Anda di halaman 1dari 8

A.

Pengertian Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan dari tulang itu sendiri dan jaringan lunak di sekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap, tidak lengkap. (Arice, 1995 : 1183) Patah tulang adalah terputusnya hubungan normal suatu tulang atau tulang rawan yang disebabkan oleh kekerasan.(Oswari, 2000 : 144) Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa. (Mansjoer, 2000 : 42) Mandibula membentuk rahang bawah. Mandibula merupakan satu-satunya tulang pada tengkorak yang dapat bergerak. (Pearce, 2000 : 50) Mandibula adalah rahang bawah (Laksman, 2000 : 210) Fratur Mandibula adalah terputusnya kontinuitas tulang rahang bawah yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. B. Penyebab Penyebab fraktur / patah tulang menurut (Long, 1996 : 367) adalah : 1. Benturan dan cedera (jatuh pada kecelakaan) 2. Fraktur patologik (kelemahan hilang akibat penyakit kanker, osteophorosis) 3. Patah karena letih 4. Patah karena tulang tidak dapat mengabsorbsi energi karena berjalan terlalu jauh. C. Pathofisiologi Fraktur / patah tulang terjadi karena benturan tubuh, jatuh / trauma (long, 1996 : 356). Baik itu karena trauma langsung, misalnya : tulang kaki terbentur bumper mobil, karena trauma tidak langsung , misalnya : seseorang yang jatuh dengan telapak tangan menyangga. Juga bisa oleh karena trauma akibat tarikan otot misalnya tulang patella dan dekranon, karena otot triseps dan biseps mendadak berkontraksi. (Oswari, 2000 : 147). Fraktur dibagi menjadi fraktur terbuka dan fraktur tertutup. Tertutup bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. Sedangkan fraktur terbuka bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar oleh karena perlukaan di kulit. (Mansjoer, 2000 : 346). Sewaktu tulang patah pendarahan biasanya terjadi di sekitar tempat patah dan ke dalam jaringan lunak sekitar tulang tersebut, jaringan lunak juga biasanya mengalami kerusakan. Reaksi pendarahan biasanya timbul hebat setelah fraktur. Sel-sel darah putih dan sel anast berakumulasi menyebabkan peningkatan aliran darah ke tempat tersebut. Fagositosis dan pembersihan sisa-sisa sel mati dimulai. Di tempat patah terbentuk fibrin (hematoma fraktur) dan berfungsi sebagai jala-jala untuk melekatkan sel-sel baru. Aktivitas osteoblast terangsang dan terbentuk tulang baru umatur yang disebut callus. Bekuan fibrin direabsorbsi dan sel-sel tulang baru mengalami remodelling untuk membentuk tulang sejati. (Corwin, 2000 : 299). Insufisiensi pembuluh darah atau penekanan serabut saraf yang berkaitan dengan pembekakan yang tidak ditangani dapat menurunkan asupan darah ke ekstremitas dan mengakibatkan kerusakan saraf perifer. Bila tidak terkontrol pembengkakan dapat mengakibatkan peningkatan tekanan jaringan, oklusi darah total dan berakibat anoksia mengakibatkan rusaknya serabut saraf maupun jaringan otot. Komplikasi ini dinamakan syndrom kompartemen. (Brunner & Suddarth, 2002 : 2287). Pengobatan dari fraktur tertutup bisa konservatif atau operatif. Theraphy konservatif meliputi proteksi saja dengan mitella atau bidai. Imobilisasi dengan pemasangan gips dan dengan traksi. Sedangkan operatif terdiri dari reposisi terbuka, fiksasi internal dan reposisi tertutup dengan kontrol radio logis diikuti fraksasi internal. (Mansjoer, 2000 : 348). Pada pemasangan bidai / gips / traksi maka dilakukan imobilisasi pada bagian yang patah, imobilisasi dapat menyebabkan berkurangnya kekuatan otot dan densitas tulang agak cepat (Price & Willsen, 1995 : 1192).

