Anda di halaman 1dari 13

PERITONSILAR ABSES Abses peritonsilar adalah akumulasi yang terlokalisir dari kumpulan pus yang berada pada jaringan

peritonsiler yang terjadi oleh karena peradangan supuratif dari tonsilitis. Akumulasi ini terjadi di antara capsula tonsil palatina dan musculus konstriktor pharyngeus. Pilar anterior dan posterior dari tonsil, torus Tubarius (superior), sinus piriformis (inferior) membentuk suatu lingkaran ruang peritonsilar yang berpotensi untuk terjadinya abses peritonsiler. Oleh karena daerah ini banyak mengandung jaringan ikat longgar, infeksi yang berat pada area ini dapat memicu terjadinya pembentukan material purulent. Inflamasi yang progresif dan supurasi dapat menyebar secara langsung yang melibatkan palatum, dinding lateral dari faring, dan basis lidah. Abses peritonsilar ditemukan awal sejak abad ke-14, namun hal ini baru lebih dijelaskan lebih luas sejak penemuan antibiotik di abad-20. Abses peritonsilar merupakan komplikasi yang sering terjadi dari tonsilitis akut. Edema yang terjadi menyebabkan kesulitan untuk menelan sehingga pasien sering menolak makan dan minum yang menyebabkan terjadinya dehidrasi. Penyebaran dari abses ini dapat memicu peradangan pada area sekitarnya(kepala dan leher), yang memiliki potensial terjadinya obstruksi udara. Insidensi abses peritonsiler di USA bekisar 30 kasus per 100000 orang per tahun, diantaranya 45000 kasus baru per tahun nya. Tidak ada data yang akurat secara internasional. Walaupun tonsilitis sering terjadi pada anak kecil, hanya ditemukan 1/3 dari kasus abses peritonsilar yang ditemukan pada usia ini. Usia dari pernderita ini berkisar antara 1-76 tahun, dengan insidensi tertinggi umur 15-35 tahun. Berbagai mikroorganisme yang menyebabkan tonsilitis akut atau kronik juga dapat menjadi mikroorganisme penyebab dari abses peritonsilar. Umumnya, bakteri gram positif aerob dan anaerob sering ditemukan pada kultur. Mikroorganisme tersering yaitu Streptococcusbeta hemolyticus grup A, Staphylococcus, Pneumococcus dan Haemophilus. Mikroorganismelainnya yaitu Lactobacillus, Actinomyces, Micrococcus, Neisseria, Diphtheroids, Bacteroides.

Patofisiologi Terjadinya abses peritonsilar belum diketahui. Teori yang paling diterima adalah bahwa terjadinya progresivias dari episode tonsilitis yang eksudatif menjadi peritonsilitis yang kemudian terjadi pembentukan abses. Perluasan dari inflamasi ini dapat terjadi pada populasi yang sudah mendapatkan pengobatan atau yang belum mendapatkan pengobatan. Dapat juga terjadi karena rekurensi dari tonsilitis kronis. Infeksi virus Epstein-Barr (mononukleosis) dapat juga menbabkan terjadinya abses peritonsilar. Teori lain juga mengemukakan Abses peritonsilar ini dapat berasal dari glandula Weber yang berada di rongga peritonsiler dan berfungsi untuk membersihkan debris dari tonsil. Abses peritonsiler dapat diawali dari terjadinya obstruksi yang timbul bila terbentuk adanya jaringan parut (scar), nekrosis dan pembentukan abses akibat proses infeksi. Klinis Anamnesa Pasien umumnya datang dengan memiliki riwayat faringitis akut disertai dengan tonsilitis dan rasa tidak nyaman di daerah faring unilateral. Pasien juga mengeluh lesu, lemah dan sakit kepala, demam, rasa mengganjal di tenggorokan asimetris, nyeri saat menelan dan bersuara serak (hot potato sounding). Banyak pasien datang dengan keluhan nyeri telinga dan nyeri menelan pada sisi yang sama. Trismus ( terbatasnya kemampuan untuk membuka mulut) dalam berbagai derajat dapat ditemukan oleh karena terjadinya inflamasi pada dinding lateral faringeal dan muskulus pterigoid. Adanya limfadenopati dan inflamasi dapa muskulus cervikalis, pasien juga sering mengeluh adanya nyeri leher dan terbatasnya mobilitas dari leher. Clinician harus waspada dalam mendiagnosa abses peritonsilar pada pasien yang memiliki gejala-gejala gangguan faringeal yang menetap/kronis dan sudah mendapatkan terapi antibiotik.

Pemeriksaan Fisik Pasien umumnya datang dengan keadaan umum tampak sakit berat. Pemeriksaan dari rongga mulut ditemukan adanya eritem, palatum Molle asimetris, eksudasi dari tonsilar, dan uvula yang berpindah tempat (displacement) konralateral. Dapat bervariasi, dari munculnya tonsilitis akut dengan gangguan faringeal unilateral asimetri, dehidrasi dan sepsis. Abses peritonsilar ini unilateral dan sering berlokasi di pole posterior dari tonsil yang terlibat pada fossa supratonsiler. Pada mukosa dari lipatan suratonsilar dapat terlihat pucat dan terkadang disertai adanya granula. Palpasi dari palatum molle umumnya menunjukkan adanya area yang berfluktuasi. Nasopharingoskopi dan laringoskopi dianjurkan untuk mengatasi masalah distress pernafasan. Laringoskopi adalah metode untuk mengatasi epiglotitis dan supraglotitis, sama seperti menangani patologi pita suara. Derajat dari trismus tergantung dari luasnya inflamasi pada ruang lateral faringeal. Jika terjadi sangat luas, maka harus diperhatikan kemungkinan terjadinya selulitis pada ruang faringeal lateral. Kelenjar getah bening di area tersebut dapat menjadi lebih tegas (teraba). Adanya inflamasi pada kelenjar getah bening, dapat terjadi torticollis dal terbatasnya gerakan leher. INDIKASI Indikasi untuk menentukan diagnosa abses peritonsilar meliputi hal-hal berikut: Bengkak satu sisi (unilateral) dari area peritonsilar 3

Bengkak satu sisi (unilateral) dari palatum molle, disertai perubahan posisi tonsil pada sisi yang sama Tonsilitis akut yang tidak mengalami perbaikan, disertai pelebaran tonsil satu sisi (unilateral)

Pada kasus abses peritonsiler, setelah dilakukan insisi dan drainase, dapat memberikan adanya perbaikan dari gejala-gejala pasien. Aspirasi jarum dapat juga digunakan sebagai alat diagnostik dan terapeutik karena dapat menunjukkan lokasi yang akurat dari ruang abses. Aspirasi cairan dapat dikirim untuk di kultur. Pada beberapa kasus, insisi dan drainase tidak terlalu diperlukan. Jika pasien melaporkan menderita nyeri tenggorokan yang hilang timbul dan atau berlangsung lama, diperlukan insisi dan drainase yang sesuai dan tonsilektomi. Anatomi dan kontraindikasi

Tonsil berbentuk oval, tipis terletak pada bagian samping belakang orofaring dalam fossa tonsilaris atau sinus tonsilaris. Bagian atas fossa tonsilaris kosong dinamakan fossa supratonsiler yang merupakan jaringan ikat longgar. Berat tonsil pada laki-laki berkurang dengan bertambahnya umur, sedangkan pada wanita berat bertambah pada masa pubertas dan kemudian menyusut kembali. Permukaan lateral tonsil meletak pada fascia faring yang sering juga disebut capsula tonsil. Permukaan medial tonsil bentuknya beraneka ragam dan mempunyai celah yang disebut kriptus. Epitel yang melapisi tonsil adalah epitel squamous yang juga

meliputi kriptus. Didalam kriptus biasanya ditemukan leukosit, limfosit, epitel yang terlepas, bakteri dan sisa makanan. Kripta pada tonsil palatina lebih besar, bercabang dan berlekuk-lekuk dibandingkan dengan sistem limfoid lainnya, sehingga tonsil palatina lebih sering terkena penyakit. Selama peradangan akut, kripta dapat terisi dengan koagulum yang menyebabkan gambaran folikuler yang khas pada permukaan tonsil. Kontraindikasi: Drainase intraoral memiliki keberhasilan yang tinggi dan tingkat rekurensi dan morbiditas yang rendah. Tonsilektomi merupakan kontraindikasi pada pasien di luar tonsilitis yang rekuren atau abses peritonsiler yang rekuren. Bagaimanapun, pada keadaan abses berlokasi di tempat yang susah dicapai, tonsilektomi merupakan satu-satu nya jalan untuk drainase abses. PENATALAKSANAAN Laboratorium :

CBC count, electrolyte level, blood culture: Pasien dengan abses peritonsilar menunjukkan adanya dehidasi dalam berbagai derajat akibat terganggunya intake oral. Tes Monopost:
o

Pada pasien dengan tonsilitis dan limfadenopati cervical bilateral, tes Monospot (heterophile antibodies) perlu dipikirkan. Jika tes Monospot positif, pasien memerlukan evaluasi

hepatosplenomegali. Tes fungsi hepar perlu dipertimbangkan pada pasien dengan hepatosplenomegali.
o

Kultur apus tenggorokan : untuk mengidentifikasi mikroorganisme penyebab infeksi dan pemilihan antibiotik yang sesuai sehingga mencegah timbulnya resistensi antibiotik.

Pencitraan :

Pencitraan dapat bermanfaaat pada kasus dimana insisi dan drainase gagal atau edema membengkak pada abses peritonsiler dalam terapi. Pada kasus tertentu

abses dapat berada pada tonsil itu sendiri dan atau sebagian tersembunyi (ie, inferior atau posterior) dari tonsil.

Foto polos
o o

Soft tissue lateral dari nasofaring dan orofaring dapat membantu dalam penanganan dari abses retrofaringeal. Anteroposterior, dapat memberikan gambaran hancurnya jaringan lunak, tapi tidak begitu bermanfaat dalam menentukan lokalisasi dari abses.

CT-Scan
o o o

Pada gejala klinis tertentu dan pada pasien anak-anak, pemeriksaan radiologi dapat digabung dengan CT-scan dengan kontras. Gambaran yang biasa ditemukan adalah adanya cairan hipodens pada apeks tonsil yang terinfeksi dengan peripheral rim enhancement. Gambaran lain adalah pembesaran asimetris dari tonsil dan jaringan lunak di sekitarnya. Lebih jauh lagi adalah gambaran pembesaran kelenjar getah bening leher, juga adanya cairan intranodal, yang menunjukkan adanya abses servikal dan membantu dalam manajemen terapi bedah. Further delineation of cervical adenopathy is facilitated, as is the identification of a possible intranodal fluid collection, which indicates a cervical abscess and helps in the planning of surgical management.

o o

USG
o

USG intraoral telah ulai dipertimbangkan sebagai salah satu cara pemeriksaan karena sederhaana, ditoleransi dengan baik dan non-invasif, dan dapat membantu pemeriksa membedakan selulitis dan abses.Intraoral ultrasonography recently has been proposed as an imaging modality. It is a simple, well-tolerated, noninvasive technique that can help the physician make the distinction between cellulitis and the presence of an abscess. USG juga membantu aspirasi ke fossa tonsilaryang lebihakurat sebelum terapi bedah sebenarnya dilakukan. Penelitian terbaru menunjukkan USG juga berguna dalam evaluasi pasien pasca bedah.This also allows the option of a more directed aspiration of the tonsillar fossa before definitive surgical drainage is attempted. A recent study has shown that this approach is also clinically useful in the evaluation of patients presenting in the emergency department.

Prosedur diagnostik:

Aspirasi jarum halus


o

Aspirasi abses dapat dilakukan sebelum prosedur drainse. Hal ini juga membenatu menentukan lokasi abses di ruang peritonsilar.A needle aspiration of the abscess site may be performed just prior to attempting the drainage procedure. It allows identification of the location of the abscess in the peritonsillar space. Lokasi aspirasi dianestesi dengan lidokain epinefrin dan jarum 10 cc berukuran 16-18. The aspiration site is anesthetized using lidocaine with epinephrine and a large-bore (#16- to 18-gauge) needle is mounted on a 10-cc syringe. Jarum dirusukkan ke mukosa yang sudah dianestesi.The needle is passed through the anesthetized mucosa where aspiration of the site is performed. Aspirasi pus sangat diagnostik, dan dapat dikirim untuk dikultur.Aspiration of purulent material is diagnostic, and the material may be sent for culture.

Pengobatan Terapi medis:

Pasien dengan dehidrasi memerlukan cairan intravena sampai proses radag berkurang dan pasien dapat mengonsumsi cairan secara oral.Patients with dehydration require intravenous fluid administration until the inflammation resolves and they are able to resume an adequate oral fluid intake. Antipiretik dan analgesik digunakan untuk menurunkan demam dan meminimalisir rasa sakit.Antipyretics and analgesics are used to alleviate fever and discomfort. Analgesik oral dan parenteral adalah bagian integral dari terapi dan membantu pasien mengonsumsi diet oral. Kadang, kebutuhan analgesik begitu penting untuk membantu pasien memngonsumsi diet oral dengan analgesik non-narkotik.Oral and parenteral analgesics are an integral part of the management and allow the patient to resume oral intake. Often, the pain relief is so significant from I&D as to allow the patient to resume oral intake with nonnarcotic analgesics. Terapi antibiotik seharusnya dimulai setelah setelah hasil kultur abses. Penggunaan penisilin dosis tinggi intravena tetap merupakan terapi terpilih untuk absesperitonsilar.Antibiotic therapy should begin after cultures are obtained from the abscess. The use of high-dose intravenous penicillin remains a good choice for the empiric treatment of PTA.

Sebagai alternatif dapat digunakan antibiotik yang sesuai dengan hasil kultur, yang dapat membunuh bakteri patogen dan anti beta-laktamase sebagai pilihan pertama.Alternatively, due to the polymicrobial nature of cultured pus, agents that treat copathogens and resist beta-lactamases also have been recommended as a first choice. Sefaleksin atau golongan sefalosporin lainnya (dengan atau tanpa metronidazol) juga dapat menjadi pilihan lain. Alternatif lain adalah 1. Cefuroxim atau cefpodoxime (dengan atau ytanpa metronidazol) 2. Klindamisin 3. Trovafloxacin 4. Amoksisilin/klavulanat(jika mononukleosistelah disingkirkan). Pasien harus diresepkan AB oral saat pasien sudah dapat menelan, dengan lama terapi 7-10 hari. Cephalexin or other cephalosporins (with or without metronidazole) are likely the best initial option. Alternatives include (1) cefuroxime or cefpodoxime (with or without metronidazole), (2) clindamycin, (3) trovafloxacin, or (4) amoxicillin/clavulanate (if mononucleosis has been ruled out). The patient may be prescribed oral antibiotics once oral intake is tolerated; length of treatment should be 7-10 days.

Penggunaan steroid masih diperdebatkan.Pada penelitian di Ozbek, tambahan dosis tunggal dexametason iv pada AB parenteral telah menurunkan waktu perawatan, nyeri tenggorokan, demam, dan trismus secara signifikan. Penggunaan steroid pada psien yang menunjukkan gejala dan tanda mononukleosis tidak berlanjut menjadi abses peritonsilar.

The use of steroids has been controversial. In a recent study by Ozbek, the addition of a single dose of intravenous dexamethasone to parenteral antibiotics has been found to significantly lessen the variables of hours hospitalized, throat pain, fever, and trismus compared with a group of patients who were only treated with parenteral antibiotics. In addition, the use of steroids in patients presenting with signs and symptoms of mononucleosis has not led to the formation of a peritonsillar abscess. Terapi bedah Surgical therapy: Manajemen pasien dengan abses peritonsilar harus dirujuk ke Sp THT atau dr bedah. Rujuk segera bila diagnosis tidak dapat ditegakkan dengan apsti atau bila terjadi obstruksi nafas. The management of patients suspected of a PTA should include a referral to an otolaryngologist or a surgeon with experience in the management of this entity. Early referral should be considered if the diagnosis is unclear and is indicated in patients presenting with airway obstruction. Preoperative details:

Discussing the pathophysiology and indications for surgery with the patient is essential.

Consent should be obtained from the patient or surrogate only after carefully describing potential complications. In cases in which airway access may be compromised, an emergent consultation with the anesthesiologist is obtained, and the potential of airway obstruction is discussed. If necessary, the anesthesiologist may perform an intubation using a flexible bronchoscope with the patient in the semisupine position. A significant potential for airway obstruction exists if the patient's airway access is limited by significant trismus or by edema of the oropharyngeal structures.

Intraoperative details: Ongoing controversy exists regarding needle aspiration versus I&D as definitive therapeutic modalities. In cooperative patients, procedures may be performed in an examination chair. The supratonsillar fold is anesthetized by either mucosalization or injection of a local anesthetic with epinephrine to reduce bleeding. If injection of a local anesthetic is performed, care should be taken to superficially infiltrate the overlying mucosa and surrounding soft palate. Aspirasi jarum halus

Aspirasi dapat dilakukan pada pasien mulai dari usia 7 tahun, terutama bila digunakan anestesi sedasi.Needle aspiration can be carried out in children as young as 7 years, especially if conscious sedation is used. Aspirasi dapat digunakan sebagai alat diagnoatik dan terapeutik karena dapat menunjukkan lokasi abses yang akurat.Needle aspiration may be used both as a diagnostic and as a therapeutic modality because it allows the accurate localization of the abscess cavity. Aspirasi cairan dapat dikultur dan The fluid aspirated may be sent for culture and, in some cases, may not need to be followed by an I&D.

Insisi drainase

Insisi drainase intraoral dilakukan degan menginsisi mukosa diatas abses, biasanya di lipatan supratonsilar.Intraoral incision and drainage is performed by incising the mucosa overlying the abscess, usually located in the supratonsillar fold. Setelah lokasi abses ditentukan, digunakan diseksi tumpul untuk menembus abses.Once the abscess is localized, blunt dissection is carried out to break loculations. Insisi dibiarkan terbuka untuk drainase, dan pasien diminta untuk berkumur menggunakan larutan NaCl supaya isi abses dapat keluar.The opening is left open to drain, and the patient is asked to gargle with a sodium chloride solution, allowing the accumulated material to exit the abscess cavity. Aspirasi/drainase yang berhasil akan segera meningkatkan keadaan kesehatan pasien.A successful aspirate or drainage leads to immediate improvement of the patient's symptoms.

Hal2 yang perlu diperhatikanOther concerns

Pada pasien anak-anak atau kurang kooperatif atau bila abses terletak pada lokaisi yang tidak biasa, prosedur ini sebaiknya dilakukan dengna anestesi umum.In very young or uncooperative patients or when the abscess is located in an unusual location, the procedure is best performed under general anesthesia. Tonsilektomi sebagai terapi segera abses peritonsilar juga telah menjadi kontroversi.Banyak penelitian menunjukkan tonsilektomi cukup aman dilakukan pada keadaan abses akut. Penelitian lain menunjukkan tonsilektomi tidak perlu dilakukan karena karena tingginya keberhasilan dan rendahnya rekurensi dengan prosedur insisi drainase.Immediate tonsillectomy as part of the management of a PTA also has been a subject of controversy. Many studies have shown the safety of a tonsillectomy in the setting of an acute abscess. Others have shown that immediate or delayed tonsillectomy may not be necessary because of the high rate of success and low rates of recurrence and morbidity associated with intraoral drainage. Pada keadaan dimana abses terletak di tempat yang tidak biasa, tonsilketomi mungkin satu-satunya cara untuk mendrainase abses.In situations in which the abscess is located in an area difficult to access, a tonsillectomy may be the only way to drain the abscess.

Detail pascaoperasiPostoperative details:

Kerena rasa nyeri menghilang dengan cepat, banyak psien dapat segera menoleransi diet oral dan perdarahan tidak terjadi.Due to the rapid improvement in pain, most patients may be discharged immediately following the procedure if they are able to tolerate oral intake of fluids and bleeding is not apparent. Beberapa pasien mungkin membutuhkan rawatinap selama 24-48 jam di RS sampai nyeri dapat diatasi dan diet oral dapat dikonsumsi.Some patients may require admission in the hospital setting for 24-48 hours or until oral intake is properly reestablished and pain is well controlled. Hidrasi iv sangat pentiing pada pasein dehidrasi.Intravenous hydration is important because most patients present with significant fluid deficits. Penggunaan AB pasca operatif juga sangat penting. Saat pasien dapat mengonsumsi cairan perooral, AB diberikan peroral selama 7-20 hatri.Continued use of antibiotics in the postoperative period also is important. When the patient is able to take sufficient fluids by mouth, antibiotics may be administered orally for a total length of treatment of 7-10 days. Analgesik oral juga penting untuk mengurangi nyeri.Oral analgesics also are important due to the level of discomfort from the ongoing inflammation.

Perawatan selanjutnyaFollow-up care: Pasien harus dicek secara rutin. Hal yang diperiksa adalah nyeri, defervescence, dan kemampuan mengonsumsi diet oral. Patients are seen routinely in follow-up in the office setting. Elements to consider at that time are reduction of the amount of pain, defervescence, and ability to comfortably resume oral intake.

10

Selama pemriksaan, inspeksi lokasi drainase dan mencek ulang akumulasi pus, inspeksi tonsil, tanda2 radang, dan mengecilnya KGB leher. Secara umum, kecuali pasien memiliki riwayat tonsilitis rekuren atau abses peritonsilar rekuren, tonsilektomi tidak diajurkan.During the examination, carefully inspecting the drainage site and ruling out reaccumulation of pus is important; check for improvement in tonsillar appearance, inflammation, and the resolution of cervical lymphadenopathy. In general, unless the patient presents with a history of recurring tonsillitis or recurrent PTA, tonsillectomy is not indicated. For excellent patient education resources, visit eMedicine's Ear, Nose, and Throat Center. Also, see eMedicine's patient education articles Peritonsillar Abscess, Tonsillitis, and Antibiotics.

KOMPLIKASICOMPLICATION

Sejumlah komplikasi dapat terjadi ila diagnosis abses peritonsilar terlambat ditegakkan.Bahaya komplikasi tergantung pada kecepatan progresi penyakit dan luasnya ruang yang terkena. Terapi segera sangat penting dilakukan.A number of clinical complications may occur if the diagnosis of a PTA is missed or delayed. The severity of the complications depends on the rapidity of progression of the illness as well as the characteristics of the affected fascial spaces. Early management and intervention are important. Ruang-ruang wajah dan leher saling berhubungan.Jika proses radang melampaui ruang peritonsilar, perluasan ke ruang mastikator dengan gejala trismus yang makin parah akan terjadi. Abses juga dapat meluas ke ruang submandibular dan ruang sublingual(Angina Ludwig). Pada titik ini, intubasi dan trakeotomi dilakukan untuk menjga saluran nafas pasien. Pada beberapa kasus, kematian dapat terjadi.The fascial spaces of the neck are interconnected. Once inflammation exceeds the limits of the peritonsillar space, involvement of the masticator space (with increasing degrees of trismus) occurs. Extension may progress to the submandibular and sublingual spaces within the floor of the mouth (Ludwig angina). At this point, emergent airway control through intubation or tracheotomy is indicated to obviate obstruction from swelling of the base of the tongue. In severe cases, death may occur. In patients treated with I&D, evaluating the patency of the opening is important. Premature closure before the cavity has become obliterated is possible, leading to re-accumulation of pus. This may warrant a second I&D procedure or a tonsillectomy. Batasi insisi drainase ke mukosa palatum molle dan diseksi tumpul digunakan untuk menghindari perharahan hebat. Cabang akhir a. Karotis eksterna berjalan di aspek posterior fossa tonsilar dan dapat terluka dengan mudah, terutam apada anak-anak, dimana arteri berjalan lebih superfisial.Limiting the drainage incision to the mucosa of the soft palate and using blunt dissection within the cavity are important to avoid serious bleeding. The terminal branches of the external carotid

11

artery lie on the posterior aspect of the tonsillar fossa and can be injured easily, particularly in children, in whom they are relatively superficial. Perdarahan adalah komplikasi potensial jika cabang terakhir a. Karotis eksterna terluka atau arteri itu sendiri. Perdarahna dapat terjadi saat atau pasca operasi.Bleeding is a potential complication if branches of the external carotid artery are injured or if the external carotid artery itself is injured. The bleeding may occur intraoperatively or in the early postoperative period. Percdarahan intraoperatif adalah keadaan darurat dan hasil dari perlukaan langsung ke a. Karotis eksterna atau cabangnya. Setelah hemodinamik pasien distabilisasi, fossa tonsilar dievaluasi ulang. Intraoperative hemorrhage is an emergency and results from direct injury to terminal branches of the external carotid artery or the external carotid artery itself. Once the patient is stabilized hemodynamically, the tonsillar fossa is reevaluated. The ipsilateral neck also should be prepared and draped in a sterile fashion for access to the proximal external carotid artery. If the hemorrhage is controlled intraorally, the patient's continued stabilization is pursued. Jika perdarahn terlalu masif, dan tak dapat dikontrol secara intraoral, ipsilateral servikotomi harus dilakukan.If the bleeding appears to be too brisk, and it is not controlled by careful intraoral source identification, an ipsilateral cervicotomy is performed. Perdarahan yang mengancam jiwa mungkin memerlukan ligasi a. Karotis eksterna. o The sternocleidomastoid muscle is retracted laterally, and the carotid sheath contents are identified. The internal jugular vein; the vagus nerve; and the common, external, and internal carotid arteries are identified. o A vascular loop is applied around the external carotid artery to assess temporization of bleeding. o The external carotid artery is dissected superiorly, with careful attention to preservation of the external laryngeal, the ansa hypoglossi, and the hypoglossal nerves. o Perdarahan yang mengancam jiwa mungkin memerlukan ligasi a. Karotis eksterna.These severe life-threatening bleeds may require ligation of the external carotid artery. Pendekatan umum perdarahn postoperatif dilakukandengna mencari sumbernya.The general approach to postoperative hemorrhage similarly is directed to the identification of the source of bleeding. The patient is brought to the operating room, and the same procedure as described above is followed.

Hasil dan PrognosisOUTCOME AND PROGNOSIS Banyak pasien diterapi dengan AB dan drainase adekuat akan sembuh dalam beberapa hari. Pada beberapa pasien dengan nyeri tenggorokan rekuren/kronis setelah insisi drainase atau abses rekuren, dianjurkan tonsilektomi. Most patients treated with antibiotics and adequate drainage of their abscess cavity recover within a few days. A small number present with another abscess later, requiring tonsillectomy. If patients continue to report recurring and/or chronic sore throats following proper I&D, a tonsillectomy may be indicated.

12

MASA Depan Dan KontroversiFUTURE AND CONTROVERSIES Kontroversi yang terus berlangsung antara aspirasi jarum dan insisi drainase sebagai terapi.Ongoing controversy exists regarding needle aspiration versus I&D as definitive therapeutic modalities. Tonsilektomi segera alam manajemen abses peritonsilar juga mnejadi subjek kontroversi. Banyak penelitian menunjukkan tonsilektomi cukup aman dilakukan pada keadaan abses akut. Penelitian lain menunjukkan tonsilektomi tidak perlu dilakukan karena karena tingginya keberhasilan dan rendahnya rekurensi dengan prosedur insisi drainase. Pada keadaan dimana abses terletak di tempat yang tidak biasa, tonsilketomi mungkin satusatunya cara untuk mendrainase abses.Immediate tonsillectomy as part of the management of a PTA also has been a subject of controversy. Many studies have demonstrated the safety of a tonsillectomy in the setting of an acute abscess. Others have shown that immediate or delayed tonsillectomy may not be necessary because of the high rate of success and low rates of recurrence and morbidity associated with intraoral drainage. In situations in which the abscess is located in an area difficult to access, a tonsillectomy may be the only way to drain the abscess.

13