret dari kutub utara. menari di atas pagar jembatan layang. Andai dulu pemda di zaman Orba tidak pelit dan mau membayar ganti rugi satu miliar rupiah.

paling laris karena agaknya dipenuhi para pengungsi. Kekasih dari asmara. Para sniper itu dibuat kelilipan matanya sehingga sniper membidik penari dan ikan-ikan paus itu dari kejauhan. Kampung Rambutan memahami musibah itu. Hotel Sari Pasifik di dibangun untuk mengantisipasi banjir bandang itu. Melek dari kantuk. Gelombang menggempur Tanjung Priok. Sang penari tidak menstop tariannya. Mall-mall Jalan Thamrin yang dibangun dengan pondasi yang tinggi. Benci dari cinta. Cikini. Ibu itu terus melanjutkan tariannya. Orang-orang kaya mengungsi ke hotel-hotel. “Ibu stop menari! Ibu stop menari!” teriak anak itu terus-menerus dari bawah jembatan layang itu. Ibu dari anak. Angin kencang menyapu pasukan khusus berikut helikopternya sehingga mau tak mau mereka harus menjauh dari penari dan ikan-ikan paus itu. Namun alam tetap membela membatalkan bidikannya. Sejumlah penari dan ikan-ikan paus itu. Keluarga Paman dari keponakan. Tangerang.membantunya. Kali Deres berteriak-teriak meminta tolong. Cilandak. Tapi segala jenis hotel penuh. Suami dari istri. Cemburu dari buta. Canggah dari wareng. Gunung Sahari. Bola dari Piala Dunia. Cinere. Sanak terpental dari sanak. Senen. Kakek dari nenek. Beberapa orang mahasiswa memarkir kendaraannya di jembatan layang itu untuk melihat penari itu tetap gemulai dengan gerakannya. terpisah dengan keluarga lainnya. dan melahap terus ke selatan. Hari balas dendam telah terjadi. Cucu dari buyut. Anak itu terus melanjutkan teriakannya. 20 Mei 2006 . Parung. Blok M. Jalan Thamrin. Jalan Sudirman.

kegemarannya. yang mengelus rambutnya. Sementara itu Zahra getol bercerita macam-macam Nikolai. dan modern dance dari Eropa lainnya yang memainkan repertoar ”Le Sacre du Printemps” karya Igor Stravinsky. dan pembesar negara lainnya. Natalya Ashikhmina. bulu- usai. Di antaranya di tempat ini. tampak berseliweran di antara para pebalet yang tinggi-tinggi dan besar-besar itu. lalu mendarat kembali. Mineev. dan jus jambu kelutuk. Siang hari mereka adalah angsa yang merenangi telaga. ngobrol dengan gubernur. Lakon ”Swan Lake” menceritakan dayang-dayang istana dan ratunya. tentang balet di Rusia.Telaga Angsa DANARTO telaga. Tampak Viatcheslav Gordeev. kepada para tamunya. Mereka rame-rame menikmati salad. juga grup dari Perancis. Angsa-angsa putih menyelam. Dengan 1. Andrei Joukov. Mereka tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun meski pertunjukan dua jam itu mengalir terus. pemeran Odette secara bergantian dan Andrei Joukov dan Maxim Fomin pemeran Siegfried bergantian. buah-buahan. Maya Ivanova. Dalam pesta yang disuguhkan oleh Yayasan Jantung Indonesia. Dia memilih minum air jeruk nipis. menyembul. yang disihir Rothbart menjadi angsa. masih mengenang adegan-adegan dalam pertunjukan balet ”Swan Lake” yang baru saja Annisa Zahra disadarkan oleh zefir. Irina Ablitsova. Mereka saling bulu bergetar ketika mencapai puncak. gubernur berjanji. Alvin Zahra juga banyak mendulang informasi dari Maya Ivanova dan Natalya Ashikhmina. ngobrol dengan para pejabat bank Indonesia. sup ikan tuna. Russian State Ballet of Moscow memainkan ”Swan Lake” karya Tchaikovsky yang sudah melegenda. sangat populer di seluruh dunia. adakah yang lebih indah waktu tubuh bergetar. komposisi yang senantiasa berubah. Sebaliknya. Gadis ini Zahra. Odette. ayu dan ganteng. gubernur. dalam waktu dekat akan membangun panggung balet semegah Moscow. Maxim Fomin. Irma Ablitsova pemeran Odille dan Dmitry Protsenko serta Vladimir plain croissant. Direktur Artistik Chino. menteri. balerina 21 tahun. Kaki-kaki jenjang putih para balerina meluncur ke sana kemari. Asmara angsa. tidak minum wine. Lalu bergabung ikut ngobrol pula. Zahra menemani para pebalet dari Negeri Tirai Besi itu. para pebalet Rusia itu mengagumi kecantikan dan rambut panjang Zahra dan apa saja perannya dalam balet di Indonesia.500 penonton. Begitu pula para pebalet teman Zahra. Baru pada malam hari . pernah berpentas Martha Graham. Membentuk Pemandangan panggung malam itu dipenuhi puluhan ekor angsa putih menyebar memenuhi mengepak beberapa saat di atas permukaan air. Russian State Ballet of Moscow pertunjukan ”Swan Lake” itu. dan memagut dan bercinta. yang ditemani balerina Masami Dengan meminta maaf karena gedung pertunjukan tidak representatif bagi tontonan segigantik balet Rusia. Jerman. angin sepoi-sepoi. para pebalet pemeran utama dalam lakon itu di antaranya. sebagai sponsor pertunjukan. pemeran Rothbart bergantian. yang putih maupun yang merah. insya Allah.

asal encoknya tidak ketahuan sang balerina. Sedang para pemeran angsa gede Zahra menonton pertunjukan itu bersama keluarga. adalah para pemeran angsa kecil. Secepatnya Siegfried menyatakan pilihan cinta sejatinya hanya pada Odette. Pangeran Siegfried langsung terpikat pada Odille. dan Anastasia Baranova. Hanya cinta sejati yang mampu mengalahkan sihir itu. Odette dan dayang-dayangnya jatuh sedih. kakek dan gerakan balet yang membuat semuanya tertawa. juga tante dan oomnya.” celetuk Nenek.” sambung Kakek. Siegfried. Usaha Rothbart berhasil. Siegfried sadar. Seketika. Dan pesta pernikahan Siegfried-Odette selama tujuh pertunjukan ”Swan Lake”. ”Odette atau Odille. Begitulah. jatuh cinta kepada Odette. Pagi harinya kakek berdiri lalu meliuk-liuk menirukan ”Awas. Odille.” kata Kakek. lho.mereka menjelma manusia kembali. neneknya. Namun cinta mereka terhalang oleh sihir Rothbart yang ampuh. semua balerina itu elok: Tatiana Protsenko. Kakek terbatuk-batuk lagi. Oxana Gasnikova. memangnya kenapa?” tanya Zahra. Di samping mencoba menggagalkan percintaan Siegfried dengan Odette. Namun Siegfried mampu menewaskan Rothbart dan pasukan angsa hitamnya. untuk merebut cinta Mendengar kabar ini. Semuanya tertawa. saya tidak setuju dengan kostum para penarinya. hari tujuh malam pun digelar dengan meriah. ”Apa. ibu.” sambung Oom sambil menyenggol Tante. dan Anna Vakina. Olga Ivachenko. ayah. sampai Kakek terbatuk-batuk. kedua adiknya. ”Eyangmu ini tadi malam kan kepincut sama si Maya.” celetuk Zahra sambil memasukkan potongan roti lapis kacang dan cokelatnya ke dalam mulutnya. pemilik istana dan telaga. memamerkan putrinya. Sekalipun dengan mata terpejam. saya sih. siapa pun tak bakal salah Pesta para pebalet Rusia dan para pebalet Indonesia malam itu seperti menandai suksesnya memilih. cocok-cocok saja. Rothbart sang penyihir. adalah Svetlana Ustyuszhaninova.” tukas Nenek. . Tatiana Chungunkina.” tukas Kakek. ”Terpikat boleh terpikat. begitu juga puluhan ekor angsa yang lain. angsa itu menjelma Odette. Eugenia Singur. ”Tapi. Semua tertawa. yang secantik Odette. seluruh istana bergembira. ”Lho. sih. Eyang bisa kesleo. Pangeran Siegfried. ”Itu kan mengumbar aurat. Rothbart marah besar. Semuanya tertawa. yang ndak cocok bagi kamu.

kok Eyang sampai segitunya. Obrolan berubah jadi perdebatan.” ”Wah.” ”Mati orang kuburan!” potong Kakek kaget.”Aurat yang mana?” tukas Zahra.” sanggah Kakek. bubar. Kesan. Jenjang kaki yang panjang dengan bentuk yang indah—laki-laki maupun .” ”Rasa risi tidak relevan dengan Swan Lake. ”Itulah kostum yang paling pas untuk lakon ”Swan Lake”. Eyang ini gimana. sih.” ”Saya heran. Swan Lake dapat dikategorikan sebagai pertunjukan pornografi dan pornoaksi. wah. Grup balet Rusia ini sudah melanglang buana. ”Semuanya kan tertutup rapat. Aduh. ”Bagaimana parameternya?” ”Bagian-bagian tubuh tampak disengaja sangat menonjol. ”Saya serius. Ruang makan itu berubah jadi ruang pesta pagi hari. semuanya terkesan jelek. ”Mati orang kuburan!” potong Zahra. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Waktu grup balet Zahra memainkan Swan Lake. Eyang. Ini kali pertama kakek dan nenek nonton balet.” tukas Zahra. peradaban. kostum Zahra ya seperti itu.” ”Wah. Meriah. kok yang disalahin balerinanya.” ”Tapi kesan telanjangnya kan jelas.” sergah Kakek lagi.” Semuanya tertawa. ”Saya sungguh risi dengan kostumnya. Eyang. Habis jadi diktator.” ”Kesan. pertunjukan itu harusnya disensor.” sambung Kakek.” ”Jangan begitu. deh. Ada yang jauh lebih subtil yaitu bentuk tubuh secara utuh.” ”Eyang yang kasmaran. Semuanya tertawa kecuali Kakek.” ”Jangan begitu. kecuali Kakek. Melihat kostumnya. Semuanya tertawa kecuali Kakek. mendadak berubah jadi filosof. wah.” ”Eyang kok tiba-tiba jadi diktator. ”Kok Eyang jadi sewot?” ”Mempertimbangkan kostum itu. Jika kita bicara soal kesan.

” sergah Tante.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. ”Kostum ketat itu. Eyang. Seperti para perenang yang memudahkan untuk bergerak menari. ”Eyang dianggap tak menghargai kebudayaan. ”Dalam KKN ada tradisi.” sambung Kakek. Puluhan kali dia berpentas balet di kota-kota besar. ”Adalah tradisi balet.” cetus Kakek. begitu pula kostum ketat balet ”Jadi tanpa mempertimbangkan moral dan agama?” tukas Kakek. Cucuku. ”Adat ketimuran kita adalah KKN. semuanya menyanyi kecuali Kakek: ”Bagimu negeri.” ”Sungguh saya tidak paham jalan pikiranmu.perempuan—dalam menopang torso yang sepadan yang melahirkan kelenturan gerak bagai kijang. ”Apa?” tanya Kakek. ”Jangan melecehkan negeri sendiri.” sela Kakek.” Zahra menukas. Zahra diperkenalkan pada balet sejak balita.” hampir-hampir telanjang ketika bertanding di kolam renang.” . ini artinya balet Rusia itu telah berdakwah tentang kebenaran. ”Justru karena saya sangat menghargai kebudayaan. maka saya marah menyaksikan penampilan para pebalet Rusia itu. Mendengar kata Kakek ini.” ”Sekalipun mereka ateis?” ”Sekalipun mereka ateis. ”Kita harus mempertahankan adat ketimuran kita.” sewot Zahra.” kata Oom. ”Eyang benar-benar lowbrow. runtuhlah kebudayaan. pesakitan KKN selalu jatuh sakit kalau mau diadili. jiwa raga kami…” Oleh orangtuanya.” ”Harus dicari kostum yang lebih cocok dengan budaya setempat.” ”Omong kosong!” sergah Kakek. ”Moral dan agama ada pada keindahan kesenian itu. ”Kalian keras kepala!” Semuanya tertawa kecuali Kakek. ”Kalau pendapat Eyang dilaksanakan. Kalau Eyang puas atas pertunjukan balet Rusia itu.” kata Zahra.

”Contohnya tidak usah harus beli tiket pesawat. Lengang sejenak.” tambah Nenek. setiap hari yang dipikirkannya hanya keindahan. Harus dipisahkan antara rakyat dan negaranya.” ”Mereka hanya berbakti kepada Dewi Keindahan. ”Saya pusing mendengar pikiran-pikiran anak muda sekarang.” ”Mereka telah menari dengan anggunnya. Zahra. Eyang.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Mereka telah berbakti kepada Dewi Keindahan. Bukan kepada Tuhan. namun tariannya memberikan pencerahan kepada kita yang shalat lima kali sehari.” tukas Kakek. kata Allah. semuanya membaca puisi Gibran Khalil Gibran: ”Anakmu bukanlah anakmu. ”Apa yang sedang terjadi atas Eyangmu ini. bukankah itu artinya mereka telah berdakwah tentang keluhuran? Seandainya benar mereka ateis. sedang warga negaranya mudah lolos ke surga. Dan itu bukan teori.. ”Banyak negara yang busuk. Seperti tercium setan lewat. Anakmu bukan milikmu.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Kita bisa menuduh mereka ateis. saya cuci tangan.” kata si Oom.” ”Tapi omongan kamu itu kan cuma teori.” sergah Kakek. Semuanya tertawa kecuali Kakek. atau lusa. Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri…. atau ”Seorang ateis bagaimana mungkin mendapat hidayah Allah?” ”Jiwa manusia itu seluas alam semesta. Dalam hidup para balerina dan balerino itu. Betapa luhurnya seseorang yang tidak percaya akan Tuhan. .”Hati orang siapa tahu. mereka itu setahun lagi?” hanya belum sempat mendapat hidayah dari Allah saja. ”Kok sekarang berubah jadi one dimensional man.” tambah Tante. tapi dari mana kita tahu bahwa mereka ateis? Obrolan kita ini sudah melenceng. Eyang.” ”Eyang kok selalu curigesyen terhadap iman orang lain yang tidak dikenal.” tukas Nenek. ”Coba. Janganlah berputus asa akan belas kasihKu. Eyang.” jawab Tante. Barangkali besok. Kecuali Kakek.” ”Eyangmu itu pantas jadi polisi moral. ”Kita harus membedakan antara iman warga negara dan iman negaranya. saya dikasih contoh. Alangkah juwitanya pandangan hidup mereka.

Para pujangga menyebutnya ”Glatik Nginguk” artinya ”Burung Gelatik yang Menjenguk” yang membuat dada para raja dan pangeran ”mak-sir”. Dalam dandanan kebaya pinjungan. Tangerang.” sambung Zahra. Ada zat yang mendorong kita beranak-pinak. Mendorong keanggunan sembilan penari yang gemulai dalam balutan kain yang ketat. Ada air yang mudah mematikan api. sedang dalam . Dalam balet. tidak ada pornografi dan pornoaksi. Ada angin yang tidak kelihatan yang membuat kita bernapas hidup puluhan tahun. menyembulkan semburat merah jambu gunung kembar yang menjenguk lewat dada yang lebar terbuka. 14 Februari 2006 seorang penari harus lebar-lebar merentangkan kakinya supaya bisa terbang. itulah keunikan tiap tradisi yang mewariskan budaya dunia. Cobalah nikmati tari bedoyo.” ”Saya setuju. Allah mencintai keindahan.Zahra melanjutkan obrolannya: ”Wajah Allah itu memancar memenuhi alam semesta dan kita makhluk ciptaannya dapat menatap Wajah itu secara gamblang. Ada tanah yang bisa menumbuhkan padi sehingga kita tidak kelaparan. Kita wajib memeliharanya. Suatu dakwah keindahan tiada tara. Ada api yang menyalanyala.” ”Kita juga memiliki keindahan tradisi. cukup sulit. Eyang. Dan ternyata Allah itu indah.” ”Sebagaimana balet.” Tukas Kakek: ”Tidak ada pornografi dan pornoaksi dalam tari bedoyo. tergetar. bedoyo para penari bahkan untuk berjalan biasa saja.

