Anda di halaman 1dari 6

Isu-isu HAM di Indonesia1

Oleh: I Wayan Sudirta2 Pengantar Sampai hari ini, hari ke hari, kita masih menyaksikan potret buram penghargaan terhadap hak asasi manusia di Tanah Air. Terbunuhnya aktivis HAM Munir yang belum kunjung terungkap siapa aktor intelektualnya -- dan ini justru terjadi di tengah-tengah rezim politik paska Orde Baru yang represif -- kemudian penghilangan paksa sejumlah aktivis yang kritis semasa Orde Baru, penghancuran rumah dan tempat ibadah satu kelompok agama yang disebutkan sesat oleh massa kelompok lain yang mengatasnamakan penyelamatan agama, kemudia orang-orang miskin yang terjepit dan sulit memperoleh pelayanan pendidikan dan kesehatan dengan beaya yang terjangkau, adalah gambaran dari pelaksanaan HAM yang belum sepenuhnya sejalan dengan amanat UUD 1945, UU tentang HAM No. 39/1999, 2 Kovenan Hak Asasi yang telah diratifikasi pada 2005 yakni Kovenan tentang Hak-hak Sipil dan Politik serta Kovenan tentang Hak-hak Sosial, Ekonomi dan Kebudayaan -- dan peraturan perundangan lain yang berpayung pada UU HAM No. 39/1999. Keperihatinan terhadap memburuknya penghargaan terhadap HAM di Indonesia, setidaknya dimulai sejak Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959, awal dari Demokrasi Terpimpin, yang terus berlanjut dan semakin represif pada rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto. Negara merepresi hak-hak warga negaranya di bidang hak sipil dan politik, antara lain melalui kebijakan asas tunggal Pancasila, sistem tiga partai yang didominasi oleh Golkar serta Dwifungsi ABRI yang disertai represi yang amat keras terhadap suara yang berbeda dari penguasa, pemasungan kemerdekaan pers dengan politik pembredelan SIUPP yang sedemikan rupa menghambat pertumbuhan industri pers maupun pertumbuhan kelompok kritis, dan karenanya pula pemerintah memonopoli dan menghegemoni distribusi anggaran pembangunan kepada bidangbidang yang terutama menopang kelanggengan kekuasaannya, selain untuk pertumbuhan ekonomi di sisi lain. Dan pelanggaran HAM amat berat sepanjang kekuasaan Orde Baru yang menjadikan penghargaan pada hak asasi di bidang lainnya terganggu adalah penegakan supremasi hukum yang berjalan sempoyongan. Hanya masyarakat lapisan menengah keatas yang punya akses ke kekuasaan serta punya kapital yang cukup saja yang berkesempatan memperoleh keadilan, sementara masyarakat miskin dan lemah, selain tidak memperoleh keadilan, tetapi juga ditindas secara hukum dan tidak sanggup mendesak pemerintah untuk memproduksi kebijakan-kebijakan yang memberikan ruang dan peluang kepada masyarakat lemah untuk menikmati persamaan hak dalam pelayanan publik yang diberikan oleh pemerintah. Padahal, penegakan hukum adalah urat nadi dari pelaksanaan berbagai kebijakan di bidang hak-hak sipil, politik maupun ekonomi dan sosial budaya. Mustahil mencapai masyarakat yang hak-hak asasinya dihargai secara beradab bilamana penegakan hukum tidak berjalan dalam koridor yang benar, tetapi justru seperti yang sekarang ini terlihat: hukum terkesan bisa diintervensi oleh kekuatan politik meskipun dilakukan

Makalah ini disampaikan dalam Seminar tentang Isu-Isu HAM di Indonesia yang diselenggarakan oleh Departemen Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Senin, 11 Desember 2006. 2 Anggota DPD RI dari Propinsi Bali, Ketua Panitia Perancang Undang-Undang (PPUU) DPD RI.
1

secara terselubung dan hukum terkesan bisa dibeli dengan uang atau dijadikan alat tawar-menawar politik oleh para pihak yang terlibat dan berkepentingan. Hak di Bidang Sipil dan Politik: Masyarakat Sipil Sebagai Pelaku Pelanggaran HAM Penyelenggara kekuasaan paska Orde Baru, secara formalistik sebetulnya sudah cukup banyak melakukan pembaharuan. Rezim paska Orde Baru ini telah mengembalikan kemerdekaan pers ke pangkuan masyarakat, mereka memberikan ruang yang seluas-luasnya pada kebebasan berserikat dan bekumpul melalui UU Pemilu yang lebih demokratis dibanding UU Pemilu semasa Orde Baru. UU No. 39/1999 tentang HAM, juga merupakan harapan dan impian indah untuk hidup sebagai warga negara yang merdeka di negara yang beradab. Namun, derita pelanggaran HAM rupanya belum berakhir. Kini, pelaku represi yang secara sewenang-wenang melanggar HAM orang lain adalah kelompok-kelompok masyarakat sipil, entah mereka yang mengatasnamakan dirinya sebagai organisasi massa bersenjata tajam maupun tumpul, untuk menyerang sampai membakar rumah pihak lain dan para pembakar mengatasnamakan pembelaan kesucian agamanya dengan menyebut kelompok lain sebagai kelompok sesat. Mereka melakukan pengerusakan terhadap rumah maupun tempat ibadah kelompok yang disebut sesat3 itu, atau bahkan melakukan penganiayaan fisik dalam bentuk penghilangan nyawa orang lain, satu tindakan main hakim sendiri. Yang memerihatinkan dalam kasus-kasus seperti ini adalah sikap pemerintah dan aparat keamanan yang tidak sanggup melindungi HAM warga negara yang disebut sesat tersebut. Lebih memperihatinkan lagi kalau ternyata proses hukum terhadap para tersangka pelaku tidak dilakukan sungguh-sungguh, dimana seakan-akan aparat penyelenggara negara membiarkan pengerusakan terjadi, lebih-lebih karena penguasa merekomendasikan bahwa kelompok tertentu tersebut adalah sesat setelah merujuk rekomendasi dari majelis agama tertentu yang ada. Sebetulnya, ekalipun ada perbedaan pandangan, kelompok masyarakat manapun tidak boleh melakukan tindakan anarkis serta main hakim sendiri. Tapi itulah yang masih terjadi sampai saat-saat ini. Peguasa seharusnya menangkap provokator gerakan massa ini dan mengusutnya secara hukum, kendatipun misalnya dalam tekanan massa yang sangat besar. Bahwa secara politik masyarakat merasakan hak asasinya tidak dihargai dengan patut, itu bisa disimak dari merajalelanya korupsi dari tingkat pusat sampai daerah serta penegakan hukum yang justru lebih banyak memihak para Tersangka dan Terdakwa. Vonis bebas pada sebagian besar kasus-kasus korupsi yang melibatkan aparat penyelenggara negara baik di eksektutif, legislatif maupun yudikatif ataupun vonis yang ringan, merupakan potret betapa perlindungan dan pemenuhan HAM tidak memperhatikan rasa keadilan di masyarakat. Padahal, penanganan dan proses hukum terhadap pelaku tindak kriminal umum nampak jauh lebih ketat dibandingkan dengan penanganan terhadap pelaku tindak pidana khusus korupsi ini. Di pihak lain, komitmen dari partai politik maupun elit-elit politiknya untuk memperjuangkan pembentukan negara yang good and clean governance yang belum sungguh-sungguh diperjuangkan di forum legislatif, tapi disana-sini justru cenderung mau melawan arus kuat penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, merupakan bentuk nyata rendahnya apresiasi dan komitmen mereka memperjuangkan HAK warga
3

Seperti pembakaran yang menimpa warga Ahmadiyah di Lombok, dan daerahdaerah lain di Indonesia
2

negara ataupun khsususnya para konstituen politik mereka. Seringkali terjadi, kelompok atau kominitas tertentu justru menggunakan kekuatan massa untuk mendukung para Tersangka/Terdakwa tindak pidana korupsi ini, yang secara tidak langsung digunakan untuk menekan aparat penegak hukum dan penyelenggara negara maupun organisasi-organisasi swadaya masyarakat yang bergerak dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi. Viktimisasi aktivis pemberantasan korupsi serta lemahnya perlindungan negara terhadap para aktivis ini secara tidak langsung menggambarkan bahwa komitmen pemerintah untuk melindungi hak warga negara yang sebetulnya membantu pemerintah menegakkan supremasi hukum tidak dilakukan secara serius. Hak-hak Sosial Ekonomi dan Kebudayaan Fakta-fakta HAM lain yang masih menjadi masalah adalah rendahnya pemenuhan hak asasi warga negara dalam bidang sosial, ekonomi maupun kebudayaan, diantaranya di bidang pendidikan, kesehatan dan kemerdekaan untuk menyelenggarakan keyakinan agamanya. Kebijakan politik pemerintah di bidang pendidikan, dengan wajib pendidikan sampai tingkat SMTA, kemudian penyerahan tanggung jawab beaya pendidikan ke daerah-daerah diluar bantuan DAU dan BOS, secara teoritis memang sangat positif. Namun, otonomi yang tidak disertai rambu-rambu itu telah memberikan peluang kepada sekolah untuk memungut dana-dana lain, yang dalam prakteknya sudah menimbulkan masalah baru, karena jumlah pungutan yang bervarasi sampai Rp 300.000,- per siswa per bulan, tentulah sangat memberatkan orangtua siswa yang berpendapatannya pas-pasan. Kebijakan pungutan otonomi sekolah ini mengakibatkan tingginya angka putus sekolah di kalangan warga masyarakat miskin, dan itu secara tidak langsung merupakan pelanggaran hak asasi si anak yang berhak memperoleh pendidikan dan juga menggagalkan kebijakan pemerintah di bidang wajib pendidikan 9 tahun. Lemahnya kontrol pemerintah pusat dan penegakan hukum yang sangat lemah, menyebabkan kebocoran dana-dana pendidikan ini tidak terpantau dengan baik dan tidak bisa pula dicegah dengan baik. Kasus-kasus empirik yang sangat memerihatinkan dalam konteks pendidikan ini adalah munculnya bunuh diri atau percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh anakanak sekolah, satu hal dengan alasan karena tidak mampu membayar beaya-beaya yang dibebankan Komite Sekolah kepada orangtua siswa. Data dari INDOK ELSAM tentang anak-anak sekolah yang melakukan bunuh diri atau percobaan bunuh diri karena kemiskinan, sekalipun barangkali terlihat sangat kasuistis, tidaklah bisa diabaikan semata-mata karena alasan statistiknya. Hal itu justru mesti dipandang dari aspek puncak gunung es masalah kebijakan pendidikan yang didalamnya mengandung pengabaian terhadap hak asasi anak-anak yang berhak memperoleh pendidikan.

Bunuh Diri ataupun Percobaan Bunuh Diri Siswa karena Kemiskinan No


1

Nama Korban
Eko Haryanto (15)

Lokasi
siswa kelas VI SD Kepunduhan 01, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal siswa kelas II Logam 1 SMK Negeri 2 Adiwerna, Kabupaten Tegal siswi kelas III sebuah SMP Negeri di Tangerang siswa kelas I SMP Al Falah di Kampung Salimah, Sukamanah Jambe, Tangerang, Banten, siswi kelas empat Sekolah Dasar tewas gantung diri di Dusun Siyono Kidul, Desa Logandeng, Gunung Kidul, Yogyakarta. siswa kelas VI sekolah dasar di Kecamatan Jabung, Malang seorang pelajar SMA swasta di Tangerang

Keterangan
Pertengahan April 2005 7 April 2005

Bunyamin (17)

3 4

Elfi Mamora (15) Femilia Umami (13)

-Jumat, 03 Juni 2005 Kamis (15/12).

Awang Aditya

6 7

Muhammad Firdaus Romdoni bin Husen (15)

---

Sumber: Data olahan INDOK ELSAM Hak-hak masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang terjangkau, sekarang mulai terabaikan karena beberapa penyebab. Pertama, aplikasi kebijakan dan peraturan perundangan yang memihak masyarakat kurang mampu, sesungguhnya sangatlah terbatas. Cukup banyak kasus dimana orang-orang miskin akhirnya memilih untuk tidak memeriksa atau merawat kesehatannya di rumah sakit karena alasan miskin, walaupun sebetulnya pemerintah punya kebijakan untuk memberikan pelayanan perawatan dan pengobatan gratis terhadap pasien yang kurang mampu, sepanjang disertai dengan persyaratan administrasi yang sudah diatur. Di Bali, sebuah organisasi swadaya masyarakat, dalam tahun 2006 ini berhasil memperjuangkan lebih dari 20 pasien miskin untuk memperoleh pengobatan gratis dari rumah sakit di RS Bangli, RS Sanglah, dan ikut membandu visi Pemda Tabanan yang memberikan pelayanan gratis terhadap pasien kurang mampu yang menderita penyakit kulit bersisik.4 Perjuangan organisasi bernama KORdEM Demokrasi Bali ini hanyalah contoh kecil bahwa aplikasi kebijakan pemerintah yang sebetulnya sudah memihak rakyat miskin itu tetap memerlukan tekanan masyarakat, dorongan dan
KORdEM (Koalisi Organisasi Non Pemerintah dan Eksponen Masyarakat) untuk Demokrasi Bali yang didirikan tahun 2004, mendesak Wayan Sudirta, Anggota DPD RI dari Provinsi Bali, untuk memperjuangkan perawatan dan pengobatan gratis kepada pasien miskin, dan berhasil mendorong Menteri Kesehatan turun ke RS Sanglah untuk meninjau pasien-pasien miskin yang memperoleh pelayanan gratis, dan seterusnya berhasil memperjuangkan pembebasan pasien-pasien miskin lainnya, diantaranya yang menderita penyakit kulit bersisik, memperoleh pelayanan gratis di RS Bangli, RS Sanglah, dan juga RS Tabanan yang bertindak pro-aktif terhadap pasienpasien miskin tersebut.
4

komitmen politisi agar penyelenggara negara di daerah maupun di instansi teknis bersedia melaksanakannya. Tanpa semua ini, kebijakan pemerintah itu hanya indah diatas kertas, sementara dalam prakteknya, masyarakat tetap menderita karena hakhak asasinya tidak terlindungi dan tidak memperoleh pelayanan. Kedua, hak-hak asasi masyarakat di bidang kesehatan akan semakin memperihatinkan oleh karena pemerintah menerapkan kebijakan swastanisasi dalam pembangunan rumah sakit. Salah satu alasannya adalah, karena pemerintah kekurangan dana, selain karena merupakan konsekuensi dari liberalisasi ekonomi glogal dimana pemerintah Indonesia ikut di dalamnya. Dengan lebih banyak membangun rumah sakit swasta yang kapitalistik, mau tidak mau beaya kesehatan menjadi sangat mahal dan tentunya tidak akan terjangkau oleh lapisan masyarakat miskin. Karenanya, pemerintah sangat perlu memproduksi kebijakan di bidang kesehatan yang bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan terjangkau oleh lapis masyarakat miskin, berapapun beayanya. Dengan menghitung jumlah masyarakat miskin dan masyarakat kurang mampu, pemerintah perlu membangun rumah sakit dengan pasilitas yang memadai untuk mengimbangi rumah-sakit swasta yang jelas-jelas sangat mahal dan tidak terjangkau oleh masyarakat kurang mampu maupun masyarakat miskin. Perlu menetapkan angka ideal jumlah rumah sakit dengan jumlah penduduk yang kurang mampu, bagaimana agar pemerintah mampu melayani kebutuhan masyarakat akan kesehatannya. Bila satu kabupaten cukup dengan satu rumah sakit, cukuplah satu, tetapi kalau karena jumlah penduduk miskinnya membutuhkan 2 rumah sakit, pemerintah seharusnya memprogramkannya, agar rakyat terlayani dengan beaya terjangkau. Jangan sampai terdengar kasus dimana ada rumah sakit pemerintah menolak pasien karena yang bersangkutan miskin. Program Asuransi Kesehatan yang menjadi kebijakan pemerintah, sebaiknya disosialisasikan, dan warga masyarakat pun mestinya meningkatkan kesadaran dan partisipasinya dalam merawat kesehatannya dengan mengikuti program pemerintah yang mengutungkan dan memihak pada kepentingan mereka sebagai warga kurang mampu. Posisi DPR dan DPD Kita memang sama-sama sudah menyaksikan bahwa pelaku tindak kekerasan yang berimplikasi melanggar HAM, kini beralih ke kelompok ataupun komunitas tertentu yang bisa bertindak anarkis, kadang-kadang di depan mata aparat penegak hukum yang melakukan pengamanan. Masyarakat juga menyaksikan betapa lemahnya penegakan supremasi hukum dan betapa lemahnya komitmen penyelenggara negara untuk memberikan perlindungan terhadap hak asasi warga negaranya. Paska Orde Baru ini, terlihat bahwa penyelenggara negara membiarkan pelanggaran HAM berlangsung, seperti yang dilakukan oleh kelompok-kelompok bersenjata yang merusak dan membakar fasilitas kelompok lain yang dianggap musuh oleh mereka. Masyarakat juga menyaksikan bagaimana kebijakan yang sudah dibuat secara formal, tidak sepenuhnya bisa mulus penerapannya di masyarakat. Hingga, kendati kita sudah punya UU No. 39/1999 tentang HAM dan pemerintah sudah meratifikasi Kovenan tentang Hak-hak Sipil dan Politik serta Kovenan tentang Hak-hak Sosial, Ekonomi dan Kebudayaan, semuanya itu hanyalah sebagian dari keseluruhan cita-cita HAM dan sebagiannya lagi adalah pelaksanaan yang konsisten dan penuh komitmen dari penyelenggara negara, baik eksekutif, legislatif, dan yudikatif. DPR yang memiliki kewenangan membuat Undang Undang termasuk Undang Undang HAM tersebut, sebetulnya tidak bisa tinggal diam menyaksikan kenyataan ini. Peraturan dan UU tidak bisa berjalan sendiri tanpa pengawalan yang punya wewenang
5

untuk melakukan kontrol, tidak bisa berjalan mulus tanpa aparat eksekutif yang sungguh-sungguh dan pada umumnya publik tidak akan menghormati peraturan perundang-ndangan apapun bentuknya tanpa aparat penegak hukum di Kepolisin, Kejaksaan dan Pengadilan yang punya integritas dan kapasitas moral yang tepat. DPD, sekalipun wewenangnya sangat terbatas, tetap bisa berbuat atas dasar legitimasi moral maupun politik dari para konstituen yang telah memilih dan itu juga berarti legitimasi politik dari daerah pemilihannya. Karenanya, berpijak pada tugas DPD untuk menyerap dan menyalurkan aspirasi masyarakat, isu-isu HAM ini tetap bisa menjadi wilayah dedikasi dan apresiasi politik DPD. Perjuangan kami sebagai wakil Provinsi Bali di DPD RI, semata-mata didasari oleh tugas DPD yang diatur dalam konstitusi. Power politiknya memang tidaklah seberapa, tetapi naif dan tidak bersyukur kalau kami terus mengeluh dan menyesali wewenang yang terbatas tersebut. Karena, bagaimanapun suara moral yang tanpa wewenang bukanlah sesuatu yang sama sekali mandul dan tak berarti, sepanjang diperjuangkan dengan konsisten. Kiranya, perjuangan teman-teman aktivis LSM yang tidak punya wewenang politik itupun, toh menurut keyakinan kami ikut membantu proses perubahan politik yang berlangsung, semasa Orde Baru maupun masa-masa yang sekarang ini. Jadi, setumpuk isu HAM yang diuraikan diatas, sebagian kecilnya telah berusaha kami masuki dengan keterbatasan wewenang tersebut, seperti masalah kesehatan misalnya. Kami baru menangani isu-isu kesehatan karena masalah itulah yang disampaikan oleh para konstituen di Provinsi Bali. Isu-isu HAM yang lain yang berada diluar konteks daerah pemilihan anggota DPD tertentu, tetap bisa disampaikan ke DPD melalui alat-alat kelengkapan yang ada, untuk kita perjuangkan bersama-sama, menambah apa yang telah diperjuangkan secara bersama-sama dengan komponen instansi politik maupun instansi pemerintahan yang ada. Kalau rezim Orde Baru yang begitu kuat toh bisa runtuh setelah 32 tahun, invisible rezim dalam bentuk perilaku yang mengabaikan HAM ini mari tetap kita atasi terus menerus, kendatipun sekarang belum nampak hasilnya. Pembunuhan Munir harus diungkap sampai ke aktor intelektualnya, penghilangan paksa sejumlah aktivis semasa Orde Baru juga tetap harus didesakkan ke pemerintah agar mengusutnya dengan penuh komitmen, terus dan terus dilakukan, sekalipun dengan kemajuan yang setapak demi setapak.

Jakarta, 1 Desember 2006.