Pasien yang harus imobilisasi setelah patah tulang akan menderita komplikasi dari imobilisasi antara lain : adanya rasa tidak enak, iritasi kulit dan luka yang disebabkan oleh penekanan, hilangnya otot (Long, 1996 : 378). Kurang perawatan diri dapat terjadi bila sebagian tubuh diimobilisasi, mengakibatkan berkurangnya kemampuan perawatan diri (Carpenito, 1999 : 346). Pada reduksi terbuka dan fiksasi interna (OKIF) fragme-fragmen tulang dipertahankan dengan pen, sekrup, pelat, paku. Namun pembedahan meningkatkan kemungkinan terjadi infeksi. Pembedahan itu sendiri merupakan trauma pada jaringan lunak dan struktur yang seluruhnya tidak mengalami cedera mungkin akan terpotong atau mengalami kerusakan selama tindakan operasi (Price & Willson, 1995 : 1192). Pembedahan yang dilakukan pada tulang, otot dan sendi dapat mengakibatkan nyeri yang hebat (Brunner & Suddarth, 2002 : 2304). D. Klasifikasi 1. Klasifikasi patah tulang menurut bentuk patah tulang a. Fraktura complet, pemisahan komplit dari tulang menjadi dua fragmen b. Fraktura incomplet, patah sebagian dari tulang tanpa pemisahan c. Simple atau closed fraktura, tulang patah, kulit utuh d. Fraktur complikata, tulang yang patah menusuk kulit, tulang terlihat e. Fraktur tanpa perubahan posisi, tulang patah, posisi pada tempatnya yang normal. f. Fraktur dengan perubahan posisi, ujung tulang yang patah berjauhan dari tempat patah. g. Communited fraktura, tulang patah menjadi beberapa fragmen. h. Impacted (telescoped) fraktura, salah satu ujung tulang yang patah menancap pada yang lainnya. 2. Klasifikasi Menurut Garis Patah Tulang a. Greenstick, retak pada sebelah sisi dari tulang (sering terjadi pada anak dengan tulang yang lembek) b. Transverse, patah menyilang c. Obligue, garis patah miring d. Spiral, patah tulang melingkari tulang ( Long, 1996 ; 358 ) E. Manifestasi Klinik dan Pemeriksaan Penunjang Manifestasi Klinis Fraktur adalah nyeri, hilangnya sungsi deformitas, pemendekan ekstremitas krepitus, pembekakan lokal dan perubahan warna. 1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai frogmen tulang diimobilisasi spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang. 2. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tidak dapat digunakan dan cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya tetap menjadi seperti normalnya. Pergeseran fragmen pada faktur lengan atau tungkai menyebabkan defromitas (terlihat maupun teraba) ekstremitas yang bisa diketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas normal. Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melekatnya otot. 3. Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur. Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5 sampai 5 cm. 4. Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya fragmen satu dengan lainnya (uji krepitus dapat kerusakan jaringan lunak yang lebih berat).

5. Pembekakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan pendarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa baru terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cedera. ( Brunner dan Suddarth, 2001 : 2358 ) Pemeriksaan penunjang dan diagnostik yang sering dilaksanakan pada keadaan patah tulang adalah : 1. Pemerikasaan rontgen, menentukan luasnya fraktur, trauma 2. Scan tulang, tomogram, memperlihatkan fraktur juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi jaringan lunak 3. Arteriogram, dilakukan bila dicurigai ada kerusakan vaskuler 4. Hitung darah lengkap 5. Ht mungkin meningkat (Hemokonsentrasi) atau menurun (pendarahan bermakna pada sisi fraktur / organ jauh pada trauma multiple) 6. Kreatmin, trauma otot meningkat beban creatrain untuk klirens ginjal. ( Doenges, 2000 : 762 ) F. Penatalaksanaan Terapi Konservatif y Proteksi saja Misal mitella untuk fraktur collum chirorgicom homeri dengan kedudukan baik. y Imobilisasi saja tanpa reposisi Misal pemasangan gips pada fraktur incomplete dan fraktur dengan kedudukan baik. y Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips Misal pada fraktur supracondillus, fraktur collest, fraktur smith, reposisi dapat dalam anestesi umum / lokal. y Traksi untuk reposisi secara perlahan Pada anak-anak dipakai traksi kulit. Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu dengan beban kurang dari 5 kg. Terapi Operatif y Reposisi terbuka, fiksasi interna Reposisi tertutup dengan kontrol radiologis diikuti fiksasi eksterna terapi operatif dengan reposisi anatomis diikuti dengan fiksasi interna (open reduction and internal fixation), artoplasti eksisional, eksisi fragmen dan pemasangan endoprostesus. ( Mansjoer, 2000 : 348 ) G. Komplikasi 1. Deformitas ekstremitas 2. Perbedaan panjang ekstremitas 3. Keganjilan pada sendi 4. Keterbatasan gerak 5. Cedera saraf yang menyebabkan mati rasa 6. Perburukan sirkulasi 7. Ganggren 8. Kontraksi iskemik Volkmann 9. Sindrom kompartemen H. Pengkajian fisik 1. Keadaan umum : Lemah 2. Tingkat kesadaran : Kompos Mentis 3. Vital segh : TD : 110/80 mmhg, Respirasi : 20 x/m Pols : 76 x/m, Temp : 37 0C 4. Keluhan yang berhubungan dengan : Nyeri di bagian rahang bawah, susah mengunyah dan menelan, dan tidak dapat berbicara secara jelas. 5. Inpeksi / Palpasi / percusi/ auskultasi

a. Rambut : Rambut tumbuh lebat dan ikal, kulit kepala bersih. b. Kepala : Bentu kepal simetris dan tidak ada pembengkakan. c. Wajah : Di sekitar wajah terdapat pembengkakan karena adanya patahan (fraktur) yang terjadi pada daerah tulang rahang bawah (mandibula), ekspresi wajah meringis, d. Mata : Ukuran pupil normal , Isokor : tidak ada Reaksi terhadap cahaya : baik Akumodasi : baik Bentuk : semetris Konjungtiva : normall / tidak anemis Fungsi penglihatan : Normal Baik/kabur/tidak jelas: Baik Tanda-tanda radang : Tidak ada Kaca mata : Tidak mengunakan kaca mata e. Hidung : Bentuk hidung simetris Sinus : Tidak ada , Pendarahan : Tidak ada f. Telinga :Bentuk telinga simetris, Serumen : Tidak ada , pendengaran : Baik g. Mulut dan tengorokan : gigi geligi : tidak lengkap Kesulitan / Gangguan bersuara : Ada Kesulitan menelan : Ada Skala nyeri : 5- 7 Udema : Ada h. Leher : Pengerakan leher normal i. Thorak : Normal Suara paru : Normal tidak ada sesak Batuk : Tidak ada Pola napas : Normal 19 x/m Sputum : tidak ada Nyeri : tidak ada Bentuk darah : j. Abdomen : tidak tegang k. Ext. superior : Tidak ada ganguan Refleks Bisep : Baik Refleks Tripsep : baik l. Ext. Inperior : Tidak ada ganguan Refleks Patella : baik Refleks achiles : Baik m. Sirkulasi : Normal Distensi fena jugularis : tidak Suara jantung : Normal Suara jantung tambahan: Tidak ada Nyeri : Tidak ada Udema: Tidak ada Palpitasi : Tidak ada Perubahan warna ( kulit, kuku, bibir,dll ) Clubbing : Tidak ada n. Nutrisi : Jenis diet ,Nafsu makan: Berkurang Rasa mual : Tidak ada ,Muntah : Tidak ada Intake cairan : Tidak ada o. Eliminasi : Teratur Kontipasi : Tidak ada Diare : Tidak ada ( BAK ) Incontenesia : Tidak ada Infeksi : Tidak ada

Neumaturi : Tidak ada Kateter : Tidak ada Urine out put : Lebih kurang 400 cc p. Reproduksi : Kehamilan : Tidak di kaji karena pasien keberatan. Buah dada : Pendarahan : Keputihan : Pemeriksaan sendiri : Prostate : Penggunaan kateter : tidak mengunakan kateter q. Muskulosskeletal : Nyeri : Tidak ada Kekakuan : Tidak ada Pola latihan gerak : ada r. Kulit : Warna : kuning langsat ,Integritas : kulit kering Tugor : Baik Cacatan / Data tambahan : Tidak ada catatan tambahan. Fraktur os.mandibularis Definisi Rusaknya kontinuitas tulang mandibular yang dapat disebabkan oleh trauma baik secara langsung atau tidak langsung. Patofisiologi Penyebab fraktur adalah trauma Fraktur patologis; fraktur yang diakibatkan oleh trauma minimal atau tanpa trauma berupa yang disebabkan oleh suatu proses., yaitu : Osteoporosis imperfekta Osteoporosis Penyakit metabolik Trauma Trauma, yaitu benturan pada tulang. Biasanya penderita terjatuh dengan posisi dagu langsung terbentur dengan benda keras (jalanan). Tanda dan gejala Nyeri hebat di tempat fraktur Tak mampu menggerakkan dagu bawah Diikuti tanda gejala fraktur secara umum, seperti : fungsi berubah, bengkak, kripitasi, sepsis pada fraktur terbuka, deformitas. Pemeriksaan penunjang X.ray Bone scans, tomogram, atau mri scans Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler. Cct kalau banyak kerusakan otot. Penatalaksanaan medik Konservatif : immobilisasi, mengistirahatkan daerah fraktur. Operatif : dengan pemasangan traksi, pen, screw, plate, wire ( tindakan asbarg) Rencana keperawatan Prioritas masalah Mengatasi perdarahan Mengatasi nyeri Mencegah komplikasi Memberi informasi tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan

NO DIAGNOSA 1 Potensial terjadinya syok sehubungan dengan perdarah-an yang 2 banyak Gangguan rasa nyaman: Nyeri sehubungan dengan perubahan 3 fragmen tulang, luka pada jaringan lunak, pemasangan back slab, 4 stress, dan cemas 5 Potensial infeksi sehubungan dengan luka terbuka. Gangguan aktivitas s/d keru-sakan neuromuskuler skeletal, nyeri, immobilisasi. Kurangnya pengetahuan ttg kondisi, prognosa, dan pengo- batan sehubungan dengan kesalahan dalam pe- nafsiran, tidak familier dengan sumber in- formasi. 1. Dx. Keperawatan Potensial terjadinya syok sehubungan dengan perdarah-an yang banyak Intervnsi Indenpenden: Observasi tanda-tanda vital. Mengkaji sumber, lokasi, dan banyaknya per darahan Memberikan posisi supinasi Memberikan banyak cairan (minum) Kolaborasi: Pemberian cairan per infus Pemberian obat koagulan sia (vit.k, adona) dan penghentian perdarahan dengan fiksasi. Pemeriksaan laboratorium (hb, ht) Rasional Untuk mengetahui tanda-tanda syok sedini mungkin Untuk menentukan tindakan Untuk mengurangi per darahan dan mencegah kekurangan darah ke otak. Untuk mencegah kekurangan cairan (mengganti cairan yang hilang) Pemberian cairan per infus. Membantu proses pembekuan darah dan untuk meng hentikan perdarahan. Untuk mengetahui kadar hb, ht apakah perlu transfusi atau tidak. 2. Dx. Keperawatan Gangguan rasa nyaman: Nyeri sehubungan dengan perubahan fragmen tulang, luka pada jaringan lunak, pemasangan back slab, stress, dan cemas Intervensi Independen: Mengkaji karakteristik nyeri : lokasi, durasi, intensitas nyeri dengan meng-gunakan skala nyeri (0-10) Mempertahankan immobilisasi (back slab) Berikan sokongan (support) pada ektremitas yang luka. Menjelaskan seluruh prosedur di atas Kolaborasi: Pemberian obat-obatan analgesik Rasional Untuk mengetahui tingkat rasa nyeri sehingga dapat menentukan jenis tindak annya. Mencegah pergeseran tulang dan penekanan pada jaringan yang luka. Peningkatan vena return, menurunkan edem, dan me ngurangi nyeri.

Untuk mempersiapkan mental serta agar pasien be-partisipasi pada setiap tindakan yang akan dilakukan. Mengurangi rasa nyeri 3. Dx. Keperawatan Potensial infeksi sehubungan dengan luka terbuka. Intervensi Independen: Kaji keadaan luka (kontinuitas dari kulit) terhadap adanya: edema, rubor, kalor, dolor, fungsi laesa. Anjurkan pasien untuk tidak memegang bagian yang luka. Merawat luka dengan meng-gunakan tehnik aseptik Mewaspadai adanya keluhan nyeri mendadak, keterbatasan gerak, edema lokal, eritema pada daerah luka. Kolaborasi: Pemeriksaan darah : leokosit Pemberian obat-obatan : Antibiotika dan tt (toksoid tetanus) Persiapan untuk operasi sesuai indikasi Rasional Untuk mengetahui tanda-tanda infeksi. Meminimalkan terjadinya kontaminasi. Mencegah kontaminasi dan kemungkinan infeksi silang. Merupakan indikasi adanya osteomilitis. Lekosit yang meningkat artinya sudah terjadi proses infeksi Untuk mencegah kelanjutan terjadinya infeksi dan pencegahan tetanus. Mempercepat proses penyembuhan luka dan dan penyegahan peningkatan infeksi. 4. Dx. Keperawatan Gangguan aktivitas s/d keru-sakan neuromuskuler skeletal, nyeri, immobilisasi. Intervensi Independen: Kaji tingkat immobilisasi yang disebabkan oleh edema dan persepsi pasien tentang immobilisasi tersebut. Mendorong partisipasi dalam aktivitas rekreasi (menonton tv, membaca koran dll ). Menganjurkan pasien untuk melakukan latihan pasif dan aktif pada yang cedera maupun yang tidak. Membantu pasien dalam perawatan diri Auskultasi bising usus, monitor kebiasaan eliminasi dan menganjurkan agar b.a.b. Teratur. Memberikan diit tinggi protein , vitamin , dan mineral. Kolaborasi : Konsul dengan bagian fisioterapi Rasional Pasien akan membatasi gerak karena salah persepsi (persepsi tidak proporsional) Memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi, memusatkan perhatian, meningkatkan perasaan me-ngontrol diri pasien dan membantu dalam mengurangi isolasi sosial. Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan mobilitas sendi, mencegah kontraktur / atropi dan reapsorbsi ca yang tidak digunakan. Meningkatkan kekuatan dan sirkulasi otot, meningkatkan pasien dalam mengontrol situasi, meningkatkan kemauan pasien untuk sembuh.

Bedrest, penggunaan analgetika dan perubahan diit dapat menyebabkan penu-runan peristaltik usus dan konstipasi. Mempercepat proses penyembuhan, mencegah penurunan bb, karena pada immobilisasi biasanya terjadi penurunan bb Untuk menentukan program latihan. 5. Dx. Keperawatan Kurangnya pengetahuan ttg kondisi, prognosa, dan pengo- batan sehubungan dengan kesalahan dalam pe- nafsiran, tidak familier dengan sumber in- formasi. Intervensi Independen: Menjelaskan tentang kelainan yg muncul prognosa, dan harapan yang akan datang. Memberikan dukungan cara-cara mobilisasi dan ambulasi sebagaimana yang dianjurkan oleh bagian fisioterapi. Memilah-milah aktifitas yg bisa mandiri dan yang harus dibantu. Mengidentifikasi pelayanan umum yang tersedia seperti team rehabilitasi, perawat keluarga (home care) Mendiskusikan tentang perawatan lanjutan. Rasional Pasien mengetahui kondisi saat ini dan hari depan sehingga pasien dapat menentu kan pilihan.. Sebagian besar fraktur memerlukan penopang dan fiksasi selama proses pe- nyembuhan shg keterlambatan penyembuhan disebabkan oleh penggunaan alat bantu yang kurang tepat. Mengorganisasikan kegiatan yang diperlu kan dan siapa yang perlu menolongnya (apakah fisioterapist, perawat atau ke- luarga). Membantu mengfasilitasi perawatan mandiri memberi support untuk mandiri. Penyembuhan fraktur tulang kemungkinan lama (kurang lebih 1 tahun) sehingga perlu disiapkan untuk perencanaan perawatan lanjutan dan pasien kooperatif. Daftar kepustakaan Doenges m.e. (1989) nursing care plan, guidlines for planning patient care (2 nd ed ). Philadelpia, f.a. davis company. Long; bc and phipps wj (1985) essential of medical surgical nursing : a nursing process approach st. Louis. Cv. Mosby company.