Anda di halaman 1dari 16

1

I.

PENDAHULUAN

Tebu (Saccharum officinarum) merupakan tanaman yang ditanam untuk bahan baku gula dan vetsin. Tanaman ini hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Tanaman ini termasuk jenis rumput-rumputan. Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang lebih satu tahun. Tanaman tebu di Indonesia banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Sumatra. Saat ini pemerintah sedang menggalakkan penanaman tebu untuk mengatasi rendahnya produksi gula di Indonesia. Permasalahannya adalah adanya serangan OPT (hama, patogen penyakit, dan gulma). Salah satu patogen penyakit yang menyerang adalah nematoda dari golongan Pratylenchus spp. dan Meloidogyne incognita. Peranan nematoda ini dalam penurunan produksi tebu di Indonesia, masih belum disadari baik oleh para pembuat kebijakan maupun oleh petani. Padahal, serangan nematoda dapat menyebabkan kehilangan hasil yang cukup berarti. Secara umum serangan nematoda menyebabkan kerusakan pada akar, karena nematoda mengisap sel-sel akar, sehingga pembuluh jaringan terganggu, akibatnya translokasi air dan hara terhambat. Serangan nematoda juga dapat mempengaruhi proses fotosintesa dan transpirasi, sehingga pertumbuhan tanaman terhambat, warna daun menguning seperti gejala kekurangan hara, dan mudah layu. Karena pertumbuhan terhambat, produktivitas tanaman menurun. Kerugian ekonomi akibat serangan nematoda pada tanaman tebu di Indonesia belum dapat diperkirakan, mengingat sampai saat ini data kerusakan yang ada masih bersifat parsial, hanya berdasarkan hasil-hasil penelitian di rumah kaca dan lapang dalam luasan yang sangat terbatas.

II.

BIOLOGI NEMATODA

2.1. Klasifikasi 2.1.1. Pratylenchus sp Kingdom Phylum Classis : Animalia : Nematoda : Secernentea

Subclassis : Tylenchia Ordo Familia Genus Spesies : Tylenchida : Pratylenchidae : Pratylenchus : P. Zeae, P. Branchyurus

2.1.2. Meloidogyne incognita Kingdom Phylum Class Order Family Genus Spesies : Animalia : Nematoda : Secernentea : Tylenchida : Heteroderidae : Meloidogyne : M. incognita,

2.2. Morfologi 2.2.1. Pratylenchus Sp Pratylenchus sp. Merupakan nematoda yang berukuran sangat kecil di antar nematoda parasit tumbuhan lain. Lebar tubuh nematoda ini antara 40 m hingga 160 m, dengan panjang tubuh antara 0,4-0,7 mm, sedangkan

diameter tubuh 20-25m. Pada beberapa jenis kedua kelamin terpisah, tetapi beberapa jenis yang laen jenis kelamin jantan tidak terdapat. Bentuk nematoda ini pada umumnya memanjang, bagian ujung anterior kepala mendatar pada gambar 1, dengan kerangka kepala yang kuat, mempunyai stilet pendek dan kuat, panjangnya 14-20 m dengan basal knop yang jelas. Kelenjer esofagusnya tumpang tindih dengan usus pada bagian ventral. Muara lubang ekskresi berada di dekat daerah pertemuan esofagus dan usus. Vulva terdapat di daerah posterior. Betina mempunyai gonad tunggal dan mempunyai kantong pasca vulva yang pendek. Anulasinya halus dan mempunyai empat garis lateral, tetapi ada juga jenis yang mempunyai hingga delapan. Ekornya lebar, ujunya membulat dan runcing, panjang 3,5-9 % dari panjang tubuh. Nematoda jantan biasanya lebih kecil dari pada yang betina.

Gambar 1. A. penampang Pratylenchus sp. melintang daerah esophagus. B. bentuk kepala yang mendatar. C. Mj= Pratylenchus sp. Betina dan = Pratylenchus sp. jantan

2.2.2 Meloidogyne incognita Telur nematoda Meloidogyne incognita berbentuk bulat lonjong

dengan ukuran (62-128) mikron x (30-50 mikron). Telur-telunya diletakkan dalam kantong telur yang terdapat diluar tubuhnya dan disekresikan oleh selsel kelenjer rektum dan setelah pembuahan telur diletakkan dalam glatinn dan dilepaskaan secara bergerombolan melalui vilva. Tidak ada telur yang diletakkan di dalam jaringan tanaman tetapi telur bisa bertahan dalam tubuh nematoda. Nematoda betina dewasa berbentuk seperti buah pir pada gambar 2 bersifat endoparasit yang tidak berpindah (sedentary), mempunyai leher

pendek dan tanpa ekor. Panjang lebih dari 0,5 mikron dan lebarnya antara 0,30,4 mm, stiletnya lemah dan panjangnya 12-15 mm melengkung kearah dorsal, serta mempunyai pangkal knot yang jelas, sedangkan nematoda janyan dewasa berbentuk memanjang bergerak lambat di dalam tanah, panjangnya bervariasi dan maksimum 2 mm kepalanya berlekuk dan panjang stiletnya hampir 2 kali panjang stilet betina.

Gambar 2. a. Meloidogyne sp fase larva berbentuk benang. b. Meloidogyne sp. Betina

2.3. Siklus Hidup 2.3.1. Pratylenchus sp. Pratylenchus sp. bertelur di dalam jaringan akar, pergantian kulit pertama terjadi dalam telur dan tiga kali pergantian kulit, berikutnya terjadi di luar (setelah menetas). Masa telur 15-17 hari, 3 kali ganti kulit lihat gambar 3. Masa pro oviposisi 15 hari, sehingga masa satu generasi 45-48 hari.

Gambar 3. Proses ganti kulit (molting)pada Pratylenchus spp. Telur yang apabila menetas akan muncul larva stadia kedua, diletakan secara berkelompok tetapi terpencar di dalam akar dan tanah. Semua stadia bergerak di antara akar dan tanah. Pratylenchus sp. berkembang biak lebih baik di dalam akar tanaman yang pertumbuhannya tidak baik.

Telur

Dewasa

Juvenil 1

Juvenil 2

Gambar 4. Siklus hidup Pratylenchus sp.. larva 1 berada dalam telur

2.3.2. Meloidogyne incognita Nematoda ini memiliki tahap atau fase. Terdapat lima tahapan/fase yang di mulai dari telur sampai dengan dewasa. Dalam siklus hidupnya, nematoda ini mengalami lima fase. Pada fase ke 3 dan ke 4 nematoda sudah dapat dibedakan antara jantan dan betinanya. Telur nematoda Meloidogyne spp. berbentuk bulat lonjong. Telurtelurnya diletakkan dalam kantong telur yang terdapat diluar tubuhnya dan disekresikan oleh sel-sel kelenjer rektum dan setelah pembuahan telur diletakkan dalam glatin dan dilepaskan secara bergerombolan melalui pulva. Tidak ada telur yang diletakkan di dalam jaringan tanaman tetapi telur bisa bertahan dalam tubuh nematoda (gambar 5).

Gambar 5. Nematode betina mengeluakan telurnya Larva 1 berada dalam telur dan menetas menjadi larva instrar II (375-500 mikron) x (12-15 mikron) dan larva melakukan pergantian kulit dengan cepat untuk kedua dan ketiga kalinya tanpa makan, selanjutnya menjadi jantan dan betina dewasa. Pada juvenil 2 ini nematoda telah dapat dibedakan antara jantan dan betinanya, nematoda yang jantan berbentuk seperti benang tetapi nematoda betina berbentuk agak menggembung dan lancip pada ujungnya.

Lama kelamaan juvenil 2 berkembang dan berganti kulit, dan setelah berganti kulit, maka nematoda tersebut akan menjadi juvenil 3, tetapi bentuknya mirip dengan juvenile 2. Di dalam akar larva menetap dan kemudian larva menggelembung lalu melakukan pergantian kulit dengan cepat untuk kedua dan ketiga kalinya, selanjutnya menjadi jantan atau betina dewasa (juvenil 4) yang berbentuk memanjang di dalam kutikula, stadium ke empat muncul dari jaringan akar dan menghasilkan telur secara terus menerus selama hidupnya (gambar 5). Lama siklus hidup nematoda puru akar sekitar 18-21 hari atau 3-4 minggu dan akan menjadi lama pada suhu yang dingin.

Telur

Dewasa

Juvenil 1

Juvenil 3 bentuk mirip juvenil 2

Juvenil 2

Gambar 6. Siklus hidup Meloidogyne sp., setiap perubahan juvenil akan di dahului dengan pergantian kulit (molting)

III.

GEJALA DAN PERKEMBANGAN PENYAKIT

3.1. Gejala 3.1.1. Pratylenchus spp. Pratylenchus gejalanya yang luas terjadi luka berwarna merah didalam jaringan korteks akar tanaman tebu, berkurangnya anakan dan masa akar, serta panjang batang dan menguningnya daun. P. brancehayurusn menyebabkan kerusakan pada system jaringan pengangkut dan merusak selsel jarinagn korteks tetapi tidak merusak masa akar dan tunas. 3.1.2. Meloidogyne incognita Meloidogyne incognita merupakan nematoda penting yang diketahui sangat berbahaya karena dapat mengurangi fungsi akar dalam menghisap air dan unsur hara, bila serangan semakin berat akan menimbulkan kerusakan pada tanaman tebu dengan membentuk puru atau gall pada akar. Selanjutnya pada ujung akar tanaman yang mengalami pembengkakan akan tumbuh akar-akar lateral sedangkan pada akar tanaman tebu yang telah tua, nematoda betina dapat berkembang dengan berbagai posisi disepanjang akar 3.2. Perkembangan Penyakit (Penyebaran) 3.2.1. Pratylenchus spp. Berdasarkan organ tanaman yang diserang dan cara memarasit tanaman, pratylenchus sp., dikelompokkan kedalam golongan nematoda endopasit yang berpindah-pindah (migratory endoparasites). Nematoda masuk ke dalam akar yang diserang dan tetap aktif di dalamnya. Setelah berhasil menginfeksi tanaman, nematoda menyerang korteks akar tanaman, di dalam akar nematoda aktif dan bergerak, membuat lubang-lubang dan saluran-saluran yang digunakan untuk mengumpulkan telur-telurmya baik

secara tunggal atau dalam kelompok kecil. Sebelum melakukan penetrasi pada akar, nematoda kadang-kadang berada di permukaan akar dan di rambut-rambut akar. Nematode aktif pada mualai juvenile 2-4 dan dewasa melakukan penetrasi akar tanaman secara langsung, kemudian nematode masuk kedalam korteks akar. Setelah masuk nematode bereproduksi dan bergerak aktif didalamnya, sehingga aktifitas seperti ini menyebabkan jaringan akar busuk, hancur dan patah. Jika akar sudah tidak dpat lagi dijadikan inang,nematode kemudian keluar dari akar yang sudah busuk dan rusak tersebut. Nematode kemudian keluar ini dapat menginfeksi akar tanaman lain yang sehat dalam satu pohon atau antar pohon. Kemungkinan lain nematoda meletakkan telur- telurnya di luar akar (tanah) sampai telur- telur tersebut menjadi juvenile dan bergerak didalam tanah untuk mencari inang baru. Nematoda bergerak didalam tanah diantara pori- pori dengan diameter 20- 30 mili micron atau lebih. 3.2.2. Meloidogyne incognita Nematode Meloidogyne incognita bersifat endoparasitik. Menyebar dengan perantara partikel tanah, alat pertanian, air irigasi, banjir atau drainase, kaki hewan dan badai debu yang menyebarkan nematode secara local, sedangkan untuk yang jarak jauh melalui produk pertanian dan bibit tanaman . Larva 1 bergerak diantara sel-sel tanaman dan tiba didekat silinder pusat, ditempat tersebut larva menetap dan menyebabkan perubahan sel- sel yang akan menjadi makanannya. Di dalam akar larva menetap dan menyebabkan perubahan sel- sel yang menjadi makanannya (gambar 7). Perkembangan nematoda dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan yaitu suhu, kelembaban tanah, pH tanah, kandungan bahan organik tanah,

10

keadaan tanaman inang, umur tanaman, ukuran partikel tanah. Jumlah telur yang dihasilkan tergantung pada kondisi lingkungannnya.

Gambar 7. Larva 1 bergerak di dalam jaringan tanaman

11

IV.

TEKNIK PENGENDALIAN PENYAKIT

Pengendalian nematoda sudah menjadi salah satu bagian dari usaha tani di banyak negara di dunia. Secara umum, strategi pengendalian terpadu nematoda parasit dapat dilakukan melalui karantina, pemusnahan pusat serangan, kebersihan kebun dan tindakan teknik budidaya, pengendalian hayati dan ekologi, pemilihan areal bebas nematoda, pengendalian kimia dan fisik secara langsung, pemberaan, pergiliran tanaman, varietas tahan, dan varietas toleran. Umumnya serangan nematoda pada tanaman dapat menyebabkan penyakit kompleks (complex diseases), karena patogen lain seperti jamur, bakteri dan virus masuk ke dalam jaringan akar melalui luka yang disebabkan oleh nematoda, sehingga gejala serangan nematoda tersebut semakin parah. Selain itu serangan nematoda menyebabkan tanaman kekurangan hara, karena akar rusak dan tidak berfungsi secara maksimal, akibatnya produktivitas tanaman menurun. Bertitik tolak pada mekanisme kerusakan oleh nematoda tersebut, maka sasaran pengendaliannya antara lain adalah : (a) Mengurangi daya rusak dan menghindari investasi OPT lain. Cara pengendalian ini dapat dilakukan antara lain dengan menggunakan pestisida (kimia, nabati, hayati), atau bahan organik. Dengan cara tersebut nematoda terbunuh oleh senyawa toksik dari pestisida, atau senyawa yang dihasilkan oleh bahan organik selama proses dekomposisi (b) Mengurangi daya rusak melalui pendekatan genetik untuk meningkatkan daya tahan. Cara ini dapat dilakukan dengan menggunakan varietas tahan atau toleran. Dengan menggunakan varietas tahan, nematoda tidak dapat berkembang biak, atau perkembangbiakannya terhambat. (c) Mengurangi daya rusak dan kerugian melalui pendekatan fisiologis dan recovery. Cara ini dapat dilakukan secara terpadu dengan menggunakan varietas tahan (toleran), penggunaan pestisida dan teknik budidaya

12

(pemupukan, pergiliran tanaman). Dengan pengendalian terpadu selain populasi nematode dapat ditekan, secara fisiologis tanamantumbuh normal, sehingga potensi produksi tanaman tersebut tercapai karena kebutuhanhara terpenuhi. Pengendalian yang dapat dilakukan pada nematoda yang menyerang tanaman tebu adalah Penerapan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Pengendalian nematoda secara terpadu dilakukan dengan cara menggabungkan beberapa komponen pengendalian ke dalam suatu sistem. Komponen-komponen utama pengendalian nematoda terpadu adalah teknik budidaya (varietas tahan atau toleran, pergiliran tanaman, tanaman perangkap, bahan organik), agen hayati, pestisida (nabati dan kimia), dan karantina. Varietas tahan atau toleran Umumnya, kehilang-an hasil akibat serangan nematoda, dapat ditekan melalui pergiliran tanaman. Tanaman yang sangat peka hanya boleh ditanam sekali dalam 2-8 tahun. Oleh karena itu, untuk menekan perkembangbiakan nematoda tertentu, kultivar tahan harus selalu tersedia. Pergiliran tanaman dan tanaman perangkap Beberapa jenis tanaman dapat berfungsi sebagai tanaman perangkap (trap crop) yang diusahakan dalam bentuk pola tanam seperti pergiliran tanaman atau tumpang sari, di antaranya adalah tagetes (Tagetes patula), jarak (Ricinus communis) dan wijen (Sesamum indicum). Tanaman jarak dan wijen tersebut sangat efektif dalam menekan populasi Meloidogyne spp., karena

mengeluarkan eksudat akar yang toksik terhadap nematoda. Bahan organik Penambahan bahan organik ke dalam tanah meningkatkan daya tanah menahan air dan kesuburan tanah, sehingga pertumbuhan tanaman meningkat dan tanaman lebih tahan terhadap serangan nematoda. Kegiatan musuh-musuh alami nematoda khususnya jamur dan invertebrata predator terpacu, sementara senyawa kimia yang bersifat racun terhadap nematoda (seperti

13

ammonia, nitrit, hidrogen sulfida dan asam-asam organik) di lepas ke dalam tanah selama proses dekomposisi. Agen hayati Pemanfataan agen hayati (musuh alami) telah terbukti efektif untuk mengendalikan nematoda pada berbagai kasus. Di antara agen hayati tersebut adalah jamur (Arthrobotrys oligospora, Dactylaria brochopaga., Dactylella spp., Paecilomyces lilacinus, Catenaria spp., Nematophthora gynophila) dan bakteri P. penetrans. Agar agen hayati tersebut tetap dalam keadaan viabel di dalam tanah, metoda aplikasi dan formulasi agen hayati masih perlu dikembangkan. Pestisida nabati berbagai jenis tanaman yang mengandung senyawa toksik terhadap nematoda sangat potensial untuk dikembangkan sebagai pestisida nabati. Di antara tanaman tersebut adalah mimba, tagetes (T. erecta, T. minuta), srikaya, jarak, serai wangi, serai dapur, lempuyang pahit, lempuyang wangi, dan lempuyang gajah. Kandungan bahan aktif mimba terutama adalah azadirachtin. Bungkil jarak mengandung senyawa aktif ricin yang sangat beracun terhadap nematoda. Ekstrak biji mimba dan ekstrak bungkil jarak sangat efektif untuk mengurangi populasi nematoda. Srikaya mengandung bahan aktif nematisidal utama asimisin dan anonin, sedangkan tagetes mengandung senyawa thio-penic. Pestisida kimia Penggunaan pestisida kimia harus merupakan alternatif terakhir apabila tehnik pengendalian yang lain dinilai tidak berhasil dan harus dilakukan secara bijaksana. Yang dimaksud dengan penggunaan nematisida secara bijaksana, adalah (1) Nematisida yang digunakan adalah jenis yang terdaftar dan atau diizinkan oleh Menteri Pertanian, (2) Memenuhi kriteria 6 tepat, yaitu tepat jenis, mutu, waktu, sasaran (nematode dan tanamannya), dosis dan konsentrasinya, serta cara dan alat aplikasinya (3) Tidak membahayakan manusia dan lingkungan.

14

Karantina Menurut Badan Karantina Pertanian, di Indonesia sampai saat ini telah dilaporkan sebanyak 67 spesies nematoda parasit tanaman yang tergolong ke dalam Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) kelompok A1 (belum terdapat di Indonesia), dan 26 spesies OPTK A2 (sudah terdapat di Indonesia). Untuk mencegah masuk dan tersebarnya OPTK dari luar negeri (OPTK A1), dan mencegah masuk dan tersebarnya OPTK A2 dari areal yang tertular ke areal lain yang bebas di dalam negeri, telah diatur dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 627/Kpts/PD.540/12/2003, tanggal 30 Desember 2003. OPTK A1 tidak masuk ke Indonesia, dan nematoda yang sudah ditemukan di tempat tertentu tidak menyebar ke tempat lain yang belum terinfeksi, sehingga penyebaran penyakit yang disebabkan oleh nematoda dapat dihindarkan. Penyebaran atau pencegahan masuknya nematoda dari daerah terserang ke daerah lainnya di Indonesia dapat dilakukan dengan cara (a) sanitasi benih, alat transportasi dan lain-lain. Sanitasi antara lain dengan mencuci atau membersihkan benih dengan menggunakan nematisida dan desinfektan yang tidak mempengaruhi daya tumbuh benih, (b) tidak menggunakan benih dari daerah yang diketahui terserang nematoda tertentu, (c) sertifikasi benih bebas nematoda dan (d) pemberdayaan penangkar benih, baik yang diusahankan oleh Pemerintah maupun Swasta.

15

V. PENUTUP

Tebu (Saccharum officinarum) merupakan tanaman yang ditanam untuk bahan baku gula dan vetsin. Pengurangan produksinya disebabkan adanya serangan OPT. Salah satunya adalah nematoda dari golongan Pratylenchus spp. dan Meloydogyne incognita. Pengurangan produksi oleh nematoda belum pasti karena penelitian kebanyakan hanya dilakukan skala rumah kaca.
Pengendalian yang dapat dilakukan pada nematoda yang menyerang tanaman tebu adalah Penerapan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Pengendalian nematoda secara terpadu dilakukan dengan cara menggabungkan beberapa komponen pengendalian ke dalam suatu sistem. Komponen-komponen utama pengendalian nematoda terpadu adalah teknik budidaya (varietas tahan atau toleran, pergiliran tanaman, tanaman perangkap, bahan organik), agen hayati, pestisida (nabati dan kimia), dan karantina.

16

DAFTAR PUSTAKA

Dropkin, Victor H. 1992. Pengantar Nematologi Tumbuhan Edisi Kedua. Penerjemah: Ir. Supratoyo. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. http:// en.wikipedia.org/wiki/meloidogyne http://alfuri.blogspot.com http://en.wikipedia.org/wiki/meloidogyne-incognita http://spesies.Wikipedia.org/wiki/pratylenchus Ichwani, Chandra. 2010. Petani Tebu Tak Pernah Rusakan Manisannya Gula. http://www. Antaranews.com/ berita Kaji Terap Nematoda Entomopatogen Terhadap Lepidiopta stigma. http://ditjenbun.Deptan.go.id/bbp2tpsur/indeks.php Luc, M., R. A. Sikora, J. Bridge. 1995. Nematoda Parasitic Tumbuhan di Pertanian Subtropik dan Tropik. Penerjemah: Ir. Supratoyo. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Mustika, Ika. 2005. Konsepsi dan Strategi Pengendalian Nematoda Parasit

Tanaman Perkebunan di Indonesia. Volume 4 Nomor 1, Hal: 20 32


Rahayu, T. 2010. Siklus Hidup Nematoda Parasitik Tumbuhan Meloidogyne spp. http://titinrahayu08.studemt.ipb.ac.id/ Wikipedia. http://id.wikipedia.org/wiki/nematode Yula, A. 2009. Nematoda Puru Akar (Meloidogyne sp.). http://anafzhu.blogspot.com