Gelap, gelap sekali

Aba Marjani Gelap di luar dan hening di dalam. Dengus napas istriku teratur. Lampu tempel sudah menarik selimut melewati dada. Sesekali suara burung malam terdengar di kejauhan. kumatikan. Hanya dingin malam yang menyeruak dari celah dinding bambu membuat aku Barangkali burung hantu yang mencari mangsa, berpindah-pindah dari satu arah ke arah

lain. Tanah huma di pinggir hutan mungkin mengubah kawasan hunian binatang sekitar.

Aku sulit memejamkan mata karena nyamuk kecil yang sering mendengung dengan bunyi yang nyaring, sesekali nyamuk itu menerkam kuping. Malam semakin larut ketika merasakan ada sesuatu yang mengusik gelapnya malam. Beberapa rumah panggung

terdapat di desa yang baru kami bangun, sekitar setahun yang lalu, tanah garapan baru. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya kira-kira lima puluh meter. Gemerisik sesuatu antara belukar semakin mengganggu ketika terdengar ketukan di rumah tetangga. Derap kaki bersepatu berat semakin jelas terdengar disusul dengan gedoran. Ada teriakan kasar. Aku mengintip dari celah dinding, tetapi tidak ada sesuatu yang tampak. Gelap Ada pukulan yang keras membuat teriakan lenyap. Sunyi malam mendekap.

malam memeluk rahasia malam. Teriakan terdengar ketika langkah kaki itu agak menjauh.

Ia membuka matanya dan menggosok kelopak matanya, lalu menjawab, ”Sayup-sayup. Seolah-olah ada sesuatu yang terjadi.”

Kugoyang-goyang tubuh istriku sambil berbisik, ”Kau dengar suara-suara ribut itu?”

”Apa, ya?” kataku seolah-olah berkata kepada diri sendiri. Beberapa menit kami tenggelam dalam hening. Sepanjang malam kami tidak dapat tidur, tak juga berani berbicara atau menduga-duga apa yang terjadi. Rasanya malam merangkak amat lama. Subuh, ada tangisan dari arah tetangga sebelah. Ketika ayam berkokok, aku memberanikan diri turun tangga rumah, dan bergegas ke rumah sebelah.

Beberapa orang tetangga lain sudah ada di situ. Aku bergabung dengan mereka. ”Ada apa?” kataku. Seorang kepala dusun yang kami angkat sendiri malah balik bertanya, ”Tidakkah Saudara dengar peristiwa tadi dalam?”

”Ya, kudengar langkah kaki, gedoran dan orang berteriak karena dipukul. Aku tidak berani keluar. Sepanjang malam aku dilanda rasa takut,” kataku.

Tarmin, kepala dusun itu, kemudian berkata, ”Suami ibu ini tadi malam diculik orang, juga Turman yang tinggal di ujung dusun.” ”Oleh siapa?” tanyaku. ”Belum tahu.” Tangis ibu Saleh tak henti- henti. Kepala dusun pagi sekali menghubungi ketiga belas keluarga yang tinggal di perhumaan itu. hilang pada malam itu. Saleh dan Turman. Saleh si pendiam namun mudah menolong orang. Turman si pemberani yang mendorong kami memulai menggarap tanah di pinggir hutan itu. Menurut kami, kedua orang itu adalah teladan dalam segala hal. Kami berkumpul di rumahnya. Yang hadir hanya sebelas kepala keluarga. Dua orang yang

Kurang lebih setahun sebelumnya, kami membuka ladang baru, tanah huma. Jauh dari

kampung halaman kami. Jarak kampung halaman kami lebih seratus kilometer, dan untuk sementara kami meninggalkan anak-anak bersama kakek-nenek di tanah leluhur yang sudah sesak penduduk.

Sebagai ladang baru, hasilnya lumayan. Tanah huma membuat tanaman subur, pada panen pertama tentunya. Kami memasuki tahun kedua dalam suasana dusun yang tenang. Rasa persahabatan dan kekeluargaan lebih menonjol daripada sikap bersaing. Kami mengalami

nasib yang sama di tanah leluhur yang semakin sempit karena pertambahan penduduk. Rasa persaudaraan yang tinggi terbentuk karena penderitaan yang sama, dan memiliki harapan yang sama. Mengubah nasib. Walaupun di ladang yang sangat bergantung kepada kemurahan alam, hujan.

Pertemuan hari itu sarat dengan usul cara menjaga keamanan dusun. ”Tapi penculikan ini, melihat dari jejak kaki,” kata Sahir, ”rasanya adalah jejak kaki orang bersenjata api.”

Yang lain-lain terdiam. ”Jangan-jangan ketika kita jaga malam, justru dengan lebih mudah diculik satu demi satu,” katanya melanjutkan.

Seminggu kemudian, dalam kantuk yang penat, menjelang subuh aku tertidur lelap. Baru didobrak dari luar. Dalam sekejap beberapa sosok tubuh merangsek ke dalam membuat jerembab. Beberapa tangan yang kokoh menarik kedua tangan dan kakiku. Aku diseret belakang. Mulutku dibekap dengan sepotong kain. Dalam gigitan malam yang dingin

saja beberapa menit terlelap, aku mendengar pintu digedor dan tiba-tiba menganga karena

istriku tiba- tiba menjerit. Tamparan di mukanya membuatnya terhuyung dan diam dalam

dalam kegelapan malam. Mereka menggelandang tubuhku dan mengikat kedua tanganku ke menyengat, mereka melemparkan tubuhku ke dalam sebuah truk yang menunggu di tepi bersentuhan dengan kakiku.

jalan. Aku merintih kesakitan. Kutahu ada orang lain di dalam truk itu karena kaki mereka

Sebelum kabut meninggalkan malam, truk berhenti di sebuah tempat. Kudengar suara-

suara orang yang berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti. Aku diturunkan dari truk antara mereka yang kukenal.

bersama sembilan orang lainnya yang tampaknya senasib denganku. Tidak seorang pun dari

Kami digiring ke sebuah rumah gedung tua yang tampak kokoh dari luar. Ada penjaga

bersenjata di segala sudut. Di sebuah ruangan satu demi satu kami diempaskan ke lantai. siang seorang berwajah garang duduk di belakang meja reyot, dan kami duduk di kursi rotan di hadapannya. Satu demi satu kami ditanyai: nama, keluarga, alamat, asal-usul, jenis pertanyaan yang aku sendiri tidak mengerti.

Ikatan tangan kami dilepaskan satu demi satu. Nyeri rasa luka di bekas ikatan itu. Menjelang

pekerjaan, sejak kapan masuk organisasi politik, siapa pemimpinnya, dan macam-macam

Sore itu perut diisi dengan beberapa potong ubi rebus. Tengah malam, ketika perut masih keroncongan, namaku dipanggil dari kamar berukuran tiga kali empat meter yang dihuni dua belas orang. Aku berdiri dan menuju ke sebuah ruangan. Dari ruangan lain kudengar ia tuduh aku masuk gerakan tutup mulut (GTM). Ia lalu berdiri di belakangku dan lehermu!”

jeritan orang dipukul. Aku duduk dan tidak dapat menjawab pertanyaan interogator itu. Lalu memegang dagu dan kepalaku, mencoba memutar leherku. ”Jawab! Atau kupatahkan

Aku diam saja. Kemudian ia melepaskan kedua tangannya, tapi menohok punggungku membuat aku jatuh pingsan. Ketika aku tersadar, aku sudah berada di tengah-tengah kawan seselku. Mereka mengoles punggungku dengan minyak kelapa. Aku belum mampu sedikit melegakan rasa sakitku.

memusatkan pikiran untuk mendengar apa yang dikatakan mereka. Jamahan tangan mereka

hampir semua lelaki di dusunku sudah ”diangkat” dan kaum perempuan melarikan diri ke kembali, diganti dengan tahanan baru, sampai pada akhirnya aku sendiri pun dipanggil bersama beberapa orang yang dahulu ditangkap bersamaku. orang tua mereka masing-masing. Beberapa kawan seselku ”pergi” dan tidak pernah

Sebulan kemudian aku mendengar secara sembunyi-sembunyi dari sesama tahanan bahwa

Menurut pengawal yang melemparkan kami ke dalam truk, kami akan dipindahkan ke

tempat yang lebih nyaman, tenteram, pembebasan. Karena ia mengatakannya dengan

senyuman dengan mata mengejek, yakinlah aku bahwa inilah hari akhir dalam kehidupanku. bagai paku tipis yang karatan mungkinkah dibebaskan ke tempat yang nyaman dan Wajah anak- anakku, istriku, melintas silih berganti di benakku. Tubuh-tubuh yang kurus

tenteram? Aku tidak tahu dosa apa yang membuat aku harus mengalami derita seperti ini. keluar dari mulutku. Pernah aku berpapasan dengan seorang interogator yang rasanya

Sampai bulan-bulan terakhir aku hendak di-”bebaskan” tidak ada pengakuan apa pun yang

pernah kukenal dan memalingkan wajah daripadaku ketika sekilas bertatap mata. Diakah orang ingin mencari selamat sendiri.

biang keladi dari derita lelaki dari dusunku? Ah, tidak berani aku berburuk sangka. Semua

dan mengambil buah yang ranum. aku dapat sebuah jembatan yang besar dan panjang. ”Ayo. Tiba-tiba sekelebat pedang yang terayun suara yang sama bergenta. Beberapa menit kemudian aku muncul ke permukaan sementara arus terus membawa aku hanyut. Aku merangkak ke tepi sungai dan mencoba lama semakin hilang. Semuanya gelap gulita! dengan kisah gelap. Karena telah terbiasa di dalam kegelapan malam dan siang. Dalam kepergian malam. Kami semua diturunkan dan berjalan satu demi satu menuju tengah jembatan. Ikatan tangan yang telah kukendurkan dan ikatan tali di kaki yang merenggang membuat aku menyelam lebih mudah bergerak dalam kedalaman dan arus sungai. Bahasa batin Aku berjalan di barisan paling akhir dari lima belas orang. menyusuri tepi sungai dengan Dengan pakaian yang basah-kuyup dan langkah yang goyah. Gelap dalam pertanyaan yang tak kunjung berjawab. Kulepaskan ikatan tangan dengan susah-payah. yang dapat kutempuh. Truk berhenti di mulut Berjam-jam kami yang ada di dalam truk diam dalam bahasa hati kami sendiri. sampai giliranku pun tiba. anak-anak akan telantar. di sisi jembatan bagian tengah yang rusak penahannya. merunduk rendah. Ada lengkingan dan bunyi kepala ya berdebuk ke dalam sungai yang depan disuruh berhenti di pinggir jembatan. Dan cap dalam keluarga. Tidak jauh dari sana ada durian belanda. Di kejauhan ada deru kendaraan yang semakin keyakinan bahwa lambat atau cepat pasti di sekitar alur sungai ada kampung terpencil. dalam sunyi air yang mengalir. Dalam detik yang sama aku mengalir deras disusul gedebuk tubuh yang terempas ke dalam air. Kami benar.banting tulang memberi makan mereka. Buah yang matang tapi ketika kukunyah. sampai aku mampu berpijak di dasar sungai dan berjalan sambil merangkak menyusuri menambah perihnya goresan tali. menyaksikan celah antara kegelapan dan remang-remang malam. Gelap dalam sel. mereka termasuk turunan yang dianggap kutuk bagi bangsa ini. Di tepi sungai ada pisang yang sedang berbuah. pastilah manusia pun bisa. Aku memanjatnya. Aku berdiri dan melihat pedang yang dientakkan. Air yang dingin mendengarkan langkah kaki. Aku berterima kasih kepada Tuhan . Di dalam alun arus. Aku menduga. Tidak ada. ”Tuhan. istriku dalam kesetiaannya harus Tiba-tiba hatiku menjerit.benar menjadi warga kegelapan. banyak batunya. aku berjalan sejauh-jauh jarak Matahari mulai muncul di celah gunung. Pisang monyet. Orang yang berada di barisan menebas lehernya. aku semakin menepi batu-batu. Selang beberapa menit membungkuk dan terjun ke dalam sungai. bila monyet pun bisa makan buah pisang monyet. aku menyaksikan pedang yang berayun semakin melemah. lindungilah mereka!” Tendangan di pantatku menyadarkan aku. Aku tidak tahu di daerah mana aku berada. naik! Naik! Naik!” Truk menggelegar memecah kegelapan malam. Bayangan dalam benakku. kemudian tali dari kaki. dalam remang gelap. Berjam-jam aku berjalan dalam keremangan gelap malam.

Setelah kekuatanku pulih. Seorang lelaki tua dan ibu memperkenalkan diri dan memberitahukan tentang diriku yang sebenarnya. Kedua orang tua itu mengangguk-angguk mengerti. aku Bertahun-tahun aku menjadi kuli pelabuhan atau ikut nelayan pada malam hari. aku tidak bisa berlama-lama dengan mereka. kukirim upahku. Kuketuk pintunya. yang sudah berumur membuka pintu. Mereka mempersilakan aku sarapan pagi dengan pisang rebus. Dari wajah mereka kulihat rasa terkejut. tepatnya sebuah lembah yang landai. menjadi kuli pelabuhan bagi tongkang dan kapal yang merapat malam. aku menghitungnya. bahwa bumi ini kaya dengan kemurahan-Nya. Aku bulan di laut. sekalipun laut tetap bergelora! Laut mengajariku untuk tabah. kepada anak-anakku. iklim politik pun berubah. alamat. di seberang ada laut. seorang bekas interogatorku. Sesekali aku mencari tahu keberadaan istriku dari orang yang sebahasa denganku. Dan di sanalah aku merajut nasibku juga. Setelah berbulan-bulan. masuk tongkang yang hendak berlayar berbulan- kapan akan berakhir. Pergi ke laut. Bandung. Aku pun terkejut melihatnya. menyongsong matahari yang terbit. Tanpa Mereka hanya peduli pusaran arus laut. Aku Kukira gubuk itu milik pemilik ladang di situ. dan mengirimkan upah yang kuperoleh. Alam keras membuat mereka hidup. Sampai berpuluh tahun kemudian. Rasanya aku berminggu.minggu bersama mereka. menjual ikan ke seberang. Akan tetapi. aku menemukan sebuah gubuk. Kukeringkan pakaianku di atas batu dan Di kaki gunung. Setelah tubuhku pulih betul aku pamit dan mendaki gunung menuju ke tanah seberang. aku tidur dan malam melaut bersama nelayan. atau kalau musim ombak. Malam-malam berbintang. dan pelarianku. Ia terkejut melihatku. Aku membantunya di ladang karena aku jauh lebih muda dari mereka. Kata orang tua itu. Ada mata air di situ. karena aku bersama bintang di laut dengan pelaut yang tidak peduli pusaran politik. yang tergenang dan bening. Kiriman berikutnya tidak dapat kulakukan karena pada suatu hari aku berpapasan dengan cepat-cepat menghilang.mereguk air dari pinggir sungai. 21 Agustus 2009 . Hari-hari pelarianku yang tidak kutahu Sepuluh tahun? Dari beberapa pelabuhan. Siang hari mendapat informasi mengenai alamat mereka. aku berjalan dan berjalan.

berikutnya? Kalau tidak melakukan tindakan tolol ini. Masih tersisa dua batang. mungkin juga aku sudah berada di tempat tidur bersama istriku. laki-laki mengambil bungkus rokok milikku dari saku belakang celana. Halilintar bersahut-sahutan tiada henti bagai Pasrah oleh jilatan tempias hujan atau sesekali cipratan air yang dilindas ban-ban mobil. Di dompetku cuma ada tiga lembar uang lima ribuan. mungkin aku sudah sampai di rumah. Terlintas dalam benakku bagaimana jadinya jika aku disambar petir. mungkin aku sudah duduk sembari ngopi ditemani istriku di sebuah gubuk tempat kami mengontrak selama ini. Khawatir juga kalau-kalau ia ingin mencari kehangatan bersamaku. Bukankah aku seharusnya turun di dua halte ingin membelah dunia. . Sesaat kemudian asap rokok kami sudah itu menyodorkan bungkus rokoknya kepadaku. petir seperti ini. Rasa sesal dan kesal menyeruak dalam dadaku. Aku bersiaga. Kuambil satu. Seharusnya di dua halte berikutnya. Angin berkesiur liar kian kemari. Kalau tidak.” aku sengaja berbohong.” kataku sembari menatap ke jalan. seorang Seorang laki-laki sepantaran aku yang sejak tadi berdiri agak jauh mendekat. Tubuh terbakar hangus seketika. Hujan masih saja lebat. Gosong. Betapa bodoh dan tololnya aku. Agak mletot karena terduduki. Kedinginan di halte bus senja itu aku merasa benar-benar kecil. Sebatang rokok siap dinyalakan. Aku berdehem.Sukro dan Sukra Oleh Adek Alwi Langit kelam dan senja lebam dalam guyuran hujan lebat. Dalam dingin apa saja bisa terjadi di tempat tidur. Tanpa menoleh ke arahku. Kilat menjilat sambungmenyambung seperti ingin membakar langit. “Mau pulang?” laki-laki itu bertanya. Dalam badai perempuan yang tidak cantik tapi juga tak bisa disebut jelek. Kurogoh saku celana sebelah kanan untuk mengambil korek api lalu kuberikan kepadanya. “Bekerja di mana?” laki laki itu melanjutkan setelah melepas asap rokoknya untuk kesekian kali. Senja makin lebam. Ia tak mungkin merampok aku karena tak ada sesuatu pun yang bisa dirampasnya dari aku. Aku bersidakep menahan dingin. Setelah menyulut rokoknya. “Dulu. “Aku salah turun. “Punya korek?” ia menyergapku sebelum aku sempat menggeser. Buru-buru kuucapkan terima kasih seraya berpilin-pilin menjadi satu untuk kemudian hilang menyatu dengan putihnya tempias hujan. Di sebuah kantor. Atau tiba tiba air bah datang dan menghanyutkan tubuhku seperti sepotong kayu. Angin masih berkesiur. Genangan air mulai meninggi.

menikah dengan seorang polisi. aku bisa bantu. Hidung mancung. seorang wanita. Tak ada gunanya. “Nama kita hampir sama ya. Mereka pasti tidak jadi jatuh miskin. Entah di bagian mana. Tubuhnya hampir tak berbeda dengan “Kerja apa?” aku bertanya sembari menggaruk-garuk dahi untuk menyembunyikan perasaan gembiraku. Agak kurus. Ada barang sedikit dari mereka. Laki-laki itu tiba-tiba terbahak. macam-macamlah. “Kita merampok. ada yang curang dalam berdagang. Mata dan pipi cekung. Kami ngobrol hingga senja hilang dan sinar merkuri mulai memunculkan siluet. hidupnya tak pernah kelihatan susah. Sukra tertawa. “Kenalkan dulu. Rambut mulai banyak ditumbuhi uban. “Namaku Sukra. Perusahaan hampir pailit karena kelebihan karyawan.” ujarnya seraya menyodorkan tangan. Di antara empat saudaranya. terus terngiang ajakan Sukra. Kerja serabutan. Dalam remang kulihat wajah pasrahnya. Si bungsu. menikah dengan seorang juragan beras. Adiknya. Suaranya nyaris tak terdengar karena hujan begitu lebat. Aku terlalu pengecut untuk melakukan perbuatan penuh risiko itu. Seperti hari ini. “Atau tepatnya mungkin kau bisa membantu aku. Baginya yang penting aku menggodaku. yang hasil korupsi. Ajakan laki laki itu terus Lagi pula istriku selama ini tak pernah mau tahu apa pekerjaanku. Dan hujan tiris. Gelisah saja.” Tak kuceritakan pertemuan tak terduga dengan Sukra itu kepada istriku. dan dua sepeda motor. pulang membawa uang. Kadang-kadang kasihan juga aku melihat wanita ini.“Tapi aku dipecat. Istriku di sebelahku sudah terlelap. Yang penting bisa makan. perempuan. Sekarang nganggur. Hidupnya Merampok? Ah.” aku. Aneh juga. Uang mereka pun belum tentu uang halal. Ia memiliki sebuah mobil juga tak kelihatan susah. Banyak sekali. “Kita merampok orang kaya. Meski cuma lima belas ribuan. Untuk pertama kali aku menoleh ke arah laki-laki itu. Kita ambil Karena umumnya orang kaya pun perampok. laki laki. aku jadi tak bisa tidur. Malamnya. Yang pasti. Apa saja.” aku menyebut namaku. Agak tinggi. meski dingin menyungkup. Kakaknya. Tapi itu tidak penting. Bagaimana kalau yang punya rumah terbangun? Lalu . Agak gondrong. hidupnyalah yang paling susah.” Laki laki itu tertawa kecil. Tak jelas mengapa ia tertawa. “Kalau mau.” katanya getas.” Setelah itu kami jadi lebih akrab.” “Sukro. Ketika aku akhirnya melangkah meninggalkan halte bus itu. bekerja di sebuah perusahaan cukup besar. Aku jadi korban. Malah yang paling makmur. tak mungkin kulakukan pekerjaan itu.” kata laki-laki itu kemudian. Yang penting kau mau bekerja sama. Aku kaget. sementara order menurun. Uang mereka banyak.

selamanya hidupmu susah. perut bumi kulakukan dengan setengah tenaga. Apa salahnya justru kita yang mengambil kesempatan itu. Kalau tidak. Bukan merampok. Esoknya aku bekerja tanpa gairah. Mereka butuh teman wanita.” “Pekerjaan itu cuma merusak bangsa sendiri. teman sekerjaku. “Kalau kau mau.” Sukra meneruskan kalimatnya. Sukro. Kau bisa cari di banyak tempat di Jakarta ini. Tanpa basa-basi kepadaku. jadi pengedar enggak mau. “Kalau kau takut merampok. Ini tanpa risiko. Sama saja. “Jadi pengedar. Kro. Kra.” “Jadi apa?” “Aku punya tamu. ganja.terjadi perkelahian. nanti malam. Atau bagaimana kalau aku tertangkap warga? Bisa babak belur. Bisa kau carikan? Bayarannya besar. Agak berbisik. Sudir. “Diajak merampok enggak mau. aku bisa memberimu pekerjaan lainnya. Semilir angin membelai dan menyejukkanku. aku ada pekerjaan untukmu. “Kalau bukan kita yang melakukannya. Ia “Oya. Lalu aku terluka. lebih ringan dengan penghasilan yang jauh lebih besar. orang lain yang mengambil alih. Ada Selamanya miskin.” kata Sukra. kalau kau mau. Lima turis Jepang. Upahmu seratus ribu untuk setiap satu disebutnya nama sebuah hotel tempat di mana aku bisa menemuinya. Sebentar-sebentar aku juga minta istirahat. sabu-sabu. Lalu beranjak pergi dengan membawa derai tawanya. Aku diam saja. Lalu . “Untuk apa kau bekerja keras kalau sebenarnya ada pekerjaan lain yang jauh asap rokoknya. misalnya.” kata Sukra sembari mengepulkan “Merampok itu bukan pekerjaan ringan.” jawabku sinis. Jadi maumu apa?” Sukra berkata kepadaku. Aku diam saja. Sukra!” aku membentak. tugasku memasang pompa air. Sukra muncul lagi di hari ketiga ketika aku makan siang di sebuah warung Tegal.” banyak pilihan pekerjaan. Hari itu. Mereka mau ke Bali besok sore. sampai jengkel karena setiap kali mengangkat pipa yang akan ditancapkan ke Kubilang badanku kurang enak. Sukra tiba-tiba muncul lagi ketika aku sedang duduk berteduh dengan seplastik air dingin di tanganku. Ada ekstasi. langsung duduk di sebelahku. Bukan jadi pengedar. ia ikut memesan makanan. Sukra mengakak. atau apa saja yang dibutuhkan konsumen. perempuan. Itu kalau kau mau. Bisa juga dibakar massa.” “Kesempatan merusak orang lain? Merusak bangsa sendiri?” “Sudahlah kalau kau memang tak tertarik. Sukra mengakak lagi.” Sukra membanting rokoknya.

tempat di mana aku bisa menjejalkan makanan ke perutku sampai kenyang hanya dengan uang lima ribuan. Rokok tak seorang perempuan. Ia baru akan membiarkan aku pergi setelah mendengar tawarannya. “Wajahmu cukup ganteng. cobalah berpikir sedikit lebih rasional. “Sudah kubilang setelah dipecat dari sebuah perusahaan. Jadi makelar wanita. Tak enak juga mengepulkan asap rokok di tempat kecil itu dan di sana ada “Sudah lama kau bekerja seperti sekarang?” Sukra memulai lagi percakapan. Tapi setidaknya kita bisa ngobrol-ngobrol. Sebelum sempat kunyalakan. “Kau tolak Di bawah pohon mahoni yang daunnya meneduhkan dan menyejukkan itu kami kemudian duduk berdua di dua buah batu besar. jadi kunyalakan. Dan muda. Sukro. Nah. meraih tanganku.” kataku singkat membuat Sukra tertawa.” katanya meyakinkanku. Aku sebenarnya ingin buru-buru berpisah lebih baik. seorang perempuan setengah baya duduk di sebelah kiriku. Sukra membawaku ke sebuah tempat di bawah pohon mahoni di seberang darinya. Dan mereka pun mungkin pas-pasan. Setiap hari kau bekerja keras. Secara fisik kau juga mungkin akan mendapatkan kenikmatan selain juga menerima bayaran yang sangat sepadan. setiap pekan kau bisa membawa pulang lebih Buru-buru kutinggalkan Sukra di warung Tegal itu. memepet Sukra. kalau kau ambil pekerjaan yang kutawarkan ini. Kurasa pekerjaan ini cocok untukmu. Itu beberapa jam saja kau sudah bisa mengantongi uang lima ratus ribu. Mendengar celoteh Sukra. Terpaksa aku menggeser sedikit.“Itu pekerjaan haram. Untuk hasil yang pasti tak sepadan. kau tak perlu bekerja setiap hari atau setiap malam. “Tenang dulu. Kini entah apa lagi yang akan ia tembakkan dan cekokkan kepadaku di warung Tegal yang kecil dan pengap itu.” Sukra memulai serangannya. Menahanku dengan paksa. Tapi ia bilang masih ada satu peluang bagiku untuk mengubah hidupku menjadi pun tak apa. Ia mengakak seperti biasanya seraya kalau kau tak mau menerima tawaranku. Aku cuma terdiam. mungkin kau benar. Jadi. Tak begitu berat. Hanya cukup untuk makan.” Selepas makan. Tapi. Setiap pekan aku pasti punya tamu orang asing. Kro! Mau ke mana kau? Baiklah Tentang apa saja. Apalagi kalau pekerjaanmu bagus. “Maaf.” membutuhkan wanita-wanita penghibur. Tapi sebaiknya kau dengarkan dulu. kau juga berotot. “Haram? Ya. Berhadap-hadapan. Sebagai pekerja kasar. Siapa tahu kau tertarik. Apalagi kalau sedikit kau rawat. Merampok. warung Tegal tempat kami barusan makan. Aku mengambil sebatang rokok. Kau hanya bekerja bila tenagamu benar-benar . Sukra tertawa kecil. aku lupa. “Aku punya tawaran pekerjaan lain yang sangat menyenangkan. Lagi pula.” sahutku ogah ogahan. Jadi pengedar. dalam banyak dibandingkan apa yang sudah kau peroleh selama ini. Tentang hidup enak dengan jalan pintas.” Dengan perasaan agak jengkel aku terpaksa duduk lagi.

Tapi gajimu tetap tiap bulan. Aku terbangun. Aku mau menolongmu.” Sebelum aku berkata-kata. Masih terengah- . Lalu kulihat diriku pada cermin di kamarku. Ia tak suka wanita.” aku berkata ketus. Mas?” istriku mengguncang-guncang tubuhku. Desember 2006 “Ada apa.” Aku masih saja bungkam. engah. Gajimu pun jadi dua kali lipat?? saja yang melakoninya?” “Kedua-duanya pekerjaan haram. Aku menggeleng.dibutuhkan. Mungkin juga seminggu seberapa banyak kau bekerja. Kau bahkan tetap menerima gaji andai klienku ini ke luar negeri dan kau tak bekerja dalam sebulan. Sukra tertawa. kau bisa tetap berkumpul bersama istrimu. Ia menyukai sesama jenis. Aku malaikat penolongmu. Dan. Boleh juga kedua-duanya sekaligus kalau kau mau dan mampu. Kau bisa bekerja untuknya. Yang pertama seorang wanita setengah baya.” pernah kutawarkan kepadamu itu sudah kulakoni. Itu “Aku tidak tertarik. bisa juga dia mengajakmu ke luar negeri. Di cermin itu kulihat wajah Sukro. Janda. Ia masih membujang. Nah. Tanpa menoleh. Cantik. “Aku punya dua klien. sekali. Usianya mungkin dua atau tiga tahun lebih tua darimu. atau yang pria saja. Mungkin dua kali seminggu. “Kau tahu pekerjaan apa yang aku maksud?” Sukra seperti memaksa aku bicara setelah terus-menerus diam mendengarkan. Tidak tergantung pada Kesepian. Kuteguk air putih untuk menenangkan diri. Tidak setiap hari juga. Atau. Sebelum atau sesudah menunaikan tugasmu. Sukra melanjutkan. Sekarang aku mau berbagi denganmu. Dan lari. Perigi. kau bisa ambil klienku yang wanita saja. Kunyalakan lampu kamar. “Mengapa bukan kau “Kro. “Sukro!” Sukra berteriak. Tanah Kusir. Tergantung kebutuhannya. “Tunggu!” “Tidak! Tidak! Tidak! Kau setan! Bukan malaikat!” aku berteriak.” berkata begitu. Sampai terengah engah. “yang kedua adalah seorang pria. aku buru-buru meninggalkan Sukra. Sukro. kau juga bisa bekerja untuknya. Kaya. Semua pekerjaan yang saja. Tetap belum dapat kutebak ke mana arah bicaranya.

Bilur jejak luka di tubuhnya. masa lalunya yang penuh kesedihan. untuk kesekian kali. Bisa kulihat hamparan rumput yang biru bagai beludru. Aku bisa melihat semua yang hendak petak kontrakannya di pinggiran kota sana. Aku bisa melihat pepohonan yang ungu. Juga hari paling nestapa dalam hidupnya yang bakal tiba. Namun berapa kali mesti kukatakan pada kalian. kakinya jenjang. kuceritakan pada kalian apa yang kusaksikan. Aku bisa melihat segala yang tidak mampu kau pandang dengan sepasang matamu. Namanya Sebulan setelah melahirkannya. seperti menyentuh kelembutan sutra yang berkibaran. Aku tahu bagaimana caranya mengatasi. ibunya gila karena guna-guna istri muda simpanan dengan gaun yang mengundang. Kuceritakan penglihatanku. Seperti malam-malam sebelumnya.” katanya. Sementara para pelacur lain berkeliaran sambil cekikikan genit setiap ada laki-laki muncul. Aku memang tak punya mata.” Ia sebenarnya tak terlalu suka bicara. Saat pertama kali melihatnya. 28 tahun lebih enam hari. daun-daunnya yang kemerahan. tak ada yang tak terlihat aku menyukainya sejak pertama. Aku bahkan bisa menyentuhnya dengan ujung-ujung jemariku. betapa aku bisa melihat langit yang hijau lembut dan halus seperti permukaan agar-agar. ”Aku cuman perlu memberi sedikit kesenangan pada para petugas itu. Sungguh. Itulah sebabnya disembunyikannya. suaminya yang minggat. Kadang tampak ganjil . Aku melihat garis pedih dan hitam. Dia lahir saat hujan turun begitu lebat jam sembilan pagi. Tapi ia hanya tertawa. ia memilih menyendiri. berdiri menunggu seseorang datang. ia selalu muncul kau menyebutnya pelacur. karena aku buta. dua anaknya yang sakit-sakitan di rumah ”Kenapa mesti takut? Berkali-kali aku kena garuk. aku langsung tahu. olehku yang buta. bayangbayang yang putih dan memanjang. Aku melihatnya di pinggir jalan itu. dua tahi lalat kecil di punggungnya. Baiklah. Ia seperti dikutuk kecantikannya. suaminya. dan Mawar. butiran hujan yang bening keemasan hingga segalanya jadi tampak megah bekilauan setiap kali ia ditumpahkan. gugusan awan merah muda. Tapi kalian mengatakan aku dusta. juga angin yang pucat kelabu.Mawar di Tiang Gantungan Oleh: Agus Noer Kuceritakan apa yang kulihat.

bila aku bisa melihat tanpanya?” Lalu mereka menyimpan sepasang mata itu. kau bisa menduga. dan berkata. ”Dan kamu.” dan kaki pada tubuhku. diberinya aku degup jantung. buat apa aku punya mata. Aku bahkan tak pernah tahu namanya. ”Aku tak buta. Ada yang gagu.” Lalu aku pun bercerita padanya. Seorang pemulung menemukanku di tempat pembuangan sampah.” ”Kalau begitu. kenapa buta?” Ia sayu menatapku. Bahkan seorang bocah yang tampak manis sengaja diiris telinganya dan dibiarkan jadi borok agar terlihat menyedihkan. aku menjadi yang paling menyedihkan di antara mereka. Kelak. Seperti tanah liat yang mulai terbentuk. Aku memang memilih tak punya mata. Siapa yang tahan memandang wajah dengan sepasang liang hitam menganga? Sengaja kubuka kelopak mataku. Ia membuangku. Melihatku yang tak punya mata. ketika aku lahir dan menatap dunia. Perot. dan tak pernah mau menatapku. Tapi kau akan Lalu kukatakan pada malaikat itu. Jileng. Pernah ia cerita tentang pelacur tua yang matanya menjadi buta karena rajasinga. kamu bisa kembali mengambilnya. Aku tahu. Ketika sepasang malaikat membawa ruhku turun dari langit. dan karenanya bisa menghasilkan banyak uang setiap mengemis.juga melihat sosoknya di jalanan merah remang ini. Tapi itu membuatku jadi bisa sering mengajaknya bercakap. Seorang anak kedua kakinya menampung para pengemis. Ia begitu membenciku. Ada yang bongkok.” ”Bila kau tak punya mata. ”Mata ini akan membuatmu jelita. Anak ini akan membuat orang tak sungkan-sungkan melemparkan receh mereka. ”Anak ini akan membuat ibu siapa pun yang menatapnya. disematkannya tangan malaikat itu mulai memberiku telinga mulut dan hidung. orang-orang lebih suka cepat-cepat memberi uang recehan mereka dan bergegas pergi ketimbang berlamalama bersitatap denganku. perempuan itu langsung meraung ketika tahu anaknya tak punya mata. Tentu.” Tentu. Kemudian ditiupkan ruhku pada rahim perempuan yang akan menjadi ibuku. ”Baiklah. Aku senang sekali ketika sepasang sepasang mata yang indah. kemudian menjualku pada seseorang yang langka paling berharga. Digerogoti kusta. . Seorang anak tampak begitu idiot dengan air liur kental bacin yang terus tinggal banyak anak-anak yang bagai barang rongsokan. ia seperti menemukan barang berleleran.” Di rumah itu pengkor. mereka bergantian membisikkan nasib yang akan kujalani. ”Biarlah aku tak punya mata saja. kau akan melihat banyak rahasia. dan ia bergidik ngeri. kami akan menaruh matamu ini di surga. Kemudian ditunjukkan padaku menderita karenanya.

Semuanya berlangsung begitu cepat. betapa setiap suara punya warna yang berbedabeda. kalau kau tak punya mata?” ”Aku melihat dengan mata yang tak kau punyai. tapi petugas yang lain segera berteriak. Aku tahu ia mulai nyaman di dekatku. Sebagian pelacur telah pergi. Mobil patroli yang mendadak muncul membuat semuanya kocar-kacir. Seorang memukulku yang mencoba menolong Mawar. Tapi dengan apa kau melihat. Barangkali ia pun merasakan firasat itu. aku bisa menyentuhnya dengan tanganku. terkurung etalase toko-toko sepanjang jalan ini. meliuk merunduk. rambutnya basah tertempias hujan. Di pojokan toko. ”Biarkan! Dia cuma perempuan buta itu!” . Ia berteduh di kardus memandangi bayangan takdir paling getir. cahaya seperti lumer di sela jariku. Aku seperti mendengar lecut petir. ”Kau menyenangkan. Aku tahu menyeringai tertawa. Aku bisa melihat maneken-maneken yang berkedip. Lalu kukatakan apa yang bakal menimpanya. Ia terus tertawa. dan angin yang buruk seperti kaleng rombeng yang bergerompyangan trotoar. Mereka seperti pelacur-pelacur kesepian Sejak itu aku sering menemaninya.” Aku bisa memahami perasaannya. ketika beringas dari biasanya. Seorang pelacur cantik duduk bersama perempuan tua buta. Aku bahkan nyaris dicekiknya. Ia Aku ingat betul malam itu ia terlihat lebih sedih dan gelisah. Aku bisa melihat seekor kelabang mendekam di balik batu itu. Itulah sebabnya mereka menjadi lebih mereka barusan menenggak berbotol-botol arak sebelum sampai ke sini. Lepas 3 dini hari. tetapi tetap bersikeras tak mempercayainya. menggeliat bosan yang menunggu pelanggan dan sentuhan…” Dia tertawa. bahkan aku bisa melihat tawamu yang ungu kebiru-biruan memuai di udara. Mungkin tidak. Kau mendengar suara. Aku bisa melihat lelehan sisa arak di mulut petugas-petugas itu. Arak yang mengepungnya. tapi tak percaya. aku bisa melihatnya mengembang dan mengerut seperti gumpalan kabut.” Ia kembali tertawa. Hujan yang biru pekat membuat jalanan menggigil. yang kusaksikan membuatnya terpesona. Ia suka setiap aku menceritakan yang kulihat. Kutegaskan padanya. Aku bisa melihat kota ini seperti bola bekel raksasa Aku bisa melihat menara jam di tengah kota bergumam muram tengah malam.”Lihat. Mungkin saat itu aku berteriak. Tetapi para petugas sudah menabrak-nabrak dinding. Ia pun hendak lari. Ia bisa kehilangan pelanggan.” katanya. ”Bukannya aku tak percaya. aku rebahan di tumpukan kulihat beberapa pelacur bergegas menyingkir. kemudian yang lembek. Pandanglah ujung gang yang kelabu itu. Aku bisa melihat suara kucing yang mengeong di atap rumah ujung jalan itu. ”Lihatlah. Dunia memang tak menuduhku berdusta. Aku melihat aroma pekat kecoklatan napas mereka ketika memadamkan sepi dan membangkitkan birahi. Caramu bercerita membuatku tak tertalu kesepian. kukira memang bukan pemandangan yang menyenangkan. aku bisa melihatnya. kau pun takut menatapku.

Kusaksikan senja yang tubuh itu terayun di tiang gantungan. Setelah mayat itu digantung. Ada bercak darah di pisau itu. Peristiwa pemerkosaan itu mereka tutup-tutupi dengan pembunuhan itu. Hujan rinai . bercampur erang yang terdengar bagai muncul dari panjang. Di kantor. Di pangkalan ojek. Dan selanjutnya seorang pelanggan yang tak membayarnya. Padahal bukan aku yang dusta. Di warung dan kafe. Mayat itu lenyap dari tiang gantungan! Di pasar. Di tasnya ada beberapa butir pil dan pisau lipat—yang tengah patroli seperti biasa. bibirnya bengkak kena pukul. melenyapkan maksiat dari kota. Wajah Mawar pucat. tapi mereka. ketika Mawar menjerit. Lalu kusaksikan Mawar mendadak bangkit menyerang sambil menjerit diraihnya. Dan kalian makin merasa tenang karena kalian memang ingin membuatmu jengah karena takut dengannya suami-suami dan anak laki-laki kalian berzina. seakan ingin saat itu hari Natal. Melemparkannya ke mobil patroli. karena begitulah menurut undang-undang yang baru dicambuk dan dirajam. Aku bisa melihat semuanya dengan jelas. Memelorotkan pakaiannya dengan paksa. Ia hantam kepala seorang pemerkosanya dengan lonjoran besi yang berhasil terkapar… binatang terluka. Rupanya ia mabok berat. kalian pun bubar. Orang-orang ramai membicarakan. Membawanya pergi kemudian menyekapnya di gudang. Isak tangis muram menyelubungi gudang itu. motong delapan korbannya. Bahkan petugas bisa mengembangkan bukti. Pelacur dan pembunuh. Karena bagaimanapun seluruh kota. Ada yang lebih kudus untuk dirayakan. Di ruang tunggu rumah sakit. Kalian mesti ke gereja. mulutnya. Di kasuk-kusuk. Mawar mereka bawa dan nasihati baik-baik ketika mendadak ia ternyata dialah psikopat yang selama ini mereka cari. Itu alasan yang cukup untuk kalian tahu sebagaimana diberitakan koran-koran: dikatakan Mawar baru saja membunuh mengamuk. Segala yang cabul mesti dimusnahkah. Siapa yang membawanya? Baiklah. Sunyi yang paling hitam membenamkan penglihatanku yang penuh kepedihan. Kalian seketika merasa nyaman karena pembunuh misterius itu telah tertangkap. Ia pembunuh yang telah memotongmenyeretnya ke tiang gantungan. kuceritakan apa yang telah kusaksikan. Ia mengamuk dengan buas. Dihunjamkannya berkali-kali besi itu ke tubuh yang seekor cicak kaget menyelusup ke celah dinding. Mereka menyumpal Begitulah kejadiannya. Kuceritakan apa yang kusaksikan. tapi kalian tak pernah percaya pada saksi mata yang buta. Maka menghapus bayangan buruk. Maka kalian pun hanya diam ketika Mawar diarak ke alun-alun kota.Dan inilah yang kusaksikan malam itu: Mereka menyeret Mawar yang terus meronta. Tapi kalian tak ingin terus meneruh disesah kengerian karena malam itu aku pun menyaksikan langit kota yang dipenuhi nyanyian doa kalian. Kalian kebingungan ketika anak-anak kalian bertanya. Sebagian kalian tertunduk. memar. Sampai malam. kemudian bergiliran memperkosanya. burung gagak merah berkaokan. Pelacur-pelacur mesti disingkirkan. Begitu nyata dalam penglihatanku. Mereka selama ini kalian sahkan. dan angin yang muram berkesiur pelan membuat Keesokan harinya kalian gempar. Sampai sekarang pun kalian masih terus tidaklah mungkin mayat itu lenyap begitu saja. Mereka bilang mereka sengaja ditaruh petugas untuk menjebaknya. kemudian digantung sebagai tontonan.

2008 . Ia berjalan mendekati tiang gantungan. dan mencium lembut kaki mayat yang tergantung itu. meski sesekali Kudengar ia berseru. Ia tiba-tiba melihat seseorang muncul dari ketiadaan. Kurasakan debu-debu beterbangan diembus menyayatkan keperihan bersama debu dan dingin yang mulai membaluri kota sementara angin yang makin jekut ketika kesepian makin membentangkan kelengangan yang turun. memandangi tubuh Mawar yang sisa gema lonceng bagai melekat di udara yang makin menggigilkanku dalam kesedihan. seperti seseorang yang berjalan melintasi permukaan air. Kudengar kalian Seperti pengantin membopong mempelainya. Aku sendirian di alun-alun itu. Kulihat tangan dan kakinya berdarah. Yogyakarta. Langit seakan tiba-tiba benderang penuh cahaya masih menyanyikan doa-doa dan pujian di gereja ketika laki-laki itu membawanya pergi. seperti memanggil nama pelacur itu. Matanya seperti bintang bening. Saat itu aku melihat ribuan mawar mengapung di udara menyerbakkan harum yang megah. ketika di gereja kalian memadahkan kidung agung Natal penuh sukacita. Rambutnya ikal dan panjang. anggur lembut yang seketika bisa menghapus dahaga. Aku begitu terkesima menyaksikannya. tapi kalian menuduhku pendusta.tergantung dalam bayangan cahaya murung. aku Kalian pasti akan langsung tahu siapa dia begitu melihat wajahnya yang bersih dan indah. malam mengelabu. kemudian menurunkannya. seperti ada cahaya mengitari kepalanya. Senyumnya seperti berjalan anggun. Kulihat ia bersimpuh di bawah tiang gantungan. keemasan yang cemerlang. tampak limbung karena menahan luka di lambungnya. Kuceritakan ini pada kalian. Saat itulah.

Ada yang mau memanggil dokter. Tapi. saya berkelahi melawan Pak sadarkan diri. Pada suatu malam. Rupanya ada yang lapor polisi tentang perkelahian itu. penghuni Rumah Kita jadi rame sekali. apa pun yang terjadi. Anak-anak mengangkat tubuh saya ke atas dipan. Untung dinding rumahnya dari anyaman bambu sehingga cukup lentur. Malam itu. Serta-merta saya menubruk tubuh Pak Darkin dan kami bergumul. juga cerpen. rame makan. pemulung. Untung. Saya yang boleh dikata tak pernah berkelahi begitu saja terkapar. Ada yang memijit.Bengawan Solo Oleh : Danarto Badan saya masih meriang ketika polisi itu datang. Akhirnya Rumah Kita resmi menjadi tempat mangkal anak-anak Kemudian satu-dua anak datang dan pergi. Sayup- . kami. mereka belajar apa saja. menyanyi. sayup terdengar orang-orang sibuk menolong saya. Saya terjerembab tak mencarikan minuman panas. tindih-menindih. dan di atas dipan dengan tikar plastik itulah saya bisa beristirahat dengan nyenyak. sejak tahun 1997. anak-anak diminta membaca puisi karangannya sendiri. Ada yang sibuk Darkin memperebutkan Nining dan saya kena swing kepalan kirinya. Ketika anak-anak dibawa ke kebun untuk belajar bercocok taman itulah. Setiap minggu. pengamen. gadis kecil hitam manis tujuh tahun. karena berbagai alasan. Ibunya. Kami menyambutnya dengan sukacita. rame- gelandangan. panci. meski hanya sebagai ayah tirinya. Saya ditemani kompor minyak tanah. Nining merasa Di sepetak ruang yang merebut ruang milik pasar itulah. penghuni Rumah Kita dengan para pedagang di Pasar Kliwon. juga memasak. dan menyanyikan lagu yang itu. Semalam. beberapa guru dan mahasiswa datang secara sukarela mengajar anak-anak itu ditulisnya sendiri. esai. yang selalu membela putri kandungnya itu. membaca. Nining. Di dalam gerombolan kami itulah. pura-pura berbenah dengan perabotan dari potongan-potongan sisa-sisa kayu yang sendok garpu. Sehari-harinya saya berserakan di mana-mana. dan tidur. lelah. anak baik-baik yang tidak betah di rumah lalu mengatur mereka dengan marah-marah. telah kehilangan Nining yang digelandang Pak Darkin secara paksa kembali ke rumahnya. aman dan nyaman. Nining sering ditempeleng ketika marah Pak Darkin kumat. piring. saya tak punya kebisaan apa-apa untuk mengajar anak-anak menulis. tidak penting untuk dipersoalkan. karena peristiwa itu. ember. Polisi itu kembali ke pos ketika saya katakan bahwa kejadian semalam perkelahian biasa. sering tubuhnya dilempar sampai membentur dinding. dan sedih. teko. pengemis. Saya sebagai tukang sapu bagian kebersihan pasar merasa dituakan Sebagai tukang sapu pasar. gelas. saya hidup. dan bercocok tanam. memang milik Pak Darkin. dengan tersengal-sengal Nining menghambur ke perkumpulan Rumah Kita untuk bersembunyi. Pak Darkin memergoki Nining ada di antara anak-anak itu dan mencengkeram tangannya dan menggelandangnya.

Saya heran. Satu saat kami harus merebutnya kembali atau Malam yang tenteram tidak selamanya dapat dipertahankan. Pedagang ikan menyumbang ikan. Pagi harinya semua sumbangan itu dibagi rata untuk anak-anak. Pak Darkin paham lalu mengendorkan cekikannya. Aduh. yang sangat membantu adalah sumbangan para pedagang pasar. masak rame-rame dengan mengundang siapa saja yang mau makan bersama kami. kopi. juga minyak goreng beberapa botol. Sesampai di jalan raya. tak seorang pun anak yang Darkin duduk di samping sambil terus nyerocos yang tak jelas. Sayang sekali. bahagianya. tiba-tiba datang beberapa orang memanggul beberapa karung beras yang diperuntukkan Rumah Kita. Saya digelandang terus.” ”Sontoloyo!” Saya terbatuk-batuk. Ternyata tidak hanya beras. Anak-anak bertanya dari siapa semua sedekah itu. Saya bangun tersentak tak bisa bernapas karena dicekik Pak Darkin yang bisa mulus menyelinap ke gerombolan kami.” jawab saya. Saya tidak tahu dari mana semua sumbangan itu. saya dinaikkan ke becak. Pedagang tak pernah kehabisan. Pedagang beras menyumbang beras. Syukurlah ada anak yang bisa menyumbang dari pendapatannya mengamen atau memulung. Saya sempat kebagian sarung dan kaus oblong. telor beberapa kilo. Bumbu-bumbu dapur rasanya Di malam yang sunyi ketika anak-anak sudah tidur. bahkan digayuti utang di sejumlah warung. kami kami akan bersedih sepanjang masa. Hari itu kami anak pengamen memeriahkan pesta hari itu dengan mementil gitar dan menyanyi. Setiap habis gajian. meriahnya. Tapi. Rupanya saya dibawa ke terbangun. Aduh. Pak . gula. kaus oblong. Ia meradang. Tapi.Gaji saya yang tak seberapa harus cukup cekatan dalam berkelit menghidupi anak-anak itu. Bernapas saja sangat sulit. Tak ketinggalan banyak sekali kain sarung. teh. sayur menyumbang sayur. beberapa ekor daging ayam segar. ”Kamu sembunyikan Nining di mana!” Saya tak bisa menjawab. Sekitar 15 anak setiap hari paling tidak makan dua kali. Saya diseretnya keluar. tak ada sisa sama sekali. dan peralatan mandi. Orang-orang itu menaruhkan begitu saja karung-karung itu tanpa ada sepatah pun kata pengantar. Nining tidak bersama kami. ”Mau kamu saya bikin modar!” ”Sungguh mati saya tak tahu di mana Nining. saya bisa membantu mencarinya. Anak- sisihkan sarung dan kaus oblong untuknya.” ”Bohong!” ”Kalau memang Nining hilang. ”Saya tidak tahu.

Kiai Kintir alias Kiai Hanyut adalah kiai—tak seorang pun tahu nama aslinya—yang punya kebiasaan menghanyutkan tubuhnya di Bengawan Solo. Beliau tidak peduli atas cemoohan itu karena hidup beliau sehari-harinya sangat serius. Jika beliau mulai menghanyutkan diri di Bengawan Solo. kalian akan menangis terus- Sepanjang hayat Kiai Kintir mengasingkan diri. bahwa seandainya kalian tahu apa yang terjadi di dunia ini. Saya tak bisa bergerak. sedang untuk dirinya sendiri. Maka mengiriminya duit. tidak mengajar. Pokoknya serba tidak. Cerita lainnya adalah. Dua orang yang sigap membekuk tubuh saya. merupakan sumbangan Kiai Kintir. tidak mau diundang makan. Saya sadar. ”Dari mana kamu tahu saya di sini?” ”Kiai Kintir baru saja mengantar saya kemari. Saya sendiri pernah melihat beliau mencomot uang dari udara dan diberikannya kepada saya.” jawabnya sambil melepaskan belitan kain kafan dari tubuh saya.sebuah pekuburan yang gelap gulita. wartawan elektronik diam-diam mengambil gambarnya. semakin bertambah banyak orang-orang yang meledeknya dengan pamrih Kiai itu Bahkan yang melecehkannya dikiriminya segepok uang yang dicomotnya dari udara. pernah sejumlah terekam. membanting dan membalut dengan kain kafan. yang muncul hanya gelap gulita. beliau tidak berniat sedikit pun. tidak menerima santri. semua kiriman beras dan kebutuhan dapur yang mendorong kami bisa berpesta itu.” ”Sekarang beliau di mana?” ”Sedang bersiap-siap hanyut di Bengawan Solo.” ”Mengapa kamu di sini?” sergah saya. gawat!” Maka kami berdua bergegas ke Jurug tempat Kiai Kintir biasa memulai kegiatannya menghanyutkan tubuhnya. Tidak bergaul. Tiba-tiba: ”Pak Totok. Itulah jalan spiritualnya. tidak mau diwawancara. ketat sekali balutannya. Beliau selalu bisa membahagiakan orang. ”Kamu harus sumpah pocong!” geram Pak Darkin lalu pergi bersama kedua kawannya. ”Saya menunggu Bapak. Sejumlah warga Solo ada yang mengolok-oloknya sebagai Kiai Kenthir alias Kiai Sinting. ”Saya Nining. membujur kaku bagai jenazah. Beliau pernah menyitir sabda Kanjeng Rasul Muhammad SAW menerus sepanjang hidup kalian. itu pertanda di Solo akan terjadi sesuatu. Ternyata wajah beliau tidak .” suara seorang gadis membisik.” ”Wah.

Saya tarik Nining untuk menghindar dari bantaran bersama puluhan orang yang kacau berlarian. Tampak tubuh Kiai Kintir terseret ke tengah bengawan. 17 Maret 2008 Banjir di Pasar Kliwon. andong. cuma air yang berkilau-kilau yang tampak dengan orag-orang yang kebingungan menyelamatkan diri. Puluhan orang lainnya berlarian menyingkir dari bantaran sungai. Sejauh mata memandang. mengambang hanyut seperti mayat. Semuanya diam. telentang tenang hanyut semakin menjauh dari pendangan kami. Joyontakan . Dari jauh. Sesampai di jalan raya. diam menyaksikan tubuh Kiai Kintir yang telentang mengambang di sungai. ratusan orang dengan obor memenuhi kedua sisi bantaran Bengawan Solo Orang-orang terus bergerak mengikuti tubuh beliau yang dibalut pakaian. Ratusan orang-orang yang berada di seberang menyeberang Bengawan Solo merasakan air bengawan mulai mencium lutut. hanyut dibawa arus. bisa-bisa Hari belum panas benar ketika air Bengawan Solo mulai naik. Jika satu orang pun yang berbicara memberi komentar. begitulah kepercayaan yang menyebar yang boleh jadi cuma dibikinbikin oleh orang-orang yang suka mengolok-olok. Sampai fajar merekah. rasanya orang-orang yang menyaksikan tontonan aneh ini bertambah banyak. Mobil. Tangerang. Saya dan Nining harus waspada supaya tidak kepergok Pak Darkin yang barangkali saja ikut nonton. Satu-dua orang penonton motor. berucap.Sejak dini hari. Tak terjadi gerimis. becak ditinggalkan pemiliknya. Semanggi. Solo Baru. Kiai Kintir cukup meyakinkan sebagai perenang yang kebanyakan mampu diam telentang mengambang. Tak terdengar geledek. Tak ada seorang pun yang Kiai Kintir tenggelam. banjir sudah melahap seluruh kota Solo. Cuaca cerah dengan langit biru seperti undangan untuk keluar rumah menikmati keramaian kota.

. Begitu dekat. Saling menyentuh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bersentuhan. saya tak perlu meraba-raba. Kenangan yang memang hanya layak mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-ngacungkan telunjuknya meminta waktu untuk diingat setiap kali malam bergulir. semakin semuanya Mungkin karena itulah saya begitu membutuhkan cinta. Banyak kenangan yang begitu mudah dikais dalam ruang-ruang kegelapan. Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika butalah mata saya. Apa pun namanya saya tidak peduli. Seperti malam. di atas pembaringan tanpa kekasih yang tak akan hadir. Tak terdengar suara ponsel yang mengganggu itu berubah menjadi suara lagu. Seperti gelap. di kebutaan seperti itu. Semakin gelap semakin ramai. Saya hanya ingin melihat apa yang ingin saya lihat. SuaraTak saya sadari lagi ketika tubuhnya pelan-pelan memisah dan menjauh. Lembut mendayu-dayu. waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi di hari esok. Cinta pun membutakan. Membuat jantung mereka berdegup Tapi saya selalu merasa malam memberi ketenangan. Banyak orang yang begitu takut pada malam. hidung terasa melekat. Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia. Dari penginapan. namun dengan seketika gerhana mata bekerja. Sepanjang mata memandang. Saya hanya ingin mendengar apa yang ingin saya dengar. Dan melenguh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling mengeluarkan lenguhan. Pada gelap. semakin gelap. sang kekasih bak lentera benderang dalam kegulitaan pandangan mata saya. Sedemikian dekat sehingga aroma napas si empunya suara itu di akhirnya begitu terang terlihat. Orang-orang menamakannya cinta buta. Saya tidak perlu menutup semua tirai dan pintu serta menyumbat sela-sela terbuka yang membiarkan cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna. Sehingga saya tak pernah merasa ketakutan. kita seolah buta dan mau tak mau harus meraba-raba. Saya tidak butuh kacamata matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala.Gerhana Mata oleh: Jenar Mahesa Ayu Malam selalu memberi ketenangan. hanyalah kegelapan. Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata. Saling menatap seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling sinarnyalah saya mendapatkan siang yang kami habiskan di ranjang-ranjang pondok bertatapan. Mata saya mulai merapat. Pada sesuatu yang membuat mata lebih kencang. seperti suara-suara ponsel Di saat-saat seperti itu. Apakah benar masih ada hari esok. Tak pernah merasa tak tenang. Membuat mereka tak tenang. Membuat mereka rela menukar ketidaktenangan itu dengan harga listrik walaupun harganya semakin tinggi menjulang. Tubuh kelihatan amat samar. suara-suara begitu jelas terdengar. Namun. Hampir menyerupai pasar malam yang ingar bingar namun tanpa penerangan. Dan hanya ialah yang saya ingin lihat. Atau apakah masih perlu akan hari esok. Tak pernah ada yang berdering tak henti-hentinya.

Kenapa harus buta? Kenapa tidak menggunakan asli? Karena cinta. Namun lagi-lagi perasaan ini terasa asli. Membuat saya kerap merasa terjepit. Antara pasrah dan pasrah. Bertemu kala siang.suaranya yang sengaja dibuat lirih ketika menjawab panggilan telepon dan mengatakan Saya tetap merasakan tubuhnya melekat. Kala api rindu sudah semalaman memanggang. Dalam kebutaan saya bisa mengadakan apa pun yang Banyak yang tambah mempertanyakan. Antara lelah dan lelah. Di sanalah kami saling menjamu keinginan antara satu dengan yang satu. Dan dengan tubuh dan menggelepar atas tubuh yang menyentuh di atas seprai kusut lantas terhenti oleh lain ke dalam selimut saya akan beringsut. Bukan kala pagi atau malam hari yang terasa amat panjang dalam penantian dan rindu yang mengimpit. Kenapa saya bertemu hanya kala siang? Kenapa tidak pagi saya inginkan. Saya jatuh cinta. saya bilang. Kalimat di bungkus kondom “ASLI. SERATUS PERSEN ANTI BOCOR” yang kami robek sebelum bercinta pun asli. Dalam cinta saya bisa merasakan segala sesuatunya asli. selalu merasa tak pernah cukup dan ingin mengulanginya kembali. pun di dunia ini yang berarti kecuali saya. mungkin tak akan seperti ini saya tak berdaya. Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa dari saya. Semakin dalam ke muara cinta tubuh ini tercebur. Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat terindah untuk sekarat. Suara yang semakin lama semakin serak. Tak terkecuali pagi. Dan dalam bayang-bayang itulah kami betemu Banyak yang mempertanyakan. Mungkin malam akan membuat saya takut. Membuat saya Saya tahu. Kadang saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang dari orang-orang. Segala garis maupun dan bersatu. Hangat kulitnya yang tak berjarak. melihat matanya sedang menatap. Mata saya pun semakin buta. Harus mengerti statusnya sebagai laki-laki beristri. saya akan bisa mengulanginya lagi. Saya terjebak dan berputar-putar pada dua pilihan yang sama. mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli. Tapi dengan satu konsekuensi. Karena tidak mungkin sesuatu yang asli lahir dari yang tak asli. melainkan asli. Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih penting Kami hanya bertemu kala siang. Kala siang dengan durasi waktu yang amat sempit. atau malam? Karena buta. Walaupun kami hanya bertemu kala siang. Andai saja saya bisa mendepak cinta dan menghadirkan logika. Kenapa harus menciptakan buta yang tak Terus terang. Kala segala garis maupun lekukan amat nyata terlihat dengan mata telanjang. atau Jantung keras berdetak. walaupun di kala pagi dan malam yang tak asli. Semakin kabur. Saya masih kalau ia sedang tidak ingin diganggu dengan alasan penyakit lambungnya tengah kambuh. datang dari diri saya sendiri. Mungkin suara-suara yang kerap menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. Dicengkeram gerhana. saya tidak pernah dapat memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan itu asli. Bunyi ranjang berderak. adalah asli. bukan kala pagi atau malam hari. lekukan itu selalu diikuti bayang-bayang. Juga tak akan ada siang di mana saya meradang . Sehingga saya pun tak dapat memastikan apakah jawaban saya kala pagi dan malam yang tak asli. Tak terkecuali malam. Gerakan tubuhnya yang sebentar menarik sebentar menghentak. saya bilang.

2 Oktober 2006 11:06 AM cincin dengan namanya terukir. Tak menunggu kala atau malam. Jakarta. Mungkin… pagi dan malam. Sejak kemarin. Tak bertemu hanya kala siang.mempersatukan tubuh kami jadi menciut. Bukan kala pagi Enam tahun sudah waktu bergulir. karena cinta telah membutakan kami berdua. di jari manis kanan saya telah melingkar Di atas pembaringan tanpa suami yang tetap tak akan hadir. Dan kami bisa tinggal dalam satu dunia yang sama. Mungkin… dering panggilan ponsel yang membuat satu-satunya fungsi pada tubuhnya yang Mungkin satu saat nanti ia akan mengalami gerhana mata seperti saya. Tak ada jawaban karena cinta membutakan saya. Dalam kegelapan malam kedua mata ini menumpahkan air. Tak ada pertanyaan mengapa hanya bertemu kala siang. . Diganti dengan jawaban.

yang seksi bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi delayed selama sejam. Dua minggu yang lampau anak bungsunya. Nana melihat Dara. lebih baik kita naik kereta saja. “Mbak.” Nana terenyak. Alvin. Sebelum terjawab. jam berapa datangnya? Dari tadi. “Datanglah bersama Dara. setiap keputusan hanya ada pada saya. Rizal kan cuma teman. kelas dua SMA dan hamilnya dengan teman sekelasnya. “Dik. memesan jus jeruk dan beberapa makanan kecil. Seperti dua “Ma. mudah-mudahan volume pekerjaan Kedua perempuan ini bersitatap. menikah! Mendahului anak sulungnya. “Ma. positif hamil.” sampeyan kok belum datang. saya sepertinya sudah dapat firasat. Setelah itu. Padahal. Beberapa hari yang lampau. Tantiana menangis terus. Tantiana mencoba bunuh diri dengan menyilet pergelangan nadinya.” Dara yang sedang belajar menjadi psikiater mengangguk-anggukkan kepala. waktu ke toko buku. Mungkin anak itu harus kita konsultasikan ke psikiater. kalian berdua kan dokter. Jadi. Nana menganggap mingguminggu ini buat dia dan keluarga besarnya sangat menyedihkan! Tiga hari yang lampau. Sesungguhnya. yang minggu kemarin merayakan ulang Mereka bertemu di bandara ini dan seorang perempuan mengumumkan dengan suaranya sahabat. Aku lebih suka menggugurkan anak Tantiana daripada menikahkannya!” Nana mengembuskan nafasnya. adik bungsunya sambil menangis mengatakan. Mereka mencari sebuah restoran. sekalipun berprofesi dokter. “Kalau tahu begini. dia menyayangi Rizal dan berharap suatu kali dia bisa panjenengan bulan ini tidak padat sehingga panjenengan bisa menikahkan anak kita dengan Rizal!” berkata kepada adik almarhum suaminya. anaknya. Nana dan Dara keluar dari kerumunan orang yang mengamuk. “Tante dan Om-mu. Tantiana bisa balik sekolah dan meneruskan kehidupan remajanya. sekarang ada di rumah sakit.Delayed Ratna Indraswari Ibrahim Sebagai seorang perempuan. dia baru berusia 17 tahun. Sudah beberapa hari ini dia tidak mau makan. “Apakah kau sudah merundingkan hal itu dengan Rizal?” “Ma. Aku bosan . saya sedang berpikir untuk mengadopsi anak Tantiana setelah dia melahirkan. saya membeli buku nama-nama calon bayi.” Nana mengatupkan bibirnya. adik bungsunya menelepon HP-nya. Tantiana. tahun). Aditya (25 tahun ke-30.” Nana merasa terkunci. Nana menunggu!” meneruskan omongannya. Dara. Adiknya berkata.

” “Aku berharap cucu darimu dan anak Tantiana menjadi anak sulung dari anak-anakmu. kau tidak peduli pada mereka. banyak temanmu yang sudah bersitegang karena banyaknya tamu laki-laki yang datang ke rumah kita. sebetulnya mereka dua jagat yang berbeda dan tidak pernah bisa bertemu. saya perempuan yang berat jodoh.” Dara. Kau kelihatannya cuma akrab dengan Didit (sahabat sejak SMA). Dokter Rizal juga lelaki yang baik. dia tetap mamanya! Atau apakah Dara menjadi miliknya hanya kala dia gadis kecil yang belum pandai memasang pita rambutnya dan merengek-rengek untuk meminta sesuatu. Sesungguhnya. Padahal. aku dan ayahmu sudah sering kami heran juga.Dara tersenyum. Pastinya mereka menganggap “Maaf. “Ma. Sekalipun. sedangkan Dara mungkin sedang sibuk di rumah sakit atau sedang makan-makan bersama temannya. Bisik-bisik di luar tentang saya memang buruk. kau lagi ingin serius dan sendiri saja. Teman-temanmu di Fakultas Dara memutuskan lamunannya. kata kuncinya cuma satu. Sekalipun Nana merasa. Nana pada usianya ini tidur lebih cepat. aku kepingin jujur kepadamu. memegang tangan mamanya. di cermin saya tahu tidak jelek-jelek amat. saya waktu itu cuma berpura-pura tidak tahu kalau Mama dan keluarga besar kita “Dara. mereka sekurang-kurangnya pernah membicarakan lelaki atau jalan bareng. Kedokteran juga serius. Kendati mereka masih tinggal serumah. Itu berlanjut sampai kau menjadi mahasiswa. Padahal. Tapi. sekarang mereka sama-sama punya waktu luang dan duduk semeja. kau menikah. berapa pun umur Dara. kau kelihatannya hanya serius dengan pelajaranmu. Apakah yang dihadapannya ini cuma teman seprofesi yang kebetulan serumah? Dan. Nana seharusnya berkata begini. Kami tidak merisaukan hal itu. Siapa pun tahu. Rasanya mereka memang dua perempuan yang beda dalam menjalani kehidupan sosialnya. Yang terjadi di luar mimpi kami.” Mereka saling melihat. Aku dan ayahmu pernah adikmu yang menikah pada usia itu!” dengan siapa yang kau suka. barangkali ini karunia yang tersembunyi (blessing in disguise). tetangga sebelah rumah (15 tahun) mengajaknya bersibadan ketika dia . Dara tahu dia tidak bisa mengatakan ini. tapi kemudian Nana berpikir. “Waktu kau beranjak remaja. dia menyukaimu. aku berharap di tahun baru menurut kalender Jawa kau menikah dua tahun darimu. Didit tidak meneruskan sekolahnya. sejak lulus SMA. jarang bisa ngobrol. “Ma. dia lebih muda membayangkan kau akan menikah pada usia 25 tahun. Mulai sejak itu. Padahal. Dia menikah dan memiliki dua anak yang kau cintai.” sedih sekali. Tapi. saya tidak bisa janjikan itu. “Setelah Aditya menikah. apa pun pendapat masyarakat. Mereka juga menuduh saya punya kelainan psikologis. beri aku dukungan untuk meyakinkan Tante agar anak Tantiana bisa saya adopsi. kemudian mulai pacaran.” Dara tidak menjawab dan Nana merasa harus mengatakan hal ini.” Apalagi. aku diliputi perasaan gelisah. Apalagi.

harus berempati saja. “Saya kira kau bisa menyimpannya untuk dirimu sendiri. adik bungsunya menangis di telepon dan mengatakan begini. saya kira saya tidak usah bercerita panjang karena tetangga sebelah rumah sudah merusaknya. Rizal sudah membantunya dan barangkali Rizal sudah mulai jenuh. terapi ini tidak berkelanjutan. kami pasti datang dan langsung ke rumah sakit. kok dari tadi diam saja? Tanyakan ke bagian informasi. dia menikmati apa yang awalnya dipaksakan kepadanya.” Dara merasa tak berdaya. Semuanya memang harus diselesaikan. “Tantiana menangis terus dan menjerit-jerit. seperti semua dokter. Dia merasa jijik! Namun. “Ma. ini bukan sekadar erotis! Di antara dua kekasih. sekadar dokter dengan pasien. hubungan Rizal dan Dara bukan jatuh pada erotisme saja. tapi betul-betul sebuah empirisme yang harus dia lakukan. Dara tidak mau terapi ini Sesungguhnya. untuk menguatkan satu dengan lainnya. pesawatku delayed. Lantas.” Dara berbicara lagi. ketika mencoba bercinta dengan Rizal. Jadi tidak bisa ditunggu jam berapa kami sampai. aku sudah siap untuk semua yang terburuk. . kau harusnya sudah tahu bahwa butuh kemauan keras darimu untuk sembuh. Itu yang sering diucapkan Kali ini mama yang memotong pikirannya. bukan bersimpati. banyak hal yang dipikirkan.” “Ma. Jadi. Tapi.” Kedua perempuan itu saling berpegangan erat dan mencoba tersenyum. “Dara. memang yang harus Rizal ketika dia merasa tidak bisa melanjutkan terapi ini. “Sebagai seorang dokter. tapi dua orang yang sangat dekat. mereka merasa menggampangkan jika mencari solusinya dengan kawin siri. Pastinya. Padahal. Nana memegang tangan anak perempuannya. Sesungguhnya untuk melakukan hal ini.” “Mama kan tahu. dilakukan oleh mamanya adalah berempati. dibicarakan oleh mereka berdua. kalau kau mau cerita. karyawan penerbangan itu pasti tidak ada di tempat.” Kemudian ada dering telepon lagi. Karena. Semuanya berpulang pada dirinya sendiri.baru saja berusia 13 tahun. mereka sepakat menerapi problem trauma dari Dara. Sehingga Rizal berkata. Tapi setelah dewasa. tapi tidak tahu saya harus mulai dari mana?” Kedua perempuan itu saling melihat. Sampai hari ini. saya sebetulnya ingin bercerita banyak sekali. Dia tidak pernah ingin membicarakan ini dengan mama. sekalipun mamanya juga dokter. Sebagai seorang dokter. Sekalipun. Rizal. akan sulit bagi mama untuk menerima berita ini karena dia bukan hanya seorang pasien saja di mata mama. kalau sudah begini. dia tak berhasil.” “Dik panggillah dokter. pada persekian menit. dia merasa tidak lebih seperti boneka seks. mata mereka seperti sebuah lorong yang gelap dan jauh sekali.

Nana. dihadiri Rizal dan mamanya. Lantas Rizal menggandeng Dara ke ruangan lain. ketika anak Tantiana berusia satu tahun. Percayalah. kapan menjadi dokter Tiba-tiba ada perasaan lelah ketika Dara selesai membicarakan itu dengan Rizal. Bantulah aku!” Rizal dan Dara bersitatap. Karena untuk kesembuhan ini. Tidak ada air mata. Bahasa simbol itu artinya. “Aku akan belajar kapan aku jadi suamimu dan kapan aku jadi doktermu. Teman-teman anaknya berteriak-teriak. Kalau tidak. apakah kau sudah melakukan terapinya dan belum berhasil?” lama. Jadi. “Dik.” Tantiana menangis. 10 Juni 2008 . Beberapa bulan kemudian. aku tak akan pernah bertanya lagi. Di luar dugaan.” kesakitan. “Zal. aku sudah mencurigai hal itu sejak gadis… Nduk. dia pulang ke Malang untuk meneruskan sekolah. Dara yang menyandarkan diri di bahu mamanya. senyum ada di antara Dara.” Lantas. aku kepingin anakku ini punya dua adik. Rizal. lahir anak Tantiana. belahan hati suami dan istri. Dara merayakan bersama anak temansiapa ya yang mau jadi bapaknya?” temannya. Tantiana sedikit tenang. kau harus sekolah lagi dan pulang ke Malang. “Aku akan menjadi nenek dari lima cucu. jadi di mataku kau tetap seorang Kali ini. saya kira ada kalimat Jawa tentang suami-istri. tetapi terasa ada pengertian yang lebih baik di antara kedua perempuan itu. aku memaknainya lebih jauh. cepat tiup lilinnya dan potong kuenya!” Malang. ketika Nana berkata.“Sayang. Aku cuma ingin cerita itu bukan sebenar-benarnya. tiga darimu dan dua dari Aditya. yang ada cuma luka dan dan pasien dan kapan menjadi suami-istri. Enam bulan setelah kelahiran anak Tantiana. Setelah anakmu lahir. Ketika memasuki ruangan ini. Nana memeluk Dara. “Kamu boleh ikut Budhe Nana atau Mbak Dara. butuh proses yang panjang. Yaitu garwo (sigare nyawa). dan melebar di ruangan ini. jadi kita bisa membagi. biarlah jadi anaknya Mbak Dara. Aku yakin kau bisa memahami itu. tidak bisa diperbaiki. Kami tidak menganggap itu dosa yang Dan. Sedangkan anakmu. Rizal tersenyum dan memeluknya. “Apakah sudah siap memulai lagi dengan pernikahan?” “Zal. bersibadan itu artinya dua jiwa lebur jadi satu.

Rumah kedua gadis itu yang berubah. Embun basahi sepatu sekolah. meski sama-sama biru. sungai itu. Dahan dan batangnya dari besi tempa. kabut berebut kecup pipi mereka. tiap tahun. Gairah sungai hanya tersirat dari kilau berlian di riak air di antara bebatuan. Rumah tak lagi setengah bilik. “caah caah caah!” September. Tak ada yang beda. raut pinggul gadis-gadis menari. Hujan malas berkunjung. bila langit sedang bahagia. Pagar tak lagi pohon teh-tehan. dua setengah kilometer dari kunang-kunang masih bermain di sela langkah. Abah tergolek lemah di dipan ruang tengah. Itu pun bila awan sudah terlalu letih menggendong air. jalan raya Tatkala cahaya pagi menyentuh bumi. Bertahun-tahun selalu begitu. Namun ia tetap berusaha tersenyum. sungai itu juga bisa mendidih. Ada fotonya. orang-orang di atas jembatan akan berteriak. berkerlip menyilaukan. pegunungan ikut merona. Lantai semen sudah ditambal keramik. Sangat pagi. menggerus apa saja. meski warnanya juga hijau. apalagi waktu seekor uncuwing. Air yang dicurahkan langit sudah pasti akan susuri jembatan yang sama. Sungai itu selalu mengalun perlahan. Beberapa kali ada penduduk hanyut. Arum paling senang saat melintas di atas jembatan. Warnanya lebih tua dari langit.Siit Uncuwing Rieke Diah Pitaloka Setiap pagi. Trotoar menjepit kiri kanan jalan. Bayang hitam di bawah mata menggurat keletihan di wajah. Surat terakhir dikirim empat bulan lalu. sungai-sungai keperakan. Itu bisa terjadi meski di siang terik. Tak ada lagi berita dari Nining. setiap hari jalan itu dilewati Arum dan Nining. Bahkan saat Arum dan Nining tak lagi melintas di diganti tembok. Orang-orang menyebutnya siit . Ada jembatan di atasnya. rumah. diganti genting Jatiwangi. Sebab air tanpa beri tanda bergulung-gulung dari arah hulu. Tak ada yang berubah dari kota kecil itu. langit kadang biru. tempa. kadang kelabu. semua berisik dan bocor kala hujan. halaman depan. Waktu membuka pintu. lebih kurus dibanding saat ia tinggalkan rumah. Kepergian Nining memang mengubah banyak hal. Pada bulan yang sama. air mengalir tenang meski dicumbu fajar. Tapi semua orang tahu. Satu dua Seperti air sungai yang membelah kota kecil itu. Sudah seminggu tak mampu bangun. Tiap pagi mereka berangkat sekolah berjalan kaki. burung berkicau di pucuk daun kersen. Tapi lagi-lagi terbuat dari besi Masih terpatri dalam ingatan Arum peristiwa yang menuntun Nining tinggalkan rumah. Dulu. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rerimbun hijau bagai pinggang dan tepatnya. kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. Saat matahari menggeliat. Ada resah menggayut di tiap hati penghuninya. Untuk balikkan badan pun harus dibantu ambu. Paling seminggu sekali. Cat tak lagi kusam. Kalau sudah begitu orangorang di tepi sungai. Seng yang dulu Memang masih ada sedikit daun-daun yang lingkari pagar. Di bawah. akarnya direnggut lalu diganti pondasi beton. Saat itu seisi rumah ketakutan.

Sebab siit uncuwing pergi Enin dan Ambu berhari-hari. siit uncuwing menikam rumpun bambu di ujung jalan.Suara siit uncuwing terus menggigit hati siapa saja yang mendengar. Lompat dari satu dahan ke dahan lain. tapi karena sakit. panik. Lepas magrib sambil membawa abah. Maka perempuan tua itu sibuk kibas-kibaskan sapu lidi. burung itu menjauh dengan senyap. tetap salahkan siit uncuwing atas duka yang menancap di hati mereka.” Ambu di pintu dapur usap sebulir bening yang meluncur dari sudut mata. uang. Dibisikkan saat para pelayat satu-satu tinggalkan rumah. . walau sekadar untuk membayar Mantri Abas. ka sabrang ka Palembang! Saguru saelmu teu meunang ganggu!” Tetap saja burung itu tak mau pergi. cepat sehat. Enin peluk buah hatinya dengan haru. Ada seurai doa di sudut bibir Ambu dalam lengkung yang mendamaikan Arum dan Nining. “Sieuh. Berputar-putar mengelilingi atap rumah. Menjerit memanggil kematian. Ia hanya katakan pada Arum. Tak akan berhenti sampai kematian menyusup ke setiap liang angin. Mula-mula hinggap di pohon arumanis tetangga sebelah. halig siah. Baginya penyebab kematian Abah bukan siit uncuwing. Waktu melihat Ambu dengan sapu lidinya. Nining! Bantu Enin. Menyusup ke setiap inci pori-pori kusen jendela dan pintu. terutama Nining. Komar. “Komar. pergi!” Kali ini Enin melempari dengan kerikil. Tapi. Naik sana ke pohon kersen!” perintah Ambu. “Arum. “Belum waktunya anakku kau jemput. pergi sana. sieuh. tapi tak diobati. Tak menapak di mana pun. bahkan hingga tahlil seribu hari. Ia terbang menuju lembayung. Lalu sorenya siit uncuwing kembali. Siit uncuwing pembawa kabar duka. Sieuh. Sebetulnya Arum dan Nining tak sependapat dengan dua perempuan itu. Pendapat itu tentu tak disampaikan Nining pada Enin dan Ambu. Siit uncuwing kepakkan sayap sedetik sebelum Nining menyambarnya. sieuh. Tapi tangis ledakkan rumah. tiga hari kemudian siit uncuwing datang lagi. Malah tampak riang. Mantri yang menerima bayaran sukarela. Tak diobati karena mereka tak punya Sekadar sukarela pun mereka tak sanggup. esoknya Abah mulai bisa duduk. begitu kepercayaan Enin. Entah kebetulan atau bukan. Sakit.

“Teteh sakit hati, Rum. Kita musti bisa berubah.” Kata-katanya pelan sentuh telinga, namun tegas sebagai janji. Pasti. Arum percaya Nining. Tapi Enin tidak sepakat, terlebih Ambu. “Jangan pergi, anaking. Apa kamu lupa banyak yang tak bisa pulang? Kalaupun pulang tanpa daksa. Malah ada yang sudah tak bernyawa.”

“Geulis,” Enin menambahkan sambil mengunyah sirih dan pinang, “biar susah lebih enak di kampung sorangan. Geulis, incu enin, cari kerja di sini saja. Jadi buruh tani, atau melamar ke pabrik dodol di Ciledug, ke pabrik tenun dekat kerkhoff, atau ke pabrik coklat jalan Cimanuk, atau jadi pelayan toko di Pengkolan.”

Nining tahu, kerja dengan ijazah SMP dan rapor sampai kelas satu SMA tak akan berarti. Gaji yang diterima hanya akan cukup untuk makan sebulan. Itu juga belum tentu cukup.

Sepuluh hari Nining baru bisa yakinkan Enin dan Ambu. Bahkan Ambu rela menjual sawah ongkos ke Bandung. peninggalan Abah untuk membayar penyalur dan surat-surat keberangkatan, sekaligus

Lima bulan pertama Nining tak terima gaji. Katanya harus diserahkan pada agen sebagai ganti biaya perjalanan. Tengah tahun baru bisa kirim uang. Tahun kedua Nining pulang untuk renovasi rumah dan membeli tiga petak sawah. Pengganti sawah Abah, katanya. Tiga rumah.

bulan kemudian berangkat lagi setelah membantu Ambu buka warung sembako di samping

“Teteh jangan pergi lagi, teh. Apa lagi yang teteh cari?” “Teteh pengin kamu jadi dokteranda, Rum. Biar teteh yang cari duit, pokoknya kamu belajar yang rajin.”

“Mendingan Arum cuma tamat SMA daripada teteh pergi lagi.” Entah mengapa kali ini Arum yang tak setuju Nining pergi. Tapi lagi-lagi tak ada yang bisa menahan tekad itu.

Selama setahun, sebulan sekali Nining masih rajin beri kabar. Begitu pula dengan kiriman tak ada kabar berita darinya. Awal Mei.

uang. Tapi tahun berikutnya bukan hanya uang yang tak dikirim. Yang lebih mencemaskan

Ambu.

Sepucuk surat tiba di beranda. Arum membaca keras-keras supaya bisa didengar Enin dan

“Arum, bilang sama Enin dan Ambu, Insya Allah September teteh pulang. Teteh maunya bisa Doakan teteh supaya bisa pulang.” munggah sama-sama. Teteh mau lebaran di rumah. Teteh kangen sama kalian bertiga.

sampai Arum hafal isinya.

Itu kabar terakhir yang mereka terima. Surat terakhir. Lecek. Sebab dibaca berulang-ulang,

September berjingkat tinggalkan kalender. Oktober siap menyambut. Tapi tetap hambar. Huruf seakan mati tak tergores dalam secuil kertas sekalipun. Arum sudah mencoba akan kami beri tahu, kalau sudah tahu keberadaannya. Kalau sudah tahu!” hubungi agen yang berangkatkan Nining. Petugas yang menemui hanya menjawab, “Nanti

Hanya itu yang bisa jadi pengharapan. Surat Arum untuk Nining tak pernah berbalas. Tak menggerus perasaan. Apalagi sejak dua hari terakhir Ramadhan siit uncuwing kembali menjejak pucuk kersen di halaman depan.

ada alamat lain yang bisa ditelusuri. Khawatir menusuk kepala. Cemas menjadi bola besar,

“Awas, indit, ka ditu, ka ditu, sieuh, sieuh!” Ambu tergopoh, Enin menyusul di belakangnya. “Ka sabrang ka Palembang, sieuh, sieuh!” teriak keduanya bersahutan. “Ka sabrang ka Palembang, saguru saelmu teu meunang ganggu!” Kali ini Arum langsung memanjat pohon kersen, tanpa tunggu perintah Ambu. Ketika siit

uncuwing terbang, Arum setengah melompat turun dari pohon. Tak sekejap mata ia biarkan pandangan lepas dari burung itu. Arum mengejarnya, berlari. Tanpa sadar Arum sudah jauh itu. Terus mengejar, bahkan ketika burung itu terbang di atas jalan setapak di pinggir jembatan. Menuju sungai. tinggalkan rumah. Berlari menuju jembatan di atas sungai, sungai yang membelah kota kecil

Ya, siit uncuwing menuju sungai. Burung itu hinggap di batu besar di tengah sungai. Arum mengendap. Tinggal sejengkal dari siit uncuwing ketika orang-orang di atas jembatan berteriak, “caah!” Caah!Caah!”

Arum lompat berusaha menangkap siit uncuwing. Namun badannya limbung. Semua buram. kekuatan, “Arum, ka dieu, ulurkan tanganmu.”

Sesak menghimpit dada. Arum hampir tak mampu bertahan saat sayup seiris suara memberi

Arum terkejut. Arum tahu pasti, itu suara Nining. Seolah mendapat tenaga, Arum berenang ke arah bayangan di tepi sungai. “Hayu pulang, geulis.” Sekali lagi Arum mendengar suara Nining. Arum berhasil genggam tangan Nining, dan semua jadi gelap.

“Teteh, teteh!” teriak Arum saat pertama kali membuka mata.

Tapi Nining tak ada, padahal Arum yakin Nining yang menolongnya. Nining yang memapah mengantar pulang. Arum terobos setiap ruang di rumah itu. Tetap saja, Nining tak ada. Hanya ada Anin dan Ambu yang sedang menangis. Arum lari ke luar. Di langit ada bulan sepotong. Di langit ada tiga belas siit uncuwing tanpa suara membawa bingkisan dari negeri berpasir: sekotak peti mati. Di dalamnya ada perempuan dengan bayang hitam di bawah mata dan lebam di sekujur tubuh. Tetap berusaha tersenyum. Di surau-surau takbir pertama berkumandang… Depok, 160907

Rieke Diah Pitaloka ( 21 Oktober 2007)

Tinggal Ibu kini di ruang keluarga itu. deringnya sudah berhenti. Ibu tersentak bangun dan langsung menyambar telepon. jendela. melihat ke kursi tempat Bapak biasanya duduk. kalau memang tidak pernah kulihat sesuatu yang membuktikan betapa Satria tidak akan kembali… Apa punya… salahnya punya harapan… Hidup begitu singkat. rasanya semakin peduli dia kepada rumah ini. ’tapi cinta adalah soal kata hati. nanti tidak ada tempat untuk hati lagi…’ Ah. saya tidak bisa’. Ketika disambarnya pula. ’Saya selalu teringat Satria. Lantas melihat ke sekeliling. Semenjak Bapak meninggal setahun yang lalu. ’Orang hilang diculik kok tidak mendapat sama siapapun. Rambut. Harapan bahwa pada suatu hari Satria pasti pulang kembali… Berharap dan menunggu.’ kataku. Ibu. Ibu Saleha. Aku waktu itu masih percaya Satria suatu hari akan kembali… Kenapa harus tidak percaya. Seperti ini juga keadaannya. Tapi Bapak memaksa aku untuk percaya bahwa Satria sudah pergi. Bapak suka sinis sama Ibu Saleha. Dulu almarhum tidak bisa terus menerus menunggu Satria. Telepon berdering. ”Bapak… Kursi itu. lukisan itu.’ kata Bapak. Sekarang apapun yang terjadi dengan Saras dibicarakannya sama aku. karena kalau terlalu banyak alasan dan perhitungan dalam percintaan. memang rasanya ia seperti anakku juga. kok semuanya mengingatkan kembali kepada Bapak. masih terkulai seperti sepuluh tahun yang lalu. Diangkatnya ke telinga. televisi. membantu aku membereskan kamar Satria. perabotan. dan duduk lagi di situ. Berharap dan menunggu. buku. ruang dan waktu yang seperti ini. seperti tahu betul rasa kehilanganku setelah ditinggal Bapak…” Ibu sudah sampai ke kursi tempatnya duduk tadi. Kenyataannya selama sepuluh tahun Saras tidak pernah bisa pacaran ”Tapi inilah soal yang pernah kubicarakan sama Si Saras. Ternyata yang berbunyi telepon genggam. karena seperti memberi tanda kalau Saras itu tentunya simpati. dan busananya bagai menunjuk keberadaan waktu. bahkan aku masih ingat juga pakai daster ini ketika kami berbicara tentang hilangnya Satria.Ibu yang Anaknya Diculik Itu Seno Gumira Ajidarma cangkir teh.’ katanya!” Berharap dan menunggu. dan lain-lain masih seperti dulu—tetapi waktu telah berlalu sepuluh tahun. telepon. Ibu bergumam. apa jadinya kalau harapan saja kita tidak ”Jadi dalam setahun itu harapanlah yang membuatku bertahan hidup. sehingga kamu selalu terlibat urusan orang-orang hilang ini. Waktu itu sudah setahun Satria tidak kembali. Saras. ruangan ini. dan kami masih seperti orang menunggu. Saras. seperti Saras itu punya dua ibu. ’Kuhargai cintamu yang besar kepada Satria. Ia menggigit bibir. wajah.” katanya. ”Hmmh. Pintu. Ibu terdiam. ibunya Saras yang dulu jadi pacar Satria. meja itu. Ibu terkulai di kursi seperti orang mati. ’Satria sudah mati. berusaha sangat amat keras untuk menahan tangis. .

Bapak sudah mati. sekarang untuk kalian berdua. aku masih mati. Pak. setiap waktu makan lagi di muka bumi ini. orang-orang yang menculiknya itu menggelar foto- foto saudara-saudaranya. Ini apa maksudnya Pak? Supaya teman Satria itu tidak boleh boleh kita terima begitu saja?” bercerita tentang perbuatan mereka? Teror kelas kambing maksudnya? Apakah ini semua Saat Ibu menghela nafas.’ katamu. dengan begitu nyata seolah-olah kalian tidak pernah . tetapi kalau terbangun. hanya untuk menyambungnya dengan suara bergetar. suatu hari salah seorang yang waktu itu mengancam terlihat sedang memandangi dirinya waktu dia baru naik bis kota. kenapa kamu hancurkan semua harapanku? ’Kita harus menerima kenyataan. Apa Bapak dan Satria tertawa-tawa di atas sana melihat aku membereskan kamar Satria.” Ibu memandang ke arah kursi Bapak. Satria sudah mati. Nanti dulu. ruangan itu bagaikan mendadak sunyi. ”Sudah sepuluh tahun. kenangan. ”Kadang-kadang aku bermimpi tentang kalian berdua. ”Pak. ada teman Satria yang dibebaskan bercerita: Sebelum dilepas foto di atas meja. tutup matanya dibuka. Jiwa terasa memberat. Aku terima Satria sudah mati sekarang.’ Tapi aku tidak terima kalau Satria itu boleh diculik. Sebuah kursi kayu dengan bantalan jalinan rotan.”Tidak! Aku tidak mau percaya itu! Meski dalam hatiku sudah terlalu sering kuingkari diriku. Di hadapannya. juga terkenang-kenang kalian berdua.” Perempuan dengan rambut kelabu itu tampak kuat kembali. bahwa kemungkinan besar Satria mestinya sudah mati. ”Bapak sendiri yang bilang. Foto orangtuanya. ’Kami tahu siapa saja keluarga ”Huh! Saudara! Mana mungkin manusia bersaudara dengan monyet-monyet! Apalagi maksudnya kalau bukan mengancam kan? Bapak bilang teman Satria ini juga bercerita. Munir juga sudah mati. Saudara. Bapak. Memang aku tahu Bapak dan Satria tidak ada hatiku? Apakah kalian berdua selalu menertawakan aku dan menganggapku konyol kalau Sejenak Ibu terdiam. ”Apa Bapak ketemu sama Satria di sana? Enak bener Bapak ya? Meninggalkan aku sunyi sendiri di sini. tapi tubuh serasa melayang-layang…” Lantas nada ucapannya berubah sama sekali. padahal aku selalu makan sendirian saja. menata gelas dan piring. seperti Ibu berada di dunia yang lain. Itulah foto-foto keluarga teman Satria yang diculik. kenyataan sehari-hari tidak bisa kupisahkan lagi. Jalinan yang sudah lepas dan ujungnya menceruat di sana-sini. dianiaya. dan akhirnya dibunuh.” Dipandangnya kursi Bapak lagi. Impian. tapi apa salahnya aku menganggap kalian berdua ada di dalam berpikiran seperti itu?” tiba. Menerima? Menerima? Baik. Lantas orang-orang itu berkata.

Apakah setiap orang harus kehilangan anggota keluarganya sendiri lebih dulu supaya bisa sama marahnya seperti aku?” Hanya Ibu sendiri di ruangan itu. jika kemarahanku belum juga hilang atas perilaku kurangajar semacam itu.” Nada bicaranya menjadi dingin. Memang akalku tidak bisa berpikir lain sekarang. Seperti masih ada yang disebutnya Bapak di kursi itu. ke langit. meski setiap kali tersadar tubuh yang melayang terjerembab. o palung-palung luka setiap jiwa. bukankah ratusan ribu orang juga hilang seketika?” . seperti palung terpanjang dan membara. dan aku masih tidak tahu apa-apa. luka sayatan yang panjang dan dalam. membara dan menyala-nyala. Tetapi Ibu mana yang kehilangan anak tanpa kejelasan bisa tenang perasaanku bisa membuatku yakin. tetapi Ibu bagaikan merasa banyak orang menontonnya. menutupi wajahnya. jauh. ”Ah! Ya ampun! Jauhkan aku dari dendam!” Namun ia segera melepaskan tangannya. ”Menculik anak orang dan membunuhnya. bagaimana mungkin aku merasa perlu melupakan semuanya. ”Tapi apa iya aku sendiri? Apa iya aku masih harus merasa sendiri jika begitu banyak orang yang juga kehilangan? Waktu itu. meski semakin disadarinya betapa ia sungguh-sungguh sendiri. memegang kepalanya. tempat seolah-olah ada seseorang ”Pak. ”Tapi…. ya waktu yang seperti takpernah dan takperlu berlalu itu. jika Satria pada suatu hari memang hilang begitu saja? diajaknya bicara. bahwa Satria dan bahagia hanya dengan akalnya. bagaikan jiwa dan tubuh telah terpisah. Mencoba menjawab sendiri. berbisik tertahan. Bapak. karena kusaksikan bagaimana dia dengan tenang meninggalkan dunia yang fana. mengembara dalam kekelaman semesta. tanpa membawa-bawa perasaannya? Bagaimana Ya.”…. menyatu dengan jiwa terluka. begitu saja… Bahkan orang mati saja masih bisa kita lihat jenazahnya!” tentu sudah tidak ada. apakah Bapak melihat Satria di sana Pak? Apakah Bapak ketemu Satria? Apa cerita dia kepada Bapak? Apakah sekarang Bapak sudah tahu semuanya? Apakah Bapak sekarang sudah mendapat jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan kita?” Namun Ibu segera menoleh ke arah lain. jauh. tetapi aku tidak bisa mendapatkan keyakinan yang sama jika teringat kepada Satria. Lantas bertanya-tanya lagi. palung tanpa dasar yang dalam kekelamannya Ibu mendadak berhenti bicara. Hanya bertanya jawab dengan Bapak. ”Bapak… aku yakin dia ada di sana. Dulu aku bisa kalau ingin tahu semuanya! Tapi aku masih hidup. Sekarang aku bertanya jawab sendiri…. berkobar menantikan saat membakar dunia…” terdalam. ”Ah! Bapak! Dia sudah tahu semuanya! Tapi aku? Aku tentunya juga harus mati lebih dulu bertanya-tanya.

menyusul teman-temannya pemain ludruk yang semuanya terbantai dan ”Sebetulnya memang tidak pernah Bapak itu membicarakan Satria.” lewat. Duduk di . ”Tapi ia tidak pernah lupa tentang Satria. menonton itu. dan apa sebenarnya yang telah terjadi. Tapi selalu ada. makan pisang goreng yang televisi. tetapi malam bagaikan lebih malam dari malam. dan hanya didengarnya sendiri. Tidak pernah ketemu lagi memang. malam entah karena apa. membaca koran.’ kataku. ’Seperti apa Satria kalau masih amarahnya: ’Para penculik itu pengecut semuanya! Tidak punya nyali berterus terang! Bisanya membunuh orang sipil tidak bersenjata. bagaimana dia diperlakukan. kadang aku seperti melihatnya di sana. atau kadang-kadang keluar Wajah Ibu kini tampak sendu sekali. ”Bapak. banyak juga yang tidak pernah berubah. Belakangan sebelum meninggal Bapak juga mulai pikun. Susah rasanya mengingat-ingat Ibu tersenyum geli sendiri.Terdengar dentang jam tua. ”Bagiku Satria masih selalu ada. Ibu tampak mengenali. ’Ya enggaklah kalau ngibul. sembunyi-sembunyi pula!’ hidup sekarang?’. mayat-mayatnya mengambang di Kali Madiun… menyusul Bapak. sampai setahun lamanya. Dua-duanya tidak mau pulang lagi dari apapun. banyak yang sudah berubah. tapi tidak memanggilnya. Seperti masih selalu duduk di situ Bapak disediakan Si Mbok. Tidak jelas jam berapa. sebelum akhirnya mendadak keluar semua ingatannya pada suatu ”Sudah sepuluh tahun. kenapa kamu tidak pernah muncul dalam mimpiku untuk bercerita tentang Satria? Pasti Satria menceritakan semua hal yang tidak diketahui selama ini. Bahkan tokek untuk sementara tidak berani berbunyi. di kursi itu. malah seperti lupa. memberi komentar tentang situasi negeri. Muncul dong sekali-sekali Bapak. datang menengok cuma hari Lebaran. menyeruput teh panas. pakai kaos oblong dan sarung. Di luar rumah. ’apa semua orang harus ikut aliran kebatinan seperti Bapak?’. Ada saja yang dia omongin itu. atau ’Sedang apa ya Satria di sana?’. orang. Tapi Si Mbok juga sudah meninggal. Ibu masih berbicara sendiri. satunya lagi Si Yanti jadi kurator galeri lukisan. ”Bapak. kata Bapak dua-duanya pekerjaan ngibulin Memang lain sekali Satria dengan kakak-kakaknya. ”Kenapa kamu tidak sekali-sekali muncul Bapak. tukang bakmi langganan Satria. Lupa ini-itu. Dasar Bapak. luar negeri. tukang bakmi tek-tek yang dulu-dulu juga. kursi itu seperti biasanya. lantas ngomong tentang dunia. Biasanya Bapak ya cuma cengengesan. Kacamata terpasang saja dicarinya ke mana-mana…” ”Aku sendiri rasanya juga sudah mulai pelupa sekarang. Yang sulung Si Bowo jadi pialang saham. Ia selalu bertanya.

kini seperti kepada seseorang yang tidak kelihatan. seolah tiba-tiba telepon genggam itu menyetrum.” Ibu mengangkat telepon genggamnya di telinga. ”Ya. Rahasia kehidupan. Tapi rupanya bukan. Telepon genggam Ibu berdering. ”Pasti ibunya Saras lagi. tetapi kamu hanya muncul sebagai bayangan yang lewat. ”Kursi itu tetap kosong. ”Tapi ini bukan rahasia kehidupan yang agung itu. Apakah semua ini hanya akan menjadi rahasia yang tidak akan pernah kita ketahui isinya? ”Rahasia sejarah. ”Ceritakanlah semua rahasia….” Ibu masih berbicara. ”Eh. malah Si Saras. Ibu seperti tersadar dari mimpi. tanpa senyum. bahkan juga dalam mimpi-mimpiku. ”Para pembunuh itu sekarang mau jadi presiden! . Seperti segalanya yang akan tetap tinggal kosong. yang seandainya pun tidak akan pernah terbongkar….” gumamnya. telepon genggam itu terloncat dari tangan Ibu yang terkejut. Ibu beranjak mengambil telepon genggam. seperti baru menyadari betapa kenyataan begitu buruk. ”Duduklah di situ dan ceritakan semuanya tentang Satria. hallo… “ Setelah mendengarkan apa yang dikatakan Saras. ”Ini suatu aib. ”Gila!” Ibu berujar kepada tokek di langit-langit yang tidak tahu menahu. Hanya lewat. suatu kejahatan.”Memang kamu selalu muncul dalam kenanganku Pak.

“Cepatlah!” ujar lelaki bernama Sukab itu. sekaligus bagaikan terlapis karet atau batu karang yang tajam tiada berperi. mungkin kehidupan para nelayan dilepaskan dari perahu? Hayati masih terus menuruni tebing setengah berlari dengan pikulan air pada bahunya. seolahsamping gubuknya. Wajahnya begitu cerah menembus angin yang selalu ribut. membuat pasir yang basah berkilat keemasan setiap kali Seno Gumira Ajidarma yang biasa memikul air sejak subuh. Tentu. Bulan sabit mereka hubungkan dengan perahu. Ternyata Hayati tidak langsung menuju ke perahu bermesin tempel tersebut. Ia meletakkannya begitu saja di Seorang nenek tua muncul di pintu gubuk. . Hayati berlari begitu cepat. Lidah-lidah ombak berkecipak dalam laju lari Hayati. sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Hayati pantai yang tampak kabur di bawah permukaan air laut yang hijau itu.Cinta di Atas Perahu Cadik Bersama dengan datangnya pagi maka air laut di tepi pantai itu segera menjadi hijau. Seekor anjing bangkit dari lamunannya yang panjang. Terlihat Hayati mengangkat kainnya dan berlari cepat sekali. Kakinya yang telanjang bagaikan mempunyai alat perekat. melangkah di atas batu-batu hitam berlumut tanpa pernah terpeleset sama sekali. “Hayati! Mau ke mana?” olah beban di bahunya tiada mempunyai arti sama sekali. bagaimana olah angkasa raya adalah ruang pelayaran bagi perahu-perahu seperti yang mereka miliki. yang selalu memberi kesan betapa sesuatu sedang sepanjang pantai yang pada pagi itu baru memperlihatkan jejak-jejak kaki Sukab dan terjadi. lantas berlari kembali ke arah perahu Sukab. melainkan berlari dengan pikulan air yang berat di bahunya itu. “Sukab! Tunggu aku!” plastik alas sepatu karena seolah tidak berasa sedikit pun juga ketika menapak di atas batu- Di pantai. Para nelayan memang hanya tahu perahu. lantas melangkah ringan Hayati. Cahaya keemasan matahari pagi menyapu pantai. sejak bertahun. seolahbahkan atap rumah-rumah mereka dibuat seperti ujung-ujung perahu. gugusan bintang mereka hubung-hubungkan dengan cadik penyeimbang perahu. Onggokan batu karang yang kadang-kadang menyerupai Bukankah memang perlu waktu jutaan tahun bagi angin untuk membentuk dinding karang menjadi onggokan batu yang mirip dengan sebuah perahu. sambil menuruni tebing bisa melihat bebatuan di dasar lidah ombak kembali surut ke laut. tiba-tiba terdengar derum suara mesin. perahu tetap teronggok sejak semalam.

Perahu Sukab yang juga bercadik melaju bersama cinta membara di atasnya. bukannya mengamuk malah merestui!” Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala. Seorang lelaki muncul dari dalam gubuk. perahu lain telah berjajar-jajar kembali di pantai sepanjang kampung nelayan itu. nenek tua itu pergi dari satu gubuk ke gubuk lain. ya. tetapi membentuk suatu rangkaian. dan memang selalu kencang di pantai itu. sangat kencang. kulihat Hayati menyuapi Sukab dengan nasi kuning dan mereka tampaknya sangat bahagia. burung-burung camar menghilang.” Nenek yang sudah bungkuk itu mengibaskan tangan. Mak?” Nenek tua itu menoleh dengan kesal.Perahu Sukab melaju ke tengah laut. mesinnya sudah mati. “Ya. Jawaban mereka bermacam-macam. “Hayati dan Sukab saling mencintai. “Dullaaaaah! Dullah! Suami lain sudah mencabut badik dan mengeluarkan usus Sukab jahanam itu!” Lelaki yang agaknya bernama Dullah itu masuk kembali.” “Perahu Sukab menyalipku.” Nenek itu memaki. dan perahu- Menjelang tengah malam. kulihat perahu Sukab menyalipku dengan Hayati di atasnya. aku juga sudah bicara kepadanya. perahu Sukab belum juga kelihatan. masih terdengar suaranya sambil tertawa dari dalam gubuk.” “Oh. Kulihat mereka tertawatawa. tetapi tidak tampak seorang pun di atasnya. . “Cabut badik? Heheheh. “Istri orang di perahu suami orang! Keterlaluan!” Namun ia masih mengetuk pintu gubuk-gubuk yang lain. “Pergi bersama Sukab tentunya! Kejar sana ke tengah laut! Lelaki apa kau ini! Sudah tahu istri dibawa orang. Pada akhir hari setelah senja menggelap. Itu sudah tidak musim lagi Mak! Lebih baik cari istri lain! Tapi aku lebih suka nonton tivi!” Angin bertiup kencang. kami akan bercerai dan biarlah dia bahagia menikahi Sukab. jadi itu perahu Sukab! Kulihat perahu berlayar kumal itu menuruti angin. “Ke mana Hayati. menanyakan apakah mereka melihat perahu Sukab yang membawa Hayati di atasnya.

nenek tua itu menggerundal sendirian. dan di dahinya tertempel Nenek tua itu melihat ke sekeliling. ketika terdengar suara lemah dari balik gigi yang gemeletuk itu. tentu saja tidak ada sepatu. di dalam terlihat istri Sukab terkapar meriang karena malaria. mulutnya sebuah koyo. pakaian yang buruk tergantung di sanasini. Seorang anak perempuan yang rambutnya merah membuka pintu itu. “Anak apa ini? Umur lima tahun belum juga bisa bicara!” Waleh hanya menggigil di balik kain batik lusuh bergambar kupu-kupu dan burung hong. kursi buruk. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia tidak melihat sesuatu pun yang aneh. Isinya sama saja dengan isi semua gubuk nelayan yang lain. Nenek itu lagi-lagi menggelengkan kepala. . lelaki dan perempuan yang sedang tertawa dengan mata genit. tetapi orangnya malah berkurang?” Melangkah sepanjang pantai sembari menghindari air pasang. dan jala di dinding kayu. Nyamuk berterbangan masuk karena pintu dibuka. Giginya tambah gemeletuk dalam perputaran roda-roda mesin malaria. Alas kaki yang serba buruk. Nenek itu sudah mau melangkah keluar dengan putus asa. tidakkah selalu begitu? Kalau Hayati naik perahu Sukab. hanya sandal jepit yang jebol. lemari kayu yang buruk. “Waleh! Apa kau tahu Sukab pergi dengan Hayati?” Perempuan bernama Waleh itu menggigil di dalam kain batik yang lusuh. tetapi tidak seorang pun di atasnya. ombak yang berdebur dan mengempas dengan ganas. Dipan yang buruk. bukannya tambah penumpang. tapi mungkin ada juga yang lain. Sebuah foto pasangan bintang film India. “Mana Bapakmu?” Anak itu hanya menunjuk ke arah suara laut. berikut pancing dan bubu. Pandangan nenek tua itu tertumbuk kepada anak perempuan yang menatapnya. Wajahnya pucat. bergemeletuk seperti sebuah mesin. meja buruk. dari sebuah penanggalan yang sudah bertahun-tahun lewat. Ada juga pesawat televisi.“Aku lihat perahunya. tetapi tampaknya sudah mati. Bukankah memang selalu begitu jika Hayati berada di perahu Sukab?” “Ya. di dalam sebuah bingkai kaca yang juga kotor. berkeringat. Sebuah foto Bung Karno yang usang dan tampak terlalu besar untuk rumah gubuk ini. “Bermain cinta di atas perahu! Perbuatan yang mengundang kutukan!” Ia menuju gubuk Sukab.

tidak kelihatan di bawahnya! Mengerti kamu?” tapi ada yang hanya melihat perempuan jalang itu tidak memakai apa-apa meski suamiku Waleh yang menggigil hanya memandangnya. “Aku memang hanya orang kampung. orang-orang di kampung nelayan itu masih membayangkan. maka tentu mayat Sukab atau Hayati akan tiba-tiba menggelinding dilemparkan ombak ke pantai. Waleh?” “Tentang mereka…” Nenek itu mendengus. dan suamiku masuk rumah sakit karena badik suami Wiji. mereka percaya perahu Sukab terseret ombak ke seberang benua. Masih juga mereka berlayar dan tidak pulang kembali! Semua orang yang melaut bilang tidak melihat sesuatu pun di atas perahu ketika melewati mereka. seperti sudah tidak sanggup berpikir lagi. agama kita telah memberi jalan agar mereka bisa dikukuhkan. dan sangat mungkin. Hal itu selalu mungkin negeri lain dan kembali dengan pesawat terbang. begitu pulang kujambak rambutnya dan kuseret dia sepanjang pantai. Kudoakan suamiku pulang dengan selamat— Waleh yang seperti telah mengeluarkan segenap daya hidupnya untuk mengeluarkan katakata seperti itu. kamu tahu dan tidak berbuat apa-apa! Dulu suamiku pergi ke kota dengan Wiji.“Aku sudah tahu…” “Apa yang kamu sudah tahu. melalui perceraian. Hari pertama. perahu mereka jauh melewati batas pencarian ikan kita. Mereka bisa terseret ombak ke sebuah “Aku orang terakhir yang melihat Sukab dan Hayati di kejauhan. Namun karena tidak satu pun dari ketiganya muncul kembali. langsung menggigil dan mulutnya bergemeletukan kembali. karena memang sering terjadi. .” kata seseorang. matanya terpejam tak dibuka-bukanya lagi. Waleh tampak berusaha keras melawan malarianya agar bisa berbicara. bahwa jika bukan perahu Sukab muncul kembali di cakrawala. “Ya. Ibu. tetapi aku tidak mau menjadi orang kampungan dan jika dia bahagia bersama Hayati. kedua. “Aku hanya mau bukti bahwa menantuku mati karena pergi dengan lelaki bukan suaminya menjadi korban kutukannya! Tapi kamu rugi belum menghukum si jalang Hayati!” dan bermain cinta di atas perahu! Alam tidak akan pernah keliru! Hanya para pendosa akan Mendengar ucapan itu. Nenek tua itu terdiam.” yang mengumbar amarah menggebu-gebu. dan ketiga setelah perahu Sukab tidak juga kembali. atau memang hilang selama-lamanya tanpa kejelasan lagi.

yang dengan ini tak bisa dihindari lagi.” sahut yang lain. Tombak ikan bertali milik Sukab tampak menancap di punggungnya yang berdarah—tentu ikan besar ini yang telah menyeret mereka berdua selama ini. Hayati tampak lebih kurus dari biasa dan keadaan mereka berdua memang lusuh sekali. Sukab tampak lemas di atas perahu. Juga mereka percaya bahwa mungkin juga Sukab dan Hayati telah bermain cinta di atas perahu dan seharusnya tahu pasti apa yang akan mereka alami. betapa bukan urusan siapa pun bahwa mereka telah bercinta di atas perahu cadik ini. Keduanya mengerti. setelah bahan bakar untuk mesinnya habis. tetapi kawin lari ke sebuah pulau entah di mana. mereka seperti masih Namun setelah hari keempat. Hayati melompat turun begitu lunas perahu menggeser bibir kecilnya. Di tubuh perahu itu terikat seekor ikan besar menyengat sekali. Sabang. mungkin bukan mati. sejak dulu ia selalu berlayar sendiri. banyak lumba-lumba melompat di samping perahu mereka. Kalian tahu seperti apa orang yang dimabuk cinta…” Namun pada suatu malam.“Sukab penombak ikan paling ahli di kampung ini. yang tentu saja sudah mati dan bau amisnya perahu Sukab mendarat juga. pada hari ketujuh. Kadang-kadang pula berharap dan menanti siapa tahu perahu cadik yang berisi Sukab dan Hayati itu kembali. kadang-kadang tampak Waleh menggandeng anak perempuannya yang bisu.” mana mau ia mencari ikan bersama kita. “Kukira mereka tidak akan kembali. tidak seorang pun dari para nelayan di kampung itu mengharapkan Sukab dan Hayati akan kembali. cerita tentang ikan besar ini akan berujung kepada perceraian mereka masing-masing. pakaian basah kuyup. tampak Dullah yang menyusuri pantai saat para nelayan kembali. sekali—tetapi mata keduanya menyala-nyala karena semangat hidup yang kuat serta api Namun keduanya juga mengerti. “apalagi jika di perahunya ada “Apakah mereka bercinta di atas perahu?” “Saat kulihat tentu tidak. Keduanya terdiam saling memandang. menyusuri pantulan senja yang menguasai langit pada pasir basah. Desember 2006/ Merauke. April 2007 . Kulit terbakar. di tengah angin yang selalu ribut terlihat pantai dan mendorong perahu itu sendirian ke atas pasir sebelum membuang jangkar yang lebih besar dari perahu mereka. dan gigi keduanya jika terlihat tentu sudah kuning cinta yang membara. Di pantai. Hayati.” Segalanya mungkin terjadi.

kadang terlihat berhenti di berbagai tanah lapang. rumah gedung bertingkat. Dari jendela loteng. siapakah orang-orang yang datang dengan gerobak itu Kek? Dari manakah mereka datang?” Kakek menjawab sambil menghela napas. anak-anak itu “Jangan sekali-sekali mendekati kere-kere itu. ketika sedang berjalan merayapi berbagai sudut kota. dengan plastik menutup gerobak dan mereka tidur di dalamnya. Tidak ketinggalan menanak air dengan kayu bakar dan masak seperlunya. seusiaku. perusahaannya pun banyak sekali. memasang tenda plastik. Apabila tanah lapang sudah penuh. Kadang-kadang aku ingin sekali ikut bermain dengan anak-anak itu. Dari balik dinding gerobak gerobak sampah lainnya. Di samping menjadi pejabat tinggi. “kita tidak pernah tahu apa yang mereka pikirkan tentang kita. tetapi Kakek tentu saja melarangku. dengan roda karet dan pegangan kayu untuk dihela kedua lengan berwarna putih itu akan tampak sejumlah kepala yang menumpang gerobak tersebut. Mereka seperti tiba-tiba saja sudah berada di dalam kota. Salah satu dari gerobak itu berhenti pula di depan rumah gedung “Kakek. Semuanya ia tangani sendiri. Mereka datang dari Negeri Kemiskinan. dan Kakek tidak pernah membagi pekerjaannya yang berat itu dengan orang lain. gerobak-gerobak berwarna putih itu akan muncul di berbagai sudut kota kami. dan tidur-tiduran dengan santai. Anak-anak kecil itu tampaknya pekerjaannya hanya bermain-main saja.” “Negeri Kemiskinan?” “Ya. seperti selalu terjadi dalam bulan puasa tahun-tahun belakangan ini. mereka menginap di kaki lima. Hanya saja gerobak ini ternyata berisi manusia.Gerobak Seno Gumira Ajidarma Kira-kira sepuluh hari sebelum Lebaran tiba. dengan seorang bapak Karena tidak pernah betul-betul mengamati.” “Oh. Gerobak itu tidak ada bedanya dengan gerobak pemulung. Namun kalau aku setiap hari disibukkan oleh tugas-tugas sekolah. mereka selalu datang selama bulan puasa. kuamati orang-orang di dalam gerobak itu. Aku tidak bertanya lebih lanjut. bertenaga kuat yang menjadi penghela gerobak tersebut. dan nanti menghilang setelah Lebaran. mereka datang untuk mengemis. menggelar tikar. Dari mana dan mau ke mana? Aku tidak pernah berada di batas kota dan melihat gerobak-gerobak itu masuk kota. karena kakekku adalah orang yang sibuk. Tidak jarang mereka memasang juga tenda di depan rumahkakekku. atau bahkan di depan. biasanya seorang ibu dengan dua atau tiga anak yang masih kecil. aku hanya melihat gerobak-gerobak itu selintas pintas.” .” kata Kakek.

“Apa yang mereka pikirkan Kek?” “Coba saja kamu setiap hari hidup di dalam gerobak di luar sana. Di karena bukankah gerobak itu dihela oleh orang yang berjalan kaki? Demikianlah gerobak- mana tempatnya. seperti kata Kakek. Jadi kapan mereka mengemis? Ternyata mereka memang tidak perlu mengemis untuk mendapat sedekah. Ketika kemudian gerobak-gerobak itu makin banyak saja berjajar- harus tahu. dalam kerumunan nyamuk warna-warni waktu berbuka puasa?” Aku tertegun. depan rumah. Pernah pembantu rumah tangga di rumah Kakek yang terlambat sedikit pemandangan. Mereka cukup hanya harus hadir di kota kami dan mereka akan mendapatkan sedekah yang tampaknya mereka anggap sebagai hak mereka. “Hati-hati terhadap orang miskin. tetapi kurasa tentunya dekat-dekat saja. Memang mereka tidak pernah puasa ini? Aku memang selalu mendapat peringatan dari orangtuaku untuk hati-hati. Tampaknya orang-orang yang dianggap berkelebihan diandaikan dengan sendirinya jajar di depan rumah. Di jalan-jalan gerobak itu bikin macet. memang selalu kulihat mata yang menatap. tanganku erat-erat apabila didekati orang-orang yang berbaju compang-camping dan tepinya. dan di tepi jalan keluarga gerobak yang Kakek sampai sulit sekali keluar masuk rumah karena gerobak yang berderet-deret di depan memasang tenda-tenda plastik seperti berpiknik itu sudah sangat mengganggu sendiri. menyebutkan kata-kata semacam. Manusia-manusia gerobak ini seperti bersikap dunia adalah milik mereka . tetapi tak bisa kuketahui apa yang Sekarang aku tahu gerobak-gerobak berwarna putih itu datang dari Negeri Kemiskinan. bahwa manusia-manusia dalam gerobak itu perlu mendapat sedekah. Apa maksud Kakek? Apakah mereka akan menculik aku? Ataukah setidaknya mereka akan melompat masuk jendela dan merampas makanan enak-enak untuk berbuka bahkan sebaiknya menjauhi orang yang tidak dikenal.” tetapi kewaspadaan Ibu memang akan selalu meningkat dan segera menggandeng sudah tidak jelas warnanya lagi. tidur-tiduran menatap langit dengan santai. Benarkah. Dari balik topi tikar pandan mereka yang sudah jebol dikatakan mata itu. Demikian pula manusia-manusia dalam gerobak itu tampaknya merasa. gerobak itu dari hari ke hari makin banyak saja tampaknya. sudah semestinyalah mereka mendapat limpahan pemberian sebanyak-banyaknya tanpa harus mengemis lagi.rumah orang untuk mengemis. pula. Juga tidak kulihat mereka menengadahkan mereka datang untuk mengemis? Aku tidak pernah melihat mereka mengulurkan tangan di tangan di tepi jalan dengan batok kelapa atau piring seng di depannya. Apa yang akan kamu pikir yang berdenging-denging melihat anak kecil berbaju bersih makan es buah dan pudding jika dari kegelapan melihat lampu-lampu kristal di balik jendela. Kakek tidak pernah menjelaskan.” atau “Orang miskin itu jahat. Sepanjang hari mereka hanya bergolek-golek di atas tikar. bahkan mobil pagar. dan mereka seperti merasa harus mendapat makanan tepat pada waktunya. gerobak-gerobak yang lain itu juga mendapat limpahan makanan Begitulah dari hari ke hari gerobak-gerobak putih itu memenuhi kota kami. Nenek misalnya selalu mengirimkan makanan yang berlimpah-limpah kepada gerobak yang menggelar tenda di depan rumah.

Tetangga-tetangga juga sudah mulai jengkel. dan hidup di dalam rumah. kokoh. Gerobakkuat yang melangkah keliling kota. kali ini gerobak-gerobak itu masih tetap di sana. pulang ke Negeri Kemiskinan. tapi kapan mereka tidak kembali ke tempat asal mereka? Mereka selalu menghilang sehabis Lebaran.mengantar kolak untuk berbuka puasa. Mereka juga berharap begitu. Apabila kemudian warga kota kembali dari kampung.” Para tetangga tidak membantah.” kataku kepada Kakek. dititipkan kepada tetangga. makan di meja makan mereka. karena tentu mendahulukan Kakek. “Tenang saja. “Mereka memang tidak bisa pulang ke mana-mana lagi sekarang.” “Tapi kali ini banyak sekali. tetapi setiap tahun itu pula mereka akan selalu menghilang kembali. dihela seorang lelaki dengan gerobak yang rupanya setiap hari bertambah dengan kelipatan berganda. orang-orang yang datang bersama gerobak itu telah menduduki rumah tersebut. Lebih dari separuh warga kota mudik ke kampungnya masing-masing pada hari Lebaran. entah dari mana. tidur di tempat tidur mereka. itu banyak yang pulang kampung. dan berenang di selalu mereka tatap dari luar pagar dengan pikiran entah apa dan meninggalkan gerobak mereka untuk selama-lamanya? kolam renang mereka. pada saat yang sama gerobak-gerobak masuk kota entah dari mana. Setiap tahun menjelang hari Lebaran gerobak-gerobak memenuhi kota. asri. Mereka berkemah di depan rumah-rumah gedung. kuat. biasanya kan begitu. meninggalkan rumah yang kadang-kadang dijaga mereka tidur-tiduran sambil memandang rumah-rumah gedung yang indah. padahal hari Lebaran sudah berlalu. mendapat omelan panjang dan pendek. merayapi tembok. Meskipun kota kami selalu menjadi sunyi dan sepi setiap kali Lebaran tiba. >diaC< Pada hari Lebaran.” “Bukankah mereka bisa pulang kembali ke Negeri Kemiskinan?” . gerobak-gerobak itu ternyata tidak semakin berkurang. mandi di kamar mandi mereka. melompati pagar. pasti tidak lewat jalan tol. Lagi-lagi Kakek menghela napas. dan mewah dari luar pagar tembok. Apakah mereka maunya hidup di dalam rumah-rumah gedung yang “Mereka masih di sini Kek. atau ditinggal dan dikunci begitu saja. Warga kota yang memasuki kembali rumah-rumah mereka terkejut. bahkan sebagian telah pula masuk.” “Ya.rumah gedung itu. mereka seperti mengalir tidak ada habisnya. penghuni rumahrumah gedung satpam.” kata Kakek. Berkemah dan menggelar tikar di sembarang tempat. “sehabis Lebaran mereka akan menghilang. Pada hari Lebaran. seperti hadir begitu saja di dalam kota. kali ini kota kami penuh sesak gerobak itu masih saja berisi anak-anak kecil dan perempuan dekil.

Pondok Aren. Rupa-rupanya seperti patung yang bisa hidup dan bergerak-gerak. melompati pagar. “Bagaimana nasib cucu-cucu kita nanti. gerobakbanyak. tetapi Negeri Kemiskinan sudah terendam lumpur sekarang.” sahut Nenek. dan tidak ada kepastian kapan banjir lumpur itu akan selesai. bahkan merayapi tembok. di manakah mereka mesti tinggal selain tetap di bumi? Kakek merasa gelisah dengan perkembangan ini. tinggal di sana entah sampai kapan. Seperti mereka betul-betul hanyalah Mereka yang tiada punya rumah di atas bumi. tidak bisa diusir dan tidak bisa dibunuh. “apakah mereka harus berbagi tempat tinggal dengan kere unyik itu?” “Siapa pula suruh merendam negeri mereka dengan lumpur. kenapa manusia tidak pernah cukup puas Aku tidak terlalu paham bagaimana lumpur bisa merendam Negeri Kemiskinan. Minggu. 7 Oktober 2006 kosong. Barangkali saja untuk selama-lamanya. Sebaliknya semakin lama semakin maksudnya lumpur kemiskinan? Aku hanya tahu. Heran. Apakah gerobak putih sama sekali tidak pernah berkurang. Baru kusadari betapa manusia-manusia seluruh tubuh mereka seperti terbalut lumpur. menduduki setiap tanah yang bertingkat.” Sekarang aku mengerti kenapa orang-orang itu tampak sangat amat dekil. muncul di berbagai sudut kota entah dari mana.” menerima segala akibat perbuatan kita. “kita harus dengan apa yang sudah mereka miliki. memasuki rumah-rumah gedung . setelah hari Lebaran berlalu. gerobak ini memang sangat jarang berkata-kata. sehingga kadang-kadang mereka tampak patung dan hanya mata mereka akan menatapmu dengan seribu satu makna yang terpancar dari sana.” katanya kepada Nenek.“Ya.

membentuk garis lingkaran yang tiada pernah berubah jaraknya. Bibirku terasa asin dan rambutku menyerap garam.Cintaku Jauh di Komodo Seno Gumira Ajidarma Hanya laut. namun kami udelnya. karena sesungguhnyalah aku tidak akan bisa tahu apakah benar cinta kami yang barangkali abadi itu adalah takdir. Hanya kekosongan. meski perahuku tapi kutahu cintaku belum akan berkarat bila tiba di pulau itu. Apabila kami berbeda kulit. lengket bagai benalu. Memang kembali. Kami memang diciptakan dari sepasang tidak pernah lahir kembali sebagai sepasang bayang-bayang yang bisa berkelebat seenak bayang-bayang. cinta yang abadi adalah sesuatu yang tetap penuh pesona. tiada seorang pun yang akan mengizinkan dirinya untuk memahami. tetap misterius. ataukah cinta kami ini hanya cinta begitu-begitu saja yang terlalu mudah . jika cinta ini belum juga ada? Lagi pula bagaimana cinta akan berkarat karena angin yang bergaram jika cinta berkarat setelah mengarungi berabad-abad jarak. begitu juga bayang-bayang kami yang selalu mengikuti. Walaupun kami terbukti Demikianlah cinta kami selalu diuji. tetap menggelisahkan. benarkah begitu kuat usaha kami untuk menyatu menyerah karena berbagai macam halangan yang sebenarnya bisa saja diatasi. Cinta yang abadi kukira bukanlah sesuatu yang ditakdirkan. kami selalu bisa saling mengenali dan mengusahakan segalanya untuk menyatu kembali. bahkan kami pun bisa bingung sendiri. karena kami memang tidak terpisahkan. berbeda agama pula-betapa beratnya usaha kami menyatukan diri. lantas saling mencintai. berkarat hanya karena sebuah jarak dari Labuan Bajo ke Komodo. Barangkali itulah yang disebut dengan cinta abadi. nah. dan tetap terus-menerus diperjuangkan terus-menerus sehingga cinta itu tetap ada. dan bayang-bayang bisa berkelebat menembus segala tabir. Kami seperti tiba-tiba saja ada dan saling mencintai sepenuh hati. dan sebagai manusia kami tidak menempel seperti ketan. menjadi pasangan baru. tapi sungguh mati memang hanya seperti dan sekali lagi hanya seperti. Bagaimana cinta akan melaju menembus angin yang bergaram. Aku mengatakannya semacam takdir. terlalu banyak manusia merasa berhak untuk tidak setuju dan melarang hubungan kami. tapi aku hanya berani mengatakannya semacam takdir. karena sesungguhnyalah hubungan cinta kami yang barangkali abadi itu adalah sesuatu yang diperjuangkan. tetap bertahan. barangkali menunggu kami mati dan bisa berkelebat seenak udel kami. Apalagi jika kami lahir kembali masing-masing sebagai pasangan resmi orang lain. Kami sering dilahirkan kembali sebagai manusia. tetap membara. dari suatu masa ketika cinta pertama kali memang bukan besi? Aku dan kekasihku diciptakan dari sepasang bayang-bayang di tembok yang tubuhnya sudah mati. menimbulkan tanda tanya: Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku? Setiap kali kami mati dan dilahirkan kembali. Dunia hanyalah laut dan langit yang dibatasi garis tipis melingkar. dan bukan takdir itu sendiri. dan semenjak saat itu kami menjadi semacam takdir ketika tiada sesuatu pun di dunia ini yang bisa memutuskan hubungan cinta kami. kemudian berbeda kelas sosial.

hanyalah menjadi sejati jika tahan uji terhadap cinta yang sama kecuali menggetarkan dan mendebarkan hati. Hanya kekosongan. tidakkah cinta itu tiada memandang wujud. bisa berupa kursi kekuasaan. tapi yang paling berbahaya adalah pesona cinta itu sendiri. bersentuhan sama sekali. meski terkadang penuh dengan lukaluka cinta di sana-sini karena ketergodaan yang terlalu menarik untuk tidak dilayani. Tetapi. Karena undang-undang melindungi komodo. Lain kali aku lahir kembali sebagai perempuan dan kekasihku lahir kembali tetap sebagai perempuan. Apabila kami bertemu dari kelahiran satu ke kelahiran lain. kekasihku sudah lahir berpuluh tahun sebelumnya dan hampir mati. sehingga kekasihku dengan kelaparannya yang amat sangat telah menerkam dan maka kekasihku tidak dibunuh. Apakah aku akan bisa bertemu dengan kekasihku kali ini? Tanda- kekasihku menimbulkan masalah besar. dengan segenap petir dan halilintarnya yang tanpa membuat kami selalu bertemu kembali. Kesetiaan kami masing-masing telah hebohnya. Hmm. melainkan dibuang ke suatu wilayah di Pulau Flores yang asing yang dimusuhi oleh komodo-komodo lain. kekasihku dianggap sebagai komodo menyeberangi laut untuk kembali ke Pulau Komodo-dan kini aku datang ke pulau itu untuk mencarinya. di tempat yang baru itu. Sering kali ini sangat membingungkan-tetapi selalu bisa kami atasi. kami selalu lahir kembali sebagai manusia-kesalahan apakah yang telah dilakukan kekasihku. karena telah memakan seorang anak gadis yang sedang mandi di sungai. maka kesenjangan tubuh macam apakah yang akan bisa menghalanginya? Justru itulah masalahnya sekarang: apakah aku. belum pernah kami lahir kembali dengan berbeda spesies seperti ini. Suatu kali bahkan ketika lahir kembali sebagai bayi. Dalam sejarah percintaan kami dari abad ke abad. Laut dan langit bagai bertaut. jikakekasihku itutelah menjadi komodo? Hanya laut. yakni cinta yang dahsyat itu. Atas nama cinta. Cinta yang sejati. kekasihku telah dilahirkan kembali dalam wujud seekor komodo. Perburuan liar telah mengurangi jumlah kijang yang biasa dimakan komodo. kami akan saling mengenali. masihbisa mencintaikekasihku. yang sekarang berada di Pulau Komodo. Karena kami selalu berperilaku baik. sehingga lahir kembali sebagai komodo? Apakah ia masih akan mengenaliku dengan pancaindra dan otaknya sebagai seekor komodo? Kalaulah aku masih mempunyai kepekaan untuk mengenalinya. kekasihku berenang dan menelan seorang anak gadis berusia 12 tahun. bagaimanakah caranya ia akan mengenalikuseekor komodo ke dalam apartemenku di Jakarta. sebagai manusia biasa. Pasti Supermie tidak akan pula kekasihku? dan apa yang akan kami lakukan? Aku tidak mungkin mengawini dan membawanya sebagai mengenyangkannya. juga dihuni komodo. meski perbedaan duniawi yang membungkus kami bisa mengakibatkan masalah berarti. begitulah. tapi mereka sebetulnya tidak tanda alam memberi isyarat kepadaku. dan tiada pula memandang usia? Jika cinta memang mempersatukan jiwa. Akibatnya.begitu banyak godaan kepada kesetiaan cinta kami: bisa berwujud harta kekayaan. kukira. Itulah yang terjadi misalnya ketika aku lahir sebagai pendeta dan kekasihku lahir sebagai putri raja. apakah yang masih bisa kulakukan untukmu . Sebagai seekor komodo. Cinta diuji oleh cinta. dan aku tidak mengetahuinya. Namun.

dan selalu disebut hanya terdapat di Pulau Komodo. aku berhasil menyelamatkan diri dari serangan sejumlah komodo. “Introduction” Lombok to Timor (1997). Labuan Bajo. terdapat pula di Pulau Rinca. Sisa makhluk purbakala itu baru ditemukan secara resmi pada 1911 oleh tentara Hindia Belanda dan diberi nama pada 1912 oleh PA Ouwens. sebanyak 1. Juli 2003 * Judul ini mengacu kepada judul sajak Chairil Anwar. apakah cinta yang abadi itu sebenarnya memang ada. dan kukira ia tidak mengenaliku lagi-apakah ternyata mengenal wujud-meskipun komodo jantan itu memang penjelmaan kekasihku. aku menjelajahi pulau itu siang malam tanpa pengawal. sampai kutemukan komodo jantan yang pernah memakan anak gadis itu. tepat di hadapan mulutnya yang menganga. Di dalam tubuh itu 1. hal 111-114. 2. Kalau aku tidak keliru. Setelah menjelajahi pulau itu selama dua hari dan bertemu dengan sejumlah komodo. Cintaku Jauh di Pulau (1946). dan mencintai kekasihku…. Ingatan terbalik atas sajak Afterthought : cintakah kau padanya / cintakah kau padanya dalam Toeti Heraty. Karena aku turun di kampung Komodo dan bukan di Loh Liang. hal 75.hatiku terasa kosong. Aku tidak sempat memanfaatkan tongkat bercabang itu- apakah aku akan lebih bahagia jika menyerahkan jiwa sebagai pengorbanan cinta? Kurasa hanya kurasakan kegelapan-dan perasaan menyatu. seluruh tubuhku tersedot masuk ke dalam tubuh komodo itu sekarang. Bersenjatakan tongkat bercabang. kaki kiriku sudah masuk ke mulutnya. aku menjadi ragu. kurator Museum Zoologi Bogor.000 ekor. Nostalgi=Transendensi (1995). Ketika akhirnya kami berjumpa di sebuah kubangan pada sungai kering berbatu-batu. tapi hanya kulihat sebuah pandangan mata yang masih sahih jika aku berusaha tetap mempertahankan cinta? Dalam keadaan seperti ini.650 ekor (1994). dengan jumlah sekitar 1. Baca Linda Hoffman. langsung patah beberapa bagian. akhirnya aku bertemu dengan seekor komodo yang kuyakini sebagai kekasihku. aku bertanya-tanya apakah aku bisa mencintainya seperti aku kosong. Semuanya sudah terlambat. tempat para petugas Taman Nasional biasa memandu wisatawan. Sudah jelas ia tampak kelaparan. Ternyata. dan “Enter the Dragon: Visiting the Island of Dinosaurs” dalam Kal Muller. Rupanya kekasihku menjadi seekor komodo jantan. Apakah yang masih bisa kukenal pandangan mata yang penuh dengan cinta. Reptil bernama resmi Varanus komodoensis yang panjangnya bisa mencapai tiga meter dan berat 150 kilogram. Kami bertemu pada suatu siang yang panas dan aku sedang mendaki ketika kulihat ia dari kekasihku yang cantik jelita pada komodo jantan ini? Tadinya masih kuharapkan merayap ke arahku di bawah kerimbunan semak-semak. East of Bali: from . dan suatu wilayah di Flores yang jumlahnya belum sempat dihitung. Aku terpeleset dari tebing. dan meluncur masuk ke kubangan. ataukah hanya seolaholah ada dan dipercaya begitu rupa sehingga mengelabui para peminatnya? Mungkin cinta aku sangat mencintainya.

Kampung Komodo.. op. ibid. Bagian kisah ini mengacu kepada suatu kejadian. jauh baca JAJ Verheijen. Rakyat. Mereka menyebut komodo sebagai ora. yang bersebelahan dengan Pulau Komodo. terdiri atas 400 KK (2003). cit. Pulau Komodo: Tanah. wisatawan asal Swiss berusia 84 nya. mempunyai kebudayaan dan bahasa sendiri. satu-satunya kampung di pulau itu. hal 111-2. dan Bahasanya (1987). pada 1972. yang lenyap di Poreng. yang dialami seorang bocah lelaki pada 1987. terjemahan A 5. Muller. Pulau Komodo-yang tertinggal hanyalah tripod- . hal 112 tahun. dalam Muller.3. Lebih Ikram. kaki tiga untuk kamera. namun terjadinya di Pulau Rinca.. 4. Korban terakhir adalah Baron Rudolf Van Biberegg.

hoy. Matanya menatap ke pengamen obor api yang memasukkan dan mengeluarkan obor berapi di mulutnya. Si wanita mencium aroma wewangian dari tubuh si pria. Mi Jaragual (My Little Farm).” .” Si wanita tersenyum. Ia setua si wanita. “Como estas. Berkilat-kilat kena cahaya lampu yang mulai dinyalakan. “Aku baru saja mendapatkan cucu ketiga. El Cantar de un Campesino (A kepada orang-orang yang lalu lalang di depannya dan kebetulan menoleh ke arahnya. Pedro. Beberapa orang berkerumun untuk mendengarkan.” Tersenyum. Pedro. “Una hija. Suaranya datar. “Belum.” Seorang pria duduk di sebelahnya. Semilir angin menggeraikan rambutnya yang keemasan.” katanya. “Apakah mereka sudah menyanyikan Cantandole a lo Nuestro?” si pria bertanya. Suaranya lirih. Julia. Elena?” “Bien. “Aku selalu menyukai lagu itu.Cinta Elena & Pedro Aba Marjani Wanita tua itu duduk sendirian di kursi pedestrian Las Ramblas. Seperti ada beban yang menindih. “Ya.” kata si wanita beberapa saat kemudian. Sinar matahari masih terlihat jelas di ufuk mereka. meluncur mendayu-dayu diiringi dansa-dansa yang amat indah.” Ia mengakhiri kalimatnya dengan sekulum senyum. Sesaat ia diam. “Si bungsu. Ada nada pedih. barat sana. Ada juga yang membeli kaset hand made-nya seharga 10 pesetas. tangan si wanita memegang tangan si pria. Lagu-lagu tentang semangat kerja rakyat petani. untuk kita. Sesekali ia mengangguk atau melemparkan sesungging senyum Sudah hampir pukul sembilan malam rupanya. Kepalanya botak. Pengamen-pengamen asal Puerto Riko asyik menyanyikan lagu-lagu tradisional Farmer’s Song). Muy bien. “Siapa orangtuanya?” ia bertanya. Kesegaran menjalari seluruh tubuhnya.” “Untuk kita. Muy bonita. Bara cinta meletup di dadanya. Sebuah tongkat kayu dari pohon ek berada di tangannya. Kau bisa memberinya beberapa pesetas dan meminta mereka menyanyikannya untukmu. Si pria menoleh.

Akan ada dua Raul di sana. memandang laki-laki di sebelahnya itu. Di dada mereka bunga-bunga cinta membalut. El Merengues selalu jadi tim ingin ia berada di Santiago Bernabeu. Demi aku. mungkin saat ini ia tengah bertanding di La Liga bersama Raul Gonzalez. Api cinta bergejolak di dadanya. cinta mereka berdenyut. “Kalau ia menuruti kata-kataku. Begitu juga Elena. Tanpa berkata. Matahari sebentar lagi akan lenyap ditelan Bumi. Pedro. Dalam benaknya. matador legendaris yang amat masyhur. Aku cuma Si wanita tersenyum. Ia tahu Pedro tak tahu tentang mereka. “Kau tak ingin mengatakan apa-apa lagi. Ia selalu merindukanmu. Monumental de Barcelona. Api cintanya membara. “Bagaimana kabar Raul? Apakah ia bahagia dengan Bettina?” si pria bertanya. “Kau ingin aku mengatakan apa? Aku turut bahagia dengan segala anugerah yang kau terima? Begitukah?” “Setidaknya kau bisa berkomentar apa saja.0<>w 6024m<1)>jmp 0m<>h 8000m. sama seperti El Barca yang dua tahun sebelumnya . wajah Raul bergulir. Pedro? Por que?” si wanita menoleh.” Mendadak si pria tersenyum getir. meskipun itu Si pria melirik si wanita. yang selalu dielu-elukan penonton dalam setiap pertunjukan. Ia menunggu jawaban si wanita dengan dada “Raul sering kali menanyakanmu. lintasan kebahagiaan berpendar-pendar.” katanya dengan sunggingan senyum tertahan. Stadion kebanggaan pendukung El Barca itu terlalu banyak 6024m. Tak sabar.0<>w 8000m< 26 tahun lalu. si wanita membatin. matahari seolah enggan buru-buru berhenti menyinari Bumi. Di musim panas. Tangannya masih dalam genggaman tangan si wanita.” kebanggaanku meski aku orang Basque. bertaut. Begitulah selalu di Spanyol. Tangannya masih juga memegang tangan si pria. Ia masih tampan seperti dulu.” Malam terus merayap. Itu yang membuatnya berhenti sebagai torero. Seorang pria tinggi besar yang hampir saja tewas karena serudukan banteng di gelanggang matador di La adalah cita-citanya sejak kecil. Kau bisa pura-pura bahagia. Di sanalah ia dan Pedro pertama kali bertemu ketika Barcelona dikalahkan Liverpool dalam suatu pertandingan tingkat Eropa >jmp -2008m<>h ingin Raul berada di Nou Camp. Dalam sekali pandang. “Aku sebenarnya menginginkan ia menjadi pemain sepak bola. Di wajahnya berdebar.Si pria menarik napas. Ia menyembunyikan sukacita di hatinya. Aku tak ingin ia berada di Nou Camp. Pedro datang dengan segala atribut El Barca. Jantung keduanya serasa lebih cepat Dua tahun Elena dan Pedro bahu-membahu sebagai pendukung Barcelona sampai kemudian cinta mereka dipisahkan oleh takdir. Ia ingin sekali menjadi seperti Pedro Romero.

“Sudah saatnya kita berpisah. didudukinya. “Buenas noches. “Buenos dias. “Te amo.disisihkan klub sepak bola dari tanah Inggris itu. Tanpa menoleh. Aku pamit. Mengecup kening si wanita. Entah ini hari ke berapa ia berada di sana. tambien. ada yang dalam gegas. Yang membuat langkahnya terasa lebih ringan. Mereka tak menadahkan tangan. manakala seseorang melempar uang receh pada sebuah wadah di depannya. Ia ingin menikmati masa-masa tuanya seperti yang ia inginkan sendiri.” kata si pria kemudian. tongkat di tangan. Elena. Dengan es Si pemuda menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemudi. Seperti juga hari-hari sebelumnya. Yang diketuk-ketuknya perlahan-lahan ketika ia berjalan. Mereka menjual kepandaian.” Si pria bangkit. Tongkat dari kayu ek itu lebih hanya sebagai teman. “Pedro. Lalu.” katanya begitu tiba. Tanpa menunggu jawaban. ia duduk di sebelah si wanita. bukan?” si wanita menjawab.” Elena tersenyum sumringah. muncul belakangan. Sejak dulu matamu selalu bagus.” “Mi. Hasta luego. Di dadanya rasa nyaman merambah. si wanita berambut keemasan itu. “Kukira sudah terlalu malam. “Kau sehat?” si pria bertanya. Elena. Ia khawatir hitungannya terhenti pada Tanpa terikat apa-apa. seperti coba mencari topik pembicaraan di sore yang juga cerah. Cinta memang tak selalu mempertautkan raga meski jiwa mereka takkan terpisahkan oleh apa saja. ia memang tak ingin menghitung. Kelompok Elena. Ada yang berperilaku seperti manekin hidup dengan tubuh berbalut semacam cat putih dan baru mengubah posisi mematungnya penyanyi Puerto Riko juga tetap setia membawakan lagu-lagu rakyatnya di depan sebuah toko yang menjual berbagai macam majalah dan koran. Para pengamen berdiri di sisi jalan dengan kesabaran tanpa batas. Kesejukan di hatinya singgah. Pejalan kaki tetap berseliweran dari pagi sampai pagi.” Si wanita tersenyum. Sisa-sisa api cinta berpendar-pendar di matanya yang cerah.” katanya. Si pemudi menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemuda. Sepasang muda-mudi kemudian duduk di kursi di depan di seberang mereka. Suaranya agak parau.” Tak ada yang berubah di Las Ramblas. Lalu mereka . Tanpa tongkat “Buenos dias. Dengan itu pun ia sebenarnya masih bisa bertahan. Tapi. juga tetap setia duduk di kursi yang kemarin masa. bersama-sama menggigit es krim di tangan si pemudi dalam waktu bersamaan. si pria tua itu. keduanya krim di tangan mereka. Pedro. “Seperti yang kau lihat. Semuanya mempertontonkan kelebihan masing-masing seraya berharap ada pejalan kaki yang rela menyisihkan uang recehnya beberapa pesetas. Ia belum pikun untuk menghitung bilangan tertentu. menghentikan langkah si pria. Ada yang santai.

Elena. Yang takkan melukai hati si wanita di sisinya. Elena harus menikah dengan pria lain pilihan ayahnya. Cinta yang tak lekang oleh waktu dan perubahan. Keduanya teringat masa-masa lalu yang indah di dari simfoni-simfoni klasik gubahan Beethoven entah berapa waktu lalu. Ketika kelana cinta mereka menari-nari dalam sinar mercury yang remang.” Kenangan-kenangan indah bermunculan susul-menyusul memenuhi benak mereka Si wanita tersenyum. Selain Nou Camp. Hampir dua puluh delapan tahun peristiwa itu berlalu. “Almarhumah istriku?” ia mencoba mengulur. tertawa-tawa berkakakan. takdir itu kemudian datang memisahkan mereka. Jika aku berkata jujur. Demi sebuah bisnis keluarga. Tapi kasih mereka tak dilekangkan oleh perubahan dan waktu. Setelah sekian lama mereka kerap bertemu dan saling mencurahkan isi hati yang pernah hancur. “Kau mencintai istrimu. si wanita terkasih. Masa tak mampu memupus dan keduanya kembali. bukan?” si wanita menoleh. Ketika mereka saling memagut dalam alunan cinta yang kian bertaut. Dan keduanya pun kemudian berpisah dalam dekap penuh tangis di sebuah kamar hotel tua di sisi pedestrian Las Ramblas ini. apakah hatinya takkan hancur? Ia kembali mengetuk hatinya dengan pertanyaan penuh keraguan. cinta mereka tetap bergelora. Wajah mereka basah oleh air mata dan tetes-tetes cinta. api kasih masih panas membara. disujudkan kepada laki-laki yang tak dicintainya. Si pria menoleh. Api cinta mereka memang terpendam. Mereka seolah cuma ada berduaan. Haruskah aku menjawabnya secara jujur? Si pria bertanya dalam hati. Cinta mereka memang terbelenggu. Dan kini alam mempertemukan renta mereka. Pedro?” si wanita bertanya. Tak pernah terbayangkan hal itu dapat terjadi. “Ya. Dalam tubuh memudarkan hasrat mereka untuk tetap bersama. Mereka tak peduli dengan Plaza Montjuic di bawah tempias air mancur yang meloncat-loncat seiring dentuman drum membuat mereka mabuk. sudut-sudut Plaza Montjuic jadi saksi abadi keabadian cinta mereka. Ketika saling memberi dan menerima merasuk. Ketika cinta tengah manakala mereka tengah duduk berdua seperti sekarang ini. takkan ada yang mampu memutus tali dan jalinan kasih mereka. Saat itu mereka yakin tersemaikan dalam sebuah romantisme kasih tak terperi. Dalam tubuh yang renta. “Kau masih ingat ketika itu aku meringis. setelah setetes benih juga Tapi. Sariawan membuat gusiku peka. Inilah untuk pertama kalinya pertanyaan seperti itu meluncur.pejalan kaki yang berseliweran. tepat. katamu gigimu sedang sakit. Tapi tak pernah padam. Sambil coba mencari jawaban yang paling mimpi-mimpinya. Si pria tersenyum. Wanita yang dulu selalu hadir dalam . Bukankah kau sakit gigi waktu itu?” “Bukan sakit gigi.

Si wanita menoleh. Melemparkan senyum. Dengan bibir yang masih tampak ranum.

Setidaknya di mata si pria yang kian rabun. Tapi, senyuman itu sekaligus membuat si pria

gelisah. Membuat hatinya resah. Dan ia merasa keringat telah membuat telapak tangannya basah. Embusan angin membuat hatinya makin galau. Di dadanya menggumpal rasa risau. Pedihnya seperti tertusuk-tusuk sejuta pisau.

“Setidaknya aku punya anak dari Evita,” suaranya parau. “Aku mencintai anak-anakku. Pablo dan Javier.” Ia diam sejenak. Sesuatu seperti membuat tenggorokannya tersedak. Ketika ia melirik si wanita, ia melihat angin membuat rambut si wanita tersibak. Dan ia seperti segenap keberanian.

menunggu. “Apakah, apakah kau mencintai suamimu?” ia bertanya setelah mengumpulkan

Si wanita tertawa kecil. Suaranya agak menggigil. “Mengapa kau tertawa, Elena?” si pria bertanya. “Seperti kau, dari Enrique aku punya Julia.” “Dan Raul.” “Kau tak ingin mengatakan Raul sebagai anakmu?” Si pria tak segera menjawab. Seolah ingin membiarkan pertanyaan itu menguap. “Kau masih mendengarkan aku, Pedro?” “Ya,” tenggorokan si pria terasa kian tercekat. “Raul mungkin darah dagingku. Tapi ia anakmu dan Enrique.”

Malam merayap naik. Udara dingin kian terasa menusuk tubuh mereka yang renta. “Aku pulang dulu, Elena,” kata si pria mendahului setelah seorang pemuda meluncur di depannya dengan sepatu roda di kakinya.

Elena bangkit. Pedro pun bangkit. Ia mengecup kening si wanita. Lalu melangkah ke arah utara. Si wanita melangkah ke selatan, ke Plaza de Catalunia.

HARI berikutnya, keduanya bertemu di Plaza de Toros La Monumental de Barcelona, sebuah bangunan tua yang tetap terawat dengan sangat baik. Keduanya memang selalu menyukai aksi para torero dan matador membunuh banteng.

“Kudengar makin banyak yang menentang pertunjukan seperti ini,” kata si pria ketika

keduanya duduk di kursi dari kayu tua di barreras. “Kelihatannya memang tak manusiawi. Tapi alam diciptakan Tuhan untuk manusia. Makhluk-makhluk lain adalah pelengkap. Mereka harus menjadi bagian yang membahagiakan manusia.”

“Itu katamu,” si wanita menyunggingkan senyum ketika para paseillo memasuki arena dan melambaikan tangan mereka kepada para penonton. Sejak kecil, si wanita selalu dibuat

kagum oleh pakaian para torero yang berwarna-warni. “Mereka, para pencinta lingkungan dan binatang, menginginkan semua makhluk hidup, hidup berdampingan secara damai.” “Tapi ini tradisi kita,” si pria membantah. “Aku tahu. Dan kita ke sini bukan untuk berbantah-bantahan, bukan? Kita ke sini untuk

menonton.”

membatin. Ia ingat ketika pertama kali memasuki La Monumental de Barcelona sebagai

Si pria terperangah oleh suara si wanita yang terdengar getas. Ia masih seperti dulu, si pria

sepasang kekasih. Elena menolak duduk di barreras karena harga tiketnya mahal. Ia lebih suka duduk di gradas. Tiketnya paling murah. “Kalau kau mau duduk di sana, silakan kau kanan si wanita dengan tangan kirinya. Menggenggamnya erat-erat. Seperti tak ingin terlepas. duduk sendiri. Aku mau kita di gradas,” katanya ketika itu. Buru-buru si pria meraih tangan

Seorang novilladas memasuki arena. Siap memulai pertunjukan. Tepuk tangan kecil terdengar. Begitulah selalu nasib para matador pemula. Ia harus lebih dulu mempertontonkan kecekatannya menguasai seekor banteng sebelum kemudian diakui

menjadi torero dan akhirnya setelah kemampuannya teruji, menjadi matador sesungguhnya. “Siapa matador kesukaanmu sekarang?” si pria berdehem sesaat kemudian. “Seperti cintaku padamu, sampai sekarang aku masih lebih menyukai Pedro Romero.” “Tapi ia telah tiada.” “Karena itu, hari ini aku ingin melihat aksi Enrique Ponce.” “Enrique?” Si wanita menoleh. Tersenyum penuh arti. “Jangan seperti anak kecil, querido mio. Tak ada hubungannya dengan Enrique almarhum Enrique dalam batinku.”

suamiku. Aku menyukainya karena kehebatannya, bukan karena namanya. Saat ini tak ada

Enrique Ponce memasuki arena. Ia akan memuncaki pertunjukan siang itu. Tepuk tangan membahana ketika ia keluar dari puerta grande. Tepuk tangan kian membahana ketika seekor banteng besar seberat 360 kg dihadapkan kepadanya. Dan, ia tak perlu berlamaperlahan-lahan seperti bersujud di hadapan sang matador.

lama untuk menancapkan estoque-nya melalui leher bagian atas si banteng yang kemudian

“Ia seperti memiliki mata malaikat,” si wanita berkata, seperti mendesah. “Ia memang luar biasa. Suatu saat ia mungkin bisa seperti Pedro Romero, sang legendaris itu,” sambung si pria.

Kini keduanya duduk di sebuah kursi panjang terbuat dari besi di sisi jalan tak jauh dari Plaza de Toros. Matahari bersinar amat cerah. Langit tampak kebiruan.

hoopoe dari kejauhan.

“Aku tak ingin semua ini segera berakhir,” si pria berkata, ditingkahi suara burung-burung

“Tapi hidup ada batasnya,” sahut si wanita seiring desiran dedaunan pohon palem yang ditiup angin.

“Kau ingin kita menyudahi semuanya, Elena?” Tak terdengar sahutan. Mata si wanita menatap ke kejauhan. Di sana tampak empat pria tua martil.

asyik bermain petanque, yaitu permainan melempar besi berbentuk bulat seperti bola lontar

“Kau ingin aku menikahimu?” si pria kembali bertanya. Si wanita meringis. “Akan menjadi pernikahan yang menarik,” ia mendesah beberapa saat kemudian. “Tapi Raul tak ingin hal itu terjadi.”

Si pria tampak terperanjat. “Sudah kau ceritakan siapa aku kepadanya?” si pria bertanya. Menduga-duga. Rasa galau berloncatan di dadanya.

“Tidak seperti yang mungkin kau sangka. Baginya, kau cinta pertamaku. Ia tahu apa itu artinya.”

“Tapi, kenapa ia tak setuju kita menikah?” Tak segera terdengar sahutan. “Aku tak ingin tahu alasannya. Aku cuma tahu ia tak setuju.” Lama keduanya terdiam. Hening menyungkup kamar itu. Si pria duduk memandang si wanita. Ada gelora cinta. Menggemuruhi dada keduanya.

“Kau masih secantik dulu,” katanya lebih mirip desahan. Suaranya agak tertahan. “Cintaku tak pernah dilekangkan oleh zaman.”

Setetes air bening menetes di mata si wanita. Tak ada luncuran kata. Ia tetap diam tanpa suara, beberapa lama. Tapi di dadanya kebahagiaan melanda.

Si pria berdiri. Melangkah perlahan menghampiri. Si wanita duduk diam menanti. Dadanya berdegup tiada henti.

Mendaki dan mendaki. Dalam peti berbalut kain hitam. tambien. Dengan baju serba hitam. Tak ada yang menyahut lagi.” kata Pablo. Como estas. julukan klub sepak bola Real Madrid.” kata Raul dengan wajah “Mereka pergi membawa cinta abadi mereka. sebutan umum untuk matador. Matador. Sampai kemudian semuanya berhenti. Pesetas. El Barca (baca El Barsa). Dalam gagap ia menemukan sepucuk tunas tumbuh. . sampai jumpa. Muy bonita. bintang dalam pertunjukan matador. Jantungnya kian kencang berdegup. Barreras. “Aku minta maaf atas semua yang telah terjadi. si pria menatap bebukitan tandus tapi memberinya gairah meluap. Mendaki. Muy bien. Cantik sekali. Nou Camp atau Camp Nou.” kata Julia lirih. Novilladas. kursi terdepan (termahal). Una hija. Buenas noches. Kalimat itu ia tujukan buat Raul dan Julia. selamat siang. Dalam gelap. El Merengues.* Jakarta. Hasta luego. tempat pertunjukan matador. Te amo. Mi. baik sekali. Buenos dias. Keheningan mencekam. Dalam kepasrahan ia membiarkan si pria pergi. Pablo. Julia. Por que? Kenapa? Torero. La Liga. Gradas. Plaza de Toros. aku juga. “Tak ada yang perlu dimaafkan. Februari 2004 Catatan: Tingkatannya di atas torero. tetap tertunduk. Si wanita tergagap. Sebentar lagi prosesi pemakaman dilakukan. Dalam sunyi abadi. hoy? Apa kabarmu? Bien. ruangan itu gelap. parade para matador sebelum pertunjukan. julukan klub Barcelona. baik. Tapi gemuruh cinta di dada keduanya berdentam-dentam. dan Javier berdiri berjajar. Raul. Tak ada yang dapat dipersalahkan.Beberapa lama si pria dan si wanita duduk dalam diam. Lalu. aku cinta padamu. seorang anak perempuan. matador pemula. nama mata uang Spanyol. kandang klub sepak bola Barcelona. Di hadapan mereka berjajar dua tubuh dalam diam. divisi utama Liga Spanyol.tempat duduk paling tinggi. Gairah di dadanya pun meletup. selamat malam. Paseillo.

Puerta grande. sayangku (My dear). pintu utama. .pada 30 Maret 1976 1) Barcelona kalah 0-1 dari Liverpool dalam pertandingan semifinal Piala UEFA second leg Querido mio.

keras kepala. mengikuti perkembangan mereka. yang semua sarjana bahkan dua doktor pula. dan cicit yang makin henti berdenyut. tujuh anaknya. Kami tidak bisa lagi koran dan televisi. Kapan pula dia merasa penat? Meski umur 80 dan tubuh makin ciut. menutup mata serta telinga beliau. Man?” tanyaku mengalihkan pikiran yang melayang saja ke mana-mana. menutup-nutupinya. melihat anak. Nanti sore kuantar…. Ia tergeragap. kabar buruk dari beliau. “Baiknya Bunda istirahat dulu.Lampu Ibu Adek Alwi Akhirnya bunda datang juga ke Jakarta.” Ia selalu menyebut rumah anak lelakinya dengan nama menantu. pasti beliau tidak tidur. karena belum siap melihat denyut itu tiba-tiba Aku menarik napas. Namun abangku. jika ia tahu. terlibat pula dia menyelesaikan beragam masalah. Masih pasang mata dan telinga baik-baik. Masih keliling ke berbagai kota bahkan pulau. “Nina dan cucu-cucuku sehat?” “Sehat. melayang suratnya dengan tulisan halus-tebal model masa lalu. cucu. doa. Merenung? manggut-manggut. panik. “Libur kau. Isinya ucapan selamat. kulihat keponakanku di jok belakang. “Terus sajalah. Tak dapat lagi ditutup-tutupi dari bunda. mata bunda terpejam. Palinggam…. Seminggu!” “Kuliahmu lancar?” “Lancar. tidak berani membayangkan.” ujar beliau saat kujemput di SoekarnoHatta.” Aku lalu diam dan terus menyetir. Tahun lalu. Berpikir-pikir? Lewat kaca spion. telah disiarkan “Antar aku dulu menengok abangmu. Palinggam. harapan. Mereka .” “Tak penat aku!” tukasnya keheng. “Oh. stamina dan kegesitannya seolah tak berubah. seminggu ia menginap di kantor polisi. dan memanggil anak-anak kami “cucuku”. “Besokbesok aku menginap di rumah si Nina. dan cicit. Tapi. Makanya. Tiap banyak. Kasus dan sakitnya abangku. naik jabatan). seperti jantung kita.” Ia cengar-cengir. Tempo-tempo.” kubilang. Seluruh keluarga heboh. Senyam-senyum. kadang kubayangkan urat saraf bunda lebih rimbun dan juga lebih canggih dari kami. sambil terus melaju di jalan tol. Libur. naik kelas. Di kantong celana kawannya ditemukan polisi ekstasi. tamat kuliah. laiknya anak muda. Di hari baik bulan baik bagi yang bersangkutan (ulang tahun. telah lama kami hindarkan terhenti. Om. atau kedap-kedip serupa kabel di pusat telepon. Apa yang bakal terjadi ketika bunda berjumpa abangku itu nanti? Tanpa sadar aku menggeleng. didampingi seorang cucu. juga nasihat. Justru itu. agaknya melantunkan nyanyian riang dalam hati. Dengan masalah yang juga tambah banyak. cucu. Dan saat kulirik ke samping. Urat-urat saraf itu tak denyut adalah pantauan sekaligus hubungan dengan anak. Ya.

berempat. Tujuh anak yang masih sekolah saat suami wafat telah ia bekali. nenek yang risau itu memanggilnya. seperti orang- Aku makin gugup.” kubilang. tangguh. “Lagi di jalan. Kak Leila berpura sibuk. berucap lunak. “Naik gunung.” Dan diam lagi. memandang jalanan. Pucat pula.” Tiba-tiba aku jadi gugup. serupa mayat!” Mata bunda kulihat sudah terbuka lagi.semobil. Pandai-pandai mencari kawan. sudah.” “Cuaca buruk. o. sebab sendiri saja membesarkan kami? Ah. O. Kawan yang baik.” kubilang. dengan uang hasil pensiun serta kedai rempah. ingat suami yang jarang pulang. “Baik saja. Masalah kami hari ini dengan begitu tak perlu lagi menjadi beban beliau. disekolahkan hingga tinggi. tak Herman kabarnya menangis. Dan bunda menyergap orang itu?” pula. “Biasa itu. pada usia senja? Merasa gagal. Pun ulah cucu. menatap aspal jalanan yang berpendar disinari Jelambar. seperti pernah dia ucapkan? ibu tamat seiring perginya hayat dari badan? Sebab di situ beda ibu manusia dengan induk “Bagaimana abangmu sekarang?” Bunda melepas pandang dari jalanan. si Herman. HP-ku lalu berbunyi. kurusnya engkau. Herman pulang. Agar mereka jadi manusia. Maksudnya membantu Kak Leila. Syukur. Tak apa-apa. Ingin kencing. Bunda? Sehat.” “Eh. “Kurang dingin AC-nya Bunda?” “Cukup. “Elok-elok kau jalani mengundang datangnya mudarat.” Kusodorkan . dituduh korupsi.” jawab Kak Leila. pulang dari rumah sakit. “Apa maksudmu?” “Maksudku. menanti jawaban. “Sudah pulang abangmu dari rumah sakit? Pura-pura sakit saja dia. Lalu Slipi. ingat pengalaman bermalam di kantor polisi. Atau. Dan kendaraan-kendaraan yang berkilau seliweran di jalan tol. Bunda tentu tidak diberi tahu. Betapa ingin kusampaikan bahwa dia ibu yang perkasa. Rosa langsung diam. anak laki-laki. Kami sudah di Apa gerangan yang terlintas dalam pikirannya? Anak cucu yang tak membawa kabar baik. baginya tugas ayam dan kucing. tak apa-apa Bunda. “Masuk rumah sakit. Dari istriku.” adikku Rosa menyahut. “Sudah dua hari tidak kulihat cucuku. Semuanya digaruk. kau bilang tak apa-apa?” suaranya bagai berasal dari tempat yang jauh. Palinggam. matahari pagi. Lihat. “Sudah. anak-anak kami. dan berhasil. Nak. Dalam hati kembali kumaki-maki abangku. sejak kapan alam berubah hanya memperdaya perempuan?” ujar bunda. Dan saat umur muda Herman. kau biarkan anak naik gunung?” “Ala. “Diajak kawan-kawannya. Ke mana dia?” tanya beliau suatu pagi. Dan bunda tetap menoleh. bicara sendiri saja. tak lama lagi Grogol.

meluncur mulus ke Kebayoran. Tapi. karena bunda lantas bertanya. Ceritakan apa yang terjadi!” katanya Ketika kejadian itu diceritakan setelah diedit dibagusi. Namun boleh jadi berlebihan. Bunda. orang sibuk kasak-kusuk. “Tanya kesehatanku. “Mengapa kau ketawa?” “Tentu punya waktu.” “Dan kau sibuk pula. sekali waktu lenyap dari rumah mereka di dari Singapura. Aku lihat abang kalian itu dulu…. Kau sudah di kantor! Bawa mereka nanti ke rumah kakakmu Andamsari. Mungkin berjaga-jaga dari demonstran.” Aku diam kembali. Eh. Syukur dua remaja itu sungguh sekadar berjalan-jalan. Bunda. Kemudian tertawa. Sering ke luar kota. bunda yang tadinya tidak tahu curiga melihat semua meradang. “KakakAnak dibiarkan tumbuh sendiri. Nak. Aida tak jumpa. Kakak iparku.” Mudah-mudahan lama. Ini. menangis tersedu. “Buktinya aku kini tak ke mana-mana. Kalian bagaimana? Syukurlah. Biar dia lupa bertanya.” “Bukan hanya karena hendak menjemputku?” Aku menggeleng. pulang dihubungi. Kakak dan abang iparku kalang kabut. anak ayam saja tidak seburuk itu nasibnya!” kakak kalian itu yang salah jalan!” ujarnya keras. bebas dari di luar. atau khawatir abangku raib tak ketahuan rimbanya. “Jangan kalian berahasia lagi. Harta meruah. sudah gadis bukan? Sudah SMP.” ia bilang. Bunda?” Kudului dia bertanya saat pembicaraan itu berakhir. Lalu ia mendekat. tambahku tanpa suara. Anak gadis kakakku. Alhamdulillah. rumah abangku sepi saja Aku terus melaju ke sayap kanan.” “Nina manajer pemasaran. masih kuat aku ke Jakarta. tak juga puas. alis bunda tetap bertaut. Lalu. Nak. siswi SMU kelas dua itu. sehat Nak. HP ke bunda. Aku berbelok. bersama pacarnya. Cucuku. sesak kendaraan yang padat-merayap ke arah Thamrin-Kota. Semua saudara Batam. Aida. Pagar maupun gerbangnya tertutup. Terpikir olehku. Mau bicara. Tetapi di halaman dalam terlihat sejumlah orang.” ujarnya. Mereka tahu sehari setelah kejadian. Ke luar negeri juga.Obrolan panjang. Ya? Besok-besok. suara bunda: “Nina? O. tanpa seragam. sibuk benar kudengar istrimu. “Aku cuma khawatir. . Bunda. termasuk Kak Meinar di Medan dan kami di Jakarta. Termasuk polisi. Tahu kalian. Jangan pula dia alami seperti keponakanmu. Memeluk bunda. hah. Dicari serta ditanya ke mana-mana. sudah menanti di teras. Aida. Dan. berhenti di tempat parkir khusus keluarga. Andamsari. Aida. si Aya. “Nina. “Biasalah. seperti biasanya. “Syukurlah. masih punya waktu kalian buat cucu-cucuku?” Aku tertegun.” kataku.” “Apa kata Nina. “Sibuk terus. Mana cucu-cucuku? Oh. Kami sudah tiba di Semanggi. ditemukan adikku Rafli di pantai Padang.

Nak. “Namun hingga detik ini. Kak Andam?” tanyanya antusias. dimaafkan.…” entah dibawa udara dari bumi yang mana. hampir menyerupai bisik. Menarik napas. Kalaupun akibatnya kau diberhentikan bekerja. “Belum tahu. seperti minta Bunda. Aku di kakus.” ujarnya bak mengadu. “Aku punya kawan. Bunda.” sahut bunda kemudian. Mata Bang Palinggam kian berkaca-kaca. bagiku itu lebih baik daripada kau berkhianat pada kebenaran. Palinggam. Namun takdir seorang ibu. dipecat partaimu. Nina lagi. Bunda. “Apalagi kau.” Bunda mengedarkan senyum. Dan negeri ini. Aku juga kader partai. Abangku melirik. kencing.hendak meledak. Nanti saja aku kabari.” dia bilang. sayu. Nak. sudah. Bunda sekarang tampaknya banyak diam. “Aku punya atasan. Suaranya makin lunak. Palinggam. “Sudah sampai belum?” “Sudah. aku tahu sekarang dari mana sunyi itu berasal. itu isyarat dari abangku. Matanya perlahan berkaca-kaca. juga kepadaku.” “Bagaimana bunda? Bang Palinggam. “Kalian sekarang memang bukan lagi anakku yang dulu. “Tetapi bagiku. kini sudah bercucu pula. Juga kepada Tuhan. Nak? Kenapa berpura sakit? Mengapa tidak kau beberkan saja semuanya?” “Tidak sesederhana itu. Juga aku serta Kak Andam. “Tak paham aku soal-soal begitu. Bunda diam. selalu terdorong menyalakan lampu hingga akhir hayatnya. Rasanya. .” “Dasar!” Pembantu bergegas mengangkut bawaan bunda. Dia menunduk. Dan lapat-lapat kudengar suara sunyi merayap. Suara Bang Palinggam terdengar pelan. Aku tergopoh ke toilet. aku tetap bersih. bagai kelap-kelip mercu suar di malam gulita penuh badai. Acara bertangisan agaknya telah usai sewaktu aku mendekat ke ruangan itu. Aku muncul. mengapa kau mengelak diperiksa. Mukanya kuyu. yang benar harus disampaikan sekalipun pahit. Terkutuk aku bila mendustai “Kalau begitu. Dan aku merasa. Dan HP-ku kembali bernyanyi. melepas urine yang “Tapi kayaknya tidak apa-apa. Bunda. yang sedikit banyak ikut dibela ayahmu dari penjajah. Bang Palinggam terpana menatap bunda.” Mereka duduk bertiga di ruang keluarga.” Sampai di situ mataku terasa jadi panas.” Mengangkat muka lagi.” “Di mana rumitnya?” Tidak terdengar suara. memandang bunda. pada hatimu sendiri. melihat bunda lagi. Loyo.

“Pernah sekali datang waktu mau ke Padang melihat kakaknya. akrab dengan pribumi. Tapi kami kawani dia melihat bekas rumah orangtuanya. Bun satu-satunya sahabat Cina kami di bersaing di pasar dengan pedagang pribumi tetapi tidak tertandingi membuat kue. yang lalu lalang di luar kedai kopi Tum. Mungkin karena bersama istri dan anak-anaknya. Si Tunik buka lepau nasi di Muaro Bungo. memurukkan yang lama ke lipatan bawah dan juga menguap ke luar ingatan. Nius. lebih-lebih tukang gigi. “Ingat si Bun Kay?” tiba-tiba Tum menyela. Si Talib di Dumai. Ayah Bun tukang gigi. “Tak lama lagi Dua lepau nasinya sekarang. Waktu terus berjalan dan orang-orang lahir. bila aku pulang ke kota kami selalu kutanyakan kawan-kawan masa kecil itu. Paling tidak dua atau tiga tahun sekali ada mereka pulang.” . Kawan-kawan lama kami jarang pulang. setelah mengamati wajah-wajah tak kukenal waktu kecil.” tambah Amril.” “Hanya si Cudik. Berubah sekarang. Bahkan mengerikan. berai. Dia dan keluarganya tergolong aneh. sudah bercucu satu. “Di mana dia?” tanyaku antusias. tetapi tak banyak lagi kabar gembira aku peroleh. dewasa atau jadi tua. di kedai kopi itu kami bercakap-cakap “Si Cudik kini di Lubuk Sikaping. Aku dan kawan-kawan pun sudah ceraikami. Tempo-tempo mata kawan masa kecil itu memang tak tampak. “Seperti orang-orang di dalam mimpi. tak pernah bersua kecuali dengan dua-tiga kawan yang setia menghuni kota kelahiran Kepada mereka. Hebat dia!” pensiun. Hanya menatap. seperti tidak kenal lelah. kopi di simpang jalan dekat pasar. “Seperti ada dan tiada. bahkan banyak yang tidak pulang sejak merantau-belasan atau puluhan tahun yang silam. Di kota kami orang Cina tidak mampu “Tentu!” kubilang. ibunya berjualan kue mohok alias bakpau. Kami ajak bermalam tidak mau.Jakarta. seolah sudah bosan lalu raib entah ke mana. sebagai dua studio foto yang ada di kota kami. namun kemudian muncul lagi dan kembali menatap.” Biju menerangkan dengan gembira. Padahal tahun demi tahun terus berganti dan kini telah mendekati tahun keempat puluh.” jawab Tum. Nius.” jawab Tum menampakkan senyum yang ganjil. Mereka pemilik satu-satunya bioskop dan “Bun di Medan jadi dokter. Tidak sekalipun berkedip. grosir roti dan permen. si Talib dan si Tunik yang acap pulang. yang meneruskan usaha keluarga membuka kedai mengenang kawan lama serta kota kami yang setelempap tetapi menyimpan sifat-sifat aneh tak terduga. Berbagai peristiwa timbun-bertimbun. kendati kota kami tetap saja setelempap. Nius. Kalau aku pulang. 22 November 2006 Mata Sultani Adelk Alwi Sudah hampir empat puluh tahun mata Sultani menatapku. Satu di Palembang.

Itu pula sebabnya dendamku pada Sultani pernah seperti tidak berujung. lebih menyenangkan kalau yang mengantar kue adalah Sui Lin. Tunik juga. tak pake babi laaa. mengantar kue mohok hangat- hangat. menyogok portir bioskop sehingga kami bisa nonton film 17 tahun ke Membungkuk-bungkuk mencari kursi kelas 3 yang kosong. atau menjelepak duduk di menggairahkan. mengajak makan. mencukur. adik Bun. guru mengaji Tempo-tempo kawan itu memang cingkahak. Bak orang-orang dalam mimpi. “Itulah. Seperti di rumah Bun. dan tak pakai babi!” komentar anak-anak yang iri. kami kerap nginap di rumah Sultani. Ayah Sultani kepala terminal sekaligus ketua organisasi buruh. “Banyak kawan kita serasa ada dan tiada. Biju dan “Makan. makan! Tidak halam! Tak pake gigi babi laaa!” Sultani cengar-cengir menyindir. Kelas 6 SD kurasakan gejolak cinta Mereka menggeleng. Keluarga itu memang kaya dan terpandang. Ibunya baik seperti ibu Bun. Begitu sandalnya berlosoh pergi kue dan teh itu amblas ke “Jelas enak. Sultani. kembali menampakkan senyum yang ganjil. suara itu.” bilang Tum. Bagiku.” sahut Tum.” ia sodorkan nampan perut kami. Juga pandai menjahit. “Tidak halam. ibu Sultani pagi-pagi menghidangkan nasi kadang susu. “Percuma. berdebar-debar sekitar dua jam menyaksikan aksi Sophia Loren yang atas yang dibintangi Sophia Loren. seperti buang hajat. goreng serta roti lapis mentega.Dalam peristiwa dahsyat pertengahan 1960-an rumah orangtua Bun di Kebun Sikolos diobrak-abrik massa. Kami berebut. berisi mohok serta teh manis. Saat dia letakkan ke meja tak seorang pun yang berselera menyentuh dia ulahi. mencangkunginya kecuali dia. pintar di sekolah. lantai. “Didiamkan berhenti sendiri!” Lin terlihat segar. Pipinya putih kemerahan serupa jambu air. Bun tertawa-tawa menyikat nasi goreng. Kami diselundupkan portir ketika lampu bioskop padam. Tapi kami cegah. diduduki hingga kini. Tidak kecuali KAWAN masa kecil itu lincah. tidak halam! Enak laaa. Kalau di rumah Bun kami disuguhi kue mohok. Dan pernah pula Buya Makruf. Lalu ia sambar roti. Minumnya teh hangat.” “Bagaimana kabar Sultani? Di mana dia?” tanyaku pada kawan-kawan di kota kelahiran. Di antara lipatan uang sogokan dia selipkan duit buntung atau uang zaman Jepang sehingga untuk beberapa waktu kami terpaksa puasa nonton film orang dewasa. Mereka bilang ayah Bun menjual gigi dari Peking. Dia kapten sepak bola. Dulu kami sering bermalam di rumah itu. Sultani malah tertawa-tawa makan uang haram itu. alias usil plus kurang ajar. “Di dalamnya ada kerak gigi!” Kalera! Sultani meradang dan hampir menghadiahi mereka “ketupat Bengkulu”. lucu. Nius. adik kelas kami. Pagi-pagi terdengar sandal ibu Bun berlosoh-losoh mendekati paviliun tempat kami tidur. Portir bioskop juga . Pagi-pagi Rambut ekor kuda. Suara Lin halus: “Ko Bun! Engko Bun!” Dadaku berdebar mendengar monyet mengalir deras terhadap Lin. Suka-suka kami mau makan apa. Matanya tak terlalu sipit. juga ketukan jari-jarinya yang mungil di pintu. Sultani menarik piring roti ke dalam sarung.

“Sunat Bun! Potong Bun! Saat liburan tiba Bun pun lalu minta disunat. Babah mau coba? Sret. Tapi aku merasa. Pelan-pelan disentuh Sultani kepalaku.kami. serta sarung beliau “terbang. Aku malah tak sekali. . Mukanya pucat serupa mayat. “Ular! Ular!” Bun berteriak menyembul di tengah sungai. kopiah. Kepala Sultani Terlalu panjang Bun!” terpekik. tentu saja. kan?” Seperti rambut Biju itu yang kuinginkan. kan?” Aku mengangguk. Ayah dan ibunya setuju.” “Tidak sakit. Suara gunting tak berdencing-dencing ganas. Tunik juga. Mulanya sungguh-sungguh juga dia. Kelas enam disunat. setiap usai dicukur kepalaku tetap mirip tentara atau anak kecil. Uang yang sedianya diterima Mak Hasan kujanjikan kami bagi dua. Ibunya tersipu. Bun!” Sultani memang pandai mengaji dan ditunjuk Buya Makruf sebagai guru kecil. “Sebetulnya telat Bun. banyak kawan merasakan ulah Sultani. Sudah lama aku dambakan model rambut orang dewasa atau rambut abangku. ketika mandi-mandi di batang air yang mengalir di kota kami Bun tiba-tiba panik. “Malah. mendampingi kawan itu setiap malam. Padahal selalu kuminta Mak Hasan sambil mendorong kepalaku kian kemari. Sebulan ditanggung fasih. mencukur seperti yang kuinginkan. Mendesis-desis lunak. Dan Bun disunat. laaa. Suaranya merdu. terbungkuk-bungkuk keluar tempat wudu bercelana kolor dan dada bugil. “Ayaaa. ke halaman masjid. Sultani berkata: “Sudah Bun. Berenang kalang kabut ke tepi. dan suatu petang Bun termangu di halaman Masjid Jambatan Basi menanti kami usai mengaji. Baju. Iya kan. Jangan pula licin tandas bak kelapa. Bun mau potong bulung bole potong. Rancak. Setelah sembuh. “Rambutku dia cukur. tajwid dan Bukan saja Bun. itu turun dari ibunya. Tak licin di sekeliling kepala. Aku serahkan kepalaku pada Sultani. tidur-tidur ayam. Kepandaian kiraahnya elok. Asal Bun tidak nangis kalu sakit laaa.” ujar Sultani saat Bun meringis dan kami Bun?” Bun mengangguk lemah. ikut mengaji saja. ajakan Sultani pada Bun karena dia ingin mengamangkan rotan di depan kawan itu. “Tapi tak apa-apa terlambat daripada tidak. Ulah Sultani! Suatu kali. Ada yang menyentak ujung kulupnya dari bawah air. selesai!” Ayah Bun terkekeh. Mataku merem melek. melecutkan ke kaki-seperti dia lakukan pada kami selaku guru kecil yang cingkahak. Terbahak-bahak seperti hantu air. Rustam. Mestinya waktu kita kelas tiga. dan tukang cukur langganan ayah itu pun ber-hm-hm “Cukur sama Sultani!” Biju menyarankan. Biar aku yang ngajar. tidak terasa. jadi keras. Dan sesekali. Ibunya selalu mengaji tiap subuh. potong pendek bak rambut tentara saja aku bosan. tetap ditumbuhi rambut dua-tiga senti yang melingkar manis rapi di sekitar telinga. “Seperti model rambut Bang Rustam. Bah!” Sultani meyakinkan bak tukang obat. Tetapi. Namun yang membuat dendamku membara ketika semua bulu di kepalaku dia babat.

Buas sekali. aku menghambur ke jalan. Tum diam saja mendengarkan sunyi. tahi kuda dan entah dengan apa lagi. Ibu Sultani berlari mengejar. dan orang bergegas Sultani. Tahi kambing. Sejumlah orang menerabas masuk. kurang ajar ya. Nius. terpaksa begitu!” Ditekan Sultani kepalaku dengan ujung telunjuk. Tetapi mereka pun tidak tahu. Membuang mayat orang tua itu ke Batang Anai. “Tadi di sini terlampau pendek. tak mendengar orangtua!” Cudik bilang mereka membawanya ke Singgalang . Pernah kami tanya ke situ. Dia mendekat.” kata Amril. Lalu ia terpana ketika Orang-orang masih berteriak. Kaca-kaca pecah terjerembap di halaman. Dia cerita begini-begitu aku buang muka. Suara mereka teramat gaduh. Sultani juga. Atau pergi. Sudahlah. sebagian kepalaku sudah terkelupas bak ayam hendak digulai! “Tak ada jalan lain. Lututku menggigil. Tidak kuhiraukan imbauan ibu dan ayah. berdarah. Dia juga matanya bersirobok dengan mataku.Tetapi lama-lama kepalaku semakin dingin. Nius. mendengar di mana Sultani. aku menghindar. Kakak perempuan Sultani mendekapnya erat-erat. berteriak-teriak. kuratakan. melihat aku “Sejak peristiwa itu tak ada yang tahu di mana Sultani dan keluarganya. seperti Yull Bryner kau!” manusia cingkahak itu. Mereka terus berteriak. tersenyum Sejak hari itu kami tak berteguran. “Kepala Ko Nius kenapa?” Alamak. Dan aku merasa ketika itu Sultani tengah menatapku dengan mata tidak berkedip seperti biasanya. suatu pagi. Ketika kuraba. Aneh sekali. Menghabisinya. meraung-raung. Bergelombang-gelombang manusia. sepekan rambutmu panjang lagi. “Mulai Kariang. Tepatnya. Menangis. Lebih-lebih waktu Sui Lin. Bagus juga kau gundul. diseret abangku pulang. Kusaksikan ayah Sultani diseret. tegak kaku di ambang pintu. “Jangan ikut! Jangan ikut kau!” Aku terus berjalan di belakang gelombang-gelombang manusia yang riuh. Mereka melempar rumah itu dengan berderai. Seakan-akan bukan warga kota kami yang sehari-harinya tenang dan saling menyapa. mati awak rasanya menanggung aib! “KEPADA kawan-kawan yang tiba dari rantau kami juga bertanya kalau-kalau mereka tak henti menanyakan kawan masa kecil itu tiap pulang ke kota kelahiran.” lesu. Perempuan itu Aku menyeruak di sela-sela orang dewasa. “Seperti mencampakkan bangkai anjing!” cerita Cudik. hasilnya nihil. Dendamku laksana sumur tanpa dasar. Menyepak pintu hingga rubuh. melihat aku di tengah kerumunan. aku tidak mau bicara atau dekat-dekat dengan melihat kepalaku yang plontos bak kelapa ketika aku nginap di rumah Bun. Sewaktu prahara dahsyat pertengahan 1960-an melanda kota kami. Mukanya menangis. malah sebelah sini terlampau pendek. Mereka menuju rumah batu. Menyeret serta mengarak ayah Sultani entah ke mana. Lupa aku pada sifat baiknya yang setia kawan dan suka memberi. Eh.” sambung Biju Berkabar pun mereka tak pernah sejak kejadian itu. Tanganku dicekal. lewat bergelombang-gelombang di muka rumah sambil berteriak-teriak. “Sanak famili ayahnya di kampung juga tidak.

Tubuhnya tidak ada!” Cudik berkeras. walaupun tahun demi tahun . Bahkan sampai kini. yang menatapku tanpa berlalu menghanyutkan zaman dan usia ke muara. Hanya mata saja.“Bagaimana kau tahu? Ikut kau ke situ?” kami tanyai Cudik ramai-ramai. ada yang menemukan sepasang mata di Batang Anai Kami bertatapan. “Semua orang bilang begitu. dua buah.* Jakarta. 2 April 2005 berkedip. Diam-diam terbayang olehku mata Sultani. kemarin pagi. seolah-olah tidak pernah lelah. Kalian tidak tahu? Mereka menghabisinya petang itu juga!” waktu menjala ikan. “Dan.

kalau kau tinggal lebih lama di kota kami. “Hoi. tukang serbat. bercakap- Betul. di belakang lampu semprong mereka yang temaram. apa kabar! Baik? Singgahlah dulu!” Tetapi. Biarlah masalah ini bagian ahli bahasa. jangan pula payung. siang. petang atau malam Tetapi. di kota berniaga. karena sejak muncrat ke dunia sudah bergaul dengan cuaca serupa itu. akan ahli pula kau menerka usia perkawinan seseorang hanya dengan melihat jas yang dia pakai. Itu pula sebabnya potongan jas itu-untuk menghindarkan salah tafsir. Tukang kerupuk tak selalu berarti orang yang membuat kerupuk. tukang serabi. ya. kecuali lelaki-lelaki gatal atau yang punya istri lagi. Tidak jelas mengapa demikian. anak. hidupnya. Karena itu. kembangkan payung. orang-orang kota-kota besar Eropa pada masa lalu. kabut di sana seolah-olah turun sesukanya. sedang jas pun (yang dikukuhkan sebagai pakaian resmi sebab istimewa di kota kami. Kadang-kadang pagi. Dengan tongkat-payung itu pula mereka saling di jalan-jalan kau lihat membawa payung atau mempertongkatnya. Tidak konon menimbulkan kesan “lain” bagi yang memakai juga yang melihat). Meski cuaca cerah. tukang rokok.anak muda kota kami lebih suka pakai jaket daripada jas. ataupun sebaliknya-bahkan ketika kemarau mungkin sedang meretak-retakkan tanah di kotamu. . Adakalanya juga dari pagi sampai malam. sudah turun pula si kaki seribu!” Lalu mereka cakap. mirip dengan warga melambai dan menyapa. Begitupun tukang sate. tak mengumpat ketika kabut mendadak turun dari bukit dan gunung. Berbagai pemandangan ganjil-lucu yang tidak bersua di tempat lain bisa kau temukan di kota kami kalau Anda suatu ketika berkunjung ke sana. betapapun elok bahan dan kami hampir tak dikenal orang istilah pedagang. dan seterusnya. warga kota menderap laksana suara kaki belasan ekor kuda. atau hujan tiba-tiba seperti menghadapi anak yang nakal: “Ha. Kecuali. juga sosiolog. Ya. Di mana-mana kau bisa saksikan kaum pria memakai jas. penjual kerupuk.Warga Kota Adek Alwi Kacang Goreng Kota kami terletak di dataran tinggi di lereng Gunung Singgalang. Aku hanya ingin bercerita tentang mereka. tukang kacang goreng dan penggemar makanan ringan itu. Hal lain yang bakal membuatmu terheran-heran adalah tukang kacang goreng. tetapi juga tukang emas. tapi jarang sekali pria kota kami membuat jas dua kali dalam pojok jalan dalam kabut. Aku juga tidak bermaksud membahasnya. hujan dan hari. bukan suatu yang kecuali para kusir bendi dan tukang kacang goreng yang duduk mencangkung di pojokDan. Karena. Paling-paling orang hanya bergumam. walau kerap membungkus tubuh mereka dengan jas. meski aktivitas seseorang berjualan. atau makan kacang goreng. melenggang tenang-tenang di atas trotoar sambil bersiul.

muka depan gerbang-gerbang jalan menuju surau dan masjid. tikungan-tikungan jalan. Anak-anak muda itu seolah punya prinsip: pacaran boleh putus. Bertengkar. makan kacang goreng jalan “Habis. Bahkan. Mereka dapat ditemukan di mana- perkantoran-perkantoran. Malah bangga. sebesar jempol. tukang kacang goreng tetap banyak di kota kami dan orang tak merasa rendah jadi kacang goreng. Namun. jangan dikata lagi. perlu penelitian. sebagian besar orang terpanggil lahir karena bakat itu. Empat atau karung goni kacang goreng mereka yang hangat. Pada hari raya dan libur-libur panjang.Sekalipun kota kecil. serta kegemaran orang memakan kacang goreng. duduk berkelumun sarung atau melekat ke lima orang di antaranya juga mangkal di muka dua bioskop yang ada di kota kami. Lagi pula. meski lazim tinggi atau bekerja di kota lain dan wesel-wesel mereka berlayangan di awal-awal bulan memenuhi kantor pos. Dan. Lampu-lampu semprong mereka dari jauh Tentu ada hubungan erat antara tukang kacang goreng yang sangat banyak itu dan iklim kota kami yang dingin. Tetapi. kalau itu. beberapa waktu setelah bubar bioskop. agak berjauh-jauhan di bawah papan reklame film. “Ini. Gemuk. kota kami tidak pernah sesak yang menyebabkan warga kota kami subur-subur. “Tetapi. Berjajar suami istri dilanda perang dingin.” komentar para suami saat makan kacang kacang goreng ke atas meja. bahkan divonis putus oleh si gadis karena kulit ari kacang goreng ikut menyelusup ketika bibir-bibir bertemu pada malam Minggu. sepuluh atau selusin. tidak saling tertawa layaknya pasangan mirip bintang-bintang di langit. tukang kacang goreng. tukang sesudah lama merantau pun kegemaran itu rupanya tidak hilang. di muka rumah sakit. pengirim-pengirim wesel yang rajin itu-yang sebagian di antaranya tumbuh berkat uang kacang goreng-berlayangan karenanya. Anak-anak muda segera berangkat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih ke kampung halaman menjumpai orangtua dan sanak keluarga. panjang. tidak ubahnya kekasih-kekasih yang melampiaskan rindu Alhasil. depan asrama tentara dan polisi.” sahut ibu-ibu di kota kami dengan sigap. lihatlah!” lanjutnya melempar sebuah mengalahkan kacang goreng Mak Sanin!” “Memang. memang lain kacang goreng kota kita ini. juga di Tukang-tukang kacang goreng itu pakai jas. “Di tempat lain kecil-kecil kurus kulihat!” goreng di malam-malam dingin bergerimis. terus. seakan-akan mana sejak pukul lima petang hingga tengah malam. tetap belum ada yang sanggup “Ah. penggemar kacang goreng tidak pernah pula berkurang. Saat-saat itulah mereka tak dendam setelah lama berpisah. tukang kacang goreng amat banyak di kota kami. selera menyantap kacang goreng tak kunjung patah. Juga. Mereka mangkal di emper-emper toko. kedap kedip di balik tirai kabut dan gerimis. meski sejumlah anak muda mengalami pengalaman pahit akibat kacang goreng. apakah itu satu keluarga punya anak sembilan. Dalam KTP mereka pun tercantum: pekerjaan. lepas-lepas dari kacang goreng. tiada bandingan!” .

Sudah barang tentu jasnya pun telah lapuk. Juga ke Lubuak Mato Kuciang. Seolah ringan saja karung goni itu baginya. Tetapi. Ibarat pelukis. Anak daun telinga kawan kami itu gembung-bengkak kemerah-merahan. saat beduk subuh mulai berkumandang di seantero kota dari masjid dan surau. dia susuri jalan-jalan kota dengan karung goni berisi kacang goreng di atas seperti di muka bioskop atau kawasan pasar. ingin makan kacang goreng. istrinya dipakai Mak Sanin. Kumisnya pun lebat melintang.tenang saja dia melangkah. Menyelusup manja ke pelukan suami. tanda Mak Sanin berjualan. Tokoh ini sangat populer bahkan hingga kini. itu Mak Sanin!” ujar si suami. Ibarat… . Berhari-hari berjualan. anak. Kedua makhluk itu konon melakukannya malam-malam di pinggir kota usai itu lari pulang menggerung-gerung dan telinga si Katan pun disentil Mak Sanin. sebab dipakai setiap malam selama bertahun-tahun. dia itu Chairil Anwar atau Amir Hamzah.anak justru takut pada Mak Sanin. . Jam dagangnya juga berbeda dengan tukang kacang goreng yang lain. Cubadak Bungkuak. “Hah. Tenang. Mak Sanin adalah maestro kacang goreng!” jawab si istri bersemangat. Orang-orang terbangun.tambalan pada jas yang sipit. Ibarat pencipta lagu dialah Gesang atau Ismail Marzuki. perempuan kota kami menyukai lelaki itu karena dia tidak pernah pakai jas baru. Suatu kali kawan kami si Katan menghajar anaknya hingga babak belur. cang goreeeng…!” berirama memecah udara: “Tak-tuk-tak. khususnya di kalangan kaum ibu. mata rada Agak berbeda dengan orang dewasa. Mungkin karena tubuhnya tinggi besar. dia Affandi. Dengan jas itu-itu juga. Suara serta bunyi tangkelek atau bakiaknya tuk-tak. kian gencar pula Mak Sanin mengembara menyusuri pelosok-pelosok kota. tak- Pada larut malam yang dingin berkabut itu Mak Sanin benar-benar menjelma jadi pelayan buruk mendengar suaranya. Makin malam. Bancah Laweh. kepala. dan warnanya hampir tidak jelas lagi. terutama ibu dan kakak-kakak perempuan kami. pandai dan rajin menyisik sehingga tak kentara benar tambal. dia keluar sesudah magrib atau isya dan akan berakhir kira-kira pukul tiga dini hari atau Mak Sanin adalah satu-satunya tukang kacang goreng yang tidak berpaut di pangkalan saat Begitu keluar rumah di pangkal malam itu orang tidak akan menemukannya di tempat ramai pinggang lebar. Dialah penemu sistem jemput bola dalam berdagang kacang goreng di kota kami. Biasanya. Pencuri-pencuri mengurungkan niat mereka yang Pasangan-pasangan yang tengah bertengkar terhenti. tunggal sekaligus penjaga kota kami. Mak Sanin satu dari sekian banyak tukang kacang goreng di kota kami. Selain karena kualitas kacang gorengnya memang di atas rata-rata. kami punya ilmu. Orang juga mengatakan Mak Sanin tidak lagi bermain silat dengan manusia melainkan dengan harimau. dan Bak Aie yang merupakan pinggiran.pinggiran kota kami. ilmunya tinggi. Juga karena dia “berisi”. tak-tuk-tak. cang goreeeng…! Tak-tuk-tak.“Ya. dan selalu merah menyala. dan sarung dililit ikat mendatangi calon pembeli. “… perempuan ia adalah engkau seorang!” potong sang suami buru-buru dan si istri pun diam sambil tersenyum-senyum. “Ibarat penyair.

mata si Sanin itu merah hanya karena menukar siang dengan Tukang kacang goreng itu ditemukan orang tergeletak di tepi kali. berpandangan dan saling tersenyum mendengar suara Mak Sanin mendekati. tahu benar aku.kisi jendela. “Huh. pada suatu malam. sewaktu pesanan mereka ditakar tangan mereka menyelusup ke karung goni. ketika ramai-ramai di tahun ’66. Belilah. Dan. Delapan tahun saya belajar merendang kacang pada Mak Sanin!” Anda melongo heran karena Anda toh tidak kenal siapa Mak Sanin. Besoknya. “Mak Sanin!” “Hoooi!” Tukang kacang goreng itu menghampir ke makhluk elok itu. justru setelah ia tak ada lagi namanya terus jadi buah tutur warga kota kami. Semakin jauh. pengantin-pengantin baru. Jakarta. Ada sebelas bekas bacokan merobek jas tua dan tubuhnya. Cukuplah.” Dan. Orang-orang akan mencela tukang kacang goreng bila kacangnya tidak Karena itu. enak atau dia bertingkah. bahkan hingga kini.“Beli dulu kacang gorengnya. meraup kacang goreng bukan hanya sekali. kacang enak ini! Tak sembarangan kuali dan pasir . itu biasa. Anda pun akan terheran-heran menemukan banyak tukang kacang goreng di buat merendangnya. Dan. Kemudian. Desember 2004 kota kami yang berkata kepadamu: “Ha. malam!” Tetapi.” kata ayah bagai orang kedinginan. Tujuh lubang peluru. Dengan jas yang ituitu juga. berkibar-kibar ditiup angin malam. Rambut nyonya muda yang hitam subur tergerai hingga pinggang. cuma sebagian warga kota yang kota tidak mendengarnya. Tetapi. tegak menanti di ambang pintu. Warga yang lain tidak. Semua pembeli melakukannya dan semua tukang kacang goreng membiarkan saja.” Anak-anak muda yang sedang begadang menyongsong kedatangannya dengan girang: “Tiga liter. Mak Sanin. Padahal. Tidak bakal menyesal. Bergegas mereka benahi diri. “Seliter saja ah. tak serupa Mak Sanin!” ujar mereka. Dan besoknya lagi.” “Yo! Eh. pasangan-pasangan itu menyimak suara Mak Sanin dan malam melalui kisi. harum bercampur peluh. yang memang tak tidur-tidur di tengah malam buta itu. lalu sayup-sayup diantarkan angin mendengar suara dan bunyi tangkelek itu. Karung goninya entah di mana. kota “Padahal. Tetapi. mungkin juga tidak mau tahu. sambil bercengkrama serta menikmati kacang goreng berdua-dua di larut malam itu. seluruh warga kami gempar tak alang kepalang. Hanya berdua. tangan-tangan mungil itu menyusup pula ke karung-goni yang hangat. sudah mereka tunggu-tunggu. Cobalah. bunyi tangkelek-nya yang menjauh. “Masya Allah. cukup seliter?” “Hi-hi-hi. Mak Sanin!” Dan.

agresif melahap segala sambil menyepah yang kalah kehabisan waktu. di lembaran kertas. sehingga orang-orang tak akan bisa lepas dari kekangan jam. berteriak. Manusia selalu berada dalam . di juluran lidah dan di untang-unting tenggorokan ketika orang-orang bercakap-cakap dan ingatan: memaksa setiap orang untuk bergerak lebih cepat dan semakin cepat sehingga Jam ada di mana-mana. bersebelahan. tidak bisa memanggil siapa pun. dan di kemengangaan mulut. ”Tapi bisakah kita bebas dari jam?” kata Anderwedi sambil berpacu agar bisa lebih leluasa tak dijadwal. di dinding. anjuran jam— dan ulah kerja manusia. Jam di mana-mana. berbelit dan kusut membentuk gombal kain nasib yang ketika ditelusuri benangnya ternyata masau saling menjerat. Setiap orang dikepung ratusan jamnya sendiri sehingga terkurung sendirian. di bak air dan di gayung kamar mandi. sampai akhirnya tiba di rumah dan disergap jam lagi. balik ke dari kungkungan jam kerja semuanya langsung memasuki street race untuk sekali lagi berpacu pulang (cepat) ke rumah dengan berjuta jam yang berdetak dan berpendar di tengah lautan jam kerja dan dipacu detak ribuan jam kerja di mana-mana. di HP yang setiap saat sepertinya berbunyi menyatakan ada jalur pacu lain yang harus ditempuh sebagai balapan berikut atau yang terpaksa diabaikan. Bisakah manusia bebas dari waktu. yang diam-diam maju terus. ”lakukan semuanya semaumu. di motor. Bilang. berpendar-pendar di dalam jadi tanda ketika malaikat mencatat semuanya dalam lembar laporan harian kepada Allah orang berpacu untuk secepatnya masuk garis finish tanpa terlebih dulu memasuki jeda waktu terengah-engah dan menyerah. Lik War menggeleng. di pintu halaman. Di pagar rumah. dari ukuran yang dibuat manusia untuk menandai yang tidak terlihat dan tidak terasa. di dinding dan kursi-kursi dan monitor komputer. saat waktu terpaksa hanya jadi patokan gerak tersenyum dan tersipu-sipu. di layar TV dan dinding di samping kiri atau kanan pintu masuk dekat bel. di ranjang dan bantal kamar tidur. dan sambil terus melahap yang ada dan menempatkan semuanya pada jalur pacu yang ada dan senantiasa ada. di pintu. aku hanya akan SWT…” Dan karena itulah—kata lik War—Jakarta berubah jadi arena balap. di mobil. Berdetak-detik di dalam pendengaran. di layar monitor. Jakarta—kata lik War—itu jam besar dengan miliaran jam kecil yang berdetak dan berpendar serentak. dan begitu lepas sepanjang jalan. saling kontak-sentuh. di ruang tengah yang merangkap ruang keluarga. di meja di ruang tamu. lalu jeda dengan jam yang terus berdetak di mana-mana. sambil menyisihkan yang kalah dari satu jalur pacu. masuk kantor dan mulai kerja dengan jam yang berdetik di laci meja tulis.Langgam Urbana Beni Setya (Atawa Jakarta in Rap) Di Jakarta—ungkap lik War—jam ada di mana-mana. di meja makan dan terutama pada piring dan gelas minum. Di jalanan. di perut yang hanya diisi kopi. di apa saja—yang serentak berpendar dan berdetak menganjurkan semua agar terus Gelagapan dikerubuti jam yang bermunculan dan berdatangan dari mana saja dan hinggap berpacu. di bundaran lampu lalu lintas. minta bantuan pada siapa pun dan mendapatkan pertolongannya. di dapur. di mana setiap pitstop.

yang hanya sebagian yang bisa ditanami palawija dan semangka. Dan setelah itu. ”dan kendaraan yang berjibun itu membuat macet di mana-mana. bumbu dan yang lainnya. sambil merokok dan meneguk arak oplosan di tengah kesiuran angin dari persawahan yang dipusokan dan kami menghubungi Saman Bakmi—ia berkeliling jual bakmi dengan gerobak dorong. dengan celana jeans hitam ketat yang kata lik War juga bilang. malah sampai jalan tol yang seharusnya lapang dan bebas pacu bagi yang ingin menundukkan jam. sebelum semua meloncat seperti mengawali lomba yang akan menentukan siapakah yang lebih dulu dibanding si pole position yang teledor. untuk tolong. seluruh anak muda ingusan yang saat itu ikut nongkrong di gardu Kamling di ujung kampung. Ia minta disewa dari juragan yang juga menyediakan mi.pikirku.” kata Anderwedi—mewakili pikiran kami. yang memaksa tiap orang menjadi Valentino Rossi. Lik War pun mengajukan usul lain.” kata lik War. Kami . dan yang setelah 5 km baru tiba di jalan kecamatan yang lebih mulus sedikit— terbayang jalan itu penuh deretan mobil yang berjajar dan di sela-selanya motor-motor meliuk seperti dalam atraksi lomba trail semi akrobatik di TV. dan bermuara di jalan antardesa yang bergelombang dan berlubanglubang. karena itu mereka menjadi yang dikalahkan waktu dengan kepeksa jalan merayap dalam kemacetan dan nelangsa menghabiskan BBM percuma saja. titik saling ketergantungan. kami ikut dengan Marto Pedrosa—ia sendiri yang menambahkan nama itu karena aslinya ia bernama Joko Martono dan dulu selalu kami dihiasi jam yang sudah pada kendur: benar-benar tak menarik minat berpacu kami. ”bisa dibeli secara kredit”—tapi minimal tiga orang. yang lebih memilih sepada motor bukan karena tak punya duit karena jalanan di Jakarta bukan tempat yang tepat untuk berpacu dengan mobil. karena itu banyaklah orang menawarkan diri disewa-angkut agar mobil itu bebas berpacu mengejar waktu di jalur 3 in 1 itu di sekian menit nunut—celakanya orang-orang itu malahan diuber dan dikejar Satpol PP karena dianggapnya membuat orang kaya bisa bebas merdeka berpacu di jalur yang tak sembarang orang bisa masuk bila berdua saja. yang mungkin hanya menggeleng. pikirku. ia naik Brantas yang karcisnya sebanding dengan harga celana itu. serta tempat kos Jakarta di sepanjang malam. ”Terlalu banyak kendaraan. Casey Stoner dan apa lagi yang senantiasa berpacu di jalan. Lik War pun tersenyum. hingga ada jalan khusus yang hanya boleh dilalui mobil bila isinya untuk membeli mobil—”barang-barang itu. ”Aku jadi pengen ke Jakarta.” kata lik War. dan sesekali mandeg dan meraung-raungkan gas sebelum lampu di perempatan itu menyala ijo. deretan kata yang tidak bisa kumengerti dan kayaknya juga tidak dipahami lik bos yang bilang. Tapi berlomba dengan gerobak dorong sambil memukulkan dan pelatihan—agar ikut dengannya dan belajar berkeliling di gang-gang di perkampungan sutil logam pada cekung wajan dalam pacuan di gang-gang kampung.menolong atau instinktif tebas-menebas— metalik halus bergambar entah apa—percik cat tumpah—dan tulisan excited. what ever will War. yang cuma bilang kaus itu diberikan anak bos karena saat dipakai ditertawakan oleh cuma produk tembakan sehingga harganya hanya cukup untuk naik taxi ke Ancol—lik War Ya! Tapi lik War senantiasa bilang: Jakarta itu jam besar dengan anggota miliar jam kecil. Aku menatap lik War: Memakai kaus hitam dengan sablon be will be. Terbayang jalanan mulus Jakarta—tidak seperti jalur makadam kampung. yang menembus ladang dan sawah.” Kami menelan ludah. ”grammar apa tuh?”. meski di kereta itu ia tak bisa berbuat apa selain duduk dan menggerak-gerakkan jari kaki tokh.

”tetapi lu kudu apal jalan-jalan di Jakarta dalam seminggu. Timpah. Nonik. dan Tyas. ”Atau ikut Arpan. dan banyak orang sekabupaten yang mengaku-aku penduduk asli kampung sini. memenuhi trotoar untuk recehan?” Kami melengos. dan setelah enam bulan baru menjadi ojek’s driver—sambil menjanjikan mempertemukan kami dengan kawan Bataknya. Berangkat ke Jakarta. menyusupkan dingin yang tajam dan menyamak jangat dalam irisan yang menyeluruh di awal Syawal. atau penghuni kompleks semodel Tri. Bersama-sama sampai di Senen atau Kota—lalu .” katanya. Dan miliaran jam yang terangkum dalam sebuah jam raksasa bernama Jakarta terus berpendar di kelam malam. dan yang di Jakarta menjadi tukang ojek. sekaligus kudu sepeda dulu. Atau ojek payung?” Kami melengos—apa yang bisa dipacu dengan jadi punya DP sejuta sebagai jaminan dapat make motore bos. Kimi. yang masih buron—sehingga para urbanis sekabupaten di Jakarta bikin slametan di Jakarta Dan Jakarta jadi jam raksasa yang melengkung dan mengayomi miliaran jam kecil yang serentak—tak pernah serentak karena selalu ada selisih lebih lambat dan lebih cepat dalam seperti memanggil kami untuk meninggalkan ketiadaan harapan di kekeringan yang selalu baik dan tak baik-baik. Kasim. Mungkin lu kudu belajar jadi ojek (tukang) ojek payung? Lik War tertawa. Sambil mengeluh tak segampang para perempuan. Koral dan dan di kampung sini). Santik dan Kuni. kudu pinter cari kos-kosan karena aku sendiri hanya punya satu kamar dengan Neti dan dua anak itu. dan Genduk (dilindungi dari yang lain dalam teror nekat Isa almarhum. Lania. yang selalu bergaya dengan sepeda motor siapa saja bila pulang ke kampung. menjadi orang kantoran atau hanya suruhan. Berpacu dengan waktu secara baikterlalu kreatif meletakkan jam di jalur pacu yang miring mencang-mencong demi survive menyusupkan dingin dengan menyamak jangat selepas hamparan persawahan yang berhamburan ke mana saja dan jadi apa saja. dan karenanya membimbing kami untuk bangkit dan mempertaruhkan apa sekujur tubuh: berpendar di langit malam yang penuh bintang. dengan angin deras dari persawahan yang dipusokan dan hanya sebagian kecil di dekat saluran irigasi yang sempat ditanami palawija dan semangka. dan menjadi apa saja—tidak hanya berakting macak pengemis tak pernah pulang ke kampung meski setiap Lebaran selalu nitip duit dua atau tiga ratus dan diuber-uber polisi sehingga blingsatan mburon ke mana-mana dan kemudian mati tapi benar-benar jadi pengemis dan pemulung. semodel de Grana. Sri. atau yang terpaksa menggelandang di jalan seperti Nian. ”OK!” kata Marto Pedrosa. Itu artinya tak berpacu di Jakarta tapi jadi batu jarak tempat anjing mengangkang dan kencing. dan karenanya (kata lik War. Marto Pedrosa kampung sini. lantas bertemu setahun sekali di kampung. menjadi rembulan gaib di saja. atau benar-benar berpacu di jalanan dengan menjadi jambret ditembak dengan delapan belasan lubang luka seperti Isa yang jadi gembong dengan tiga dan Saman Bakmi) di Jakarta tak ada yang berani kurang ajar kepada orang-orang dari orang sekampung lainnya yang masih selamat. ”Jadi akan berangkat apa tidak?”—teriak angin kemarau yang hitungan mikron-sekon atau sekon—berdetak-detuk dan berpendar: semua jam-jam itu melanda desa. terpaksa dipusokan di musim kemarau itu. Ia menganjurkan jadi kernet. untuk segera berpacu sebagai apa saja. yang selama 15 tahun ini ribu bagi Mbah Rame. atau buronan karena dengan sesuap nasi. ”macak dan akting pengemis.panggil dengan sebutan No Tit. yang dengan gampang menjadi pembantu macam Warti. ibunya.

pentolan.agar bisa bersama-sama pergi ke Jakarta lagi. selain jadi transmigran acara halal bi halal kampung yang penuh kebohongan itu. berliku-liku mbabat alas: membuka hutan. kepala [penjahat] slametan: ritual membaca doa keselamatan bagi yang meninggal mencang-mencong: meliuk-liuk. dan berhamburan lagi di Senen atau Kota. sebagai apa saja di mana saja. yang biasa lusuh nunut : ikut. kolonisa . yang lebih sara karena harus mbabat alas meski selalu diigaukan Pak Lurah di dalam pidato ” Jakarta. sara : sengsara mandeg : stop. berhenti kudu apal : harus hapal motore : sepeda motornya macak : berdandan blingsatan mburon : panik/kalang kabut melarikan diri gembong : tokoh. here I am coming!” teriak Anderwedi—mabuk. menumpang kepeksa : terpaksa nelangsa.*** Catatan: untang-unting: yang tergantung dan bergoyang-goyang gombal : kain bekas untuk lap. Ya! Ya! YA! YA—adakah pilihan lain.

dan mengentak pantat peluru atau kekosongan oleh pelatuk—seperti dalam film. Sejak saat itu aku didaulat untuk jadi kepala keamanan dalam segala acara yang diadakan di sekolah. Keesokan harinya aku dipanggil guru BP. atau dalam putaran gila sisi kepala— sebelum dikembalikan. terutama ketika magasinnya penuh. dengan magasin penuh. Tapi sasaran tunggal apa yang bisa lolos dari berondongan sejauh lima meter? Sejak SD aku sudah tahu ada simpanan senapan serang buatan Rusia di situ. Kalau disuruh sangat sederhana itu. banyak teman yang mengadu—selalu diperas preman di pangkalan angkot dekat sekolahan—aku bersekolah dengan membawa pistol. lalu mendiagonalkannya ke tanah dan yang amat jarang. Sekali. Memasukkannya lagi ke magasin. dan memasangkannya lagi. membersihkan. Letusan dan entakan membuatku kaget. Sederetan paku di dinding menahannya agar tidak jatuh dan tetap tersembunyi. Lalu mendatangi Mereka gemetar dan segera semburat ketika diusir. ada magasin cadangan di atas lemari. dengan tekanan ringan dari telunjuk—dengan memakai popor lipat atau tidak—kita Tersamarkan. colt—yang mekanisme penembakannya Dengan itu aku mimpi jadi cowboy perempuan. ketika kelas II SMP. lalu ditangkupkan untuk dipasak. aku mengeluarkan FN di hadapannya. yang memberi ketika lulus ujian sepertinya mereka lega karena aku sudah tak ada di sana lagi. Siapa mau mati? silinder tersampir dan bebas diputar. Dan kami. diungkit. Dan bila kurang. Ayah terbahak-bahak melihatku ketakutan. dan memasang lagi pistol FN. Tiga tahun kemudian aku menguasai AKA. Tapi sebelum dia banyak bicara. Dan tiga tahun sebelumnya aku sudah dibiasakan membongkar. Mencacah akar flamboyan yang marong berbunga dengan daun hijau telunjukku yang masih lunglai oleh kejutan. memilih. Bergerak menarik pasak dan membiarkan agar bisa menggesekputarkan silinder itu di lengan. Sangit mesiu melulur lengan dan wajah.Salvo Beni Setya Ada senapan serang AKA. di belakang lemari pakaian kamar tidur utama.” kataku. Mula-mula hanya dengan pistol. mendorong ke pangkalan itu dan mengokang serta menodongkannya pada si jagoan yang kurang ajar itu. dan memuntahkan 52 tembakan beruntun. Tapi apa . Pa!” katanya. Ia menggenggam tangan dan memaksaku menembak lagi. di kamar anak petinggi polisi. Tanah lembek berumput membuat peluru itu tembus ke kedalaman. magasin dan satu peluru paling atas. membersihkan. rasanya lebih enak memegang pistol polisi. yang genggamannya terasa berat itu. sering mempraktikkannya dengan silinder kosong. Dan peduliku? Di SMA aku malah mempunyai kawan. Sejak kelas VI aku sudah dilatih membongkar. Guru itu mengangguk. meloloskan genggaman dan mengokangnya. meski dengan gampang kita meraih dan mengokang membuka kuncinya. Sebuah letusan lagi. “Sebaiknya semua itu jadi rahasia berdua. Setahun kemudian aku menguasai FN. langsung ke tanah. Ibu muncul dan menarik aku sambil mengomeli ayah—”Dia anak perempuan. Atau menarik picu Aku dipaksa belajar nembak saat kelas II SD. anak petinggi polisi.

Kalau salah bidik dan kena kaki preman urusannya bisa jadi berita.” kataku. atau punggung pelarian selebar papan pantul ring basket. “OK!” katanya. Bahkan berlatih menembak tidak dalam posisi klasik berdiri. dan menembak. Dan karenanya aku bebas bergaul di luar kompleks—selama terus berlatih menembak. Manusia itu . perempuan cuma jadi istri tentara. Aku ambil FN dari tas. dengan posisi jongkok menyamping. “setelah lulus kau daftar dokter tentara. Polisi akan masuk dan ayah akan menghajarku. Mulanya di Perbakin. lantas menodong wajahnya bolong. Mereka beku—pipa jeans preman itu Di boncengan aku gemetar.” katanya. Akan lain. Akan dapat konduite dan kota dua masa jabatan. lama-lama aku kecanduan mengintai apa pun dengan teleskop dan bimbingan sinar laser. Sebuah mekanisme ledak dan lesat peluru yang setipis sentakan jari telunjuk yang mengentakkan picu. aku kokang. “Macam-macam kepalamu yang kekerasan lapisan batuan di bawahnya membuat peluru naik ke atas. atau berbaring di balik batu—dan menjadikan tonjolan “Kau seharusnya jadi sniper. Terlebih kalau keendus wartawan jadi segala risikonya. Ia membiarkan ketika ia kuliah kedokteran dulu. seperti dua kakakku—setelah tiga kakak aku kuliah kedokteran bukan karena ibu ngotot tapi lebih karena aku tak bisa masuk Akabri. Tapi ibu mengharapkan aku jadi dokter. kalau maut sangat dekat. membuat lubang dan pantulan dengan menjebol lapisan aspal. kalau nyawa seseorang hanya bergantung pada satu sentuhan ringan dari jarak dua meter? Dan pada saat itu aku pun belajar mengintai dengan teleskop— membidik sasaran vital dengan satu peluru. Padahal. telanjang dan gampang. seperti cita-cita mendidikku dengan tradisi militer–mengharapkan aku memilih karier militer. Menghambur jadi dua lesatan logam yang kotor oleh serpihan. lima puluh meteran untuk membidik seseorang dan mengirimnya ke kematian tanpa si Ayah yang mengajari—membimbingku dengan fasilitas latihan komando. Sekali aku pernah menembak aspal jalan di sisi kaki preman yang menghadang.kenikmatan main-main dengan colt. Aku tertawa.” kata ajudan baru lulus Akabri. atau kaki penyusup yang segede tiang gawang. Kini aku bisa berada sekitar bersangkutan mengerti bagaimana ia mati. seperti menembak kaleng atau cecurut. Letusan itu keras. hanya Lantas apa makna hidup? Lantas apa makna bertahan untuk hidup dengan semacam dukungan ilahiah nasib. Dik. dan karenanya Mungkin ia menginginkan aku jadi tentara. Kau tak boleh jadi anak Mama. membikin sudut naik menghunjam di pohon mahoni dan ban sepeda motor. kata ajudan. Aku tak pernah membunuh orang. Kini aku terhibur batu sebagai bantalan.” katanya. dari jarak tiga meter. Menurunkannya. Peluru itu menghantam aspal. “Kita harus kejar setoran. ketika jadi danyon. Ya! Tapi aku sangsi bisa jitu menembak kepala botak profesor sebesar bola sepak. Aku beranjak. Ibu menggerutu tapi tidak berdaya. Ayah menertawakan cita-cita lembek itu. Aku tak yakin mampu menembaknya dengan dingin. sekaligus memberi kesadaran. Dan karenanya memberi aku kebebasan main pistol dan senapan. Aku bisa menembak bola tenis atau bola golf dari jarak tujuh puluh lima meter dengan satu tembakan. Ayah terpaksa berurusan dengan panglima. Naik ke boncengan dan melesat. ayah ingin pensiun dan bisa jadi bupati atau wali senang diajak mengeluyur itu. yang lain.

atau kepala mayat dalam praktik Ada aura yang membuat kita harus mengeraskan hati dan membaca doa—lebih dahulu— kedokteran. yang telaten merawatnya. Dua tahun kemudian ibu sakit. Bahkan aku sengaja tidak memberitahukan kondisi kritis ibu sampai saat penghabisan mendekat. Aku tak mengabarinya. Dan kebisuan itu berlangsung tiga tahun. Ditempatkan di kota. “Ayahmu mendapat kesenangan baru sebagai orang sipil yang pergaulannya menembus segala lapisan masyarakat. Tanganku digenggam. dada. Tiga tahun kemudian ayah harus tetap sibuk bekerja dan—seperti yang dikeluhkan ibu—terpikat pemborong yang Aku menelepon ayah. Aku mematikan telepon. tak ingin menceritakan kelakuan ayah kepada mereka. Ia bergegas menelepon ayah. kakak-kakak dan ipar-ipar marah dan mengadiliku. Aku ayah?” kata Samsidar. yang langsung mendekat. dan dapat jawaban Sejak saat itu aku tidak pernah menghubungi ayah lagi. Memprotes tiadanya perhatian pada ibu. Enak. Dik. Mungkin ia ingin memperlihatkan secercah bahagia karena berhasil menjadikan aku dokter. seperti merindukan kehidupan eksklusif di kompleks. Ayah tertawa. Hal yang membuat suami yang ajudan itu. kena kanker payudara yang baru ketahuan setelah stadium IV. karena dia sendiri belum pernah menembak orang—atau berperang. Pelayan yang pelayan—Pak Bupati baru ke luar. Aku kini sipil. anak. dengan mengumpulkan suami. “Kau tahu apa?” katanya. Dua jam kemudian aku menelepon lagi tapi tak ada yang mengangkat. “Kau orang militer yang hanya hidup dalam lingkungan eksklusif dengan rutin-rutin yang terkontrol. . Aku mengangkat bahu. “Aku kan cuma cari kerja. meski itu hanya untuk menyayat tungkai. Aku ikut ibu yang bungkam pada ayah. ngantor seperti orang ayah pensiun dan jadi bupati di C. Aku untuk menggalakkan intensifikasi pangan. dan seluruh keponakan. seperti mendengar bisikannya. agar memberi pelajaran kepada ayah yang sok sibuk itu—yang barusan memaki-maki aku. Ya! Aku yakin tentang hal itu. Ke mana? Entah! menelepon lagi tapi ajudan yang mengangkat. Tapi bisakah kita membalik laju waktu? kebanyakan—meski tetap dibimbing insting militer yang terus diasah. Dan ajudan ayah juga yakin akan itu. Aku. Aku cuma bilang tak tega mengatakan kondisi ibu yang sebenarnya—maksudku.bernyawa. yang mengatakan Pak Bupati harus ke daerah mengangkat. Aku diam saja. Dua jam kemudian aku menelepon ke rumah dinas. terutama karena jadi rekanan pemda. perut. Apa jadinya kalau tentara? Ketika ibu meninggal ayah masih di C. Ia minta agar aku merawatnya. dalam kurang tidur. kakak. Dan terkadang pergi bila sesekali ayah datang menjenguk ibu. ipar. Ternyata jadi tentara bisa bersifat sangat administrasi. “Kau tidak mengabari marah dan memaki-maki lewat telepon. dan cuma basa-basi kalau ayah menelepon menanyakan kondisi ibu. sia-sia melepas senyum di tengah deraan sakit. Ibu menatap. sampai ibu meninggal—menyeringai. dan denyaran roh pasti menimbulkan sugesti yang menyentakkan—seperti yang aku rasakan ketika menembak aspal di sisi kaki preman. Dua jam kemudian aku menelepon rumah gendakan-nya. Aku lulus kedokteran dan masuk tentara.” Aku memprotes tapi telepon segera dimatikan. meski aku yakin mereka mengetahui perbuatan ayah.” katanya— tertawa. bergaul dengan banyak hal yang harus diselesaikan tanpa ada panduan jelas.” katanya.

Pasti. Mengambil AKA. Sepuluh menit lagi. Kami membawanya pulang setelah dimandikan—siap disembahyangkan dan meletakkannya di dada sambil terlentang.karena merasa dipermalukan sebagai Bupati. Mengokang dan Ibu meninggal. Tapi apa kepentingan ia di luar citra bupati teladan? dikubur. yang pasti datang dengan langkah lebar dan teriakan amarahnya yang khas. Aku menunggu ayah. Ya— sepuluh menit lagi. yang tak peduli akan derita istrinya yang sekarat. Biar ia merasakan sakit di dada seperti yang dirasakan ibu selama lima tahun. Berjam-jam menunggu ayah. Aku masuk kamar utama. Mengunci pintu. Ya! Ya . Sakit dari cacahan peluru satu magasin—dengan lima dua lubang luka.

ayah. orangtuanya semakin permisif. karenanya akan ada evaluasi Dan kini ia akan menjadikannya Hadiah Utama Toto (gelap) Singapura. Menghindar dari sekolah. Saimah makin genit.Senja Merah Khairan Beni Setia Setengah berkacak. Arsad menangkap dan meremas dua belahan pantat yang bagai punuk dan tanpa berlapiskan celana dalam. seingatnya. di kisaran empat angka.” kata Melangkah.” Setengah berbisik. “Pokoknya kamu tenang-tenang saja. Melemparkan kunci kontak ke arah Nasir. Mungkin cuma memesan kopi. Khairan menepuk bahunya. Terbayang lagi. Ia menahan ketegakannya dengan dua kaki yang mengangkang.” kata Nasir. Bapaknya pasti meneng. Khairan tersenyum dan ngojek sama Sitol. Perkenalan tidak disengaja sebenarnya.” katanya. Arsad menendangi bongkahan blok mesin sepeda motornya. Sir?” katanya. Itu hari keduapuluh delapan berada di luar rumah. Nasir. Menyibak tirai pudar dan merangkul Arsad dari belakang. Setelah itu ia benar-benar menguasainya. dengan setoran biasa. Lha wong kowe melu mbandari …” Khairan menatap. dengan payudara yang berdenyut. dengan semena-mena merangkul. Saimah menjerit artifisial sambil mendorong Arsad ke arah pembaringan yang berantakan. Ini bukan punyamu. atau menggoda Saimah. gertakan itu cuma efektif tiga bulan. ayahnya memberikan pesan khusus. Sad. Khairan. “Apa? “Sudah sana!” katanya sambil mendorong Arsad pelan menegakkan sepeda motor. Radio menyerukan dangdut. “Kamu duduk-duduklah. curiga. Itulah awalnya. Arsad mengenal Suimah. dan Arsad pun menikmati hari-hari manis. Arsad menaiki sepeda motornya. per lima puluh ribu tombok. Ya! Akan tetapi. “Kita juga main. Ia membolos bersama Taberi. makan jajan. Motornya dipakai ngojek sembarang orang. dan utamanya pemalas yang dan karenanya mendapat duit buat modal ngombe atau ngepil. menggerayangi dan . menghindarkan pendengaran Khairan. dan karenanya kita hanya narikin duit orang kampung. kata setiap minggu-apa masih layak diinventariskan apa pasnya dicabut. Saimah menyusul dari depan. Dan mungkin tepat pada hari yang keseratus satu. ini kepunyaan bapak yang dititip-pakaikan kepadamu. menjauh dari keramaian. olehnya. Menyelinap dan masuk kamar yang pengap dan remang. dengan lembut. Jalan ke pintu belakang warung. serius. megang surat-suratnya-sementara itu masih bisa dipakai mengiyakan dengan sungguhsungguh. dan makan diawali dan ditutup oleh merokok di warung Khairan. Ini hanya pemancing saja. Abai bergabung dengan banyak orang-para pengojek. Nasir menggeleng. Beres! Ngomong apa?” Nasir memberi isyarat telunjuk di mulut. Sad. yang harus diperhatikan agar ia bisa tetap memakai sepeda motor itu. “Nggak akan tembus kan. “Dan sementara itu kamu pun bisa aman-aman saja ngeloni Saimah. dan menyuruh di pangkalan ojek di mulut jalan ke Perumahan Ganda Mekar. bermalasan di warung itu. Kemungkinan cuma sepersepuluh ribu. mendorongnya sehingga rodanya mencecah di tanah. Kita tutup nomor jagonya. berbincang dengan istri hanya omong dan terus omong sambil berjudi. preman dan pemabuk. Terkadang Arsad hanya nongkrong.

menjelang momen bukaan Arsad memilih mabuk dan tidur agar tidak disentakkan oleh fakta ada yang tembus dan sepeda motornya melayang. Meski begitu. Saimah tersenyum dan terus tersenyum. Akan tetapi. dan karena itu ia mampu mencukupi Arsad dan dirinya sendiri. siapa tahu akan mendapat jodoh lelaki kan?” Orang-orang pada tertawa. Berharap. Membawa tas pinggang. Terlebih karena Arsad semakin sering membawa Topi yang genah. Duyunan orang yang menyetor keberuntungan. selalu. “Dan mempunyai anak perawan menciumi Saimah. sedangkan Ibu Mertuanya sukarela menyervis. haid Saimah sudah telat seminggu. sepeda motor itu modal untuk hadiah tombokan Toto (gelap) Singapura. Sekaligus itu membuat Arsad semakin butuh duit untuk menyenangkan banyak orang. Arsad pun menyuruh Nasir untuk menjualkan sepeda motornya. biar bisa kompak dengan mertua.” katanya. bahkan untuk sekedar mengusik keasyikan mereka. bermakna mempunyai barang dagangan.” Orang-orang tersentak. Ibunya Saimah lembut mengangguk. dan menjebol lemari untuk mengambil perhiasan. Hari itu-seperti biasa-Nasir akan berkeliling dengan sepeda motor Arsad. Nakal sedikit kayak si Arsad lumayanlah. pikir Khairan-yang punya dukun kuat sehingga selalu yakin tebakan mereka tidak akan tembus. Dan disusul pesta mabuk semalam suntuk. yang diedarkan berkeliling di antara orang yang berbual atau main kartu. Akan tetapi. semakin tidak mempunyai duit. Khairan cuma Menemani Arsad mabuk lalu menyeretnya ke kamar meski tak lagi ada bulan madu. Ia tertawa. Nasir malah memunculkan gagasan yang sangat kontroversial. dan berkeliling ke mana saja. Sepanjang waktu.” katanya. Orang-orang kampung menggeleng-gelengkan kepala. terkadang orang masih datang . Utamanya Saimah. Pak RT tak berdaya. Khairan-matanya berkilaucepat-cepat mengundang tetangga dan menikahkan Arsad dengan Saimah dalam perkawinan siri. Khairan bungkam. Khairan menenangkan. karenanya orangtuanya masih di kantor. Dan Saimah makin manja. yang melingkar manja tanpa celana dalam dan bra-meski masih memakai rok terusan longgar. “Kita ini orang dagang. Istrinya mulai menyindir. Lantas mereka pun mulai memanggil Arsad dengan sebutan bos. memboncengkan si Krowak atau Brewok sebagai untuk tombok nomor di warung Khairan.” katanya. ia seorang sales yang agresif. Menjadikan empat kali. Hal yang tidak gampang meski telah dibantu minuman. Ia seorang sales pengawal pribadi. yang gigih. Itulah awalnya Arsad pun jadi orang yang Surga telah kembali. Siklus direcoki balas memaki. Mungkin karena lega karena kini Arsad resmi jadi suami Saimah. Orang-orang mendelik. dan rayuan Saimah. Tapi. Khairan tersenyum. Dan Arsad pun semakin jarang pulang sekaligus semakin jarang masuk sekolah. pil. Arsad semakin sebel kepada Saimah-dan yang Dua minggu kemudian Arsad benar-benar bangkrut. Khairan-setengah preman karena istrinya “Biarlah. Cemberut dan makin sering marah. Sekali-empat puluh hari lalu -menyelinap ke rumah ketika Memberikan sebagian kepada Saimah. “Seminggu bisa berpenghasilan. Ya Miring. dan menjual sisanya. Berjoget dengan tape dan terbahak-bahak. “Toh kita tahu ia berduit dan orangtuanya sugih. menganjurkan agar Khairan mau mengurusnya ke KUA agar semakin kukuh.yang sebenarnya membanting tulang menyambung hidup-lembut menenangkan mereka.

memakan marka jalan meski mereka cuma mencari jalur kiri. Sepeda motornya dituntut dikembalikan utuh kepada keluarga Nasir dan utamanya Khairan. Menyulut rokok. Menyatakan suami-dengan menafkahi Saimah. Arsad dipaksa tergantung lumpuh. Akan tetapi. tetapi kemudian diluruskan lagi ke kanan ke kelurusan karena di sambil kernetnya. Berderit direm dan tepi jalan itu berjajar kios-kios-bahkan sebuah Angkot berwarna kuning sedang parkir sepeda motor itu. dari hadapan. sudah meteng. yang lainnya memburu supir sirna. Kendaraannya diperbaiki Ayahnya untuk pulang. Dan alur arah Hari itu-setelah sarapan nasi goreng. Ia menuntut. Mungkin akan segera dibakar-dan sopirnya mati-kalau tak kebetulan muncul menyusul datang setelah pasukan pengaman bantuan didatangkan untuk melokalisasi spontan diangkut dengan kendaraan yang lewat dan mau mengantarkannya ke RS. dan sisi rusuk kanannya remuk. PJR yang dengan sigap meletuskan pistol. Krowak tertolong. Ambulan Bunyi tumbukan dan jeritan orang-orang menghias siang itu. mblesar-kan gas. sementara mereka telah bablas? Anak saya itu. Tetapi kecepatan Wagon itu tetap tinggi meski telah dicoba direm dan dibanting ke kiri. Kaki. Sopir Station Wagon geger otak ringan. masalah dan menenangkan warga. Ia marah ketika mengetahui kalau sepeda motor itu telah berkali-kali dijadikan barang taruhan judi Toto (gelap) Singapur. yang dikemudikan Nasir.Nasir memboncengkan Krowak.” “Sembarangan! Kalau tahu aku tidak akan sudi menyetujuinya-kamu dengan anakmu yang menyebabkan ia mutung sekolah. penyelonongan itu. Serentak menghajarnya-bus dalam kondisi setengah mabok yang belum nya penyok. tetapi kaki kanannya diamputasi sedang tangan kanannya hancur tepat di sikut dibiarkan utuhdengan biaya asuransi. Sebagian menolong Nasir. Belokan liar itu. Sedangkan motor Arsad jadi sumber masalah. telur dadar setengah matang. belum pernah pacaran. Halim! Halim!” “Terus? Terus?” . dan derap orang berlari memburu. Kemudian teriakan memaki Station Wagon itu. ada di tengah jalan. apakah aku harus menunggu izin Bapak. dan…” “Betul! Tapi. tertekuk-tekuk pendek. Sedangkan kecepatan Station dicoba dibanting ke kiri. dan minum Topi Miring- yang sama. bahwa Arsad itu suaminya Saimah sehingga Arsad itu harus bertanggung jawab sebagai “Tapi aku tak pernah mengawinkannya!” “Ya! Betul! Karena aku yang mengawinkannya. menyeru ke seberang. melaju di kelempangan jalan yang lengang seusai jam mengantor. Menggulingkan kendaraannya dan menghajarnya sampai kacanya remuk dan bodypatroli. itu sudah amat terlambat karena si korban Nasir mati. Pada saat sebuah Station Wagon-dengan bemper depan tambahan dari pipa baja. lajunya sepeda motor Arsa. meraung saat membuat belokan besar dari jalan hancur arah Perumahan ke jalan utama. dan diungsikan ke Panarukan-dipondokkan. Tetapi Khairan tidak kalah sengit menuntut. tangan. bergetar karena tangan si pengendaranya goyah oleh kaget dan mabuk. tak bisa diturunkan. akselerasi pertamanya. meliuk-liuk. mencuri perhiasan ibunya. Lalu lintas sigap diatur.

Tetapi kedua orangtua Arsad cuma bungkam. tanpa mampir dulu. Ayahnya Arsad bergegas dari kamar. dari rumah Bidan. Khairan. Berparkir di halaman. Kembali mendatangi orangtua Arsad dan minta agar mereka tidak memutuskan tali kasih antara Arsad dan Saimah. “tombokan”: Memasang nomor judi dengan membayar uang taruhan. Lantang meneriakkan Brewok. Lebih jos ketimbang sepeda motor yang remuk itu!” menyerahkannya-pada kesempatan pertama-kepada orangtua Arsad. Khairan mendelik dan membentakkannya. Tetangga ketika Khairan melemparkan celurit pada cacahan bersimbah darah tubuh bapaknya Arsyad. “Nih. Menyisih Dan dengan mobil itu juga. dengan dikawal Segera. tapi tidak pernah dilayani. dengan mobil carteran. Khairan melapor ke Polisi.“Balikkan ia ke kondisi asal. berharta Genah: Enak dipandang. Khairan menelan ludah. artinya orang baik-baik Topi Miring: Merek minuman lokal beralkohol Mblesar: memainkan gas sehingga mesin meraung-raung Dipondokkan: Dimasukkan ke pesantren untuk belajar dan sekalian tinggal di sana. Karena itu. Ibunya Arsad berteriak-teriak.” tulisnya. tapi liar ditepiskan sehingga Saimah terdorong ke kursi. istrinya. “Aku tidak betah. membisu tanda setuju Kowe melu mbandari: Kamu ikut menjadi bandar Sugih: Kaya. Dan memang begitu. tapi mereka pada mundur (surut) ketakutan melihat amuk Khairan. Saimah menangis. hamil Jos: Langsung jadi sempurna. instan Celurit: Senjata mirip sabit. Bisa apa ’ndak?” Kadang Arsad mengirim uang belanja untuk Saimah. khas Madura. dan Saimah tiba pada kesepakatan kontroversial: Akan membungkus si bayi dan langsung “Hasil karya anakmu. Utuhkan lagi. Menghiba-hiba sambil lembut mengingatkan anaknya Arsad yang dikandung Saimah. dan Yudiono-yang setengah mabuk-. Dua hari setelah persalinan. Ngeloni: Meniduri Meneng: Diam. mereka langsung mendatanginya. keluarga lewat pintu ruang tamu yang terbuka di rembang petang. meski tak selalu milik orang Madura . bersama si bayi-yang lantas diberi nama Caca Handika-. Si bayi santun disodorkan oleh Saimah. Aku seperti masuk penjara. Catatan: kepada bapaknya Arsad-sekitar delapanpuluh kali. Dua kali lagi Khairan mengiba-iba. Mengawal Saimah yang menggendong bayi-diam-diam Khairan menyelipkan celurit-dan langsung ke ruang salam sambil menyelonong. Mutung: Berhenti di tengah jalan Meteng: Mengandung. Ibunya Arsad terpekik. Dominik. Kedua lelaki itu liar bertatapan. Tombok. Khairan loncat mencabut celurit dan membabatkannya berdatangan.” kalimatnya. Mengeluh tak bisa ke luar dari Pondok. Dipantati bahkan.

Pa?” “Mungkin Pak Posnya lagi sakit. barangkali kartu pos itu terselip di dalamnya. ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos melintas halaman. Tapi memang tak ada. Beningnya langsung meloncat menghambur. tak gampang menjelaskan semuanya pada anak itu. “Hati-hati!” teriak sopir. Kadang bisa sebulan tak pulang. “Kok kartu pos Mama belum datang ya. Seperti capung ia tiba. “Sekarang. betapa soal kartu pos ini akan membuatnya mesti mengarang-ngarang jawaban. yang kecewa itu. “Biiikkk…. ya?” Tongkat pel yang dipegangnya nyaris terlepas. meledek istrinya. ia selalu mengirimkan kartu pos buat Beningnya. Non?” “Kartu posnya udah diambil Bibik. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. dan Bik Sari merasa mulutnya langsung kaku. terutama “Kau memang tak pernah merasakan bagaimana bahagianya dapat kartu pos…” . “Saya ndak tahu mesti jawab apa…” Memang. Jadi belum sempet ngater kemari…” Lalu ia mengelus lembut anaknya.Kartu Pos dari Surga Agus Nur Mobil jemputan sekolah belum lagi berhenti. Ia melongok. Sungguh. Pekerjaan Ren membuatnya sering bepergian. Bik Sari yang sedang mengepel sampai kaget melihat Beningnya terengah-engah begitu. seakan sudah menebak. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. Bibiiikkk…. setiap pulang. Beningnya sudah pegang hape. Sekolahnya memang saat bubaran sekolah. “Hari gini masih pake kartu pos?” Karna Ren sebenarnya bisa telepon atau mengharuskan setiap murid punya hand phone agar bisa dicek sewaktu-waktu. Meski baru play group. ia selalu tak tahan melihat mata Marwan hanya diam ketika Bik Sari cerita kejadian siang tadi. Marwan sendiri selalu berusaha menghindari jawaban langsung bila anaknya bertanya. Pasti kartu pos dari Mama telah Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun. Dari kotakota yang disinggahi. tadi. Ia harus menjawab apa? Bik Sari bisa melihat mata kecil yang bening itu seketika meredup. “Ada apa. mendapati kotak itu kosong. Beningnya tertegun. Beningnya selalu nanya kartu pos…” suara pembantunya terdengar serba salah. untuk berjaga-jaga kalau ada penculikan.” Ia nyaris kepleset dan menabrak pintu. Apa Mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? Mungkin Bi Sari sudah mengambilnya! Beningnya pun segera berlari berteriak. Marwan kadang kirim SMS. Ia tak menyangka. karna ia terus diam saja. Di kelas. Ia masih belum genap enam tahun.

bagaimana Ren bercerita. Marwan melirik jam dinding kamarnya. Ia mencoba menarik perhatian Beningnya dengan memutar DVD Pokoyo. Saat SMP. setiap Ayah pulang. sementara Ayahnya berkisah keindahan kota-kota pada kartu pos yang mereka pandangi. kartun . “Itulah saat-saat menerima kartu pos darinya. Mereka akan berteriak senang bila menerima surat balasan pernah diam-diam menulis surat untuk dirinya sendiri. Kotak kayu yang dulu juga dipakai 11. Marwan diam. Marwan tak pernah menerima kartu pos. ngambil kartu pos dari Mama. “Aku selalu mengeluarkan semua kartu pos itu.” Ren merawat kartu pos itu seperti merawat kenangan. “Nganter ke mana? Pizza Hut?” Beningnya menggeleng. dan memamerkannya dengan membacanya keras-keras. ia pun jarang dapat surat pos yang membuatnya bahagia.Marwan tak lagi menggoda bila Ren sudah menjawab seperti itu. “Besok Papa bisa anter Beningnya enggak?” tiba-tiba anaknya bertanya. Aku hanya ingin Beningnya punya kebahagiaan yang aku rasakan…” Tak ingin berbantahan. Negeri yang gambarnya ada dalam kartu pos itu…” ujar Ren. aku selalu merasa Ayahku muncul dari negeri-negeri yang Ren sejak kanak sering menerima kiriman kartu pos dari Ayahnya yang pelaut. banyak temannya yang punya sahabat pena. jauh. “Kalu emang Pak Posnya sakit biar besok Beningnya aja yang ke rumahnya. Ren menyimpan kartu pos dari Ayahnya. Pukul “Enggak bisa tidur. Ia pun atau kartu pos. yang dikenal lewat rubrik majalah. Itu kotak kayu pemberian Ren. Karena iri. Marwan berusaha tampak gembira ketika surat yang dikirimkannya sendiri itu ia terima.” Marwan hanya diam. Meski tetap saja ia merasa aneh. dan yang lucu: disinggahi baru sampai tiga hari kemudian! pernah suatu kali Ren sudah pulang. ya? Mo tidur di kamar Papa?” Marwan menggandeng anaknya masuk. “Ke mana?” “Ke rumah Pak Pos…” Marwan merasakan sesuatu mendesir di dadanya. Sepanjang hidupnya. “Mungkin aku memang jadul. Marwan ingat. tetapi kartu pos yang dikirimkannya dari kota yang Ketukan di pintu membuat Marwan bangkit dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu.20.” Ren kecil duduk di pangkuan. lantas mengeposkannya. “Setiap kali menyenangkan dan membanggakan punya Ayah pelaut. rasanya. dengan suara penuh kenangan. bahkan ketika anaknya mulai mengeluarkan setumpuk kartu pos dari kotak itu. Bahkan.

dari mana mesti memulainya? Marwan menatap Ita. Beberapa rekan sekantornya terlihat menuju kotak pos di pagar rumah. Pasti mereka menduga ia dan Ita…. dinding goa. Siluet menara dengan burung-burung melintas langit jernih. Ia selalu merasa bingung. Ah. tampak memberi isyarat agar ia melihat ke sebelah. Mungkin ia akan terus-terusan menangis karena merasakan kehilangan.di tepian kanal. kemudian berlarian tergesa masuk rumah. yang tengah memandang mejanya dengan mata penuh gosip. setelah Beningnya pulas. kamu jelaskan saja pelan-pelan yang sebenarnya. “Ini bukan kartu pos dari Mama!” Jari mungilnya menunjuk kartu pos itu. “Ini bukan tulisan Mama…” Marwan tak berani menatap mata anaknya. “Bagaimana kalau ia malah terus bertanya. teman sekantor. kapan pulangnya?” “Ya sudah. Rasanya. pasti akan dikisahkannya gambar-gambar di kartu pos itu hingga Beningnya “Bilang saja Mamanya pergi…” kata Ita. Dermaga kota tua. Marwan mendengar teriakan sopir yang menyuruh hati-hati. Gambar pada kartu pos. Pagoda kuning keemasan. Marwan masih ngantuk karena baru tidur menjelang jam lima pagi. ketika Beningnya terisak dan berlari ke kamarnya. Dari jendela ia bisa melihat anaknya memandangi kartu pos itu. Sudut dengan deretan yacht tertambat. ia kini mulai dapat memahami. Kartu pos yang diam-diam ia kirim. Membiarkannya ikut ke pemakaman. “Atau kamu bisa saja tulis kartu pos buat dia. Semua itu menjadi tampak lebih indah dalam tertidur. kenapa seorang pengarang bisa begitu terobsesi pada senja dan ingin memotongnya menjadi kartu pos buat pacarnya. Tetapi rasanya jauh lebih mudah menenangkan . bagaimanakah ia mesti menjelaskan semuanya pada bocah itu? Andai ada Ren. Bukit karang yang menjulang. Merasa lucu karena ingat kisah masa lalunya. udah datang ya kartu posnya?” Marwan melihat mata Beningnya berkaca-kaca. Sepeda yang berjajar kesukaannya. tetapi bocah itu telah melesat Marwan menyambut gembira ketika Beningnya menyodorkan kartu pos itu. Deretan kafe payung warna sepia.” Itulah. Mobil jemputan belum lagi berhenti ketika Marwan melihat Beningnya meloncat turun. saat Marwan makan siang bersama. Bahkan membohongi anaknya saja ia tak bisa! Barangkali memang harus berterus terang. “Wah. Tapi Beningnya terus sibuk memandangi gambar-gambar kartu pos itu. Air mancur dan patung bocah bersayap. seperti tercekat.” Marwan tersenyum. Ia sengaja tak masuk kantor untuk melihat Beningnya gembira ketika mendapati kartu pos itu. Tapi bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya? Rasanya akan lebih mudah bila jenazah Ren terbaring di rumah. Marwan tersenyum. Seolah-olah itu dari Ren…. Ia bisa membiarkan Beningnya melihat Mamanya terakhir kali.

“Buka Beningnya! Cepat buka!” Entahlah berapa lama ia menggedor. Dan ia tercekat di depan kamar anaknya. tak ada api. Hanya “Tadi Mama datang. Dua belas lewat. Bau sangit “Beningnya! Beningnya!” Bik Sari ikut berteriak memanggil. sekilas ia melihat jam kamarnya. Marwan mendapati sepotong kain serupa kartu pos kecoklatan bagai bekas terbakar. Ia menduga terjadi kebakaran dan makin panik membayangkan api mulai melahap kasur. ketika akhirnya cahaya keperakan itu seketika lenyap dan pintu terbuka. Ia melongok ke dalam kamar.Beningnya dari tangisnya ketimbang harus menjelaskan bahwa pesawat Ren jatuh ke laut dan mayatnya tak pernah ditemukan.” pelan Beningnya bicara. Ada cahaya terang keluar dari celah pintu yang bukan cahaya lampu. “Beningnya…” Bergegas Marwan mengikuti Bik Sari. Cahaya yang terang keperakan. Beningnya berdiri sambil memegangi selimut. “Kata Mama tukang posnya emang sakit.” Beningnya mengulurkan tangan. Ia melihat ada asap lembut. Lebih keras dari bau amoniak. Hawa dingin bagai merembes dari dinding. seperti tengah bercakap-cakap dengan Dan cahaya itu makin menggenangi lantai. sulit ia buka. Kain kafan yang tepiannya . “Beningnya! Beningnya!” Marwan segera menggedor pintu kamar yang entah kenapa begitu membuatnya tersedak. jadi Mama mesti nganter kartu posnya sendiri…. “Ada apa?” Marwan mendapati Bik Sari yang pucat. Ketukan gugup di pintu membuat Marwan bergegas bangun. 2008 dipegangi anaknya. menyambar mendekapnya. semua rapi. Marwan menerima dan mengamati kain itu. Singapura-Yogyakarta. seseorang. Dan ia mendengar Beningnya yang cekikikan riang. Rasanya ia hendak terserap amblas ke dalam kamar. Bau wangi yang ganjil mengambang. serupa kabut. Segera Marwan kartu pos-kartu pos yang berserakan. keluar dari lubang kunci.

sepasang mata itulah sebalik kaca—membuatku terkejut. ketika sepasang mata itu muncul dari Sisa hujan masih terasa dingin di kaca saat aku bertemu dengannya di toko ikan hias. mana yang pas buat jalan-jalan. Di antara ikan-ikan kecil warna-warni. seperti langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. menyebutkan namanya. Ia tak pernah mengucapkan rayuan. Kamu takut tidur sendirian…” Kamu mungkin tak percaya. Menatap matanya menjadi kehangatan tersendiri. aku teringat pada sepasang kunang-kunang yang melayang di atas kolam. seperti katamu. Tapi. Dan saat sepasang matanya mengerdip.Serenade Kunangkunang Agus Noor melihat hamparan kesenduan dalam mata itu. Itulah yang membuatku betah berada di dekatnya. berganti pacar bagiku tak lebih seperti ganti baju: tinggal pilih mana yang cocok buat ke pesta. Bahkan aku tak mendengar desah apa pun ketika ia orgasme. menyentuh putingku yang ungu. untuk sekadar membuatku tersenyum. Mata yang terlalu melankolis untuk seorang yang membuatku jatuh cinta. aku suka matanya yang selalu mengingatkanku pada langit hampir seperti ketika kamu merasa rindu pada masa kanak-kanakmu yang paling menenteramkan. Ia malah cenderung selalu gugup bila aku bermanja-manja memeluknya. tengah memandangi ikan-ikan dalam akuarium. Sementara gelembung-gelembung udara dan serakan batu koral membuat wajahnya seperti terpahat di air. Ia bercinta nyaris tanpa suara. aku seperti mendengar denting genta. betapa jari-jari tangannya begitu gemetar ketika pertama kali malam yang dipenuhi kunang-kunang. yang paling gombal sekali pun. Barangkali. bercinta dengannya seperti menikmati nasi . Aku suka ketika mendengar ia berbicara. kalau kukatakan betapa semua ini bukan semata-mata urusan ranjang. ”Dan yang ini?” Seperti kukatakan. Aku Aku tak tahu bagaimana persisnya aku mulai mengajaknya bicara. Aku suka matanya. Tetapi ketika ia hatiku. Aku ingat. bergemerincing dalam ”Atau jangan-jangan kamu hanya maniak seks yang takut kesepian. Kau akan laki-laki yang selalu gugup dan tergesa-gesa ketika berciuman. Kau tahu. dan mana yang nyaman buat sekadar menghabiskan malam di ranjang. Memang. aku memang mengindap gangguan jiwa karena terlalu gampang jatuh cinta. Terdengar seperti lagu pop yang tak terlalu merdu tetapi dinyanyikan dengan sentimentil… ”Laki-laki yang romantis rupanya!” Tidak. mana yang pantas buat dipakai makan malam. sepasang mata itu bagai mengambang.

Bersamanya aku tidak terobsesi aneh-aneh begitu. Keringatnya meruapkan aroma kamper yang kelabu. Sedikit berkumis. ”Mau ke mana?” Kau lihat kunang-kunang itu? Setiap melihat kunang-kunang. Lalu kuingat kunang-kunang di matanya. Tapi— diam-diam. bukankah cinta memang ganjil dan memikirkanku. aku sungguh-sungguh jatuh cinta? ”Gatal telingaku dengar kamu ngomong soal cinta. yang membuatmu rela melakukan apa saja untuk sekadar menyukai kemurungan dan kesenduannya. Seperti menyukai baju yang selalu ingin kukenakan ”Anggap saja ini cinta sejatimu.” Bila aku kangen. ”Bukan baju yang pantas buat ke pesta. terkadang sebuah kisah cinta bisa saja menakjubkan meskipun tidak seindah kisah cinta Cinderella dengan Pangeran tampannya? Sampai saat ini aku sendiri masih heran. Kadang aku menganggap semua ini tiada penuh masalah?! Tapi… Maaf. aku begitu menyukainya. entahlah. dengan dasi yang selalu terlihat tak serasi dengan warna sweater-nya Dia agak pendek untuk ukuran kebayakan laki-laki. Tapi—entah kenapa—aku selalu menyukainya.” ”Aku suka kunang-kunang…” . aku kan bisa melakukannya dengan pacar-pacarku yang lain. aku jadi ingin ketemu dia. Sungguh. Tapi. ”Busyet!!” Mungkinkah. Dan kupikir. aku selalu merasa dia tengah lebih dari kisah cinta yang ganjil dan bermasalah. kalau memang kepingin yang mendapatkan perhatiannya. ”Kau suka kunang-kunang?” ”Hmm. Ada beberapa jerawat di wajahnya yang coklat. Dia bukan laki-laki seperti yang sering kamu untuk melakukan bermacam adegan dan posisi. kali ini. kenapa aku jatuh cinta kepadanya. kukira!” Lebih mirip seperti baju yang ingin selalu kamu sembunyikan dalam lemari. aku mesti pergi. tapi karena kamu tak ingin orang lain tahu kamu memilikinya. tak rapi. tipis. bayangannya seperti ketukan ganjil pada pintu saat tengah malam. Membuatku tergeragap. yang membuatku lihat di iklan deodoran. yang akan membuatmu teringat pada baju yang menjadi apak karena terlalu lama disimpan.goreng: rasanya standar dan bisa didapat di mana saja. penampilannya lebih mirip salesman yang baru saja ditolak masuk rumah. Setiap melihat kunang-kunang. Dan ini kisah cintamu yang akan jadi dongeng menakjubkan! Ha-ha-ha…” Tidakkah kau tahu. Bukan karena kamu tak suka. Mungkin karena aku merasa nyaman saja.

di zaman gestapu dulu. Kemudian terbang mengikuti aliran sungai. Membuat lembah itu malam purnama. pada saat-saat seperti ini aku ingin mengajaknya kemari. menjadi berkilauan. Bahkan kemurungan tak juga menguap dari wajahnya ketika ia terlelap. Kenapa aku suka pada matanya yang bagai meringkuk dalam selimut. setiap kali aku merasa rindu dengan ayah. Ibu selalu mengajakku kemari. ribuan kunang-kunang itu selalu bangkit dan terbang melayang- Kuajak ia kemari. memandangku yang duduk telanjang di sofa. aku lupa. dan angin yang membeku membuat layang menyusuri aliran sungai. ibu bercerita bagaimana suatu malam ayahku diseret keluar rumah. Rasanya aku pernah membaca cerita muncul dari kegelapan malam dan terbang berhamburan memenuhi kota… seperti itu—mungkin sewaktu SMA. Ibu selalu bercerita bahwa ayah telah menjelma kunang-kunang. Aku masih dalam kandungan ibu. selalu tak mudah mengajaknya bercakap. Kunang-kunang itu adalah jelmaan roh-roh yang penasaran. Dari jendela apartemen lantai sebelas. Seminggu setelah pembantaian. agar ia menyaksikan kemunculan ribuan kunang-kunang itu. dengan mata yang layu. kata ibu. saat itu. Ribuan kunang-kunang itu terlihat bagaikan selendang kuning yang melayang-layang hanyut di riak air. ketika lembah itu menjadi bisu. bersama ribuan tubuh lainnya. . seperti sosis dalam setangkup roti. Ibu mendengar tubuh ayah dibuang ke lembah itu. kota terlihat gemerlap ditangkup gelap yang pucat. Sejak kecil aku kerap bermimpi ayahku muncul dengan mata yang bagai sepasang kunang-kunang. Salah satu dari ribuan kunang-kunang itu adalah ayahmu. Aku jadi teringat pada cerita seribu kunang- kunang yang menautkan kesepian dan kenangan.” ”Hmm…” Ah. Aku membayangkan jutaan kunang-kunang ”Enggak tidur?” Ia menggeliat. Selalu. Seperti yang sudah-sudah.”Hmm. ”Kau lihat kunang-kunang itu?!” ”Hmm…” Ini pertemuan ke-43. bagai gugusan cahaya kekuningan yang bangkit. sekali mengajaknya bercakap-cakap tentang kunang-kunang itu. Dia mengerti kenapa aku suka kunang-kunang. Agar ia menyimpan kunang-kunang.” ”Aku suka matamu…” ”Hmm” “Seperti ada kunang-kunang dalam matamu. ia langsung tidur setelah bercinta. dari lembah itu muncul ribuan kunang-kunang. Itulah kenapa aku Itulah pemandangan yang selalu kusaksikan sejak kecil di tempat ini. Padahal. Aku ingin ia melihat sendiri bagaimana setiap bulan purnama ribuan kunang-kunang itu muncul dari bawah lembah sana. kemudian gaib begitu saja dalam kesunyian yang mengelabu. Dan setiap pepohonan tertugur kelu.

Kurasakan kemurungan yang ganjil ketika ia mendekatiku. ”Anakku sakit …” Bukan sesuatu yang mengagetkan. Ia masih saja tak terbiasa melihatku telanjang. Kemudian ia bangkit. Tak ada percakapan. Kesunyian tak terpermanai. Tapi.Ia sungkan dan jengah. tak tercatat pada termometer. Tak ada pelukan untuk saat-saat seperti ini. aku memang wanita paling menyedihkan yang yang sudah beristri…. Barangkali. Sampai ia mematikan handphone dan mendekatiku. 2005-2008 pernah kau kenal. Jakarta. seperti dalam sebuah puisi. Aku hanya memandang keluar jendela. berbicara setengah berbisik. dan tergesa mengenakan pakaian. handphone di atas meja bergetar tanpa suara. seperti langit yang bertambah memucat di atas kota yang di penuhi kunangkunang. Dan dingin. Membelakangiku. seperti kerap kau katakan. Seperti jeritan yang teredam. Desah napas waktu meruapkan basah pada kaca jendela. meraih celana dan kemeja di sisi ranjang. selalu saja. aku tetap saja merasakan kemurungan yang makin membentang. Ia meraih handphone itu. ”Aku mesti pergi…” suaranya pelan dan datar. Karena. aku selalu saja gampang jatuh cinta pada laki-laki . dan dengan gerakan pelan menjauhiku. Seolah ia menginginkan semua ini berlangsung tanpa percakapan yang akan menjadi terlalu sarat kenangan. Cahaya perlahan susut dan aus.

Biasanya. Aku ingat. nari. Seorang Sinterklas terkantuk-kantuk di dalam kehidupanku yang lain. aku terlahir kembali ke dunia ini sebagai seekor ular. dan langit hanya basah. Orang-orang bergegas membawa keranjang belanjaan dan kado-kado Natal berbungkus kertas warna-warni. Aku benar-benar tak lagi mengenali kota ini. Apabila melihat aku lagi berjalan. orang-orang akan menghentikanku. Memberiku moke. Mungkin karena itulah orang- memperbolehkan aku masuk rumah mereka. Mendesis pelan dan muncul lewat gorong-gorong. mereka selalu memberi telur atau sejumput beras buat ular . Mereka tertawa-tawa melihat aku menarimereka kemudian akan bertanya hal-hal yang terdengar aneh di telingaku. Padahal. ”Kalau tiga ditambah empat?” ”Tujuh. Dulu aku memang berharap. yang membuat kepalaku berdenyut-denyut lembut. udara terasa seperti permukaan piring keramik yang dingin. trotoar. kenapa orang-orang tak orang melihatku dengan jijik. mendesing lalu lalang di jalanan. Aku ikut tertawa saat mereka tertawa. Tak ada bintang. kenapa dulu orang-orang di kota ini begitu senang menggangguku. Mungkin karena tampangku yang terlihat dungu dengan liur kental yang terus menetes. Mungkin mereka hanya menggodaku. Mungkin mereka butuh hiburan. sambil menunjukkan empat jariku. Dan mereka kembali tertawa. bila ada ular masuk ke pekarangan. aku pernah begitu mencintainya.” jawabku. seperti rintihan kesepian. Mereka selalu membiarkan ular masuk ke rumah mereka. ”Berapa dua ditambah dua?” ”Tujuh. tidak lagi sebagai bocah idiot yang sering diganggu dilempari kerikil atau tomat busuk. Mungkin karena celanaku yang selalu melorot. Kota di mana bertahun-tahun lampau. Aku tak pernah mengerti. ”Dasar idiot!” Aku tak pernah mengerti kenapa mereka mengatakan aku idiot. Sayup kudengar gemerincing lonceng mekanik Jingle Bells mengalun dari juke box di etalase hypermarket.” jawabku. bagaimana orang-orang selalu mengusirku bila mereka tak pernah mengusirnya. Mobil-mobil silver metalik bertenaga magnetik keluar dari cangkang kesunyianku. melihatku memasuki halaman rumah mereka. Mereka tertawa. Di kulitku yang licin. Mungkin karena mulutku yang peyot. Pasti aku tampak lucu di mata mereka. aku ingin dilahirkan kembali di kota ini.Parousia Agus Noor Pada malam Natal tahun 3026. Mungkin mereka merasa bahagia bila bisa menggangguku. Aku tak mengerti. Bila ada ular masuk ke rumah. Lalu mereka menyuruhku menyanyi dan menari. sambil menunjukkan empat jariku. Aku Kusaksikan cahaya terang kota yang gemerlapan.

kini aku melihat sebuah mal yang megah. Seperti sayup ingatan yang membuatku merasa tak tersesat. Aku ingin Tuhan akan melahirkanku kembali ke kota ini sebagai seekor ular. Bunyi lonceng seperti itulah yang dulu selalu menuntun perjalananku. yang berkelok turun digantungkan begitu saja di udara. Aku leluhur mereka. Gerbangnya yang menjulang bagai mulut raksasa dan membuatku tak mengenalinya lagi. ”Ular! Ular!” Kulihat orang-orang beringsut ketakutan. takjub sekaligus merasa asing memandangi kota yang gemerlapan. Aku begitu ketakutan. dan semua ketimbang diriku. menganga mengisap orang-orang yang lalu lalang.itu. Kadang kulihat seekor ular melintas menyeberang jalan. ketika batu masih berupa buah muda. Meski terkejut dengan reaksi mereka. Kerlapmenerangi pertokoan yang berderet sepanjang jalan. kota ini seperti memanggilku. aku mencoba tak panik. Ketika mula dunia tercipta. Alangkah menyenangkan jadi ular. Tapi di situ. Sejak itulah aku ular. Kota dengan seribu gereja. Saat itulah kudengar suara mendesis pelan. sepanjang jalan ini hanya berderet pepohonan. Mereka percaya bagaikan putih telur. kabut selalu membawa rezeki dan nasib baik bagi siapa pun yang didatanginya. aku selalu berjalan sepanjang jalanan ini. setiap hari. Aku ingin suatu hari nanti bisa berubah menjadi Aku mendesis. Lampu-lampu aneka warna Kudengar lonceng gereja. ”Cepat bunuh ular itu! Usir! Pukul” Dan dengan gerakan cepat seseorang mengacungkan tongkat. kendaraan yang lewat berhenti. menatapku yang mendesis merayap pelan menyeberangi trotoar. Aku suka berjalan mengelilingi kota karena aku suka mendengarkan lonceng gereja. Dulu. Aku tiba-tiba terkenang pada gereja-gereja yang dulu sering aku singgahi. Kenapa mereka ingin membunuhku? Kudengar teriakan-teriakan mengejarku. Kini terentang jalan layang dan jembatan penyeberangan yang bagai sederhana. Tiba-tiba kudengar suara jeritan. Begitu aku selalu merasa iri pada ular-ular yang di pepohonan. Kudengar kembali gema lonceng itu. Di ladang. banyak berkeliaran di kota ini. Kurasakan. ular-ular itulah muasal leluhur yang mendiami pulau. teringat bagaimana dulu orang-orang memberi makanan menyambut kedatangan ular Instingku merasakan bahaya dan dengan cepat aku melesat menyelusup tumpukan tong sampah. mendengar suara lonceng gereja yang mengapung menggetarkan udara senja. Tapi kudengar seseorang berteriak. Mestinya. Dulu. Terdengar suara-suara tong ditendang. Leluhur yang mulai berkhayal. Aku benar-benar bingung dengan kota ini. aku mulai tahu kenapa orang-orang di kota ini suka pada ular. Seingatku. Aku senang dan merasa tenang bila penuh dengan gereja. menghilang dalam kegelapan. Aku sering bertemu ular-ular itu. di pinggir jalan. Aku merayap menyeberangi jalan. ketika Bumi masih rapuh. saat tanah masih serupa Dari omongan orang-orang. yang kudengar sepotong-sepotong dan tak gampang aku ular-ular itulah leluhur mereka. kuntum yang ranum. Cahaya seperti telah menyihir kota ini kerlip pohon Natal menjulang di tengah-tengah plaza. di pojokan itu ada sebuah gereja. betapa enaknya jadi ular. juga beberapa rumah kayu menuju bukit kecil. . betapa orang-orang lebih menyukai ular pahami.

Kemudian ia berjalan mengendap-endap. membuatku merasa seperti menyusuri labirin kesunyian yang pastilah akan membuatku tersesat bila sendirian. ”Kamu bandel sekali berani keluar gorong-gorong. memancarkan sulfur cahaya. Cahaya pucat kemerahan menerangi lorong yang kami lalui. sambil menurunkanku dari dekapannya. Dengan tangannya yang mungil. di mana matahari terlihat menyandarkan cahayanya. Aku kemudian tahu bahwa kota ini sesungguhnya tak terlalu jauh jaraknya dengan kota yang kulihat saat malam Natal sebulan lalu. berdesakan dan bau tengik. seperti kupandangi sepasang bintang yang menandai kelahiranku kembali ke dunia ini. Sepasang matanya yang bening membuatku pelan-pelan merasa tenang. ”Kita sampai. Kulihat rosario menenteng lentera. Suara-suara itu perlahan lenyap dalam gelap. Lorong di mana dulu gadis cilik itu membawaku adalah jalan menuju ke kota yang penuh cahaya itu. seperti tengah meyakinkan betapa tempat terbaik . ”Cepat sembunyi sini….” Kulihat gadis cilik meringkuk di pojok gelap. Saat itulah kudengar suara-suara mendesis pelan keluar dari reruntuhan tembok dan tumpukan kayu lapuk.” Ia berkata sambil mengelus Kupandangi mata gadis itu. ratusan ular.” Aku memandanginya ragu. Cepat sini…. Di dekapannya. Aku langsung teringat pada kelokan jalan itu. mendesis-desis menatapku. meski aku bisa segera menyaksikan bayangan rumah-rumah kumuh yang bagai mengapung dalam kegelapan. juga bayangan bukit-bukit di kejauhan. Tapi ularular yang kutemui selalu mengingatkan agar aku jangan pernah berani-berani lagi muncul bagi ular macam kami adalah di kota ini di kota itu. Cara mereka mengingatkanku. gadis itu memungutku. Aku merasa asing.”Ssttt…. aku merayapi jalanan kota ini. Ia mengulurkan tangan. Ditentengnya rosario itu seperti ia gadis cilik yang mendekapku ini mengeluarkan rosario dari kantung roknya. kulihat itu menyala kemerahan. mengenali jajaran pepohonan di sepanjang jalan kota ini. Kulihat puluhan ular. hanya dipisahkan oleh kenangan. memberiku cuilan roti yang dipungutnya dari tumpukan kepalaku. Kota ini terletak di pinggiran kota yang gemerlapan itu. cahaya kota yang gemerlapan kulihat meredup perlahan ketika gadis ini terus memasuki lorong kelam. belajar memahami apa yang sesungguhnya telah terjadi. Aku diam melingkar di pojokan. Aku merasa ini tak lebih dari kota lama yang ingin dikekalkan dalam ingatan.” kata gadis cilik. Sampai kemudian aku melihat bayangan deretan rumah yang rapuh. Aku merasa nyaman dalam yang kudengar masih memburuku. sampah. Sungguh kota ganjil yang serba temaram. >diaC< Kudengar lonceng gereja yang layu dari kejauhan. Dan seperti menyusuri ingatan. menjauhkan aku dari orang-orang belakangku. reruntuhan gereja yang kini hanya terlihat sebagai tetumpukan batu bata. Ketika gelap dan sepi terasa lengket seperti ampas kopi. lorong yang berkelok-kelok. Inilah kota yang pada kehidupanku yang dulu selalu kususuri jalan-jalannya.

dihancurkan kemajuan. Sering kami duduk-duduk dekat terpinggirkan dari kota. Kadang air mata itu menetes bening. kan? sekarang ia makin sulit menjual rosario. Ketika bangunan-bangunan menyanyikan kesedihan. Kadang merah serupa darah. Dulu. Kami bercakap-kacap dengan bahasa leluhur yang hanya bisa kami mengerti. Pada saat itulah. rempah-rempah dan artefak kenangan. kami bisa ditangkap petugas keamanan. Ada salib di tengah reruntuhan gereja di kota ini. membawanya masuk ke dalam kabut kesunyian. dengan mangkuk perak berbentuk piala di ujung selang itu. dengan karena di kota yang baru mereka diburu dan tak lagi dituahkan. Kamu sudah melihatnya. Ia bercerita bahwa sebenarnya ada jalan tembus melalui gorong-gorong untuk pergi lewat jalan itu. menyadap air mata Tuhan…” Aku ingat. menjualnya di lapak trotoar. Para penduduk di kota ini menampung air mata Kristus. Ketika banyak gereja diruntuhkan. Kami mesti menjualnya diam-diam. ”Begitulah. Butiran air mata itulah yang kemudian mereka kumpulkan untuk diuntai jadi rosario. untuk diganti dengan malmal. Para penduduk memberi kami anak-anak. Aku sisa makanan mereka meski kadang busuk dan berjamur. menyimpannya dalam botol. Kami belajar saling mengerti kesepian masing-masing. Dan pada malam hari mereka memeras air mata. dan menghidangkannya buat sarapan pagi anak-anak mereka. Kemudian dijual. Tak hanya karena dikejar-kejar petugas. kalau aku mau menjual rosario. Dalam keremangan. Apalagi gadis cilik itu selalu mengajakku jalan-jalan. sebagian orang yang mencoba bertahan memunguti sisa bangunan gereja itu. dan meminumkannya saat anak-anak mereka sakit. Mereka memunguti puing kota lama yang nyanyian dan upacara yang penuh ratapan pada leluhur. saat mereka berkumpul mendengarkan orangtua mereka mendongeng. tapi terlihat rapuh. terdengar seperti tengah bertingkat mulai dibangun. pada waktu-waktu tertentu akan mengalir. Aku menemukannya tak sengaja. tetapi kota itu lebih suka dapat hadiah Natal boneka Barbie atau nitendo daripada rosario. Berusaha membangunnya kembali sebagai tumpukan-tumpukan kenangan. katanya. dan Kristus tampak murung dan sengsara dalam lindap cahaya. Sudah lama. anak-anak di rosario buatan kami luar biasa. bila menjelang Natal. Aku pernah melihat bagaimana rosario itu dibuat. Pelan-pelan mereka kembali membangun kota mereka. berjualan biji-biji embun dan bermacam daun. seakan- mencapai kota di seberang sana. Pada tubuh Kristus terlilit selang kecil. akan ia ingin agar aku mengenal setiap cuil kota ini. Kuingat rosario yang memancarkan cahaya itu. kami—ular-ular—memang dibiarkan berkeliaran. Ketika kota mempercantik diri. Dulu banyak warga kota ini yang setiap hari pergi ke kota itu. dulu kami bertahan: dengan . yang mereka percaya. gadis cilik itu pernah berkata kepadaku. Ia kemudian mengatakan kalau karena sekarang ini sudah jarang yang mau membeli rosario.Di kota ini. Salib itu menjulang. Padahal Aku mendesis mengangguk. Dan ular-ular mengikuti mereka ingatan inilah para ibu mencoba bertahan hidup dengan memetik embun di daun-daun. Sebab bila ketahuan. Dongeng tentang kehidupan mereka yang perlahan-lahan sangat senang mendengarkan dongeng-dongeng itu dituturkan. Dulu aku sering memang sering berjualan rosario. Itulah selang yang dipakai untuk menampung air mata Kristus. tetapi selalu diusir. salib itu seperti pokok pohon karet yang tengah disadap. Di kota yang remang dalam menampungnya dalam gelas. kami Aku belajar mencintai kota ini.

Kenangan-kenangan dalam kehidupanku yang dulu seperti bermunculan kurasakan cahaya kota yang gemerlapan. gereja. Tidak. Kulihat gadis kecil di sampingku yang hanya menunduk. ”Kamu Pater?” Aku mendesis tersenyum. kataku. Maka pada malam Natal beberapa bulan kemudian. Ia begitu senang saat mendengar kalau pada kehidupanku yang dulu. Aku takut ada penduduk yang memergoki gadis cilik ini. ”Tapi aku suka kamu!” Aku menggeliat-geliat dalam dekapannya. Mataku nanar Ledalero. gorong-gorong. Dari dalam keranjang anyaman. ”Kita bisa diam-diam ke sana. Ia menyimak ceritaku dengan mata berkejap- kejap. Ah. Ia hendak membawaku mendatangi gereja yang kurindukan itu. 2006 .Kepada gadis cilik itu pun aku bercerita tenang kehidupanku dulu. nyanyian puji-pujian. boleh jadi sebagai tugu kenangan. Pasti mereka mengusir kami…. kulihat stereo set diputar untuk mengumandangkan melihat tubuh Kristus yang tersalib memandangi bangku-bangku kosong. ternyata. Pelan aku dikeluarkan dari dalam keranjang. kudengar gadis itu berbisik pelan mengatakan kalau kami sudah sampai dalam seperti rongga semesta. Aku tidak menikah. Ia mendadak terbelalak saat aku bercerita tentang Gereja St Paulus yang sering kudatangi dulu. Kudengar koor Malam Kudus dinyanyikan. katanya. Aku melingkar tenang dalam keranjang. ia seperti tengah membawa keranjang makanan dan hendak pergi tamasya. Dulu aku idiot.” katanya. ”Kau tahu. aku juga penduduk kota ini.” katanya. Terdengar syahdu dan megah. Kami menuju kota itu melalui gorong-gorong rahasia. Ketika ia berjalan. ”Wow. ia memang gadis yang usil dan nakal. Ada perasaan sendu ketika kudengar itu. Sampai kemudian aku menyadari. Kami keluar dari Puji Tuhan. Kusaksikan ruangan yang remang. Tak ada seorang pun mengikuti misa Natal. tapi setidaknya ia memahami kerinduanku. gadis itu memasukkanku ke dalam keranjang kecil. siapa tahu aku ini salah satu keturunanmu. samar-samar bisa menenteramkanku. ”Itu satu-satunya gereja yang masih berdiri!” Mungkin tepatnya: itulah satu-satunya gereja yang sengaja dibiarkan berdiri. betapa sunyi gereja ini. Kukatakan betapa aku ingin melihat gereja itu.” teriaknya riang. Jangan sampai orang-orang di kota itu melihatmu. tepat di belakang gereja. Tak ada seorang pun perempuan suka dengan orang idiot. Di dekat altar. Cahaya terasa ultim dan kusaksikan fresko katakombe di atas altar itu bagai bergetar.

Catatan: 1. 2. versi Krowe-Sika. Nusa Tenggara Timur. Disitir dan ditulis ulang dari syair tradisi yang mengisahkan penciptaan alam semesta. Dikutip dan ditulis ulang dari puisi ”Ibu yang Tabah” karya Joko Pinurbo. 3. Nama tuak/minuman keras lokal di Maumere. Agus Noor (23 Desember 2007) .

Kau akan mendengar gema mesin jahit yang terus bergemeretak hingga larut menyelesaikan semua jahitan sebelum hari Lebaran. Nak. orang-orang lebih suka . silet. yang mampu mengubah kain-kain warna-warni menjadi baju-baju indah kanannya. Para penduduk antre menjahitkan pakaian dan hiruk dalam keramaian menyambut Lebaran. jahit lipat dari dalam kotak yang dibawanya. “Tukang jahit maka Lebaran tidak jadi datang ke kota ini. menata bundelan-bundelan benang. Seperti kemunculannya yang entah dari mana. sementara tangan kirinya lincah dan cepat mengarahkan pola potongan kain yang dijahit. kau bisa menyaksikan serombongan bukit. karena makin lama makin banyak warga yang malas menjahitkan pakaian pada tukang jahit-tukang jahit itu. setiap menjelang Lebaran.Tukang Jahit Agus Noor Tukang jahit itu selalu muncul setiap kali menjelang Lebaran. Kemunculan mereka selalu menjadi pemandangan yang menakjubkan. jarum Selalu menyenangkan memperhatikan tukang jahit itu bekerja. selalu. mangkuk-mangkuk berisi kancing warna-warni. Nak. meletakkannya di atas kotak kayu yang digunakan sebagai meja. ia tak hanya bisa menjahit pakaian. Anak-anak berceloteh riang tentang baju baru yang akan mereka kenakan. Tapi semakin lama kian menyusut tukang jahit yang muncul ke kota ini. Atau mereka tak mau lagi datang. Seperti menyaksikan dalam sekejap. Begitulah. di keteduhan pepohonan. diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya. di pojokan jalan. Mungkin banyak dari tukang jahit itu yang mati. Dan di malam takbiran. factory outlet. Kata orang. betapa dulu. Mereka mengeluarkan mesin dondom dan jarum pentul. yang konon. Mereka duduk bersila menggerakkan engkol mesin jahit dengan tangan tukang sulap. Serasa ada gema burung pelatuk di mana-mana. Nak. Ia juga bisa menjahit kebahagiaan. dari tahun ke tahun. Mereka menggelar dasaran di trotoar. Nak. kota ini selalu didatangi banyak sekali tukang jahit. Entahlah. dan benang. Kanak-kanak akan berlarian senang menyambut kemunculan mereka. para para tukang jahit itu muncul setiap kali menjelang Lebaran dan menghilang di malam takbiran. Seolah muncul begitu saja ke kota ini. Sejak banyak toko fashion. kota akan terlihat penuh tukang jahit yang berkeliling menawarkan menjahitkan pakaian. Ketika cahaya matahari pagi yang masih lembut kekuningan menyepuh tukang jahit yang masing-masing memikul dua kotak kayu berbaris muncul dari balik lekuk perbukitan dan halimun perlahan-lahan menyingkap. tukang jahit itu pun menghilang entah ke mana. Nak. Mungkin juga mereka memilih berhenti jadi tukang jahit. datang! Asyiik! Lebaran jadi datang!” Seakan-akan bila para tukang jahit itu tak muncul. gunting. Jarum Ibu pernah bercerita. Tukang jahit itu punya jarum dan benang ajaib yang bisa menjahit hatimu yang sakit. para tukang malam. Karena para tukang jahit itu mesti jahit itu tampak bergegas keluar kota. di emper pertokoan. Di hari-hari menjelang Lebaran itulah. butik dan pusat perbelanjaan di kota ini.

Mungkin kau tak ingat. dan membuat orang-orang itu merasa tenteram. Zaman. tetapi juga kebahagiaan. Nak. Benang itu tipis dan bening. Mereka hanya duduk-duduk tanpa mengerjakan jahitan. dari tahun ke tahun. Lalu diantar Pamanmu. selalu kulihat tukang jahit itu muncul di kota ini setiap kali menjelang lebaran.membeli pakaian jadi. Tak ada lagi keriuhan suara mesin jahit di kota ini setiap menjelang masih muncul pun lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan melinting dan orang-orang yang lalu lalang keluar masuk pusat perbelanjaan menenteng tas-tas lebaran. Orang tak hanya menginginkan baju baru saat Lebaran. dan menjahitkan pakaian padanya. Ibu mendatangi tukang jahit itu. Dengan jarum dan benang Begitulah. Di kampung itulah ia tinggal. Hanya ia. Kau bisa melihatnya. Ia seperti wajahnya seperti rahasia yang tak mau dibuka. Di dada sebelah sini. tukang tentang tukang jahit itu. yang masih muncul di kota ini. Perawakannya kurus. kadang tampak itulah tukang jahit itu menjahit kembali kebahagiaan orang-orang…. Maka. Saat itu Ayahmu baru meninggal. Nak. Nak. maka tukang jahit itu akan menjahit robek dan koyak menjadi seperti selembar kain lembut yang bisa dijahit kembali. Memberi tukang jahit itu segulung benang untuk menjahit seluruh pakaian yang ada di dunia ini. tiga bulan sebelum Lebaran. Ia sempat mengelus bertilas. Nak. tak ada lagi pemandangan menakjubkan arak-arakan serombongan tukang jahit laskar terakhir prajurit yang terusir. kulitnya seperti kulit mahoni yang menua. Delapan Lebaran lampau. seperti senar. Nak. memang mengubah selera. Rabalah. Tapi . begitu halus. Tak berbekas. Bila ada orang sedih yang datang padanya. barangkali. Kau tahu. Kisah tentang kampung para penjahit juga pernah aku dengar. Dan jarum itu. Namun sudah berpuluh tahun lalu kampung itu lenyap. kebahagiaan yang Ibu pernah menggendongmu datang ke tukang jahit itu. Mungkin para tukang jahit itu merasa betapa kota ini tak lagi menerima kedatangannya. para tukang jahit yang mengisap tembakau. yang seluruh penghuninya adalah tukang jahit. Seluruh tukang jahit yang tinggal di kampung itu mati oleh wabah yang tak pernah diketahui apa. lalu mereka memilih mendatangi kota-kota lain yang masih mau Lebaran. membutuhkan mereka. Benang yang tak akan habis bila dipakai Nabi Khidir muncul dalam mimpinya suatu kali. Entahlah. Nak. setiap menjelang yang muncul di kota ini. Lebaran. tetapi tak bisa menyentuhnya. tak banyak bicara. Dan itu karena ia tak hanya pintar menjahit pakaian. memancarkan cahaya lembut ketika dipegangi tukang jahit itu. Tapi ia lebih sering terlihat di sudut dekat gang kecil agak di pinggiran kota. tetapi lebih lembut dan halus. Yang jelas sudah sejak lama. halus. Cerita Ibu hanyalah salah satu cerita dari banyak cerita yang kudengar cerita lain membantahnya. Berjalan keliling kota menawarkan jahitan. Ia menjahit luka hati ibu. Kau masih empat tahun saat itu. Sebuah kampung. di tangan tukang jahit itu. Nak. memandangi belanjaan berisi pakaian. Tak Lalu Ibu bercerita tentang jarum dan benang yang dimiliki tukang jahit itu. Ada yang mengatakan. Kau tahu. tapi kau lihat. Menisik dan menjahit. satu-satunya tukang jahit. ia sebenarnya tinggal di balik bukit itu. Tapi juga ingin bahagia di saat hati orang yang lagi sedih itu. rambutmu. Nak. Nak. dan jarum. selalu saja ada orang yang datang Tinggal tukang jahit itu. Ia menjahitnya dengan rapi. Ibu merasa kesepian dan sedih membayangkan Lebaran tanpa Ayahmu. Memang tak banyak lagi orang yang mau padanya.

aku dan kawan- Agak di pinggiran kota ada gang buntu kecil yang letaknya di tikungan jalan. Ia sendiri tak pernah mau bercerita tentang dirinya. Mereka ingin menjahitkan kekecewaan mereka pada tukang jahit itu. malah makin menyelimutinya dengan misteri. Karena banyaknya antrean yang meluber hingga ke tengah sebentar lagi…. Tak pernah bercakap ia dengan para penjual loakan di situ. Ayah?” “Mau menjahitkan…” “Menjahitkan pakaian?” “Bukan. sewaktu kanak. jalan. Padahal tukang jahit itu. Kemunculannya selalu dalam diam. Ia tinggal di sana. Itulah sebabnya. satu-satunya yang selamat. Mereka antre agar bisa menikmati kebahagiaan Lebaran. inilah antrean terpanjang yang pernah kulihat di kota ini. yang membuat jalanya jadi agak membungkuk. Rasanya. Mereka sudah menunggu sejak dini hari. Menjelang Lebaran ini. Benang yang untuk menjahit hati orang-orang yang sedih menjelang Lebaran. Yang lain bilang kalau ia memang sempat bertemu Nabi Khidir jahit itu. dipintal dari bulu-bulu sayap malaikat. Di pojokan situ selama hari-hari menjelang Lebaran. Tak banyak juga orang yang mendatanginya. Aku ingat. Gang yang rindang dan lengang meski ada juga beberapa lapak penjual barang loakan. sepanjang hari memintal benang kesabaran. gang itulah tukang jahit itu selalu menggelar dasaran dan istirahat. anakku memandang heran antrean itu. Ia tinggal di sebalik cakrawala. kulihat antrean itu sudah sedemikian mengular panjang memacetkan jalanan. Menjahitkan kebahagiaan. Dari radio terdengar nyanyian riang: Lebaran “Sedang antre apakah orang-orang itu. jahit itu belum lagi muncul! Mereka tampak sudah tak sabar menunggu kemunculan tukang Saat melintas sepulang belanja kue penganan dan pakaian buat Lebaran. aku menjalankan mobil pelan-pelan. bahkan ada yang sudah menunggu berhari-hari. Dan tukang jahit itu tetap saja diam.masih muncul ke kota ini. Cerita tentang jarum dan benang ajaib itu mungkin membuat banyak orang penasaran. Nyaris tanpa suara berkeliling memikul dua kotak kayu kawan sepermainan kerap mengikuti di belakangnya sambil berteriak-teriak. Tapi barangkali pula karena dari Lebaran ke Lebaran memang semakin banyak orang yang kian tenggelam dalam kekecewaan. kini ia satu-satunya tukang jahit yang dan menjadi muridnya. Menjahit dan tidur di Tapi dari Lebaran ke Lebaran semakin banyak saja orang-orang yang datang ke tukang jahit itu.” “Kok kayak mau ngantre minyak tanah?” . seakan meledek tukang topeng monyet keliling. di sebuah perbatasan antara hidup dan kematian. Dengan benang itulah ia ditugaskan oleh Nabi Khidir Semua cerita itu sesungguhnya tak pernah menjelaskan tentang tukang jahit itu.

Ayah?” “Mungkin mereka tak punya uang buat pulang kampung. Tentang jarum dan benang yang bisa menjahit kesedihan. Bahkan untuk sekadar bisa menikmati kebahagiaan di “Kenapa menjelang Lebaran begini mereka kok tidak bahagia. Pusing karena semuanya makin mahal. Mungkin juga mereka hanya merasa makin sedih saja…. Kuceritakan tentang tukang jahit itu. kemudian memandang gamang ke arah menyentuh ujung terjauh cakrawala yang mulai menggelap. hingga Agus Noor (7 Oktober 2007) . Ayah?” “Ya. Ayah?” Aku menatap matanya yang menunggu jawaban. Tidak semua orang hari Lebaran pun kini orang mesti antre berdesak-desakan. Bingung karena masih nganggur. Kulihat antrean itu sudah sedemikian panjangnya.” “Bagaimana kalau tukang jahit itu tak muncul.Barangkali. Brisbane-Yogyakarta. 2007 orang-orang yang antre itu. dengan gampang mendapatkannya. Tak bisa membelikan baju baru. sekarang ini kebahagiaan memang seperti minyak tanah.” Lalu kuceritakan apa yang dulu pernah diceritakan Ibu padaku. “Jadi mereka menunggu tukang jahit itu.

suka sekali permen. permen. Mama. Bantal mungil warna-warni milik peri. Seperti bantalbantal mungil milik peri. “Ini bantal yang dipakai tidur para peri. kemudian mengumpulkannya dalam bibi-biji buah yang lembut itu mereka gunakan sebagai bantal. Tapi ia juga bisa membuat gigi-gigimu rusak dan bengkak jangan terlalu berlebihan menikmati apa pun.Permen Agus Noor Melihat mulut Iza yang terus cembetut. saat peri-peri mungil itu kelelahan dan berbaring tertidur di dahan-dahan. “Begitulah. Saat terbangun pagi hari. Karena yang manis pun bisa membuat sakit dan menderita. Ia manis dan lembut karena karena ia dibawa oleh nenek sihir jahat. Permen dalam bungkus warna-warni.” Neal mengingat itu sebagai sebuah nasihat agar dipakai sebagai bantal para peri. bila peri itu .” Ah. Mereka sedih. juga permen cokelat dan caramel yang meleleh lembut di lidahnya. penuh warna dan menyenangkan seperti permen. dan kembali beterbangan memetiki biji-biji buah yang keranjang. ketika peri-peri mungil itu memetiki biji-biji buah yang matang dan manis. hutan yang berkilauan menjadi penuh nyanyian. itu biasa. Neal tak akan pernah lupa dongeng masa kecilnya itu. berisi beberapa permen di dekat jendela kamar tidurnya. dan kakak adiknya berkumpul menonton televisi. Neal tak akan pernah lupa: di ruang selalu tersedia sekotak aneka permen. Sepanjang hari yang riang. Neal suka meletakkan kotak dari kayu tata menyerupai bantal di atas kasur kecil. tempat biasanya Papa. Saat kehidupan ini masih ranum. peri-peri mungil itu akan terkejut mendapati bantal lembut saat mereka kulum. tengah. Permen-permen dalam kotak itu ia dan tersesat ketika mencari bantal-bantal yang dicuri oleh nenek sihir itu.” kata Mamanya. Bukannya Neal tak memperbolehkan Iza makan permen. Neal sendiri. lollipop. Anak-anak begitu bergembira ketika nenek sihir itu membagikan biji-biji yang rasanya manis dan mereka sudah hilang. Neal ingat bagaimana Mamanya mengakhiri kisah itu dengan suara yang penuh senyuman. Dan pada malam hari. peri itu bisa nyaman beristirahat di kotak yang ia sediakan itu. Maka. Anak-anak suka permen. Nak. sewaktu kanak-kanak. peri-peri yang selalu beterbangan seperti capung begitu riang memetik biji-biji buah selembut getah yang bergelantungan di pepohonan mastic dan spruce—sejenis karet dan cemara—yang menjulang menyentuh kelembutan cahaya. fudge. pastilah ada peri yang sedih masuk ke dalam kamarnya. “Permen akan selalu mengingatkanmu bahwa hidup ini manis dan patut kamu nikmati. itulah.” kata nenek sihir itu merayu anak-anak yang terpesona pada biji-biji mungil itu. sebermula permen muncul di dunia manusia. Saat peri-peri mungil lelap bergelantungan. Neal tahu kalau anaknya itu masih kesal karena tak diperbolehkan membeli permen yang tadi sore dilihatnya dijajakan di perempatan jalan. Sampai ia berumur sembilan tahun. sementara nenek sihir itu telah jauh keluar hutan dan melintas jalanan desa dengan menyaru sebagai penjaja manisan. Ia membayangkan. seorang nenek sihir mengambili bantal-bantal itu dengan teramat hati-hati dan pelan agar peri-peri mungil itu tak terbangun. Permen toffee. di malam hari menjadi bengkak mulutnya. Beberapa anak yang rakus dan terlalu banyak makan biji-bijian itu. “Karenanya kamu harus bersyukur bila hidup memberimu nasib yang manis.

kemudian diolah dan dimasak di atas tungku-tungku hidup yang mereka rasakan sehari-hari. seminggu sebelum ia melahirkan Iza. Orang-orang miskin yang hidup di kampung-kampung Mungkin proses pembuatan permen itu sudah berlangsung lama. setelah ia menikah dan punya anak—cukup satu anak. Tetapi. mereka akan memecah kaca mobilnya. Dia tetap ingin permen yang dijajakan di perempatan jalan itu. korengan. setengah menggerutu. Dan tangan itu tak pernah dibersihkan ketika membungkusi biji-biji permen yang “Bagaimana mungkin aku memberikan permen seperti itu pada Iza!” ujar Neal. Sekarang ini. permen itu memang mengundang selera. Ia ingat. Para perempuan tua yang kelelahan mampet dan bangkai celurut mengapung di lorong-lorong muram perkampungan itu. pengasong itu. ia bermimpi repot hamil dan melahirkan lagi—Neal sering bermimpi ada peri masuk ke dalam kamarnya puluhan peri mungil mendatangi kamarnya dan menjatuhkan biji-bijian permen ke dalam keranjang bayi.” Tapi. pada Samuel. Neal membayangkan. Tapi. Mimpi yang selalu ia percaya sebagai isyarat baik. pewarna dan pengawet. bila ia tak membeli. para selesai dimasak dan dicetak itu ke dalam kantung-kantung plastik. permen yang banyak dijajakan di perempatan jalan itu rasanya bukanlah isyarat yang perempatan jalan itu bukan biji-biji ranum yang dipetik para peri dari dahan-dahan pohon baik. memberinya sedikit gula. tangan anak-anak itu pastilah kotor dan menjijikkan. Malah kabarnya mereka menggunakan sorbitol—sebagai pengganti gula yang mahal—dan kayu manis sebagai penyedap aroma. mereka peras menjadi keringat yang ditampung ke penderitaan. Mestikah ia menjelaskan pada Iza. bagaimana permen itu dibuat. tidak seperti tangan-tangan peri yang lentik ketika memetiki biji-biji kuku-kuku jari tangannya penuh bekas daki ketika mereka menggaruk pantat mereka yang kemudian dijajakan di perempatan jalan.Sampai sekarang pun. Neal sering panik berhadapan dengan para pengasong itu. Neal tak suka dengan para bungkus itu ke dekat mobil sambil mengetuk-ngetuk—malah kadang mengedor—kaca jendela. wajah Iza terus cemberut. . yang sering menawarkan dengan cara setengah memaksa: menyorongkan Lagi pula Neal memang tak suka dengan permen yang dijajakan itu. Sementara bau got permen ranum yang bergelantungan. ia tak mau menenteng biji-biji permen. Takut. membuat mulut dan tenggorokanmu jadi segar. kalau permen-permen yang dijajakan di spruce? “Permen itu akan membuatmu mules dan mual. Permen berwarna merah keruh yang mirip manisan dalam bungkus-bungkus plastik kecil. hampir di tiap perempatan jalan memang banyak pengasong menjual permen. Ia sering mendengar kumuh pinggiran kota membuat permen itu dengan cara menampung kesedihan mereka. “Lebih enak permen ini. Kesedihan dan kegetiran dalam panci-panci rongsokan.” bujuk Neal sembari memberikan permen mint yang ia beli di supermarket. Selintasan. Mencampurnya dengan gelatin agar kental. anak yang matanya nanar tanpa harapan membungkusi butir-butir permen yang sudah dan terkantuk-kantuk sepanjang malam mengaduk-aduk adonan itu.

“Lho, apa salahnya?” “Tidak. Iza tak boleh makan permen seperti itu. Tidak baik.” Selama ini Neal begitu hati-hati memilihkan semua yang tak terbaik bagi anaknya. Ia ingin Iza menikmati masa kanak yang membahagiakan. Dan Neal takut Iza akan tergoda oleh permen itu. Bagaimana kalau tanpa sepengetahuannya, Iza membeli permen itu ketika jajan di sekolah?

menatap Neal yang tengah memakai kembali g-string-nya. “Maksud, lo?” Mata Neal melotot.

“Aku kira, permen itu sebuah gagasan yang cerdas,” kata Samuel, setengah tertawa,

“Dengar,” Samuel menatap serius. “Bukankah mengubah kesedihan menjadi permen itu cara penderitaan. Membuat yang pahit jadi manis. Kamu jangan meremehkan hanya karena yang luar biasa? Mungkin itulah cara terbaik bertahan di tengah hidup yang penuh

permen itu terlihat murahan. Ini hanya soal kemasan. Aku kira, kalau dikemas dalam kotakkotak yang bagus dan dipasarkan dengan baik, permen itu akan menarik juga. Mungkin akan jadi komoditi yang menguntungkan. Bukankah ini peluang pasar? Kita bisa mengembangkan permen itu untuk diekspor. Bayangkan! Kita bisa mengekspor permen penderitaan itu ke banyak negara. Saya kira itu jauh lebih baik ketimbang kita melulu mengekspor TKI.”

Samuel tertawa—mungkin karena merasa lucu. Tapi Neal tak menanggapi. “Lagi pula, permen-permen itu telah membuat banyak orang jadi punya kerjaan. Yah, penjahat kapak merah, kan?”

meskipun cuma jadi asongan di perempatan jalan, tapi itu lebih baik daripada mereka jadi

Dari jendela hotel Neal memandang ke bawah, ke arah jalanan yang macet. Ia lihat puluhan permen itu. Rasanya, dari hari ke hari semakin banyak saja jumlah penjaja permen itu memenuhi jalanan. Jalanan yang macet jadi makin semrawut oleh mereka. Samuel memeluknya dari belakang, mengecup tengkuknya pelan.

pengasong yang berjalan dari satu mobil ke mobil di belakangnya, menawarkan bungkusan

“Mestinya kamu tak usah terlalu gelisah. Toh itu hanya permen.” Tidak. Ini bukan hanya soal permen baginya. Permen bukan hanya sekadar sesuatu yang

manis di lidahnya. Bukankah ia mencintai Samuel karena laki-laki ini memberinya sekotak permen ketika pertama kali mereka bertemu? Bagi Neal permen lebih menggoda daripada tertarik untuk menikmatinya. Ia akan lebih suka membayangkan bila di surga penuh untuk memetiknya. buah apel. Bila dulu ia adalah Hawa, dan Tuhan menggodanya dengan buah apel, pasti ia tak bergelantungan biji-biji permen warna-warni yang memancarkan cahaya. Ia pasti tergoda

Samuel memberinya permen. Permen yang selama setahun ini ia nikmati bersama Samuel. Hidup memang seperti permen karet, meskipun lembut dan manis, kita harus berhenti menikmatinya sebelum terasa asam dan hambar. Makanya Neal menahan lidah Samuel

dengan jarinya ketika laki-laki itu mulai menciumnya lagi. Lagi pula ini sudah jam tiga sore. Jam di mana Neal harus menelepon suaminya. Pras menutup handphone-nya. “Siapa?” tanya Melly. “Neal.” “Kamu mesti jemput istrimu?” Pras menggeleng. Ia memandangi Melly yang bersandar di sofa dan belum juga memakai blazernya.

“Cuma ngomong soal permen…” “Permen?” “Ya. Permen. Dia belakangan ini selalu gelisah soal permen yang dijajakan di perempatan jalan itu.”

“Permen ini maksudmu?” Melly mengeluarkan sebiji permen dari tas Louis Vuitton-nya. Pras memandangi permen itu. Benar. Itu permen yang sering ia lihat dijajakan di

perempatan jalan. Pras sama sekali tak menyangka kalau Melly menyimpan permen itu. “Kok kamu beli?” “Itung-itung ngasih rezekilah. Lagi pula bosan kan terus-terusan menikmati permen rumahan. Sesekali perlu juga nyoba bagaimana rasanya permen pinggir jalan….” Pras merasa wajahnya memerah. Omongan Melly terdengar seperti sindiran. “Kamu mungkin menganggap permen ini tak enak, hanya karena dibuat dari adonan kamu pernah dengar ada permen yang dibuat dari rayap kayu?” Pras menganggap Melly bercanda. “Bener! Nggak tanggung-tanggung, yang mengembangkan permen dari rayap kayu itu

penderitaan. Tak ada yang salah kan kalau ada permen yang dibuat dari penderitaan? Apa

seorang profesor di Institut Pertanian Bogor. Mungkin kamu nggak mengira kalau rayap dan lemak 25,2 persen, dan ini cocok buat bahan dasar permen jelly yang kaya dengan suhu70-100 derajatCelsius, udahdeh, jadipermen…” “Tahu dari mana?”

kayu kering jenis cryptotermes cynocephalus light mengandung karbohidrat 10,2 persen nutrisi berupa protein rayap. Tinggal dicampur dengan sirup fruktosa tinggi, dimasak pada

“Baca dong!” Melly sedikit mendengus. Ia tak suka dengan ekspresi Pras yang tampak tak mau percaya kalau ia tahu soal permen rayap itu. Apa dikira sekretaris tidak suka baca?!

Pras diam. Melly mendekat ke ranjang dan berbaring di atas tubuhnya, lalu menyodorkan permen itu tepat ke wajah Pras yang tengadah. “Coba, deh…” Pras tanpa sadar langsung mengatupkan mulutnya. “Sesekali kamu makan permen ini kan ya tak apa-apa,” kata Melly sambil memandang mata

Pras dengan lembut. “Mungkin ada gunanya juga sesekali kamu sedikit merasakan penderitaan…”

Pras memejam. Permen itu mengingatkannya pada kecemasan istrinya. Tapi apa salahnya

mencoba? Toh ia juga suka permen. Rasa permen yang beraneka macam selalu membuatnya merasakan sensasi petualangan rasa di lidahnya. Apalagi sejak ia menikah dengan Neal. Ia permen terlebih dahulu. Permen bisa menghapus bau bekas ciuman di mulutnya. selalu membawa permen di sakunya. Setiap kali hendak masuk rumah, ia pasti mengunyah

Warna-warni cahaya kota terlihat bagaikan bermacam bungkus permen yang bertebaran di udara. Barangkali kota memang seperti permen yang menggoda siapa pun untuk datang menikmatinya. Kota adalah pabrik gula-gula. Gedung-gedung yang menjulang itu adalah

menikmati cokelat raksasa itu, yang tampak seolah meleleh di bawah cahaya. Lalu muncul

kotak cokelat raksasa. Neal melihat barisan orang-orang yang berbondong-bondong ingin

kotor seperti cakar yang hendak menggaruki mobilnya. Neal mendengar suara jeritan yang melengking bersahut-sahutan…

panik ketika orang-orang itu mulai mengepung mobilnya. Tangan mereka yang hitam dan

serombongan orang-orang kumuh yang keluar dari dalam lorong dan gorong-gorong. Neal

belakangnya. Lampu sudah menyala hijau. Dan ia masih melamun. Seorang pengasong

Ia tergeragap. Ternyata itu suara puluhan klakson mobil-mobil yang berderet di

menyodorkan sebungkus permen ke dekat kaca mobilnya, tetapi Neal segera tancap gas. Neal masih gemetaran saat sampai rumah, dan mendapati Iza sudah tertidur. Pembantunya bilang, sejak sore anak itu terus nangis. Tak mau les piano—padahal biasanya ini yang paling disukai anak itu—dan bahkan juga tak mau makan. Hanya karena kecapean ia kemudian tertidur.

Neal memandangi anaknya yang lelap. Wajahnya seperti roti gandum yang diolesi susu.

Di dalam rumah ini, ia bisa melindungi anaknya. Tapi bagaimana di luar sana? Sungguh, ia ingin anaknya terus merasakan hidup yang nyaman dan tenteram. Ia tak ingin pengaruh buruk dari jalanan merusak hidup anaknya.

Tiba-tiba Neal merasa takut, betapa wajah anaknya kelak menjadi keruh oleh penderitaan.

rumah sambil mengunyah permen. Kebiasaan yang Neal perhatikan mulai dilakukan Pras sejak mereka menikah. “Sudah tidur Iza?”

Menjelang jam sepuluh Pras pulang, dan seperti biasanya, suaminya itu masuk ke dalam

“Mungkin ada gunanya juga sesekali anak itu sedikit merasakan penderitaan…” Jakarta.Neal mengangguk. Neal merasakan sisa aroma permen yang lengket di sudut bibir suaminya. memandang mata Neal dengan lembut. Pelan Pras mencium bibir istrinya. 2007 “Sesekali Iza kamu perbolehkan makan permen itu kan ya tak apa-apa. “Bagaimana kalau besok Iza masih ngambek dan terus minta permen itu?” tanya Neal menjelang mereka tidur.” jawab Pras sambil .

Kami menyukai cara mereka tertawa. atau permadani terbang dan juga kuda sembrani. Mereka tak suka bila kami terlihat tak menderita. Dan kami harus tampak menyedihkan dalam foto- foto mereka. Di bawah langit senja yang kemerahan kedatangan mereka selalu terlihat bagaikan siluet iring-iringan kafilah melintasi gurun perbatasan. Mereka datang dari segala penjuru dunia. Sementara mereka—sembari berdiri dengan atau merentangkan tangan lebar-lebar. daging asap yang digantungkan botol cuka dan saus. Kami menduga. Bagai ada naga menggeliat di ceruk . para pelancong itu sepertinya telah bosan dengan hidup mereka yang sudah terlampau bahagia. Mata kami yang murung dan sayu. rendang dalam rantang—juga berdus-dus mi instan yang kadang mereka bagikan pada kami. membawa bermacam perbekalan piknik. roti kering yang disimpan dalam kaleng. dan sempat mengunjungi kota kami. Kemunculan para pelancong itu membuat kesibukan tersendiri di kota kami. kalau foto-foto itu kemudian dibuat kartu pos dan kartu pos yang dikirimkannya itu. lalu berfoto ramai-ramai di antara reruntuhan puingpuing kota kami. Karena itulah mereka ramairamai piknik ke kota kami: menyaksikan bagaimana perlahan-lahan kota kami menjadi juga. botol- Penampilan para pelancong yang selalu riang membuat kami sedikit merasa terhibur. saat mereka begitu gembira membangun tendatenda dan mengeluarkan perbekalan. Mereka datang untuk menonton kota kami yang hancur. Mungkin para pelancong itu tak tahu lagi bagaimana caranya menikmati hidup yang debu. menandangi para pelancong yang selalu muncul berombongan mengendarai kuda. Dari negeri-negeri jauh yang gemerlapan. Berkarung-karung gandum yang diangkut gerobak pedati. di punuk unta terlihat bergoyang-goyang. biskuit dan telor asin. latar belakang puing-puing reruntuhan kota—berpose penuh gaya tersenyum saling peluk mengirimkannya dengan merpati-merpati pos ke alamat kerabat mereka yang belum Belakangan kami pun tahu. Hidup yang selalu dipenuhi kebahagiaan ternyata bisa membosankan nyaman tenteram tanpa kecemasan di tempat asal mereka. para pelancong yang sudah mengunjungi kota kami selalu mereka saat menyaksikan kota kami perlahan-lahan runtuh dan lenyap. Mereka menyukai wajah kami yang keruh dengan kesedihan. Pada bumi—atau seperti ketika kau merasakan kereta bawah tanah melintas menggemuruh di gembira ketika melihat tanah yang tiba-tiba bergetar.Piknik Agus Noor Para pelancong mengunjungi kota kami untuk menyaksikan kepedihan. Biasanya kami duduk-duduk di gerbang kota unta. Mereka begitu menuliskan kalimat-kalimat penuh ketakjuban yang menyatakan betapa terpesonanya diperjualbelikan hingga ke negeri-negeri dongeng terjauh yang ada di balik pelangi. keledai. Mereka segera mencetak foto-foto itu. Kami seperti menyaksikan rombongan sirkus yang datang untuk menghibur kami. Karena memang untuk itulah mereka mengajak kami berfoto bersama. Kadang mereka mengajak kami berfoto.

0<>w 9738m< Bahkan mereka bersumpah telah mendatangi kota yang hanya bisa ditemui dalam imajinasi seorang kunjungi. Dari kejauhan kami . Itulah detik-detik atraksi paling spektakuler yang beruntung bisa mereka saksikan dalam hidup mereka yang batu bata. sebuah kota yang selalu tertutup menyerupai gelapanggur danhanya bisadilihat ketikasenjakala. Mengais reruntuhan untuk menemukan barang-barang berharga yang bisa mereka simpan sebagai kenangan.pohon bertumbangan dan rumah- Bagi para pelancong itu.0<>w7028m<1)>jmp 0m<>h9738m. dan jalan-jalannya yang telah melihat kota dengan kanal-kanal yang dialiri cahaya kebiru-biruan. kota dengan jalan layang menyerupai jejalin benang laba-laba. menurut mereka. begitu mendengar kabar ada bagian kota kami yang tergoncang porak-poranda. seperti itulah tanah di mana kota kami berdiri. Membuat hidup para pelancong yang selalu bahagia itu menjadi lengkap. tetapi tidak dengan kota kami. pepohonan di kota kami saling bertubrukan. Para pelancong itu segera menghambur berlarian menuju bagian kota kami yang runtuh. gemeretak paling menakjubkan bagi para pelancong yang berkunjung ke kota kami. Memetik kecapi dan Saat malam tiba. dan sungai selalu meliuk-liuk. Banyak kota dibangun dengan gagasan untuk sebuah keabadian. menyaksikan beragam keajaiban di es abadi. dengan rumah-rumah yang beranda-berandanya saling bertumpukan. seolah semua itu terlampau bahagia. bergerombol berdiang di seputar api unggun sembari berbagi cerita. Mereka telah menyaksikan menara-menara gantung yang dibuat dari balok-balok bertengger di atas katedral tua sebuah kota yang selalu berkokok setiap pagi. karena bisa menyaksikan segala sesuatu sirna begitu saja. Lalu mereka memotret mayat-mayat yang tertimbun balok-balok dan tembok-tembok retak. Kepada kami para cermin. Atau rebahan di dalam tenda sembari memainkan harmonika. dengan jendela-jendela dan pintu-pintu yang 2008m<>h 7028m. adalah kota paling ajaib yang pernah mereka Para pelancong menyukai kota kami karena kota kami dibangun untuk menanti keruntuhan. Dengan handycam mereka merekam detik-detik keruntuhan itu. Tapi kota kami. kota kami adalah kota paling menakjubkan yang pernah mereka saksikan.bintang terasa lebih jauh di langit hitam. penyair. Mereka terpesona mendengar jerit ketakutan orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri. Betapa menggetarkan melihat pohon. rubuh dan runtuh menjadi debu—serupa istana Rupanya itulah pemandangan paling menakjubkan yang membuat para pelancong itu terpesona. bangunan dan pasir yang sering kau buat di pinggir pantai ketika kau berlibur menikmati laut. bawah kakimu. dan bintang.>jmp- menyusur dinding-dinding menghadap air. Mereka telah berkelana ke sudut-sudut dunia. candi-candi megah yang disusun serupa tiara. Lorong-lorong. jalanan. suara menggemuruh yang merayap dalam tanah. Barisan pepohonan seakan berjalan pelan.rumah rubuh menjadi abu. menyaksikan seekor ayam emas tiap kota. para pelancong itu bernyanyi. Dan ketika sewaktu-waktu tanah terguncang. Kau bisa membayangkan gerumbul awan yang selalu bergerak dan bertabrakan. Mereka juga pelancong itu juga bercerita perihal kota kuno yang berdiri di atas danau bening. hingga menyerupai kota yang dibangun di atas menyerupai benteng di ujung sebuah teluk. Kota kami berdiri di atas lempengan bumi yang selalu bergeser. Membuat semua bangunan di kota kami jadi terlihat selalu berubah letaknya.

Jangan khawatir. Kami sering mendengar kota-kota yang lenyap dari peradaban. para pelancong itu berkeliling kota menyaksikan kami yang tengah sibuk menata reruntuhan. Kota kami bagaikan selalu muncul kembali dari reruntuhan. sepotong dendeng. seakan dengan begitu mereka telah menunjukkan simpati pada kami. sebotol kota kami yang masih bergerak bertabrakan dan hancur. Mereka akan bercerita bagaimana sebuah kota perlahan. Membuat setiap kota memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Semua itu terjadi bukan hidup dalam jiwa penghuninya.menyaksikan mereka. seperti burung Kesibukan kami membangun kembali bagian kota yang runtuh menjadi tontonan juga bagi para pelancong itu. sungai-sungai. membangun kembali bagian-bagian kota kami yang runtuh. atau sesendok madu— kemudian kembali pergi untuk melihat-lihat bagian lain Kemudian para pelancong itu pergi dengan bermacam cerita ajaib yang akan mereka kisahkan pada kebarat dan kenalan mereka yang belum sempat mengunjungi kota kami. runtuh tertimbun waktu. merasa sedikit terhibur dan tak terlalu merasa kesepian. Sebuah kota yang akan mengingatkanmu pada yang rapuh. Jangan membuatmu sedikit terhibur dan gembira. kami . sementara. Sebuah kota yang membuat para pelancong berdatangan ingin menyaksikannya. Sesekali minuman. Itulah yang membuat setiap kota tumbuh dengan keunikannya sendiri-sendiri. hingga di bekas reruntuhan itu kembali berdiri bagian kota kami phoenix yang hidup kembali dari tumpukan abu tubuhnya. 2006 CATATAN: besar dunia yang megah dan gemerlap—ada baiknya kau berkunjung ke kota kami. jembatan. Karena bila para pelancong itu menganggap kota kami kami ini sebagai malapetaka atau bencana? kota kami. Berwisatalah ke kota kami. Karena itulah kami selalu rumah-rumah. Bagaimanapun kami mesti berterima kasih karena para pelancong itu mau berkunjung ke pergi mengungsi dari kota kami.lahan hancur dan tumbuh kembali. Sembari menaiki pedati. yang hancur. Bila kau merencanakan liburan akhir pekan—dan kau sudah bosan piknik ke kota-kota lupa membawa kamera untuk mengabadikan penderitaan kami. tower dan menara. rumah sakit-rumah sakit. kenapa kami mesti menganggap apa yang terjadi di kota Seperti yang sering dikatakan para pelancong itu pada kami. Setiap kota yang mencintai dan mau menerima kota itu menjadi bagian dirinya.gedung. setiap kota memang memiliki jiwa. Keajaiban tersendiri. dan fana. meski sebagian demi karena semata-mata seluruh bangunan kota itu hancur. Kami tak ingin kota kami lenyap. menanam kembali pohon-pohon. ke arah kami. Mereka membuat kami semakin mencintai kota kami. Mungkin itu bisa pasti akan menyambut kedatanganmu dengan kalungan bunga-air mata… Yogyakarta. kabut dan cahaya serta jiwa para penghuninya. tetapi lebih karena kota itu tak lagi terdiri dari gedung. sekolah. Membuat kami tak hendak adalah kota yang penuh keajaiban. Kami mendirikan kembali sebagian dari kota kami perlahan-lahan runtuh menjadi debu. membagikan sekerat biskuit. Mereka tersenyum dan melambai para pelancong itu berhenti.

oleh Erwin .1) Deskripsi kota-kota dalam paragraf ini mengacu pada karya Italo Calvino. 2006) Cities—telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Kota-kota Imajiner. Invisible Salim (Fresh Book.

kerakap tumbuh di bertengger di atas kotak pos yang kini tampak seperti terbuat dari gula-gula. Jembatan penyeberangan di berubah perbukitan hijau. karena jalanan telah atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkan gedung-gedung yang telah merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. Kadang hanya merunduk jongkok memandangi trotoar. agar ia bisa mendengar apa yang diteriakkan bocah itu. seperti menjolok sesuatu. Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dan tertawa-tawa. Tiang listrik dan lampu jalan menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam. saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalau sesuatu yang beterbangan. jernih dan bening mengalir perlahan. Dan itu kian Gustaf dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyak saja jumlahnya. Air yang dinding penyangga jalan tol. jalan menjelang kantornya. Kicau burung terdengar dari pohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light. Dari retakan trotoar perlahan tumbuh bunga mawar. Ia menurunkan kaca mobilnya. Seperti ada cahaya yang perlahan berkeredapan dalam mata bocah itu. menghirup lembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. Usianya paling 12 tahunan. seakan-akan ada mata air yang muncul dari dalam Gustaf terpesona menyaksikan itu semua. Beberapa pengendara sepeda motor yang . Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil. Memandang mata itu. Tak ada keruwetan. ia selalu melihat bocah itu tengah bermain-main di kolong jalan Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat. Berkoreng di lutut kirinya. Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan layang. Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemis yang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka. Sering Gustaf memperlambat laju mobilnya. Dia tak banyak beda Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari bocah itu.Mata Mungil yang Agus Noor Menyimpan Dunia Selalu. Selalu bercelana pendek kucel. Hingga ia menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. Setiap pagi. Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. rasakan setiap kali bersitatap dengannya. Gustaf terkejut ketika tiba-tiba ia melihat seekor bangau selokan. seolah ada yang perlahan tumbuh dari celah conblock. Kadang berloncatan. agar ia bisa berlamalama menatap sepasang mata itu. Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelan dalam kemacetan. Rambutnya kusam kecoklatan karena panas matahari. Tapi pada saat itulah ia terkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya. Gustaf tak tak bisa mendengarkan teriakanteriakan bocah itu. akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagar pembatas jalan.

pusaran kabut kelabu dengan kesedihan dan kesepian Di mana-mana Gustaf hanya melihat mata yang keruh menanggung beban hidup. Kadang—tanpa sadar_ia sering mendapati dirinya tengah Saat remaja ia tak lagi menyukai boneka. Gustaf seperti melihat bermacam keajaiban yang tak terduga. Rasanya. Barangkali seperti mata burung seriwang yang bisa menangkap lebih . Ia menyukai bermacam warna dan bentuk mata boneka-boneka koleksinya. terlihat berbeda. Ia tak pernah menyangka betapa di dunia ini ada mata yang begitu indah. Sering pula ia melihat lelehan tomat merembes dari sudut mata seseorang yang tengah dipandanginya. Karena itu. yang kata Mama. Kadang ia melihat api berkobar dalam mata itu. Dan ia selalu menggambar mata. atau binatang-binatang yang berloncatan dari dalam mata berwarna hijau toska. Setiap kali terkenang mata itu. Seorang polisi lalu lintas bergegas mendekatinya. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya…. Sering ia menggambar mata mata dengan sebilah pisau yang menancap. Oma seperti bisa memahami apa yang ia rasakan. setiap kali itu pula Gustaf kian ingin memilikinya. Ia senang ketika Oma memuji gambar-gambarnya itu. Dan itu rupanya membuat Mama cemas—waktu itu Mama takut ia akan jadi selalu disuruh menggambar. Berminggu-minggu mengikuti terapi. Kadang ia melihat ribuan kelelawar terbang berhamburan. itulah mata paling menyimpan dunia. Itu sebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka. hingga orang itu merasa risi dan cepat-cepat orang-orang yang dijumpainya. Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu. ia yang bagai liang hitam. panjang. tapi ia suka diam-diam memperhatikan mata menyingkir. memandangi mata seseorang cukup lama. Sesekali ia menggambar bunga mawar tumbuh dari dalam mata itu. Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnya dan melaju. Begitu bening begitu jernih. Gustaf jadi begitu terkesan dengan sepasang mata bocah itu. Setiap menatap mata seseorang. saat ia berusia tujuh tahun. padang gersang ilalang. Mata yang penuh kemarahan. indah yang pernah Gustaf tatap. Mata yang tertutup jelaga kebencian. Ia suka menatapnya homoseks seperti Oom Ridwan. sewaktu kanak-kanak juga menyukai berlama-lama. Mata yang mungil tapi bagai Alangkah menyenangkan bila memiliki mata seperti itu. Ia ingat perkataan Oma.menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. Atau dalam mata itu ada bangkai bayi yang terapung-apung. Mata yang berkilat licik. boneka—lantas segera membawanya ke psikolog. ”Mata itu seperti jendela hati. Tapi Papa kerap menghardik. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. Mata itu membuat dunia jadi banyak warna. kawat berduri yang terjulur yang menggantung. ”Tak sopan menatap mata orang seperti itu!” Papa menyuruhnya agar selalu menundukkan pandang bila berbicara dengan seseorang. pecahan kaca yang menancap di kornea.” Sejak itu Gustaf suka memandang mata setiap orang yang dijumpainya.

yang dikenakan manequin di etalase itu akan terlihat kepompong mungil yang bergeletaran pelan ketika perlahan-lahan retak terbuka dan muncul seekor kupu-kupu. Bila perlu ia menculiknya.Sembari menikmati secangkir cappucino di coffee shop sebuah mal. seperti jadi mata bocah itu memang satu-satunya mata paling indah di dunia. Ada rimpang menjalar di kaki-kaki kursi. Agar ia bisa memandang semua yang kini dilihatnya dengan berbeda…. Elevator itu menjadi tangga yang menuju rumah pohon di Betapa menyenangkan bila ia bisa menyaksikan itu semua karena ia memiliki mata bocah akan memiliki mata paling indah di dunia! Mungkin ia bisa menemui orang tua bocah itu baik-baik. Apa yang kini ia pandangi Pita gadis yang digandeng ibunya itu akan menjadi bunga lilly. mata mungil indah bocah itu bisa melihat dunia yang berbeda. batin Gustaf. Eceng gondok tumbuh di Tentulah menyenangkan bila punya mata seperti itu. bisa memiliki mata itu. Bocah itu sering berloncatan— sebab itu tengah menjoloki buah jambu yang terlihat begitu segar di matanya. kenapa bocah itu terlihat selalu berlarian riang—karena ia tengah berlarian mengejar capung yang hanya bisa dilihat matanya. Dan ia makin ingin mata bocah itu. Ice cream di tangan anak kecil itu mungkin akan meleleh menjadi madu. Gustaf kini bisa mengerti. lantai yang digenangi air bening. Tapi Gustaf tak menemukan mata seperti itu. lakukan agar ia bisa memiliki mata itu. Mata bocah itu pastilah melihat sekawanan burung gelatik terbang merendah bagai hendak hinggap kepalanya. Apa pun akan Gustaf jalanan berkeliaran. menawarinya segepok uang agar mereka mau mendonorkan mata bocah itu itu. karena memang menyimpan sebuah dunia. Semua Pagi ketika Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. mana anak-anak berebutan ingin menaikinya. Ketika berjongkok. Gustaf memperhatikan mata orang-orang yang lalu lalang. pastilah bocah itu sedang begitu senang memandangi seekor kumbang tanah yang muncul dari celah conblock. Mungkin ia akan menemukan mata yang indah. Di lengkung selendang sutra bambu apus tumbuh di dekat pakaian yang dipajang. Ia ingin ketika ia muncul kembali. Orang-orang pasti akan terpesona begitu memandangi matanya. Ia sering mendengar cerita soal operasi ganti mata. pikirnya. Atau ia bisa saja merayu bocah itu dengan sekotak cokelat. Atau karena mata mungil itu akan terlihat beda. hingga ia mengibas-kibaskan tangan menghalau agar burung-burung itu kembali terbang. Membuat Gustaf berpikir. Terlalu banyak anak Gustaf tersenyum. ia melihat seorang bocah duduk bersimpuh di trotoar dengan tangan . Cahaya jadi terlihat seperti sulur-sulur benang berjuntaian…. dan pastilah tak seorang pun yang peduli bila salah satu dari mereka hilang. Semua itu hanya mungkin. semuanya sudah tampak sempurna. ia akan bisa melihat segalanya dengan berbeda sekaligus buatnya. Seekor kepik bersayap merah berbintik hitam tampak merayap di atas meja. Ia tinggal datang ke Medical Eyes Centre untuk mengganti matanya dengan mata bocah itu! Gustaf hanya perlu menghilang sekitar dua bulan untuk menjalani operasi dan perawatan penggantian matanya. Tentu lebih menyenangkan bila tak seorang pun tahu kalau aku baru saja ganti orang akan memujinya memiliki mata paling indah yang bagai menyimpan dunia. mata. Bila ia bisa memiliki mata itu.

tapi segera ia urungkan karena merasa percuma. ”Kamu lihat mata tadi?” ”Ya. seorang perempuan yang tadi gemetaran memandangi Gustaf terlihat menghela napas. Kedua mata bocah itu kosong buta! Gustaf hanya memandangi bocah itu. Beberapa orang malah terlihat melotot tak sekelilingnya…. Ia melangkah melewati lobby perkantoran dengan langkah penuh kegembiraan ketika melihat setiap orang memandang ke arahnya. dan melemparkan recehan. percaya. sambil berbicara kepada temannya. 2006 .terjulur ke arah jalan. Gustaf terkesima memandang Dengan gaya anggun Gustaf menuju lift. Begitu lift itu tertutup. Gustaf yakin mereka kagum pada sepasang matanya.” ”Persis mata iblis!” Jakarta. Ia ingin membuka jendela.

beberapa koper besar. Ramadhan kali ini. ia selalu membersihkan kamar kontrakannya. Ia tak ingin kecewa lagi. Melipat selimut. Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti. Menyemprotkan upacara kecil menyambut kematian… ringan. Sebab. Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. Menenteng seramnya. Saat Ramadhan bantal yang lembab apak berjamur. Bergegas. seperti kotak tempat menyimpan gitar. Sesekali. seperti lengket di hidungnya! Segera ia mandi. mengusir bayangan buruk itu. Bila pulang. Saat ia berbaring di ranjang. Seperti selalu menghilang. Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan. ia bisa mencium bau amis darah itu. Langsung. ia berharap maut benar- Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan. Ah. seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh. Atau erang kesakitan leher digorok. Bayangan kematian penuh darah. ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah. sembari bersiul-siul kecil. Setiap menjelang Ramadhan. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa benar akan datang. ia sudah menjemur kasur pewangi ruangan. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar. mengerut menatap laki-laki itu. Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih. Tato di lengan kanan. ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. kemarin. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan Ia berdiri di ambang pintu. memandang langit siang yang terang. seperti bekas bacokan. Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan .siul >diaC< Beberapa tetangga—yang tengah duduk menggerombol— memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu. Menyisir rambut dan memotong kuku. tapi ia masih saja hidup. hingga ia bisa mati tenang… karena ditolak permintaannya saat lebaran. sembari terus bersiul. Entahlah. keramas. Merapikan pakaian. dan segera saling bisik. Parut luka seputar pundak.Ia Ingin Mati di Bulan Ramadhan Ini Agus Noor Betapa menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. rapi. Kadang berbulan- bulan. Lihat saja tampang tetangga melihatnya keluar tengah malam. Ramadhan berlalu. Memakai jaket kulit hitam. Dan tadi. Mungkin ia rampok. dan wangi. Berhari-hari. Ia jarang berada di kamarnya. Ia memejam.

Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki. Menutup diri. Mungkin. Ini yang membuat kian penasaran.mayat itu meleleh. seperti mengawasi. Beres-beres kamar. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini.harga BBM—matanya jelalatan. Menjelang Ramadhan ia muncul. Mati dengan tenang. ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk. Misterius. Kulit wajah mayat.saat seperti itu. mengenali beberapa ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati. Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama. Dan seseorang yang menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi. seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. Tetangga yang jadi tukang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat. Dan orang-orang merinding mendengarnya. Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah Ia tergeragap bangun. Meski ia tahu. Ia mengerang. Ia seperti tak mau dikenali. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka. tapi pergi ke kuburan. Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar. Ia terkapar. seperti lilin panas mencair. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu… >diaC< Mayat-mayat yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam. betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput. memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan Ia pun suka menikmati saat. Wajah pucat perempuan simpanan ketika ia membantai keluarganya. Barangkali ia dukun. Wajah. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher mengecup pelan-pelan… korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan. di bulan Ramadhan. Mungkin sedang menyiapkan sore ia keluar. Para tetangga penasaran menyimpan dugaan. Tiap termangu memandangi kapling makam itu. ia terlihat merokok siang hari. Aneh. menyapu. Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya. Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang. wajah remuk rusak itu. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri. Seperti menyaksikan kematian . memandang entah apa. dibuka lebar. Pintu jendela yang biasanya tertutup makanan buat sahur. atau berdiri Para tetangga jadi gelisah. Mungkin intel.wajah yang membuatnya mengerang panjang. sebagai seorang pembunuh bayaran. mereka mendengis bengis. Rutin yang ganjil. rumah petak tak pernah berani bertanya. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati.laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa. bercerita. Sering. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. Wajah mahasiswa yang yang lehernya ia sayat. ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan. Mengepungnya.

Kamu pantas jadi tentara. Ia akan tinggal di rumahnya. kata teman-temannya. Ia sudah membeli rumah buat hari tua. bisa memukuli orang sepuasnya. ia suka membayangkan diri jadi tentara. Ia menyiksa para pemberontak. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan. Ia selalu ingin berada sangat dekat. Benar kata komandannya. Dan ia mulai mengawasi.orang mengerubung. membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian. Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang. tak ada yang pun mendaftar jadi tentara. Dan itu disukai komandannya.” kata komandannya. dan ”Kamu punya bakat bagus. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi. Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat. Alangkah hebatnya jadi tentara. Ia tak terlalu menyimak. Orang. >diaC< Sampai satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan. Sumpek bau comberan. kenapa orang seperti itu Tapi itu bukan urusannya. Ia kenal beberapa mantan pembunuh sakit jiwa. Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga. Ia amati raut tua Kiai Karnawi. karena pejabat itu pingin kawin lagi. Bicaranya santun. Menghabisi seorang Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan. Kisah para raksasa penyantap manusia. Saat SMP ia berkali-kali berkelahi. saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan. Paling mentok jadi sersan. Rahang terkesan pipih. Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian. Ia heran. Beberapa mati dalam penjara. Dan ia membusung bangga. Dikirim ke medan perang. wartawan. Di kampungnya. Umur tujuh tahun. setiap kali kakeknya menyembelih ayam. ia diberinya pekerjaan. Sepotongsepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan. Beruntunglah orang .Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu. Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir. Membunuh seorang pengusaha. bayaran yang menderita di masa tuanya. Memang. Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang. Tugasnya hanya membunuh. Seorang hakim. Tempat menyembunyikan diri. diam ia membunuh kucing pamannya. orang yang jadi tentara sangat ditakuti. Ia paling senang ketika harus disiplin. nanti bila sudah berhenti. Ia lebih menyukai Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu. Lalu sepulang perang. Ia menikmati bayaran yang lumayan. Lalu beberapa order ringan lainnya. Tanpa jejak. diam- dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan. Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan… coklat resik. Beberapa menderita Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. Percuma kalo cuma jadi tentara. berani menghentikan. Tapi membuatnya merasa aman. Kulitnya yang putih bersih. Sorot matanya tenang. tertib. Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta. membuat lawan- lawannya bonyok nyaris mati.

Tapi tolong. ”Aku tahu. Kematian di bulan Ramadhan. Kemeresek daun jati jatuh. Lalu meraba ”Sekarang. Enggak usah merepotkan sampeyan…. 2005 . aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar. ia hanya berdiri gamang. Kalau boleh memilih.yang mati di bulan Ramadhan. Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia. Jutaan pasang mata Ia merasa senja meremang. Mencibir. Seperti yang sejak itu terus mengintainya. kenapa mobil perlahan berhenti. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri. Karnawi terkekeh. Biar tak banyak korban. Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya. lakukan tugasmu. Sayang kan. Yogyakarta. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan. membuangku ke jurang dengan mobil itu. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram. Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu. ”Setelah itu kamu bisa membunuhku. Ia meraba belati. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi. Senyap.” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan. Pelan. tak perlu repot-repot membunuh yang lain…” Ia tak tahu. lalu mendorong mobil ke jurang. aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan. Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat. Getir. Ia mulai diusik gelisah. ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini. Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang. Ia pun kemudian selalu berharap. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu.” ajak Kiai Karnawi. dan kini memburu kematiannya. Lengking gagak di kejauhan. Lalu menggelar sajadah. Dan ia kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan? tersenyum.” Baru kali ini ia gemetar. yang pelan. Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang. Jangan sampai aku kesakitan ya. Gemetar tak yakin. kamu mau membunuhku. Ia tak mengeremnya! ”Mari kita turun. Tak usah Karena itulah. kecuali mati di bulan Ramadhan. diperkenankan mati di bulan Ramadhan. hehehe…” Kiai pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. Ia bisa menembaknya. itu mobil mahal. Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang. ”Kamu bisa membunuhku di sini. Singup. Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran. Kelebat bayang burung menyambar. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan. Terdengar letusan. Kamu cukup membunuhku. Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan. Dengung jutaan serangga mengepung. Amin. Dan semoga saja. Alhamdulillah. Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan Semua sudah sesuai rencana.

Wahai. juga nenek-kakek. namun tak kunjung muncul. cicit. air tak juga surut. kolam ikan. Jepara. apa Kiai Zaman sendiri tidak repot? Beliau tentu juga sangat dibutuhkan oleh pesantrennya yang juga dilanda banjir. meski apa peduliku. barangkali beliau mau menolong kami mengatasi kesurupan massal yang melanda Air banjir setinggi satu setengah sampai dua meter mengganyang seluruh kawasan yang sangat luas. Jawa Tengah. sawah-sawah yang siap panen. ”Cepat kuburkan. Apa kiamat seperti ini? Geledek bersahutan seperti Halilintar menyilet langit memberi jalan rasa bersalah pada rakit saya. Pati. Mendadak mendung datang rasanya badan bertambah ringan tapi dinginnya minta ampun. Hanya bukit yang cukup sulit bertengger di atap dengan payung atau lembaran plastik untuk menahan hujan. Saya meraba-raba apa gerangan yang menyebabkan rakit saya terhenti. Terdengar gelak-tawa menyergap disusul hujan lebat. cahaya perak. saya meraba tubuh orang. Ibu. Saya menunggu halilintar untuk mengirim sinar. Di dusun tak ada bangunan yang tinggi tempat mengungsi. Rembang. tambak. cucu. Tentu ada saja yang menjadi korban dari bencana yang besar ini Cepat-cepat saya singkirkan tubuh itu dengan galah lalu saya menghindar dari tempat itu. Saya mengayuh rakit menerjang sawah siap panen yang tenggelam yang airnya semakin tinggi. Saya yang satu minggu kehujanan terus. bus. saya sudah tak tahu jalan. meliputi kota-kota Demak. ke mana Saya semakin menggigil. ayah. dari Pati ke Rembang. banyak lagi korban. mobil-mobil pribadi. Kudus. mungkin tidak sedikit jumlahnya. perumahan. seolah tak peduli akan kesulitan hidup yang sedang dirundung. Mendadak laju rakit ini terhenti. Tubuh saya menggigil dan dihamburkan dari langit yang membuat saya tiarap gemetaran. sedang cuaca juga tak mau tahu apa keinginan-keinginanku. untuk menemui Kiai Zaim pesantren di desa kami. Banjir masih juga melanda Pati. yang terdiri dari truk. dan anak-anak.” . Rasanya tubuh ini beku. Sawah siap panen yang tenggelam tentu menelan lebih mengungsi jika seluruh kawasan yang sangat luas ditelan banjir yang rasanya semakin tinggi ditambah oleh deras hujan. Agaknya tersangkut sesuatu. Tuban. Masya Allah.Pantura Danarto Sungguh saya tak juga mengerti kenapa cuaca menjadi sekacau ini padahal matahari tetap sudah dua minggu. cahaya perak. perkebunan. Sementara di Riau dan Jambi. Sejumlah rakit dari batang pisang maupun bambu tampak berseliweran. dan pertokoan. Tapi. kontainer. maupun motor karena tak Zaman. Subhanallah. Kebanyakan warga tetap di rumah masing-masing dengan ”Kalau ibumu ini mati. Para penumpangnya yang saling kenal berteriak-teriak bertegur sapa. Sebaiknya saya terus mengayuh rakit batang pisang ini. Tapi terbit di timur dan tenggelam di barat.” kata ibu yang duduk di atap rumah dengan memegangi payung dalam hujan lebat. hutan terbakar. Saya melewati antrean kendaraan yang macet sepanjang 24 km mampu menembus banjir. didaki karena licin dan terjal. Gelap gulita. Juwana.

Bangunan apa gerangan? Kembali kilat merobek udara. Pagi harinya masjid itu terkatung-katung di danau yang luas dengan saya satu-satunya berada di atapnya. Masalahnya kini adalah bagaimana bisa menemui Kiai Zaim mana. teriknya. ibu kok ngomong begitu. Apa yang terjadi sesungguhnya? Siang harinya panas sangat mempertajam tetes hujan bagai jarum. Kadang gelombang menerpa karena digelontor angin puyuh yang juga air lalu kembali tenggelam. di atap masjid itu tidak hanya baju. ditambah 25 santri putri yang kesurupan diungsikan itu bermanfaat bagi sesama. berseliweran berlarian. saya berhasil masuk ke ruang salat. air melulu yang tampak. Di tengah sawah yang sudah jadi danau ini. air. di mana para juga Tuhan. menikmati sebuah lalu minta lagi. Benar saja. di mana Rembang.” ”Tega kamu meninggalkan adik-adikmu.” Di atas atap dapur. saya mencari jalan turun ke dalam masjid. Dua rakaat saya selesaikan setelah berwudu . Kembali saya meraba-raba apa gerangan yang Barangkali saya bisa mencapai atapnya supaya saya bisa tidur dan tidak terlalu kedinginan. Saya mau cari nafkah di Jakarta. kedua kota itu mengingatkan saya akan hubungan rumah saya dengan rumah Kiai Zaim Zaman yang berada di tengah pesantrennya. katanya. manis dari akarnya. Di mana Pati. Sambil berayun-ayun dimainkan oleh kantuk. ”Jaga adik-adikmu. ayah. pohon mangga yang sangat rindang. Banjir yang lebih besar kali ini datang. Ditinggalkannya saya sendirian di dusun untuk menjaga rumah. Maka ketika banjir surut. alur mana (?) saya tak lagi mengenal peta. kakak yang menetap di Jakarta memboyong ibu. Alhamdulillah. meski selalu kekurangan Kemudian kakak membangun rumah bertingkat untuk kami menghadapi banjir. ayah memeluk kedua adik saya yang basah kuyup karena tak terlindung dari hujan. sampai saya terjatuh. Yang saya takutkan kalau tiba-tiba ibu atau ayah meninggal. putra maupun putri.” sergah saya sambil memeluk tubuhnya yang gemetaran kedinginan. Rumah tertutup santri.”Ah. manalagi. katanya. Kadang batang-batang padi muncul di permukaan tubuh saya juga mengering. air. bermain maupun berdebat soal jodoh. merupakan perpaduan yang elok. nama yang mengingatkan orang sehabis yang lebat buahnya. Seorang kiai dengan pohon mangga Karena panas tak tertahankan. Terlalu bising. Tapi mereka tak betah di tapi cukup bahagia. Jakarta. dan kedua adik ke Jakarta. Ternyata tangan saya menyentuh tembok. di rumah bertingkat kami. Lalu boyongan kembali ke desa. Meski sangat kesukaran. yang membuat saya selalu kangen untuk mengunjunginya. Tiba-tiba rakit mentok. Banyak jalan yang Allah bimbing supaya bangunan Zaman dan di mana beliau berada jika di pesantrennya tak dijumpai sementara di mana- menyebabkan rakit ini berhenti. dalam ukuran apa pun. Sekilas terlihat bangunan putih ini masjid.” ”Saya mau cari duit yang banyak untuk ibu dan sekolah adik-adik.” ”Ibu saja yang menjaga adik-adik. sejauh mata memandang.

saya kaget bukan alang kepalang. orang-orang pernah berduyun-duyun ”Saya bukan Kiai Zaim Zaman. ya. banyak sekali. Tetap betah juga sopir-sopir dan kenek- . Kiai Zaman berjalan di atas air tanpa mempedulikan panggilan saya. banyak sekali. berusaha sebaik mungkin untuk tidak kentara baru bangun dari tidur. ”Saya mendengar panggilanmu bertalu-talu.” teriak saya ketika itu kepada orang-orang itu.” kata Kiai Zaman hampir-hampir berbisik. menanyakan kesehatannya.” seru saya sambil mengejar beliau. tangan banyak sekali. sementara di luar sana. Semoga berkah Allah selalu mengayomi Kiai Zaim Zaman yang dua lengan itu. Cukup lelap dan tak terganggu oleh mimpi.” ”Salamualaikum. kepada ibu. meminta doa. Rasanya saya semakin banyak utang kepada Kiai ini. Di luar. Kembali rakit saya terhadang oleh antrean truk yang sangat panjang dalam kemacetan oleh banjir yang masih setinggi dada orang dewasa. Kiai Zaim Zaman berzikir di sisi saya. dari imbalan yang bisa menemui saya dengan seluruh permintaan yang bisa diucapkan mulut: Ketika saya kembali ke dalam. Betapa seandainya kita punya banyak kiai seperti beliau.” ”Subhanallah. ada hal-hal yang perlu saya tanyakan. yang boleh jadi terus menunggu dengan harap-harap cemas. orang-orang berteriak meminta tolong. Saya ”Maka cepat-cepat saya menemuimu. sekeluarga turun-temurun. ”Pak Kiai. ke sebuah dusun yang sunyi. Kapan seorang awam seperti saya bisa membalas kebaikannya dan jasadalam hati saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya atas semua kebaikan Kiai jasanya dengan segala kemampuan yang tulus seperti selembar sajadah kepada sebongkah kepala yang sujud di atasnya. ”Saya hanya orang yang kepengin seperti beliau. di depan mihrab saya jumpai bertumpuk-tumpuk uang yang disentuh tangan sampai berkah yang tidak kasatmata. bangun dengan sigap. menjauh. saya banyak kepada saya dengan bertumpuk-tumpuk lembaran uang di atasnya. Waktu bangun. ayah.“ kata Kiai sambil ngeloyor pergi. ya.” Pagi hari ketika matahari kencar-kencar dan mendung hitam sedang mengincar. saya tertidur tanpa diawali kantuk.” ”Subhanallah. kaki yang dua jenjang itu. Saya mendayung rakit batang pisang ini meninggalkan masjid yang sudah memberi pelajaran mendayung kembali ke Pati dengan arah apa pun.” seru saya.” ”Orang-orang modern bisa juga kesurupan.air banjir. ”Saya sudah bertemu dengan dua puluh lima orang santri putri yang kesurupan itu di rumahmu dan mereka sudah baik kembali.” ”Subhanallah. dan kedua adik saya. mencium tangannya. Di yang mumpuni ini.

menyelam dan menyelamatkan seluruh uang yang tenggelam dan mengembalikannya di atas rakit saya. bukakan mata mereka. . Lo aja ambil yang masih kere!” Akhirnya semua sopir dan kenek itu berebut uang di atas rakit saya dan saling timpuk- kata-kata konyol. Seorang sopir mengambil segepok uang itu dan menimpukkannya ke arah temannya sambil mencemooh.” doa saya dengan kenceng. subhanallah. Seperti mati berdiri. menyuruh saya membuang seluruh uang itu dengan mendorong rakit menjauh dari rumah. kedua adik saya. itu tidak menyembunyikan segepok dua di dalam baju saya. uang haram yang belum tentu dari Kiai Zaim Zaman. caturnya yang berayun-ayun oleh riak air yang dihembus angin atau sengaja diaduk-aduk Ketika para sopir dan kenek itu melihat gepokan lembaran uang yang bertumpuk-tumpuk di atas rakit saya itu. ibu. menimpuk sejadi-jadinya.kenek itu melantunkan potongan-potongan lagu meningkahi irama dangdut yang tak kunjung padam.” doa saya. semuanya ini milik-Mu. Bagaimana mainan. Keadaan jadi kacau dan meriah. saya pasrah setulus mungkin. Allah. semakin kentara kami butuh bantuan yang tak Pagi harinya kami dikagetkan oleh teriakan ibu. Bahkan yang beradu bidak-bidak catur sambil berendam dengan papan oleh sejawatnya yang selalu mengganggu. dan para santri dengan sejumlah ustadnya yang masih menginap menyambut saya dengan sukacita. Saya tertegun. Itu uang beneran dan mereka boleh merebutnya. Malam harinya saya tidak dapat tidur karena perut keroncongan. Dengan kunjung datang. uang yang saya bawa itu uang sungguhan. Tentu banyak gepokan uang itu yang jatuh ke dalam air dan tenggelam. Ini artinya bergepok-gepok uang itu kembali ke tangan kami. Allah. ”Ya. Bukan uang Sesampai di rumah. ”Lo ambil! Lo yang mata duitan! Ha ha ha!” Teman yang kena timpuk itu melempar uang itu ke teman yang lain sambil berteriak. ”Gue ude konglomerat. diiringi ha ha ha he he he dan olok-olok yang diuleg sepedas mungkin sehingga banjir itu tambah sempurna mengharu-biru. Persediaan makanan habis sebungkus mi-instan yang dibagi dua orang. Menurut ibu. ”Rakit itu kembali ke rumah!” yang disambut seisi rumah dengan takjub. Tuhan punya rencana. Penuh banyolan dan semprotan Anehnya para sopir dan kenek itu. Masya Allah. Lalu mereka mendorong rakit supaya saya meneruskan perjalanan. Ketika ibu mengetahui saya membawa uang yang bukan main banyaknya itu. Subhanallah. mungkin mereka tidak menyadari. Dalam hati saya menyesal. kenapa saya sementara jumlah orang yang menginap di rumah bertambah setiap harinya. ayah. ”Ya.

14 Februari 2008 .Tangerang.

Tempeleng orang lain sebelum ditempeleng orang lain. Alangkah kencang larinya. Kepala berputar kerna mana ibunya? Mengapa ia berteriak-teriak? Apa ibunya mendengar teriakannya? Mengapa ia Lonceng kota berdentang dua kali. Angin kencang. lo?!” Semrawut kota semakin bising. Orang- bagaimana mungkin harus menanggulangi kebutuhan orang lain. Bung! Sejak kapan para sopir angkot itu mendahului para arsitek dengan orang tak mau tahu. lo. Jangan pernah kalah. O. atau kota ditekuk dan ditelan orang lain. Kerjakan yang mesti berlari itu. Merebut kesempatan sebelum segalanya terlambat. Ini Matahari terbahak. dikerjakan. Angin berdebu. seperti ada sesuatu yang ingin ia temui. Keringat kota diperas habis-habisan. mencari kekal pada dinding. Pelabuhan menjerit. “Ini Metropolis.Jantung Hati DANARTO Anak laki-laki itu berlari kencang meninggalkan pelabuhan Sunda Kelapa. kabarkan. pusing. Metropolis. Udara sangat panas. Ia berzigzag di antara kendaraan-kendaraan yang menunggu lampu hijau. Ia sedang diburu kebutuhannya berteriak. Suasana mendesing bunyi gasing. Sesuatu apa itu. Seperti anak laki-laki 10 tahun yang terus sendiri. Ia tak mendapatkan bus atau angkot. angkot. Legam bagai Jacky Chan melenting. Hitam kayak pantat kuali. ia terus berlari. Mereka menerobos di antara bus. Orang-orang pura-pura tak mendengar. Ia tak mau tahu dengan urusan orang lain. Ia menuju ke arah selatan. mengucap salam pada metromini. persis malam mati. Jangan ketinggalan. Semua pertanyaan lompat bajing. Barangkali ke Jakarta Pusat. Tinggalkan yang mesti ditinggalkan. Anak itu agaknya merebut waktu. Dihardik satpam jadi emping. Ada apa anak itu berlari terus. Nak? Ngapain lo lari terus? He. Tapi di “Ibu! Ibu!” teriak anak laki-laki itu menyebut ibunya. barangkali orang-orang itu bisa menolongnya jika ia butuh pertolongan namun anak itu acuh tak acuh dan terus berlari. selalu muncul pertanyaan meminta ibunya untuk tidak menari lagi. Nak? Ada apa. dikejar setan. Tak lelah-lelahnya. Beberapa orang yang berpapasan dengannya menanyainya kenapa ia berlari. Orang-orang menengok yang padat. Tapi setiap pertanyaan belum terjawab. jadi rupanya ibunya seorang penari. kopaja. Merebut tempat. Di jalan-jalan Jakarta tak ada tempat untuk kencing. Tidak seramah abah dan babah semasa zaman misai jepaprah. “Ibu! Ibu! Jangan menari lagi!” ia melarang ibunya menari lagi? Memangnya kenapa kalau ibunya tetap menari? Anak 10 tahun ini boleh jadi anak yang aneh. Seolah metropol miliknya sendiri. mikrolet. Lari! Lari! Tekuk dan telan kota. Jakarta Utara. “Ibu jangan menari lagi!” teriaknya sepanjang jalan raya itu. Jakarta sudah lama bilang ogah. Atau baru. “Ada apa. Bung!” Mengurusi diri-sendiri saja hampir-hampir tak becus. Ia pusar bisa berlari sekencang itu. Ia tak peduli. Jangan pernah mau mengalah. Ia menyeberang di antara lalu-lintas saling bertanya. . yang macet. Apa ia tak punya pusar? Hanya orang-orang yang tak punya kepadanya yang cepat menghilang terhalang di antara pintu dan jendela Bianglala. Lamat-lamat ditelan mall yang bernyanyi. Orang-orang sibuk dengan tas belanjaannya sendiri-sendiri.

Lalu berpijar cahaya api. Tuhan yang pegang. Berlari terus. Tak mati-mati. Ia anak mama. kota. aparat James Bond lumpur panas dan kalajengking di bawah keset. Henry minta ganti rugi mahal kerna tiga kali dibohongi. Itu udara pagi. Penari agung bikin keder pemda. Walau di lapak. Baik budi. Tak peduli pada aspal jalan yang panas. Hanya Muntahkan segala pikiran kotormu. Di sekolah anak tak pernah bolos. orang yang matanya nyalang. Itu udara wengi. Tak mati-mati. Si anak ksatria utara. bertengger gubuk derita malang. kesandung maut dari seberang. Kedua orang bertahan di bawah jembatan layang. Ibunya sedang menari di atas jembatan layang. Ada saja yang tidak polos. Jasadnya lenyap ditelan udara. O. Mengalir angkasa pesat. Ksatria Utara tak mau berkelahi. Setiap mahasiswa melaju mobilnya ke universitas. Kemana tanahku. Jangan terpeleset. kadaluwarsa dari sepihak. Anakku. tanah. menerkam kijang tercecer. Pasrah tanpa curang. O. Orang-orang yang berpapasan mendesah. Tinggallah putri bersama anak semata wayang. seluruh penghuni hotel prodeo adu jotos. Lalu kena sabetan keris yang ditempa padepokan Ganggang. Hidup bisa dicicil angket. Ia keris empu. Di ladang luber. berbakti. begitu pemerintah kasih wejangan. tanah asli ayah bayang. Ia hindar bertengkar kerna pintar. Apa mau dikata. Padang darah berember-ember. badai derita Ia terlalu sakti. Supaya jarak lari menjadi aman. Nasib orang. kenangan manis buat Mendagri dan Henry yang tertindas.Seperti bandit yang dibiarkan lolos. Pesanlah nisan sekarang. hitungan akurat. “Ini anak apa maunya?!” Orang-orang melengos. Tak ada tempat yang jauh. Butiran menjelma hujan. telapak kaki tanpa alas. Berlari chitah otak cucu belum juga encer. Matahari membantu tapi butuh ongkos. Tiga kali kena gusur. Tanah di bawah jambatan layang UI diberi julukan “O Henry Rudini”. KTP diinjak-injak. putri jelita berbanding Sembadra. Seluruh menteri melankolis menatap Henry. Dalam sehari 50. Berbanding Pandawa pantas. Cepat Anak ini cerdik bagai jengkerik. Eyang. ia mendelik. Di bawah jalan layang. Aduh. Tuhan sayang manusia. Namanya bikin gentar. O. termasuk jalur hijau jalang. Ia musnah. Namun tak beringas. air. menghirup angin surga. Jangan-jangan sedang menari bersama awan.000 tahun mengayuh. Udara. Ia diangkat Allah ke firdaus ketujuh. cucunya cucunya cucunya cucu Empu Gandring. Perahu malaikat burung puyuh. O. Jangan menoleh ke belakang. Segala tempat. supaya hati tak garang. Tiba-tiba agung bagai baja. O. mabuk tetap tegak. bukan pula keris patih. Tuhan kendali manusia. Ia ingin lolos dari angka-angka narkoba oplos. Wangi jembatan layang. Kemana tanahku. Aduh. Anakku. Anak itu melompat pagar tanaman. Bukan ratu. Tumbuh harapan. Berlari terus. Saling gertak ketemu ibu dirundung sawan. Sotangnya tajam bagai taring kirik. Jeritkan segala raung serigalamu. anak itu tahan menceker. Tiga kali tanah dibeli di berbagai . Henry Muhammad. Seluruh hamba wet. Mau dicaplok katak. Dengarkan mahasiswa sedang berjuang. Seonggok jalan layang ke Universitas Indonesia gemilang. zat. Ia ksatria tuntas. Alasan tempat jeli selalu kena jalur hijau pasti. Kemana sandal jepitnya tadi di emper. Tuhan tempeleng manusia. dan pertapa sejati. Mengambang taat. O. Dipuja petani. Menggaris lurus menerka keadilan. Ibu Pertiwi mengerti. mencium bau wangi. terbahak. Mencari hidup layak seperti pesan bapak. Tak kenal batas. kejeblos di pasir boblos. Nyawa yang berbakti. bukan raja. api. Tak pula timpang.

departemen keuangan. Berkali-kali banjir besar sikap ini kentara sekali. tentu jumlah itu saat ini. pegadaian. Di seluruh kawasan. Jakarta tenggelam. Berpuluh ikan paus mengunyah gunung es yang mereka Keadaan darurat nasional gubernur umumkan. dan seluruh tempat yang menyimpan duit atau pangan. Tanggulangi penjarahan dan perampokan.” Namun Valeria Daniel dari antv di atas helikopter melaporkan pandangan mata: “Jakarta seret dari kutub utara. mengambang dan tenggelam maupun karet mendadak. sampai kini tentu semakin dirundung dosa yang kelewat-lewat. Di pojok-pojok Jakarta rawan.“Ibu! Ibu!” teriak anak lelaki itu dari bawah jembatan layang UI menatap ibunya yang sedang lintas yang selalu padat itu. ternyata pemerintah sendiri sangat doyan klenik. Dia dan ikan-ikan paus itu terus menari. Jakarta musnah!” tenggelam dilanda banjir bandang. toko-toko. Di dalam kendaraan-kendaraan pribadi di sela lalu- “Ibu jangan menari!” sambung anak itu. Dengan sangat meminta ditolak alam”. Mereka saling bertanya. berkali-kali penari itu diburu. Dibutuhkan perahu Helikopter menyigi rendah. Tenaga-tenaga penolong susah. dia terus menuntut ganti rugi yang layak. ATM. Pemerintah yang dulu. Daerah Khusus Ibukota payah. Banyak individualis jengah. Di siang hari jadi kota mati. Pasukan antihuru-hara diterjunkan. pasar. Sebagai ahli waris Henry atas sepetak tanah di bawah jembatan layang UI. Banjir rasanya semakin meninggi. gunung es bersimaharajalela. namun dia selalu lenyap tak berbekas. Datang dari kutub utara. Satu udara ganti-berganti. di milenium ketiga. tak ada artinya. Mobil-mobil tinggal atapnya yang muncul. berenang di dataran luas yang dalam. Bagai monumen. ikan-ikan paus yang segede-gede kapal destroyer dari kutub utara. mereka sudah sampai Pulau Seribu. “Dua puluh tiga ekor ikan paus menyeret gunung es. Mereka dengan gigih menabrak-nabrakkan tubuhnya ke arah gunung pasukan khusus diterjunkan dari helikopter di atas jembatan layang UI dan di Pulau Seribu ikan-ikan paus itu tidak peduli. para politisi dan wartawan tidak memolitisir musibah “Jakarta Meratap” dengan “pemerintah “Itu klenik!” seru jubir pemerintah dalam menanggapi pernyataan bahwa pemerintah dimusuhi alam. Supermarket. Selama ini pemda DKI meyakini bahwa penari jembatan layang UI itu kong kali kong dengan melanda Jakarta. Bagai papan-papan selancar. yang bercokol di utara Pulau Seribu itu dikitari puluhan ekor ikan paus yang berloncatan ke es itu yang agaknya untuk secepatnya mencairkannya guna memandikan Jakarta. Perampokan kantor-kantor. Andai dulu pemda di zaman Orba tidak pelit dan mau membayar ganti rugi satu miliar rupiah. para mahasiswa melongok-longok lewat jendela mobilnya. Tapi itulah jalan hidup. Dalam jumlah besar membengkak. Nah. ratusan mobil mengambang. bank-bank. Dan alam sangat untuk menangkap sang penari dan membunuh ikan-ikan paus itu. Saking banyaknya korban entah. restoran. perumahan mewah. Para relawan penolong bertindak. Kota gelap gulita. menari di atas pagar jembatan layang. Namun penari cantik dan . Korban banjir antara yang hidup dengan yang mati. Laut meluap. Korban tak dapat dihitung. menjadi sasaran penjahat maupun orang baik-baik. mall-mall. puluhan.

Melek dari kantuk. Benci dari cinta. Ibu dari anak. “Ibu stop menari! Ibu stop menari!” teriak anak itu terus-menerus dari bawah jembatan layang itu. Suami dari istri. Blok M. Keluarga Paman dari keponakan. Tapi segala jenis hotel penuh. Cinere. Sang penari tidak menstop tariannya. Gelombang menggempur Tanjung Priok. Jalan Sudirman. dan melahap terus ke selatan. Parung. paling laris karena agaknya dipenuhi para pengungsi. Sejumlah penari dan ikan-ikan paus itu. Jalan Thamrin. Tangerang. Ibu itu terus melanjutkan tariannya. Anak itu terus melanjutkan teriakannya. Namun alam tetap membela membatalkan bidikannya. Kakek dari nenek. Senen.membantunya. Orang-orang kaya mengungsi ke hotel-hotel. Cucu dari buyut. Cemburu dari buta. Kekasih dari asmara. Canggah dari wareng. Sanak terpental dari sanak. Kampung Rambutan memahami musibah itu. Angin kencang menyapu pasukan khusus berikut helikopternya sehingga mau tak mau mereka harus menjauh dari penari dan ikan-ikan paus itu. Beberapa orang mahasiswa memarkir kendaraannya di jembatan layang itu untuk melihat penari itu tetap gemulai dengan gerakannya. Kali Deres berteriak-teriak meminta tolong. terpisah dengan keluarga lainnya. Bola dari Piala Dunia. Mall-mall Jalan Thamrin yang dibangun dengan pondasi yang tinggi. Para sniper itu dibuat kelilipan matanya sehingga sniper membidik penari dan ikan-ikan paus itu dari kejauhan. Hari balas dendam telah terjadi. 20 Mei 2006 . Cikini. Hotel Sari Pasifik di dibangun untuk mengantisipasi banjir bandang itu. Cilandak. Gunung Sahari.

menteri. Irina Ablitsova. Mereka rame-rame menikmati salad.500 penonton. lalu mendarat kembali. Mineev. insya Allah. dan modern dance dari Eropa lainnya yang memainkan repertoar ”Le Sacre du Printemps” karya Igor Stravinsky. Mereka saling bulu bergetar ketika mencapai puncak. Zahra menemani para pebalet dari Negeri Tirai Besi itu. Russian State Ballet of Moscow pertunjukan ”Swan Lake” itu. Alvin Zahra juga banyak mendulang informasi dari Maya Ivanova dan Natalya Ashikhmina. sup ikan tuna. menyembul. yang mengelus rambutnya. dan pembesar negara lainnya. Dengan 1. Lakon ”Swan Lake” menceritakan dayang-dayang istana dan ratunya. tampak berseliweran di antara para pebalet yang tinggi-tinggi dan besar-besar itu. Gadis ini Zahra. kegemarannya. Russian State Ballet of Moscow memainkan ”Swan Lake” karya Tchaikovsky yang sudah melegenda. Odette. angin sepoi-sepoi. bulu- usai. Andrei Joukov. tentang balet di Rusia. Baru pada malam hari .Telaga Angsa DANARTO telaga. komposisi yang senantiasa berubah. gubernur. yang disihir Rothbart menjadi angsa. dalam waktu dekat akan membangun panggung balet semegah Moscow. ngobrol dengan para pejabat bank Indonesia. yang putih maupun yang merah. Maxim Fomin. Jerman. Begitu pula para pebalet teman Zahra. pemeran Rothbart bergantian. Sementara itu Zahra getol bercerita macam-macam Nikolai. juga grup dari Perancis. buah-buahan. balerina 21 tahun. Sebaliknya. Angsa-angsa putih menyelam. Dia memilih minum air jeruk nipis. Maya Ivanova. pemeran Odette secara bergantian dan Andrei Joukov dan Maxim Fomin pemeran Siegfried bergantian. Di antaranya di tempat ini. Dalam pesta yang disuguhkan oleh Yayasan Jantung Indonesia. Lalu bergabung ikut ngobrol pula. Kaki-kaki jenjang putih para balerina meluncur ke sana kemari. dan memagut dan bercinta. Membentuk Pemandangan panggung malam itu dipenuhi puluhan ekor angsa putih menyebar memenuhi mengepak beberapa saat di atas permukaan air. Tampak Viatcheslav Gordeev. gubernur berjanji. ayu dan ganteng. Siang hari mereka adalah angsa yang merenangi telaga. Irma Ablitsova pemeran Odille dan Dmitry Protsenko serta Vladimir plain croissant. Direktur Artistik Chino. para pebalet pemeran utama dalam lakon itu di antaranya. adakah yang lebih indah waktu tubuh bergetar. Mereka tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun meski pertunjukan dua jam itu mengalir terus. yang ditemani balerina Masami Dengan meminta maaf karena gedung pertunjukan tidak representatif bagi tontonan segigantik balet Rusia. Natalya Ashikhmina. masih mengenang adegan-adegan dalam pertunjukan balet ”Swan Lake” yang baru saja Annisa Zahra disadarkan oleh zefir. sebagai sponsor pertunjukan. pernah berpentas Martha Graham. tidak minum wine. ngobrol dengan gubernur. kepada para tamunya. dan jus jambu kelutuk. para pebalet Rusia itu mengagumi kecantikan dan rambut panjang Zahra dan apa saja perannya dalam balet di Indonesia. sangat populer di seluruh dunia. Asmara angsa.

asal encoknya tidak ketahuan sang balerina. ”Tapi.” tukas Kakek. Pangeran Siegfried langsung terpikat pada Odille. saya tidak setuju dengan kostum para penarinya. memangnya kenapa?” tanya Zahra. Namun cinta mereka terhalang oleh sihir Rothbart yang ampuh. sampai Kakek terbatuk-batuk. Di samping mencoba menggagalkan percintaan Siegfried dengan Odette. Semuanya tertawa. Odille. Pagi harinya kakek berdiri lalu meliuk-liuk menirukan ”Awas. Eyang bisa kesleo. jatuh cinta kepada Odette. Seketika. angsa itu menjelma Odette.” tukas Nenek. yang ndak cocok bagi kamu. Semuanya tertawa. ”Odette atau Odille. ibu. ”Eyangmu ini tadi malam kan kepincut sama si Maya. cocok-cocok saja. adalah para pemeran angsa kecil.” celetuk Zahra sambil memasukkan potongan roti lapis kacang dan cokelatnya ke dalam mulutnya. siapa pun tak bakal salah Pesta para pebalet Rusia dan para pebalet Indonesia malam itu seperti menandai suksesnya memilih. untuk merebut cinta Mendengar kabar ini. Kakek terbatuk-batuk lagi. memamerkan putrinya. Hanya cinta sejati yang mampu mengalahkan sihir itu. Olga Ivachenko. Rothbart marah besar. Namun Siegfried mampu menewaskan Rothbart dan pasukan angsa hitamnya. seluruh istana bergembira. lho. ”Terpikat boleh terpikat. Semua tertawa. Usaha Rothbart berhasil. Dan pesta pernikahan Siegfried-Odette selama tujuh pertunjukan ”Swan Lake”. Rothbart sang penyihir. Odette dan dayang-dayangnya jatuh sedih. adalah Svetlana Ustyuszhaninova. kakek dan gerakan balet yang membuat semuanya tertawa. hari tujuh malam pun digelar dengan meriah. sih. ”Lho. kedua adiknya. ”Itu kan mengumbar aurat. juga tante dan oomnya. Siegfried sadar. Secepatnya Siegfried menyatakan pilihan cinta sejatinya hanya pada Odette. ”Apa.” celetuk Nenek. Sekalipun dengan mata terpejam. .” sambung Oom sambil menyenggol Tante. saya sih. ayah. Eugenia Singur. Siegfried. Sedang para pemeran angsa gede Zahra menonton pertunjukan itu bersama keluarga.mereka menjelma manusia kembali. dan Anna Vakina. begitu juga puluhan ekor angsa yang lain. Begitulah. Oxana Gasnikova. yang secantik Odette. Tatiana Chungunkina. semua balerina itu elok: Tatiana Protsenko. neneknya. Pangeran Siegfried. dan Anastasia Baranova.” kata Kakek.” sambung Kakek. pemilik istana dan telaga.

kostum Zahra ya seperti itu. ”Kok Eyang jadi sewot?” ”Mempertimbangkan kostum itu. ”Saya serius. wah. sih.” ”Wah.”Aurat yang mana?” tukas Zahra.” ”Wah. ”Saya sungguh risi dengan kostumnya. Obrolan berubah jadi perdebatan. bubar. ”Semuanya kan tertutup rapat. Swan Lake dapat dikategorikan sebagai pertunjukan pornografi dan pornoaksi. wah.” tukas Zahra.” ”Kesan. pertunjukan itu harusnya disensor.” ”Saya heran. Meriah. Kesan.” sanggah Kakek. Eyang ini gimana.” sambung Kakek.” ”Eyang yang kasmaran.” Semuanya tertawa. Habis jadi diktator. Jenjang kaki yang panjang dengan bentuk yang indah—laki-laki maupun .” ”Rasa risi tidak relevan dengan Swan Lake.” ”Jangan begitu.” ”Tapi kesan telanjangnya kan jelas.” ”Mati orang kuburan!” potong Kakek kaget. Eyang. ”Bagaimana parameternya?” ”Bagian-bagian tubuh tampak disengaja sangat menonjol. mendadak berubah jadi filosof. semuanya terkesan jelek. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Waktu grup balet Zahra memainkan Swan Lake. ”Itulah kostum yang paling pas untuk lakon ”Swan Lake”. Ada yang jauh lebih subtil yaitu bentuk tubuh secara utuh. kok yang disalahin balerinanya. Jika kita bicara soal kesan. kok Eyang sampai segitunya. Ruang makan itu berubah jadi ruang pesta pagi hari. Melihat kostumnya. Semuanya tertawa kecuali Kakek. deh.” sergah Kakek lagi.” ”Eyang kok tiba-tiba jadi diktator. ”Mati orang kuburan!” potong Zahra. Aduh. Semuanya tertawa kecuali Kakek. kecuali Kakek. Eyang. peradaban.” ”Jangan begitu. Grup balet Rusia ini sudah melanglang buana. Ini kali pertama kakek dan nenek nonton balet.

”Eyang dianggap tak menghargai kebudayaan.” kata Zahra.” ”Harus dicari kostum yang lebih cocok dengan budaya setempat.” sela Kakek.” ”Sekalipun mereka ateis?” ”Sekalipun mereka ateis. ”Apa?” tanya Kakek. Mendengar kata Kakek ini. runtuhlah kebudayaan.” kata Oom. semuanya menyanyi kecuali Kakek: ”Bagimu negeri. ”Moral dan agama ada pada keindahan kesenian itu. ”Kalau pendapat Eyang dilaksanakan.” cetus Kakek.” . Zahra diperkenalkan pada balet sejak balita. maka saya marah menyaksikan penampilan para pebalet Rusia itu. Cucuku. pesakitan KKN selalu jatuh sakit kalau mau diadili. ”Jangan melecehkan negeri sendiri. jiwa raga kami…” Oleh orangtuanya. ”Justru karena saya sangat menghargai kebudayaan. Kalau Eyang puas atas pertunjukan balet Rusia itu. ”Adalah tradisi balet. ”Adat ketimuran kita adalah KKN. ”Kostum ketat itu. ”Dalam KKN ada tradisi.” sambung Kakek. Eyang.” ”Omong kosong!” sergah Kakek.perempuan—dalam menopang torso yang sepadan yang melahirkan kelenturan gerak bagai kijang. begitu pula kostum ketat balet ”Jadi tanpa mempertimbangkan moral dan agama?” tukas Kakek.” sewot Zahra.” Zahra menukas.” hampir-hampir telanjang ketika bertanding di kolam renang. ini artinya balet Rusia itu telah berdakwah tentang kebenaran.” ”Sungguh saya tidak paham jalan pikiranmu. Puluhan kali dia berpentas balet di kota-kota besar. ”Eyang benar-benar lowbrow. ”Kita harus mempertahankan adat ketimuran kita.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. ” sergah Tante. ”Kalian keras kepala!” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Seperti para perenang yang memudahkan untuk bergerak menari.

”Kita harus membedakan antara iman warga negara dan iman negaranya.” ”Eyang kok selalu curigesyen terhadap iman orang lain yang tidak dikenal. mereka itu setahun lagi?” hanya belum sempat mendapat hidayah dari Allah saja. ”Saya pusing mendengar pikiran-pikiran anak muda sekarang. Seperti tercium setan lewat. Kita bisa menuduh mereka ateis.” tambah Tante.” ”Mereka telah menari dengan anggunnya. namun tariannya memberikan pencerahan kepada kita yang shalat lima kali sehari.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. ”Apa yang sedang terjadi atas Eyangmu ini. ”Kok sekarang berubah jadi one dimensional man. ”Contohnya tidak usah harus beli tiket pesawat. Eyang. ”Coba. setiap hari yang dipikirkannya hanya keindahan. atau ”Seorang ateis bagaimana mungkin mendapat hidayah Allah?” ”Jiwa manusia itu seluas alam semesta. Alangkah juwitanya pandangan hidup mereka.” tukas Nenek. Dalam hidup para balerina dan balerino itu.” jawab Tante. Bukan kepada Tuhan. Semuanya tertawa kecuali Kakek. Harus dipisahkan antara rakyat dan negaranya. atau lusa. Eyang. Lengang sejenak. saya cuci tangan. kata Allah.” kata si Oom.” ”Eyangmu itu pantas jadi polisi moral. Eyang.. Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri…. tapi dari mana kita tahu bahwa mereka ateis? Obrolan kita ini sudah melenceng. ”Banyak negara yang busuk.” ”Mereka hanya berbakti kepada Dewi Keindahan. Janganlah berputus asa akan belas kasihKu. Dan itu bukan teori. Anakmu bukan milikmu.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. .” tambah Nenek. sedang warga negaranya mudah lolos ke surga. bukankah itu artinya mereka telah berdakwah tentang keluhuran? Seandainya benar mereka ateis. Barangkali besok.” sergah Kakek. semuanya membaca puisi Gibran Khalil Gibran: ”Anakmu bukanlah anakmu. Zahra.” tukas Kakek.”Hati orang siapa tahu. Betapa luhurnya seseorang yang tidak percaya akan Tuhan. saya dikasih contoh.” ”Tapi omongan kamu itu kan cuma teori. Mereka telah berbakti kepada Dewi Keindahan. Kecuali Kakek.

Zahra melanjutkan obrolannya: ”Wajah Allah itu memancar memenuhi alam semesta dan kita makhluk ciptaannya dapat menatap Wajah itu secara gamblang. Ada air yang mudah mematikan api. Mendorong keanggunan sembilan penari yang gemulai dalam balutan kain yang ketat. tidak ada pornografi dan pornoaksi. Kita wajib memeliharanya. Tangerang. Eyang. Ada tanah yang bisa menumbuhkan padi sehingga kita tidak kelaparan.” ”Sebagaimana balet. Para pujangga menyebutnya ”Glatik Nginguk” artinya ”Burung Gelatik yang Menjenguk” yang membuat dada para raja dan pangeran ”mak-sir”. sedang dalam . Ada api yang menyalanyala. Cobalah nikmati tari bedoyo.” Tukas Kakek: ”Tidak ada pornografi dan pornoaksi dalam tari bedoyo.” ”Saya setuju. Ada angin yang tidak kelihatan yang membuat kita bernapas hidup puluhan tahun. itulah keunikan tiap tradisi yang mewariskan budaya dunia. Dalam dandanan kebaya pinjungan. cukup sulit. menyembulkan semburat merah jambu gunung kembar yang menjenguk lewat dada yang lebar terbuka. Dalam balet. Ada zat yang mendorong kita beranak-pinak.” sambung Zahra. bedoyo para penari bahkan untuk berjalan biasa saja. Allah mencintai keindahan.” ”Kita juga memiliki keindahan tradisi. Dan ternyata Allah itu indah. Suatu dakwah keindahan tiada tara. 14 Februari 2006 seorang penari harus lebar-lebar merentangkan kakinya supaya bisa terbang. tergetar.

Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang sehingga rumah jadi regeng. setelah sarapan. perburuhan. mengular sampai jalanan. teman-teman. Selama pertemuan-pertemuan dengan para Untuk sikap saya itu. atasan. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Saya acuh tak acuh. ataupun dengan para pembesar itu sebenarnya saya banyak diam. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Kadang datang berbondong. Ada apa? belum menemui mereka. yang sama sekali tidak saya ketahui. Orang-orang . Karena istri saya gelisah. menantu dengan mertua. kata-kata bijak dari para cendekiawan. bawahan dengan remaja. misalnya. Saya acuh tak acuh. Juga tentang hubungan suami istri. Lama-lama saya menulis obituari menjadi semacam panggilan. Istri saya memberi tahu. Kami ngobrol sekitar persoalan yang menyangkut rumah tangga dengan segala nuansanya. bupati. bibit tanaman. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. juga tayangan televisi. dan wali kota. Selama ini saya dikenal sebagai penulis obituari (berita tentang kematian seseorang berikut riwayat hidupnya) di surat kabar setempat. Misalnya. satu dua. tidak benar-benar membutuhkan saya. persoalan anak dengan orangtuanya. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. Dan pembicaraan beralih ke olahraga. ramai. saya dijuluki “pendengar yang baik”. bupati. Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga. saya menjawab sekenanya. Tapi asyik juga karena hidup di dusun yang sepi sekali-kali perlu mengadakan pertemuan supaya merasakan kemeriahan. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. mengenang lewat tulisan obituari itu mengesankan. Sudah sering datang orang. Dengan ngantre minyak tanah. sejumlah persoalan yang lagi hangat atau panas di masyarakat yang sebenarnya membuat mereka sekadar butuh teman ngobrol. Saya tak pernah mengutip berkepanjangan. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Karena kematian seorang teman baik yang menjadi tetangga dekat. juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. Sungguh menghabiskan waktu.Nistagmus DANARTO Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Rasanya camat. Di samping para tetangga. Setelah dua jam pembicaraan ke sana-kemari. diajak berbincang mengenai berbagai hal yang pelik. Sebagai penulis lepas. Saya rasa kali ini juga begitu. Cukup menyenangkan. Rasa saya tetangga. Istri saya lewat jendela. mula-mula saya menulis obituari hanya sambil lalu. soal usaha tambak udang. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. lalu kami pindah tempat duduk dan lebih santai sambil ngopi. Sudah sering datang orang. satu dua. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga. sekadar yang saya tahu. dan banyak lagi saya tidak nyaman. Masalah-masalah itu menjadi obrolan yang Kadang-kadang saya juga diundang camat. maupun wali kota. perbankan. pengairan sawah. juga masalah percintaan antaranak-anak Jika ditanya. menyadarkan saya.

Dipasang pula fotonya yang bisa menyebabkan keluarganya tertambat kenangannya. “Kenapa kamu tidak lekas mati supaya Pak Jurnalis bisa menulismu sekarang!” “Biar kamu mati.000 karakter yang menyerahkan becaknya kepada seorang kepala tibum (penertiban umum) dengan tujuan supaya becaknya dijual untuk mengongkosi sekolah anaknya. Yang jail maupun pelesetan. Sejauh ini saya tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu. Seluruhnya orang. Kepala kantor orang itu kebingungan. yang berkenaan dengan tulisan obituari itu. saya menulis obituarinya dengan memasukkan wawancara kepala tibum itu. sekitar 5. Banyak usulan. keluarga. kemudian berubah ke mesin ketik komputer. meski kamu membayar Pak Jurnalis!” “Kamu tidak akan mati. Tulisan obituari itu tidak panjang. Ketika beberapa waktu kemudian tukang becak itu meninggal karena faktor Ada seorang pegawai negeri yang tidak mau dipensiun karena uang pensiunnya kecil.orang biasa. Itu semua menyebabkan saya akrab dengan semua orang. orang-orang terkenal itu sudah banyak penulisnya. sampai kenalan baru. di sebuah desa yang Saya bisa memanfaatkan rubrik khusus obituari setiap saat atas kebaikan redaksi koran Pernah kejadian dalam seminggu sepuluh orang.000 orang. Lalu ia dinaikkan ke dalam mobil. Banyak komentar. Bawahannya itu lalu dihipnotis hingga tertidur di mejanya. kebanyakan yang mungkin pernah lalu-lalang di depan rumah saya. tak ada yang menulis. dan berapa orang saudaranya. sampai kamu menulis riwayatmu sendiri!” Saya terbahak mendengar lelucon-lelucon itu. Lalu si kepala kantor meminta jasa seorang tukang sulap yang pandai menghipnotis orang. Alasan saya. ada seorang tukang becak menolak dengan mengembalikan becaknya sambil mengirim beras 5 kilogram kepada si usia. Misalnya. Lelucon-lelucon pun menyebar dengan semarak di pasar.lengang. yang beberapa hari kemudian dikabarkan meninggal. tidak ke mana-mana. sebagaimana kematian itu pasti tiba. Si kepala tibum jika orangnya kocak atau punya pekerjaan yang unik. Saya interviu keluarganya. ataupun di stasiun bus. apa ada yang tertarik membaca obituari saya. pekerjaan terakhirnya. lalu saya cari alamatnya. lalu mencari akal agar bawahannya itu sadar. lewat mesin ketik manual yang lokal yang memberi saya kebebasan. Saya yang terus beredar di banyak keluarga yang kematian saudaranya. teman. Dan sebagainya. Kadang sampai 8. selalu saja orang . Setiap saya lewat atau mampir membeli rokok di kios. Begitulah. dibawa pulang ke rumahnya. Keluarganya memberi tahu. ia kaget. kenapa tidur di rumah. menyebabkan banyak orang mengenal saya. agaknya hanya saya seorang. ia seharian di rumah saja. tukang becak. Obituari yang meliputi orang-orang biasa itu bisa saudara. Selama ini tulisan obituari saya sudah mencapai 5. sementara beban keluarganya besar. Barangkali mereka juga membaca obituarinya. Saya menolak ketika diminta menulis obituari sedangkan untuk orang-orang biasa. Masa pensiun pasti datang. Saya catat riwayat hidupnya.000 karakter. kompleks pertokoan. Begitu siuman. Dengan enak saya bisa menulis obituari setiap hari. orang-orang ternama.

Saya nggak mau ditulis sekarang. Apa ada gejala sesuatu? Tentu saja saya merasa tidak berubah dengan tingkah-laku saya. Ketika di sebuah toko saya menghindar supaya tidak bertemu dengan seseorang. Memang ada seorang yang “Pak. Ini benar-benar klenik. ia meninggal. sehabis ngobrol dengan saya. Pak. lima orang. Pak. Tapi ini kebetulan saja. Ketika orang menanyakan pendapat saya. yang paling kritis. Memangnya saya cenayang. Pak. orang tersebut malah mengejar saya sambil menyapa: “Bapak menghindar dari saya. Pak?” Istri dan anak-anak saya juga merasakan perubahan itu. Sementara itu ada pula yang bilang.” jawabnya. Kritiknya tidak berdasar.” “Jangan ditinggal korek apinya ini. sedikit saja saya ngomong.” “Saya permisi. Ada yang bilang. saya sedang mewawancarainya. Banyak ngomong dianggap meramal. Pak. Saya jadi pendiam dan menyendiri. Ntar saya yang menulis Bapak.” Tapi. dan si bungsu di SD kelas 5. tinggal di mana?” tanya saya kepada seseorang yang saya pinjami korek api untuk menyalakan rokok saya. seseorang yang ngobrol dengan saya. Saya juga tidak tahu adanya gejala sesuatu. Apa yang akan terjadi dengan saya. Keterlaluan. terutama si sulung yang duduk di SMA kelas 2. “Lho. ada yang mengartikan. Wah. ini bahaya. Tidak kenapa-kenapa.” “Lho. kenapa?” “Maaf. Tidak kenapa-kenapa. Lalu malah terjadi serba-salah. sedikit ngomong dianggap mengetahui peristiwa yang bakal terjadi.” “Baiklah. kenapa?” “Maaf. itu tanda-tanda orang tersebut mau meninggal. Dari kejadian itu. tulisan saya tidak adil . “Maaf. Anak-anak saya.nyeletuk: “Pak Jurnalis. Di pertemuan-pertemuan desa. saya mendapat sebutan yang aneh-aneh. Ada yang berubah dengan tingkahlaku saya. Maka ada saja orang yang anti-saya. katanya. Menurut mereka. Pak Jurnalis.” Atau ada yang berteriak: “Pak Jurnalis.” “Biar untuk Bapak saja.” Inilah sepenggal dialog di pasar sepeda motor dengan seseorang yang enggan bertegur sapa dengan saya karena keyakinan-keyakinan klenik itu. Keduanya cencala (lancang mulut) terhadap sikap saya dalam menulis obituari. saya juga diam dan menyendiri supaya orang nyaman dengan saya. Saya tak bisa menjawab. yang saya malas menuliskan sebutan-sebutan itu di sini. jika seseorang ngobrol dengan saya. ada saja orang yang enggan bertemu atau lebih-lebih ngobrol dengan saya. Jadinya lama-kelamaan saya enggan menyapa orang.

itu semua yang anak.” “Tidak bisa seenaknya begitu. Mereka suka ngotot dan merasa selalu benar. Itu doa saya.” “Ayah marah kena keritik. Ia meninggalkan seorang istri istrinya dan anak-anaknya yang lain.” jawab anak-anak itu. “Ayah juga pernah menulis obituari seorang pengusaha.” “Semua orang bicara dosa dan pahala.” “Begini. Ayah pernah menulis obituari.terhadap seseorang dan berlebihan bagi yang lain. Boleh jadi Allah sudah membuatkan rumah baginya di surga. sedang rakus-rakusnya makan.anak saya tersebut. Padahal saya selalu Mendengar keterangan saya. Tetapi jika sudah menyangkut masalah dosa dan pahala. Sebagai ayah. Nah. kekuatan itu ada batasnya sehingga kita tidak selalu benar. Jika sampai di sini hal itu masih baik. anak-anak ini sok tahu. itu justru kesalahan saya dan saya bisa berdosa karena tidak menulis tiga istri dan mereka.” anak-anaknya yang lain. anak-anak saya itu diam. Pernah saya menyergah “Dari mana kalian tahu. . kalian ngawur. Saya sering lelah berdebat dengan mendidik anak-anak saya itu dengan keras. karena Ayah memaksa Allah membuatkan rumah baginya di surga. wah. Barangkali karena beban keluarga yang terlalu menyebabkan saya sering stres dan mengalami depresi yang tajam.” “Nah. Nah. Lima anak semuanya sekolah. sebuah tulisan berdosa dan tulisan yang lain berpahala?” “Dari Ayah. Itulah usaha sebaik-baiknya seorang penulis obituari. Hal itu berarti saya tidak menganggap ada dan penting keberadaan bilang.” “Boleh saja. anak-anak saya itu: Seolah-olah anak-anak ini cukup rajin membaca buku-buku agama.” jawab saya. ini dosa. ini pahala bagi Ayah karena Ayah menyembunyikan tiga “Nah. “Kalian ngawur.” dengan empat orang anak.” “Itu harapan saya. saya berat.” “Semuanya. Mereka bisa tersinggung dan bukan tidak mungkin merasa saya lecehkan.” “Dalam hubungan apa orang bicara seperti itu. kan.” “Karena keritik kalian membawa-bawa dosa dan pahala.

Tangerang. laki-laki. Seluruh mayat itu. Anakanak mewarisi sifat-sifat ibunya. satu dua. perempuan. Orang sekian banyak mau ngajak ngobrol apa? Tentang kesulitan hidup? Beras habis dan anak-anak menangis kelaparan? Orang sebanyak ini mau ngobrol sekaligus? Mata mereka nanar. Saya berdiri sendirian di samping sebuah kapal yang terdampar di tengah kota. Bahkan matahari masih bergelut dengan kasurnya. yang untuk makan sehari-harinya sejarah saya bermula ketika saya kecantol putri Aceh yang kuliah di UGM. muda. Hari baru membuka matanya. Entah berapa lama saya pingsan. cerdas dan berani. Ketika saya menuruni bukit dengan sempoyongan penuh lumpur. mengular sampai jalanan. Mereka berebut duluan menyerahkan selembar kertas di atas meja sehingga sekejap bertumpuk. saya menyiapkan kertas dan alat baru menunjukkan pukul 05. di jalan. Sinar matahari memancar. dengan malas saya keluar rumah dan duduk di beranda. di luar kemauan. Alhamdulillah. merangsek ke depan meja saya. tanah. Orang-orang yang antre tidak sabar seperti mendengar tulis. Karena istri saya gelisah. tak seekor pun tampak terbang. Barangkali seperti agen minyak tanah yang siap menyambut para pembeli. nistagmus. Gerakan bola mata yang cepat tanpa disengaja. 20 Januari 2005 . saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. 26 Desember 2004. Sudah sering datang orang. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. guru SMP. berserakan memenuhi ruang dan udara. saya. Allah…tanggal akhir hayat. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Setelah sarapan. mencecap pencerahan. seluruh kota telah hancur-lebur rata dengan sedang tidur pulas. panas. di kebun. Bahkan burung-burung. di reruntuhan rumah. Awan putih berarak dengan latar langit biru meneduhkan. Waktu saya siuman. Kami menikah dan Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. lalu semuanya bergegas pergi meninggalkan saya tanpa sepatah kata diucapkan. Jam aum macan. Mayat-mayat berkaparan di seluruh kawasan. Saya rasa kali ini juga begitu. Di Jogja itulah pindah ke Aceh dengan gagah berani karena cuma berbekal baju yang kami pakai. Istri saya lewat jendela. Mayat-mayat itu lebih mengesankan diselimuti lumpur. Ahad. di pekarangan. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. setelah sarapan. Tak ada tanda-tanda kehidupan secuil pun. Istri saya memberi tahu. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Saya acuh tak acuh.00. mereka menatap kebenaran. sedangkan saya sejak remaja penulis lepas. Saya menulis apa saja. terlihat pemandangan yang menyebabkan saya pingsan. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. Lembaran-lembaran apakah ini? Ternyata riwayat hidup dengan tanggal lahir dan masya berserak. Istri saya saja suka empot-empotan. tua. bayi.Kami sebenarnya keluarga bahagia. Penghasilan saya tentu saja jauh dari cukup. anak-anak. Ada apa? belum menemui mereka. di atas pohon. Dengan ngantre minyak tanah. Saya tak tahu lagi di mana rumah Cuaca cerah. termasuk menulis berita. entah bagaimana saya bisa sampai di bukit ini.

Sembunyi-sembunyi. bersentuhan dan mendesah massal. begitu istilah orang-orang. karena entah adalah ketidaktahuan yang sering kali jauh lebih dingin yang memanggang. entah karena basah yang kering. Syahdu meliputi butir-butir hujan yang jatuh menikmati denyar-denyar di lautan perasaan paling dalam. Bukankah kita semua membayar mahal untuk sebuah Malam berenang dalam kesunyian. ada yang hanya bagian kaki. Rajaman semu. saling berhantaman. Entah karena entah karena entah. Bercinta di bawah para-para.Ikan Jenar Mahesa Ayu Ia ikan yang terbang. adalah saksi yang melihat semua itu dengan mata telanjang. begitu tengik! Mendakwa kelakuan kami sebagai jijik. Maka… menggoda. Membuat saya begitu jengah dengan segala aturan-aturan. Saat penghakiman. Sementara kilat mencabik-cabik langit hingga berupa potongan-potongan gambar pantulan kami berjumlah jutaan. tepat di antara bibir kami yang tengah berciuman. kami Menusuk ke dalam kekosongan otak yang terasa ringan. Untuk larut dalam satu malam yang menawarkan sejuta Phuih! Ombak meludahi wajah kami yang ingin tak peduli. Untuk saling bertukar lidah berludah dengan orang yang baru dikenal. hampir tiba saatnya waktu bersenang-senang Suara musik di kejauhan membisikkan mimpi yang mutlak terulang. Untuk muntah di atas jamban lantas terpingkal-pingkal. Meninggalkannya dalam diam yang haru. Senyum manja. Girangnya sirna. Ada Tak jarang kepingan-kepingan yang terlihat bagai pecahan kaca yang beterbangan itu yang hanya bagian kepala. Tapi lendir ombak itu melekat begitu kental. Kami terkapar di atas pasir basah. Hingga ada satu pecahan jatuh kejauhan pantai. Dingin meresap pori-pori kulit kami yang telah menjadi keriput dan merinding. Kebenaran dan kesalahan dipertanyakan. Saya berlari kencang menuju kafe banyaknya di tenggorokan untuk segera melimpahkannya kepada ombak yang kurang ajar. Pesta pora. hilang. Dan saya. dan ada yang hanya bagian tangan. entah karena nyala yang redup. Deru ombak ditingkahi samar suara musik dari kafe di hingga jutaan rupiah untuk tidak sadar. Maka saya tahu. Bahana tawa. memabukkan daripada kesadaran. Dan ia entah? Kafe di pinggir pantai itu pun terisi orang-orang yang rela mengeluarkan ratusan menatap seolah saya adalah daging dan tulang yang terbalut kulit kerang. . Muka badak. Ia bukan lagi ikan yang terbang dan burung yang berenang. Sendawa alkohol di permukaan udara. Ia burung yang berenang. menimpa tubuh kami yang diam-diam menggelinjang. Lantas saya berlari sambil menarik dahak sebanyakSaya pun tak mau membuang waktu lebih panjang. dengan kaki-kaki telanjang. Ia menatap saya dengan pancaran mata riang. Dan ia terpana. Seolah dengan sengaja ingin memisahkan. Sentuhan Membuat saya muak mendengar melulu kebajikan. saling beradu berebut perhatian. Untuk saling gombal. Phuih! Saya meludah ke mukanya. Lantas jatuh menghajar kepala kami kala tak sedang ingin penuh.

Tawa. Pertunjukan berarti menunjukkan sesuatu. lalu memisahkan diri. terjangkau. Tawa. Tawa. Ada surga yang akan segera yang menyadarkan bahwa masa lalu kita nyata. Tawa dalam penantian. Ia pun langsung mengambil Alkohol. “Sendiri?” Dan sesudahnya. Tawa. Berlaku nyaris memuntahkan laharnya kepada siapa pun yang berusaha meredam dengan dingin tanya. Saya melihat seringai serigala di bibirnya yang tipis itu. Para model menunggu giliran untuk sebuah peragaan. Tawa berkepanjangan. Tawa. Tawa. Tawa. sebagaimana fungsi malam ialah sarana untuk bersembunyi dari terang. saya melihat sepasang manusia bercengkerama. Saya melihat jajaran kartu kredit di dompetnya yang berwarna abu-abu. Luka perasaan bahwa dosa tak akan pernah cukup berarti ketika hati nurani mengatakan apa . Tawa. Saya melihat langkah seribu. mengelabui pikiran sendiri yang sedang secara diam-diam mencari makna. Masa lalu yang pernah menguatkan yang benar. Saya melihat anak-anak yang tengah tertidur di atas tempat tidur berkelambu. Ada luka yang akan segera hilang. pertanyaan-pertanyaan yang tidak saja tertuju kepada Dan pertanyaan itu pun berdesing di telinga saya. “Buset! Lama amat di luar?” “Udah ngapain aja?” “Kayak gak tau aja barbeque under the stars!” “Feeling hot hot hot!” Tawa. Tawa. Entah peragaan yang bisa memancing rasa terpana. Tapi pandangan saya bagai menembus segala bentuk yang ada. Tawa. Saya melihat seekor burung yang seperti baru terjaga dari mati suri nyaris sewindu. Tawa. berapa kira-kira umur mereka. panjang ala kadarnya. Tawa. dan kaki-kaki jenjang mengentak di atas meja? Bukankah yang Apa pula pentingnya bertanya jika ada liukan pinggul di depan mata. Di sebuah tempat antah berantah. tapi juga kepada setiap pengunjung yang rela dan masyuk berimpit di dalam ruangan dipenuhi asap rokok meraja tiap penjuru? mereka diajak kencan setelah acara. Mata pun meredup menciptakan pemandangan yang makin samar. Tak mampu menjawab pertanyaan itu. diri saya sendiri terpaku. Tawa. Entah peragaan busana. Entah peragaan gaya. Undak-undakan telah disiapkan di pinggir bar.Saya menunggu. Tawa. rok-rok dengan sama dengan yang lainnya supaya tak terlihat sebagai pembodoh di dalam magma yang siap selayaknya terdengar adalah tanya semisal. Tawa. Namun seperti pekik senapan lagi-lagi pertanyaan itu kembali memburu. Mereka yang berada di sana tertawa untuk entah. Tawa. Ada nama yang akan segera dilupakan. Musik kian mengentak. “Sendiri?” Saya menatapnya. Tawa. Tapi sesuatu yang ingin dipertunjukkan itu tetaplah entah. Sementara saya pun pura-pura tertawa. Entah peragaan untuk sekadar pertunjukan. bisa atau tidak para model itu.

dengan mata telanjang saya melihat ia ikan yang terbang. Jakarta. mulut bau alkohol gitu masih berani ngomongin surga. Lalu semakin banyak ikan yang terbang. Dan semua adalah ikan yang terbang. Ada yang mendesak ingin keluar. Saya menunggu. dan pantas. Semua burung yang berenang. Ia burung yang berenang. Maka…. Saya ingin merasa pantas yang lain dan lain yang pantas.“Huahahahaha…mata bintitan. Agustus 2004 . Padahal saya begitu ingin mendengar pantas sebagai pantat. Namun ada keinginan kuat untuk segera menahan sedu pantas. dosa. Tapi tak juga saya temukan ia di tengah hiruk-pikuk gelepar Rajaman semu. Namun saya mencari sayap ikan dan sirip burung-burung berkepakan. yang pantas juga ngomongin syahwat!” Selalu harus ada yang pantas. Di tempat yang begitu tanpa batas ini pun mengenal kata menyelimuti hitam bola mata. Mata saya pun memanas. Saya ingin merasa kosong sebagai bokong. Lalu semakin bertambah banyak ikan yang terbang. Pertahanan yang dibangun untuk satu kata pantas. Ia masih berada dalam diam yang haru. Semakin banyak burung yang berenang. pantas. Maka bening berkumpul sedan. Saya ingin melihat bubur sebagai dubur. mata yang menatap girang. Semakin bertambah banyak burung yang berenang.

jelas belum mapan. Saya akan menjaganya. membuahkan kecanggihan otak maupun fisiknya nanti. Akan kita apakan calon bayi ini? Kita masih terlalu muda. Dok. Untuk keperluan sehari-hari saja pas-pasan. Rasa mual merajalela. Rasa takut seketika membuncah. Gunting saja supaya tuntas pembukaannya. Air ketuban sudah hampir kering. Ada perubahan di tubuh saya selanjutnya. Uang yang terkumpul tidak cukup untuk operasi. Mengecup kedua matanya dalam rahim saya. Kepala saya pening. Memikirkan itu tenggorokan saya jadi ikut kering. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga lengket. mencari uang demi mengonsumsi makanan bergizi yang konon bisa “Kami mengerti. Pun mulai membukit perut saya. Air kental itu seperti bom yang meledak di dalam tubuh saya. Saya akan menjaganya. Lewati mual tiap kali mencium bau parfum keluaran baru eternity. sudah satu bulan setengah usia janinnya.” kata ayahnya. Pergi ke kamar bayi jauh dari ibunya. masih harus menunggu dua pembukaan lagi. Tapi… muda.” kata supervisor saya. Ketuban sudah pecah. Suara tangisnya seisi ruangan melengking. Materi yang ada. Terus menyeruak dan mendarat lengket. Dan jika operasi. Kami tidak bisa mempekerjakan SPG yang kelihatan sedang hamil. Tapi saya berkata dengan yakin. majikan. tapi tak . Sembilan bulan sudah.Air Jenar Mahesa Ayu Air putih kental itu saya terima di dalam tubuh saya. yang masih lengket. liat sudah di indung telur yang tengah terjaga. Membuahinya. Harus operasi. Makhluk mungil itu keluar dari dalam tubuh saya. Masih tak percaya. Rasa waswas setiap kali belum waktunya namun sudah kontraksi. di atas seprai motif beruang teddy berwarna merah dengan haru memanah. Saya jentikkan jari kelingking di pipinya yang merah. Baru pembukaan delapan. Makhluk manis tak berdaya itu pernah tinggal di Lantas suster membawanya. saya khawatir tidak bisa langsung apalagi suster. Saya ingin protes. “Robek saja. Masih tak percaya. liat. Ketika saya ke dokter kandungan untuk memeriksakannya. Dokter yang baik itu menatap saya dengan prihatin.” Saya akan menjaganya Air hangat itu membasuh kulit tubuhnya yang bening. Tapi segera mentah berganti Tidak mengambil cuti. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga keluar mendesak celana dalam yang tak kuat membendungnya. Membayar pembantu. Erang kesakitan sudah tidak lagi melengking. Tapi saya ngotot persalinan alami. Menerima. belum cukup untuk hidup sebagai mengurusnya sendiri. tapi perutmu sudah kelihatan tambah besar.

kontrakan. Apakah makhluk kecil yang sudah beranjak remaja itu sudah makan? Apakah ia kesepian? Ingin menelepon tapi sutradara memberi instruksi jika ponsel mutlak dimatikan. ketika suster itu berkata. Begitu ingin segera menimang dan menatapnya berat. dan sekolah akan pulang. sekarang ke dua payudara kecil ini pun gemuk membungkah seperti kelapa. membayar listrik. Payudara sudah terasa “Benar Ibu sudah siap?” Saya akan menjaganya Air mata meleleh di pipinya. Padahal saya sudah begitu Atau jangan-jangan di rumah ia sedang asyik masyuk pacaran? Saya menjadi ketakutan. “Ibu butuh istirahat untuk mempersiapkan ASI. Air susu saya sudah sarat. Lucu. Saya hanya bisa berjanji dalam hati. Baru akan dimulai merekam adegan. kami akan menjelajah dunia. “Capek ah nunggu. Suster yang Selama sembilan bulan setiap harinya saya sudah memijat payudara saya dengan minyak kelapa. Kalau perlu. Berusaha memberikan rasa aman. lagi. saya akan membeli rumah berikut ia inginkan semudah orang membuang kentut. Mengunjungi semua Disneyland di tiap negara yang memilikinya. aku udah mau tidur!” semprotnya. Tapi kepala saya masih dipenuhi pikiran. Tetap akan pulang. Dan harapan. Saya akan menjaganya. Saya tetap akan pergi. Harapan akan segera pulang. Apalagi jika harapan-harapan itu kerap diulang-ulang dan tak pernah mewujud jadi kenyataan. telepon. itu? Saya begitu tak sabar menunggu. Ia membiarkan saya pergi. Saya sudah tidak butuh rehat. Bermain dengan penguin-penguin di Cape Town selatan Afrika. Ia akan tetap tak membiarkan saya pergi. Jika saat itu tiba. setelah ini tak akan ada yang memisahkan kami akan membawanya ke kamar bayi. Tak menunggu saya pulang. air. Tapi tidak mudah memberikan sejuta taman bermain milik raja pop Michael Jackson yang tengah bangkrut. Dan saya tetap akan pergi. Membeli apa pun yang harapan. kalau ia mau. Tetap Hanya cukup untuk makan sekadar. Sekarang kami sedari tadi memijat payudara saya terlihat puas. Air putih cair itu keluar berupa jentik-jentik yang ajaib di ke dua puting saya. Harapan akan segera pulang membawa uang untuk suatu hari nanti tak perlu pergi kerja dan tinggal angkat kaki ongkang-ongkang. Tidak terlalu sulit mengeluarkannya. tak ingin begitu saja melepas kepergian saya. Air asin itu mendarat di bibir saya lagi. Saya harus segera menghayati peran. Tetap menunggu saya pulang.bisa. Menyeruput pinacolada di Hawaii sambil menyaksikan tarian bora-bora. Harapan akan segera pulang membawa uang.” Saya akan menjaganya. . Sudah jam delapan. Di mana makhluk mungil menyusu. Cukup lama saya harus menenangkannya. Penuh dengan air susu yang sebentar lagi akan ada pengisapnya. Karena sudah beribu-ribu kali saya hanya pulang membawa sedikit uang. yang semakin hari harganya semakin tinggi menjulang. Berusaha memberikan pengertian. Lampu-lampu besar seperti makhluk pemeras keringat yang tak berperikemanusiaan. Tak ada yang mungkin saya lakukan untuk menjangkaunya sekarang.

Apakah yang sudah saya lakukan? Atau justru apakah tertidur dengan amat tenang. sudah kembali pulas tidur. Ada buku di sampingnya menarik perhatian saya.harus terhambat kemacetan. Saya Ada cahaya di ujung lorong. Seperti semasa ia balita menunggu saya pulang selepas kerja membawa sedikit uang dan satu kantung plastik berisi sepatu baru. Melayang bersamanya menikmati indahnya kelap kelip lampu dan penderitaan. Tapi ia menggeliat. menyerahkan untuknya menyusu. “Action!” teriak sutradara. Seperti saya Saya kembali ke kamarnya. Terkulai lemah seakan menunggu saya menerima ia dalam pelukan saya. Entah disengaja untuk menarik perhatian. Menunggu. igau saya. igau saya. Tak jalan seperti dongeng anak-anak Peter Pan. Duduk di samping tempat tidurnya dan memerhatikannya yang saya ambil dan buka. “Bangsaaaaaaaat!” Saya tak kuasa menjaganya Air kuning kental itu meluap dari mulut saya. Lampaui semua beban. Menunggu kesadaran saya kembali. Harusnya seratus pil seperti yang dikonsumsi Maryln Monroe hingga ajal menjemputnya. Tapi yang tidak saya lakukan? Sudahkah karenanya ia menjadi korban? Di balik selimutnya ia lebih pasti lagi ia tak kurang tertekan. Ternyata datang dari tubuhnya yang berbalut cahaya menengok ke arah ujung lorong yang berlawanan. Ternyata datang dari tubuhnya yang sama sekali tak berbalut cahaya kecuali melulu kegelapan dan Seperti semasa ia bayi menunggu saya membersihkan puting payudara sebelum luka. Di gelas itu berdiri sebotol bir merek bintang. Menunggu. Semakin terkumpul segala lelah segala penat. Seperti saya sekarang menunggunya dengan ilusi dirinya berkilauan merentangkan tangan atau terkulai lemah membutuhkan pegangan setelah menemukan mulut saya berbusa akibat menenggak obat penenang. Saya jentikkan kelingking di pipinya yang bening. Menunggu. menghalau saya supaya tak dekatdekat. Pelan-pelan . Lantas meronta. Saya kecup kedua matanya yang merapat. persis seperti ketika ia baru lahir dengan kedua mata yang masih lengket. Tidak membiarkan air putih kental itu lengket di indung telur hingga tumbuh menjadi janin yang kini terlahir bertemu dengan ayahnya yang dengan mudahnya lepas tangan. Melayang seperti burung tanpa menyimpan. Ada puisi di dalamnya. Seperti sekarang saya sekarang menunggu satu saat nanti ia mengerti. Menunggu. Lima puluh pil penenang saya tenggak. Ada kegelapan. Entah ia sudah teler dan lupa sebagai manusia yang merasa disia-siakan. menunggu emosi saya pergi. kini telah berganti dengan air berbusa kekuning-kuningan. Melayang lebih jauh lagi ke masa lampau. Siap menerima saya dalam pelukan bahagia. Satu saat nanti ia kembali. Lampaui semua luka ingin cepat-cepat menjangkaunya dan terbang pulang. Kadang saya juga ingin melayang jauh ke masa lampau. Yang sudah pasti telah terjadi perubahan yang membuat saya tertekan. Menunggu. Saya akan menjaganya. kemilau dengan tangan terbuka. Air jernih di dalam gelas yang dulu ada di atas meja samping tempat tidurnya.

Air dapat memelukmu tapi tak akan membelenggumu Air dapat pantulkan cahayamu tapi tak dapat jadikanmu nyata(*) Saya akan menjaganya. Jakarta, 13 Mei 2006 12:24:00 PM Untuk Banyu Bening (*) Cuplikan puisi Air karya Banyu Benin

Saya di Mata
Jenar Mahesa Ayu

Sebagian Orang
Sebagian orang menganggap saya munafik. Sebagian lagi menganggap saya pembual. Sebagian lagi menganggap saya murahan! Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa.

Padahal saya tidak pernah merasa munafik. Tidak pernah merasa membual. Tidak pernah merasa sok gagah. Tidak pernah merasa sakit jiwa. Tidak pernah merasa murahan!

Dan apa yang saya rasa toh tidak membuat mereka berhenti berpikir kalau saya munafik. Berhenti berpikir kalau saya pembual. Berhenti berpikir kalau saya sok gagah. Berhenti berpikir kalau saya sakit jiwa. Berhenti berpikir kalau saya murahan!

saya tidak membual. Kalau saya tidak sok gagah. Kalau saya tidak sakit jiwa. Kalau saya tidak murahan! Tapi penjelasan saya malah semakin membuat mereka yakin kalau saya munafik. Yakin saya murahan!

Sementara saya sudah berusaha mati-matian menjelaskan kalau saya tidak munafik. Kalau

kalau saya pembual. Yakin kalau saya sok gagah. Yakin kalau saya sakit jiwa. Yakin kalau

Maka inilah saya, yang tidak munafik. Yang tidak membual. Yang tidak sok gagah. Yang tidak sakit jiwa. Yang tidak murahan!

Walau sebagian orang tetap menganggap saya munafik. Menganggap saya pembual.

Menganggap saya sok gagah. Menganggap saya sakit jiwa. Menganggap saya murahan! Saya katakan ke banyak orang kalau saya tidak punya pacar. Saya tidak punya kemampuan sekali teman. Ada teman yang setiap pagi menyiapkan air hangat untuk mandi. Ada teman

untuk mencintai seseorang. Tapi bukan berarti saya tidak punya teman. Saya punya banyak makan siang ketika rehat kantor. Ada teman yang menjemput sepulang kantor. Ada teman yang baik. Mereka semua teman-teman yang bisa diandalkan dalam segala hal dan saya

yang menemani nonton. Ada teman yang menemani clubbing. Mereka semua teman-teman yakin saya pun cukup bisa diandalkan sebagai teman. Bukankah sudah sepatutnya begitu Tapi karena teman mengajak, saya merasa tidak enak untuk menolak. Begitu juga halnya dan tidur. Tapi jika ada teman yang mengajak nonton, rasanya saya tidak tega menolak apalagi ia sudah khusus jauh- jauh menjemput ke kantor. Maka saya akan mengiyakan

dalam hubungan pertemanan? Buktinya tidak jarang sebenarnya saya malas makan siang. dengan nonton atau clubbing. Pulang kantor saya sering kelelahan. Inginnya lekas pulang

walaupun belum tentu saya suka dengan film yang kami tonton. Pada saat kami nonton,

tidak jarang pula ponsel saya berdering. Andaikan tidak saya angkat karena tidak sopan menerima telepon di dalam bioskop, tetap saja mereka bisa meninggalkan pesan SMS. saya ingin menerima ajakan mereka. Tapi bagi saya itulah konsekuensi pertemanan. Biasanya minta ditemani ke disko atau sekadar nongkrong di kafe. Sungguh, tidak selalu Apalagi, sekali lagi, mereka adalah teman-teman yang baik. Yang setia menyiapkan air

hangat untuk mandi setiap pagi. Yang setia menemani makan siang. Yang setia menjemput pulang kantor. Yang setia menemani ke disko atau kafe. Yang setia memberikan perhatian dan waktu kapan pun saya butuhkan, walaupun mungkin mereka tidak selalu ingin saya rasakan. mengiyakan, walaupun mungkin mereka sedang kelelahan, sama seperti apa yang sering

Kepada merekalah saya sering menumpahkan segenap perasaan. Kepada merekalah saya

meminta bantuan. Tidak hanya sebatas perhatian dan waktu, tapi juga dari segi finansial.

Kalau saya butuh uang, saya bilang. Kalau saya mau ganti ponsel model terbaru, saya beri tahu. Kalau saya bosan mobil van dan ingin ganti sedan, saya pesan. Padahal karena akan selalu ada yang menjemput dan mengantar, mobil jarang sekali saya gunakan. Kalau saya dapat undangan pesta dan perlu gaun malam lengkap dengan perhiasan, saya utarakan. Kenapa harus sungkan? Toh saya tidak memaksa. Toh mereka ikhlas. Dan yang paling penting adalah mereka memang mampu mengabulkan apa yang saya minta. Saya tidak

paksa mereka khusus menabung untuk saya apalagi sampai suruh mereka merampok bank. saya. Kalau sekali-sekali harus jebol tabungan atau terpaksa mencairkan deposito Saya juga teman yang baik. Saya tidak mau mereka susah hati karena tuntutan-tuntutan

bolehlah… yang penting dananya memang ada. Itu pun bukan masalah yang harus saya besar-besarkan. Bukan sesuatu yang layak untuk membuat saya terharu. Apalagi jatuh cinta?! Saya harus garis bawahi bahwa saya tidak memaksa. Apalagi saya sangat tahu, sangat sadar kalau jumlah dana yang dikeluarkan hanya sepersekian persen dari

keseluruhan harta mereka. Coba bayangkan, kurang pengertian apa saya sebagai teman? Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, tidak jarang saya harus mengorbankan waktu dan tenaga untuk mereka. Mungkin lebih tepat jika saya menggunakan kata

merelakan ketimbang mengorbankan. Walaupun saya agak terganggu, tapi saya rela. Saya Menikmati tiap detail manis yang kami alami. Makan malam di bawah kucuran sinar

melakukannya karena saya mau, bukan karena paksaan. Saya menikmati kebersamaan kami. rembulan dan keredap lilin di atas meja. Percakapan yang mengasyikkan penuh canda dan yang berlanjut dengan ciuman panas membara lantas berakhir dengan rapat tubuh kami

tawa. Sentuhan halus di rambut saya. Kecupan mesra di ke dua mata, hidung, pipi, dan bibir yang basah berkeringat di atas tempat tidur kamar hotel, di dalam mobil, di taman hotel, di yang begitu melelahkan sekaligus menyenangkan. Saat-saat yang selalu membuat jantung saya berdegup lebih kencang dari biasanya. Saat-saat yang selalu membuat aliran darah

toilet umum, di dalam elevator, di atas meja kantor, atau di dalam kamar karaoke. Saat-saat

saya menderas dan naik ke atas kepala. Saat-saat yang selalu membuat saya pulas tertidur

dan mendengkur. Saat-saat yang tidak pantas untuk tidak membuat saya merasa bersyukur.

Namun dari sanalah segalanya berpangkal. Semua yang saya lakukan itu dianggap tidak

benar. Sebagian orang menganggap saya munafik karena tidak pernah mengakui kalau saya punya pacar. Sebagian lagi menganggap saya pembual setiap kali saya bilang hubungan

hingga jenis dikaitkannyalah dengan seberapa dahsyat kehebatannya di atas ranjang. berbulan-bulan. Dan karena saya tetap bilang kalau kami benar-benar berteman. Hal. Saling bertanya apakah sudah punya pasangan tetap. Pandangan mereka menyapu bersih membawa teman baru. Sebagian percintaan bahkan bisa dalam satu hari dengan orang yang berlainan. Mereka sembunyi-sembunyi mengirim pesan SMS. Biasanya itu disebabkan karena hubungan mereka yang sembunyi-sembunyi dengan si A ketahuan oleh si B.sembunyi bermain mata. Apalagi jika secara kebetulan kami bertemu dalam satu kesempatan dengan bertukar senyum. bertahun-tahun. berminggu. Menyeleksi kartu kredit saat membayar bon tagihan makan. pembual. Kebanyakan berkisar pada seberapa indah kami berdua dari ujung rambut hingga ujung kaki seperti serigala kelaparan. atau masih melajang. restoran.kami hanya sebatas pertemanan. Pembicaraan mendadak berhenti. Yang berubah keterbukaan.hal seperti ini yang sering tidak saya temukan pada saling berbagi cerita walaupun jarang. maka dikaitkannyalah dengan seberapa besar saya menguras mereka dengan teori cinta-cintaan. Jika teman saya kelihatan indah. kantong belanja. Sehingga jika hanyalah kami sudah tidak saling melenguh dan mencabik di atas ranjang. saya tidak pernah akal-akalan. silih berganti tanpa henti dan ini membuat mereka punya materi yang lebih dari cukup untuk terus mempergunjingkan saya seolah tidak ada hal lain yang lebih pantas untuk diangkat sebagai tema.teman saya semakin banyak. Beberapa bagian dari mereka itu sibuk dengan jalani dengan penuh kewajaran tiba-tiba berubah menjadi perdebatan. Perbuatan yang saya lebih tahu dibanding diri saya sendiri. Di pertokoan. maka mulai dari apakah ada pernak-pernik baru yang saya pakai. Di kantor. Setelah putus dengan si B ternyata . Kadang ada satu dua kalimat yang terdengar dan sudah cukup bagi saya dan seberapa tebal kantong teman yang saya bawa. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian orang menganggap saya munafik. Mereka bergunjing lewat Mereka saling bertukar pendapat di kafe-kafe. sebetulnya tidak sepenuhnya benar. Tapi kami masih menikah. mulailah kelihatan berkantong tebal. Mereka sembunyi. pendapatnya masing-masing dan lebih luar biasa lagi mereka bisa membahas perihal saya telepon. Mereka sembunyi-sembunyi untuk merangkumnya utuh menjadi satu bagian. Sebagian lagi menganggap saya murahan! pembual. Tapi tidak satu pun dari mereka yang mendendam karena saya menjunjung tinggi dibilang hubungan kami berakhir.jam. Sebagian lagi menganggap saya sakit dari teman-teman yang tidak ingin berbagi dan pada akhirnya hubungan kami harus Saya tidak bisa mungkiri banyak dari teman-teman yang akhirnya mempertanyakan. perdebatan pun dimulai dan mereka saling membuktikan pendapat siapa yang paling benar. sok gagah. Mereka saling berbisik dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diterjemahkan. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah karena mereka berpikir saya tidak mau mengakui kalau sebenarnya saya mencintai seseorang. sakit jiwa. Di ini berjam. Mereka saling bertukar pesan lewat SMS. Sebagian dari mereka malah sering saya dapati tidak lagi bertegur sapa sama sekali dengan teman lamanya. atau murahan itu. berhari-hari. Banyak terakhiri. Sebagian lagi menganggap saya murahan karena saya bisa ditiduri tanpa harus ada komitmen lagi menganggap saya sakit jiwa karena berteman dengan begitu banyak orang. Semua orang merasa sementara teman. Jika teman saya uang. sebagian orang yang menanggap saya munafik.minggu. Di rumah. Saya tidak pernah membohongi. Sebagian lagi menganggap saya jiwa. Mereka saling mengirim surat elektronik. Tapi jika ke dua sisi itu tidak ada yang memenuhi standar pergunjingan.

Menganggap saya murahan! lanjut berteman. 20 Agustus 2003 11:35:54 PM hangat untuk bilas badan. Menganggap saya pembual. pembual. ketika saya positif mengidap HIV ternyata saya masih punya banyak teman yang setia menyiapkan air tentang sebuah peristiwa lucu di satu kafe. Karena. Sementara buat saya kejadian-kejadian seperti itu hanyalah semata-mata proses cinta semalam. Mungkin jika bukan karena penyakit yang datang tanpa bisa saya larang tidak saya idap sekarang. Ereksi yang tidak lama kekal. Seleksi alam yang akhirnya menjawab apakah kami akhirnya bisa tidak atau Menganggap saya sok gagah. Malam-malam panjang. sakit jiwa. sok gagah. Dan saat itulah alarm dalam tubuh saya mengisyaratkan segala rencana kencan lanjutan mutlak batal. Tapi walaupun saya Beberapa kali saya bertemu dengan tubuh-tubuh indah yang membuat mata silau. Mungkin jika bukan karena saya tergeletak tak berdaya dan diperlakukan bagai anjing kusta saya hampir beralih dari apa yang selama ini saya percayai dan nikmati dengan hati lapang. Tapi saya tetap menghargai sebuah pilihan. Menganggap saya sakit jiwa. Menemani makan malam. saya hampir percaya pada pendapat sebagian orang yang tiap bagiannya menyatu menjadi satu pendapat utuh bahwa tindakan saya menyimpang. Sebagian orang menamakan kejadian-kejadian seperti itu sebagai moral. atau murahan. Mendongeng membayar ongkos perawatan. Tapi tetap orang menganggap saya munafik. Sebagian orang merasa kejadian-kejadian seperti itu bertentangan dengan pengenalan. Sakit jiwa. Kadang saya juga mengalami kesulitan dalam satu hubungan. Saya hanya heran. Yang nyatanya berakhir dengan rasa mual. Bercerita tentang film yang baru saja diputar. Pembual. Reaksi yang membuat waktu berjalan bagai tak berujung pangkal. Alangkah sayangnya sebuah hubungan yang menempuh berbagai aral rintangan itu akhirnya harus kandas di tengah heran.ketahuan pulalah si A berteman dengan perempuan lain. ketika sebagian orang sibuk bergunjing atas akibat yang saya . jalan. darah saya berdesir dan mengisyaratkan satu kenikmatan. terima karena saya munafik. saya tetap tidak berani menganggap mereka munafik. Membuat Kontraksi dahsyat di tengah selangkangan. Murahan! Jakarta. Mengirim makan siang. Sok gagah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful