Anda di halaman 1dari 27

Asuhan Keperawatan Pasien Fraktur Mandibula

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Keperawatan Kritis
Dosen Pengampu : Ns. Diah Tika Anggraeni, M.Kep

Disusun Oleh :
Dwi Kurniawati (1610711006)

S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAKARTA
2019
LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN FRAKTUR
A. Pengertian

Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik.
Kekuatan otot dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang, dan jaringan lunak di sekitar
tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap (Price
dan Wilson, 2006).

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya
(Brunner & Suddarth, 2001).

Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan, baik yang bersifat total
maupun sebagian. (Muttaqin, Arif. 2008)

Mandibula adalah tulang rahang bawah, tulang yang tidak teratur dan merupakan satu-
satunya tulang kepala yang dapat bergerak (Watson,2002).

Fraktur mandibula adalah rusaknya kontinuitas tulang mandibula yang dapat


disebabkan oleh trauma baik secara langsung atau tidak langsung.

B. Etiologi
Klasifikasi Fraktur (Chairuddin, 2003)
Klasifikasi Etiologis:
1. Trauma langsung: benturan pada tulang mengakibatkan fraktur ditempat
tersebut.
2. Trauma tidak langsung: tulang dapat mengalami fraktur pada tempat
yang jauh dari area benturan.
3. Fraktur patologis: fraktur yang disebabkan trauma yamg minimal atau
tanpa trauma. Contohfraktur patologis: Osteoporosis, penyakit
metabolik, infeksi tulang dan tumor tulang.

Klasifikasi Klinis
1. Fraktur tertutup, merupakan fraktur tidak menyebabkan robek pada kulit
2. Fraktur terbuka, merupakan dengan luka pada kulit atau robek dan ujung
tulang menonjolsampai menembus kulit
3. Fraktur komplit adalah patah pada seluruh garis tengah tulang dan
biasanya mengalami pergeseran
Fraktur tidak komplit, patah hanya terjadi pada sebagian dari garis
tengah tulang
Klasifikasi Radiologis
1. Lokalisasi/letak fraktur seperti diafisis, metafisis, intra-artikular.
2. Konfigurasi/sudut patah dari fraktur :
 Fraktur transversal
 Fraktur oblik
 Fraktur spiral
 Fraktur kominutif
 Fraktur segmental
 Fraktur Impaksi/kompresi
3. Menurut ekstensi:
 Fraktur total
 Fraktur tidak total (fracture crack)
 Fraktur buckle/torus
 Fraktur garis rambut
 Fraktur greenstick
 Fraktur avulse
 Fraktur sendi
4. hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnya yaitu tidak bergeser
dan Bergeser (bersampingan, angulasi, rotasi, distraksi, overiding,
impaksi).
Menurut R. Gustino Fraktur Terbuka dibagi atas 3 derajat yaitu:
Derajat I:
 Luka < 1 cm
 Kerusakan jaringan lunak sedikit, tidak ada tanda luka remuk
 Fraktur sederhana, transversal, atau kominutif ringan
 Kontaminasi minimal
Derajat II:
 Laserasi >1 cm
 Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/ avulsi
 Fraktur kominutif sedang
 Kontaminasi sedang

Derajat III:
 Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas meliputi struktur
kulit, otot.

C. Manifestasi Klinis
 Tidak dapat menggunakan anggota gerak
 Nyeri pembengkakan
 Terdapat trauma
 Gangguan fungsi anggota gerak
 Deformitas
 Kelainan gerak
D. Patofisiologi

Penyebab fraktur diakibatkan oleh trauma minimal atau tanpa trauma berupa yang

disebabkan oleh suatu proses, yaitu :

· Osteoporosis Imperfekta (kelainan genetika langka pada remaja, tulang rapuh)

· Osteoporosis (penurunan kualitas dan kepadatan massa tulang)

· Penyakit metabolik (makanan, racun, infeksi, dan sebagainya)

Trauma, yaitu benturan pada tulang. Biasanya terjatuh dengan posisi dagu langsung

terbentur dengan benda yang lebih kuat/keras daripada tulang itu sendiri.

E. Pathway
F. Pemeriksaan penunjang
 X.Ray
 Bone scans, Tomogram, atau MRI Scans
 Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler.
 CCT kalau banyak kerusakan otot.

G. Penatalaksanaan
 Konservatif : Immobilisasi, mengistirahatkan daerah fraktur.
 Operatif : dengan pemasangan Traksi, Pen, Screw, Plate, Wire ( tindakan Asbarg)

H. Komplikasi
1. Malunion : tulang patah telahsembuh dalam posisi yang tidak seharusnya.
2. Delayed union : proses penyembuhan yang terus berjlan tetapi dengan
kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal.
3. Non union : tulang yang tidak menyambung kembali

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN FRAKTUR MANDIBULA


DI RUANG INTENSIVE CARE UNIT
A. Pengkajian
1. Identitas
a. Identitas Pasien
Nama : Tn. R
Umur : 30 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Jl. Jurgan Sinda III No.12 RT 006/001 Kukusan Depok
Suku/ Bangsa : Betawi
Tanggal Masuk RS : 13 Des 2019
Tanggal Pengkajian : 16 Des 2019
No Rekam Medis : 236298
Diagnosa Medis : Fraktur Mandibula

b. Identitas Penanggung Jawab


Nama : Ny.B
Umur : 25 Tahun
Hub. Dengan Pasien : Saudara

2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama
Pasien datang dari IGD diantar oleh Saudaranya jam 19.57 WIB dengan keluhan
jatuh dari motor saat menghindari kucing pada pukul 3 dini hari. Pasien memakai
helm, sempat pingsan dan muntah-muntah. Kondisi jatuh kesebelah kiri mengenai
wajah. Wajah pasien saat datang ke IGD bengkak pada pipi kiri dan sulit berbicara.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Riwayat saat masuk RS :
Pasien mual, wajah bagian pipi sebelah kiri bengkak dan sulit bicara.

Riwayat Kesehatan sekarang (pengembangan dari keluhan utama) :


Kemudian pasien dipindahkan ke ruang ICU tanggal 16/12/2019 jam 12.00 WIB
dengan keluhan napas tidak spontan 10 x/menit, KU berat, nyeri pada rahang,
terpasang ventilator dengan pola venti SIMVC (PC), terpasang IVFD ditangan kiri
dengan RL + Ketorolac 30mg/8jam, Kateter Urine, Drain pada perut sebelah kiri,
ETT dan terpasang NGT.
c. Keluhan Penyakit dahulu
Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien sebelumnya adalah perokok berat sehari
bisa habis 10 batang rokok dan memiliki riwayat mengkonsumsi minuman
beralkohol.

d. Riwayat Penyakit Keluarga


Keluarga pasien mengatakan dikeluarganya tidak ada yang memiliki penyakit
keturunan seperti diabetes mellitus, hipertensi, jantung, paru.

Genogram :
Keterangan:

= laki-laki meninggal
= perempuan meninggal
= laki-laki
= Pasien
= perempuan
3. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
b. Tanda-tanda Vital
1) Tekanan Darah
Sistolik : 147
Diastolik : 114
MAP : 124 mmHg
Heart Rate : 61x/mnt
Respirasi : 10x/mnt
2) Suhu : 370C
3) Nilai CPOT : (pasien terpasang intubasi)
No Indikator Skala pengukuran Skor Hasil
Penilaian
1 Ekspresi wajah Rileks, netral 0
Tegang 1 0
Meringis 2
2 Gerakan tubuh Tidak bergerak 0
Perlindungan 1 0
Gelisah 2
3 Kesesuaian dengan Dapat mentoleransi 0
ventilasi mekanik Batuk, tapi dapat 1
0
mentoleransi
Fighting ventilator 2
4 Ketegangan otot Rileks 0 0
Tegang dan kaku 1
Sangat tegang /kaku 2
Total skor 0

c. Pemeriksaan Sistem Tubuh


1) Sistem Persepsi sensori
Mata :
Palbepra : Tidak ada edema
Konjungtiva : Tidak anemis
Sclera : Ikterik
Pupil : Isokor
Diameter : 2mm/2mm
Reflek terhadap cahaya : +
Penggunaan alat bantu : -

2) Sistem Pernapasan :
Paru-paru : dada simetris kanan-kiri, retraksi dada dalam
Inspeksi : vocal premitus kanan-kiri sama
Perkusi : Pekak pada lobus 3
Auskultasi : Vesikuler/tidak ada suara tambahan

3) Sistem Kardiovaskuler
Jantung : Ictus Cordis tampak di ICS 5
Inspeksi : Ictus Cordis teraba di ICS 5
Palpasi : Batas atas di mid ICS 2
Perkusi : Klafikula Sinistra
Batas kanan : ICS 5-6 mid sternum
Batas kiri : sternum dextra
Batas bawah : ICS 6-7 mid klavikula
Auskultasi : S1 S2 intensitas normal
Perdarahan di OK 300 cc

4) Sistem Pencernaan
Bising usus : 12x/menit
Terpasang NGT

5) Sistem Perkemihan
Kebersihan terjaga, terpasang dower cateter dan tidak ada infeksi
Balance Cairan : Input-Output = 126-50 = 76ml

6) Sistem Neurologis
Tingkat kesadaran : Compos mentis
GCS : E4V5M6
Refleks :+
Pulsasi arteri teraba kuat

7) Sistem Endokrin
Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada kaku kuduk.

8) Sistem Muskuloskeletal
Kulit terasa hangat, tidak ada perubahan bentuk tulang, kekuatan otot ekstremitas
atas dan bawah

9) Sistem Integumen
Karakteristik kulit : tidak ada lesi
Warna : sawo matang
Tekstur kulit : normal
Suhu : akral hangat
Kelembapan : normal

d. Aspek Psikologis
Pasien dan keluarganya merasa cemas serta khawatir dengan kondisi pasien saat ini.

e. Aspek Sosial
Hubungan dengan keluarga harmonis, juga hubungan dalam masyarakat juga baik.
Di lingkungan tetangga pasien dianggap baik dan rajin mengikuti kegiatan kerja
bakti.

f. Asek Spiritual
Pasien beribadah 5 waktu

4. Data Penunjang
a. Data Laboratorium (Hematologi, Analisis gas darah arteri, dll)
Tanggal dan Jam Pemeriksaan
No Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal Interpretasi
HEMATOLOGI
RUTIN
1 Hemogoblin 12.7 g/dl 13.2 - 17.2 Rendah

2 Hematokrit 36 % 33 - 45 Normal

3 Leukosit 33.5 Ribu/UI 35,0 – 105,0 Rendah

4 Trombosit 520 Ribu/UI 150 – 450 Tinggi

5 Eritrosit 4.50 Ribu/UI 4.50 – 5.90 Normal


INDEX
ERITROSIT
1 MCV 86 /um 80.0 – 96.0 Normal

2 MCH 30 Pg 28.0 – 33.0 Normal

3 MCHC 35 g/dl 33.0 – 36.0 Normal

HEMOSTASIS
1 PT 13 Detik 10.0 – 15.0 Normal

2 APTT 34.8 Detik 20.0 – 40.0 Normal

3 INR 0.91
KIMIA KLINIK
1 Glukosa darah 157 Mg/dl <110 Tinggi
puasa
2 SGOT 13 U/1 < 50 Normal

3 SGPT 12 U/1 < 50 Normal

4 Albumin 3.7 g/dl 3.2 – 4.6 Normal

5 Kreatinin 0.8 Mg/dl 0.8 – 1.3 Normal

6 Ureum 29 Mg/dl < 50 Normal

ANALISA GAS
DARAH
1 PH 7.47 7.37 – 7.45 Normal

2 PO2 153,8 mmHg 80 – 100 Tinggi

3 PCO2 33,7 mmHg 35 – 45 Normal

4 HCO3 24,7 mEq/L 22 - 29 Normal

b. Pemeriksaan risiko jatuh dengan Morse scale (sesuai Usia)


Skala Morse : 60 (Resiko Tinggi)
c. Pemeriksaan CT Scan (14/12/19)
Fraktur Angulus Mandibula kanan dan fraktur kominutif corpus mandibular kiri

Pemeriksaan fisik Hasil

Sinus rythem PR 148 QRSD 102 QT 438 QTc 452. Axis P 68 QRS
Elektrokardiografi 87 T 61
d. APACHE II SCORE (1x24 jam)
Nilai APACHE II :

Physiologic variable Score


Temperature Rectal 0
Mean Arterial Pressure +2
Heart Rate +2
Respiratory Rate +1
0
0
PH 0
Serum Sodium 0
Serum Protassium 0
Serum Creatinine 0
Hematocrit 0
White Blood Count +2

Serum 0

Glasgow Coma Scale (GCS) 15-15


Total 7
Age Point Score
<44 years 0
Chronic Health Points Score
Pasien belum direncanakan operasi 0
APS + Age + CHP 7

Interpretasi Skor APACHE : Total hasil = 7 (Mortality : 8)

e. SOFA score
Pemeriksaan Hasil Score
Respiratory 153 3
Koagulasi 155 0
Hepar 0,37 0
Kardiovaskuler (MAP) 27 1
SSP (GCS) 15 0
Ginjal 50 ml/dl 3

Interpretasi Skor SOFA : Total hasil = 7 (Mortality : 15-20%)

5. Penatalaksanaan Medis

a. Obat Obatan
Nama Obat Dosis Cara Indikasi Side effects
Pemberian
IVFD RL 500 ml IV Cairan tubuh
OMZ 2 x 40 mg IV Mengatasi asam Gangguan
lambung pencernaan
Ceftriaxone 2 x 20 mg IV Untuk Ruam, memar,
mengobati adanya
infeksi bakteri perdarahan, sakit
ataupun infeksi perut, mual, nyeri
bedah
Ketorolac 30 mg IV (dimasukan Mengatasi nyeri Nyeri dada, lemas,
dalam RL) sesak, mual,
demam, sakit
kepala
Ondancentron 3 x 4 mg IV Mengatasi mual Sakit kepala,
dan muntah pusing, mudah
lelah, sakit perut,
mudah mengantuk
M.P 3 x 125 mg IV Meredakan Meningkatkan
(Methylprednisolone) peradangan kadar gula, mual,
muntah, sakit
kepala, nyeri otot
Citicolin 2 x 500 mg IV Mengobati luka Sakit kepala,
di kepala, diare, tekanan
serebrovaskular darah tinggi, mual,
dan glaukoma sesak

b. Nutrisi
Pasien terpasang selang NGT (+) sehingga nutrisi yang didapat diberi lewat selang NGT.
6. Analisa Data
Masalah
Data Etiologi
DS : - Resiko
DO : Ketidakefektifan pola
- Pasien terpasang ventilator nafas
- RR : 10 x/menit
- Pasien tidak bernapas spontan
- TD : 147/114 mmHg
- N : 61 x/menit
- Suhu : 36,50C
DS :- Immobilitas / Resiko
DO : intoleransi aktivitas
- Pasien terlihat lemas
- Pasien terpasang NGT
- Pasien Terpasang Kateter urine
- Pasien bergerak terbatas
- Pasien Terpasang IVDL
- Pasien Terpasang ETT
DS : - Nyeri Akut
DO :
- Pasien terlihat meringis saat dilakukan
perawatan ETT
- Ada perdarahan pada bibir bagian atas
pasien

7. Diagnosa
1) Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan afterload
2) Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan keletihan otot pernafasan
3) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dengan
kebutuhan oksigen

8. Intervensi Keperawatan

Intervensi
Dx Keperawatan Kriteria Hasil
Setelah dilakukan tindakan Airway Management
Ketidakefektifan pola nafas
keoerawatan 3 x 24 jam pada pasien Tn. (3140)
M dengan ketidakefektifan pola nafas 1. Monitoring aliran
dapat teratasi dengan kriteria hasil : oksigen
1. Suara nafas bersih tidak ada
sianosis dan dyspnue 2. Pantau tanda –
2. Menunjukkan jalan nafas yang tanda vital.
paten 3. Posisikanpasien
3. Tanda – tanda vital dalam untuk
rentang normal memaksimalkan
Tekanan Darah: 120/80 mmhg ventilasi.
Nadi: 60 -100x/menit 4. Atur posisi 450
Respirasi : 16 – 24 x/menit 5. Pertahankan posisi
Suhu : 36,5 – 37,5 0C pasien.
6. Edukasi
tentang pentingnya
tidur posisi 450.
7. Kolaborasi
pemberian O2 RM
8 liter per menit.
Setelah dilakukan tindakan Cardiac Care (4044)
keperawatan 3 x 24 jam pada pasien Tn.
1. Monitor status
M dengan penurunan curah jantung pernafasan.
dapat teratasi dengan kriteria hasil : 2. Monitor adanya
1. Respirasi dalam batas normal 16 dyspnea.
– 24 x/menit 3. Monitor toleransi
2. Tidak ada kelelahan aktivitas pasien
3. Pasien mengatakan sesak nafas 4. Pastikan tingkat
berkurang. aktivitas pasien
4. Dapat mentoleransi aktivitas
yang tidak
Penurunan curah jantung membahayakan
curah jantung
5. Dorong aktivitas
lebih ringan dalam
melakukan aktivitas
6. Jelaskan pada pasien
tujuan dari
pemberian O2
7. Kolaborasi
pemberian obat
sesuai indikasi.
Intoleransi aktifitas Setelah dilakukan tindakan Cardiac Care: Rehabilitative
keperawatan 3 x 24 jam pada pasien Tn. (4046)
M dengan intoleransi aktivitas dapat
1. Observasi
teratasi dengan kriteria hasil :
1. Berpartisipasi dalam aktivitas kemampuan
fisik tanpa disertai aktivitas pasien
peningkatan Tekanan Darah, 2. Bantu pasien
Nadi, Respirasi rate. untuk mengubah
2. Tanda – tanda vital dalam posisi secara
rentang normal berkala
Tekanan Darah: 120/80 mmhg 3. Bantu untuk
Nadi: 60 -100x/menit memilih aktivitas
Respirasi rate : 16 – 24 x/menit konsisten yang
Suhu : 36,5 – 37,5 C0 sesuai kemampuan
3. Mampu berpindah : dengan atau fisik, psikologi,
tanpa bantuan sosial.
4. Sirkulasi status baik 4. Anjurkan pasien
5. Status respirasi : pertukaran gas untuk bedrest
dan ventilasi adekuat
5. Intruksi kepada
pasien dan
keluarga
mengenai
modifikasi faktor
resiko.
6. Kolaborasi
kepada keluarga
untuk membantu
ADL.
7. Intruksikan pasien
dan keluarga untuk
membatasi
mengangkat
aatau mendorong
beban berat
dengan cepat
Implementasi Keperawatan

Diagnosa Senin, 04 Nov 2019 Selasa, 05 Nov 2019 Rabu, 06 Mei 2017
keperawatan
Tn.M

No.Dx Jam Implementasi Respon pasien Jam Implementasi Respon pasien Jam Implementasi Respon pasien

Dx 2 13.00 Memonitor S: Pasien 09.05 Memonitor S: Pasien 09.05 Memonitor S: pasien


status mengatakan sesak adanya mengatakan nafas status megatakan sesak
pernafasan nafas. dyspnea terasa sedikit lega. pernafasan nafas
berkurang.
O: Pasien tampak O: Respirasirate :
terengah-engah, 28 x/menit, O:Pasien tampak
pasien terpasang terpasang O2 sedikit rileks dan
O2 RM 8 liter per nasal canul 4 liter masih
menit. per menit. terpasanag O2
nasal kanul 3
liter per menit.
13.15 Memonitor S:Pasien 09.20 Memonitor S: Pasien
mengatakan nafas 09.10
adanya toleransi mengatakan Memonitor S: pasien
dyspnea terasa sesak. aktivitas bersedia dan adanya dyspnea mengatakan
pasien merasa sesak nafas sudah
O: Respirasi rate nafas saat terasa lega.
: 36 x/ menit, beraktivitas berat
terpasang O2 RM O: Respirasi
8 liter per menit. O: Pasien tampak rate: 27 x/menit,
nafas tersengal- masih terpasang
sengal dan terlihat O2 nasal kanul 3
kelelahan. liter per menit.

Menjelaskan S: Pasien
13.20 mengatakan Memastikan S: - S: Pasien
pada pasien 09.30 10.00 Mendorong
bersedia. tingkat mengatakan
tujuan dari aktivitas lebih
pemberian O2 O: Pasien tampak
mengerti tujuan
pemberian O2 aktivitas O: Pasien terlihat Ringan dalam bersedia
yaitu untuk pasien yang beraktivitas melakukan
memperbaiki status tidak sesuai aktivitas O: Pasien tampak
oksigen dan membahayak kemampuan. mematuhi
memenuhi curah jantung larangan untuk
kekurangan O2. mengangkat
beban berat dan
memilih aktivitas
yang ringan.

Dx 1 13.25 Memonitor S: Pasien 11.05 Memonitor S: Pasien 11.00 Memantau S: Pasien


aliran mengatakan sesak tanda-tanda mengatakan tanda-tanda vital mengatakan
oksigen nafas. vital bersedia. bersedia.

O: Pasien O: Pasien tampak O: Pasien tampak


terpasang O2 RM 8 kooperatif kooperatif
liter per menit. Tekanan Darah: Tekanan Darah:
140/80 mmHg 120/80 mmHg
Nadi: 88 x/menit Nadi: 98
Suhu: 36,7 0C x/menit Suhu:
Respirasi rate : 28 360C
x/menit Respirasi rate: 26
x/menit
Memantau S: Pasien
11.00 mengatakan bersedia 11.30 Mempertahan S: Pasien S: Pasien
tanda-
tanda vital kan posisi mengatakan 11.30 Mengatur posisi mengatakan
O: Pasien tampak pasien bersedia 450 bersedia.
kooperatif Tekanan
Darah: 160/100 O: Pasien tampak O: Pasien
mmHg tenang dan tidur diposisikan 450
Nadi: 95 x/menit pada posisi dan meringankan
Suhu: 36 0C 450,sesak nafas sesak nafasnya.
Respirasi rate : 36 dan tanda-tanda
x/menit vital sedikit
ada
perubahan.
13.35 Mengatur S: Pasien Mengkolabora S: Pasien 11.30 Mengedukasi S: Pasien
posisi 450 mengatakan 11.30 si pemberian mengatakan pentingnya tidur mengatakan
bersedia. O2 nasal kanul bersedia posisi 450 bersedia
3 liter per diberikan O2 dijelaskan bahwa
O: Pasien di menit. tidur posisi 450
posisikan 450. O : Pasien dapat mengurangi
terpasang O2 sesak nafas dan
nasal kanul 4 berpengaruh pada
liter per menit. tanda-
tanda vital.

O: Pasien
tamopak
kooperatif dan
ingin tahu.

Dx 3 14.00 Mengobserva S: Pasien 13.00 Mengobservas S: Pasien 13.00 Mengobservasi S: Pasien


si mengatakan i kemampuan mengatakan kemampuan mengatakan
kemampuan aktivitas masih pasien sebagian pasien sebagian
pasien dibantu. aktivitas sudah aktivitas sudah
tidak dibantu. tidak di bantu.
O: pasien tampak
saat duduk masih O:Pasien tampak O: Pasien sudah
dibantu keluarga. saat duduk masih mulai duduk
dibantu keluarga. sendiri tanpa
bantuan.

14.15 Menganjurka S: Pasien 13.15 Membantu S: Pasien 13.15 Menginstruksik S: Pasien dan
n pasien mengatakan bersedia pasien untuk mengatakan an kepada keluarga
untuk bedrest mengubah bersedia. pasien dan mengatakan
O: Pasien tampak posisi secara keluarga bersedia.
hanya berbaring di berkala O: Pasien tampak mengenai
tempat tidur. melakukan modifikasi O: pasien dan
mobilisasi di faktor resiko kelurga tampak
tempat tidur. mengerti dari
beberapa faktor
resiko seperti
mengurangi
merokok, tidak
minum alkohol.

14.20 S: Pasien S:Keluarga 13.20 Menginstruksik S: Pasien dan


Membantu 13.20 Mengkolabora
Mengatakan ingin mengatakan an pasien dan keluarga
untuk si kepada
melakukan membantu keluarga untuk mengatakan
memilih keluarga untuk
aktivitas saat sebagian membatasi bersedia
aktivitas membantu
sudah pulang aktivitas pasien. mengangkat
konsisten ADL
kerumah. atau mendorong O: Pasien dan
yang sesuai
O:Keluarga beban berat keluarga tampak
kemampuan
O: Pasien tampak tampak dengan cepat mengerti
fisik,
psikologi, membicarakan membantu saat penjelasan yang
sosial aktivitas pasien duduk. di berikan.
kesukaannya.
Evaluasi Keperawatan

Evaluasi
Hari 1 Hari 2 Hari 3
S : pasien mengatakan S : pasien mengatakan sesak S: pasien mengatakan sesak nafas
Dx 1 sesak nafas bertambah nafas bertambah berat saat berkurang dengan istirahat dan
berat saat beraktivitas beraktivitas bertambah berat saat beraktivitas

O: O: O:
Tekanan Darah: 160/100 Tekanan Darah: 130/80 Tekanan Darah: 120/80 mmHg
mmHg mmHg Nadi : 85 x/menit, teraba kuat
Nadi : 95 x/menit, teraba Nadi : 88 x/menit, teraba Suhu: 360C
lemah kuat Respirasi rate : 26 x/menit
Suhu : 36,00C Suhu: 36,70C Terpasang O2 nasal kanul 3 lpm
Respirasi rate: 36 Respirasi rate : 28 A: masalah teratasi
x/menit Terpasang O2 x/menit 1. Pertahankan posisi pasien.
nasal kanul 4 lpm Terpasang O2 nasal kanul 3 2. Edukasi tentang
Menggunakan otot bantu lpm pentingnya tidur posisi 450
nfas Menggunakan otot bantu 3. Kolaborasi pemberian O2
A: masalah belum nafas nasal kanul 3 lpm.
teratasi A: masalah teratasi P: pertahankan intervensi
P:lanjutkan intervensi sebagian 1. Pantau tanda-tanda vital.
1. Monitoring aliran 1. Monitoring aliran 2. Pertahankan posisi pasien.
oksigen. oksigen.
2. Pantau tanda – 2. Pantau tanda – tanda
tanda vital. vital.
3. Posisikan pasien 3. Posisikan pasien
untuk untuk
memaksimalkan memaksimalkan
ventilasi. ventilasi.
4. Atur posisi 450 4. Atur posisi 450
5. Pertahankan P: lanjutkan intervensi
posisi pasien. 1. Pertahankan
6. Edukasi tentang posisi pasien.
pentingnya tidur 2. Edukasi tentang
posisi 450. pentingnya tidur
7. Kolaborasi posisi 450
pemberian O2 3. Kolaborasi
nasal kanul 4 pemberian O2
liter per menit. nasal kanul 3 liter
per menit.
Dx 2 S: pasien mengatakan S: pasien mengatakan S: pasien mengatakan dada sedikit
dada terasa sesak dada terasa sesak terasa sesak

O: O: O:
Pasien tampak sesak nafas Pasien tampak sesak nafas Pasien tampak tidak sesak nafas
dan kelelahan berkurang berkurang
Akral teraba dingin Akral mulai teraba hangat Akral teraba hangat
Hasil EKG: A: masalah teratasi A: masalah teratasi
Sinus rythem 90 bpm sebagian 1. Kolaborasi pemberian
LAD LVH Cornell, Q 1. Monitor status obat sesuai indikasi.
patologis V2-V5, ST pernafasan. 2. Dorong aktivitas lebih
Elevasi V2-V5 Hasil JVP: 2. Monitor adanya ringan dalam melakukan
5+2 cmH2O dyspnea. aktivitas.
Hasil Ecokardiografi: EF Monitor toleransi 3. Jelaskan pada pasien
21-26% aktivitas pasien. tujuan dari pemberian O2.
A: masalah belum 3. Pastikan tingkat P: hentikan intervensi
teratasi aktivitas pasien yang
P: lanjutkan intervensi tidak membahayakan
1. Monitor status curah jantung.
pernafasan. P: lanjutkan intervensi
2. Monitor adanya 1. Dorong aktivitas
dyspnea. lebih ringan
3. Monitor toleransi dalam melakukan
aktivitas pasien aktivitas.
4. Pastikan tingkat 2. Jelaskan pada pasien
aktivitas pasien tujuan dari
yang tidak pemberian O2.
membahayakan 4. Kolaborasi
curah jantung. pemberian obat
5. Dorong aktivitas sesuai indikasi.
lebih ringan
dalam melakukan
aktivitas.
6. Jelaskan pada
pasien tujuan dari
pemberian O2.
7. Kolaborasi
pemberian
obat sesuai
indikasi.
Dx 3 S: pasien mengatakan S: pasien mengatakan lemas S: pasien mengatakan sudah sedikit
lemas dan lelah dan lelah bertenaga dan tidak lemas

O: pasien tampak lemah O: pasien tampak lemah O: pasien tampak bisa


dan sesak nafas setelah dan sesak nafas setelah aktivitas diatas tempat tidur
beraktivitas beraktivitas

A: masalah belum A: masalah teratasi A: masalah teratasi


teratasi sebagian 1. Bantu pasien untuk
mengubah posisi secara
P: lanjutkan intervensi P : lanjutkan intervensi berkala.
1. Observasi 1. Anjurkan pasien 2. Bantu untuk
kemampuan untuk bedrest. memilih aktivitas
aktivitas pasien. 2. Intruksi kepada konsisten yang sesuai
2. Bantu pasien pasien dan kemampuan fisik,
untuk mengubah keluarga mengenai psikologi, sosial.
posisi secara modifikasi faktor 3. Intruksikan pasien dan
berkala. resiko. keluarga untuk membatasi
3. Bantu untuk 3. Observasi mengangkat atau
memilih aktivitas kemampuan mendorong beban berat
konsisten yang aktivitas pasien. dengan cepat.
sesuai 4. Kolaborasi kepada P: hentikan intervensi
kemampuan fisik, keluarga untuk
psikologi, sosial. membantu ADL.
4. Anjurkan pasien 5. Bantu pasien untuk
untuk bedrest. mengubah posisi
5. Intruksi kepada secara berkala.
pasien dan 6. Bantu untuk
keluarga memilih aktivitas
mengenai konsisten
modifikasi faktor yang sesuai
resiko. kemampuan fisik,
6. Kolaborasi psikologi, sosial.
kepada keluarga 7. Intruksikan pasien
untuk membantu dan keluarga untuk
ADL. membatasi
7. Intruksikan mengangkat atau
pasien dan mendorong beban
keluarga berat dengan cepat
untuk membatasi
mengangkat atau
mendorong beban
berat dengan
cepat.
ANALISIS JURNAL

1. Jurnal 1 (Deep Breathing Exercise dan Active Range of Motion Efektif Menurunkan
Dyspnea pada Pasien Congestive Heart Failure)
Pada jurnal “Deep Breathing Exercise dan Active Range of Motion Efektif
Menurunkan Dyspnea pada Pasien Congestive Heart Failure” peneliti ingin mengetahui
pengaruh deep breathing exercise dan active range of motion terhadap dyspnea pada
pasien CHF (Congestive Heart Failure)
Deep Breathing merupakan aktivitas keperawatan yang berfungsi meningkatkan
kemampuan otot-otot pernafasan untuk meningkatkan compliance paru dalam
meningkatkan fungsi ventilasi dan memperbaiki oksigenasi. Oksigenasi yang adekuat
akan menurunkan dyspnea. Latihan pernafasan juga akan meningkatkan relaksasi otot,
menghilangkan kecemasan, menyingkirkan pola aktivitas otot-otot pernafasan yang tidak
berguna dan tidak terkoordinasi, melambatkan frekuensi pernafasan dan mengurangi
kerja pernafasan. Pernafasan yang lambat, rileks dan berirama membantu dalam
mengontrol klien saat mengalami dyspnea. Selain Deep Breathing peneliti juga
mengajarkan aktivitas Range of motion (ROM) yang merupakan latihan gerak dengan
menggerakkan sendi seluas gerak sendi. Latihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan
aliran darah ke otot sehingga meningkatkan perfusi jaringan perifer. Pergerakan tubuh
yang sifatnya teratur sangat penting untuk menurunkan resistensi pembuluh darah perifer
melalui dilatasi arteri pada otot yang bekerja sehingga meningkatkan sirkulasi darah.
Sirkulasi darah yang lancar akan melancarkan transportasi oksigen ke jaringan sehingga
kebutuhan oksigen akan terpenuhi dengan adekuat.
Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa
intervensi deep breathing exercise dan active range of motion efektif menurunkan
dyspnea pada pasien dengan congestive heart failure (CHF). Intervensi ini dapat
dijadikan penatalaksanaan non-farmakologis pada pasien CHF dan dapat dikembangkan
perawat dengan mempertahankan kemampuan pasien dalam melakukan intervensi
tersebut. Intervensi dapat dilakukan sebagai bentuk pilihan dalam pelayanan kesehatan
fase inpatient untuk mengurangi dyspnea dalam meningkatkan kualitas hidup pada pasien
CHF.
2. Jurnal 2 (Kualitas Hidup Pasien Gagal Jantung Kongsif (GJK) Berdasarkan
Karakteristik Demografi)
Pada jurnal “Kualitas Hidup Pasien Gagal Jantung Kongsif (GJK) Berdasarkan
Karakteristik Demografi” peneliti bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis
kualitas hidup berdasarkan data demografi pasien gagal jantung kongestif.
Pasien gagal jantung kongestif (GJK) mengalami kelelahan dan dyspnea yang
berkontribusi memperburuk kualitas hidupnya. Menurut NYHA, GJK (Gagal Jantung
Kongesif) dibagi berdasarkan 4 derajat kemampuan fisik. Derajat I menunjukkan
seseorang bisa beraktifitas secara normal, pada derajat II pasien menunjukan gejala
ringan saat melakukan aktivitas sehingga pasien merasa lebih nyaman bila beristirahat,
pada derajat III pasien sudah mulai menunjukan adanya keterbatasan fisik, dan pada
derajat IV pasien sudah tidak bisa melakukan aktivitas apapun tanpa keluhan. Kondisi
tersebut akan mempengaruhi sejauh mana pasien mampu memaksimalkan fisiknya,
sehingga mempengaruhi kualitas hidup pasien. Faktor tersebut juga dipengaruhi tingkat
pendidikan dan pengetahuan seseorang dalam mengenal masalahnya.
Kualitas hidup pasien dengan GJK dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu umur,
jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, dan derajat NYHA (New York Heart Assosiation).
Umur dan jenis kelamin merupakan faktor yang sangat penting pada pasien GJK.
Semakin bertambah tua umur seseorang, maka penurunan fungsi tubuh akan terjadi baik
secara psikologis maupun fisik. Begitu juga dengan jenis kelamin, pria lebih cenderung
memiliki kemampuan fungsi tubuh yang lebih baik daripada wanita terutama fisik.
Dampak dari kemampuan fungsi fisik yang menurun akan mempengaruhi derajat GJK
seseorang.
Kesimpulan hasil yang didapatkan oleh peneliti dalam penelitiannya yaitu Faktor-
faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup adalah umur, pendidikan dan derajat
GJK. Umur memiliki hubungan negatif terhadap kualitas hidup yang menyatakan bahwa
semakin bertambahnya umur seseorang maka kualitas hidupnya akan menurun.
Pendidikan memiliki hubungan positif terhadap kualitas hidup yang menyatakan bahwa
semakin tinggi pendidikan pasien maka semakin baik kualitas hidup pasien. Derajat
menurut NYHA memiliki perbedaan yang signifikan terhadap kualitas hidup pasien gagal
jantung kongestif (GJK). Faktor yang tidak berhubungan dengan kualitas hidup adalah
jenis kelamin, dan pekerjaan.
3. Jurnal 3 (Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kualitas Tidur pad Paisen
Congestive Heart Failure)
Pada Jurnal “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kualitas Tidur pad Paisen
Congestive Heart Failure” peneliti ingin mengetahui faktor-faktor yang berhubungan
dengan kualitas tidur pada pasien CHF yang dirawat di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.
CHF menimbulkan berbagai gejala klinisdiantaranya;dipsnea, ortopnea,
pernapasan Cheyne-Stokes, Paroxysmal Nocturnal Dyspnea (PND), asites, piting edema,
berat badan meningkat, dan gejala yang paling sering dijumpai adalah sesak nafas pada
malam hari, yang mungkin muncul tiba-tiba dan menyebabkan penderita terbangun.
Munculnya berbagai gejala klinis pada pasien gagal jantung tersebut akan menimbulkan
masalah keperawatan dan mengganggu kebutuhan dasar manusia salah satudiantaranya
adalah tidur seperti adanya nyeri dada pada aktivitas, dyspnea pada istirahat atau
aktivitas, letargi dan gangguan tidur. Selain itu usia, jenis kelamin, budaya, makna nyeri,
perhatian, kecemasan, keletihan dan pengalaman sebelumnya dapat mempengaruhi
respon dan persepsi nyeri. Gangguan tidur adalah simptom yang paling sering dilaporkan
pada pasien CHF dan dirasakan oleh 75% penderitanya. Faktor yang berhubungan
dengan gangguan tidur pada kelompok ini multidimensional seperti karakteristik
demografi (jenis kelamin, umur), perjalanan penyakit CHF, beberapa masalah kesehatan
(nyeri, depresi), simptom dari CHF , medikasi, stress dan kecemasan.
Berdasarkan Hasil uji statistik dalam penelitian ini pada faktor tingkat nyeri
diperoleh ρvalue 0,925 > α (0,05), sehingga didapatkan kesimpulan tidak ada hubungan
antara tingkat nyeri dengan kualitas tidur responden. Hasil uji statistik terhadap faktor
kecemasan diperoleh ρvalue 0,001 < α (0,05), sehingga didapatkan kesimpulan ada
hubungan antara kecemasan dengan kualitas tidur responden. Hasil uji statistik terhadap
faktor pernapasan (PND) diperoleh ρvalue 0,008 < α (0,05), sehingga didapatkan
kesimpulan ada hubungan antara pernpasan ( PND) dengan kualitas tidur responden.
Hasil uji statistik terhadap faktor kelebihan cairan diperoleh ρ value 0,985 > α (0,05),
sehingga didapatkan kesimpulan tidak ada hubungan antara kelebihan cairan dengan
kualitas tidur responden.
DAFTAR PUSTAKA

American Heart Association. 2012. Understand your risk for herat failure.
http://www.heart.org/HEARTORG/Conditions/HeartFailure/Unde
rstandYourRiskforHeartFailure/Understand-Your-Risk-for-Heart-
Failure_UCM_002046_Article.jsp

Ardiansyah M. 2012. Medikal Bedah untuk Mahasiswa. Diva Press: Yogyakarta.

Hudak, C.,M., & Gallo, B.,M.. 2010. Keperawatan Kritis Holistik (VIII ed.Vol I). Jakarta: EGC.

Kasron. 2012. Buku Ajar Gangguan Sistem Kardiovaskuler. Yogyakarta: Nuha Medika.

Nurarif A. H & Kusuma H. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis
& NANDA NIC NOC. Yogyakarta:Media Action Publishing.

Oktavianus&Febriana Sartika Sari. 2014. Sistem Kardiovaskuler Dewasa. Yogyakarta: Graha


Ilmu.

Padila. 2012. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta: Nuha Medika.

PotterA Patricia & Perry A Griffin. 2007. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Konsep Proses
dan Praktik, Alih Bahasa Renata Komalasari, Edisi 4 Volume 2. Jakarta: EGC.

Wijaya Andra Sefari & Yessie Mariza Putri. 2013. Keperawatan Medikal Bedah .Yogyakarta:
Nuha Medika.

Nirmalasari, N. (2017). Deep Breathing Exercise and Active Range of Motion Effectively
Reduce Dyspnea in Congestive Heart Failure Patients. NurseLine Journal, 2(2), 159.
https://doi.org/10.19184/nlj.v2i2.5940

Akhmad, A. N. (2018). Kualitas hidup pasien Gagal Jantung Kongestif (GJK) Berdasarkan
karakteristik Demografi. Jurnal Keperawatan Soedirman, 11(1), 27.
https://doi.org/10.20884/1.jks.2016.11.1.629

Fachrunnis, & Nurchayati, Sofiana, A. ’. (2015). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan


Kualitas Tidur Pada Pasien Congestive Heart Failure. Jurnal Online Mahasiswa (JOM)
Bidang Ilmu Keperawatan, 2(2), 1094–1105. Retrieved from
https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMPSIK/article/view/8273/7943

Anda mungkin juga menyukai