Rasa saya tetangga. saya dijuluki “pendengar yang baik”. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga. persoalan anak dengan orangtuanya. dan banyak lagi saya tidak nyaman. Juga tentang hubungan suami istri. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. menyadarkan saya. Sebagai penulis lepas. tidak benar-benar membutuhkan saya. sekadar yang saya tahu. Saya acuh tak acuh. perbankan. Selama pertemuan-pertemuan dengan para Untuk sikap saya itu. bawahan dengan remaja. Orang-orang . soal usaha tambak udang. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. juga tayangan televisi. Dengan ngantre minyak tanah. saya menjawab sekenanya. ataupun dengan para pembesar itu sebenarnya saya banyak diam. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. Sungguh menghabiskan waktu. diajak berbincang mengenai berbagai hal yang pelik. juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. maupun wali kota. Kadang datang berbondong. Misalnya. mula-mula saya menulis obituari hanya sambil lalu. Istri saya lewat jendela. Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang sehingga rumah jadi regeng. kata-kata bijak dari para cendekiawan. bibit tanaman.Nistagmus DANARTO Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. juga masalah percintaan antaranak-anak Jika ditanya. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Saya acuh tak acuh. bupati. Di samping para tetangga. Setelah dua jam pembicaraan ke sana-kemari. Cukup menyenangkan. dan wali kota. Saya rasa kali ini juga begitu. Dan pembicaraan beralih ke olahraga. atasan. teman-teman. sejumlah persoalan yang lagi hangat atau panas di masyarakat yang sebenarnya membuat mereka sekadar butuh teman ngobrol. Karena istri saya gelisah. Masalah-masalah itu menjadi obrolan yang Kadang-kadang saya juga diundang camat. satu dua. Selama ini saya dikenal sebagai penulis obituari (berita tentang kematian seseorang berikut riwayat hidupnya) di surat kabar setempat. mengenang lewat tulisan obituari itu mengesankan. Kami ngobrol sekitar persoalan yang menyangkut rumah tangga dengan segala nuansanya. ramai. Lama-lama saya menulis obituari menjadi semacam panggilan. misalnya. mengular sampai jalanan. Rasanya camat. setelah sarapan. Sudah sering datang orang. pengairan sawah. Karena kematian seorang teman baik yang menjadi tetangga dekat. bupati. satu dua. Tapi asyik juga karena hidup di dusun yang sepi sekali-kali perlu mengadakan pertemuan supaya merasakan kemeriahan. menantu dengan mertua. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. perburuhan. Ada apa? belum menemui mereka. Saya tak pernah mengutip berkepanjangan. lalu kami pindah tempat duduk dan lebih santai sambil ngopi. Istri saya memberi tahu. Sudah sering datang orang. yang sama sekali tidak saya ketahui.

ada seorang tukang becak menolak dengan mengembalikan becaknya sambil mengirim beras 5 kilogram kepada si usia. yang beberapa hari kemudian dikabarkan meninggal. Kepala kantor orang itu kebingungan. Dan sebagainya. agaknya hanya saya seorang.lengang. Obituari yang meliputi orang-orang biasa itu bisa saudara. Saya yang terus beredar di banyak keluarga yang kematian saudaranya. Banyak usulan.orang biasa. Lelucon-lelucon pun menyebar dengan semarak di pasar. tukang becak. Yang jail maupun pelesetan. Dipasang pula fotonya yang bisa menyebabkan keluarganya tertambat kenangannya. meski kamu membayar Pak Jurnalis!” “Kamu tidak akan mati.000 karakter yang menyerahkan becaknya kepada seorang kepala tibum (penertiban umum) dengan tujuan supaya becaknya dijual untuk mengongkosi sekolah anaknya. Keluarganya memberi tahu. Banyak komentar. Seluruhnya orang. kenapa tidur di rumah. teman. Masa pensiun pasti datang. Lalu si kepala kantor meminta jasa seorang tukang sulap yang pandai menghipnotis orang. pekerjaan terakhirnya. Si kepala tibum jika orangnya kocak atau punya pekerjaan yang unik. Ketika beberapa waktu kemudian tukang becak itu meninggal karena faktor Ada seorang pegawai negeri yang tidak mau dipensiun karena uang pensiunnya kecil. apa ada yang tertarik membaca obituari saya. ia seharian di rumah saja. dibawa pulang ke rumahnya. Begitulah. kemudian berubah ke mesin ketik komputer. Barangkali mereka juga membaca obituarinya. Lalu ia dinaikkan ke dalam mobil. Tulisan obituari itu tidak panjang. Begitu siuman. Alasan saya. sebagaimana kematian itu pasti tiba. ia kaget. Bawahannya itu lalu dihipnotis hingga tertidur di mejanya.000 karakter. lalu mencari akal agar bawahannya itu sadar. yang berkenaan dengan tulisan obituari itu. ataupun di stasiun bus. di sebuah desa yang Saya bisa memanfaatkan rubrik khusus obituari setiap saat atas kebaikan redaksi koran Pernah kejadian dalam seminggu sepuluh orang. Saya catat riwayat hidupnya. dan berapa orang saudaranya. “Kenapa kamu tidak lekas mati supaya Pak Jurnalis bisa menulismu sekarang!” “Biar kamu mati. Setiap saya lewat atau mampir membeli rokok di kios. saya menulis obituarinya dengan memasukkan wawancara kepala tibum itu. orang-orang terkenal itu sudah banyak penulisnya. lewat mesin ketik manual yang lokal yang memberi saya kebebasan.000 orang. tidak ke mana-mana. Saya menolak ketika diminta menulis obituari sedangkan untuk orang-orang biasa. sampai kamu menulis riwayatmu sendiri!” Saya terbahak mendengar lelucon-lelucon itu. menyebabkan banyak orang mengenal saya. kebanyakan yang mungkin pernah lalu-lalang di depan rumah saya. tak ada yang menulis. Itu semua menyebabkan saya akrab dengan semua orang. orang-orang ternama. Selama ini tulisan obituari saya sudah mencapai 5. kompleks pertokoan. sementara beban keluarganya besar. sampai kenalan baru. sekitar 5. Dengan enak saya bisa menulis obituari setiap hari. Kadang sampai 8. keluarga. Saya interviu keluarganya. Sejauh ini saya tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu. selalu saja orang . Misalnya. lalu saya cari alamatnya.

“Maaf. dan si bungsu di SD kelas 5.” Tapi. Ada yang bilang. Pak. Tidak kenapa-kenapa. Saya juga tidak tahu adanya gejala sesuatu. Memang ada seorang yang “Pak. Pak. sehabis ngobrol dengan saya. Sementara itu ada pula yang bilang. Wah.” “Saya permisi. Pak. Saya jadi pendiam dan menyendiri. ia meninggal. Pak Jurnalis. Banyak ngomong dianggap meramal. itu tanda-tanda orang tersebut mau meninggal. kenapa?” “Maaf. Ketika orang menanyakan pendapat saya. “Lho.” “Lho. Keduanya cencala (lancang mulut) terhadap sikap saya dalam menulis obituari. Pak?” Istri dan anak-anak saya juga merasakan perubahan itu. saya juga diam dan menyendiri supaya orang nyaman dengan saya.” Inilah sepenggal dialog di pasar sepeda motor dengan seseorang yang enggan bertegur sapa dengan saya karena keyakinan-keyakinan klenik itu. kenapa?” “Maaf. saya mendapat sebutan yang aneh-aneh. Ada yang berubah dengan tingkahlaku saya. Keterlaluan. yang saya malas menuliskan sebutan-sebutan itu di sini. Memangnya saya cenayang. sedikit saja saya ngomong. orang tersebut malah mengejar saya sambil menyapa: “Bapak menghindar dari saya. Saya tak bisa menjawab. ada saja orang yang enggan bertemu atau lebih-lebih ngobrol dengan saya. Dari kejadian itu. tinggal di mana?” tanya saya kepada seseorang yang saya pinjami korek api untuk menyalakan rokok saya. Saya nggak mau ditulis sekarang. sedikit ngomong dianggap mengetahui peristiwa yang bakal terjadi. seseorang yang ngobrol dengan saya.” Atau ada yang berteriak: “Pak Jurnalis. katanya. Di pertemuan-pertemuan desa. saya sedang mewawancarainya.” “Baiklah. Tidak kenapa-kenapa. tulisan saya tidak adil . Kritiknya tidak berdasar. Maka ada saja orang yang anti-saya.nyeletuk: “Pak Jurnalis. Anak-anak saya. Apa yang akan terjadi dengan saya. lima orang. Apa ada gejala sesuatu? Tentu saja saya merasa tidak berubah dengan tingkah-laku saya. Lalu malah terjadi serba-salah. Tapi ini kebetulan saja. Jadinya lama-kelamaan saya enggan menyapa orang.” jawabnya. Menurut mereka. yang paling kritis. terutama si sulung yang duduk di SMA kelas 2. Pak.” “Biar untuk Bapak saja. ada yang mengartikan.” “Jangan ditinggal korek apinya ini. Ntar saya yang menulis Bapak. ini bahaya. Ini benar-benar klenik. jika seseorang ngobrol dengan saya. Ketika di sebuah toko saya menghindar supaya tidak bertemu dengan seseorang.

kalian ngawur. itu justru kesalahan saya dan saya bisa berdosa karena tidak menulis tiga istri dan mereka. ini pahala bagi Ayah karena Ayah menyembunyikan tiga “Nah. Itu doa saya. Boleh jadi Allah sudah membuatkan rumah baginya di surga.” jawab anak-anak itu. Pernah saya menyergah “Dari mana kalian tahu.” “Karena keritik kalian membawa-bawa dosa dan pahala. Padahal saya selalu Mendengar keterangan saya. .” “Boleh saja. Jika sampai di sini hal itu masih baik.” “Begini. Tetapi jika sudah menyangkut masalah dosa dan pahala. itu semua yang anak. “Kalian ngawur. kan.” dengan empat orang anak. saya berat.” jawab saya.terhadap seseorang dan berlebihan bagi yang lain.” “Semuanya.” “Ayah marah kena keritik.” “Itu harapan saya. Nah. wah. Mereka bisa tersinggung dan bukan tidak mungkin merasa saya lecehkan.” anak-anaknya yang lain. Itulah usaha sebaik-baiknya seorang penulis obituari. kekuatan itu ada batasnya sehingga kita tidak selalu benar.” “Tidak bisa seenaknya begitu. Barangkali karena beban keluarga yang terlalu menyebabkan saya sering stres dan mengalami depresi yang tajam.anak saya tersebut. Saya sering lelah berdebat dengan mendidik anak-anak saya itu dengan keras. anak-anak saya itu: Seolah-olah anak-anak ini cukup rajin membaca buku-buku agama.” “Semua orang bicara dosa dan pahala. sedang rakus-rakusnya makan. Mereka suka ngotot dan merasa selalu benar. sebuah tulisan berdosa dan tulisan yang lain berpahala?” “Dari Ayah. Lima anak semuanya sekolah. ini dosa. Ia meninggalkan seorang istri istrinya dan anak-anaknya yang lain. karena Ayah memaksa Allah membuatkan rumah baginya di surga. “Ayah juga pernah menulis obituari seorang pengusaha. Sebagai ayah.” “Nah. Nah. anak-anak saya itu diam. Ayah pernah menulis obituari. Hal itu berarti saya tidak menganggap ada dan penting keberadaan bilang.” “Dalam hubungan apa orang bicara seperti itu. anak-anak ini sok tahu.

banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. tua. muda. perempuan. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Istri saya saja suka empot-empotan. Istri saya memberi tahu. Mayat-mayat itu lebih mengesankan diselimuti lumpur. Saya menulis apa saja. Bahkan burung-burung. entah bagaimana saya bisa sampai di bukit ini. 26 Desember 2004. yang untuk makan sehari-harinya sejarah saya bermula ketika saya kecantol putri Aceh yang kuliah di UGM. Di Jogja itulah pindah ke Aceh dengan gagah berani karena cuma berbekal baju yang kami pakai. Ahad. Mereka berebut duluan menyerahkan selembar kertas di atas meja sehingga sekejap bertumpuk. termasuk menulis berita. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Setelah sarapan.Kami sebenarnya keluarga bahagia. Saya tak tahu lagi di mana rumah Cuaca cerah. Entah berapa lama saya pingsan. Istri saya lewat jendela. Jam aum macan. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. Tangerang. saya menyiapkan kertas dan alat baru menunjukkan pukul 05. bayi. tanah. di kebun. panas. Saya rasa kali ini juga begitu. sedangkan saya sejak remaja penulis lepas. di luar kemauan. laki-laki. Penghasilan saya tentu saja jauh dari cukup. Alhamdulillah. Barangkali seperti agen minyak tanah yang siap menyambut para pembeli. nistagmus. Seluruh mayat itu. di pekarangan. Orang sekian banyak mau ngajak ngobrol apa? Tentang kesulitan hidup? Beras habis dan anak-anak menangis kelaparan? Orang sebanyak ini mau ngobrol sekaligus? Mata mereka nanar. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. setelah sarapan. mencecap pencerahan. Dengan ngantre minyak tanah. tak seekor pun tampak terbang. cerdas dan berani. Ketika saya menuruni bukit dengan sempoyongan penuh lumpur.00. Sinar matahari memancar. Awan putih berarak dengan latar langit biru meneduhkan. Anakanak mewarisi sifat-sifat ibunya. Lembaran-lembaran apakah ini? Ternyata riwayat hidup dengan tanggal lahir dan masya berserak. seluruh kota telah hancur-lebur rata dengan sedang tidur pulas. Gerakan bola mata yang cepat tanpa disengaja. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. di reruntuhan rumah. Waktu saya siuman. Karena istri saya gelisah. Saya berdiri sendirian di samping sebuah kapal yang terdampar di tengah kota. merangsek ke depan meja saya. saya. di atas pohon. anak-anak. guru SMP. Allah…tanggal akhir hayat. di jalan. berserakan memenuhi ruang dan udara. Bahkan matahari masih bergelut dengan kasurnya. Kami menikah dan Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Orang-orang yang antre tidak sabar seperti mendengar tulis. Mayat-mayat berkaparan di seluruh kawasan. terlihat pemandangan yang menyebabkan saya pingsan. Hari baru membuka matanya. dengan malas saya keluar rumah dan duduk di beranda. Tak ada tanda-tanda kehidupan secuil pun. Ada apa? belum menemui mereka. satu dua. Saya acuh tak acuh. mereka menatap kebenaran. 20 Januari 2005 . Sudah sering datang orang. lalu semuanya bergegas pergi meninggalkan saya tanpa sepatah kata diucapkan. mengular sampai jalanan.

Untuk saling gombal. Sementara kilat mencabik-cabik langit hingga berupa potongan-potongan gambar pantulan kami berjumlah jutaan. saling berhantaman. menimpa tubuh kami yang diam-diam menggelinjang. begitu tengik! Mendakwa kelakuan kami sebagai jijik. Lantas saya berlari sambil menarik dahak sebanyakSaya pun tak mau membuang waktu lebih panjang. Untuk larut dalam satu malam yang menawarkan sejuta Phuih! Ombak meludahi wajah kami yang ingin tak peduli. Dan saya. Maka saya tahu. Bercinta di bawah para-para. Syahdu meliputi butir-butir hujan yang jatuh menikmati denyar-denyar di lautan perasaan paling dalam. hilang. entah karena basah yang kering. entah karena nyala yang redup. adalah saksi yang melihat semua itu dengan mata telanjang. Ia burung yang berenang. Membuat saya begitu jengah dengan segala aturan-aturan. dan ada yang hanya bagian tangan. Pesta pora. saling beradu berebut perhatian. Dan ia terpana. Lantas jatuh menghajar kepala kami kala tak sedang ingin penuh. Saat penghakiman. Saya berlari kencang menuju kafe banyaknya di tenggorokan untuk segera melimpahkannya kepada ombak yang kurang ajar. Sendawa alkohol di permukaan udara. Maka… menggoda. Kebenaran dan kesalahan dipertanyakan. Dan ia entah? Kafe di pinggir pantai itu pun terisi orang-orang yang rela mengeluarkan ratusan menatap seolah saya adalah daging dan tulang yang terbalut kulit kerang. tepat di antara bibir kami yang tengah berciuman. Ada Tak jarang kepingan-kepingan yang terlihat bagai pecahan kaca yang beterbangan itu yang hanya bagian kepala. Ia bukan lagi ikan yang terbang dan burung yang berenang. Sembunyi-sembunyi. Ia menatap saya dengan pancaran mata riang. Muka badak. Rajaman semu. memabukkan daripada kesadaran. Meninggalkannya dalam diam yang haru. begitu istilah orang-orang. Hingga ada satu pecahan jatuh kejauhan pantai. karena entah adalah ketidaktahuan yang sering kali jauh lebih dingin yang memanggang. Senyum manja. Sentuhan Membuat saya muak mendengar melulu kebajikan. Entah karena entah karena entah. Bukankah kita semua membayar mahal untuk sebuah Malam berenang dalam kesunyian. Untuk saling bertukar lidah berludah dengan orang yang baru dikenal. Bahana tawa. . bersentuhan dan mendesah massal. Dingin meresap pori-pori kulit kami yang telah menjadi keriput dan merinding. Phuih! Saya meludah ke mukanya.Ikan Jenar Mahesa Ayu Ia ikan yang terbang. Girangnya sirna. ada yang hanya bagian kaki. Kami terkapar di atas pasir basah. Untuk muntah di atas jamban lantas terpingkal-pingkal. Seolah dengan sengaja ingin memisahkan. Deru ombak ditingkahi samar suara musik dari kafe di hingga jutaan rupiah untuk tidak sadar. Tapi lendir ombak itu melekat begitu kental. hampir tiba saatnya waktu bersenang-senang Suara musik di kejauhan membisikkan mimpi yang mutlak terulang. dengan kaki-kaki telanjang. kami Menusuk ke dalam kekosongan otak yang terasa ringan.

“Buset! Lama amat di luar?” “Udah ngapain aja?” “Kayak gak tau aja barbeque under the stars!” “Feeling hot hot hot!” Tawa. Berlaku nyaris memuntahkan laharnya kepada siapa pun yang berusaha meredam dengan dingin tanya. Tawa. Pertunjukan berarti menunjukkan sesuatu. Para model menunggu giliran untuk sebuah peragaan. Saya melihat langkah seribu. Tawa. Tawa. Entah peragaan untuk sekadar pertunjukan. Tawa. bisa atau tidak para model itu. berapa kira-kira umur mereka. Tawa. Tawa dalam penantian. diri saya sendiri terpaku. Tawa. Saya melihat seringai serigala di bibirnya yang tipis itu. Tawa berkepanjangan. Tawa.Saya menunggu. Tawa. Undak-undakan telah disiapkan di pinggir bar. Di sebuah tempat antah berantah. Musik kian mengentak. Masa lalu yang pernah menguatkan yang benar. tapi juga kepada setiap pengunjung yang rela dan masyuk berimpit di dalam ruangan dipenuhi asap rokok meraja tiap penjuru? mereka diajak kencan setelah acara. pertanyaan-pertanyaan yang tidak saja tertuju kepada Dan pertanyaan itu pun berdesing di telinga saya. Mereka yang berada di sana tertawa untuk entah. mengelabui pikiran sendiri yang sedang secara diam-diam mencari makna. terjangkau. Entah peragaan gaya. Tawa. Tawa. Entah peragaan busana. Tawa. Tak mampu menjawab pertanyaan itu. Tawa. Tawa. Ada luka yang akan segera hilang. Saya melihat jajaran kartu kredit di dompetnya yang berwarna abu-abu. lalu memisahkan diri. Namun seperti pekik senapan lagi-lagi pertanyaan itu kembali memburu. dan kaki-kaki jenjang mengentak di atas meja? Bukankah yang Apa pula pentingnya bertanya jika ada liukan pinggul di depan mata. Ada nama yang akan segera dilupakan. Saya melihat anak-anak yang tengah tertidur di atas tempat tidur berkelambu. “Sendiri?” Dan sesudahnya. Tapi pandangan saya bagai menembus segala bentuk yang ada. Tawa. Entah peragaan yang bisa memancing rasa terpana. saya melihat sepasang manusia bercengkerama. panjang ala kadarnya. rok-rok dengan sama dengan yang lainnya supaya tak terlihat sebagai pembodoh di dalam magma yang siap selayaknya terdengar adalah tanya semisal. Mata pun meredup menciptakan pemandangan yang makin samar. Tawa. “Sendiri?” Saya menatapnya. Tawa. Tapi sesuatu yang ingin dipertunjukkan itu tetaplah entah. Sementara saya pun pura-pura tertawa. Saya melihat seekor burung yang seperti baru terjaga dari mati suri nyaris sewindu. Tawa. sebagaimana fungsi malam ialah sarana untuk bersembunyi dari terang. Luka perasaan bahwa dosa tak akan pernah cukup berarti ketika hati nurani mengatakan apa . Ada surga yang akan segera yang menyadarkan bahwa masa lalu kita nyata. Ia pun langsung mengambil Alkohol.

yang pantas juga ngomongin syahwat!” Selalu harus ada yang pantas. Namun saya mencari sayap ikan dan sirip burung-burung berkepakan. Lalu semakin banyak ikan yang terbang. Saya ingin merasa kosong sebagai bokong. Tapi tak juga saya temukan ia di tengah hiruk-pikuk gelepar Rajaman semu. Saya menunggu. Ia burung yang berenang.“Huahahahaha…mata bintitan. Saya ingin merasa pantas yang lain dan lain yang pantas. dosa. mata yang menatap girang. Lalu semakin bertambah banyak ikan yang terbang. Pertahanan yang dibangun untuk satu kata pantas. dan pantas. Ada yang mendesak ingin keluar. Mata saya pun memanas. Ia masih berada dalam diam yang haru. Agustus 2004 . Maka…. Padahal saya begitu ingin mendengar pantas sebagai pantat. Saya ingin melihat bubur sebagai dubur. Semua burung yang berenang. Di tempat yang begitu tanpa batas ini pun mengenal kata menyelimuti hitam bola mata. pantas. Dan semua adalah ikan yang terbang. dengan mata telanjang saya melihat ia ikan yang terbang. Semakin banyak burung yang berenang. Maka bening berkumpul sedan. mulut bau alkohol gitu masih berani ngomongin surga. Semakin bertambah banyak burung yang berenang. Jakarta. Namun ada keinginan kuat untuk segera menahan sedu pantas.

liat. Tapi saya berkata dengan yakin. Menerima. Air kental itu seperti bom yang meledak di dalam tubuh saya. yang masih lengket. Ketuban sudah pecah. Pergi ke kamar bayi jauh dari ibunya. Terus menyeruak dan mendarat lengket. Ada perubahan di tubuh saya selanjutnya. Saya ingin protes. Ketika saya ke dokter kandungan untuk memeriksakannya. Rasa takut seketika membuncah. Kami tidak bisa mempekerjakan SPG yang kelihatan sedang hamil. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga lengket. di atas seprai motif beruang teddy berwarna merah dengan haru memanah. jelas belum mapan.” Saya akan menjaganya Air hangat itu membasuh kulit tubuhnya yang bening. Erang kesakitan sudah tidak lagi melengking. “Robek saja. Mengecup kedua matanya dalam rahim saya. Dan jika operasi. Masih tak percaya. Gunting saja supaya tuntas pembukaannya. Tapi saya ngotot persalinan alami. sudah satu bulan setengah usia janinnya.Air Jenar Mahesa Ayu Air putih kental itu saya terima di dalam tubuh saya. Dokter yang baik itu menatap saya dengan prihatin. Membuahinya. Uang yang terkumpul tidak cukup untuk operasi. Saya akan menjaganya. Rasa mual merajalela. Memikirkan itu tenggorokan saya jadi ikut kering. Baru pembukaan delapan. Harus operasi. Rasa waswas setiap kali belum waktunya namun sudah kontraksi. Akan kita apakan calon bayi ini? Kita masih terlalu muda. Sembilan bulan sudah. membuahkan kecanggihan otak maupun fisiknya nanti. tapi tak . Lewati mual tiap kali mencium bau parfum keluaran baru eternity. belum cukup untuk hidup sebagai mengurusnya sendiri. mencari uang demi mengonsumsi makanan bergizi yang konon bisa “Kami mengerti. Tapi segera mentah berganti Tidak mengambil cuti. Untuk keperluan sehari-hari saja pas-pasan. Masih tak percaya. Pun mulai membukit perut saya. Suara tangisnya seisi ruangan melengking. Air ketuban sudah hampir kering. Saya akan menjaganya. Saya jentikkan jari kelingking di pipinya yang merah. saya khawatir tidak bisa langsung apalagi suster. Membayar pembantu. liat sudah di indung telur yang tengah terjaga. majikan.” kata ayahnya. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga keluar mendesak celana dalam yang tak kuat membendungnya. Makhluk manis tak berdaya itu pernah tinggal di Lantas suster membawanya. tapi perutmu sudah kelihatan tambah besar. Materi yang ada. Makhluk mungil itu keluar dari dalam tubuh saya.” kata supervisor saya. masih harus menunggu dua pembukaan lagi. Tapi… muda. Dok. Kepala saya pening.

Sekarang kami sedari tadi memijat payudara saya terlihat puas. kontrakan. Tidak terlalu sulit mengeluarkannya. “Capek ah nunggu. Air susu saya sudah sarat. Saya tetap akan pergi. Lucu. Begitu ingin segera menimang dan menatapnya berat. Cukup lama saya harus menenangkannya.bisa. Di mana makhluk mungil menyusu. Saya hanya bisa berjanji dalam hati. Air putih cair itu keluar berupa jentik-jentik yang ajaib di ke dua puting saya. Air asin itu mendarat di bibir saya lagi. Penuh dengan air susu yang sebentar lagi akan ada pengisapnya. Tetap menunggu saya pulang. Apalagi jika harapan-harapan itu kerap diulang-ulang dan tak pernah mewujud jadi kenyataan. Karena sudah beribu-ribu kali saya hanya pulang membawa sedikit uang. Tak ada yang mungkin saya lakukan untuk menjangkaunya sekarang. telepon. Saya sudah tidak butuh rehat. “Ibu butuh istirahat untuk mempersiapkan ASI. Ia membiarkan saya pergi. Harapan akan segera pulang membawa uang. Tak menunggu saya pulang. . itu? Saya begitu tak sabar menunggu. Dan harapan. Saya harus segera menghayati peran. kalau ia mau. dan sekolah akan pulang. sekarang ke dua payudara kecil ini pun gemuk membungkah seperti kelapa. Mengunjungi semua Disneyland di tiap negara yang memilikinya. Baru akan dimulai merekam adegan. tak ingin begitu saja melepas kepergian saya. yang semakin hari harganya semakin tinggi menjulang. Apakah makhluk kecil yang sudah beranjak remaja itu sudah makan? Apakah ia kesepian? Ingin menelepon tapi sutradara memberi instruksi jika ponsel mutlak dimatikan. setelah ini tak akan ada yang memisahkan kami akan membawanya ke kamar bayi. Tetap akan pulang.” Saya akan menjaganya. Sudah jam delapan. Jika saat itu tiba. Kalau perlu. Harapan akan segera pulang. Lampu-lampu besar seperti makhluk pemeras keringat yang tak berperikemanusiaan. Tetap Hanya cukup untuk makan sekadar. Payudara sudah terasa “Benar Ibu sudah siap?” Saya akan menjaganya Air mata meleleh di pipinya. Berusaha memberikan pengertian. Suster yang Selama sembilan bulan setiap harinya saya sudah memijat payudara saya dengan minyak kelapa. Bermain dengan penguin-penguin di Cape Town selatan Afrika. Berusaha memberikan rasa aman. Tapi tidak mudah memberikan sejuta taman bermain milik raja pop Michael Jackson yang tengah bangkrut. Menyeruput pinacolada di Hawaii sambil menyaksikan tarian bora-bora. air. Ia akan tetap tak membiarkan saya pergi. Tapi kepala saya masih dipenuhi pikiran. Membeli apa pun yang harapan. lagi. kami akan menjelajah dunia. ketika suster itu berkata. aku udah mau tidur!” semprotnya. Padahal saya sudah begitu Atau jangan-jangan di rumah ia sedang asyik masyuk pacaran? Saya menjadi ketakutan. Saya akan menjaganya. membayar listrik. Dan saya tetap akan pergi. saya akan membeli rumah berikut ia inginkan semudah orang membuang kentut. Harapan akan segera pulang membawa uang untuk suatu hari nanti tak perlu pergi kerja dan tinggal angkat kaki ongkang-ongkang.

Seperti saya sekarang menunggunya dengan ilusi dirinya berkilauan merentangkan tangan atau terkulai lemah membutuhkan pegangan setelah menemukan mulut saya berbusa akibat menenggak obat penenang. Saya kecup kedua matanya yang merapat. Ada puisi di dalamnya. Ada buku di sampingnya menarik perhatian saya. Melayang bersamanya menikmati indahnya kelap kelip lampu dan penderitaan. Seperti saya Saya kembali ke kamarnya. Saya Ada cahaya di ujung lorong. Satu saat nanti ia kembali.harus terhambat kemacetan. sudah kembali pulas tidur. Menunggu. Siap menerima saya dalam pelukan bahagia. Pelan-pelan . Tidak membiarkan air putih kental itu lengket di indung telur hingga tumbuh menjadi janin yang kini terlahir bertemu dengan ayahnya yang dengan mudahnya lepas tangan. kini telah berganti dengan air berbusa kekuning-kuningan. Tak jalan seperti dongeng anak-anak Peter Pan. igau saya. Harusnya seratus pil seperti yang dikonsumsi Maryln Monroe hingga ajal menjemputnya. “Bangsaaaaaaaat!” Saya tak kuasa menjaganya Air kuning kental itu meluap dari mulut saya. Menunggu. Ternyata datang dari tubuhnya yang berbalut cahaya menengok ke arah ujung lorong yang berlawanan. Saya jentikkan kelingking di pipinya yang bening. Lampaui semua luka ingin cepat-cepat menjangkaunya dan terbang pulang. Menunggu. Melayang lebih jauh lagi ke masa lampau. Lampaui semua beban. Apakah yang sudah saya lakukan? Atau justru apakah tertidur dengan amat tenang. igau saya. Seperti sekarang saya sekarang menunggu satu saat nanti ia mengerti. Entah disengaja untuk menarik perhatian. Ada kegelapan. Kadang saya juga ingin melayang jauh ke masa lampau. Saya akan menjaganya. Semakin terkumpul segala lelah segala penat. Entah ia sudah teler dan lupa sebagai manusia yang merasa disia-siakan. Tapi yang tidak saya lakukan? Sudahkah karenanya ia menjadi korban? Di balik selimutnya ia lebih pasti lagi ia tak kurang tertekan. menyerahkan untuknya menyusu. Menunggu kesadaran saya kembali. “Action!” teriak sutradara. Duduk di samping tempat tidurnya dan memerhatikannya yang saya ambil dan buka. Lima puluh pil penenang saya tenggak. Air jernih di dalam gelas yang dulu ada di atas meja samping tempat tidurnya. Ternyata datang dari tubuhnya yang sama sekali tak berbalut cahaya kecuali melulu kegelapan dan Seperti semasa ia bayi menunggu saya membersihkan puting payudara sebelum luka. menghalau saya supaya tak dekatdekat. Menunggu. Lantas meronta. Tapi ia menggeliat. persis seperti ketika ia baru lahir dengan kedua mata yang masih lengket. Yang sudah pasti telah terjadi perubahan yang membuat saya tertekan. Di gelas itu berdiri sebotol bir merek bintang. Seperti semasa ia balita menunggu saya pulang selepas kerja membawa sedikit uang dan satu kantung plastik berisi sepatu baru. Terkulai lemah seakan menunggu saya menerima ia dalam pelukan saya. kemilau dengan tangan terbuka. menunggu emosi saya pergi. Melayang seperti burung tanpa menyimpan. Menunggu.

Air dapat memelukmu tapi tak akan membelenggumu Air dapat pantulkan cahayamu tapi tak dapat jadikanmu nyata(*) Saya akan menjaganya. Jakarta, 13 Mei 2006 12:24:00 PM Untuk Banyu Bening (*) Cuplikan puisi Air karya Banyu Benin

Saya di Mata
Jenar Mahesa Ayu

Sebagian Orang
Sebagian orang menganggap saya munafik. Sebagian lagi menganggap saya pembual. Sebagian lagi menganggap saya murahan! Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa.

Padahal saya tidak pernah merasa munafik. Tidak pernah merasa membual. Tidak pernah merasa sok gagah. Tidak pernah merasa sakit jiwa. Tidak pernah merasa murahan!

Dan apa yang saya rasa toh tidak membuat mereka berhenti berpikir kalau saya munafik. Berhenti berpikir kalau saya pembual. Berhenti berpikir kalau saya sok gagah. Berhenti berpikir kalau saya sakit jiwa. Berhenti berpikir kalau saya murahan!

saya tidak membual. Kalau saya tidak sok gagah. Kalau saya tidak sakit jiwa. Kalau saya tidak murahan! Tapi penjelasan saya malah semakin membuat mereka yakin kalau saya munafik. Yakin saya murahan!

Sementara saya sudah berusaha mati-matian menjelaskan kalau saya tidak munafik. Kalau

kalau saya pembual. Yakin kalau saya sok gagah. Yakin kalau saya sakit jiwa. Yakin kalau

Maka inilah saya, yang tidak munafik. Yang tidak membual. Yang tidak sok gagah. Yang tidak sakit jiwa. Yang tidak murahan!

Walau sebagian orang tetap menganggap saya munafik. Menganggap saya pembual.

Menganggap saya sok gagah. Menganggap saya sakit jiwa. Menganggap saya murahan! Saya katakan ke banyak orang kalau saya tidak punya pacar. Saya tidak punya kemampuan sekali teman. Ada teman yang setiap pagi menyiapkan air hangat untuk mandi. Ada teman

untuk mencintai seseorang. Tapi bukan berarti saya tidak punya teman. Saya punya banyak makan siang ketika rehat kantor. Ada teman yang menjemput sepulang kantor. Ada teman yang baik. Mereka semua teman-teman yang bisa diandalkan dalam segala hal dan saya

yang menemani nonton. Ada teman yang menemani clubbing. Mereka semua teman-teman yakin saya pun cukup bisa diandalkan sebagai teman. Bukankah sudah sepatutnya begitu Tapi karena teman mengajak, saya merasa tidak enak untuk menolak. Begitu juga halnya dan tidur. Tapi jika ada teman yang mengajak nonton, rasanya saya tidak tega menolak apalagi ia sudah khusus jauh- jauh menjemput ke kantor. Maka saya akan mengiyakan

dalam hubungan pertemanan? Buktinya tidak jarang sebenarnya saya malas makan siang. dengan nonton atau clubbing. Pulang kantor saya sering kelelahan. Inginnya lekas pulang

walaupun belum tentu saya suka dengan film yang kami tonton. Pada saat kami nonton,

tidak jarang pula ponsel saya berdering. Andaikan tidak saya angkat karena tidak sopan menerima telepon di dalam bioskop, tetap saja mereka bisa meninggalkan pesan SMS. saya ingin menerima ajakan mereka. Tapi bagi saya itulah konsekuensi pertemanan. Biasanya minta ditemani ke disko atau sekadar nongkrong di kafe. Sungguh, tidak selalu Apalagi, sekali lagi, mereka adalah teman-teman yang baik. Yang setia menyiapkan air

hangat untuk mandi setiap pagi. Yang setia menemani makan siang. Yang setia menjemput pulang kantor. Yang setia menemani ke disko atau kafe. Yang setia memberikan perhatian dan waktu kapan pun saya butuhkan, walaupun mungkin mereka tidak selalu ingin saya rasakan. mengiyakan, walaupun mungkin mereka sedang kelelahan, sama seperti apa yang sering

Kepada merekalah saya sering menumpahkan segenap perasaan. Kepada merekalah saya

meminta bantuan. Tidak hanya sebatas perhatian dan waktu, tapi juga dari segi finansial.

Kalau saya butuh uang, saya bilang. Kalau saya mau ganti ponsel model terbaru, saya beri tahu. Kalau saya bosan mobil van dan ingin ganti sedan, saya pesan. Padahal karena akan selalu ada yang menjemput dan mengantar, mobil jarang sekali saya gunakan. Kalau saya dapat undangan pesta dan perlu gaun malam lengkap dengan perhiasan, saya utarakan. Kenapa harus sungkan? Toh saya tidak memaksa. Toh mereka ikhlas. Dan yang paling penting adalah mereka memang mampu mengabulkan apa yang saya minta. Saya tidak

paksa mereka khusus menabung untuk saya apalagi sampai suruh mereka merampok bank. saya. Kalau sekali-sekali harus jebol tabungan atau terpaksa mencairkan deposito Saya juga teman yang baik. Saya tidak mau mereka susah hati karena tuntutan-tuntutan

bolehlah… yang penting dananya memang ada. Itu pun bukan masalah yang harus saya besar-besarkan. Bukan sesuatu yang layak untuk membuat saya terharu. Apalagi jatuh cinta?! Saya harus garis bawahi bahwa saya tidak memaksa. Apalagi saya sangat tahu, sangat sadar kalau jumlah dana yang dikeluarkan hanya sepersekian persen dari

keseluruhan harta mereka. Coba bayangkan, kurang pengertian apa saya sebagai teman? Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, tidak jarang saya harus mengorbankan waktu dan tenaga untuk mereka. Mungkin lebih tepat jika saya menggunakan kata

merelakan ketimbang mengorbankan. Walaupun saya agak terganggu, tapi saya rela. Saya Menikmati tiap detail manis yang kami alami. Makan malam di bawah kucuran sinar

melakukannya karena saya mau, bukan karena paksaan. Saya menikmati kebersamaan kami. rembulan dan keredap lilin di atas meja. Percakapan yang mengasyikkan penuh canda dan yang berlanjut dengan ciuman panas membara lantas berakhir dengan rapat tubuh kami

tawa. Sentuhan halus di rambut saya. Kecupan mesra di ke dua mata, hidung, pipi, dan bibir yang basah berkeringat di atas tempat tidur kamar hotel, di dalam mobil, di taman hotel, di yang begitu melelahkan sekaligus menyenangkan. Saat-saat yang selalu membuat jantung saya berdegup lebih kencang dari biasanya. Saat-saat yang selalu membuat aliran darah

toilet umum, di dalam elevator, di atas meja kantor, atau di dalam kamar karaoke. Saat-saat

saya menderas dan naik ke atas kepala. Saat-saat yang selalu membuat saya pulas tertidur

dan mendengkur. Saat-saat yang tidak pantas untuk tidak membuat saya merasa bersyukur.

Namun dari sanalah segalanya berpangkal. Semua yang saya lakukan itu dianggap tidak

benar. Sebagian orang menganggap saya munafik karena tidak pernah mengakui kalau saya punya pacar. Sebagian lagi menganggap saya pembual setiap kali saya bilang hubungan

Banyak terakhiri. Dan karena saya tetap bilang kalau kami benar-benar berteman. Sebagian lagi menganggap saya murahan karena saya bisa ditiduri tanpa harus ada komitmen lagi menganggap saya sakit jiwa karena berteman dengan begitu banyak orang. Kadang ada satu dua kalimat yang terdengar dan sudah cukup bagi saya dan seberapa tebal kantong teman yang saya bawa. Pembicaraan mendadak berhenti. Menyeleksi kartu kredit saat membayar bon tagihan makan. pembual. Hal. Sebagian percintaan bahkan bisa dalam satu hari dengan orang yang berlainan. sebetulnya tidak sepenuhnya benar. Di kantor. Di rumah. maka mulai dari apakah ada pernak-pernik baru yang saya pakai. Saya tidak pernah membohongi. Mereka saling bertukar pesan lewat SMS. Di ini berjam. Mereka bergunjing lewat Mereka saling bertukar pendapat di kafe-kafe. Semua orang merasa sementara teman. Sehingga jika hanyalah kami sudah tidak saling melenguh dan mencabik di atas ranjang. berminggu. Perbuatan yang saya lebih tahu dibanding diri saya sendiri. Sebagian lagi menganggap saya murahan! pembual. atau masih melajang. Mereka sembunyi-sembunyi untuk merangkumnya utuh menjadi satu bagian. Jika teman saya uang. perdebatan pun dimulai dan mereka saling membuktikan pendapat siapa yang paling benar. Mereka saling mengirim surat elektronik. Kebanyakan berkisar pada seberapa indah kami berdua dari ujung rambut hingga ujung kaki seperti serigala kelaparan. Sebagian dari mereka malah sering saya dapati tidak lagi bertegur sapa sama sekali dengan teman lamanya.hal seperti ini yang sering tidak saya temukan pada saling berbagi cerita walaupun jarang. Sebagian lagi menganggap saya sakit dari teman-teman yang tidak ingin berbagi dan pada akhirnya hubungan kami harus Saya tidak bisa mungkiri banyak dari teman-teman yang akhirnya mempertanyakan. atau murahan itu.teman saya semakin banyak. pendapatnya masing-masing dan lebih luar biasa lagi mereka bisa membahas perihal saya telepon. Yang berubah keterbukaan. silih berganti tanpa henti dan ini membuat mereka punya materi yang lebih dari cukup untuk terus mempergunjingkan saya seolah tidak ada hal lain yang lebih pantas untuk diangkat sebagai tema. Beberapa bagian dari mereka itu sibuk dengan jalani dengan penuh kewajaran tiba-tiba berubah menjadi perdebatan. Mereka saling berbisik dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diterjemahkan. Jika teman saya kelihatan indah. berhari-hari. Biasanya itu disebabkan karena hubungan mereka yang sembunyi-sembunyi dengan si A ketahuan oleh si B. Setelah putus dengan si B ternyata . maka dikaitkannyalah dengan seberapa besar saya menguras mereka dengan teori cinta-cintaan. berbulan-bulan.sembunyi bermain mata. Tapi jika ke dua sisi itu tidak ada yang memenuhi standar pergunjingan. Sebagian orang menganggap saya munafik. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah karena mereka berpikir saya tidak mau mengakui kalau sebenarnya saya mencintai seseorang.kami hanya sebatas pertemanan. Tapi tidak satu pun dari mereka yang mendendam karena saya menjunjung tinggi dibilang hubungan kami berakhir. hingga jenis dikaitkannyalah dengan seberapa dahsyat kehebatannya di atas ranjang.jam. Di pertokoan.minggu. Saling bertanya apakah sudah punya pasangan tetap. sok gagah. sebagian orang yang menanggap saya munafik. bertahun-tahun. restoran. Apalagi jika secara kebetulan kami bertemu dalam satu kesempatan dengan bertukar senyum. mulailah kelihatan berkantong tebal. Pandangan mereka menyapu bersih membawa teman baru. Mereka sembunyi. sakit jiwa. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya jiwa. Tapi kami masih menikah. kantong belanja. Mereka sembunyi-sembunyi mengirim pesan SMS. saya tidak pernah akal-akalan.

Kadang saya juga mengalami kesulitan dalam satu hubungan. Tapi saya tetap menghargai sebuah pilihan. Ereksi yang tidak lama kekal. Mendongeng membayar ongkos perawatan. Mungkin jika bukan karena penyakit yang datang tanpa bisa saya larang tidak saya idap sekarang. Malam-malam panjang. Saya hanya heran. darah saya berdesir dan mengisyaratkan satu kenikmatan. Seleksi alam yang akhirnya menjawab apakah kami akhirnya bisa tidak atau Menganggap saya sok gagah. saya tetap tidak berani menganggap mereka munafik. jalan. Pembual. sok gagah. Menganggap saya sakit jiwa. Menemani makan malam. pembual. terima karena saya munafik. Menganggap saya murahan! lanjut berteman. Bercerita tentang film yang baru saja diputar. Alangkah sayangnya sebuah hubungan yang menempuh berbagai aral rintangan itu akhirnya harus kandas di tengah heran. sakit jiwa. Membuat Kontraksi dahsyat di tengah selangkangan. Karena. Sebagian orang merasa kejadian-kejadian seperti itu bertentangan dengan pengenalan. ketika sebagian orang sibuk bergunjing atas akibat yang saya . Sok gagah. ketika saya positif mengidap HIV ternyata saya masih punya banyak teman yang setia menyiapkan air tentang sebuah peristiwa lucu di satu kafe. Murahan! Jakarta. Tapi tetap orang menganggap saya munafik. Tapi walaupun saya Beberapa kali saya bertemu dengan tubuh-tubuh indah yang membuat mata silau. Mungkin jika bukan karena saya tergeletak tak berdaya dan diperlakukan bagai anjing kusta saya hampir beralih dari apa yang selama ini saya percayai dan nikmati dengan hati lapang. Menganggap saya pembual. Sementara buat saya kejadian-kejadian seperti itu hanyalah semata-mata proses cinta semalam. Yang nyatanya berakhir dengan rasa mual. Mengirim makan siang. saya hampir percaya pada pendapat sebagian orang yang tiap bagiannya menyatu menjadi satu pendapat utuh bahwa tindakan saya menyimpang. atau murahan. Dan saat itulah alarm dalam tubuh saya mengisyaratkan segala rencana kencan lanjutan mutlak batal. Reaksi yang membuat waktu berjalan bagai tak berujung pangkal. 20 Agustus 2003 11:35:54 PM hangat untuk bilas badan. Sebagian orang menamakan kejadian-kejadian seperti itu sebagai moral. Sakit jiwa.ketahuan pulalah si A berteman dengan perempuan lain.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful