Gelap, gelap sekali

Aba Marjani Gelap di luar dan hening di dalam. Dengus napas istriku teratur. Lampu tempel sudah menarik selimut melewati dada. Sesekali suara burung malam terdengar di kejauhan. kumatikan. Hanya dingin malam yang menyeruak dari celah dinding bambu membuat aku Barangkali burung hantu yang mencari mangsa, berpindah-pindah dari satu arah ke arah

lain. Tanah huma di pinggir hutan mungkin mengubah kawasan hunian binatang sekitar.

Aku sulit memejamkan mata karena nyamuk kecil yang sering mendengung dengan bunyi yang nyaring, sesekali nyamuk itu menerkam kuping. Malam semakin larut ketika merasakan ada sesuatu yang mengusik gelapnya malam. Beberapa rumah panggung

terdapat di desa yang baru kami bangun, sekitar setahun yang lalu, tanah garapan baru. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya kira-kira lima puluh meter. Gemerisik sesuatu antara belukar semakin mengganggu ketika terdengar ketukan di rumah tetangga. Derap kaki bersepatu berat semakin jelas terdengar disusul dengan gedoran. Ada teriakan kasar. Aku mengintip dari celah dinding, tetapi tidak ada sesuatu yang tampak. Gelap Ada pukulan yang keras membuat teriakan lenyap. Sunyi malam mendekap.

malam memeluk rahasia malam. Teriakan terdengar ketika langkah kaki itu agak menjauh.

Ia membuka matanya dan menggosok kelopak matanya, lalu menjawab, ”Sayup-sayup. Seolah-olah ada sesuatu yang terjadi.”

Kugoyang-goyang tubuh istriku sambil berbisik, ”Kau dengar suara-suara ribut itu?”

”Apa, ya?” kataku seolah-olah berkata kepada diri sendiri. Beberapa menit kami tenggelam dalam hening. Sepanjang malam kami tidak dapat tidur, tak juga berani berbicara atau menduga-duga apa yang terjadi. Rasanya malam merangkak amat lama. Subuh, ada tangisan dari arah tetangga sebelah. Ketika ayam berkokok, aku memberanikan diri turun tangga rumah, dan bergegas ke rumah sebelah.

Beberapa orang tetangga lain sudah ada di situ. Aku bergabung dengan mereka. ”Ada apa?” kataku. Seorang kepala dusun yang kami angkat sendiri malah balik bertanya, ”Tidakkah Saudara dengar peristiwa tadi dalam?”

”Ya, kudengar langkah kaki, gedoran dan orang berteriak karena dipukul. Aku tidak berani keluar. Sepanjang malam aku dilanda rasa takut,” kataku.

Tarmin, kepala dusun itu, kemudian berkata, ”Suami ibu ini tadi malam diculik orang, juga Turman yang tinggal di ujung dusun.” ”Oleh siapa?” tanyaku. ”Belum tahu.” Tangis ibu Saleh tak henti- henti. Kepala dusun pagi sekali menghubungi ketiga belas keluarga yang tinggal di perhumaan itu. hilang pada malam itu. Saleh dan Turman. Saleh si pendiam namun mudah menolong orang. Turman si pemberani yang mendorong kami memulai menggarap tanah di pinggir hutan itu. Menurut kami, kedua orang itu adalah teladan dalam segala hal. Kami berkumpul di rumahnya. Yang hadir hanya sebelas kepala keluarga. Dua orang yang

Kurang lebih setahun sebelumnya, kami membuka ladang baru, tanah huma. Jauh dari

kampung halaman kami. Jarak kampung halaman kami lebih seratus kilometer, dan untuk sementara kami meninggalkan anak-anak bersama kakek-nenek di tanah leluhur yang sudah sesak penduduk.

Sebagai ladang baru, hasilnya lumayan. Tanah huma membuat tanaman subur, pada panen pertama tentunya. Kami memasuki tahun kedua dalam suasana dusun yang tenang. Rasa persahabatan dan kekeluargaan lebih menonjol daripada sikap bersaing. Kami mengalami

nasib yang sama di tanah leluhur yang semakin sempit karena pertambahan penduduk. Rasa persaudaraan yang tinggi terbentuk karena penderitaan yang sama, dan memiliki harapan yang sama. Mengubah nasib. Walaupun di ladang yang sangat bergantung kepada kemurahan alam, hujan.

Pertemuan hari itu sarat dengan usul cara menjaga keamanan dusun. ”Tapi penculikan ini, melihat dari jejak kaki,” kata Sahir, ”rasanya adalah jejak kaki orang bersenjata api.”

Yang lain-lain terdiam. ”Jangan-jangan ketika kita jaga malam, justru dengan lebih mudah diculik satu demi satu,” katanya melanjutkan.

Seminggu kemudian, dalam kantuk yang penat, menjelang subuh aku tertidur lelap. Baru didobrak dari luar. Dalam sekejap beberapa sosok tubuh merangsek ke dalam membuat jerembab. Beberapa tangan yang kokoh menarik kedua tangan dan kakiku. Aku diseret belakang. Mulutku dibekap dengan sepotong kain. Dalam gigitan malam yang dingin

saja beberapa menit terlelap, aku mendengar pintu digedor dan tiba-tiba menganga karena

istriku tiba- tiba menjerit. Tamparan di mukanya membuatnya terhuyung dan diam dalam

dalam kegelapan malam. Mereka menggelandang tubuhku dan mengikat kedua tanganku ke menyengat, mereka melemparkan tubuhku ke dalam sebuah truk yang menunggu di tepi bersentuhan dengan kakiku.

jalan. Aku merintih kesakitan. Kutahu ada orang lain di dalam truk itu karena kaki mereka

Sebelum kabut meninggalkan malam, truk berhenti di sebuah tempat. Kudengar suara-

suara orang yang berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti. Aku diturunkan dari truk antara mereka yang kukenal.

bersama sembilan orang lainnya yang tampaknya senasib denganku. Tidak seorang pun dari

Kami digiring ke sebuah rumah gedung tua yang tampak kokoh dari luar. Ada penjaga

bersenjata di segala sudut. Di sebuah ruangan satu demi satu kami diempaskan ke lantai. siang seorang berwajah garang duduk di belakang meja reyot, dan kami duduk di kursi rotan di hadapannya. Satu demi satu kami ditanyai: nama, keluarga, alamat, asal-usul, jenis pertanyaan yang aku sendiri tidak mengerti.

Ikatan tangan kami dilepaskan satu demi satu. Nyeri rasa luka di bekas ikatan itu. Menjelang

pekerjaan, sejak kapan masuk organisasi politik, siapa pemimpinnya, dan macam-macam

Sore itu perut diisi dengan beberapa potong ubi rebus. Tengah malam, ketika perut masih keroncongan, namaku dipanggil dari kamar berukuran tiga kali empat meter yang dihuni dua belas orang. Aku berdiri dan menuju ke sebuah ruangan. Dari ruangan lain kudengar ia tuduh aku masuk gerakan tutup mulut (GTM). Ia lalu berdiri di belakangku dan lehermu!”

jeritan orang dipukul. Aku duduk dan tidak dapat menjawab pertanyaan interogator itu. Lalu memegang dagu dan kepalaku, mencoba memutar leherku. ”Jawab! Atau kupatahkan

Aku diam saja. Kemudian ia melepaskan kedua tangannya, tapi menohok punggungku membuat aku jatuh pingsan. Ketika aku tersadar, aku sudah berada di tengah-tengah kawan seselku. Mereka mengoles punggungku dengan minyak kelapa. Aku belum mampu sedikit melegakan rasa sakitku.

memusatkan pikiran untuk mendengar apa yang dikatakan mereka. Jamahan tangan mereka

hampir semua lelaki di dusunku sudah ”diangkat” dan kaum perempuan melarikan diri ke kembali, diganti dengan tahanan baru, sampai pada akhirnya aku sendiri pun dipanggil bersama beberapa orang yang dahulu ditangkap bersamaku. orang tua mereka masing-masing. Beberapa kawan seselku ”pergi” dan tidak pernah

Sebulan kemudian aku mendengar secara sembunyi-sembunyi dari sesama tahanan bahwa

Menurut pengawal yang melemparkan kami ke dalam truk, kami akan dipindahkan ke

tempat yang lebih nyaman, tenteram, pembebasan. Karena ia mengatakannya dengan

senyuman dengan mata mengejek, yakinlah aku bahwa inilah hari akhir dalam kehidupanku. bagai paku tipis yang karatan mungkinkah dibebaskan ke tempat yang nyaman dan Wajah anak- anakku, istriku, melintas silih berganti di benakku. Tubuh-tubuh yang kurus

tenteram? Aku tidak tahu dosa apa yang membuat aku harus mengalami derita seperti ini. keluar dari mulutku. Pernah aku berpapasan dengan seorang interogator yang rasanya

Sampai bulan-bulan terakhir aku hendak di-”bebaskan” tidak ada pengakuan apa pun yang

pernah kukenal dan memalingkan wajah daripadaku ketika sekilas bertatap mata. Diakah orang ingin mencari selamat sendiri.

biang keladi dari derita lelaki dari dusunku? Ah, tidak berani aku berburuk sangka. Semua

aku menyaksikan pedang yang berayun semakin melemah. menyusuri tepi sungai dengan Dengan pakaian yang basah-kuyup dan langkah yang goyah. Semuanya gelap gulita! dengan kisah gelap. Selang beberapa menit membungkuk dan terjun ke dalam sungai. banyak batunya. Kami semua diturunkan dan berjalan satu demi satu menuju tengah jembatan. ”Tuhan. pastilah manusia pun bisa. aku dapat sebuah jembatan yang besar dan panjang. Dan cap dalam keluarga. aku semakin menepi batu-batu. menyaksikan celah antara kegelapan dan remang-remang malam. Ada lengkingan dan bunyi kepala ya berdebuk ke dalam sungai yang depan disuruh berhenti di pinggir jembatan. anak-anak akan telantar. Aku menduga. Gelap dalam sel. Di kejauhan ada deru kendaraan yang semakin keyakinan bahwa lambat atau cepat pasti di sekitar alur sungai ada kampung terpencil. mereka termasuk turunan yang dianggap kutuk bagi bangsa ini. Karena telah terbiasa di dalam kegelapan malam dan siang. Gelap dalam pertanyaan yang tak kunjung berjawab. sampai aku mampu berpijak di dasar sungai dan berjalan sambil merangkak menyusuri menambah perihnya goresan tali. Di dalam alun arus. Kami benar. Beberapa menit kemudian aku muncul ke permukaan sementara arus terus membawa aku hanyut. Aku merangkak ke tepi sungai dan mencoba lama semakin hilang. Pisang monyet. istriku dalam kesetiaannya harus Tiba-tiba hatiku menjerit. Bahasa batin Aku berjalan di barisan paling akhir dari lima belas orang. merunduk rendah. Aku memanjatnya. yang dapat kutempuh. sampai giliranku pun tiba. Berjam-jam aku berjalan dalam keremangan gelap malam. ”Ayo. Kulepaskan ikatan tangan dengan susah-payah. Dalam detik yang sama aku mengalir deras disusul gedebuk tubuh yang terempas ke dalam air. Tiba-tiba sekelebat pedang yang terayun suara yang sama bergenta. dalam sunyi air yang mengalir. Dalam kepergian malam. Buah yang matang tapi ketika kukunyah.banting tulang memberi makan mereka. Bayangan dalam benakku. Truk berhenti di mulut Berjam-jam kami yang ada di dalam truk diam dalam bahasa hati kami sendiri. Tidak ada. Aku berterima kasih kepada Tuhan . Orang yang berada di barisan menebas lehernya. Aku berdiri dan melihat pedang yang dientakkan. kemudian tali dari kaki. lindungilah mereka!” Tendangan di pantatku menyadarkan aku. Ikatan tangan yang telah kukendurkan dan ikatan tali di kaki yang merenggang membuat aku menyelam lebih mudah bergerak dalam kedalaman dan arus sungai. Di tepi sungai ada pisang yang sedang berbuah.benar menjadi warga kegelapan. aku berjalan sejauh-jauh jarak Matahari mulai muncul di celah gunung. Tidak jauh dari sana ada durian belanda. dalam remang gelap. dan mengambil buah yang ranum. di sisi jembatan bagian tengah yang rusak penahannya. bila monyet pun bisa makan buah pisang monyet. Aku tidak tahu di daerah mana aku berada. naik! Naik! Naik!” Truk menggelegar memecah kegelapan malam. Air yang dingin mendengarkan langkah kaki.

Dan di sanalah aku merajut nasibku juga. Setelah kekuatanku pulih. Mereka mempersilakan aku sarapan pagi dengan pisang rebus. Aku membantunya di ladang karena aku jauh lebih muda dari mereka. yang sudah berumur membuka pintu. Aku Kukira gubuk itu milik pemilik ladang di situ. Bandung. di seberang ada laut. kukirim upahku. menyongsong matahari yang terbit. aku menghitungnya. Kuketuk pintunya. 21 Agustus 2009 . Kedua orang tua itu mengangguk-angguk mengerti. aku tidur dan malam melaut bersama nelayan. Ada mata air di situ. sekalipun laut tetap bergelora! Laut mengajariku untuk tabah. Rasanya aku berminggu. menjual ikan ke seberang. iklim politik pun berubah. Setelah berbulan-bulan. Ia terkejut melihatku. Tanpa Mereka hanya peduli pusaran arus laut. Malam-malam berbintang. aku tidak bisa berlama-lama dengan mereka. Sesekali aku mencari tahu keberadaan istriku dari orang yang sebahasa denganku. aku berjalan dan berjalan. bahwa bumi ini kaya dengan kemurahan-Nya. Aku pun terkejut melihatnya. dan pelarianku. aku Bertahun-tahun aku menjadi kuli pelabuhan atau ikut nelayan pada malam hari. dan mengirimkan upah yang kuperoleh. Sampai berpuluh tahun kemudian. kepada anak-anakku. Setelah tubuhku pulih betul aku pamit dan mendaki gunung menuju ke tanah seberang. Dari wajah mereka kulihat rasa terkejut. alamat. Kiriman berikutnya tidak dapat kulakukan karena pada suatu hari aku berpapasan dengan cepat-cepat menghilang. Seorang lelaki tua dan ibu memperkenalkan diri dan memberitahukan tentang diriku yang sebenarnya. tepatnya sebuah lembah yang landai. Siang hari mendapat informasi mengenai alamat mereka. aku menemukan sebuah gubuk. atau kalau musim ombak. karena aku bersama bintang di laut dengan pelaut yang tidak peduli pusaran politik. yang tergenang dan bening.minggu bersama mereka. Aku bulan di laut. Alam keras membuat mereka hidup.mereguk air dari pinggir sungai. masuk tongkang yang hendak berlayar berbulan- kapan akan berakhir. seorang bekas interogatorku. Hari-hari pelarianku yang tidak kutahu Sepuluh tahun? Dari beberapa pelabuhan. Kukeringkan pakaianku di atas batu dan Di kaki gunung. Akan tetapi. Kata orang tua itu. Pergi ke laut. menjadi kuli pelabuhan bagi tongkang dan kapal yang merapat malam.

Hujan masih saja lebat. Dalam badai perempuan yang tidak cantik tapi juga tak bisa disebut jelek. “Mau pulang?” laki-laki itu bertanya. Buru-buru kuucapkan terima kasih seraya berpilin-pilin menjadi satu untuk kemudian hilang menyatu dengan putihnya tempias hujan. Tubuh terbakar hangus seketika. Terlintas dalam benakku bagaimana jadinya jika aku disambar petir. Gosong. Aku bersidakep menahan dingin. Khawatir juga kalau-kalau ia ingin mencari kehangatan bersamaku. “Aku salah turun. Tanpa menoleh ke arahku. mungkin aku sudah sampai di rumah. berikutnya? Kalau tidak melakukan tindakan tolol ini. Aku bersiaga. Betapa bodoh dan tololnya aku. mungkin juga aku sudah berada di tempat tidur bersama istriku. Di dompetku cuma ada tiga lembar uang lima ribuan. Halilintar bersahut-sahutan tiada henti bagai Pasrah oleh jilatan tempias hujan atau sesekali cipratan air yang dilindas ban-ban mobil. Kurogoh saku celana sebelah kanan untuk mengambil korek api lalu kuberikan kepadanya. Kuambil satu. Rasa sesal dan kesal menyeruak dalam dadaku. Angin berkesiur liar kian kemari. “Dulu. Dalam dingin apa saja bisa terjadi di tempat tidur. Atau tiba tiba air bah datang dan menghanyutkan tubuhku seperti sepotong kayu. mungkin aku sudah duduk sembari ngopi ditemani istriku di sebuah gubuk tempat kami mengontrak selama ini. Kalau tidak. laki-laki mengambil bungkus rokok milikku dari saku belakang celana. Agak mletot karena terduduki.” aku sengaja berbohong. Sebatang rokok siap dinyalakan. Bukankah aku seharusnya turun di dua halte ingin membelah dunia. Kedinginan di halte bus senja itu aku merasa benar-benar kecil. Kilat menjilat sambungmenyambung seperti ingin membakar langit. . Aku berdehem. Seharusnya di dua halte berikutnya. Setelah menyulut rokoknya. Ia tak mungkin merampok aku karena tak ada sesuatu pun yang bisa dirampasnya dari aku.Sukro dan Sukra Oleh Adek Alwi Langit kelam dan senja lebam dalam guyuran hujan lebat. petir seperti ini. Angin masih berkesiur. “Punya korek?” ia menyergapku sebelum aku sempat menggeser. Masih tersisa dua batang.” kataku sembari menatap ke jalan. Sesaat kemudian asap rokok kami sudah itu menyodorkan bungkus rokoknya kepadaku. “Bekerja di mana?” laki laki itu melanjutkan setelah melepas asap rokoknya untuk kesekian kali. Genangan air mulai meninggi. Di sebuah kantor. Senja makin lebam. seorang Seorang laki-laki sepantaran aku yang sejak tadi berdiri agak jauh mendekat.

Dalam remang kulihat wajah pasrahnya. Agak tinggi. menikah dengan seorang juragan beras. Laki-laki itu tiba-tiba terbahak. Mata dan pipi cekung.” aku. Mereka pasti tidak jadi jatuh miskin. Sukra tertawa. Tapi itu tidak penting. Aku terlalu pengecut untuk melakukan perbuatan penuh risiko itu. pulang membawa uang. dan dua sepeda motor. Hidupnya Merampok? Ah. yang hasil korupsi. Kakaknya. Aku kaget. Malamnya. Perusahaan hampir pailit karena kelebihan karyawan. Tak ada gunanya.” Tak kuceritakan pertemuan tak terduga dengan Sukra itu kepada istriku. Suaranya nyaris tak terdengar karena hujan begitu lebat. Tubuhnya hampir tak berbeda dengan “Kerja apa?” aku bertanya sembari menggaruk-garuk dahi untuk menyembunyikan perasaan gembiraku. Tak jelas mengapa ia tertawa. Di antara empat saudaranya. Yang penting kau mau bekerja sama. Adiknya. Uang mereka pun belum tentu uang halal. Rambut mulai banyak ditumbuhi uban. Meski cuma lima belas ribuan. laki laki. Apa saja. aku jadi tak bisa tidur. Yang penting bisa makan. terus terngiang ajakan Sukra. Uang mereka banyak.” Setelah itu kami jadi lebih akrab. seorang wanita. bekerja di sebuah perusahaan cukup besar. menikah dengan seorang polisi. Agak gondrong. Sekarang nganggur. Yang pasti. Dan hujan tiris. “Kenalkan dulu. “Nama kita hampir sama ya.“Tapi aku dipecat. hidupnyalah yang paling susah. Ketika aku akhirnya melangkah meninggalkan halte bus itu. Baginya yang penting aku menggodaku. macam-macamlah. Banyak sekali. meski dingin menyungkup. Kita ambil Karena umumnya orang kaya pun perampok. tak mungkin kulakukan pekerjaan itu.” “Sukro. Ajakan laki laki itu terus Lagi pula istriku selama ini tak pernah mau tahu apa pekerjaanku. Seperti hari ini. Gelisah saja. ada yang curang dalam berdagang.” katanya getas. Bagaimana kalau yang punya rumah terbangun? Lalu . Malah yang paling makmur. aku bisa bantu. Hidung mancung. Aku jadi korban. Ada barang sedikit dari mereka. “Kita merampok. Kerja serabutan. Kadang-kadang kasihan juga aku melihat wanita ini. Istriku di sebelahku sudah terlelap. Agak kurus.” Laki laki itu tertawa kecil. Ia memiliki sebuah mobil juga tak kelihatan susah. sementara order menurun. “Namaku Sukra. Untuk pertama kali aku menoleh ke arah laki-laki itu.” kata laki-laki itu kemudian. Aneh juga.” aku menyebut namaku. “Kalau mau. Si bungsu. Kami ngobrol hingga senja hilang dan sinar merkuri mulai memunculkan siluet. “Kita merampok orang kaya. Entah di bagian mana. perempuan. “Atau tepatnya mungkin kau bisa membantu aku. hidupnya tak pernah kelihatan susah.” ujarnya seraya menyodorkan tangan.

perut bumi kulakukan dengan setengah tenaga. ia ikut memesan makanan. misalnya. tugasku memasang pompa air.” “Pekerjaan itu cuma merusak bangsa sendiri. orang lain yang mengambil alih. Hari itu.” “Jadi apa?” “Aku punya tamu. langsung duduk di sebelahku.” jawabku sinis. Kalau tidak. Ia “Oya. kalau kau mau. “Jadi pengedar. Upahmu seratus ribu untuk setiap satu disebutnya nama sebuah hotel tempat di mana aku bisa menemuinya. “Kalau kau mau. Ada ekstasi. Sudir. “Kalau kau takut merampok. nanti malam. Sama saja. Sukra mengakak. Itu kalau kau mau. Aku diam saja. Bukan jadi pengedar. Kro. Bisa juga dibakar massa. “Untuk apa kau bekerja keras kalau sebenarnya ada pekerjaan lain yang jauh asap rokoknya. “Diajak merampok enggak mau. Mereka butuh teman wanita. jadi pengedar enggak mau. ganja. Apa salahnya justru kita yang mengambil kesempatan itu. Sukra mengakak lagi. Sukra muncul lagi di hari ketiga ketika aku makan siang di sebuah warung Tegal. Jadi maumu apa?” Sukra berkata kepadaku. Ini tanpa risiko. aku ada pekerjaan untukmu. Sukro. Bukan merampok. lebih ringan dengan penghasilan yang jauh lebih besar.terjadi perkelahian.” Sukra membanting rokoknya. Lima turis Jepang. Lalu aku terluka. atau apa saja yang dibutuhkan konsumen. Esoknya aku bekerja tanpa gairah. sampai jengkel karena setiap kali mengangkat pipa yang akan ditancapkan ke Kubilang badanku kurang enak. aku bisa memberimu pekerjaan lainnya. perempuan. Sukra!” aku membentak. Semilir angin membelai dan menyejukkanku. Tanpa basa-basi kepadaku. Lalu beranjak pergi dengan membawa derai tawanya. Ada Selamanya miskin.” kata Sukra sembari mengepulkan “Merampok itu bukan pekerjaan ringan. Kra.” “Kesempatan merusak orang lain? Merusak bangsa sendiri?” “Sudahlah kalau kau memang tak tertarik. Sebentar-sebentar aku juga minta istirahat. Aku diam saja.” banyak pilihan pekerjaan. Agak berbisik. sabu-sabu. teman sekerjaku.” kata Sukra. Sukra tiba-tiba muncul lagi ketika aku sedang duduk berteduh dengan seplastik air dingin di tanganku. “Kalau bukan kita yang melakukannya. Lalu . Bisa kau carikan? Bayarannya besar. Atau bagaimana kalau aku tertangkap warga? Bisa babak belur. selamanya hidupmu susah.” Sukra meneruskan kalimatnya. Mereka mau ke Bali besok sore. Kau bisa cari di banyak tempat di Jakarta ini.

“Itu pekerjaan haram. Dan mereka pun mungkin pas-pasan. “Kau tolak Di bawah pohon mahoni yang daunnya meneduhkan dan menyejukkan itu kami kemudian duduk berdua di dua buah batu besar. Mendengar celoteh Sukra. “Tenang dulu. Jadi. Itu beberapa jam saja kau sudah bisa mengantongi uang lima ratus ribu. kalau kau ambil pekerjaan yang kutawarkan ini. Kro! Mau ke mana kau? Baiklah Tentang apa saja. memepet Sukra. Jadi makelar wanita. Tak enak juga mengepulkan asap rokok di tempat kecil itu dan di sana ada “Sudah lama kau bekerja seperti sekarang?” Sukra memulai lagi percakapan. Hanya cukup untuk makan. “Aku punya tawaran pekerjaan lain yang sangat menyenangkan. Merampok. “Haram? Ya. Sukro.” Dengan perasaan agak jengkel aku terpaksa duduk lagi.” Sukra memulai serangannya. Setiap hari kau bekerja keras. kau juga berotot.” kataku singkat membuat Sukra tertawa. “Maaf.” Selepas makan. Sebelum sempat kunyalakan. Tapi setidaknya kita bisa ngobrol-ngobrol.” membutuhkan wanita-wanita penghibur. mungkin kau benar. Apalagi kalau sedikit kau rawat. Ia mengakak seperti biasanya seraya kalau kau tak mau menerima tawaranku. Aku sebenarnya ingin buru-buru berpisah lebih baik. kau tak perlu bekerja setiap hari atau setiap malam.” katanya meyakinkanku. Secara fisik kau juga mungkin akan mendapatkan kenikmatan selain juga menerima bayaran yang sangat sepadan. seorang perempuan setengah baya duduk di sebelah kiriku. Sukra membawaku ke sebuah tempat di bawah pohon mahoni di seberang darinya. Tapi.” sahutku ogah ogahan. meraih tanganku. Siapa tahu kau tertarik. warung Tegal tempat kami barusan makan. Sukra tertawa kecil. cobalah berpikir sedikit lebih rasional. Kau hanya bekerja bila tenagamu benar-benar . dalam banyak dibandingkan apa yang sudah kau peroleh selama ini. Sebagai pekerja kasar. Menahanku dengan paksa. Berhadap-hadapan. Setiap pekan aku pasti punya tamu orang asing. Apalagi kalau pekerjaanmu bagus. Lagi pula. Ia baru akan membiarkan aku pergi setelah mendengar tawarannya. “Sudah kubilang setelah dipecat dari sebuah perusahaan. Jadi pengedar. “Wajahmu cukup ganteng. Untuk hasil yang pasti tak sepadan. aku lupa. Kurasa pekerjaan ini cocok untukmu. Aku cuma terdiam. tempat di mana aku bisa menjejalkan makanan ke perutku sampai kenyang hanya dengan uang lima ribuan. Tapi sebaiknya kau dengarkan dulu. Kini entah apa lagi yang akan ia tembakkan dan cekokkan kepadaku di warung Tegal yang kecil dan pengap itu. Dan muda. setiap pekan kau bisa membawa pulang lebih Buru-buru kutinggalkan Sukra di warung Tegal itu. Aku mengambil sebatang rokok. Terpaksa aku menggeser sedikit. Tapi ia bilang masih ada satu peluang bagiku untuk mengubah hidupku menjadi pun tak apa. Rokok tak seorang perempuan. Tentang hidup enak dengan jalan pintas. Nah. jadi kunyalakan. Tak begitu berat.

Aku terbangun. atau yang pria saja. “Tunggu!” “Tidak! Tidak! Tidak! Kau setan! Bukan malaikat!” aku berteriak. Ia tak suka wanita. Janda. Kaya. “yang kedua adalah seorang pria. Tidak setiap hari juga. bisa juga dia mengajakmu ke luar negeri. Mas?” istriku mengguncang-guncang tubuhku. Sampai terengah engah. “Mengapa bukan kau “Kro. Sekarang aku mau berbagi denganmu. Sukro. Ia masih membujang.” pernah kutawarkan kepadamu itu sudah kulakoni. Tetap belum dapat kutebak ke mana arah bicaranya. engah. Tergantung kebutuhannya. Mungkin juga seminggu seberapa banyak kau bekerja. Aku menggeleng. Aku mau menolongmu. Yang pertama seorang wanita setengah baya. Sebelum atau sesudah menunaikan tugasmu. “Aku punya dua klien. Masih terengah- . Dan. Ia menyukai sesama jenis. sekali. Boleh juga kedua-duanya sekaligus kalau kau mau dan mampu. Sukra tertawa. Mungkin dua kali seminggu. Sukra melanjutkan. kau bisa ambil klienku yang wanita saja. Nah.” Aku masih saja bungkam. Lalu kulihat diriku pada cermin di kamarku.dibutuhkan. Desember 2006 “Ada apa. Atau. Perigi. Aku malaikat penolongmu. Tanpa menoleh. Itu “Aku tidak tertarik. Kuteguk air putih untuk menenangkan diri. Dan lari. Kau bahkan tetap menerima gaji andai klienku ini ke luar negeri dan kau tak bekerja dalam sebulan. Gajimu pun jadi dua kali lipat?? saja yang melakoninya?” “Kedua-duanya pekerjaan haram. Semua pekerjaan yang saja.” berkata begitu. Tapi gajimu tetap tiap bulan. “Sukro!” Sukra berteriak. Tidak tergantung pada Kesepian. aku buru-buru meninggalkan Sukra.” Sebelum aku berkata-kata.” aku berkata ketus. Kunyalakan lampu kamar. Usianya mungkin dua atau tiga tahun lebih tua darimu. Tanah Kusir. Cantik. Di cermin itu kulihat wajah Sukro. “Kau tahu pekerjaan apa yang aku maksud?” Sukra seperti memaksa aku bicara setelah terus-menerus diam mendengarkan. Kau bisa bekerja untuknya. kau juga bisa bekerja untuknya. kau bisa tetap berkumpul bersama istrimu.

Itulah sebabnya disembunyikannya.Mawar di Tiang Gantungan Oleh: Agus Noer Kuceritakan apa yang kulihat. Namanya Sebulan setelah melahirkannya. Aku bisa melihat pepohonan yang ungu. untuk kesekian kali. Kadang tampak ganjil . dua tahi lalat kecil di punggungnya. betapa aku bisa melihat langit yang hijau lembut dan halus seperti permukaan agar-agar. juga angin yang pucat kelabu. Aku bahkan bisa menyentuhnya dengan ujung-ujung jemariku. ia selalu muncul kau menyebutnya pelacur. Bisa kulihat hamparan rumput yang biru bagai beludru. Aku memang tak punya mata. butiran hujan yang bening keemasan hingga segalanya jadi tampak megah bekilauan setiap kali ia ditumpahkan. masa lalunya yang penuh kesedihan. olehku yang buta. Kuceritakan penglihatanku. kuceritakan pada kalian apa yang kusaksikan. karena aku buta. Dia lahir saat hujan turun begitu lebat jam sembilan pagi. Saat pertama kali melihatnya. aku langsung tahu. Juga hari paling nestapa dalam hidupnya yang bakal tiba. suaminya. Tapi kalian mengatakan aku dusta. ”Aku cuman perlu memberi sedikit kesenangan pada para petugas itu. suaminya yang minggat. ibunya gila karena guna-guna istri muda simpanan dengan gaun yang mengundang. Aku bisa melihat semua yang hendak petak kontrakannya di pinggiran kota sana. tak ada yang tak terlihat aku menyukainya sejak pertama. Seperti malam-malam sebelumnya. seperti menyentuh kelembutan sutra yang berkibaran. Aku melihatnya di pinggir jalan itu. ia memilih menyendiri. Aku tahu bagaimana caranya mengatasi. berdiri menunggu seseorang datang. Aku bisa melihat segala yang tidak mampu kau pandang dengan sepasang matamu. Sungguh. 28 tahun lebih enam hari. Sementara para pelacur lain berkeliaran sambil cekikikan genit setiap ada laki-laki muncul. Bilur jejak luka di tubuhnya.” katanya. kakinya jenjang. Tapi ia hanya tertawa. dan Mawar. daun-daunnya yang kemerahan.” Ia sebenarnya tak terlalu suka bicara. dua anaknya yang sakit-sakitan di rumah ”Kenapa mesti takut? Berkali-kali aku kena garuk. Namun berapa kali mesti kukatakan pada kalian. bayangbayang yang putih dan memanjang. Baiklah. gugusan awan merah muda. Aku melihat garis pedih dan hitam. Ia seperti dikutuk kecantikannya.

ketika aku lahir dan menatap dunia.” ”Bila kau tak punya mata. Digerogoti kusta. Seorang anak kedua kakinya menampung para pengemis. kau akan melihat banyak rahasia.juga melihat sosoknya di jalanan merah remang ini. kenapa buta?” Ia sayu menatapku. Anak ini akan membuat orang tak sungkan-sungkan melemparkan receh mereka. . Tapi kau akan Lalu kukatakan pada malaikat itu. Aku senang sekali ketika sepasang sepasang mata yang indah. Seorang pemulung menemukanku di tempat pembuangan sampah. bila aku bisa melihat tanpanya?” Lalu mereka menyimpan sepasang mata itu. Seperti tanah liat yang mulai terbentuk. kemudian menjualku pada seseorang yang langka paling berharga. dan ia bergidik ngeri. dan tak pernah mau menatapku. dan karenanya bisa menghasilkan banyak uang setiap mengemis. Pernah ia cerita tentang pelacur tua yang matanya menjadi buta karena rajasinga. Tentu. kami akan menaruh matamu ini di surga. Aku bahkan tak pernah tahu namanya.” ”Kalau begitu. kau bisa menduga. Ia begitu membenciku.” Tentu. Seorang anak tampak begitu idiot dengan air liur kental bacin yang terus tinggal banyak anak-anak yang bagai barang rongsokan. Perot. ”Dan kamu. ”Baiklah. ”Mata ini akan membuatmu jelita. ia seperti menemukan barang berleleran.” Di rumah itu pengkor. Melihatku yang tak punya mata.” Lalu aku pun bercerita padanya. Aku memang memilih tak punya mata. Jileng. perempuan itu langsung meraung ketika tahu anaknya tak punya mata. orang-orang lebih suka cepat-cepat memberi uang recehan mereka dan bergegas pergi ketimbang berlamalama bersitatap denganku.” dan kaki pada tubuhku. kamu bisa kembali mengambilnya. disematkannya tangan malaikat itu mulai memberiku telinga mulut dan hidung. Ketika sepasang malaikat membawa ruhku turun dari langit. Siapa yang tahan memandang wajah dengan sepasang liang hitam menganga? Sengaja kubuka kelopak mataku. Kelak. Kemudian ditiupkan ruhku pada rahim perempuan yang akan menjadi ibuku. dan berkata. buat apa aku punya mata. ”Aku tak buta. diberinya aku degup jantung. Tapi itu membuatku jadi bisa sering mengajaknya bercakap. mereka bergantian membisikkan nasib yang akan kujalani. Bahkan seorang bocah yang tampak manis sengaja diiris telinganya dan dibiarkan jadi borok agar terlihat menyedihkan. Aku tahu. Ia membuangku. ”Biarlah aku tak punya mata saja. Kemudian ditunjukkan padaku menderita karenanya. Ada yang bongkok. aku menjadi yang paling menyedihkan di antara mereka. ”Anak ini akan membuat ibu siapa pun yang menatapnya. Ada yang gagu.

aku bisa melihatnya. Sebagian pelacur telah pergi. aku rebahan di tumpukan kulihat beberapa pelacur bergegas menyingkir. cahaya seperti lumer di sela jariku. Aku seperti mendengar lecut petir. dan angin yang buruk seperti kaleng rombeng yang bergerompyangan trotoar. Aku bisa melihat lelehan sisa arak di mulut petugas-petugas itu. Ia suka setiap aku menceritakan yang kulihat. Aku bisa melihat suara kucing yang mengeong di atap rumah ujung jalan itu.” katanya. aku bisa melihatnya mengembang dan mengerut seperti gumpalan kabut. Barangkali ia pun merasakan firasat itu. Mereka seperti pelacur-pelacur kesepian Sejak itu aku sering menemaninya. tapi petugas yang lain segera berteriak. Di pojokan toko. ”Bukannya aku tak percaya. Ia terus tertawa. yang kusaksikan membuatnya terpesona. kukira memang bukan pemandangan yang menyenangkan. Tetapi para petugas sudah menabrak-nabrak dinding. Arak yang mengepungnya. meliuk merunduk. menggeliat bosan yang menunggu pelanggan dan sentuhan…” Dia tertawa. Hujan yang biru pekat membuat jalanan menggigil. Aku tahu ia mulai nyaman di dekatku. tapi tak percaya.”Lihat. Aku bisa melihat kota ini seperti bola bekel raksasa Aku bisa melihat menara jam di tengah kota bergumam muram tengah malam. Lepas 3 dini hari. Aku tahu menyeringai tertawa. betapa setiap suara punya warna yang berbedabeda. Aku bahkan nyaris dicekiknya. Ia pun hendak lari. kalau kau tak punya mata?” ”Aku melihat dengan mata yang tak kau punyai. kemudian yang lembek. bahkan aku bisa melihat tawamu yang ungu kebiru-biruan memuai di udara. Dunia memang tak menuduhku berdusta. Ia Aku ingat betul malam itu ia terlihat lebih sedih dan gelisah. Lalu kukatakan apa yang bakal menimpanya. Kutegaskan padanya. Mungkin saat itu aku berteriak. Seorang pelacur cantik duduk bersama perempuan tua buta. ”Kau menyenangkan. Kau mendengar suara.” Aku bisa memahami perasaannya. ”Biarkan! Dia cuma perempuan buta itu!” . Mobil patroli yang mendadak muncul membuat semuanya kocar-kacir. Seorang memukulku yang mencoba menolong Mawar. kau pun takut menatapku. tetapi tetap bersikeras tak mempercayainya. Pandanglah ujung gang yang kelabu itu. Aku bisa melihat seekor kelabang mendekam di balik batu itu. ketika beringas dari biasanya.” Ia kembali tertawa. Itulah sebabnya mereka menjadi lebih mereka barusan menenggak berbotol-botol arak sebelum sampai ke sini. Aku melihat aroma pekat kecoklatan napas mereka ketika memadamkan sepi dan membangkitkan birahi. terkurung etalase toko-toko sepanjang jalan ini. Tapi dengan apa kau melihat. aku bisa menyentuhnya dengan tanganku. Aku bisa melihat maneken-maneken yang berkedip. Ia bisa kehilangan pelanggan. Semuanya berlangsung begitu cepat. Ia berteduh di kardus memandangi bayangan takdir paling getir. Caramu bercerita membuatku tak tertalu kesepian. rambutnya basah tertempias hujan. ”Lihatlah. Mungkin tidak.

Lalu kusaksikan Mawar mendadak bangkit menyerang sambil menjerit diraihnya. Sebagian kalian tertunduk.Dan inilah yang kusaksikan malam itu: Mereka menyeret Mawar yang terus meronta. Di pangkalan ojek. Peristiwa pemerkosaan itu mereka tutup-tutupi dengan pembunuhan itu. seakan ingin saat itu hari Natal. Kuceritakan apa yang kusaksikan. Dihunjamkannya berkali-kali besi itu ke tubuh yang seekor cicak kaget menyelusup ke celah dinding. Kalian seketika merasa nyaman karena pembunuh misterius itu telah tertangkap. Maka menghapus bayangan buruk. Membawanya pergi kemudian menyekapnya di gudang. Tapi kalian tak ingin terus meneruh disesah kengerian karena malam itu aku pun menyaksikan langit kota yang dipenuhi nyanyian doa kalian. Sunyi yang paling hitam membenamkan penglihatanku yang penuh kepedihan. Pelacur dan pembunuh. Pelacur-pelacur mesti disingkirkan. Di kantor. ketika Mawar menjerit. Memelorotkan pakaiannya dengan paksa. Mereka menyumpal Begitulah kejadiannya. Kalian mesti ke gereja. Kusaksikan senja yang tubuh itu terayun di tiang gantungan. memar. melenyapkan maksiat dari kota. Dan selanjutnya seorang pelanggan yang tak membayarnya. mulutnya. Mereka bilang mereka sengaja ditaruh petugas untuk menjebaknya. Sampai sekarang pun kalian masih terus tidaklah mungkin mayat itu lenyap begitu saja. Di tasnya ada beberapa butir pil dan pisau lipat—yang tengah patroli seperti biasa. Di kasuk-kusuk. karena begitulah menurut undang-undang yang baru dicambuk dan dirajam. Ia mengamuk dengan buas. kemudian bergiliran memperkosanya. Begitu nyata dalam penglihatanku. motong delapan korbannya. Mawar mereka bawa dan nasihati baik-baik ketika mendadak ia ternyata dialah psikopat yang selama ini mereka cari. Orang-orang ramai membicarakan. Wajah Mawar pucat. Ada yang lebih kudus untuk dirayakan. kuceritakan apa yang telah kusaksikan. Padahal bukan aku yang dusta. Mayat itu lenyap dari tiang gantungan! Di pasar. tapi kalian tak pernah percaya pada saksi mata yang buta. kemudian digantung sebagai tontonan. Dan kalian makin merasa tenang karena kalian memang ingin membuatmu jengah karena takut dengannya suami-suami dan anak laki-laki kalian berzina. Aku bisa melihat semuanya dengan jelas. Segala yang cabul mesti dimusnahkah. Ia pembunuh yang telah memotongmenyeretnya ke tiang gantungan. Maka kalian pun hanya diam ketika Mawar diarak ke alun-alun kota. Rupanya ia mabok berat. Mereka selama ini kalian sahkan. Bahkan petugas bisa mengembangkan bukti. dan angin yang muram berkesiur pelan membuat Keesokan harinya kalian gempar. tapi mereka. Ada bercak darah di pisau itu. Di ruang tunggu rumah sakit. burung gagak merah berkaokan. kalian pun bubar. Karena bagaimanapun seluruh kota. Isak tangis muram menyelubungi gudang itu. Sampai malam. Di warung dan kafe. Melemparkannya ke mobil patroli. Hujan rinai . bercampur erang yang terdengar bagai muncul dari panjang. bibirnya bengkak kena pukul. Setelah mayat itu digantung. Itu alasan yang cukup untuk kalian tahu sebagaimana diberitakan koran-koran: dikatakan Mawar baru saja membunuh mengamuk. Kalian kebingungan ketika anak-anak kalian bertanya. Ia hantam kepala seorang pemerkosanya dengan lonjoran besi yang berhasil terkapar… binatang terluka. Siapa yang membawanya? Baiklah.

seperti ada cahaya mengitari kepalanya. seperti memanggil nama pelacur itu. Saat itu aku melihat ribuan mawar mengapung di udara menyerbakkan harum yang megah.tergantung dalam bayangan cahaya murung. ketika di gereja kalian memadahkan kidung agung Natal penuh sukacita. 2008 . Aku sendirian di alun-alun itu. Matanya seperti bintang bening. anggur lembut yang seketika bisa menghapus dahaga. Kulihat tangan dan kakinya berdarah. Langit seakan tiba-tiba benderang penuh cahaya masih menyanyikan doa-doa dan pujian di gereja ketika laki-laki itu membawanya pergi. seperti seseorang yang berjalan melintasi permukaan air. Kurasakan debu-debu beterbangan diembus menyayatkan keperihan bersama debu dan dingin yang mulai membaluri kota sementara angin yang makin jekut ketika kesepian makin membentangkan kelengangan yang turun. keemasan yang cemerlang. dan mencium lembut kaki mayat yang tergantung itu. Ia tiba-tiba melihat seseorang muncul dari ketiadaan. Kudengar kalian Seperti pengantin membopong mempelainya. malam mengelabu. memandangi tubuh Mawar yang sisa gema lonceng bagai melekat di udara yang makin menggigilkanku dalam kesedihan. meski sesekali Kudengar ia berseru. Senyumnya seperti berjalan anggun. tampak limbung karena menahan luka di lambungnya. Rambutnya ikal dan panjang. Yogyakarta. aku Kalian pasti akan langsung tahu siapa dia begitu melihat wajahnya yang bersih dan indah. Ia berjalan mendekati tiang gantungan. kemudian menurunkannya. Saat itulah. Aku begitu terkesima menyaksikannya. Kulihat ia bersimpuh di bawah tiang gantungan. Kuceritakan ini pada kalian. tapi kalian menuduhku pendusta.

Malam itu. karena berbagai alasan. piring. ember. membaca. Ketika anak-anak dibawa ke kebun untuk belajar bercocok taman itulah. Pak Darkin memergoki Nining ada di antara anak-anak itu dan mencengkeram tangannya dan menggelandangnya. panci. Akhirnya Rumah Kita resmi menjadi tempat mangkal anak-anak Kemudian satu-dua anak datang dan pergi. rame- gelandangan. dan sedih. dan bercocok tanam. saya hidup. sering tubuhnya dilempar sampai membentur dinding. sejak tahun 1997. memang milik Pak Darkin. Sehari-harinya saya berserakan di mana-mana. kami. Ada yang sibuk Darkin memperebutkan Nining dan saya kena swing kepalan kirinya. esai. karena peristiwa itu. dan menyanyikan lagu yang itu. sayup terdengar orang-orang sibuk menolong saya. Di dalam gerombolan kami itulah. Polisi itu kembali ke pos ketika saya katakan bahwa kejadian semalam perkelahian biasa. apa pun yang terjadi. gelas. saya tak punya kebisaan apa-apa untuk mengajar anak-anak menulis. teko. yang selalu membela putri kandungnya itu. Pada suatu malam. pura-pura berbenah dengan perabotan dari potongan-potongan sisa-sisa kayu yang sendok garpu. tidak penting untuk dipersoalkan. Ibunya. pengemis. dan tidur. Untung. saya berkelahi melawan Pak sadarkan diri. Rupanya ada yang lapor polisi tentang perkelahian itu. Anak-anak mengangkat tubuh saya ke atas dipan. rame makan. Semalam. gadis kecil hitam manis tujuh tahun. Nining sering ditempeleng ketika marah Pak Darkin kumat. juga cerpen. pengamen. dengan tersengal-sengal Nining menghambur ke perkumpulan Rumah Kita untuk bersembunyi. Saya yang boleh dikata tak pernah berkelahi begitu saja terkapar. Serta-merta saya menubruk tubuh Pak Darkin dan kami bergumul. Saya ditemani kompor minyak tanah. Setiap minggu. juga memasak. meski hanya sebagai ayah tirinya. Saya terjerembab tak mencarikan minuman panas. Sayup- . anak-anak diminta membaca puisi karangannya sendiri. anak baik-baik yang tidak betah di rumah lalu mengatur mereka dengan marah-marah. Nining. telah kehilangan Nining yang digelandang Pak Darkin secara paksa kembali ke rumahnya. Ada yang mau memanggil dokter. Saya sebagai tukang sapu bagian kebersihan pasar merasa dituakan Sebagai tukang sapu pasar. tindih-menindih. lelah. Nining merasa Di sepetak ruang yang merebut ruang milik pasar itulah. Untung dinding rumahnya dari anyaman bambu sehingga cukup lentur. penghuni Rumah Kita jadi rame sekali. Tapi. penghuni Rumah Kita dengan para pedagang di Pasar Kliwon. mereka belajar apa saja. dan di atas dipan dengan tikar plastik itulah saya bisa beristirahat dengan nyenyak. menyanyi. Ada yang memijit. pemulung.Bengawan Solo Oleh : Danarto Badan saya masih meriang ketika polisi itu datang. aman dan nyaman. Kami menyambutnya dengan sukacita. beberapa guru dan mahasiswa datang secara sukarela mengajar anak-anak itu ditulisnya sendiri.

Saya diseretnya keluar. teh. Pedagang tak pernah kehabisan. dan peralatan mandi. saya bisa membantu mencarinya. Anak- sisihkan sarung dan kaus oblong untuknya. Saya tidak tahu dari mana semua sumbangan itu. Saya digelandang terus. Pak . gula. Rupanya saya dibawa ke terbangun. kaus oblong. Pagi harinya semua sumbangan itu dibagi rata untuk anak-anak. meriahnya. juga minyak goreng beberapa botol. Pedagang beras menyumbang beras. tak seorang pun anak yang Darkin duduk di samping sambil terus nyerocos yang tak jelas. Nining tidak bersama kami. Sekitar 15 anak setiap hari paling tidak makan dua kali. kopi. Bernapas saja sangat sulit.” jawab saya. telor beberapa kilo. ”Kamu sembunyikan Nining di mana!” Saya tak bisa menjawab. Pedagang ikan menyumbang ikan. saya dinaikkan ke becak.Gaji saya yang tak seberapa harus cukup cekatan dalam berkelit menghidupi anak-anak itu. Setiap habis gajian. Aduh. kami kami akan bersedih sepanjang masa.” ”Bohong!” ”Kalau memang Nining hilang. Hari itu kami anak pengamen memeriahkan pesta hari itu dengan mementil gitar dan menyanyi. Pak Darkin paham lalu mengendorkan cekikannya. Saya heran. Sayang sekali. ”Mau kamu saya bikin modar!” ”Sungguh mati saya tak tahu di mana Nining.” ”Sontoloyo!” Saya terbatuk-batuk. Anak-anak bertanya dari siapa semua sedekah itu. bahagianya. Tak ketinggalan banyak sekali kain sarung. bahkan digayuti utang di sejumlah warung. ”Saya tidak tahu. Ternyata tidak hanya beras. yang sangat membantu adalah sumbangan para pedagang pasar. tak ada sisa sama sekali. beberapa ekor daging ayam segar. Saya sempat kebagian sarung dan kaus oblong. Bumbu-bumbu dapur rasanya Di malam yang sunyi ketika anak-anak sudah tidur. Tapi. Saya bangun tersentak tak bisa bernapas karena dicekik Pak Darkin yang bisa mulus menyelinap ke gerombolan kami. tiba-tiba datang beberapa orang memanggul beberapa karung beras yang diperuntukkan Rumah Kita. Orang-orang itu menaruhkan begitu saja karung-karung itu tanpa ada sepatah pun kata pengantar. Sesampai di jalan raya. Ia meradang. masak rame-rame dengan mengundang siapa saja yang mau makan bersama kami. Satu saat kami harus merebutnya kembali atau Malam yang tenteram tidak selamanya dapat dipertahankan. sayur menyumbang sayur. Syukurlah ada anak yang bisa menyumbang dari pendapatannya mengamen atau memulung. Tapi. Aduh.

merupakan sumbangan Kiai Kintir. bahwa seandainya kalian tahu apa yang terjadi di dunia ini. Tidak bergaul. tidak mau diwawancara. Ternyata wajah beliau tidak . ketat sekali balutannya. pernah sejumlah terekam. kalian akan menangis terus- Sepanjang hayat Kiai Kintir mengasingkan diri. membanting dan membalut dengan kain kafan. Sejumlah warga Solo ada yang mengolok-oloknya sebagai Kiai Kenthir alias Kiai Sinting. Itulah jalan spiritualnya.sebuah pekuburan yang gelap gulita. Saya sadar. wartawan elektronik diam-diam mengambil gambarnya. beliau tidak berniat sedikit pun. yang muncul hanya gelap gulita.” suara seorang gadis membisik. tidak mengajar. Pokoknya serba tidak. tidak menerima santri.” jawabnya sambil melepaskan belitan kain kafan dari tubuh saya. Saya sendiri pernah melihat beliau mencomot uang dari udara dan diberikannya kepada saya. ”Kamu harus sumpah pocong!” geram Pak Darkin lalu pergi bersama kedua kawannya. Beliau tidak peduli atas cemoohan itu karena hidup beliau sehari-harinya sangat serius. Cerita lainnya adalah.” ”Sekarang beliau di mana?” ”Sedang bersiap-siap hanyut di Bengawan Solo. sedang untuk dirinya sendiri. Kiai Kintir alias Kiai Hanyut adalah kiai—tak seorang pun tahu nama aslinya—yang punya kebiasaan menghanyutkan tubuhnya di Bengawan Solo. gawat!” Maka kami berdua bergegas ke Jurug tempat Kiai Kintir biasa memulai kegiatannya menghanyutkan tubuhnya. itu pertanda di Solo akan terjadi sesuatu. Beliau selalu bisa membahagiakan orang. Tiba-tiba: ”Pak Totok.” ”Mengapa kamu di sini?” sergah saya. ”Saya Nining. semua kiriman beras dan kebutuhan dapur yang mendorong kami bisa berpesta itu.” ”Wah. Beliau pernah menyitir sabda Kanjeng Rasul Muhammad SAW menerus sepanjang hidup kalian. ”Dari mana kamu tahu saya di sini?” ”Kiai Kintir baru saja mengantar saya kemari. ”Saya menunggu Bapak. tidak mau diundang makan. Jika beliau mulai menghanyutkan diri di Bengawan Solo. membujur kaku bagai jenazah. Maka mengiriminya duit. semakin bertambah banyak orang-orang yang meledeknya dengan pamrih Kiai itu Bahkan yang melecehkannya dikiriminya segepok uang yang dicomotnya dari udara. Saya tak bisa bergerak. Dua orang yang sigap membekuk tubuh saya.

Semanggi. rasanya orang-orang yang menyaksikan tontonan aneh ini bertambah banyak. Kiai Kintir cukup meyakinkan sebagai perenang yang kebanyakan mampu diam telentang mengambang. Jika satu orang pun yang berbicara memberi komentar. Semuanya diam. diam menyaksikan tubuh Kiai Kintir yang telentang mengambang di sungai. Tangerang. mengambang hanyut seperti mayat. Solo Baru. Ratusan orang-orang yang berada di seberang menyeberang Bengawan Solo merasakan air bengawan mulai mencium lutut. Mobil. Saya dan Nining harus waspada supaya tidak kepergok Pak Darkin yang barangkali saja ikut nonton. begitulah kepercayaan yang menyebar yang boleh jadi cuma dibikinbikin oleh orang-orang yang suka mengolok-olok. Tampak tubuh Kiai Kintir terseret ke tengah bengawan. Tak terdengar geledek. banjir sudah melahap seluruh kota Solo. Sampai fajar merekah. 17 Maret 2008 Banjir di Pasar Kliwon. Tak ada seorang pun yang Kiai Kintir tenggelam. becak ditinggalkan pemiliknya. Sesampai di jalan raya. cuma air yang berkilau-kilau yang tampak dengan orag-orang yang kebingungan menyelamatkan diri. hanyut dibawa arus. berucap.Sejak dini hari. Joyontakan . Dari jauh. Sejauh mata memandang. telentang tenang hanyut semakin menjauh dari pendangan kami. bisa-bisa Hari belum panas benar ketika air Bengawan Solo mulai naik. Puluhan orang lainnya berlarian menyingkir dari bantaran sungai. ratusan orang dengan obor memenuhi kedua sisi bantaran Bengawan Solo Orang-orang terus bergerak mengikuti tubuh beliau yang dibalut pakaian. Satu-dua orang penonton motor. andong. Cuaca cerah dengan langit biru seperti undangan untuk keluar rumah menikmati keramaian kota. Tak terjadi gerimis. Saya tarik Nining untuk menghindar dari bantaran bersama puluhan orang yang kacau berlarian.

Semakin gelap semakin ramai. Namun. Apa pun namanya saya tidak peduli. Banyak kenangan yang begitu mudah dikais dalam ruang-ruang kegelapan. semakin semuanya Mungkin karena itulah saya begitu membutuhkan cinta. sang kekasih bak lentera benderang dalam kegulitaan pandangan mata saya. kita seolah buta dan mau tak mau harus meraba-raba. Saya tidak butuh kacamata matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala. Banyak orang yang begitu takut pada malam. Atau apakah masih perlu akan hari esok. Membuat mereka tak tenang. Seperti gelap. Saling menatap seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling sinarnyalah saya mendapatkan siang yang kami habiskan di ranjang-ranjang pondok bertatapan. Membuat jantung mereka berdegup Tapi saya selalu merasa malam memberi ketenangan. Sehingga saya tak pernah merasa ketakutan. Pada sesuatu yang membuat mata lebih kencang. Dan hanya ialah yang saya ingin lihat. Apakah benar masih ada hari esok. hanyalah kegelapan. Saya hanya ingin mendengar apa yang ingin saya dengar. Tak pernah ada yang berdering tak henti-hentinya. semakin gelap. Saya tidak perlu menutup semua tirai dan pintu serta menyumbat sela-sela terbuka yang membiarkan cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna. Tubuh kelihatan amat samar.Gerhana Mata oleh: Jenar Mahesa Ayu Malam selalu memberi ketenangan. Saya hanya ingin melihat apa yang ingin saya lihat. SuaraTak saya sadari lagi ketika tubuhnya pelan-pelan memisah dan menjauh. Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika butalah mata saya. seperti suara-suara ponsel Di saat-saat seperti itu. Mata saya mulai merapat. waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi di hari esok. hidung terasa melekat. di kebutaan seperti itu. Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia. Seperti malam. Dari penginapan. Membuat mereka rela menukar ketidaktenangan itu dengan harga listrik walaupun harganya semakin tinggi menjulang. Cinta pun membutakan. Lembut mendayu-dayu. Tak terdengar suara ponsel yang mengganggu itu berubah menjadi suara lagu. Hampir menyerupai pasar malam yang ingar bingar namun tanpa penerangan. Dan melenguh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling mengeluarkan lenguhan. suara-suara begitu jelas terdengar. Pada gelap. Sepanjang mata memandang. namun dengan seketika gerhana mata bekerja. . di atas pembaringan tanpa kekasih yang tak akan hadir. Begitu dekat. Orang-orang menamakannya cinta buta. Kenangan yang memang hanya layak mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-ngacungkan telunjuknya meminta waktu untuk diingat setiap kali malam bergulir. Sedemikian dekat sehingga aroma napas si empunya suara itu di akhirnya begitu terang terlihat. Tak pernah merasa tak tenang. Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata. saya tak perlu meraba-raba. Saling menyentuh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bersentuhan.

SERATUS PERSEN ANTI BOCOR” yang kami robek sebelum bercinta pun asli. Andai saja saya bisa mendepak cinta dan menghadirkan logika. Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih penting Kami hanya bertemu kala siang. Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat terindah untuk sekarat. Kenapa saya bertemu hanya kala siang? Kenapa tidak pagi saya inginkan. saya tidak pernah dapat memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan itu asli. Mungkin suara-suara yang kerap menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. datang dari diri saya sendiri. Dicengkeram gerhana. Di sanalah kami saling menjamu keinginan antara satu dengan yang satu. Hangat kulitnya yang tak berjarak. adalah asli. Bertemu kala siang. Juga tak akan ada siang di mana saya meradang . atau malam? Karena buta. Antara lelah dan lelah. Kala segala garis maupun lekukan amat nyata terlihat dengan mata telanjang. Mata saya pun semakin buta. Semakin dalam ke muara cinta tubuh ini tercebur. mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli. Semakin kabur. Kala api rindu sudah semalaman memanggang. melihat matanya sedang menatap. Namun lagi-lagi perasaan ini terasa asli. Antara pasrah dan pasrah. Membuat saya kerap merasa terjepit. Walaupun kami hanya bertemu kala siang. Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa dari saya. Tapi dengan satu konsekuensi. Kalimat di bungkus kondom “ASLI. Kadang saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang dari orang-orang. Bukan kala pagi atau malam hari yang terasa amat panjang dalam penantian dan rindu yang mengimpit. Gerakan tubuhnya yang sebentar menarik sebentar menghentak. Karena tidak mungkin sesuatu yang asli lahir dari yang tak asli. Sehingga saya pun tak dapat memastikan apakah jawaban saya kala pagi dan malam yang tak asli. Saya jatuh cinta. pun di dunia ini yang berarti kecuali saya. atau Jantung keras berdetak. bukan kala pagi atau malam hari. Saya terjebak dan berputar-putar pada dua pilihan yang sama. lekukan itu selalu diikuti bayang-bayang. Bunyi ranjang berderak. saya bilang. walaupun di kala pagi dan malam yang tak asli. saya akan bisa mengulanginya lagi. Harus mengerti statusnya sebagai laki-laki beristri. Kenapa harus buta? Kenapa tidak menggunakan asli? Karena cinta. Membuat saya Saya tahu. Mungkin malam akan membuat saya takut. Dalam kebutaan saya bisa mengadakan apa pun yang Banyak yang tambah mempertanyakan. Dan dalam bayang-bayang itulah kami betemu Banyak yang mempertanyakan. Segala garis maupun dan bersatu. selalu merasa tak pernah cukup dan ingin mengulanginya kembali. Saya masih kalau ia sedang tidak ingin diganggu dengan alasan penyakit lambungnya tengah kambuh. melainkan asli. Suara yang semakin lama semakin serak.suaranya yang sengaja dibuat lirih ketika menjawab panggilan telepon dan mengatakan Saya tetap merasakan tubuhnya melekat. Kenapa harus menciptakan buta yang tak Terus terang. Tak terkecuali pagi. Dan dengan tubuh dan menggelepar atas tubuh yang menyentuh di atas seprai kusut lantas terhenti oleh lain ke dalam selimut saya akan beringsut. mungkin tak akan seperti ini saya tak berdaya. Kala siang dengan durasi waktu yang amat sempit. Dalam cinta saya bisa merasakan segala sesuatunya asli. saya bilang. Tak terkecuali malam.

Tak ada jawaban karena cinta membutakan saya. Dan kami bisa tinggal dalam satu dunia yang sama. Sejak kemarin. . Dalam kegelapan malam kedua mata ini menumpahkan air. karena cinta telah membutakan kami berdua. Tak ada pertanyaan mengapa hanya bertemu kala siang. Tak bertemu hanya kala siang. 2 Oktober 2006 11:06 AM cincin dengan namanya terukir. di jari manis kanan saya telah melingkar Di atas pembaringan tanpa suami yang tetap tak akan hadir. Mungkin… pagi dan malam. Mungkin… dering panggilan ponsel yang membuat satu-satunya fungsi pada tubuhnya yang Mungkin satu saat nanti ia akan mengalami gerhana mata seperti saya. Bukan kala pagi Enam tahun sudah waktu bergulir. Diganti dengan jawaban. Jakarta. Tak menunggu kala atau malam.mempersatukan tubuh kami jadi menciut.

Aku lebih suka menggugurkan anak Tantiana daripada menikahkannya!” Nana mengembuskan nafasnya.” Nana mengatupkan bibirnya. memesan jus jeruk dan beberapa makanan kecil. “Dik. Dara.” Nana terenyak. adik bungsunya sambil menangis mengatakan. Dua minggu yang lampau anak bungsunya. Seperti dua “Ma. Mungkin anak itu harus kita konsultasikan ke psikiater. Sebelum terjawab. mudah-mudahan volume pekerjaan Kedua perempuan ini bersitatap. Nana dan Dara keluar dari kerumunan orang yang mengamuk. Alvin. Sudah beberapa hari ini dia tidak mau makan. Adiknya berkata. setiap keputusan hanya ada pada saya. sekalipun berprofesi dokter. positif hamil. Rizal kan cuma teman.” Dara yang sedang belajar menjadi psikiater mengangguk-anggukkan kepala. menikah! Mendahului anak sulungnya. Tantiana mencoba bunuh diri dengan menyilet pergelangan nadinya. Setelah itu. saya membeli buku nama-nama calon bayi. kelas dua SMA dan hamilnya dengan teman sekelasnya. “Tante dan Om-mu. Tantiana menangis terus. Jadi. Nana menunggu!” meneruskan omongannya. dia baru berusia 17 tahun.” Nana merasa terkunci. Tantiana. “Datanglah bersama Dara.Delayed Ratna Indraswari Ibrahim Sebagai seorang perempuan. “Ma. Nana melihat Dara. “Mbak. Nana menganggap mingguminggu ini buat dia dan keluarga besarnya sangat menyedihkan! Tiga hari yang lampau. dia menyayangi Rizal dan berharap suatu kali dia bisa panjenengan bulan ini tidak padat sehingga panjenengan bisa menikahkan anak kita dengan Rizal!” berkata kepada adik almarhum suaminya. sekarang ada di rumah sakit. tahun). lebih baik kita naik kereta saja. saya sedang berpikir untuk mengadopsi anak Tantiana setelah dia melahirkan. anaknya. Beberapa hari yang lampau. jam berapa datangnya? Dari tadi. “Kalau tahu begini. Aditya (25 tahun ke-30. Sesungguhnya. adik bungsunya menelepon HP-nya.” sampeyan kok belum datang. kalian berdua kan dokter. “Apakah kau sudah merundingkan hal itu dengan Rizal?” “Ma. yang seksi bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi delayed selama sejam. Aku bosan . waktu ke toko buku. yang minggu kemarin merayakan ulang Mereka bertemu di bandara ini dan seorang perempuan mengumumkan dengan suaranya sahabat. saya sepertinya sudah dapat firasat. Tantiana bisa balik sekolah dan meneruskan kehidupan remajanya. Padahal. Mereka mencari sebuah restoran.

mereka sekurang-kurangnya pernah membicarakan lelaki atau jalan bareng. Aku dan ayahmu pernah adikmu yang menikah pada usia itu!” dengan siapa yang kau suka. tapi kemudian Nana berpikir. Nana pada usianya ini tidur lebih cepat. Kau kelihatannya cuma akrab dengan Didit (sahabat sejak SMA). “Waktu kau beranjak remaja. Apakah yang dihadapannya ini cuma teman seprofesi yang kebetulan serumah? Dan. apa pun pendapat masyarakat. Siapa pun tahu. Sesungguhnya. kemudian mulai pacaran. Sekalipun. sekarang mereka sama-sama punya waktu luang dan duduk semeja. Kendati mereka masih tinggal serumah.” sedih sekali. jarang bisa ngobrol. Kedokteran juga serius. Tapi. banyak temanmu yang sudah bersitegang karena banyaknya tamu laki-laki yang datang ke rumah kita. Itu berlanjut sampai kau menjadi mahasiswa. Bisik-bisik di luar tentang saya memang buruk. kau tidak peduli pada mereka. saya tidak bisa janjikan itu. Nana seharusnya berkata begini. Padahal. saya waktu itu cuma berpura-pura tidak tahu kalau Mama dan keluarga besar kita “Dara. kau lagi ingin serius dan sendiri saja. berapa pun umur Dara.” Dara tidak menjawab dan Nana merasa harus mengatakan hal ini. sebetulnya mereka dua jagat yang berbeda dan tidak pernah bisa bertemu. di cermin saya tahu tidak jelek-jelek amat. dia lebih muda membayangkan kau akan menikah pada usia 25 tahun. memegang tangan mamanya. aku berharap di tahun baru menurut kalender Jawa kau menikah dua tahun darimu. “Ma. Padahal. Mulai sejak itu. dia tetap mamanya! Atau apakah Dara menjadi miliknya hanya kala dia gadis kecil yang belum pandai memasang pita rambutnya dan merengek-rengek untuk meminta sesuatu.Dara tersenyum.” “Aku berharap cucu darimu dan anak Tantiana menjadi anak sulung dari anak-anakmu. Mereka juga menuduh saya punya kelainan psikologis. Apalagi. aku dan ayahmu sudah sering kami heran juga. “Setelah Aditya menikah. Didit tidak meneruskan sekolahnya.” Dara. tetangga sebelah rumah (15 tahun) mengajaknya bersibadan ketika dia . Kami tidak merisaukan hal itu. kau kelihatannya hanya serius dengan pelajaranmu.” Apalagi. Pastinya mereka menganggap “Maaf. aku diliputi perasaan gelisah. Dokter Rizal juga lelaki yang baik. beri aku dukungan untuk meyakinkan Tante agar anak Tantiana bisa saya adopsi. Rasanya mereka memang dua perempuan yang beda dalam menjalani kehidupan sosialnya. dia menyukaimu. saya perempuan yang berat jodoh. aku kepingin jujur kepadamu. Sekalipun Nana merasa. Padahal. Dia menikah dan memiliki dua anak yang kau cintai. kata kuncinya cuma satu. Tapi.” Mereka saling melihat. Dara tahu dia tidak bisa mengatakan ini. kau menikah. sejak lulus SMA. Yang terjadi di luar mimpi kami. Teman-temanmu di Fakultas Dara memutuskan lamunannya. barangkali ini karunia yang tersembunyi (blessing in disguise). sedangkan Dara mungkin sedang sibuk di rumah sakit atau sedang makan-makan bersama temannya. “Ma.

ketika mencoba bercinta dengan Rizal. aku sudah siap untuk semua yang terburuk. Rizal sudah membantunya dan barangkali Rizal sudah mulai jenuh. Karena. dibicarakan oleh mereka berdua. “Ma. Padahal. saya kira saya tidak usah bercerita panjang karena tetangga sebelah rumah sudah merusaknya. Sampai hari ini. Nana memegang tangan anak perempuannya. sekadar dokter dengan pasien. Sehingga Rizal berkata. dia menikmati apa yang awalnya dipaksakan kepadanya. tapi dua orang yang sangat dekat. Jadi. kalau kau mau cerita. kok dari tadi diam saja? Tanyakan ke bagian informasi. dia tak berhasil. Semuanya memang harus diselesaikan. sekalipun mamanya juga dokter. Itu yang sering diucapkan Kali ini mama yang memotong pikirannya. “Tantiana menangis terus dan menjerit-jerit. bukan bersimpati. Tapi. pada persekian menit. harus berempati saja. terapi ini tidak berkelanjutan. Dia tidak pernah ingin membicarakan ini dengan mama. banyak hal yang dipikirkan.baru saja berusia 13 tahun. memang yang harus Rizal ketika dia merasa tidak bisa melanjutkan terapi ini. Semuanya berpulang pada dirinya sendiri. “Dara. kau harusnya sudah tahu bahwa butuh kemauan keras darimu untuk sembuh. Rizal.” “Mama kan tahu. Sesungguhnya untuk melakukan hal ini. hubungan Rizal dan Dara bukan jatuh pada erotisme saja. pesawatku delayed. Tapi setelah dewasa. tapi tidak tahu saya harus mulai dari mana?” Kedua perempuan itu saling melihat. untuk menguatkan satu dengan lainnya. tapi betul-betul sebuah empirisme yang harus dia lakukan. mereka sepakat menerapi problem trauma dari Dara. Pastinya. mereka merasa menggampangkan jika mencari solusinya dengan kawin siri. . “Saya kira kau bisa menyimpannya untuk dirimu sendiri. “Sebagai seorang dokter. Jadi tidak bisa ditunggu jam berapa kami sampai. Sebagai seorang dokter.” “Dik panggillah dokter. adik bungsunya menangis di telepon dan mengatakan begini. Dia merasa jijik! Namun.” “Ma. Dara tidak mau terapi ini Sesungguhnya.” Dara merasa tak berdaya. Lantas. dilakukan oleh mamanya adalah berempati. seperti semua dokter. kami pasti datang dan langsung ke rumah sakit. kalau sudah begini. dia merasa tidak lebih seperti boneka seks. mata mereka seperti sebuah lorong yang gelap dan jauh sekali. karyawan penerbangan itu pasti tidak ada di tempat.” Dara berbicara lagi.” Kemudian ada dering telepon lagi.” Kedua perempuan itu saling berpegangan erat dan mencoba tersenyum. ini bukan sekadar erotis! Di antara dua kekasih. saya sebetulnya ingin bercerita banyak sekali. Sekalipun. akan sulit bagi mama untuk menerima berita ini karena dia bukan hanya seorang pasien saja di mata mama.

“Aku akan belajar kapan aku jadi suamimu dan kapan aku jadi doktermu.“Sayang. Enam bulan setelah kelahiran anak Tantiana. Aku yakin kau bisa memahami itu. Tantiana sedikit tenang. saya kira ada kalimat Jawa tentang suami-istri. aku memaknainya lebih jauh. Karena untuk kesembuhan ini. dia pulang ke Malang untuk meneruskan sekolah. “Zal.” kesakitan. Percayalah. aku kepingin anakku ini punya dua adik. Ketika memasuki ruangan ini. bersibadan itu artinya dua jiwa lebur jadi satu. Kalau tidak. ketika anak Tantiana berusia satu tahun. “Apakah sudah siap memulai lagi dengan pernikahan?” “Zal. Teman-teman anaknya berteriak-teriak. “Aku akan menjadi nenek dari lima cucu. aku sudah mencurigai hal itu sejak gadis… Nduk. “Dik. belahan hati suami dan istri. apakah kau sudah melakukan terapinya dan belum berhasil?” lama. Beberapa bulan kemudian. Rizal. cepat tiup lilinnya dan potong kuenya!” Malang. Dara merayakan bersama anak temansiapa ya yang mau jadi bapaknya?” temannya. Kami tidak menganggap itu dosa yang Dan. Bantulah aku!” Rizal dan Dara bersitatap. butuh proses yang panjang. Di luar dugaan. dan melebar di ruangan ini. Lantas Rizal menggandeng Dara ke ruangan lain. Rizal tersenyum dan memeluknya. Setelah anakmu lahir. tiga darimu dan dua dari Aditya. senyum ada di antara Dara. Bahasa simbol itu artinya. aku tak akan pernah bertanya lagi. Nana. Nana memeluk Dara. yang ada cuma luka dan dan pasien dan kapan menjadi suami-istri. Yaitu garwo (sigare nyawa). kau harus sekolah lagi dan pulang ke Malang. jadi kita bisa membagi. Jadi. ketika Nana berkata. kapan menjadi dokter Tiba-tiba ada perasaan lelah ketika Dara selesai membicarakan itu dengan Rizal. Aku cuma ingin cerita itu bukan sebenar-benarnya. Sedangkan anakmu. tetapi terasa ada pengertian yang lebih baik di antara kedua perempuan itu. dihadiri Rizal dan mamanya. jadi di mataku kau tetap seorang Kali ini.” Lantas. “Kamu boleh ikut Budhe Nana atau Mbak Dara. tidak bisa diperbaiki. Dara yang menyandarkan diri di bahu mamanya. 10 Juni 2008 . biarlah jadi anaknya Mbak Dara.” Tantiana menangis. lahir anak Tantiana. Tidak ada air mata.

pegunungan ikut merona. jalan raya Tatkala cahaya pagi menyentuh bumi. Trotoar menjepit kiri kanan jalan. rumah. Abah tergolek lemah di dipan ruang tengah. air mengalir tenang meski dicumbu fajar. Beberapa kali ada penduduk hanyut. Itu bisa terjadi meski di siang terik. raut pinggul gadis-gadis menari. Sudah seminggu tak mampu bangun. Pada bulan yang sama. Bayang hitam di bawah mata menggurat keletihan di wajah. diganti genting Jatiwangi. Lantai semen sudah ditambal keramik. Saat matahari menggeliat. tiap tahun. Sebab air tanpa beri tanda bergulung-gulung dari arah hulu. Sangat pagi. Saat itu seisi rumah ketakutan. Tapi lagi-lagi terbuat dari besi Masih terpatri dalam ingatan Arum peristiwa yang menuntun Nining tinggalkan rumah. Gairah sungai hanya tersirat dari kilau berlian di riak air di antara bebatuan. bila langit sedang bahagia. Tak ada yang beda. sungai itu juga bisa mendidih. akarnya direnggut lalu diganti pondasi beton. Warnanya lebih tua dari langit. sungai itu.Siit Uncuwing Rieke Diah Pitaloka Setiap pagi. Untuk balikkan badan pun harus dibantu ambu. Dulu. Satu dua Seperti air sungai yang membelah kota kecil itu. Kepergian Nining memang mengubah banyak hal. halaman depan. Namun ia tetap berusaha tersenyum. sungai-sungai keperakan. dua setengah kilometer dari kunang-kunang masih bermain di sela langkah. Cat tak lagi kusam. Seng yang dulu Memang masih ada sedikit daun-daun yang lingkari pagar. Dahan dan batangnya dari besi tempa. burung berkicau di pucuk daun kersen. Air yang dicurahkan langit sudah pasti akan susuri jembatan yang sama. Sungai itu selalu mengalun perlahan. Rumah kedua gadis itu yang berubah. Paling seminggu sekali. langit kadang biru. kabut berebut kecup pipi mereka. Bertahun-tahun selalu begitu. Tak ada yang berubah dari kota kecil itu. orang-orang di atas jembatan akan berteriak. Itu pun bila awan sudah terlalu letih menggendong air. lebih kurus dibanding saat ia tinggalkan rumah. kadang kelabu. setiap hari jalan itu dilewati Arum dan Nining. semua berisik dan bocor kala hujan. Ada fotonya. Hujan malas berkunjung. Surat terakhir dikirim empat bulan lalu. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rerimbun hijau bagai pinggang dan tepatnya. Embun basahi sepatu sekolah. meski warnanya juga hijau. menggerus apa saja. Ada jembatan di atasnya. Tak ada lagi berita dari Nining. tempa. Di bawah. Waktu membuka pintu. “caah caah caah!” September. Tiap pagi mereka berangkat sekolah berjalan kaki. meski sama-sama biru. apalagi waktu seekor uncuwing. kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. Pagar tak lagi pohon teh-tehan. Bahkan saat Arum dan Nining tak lagi melintas di diganti tembok. Ada resah menggayut di tiap hati penghuninya. Rumah tak lagi setengah bilik. Tapi semua orang tahu. Kalau sudah begitu orangorang di tepi sungai. berkerlip menyilaukan. Orang-orang menyebutnya siit . Arum paling senang saat melintas di atas jembatan.

Dibisikkan saat para pelayat satu-satu tinggalkan rumah. esoknya Abah mulai bisa duduk. cepat sehat. Lompat dari satu dahan ke dahan lain. ka sabrang ka Palembang! Saguru saelmu teu meunang ganggu!” Tetap saja burung itu tak mau pergi. Menyusup ke setiap inci pori-pori kusen jendela dan pintu. . Siit uncuwing kepakkan sayap sedetik sebelum Nining menyambarnya. “Belum waktunya anakku kau jemput. Enin peluk buah hatinya dengan haru. Tapi. Sakit. siit uncuwing menikam rumpun bambu di ujung jalan. Lepas magrib sambil membawa abah. Entah kebetulan atau bukan. Ia hanya katakan pada Arum. Naik sana ke pohon kersen!” perintah Ambu. Tapi tangis ledakkan rumah. Tak diobati karena mereka tak punya Sekadar sukarela pun mereka tak sanggup. pergi!” Kali ini Enin melempari dengan kerikil. uang. Menjerit memanggil kematian. Nining! Bantu Enin. Pendapat itu tentu tak disampaikan Nining pada Enin dan Ambu. Ia terbang menuju lembayung. “Sieuh. Tak akan berhenti sampai kematian menyusup ke setiap liang angin. panik. Komar. sieuh. Lalu sorenya siit uncuwing kembali. tetap salahkan siit uncuwing atas duka yang menancap di hati mereka. “Arum. halig siah. Tak menapak di mana pun. tiga hari kemudian siit uncuwing datang lagi. Baginya penyebab kematian Abah bukan siit uncuwing. Sebetulnya Arum dan Nining tak sependapat dengan dua perempuan itu. bahkan hingga tahlil seribu hari. Sebab siit uncuwing pergi Enin dan Ambu berhari-hari. Berputar-putar mengelilingi atap rumah. Mantri yang menerima bayaran sukarela. Ada seurai doa di sudut bibir Ambu dalam lengkung yang mendamaikan Arum dan Nining.” Ambu di pintu dapur usap sebulir bening yang meluncur dari sudut mata. Sieuh. sieuh. Malah tampak riang. walau sekadar untuk membayar Mantri Abas. burung itu menjauh dengan senyap. pergi sana.Suara siit uncuwing terus menggigit hati siapa saja yang mendengar. Waktu melihat Ambu dengan sapu lidinya. Siit uncuwing pembawa kabar duka. Mula-mula hinggap di pohon arumanis tetangga sebelah. terutama Nining. Maka perempuan tua itu sibuk kibas-kibaskan sapu lidi. “Komar. begitu kepercayaan Enin. tapi tak diobati. tapi karena sakit.

“Teteh sakit hati, Rum. Kita musti bisa berubah.” Kata-katanya pelan sentuh telinga, namun tegas sebagai janji. Pasti. Arum percaya Nining. Tapi Enin tidak sepakat, terlebih Ambu. “Jangan pergi, anaking. Apa kamu lupa banyak yang tak bisa pulang? Kalaupun pulang tanpa daksa. Malah ada yang sudah tak bernyawa.”

“Geulis,” Enin menambahkan sambil mengunyah sirih dan pinang, “biar susah lebih enak di kampung sorangan. Geulis, incu enin, cari kerja di sini saja. Jadi buruh tani, atau melamar ke pabrik dodol di Ciledug, ke pabrik tenun dekat kerkhoff, atau ke pabrik coklat jalan Cimanuk, atau jadi pelayan toko di Pengkolan.”

Nining tahu, kerja dengan ijazah SMP dan rapor sampai kelas satu SMA tak akan berarti. Gaji yang diterima hanya akan cukup untuk makan sebulan. Itu juga belum tentu cukup.

Sepuluh hari Nining baru bisa yakinkan Enin dan Ambu. Bahkan Ambu rela menjual sawah ongkos ke Bandung. peninggalan Abah untuk membayar penyalur dan surat-surat keberangkatan, sekaligus

Lima bulan pertama Nining tak terima gaji. Katanya harus diserahkan pada agen sebagai ganti biaya perjalanan. Tengah tahun baru bisa kirim uang. Tahun kedua Nining pulang untuk renovasi rumah dan membeli tiga petak sawah. Pengganti sawah Abah, katanya. Tiga rumah.

bulan kemudian berangkat lagi setelah membantu Ambu buka warung sembako di samping

“Teteh jangan pergi lagi, teh. Apa lagi yang teteh cari?” “Teteh pengin kamu jadi dokteranda, Rum. Biar teteh yang cari duit, pokoknya kamu belajar yang rajin.”

“Mendingan Arum cuma tamat SMA daripada teteh pergi lagi.” Entah mengapa kali ini Arum yang tak setuju Nining pergi. Tapi lagi-lagi tak ada yang bisa menahan tekad itu.

Selama setahun, sebulan sekali Nining masih rajin beri kabar. Begitu pula dengan kiriman tak ada kabar berita darinya. Awal Mei.

uang. Tapi tahun berikutnya bukan hanya uang yang tak dikirim. Yang lebih mencemaskan

Ambu.

Sepucuk surat tiba di beranda. Arum membaca keras-keras supaya bisa didengar Enin dan

“Arum, bilang sama Enin dan Ambu, Insya Allah September teteh pulang. Teteh maunya bisa Doakan teteh supaya bisa pulang.” munggah sama-sama. Teteh mau lebaran di rumah. Teteh kangen sama kalian bertiga.

sampai Arum hafal isinya.

Itu kabar terakhir yang mereka terima. Surat terakhir. Lecek. Sebab dibaca berulang-ulang,

September berjingkat tinggalkan kalender. Oktober siap menyambut. Tapi tetap hambar. Huruf seakan mati tak tergores dalam secuil kertas sekalipun. Arum sudah mencoba akan kami beri tahu, kalau sudah tahu keberadaannya. Kalau sudah tahu!” hubungi agen yang berangkatkan Nining. Petugas yang menemui hanya menjawab, “Nanti

Hanya itu yang bisa jadi pengharapan. Surat Arum untuk Nining tak pernah berbalas. Tak menggerus perasaan. Apalagi sejak dua hari terakhir Ramadhan siit uncuwing kembali menjejak pucuk kersen di halaman depan.

ada alamat lain yang bisa ditelusuri. Khawatir menusuk kepala. Cemas menjadi bola besar,

“Awas, indit, ka ditu, ka ditu, sieuh, sieuh!” Ambu tergopoh, Enin menyusul di belakangnya. “Ka sabrang ka Palembang, sieuh, sieuh!” teriak keduanya bersahutan. “Ka sabrang ka Palembang, saguru saelmu teu meunang ganggu!” Kali ini Arum langsung memanjat pohon kersen, tanpa tunggu perintah Ambu. Ketika siit

uncuwing terbang, Arum setengah melompat turun dari pohon. Tak sekejap mata ia biarkan pandangan lepas dari burung itu. Arum mengejarnya, berlari. Tanpa sadar Arum sudah jauh itu. Terus mengejar, bahkan ketika burung itu terbang di atas jalan setapak di pinggir jembatan. Menuju sungai. tinggalkan rumah. Berlari menuju jembatan di atas sungai, sungai yang membelah kota kecil

Ya, siit uncuwing menuju sungai. Burung itu hinggap di batu besar di tengah sungai. Arum mengendap. Tinggal sejengkal dari siit uncuwing ketika orang-orang di atas jembatan berteriak, “caah!” Caah!Caah!”

Arum lompat berusaha menangkap siit uncuwing. Namun badannya limbung. Semua buram. kekuatan, “Arum, ka dieu, ulurkan tanganmu.”

Sesak menghimpit dada. Arum hampir tak mampu bertahan saat sayup seiris suara memberi

Arum terkejut. Arum tahu pasti, itu suara Nining. Seolah mendapat tenaga, Arum berenang ke arah bayangan di tepi sungai. “Hayu pulang, geulis.” Sekali lagi Arum mendengar suara Nining. Arum berhasil genggam tangan Nining, dan semua jadi gelap.

“Teteh, teteh!” teriak Arum saat pertama kali membuka mata.

Tapi Nining tak ada, padahal Arum yakin Nining yang menolongnya. Nining yang memapah mengantar pulang. Arum terobos setiap ruang di rumah itu. Tetap saja, Nining tak ada. Hanya ada Anin dan Ambu yang sedang menangis. Arum lari ke luar. Di langit ada bulan sepotong. Di langit ada tiga belas siit uncuwing tanpa suara membawa bingkisan dari negeri berpasir: sekotak peti mati. Di dalamnya ada perempuan dengan bayang hitam di bawah mata dan lebam di sekujur tubuh. Tetap berusaha tersenyum. Di surau-surau takbir pertama berkumandang… Depok, 160907

Rieke Diah Pitaloka ( 21 Oktober 2007)

Aku waktu itu masih percaya Satria suatu hari akan kembali… Kenapa harus tidak percaya. deringnya sudah berhenti. nanti tidak ada tempat untuk hati lagi…’ Ah. Ibu terdiam. buku. Saras. Ibu bergumam. Seperti ini juga keadaannya. Ibu terkulai di kursi seperti orang mati. dan busananya bagai menunjuk keberadaan waktu. bahkan aku masih ingat juga pakai daster ini ketika kami berbicara tentang hilangnya Satria. membantu aku membereskan kamar Satria. masih terkulai seperti sepuluh tahun yang lalu. Sekarang apapun yang terjadi dengan Saras dibicarakannya sama aku. Ibu Saleha. Tinggal Ibu kini di ruang keluarga itu.’ katanya!” Berharap dan menunggu. ’Saya selalu teringat Satria. Ibu tersentak bangun dan langsung menyambar telepon. telepon. Rambut. . dan kami masih seperti orang menunggu. meja itu. dan duduk lagi di situ. Ibu. ’Kuhargai cintamu yang besar kepada Satria.’ kataku. Harapan bahwa pada suatu hari Satria pasti pulang kembali… Berharap dan menunggu.Ibu yang Anaknya Diculik Itu Seno Gumira Ajidarma cangkir teh. seperti Saras itu punya dua ibu. Diangkatnya ke telinga. ruang dan waktu yang seperti ini. wajah. ruangan ini. Pintu. Berharap dan menunggu. Telepon berdering. memang rasanya ia seperti anakku juga. kalau memang tidak pernah kulihat sesuatu yang membuktikan betapa Satria tidak akan kembali… Apa punya… salahnya punya harapan… Hidup begitu singkat. Bapak suka sinis sama Ibu Saleha. ibunya Saras yang dulu jadi pacar Satria. Tapi Bapak memaksa aku untuk percaya bahwa Satria sudah pergi. seperti tahu betul rasa kehilanganku setelah ditinggal Bapak…” Ibu sudah sampai ke kursi tempatnya duduk tadi. Saras. karena kalau terlalu banyak alasan dan perhitungan dalam percintaan. Waktu itu sudah setahun Satria tidak kembali. Ketika disambarnya pula. dan lain-lain masih seperti dulu—tetapi waktu telah berlalu sepuluh tahun. Ia menggigit bibir. melihat ke kursi tempat Bapak biasanya duduk. Dulu almarhum tidak bisa terus menerus menunggu Satria. karena seperti memberi tanda kalau Saras itu tentunya simpati. ”Bapak… Kursi itu. saya tidak bisa’. rasanya semakin peduli dia kepada rumah ini. Ternyata yang berbunyi telepon genggam. ”Hmmh. berusaha sangat amat keras untuk menahan tangis. jendela.” katanya. Kenyataannya selama sepuluh tahun Saras tidak pernah bisa pacaran ”Tapi inilah soal yang pernah kubicarakan sama Si Saras.’ kata Bapak. Semenjak Bapak meninggal setahun yang lalu. lukisan itu. apa jadinya kalau harapan saja kita tidak ”Jadi dalam setahun itu harapanlah yang membuatku bertahan hidup. televisi. Lantas melihat ke sekeliling. kok semuanya mengingatkan kembali kepada Bapak. sehingga kamu selalu terlibat urusan orang-orang hilang ini. ’Satria sudah mati. ’tapi cinta adalah soal kata hati. perabotan. ’Orang hilang diculik kok tidak mendapat sama siapapun.

Saudara. suatu hari salah seorang yang waktu itu mengancam terlihat sedang memandangi dirinya waktu dia baru naik bis kota. Jiwa terasa memberat. Memang aku tahu Bapak dan Satria tidak ada hatiku? Apakah kalian berdua selalu menertawakan aku dan menganggapku konyol kalau Sejenak Ibu terdiam. Lantas orang-orang itu berkata. ”Sudah sepuluh tahun. Apa Bapak dan Satria tertawa-tawa di atas sana melihat aku membereskan kamar Satria. ”Apa Bapak ketemu sama Satria di sana? Enak bener Bapak ya? Meninggalkan aku sunyi sendiri di sini.”Tidak! Aku tidak mau percaya itu! Meski dalam hatiku sudah terlalu sering kuingkari diriku. ”Bapak sendiri yang bilang. Di hadapannya. ’Kami tahu siapa saja keluarga ”Huh! Saudara! Mana mungkin manusia bersaudara dengan monyet-monyet! Apalagi maksudnya kalau bukan mengancam kan? Bapak bilang teman Satria ini juga bercerita. dianiaya.’ katamu. Impian. Aku terima Satria sudah mati sekarang. Bapak sudah mati. kenyataan sehari-hari tidak bisa kupisahkan lagi. ”Kadang-kadang aku bermimpi tentang kalian berdua. Sebuah kursi kayu dengan bantalan jalinan rotan.” Ibu memandang ke arah kursi Bapak. hanya untuk menyambungnya dengan suara bergetar. bahwa kemungkinan besar Satria mestinya sudah mati. seperti Ibu berada di dunia yang lain. Satria sudah mati. tetapi kalau terbangun.” Dipandangnya kursi Bapak lagi. dengan begitu nyata seolah-olah kalian tidak pernah . orang-orang yang menculiknya itu menggelar foto- foto saudara-saudaranya. Pak. tapi apa salahnya aku menganggap kalian berdua ada di dalam berpikiran seperti itu?” tiba. ada teman Satria yang dibebaskan bercerita: Sebelum dilepas foto di atas meja. aku masih mati. tapi tubuh serasa melayang-layang…” Lantas nada ucapannya berubah sama sekali. Jalinan yang sudah lepas dan ujungnya menceruat di sana-sini. Munir juga sudah mati. dan akhirnya dibunuh. Foto orangtuanya.” Perempuan dengan rambut kelabu itu tampak kuat kembali. ruangan itu bagaikan mendadak sunyi. Nanti dulu.’ Tapi aku tidak terima kalau Satria itu boleh diculik. Menerima? Menerima? Baik. tutup matanya dibuka. Bapak. sekarang untuk kalian berdua. setiap waktu makan lagi di muka bumi ini. menata gelas dan piring. kenangan. juga terkenang-kenang kalian berdua. padahal aku selalu makan sendirian saja. kenapa kamu hancurkan semua harapanku? ’Kita harus menerima kenyataan. ”Pak. Itulah foto-foto keluarga teman Satria yang diculik. Ini apa maksudnya Pak? Supaya teman Satria itu tidak boleh boleh kita terima begitu saja?” bercerita tentang perbuatan mereka? Teror kelas kambing maksudnya? Apakah ini semua Saat Ibu menghela nafas.

”Bapak… aku yakin dia ada di sana. membara dan menyala-nyala. ke langit. meski setiap kali tersadar tubuh yang melayang terjerembab. Hanya bertanya jawab dengan Bapak.” Nada bicaranya menjadi dingin. jika kemarahanku belum juga hilang atas perilaku kurangajar semacam itu. bukankah ratusan ribu orang juga hilang seketika?” . bahwa Satria dan bahagia hanya dengan akalnya. bagaimana mungkin aku merasa perlu melupakan semuanya. Dulu aku bisa kalau ingin tahu semuanya! Tapi aku masih hidup. ”Menculik anak orang dan membunuhnya. berkobar menantikan saat membakar dunia…” terdalam. begitu saja… Bahkan orang mati saja masih bisa kita lihat jenazahnya!” tentu sudah tidak ada. Apakah setiap orang harus kehilangan anggota keluarganya sendiri lebih dulu supaya bisa sama marahnya seperti aku?” Hanya Ibu sendiri di ruangan itu. jauh. ”Tapi apa iya aku sendiri? Apa iya aku masih harus merasa sendiri jika begitu banyak orang yang juga kehilangan? Waktu itu. o palung-palung luka setiap jiwa. mengembara dalam kekelaman semesta. Memang akalku tidak bisa berpikir lain sekarang. Bapak. jika Satria pada suatu hari memang hilang begitu saja? diajaknya bicara. Lantas bertanya-tanya lagi. jauh. tempat seolah-olah ada seseorang ”Pak. ya waktu yang seperti takpernah dan takperlu berlalu itu. ”Tapi…. tetapi aku tidak bisa mendapatkan keyakinan yang sama jika teringat kepada Satria. dan aku masih tidak tahu apa-apa. meski semakin disadarinya betapa ia sungguh-sungguh sendiri. ”Ah! Bapak! Dia sudah tahu semuanya! Tapi aku? Aku tentunya juga harus mati lebih dulu bertanya-tanya. tanpa membawa-bawa perasaannya? Bagaimana Ya. ”Ah! Ya ampun! Jauhkan aku dari dendam!” Namun ia segera melepaskan tangannya. Mencoba menjawab sendiri. bagaikan jiwa dan tubuh telah terpisah. Sekarang aku bertanya jawab sendiri…. menutupi wajahnya. menyatu dengan jiwa terluka. palung tanpa dasar yang dalam kekelamannya Ibu mendadak berhenti bicara. berbisik tertahan. tetapi Ibu bagaikan merasa banyak orang menontonnya. memegang kepalanya. luka sayatan yang panjang dan dalam. Seperti masih ada yang disebutnya Bapak di kursi itu. karena kusaksikan bagaimana dia dengan tenang meninggalkan dunia yang fana. apakah Bapak melihat Satria di sana Pak? Apakah Bapak ketemu Satria? Apa cerita dia kepada Bapak? Apakah sekarang Bapak sudah tahu semuanya? Apakah Bapak sekarang sudah mendapat jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan kita?” Namun Ibu segera menoleh ke arah lain.”…. seperti palung terpanjang dan membara. Tetapi Ibu mana yang kehilangan anak tanpa kejelasan bisa tenang perasaanku bisa membuatku yakin.

Tapi selalu ada. Dasar Bapak. memberi komentar tentang situasi negeri. kata Bapak dua-duanya pekerjaan ngibulin Memang lain sekali Satria dengan kakak-kakaknya. Tidak jelas jam berapa. tukang bakmi tek-tek yang dulu-dulu juga.Terdengar dentang jam tua. tukang bakmi langganan Satria. satunya lagi Si Yanti jadi kurator galeri lukisan. sebelum akhirnya mendadak keluar semua ingatannya pada suatu ”Sudah sepuluh tahun. pakai kaos oblong dan sarung. tetapi malam bagaikan lebih malam dari malam. ’Seperti apa Satria kalau masih amarahnya: ’Para penculik itu pengecut semuanya! Tidak punya nyali berterus terang! Bisanya membunuh orang sipil tidak bersenjata. bagaimana dia diperlakukan. tapi tidak memanggilnya. kursi itu seperti biasanya. menyeruput teh panas. orang. malam entah karena apa. Tidak pernah ketemu lagi memang. Di luar rumah. ”Tapi ia tidak pernah lupa tentang Satria. ”Kenapa kamu tidak sekali-sekali muncul Bapak. Belakangan sebelum meninggal Bapak juga mulai pikun.’ kataku. dan apa sebenarnya yang telah terjadi. membaca koran. dan hanya didengarnya sendiri. atau kadang-kadang keluar Wajah Ibu kini tampak sendu sekali. Seperti masih selalu duduk di situ Bapak disediakan Si Mbok. ”Bapak. Lupa ini-itu. Ada saja yang dia omongin itu. atau ’Sedang apa ya Satria di sana?’. Yang sulung Si Bowo jadi pialang saham. mayat-mayatnya mengambang di Kali Madiun… menyusul Bapak. makan pisang goreng yang televisi. Muncul dong sekali-sekali Bapak. sembunyi-sembunyi pula!’ hidup sekarang?’. Kacamata terpasang saja dicarinya ke mana-mana…” ”Aku sendiri rasanya juga sudah mulai pelupa sekarang. sampai setahun lamanya. Ia selalu bertanya. Ibu masih berbicara sendiri. Duduk di . Bahkan tokek untuk sementara tidak berani berbunyi. ’apa semua orang harus ikut aliran kebatinan seperti Bapak?’. malah seperti lupa. ’Ya enggaklah kalau ngibul. banyak juga yang tidak pernah berubah. ”Bapak. lantas ngomong tentang dunia. banyak yang sudah berubah. Dua-duanya tidak mau pulang lagi dari apapun. Ibu tampak mengenali. menonton itu. datang menengok cuma hari Lebaran. Susah rasanya mengingat-ingat Ibu tersenyum geli sendiri. luar negeri. kenapa kamu tidak pernah muncul dalam mimpiku untuk bercerita tentang Satria? Pasti Satria menceritakan semua hal yang tidak diketahui selama ini. ”Bagiku Satria masih selalu ada. Biasanya Bapak ya cuma cengengesan. menyusul teman-temannya pemain ludruk yang semuanya terbantai dan ”Sebetulnya memang tidak pernah Bapak itu membicarakan Satria. di kursi itu. Tapi Si Mbok juga sudah meninggal.” lewat. kadang aku seperti melihatnya di sana.

” Ibu masih berbicara. Hanya lewat. ”Eh. telepon genggam itu terloncat dari tangan Ibu yang terkejut. ”Duduklah di situ dan ceritakan semuanya tentang Satria. Rahasia kehidupan. ”Pasti ibunya Saras lagi.” gumamnya. malah Si Saras. ”Ini suatu aib. tanpa senyum. tetapi kamu hanya muncul sebagai bayangan yang lewat. ”Tapi ini bukan rahasia kehidupan yang agung itu. Seperti segalanya yang akan tetap tinggal kosong. suatu kejahatan. ”Kursi itu tetap kosong. Ibu seperti tersadar dari mimpi. ”Ceritakanlah semua rahasia…. yang seandainya pun tidak akan pernah terbongkar…. Ibu beranjak mengambil telepon genggam.”Memang kamu selalu muncul dalam kenanganku Pak. kini seperti kepada seseorang yang tidak kelihatan. Telepon genggam Ibu berdering. Tapi rupanya bukan. ”Ya. seperti baru menyadari betapa kenyataan begitu buruk. ”Para pembunuh itu sekarang mau jadi presiden! . ”Gila!” Ibu berujar kepada tokek di langit-langit yang tidak tahu menahu. Apakah semua ini hanya akan menjadi rahasia yang tidak akan pernah kita ketahui isinya? ”Rahasia sejarah. bahkan juga dalam mimpi-mimpiku.” Ibu mengangkat telepon genggamnya di telinga. hallo… “ Setelah mendengarkan apa yang dikatakan Saras. seolah tiba-tiba telepon genggam itu menyetrum.

gugusan bintang mereka hubung-hubungkan dengan cadik penyeimbang perahu. Hayati pantai yang tampak kabur di bawah permukaan air laut yang hijau itu. . Terlihat Hayati mengangkat kainnya dan berlari cepat sekali. Hayati berlari begitu cepat. seolahsamping gubuknya. sambil menuruni tebing bisa melihat bebatuan di dasar lidah ombak kembali surut ke laut. “Cepatlah!” ujar lelaki bernama Sukab itu. bagaimana olah angkasa raya adalah ruang pelayaran bagi perahu-perahu seperti yang mereka miliki. yang selalu memberi kesan betapa sesuatu sedang sepanjang pantai yang pada pagi itu baru memperlihatkan jejak-jejak kaki Sukab dan terjadi. “Hayati! Mau ke mana?” olah beban di bahunya tiada mempunyai arti sama sekali. membuat pasir yang basah berkilat keemasan setiap kali Seno Gumira Ajidarma yang biasa memikul air sejak subuh. Wajahnya begitu cerah menembus angin yang selalu ribut. lantas berlari kembali ke arah perahu Sukab. sekaligus bagaikan terlapis karet atau batu karang yang tajam tiada berperi.Cinta di Atas Perahu Cadik Bersama dengan datangnya pagi maka air laut di tepi pantai itu segera menjadi hijau. mungkin kehidupan para nelayan dilepaskan dari perahu? Hayati masih terus menuruni tebing setengah berlari dengan pikulan air pada bahunya. seolahbahkan atap rumah-rumah mereka dibuat seperti ujung-ujung perahu. Kakinya yang telanjang bagaikan mempunyai alat perekat. melangkah di atas batu-batu hitam berlumut tanpa pernah terpeleset sama sekali. tiba-tiba terdengar derum suara mesin. Bulan sabit mereka hubungkan dengan perahu. lantas melangkah ringan Hayati. Onggokan batu karang yang kadang-kadang menyerupai Bukankah memang perlu waktu jutaan tahun bagi angin untuk membentuk dinding karang menjadi onggokan batu yang mirip dengan sebuah perahu. Tentu. sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Ternyata Hayati tidak langsung menuju ke perahu bermesin tempel tersebut. Para nelayan memang hanya tahu perahu. Lidah-lidah ombak berkecipak dalam laju lari Hayati. melainkan berlari dengan pikulan air yang berat di bahunya itu. Ia meletakkannya begitu saja di Seorang nenek tua muncul di pintu gubuk. Cahaya keemasan matahari pagi menyapu pantai. perahu tetap teronggok sejak semalam. “Sukab! Tunggu aku!” plastik alas sepatu karena seolah tidak berasa sedikit pun juga ketika menapak di atas batu- Di pantai. sejak bertahun. Seekor anjing bangkit dari lamunannya yang panjang.

“Dullaaaaah! Dullah! Suami lain sudah mencabut badik dan mengeluarkan usus Sukab jahanam itu!” Lelaki yang agaknya bernama Dullah itu masuk kembali. jadi itu perahu Sukab! Kulihat perahu berlayar kumal itu menuruti angin. Seorang lelaki muncul dari dalam gubuk. kulihat Hayati menyuapi Sukab dengan nasi kuning dan mereka tampaknya sangat bahagia. kulihat perahu Sukab menyalipku dengan Hayati di atasnya.” Nenek itu memaki. “Istri orang di perahu suami orang! Keterlaluan!” Namun ia masih mengetuk pintu gubuk-gubuk yang lain. Perahu Sukab yang juga bercadik melaju bersama cinta membara di atasnya. dan memang selalu kencang di pantai itu. Jawaban mereka bermacam-macam. dan perahu- Menjelang tengah malam.” “Perahu Sukab menyalipku. “Cabut badik? Heheheh. perahu Sukab belum juga kelihatan. burung-burung camar menghilang. “Ya. Pada akhir hari setelah senja menggelap. tetapi tidak tampak seorang pun di atasnya. menanyakan apakah mereka melihat perahu Sukab yang membawa Hayati di atasnya. bukannya mengamuk malah merestui!” Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala. Itu sudah tidak musim lagi Mak! Lebih baik cari istri lain! Tapi aku lebih suka nonton tivi!” Angin bertiup kencang. masih terdengar suaranya sambil tertawa dari dalam gubuk. aku juga sudah bicara kepadanya. nenek tua itu pergi dari satu gubuk ke gubuk lain.Perahu Sukab melaju ke tengah laut.” “Oh.” Nenek yang sudah bungkuk itu mengibaskan tangan. kami akan bercerai dan biarlah dia bahagia menikahi Sukab. Kulihat mereka tertawatawa. ya. . “Pergi bersama Sukab tentunya! Kejar sana ke tengah laut! Lelaki apa kau ini! Sudah tahu istri dibawa orang. “Hayati dan Sukab saling mencintai. sangat kencang. mesinnya sudah mati. perahu lain telah berjajar-jajar kembali di pantai sepanjang kampung nelayan itu. Mak?” Nenek tua itu menoleh dengan kesal. tetapi membentuk suatu rangkaian. “Ke mana Hayati.

hanya sandal jepit yang jebol. tidakkah selalu begitu? Kalau Hayati naik perahu Sukab. nenek tua itu menggerundal sendirian. berikut pancing dan bubu. bukannya tambah penumpang. lelaki dan perempuan yang sedang tertawa dengan mata genit. Wajahnya pucat. Isinya sama saja dengan isi semua gubuk nelayan yang lain. Sebuah foto Bung Karno yang usang dan tampak terlalu besar untuk rumah gubuk ini. Ia tidak melihat sesuatu pun yang aneh. “Waleh! Apa kau tahu Sukab pergi dengan Hayati?” Perempuan bernama Waleh itu menggigil di dalam kain batik yang lusuh. Bukankah memang selalu begitu jika Hayati berada di perahu Sukab?” “Ya. tentu saja tidak ada sepatu. lemari kayu yang buruk. Sebuah foto pasangan bintang film India. ketika terdengar suara lemah dari balik gigi yang gemeletuk itu. ombak yang berdebur dan mengempas dengan ganas. Nenek itu lagi-lagi menggelengkan kepala. Alas kaki yang serba buruk. di dalam sebuah bingkai kaca yang juga kotor. . “Anak apa ini? Umur lima tahun belum juga bisa bicara!” Waleh hanya menggigil di balik kain batik lusuh bergambar kupu-kupu dan burung hong. tapi mungkin ada juga yang lain. kursi buruk. dan di dahinya tertempel Nenek tua itu melihat ke sekeliling. Nenek itu sudah mau melangkah keluar dengan putus asa. pakaian yang buruk tergantung di sanasini. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. tetapi orangnya malah berkurang?” Melangkah sepanjang pantai sembari menghindari air pasang. Nyamuk berterbangan masuk karena pintu dibuka. tetapi tidak seorang pun di atasnya. “Mana Bapakmu?” Anak itu hanya menunjuk ke arah suara laut. bergemeletuk seperti sebuah mesin.“Aku lihat perahunya. Pandangan nenek tua itu tertumbuk kepada anak perempuan yang menatapnya. Giginya tambah gemeletuk dalam perputaran roda-roda mesin malaria. di dalam terlihat istri Sukab terkapar meriang karena malaria. berkeringat. Seorang anak perempuan yang rambutnya merah membuka pintu itu. “Bermain cinta di atas perahu! Perbuatan yang mengundang kutukan!” Ia menuju gubuk Sukab. dari sebuah penanggalan yang sudah bertahun-tahun lewat. dan jala di dinding kayu. meja buruk. mulutnya sebuah koyo. Dipan yang buruk. Ada juga pesawat televisi. tetapi tampaknya sudah mati.

Waleh tampak berusaha keras melawan malarianya agar bisa berbicara. kedua. bahwa jika bukan perahu Sukab muncul kembali di cakrawala. mereka percaya perahu Sukab terseret ombak ke seberang benua.“Aku sudah tahu…” “Apa yang kamu sudah tahu. dan ketiga setelah perahu Sukab tidak juga kembali.” yang mengumbar amarah menggebu-gebu. langsung menggigil dan mulutnya bergemeletukan kembali. orang-orang di kampung nelayan itu masih membayangkan. Namun karena tidak satu pun dari ketiganya muncul kembali. “Aku memang hanya orang kampung. Mereka bisa terseret ombak ke sebuah “Aku orang terakhir yang melihat Sukab dan Hayati di kejauhan. perahu mereka jauh melewati batas pencarian ikan kita. tetapi aku tidak mau menjadi orang kampungan dan jika dia bahagia bersama Hayati. Waleh?” “Tentang mereka…” Nenek itu mendengus. Ibu. tidak kelihatan di bawahnya! Mengerti kamu?” tapi ada yang hanya melihat perempuan jalang itu tidak memakai apa-apa meski suamiku Waleh yang menggigil hanya memandangnya. Nenek tua itu terdiam. atau memang hilang selama-lamanya tanpa kejelasan lagi. . Kudoakan suamiku pulang dengan selamat— Waleh yang seperti telah mengeluarkan segenap daya hidupnya untuk mengeluarkan katakata seperti itu.” kata seseorang. Hal itu selalu mungkin negeri lain dan kembali dengan pesawat terbang. melalui perceraian. dan suamiku masuk rumah sakit karena badik suami Wiji. maka tentu mayat Sukab atau Hayati akan tiba-tiba menggelinding dilemparkan ombak ke pantai. seperti sudah tidak sanggup berpikir lagi. agama kita telah memberi jalan agar mereka bisa dikukuhkan. “Ya. matanya terpejam tak dibuka-bukanya lagi. “Aku hanya mau bukti bahwa menantuku mati karena pergi dengan lelaki bukan suaminya menjadi korban kutukannya! Tapi kamu rugi belum menghukum si jalang Hayati!” dan bermain cinta di atas perahu! Alam tidak akan pernah keliru! Hanya para pendosa akan Mendengar ucapan itu. begitu pulang kujambak rambutnya dan kuseret dia sepanjang pantai. dan sangat mungkin. Hari pertama. karena memang sering terjadi. kamu tahu dan tidak berbuat apa-apa! Dulu suamiku pergi ke kota dengan Wiji. Masih juga mereka berlayar dan tidak pulang kembali! Semua orang yang melaut bilang tidak melihat sesuatu pun di atas perahu ketika melewati mereka.

tidak seorang pun dari para nelayan di kampung itu mengharapkan Sukab dan Hayati akan kembali. Kulit terbakar. yang dengan ini tak bisa dihindari lagi. di tengah angin yang selalu ribut terlihat pantai dan mendorong perahu itu sendirian ke atas pasir sebelum membuang jangkar yang lebih besar dari perahu mereka. Di tubuh perahu itu terikat seekor ikan besar menyengat sekali. pada hari ketujuh.” Segalanya mungkin terjadi. Juga mereka percaya bahwa mungkin juga Sukab dan Hayati telah bermain cinta di atas perahu dan seharusnya tahu pasti apa yang akan mereka alami. kadang-kadang tampak Waleh menggandeng anak perempuannya yang bisu. Desember 2006/ Merauke. sekali—tetapi mata keduanya menyala-nyala karena semangat hidup yang kuat serta api Namun keduanya juga mengerti. yang tentu saja sudah mati dan bau amisnya perahu Sukab mendarat juga. mereka seperti masih Namun setelah hari keempat. betapa bukan urusan siapa pun bahwa mereka telah bercinta di atas perahu cadik ini. Hayati. dan gigi keduanya jika terlihat tentu sudah kuning cinta yang membara. menyusuri pantulan senja yang menguasai langit pada pasir basah. Kalian tahu seperti apa orang yang dimabuk cinta…” Namun pada suatu malam. Kadang-kadang pula berharap dan menanti siapa tahu perahu cadik yang berisi Sukab dan Hayati itu kembali. Hayati tampak lebih kurus dari biasa dan keadaan mereka berdua memang lusuh sekali. Keduanya mengerti. tetapi kawin lari ke sebuah pulau entah di mana. sejak dulu ia selalu berlayar sendiri.“Sukab penombak ikan paling ahli di kampung ini. tampak Dullah yang menyusuri pantai saat para nelayan kembali. banyak lumba-lumba melompat di samping perahu mereka. Keduanya terdiam saling memandang. Di pantai. pakaian basah kuyup. April 2007 . “apalagi jika di perahunya ada “Apakah mereka bercinta di atas perahu?” “Saat kulihat tentu tidak. Tombak ikan bertali milik Sukab tampak menancap di punggungnya yang berdarah—tentu ikan besar ini yang telah menyeret mereka berdua selama ini. Sukab tampak lemas di atas perahu. cerita tentang ikan besar ini akan berujung kepada perceraian mereka masing-masing. setelah bahan bakar untuk mesinnya habis. “Kukira mereka tidak akan kembali.” sahut yang lain. mungkin bukan mati.” mana mau ia mencari ikan bersama kita. Hayati melompat turun begitu lunas perahu menggeser bibir kecilnya. Sabang.

Mereka datang dari Negeri Kemiskinan. biasanya seorang ibu dengan dua atau tiga anak yang masih kecil. anak-anak itu “Jangan sekali-sekali mendekati kere-kere itu. Tidak ketinggalan menanak air dengan kayu bakar dan masak seperlunya. perusahaannya pun banyak sekali. dengan seorang bapak Karena tidak pernah betul-betul mengamati. dengan plastik menutup gerobak dan mereka tidur di dalamnya. Kadang-kadang aku ingin sekali ikut bermain dengan anak-anak itu. Hanya saja gerobak ini ternyata berisi manusia. Salah satu dari gerobak itu berhenti pula di depan rumah gedung “Kakek. Semuanya ia tangani sendiri. Mereka seperti tiba-tiba saja sudah berada di dalam kota. aku hanya melihat gerobak-gerobak itu selintas pintas.” . dan Kakek tidak pernah membagi pekerjaannya yang berat itu dengan orang lain.” “Oh.” kata Kakek. “kita tidak pernah tahu apa yang mereka pikirkan tentang kita. Dari balik dinding gerobak gerobak sampah lainnya. kadang terlihat berhenti di berbagai tanah lapang. Dari mana dan mau ke mana? Aku tidak pernah berada di batas kota dan melihat gerobak-gerobak itu masuk kota. Apabila tanah lapang sudah penuh. dan nanti menghilang setelah Lebaran. menggelar tikar. ketika sedang berjalan merayapi berbagai sudut kota. bertenaga kuat yang menjadi penghela gerobak tersebut. tetapi Kakek tentu saja melarangku. dan tidur-tiduran dengan santai. seusiaku. Aku tidak bertanya lebih lanjut. atau bahkan di depan. Gerobak itu tidak ada bedanya dengan gerobak pemulung. seperti selalu terjadi dalam bulan puasa tahun-tahun belakangan ini. mereka datang untuk mengemis. mereka menginap di kaki lima. kuamati orang-orang di dalam gerobak itu. Dari jendela loteng. Namun kalau aku setiap hari disibukkan oleh tugas-tugas sekolah. dengan roda karet dan pegangan kayu untuk dihela kedua lengan berwarna putih itu akan tampak sejumlah kepala yang menumpang gerobak tersebut. gerobak-gerobak berwarna putih itu akan muncul di berbagai sudut kota kami. rumah gedung bertingkat. Di samping menjadi pejabat tinggi. karena kakekku adalah orang yang sibuk.Gerobak Seno Gumira Ajidarma Kira-kira sepuluh hari sebelum Lebaran tiba. Anak-anak kecil itu tampaknya pekerjaannya hanya bermain-main saja. siapakah orang-orang yang datang dengan gerobak itu Kek? Dari manakah mereka datang?” Kakek menjawab sambil menghela napas.” “Negeri Kemiskinan?” “Ya. mereka selalu datang selama bulan puasa. Tidak jarang mereka memasang juga tenda di depan rumahkakekku. memasang tenda plastik.

tetapi kurasa tentunya dekat-dekat saja. Kakek tidak pernah menjelaskan. tetapi tak bisa kuketahui apa yang Sekarang aku tahu gerobak-gerobak berwarna putih itu datang dari Negeri Kemiskinan. Demikian pula manusia-manusia dalam gerobak itu tampaknya merasa. Tampaknya orang-orang yang dianggap berkelebihan diandaikan dengan sendirinya jajar di depan rumah. Benarkah. Pernah pembantu rumah tangga di rumah Kakek yang terlambat sedikit pemandangan. tanganku erat-erat apabila didekati orang-orang yang berbaju compang-camping dan tepinya. Apa yang akan kamu pikir yang berdenging-denging melihat anak kecil berbaju bersih makan es buah dan pudding jika dari kegelapan melihat lampu-lampu kristal di balik jendela. Apa maksud Kakek? Apakah mereka akan menculik aku? Ataukah setidaknya mereka akan melompat masuk jendela dan merampas makanan enak-enak untuk berbuka bahkan sebaiknya menjauhi orang yang tidak dikenal. “Hati-hati terhadap orang miskin. Dari balik topi tikar pandan mereka yang sudah jebol dikatakan mata itu.” tetapi kewaspadaan Ibu memang akan selalu meningkat dan segera menggandeng sudah tidak jelas warnanya lagi. Ketika kemudian gerobak-gerobak itu makin banyak saja berjajar- harus tahu. dan mereka seperti merasa harus mendapat makanan tepat pada waktunya. Di jalan-jalan gerobak itu bikin macet. bahkan mobil pagar. menyebutkan kata-kata semacam. Mereka cukup hanya harus hadir di kota kami dan mereka akan mendapatkan sedekah yang tampaknya mereka anggap sebagai hak mereka. Juga tidak kulihat mereka menengadahkan mereka datang untuk mengemis? Aku tidak pernah melihat mereka mengulurkan tangan di tangan di tepi jalan dengan batok kelapa atau piring seng di depannya. Manusia-manusia gerobak ini seperti bersikap dunia adalah milik mereka . Nenek misalnya selalu mengirimkan makanan yang berlimpah-limpah kepada gerobak yang menggelar tenda di depan rumah. dan di tepi jalan keluarga gerobak yang Kakek sampai sulit sekali keluar masuk rumah karena gerobak yang berderet-deret di depan memasang tenda-tenda plastik seperti berpiknik itu sudah sangat mengganggu sendiri. sudah semestinyalah mereka mendapat limpahan pemberian sebanyak-banyaknya tanpa harus mengemis lagi. gerobak-gerobak yang lain itu juga mendapat limpahan makanan Begitulah dari hari ke hari gerobak-gerobak putih itu memenuhi kota kami. dalam kerumunan nyamuk warna-warni waktu berbuka puasa?” Aku tertegun. bahwa manusia-manusia dalam gerobak itu perlu mendapat sedekah. Sepanjang hari mereka hanya bergolek-golek di atas tikar. Jadi kapan mereka mengemis? Ternyata mereka memang tidak perlu mengemis untuk mendapat sedekah. memang selalu kulihat mata yang menatap.rumah orang untuk mengemis. Di karena bukankah gerobak itu dihela oleh orang yang berjalan kaki? Demikianlah gerobak- mana tempatnya. tidur-tiduran menatap langit dengan santai. depan rumah. gerobak itu dari hari ke hari makin banyak saja tampaknya. Memang mereka tidak pernah puasa ini? Aku memang selalu mendapat peringatan dari orangtuaku untuk hati-hati. pula. seperti kata Kakek.“Apa yang mereka pikirkan Kek?” “Coba saja kamu setiap hari hidup di dalam gerobak di luar sana.” atau “Orang miskin itu jahat.

Tetangga-tetangga juga sudah mulai jengkel. >diaC< Pada hari Lebaran.” “Bukankah mereka bisa pulang kembali ke Negeri Kemiskinan?” . Mereka berkemah di depan rumah-rumah gedung. mendapat omelan panjang dan pendek.” kataku kepada Kakek.” Para tetangga tidak membantah. Lagi-lagi Kakek menghela napas. kali ini gerobak-gerobak itu masih tetap di sana. mereka seperti mengalir tidak ada habisnya. Meskipun kota kami selalu menjadi sunyi dan sepi setiap kali Lebaran tiba. “Tenang saja. melompati pagar. tapi kapan mereka tidak kembali ke tempat asal mereka? Mereka selalu menghilang sehabis Lebaran. asri. karena tentu mendahulukan Kakek. entah dari mana. dititipkan kepada tetangga. itu banyak yang pulang kampung. Gerobakkuat yang melangkah keliling kota. Berkemah dan menggelar tikar di sembarang tempat. dan mewah dari luar pagar tembok. gerobak-gerobak itu ternyata tidak semakin berkurang.mengantar kolak untuk berbuka puasa. meninggalkan rumah yang kadang-kadang dijaga mereka tidur-tiduran sambil memandang rumah-rumah gedung yang indah. penghuni rumahrumah gedung satpam. dan berenang di selalu mereka tatap dari luar pagar dengan pikiran entah apa dan meninggalkan gerobak mereka untuk selama-lamanya? kolam renang mereka. orang-orang yang datang bersama gerobak itu telah menduduki rumah tersebut. Warga kota yang memasuki kembali rumah-rumah mereka terkejut. kokoh. Pada hari Lebaran. tetapi setiap tahun itu pula mereka akan selalu menghilang kembali. atau ditinggal dan dikunci begitu saja. Setiap tahun menjelang hari Lebaran gerobak-gerobak memenuhi kota. biasanya kan begitu. seperti hadir begitu saja di dalam kota.” “Tapi kali ini banyak sekali. mandi di kamar mandi mereka. dihela seorang lelaki dengan gerobak yang rupanya setiap hari bertambah dengan kelipatan berganda. Mereka juga berharap begitu.rumah gedung itu. bahkan sebagian telah pula masuk. merayapi tembok. Apabila kemudian warga kota kembali dari kampung. pulang ke Negeri Kemiskinan. pasti tidak lewat jalan tol. kuat. kali ini kota kami penuh sesak gerobak itu masih saja berisi anak-anak kecil dan perempuan dekil. padahal hari Lebaran sudah berlalu. “Mereka memang tidak bisa pulang ke mana-mana lagi sekarang.” kata Kakek. pada saat yang sama gerobak-gerobak masuk kota entah dari mana. Lebih dari separuh warga kota mudik ke kampungnya masing-masing pada hari Lebaran. Apakah mereka maunya hidup di dalam rumah-rumah gedung yang “Mereka masih di sini Kek.” “Ya. makan di meja makan mereka. “sehabis Lebaran mereka akan menghilang. tidur di tempat tidur mereka. dan hidup di dalam rumah.

dan tidak ada kepastian kapan banjir lumpur itu akan selesai. kenapa manusia tidak pernah cukup puas Aku tidak terlalu paham bagaimana lumpur bisa merendam Negeri Kemiskinan. Rupa-rupanya seperti patung yang bisa hidup dan bergerak-gerak.” Sekarang aku mengerti kenapa orang-orang itu tampak sangat amat dekil. Seperti mereka betul-betul hanyalah Mereka yang tiada punya rumah di atas bumi.“Ya. “kita harus dengan apa yang sudah mereka miliki.” sahut Nenek. Baru kusadari betapa manusia-manusia seluruh tubuh mereka seperti terbalut lumpur. Pondok Aren. bahkan merayapi tembok. di manakah mereka mesti tinggal selain tetap di bumi? Kakek merasa gelisah dengan perkembangan ini.” menerima segala akibat perbuatan kita. muncul di berbagai sudut kota entah dari mana. tidak bisa diusir dan tidak bisa dibunuh. tetapi Negeri Kemiskinan sudah terendam lumpur sekarang. setelah hari Lebaran berlalu. 7 Oktober 2006 kosong. Apakah gerobak putih sama sekali tidak pernah berkurang. sehingga kadang-kadang mereka tampak patung dan hanya mata mereka akan menatapmu dengan seribu satu makna yang terpancar dari sana. Heran. gerobak ini memang sangat jarang berkata-kata. Sebaliknya semakin lama semakin maksudnya lumpur kemiskinan? Aku hanya tahu. tinggal di sana entah sampai kapan. Barangkali saja untuk selama-lamanya. “apakah mereka harus berbagi tempat tinggal dengan kere unyik itu?” “Siapa pula suruh merendam negeri mereka dengan lumpur. melompati pagar. Minggu.” katanya kepada Nenek. menduduki setiap tanah yang bertingkat. “Bagaimana nasib cucu-cucu kita nanti. gerobakbanyak. memasuki rumah-rumah gedung .

karena sesungguhnyalah hubungan cinta kami yang barangkali abadi itu adalah sesuatu yang diperjuangkan. berbeda agama pula-betapa beratnya usaha kami menyatukan diri. Kami sering dilahirkan kembali sebagai manusia. nah. dan bukan takdir itu sendiri. menjadi pasangan baru. Dunia hanyalah laut dan langit yang dibatasi garis tipis melingkar. dan bayang-bayang bisa berkelebat menembus segala tabir. kami selalu bisa saling mengenali dan mengusahakan segalanya untuk menyatu kembali. bahkan kami pun bisa bingung sendiri. Memang kembali. namun kami udelnya. berkarat hanya karena sebuah jarak dari Labuan Bajo ke Komodo. Walaupun kami terbukti Demikianlah cinta kami selalu diuji. terlalu banyak manusia merasa berhak untuk tidak setuju dan melarang hubungan kami. dan semenjak saat itu kami menjadi semacam takdir ketika tiada sesuatu pun di dunia ini yang bisa memutuskan hubungan cinta kami. karena sesungguhnyalah aku tidak akan bisa tahu apakah benar cinta kami yang barangkali abadi itu adalah takdir. tetap bertahan. tiada seorang pun yang akan mengizinkan dirinya untuk memahami. meski perahuku tapi kutahu cintaku belum akan berkarat bila tiba di pulau itu. cinta yang abadi adalah sesuatu yang tetap penuh pesona. Hanya kekosongan. Bibirku terasa asin dan rambutku menyerap garam. lengket bagai benalu. menimbulkan tanda tanya: Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku? Setiap kali kami mati dan dilahirkan kembali. karena kami memang tidak terpisahkan. Aku mengatakannya semacam takdir. membentuk garis lingkaran yang tiada pernah berubah jaraknya. begitu juga bayang-bayang kami yang selalu mengikuti. Apabila kami berbeda kulit. dari suatu masa ketika cinta pertama kali memang bukan besi? Aku dan kekasihku diciptakan dari sepasang bayang-bayang di tembok yang tubuhnya sudah mati. Barangkali itulah yang disebut dengan cinta abadi. tetap misterius. lantas saling mencintai. jika cinta ini belum juga ada? Lagi pula bagaimana cinta akan berkarat karena angin yang bergaram jika cinta berkarat setelah mengarungi berabad-abad jarak. benarkah begitu kuat usaha kami untuk menyatu menyerah karena berbagai macam halangan yang sebenarnya bisa saja diatasi. Kami seperti tiba-tiba saja ada dan saling mencintai sepenuh hati. tetap membara. Bagaimana cinta akan melaju menembus angin yang bergaram. Kami memang diciptakan dari sepasang tidak pernah lahir kembali sebagai sepasang bayang-bayang yang bisa berkelebat seenak bayang-bayang. tapi sungguh mati memang hanya seperti dan sekali lagi hanya seperti. tapi aku hanya berani mengatakannya semacam takdir. ataukah cinta kami ini hanya cinta begitu-begitu saja yang terlalu mudah . dan tetap terus-menerus diperjuangkan terus-menerus sehingga cinta itu tetap ada.Cintaku Jauh di Komodo Seno Gumira Ajidarma Hanya laut. kemudian berbeda kelas sosial. dan sebagai manusia kami tidak menempel seperti ketan. tetap menggelisahkan. Apalagi jika kami lahir kembali masing-masing sebagai pasangan resmi orang lain. Cinta yang abadi kukira bukanlah sesuatu yang ditakdirkan. barangkali menunggu kami mati dan bisa berkelebat seenak udel kami.

dengan segenap petir dan halilintarnya yang tanpa membuat kami selalu bertemu kembali. masihbisa mencintaikekasihku. Karena undang-undang melindungi komodo. Perburuan liar telah mengurangi jumlah kijang yang biasa dimakan komodo. kekasihku berenang dan menelan seorang anak gadis berusia 12 tahun. Sebagai seekor komodo. dan aku tidak mengetahuinya. tidakkah cinta itu tiada memandang wujud. Apakah aku akan bisa bertemu dengan kekasihku kali ini? Tanda- kekasihku menimbulkan masalah besar. sebagai manusia biasa. bersentuhan sama sekali. kami akan saling mengenali. kekasihku sudah lahir berpuluh tahun sebelumnya dan hampir mati. melainkan dibuang ke suatu wilayah di Pulau Flores yang asing yang dimusuhi oleh komodo-komodo lain. sehingga kekasihku dengan kelaparannya yang amat sangat telah menerkam dan maka kekasihku tidak dibunuh. Lain kali aku lahir kembali sebagai perempuan dan kekasihku lahir kembali tetap sebagai perempuan. Karena kami selalu berperilaku baik. Namun. begitulah. maka kesenjangan tubuh macam apakah yang akan bisa menghalanginya? Justru itulah masalahnya sekarang: apakah aku. tapi mereka sebetulnya tidak tanda alam memberi isyarat kepadaku. Tetapi. yang sekarang berada di Pulau Komodo. Atas nama cinta. yakni cinta yang dahsyat itu. meski terkadang penuh dengan lukaluka cinta di sana-sini karena ketergodaan yang terlalu menarik untuk tidak dilayani. jikakekasihku itutelah menjadi komodo? Hanya laut. Apabila kami bertemu dari kelahiran satu ke kelahiran lain. sehingga lahir kembali sebagai komodo? Apakah ia masih akan mengenaliku dengan pancaindra dan otaknya sebagai seekor komodo? Kalaulah aku masih mempunyai kepekaan untuk mengenalinya. Pasti Supermie tidak akan pula kekasihku? dan apa yang akan kami lakukan? Aku tidak mungkin mengawini dan membawanya sebagai mengenyangkannya. Akibatnya. apakah yang masih bisa kulakukan untukmu . Sering kali ini sangat membingungkan-tetapi selalu bisa kami atasi. belum pernah kami lahir kembali dengan berbeda spesies seperti ini. karena telah memakan seorang anak gadis yang sedang mandi di sungai. Dalam sejarah percintaan kami dari abad ke abad. di tempat yang baru itu. kami selalu lahir kembali sebagai manusia-kesalahan apakah yang telah dilakukan kekasihku. kekasihku telah dilahirkan kembali dalam wujud seekor komodo. dan tiada pula memandang usia? Jika cinta memang mempersatukan jiwa. bagaimanakah caranya ia akan mengenalikuseekor komodo ke dalam apartemenku di Jakarta. bisa berupa kursi kekuasaan. kukira. Hmm.begitu banyak godaan kepada kesetiaan cinta kami: bisa berwujud harta kekayaan. Laut dan langit bagai bertaut. kekasihku dianggap sebagai komodo menyeberangi laut untuk kembali ke Pulau Komodo-dan kini aku datang ke pulau itu untuk mencarinya. juga dihuni komodo. tapi yang paling berbahaya adalah pesona cinta itu sendiri. Hanya kekosongan. Suatu kali bahkan ketika lahir kembali sebagai bayi. Cinta diuji oleh cinta. Kesetiaan kami masing-masing telah hebohnya. meski perbedaan duniawi yang membungkus kami bisa mengakibatkan masalah berarti. hanyalah menjadi sejati jika tahan uji terhadap cinta yang sama kecuali menggetarkan dan mendebarkan hati. Cinta yang sejati. Itulah yang terjadi misalnya ketika aku lahir sebagai pendeta dan kekasihku lahir sebagai putri raja.

dan kukira ia tidak mengenaliku lagi-apakah ternyata mengenal wujud-meskipun komodo jantan itu memang penjelmaan kekasihku. Baca Linda Hoffman.hatiku terasa kosong. kaki kiriku sudah masuk ke mulutnya. dan mencintai kekasihku…. sebanyak 1. “Introduction” Lombok to Timor (1997). aku berhasil menyelamatkan diri dari serangan sejumlah komodo. langsung patah beberapa bagian. Juli 2003 * Judul ini mengacu kepada judul sajak Chairil Anwar. ataukah hanya seolaholah ada dan dipercaya begitu rupa sehingga mengelabui para peminatnya? Mungkin cinta aku sangat mencintainya. hal 111-114. Karena aku turun di kampung Komodo dan bukan di Loh Liang. Ternyata. East of Bali: from . tepat di hadapan mulutnya yang menganga. akhirnya aku bertemu dengan seekor komodo yang kuyakini sebagai kekasihku. Aku tidak sempat memanfaatkan tongkat bercabang itu- apakah aku akan lebih bahagia jika menyerahkan jiwa sebagai pengorbanan cinta? Kurasa hanya kurasakan kegelapan-dan perasaan menyatu. aku menjelajahi pulau itu siang malam tanpa pengawal. Ingatan terbalik atas sajak Afterthought : cintakah kau padanya / cintakah kau padanya dalam Toeti Heraty. dan meluncur masuk ke kubangan. Sisa makhluk purbakala itu baru ditemukan secara resmi pada 1911 oleh tentara Hindia Belanda dan diberi nama pada 1912 oleh PA Ouwens. 2. hal 75. Cintaku Jauh di Pulau (1946). tempat para petugas Taman Nasional biasa memandu wisatawan. Aku terpeleset dari tebing. Bersenjatakan tongkat bercabang. Rupanya kekasihku menjadi seekor komodo jantan. Nostalgi=Transendensi (1995). apakah cinta yang abadi itu sebenarnya memang ada. aku menjadi ragu. dan “Enter the Dragon: Visiting the Island of Dinosaurs” dalam Kal Muller. Labuan Bajo. Semuanya sudah terlambat. dengan jumlah sekitar 1. Setelah menjelajahi pulau itu selama dua hari dan bertemu dengan sejumlah komodo. dan selalu disebut hanya terdapat di Pulau Komodo. Kalau aku tidak keliru. Apakah yang masih bisa kukenal pandangan mata yang penuh dengan cinta.650 ekor (1994). Sudah jelas ia tampak kelaparan. tapi hanya kulihat sebuah pandangan mata yang masih sahih jika aku berusaha tetap mempertahankan cinta? Dalam keadaan seperti ini. Reptil bernama resmi Varanus komodoensis yang panjangnya bisa mencapai tiga meter dan berat 150 kilogram.000 ekor. Di dalam tubuh itu 1. Kami bertemu pada suatu siang yang panas dan aku sedang mendaki ketika kulihat ia dari kekasihku yang cantik jelita pada komodo jantan ini? Tadinya masih kuharapkan merayap ke arahku di bawah kerimbunan semak-semak. dan suatu wilayah di Flores yang jumlahnya belum sempat dihitung. seluruh tubuhku tersedot masuk ke dalam tubuh komodo itu sekarang. kurator Museum Zoologi Bogor. terdapat pula di Pulau Rinca. aku bertanya-tanya apakah aku bisa mencintainya seperti aku kosong. Ketika akhirnya kami berjumpa di sebuah kubangan pada sungai kering berbatu-batu. sampai kutemukan komodo jantan yang pernah memakan anak gadis itu.

yang bersebelahan dengan Pulau Komodo. terjemahan A 5. op. namun terjadinya di Pulau Rinca. Lebih Ikram. mempunyai kebudayaan dan bahasa sendiri. yang dialami seorang bocah lelaki pada 1987. cit. pada 1972. Kampung Komodo. yang lenyap di Poreng.. satu-satunya kampung di pulau itu. jauh baca JAJ Verheijen. Pulau Komodo-yang tertinggal hanyalah tripod- . Rakyat.. Mereka menyebut komodo sebagai ora. Korban terakhir adalah Baron Rudolf Van Biberegg. hal 111-2. dalam Muller.3. dan Bahasanya (1987). 4. wisatawan asal Swiss berusia 84 nya. Muller. ibid. Pulau Komodo: Tanah. terdiri atas 400 KK (2003). kaki tiga untuk kamera. hal 112 tahun. Bagian kisah ini mengacu kepada suatu kejadian.

“Apakah mereka sudah menyanyikan Cantandole a lo Nuestro?” si pria bertanya. Matanya menatap ke pengamen obor api yang memasukkan dan mengeluarkan obor berapi di mulutnya.” Ia mengakhiri kalimatnya dengan sekulum senyum. “Aku baru saja mendapatkan cucu ketiga. Kepalanya botak. barat sana. “Siapa orangtuanya?” ia bertanya.Cinta Elena & Pedro Aba Marjani Wanita tua itu duduk sendirian di kursi pedestrian Las Ramblas.” .” Seorang pria duduk di sebelahnya. Seperti ada beban yang menindih. Kau bisa memberinya beberapa pesetas dan meminta mereka menyanyikannya untukmu. Muy bonita. Mi Jaragual (My Little Farm). Sesekali ia mengangguk atau melemparkan sesungging senyum Sudah hampir pukul sembilan malam rupanya. Si wanita mencium aroma wewangian dari tubuh si pria. Sinar matahari masih terlihat jelas di ufuk mereka. Semilir angin menggeraikan rambutnya yang keemasan. Ia setua si wanita. Sebuah tongkat kayu dari pohon ek berada di tangannya.” “Untuk kita. Elena?” “Bien.” Si wanita tersenyum. Ada juga yang membeli kaset hand made-nya seharga 10 pesetas. Kesegaran menjalari seluruh tubuhnya.” kata si wanita beberapa saat kemudian. Pedro. Pengamen-pengamen asal Puerto Riko asyik menyanyikan lagu-lagu tradisional Farmer’s Song). Berkilat-kilat kena cahaya lampu yang mulai dinyalakan. Sesaat ia diam. Beberapa orang berkerumun untuk mendengarkan. Bara cinta meletup di dadanya. “Una hija. Ada nada pedih. “Ya. “Belum. “Si bungsu.” Tersenyum. “Aku selalu menyukai lagu itu. “Como estas. meluncur mendayu-dayu diiringi dansa-dansa yang amat indah. Muy bien. Si pria menoleh. tangan si wanita memegang tangan si pria. Suaranya datar. untuk kita. hoy.” katanya. Suaranya lirih. Lagu-lagu tentang semangat kerja rakyat petani. El Cantar de un Campesino (A kepada orang-orang yang lalu lalang di depannya dan kebetulan menoleh ke arahnya. Julia. Pedro.

Stadion kebanggaan pendukung El Barca itu terlalu banyak 6024m. Tanpa berkata. Itu yang membuatnya berhenti sebagai torero. “Aku sebenarnya menginginkan ia menjadi pemain sepak bola. Di musim panas. lintasan kebahagiaan berpendar-pendar. “Kalau ia menuruti kata-kataku. Tangannya masih dalam genggaman tangan si wanita. Ia masih tampan seperti dulu. Aku tak ingin ia berada di Nou Camp.0<>w 8000m< 26 tahun lalu. Api cinta bergejolak di dadanya.” katanya dengan sunggingan senyum tertahan. Ia selalu merindukanmu.” Malam terus merayap. meskipun itu Si pria melirik si wanita. Demi aku. Dalam benaknya. bertaut. si wanita membatin. cinta mereka berdenyut. Ia tahu Pedro tak tahu tentang mereka. Di wajahnya berdebar. Pedro datang dengan segala atribut El Barca. “Bagaimana kabar Raul? Apakah ia bahagia dengan Bettina?” si pria bertanya. Begitu juga Elena. Di dada mereka bunga-bunga cinta membalut.” kebanggaanku meski aku orang Basque. Begitulah selalu di Spanyol. Pedro. memandang laki-laki di sebelahnya itu. wajah Raul bergulir. Monumental de Barcelona. Seorang pria tinggi besar yang hampir saja tewas karena serudukan banteng di gelanggang matador di La adalah cita-citanya sejak kecil. Di sanalah ia dan Pedro pertama kali bertemu ketika Barcelona dikalahkan Liverpool dalam suatu pertandingan tingkat Eropa >jmp -2008m<>h ingin Raul berada di Nou Camp. Jantung keduanya serasa lebih cepat Dua tahun Elena dan Pedro bahu-membahu sebagai pendukung Barcelona sampai kemudian cinta mereka dipisahkan oleh takdir. El Merengues selalu jadi tim ingin ia berada di Santiago Bernabeu. Matahari sebentar lagi akan lenyap ditelan Bumi. Pedro? Por que?” si wanita menoleh. Ia menyembunyikan sukacita di hatinya. Api cintanya membara. Tak sabar. sama seperti El Barca yang dua tahun sebelumnya . “Kau ingin aku mengatakan apa? Aku turut bahagia dengan segala anugerah yang kau terima? Begitukah?” “Setidaknya kau bisa berkomentar apa saja. Dalam sekali pandang. Akan ada dua Raul di sana. “Kau tak ingin mengatakan apa-apa lagi. matahari seolah enggan buru-buru berhenti menyinari Bumi.” Mendadak si pria tersenyum getir. Ia ingin sekali menjadi seperti Pedro Romero. Tangannya masih juga memegang tangan si pria. Aku cuma Si wanita tersenyum. mungkin saat ini ia tengah bertanding di La Liga bersama Raul Gonzalez. Ia menunggu jawaban si wanita dengan dada “Raul sering kali menanyakanmu. Kau bisa pura-pura bahagia.0<>w 6024m<1)>jmp 0m<>h 8000m. matador legendaris yang amat masyhur.Si pria menarik napas. yang selalu dielu-elukan penonton dalam setiap pertunjukan.

Kelompok Elena.” Elena tersenyum sumringah. “Buenos dias. “Seperti yang kau lihat. juga tetap setia duduk di kursi yang kemarin masa. Kesejukan di hatinya singgah. Yang membuat langkahnya terasa lebih ringan.” “Mi. “Buenas noches. si pria tua itu. tongkat di tangan. Si pemudi menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemuda. Semuanya mempertontonkan kelebihan masing-masing seraya berharap ada pejalan kaki yang rela menyisihkan uang recehnya beberapa pesetas. “Pedro. Sisa-sisa api cinta berpendar-pendar di matanya yang cerah. menghentikan langkah si pria. Tongkat dari kayu ek itu lebih hanya sebagai teman. “Sudah saatnya kita berpisah. Ia khawatir hitungannya terhenti pada Tanpa terikat apa-apa. Ia belum pikun untuk menghitung bilangan tertentu. Tanpa tongkat “Buenos dias. Mereka tak menadahkan tangan.” Si pria bangkit. seperti coba mencari topik pembicaraan di sore yang juga cerah. Mengecup kening si wanita. “Kukira sudah terlalu malam.” katanya. ia memang tak ingin menghitung. Tanpa menoleh. Yang diketuk-ketuknya perlahan-lahan ketika ia berjalan. bukan?” si wanita menjawab. Elena. tambien. Ada yang berperilaku seperti manekin hidup dengan tubuh berbalut semacam cat putih dan baru mengubah posisi mematungnya penyanyi Puerto Riko juga tetap setia membawakan lagu-lagu rakyatnya di depan sebuah toko yang menjual berbagai macam majalah dan koran. keduanya krim di tangan mereka. Pejalan kaki tetap berseliweran dari pagi sampai pagi. Sepasang muda-mudi kemudian duduk di kursi di depan di seberang mereka. Sejak dulu matamu selalu bagus. Pedro.” Si wanita tersenyum. Ia ingin menikmati masa-masa tuanya seperti yang ia inginkan sendiri. ia duduk di sebelah si wanita. Aku pamit. si wanita berambut keemasan itu. muncul belakangan. Ada yang santai. manakala seseorang melempar uang receh pada sebuah wadah di depannya. didudukinya. bersama-sama menggigit es krim di tangan si pemudi dalam waktu bersamaan.disisihkan klub sepak bola dari tanah Inggris itu. Seperti juga hari-hari sebelumnya. Hasta luego. Elena.” Tak ada yang berubah di Las Ramblas. Di dadanya rasa nyaman merambah. Entah ini hari ke berapa ia berada di sana. “Kau sehat?” si pria bertanya. Dengan itu pun ia sebenarnya masih bisa bertahan. Para pengamen berdiri di sisi jalan dengan kesabaran tanpa batas.” katanya begitu tiba. Tanpa menunggu jawaban. Suaranya agak parau. Dengan es Si pemuda menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemudi. ada yang dalam gegas. Tapi. “Te amo. Mereka menjual kepandaian. Cinta memang tak selalu mempertautkan raga meski jiwa mereka takkan terpisahkan oleh apa saja. Lalu mereka . Lalu.” kata si pria kemudian.

pejalan kaki yang berseliweran. “Kau masih ingat ketika itu aku meringis. Dan kini alam mempertemukan renta mereka. sudut-sudut Plaza Montjuic jadi saksi abadi keabadian cinta mereka. Cinta mereka memang terbelenggu. Tak pernah terbayangkan hal itu dapat terjadi. Mereka seolah cuma ada berduaan. Elena. Dan keduanya pun kemudian berpisah dalam dekap penuh tangis di sebuah kamar hotel tua di sisi pedestrian Las Ramblas ini. bukan?” si wanita menoleh. “Ya. Saat itu mereka yakin tersemaikan dalam sebuah romantisme kasih tak terperi. Sambil coba mencari jawaban yang paling mimpi-mimpinya. “Kau mencintai istrimu. cinta mereka tetap bergelora. disujudkan kepada laki-laki yang tak dicintainya. Hampir dua puluh delapan tahun peristiwa itu berlalu. Si pria tersenyum. Tapi kasih mereka tak dilekangkan oleh perubahan dan waktu. Ketika saling memberi dan menerima merasuk.” Kenangan-kenangan indah bermunculan susul-menyusul memenuhi benak mereka Si wanita tersenyum. Ketika kelana cinta mereka menari-nari dalam sinar mercury yang remang. “Almarhumah istriku?” ia mencoba mengulur. katamu gigimu sedang sakit. Api cinta mereka memang terpendam. Selain Nou Camp. si wanita terkasih. Setelah sekian lama mereka kerap bertemu dan saling mencurahkan isi hati yang pernah hancur. Jika aku berkata jujur. Dalam tubuh memudarkan hasrat mereka untuk tetap bersama. Inilah untuk pertama kalinya pertanyaan seperti itu meluncur. tepat. Keduanya teringat masa-masa lalu yang indah di dari simfoni-simfoni klasik gubahan Beethoven entah berapa waktu lalu. takkan ada yang mampu memutus tali dan jalinan kasih mereka. Bukankah kau sakit gigi waktu itu?” “Bukan sakit gigi. setelah setetes benih juga Tapi. Ketika mereka saling memagut dalam alunan cinta yang kian bertaut. Wanita yang dulu selalu hadir dalam . Haruskah aku menjawabnya secara jujur? Si pria bertanya dalam hati. Elena harus menikah dengan pria lain pilihan ayahnya. Wajah mereka basah oleh air mata dan tetes-tetes cinta. Mereka tak peduli dengan Plaza Montjuic di bawah tempias air mancur yang meloncat-loncat seiring dentuman drum membuat mereka mabuk. Si pria menoleh. Cinta yang tak lekang oleh waktu dan perubahan. Masa tak mampu memupus dan keduanya kembali. Ketika cinta tengah manakala mereka tengah duduk berdua seperti sekarang ini. Dalam tubuh yang renta. tertawa-tawa berkakakan. Yang takkan melukai hati si wanita di sisinya. Sariawan membuat gusiku peka. Demi sebuah bisnis keluarga. apakah hatinya takkan hancur? Ia kembali mengetuk hatinya dengan pertanyaan penuh keraguan. api kasih masih panas membara. Pedro?” si wanita bertanya. takdir itu kemudian datang memisahkan mereka. Tapi tak pernah padam.

Si wanita menoleh. Melemparkan senyum. Dengan bibir yang masih tampak ranum.

Setidaknya di mata si pria yang kian rabun. Tapi, senyuman itu sekaligus membuat si pria

gelisah. Membuat hatinya resah. Dan ia merasa keringat telah membuat telapak tangannya basah. Embusan angin membuat hatinya makin galau. Di dadanya menggumpal rasa risau. Pedihnya seperti tertusuk-tusuk sejuta pisau.

“Setidaknya aku punya anak dari Evita,” suaranya parau. “Aku mencintai anak-anakku. Pablo dan Javier.” Ia diam sejenak. Sesuatu seperti membuat tenggorokannya tersedak. Ketika ia melirik si wanita, ia melihat angin membuat rambut si wanita tersibak. Dan ia seperti segenap keberanian.

menunggu. “Apakah, apakah kau mencintai suamimu?” ia bertanya setelah mengumpulkan

Si wanita tertawa kecil. Suaranya agak menggigil. “Mengapa kau tertawa, Elena?” si pria bertanya. “Seperti kau, dari Enrique aku punya Julia.” “Dan Raul.” “Kau tak ingin mengatakan Raul sebagai anakmu?” Si pria tak segera menjawab. Seolah ingin membiarkan pertanyaan itu menguap. “Kau masih mendengarkan aku, Pedro?” “Ya,” tenggorokan si pria terasa kian tercekat. “Raul mungkin darah dagingku. Tapi ia anakmu dan Enrique.”

Malam merayap naik. Udara dingin kian terasa menusuk tubuh mereka yang renta. “Aku pulang dulu, Elena,” kata si pria mendahului setelah seorang pemuda meluncur di depannya dengan sepatu roda di kakinya.

Elena bangkit. Pedro pun bangkit. Ia mengecup kening si wanita. Lalu melangkah ke arah utara. Si wanita melangkah ke selatan, ke Plaza de Catalunia.

HARI berikutnya, keduanya bertemu di Plaza de Toros La Monumental de Barcelona, sebuah bangunan tua yang tetap terawat dengan sangat baik. Keduanya memang selalu menyukai aksi para torero dan matador membunuh banteng.

“Kudengar makin banyak yang menentang pertunjukan seperti ini,” kata si pria ketika

keduanya duduk di kursi dari kayu tua di barreras. “Kelihatannya memang tak manusiawi. Tapi alam diciptakan Tuhan untuk manusia. Makhluk-makhluk lain adalah pelengkap. Mereka harus menjadi bagian yang membahagiakan manusia.”

“Itu katamu,” si wanita menyunggingkan senyum ketika para paseillo memasuki arena dan melambaikan tangan mereka kepada para penonton. Sejak kecil, si wanita selalu dibuat

kagum oleh pakaian para torero yang berwarna-warni. “Mereka, para pencinta lingkungan dan binatang, menginginkan semua makhluk hidup, hidup berdampingan secara damai.” “Tapi ini tradisi kita,” si pria membantah. “Aku tahu. Dan kita ke sini bukan untuk berbantah-bantahan, bukan? Kita ke sini untuk

menonton.”

membatin. Ia ingat ketika pertama kali memasuki La Monumental de Barcelona sebagai

Si pria terperangah oleh suara si wanita yang terdengar getas. Ia masih seperti dulu, si pria

sepasang kekasih. Elena menolak duduk di barreras karena harga tiketnya mahal. Ia lebih suka duduk di gradas. Tiketnya paling murah. “Kalau kau mau duduk di sana, silakan kau kanan si wanita dengan tangan kirinya. Menggenggamnya erat-erat. Seperti tak ingin terlepas. duduk sendiri. Aku mau kita di gradas,” katanya ketika itu. Buru-buru si pria meraih tangan

Seorang novilladas memasuki arena. Siap memulai pertunjukan. Tepuk tangan kecil terdengar. Begitulah selalu nasib para matador pemula. Ia harus lebih dulu mempertontonkan kecekatannya menguasai seekor banteng sebelum kemudian diakui

menjadi torero dan akhirnya setelah kemampuannya teruji, menjadi matador sesungguhnya. “Siapa matador kesukaanmu sekarang?” si pria berdehem sesaat kemudian. “Seperti cintaku padamu, sampai sekarang aku masih lebih menyukai Pedro Romero.” “Tapi ia telah tiada.” “Karena itu, hari ini aku ingin melihat aksi Enrique Ponce.” “Enrique?” Si wanita menoleh. Tersenyum penuh arti. “Jangan seperti anak kecil, querido mio. Tak ada hubungannya dengan Enrique almarhum Enrique dalam batinku.”

suamiku. Aku menyukainya karena kehebatannya, bukan karena namanya. Saat ini tak ada

Enrique Ponce memasuki arena. Ia akan memuncaki pertunjukan siang itu. Tepuk tangan membahana ketika ia keluar dari puerta grande. Tepuk tangan kian membahana ketika seekor banteng besar seberat 360 kg dihadapkan kepadanya. Dan, ia tak perlu berlamaperlahan-lahan seperti bersujud di hadapan sang matador.

lama untuk menancapkan estoque-nya melalui leher bagian atas si banteng yang kemudian

“Ia seperti memiliki mata malaikat,” si wanita berkata, seperti mendesah. “Ia memang luar biasa. Suatu saat ia mungkin bisa seperti Pedro Romero, sang legendaris itu,” sambung si pria.

Kini keduanya duduk di sebuah kursi panjang terbuat dari besi di sisi jalan tak jauh dari Plaza de Toros. Matahari bersinar amat cerah. Langit tampak kebiruan.

hoopoe dari kejauhan.

“Aku tak ingin semua ini segera berakhir,” si pria berkata, ditingkahi suara burung-burung

“Tapi hidup ada batasnya,” sahut si wanita seiring desiran dedaunan pohon palem yang ditiup angin.

“Kau ingin kita menyudahi semuanya, Elena?” Tak terdengar sahutan. Mata si wanita menatap ke kejauhan. Di sana tampak empat pria tua martil.

asyik bermain petanque, yaitu permainan melempar besi berbentuk bulat seperti bola lontar

“Kau ingin aku menikahimu?” si pria kembali bertanya. Si wanita meringis. “Akan menjadi pernikahan yang menarik,” ia mendesah beberapa saat kemudian. “Tapi Raul tak ingin hal itu terjadi.”

Si pria tampak terperanjat. “Sudah kau ceritakan siapa aku kepadanya?” si pria bertanya. Menduga-duga. Rasa galau berloncatan di dadanya.

“Tidak seperti yang mungkin kau sangka. Baginya, kau cinta pertamaku. Ia tahu apa itu artinya.”

“Tapi, kenapa ia tak setuju kita menikah?” Tak segera terdengar sahutan. “Aku tak ingin tahu alasannya. Aku cuma tahu ia tak setuju.” Lama keduanya terdiam. Hening menyungkup kamar itu. Si pria duduk memandang si wanita. Ada gelora cinta. Menggemuruhi dada keduanya.

“Kau masih secantik dulu,” katanya lebih mirip desahan. Suaranya agak tertahan. “Cintaku tak pernah dilekangkan oleh zaman.”

Setetes air bening menetes di mata si wanita. Tak ada luncuran kata. Ia tetap diam tanpa suara, beberapa lama. Tapi di dadanya kebahagiaan melanda.

Si pria berdiri. Melangkah perlahan menghampiri. Si wanita duduk diam menanti. Dadanya berdegup tiada henti.

Muy bien. parade para matador sebelum pertunjukan. Mendaki dan mendaki. Tapi gemuruh cinta di dada keduanya berdentam-dentam. Tak ada yang dapat dipersalahkan.* Jakarta. si pria menatap bebukitan tandus tapi memberinya gairah meluap. Gairah di dadanya pun meletup. “Tak ada yang perlu dimaafkan. dan Javier berdiri berjajar. Buenos dias.” kata Julia lirih. selamat malam. Una hija. aku juga. La Liga. baik sekali. Por que? Kenapa? Torero. Muy bonita. divisi utama Liga Spanyol. “Aku minta maaf atas semua yang telah terjadi. Mendaki. sebutan umum untuk matador. nama mata uang Spanyol. tambien. Gradas. tempat pertunjukan matador. Dalam sunyi abadi. Di hadapan mereka berjajar dua tubuh dalam diam. Buenas noches.Beberapa lama si pria dan si wanita duduk dalam diam. julukan klub sepak bola Real Madrid. El Merengues. Si wanita tergagap. Sampai kemudian semuanya berhenti. Dalam gagap ia menemukan sepucuk tunas tumbuh. kandang klub sepak bola Barcelona. Jantungnya kian kencang berdegup. Novilladas. Mi. Te amo. ruangan itu gelap. Dalam kepasrahan ia membiarkan si pria pergi. Pesetas. Nou Camp atau Camp Nou. Februari 2004 Catatan: Tingkatannya di atas torero. Paseillo. Raul. El Barca (baca El Barsa). Dengan baju serba hitam. Plaza de Toros. matador pemula. seorang anak perempuan. Sebentar lagi prosesi pemakaman dilakukan. Matador. Dalam peti berbalut kain hitam. Keheningan mencekam. kursi terdepan (termahal).” kata Pablo. tetap tertunduk. Cantik sekali. aku cinta padamu.” kata Raul dengan wajah “Mereka pergi membawa cinta abadi mereka.tempat duduk paling tinggi. julukan klub Barcelona. Kalimat itu ia tujukan buat Raul dan Julia. bintang dalam pertunjukan matador. Pablo. sampai jumpa. hoy? Apa kabarmu? Bien. Lalu. . baik. Tak ada yang menyahut lagi. Dalam gelap. Julia. Hasta luego. Como estas. Barreras. selamat siang.

sayangku (My dear). . pintu utama.pada 30 Maret 1976 1) Barcelona kalah 0-1 dari Liverpool dalam pertandingan semifinal Piala UEFA second leg Querido mio. Puerta grande.

sambil terus melaju di jalan tol. kadang kubayangkan urat saraf bunda lebih rimbun dan juga lebih canggih dari kami.” Ia cengar-cengir. agaknya melantunkan nyanyian riang dalam hati. stamina dan kegesitannya seolah tak berubah. Man?” tanyaku mengalihkan pikiran yang melayang saja ke mana-mana. mengikuti perkembangan mereka. keras kepala. Makanya. tamat kuliah. panik. “Baiknya Bunda istirahat dulu. Palinggam. Tahun lalu. doa. menutup-nutupinya. cucu.” “Tak penat aku!” tukasnya keheng. didampingi seorang cucu. tidak berani membayangkan. Dengan masalah yang juga tambah banyak. Kasus dan sakitnya abangku. jika ia tahu. dan cicit. Tempo-tempo.” Ia selalu menyebut rumah anak lelakinya dengan nama menantu. Senyam-senyum. karena belum siap melihat denyut itu tiba-tiba Aku menarik napas. yang semua sarjana bahkan dua doktor pula. Om. laiknya anak muda. Berpikir-pikir? Lewat kaca spion. Seluruh keluarga heboh.” ujar beliau saat kujemput di SoekarnoHatta. naik jabatan). mata bunda terpejam. “Libur kau. juga nasihat. terlibat pula dia menyelesaikan beragam masalah. Tak dapat lagi ditutup-tutupi dari bunda. atau kedap-kedip serupa kabel di pusat telepon. Tiap banyak. Merenung? manggut-manggut.” Aku lalu diam dan terus menyetir. melayang suratnya dengan tulisan halus-tebal model masa lalu. Urat-urat saraf itu tak denyut adalah pantauan sekaligus hubungan dengan anak. seminggu ia menginap di kantor polisi. Seminggu!” “Kuliahmu lancar?” “Lancar. “Oh. Dan saat kulirik ke samping. naik kelas. Di kantong celana kawannya ditemukan polisi ekstasi. Di hari baik bulan baik bagi yang bersangkutan (ulang tahun. Isinya ucapan selamat. seperti jantung kita. “Terus sajalah. Kapan pula dia merasa penat? Meski umur 80 dan tubuh makin ciut. “Besokbesok aku menginap di rumah si Nina. Masih pasang mata dan telinga baik-baik. Libur. kulihat keponakanku di jok belakang. Mereka . kabar buruk dari beliau. Namun abangku. Palinggam…. Ya.Lampu Ibu Adek Alwi Akhirnya bunda datang juga ke Jakarta. Tapi. Ia tergeragap. telah disiarkan “Antar aku dulu menengok abangmu. dan cicit yang makin henti berdenyut. harapan. melihat anak. menutup mata serta telinga beliau. Masih keliling ke berbagai kota bahkan pulau. dan memanggil anak-anak kami “cucuku”. Justru itu. telah lama kami hindarkan terhenti. Kami tidak bisa lagi koran dan televisi. Nanti sore kuantar….” kubilang. “Nina dan cucu-cucuku sehat?” “Sehat. tujuh anaknya. cucu. Apa yang bakal terjadi ketika bunda berjumpa abangku itu nanti? Tanpa sadar aku menggeleng. pasti beliau tidak tidur.

bicara sendiri saja. matahari pagi. Rosa langsung diam. Tujuh anak yang masih sekolah saat suami wafat telah ia bekali. ingat pengalaman bermalam di kantor polisi. Maksudnya membantu Kak Leila.” Dan diam lagi. pada usia senja? Merasa gagal. disekolahkan hingga tinggi. tak Herman kabarnya menangis. Dan bunda tetap menoleh. Lihat. menatap aspal jalanan yang berpendar disinari Jelambar. tak lama lagi Grogol. “Naik gunung. Ingin kencing. “Sudah. Palinggam. menanti jawaban. sebab sendiri saja membesarkan kami? Ah. Bunda tentu tidak diberi tahu. Herman pulang. HP-ku lalu berbunyi. “Apa maksudmu?” “Maksudku. Betapa ingin kusampaikan bahwa dia ibu yang perkasa. Kami sudah di Apa gerangan yang terlintas dalam pikirannya? Anak cucu yang tak membawa kabar baik. Dalam hati kembali kumaki-maki abangku. Nak. tak apa-apa Bunda.” “Eh. “Diajak kawan-kawannya.” kubilang. Pun ulah cucu. Syukur. sejak kapan alam berubah hanya memperdaya perempuan?” ujar bunda. “Baik saja.” jawab Kak Leila. anak laki-laki. kurusnya engkau. O. kau bilang tak apa-apa?” suaranya bagai berasal dari tempat yang jauh. Agar mereka jadi manusia. si Herman. “Kurang dingin AC-nya Bunda?” “Cukup.” “Cuaca buruk. Pucat pula. seperti pernah dia ucapkan? ibu tamat seiring perginya hayat dari badan? Sebab di situ beda ibu manusia dengan induk “Bagaimana abangmu sekarang?” Bunda melepas pandang dari jalanan.” kubilang. ingat suami yang jarang pulang. Kawan yang baik. “Masuk rumah sakit. Masalah kami hari ini dengan begitu tak perlu lagi menjadi beban beliau. kau biarkan anak naik gunung?” “Ala. Kak Leila berpura sibuk. “Lagi di jalan. pulang dari rumah sakit. berempat. seperti orang- Aku makin gugup. dengan uang hasil pensiun serta kedai rempah. berucap lunak. Bunda? Sehat. “Biasa itu. sudah. serupa mayat!” Mata bunda kulihat sudah terbuka lagi. Ke mana dia?” tanya beliau suatu pagi.” adikku Rosa menyahut. Dan kendaraan-kendaraan yang berkilau seliweran di jalan tol. tangguh. dituduh korupsi. Lalu Slipi. Dan saat umur muda Herman. Tak apa-apa. Semuanya digaruk. “Sudah pulang abangmu dari rumah sakit? Pura-pura sakit saja dia. baginya tugas ayam dan kucing. Dari istriku. Atau. dan berhasil. Pandai-pandai mencari kawan. anak-anak kami. “Sudah dua hari tidak kulihat cucuku.” Tiba-tiba aku jadi gugup. Dan bunda menyergap orang itu?” pula. memandang jalanan.” Kusodorkan . nenek yang risau itu memanggilnya.semobil. o. “Elok-elok kau jalani mengundang datangnya mudarat.

Dicari serta ditanya ke mana-mana. sekali waktu lenyap dari rumah mereka di dari Singapura. Alhamdulillah. karena bunda lantas bertanya. Kalian bagaimana? Syukurlah. si Aya. menangis tersedu. siswi SMU kelas dua itu. “Sibuk terus. sesak kendaraan yang padat-merayap ke arah Thamrin-Kota. sibuk benar kudengar istrimu. Kau sudah di kantor! Bawa mereka nanti ke rumah kakakmu Andamsari. Andamsari. suara bunda: “Nina? O.Obrolan panjang.” “Dan kau sibuk pula. . “Aku cuma khawatir. Kemudian tertawa. termasuk Kak Meinar di Medan dan kami di Jakarta. “Syukurlah. “Buktinya aku kini tak ke mana-mana. Nak. Aida tak jumpa. bersama pacarnya. Biar dia lupa bertanya. bebas dari di luar. Namun boleh jadi berlebihan. rumah abangku sepi saja Aku terus melaju ke sayap kanan. tanpa seragam. “Biasalah.” “Apa kata Nina. “KakakAnak dibiarkan tumbuh sendiri. Semua saudara Batam. tambahku tanpa suara. Syukur dua remaja itu sungguh sekadar berjalan-jalan. Anak gadis kakakku. hah. Sering ke luar kota. Ceritakan apa yang terjadi!” katanya Ketika kejadian itu diceritakan setelah diedit dibagusi. Kakak dan abang iparku kalang kabut. Bunda.” Aku diam kembali. orang sibuk kasak-kusuk. Lalu. meluncur mulus ke Kebayoran. Pagar maupun gerbangnya tertutup. alis bunda tetap bertaut. Eh. sudah gadis bukan? Sudah SMP. Bunda. Memeluk bunda. Ke luar negeri juga. HP ke bunda. tak juga puas. Tapi. bunda yang tadinya tidak tahu curiga melihat semua meradang. Aida. Aku lihat abang kalian itu dulu…. Mau bicara. Cucuku. “Jangan kalian berahasia lagi. ditemukan adikku Rafli di pantai Padang. anak ayam saja tidak seburuk itu nasibnya!” kakak kalian itu yang salah jalan!” ujarnya keras.” ia bilang. Dan. “Nina. sudah menanti di teras. sehat Nak.” “Nina manajer pemasaran. Harta meruah. Mana cucu-cucuku? Oh. Kami sudah tiba di Semanggi. berhenti di tempat parkir khusus keluarga. masih punya waktu kalian buat cucu-cucuku?” Aku tertegun. Nak. Terpikir olehku. Lalu ia mendekat.” “Bukan hanya karena hendak menjemputku?” Aku menggeleng. “Tanya kesehatanku. pulang dihubungi. Ini. Tahu kalian. Kakak iparku. Tetapi di halaman dalam terlihat sejumlah orang.” ujarnya. Ya? Besok-besok. Jangan pula dia alami seperti keponakanmu. Termasuk polisi.” Mudah-mudahan lama. atau khawatir abangku raib tak ketahuan rimbanya. Aida. Bunda. Aku berbelok. Aida. Mungkin berjaga-jaga dari demonstran. “Mengapa kau ketawa?” “Tentu punya waktu. Mereka tahu sehari setelah kejadian. masih kuat aku ke Jakarta.” kataku. seperti biasanya. Bunda?” Kudului dia bertanya saat pembicaraan itu berakhir.

” sahut bunda kemudian. “Kalian sekarang memang bukan lagi anakku yang dulu. Dan HP-ku kembali bernyanyi. Suaranya makin lunak. seperti minta Bunda. melihat bunda lagi.” ujarnya bak mengadu.” “Di mana rumitnya?” Tidak terdengar suara. Nak. Kak Andam?” tanyanya antusias. .” dia bilang. bagai kelap-kelip mercu suar di malam gulita penuh badai. dipecat partaimu. Bang Palinggam terpana menatap bunda. Abangku melirik.” Bunda mengedarkan senyum.hendak meledak. Matanya perlahan berkaca-kaca. Mukanya kuyu. pada hatimu sendiri. “Apalagi kau. Acara bertangisan agaknya telah usai sewaktu aku mendekat ke ruangan itu. Aku di kakus. Nanti saja aku kabari. Bunda. Bunda sekarang tampaknya banyak diam. yang benar harus disampaikan sekalipun pahit. Juga kepada Tuhan. Mata Bang Palinggam kian berkaca-kaca. Terkutuk aku bila mendustai “Kalau begitu. aku tahu sekarang dari mana sunyi itu berasal. mengapa kau mengelak diperiksa. dimaafkan. bagiku itu lebih baik daripada kau berkhianat pada kebenaran.” “Dasar!” Pembantu bergegas mengangkut bawaan bunda. Aku juga kader partai. juga kepadaku. selalu terdorong menyalakan lampu hingga akhir hayatnya. “Sudah sampai belum?” “Sudah.” “Bagaimana bunda? Bang Palinggam. sudah. Namun takdir seorang ibu. “Tak paham aku soal-soal begitu. Dan lapat-lapat kudengar suara sunyi merayap. yang sedikit banyak ikut dibela ayahmu dari penjajah. Rasanya. kencing. Nak. “Tetapi bagiku.” Mengangkat muka lagi. “Namun hingga detik ini. Juga aku serta Kak Andam. sayu. Nak? Kenapa berpura sakit? Mengapa tidak kau beberkan saja semuanya?” “Tidak sesederhana itu. Dia menunduk. Suara Bang Palinggam terdengar pelan. aku tetap bersih. Aku tergopoh ke toilet. Loyo. melepas urine yang “Tapi kayaknya tidak apa-apa. Menarik napas.” Mereka duduk bertiga di ruang keluarga. Palinggam. Bunda diam. “Belum tahu. “Aku punya atasan. Dan negeri ini. itu isyarat dari abangku. “Aku punya kawan. Aku muncul. hampir menyerupai bisik.…” entah dibawa udara dari bumi yang mana. Kalaupun akibatnya kau diberhentikan bekerja.” Sampai di situ mataku terasa jadi panas. Dan aku merasa. kini sudah bercucu pula. Nina lagi. Bunda. memandang bunda. Bunda. Palinggam.

“Seperti orang-orang di dalam mimpi. bila aku pulang ke kota kami selalu kutanyakan kawan-kawan masa kecil itu. 22 November 2006 Mata Sultani Adelk Alwi Sudah hampir empat puluh tahun mata Sultani menatapku. Aku dan kawan-kawan pun sudah ceraikami.” jawab Tum.” Biju menerangkan dengan gembira. Dia dan keluarganya tergolong aneh. tak pernah bersua kecuali dengan dua-tiga kawan yang setia menghuni kota kelahiran Kepada mereka. Mereka pemilik satu-satunya bioskop dan “Bun di Medan jadi dokter. Bun satu-satunya sahabat Cina kami di bersaing di pasar dengan pedagang pribumi tetapi tidak tertandingi membuat kue. dewasa atau jadi tua. Kami ajak bermalam tidak mau. di kedai kopi itu kami bercakap-cakap “Si Cudik kini di Lubuk Sikaping. grosir roti dan permen. yang meneruskan usaha keluarga membuka kedai mengenang kawan lama serta kota kami yang setelempap tetapi menyimpan sifat-sifat aneh tak terduga. Waktu terus berjalan dan orang-orang lahir. Si Talib di Dumai. kopi di simpang jalan dekat pasar. Tapi kami kawani dia melihat bekas rumah orangtuanya. bahkan banyak yang tidak pulang sejak merantau-belasan atau puluhan tahun yang silam.” “Hanya si Cudik.” tambah Amril. Berbagai peristiwa timbun-bertimbun. Satu di Palembang. Nius. Ayah Bun tukang gigi. “Di mana dia?” tanyaku antusias. yang lalu lalang di luar kedai kopi Tum. tetapi tak banyak lagi kabar gembira aku peroleh. Padahal tahun demi tahun terus berganti dan kini telah mendekati tahun keempat puluh. Bahkan mengerikan. Mungkin karena bersama istri dan anak-anaknya. Tempo-tempo mata kawan masa kecil itu memang tak tampak. Hanya menatap. ibunya berjualan kue mohok alias bakpau. Berubah sekarang. sudah bercucu satu. lebih-lebih tukang gigi. Nius.Jakarta.” . Nius. Kalau aku pulang. “Seperti ada dan tiada. setelah mengamati wajah-wajah tak kukenal waktu kecil. “Ingat si Bun Kay?” tiba-tiba Tum menyela. “Tak lama lagi Dua lepau nasinya sekarang. memurukkan yang lama ke lipatan bawah dan juga menguap ke luar ingatan. Kawan-kawan lama kami jarang pulang. Di kota kami orang Cina tidak mampu “Tentu!” kubilang. seperti tidak kenal lelah. sebagai dua studio foto yang ada di kota kami.” jawab Tum menampakkan senyum yang ganjil. seolah sudah bosan lalu raib entah ke mana. namun kemudian muncul lagi dan kembali menatap. “Pernah sekali datang waktu mau ke Padang melihat kakaknya. Paling tidak dua atau tiga tahun sekali ada mereka pulang. berai. si Talib dan si Tunik yang acap pulang. Si Tunik buka lepau nasi di Muaro Bungo. Tidak sekalipun berkedip. Hebat dia!” pensiun. akrab dengan pribumi. kendati kota kami tetap saja setelempap.

Dulu kami sering bermalam di rumah itu. Sultani menarik piring roti ke dalam sarung. Pagi-pagi Rambut ekor kuda. mengantar kue mohok hangat- hangat. Kalau di rumah Bun kami disuguhi kue mohok. Begitu sandalnya berlosoh pergi kue dan teh itu amblas ke “Jelas enak. Mereka bilang ayah Bun menjual gigi dari Peking. “Tidak halam. Bak orang-orang dalam mimpi. Suara Lin halus: “Ko Bun! Engko Bun!” Dadaku berdebar mendengar monyet mengalir deras terhadap Lin. berisi mohok serta teh manis. mengajak makan. Keluarga itu memang kaya dan terpandang. juga ketukan jari-jarinya yang mungil di pintu. pintar di sekolah. Matanya tak terlalu sipit. Dia kapten sepak bola. dan tak pakai babi!” komentar anak-anak yang iri. mencukur. guru mengaji Tempo-tempo kawan itu memang cingkahak. mencangkunginya kecuali dia. Pagi-pagi terdengar sandal ibu Bun berlosoh-losoh mendekati paviliun tempat kami tidur. Ibunya baik seperti ibu Bun. Ayah Sultani kepala terminal sekaligus ketua organisasi buruh. Lalu ia sambar roti. Nius. “Percuma. makan! Tidak halam! Tak pake gigi babi laaa!” Sultani cengar-cengir menyindir. Bun tertawa-tawa menyikat nasi goreng.” “Bagaimana kabar Sultani? Di mana dia?” tanyaku pada kawan-kawan di kota kelahiran. lebih menyenangkan kalau yang mengantar kue adalah Sui Lin. Sultani malah tertawa-tawa makan uang haram itu. kembali menampakkan senyum yang ganjil. “Didiamkan berhenti sendiri!” Lin terlihat segar. “Di dalamnya ada kerak gigi!” Kalera! Sultani meradang dan hampir menghadiahi mereka “ketupat Bengkulu”. Tapi kami cegah. Sultani. Saat dia letakkan ke meja tak seorang pun yang berselera menyentuh dia ulahi. Kelas 6 SD kurasakan gejolak cinta Mereka menggeleng. Di antara lipatan uang sogokan dia selipkan duit buntung atau uang zaman Jepang sehingga untuk beberapa waktu kami terpaksa puasa nonton film orang dewasa. menyogok portir bioskop sehingga kami bisa nonton film 17 tahun ke Membungkuk-bungkuk mencari kursi kelas 3 yang kosong. Suka-suka kami mau makan apa. Minumnya teh hangat. atau menjelepak duduk di menggairahkan. Seperti di rumah Bun. Portir bioskop juga . Tidak kecuali KAWAN masa kecil itu lincah. Bagiku. ibu Sultani pagi-pagi menghidangkan nasi kadang susu.Dalam peristiwa dahsyat pertengahan 1960-an rumah orangtua Bun di Kebun Sikolos diobrak-abrik massa. Kami berebut. diduduki hingga kini. adik Bun.” sahut Tum. tak pake babi laaa. Pipinya putih kemerahan serupa jambu air. goreng serta roti lapis mentega. Juga pandai menjahit. suara itu. Tunik juga. Biju dan “Makan. Dan pernah pula Buya Makruf.” bilang Tum. tidak halam! Enak laaa. berdebar-debar sekitar dua jam menyaksikan aksi Sophia Loren yang atas yang dibintangi Sophia Loren. Itu pula sebabnya dendamku pada Sultani pernah seperti tidak berujung. kami kerap nginap di rumah Sultani. “Banyak kawan kita serasa ada dan tiada. adik kelas kami. seperti buang hajat. alias usil plus kurang ajar. lucu. lantai.” ia sodorkan nampan perut kami. Kami diselundupkan portir ketika lampu bioskop padam. “Itulah.

Bah!” Sultani meyakinkan bak tukang obat. Setelah sembuh. kan?” Seperti rambut Biju itu yang kuinginkan. Bun!” Sultani memang pandai mengaji dan ditunjuk Buya Makruf sebagai guru kecil.kami.” “Tidak sakit. serta sarung beliau “terbang. “Tapi tak apa-apa terlambat daripada tidak. Mendesis-desis lunak. Bun mau potong bulung bole potong. Suara gunting tak berdencing-dencing ganas. jadi keras. Babah mau coba? Sret. . Sebulan ditanggung fasih. selesai!” Ayah Bun terkekeh. Tapi aku merasa. “Sunat Bun! Potong Bun! Saat liburan tiba Bun pun lalu minta disunat.” ujar Sultani saat Bun meringis dan kami Bun?” Bun mengangguk lemah. kopiah. tidur-tidur ayam. Sultani berkata: “Sudah Bun. ikut mengaji saja. melecutkan ke kaki-seperti dia lakukan pada kami selaku guru kecil yang cingkahak. “Sebetulnya telat Bun. Suaranya merdu. ajakan Sultani pada Bun karena dia ingin mengamangkan rotan di depan kawan itu. Tak licin di sekeliling kepala. Aku serahkan kepalaku pada Sultani. Asal Bun tidak nangis kalu sakit laaa. “Ular! Ular!” Bun berteriak menyembul di tengah sungai. Biar aku yang ngajar. itu turun dari ibunya. Berenang kalang kabut ke tepi. potong pendek bak rambut tentara saja aku bosan. dan suatu petang Bun termangu di halaman Masjid Jambatan Basi menanti kami usai mengaji. Sudah lama aku dambakan model rambut orang dewasa atau rambut abangku. Padahal selalu kuminta Mak Hasan sambil mendorong kepalaku kian kemari. Rancak. Baju. Dan sesekali. ketika mandi-mandi di batang air yang mengalir di kota kami Bun tiba-tiba panik. setiap usai dicukur kepalaku tetap mirip tentara atau anak kecil. Tunik juga. ke halaman masjid. kan?” Aku mengangguk. terbungkuk-bungkuk keluar tempat wudu bercelana kolor dan dada bugil. Mataku merem melek. mendampingi kawan itu setiap malam. Aku malah tak sekali. Mukanya pucat serupa mayat. tajwid dan Bukan saja Bun. Pelan-pelan disentuh Sultani kepalaku. dan tukang cukur langganan ayah itu pun ber-hm-hm “Cukur sama Sultani!” Biju menyarankan. Kepala Sultani Terlalu panjang Bun!” terpekik. Ulah Sultani! Suatu kali. Dan Bun disunat. “Malah. tidak terasa. laaa. Ibunya tersipu. tetap ditumbuhi rambut dua-tiga senti yang melingkar manis rapi di sekitar telinga. Namun yang membuat dendamku membara ketika semua bulu di kepalaku dia babat. mencukur seperti yang kuinginkan. Rustam. Uang yang sedianya diterima Mak Hasan kujanjikan kami bagi dua. Tetapi. Mestinya waktu kita kelas tiga. “Ayaaa. Ada yang menyentak ujung kulupnya dari bawah air. Ayah dan ibunya setuju. “Rambutku dia cukur. “Seperti model rambut Bang Rustam. Kepandaian kiraahnya elok. Jangan pula licin tandas bak kelapa. Kelas enam disunat. Ibunya selalu mengaji tiap subuh. Mulanya sungguh-sungguh juga dia. Terbahak-bahak seperti hantu air. banyak kawan merasakan ulah Sultani. Iya kan. tentu saja.

hasilnya nihil. “Seperti mencampakkan bangkai anjing!” cerita Cudik.” kata Amril. Lebih-lebih waktu Sui Lin. “Sanak famili ayahnya di kampung juga tidak. aku tidak mau bicara atau dekat-dekat dengan melihat kepalaku yang plontos bak kelapa ketika aku nginap di rumah Bun. diseret abangku pulang. Menghabisinya. Kusaksikan ayah Sultani diseret. Kakak perempuan Sultani mendekapnya erat-erat. Dia juga matanya bersirobok dengan mataku. Tum diam saja mendengarkan sunyi. seperti Yull Bryner kau!” manusia cingkahak itu.” lesu. Bergelombang-gelombang manusia. Mereka terus berteriak. lewat bergelombang-gelombang di muka rumah sambil berteriak-teriak. Lupa aku pada sifat baiknya yang setia kawan dan suka memberi. berdarah. Dan aku merasa ketika itu Sultani tengah menatapku dengan mata tidak berkedip seperti biasanya. Dendamku laksana sumur tanpa dasar. tegak kaku di ambang pintu. Mereka menuju rumah batu. Suara mereka teramat gaduh. Nius. Bagus juga kau gundul. Atau pergi. tersenyum Sejak hari itu kami tak berteguran. “Mulai Kariang. mati awak rasanya menanggung aib! “KEPADA kawan-kawan yang tiba dari rantau kami juga bertanya kalau-kalau mereka tak henti menanyakan kawan masa kecil itu tiap pulang ke kota kelahiran. sepekan rambutmu panjang lagi. kuratakan. Buas sekali.” sambung Biju Berkabar pun mereka tak pernah sejak kejadian itu. Tahi kambing. aku menghindar. tahi kuda dan entah dengan apa lagi. Sejumlah orang menerabas masuk. malah sebelah sini terlampau pendek. melihat aku “Sejak peristiwa itu tak ada yang tahu di mana Sultani dan keluarganya. “Jangan ikut! Jangan ikut kau!” Aku terus berjalan di belakang gelombang-gelombang manusia yang riuh. Tanganku dicekal. Dia cerita begini-begitu aku buang muka. Mereka melempar rumah itu dengan berderai. Tetapi mereka pun tidak tahu. Mukanya menangis. Menyeret serta mengarak ayah Sultani entah ke mana. terpaksa begitu!” Ditekan Sultani kepalaku dengan ujung telunjuk. Seakan-akan bukan warga kota kami yang sehari-harinya tenang dan saling menyapa. “Kepala Ko Nius kenapa?” Alamak. Tepatnya. Lalu ia terpana ketika Orang-orang masih berteriak. Dia mendekat. Sultani juga. Sewaktu prahara dahsyat pertengahan 1960-an melanda kota kami. Pernah kami tanya ke situ. Ketika kuraba. Menyepak pintu hingga rubuh. Perempuan itu Aku menyeruak di sela-sela orang dewasa. aku menghambur ke jalan. kurang ajar ya. berteriak-teriak. Ibu Sultani berlari mengejar. mendengar di mana Sultani. dan orang bergegas Sultani. Membuang mayat orang tua itu ke Batang Anai. Nius. Sudahlah. meraung-raung. Aneh sekali. tak mendengar orangtua!” Cudik bilang mereka membawanya ke Singgalang . Tidak kuhiraukan imbauan ibu dan ayah. sebagian kepalaku sudah terkelupas bak ayam hendak digulai! “Tak ada jalan lain. “Tadi di sini terlampau pendek. Eh. Kaca-kaca pecah terjerembap di halaman. Menangis. suatu pagi. melihat aku di tengah kerumunan.Tetapi lama-lama kepalaku semakin dingin. Lututku menggigil.

dua buah. Hanya mata saja.“Bagaimana kau tahu? Ikut kau ke situ?” kami tanyai Cudik ramai-ramai. 2 April 2005 berkedip. Tubuhnya tidak ada!” Cudik berkeras. walaupun tahun demi tahun . Diam-diam terbayang olehku mata Sultani. Kalian tidak tahu? Mereka menghabisinya petang itu juga!” waktu menjala ikan. “Semua orang bilang begitu. seolah-olah tidak pernah lelah. ada yang menemukan sepasang mata di Batang Anai Kami bertatapan. yang menatapku tanpa berlalu menghanyutkan zaman dan usia ke muara. “Dan. Bahkan sampai kini.* Jakarta. kemarin pagi.

anak. Begitupun tukang sate. juga sosiolog. apa kabar! Baik? Singgahlah dulu!” Tetapi. Di mana-mana kau bisa saksikan kaum pria memakai jas. dan seterusnya. Adakalanya juga dari pagi sampai malam. meski aktivitas seseorang berjualan. di belakang lampu semprong mereka yang temaram. hujan dan hari. bercakap- Betul. . walau kerap membungkus tubuh mereka dengan jas. hidupnya. sudah turun pula si kaki seribu!” Lalu mereka cakap. karena sejak muncrat ke dunia sudah bergaul dengan cuaca serupa itu. ataupun sebaliknya-bahkan ketika kemarau mungkin sedang meretak-retakkan tanah di kotamu. Aku hanya ingin bercerita tentang mereka. Berbagai pemandangan ganjil-lucu yang tidak bersua di tempat lain bisa kau temukan di kota kami kalau Anda suatu ketika berkunjung ke sana. Biarlah masalah ini bagian ahli bahasa.Warga Kota Adek Alwi Kacang Goreng Kota kami terletak di dataran tinggi di lereng Gunung Singgalang. jangan pula payung. warga kota menderap laksana suara kaki belasan ekor kuda. tak mengumpat ketika kabut mendadak turun dari bukit dan gunung. petang atau malam Tetapi. tukang serbat. ya. kecuali lelaki-lelaki gatal atau yang punya istri lagi. Kadang-kadang pagi. Kecuali. tetapi juga tukang emas. di kota berniaga. Tidak jelas mengapa demikian. tukang rokok. Karena itu. Karena. “Hoi. Aku juga tidak bermaksud membahasnya. melenggang tenang-tenang di atas trotoar sambil bersiul. Dengan tongkat-payung itu pula mereka saling di jalan-jalan kau lihat membawa payung atau mempertongkatnya. mirip dengan warga melambai dan menyapa. tapi jarang sekali pria kota kami membuat jas dua kali dalam pojok jalan dalam kabut. Ya. kalau kau tinggal lebih lama di kota kami. siang. kabut di sana seolah-olah turun sesukanya.anak muda kota kami lebih suka pakai jaket daripada jas. orang-orang kota-kota besar Eropa pada masa lalu. atau hujan tiba-tiba seperti menghadapi anak yang nakal: “Ha. kembangkan payung. sedang jas pun (yang dikukuhkan sebagai pakaian resmi sebab istimewa di kota kami. Itu pula sebabnya potongan jas itu-untuk menghindarkan salah tafsir. tukang kacang goreng dan penggemar makanan ringan itu. bukan suatu yang kecuali para kusir bendi dan tukang kacang goreng yang duduk mencangkung di pojokDan. Tukang kerupuk tak selalu berarti orang yang membuat kerupuk. betapapun elok bahan dan kami hampir tak dikenal orang istilah pedagang. penjual kerupuk. akan ahli pula kau menerka usia perkawinan seseorang hanya dengan melihat jas yang dia pakai. atau makan kacang goreng. Paling-paling orang hanya bergumam. Hal lain yang bakal membuatmu terheran-heran adalah tukang kacang goreng. Tidak konon menimbulkan kesan “lain” bagi yang memakai juga yang melihat). Meski cuaca cerah. tukang serabi.

Mereka dapat ditemukan di mana- perkantoran-perkantoran. meski sejumlah anak muda mengalami pengalaman pahit akibat kacang goreng. Lampu-lampu semprong mereka dari jauh Tentu ada hubungan erat antara tukang kacang goreng yang sangat banyak itu dan iklim kota kami yang dingin. Dan. penggemar kacang goreng tidak pernah pula berkurang. kota kami tidak pernah sesak yang menyebabkan warga kota kami subur-subur. perlu penelitian. di muka rumah sakit. makan kacang goreng jalan “Habis. tikungan-tikungan jalan. Bertengkar. duduk berkelumun sarung atau melekat ke lima orang di antaranya juga mangkal di muka dua bioskop yang ada di kota kami. selera menyantap kacang goreng tak kunjung patah. Pada hari raya dan libur-libur panjang. sebagian besar orang terpanggil lahir karena bakat itu. Dalam KTP mereka pun tercantum: pekerjaan. Empat atau karung goni kacang goreng mereka yang hangat. Juga. serta kegemaran orang memakan kacang goreng. Malah bangga. tukang kacang goreng amat banyak di kota kami. seakan-akan mana sejak pukul lima petang hingga tengah malam. Berjajar suami istri dilanda perang dingin. tidak saling tertawa layaknya pasangan mirip bintang-bintang di langit. tukang kacang goreng. pengirim-pengirim wesel yang rajin itu-yang sebagian di antaranya tumbuh berkat uang kacang goreng-berlayangan karenanya. bahkan divonis putus oleh si gadis karena kulit ari kacang goreng ikut menyelusup ketika bibir-bibir bertemu pada malam Minggu. Anak-anak muda segera berangkat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih ke kampung halaman menjumpai orangtua dan sanak keluarga. muka depan gerbang-gerbang jalan menuju surau dan masjid. jangan dikata lagi. “Ini. sebesar jempol. Mereka mangkal di emper-emper toko. Saat-saat itulah mereka tak dendam setelah lama berpisah. apakah itu satu keluarga punya anak sembilan. Tetapi. beberapa waktu setelah bubar bioskop. depan asrama tentara dan polisi. sepuluh atau selusin. Gemuk. lihatlah!” lanjutnya melempar sebuah mengalahkan kacang goreng Mak Sanin!” “Memang. kedap kedip di balik tirai kabut dan gerimis. agak berjauh-jauhan di bawah papan reklame film. tidak ubahnya kekasih-kekasih yang melampiaskan rindu Alhasil. panjang. lepas-lepas dari kacang goreng.” komentar para suami saat makan kacang kacang goreng ke atas meja. tukang sesudah lama merantau pun kegemaran itu rupanya tidak hilang. tukang kacang goreng tetap banyak di kota kami dan orang tak merasa rendah jadi kacang goreng. meski lazim tinggi atau bekerja di kota lain dan wesel-wesel mereka berlayangan di awal-awal bulan memenuhi kantor pos. tiada bandingan!” . Lagi pula. Anak-anak muda itu seolah punya prinsip: pacaran boleh putus.” sahut ibu-ibu di kota kami dengan sigap. tetap belum ada yang sanggup “Ah. Bahkan. kalau itu. terus. memang lain kacang goreng kota kita ini. “Tetapi. juga di Tukang-tukang kacang goreng itu pakai jas. “Di tempat lain kecil-kecil kurus kulihat!” goreng di malam-malam dingin bergerimis. Namun.Sekalipun kota kecil.

Jam dagangnya juga berbeda dengan tukang kacang goreng yang lain. saat beduk subuh mulai berkumandang di seantero kota dari masjid dan surau. kami punya ilmu.tenang saja dia melangkah. Juga karena dia “berisi”. tak-tuk-tak. Mungkin karena tubuhnya tinggi besar. Kedua makhluk itu konon melakukannya malam-malam di pinggir kota usai itu lari pulang menggerung-gerung dan telinga si Katan pun disentil Mak Sanin. cang goreeeng…! Tak-tuk-tak. dia keluar sesudah magrib atau isya dan akan berakhir kira-kira pukul tiga dini hari atau Mak Sanin adalah satu-satunya tukang kacang goreng yang tidak berpaut di pangkalan saat Begitu keluar rumah di pangkal malam itu orang tidak akan menemukannya di tempat ramai pinggang lebar. dia Affandi. dan sarung dililit ikat mendatangi calon pembeli. Cubadak Bungkuak. “… perempuan ia adalah engkau seorang!” potong sang suami buru-buru dan si istri pun diam sambil tersenyum-senyum. Orang-orang terbangun. Bancah Laweh. “Hah. Dengan jas itu-itu juga. Selain karena kualitas kacang gorengnya memang di atas rata-rata. anak. istrinya dipakai Mak Sanin. pandai dan rajin menyisik sehingga tak kentara benar tambal. Ibarat… . khususnya di kalangan kaum ibu. Ibarat pelukis. tunggal sekaligus penjaga kota kami. Mak Sanin satu dari sekian banyak tukang kacang goreng di kota kami. perempuan kota kami menyukai lelaki itu karena dia tidak pernah pakai jas baru. kepala. Tokoh ini sangat populer bahkan hingga kini.tambalan pada jas yang sipit. Suatu kali kawan kami si Katan menghajar anaknya hingga babak belur. mata rada Agak berbeda dengan orang dewasa. ingin makan kacang goreng. “Ibarat penyair. dan selalu merah menyala. kian gencar pula Mak Sanin mengembara menyusuri pelosok-pelosok kota. cang goreeeng…!” berirama memecah udara: “Tak-tuk-tak. Kumisnya pun lebat melintang. Anak daun telinga kawan kami itu gembung-bengkak kemerah-merahan. Makin malam.anak justru takut pada Mak Sanin. Seolah ringan saja karung goni itu baginya. Suara serta bunyi tangkelek atau bakiaknya tuk-tak. Tenang. . terutama ibu dan kakak-kakak perempuan kami. tak- Pada larut malam yang dingin berkabut itu Mak Sanin benar-benar menjelma jadi pelayan buruk mendengar suaranya. sebab dipakai setiap malam selama bertahun-tahun. Sudah barang tentu jasnya pun telah lapuk. Biasanya.pinggiran kota kami. itu Mak Sanin!” ujar si suami. dia susuri jalan-jalan kota dengan karung goni berisi kacang goreng di atas seperti di muka bioskop atau kawasan pasar. dia itu Chairil Anwar atau Amir Hamzah. dan Bak Aie yang merupakan pinggiran. tanda Mak Sanin berjualan. Tetapi. Mak Sanin adalah maestro kacang goreng!” jawab si istri bersemangat. Berhari-hari berjualan. ilmunya tinggi.“Ya. Orang juga mengatakan Mak Sanin tidak lagi bermain silat dengan manusia melainkan dengan harimau. Menyelusup manja ke pelukan suami. Dialah penemu sistem jemput bola dalam berdagang kacang goreng di kota kami. Ibarat pencipta lagu dialah Gesang atau Ismail Marzuki. Juga ke Lubuak Mato Kuciang. Pencuri-pencuri mengurungkan niat mereka yang Pasangan-pasangan yang tengah bertengkar terhenti. dan warnanya hampir tidak jelas lagi.

berkibar-kibar ditiup angin malam. Mak Sanin.” “Yo! Eh. itu biasa. Tidak bakal menyesal. yang memang tak tidur-tidur di tengah malam buta itu. Semakin jauh.” kata ayah bagai orang kedinginan. Padahal. cukup seliter?” “Hi-hi-hi. cuma sebagian warga kota yang kota tidak mendengarnya. mungkin juga tidak mau tahu.“Beli dulu kacang gorengnya. Rambut nyonya muda yang hitam subur tergerai hingga pinggang. mata si Sanin itu merah hanya karena menukar siang dengan Tukang kacang goreng itu ditemukan orang tergeletak di tepi kali. tangan-tangan mungil itu menyusup pula ke karung-goni yang hangat. lalu sayup-sayup diantarkan angin mendengar suara dan bunyi tangkelek itu. Desember 2004 kota kami yang berkata kepadamu: “Ha. tegak menanti di ambang pintu. “Seliter saja ah. sudah mereka tunggu-tunggu. Orang-orang akan mencela tukang kacang goreng bila kacangnya tidak Karena itu. pada suatu malam. harum bercampur peluh. Semua pembeli melakukannya dan semua tukang kacang goreng membiarkan saja. Belilah. bunyi tangkelek-nya yang menjauh. kacang enak ini! Tak sembarangan kuali dan pasir . Mak Sanin!” Dan. Hanya berdua. pengantin-pengantin baru. Warga yang lain tidak. Dengan jas yang ituitu juga. Ada sebelas bekas bacokan merobek jas tua dan tubuhnya. enak atau dia bertingkah. Bergegas mereka benahi diri. Dan besoknya lagi.kisi jendela. Dan. Kemudian. Cobalah. Besoknya. tak serupa Mak Sanin!” ujar mereka. “Mak Sanin!” “Hoooi!” Tukang kacang goreng itu menghampir ke makhluk elok itu.” Anak-anak muda yang sedang begadang menyongsong kedatangannya dengan girang: “Tiga liter. justru setelah ia tak ada lagi namanya terus jadi buah tutur warga kota kami. bahkan hingga kini. Tujuh lubang peluru. Dan. sewaktu pesanan mereka ditakar tangan mereka menyelusup ke karung goni. meraup kacang goreng bukan hanya sekali. Tetapi. pasangan-pasangan itu menyimak suara Mak Sanin dan malam melalui kisi. seluruh warga kami gempar tak alang kepalang. tahu benar aku. Anda pun akan terheran-heran menemukan banyak tukang kacang goreng di buat merendangnya. ketika ramai-ramai di tahun ’66. Cukuplah. kota “Padahal. Karung goninya entah di mana. “Huh.” Dan. malam!” Tetapi. berpandangan dan saling tersenyum mendengar suara Mak Sanin mendekati. Jakarta. sambil bercengkrama serta menikmati kacang goreng berdua-dua di larut malam itu. Tetapi. Delapan tahun saya belajar merendang kacang pada Mak Sanin!” Anda melongo heran karena Anda toh tidak kenal siapa Mak Sanin. “Masya Allah.

berpendar-pendar di dalam jadi tanda ketika malaikat mencatat semuanya dalam lembar laporan harian kepada Allah orang berpacu untuk secepatnya masuk garis finish tanpa terlebih dulu memasuki jeda waktu terengah-engah dan menyerah. saling kontak-sentuh. di lembaran kertas. Jam di mana-mana. di pintu. di mobil. masuk kantor dan mulai kerja dengan jam yang berdetik di laci meja tulis. Jakarta—kata lik War—itu jam besar dengan miliaran jam kecil yang berdetak dan berpendar serentak. lalu jeda dengan jam yang terus berdetak di mana-mana. yang diam-diam maju terus. Di jalanan. ”lakukan semuanya semaumu. bersebelahan. di ranjang dan bantal kamar tidur. di juluran lidah dan di untang-unting tenggorokan ketika orang-orang bercakap-cakap dan ingatan: memaksa setiap orang untuk bergerak lebih cepat dan semakin cepat sehingga Jam ada di mana-mana. Di pagar rumah. di bak air dan di gayung kamar mandi. di ruang tengah yang merangkap ruang keluarga. di layar TV dan dinding di samping kiri atau kanan pintu masuk dekat bel. tidak bisa memanggil siapa pun. di layar monitor. Bisakah manusia bebas dari waktu. di bundaran lampu lalu lintas. di pintu halaman. balik ke dari kungkungan jam kerja semuanya langsung memasuki street race untuk sekali lagi berpacu pulang (cepat) ke rumah dengan berjuta jam yang berdetak dan berpendar di tengah lautan jam kerja dan dipacu detak ribuan jam kerja di mana-mana. aku hanya akan SWT…” Dan karena itulah—kata lik War—Jakarta berubah jadi arena balap. berbelit dan kusut membentuk gombal kain nasib yang ketika ditelusuri benangnya ternyata masau saling menjerat. sampai akhirnya tiba di rumah dan disergap jam lagi. sambil menyisihkan yang kalah dari satu jalur pacu. di motor. dan sambil terus melahap yang ada dan menempatkan semuanya pada jalur pacu yang ada dan senantiasa ada. Berdetak-detik di dalam pendengaran. saat waktu terpaksa hanya jadi patokan gerak tersenyum dan tersipu-sipu. ”Tapi bisakah kita bebas dari jam?” kata Anderwedi sambil berpacu agar bisa lebih leluasa tak dijadwal. dan begitu lepas sepanjang jalan. minta bantuan pada siapa pun dan mendapatkan pertolongannya. Bilang. di HP yang setiap saat sepertinya berbunyi menyatakan ada jalur pacu lain yang harus ditempuh sebagai balapan berikut atau yang terpaksa diabaikan. di perut yang hanya diisi kopi. agresif melahap segala sambil menyepah yang kalah kehabisan waktu. sehingga orang-orang tak akan bisa lepas dari kekangan jam. di meja makan dan terutama pada piring dan gelas minum. di dinding dan kursi-kursi dan monitor komputer. dari ukuran yang dibuat manusia untuk menandai yang tidak terlihat dan tidak terasa. di dinding. di dapur.Langgam Urbana Beni Setya (Atawa Jakarta in Rap) Di Jakarta—ungkap lik War—jam ada di mana-mana. Lik War menggeleng. dan di kemengangaan mulut. di mana setiap pitstop. Setiap orang dikepung ratusan jamnya sendiri sehingga terkurung sendirian. berteriak. di meja di ruang tamu. di apa saja—yang serentak berpendar dan berdetak menganjurkan semua agar terus Gelagapan dikerubuti jam yang bermunculan dan berdatangan dari mana saja dan hinggap berpacu. Manusia selalu berada dalam . anjuran jam— dan ulah kerja manusia.

sambil merokok dan meneguk arak oplosan di tengah kesiuran angin dari persawahan yang dipusokan dan kami menghubungi Saman Bakmi—ia berkeliling jual bakmi dengan gerobak dorong. what ever will War. Aku menatap lik War: Memakai kaus hitam dengan sablon be will be. ”grammar apa tuh?”. bumbu dan yang lainnya. yang mungkin hanya menggeleng. ”Aku jadi pengen ke Jakarta. dan bermuara di jalan antardesa yang bergelombang dan berlubanglubang. untuk tolong.menolong atau instinktif tebas-menebas— metalik halus bergambar entah apa—percik cat tumpah—dan tulisan excited.” kata Anderwedi—mewakili pikiran kami. dan sesekali mandeg dan meraung-raungkan gas sebelum lampu di perempatan itu menyala ijo.” kata lik War. seluruh anak muda ingusan yang saat itu ikut nongkrong di gardu Kamling di ujung kampung.pikirku. yang hanya sebagian yang bisa ditanami palawija dan semangka. karena itu mereka menjadi yang dikalahkan waktu dengan kepeksa jalan merayap dalam kemacetan dan nelangsa menghabiskan BBM percuma saja. meski di kereta itu ia tak bisa berbuat apa selain duduk dan menggerak-gerakkan jari kaki tokh. serta tempat kos Jakarta di sepanjang malam. Tapi berlomba dengan gerobak dorong sambil memukulkan dan pelatihan—agar ikut dengannya dan belajar berkeliling di gang-gang di perkampungan sutil logam pada cekung wajan dalam pacuan di gang-gang kampung. titik saling ketergantungan. Lik War pun tersenyum. Ia minta disewa dari juragan yang juga menyediakan mi. ”dan kendaraan yang berjibun itu membuat macet di mana-mana. dengan celana jeans hitam ketat yang kata lik War juga bilang. Dan setelah itu. yang memaksa tiap orang menjadi Valentino Rossi. malah sampai jalan tol yang seharusnya lapang dan bebas pacu bagi yang ingin menundukkan jam. hingga ada jalan khusus yang hanya boleh dilalui mobil bila isinya untuk membeli mobil—”barang-barang itu. yang cuma bilang kaus itu diberikan anak bos karena saat dipakai ditertawakan oleh cuma produk tembakan sehingga harganya hanya cukup untuk naik taxi ke Ancol—lik War Ya! Tapi lik War senantiasa bilang: Jakarta itu jam besar dengan anggota miliar jam kecil. ia naik Brantas yang karcisnya sebanding dengan harga celana itu. Kami . Terbayang jalanan mulus Jakarta—tidak seperti jalur makadam kampung. yang menembus ladang dan sawah. ”bisa dibeli secara kredit”—tapi minimal tiga orang. karena itu banyaklah orang menawarkan diri disewa-angkut agar mobil itu bebas berpacu mengejar waktu di jalur 3 in 1 itu di sekian menit nunut—celakanya orang-orang itu malahan diuber dan dikejar Satpol PP karena dianggapnya membuat orang kaya bisa bebas merdeka berpacu di jalur yang tak sembarang orang bisa masuk bila berdua saja. kami ikut dengan Marto Pedrosa—ia sendiri yang menambahkan nama itu karena aslinya ia bernama Joko Martono dan dulu selalu kami dihiasi jam yang sudah pada kendur: benar-benar tak menarik minat berpacu kami. Lik War pun mengajukan usul lain.” Kami menelan ludah. pikirku.” kata lik War. Casey Stoner dan apa lagi yang senantiasa berpacu di jalan. sebelum semua meloncat seperti mengawali lomba yang akan menentukan siapakah yang lebih dulu dibanding si pole position yang teledor. dan yang setelah 5 km baru tiba di jalan kecamatan yang lebih mulus sedikit— terbayang jalan itu penuh deretan mobil yang berjajar dan di sela-selanya motor-motor meliuk seperti dalam atraksi lomba trail semi akrobatik di TV. deretan kata yang tidak bisa kumengerti dan kayaknya juga tidak dipahami lik bos yang bilang. yang lebih memilih sepada motor bukan karena tak punya duit karena jalanan di Jakarta bukan tempat yang tepat untuk berpacu dengan mobil. ”Terlalu banyak kendaraan.

Marto Pedrosa kampung sini. dan banyak orang sekabupaten yang mengaku-aku penduduk asli kampung sini. sekaligus kudu sepeda dulu. Berangkat ke Jakarta. atau benar-benar berpacu di jalanan dengan menjadi jambret ditembak dengan delapan belasan lubang luka seperti Isa yang jadi gembong dengan tiga dan Saman Bakmi) di Jakarta tak ada yang berani kurang ajar kepada orang-orang dari orang sekampung lainnya yang masih selamat. dan Tyas. menyusupkan dingin yang tajam dan menyamak jangat dalam irisan yang menyeluruh di awal Syawal. ”tetapi lu kudu apal jalan-jalan di Jakarta dalam seminggu. lantas bertemu setahun sekali di kampung. Dan miliaran jam yang terangkum dalam sebuah jam raksasa bernama Jakarta terus berpendar di kelam malam. dan menjadi apa saja—tidak hanya berakting macak pengemis tak pernah pulang ke kampung meski setiap Lebaran selalu nitip duit dua atau tiga ratus dan diuber-uber polisi sehingga blingsatan mburon ke mana-mana dan kemudian mati tapi benar-benar jadi pengemis dan pemulung. ”macak dan akting pengemis. Berpacu dengan waktu secara baikterlalu kreatif meletakkan jam di jalur pacu yang miring mencang-mencong demi survive menyusupkan dingin dengan menyamak jangat selepas hamparan persawahan yang berhamburan ke mana saja dan jadi apa saja. Lania. dan Genduk (dilindungi dari yang lain dalam teror nekat Isa almarhum. atau penghuni kompleks semodel Tri. ibunya. yang selalu bergaya dengan sepeda motor siapa saja bila pulang ke kampung. ”Atau ikut Arpan. Santik dan Kuni. dengan angin deras dari persawahan yang dipusokan dan hanya sebagian kecil di dekat saluran irigasi yang sempat ditanami palawija dan semangka. yang dengan gampang menjadi pembantu macam Warti. Mungkin lu kudu belajar jadi ojek (tukang) ojek payung? Lik War tertawa. dan karenanya membimbing kami untuk bangkit dan mempertaruhkan apa sekujur tubuh: berpendar di langit malam yang penuh bintang. memenuhi trotoar untuk recehan?” Kami melengos. Nonik. yang selama 15 tahun ini ribu bagi Mbah Rame. menjadi orang kantoran atau hanya suruhan. dan yang di Jakarta menjadi tukang ojek. menjadi rembulan gaib di saja. terpaksa dipusokan di musim kemarau itu.panggil dengan sebutan No Tit. Kimi. Sambil mengeluh tak segampang para perempuan. ”Jadi akan berangkat apa tidak?”—teriak angin kemarau yang hitungan mikron-sekon atau sekon—berdetak-detuk dan berpendar: semua jam-jam itu melanda desa. Itu artinya tak berpacu di Jakarta tapi jadi batu jarak tempat anjing mengangkang dan kencing. Kasim. Timpah. yang masih buron—sehingga para urbanis sekabupaten di Jakarta bikin slametan di Jakarta Dan Jakarta jadi jam raksasa yang melengkung dan mengayomi miliaran jam kecil yang serentak—tak pernah serentak karena selalu ada selisih lebih lambat dan lebih cepat dalam seperti memanggil kami untuk meninggalkan ketiadaan harapan di kekeringan yang selalu baik dan tak baik-baik. dan setelah enam bulan baru menjadi ojek’s driver—sambil menjanjikan mempertemukan kami dengan kawan Bataknya. ”OK!” kata Marto Pedrosa. Koral dan dan di kampung sini). Atau ojek payung?” Kami melengos—apa yang bisa dipacu dengan jadi punya DP sejuta sebagai jaminan dapat make motore bos. semodel de Grana. Ia menganjurkan jadi kernet. atau yang terpaksa menggelandang di jalan seperti Nian. kudu pinter cari kos-kosan karena aku sendiri hanya punya satu kamar dengan Neti dan dua anak itu. Bersama-sama sampai di Senen atau Kota—lalu . Sri. dan karenanya (kata lik War. atau buronan karena dengan sesuap nasi. untuk segera berpacu sebagai apa saja.” katanya.

yang biasa lusuh nunut : ikut. menumpang kepeksa : terpaksa nelangsa. pentolan. selain jadi transmigran acara halal bi halal kampung yang penuh kebohongan itu. yang lebih sara karena harus mbabat alas meski selalu diigaukan Pak Lurah di dalam pidato ” Jakarta. Ya! Ya! YA! YA—adakah pilihan lain. kolonisa . dan berhamburan lagi di Senen atau Kota.*** Catatan: untang-unting: yang tergantung dan bergoyang-goyang gombal : kain bekas untuk lap. here I am coming!” teriak Anderwedi—mabuk. berhenti kudu apal : harus hapal motore : sepeda motornya macak : berdandan blingsatan mburon : panik/kalang kabut melarikan diri gembong : tokoh. kepala [penjahat] slametan: ritual membaca doa keselamatan bagi yang meninggal mencang-mencong: meliuk-liuk. sebagai apa saja di mana saja. sara : sengsara mandeg : stop. berliku-liku mbabat alas: membuka hutan.agar bisa bersama-sama pergi ke Jakarta lagi.

Dan kami. dan memasang lagi pistol FN. Lalu mendatangi Mereka gemetar dan segera semburat ketika diusir. Ia menggenggam tangan dan memaksaku menembak lagi. Mencacah akar flamboyan yang marong berbunga dengan daun hijau telunjukku yang masih lunglai oleh kejutan. Sebuah letusan lagi. “Sebaiknya semua itu jadi rahasia berdua. Tapi sebelum dia banyak bicara. langsung ke tanah. ketika kelas II SMP. yang memberi ketika lulus ujian sepertinya mereka lega karena aku sudah tak ada di sana lagi. Sejak saat itu aku didaulat untuk jadi kepala keamanan dalam segala acara yang diadakan di sekolah. dan memasangkannya lagi. meski dengan gampang kita meraih dan mengokang membuka kuncinya. aku mengeluarkan FN di hadapannya. magasin dan satu peluru paling atas. mendorong ke pangkalan itu dan mengokang serta menodongkannya pada si jagoan yang kurang ajar itu. colt—yang mekanisme penembakannya Dengan itu aku mimpi jadi cowboy perempuan. yang genggamannya terasa berat itu. meloloskan genggaman dan mengokangnya. Atau menarik picu Aku dipaksa belajar nembak saat kelas II SD. Letusan dan entakan membuatku kaget. dan memuntahkan 52 tembakan beruntun. di kamar anak petinggi polisi.Salvo Beni Setya Ada senapan serang AKA. diungkit. Sejak kelas VI aku sudah dilatih membongkar. Ayah terbahak-bahak melihatku ketakutan. Guru itu mengangguk. ada magasin cadangan di atas lemari. sering mempraktikkannya dengan silinder kosong. lalu ditangkupkan untuk dipasak. lalu mendiagonalkannya ke tanah dan yang amat jarang. Tanah lembek berumput membuat peluru itu tembus ke kedalaman. dengan magasin penuh. Sekali. Kalau disuruh sangat sederhana itu. Siapa mau mati? silinder tersampir dan bebas diputar. memilih. Memasukkannya lagi ke magasin. Setahun kemudian aku menguasai FN. Tiga tahun kemudian aku menguasai AKA. atau dalam putaran gila sisi kepala— sebelum dikembalikan. Ibu muncul dan menarik aku sambil mengomeli ayah—”Dia anak perempuan. banyak teman yang mengadu—selalu diperas preman di pangkalan angkot dekat sekolahan—aku bersekolah dengan membawa pistol.” kataku. membersihkan. membersihkan. terutama ketika magasinnya penuh. dengan tekanan ringan dari telunjuk—dengan memakai popor lipat atau tidak—kita Tersamarkan. Dan peduliku? Di SMA aku malah mempunyai kawan. anak petinggi polisi. Mula-mula hanya dengan pistol. Tapi apa . rasanya lebih enak memegang pistol polisi. Pa!” katanya. Sangit mesiu melulur lengan dan wajah. Dan tiga tahun sebelumnya aku sudah dibiasakan membongkar. Keesokan harinya aku dipanggil guru BP. dan mengentak pantat peluru atau kekosongan oleh pelatuk—seperti dalam film. Dan bila kurang. Bergerak menarik pasak dan membiarkan agar bisa menggesekputarkan silinder itu di lengan. Tapi sasaran tunggal apa yang bisa lolos dari berondongan sejauh lima meter? Sejak SD aku sudah tahu ada simpanan senapan serang buatan Rusia di situ. Sederetan paku di dinding menahannya agar tidak jatuh dan tetap tersembunyi. di belakang lemari pakaian kamar tidur utama.

Akan lain. “Kita harus kejar setoran. lima puluh meteran untuk membidik seseorang dan mengirimnya ke kematian tanpa si Ayah yang mengajari—membimbingku dengan fasilitas latihan komando. atau berbaring di balik batu—dan menjadikan tonjolan “Kau seharusnya jadi sniper. Aku tertawa. Ibu menggerutu tapi tidak berdaya. kata ajudan. Ya! Tapi aku sangsi bisa jitu menembak kepala botak profesor sebesar bola sepak. Letusan itu keras. seperti dua kakakku—setelah tiga kakak aku kuliah kedokteran bukan karena ibu ngotot tapi lebih karena aku tak bisa masuk Akabri. Manusia itu . kalau maut sangat dekat. Aku ambil FN dari tas.kenikmatan main-main dengan colt. Kini aku terhibur batu sebagai bantalan. Peluru itu menghantam aspal. membuat lubang dan pantulan dengan menjebol lapisan aspal. dan menembak. dan karenanya Mungkin ia menginginkan aku jadi tentara. “setelah lulus kau daftar dokter tentara. atau kaki penyusup yang segede tiang gawang. lama-lama aku kecanduan mengintai apa pun dengan teleskop dan bimbingan sinar laser. dengan posisi jongkok menyamping. Ayah menertawakan cita-cita lembek itu. Ayah terpaksa berurusan dengan panglima. seperti cita-cita mendidikku dengan tradisi militer–mengharapkan aku memilih karier militer. Dan karenanya aku bebas bergaul di luar kompleks—selama terus berlatih menembak.” katanya. yang lain. Polisi akan masuk dan ayah akan menghajarku. sekaligus memberi kesadaran. membikin sudut naik menghunjam di pohon mahoni dan ban sepeda motor. aku kokang. dari jarak tiga meter. Dan karenanya memberi aku kebebasan main pistol dan senapan. seperti menembak kaleng atau cecurut. Bahkan berlatih menembak tidak dalam posisi klasik berdiri. Aku bisa menembak bola tenis atau bola golf dari jarak tujuh puluh lima meter dengan satu tembakan.” kata ajudan baru lulus Akabri. perempuan cuma jadi istri tentara. Tapi ibu mengharapkan aku jadi dokter. Terlebih kalau keendus wartawan jadi segala risikonya. Menurunkannya. kalau nyawa seseorang hanya bergantung pada satu sentuhan ringan dari jarak dua meter? Dan pada saat itu aku pun belajar mengintai dengan teleskop— membidik sasaran vital dengan satu peluru. Padahal. Dik. Kau tak boleh jadi anak Mama.” katanya. Aku tak pernah membunuh orang. ketika jadi danyon. Aku beranjak. “OK!” katanya. Naik ke boncengan dan melesat. ayah ingin pensiun dan bisa jadi bupati atau wali senang diajak mengeluyur itu. Mereka beku—pipa jeans preman itu Di boncengan aku gemetar. Akan dapat konduite dan kota dua masa jabatan. Sebuah mekanisme ledak dan lesat peluru yang setipis sentakan jari telunjuk yang mengentakkan picu. telanjang dan gampang. Menghambur jadi dua lesatan logam yang kotor oleh serpihan. “Macam-macam kepalamu yang kekerasan lapisan batuan di bawahnya membuat peluru naik ke atas. Aku tak yakin mampu menembaknya dengan dingin. atau punggung pelarian selebar papan pantul ring basket. Mulanya di Perbakin. hanya Lantas apa makna hidup? Lantas apa makna bertahan untuk hidup dengan semacam dukungan ilahiah nasib.” kataku. lantas menodong wajahnya bolong. Sekali aku pernah menembak aspal jalan di sisi kaki preman yang menghadang. Kini aku bisa berada sekitar bersangkutan mengerti bagaimana ia mati. Kalau salah bidik dan kena kaki preman urusannya bisa jadi berita. Ia membiarkan ketika ia kuliah kedokteran dulu.

Dua tahun kemudian ibu sakit. .” Aku memprotes tapi telepon segera dimatikan. Ia minta agar aku merawatnya. Ibu menatap. dengan mengumpulkan suami. dalam kurang tidur. “Kau orang militer yang hanya hidup dalam lingkungan eksklusif dengan rutin-rutin yang terkontrol.bernyawa. yang telaten merawatnya. Aku diam saja. Dan terkadang pergi bila sesekali ayah datang menjenguk ibu. Aku. ngantor seperti orang ayah pensiun dan jadi bupati di C. kena kanker payudara yang baru ketahuan setelah stadium IV. seperti mendengar bisikannya. Bahkan aku sengaja tidak memberitahukan kondisi kritis ibu sampai saat penghabisan mendekat. Dua jam kemudian aku menelepon rumah gendakan-nya. yang mengatakan Pak Bupati harus ke daerah mengangkat. dan denyaran roh pasti menimbulkan sugesti yang menyentakkan—seperti yang aku rasakan ketika menembak aspal di sisi kaki preman. Aku ikut ibu yang bungkam pada ayah. Dan kebisuan itu berlangsung tiga tahun. Aku untuk menggalakkan intensifikasi pangan. meski aku yakin mereka mengetahui perbuatan ayah.” katanya. ipar. Dua jam kemudian aku menelepon ke rumah dinas. bergaul dengan banyak hal yang harus diselesaikan tanpa ada panduan jelas. meski itu hanya untuk menyayat tungkai. Apa jadinya kalau tentara? Ketika ibu meninggal ayah masih di C. seperti merindukan kehidupan eksklusif di kompleks. sampai ibu meninggal—menyeringai. Aku lulus kedokteran dan masuk tentara. “Kau tahu apa?” katanya. atau kepala mayat dalam praktik Ada aura yang membuat kita harus mengeraskan hati dan membaca doa—lebih dahulu— kedokteran. Aku cuma bilang tak tega mengatakan kondisi ibu yang sebenarnya—maksudku. dan dapat jawaban Sejak saat itu aku tidak pernah menghubungi ayah lagi. Tapi bisakah kita membalik laju waktu? kebanyakan—meski tetap dibimbing insting militer yang terus diasah.” katanya— tertawa. Aku kini sipil. Ditempatkan di kota. “Kau tidak mengabari marah dan memaki-maki lewat telepon. Ayah tertawa. perut. “Aku kan cuma cari kerja. Ia bergegas menelepon ayah. kakak. Aku mematikan telepon. yang langsung mendekat. Memprotes tiadanya perhatian pada ibu. dada. Mungkin ia ingin memperlihatkan secercah bahagia karena berhasil menjadikan aku dokter. Aku tak mengabarinya. Ternyata jadi tentara bisa bersifat sangat administrasi. dan cuma basa-basi kalau ayah menelepon menanyakan kondisi ibu. anak. Tanganku digenggam. Hal yang membuat suami yang ajudan itu. Dik. Aku ayah?” kata Samsidar. agar memberi pelajaran kepada ayah yang sok sibuk itu—yang barusan memaki-maki aku. kakak-kakak dan ipar-ipar marah dan mengadiliku. dan seluruh keponakan. terutama karena jadi rekanan pemda. sia-sia melepas senyum di tengah deraan sakit. Dan ajudan ayah juga yakin akan itu. tak ingin menceritakan kelakuan ayah kepada mereka. Ke mana? Entah! menelepon lagi tapi ajudan yang mengangkat. Aku mengangkat bahu. Ya! Aku yakin tentang hal itu. Enak. Pelayan yang pelayan—Pak Bupati baru ke luar. Tiga tahun kemudian ayah harus tetap sibuk bekerja dan—seperti yang dikeluhkan ibu—terpikat pemborong yang Aku menelepon ayah. Dua jam kemudian aku menelepon lagi tapi tak ada yang mengangkat. “Ayahmu mendapat kesenangan baru sebagai orang sipil yang pergaulannya menembus segala lapisan masyarakat. karena dia sendiri belum pernah menembak orang—atau berperang.

Sepuluh menit lagi. Berjam-jam menunggu ayah. Ya— sepuluh menit lagi. Aku masuk kamar utama. Biar ia merasakan sakit di dada seperti yang dirasakan ibu selama lima tahun. Mengokang dan Ibu meninggal. Sakit dari cacahan peluru satu magasin—dengan lima dua lubang luka. yang pasti datang dengan langkah lebar dan teriakan amarahnya yang khas. Tapi apa kepentingan ia di luar citra bupati teladan? dikubur. Pasti. Aku menunggu ayah.karena merasa dipermalukan sebagai Bupati. Mengunci pintu. Kami membawanya pulang setelah dimandikan—siap disembahyangkan dan meletakkannya di dada sambil terlentang. Ya! Ya . yang tak peduli akan derita istrinya yang sekarat. Mengambil AKA.

di kisaran empat angka. Ia menahan ketegakannya dengan dua kaki yang mengangkang. per lima puluh ribu tombok. Ini hanya pemancing saja. curiga. Arsad menaiki sepeda motornya. Kemungkinan cuma sepersepuluh ribu. Kita tutup nomor jagonya. Bapaknya pasti meneng. Beres! Ngomong apa?” Nasir memberi isyarat telunjuk di mulut. serius. gertakan itu cuma efektif tiga bulan. seingatnya. Khairan. Ya! Akan tetapi. Abai bergabung dengan banyak orang-para pengojek. ayahnya memberikan pesan khusus. Melemparkan kunci kontak ke arah Nasir. Nasir. Menyibak tirai pudar dan merangkul Arsad dari belakang. Nasir menggeleng. Mungkin cuma memesan kopi. Khairan tersenyum dan ngojek sama Sitol. Sad. preman dan pemabuk. dan karenanya kita hanya narikin duit orang kampung. Jalan ke pintu belakang warung. Radio menyerukan dangdut. mendorongnya sehingga rodanya mencecah di tanah. Saimah makin genit. Itulah awalnya. menghindarkan pendengaran Khairan. Arsad mengenal Suimah. Sir?” katanya. berbincang dengan istri hanya omong dan terus omong sambil berjudi. dengan lembut. megang surat-suratnya-sementara itu masih bisa dipakai mengiyakan dengan sungguhsungguh. Khairan menepuk bahunya. Saimah menyusul dari depan. Menghindar dari sekolah. karenanya akan ada evaluasi Dan kini ia akan menjadikannya Hadiah Utama Toto (gelap) Singapura. Saimah menjerit artifisial sambil mendorong Arsad ke arah pembaringan yang berantakan. yang harus diperhatikan agar ia bisa tetap memakai sepeda motor itu. “Pokoknya kamu tenang-tenang saja.” kata Nasir. Arsad menangkap dan meremas dua belahan pantat yang bagai punuk dan tanpa berlapiskan celana dalam. Setelah itu ia benar-benar menguasainya. dan Arsad pun menikmati hari-hari manis. Itu hari keduapuluh delapan berada di luar rumah. olehnya. “Kamu duduk-duduklah.Senja Merah Khairan Beni Setia Setengah berkacak. menjauh dari keramaian. “Nggak akan tembus kan. dengan payudara yang berdenyut. makan jajan. Arsad menendangi bongkahan blok mesin sepeda motornya. Terbayang lagi. bermalasan di warung itu. Menyelinap dan masuk kamar yang pengap dan remang. ini kepunyaan bapak yang dititip-pakaikan kepadamu. Ini bukan punyamu.” kata Melangkah. kata setiap minggu-apa masih layak diinventariskan apa pasnya dicabut. dan menyuruh di pangkalan ojek di mulut jalan ke Perumahan Ganda Mekar. Sad. Terkadang Arsad hanya nongkrong. dengan setoran biasa. dengan semena-mena merangkul. Perkenalan tidak disengaja sebenarnya. “Kita juga main. ayah. dan utamanya pemalas yang dan karenanya mendapat duit buat modal ngombe atau ngepil. Ia membolos bersama Taberi. “Dan sementara itu kamu pun bisa aman-aman saja ngeloni Saimah. “Apa? “Sudah sana!” katanya sambil mendorong Arsad pelan menegakkan sepeda motor. menggerayangi dan . orangtuanya semakin permisif.” katanya. dan makan diawali dan ditutup oleh merokok di warung Khairan. Dan mungkin tepat pada hari yang keseratus satu. Motornya dipakai ngojek sembarang orang.” Setengah berbisik. atau menggoda Saimah. Lha wong kowe melu mbandari …” Khairan menatap.

terkadang orang masih datang . Saimah tersenyum dan terus tersenyum. Istrinya mulai menyindir. Orang-orang kampung menggeleng-gelengkan kepala. dan menjebol lemari untuk mengambil perhiasan. Orang-orang mendelik. Mungkin karena lega karena kini Arsad resmi jadi suami Saimah.” Orang-orang tersentak. Khairan cuma Menemani Arsad mabuk lalu menyeretnya ke kamar meski tak lagi ada bulan madu. Ya Miring. Ia seorang sales pengawal pribadi. sedangkan Ibu Mertuanya sukarela menyervis. Dan Saimah makin manja. ia seorang sales yang agresif. yang gigih. Terlebih karena Arsad semakin sering membawa Topi yang genah. Sekali-empat puluh hari lalu -menyelinap ke rumah ketika Memberikan sebagian kepada Saimah. Sekaligus itu membuat Arsad semakin butuh duit untuk menyenangkan banyak orang. Akan tetapi. memboncengkan si Krowak atau Brewok sebagai untuk tombok nomor di warung Khairan. Itulah awalnya Arsad pun jadi orang yang Surga telah kembali. Khairan-matanya berkilaucepat-cepat mengundang tetangga dan menikahkan Arsad dengan Saimah dalam perkawinan siri. “Dan mempunyai anak perawan menciumi Saimah. Utamanya Saimah. Menjadikan empat kali. dan menjual sisanya. dan berkeliling ke mana saja. Dan disusul pesta mabuk semalam suntuk. Hal yang tidak gampang meski telah dibantu minuman. Membawa tas pinggang.” katanya. haid Saimah sudah telat seminggu. bermakna mempunyai barang dagangan. dan karena itu ia mampu mencukupi Arsad dan dirinya sendiri. “Kita ini orang dagang. karenanya orangtuanya masih di kantor. Duyunan orang yang menyetor keberuntungan. siapa tahu akan mendapat jodoh lelaki kan?” Orang-orang pada tertawa. Ia tertawa. Arsad pun menyuruh Nasir untuk menjualkan sepeda motornya. Khairan menenangkan. pikir Khairan-yang punya dukun kuat sehingga selalu yakin tebakan mereka tidak akan tembus. Hari itu-seperti biasa-Nasir akan berkeliling dengan sepeda motor Arsad. “Toh kita tahu ia berduit dan orangtuanya sugih. dan rayuan Saimah. bahkan untuk sekedar mengusik keasyikan mereka. pil. Sepanjang waktu. Berjoget dengan tape dan terbahak-bahak. Cemberut dan makin sering marah.” katanya. semakin tidak mempunyai duit. “Seminggu bisa berpenghasilan. Arsad semakin sebel kepada Saimah-dan yang Dua minggu kemudian Arsad benar-benar bangkrut. Khairan-setengah preman karena istrinya “Biarlah. Siklus direcoki balas memaki. Berharap. Nakal sedikit kayak si Arsad lumayanlah. yang melingkar manja tanpa celana dalam dan bra-meski masih memakai rok terusan longgar. menjelang momen bukaan Arsad memilih mabuk dan tidur agar tidak disentakkan oleh fakta ada yang tembus dan sepeda motornya melayang. Khairan tersenyum. Dan Arsad pun semakin jarang pulang sekaligus semakin jarang masuk sekolah. Akan tetapi. sepeda motor itu modal untuk hadiah tombokan Toto (gelap) Singapura. Meski begitu. biar bisa kompak dengan mertua. yang diedarkan berkeliling di antara orang yang berbual atau main kartu. Ibunya Saimah lembut mengangguk.yang sebenarnya membanting tulang menyambung hidup-lembut menenangkan mereka. Nasir malah memunculkan gagasan yang sangat kontroversial.” katanya. Khairan bungkam. menganjurkan agar Khairan mau mengurusnya ke KUA agar semakin kukuh. selalu. Pak RT tak berdaya. Tapi. Lantas mereka pun mulai memanggil Arsad dengan sebutan bos.

tertekuk-tekuk pendek. lajunya sepeda motor Arsa. Ia marah ketika mengetahui kalau sepeda motor itu telah berkali-kali dijadikan barang taruhan judi Toto (gelap) Singapur. dari hadapan. mencuri perhiasan ibunya. Berderit direm dan tepi jalan itu berjajar kios-kios-bahkan sebuah Angkot berwarna kuning sedang parkir sepeda motor itu. tak bisa diturunkan. Halim! Halim!” “Terus? Terus?” . dan sisi rusuk kanannya remuk. Ia menuntut. dan diungsikan ke Panarukan-dipondokkan. sudah meteng. penyelonongan itu. ada di tengah jalan. bahwa Arsad itu suaminya Saimah sehingga Arsad itu harus bertanggung jawab sebagai “Tapi aku tak pernah mengawinkannya!” “Ya! Betul! Karena aku yang mengawinkannya. dan derap orang berlari memburu. melaju di kelempangan jalan yang lengang seusai jam mengantor. bergetar karena tangan si pengendaranya goyah oleh kaget dan mabuk. Ambulan Bunyi tumbukan dan jeritan orang-orang menghias siang itu. Mungkin akan segera dibakar-dan sopirnya mati-kalau tak kebetulan muncul menyusul datang setelah pasukan pengaman bantuan didatangkan untuk melokalisasi spontan diangkut dengan kendaraan yang lewat dan mau mengantarkannya ke RS. yang dikemudikan Nasir. Sedangkan motor Arsad jadi sumber masalah. Arsad dipaksa tergantung lumpuh. Kaki. Menggulingkan kendaraannya dan menghajarnya sampai kacanya remuk dan bodypatroli. akselerasi pertamanya. Kendaraannya diperbaiki Ayahnya untuk pulang. meraung saat membuat belokan besar dari jalan hancur arah Perumahan ke jalan utama. dan…” “Betul! Tapi. PJR yang dengan sigap meletuskan pistol. yang lainnya memburu supir sirna. sementara mereka telah bablas? Anak saya itu. Sepeda motornya dituntut dikembalikan utuh kepada keluarga Nasir dan utamanya Khairan. Tetapi kecepatan Wagon itu tetap tinggi meski telah dicoba direm dan dibanting ke kiri. Dan alur arah Hari itu-setelah sarapan nasi goreng. itu sudah amat terlambat karena si korban Nasir mati. meliuk-liuk. belum pernah pacaran. Belokan liar itu. menyeru ke seberang. tangan. Sedangkan kecepatan Station dicoba dibanting ke kiri. dan minum Topi Miring- yang sama. Kemudian teriakan memaki Station Wagon itu. Menyatakan suami-dengan menafkahi Saimah. Tetapi Khairan tidak kalah sengit menuntut. memakan marka jalan meski mereka cuma mencari jalur kiri. Pada saat sebuah Station Wagon-dengan bemper depan tambahan dari pipa baja. mblesar-kan gas. Lalu lintas sigap diatur.Nasir memboncengkan Krowak. Sebagian menolong Nasir. telur dadar setengah matang. Akan tetapi. tetapi kaki kanannya diamputasi sedang tangan kanannya hancur tepat di sikut dibiarkan utuhdengan biaya asuransi. apakah aku harus menunggu izin Bapak. Krowak tertolong. masalah dan menenangkan warga. tetapi kemudian diluruskan lagi ke kanan ke kelurusan karena di sambil kernetnya. Sopir Station Wagon geger otak ringan.” “Sembarangan! Kalau tahu aku tidak akan sudi menyetujuinya-kamu dengan anakmu yang menyebabkan ia mutung sekolah. Menyulut rokok. Serentak menghajarnya-bus dalam kondisi setengah mabok yang belum nya penyok.

Tetapi kedua orangtua Arsad cuma bungkam. Dominik. Menghiba-hiba sambil lembut mengingatkan anaknya Arsad yang dikandung Saimah.” kalimatnya. dengan mobil carteran. Ngeloni: Meniduri Meneng: Diam. Mengawal Saimah yang menggendong bayi-diam-diam Khairan menyelipkan celurit-dan langsung ke ruang salam sambil menyelonong. artinya orang baik-baik Topi Miring: Merek minuman lokal beralkohol Mblesar: memainkan gas sehingga mesin meraung-raung Dipondokkan: Dimasukkan ke pesantren untuk belajar dan sekalian tinggal di sana. tapi mereka pada mundur (surut) ketakutan melihat amuk Khairan. Khairan loncat mencabut celurit dan membabatkannya berdatangan.” tulisnya. tanpa mampir dulu. Dua hari setelah persalinan. Si bayi santun disodorkan oleh Saimah. Kedua lelaki itu liar bertatapan. Dua kali lagi Khairan mengiba-iba. Saimah menangis. membisu tanda setuju Kowe melu mbandari: Kamu ikut menjadi bandar Sugih: Kaya. tapi liar ditepiskan sehingga Saimah terdorong ke kursi. Mutung: Berhenti di tengah jalan Meteng: Mengandung. berharta Genah: Enak dipandang. mereka langsung mendatanginya. Lebih jos ketimbang sepeda motor yang remuk itu!” menyerahkannya-pada kesempatan pertama-kepada orangtua Arsad. Khairan mendelik dan membentakkannya.“Balikkan ia ke kondisi asal. tapi tidak pernah dilayani. Karena itu. Khairan melapor ke Polisi. Utuhkan lagi. Bisa apa ’ndak?” Kadang Arsad mengirim uang belanja untuk Saimah. khas Madura. Aku seperti masuk penjara. Khairan menelan ludah. dengan dikawal Segera. Lantang meneriakkan Brewok. Ibunya Arsad terpekik. dan Saimah tiba pada kesepakatan kontroversial: Akan membungkus si bayi dan langsung “Hasil karya anakmu. instan Celurit: Senjata mirip sabit. Catatan: kepada bapaknya Arsad-sekitar delapanpuluh kali. bersama si bayi-yang lantas diberi nama Caca Handika-. “tombokan”: Memasang nomor judi dengan membayar uang taruhan. Menyisih Dan dengan mobil itu juga. Khairan. dan Yudiono-yang setengah mabuk-. Tombok. “Nih. Dipantati bahkan. hamil Jos: Langsung jadi sempurna. “Aku tidak betah. Ayahnya Arsad bergegas dari kamar. istrinya. Kembali mendatangi orangtua Arsad dan minta agar mereka tidak memutuskan tali kasih antara Arsad dan Saimah. Mengeluh tak bisa ke luar dari Pondok. Dan memang begitu. meski tak selalu milik orang Madura . dari rumah Bidan. Tetangga ketika Khairan melemparkan celurit pada cacahan bersimbah darah tubuh bapaknya Arsyad. Ibunya Arsad berteriak-teriak. keluarga lewat pintu ruang tamu yang terbuka di rembang petang. Berparkir di halaman.

tak gampang menjelaskan semuanya pada anak itu. betapa soal kartu pos ini akan membuatnya mesti mengarang-ngarang jawaban. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. “Hati-hati!” teriak sopir. Marwan kadang kirim SMS. “Saya ndak tahu mesti jawab apa…” Memang. Bibiiikkk…. barangkali kartu pos itu terselip di dalamnya. ia selalu mengirimkan kartu pos buat Beningnya. Pekerjaan Ren membuatnya sering bepergian. Dari kotakota yang disinggahi. Di kelas. tadi. ia selalu tak tahan melihat mata Marwan hanya diam ketika Bik Sari cerita kejadian siang tadi.” Ia nyaris kepleset dan menabrak pintu. Sekolahnya memang saat bubaran sekolah. Tapi memang tak ada. “Hari gini masih pake kartu pos?” Karna Ren sebenarnya bisa telepon atau mengharuskan setiap murid punya hand phone agar bisa dicek sewaktu-waktu. Apa Mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? Mungkin Bi Sari sudah mengambilnya! Beningnya pun segera berlari berteriak. seakan sudah menebak. Ia masih belum genap enam tahun. Ia tak menyangka. Bik Sari yang sedang mengepel sampai kaget melihat Beningnya terengah-engah begitu. “Ada apa. Marwan sendiri selalu berusaha menghindari jawaban langsung bila anaknya bertanya. setiap pulang. Non?” “Kartu posnya udah diambil Bibik. Beningnya sudah pegang hape. “Kok kartu pos Mama belum datang ya. terutama “Kau memang tak pernah merasakan bagaimana bahagianya dapat kartu pos…” . “Biiikkk…. dan Bik Sari merasa mulutnya langsung kaku. Pasti kartu pos dari Mama telah Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun. yang kecewa itu. “Sekarang. Seperti capung ia tiba. Beningnya tertegun. Meski baru play group. Beningnya selalu nanya kartu pos…” suara pembantunya terdengar serba salah. mendapati kotak itu kosong. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. untuk berjaga-jaga kalau ada penculikan. Ia melongok. Kadang bisa sebulan tak pulang. Beningnya langsung meloncat menghambur. Sungguh. ya?” Tongkat pel yang dipegangnya nyaris terlepas. meledek istrinya. karna ia terus diam saja. ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos melintas halaman. Jadi belum sempet ngater kemari…” Lalu ia mengelus lembut anaknya. Pa?” “Mungkin Pak Posnya lagi sakit.Kartu Pos dari Surga Agus Nur Mobil jemputan sekolah belum lagi berhenti. Ia harus menjawab apa? Bik Sari bisa melihat mata kecil yang bening itu seketika meredup.

Saat SMP. dan yang lucu: disinggahi baru sampai tiga hari kemudian! pernah suatu kali Ren sudah pulang.” Marwan hanya diam. “Setiap kali menyenangkan dan membanggakan punya Ayah pelaut. dan memamerkannya dengan membacanya keras-keras. Negeri yang gambarnya ada dalam kartu pos itu…” ujar Ren. Marwan berusaha tampak gembira ketika surat yang dikirimkannya sendiri itu ia terima. sementara Ayahnya berkisah keindahan kota-kota pada kartu pos yang mereka pandangi. jauh.” Ren kecil duduk di pangkuan.Marwan tak lagi menggoda bila Ren sudah menjawab seperti itu. lantas mengeposkannya. tetapi kartu pos yang dikirimkannya dari kota yang Ketukan di pintu membuat Marwan bangkit dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu. “Mungkin aku memang jadul. dengan suara penuh kenangan. Itu kotak kayu pemberian Ren. “Besok Papa bisa anter Beningnya enggak?” tiba-tiba anaknya bertanya. bahkan ketika anaknya mulai mengeluarkan setumpuk kartu pos dari kotak itu. Bahkan. bagaimana Ren bercerita. Karena iri. “Ke mana?” “Ke rumah Pak Pos…” Marwan merasakan sesuatu mendesir di dadanya. “Nganter ke mana? Pizza Hut?” Beningnya menggeleng. setiap Ayah pulang. Pukul “Enggak bisa tidur. ya? Mo tidur di kamar Papa?” Marwan menggandeng anaknya masuk. “Itulah saat-saat menerima kartu pos darinya. Mereka akan berteriak senang bila menerima surat balasan pernah diam-diam menulis surat untuk dirinya sendiri. Ia mencoba menarik perhatian Beningnya dengan memutar DVD Pokoyo. Marwan ingat. “Aku selalu mengeluarkan semua kartu pos itu. Marwan melirik jam dinding kamarnya. aku selalu merasa Ayahku muncul dari negeri-negeri yang Ren sejak kanak sering menerima kiriman kartu pos dari Ayahnya yang pelaut. Ia pun atau kartu pos. rasanya. ia pun jarang dapat surat pos yang membuatnya bahagia. ngambil kartu pos dari Mama. Meski tetap saja ia merasa aneh.” Ren merawat kartu pos itu seperti merawat kenangan. Ren menyimpan kartu pos dari Ayahnya. Aku hanya ingin Beningnya punya kebahagiaan yang aku rasakan…” Tak ingin berbantahan.20. “Kalu emang Pak Posnya sakit biar besok Beningnya aja yang ke rumahnya. yang dikenal lewat rubrik majalah. Sepanjang hidupnya. banyak temannya yang punya sahabat pena. Kotak kayu yang dulu juga dipakai 11. Marwan diam. Marwan tak pernah menerima kartu pos. kartun .

Tapi bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya? Rasanya akan lebih mudah bila jenazah Ren terbaring di rumah. “Bagaimana kalau ia malah terus bertanya. ia kini mulai dapat memahami.” Itulah. Beberapa rekan sekantornya terlihat menuju kotak pos di pagar rumah. kenapa seorang pengarang bisa begitu terobsesi pada senja dan ingin memotongnya menjadi kartu pos buat pacarnya. Dermaga kota tua. “Atau kamu bisa saja tulis kartu pos buat dia. kamu jelaskan saja pelan-pelan yang sebenarnya. Ia selalu merasa bingung. pasti akan dikisahkannya gambar-gambar di kartu pos itu hingga Beningnya “Bilang saja Mamanya pergi…” kata Ita. Mungkin ia akan terus-terusan menangis karena merasakan kehilangan. kapan pulangnya?” “Ya sudah. Marwan mendengar teriakan sopir yang menyuruh hati-hati. dinding goa. Tetapi rasanya jauh lebih mudah menenangkan . Deretan kafe payung warna sepia. Air mancur dan patung bocah bersayap. saat Marwan makan siang bersama. Pagoda kuning keemasan. Membiarkannya ikut ke pemakaman. Bahkan membohongi anaknya saja ia tak bisa! Barangkali memang harus berterus terang. Dari jendela ia bisa melihat anaknya memandangi kartu pos itu. Merasa lucu karena ingat kisah masa lalunya. Marwan masih ngantuk karena baru tidur menjelang jam lima pagi. Seolah-olah itu dari Ren…. Tapi Beningnya terus sibuk memandangi gambar-gambar kartu pos itu. Ia sengaja tak masuk kantor untuk melihat Beningnya gembira ketika mendapati kartu pos itu. Semua itu menjadi tampak lebih indah dalam tertidur. Sudut dengan deretan yacht tertambat. Rasanya. setelah Beningnya pulas. udah datang ya kartu posnya?” Marwan melihat mata Beningnya berkaca-kaca.” Marwan tersenyum. seperti tercekat. Bukit karang yang menjulang. ketika Beningnya terisak dan berlari ke kamarnya. Marwan tersenyum. teman sekantor. yang tengah memandang mejanya dengan mata penuh gosip. Gambar pada kartu pos. kemudian berlarian tergesa masuk rumah. “Ini bukan tulisan Mama…” Marwan tak berani menatap mata anaknya. “Ini bukan kartu pos dari Mama!” Jari mungilnya menunjuk kartu pos itu. Siluet menara dengan burung-burung melintas langit jernih. tampak memberi isyarat agar ia melihat ke sebelah.di tepian kanal. Sepeda yang berjajar kesukaannya. Pasti mereka menduga ia dan Ita…. “Wah. Mobil jemputan belum lagi berhenti ketika Marwan melihat Beningnya meloncat turun. bagaimanakah ia mesti menjelaskan semuanya pada bocah itu? Andai ada Ren. Kartu pos yang diam-diam ia kirim. tetapi bocah itu telah melesat Marwan menyambut gembira ketika Beningnya menyodorkan kartu pos itu. dari mana mesti memulainya? Marwan menatap Ita. Ah. Ia bisa membiarkan Beningnya melihat Mamanya terakhir kali.

Bau sangit “Beningnya! Beningnya!” Bik Sari ikut berteriak memanggil. sekilas ia melihat jam kamarnya. Hanya “Tadi Mama datang. jadi Mama mesti nganter kartu posnya sendiri…. seperti tengah bercakap-cakap dengan Dan cahaya itu makin menggenangi lantai. Cahaya yang terang keperakan. Hawa dingin bagai merembes dari dinding. keluar dari lubang kunci. “Kata Mama tukang posnya emang sakit. Beningnya berdiri sambil memegangi selimut. Ia melihat ada asap lembut. “Beningnya…” Bergegas Marwan mengikuti Bik Sari. Kain kafan yang tepiannya . Marwan menerima dan mengamati kain itu. Bau wangi yang ganjil mengambang. tak ada api. Marwan mendapati sepotong kain serupa kartu pos kecoklatan bagai bekas terbakar. serupa kabut. seseorang. Dua belas lewat. Lebih keras dari bau amoniak. Ketukan gugup di pintu membuat Marwan bergegas bangun.” pelan Beningnya bicara. “Buka Beningnya! Cepat buka!” Entahlah berapa lama ia menggedor. 2008 dipegangi anaknya. Ia melongok ke dalam kamar. “Ada apa?” Marwan mendapati Bik Sari yang pucat.” Beningnya mengulurkan tangan. ketika akhirnya cahaya keperakan itu seketika lenyap dan pintu terbuka. sulit ia buka. Dan ia tercekat di depan kamar anaknya. Singapura-Yogyakarta. Ada cahaya terang keluar dari celah pintu yang bukan cahaya lampu.Beningnya dari tangisnya ketimbang harus menjelaskan bahwa pesawat Ren jatuh ke laut dan mayatnya tak pernah ditemukan. Segera Marwan kartu pos-kartu pos yang berserakan. Ia menduga terjadi kebakaran dan makin panik membayangkan api mulai melahap kasur. “Beningnya! Beningnya!” Marwan segera menggedor pintu kamar yang entah kenapa begitu membuatnya tersedak. semua rapi. Rasanya ia hendak terserap amblas ke dalam kamar. Dan ia mendengar Beningnya yang cekikikan riang. menyambar mendekapnya.

Itulah yang membuatku betah berada di dekatnya. menyentuh putingku yang ungu. Mata yang terlalu melankolis untuk seorang yang membuatku jatuh cinta. Ia tak pernah mengucapkan rayuan. Ia bercinta nyaris tanpa suara. Dan saat sepasang matanya mengerdip. Sementara gelembung-gelembung udara dan serakan batu koral membuat wajahnya seperti terpahat di air. Di antara ikan-ikan kecil warna-warni. tengah memandangi ikan-ikan dalam akuarium. Aku suka matanya. bergemerincing dalam ”Atau jangan-jangan kamu hanya maniak seks yang takut kesepian. Kau akan laki-laki yang selalu gugup dan tergesa-gesa ketika berciuman. betapa jari-jari tangannya begitu gemetar ketika pertama kali malam yang dipenuhi kunang-kunang. Tapi. Aku Aku tak tahu bagaimana persisnya aku mulai mengajaknya bicara. mana yang pantas buat dipakai makan malam. ketika sepasang mata itu muncul dari Sisa hujan masih terasa dingin di kaca saat aku bertemu dengannya di toko ikan hias. Terdengar seperti lagu pop yang tak terlalu merdu tetapi dinyanyikan dengan sentimentil… ”Laki-laki yang romantis rupanya!” Tidak. berganti pacar bagiku tak lebih seperti ganti baju: tinggal pilih mana yang cocok buat ke pesta. Barangkali. Aku suka ketika mendengar ia berbicara. aku seperti mendengar denting genta. mana yang pas buat jalan-jalan. Ia malah cenderung selalu gugup bila aku bermanja-manja memeluknya. Aku ingat. Bahkan aku tak mendengar desah apa pun ketika ia orgasme. yang paling gombal sekali pun. aku suka matanya yang selalu mengingatkanku pada langit hampir seperti ketika kamu merasa rindu pada masa kanak-kanakmu yang paling menenteramkan. ”Dan yang ini?” Seperti kukatakan. Memang.Serenade Kunangkunang Agus Noor melihat hamparan kesenduan dalam mata itu. Kamu takut tidur sendirian…” Kamu mungkin tak percaya. aku teringat pada sepasang kunang-kunang yang melayang di atas kolam. Menatap matanya menjadi kehangatan tersendiri. dan mana yang nyaman buat sekadar menghabiskan malam di ranjang. bercinta dengannya seperti menikmati nasi . sepasang mata itulah sebalik kaca—membuatku terkejut. untuk sekadar membuatku tersenyum. aku memang mengindap gangguan jiwa karena terlalu gampang jatuh cinta. Kau tahu. sepasang mata itu bagai mengambang. kalau kukatakan betapa semua ini bukan semata-mata urusan ranjang. seperti katamu. Tetapi ketika ia hatiku. seperti langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. menyebutkan namanya.

penampilannya lebih mirip salesman yang baru saja ditolak masuk rumah. ”Busyet!!” Mungkinkah. Mungkin karena aku merasa nyaman saja. aku selalu merasa dia tengah lebih dari kisah cinta yang ganjil dan bermasalah. Tapi— diam-diam. yang akan membuatmu teringat pada baju yang menjadi apak karena terlalu lama disimpan. yang membuatmu rela melakukan apa saja untuk sekadar menyukai kemurungan dan kesenduannya.” Bila aku kangen. aku mesti pergi. kali ini. Tapi—entah kenapa—aku selalu menyukainya. entahlah. Membuatku tergeragap. aku sungguh-sungguh jatuh cinta? ”Gatal telingaku dengar kamu ngomong soal cinta. Lalu kuingat kunang-kunang di matanya. Sungguh. Dia bukan laki-laki seperti yang sering kamu untuk melakukan bermacam adegan dan posisi. Seperti menyukai baju yang selalu ingin kukenakan ”Anggap saja ini cinta sejatimu. aku begitu menyukainya. Ada beberapa jerawat di wajahnya yang coklat. ”Kau suka kunang-kunang?” ”Hmm. aku kan bisa melakukannya dengan pacar-pacarku yang lain.goreng: rasanya standar dan bisa didapat di mana saja. bayangannya seperti ketukan ganjil pada pintu saat tengah malam. Bersamanya aku tidak terobsesi aneh-aneh begitu. kenapa aku jatuh cinta kepadanya. Kadang aku menganggap semua ini tiada penuh masalah?! Tapi… Maaf. tak rapi. terkadang sebuah kisah cinta bisa saja menakjubkan meskipun tidak seindah kisah cinta Cinderella dengan Pangeran tampannya? Sampai saat ini aku sendiri masih heran. Dan ini kisah cintamu yang akan jadi dongeng menakjubkan! Ha-ha-ha…” Tidakkah kau tahu. tipis. tapi karena kamu tak ingin orang lain tahu kamu memilikinya. Dan kupikir. Bukan karena kamu tak suka. Setiap melihat kunang-kunang. ”Bukan baju yang pantas buat ke pesta. kalau memang kepingin yang mendapatkan perhatiannya. Tapi. Keringatnya meruapkan aroma kamper yang kelabu. dengan dasi yang selalu terlihat tak serasi dengan warna sweater-nya Dia agak pendek untuk ukuran kebayakan laki-laki. ”Mau ke mana?” Kau lihat kunang-kunang itu? Setiap melihat kunang-kunang. Sedikit berkumis. bukankah cinta memang ganjil dan memikirkanku. aku jadi ingin ketemu dia. kukira!” Lebih mirip seperti baju yang ingin selalu kamu sembunyikan dalam lemari.” ”Aku suka kunang-kunang…” . yang membuatku lihat di iklan deodoran.

Dan setiap pepohonan tertugur kelu. Kunang-kunang itu adalah jelmaan roh-roh yang penasaran. kemudian gaib begitu saja dalam kesunyian yang mengelabu. Ibu selalu bercerita bahwa ayah telah menjelma kunang-kunang. Bahkan kemurungan tak juga menguap dari wajahnya ketika ia terlelap. menjadi berkilauan. dan angin yang membeku membuat layang menyusuri aliran sungai. Dari jendela apartemen lantai sebelas. Agar ia menyimpan kunang-kunang. Aku membayangkan jutaan kunang-kunang ”Enggak tidur?” Ia menggeliat. Aku masih dalam kandungan ibu. kota terlihat gemerlap ditangkup gelap yang pucat. Dia mengerti kenapa aku suka kunang-kunang. Seperti yang sudah-sudah. Seminggu setelah pembantaian. Ibu mendengar tubuh ayah dibuang ke lembah itu. ketika lembah itu menjadi bisu. saat itu. ibu bercerita bagaimana suatu malam ayahku diseret keluar rumah. agar ia menyaksikan kemunculan ribuan kunang-kunang itu. .” ”Aku suka matamu…” ”Hmm” “Seperti ada kunang-kunang dalam matamu. di zaman gestapu dulu. Itulah kenapa aku Itulah pemandangan yang selalu kusaksikan sejak kecil di tempat ini. aku lupa. dari lembah itu muncul ribuan kunang-kunang. seperti sosis dalam setangkup roti. pada saat-saat seperti ini aku ingin mengajaknya kemari. Aku jadi teringat pada cerita seribu kunang- kunang yang menautkan kesepian dan kenangan. sekali mengajaknya bercakap-cakap tentang kunang-kunang itu. memandangku yang duduk telanjang di sofa. setiap kali aku merasa rindu dengan ayah.” ”Hmm…” Ah. Membuat lembah itu malam purnama. Aku ingin ia melihat sendiri bagaimana setiap bulan purnama ribuan kunang-kunang itu muncul dari bawah lembah sana. ”Kau lihat kunang-kunang itu?!” ”Hmm…” Ini pertemuan ke-43. Ibu selalu mengajakku kemari. bagai gugusan cahaya kekuningan yang bangkit. selalu tak mudah mengajaknya bercakap. ia langsung tidur setelah bercinta.”Hmm. bersama ribuan tubuh lainnya. kata ibu. Kenapa aku suka pada matanya yang bagai meringkuk dalam selimut. Ribuan kunang-kunang itu terlihat bagaikan selendang kuning yang melayang-layang hanyut di riak air. dengan mata yang layu. Salah satu dari ribuan kunang-kunang itu adalah ayahmu. Rasanya aku pernah membaca cerita muncul dari kegelapan malam dan terbang berhamburan memenuhi kota… seperti itu—mungkin sewaktu SMA. Padahal. ribuan kunang-kunang itu selalu bangkit dan terbang melayang- Kuajak ia kemari. Sejak kecil aku kerap bermimpi ayahku muncul dengan mata yang bagai sepasang kunang-kunang. Selalu. Kemudian terbang mengikuti aliran sungai.

Seolah ia menginginkan semua ini berlangsung tanpa percakapan yang akan menjadi terlalu sarat kenangan. Seperti jeritan yang teredam. berbicara setengah berbisik. Karena. Tapi. Ia masih saja tak terbiasa melihatku telanjang. aku tetap saja merasakan kemurungan yang makin membentang. seperti kerap kau katakan.Ia sungkan dan jengah. Desah napas waktu meruapkan basah pada kaca jendela. Kesunyian tak terpermanai. Sampai ia mematikan handphone dan mendekatiku. seperti langit yang bertambah memucat di atas kota yang di penuhi kunangkunang. Dan dingin. dan tergesa mengenakan pakaian. tak tercatat pada termometer. ”Aku mesti pergi…” suaranya pelan dan datar. Kemudian ia bangkit. Aku hanya memandang keluar jendela. 2005-2008 pernah kau kenal. aku memang wanita paling menyedihkan yang yang sudah beristri…. ”Anakku sakit …” Bukan sesuatu yang mengagetkan. selalu saja. aku selalu saja gampang jatuh cinta pada laki-laki . meraih celana dan kemeja di sisi ranjang. Barangkali. Kurasakan kemurungan yang ganjil ketika ia mendekatiku. Cahaya perlahan susut dan aus. Membelakangiku. Ia meraih handphone itu. dan dengan gerakan pelan menjauhiku. Tak ada percakapan. seperti dalam sebuah puisi. handphone di atas meja bergetar tanpa suara. Tak ada pelukan untuk saat-saat seperti ini. Jakarta.

Dan mereka kembali tertawa. mereka selalu memberi telur atau sejumput beras buat ular . Kota di mana bertahun-tahun lampau. bagaimana orang-orang selalu mengusirku bila mereka tak pernah mengusirnya. sambil menunjukkan empat jariku. Apabila melihat aku lagi berjalan. Mobil-mobil silver metalik bertenaga magnetik keluar dari cangkang kesunyianku. ”Berapa dua ditambah dua?” ”Tujuh.” jawabku. ”Kalau tiga ditambah empat?” ”Tujuh. aku pernah begitu mencintainya. aku ingin dilahirkan kembali di kota ini. Dulu aku memang berharap. Mungkin mereka merasa bahagia bila bisa menggangguku. Mereka selalu membiarkan ular masuk ke rumah mereka.Parousia Agus Noor Pada malam Natal tahun 3026. kenapa dulu orang-orang di kota ini begitu senang menggangguku. nari. trotoar. Mungkin karena tampangku yang terlihat dungu dengan liur kental yang terus menetes. orang-orang akan menghentikanku. bila ada ular masuk ke pekarangan. Pasti aku tampak lucu di mata mereka. tidak lagi sebagai bocah idiot yang sering diganggu dilempari kerikil atau tomat busuk.” jawabku. mendesing lalu lalang di jalanan. sambil menunjukkan empat jariku. dan langit hanya basah. Bila ada ular masuk ke rumah. Aku tak pernah mengerti. yang membuat kepalaku berdenyut-denyut lembut. aku terlahir kembali ke dunia ini sebagai seekor ular. Mendesis pelan dan muncul lewat gorong-gorong. Aku Kusaksikan cahaya terang kota yang gemerlapan. seperti rintihan kesepian. Mungkin karena mulutku yang peyot. Aku benar-benar tak lagi mengenali kota ini. kenapa orang-orang tak orang melihatku dengan jijik. Orang-orang bergegas membawa keranjang belanjaan dan kado-kado Natal berbungkus kertas warna-warni. Mungkin karena celanaku yang selalu melorot. udara terasa seperti permukaan piring keramik yang dingin. Memberiku moke. Mungkin mereka hanya menggodaku. Di kulitku yang licin. Aku tak mengerti. Mereka tertawa. Sayup kudengar gemerincing lonceng mekanik Jingle Bells mengalun dari juke box di etalase hypermarket. Mereka tertawa-tawa melihat aku menarimereka kemudian akan bertanya hal-hal yang terdengar aneh di telingaku. Seorang Sinterklas terkantuk-kantuk di dalam kehidupanku yang lain. Aku ingat. Padahal. Biasanya. Aku ikut tertawa saat mereka tertawa. Tak ada bintang. melihatku memasuki halaman rumah mereka. Mungkin karena itulah orang- memperbolehkan aku masuk rumah mereka. ”Dasar idiot!” Aku tak pernah mengerti kenapa mereka mengatakan aku idiot. Lalu mereka menyuruhku menyanyi dan menari. Mungkin mereka butuh hiburan.

sepanjang jalan ini hanya berderet pepohonan. Tiba-tiba kudengar suara jeritan. Dulu. betapa enaknya jadi ular. Alangkah menyenangkan jadi ular. Sejak itulah aku ular. Lampu-lampu aneka warna Kudengar lonceng gereja. aku selalu berjalan sepanjang jalanan ini. ular-ular itulah muasal leluhur yang mendiami pulau. Aku sering bertemu ular-ular itu. Seingatku. kabut selalu membawa rezeki dan nasib baik bagi siapa pun yang didatanginya. Begitu aku selalu merasa iri pada ular-ular yang di pepohonan. kendaraan yang lewat berhenti. . setiap hari. takjub sekaligus merasa asing memandangi kota yang gemerlapan. Kerlapmenerangi pertokoan yang berderet sepanjang jalan. Tapi kudengar seseorang berteriak. Kota dengan seribu gereja. Bunyi lonceng seperti itulah yang dulu selalu menuntun perjalananku. kini aku melihat sebuah mal yang megah. Meski terkejut dengan reaksi mereka. Saat itulah kudengar suara mendesis pelan. betapa orang-orang lebih menyukai ular pahami. Ketika mula dunia tercipta. di pojokan itu ada sebuah gereja. Gerbangnya yang menjulang bagai mulut raksasa dan membuatku tak mengenalinya lagi. menganga mengisap orang-orang yang lalu lalang. saat tanah masih serupa Dari omongan orang-orang. ketika Bumi masih rapuh. Seperti sayup ingatan yang membuatku merasa tak tersesat.itu. Kenapa mereka ingin membunuhku? Kudengar teriakan-teriakan mengejarku. kota ini seperti memanggilku. Aku senang dan merasa tenang bila penuh dengan gereja. Aku suka berjalan mengelilingi kota karena aku suka mendengarkan lonceng gereja. Terdengar suara-suara tong ditendang. mendengar suara lonceng gereja yang mengapung menggetarkan udara senja. Di ladang. yang berkelok turun digantungkan begitu saja di udara. juga beberapa rumah kayu menuju bukit kecil. Aku leluhur mereka. teringat bagaimana dulu orang-orang memberi makanan menyambut kedatangan ular Instingku merasakan bahaya dan dengan cepat aku melesat menyelusup tumpukan tong sampah. Cahaya seperti telah menyihir kota ini kerlip pohon Natal menjulang di tengah-tengah plaza. di pinggir jalan. aku mulai tahu kenapa orang-orang di kota ini suka pada ular. Aku ingin suatu hari nanti bisa berubah menjadi Aku mendesis. Mestinya. Tapi di situ. menghilang dalam kegelapan. aku mencoba tak panik. yang kudengar sepotong-sepotong dan tak gampang aku ular-ular itulah leluhur mereka. ”Ular! Ular!” Kulihat orang-orang beringsut ketakutan. Aku ingin Tuhan akan melahirkanku kembali ke kota ini sebagai seekor ular. Dulu. banyak berkeliaran di kota ini. Mereka percaya bagaikan putih telur. Kurasakan. Leluhur yang mulai berkhayal. Aku tiba-tiba terkenang pada gereja-gereja yang dulu sering aku singgahi. kuntum yang ranum. dan semua ketimbang diriku. Kudengar kembali gema lonceng itu. Aku benar-benar bingung dengan kota ini. ”Cepat bunuh ular itu! Usir! Pukul” Dan dengan gerakan cepat seseorang mengacungkan tongkat. Kini terentang jalan layang dan jembatan penyeberangan yang bagai sederhana. Aku merayap menyeberangi jalan. Kadang kulihat seekor ular melintas menyeberang jalan. menatapku yang mendesis merayap pelan menyeberangi trotoar. ketika batu masih berupa buah muda. Aku begitu ketakutan.

” Aku memandanginya ragu. seperti tengah meyakinkan betapa tempat terbaik . Aku diam melingkar di pojokan. Dengan tangannya yang mungil.” kata gadis cilik. mengenali jajaran pepohonan di sepanjang jalan kota ini. Cahaya pucat kemerahan menerangi lorong yang kami lalui. Lorong di mana dulu gadis cilik itu membawaku adalah jalan menuju ke kota yang penuh cahaya itu. Sepasang matanya yang bening membuatku pelan-pelan merasa tenang. di mana matahari terlihat menyandarkan cahayanya. ”Kita sampai. meski aku bisa segera menyaksikan bayangan rumah-rumah kumuh yang bagai mengapung dalam kegelapan. Kulihat puluhan ular. >diaC< Kudengar lonceng gereja yang layu dari kejauhan. belajar memahami apa yang sesungguhnya telah terjadi. Aku langsung teringat pada kelokan jalan itu. memancarkan sulfur cahaya. Dan seperti menyusuri ingatan. Aku kemudian tahu bahwa kota ini sesungguhnya tak terlalu jauh jaraknya dengan kota yang kulihat saat malam Natal sebulan lalu. Sungguh kota ganjil yang serba temaram. hanya dipisahkan oleh kenangan. Di dekapannya. kulihat itu menyala kemerahan. mendesis-desis menatapku. Ketika gelap dan sepi terasa lengket seperti ampas kopi. sambil menurunkanku dari dekapannya. Aku merasa nyaman dalam yang kudengar masih memburuku. ”Cepat sembunyi sini….” Ia berkata sambil mengelus Kupandangi mata gadis itu. gadis itu memungutku. aku merayapi jalanan kota ini. ”Kamu bandel sekali berani keluar gorong-gorong. ratusan ular. Aku merasa asing. sampah. Sampai kemudian aku melihat bayangan deretan rumah yang rapuh. reruntuhan gereja yang kini hanya terlihat sebagai tetumpukan batu bata. juga bayangan bukit-bukit di kejauhan. Inilah kota yang pada kehidupanku yang dulu selalu kususuri jalan-jalannya. seperti kupandangi sepasang bintang yang menandai kelahiranku kembali ke dunia ini. lorong yang berkelok-kelok. Kemudian ia berjalan mengendap-endap. cahaya kota yang gemerlapan kulihat meredup perlahan ketika gadis ini terus memasuki lorong kelam. Aku merasa ini tak lebih dari kota lama yang ingin dikekalkan dalam ingatan. Saat itulah kudengar suara-suara mendesis pelan keluar dari reruntuhan tembok dan tumpukan kayu lapuk. memberiku cuilan roti yang dipungutnya dari tumpukan kepalaku.” Kulihat gadis cilik meringkuk di pojok gelap. Ditentengnya rosario itu seperti ia gadis cilik yang mendekapku ini mengeluarkan rosario dari kantung roknya. Suara-suara itu perlahan lenyap dalam gelap.”Ssttt…. Kulihat rosario menenteng lentera. membuatku merasa seperti menyusuri labirin kesunyian yang pastilah akan membuatku tersesat bila sendirian. Ia mengulurkan tangan. Cara mereka mengingatkanku. berdesakan dan bau tengik. Kota ini terletak di pinggiran kota yang gemerlapan itu. menjauhkan aku dari orang-orang belakangku. Tapi ularular yang kutemui selalu mengingatkan agar aku jangan pernah berani-berani lagi muncul bagi ular macam kami adalah di kota ini di kota itu. Cepat sini….

Dongeng tentang kehidupan mereka yang perlahan-lahan sangat senang mendengarkan dongeng-dongeng itu dituturkan. Tak hanya karena dikejar-kejar petugas. menyimpannya dalam botol. Mereka memunguti puing kota lama yang nyanyian dan upacara yang penuh ratapan pada leluhur. Padahal Aku mendesis mengangguk. tetapi selalu diusir. Itulah selang yang dipakai untuk menampung air mata Kristus. kami—ular-ular—memang dibiarkan berkeliaran. Ia bercerita bahwa sebenarnya ada jalan tembus melalui gorong-gorong untuk pergi lewat jalan itu. Aku menemukannya tak sengaja. Kamu sudah melihatnya. menyadap air mata Tuhan…” Aku ingat. anak-anak di rosario buatan kami luar biasa. Kami belajar saling mengerti kesepian masing-masing. Dulu banyak warga kota ini yang setiap hari pergi ke kota itu. terdengar seperti tengah bertingkat mulai dibangun. saat mereka berkumpul mendengarkan orangtua mereka mendongeng. Ada salib di tengah reruntuhan gereja di kota ini. yang mereka percaya. dengan mangkuk perak berbentuk piala di ujung selang itu. membawanya masuk ke dalam kabut kesunyian. Sebab bila ketahuan. Pada saat itulah. rempah-rempah dan artefak kenangan. gadis cilik itu pernah berkata kepadaku. katanya. Dan ular-ular mengikuti mereka ingatan inilah para ibu mencoba bertahan hidup dengan memetik embun di daun-daun. tapi terlihat rapuh. Kuingat rosario yang memancarkan cahaya itu.Di kota ini. Dan pada malam hari mereka memeras air mata. sebagian orang yang mencoba bertahan memunguti sisa bangunan gereja itu. Di kota yang remang dalam menampungnya dalam gelas. menjualnya di lapak trotoar. Salib itu menjulang. Ketika bangunan-bangunan menyanyikan kesedihan. Para penduduk memberi kami anak-anak. tetapi kota itu lebih suka dapat hadiah Natal boneka Barbie atau nitendo daripada rosario. berjualan biji-biji embun dan bermacam daun. pada waktu-waktu tertentu akan mengalir. Kemudian dijual. Aku sisa makanan mereka meski kadang busuk dan berjamur. Dulu. bila menjelang Natal. Kami bercakap-kacap dengan bahasa leluhur yang hanya bisa kami mengerti. Ketika kota mempercantik diri. kalau aku mau menjual rosario. untuk diganti dengan malmal. Sudah lama. akan ia ingin agar aku mengenal setiap cuil kota ini. dengan karena di kota yang baru mereka diburu dan tak lagi dituahkan. Sering kami duduk-duduk dekat terpinggirkan dari kota. dihancurkan kemajuan. dan Kristus tampak murung dan sengsara dalam lindap cahaya. Ia kemudian mengatakan kalau karena sekarang ini sudah jarang yang mau membeli rosario. Kami mesti menjualnya diam-diam. dulu kami bertahan: dengan . Berusaha membangunnya kembali sebagai tumpukan-tumpukan kenangan. salib itu seperti pokok pohon karet yang tengah disadap. Para penduduk di kota ini menampung air mata Kristus. Pelan-pelan mereka kembali membangun kota mereka. Pada tubuh Kristus terlilit selang kecil. seakan- mencapai kota di seberang sana. Kadang air mata itu menetes bening. Kadang merah serupa darah. Butiran air mata itulah yang kemudian mereka kumpulkan untuk diuntai jadi rosario. dan meminumkannya saat anak-anak mereka sakit. kan? sekarang ia makin sulit menjual rosario. kami bisa ditangkap petugas keamanan. Aku pernah melihat bagaimana rosario itu dibuat. Apalagi gadis cilik itu selalu mengajakku jalan-jalan. Dalam keremangan. kami Aku belajar mencintai kota ini. Ketika banyak gereja diruntuhkan. dan menghidangkannya buat sarapan pagi anak-anak mereka. ”Begitulah. Dulu aku sering memang sering berjualan rosario.

” teriaknya riang. Kenangan-kenangan dalam kehidupanku yang dulu seperti bermunculan kurasakan cahaya kota yang gemerlapan. Kusaksikan ruangan yang remang. Sampai kemudian aku menyadari. Kulihat gadis kecil di sampingku yang hanya menunduk. kataku. Kukatakan betapa aku ingin melihat gereja itu. Tak ada seorang pun mengikuti misa Natal.Kepada gadis cilik itu pun aku bercerita tenang kehidupanku dulu. boleh jadi sebagai tugu kenangan. Aku tidak menikah. katanya. samar-samar bisa menenteramkanku. Pasti mereka mengusir kami…. gorong-gorong. ”Kita bisa diam-diam ke sana. Kudengar koor Malam Kudus dinyanyikan. Ia mendadak terbelalak saat aku bercerita tentang Gereja St Paulus yang sering kudatangi dulu. kulihat stereo set diputar untuk mengumandangkan melihat tubuh Kristus yang tersalib memandangi bangku-bangku kosong. ”Kau tahu. Ketika ia berjalan. Aku melingkar tenang dalam keranjang. Jangan sampai orang-orang di kota itu melihatmu. Kami menuju kota itu melalui gorong-gorong rahasia. ”Wow. Terdengar syahdu dan megah. nyanyian puji-pujian. Ia hendak membawaku mendatangi gereja yang kurindukan itu.” katanya. ”Itu satu-satunya gereja yang masih berdiri!” Mungkin tepatnya: itulah satu-satunya gereja yang sengaja dibiarkan berdiri. kudengar gadis itu berbisik pelan mengatakan kalau kami sudah sampai dalam seperti rongga semesta. ternyata. Pelan aku dikeluarkan dari dalam keranjang. ia memang gadis yang usil dan nakal. tapi setidaknya ia memahami kerinduanku. Di dekat altar. ”Tapi aku suka kamu!” Aku menggeliat-geliat dalam dekapannya. Tak ada seorang pun perempuan suka dengan orang idiot. aku juga penduduk kota ini. Dulu aku idiot. siapa tahu aku ini salah satu keturunanmu. Aku takut ada penduduk yang memergoki gadis cilik ini. ia seperti tengah membawa keranjang makanan dan hendak pergi tamasya. Ah. Kami keluar dari Puji Tuhan. Tidak. ”Kamu Pater?” Aku mendesis tersenyum. Dari dalam keranjang anyaman.” katanya. gadis itu memasukkanku ke dalam keranjang kecil. tepat di belakang gereja. Ada perasaan sendu ketika kudengar itu. Ia menyimak ceritaku dengan mata berkejap- kejap. Maka pada malam Natal beberapa bulan kemudian. betapa sunyi gereja ini. Ia begitu senang saat mendengar kalau pada kehidupanku yang dulu. 2006 . Cahaya terasa ultim dan kusaksikan fresko katakombe di atas altar itu bagai bergetar. gereja. Mataku nanar Ledalero.

Dikutip dan ditulis ulang dari puisi ”Ibu yang Tabah” karya Joko Pinurbo. Agus Noor (23 Desember 2007) .Catatan: 1. 3. 2. versi Krowe-Sika. Disitir dan ditulis ulang dari syair tradisi yang mengisahkan penciptaan alam semesta. Nusa Tenggara Timur. Nama tuak/minuman keras lokal di Maumere.

datang! Asyiik! Lebaran jadi datang!” Seakan-akan bila para tukang jahit itu tak muncul. jahit lipat dari dalam kotak yang dibawanya. dan benang. Begitulah. Nak. ia tak hanya bisa menjahit pakaian. meletakkannya di atas kotak kayu yang digunakan sebagai meja. Anak-anak berceloteh riang tentang baju baru yang akan mereka kenakan. Ia juga bisa menjahit kebahagiaan. Serasa ada gema burung pelatuk di mana-mana. menata bundelan-bundelan benang. Mereka duduk bersila menggerakkan engkol mesin jahit dengan tangan tukang sulap. Ketika cahaya matahari pagi yang masih lembut kekuningan menyepuh tukang jahit yang masing-masing memikul dua kotak kayu berbaris muncul dari balik lekuk perbukitan dan halimun perlahan-lahan menyingkap. sementara tangan kirinya lincah dan cepat mengarahkan pola potongan kain yang dijahit. setiap menjelang Lebaran. Mereka menggelar dasaran di trotoar. Para penduduk antre menjahitkan pakaian dan hiruk dalam keramaian menyambut Lebaran. Atau mereka tak mau lagi datang. factory outlet. Kemunculan mereka selalu menjadi pemandangan yang menakjubkan. silet. Entahlah. Dan di malam takbiran. tukang jahit itu pun menghilang entah ke mana. Nak. kota akan terlihat penuh tukang jahit yang berkeliling menawarkan menjahitkan pakaian. di pojokan jalan. jarum Selalu menyenangkan memperhatikan tukang jahit itu bekerja. Tukang jahit itu punya jarum dan benang ajaib yang bisa menjahit hatimu yang sakit. Mereka mengeluarkan mesin dondom dan jarum pentul. Karena para tukang jahit itu mesti jahit itu tampak bergegas keluar kota. Kata orang. Seperti menyaksikan dalam sekejap. Nak. Mungkin juga mereka memilih berhenti jadi tukang jahit. Tapi semakin lama kian menyusut tukang jahit yang muncul ke kota ini. selalu. karena makin lama makin banyak warga yang malas menjahitkan pakaian pada tukang jahit-tukang jahit itu. Jarum Ibu pernah bercerita. Sejak banyak toko fashion. butik dan pusat perbelanjaan di kota ini. para para tukang jahit itu muncul setiap kali menjelang Lebaran dan menghilang di malam takbiran. mangkuk-mangkuk berisi kancing warna-warni. Seperti kemunculannya yang entah dari mana. Kau akan mendengar gema mesin jahit yang terus bergemeretak hingga larut menyelesaikan semua jahitan sebelum hari Lebaran. kau bisa menyaksikan serombongan bukit. diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya. yang mampu mengubah kain-kain warna-warni menjadi baju-baju indah kanannya. Di hari-hari menjelang Lebaran itulah. “Tukang jahit maka Lebaran tidak jadi datang ke kota ini. dari tahun ke tahun. Nak. orang-orang lebih suka .Tukang Jahit Agus Noor Tukang jahit itu selalu muncul setiap kali menjelang Lebaran. Mungkin banyak dari tukang jahit itu yang mati. yang konon. gunting. para tukang malam. Nak. di keteduhan pepohonan. kota ini selalu didatangi banyak sekali tukang jahit. di emper pertokoan. Kanak-kanak akan berlarian senang menyambut kemunculan mereka. Seolah muncul begitu saja ke kota ini. betapa dulu.

Nak. Lebaran. para tukang jahit yang mengisap tembakau. Benang itu tipis dan bening. Tapi juga ingin bahagia di saat hati orang yang lagi sedih itu. Saat itu Ayahmu baru meninggal. Nak. dari tahun ke tahun. Entahlah. barangkali. Namun sudah berpuluh tahun lalu kampung itu lenyap. Kau bisa melihatnya. Bila ada orang sedih yang datang padanya. Cerita Ibu hanyalah salah satu cerita dari banyak cerita yang kudengar cerita lain membantahnya. Di dada sebelah sini. Perawakannya kurus. rambutmu. Kau tahu. Nak. Ibu mendatangi tukang jahit itu. Nak. Ia seperti wajahnya seperti rahasia yang tak mau dibuka. Hanya ia. dan membuat orang-orang itu merasa tenteram. Dan jarum itu. tak banyak bicara. Zaman. tukang tentang tukang jahit itu. Berjalan keliling kota menawarkan jahitan. tak ada lagi pemandangan menakjubkan arak-arakan serombongan tukang jahit laskar terakhir prajurit yang terusir. kulitnya seperti kulit mahoni yang menua. dan menjahitkan pakaian padanya. Nak. Delapan Lebaran lampau. Dan itu karena ia tak hanya pintar menjahit pakaian. yang masih muncul di kota ini. satu-satunya tukang jahit. Orang tak hanya menginginkan baju baru saat Lebaran. lalu mereka memilih mendatangi kota-kota lain yang masih mau Lebaran. setiap menjelang yang muncul di kota ini.membeli pakaian jadi. yang seluruh penghuninya adalah tukang jahit. Tak berbekas. Ia sempat mengelus bertilas. Lalu diantar Pamanmu. memandangi belanjaan berisi pakaian. Memang tak banyak lagi orang yang mau padanya. tapi kau lihat. Dengan jarum dan benang Begitulah. Tak ada lagi keriuhan suara mesin jahit di kota ini setiap menjelang masih muncul pun lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan melinting dan orang-orang yang lalu lalang keluar masuk pusat perbelanjaan menenteng tas-tas lebaran. tetapi lebih lembut dan halus. Nak. Tapi . Mereka hanya duduk-duduk tanpa mengerjakan jahitan. Memberi tukang jahit itu segulung benang untuk menjahit seluruh pakaian yang ada di dunia ini. Yang jelas sudah sejak lama. Nak. Kau tahu. Ia menjahit luka hati ibu. tetapi tak bisa menyentuhnya. Menisik dan menjahit. ia sebenarnya tinggal di balik bukit itu. tetapi juga kebahagiaan. Tak Lalu Ibu bercerita tentang jarum dan benang yang dimiliki tukang jahit itu. Seluruh tukang jahit yang tinggal di kampung itu mati oleh wabah yang tak pernah diketahui apa. Mungkin kau tak ingat. begitu halus. Tapi ia lebih sering terlihat di sudut dekat gang kecil agak di pinggiran kota. membutuhkan mereka. kadang tampak itulah tukang jahit itu menjahit kembali kebahagiaan orang-orang…. Kisah tentang kampung para penjahit juga pernah aku dengar. selalu saja ada orang yang datang Tinggal tukang jahit itu. memang mengubah selera. Maka. di tangan tukang jahit itu. selalu kulihat tukang jahit itu muncul di kota ini setiap kali menjelang lebaran. halus. Di kampung itulah ia tinggal. Benang yang tak akan habis bila dipakai Nabi Khidir muncul dalam mimpinya suatu kali. maka tukang jahit itu akan menjahit robek dan koyak menjadi seperti selembar kain lembut yang bisa dijahit kembali. Rabalah. Ibu merasa kesepian dan sedih membayangkan Lebaran tanpa Ayahmu. Sebuah kampung. Ia menjahitnya dengan rapi. memancarkan cahaya lembut ketika dipegangi tukang jahit itu. Nak. dan jarum. kebahagiaan yang Ibu pernah menggendongmu datang ke tukang jahit itu. seperti senar. Mungkin para tukang jahit itu merasa betapa kota ini tak lagi menerima kedatangannya. Nak. Kau masih empat tahun saat itu. tiga bulan sebelum Lebaran. Ada yang mengatakan.

” “Kok kayak mau ngantre minyak tanah?” . Gang yang rindang dan lengang meski ada juga beberapa lapak penjual barang loakan. kini ia satu-satunya tukang jahit yang dan menjadi muridnya. Mereka ingin menjahitkan kekecewaan mereka pada tukang jahit itu. Menjahitkan kebahagiaan. Ia tinggal di sana. Itulah sebabnya. gang itulah tukang jahit itu selalu menggelar dasaran dan istirahat.masih muncul ke kota ini. bahkan ada yang sudah menunggu berhari-hari. malah makin menyelimutinya dengan misteri. Nyaris tanpa suara berkeliling memikul dua kotak kayu kawan sepermainan kerap mengikuti di belakangnya sambil berteriak-teriak. Di pojokan situ selama hari-hari menjelang Lebaran. kulihat antrean itu sudah sedemikian mengular panjang memacetkan jalanan. sepanjang hari memintal benang kesabaran. Benang yang untuk menjahit hati orang-orang yang sedih menjelang Lebaran. seakan meledek tukang topeng monyet keliling. satu-satunya yang selamat. Tak pernah bercakap ia dengan para penjual loakan di situ. Dengan benang itulah ia ditugaskan oleh Nabi Khidir Semua cerita itu sesungguhnya tak pernah menjelaskan tentang tukang jahit itu. dipintal dari bulu-bulu sayap malaikat. Menjelang Lebaran ini. Dari radio terdengar nyanyian riang: Lebaran “Sedang antre apakah orang-orang itu. Padahal tukang jahit itu. yang membuat jalanya jadi agak membungkuk. Mereka sudah menunggu sejak dini hari. Tapi barangkali pula karena dari Lebaran ke Lebaran memang semakin banyak orang yang kian tenggelam dalam kekecewaan. inilah antrean terpanjang yang pernah kulihat di kota ini. Menjahit dan tidur di Tapi dari Lebaran ke Lebaran semakin banyak saja orang-orang yang datang ke tukang jahit itu. Rasanya. sewaktu kanak. aku dan kawan- Agak di pinggiran kota ada gang buntu kecil yang letaknya di tikungan jalan. Ayah?” “Mau menjahitkan…” “Menjahitkan pakaian?” “Bukan. aku menjalankan mobil pelan-pelan. Tak banyak juga orang yang mendatanginya. anakku memandang heran antrean itu. Ia sendiri tak pernah mau bercerita tentang dirinya. Karena banyaknya antrean yang meluber hingga ke tengah sebentar lagi…. di sebuah perbatasan antara hidup dan kematian. Ia tinggal di sebalik cakrawala. Dan tukang jahit itu tetap saja diam. Mereka antre agar bisa menikmati kebahagiaan Lebaran. jahit itu belum lagi muncul! Mereka tampak sudah tak sabar menunggu kemunculan tukang Saat melintas sepulang belanja kue penganan dan pakaian buat Lebaran. Aku ingat. Kemunculannya selalu dalam diam. jalan. Yang lain bilang kalau ia memang sempat bertemu Nabi Khidir jahit itu. Cerita tentang jarum dan benang ajaib itu mungkin membuat banyak orang penasaran.

Brisbane-Yogyakarta. Mungkin juga mereka hanya merasa makin sedih saja….Barangkali. dengan gampang mendapatkannya. Kulihat antrean itu sudah sedemikian panjangnya. Tidak semua orang hari Lebaran pun kini orang mesti antre berdesak-desakan.” “Bagaimana kalau tukang jahit itu tak muncul. “Jadi mereka menunggu tukang jahit itu. kemudian memandang gamang ke arah menyentuh ujung terjauh cakrawala yang mulai menggelap. Ayah?” “Mungkin mereka tak punya uang buat pulang kampung. Ayah?” Aku menatap matanya yang menunggu jawaban.” Lalu kuceritakan apa yang dulu pernah diceritakan Ibu padaku. Bingung karena masih nganggur. Bahkan untuk sekadar bisa menikmati kebahagiaan di “Kenapa menjelang Lebaran begini mereka kok tidak bahagia. Tak bisa membelikan baju baru. 2007 orang-orang yang antre itu. Tentang jarum dan benang yang bisa menjahit kesedihan. Kuceritakan tentang tukang jahit itu. Ayah?” “Ya. sekarang ini kebahagiaan memang seperti minyak tanah. Pusing karena semuanya makin mahal. hingga Agus Noor (7 Oktober 2007) .

Neal tak akan pernah lupa dongeng masa kecilnya itu. peri itu bisa nyaman beristirahat di kotak yang ia sediakan itu. seorang nenek sihir mengambili bantal-bantal itu dengan teramat hati-hati dan pelan agar peri-peri mungil itu tak terbangun. Nak. Dan pada malam hari. suka sekali permen. juga permen cokelat dan caramel yang meleleh lembut di lidahnya. lollipop. Maka. Sepanjang hari yang riang. dan kembali beterbangan memetiki biji-biji buah yang keranjang. Permen dalam bungkus warna-warni. Permen-permen dalam kotak itu ia dan tersesat ketika mencari bantal-bantal yang dicuri oleh nenek sihir itu. Ia membayangkan.” Ah.” kata nenek sihir itu merayu anak-anak yang terpesona pada biji-biji mungil itu. kemudian mengumpulkannya dalam bibi-biji buah yang lembut itu mereka gunakan sebagai bantal. peri-peri yang selalu beterbangan seperti capung begitu riang memetik biji-biji buah selembut getah yang bergelantungan di pepohonan mastic dan spruce—sejenis karet dan cemara—yang menjulang menyentuh kelembutan cahaya. sewaktu kanak-kanak. Seperti bantalbantal mungil milik peri.” Neal mengingat itu sebagai sebuah nasihat agar dipakai sebagai bantal para peri. fudge. tengah. Anak-anak begitu bergembira ketika nenek sihir itu membagikan biji-biji yang rasanya manis dan mereka sudah hilang. Neal suka meletakkan kotak dari kayu tata menyerupai bantal di atas kasur kecil. Karena yang manis pun bisa membuat sakit dan menderita. bila peri itu . sementara nenek sihir itu telah jauh keluar hutan dan melintas jalanan desa dengan menyaru sebagai penjaja manisan. permen.” kata Mamanya.Permen Agus Noor Melihat mulut Iza yang terus cembetut. penuh warna dan menyenangkan seperti permen. tempat biasanya Papa. Mereka sedih. peri-peri mungil itu akan terkejut mendapati bantal lembut saat mereka kulum. Neal tak akan pernah lupa: di ruang selalu tersedia sekotak aneka permen. Tapi ia juga bisa membuat gigi-gigimu rusak dan bengkak jangan terlalu berlebihan menikmati apa pun. hutan yang berkilauan menjadi penuh nyanyian. saat peri-peri mungil itu kelelahan dan berbaring tertidur di dahan-dahan. Mama. di malam hari menjadi bengkak mulutnya. Saat kehidupan ini masih ranum. itulah. “Permen akan selalu mengingatkanmu bahwa hidup ini manis dan patut kamu nikmati. Neal tahu kalau anaknya itu masih kesal karena tak diperbolehkan membeli permen yang tadi sore dilihatnya dijajakan di perempatan jalan. sebermula permen muncul di dunia manusia. Bukannya Neal tak memperbolehkan Iza makan permen. Sampai ia berumur sembilan tahun. “Karenanya kamu harus bersyukur bila hidup memberimu nasib yang manis. Saat terbangun pagi hari. Beberapa anak yang rakus dan terlalu banyak makan biji-bijian itu. Bantal mungil warna-warni milik peri. Ia manis dan lembut karena karena ia dibawa oleh nenek sihir jahat. itu biasa. dan kakak adiknya berkumpul menonton televisi. Anak-anak suka permen. “Ini bantal yang dipakai tidur para peri. pastilah ada peri yang sedih masuk ke dalam kamarnya. ketika peri-peri mungil itu memetiki biji-biji buah yang matang dan manis. Neal sendiri. Neal ingat bagaimana Mamanya mengakhiri kisah itu dengan suara yang penuh senyuman. berisi beberapa permen di dekat jendela kamar tidurnya. Permen toffee. Saat peri-peri mungil lelap bergelantungan. “Begitulah.

hampir di tiap perempatan jalan memang banyak pengasong menjual permen.” Tapi. Tetapi. anak yang matanya nanar tanpa harapan membungkusi butir-butir permen yang sudah dan terkantuk-kantuk sepanjang malam mengaduk-aduk adonan itu. tidak seperti tangan-tangan peri yang lentik ketika memetiki biji-biji kuku-kuku jari tangannya penuh bekas daki ketika mereka menggaruk pantat mereka yang kemudian dijajakan di perempatan jalan. kemudian diolah dan dimasak di atas tungku-tungku hidup yang mereka rasakan sehari-hari. Tapi.” bujuk Neal sembari memberikan permen mint yang ia beli di supermarket. yang sering menawarkan dengan cara setengah memaksa: menyorongkan Lagi pula Neal memang tak suka dengan permen yang dijajakan itu. mereka akan memecah kaca mobilnya. bagaimana permen itu dibuat. Sementara bau got permen ranum yang bergelantungan. Mimpi yang selalu ia percaya sebagai isyarat baik. pewarna dan pengawet. Neal tak suka dengan para bungkus itu ke dekat mobil sambil mengetuk-ngetuk—malah kadang mengedor—kaca jendela.Sampai sekarang pun. memberinya sedikit gula. Para perempuan tua yang kelelahan mampet dan bangkai celurut mengapung di lorong-lorong muram perkampungan itu. wajah Iza terus cemberut. setengah menggerutu. ia tak mau menenteng biji-biji permen. kalau permen-permen yang dijajakan di spruce? “Permen itu akan membuatmu mules dan mual. ia bermimpi repot hamil dan melahirkan lagi—Neal sering bermimpi ada peri masuk ke dalam kamarnya puluhan peri mungil mendatangi kamarnya dan menjatuhkan biji-bijian permen ke dalam keranjang bayi. Permen berwarna merah keruh yang mirip manisan dalam bungkus-bungkus plastik kecil. para selesai dimasak dan dicetak itu ke dalam kantung-kantung plastik. Neal sering panik berhadapan dengan para pengasong itu. Takut. Dan tangan itu tak pernah dibersihkan ketika membungkusi biji-biji permen yang “Bagaimana mungkin aku memberikan permen seperti itu pada Iza!” ujar Neal. Ia sering mendengar kumuh pinggiran kota membuat permen itu dengan cara menampung kesedihan mereka. Selintasan. setelah ia menikah dan punya anak—cukup satu anak. mereka peras menjadi keringat yang ditampung ke penderitaan. Malah kabarnya mereka menggunakan sorbitol—sebagai pengganti gula yang mahal—dan kayu manis sebagai penyedap aroma. membuat mulut dan tenggorokanmu jadi segar. Mestikah ia menjelaskan pada Iza. pengasong itu. Neal membayangkan. Kesedihan dan kegetiran dalam panci-panci rongsokan. permen yang banyak dijajakan di perempatan jalan itu rasanya bukanlah isyarat yang perempatan jalan itu bukan biji-biji ranum yang dipetik para peri dari dahan-dahan pohon baik. bila ia tak membeli. pada Samuel. seminggu sebelum ia melahirkan Iza. Sekarang ini. Mencampurnya dengan gelatin agar kental. Orang-orang miskin yang hidup di kampung-kampung Mungkin proses pembuatan permen itu sudah berlangsung lama. permen itu memang mengundang selera. korengan. “Lebih enak permen ini. Ia ingat. Dia tetap ingin permen yang dijajakan di perempatan jalan itu. tangan anak-anak itu pastilah kotor dan menjijikkan. .

“Lho, apa salahnya?” “Tidak. Iza tak boleh makan permen seperti itu. Tidak baik.” Selama ini Neal begitu hati-hati memilihkan semua yang tak terbaik bagi anaknya. Ia ingin Iza menikmati masa kanak yang membahagiakan. Dan Neal takut Iza akan tergoda oleh permen itu. Bagaimana kalau tanpa sepengetahuannya, Iza membeli permen itu ketika jajan di sekolah?

menatap Neal yang tengah memakai kembali g-string-nya. “Maksud, lo?” Mata Neal melotot.

“Aku kira, permen itu sebuah gagasan yang cerdas,” kata Samuel, setengah tertawa,

“Dengar,” Samuel menatap serius. “Bukankah mengubah kesedihan menjadi permen itu cara penderitaan. Membuat yang pahit jadi manis. Kamu jangan meremehkan hanya karena yang luar biasa? Mungkin itulah cara terbaik bertahan di tengah hidup yang penuh

permen itu terlihat murahan. Ini hanya soal kemasan. Aku kira, kalau dikemas dalam kotakkotak yang bagus dan dipasarkan dengan baik, permen itu akan menarik juga. Mungkin akan jadi komoditi yang menguntungkan. Bukankah ini peluang pasar? Kita bisa mengembangkan permen itu untuk diekspor. Bayangkan! Kita bisa mengekspor permen penderitaan itu ke banyak negara. Saya kira itu jauh lebih baik ketimbang kita melulu mengekspor TKI.”

Samuel tertawa—mungkin karena merasa lucu. Tapi Neal tak menanggapi. “Lagi pula, permen-permen itu telah membuat banyak orang jadi punya kerjaan. Yah, penjahat kapak merah, kan?”

meskipun cuma jadi asongan di perempatan jalan, tapi itu lebih baik daripada mereka jadi

Dari jendela hotel Neal memandang ke bawah, ke arah jalanan yang macet. Ia lihat puluhan permen itu. Rasanya, dari hari ke hari semakin banyak saja jumlah penjaja permen itu memenuhi jalanan. Jalanan yang macet jadi makin semrawut oleh mereka. Samuel memeluknya dari belakang, mengecup tengkuknya pelan.

pengasong yang berjalan dari satu mobil ke mobil di belakangnya, menawarkan bungkusan

“Mestinya kamu tak usah terlalu gelisah. Toh itu hanya permen.” Tidak. Ini bukan hanya soal permen baginya. Permen bukan hanya sekadar sesuatu yang

manis di lidahnya. Bukankah ia mencintai Samuel karena laki-laki ini memberinya sekotak permen ketika pertama kali mereka bertemu? Bagi Neal permen lebih menggoda daripada tertarik untuk menikmatinya. Ia akan lebih suka membayangkan bila di surga penuh untuk memetiknya. buah apel. Bila dulu ia adalah Hawa, dan Tuhan menggodanya dengan buah apel, pasti ia tak bergelantungan biji-biji permen warna-warni yang memancarkan cahaya. Ia pasti tergoda

Samuel memberinya permen. Permen yang selama setahun ini ia nikmati bersama Samuel. Hidup memang seperti permen karet, meskipun lembut dan manis, kita harus berhenti menikmatinya sebelum terasa asam dan hambar. Makanya Neal menahan lidah Samuel

dengan jarinya ketika laki-laki itu mulai menciumnya lagi. Lagi pula ini sudah jam tiga sore. Jam di mana Neal harus menelepon suaminya. Pras menutup handphone-nya. “Siapa?” tanya Melly. “Neal.” “Kamu mesti jemput istrimu?” Pras menggeleng. Ia memandangi Melly yang bersandar di sofa dan belum juga memakai blazernya.

“Cuma ngomong soal permen…” “Permen?” “Ya. Permen. Dia belakangan ini selalu gelisah soal permen yang dijajakan di perempatan jalan itu.”

“Permen ini maksudmu?” Melly mengeluarkan sebiji permen dari tas Louis Vuitton-nya. Pras memandangi permen itu. Benar. Itu permen yang sering ia lihat dijajakan di

perempatan jalan. Pras sama sekali tak menyangka kalau Melly menyimpan permen itu. “Kok kamu beli?” “Itung-itung ngasih rezekilah. Lagi pula bosan kan terus-terusan menikmati permen rumahan. Sesekali perlu juga nyoba bagaimana rasanya permen pinggir jalan….” Pras merasa wajahnya memerah. Omongan Melly terdengar seperti sindiran. “Kamu mungkin menganggap permen ini tak enak, hanya karena dibuat dari adonan kamu pernah dengar ada permen yang dibuat dari rayap kayu?” Pras menganggap Melly bercanda. “Bener! Nggak tanggung-tanggung, yang mengembangkan permen dari rayap kayu itu

penderitaan. Tak ada yang salah kan kalau ada permen yang dibuat dari penderitaan? Apa

seorang profesor di Institut Pertanian Bogor. Mungkin kamu nggak mengira kalau rayap dan lemak 25,2 persen, dan ini cocok buat bahan dasar permen jelly yang kaya dengan suhu70-100 derajatCelsius, udahdeh, jadipermen…” “Tahu dari mana?”

kayu kering jenis cryptotermes cynocephalus light mengandung karbohidrat 10,2 persen nutrisi berupa protein rayap. Tinggal dicampur dengan sirup fruktosa tinggi, dimasak pada

“Baca dong!” Melly sedikit mendengus. Ia tak suka dengan ekspresi Pras yang tampak tak mau percaya kalau ia tahu soal permen rayap itu. Apa dikira sekretaris tidak suka baca?!

Pras diam. Melly mendekat ke ranjang dan berbaring di atas tubuhnya, lalu menyodorkan permen itu tepat ke wajah Pras yang tengadah. “Coba, deh…” Pras tanpa sadar langsung mengatupkan mulutnya. “Sesekali kamu makan permen ini kan ya tak apa-apa,” kata Melly sambil memandang mata

Pras dengan lembut. “Mungkin ada gunanya juga sesekali kamu sedikit merasakan penderitaan…”

Pras memejam. Permen itu mengingatkannya pada kecemasan istrinya. Tapi apa salahnya

mencoba? Toh ia juga suka permen. Rasa permen yang beraneka macam selalu membuatnya merasakan sensasi petualangan rasa di lidahnya. Apalagi sejak ia menikah dengan Neal. Ia permen terlebih dahulu. Permen bisa menghapus bau bekas ciuman di mulutnya. selalu membawa permen di sakunya. Setiap kali hendak masuk rumah, ia pasti mengunyah

Warna-warni cahaya kota terlihat bagaikan bermacam bungkus permen yang bertebaran di udara. Barangkali kota memang seperti permen yang menggoda siapa pun untuk datang menikmatinya. Kota adalah pabrik gula-gula. Gedung-gedung yang menjulang itu adalah

menikmati cokelat raksasa itu, yang tampak seolah meleleh di bawah cahaya. Lalu muncul

kotak cokelat raksasa. Neal melihat barisan orang-orang yang berbondong-bondong ingin

kotor seperti cakar yang hendak menggaruki mobilnya. Neal mendengar suara jeritan yang melengking bersahut-sahutan…

panik ketika orang-orang itu mulai mengepung mobilnya. Tangan mereka yang hitam dan

serombongan orang-orang kumuh yang keluar dari dalam lorong dan gorong-gorong. Neal

belakangnya. Lampu sudah menyala hijau. Dan ia masih melamun. Seorang pengasong

Ia tergeragap. Ternyata itu suara puluhan klakson mobil-mobil yang berderet di

menyodorkan sebungkus permen ke dekat kaca mobilnya, tetapi Neal segera tancap gas. Neal masih gemetaran saat sampai rumah, dan mendapati Iza sudah tertidur. Pembantunya bilang, sejak sore anak itu terus nangis. Tak mau les piano—padahal biasanya ini yang paling disukai anak itu—dan bahkan juga tak mau makan. Hanya karena kecapean ia kemudian tertidur.

Neal memandangi anaknya yang lelap. Wajahnya seperti roti gandum yang diolesi susu.

Di dalam rumah ini, ia bisa melindungi anaknya. Tapi bagaimana di luar sana? Sungguh, ia ingin anaknya terus merasakan hidup yang nyaman dan tenteram. Ia tak ingin pengaruh buruk dari jalanan merusak hidup anaknya.

Tiba-tiba Neal merasa takut, betapa wajah anaknya kelak menjadi keruh oleh penderitaan.

rumah sambil mengunyah permen. Kebiasaan yang Neal perhatikan mulai dilakukan Pras sejak mereka menikah. “Sudah tidur Iza?”

Menjelang jam sepuluh Pras pulang, dan seperti biasanya, suaminya itu masuk ke dalam

Neal merasakan sisa aroma permen yang lengket di sudut bibir suaminya. “Mungkin ada gunanya juga sesekali anak itu sedikit merasakan penderitaan…” Jakarta. Pelan Pras mencium bibir istrinya. memandang mata Neal dengan lembut. 2007 “Sesekali Iza kamu perbolehkan makan permen itu kan ya tak apa-apa. “Bagaimana kalau besok Iza masih ngambek dan terus minta permen itu?” tanya Neal menjelang mereka tidur.Neal mengangguk.” jawab Pras sambil .

Piknik Agus Noor Para pelancong mengunjungi kota kami untuk menyaksikan kepedihan. Mereka datang dari segala penjuru dunia. Mata kami yang murung dan sayu. Karena itulah mereka ramairamai piknik ke kota kami: menyaksikan bagaimana perlahan-lahan kota kami menjadi juga. botol- Penampilan para pelancong yang selalu riang membuat kami sedikit merasa terhibur. para pelancong yang sudah mengunjungi kota kami selalu mereka saat menyaksikan kota kami perlahan-lahan runtuh dan lenyap. Kami menduga. Sementara mereka—sembari berdiri dengan atau merentangkan tangan lebar-lebar. Dari negeri-negeri jauh yang gemerlapan. Kadang mereka mengajak kami berfoto. Mereka menyukai wajah kami yang keruh dengan kesedihan. Kemunculan para pelancong itu membuat kesibukan tersendiri di kota kami. di punuk unta terlihat bergoyang-goyang. membawa bermacam perbekalan piknik. Biasanya kami duduk-duduk di gerbang kota unta. saat mereka begitu gembira membangun tendatenda dan mengeluarkan perbekalan. Hidup yang selalu dipenuhi kebahagiaan ternyata bisa membosankan nyaman tenteram tanpa kecemasan di tempat asal mereka. dan sempat mengunjungi kota kami. lalu berfoto ramai-ramai di antara reruntuhan puingpuing kota kami. Mereka segera mencetak foto-foto itu. biskuit dan telor asin. Karena memang untuk itulah mereka mengajak kami berfoto bersama. rendang dalam rantang—juga berdus-dus mi instan yang kadang mereka bagikan pada kami. Mereka datang untuk menonton kota kami yang hancur. atau permadani terbang dan juga kuda sembrani. Bagai ada naga menggeliat di ceruk . Di bawah langit senja yang kemerahan kedatangan mereka selalu terlihat bagaikan siluet iring-iringan kafilah melintasi gurun perbatasan. menandangi para pelancong yang selalu muncul berombongan mengendarai kuda. Kami menyukai cara mereka tertawa. Kami seperti menyaksikan rombongan sirkus yang datang untuk menghibur kami. para pelancong itu sepertinya telah bosan dengan hidup mereka yang sudah terlampau bahagia. Berkarung-karung gandum yang diangkut gerobak pedati. Mereka begitu menuliskan kalimat-kalimat penuh ketakjuban yang menyatakan betapa terpesonanya diperjualbelikan hingga ke negeri-negeri dongeng terjauh yang ada di balik pelangi. keledai. Mungkin para pelancong itu tak tahu lagi bagaimana caranya menikmati hidup yang debu. Mereka tak suka bila kami terlihat tak menderita. Dan kami harus tampak menyedihkan dalam foto- foto mereka. Pada bumi—atau seperti ketika kau merasakan kereta bawah tanah melintas menggemuruh di gembira ketika melihat tanah yang tiba-tiba bergetar. latar belakang puing-puing reruntuhan kota—berpose penuh gaya tersenyum saling peluk mengirimkannya dengan merpati-merpati pos ke alamat kerabat mereka yang belum Belakangan kami pun tahu. daging asap yang digantungkan botol cuka dan saus. kalau foto-foto itu kemudian dibuat kartu pos dan kartu pos yang dikirimkannya itu. roti kering yang disimpan dalam kaleng.

>jmp- menyusur dinding-dinding menghadap air. Memetik kecapi dan Saat malam tiba.rumah rubuh menjadi abu. Lalu mereka memotret mayat-mayat yang tertimbun balok-balok dan tembok-tembok retak. Lorong-lorong. karena bisa menyaksikan segala sesuatu sirna begitu saja. Kota kami berdiri di atas lempengan bumi yang selalu bergeser. Membuat hidup para pelancong yang selalu bahagia itu menjadi lengkap. dan sungai selalu meliuk-liuk. pepohonan di kota kami saling bertubrukan. Para pelancong itu segera menghambur berlarian menuju bagian kota kami yang runtuh. seolah semua itu terlampau bahagia. menyaksikan beragam keajaiban di es abadi. seperti itulah tanah di mana kota kami berdiri.0<>w7028m<1)>jmp 0m<>h9738m.0<>w 9738m< Bahkan mereka bersumpah telah mendatangi kota yang hanya bisa ditemui dalam imajinasi seorang kunjungi. Dari kejauhan kami . rubuh dan runtuh menjadi debu—serupa istana Rupanya itulah pemandangan paling menakjubkan yang membuat para pelancong itu terpesona. Barisan pepohonan seakan berjalan pelan. kota kami adalah kota paling menakjubkan yang pernah mereka saksikan. Banyak kota dibangun dengan gagasan untuk sebuah keabadian. Mengais reruntuhan untuk menemukan barang-barang berharga yang bisa mereka simpan sebagai kenangan. Membuat semua bangunan di kota kami jadi terlihat selalu berubah letaknya. Mereka juga pelancong itu juga bercerita perihal kota kuno yang berdiri di atas danau bening. Mereka terpesona mendengar jerit ketakutan orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri. begitu mendengar kabar ada bagian kota kami yang tergoncang porak-poranda. penyair. suara menggemuruh yang merayap dalam tanah. dengan jendela-jendela dan pintu-pintu yang 2008m<>h 7028m. candi-candi megah yang disusun serupa tiara. Itulah detik-detik atraksi paling spektakuler yang beruntung bisa mereka saksikan dalam hidup mereka yang batu bata.pohon bertumbangan dan rumah- Bagi para pelancong itu. menyaksikan seekor ayam emas tiap kota. dan bintang. Kau bisa membayangkan gerumbul awan yang selalu bergerak dan bertabrakan.bintang terasa lebih jauh di langit hitam. gemeretak paling menakjubkan bagi para pelancong yang berkunjung ke kota kami. bergerombol berdiang di seputar api unggun sembari berbagi cerita. sebuah kota yang selalu tertutup menyerupai gelapanggur danhanya bisadilihat ketikasenjakala. Mereka telah berkelana ke sudut-sudut dunia. tetapi tidak dengan kota kami. Betapa menggetarkan melihat pohon. Kepada kami para cermin. bawah kakimu. Tapi kota kami. dan jalan-jalannya yang telah melihat kota dengan kanal-kanal yang dialiri cahaya kebiru-biruan. bangunan dan pasir yang sering kau buat di pinggir pantai ketika kau berlibur menikmati laut. jalanan. kota dengan jalan layang menyerupai jejalin benang laba-laba. Atau rebahan di dalam tenda sembari memainkan harmonika. Mereka telah menyaksikan menara-menara gantung yang dibuat dari balok-balok bertengger di atas katedral tua sebuah kota yang selalu berkokok setiap pagi. para pelancong itu bernyanyi. adalah kota paling ajaib yang pernah mereka Para pelancong menyukai kota kami karena kota kami dibangun untuk menanti keruntuhan. hingga menyerupai kota yang dibangun di atas menyerupai benteng di ujung sebuah teluk. menurut mereka. Dengan handycam mereka merekam detik-detik keruntuhan itu. Dan ketika sewaktu-waktu tanah terguncang. dengan rumah-rumah yang beranda-berandanya saling bertumpukan.

Kami sering mendengar kota-kota yang lenyap dari peradaban. sepotong dendeng. Berwisatalah ke kota kami. Mereka akan bercerita bagaimana sebuah kota perlahan. sebotol kota kami yang masih bergerak bertabrakan dan hancur. Membuat setiap kota memiliki kisahnya sendiri-sendiri. seperti burung Kesibukan kami membangun kembali bagian kota yang runtuh menjadi tontonan juga bagi para pelancong itu. setiap kota memang memiliki jiwa. tower dan menara. meski sebagian demi karena semata-mata seluruh bangunan kota itu hancur. Mungkin itu bisa pasti akan menyambut kedatanganmu dengan kalungan bunga-air mata… Yogyakarta. membagikan sekerat biskuit. Bila kau merencanakan liburan akhir pekan—dan kau sudah bosan piknik ke kota-kota lupa membawa kamera untuk mengabadikan penderitaan kami.lahan hancur dan tumbuh kembali. kami . runtuh tertimbun waktu. dan fana. Mereka membuat kami semakin mencintai kota kami.gedung. Sembari menaiki pedati. Sebuah kota yang membuat para pelancong berdatangan ingin menyaksikannya. hingga di bekas reruntuhan itu kembali berdiri bagian kota kami phoenix yang hidup kembali dari tumpukan abu tubuhnya. sekolah. Itulah yang membuat setiap kota tumbuh dengan keunikannya sendiri-sendiri. Kami tak ingin kota kami lenyap. Membuat kami tak hendak adalah kota yang penuh keajaiban. 2006 CATATAN: besar dunia yang megah dan gemerlap—ada baiknya kau berkunjung ke kota kami. Karena bila para pelancong itu menganggap kota kami kami ini sebagai malapetaka atau bencana? kota kami. sungai-sungai. para pelancong itu berkeliling kota menyaksikan kami yang tengah sibuk menata reruntuhan. merasa sedikit terhibur dan tak terlalu merasa kesepian. kabut dan cahaya serta jiwa para penghuninya. Jangan khawatir. membangun kembali bagian-bagian kota kami yang runtuh. Semua itu terjadi bukan hidup dalam jiwa penghuninya. Setiap kota yang mencintai dan mau menerima kota itu menjadi bagian dirinya. rumah sakit-rumah sakit. Keajaiban tersendiri. Kami mendirikan kembali sebagian dari kota kami perlahan-lahan runtuh menjadi debu. Sebuah kota yang akan mengingatkanmu pada yang rapuh. jembatan. sementara. Mereka tersenyum dan melambai para pelancong itu berhenti.menyaksikan mereka. Karena itulah kami selalu rumah-rumah. tetapi lebih karena kota itu tak lagi terdiri dari gedung. ke arah kami. Bagaimanapun kami mesti berterima kasih karena para pelancong itu mau berkunjung ke pergi mengungsi dari kota kami. Sesekali minuman. Kota kami bagaikan selalu muncul kembali dari reruntuhan. Jangan membuatmu sedikit terhibur dan gembira. yang hancur. menanam kembali pohon-pohon. kenapa kami mesti menganggap apa yang terjadi di kota Seperti yang sering dikatakan para pelancong itu pada kami. atau sesendok madu— kemudian kembali pergi untuk melihat-lihat bagian lain Kemudian para pelancong itu pergi dengan bermacam cerita ajaib yang akan mereka kisahkan pada kebarat dan kenalan mereka yang belum sempat mengunjungi kota kami. seakan dengan begitu mereka telah menunjukkan simpati pada kami.

2006) Cities—telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Kota-kota Imajiner. oleh Erwin .1) Deskripsi kota-kota dalam paragraf ini mengacu pada karya Italo Calvino. Invisible Salim (Fresh Book.

Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemis yang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka.Mata Mungil yang Agus Noor Menyimpan Dunia Selalu. Tiang listrik dan lampu jalan menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam. Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil. agar ia bisa mendengar apa yang diteriakkan bocah itu. akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagar pembatas jalan. saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalau sesuatu yang beterbangan. Dan itu kian Gustaf dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyak saja jumlahnya. Jembatan penyeberangan di berubah perbukitan hijau. Kadang berloncatan. Rambutnya kusam kecoklatan karena panas matahari. Beberapa pengendara sepeda motor yang . seperti menjolok sesuatu. jalan menjelang kantornya. jernih dan bening mengalir perlahan. Tak ada keruwetan. Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelan dalam kemacetan. Air yang dinding penyangga jalan tol. Dia tak banyak beda Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari bocah itu. Selalu bercelana pendek kucel. Hingga ia menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. seakan-akan ada mata air yang muncul dari dalam Gustaf terpesona menyaksikan itu semua. Kadang hanya merunduk jongkok memandangi trotoar. ia selalu melihat bocah itu tengah bermain-main di kolong jalan Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat. Gustaf terkejut ketika tiba-tiba ia melihat seekor bangau selokan. karena jalanan telah atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkan gedung-gedung yang telah merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. Dari retakan trotoar perlahan tumbuh bunga mawar. Berkoreng di lutut kirinya. agar ia bisa berlamalama menatap sepasang mata itu. Ia menurunkan kaca mobilnya. seolah ada yang perlahan tumbuh dari celah conblock. Memandang mata itu. Sering Gustaf memperlambat laju mobilnya. Setiap pagi. Tapi pada saat itulah ia terkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya. Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dan tertawa-tawa. Gustaf tak tak bisa mendengarkan teriakanteriakan bocah itu. Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. Usianya paling 12 tahunan. Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan layang. menghirup lembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. rasakan setiap kali bersitatap dengannya. Seperti ada cahaya yang perlahan berkeredapan dalam mata bocah itu. Kicau burung terdengar dari pohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light. kerakap tumbuh di bertengger di atas kotak pos yang kini tampak seperti terbuat dari gula-gula.

Gustaf jadi begitu terkesan dengan sepasang mata bocah itu. Atau dalam mata itu ada bangkai bayi yang terapung-apung. Ia ingat perkataan Oma. Ia menyukai bermacam warna dan bentuk mata boneka-boneka koleksinya. Setiap kali terkenang mata itu. Mata itu membuat dunia jadi banyak warna. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. yang kata Mama.menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. Setiap menatap mata seseorang. ia yang bagai liang hitam. Kadang ia melihat api berkobar dalam mata itu. Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnya dan melaju. padang gersang ilalang. Berminggu-minggu mengikuti terapi. Ia senang ketika Oma memuji gambar-gambarnya itu. Sering ia menggambar mata mata dengan sebilah pisau yang menancap. sewaktu kanak-kanak juga menyukai berlama-lama. Dan itu rupanya membuat Mama cemas—waktu itu Mama takut ia akan jadi selalu disuruh menggambar. Mata yang berkilat licik. atau binatang-binatang yang berloncatan dari dalam mata berwarna hijau toska. itulah mata paling menyimpan dunia. memandangi mata seseorang cukup lama. Itu sebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka. Ia tak pernah menyangka betapa di dunia ini ada mata yang begitu indah. Begitu bening begitu jernih. Kadang ia melihat ribuan kelelawar terbang berhamburan. Gustaf seperti melihat bermacam keajaiban yang tak terduga. pecahan kaca yang menancap di kornea. Sesekali ia menggambar bunga mawar tumbuh dari dalam mata itu. tapi ia suka diam-diam memperhatikan mata menyingkir. Mata yang tertutup jelaga kebencian. Karena itu. ”Tak sopan menatap mata orang seperti itu!” Papa menyuruhnya agar selalu menundukkan pandang bila berbicara dengan seseorang. Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya…. pusaran kabut kelabu dengan kesedihan dan kesepian Di mana-mana Gustaf hanya melihat mata yang keruh menanggung beban hidup. Barangkali seperti mata burung seriwang yang bisa menangkap lebih . terlihat berbeda. Ia suka menatapnya homoseks seperti Oom Ridwan. Rasanya. saat ia berusia tujuh tahun. Kadang—tanpa sadar_ia sering mendapati dirinya tengah Saat remaja ia tak lagi menyukai boneka. Sering pula ia melihat lelehan tomat merembes dari sudut mata seseorang yang tengah dipandanginya. Dan ia selalu menggambar mata. setiap kali itu pula Gustaf kian ingin memilikinya. boneka—lantas segera membawanya ke psikolog. Tapi Papa kerap menghardik. Mata yang mungil tapi bagai Alangkah menyenangkan bila memiliki mata seperti itu.” Sejak itu Gustaf suka memandang mata setiap orang yang dijumpainya. panjang. Seorang polisi lalu lintas bergegas mendekatinya. Oma seperti bisa memahami apa yang ia rasakan. kawat berduri yang terjulur yang menggantung. ”Mata itu seperti jendela hati. Mata yang penuh kemarahan. hingga orang itu merasa risi dan cepat-cepat orang-orang yang dijumpainya. indah yang pernah Gustaf tatap.

Agar ia bisa memandang semua yang kini dilihatnya dengan berbeda…. lantai yang digenangi air bening. Gustaf kini bisa mengerti. semuanya sudah tampak sempurna. Dan ia makin ingin mata bocah itu. Semua itu hanya mungkin. Terlalu banyak anak Gustaf tersenyum. Atau karena mata mungil itu akan terlihat beda. Seekor kepik bersayap merah berbintik hitam tampak merayap di atas meja. Bila ia bisa memiliki mata itu. seperti jadi mata bocah itu memang satu-satunya mata paling indah di dunia. bisa memiliki mata itu. Semua Pagi ketika Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. Atau ia bisa saja merayu bocah itu dengan sekotak cokelat. Mungkin ia akan menemukan mata yang indah. pastilah bocah itu sedang begitu senang memandangi seekor kumbang tanah yang muncul dari celah conblock. batin Gustaf. mata. Mata bocah itu pastilah melihat sekawanan burung gelatik terbang merendah bagai hendak hinggap kepalanya. mana anak-anak berebutan ingin menaikinya. yang dikenakan manequin di etalase itu akan terlihat kepompong mungil yang bergeletaran pelan ketika perlahan-lahan retak terbuka dan muncul seekor kupu-kupu. pikirnya. Ketika berjongkok. Eceng gondok tumbuh di Tentulah menyenangkan bila punya mata seperti itu. karena memang menyimpan sebuah dunia. Di lengkung selendang sutra bambu apus tumbuh di dekat pakaian yang dipajang. mata mungil indah bocah itu bisa melihat dunia yang berbeda. ia melihat seorang bocah duduk bersimpuh di trotoar dengan tangan . lakukan agar ia bisa memiliki mata itu. Orang-orang pasti akan terpesona begitu memandangi matanya. Tapi Gustaf tak menemukan mata seperti itu. Gustaf memperhatikan mata orang-orang yang lalu lalang. Apa pun akan Gustaf jalanan berkeliaran. Tentu lebih menyenangkan bila tak seorang pun tahu kalau aku baru saja ganti orang akan memujinya memiliki mata paling indah yang bagai menyimpan dunia. Membuat Gustaf berpikir. Ada rimpang menjalar di kaki-kaki kursi. Bila perlu ia menculiknya. Apa yang kini ia pandangi Pita gadis yang digandeng ibunya itu akan menjadi bunga lilly. Ice cream di tangan anak kecil itu mungkin akan meleleh menjadi madu. Ia ingin ketika ia muncul kembali. Bocah itu sering berloncatan— sebab itu tengah menjoloki buah jambu yang terlihat begitu segar di matanya. ia akan bisa melihat segalanya dengan berbeda sekaligus buatnya. Cahaya jadi terlihat seperti sulur-sulur benang berjuntaian…. kenapa bocah itu terlihat selalu berlarian riang—karena ia tengah berlarian mengejar capung yang hanya bisa dilihat matanya. hingga ia mengibas-kibaskan tangan menghalau agar burung-burung itu kembali terbang. Ia sering mendengar cerita soal operasi ganti mata. Elevator itu menjadi tangga yang menuju rumah pohon di Betapa menyenangkan bila ia bisa menyaksikan itu semua karena ia memiliki mata bocah akan memiliki mata paling indah di dunia! Mungkin ia bisa menemui orang tua bocah itu baik-baik. Ia tinggal datang ke Medical Eyes Centre untuk mengganti matanya dengan mata bocah itu! Gustaf hanya perlu menghilang sekitar dua bulan untuk menjalani operasi dan perawatan penggantian matanya.Sembari menikmati secangkir cappucino di coffee shop sebuah mal. dan pastilah tak seorang pun yang peduli bila salah satu dari mereka hilang. menawarinya segepok uang agar mereka mau mendonorkan mata bocah itu itu.

2006 . Ia melangkah melewati lobby perkantoran dengan langkah penuh kegembiraan ketika melihat setiap orang memandang ke arahnya. tapi segera ia urungkan karena merasa percuma. Kedua mata bocah itu kosong buta! Gustaf hanya memandangi bocah itu.terjulur ke arah jalan. percaya. sambil berbicara kepada temannya. Gustaf yakin mereka kagum pada sepasang matanya.” ”Persis mata iblis!” Jakarta. Beberapa orang malah terlihat melotot tak sekelilingnya…. Begitu lift itu tertutup. Gustaf terkesima memandang Dengan gaya anggun Gustaf menuju lift. ”Kamu lihat mata tadi?” ”Ya. seorang perempuan yang tadi gemetaran memandangi Gustaf terlihat menghela napas. Ia ingin membuka jendela. dan melemparkan recehan.

Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. Ah. tapi ia masih saja hidup. Sesekali. dan segera saling bisik. Menenteng seramnya. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa benar akan datang. seperti bekas bacokan. Sebab. sembari terus bersiul. ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya. Saat ia berbaring di ranjang. Ramadhan kali ini. Menyisir rambut dan memotong kuku. seperti lengket di hidungnya! Segera ia mandi. Langsung. memandang langit siang yang terang. Mungkin ia rampok. ia selalu membersihkan kamar kontrakannya. Bila pulang. Entahlah. Setiap menjelang Ramadhan. Seperti selalu menghilang. Parut luka seputar pundak. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah. sembari bersiul-siul kecil. Lihat saja tampang tetangga melihatnya keluar tengah malam. Bayangan kematian penuh darah. rapi. Dan tadi. Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti. mengusir bayangan buruk itu. Menyemprotkan upacara kecil menyambut kematian… ringan.siul >diaC< Beberapa tetangga—yang tengah duduk menggerombol— memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu. hingga ia bisa mati tenang… karena ditolak permintaannya saat lebaran. ia bisa mencium bau amis darah itu. seperti kotak tempat menyimpan gitar. Ramadhan berlalu. mengerut menatap laki-laki itu. ia sudah menjemur kasur pewangi ruangan. keramas.Ia Ingin Mati di Bulan Ramadhan Ini Agus Noor Betapa menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. Saat Ramadhan bantal yang lembab apak berjamur. Merapikan pakaian. Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih. seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh. banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan. Kadang berbulan- bulan. Melipat selimut. Ia jarang berada di kamarnya. Ia memejam. beberapa koper besar. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar. Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan . Memakai jaket kulit hitam. kemarin. Tato di lengan kanan. Ia tak ingin kecewa lagi. Bergegas. Atau erang kesakitan leher digorok. ia berharap maut benar- Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. dan wangi. Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan Ia berdiri di ambang pintu. Berhari-hari.

Mungkin. tapi pergi ke kuburan. Tetangga yang jadi tukang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat. mereka mendengis bengis. seperti lilin panas mencair. atau berdiri Para tetangga jadi gelisah. Seperti menyaksikan kematian . Menjelang Ramadhan ia muncul. Rutin yang ganjil. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka. sebagai seorang pembunuh bayaran. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri.wajah yang membuatnya mengerang panjang. Mungkin sedang menyiapkan sore ia keluar. mengenali beberapa ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya. Beres-beres kamar. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini. Wajah mahasiswa yang yang lehernya ia sayat. Meski ia tahu. di bulan Ramadhan. seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. Dan orang-orang merinding mendengarnya. bercerita. Para tetangga penasaran menyimpan dugaan. wajah remuk rusak itu. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu… >diaC< Mayat-mayat yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam. Barangkali ia dukun. betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput. Mengepungnya. Pintu jendela yang biasanya tertutup makanan buat sahur. Dan seseorang yang menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi. Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang. Sering. memandang entah apa. Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki. Mungkin intel. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu. ia terlihat merokok siang hari. ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan. memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan Ia pun suka menikmati saat.saat seperti itu. Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar. Mati dengan tenang. Menutup diri. Aneh. Misterius.laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa. dibuka lebar.harga BBM—matanya jelalatan. menyapu. Wajah. Kulit wajah mayat. Ia mengerang. rumah petak tak pernah berani bertanya. Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya. Tiap termangu memandangi kapling makam itu. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. Wajah pucat perempuan simpanan ketika ia membantai keluarganya. ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk. Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah Ia tergeragap bangun. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher mengecup pelan-pelan… korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan. Ini yang membuat kian penasaran. seperti mengawasi. Ia terkapar. Ia seperti tak mau dikenali. Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati.mayat itu meleleh.

Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan… coklat resik. kata teman-temannya. ia diberinya pekerjaan. Benar kata komandannya. nanti bila sudah berhenti. Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat. Sepotongsepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan. Dikirim ke medan perang. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi. Kisah para raksasa penyantap manusia. diam ia membunuh kucing pamannya. Ia lebih menyukai Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu. membuat lawan- lawannya bonyok nyaris mati. Tapi membuatnya merasa aman. Bicaranya santun. Membunuh seorang pengusaha. Lalu beberapa order ringan lainnya. Seorang hakim. Orang. Kulitnya yang putih bersih. Beberapa mati dalam penjara. karena pejabat itu pingin kawin lagi. tak ada yang pun mendaftar jadi tentara. Dan ia membusung bangga. Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran. dan ”Kamu punya bakat bagus. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian. bisa memukuli orang sepuasnya. Kamu pantas jadi tentara. berani menghentikan. Memang. Ia sudah membeli rumah buat hari tua. Dan ia mulai mengawasi. tertib. Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta. Lalu sepulang perang. Tanpa jejak. Rahang terkesan pipih. >diaC< Sampai satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan. Ia menyiksa para pemberontak. Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir. Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang. Umur tujuh tahun. orang yang jadi tentara sangat ditakuti. Paling mentok jadi sersan. Sumpek bau comberan. Menghabisi seorang Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan. ia suka membayangkan diri jadi tentara. Ia paling senang ketika harus disiplin. Ia kenal beberapa mantan pembunuh sakit jiwa.” kata komandannya. Di kampungnya. membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian. saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan. wartawan. Sorot matanya tenang. Saat SMP ia berkali-kali berkelahi. Ia heran. diam- dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan. Tempat menyembunyikan diri. Percuma kalo cuma jadi tentara. Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga. Beberapa menderita Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. Ia amati raut tua Kiai Karnawi. Dan itu disukai komandannya. Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang. Ia menikmati bayaran yang lumayan. Ia selalu ingin berada sangat dekat. Tugasnya hanya membunuh. Beruntunglah orang .Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu.orang mengerubung. kenapa orang seperti itu Tapi itu bukan urusannya. setiap kali kakeknya menyembelih ayam. bayaran yang menderita di masa tuanya. Ia tak terlalu menyimak. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan. Ia akan tinggal di rumahnya. Alangkah hebatnya jadi tentara.

Ia tak mengeremnya! ”Mari kita turun. kecuali mati di bulan Ramadhan. Ia mulai diusik gelisah. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat. lalu mendorong mobil ke jurang. ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini. Mencibir. Amin. Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang. ia hanya berdiri gamang. Jangan sampai aku kesakitan ya. Biar tak banyak korban. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi. Yogyakarta.” Baru kali ini ia gemetar. ”Aku tahu. Alhamdulillah. Tapi tolong. Dan semoga saja. yang pelan. dan kini memburu kematiannya. ”Kamu bisa membunuhku di sini. Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan. tak perlu repot-repot membunuh yang lain…” Ia tak tahu.” ajak Kiai Karnawi. Dan ia kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan? tersenyum. Senyap. Pelan. Ia meraba belati. ”Setelah itu kamu bisa membunuhku. Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu. Kematian di bulan Ramadhan.yang mati di bulan Ramadhan. Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang. aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan. Getir. Karnawi terkekeh. Kemeresek daun jati jatuh. Singup. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan. Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan Semua sudah sesuai rencana. Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran. ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang. itu mobil mahal. Lengking gagak di kejauhan. kenapa mobil perlahan berhenti. Kalau boleh memilih. Lalu menggelar sajadah. aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar. Lalu meraba ”Sekarang. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu. Tak usah Karena itulah. Kelebat bayang burung menyambar. Sayang kan. diperkenankan mati di bulan Ramadhan. Ia bisa menembaknya. Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia. membuangku ke jurang dengan mobil itu. kamu mau membunuhku. Seperti yang sejak itu terus mengintainya. hehehe…” Kiai pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. Dengung jutaan serangga mengepung. Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan. Kamu cukup membunuhku.” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan. lakukan tugasmu. Terdengar letusan. Gemetar tak yakin. Jutaan pasang mata Ia merasa senja meremang. Enggak usah merepotkan sampeyan…. 2005 . Ia pun kemudian selalu berharap. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram. Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya.

Kebanyakan warga tetap di rumah masing-masing dengan ”Kalau ibumu ini mati. dan anak-anak. dari Pati ke Rembang. meliputi kota-kota Demak. perumahan. Saya melewati antrean kendaraan yang macet sepanjang 24 km mampu menembus banjir. Kudus. Saya mengayuh rakit menerjang sawah siap panen yang tenggelam yang airnya semakin tinggi. Jepara. cahaya perak. Masya Allah. Terdengar gelak-tawa menyergap disusul hujan lebat. bus. hutan terbakar. Sementara di Riau dan Jambi. Mendadak mendung datang rasanya badan bertambah ringan tapi dinginnya minta ampun. Saya menunggu halilintar untuk mengirim sinar. mungkin tidak sedikit jumlahnya. Subhanallah. Rasanya tubuh ini beku. Tubuh saya menggigil dan dihamburkan dari langit yang membuat saya tiarap gemetaran. Saya yang satu minggu kehujanan terus. ayah. yang terdiri dari truk.” . kolam ikan. Sebaiknya saya terus mengayuh rakit batang pisang ini. Apa kiamat seperti ini? Geledek bersahutan seperti Halilintar menyilet langit memberi jalan rasa bersalah pada rakit saya. Juwana. banyak lagi korban. barangkali beliau mau menolong kami mengatasi kesurupan massal yang melanda Air banjir setinggi satu setengah sampai dua meter mengganyang seluruh kawasan yang sangat luas. air tak juga surut. namun tak kunjung muncul. apa Kiai Zaman sendiri tidak repot? Beliau tentu juga sangat dibutuhkan oleh pesantrennya yang juga dilanda banjir. cahaya perak. tambak. Saya meraba-raba apa gerangan yang menyebabkan rakit saya terhenti. kontainer. ”Cepat kuburkan. untuk menemui Kiai Zaim pesantren di desa kami. Tapi terbit di timur dan tenggelam di barat.Pantura Danarto Sungguh saya tak juga mengerti kenapa cuaca menjadi sekacau ini padahal matahari tetap sudah dua minggu. Hanya bukit yang cukup sulit bertengger di atap dengan payung atau lembaran plastik untuk menahan hujan. seolah tak peduli akan kesulitan hidup yang sedang dirundung. didaki karena licin dan terjal. Agaknya tersangkut sesuatu. Rembang. Mendadak laju rakit ini terhenti. perkebunan. Para penumpangnya yang saling kenal berteriak-teriak bertegur sapa. Tapi. Banjir masih juga melanda Pati. Wahai. Gelap gulita. maupun motor karena tak Zaman. Sawah siap panen yang tenggelam tentu menelan lebih mengungsi jika seluruh kawasan yang sangat luas ditelan banjir yang rasanya semakin tinggi ditambah oleh deras hujan. Pati. cucu. sawah-sawah yang siap panen.” kata ibu yang duduk di atap rumah dengan memegangi payung dalam hujan lebat. dan pertokoan. Tuban. sedang cuaca juga tak mau tahu apa keinginan-keinginanku. Di dusun tak ada bangunan yang tinggi tempat mengungsi. juga nenek-kakek. Tentu ada saja yang menjadi korban dari bencana yang besar ini Cepat-cepat saya singkirkan tubuh itu dengan galah lalu saya menghindar dari tempat itu. Ibu. ke mana Saya semakin menggigil. Jawa Tengah. Sejumlah rakit dari batang pisang maupun bambu tampak berseliweran. cicit. saya meraba tubuh orang. meski apa peduliku. saya sudah tak tahu jalan. mobil-mobil pribadi.

merupakan perpaduan yang elok. Sekilas terlihat bangunan putih ini masjid. Di mana Pati. Ternyata tangan saya menyentuh tembok. Rumah tertutup santri. Tiba-tiba rakit mentok. air melulu yang tampak.” Di atas atap dapur. Sambil berayun-ayun dimainkan oleh kantuk. Jakarta. alur mana (?) saya tak lagi mengenal peta. Meski sangat kesukaran. Bangunan apa gerangan? Kembali kilat merobek udara. Banjir yang lebih besar kali ini datang.” ”Tega kamu meninggalkan adik-adikmu. sejauh mata memandang. di rumah bertingkat kami. berseliweran berlarian. manalagi. Kadang gelombang menerpa karena digelontor angin puyuh yang juga air lalu kembali tenggelam. Pagi harinya masjid itu terkatung-katung di danau yang luas dengan saya satu-satunya berada di atapnya.” sergah saya sambil memeluk tubuhnya yang gemetaran kedinginan. saya mencari jalan turun ke dalam masjid. Ditinggalkannya saya sendirian di dusun untuk menjaga rumah. ditambah 25 santri putri yang kesurupan diungsikan itu bermanfaat bagi sesama. di mana Rembang. yang membuat saya selalu kangen untuk mengunjunginya. Tapi mereka tak betah di tapi cukup bahagia. katanya. Dua rakaat saya selesaikan setelah berwudu . di atap masjid itu tidak hanya baju. Apa yang terjadi sesungguhnya? Siang harinya panas sangat mempertajam tetes hujan bagai jarum. kedua kota itu mengingatkan saya akan hubungan rumah saya dengan rumah Kiai Zaim Zaman yang berada di tengah pesantrennya.” ”Ibu saja yang menjaga adik-adik. Saya mau cari nafkah di Jakarta. ibu kok ngomong begitu. ayah. saya berhasil masuk ke ruang salat. Maka ketika banjir surut. Banyak jalan yang Allah bimbing supaya bangunan Zaman dan di mana beliau berada jika di pesantrennya tak dijumpai sementara di mana- menyebabkan rakit ini berhenti. ”Jaga adik-adikmu. meski selalu kekurangan Kemudian kakak membangun rumah bertingkat untuk kami menghadapi banjir. Seorang kiai dengan pohon mangga Karena panas tak tertahankan. ayah memeluk kedua adik saya yang basah kuyup karena tak terlindung dari hujan. teriknya. nama yang mengingatkan orang sehabis yang lebat buahnya. Benar saja. Yang saya takutkan kalau tiba-tiba ibu atau ayah meninggal. putra maupun putri.”Ah.” ”Saya mau cari duit yang banyak untuk ibu dan sekolah adik-adik. dalam ukuran apa pun. kakak yang menetap di Jakarta memboyong ibu. manis dari akarnya. air. sampai saya terjatuh. Lalu boyongan kembali ke desa. menikmati sebuah lalu minta lagi. di mana para juga Tuhan. Masalahnya kini adalah bagaimana bisa menemui Kiai Zaim mana. bermain maupun berdebat soal jodoh. dan kedua adik ke Jakarta. Terlalu bising. Kembali saya meraba-raba apa gerangan yang Barangkali saya bisa mencapai atapnya supaya saya bisa tidur dan tidak terlalu kedinginan. pohon mangga yang sangat rindang. Alhamdulillah. Di tengah sawah yang sudah jadi danau ini. air. Kadang batang-batang padi muncul di permukaan tubuh saya juga mengering. katanya.

” kata Kiai Zaman hampir-hampir berbisik. bangun dengan sigap. mencium tangannya. Rasanya saya semakin banyak utang kepada Kiai ini. ada hal-hal yang perlu saya tanyakan. orang-orang berteriak meminta tolong. dari imbalan yang bisa menemui saya dengan seluruh permintaan yang bisa diucapkan mulut: Ketika saya kembali ke dalam.” ”Orang-orang modern bisa juga kesurupan. di depan mihrab saya jumpai bertumpuk-tumpuk uang yang disentuh tangan sampai berkah yang tidak kasatmata.” ”Subhanallah. menanyakan kesehatannya. berusaha sebaik mungkin untuk tidak kentara baru bangun dari tidur. menjauh. Saya mendayung rakit batang pisang ini meninggalkan masjid yang sudah memberi pelajaran mendayung kembali ke Pati dengan arah apa pun. ”Saya mendengar panggilanmu bertalu-talu. Waktu bangun. Saya ”Maka cepat-cepat saya menemuimu.“ kata Kiai sambil ngeloyor pergi. Kembali rakit saya terhadang oleh antrean truk yang sangat panjang dalam kemacetan oleh banjir yang masih setinggi dada orang dewasa. Betapa seandainya kita punya banyak kiai seperti beliau. sekeluarga turun-temurun. orang-orang pernah berduyun-duyun ”Saya bukan Kiai Zaim Zaman.” ”Subhanallah. saya tertidur tanpa diawali kantuk.” seru saya. saya banyak kepada saya dengan bertumpuk-tumpuk lembaran uang di atasnya. ”Saya sudah bertemu dengan dua puluh lima orang santri putri yang kesurupan itu di rumahmu dan mereka sudah baik kembali. ayah. Di yang mumpuni ini. tangan banyak sekali. banyak sekali. ke sebuah dusun yang sunyi.” seru saya sambil mengejar beliau. ”Saya hanya orang yang kepengin seperti beliau.air banjir.” teriak saya ketika itu kepada orang-orang itu. sementara di luar sana. banyak sekali. Semoga berkah Allah selalu mengayomi Kiai Zaim Zaman yang dua lengan itu. Tetap betah juga sopir-sopir dan kenek- .” Pagi hari ketika matahari kencar-kencar dan mendung hitam sedang mengincar. meminta doa. Kapan seorang awam seperti saya bisa membalas kebaikannya dan jasadalam hati saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya atas semua kebaikan Kiai jasanya dengan segala kemampuan yang tulus seperti selembar sajadah kepada sebongkah kepala yang sujud di atasnya. Di luar. Kiai Zaman berjalan di atas air tanpa mempedulikan panggilan saya. dan kedua adik saya. ya. kaki yang dua jenjang itu. ”Pak Kiai.” ”Salamualaikum. kepada ibu.” ”Subhanallah. Kiai Zaim Zaman berzikir di sisi saya. saya kaget bukan alang kepalang. yang boleh jadi terus menunggu dengan harap-harap cemas. Cukup lelap dan tak terganggu oleh mimpi. ya.

. Dalam hati saya menyesal. ”Lo ambil! Lo yang mata duitan! Ha ha ha!” Teman yang kena timpuk itu melempar uang itu ke teman yang lain sambil berteriak. saya pasrah setulus mungkin. Seorang sopir mengambil segepok uang itu dan menimpukkannya ke arah temannya sambil mencemooh. bukakan mata mereka. Ini artinya bergepok-gepok uang itu kembali ke tangan kami. uang yang saya bawa itu uang sungguhan. Lalu mereka mendorong rakit supaya saya meneruskan perjalanan. diiringi ha ha ha he he he dan olok-olok yang diuleg sepedas mungkin sehingga banjir itu tambah sempurna mengharu-biru. subhanallah. Seperti mati berdiri. Masya Allah. Bukan uang Sesampai di rumah. Itu uang beneran dan mereka boleh merebutnya. menyelam dan menyelamatkan seluruh uang yang tenggelam dan mengembalikannya di atas rakit saya.” doa saya dengan kenceng. menimpuk sejadi-jadinya. Keadaan jadi kacau dan meriah. Bagaimana mainan. Dengan kunjung datang. kenapa saya sementara jumlah orang yang menginap di rumah bertambah setiap harinya. Persediaan makanan habis sebungkus mi-instan yang dibagi dua orang. ibu. Ketika ibu mengetahui saya membawa uang yang bukan main banyaknya itu.kenek itu melantunkan potongan-potongan lagu meningkahi irama dangdut yang tak kunjung padam. caturnya yang berayun-ayun oleh riak air yang dihembus angin atau sengaja diaduk-aduk Ketika para sopir dan kenek itu melihat gepokan lembaran uang yang bertumpuk-tumpuk di atas rakit saya itu. itu tidak menyembunyikan segepok dua di dalam baju saya. Penuh banyolan dan semprotan Anehnya para sopir dan kenek itu. Allah. Menurut ibu. uang haram yang belum tentu dari Kiai Zaim Zaman. Saya tertegun. ”Ya. semuanya ini milik-Mu.” doa saya. dan para santri dengan sejumlah ustadnya yang masih menginap menyambut saya dengan sukacita. ”Ya. Malam harinya saya tidak dapat tidur karena perut keroncongan. Bahkan yang beradu bidak-bidak catur sambil berendam dengan papan oleh sejawatnya yang selalu mengganggu. kedua adik saya. ”Rakit itu kembali ke rumah!” yang disambut seisi rumah dengan takjub. Lo aja ambil yang masih kere!” Akhirnya semua sopir dan kenek itu berebut uang di atas rakit saya dan saling timpuk- kata-kata konyol. Tentu banyak gepokan uang itu yang jatuh ke dalam air dan tenggelam. mungkin mereka tidak menyadari. semakin kentara kami butuh bantuan yang tak Pagi harinya kami dikagetkan oleh teriakan ibu. menyuruh saya membuang seluruh uang itu dengan mendorong rakit menjauh dari rumah. Allah. ”Gue ude konglomerat. ayah. Subhanallah. Tuhan punya rencana.

14 Februari 2008 .Tangerang.

Ia sedang diburu kebutuhannya berteriak. Ini Matahari terbahak. dikejar setan. Tidak seramah abah dan babah semasa zaman misai jepaprah. pusing. . persis malam mati. Apa ia tak punya pusar? Hanya orang-orang yang tak punya kepadanya yang cepat menghilang terhalang di antara pintu dan jendela Bianglala. Mereka menerobos di antara bus. Lari! Lari! Tekuk dan telan kota. Angin kencang. selalu muncul pertanyaan meminta ibunya untuk tidak menari lagi. jadi rupanya ibunya seorang penari. Lamat-lamat ditelan mall yang bernyanyi. Ia menuju ke arah selatan. Jangan pernah kalah. Tapi setiap pertanyaan belum terjawab. Ia menyeberang di antara lalu-lintas saling bertanya. “Ini Metropolis. Di jalan-jalan Jakarta tak ada tempat untuk kencing. Pelabuhan menjerit. Seolah metropol miliknya sendiri. kopaja. Nak? Ngapain lo lari terus? He. dikerjakan. lo?!” Semrawut kota semakin bising. Ia tak mau tahu dengan urusan orang lain. Semua pertanyaan lompat bajing. Atau baru. Tinggalkan yang mesti ditinggalkan. Sesuatu apa itu. ia terus berlari. Ada apa anak itu berlari terus. lo. Orang-orang pura-pura tak mendengar. Ia pusar bisa berlari sekencang itu. Suasana mendesing bunyi gasing. Kepala berputar kerna mana ibunya? Mengapa ia berteriak-teriak? Apa ibunya mendengar teriakannya? Mengapa ia Lonceng kota berdentang dua kali. Orang-orang sibuk dengan tas belanjaannya sendiri-sendiri. O. seperti ada sesuatu yang ingin ia temui. Ia tak mendapatkan bus atau angkot. Seperti anak laki-laki 10 tahun yang terus sendiri.Jantung Hati DANARTO Anak laki-laki itu berlari kencang meninggalkan pelabuhan Sunda Kelapa. Tak lelah-lelahnya. angkot. Bung! Sejak kapan para sopir angkot itu mendahului para arsitek dengan orang tak mau tahu. Orang- bagaimana mungkin harus menanggulangi kebutuhan orang lain. Merebut tempat. Angin berdebu. Jakarta sudah lama bilang ogah. Beberapa orang yang berpapasan dengannya menanyainya kenapa ia berlari. Alangkah kencang larinya. mikrolet. Metropolis. Jangan pernah mau mengalah. Ia tak peduli. kabarkan. Bung!” Mengurusi diri-sendiri saja hampir-hampir tak becus. Legam bagai Jacky Chan melenting. Hitam kayak pantat kuali. yang macet. Jangan ketinggalan. Anak itu agaknya merebut waktu. Tempeleng orang lain sebelum ditempeleng orang lain. Jakarta Utara. barangkali orang-orang itu bisa menolongnya jika ia butuh pertolongan namun anak itu acuh tak acuh dan terus berlari. Ia berzigzag di antara kendaraan-kendaraan yang menunggu lampu hijau. Dihardik satpam jadi emping. Merebut kesempatan sebelum segalanya terlambat. atau kota ditekuk dan ditelan orang lain. Nak? Ada apa. Barangkali ke Jakarta Pusat. Keringat kota diperas habis-habisan. “Ibu! Ibu! Jangan menari lagi!” ia melarang ibunya menari lagi? Memangnya kenapa kalau ibunya tetap menari? Anak 10 tahun ini boleh jadi anak yang aneh. “Ada apa. Tapi di “Ibu! Ibu!” teriak anak laki-laki itu menyebut ibunya. Orang-orang menengok yang padat. “Ibu jangan menari lagi!” teriaknya sepanjang jalan raya itu. Udara sangat panas. mencari kekal pada dinding. mengucap salam pada metromini. Kerjakan yang mesti berlari itu.

Cepat Anak ini cerdik bagai jengkerik. mencium bau wangi. Supaya jarak lari menjadi aman. Wangi jembatan layang. Di sekolah anak tak pernah bolos. Mencari hidup layak seperti pesan bapak. bukan raja. kenangan manis buat Mendagri dan Henry yang tertindas. Nyawa yang berbakti. mabuk tetap tegak. Pesanlah nisan sekarang. begitu pemerintah kasih wejangan. aparat James Bond lumpur panas dan kalajengking di bawah keset. Tuhan sayang manusia. kota. Menggaris lurus menerka keadilan. Tiba-tiba agung bagai baja. zat. Tuhan kendali manusia. Seluruh hamba wet. Orang-orang yang berpapasan mendesah. Anakku. Tak pula timpang. Anak itu melompat pagar tanaman. cucunya cucunya cucunya cucu Empu Gandring. Eyang. Segala tempat. O. Lalu kena sabetan keris yang ditempa padepokan Ganggang. O. Itu udara wengi. kejeblos di pasir boblos. seluruh penghuni hotel prodeo adu jotos. Si anak ksatria utara. Berlari chitah otak cucu belum juga encer. Saling gertak ketemu ibu dirundung sawan. Tinggallah putri bersama anak semata wayang. Baik budi. Jangan terpeleset. Hidup bisa dicicil angket. Seonggok jalan layang ke Universitas Indonesia gemilang. api. ia mendelik. dan pertapa sejati. Tak ada tempat yang jauh. Lalu berpijar cahaya api. Berlari terus. Ibunya sedang menari di atas jembatan layang. orang yang matanya nyalang. Alasan tempat jeli selalu kena jalur hijau pasti. Bukan ratu. Kemana sandal jepitnya tadi di emper. Tiga kali kena gusur. badai derita Ia terlalu sakti. O. Kemana tanahku. Ksatria Utara tak mau berkelahi. Tak mati-mati. tanah asli ayah bayang.Seperti bandit yang dibiarkan lolos. Matahari membantu tapi butuh ongkos. menghirup angin surga. Ibu Pertiwi mengerti. Mengalir angkasa pesat. Di ladang luber. Hanya Muntahkan segala pikiran kotormu. Anakku. Kedua orang bertahan di bawah jembatan layang. Apa mau dikata. Aduh. termasuk jalur hijau jalang. Tuhan yang pegang. Setiap mahasiswa melaju mobilnya ke universitas. Ada saja yang tidak polos. Henry Muhammad. Jasadnya lenyap ditelan udara. Tuhan tempeleng manusia. Dipuja petani. Sotangnya tajam bagai taring kirik. Jangan-jangan sedang menari bersama awan. supaya hati tak garang. kadaluwarsa dari sepihak. Ia musnah. O. Berlari terus. Tak kenal batas. O. Tanah di bawah jambatan layang UI diberi julukan “O Henry Rudini”. KTP diinjak-injak. Ia hindar bertengkar kerna pintar. Mengambang taat. Nasib orang. berbakti. Dengarkan mahasiswa sedang berjuang. Ia keris empu.000 tahun mengayuh. Itu udara pagi. anak itu tahan menceker. telapak kaki tanpa alas. Padang darah berember-ember. Pasrah tanpa curang. Namanya bikin gentar. Kemana tanahku. Tiga kali tanah dibeli di berbagai . putri jelita berbanding Sembadra. O. bertengger gubuk derita malang. Ia anak mama. hitungan akurat. bukan pula keris patih. Seluruh menteri melankolis menatap Henry. Di bawah jalan layang. Perahu malaikat burung puyuh. kesandung maut dari seberang. Tak mati-mati. menerkam kijang tercecer. Ia diangkat Allah ke firdaus ketujuh. Walau di lapak. Jangan menoleh ke belakang. Dalam sehari 50. Jeritkan segala raung serigalamu. tanah. “Ini anak apa maunya?!” Orang-orang melengos. Berbanding Pandawa pantas. Namun tak beringas. Butiran menjelma hujan. Udara. Ia ingin lolos dari angka-angka narkoba oplos. terbahak. Tumbuh harapan. Aduh. Tak peduli pada aspal jalan yang panas. Ia ksatria tuntas. air. Mau dicaplok katak. Penari agung bikin keder pemda. Henry minta ganti rugi mahal kerna tiga kali dibohongi.

Kota gelap gulita. Di siang hari jadi kota mati. berenang di dataran luas yang dalam. gunung es bersimaharajalela.“Ibu! Ibu!” teriak anak lelaki itu dari bawah jembatan layang UI menatap ibunya yang sedang lintas yang selalu padat itu. dia terus menuntut ganti rugi yang layak. Tapi itulah jalan hidup. departemen keuangan. para politisi dan wartawan tidak memolitisir musibah “Jakarta Meratap” dengan “pemerintah “Itu klenik!” seru jubir pemerintah dalam menanggapi pernyataan bahwa pemerintah dimusuhi alam. “Dua puluh tiga ekor ikan paus menyeret gunung es. menjadi sasaran penjahat maupun orang baik-baik. Datang dari kutub utara. Mobil-mobil tinggal atapnya yang muncul. Banjir rasanya semakin meninggi. Laut meluap. Dibutuhkan perahu Helikopter menyigi rendah. Andai dulu pemda di zaman Orba tidak pelit dan mau membayar ganti rugi satu miliar rupiah. Dengan sangat meminta ditolak alam”. Selama ini pemda DKI meyakini bahwa penari jembatan layang UI itu kong kali kong dengan melanda Jakarta. ternyata pemerintah sendiri sangat doyan klenik. ikan-ikan paus yang segede-gede kapal destroyer dari kutub utara. di milenium ketiga. bank-bank. mengambang dan tenggelam maupun karet mendadak. tak ada artinya. Banyak individualis jengah. Dalam jumlah besar membengkak. mall-mall. Saking banyaknya korban entah. Bagai monumen. Dan alam sangat untuk menangkap sang penari dan membunuh ikan-ikan paus itu. Jakarta tenggelam. Pasukan antihuru-hara diterjunkan. Korban banjir antara yang hidup dengan yang mati. pegadaian. Supermarket. namun dia selalu lenyap tak berbekas. Dia dan ikan-ikan paus itu terus menari. para mahasiswa melongok-longok lewat jendela mobilnya. toko-toko. Di seluruh kawasan. tentu jumlah itu saat ini. Satu udara ganti-berganti. Mereka saling bertanya. yang bercokol di utara Pulau Seribu itu dikitari puluhan ekor ikan paus yang berloncatan ke es itu yang agaknya untuk secepatnya mencairkannya guna memandikan Jakarta. Korban tak dapat dihitung. Namun penari cantik dan . Nah. pasar. perumahan mewah. berkali-kali penari itu diburu. Bagai papan-papan selancar. mereka sudah sampai Pulau Seribu. restoran. Daerah Khusus Ibukota payah.” Namun Valeria Daniel dari antv di atas helikopter melaporkan pandangan mata: “Jakarta seret dari kutub utara. Tenaga-tenaga penolong susah. Mereka dengan gigih menabrak-nabrakkan tubuhnya ke arah gunung pasukan khusus diterjunkan dari helikopter di atas jembatan layang UI dan di Pulau Seribu ikan-ikan paus itu tidak peduli. Berkali-kali banjir besar sikap ini kentara sekali. ratusan mobil mengambang. ATM. Para relawan penolong bertindak. puluhan. Di dalam kendaraan-kendaraan pribadi di sela lalu- “Ibu jangan menari!” sambung anak itu. menari di atas pagar jembatan layang. Sebagai ahli waris Henry atas sepetak tanah di bawah jembatan layang UI. dan seluruh tempat yang menyimpan duit atau pangan. Di pojok-pojok Jakarta rawan. sampai kini tentu semakin dirundung dosa yang kelewat-lewat. Jakarta musnah!” tenggelam dilanda banjir bandang. Tanggulangi penjarahan dan perampokan. Perampokan kantor-kantor. Pemerintah yang dulu. Berpuluh ikan paus mengunyah gunung es yang mereka Keadaan darurat nasional gubernur umumkan.

Angin kencang menyapu pasukan khusus berikut helikopternya sehingga mau tak mau mereka harus menjauh dari penari dan ikan-ikan paus itu. dan melahap terus ke selatan. Hari balas dendam telah terjadi. Cemburu dari buta. Sanak terpental dari sanak. Ibu dari anak. Tapi segala jenis hotel penuh. Hotel Sari Pasifik di dibangun untuk mengantisipasi banjir bandang itu. Cilandak. Tangerang. Cucu dari buyut. Gunung Sahari. terpisah dengan keluarga lainnya. Sang penari tidak menstop tariannya.membantunya. Cikini. Canggah dari wareng. Benci dari cinta. Parung. Anak itu terus melanjutkan teriakannya. Senen. Cinere. Keluarga Paman dari keponakan. Mall-mall Jalan Thamrin yang dibangun dengan pondasi yang tinggi. Kekasih dari asmara. Orang-orang kaya mengungsi ke hotel-hotel. Jalan Sudirman. Gelombang menggempur Tanjung Priok. 20 Mei 2006 . Ibu itu terus melanjutkan tariannya. Kakek dari nenek. Sejumlah penari dan ikan-ikan paus itu. Blok M. Namun alam tetap membela membatalkan bidikannya. Bola dari Piala Dunia. Kali Deres berteriak-teriak meminta tolong. Suami dari istri. paling laris karena agaknya dipenuhi para pengungsi. Jalan Thamrin. “Ibu stop menari! Ibu stop menari!” teriak anak itu terus-menerus dari bawah jembatan layang itu. Kampung Rambutan memahami musibah itu. Beberapa orang mahasiswa memarkir kendaraannya di jembatan layang itu untuk melihat penari itu tetap gemulai dengan gerakannya. Para sniper itu dibuat kelilipan matanya sehingga sniper membidik penari dan ikan-ikan paus itu dari kejauhan. Melek dari kantuk.

Dia memilih minum air jeruk nipis. yang mengelus rambutnya. Membentuk Pemandangan panggung malam itu dipenuhi puluhan ekor angsa putih menyebar memenuhi mengepak beberapa saat di atas permukaan air. dan jus jambu kelutuk. yang putih maupun yang merah. Tampak Viatcheslav Gordeev. Maxim Fomin. kegemarannya. Dengan 1. Andrei Joukov. Angsa-angsa putih menyelam. dan pembesar negara lainnya. pernah berpentas Martha Graham. sangat populer di seluruh dunia. angin sepoi-sepoi. yang disihir Rothbart menjadi angsa. Mereka saling bulu bergetar ketika mencapai puncak. buah-buahan. gubernur berjanji. tentang balet di Rusia. Gadis ini Zahra. pemeran Odette secara bergantian dan Andrei Joukov dan Maxim Fomin pemeran Siegfried bergantian. adakah yang lebih indah waktu tubuh bergetar. para pebalet Rusia itu mengagumi kecantikan dan rambut panjang Zahra dan apa saja perannya dalam balet di Indonesia. Irina Ablitsova. Odette. ayu dan ganteng. Direktur Artistik Chino. Russian State Ballet of Moscow pertunjukan ”Swan Lake” itu. gubernur. kepada para tamunya. Maya Ivanova. menteri. menyembul. sup ikan tuna. Natalya Ashikhmina. Irma Ablitsova pemeran Odille dan Dmitry Protsenko serta Vladimir plain croissant. juga grup dari Perancis. pemeran Rothbart bergantian. Baru pada malam hari . lalu mendarat kembali. Begitu pula para pebalet teman Zahra. komposisi yang senantiasa berubah. Lalu bergabung ikut ngobrol pula. ngobrol dengan para pejabat bank Indonesia. yang ditemani balerina Masami Dengan meminta maaf karena gedung pertunjukan tidak representatif bagi tontonan segigantik balet Rusia. Asmara angsa. para pebalet pemeran utama dalam lakon itu di antaranya. dalam waktu dekat akan membangun panggung balet semegah Moscow. Russian State Ballet of Moscow memainkan ”Swan Lake” karya Tchaikovsky yang sudah melegenda. tampak berseliweran di antara para pebalet yang tinggi-tinggi dan besar-besar itu. dan memagut dan bercinta. dan modern dance dari Eropa lainnya yang memainkan repertoar ”Le Sacre du Printemps” karya Igor Stravinsky. Mereka tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun meski pertunjukan dua jam itu mengalir terus. sebagai sponsor pertunjukan. masih mengenang adegan-adegan dalam pertunjukan balet ”Swan Lake” yang baru saja Annisa Zahra disadarkan oleh zefir. Alvin Zahra juga banyak mendulang informasi dari Maya Ivanova dan Natalya Ashikhmina. Zahra menemani para pebalet dari Negeri Tirai Besi itu. Lakon ”Swan Lake” menceritakan dayang-dayang istana dan ratunya. Kaki-kaki jenjang putih para balerina meluncur ke sana kemari. ngobrol dengan gubernur. Sementara itu Zahra getol bercerita macam-macam Nikolai.500 penonton. insya Allah. balerina 21 tahun. Mineev. Jerman. Siang hari mereka adalah angsa yang merenangi telaga. bulu- usai. tidak minum wine. Sebaliknya. Dalam pesta yang disuguhkan oleh Yayasan Jantung Indonesia. Mereka rame-rame menikmati salad.Telaga Angsa DANARTO telaga. Di antaranya di tempat ini.

Sedang para pemeran angsa gede Zahra menonton pertunjukan itu bersama keluarga.” sambung Oom sambil menyenggol Tante. ”Odette atau Odille. Semuanya tertawa. memamerkan putrinya. ”Eyangmu ini tadi malam kan kepincut sama si Maya. Tatiana Chungunkina. pemilik istana dan telaga. Odille. ”Tapi. ”Itu kan mengumbar aurat. yang secantik Odette. kakek dan gerakan balet yang membuat semuanya tertawa. Rothbart sang penyihir. ”Terpikat boleh terpikat.mereka menjelma manusia kembali. memangnya kenapa?” tanya Zahra. cocok-cocok saja. angsa itu menjelma Odette. Dan pesta pernikahan Siegfried-Odette selama tujuh pertunjukan ”Swan Lake”. Kakek terbatuk-batuk lagi.” tukas Kakek.” celetuk Nenek. Seketika. Eyang bisa kesleo. seluruh istana bergembira. Siegfried sadar. semua balerina itu elok: Tatiana Protsenko. neneknya. Siegfried. juga tante dan oomnya. ayah. Odette dan dayang-dayangnya jatuh sedih.” celetuk Zahra sambil memasukkan potongan roti lapis kacang dan cokelatnya ke dalam mulutnya. Oxana Gasnikova. dan Anna Vakina. Namun Siegfried mampu menewaskan Rothbart dan pasukan angsa hitamnya. Semua tertawa. kedua adiknya. ”Apa. untuk merebut cinta Mendengar kabar ini. hari tujuh malam pun digelar dengan meriah. Semuanya tertawa. Begitulah. Usaha Rothbart berhasil. adalah para pemeran angsa kecil. lho. adalah Svetlana Ustyuszhaninova. yang ndak cocok bagi kamu. sih. saya sih. Pagi harinya kakek berdiri lalu meliuk-liuk menirukan ”Awas. . jatuh cinta kepada Odette. Secepatnya Siegfried menyatakan pilihan cinta sejatinya hanya pada Odette. ”Lho.” kata Kakek. ibu. sampai Kakek terbatuk-batuk. Pangeran Siegfried langsung terpikat pada Odille. Sekalipun dengan mata terpejam.” tukas Nenek. Olga Ivachenko. Di samping mencoba menggagalkan percintaan Siegfried dengan Odette. Rothbart marah besar. Hanya cinta sejati yang mampu mengalahkan sihir itu. saya tidak setuju dengan kostum para penarinya. begitu juga puluhan ekor angsa yang lain. dan Anastasia Baranova. Namun cinta mereka terhalang oleh sihir Rothbart yang ampuh. siapa pun tak bakal salah Pesta para pebalet Rusia dan para pebalet Indonesia malam itu seperti menandai suksesnya memilih. asal encoknya tidak ketahuan sang balerina. Eugenia Singur.” sambung Kakek. Pangeran Siegfried.

deh. Ruang makan itu berubah jadi ruang pesta pagi hari. Meriah.” ”Eyang kok tiba-tiba jadi diktator.” ”Kesan. Eyang. ”Itulah kostum yang paling pas untuk lakon ”Swan Lake”. Obrolan berubah jadi perdebatan. ”Kok Eyang jadi sewot?” ”Mempertimbangkan kostum itu. Melihat kostumnya. Aduh.” ”Jangan begitu. sih. Jika kita bicara soal kesan.” ”Rasa risi tidak relevan dengan Swan Lake.” ”Eyang yang kasmaran. peradaban. ”Bagaimana parameternya?” ”Bagian-bagian tubuh tampak disengaja sangat menonjol. bubar.” ”Mati orang kuburan!” potong Kakek kaget. Eyang ini gimana.” ”Jangan begitu.” ”Saya heran. ”Saya sungguh risi dengan kostumnya.” sanggah Kakek. Eyang.” ”Tapi kesan telanjangnya kan jelas. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Waktu grup balet Zahra memainkan Swan Lake. Swan Lake dapat dikategorikan sebagai pertunjukan pornografi dan pornoaksi. wah. Grup balet Rusia ini sudah melanglang buana. kok Eyang sampai segitunya. Habis jadi diktator.” Semuanya tertawa. ”Mati orang kuburan!” potong Zahra. Ini kali pertama kakek dan nenek nonton balet. kecuali Kakek. wah. mendadak berubah jadi filosof. kok yang disalahin balerinanya.” ”Wah. Ada yang jauh lebih subtil yaitu bentuk tubuh secara utuh. kostum Zahra ya seperti itu.” ”Wah. semuanya terkesan jelek. Jenjang kaki yang panjang dengan bentuk yang indah—laki-laki maupun .” sergah Kakek lagi. pertunjukan itu harusnya disensor.” sambung Kakek. ”Semuanya kan tertutup rapat.” tukas Zahra. Kesan. Semuanya tertawa kecuali Kakek. Semuanya tertawa kecuali Kakek.”Aurat yang mana?” tukas Zahra. ”Saya serius.

” hampir-hampir telanjang ketika bertanding di kolam renang. Zahra diperkenalkan pada balet sejak balita. ” sergah Tante. Mendengar kata Kakek ini.” sambung Kakek.” . Eyang. ”Apa?” tanya Kakek.” kata Oom.” kata Zahra.” ”Sekalipun mereka ateis?” ”Sekalipun mereka ateis.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. maka saya marah menyaksikan penampilan para pebalet Rusia itu. ”Adalah tradisi balet. ”Moral dan agama ada pada keindahan kesenian itu. ”Dalam KKN ada tradisi. ini artinya balet Rusia itu telah berdakwah tentang kebenaran. ”Kostum ketat itu. Cucuku. jiwa raga kami…” Oleh orangtuanya.” cetus Kakek.” ”Harus dicari kostum yang lebih cocok dengan budaya setempat. semuanya menyanyi kecuali Kakek: ”Bagimu negeri.” sewot Zahra.” ”Omong kosong!” sergah Kakek.” Zahra menukas. ”Eyang benar-benar lowbrow. ”Justru karena saya sangat menghargai kebudayaan. ”Adat ketimuran kita adalah KKN. ”Kita harus mempertahankan adat ketimuran kita.” sela Kakek.perempuan—dalam menopang torso yang sepadan yang melahirkan kelenturan gerak bagai kijang. Seperti para perenang yang memudahkan untuk bergerak menari. pesakitan KKN selalu jatuh sakit kalau mau diadili. Puluhan kali dia berpentas balet di kota-kota besar. ”Kalian keras kepala!” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Kalau Eyang puas atas pertunjukan balet Rusia itu. ”Jangan melecehkan negeri sendiri. begitu pula kostum ketat balet ”Jadi tanpa mempertimbangkan moral dan agama?” tukas Kakek. runtuhlah kebudayaan.” ”Sungguh saya tidak paham jalan pikiranmu. ”Kalau pendapat Eyang dilaksanakan. ”Eyang dianggap tak menghargai kebudayaan.

” tukas Kakek. Lengang sejenak.” jawab Tante.” sergah Kakek. atau lusa. ”Contohnya tidak usah harus beli tiket pesawat.” ”Tapi omongan kamu itu kan cuma teori.” Semuanya tertawa kecuali Kakek.” Semuanya tertawa kecuali Kakek.” ”Eyangmu itu pantas jadi polisi moral. Janganlah berputus asa akan belas kasihKu. Zahra. Anakmu bukan milikmu. ”Coba. Alangkah juwitanya pandangan hidup mereka.” ”Mereka telah menari dengan anggunnya. Betapa luhurnya seseorang yang tidak percaya akan Tuhan. Dan itu bukan teori.. tapi dari mana kita tahu bahwa mereka ateis? Obrolan kita ini sudah melenceng. sedang warga negaranya mudah lolos ke surga.” tambah Nenek.” kata si Oom. Eyang. saya dikasih contoh. ”Kita harus membedakan antara iman warga negara dan iman negaranya. ”Apa yang sedang terjadi atas Eyangmu ini. . setiap hari yang dipikirkannya hanya keindahan. semuanya membaca puisi Gibran Khalil Gibran: ”Anakmu bukanlah anakmu. Harus dipisahkan antara rakyat dan negaranya.”Hati orang siapa tahu.” ”Mereka hanya berbakti kepada Dewi Keindahan. bukankah itu artinya mereka telah berdakwah tentang keluhuran? Seandainya benar mereka ateis. ”Kok sekarang berubah jadi one dimensional man. Seperti tercium setan lewat. Semuanya tertawa kecuali Kakek. Dalam hidup para balerina dan balerino itu. saya cuci tangan. Kecuali Kakek. Kita bisa menuduh mereka ateis. ”Banyak negara yang busuk.” tambah Tante. ”Saya pusing mendengar pikiran-pikiran anak muda sekarang. Mereka telah berbakti kepada Dewi Keindahan.” tukas Nenek. Eyang. Barangkali besok. mereka itu setahun lagi?” hanya belum sempat mendapat hidayah dari Allah saja. Bukan kepada Tuhan. Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri…. Eyang.” ”Eyang kok selalu curigesyen terhadap iman orang lain yang tidak dikenal. namun tariannya memberikan pencerahan kepada kita yang shalat lima kali sehari. atau ”Seorang ateis bagaimana mungkin mendapat hidayah Allah?” ”Jiwa manusia itu seluas alam semesta. kata Allah.

Ada api yang menyalanyala. Allah mencintai keindahan. Dan ternyata Allah itu indah. Tangerang.” Tukas Kakek: ”Tidak ada pornografi dan pornoaksi dalam tari bedoyo.” sambung Zahra. Suatu dakwah keindahan tiada tara. tergetar. Dalam balet. Ada air yang mudah mematikan api. Eyang. Mendorong keanggunan sembilan penari yang gemulai dalam balutan kain yang ketat. 14 Februari 2006 seorang penari harus lebar-lebar merentangkan kakinya supaya bisa terbang. Ada angin yang tidak kelihatan yang membuat kita bernapas hidup puluhan tahun. sedang dalam . itulah keunikan tiap tradisi yang mewariskan budaya dunia. Dalam dandanan kebaya pinjungan. Cobalah nikmati tari bedoyo. menyembulkan semburat merah jambu gunung kembar yang menjenguk lewat dada yang lebar terbuka. Para pujangga menyebutnya ”Glatik Nginguk” artinya ”Burung Gelatik yang Menjenguk” yang membuat dada para raja dan pangeran ”mak-sir”.” ”Kita juga memiliki keindahan tradisi.” ”Sebagaimana balet. tidak ada pornografi dan pornoaksi. cukup sulit.Zahra melanjutkan obrolannya: ”Wajah Allah itu memancar memenuhi alam semesta dan kita makhluk ciptaannya dapat menatap Wajah itu secara gamblang. Kita wajib memeliharanya. bedoyo para penari bahkan untuk berjalan biasa saja.” ”Saya setuju. Ada zat yang mendorong kita beranak-pinak. Ada tanah yang bisa menumbuhkan padi sehingga kita tidak kelaparan.

Kami ngobrol sekitar persoalan yang menyangkut rumah tangga dengan segala nuansanya. diajak berbincang mengenai berbagai hal yang pelik. Dengan ngantre minyak tanah. Masalah-masalah itu menjadi obrolan yang Kadang-kadang saya juga diundang camat. soal usaha tambak udang. Di samping para tetangga. saya menjawab sekenanya. mula-mula saya menulis obituari hanya sambil lalu. Istri saya lewat jendela. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Saya acuh tak acuh. Sebagai penulis lepas. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. Istri saya memberi tahu. Saya tak pernah mengutip berkepanjangan. perbankan. misalnya. mengenang lewat tulisan obituari itu mengesankan. yang sama sekali tidak saya ketahui. Rasa saya tetangga. teman-teman. Selama pertemuan-pertemuan dengan para Untuk sikap saya itu. bupati. saya dijuluki “pendengar yang baik”. juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. dan wali kota.Nistagmus DANARTO Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. perburuhan. Juga tentang hubungan suami istri. setelah sarapan. Tapi asyik juga karena hidup di dusun yang sepi sekali-kali perlu mengadakan pertemuan supaya merasakan kemeriahan. dan banyak lagi saya tidak nyaman. kata-kata bijak dari para cendekiawan. juga masalah percintaan antaranak-anak Jika ditanya. sekadar yang saya tahu. Sudah sering datang orang. menantu dengan mertua. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. bupati. bibit tanaman. sejumlah persoalan yang lagi hangat atau panas di masyarakat yang sebenarnya membuat mereka sekadar butuh teman ngobrol. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. satu dua. Selama ini saya dikenal sebagai penulis obituari (berita tentang kematian seseorang berikut riwayat hidupnya) di surat kabar setempat. persoalan anak dengan orangtuanya. Ada apa? belum menemui mereka. Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang sehingga rumah jadi regeng. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga. Karena kematian seorang teman baik yang menjadi tetangga dekat. Saya acuh tak acuh. lalu kami pindah tempat duduk dan lebih santai sambil ngopi. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga. Sungguh menghabiskan waktu. Karena istri saya gelisah. pengairan sawah. Saya rasa kali ini juga begitu. ramai. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Lama-lama saya menulis obituari menjadi semacam panggilan. maupun wali kota. mengular sampai jalanan. juga tayangan televisi. Setelah dua jam pembicaraan ke sana-kemari. atasan. Misalnya. Kadang datang berbondong. Sudah sering datang orang. ataupun dengan para pembesar itu sebenarnya saya banyak diam. Rasanya camat. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Cukup menyenangkan. tidak benar-benar membutuhkan saya. bawahan dengan remaja. Orang-orang . menyadarkan saya. Dan pembicaraan beralih ke olahraga. satu dua.

Itu semua menyebabkan saya akrab dengan semua orang. di sebuah desa yang Saya bisa memanfaatkan rubrik khusus obituari setiap saat atas kebaikan redaksi koran Pernah kejadian dalam seminggu sepuluh orang. Sejauh ini saya tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu. sementara beban keluarganya besar.000 orang. Alasan saya. orang-orang terkenal itu sudah banyak penulisnya. kompleks pertokoan. Saya yang terus beredar di banyak keluarga yang kematian saudaranya. tak ada yang menulis. ia seharian di rumah saja. meski kamu membayar Pak Jurnalis!” “Kamu tidak akan mati.lengang. lalu mencari akal agar bawahannya itu sadar. lewat mesin ketik manual yang lokal yang memberi saya kebebasan. Misalnya. selalu saja orang . agaknya hanya saya seorang. Dan sebagainya. orang-orang ternama. Setiap saya lewat atau mampir membeli rokok di kios. lalu saya cari alamatnya. “Kenapa kamu tidak lekas mati supaya Pak Jurnalis bisa menulismu sekarang!” “Biar kamu mati.000 karakter. saya menulis obituarinya dengan memasukkan wawancara kepala tibum itu. Saya menolak ketika diminta menulis obituari sedangkan untuk orang-orang biasa. keluarga. Seluruhnya orang. yang berkenaan dengan tulisan obituari itu. Ketika beberapa waktu kemudian tukang becak itu meninggal karena faktor Ada seorang pegawai negeri yang tidak mau dipensiun karena uang pensiunnya kecil. dan berapa orang saudaranya. apa ada yang tertarik membaca obituari saya. tukang becak. sekitar 5. Banyak usulan. Lelucon-lelucon pun menyebar dengan semarak di pasar. ia kaget. kebanyakan yang mungkin pernah lalu-lalang di depan rumah saya. Dengan enak saya bisa menulis obituari setiap hari. Masa pensiun pasti datang. Kepala kantor orang itu kebingungan. Si kepala tibum jika orangnya kocak atau punya pekerjaan yang unik. Begitulah. kemudian berubah ke mesin ketik komputer. Barangkali mereka juga membaca obituarinya. Banyak komentar. Bawahannya itu lalu dihipnotis hingga tertidur di mejanya. Obituari yang meliputi orang-orang biasa itu bisa saudara. sebagaimana kematian itu pasti tiba. menyebabkan banyak orang mengenal saya. Begitu siuman. Kadang sampai 8. ada seorang tukang becak menolak dengan mengembalikan becaknya sambil mengirim beras 5 kilogram kepada si usia. Saya interviu keluarganya. sampai kamu menulis riwayatmu sendiri!” Saya terbahak mendengar lelucon-lelucon itu. Selama ini tulisan obituari saya sudah mencapai 5. ataupun di stasiun bus. Yang jail maupun pelesetan. teman. sampai kenalan baru. Lalu ia dinaikkan ke dalam mobil. Keluarganya memberi tahu. kenapa tidur di rumah. Saya catat riwayat hidupnya. pekerjaan terakhirnya. tidak ke mana-mana. yang beberapa hari kemudian dikabarkan meninggal.000 karakter yang menyerahkan becaknya kepada seorang kepala tibum (penertiban umum) dengan tujuan supaya becaknya dijual untuk mengongkosi sekolah anaknya. dibawa pulang ke rumahnya. Dipasang pula fotonya yang bisa menyebabkan keluarganya tertambat kenangannya. Tulisan obituari itu tidak panjang. Lalu si kepala kantor meminta jasa seorang tukang sulap yang pandai menghipnotis orang.orang biasa.

ada yang mengartikan. saya mendapat sebutan yang aneh-aneh. Pak. Sementara itu ada pula yang bilang.nyeletuk: “Pak Jurnalis. Ketika orang menanyakan pendapat saya. Saya jadi pendiam dan menyendiri. Jadinya lama-kelamaan saya enggan menyapa orang.” Tapi. lima orang.” “Saya permisi. saya sedang mewawancarainya. Tapi ini kebetulan saja. Ini benar-benar klenik. Kritiknya tidak berdasar. terutama si sulung yang duduk di SMA kelas 2. dan si bungsu di SD kelas 5. Pak. orang tersebut malah mengejar saya sambil menyapa: “Bapak menghindar dari saya. Saya juga tidak tahu adanya gejala sesuatu. yang saya malas menuliskan sebutan-sebutan itu di sini. tinggal di mana?” tanya saya kepada seseorang yang saya pinjami korek api untuk menyalakan rokok saya. katanya. saya juga diam dan menyendiri supaya orang nyaman dengan saya. itu tanda-tanda orang tersebut mau meninggal. Tidak kenapa-kenapa. Memang ada seorang yang “Pak. Pak?” Istri dan anak-anak saya juga merasakan perubahan itu. Keduanya cencala (lancang mulut) terhadap sikap saya dalam menulis obituari. Apa ada gejala sesuatu? Tentu saja saya merasa tidak berubah dengan tingkah-laku saya.” jawabnya.” “Jangan ditinggal korek apinya ini.” Atau ada yang berteriak: “Pak Jurnalis. Menurut mereka. Wah. Banyak ngomong dianggap meramal. Pak Jurnalis. Lalu malah terjadi serba-salah. jika seseorang ngobrol dengan saya. sehabis ngobrol dengan saya. Keterlaluan. Tidak kenapa-kenapa.” “Baiklah. Di pertemuan-pertemuan desa. Memangnya saya cenayang. Ada yang berubah dengan tingkahlaku saya. Maka ada saja orang yang anti-saya. Dari kejadian itu. “Maaf. Ketika di sebuah toko saya menghindar supaya tidak bertemu dengan seseorang. Apa yang akan terjadi dengan saya. Saya nggak mau ditulis sekarang. sedikit ngomong dianggap mengetahui peristiwa yang bakal terjadi.” Inilah sepenggal dialog di pasar sepeda motor dengan seseorang yang enggan bertegur sapa dengan saya karena keyakinan-keyakinan klenik itu. yang paling kritis.” “Lho. tulisan saya tidak adil . kenapa?” “Maaf. Pak. Anak-anak saya. kenapa?” “Maaf. Saya tak bisa menjawab. ini bahaya.” “Biar untuk Bapak saja. seseorang yang ngobrol dengan saya. sedikit saja saya ngomong. Pak. Ada yang bilang. Ntar saya yang menulis Bapak. “Lho. ada saja orang yang enggan bertemu atau lebih-lebih ngobrol dengan saya. ia meninggal.

. Pernah saya menyergah “Dari mana kalian tahu. Hal itu berarti saya tidak menganggap ada dan penting keberadaan bilang. saya berat. kalian ngawur.” “Karena keritik kalian membawa-bawa dosa dan pahala.” dengan empat orang anak.” anak-anaknya yang lain. ini pahala bagi Ayah karena Ayah menyembunyikan tiga “Nah. “Kalian ngawur. itu semua yang anak. Saya sering lelah berdebat dengan mendidik anak-anak saya itu dengan keras. Lima anak semuanya sekolah. anak-anak saya itu: Seolah-olah anak-anak ini cukup rajin membaca buku-buku agama. Itulah usaha sebaik-baiknya seorang penulis obituari. “Ayah juga pernah menulis obituari seorang pengusaha. Ayah pernah menulis obituari. Barangkali karena beban keluarga yang terlalu menyebabkan saya sering stres dan mengalami depresi yang tajam.” “Nah. kan. Ia meninggalkan seorang istri istrinya dan anak-anaknya yang lain.” “Boleh saja. itu justru kesalahan saya dan saya bisa berdosa karena tidak menulis tiga istri dan mereka. Mereka bisa tersinggung dan bukan tidak mungkin merasa saya lecehkan.” jawab anak-anak itu.” “Ayah marah kena keritik. Sebagai ayah.” “Semua orang bicara dosa dan pahala. kekuatan itu ada batasnya sehingga kita tidak selalu benar. karena Ayah memaksa Allah membuatkan rumah baginya di surga. Tetapi jika sudah menyangkut masalah dosa dan pahala. Nah. Nah. wah. anak-anak ini sok tahu. Jika sampai di sini hal itu masih baik. Boleh jadi Allah sudah membuatkan rumah baginya di surga.terhadap seseorang dan berlebihan bagi yang lain.anak saya tersebut. Itu doa saya. Padahal saya selalu Mendengar keterangan saya.” “Tidak bisa seenaknya begitu.” “Itu harapan saya. Mereka suka ngotot dan merasa selalu benar. anak-anak saya itu diam.” “Begini.” “Semuanya. ini dosa.” “Dalam hubungan apa orang bicara seperti itu. sedang rakus-rakusnya makan. sebuah tulisan berdosa dan tulisan yang lain berpahala?” “Dari Ayah.” jawab saya.

saya. di pekarangan. mencecap pencerahan. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Setelah sarapan. Allah…tanggal akhir hayat. termasuk menulis berita. 26 Desember 2004. Saya tak tahu lagi di mana rumah Cuaca cerah. Awan putih berarak dengan latar langit biru meneduhkan. Istri saya memberi tahu. nistagmus. merangsek ke depan meja saya. muda. sedangkan saya sejak remaja penulis lepas. guru SMP. Barangkali seperti agen minyak tanah yang siap menyambut para pembeli. laki-laki. Penghasilan saya tentu saja jauh dari cukup. Di Jogja itulah pindah ke Aceh dengan gagah berani karena cuma berbekal baju yang kami pakai. cerdas dan berani. Anakanak mewarisi sifat-sifat ibunya. Saya berdiri sendirian di samping sebuah kapal yang terdampar di tengah kota. Tak ada tanda-tanda kehidupan secuil pun. Waktu saya siuman. di luar kemauan. terlihat pemandangan yang menyebabkan saya pingsan. Sinar matahari memancar. lalu semuanya bergegas pergi meninggalkan saya tanpa sepatah kata diucapkan. panas. berserakan memenuhi ruang dan udara. Alhamdulillah. di atas pohon. setelah sarapan. 20 Januari 2005 . Bahkan matahari masih bergelut dengan kasurnya. Anak-anak yang bersiap ke sekolah.Kami sebenarnya keluarga bahagia. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. anak-anak. Orang-orang yang antre tidak sabar seperti mendengar tulis. tak seekor pun tampak terbang. saya menyiapkan kertas dan alat baru menunjukkan pukul 05. Mayat-mayat itu lebih mengesankan diselimuti lumpur. Ada apa? belum menemui mereka. Gerakan bola mata yang cepat tanpa disengaja. di reruntuhan rumah. Jam aum macan. mereka menatap kebenaran. Mereka berebut duluan menyerahkan selembar kertas di atas meja sehingga sekejap bertumpuk. Hari baru membuka matanya. Mayat-mayat berkaparan di seluruh kawasan. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. di jalan. Dengan ngantre minyak tanah. Saya acuh tak acuh. Lembaran-lembaran apakah ini? Ternyata riwayat hidup dengan tanggal lahir dan masya berserak. bayi. di kebun. tua. Istri saya saja suka empot-empotan. Ahad. dengan malas saya keluar rumah dan duduk di beranda. Tangerang. yang untuk makan sehari-harinya sejarah saya bermula ketika saya kecantol putri Aceh yang kuliah di UGM. Istri saya lewat jendela. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. Entah berapa lama saya pingsan. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. seluruh kota telah hancur-lebur rata dengan sedang tidur pulas. Orang sekian banyak mau ngajak ngobrol apa? Tentang kesulitan hidup? Beras habis dan anak-anak menangis kelaparan? Orang sebanyak ini mau ngobrol sekaligus? Mata mereka nanar. Seluruh mayat itu. entah bagaimana saya bisa sampai di bukit ini. mengular sampai jalanan. Kami menikah dan Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Ketika saya menuruni bukit dengan sempoyongan penuh lumpur. perempuan. satu dua. Saya menulis apa saja. Bahkan burung-burung. Karena istri saya gelisah. Saya rasa kali ini juga begitu. Sudah sering datang orang.00. tanah.

bersentuhan dan mendesah massal. Pesta pora. Dan ia terpana. karena entah adalah ketidaktahuan yang sering kali jauh lebih dingin yang memanggang. Ia burung yang berenang. Untuk muntah di atas jamban lantas terpingkal-pingkal. saling beradu berebut perhatian. dan ada yang hanya bagian tangan. adalah saksi yang melihat semua itu dengan mata telanjang. Syahdu meliputi butir-butir hujan yang jatuh menikmati denyar-denyar di lautan perasaan paling dalam. hampir tiba saatnya waktu bersenang-senang Suara musik di kejauhan membisikkan mimpi yang mutlak terulang. Ia bukan lagi ikan yang terbang dan burung yang berenang. begitu tengik! Mendakwa kelakuan kami sebagai jijik. dengan kaki-kaki telanjang. Dingin meresap pori-pori kulit kami yang telah menjadi keriput dan merinding. Untuk larut dalam satu malam yang menawarkan sejuta Phuih! Ombak meludahi wajah kami yang ingin tak peduli. Saat penghakiman. entah karena basah yang kering. Rajaman semu. Muka badak. Bahana tawa. Lantas saya berlari sambil menarik dahak sebanyakSaya pun tak mau membuang waktu lebih panjang. . Kami terkapar di atas pasir basah. memabukkan daripada kesadaran. hilang. Saya berlari kencang menuju kafe banyaknya di tenggorokan untuk segera melimpahkannya kepada ombak yang kurang ajar. Entah karena entah karena entah. Dan saya. Kebenaran dan kesalahan dipertanyakan. begitu istilah orang-orang. Senyum manja. Dan ia entah? Kafe di pinggir pantai itu pun terisi orang-orang yang rela mengeluarkan ratusan menatap seolah saya adalah daging dan tulang yang terbalut kulit kerang. tepat di antara bibir kami yang tengah berciuman. entah karena nyala yang redup. Girangnya sirna. Sementara kilat mencabik-cabik langit hingga berupa potongan-potongan gambar pantulan kami berjumlah jutaan. Sendawa alkohol di permukaan udara. Meninggalkannya dalam diam yang haru. Ada Tak jarang kepingan-kepingan yang terlihat bagai pecahan kaca yang beterbangan itu yang hanya bagian kepala. Sembunyi-sembunyi. Bukankah kita semua membayar mahal untuk sebuah Malam berenang dalam kesunyian. Membuat saya begitu jengah dengan segala aturan-aturan. Ia menatap saya dengan pancaran mata riang. Untuk saling gombal. saling berhantaman. Tapi lendir ombak itu melekat begitu kental. Seolah dengan sengaja ingin memisahkan. Untuk saling bertukar lidah berludah dengan orang yang baru dikenal. ada yang hanya bagian kaki. menimpa tubuh kami yang diam-diam menggelinjang. Bercinta di bawah para-para. Hingga ada satu pecahan jatuh kejauhan pantai.Ikan Jenar Mahesa Ayu Ia ikan yang terbang. Maka saya tahu. Sentuhan Membuat saya muak mendengar melulu kebajikan. Maka… menggoda. Lantas jatuh menghajar kepala kami kala tak sedang ingin penuh. Deru ombak ditingkahi samar suara musik dari kafe di hingga jutaan rupiah untuk tidak sadar. Phuih! Saya meludah ke mukanya. kami Menusuk ke dalam kekosongan otak yang terasa ringan.

Tawa. Tawa. Tawa. Tawa. Tapi pandangan saya bagai menembus segala bentuk yang ada. Ada surga yang akan segera yang menyadarkan bahwa masa lalu kita nyata. Ada nama yang akan segera dilupakan. Entah peragaan yang bisa memancing rasa terpana. Saya melihat seringai serigala di bibirnya yang tipis itu. Para model menunggu giliran untuk sebuah peragaan. Saya melihat anak-anak yang tengah tertidur di atas tempat tidur berkelambu. Entah peragaan gaya. dan kaki-kaki jenjang mengentak di atas meja? Bukankah yang Apa pula pentingnya bertanya jika ada liukan pinggul di depan mata. “Sendiri?” Saya menatapnya. Berlaku nyaris memuntahkan laharnya kepada siapa pun yang berusaha meredam dengan dingin tanya. Mereka yang berada di sana tertawa untuk entah. Tawa. Tawa. Tawa dalam penantian. mengelabui pikiran sendiri yang sedang secara diam-diam mencari makna. Tawa. Ada luka yang akan segera hilang. terjangkau. diri saya sendiri terpaku. Entah peragaan untuk sekadar pertunjukan. Saya melihat seekor burung yang seperti baru terjaga dari mati suri nyaris sewindu. tapi juga kepada setiap pengunjung yang rela dan masyuk berimpit di dalam ruangan dipenuhi asap rokok meraja tiap penjuru? mereka diajak kencan setelah acara. panjang ala kadarnya. Tawa. Mata pun meredup menciptakan pemandangan yang makin samar. Undak-undakan telah disiapkan di pinggir bar. saya melihat sepasang manusia bercengkerama. Tawa.Saya menunggu. Luka perasaan bahwa dosa tak akan pernah cukup berarti ketika hati nurani mengatakan apa . Masa lalu yang pernah menguatkan yang benar. Tawa. Tak mampu menjawab pertanyaan itu. Tawa berkepanjangan. Tawa. sebagaimana fungsi malam ialah sarana untuk bersembunyi dari terang. “Buset! Lama amat di luar?” “Udah ngapain aja?” “Kayak gak tau aja barbeque under the stars!” “Feeling hot hot hot!” Tawa. Saya melihat jajaran kartu kredit di dompetnya yang berwarna abu-abu. Tawa. Pertunjukan berarti menunjukkan sesuatu. rok-rok dengan sama dengan yang lainnya supaya tak terlihat sebagai pembodoh di dalam magma yang siap selayaknya terdengar adalah tanya semisal. Tapi sesuatu yang ingin dipertunjukkan itu tetaplah entah. Tawa. “Sendiri?” Dan sesudahnya. Entah peragaan busana. Ia pun langsung mengambil Alkohol. bisa atau tidak para model itu. Tawa. Musik kian mengentak. Tawa. Tawa. Sementara saya pun pura-pura tertawa. Di sebuah tempat antah berantah. lalu memisahkan diri. Tawa. Namun seperti pekik senapan lagi-lagi pertanyaan itu kembali memburu. pertanyaan-pertanyaan yang tidak saja tertuju kepada Dan pertanyaan itu pun berdesing di telinga saya. Saya melihat langkah seribu. berapa kira-kira umur mereka.

Namun saya mencari sayap ikan dan sirip burung-burung berkepakan. Semakin bertambah banyak burung yang berenang. Lalu semakin banyak ikan yang terbang. Ia masih berada dalam diam yang haru. Saya ingin melihat bubur sebagai dubur. Ada yang mendesak ingin keluar. mata yang menatap girang. mulut bau alkohol gitu masih berani ngomongin surga. Lalu semakin bertambah banyak ikan yang terbang.“Huahahahaha…mata bintitan. Di tempat yang begitu tanpa batas ini pun mengenal kata menyelimuti hitam bola mata. dosa. Semakin banyak burung yang berenang. pantas. Maka…. Saya menunggu. Tapi tak juga saya temukan ia di tengah hiruk-pikuk gelepar Rajaman semu. dan pantas. Ia burung yang berenang. Padahal saya begitu ingin mendengar pantas sebagai pantat. Namun ada keinginan kuat untuk segera menahan sedu pantas. Agustus 2004 . yang pantas juga ngomongin syahwat!” Selalu harus ada yang pantas. Pertahanan yang dibangun untuk satu kata pantas. Dan semua adalah ikan yang terbang. Semua burung yang berenang. Jakarta. Saya ingin merasa pantas yang lain dan lain yang pantas. dengan mata telanjang saya melihat ia ikan yang terbang. Saya ingin merasa kosong sebagai bokong. Maka bening berkumpul sedan. Mata saya pun memanas.

di atas seprai motif beruang teddy berwarna merah dengan haru memanah.” kata ayahnya. Ketika saya ke dokter kandungan untuk memeriksakannya. Membayar pembantu. Menerima. Makhluk manis tak berdaya itu pernah tinggal di Lantas suster membawanya. Air ketuban sudah hampir kering. liat sudah di indung telur yang tengah terjaga. saya khawatir tidak bisa langsung apalagi suster. Baru pembukaan delapan. Gunting saja supaya tuntas pembukaannya. Harus operasi. Air kental itu seperti bom yang meledak di dalam tubuh saya. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga lengket. Untuk keperluan sehari-hari saja pas-pasan. mencari uang demi mengonsumsi makanan bergizi yang konon bisa “Kami mengerti. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga keluar mendesak celana dalam yang tak kuat membendungnya. Pergi ke kamar bayi jauh dari ibunya. Kepala saya pening. membuahkan kecanggihan otak maupun fisiknya nanti. Suara tangisnya seisi ruangan melengking. Terus menyeruak dan mendarat lengket. Tapi saya ngotot persalinan alami. Erang kesakitan sudah tidak lagi melengking. Rasa waswas setiap kali belum waktunya namun sudah kontraksi. “Robek saja. Kami tidak bisa mempekerjakan SPG yang kelihatan sedang hamil. Saya akan menjaganya. Ketuban sudah pecah. Memikirkan itu tenggorokan saya jadi ikut kering. jelas belum mapan. Saya ingin protes. Saya jentikkan jari kelingking di pipinya yang merah. yang masih lengket. Tapi saya berkata dengan yakin. Akan kita apakan calon bayi ini? Kita masih terlalu muda. Dok. Masih tak percaya. Tapi segera mentah berganti Tidak mengambil cuti. Lewati mual tiap kali mencium bau parfum keluaran baru eternity. Saya akan menjaganya. majikan. Pun mulai membukit perut saya.” Saya akan menjaganya Air hangat itu membasuh kulit tubuhnya yang bening. Rasa takut seketika membuncah. Tapi… muda. Uang yang terkumpul tidak cukup untuk operasi.Air Jenar Mahesa Ayu Air putih kental itu saya terima di dalam tubuh saya. Makhluk mungil itu keluar dari dalam tubuh saya. tapi perutmu sudah kelihatan tambah besar. Mengecup kedua matanya dalam rahim saya. Rasa mual merajalela. Masih tak percaya. belum cukup untuk hidup sebagai mengurusnya sendiri. Dokter yang baik itu menatap saya dengan prihatin.” kata supervisor saya. Dan jika operasi. tapi tak . Membuahinya. liat. sudah satu bulan setengah usia janinnya. masih harus menunggu dua pembukaan lagi. Materi yang ada. Sembilan bulan sudah. Ada perubahan di tubuh saya selanjutnya.

kami akan menjelajah dunia. air. “Ibu butuh istirahat untuk mempersiapkan ASI. Menyeruput pinacolada di Hawaii sambil menyaksikan tarian bora-bora. Tetap menunggu saya pulang. saya akan membeli rumah berikut ia inginkan semudah orang membuang kentut. telepon. Membeli apa pun yang harapan. kontrakan.bisa. itu? Saya begitu tak sabar menunggu. Cukup lama saya harus menenangkannya. Saya akan menjaganya. Suster yang Selama sembilan bulan setiap harinya saya sudah memijat payudara saya dengan minyak kelapa. Tapi kepala saya masih dipenuhi pikiran. Ia membiarkan saya pergi. Dan harapan. Saya hanya bisa berjanji dalam hati. Kalau perlu. Lampu-lampu besar seperti makhluk pemeras keringat yang tak berperikemanusiaan. yang semakin hari harganya semakin tinggi menjulang. Tetap Hanya cukup untuk makan sekadar. membayar listrik. setelah ini tak akan ada yang memisahkan kami akan membawanya ke kamar bayi. Ia akan tetap tak membiarkan saya pergi. Harapan akan segera pulang. Baru akan dimulai merekam adegan. Lucu.” Saya akan menjaganya. Tapi tidak mudah memberikan sejuta taman bermain milik raja pop Michael Jackson yang tengah bangkrut. dan sekolah akan pulang. Harapan akan segera pulang membawa uang. Berusaha memberikan pengertian. Air susu saya sudah sarat. Dan saya tetap akan pergi. Tak menunggu saya pulang. lagi. Saya harus segera menghayati peran. Apalagi jika harapan-harapan itu kerap diulang-ulang dan tak pernah mewujud jadi kenyataan. Karena sudah beribu-ribu kali saya hanya pulang membawa sedikit uang. “Capek ah nunggu. Sudah jam delapan. Penuh dengan air susu yang sebentar lagi akan ada pengisapnya. aku udah mau tidur!” semprotnya. Payudara sudah terasa “Benar Ibu sudah siap?” Saya akan menjaganya Air mata meleleh di pipinya. Sekarang kami sedari tadi memijat payudara saya terlihat puas. Air asin itu mendarat di bibir saya lagi. . kalau ia mau. Berusaha memberikan rasa aman. Jika saat itu tiba. Tak ada yang mungkin saya lakukan untuk menjangkaunya sekarang. Harapan akan segera pulang membawa uang untuk suatu hari nanti tak perlu pergi kerja dan tinggal angkat kaki ongkang-ongkang. Tetap akan pulang. Tidak terlalu sulit mengeluarkannya. Bermain dengan penguin-penguin di Cape Town selatan Afrika. Mengunjungi semua Disneyland di tiap negara yang memilikinya. Saya sudah tidak butuh rehat. sekarang ke dua payudara kecil ini pun gemuk membungkah seperti kelapa. ketika suster itu berkata. Di mana makhluk mungil menyusu. Apakah makhluk kecil yang sudah beranjak remaja itu sudah makan? Apakah ia kesepian? Ingin menelepon tapi sutradara memberi instruksi jika ponsel mutlak dimatikan. Padahal saya sudah begitu Atau jangan-jangan di rumah ia sedang asyik masyuk pacaran? Saya menjadi ketakutan. Saya tetap akan pergi. Begitu ingin segera menimang dan menatapnya berat. Air putih cair itu keluar berupa jentik-jentik yang ajaib di ke dua puting saya. tak ingin begitu saja melepas kepergian saya.

Kadang saya juga ingin melayang jauh ke masa lampau. igau saya. Siap menerima saya dalam pelukan bahagia. kemilau dengan tangan terbuka. Saya Ada cahaya di ujung lorong. Menunggu kesadaran saya kembali. Menunggu. Ada kegelapan. Semakin terkumpul segala lelah segala penat. Lantas meronta. Satu saat nanti ia kembali. Ada buku di sampingnya menarik perhatian saya. Menunggu. Duduk di samping tempat tidurnya dan memerhatikannya yang saya ambil dan buka. menyerahkan untuknya menyusu. Ada puisi di dalamnya. Di gelas itu berdiri sebotol bir merek bintang. Melayang bersamanya menikmati indahnya kelap kelip lampu dan penderitaan. Saya kecup kedua matanya yang merapat. Seperti semasa ia balita menunggu saya pulang selepas kerja membawa sedikit uang dan satu kantung plastik berisi sepatu baru. Seperti sekarang saya sekarang menunggu satu saat nanti ia mengerti. Lima puluh pil penenang saya tenggak. Tak jalan seperti dongeng anak-anak Peter Pan. Harusnya seratus pil seperti yang dikonsumsi Maryln Monroe hingga ajal menjemputnya. Saya akan menjaganya. sudah kembali pulas tidur. Terkulai lemah seakan menunggu saya menerima ia dalam pelukan saya. Entah disengaja untuk menarik perhatian. igau saya. Ternyata datang dari tubuhnya yang sama sekali tak berbalut cahaya kecuali melulu kegelapan dan Seperti semasa ia bayi menunggu saya membersihkan puting payudara sebelum luka. Tapi yang tidak saya lakukan? Sudahkah karenanya ia menjadi korban? Di balik selimutnya ia lebih pasti lagi ia tak kurang tertekan. kini telah berganti dengan air berbusa kekuning-kuningan. Air jernih di dalam gelas yang dulu ada di atas meja samping tempat tidurnya. Yang sudah pasti telah terjadi perubahan yang membuat saya tertekan. Seperti saya Saya kembali ke kamarnya. Apakah yang sudah saya lakukan? Atau justru apakah tertidur dengan amat tenang. Tidak membiarkan air putih kental itu lengket di indung telur hingga tumbuh menjadi janin yang kini terlahir bertemu dengan ayahnya yang dengan mudahnya lepas tangan. “Bangsaaaaaaaat!” Saya tak kuasa menjaganya Air kuning kental itu meluap dari mulut saya. Menunggu. Pelan-pelan . persis seperti ketika ia baru lahir dengan kedua mata yang masih lengket. Seperti saya sekarang menunggunya dengan ilusi dirinya berkilauan merentangkan tangan atau terkulai lemah membutuhkan pegangan setelah menemukan mulut saya berbusa akibat menenggak obat penenang. Ternyata datang dari tubuhnya yang berbalut cahaya menengok ke arah ujung lorong yang berlawanan. Lampaui semua luka ingin cepat-cepat menjangkaunya dan terbang pulang. Menunggu. Tapi ia menggeliat. Menunggu. Saya jentikkan kelingking di pipinya yang bening. Entah ia sudah teler dan lupa sebagai manusia yang merasa disia-siakan. “Action!” teriak sutradara. Melayang seperti burung tanpa menyimpan.harus terhambat kemacetan. menghalau saya supaya tak dekatdekat. Lampaui semua beban. menunggu emosi saya pergi. Melayang lebih jauh lagi ke masa lampau.

Air dapat memelukmu tapi tak akan membelenggumu Air dapat pantulkan cahayamu tapi tak dapat jadikanmu nyata(*) Saya akan menjaganya. Jakarta, 13 Mei 2006 12:24:00 PM Untuk Banyu Bening (*) Cuplikan puisi Air karya Banyu Benin

Saya di Mata
Jenar Mahesa Ayu

Sebagian Orang
Sebagian orang menganggap saya munafik. Sebagian lagi menganggap saya pembual. Sebagian lagi menganggap saya murahan! Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa.

Padahal saya tidak pernah merasa munafik. Tidak pernah merasa membual. Tidak pernah merasa sok gagah. Tidak pernah merasa sakit jiwa. Tidak pernah merasa murahan!

Dan apa yang saya rasa toh tidak membuat mereka berhenti berpikir kalau saya munafik. Berhenti berpikir kalau saya pembual. Berhenti berpikir kalau saya sok gagah. Berhenti berpikir kalau saya sakit jiwa. Berhenti berpikir kalau saya murahan!

saya tidak membual. Kalau saya tidak sok gagah. Kalau saya tidak sakit jiwa. Kalau saya tidak murahan! Tapi penjelasan saya malah semakin membuat mereka yakin kalau saya munafik. Yakin saya murahan!

Sementara saya sudah berusaha mati-matian menjelaskan kalau saya tidak munafik. Kalau

kalau saya pembual. Yakin kalau saya sok gagah. Yakin kalau saya sakit jiwa. Yakin kalau

Maka inilah saya, yang tidak munafik. Yang tidak membual. Yang tidak sok gagah. Yang tidak sakit jiwa. Yang tidak murahan!

Walau sebagian orang tetap menganggap saya munafik. Menganggap saya pembual.

Menganggap saya sok gagah. Menganggap saya sakit jiwa. Menganggap saya murahan! Saya katakan ke banyak orang kalau saya tidak punya pacar. Saya tidak punya kemampuan sekali teman. Ada teman yang setiap pagi menyiapkan air hangat untuk mandi. Ada teman

untuk mencintai seseorang. Tapi bukan berarti saya tidak punya teman. Saya punya banyak makan siang ketika rehat kantor. Ada teman yang menjemput sepulang kantor. Ada teman yang baik. Mereka semua teman-teman yang bisa diandalkan dalam segala hal dan saya

yang menemani nonton. Ada teman yang menemani clubbing. Mereka semua teman-teman yakin saya pun cukup bisa diandalkan sebagai teman. Bukankah sudah sepatutnya begitu Tapi karena teman mengajak, saya merasa tidak enak untuk menolak. Begitu juga halnya dan tidur. Tapi jika ada teman yang mengajak nonton, rasanya saya tidak tega menolak apalagi ia sudah khusus jauh- jauh menjemput ke kantor. Maka saya akan mengiyakan

dalam hubungan pertemanan? Buktinya tidak jarang sebenarnya saya malas makan siang. dengan nonton atau clubbing. Pulang kantor saya sering kelelahan. Inginnya lekas pulang

walaupun belum tentu saya suka dengan film yang kami tonton. Pada saat kami nonton,

tidak jarang pula ponsel saya berdering. Andaikan tidak saya angkat karena tidak sopan menerima telepon di dalam bioskop, tetap saja mereka bisa meninggalkan pesan SMS. saya ingin menerima ajakan mereka. Tapi bagi saya itulah konsekuensi pertemanan. Biasanya minta ditemani ke disko atau sekadar nongkrong di kafe. Sungguh, tidak selalu Apalagi, sekali lagi, mereka adalah teman-teman yang baik. Yang setia menyiapkan air

hangat untuk mandi setiap pagi. Yang setia menemani makan siang. Yang setia menjemput pulang kantor. Yang setia menemani ke disko atau kafe. Yang setia memberikan perhatian dan waktu kapan pun saya butuhkan, walaupun mungkin mereka tidak selalu ingin saya rasakan. mengiyakan, walaupun mungkin mereka sedang kelelahan, sama seperti apa yang sering

Kepada merekalah saya sering menumpahkan segenap perasaan. Kepada merekalah saya

meminta bantuan. Tidak hanya sebatas perhatian dan waktu, tapi juga dari segi finansial.

Kalau saya butuh uang, saya bilang. Kalau saya mau ganti ponsel model terbaru, saya beri tahu. Kalau saya bosan mobil van dan ingin ganti sedan, saya pesan. Padahal karena akan selalu ada yang menjemput dan mengantar, mobil jarang sekali saya gunakan. Kalau saya dapat undangan pesta dan perlu gaun malam lengkap dengan perhiasan, saya utarakan. Kenapa harus sungkan? Toh saya tidak memaksa. Toh mereka ikhlas. Dan yang paling penting adalah mereka memang mampu mengabulkan apa yang saya minta. Saya tidak

paksa mereka khusus menabung untuk saya apalagi sampai suruh mereka merampok bank. saya. Kalau sekali-sekali harus jebol tabungan atau terpaksa mencairkan deposito Saya juga teman yang baik. Saya tidak mau mereka susah hati karena tuntutan-tuntutan

bolehlah… yang penting dananya memang ada. Itu pun bukan masalah yang harus saya besar-besarkan. Bukan sesuatu yang layak untuk membuat saya terharu. Apalagi jatuh cinta?! Saya harus garis bawahi bahwa saya tidak memaksa. Apalagi saya sangat tahu, sangat sadar kalau jumlah dana yang dikeluarkan hanya sepersekian persen dari

keseluruhan harta mereka. Coba bayangkan, kurang pengertian apa saya sebagai teman? Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, tidak jarang saya harus mengorbankan waktu dan tenaga untuk mereka. Mungkin lebih tepat jika saya menggunakan kata

merelakan ketimbang mengorbankan. Walaupun saya agak terganggu, tapi saya rela. Saya Menikmati tiap detail manis yang kami alami. Makan malam di bawah kucuran sinar

melakukannya karena saya mau, bukan karena paksaan. Saya menikmati kebersamaan kami. rembulan dan keredap lilin di atas meja. Percakapan yang mengasyikkan penuh canda dan yang berlanjut dengan ciuman panas membara lantas berakhir dengan rapat tubuh kami

tawa. Sentuhan halus di rambut saya. Kecupan mesra di ke dua mata, hidung, pipi, dan bibir yang basah berkeringat di atas tempat tidur kamar hotel, di dalam mobil, di taman hotel, di yang begitu melelahkan sekaligus menyenangkan. Saat-saat yang selalu membuat jantung saya berdegup lebih kencang dari biasanya. Saat-saat yang selalu membuat aliran darah

toilet umum, di dalam elevator, di atas meja kantor, atau di dalam kamar karaoke. Saat-saat

saya menderas dan naik ke atas kepala. Saat-saat yang selalu membuat saya pulas tertidur

dan mendengkur. Saat-saat yang tidak pantas untuk tidak membuat saya merasa bersyukur.

Namun dari sanalah segalanya berpangkal. Semua yang saya lakukan itu dianggap tidak

benar. Sebagian orang menganggap saya munafik karena tidak pernah mengakui kalau saya punya pacar. Sebagian lagi menganggap saya pembual setiap kali saya bilang hubungan

Sebagian lagi menganggap saya jiwa.jam. Tapi tidak satu pun dari mereka yang mendendam karena saya menjunjung tinggi dibilang hubungan kami berakhir. sebetulnya tidak sepenuhnya benar. Jika teman saya uang. Sebagian lagi menganggap saya sakit dari teman-teman yang tidak ingin berbagi dan pada akhirnya hubungan kami harus Saya tidak bisa mungkiri banyak dari teman-teman yang akhirnya mempertanyakan. Sebagian dari mereka malah sering saya dapati tidak lagi bertegur sapa sama sekali dengan teman lamanya. restoran. Mereka sembunyi. Saya tidak pernah membohongi. Sebagian orang menganggap saya munafik. Semua orang merasa sementara teman. Mereka saling mengirim surat elektronik. Biasanya itu disebabkan karena hubungan mereka yang sembunyi-sembunyi dengan si A ketahuan oleh si B. hingga jenis dikaitkannyalah dengan seberapa dahsyat kehebatannya di atas ranjang. sakit jiwa. bertahun-tahun. saya tidak pernah akal-akalan. Banyak terakhiri. Apalagi jika secara kebetulan kami bertemu dalam satu kesempatan dengan bertukar senyum. Mereka saling bertukar pesan lewat SMS. Beberapa bagian dari mereka itu sibuk dengan jalani dengan penuh kewajaran tiba-tiba berubah menjadi perdebatan. atau murahan itu. berminggu. Pandangan mereka menyapu bersih membawa teman baru. silih berganti tanpa henti dan ini membuat mereka punya materi yang lebih dari cukup untuk terus mempergunjingkan saya seolah tidak ada hal lain yang lebih pantas untuk diangkat sebagai tema.kami hanya sebatas pertemanan. mulailah kelihatan berkantong tebal. Mereka bergunjing lewat Mereka saling bertukar pendapat di kafe-kafe. Menyeleksi kartu kredit saat membayar bon tagihan makan. Perbuatan yang saya lebih tahu dibanding diri saya sendiri. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. sebagian orang yang menanggap saya munafik. Saling bertanya apakah sudah punya pasangan tetap. Mereka sembunyi-sembunyi mengirim pesan SMS. Yang berubah keterbukaan.minggu. perdebatan pun dimulai dan mereka saling membuktikan pendapat siapa yang paling benar. Di rumah. Di kantor. pembual. Hal. maka dikaitkannyalah dengan seberapa besar saya menguras mereka dengan teori cinta-cintaan.sembunyi bermain mata. Jika teman saya kelihatan indah. Setelah putus dengan si B ternyata . maka mulai dari apakah ada pernak-pernik baru yang saya pakai. Sebagian lagi menganggap saya murahan! pembual. Sehingga jika hanyalah kami sudah tidak saling melenguh dan mencabik di atas ranjang. Kebanyakan berkisar pada seberapa indah kami berdua dari ujung rambut hingga ujung kaki seperti serigala kelaparan. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah karena mereka berpikir saya tidak mau mengakui kalau sebenarnya saya mencintai seseorang.teman saya semakin banyak. Mereka saling berbisik dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diterjemahkan. atau masih melajang. Pembicaraan mendadak berhenti. Tapi kami masih menikah. Mereka sembunyi-sembunyi untuk merangkumnya utuh menjadi satu bagian. sok gagah. Di ini berjam. Sebagian percintaan bahkan bisa dalam satu hari dengan orang yang berlainan. pendapatnya masing-masing dan lebih luar biasa lagi mereka bisa membahas perihal saya telepon. Kadang ada satu dua kalimat yang terdengar dan sudah cukup bagi saya dan seberapa tebal kantong teman yang saya bawa. berbulan-bulan.hal seperti ini yang sering tidak saya temukan pada saling berbagi cerita walaupun jarang. kantong belanja. berhari-hari. Di pertokoan. Dan karena saya tetap bilang kalau kami benar-benar berteman. Sebagian lagi menganggap saya murahan karena saya bisa ditiduri tanpa harus ada komitmen lagi menganggap saya sakit jiwa karena berteman dengan begitu banyak orang. Tapi jika ke dua sisi itu tidak ada yang memenuhi standar pergunjingan.

Pembual. Ereksi yang tidak lama kekal. Menganggap saya pembual. 20 Agustus 2003 11:35:54 PM hangat untuk bilas badan. Dan saat itulah alarm dalam tubuh saya mengisyaratkan segala rencana kencan lanjutan mutlak batal. Tapi saya tetap menghargai sebuah pilihan. Sebagian orang menamakan kejadian-kejadian seperti itu sebagai moral. sakit jiwa. ketika saya positif mengidap HIV ternyata saya masih punya banyak teman yang setia menyiapkan air tentang sebuah peristiwa lucu di satu kafe. pembual. terima karena saya munafik. Saya hanya heran.ketahuan pulalah si A berteman dengan perempuan lain. darah saya berdesir dan mengisyaratkan satu kenikmatan. saya tetap tidak berani menganggap mereka munafik. saya hampir percaya pada pendapat sebagian orang yang tiap bagiannya menyatu menjadi satu pendapat utuh bahwa tindakan saya menyimpang. Mungkin jika bukan karena saya tergeletak tak berdaya dan diperlakukan bagai anjing kusta saya hampir beralih dari apa yang selama ini saya percayai dan nikmati dengan hati lapang. Reaksi yang membuat waktu berjalan bagai tak berujung pangkal. Malam-malam panjang. Mengirim makan siang. Seleksi alam yang akhirnya menjawab apakah kami akhirnya bisa tidak atau Menganggap saya sok gagah. sok gagah. atau murahan. Menemani makan malam. Yang nyatanya berakhir dengan rasa mual. Sakit jiwa. ketika sebagian orang sibuk bergunjing atas akibat yang saya . Membuat Kontraksi dahsyat di tengah selangkangan. Mungkin jika bukan karena penyakit yang datang tanpa bisa saya larang tidak saya idap sekarang. Tapi tetap orang menganggap saya munafik. Sementara buat saya kejadian-kejadian seperti itu hanyalah semata-mata proses cinta semalam. Alangkah sayangnya sebuah hubungan yang menempuh berbagai aral rintangan itu akhirnya harus kandas di tengah heran. Mendongeng membayar ongkos perawatan. Menganggap saya murahan! lanjut berteman. Kadang saya juga mengalami kesulitan dalam satu hubungan. Sebagian orang merasa kejadian-kejadian seperti itu bertentangan dengan pengenalan. Karena. Menganggap saya sakit jiwa. Bercerita tentang film yang baru saja diputar. Tapi walaupun saya Beberapa kali saya bertemu dengan tubuh-tubuh indah yang membuat mata silau. jalan. Sok gagah. Murahan! Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful