Anda di halaman 1dari 109

RAHASIA LOGAM AJAIB

Ebook by Syauqy_arr - OCR by Raynold Bab 1 NATAL YANG MENGECEWAKAN

"Menurut perasaanku, belum pernah kita mengalami liburan Natal yang begini mengecewakan," kata Dick. "Kasihan George! Dia sengaja kemari untuk melewatkan hari-hari Natal bersama kita eh, tahu-tahu kita semua terserang batuk dan pilek," kata Julian. "Ya - tidak enak rasanya meringkuk di tempat tidur pada Hari Natal," kata George. "Tapi yang paling menyebalkan, aku juga tidak bernafsu makan sama sekali. Bayangkan, hal begitu terjadi justru pada Hari Natal! Tak kusangka nasibku akan sesial itu." "Cuma Timmy saja satu-satunya dari kita yang tidak jatuh sakit," kata Anne sambil menepuk-nepuk anjing itu. "Kau baik hati Tim, sewaktu kami berempat masih tergeletak semua di tempat tidur. Kau menemani kami!" Timmy menggonggong dengan lagak serius. Perayaan Natal sekali itu, sama sekali tidak menggembirakan baginya. Apalah enaknya, kalau keempat kawannya berbaring terus di tempat tidur, batuk-batuk serta bersin terus-menerus! "Yah - pokoknya sekarang kita sudah sembuh lagi," kata Dick. "Cuma kakiku, rasanya masih aneh!" "Eh, kau juga merasa begitu ya," kata George. "Kusangka aku saja yang berperasaan begitu. "Kita semua begitu - tapi sekarang kan sudah mampu bangun lagi," kata Julian, "jadi sebentar lagi pasti rasa itu akan hilang juga. Yang jelas minggu depan kita sudah harus sekolah lagi - jadi perlu lekas-lekas merasa sehat kembali!" Anak-anak mengerang, disusul batuk-batuk. "Ini payahnya benih penyakit yang menyerang kita," kata George. "Setiap kali kita tertawa, berbicara keras atau mengerang, langsung terasa ingin batuk. Bisa gila aku nanti, jika batuk ini tidak lekas-lekas hilang. Tidak bisa tidur rasanya malam hari!" Anne pergi ke jendela.

"Salju sudah turun lagi," katanya. "Tidak banyak - tapi indah nampaknya. Coba kita tidak sakit, bisa seminggu kita asyik bermain di tengah salju. Tidak enak rasanya liburan seperti begini." George menyertainya, berdiri di jendela sambil memandang ke luar. Saat itu sebuah mobil berhenti di depan rumah. Seorang laki-laki tegap yang kelihatannya periang keluar dari kendaraan itu, lalu berjalan bergegas-gegas ke pintu depan rumah. "Pak Dokter datang," kata Anne. "Taruhan, ia nanti mengatakan kita sudah cukup sembuh sekarang, sehingga minggu depan bisa bersekolah kembali." Sesaat kemudian pintu kamar terbuka. Pak Dokter masuk, disertai ibu Julian, Dick dan Anne. Ibu kelihatannya capek! Tentu saja - karena mengurus empat anak sakit, serta seekor anjing yang kesepian; memang tidak bisa dibilang pekerjaan gampang! "Nah, ini mereka - sudah mampu meninggalkan tempat tidur," kata Ibu. "Tapi kelihatannya masih lesu, Pak!" "Ya, memang - tapi sebentar lagi pasti akan segar bugar 'kembali," kata Pak Dokter. Ia memeriksa anak-anak secara bergilir. "George yang nampak paling payah - rupanya dia ini tidak sekuat saudara sepupunya." Muka George berubah. Kelihatan jengkel mendengar komentar Pak Dokter. Dick terkekeh geli. "Kasihan George - anak yang paling lemah," katanya mengejek. "Demamnya paling tinggi, batuknya paling uhuk-uhuk, kalau mengerang paling memelas, dan dia juga...." Kalimat selanjutnya tak terdengar jelas, karena saat itu juga ada bantal besar melayang mengenai mukanya. Dick mengambil bantal itu, lalu dilemparkannya kembali ke arah George. Anak-anak tertawa. Dan seperti sudah bisa dibayangkan, tawa mereka itu disusul oleh batuk-batuk. Pak Dokter sampai terpaksa mendekap telinga mendengarnya. "Apakah mereka akan sudah bisa bersekolah lagi nanti?" tanya Ibu gelisah. "Yah, kenapa tidak - tapi pertama-tama batuk mereka itu harus lenyap dulu," kata Pak Dokter. Ia memandang ke luar, memperhatikan salju yang turun. "Sebetulnya kalau bisa tapi tidak - kurasa tidak mungkin - tapi.... "Tapi apa, Dokter?" tanya .Dick penuh minat. "Kami mau disuruh istirahat sambil main ski di Swis? Setuju, Dokter, setuju!" Pak Dokter tertawa. "He, he - jangan buru-buru, katanya. "Bukan begitu, aku sama sekali tidak bermaksud mengirim kalian begitu jauh! Cukup di dekat-dekat sini, asal daerahnya berbukit-bukit.

Jangan tempat yang terlalu dingin, tapi salju di situ tidak begitu cepat mencair - supaya kalian bisa main ski dan berseluncur dengan kereta peluncur. Kalau ke Swis, biayanya kan maha!!" "Ya, memang," kata Julian. "Tapi berlibur musim dingin di sekitar sini juga sudah lumayan." "O ya!" kata George. Matanya berkilat-kilat. "Sebagai pengganti liburan Natal yang menjengkelkan ini! Maksud Pak Dokter kami pergi sendiri? Kami sih mau saja!" "Yah - mestinya ada seseorang yang mengawasi," kata Pak Dokter. "tapi itu terserah bibimu." "Kalau aku, aku setuju dengan kata George tadi," kata Julian. "Ibu juga sependapat kan, ya Bu? Pasti Ibu ingin bebas dari kami untuk beberapa waktu! Ibu kelihatannya capek sekali." Ibunya tersenyum. "Yah - jika kalian memang memerlukannya - bertetirah sebentar untuk menghilangkan batuk- aku sama sekali tidak berkeberatan! Harus kuakui, aku juga tidak menampik kesempatan istirahat sebentar, sementara kalian bersenang-senang main salju! Nantilah kubicarakan dulu dengan Ayah." Saat itu Timmy menggonggong. Sambil menegakkan telinga, dipandangnya Pak Dokter. "Kata Timmy, ia juga kepingin bertetirah bersama kami," kata George. "Coba kuperiksa lidahmu. Dan kemarikan kakimu, kulihat apakah panas atau tidak," kata Pak Dokter berlagak serius Timmy meletakkan kaki depannya ke telapak tangan Pak Dokter, seakan-akan minta diperiksa. Keempat anak-anak itu tertawa geli - dan langsung disambung dengan batuk-batuk lagi! Pak Dokter sampai menggeleng-geleng. "Aduh, berisiknya," katanya. "Menyesal aku membuat kalian tertawa. Yah - aku takkan datang lagi memeriksa kalian, sampai saat menjelang sekolah dimulai. Harap aku diberi tahu apabila waktunya sudah tiba. Jadi untuk sementara begini sajalah! Selamat bersenang-senang, sambil bertetirah nanti!" "Terima kasih, Dokter!" kata Julian. "Kami akan memberi kabar, jika batuk kami sudah hilang!" Begitu Pak Dokter pergi, anak-anak langsung mengadakan perembukan dengan Ibu. "Kami. betul-betul bisa bertetirah kan, Bu?" tanya Dick penuh harap. "Sebaiknya secepat mungkin karena Ibu tentu sudah capek dirongrong batuk kami, siang dan malam ....."

"Ya, kurasa kalian memang perlu bepergian sebentar, sekitar seminggu sampai sepuluh hari," kata Ibu, "Tapi soalnya, tetirah ke mana? Kalian biasa ke rumah George tentunya.... tapi itu kan di pantai... lagipula kurasa ayah George tentunya takkan gembira jika kedatangan empat orang anak yang batuk-batuk terus!" "Memang, pasti ayahku akan pusing karenanya," kata George. "Begitu kami ada di sana, pasti ia akan membanting pintu kamar kerjanya, masuk ke tempat kita sambil berteriak, 'Siapa.....", Tapi begitu George menirukan ayahnya berteriak, batuknya langsung menyerang lagi. "Sudahlah, George," kata bibinya. "Coba minum air, biar batukmu terhenti." Mereka lantas melanjutkan perundingan, enaknya ke mana mereka pergi bertetirah. Sementara itu salju turun terus di luar. Dick menghampiri jendela. Ia senang melihat salju turun. "Coba kalau kita bisa menemukan suatu tempat yang letaknya tinggi di atas bukit, seperti yang disuruh Pak Dokter tadi! Di situ kita bisa main ski dan berseluncur dengan kereta kita," katanya. "Wah, baru membayangkannya saja, lalu badanku sudah bertambah enak rasanya. Mudah-mudahan salju turun terus." "Sebaiknya kita menghubungi salah satu kantor pariwisata, untuk menanyakan apakah mereka memiliki penawaran yang menarik," kata ibunya. "Misalnya saja rumah tetirah musim panas di bukit. Rumah-rumah begitu pada musim dingin kosong, jadi kalian bisa memilih, mau pondok atau rumah." Tapi ketika Ibu menelepon, ternyata perkiraannya meleset. Semua kantor pariwisata yang dihubungi, dengan sangat menyesal terpaksa menyatakan tidak bisa melayani. Soalnya bukan karena tempat-tempat tetirah itu tidak ada. Tapi karena memang tidak disewakan pada musim dingin. Anak-anak kecewa. Tapi tahu-tahu persoalan itu kemudian berhasil diatasi, dengan bantuan seseorang yang sama sekali tidak diduga bisa membantu. Orang itu Pak Jenkins, tukang kebun mereka. Hari itu laki-laki tua itu tidak banyak kerja. Tugasnya cuma menyingkirkan salju yang menyelimuti jalan yang menuju ke pintu depan. Ia tertawa ramah ketika melihat anakanak sedang memperhatikan dari balik jendela, lalu datang menghampiri. "Nah, apa kabar kalian sekarang?" serunya dari luar. "Mau apel? Kata Ibu, kalian tidak berselera makan apel - dan buah pir juga! Tapi mungkin sekarang sudah mau!"

"Tentu saja," balas Julian. Ia tidak berani membuka jendela. Takut dimarahi ibunya, kalau tiba-tiba masuk dan melihatnya berdiri di jendela yang terbuka sambil menjulurkan kepala ke luar. "Tolong antarkan masuk, Pak - sambil mengobrol dengan kami!" Sesaat kemudian Pak Jenkins masuk ke dalam kamar, menjinjing keranjang penuh buah apel dan pir yang serba ranum. "Bagaimana keadaan kalian sekarang?" tanya sekali lagi dengan logat Wales yang lembut. Pak Jenkins memang berasal dari daerah Pegunungan Wales. "Kalian kurus, dan juga pucat-pucat! Kalian ini perlu menghirup udara Pegunungan Wales, yang segar." "Hawa gunung? Justru itu yang dianjurkan oleh Pak Dokter tadi!" kata Julian sambil membenamkan giginya ke dalam buah pir yang ada dalam tangan. "Pak Jenkins tahu salah satu tempat yang bisa kami datangi?" "Bibiku, dia biasa menyewakan kamar pada turis selama musim panas," kata laki-laki tua itu. "Namanya Glenys - Bibi Glenys. Bibi memasaknya hebat sekali! Tapi sekarang musim dingin. Aku tidak tahu apakah ia menyewakan kamar pada musim dingin! Maklumlah, di sana letaknya di lereng bukit. Tempat itu menyenangkan selama musim panas. Tapi sekarang yang ada di sana tidak lain kecuali salju. Cuma salju melulu!" "Tapi justru itu yang kami cari," kata Anne gembira. "Ya kan, Ju? Bu! Ibu! Mana sih Ibu?" Ibu datang bergegas-gegas, khawatir kalau ada yang jatuh sakit lagi. Ia tercengang ketika melihat Pak Jenkins ada dalam kamar. Dan keheranannya bertambah lagi, mendengar laporan anak-anak yang berbicara berebut-rebut. Belum lagi Timmy yang ikut-ikut ribut menggonggong-gonggong. Sedang Pak Jenkins cuma berdiri saja sambil memutar-mutar topi, tidak tahu harus berbuat apa. Keributan baru terhenti ketika Julian dan Dick terbatuk-batuk lagi. "Sekarang kalian pergi ke atas, lalu minum obat batuk dulu," kata Ibu dengan tegas. "Aku ingin bicara dengan Jenkins, untuk mengetahui ada apa sebenarnya tadi. Sudah, jangan membantah lagi, Dick. Cepat, ke atas!" Anak-anak naik ke tingkat atas, meninggalkan Ibu berbicara dengan tukang kebun yang sedang bingung.

"Sialan batuk ini!" kata Dick, sambil menuangkan obat batuk sesendok penuh untuknya sendiri. "Wah, moga-moga saja Ibu bisa mengaturnya dengan bibi Pak Jenkins. Bisa gila aku rasanya, jika batuk ini tidak mau hilang juga!" "Kurasa kita akan bisa ke tempat itu," kata Julian. "Ide yang datang secara tiba-tiba, biasanya berhasil!" Ternyata dugaannya tidak meleset. Musim semi yang lalu ibunya sempat berkenalan dengan bibi Pak Jenkins, ketika wanita tua itu datang mengunjungi Pak Jenkins. Pak Jenkins waktu itu mengajaknya untuk diperkenalkan dengan juru masak. "Aku akan menelepon bibi Jenkins," kata Ibu ketika Dick dan Julian masuk lagi ke kamar. "Namanya kan Bu Jones, Bu Glenys Jones? Kalau Bu Jones mau menerima kalian - nah, dalam waktu satu dua hari ini kalian akan sudah bisa berangkat ke sana!"

Bab 2 KE MAGGA GLEN Dengan segera semuanya sudah diatur. Bu Jones, yang ditelepon, suaranya terdengar jelas sekali. Terdapat kesan, dengan senang hati ia menyambut kedatangan keempat anak itu. "Ya Bu, saya mengerti. Anda tidak perlu khawatir, dalam waktu sehari saja batuk mereka pasti akan sudah lenyap di sini. Dan bagaimana kabar Pak Jenkins, keponakanku? Mudah-mudahan saja pekerjaannya masih bisa tetap memuaskan! Wah, dulu dia bandel sekali, dan ....." "Bu, tolong katakan kami membawa anjing," kata Julian berbisik di telinga ibunya. Ia berbuat begitu, setelah melihat George menggerak-gerakkan tangan memberi isyarat. Mula-mula membujuk Timmy, lalu menuding pesawat telepon yang dipegang oleh bibinya. "0 ya - Bu Jones - kecuali empat anak itu, seekor anjing akan ikut! pula," kata Ibu. "Apa? Anda punya tujuh ekor anjing? Astaga! Ah, betul - untuk menggembala biri-biri - ya, tentu saja!" "Di sana ada tujuh, Timmy!" kata George pelan pada anjingnya. Ekor Timmy langsung melambai-lambai. "Nah, apa katamu sekarang? Tujuh ekor bayangkan! Pasti asyik kau nanti bermain-main dengan mereka." "Sst!" desis Julian, melihat ibunya melirik ke arah George dengan sikap jengkel. Julian merasa lega, karena tetirah itu ternyata bisa diurus dengan cepat. Seperti yang lain-lain juga, ia sudah mulai merasa sebal, karena terkurung terus dalam rumah. Pasti enak, bisa

bepergian sebentar. Ia berpikir-pikir, di mana waktu itu alat-alat untuk main ski disimpan... Anak-anak bersemangat lagi, ketika segala-galanya sudah selesai diurus. Mereka tidak perlu lagi mendekam terus di rumah, merindukan kesibukan! Timmy bisa diajak berjalanjalan sampai jauh - dan Lima Sekawan bisa berkelana lagi. Tidak ada yang lebih mengasyikkan daripada itu! Pak Jenkins membantu mereka mencari kereta luncur serta peralatan ski. Setelah ditemukan langsung dibawa ke dalam rumah, untuk dibersihkan. Mereka terbatuk-batuk kena debu beterbangan. Tapi tak ada yang peduli. Masih dua hari lagi -lalu kita berangkat!" kata Dick. "Perlukah kita membawa sepatu untuk berseluncur di es?" "Tidak, karena kata Pak Jenkins tidak ada tempat untuk itu di sekitar pertanian bibinya," kata George. "Wah - banyaknya pakaian hangat yang dibawa ibumu, Ju! Kayak kita ini mau ke kutub utara saja!" "Aduh Bu - kalau semuanya itu harus kami pakai sekaligus, mana bisa main ski nanti!" kata Julian pada ibunya. "Bukan main - syal sampai enam lembar! Biar Timmy juga disuruh memakai selembar, masih tetap kebanyakan satu!" "Kan mungkin saja nanti ada yang basah," kata ibunya. "Kan tidak apa-apa jika kalian membawa pakaian terlalu banyak! Kalian akan naik mobil ke sana - jadi semua bisa diangkut dengan mudah." "Teropongku akan kubawa juga," kata Dick, "karena siapa tahu, mungkin nanti ada gunanya. Wah George, mudah-mudahan saja Timmy akan berteman dengan anjinganjing yang ada di sana. Kalau tidak cocok - bisa gawat nanti! Timmy kan kadangkadang suka galak terhadap anjing lain - apalagi jika perhatian kita terlalu besar pada anjing itu!" "Ah, dia pasti akan tahu aturan," kata George. "Dan memang kita tidak perlu memperhatikan anjing lain! Kan sudah ada Timmy!" "Ya deh, Bu Guru!" kata Dick. George langsung berhenti mengelap sepatu ski, dan melemparkan lap ke arah saudara sepupunya itu! Ya - suasana sudah mulai normal kembali. Anak-anak sudah merasa jauh lebih sehat, ketika tiba saat bagi mereka untuk berangkat. Cuma batuk mereka saja yang masih belum mau hilang! "Mudah-mudahan jika kalian kembali nanti, kalian sudah tidak batuk lagi," kata Ibu pada Julian, "Sedih rasanya mendengar kalian terbatuk-batuk terus, siang malam!" "Kasihan Ibu - tentunya repot sekali selama ini," kata Julian, sambil memeluk ibunya. "Ibu benar-benar baik hati! Tentu Ibu akan lega, jika kami sudah berangkat nanti."

Akhirnya mobil yang ditunggu-tunggu datang juga. Sebuah mobil sewaan yang besar sekali! Untung saja, karena barang-barang yang dibawa juga tidak sedikit. Supir mobil itu periang. Ditolong oleh Pak Jenkins, dengan segera barang-barang sudah dikemaskan ke dalam tempat bagasi. Sisanya ditaruh di atas kap, dan diikat erat-erat. "Beres, Bu!" kata supir kemudian. "Semua sudah dimasukkan! Sekarang masih cukup pagi, jadi sebelum gelap kami pasti akan sudah tiba di Magga Glen." "Kami sudah siap untuk berangkat," kata Julian. Supir mengangguk sambil tersenyum, lalu duduk di belakang setir. Dick duduk di sampingnya, sedang yang tiga lagi mengambil tempat di jok belakang bersama Timmy. Semua menarik napas lega, ketika akhirnya mobil berangkat meninggalkan pekarangan rumah. Nah - sekarang mereka sudah tidak terkurung lagi seperti sebelumnya! Pak Jenkins berdiri di pintu gerbang. Ia melambaikan tangan ketika mobil lewat. "Salam pada Bibi!" serunya, sebelum menutup pintu. Pak Suppir ternyata orang yang gemar mengobrol. Ia bertanya tentang keadaan anakanak. Ia juga bercerita tentang dirinya sendiri serta keluarganya. Padahal saudarasaudaranya ada sebelas orang! Jadi cukup lama juga .ja bercerita. Menjelang siang mereka berhenti di tengah jalan untuk makan. Mereka tidak mampir di restoran, karena membawa bekal dari rumah. Baru saat itu mereka merasa lapar lagi, sejak mereka jatuh sakit. "He! Aku benar-benar bisa mencicip rasa roti sandwich ini!" seru George heran. "Kau bagaimana, Anne?" "Ya - tidak lagi terasa kayak kardus, seperti rasa semua makanan selama kita sakit!" jawab Anne. "Wah, Tim - sekarang kau tidak bisa menjejal perutmu penuh-penuh, karena selera makan kami sudah bangkit kembali!" Mereka tertawa, dan tertawa itu menyebabkan semuanya terbatuk-batuk. Pak Supir menggeleng-geleng. "Wah, gawat juga batuk kalian!" katanya. "Aku lantas teringat pada saat ketika kami sekeluarga terserang batuk kering - kedua belasnya sekaligus. Bayangkan, bunyinya seperti ada barisan pemadam api lewat!"

Anak-anak tertawa lagi - dan dengan sendirinya juga terbatuk-batuk pula sesudahnya. Tapi kini tak ada yang mempedulikannya, karena sebentar lagi tentu akan lenyap. Ya, jika mereka sudah menghirup udara pedesaan yang segar! Ternyata perjalanan ke Magga Glen cukup lama juga. Ketika mobil berangkat lagi setelah makan siang, anak-anak tertidur di dalamnya. Pak Supir tersenyum, sambil melirik anakanak tidur saling bersandar. Cuma Timmy saja satu-satunya yang tetap bangun. Sekitar pukul setengah empat mereka mampir di sebuah restoran desa untuk minum teh. "Jalan-jalanlah sedikit, supaya darah mengalir lagi ke kaki," kata Pak Supir sambil keluar dari mobil. "Aku sendiri juga perlu melemaskan kaki yang terasa pegal. Aku akan ke kedai yang di sana itu, untuk mengobrol sebentar sambil minum teh bersama kawankawanku yang sering berkumpul di tempat itu. Kalian mampir di restoran ini saja. Kuekue di sini enak! Nanti seperempat jam lagi kita melanjutkan perjalanan. Tidak boleh lebih lambat dari seperempat jam, karena nanti akan kemalaman di jalan. Perjalanan kita masih sekitar satu jam lagi." Enak juga rasanya bisa meluruskan kaki, setelah duduk selama berjam-jam dalam mobil. Apalagi setelah selera makan mereka pulih seperti biasanya. Anak-anak tidak menyianyiakan kesempatan itu, untuk mengisi perut sekenyang-kenyangnya. "Enak rasanya bisa merasa lapar lagi, setelah berhari-hari melihat roti bersemir mentega saja sudah tidak mampu," kata Julian. "Aku sadar bahwa kita benar-benar sakit, sewaktu kita tidak mau makan es krim, walau sudah ditawarkan oleh Ibu!" "Kakiku rasanya masih agak aneh," kata Anne, ketika mereka berjalan kembali ke mobil. "Tapi setidak-tidaknya sekarang sudah terasa merupakan bagian dari diriku sendiri!" Mobil meluncur lagi. Mereka sudah memasuki daerah Wales sekarang. Gunung-gunung sudah mulai nampak menjulang di kejauhan. Cuaca sore itu cerah. Daerah yang mereka lewati tidak nampak begitu putih diselimuti salju, dibandingkan dengan daerah sekitar tempat tinggal mereka. "Moga-moga saja salju tidak sudah mulai mencair di tempat tujuan kita," kata Dick. "Pegunungan sana nampak masih putih, tapi di lembah sini nyaris tidak ada salju lagi." Julian memperhatikan papan penunjuk jalan yang dilewati saat itu. Terbaca olehnya kata yang kalau tidak salah berbunyi 'Cymryhlli'. "Anda melihat juga papan penunjuk jalan tadi?" tanyanya pada Pak Supir. "Apakah kita sudah harus mulai memperhatikan nama Magga Glen?" "Ya, aku pun sedari tadi sudah sibuk memperhatikan," jawab Pak Supir. "Aneh - kenapa belum nampak juga."

"Aduh, mudah-mudahan saja kita tidak salah jalan," kata Anne. "Sebentar lagi hari sudah gelap." Mobil meluncur terus. "Kita harus memasang mata, kalau-kalau ada desa nanti," kata Julian. Tapi tak ada lagi desa yang dilewati. Mereka juga tidak melihat papan penunjuk jalan. Hari mulai malam. Tapi untung ada bulan di langit. Walau baru bulan muda, tapi setidak-tidaknya sekeliling mereka tidak gelap gulita. "Anda pasti kita tadi tidak salah jalan?" tanya Dick pada Pak Supir. "Jalanan mulai tidak rata! Dan sudah lama kita tidak lagi melewati pertanian." "Yah - mungkin saja kita salah jalan," kata Pak Supir, sambil memperlambat kecepatan mobil. "Cuma aku tidak tahu mulai di mana kita salah mengambil jalan! Kurasa kita sekarang sudah hampir sampai di tepi laut." "He - di depan ada jalan ke kanan!" seru George, sementara jalan mobil semakin lambat. "Dan di pinggirnya ada papan penunjuk arah!" Mobil dihentikan dekat papan itu, yang kecil ukurannya. "Tak ada tulisan Magga Glen di sini," kata Dick: setelah membaca sekilas. "Yang tertulis cuma Menara Tua'. Apakah itu nama tempat - atau nama suatu bangunan? Mana peta?" Ternyata Pak Supir tidak membawa peta. "Biasanya tidak kuperlukan," katanya. "Tapi daerah sekitar sini rupanya tidak begitu sempurna pemberian tanda-tandanya. Sayang peta jalanku tidak kubawa! Sekarang sebaiknya kita ambil jalan ini. Kita menuju ke tempat atau bangunan Menara Tua itu. Mudah-mudahan saja orang di sana nanti bisa menunjukkan, jalan mana yang harus kita ambil." Mobil lantas dibelokkan ke kanan, bergerak pelan menyusur mendaki berkelok-kelok. "Tinggi juga gunung ini," kata Anne, sambil memandang ke luar. "He - ada sesuatu di sana! Sebuah bangunan di lereng bukit. itu, di sana - bangunan yang bermenara. Mestinya inilah yang bernama Menara Tua!" Tapi lama kemudian mereka sampai di depan pintu gerbang besar, terbuat dari kayu yang kokoh. Di daun pintu terpasang papan pengumuman. Di situ tertulis dua patah kata, dengan huruf-huruf yang besar berwarna hitam. DILARANG MASUK

"Wah, ramah sekali pemiliknya!" kata Pak Supir jengkel. "Seenaknya saja melarang orang masuk! Tapi nanti dulu - di sana ada pondok. Akan kutanyakan jalan ke sana." Tapi pondok itu gelap-gulita. Pak Supir menggelor-gedor pintu, namun tak ada jawaban dari dalam. Sekarang bagaimana?

Bab 3 TIBA DI TUJUAN "Yah, apa boleh buat! Kita terpaksa kembali lagi lewat jalan tadi," kata Dick, ketika Pak Supir datang ke mobil dengan tangan hampa. "Jangan! Nanti dulu - aku akan memeriksa sebentar, mungkin dalam bangunan itu ada lampu menyala di salah satu tempat," kata Julian. Ia meloncat ke luar. "Aku akan masuk ke pekarangan. Bangunannya sendiri tidak mungkin terlalu jauh di belakang gerbang itu. Kan dari jalan tadi saja sudah kelihatan." Ia menghampiri pintu gerbang yang diterangi lampu depan mobil. "Digembok," serunya, setelah memperhatikan daun pintu sesaat. "Tapi kurasa aku bisa masuk, dengan jalan memanjat." Tapi sebelum Julian sempat melakukan niatnya, terdengar langkah berlari-lari mendekati gerbang. Detik berikut, lolongan panjang dan seram memecah kesunyian senja. Daun pintu tergetar keras, diterjang seekor binatang. Julian lari pontang-panting, kembali ke mobil. Biar dia baru habis sakit, tapi ternyata kakinya masih mampu berlari cepat- kalau perlu! Sedang Pak Supir juga bergegas memasuki mobil, sambil membanting pintu. Timmy menggonggong dengan sengit. Ia berusaha meloncat ke luar. Tapi jendela mobil tertutup semua. Sementara itu dari balik gerbang tertutup, gonggongan dan lolongan terdengar tidak henti-hentinya. Binatang itu rupanya seekor flniing besar, karena pintu bergetar-getar ditubruknya berulang-ulang. "Lebih baik kita pergi saja," kata Pak Supir ketakutan. "Huuh - untung kita berada di balik Gerbang! Pasti anjing itu sangat galak, karena gonggongannya saja sudah menyeramkan! Tapi anjing kalian ini juga tidak kalah berisiknya!" Timmy saat itu memang sangat marah. Ia heran, apa sebabnya ia tidak diizinkan keluar untuk menantang anjing yang tidak kelihatan itu. George berusaha menenangkannya. Tapi Timmy tidak mau disuruh diam. Ia menggonggong terus. Pak Supir memutar mobil. Dengan hati-hati kendaraan itu diundurkannya sedikit. Kemudian maju, lalu mundur lagi sedikit. Jalan di situ cukup lebar. Tapi di sisi kanan

mobil, terdapat tebing yang sangat terjal. Bangunan Menara Tua memang dibangun pada sebuah lereng yang curam! "Penghuni di sini mestinya takut sekali ada pencuri, sehingga memelihara anjing yang begitu galak," kata Dick. "Ada apa, Pak?" "Ada sesuatu yang tidak beres," kata Pak Supir. Mobil sudah berhasil diputarnya, sehingga menghadap ke bawah lagi. "Tahu-tahu jalan mobil ini terasa tidak lancar, seakan-akan direm!" "Mungkin Anda lupa melepaskan rem tangan," kata Julian. "Ah, tidak!" jawab Pak Supir. "Maksudku, aku cuma menariknya sedikit saja, supaya mobil jangan sampai meluncur ke bawah. Jalan ini terjal sekali, dan di sebelah kanan ada tebing curam. Aku tidak ingin salah jalan dalam gelap begini, sehingga terjerumus ke dalamnya! Ada apa sih dengan mobil ini? Jalannya begitu pelan, seperti merangkak." "Menurut perasaanku, sewaktu naik tadi kita juga pelan sekali," kata Dick. "Memang, aku juga tahu jalan ini terjal dan berkelok-kelok. Tapi apakah Anda tadi tidak merasa, seolaholah mobil ini kewalahan mendaki?" "Ya, memang," kata Pak Supir, "tapi kusangka sebabnya karena lereng lebih terjal dari yang kukira. Kenapa mobil ini begini jalannya? Aku sama sekali tidak menginjak rem kaki, sedang pedal gas sudah kutekan dalam-dalam! Seolah-olah ada yang menahan dari belakang!" Keadaan itu benar-benar membingungkan. Julian merasa waswas. Ia tidak ingin terpaksa menginap dalam mobil, di tengah alam musim dingin! Salju mulai turun. Bulan menghilang di balik awan gelap. Sekeliling mereka gelap gulita. Akhirnya mereka sampai di kaki bukit. Jalan sudah datar kembali. Pak Supir menarik napas lega - lalu berseru kaget. "He! Mobil kita sudah biasa lagi. Lihatlah, sekarang bisa meluncur dengan laju. Aduh, lega rasanya hatiku! Aku sudah khawatir saja tadi, jangan-jangan mobil mogok, sehingga kita terpaksa menginap di tengah jalan." Mobil meluncur dengan tenang. Anak-anak berpandang-pandangan. Semua merasa lega. "Rupanya ada sesuatu yang tidak beres dengan mesinnya," kata Pak Supir, "tapi jangan tanya, apanya! Sekarang tolong perhatikan, kalau ada rumah atau papan penunjuk jalan." Tidak lama kemudian nampak sebuah papan penunjuk di depan. Begitu melihatnya, George langsung berteriak,

"Berhenti! itu ada papan penunjuk jalan. Berhenti!" Mobil direm dan berhenti di sisi papan itu. Lima pasang mata menatapnya, lalu berseru dengan gembira. "Magga Glen! Horee!!" "Belok kiri," kata Pak Supir, lalu membelokkan mobil memasuki sebuah jalan kecil. Jalan itu tidak rata permukaannya. Rupanya bukan jalan umum, melainkan hanya merupakan tempat lewat kendaraan-kendaraan pertanian belaka. Tapi di atas bukit yang sedang didaki mobil itu, nampak sebuah rumah yang terang jendela-jendelanya. Mestinya itulah rumah pertanian Bu Jones. "Mestinya inilah tempatnya," kata Julian. "Syukur! Untung kita sudah sampai, sebelum salju turun dengan lebat. Sekarang pun sudah mulai sulit melihat ke luar, karena kaca jendela mobil terselubung salju." Ternyata memang itulah tempat yang dituju. Begitu mobil mendekat, terdengar gonggongan ribut menyambutnya. Timmy langsung membalas, membuat telinga seisi mobil terasa tuli! Pak Supir menyetir mobilnya sampai ke dekat pintu depan. Lalu ia memandang dengan hati-hati ke luar. Ia khawatir kalau ada di antara kawanan anjing yang menggonggong itu yang melompat-lompat di sekitar mobil. Saat itu pintu depan rumah terbuka. Seorang wanita tua bertubuh kecil muncul di ambangnya. "Ayo masuk! Silakan, silakan," serunya dengan ramah. "Jangan lama-lama di luar, nanti kedinginan! Morgan nanti akan menolong kalian, menurunkan barang-barang. Sekarang masuk saja dulu!" Anak-anak berbondong-bondong masuk. Mereka sudah capek sekali. Anne nyaris terjatuh, karena kakinya terasa lemas. Untung Julian sempat memegang lengannya. Mereka masuk dengan langkah lesu. Cuma Timmy saja yang masih segar bugar! Seorang laki-laki jangkung berbadan kekar bergegas ke luar, untuk menolong Pak Supir memasukkan barang-barang. Sambil lewat, orang itu menabik ke arah anak-anak. Wanita tua itu mengajak mereka masuk ke ruang duduk yang luas dan hangat. Mereka dipersilakan duduk olehnya. "Kalian kelihatannya capek dan lesu," katanya. "Tentunya perjalanan tadi berat, ya? Kalian datang agak lambat! Aku sudah menyediakan teh panas, tapi tentunya kalian sudah ingin makan malam, ya? Kasihan!"

Julian melihat sebuah meja tak jauh dari api pendiangan, penuh dengan makanan. Tibatiba perutnya terasa lapar sekali. Ditatapnya wanita tua yang ramah itu. Julian tersenyum. "Maaf jika kami terlambat," katanya, "tapi kami sempat tersesat tadi. Boleh kami memperkenalkan diri dulu, Bu. Ini adikku, Anne - dia ini sepupu kami, George. Dan ini, juga adikku, Dick." "Dan ini Timmy," kata George. Seperti diperintah, Timmy langsung mengangkat kaki depannya, mengajak wanita tua itu bersalaman. "Wah, hebat - ada anjing yang bisa bersopan-santun," kata wanita itu. "Di sini ada tujuh ekor anjing, tapi tidak ada satu pun di antara mereka yang mau bersalaman. Biar Ratu yang datang, mereka tetap tidak mau!" Gonggongan ramai sementara itu sudah terhenti. Dalam rumah tidak nampak seekor anjing pun. Menurut perkiraan anak-anak, mestinya semua berada dalam kandang, di luar. Sementara itu Timmy mondar-mandir dalam kamar, mengendus-endus ke sana-sini dengan penuh minat. Akhirnya menghampiri meja makan, meletakkan kaki depannya ke tepinya untuk bisa memperhatikan hidangan yang ada di atas. Kemudian ia menghampiri George, lalu mendengking-dengking. "Kata Timmy, seleranya timbul melihat makanan itu," kata George pada wanita tua itu, yang memperkenalkan diri sebagai Bu Jones. "Aku juga sependapat dengan dia! Kelihatannya memang enak-enak semuanya!" "Sementara aku menyiapkan teh panas, terlebih dulu kalian membersihkan badan saja," kata Bu Jones. "Kalian kelihatannya kedinginan dan lapar sekali. Masuk saja ke sana - itu lewat pintu yang di sana itu, lalu naik tangga ke tingkat atas. Semua kamar yang ada di sana tersedia untuk kalian, jadi tak ada yang mengganggu ketenangan kalian berempat." Anak-anak memasuki pintu yang ditunjukkan. Mereka sampai di sebuah lorong berlantai batu. Lorong itu diterangi sebatang lilin menyala. Dari situ, sebuah tangga menuju ke atas, ke sebuah serambi sempit yang juga diterangi sebatang lilin. Tangga yang dilalui terjal sekali. Anak-anak tersaruk-saruk menaikinya, karena kaki mereka masih kaku setelah begitu lama duduk diam-diam dalam mobil. Di kedua sisi serambi sempit di tingkat atas itu terdapat dua buah kamar tidur. Keduanya serupa, sampai pada perabotnya. Di kedua kamar ada bak cuci tangan dengan air hangat. Handuk juga sudah tersedia di situ. Beberapa potong kayu menyala dalam pendiangan batu. Cahayanya menerangi kamar, lebih terang daripada sinar sebatang lilin yang ada di situ. "Kalian berdua di kamar ini saja, sedang aku dan Dick mengambil yang di sebelah sana," kata Julian pada George dan Anne. "Wah, enak juga - ada pendiangan dalam kamar!"

"Malam ini aku ingin cepat-cepat masuk ke tempat tidur," kata Anne. "Aku ingin memperhatikan nyala api sambil berbaring, Untung kamar kita tidak dingin. Coba kalau dingin, pasti batukku kambuh lagi. "Tapi hari ini kita tidak begitu sering batuk," kata Dick. Tapi sial baginya, baru saja berkata begitu tahu-tahu ia terbatuk-batuk! Bu Jones yang ada di di bawah mendengarnya, lalu langsung berseru. "Ayo, cepat turun lagi - ke tempat yang hangat!" Tak lama kemudian anak-anak sudah berada lagi di kamar duduk yang hangat. Yang ada di situ cuma Bu Jones. Ia sedang sibuk menuangkan air teh panas ke dalam cangkircangkir. Tidak ada lagi yang ikut minum?" tanya George, sambil memandang berkeliling. "Masak makanan sebanyak ini, cuma untuk kami saja?" "Memang hanya untuk kalian," kata Bu Jones, ambil mengiris daging asap tipis-tipis. "Kamar ini tersedia untuk kalian sendiri. Memang selalu kusediakan untuk dipakai keluarga yang menyewa kamar-kamar di sini. Untuk kami sendiri, di sebelah sana ada dapur yang besar. Di sini kalian bisa berbuat sekehendak hati. Berisik juga boleh! Toh takkan ada yang mendengar, karena tembok rumah kami terbuat dari batu tebal!" Selesai melayani anak-anak, Bu Jones menganggukkan kepala sambil tersenyum, lalu meninggalkan kamar. Anak-anak berpandang-pandangan. "Aku sangat senang padanya," kata Anne. Kalau dia bibi Pak Jenkins, lalu umurnya berapa ya? Tentunya sudah sangat tua. Tapi matanya masih begitu cerah, sehingga kelihatan muda!" "Ahh, rasa badanku sudah lebih enak sekarang," kata Dick, sambil menyikat daging asap. "George, berilah sesuatu pada Timmy. Ia tidak henti-hentinya menggapai-gapai diriku, padahal aku ingin memakan sendiri dagingku ini." "Boleh saja," kata George. "Tadi kukira aku lapar tapi ternyata tidak! Tahu-tahu capek sekali rasanya diriku." Julian menatap saudara sepupunya itu. George memang kelihatan capek. Pelupuk matanya kehitam-hitaman. "Selesaikan saja makanmu, setelah itu pergilah tidur," kata Julian menyarankan. "Barangbarang, besok saja kau bereskan. Rupanya kau capek sekali, setelah perjalanan yang begitu lama tadi. Anne tidak begitu capek kelihatannya seperti dirimu!" Saat itu Bu Jones masuk lagi. Ia sependapat dengan Julian, bahwa sebaiknya mereka langsung masuk ke tempat tidur setelah selesai makan.

"Besok kalian tidak perlu bangun pagi-pagi," katanya. "Dan kalau sudah bangun, masuk aja ke dapur untuk memberi tahu, supaya kusiapkan sarapan. Di sini kalian bisa bersikap leluasa!"

Bab 4 DI RUMAH BU JONES Keempat anak itu tidur nyenyak semalaman. Mereka tergeletak di tempat tidur masingmasing, boleh dibilang tanpa bergerak-gerak sedikit pun. Kalaupun malam itu ada yang batuk-batuk, di antara mereka tak ada yang terbangun karenanya. Hanya Timmy saja yang sekali-kali menyalangkan mata. Ia memang biasa begitu, jika tidur untuk pertama kali di tempat yang masih asing baginya. Paginya, Julian yang paling dulu bangun. Dari balik jendela kamar yang tertutup, terdengar berbagai bunyi yang lazim di tempat pertanian. Didengarnya suara orang memanggil-manggil. Sapi-sapi melenguh. Beberapa ekor anjing menggonggong sahut-menyahut, diselingi ayam berkotek dan bebek meleler. Nikmat rasanya mendengarkan segala bunyi itu, sambil bermalas-malasan di tempat tidur. Julian melirik arlojinya. Wah, sudah hampir pukul sembilan!" katanya kaget. Ia bangun, lalu pergi ke bak cuci muka. Ternyata yang ada di situ cuma air dingin. Tapi Julian tidak begitu peduli. Kamar masih hangat, walau api di pediangan sudah padam. Di luar tampak matahari bersinar cerah. Tapi rupanya malam itu salju turun dengan lebat, karena ke mana pun mata memandang, yang nampak melulu alam yang putih mulus. "Bagus!" kata Julian, sambil memandang ke luar. "Jadi kita bisa segera berseluncur dengan kereta-kereta kita. Bangunkan kedua anak perempuan itu, Dick." Tapi itu tidak perlu lagi dilakukan oleh Dick. George dan Anne sudah terjaga sebelumnya. Soalnya Timmy mendengar Dick dan Julian mondar-mandir di kamar seberang, lalu berdiri di belakang pintu sambil mendengking-dengking minta dibukakan. George menggeliat. Ia merasa lain daripada malam sebelumnya. "Bagaimana rasamu sekarang, Anne? Kalau aku, segar!" kata George puas. "Kau tahu, saat ini sudah pukul sembilan? Semalam kita tidur lebih dari dua belas jam! Pantas jika kita merasa segar sekarang." "Ya, aku juga merasa segar," kata Anne, sambil menguap lebar-lebar, "Eh-eh, lihatlah - si Timmy sampai ikut-ikutan menguap! Tidurmu enak tadi malam, Tim?" Timmy menggonggong sekali, lalu menggaruk-garuk daun pintu dengan sikap tidak sabar.

"Timmy ingin sarapan," kata George. "Hidangannya apa ya, pagi ini? Aku kepingin makan gorengan daging asin dengan telur mata sapi! Tak kukira aku bisa berselera lagi untuk memakan hidangan itu. Huaahh - air ini dingin sekali!" Sehabis mencuci muka, mereka turun ke bawah beramai-ramai. Kamar duduk ternyata sudah dihangatkan lagi. Kayu bakar menyala-nyala dalam pendiangan. Sarapan sudah tersedia. Tapi cuma terdiri dari sebongkah roti buatan sendiri, disertai mentega serta selai buatan sendiri pula. Susu segar juga sudah tersedia. Baru saja anak-anak masuk, Bu Jones langsung muncul. Wajahnya berseri-seri. "Selamat pagi," sapanya ramah. "Tadi malam turun salju, tapi pagi ini cuaca sudah cerah kembali. Nah - kalian ingin sarapan apa? Daging asin dengan telur mata sapi - atau susis bikinanku sendiri - atau pastel daging....." "Aku ingin telur mata sapi dengan gorengan daging asin, kata Julian dengan segera. Saudara-saudaranya menyatakan keinginannya yang sama. Bu Jones pergi ke dapur lagi, sementara anak-anak menggosok-gosok telapak tangan dengan sikap puas. "Aku sudah khawatir saja tadi, jangan-jangan kita cuma sarapan roti dengan mentega dan selai saja," kata Dick. "Wah, bukan main sedapnya krem yang mengambang di permukaan susu ini. Kalau aku besar nanti, aku ingin tinggal di pertanian." Timmy menggonggong, untuk menyatakan bahwa ia sependapat dengan Dick. Kemudian ia pergi ke jendela, ingin melihat ke luar. Sedari tadi ia mendengar gonggongan anjing di pekarangan. Nanti kalau kau berjumpa dengan anjing-anjing tempat ini, Jangan lupa kau tamu, ya Tim," kata George sambil tertawa. "Jangan sok aksi, menggonggong-gonggong kayak yang punya rumah saja!" "Anjing-anjing di sini besar-besar," kata Dick, yang ikut memandang ke luar jendela bersama Timmy. "Kurasa jenis collie Wales. Mereka memang baik dijadikan penggembala biri-biri. Aku Ingin tahu, anjing jenis apa yang begitu galak menggonggongi kita dari balik pintu gerbang di Menara Tua kemarin? Kalian masih ingat?" "Ya - tak enak perasaanku saat itu," kata Anne. "Rasanya seperti bermimpi buruk sewaktu kita tersesat, lalu naik ke atas bukit terjal tanpa ada yang bisa disapa untuk menanyakan jalan - dan kemudian digonggongi anjing galak dari balik pintu gerbang! Setelah itu mobil kita hanya bisa merayap turun. Aneh!" "Memang aneh," kata Dick. "Aah - ini dia sarapan kita! Wah, Bu - ini kan hidangan untuk delapan orang, bukan untuk berempat!"

Bu Jones masuk diikuti seorang laki-laki bertubuh tinggi besar. Orang itu berambut hitam pekat. Matanya yang biru menatap tegas. Garis mulutnya keras. "Ini anakku, Morgan," kata Bu Jones. Keempat anak itu memandang Morgan dengan kagum. "Selamat pagi, kata Dick dan Julian serempak. Morgan memandang mereka sekilas, lalu menganggukkan kepala. Sedang Anne dan George tersenyum padanya dengan sopan. Salam mereka itu dibalas dengan anggukan kepala pula. Tapi sepatah kata pun tak diucapkan oleh Morgan. Ia langsung keluar lagi. "Dia tidak banyak bicara," kata Bu Jones. "Morgan memang begitu wataknya. Pendiam Tapi kalau sudah marah dan membentak-bentak, suaranya lantang sekali. Dari jarak satu mil masih kedengaran. Sungguh, aku tidak bohong! Kalau dia berteriak, biri-biri yang sedang merumput di lapangan lari pontang-panting." Julian percaya saja pada omongan Bu Jones. Orang yang berbadan sebesar Morgan, masuk di akal jika suaranya juga sangat lantang. "Anjing-anjing yang ribut menggonggong itu, semua kepunyaannya," kata Bu Jones lagi. "Jumlahnya tiga ekor. Ke mana pun Morgan pergi, mereka selalu ikut. Dia suka sekali pada anjing. Tapi tidak begitu mau bergaul dengan orang lain. Di bukit masih ada lagi empat ekor anjingnya. Mereka sedang menggembala biri-biri. Kalau Morgan berteriak dari pekarangan sini, anjing-anjing yang ada di bukit sana itu bisa mendengarnya. dan langsung melesat kemari. Sungguh!" Timbul keinginan dalam hati anak-anak, untuk mendengar Morgan mendemonstrasikan kelantangan suaranya. Mereka lantas makan dengan lahap. Hidangan yang disediakan Bu Jones terlalu banyak tapi sebagian besar sempat disikat oleh mereka berempat, dengan bantuan Timmy. Mereka paling suka memakan roti bikinan Bu Jones sendiri. Rasanya enak sekali! "Aku bisa saja makan, cuma dengan roti begini serta mentega segar," kata Anne. "Roti di rumah rasanya tidak begini! He - Ibu pasti tercengang: kalau melihat betapa banyak kita makan pagi ini," Tentu saja - karena selama hari-hari belakangan ini, makan telur rebus saja kita tidak mampu," kata Dick. Eh, Julian - apakah kita tidak perlu menelepon rumah, untuk memberitahukan bahwa sudah tiba dengan selamat?" "Wah, betul juga katamu," kata Julian. "Kemarin malam, aku sudah bermaksud hendak menelepon. Sekarang saja ku lakukan, jika diizinkan Bu Jones meminjam pesawatnya."

Saat itu dilihatnya ada orang berjalan di luar. "He - itu kan supir kita," kata Julian. "Dia hendak berangkat dengan mobilnya. Rupanya tadi malam la menginap di sini." Pak Supir yang sudah hendak masuk ke mobil menoleh, ketika mendengar Julian mengetuk-ngetuk kaca jendela. Ia kembali ke rumah, lalu masuk ke kamar duduk. "Aku baru saja mau berangkat," katanya. "Tadi malam aku menginap dalam lumbung. Wah, sedap rasanya tidur di situ! O ya - aku tahu sekarang, apa sebabnya mobil kita hanya bisa berjalan seperti merayap ketika menyusur lereng bukit Menara Tua kemarin petang!" "O ya? Lalu, apa yang menyebabkannya?" tanya Julian penuh minat. "Ternyata mobilnya sendiri tidak apa-apa," kata Pak Supir. "Lega hatiku karenanya. Ternyata penyebabnya bukit itu!" "Apa maksud Anda?" tanya Dick bingung. "Menurut kata istri penggembala, diperkirakan di dalamnya ada sesuatu yang magnetis," kata Pak Supir menjelaskan. "Soalnya, pengantar pos di sini juga mengalami kejadian serupa, setiap kali dia naik ke bukit itu dengan sepeda. Sepedanya terasa berat sekali, sehingga ia tidak mampu mengayuhnya ke atas. Bahkan dengan jalan mendorong pun, masih tetap terasa berat. Jadi sekarang sepeda itu ditinggalkannya di kaki bukit, dan ia sendiri jalan kaki naik ke atas!" "Ah, aku mengerti," kata Julian. "Jadi ada magnetis itu kemarin malam menarik mobil kita, sehingga kelancaran jalannya terganggu sesaat akibatnya. Aneh! Kalau begitu, dalam bukit itu mestinya tersimpan logam yang kuat sekali tarikannya. Semua mobilkah yang terganggu jalannya di situ." "Memang! Jarang ada yang mau bermobil ke sana, kalau tidak benar-benar perlu," kata Pak Supir. "Menurut pendapatku, bukit aneh!. Apalagi dengan papan pengumuman yang kita lihat kemarin." "Siapa ya, yang tinggal di sana? kata Dick. "Kabarnya, seorang wanita tua, jawab Pak Supir. "Ia tinggal seorang. diri di sana Kata orang, pikirannya tidak beres. Siapa pun tidak diizinkannya masuk. Kita kan sudah mengalaminya pula kemarin! Maaf ya - kita tersesat saat itu. Tetapi sekarang kalian kan sudah bisa enak-enakan di sini." Sambil bicara Pak Supir mengangkat tangannya untuk menabik, lalu pergi ke luar. Ia melambai sekali lagi, ketika mobil mulai meluncur meninggalkan tempat itu. "Kelihatannya kita belum bisa bermain-main dengan kereta luncur," kata George sambil memandang ke luar, "karena rasanya salju masih kurang tebal. Tapi kita periksa saja

dulu! Pakai baju hangat - karena angin di sini pasti dingin sekali. Aku tidak kepingin terserang pilek sekali lagi." Bu Jones tersenyum dan mengangguk, ketika melihat anak-anak bermantel tebal, lengkap dengan syal serta topi wol. "Kalian tidak sembrono," katanya. "Hari ini memang dingin, dan angin juga menggigit. Tapi cuaca begini sehat! O ya - anjingmu itu, jaga baik-baik," katanya pada George. "Jangan lepaskan dulu, sebelum kalian sudah agak jauh dari sini. Aku khawatir kalau ia menyerang anjing kepunyaan Morgan. Kau kan anak laki-laki! Tentunya kuat mengekang dia selama itu." George tersenyum. Ia merasa senang, karena disangka anak laki-laki. Mereka lantas berkeliling, melihat-lihat pertanian. Timmy jengkel, karena dituntun dengan tali. Ia menyentak-nyentak, ingin berkeliaran sendiri dengan bebas. Tapi George tidak mau melepaskannya. "Tunggu sampai kau sudah berkenalan dengan semua anjing yang ada di sini," katanya. "Tapi, di mana mereka?" "Mungkin sedang pergi, ikut Morgan," kata Dick. "Yuk - kita melihat sapi-sapi di kandang. Aku senang mencium bau sapi." "Kurasa Timmy sudah bisa kita lepaskan sekarang," kata George kemudian. "Aku tak melihat ada anjing di sini." Sambil bicara, dilepaskannya tali yang mengikat kalung leher Timmy. Anjing itu pergi sambil mengendus-endus, lalu lari ke balik sebuah bangunan. Detik berikutnya terdengar gonggongan, yang berisiknya bukan main! Anak-anak yang sedang berjalan, tertegun. Dengan segera mereka berlari ke balik sebuah lumbung. Mereka kaget sekali, melihat Timmy berdiri di situ membelakangi dinding menggeram, menggonggong dan menyembur-nyembur. Di depannya nampak tiga ekor anjing yang galak! "Awas, George! Jangan kaudekati Timmy," seru Julian, ketika melihat saudara sepupunya bergerak hendak menolong Timmy. "Anjing-anjing itu galak!" Tapi George tidak peduli. Ia lari menghampiri Timmy, lalu berdiri di depannya sambil berteriak, membentak-bentak ketiga ekor anjing yang menyeringai di hadapannya. "Awas kalau berani!" sergah George. "Ayo pergi! Pulang! Pulang, kataku!"

Bab 5 PERKELAHIAN Ketiga anjing itu sama sekali tidak mempedulikan dirinya. Perhatian mereka terpaku pada Timmy. Berani-beraninya anjing tak dikenal itu, masuk ke pekarangan mereka! Ketiga anjing itu bergerak maju serempak. Tapi George tidak kenal mundur. Ia tetap berdiri di depan Timmy, sambil mengayunkan tali pengikat, memukul ke segala arah. Julian maju untuk membantu saudara sepupunya. Tiba-tiba Timmy terkaing. Ternyata satu dari ketiga ekor anjing galak itu berhasil menggigitnya! Saat itu datang seseorang berlari-lari. Ternyata orang itu Bu Jones. Larinya masih cepat, secepat anak berumur dua belas tahun! "Tang! Bob! Dai!" serunya. Tapi ketiga anjing itu tidak mengacuhkan. Tapi kemudian menyusul suara lain. Aduh, bukan main lantangnya suara itu! Sampai menggema ke seluruh sudut. "DAI! BOB! TANG!" Seketika itu juga ketiga anjing tadi diam terpaku. Kemudian berpaling, lalu lari secepat kilat. "itu Morgan! Aduh, syukur," kata Bu Jones terengah-engah, sambil membungkus dirinya lebih erat dengan syal. "Rupanya ia juga mendengar gonggongan ketiga anjingnya tadi. Kau luka, Nak?" Dipegangnya lengan George, lalu diperhatikannya dengan prihatin. "Tidak tahu, Bu. Kurasa tidak," jawab George dengan wajah pucat. "Yang cedera Timmy! Di mana mereka menggigitmu tadi?" "Guk," gonggong Timmy. Ia kelihatannya kaget sekali. Tapi sama sekali tidak takut. George berlutut ke tanah yang berlapis salju. Tiba-tiba ia terpekik. "Lehernya yang tergigit," serunya. "Lihatlah, ini lukanya. Aduh, kasihan si Timmy. Kenapa kau tadi sampai ku lepaskan?" "Ah, cuma luka kecil, George," kata Julian, sambil memperhatikan luka itu. "Yang tergigit sebetulnya kalung lehernya. Ini, bekasnya! Tapi anjing itu rupanya sangat runcing giginya. Gigitannya menembus kalung, lalu mengenai kulit leher Timmy sedikit. Cuma tergores saja." Anne menyandarkan diri ke dinding. Mukanya pucat pasi. Sedang Dick pun ikut merasa lemas. Ngeri rasanya membayangkan apa yang terjadi jika yang digigit tadi George, dan bukan Timmy. George memang anak yang tabah!

"Macam-macam saja!" kata Bu Jones. "Kenapa kau lepaskan anjingmu tadi, Nak? Seharusnya kautunggu dulu sampai Morgan datang dengan anjing-anjingnya! Dia harus memperkenalkan mereka dengan Timmy dulu, baru kau bisa melepaskannya! " "Aku tahu," jawab George. Ia masih berlutut di bamping Timmy. "Memang aku yang salah! Aduh, Tim - untung lukamu cuma sedikit saja. Anda punya obat luka, Bu?" Sebelum Bu Jones sempat menjawab, Morgan muncul dari balik lumbung. Laki-laki bertubuh raksasa itu datang diikuti oleh ketiga anjingnya yang tadi. Mereka tidak kelihatan galak lagi sekarang, karena ada tuan mereka. "Lho," kata Morgan heran, sambil memandang Ibunya yang berdiri di situ bersama keempat anak-anak. "Anjing-anjingmu tadi menyerang anjing ini," kata ibunya menjelaskan. "Untung kau cepat-cepat memanggil mereka, Morgan. Kalau tidak, bisa gawat! Luka di lehernya tidak seberapa. Sayang kau tadi tidak melihat anak laki-laki ini! Anjing yang luka itu anjingnya. Sambil berdiri di depan anjing itu, ia beraksi menangkis serangan Tang, Bob dan Dai!" Julian tersenyum mendengar George masih terus disangka anak laki-laki. Tapi tampangnya saat itu memang sangat mirip seorang anak laki-laki. "Tolonglah - ambilkan obat luka," kata George dengan cemas, ketika melihat darah dari luka di leher Timmy menetes ke salju. Morgan maju melangkah, lalu membungkuk untuk memeriksa luka itu. Ia mendengus, lalu tegak kembali. "Dia tidak apa-apa," katanya singkat, lalu pergi. George menatap punggung Morgan sambil melotot. Seenaknya saja orang itu! Ketiga anjing-anjingnya yang tadi menyerang dan melukai Timmy - tapi ia sama sekali tidak menampakkan sikap menyesal! George begitu marah, sehingga tanpa terasa air matanya sudah menggenang. George mengejap-ngejapkan mata. Ia merasa malu, karena menangis. "Aku tidak mau lagi tinggal di sini," katanya lantang. "Anjing-anjing tadi pasti akan menyerang Timmy lagi. Bisa mati dia nanti! Aku ingin pulang." "Jangan begitu - kau cuma sedang bingung saat ini," kata Bu Jones dengan ramah, sambil memegang lengan George. Tapi George menyentakkan lengannya. "Aku tidak bingung!" katanya sambil cemberut. "Aku marah, karena anjingku diserang tanpa alasan! Dan ia pasti akan diserang lagi. Aku masuk saja sekarang, karena ingin memeriksa lehernya."

George pergi dengan dagu terangkat tinggi. Ia merasa malu, karena air matanya sudah mulai meleleh lagi. Timmy ikut di sisinya. Ketiga saudaranya berpandang-pandangan. Tidak biasanya, George begitu gampang menangis! Tapi ia rupanya belum pulih seperti biasanya, setelah sakit begitu lama. "Kau ikut dengan dia, Anne," kata Julian. Dengan segera Anne lari, menyusul George. Sementara itu Julian menoleh pada Bu Jones. Wanita tua itu kelihatannya gelisah. "Anda jangan terlalu lama berdiri di luar- nanti kedinginan," kata Julian sewaktu melihat tubuh Bu Jones menggigil. Wanita tua itu merapatkan syal yang menyelubungi dirinya. "Sebentar lagi George akan biasa lagi. Anda jangan terlalu memikirkan kata-kata anak perempuan itu!" "Anak perempuan, katamu? Lho-dia itu bukan anak laki-laki?" kata Bu Jones tercengang. "Anak perempuan - seberani dia? Wah - bukan main! Morgan pasti tercengang, kalau kuceritakan nanti. Tapi saudara sepupu kalian itu, kan tidak benar-benar akan pulang?" "Tentu saja tidak," jawab Julian. Padahal dalam hati, ia sendiri tidak begitu yakin. Menebak tindak-tanduk George, bukan pekerjaan gampang! Sebentar lagi, pasti ia akan sudah biasa kembali. Tapi lebih baik, jika bisa diambilkan obat luka untuk Timmy. George paling takut pada infeksi, kalau Timmy mengalami luka!" "Kalau begitu kita lekas-lekas masuk," kata Bu Jones, sambil bergegas menuju ke rumah. Julian menawarkan diri untuk membimbingnya berjalan di atas salju yang licin. Tapi ditolak oleh Bu Jones. Walau ia sudah tua, tapi masih mampu berjalan sendiri! Sementara itu George sudah masuk ke kamar duduk, bersama Timmy. Ia mengambil air, lalu mencuci luka pada leher anjingnya itu, setelah terlebih dulu membuka kalungnya. "Sebentar - kuambilkan obat luka, kata Bu Jones, lalu lari ke dapur. Ia kembali dengan sebuah botol besar, berisi obat pencegah infeksi. Botol itu diterima oleh George dengan perasaan lega, lalu dioleskannya ke luka anjingnya. Timmy diam saja. Ia menikmati keributan yang disebabkan olehnya itu. Ia hanya terkejut sedikit ketika terasa sengatan obat mengenai lukanya. George menepuk-nepuk serta memuji-muji diri Timmy. "Timmy pasti takkan berkeberatan diolesi terus dengan obat itu sepanjang hari, selama perhatianmu terarah sepenuhnya pada dia, George," kata Dick sambil tertawa. George menoleh. "Dia tadi bisa mati," katanya."Kalau anjing-anjing itu menyerangnya sekali lagi, Timmy pasti akan mati. Aku ingin pulang! Bukan pulang ke rumah kalian, Ju - tapi ke rumahku sendiri! Ke Pondok Kirrin!"

"Jangan konyol, George," tukas Dick dengan kesal. "Lagakmu ini, seakan-akan Timmy luka parah! Padahal kan cuma tergores sedikit saja kulitnya. Masa karena itu saja, kau hendak menyia-nyiakan tetirah seindah ini?" "Ketiga anjing tadi tidak bisa kupercayai," kata George berkeras. "Mereka sekarang tentunya mendendam terhadap Timmy! Aku yakin. Dan kan bukan tetirah kalian yang terganggu karena aku pulang - melainkan tetirahku sendiri!" "Begini sajalah - kau tinggal satu hari lagi di sini," kata Julian. Diharapkannya, kemudian Geoge akan menyadari bahwa sikapnya itu konyol. "Satu hari saja lagi, George! itu kan bukan permintaan yang keterlaluan. Bu Jones akan sangat bingung, apabila kau buruburu pulang sekarang juga! Kecuali itu sukar mengatur keberangkatanmu hari ini, karena jalan-jalan semua diselimuti salju." "Baiklah," kata George dengan ketus. "Aku akan tinggal sehari lagi di sini. Dengan begitu Timmy bisa agak melupakan rasa takutnya tadi. Tapi cuma sampai besok saja aku tinggal!" "Timmy sama sekali tidak merasa takut," kata Anne. "Dia pasti berani menghadapi ketiga anjing itu sekaligus, jika kau tadi tidak ikut campur, George. Ya kan, Timmy?" "Guk guk," gong gong Timmy, menyatakan bahwa ia juga berpendapat begitu. Untuk mempertegas, ia mengibas-ngibaskan ekor dengan bersemangat. Dick tertawa melihatnya. "Timmy memang tabah," katanya. "Kau kan tidak ingin pulang, Tim?" Timmy menggonggong serta mengibaskan ekornya lagi. George langsung cemberut! Julian memberi isyarat pada kedua adiknya, agar anak itu jangan diganggu lagi. Ia takut kalau George berubah pikiran lagi, lalu langsung pulang! "Bagaimana jika kita jalan-jalan saja sebentar?" kata Dick. "Masa udara secerah begini, kita mendekam terus dalam rumah. Kau ikut, Anne?" "Aku ikut, jika George juga pergi," kata Anne. Tapi George menggeleng. "Tidak," kata anak itu. "Pagi ini aku tinggal di rumah, menemani Timmy. Kalau mau pergi, pergilah kalian." Tapi Anne tidak mau. Karena itu hanya Dick dan Julian saja yang akhirnya berjalan-jalan berdua. Begitu menghirup udara pegunungan yang dingin tapi segar, mereka langsung merasa diri mereka lebih enak. Tak ada lagi batuk yang mengganggu. Sayang ada kejadian,yang tidak enak tadi! Sebagai akibatnya semua merasa tidak enak termasuk Bu Jones, yang saat itu muncul di ambang pintu dengan wajah gelisah.

"Jangan khawatir, Bu," kata Julian. "Kurasa saudara sepupu itu cuma sebentar saja merajuk. Pokoknya, ia sudah tidak berkeras lagi kepingin pulang hari ini juga! Sekarang kami berdua hendak berjalan-jalan sebentar ke atas. Enaknya kami mengambil jalan mana?" "Lewat sana," kata Bu Jones sambil menuding. "Kalian terus saja, sampai tiba di pondok musim panas kami yang ada di atas. Kalian bisa beristirahat di situ sebelum kembali. Dan jika kalian tidak ingin lekas-lekas pulang pada saat makan siang, dalam lemari di pondok itu ada makanan. Ini anak kunci pintu pondok!" "Wah, terima kasih Bu," kata Julian. "Asyik juga nih! Kurasa nanti kami akan makan siang di atas - tapi sebelum gelap, pasti sudah kembali. Tolong beri tahu George dan Anne, ya Bu?" Kedua anak laki-laki itu pergi, sambil bersiul-siul. Enak juga rasanya bisa pergi berjalanjalan sehari penuh, hanya mereka berdua saja. Menyusur jalan bersalju, mereka mulai mendaki lereng gunung. Salju mulai meleleh kena sinar matahari. Karenanya mereka tidak mengalami kesulitan untuk mengenali jalan yang harus dilewati. Kemudian mereka melihat di sana-sini ada batu besar berwarna hitam, sebagai penunjuk jalan. Batu-batu itu dipakai sebagai tanda pengenal oleh petani serta para pembantunya, jika jalan sepenuhnya diselubungi salju. Pemandangan di atas sangat indah. Semakin tinggi kedua anak itu mendaki, semakin banyak puncak perbukitan yang nampak. Semua putih, kemilau, ditimpa sinar matahari pagi bulan Januari. "Wah, kalau salju turun sedikit lagi, pasti asyik berseluncur menuruni lereng-lereng ini," kata Dick kepingin. "Coba kita tadi membawa ski salju, di bukit sebelah sana itu cukup tebal - kita bisa meluncur di situ dengan asyik!" Akhirnya mereka sampai di pondok yang disebutkan oleh Bu Jones tadi. Keduanya merasa lega. Enak juga rasanya beristirahat sambil makan siang, setelah dua jam mendaki terus. "Bagus juga tempat ini," kata Julian, sambil memasukkan anak kunci ke dalam lubangnya di daun pintu. "Pondok kayu, lengkap dengan jendela dan lain-lainnya!" Julian membuka pintu, lalu melangkah masuk. Ya - tempat itu memang nyaman, dilengkapi dengan pembaringan yang menempel ke dinding kayu, sebuah tungku untuk memanaskan ruangan, lemari yang penuh dengan barang pecah-belah, serta makanan berkaleng-kaleng! Kedua anak itu mendapat pikiran yang sama secara serempak. Mereka berpandang-pandangan. "Bagaimana jika kita tinggal di sini - hanya kita berempat?" kata Julian, mengucapkan hal yang terlintas dalam pikiran adiknya. "George pasti senang !"

Bab 6 ANAK ANEH Keduanya belum begitu capek, sehingga masih sempat meneliti seluruh pondok itu. Tempat itu lebih cocok disebut rumah berkamar satu. Letaknya menghadap lembah, Lemari demi lemari dibuka oleh Julian, sambil menyebut seluruh isinya dengan gembira, "Bukan main!" katanya kemudian, "Segala-galanya tersedia di sini! Enak juga kehidupan orang-orang yang tinggal di sini pada musim panas!" "Kita bisa menghidupkan tungku, untuk memanaskan ruangan," kata Dick, sambil menarik tungku minyak ke tengah kamar. "Jangan, tidak perlu," kata Julian, "Di sini kan tidak begitu dingin, karena sinar matahari memancar ke dalam." "Bagaimana perkiraanmu - akan maukah Bu Jones mengizinkan kita tinggal di atas sini sendiri?" kata Dick, sambil membuka sekaleng daging asap dengan alat pembuka yang tergantung pada paku dekat lemari. "Kan enak jika tinggal sendiri. Bisa lebih bebas! George pasti akan setuju." "Ya, bisa saja kita tanyakan," kata Julian. "Ada atau tidak biskuit di sini, untuk dimakan dengan daging asap? Ah, ini dia, dalam kaleng. Aduh, ternyata aku lapar sekali!" "Aku juga," jawab Dick sambil sibuk mengunyah. "Sayang George tadi konyol - kalau tidak, kan sekarang ia dan Anne bisa ikut asyik di sini." "Sekarang aku ingin duduk berjemur di ambang pintu, sambil berselubung selimut," kata Dick. "Pemandangan dari sini indah sekali!" Keduanya duduk di ambang pintu, sambil mengunyah daging asap dan biskuit. Mereka memandang ke arah gunung yang terletak di seberang lembah. "Lihatlah - di seberang sana ada rumah," kata Dick dengan tiba-tiba. "itu - di dekat puncak." Julian memandang ke arah yang ditunjuk oleh adiknya. Tapi ia tidak melihat apa-apa. "Tak mungkin," katanya kemudian. "Kalau di sana ada rumah, pasti atapnya tertimbun salju, sehingga tidak mungkin nampak dari sini. Lagipula, siapa yang mau membangun rumah di tempat setinggi itu!" "Ah, ada saja," kata Dick. "Tidak semua orang senang tinggal di tempat yang ramai. Misalnya saja seorang seniman! Kan mungkin saja ada seniman membangun rumah di

daerah pegunungan ini, karena ingin menikmati pemandangan yang indah. Orang begitu pasti senang tinggal di sini, karena sepanjang hari bisa melukis sambil menikmati pemandangan!" "Kalau aku - aku senang keramaian," kata Julian. "Hidup begini selama satu dua minggu, bolehlah - tapi kurasa cuma seniman atau pertapa saja bisa tahan hidup menyendiri! Atau penggembala." Ia menguap. Mereka sudah selesai makan. Perut terasa kenyang. Dick ikut menguap, lalu merebahkan diri di lantai. Tapi Julian menariknya supaya berdiri lagi. "Jangan tidur di sini - nanti tahu-tahu pada saat terbangun lagi, hari sudah gelap. Matahari sudah mulai turun, sedang perjalanan pulang cukup jauh. Dan kita tidak membawa senter!" "Kan ada batu-batu besar yang bisa dijadikan tanda pengenal," kata Dick sambil menguap lagi. "Yah deh, yah. deh - kau benar. Aku pun tidak ingin berjalan tersandung-sandung dalam gelap!" Tiba-tiba Julian mencengkeram lengan adiknya, sambil menuding ke arah atas. Jalan yang mereka lewati tadi masih berkelok-kelok terus, menuju ke puncak. Dick berpaling, memandang ke arah itu. Nampak olehnya seseorang menuruni lereng sambil meloncatloncat, diiringi seekor anak biri-biri serta seekor anjing kecil. "Yang datang itu, anak perempuan atau anak laki-laki?" tanya Julian. "Tapi yang jelas, pasti ia kedinginan !" Ternyata yang datang seorang anak perempuan. Tampangnya liar, dengan rambut ikal acak-acakan. Warna kulitnya sawo matang. Saat itu musim dingin - tapi anak itu mengenakan pakaian secukupnya saja. Celana pendek yang sudah dekil - serta kemeja berwarna biru. Ia tidak memakai kaos kaki. Sepatunya kelihatan sudah usang. Anak itu berjalan sambil bernyanyi-nyanyi. Suaranya merdu, seperti kicauan burung. Ia berhenti bernyanyi, ketika tiba-tiba anjing kecil yang mengiringinya menggonggong. Anak itu mengatakan sesuatu pada anjing itu, yang kemudian menggonggong lagi sambil menghadap ke arah pondok. Sedang anak biri-biri berjalan terus. Anak perempuan itu memandang ke arah pondok, dan melihat Julian dan Dick di situ. Seketika itu juga ia berpaling, lalu lari menyusur jalan yang dilewatinya tadi. Julian berdiri dan memanggil-manggil. "Jangan takut, kami tidak apa-apa," serunya. "Lihatlah - ini ada sedikit daging, untuk anjingmu!"

Dengan sikap ragu, anak perempuan itu berhenti berlari dan menoleh ke bawah. Julian melambai-lambaikan daging asap sisa makan tadi. Anjing kecil itu mencium bau daging, lalu bergegas datang. Ia menyambar daging dari tangan Julian, lalu cepat-cepat lari kembali ke tempat anak perempuan itu berdiri. Anjing itu tidak langsung makan, tapi memandang tuannya. Anak itu membungkuk dengan cepat, mengambil potongan daging yang langsung dibaginya menjadi dua bagian. Bagian yang satu diberikan pada anjing, yang langsung menelannya. Sedang sisanya dimakan sendiri olehnya, sambil mengawasi Dick dan Julian dengan waspada. Ketika anak biri-biri datang mendekat sambil mengendus-endus, anak itu memeluk lehernya. "Anak aneh," kata Julian pada Dick. "Dari mana datangnya tadi? Tentunya ia sangat kedinginan, berpakaian setipis itu!" Dick memanggilnya, "Ke sinilah sebentar, mengobrol dengan kami!" Begitu mendengar Dick berseru, anak itu langsung lari. Tapi tidak jauh-jauh. Ia mengintip dari balik semak. "Tolong ambilkan biskuit sedikit," kata Julian pada Dick. "Mungkin dia mau datang, jika kita menawarkan makanan." Dick mengambil biskuit dari dalam lemari, lalu menyodorkannya ke arah semak di mana anak tadi bersembunyi. "Nih - ada biskuit untuk kalian," serunya. Tapi hanya anak biri-biri saja yang datang mendekat sambil meloncat-loncat. Kelihatannya mirip boneka permainan yang lucu. Ekornya bergerak-gerak terus. Dicobanya naik ke pangkuan Dick. Tapi ia cuma berhasil membentur muka anak itu dengan hidungnya. "Fany, Fany!" seru anak perempuan itu dengan suaranya yang tinggi. Anak biri-biri berusaha membebaskan diri dari pegangan Dick. Tapi sia-sia saja! "Datanglah ke sini untuk mengambilnya!" seru Dick. "Kami takkan mengapa-apakan dirimu!" Dengan langkah ragu-ragu anak perempuan itu maju, menghampiri Dick dan Julian. Sedang anjingnya langsung mendekat, lalu mengendus-endus tangan mereka minta daging lagi. Julian memberinya sepotong biskuit. Dengan segera makanan itu disambar dan dikunyah-kunyah. Sambil makan, anjing itu sebentar-sebentar melirik ke arah tuannya. Seakan-akan minta maaf, karena makan sendiri! Julian menepuk-nepuknya. Anak perempuan itu semakin mendekat. Betisnya nampak kebiru-biruan karena kedinginan. Tapi walau begitu, ia sama sekali tidak menggigil. Julian menyodorkan sepotong biskuit lagi, yang langsung disambar oleh anjing kecil lalu dibawa ke tempat

tuannya. Dick dan Julian tertawa terbahak-bahak melihatnya. Sekonyong-konyong anak perempuan itu tersenyum. "Datanglah kemari," ajak Julian. "Ke sinilah, dan ambil anak biri-birimu ini. Kami masih punya biskuit lagi, untukmu serta anjingmu itu." Akhirnya mau juga anak itu datang mendekat. Tapi sikapnya masih tetap waspada, siap untuk lari lagi. Dick dan Julian menunggu dengan sabar, sampai anak itu sudah cukup dekat untuk mengambil biskuit lalu menjauh lagi. Ia duduk di atas salah satu batu penunjuk jalan sambil mengunyah-ngunyah biskuit. Sementara itu tak henti-hentinya ia memperhatikan Dick dan Julian. "Siapa namamu?" tanya Dick. Ia tidak beranjak dari tempatnya, karena khawatir anak perempuan itu takut dan lari lagi. Anak yang disapa seakan-akan tidak memahami pertanyaannya. Karenanya Dick mengulanginya sekali lagi, kali ini dengan lambat-lambat. "Namamu - siapa?" Yang ditanya mengangguk, lalu menuding dirinya sendiri. "Aku - Aily," katanya. Setelah itu ia menuding anjingnya. "Dave," katanya. Mendengar namanya disebut, anjing itu meloncat lalu menjilati muka anak perempuan itu, yang kini menuding anak biri-birinya. "Fany," katanya. "Jadi-Aily-Dave-Fany," kata Julian serius, sambil menunjuk pada yang disebutnya itu satu per satu. Setelah itu ia menuding dirinya sendiri. "Julian!" Lalu, menuding adiknya, "Dick!" Anak itu tertawa dengan suaranya yang cerah. Tahu-tahu ia mengucapkan suatu kalimat panjang. Tapi tak sepatah kata pun bisa dipahami oleh Julian dan Dick. "Kurasa ia berbicara dalam bahasa Wales," kata Dick kecewa. "Sayang kita tidak mengerti - karena kedengarannya bahasa itu indah!" Anak perempuan itu nampaknya tahu bahwa bahasanya tidak dimengerti oleh kedua anak laki-laki yang ada di depannya. Ia mengerutkan kening, memeras otak. Kemudian ia membuka mulut lagi. "Ayahku - di atas - biri-biri," katanya patah-patah.

"O - rupanya ayahmu penggembala biri-biri di atas gunung," tebak Dick. "Tapi kau sendiri, tidak tinggal bersama dia?" Aily berusaha memahami kalimat itu, lalu menggeleng. "Bawah!" katanya sambil menuding. "Aily bawah!" Lalu ia memeluk kedua binatang yang menyertainya. "Dave punyaku," katanya bangga. "Fany punyaku!" "Anjing bagus. Biri-biri bagus," ujar Julian serius. Anak perempuan itu mengangguk dengan senang. Tapi secara tiba-tiba anak itu bangkit lalu lari menuruni lereng, disusul oleh Dave dan Fany. "Aneh sekali anak itu!" kata Dick. "Aku takkan heran, kalau ternyata ia bisa menghilang, seperti peri hutan. Rupanya anak itu biasa hidup sebagai gelandangan! Nanti kita tanyakan mengenai dirinya pada Bu Jones, jika kita sudah sampai lagi di pertanian!" "Astaga! Matahari sudah sangat rendah! Kita harus buru-buru," kata Julian, sambil bergegas bangkit. "Kita masih harus berbenah di sini, sebelum pulang! Ayo, cepatlah sedikit! Kalau matahari terbenam nanti, daerah sini akan langsung menjadi gelap. Sedang perjalanan kita cukup jauh." Mereka tidak memerlukan waktu lama untuk membereskan pondok, serta mengunci pintu. Setelah itu mereka bergegas-gegas menuruni gunung, lewat jalan yang berkelokkelok. Di sebelah bawah salju sudah hampir mencair semua kena sinar matahari. Jadi perjalanan bisa lebih cepat daripada ketika mendaki. Kedua anak itu berjalan sambil bernyanyi-nyanyi. "itu dia pertanian Bu Jones," kata Dick. Mereka merasa lega melihatnya. Kaki sudah terasa capek. Mereka ingin mengisi perut yang sudah kosong lagi, sambil duduk dalam ruangan yang hangat. "Moga-moga George sudah agak normal lagi sekarang - dan masih ada di sana," kata Julian sambil tertawa. "Maklumlah, sifat saudara sepupu kita tidak bisa diduga! Dan mudah-mudahan dia senang, jika kita ceritakan tentang pondok tadi. Kita akan minta izin pada Bu Jones malam ini juga, setelah merundingkannya dengan Anne dan George. " "Nah, akhirnya kita sampai juga," kata Dick, ketika mereka sudah berada di rumah. "Anne! George! Di mana kalian? Kami sudah kembali!"

Bab 7 KEMBALI DI PERTANIAN Anne berlari-lari menyongsong mereka.

"Lega perasaan ku sekarang," katanya. "Tadi aku sudah takut saja, jangan-jangan kalian tersesat. Hari sudah mulai gelap!" "Halo, George," seru Julian, ketika melihat anak itu di lorong yang gelap, di belakang Anne. "Bagaimana si Timmy sekarang?" "Sudah sehat lagi," kata George. Caranya bicara sudah biasa lagi. "Ini dia!" Timmy menggonggong, menyambut kedua anak laki-laki itu. Sehari itu ia sudah cemas terus, karena menyangka Dick dan Julian pulang. Bersama-sama mereka masuk ke kamar duduk. Api di pendiangan menyala, sehingga kamar terasa nyaman dan hangat. Julian dan Dick merebahkan diri ke dua kursi terempuk yang ada di situ, dengan kaki terjulur ke arah api. "Aaah - ini baru nikmat," kata Dick. "Kalau disuruh berjalan selangkah lagi, pasti aku takkan mampu. Kurasa naik ke tingkat atas untuk mencuci badan pun tidak bisa lagi. Jauh sekali kami berjalan tadi!" Mereka lantas menceritakan pengalaman sehari itu pada Anne dan George. Kedua anak itu mendengarkan dengan penuh perhatian, apalagi ketika sampai pada penuturan tentang pondok musim panas milik Bu Jones. "Aduh, sayang aku tadi tidak ikut," kata Anne. "Timmy sebetulnya juga bisa ikut kan, George? Setelah kami periksa dengan teliti, ia cuma luka tergores saja. Sekarang sudah hampir tidak kelihatan lagi." "Walau begitu, aku tetap akan pulang besok," kata George berkeras. "Maaf jika aku tadi pagi begitu ribut - tapi saat itu aku sungguh-sungguh menyangka luka Timmy parah. Untung saja kemudian ternyata tidak begitu! Tapi aku tidak mau hal seperti tadi terjadi lagi. Kalau aku tetap di sini, pasti anjing-anjing itu akan menyerangnya kembali pada suatu saat, dan ada kemungkinannya Timmy mati tergigit. Sayang aku terpaksa mengganggu kesenangan kalian berlibur - tapi aku tak bisa tinggal lebih lama lagi di sini bersama Timmy!" "Baiklah, kalau begitu," kata Julian membujuk. "Kau tidak perlu ngotot mengenai soal itu. Nah - sekarang kau batuk-batuk lagi karenanya! Aku dan Dick, sepanjang hari sama sekali tidak batuk tadi!" "Aku juga tidak," kata Anne. "Udara. di sini sangat segar. Tapi kurasa sebaiknya aku ikut saja pulang dengan George, Ju. Tidak enak bagi dia, apabila harus sendiri di rumah." "Dengar dulu," sela Julian. "Aku dan Dick, tadi mendapat pikiran bagus - dengan mana George tidak perlu lagi pulang, dan...."

"Tak ada yang bisa menahanku tinggal di sini," kata George dengan segera. "TIDAK ADA!" "Beri kesempatan dulu padaku untuk menceritakan maksud kami," kata Julian. "Soalnya menyangkut pondok gunung di mana kami tadi mampir. Aku dan Dick sependapat, enak juga apabila kita berlima bisa tinggal sendiri di sana - jadi tidak lagi di pertanian ini. Kita nanti bisa bebas sebebas-bebasnya! " "O ya," kata Anne dengan segera. Setelah itu semua memandang ke arah George, menunggu reaksinya. Anak itu tiba-tiba tersenyum. "Asyik juga," katanya. "Aku mau! Kurasa anjing-anjing sini takkan pernah datang ke sana. Pasti enak, apabila kita boleh mengurus diri sendiri!" "Menurut Bu Jones, anaknya mengatakan akan datang hujan salju yang lebat," kata Anne. "Jadi kita nanti bisa main ski dan berseluncur sepanjng hari! Wah, George-sayang ya, Timmy tidak bisa main ski. Jadi ia terpaksa tinggal dalam pondok, apabila kita pergi main ski." "Apakah Bu Jones tidak berkeberatan jika kita ke sana?" tanya Dick. "Kurasa tidak," jawab Anne. "Tadi ia bercerita pada kami bahwa pada musim panas anak-anak sering menginap sendiri di sana, sementara orang tua mereka beristirahat dengan tenang di bawah ini. Jadi aku tidak melihat alasan bahwa kita tidak boleh ke sana. Nanti saja kita tanyakan padanya, jika ia masuk untuk menghantarkan hidangan teh. Aku sudah mengatakan tadi, kami tidak perlu minum teh dan setelah itu makan malam. Cukup sekali saja makan sore, asal kenyang! Soalnya, kami tidak tahu kapan kalian berdua akan kembali. Dan aku serta George sudah begitu banyak makan siang, sehingga tadi sore tidak merasa lapar." "Ya - sekarang aku lapar sekali," ujar Julian, sambil menguap lebar. "Setelah itu, kurasa aku ingin langsung tidur saja! Badanku capek sekali rasanya. Sekarang pun aku sudah mau tidur. Kalian berdua tadi terus dalam rumah ya - karena Timmy?" "Ah, tidak! Kami silih-berganti berjalan-jalan, seorang diri," kata Anne. "George tidak mengizinkan Timmy ke luar. Kasihan si Timmy - dia mendengking-dengking terus, karena tidak mengerti apa sebabnya ia tidak boleh keluar!" "Tak apalah - nanti dia bisa bersenang-senang, apabila kita diizinkan menginap dalam pondok itu," kata George. Kini ia sudah gembira lagi. "Mudah-mudahan saja boleh! Wah, pasti asyik sekali kita di sana."

"Ayo Ju - kita mencuci badan dulu," kata Dick, karena melihat mata abangnya itu sudah mulai terpejam. "Julian! Ayo, kita harus membersihkan badan. Kau kan masih ingin makan dulu sebelum tidur?" Sambil mengerang, Julian tersaruk-saruk menaiki tangga ke tingkat atas. Tapi begitu tubuhnya menyentuh air dingin, ia merasa segar kembali. Rasa laparnya datang lagi. Begitu pula halnya dengan Dick. "Tadi kita belum bercerita pada Anne dan George, tentang anak perempuan yang aneh itu!" kata Julian. "Siapa lagi namanya? O ya - Aily! Serta Dave, anjingnya, dan Fany, anak biri-biri yang selalu ikut dengan Aily. Nanti jangan lupa menanyakan pada Bu Jones tentang mereka!" Mereka turun ke bawah, ke kamar duduk. Ternyata Bu Jones telah siap menghidangkan sajian sore. "Hmmm - perkedel daging," kata Dick sambil mendecak-decakkan lidah. "Dan apa ini wah keju! Besar sekali! Baunya sedap ya, Julian? Ditambah dengan roti bikinan sendiri. Hmmm! Kita mulai saja dengan ini, yuk!" "Nanti dulu! Sebagai pembuka, ada telur rebus," kata Anne sambil tertawa. "Dan sebagai penutup nanti, kue tar apel dengan krem. Jadi mudah-mudahan saja kalian berdua sungguh-sungguh lapar!" Saat itu Bu Jones masuk, membawa teh panas dalam poci. Ia tersenyum ketika melihat Dick dan Julian. "Kalian senang pesiar seharian di atas tadi?" tanyanya. "Kedua-duanya kelihatan segar bugar! Bagaimana - berhasil atau tidak menemukan pondok itu?" "Ya, Bu," kata Julian. "Pondok itu bagus sekali, Bu Jones. Kami...." "Ya, ya - pondok itu memang menyenangkan," sela Bu Jones, "sayang mereka ini tidak ikut dengan kalian! Padahal cuaca begitu cerah, dan anjing ini sebetulnya tidak apa-apa! Dan sekarang, Anne dan George ingin pulang. Seharian aku sedih terus, sibuk memikirkannya!" Bu Jones benar-benar tampak sedih. Sedang George kelihatan kikuk, karena ia merasa bersalah. Julian menepuk-nepuk lengan Bu Jones, untuk membujuknya. "Anda tidak perlu khawatir mengenai kami, Bu," katanya. "Kami mempunyai ide bagus, yang ingin kami sampaikan. Begini, Bu - kami berempat ingin tinggal sendiri di pondok yang di atas gunung itu, kalau boleh tentunya! Dengan begitu kami tidak perlu merepotkan Anda - sedang Timmy bisa dijauhkan dari anjing-anjing sini! Nah, bagaimana pendapat Anda mengenainya? Dengan jalan begini George tidak perlu pulang, seperti yang direncanakan olehnya."

"Astaga! Kalian mau tinggal di sana, dalam cuaca sedingin begini?" kata Bu Jones terperanjat. "Kan tidak enak, karena tak ada yang mengurus. Tidak, tidak ....." "Kami sudah biasa mengurus diri sendiri, Bu," kata Dick. "Lagipula, persediaan makanan yang ada di sana banyak sekali. Semua tersedia lengkap. Piring, mangkuk, pisau dan garpu - begitu pula tempat tidur ...." "Kami pasti akan asyik di sana, sela George penuh gairah. "Aku sebetulnya tidak ingin pulang, Bu Jones! Senang sekali rasanya di pegunungan dan apabila akan ada hujan salju, seperti dikatakan oleh anak Anda, kami akan bisa bersenang-senang, berolahraga salju. "Boleh ya, Bu," kata Anne meminta-minta. "Kami pasti senang dan aman di sana. Kami berjanji akan cepat-cepat turun lagi ke mari apabila ternyata kami tidak mampu mengurus diri sendiri, atau ada sesuatu yang tidak beres." "Dan aku akan mengawasi, bahwa segala-galanya beres," kata Julian dengan gaya bicara seperti orang dewasa. "Yah - sebetulnya ide ini gila-gilaan," kata Bu Jones, yang masih tetap ragu-ragu. "Aku perlu merundingkannya dulu dengan Morgan. Sekarang kalian makan saja dulu. Biar Morgan yang memutuskan, bisa tidaknya!" Bu Jones meninggalkan ruangan sambil menggeleng-geleng. Mulutnya dikerucutkan, tanda tak setuju. Bayangkan: tidak ada makanan panas, tak ada orang yang mengurus mereka! Anak-anak itu pasti akan merasa sengsara nanti, tinggal dalam pondok dingin yang di atas itu! Sementara itu anak-anak di kamar duduk sudah sibuk menyikat hidangan yang tersedia. Timmy diizinkan oleh George ikut duduk di kursi. Sekali-kali George menyodorkan secuil daging pada anjing kesayangannya itu. Timmy bersikap tahu aturan. "Aku takkan terlalu heran, apabila dia tahu-tahu menyodorkan sepiring hidangan padaku," kata Anne terkikik geli. "Timmy - tolong ambilkan garam itu!" Timmy meletakkan kaki depannya ke tepi daun meja, seolah-olah hendak menuruti permintaan Anne. George bergegas menyuruh anjing itu menurunkan kakinya. "Wah - aku lupa masih ada kue tar apel, sebagai penutup," kata Anne setengah kecewa, ketika Bu Jones kemudian masuk lagi membawa baki berisi kue yang besar serta kepala susu satu poci. "O ya, Bu - ketika kami sedang di pondok tadi, kami berjumpa dengan seorang anak perempuan," kata Dick, "Katanya ia bernama Aify. Ia berjalan diikuti seekor anak biribiri dan seekor....."

"Ah, Aily - anak bandel itu!" kata Bu Jones, sambil membenahi piring-piring kotor. "Dia anak gembala. Ia selalu membolos dari sekolah, bersembunyi di atas gunung bersama anjing dan biri-birinya. Setiap tahun, selalu ada saja anak biri-biri yang ikut dengan dia. Ke mana Aily pergi, selalu binatang itu membuntut. Kata orang, Aily tahu di mana ada liang kelinci, pohon buah atau sarang burung!" "Ketika kami melihatnya, ia sedang berjalan sambil menyanyi," kata Julian. "Suara anak itu merdu," kata Bu Jones. "Hidupnya bebas, seperti burung, Tidak bisa diatur! Jika dimarahi, langsung menghilang berminggu-minggu - entah ke mana. Nanti kalau kalian sudah tinggal di atas, jangan izinkan dia datang mendekat, karena nanti ada barang hilang!" "O ya - bagaimana, Anda sudah berbicara dengan Morgan mengenai soal itu?" tanya Dick bersemangat. Bu Jones mengangguk. "Ya - sudah! Katanya, boleh saja! Ia pun tidak ingin ada perkelahian antara Timmy melawan anjing-anjingnya. Katanya, salju pasti akan turun lagi. Tapi kalian aman dalam pondok itu! Ia menyarankan agar kereta luncur dibawa ke atas, karena nanti tentu ada kesempatan untuk bermain-main di salju. Ia akan menolong kalian membawa barangbarang ke atas." "Wah, terima kasih!" kata Julian gembira. "Terima kasih banyak, Bu. Besok sehabis sarapan kami pindah ke sana!"

Bab 8 PINDAH KE PONDOK Malam itu Dick dan Julian cepat mengantuk. Mereka sudah seharian berada di alam terbuka yang dingin tapi segar. Kemudian disusul dengan makan sekenyang-kenyangnya. Jadi tidak mengherankan, apabila keduanya tak mampu menahan rasa mengantuk. "Sudahlah, pergi saja tidur sekarang!" kata Anne, melihat kedua abangnya terkapar di kursi, setelah Bu Jones selesai membereskan meja makan. "Ya, kurasa lebih baik kita tidur saja," kata Julian sambil terhuyung bangkit. "Aduh, kakiku pegal sekali rasanya! Nah, selamat tidur! Mudah-mudahan saja kami bisa bangun pagi besok!" Setelah itu ia bersama Dick naik ke tingkat atas, tersaruk-saruk karena sudah capek sekali. George dan Anne masih duduk-duduk di bawah, membaca-baca sambil mengobrol. Timmy berbaring di depan pendiangan. Telinganya bergerak ke arah Anne apabila anak itu berbicara, lalu berpindah ke arah George pada saat ia menjawab. Kebiasaan itu benar-benar menggelikan.

"Kelihatannya seakan-akan ia ikut mendengarkan obrolan kita, tapi malas untuk berbicara," kata Anne. "Aduh, George - lega hati ku, kau tidak jadi pulang besok. Kalau kau pulang, aku terpaksa ikut juga !" "Sudahlah, jangan kita bicarakan lagi soal itu," kata George. "Sekarang aku merasa agak malu, karena sudah membikin ribut. Tapi walau begitu, aku pasti akan ketakutan apabila berjumpa dengan salah satu anjing itu, pada saat Timmy ada bersamaku, Untung saja Dick dan Julian tadi pergi ke atas, Anne! Kalau tidak, kita pasti tidak tahu-menahu tentang pondok yang ada di sana." "Ya - kedengarannya bisa asyik kita nanti," kata Anne. "Sebaiknya jangan terlalu larut kita tidur malam ini, George. Perjalanan ke atas besok tidak enteng, karena harus membawa barang-barang!" George pergi ke jendela. "Salju sudah turun - tepat seperti diramalkan oleh Morgan," katanya. "Aku tidak senang pada orang itu. Kalau kau, bagaimana?" "Ah - kurasa dia tidak jahat," jawab Anne. "Tapi suaranya, bukan main lantangnya! Aku kaget setengah mati, ketika ia berseru memanggil ketiga anjingnya. Suaranya pasti yang paling nyaring di dunia!" "Kau menguap, Tim?" kata George, melihat anjingnya mengangakan mulutnya lebarlebar. "Bagaimana lehermu?" Timmy membiarkan George memeriksa lukanya. "Sudah hampir sembuh," kata Goerge. "Besok pasti sudah tak apa-apa lagi. Kau tentunya mau, jika kita tinggal sendiri di atas gunung. Ya kan, Tim?" Timmy menguap lagi. Ia berdiri, lalu pergi ke pintu yang menuju ke lorong tempat tangga. Sesampai di sana, ia menoleh ke arah George. "Ya deh - kami datang," kata George tertawa. Mereka lantas naik ke tingkat atas, lalu mengintip sebentar ke dalam kamar tidur Dick dan Julian. Nampak kedua anak laki-laki itu tidur nyenyak di tempat tidur masingmasing. "Biar ada badai petir malam ini, mereka pasti takkan terbangun!" kata Anne. "Yuk - kita juga tidur saja sekarang. Enak juga, tidur dalam kamar yang ada pendiangannya!"

Keesokan paginya, alam sekitar pertanian itu nampak putih bersih. Seperti sudah diramalkan oleh Morgan, malam sebelumnya turun salju yang lebat. Kini di mana-mana nampak selimut salju yang tebal. "Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu!" kata Dick dengan gembira, ketika ia memandang ke luar lewat jendela. "Ayo bangun, Ju - pagi ini indah sekali! Jangan lupa, hari ini kita harus mengangkut sendiri semua barang kita ke pondok di atas gunung! Ayo bangun!" Bu Jones menghidangkan sarapan. "Kalau kalian jadi pergi ke atas, inilah kali terakhir kalian makan hidangan hangat," katanya. "walau di sana pun kalian bisa juga merebus telur di atas tungku. Tapi jangan main-main di dekatnya, apabila tungku sedang menyala! Jangan sampai terjadi kebakaran." "Kami akan berhati-hati, Bu," kata Julian berjanji. "Siapa saja berbuat sembrono, akan segera kupulangkan. Ya, sungguh! Jadi kau harus berhati-hati, Tim!" Anak-anak tidak membawa semua barang mereka ke atas. Tapi Bu Jones menyuruh mereka membawa seperangkat pakaian ganti, di samping pakaian tidur yang hangat. Mereka juga membekali diri dengan senter, serta tali yang panjang. Bu Jones menyiapkan roti segar setengah lusin, sebongkah keju yang besar, tiga lusin telur, serta sebongkah daging paha asap. Mereka pasti takkan menderita kelaparan di atas gunung nanti! "Aku juga sudah mengemaskan mentega dalam bungkusan roti," kata Bu Jones. "Dan nanti kalau penggembala turun, aku akan menitipkan susu untuk kalian. Dalam perjalanan kembali ke atas, ia selalu lewat dekat pondok itu. Isi botol ini cuma satu liter. Tapi di atas banyak sari jeruk dan limun. Kalau kalian ingin minum coklat atau teh, ambil saja salju. Panaskan di atas tungku, sehingga mendidih'" Bu Jones tidak tahu, bahwa Lima Sekawan sudah sering bepergian sendiri! Anak-anak tersenyum sambil saling mengedipkan mata. Mereka mendengarkan segala nasehat Bu Jones dengan penuh perhatian. Tidak enak rasanya mengecewakan perasaannya. Bu Jones baik hati dan ramah sekali - begitu tekun memperhatikan segala sesuatunya. Bahkan tulang dan biskuit untuk Timmy pun tidak dilupakan olehnya. "Nah, ini dia - Morgan sudah datang," kata Bu Jones, ketika barang-barang sudah ditumpukkan di depan pintu rumah, termasuk sepatu ski dan kereta luncur. Anak-anak menaruh barang-barang mereka ke atas kereta salju yang dibawa oleh anak Bu Jones. Mereka akan berjalan kaki ke atas, karena salju belum begitu tinggi. Timmy meloncat-loncat dengan gembira, tapi sambil memandang berkeliling dengan waspada, kalau-kalau ada anjing yang kemarin. George juga berjaga-jaga. Timmy tidak diizinkan pergi jauh-jauh dari sisinya.

Morgan mengangguk ke arah anak-anak. "Selamat pagi," katanya singkat. Diambilnya kedua tas tali penghela, lalu disampirkannya ke bahu. "Biar kubantu menarik tali yang satu," kata Julian. "Beban ini terlalu berat, jika ditarik oleh satu orang saja!" "Hah!" kata Morgan meremehkan, lalu mulai berjalan sambil menarik. Kereta salju meluncur di belakangnya. "Tenaga anakku itu, tidak kalah dengan seekor kuda," kata Bu Jones bangga. "Sepuluh ekor, Bu," kata Julian. Kepingin rasanya menjadi sebesar dan sekekar Morgan. George diam saja. Tapi sebetulnya ia belum memaafkan orang itu, karena kemarin meremehkan luka Timmy. George berjalan bersama saudara-saudaranya, sambil memanggul sepatu ski. Ia melambaikan tangan pada Bu Jones, yang memandang mereka pergi dengan perasaan waswas. Rasanya jauh sekali jalan yang harus didaki, apabila harus membawa atau menghela barang-barang. Morgan berjalan paling depan. Enak saja kelihatannya ia menarik kereta salju yang sarat dengan muatan. Julian di belakangnya, menghela kereta luncur sambil memanggul sepatu ski kepunyaannya. Dick juga membawa barang-barang yang serupa seperti Julian. Sedang Anne dan George hanya memanggul sepatu ski. Lalu Timmy? Anjing itu berada di posisi paling depan - atau kadang-kadang paling belakang, semau dia. Pokoknya asyik! Morgan berjalan sambil membisu. Ketika Julian mengajaknya bercakap-cakap, jawabannya selalu berupa suara memberungut. Julian memperhatikan laki-laki yang berbadan kekar itu dengan penuh minat. Ia heran, apa sebabnya orang itu membisu terus. Padahal nampaknya ia cerdas - bahkan baik hati! Tapi sikapnya selalu masam. Kasar tindak-tanduknya. Ah, - sudahlah sebentar lagi mereka toh akan berpisah lagi, dan anakanak tak perlu berurusan dengan dia! Akhirnya mereka tiba di pondok. Anne dan George lari mendului, sambil berseru-seru dengan senang. George mengintip ke dalam lewat jendela. "Aduh - ini kan kayak rumah biasa! Lihatlah- itu dia tempat tidur, menempel ke dinding. Dan lantai pun dilapisi dengan karpet. Cepat, Julian - mana anak kuncinya?" "Dipegang Morgan," kata Julian. Anak-anak menunggu, sampai orang itu membukakan pintu. "Terima kasih," kata Julian dengan sopan.

"Kalau Anda tidak membantu, pasti kami kewalahan membawa segala barang ini kemari." Morgan hanya mendengus sebagai jawaban. Tapi kelihatannya ia senang. "Kadang-kadang Pak Gembala lewat di sini," ujarnya dengan suara yang berat. Anakanak heran, mendengar Morgan mau berbicara dengan mereka. "Kalau kalian mau, dia bisa dititipi pesan." Setelah itu ia pergi menuruni bukit. Langkahnya panjang-panjang, mirip raksasa dalam dongeng. "Orang aneh," kata Anne, sambil menatap ke arah Morgan, yang sementara itu semakin menjauh. "Aku tidak tahu, apakah aku senang padanya - atau tidak." "itu kan tidak penting," kata Dick. "Tolong dulu, Anne. Banyak yang masih harus kita lakukan. Bagaimana jika kau bersama George mengurus soal tempat tidur kita?" Anne paling senang melakukan tugas-tugas seperti itu. Tapi George tidak! la lebih senang disuruh mengangkut barang-barang ke dalam, seperti yang saat itu dilakukan oleh Julian dan Dick. Tapi ia masuk juga ke rumah bersama Anne, membuka lemari-lemari serta memeriksa isinya dengan penuh perhatian. "Di sini banyak tersedia selimut dan bantal," kata Anne. "Begitu pula perabot makan! Tentunya banyak tamu Bu Jones yang kemari pada musim panas. George, sebaiknya kau yang mengatur tempat tidur - sementara aku membereskan bekal makanan kita." "Baiklah," kata George. Dalam ruangan itu ada enam tempat tidur, masing-masing tiga pada satu sisi. Tempat tidur itu bertingkat-tingkat, satu di atas yang lain. Tak lama kemudian George sudah sibuk mengatur empat tempat tidur. Sementara itu Anne juga ada di situ. Setelah itu ia memeriksa tungku, apakah sudah ada minyak di dalamnya. Malam nanti, hawa pasti sangat dingin. "Ya - penuh," katanya puas. "Nanti malam saja kunyalakan, karena selama hari terang kita kan jalan-jalan dan di luar terus. Betul kan, Dick?" "Ya!" kata Dick, yang sedang sibuk mengeluarkan barang-barang dari kopernya. "Ngomong-ngomong, di luar ada tempat penyimpanan. Di dalamnya terdapat sekaleng minyak, serta sebuah kendi. Kendi itu kurasa untuk mengambil air di salah satu sumber pada musim panas. Kalau sekarang, cukup apabila kita mencairkan salju saja. Masih lamakah kalian?" "Tidak - sudah hampir selesai," kata Anne. "Apakah kita makan dulu, sebelum pergi? Atau kita membawa bekal roti dengan daging asap saja dulu, dan nanti setelah kembali baru makan?"

"Kita bawa roti sandwich saja," kata Julian. "Aku tidak ingin berhenti untuk makan. Lagipula sekarang kan kita belum lapar lagi. Siapkan saja sandwich, Anne nanti kita bawa pula beberapa buah apel untuk dimakan sambil berjalan!" Dengan cepat roti sandwich sudah selesai disiapkan. Dick dan Julian mengisi kantong mereka dengan beberapa butir buah apel. Setelah itu mereka berangkat.

Bab 9 KISAH ANEH Hari itu anak-anak tidak mau repot-repot membawa ski. Soalnya, salju saat itu belum cukup tebal. Kecuali itu, mereka ingin bermain-main dengan kereta luncur. Dick ditemani George di keretanya, sedang Julian membawa Anne. Timmy tidak mau diajak naik kereta. "Ayo berlomba, siapa paling duluan sampai di bawah!" seru Julian. "Satu - dua - tiga!" Kedua kereta itu meluncur dengan laju di atas salju. Angin mendesing di telinga anakanak, yang berteriak-teriak keasyikan. Julian menang dengan mudah, karena kereta yang dinaiki Dick dan George tersangkut pada sesuatu yang menonjol di bawah salju, sehingga terjungkir. Dick dan George jatuh terpelanting dalam salju. Keduanya cepat-cepat bangun lagi, terkejap-kejap menyemburkan salju yang masuk ke mulut. Timmy sibuk sekali. Ia berlari-lari mengejar kedua kereta luncur yang melesat ke bawah. Menggonggong-gonggong dengan ribut, jengkel karena kakinya selalu terbenam ke dalam salju. Ia kaget sekali ketika tahu-tahu Dick dan George melayang sewaktu kereta mereka tersangkut. Dihampirinya kedua anak yang terduduk di salju. Ia meloncat-loncat mengelilingi mereka, menjilat-jilat dan mendorong-dorong mereka. Ia bukannya membantu, malahan menyukarkan mereka bangun lagi. "Aduh, Timmy!' seru Dick jengkel. Anak itu jatuh terduduk lagi sewaktu hendak berdiri, karena terdorong oleh Timmy yang begitu ribut. "Sana- George saja, yang kaugulingkan, jangan aku! Panggil dia, George!" Menarik kereta luncur kembali ke atas bukit, bukan pekerjaan enteng. Tapi anak-anak tak peduli, karena ada imbalannya - yaitu meluncur ke bawah, melesat di atas salju! Tak lama kemudian muka keempat anak itu sudah kemerah-merahan. Ingin rasanya mereka membuka jas dan syal - begitu panas badan mereka! "Uhh - aku tak mampu lagi menarik kereta ini ke atas!" kata Anne kemudian. "Aku kehabisan tenaga. Kalau kau masih mau, terpaksa sendiri saja, Julian!"

"Aku sebenarnya masih mau - tapi kaki ku tak kuat lagi," kata Julian dengan napas terengah-engah. "He, Dick! Kami berdua tidak mau lagi bermain luncur-luncuran! Kami kini akan naik ke puncak bukit ini dan makan roti di sana, sambil menonton kalian!" Tapi tak lama kemudian Dick dan George juga ikut capek, lalu menyusul ke atas. Timmy senang, bisa duduk sebentar! Lidahnya terjulur ke luar. Napasnya mengepul-ngepul, nampaknya seperti kabut bergulung-gulung. Mula-mula anjing itu heran, melihat ada asap keluar dari mulutnya. Tapi dengan segera kekhawatirannya lenyap, setelah melihat dari mulut anak-anak juga keluar asap. Julian memandang saudara-saudaranya sambil nyengir. Semua duduk sambil makan roti dengan lahap. "Sayang Ibu tidak bisa melihat kita sekarang," katanya. "Tak seorang pun yang batukbatuk. Kita sudah sehat kembali! Tapi besok - badan kita sudah pasti pegal-pegal!" Sementara itu Dick sibuk memandang ke bukit di seberang lembah. Jaraknya sekitar satu mil dari tempat mereka duduk saat itu. Lereng bukit itu curam. "itu dia bangunan yang kulihat kemarin," katanya. "itu - yang menjulang itu, itu kan cerobong asap?" "Wah, matamu tajam sekali!" kata George. Orang lain takkan bisa melihat bangunan yang letaknya sejauh itu, apabila diselubungi salju!" "Kita membawa teropong?" tanya Julian. "Mana dia barangnya? Aku ingin meneropong ke sana, untuk memastikan apakah di sana memang ada bangunan, seperti kata Dick." "Kutaruh dalam lemari tadi," kata Anne sambil bangkit. "Kuambil sebentar! Aduh pegalnya!" Anne bergegas mengambil teropong, lalu memberikannya pada Dick. Dick mengarahkan alat pelihat jauh itu ke bukit seberang, lalu menyetelnya sampai cocok. "Ya!" katanya kemudian. "Memang sebuah bangunan - dan rasanya itu Menara Tua. Masih ingat kan - tempat yang kita datangi kemarin dulu, ketika tersesat sewaktu ke sini." "Coba kulihat," kata Anne. "Kurasa aku bisa mengenalinya kembali. Sewaktu mobil menikung dalam perjalanan ke sana, aku sempat melihat menaranya sekilas." Diambilnya teropong dari tangan abangnya, lalu didekatkan ke matanya. "Ya - itu memang Menara Tua," katanya. "Wanita tua yang tinggal sendiri di sana, tentunya sunyi sekali hidupnya! Aneh - di pintu gerbang ada tulisan dilarang masuk - dan tidak ada siapa-siapa di sana kecuali seekor anjing galak!" Tiba-tiba Timmy menggonggong. Ia berdiri, sambil berpaling ke arah jalan yang menuju ke tempat yang lebih tinggi lagi.

"Mungkin Aily datang lagi," kata Julian. Tapi yang muncul bukan dia, melainkan seorang wanita bertubuh kecil tapi cekatan. Ia berjalan dengan cepat. Kepalanya bertudung syal. Pakaiannya rapi. Ia tidak tampak heran ketika melihat anak-anak yang sedang dudukduduk. "Selamat pagi," sapanya, "kalian tentunya anak-anak yang diceritakan Aily padaku kemarin malam. Kalian menginap di pondok keluarga Jones?" "Betul," jawab Julian. "Mulanya kami bertetirah di pertanian. Tapi anjing kami tidak bisa cocok dengan anjing-anjing sana. Karena itu kami lantas pindah ke sini. Di atas sini enak. Pemandangannya indah !" "Kalau kalian nanti ketemu dengan Aily, tolong bilang pada anakku itu bahwa malam ini ia harus pulang," kata wanita itu, sambil merapatkan syalnya. "Macam-macam saja anak itu, berkeliaran dengan anak biri-birinya. Sama tidak beresnya seperti wanita tua yang di rumah sana itu," katanya, sambil menuding ke arah Menara Tua. "Ah - Anda tahu juga rupanya tempat itu," kata Julian dengan segera. "Secara kebetulan, kami pernah sampai ke pintu gerbangnya, lalu...." "Tapi pasti cuma sampai di situ saja," potong Ibu Aily. "Di pintu kan terpasang tanda dilarang masuk! Padahal aku dulu biasa datang ke sana tiga kali seminggu, dan selalu disambut dengan ramah! Tapi Bu Thomas kini tidak mau didatangi siapa-siapa lagi, kecuali teman-teman anak lelakinya. Kasihan dia kata orang pikirannya tidak waras lagi. Kurasa memang begitu, karena kalau tidak pasti ia mau ketemu dengan aku. Aku kan sudah bertahun-tahun bekerja untuknya!" Anak-anak mendengarkan dengan penuh perhatian. "Kenapa di pintu dipasang tanda 'Dilarang masuk'?" tanya Julian. "Kecuali itu, di sana juga ada anjing galak." "Soalnya, ada kawan Bu Thomas yang ingin tahu apa yang sedang terjadi di sana," kata ibu Aily. "Tapi tak ada yang bisa berbuat apa-apa mengenainya. Tempat itu sekarang menjadi aneh! Malam-malam terdengar berbagai bunyi di situ - tahu-tahu ada kabut - serta cahaya berpendar-pendar.... Menurut perasaan Julian, itu hanya desas-desus belaka, yang tersiar di kalangan penduduk desa yang merasa kesal karena tidak diperbolehkan lagi datang ke sana. Ia tersenyum.

"Ya ya, kau boleh saja tersenyum," kata wanita itu dengan nada jengkel. "Tapi sejak bulan Oktober lalu, di sana terjadi hal-hal aneh. Mobil-mobil pengangkut datang ke sana, di tengah malam. Kenapa harus malam-malam? Kurasa kendaraan-kendaraan itu datang untuk membawa pergi barang-barang kepunyaan Bu Thomas - segala perabot rumah tangga dan barang-barang lainnya! Aku kasihan padanya - selalu ramah dan baik hati. Dan kini aku tak - tahu apa yang terjadi dengan dirinya!" Wanita itu cepat-cepat menghapus air matanya yang menggenang. "Aku sebenarnya tak boleh menceritakan hal-hal ini pada kalian, karena nanti kalian takut tidur sendiri di sini." "Ah, kami tidak takut, Bu," kata Julian, ia merasa geli, karena disangka takut mendengar desas-desus yang begitu saja. "Tentang Aily, Bu - apakah anak itu tidak kedinginan, berkeliaran dengan pakaian yang begitu tipis?" "Aduh, anak itu bandelnya tidak setengah-setengah," kata ibunya. "Keluyuran seperti anak gelandangan di bukit-bukit sini, sering bolos untuk mendatangi ayahnya yang menggembalakan biri-biri di sebelah atas sana - kalau malam tidak pulang! Bilang pada anak itu dia akan dihukum, apabila tidak mau pulang malam ini. Dia itu persis ayahnya senangnya selalu menyendiri!" Anak-anak mulai merasa tidak enak, menghadapi wanita pengomel itu. Julian berdiri. "Yah - kalau kami nanti berjumpa dengan Aily, kami pasti akan menyuruhnya .pulang," katanya. "Dan Anda kalau kebetulan lewat di tempat Bu Jones, maukah mampir sebentar di sana untuk mengabarkan bahwa kami baik-baik saja di sini? Terima kasih sebelumnya, Bu." Wanita itu mengangguk sambil bergumam, lalu meneruskan perjalanan menuruni bukit. "Macam-macam saja ceritanya tadi," kata Dick, sambil mengikuti wanita itu dengan pandangannya. "Menurut pendapatmu, apakah semuanya cuma desas-desus belaka - atau ada benarnya, Ju?" "Ah - tentu saja desas-desus!" kata Julian. Ia melihat bahwa perasaan Anne menjadi kurang enak. "Keluarga Aily benar-benar aneh! Ayahnya seorang gembala yang hidup di atas bukit. Aily sendiri berkeliaran dengan ditemani seekor anjing serta seekor anak biribiri. Sedang ibunya gemar menyebarkan desas-desus!" "He - hari mulai gelap," kata Dick. "Lebih baik kita pulang saja sekarang ke pondok! Kita nyalakan tungku, supaya ruangan menjadi hangat. Aku agak kedinginan, karena terlalu lama berada di luar. Lampu minyak kita nyalakan juga, supaya suasana menjadi enak!"

Tak lama kemudian mereka sudah berada dalam pondok. Tungku minyak menyebarkan kehangatan, sedang lampu meja menerangi ruangan. "Kita main kartu, yuk?" ajak Dick. "Nanti saja kita makan sore!" Mereka lantas bermain remi. Dengan cepat kartu-kartu Dick direbut saudara-saudaranya. Ia menguap, lalu pergi ke jendela. Ia memandang ke luar, menatap ke dalam gelap. Tibatiba ia kaget. Sikapnya menegang. Tanpa menoleh, dipanggilnya saudara-saudaranya. "He! Ke sini sebentar - cepat! Ada apa di sana itu? Cepatlah sedikit!"

Bab 10 TENGAH MALAM "Ada apa, Dick? Kau melihat apa?" seru George. Begitu terdengar Dick memanggil, dengan cepat George meletakkan kartu-kartunya, lalu menghampiri jendela. Julian sudah lebih dulu sampai di samping Dick. Pikirannya sudah macam-macam saja. Semua memandang ke luar. Anne menatap dengan takut-takut. "Sudah hilang sekarang." kata Dick kecewa. "Tapi apa yang kaulihat tadi?" tanya George. Entah! Tapi aku melihatnya di sana - di lereng seberang, di tempat Menara Tua," kata Dick. "Aku tak bisa melukiskannya - kelihatannya kayak pelangi - ah, tidak - bukan kayak pelangi - tapi kayak - aah, sulit melukiskannya!" "Coba saja," kata Julian. "Nanti dulu - kau tahu kan, bagaimana udara nampak seperti bergetar pada hari yang sangat panas?" kata Dick. Julian mengangguk. "Nah, kayak itulah yang kulihat di bukit seberang tadi! Menjulang tinggi, lalu lenyap!" "Dan warnanya?" tanya Anne. "Rasanya seperti segala macam warna yang kulihat tadi," kata Dick. "Sulit menjelaskannya, karena baru sekali ini aku melihat pemandangan begitu. Tahu-tahu muncul- menjulang tinggi lalu hilang lagi. Cuma itu saja!" "Kan itu seperti yang dikatakan oleh ibu Aily - kabut serta sinar berpendar-pendar," kata Julian, yang teringat lagi pada cerita wanita tadi. "Wah, kalau begitu bukan desas-desus yang disampaikannya pada kita tadi. Tapi apakah sinar yang berpendar-pendar itu?" "Apakah tidak lebih baik jika kita kembali ke bawah, untuk menceritakan kejadian ini?" tanya Anne. Ia berharap Julian setuju, karena di sini ia enggan menginap dalam pondok itu. Tapi harapannya meleset.

"Tidak," kata Julian, "karena mestinya orang-orang di sana juga sudah pernah mendengar mengenainya. Kecuali itu, ini kan malah asyik! Mungkin kita bisa tahu lebih banyak tentang hal itu. Dari sini kita bisa memperhatikan Menara Tua dengan jelas. Jarak dari sini ke sana tidak sampai satu mil!" Mereka kembali menatap ke arah bukit seberang, yang tak kelihatan dalam gelap. Mereka menunggu-nunggu kejadian selanjutnya. Tapi ternyata langit tetap gelap. "Ah, bosan rasanya terus-terusan memandang ke tempat gelap," kata Anne sambil berpaling. "Kita main kartu lagi yuk!" "Baiklah," kata Julian. Dick yang sudah kalah, hanya memperhatikan saudara-saudaranya main. Sekali-kali ia memandang ke arah jendela, menatap kegelapan. Tak lama kemudian Anne kehabisan kartu. Ia berdiri dari kursi, lalu menuju ke lemari. "Kusiapkan saja makanan sekarang," katanya. "Kita makan telur rebus dan minum coklat! Atau ada yang lebih suka minum teh?" "Tidak - coklat!" seru saudara-saudaranya serempak. Anne mengambil kaleng yang berisi bubuk coklat dari dalam lemari. "Aku perlu air untuk membuat coklat," katanya. "Ambil saja salju! Kan banyak di luar," kata Dick. "Eh, nanti dulu! Biar aku saja yang mengambilkan, karena kau tentunya takut ke luar sendiri kan? Nanti jika terdengar aku berteriak, kalian akan tahu ada sesuatu yang terjadi dengan diriku." Setelah itu Dick pergi ke luar, diikuti oleh Timmy. Sedang Anne menunggu dalam pondok, dengan ketel di tangan. Tiba-tiba terdengar Dick berteriak di luar. Anne begitu kaget, sehingga ketel yang dipegangnya terlepas dan jatuh ke lantai, menyebabkan Julian dan George terlompat dari tempat duduk mereka. Julian bergegas lari ke pintu. "Ada apa, Dick?" Dick muncul di ambang pintu, sambil meringis. "Ah, tidak apa-apa," jawabnya. "Maaf deh, jika kalian kaget karenanya. Cuma ketika aku tadi mengeruk salju, tiba-tiba ada yang menubrukku dari belakang!" "Siapa itu?" tanya George tegang. "Dan kenapa Timmy diam saja?"

"Kurasa karena ia tahu bahwa tidak ada bahaya," jawab Dick sambil terus nyengir. "Nih, Anne - saljunya! Tinggal kau didihkan saja." "Dick!" bentak George. "Siapa yang ada di luar?" "Tak banyak yang kulihat tadi, karena senterku kuletakkan ke tanah supaya bisa lebih gampang mengambil salju," kata Dick. "Tapi kurasa yang menubrukku tadi Fany - anak biri-biri itu! Aku kaget sekali, sehingga berteriak! Tapi binatang itu sudah lari lagi." "Wah, kalau begitu mestinya Aily ada di dekat-dekat sini," kata Julian. "Apa maunya dia berkeliaran di luar, pada malam gelap begini?" Ia pergi ke pintu, lalu memanggil-manggil. "Aily! Ke sinilah, ada makanan untukmu!" Tapi tak terdengar suara menjawab dari luar. Tak. ada yang muncul dari tempat yang gelap. Timmy berdiri di samping Julian dengan telinga ditegakkan. Ia menatap ke tempat yang gelap. Tadi Ia kaget, ketika Fany tiba-tiba muncul dan menyenggol Dick sehingga anak itu nyaris tersungkur. Timmy hendak menggonggong. Tapi masak anjing sebesar dia, menggonggongi anak biri-biri? Karena itu Timmy memilih untuk diam saja. Setelah beberapa saat, pintu ditutup kembali oleh Julian. "Bisa sakit anak itu, jika benar dia yang berkeliaran di luar sementara udara begitu dingin seperti sekarang ini," kata Julian. "Apalagi pakaiannya begitu tipis! Sudahlah, Anne kau tidak perlu cemas jika mendengar bunyi di luar, atau melihat muka orang di jendela. Pasti itu Aily lagi!" "Tidak peduli. dia atau bukan, pokoknya aku tidak mau melihat muka seseorang tiba-tiba muncul di jendela," tukas Anne, sambil memasukkan salju ke dalam ketel. "Kurasa anak itu pikirannya kurang beres! Masa, malam-malam begini keluyuran seorang diri di pegunungan bersalju. Tak heran ibunya marah-marah." Tidak lama kemudian mereka berempat sudah menghadapi hidangan yang disajikan di atas meja kecil dalam pondok. Telur rebus, roti segar dengan mentega serta keju, begitu pula selai buatan Bu Jones yang mereka temukan dalam lemari. Sambil makan mereka minum coklat panas, yang diberi kepala susu oleh Anne. "Raja atau ratu pun takkan senikmat aku makan sekarang," kata Dick. "Anne, kurasa susu kutaruh saja di luar - supaya tahan lama." "Baiklah," jawab Anne. "Tapi jangan ditaruh di tempat yang bisa dicapai anak biri-biri tadi - itu jika memang anak biri-biri yang menubrukmu dari belakang!" Disodorkannya tempat susu pada Dick. "Dan jangan berteriak lagi, ya! Mengagetkan orang saja."

Setibanya di luar, Dick memandang berkeliling. Tapi ia tidak melihat apa-apa. Dan juga tidak ada yang kemudian menubruknya lagi. Ia agak menyesal! "Besok saja piring dan cangkir kucuci dengan salju," kata Anne. "Kapan kalian tidur? Aku tahu, sekarang masih agak sore - tapi mataku rasanya seperti mau terpejam terus!" "Baiklah, kita tidur sekarang," kata Julian. "Kalian berdua di sisi sini, sedang aku dan Dick di sebelah sana. Bagaimana, apakah tungku ini kita biarkan menyala atau tidak?" "Biarkan menyala," kata Dick. "Tanpa pemanasan, tempat ini dinginnya kayak peti es!" "Ya, aku juga lebih senang jika dibiarkan menyala," kata Anne. "Setelah kejadiankejadian tadi, rasanya lebih enak apabila tempat ini agak terang!" Anak-anak lantas berbaring di tempat masing-masing. Lumayan juga tidur di situ, walau tidak seenak di tempat tidur yang biasa. Pembaringan mereka berderak-derak. Yang paling berisik pembaringan George. "Kurasa sebabnya karena Timmy ikut tidur di situ," kata Anne mengantuk. "Untung saja pembaringanku di sebelah atas, George. Jadi tidak perlu khawatir tertimpa oleh Timmy, jika ia malam-malam terguling dari tempat tidur." Satu per satu mereka terlelap. Api dalam tungku menyala terus. Julian sudah mengecilkannya, sehingga ruangan dalam pondok hanya remang-remang diterangi olehnya. Tengah malam Timmy terbangun. Mula-mula hanya satu telinganya yang tegak. Kemudian disusul yang satu lagi. Setelah itu ia duduk di tempat tidur. Tapi anak-anak tidak ada yang ikut bangun. Semua tidur nyenyak. Timmy mulai menggeram. Lalu menggonggong dengan keras. Detik berikutnya, anakanak terbangun semua. Timmy menggonggong sekali lagi. "Ssst, jangan ribut," bisik George, sambil memegang Timmy. "Ada apa, Tim? Ada orang di luar, ya?" "Ada apa sih?" tanya Julian dari pembaringannya di seberang ruangan. Tapi tak ada yang mendengar atau melihat sesuatu yang luar biasa. Kalau begitu, apa sebabnya Timmy tibatiba menggonggong. Api dalam tungku minyak masih menyala, menimbulkan lingkaran terang yang bergerakgerak di langit-langit kamar. Bunyi minyak terbakar menggeleguk pelan. Kecuali itu tak ada bunyi lain yang terdengar. "Rupanya di luar ada orang," kata Dick kemudian. "Bagaimana jika Timmy kita lepaskan, agar ia bisa memeriksa sebentar."

"Sebaiknya kita tunggu dulu, untuk melihat apakah dia menggonggong lagi," kata Julian. "Sebab mungkin saja tadi ada tikus lari di lantai. Timmy selalu menggonggong kalau ada yang lewat tak peduli tikus atau gajah!" "Ya, betul juga katamu," kata George. "Baiklah, kita tidur saja lagi. Nah, Timmy juga sudah berbaring kembali. Tim, kalau yang kaulihat tadi cuma seekor tikus, pakai otak sedikit dong! Biarkan saja binatang itu bermain-main. Kau tak perlu membangunkan kami." Beberapa saat kemudian semuanya sudah pulas kembali - kecuali Anne! Anak itu berbaring dengan mata terbuka lebar. Ia berpikir-pikir, apakah sebetulnya yang menyebabkan Timmy menggonggong tadi. Menurut perasaannya, tak mungkin tikus! Karena Anne belum bisa tidur, dia pulalah yang paling dulu mendengar bunyi itu. Mulamula dikiranya ia cuma salah dengar saja. Tapi kemudian disadarinya bahwa yang terdengar itu memang benar-benar ada! "Aneh, kedengarannya seperti geraman," katanya dalam hati, lalu duduk. Terdengar Timmy mendengking pelan, seperti hendak mengatakan bahwa ia juga mendengar bunyi itu. "Kayaknya seperti datang dari bawah," pikir Anne. Sementara itu bunyi tadi semakin bertambah keras. Timmy menggeram-geram. "Jangan ribut, Tim," bisik Anne. "Pasti itu cuma bunyi guruh di kejauhan!" Tapi tiba-tiba bumi bergetar! Datangnya dengan tiba-tiba saja, sehingga Anne bingung. Mula-mulanya dikira ia sendiri yang menggigil kedinginan. Tapi ternyata bukan! Pembaringannya terasa bergetar, ketika Anne menyentuh pinggirnya. Saat itu barulah ia benar-benar merasa takut. Ia berseru kuat-kuat. "Julian! Dick! Bangun - ada kejadian aneh! He, bangun!" Sedang Timmy mulai menggonggong.

Bab 11 KEJADIAN ANEH Anak-anak langsung terbangun, ketika Anne berteriak-teriak. Julian langsung meloncat dari pembaringannya. Ia lupa bahwa saat itu ia menempati tempat tidur teratas. Ia terbanting dengan keras ke lantai.

"Aduh, Ju! Kau lupa ya, bahwa kau tidur di pembaringan paling atas!" kata George dengan geli bercampur takut. "Kau tidak apa-apa? Ada apa sih, Anne - kenapa kau tibatiba berteriak? Kau melihat sesuatu?" "Bukan melihat - tapi mendengar dan merasakan sesuatu!" jawab Anne. Ia merasa lega, karena saudara-saudaranya sudah bangun. "Bukan aku saja, Timmy juga mengalaminya! Tapi sekarang sudah lenyap lagi." "Ya - tapi apa yang kaudengar dan rasakan itu?" tanya Julian. Ia duduk di tepi pembaringan Dick, sambil mengusap-usap lututnya yang sakit. "Anu...... seperti getaran yang dalam sekali," kata Anne. "Rasanya seperti jauh sekali di dalam tanah. Jadi bukan seperti guruh di langit, melainkan kayak gempa. Bunyi itu diiringi semacam getaran! Kebetulan aku menyentuh tepi pembaringanku. Terasa bergetar-getar! Aku tidak tahu, apa yang sebetulnya terjadi tadi. Pokoknya aku ketakutan!" "Mungkin tadi memang ada gempa," kata Dick. Dalam hati ia agak sangsi. Mungkin semuanya cuma ada dalam impian Anne belaka. "Pokoknya masuk akal mengenainya. Mungkin di sekitar sini ada pertambangan, di mana orang bekerja siang malam!" "Besok saja kita selidiki," kata Dick. Anak-anak lantas kembali ke tempat tidur masingmasing. Mereka kedinginan. Karena itu Julian membesarkan nyala api dalam tungku, supaya kamar bertambah hangat. Keesokan paginya mereka bangun agak terlambat. Semuanya masih merasa agak capek karena kemarin sibuk terus sampai sore, ditambah lagi dengan kejadian pada malam harinya. Julian bergegas turun dari pembaringannya, ketika melihat bahwa saat itu sudah pukul sembilan kurang sepuluh menit. Anak-anak dibangunkan olehnya, lalu ia keluar untuk mengambil salju. Ia hendak memasak air. Tak lama kemudian sarapan sudah siap. Seperti biasa, Anne yang menyiapkannya. Telur rebus dengan daging asap, roti, mentega dengan keju dan lagi-lagi mereka memilih coklat panas sebagai minuman. Anak-anak sarapan sambil mengobrol. Tentu saja yang .dibicarakan kejadian malam sebelumnya. Rasanya kejadian itu tidak begitu aneh dan seram lagi, karena dibicarakan dalam suasana yang begitu cerah. Matahari bersinar terang, terpantul pada salju yang putih. Ketika mereka sedang asyik-asyiknya sarapan sambil mengobrol, tiba-tiba Timmy menggonggong, lalu lari ke pintu.

"Ada apa lagi sekarang?" kata Dick. Detik berikutnya, muncul muka seseorang dari balik jendela. Wajah orang itu menarik perhatian anak-anak. Kelihatannya tua, karena penuh kerut. Tapi toh memberikan kesan muda! Matanya biru, secerah langit tak berawan. Yang muncul itu muka seorang laki-laki, berkumis dan berjanggut lebat. "Wah - tampangnya kayak rasul dalam Kitab Injil," kata Anne kaget. "Siapakah dia?" "Kurasa dialah Pak Gembala," jawab Julian, sambil berjalan ke pintu. "Kita undang dia minum coklat. Barangkali saja dia bisa menjawab beberapa pertanyaan kita!" Julian membuka pintu. "Anda Pak Gembala?" tanyanya. "Silakan masuk, Pak! Kebetulan kami sedang sarapan. Minum coklat panas ya?" Pak Gembala masuk ke dalam pondok. Ia tersenyum, menyebabkan wajahnya semakin banyak kerutnya. Dalam hati Julian timbul keragu-raguan, apakah orang itu bisa berbahasa Inggris, atau hanya bahasa Wales saja. Orang itu bertubuh jangkung. Sikapnya tegak. Jelas bahwa ia lebih muda daripada kesan yang nampak saat itu. "Kalian baik hati," katanya. Melihat orang itu berdiri di pintu sambil bertopang pada tongkat gembalanya, dalam hati Anne terlintas pikiran bahwa orang-orang seperti lakilaki itu sudah ada sejak sekian ribu tahun. Sejak ada biri-biri, yang perlu digembala. Gembala itu berbicara pelan-pelan, rupanya karena tidak biasa berbahasa Inggris. "Kalian hendak mengirim berita ke pertanian?" katanya. Nada bicaranya enak didengar, seperti bernyanyi. Memang begitulah logat orang Wales. "O ya -tolong sampaikan ya, Pak," kata Julian, sambil menyuguhkan roti berlapis mentega dengan keju padanya. "Katakan, kami baik-baik saja di sini." "Kalian baik-baik saja," ulang gembala itu. Ia menolak roti yang ditawarkan Julian padanya. "Tidak, aku tidak ingin makan. Tapi kalau minum, bolehlah! Pagi ini sangat dingin. Terima kasih!" "Pak, Anda tadi malam mendengar bunyi geraman atau tidak?" tanya Julian. "Dan juga merasakan getaran, serta melihat kabut berwarna terang di bukit sebelah sana?" Pak Gembala menghirup coklat panasnya, sambil memandang ke bukit seberang.

"Bukit itu memang aneh," katanya pelan-pelan. "Kata kakekku, di sana ada seekor anjing besar yang tinggalnya di perut bukit. Binatang itu selalu menggeram-geram, minta makan. Sedang menurut nenekku, bukit itu tempat tinggal para penyihir yang sibuk dengan ilmu mereka - dan biasanya ada asap mengepul." "Asap? Asap apa?" tanya George. "Kurasa, maksudnya kabut," kata Julian. "Sudahlah, jangan memotong lagi. Biarkan Pak Gembala bercerita." "Asap itu mengepul ke udara," sambung orang itu. Keningnya berkerut, menunjukkan bahwa ia harus bersusah-payah berbicara, karena tidak biasa memakai bahasa Inggris dalam pergaulannya sehari-hari. "Sampai sekarang, asap itu masih sering mengepul ke atas! Anjing masih tetap menggeram, para penyihir masih selalu sibuk - dan asap selalu mengepul!" "Kemarin malam kami mendengar geraman anjing itu, serta melihat asap mengepul dari panci ramuan penyihir," kata Anne. Anak itu terpukau mendengar suara gembala. Orang itu memandangnya, lalu tersenyum. Ya, katanya, "betul! Tapi anjing itu sekarang bertambah galak, sedang penyihir bertambah jahat.... " "Jahat?" sela Julian. "Jahat bagaimana, Pak?" Gembala itu menggelengkan kepala. "Aku ini bukan orang pintar," katanya. "Tidak banyak yang kuketahui - di samping biribiriku, angin dan langit - tapi aku tahu bukit yang di sana itu jahat. Ya, betul - Jahat! Kalian jangan berani-berani pergi ke tempat itu! Tanah di sana tidak bisa dibajak, tidak bisa dicangkul. Tidak bisa dipakai apa-apa!" Anak-anak mendengarnya dengan kagum. Orang yang sedang berbicara itu gembala biasa - tapi kata-katanya membuat mereka terkesan. "Orang ini kerjanya selalu menggembalakan biri-biri," pikir Julian sambil menatap gembala yang sedang bercerita. "Selalu sendiri, sibuk dengan renungannya. Jadi tidak mengherankan, jika ceritanya aneh-aneh. Tapi - apakah maksudnya bahwa bukit seberang itu tidak bisa dibajak? Pak Gembala meletakkan cangkirnya ke meja. "Aku pergi sekarang," katanya, "nanti kusampaikan pesan kalian pada Bu Jones. Terima kasih atas kebaikan hati kalian tadi. Selamat tinggal!" Orang itu melangkah ke luar, dengan sikap berwibawa. Anak-anak melihatnya melintas di sebelah luar jendela. Janggutnya yang panjang berkibar ditiup angin.

"Wah, bukan main!" kata Dick sambil menarik napas. "Aku tadi rasanya seperti mendengar. pendeta berkhotbah. Aku senang pada orang itu! Tapi apa maksudnya dengan tanah yang tidak bisa dibajak dan dicangkul? itu kan omong kosong! "Belum tentu," kata Julian. "Kau masih ingat kan, mobil yang kita tumpangi seperti merayap sewaktu menuruni bukit itu? Dan cerita ibu Aily - Istri gembala tadi - tentang pengantar surat yang terpaksa meninggalkan sepedanya di kaki bukit! Jadi mungkin saja, pada jaman dulu bajak yang dipakai tidak bisa maju dengan lancar. Dan begitu pula cangkul, tidak bisa dipakai sebagaimana mestinya." "Tapi apa sebabnya?" tanya. Anne bingung. Masakan kau percaya pada cerita-cerita macam begitu? Aku tahu, mobil kita geraknya seperti merayap sewaktu turun dari sana tapi sebabnya mungkin karena waktu itu ada sesuatu yang tidak beres dengan mesinnya." "Rupanya Anne tidak mau percaya pada bajak yang tidak mau membajak, serta cangkul yang tidak bisa dicangkulkan," kata Dick menggoda. "Sudahlah - kita lupakan saja kejadian tadi malam! Sekarang kita main ski. Badanku masih terasa pegal setelah kemarin - tapi tak ada salahnya sekarang kita main ski!" Timmy sama sekali tidak suka pada olahraga ski. Sepatu ski tidak mungkin bisa dipasang ke kakinya. Karena itu ia tidak bisa mengikuti kecepatan gerak anak-anak, sewaktu mereka meluncur dengan laju menuruni lereng! Mula-mula ia masih berusaha mengejar. Tapi setelah ia terbenam dalam onggokan salju, anjing itu lantas menyadari bahwa olahraga semacam itu tidak cocok untuknya. Ia berdiri lagi, mengibaskan salju yang menempel pada tubuh, sambil memperhatikan anak-anak yang asyik meluncur itu dengan perasaan sedih. Julian serta saudara-saudaranya sudah biasa, bermain ski. Lereng bukit yang diluncuri panjang sekali, dan menyambung dengan lereng bukit di sebelahnya. Di bukit itulah terletak Menara Tua. Julian meluncur dengan lancar ke bawah. Kelajuan geraknya mendorong dirinya naik sedikit ke bukit sebelah. Dari situ ia berseru pada saudara-saudaranya. "He! Yuk, kita naik ke puncak bukit ini! Dari sana kita meluncur ke bawah, terus naik lagi ke lereng bukit kita. Dengan begitu kita bisa menghemat waktu !" Hanya Anne saja yang kurang begitu setuju terhadap usul itu. Tapi ia diam saja. Dick memandang adiknya itu. "Anne takut naik ke bukit Menara Tua!" katanya mencemoohkan. "Rupanya kau takut pada anjing besar yang diam dalam bukit dan suka menggeram-geram pada malam hari! Atau yang kau takut itu para penyihir di atas bukit, yang suka mengepul-ngepulkan asap?"

"Jangan konyol!" tukas Anne. Ia jengkel pada Dick, karena ternyata bisa menebak perasaannya. Anne tidak percaya pada dongeng tentang anjing besar serta penyihir - tapi entah kenapa, hatinya tidak enak kalau disuruh menginjakkan kaki ke bukit itu! "Tentu saja aku ikut!" Ia pun lantas ikut dengan saudara-saudaranya, mendaki bukit aneh itu. "Lihatlah - sekarang kita bisa melihat Menara Tua dengan jelas," kata George pada Julian. Memang benar! Tidak jauh dari tempat mereka nampak gedung besar itu, lengkap dengan menaranya. Bangunan itu terletak di sisi lereng yang curam. Anak-anak berdiri untuk memperhatikan. "Dari sini kita bisa memandang ke dalam beberapa kamarnya," kata Julian. "Aku ingin tahu, apakah wanita tua penghuni rumah itu - Bu Thomas - masih tinggal di sana!" "Kalau masih, kasihan," kata George. "Bayangkan, tidak pernah berjumpa dengan siapasiapa tak ada lagi kawan yang berkunjung. Aku kepingin ke sana - pura-pura tersesat, supaya ada kesempatan untuk melihat-lihat tempat itu. Tapi sayangnya, di situ ada anjing galak!" "Ya - dan aku tidak ingin mencari-cari keributan," kata Julian. "Nah - sekarang kita sudah hampir sampai di puncak bukit ini. Kita tunggu dulu sampai Dick dan Anne sudah tiba di sini - dan setelah itu kita berlomba meluncur sampai ke lereng bukit seberang! Asyik sekali lereng ini!"

Bab 12 DI ATAS BUKIT "Julian! Lihatlah - itu kan ada seseorang berdiri di balik salah satu jendela menara! itu yang sebelah kanan!" kata George sementara mereka sedang menunggu. Julian memandang ke arah menara. Ia masih sempat melihat orang itu sekilas, sebelum menghilang. "Ya, betul!" katanya. "Kurasa orang tadi memperhatikan kita. Kurasa jarang ada orang datang ke sini, sehingga aneh juga ketika melihat kita ada di tempat ini! Kau tadi masih sempat melihat, apakah orang itu laki-laki atau wanita?" "Kurasa wanita," kata George. "Mungkinkah Bu Thomas? Aduh, Ju - jangan-jangan dia terkurung dalam menara itu, sementara anaknya yang jahat bersama kawan-kawannya menjuali barang-barangnya ! Kan ada yang mengatakan, kadang-kadang ada mobil pengangkut datang ke situ tengah malam?!"

"He, kami sudah sampai!" seru Dick, yang mendaki bersama Anne. "Wah, berat juga mendaki bukit ini! Tapi tak apa, karena bisa asyik 'nanti - meluncur ke bawah. Sekarang aku ingin istirahat sebentar!" "Dick, kami berdua tadi merasa seperti melihat seseorang berdiri di balik jendela menara di sebelah sana itu .- itu, jendela yang sebelah kanan," kata Julian. "Nanti jika kita sudah kembali di pondok, akan kita teropong jendela itu. Mungkin saja akan nampak sesuatu di sana!" Dick dan Anne menatap ke arah jendela itu. Sementara mereka sedang memandang, tahutahu ada yang menarik tirai sehingga jendela tertutup! "Nah - kita ketahuan! Rupanya orang itu tidak suka diperhatikan!" kata Julian. "Pantas tersiar cerita yang macam-macam mengenai itu! Yuk - sekarang kita berlomba ke bawah." Keempat anak itu berangkat serempak, tapi masing-masing mengambil jalan yang berlain-lainan. Terasa angin mendesing, karena begitu laju mereka meluncur. Julian dan Anne lancar sekali meluncur ke bawah, sehingga bisa naik lagi ke lereng bukit sebelah sampai setengah jalan. Tapi George dan Dick tidak begitu mujur! Sepatu ski mereka tersangkut pada sesuatu, sehingga keduanya terpental ke atas lalu jatuh terjerembab di atas salju yang empuk. Mereka terkapar sesaat dengan napas tertahan, agak kaget karena kejadian tiba-tiba itu. "Wah!" kata Dick setelah beberapa saat. "Kaget sekali aku tadi! Kaukah itu, George? Semuanya beres?" "Kurasa ya," jawab George, "cuma pergelangan kakiku yang sebelah terasa agak aneh ah, tidak! Semua beres! Eh, Timmy datang ke mari. Rupanya ia melihat kita terpelanting tadi, lalu buru-buru datang untuk menolong. Kami tidak apa-apa, Tim! Ini juga termasuk keasyikan main ski!" Sementara mereka masih terkapar sesaat sambil mengatur napas, tiba-tiba terdengar seseorang berseru dari kejauhan. "He! Ayo pergi dari lereng ini!" Dick buru-buru duduk. Dilihatnya seorang laki-laki bertubuh jangkung berjalan mengarungi salju menuruni ke tempat mereka. Datangnya dari arah Menara Tua. Ia kelihatannya marah. "Kami cuma main ski di sini!" balas Dick berteriak. "Sama sekali tidak bermaksud jahat. Anda siapa?"

"Aku pengawas di sini," kata laki-laki itu, sambil menganggukkan kepala ke arah Menara Tua. "Dan tanah ini termasuk pekarangan rumah itu. Jadi kalian harus pergi!" "Kalau begitu kami akan minta izin pada pemiliknya," kata Dick. Ia berdiri, dengan maksud supaya bisa lebih jelas melihat gedung itu. "Tidak bisa! Di sini cuma ada aku!" bentak laki-laki itu. "Kan sudah kukatakan, akulah yang menjadi pengawas di sini. Kalau kalian tidak mau pergi, nanti kusuruh anjingku menyerang kalian!" Setelah itu ia kembali ke atas. "Aneh," kata Dick pada George, "Katanya, ia satu-satunya yang ada di sini - padahal belum lama berselang kita masih melihat ada orang di balik jendela menara! Pengawas itu takkan mungkin bisa begitu cepat datang dari sana kemari - jadi terbukti dia bukan sendiri di tempat itu! Di menara masih ada orang lagi! Aneh, ya?" Selama itu George memegang kalung leher Timmy kuat-kuat. Soalnya, Timmy Jangsung menggeram, begitu mendengar laki-laki tadi marah-marah. Dan George khawatir, janganjanga Timmy menerjang. Lalu jika anjing yang galak itu muncul, pasti akan terjadi perkelahian sengit. Itulah yang ditakutkan oleh George, karena pasti Timmy akan digigit lagi! Dick dan George memeriksa ikatan sepatu ski masing-masing, apakah masih teguh. Kemudian mereka meneruskan peluncuran ke bawah. Sementara itu Julian dan Anne sudah menunggu di puncak bukit seberang. "Siapa orang tadi? Kenapa dia berteriak-teriak begitu?" tanya Julian. "Dia datangnya dari Menara Tua?" "Ya, jawab Dick, "orangnya pemarah! Kami disuruhnya pergi dari lereng itu. Katanya ia pengawas Menara Tua, dan lereng itu termasuk daerahnya. Ketika kukatakan aku hendak minta izin pada pemilik, ia lantas mengatakan bahwa yang ada di situ cuma dia seorang diri! Padahal kita tahu, apa yang dikatakannya itu tidak benar." "Ya, betul," kata Julian dengan bingung. "Kenapa ada orang yang tidak senang kalau kita main ski di sana? Apakah mungkin karena takut kita akan melihat sesuatu di rumah itu? Untuk apa ia berbohong, mengatakan di sana tidak orang lain kecuali dia? Bagaimana kesanmu - apakah dia itu memang pengawas?" "Yah - yang jelas logatnya tidak seperti orang Wales!" kata George. "Sedang menurut perasaanku, pemilik Menara Tua mestinya kan memilih seseorang dari desa yang rasanya bisa dipercayai - jadi orang Wales! Ya, kan? Aneh!" "Dan kalau ditambah dengan segala kejadian malam kemarin jadinya bukan saja aneh tapi bahkan mencurigakan," kata Dick. "Perlu diselidiki!" "Jangan, kata Anne. "Nanti liburan kita terganggu. Kan waktu kita tak terlalu banyak."

"Kecuali itu aku juga tidak tahu, bagaimana kita akan melakukan penyelidikan," kata George. "Aku tidak mau datang ke Menara Tua, selama di sana masih ada anjing galak. Sedang jalan lain untuk mengadakan penyelidikan, tidak ada. itu pun, kalau ada hasilnya! Kurasa tidak ada." "He! Tahukah kalian, sekarang sudah hampir pukul satu?" kata Anne, mengalihkan pembicaraan. "Belum ada yang merasa lapar?" "Wah - bukan lapar lagi," jawab Julian. "Tapi karena kusangka baru pukul. setengah dua belas, aku diam saja. Kalau begitu kita kembali saja dulu ke pondok, untuk makan." Sesampai di depan pondok, anak-anak melihat dua botol susu terletak di salju. Di sampingnya ada bungkusan besar. Timmy langsung menghampiri barang itu. Kemudian ia menggonggong, sambil mengibas-ngibaskan ekor. "Kata Timmy, isinya daging - jadi jelas untuk dia," kata George sambil tertawa. Julian membuka bungkusan itu. Setelah melihat isinya, ia pun ikut tertawa. "Benar! Isinya daging panggang," katanya. Siang itu anak-anak makan dengan lahap. Timmy mendapat bagian pula. Ia jengkel, ketika daging disimpan setelah mereka selesai makan. Menurut pendapatnya, tulang yang menempel pada daging itu bagiannya. "Jangan, Tim!" kata George, ketika Timmy meletakkan kaki depannya ke pangkuan anak itu dengan sikap meminta. "Daging ini kita simpan untuk besok. Dan kalau dagingnya sudah habis, barulah tulangnya untukmu." "Kelihatannya akan turun salju lagi," kata Julian sambil memandang ke luar. "Eh - siapa ya, yang membawa susu dan daging itu kemari?" "Kurasa gembala, dalam perjalanan kembali ke atas," kata Dick. "Dia memang baik hati! Tapi anaknya ke mana, ya? Aily, maksudku! Aku khawatir jika ia terjebak dalam hujan salju, sehingga terpaksa menginap di luar." "Kurasa anak itu mampu mengurus dirinya sendiri," kata Julian. "Aku sebenarnya kepingin ketemu lagi dengan dia. Tapi selama ia tidak merasa lapar, kecil kemungkinan ia muncul di sini!" "itu dia anaknya!" seru Anne tiba-tiba. Dan benarnya - Aily memandang ke dalam lewat jendela. Ia menjunjung anak biri-birinya, supaya bisa ikut melihat. "Kita ajak saja dia makan - lalu kita tanyakan apakah dia tahu siapa yang tinggal di Menara Tua," kata George. "Mungkin pula ia pernah melihat seseorang di jendela kanan menara!"

"Baiklah, kusuruh dia masuk," kata Julian sambil menuju ke pintu. "Bisa saja ia tahu karena kan biasa berkeliaran di daerah sini!" Dugaan Julian ternyata tepat. Aily memang mengetahui sesuatu - sesuatu yang sangat menarik perhatian!

Bab 13 KETERANGAN AILY Kini Aiy sudah tidak malu-malu lagi. Ia tidak lari, ketika pintu sudah dibuka oleh Julian. Anak perempuan itu masih tetap berpakaian seperti waktu mereka berjumpa untuk pertama kalinya. Tapi la tidak kelihatan kedinginan! Wajahnya berseri-seri. "Halo, Aily!" kata Julian. "Ayo masuk! Kebetulan kami sedang makan!" Anjing anak itu langsung masuk. Rupanya ia mencium bau makanan di situ. Timmy kaget ketika anjing kecil itu tahu-tahu sudah masuk. Ia menggeram. "Jangan marah, Tim - dia kan tamumu," kata George. "Kau harus tahu sopan-santun!" Anjing kecil itu mengibas-ngibaskan ekornya "Nah, Dave hendak mengatakan bahwa kau tidak perlu takut padanya!" kata Anne. Semua tertawa mendengar kelakarnya itu. Timmy lantas mengibas-ngibaskan ekornya pula, tanda bahwa ia mau berteman dengan Dave, anjing kecil itu. Kemudian Aily masuk, sambil menggendong anak biri-biri kesayangannya. Ia agak khawatir, kalau Timmy menyerang. Tapi ternyata Timmy suka padanya. Begitu anak biribiri itu dilepaskan ke lantai supaya bisa berkeliaran dengan bebas, Timmy langsung membuntuti sambil mengibas-ngibaskan ekor. Anne menawarkan daging pada Aily. Tapi anak perempuan itu tidak mau daging. Ia menuding keju. "itu yang kusukai," katanya. Ia senang sekali, ketika Anne memotongkan keju sebongkah besar untuknya. Aily duduk di lantai sambil makan. "Di mana kau tidur tadi malam, Aily?" tanya George. "Ibumu mencarimu." Aily kelihatannya tidak begitu mengerti, karena George terlalu cepat. Karena itu diulanginya sekali lagi. "Dalam lumbung, di pertanian Bu Jones," jawab Aily.

"Aily - siapakah yang tinggal di Menara Tua?" tanya Julian pula. Ia berbicara lambatlambat. "Banyak orang," kata perempuan itu sambil menuding keju. Ia minta lagi. "Orang besar, orang kecil. Dan anjing besar. Lebih besar dari dia!" katanya, sambil menuding Timmy. Anak-anak berpandang-pandangan dengan heran. Ternyata banyak yang tinggal di Menara Tua. Apakah kerja mereka di situ? "Padahal menurut pengawas, cuma dia sendiri yang ada di situ," kata George. "Sekarang dengar baik-baik, Aily! Masih adakah seorang wanita tua di sana?" tanya Julian. "Mengerti? Wanita tua!" Aily mengangguk, tanda mengerti. "Ya - ada wanita tua! Aku melihatnya dalam menara. Kadang-kadang dia tidak melihat Aily. Aily sembunyi." "Kau bersembunyi di mana?" tanya Dick heran. "Aily tidak mau bilang," jawab anak kecil itu. Dipandangnya Dick dari balik pelupuk matanya yang setengah terpejam. Seolah-olah hendak menyembunyikan sesuatu. "Kau melihat wanita tua itu, sewaktu kau berada di luar?" tanya Julian. Aily memikirmikir sebentar, lalu menggeleng. "Kalau begitu di mana?" tanya Julian mendesak lebih lanjut. Ia mengambil sepotong coklat dari kantongnya. "Nih, ada coklat! Kuberikan padamu, kalau kau mau mengatakannya." Coklat itu dipegang Julian sedemikian rupa, sehingga tidak terjangkau oleh Aily. Anak itu memandang dengan mata bersinar-sinar. Rupanya ia tidak sering, memperolehnya. Tahu-tahu tangannya menyambar, hendak mengambil makanan itu. Tapi Julian lebih cepat. "Tidak! Kau jawab dulu pertanyaanku, setelah itu baru coklat ini kuberikan padamu," katanya. Tiba-tiba Aily memukul Julian, yang mengelak sambil tertawa, lalu memegang kedua tangan anak itu. "Jangan memukul, Aily! Aku kan kawan. Kawan tidak boleh dipukul," kata Julian.

"Ah - aku tahu di mana kau berada, sewaktu melihat wanita tua itu," kata Dick dengan tiba-tiba. "Saat itu kau ada di pekarangan, Aily! Dalam kebun!" "Dari mana kau tahu?" seru Aily. Ia meronta, membebaskan diri dari pegangan Julian, lalu berdiri menatap Dick. Nampaknya marah, tapi sekaligus juga ketakutan. "He, he - jangan marah," kata Dick kaget. "Dari mana kau tahu?" tanya Aily sekali lagi. "Kau tidak bilang siapa-siapa?" "Tentu saja aku tidak bilang siapa-siapa" kata Dick.. Ia tidak berbohong, karena memang baru saat itu pikiran itu datang. "Ha - jadi rupanya saat itu kau ada dalam pekarangan Menara Tua, ya? Bagaimana caramu masuk?" "Aily tidak mau bilang," kata anak perempuan itu. Tiba-tiba ia menangis. Anne hendak membujuknya, tapi ditolakkan dengan kasar. "Yang masuk Dave - bukan Aily. Kasihan si Dave anjing besar menggonggong - guk, guk - begitu, lalu ... lalu ..... "Lalu kau masuk, untuk mengambil Dave. Ya, kan?" kata Dick. "Aily anak baik, Aily anak berani." Aily mengusap air matanya. Ia mengangguk, ambil tersenyum memandang Dick. "Aily baik," katanya, lalu memangku anjing kecilnya. "Kasihan si Dave!" "Jadi rupanya ia masuk ke pekarangan Menara Tua," bisik Julian pada Dick. "Tapi bagaimana caranya? Mungkin dengan jalan menerobos pagar tanaman." Kemudian Julian berpaling pada Aily. "Aily - kami ingin melihat wanita tua itu. Bisakah kami masuk dengan jalan menerobos pagar?" "Tidak bisa!" kata Aily sambil menggeleng-geleng. "Sekelilingnya ada pagar kawat. Pagar tinggi. Bisa menggigit!" Anak-anak tertawa mendengar kalimat Aily yang terakhir. Bayangkan - ada pagar yang bisa menggigit. Tapi kemudian George merasa tahu apa yang dimaksudkan oleh anak itu. "Pagar yang dialiri" arus listrik," katanya. "Wah, kalau begitu Menara Tua lebih mirip benteng, daripada tempat tinggal biasa. Gerbang yang tertutup rapat, dijaga anjing galak, sedang pagar pun dialiri arus listrik!" "Tapi jika begitu, bagaimana caranya sampai Aily bisa masuk?" tanya Dick. "He, Aily! Sudah seringkah kau melihat wanita tua itu? Dan apakah ia melihatmu juga?"

"Aily sering melihat dia - jauh di atas menara. Dan dia pernah melihat Aily. Ia melemparkan kertas-kertas dari jendela." "Dan kau memungutnya?" tanya Julian. Ia semakin tertarik. "Ada tulisannya atau tidak kertas-kertas itu?" Semua menunggu jawaban Aily dengan tegang. Dan anak itu mengangguk. "Ya - seperti di sekolah. Dengan tinta!" "Kau membaca apa yang ditulisnya?" tanya Dick. Tampang Aily tiba-tiba seperti orang bingung. Mula-mula ia'menggeleng. Tapi kemudian mengangguk. "Ya, Aily membacanya," katanya. "Di situ tertulis, 'Selamat pagi, Aily. Apa kabar, Aily." "Jadi wanita itu rupanya kenal padamu, ya?" kata Dick. "Tidak, dia tidak kenal dengan Aily - kenalnya dengan ibu Aily," jawab anak kecil itu. "Ia menulis pada kertas-kertasnya. 'Aily, kau anak baik. Anak baik sekali." "Dia bohong," kata Dick pelan-pelan. Ia melihat bahwa anak kecil itu berbicara tanpa berani menatap mereka. "Tapi kenapa?" "Kurasa aku tahu sebabnya," kata Anne. Diambilnya secarik kertas, lalu ditulisnya di situ dengan huruf-huruf besar, "Selamat pagi, Aily". Kertas itu kemudian disodorkan pada Aily. "Coba baca ini," kata Anne. Aily cuma melongo saja. Ia sama sekali tidak tahu, apa yang ditulis di kertas itu. "Dia sama sekali belum bisa membaca," kata Anne kemudian. "Ia malu, dan karenanya pura-pura bisa. Tapi tak apa, Aily! Begini - masih adakah kertas yang dijatuhkan wanita tua itu padamu sekarang?" Aily merogoh kantong selama beberapa saat. Kemudian dikeluarkannya secarik kertas. Kertas itu nampaknya seperti halaman buku yang disobek. Aily menyodorkannya pada Dick. Bersama ketiga saudaranya, Dick lantas membaca tulisan yang tertera di situ. Tulisannya kecil-kecil, nyaris tak terbaca. "Aku minta tolong! Aku ditawan dalam rumahku sendiri. Di sini terjadi berbagai peristiwa seram. Anakku mati, dibunuh mereka. Tolong! Bronwen Thomas. "

"Astaga!" kata Julian kaget. "Ini benar-benar Gawat! Bagaimana - perlukah kita melapor pada polisi?" "Kurasa di daerah ini hanya seorang petugas polisi untuk tiga sampai empat desa sekaligus," kata Dick. "Kecuali itu - mungkin saja wanita tua itu tidak waras lagi pikirannya. Jadi mungkin saja ia cuma mengada-ada." "Kalau begitu, bagaimana kita bisa mengetahui apakah hal ini benar atau tidak?" kata George. Dick memandang Aily. "Aily! Kami ingin mendatangi wanita tua itu. Kasihan, ia seorang diri di sana. Kami ingin mengantarkan makanan untuk dia. Maukah kau menunjukkan jalan masuk ke pekarangan?" "Tidak mau," kata Aily. Ia menggeleng-geleng, untuk menegaskan sikapnya. "Di sana ada anjing besar. Anjing dengan gigi - kayak begini! Sambil berkata begitu Aily menyeringai sambil menyergah, sehingga Timmy terbelalak memandangnya. Anak-anak tertawa melihat kelakuan anak kecil itu. "Yah - apa boleh buat, kalau ia tidak mau," kata Julian kecewa. "Lagipula kalau kita berhasil masuk, di dalam masih ada anjing galak itu. Aku tidak kepingin bertemu dengan dia!" "Aily menunjukkan jalan masuk ke rumah," kata anak itu dengan tiba-tiba. Semua melongo memandangnya. "Masuk ke dalam rumah?" kata Dick. "Tapi - tapi - kalau masuk ke rumah, sebelumnya kita harus melewati pekarangan dulu, Aily!" "Tidak," jawab Aily sambil menggeleng. "Aily nanti menunjukkan jalan masuk ke rumah. Betul - Aily tunjukkan. Di situ tidak ada anjing besar!" Tiba-tiba Timmy menggonggong. Ada orang lewat di depan pintu. Orang itu memandang sekilas ke dalam. Ternyata dia ibu Aily, yang sedang dalam perjalanan ke atas bukit untuk mengantarkan sesuatu bagi, suaminya. Begitu melihat Aily duduk di lantai, wanita itu berseru dengan marah. Ia berdiri di ambang pintu, sambil menyemburkan kata-kata dalam bahasa Wales. Anak-anak tak menangkap maksudnya. Tapi Aily ketakutan, lalu lari hendak bersembunyi dalam lemari. Dave dan Fany, anak biri-birinya ikut lari.

Tapi percuma! Ibunya masuk dengan cepat, lalu menyeret Aily ke luar sambil menggoncang-goncangnya. Timmy menggeram-geram, sedang Dave gemetar ketakutan. Anak biri-biri mengembik dalam gendongan Aily. "Aily ikut pulang dengan aku!" kata ibunya, sambil melotot ke arah Julian serta ketiga saudaranya. Seakan-akan mempersalahkan mereka sebagai penyebab Aily tidak mau pulang. "Di rumah nanti kupukul!" Wanita itu keluar sambil menggenggam lengan Aily yang meronta-ronta. Julian dan saudara-saudaranya tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana pun wanita itu ibu Aily! Dan anak itu memang bandel - kerjanya keluyuran terus. "Kurasa sebaiknya kita turun ke pertanian, lalu menceritakan segala-galanya pada Morgan," kata Julian beberapa saat kemudian. "Jika kejadian ini memang serius maksudku jika wanita tua itu benar-benar ditawan di sana - kurasa kita sendiri tidak bisa berbuat banyak mengenainya. Tapi mungkin saja Morgan bisa membantu! Paling sedikit dia bisa melaporkan pada polisi. Yuk - sekarang saja kita berangkat! Nanti kalau kemalaman, kita menginap saja di sana. Ayo, cepat!"

Bab 14 SIKAP TAK TERDUGA George sebenarnya enggan ikut ke bawah. Ia khawatir kalau-kalau Timmy nanti bertemu lagi dengan anjing-anjing sana, lalu diserang oleh mereka. Julian melihat tampangnya yang ragu-ragu. Tanpa bertanya lagi, ia langsung mengerti. "Apakah kau lebih senang menunggu di situ saja bersama Timmy, sampai kami kembali?" tanyanya pada George. "Kurasa kalau ada Timmy, kau takkan apa-apa jika sendiri di sini. Cuma apakah kau tidak takut nanti, jika malam-malam ada lagi bunyi guruh diiringi getaran serta sinar yang berpendar-pendar?" "Aku akan menemaninya," kata Anne. "Kurasa paling baik, jika kau serta Dick saja yang turun. Aku agak capek, jadi takkan bisa berjalan secepat kalian berdua." "Baiklah! Kalau begitu aku dan Dick yang pergi, sedang kalian berdua menunggu di sini bersama Timmy," kata Julian. "Yuk, Dick! Jika kita cepat-cepat, mungkin sebelum gelap kita sudah bisa tiba lagi di sini." Mereka bergegas menuruni lereng, menyusur jalan setapak yang masih diselimuti salju. Lega perasaan mereka ketika sudah hampir sampai di rumah Bu Jones. Lampu di dapur sudah menyala.

Dick dan Julian masuk lewat pintu depan, tapi langsung menuju ke dapur. Bu Jones ada di situ. Ia sedang mencuci piring. Ia berpaling ketika mendengar langkah kaki mendekat. "Wah - ada tamu," katanya kaget, lalu cepat-cepat mengeringkan tangan ke handuk. "Ada yang tidak beres? Mana anak-anak yang perempuan?" "Mereka ada di pondok," jawab Julian. "Kami baik-baik saja, Bu," "Atau kalian hendak mengambil bekal makanan lagi?" tanya Bu Jones. Menurut perkiraannya, itulah yang menyebabkan kedua anak laki-laki itu datang dengan tiba-tiba. "Bukan, Bu! Makanan kami masih banyak," kata Julian. "Kami kemari karena ingin bicara dengan Pak Morgan, anak Anda! Kami - yah, ada sesuatu yang hendak kami sampaikan padanya. Urusan penting!" "Urusan apa ya?" tanya Bu Jones ingin tahu. "Nanti dulu - Morgan, katamu - ya, dia ada dalam lumbung yang besar itu." Bu Jones menunjuk ke luar. Anak-anak memandang ke arah itu. Di luar nampak bangunan lumbung yang dimaksudkan. "Morgan ada di situ. Kalian kan menginap di sini malam ini? Dan tentunya juga mau makan malam di sini!" "Ya - terima kasih, Bu," jawab Julian. Tiba-tiba ia teringat, tadi tidak sempat makan sore. "Terima kasih banyak. Tapi sekarang kami hendak mendatangi Pak Morgan dulu." Keduanya lantas ke luar, pergi ke lumbung besar yang ditunjukkan oleh Bu Jones. Ketiga anjing besar kepunyaan Morgan langsung lari ke luar sambil menggeram-geram, ketika mendengar langkah orang yang tidak dikenal. Tapi kemudian mereka mengenali Dick dan Julian, lalu menggonggong-gonggong sebagai ucapan., selamat datang. Sesaat kemudian Morgan sendiri muncul. Ia ingin melihat, apa yang menyebabkan ketiga anjingnya menggonggong. Ia heran melihat Julian dan Dick sedang berjongkok di pekarangan, sambil mengelus-elus ketiga anjing itu. "He - ada apa?" tanya Morgan. "Ada yang tidak beres?" "Ya - kurasa begitu," jawab Julian. "Dan kami datang, untuk memberi tahu Anda." Morgan mengajak mereka masuk ke dalam lumbung, yang sudah remang-remang. Morgan melanjutkan kesibukannya menggaru jerami, sementara Julian mulai dengan ceritanya. "Ini mengenai Menara Tua," kata Julian. Seketika itu juga Morgan berhenti bekerja. Tapi kemudian dilanjutkan lagi, sementara ia mendengarkan terus tanpa berkata apa-apa. Julian melanjutkan kisahnya. Ia bercerita tentang suara menggeram, sinar pendar di langit yang dilihat oleh Dick, lalu getaran yang dirasakan oleh mereka berempat - kemudian

tentang wanita yang mereka lihat di jendela menara - disusul dengan kisah Aily tentang lembaran-lembaran kertas. Julian juga bercerita tentang kertas yang ditunjukkan oleh Aily pada mereka, di mana tertulis bahwa Bu Thomas tertawan di rumahnya sendiri. Saat itu barulah Morgan membuka mulut. "Mana kertas itu?" tanyanya dengan suaranya yang berat. Julian mengambilnya dari dalam kantong, lalu disodorkan pada Morgan. Orang itu menyalakan lampu untuk membacanya, karena tempat itu sudah terlalu gelap. Ia membaca tulisan yang tertera di atas kertas. Kemudian kertas itu dimasukkannya ke dalam kantong. Julian kaget, dan memintanya kembali. "Atau Anda hendak menunjukkannya pada polisi?" tanyanya. "Bagaimana pendapat Anda tentang kejadian ini? Adakah tindakan yang bisa kita ambil? Tidak enak rasanya membayangkan... "Akan kukatakan apa yang harus kalian lakukan" potong orang itu. "Serahkan saja urusan ini padaku. Pada Morgan Jones! Kalian kan masih anak-anak, yang belum tahu apa-apa. Ini bukan urusan anak-anak! Kalian harus kembali ke pondok, dan melupakan segalagalanya yang pernah kalian dengar atau lihat! Dan jika Aily muncul lagi, kalian harus membawa anak itu ke sini. Nanti aku akan bicara dengan dia! Nada bicaranya begitu keras dan tegas, sehingga anak-anak kaget dibuatnya. "Tapi, Pak," kata Julian, "apakah Anda tidak hendak berbuat apa-apa tentang soal ini? Misalnya lapor pada polisi, atau....." "Sudah kukatakan tadi, ini bukan urusan anak-anak," kata orang itu. "Sekarang aku tidak mau bicara lagi mengenainya ! Kalian kembali ke atas, dan jangan bicara pada siapasiapa tentang kejadian ini. Jika kalian tidak mau menurut, kalian harus pulang besok," Setelah berkata begitu, laki-laki bertubuh besar itu memanggul penggarunya, lalu pergi ke luar, Julian dan Dick ditinggal sendiri dalam lumbung, "Apa-apaan itu?" tukas Julian tersinggung. "Yuk, kita kembali saja ke atas! Aku tidak mau makan malam di sini. Aku tidak mau berjumpa lagi dengan laki-laki kasar itu malam ini!" Dengan perasaan kecewa keduanya lantas keluar, berjalan menuju ke kaki bukit, Hari sementara itu sudah mulai gelap. Julian meraba-raba kantong celananya, mencari senter. "Aduh, rupanya aku tadi lupa." katanya. "Kau membawa senter. Dick?"

Ternyata Dick juga tidak membawanya, Sedang keduanya enggan berjalan dalam gelap, Kemudian Julian teringat, dalam kamar mereka di rumah Bu Jones masih ada satu senter lagi, yang sengaja disediakan sebagai cadangan. Ia memutuskan untuk kembali dan mengambil barang itu. "Yuk," ajaknya pada Dick. "Kita mengambilnya, tapi kalau bisa Jangan sampai berjumpa dengan Morgan atau Bu Jones!" Mereka menyelinap, kembali ke pertanian. Dengan cepat Julian menaiki tangga batu, menuju ke kamar tidur tempat mereka menginap. Ternyata senter itu ada dalam salah satu laci di situ. Kemudian ia turun lagi lewat tangga - dan menubruk Bu Jones di bawah. Wanita tua itu terpekik karena kaget. "Ah, kau rupanya, Julian! Apa sebetulnya yang kaukatakan pada Morgan, sehingga menyebabkan anakku itu marah-marah? Kulihat mukanya masam sekali. Sebentar ya, akan kusiapkan makan malam untuk kalian. Kalian mau daging panggang dengan..... "Jangan repot-repot, Bu - karena kami memutuskan untuk pulang saja ke pondok," kata Julian. "Hari sudah gelap, dan kedua anak perempuan itu sendirian di sana," "Ya, ya - betul juga katamu," ujar Bu Jones, "Tapi tunggu sebentar, aku punya roti segar. Kecuali itu, juga kue bikinanku sendiri. Tunggu sebentar, ya," Dick dan Julian menunggu di ambang pintu. Mereka sudah cemas saja, kalau Morgan tiba-tiba muncul. Mereka enggan berjumpa lagi dengan dia malam itu. Tapi tiba-tiba terdengar suaranya berseru-seru di kejauhan, membentak-bentak pada anjing-anjingnya. Suara Morgan memang sangat lantang! "Rupanya ia melampiaskan kemarahannya pada anjing-anjing itu," bisik Julian pada Dick. "Wah - pasti gawat jika harus berurusan dengan dia! Badannya begitu kekar dan kuat biar melawan sepuluh orang sekaligus, kurasa ia masih bisa menang!" Saat itu Bu Jones datang lagi, membawa tas yang penuh berisi makanan. "Ini, untuk kalian," katanya. "Jaga kedua anak perempuan itu baik-baik, ya! Dan jangan kalian dekati Morgan saat ini. Ia sedang jengkel sekarang!" Julian dan Dick memang tidak berniat untuk berjumpa lagi dengan laki-laki yang sedang marah-marah. itu. Mereka merasa lega ketika sudah agak jauh mendaki lereng, dan tidak mendengar lagi bentakan-bentakan Morgan!

Nah, jelas sekarang bahwa dari dia kita tidak bisa mengharapkan bantuan," kata Julian kemudian. "Kita bahkan dilarangnya berbuat sesuatu tentang urusan ini. Seolah-olah kita anak kecil!" "Ya - berkali-kali ia mengatakan, kita ini anak-anak," kata Dick kesal. "Terus terang saja aku bingung, Ju. Apa sebabnya ia begitu jengkel? Apakah la tidak percaya pada kita?" "Bukan begitu - dia malah percaya sekali" jawab Julian. "Kursa ia lebih banyak tahu tentang urusan ini, dibandingkan dengan apa yang bisa kita ceritakan padanya. Ada sesuatu yang tidak beres di Menara Tua - sesuatu yang aneh dan berlangsung dengan sembunyi-sembunyi! Dan jelas, Morgan terlibat di dalamnya. Karena itulah kita disuruhnya tutup mulut dan jangan campur tangan. Karena itulah kita disuruhnya melupakan segala-galanya! Aku merasa pasti, apa pun yang sedang terjadi di sana. Morgan ikut terlibat dalam urusan itu!" "Astaga!" kata Dick, setelah bersiul karena kagum bercampur kaget. "itu rupanya yang menyebabkan dia marah-marah! Rupanya ia khawatir kalau kegiatan mereka itu terganggu karena kita. Dan sekarang aku mengerti - itulah sebabnya ia tidak mau kita melapor pada polisi. Nah - sekarang bagaimana, Ju?" "Entah! Kita masih perlu. berunding dulu dengan George dan Anne," kata Julian. "Macam-macam saja! Liburan kita sudah singkat, sekarang datang pula urusan begini." "Menurut pendapatmu, apakah sebetulnya yang sedang terjadi di Menara Tua?" tanya Dick. "Maksudku bukan cuma soal seorang wanita tua yang terkurung di atas menara, sementara barang-barangnya dijuali. Yang kumaksudkan hal-hal lainnya pula! Getaran yang mengguruh, serta kabut aneh itu, sebetulnya apa?" "Yah - kurasa kejadian-kejadian itu mungkin tak ada hubungannya dengan keterlibatan Morgan," kata Julian sambil berpikir-pikir. "Tapi aku merasa pasti, ia terlibat dalam perkara pencurian harta Bu Thomas! Aku bahkan merasa, segala desas-desus tentang kejadian-kejadian aneh itu bahkan dipakai guna menjauhkan orang-orang dari tempat itu! Memang, orang desa biasanya lebih percaya pada takhyul, dibandingkan dengan orang kota!" "Mungkin saja kau benar," sela Dick, "tapi aku kurang yakin! Aku merasa bahwa ada sesuatu yang aneh di sini - dan desas-desus itu ada benarnya!" Setelah itu keduanya membisu. Mereka berjalan beriringan, dibantu oleh batu-batu hitam sebagai penunjuk arah. Sorotan senter yang dipegang oleh Julian, menerangi batu demi batu, sementara mereka mendaki terus. Jalan ke pondok rasanya jauh sekali saat itu lebih jauh daripada siang hari.

Tapi akhirnya nampak juga cahaya terang yang memancar keluar dari jendela pondok. Dick dan Julian menarik napas lega. Mereka merasa sangat lapar. Untung Bu Jones tadi membekali mereka dengan makanan tambahan. Terdengar suara Timmy menggonggong. George membukakan pintu, karena dari gonggongan anjingnya ia tahu bahwa yang datang Dick dan Julian. "Untung kalian pulang, dan tidak jadi menginap di bawah!" seru Anne gembira. "Lalu bagaimana? Apakah Morgan akan melapor ke polisi?" "Tidak," jawab Julian. "Ia marah-marah pada kami. Kami dilarangnya mencampuri urusan itu. Kertas berisi pesan Bu Thomas diambil olehnya. Kuminta kembali -tapi tidak diberikan! Kini kami merasa, dia ada hubungannya dengan kejadian-kejadian di Menara Tua!" "Baiklah kalau begitu," kata George dengan segera. "Urusan ini akan kita tangani sendiri! Kita akan menyelidiki rahasia yang menyelubungi tempat itu - dan yang pasti, kita akan membebaskan Bu Thomas! Aku belum tahu caranya, tapi kita pasti akan membebaskannya. Ya kan, Tim?"

Bab 15 ADA APA, TIM? Kemudian keempat anak itu makan malam Mereka duduk mengelilingi tungku yang menyala, makan sambil berunding. Lama sekali mereka bercakap-cakap. Tindakan apakah yang sebaiknya dilakukan? Memang gampang saja bagi George untuk mengatakan bahwa mereka pasti akan mengadakan penyelidikan serta membebaskan Bu Thomas - tapi pelaksanaannya bagaimana? Cara masuk ke gedung itu saja, mereka tidak tahu! Dan sudah jelas, tidak ada yang mau berurusan dengan anjing galak penjaga Menara Tua! "Coba jika Aily bisa membantu kita," keluh Julian. "Cuma dia satu-satunya harapan kita! Kurasa percuma saja kita melapor pada polisi, karena toh tidak akan dipercayai! Lagipula jarak dari sini ke desa di mana ada kantor polisi, tidak bisa dibilang dekat." "Aku heran, apa sebabnya penduduk desa tidak berbuat apa-apa tentang Menara Tua," kata Dick dengan bingung. "Maksudku - getaran dan bunyi berisik yang tadi malam, serta cahaya pendar di langit ketika ada kabut menyelubungi tempat itu....." "Memang! Tapi kurasa kesemuanya itu lebih jelas terlihat dan terasa lagi di sini, daripada dalam lembah," kata Anne. Anak itu kadang-kadang logis sekali jalan pikirannya. "Mungkin saja getaran aneh kemarin itu tidak terasa di sana - begitu pula dengan bunyi gemuruh, juga tak terdengar! Mungkin orang-orang di bawah tidak melihat kabut aneh yang menyelubungi Menara Tua"

"Betul juga katamu," ujar Julian. "Tak terpikir olehku tadi kemungkinan itu. Ya, kita di sini bisa lebih Jelas melihat dan mendengar segala-galanya! Dan kecuali kita, kurasa gembala yang ada di sebelah atas kita juga! Lalu orang yang ada di pertanian di bawah kita.... ya, pasti mereka juga melihat dan mendengarnya, kalau mengingat sikap Morgan tadi terhadap kita! Jelas sekali dia tahu tentang persoalan yang kita laporkan padanya." "Dan ia juga bersekongkol dengan orang-orang yang menurut Aily ada di Menara Tua. Orang kecil, dan orang besar, katanya. Wah - kepingin rasanya dia mau menunjukkan jalan masuk ke tempat itu pada kita! Bagaimana caranya, ya? Sebetulnya kan mustahil, karena tempat itu dikelilingi pagar tinggi, yang dialiri arus listrik." Pagar yang menggigit!" kata George sambil tertawa.. "Terang saja anak itu kaget, karena kena sengat listrik ketika menyentuhnya! Anak itu aneh sekali hidupnya liar, seperti gelandangan saja!" Moga-moga Ibunya tidak jadi memukul dia" kata Anne prihatin. "Aily memang nakal, dan sering bolos. - tapi walau begitu, aku suka padanya. Masih ada orang yang ingin makan keju? Kita Juga masih punya buah apel. Atau bisa juga kubuka buah pir satu kaleng." "Buah pir sajalah," kata Julian. "Aku kepingin makan yang manis-manis! Wah - tetirah kita ini ternyata ramai juga, ya?" ' "Entah kenapa, kita selalu terlibat dalam kesulitan," kata Anne, sambil pergi ke lemari untuk mengambil buah pir dalam kaleng. "Jangan bilang kesulitan dong, Anne," kata Dick. "Sebut petualangan, begitu! Memang, ke mana saja kita pergi, selalu menjumpai petualang-petualangan. Ada orang yang begitu, petualangan datang sendiri, tanpa dicari! Dan kita termasuk orang semacam itu. Untung saja, jadi hidup ini tidak membosankan!" Tiba-tiba Timmy menggonggong. Keempat anak itu kaget dibuatnya. Nah - ada lagi sekarang? "Suruh Timmy ke luar," kata Dick. "Setelah mengalami kejadian yang serba aneh, kurasa Timmy perlu kita suruh memeriksa siapa saja yang datang kemari malam-malam!" "Baiklah," kata George, lalu pergi ke pintu. Baru saja ia hendak membukanya, ketika terdengar seekor anjing menggonggong di luar. George tertegun. "Timmy tidak boleh keluar, karena siapa tahu yang datang itu Morgan dengan anjinganjingnya! Kukenali gonggongan yang berat itu." "Ada orang lewat," kata Anne agak takut. "Astaga - memang betul Morgan!"

Laki-laki itu lewat di luar, dekat jendela pondok. Anak-anak melihat bahunya yang bidang, serta kepalanya yang tertunduk melawan angin, sementara ia berjalan mendaki bukit. Morgan lewat tanpa menoleh sedikit pun ke arah pondok. Tapi ketiga anjingnya menggonggong. Rupanya mengendus bahwa dalam pondok ada anjing lain. Timmy langsung membalas gonggongan mereka. Setelah itu keadaan sunyi kembali. Morgan sudah menghilang ke atas bukit bersama anjing-anjingnya. "Huuh - untung saja Timmy tidak jadi kausuruh keluar tadi," ujar Dick. "Pasti habis diserang ketiga anjing itu!" "Mau ke mana orang itu?" kata Anne heran. "Aneh - dia pergi ke atas bukit ini, dan bukannya menuju ke Menara Tua!" "Mungkin hendak mendatangi gembala," kata Julian. "Dia kan ada di atas, dengan biribirinya. He - jangan-jangan Pak Gembala juga terlibat dalam urusan ini!" "Ya ampun," kata Anne kaget. "mustahil! Pak Gembala itu orang baik-baik! Tak bisa kubayangkan, dia ikut terlibat dalam komplotan penjahat!" Semua sependapat dengan Anne. Semua suka pada Pak Gembala. Tapi untuk apa Morgan pergi mendatanginya, malam-malam begini? "Mungkin dia hendak memberi tahu Pak Gembla, bahwa kita perlu diawasi," kata Julian, "karena dianggap kita mengetahui rahasia mereka. " "Atau mungkin pula ia hendak mengadukan Aily, karena berkeliaran di pekarangan Menara Tua," kata Dick. "Wah - jangan-jangan anak itu akan mengalami kesulitan, karena kita memberi tahu Morgan tentang dia - serta menyerahkan kertas yang ditemukan olehnya!" Anak-anak saling berpandang-pandangan. Semua merasa tidak enak. Anne menganggukkan kepala dengan serius. "Ya, pasti itu yang hendak dilakukan Morgan di atas," katanya. "Sekarang Aily tentu akan kena marah? Kasihan Aily!" Malam itu tidak ada yang ingin main kartu. Mereka bercakap-cakap, sambil sekali-sekali memasang telinga. Mereka ingin tahu, kapan Morgan lewat lagi. Tapi kalau ia muncul. Timmy sudah pasti akan mengetahuinya! Sekitar pukul setengah sembilan, Timmy menggonggong.

"Pasti itu Morgan, yang kembali dari atas," kata Julian menduga. Semua memandang ke jendela, menunggu lewatnya orang itu, Tapi mereka tidak melihat bahu yang bidang, dan juga tak terdengar suara anjing menggonggong di luar. Kemudian baru nampak oleh George, bahwa Timmy duduk dengan telinga meruncing ke atas, sementara kepalanya agak dimiringkan, Kenapa anjing itu begitu? Seakan-akan mendengar sesuatu! Tapi kenapa tidak menggonggong lagi? Aneh, "Coba lihat si Timmy!" kata George. "Ia mendengar sesuatu di luar - tapi tidak menggonggong! Kelihatannya juga tenang-tenang saja. Ada apa, Tim?" Timmy tidak mengacuhkan tuannya, ia mendengarkan terus dengan seksama. dengan kepala agak dimiringkan. Apakah yang didengar olehnya? Anak-anak mulai gelisah, karena mereka tidak bisa mendengar apa-apa. Di luar sunyi senyap, Tiba-tiba Timmy meloncat bangun, sambil menggonggong dengan gembira, ia lari ke pintu, lalu menggaruk-garuk sambil mendengking-dengking. Ia menoleh ke arah George, lalu menggonggong lagi. Seakan-akan hendak mengatakan, "Ayo, cepat - buka pintu!" "Ada apa, Tim?" tanya Dick dengan heran. "Ada temanmu yang datang, barangkali? Bagaimana kita buka pintu atau tidak, Ju?" "Biar aku saja, kata Julian, lalu membuka pintu secelah. Timmy lari ke luar, sambil menggonggong dan mendengking-dengking, "Tidak ada siapa-siapa di luar," kata Julian. "He, Tim! Kenapa kau ribut-ribut? Tolong ambilkan senter itu, Dick! Kususul anjing itu, untuk melihat ada apa sebenarnya." Julian pergi ke luar, sambil menyorotkan cahaya senter ke segala arah untuk mencari Timmy. Ternyata anjing itu ada di dekat kayu tempat menyimpan kaleng-kaleng minyak. Julian tercengang melihat Timmy menggaruk-garuk peti itu. "Cari apa di situ, Tim?" tanyanya. "Kan tidak ada apa-apa! Kalau tidak percaya, kuangkat tutupnya, supaya kau bisa melihat sendiri. Anjing konyol!" Julian mengangkat tutup peti. Maksudnya hendak membuktikan pada Timmy, bahwa di situ tidak ada apa-apa kecuali kaleng minyak. Tapi detik berikutnya, Julian melongo! Nyaris saja tutup peti terlepas dari tangannya. Di dalam tempat itu ternyata ada seseorang. Aily! "Aily!" seru Julian kaget. "Astaga -Aily- apa yang kaulakukan di sini?" Aily mendongak memandangnya, dengan mata terkejap-kejap. Anak itu ketakutan. Dipeluknya anak biri-biri serta anjing kecilnya. Tubuhnya gemetar. Nampak oleh Julian bahwa anak itu menangis.

"Kasihan," katanya. "Yuk, masuk ke dalam pondok. Kau pasti akan merasa lebih enak, jika tubuhmu sudah hangat." Tapi Aily menggeleng. Dipeluknya kedua binatang kesayangannya dengan lebih erat. Tapi Julian juga tidak mau mengalah. Ia tidak mau meninggalkan anak kecil itu kedinginan di luar. Tanpa banyak bicara lagi, anak itu diangkatnya dengan kedua binatang kesayangannya sekaligus! Aily berusaha membebaskan diri. Tapi Julian lebih kuat. Dari dalam pondok terdengar George memanggil-manggil dengan nada tidak sabar. "Ju! Julian! Timmy! Di mana kalian? Ada sesuatu di luar?" "Ya," jawab Julian, "Kini akan kubawa masuk!" Digendongnya Aily masuk ke dalam pondok, Ketiga anak yang ada di dalam, memandang dengan mata melotot. Mereka tercengang. Lho - Aily ada di situ? Nampak bahwa anak kecil itu menggigil kedinginan. Mukanya pucat pasi. "Bawa dia ke dekat tungku," kata Anne, sambil mengelus-elus lengan Aily yang kurus, "Kasihan!" Julian hendak menurunkannya ke lantai. Tapi tidak bisa, karena Aily memeluknya eraterat. Rupanya ia merasa aman dalam gendongan Julian yang kuat dan baik hati. Akhirnya Julian terpaksa duduk di kursi, sementara masih menggendong Aily. Sedang anak biribiri dan anjing kecil yang tadi ikut digendong, cepat-cepat meloncat turun, lalu berkeliaran dalam kamar sambil mengendus-endus. "Aku tadi menemukan dia dalam peti tempat menyimpan minyak - bersama anjing serta biri-birinya," kata Julian menjelaskan, "Ketiganya meringkuk di situ, berdesak-desak. Kurasa mereka masuk ke tempat itu untuk bersembunyi, dan sekaligus berlindung terhadap hawa dingin di luar. Mungkin ia sudah pernah tidur di situ sebelum ini, bersama kedua binatang itu. Kasihan - nampaknya ia sedih. Sebaiknya kita beri makan saja dulu." "Akan kubuatkan minuman coklat panas untuknya," kata Anne. "George, tolong ambilkan roti, mentega dan keju dari lemari! Eh - apakah anjing dan biri-biri itu tidak perlu diberi makan pula? Apa makanan anak biri-biri?" "Susu, jawab Dick. "Tuangkan saja di piring, mungkin dia mau meminumnya dengan cara begitu, Macam-macam saja kejadian di sini!" Aily merasa nyaman dalam gendongan Julian. Ia meringkuk dalam pelukan anak laki-laki itu, tidak ingat lagi pada perasaan takut, karena capek dan kedinginan! Kasihan - apakah yang menyebabkan dia sampai bersembunyi dalam peti yang di luar itu?

"Rupanya ia tadi ikut pulang dengan ibunya," kata Julian, sambil memperhatikan anjing kecil yang sedang bermain-main dengan Timmy. "Lalu mungkin dipukul serta dikurung di salah satu tempat. Dan mungkin pula kemudian Morgan datang untuk memarahi, serta meminta pada Ibunya agar anak itu jangan diizinkan lagi pergi...... "Morgan!" ulang anak kecil yang digendong oleh Julian, ia terduduk, Matanya nyalang, nampak sangat takut. Ia memandang berkeliling, seakan-akan mengira laki-laki itu ada di situ. "Morgan! Jangan, jangan!" "Sudahlah." kata Julian menenangkan, "kami akan menjaga dirimu, Jangan khawatir, Morgan takkan bisa berbuat apa-apa terhadapmu!" "Nah - apa ku bilang tadi!" kata Julian pada saudara-saudaranya. "Ternyata Morgan memang mencari anak ini, untuk memarahinya - dan begitu orang itu pergi lagi, dia ini lantas minggat dari rumah dan bersembunyi di sini. Jahat sekali orang itu! Kalau anak ini dibentak-bentak seperti ketika ia marah-marah pada kami berdua tadi, bisa kubayangkan bahwa anak ini setengah mati ketakutan. Kurasa Morgan takut bahwa Aily akan semakin banyak membeberkan rahasia - mungkin bahkan menunjukkan jalan -masuk ke Menara Tua! Karena itu ia harus cepat-cepat dikurung!" Saat itu Timmy menggonggong dengan tiba-tiba. Tapi kali ini tidak ramah. "Mungkin itu Morgan, yang kembali dari atas," kata Anne kecut. "Cepat - sembunyikan anak itu! Kalau tidak, ia pasti akan dibawa pergi lagi oleh Morgan! Cepat - ke mana kita menyembunyikannya?"

Bab 16 AILY BERUBAH PIKIRAN Secepat kilat Aily meloncat dari gendongan Julian, ketika mendengar bahwa yang datang itu mungkin Morgan. Ia memandang berkeliling dengan gelisah, lalu lari ke arah pembaringan. Dengan sekali lompat saja ia sudah berada di tempat tidur yang paling atas. lalu menyelubungi dirinya dengan selimut. Ia meringkuk di situ, tanpa bergerak sedikit pun. Anak biri-biri memandang ke atas dengan tercengang, lalu mengembik. Kemudian ia menyusul naik ke atas tempat tidur. Binatang sekecil itu, ternyata tinggi juga lompatannya. Ia meringkuk di tempat tidur teratas di samping Aily, Tinggal Dave, anjing kecil itu sendirian di lantai. Ia mendengking-dengking sedih. . "Astaga!" kata Dick kaget. "Kalian lihat loncatan-loncatan tadi? Bukan main - sekali loncat, langsung naik ke tempat tidur teratas! Sudahlah, Tim - jangan menggonggong terus. Nanti tak terdengar Morgan datang! He, Ju - di manakah harus kita sembunyikan anjing kecil ini? Ia tidak boleh ketahuan ada di sini!"

Julian menjunjung Dave, lalu menaruhnya ke tempat tidur teratas, di mana Aily dan anak biri-birinya sudah berada. "Kurasa cuma di sini ia mau diam," kata Julian. "Jangan bergerak-gerak, Aily, sampai kami memberi tahu bahwa keadaan sudah aman lagi!" Anak kecil itu tidak menjawab. Juga tak terdengar suara mengembik atau menggonggong. Tapi tiba-tiba Timmy menggonggong lagi lalu lari ke pintu. "Lebih baik kukunci saja pintu," kata Julian. Morgan serta anjing-anjingnya tidak boleh sampai bisa masuk ke sini. Kurasa Morgan tahu bahwa Ally lari dari rumah - atau mungkin juga anak itu sudah lari sewaktu dimarahi olehnya, lalu Morgan mengira Ally pergi ke tempat ayahnya Pak Gembala! Dan Morgan harus mencegah Aily. Jangan sampai anak itu membeberkan hal-hal yang diketahuinya!" "Ah - jangan sampai anjing-anjing itu masuk kemari, kata George bingung. "Kudengar gonggongan mereka di kejauhan!" "Cepat! Kita pura-pura sedang main kartu," kata Dick, lalu. menyambar setumpuk kartu yang terletak di atas rak. "Jadi jika Morgan nanti mengintip ke dalam, ia akan mendapat kesan bahwa di sini biasa-biasa saja - sehingga tak mengira Ally ada di sini." Keempat anak itu bergegas duduk mengelilingi meja. Dick membagi-bagikan kartu. Tangan Anne gemetar, sehingga setiap kali ia memungut kartu, pasti terlepas lagi. Dick menertawakan adiknya. "Dasar kikuk," katanya. "Jangan takut - Morgan takkan menggigitmu! He - jika aku nanti berseru, 'Nah!', itu artinya aku melihat Morgan mengintip di jendela. Mengerti? Dan kita harus main, terus, seperti tidak ada apa-apa." Dick berkata begitu, karena dialah yang duduk menghadap ke jendela. Sambil bermain, diperhatikannya jendela dengan waspada. Sementara itu sudah tidak terdengar lagi gonggongan anjing di luar. Tapi Timmy belum beranjak dari balik pintu. Telinganya masih tetap ditegakkan, seperti mendengarkan sesuatu. Anak-anak bermain remi. Kelihatannya asyik sekali. Silih berganti mereka mengambil kartu yang terletak di meja. Kadang-kadang terjadi pertengkaran kecil, karena salah seorang di antara mereka terlalu tergesa-gesa hendak mengambil. "Nah!" seru Dick dengan tiba-tiba. Mendengar seruannya itu, anak-anak semakin bersemangat main kartu. Tapi perhatian mereka sebetulnya sudah beralih, ke balik jendela. Apakah yang dilihat Dick di situ? Anak itu melihat bayang-bayang seseorang yang berdiri agak jauh dari jendela. Orang itu memandang ke dalam. Kelihatannya seperti - ya, betul! Memang Morgan!

"Nah!" seru Dick sekali lagi, untuk memperingatkan saudara-saudaranya bahwa orang itu masih di luar. "Nah!" Sementara itu Morgan maju semakin dekat ke jendela. Rupanya ia mengira tak ada yang melihat dirinya di situ. Ia menyangka keempat anak itu begitu asyik main kartu, sehingga tidak memperhatikan apa-apa lagi selain permainan mereka. Morgan memandang ke seluruh ruangan. Setelah itu mukanya lenyap dari balik jendela. "Ia sudah pergi lagi," bisik Dick. "Tapi jangan berhenti main! Mungkin ia ke pintu sekarang." Detik berikutnya terdengar pintu diketuk dari luar. "Ya - betul," kata Dick dengan suara pelan. "Sekarang giliranmu, Julian." "Siapa di luar?" seru Julian. "Aku, Morgan! Buka pintu, aku mau masuk," kata Morgan dengan suaranya yang berat. "Tidak bisa! Anjing kami ada di sini - nanti dia diserang anjing-anjingmu," jawab Julian. Ia sudah bertekat, tidak akan membukakan pintu. Orang itu mencoba masuk - tapi pintu sudah dikunci dari dalam. Morgan menggerutu. "Maaf, kami tidak berani membukanya," seru Julian lagi dari dalam. "Nanti Anda digigit anjing kami. Dengarlah- ia sudah menggeram-geram!" "Ayo menggonggong, Tim!" bisik George pada anjingnya. Dan anjing itu menurut. Ia menggonggong keras-keras, sehingga telinga anak-anak terasa seperti tuli dibuatnya! Akhirnya Morgan mengalah. "Jika kalian berjumpa dengan Aily, suruh dia pulang," katanya. "Anak itu minggat lagi, dan sekarang Ibunya merasa cemas. Sedari tadi aku berkeliaran mencarinya." "Baiklah," kata Julian. "Jika dia kemari akan kami suruh menginap di sini." "Jangan! Suruh dia pulang!" bentak Morgan. Jangan, ingat kataku sewaktu di lumbung tadi - agar kita semua tidak mengalami kesulitan!" "Kita semua? Hahh!" kata Dick menggumam. Dia dan kawan-kawannya yang akan mengalami kesulitan, apabila rahasia mereka sampai terbongkar. Dasar Jahat! Dia sudah pergi, Tim?"

Timmy pergi dari pintu, lalu berbaring kembali di lantai. Ia menggonggong sekali, seolah-olah mengatakan. "Aman!" Ia bersikap tak peduli, ketika terdengar anjing-anjing tadi menggonggong di kejauhan. "Rupanya mereka sudah kembali ke bawah, bersama Morgan," kata George lega. "Sekarang Aily bisa turun untuk makan!" George menghampiri tempat tidur bertingkat. Aily! panggilnya. Morgan sudah pergi lagi. Yuk, turun, dan makan dulu! Anak biribirimu akan kita beri susu, sedang Dave mendapat daging serta biskuit!" Nampak kepala Aily muncul di tepi tempat tidur teratas. Dengan hati-hati ia mengintip sebentar. Setelah itu dengan satu loncatan saja ia sudah berada di bawah. Anak biribirinya menyusul turun. Enak saja binatang itu meloncat, jatuh pada keempat kakinya. Sedang Dave terpaksa dibantu, karena tidak berani! Anak-anak memandang dengan geli, ketika Aily langsung lari menghampiri Julian, sambil mengembangkan lengan minta digendong. Rupanya ia merasa aman dekat remaja itu. Julian kemudian memangku anak itu, yang merapatkan diri padanya. Sementara itu George sibuk menaruh roti, mentega dan keju di atas meja di depan Aily. Sedang Anne mengambilkan susu untuk anak biri-biri, yang segera minum dengan lahap. Susu berceceran di tepi piring. Dave, anjing kecil itu mula-mula juga ingin minum susu. Tapi kemudian pindah ke piring berisi daging dan biskuit yang diletakkan oleh Anne di lantai untuknya. "Nah - sekarang keluarga Aily sudah makan," kata Anne. "Julian - jangan perbolehkan Aily makan selahap itu - nanti dia sakit perut! Wah, belum pernah kulihat anak makan secepat dia. Lapar sekali kelihatannya! Mungkin belum makan lagi sejak tadi siang, ketika kita memberinya keju." Selesai makan, Aily merebahkan diri kembali ke dada Julian, sambil mendongak memandang anak itu. "Sekarang Aily bilang cara masuk ke rumah besar," kata Aily dengan tiba-tiba. Julian serta saudara-saudaranya cuma bisa melongo saja. Rupanya anak kecil itu hendak menyenangkan hati Julian. Karenanya ia berkata begitu. "Aily mau bilang padaku?" ulang Julian dengan serius. "Aily manis!" Kemudian Aily mulai bercerita. "Ada lubang besar," katanya. "turun, turun, turun......" "Di mana lubang itu?" tanya Julian.

"Jauh, di atas," kata Aily. "Lalu turun, turun..." "Ya - tapi tempatnya di mana?" tanya Julian sekali lagi. Aily bercerita panjang-lebar. Tapi sayangnya, ia berbicara dalam bahasa Wales. Jadi anak-anak hanya bisa mendengarkan sambil melongo saja. Payah! Kini Aily sudah mulai menceritakan rahasianya pada mereka, tapi mereka tidak bisa memahami kata-katanya. "Aily pintar," kata Julian, ketika pada akhirnya anak kecil itu selesai bercerita. "Sekarang - di mana lubang besar itu?" Aily memandangnya dengan sikap agak menyalahkan. "Aily kan bilang, bilang, bilang!" katanya. "Ya, ya - aku juga tahu, tapi kami tidak memahami bahasa Wales," kata Julian dengan lembut. Dalam hati ia sudah nyaris putus asa. "Aku cuma ingin tahu - lubang besar itu, letaknya di mana?" Beberapa saat Aily cuma memandangnya saja, tanpa mengatakan apa-apa. Kemudian ia tersenyum. "Aily tunjukkan," katanya. lalu turun dari pangkuan Julian. "Aily tunjukkan! Yuk!" "Astaga - jangan sekarang!" kata Julian kaget. "Masak malam-malam begini? Jangan, Aily - besok, besok pagi - jangan sekarang?" Aily memandang ke luar. Menatap kegelapan malam. Ia mengangguk. "Jangan sekarang. Besok, ya? Aily tunjukkan besok! " "Hah - untung soal ini selesai," kata Julian. "Sebetulnya aku kepingin melihat lubang itu sekarang juga - tapi ada risiko kita akan tersesat nanti. Jadi besok saja kita ke sana!" "Setuju!" kata Dick sambil menguap. "Aku juga sependapat denganmu. Untung saja Aily suka padamu, Ju! Kurasa apa pun yang kausuruh, pasti akan dilakukan olehnya sekarang." "Kurasa juga begitu," kata Julian. Dipandangnya Aily yang sudah tidur meringkuk dekat tungku, ditemani kedua binatang yang selalu ikut dengan dia ke mana-mana. "Aku heran, sampai hati Morgan menakut-nakuti anak sekecil ini!"

"Untung Aily tak terlihat olehnya tadi, sewaktu dia mengintip ke dalam," kata Dick. "Coba terlihat, mungkin pintu sudah didobrak olehnya! Dengan sekali pukul saja, pasti daun pintu pecah berantakan!" Anak-anak tertawa. "Ya - untung saja hal itu tidak sampai terjadi," kata Julian. "Yuk, kita tidur saja sekarang! Besok mungkin kita akan mengalami saat-saat yang ramai!" "Mudah-mudahan kita akan berhasil menyelamatkan wanita tua yang terkurung di atas menara," kata Anne. "Itulah tugas yang paling penting." Ia membangunkan Aily, dan disuruhnya tidur di pembaringan paling atas di mana anak itu bersembunyi tadi. Tidak lama kemudian pondok sudah sunyi. Julian tersenyum sendiri di pembaringannya. Dilihatnya George tidur ditemani Timmy. Sedang Aily membawa Dave dan Fany, kedua binatang kesayangannya ikut ke tempat tidur. Ya - agak tenang juga perasaannya, karena ada dua ekor anjing yang menemani malam itu! Tengah malam George terbangun, karena merasa Timmy bergerak-gerak. Anak itu menegakkan diri, sambil bertumpu, pada siku. Timmy tidak menggonggong. Anjing itu ikut duduk, memasang telinga bersama George. Kemudian terdengar bunyi gemuruh, disusul getaran seperti malam sebelumnya. Tapi tidak begitu jelas. George meraba tepi tempat tidur. Terasa bergetar, seolah-olah dalam ruangan itu ada mesin yang sedang bekerja. George menjulurkan badan ke luar tempat tidur. Ia memandang ke arah jendela. Saat itu juga matanya terbelalak. Ia melihat pemandangan sama yang nampak oleh Dick kemarin malam. Dilihatnya langit di atas bukit seberang berkilau, disinari cahaya pendar. Sinar itu menjulang semakin tinggi - terus, terus, seakan hendak menjangkau bintang, dan akhirnya lenyap. George tidak membangunkan saudaranya. Begitu cahaya aneh itu lenyap, ia pun berbaring lagi. Mungkin besok mereka akan tahu apa yang menyebabkan terjadinya hal-hal aneh itu! Ya - besok pasti akan ramai!

Bab 17 LUBANG BESAR Keesokan harinya mereka bangun pagi-pagi sekali. Semuanya penuh semangat, setelah tidur nyenyak semalaman. Terbayang di depan mata, pengalaman yang akan dihadapi hari itu. Mereka akan masuk ke Menara Tua, yang penuh dengan berbagai rahasia. Asyik! Aily selalu mengikuti Julian, ke mana saja ia pergi. Ia ingin sarapan sambil dipangku oleh Julian, jadi seperti ketika makan kemarin malam. Dan Julian menurut saja. Pokoknya, anak itu nanti menunjukkan jalan masuk ke Menara Tua.

"Sebaiknya kita segera saja berangkat," kata Anne, sambil memandang ke luar lewat jendela. "Salju sudah mulai turun lagi! Jangan sampai kita tersesat nanti." "Betul juga katamu! Jika Aily mengajak kita melintas bukit di tengah hujan salju lebat begini, kita takkan bisa tahu ke mana arah tujuan yang ditempuh," kata Julian agak cemas. "Aku berbenah dulu sebentar! Setelah itu kita berangkat, ya?" kata Anne. "Perlukah kita membawa bekal makanan, Ju?" "Tentu saja," jawab Julian dengan segera. "Entah pukul berapa kita baru bisa kembali nanti! George - kau membantu Anne menyiapkan roti sandwich, ya? Bawa juga beberapa potong coklat, serta buah apel kalau masih ada." "Dan jangan sampai lupa senter," kata Dick. Dengan cepat kedua anak perempuan itu menyiapkan bekal makanan, lalu dimasukkan ke dalam dua buah kantong. Setelah itu semuanya mengenakan pakaian tebal. "Kurasa kita bisa lebih cepat, kalau naik kereta luncur! Dari sini meluncur ke bawah, terus terayun naik sampai setengah jalan di lereng seberang," kata Julian sambil memandang keluar. "Kalau berjalan kaki ke sana, pasti lama sekali baru sampai! Sedang dengan ski tidak bisa, karena Aily tidak punya. Dan kalau ada ski untuknya, kurasa dia toh tidak bisa!" "Setuju! Kita membawa kereta luncur." kata George senang. "Tapi bagaimana dengan anak biri-biri ini? Kita tinggalkan di sini? Lalu Dave, perlukah dia kita bawa?" Ketika Julian berpendapat, sebaiknya kedua binatang itu ditinggalkan saja dalam pondok, dengan segara Aily meraup keduanya ke dalam pelukannya. Ia tidak mau berangkat, jika tidak dengan Dave dan Fany, kedua binatang kesayangannya. Akhirnya kemauannya dituruti. Anjing kecil dan anak biri-biri itu boleh ikut dengan mereka. Setelah itu timbul persoalan lagi. Aily tidak mau dibungkus dengan pakaian hangat! Ia hanya mau memakai syal dan topi wool - itu pun karena warna kedua barang itu sama dengan yang dipakai Julian. Akhirnya mereka berangkat. Salju masih turun terus. Julian sudah sangsi saja, apakah mereka akan bisa menemukan jalan nanti. Kereta luncur yang dipakai penuh-sesak! Julian dan Dick naik kereta yang satu, mengapit Aily yang menggendong anak biri-biri di tengah mereka. Sedang Anne dan George naik kereta luncur yang kedua, mengapit Timmy dan Dave di tengah-tengah. George duduk di depan. Anne mendapat tugas memegangi kedua anjing itu. Agak sulit jadinya memegang dua ekor anjing yang bergerak-gerak terus, dan sekaligus menjaga keseimbangan badan sendiri.

"Pasti kita nanti terguling," katanya pada George. "Sebetulnya lebih baik jika kita menunggu dulu sebentar, karena hujan salju semakin lebat!" "Malah lebih baik untuk kita," kata Julian, "dengan begini kita takkan ketahuan apabila sudah berada di dekat Menara Tua nanti! Kereta luncur yang dinaiki oleh Dick dan Julian melesat lebih dulu. Cepat sekali meluncur menuruni lereng. Makin lama makin cepat! Julian dan Dick merasa asyik. Tapi Aily agak ketakutan. Dipeluknya Julian erat-erat. Sedang anak biri-biri hanya memandang berkeliling dengan heran. Tapi ia tidak berani bergerak sedikit pun. Kalau berani pun tidak bisa karena terjepit antara punggung Julian dan perut Aily! Syiuuuuuut! Menuruni lereng sampai ke kaki bukit, lalu menanjak lereng seberang makin lama makin pelan dan akhirnya terhenti. Kedua kereta luncur itu meluncur susulmenyus1. Kereta yang dikendarai George dan Anne terhenti tak Jauh di belakang kereta Julian dan Dick. George turun, lalu menghela kereta ke tempat Julian. "Nah - sekarang bagaimana?" tanya George. "Asyik ya, meluncur tadi?" "Ya, asyik!" kata Julian. "Mau rasanya meluncur beberapa kali lagi! Kau senang, Aily? "Tidak," jawab Aily. Ia menarik topi, wolnya, supaya miringnya sama dengan topi Julian. "Tidak! Hidungku jadi dingin rasanya. Sangat dingin! Aily menutup hidungnya dengan tangan supaya menjadi panas. George tertawa melihat kelakuan anak itu. "Aduh, anak ini mengeluh hidungnya dingin! padahal biasanya ia berpakaian tipis." katanya. Kalau dia mengatakan seluruh tubuhnya kedinginan - nah, baru aku mau percaya!" Aily - tahukah kamu di mana lubang besar itu?" tanya Julian sambil memandang berkeliling. Di mana-mana, hanya salju saja yang nampak. Turunnya begitu lebat, sehingga menyerupai tirai putih! Aily juga memandang berkeliling. Julian merasa yakin, anak itu akan mengatakan tidak tahu karena hujan salju sangat lebat. Bahkan ia sendiri pun saat itu tidak bisa mengatakan arah mana yang menuju ke atas dan mana yang ke bawah. Tapi ternyata Aily memiliki perasaan yang tajam sekali. Baik pada waktu malam, atau ketika sedang turun hujan salju, anak itu selalu bisa mengenali arah tanpa mengalami kesulitan sedikit pun! Aily mengangguk. . "Aily tahu - Dave juga tahu," katanya singkat. Anak itu berjalan beberapa langkah. Kakinya langsung terbenam dalam salju. Dengan cepat sepatunya yang tipis sudah basah kuyup.

"Awas - beku nanti kaki anak itu" kata Dick memperingatkan. "Lebih baik kalau dia kautaruh ke atas kereta lantas kita tarik, Ju! Sayang, tak ada sepatu salju kita yang kecil, sehingga bisa dipakai olehnya. Wah - ini merupakan ekspedisi gila-gilaan! Mudahmudahan saja Aily benar-benar tahu arahnya. Aku sendiri saat ini sama sekali tidak tahu, mana timur dan mana yang barat!" "Tunggu - aku tadi sempat mengantongi kompas," kata Julian, sambil merogoh-rogoh kantong. Akhirnya alat penunjuk arah itu ditemukan juga olehnya. "Di sana selatan," katanya, setelah mengamat-amati kompas sesaat. Jadi di sana letak Menara Tua - karena dari pondok kita, selatan letaknya di seberang. itu kuketahui, karena matahari masuk ke dalam pondok lewat jendela depan. Kurasa kita harus menuju ke sana - lurus ke selatan!" "Coba kita lihat, arah mana yang ditunjukkan oleh Aily," kata Dick. Anak itu diangkatnya, lalu diletakkannya ke atas kereta. Syal yang membungkus tubuh dirapatkannya. "Nah - sekarang ke mana, Aily?" Aily langsung menunjuk ke selatan. Anak-anak tercengang. "Tepat," kata Julian. "Yuk, Dick! Aku menarik kereta ini, dan kau menarik kereta George dan Anne." Mereka lantas mendaki lereng bukit Menara Tua. Aily duduk di kereta terdepan dengan Dave dan Fany, sedang Timmy sendiri di kereta kedua. George dan Anne berjalan di belakangnya. Timmy keasyikan. Ia paling tidak senang berdiri di atas salju, karena kakinya selalu terbenam. Lebih enak duduk di atas kereta yang ditarik oleh Dick. "Dasar pemalas!" kata Dick. Timmy menggoyang-goyangkan ekor. Masa bodoh dikatakatai 'pokoknya ,ia tidak perlu repot-repot berjalan! Julian berjalan sambil memperhatikan kompas. Selama beberapa waktu, rombongan itu bergerak lurus ke selatan. Kemudian Aily berseru, sambil menunjuk ke kanan. "Ke sana, ke sana," serunya. "Kita disuruhnya ke timur," kata Julian. Ia berhenti menarik. "Betulkah itu? Menurut perasaanku, jika kita berjalan lurus saja, kita akan sampai ke Menara Tua. Tapi jika mengikuti petunjuk Aily, kita akan lewat di sebelah kanannya!" "Ke sana - ke sana," ulang Aily berkali-kali. Dave menggonggong, seakan-akan hendak mempertegas pendapat anak itu!

'''Lebih baik kita ikuti kemauannya," kata Dick. "Kelihatannya dia yakin sekali!" Julian lantas menyimpang ke kanan sedikit, diikuti oleh saudara-saudaranya yang berjalan di belakang. Sementara itu sudah jauh juga mereka mendaki bukit itu. Napas Julian mulai sengal-sengal. "Masih jauh?" tanyanya pada Aily. Anak itu sedang menimang-nimang anak biri-birinya, seakan-akan tidak mengacuhkan arah tujuan mereka. Dan sebetulnya tidak banyak yang bisa diperhatikan, karena di mana-mana cuma salju saja yang nampak! Tapi begitu Julian bertanya, Aily langsung mendongak lalu menunjuk lagi. Tangannya menuding agak ke kanan lagi, disertai beberapa patah kata dalam bahasa Wales, Kepalanya terangguk-angguk. "Kelihatannya kita sudah hampir sampai ke tempatnya itu - ke lubang besar' -nya," kata Julian, lalu melanjutkan langkah. Kira-kira semenit sesudah itu, tiba-tiba Aily meloncat turun dari kereta. Ia berdiri di salju, melihat-lihat berkeliling sambil mengerutkan kening. "Di sini," katanya. "Lubang besar di sini." "Yah - mungkin kau benar. Aily - tapi aku ingin melihat buktinya yang lebih jelas," kata Julian. Aily mengorek-ngorek salju, dibantu dengan rajin oleh Dave dan Timmy. Timmy ikut mengorek. karena menyangka anak kecil itu sedang mengejar kelinci. "Kurasa anak ini cuma main tebak saja," kata Dick. "Kenapa justru harus di sini letak lubang itu?" Sementara itu Timmy dan Aily sudah cukup dalam mengorek. Mereka sudah mencapai rumput padang yang tertimbun di bawah tumpukan salju. Julian memperhatikan kesibukan mereka berdua. "Timmy - pegang Timmy!" kata Aily dengan sekonyong-konyong pada George. "Nanti dia jatuh - jauh sekali, seperti Dave dulu! Jauh, jauh sekali ke dalam lubang!" "He! Kurasa aku tahu apa yang dicari Aily!" kata Dick tiba-tiba. "Di daerah padang belantara begini kadang-kadang ada liang yang masuk ke tanah. Ingat tidak - dulu kita juga pernah menemukan satu, di Pulau Kirrin!" "Ya, betul - liang itu pun letaknya di tengah padang rumput," kata George. "Dan dari situ kita sampai dalam sebuah gua, yang letaknya di tepi pantai! itu rupanya yang dimaksudkan oleh Aily dengan 'lubang besar'! Liang di tengah padang rumput! Aduh, Timmy - cepat, minggir! Nanti kau jatuh ke dalam lubang!"

Dan memang - nyaris saja Timmy terperosok ke dalam sebuah lubang. Untung saja George cepat mencengkeram kalung lehernya! Sedang Dave sudah berjaga-jaga karena pernah terjatuh ke situ. "Lubang!" kata Aily puas. "Lubang besar! Aily menemukannya !" "Ya - jelas bahwa kau berhasil menemukannya - tapi bagaimana caranya masuk ke Menara Tua dari sini?" tanya Dick. Aily tidak mengerti. Ia tetap berlutut, sambil memandang ke dalam lubang yang ditemukannya di tengah salju. "Kita turun, ya?" katanya, sambil memegang tangan Julian. "Aily menunjukkan jalannya?" "Yah - kita turun, kalau bisa," kata Julian segan. Dilihatnya lubang itu sangat gelap. Dan ia tidak tahu, ada apa di bawah! Sementara itu Fany sudah bosan menunggu-nunggu terus. Anak biri-biri itu meloncat ke tepi lubang, lalu menjulurkan kepalanya ke bawah. Setelah itu meloncat lagi, dan lenyap! "Dia meloncat ke dalam lubang," kata George kaget. "Tunggu, Aily - kau jangan ikut meloncat, nanti cedera!" Tapi Aily merosot masuk. "Aily di sini," terdengar suaranya agak jauh di bawah. "Cepat, masuk!"

Bab 18 DI DALAM MENARA TUA "Wah! Kalian lihat tadi? Dengan begitu saja dia masuk ke dalam," kata Dick dengan mata melotot. Ajaib, kakinya tidak patah! Julian, coba kausorotkan sentermu ke dalam." Permintaan Dick dituruti oleh Julian. . "Dalam juga liang ini," katanya kemudian. "Kurasa lebih baik salah satu kereta kita lintangkan di atas lubang ini. Lalu kita turun lewat tali yang kita ikatkan pada kereta. Aku tidak mau kakiku patah atau terkilir!" Julian dan Dick lantas melintangkan kedua kereta di atas lubang, lalu mengikatkan dua utas tali ke situ.

"Bagaimana dengan Timmy?" tanya George dengan khawatir. "Dave sudah menyusul ke bawah! Aneh - dia tidak apa-apa!" "Timmy akan kubungkus dengan jasku, lalu baru diikatkan ke tali," kata Julian. "Dengan begitu, kita bisa menurunkannya dengan mudah. Sini, Tim!" Setelah Timmy diikatkan pada tali yang satu, kemudian Dick merosot turun lewat tali yang lain. Ia berdiri di dasar liang, siap untuk menyambut Timmy yang diulurkan dengan pelan-pelan oleh Julian ke bawah. Ternyata memang tidak sukar menuruni lubang itu. Aily memandang dengan sikap mencemooh, sementara anak-anak turun satu per satu lewat tali. Julian tertawa, lalu menepuk-nepuk pundak anak itu. "Kami kan bukan Aily," kata Julian. "Kami tidak biasa berkeliaran sepanjang hari di pegunungan! Tapi, ya - Jadi inilah lubang besar yang kau katakan itu. Lalu sekarang?" Ia menyorotkan cahaya senternya berkeliling tempat itu. "Rupanya kita sekarang berada dalam sebuah gua sempit. Eh - itu kan ada lorong - itu di sana!" "Ya, betul," kata George. Sementara itu Aily sudah memasuki lorong itu, bersama Fany, anak biri-birinya. Coba lihat anak itu! Sama sekali tidak membawa senter - tapi samasekali tidak takut masuk ke tempat gelap! Wah - kalau aku sudah pasti ketakutan!" "Rupanya mata Aily sangat tajam," kata Anne, bisa melihat dalam gelap! Bagaimana kita susul dia! Kurasa lebih baik cepat-cepat saja sebelum tertinggal jauh!" "Yuk, Timmy," kata George. Keempat anak bersaudara itu memasuki lorong gelap berkelok-kelok, menyusul Aily. Anne mendongak, menatap langit-langit lorong dalam batu itu. Terbayang olehnya salju tebal di atas, tertumpuk menimbuni rumput padang. Anak-anak berjalan terus. Julian masih gelisah, karena Arly masih belum kelihatan juga di depan mereka. "Kembali, Aily!" serunya. Tapi dari depan tak terdengar suara anak itu menjawab. "Biar sajalah," kata Dick. "Kurasa cuma ini satu-satunya jalan yang bisa dilewati - dan Aily tahu kita harus melewati lorong ini! Nanti jika di depan. ternyata ada persimpangan, barulah kita berteriak memanggilnya. Tapi rupanya lorong itu tidak bercabang-cabang. Lintasannya berkelok-kelok, dan menurun terus menembus cadas. Tapi mereka berjalan di atas dasar pasir. Hanya sekalisekali saja terasa dasar berbatu.

Julian meneliti kompasnya lagi. "Selama ini kita terus menuju arah timur laut," katanya kemudian, "Jadi ke arah Menara Tua! Kini kurasa aku tahu, bagaimana Aily masuk ke tempat itu !" "Ya - mestinya lorong ini lewat di bawah pagar listrik, terus menyusur di bawah pekarangan, dan akhirnya sampai di kolong gedung itu," kata Dick. "Atau mungkin juga di dalam rumah itu sendiri! Ke mana sih anak itu?" Saat itu kelihatan Aily di depan mereka, disoroti cahaya senter Julian. Anak itu menunggu di depan sebuah tikungan, ditemani oleh Dave dan Fany. Ia menuding ke atas. "Jalan ke pekarangan!" katanya. "Ada lubang kecil di sini! Cukup untuk Aily! Untuk kalian tidak!" Julian mengarahkan sinar senternya ke atas. Betul juga kata Aily! Dilihatnya sebuah lubang kecil, penuh ditumbuhi salah satu jenis tumbuh-tumbuhan. Tidak bisa dikenali dengan jelas, karena tempat itu gelap. Julian memperhatikan isi lubang itu, yang mengarah ke atas. Sekarang dia mengerti, Aily memang dengan gampang saja bisa naik ke atas lewat lubang itu, untuk kemudian berkeliaran di pekarangan Menara Tua! Kelihatannya, cuma anak itu saja yang bisa berbuat begitu tanpa izin! "Lewat sini," kata Aily. Ia berjalan lagi, semakin menurun. "Mestinya kita sekarang sudah berada di bawah gedung itu," kata Julian. "Aku ingin tahu apakah......" Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, ia melihat bahwa lorong sudah berakhir. Mereka tiba dalam ruangan kolong yang sudah tua. Di sana-sini dindingnya sudah runtuh. Dan lorong yang mereka lewati, ternyata berakhir di belakang sebuah dinding yang sudah runtuh separo. Dengan bangga Aily berjalan di depan, masuk ke dalam kolong. Di situ banyak sekali terdapat tong-tong serta botol-botol, yang sudah berdebu. Rupanya kolong itu dulunya tempat menyimpan minuman anggur. "Wah! Banyak sekali ruangan di sini," kata Dick kagum, sementara mereka keluar-masuk ruangan demi ruangan. Tiba-tiba ia berseru "He! Apa ini Aily?" " Ia sampai di depan sebuah tembok tinggi yang sudah runtuh. Bukan dengan ,sendirinya, tapi kelihatannya diruntuhkan! Bekas-bekasnya nampak masih baru. Belum dilapisi debu dan lumut, seperti di tempat-tempat lain. Di belakang tembok yang dilubangi itu nampak sebuah gua yang berlangit-langit rendah.

Saat itu terdengar bunyi yang aneh. Sebetulnya tidak aneh - tapi tak tersangka akan kedengaran disitu! Anak-anak mendengar bunyi air mengalir! Julian maju selangkah, memandang ke dalam gua rendah itu. Tapi baru saja ia bergerak dengan cepat Aily menariknya ke belakang. Jangan! Jangan! Jangan ke situ!" desis anak itu ketakutan. "Ada orang jahat! Jahat sekali! Tempat itu jahat!" . Tapi Julian tak mengacuhkan Aily yang menarik-narik lengannya. "Wah, di sini ada sungai! Sungai di bawah tanah!" kata Julian tercengang. "Mungkin airnya berasal dari berbagai sumber - lalu mengalir, kurasa terus sampai ke laut! Tempat ini kan tidak begitu jauh dari laut." "Di bawah orang-orang jahat!" kata Aily ketakutan. Dick dan George yang ingin melihat sungai, ditarik-tariknya pula. "Dor! Dor! Api besar - berisik! Yuk, cepat - masuk ke rumah!" "Wah! Ini benar-benar luar-biasa," kata Julian. "Apakah sebetulnya yang sedang terjadi di sini? Kita harus harus menyelidikinya. Dan apa maksud Aily dengan 'tempat jahat'?" Anne dan George juga tidak tahu. Tapi keduanya tidak kepingin menyusur sungai itu, untuk mencari penjelasan mengenainya! "Lebih baik kita naik saja dulu ke rumah," kata George. "Kan Bu Thomas lebih penting untuk kita saat ini! Pantas ia dikurung di atas menara - rupanya supaya tidak tahu apa yang terjadi di sini!" "Aku pun tidak tahu," kata Dick. "Aku bahkan sangsi, jangan-jangan saat ini kita sebetulnya sedang mengalami mimpi buruk!" "Yuk, masuk ke rumah," kata Aily sekali lagi. Ia kelihatannya lega, ketika anak-anak akhirnya menyusul. Timmy berjalan paling belakang, mengikuti George. Kelihatannya anjing itu agak bingung, apa sebetulnya yang sedang mereka lakukan di situ. Tanpa ragu sedikit pun, Aily berjalan mendului. Menyusur ruangan demi ruangan yang pengap, lalu masuk ke dalam sebuah ruangan lain. Tempat itu kelihatannya dijadikan gudang, karena di situ ada makanan berkaleng-kaleng, ditambah dengan perabot yang sudah usang, dan bermacam-macam barang lagi. "Kita pelan-pelan!" katanya, lalu berjalan berjingkat-jingkat. Anak-anak mengikuti dari belakang, mendaki tangga batu yang tinggi. Akhirnya sampai di depan pintu yang terbuka sedikit. Aily berdiri di situ sambil memiringkan kepala. Anak itu memasang telinga rupanya ingin tahu apakah pengawas ada di situ, pikir Julian. Dalam hatinya timbul

kekhawatiran, jangan-jangan anjing galak itu juga ada di dalam rumah. Ia berbisik-bisik, menanyakannya. "Anjing besar di dalam rumah, Aily?" "Tidak! Anjing besar di pekarangan! Dia selalu di situ, siang malam!" jawab Aily dengan berbisik pula. Julian lega mendengarnya. "Aily mencari orang itu," kata Aily. Ia melangkah maju, sementara tangannya dilambaikan menyuruh yang lain-lain menunggu di balik pintu. "Aily pergi untuk melihat, di mana pengawas Menara Tua ini," kata Julian. "Wah - belum pernah kulihat anak kecil kayak Aily! Nah, sudah kembali lagi!" Aily muncul sambil tersenyum bandel. "Orang itu tidur," katanya. "Aman." Diduluinya lagi anak-anak, masuk ke dalam dapur yang sangat lapang. Tak jauh dari tempat mereka nampak sebuah pintu terbuka. Pintu bilik tempat menyimpan makanan! Dengan segera Aily melesat, masuk ke bilik itu - lalu kembali dengan piring berisi perkedel daging. Makanan itu ditawarkannya pada Julian. Tapi Julian menggeleng. "Jangan! Kau tidak boleh mencuri!" katanya. Aily tidak mengerti maksudnya. Atau mungkin juga tidak mau mengerti. Pokoknya, perkedel itu kemudian digigitnya sesuap besar. Lalu sesuap lagi. Setelah merasa kenyang, sisa perkedel diletakkannya ke lantai, untuk Dave dan Timmy! Sudah jelas kedua anjing itu langsung melahap dengan rakus. "Aily! Antarkan kami ke wanita tua," kata Dick. Ia tidak ingin membuang-buang waktu lebih lama lagi. "Kau tahu pasti, di sini tak ada orang lain?" "Aily tahu!" kata anak kecil itu. "Satu orang menjaga dia di situ!" Aily menuding pintu sebuah kamar. "Dia menjaga wanita tua, dan anjing menjaga pekarangan. Orang-orang lain tidak masuk ke sini." "Kalau begitu, di mana tinggalnya orang-orang yang lain?;' tanya Julian. Tapi Aily tidak memahami maksud Julian. Ia masuk ke dalam sebuah ruangan yang luas. Di situ ada dua tangga lebar menuju ke atas. Dan di atas, kedua tangga itu berakhir pada semacam serambi yang lebar pula. Anak biri-biri meloncat-loncat dengan lincah, menaiki tangga. Dave menggonggong dengan gembira.

"Ssst!" desis Julian serta anak-anak yang lain serempak. Tapi Aily malah tertawa. Nampaknya anak itu sudah merasa biasa dalam rumah besar itu. Dalam hati timbul pertanyaan, sudah berapa seringkah Aily masuk ke situ lewat liang tadi? Pantas ia sering tidak tidur di rumah - karena ternyata bisa bersembunyi di salah satu sudut gedung besar itu. Aily menaiki tangga yang lebar, diikuti oleh kawan-kawannya. Mereka menaiki sampai di tingkat dua. Kini mereka berada di sebuah gang yang panjang. Di kedua sisinya terpasang lukisan berjejer-jejer. Di ujung gang itu ada tangga lagi. Ketika Julian hendak memasuki lorong itu, dilihatnya Aily mundur sedikit. Julian mengulurkan tangan, hendak membimbingnya. Tapi anak kecil itu tidak mau. "Ada apa?" tanya Julian. "Aily tidak mau," kata anak itu sambil mundur. "Orang-orang itu memandang Aily!" sambil berkata begitu, ditudingnya lukisan berjejer-jejer, potret para penghuni Menara Tua pada jaman dulu. Semuanya sudah lama meninggal dunia. "Aily takut pada potret-potret itu!" kata Anne. "Ia takut, karena pandangan mereka mengikutinya terus, sementara ia lewat di situ. Anak aneh! Baiklah - kalau begitu kau tunggu saja di sini. Aily. Kami sendiri yang naik ke menara." Mereka meninggalkan Aily yang kemudian cepat-cepat bersembunyi di balik tirai, bersama Dave dan Fany. Sambil berjalan dalam lorong, Anne melirik ke arah potretpotret yang terpasang di dinding. Ia agak bergidik, karena merasa diikuti dengan pandangan. Wajah-wajah itu begitu angker kelihatannya! Mereka mendaki dua tangga lagi. Kini mereka berdiri di ujung sebuah lorong panjang, penghubung antara Menara yang satu dengan menara lainnya. Nah, menara manakah yang harus mereka tuju? Jawabannya mereka peroleh dengan gampang, sebab hanya satu ruangan saja yang tertutup pintunya! "Mestinya inilah ruangan yang kita cari!" kata Julian, lalu mengetuk pintu yang tertutup itu. "Ya, siapa itu?" terdengar suara bernada lemah dan sedih di balik pintu. "Sudahlah, Matthew! Jangan berlagak tahu aturan. Buka pintu, dan jangan mengejek aku dengan ketukanmu itu!" "Anak kunci ada di lubangnya," kata Dick pelan. "Cepat, Julian - buka saja pintu itu!"

Bab 19 BERMACAM-MACAM KEJADIAN Julian membuka pintu. Seorang wanita yang sudah tua duduk di samping jendela sambil membaca buku. Ia tidak menoleh ketika anak-anak masuk. "Apa sebabnya kau datang begini pagi, Matthew?" tanya wanita itu, tanpa berpaling. "Dan dari mana tiba-tiba tahu aturan, mengetuk pintu dulu sebelum masuk? Apakah kau ingat lagi pada waktu, ketika kau masih tahu bagaimana caranya bersikap terhadap orang yang lebih tua?" "Aku bukan Matthew, Bu," kata Julian. "Kami datang untuk membebaskan Anda." Saat itu juga wanita tua itu berpaling. Mulutnya ternganga karena heran. Kemudian ia bangkit dan berjalan menghampiri pintu. Anak-anak melihat bahwa wanita itu gemetar. "Kalian siapa?" tanyanya. "Cepat, aku harus pergi dari sini - sebelum Matthew datang," Didorongnya anak-anak ke pinggir. Tapi sesampai di gang, ia tertegun. "Apakah yang harus kulakukan sekarang? Ke mana aku harus pergi? Apakah orang-orang itu masih ada di sini?" Kemudian ia masuk lagi ke dalam kamar, dan duduk di kursi yang tadi. Ia menutup mukanya dengan tangan. "Kepalaku agak pusing. Tolong ambilkan minum," katanya. Anne bergegas menuangkan air segelas dari kendi yang ada di atas meja, lalu menyodorkannya pada wanita tua. Setelah minum seteguk. wanita itu memandang Anne. "Kalian siapa? Kenapa tahu-tahu muncul di sini? Mana Matthew? Aduh, aku bingung jadinya!" "Bu Thomas - Anda Bu Thomas, kan?" kata Julian. "Aily, anak Pak Gembala yang mengantarkan kami kemari. Ia tahu, Anda tertawan di sini. Anda masih ingat pada ibu anak itu? Menurut ceritanya, ia dulu bekerja di sini." "Ibu Aily- Maggy-ya, ya, aku ingat padanya. Tapi apa hubungan Aily dengan soal ini? Tidak- aku tidak percaya. Ini pasti tipuan lagi! Mana orang-orang yang membunuh anakku?" Julian melirik Dick. Jelas pikiran wanita tua ini tidak beres. Atau ia bingung, karena mereka dengan tiba-tiba saja muncul di situ. "Orang-orang yang dibawa anakku Llewellyn kemari - mereka hendak membeli rumahku ini," kata Bu Thomas lagi. "Tapi aku tidak berniat menjualnya. Lalu mau tahu, apa kata mereka kemudian padaku? Kata mereka, dalam bukit ini- Jauh di bawah dasar rumah ini -

ada simpanan logam yang Jarang terdapat. Logam itu memiliki kekuatan besar, dan sangat mahal harganya. Mereka juga menyebut namanya - tapi aku sudah lupa lagi." Bu Thomas memandang anak-anak, seperti mengharapkan mereka mengetahui nama logam itu. Ketika anak-anak diam saja, ia lantas menggeleng. "Memang, dari mana kalian bisa tahu namanya - kalian kan masih anak-anak! Tapi aku tetap tidak mau menjual, baik rumahku - maupun logam yang ada di bawah itu. Kalian tahu, kenapa mereka menginginkannya? Untuk membuat bom! Lalu kukatakan, Tidak! Rumah ini takkan kujual, karena aku tidak mau ada orang menggali logam itu untuk dijadikan bom'! Perbuatan itu melanggar hukum Tuhan, kataku - dan aku, Bronwen Thomas, takkan mendukungnya!" Anak-anak mendengarkan sambil membisu, sementara Bu Thomas berbicara terus. Perasaan wanita tua itu nampak sangat tegang. Ia berbicara sambil mengayun-ayunkan tubuhnya ke muka dan ke belakang. "Lalu mereka kemudian bertanya pada anakku. Tapi dia pun menolak, sama seperti aku! Sebagai akibatnya, anakku itu mereka bunuh. Dan sekarang mereka ada di dalam bukit, sibuk menggali logam itu. Ya, ya - aku bisa mendengar kesibukan mereka. Kudengar bunyi gemuruh, kurasakan rumahku ini tergetar keras, dan aku juga melihat hal-hal yang aneh. Tapi - kalian ini siapa? Dan mana Matthew? Dialah yang mengurung dan menjaga diriku dalam kamar ini. Dia pula yang bercerita bahwa anakku Llewellyn sudah mati, dibunuh oleh mereka. Matthew itu jahat orangnya! Ia bekerja sama dengan para penjahat itu!" Sesaat, wanita itu tercenung, seakan-akan melupakan anak-anak yang mengerubunginya. Sedang anak-anak itu sendiri juga bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan berikutnya. Menurut penilaian Julian, keadaan Bu Thomas tidak memungkinkan dia diajak menuruni tangga ke bawah, lalu menyusur liang di bawah tanah! Apalagi menerobos naik ke luar lubang lewat tali! Ia mulai menyesal, kenapa tadi terburu-buru hendak menyelamatkan. Nampaknya paling baik pintu kamar dikunci lagi dari luar supaya Bu Thomas aman di situ, sementara anak-anak pergi memanggil polisi. Kini Julian menyadari, ia harus meminta bantuan polisi. "Kami pergi dulu, Bu - nanti akan datang orang untuk menyelamatkan Anda," katanya kemudian. "Harap bersabar sedikit, Bu." Saudara-saudaranya melongo. Tapi dengan cepat Julian mendorong mereka ke luar kamar. Pintu ditutup olehnya, dan langsung dikunci kembali. Anak kuncinya dimasukkan ke dalam kantong! "Lho - Bu Thomas tidak kita bawa?" tanya George heran. "Kasihan dia!" "Tidak, tidak bisa," jawab Julian. "Kita harus pergi ke polisi - tak peduli apa kata Morgan! Sekarang aku tahu duduk persoalannya! Bu Thomas melarang anaknya menjual

Menara Tua, walau pihak yang ingin membeli berani membayar berapa saja - dan karena anaknya kemudian juga menolak untuk menjual, orang-orang itu lantas menyusun rencana untuk menggali logam itu secara diam-diam....." "Dan membunuh anak Bu Thomas?" kata Dick. Yah, mungkin memang begitu kejadiannya - tapi menurut perasaanku, perbuatan itu nekat sekali! Soal begitu mestinya kan lekas ketahuan, lalu polisi tentu akan datang untuk melakukan penyidikan di sini! Tapi ternyata sampai kini cuma Bu Thomas sendiri saja yang mengatakan anaknya mati dibunuh orang-orang itu." "Nanti saja kita bicara tentang soal itu," kata Julian. "Sekarang ada urusan lain, yang lebih penting! Aku juga menyesal, terpaksa meninggalkan Bu Thomas lagi dalam keadaan terkunci. Tapi sungguh di situ ia lebih aman, daripada di tempat lain." Anak-anak kembali ke gang yang kedua sisinya penuh dengan lukisan berjejer-jejer. Aily masih menunggu di situ, sambil memeluk kedua binatang kesayangannya. Anak itu senang sekali melihat anak-anak datang, lalu menyongsong ,ambil tersenyum. Tidak disadarinya bahwa Bu Thomas tidak muncul bersama mereka. "Orang di bawah marah-marah!" kata Aily sambil tertawa. "Dia bangun - lalu teriak dan menggedor-gedor! " "Astaga! Cepat - kita harus keluar dari sini!" kata Julian. "Jangan sampai terlihat orang itu! Kita harus ke polisi sekarang. Mudah-mudahan saja tidak dikejar orang itu atau oleh anjingnya yang galak!" Anak-anak bergegas menuruni tangga. Mereka tidak melihat Matthew. Tapi dari salah satu tempat dalam rumah, terdengar bunyi orang berteriak-teriak sambil menggedorgedor. "Aily mengunci pintu," kata Aily sambil menuding ke arah asal keributan itu. "Dia mengurung wanita tua - lantas Ally mengurung dia! "Sungguh! Kau mengurung laki-laki itu?" kata Julian senang. "Kau ini memang bandel! Tapi idemu itu hebat! Kenapa tidak terpikir olehku?!" Julian menghampiri pintu tempat kamar Matthew terkurung. "Matthew!" seru Julian dengan garang. Keributan di balik pintu terhenti. Kemudian terdengar suara Matthew. "Siapa di luar? Siapa yang mengunci pintu ini? Jangan main-main ya - kalian kan tahu, aku harus menjaga Bu Thomas!" , "Aku bukan salah seorang kawananmu, Matthias" kata Julian. Saudara-saudaranya kagum mendengar anak itu berbicara dengan nada tandas dan berwibawa. "Kami datang

untuk menyelamatkan Bu Thomas! Dan kini kami pergi ke polisi, untuk melaporkan kejadian di sini - serta bahwa kalian membunuh anaknya. Ya, kalian - kau beserta orangorang yang sekarang sedang bekerja di bawah tanah!" Sesaat Matthew terdiam. Rupanya ia tercengang mendengar kata-kata Julian. Kemudian ia membuka mulut lagi. "Apa-apan ini? Aku tak mengerti! Polisi tidak bisa berbuat apa-apa di sini, karena Pak Llewellyn sama sekali tidak mati! Wah, dia malah segar- bugar - dan pasti dia nanti marah padamu! Ayo, cepat pergi dari sini - tapi sebelumnya buka pintu dulu. Aku heran, apa sebabnya anjing herder yang di luar tidak menyerangmu!" Sekarang anak-anak yang tercengang. Apa? Pak Llewellyn, anak Bu Thomas tidak mati? Kalau begitu, di mana dia? Dan apa sebabnya Matthew membohongi Bu Thomas? Kejam sekali perbuatannya! "Kalau begitu, apa sebabnya kaukatakan pada Bu Thomas bahwa anaknya mati dibunuh orang-orang itu?" tanya Julian. "Apa urusanmu? Pak Llewellyn yang menyuruh aku bercerita begitu pada ibunya. Bu Thomas tidak mau memberi izin pada Pak Llewellyn, yang berniat hendak menjual logam yang ada di bawah rumah yang katanya memiliki kekuatan magnet. Kalau Pak Llewellyn ingin menjual, kenapa tidak boleh? Tapi menurut pendapatku, ia sebetulnya jangan menjualnya pada orang-orang asing! Kalau itu kuketahui sebelumnya - yah, aku takkan mau bekerja untuknya, jika itu sudah kuketahui sebelumnya !" Sehabis berbicara, Matthew mulai menggedor pintu lagi, sambil berteriak-teriak. "Siapa yang di luar? Ayo, buka pintu ini! Aku selalu berbuat baik pada wanita tua itu tanya saja padanya - padahal dia selalu rewel! Pokoknya aku patuh pada Pak Llewellyn! He, kau siapa? Ayo cepat, buka pintu! Kalau sampai ketahuan oleh Pak Llewellyn aku terkurung di sini, bisa mati aku nanti dihajarnya! Aku akan dituduhnya membocorkan rahasia. Aku pasti dimaki-maki .....! BUKA PINTU, kataku!" "Kayaknya dia agak sinting," kata Julian. "Dan kurasa juga tidak begitu cerdas, karena mau saja percaya pada kata-kata Pak Llewellyn, serta mematuhi segala perintahnya. Yah - kurasa lebih baik kita cepat-cepat saja ke polisi. Yuk - kita ke luar lewat jalan tadi." "Tapi sebelumnya, bagaimana jika kita menyusur sungai dulu, untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh mereka yang ada di bawah," kata Dick. "Sebaiknya kita berdua saja, Julian. Sekarang ada kesempatan baik! Kan cuma sebentar saja. George, kau menunggu di sini bersama Anne dan Aily. Timmy juga tidak perlu ikut!" "Lebih baik kita jangan membuang-buang waktu sekarang," kata Julian.

"Ya, betul!" sambut Anne. "Perasaanku tidak enak dalam rumah ini. Entah kenapa - tapi seram rasanya! Dan aku takut pada getaran itu, apabila mereka yang di bawah sudah mulai bekerja lagi." "Kalau begitu kita berangkat saja sekarang," kata Julian. Tanpa mengacuhkan Matthew yang masih terus ribut dalam kamar yang terkunci, anak-anak turun ke ruangan bawah tanah. Mereka berjalan dengan diterangi sinar senter. "Pasti Matthew mengamuk sekarang, karena kita tidak mau membuka pintu," kata Dick, sementara anak-anak menelusuri ruangan demi ruangan di bawah rumah. "Biar tahu rasa! Habis, mau saja dibayar Pak Llewellyn untuk menceritakan yang bukan-bukan pada Bu Thomas! Nah - sekarang kita sampai di dinding yang dijebol untuk bisa pergi ke sungai bawah tanah. Kurasa ini jalan yang paling gampang untuk masuk ke tempat logam aneh itu!" Anak-anak berdiri sambil memandang lewat lubang di dinding, menatap sungai yang kelam airnya. "Cepat! Cepat!" kata Aily, sambil menarik tangan Julian. "Ada orang-orang jahat di situ!" Aily memegang anjingnya erat-erat, karena ia takut binatang itu jatuh ke air. Tapi Fany dibiarkannya bebas, melompat-lompat dengan gembira seperti biasanya. Tiba-tiba anak biri-biri itu lari ke arah sungai. "Fany! Kembal -Fany!" seru Aily. Tapi anak biri-biri itu lari semakin menjauh. Mungkin tak didengarnya Aily berteriak-teriak memanggil, karena arus sungai yang deras. Tanpa pikir panjang lagi Aily lari mengejar. Ia bergerak lincah, lari sambil meloncat dari batu ke ke batu di tepi sungai. "Kembali, goblok!" seru Julian. Tapi Aily tidak mau mendengar - atau tidak bisa pokoknya anak itu lenyap ditelan kegelapan liang tempat sungai mengalir. "Dia tidak membawa senter, Ju! Nanti terjatuh ke dalam air dan tenggelam!" seru George ketakutan. "Susul dia, Timmy - bawa kembali kemari!" Dengan segera Timmy lari menyusul. Ia lari dengan cepat, menyusur tepi sungai yang gelap, menuju ke hilir - ke arah laut. Sedang anak-anak menunggu di depan lubang dengan cemas. Setelah berlalu beberapa waktu, George mulai ketakutan - memikirkan Timmy. "Aduh, Julian - apakah yang telah terjadi dengan Timmy, serta yang lain-lainnya?" katanya gugup. "Mereka tidak membawa senter! Aduh, kenapa aku tadi menyuruh Timmy sendiri menyusul mereka? Seharusnya kita masuk bersama-sama!" Mereka pasti kembali," kata Julian. Padahal dalam hati, ia tidak begitu yakin. "Kurasa Aily bisa melihat dalam gelap, seperti Timmy!"

Tapi ketika setelah lima menit belum ada yang kembali, George mengambil keputusan nekat. Ia masuk ke dalam lubang, lalu mulai menyusur sungai sambil menyorotkan cahaya senternya untuk melihat jalan. "Aku akan mencari Timmy!" katanya. Sebelum saudara-saudaranya sempat mencegah, anak itu sudah menghilang dalam kegelapan. Julian berseru dengan jengkel. "George - jangan nekat! Timmy pasti bisa menemukan jalan kembali. Jangan masuk ke situ karena kita tidak tahu di sana ada apa!" "Yuk," kata Dick, lalu mulai ikut menyusur sungai. "George sudah pasti tidak mau kembali, sebelum berhasil menemukan Timmy! Sebaiknya kita susul dia dengan segera, sebelum terjadi sesuatu yang tidak enak!" Mau tidak mau, Anne terpaksa ikut. Hatinya berdebar-debar. Inilah yang dikhawatirkannya sejak tadi!

Bab 20 DALAM BUKIT Anak-anak yang berjalan menyusur tepi sungai bawah tanah itu merasa seperti sedang mengalami mimpi buruk. Untung saja baterai senter mereka kuat, sehingga cahayanya terang-benderang. Soalnya, tepi sungai yang ditelusuri kadang-kadang sempit sekali. Mereka harus berjalan dengan hati-hati. "Aduh, pasti aku terpeleset nanti!" pikir Anne, sambil berjalan mengikuti kedua abangnya. "Sepatu saljuku ini, sama sekali tidak cocok untuk dipakai berjalan di sini!' Huh, deras sekali arus sungai - dan gemuruh bunyinya!" George berjalan agak jauh di depan mereka, sambil berseru-seru memanggil Timmy. Ia sangat cemas karena anjing itu tidak datang, walau sudah sedari tadi dipanggil-panggil. Padahal biasanya anjing itu segera datang jika dipanggil. Tak terpikir oleh George bahwa Timmy tidak bisa mendengar suara tuannya, karena dikalahkan deru air sungai yang mengalir dengan deras. Kemudian liang tempat sungai itu mengalir tiba-tiba melebar, membentuk semacam kolam yang luas. Dan di belakang kolam itu nampak sebuah lubang di dinding batu. Ke situlah air mengalir, melanjutkan perjalanan ke laut. Kolam bawah tanah itu berada dalam sebuah gua. yang setengahnya berisi air dan setengahnya berupa dasar batu yang kasar. George memandang tempat itu dengan tercengang. Tapi ia lebih-lebih tercengang lagi, ketika melihat di situ ada sebuah rakit!

Kedua rakit itu tertambat di sisi kolam. Sedang di dasar gua yang tak berair terletak sejumlah tong, yang berjejer-jejer. Nampaknya seperti sudah disiapkan di situ, untuk kemudian diangkut ke tempat lain. Pada satu sisi gua nampak sejumlah besar kaleng dan botol bertumpuk-tumpuk. Kelihatannya belum satu pun yang sudah dibuka. Sedang di seberangnya bergeletakan kaleng dan botol kosong. Di situ juga nampak peti kayu yang besar-besar. George tidak mengetahui kegunaan peti-peti itu. Ruangan dalam gua itu tidak gelap, karena di situ ada lampu! Rupanya penerangan itu bekerja degan aki. Tapi tempat itu kosong - tidak ada siapa-siapa di situ. George memanggil-manggil Timmy lagi. Siapa tahu, anjingnya ada di situ. "Timmy! Timmy!" serunya. Saat itu juga Timmy muncul dari belakang sebuah peti besar. Dengan perasaan lega, George berlutut lalu memeluk anjingnya itu. "Anjing nakal!" katanya. "Kenapa kau tidak datang tadi, ketika kupanggil-panggil? Mana Aily?" Wajah seorang anak kecil muncul dari balik peti di dekat situ. Aily kelihatannya sangat ketakutan. Ia menangis, sambil mendekap anak biri-birinya dengan erat. Sedang Dave, anjingnya, mengikuti dari belakang. Aily lari menghampiri George, sambil menyerukan sesuatu dalam bahasa Wales. Tangannya menuding ke dalam terowongan, dari mana mereka datang. George mengangguk. "Ya. sekarag juga kita kembali! Nah - itu kawan-kawan Juga kemari!" Tapi Aily juga sudah melihat Julian serta kedua adiknya yang datang menghampiri. Ia lari menyongsong Julian, sambil berseru-seru gembira. Julian menjunjung anak kecil itu, beserta anak biri-birinya sekaligus. Kemudian semuanya memandang berkeliling gua. "Sekarang segala-galanya menjadi jelas bagiku," kata Julian. "Mereka memang cerdik! Mereka menambang logam berharga di sini, lalu memasukkannya ke dalam tong-tong itu yang kemudian diangkut dengan rakit ke laut. Pasti di pesisiir sudah menunggu tongkang-tongkang di salah satu tempat tersembunyi, yang akan mengangkut tong-tong itu entah ke mana pada malam hari!" "Wah! Memang, sangat cerdik;" kata Dick. Mereka memperhitungkan bahwa takkan ada orang berani datang mendekat, karena takut pada getaran dan bunyi gemuruh yang saban kali terasa terdengar di sekitar sini. Jadi takkan ada yang berani datang memeriksa, ada apa sebetulnya di tempat ini!!"

"Pertanian yang paling dekat dari sini adalah Magga Glen Farm, milik Bu Jones," kata Julian. Cuma mereka saja yang seharusnya agak tahu-menahu tentang keJadian-kejadian di sini!" Dan rupanya mereka memang tahu," tebak Dick. Pasti Morgan bersekongkol dengan Pak Llewellyn, yang menjual logam milik ibunya pada orang-orang yang menghendakinya." Aneh - di sini tak terdengar bunyi apa-apa, kecuali deru air mengalir," kata Julian. "Mungkinkah saat ini orang-orang itu sedang tidak bekerja?" "Yah-- Baru saja Dick hendak mengatakan sesuatu, ketika dengan tiba-tiba Dave dan Timmy mulai menggeram-geram. Dengan cepat Julian menarik George dan Aily ke balik sebuah peti besar, sedang Anne didorong oleh Dick ke tempat itu pula. Di situ anak-anak memasang telinga. mencari-cari apa yang menyebabkan kedua anjing itu tiba-tiba menggeram. Apakah yang terdengar oleh keduanya tadi? Dalam hati masing-masing timbul kesangsian, masih bisakah mereka buru-buru lari sebelum ketahuan? Timmy menggeram-geram terus dengan pelan. Anak-anak mulai gelisah. Tapi kemudian terdengar suara orang bercakap-cakap. Dari arah mana datangnya suara-suara itu? Dengan hati-hati Dick menjengukkan kepala dari balik peti. Tempat itu gelap, jadi ada harapan bahwa ia tak terlihat oleh orang-orang yang datang itu. Suara-suara itu tadi rasanya datang dari arah kolam. Dick memandang ke arah itu: Tibatiba ia berseru kaget. "Ju - lihatlah! Benarkah penglihatanku?" Julian ikut menengok dan langsung melongo. Nampak olehnya dua orang laki-laki muncul dari dalam lubang di sebelah hilir kolam. Rupanya keduanya tadi menyusur tepi sungai dari arah laut persis seperti yang dilakukan anak-anak tapi dari arah rumah. Kini kedua orang itu berjalan dalam air, di tepi kolam. "Yang satu itu - itu kan Morgan," bisik Julian. "Dan yang satu lagi siapa? Nanti dulu - eh, itu - itu kan Pak Gembala! Ayah Aily! Aduh, selama ini kita sudah menduga bahwa Morgan termasuk dalam persekongkolan jahat ini - tapi aku sama sekali tidak mengira bahwa Pak Gembala juga ikut terlibat di dalamnya!" Sementara itu Aily juga sudah mengenali ayahnya, yang berjalan seiring dengan Morgan. Ia tidak beranjak dari tempatnya, karena takut pada anak Bu Jones yang galak itu! Kedua laki-laki yang baru datang memandang berkeliling, seperti sedang mencari seseorang. Kemudian mereka menyelinap lewat tempat yang gelap, menyusur gua dan menuju ke sebuah liang lain yang terdapat di sisi belakangnya. Kelihatannya liang itu menurun, ke perut bukit.

Saat itu terdengar bunyi menggemuruh. "Bunyi itu datang lagi!" bisik George, sementara Timmy mulai menggeram kembali. "Tapi kedengarannya tidak di dekat sini! Aduh, bunyi itu seakan penuh kepalaku dengannya!" Tak ada gunanya lagi bagi mereka untuk berbisik-bisik. Jika hendak mengatakan sesuatu, mereka terpaksa berteriak. Saat berikutnya, bumi empat berpijak bergetar keras. Segalagalanya ikut tergetar, tak terkecuali tubuh mereka sendiri. "Badanku rasanya seperti digerakkan arus listrik!" seru Dick tercengang. "Jangan-jangan ada hubungannya dengan logam yang ada dalam bukit ini, yang menyebabkan besi bertambah berat, sehingga bajak tidak bisa dipakai untuk membajak tanah, dan cangkul tidak bisa dipakai mencangkul!" "Yuk, kita ikuti kedua orang itu," kata Julian. Semangatnya menyala-nyala. Segalagalanya ingin diselidiki dengan sejelas-jelasnya! "Kita berjalan menyelinap di tempattempat gelap, seperti mereka tadi. Takkan ada yang menduga bahwa kita ada di sini!" "Aily, kau tinggal saja di sini,' katanya pada anak kecil itu. "Di sana ribut, nanti Fany dan Dave takut." . Aily mengangguk, tanda mengerti. Ia duduk kembali di belakang peti, ditemani kedua binatang temannya bermain. "Aily tunggu di sini," katanya. Ia sama sekali tidak kepingin mendekati sumber bunyi ribut itu. Menurut perkiraannya mungkin di bukit itulah asal datangnya guruh dan petir. Ya, bahkan mungkin juga kilat! Hihh - Aily bergidik seram. Sementara itu Morgan dan Pak Gembala sudah masuk ke dalam liang sebelah belakang gua. Dengan cepat Julian serta saudara-saudaranya menyusul ke situ, lalu memandang ke dalam. Ternyata liang itu mengarah ke bawah. Agak terjal juga lubangnya. Tapi di dasarnya dibuat tangga yang dipahatkan dengan asal saja pada batu. Jadi tidak begitu sukar menuruni liang. itu. Dengan hati-hati keempat anak itu menginjakkan kaki, menuruni tangga batu itu. Mereka agak heran karena liang itu ternyata diterangi cahaya remang-remang. Padahal di tempat itu mereka sama sekali tidak melihat lampu. "Kurasa sinar ini dipantulkan dalam nyala sesuatu yang ada jauh di bawah," seru Julian, mengalahkan bunyi gemuruh.

Mereka turun semakin jauh ke bawah. Liang itu berbelok-belok, terus menurun dengan terjal. Dan di mana-mana keadaan remang-remang, diterangi cahaya redup. Bunyi gemuruh semakin nyaring, sedang liang pun menjadi semakin terang. Akhirnya anak-anak melihat ujungnya di kejauhan. Mereka melihatnya diterangi sinar menyilaukan - sinar terang berpendar-pendar. Kita sampai di tambang, di mana logam ajaib itu terdapat!" seru Dick. Ia begitu tegang, sehingga tangannya gemetar. "Hati-hati, jangan sampai ketahuan. JU! HATI-HATI, JANGAN SAMPAI TERLIHAT OLEH MEREKA!" Dengan langkah menyelinap anak-anak menghampiri ujung liang, lalu mengintip ke luar. Di depan mereka nampak sebuah kawah bersinar terang. Beberapa orang berdiri di sekelilingnya, sibuk melayani sejumlah mesin yang kelihatan aneh. Anak-anak belum pernah melihat mesin-mesin seperti itu. Tambahan lagi, sinar yang memancar dari dalam kawah begitu menyilaukan, sehingga mereka hanya bisa melihat dengan mata terpicing. Sedang orang-orang yang berdiri di tepinya, semua memakai topeng pelindung muka. Tiba-tiba bunyi gemuruh terhenti! Dan cahaya terang menghilang dengan seketika, seolah-olah ada yang memadamkan lampu. Detik berikutnya, kegelapan terbelah. Muncul suatu sinar pendar sinar aneh yang menyebar ke atas dan ke samping. Seakan-akan menembus langit-langit tempat itu! Dick mencengkeram lengan abangnya. "Ju - cahaya kayak itulah yang kita lihat beberapa malam yang lalu!" katanya. "Astaga rupanya berasal dari bawah sini, lalu menembus bukit dan kemudian memencar di atasnya! Rupanya sinar ini bisa menembus apa saja - semacam sinar X!" "Aku rasanya seperti sedang mimpi," kata Anne. Dipegangnya lengan George, untuk meyakinkan diri bahwa saat itu ia tidak bermimpi. "Sungguh - seperti mimpi!'' "Ke mana Morgan dan Pak Gembala tadi?" tanya Dick. "Oh, itu mereka - itu. di sana, di pojok itu. Nah, mereka kembali kemari sekarang!" Anak-anak bergegas masuk lagi ke dalam liang, karena takut ketahuan. Tiba-tiba terdengar orang berseru-seru di belakang mereka. Dengan segera mereka mempercepat langkah, mendaki tangga. Ketahuankah mereka tadi? Rupanya begitu! "Kudengar ada orang menyusul," kata Dick "Cepat! Cepat! Kenapa bunyi gemuruh itu tidak datang lagi? Sekarang pasti kedengaran langkah kaki kita di atas batu!"

Terdengar langkah seseorang bergegas mendaki tangga, di belakang anak-anak. Dari arah bawah, orang-orang ribut berteriak dan berseru-seru. Dari nadanya diperoleh kesan bahwa orang-orang itu marah. Aduh, kenapa mereka tadi membuntuti Morgan serta Pak Gembala? Padahal ada kesempatan untuk kembali ke kolong Menara Tua! Akhirnya anak-anak mencapai puncak tangga batu. Cepat-cepat mereka menyembunyikan di balik tumpukan peti. Mereka bermaksud hendak menyelinap masuk ke terowongan sungai bawah tanah, tanpa terlihat siapa-siapa. Tapi sebelumnya, Aily harus dijemput terlebih dulu! Ke mana anak itu? "Aily! Aily!" seru Julian. "Ke mana lagi dia? Kenapa kita tinggalkan di sini tadi? Aily!" Mereka tidak begitu ingat lagi, di mana mereka meninggalkan Aily dalam gua yang luas itu. "itu dia Fany, anak biri-birinya!" seru Julian, ketika melihat binatang itu di samping sebuah peti. "AILY!" "Awas! Morgan datang!" teriak George. Laki-laki berbadan kekar itu muncul dari liang, lalu lari melintasi gua. Ia tertegun, ketika melihat anak-anak ada di situ. "Apa yang kalian cari di sini?" bentaknya. "Ayo lekas, ikut dengan kami! Di sini berbahaya bagi kalian!" Saat itu Pak Gembala muncul dari mulut liang. Dengan segera kepala Aily tersembul dari belakang salah satu peti. Anak itu lari menyongsong ayanya. Pak Gembala melotot matanya. Ia kaget melihat anaknya ada di situ. Dengan segera Aily digendong ayahnya, sementara menyerukan sesuatu pada Morgan dalam bahasa Wales. Morgan berpaling, menatap Julian sambil melotot. Sudah kubilang, kalian jangan ikut-ikut dalam urusan ini! bentaknya. "Aku sendiri yang menangani! Sekarang kita semua ketahuan. Dasar anak konyol! Cepat - kita harus bersembunyi! Mudah-mudahan orang-orang itu mengira kita sudah masuk ke dalam terowongan sungai jika kita mencoba lari sekarang, pasti akan tersusul. Anak-anak yang masih melongo didorongnya ke salah satu pojok gelap. Beberapa buah peti besar diseretnya,. untuk dijadikan tempat bersembunyi. Kalian tinggal di sini!" katanya.

Bab 21 TANPA TERDUGA

Anak-anak meringkuk di balik tumpukan peti. Morgan mendorong sebuah peti lagi ke depan mereka, sehingga mereka kini sama sekali tidak kelihatan lagi. Dick meremas lengan abangnya. "Julian, ternyata selama ini kita salah sangka," katanya. "Ternyata Morgan juga berusaha menyelidiki rahasia yang tersembunyi dalam Menara Tua - dengan bantuan Pak Gembala! Cuma mereka saja yang merasa bahwa di sini ada sesuatu yang tidak beres. Pak Gembala bisa melihat segala-galanya yang kita lihat selama ini, pada saat ia sedang menggembalakan biri-biri di lereng gunung - dan kemudian ia melaporkan pada Morgan..." Julian mengeluh. "Ya, memang," katanya dengan nada menyesal. "Pantas dia marah-marah, ketika turut campur dalam urusan ini. Sekarang aku mengerti, apa sebabnya kita dilarang berbuat apaapa lagi. Aduh, kita memang benar-benar konyol! Di mana Morgan sekarang? Bisa kaulihat dia?" "Tidak! Rupanya bersembunyi di salah satu tempat. Dengar! Orang-orang dari bawah datang!" kata Dick. "Aku melihat orang yang paling depan, lewat celah di antara kedua peti ini. Wah dia membawa sesuatu - kelihatannya seperti besi pengungkit. Tampangnya galak!" Orang-orang yang tadi bekerja di bawah muncul satu-satu dalam gua. Kelihatannya mereka tidak tahu pasti, berapa orangkah yang mereka kejar. Dengan hati-hati mereka maju. Nampak oleh Dick bahwa orang-orang itu bertujuh, semua membawa senjata. Macam-macam persenjataan mereka. Dua di antara orangorang itu menuju ke arah hulu sungai. Dua ke hilir, sedang sisanya menyebar dalam gua dan mulai memeriksa di sela peti-peti. Anak-anak yang paling dulu ketahuan! Penyebabnya Aily. Kasihan - tiba-tiba anak kecil itu terpekik karena ketakutan. Tentu saja seketika itu juga orang-orang yang mencari langsung membongkar peti demi peti. Peti-peti bergulingan - dan bukan main herannya orang-orang itu, ketika tiba-tiba berhadapan dengan lima orang anak! Tapi cuma sesaat saja mereka tercengang, karena dengan diiringi gonggongan galak Timmy menerjang orang yang paling depan! Orang itu menjerit dan berusaha menangkis serangan Timmy. Tapi Timmy tidak mau melepaskan gigitannya. Tiba-tiba Morgan muncul dari tempat gelap. Disergapnya salah seorang lawan yang terpaku di dekatnya. Orang itu dibantingnya ke tanah. Sekaligus Morgan memiting seorang lawan lagi. Kemudian dilemparkannya orang itu ke tanah pula. Morgan ternyata memang bertenaga raksasa! "Lari!" serunya pada anak-anak. Tapi mereka tidak bisa melarikan diri, karena terjepit di salah satu pojok gua, di hadang dua orang. Julian menerpa seorang dari mereka, tapi

orang itu mendorongnya lagi ke pojok. Orang-orang itu semuanya berbadan kekar. Mereka pekerja tambang yang bertenaga besar. Walau bukan merupakan tandingan bagi Morgan, tapi yang lain-lain tertawan oleh mereka - termasuk Pak Gembala yang peramah itu. Ayah Aily juga terdesak ke pojok. Tinggal Morgan dan Timmy saja yang masih berkelahi terus. "Aku takut kalau Timmy cedera," kata George gemetar. Didorongnya salah seorang lawan yang menghadang, karena ingin menolong anjing kesayangannya itu. "Aduh, Ju orang itu hendak memukul Timmy dengan tongkat! Tapi Timmy berhasil mengelak, lalu menerpa orang yang memukul. Orang itu lari pontang-panting, dikejar oleh Timmy. Anjing itu berhasil menyusul, lalu langsung menerpa dan membanting lawannya ke tanah. Namun apa boleh buat - lawan terlalu banyak, sementara semakin bertambah saja yang menyusul datang dari bawah. Semua yang baru datang melongo sesaat, ketika melihat kelima anak yang sedang terkepung di pojok gua. Kebanyakan dari pekerja tambang itu kelihatannya orang asing. Mereka berbicara alam bahasa yang tak dikenal anak-anak. Tapi seorang di antaranya bukan orang asing. Dan dialah kepala gerombolan itu! karena dengan nada keras ia menyerukan perintah ke sana dan ke mari. Orang itu sama sekali tidak ikut berkelahi. Setelah diringkus lawan, tangan Pak Gembala dengan segera diikat ke belakang punggungnya. Morgan masih berkelahi terus selama beberapa saat. Tapi akhirnya ia terpaksa menyerah Juga. Ia mengamuk dan memberontak, sementara bebrapa orang dengan susah-payah berusaha mengikat tangannya. Kemudian kepala gerombolan menghampiri Morgan dan berdiri di depannya. "Sekarang kau akan menyesal, Morgan," kata orang itu. "Sudah sejak dulu kita selalu bermusuhan! Kau di pertanianmu di bawah - dan aku di atas sini, di Menara Tua!" Tiba-tiba Morgan meludah ke arah orang itu. "Mana ibumu?" teriak Morgan. "Tertawan, dalam rumahnya sendiri! Dan siapa yang merampok hartanya? Kau, Llewellyn Thomas!" Kemudian dia melontarkan serentetan kata dalam bahasa Wales. Suaranya semakin meninggi. Rupanya ia memaki-maki orang yang berdiri di depannya. Julian kagum melihat Morgan. Orang itu ternyata tak mengenal perasaan takut! Tangannya sudah terikat, tapi ia masih juga berani menantang orang yang ternyata adalah musuh lamanya. Sudah berapa seringkah keduanya berkelahi, mengadu tenaga? Kini Julian menyesal. Kenapa ia tidak mematuhi larangan Morgan, dan menyerahkan segala sesuatunya pada orang itu? Tapi bukankah mula-mula ia menyangka Morgan berada di pihak lawan! Julian memarahi dirinya sendiri - kenapa begitu tolol selama ini.

"Hanya karena kitalah ia sekarang tertangkap," katanya dalam hati. Ia sangat menyesal. "Aku tolol - dan selama ini kusangka tindakanku tepat dan cerdik! Sekarang kita semua terjerumus dalam kesulitan - termasuk George dan Anne! Apakah yang akan mereka lakukan terhadap kita? Kurasa yang paling aman bagi mereka adalah apabila kita ditawan terus sampai mereka selesai menambang logam-logam itu, lalu lari dengan membawa harta tersebut. " Sementara itu Llewellyn Thomas sibuk mengatur dengan suara keras. Anak buahnya mendengarkan dengan penuh perhatian. Timmy dipiting oleh salah seorang di antara mereka. Anjing itu menggeram-geram. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Setiap kali berusaha membebaskan diri, orang yang meringkusnya langsung mempererat pitingannya. George bingung sekali melihat keadaan Timmy. Julian harus bersusah-payah menahannya, jangan sampai sepupunya itu menerjang maju untuk menolong anjingnya. Julian takut kalau George dipukul, walau ia anak perempuan. Aily duduk meringkuk di pojok, sambil merangkul Fany dan Dave. Anjing kecil itu sangat ketakutan, sehingga sama sekali tidak berani berkutik. Apalagi menggigit. Morgan dipegang erat-erat oleh dua pekerja tambang yang bertubuh kekar. Tapi tiba-tiba aja petani itu mengayunkan tubuhnya ke samping, membentur salah seorang penjaganya sehingga orang itu terpelanting. Kemudian menyusul penjaga yang satu lagi. Orang itu terhuyung-huyung, tersandung pada sebuah kaleng lalu roboh ke tanah. Sambil berseru dengan lantang, Morgan lari ke kolam. Ia mengarungi air, menuju ke mulut terowongan sungai sebelah. Tapi tangannya masih tetap terikat di belakang punggung. "Tolol!" seru Llewellyn Thomas. "Dikiranya ia bisa menyusur sungai dengan terikat. Hahhh! Dia pasti akan hanyut terseret arus, lalu tenggelam! Tidak - jangan kejar dia! Biarkan saja dia lari - supaya tenggelam dalam sungai! Dia takkan merongrong kita lagi!" Pak Gembala berusaha memberontak, karena ingin menyusul Morgan. Ia tahu kata-kata LlewelIyn memang. benar! Tak ada yang bisa menyusur tepi sungai yang berbatu-batu itu Jika tidak dibantu dengan tangan untuk menopang dan meraba-raba dinding terowongan. Jika selip sedikit saja, pasti akan terjatuh ke dalam sungai yang deras arusnya. Tapi Morgan sama sekali tidak bermaksud hendak melarikan diri. Ia mengenal bahaya yang tersembunyi dalam terowongan yang gelap. Ia tahu bahwa di situ orang gampang sekali tergelincir, apabila menginjak batu yang licin dan basah. Tidak! Ia mempunyai rencana lain. Hati Julian kecut ketika melihat Morgan menghilang masuk ke dalam terowongan, ia juga tahu, tak ada yang bisa dengan selamat melewati terowongan itu, jika tidak dibantu tangan untuk menopang. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Llewellyn, kepala gerombolan itu berpaling pada anak buahnya yang masih melongo memandang ke arah Morgan menghilang. Ia hendak mengatakan sesuatu pada mereka. Tapi tiba-tiba terdengar bunyi yang sangat nyaring. Bunyi itu bukan deru arus sungai. Juga bukan gemuruh yang berasal dari tambang aneh. Tidak - bunyi itu suara seseorang, tapi lantangnya bukan main. Suara itu datang dari arah terowongan sungai tempat Morgan menghilang tadi, lalu menggema di sekitar gua. Yang menggema itu suara Morgan. Ia memanggil nama-nama ketujuh anjingnya. Semua terdiam, mendengar suara yang begitu lantang! "DAI! BOB! TANG! KEMARI! DOON! JOLL! RAFE! HAL!" Ruangan gua seakan-akan penuh dengan gema nama-nama itu. Aily sudah biasa mendengar Morgan memanggil anjing-anjingnya. Karena itu ia tidak kaget. Tapi anakanak yang lain tercengang mendengar suara yang begitu lantang. Belum pernah mereka mendengar suara orang senyaring itu. "DAI! DAI! RAFE! RAFE!" Suara lantang itu menggema berulang-ulang. Seakan-akan semakin bertambah nyaring. Mula-mula Llewellyn Thomas kelihatan kaget. Tapi kemudian ia tertawa mengejek. "Apakah dia menyangka dari sini bisa memanggil anjing-anjingnya yang ada di pantai?" katanya. "Terowongan itu kan panjang sekali! Dasar sinting. Biarkan saja dia berteriakteriak!" Kembali terdengar suara Morgan yang lantang, memanggil-manggil. "DAI! BOB! TANG! DOON! JOLL! RAFE! HAL!" Ketika menyerukan nama terakhir, suaranya seakan-akan pecah. Pak Gembala kaget, lalu mendongak. Rupanya Morgan terlalu memaksa tali suaranya. Memang, ketika ia memanggil-manggil tadi, pengeras suara sekalipun belum tentu bisa mengalahkannya! Setelah itu keadaan menjadi sunyi. Morgan tidak berseru-seru lagi. Tapi ia juga tidak, muncul kembali dari dalam terowongan. Anak-anak merasa kecut dan ketakutan. Aily mula menangis. Tiba-tiba tanah bergetar. Kepala gerombolan berpaling dengan cepat, memberi perintah dengan suara tajam pada para anak buahnya. Dua dari mereka lari memasuki liang yang terdapat di belakang gua. Tak lama setelah itu ruangan diterangi cahaya pendar yang aneh. Seolah-olah ada hawa panas menyebar ke mana-mana.

Setelah itu keadaan menjadi kacau-balau. Mula-mula dari jauh terdengar bunyi ributribut. Timmy langsung meronta-ronta, sementara telinganya terangkat ke atas. Ia menggonggong. Orang yang menjaganya mengayunkan tangan dan memukulnya. "Suara apa itu,?" kata Llewellyn Thomas dengan kaget. Ia memandang berkeliling dengan gelisah. Tapi sukar untuk diketahui, dari mana sebenarnya suara ribut-ribut itu datang. Sementara itu keributan bertambah nyaring. Akhirnya Julian tahu, bunyi apa itu! Suara ribut itu berasal dari tujuh ekor anjing besar yang marah, dan kini beramai-ramai datang menyerbu ke dalam gua! Pak Gembala juga mengenali suara-suara itu. Di wajahnya terbayang senyum gembira. Diliriknya kepala gerombolan, untuk melihat apakah dia juga tahu. Ya - Llewellyn kini mengetahui, suara apa yang terdengar ribut itu. Ia melongo! Sama sekali tak disangkanya bahwa suara Morgan yang lantang benar-benar bisa sampai di pantai, di mana ketujuh anjingnya yang setia menunggu selama itu! Tapi begitulah kenyataannya! Dai, anjing yang paling tua, adalah juga yang paling setia pada tuannya. Sejak Morgan bersama Pak Gembala pergi meninggalkan mereka di pantai, anjing itu menunggu terus dengan tegang sambil memasang telinga. Dan setelah menunggu beberapa waktu, dari kejauhan menggema suara keluar dari lubang terowongan yang mereka jaga itu suara majikan mereka yang tercinta! Dengan segera Dai menggonggong memanggil teman-temannya. Ia pun mendului masuk ke dalam terowongan. Berlari menyusur sungai yang deras, menyusur jalan sempit yang licin dan berbatu-batu. Akhirnya mereka sampai di tempat Morgan menunggu. Orang itu duduk di tepi sungai, tidak begitu jauh dari gua Dan begitu Dai tahu bahwa tangan tuannya itu terikat, dengan segera ia menggigit tali pengikat sampai putus. Nah, sekarang Morgan sudah bebas kembali. "Sekarang masuk!" perintah Morgan. Ia berjalan kembali menyusur tepi sungai, kembali ke dalam gua. Dilambaikannya tangannya, menyuruh ketujuh anjing itu maju. "Serangl" serunya dalam bahasa Wales. Sukar dilukiskan rasa panik yang mencengkam para penjahat bawahan Llewellyn Thomas, ketika dengan tiba-tiba saja muncul tujuh ekor anjing yang besar-besar dari dalam terowongan. Anjing-anjing itu menyerbu sambil menggonggong dan menggeramgeram. Mereka diikuti oleh Morgan. Orang itu begitu jangkung, sehingga terpaksa membungkuk ketika keluar dari mulut terowongan. Para penjahat lari kocar-kacir.

Sedang Llewellyn sudah terlebih dulu lari, sebelum ketujuh ekor anjing itu muncul. Ia menghilang - entah ke mana! Begitu sampai, Dai langsung menerpa salah seorang penjahat sehingga terbanting ke tanah. Tang mengikuti perbuatan pemimpinnya, dan menaklukkan seorang penjahat pula. Ribut sekali keadaan dalam gua saat itu. Penuh dengan suara menggonggong, menggeram dan teriakan takut. Timmy tentu saja tidak mau ketinggalan! Orang yang menjaganya sudah melarikan diri sebelumnya, sehingga anjing itu bisa dengan leluasa terjun dalam perkelahian anjing lawan manusia. Bahkan Dave yang kecil itu pun ikut asyik, berkelahi dengan gagah berani. Anak-anak hanya bisa memandang sambil tercengang-cengang. "Siapa yang mengira hal ini akan terjadi?" kata Dick, sambil menggulingkan peti-peti sehingga berjatuhan ke lantai gua. "Benar-benar luar biasa Hidup Morgan serta ketujuh anjingnya!"

Bab 22 HIDUP MORGAN! Dengan segera Morgan menyuruh anak-anak pergi dari situ. "Masih banyak yang harus kita lakukan," katanya. Suaranya yang berat, kini kedengaran agak parau. "Kalian harus kembali ke pertanian, lalu menelepon polisi untukku. Katakan pada mereka, 'Morgan menang!' Dengan segera mereka akan mengirim sebuah kapal ke teluk kecil yang sudah kuberitahukan letaknya pada mereka. Para penjahat ini akan kugiring ke sana lewat terowongan sungai. Nah - pergilah sekarang juga. Turuti kataku sekali ini, Julian!" "Ya, Pak," kata Julian. Dalam hati ia berjanji, mulai saat itu akan selalu menaati kata orang itu. Tapi tiba-tiba ia teringat pada sesuatu. ., "Pak, wanita tua itu," katanya. "Maksudku, Bu Thomas! Bagaimana dengan dia? Kami meninggalkannya dalam kamar di atas menara! Sedang penjaganya kami kunci dalam kamarnya sendiri." "Pokoknya sekarang kalian pergi ke pertanian, lalu di sana menelepon polisi," kata Morgan garang. "Aku yang akan melakukan segala-galanya yang perlu dilakukan di sini. Bawa juga Aily beserta kalian. Ia tidak boleh tinggal di sini. Sekarang berangkatlah!"

Sebelum pergi, anak-anak menoleh sebentar, memandang orang-orang yang semuanya kini terkepung oleh kawanan anjing yang tadi datang menyerbu. Para penjahat itu ketakutan semua - tak ada yang berani berkutik lagi. Julian berjalan di depan, bersama Aily yang diiringi kedua binatang kesayangannya, Fany dan Dave. Mereka menyusur lorong, naik ke atas dan akhirnya sampai di kolong rumah. "Tak enak rasanya meninggalkan Bu Thomas di atas menara," kata Dick. "Memang! Tapi Pak Morgan pasti sudah mempunyai rencana lain," kata Julian. Ia sudah bertekat, tidak mau melanggar perintah lagi. "Kurasa ia sudah mengaturnya dengan polisi. Kita tidak boleh campur tangan lagi sekarang. Sudah cukup banyak kesulitan sebagai akibat perbuatan kita! " Mereka berjalan terus, menuju ke liang di mana mereka meninggalkan kedua kereta peluncur. Agak lama juga mereka baru tiba di situ. Perut sudah lapar sekali rasanya. Tapi Julian tak mengizinkan mereka berhenti sebentar, untuk memakan roti sandwich yang dibawa. "Jangan," larangnya. "Aku harus secepat mungkin menelepon polisi. Kita tidak boleh membuang-buang waktu lagi. Kita kan bisa makan sambil turun ke pertanian." Tidak sulit bagi mereka untuk naik ke atas, karena dalam liang masih tergantung dua utas tali yang mereka pakai untuk menuruninya. Ketiga anak perempuan yang naik dulu, dibantu oleh Dick dan Julian. Kemudian kedua anak laki-laki itu menyusul naik, ditolong oleh anak-anak yang sudah ada di atas. Tapi yang paling hebat, entah dengan cara bagaimana - anak biri-biri berhasil naik sendiri ke atas! Timmy ditarik ke atas, dengan cara yang sama seperti sewaktu menurunkannya. Anjing itu sebetulnya ingin tinggal dalam gua bersama ketujuh anjing milik Morgan. Tapi ia juga tidak mau meninggalkan George! "Nah, beres!" kata Julian, yang naik paling akhir. "Sekarang kita menuruni bukit ini naik kereta peluncur, langsung naik sampai setengah jalan pada sisi lereng bukit kita. Dengan begitu kita menghemat waktu! Aily, kau ikut dengan kami ke pertanian." "Tidak mau!" kata Aily. "Kau harus ikut, Aily manis," kata Julian lagi. Dipegangnya tangan anak kecil itu. Tibatiba Aily tersenyum. Kalau bersama Julian, ia mau ikut. Juga ke pertanian - walau Aily takut kalau ibunya ada di sana. Aneh juga rasanya berada di tengah alam yang cerah, setelah sekian lamanya menyusupnyusup dalam perut bukit. Petualangan mereka sekali itu, rasanya seakan-akan suatu mimpi aneh!

"Kita tinggalkan saja kereta peluncur kita di pondok," kata Julian, sementara mereka berjalan menuju tempat penginapan itu sambil menarik kedua kereta. "Aku merasa haus. Kalian juga? Kurasa ada hubungannya dengan tambang tadi begitu kita masuk ke sana, kerongkonganku terasa kering sekali." Semua ternyata begitu juga keadaannya. "Aku masuk sebentar ke pondok, untuk menuangkan limun jeruk sedikit untuk kita semua," kata Anne. "Sementara itu simpanlah kedua kereta peluncur kita di tempatnya kembali, Ju! Dan tolong lihatkan, masih cukupkah persediaan minyak. Nanti malam kita harus mengisi tungku lagi. Kalau minyak sudah habis; perlu kita bawa dari bawah nanti!" Julian menyodorkan kunci pada Anne, yang kemudian masuk ke dalam bersama George. Kedua anak itu menuangkan limun ke dalam lima buah gelas, lalu langsung minum. Kerongkongan mereka terasa kering sekali! "Tadi aku merasa seakan-akan lidahku melekat pada langit-langit mulutku," kata Anne, sambil meletakkan gelasnya sudah kosong ke meja. "Aaah - nikmat rasanya, bisa minum lagi!" "Di luar masih banyak minyak," kata Julian, yang saat itu masuk ke dalam untuk minum. Aduh - tak tertahan lagi rasa hausku. Wah, aku tidak mau jika disuruh bekerja dalam tambang!" Sehabis minum mereka meneruskan perjalanan ke pertanian, sambil memakan roti sandwich bekal tadi. Enak sekali rasanya. Aily sampai minta tambah beberapa kali. Timmy juga mendapat bagian. Sekali anjing itu tertinggal di belakang. Anak-anak berhenti berjalan. Timmy dipanggil-panggil. "Makanannya jatuh, ya?" tanya Anne. Bukan, bukan makanannya yang jatuh. Tapi seperti anak-anak juga tadi, Timmy haus sekali. Karena tidak dibuatkan limun, ia terpaksa puas dengan menjilati salju. Dikulumnya salju yang dingin, sampai mencair dan mengalir ke dalam kerongkongan! Bu Jones kaget sekali melihat anak-anak datang beramai-ramai. Ia menjadi cemas, sewaktu Julian meminta izin untuk menelepon polisi. "Anda tak perlu cemas, Bu Jones," kata Julian menenangkan. "Aku hanya menyampaikan pesan Pak Morgan pada mereka. Segala-galanya sudah beres sekarang! Nanti saja kami ceritakan, apabila anak Anda itu sudah kembali. Mungkin dia tidak senang, jika sebelumnya kami sudah bercerita."

Ternyata polisi sama sekali tidak heran menerima pesan yang disampaikan Julian. Mereka bahkan sudah menunggu-nunggu kabar itu datang. "Kami akan mengurusnya lebih lanjut," kata petugas polisi yang menerima telepon. "Terima kasih!" Julian ingin sekali mengetahui, tindakan apakah yang akan diambil selanjutnya? Apakah yang sudah diatur oleh Morgan? Saat itu Bu Jones masuk, membawa sebuah basi besar berisi sop ayam. "Wah! Memang inilah yang kami perlukan sekarang!" seru Anne dengan gembira. "Aku masih saja merasa haus - kau juga, George? Dan Timmy - lihatlah, kau mendapat tulang besar, yang masih ada dagingnya! Anda baik hati, Bu Jones!" "Aku agak merasa bersalah sekarang," kata Julian kemudian. "Kenapa kita tetap mencampuri urusan ini, walau sebenarnya sudah dilarang oleh Pak Morgan! Pasti ia tidak suka pada kita sekarang!" . "Kalau begitu, sebaiknya kita minta maaf padanya," kata Dick. "Aneh - kenapa justru dia yang semula kita kira penjahat? Memang, Pak Morgan tidak banyak bicara, dan selalu masam mukanya - tapi dia tidak jahat, atau kejam!" "Bagusnya kita menunggu saja dulu di sini, sampai Pak Morgan datang," kata George. "Kecuali untuk meminta maaf padanya, aku juga ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya!" "Aku juga," kata Anne. "Sedang Aily harus menunggu kedatangan ayahnya. Pak Gembala pasti ingin tahu bahwa anaknya yang bandel itu selamat." Mereka lantas menanyakan pada Bu Jones, apakah mereka boleh menunggu sampai Morgan pulang. Wanita tua itu langsung menyetujui dengan gembira. "Tentu saja boleh, katanya. "Kebetulan hari ini aku memasak kalkun panggang. Kalian ikut makan dengan kami ya - sekali-sekali!" Anak-anak tidak menolak ajakan itu. Sambil menunggu, mereka duduk di depan pendiangan sambil mengobrol. George mengelus-elus kepala Timmy yang tertumpang di pangkuannya. "Nyaris saja Timmy mati dicekik orang tadi," katanya. "Aduh - lihatlah, Julian - lehernya sampai memar!" "Sudahlah, jangan berkeluh-kesah lagi tentang leher Timmy!" kata Dick. "Kurasa dia sendiri tidak begitu mempedulikannya. Lihatlah - dia tenang-tenang saja! Timmy memang berani! Asyik sekali dia tadi, ketika ketujuh anjing itu menyerbu ke dalam gua. Tanpa pikir panjang lagi, ia langsung ikut berkelahi!"

"Aku ingin tahu, apa yang terjadi sekarang dengan Bu Thomas," kata Anne. "Dia pasti gembira, mendengar bahwa anaknya masih hidup! Tapi di pihak lain kasihan juga - tentu terkejut setelah mengetahui bahwa anaknya itu berbohong padanya. Bayangkan - ada anak yang begitu jahat, menjual harta milik ibunya sendiri!" "Maksudmu logam aneh itu?" tanya Julian. Anne mengangguk. "Yah - kurasa kini takkan boleh dijual lagi! Hebat sekali rencana para penjahat! Menambang logam dengan sembunyi-sembunyi, lalu mengangkutnya lewat sungai bawah tanah ke laut, di mana beberapa buah kapal sudah menunggu di balik salah satu teluk. Aku kepingin melihat tempat itu. Pasti menarik! Letaknya kurasa tersembunyi di bawah tebing yang tinggi." "Ya - besok kita ke sana," kata George bersemangat. "Bagaimana jika kita menginap saja malam ini di sini? Aku sudah capek sekarang, sehabis mengalami petualangan seru tadi!" "Aku juga capek!" kata Julian. Setelah diam sebentar, ia berkata lagi, "Yah! - kurasa mulai sekarang di bukit takkan sering kali terjadi getaran yang diiringi bunyi gemuruh, serta nampak sinar berpendar-pendar! Pasti yang menyebabkan segala kejadian itu semacam besi yang mengandung kekuatan magnet. Bajak yang tidak bisa dipakai untuk membajak, dan cangkul yang tidak bisa mencangkul. Ah - soal itu terlalu rumit untuk bisa kumengerti!" Hari sudah gelap, ketika akhirnya Pak Morgan datang bersama Pak Gembala. Dengan segera Julian menghampiri. "Pak Morgan," kata anak itu dengan sopan, "kami ingin minta maaf atas ketololan kami! Memang, kami sebetulnya tidak boleh mencampuri urusan ini, setelah Anda melarang:" Pak Morgan tersenyum lebar. Kelihatannya ia sedang berperasaan gembira. "Ah, sudahlah," katanya, "semuanya toh sudah beres sekarang! Para penjahat sudah dipenjarakan oleh polisi, termasuk Llewellyn Thomas. Aku cuma merasa kasihan pada ibunya. Wanita 'tua itu memang malang nasibnya. Ia sama sekali tidak mengerti, apa sebetulnya yang terjadi. Mungkin lebih baik begitu bagi dia!" "Sekarang makan dulu, Morgan - dan Anda juga, Pak," kata Bu Jones pada anaknya dan pada Pak Gembala. "Anak-anak ikut makan bersama kita. Aku memanggang kalkun! Hari ini kan ulang tahunmu, Morgan!" "0 ya? Aduh, aku sendiri tidak ingat," kata Pak Morgan tercengang. Dipeluknya ibunya dengan mesra. "Terima kasih, Bu! Yuk, kita makan beramai-ramai. Perutku lapar sekali rasanya. Habis - seharian belum makan!"

Tak lama kemudian mereka sudah duduk mengelilingi meja besar. Di situ tersaji seekor kalkun panggang yang besar sekali! Dengan cekatan Pak Morgan mengiris-iris dagingnya. Kemudian ia mengatakan sesuatu pada ibunya, dalam bahasa Wales. Bu Jones tersenyum, lalu mengangguk. "Ya - boleh saja," kata wanita tua itu. Pak Morgan meletakkan beberapa iris daging ke atas sebuah piring kaleng yang besar. Piring itu dibawanya ke pintu, yang menuju ke luar. Ia berdiri di ambang pintu, lalu berseru dengan lantang. Anak-anak terlompat dari kursi masing-masing, karena kaget mendengar suara yang begitu nyaring! "DAI! TANG! BOB! DOON! RAFE! JOLL! HAL!" "Ah - rupanya daging itu untuk mereka," kata Anne. "Ya - memang sudah sepantasnya anjing-anjing itu menerima hadiah!" Ketujuh anjing yang dipanggil datang. Mereka berdesak-desakan di ambang pintu, sambil menggonggong-gonggong. Daging kalkun yang dilemparkan oleh Pak Morgan ke arah mereka, diperebutkan dengan ramai. Timmy menghampiri Pak Morgan dari belakang, lalu menggonggong sekali dengan sopan. Pak Morgan berpaling, lalu mengiriskan daging masing-masing sepotong untuk Timmy dan Dave. "Nih!" katanya sambil memberikan kedua potong daging itu. "Kalian juga sudah bekerja keras tadi. Sekarang makanlah!" "Wah - kini tidak banyak lagi daging yang tersisa," kata Bu Jones dengan geli bercampur jengkel. "Sekarang kita minum saja dulu, anak-anak - demi keselamatan Morgan, anak yang paling berbakti pada orang tuanya!" "Selamat ulang tahun!" seru semuanya dengan serempak, sambil mengangkat gelas masing-masing. Dan Julian sempat menambahkan komentarnya. "Selamat ulang tahun, Pak - dan semoga tetap nyaring untuk selama-lamanya!" Pak Morgan duduk sambil tersenyum. Di luar terdengar ketujuh anjingnya menggonggong beramai-ramai. TAMAT

http://tagtag.com/tamanbacaan