Anda di halaman 1dari 100

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.1

Aspek Geografi dan Demografi

2.1.1. Luas dan Batas Wilayah Administrasi Luas Kabupaten Agam adalah 2.232,30 Km atau 5,29 persen dari luas wilayah Provinsi Sumatera Barat. Batas wilayah sebagai berikut : sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat; sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Lima Puluh Kota; sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Padang Pariaman dan Kabupaten Tanah Datar; dan sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Indonesia. Wilayah administrasi pemerintahan meliputi 16 Kecamatan dan 82 Nagari, serta 467 Jorong. Kemudian dalam wilayah tersebut terdapat dua buah pulau yaitu Pulau Tangah seluas 1 Km2 dan Pulau Ujung seluas 1 Km2, dua buah gunung yaitu Gunung Marapi dengan ketinggian 2.891 meter dan Gunung Singgalang dengan ketinggian 2.877 meter, satu buah danau yaitu Danau Maninjau seluas 9.950 ha dan tiga sungai yaitu Batang Antokan, Batang Kalulutan dan Batang Agam serta mempunyai pantai sepanjang 43 Km. 2.1.2. Letak dan Kondisi Geografis Terletak pada posisi 000 01 34 000 28 43 Lintang Selatan dan 990 46 39 1000 32 50 Bujur Timur. Kabupaten Agam sangat strategis karena dilalui jalur Lintas Tengah Sumatera dan Jalur Lintas Barat Sumatera serta dilalui oleh Fider Road yaitu jalur yang menghubungkan Lintas Barat, Lintas Tengah dan Lintas Timur Sumatera. Kondisi lahan yang terdapat pada wilayah ini merupakan perbukitan/ pegunungan dan pesisir serta kawasan lindung. Basis ekonomi adalah pertanian yang terdiri dari perkebunan, pertanian lahan kering, lahan basah, hortikultura dan peternakan dengan kondisi iklim yang mendukung sepanjang tahun, serta perikanan. Berhubungan dengan kondisi tersebut diatas Kabupaten Agam juga

merupakan daerah rawan bencana dengan potensi gempa bumi, bahaya abrasi, gerakan tanah/longsor, letusan gunung berapi, banjir dan tsunami.

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-1

2.1.3. Topografi Kondisi topografi yang cukup bervariasi, mulai dari dataran tinggi hingga dataran yang relatif rendah, dengan ketinggian berkisar antara 0 sampai 2.891 meter dari permukaan laut. Menurut kondisi fisiografinya, ketinggian atau elevasi wilayah Kabupaten Agam bervariasi antara 2 meter sampai 1.031 meter diatas permukaan laut. Adapun pengelompokan yang didasarkan atas ketinggian adalah sebagai berikut: 1. ketinggian 0-500 m dpl seluas 44,55% sebagian besar berada di wilayah Barat yaitu Kecamatan Tanjung Mutiara, Lubuk Basung, Ampek Nagari dan sebagian Kecamatan Tanjung Raya. 2. ketinggian 500 -1000 m dpl seluas 43,49% berada pada wilayah Kecamatan Baso, Ampek Angkek, Canduang, Malalak, Tilatang Kamang, Palembayan, Palupuh, Banuhampu dan Sungai Pua. 3. ketinggian lebih dari 1000 m dpl seluas 11,96% meliputi sebagian Kecamatan IV Koto, Kecamatan Matur, Canduang dan Sungai Pua. Kawasan sebelah Barat merupakan daerah yang datar sampai landai (0 8 %) mencapai luas 71.956 ha, bagian tengah dan Timur merupakan daerah yang berombak dan berbukit sampai dengan lereng yang sangat terjal (> 45%) dengan luas kawasan 129.352 ha. Kawasan dengan kemiringan yang sangat terjal (> 45%) berada pada jajaran Bukit Barisan dengan puncak Gunung Marapi dan Gunung Singgalang yang terletak di Selatan dan Tenggara Kabupaten Agam.

2.1.4. Geologi Formasi batuan yang dijumpai digolongkan kepada Pra Tersier, Tersier, dan Kuarter. Batuan ini terdiri dari endapan permukaan, sedimen, metamorfik, vulkanik dan intrusi. Batuan vulkanik terdapat di Gunung Marapi, Gunung Singgalang dan Danau Maninjau. Wilayah Kabupaten Agam ditutupi oleh tiga jenis batuan beku yaitu: 1. ekstrusif dengan reaksi intermediet (andesit dari Gunung Marapi, Gunung Singgalang, Gunung Tandikek, Danau Maninjau, dan Gunung Talamau) seluas 68.555,10 ha (32,43%), 2. batuan beku ekstrusif dengan reaksi masam (pumis tuff) seluas 55.867,90 ha (26,43%), 3. batuan sedimen dengan jenis batu kapur seluas 80.011,80 ha (3,79%), endapan alluvium mencapai luas 48.189 ha (22,79%).

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-2

Daerah sekitar Tanjung Raya terdapat lekukan besar Kawah Maninjau yang saat ini berisi air merupakan hasil dari ledakan besar erupsi gunung berapi.

2.1.5. Hidrologi Kondisi hidrologi Kabupaten Agam termasuk kedalam tiga Sistem Wilayah Sungai (SWS) yaitu : SWS Arau, Kuranji, Anai, Mangau, dan Antokan (AKUAMAN), SWS Masang Pasaman dan SWS Indragiri. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai (DAS) terdapat delapan Daerah Aliran Sungai yaitu; DAS Batang Tiku, DAS Andaman, DAS Mangau, DAS Antokan, DAS Masang Kiri, DAS Masang Kanan, DAS Batang Nareh dan DAS Kuantan.

2.1.6. Klimatologi Temperatur udara pada dataran rendah minimum 250C dan maksimum 330C, sedangkan di daratan tinggi temperatur minimum 200C dan maksimum 290C. Kelembaban udara rata-rata 88%, kecepatan angin antara 4-20 km/jam dan penyinaran matahari rata-rata 58%. Musim hujan terjadi antara bulan Januari sampai dengan bulan Mei dan pada bulan September sampai bulan Desember, sedangkan untuk musim kemarau berlangsung antara bulan Juni sampai dengan bulan Agustus. Berdasarkan peta iklim yang dibuat Oldeman (1979) serta data base hidroklimat yang diterbitkan Bakosurtanal (1987), pada wilayah Kabupaten Agam terdapat 4 kelas curah hujan, yaitu: 1. curah hujan lebih dari 4500 mm/tahun tanpa bulan kering (daerah dengan iklim Tipe A), berada di sekitar lereng Gunung Marapi-Singgalang meliputi sebagian wilayah Kecamatan IV Koto dan Sungai Pua. 2. curah hujan 3500 sampai 4500 mm/tahun tanpa bulan kering (daerah dengan tipe A1) mencakup sebagian wilayah Kecamatan Tilatang Kamang, Baso dan Ampek Angkek. 3. curah hujan 3500 sampai 4000 mm/tahun dengan bulan kering selama 1-2 bulan berturut-turut meliputi sebagian Kecamatan Palembayan, Palupuh, dan IV Koto. 4. curah hujan 2500 sampai 3500 mm/tahun dengan bulan kering selama 1-2 bulan berturut- turut, meliputi sebagian wilayah Kecamatan Lubuk Basung dan Tanjung Raya.

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-3

2.1.7. Penggunaan Lahan Penggunaan Lahan di Kabupaten Agam dibagi atas : 1. Kawasan Lindung, terdiri dari kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya (hutan lindung, kawasan resapan air), kawasan perlindungan setempat (sempadan sungai, kawasan sekitar danau dan mata air), dan kawasan suaka alam serta kawasan rawan bencana. 2. Kawasan Budidaya, terdiri dari kawasan permukiman di perkotaan dan perdesaan, kawasan pertanian (lahan basah, lahan kering dengan tanaman tahunan, dan lahan kering dengan tanaman semusim), serta kawasan hutan produksi (tanaman tahunan).

2.1.8. Potensi Pengembangan Wilayah Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) dan Rancangan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Sumatera Barat maka klasifikasi pemanfaatan ruang Kabupaten Agam adalah kawasan budidaya seluas 120.022 ha atau 53,7 % dari luas wilayah administrasi. Kawasan Budidaya meliputi kawasan peruntukan : hutan produksi,

perkebunan, pertanian, perikanan, pertambangan, industri, pariwisata, permukiman dan kawasan peruntukan lainnya.

2.1.8.1. Kawasan Peruntukan Hutan Produksi Kawasan budidaya Hutan Produksi, dibedakan menjadi Hutan Produksi Terbatas, Hutan Produksi Tetap dan Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi. Berdasarkan data Tahun 2010 luas hutan masing-masing peruntukan adalah hutan PPA seluas 27.533,40 hektar, Hutan Lindung seluas 31.560 hektar, Hutan Produksi seluas 6.140 hektar dan Hutan Produksi Terbatas seluas 20.883,40 hektar. Sehingga secara keseluruhan jumlah luas hutan di Kabupaten Agam adalah 82.383,40 hektar.

Kawasan Peruntukan Pertanian


Pembangunan pertanian merupakan sektor utama yang memberikan kontribusi yang besar terhadap pembangunan daerah. Potensi sumberdaya lahan pertanian terbesar adalah lahan sawah dengan luas lahan baku sawah yaitu .28,537 ha, lahan untuk pengembangan tanaman jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, kacang kedelai yang luas lahannya mencapai .7.047 ha. Rencana pengembangan peruntukan budidaya pertanian diarahkan untuk

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-4

pemanfaatan secara intensif lahan yang belum dimanfaatkan dan tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Agam.

2.1.8.2. Kawasan Peruntukan Peternakan Potensi pengembangan usaha peternakan adalah peternakan sapi potong, kambing, itik dan ayam buras. Potensinya sesuai dengan kondisi topografi pada Wilayah Timur dan Wilayah Barat. Wilayah Timur memiliki suhu udara sejuk, tanah yang subur, curah hujan cukup tinggi, hijauan sebagai pakan utama ternak mudah tumbuh dan berkembang. Banyak tersedia limbah pertanian sebagai pakan tambahan karena sebagian besar masyarakat berusaha dibidang pertanian terutama tanaman pangan dan hortikultura. Potensi pasar sangat baik karena dekat dengan kota Bukittinggi, ketersediaan infrastruktur dan fasilitas pendukung, adanya Balai Penyidik Penyakit Veteriner (BPPV Baso) dan adanya kelompok-kelompok usaha peternakan yang sudah berkembang. Wilayah Barat memiliki suhu udara yang panas dengan curah hujan kurang. Limbah pertanian yang dapat dijadikan pakan ternak kurang tersedia, akan tetapi ketersediaan lahan untuk pengembangan usaha peternakan cukup luas. Kawasan ini berpotensi untuk dijadikan kawasan pengembangan dengan sistem integrasi ternak dengan tanaman perkebunan terutama coklat atau sawit.

2.1.8.3. Kawasan Peruntukan Perkebunan Komoditi tanaman yang dominan dan potensial untuk dikembangkan adalah kelapa sawit, kelapa dalam, kulit manis gambir, tebu dan kakao. Pengembangan kawasan perkebunan diarahkan untuk pemanfaatan potensi lahan yang memiliki kesesuaian bagi perkebunan yang berada pada kawasan budidaya, dan

menghindarkan timbulnya konflik pemanfaatan lahan dengan kawasan lindung, kawasan hutan produksi tetap dan produksi terbatas, kawasan industri, serta kawasan permukiman. Sebaran lokasi rencana peruntukan kawasan perkebunan yang ada di Kabupaten Agam meliputi : 1) Karet di Kecamatan Ampek Nagari dan Palembayan; 2) Kelapa di Kecamatan Tanjung Mutiara, Ampek Nagari dan Lubuk Basung; 3) Cengkeh di Kecamatan Tanjung Raya, Matur dan Malalak; 4) Kulit manis di

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-5

Kecamatan Malalak, Matur dan Tanjung Raya; 5) Pala di Kecamatan Tanjung Raya; 6) Gambir di Kecamatan Palupuh; 7) Kakao tersebar di seluruh Kecamatan dan 8) Kelapa Sawit di Kecamatan Ampek Nagari, Palembayan, Tanjung Mutiara serta Lubuk Basung. 2.1.8.4. Kawasan Peruntukan Perikanan Potensi areal sektor perikanan dan kelautan diantaranya garis pantai sepanjang 43 km, laut seluas 313,04 km2, hutan mangroove 65 ha, terumbu karang 27,5 ha, danau 9.950 ha, sungai, telaga dan perairan umum lainnya seluas 568 ha. 1. Perikanan Tangkap Undang-Undang Republik Indonesia No. 22 Tahun 1999 pasal 3, bahwa wilayah Provinsi/Kabupaten, sebagaimana yang dimaksud pasal 2 ayat 1, terdiri atas wilayah darat dan wilayah laut sejauh 12 mil laut yang diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan atau ke arah perairan kepulauan. Sesuai dengan Undang-Undang tersebut maka batas wilayah laut termasuk kawasan perikanan tangkap yang pengelolaannya menjadi wewenang Kabupaten Agam adalah sejauh 4 mil. Rencana pengembangan kawasan perikanan tangkap dikembangkan di Kecamatan Tanjung Mutiara tepatnya di kawasan pesisir Tiku yang memiliki panjang pantai 43 Km. Adapun luas laut yang menjadi kewenangan Kabupaten Agam mencapai 313,04 km2. Perikanan tangkap juga terdapat di kawasan Danau Maninjau. 2. Budi Daya Perikanan Sesuai Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Kep 32/MEN/2010 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan, Kabupaten Agam termasuk salah satu pengembangan kawasan Minapolitan di Indonesia. Rencana pengembangan perikanan budidaya ikan air tawar di Kabupaten Agam meliputi : a. Pusat Kawasan Minapolitan terdapat di Kawasan Maninjau b. Sentra pengembangan Unit Pembenihan Rakyat (UPR) Majalaya, Nila dan pengembangan budidaya mina padi di Kecamatan Tilatang Kamang dan Kamang Magek. c. Sentra budidaya ikan air tawar: Nila, Patin dan Majalaya serta pengembangan Keramba Jaring Apung (KJA) Ramah Lingkungan dan UPR Nila dan Majalaya di sekitar Kawasan Danau Maninjau. Untuk pengembangan budidaya di sekitar Danau Maninjau, harus mengacu pada Peraturan Bupati No.22 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Danau Maninjau
RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-6

(jarak KJA dari pantai 50-100 m dan 200 m dari objek wisata), dan adanya zonasi. d. Sentra budidaya ikan Patin dan pengolahan Lele di Kecamatan Palembayan. e. Sentra pengembangan Nila, Mas dan Lele serta pengembangan UPR di Kecamatan Lubuk Basung. 3. Pengolahan Ikan Dengan produksi tangkapan ikan laut yang mencapai 5.722,78 ton dan produksi perikanan budidaya air tawar yang mencapai 55.670,35 ton pada Tahun 2008, Untuk lokasi pengembangan kawasan pengolahan ikan, akan dialokasikan di sekitar Kawasan Pesisir Tiku, dimana kedepannya akan dikembangkan pelabuhan Perikanan Tiku.

2.1.8.5. Kawasan Pertambangan Pemerintah menetapkan Wilayah Pertambangan (WP), yang terdiri dari : 1. Wilayah Usaha Pertambangan (WUP), adalah bagian dari Wilayah Pertambangan (WP) yang telah memiliki ketersediaan data, potensi, dan/atau informasi geologi. WUP ditetapkan oleh pemerintah pusat melalui koordinasi dengan pemerintah provinsi. Wilayah yang telah mendapat Izin Usaha Pertambangan (IUP), yang selanjutnya disebut WIUP di Provinsi Sumatera Barat terdapat di Kabupaten Agam, yaitu Keputusan Gubernur Sumatera Barat Nomor 544-211-2008 tentang Pemberian Kuasa Pertambangan Eksplorasi Bahan Galian Pasir Besi. Dalam Keputusan Gubernur Sumatera Barat disebutkan bahwa, memberikan Kuasa Pertambangan (KP) Eksplorasi untuk jangka waktu 3 (tiga) tahun kepada PT. Minang Mining Makao (PT.MMM) dengan bahan galian pasir besi dengan luas kuasa pertambangan yang ada di wilayah Kabupaten Agam seluas 16.540 ha. 2. Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR), adalah bagian dari Wilayah Pertambangan (WP) tempat dilakukannya Usaha Pertambangan Rakyat. WPR ditetapkan oleh Bupati/walikota, sesuai pasal 21, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan. Potensi bahan galian tambang golongan B yang dimiliki daerah ini seperti biji besi di Kecamatan Matur, pasir besi di Kecamatan Tanjung Mutiara. Sedangkan potensi bahan galian golongan C seperti andesit, granit, dolomit, dan marmer terdapat di Kecamatan Tilatang Kamang, Kecamatan Palupuh, Kecamatan IV Koto,
RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-7

Kecamatan Tanjung Raya, Kecamatan Matur, Kecamatan Baso dan Kecamatan Lubuk Basung. 2.1.8.6. Kawasan Peruntukan Industri 1. Kawasan Peruntukan Industri Besar Peruntukan kawasan industri besar diarahkan di Kecamatan Tanjung Mutiara, Kecamatan Ampek Nagari dan Palembayan. Industri besar yang berpotensi untuk dikembangkan adalah industri hasil tambang dan pengolahan hasil perkebunan. 2. Kawasan Peruntukan Industri Sedang Peruntukan kawasan industri sedang diarahkan di Kecamatan Baso, Kecamatan Ampek Angkek, Kecamatan Canduang dan Kamang Magek. Industri sedang yang dikembangkan adalah agro industri, batu kapur dan indutri pengolahan kayu. Dengan adanya pemusatan kawasan industri sedang (agro industri) diharapkan hasil pertanian dapat diolah dulu sebelum dipasarkan ke luar wilayah Agam, sehingga dapat memberikan nilai tambah yang menguntungkan bagi masyarakat maupun pemerintah setempat. 3. Kawasan Peruntukan Industri Rumah Tangga Peruntukan kawasan industri rumah tangga dipusatkan di wilayah Timur Agam, yang merupakan sentra industri kecil yang mayoritas merupakan penunjang kegiatan pariwisata dan memiliki karakteristik rendah polutan, seperti industri konveksi, bordir, sulaman, perak dan makanan kecil. Peruntukan lahan diarahkan di Kecamatan Ampek Angkek, IV Koto dan Kecamatan Canduang. 2.1.8.7. Kawasan Pariwisata Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, pembangunan kepariwisataan dilakukan melalui pengembangan industri pariwisata, destinasi pariwisata, pemasaran dan kelembagaan pariwisata. Upaya

pengembangan kepariwisataan juga tetap dikaitkan dengan daerah tujuan wisata (destinasi) Provinsi yaitu Kota Bukittinggi dan Kota Padang serta nasional; Jakarta, Yogjakarta, dan Bali sebagai satu kesatuan destinasi wisata nasional sekaligus untuk menarik minat pengunjung, ditujukan terhadap wisatawan nusantara maupun mancanegara.

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-8

Daerah tujuan pariwisata yang selanjutnya disebut Destinasi Pariwisata adalah kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah administratif yang didalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan. Pengembangan kepariwisataan untuk masa yang akan datang Kabupaten Agam masuk kedalam Destinasi Pengembangan Pariwisata I (DPP I) dimana DPP I ini meliputi koridor Bukittinggi, Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Limapuluh Kota, dan Kota Payakumbuh. DPP ini dominasi atraksi Budaya, Belanja, Meeting Incentive Convention Exibition (MICE), kerajinan, kesenian, peninggalan sejarah, danau, pegunungan, serta flora dan fauna dengan pusat layanan di Kota Bukittinggi. Pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Agam secara umum dibagi dalam tiga wilayah dengan rincian sebagai berikut : 1. Wilayah Barat a. Kawasan Pesisir Tiku : sentra perikanan laut dan darat salah satu outlet komoditi unggulan perikanan Kabupaten Agam. b. Produk wisata alam dan budaya bahari (rekreasi pantai, pulau, diving/ snorkling, budaya, nelayan dll ) memanfaatkan potensi perikanan, sumber daya alam bahari, dan budaya bahari; pendukung: wisata kuliner. 2. Wilayah Tengah a. Kawasan pariwisata Danau Maninjau, memiliki fungsi untuk menjaga keseimbangan lingkungan alam sekitarnya. b. Produk wisata alam (rekreasi gunung, danau) dan wisata budaya (sejarah dan event), pendukung: kuliner, agrotourism. c. Objek wisata Danau Maninjau, Puncak Lawang, Embun Pagi, Rumah Kelahiran Buya Hamka, core event (paralayang) dan supporting events (seperti off road, pacu biduk dll). 3. Wilayah Timur a. Kawasan Agropolitan Ampek Angkek, Canduang-Baso : sentra pengembangan kegiatan pertanian (agrowisata) b. Produk wisata minat khusus: agrowisata dan wisata perdesaan c. Lahan pertanian padi, palawija, buah-buahan, perkebunan kakao. 2.1.8.8. Kawasan Permukiman

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-9

Kawasan permukiman merupakan kawasan di luar kawasan lindung yang digunakan sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian masyarakat yang berada di wilayah perkotaan dan perdesaan, dengan mempertimbangkan kelestarian lingkungan dan diupayakan tidak melakukan peralihan fungsi terhadap lahan pertanian teknis. Sebagian besar kawasan terbangun berupa permukiman, yang dapat dibedakan dalam dua kelompok yakni permukiman perkotaan, dan permukiman perdesaan. Permukiman perkotaan meliputi kawasan ibukota kecamatan dan kawasan stategis berbatasan yang meliputi 17 nagari disekitar Kota Bukittinggi yaitu : Gadut, Kapau, Biaro Gadang, Ampang Gadang, Balai Gurah, Pasie, Batu Taba, Sekitar Bukit Batabuah, Kubang Putih, Taluak IV Suku, Padang Luar dan Sungai Tanang, Guguak Tabek Sarojo, Koto Gadang, Sianok VI Suku, Koto Panjang. Sedangkan pemukiman non perkotaan adalah seluruh kawasan non perkotaan yang ada di masing-masing wilayah Kecamatan yang ada di Kabupaten Agam. Dengan ketentuan kawasan tersebut diluar dari kawasan lindung dan kawasan bencana serta peruntukan perkebunan, pertanian dan budidaya lainnya yang telah ditetapkan dalam rencana pola ruang.

2.1.8.9. Wilayah Rawan Bencana Kabupaten Agam merupakan daerah rawan bencana, baik bencana alam maupun bencana geologi. Sesuai dengan profil rawan bencana yang disusun pada Tahun 2008, jenis-jenis bencana sebagai berikut: 1. Bahaya Sesar Aktif Bahaya sesar aktif adalah bagian dari lempeng bumi yang mengalami patahan atau tersesarkan dan masih bergerak hingga saat ini. Sesar aktif ditunjukkan oleh bentuk kelurusan topografi dimana lokasi pusat gempa terjadi disekitarnya. Pada wilayah Kabupaten Agam, sesar aktif memotong 6 kecamatan yaitu Kecamatan Palupuh, Palembayan, Matur, IV Koto, Banuhampu dan Sungai Pua. 2. Bahaya Seismisitas Gempa Bahaya seismisitas gempa merupakan bencana yang terjadi disebabkan oleh terlepasnya energi tektonik kerak bumi. Di wilayah Kabupaten Agam zonasi kerusakan akibat terpaan gelombang seismik gempa. Daerah lepas pantai merupakan tempat dimana subduksi tektonik terjadi. Distribusi pusat gempa dilepas pantai berpotensi menyebabkan terjadinya tsunami. Wilayah yang potensial dihempas hantaman tsunami adalah II-10

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

daerah sekitar Jorong Subang-Subang, Jorong Labuhan, Jorong Muaro Putuih, Jorong Masang, Nagari Tiku Selatan dan sebagian Nagari Bawan di Kecamatan Ampek Nagari. 3. Letusan Gunung Api Kabupaten Agam berada pada dua gunung aktif yaitu Gunung Marapi dan Gunung Tandikek. Sebaran produk letusan dari Gunung Marapi cenderung menuju ke arah tenggara sedangkan letusan dari Gunung Tandikek menuju ke arah selatan. Daerah-daerah yang perlu mendapat perhatian dari letusan gunung api antara lain: a. Letusan Gunung Marapi : aliran Batang Sarik, Limo Kampuang, Tabek, Kapalo Koto, Lukok satu, Surau Baru, Padang laweh, Lubuk dan Pulungan.

b. Letusan Gunung Tandikek: letusan ini tidak terlalu membahayakan


kecuali di sekitar daerah Toboh.

4. Bahaya Gerakan Tanah/Longsoran Gerakan tanah/longsoran adalah proses pemindahan/pergerakan massa tanah dan batuan karena pengaruh gaya gravitasi. Jenis gerakan tanah yang umum dijumpai adalah jatuhan (falls), gelincir (slides), nendatan (slumps), aliran (flows) dan rayapan (creeps). Gerakan tanah/longsoran terjadi akibat beberapa faktor seperti jenis dan sifat batuan/tanah, sudut kemiringan lereng, curah hujan, tutupan vegetasi, ulah manusia atau akibat pembangunan fisik dan keteknikan. a. Jatuhan (Debris Falls) Jatuhan merupakan gerakan bebas dari massa atau material tanah atau batuan yang berasal dari lereng curam. Tipe jatuhan yang terdapat di Kabupaten Agam diwakili oleh Batuan Tufa Kuarter seperti yang terdapat di Ngarai Sianok. Batuan penyusunnya adalah pasir tufa yang sangat mudah hancur dan lepas-lepas akibat rekahan-rekahan yang terdapat didalamnya serta membentuk lereng sangat curam dan hampir tegak. Jatuhan terjadi akibat meresapnya air hujan ke dalam batuan tufa yang porus sehingga menambah berat massa batuan dan

memperlemah ikatan antar rekahan dan pori di dalam batuan tersebut. Proses lain yang dapat mengakibatkan longsoran antara lain karena kikisan atau erosi maupun pekerjaan galian di bagian dasar ngarai. b. Gelinciran (Sliding) II-11

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

Gelinciran adalah gerakan massa tanah atau batuan sepanjang lereng perbukitan dan pegunungan yang terlepas dari ikatan tanah atau batuan asalnya. Gelinciran berlangsung secara cepat dan tiba-tiba dengan kecepatan tinggi. Pergerakan umumnya disebabkan oleh pertambahan massa air yang bercampur dengan rombakan tanah atau batuan dan mengakibatkan massa tanah atau batuan berkurang daya ikatnya dan menjadi berat. Tanah atau batuan yang menyusun tipe gelinciran pada umumnya terjadi dari massa pasiran atau bongkah-bongkah batuan lepas dalam beberapa ukuran mulai dari ukuran kerikil sampai bongkahan berukuran besar lebih dari 5 meter. Tipe gelinciran paling banyak dijumpai pada dinding jalan dan lereng/lembah sungai dalam berbagai ukuran seperti yang terdapat di sekitar Jorong Galapuang Sungai Lintabung sebelah selatan Danau Maninjau. c. Nendatan (Slumps) Longsoran ini dikenali dengan adanya retakan di permukaan.

Pergerakan longsoran diperlihatkan dari bentuk permukaan berupa lingkaran atau tapal kuda. Longsoran tipe ini terdapat di sekitar lereng luar Gunung Singgalang yaitu di jalan antara Koto Tuo-Balingka (jalan masuk ke stasiun transmisi Telkom) dan di jalan antara MaturPalembayan.

5. Bahaya Banjir Banjir terjadi apabila ekses atau kelebihan air tidak dapat ditampung pada tempatnya sehingga melimpah keluar. Tempat penyimpanan air secara alamiah adalah sungai, rawa, danau atau bendungan. Daerah banjir terjadi sepanjang aliran sungai seperti Batang Tiku, Batang Pingai, Batang Kalulutan, Batang Dareh, Batang Bawan, Batang Sitanang, bagian hilir dari Batang Simpang Jernih dan Simpang Keruh serta Batang Layah. Banjir pada sungai sungai tersebut, pada umumnya terbatas pada morfologi dataran banjir (flood plain). Selain dari lokasi-lokasi tersebut banjir juga terjadi pada daerah rawa di sekitar dataran pantai, yang juga berhubungan dengan aliran sungai di bagian hilir. Wilayah yang berpotensi banjir adalah 1) Nagari Salareh Aia di Kecamatan Palembayan; 2) Nagari Lubuk Basung di Kecamatan Lubuk Basung; 3) Nagari Bawan, Batu Kambiang dan Sitalang di Kecamatan Ampek Nagari,

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-12

4) Nagari Tiku V Jorong di Kecamatan Tanjung Mutiara; 5) Nagari Balingka di Kecamatan IV Koto dan 6) Nagari Pasia Laweh di Kecamatan Palupuah. 6. Abrasi Abrasi merupakan salah satu bagian dari proses perubahan muka air laut setempat yang dalam istilah ilmiah disebut Relative Sea Level Change (RSLC). Abrasi atau erosi garis pantai mengubah garis pantai berpindah ke arah daratan. Lawan dari abrasi adalah akresi atau sedimentasi yang menyebabkan garis pantai maju ke arah laut. Proses yang terlibat dalam perubahan garis pantai diakibatkan oleh banyak hal diantaranya kondisi geologi dan morfologi pantai, kondisi ekologi, klimatologi dan oseanologi. Dari semua faktor tersebut di atas pengaruh gelombang dan arus laut merupakan faktor dominan. Gelombang berfungsi menghancurkan

sedimen yang menyusun garis pantai dan arus laut mengangkut hasil rombakan searah dengan arah arus laut. Wilayah yang berpotensi terkena abrasi adalah 1) Masang sepanjang 800 meter; 2) Ujung Masang sepanjang 1.100 meter; 3) Muaro Putuih sepanjang 300 meter; 4) Ujung Labung sepanjang 500 meter; 5) Pasia Paneh sepanjang 200 meter dan 6) Pelabuhan Tiku sepanjang 100 meter. 2.1.9. Demografi 2.1.9.1. Jumlah Penduduk Peningkatan jumlah penduduk selama periode 5 tahun adalah sebesar 15.873 jiwa, yaitu dari 439.611 jiwa pada Tahun 2006 menjadi 455.484 jiwa pada Tahun 2010.

2.1.9.2. Kepadatan Penduduk Tingkat kepadatan penduduk masih rendah dengan rata-rata kepadatan 200 jiwa/Km . Beberapa kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kota Bukittinggi, tingkat kepadatan penduduk relatif tinggi yaitu Kecamatan Banuhampu dan Kecamatan Ampek Angkek. Tingkat kepadatan penduduk dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu kepadatan rendah, kepadatan sedang dan kepadatan tinggi..
2.

2.1.9.3. Proyeksi Penduduk

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-13

Proyeksi penduduk dilakukan guna memprediksi tingkat perkembangan penduduk untuk 5 tahun kedepan, sehingga diharapkan dari hasil proyeksi tersebut dapat diketahui kebutuhan-kebutuhan sarana dan prasarana yang diperlukan, termasuk kebutuhan lahan yang harus disediakan. Hasil proyeksi yang dilakukan berdasarkan metode eksponensial, dapat diketahui bahwa pada Tahun 2015, diperkirakan penduduk Kabupaten Agam berjumlah 504.629 jiwa.

2.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat 2.2.1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Pembangunan ekonomi adalah serangkaian usaha yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat secara merata, memperluas lapangan pekerjaan, pergeseran meningkatkan hubungan ekonomi regional dan mengusahakan perkembangan

kegiatan-kegiatan

ekonomi.

Analisa

mengenai

perekonomian suatu daerah sangat diperlukan untuk perencanaan pembangunan, khususnya perencanaan pembangunan sektor ekonomi yang akan mewujudkan kemandirian daerah. Pada sub bab ini akan diuraikan mengenai struktur ekonomi Kabupaten Agam berupa analisa peranan sektor-sektor atau lapangan usaha dalam membentuk Produk Domistik Regional Bruto (PDRB), PDRB perkapita dan laju pertumbuhan ekonomi.

2.2.1.1. Struktur dan Perkembangan Perekonomian Dari tahun ke tahun perekonomian Kabupaten Agam terus mengalami perkembangan, walaupun Tahun 2009 dan Tahun 2010 perkembangannya sedikit melemah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi setiap tahun merupakan agregat dari pertumbuhan sektor-sektor lain. Untuk melihat kinerja masing-masing sektor atau sub sektor ekonomi dapat dilihat perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektoral. PDRB merupakan hasil penjumlahan dari seluruh nilai tambah (produk barang dan jasa yang diproduksi di suatu wilayah

tertentu dalam waktu tertentu). Perkembangan yang terjadi di masing-masing sektor ekonomi dapat lebih pesat atau lebih lambat dibandingkan dengan perkembangan PDRB secara total. Artinya pertumbuhan nilai tambah masing-masing sektor atau sub sektor yang terjadi selama satu periode tertentu akan menunjang pertumbuhan ekonomi suatu wilayah secara keseluruhan pada periode tersebut. Untuk lebih jelasnya berikut diuraikan perkembangan PDRB Kabupaten Agam Tahun 2005- 2009 II-14

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

baik atas dasar harga berlaku maupun harga konstan. PDRB atas dasar harga berlaku adalah PDRB yang menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung dengan menggunakan harga pada tahun bersangkutan ( harga yang terjadi setiap tahunnya ). PDRB atas dasar harga konstan adalah PDRB yang menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung dengan menggunakan harga pada tahun tertentu sebagai tahun dasar. Penghitungan PDRB ini menggunakan Tahun 2000 sebagai tahun dasar.

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-15

Tabel II.7 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2005 2009 atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 Kabupaten Agam (Dalam Jutaan Rupiah).
2005 NO SEKTOR (Rp. )
1 2

2006 %
35 3,83 14,10 0,91 4,45 17,53

2007 %
35,83 3,79 13,85 0,92 4,41 17,54

2008 %
36,66 3,78 13,58 0,93 4,36 17,53

2009 %
37,25 3,81 13,32 0,89 4,35 17,62

(Rp. )
884.512,79 93.586,76 341.875,08 22.752,34 108.906,29 432.916,64

(Rp. )
962.825,65 99.280,97 356.518,76 24.388,51 114.550,99 460.400,98

(Rp. )
1.040.225,40 106.488,76 372.027,32 24.910,27 121.435,50 492.154,02

(Rp. )
1.096.917,80 110.002,90 387.838,48 26.426,66 130,640,31 507.251,21

%
37,44 3,75 13,24 0,90 4,46 17,31

Pertanian Pertambangan dan Penggalian

813.823,80 88.977,89 327.923,50 21.232,67 103.554,88 407.574,24

3 4 5 6

Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran.

Pengangkutan dan Komunikasi

102.693,90

4,42

107.251,63

4,34

112,822,25

4,30

119.724,38

4,29

128.143,94

4,37

Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan

82.437,83 376.942,98 2.325.161,69

3,55 16,21 100

86.427,67 390.532,61 2.468.761,80

3,50 15,82 100

90.581,59 404.696,88 2.626.066,59

3,45 15,41 100

96.028,49 419.893,13 2.792.887,28

3,44 15,03 100

100.294,40 442.355,98 2.929.871,68

3,42 15,10 100

Jasa-Jasa PDRB

Sumber : PDRB Kabupaten Agam Tahun 2005 2009

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-16

Tabel II.8 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2005 2009 atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Agam (Dalam Jutaan Rupiah).
2005 NO SEKTOR (Rp. )
1 2 3 4 5

2006 %
36,44 4,41 12,81 1,07 4,95 15,93 5,09 4,05 15,24 100

2007 %
39,07 4,29 11,95 1,06 4,93 15,36 5,09 4,01 14,25 100

2008 %
40,78 4,13 11,40 1,02 5,09 15,05 5,18 4,02 13,32 100

2009 %
40,90 4,11 11,38 0,92 5,21 15,30 5,20 3,90 13,07 100

(Rp. )
1.533.420,74 93.586,76 341.875,08 22.752,34 108.906,29 432.916,64 107.251,63 86,427,67 390.532,61 3.924.766,91

(Rp. )
962.825,65 99.280,97 356.518,76 24.388,51 114.550,99 460.400,98 112.822,25 90.581,59 404.696,88 4.462.495,48

(Rp. )
2.129.236,29 214.102,03 592.565,11 47.884,94 271.381,14 796.698,69 270.620,85 202.900,41 680.546,85 5.205.936,30

(Rp. )
2.412.971,90 239.413,71 617.749,13 52.514,57 307.731,83 874.203,11 302.877,04 225.500,34 798.021,41 5.830.983,04

%
41,38 4,11 10,59 0,90 5,28 14,99 5,19 3,87 13,69 100

Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel dan

1.230.982,18 148.991,21 432.553,56 36.115,97 167.339,59 538.188,59 171.948,27 136.872,63 514.965,22 3.377.957,22

Restoran. Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa

Perusahaan Jasa-Jasa PDRB

Sumber : PDRB Kabupaten Agam Tahun 2005 2009

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-17

Struktur perekonomian yang terjadi di suatu wilayah menunjukkan besar kecilnya pengaruh sektor perekonomian tertentu terhadap pembentukan PDRB di daerah tersebut. Sebagai daerah agraris struktur ekonomi masih didominasi sektor pertanian dengan sub sektor terdiri dari tanaman pangan dan hortikultura, tanaman perkebunan, peternakan dan hasil-hasilnya serta perikanan. Peran sektor pertanian sejak Tahun 2005 hingga Tahun 2009 memperlihatkan trend meningkat. Tahun 2005 peranan sektor pertanian dalam pembentukan PDRB adalah sebesar 36,44 %, meningkat menjadi 40,90 % Tahun 2008, dan pada Tahun 2009 menjadi 41,38 % dari total PDRB menurut harga berlaku. Jika dilihat menurut sub sektor pembentuknya, sub sektor tanaman pangan dan hortikultura memberikan sumbangan yang terbesar. Pada Tahun 2008 sub sektor tanaman pangan dan hortikultura memberi kontribusi sebesar 23 % terhadap PDRB, menjadi 23,63 % pada Tahun 2009. Sektor tanaman perkebunan juga memberikan peranan yang cukup besar terhadap pembentukan PDRB, namun berfluktuatif. Tahun 2005 peranan perkebunan sebesar 10,71 %. meningkat hingga Tahun 2007 menjadi 11,85, pada tahun 2008 peranannya turun menjadi 11,75 % dan kembali turun pada Tahun 2009 menjadi 11,60 %. Sub sektor lainnya yang tergabung dalam sektor pertanian adalah sub sektor peternakan dan hasil-hasilnya. Tahun 2008 sumbangan sub sektor peternakan dan hasil-hasilnya terhadap total PDRB adalah 3,17 %, sedangkan pada Tahun 2009 peranannya cenderung sama yaitu 3,18 %. Sub sektor kehutanan memberikan sumbangan terkecil. Tahun 2008 sub sektor kehutanan hanya memberi kontribusi 0,77 %, Tahun 2009 turun menjadi 0,72 %. Sub sektor perikanan Tahun 2005 kontribusinya sebesar 1,82 %, terus meningkat menjadi 1,92 % di Tahun 2006, 2,16 % di Tahun 2007, 2,22 % di Tahun 2008 dan 2,25 % di Tahun 2009. Dengan struktur ekonomi yang didominasi oleh sektor pertanian, Kabupaten Agam mempunyai potensi yang cukup besar untuk dikembangkan. Berbagai jenis produk hasil pertanian dan perikanan sebagai bahan baku menjadi pendorong berkembangnya industri pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah produk dan menyerap tenaga kerja. Disamping itu meningkatkan produktifitas sektor pertanian juga masih sangat penting untuk menjadi perhatian, karena produktifitas pertanian di Kabupaten Agam masih relatif rendah. Masih banyak lahan-lahan tidur yang tidak dimanfaatkan. Perlu juga dibentuk regulasi yang jelas untuk menekan alih fungsi lahan pertanian. Sektor kedua yang memberikan peranan terbesar dalam membentuk PDRB adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran. Namun peranannya dari Tahun

2005 sampai Tahun 2007 menurun yaitu sebesar 15,93 % Tahun 2005, 15,36 % II-18

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

Tahun 2006 dan 15,05 % Tahun 2007. Tahun 2008 meningkat menjadi 15,30 % dan Tahun 2009 kembali menurun menjadi 14,99 %. Jika dilihat menurut sub sektor penyusunnya, sub sektor perdagangan besar dan eceran merupakan sub sektor yang mempunyai peranan terbesar dan dominan dalam pembentukan nilai tambah sektor perdagangan, hotel dan restoran. Tahun 2005 peranannya sebesar 15,14 %, pada Tahun 2006 turun menjadi 14,56 %, Tahun 2007 kembali turun menjadi 14,21.%, Tahun 2008 naik menjadi 14,59 % dan kembali turun pada Tahun 2009 menjadi 14,22 %. Sedangkan pada sub sektor hotel dari Tahun 2005 sampai dengan Tahun 2007 terus meningkat yaitu 0,42 % Tahun 2005, 0,44 % Tahun 2006 dan 0,49.% Tahun 2007. Tahun 2008 sebesar 0,46 dan tahun 2009 kembali menurun yaitu sebesar 0,44 %.Sub sektor lainnya yang tergabung dalam sektor perdagangan, hotel dan restoran adalah sub sektor restoran. Sub sektor ini dari Tahun 2005 sampai dengan Tahun 2009 terus mengalami penurunan, yaitu sebesar 0,38 % Tahun 2005 menjadi 0,33 % Tahun 2009. Sektor ketiga yang memberikan kontribusi terbesar dalam membentuk PDRB adalah sektor jasa-jasa, namun kontribusinya dari taHun 2005 sampai dengan Tahun 2008 terus menurun dan pada Tahun 2009 meningkat kembali, sama halnya dengan kontribusi sub sektornya. Besarnya kontribusi sektor jasa-jasa pada Tahun 2005 yaitu 15,24 %, Tahun 2006 14,25 %, 13,07 dan pada Tahun 2009 13,69 %. Peningkatan kontribusi ini didorong oleh meningkatnya kontribusi sub sektor pelayanan umum dan pertanahan yaitu 11,19 % di Tahun 2008 dan 11,79 di Tahun 2009. Sub sektor jata memberikan kontribusi 1,89 % di Tahun 2008 meningkat menjadi 1,90 % di Tahun 2009. Industri pengolahan merupakan sektor keempat yang peranannya cukup besar dalam pembentukan nilai tambah PDRB. Tahun 2005 kontibusinya 12,81 %, Tahun 2006 sebesar 11,95 %, Tahun 2007 sebesar 11,40 %, Tahun 2008 sebesar 11,38 % dan Tahun 2009 10,59 %. Sektor ini didominasi sub sektor industri non migas. Sektor lainnya yang turut andil dalam pembentukan PDRB adalah sektor bangunan. Peranannya dalam PDRB sedikit mengalami peningkatan yaitu 5,21 % pada Tahun 2008 dan meningkat menjadi 5,28 pada Tahun 2009. Sektor pengangkutan dan komunikasi memberikan peranan cenderung konstan. Pada Tahun 2008 peranan sektor pengangkutan dan komunikasi adalah 5,20 % kemudian pada Tahun 2009 peranannya sedikit menurun menjadi 5,19%. Sektor pertambangan dan penggalian memiliki kontribusi sebesar 4,41 % pada Tahun 2005, 4,29 % Tahun 2006, 4,13 % Tahun 2007, 4,11 % padan Tahun 2008 dan 2009. Sektor keuangan , persewaan dan jasa perusahaan memberikan kontribusi berturut-turut dari Tahun II-19

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

2005 yaitu 4,05 %, 4,01 %, 4,02 %, 3,90 % dan 3,87 %, cenderung konstan. Dan sektor yang terkecil memberikan kontribusi dalam membentuk PDRB Kabupaten Agam adalah sektor listrik, gas dan air bersih yaitu 1,07 % Tahun 2005, 1,06 % Tahun 2006, 1,02 % pada Tahun 2007, 0,92 % Tahun 2008 dan 0,90 % Tahun 2009, juga cenderung konstan.

2.2.1.2. PDRB Perkapita dan Pengeluaran Perkapita PDRB perkapita merupakan hasil bagi antara nilai nominal PDRB dengan jumlah penduduk pertengahan tahun pada masing-masing tahun yang sama. Secara umum PDRB perkapita selalu mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh lebih tingginya peningkatan PDRB dibandingkan dengan peningkatan jumlah penduduk. Tabel berikut memperlihatkan PDRB perkapita dan Pendapatan Regional Perkapita Kabupaten Agam Tahun 2005-2009 berdasarkan harga berlaku. Tabel II.9 PDRB Perkapita dan Pendapatan Regional Perkapita Kabupaten Agam Tahun 2005 2009 Berdasarkan Harga Berlaku.
Tahun 1 2005 2006 2007 2008 2009 PDRB Perkapita (ribuan rupiah) 2 7.948,47 9.196,51 10.417,99 12.111,84 13.566,04 Perubahan ( % ) 3 19,19 15,70 13,28 16,25 9,25 Pendapatan regional Perkapita (ribuan rupiah) 4 7.738,03 8.942,05 10.132,94 11.790,46 13.190,67 Perubahan ( % ) 5 19,30 15,56 13,31 16,35 11,86

Sumber ; PDRB Kabupaten Agam Tahun 2005-2009

Untuk

menggambarkan

tingkat

kesejahteraan

penduduk

diperlukan

indikator lain yaitu Pendapatan Regional Perkapita dan Pengeluaran Perkapita. Pendapatan Regional Perkapita diperoleh setelah PDRB dikurangi penyusutan pajak tak langsung netto serta transfer netto kemudian dibagi jumlah penduduk pertengahan tahun. Dari Tabel II.10 diatas terlihat bahwa PDRB perkapita Tahun 2009 mencapai 13,56 juta rupiah. Nilai ini meningkat sebesar 1,45 juta rupiah dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 12,11 juta rupiah. Pendapatan Regional Perkapita Tahun 2009 sebesar 13,19 juta rupiah meningkat dari Tahun 2008 yang nilainya hanya 11,79 juta rupiah.

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-20

2.2.1.2.1. Laju Pertumbuhan Ekonomi Perekonomian Kabupaten Agam Selama kurun waktu 2005 sampai 2008 terus membaik. Hal ini ditunjukkan oleh angka pertumbuhan ekonomi yaitu 6,13 % pada Tahun 2005, 6,18 % Tahun 2006, 6,33 % Tahun 2007 dan 6,38% pada Tahun 2008. Dari Tahun 2006 ke Tahun 2007 merupakan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tertinggi. Pertumbuhan ekonomi pada kurun waktu tersebut diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi Nasional. Tetapi pada akhir Tahun 2009 pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan yang sangat signifikan, dimana angka

pertumbuhan ekonomi hanya mencapai angka 4,9 %. Kondisi ini berkaitan langsung dengan pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat yang juga mengalami perlambatan mencapai angka 4,16 % yang disebabkan karena adanya kiris global yang mempengaruhi volume permintaan dan akibat gempa bumi tanggal 30 September 2009. Pada Tahun 2010 laju pertumbuhan ekonomi mencapai angka 5,66 % .

2.2.1.3. Persentase Penduduk Dibawah Garis Kemiskinan Tabel II.10 Jumlah Rumah Tangga Miskin Tahun 2005 dan Rumah Tangga Sasaran Tahun 2008
NO. Kecamatan Jumlah RTM 2005 Jumlah 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. Tanjung Mutiara Lubuk Basung Ampek Nagari Tanjuang Raya Matur IV Koto Malalak Banuhampu Sungai Pua Ampek Angkek Canduang Baso Tilatang Kamang Kamang Magek Palembayan Palupuah Jumlah 4.900 14.021 4.815 7.229 4.259 5.545 2.149 7.689 5.310 8.927 5.242 7.518 7.520 4.773 7.185 3.483 100.565 1.579 2.358 1.081 2.507 1.309 992 558 1.008 946 1.142 1.552 2.045 1.808 1.151 2.092 1.425 23.551 % 32.22 16.82 22.45 34.68 30.73 17.89 25.87 13.11 17.82 12.79 29.61 27.20 24.04 24.11 29.12 40.91 23.42 RTS 2008 Jumlah 1,029 1,608 920 2,126 1,167 861 346 908 665 934 1,305 1,621 1,185 907 1,810 1,294 18,686 % 21 11.47 19.11 29.41 27.40 15.53 16.10 11.81 12.52 10.46 24.90 21.56 15.76 19.00 25.19 37.15 18.58

Sumber: Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Kab. Agam 2009

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-21

Tabel II.10 menunjukkan bahwa dengan telah dilaksanakannya berbagai koordinasi perumusan kebijakan dan sinkronisasi pelaksanaan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan dan penurunan kesenjangan oleh Tim Koordinasi

Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) selama 4 tahun, maka sampai dengan Tahun 2008, telah terjadi penurunan angka kemiskinan menjadi 18.666 KK, namun pada Tahun 2009 meningkat menjadi 19.620 KK atau 5,11% dibanding Tahun 2008, yang disebabkan oleh terjadinya bencana gempa yang menghancurkan infrastruktur ekonomi dan sosial masyarakat.

2.2.2. Fokus Kesejahteraan Masyarakat Analisis kinerja atas fokus kesejahteraan masyarakat dilakukan terhadap beberapa indikator yang meliputi : Angka Melek Huruf, Angka Rata-Rata Lama Sekolah, Angka Partisipasi Kasar, Angka Pendidikan yang Ditamatkan, Angka Partisipasi Murni, Angka Kelangsungan Hidup Bayi, Angka Usia Harapan Hidup, persentase penduduk yang memiliki lahan, dan rasio penduduk yang bekerja. Berikut ini disajikan hasil analisis dari beberapa indikator kinerja pada fokus kesejahteraan sosial, sebagai berikut: 2.2.2.1.Pendidikan 1. Angka Melek Huruf Berdasarkan Profil Pendidikan Kabupaten Agam Tahun 2009/2010, angka melek huruf selama 5 tahun terakhir cenderung menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. Pada Tahun 2006 Angka Melek Huruf sebesar 97,78% meningkat menjadi 97,79% pada Tahun 2007 dan meningkat lagi menjadi 97,82% pada Tahun 2008, Tahun 2009 meningkat menjadi 98,84% dan Tahun 2010 menjadi 99,53%. Walaupun cakupannya cenderung meningkat, namun peningkatannya relatif sangat kecil sehingga masih belum mencapai target yang ditetapkan yaitu sebesar 99,98%. Pada Tahun 2010 masih terdapat sebanyak 1.417 orang masyarakat yang berusia di atas 15 tahun yang belum dapat membaca dan menulis yang tersebar pada 13. Untuk lebih mengetahui Angka Melek Huruf masing-masing Kecamatan dapat dilihat pada tabel II.11 di bawah ini :

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-22

Tabel II.11 Angka Melek Huruf Menurut Kecamatan Di Kabupaten Agam Tahun 2010
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Kecamatan Tanjung Mutiara Lubuk Basung Ampek Nagari Tanjung Raya Matur IV Koto Malalak Banuhampu Sungai Pua Ampek Angkek Candung Baso Tilatang Kamang Kamang Magek Palembayan Palupuh Kabupaten Agam Penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa baca dan tulis 18,349 44,791 14,576 22,058 11,200 15,154 6,072 23,805 15,156 28,638 14,485 21,671 22,458 13,214 19,416 8,413 299,456 Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas 18,770 45,113 14,763 22,082 11,233 15,173 6,165 23,805 15,177 28,638 14,510 21,689 22,458 13,241 19,508 8,548 300,873 Angka melek huruf 97.76 99.29 98.73 99.89 99.71 99.87 98.49 100.00 99.86 100.00 99.83 99.92 100.00 99.80 99.53 98.42 99.53

Sumber : Profil Dinas Pendidikan Tahun 2009/2010

Dari Tabel II.11 di atas, terlihat bahwa ada 3 Kecamatan yang angka melek hurufnya sudah mencapai 100% yaitu Kecamatan Banuhampu, Kecamatan Ampek Angkek dan Kecamatan Tilatang Kamang. Berdasarkan angka absolut, maka ada beberapa kecamatan yang jumlah penduduk usia di atas 15 tahun yang tidak bisa membaca dan menulisnya masih tinggi, yaitu: Kecamatan Tanjung Mutiara, Kecamatan Lubuk Basung, Kecamatan Ampek Nagari, Kecamatan Malalak dan Kecamatan Palupuh, untuk lebih jelasnya perkembangan Angka Melek Huruf dari Tahun 2006-2010 dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel II.12 Perkembangan Angka Melek Huruf di Kabupaten Agam
No 1 Uraian Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Angka Melek Huruf 2006 287,114 2007 288,084 2008 289,164 2009 292,890 2010 294,499

2 3

293,624 97.78

294,594 97.79

295,608 97.82

299,356 97.84

300,873 99,53

Sumber : Profil Dinas Pendidikan Tahun 2009/2010

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-23

2. Angka Rata-Rata Lama Sekolah Pada awal Tahun 2006 Angka Rata-Rata Lama Sekolah adalah 8,2 tahun dan angka ini stagnan hingga Tahun 2008. Dan pada Tahun 2009 Angka Rata-Rata Lama Sekolah meningkat menjadi 8,3 tahun dan pada Tahun 2010 meningkat lagi menjadi 8,5 tahun. Angka ini masih dibawah target Angka Rata-Rata Lama Sekolah 9 tahun. Dari 16 kecamatan yang ada, belum satupun kecamatan yang sudah mencapai Angka Rata-Rata-Rata Lama Sekolah 9 Tahun. Beberapa kecamatan yang perlu mendapat perhatian khusus adalah Kecamatan Lubuk Basung, Kecamatan Tanjung Raya, Kecamatan Malalak, Kecamatan

Palembayan dan Kecamatan Palupuah. Untuk target Tahun 2015 Rata-Rata Lama Sekolah diharapkan sudah mencapai 12 tahun. 3. Angka Partisipasi Kasar Angka Partisipasi Kasar selama 5 tahun terakhir ini menunjukkan kecenderungan peningkatan setiap tahunnya. Pada Tahun 2006 Angka Partisipasi Kasar untuk tingkat pendidikan SD/MI sebesar 99,93% meningkat menjadi 100.10% pada Tahun 2007 dan pada Tahun 2008 meningkat menjadi 103.31% dan meningkat lagi menjadi 105.95% pada Tahun 2009 serta pada Tahun 2010 mencapai 103.87%. Dari 16 kecamatan yang ada, sebanyak 5 (lima) kecamatan dengan Angka Partisipasi Kasar berada dibawah angka Kabupaten Agam yaitu sebanyak 6 (enam) Kecamatan, yaitu : Kecamatan Tanjung Mutiara, Kecamatan Ampek Nagari, Kecamatan Malalak, Kecamatan Banuhampu, Kecamatan Ampek Angkek dan Kecamatan Kamang Magek. Demikian juga halnya dengan Angka Partisipasi Kasar untuk tingkat pendidikan SMP/MTs yang terus mengalami peningkatan. Pada Tahun 2006 Angka Partisipasi Kasar untuk tingkat pendidikan SMP/MTs sebesar 91,96% meningkat menjadi 92,36% pada Tahun 2007 dan pada Tahun 2008 meningkat menjadi 92,93% dan meningkat lagi menjadi 96,36% pada Tahun 2009 serta pada Tahun 2010 mencapai 95,00%. Dari 16 kecamatan yang ada, Angka Partisipasi Kasar Tingkat Pendidikan SMP/MTs berada dibawah angka kabupaten yaitu sebanyak 6 (enam) kecamatan, terdiri dari : Kecamatan Tanjung Mutiara, Kecamatan Ampek Nagari, Kecamatan Malalak, Kecamatan Banuhampu, Kecamatan Ampek Angkek dan Kecamatan Kamang Magek. Angka Partisipasi Kasar untuk jenjang pendidikan SMA/SMK/MA selama 5 tahun terakhir menunjukkan kenaikan. Kalau pada Tahun 2006 APK untuk jenjang SMA/SMK/MA adalah sebesar 66,93% dan meningkat menjadi 67,96% pada Tahun 2007, pada Tahun 2008 sebesar 79,78% dan pada Tahun 2009 menjadi

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-24

80,57% sedangkan pada Tahun 2010 menjadi 83,07%. Terdapat 5 (lima) kecamatan yang Angka Partisipasi Kasarnya berada di atas angka Kabupaten Agam yaitu : Kecamatan Lubuk Basung, Kecamatan Tanjung Raya, Kecamatan Sungai Pua, Kecamatan Canduang, dan Kecamatan Kamang Magek. Tabel II.13 Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK) Di Kabupaten Agam Tahun 2006-2010
No 1 1.1. 1.2. 1.3. 2 2.1. 2.2. 2.3. 3 3.1. 3.2. 3.3. Jenjang Pendidikan SD/MI Jumlah murid usia 7-12 thn Jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun APK SD/MI SMP/MTs Jumlah murid usia 13-15 thn Jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun APK SMP/MTs SMA/SMK/MAN/MAS Jumlah murid usia 16-18 thn Jumlah penduduk kelompok usia 16 - 18 tahun APS SMA/SMK 20,927 22,756 91.96 10,939 16,345 66.93 21,622 23,411 92.36 11,788 17,345 67.96 23,015 24,765 92.93 13,998 17,545 79.78 24,280 26,232 96.37 14,773 18,558 80.57 25,132 27,052 95.00 15,535 18,979 83.07 57,439 57,479 99.93 58,169 58,111 100.10 60,505 58,566 103.31 62,282 59,420 105.95 62,932 60,767 103.87 2006 2007 2008 2009 2010

Sumber : Profil Dinas Pendidikan Tahun 2009/2010

Berdasarkan tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa APK untuk tingkat SD/MI relatif lebih tinggi dibandingkan dengan APK tingkat SMP/MTs dan APK tingkat SMA/SMK/MA. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kinerja untuk tingkat SD lebih baik dibandingkan dengan SMP dan SMA. 4. Angka Pendidikan Yang Ditamatkan Angka Pendidikan yang Ditamatkan (APT) adalah angka yang menunjukkan seseorang yang telah menyelesaikan pelajaran pada kelas atau tingkat terakhir suatu jenjang sekolah baik di sekolah negeri maupun swasta dengan mendapatkan Surat Tanda Tamat Belajar/Ijazah. APT di Kabupaten Agam selama 5 tahun terakhir menunjukkan kecenderungan peningkatan setiap tahunnya. APT untuk tingkat SD pada Tahun 2006 adalah sebesar 31,98% meningkat menjadi 38.08% pada Tahun 2010. Sedangkan APT untuk tingkat SMP pada Tahun 2006 sebesar 20.77% meningkat menjadi 25,81% pada Tahun 2010. Selanjutnya APT untuk tingkat SMA pada Tahun 2006 sebesar 13.80%

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-25

meningkat menjadi 16.54% pada Tahun 2010. APT untuk Perguruan Tinggi dari 3,65% pada Tahun 2006 menjadi 5,59% pada Tahun 2010. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut : Grafik II-2 Perkembangan Angka Pendidikan Yang Ditamatkan (APT) Di Kabupaten Agam Tahun 2006-2010 (%)

Sumber : Profil Pendidikan Kabupaten Agam 2009/2010

Berdasarkan Grafik II-2 di atas, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat baru dapat menyelesaikan pendidikan sampai tingkat SD. Kondisi ini menunjukkan bahwa apabila dikaitkan dengan aspek ketenagakerjaan, maka tenaga kerja yang tersedia sebagian besar adalah tamat Sekolah Dasar atau sederajat. 5. Angka Partisipasi Murni Angka Partisipasi Murni atau yang disingkat dengan APM adalah perbandingan penduduk usia 7 hingga 18 tahun yang terdaftar pada tingkat pendidikan SD/SLTP/SLTA kemudian dibagi dengan jumlah penduduk berusia 7 hingga 18 tahun. APM menunjukkan partisipasi sekolah penduduk usia sekolah di tingkat pendidikan tertentu. APM selama 5 tahun terakhir menunjukkan kecenderungan peningkatan setiap tahunnya. Pada Tahun 2006 APM untuk tingkat pendidikan SD/MI sebesar 90,11% meningkat menjadi 91.54% pada Tahun 2010. Dari data tersebut terlihat bahwa kenaikan APM setiap tahunnya relatif lamban, sehingga belum memenuhi target APM tingkat SD/MI sebesar 100%. Demikian juga halnya dengan APM untuk tingkat pendidikan SMP/MTs yang terus mengalami peningkatan. Pada Tahun 2006 APM tingkat SMP/MTs sebesar

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-26

73,88% meningkat menjadi 76,14% pada Tahun 2010. Pergerakan peningkatan APM untuk tingkat SMP/MTs juga termasuk lamban, sehingga belum mampu memenuhi target yang ditetapkan sebesar 85%. Kondisi yang sama juga terjadi pada APM tingkat pendidikan SMA/SMK/MA. Dalam 5 tahun terakhir terjadi peningkatan APM, tetapi masih sangat rendah. Tahun 2006 APM untuk jenjang SMA/SMK/MA ini adalah sebesar 61,67% meningkat menjadi 64,24% pada Tahun 2010. Angka ini masih jauh dari target yang ditetapkan yaitu sebesar 75%. Untuk selengkapnya dapat dilihat tabel berikut: Tabel II.14 Perkembangan Angka Partisipasi Murni (APM) per Kecamatan Di Kabupaten Agam Tahun 2010
SD/MI No Kecamatan jumlah murid usia 7-12 thn 4,128 8,962 3,584 3946 1,893 2,647 963 3,743 2,5840 4,145 2,056 3,537 3,035 1,970 3,925 1,653 54,393 jumlah penduduk usia 7-12 th 5,252 9,477 4,614 4,810 1,953 2,845 1,374 4,385 2,881 4,939 2,472 3,970 3,253 2,490 4,281 1,769 59,420 jumlah murid usia 13-15 thn 1,012 2,577 1,029 865 485 516 237 663 954 800 704 804 910 431 878 452 19,988 26,252 SMP/MTs jumlah penduduk usia 13-15 th 2,067 4,459 1,787 2,133 890 1,307 533 2,089 1,269 2,693 1,929 1,322 1,416 1,205 1,406 548 APM (%) 65.51 68.83 1.15 76.22 75.98 7.62 63.55 85.95 83.40 86.25 75.45 76.64 85.20 2.43 69.31 73.51 76.14 jumlah murid usia 1618 thn 576 1.601 339 465 317 419 339 374 238 477 265 471 574 188 151 205 11,922 SMA/SMK/MA jumlah penduduk usia 16-18 th 1,145 4,345 601 2,579 581 702 351 1,035 621 1,733 988 939 1,523 559 736 540 18,558 APM (%) 52.14 61.17 50.17 57.85 62.15 62.83 46.06 79.45 77.59 79.00 64.49 62.53 78.78 77.51 50.42 51.52 64.24

APM (%) 80.24 80.33 81.45 4.05 93.98 2.24 89.88 102.99 105.40 103.33 97.23 97.78 107.20 102.75 78.19 4.05 91.54

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Tanjung Mutiara Lubuk Basung Ampek Nagari Tanjung Raya Matur IV Koto Malalak Banuhampu Sungai Pua Ampek Angkek Candung Baso Tilatang Kamang Kamang Magek Palembayan Palupuh Kabupaten

Sumber : Profil pendidikan Kabupaten Agam Tahun 2009/2010

Tabel di atas menunjukkan bahwa APM untuk tingkat SD/MI hanya 5 (lima) Kecamatan yang berhasil memenuhi dan melampaui target yaitu : Kecamatan Tilatang Kamang (107,20%), Kecamatan Sungai Pua (105,40%), Kecamatan Ampek Angkek (103,33%), Kecamatan Banuhampu (102,99%) dan Kecamatan Kamang Magek (102,75%). Sebanyak 10 Kecamatan yang capaiannya berkisar antara 80% - 97% dan 1 Kecamatan yang capaiannya dibawah 80% yaitu Kecamatan Palembayan yang hanya mencapai 78,19%. Sedangkan untuk APM tingkat pendidikan SMP/MTs ada 3 Kecamatan yang mencapai target yaitu Kecamatan Ampek Angkek (86,25%), Kecamatan

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-27

Banuhampu (85,95%) dan Kecamatan Tilatang Kamang (85,20%) dan 13 kecamatan lain capaiannya berkisar antara 65,51% - 82,43%. Kecamatan yang terendah tersebut adalah Kecamatan Ampek Nagari sebesar 65,51%. Perkembangan Angka Partisipasi Murni seluruh jenjang pendidikan pada Tahun 2010 tertinggi untuk tingkat SD/MI 91.54, SMP/MTs 76.14 dan SMA/SMK/MA 64.24. Gambaran Perkembangan APM dapat dilihat pada tabel II.15 dibawah ini. Tabel II.15 Perkembangan Angka Partisipasi Murni (APM) Di Kabupaten Agam Tahun 2006-2010
No 1 1.1. 1.2. 1.3. 2 2.1. 2.2. 2.3. 3 3.1. Jenjang Pendidikan SD/MI jumlah siswa kelompok usia 7-12 tahun yang bersekolah di jenjang SD/MI jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun APM SD/MI SMP/MTs jumlah siswa kelompok usia 1315 tahun yang bersekolah di jenjang SMP/MTs jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun APM SMP/MTs SMA/MA/SMK jumlah siswa kelompok usia 1618 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SMA/MA/SMK jumlah penduduk kelompok usia 16 - 18 tahun APM SMA/MA/SMK 2006 2007 2008 2009 2010

51,794 57,479 90.11

52,550 58,111 90.43

53,143 58,566 90.74

62,282 59,420 91.54

62,932 60,767 91.54

16,812 22,756 73.88

17,336 23,411 74.05

18,405 24,765 74.32

24,280 26,252 75.72

25,132 27,052 76.14

10,080 16,345 61.67

10,775 17,345 62.12

11,031 17,545 62.87

14,773 18,558 63.65

15,535 18,979 64.24

3.2. 3.3.

Sumber : Profil pendidikan Tahun 2009/2010

2.2.2.2. Kesehatan 1. Angka Kelangsungan Hidup Bayi (AKHB) Angka Kelangsungan Hidup Bayi diartikan sebagai probabilitas bayi untuk hidup sampai berusia 1 tahun. Berdasarkan laporan tentang kematian bayi selama Tahun 2010, maka diperoleh Angka Kematian Bayi adalah sebesar 16 per 1.000 kelahiran hidup. Dari Angka Kematian Bayi tersebut maka dapat diketahui Angka Kelangsungan Hidup Bayi (AKHB) Kabupaten Agam adalah sebesar 984. Dari 16 kecamatan yang ada, ada beberapa kecamatan dengan AKHBnya diatas AKHB Kabupaten, yaitu : Kecamatan Tanjung Raya, Kecamatan Matur, Kecamatan IV II-28

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

Koto, Kecamatan Malalak, Kecamatan Banuhampu, Kecamatan Canduang, Kecamatan Tilatang Kamang dan Kecamatan Palembayan. Oleh karena itu ada beberapa kecamatan yang perlu diwaspadai yaitu : Kecamatan Tanjung Mutiara, Kecamatan Lubuk Basung, Kecamatan Ampek Nagari, Kecamatan Sungai Pua, Kecamatan Ampek Angkek, Kecamatan Baso, Kecamatan Kamang Magek dan Kecamatan Palupuah. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat tabel berikut ini: Tabel II.16 Angka Kelangsungan Hidup Bayi (AKHB) Di Kabupaten Agam Tahun 2010
Jumlah kematian bayi usia dibawah 1 tahun pada Tahun 2009 12 25 8 6 4 2 2 1 6 13 3 12 5 8 9 5 Jumlah kelahiran hidup pada Tahun 2009 513 1,176 443 553 281 417 136 522 328 672 373 625 522 287 612 259

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Kecamatan Tanjung Mutiara Lubuk Basung Ampek Nagari Tanjung Raya Matur IV Koto Malalak Banuhampu Sungai Pua Ampk Angkek Candung Baso Tilatang Kamang Kamang Magek Palembayan Palupuh

AKB 23 21 18 11 14 5 15 2 18 19 8 19 10 28 15 19

AKHB 977 979 982 989 986 995 985 998 982 981 992 981 990 972 985 981

Jumlah

121

7.719

16

984

Sumber : Profil pendidikan Kabupaten Agam Tahun 2009/2010

2. Angka Usia Harapan Hidup Berdasarkan hasil sensus penduduk yang dilakukan setiap 10 tahun yang dimulai pada Tahun 1970, maka usia harapan hidup masyarakat cenderung meningkat. Kalau Sensus Tahun 1970 angka harapan hidup masyarakat adalah 47,7 tahun, maka Sensus Tahun 1980 meningkat menjadi 52,2 tahun dan Sensus Tahun 1990 meningkat menjadi 59,8 tahun, selanjutnya Sensus Tahun 2000 Angka Harapan Hidup meningkat lagi menjadi 65,5 tahun dan pada Tahun 2010 ini diperkirakan Usia Harapan Hidup sudah mencapai 68,7 tahun.

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-29

3. Persentase Balita Gizi Kurang Termasuk Gizi Buruk Berdasarkan data dan laporan Dinas Kesehatan, jumlah balita gizi kurang tercatat sebanyak 13,65% dari total 47.904 jumlah balita. Berdasarkan pengelompokan kecamatan dengan prevalensi gizi kurang yang dikeluarkan oleh Badan Kesehatan Sedunia (WHO), maka Kabupaten Agam termasuk dalam kelompok sedang, karena berada pada interval 10-19%. Ada beberapa kecamatan dengan penderita Gizi Kurang diatas angka kabupaten, yaitu : Kecamatan Lubuk Basung, Kecamatan Ampek Nagari, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kecamatan Matur, Kecamatan Sungai Pua, Kecamatan Palembayan dan Kecamatan Palupuah. Untuk lebih mengetahui jumlah penderita gizi kurang pada masing-masing Kecamatan, dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel II.17 Balita Gizi Buruk Menurut Kecamatan di Kabupaten Agam Tahun 2010
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Kecamatan Tanjung Mutiara Lubuk Basung Ampek Nagari Tanjung Raya Matur IV Koto Malalak Banuhampu Sungai Pua Ampk Angkek Candung Baso Tilatang Kamang Kamang Magek Palembayan Palupuh Jumlah Jumlah balita 2,845 6,683 2,432 3,292 1,998 2,502 1,144 3,572 2,477 4,035 2,493 3,561 3,519 2,216 3,631 1,504 47,904 Jumlah balita gizi kurang 428 1,524 521 395 318 216 112 336 361 164 229 492 252 280 641 271 6,539 Persentase balita gizi buruk 15.05 22.80 21.43 12.00 15.91 8.63 9.78 9.40 14.56 4.07 9.17 13.83 7.17 12.64 17.64 17.99 13.65

Sumber : Profil pendidikan Kabupaten Agam Tahun 2009/2010

2.2.3. Fokus Seni Budaya dan Olahraga Pembangunan Bidang Seni Budaya Dan Olahraga selama 5 tahun (20062010) telah memperlihatkan hasil yang cukup menggembirakan. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya muncul group kesenian dan klub olahraga baik di

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-30

tingkat Kabupaten maupun di tingkat Kecamatan dan Nagari. Perkembangan kegiatan seni budaya dan olahraga selama 5 tahun tersebut dapat dilihat dari capaian indikator kinerja seperti : jumlah grup kesenian dan jumlah klub olahraga sebagaimana disajikan pada tabel berikut : Tabel II.18 Perkembangan Seni, Budaya dan Olahraga Kabupaten Agam Tahun 2006 2009 No
1 2

Capaian Pembangunan
Jumlah grup kesenian per 10.000 penduduk. Jumlah klub olahraga per 10.000 penduduk.

2006
121 78

2007
192 87

2008
234 90

2009
234 95

Sumber: Dinas Budaya Pariwisata dan Dinas Pemuda dan Olah Raga Tahun 2011

Sebaran perkembangan kegiatan seni, budaya dan olah raga adalah pada seluruh kecamatan. Grup seni budaya per 10.000 penduduk berjumlah 159 grup dan olah raga per 10.000 penduduk berjumlah 95 grup. Kecamatan Tanjung Raya, Kecamatan Candung, Lubuk Basung, Palembayan dan Ampek Angkek memiliki jumlah grup kesenian yang terbanyak dibandingkan kecamatan lainnya. Klub olah raga terbanyak pada Kecamatan Tanjung Mutiara, Lubuk Basung dan Ampek Angkek. Untuk lebih jelasnya digambarkan pada tabel dibawah : Tabel II.19 Perkembangan Seni, Budaya dan Olahraga di Kabupaten Agam Menurut Kecamatan Tahun 2009
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Kecamatan Tanjung Mutiara Lubuk Basung Ampek Nagari Tanjung Raya Matur IV Koto Malalak Banuhampu Sungai Pua Ampk Angkek Candung Baso Tilatang Kamang Kamang Magek Palembayan Palupuh Jumlah Jumlah grup kesenian per 10.000 penduduk 7 20 6 47 5 3 1 2 4 11 19 1 7 2 16 1 159 Jumlah klub olahraga per 10.000 penduduk 17 14 2 4 4 6 2 5 4 9 2 9 7 3 3 4 95

Sumber: Dinas Budaya Pariwisata dan Dinas Pemuda dan Olah Raga Tahun 2011

2.3 Aspek Pelayanan Umum

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-31

Pelayanan publik atau pelayanan umum merupakan segala bentuk jasa pelayanan, baik dalam bentuk barang publik maupun jasa publik yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah dalam upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Untuk menganalisis aspek

pelayanan umum dituangkan dalam bentuk tabel capaian indikator setiap variabel yang dianalisis menurut kecamatan.

2.3.1

Fokus Layanan Urusan Wajib Analisis kinerja atas layanan urusan wajib dilakukan terhadap indikator-

indikator kinerja penyelenggaraan urusan wajib pemerintahan daerah, yaitu Bidang Urusan Pendidikan, Kesehatan, Pekerjaan Umum, Perumahan, Penataan Ruang, Perencanaan Pembangunan, Perhubungan, Lingkungan Hidup, Pertanahan,

Kependudukan Dan Catatan Sipil, Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak, Keluarga Berencana Dan Keluarga Sejahtera, Sosial, Ketenagakerjaan, Koperasi Dan Usaha Kecil Menengah, Penanaman Modal, Kebudayaan,

Kepemudaan Dan Olah Raga, Kesatuan Bangsa Dan Politik Dalam Negeri, Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian, Dan Persandian, Ketahanan Pangan, Pemberdayaan Masyarakat Dan Desa, Statistik, Kearsipan, Komunikasi Dan Informatika Dan Perpustakaan.

2.3.1.1 Pendidikan 2.3.1.1.1 Pendidikan dasar 1. Angka Partisipasi Sekolah Angka Partisipasi Sekolah (APS) adalah ukuran daya serap pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. Angka Partisipasi Sekolah (APS) untuk jenjang pendidikan dasar selama 5 tahun terakhir menunjukkan kecenderungan peningkatan setiap tahunnya. Pada Tahun 2006 Angka Partisipasi Sekolah untuk tingkat pendidikan SD/MI sebesar 88,80% meningkat menjadi 89,93% pada Tahun 2007 dan pada Tahun 2008 meningkat menjadi 90,10% dan meningkat lagi menjadi 91,31% pada Tahun 2009 serta pada Tahun 2010 mencapai 91,83%. Dari 16 Kecamatan yang ada, sebanyak 5 (lima) kecamatan dengan Angka Partisipasi Sekolah berada dibawah angka Kabupaten yaitu sebanyak 6 (enam) kecamatan, yaitu : Kecamatan Tanjung Mutiara, Kecamatan Ampek Nagari, Kecamatan Malalak, Kecamatan Banuhampu, Kecamatan Ampek Angkek dan Kecamatan Kamang Magek.

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-32

Demikian juga halnya dengan Angka Partisipasi Sekolah untuk tingkat pendidikan SMP/MTs yang terus mengalami peningkatan. Pada Tahun 2006 Angka Partisipasi Sekolah untuk tingkat pendidikan SMP/MTs sebesar 72,25% meningkat menjadi 73,36% pada Tahun 2007 dan pada Tahun 2008 meningkat menjadi 73,97% meningkat lagi menjadi 74,31% pada Tahun 2009 serta pada Tahun 2010 mencapai 75,28%. Dari 16 kecamatan yang ada, Angka Partisipasi Sekolah tingkat pendidikan SMP/MTs berada dibawah angka kabupaten yaitu sebanyak 6 (enam) Kecamatan, yaitu : Kecamatan Tanjung Mutiara, Kecamatan Ampek Nagari, Kecamatan Malalak, Kecamatan Banuhampu, Kecamatan Ampek Angkek dan Kecamatan Kamang Magek. 2. Rasio Ketersediaan Sekolah/Penduduk Usia Sekolah Selama 5 tahun terakhir terjadi kecenderungan penurunan rasio jumlah gedung sekolah SD/MI dengan jumlah penduduk usia 7- 12 tahun dari 154 pada Tahun 2006 menjadi 150 pada Tahun 2010, walaupun pada Tahun 2007 terjadi peningkatan menjadi 156. Sedangkan ratio jumlah gedung sekolah SMP/MTs dengan jumlah penduduk usia 13-15 tahun cenderung meningkat dari 262 pada Tahun 2006 menjadi 299 pada Tahun 2010. Selengkapnya rasio jumlah gedung sekolah tingkat SD/MI dan tingkat SMP/MTs dengan jumlah penduduk usia sekolah menurut jenjang pendidikan, dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel II.20 Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun 2006-2010
No
1 1.1. 1.2. 1.3. 2 2.1. 2.2. 2.3.

Jenjang Pendidikan
SD/MI Jumlah gedung sekolah jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun Rasio SMP/MTs Jumlah gedung sekolah jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun Rasio

2006

2007

2008

2009

2010

457 70,479 154

457 71,111 156

457 70,566 154

457 59,420 151

455 60,767 150

117 30,667 262

117 32,323 276

117 32,299 276

117 26,252 291

120 27,052 299

Sumber : Profil pendidikan Kabupaten Agam Tahun 2009/2010

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-33

3. Rasio Guru/Murid Disamping faktor ketersediaan sarana gedung sekolah, faktor lain yang sangat menentukan dalam pembangunan bidang pendidikan adalah ketersediaan guru untuk masing-masing jenjang pendidikan. Rasio guru dengan murid untuk jenjang pendidikan SD/MI mengalami perkembangan yang berfluktuasi, artinya dari Tahun 2006 sampai Tahun 2008 kecenderungannya mengalami penurunan dari 17 menjadi 14, namun pada 2 tahun berikutnya mengalami peningkatan menjadi 16. Sementara itu rasio guru terhadap murid untuk jenjang pendidikan SMP/MTs rasionya tetap konstan selama 5 tahun yaitu sebesar 12. Untuk lebih mengetahui rasio guru dan murid untuk jenjang pendidikan SD/MI dan jenjang pendidikan SMP/MTs, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel II.21 Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Tahun 2006-2010
No 1 1.1. 1.2. 1.3. 2 2.1. 2.2. 2.3. Jenjang Pendidikan SD/MI Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio SMP/MTs Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio 1,853 22,158 12 1,959 23,390 12 1,989 23,331 12 2,550 24,280 12 2,973 25,132 12 2006 2007 2008 2009 2010

3,596 62,586 17

4,185 63,947 15

4,402 63,582 14

3,313 62,282 16

4,320 62,932 16

Sumber : Profil pendidikan Kabupaten Agam Tahun 2009/2010

4. Rasio Guru / Murid per Kelas Rata-rata Rasio guru/murid per kelas rata-rata untuk jenjang pendidikan dasar di Kabupaten Agam selama 5 tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang berfluktuasi. Hal ini terlihat dari kondisi Tahun 2006 rasio guru/murid per kelas rata-rata adalah 47,58 per 1.000, pada Tahun 2007 meningkat menjadi 52,06 per 1.000 dan meningkat lagi pada Tahun 2008 menjadi 54,41 per 1.000, namun mengalami penurunan pada Tahun 2009 menjadi 50,92 per 1.000 dan naik lagi menjadi 51,72 per 1.000 pada Tahun 2010.

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-34

2.3.1.1.2 Pendidikan Menengah 1. Angka Partisipasi Sekolah Angka Partisipasi Sekolah (APS) untuk jenjang pendidikan menengah selama 5 tahun terakhir ini menunjukkan perkembangan yang fluktuaktif. Pada Tahun 2006 Angka Partisipasi Sekolah sebesar 66,93% meningkat menjadi 70,96% dan cenderung menurun pada tiga tahun berikutnya sehingga menjadi 68,17% pada Tahun 2010. 2. Rasio Ketersediaan Sekolah Terhadap Penduduk Usia Sekolah Selama 5 tahun terakhir terjadi kecenderungan penurunan rasio jumlah gedung sekolah SMA/SMK/MA dengan jumlah penduduk usia 16-18 tahun dari 14,07 per 10.000 pada Tahun 2006 menjadi 13,2 per 10.000 pada Tahun 2007 dan menurun lagi menjadi 13,11 per 10.000 pada Tahun 2008 dan sedikit meningkat menjadi 13,32 per 10.000 pada Tahun 2009 dan akhirnya turun lagi menjadi 12,93 per 10.000 pada Tahun 2010. Tabel II.22 Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Menengah Di Kabupaten Agam Tahun 2006-2010

No
1 2 3

Uraian
Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio

2006
1,285 10,939 1,175

2007
1,276 12,308 1,037

2008
1,327 12,240 1,084

2009
2, 550 12,447 1,183

2010
2,973 9,064 1,262

Sumber : Profil Pendidikan Kabupaten Agam Tahun 2009/2010

3. Rasio Guru / Murid per Kelas Rata-rata Rasio guru/murid per kelas rata-rata untuk jenjang pendidikan menengah selama 5 tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang berfluktuasi, Hal ini terlihat dari kondisi Tahun 2006 rasio guru/murid per kelas rata-rata adalah 869 per 10.000, pada Tahun 2007 menurun menjadi 767 per 10.000 dan meningkat lagi pada Tahun 2008 menjadi 802 per 10.000, meningkat lagi menjadi 876 per 10.000 pada Tahun 2009 dan menjadi 934 per 10.000 pada Tahun 2010. Informasi selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-35

Tabel II.23 Jumlah Guru Sekolah Per Kelas Jenjang Pendidikan Menengah Di Kabupaten Agam Tahun 2006-2010 No
1 2 3

Uraian
Jumlah Guru Kelas Jumlah Murid Rasio

2006
951 10,939 869

2007
944 12,308 767

2008
982 12,240 802

2009
1,090 12,447 876

2010
1,182 12,651 934

Sumber : Profil Pendidikan Kabupaten Agam Tahun 2009/2010

2.3.1.1.3 Fasilitas pendidikan 1. Bangunan SD/MI Kondisi Baik Sampai kondisi akhir Tahun 2010, gedung sekolah untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) berjumlah 457 unit. Dari jumah tersebut, sebanyak 298 unit ( 65,29%) dengan kondisi bangunan baik dan sebanyak 101 unit (21,99%) dengan kondisi rusak ringan serta 58 unit (12,72%) dengan kondisi rusak berat. 2. Bangunan SMP/MTs dan SMA/SMK/MA Kondisi Baik Sampai kondisi akhir Tahun 2010, gedung pendidikan SMP/MTs dan SMA/SMK/MA berjumlah 175 unit. Dari jumlah tersebut, sebanyak 144 unit (82,32%) dengan kondisi bangunan baik dan sebanyak 23 unit (12,89%) dengan kondisi rusak ringan serta 8 unit (4,79%) dengan kondisi rusak berat. 2.3.1.1.4 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Terkait dengan pendidikan anak usia 4-6 tahun telah dikembangkan pendidikan baik melalui jenjang pendidikan Taman Kanak-Kanak maupun Tempat Penitipan Anak. Jumlah penduduk dengan usia 4-6 tahun adalah sebesar 31.829 orang. Sampai akhir Tahun 2010 ini, cakupan anak usia 4-6 tahun yang telah mengikuti pendidikan anak usia dini adalah sebanyak 7.693 orang atau sekitar 24,17%. 2.3.1.1.5 Angka Putus Sekolah 1. Angka Putus Sekolah ( APS) SD/MI Julah siswa SD/MI pada Tahun 2008/2009 adalah sebesar 62.355 orang. Dari siswa sebanyak tersebut, sebanyak 109 orang mengalami putus sekolah atau sekitar 0,17% dari total siswa SD/MI.
RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-36

2. Angka Putus Sekolah ( APS) SMP/MTs Jumlah siswa SMP/MTs pada Tahun 2008/2009 adalah sebesar 23.619 orang. Dari siswa sebanyak tersebut, sebanyak 285 orang mengalami putus sekolah atau sekitar 1,21% dari total siswa SMP dan MTs. 3. Angka Putus Sekolah ( APS) SMA/SMK/MA Jumlah siswa SMA/SMK/MA pada Tahun 2008/2009 adalah sebesar 13,904 orang. Dari siswa sebanyak tersebut, 144 orang mengalami putus sekolah atau sekitar 1,04% dari total siswa SMA/SMK/MA. 2.3.1.1.6 Angka Kelulusan 1. Angka Kelulusan SD/MI Jumlah siswa SD/MI yang lulus adalah sebanyak 8.810 orang siswa dari sebanyak 8.728 orang siswa yang berada pada tingkat tertinggi dari siswa SD/MI atau sekitar 99,07%. 2. Angka Kelulusan SMP/MTs Jumlah siswa SMP/MTs yang lulus adalah sebanyak 6.980 orang siswa dari sebanyak 7.581 orang siswa yang berada pada tingkat tertinggi dari siswa SMP/MTs atau sekitar 92,07%. 3. Angka Kelulusan SMA/SMK/MA Jumlah siswa SMA/SMK/MA yang lulus adalah sebanyak 3.936 orang siswa dari sebanyak 4.574 orang siswa yang berada pada tingkat tertinggi dari siswa SMA/SMK/MA atau sekitar 86,05%. 4. Angka Melanjutkan dari SD/MI ke SMP/MTs Dari sebanyak 8.813 orang siswa yang menyelesaikan pendidikan pada tingkat SD/MI, maka sebanyak 8.810 orang atau sekitar 99,97% melanjutkan ke jenjang pendidikan setingkat SMP/MTs atau sekitar 99,97%. 5. Angka Melanjutkan dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA Dari sebanyak 6.980 orang siswa yang menyelesaikan pendidikan pada tingkat SMP/MTs, maka sebanyak 5.586 orang atau sekitar 80,03% melanjutkan ke jenjang pendidikan setingkat SMA/SMK/MA. 2.3.1.2 Kesehatan 2.3.1.2.1 Rasio Posyandu per Satuan Balita Selama 5 tahun terakhir, rasio posyandu terhadap balita yang pada Tahun 2006 adalah 18.80 per 1.000 turun menjadi 18.00 per 1.000 pada Tahun 2007 dan meningkat lagi menjadi 18,23 per 1.000 Tahun 2008, angka ini sama dengan
RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-37

Tahun 2009 sedangkan pada Tahun 2010 menurun lagi menjadi 17.28 per 1.000. Walaupun ada kecenderungan penurunan, tetapi berdasarkan rasio tersebut, jumlah Posyandu sudah mencukupi. Namun demikian perlu menjadi perhatian agar Posyandu dapat lebih dioptimalkan fungsi dan keberadaannya di masyarakat sehingga tujuan kegiatan posyandu untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat betul-betul dapat dirasakan. Untuk lebih mengetahui rasio posyandu per satuan balita dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel II.24 Jumlah Posyandu dan Balita Di Kabupaten Agam Tahun 2006-2010
No. 1 2 3 URAIAN Jumlah Posyandu Jumlah Balita Rasio 2006 785 41,749 18.80 2007 795 44,178 18.00 2008 818 44,862 18.23 2009 820 44,982 18.23 2010 828 47,904 17.28

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten Agam Tahun 2009/2010

2.3.1.2.2 Rasio Puskesmas, Poliklinik dan Pustu per satuan Penduduk Berdasarkan rasio Puskesmas terhadap penduduk, jumlah Puskesmas di Kabupaten Agam sudah mencukupi. Artinya dengan jumlah penduduk sebanyak 455.484 jiwa dengan jumlah Puskesmas sebanyak 22 unit, maka 1 Puskesmas akan melayani sebanyak 20.700 jiwa penduduk, sedangkan standar nasional 1 Puskesmas idealnya melayani sebanyak 25.000 jiwa penduduk. Namun demikian masih perlu dipertimbangkan untuk membangun Puskesmas pada daerah-daerah tertentu dengan pertimbangan seperti : daerah yang terisolir sehingga sulit diakses dengan transportasi umum, dan daerah perkebunan. Selanjutnya berdasarkan rasio jumlah Puskesmas Pembantu terhadap

jumlah penduduk dapat disimpulkan bahwa jumlah Puskesmas Pembantu sudah mencukupi. Dengan jumlah Puskesmas Pembantu sebanyak 120 unit dan jumlah penduduk sebanyak 455.484 jiwa, maka 1 Puskesmas Pembantu melayani sebanyak 3.796 jiwa, sedangkan standar nasional 1 unit Puskesmas Pembantu idealnya melayani 5.000 jiwa. Sama halnya dengan Puskesmas, maka penambahan Puskesmas Pembantu dapat dilakukan untuk daerah yang sulit dan daerah pemukiman baru. Tabel berikut menggambarkan jumlah Puskesmas dan Pustu Tahun 2010. Tabel II.25 Jumlah Puskesmas dan Pustu II-38

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

Di Kabupaten Agam Tahun 2006-2010


No
1 2 3 4 5

Uraian
Jumlah Puskesmas Jumlah Pustu Jumlah Penduduk Rasio Puskesmas per penduduk Rasio Pustu per penduduk

2006
22 113 439,611 0.050 0.26

2007
22 113 443,857 0.050 0.25

2008
22 115 445,387 0.049 0.26

2009
22 120 451,264 0.049 0.27

2010
22 120 455,484 0.048 0.26

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten Agam Tahun 2009/2010

2.3.1.2.3 Rasio Dokter per Satuan Penduduk Perkembangan jumlah dokter selama 5 tahun terakhir sangat lamban. Pada Tahun 2006 jumlah dokter hanya sebanyak 53 orang, kemudian pada Tahun 2007 menjadi 58 orang dan jumlah ini sama dengan Tahun 2008. Pada Tahun 2009 bertambah menjadi 63 orang dan pada Tahun 2010 sebanyak 65 orang. Berdasarkan Standar Pelayanan Kesehatan Terpadu, idealnya 1 orang dokter melayani 2.500 jiwa penduduk. Berdasarkan kondisi tersebut maka dengan jumlah penduduk pada Tahun 2010 sebesar 455.484 jiwa seharusnya memiliki dokter sebanyak 189 orang. Tabel II.26 menunjukkan data Jumlah Dokter Tahun 2006-2010 di Kabupaten Agam. Tabel II.26 Jumlah Dokter Di Kabupaten Agam Tahun 2006-2010 No.
1 2 3

Uraian
Jumlah Dokter Jumlah Penduduk Rasio

2006
53 439,611 0.121

2007
58 443,857 0.131

2008
58 445,387 0.130

2009
63 451,264 0.140

2010
65 455,484 0.143

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten Agam Tahun 2009/2010

Tabel II.26 menunjukkan bahwa belum meratanya ketersediaan dokter pada 16 kecamaan yang ada, dimana Kecamatan Lubuk Basung mempunyai jumlah dokter terbanyak. Jumlah ini dipengaruhi dengan adanya 2 Rumah Sakit yaitu Rumah Sakit Umum Daerah dan Rumah Sakit Ibu dan Anak. Pada kecamatan lainnya ketersediaan dokter puskesmas, pada umumnya hanya dokter umum dan sebagian mempunyai dokter gigi terutama pada Puskesmas Rawatan. Sebaran dokter terlihat pada tabel berikut: Tabel II.27 Jumlah Tenaga Dokter Kecamatan Di Kabupaten Agam Tahun 2010

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-39

No.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Kecamatan
Tanjung Mutiara Lubuk Basung Ampek Nagari Tanjung Raya Matur IV Koto Malalak Banuhampu Sungai Pua Ampk Angkek Candung Baso Tilatang Kamang Kamang Magek Palembayan Palupuh Kabupaten Agam

Jumlah Penduduk
28,311 68,198 22,570 33,307 16,944 23,036 9,299 36,059 23,042 43,347 21,886 33,016 34,027 19,972 29,426 13,044 455,484

Jumlah Dokter
3 28 2 5 3 2 3 3 2 3 2 3 6 2 5 4 76

Rasio
0.106 0.411 0.089 0.150 0.177 0.087 0.323 0.083 0.087 0.069 0.091 0.091 0.176 0.100 0.170 0.307 0.167

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten Agam Tahun 2009/2010

2.3.1.2.4 Rasio Tenaga Medis per Satuan Penduduk Dari tabel II.28 dibawah ini dapat digambarkan rasio tenaga medis perjumlah penduduk, kondisi ini menggambarkan tingkat pelayanan kesehatan yang dilakukan pada masing masing kecamatan. Kecamatan Malalak dan Palupuh terlihat ketersediaan tenaga medis paling sedikit dan Kecamatan Lubuk Basung memiliki jumlah terbanyak.

Tabel II.28 Jumlah Tenaga Paramedis Menurut Kecamatan Di Kabupaten Agam Tahun 2010 No.
1 2 3 4 5 6

Kecamatan
Tanjung Mutiara Lubuk Basung Ampek Nagari Tanjung Raya Matur IV Koto

Jumlah Penduduk
28,311 68,198 22,570 33,307 16,944 23,036

Jumlah Tenaga Medis


28 124 49 36 26 25

Rasio
0.989 1.818 2.171 1.081 1.534 1.085

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-40

7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Malalak Banuhampu Sungai Pua Ampek Angkek Candung Baso Tilatang Kamang Kamang Magek Palembayan Palupuh Kabupaten Agam

9,299 36,059 23,042 43,347 21,886 33,016 34,027 19,972 29,426 13,044 455,484

14 27 18 25 18 34 42 22 24 17 529

1.506 0.749 0.781 0.577 0.822 1.030 1.234 1.102 0.816 1.303 1.161

Sumber : Profil Dinas Kesehatan Tahun 2010

2.3.1.2.5 Cakupan Petolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Yang Memiliki Kompetensi Kebidanan Pada Tahun 2010 cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan sudah mencapai 78,19%. Sebaran tenaga medis kompetensi kebidanan tersebar di seluruh Pustu, Poskesri dan Polindes.

2.3.1.2.6 Cakupan Nagari/ Universal Child Immunization (UCI) Cakupan Nagari dengan Universal Child Immunization (UCI) selama 5 tahun terakhir ini jauh dibawah target yang ditetapkan. Hal ini terlihat dari cakupan pada Tahun 2006 sebesar 68%, justru pada Tahun 2007 menurun menjadi 66,74% dan bahkan pada Tahun 2008 cakupan semakin menurun dan tercapai sebesar 46,6%. Selanjutnya pada tahun 2009 meningkat lagi menjadi 72,11% dan pada Tahun 2010 ini mencapai 75%. Dari hasil capaian Tahun 2010 tersebut masih dibawah target yang ditetapkan yaitu sebesar 100%.

2.3.1.2.7 Cakupan Gizi Buruk Mendapat Perawatan Terkait dengan penanganan dan perawatan balita yang menderita gizi buruk dapat ditangani dengan baik. Hal ini terlihat dari cakupan penanganan dan perawatan balita penderita gizi buruk selama 5 tahun adalah semua balita yang menderita gizi buruk mendapat perawatan yang intensif (100% Balita Gizi Buruk mendapat perawatan setiap tahunnya).

2.3.1.2.8 Cakupan Penemuan Dan Penanganan Penderita Penyakit TBC/BTA

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-41

Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC selama 5 tahun cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada Tahun 2006 cakupan penemuan dan penanganan penderita TBC sebesar 86%, pada Tahun

2007 meningkat tajam mencapai 108,23% dan pada Tahun 2008 turun menjadi 80,61%. Kemudian pada Tahun 2009 meningkat menjadi 93,35% dan pada Tahun 2010 mencapai 98%

2.3.1.2.9 Cakupan Penemuan Dan Penanganan Penderita Penyakit DBD Sama halnya dengan hasil cakupan perawatan balita gizi buruk, maka penemuan dan penanganan penderita penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) juga cukup menggembirakan. Artinya semua penderita penyakit DBD dapat ditangani setiap tahunnya.

2.3.1.2.10 Cakupan Kunjungan Bayi Cakupan Kunjungan Bayi selama 5 tahun terakhir memang kurang menggembirakan. Hal ini terlihat rendahnya capaian cakupan kunjungan bayi pada Tahun 2006 yang hanya sebesar 24,03%, walaupun pada Tahun 2007 meningkat secara signifikan mencapai 62,04% dan meningkat lagi pada Tahun 2008 menjadi 66,6% dan menurun lagi menjadi 62,91% pada Tahun 2009 dan pada Tahun 2010 menjadi 65%. Dari capaian dalam waktu 5 tahun masih belum dapat memenuhi target yang ditetapkan pada Tahun 2010 yaitu sebesar 90%.

2.3.1.2.11 Cakupan Puskesmas Sampai akhir Tahun 2010 jumlah Puskesmas di Kabupaten Agam adalah sebanyak 22 unit. Puskesmas ini tersebar pada 16 Kecamatan dan ada beberapa kecamatan yang memiliki 2 unit Puskesmas. Berdasarkan kondisi tersebut, maka cakupan puskesmas adalah sebesar 1,38%.

2.3.1.2.12 Cakupan Puskesmas Pembantu Sampai akhir Tahun 2010 jumlah Puskesmas Pembantu sebanyak 120 unit yang tersebar pada 82 Nagari. Berdasarkan kondisi tersebut, maka dapat dihitung Cakupan Puskesmas Pembantu di Kabupaten Agam adalah sebesar 1,46%.

2.3.1.3 Pekerjaan Umum 2.3.1.3.1 Proporsi Panjang Jaringan Jalan Dalam Kondisi Baik

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-42

Proporsi panjang jaringan jalan berdasarkan kondisi dapat dilihat pada tabel berikut :

Grafik II-3 Panjang Jaringan Jalan Berdasarkan Kondisi Tahun 2007 s.d 2010 Kabupaten Agam (Km)

Sumber : Dinas PU Kab. Agam.

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa hampir lebih dari separuh panjang jalan dalam kondisi rusak. Untuk lebih jelasnya, kondisi panjang jalan per kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel II.29 Panjang Jaringan Jalan Berdasarkan Kondisi Menurut Kecamatan Tahun 2010 Kabupaten agam
NO 1 1 2 3 4 5 6 7 8 Kecamatan 2 Tanjung Mutiara Lubuk Basung Ampek Nagari Tanjung Raya. Matur . IV.Koto Malalak Banuhampu Kondisi Baik 3 33.83 41.35 36.84 38.34 36.08 39.09 22.55 74.42 Kondisi Rusak Sedang 4 10.85 11.60 13.56 12.05 11.45 10.70 17.33 3.77 Kondisi Rusak 5 58.23 62.28 72.79 64.70 61.47 57.42 93.01 20.22 Jalan Secara Keseluruhan 7 102.91 115.22 123.19 115.09 109.00 107.21 132.89 98.41

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-43

9 10 11 12 13 14 15 16

Sungai Pua IV.Angkek Candung Baso Tilatang Kamang Kamang Magek Palembayan Palupuh Jumlah

75.93 75.18 67.66 52.62 47.36 46.61 33.83 30.07 751,76 50,67

3.47 4.52 4.97 6.03 6.78 6.33 13.86 13.41

18.60 24.26 26.69 32.35 36.39 33.97 74.41 71.98 808,77

97.99 103.96 99.32 91.00 90.54 86.91 122.10 115.46 1.711,20

Sumber : BPS dan Dinas PU Kab.Agam.

Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik adalah panjang jalan dalam kondisi baik dibagi dengan panjang jalan secara keseluruhan (nasional, provinsi, dan kabupaten/kota). Hal ini mengindikasikan kualitas jalan dari keseluruhan panjang jalan. Jenis permukaan jalan sampai Tahun 2010 dapat kita uraikan jenis pengerasan pada grafik berikut : Grafik II-4 Jenis Permukaan Jalan (km) Kabupaten Agam Tahun 2010

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kab.Agam Tahun 2010

Dari grafik diatas dapat dijelaskan bahwa jenis permukaan jalan di Kabupaten Agam masih banyak perlu ditingkatkan seperti jalan tanah sepanjang 412, 91 km atau 28 % dan jalan kerikil sepanjang 286,38 km atau 19,47 %. Jalan yang memiliki Trotoar dan Drainase/Saluran Pembuangan Air dalam kondisi baik/pembuangan aliran air tidak tersumbat sepanjang 80.4 Km dari 92 km panjang jalan yang memiliki trotoar dan drainase yang ada di Kabupaten Agam Tahun 2010. Jumlah jembatan yang melewati ruas Jalan Kabupaten sampai dengan Tahun 2010 sebanyak 226 unit. Dari jumlah tersebut sudah banyak yang perlu dibenahi atau

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-44

direhabilitasi dan sebagian perlu dibangun baru. Sampai Tahun 2015 ditargetkan pembangunan jembatan baru sebanyak 15 unit. Untuk indikator kemantapan kondisi jalan dan jembatan Tahun 2006-2007, target yang diharapkan tidak bisa direalisasikan sebagaimana mestinya, berturutturut dapat dilihat, target 70,00% terealisasi hanya 68,50%, dan target 73,75% terealisasi sebesar 70,50%, namun periode 2008-2009, menunjukkan realisasi yang melebihi target yang ditetapkan, yaitu Tahun 2008 target sebesar 77,50% direalisasikan sebesar 78,20%, dan tahun 2009 target sebanyak 81,25% dapat direalisasikan sebesar 83,32%. 2.3.1.3.2 Rasio Jaringan Irigasi Untuk meningkatkan produksi pertanian khususnya tanaman padi dimana pembangunan atau Rehabilitasi Jaringan irigasi sangat berperan sekali. Jumlah Jaringan Irigasi sampai dengan Tahun 2010 sebanyak 885 unit. Sebanyak 149 unit sudah terdaftar atau teregistrasi di Kementerian Pekerjaan Umum, sampai dengan Tahun 2010 Jaringan irigasi sudah terbenahi sebanyak 80 unit dan setiap tahunnya dapat ditargetkan rehabilitasi sebanyak 25 unit. Sampai Tahun 2015 ditargetkan dapat terbenahi sebanyak 125 unit untuk jaringan Irigasi Primer dan Sekunder. Semenjak Tahun 2007 Jaringan tersier sudah ditangani oleh Dinas Pertanian dengan program Jides/Jitut DAK, sampai dengan Tahun 2010 sudah dilaksanakan rehabilitasi sebanyak 43 Unit. Rasio perbandingan panjang jaringan irigasi terhadap luas lahan budidaya dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel II.30 Rasio Jaringan Irigasi Tahun 2009 s.d 2010 Kabupaten Agam
Panjang Jaringan (Km) NO 1. 2. 3. 4. 5. Jaringan Irigasi 2009 Jaringan primer Jaringan Sekunder Jaringan Tersier Luas lahan budidaya Rasio 180.151,70 195.046,00 1.500,00 22.529,18 14,28 2010 180.151,70 195.046,00 1.500,00 22.529,18 14,28

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kab.Agam 2010

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-45

Dilihat dari rasio jaringan irigasi menurut masing-masing kecamatan dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Data ini menunjukkan ketersediaan jaringan irigasi untuk peningkatan produksi pangan tergambar pada Tabel II.36 berikut : Tabel II. 31 Rasio Jaringan Irigasi Menurut Kecamatan Tahun 2010 Kabupaten Agam
Panjang Jaringan Irigasi NO
(1)

Kecamatan Primer
(2) (3)

Sekunder Tersier
(4) (5)

Total Luas lahan Panjang budidaya Jaringan (Ha) Irigasi Km


(6=3+4+5) (7)

Rasio
(8=6/7)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Tanjung Mutiara Lubuk Basung Ampek Nagari Tanjung Raya. Matur . IV.Koto Malalak Banuhampu Sungai Pua IV.Angkek Candung Baso Tilatang Kamang Kamang Magek Palembayan Palupuh

7.034 63.431 29.423 61.934 62.494 15.815 41.001 16.962 22.240 27.860 40.442 30.089 16.289 26.302 107.582 61.088 Jumlah

16.647 58.756 36.621 33.406 33.008 33.936 57.298 21.126 19.140 32.074 50.523 26.830 29.507 28.711 72.408 43.500

18.86 1.500 3.700

23,699.86 123.687 69.744 95.340 95.502

3,194.05 5,955.01 3,789.55 3,383.53 2,598.55 2,219.60 2,165.46 3,302.33 3,518.87 3,248.19 3,139.92 2,869.23 4,357.99 3,897.83 4,872.28 1,624.09 54,136.48

7.16 6.67 7.78 6.59 5.47 5.23 4.72 7.10 6.13 7.63 6.96 6.89 7.69 7.66 7.13 11.86 14,28

4.200 4.200

53.951 102.499 38.088 41.380 59.934 90.965 56.919 45.796 55.013

34.778

214.768 104.588 379,197.70

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kab.Agam Tahun 2010

Rasio Jaringan Irigasi adalah perbandingan panjang jaringan irigasi terhadap luas lahan budidaya. Panjang jaringan irigasi meliputi jaringan primer, sekunder, tersier. Hal ini mengindikasikan ketersediaan saluran irigasi untuk kebutuhan budidaya pertanian. Efektifitas pengelolaan jaringan irigasi ditunjukkan oleh nisbah antara luas areal terairi terhadap luas rancangan. Dalam hal ini semakin tinggi nisbah tersebut semakin efektif pengelolaan jaringan irigasi. Dengan pemahaman seperti itu, di lapangan diidentifikasi rasio atau nisbah luas areal terairi terhadap rancangan luas areal mencapai 91% (0,91). Artinya dari seluruh target areal yang akan diairi hanya ada sekitar 9% saja yang tidak terairi. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya (89%), efektifitas pengelolaan air ini mengalami peningkatan sekitar 2%.

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-46

Dengan menganalisa indikator-indikator yang tersedia dalam agenda pengembangan infrastruktur pembangunan, dapat dilihat dari kegiatan peningkatan klasifikasi area irigasi, memperlihatkan angka yang cukup baik karena selama periode 2006-2009 pencapaian realisasinya rata-rata yang ditetapkan sebelumnya. Sebaliknya dalam pencapaian target untuk indikator panjang saluran irigasi yang dibangun Tahun 2006-2008 tidak tercapai. Hasil Analisis efisiensi dan efektivitas

pengelolaan jaringan irigasi disajikan dalam tabel sebagai berikut:


Tabel II.32 Efisiensi dan Efektivitas Pengelolaan Jaringan Irigasi Tahun 2010 Kabupaten Agam NO
1. 2. 3. 4.

Pasokan Irigasi
Pasok Irigasi per Area Pasok Irigasi Relatif Pasok Air Relatif Indek Luas Areal

Tahun 2010
1.38 0.10 0.89 68.36 54,136.48

5. Rancangan Luas Areal Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kab.Agam 2010

Sedangkan efisiensi dan efektifitas pengelolaan jaringan irigasi menurut masing-masing kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel II.33 Efisiensi dan Efektifitas Pengelolaan Jaringan Irigasi Menurut Kecamatan Tahun 2010
Luas Rancangan (Ha) Luas Lahan Terairi (Ha) Kebutuhan Pasok Air Air Tanaman Irigasi (Ha) (lt/ dtk) 5 3,832.86 6 683.00 Pasok Air Irigasi Total (lt/ dtk) Total Pasok Air (lt/ dtk) PIA (lt/ dtk/ha) PIR (lt/ dtk/ha) PAR (lt/ dtk/ha) IA (%)

No

Kecamatan

1 1 2 3 4 5 6 7 8 9

2 Tanjung Mutiara Lubuk Basung Ampek Nagari Tanjung Raya. Matur . IV.Koto Malalak Banuhampu Sungai Pua

3 4 3,194.05 1,916.43 5,955.01 4,466.26 3,789. 2,842.17 3,383.53 2,537.65 2,598.55 1,559.13 2,219.60 1,553.72 2,165.46 1,515.82 3,302.33 2,311.63 3,518.87 2,463.21 3,248.19 1,948.91 3,139.92 1,883.95 2,869.23 2,008.46 4,357.99 3,050.59 3,897.83 2,728.48

7 8 383.29 3,066.29

9=6/4 10=7/5 11=8/5 12=4/3 1.40 0.10 0.80 60.00 1.52 1.36 1.52 1.30 1.29 1.29 1.46 1.46 1.40 1.40 1.29 1.29 1.29 0.20 0.10 0.20 0.05 0.05 0.05 0.15 0.15 0.10 0.10 0.05 0.05 0.05 1.15 0.95 1.15 0.70 0.80 0.80 1.00 1.00 0.80 0.80 0.80 0.80 0.80 75.00 75.00 75.00 60.00 70.00 70.00 70.00 70.00 60.00 60.00 70.00 70.00 70.00

7,146.02 6,788.71 1,429.20 8,217.92 4,547.46 3,865.34 4,060.24 3,857.22 3,118.26 2,026.87 2,663.51 1,997.64 2,598.55 1,948.91 3,962.79 3,368.37 4,222.65 3,589.25 3,897.83 2,728.48 3,767.90 2,637.53 3,443.08 2,582.31 5,229.58 3,922.19 4,677.39 3,508.04 454.75 4,320.09 812.05 4,669.27 155.91 2,182.78 133.18 2,130.81 129.93 2,078.84 594.42 3,962.79 633.40 4,222.65 389.78 3,118.26 376.79 3,014.32 172.15 2,754.46 261.48 4,183.67 233.87 3,741.91

10 IV.Angkek 11 Candung 12 Baso 13 Tilatang Kamang 14 Kamang Magek

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-47

15 Palembayan 16 Palupuh Jumlah

4,872.28 3,166.98 1,624.09 1,055.66 54,136.48 7,009.05

5,846.74 4,092.72 1,948.91 1,364.24

292.34 4,385.05 97.45 1,461.68

1.29 1.29 1.38

0.05 0.05 0.10

0.75 0.75 0.89

65.00 65.00 68.36

64,963.78 50,960.83 6,549.97 57,510.81

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kab.Agam 2010

2.3.1.3.3 Rasio Tempat Ibadah Per Satuan Penduduk Kabupaten Agam mayoritas penduduknya beragama Islam, oleh sebab itu, dilihat dari jumlah masjid, musholla dan langgar yang ada pada Tahun 2009 menurun dari jumlah Tahun 2008. Hal ini disebabkan adanya bencana gempa bumi yang banyak menghancurkan fasilitas ibadah. Untuk lebih jelasnya, jumlah bangunan ibadah yang ada Tahun 2008 dan 2009 dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel II.34 Rasio Tempat Ibadah Tahun 2008 dan 2009
Bangunan tempat Ibadah
(2)

Thn 2008 Jumlah (unit)


(3)

Thn 2009 Rasio


(5=4/3)

NO
(1)

Jumlah pemeluk
(4)

Jumlah (unit)
(6)

Jumlah pemeluk
(7)

Rasio
(8=7/8)

1.

Mesjid, Musholla, langgar Jumlah

1.637 1.637

448.025 448.025

3,92 3,92

1.673 1.673

443.092 443.092

3,73 3,73

Sumber : Bagian Kesra dan Agam Dalam Angka 2009-2010

Untuk lebih jelasnya, jumlah bangunan ibadah Tahun 2009 per Kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel II.35
Rasio Tempat Ibadah Menurut Kecamatan Tahun 2009
Mesjid, mushala NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Tanjung Mutiara Lubuk Basung Ampek Nagari Tanjung Raya. Matur . IV.Koto Malalak Banuhampu Sungai Pua Jumlah (unit) 111 213 73 182 81 69 37 91 60 Jumlah pemeluk 26.651 67.328 21.639 32.979 16.786 22.822 9.212 35.665 22.826 Rasio 4,16 3,16 3,37 5,52 4,83 3,02 4,02 2,55 2,63

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-48

10 11 12 13 14 15 16

IV.Angkek Candung Baso Tilatang Kamang Kamang Magek Palembayan Palupuh Jumlah

103 102 113 64 102 173 99 1.673

42.497 21.682 32.667 33.635 19.784 28.938 12.914 448.025

2,42 4,70 3,46 1,90 5,16 5,98 7,67 3,73

Sumber : Bagian Kesra dan Agam Dalam Angka 2009-2010

2.3.1.3.4 Rasio Tempat Pembuangan Sampah Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) selalu ada di ruang-ruang publik seperti sekolah, pasar, kantor, kompleks perumahan dll. Sebagian besar sampah diolah sendiri dengan cara membakar dan menimbun, bahkan ada diantara masyarakat yang membuang sampahnya ke sungai. Sekitar 771 TPS yang ada disekolah-sekolah diolah dengan cara membakarnya. Sedangkan sampah infeksius yang dihasilkan oleh aktivitas medis pada 369 institusi medis antara lain Puskesmas, Pustu, Puskel, Rumah sakit, serta tempat praktek bidan dan dokter, semua memusnahkan sendiri sampahnya dengan jalan membakar dan menimbun. Sedangkan sampah yang terkumpul pada TPS yang ada di 42 pasar diangkut dan dibuang secara open dumping ke ngarai atau tempat-tempat tertentu yang cukup terisolasi dari pemukiman masyarakat. Disamping itu tersedia juga TPS yang diadakan oleh pemerintah daerah dalam jumlah yang sangat terbatas dan lebih diarahkan untuk pelayanan persampahan di kawasan ibukota kabupaten. Sekitar 50 unit TPS dengan volume 1.m3 dan 10 unit kontainer dengan volume 4,5 m3. TPS di seluruh Kabupaten Agam adalah 1.182 unit dalam berbagai ukuran dan bentuk seperti bak sampah dari

beton, kontainer besi, ataupun menyerupai tong sampah besar dengan rata-rata volume lebih kurang 4,5 m3. Dari kondisi tersebut dapat dicari jumlah daya tampung TPS di Kabupaten Agam yaitu 53.190 m3.

2.3.1.3.5 Rasio Permukiman Layak Huni Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Rasio permukiman layak huni adalah perbandingan luas permukiman layak huni dengan luas wilayah permukiman secara keseluruhan. Indikator ini mengukur II-49

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

proporsi luas pemukiman yang layak huni terhadap keseluruhan luas pemukiman, dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Tabel II.36 Rasio Pemukiman Layak Huni
Luas Wilayah Permukiman 4.526,43 Jumlah.....
Sumber : Dinas Pekerjaan Umum dan data olahan 2010

Luas Permukiman Layak huni 415,00

Rasio 9,17 9,17

2.3.1.4 Perumahan 2.3.1.4.1 Rumah Tangga (RT) yang menggunakan air bersih Sumber air bersih dapat dibedakan atas air hujan, air sungai dan danau, mata air, air sumur dangkal dan air sumur dalam. Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan air bersih dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: Tabel II.37 Persentase Rumah Tangga (RT) yang Menggunakan Air Bersih Provinsi/Kabupaten Agam Tahun 2010 No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Sumber Air Bersih Jumlah 17.566 22.213 6.326 26.152 12.392 8.681 9.766 543 4.875 34.632 108.514 38.37

Leding (Perpipaan) Sumur Lindung Sumur Tidak Terlindung Mata Air Terlindung Mata Air Tidak Terlindung Sungai Danau/Waduk Air Hujan Lainnya Total Jumlah Rumah Tangga yang 10. menggunakan air bersih 11. Jumlah Rumah Tangga persentase Rumah Tangga yang 12. menggunakan air bersih (11/12)
Sumber : BPS Kabupaten Agam

2.3.1.4.2 Rumah Tangga Pengguna Listrik Penyediaan tenaga listrik bertujuan untuk meningkatkan perekonomian serta memajukan kesejahteraan masyarakat. Bila tenaga listrik telah dicapai pada suatu daerah atau wilayah maka kegiatan ekonomi dan kesejateraan pada daerah tersebut dapat meningkat. Untuk mewujudkan hal tersebut maka Pemerintah Daerah II-50

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

berkewajiban untuk melistriki masyarakat tidak mampu dan daerah terpencil. Indikator yang digunakan untuk melihat pencapaian sasaran pemerintah daerah tersebut adalah pesersentase rumah tangga yang menggunakan listrik. persentase rumah tangga yang menggunakan listrik merupakan proporsi jumlah rumah tangga yang menggunakan listrik sebagai daya penerangan terhadap jumlah rumah tangga, dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Tabel II.38 Persentase Rumah Tangga yang Menggunakan Listrik Kabupaten Agam Tahun 2010 No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Uraian RT dengan daya 450 watt RT dengan daya 900 watt RT dengan daya 1.300 watt RT dengan daya 2.200 watt RT dengan daya > 2.200 watt Total Jumlah Rumah Tangga menggunakan listrik Jumlah Rumah Tangga Persentase Rumah Tangga yang menggunakan listrik (6)/(7) Tahun 2010 58.878 26.495 9.813 1.963 981 108.514 119.365 90,91

Sumber : BPS Kabupaten Agam

2.3.1.4.3 Persentase Rumah Tangga Bersanitasi Rumah tinggal berakses sanitasi sekurang-kurangnya mempunyai akses untuk memperoleh layanan sanitasi, sebagai berikut fasilitas air bersih, pembuangan tinja, pembuangan air limbah (air bekas) dan pembuangan sampah. Data rumah tinggal berakses sanitasi di Kabupaten Agam disajikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel II.39 Persentase Rumah Tangga Bersanitasi Tahun 2010 Kabupaten Agam NO Uraian Tahun 2010

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-51

1. 2. 3.

Jumlah rumah tinggal berakses sanitasi Jumlah rumah tinggal Persentase

14.500 119,365 12,15

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Agam dan Data Olahan

Secara rinci data persentase Rumah Tangga bersanitasi menurut Kecamatan adalah sebagaimana tabel berikut : Tabel II.40 Persentase Rumah Tangga Bersanitasi Menurut Kecamatan Tahun 2010 Kabupaten Agam
No
(1)

Kecamatan
(2)

Jumlah rumah tinggal


(3)

Jumlah rumah tinggal persentase berakses sanitasi


(4) (5=4/3)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Tanjung Mutiara Lubuk Basung Ampek Nagari Tanjung Raya. Matur . IV.Koto Malalak Banuhampu Sungai Pua IV.Angkek Candung Baso Tilatang Kamang Kamang Magek Palembayan Palupuh

6,666.0 16,942.2 5,375.7 8,692.2 4,995.1 6,674.8 2,857. 8,928.7 5,927. 10,352.1 6,051.1 9,037.6 9,223.5 5,738.7 8,475.5 3,426.5

3.000. 2.000. 750 4.500. 1.000. 3.250. -

17.71

22.40 12.65 43.47 16.53 35.24

Jumlah

119,36

14.500.

12.15

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Agam dan Data Olahan

2.3.1.5 Penataan Ruang 2.3.1.5.1 Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah ber HPL/HGB

Ruang Terbuka Hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Ruang Terbuka Hijau Kota merupakan kawasan perlindungan, yang ditetapkan dengan kriteria: a. Lahan dengan luas paling sedikit 2.500 (dua ribu lima ratus) meter persegi; b. berbentuk satu hamparan, berbentuk jalur, atau kombinasi dari bentuk satu hamparan dan jalur; dan
RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-52

c. didominasi komunitas tumbuhan. Agar kegiatan budidaya tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan, pengembangan ruang terbuka hijau paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari luas kawasan perkotaan . Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Penetapan kawasan perkotaan adalah Kawasan Ibu kota Lubuk Basung dan ibu kota kecamatan. Kondisi saat ini belum semua kota mempunyai peruntukan lahan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Penetapan RTH baru hanya di Kota Lubuk Basung dengan peruntukan lokasi seluas 2 Ha. Namun lokasi inipun belum dikelola sebagaimana mestinya. Namun walaupun demikian Kota Lubuk Basung mempunyai arena rekreasi dan olah raga yang juga berfungsi sebagai RTH antara lain disekitar Sport Centre 10 Ha, areal sekitar Gedung Olah Raga (GOR) Lubuk Basung 4 Ha dan taman disekitar Mesjid Raya Lubuk Basung 1 Ha. Untuk RTH di ibu kota kecamatan belum dapat ditentukan karena delineasi kota kecamatan belum ditetapkan.

2.3.1.5.2 Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Izin Mendirikan Bangunan gedung adalah perizinan yang diberikan oleh Pemerintah kabupaten/kota kepada pemilik bangunan gedung untuk membangun baru, mengubah, memperluas, mengurangi, dan/atau merawat bangunan gedung sesuai dengan persyaratan administratif dan persyaratan teknis yang berlaku. Bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukkannya, sebagian atau seluruhnya berada diatas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya, maupun kegiatan khusus. Dalam hal pelaksanaan perizinan bangunan (IMB) sebagaimana Keputusan Bupati Nomor 182 Tahun 2001 tentang Pelimpahan Kewenangan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah kepada Pemerintah Kecamatan dan Kecamatan Pembantu. Guna memberikan kemudahan dalam pemberian izin atas pendirian suatu bangunan. Adapun IMB yang menjadi kewenangan kecamatan adalah untuk rumah tinggal yang tidak bertingkat dan tidak berada pada koridor jalan nasional. Sedangkan untuk tingkat kabupaten pelayanan perizinan ini dilaksanakan oleh Kantor Pelayanan

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-53

Terpadu untuk antara lain bangunan bertingkat, bangunan industri, bangunan pemerintah, bangunan yang berada pada koridor jalan nasional, kompleks perumahan, tower dan bangunan publik. Rasio bangunan ber-IMB per satuan bangunan yang merupakan

perbandingan jumlah bangunan ber-IMB terhadap jumlah seluruh bangunan yang ada, masih sangat rendah. Pengurusan IMB oleh masyarakat masih sangat terbatas untuk kawasan perkotaan dan koridor jalan nasional atau jalan propinsi. Sebagai sampel perbandingan antara kecamatan yang terletak pada kawasan perkotaan Bukittinggi seperti Kec. Banuhampu dan kec. Ampek Angkek dan Tilatang Kamang pengurusan IMB berkisar pada angka 50 150 IMB per tahun. Namun untuk kecamatan yang jauh dari perkotaan seperti Kec. Tanjung Raya dan Tanjung Mutiara pengeluaran IMB berkisar 2 20 per tahun. Sementara di Kecamatan Baso dan Matur pengurusan IMB oleh masyarakat sangat rendah sekitar 1 - 5 IMB per tahun. Hal ini merupakan masalah dalam penataan ruang dan lingkungan serta pemasukan daerah dari retribusi IMB.

2.3.1.5.3 Perubahan Pemanfaatan Ruang Publik Pada dasarnya ruang publik sudah dilindungi oleh peraturan perundangundangan dibidang penataan ruang yang selanjutnya dijabarkan secara bertingkat sesuai kewenangan kedalam RTR nasional sampai daerah Kabupaten / Kota. Untuk daerah Kabupaten/Kota ruang publik ditetapkan dalam RTRW sebagai kawasan lindung setempat yang meliputi sempadan danau, pantai dan sungai guna memberi akses bagi masyarakat luas atas objek-objek tersebut dan tidak boleh dikuasai secara privat. Begitu juga ruang pada fasilitas publik seperti jalan dan trotoar termasuk Rumija dan Damija yang diperuntukan bagi pengembangan jalan dan pemenuhan prasarana lainnya seperti komunikasi, energi, drainase, air bersih dan lain-lain, juga merupakan ruang publik yang tidak dapat dikuasai dan disalahgunakan bagi kepentingan privat. Walaupun demikian perubahan pemanfaatan ruang publik sudah terjadi dimana-mana. Hal ini disebabkan lemahnya pengendalian dan pengawasan pemanfaatan ruang dan belum terlaksananya penertiban bangunan dan aktivitas masyarakat pada kawasan tersebut. Untuk itu bidang ini perlu dibenahi guna mewujudkan penataan ruang dan lingkungan yang seimbang dan berkelanjutan dan memastikan semua pihak mendapatkan akses terhadap kekayaan sumberdaya alam dan fasilitas publik secara proporsional.

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-54

2.3.1.6

Perencanaan Pembangunan Undang-Undang nomor 25 Tahun 2004 menyatakan bahwa dokumen

perencanaan pembangunan yang harus disiapkan ditingkat daerah adalah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah ( RPJPD), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) . Untuk

memenuhi amanat undang-undang tersebut Kabupaten Agam telah menyusun Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) yang merupakan

dokumen perencanaan induk untuk waktu 20 tahun ( 2006 2025 ), yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2005 pada tanggal 19 Desember 2005. Untuk pelaksanaan RPJPD dimaksud sudah disusun Rencana Pembangunan

Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2006 -2010 yang merupakan dokumen perencanaan komprehensif lima tahunan tahap pertama pelaksanaan RPJPD. RPJM Kabupaten Agam Tahun 2006-2010 ditetapkan dengan Peraturan Bupati yang akan

Agam Nomor 24 Tahun 2005 pada tanggal 19 Desember 2005

digunakan sebagai acuan dalam penyusunan Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD), Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD), dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), sehingga aspek konsistensi antar dokumen perencanaan tersebut dapat dijaga. Selanjutnya faktor yang sangat menentukan baik atau tidaknya sebuah perencanaan adalah ketersediaan data yang akurat. Untuk itu kegiatan penyediaan data setiap tahun dilaksanakan dengan bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik, diantaranya Penyusunan Buku PDRB, Kabupaten Dalam Angka, Indikator Kesesejahteraan Rakyat, Kecamatan Dalam Angka, ICOR, Tabel Input-Output, Pendataan Rumah Tangga Miskin dan lain sebagainya.

2.3.1.7 Perhubungan 2.3.1.7.1 Jumlah Arus Penumpang Angkutan Umum Tabel II.41 Jumlah Penumpang Angkutan Umum Tahun 2006 s.d 2010 Kabupaten Agam
No 1. 2. 3. 4. Uraian Jumlah penumpang Bis Jumlah penumpang Kereta api Jumlah penumpang Kapal laut Jumlah penumpang Pesawat udara 2006 978 2007 3.128 2008 3.128 2009 3.221 2010 2.352

II-55

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

5.

Total Jumlah Penumpang

978

3.128

3.128

3.221

2.352

Sumber : Dinas Perhubungan Kabupaten Agam

2.3.1.7.2 Rasio Izin Trayek Izin Trayek adalah izin untuk mengangkut orang dengan mobil bus dan/atau mobil penumpang umum pada jaringan trayek.Jaringan trayek terdiri atas: a. jaringan trayek lintas batas negara; b. jaringan trayek antarkota antarprovinsi; c. jaringan trayek antarkota dalam provinsi; d. jaringan trayek perkotaan; dan e. jaringan trayek perdesaan. Trayek adalah lintasan kendaraan umum untuk pelayanan jasa angkutan orang dengan mobil bus, yang mempunyai asal dan tujuan perjalanan tetap, lintasan tetap dan jadwal tetap maupun tidak berjadwal. Jaringan Trayek adalah kumpulan dari trayek-trayek yang menjadi satu kesatuan jaringan pelayanan angkutan orang. Tabel II-42 Rasio Ijin Trayek Tahun 2009 dan 2010. Kabupaten Agam No
1. 2. 3. 3. 4. 5.

Uraian
Izin Trayek perkotaan Izin Trayek perdesaan AKDP/AKAP Jumlah Izin Trayek Jumlah penduduk Rasio Izin Trayek

2009
117 763 436 1.316 445.387. 0.3

2010
117 763 436 1.316 455,484 0.3

Sumber : Dinas Perhubungan Kabupaten Agam

2.3.1.7.3 Jumlah Uji KIR Angkutan Umum Uji kir angkutan umum merupakan pengujian setiap angkutan umum yang diimpor, baik yang dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri yang akan dioperasikan di jalan agar memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. Pengujian dimaksud meliputi: a. uji tipe yaitu pengujian fisik untuk pemenuhan persyaratan teknis dan laik jalan yang dilakukan terhadap landasan Kendaraan Bermotor dan Kendaraan Bermotor dalam keadaan lengkap dan penelitian rancang bangun dan rekayasa Kendaraan Bermotor yang dilakukan terhadap rumah-rumah, bak muatan, kereta gandengan, kereta tempelan, dan Kendaraan Bermotor yang dimodifikasi tipenya. b. uji berkala yaitu diwajibkan untuk mobil penumpang umum, mobil bus, mobil barang, kereta gandengan, dan kereta tempelan yang dioperasikan di Jalan,
RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-56

meliputi

pemeriksaan

dan

pengujian

fisik

kendaraan

bermotor

dan

pengesahan hasil uji.

Tabel II-43 Jumlah Uji Kir Angkutan Umum Tahun 2006 s.d 2010 Kabupaten Agam
2006 No Angkutan Umum Jmlh Jmlh KIR % Jmlh 2007 Jmlh KIR 60 1.604 % Jmlh 2008 Jmlh KIR 50 1.651 3.818 5.519 % Jmlh 2009 Jmlh KIR 44 1.696 % 2010**) Jmlh Jmlh KIR %

1. 2. 3.

Mobil penumpang umum Mobil bus Mobil barang Jumlah

40 959 1.744 2.743

80 1.606 3.641 5.327

00,00 83,73 100,00 94,58

47 981 2.092 3.120

63,83 81,75

38 985 2.092 3.115

65,79 83,81

45 978

48,89 86,71

39 936

37 1.695 4.480 6.212

47,44 0,54 85,89 74,62

3.637 86,93 5.301 77,50

91,25 2.390 4.179 80,28

87,43 2.608

3.413 5.919 74,34 3.583

Ket : Pelaksanaan KIR 2 kali setahun

Sumber : Dinas Perhubungan Kabupaten Agam

2.3.1.7.4 Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Pelabuhan laut diartikan sebagai sebuah fasilitas di ujung samudera, sungai, danau untuk menerima kapal dan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya. Terminal bus dapat diartikan sebagai prasarana transportasi jalan untuk keperluan menurunkan dan menaikkan penumpang, perpindahan intra dan/atau antar moda transportasi serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum. Sampai Tahun 2010 Kabupaten Agam mempunyai dua buah terminal bus yaitu di Lubuk Basung.

2.3.1.7.5 Biaya Pengujian Kelayakan Angkutan Umum

Tabel II-44 Biaya Pengujian Kelayakan Angkutan Umum


No
1

Uaraian
Biaya Administrasi Retribusi Pengujian Jasa Pengujian Pembuatan dan Pengecatan Tanda samping Biaya Tanda uji kendaraan Biaya buku kir

Janis Kendaraan
Mobil Barang, Kendaraan Umum, Kendaraan khusus, Kend gandengan Mobil Barang, kendaraan Khusus

Biaya (Rp)
7.500. 25.000. 15.000. 15.000.6.000. 7.500.

2 3 4 5

Mobil Penumpang, kendaraan Gandengan Mobil Barang, Kendaraan Umum, Kendaraan khusus, Kend. gandengan Mobil Barang, Kendaraan Umum, Kendaraan khusus, Kend gandengan Mobil Barang, Kendaraan Umum, Kendaraan khusus, Kend gandengan

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-57

Sepeda Motor 6 Penilaian teknis Mobil Barang, Kendaraan Umum, Kendaraan khusus

25.000. 50.000.

Sumber : Dinas Perhubungan Kabupaten Agam

Biaya Pengujian Berdasarkan Peraturan Daerah No 10 Tahun 2008. Proses lamanya pengujian Kelayakan Angkutan Umum (KIR) apabila kelengkapan administrasi sudah lengkap dibutuhkan waktu hanya 1 hari kerja.

2.3.1.7.6 Pemasangan Rambu-Rambu Tabel II-45 Jenis dan Kebutuhan Rambu-Rambu Tahun 2010
No
1 2 3 4 5 6

Kegiatan
Rambu-rambu Cermin Tikungan Pagar Pengaman Deliniator Marka Lalin APILL

Volume
516 Unit 16 Unit 248 m 280 buah 230 M2 2 Unit

Sumber
APBD APBD APBD APBD APBD APBD

Kebutuhan
2295 59 1486 621 11035 5

%
22,48 27,12 16,9 45,9 2,08 40

Sumber : Dinas Perhubungan Kabupaten Agam

Berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa faktor penyebab kecelakaan mempunyai persenase yang besar adalah faktor kesalahan atau kelalaian manusia didalam berlalu lintas sebesar 92%, faktor kelaikan kendaraan 3-4%, faktor lingkungan 3%, Faktor ketersediaan rambu - rambu 2-3%. Faktor manusia sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik, pendidikan, usia dan lain-lain. Faktor jalan dipengaruhi oleh kondisi permukaan jalan, alinyamen jalan, hambatan samping dan cuaca. Faktor kendaraan dipengaruhi oleh kondisi teknis dan kelaikan jalan. Artinya dengan terpenuhinya kebutuhan rambu secara menyeluruh tidak secara otomatis akan menurunkan tingkat kecelakaan seratus persen tapi hanya memberikan kontribusi 2-3%. Paling utama dalam penurunan angka kecelakaan sasarannya adalah pada faktor manusia melalui peningkatan pengetahuan keselamatan lalulintas dan sosialisasi untuk menggugah kesadaran dan penertiban dalam rangka penegakan hukum.

2.3.1.8 Lingkungan Hidup 2.3.1.8.1 Persentase penanganan sampah


RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-58

Berdasarkan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) Kabupaten Agam Tahun 2010, tercatat jumlah timbulan sampah untuk seluruh rumah tangga adalah sebesar 910 m3/hari. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk di Kabupaten Agam sebesar 455,484 orang, maka rata-rata timbulan sampah adalah sebesar 0,0017 m3/orang/hari atau sebesar 1,7 liter/orang/hari. Berdasarkan penelitian Yulianti Pratama (2008) maka rata-rata timbulan sampah untuk kota adalah sebesar 2,25 2,5 liter/orang/hari. Jumlah timbulan sampah di Kabupaten Agam lebih kecil dari timbulan sampah rata-rata kota di Indonesia, lebih rinci jumlah timbulan sampah dan persentase kenaikannya Tahun 2009 dan 2010 terlihat pada tabel berikut: Tabel II-46 Jumlah Volume Sampah dan Produksi Sampah Tahun 2009 dan 2010 Kabupaten Agam (M3/hari)
NO 1. 2. 3. Uraian Jumlah sampah yang ditangani Jumlah volume produksi sampah persentase 2009 93,73 891 10,52% 2010 89,09 910 9,79%

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Agam

Jika dibandingkan jumlah sampah yang tertangani dibandingkan dengan volume produksi sampah baru mencapai 9,79%, dimana pengangkutan sampah terbesar berada di Kecamatan Lubuk Basung, namun separuh Kecamatan (8 kecamatan) masih belum terlayani dalam pengangkutan sampah. Jumlah volume sampah terangkut dan volume produksi sampah per kecamatan dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel II-47 Jumlah Volume Sampah (m3/hari) dan Produksi Sampah Menurut Kecamatan Tahun 2010 Kabupaten Agam
NO
1

Kecamatan
2

Jumlah sampah yang ditangani


3

Jumlah volume produksi sampah


4

Persentase
5

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Tanjung Mutiara Ampek Nagari Lubuk Basung Tanjung Raya Palembayan Matur Malalak IV Koto Banuhampu Sungai Puar Tilatang Kamang Kamang Magek Ampek Angkek

10.51 39.74 4.37 0.47 4.25 20.03 3.46

54 47 125 62 67 40 22 49 68 46 67 42 78

0.00% 22.35% 31.79% 7.05% 0.70% 0.00% 0.00% 8.67% 0.00% 43.55% 0.00% 0.00% 4.44%

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-59

14 15 16

Canduang Baso Palupuh Total

3.88 89.09

47 67 29 910

8.25% 0.00% 0.00% 9.79%

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Agam

2.3.1.8.2

Persentase Penduduk Berakses Air Minum

Syarat-syarat air minum menurut Kementerian Kesehatan adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak mengandung logam berat. Walaupun air dari sumber alam dapat diminum oleh manusia, terdapat resiko bahwa air ini telah tercemar oleh bakteri (misalnya Escherichia coli) atau zat-zat berbahaya. Walaupun bakteri dapat mati dengan memasak air hingga 100 C, banyak zat berbahaya, terutama logam, tidak dapat dihilangkan dengan cara ini. Untuk menghitung persentase penduduk berakses air bersih dapat disusun tabel sebagai berikut: Tabel II-48 Proporsi Jumlah Penduduk yang Mendapatkan Akses Air Minum dan Jumlah Penduduk Tahun 2010 Kabupaten Agam
NO 1. 2. 3. Uraian Jumlah

Penduduk yang mendapatkan akses air minum Jumlah penduduk Persentase penduduk berakses air bersih

73.060
455,484

16,19

Sumber : BPS dan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Agam

Dari tabel diatas, ternyata masyarakat yang telah mendapatkan akses air bersih sebanyak 73.060 orang dari jumlah penduduk 455,484 atau sekitar 16,19 %.

Akses air Minum yang didapat oleh masyarakat terdiri dari : untuk meningkatkan jumlah masyarakat yang mendapatkan air bersih perlu dilanjutkan Program Pengadaan Sarana Dan Prasarana Air Bersih melalui Program Pamsimas, Pengembangan Pengelolaan PDAM, Pengadaan Sarana Dan Prasarana Air Bersih, baik melalui dana APBD Kabupaten Agam maupun Dana Alokasi Khusus (DAK). Tabel II-49 Proporsi Jumlah Penduduk yang Mendapatkan Akses Air Minum dan Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Tahun 2010 Kabupaten Agam
NO
(1)

Kecamatan
(2)

Jumlah penduduk
(3)

Jumlah penduduk yang mendapatkan akses air minum


(4)

persentase
(5=4/3)

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-60

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Tanjung Mutiara Lubuk Basung Ampek Nagari Tanjung Raya. Matur . IV.Koto Malalak Banuhampu Sungai Pua IV.Angkek Candung Baso Tilatang Kamang Kamang Magek Palembayan Palupuh

28.049 67.566 22.361 32.998 16.787 22.823 9.213 35.725 22.829 42.946 21.683 32.710 33.711 19.787 29.153 12.923 455,484

11,671.19 29,798.21 9,304.41 15,850.47 7,872.07 10,729.65 638.00 332.00 14,299.15 17,869.83 11,019.30 16,878.63 14,027.15 2,568.00 5,420.00 4,883.00

41.61 44.10 41.61 48.03 46.89 47.01 6.92 0.93 62.64 41.61 50.82 51.60 41.61 12.98 18.59 37.79

Jumlah

173,161

38.37

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Agam.

Persentase penduduk berakses air bersih adalah proporsi jumlah penduduk yang mendapatkan akses air minum terhadap jumlah penduduk secara keseluruhan. Yang dimaksud akses air bersih meliputi air minum yang berasal dari air mineral, air leding/PAM, pompa air, sumur, atau mata air yang terlindung dalam jumlah yang cukup sesuai standar kebutuhan minimal, Pelayanan air minum PDAM di Kabupaten Agam dilayani oleh 9 unit pelayanan yaitu Unit Pelayanan Lubuk Basung, Batu Kambing, Tiku, Maninjau, Matur, IV Koto, IV Angkat Candung, Sungai Puar, dan Baso.

2.3.1.8.3 Persentase Luas Permukiman Yang Tertata Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan . Untuk menghitung persentase luas permukiman yang tertata dapat disusun tabel sebagai berikut: Tabel II-50 Persentase Luas Permukiman yang Tertata Tahun 2010 Kabupaten Agam
NO 1. Uraian luas area permukiman tertata 2010 415,00

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-61

2. 3.

luas area permukiman keseluruhan persentase Luas Permukiman yang Tertata

4.526,43 9,17

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Agam

Dilihat dari luas permukiman yang tertata pada masing-masing kecamatan, ditemui bahwa lebih dari separuh dari jumlah kecamatan masih belum tertata. Persentase Luas Permukiman yang Tertata adalah proporsi luas area permukiman yang sesuai dengan peruntukan berdasarkan rencana tata ruang satuan permukiman terhadap luas area permukiman keseluruhan. Sebagai Indikator permukiman yang tertata adalah terpenuhi kebutuhan dasar Sarana dan Prasana Pemukiman Perumahan seperti: a b c d e f Terpenuhi Akses Jalan dan Jembatan, Perumahan Pemukiman Terpenuhinya Sarana Air Bersih Terpenuhinya Sarana Sanitasi Terpenuhinya Sarana Ibadah Terpenuhinya Sarana Pendidikan Terpenuhi sarana PSU lainnya (Penerangan, Komunikasi, dll) Data yang terhimpun bagi kawasan permukiman yang sudah tertata adalah kawasan perumahan masyarakat melalui KPR/BTN.

2.3.1.9 Pertanahan Tanah merupakan salah satu komponen utama hidup dan kehidupan yang berpotensi memberikan kesejahteraan bagi umat manusia. Apabila dikelola dengan sempurna akan memberikan manfaat yang besar bagi kepentingan masyarakat dan bagi kepentingan umum. Sebagai akibat dari meningkatnya pembangunan dan penyebaran penduduk yang tidak merata maka tuntutan kebutuhan akan tanah semakin besar pula. Hal tersebut mengakibatkan permasalahan tanah menjadi semakin kompleks yang memerlukan pengelolaan secara hati-hati, terencana, terkoordinasi dan terpadu dengan melibatkan semua pihak. Dengan semakin tingginya kepentingan masyarakat terhadap tanah

menyebabkan sering terjadi berbagai konflik

pertanahan. Dalam rangka

penyelesaian konflik tersebut telah dilakukan berbagai upaya dengan melibatkan seluruh pihak terkait antara lain Muspida, Kantor Pertanahan, Muspika hingga Pemerintah Nagari. Konflik yang diselesaikan meliputi permasalahan antara pemerintah daerah dengan masyarakat maupun antara masyarakat dengan pihak ketiga.

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-62

Selanjutnya melalui Program Penyusunan Sistem Informasi Pertanahan yang handal telah diupayakan penyediaan data dan informasi pertanahan bagi kepentingan umum, serta terhimpunnya data tanah untuk kepentingan umum yang belum bersertifikat, antara lain: Puskesmas, Sekolah - Sekolah dan Kantor Pemerintahan. Dengan hasil telah dilakukannya pengukuran atas tanah-tanah milik pemerintah oleh Kantor Pertanahan sebanyak 12 titik dan menunggu keluarnya sertifikat.

2.3.1.10 Kependudukan dan Catatan Sipil Pertumbuhan penduduk selang lima tahun terakhir mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1 % hal ini terbukti bahwa jumlah penduduk pada Tahun 2006 sebanyak 431.603 jiwa, tahun 2007 sebanyak 443.857 jiwa, Tahun 2008 sebanyak 445.387 jiwa, Tahun 2009 sebanyak 451.264 jiwa dan sampai dengan semester pertama tahun 2010 peningkatan jumlah penduduk mencapai 455.484 jiwa. Perkembangan jumlah penduduk usia 17 tahun ( wajib KTP ) yang sudah memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dapat dilihat Tabel dan Grafik dibawah ini : Tabel II-51 Rasio Penduduk ber KTP per satuan penduduk No
1. 2. 3.

Uraian
Jumlah Penduduk Ber KTP Jumlah Penduduk ber usia >17 Tahun / sudah menikah Rasio Penduduk ber KTP per-satuan penduduk Wajib KTP

2007
119.841 294.494 40,69

2008
133.910 295.608 45.30

2009
150.875 299.356 50.40

Sumber : Dinas Kependudukuan dan Catatan Sipil Kabupaten Agam

Grafik II-5 Jumlah Penduduk ber KTP per satuan penduduk

Sumber : Tabel II-51

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-63

Dari Tabel dan grafik di atas terlihat bahwa jumlah penduduk yang wajib KTP yang sudah memiliki KTP ternyata masih rendah walaupun beberapa tahun terakhir terjadi peningkatan. Untuk mendukung penertiban administrasi kependudukan

Pemerintah Daerah melaksanakan penerapan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK). Dengan menggunakan SIAK diharapkan adanya

peningkatan kesadaran

masyarakat untuk memiliki Kartu Tanda Penduduk dan

memperkecil kemungkinan kepemilikan Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk ganda. Sampai Tahun 2010 Pemerintah Kabupaten Agam telah membangun

jaringan SIAK yang menghubungkan Pusat Data SIAK di Lubuk Basung ke empat kecamatan yaitu Kecamatan Lubuk Basung, Tanjung Mutiara, Tanjung Raya dan Matur. Selanjutnya perkembangan penduduk yang yang memiliki Akte Kelahiran dapat dilihat pada tabel di bawah : Tabel II-52 Kepemilikan Akte Kelahiran per 1000 Penduduk Tahun 2008 - 2009 No
1. 2. 3.

Uraian
Jumlah Penduduk memiliki Akte Kelahiran Jumlah Penduduk Rasio Kepemilikan Akte Kelahiran per 1000 Per penduduk

2008
65.778 445.387 147

2009
129.642 451.264 287

2010
133.645 455.484 293

Dinas Kependudukuan dan Catatan Sipil Kabupaten Agam

Dari tabel diatas terlihat bahwa rasio per 1000 penduduk yang memiliki akte kelahiran sangat rendah. Pada Tahun 2008 dari 1000 penduduk hanya 147 yang mempunyai akte, Tahun 2009 sebanyak 287 dan tahun 2010 sebanyak 293. Untuk mendorong peningkatan jumlah penduduk yang memiliki Akte Kelahiran, Pemerintah Kabupaten Agam membebaskan biaya pengurusan Akte Kelahiran yang telah dilaksanakan sejak Tahun 2006. Sebelumnya pada Tahun 2005 Pemerintah Daerah hanya memberikan subsidi Akta Kelahiran kepada Masyarakat Miskin.

2.3.1.11 Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Program Keluarga Berencana merupakan salah satu cara untuk menekan laju pertumbuhan penduduk. Melalui Program Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera diupayakan untuk memotivasi Pasangan Usia Subur (PUS) sehingga mau menjadi peserta Program Keluarga Berencana. Besarnya partisipasi Pasangan Usia

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-64

Subur untuk menjadi akseptor KB makin mengindikasikan terkendalinya laju pertumbuhan penduduk.. Perkembangan kepesertaan Program Keluarga Berencana selama 5 tahun terakhir ini menunjukan hasil yang cukup baik. Pada Tahun 2006 rasio akseptor KB adalah sebesar 774.42 per 1.000 PUS, Tahun 2007 meningkat menjadi 777.31 per 1.000 PUS, kemudian tahun 2008 meningkat lagi menjadi 819.01 per 1.000 PUS dan meningkat menjadi 845.68 per 1.000 PUS pada tahun 2009 dan angka ini hampir sama dengan Tahun 2010. Untuk informasi lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel II-53 Jumlah Akseptor KB dan Pasangan Usia Subur Di Kabupaten Agam Tahun 2006-2010 No.
1 2 3

Uraian
Jumlah Akseptor KB Jumlah PUS Rasio Akseptor KB

2006
45,214 58,384 774.42

2007
45,846 58,980 777.31

2008
49,502 60,441 819.01

2009
52,530 62,116 845.68

2010
53,539 63,360 845.00

Sumber : Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Agam

2.3.1.11.1 Cakupan Peserta KB Aktif Tabel II-54 Jumlah Peserta KB Aktif dan Pasangan Usia Subur Di Kabupaten Agam Tahun 2006-2010
No. 1 2 3 Uraian Jumlah Peserta KB Aktif Jumlah PUS Cakupan Peserta KB Aktif 2006 36,135 58,384 0.62 2007 37,125 58,980 0.63 2008 39,672 60,441 0.66 2009 41,597 62,116 0.67 2010 43,417 63,360 0.69

Sumber : Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Agam

2.3.1.11.2 Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-65

Selanjutnya pada tabel berikut dapat kita jelaskan bahwa jumlah keluarga prasejahtera dan sejahtera 1 terjadi penurunan dari 30,056 pada

Tahun 2007 menjadi 24,405 dan cakupan prasejahtera dan KS 1 menurun dari 0.27 menjadi 0.22 untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel II-55 Jumlah Keluarga Pra Sejahtera dan Sejahtera I Di Kabupaten Agam Tahun 2006-2010
No.
1 2 3

Uraian
Keluarga Pra Sejahtera dan KS I Jumlah Keluarga (R.Tangga) Cakupan Pra Sejahtera dan KS I

2006

2007
30,056

2008
29,170 104,202 0.28

2009
26,289 108,514 0.24

2010
24,405 109,544 0.22

98,986 -

109,564 0.27

Sumber : Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Agam

2.3.1.12 Sosial Sarana sosial seperti Panti Asuhan, Panti Jompo dan Panti Rehabilitasi Sarana sosial yang terdapat di Kabupaten Agam adalah seperti : Panti Asuhan sebanyak 20 buah yang tersebar pada 10 Kecamatan, Anak Putus Sekolah Luar Panti sebanyak 48 buah yang tersebar pada 14 Kecamatan.

2.3.1.13 Ketenagakerjaan 2.3.1.13.1 Angka Partisipasi Angkatan Kerja Sampai akhir Tahun 2009, jumlah penduduk Kabupaten Agam yang berusia 15 tahun ke atas adalah sebanyak 305.070 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 206.201 orang merupakan angkatan kerja. Berdasarkan data tersebut, maka apabila dihitung Angka Partisipasi Angkatan Kerja pada Tahun 2009 adalah sebesar 67, 59%. Dibandingkan dengan Angka Partisipasi Angkatan Kerja pada Tahun 2008, maka terlihat peningkatan Angka Partisipasi Angkatan Kerja.

2.3.1.13.2 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Jumlah penduduk Angkatan Kerja di Kabupaten Agam pada Tahun 2009 berjumlah 206.201 orang, dengan jumlah penduduk usia kerja (15-64 tahun)

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-66

sebanyak 263.687 orang. Berdasarkan data tersebut Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Kabupaten Agam yaitu sebesar 78,20%.

2.3.1.14 Koperasi Usaha Kecil dan Menengah 2.3.1.14.1 Persentase Koperasi Aktif Perkembangan jumlah koperasi selama lima tahun terakhir dan

persentase koperasi yang aktif Tahun 2005 sampai dengan Tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel II-56 Persentase Koperasi Aktif Kabupaten Agam Tahun 2005 2010
NO
1 2 3

URAIAN
Jumlah Koperasi (unit) Jumlah Koperasi Aktif (unit) Persentasi Koperasi Aktif (%)

TAHUN 2005
263 186 70.7

2006
266 187 70.3

2007
257 182 70.8

2008
264 185 70.1

2009
261 185 70.9

2010
267 185 69.3

Sumber : Dinas Koprindag Tahun 2010

Dari tabel diatas terlihat bahwa perkembangan %tase koperasi yang aktif sangat kecil bahkan Tahun 2010 menurun. Kondisi ini selayaknya mendapat perhatian dari Pemerintah Daerah mengingat peranan koperasi sebagai sokoguru perekonomian sangat penting. Diperlukan pembinaan yang intensif sehingga koperasi yang sudah ada tidak mundur dan jumlah koperasi yang aktif ditingkatkan. Disamping koperasi juga terdapat lembaga keuangan mikro syariah Baitul Maal wat Tamwil (BMT ) di 82 Nagari dengan total asset Rp.41.512.257.770,- dan total pembiayaan Rp.30.729.465.965,- 16 diantaranya sudah mempunyai badan hukum, Kedepan diharapkan semua BMT sudah mempunyai badan hukum. Lembaga keuangan mikro ini bertujuan untuk lebih mendekatkan Rumah Tangga Miskin kepada akses permodalan dalam rangka pengembangan usaha rumah tan gga dan peranannya perlu ditingkatkan untuk mendorong ekonomi masyarkat.

2.3.1.15 Penanaman Modal 2.3.1.15.1 Jumlah Investor Berskala Nasional (PMDN/PMA) Investasi merupakan selisih antara stok capital pada tahun ke t dengan tahun sebelumnya ( t 1 ) sebelum dikurangi dengan penyusutan. Investasi dapat

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-67

dirinci menurut institusi yang menanamkan modal yaitu : Investasi pemerintah, Investasi Swasta dan Investasi rumah tangga Investasi Pemerintah merupakan investasi yang dilakukan oleh pemerintah, BUMN dan BUMD. Investasi swasta dapat dibedakan atas Penanaman Modal

Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA). Sedangkan investasi rumah tangga meliputi investasi fisik, bangunan tempat tinggal, alat-alat produksi dan investasi finansial. Di Kabupaten Agam kegiatan investasi lebih didominasi oleh investasi mengalami peningkatan

rumah tangga dan investasi swasta berskala lokal yang

setiap tahunnya. PMDN yang berskala nasional tidak terjadi penambahan selama Tahun 2005-2010. Sedangkan PMA terjadi peningkatan persetujuan investasi setiap tahun masing-masing 1 investor terdiri dari : PT. Pelalu Raya (Malaysia) persetujuan investasinya pada Tahun 2005 telah beroperasi untuk perkebunan kelapa sawit dan industrinya. PT. Santiang Export (Amerika Serikat) persetujuan investasinya pada Tahun 2007 mengalami kemacetan. PT. Jin Lei Resources and development (Cina), PT. Bukit Ayu Lestari (Korea) dalam tahap persiapan. Persetujuan Penanaman modalnya dikeluarkan berturut turut pada Tahun 2008 dan 2009. Persetujuan

penanaman modal PMA dan PMDN ini dikeluarkan oleh BKPM Pusat. Kondisi Tahun 2006 sampai dengan 2010 adalah sebagaimana tabel berikut:

Tabel II-57 Jumlah Investor PMDN/PMA Tahun 2006 s/d 2010 Kab.Agam Tahun
2006 2007 2008 2009 2010

URAIAN
Jumlah Investor Jumlah Investor Jumlah Investor Jumlah Investor Jumlah Investor

PMDN
8 8 15 16 16

PMA
3 3 4 4 4

TOTAL
11 11 19 20 20

Sumber : KPT Kabupaten Agam Tahun 2010

Dari tabel diatas terlihat jumlah investor PMDN berskala nasional terdapat peningkatan, sedangkan investasi PMA terdapat peningkatan jumlah investor yang

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-68

mendapat persetujuan penanaman modal, namun di perjalanan mengalami kemacetan dan ada yang masih dalam tahap persiapan.

2.3.1.15.2 Jumlah Nilai Investasi Berskala Nasional PMDN/PMA Nilai Investasi PMDN/PMA di Kabupaten Agam dapat disajikan dalam tabel berikut : Tabel II-58 Jumlah Investasi PMDN/PMA Skala Nasional Tahun 2006 s/d 2010 Kabupaten Agam
Persetujuan Tahun 2006 2007 2008 2009 Jumlah Proyek 1 1 1 Nilai Investasi (jutaan) rupiah) 2000 1500 10.000 Realisasi Jumlah Proyek Nilai Investasi 10.000 Macet Tahap persiapan Tahap persiapan Keterangan

Sumber : KPT Kabupaten Agam Tahun 2010

Nilai investasi PMDN dan PMA di Kabupaten Agam sampai Tahun 2010 adalah sebesar Rp. 1.185.858.680.000,-

2.3.1.15.2.1

Rasio Daya Serap Tenaga Kerja Tabel II-59 Rasio Daya Serap Tenaga Kerja Tahun 2006 s/d 2010 Kabupaten Agam

No
1 2 3

Uraian
Jumlah Tenaga Kerja yang bekerja pada perusahaan PMA/PMDN Jumlah seluruh PMA/PMDN Rasio daya serap tenaga Kerja

2006
4.628 5 923.6

2007
4.628 5 923.6

2008
4.631 5 922.2

2009
4.734 5 946.8

2010
4.734 5 946.8

Sumber : KPT Kabupaten Agam Tahun 2010

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-69

Tabel diatas menunjukkan bahwa daya serap tenaga kerja PMDN dan PMA skala nasional menyerap tenaga kerja yang cukup tinggi, namun tidak ada peningkatan jumlah tenaga kerja yang diserap, karena selama kurun waktu 5 tahun tidak ada penambahan realisasi investor baru (PMDN dan PMA skala Nasional) yang telah berproduksi komersial selama Tahun 2005-2010.

2.3.1.15.3 Kenaikan / Penurunan Nilai Realisasi PMDN (Milyar Rupiah) Perkembangan nilai investasi Kabupaten Agam Tahun 2005-2010 menurut harga berlaku dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel II-60 Nilai Investasi Yang Ditanamkan Menurut Institusi di Kabupaten Agam Tahun 2005-2010 Sesuai Harga Berlaku (Jutaan Rupiah)
Tahun
2005 2006 2007 2008 2009 2010

Investasi Berlaku
515,815.91 575,442.25 715,582.84 864,647.58 1,032,176.91 1,185,858.06

Investasi Berlaku Menurut Institusi Pemerintah


92,176.30 103,637.15 128,947.96 156,991.47 188,487.89 217,789,94

Swasta
208,234.88 234,607.81 288,665.97 356,495.93 423,810.81 484,892,62

RT
215,404.72 237,197.30 297,968.54 351,159.32 419,878.21 483,175,49

Sumber: BPS Kabupaten Agam

Dan perkembangan nilai investasi Kabupaten Agam Tahun 2005-2010 menurut harga konstan dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel II-61 Nilai Investasi Yang Ditanamkan Menurut Institusi yang Menanamkan Modal di Kabupaten Agam Tahun 2005-2010 Sesuai Harga Konstan (Jutaan Rupiah)
Investasi Konstan
358,132.39 371,118.62 405,228.24 437,844.00 478,684.47 513,364.08

Investasi Konstan Menurut Institusi Pemerintah


63,998.26 66,838.46 73,022.13 79,498.02 87,413.53 94,282.39

Tahun
2005 2006 2007 2008 2009 2010

Swasta
144,578.05 151,305.06 163,469.07 180,523.96 196,547.36 209,912.52

RT
149,556.09 152,975.10 168,737.04 177,821.58 194,723.58 209,169.17

Sumber: BPS Kabupaten Agam

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-70

Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa nilai investasi di Kabupaten Agam terjadi peningkatan, baik investasi pemerintah, swasta (PMDN dan PMA) serta investasi rumah tangga.

2.3.1.16 Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri Perubahan yang signifikan pada sistim politik khususnya di daerah, semakin memperjelas kedudukan dan fungsi pemerintah daerah sebagai fasilitator dalam pengembangan kehidupan demokratis dan politik melalui lembaga-lembaga infra dan supra struktur politik, organisasi kemasyarakatan (ormas) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Hal ini diharapkan dapat menggerakkan lembaga tersebut untuk lebih berperan aktif dalam penerapan Good Governance untuk mewujudkan Clean Government. Peranan Pemerintah daerah dalam upaya pengembangan organisasi sosial kemasyarakatan, politik, LSM, alim ulama dan generasi muda dilaksanakan dalam bentuk pembinaan, sosialisasi, fasilitasi berbagai kegiatan, fasiliatsi pemecahan berbagai permasalahan dan lain-lain. Selanjutnya dalam setiap proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan selalu melibatkan peranan lembaga-lembaga tersebut, termasuk dalam penanggulangan dampak bencana dan penyelamatan

generasi muda dari berbagai dampak kemajuan teknologi informasi dan bahaya narkoba serta peningkatan koordinasi dan kerja sama dengan instansi vertikal terkait dengan berbagai permasalahan diatas Tidak kalah pentingnya mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban yang dilakukan dalam bentuk kegiatan diantaranya

penanggulangan penyakit masyarakat (pekat), penertiban illegal logging, dan penegakan peraturan daerah. Jumlah kasus pelanggaran Peraturan Daerah yang ditangani oleh Satuan Polisi Pamong Praja selama Tahun 2006-2009 dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel II-62 Pelanggaran Perda pada Tahun 2006-2009
TAHUN NO 1 2 3 4 5 JENIS PELANGGARAN Penyakit Masyarakat Pornografi Salon IMB PKL/Bangunan liar 2006 96 288 9 2007 104 14 71 12 2008 77 51 3 2009 7 2 40 5

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-71

6 7 8 9

Minuman Keras Galian C Illegal Logging Penertiban Pelajar

17 29 11

37 12 3 15 -

4 9 5 11 -

2 3 2 9 -

10 SIUP Sumber : Kesbangpolinmas Tahun 2010

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa pada Tahun 2006 sampai dengan Tahun 2009 pelanggaran yang terbanyak dilakukan adalah masalah IMB yakni pada Tahun 2006 sebanyak 288 pelanggaran dan pada tahun-tahun selanjutmnya mengalami penurunan yang cukup baik. Dalam meningkatkan pelayanan bidang ketertiban dan kenyamanan

masyarakat sangat didukung dengan jumlah petugas. Dilihat rasio jumlah Polisi Pamong Praja dalam melaksanakan tugas penegakan Perda dari Tahun 2007

sampai Tahun 2010 tergambar pada tabel dibawah berikut.

Tabel II-63 Rasio Jumlah Pamong Praja Tahun 2007 s/d 2010 Kabupaten Agam
No 1. 2. 3. Uraian Jumlah Polisi Pamong Praja Jumlah Penduduk Rasio jumlah polisi pamong praja per 10.000 Orang 2007 105 443.857 2,36 2008 110 445.387 2,47 2009 130 451.264 2,88 2010 140 455.484 3,07

Sumber : Kesbangpolinmas Tahun 2010

Sedangkan dari tenaga Linmas dalam rangka meningkatkan ketertiban dan kenyamanan wilayah tergambar pada tabel sebagai berikut:

Tabel II-64 Rasio Jumlah Linmas Per 10.000 Penduduk Tahun 2007 s/d 2010 Kabupaten Agam
No 1. 2. 3. Uraian Jumlah Linmas Jumlah Penduduk 2007 3.440 443.857 77,50 2008 3.574 445.387 80,24 2009 3.616 451.264 80,13 2010 3.616 455.484 79,38

Rasio jumlah Linmas per 10.000 Orang Sumber : Kesbangpolinmas Tahun 2010

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-72

Berdasarkan data diatas terlihat rasio jumlah Satuan Polisi Pamong Praja dibandingkan dengan per 10.000 jiwa penduduk, Kabupaten Agam dirasakan masih kurang dimana pada Tahun 2010 rasionya hanya 3,07 yang artinya 3 (tiga) orang Satpol PP mengayomi untuk 10.000 jiwa penduduk. Sedangkan rasio jumlah Linmas dibandingkan dengan per 10.000 jiwa penduduk pada Tahun 2010 sebesar 79,38 yang artinya 79 orang Linmas mengayomi untuk 10.000 jiwa penduduk.

2.3.1.17 Otonomi

Daerah,

Pemerintahan

Umum,

Administrasi

Keuangan

Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian. Otonomi Daerah dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan

masyarakat serta mendorong tumbuhnya prakarsa dan kreatifitas lokal. Karenanya pemerintah daerah perlu memahami apa yang menjadi kebutuhan masyarakat melalui keterlibatan masyarakat dalam berbagai aktivitas pembangunan.

Penyelenggaraan pemerintahan daerah yang bertanggungjawab, taat hukum, memiliki wawasan kedepan yang terukur dan transparan akan menumbuhkan rasa percaya masyarakat kepada pemerintah daerah. Keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan selama Tahun 2005-2010 sangat ditentukan oleh potensi sumber daya aparatur. Tabel di bawah

memperlihatkan perkembangan kondisi Pegawai Negeri Sipil menurut golongan dan pendidikan.

Tabel II-65 Jumlah PNS menurut Golongan dan Tingkat Pendidikan Kabupaten Agam Tahun 2006-2009
Jumlah PNS ( orang ) Jumlah menurut golongan Golongan
I II 1 2006 7.694 III IV

No

Tahun

Jumlah menurut tingkat pendidikan Pendidikan


SD SLTP SLTA Dimploma S1 S2

Jumlah
146 1.381 4.708 1.459

Jumlah
122 139 1.448 3.008 2.880 97 153 182

2007

7.694

I II

155 1.767

SD SLTP

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-73

III IV

4.813 1.665

SLTA Dimploma S1 S2

2.881 3.131 2.826 126 168 121 2.177 3.010 2.917 125 197 241 2.337 3.022 2.932 142

I II 3 2008 8.519 III IV

186 1.821 3.659 2.853

SD SLTP SLTA Dimploma S1 S2

I II 4 2009 8.854 III IV

341 2.305 3.400 2.808

SD SLTP SLTA Dimploma S1 S2

Sumber : BKD Kabupaten Agam Tahun 2010

Kenaikan jumlah pegawai tersebut disebabkan karena adanya penerimaan PNS setiap tahun berdasarkan formasi yang tersedia, sedangkan peningkatan tingkat pendidikan sebagai hasil dari pengembangan PNS melalui tugas belajar dan izin belajar.

2.3.1.18 Ketahanan Pangan Pangan adalah makanan/minuman yang berasal dari hayati, air dan bahan tambahan dalam proses pengolahan (PP. N0 : 68 Tahun 2002). Sistem pangan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengaturan, pembinaan dan/ atau pengawasan terhadap kegiatan proses produksi dan peredaran pangan sampai dengan siap di konsumsi masyarakat (PP 28 Tahun 2004). Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah terjangkau (UU. N0.7/ 1996). Peningkatan ketahanan pangan sebagai suatu sistem bertumpu kepada empat pilar, yaitu produksi, konsumsi, distribusi, dan penunjang seperti tangga yang tercermin dari

tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya secara merata dan

kelembagaan. Pengembangan ketahanan pangan adalah untuk terpenuhinya pangan dengan kondisi; Cukup, Berkelanjutan, Beragam, Bergizi, Berimbang, Aman, Merata dan Terjangkau. Selanjutnya meningkatnya mutu dan keamanan pangan melalui pengawasan pupuk dan pestisida, terlaksananya penanggulangan serangan hama penyakit yang bersifat eksplosif.

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-74

Program ketahanan pangan ini juga menghasilkan pengembangan Desa Mandiri Pangan dalam bentuk pembentukan Kelompok Desa Mandiri Pangan sebanyak 32 kelompok pada 8 nagari, yakni Nagari Sitanang, Nagari Sitalang, Nagari Tiku Utara, Nagari Tiku Selatan, Nagari Manggopoh, Nagari Paninjauan, Nagari Batu Kambiang dan Nagari Duo Koto dengan sasaran KK miskin dengan bantuan penguatan modal usaha. Apresiasi diarahkan dalam rangka pengamanan penerapan Harga Pembelian oleh Pemerintah (HPP) minimal Rp. 2.000,-/kg (GKP),

pengembangan dan peningkatan SDM petugas serta masyarakat tentang keamanan pangan dalam bentuk pembinaan terhadap petugas, masyarakat produsen (kelompok tani dan pengusaha) dan konsumen. Ketersediaan pangan terutama beras Kabupaten Agam sampai Tahun 2009 selalu mengalami surplus. Hal ini terlihat dari hasil penghitungan data yang dilakukan berdasarkan produksi padi Kabupaten Agam sesuai dengan asumsi yang digunakan oleh Kementrian Pertanian, dimana konversi gabah kering giling ke beras sebesar 65 % dan kebutuhan beras/kapita sebesar 130 kg/tahun (Data Bulog). Selama periode 2005 hingga 2009 produksi padi di Kabupaten Agam terus mengalami peningkatan, dimana produksi setiap tahunnya mengalami surplus. Tahun 2005 surplus sebesar 114.765 ton dengan total produksi padi sebesar 170.477 ton. Pada Tahun 2006 ketersediaan beras meningkat . Peningkatan ketersediaan beras yang cukup signifikan dicapai pada Tahun 2009 dimana surplus mencapai 136.781 ton beras dibandingkan Tahun 2008 surplus sebesar 100.290 ton beras. Hal ini diimbangi

dengan peningkatan konsumsi beras dari 55.712 ton pada Tahun 2005 menjadi 58.664 ton pada Tahun 2009. Gambaran umum perkembangan ketersediaan dan konsumsi beras Tahun 2005 2009 dapat dilihat pada Grafik dibawah ini.

Grafik : II-6 Produksi dan Konsumsi Beras Kabupaten Agam

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-75

Sampai Tahun 2009, secara umum ketersediaan pangan terutama beras dapat dikatakan surplus. Selanjutnya, bahan pangan penting lainnya seperti daging, ikan dan susu, pada Tahun 2005 produksi daging mencapai 1,164,350 ton, pada Tahun 2006 sebanyak 1,132,504 ton, Tahun 2007 1,157,944 ton, Tahun 2008 1,181,688 ton, Tahun 2009 sebanyak 1,209,749 ton. Produksi ikan 31.243,7 ton, produksi susu Tahun 2009 diproyeksikan sebesar 49,975 ton.

2.3.1.19 Statistik Urusan Statistik dilaksanakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah melalui program Penyempurnaan dan Pengembangan Statistik tiap tahun dilaksanakan kegiatan yaitu Penyusunan Buku Agam Dalam Angka, penyusunan PDRB. Penyusunan Buku Agam Dalam Angka bertujuan memberikan informasi yang berkaitan dengan data Kabupaten Agam sedangkan Penyusunan PDRB bertujuan memberikan gambaran perekonomian Kabupaten Agam yang digunakan sebagai referensi perencanaan pembangunan kedepan dalam pengambilan

kebijakan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dalam 9 sektor usaha. Di samping itu juga dilaksanakan kegiatan Pembuatan Data Base Kabupaten Agam (GIS) dengan hasil tersedianya database digitasi Kabupaten Agam sebanyak 9 (sembilan) tema. Kegiatan lainnya adalah survey data base perekonomian pembangunan bertujuan untuk meningkatkan sumber daya (hardware, software, brainware) perencanaan pembangunan bidang perekonomian, dimana tersedianya Data Base Perekonomian Pembangunan. 2.3.1.20 Kearsipan Pengelolaan Arsip memiliki peranan penting dalam pengelolaan dan pelayanan dibidang kearsipan terutama untuk penyelamatan informasi, data dan fisik dari suatu dokumen. Program kegiatan telah dilaksanakan di bidang kearsipan dari Tahun 2005-2009 antara lain Pengadaan sarana dan prasarana kantor, Pembinaan Kearsipan dan Pengelolaan Kearsipan Daerah,. Pembinaan Kearsipan bertujuan meningkatkan kemampuan SDM aparatur di Dinas/ Badan/ Kantor/ Bagian/ Kecamatan/ Nagari dalam mengelola kearsipan dengan baik dan benar. Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk pembinaan terhadap
RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-76

tenaga pengelola kearsipan, evaluasi dan apresiasi kearsipan berupa rapat koordinasi kearsipan kepada kepala SKPD, pengelola kearsipan dan wali nagari sehingga tercipta kesamaan persepsi tentang sistem pengelolaan kearsipan. Disamping itu dengan adanya pengelolaan sistem kearsipan pola baru diadakan pembinaan Kecamatan dan Nagari antara lain Kecamatan Matur, Kecamatan Tanjung Raya, Kecamatan IV Koto, Kecamatan IV Angkek, dan Kecamatan IV Nagari dan dua puluh lima nagari.

2.3.1.21 Komunikasi dan Informatika Komunikasi dan Informatika merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam mendukung dan mewujudkan Tata Pemerintahan Yang Baik Dan Bersih. Prioritas pembangunan dalam bidang tata pemerintahan yang baik dan bersih sejak Tahun 2005 hingga 2010 diarahkan pada upaya kerjasama dengan pers / media massa, penggunaan teknologi informasi, internet / situs-situs pemerintahan, dan promosi langsung yang semuanya memberikan banyak kemajuan bagi masyarakat. Media massa sebagai salah satu corong Pemerintah Daerah telah memberikan kontribusi bagi terpenuhinya kebutuhan informasi kepada masyarakat. Tersampaikannya informasi pembangunan kepada masyarakat bertujuan agar masyarakat mengetahui hasil-hasil pembangunan yang telah dilaksanakan, sehingga diharapkan ikut berperan aktif dalam pengawasan dan merasa memiliki hasil-hasil pembangunan yang telah dilaksanakan. Upaya ini telah menghasilkan informasi berita sebanyak 17.400 berita untuk berita pers yang dimuat ke dalam 25 Media Cetak dalam peliputan dan 6 media elektronik dalam peliputan berita khusus seperti Bi TV, RCTI, SCTV, Metro TV, ANTV, dan RRI. Dalam rangka penggunaan teknologi informasi (TI) untuk mewujudkan pelaksanaan e-Government di Pemerintah Kabupaten Agam sejak Tahun 2005 sampai 2010 telah menghasilkan berbagai layanan yang lebih efektif dan efisien. Penggunaan TI tersebut telah diterapkan di beberapa SKPD sesuai dengan kebutuhan dan fungsinya yaitu: a. Website Pemerintah Kabupaten Agam (www.agamkab.go.id) b. Jaringan Komputer dengan LAN dan WLAN c. Koneksi Internet d. SMS Center (08126612111) e. Media Center Pemerintah Kabupaten Agam (AMC) II-77

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

f. Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) g. Sistem Informasi Pelayanan Keuangan Daerah (SIPKD) h. Jejaringan Pendidikan Nasional (JARDIKNAS) i. Sistem Aplikasi Pelayanan Kepegawaian (SAPK) j. Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) k. Website BMT Kabupaten Agam (www.bmt.agamkab.go.id) l. Sistem Informasi Laporan BMT Agam m. Sistem Informasi Komunikasi Data Kesehatan

2.3.1.22 Perpustakaan Perpustakaan kehidupan bangsa. merupakan Secara salah satu dan sarana tidak untuk mencerdaskan mempengaruhi

langsung

langsung

pembentukan dan pembinaan karakter individu yang matang dalam segala aspeknya serta pembangunan karakter bangsa. Penyediaan perpustakaan yang memadai dan dapat di akses oleh semua warga masyarakat sesuai dengan konndisi dirinya sebenarnya telah diperkuat dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan. Maka tidak perlu diragukan lagi pentingnya peran perpustakaan dalam mentransformasikan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara demokratis menuju masyarakat madani, di samping sebagai pelestari nilai budaya dalam masyarakat yang terus berubah dan berkembang Sehubungan dengan itu Kabupaten Agam sampai Tahun 2010 baru

memiliki 1 pustaka daerah dan 16 perpustakaan nagari sebagai mana dijelaskan pada tabel berikut :

Tabel II-66 Jumlah Perpustakaan Tahun 2007 s/d 2010 Kabupaten Agam No
1.

Uraian
Jumlah Perpustakaan Milik Pemerintah a. Perpustakaan Daerah b. Perpustakaan Nagari Jumlah Perpustakaan milik non pemda a. Taman Bacan Masyarakat (TBM) b. Rumah Baca c. Perpustakaan Pribadi

2007
1 3 7 2

2008
1 3 7 2

2009
1 16 3 7 2

2010
1 16 3 8 2

2.

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-78

d.

Perpustakaan Khusus

Sumber : Perpustakaan Tahun 2010

Disamping itu untuk peningkatan pengetahuan dan wawasan sumber daya manusia serta menumbuhkembangkan minat baca masyarakat terutama yang jauh dari pelayanan kepustakaan diselenggarakan Layanan Pustaka Keliling bagi masyarakat di Kecamatan, Nagari dan Sekolah yang letaknya jauh dari Perpustakaan Kabupaten Agam. Selama Tahun 2005 hingga 2009 dilaksanakan kegiatan ini setiap bulan selama enam hari kerja dengan menggunakan bantuan mobil perpustakaan keliling milik Badan Perpustakaan Provinsi Sumbar hasil kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Agam dengan Badan Perpustakaan Provinsi Sumbar. Adapun pelayanan Pustaka Keliling yang dilakukan selama Tahun 2005 hingga 2009 sebagaimana terlihat pada tabel berikut ini: Tabel II-67 Jumlah Pelayanan Pustaka Keliling Tahun 2005-2009
Tahun 2005 2006 2007 2008 Jumlah Pos 22 18 24 39 Jumlah Kecamatan 6 9 10 11 Jumlah Buku 440 620 870 1.200 1.200 Jumlah Anggota 1.440 2.160 3.250 3.250 3.250

2009 41 12 Sumber : Perpustakaan Tahun 2010

Berdasarkan data diatas terlihat adanya peningkatan jumlah pos, buku dan wilayah cakupan pustaka keliling serta anggota yang terlayani. Hal ini merupakan gambaran tentang tingginya minat baca dan semakin baiknya pelayanan yang diberikan oleh petugas kepada masyarakat.Jumlah buku keseluruhan sampai Tahun 2010 sebanyak 8.665 dengan jumlah anggota sebanyak 1.449 dan jumlah

pengunjung pada Tahun 2008 sebanyak 2.543 orang, Tahun 2009 sebanyak 1.928 orang dan pada Tahun 2010 jumlah pengunjung sebanyak 2.905 orang. Berdasarkan dengan jumlah penduduk pada Tahun 2010, sesungguhnya membutuhkan perpustakaan dalam jumlah yang relatif cukup banyak sebagai sumber dan media mentranformasikan ilmu pengetahuan. Namun tidak dapat

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-79

dipungkiri bahwa perpustakaan daerah, perpustakaan nagari dan perustakaan sekolah kurang memadai sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan pemakai. Oleh karena itu, pembangunan dan peningkatan perpustakaan sangat diperlukan dalam upaya peningkatan insan manusia dan membangun masyarakat belajar. Hal itu merupakan bagian integral dari pembangunan Sumber Daya Manusia seutuhnya sebagai salah satu rangkaian upaya peningkatan kualitas hidup manusia dan masyarakat.

2.3.2

Fokus Layanan Urusan Pilihan

2.3.2.1 Pertanian Pembangunan pertanian subsektor tanaman pangan dan hortikultura Tahun 2005-2009 difokuskan kepada peningkatan produksi dan produktifitas melalui penerapan teknologi, perlindungan tanaman dan penanganan pasca panen, perluasan areal tanam, peningkatan kapasitas kemampuan kelembagaan

tani/petani. Selama periode Tahun 2006-2009, produksi padi sebagai komoditi utama tanaman pangan menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel II-68 Luas Tanam, Panen, Produksi Dan Produktifitas Padi Tahun 2006-2009 Uraian
Luas Tanam (ha) Luas Panen (ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Ton/ha) Persentase Peningkatan IP (%)

2006
52.715 49.585 233.490 4,71 0,57 182,92

2007
53.449 51.157 233.561 4,57 0,03 185,46

2008
51.192 51.462 243.119 4,72 4,09 177,79

2009
54.005 52.787 269.382 5,10 10,80 184,04

Sumber : Agam Dalam Angka 2009 dan Hasil Olahan

Grafik II-7 Grafik perkembangan produksi padi Tahun 2005-2009.

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-80

Peningkatan produksi ini telah menempatkan Kabupaten Agam meraih salah satu dari 9 kabupaten/kota di Sumatera Barat yang mencapai peningkatan produksi padi diatas 5%. Hasil ini dapat dicapai disamping sudah semakin baiknya distribusi dan ketersediaan pupuk bersubsidi, penerapan teknologi padi tanam sebatang dan penggunaan pupuk organik sudah semakin memasyarakat dikalangan petani. Selain padi di Kabupaten Agam juga dikembangkan tanaman pangan lainnya seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau dan kacang kedelai. Perkembangan luas tanam dan produksinya dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel II-69 Perkembangan Luas Tanam Dan Produksi Tanaman Pangan Lainnya di Kabupaten Agam Tahun 2006 2009.
2006 No Komoditi Produksi (Ton) 1.253 9.361 18.721 2.093 1.259 249 Luas panen (ha) 3.178 623 1.190 996 670 142 2007 Produksi (Ton) 16.678 9.964 18.726 2.255 145 272 Luas panen (ha) 4.223 599 1.218 1.071 73 144 2008 Produksi (Ton) 16.940 10.653 20.113 2.011 100 290 Luas panen (ha) 3.980 609 1.255 1.009 58 166 2009 Produksi (Ton) 17.260 10.882 20.172 2.039 103 302 Luas panen (ha) 3.984 621 1.259 1.023 60 172

1 2 3 4 5 6

Jagung Ubi Kayu Ubi Jalar Kacang tanah Kacang hijau Kacang kedelai

Sumber : Agam Dalam Angka 2009/2010

Disamping komoditas tanaman pangan, juga memiliki beberapa komoditas hortikultura yang merupakan produk unggulan. Produk unggulan yang diusahakan masyarakat seperti cabe, tomat, kubis, wortel, kentang, pisang, jeruk, pepaya, alpukat dan lain-lain. Tingkat produksi tanaman hortikultura ini juga memperlihatkan hasil yang cukup produktif, sebagimana dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel II-70 Perkembangan Produksi Luas Panen Tanaman Sayur-Ayuran di Kabupaten Agam Tahun 2006 2009
RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-81

2006 No Komoditi Produksi ( Ton ) 2.194 1.830 3.495 4.380 739 4.958 368 4.082 475 2.530 Luas panen ( ha ) 169 73 535 393 61 323 54 992 100 252

2007 Produksi ( Ton ) 1.621,5 2.771,7 6.444,6 4.354,4 1.588,6 11.116,3 520 7.902,2 922 5.226 Luas panen ( ha ) 143 121 1.048 369 115 1.318 97 2.273 107 534

2008 Produksi ( Ton ) 1.594 3.224 6.844 4.362 1.462 10.383 459 6.739 461 5.454 Luas panen ( ha ) 153 135 1.109 341 131 1.230 95 2.003 92 391

2009 Produksi ( Ton ) 1.489 3.325 7.425 4.045 2.777 7.594 503 6.856 574 4.777 Luas panen ( ha ) 144 139 1.159 311 143 1.206 100 1.979 87 362

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Kentang Kubis Buncis Sawi Ketimun Terung Kacang panjang Cabe Bawang Merah Tomat

Sumber : Agam Dalam Angka Tahun 2009/2010

Tabel II-71 Perkembangan Produksi Dan Populasi Tanaman Buah-Buahan di Kabupaten Agam Tahun 2006 2009
2006 No Komoditi Produksi ( Ton ) 18.885 2.870,4 4.492 2.176 26,30 1.162,5 26 555,2 Jumlah pohon 105.040 29.213 3.011 16.384 1.930 34.859 468 737 2007 Produksi ( Ton ) 5.385,2 6.056 81,10 631,9 1,30 3.258 182,3 4.239,6 Jumlah pohon 223.138 295.109 12.668 44.183 3.374 118.741 3.102 263.533 2008 Produksi ( Ton ) 10.339 8.597 962 1.132,2 106,8 3.054,5 122,86 8.617 Jumlah pohon 173.390 64.899 3.664 44.056 3.763 115.009 2.589 286.561 2009 Produksi ( Ton ) 10.691 8.817 962 1.132,2 106,8 3.054,5 183 4.570 Jumlah pohon) 174.340 66.499 3.664 44.056 3.763 115.009 3.352 263.533

1 2 3 4 5 6 7 8

Pisang Jeruk Pepaya Rambutan Nenas Alpukat Mangga Durian

Catatan : Tahun 2006 ke 2007 Luas area/populasi meningkat tajam tetapi produksi menurun drastis. Sumber : Agam Dalam Angka Tahun 2009/2010

Sub sektor perkebunan, memiliki potensi yang

cukup besar dalam

meningkatkan perekonomian masyarakat. Hal ini didukung oleh lahan yang cukup luas dan iklim yang sesuai. Komoditi tanaman yang dominan dan prospektif dikembangkan di Kabupaten Agam diantaranya adalah kelapa sawit, kelapa dalam, gambir, tebu dan kakao. Untuk perkebunan rakyat Komoditi tanaman perkebunan rakyat terluas yaitu kelapa sawit dengan luas 16.769 ha dengan hasil produksi 150.921 ton. Selanjutnya diikuti oleh kakao perkebunan rakyat seluas 4.832 ha dengan produksi 3.924,50 Ha. Tanaman perkebunan lainnya yang dominan diusahakan masyarakat adalah kelapa dalam, cengkeh, gambir, pinang casiavera, tebu, karet, pala, kemiri, gardamunggu, kopi arabika dan kopi robusta. Tanaman

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-82

perkebunan ini memberikan kontribusi sebesar 10,71 % pada Tahun 2005 dan meningkat pada Tahun 2009 sebesar 11,60 %. Sub sektor peternakan, pembangunan sub sektor peternakan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani disamping peningkatan perekonomian masyarakat. Ternak besar yang dominan dikembangkan adalah sapi potong, kerbau dan kambing dan ternak unggas yaitu ayam dan itik. Perkembangan populasi ternak dan produksi hasil ternak kurun waktu Tahun 2006-2009 cenderung meningkat, dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut : Tabel II-72 Perkembangan Populasi Ternak (ekor) Tahun 2006 -2009
No
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Jenis Ternak
Sapi potong Sapi perah Kerbau Kambing Ayam kampung Ayam Ras Petelur Ayam Ras Pedaging Itik Kelinci

2006
28.763 33 17.959 13.506 317.941 167.770 51.390 103.275 1.302

2007
30.057 35 18.704 13.956 300.061 162.350 54.500 99.978 2.430

2008
32.017 40 17.787 13.139 432.315 161.548 53.700 105.067 7.320

2009
32.723 55 18.634 13.089 324.747 177.884 69.481 109.830 8.847

Sumber : Dinas Peternakan Kabupaten Agam.

Grafik II-8 Perkembangan Produksi Hasil Ternak (Kg) Tahun 2006 -2009

Sumber : Dinas Peternakan Kabupaten Agam

Untuk meningkatkan populasi dan produksi telah diupayakan peningkatan distribusi sapi induk, Inseminasi buatan, pelayanan kesehatan hewan dan penyuluhan sehingga keberadaan ternak di kabupaten Agam mampu memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap protein hewani.

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-83

2.3.2.2 Kehutanan Luas lahan hutan Kabupaten Agam berdasarkan fungsinya adalah 104,109 ha yang terdiri dari Hutan Lindung seluas 31,560 Ha, Hutan Produksi seluas 6,040 ha, Hutan Produksi Terbatas seluas 20,650 ha dan Hutan yang dapat di konversi seluas 14,130 ha. Dari luasan ini masih terdapat lahan termasuk kedalam kategori lahan kritis sampai sangat kritis yang seluas 52.905,5 Ha adalah luas lahan kritis yang perlu penanganan. Dimana 30.582,5 Ha atau 13,7 % kategori kritis, sedangkan untuk luasan lahan yang sangat kritis seluas 22.323 Ha atau 10 % dari luas Kabupaten Agam. Pembangunan bidang kehutanan diarahkan untuk pengelolaan hutan produksi dan penanganan serta penyelamatan hutan dan sumber daya alam melalui kegiatan reabilitasi hutan dan lahan. Terkait dengan indikator kinerja daerah, yaitu kontribusi sektor kehutanan terhadap PDRB menunjukkan penurunan, pada Tahun 2005 sebesar 0,75 % dan Tahun 2009 sebesar 0,72 %. Selanjutnya indikator luas lahan kritis yang telah dilakukan kegiatan rehabilitasi dan reboisasi sampai Tahun 2010 seluas 7.010 Ha, atau 4,5 % dari luasan lahan kritis yang ada. Setiap tahun kemampuan maksimal pemerintah dalam melakukan rehabilitasi adalah dengan luasan 1.500 Ha, karena terkait dengan ketersediaan anggaran. Tabel II-73 Perkembangan Kondisi dan Capaian kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Bidang Kehutanan
TAHUN NO URAIAN 2005 1. 2. 3. 4. Luas Hutan (Ha) Luas Hutan Kritis (ha) Luas Lahan dan Hutan yang di Rehabilitasi Persentase Lahan Kritis yg direhabilitasi 85,883.40 22,323.00 575.00 2,58 2006 85,883.40 21.891,75 1,700.00 7,77 2007 85,883.40 20,616.75 105.00 0,51 2008 85,883.40 20,538.00 2,230.00 10,86 2009 85,883.40 18,865.50 250.00 1,33 2010 85,883.40 18,678.00 2,150.00 11,51

Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebubunan Kabupaten Agam 2010

2.3.2.3 Energi dan Sumber Daya Mineral Pelaksanaan urusan bidang Pertambangan dan Energi diarahkan pada

upaya pemantauan dan pengendalian distribusi bahan bakar minyak bersubsidi, Pengawasan dan Pembinaan Pertambangan Umum terutama dan Energi,

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-84

Pembinaan dan Pengawasan Bidang Pertambangan, Koordinasi Pengembangan Ketenagalistrikan dan Program Pembinaan dan Fasilitasi Pengelolaan Sumber Daya Alam. Pertambangan umum yang ada di Kabupaten Agam hanya kegiatan usaha penambangan Mineral Logam (pasir besi) dan mineral non logam (dolomite dan batu kapur). Sampai Tahun 2010 Jumlah usaha penambangan Mineral Logam (pasir

besi) berjumlah 4 perusahaan dengan luas 17.280 Ha dan mineral non logam (dolomite dan batu kapur) 7 perusahaan. Permasalahan yang dihadapi adalah

keterbatasan dana dan sumberdaya sehingga tidak semua usaha pertambangan belum dapat dipantau bahkan beberapa lokasi pertambangan yang telah

membahayakan belum dapat dihentikan operasinya. Adanya kesulitan dalam mendapatkan data riil hasil pemanfaatan sumberdaya alam dari pengelola. Solusinya adalah dengan mengintensifkan koordinasi dengan pihak terkait dan alternatif untuk mengalihkan usaha masyarakat serta secara intensif mengupayakan bagaimana

pihak pengelola selalu mengirimkan laporan secara kontinyu. Walaupun belum optimalnya pembinaan dan pengawasan yang dilakukan karena permasalahan di atas, namun kontribusi sektor pertambangan (pertambangan bahan galian C) terhadap PDRB Kabupaten Agam pada Tahun 2005 sebesar 4,41 % dan Tahun 2009 sebesar 4,11 %. Data tersebut menunjukkan bahwa sumbangan dari usaha pertambangan yang ada di Kabupaten Agammengalami penurunan rata-rata 0,06 % pertahun.

2.3.2.4 Pariwisata Pembangunan kepariwisataan mempunyai peranan penting dalam

mendorong kegiatan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan perluasan kesempatan kerja. Pariwisata juga berperan dalam upaya meningkatkan jati diri bangsa dan mendorong kesadaran dan kebanggaan masyarakat terhadap kekayaaan budaya bangsa dengan memperkenalkan produk-produk wisata seperti kekayaan dan keunikan alam, seni dan budaya tradisional. Melalui sektor pariwisata ini diharapkan akan dapat menggerakkan ekonomi masyarakat terutama dibidang usaha kecil terkait dengan dunia kepariwisataan, karena daerah ini merupakan salah satu tujuan wisata regional, nasional dan manca negara. Sampai saat ini jumlah objek wisata potensial di Kabupaten Agam sebanyak 140 objek yang terdiri dari objek wisata alam 56 objek, objek wisata bahari 1 buah, objek wisata minat dan bakat 4 buah, objek wisata minat khusus 84 objek, dan objek wisata yang paling potensial terhadap daya tarik wisata adalah kawasan II-85

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

Maninjau dan kawasan Pantai Tiku . Pengembangan pariwisata Kabupaten Agam terkendala oleh kondisi objek wisata yang kurang terpelihara dengan baik, tidak didukung dengan fasilitas umum yang memadai seperti MCK, tempat ibadah, air bersih, restoran dan lain-lain serta kurangnya kenyamanan wisatawan. Secara umum perkembangan sektor pariwisata di Kabupaten Agam selama lima tahun terakhir telah megalami kemajuan, hal ini terlihat dari semakin meningkatnya jumlah kunjungan wisata ke Kabupetan Agam. Perkembangan jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Agam tergambar dari berikut : sebagaimana Grafik

Grafik II-9 Jumlah Kunjungan Wisata Kabupaten Agam Tahun 2005-2009

Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Agam , Tahun 2010

2.3.2.5 Kelautan dan Perikanan Sebagai salah satu daerah yang memiliki sumber daya perairan yang cukup luas yaitu laut seluas 313,04 km2, hutan mangroove 65 ha, terumbu karang 27,5 ha, danau 9.950 ha, sungai, telaga dan perairan umum lainnya seluas 568 ha, selama lima tahun terakhir ini usaha di bidang kelautan dan perikanan di Kabupaten Agam telah mengalami perkembangan yang cukup baik meliputi usaha perikanan tangkap dan perikanan budidaya air tawar. Sentra perikanan tangkap berada di Kecamatan Tanjung Mutiara, sedangkan untuk budidaya perikanan air tawar berada di Tanjung Raya dan Lubuk Basung dengan jenis kegiatan budidaya Keramba Jaring Apung, Keramba Irigasi, Kolam Air Deras dan Kolam Air Tenang serta Usaha Pembenihan Rakyat (UPR). Secara umum, total produksi perikanan Kabupaten Agam selama Tahun 2005 s/d 2009 ini mengalami peningkatan.

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-86

Grafik II-10 Perkembangan Produksi Perikanan (Ton) Tahun 2006 -2009

Sumber : Agam Dalam Angka 2009/ 2010

Produksi perikanan budidaya tersebut didukung dengan adanya Balai Benih Induk di Gumarang Kecamatan Palembayan dan BBI Lubuk Basung. Usaha budidaya selama Tahun 2005 s/d 2009 juga terus mengalami peningkatan dimana sampai Tahun 2009 jumlah Keramba Jaring Apung (KJA) mencapai 2.850 unit dengan produksi 7.830 ton, kolam air deras 1.440 unit dengan produksi 5.015 ton, keramba di saluran irigasi 924 unit dengan produksi 1.487,20 ton dan kolam air tenang sebanyak 742,4 ha dengan produksi sebanyak 871,2 ton. Khusus pengembangan keramba di Danau Maninjau perlu dilakukan pembatasan sesuai dengan daya dukung danau sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Terkait dengan indikator pembangunan pada subsektor perikanan dan kelautan selain dengan tingkat produksi dan cakupan bina kelompok, indikator konsumsi ikan juga merupakan indikator yang menggambarkan kinerja daerah.

Sampai Tahun 2010 konsumsi ikan per kapita di Kabupaten Agam mencapai 30,5 kg.

2.3.2.6 Perdagangan Perkembangan bidang perdagangan dapat dilihat dari ketersediaan sarana perdagangan dan jumlah pasar. Jenis sarana perdagangan sudah cukup lengkap, mulai dari mini market, restoran/rumahmakan, warung/kedai makanan minuman sampai dengan took/warung kelontong. Namun secara kewilayahan sarana tersebut masih kurang jika dilihat dari jumlah nagari. Hal ini terlihat dari jumlah nagari yang

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-87

memiliki mini market baru 15 nagari dari 82 nagari yang ada. Begitu juga dengan jumlah sarana warung/kedai makanan minuman baru 78 nagari. Sedangkan bila dilihat jumlah pasar yang ada, terdapat pasar sebanyak 42 buah yang terdiri dari 12 pasar serikat, 3 pasar Pemda, 1 pasar swasta dan 26 pasar nagari. Pasar yang sudah mempunyai bukti status kepemilikan secara tertulis sebanyak 12 buah, dan 13 pasar sudah mempunyai Badan Pengelola Pasar yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Bupati. 14 pasar sudah mempunyai anggaran pendapatan dan pengeluaran. Tabel berikut memperlihatkan kondisi fisik pasar kondisi Tahun 2010. Tabel II-74 Kondisi Fisik pasar-pasar di Kabupaten Agam Tahun 2010. No
1. 2. 3. 4. 5. 6.
BANGUNAN JUMLAH RUSAK RINGAN RUSAK SEDANG RUSAK BERAT

Toko Permanen Toko Semi permanen Kios Permanen Kios Semi Permanen LOS Draenase pasar

529 345 764 164 152 18

170 111 74 136 3

63 30 140 40 6

116 16 44 24 3

Sumber : Dinas KOPERINDAG Agam

Sedangkan bila dilihat jumlah pasar yang ada, terdapat pasar sebanyak 37 buah. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah pasar tersebut masih jauh kurang dibandingkan jumlah nagari sebanyak 82 nagari arinya 41 nagari belum memiliki pasar permanen/semi permanen, yang berakibat masih sulitnya masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Apalagi jumlah pasar ternak yang hanya terdapat 2 buah pasar dengan daya tamping sebesar 7.200 ekor. Indikator kinerja sector perdagangan yang digunakan adalah Jumlah Kelompok Pedagang / Usaha Informal yang Mendapat Bantuan Binaan, Kontribusi Sektor Perdagangan terhadap PDRB dan Cakupan Bina Kelompok Pedagang.

2.3.2.7 Perindustrian

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-88

Bidang industri yang ada di Kabupaten Agam berupa industry kecil. Perkembangan industrl tersebut selama kurun waktu 2005 hingga 2009 terjadi peningkatan jumlah industri kecil dan menengah di Kabupaten Agam. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah Industri kecil dan menengah pada Tahun 2005 sebanyak 5.551 buah dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 19.399 orang. Pada Tahun 2009 meningkat menjadi 5.886 buah dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 30.150 orang, dengan pertumbuhan selama lima tahun sebesar 7,39 % (rata pertumbuhan pertahun sebesar 1,85 %). Secara umum pertumbuhan Industri mengalami peningkatan walaupun paa Tahun 2007 terjadi pertumbuhan yang negativ yaitu sebesar 1,29 %. Hal tersebut sebagai bukti bahwa kegiatan ekonomi masyarakat melalui industri semakin meningkatkan taraf kehidupan sehingga minat masyarakat makin meningkat pula, disamping itu banyaknya peluang modal yang disediakan pemerintah. Tabel II-75 Perkembangan Industri dan Pengrajin di Kabupaten Agam
NO 1 2 3 4 5 6 URAIAN 2005 Jumlah Industri Pertumbuhan (%) Kontribusi terhadap PDRB (%) Jumlah Pengrajin Kelompok Pengrajin Binaan Cakupan Bina Kelompok Pengrajin 12,81 19.399 21 5 5.551 2006 5.565 0.25 11,95 19.551 27 6 TAHUN 2007 5.493 - 1,29 11,40 12.314 36 9 2008 5.886 7,16 11,38 22.670 48 12 2009 5.961 1,27 10,59 22.996 54 6

Sumber : Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Agam Tahun 2010

2.4 Aspek Daya Saing Daerah. 2.4.1 Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah Analisis kinerja atas aspek kemampuan ekonomi daerah dilakukan terhadap indikator pengeluaran konsumsi rumah tangga perkapita, pengeluaran konsumsi non pangan perkapita dan produktifitas total daerah.

2.4.1.1 Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum Adminitrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian 2.4.1.1.1 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Perkapita Pengeluaran konsumsi rumah tangga perkapita adalah rata-rata biaya yang di keluarkan untuk konsumsi semua anggota rumah tangga selama sebulan dibagi II-89

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

dengan banyaknya anggota rumah tangga. Pengeluaran konsumsi rumah tangga perkapita merupakan salah satu indikator penting dalam melihat tingkat

kesejahteraan penduduk, yaitu dengan mengelompokkan suatu daerah berdasarkan besarnya rata-rata pengeluaran konsumsi rumah tangga perkapita. Apabila dari

komposisi penduduk tersebut ternyata jumlah penduduk terbesar berada pada golongan pengeluaran yang tinggi, hal ini mencerminkan tingkat ekonomi penduduk yang baik. Sebalikknya apabila sebagian besar penduduk tersebut berada pada golongan pengeluaran nyang rendah mencerminkan tingkat ekonomi yang rendah pula. Tabel berikut memperlihatkan persentase penduduk Kabupaten Agam menurut golongan pengeluaran per kapita per bulan hasil Susenas Tahun 2007 dan 2009. Tabel II-76 Persentase Penduduk Kabupaten Agam Menurut Golongan Pengeluaran Per kapita Per bulan. No
1 2 3 4 5 6

Golongan Pengeluaran ( Rupiah )


Kurang dari 100.000 100.000 - 149.999 150.000 - 199.999 200.000 - 299.999 300.000 - 499.999 500.000 dan lebih. Total

persentase Penduduk. 2007


0.65 10.10 20.01 31.86 27.55 9,83 100

2009
0.00 1,64 8,07 32.98 41.10 16.22 100

Sumber : BPS Provinsi Sumatera Barat.

Dari tabel diatas terlihat bahwa komposisi penduduk Kabupaten Agam berada pada tingkat pengeluaran sedang. Namun apabila dibandingkan hasil Susenas Tahun 2007 dengan Tahun 2009 memperlihatkan bahwa terjadi pergeseran komposisi penduduk yang signifikan kearah yang lebih baik. Pada Tahun 2009 persentase penduduk pada golongan pengeluaran rendah jauh berkurang dan persentase penduduk dengan golongan pengeluaran sedang dan tinggi meningkat. Hal ini menunjukkan daya saing perekonomian Kabupaten Agam juga meningkat.

2.4.1.1.2 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Makanan dan Non Makanan Pengeluaran rumah tangga dapat digolongkan menjadi dua yaitu pengeluaran konsumsi makanan dan pengeluaran konsumsi non makanan.

Makanan mencakup seluruh jenis makanan termasuk makanan jadi, minuman, tembakau dan sirih. Non makanan mencakup perumahan, sandang, biaya kesehatan, biaya pendidikan dan sebagainya. II-90

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

Statistik pengeluaran

rumah tangga di Kabupaten Agam menunjukkan

bahwa pengeluaran rumah tangga dari Tahun 2006 2007 memperlihatkan peningkatan namun masih terfokus untuk untuk memenuhi kebutuhan makanan. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat kesejahteraan penduduk masih kurang. Hanya sebagian kecil dari pengeluaran rumah tangga yang dialokasikan untuk kesehatan, pendidikan dan lain-lain apalagi untuk tabungan. Pada Tabel dibawah ini memperlihatkan perkembangan pengeluaran konsumsi rumah tangga untuk pangan dan non pangan . Tabel II-77 Perkembangan Persentase Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga untuk Makanan dan Non Makanan Tahun 2006 2009.
Tahun 2006 2007 2008 2009 Sumber : BPS Kabupaten Agam Pengeluaran Konsumsi Makanan 60,47 60,33 56,25 61,59 Konsumsi Non Makanan. 39,53 39,67 43,75 38,41

2.4.1.1.3 Produktifitas Total Daerah Produktivitas total daerah dihitung untuk mengetahui tingkat produktivitas tiap sector/lapangan usaha per angkatan kerja yang menunjukkan seberapa produktif tiap angkatan kerja itu dalam mendorong ekonomi daerah per sektor. Produktivitas Total Daerah dapat di ketahui dengan menghitung produktivitas daerah per sektor di bagi dengan jumlah angkatan kerja dalam sektor yang bersangkutan. Tabel 2.4.2. menunjukkan produktivitas total daerah yang dihitung berdasarkan lapangan usaha PDRB.

Tabel II-78 Produktivitas Sektor dan Produktivitas Total Daerah Tahun 2006 2009. (Rp. 000.000,- ) II-91

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

No
1 2 3 4 5 1 7 8 9 Pertanian

Lapanngan usaha
Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan air bersih Bangunan Perdagangan, hotel dan restoran. Pengangkutan dan komunikasi Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan Jasa-jasa

2006
20.79 136.62 14.26 66.72 13.96 13.10 10.81 53.38 16.15

2007
18.77 72.86 82.77 33.27 42.29 15.89 24.83

2008
22.01 84.83 99.04 39.47 49.49 18.21 28.43

2009.
26.32 25.18 25.47 8.82 35.80

Produktivitas Total Daerah


Sumber : Data olahan.

17.78

22.90

26.76

29.39

Dari tabel diatas terlihat bahwa dari Tahun 2006 2009 produktivitas total daerah meningkat tetapi kalau dilihat dari laju peningkatannya terjadi perlambatan. Kalau dilihat dari produktivitas per sektor ; sektor jasa, industri pengolahan, transportasi, perdagangan dan bangunan mempunyai tingkat produktivitas yang

lebih tinggi dari sektor pertanian. Selanjutnya masih terdapat beberapa nilai lebih dari Kabupaten Agam yang merupakan potensi untuk meningkatkan aspek daya saing daerah diantaranya : 1. Posisi Kabupaten Agam yang terletak pada kawasan yang sangat strategis yang dilalui jalur Lintas Tengah Sumatera dan Jalur Lintas Barat Sumatera dan dilalui oleh Fider Road yang menghubungkan Lintas Barat, Lintas Tengah dan Lintas Timur Sumatera yang berpeluang meningkatkan daya saing perekonomian. Disamping itu Kabupaten Agam terletak pada Pantai Barat Sumatera dengan panjang garis pantai 43 Km yang dimanfaatkan sebagai sumber daya laut seperti perikanan tangkap, juga terdapat terumbu karang. 2. Kabupaten Agam mempunyai beragam potensi sebagai basis pengembangan kegiatan ekonomi seperti berbagai macam potensi produk pertanian,

peternakan, perkebunan dan perikanan yang masih dapat dikembangkan produktifitasnya untuk mendorong tumbuhnya industri pengolahan (agroindustri). Juga terdapat bermacam-macam kerajinan dan industri pengolahan yang mendukung berkembangnya industri pariwisata seperti berbagai sulaman tradisional yang bernilai tinggi, konveksi, industri logam dan berbagai jenis makanan ringan yang spesifik. 3. Dilihat dari struktur perekonomian Provinsi Sumatera Barat kontribusi PDRB Kabupaten Agam menempati posisi ke dua setelah kota Padang, Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan perekonomian Kabupaten Agam akan

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-92

berpengaruh Barat. 4.

cukup signifikan kepada peningkatan perekonomian Sumatera

Beberapa Kecamatan di Kabupaten Agam yaitu Banuhampu, Kecamatan Baso, Kecamatan Tilatang Kamang, Kecamatan Sungai Pua, Kecamatan IV Angkek, Kecamatan Canduang dan Kecamatan IV Koto yang berbatasan langsung dengan Kota Bukittinggi lebih berpeluang untuk berkembang berkaitan dengan dekatnya akses pemasaran.

5. Pemanfaatan sumber daya alam seperti Kawasan Danau Maninjau, pantai dan pegunungan, sumber-sumber energi terbarukan, sumber daya air baku, potensi wisata lainnya perlu di dorong secara sinergis sehingga meningkatkan daya saing daerah dan berdampak kepada tingkat kesejahteraan masyarakat 6. Kabupaten Agam juga mempunyai keragaman budaya khas dan even even internasional, yang apabila keduanya dipadukan akan meningkatkan daya tarik dan daya saing daerah.

2.4.2

Fokus Fasilitas Wilayah / Infrastruktur

2.4.2.1 Komunikasi dan Informatika 2.4.2.1.1 Rasio Ketersediaan Daya Listrik Rasio ketersediaan daya listrik adalah perbandingan daya listrik terpasang terhadap jumlah kebutuhan. Perhitungan ketersediaan daya listrik dan kebutuhannya kedepan dapat mengacu pada dokumen Rencana Umum Kelistrikan Nasional (RUKN) atau Rencana Umum Kelistrikan Daerah (RUKD) yang telah disusun. Tabel II-79 Kebutuhan Beban Tenaga Listrik Provinsi/Kabupaten Agam Tahun 2010
Kebutuhan
GWH

jumlah

- rumah tangga - Komersial - Public


Suber Data PLN Ranting Lubuk Basung 2010

GWH GWH GWH

98.000 129 200

2.4.2.1.2 Persentase Rumah Tangga yang Menggunakan HP/Telepon

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-93

Peningkatan daya saing daerah dapat dilihat dari perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang terjadi pada suatu daerah. Salah satu indikator dalam melihat perkembangan teknologi komunikasi adalah dengan melihat seberapa banyak penduduk suatu daerah telah memiliki perangkat komunikasi berupa handphone (HP) dan telepon rumah biasa. persentase penduduk yang menggunakan HP/telepon adalah proporsi jumlah penduduk menggunakan telepon/HP terhadap jumlah penduduk. persentase penduduk atau rumah tangga yang memiliki HP dan fasilitas telepon (PSTN) dapat diperoleh dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan BPS mengenai survei tentang teknologi komunikasi dan informasi. Sajikan persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan HP/Telepon dalam tabel sebagai berikut: Tabel II-80 Persentase Rumah Tangga (RT) yang Menggunakan HP/Telepon Kabupaten Agam Tahun 2009
No
1. 2. 3. 4. 5. Penduduk yang memiliki HP Penduduk yang memiliki telepon PSTN Total Jumlah penduduk yang memiliki HP/Telepon (1) + (2) Jumlah penduduk Persentase penduduk yang menggunakan HP/Telepon (3)/(4)

Uraian

Jumlah
303.610 31.273 334.883 451.264 74,21

Suber Data : Profil Daerah Kabupaten Agam 2009

2.4.3 Fokus Iklim Berinvestasi Analisis Kinerja atas iklim berinvestasi dilakukan terhadap indikator angka kriminalitas, jumlah demo, lama proses perizinan, jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah dan jumlah perda yang mendukung iklim usaha.

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-94

2.4.3.1. Angka Kriminalitas di Kabupaten Agam Tahun Selama Tahun 2007 2010 adalah sebagaimana pada tabel dibawah ini : Tabel II-81 Angka Kriminalitas Kabupaten Agam Tahun 2007 - 2010
No.
1 1 2 3 4 5 6 7

Jenis Kriminalitas
2 Jumlah Kasus Narkoba Jumlah Kasus Pembunuhan Jumlah Kejahatan Seksual Jumlah Kasus Penganiayaan Jumlah kasus Judi Jumlah Kasus Pengrusakan Jumlah Kasus Pencurian - Curat - Curas - Curanmor

2007
3 9 29 5 27 14

2008
4 9 25 11 50 45 -

2009
5 20 2 25 32 29 110 9 25 34 11 297 451,264 0.000658

2010
6 18 2 29 2 23 45 106 9 34 11 11 290 455,484 0.000636

113 5 32 20 36 288 443,857 0.000649

81 7 5 16 25 272 445,387 0.000611

8 9 10 11 12 13

Jumlah Kasus Penipuan Jumlah Kasus Pemalsuan Uang Pem / Kebakaran Jumlah tindak kriminal selama 1 tahun Jumlah Penduduk Angka Kriminalitas (11)/(12)

Sumber Data : Kesbangpol Linmas 2010

Tabel diatas menunjukkan bahwa angka kriminalitas di Kabupaten Agam berfluktuasi dan cenderung menurun pada Tahun 2010 dibandingkan pada Tahun 2007, dimana kasus yang paling banyak terjadi adalah kasus pencurian.

2.4.3.2. Jumlah Demonstrasi Jumlah kejadian demonstrasi yang terjadi di Kabupaten Agam adalah sebagai berikut: Tabel II-82 Jumlah Demonstrasi Tahun 2008 s/d 2010
No
1 2 3

URAIAN
Bidang Politik Ekonomi Kasus Pemogokan Kerja -

2006
-

2007
-

2008
-

2009
2 1

2010

2 -

Sumber : Kesbangpolinmas Kabupaten Agam Tahun 2010

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-95

Tabel diatas menunjukkan demonstrasi yang dilakukan oleh masyarakat adalah karena adanya gugatan atas tanah ulayat dan penyerahan lahan plasma yang belum terealisasi. Sengketa tanah meliputi lahan perkebunan PT Mutiara Agam yang sudah memasuki ranah hukum (perdata) dan diminta untuk menunggu putusan pengadilan. Sedangkan masalah pembagian lahan plasma menunggu pengesahan oleh niniak mamak tentang penetapan anggota, sehingga akhirnya dapat ditetapkan melalui Keputusan Bupati. Secara umum kondisi sarana dan prasarana di kabupaten Agam telah cukup memadai dan mampu mendukung berkembangnya investasi dan perdagangan berupa prasarana jalan, air bersih, sumber daya listrik, komunikasi, dan sarana prasarana kesehatan. Faktor pendukung penting lainnya adalah Kabupaten Agam merupakan tempat yang aman untuk berinvestasi. Hal ini tercermin dari masih kecilnya masalah ketertiban dan keamanan yang terjadi. Terkait dengan hal ini, Kabupaten Agam memiliki 2 unit Kantor Polres, yakni Kantor Polres Agam untuk wilayah Barat yang berpusat di Lubuk Basung dan Polresta Bukittinggi yang mencakup wilayah Agam Timur yang berpusat di Kota Bukittinggi. Jaminan keamanan juga didukung oleh keberadaan Kodim 0304 Agam yang berada di Kota Bukittinggi dan Satuan Polisi Pamong Praja yang berpusat di Kota Lubuk Basung dan di setiap Kecamatan. Dalam meningkatkan iklim investasi Pemerintah Kabupaten Agam telah menyusun kebijakan yang mendorong dan mendukung berkembangnya kegiatan investasi diantaranya : a. Mengatur tata cara pemanfaatan lahan/tanah masyarakat adat (ulayat nagari, suku, kaum), pribadi dan erfacht. b. Memberikan jaminan kepastian, kejelasan dan transparansi dalam setiap proses perizinan investasi melalui penetapan prosedur tetap perizinan penanaman modal dan pelayanan perizinan dengan sistem pelayanan satu pintu. c. Pemerintah Kabupaten Agam juga memberikan berbagai fasilitas di bidang investasi, antara lain : Fasilitasi informasi potensi dan peluang investasi, Fasilitasi kunjungan ke lokasi dan Fasilitasi pelayanan administrasi perizinan

2.4.3.3. Lama Proses Perizinan Dalam pelayanan investasi, Bupati telah menetapkan Peraturan Bupati Nomor 27 Tahun 2009 tentang Pedoman Pelayanan Umum di Kantor Pelayanan Terpadu. Tabel berikut menunjukkan Lama waktu proses perizinan pelayanan umum

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-96

pada Kantor Pelayanan Terpadu, dimana waktu proses perizinan ini berlaku apabila seluruh persyaratan yang diperlukan telah dipenuhi oleh pemohon izin. Tabel II-83 Lama Proses Perizinan Pelayanan Umum di Kabupaten Agam
No. 1 Jenis Pelayanan Izin Pemasangan Reklame Lama Waktu Proses Perizinan Tanpa Survey Lapangan Maksimal 1 Jam jika butuh survey lapangan maksimal 3 hari 2 ( dua ) hari 2 ( dua ) hari 2 ( dua ) hari (setelah survey) 2 ( dua ) hari (setelah survey Lapangan) selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja terhitung sejak diterimanya permintaan TDI secara lengkap dan benar 5 Hari Kerja 2 Hari 1 Hari 1 Jam 2 Hari 2 Hari 1 (satu) hari 10 Hari 7 Hari 40 Hari 1 Minggu 3 Hari 3 Hari 1 Minggu 1 Minggu 3 Hari 3 Hari 1 Minggu 2 Minggu 21 Hari 10 Hari 3 Hari

2 3 4 5 6

Izin Pemanfaatan Aset Daerah Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP) Tangkap Surat Izin Penangkapan Ikan ( SIPI ) Izin Usaha Perikanan/ Pembudidayaan Ikan TDI ( Tanda daftar Industri )

7 8

Tanda Daftar Gudang (TGD) Kartu Pengawasan (KP) Izin Trayek Angkutan Pedesaan a. Pertama / Baru b. Pembaruan /Perpanjangan (Tiap Tahun)

9 10

Izin Insidentil Angkutan Pedesaan Izin Trayek Angkutan Pedesaan a. Pertama / Baru b. Pembaruan /Perpanjangan

11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

Izin Penelitaian Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Khusus Penyewaan Pemakaian Kendaraan Bermotor & alat berat Izin Pelaksanaan Penanaman Modal (izin Usaha Tetap) IUT Surat Izin Pertambangan Rakyat (SIPR) Eksploitasi Surat Izin Pertambangan Rakyat (SIPR) PengolahanPemurnian Surat Izin Pertambangan Rakyat (SIPR) PengangkutanPenjualan Surat Izin Pertambangan Daerah (SIPD) Eksplorasi Surat Izin Pertambangan Daerah (SIPD) Eksploitasi Surat Izin Pertambangan Daerah (SIPD) PengolahanPemurnian Surat Izin Pertambangan Daerah (SIPD) PengangkutanPenjualan Kuasa Pertambangan (KP) Penyelidik Umum Kuasa Pertambangan (KP) Eksplorasi Kuasa Pertambangan (KP) Eksploitasi Kuasa Pertambangan (KP) Pengolahan-Pemurnian Kuasa Pertambangan (KP) Pengangkutan/Penjualan

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-97

No. 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45

Jenis Pelayanan Izin Eksplorasi Air Bawah Tanah Izin Pengeboran Air Bawah Tanah Izin Penurapan mata Air Izin Pengambilan mata Air Izin Pengambilan air bawah tanah SIIPAT ( Surat Izin Perusahaan Pengeboran air bawah tanah ) Izin Juru BOR Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Kepentingan Sendiri (IUKS) Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Kepentingan Umum (IUKU) Izin Usaha Penunjang Tenaga Listrik Izin Pendirian SPBU Izin Depot BBM Izin Pengumpulan dan Penyaluran Pelumas Bekas Persetujuan penggabungan perusahaan (merger) Fasilitas Penanaman Modal ( Import Barang Modal ) Fasilitas Import bukan barang baku Izin Prinsip Penanaman Modal Izin Prinsip Perluasan Penanaman Modal Izin Prinsip Perubahan Penanaman Modal

Lama Waktu Proses Perizinan 1 Minggu 1 Minggu 1 Minggu 1 Minggu 1 Minggu 3 hari 3 hari 2 Minggu 2 Minggu 2 Minggu 2 Minggu 1 Minggu 1 Minggu 30 Hari 30 Hari 30 Hari 14 Hari 14 Hari 14 Hari

Suber Data : KPT Kabupaten Agam 2010

2.4.3.4. Jumlah dan Macam Pajak dan Retribusi Daerah Dalam upaya peningkatan Peningkatan Pendapatan Asli Daerah,

Pemerintah Kabupaten Agam telah menetapkan jenis pungutan berupa Pajak dan Retribusi Daerah sebagaimana terlihat pada tabel berikut: Tabel II-84 Jenis Pajak dan Retribusi Daerah di Kabupaten Agam
No
1 2 3 4 5 6 8 Pajak Hotel Pajak Restoran Pajak Hiburan Pajak Reklame Pajak Penerangan Jalan Pajak Pengambilan Bahan Galian Gol. C (diganti Pajak Mineral Bukan Logam dan batuan) Pajak Air Tanah

Jenis Pungutan

Dasar Hukum Perda


3 Tahun 2003 4 Tahun 2003 8 Tahun 2000 7 Tahun 2009 11 Tahun 2003 42 Tahun 1997

SKPD Penanggung jawab


DPPKA DPPKA DPPKA DPPKA DPPKA BAG. ADM SDA DPPKA

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-98

No
9 10 11

Jenis Pungutan
Pajak Sarang Burung Walet BPHTB Pajak Bumi dan bangunan Sektor Perdesaan dan Perkotaan Retribusi Daerah

Dasar Hukum Perda

SKPD Penanggung jawab


DPPKA/HUTBUN DPPKA DPPKA

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Retribusi Pelayanan Kesehatan Izin Praktek Tenaga Medis dan Keperawatan Izin Pedagang Eceran Obat Retribusi Pelayanan Persampahan Retribusi Parkir di tepi jalan umum Retribusi Pengujian Kendaraan bermotor Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam kebakaran Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah Retribusi Pasar Grosir dan Pertokoan Izin Usaha Perdagangan Retribusi terminal Retribusi Tempat Khusus Parkir Retribusi Rumah Potong Hewan Retribusi Tempat Parkir dan Olahraga

8 Tahun 2009 15 Tahun 2003 14 Tahun 2003 7 Tahun 2000 10 Tahun 2000 10 Tahun 2008 6 Tahun 2000 5 Tahun 2003 4 Tahun 1999 8 tahun 2005 3 Tahun 2001 10 tahun 2005 11 Tahun 1998 4 Tahun 2000

Dinas Kesehatan RSUD

Dinas PU Dinas Perhubungan Dinas Perhubungan BPBD Bagian Umum/DPPKA Koperindag, UMKM, Peternakan, Kelautan dan Perikanan Dinas Perhubungan Dinas Perhubungan Dinas Peternakan Dispora dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bagian Perekonomian, Dinas Kelautan dan Perikanan dan Dinas Pertanian Dinas PU Bagian PAP Dinas Perhubungan Bagian Adm Pertanahan Dinas Kelautan dan Perikanan Dinas Pekerjaan Umum

15

Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah

5 Tahun 1999

16 17 18 19 20 21

Retribusi Izin Mendirikan Bangunan Retribusi Izin Gangguan/ Keramaian Retribusi Izin trayek Retribusi Izin Peruntukan Penggunaan Tanah Retribusi Izin Usaha Perikanan Retribusi SIUJK

7 Tahun 1999 13 tahun 1998 30 Tahun 1998 6 Tahun 1999 3 Tahun 2009 5 Tahun 2009

Suber Data : DPPKA Kabupaten Agam 2010

2.4.3.5. Jumlah Perda yang mendukung Iklim Usaha Dalam rangka mempercepat peningkatan penanaman modal di Kabupaten Agam, Pemerintah telah menetapkan peraturan berupa Peraturan Daerah dan Peraturan Bupati untuk mendukung investasi daerah sebagai berikut :

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-99

1. Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2004 tentang Penanaman Modal. 2. Peraturan Bupati Nomor 27 Tahun 2009 tentang Pedoman Pelayanan Umum di Kantor Pelayanan Terpadu. 3. Peraturan Bupati Nomor 1 Tahun 2011 tentang Tatacara Permohonan Penanaman Modal.

RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015

II-100