Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Rabbul Izzati Sang Penguasa Langit dan Bumi. Berkat rahmat dan hidayat-Nya lah kita semua senantiasa selalu berada dalam lingkaran suci penuh ridho akan janji kemenangan nanti. Shalawat dan salam selalu kami panjatkan keharibaan Rasulullah SAW beserta seluruh keluarga dan sahabatnya. Semoga kita semua mendapatkan syafa atnya di hari penantian nanti. Akhirnya dengan penuh niat ikhlas, Tugas laporan praktikum kimia makanan halal mengenai Pembuatan yoghurt ini bisa kami selesaikan sebagai pemenuhan tugas mata

kuliah praktikum Kimia Pangan Halal ini. Laporan mini project praktikum kimia makanan halal ini akan kami dedikasikan sebagai bentuk keseriusan kami dalam menjalankan amanah pendidikan tentunya serta upaya kami dalam memberantas kebodohan di negeri ini. Tentunya laporan ini bukan yang terbaik tapi kami berharap dan kami yakin akan menjadi baik tentunya dengan bimbingan para dosen dan bantuan kawan kawan pembaca semua. Kritik dan saran akan membangun semangat perjuangan kami akan mimpi kesempurnaan. Ucapan terima kasihpun tak pelak kami sampaikan kepada segenap pihak yang telah membantu kami serta memberikan perhatiannya kepada kami. Akhirnya kami hanya bisa mengucapkan Jazakallau Ahsanal Jaza .

Jakarta, 24 desember 2011

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Tujuan Analisa :  Untuk mengetahui cara menanalisa kadar etanol dengan menggunakan GC MS  Untuk mengetahui kadar etanol yang terdapat pada minuman beralkohol yang beredar di pasaran, serta membandingkan kadar terukur dengan kadar pada kemasan.

I.2. Latar Belakang Saat ini banyak produk dengan campuran alkohol yang beredar di pasaran terutama pada produk minuman. Permasalahannya adalah sering munculnya para produsen ilegal yang membuat minuman dengan kadar alkohol yang tinggi atau menyalahi aturan batas kadar alkohol yang telah ditentukan. Oleh karena itu perlu dilakukan pengujian untuk mengukur kadar etanol dalam sample minuman beralkohol dengan menggunakan GC-MS. Kromatografi gas adalah tekhnik kromatografi yang bisa digunakan untuk memisahkan senyawa organik yang mudah menguap. Senyawa- senyawa yang dapat ditetapkan dengan kromatografi gas sangat banyak, namun ada batasan batasannya. Senyawa- senyawa tersebut 3000C. Jika

harus mudah menguap dan stabilPen pada temperatur pengujian, utamanya 50

senyawa tidak mudah menguap atau stabil pada temperatur pengujian, maka senyawa tersebut bisa diderivatisasi agar dapat dianalisis dengan kromatografi gas.

I.3. Rumusan masalah 1. Bagaimana cara preparasi sampel dari minuman beralkohol.

2. Bagaimana cara menentukan kadar ethanol pada minuman beralkohol dengan metode GC MS

I.4 Tinjauan Pustaka Alkohol merupakan istilah umum dari etanol mempunyai efek yang menguntungkan dan merugikan bagi manusia. Etanol pada kadar rendah dan sedang berperan sebagai stimulan. Konsumsi etanol dalam jumlah sedang mempunyai efek protektif terhadap penyakit jantung iskemik. Konsumsi etanol yang berlebihan bisa menyebabkan kerusakan banyak organ, terutama otak dan hati (Anonim, 1999).

Menurut keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 1516/A/SK/V/81, pasal 1: Anggur, arak dan sejenisnya termasuk dalam jenis minuman keras dan harus memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk minuman keras . Minuman keras menurut menteri Kesehatan RI nomor 86/Menkes/Per/IV/77 adalah semua jenis minuman beralkohol tetapi bukan obat, meliputi minuman keras golongan A, minuman keras golongan B, dan minuman keras golongan C . Minuman anggur termasuk dalam minuman keras golongan B (kadar etanol 5 20 %v/v). Minuman anggur dibuat dari fermentasi buah anggur atau jus buah anggur dengan Saccharomyces ellipsoideus. Buah-buah anggur itu dipanen ketika kandungan substrat yang bisa difermentasi, yaitu gula anggur atau glukosa berada pada kadar yang tinggi. Material yang disiapkan dari buah anggur sebelum fermentasi disebut must. Prosesnya tidak lain menghancurkan buah yang sudah matang dan menunggu hingga etanol yang dihasilkan sudah cukup dan tidak beracun (Bowman dan Rand, 1980) Etanol yang nama lainnya alkohol, aethanolum, etil alcohol, adalah cairan yang bening, tidak berwarna, mudah mengalir, mudah menguap, mudah terbakar, higroskopik dengan karakteristik bau spiritus dan rasa membakar, mudah terbakar dengan api biru tanpa asap. Campur dengan air, kloroform, eter, gliserol, dan hampir semua pelarut organic lainnya. Penyimpanan pada suhu 8-15C, jauh dari api dalam wadah kedap udara dan dilindungi dari cahaya, serta mempunyai rumus struktur sebagai berikut :

Metode yang dapat digunakan untuk menetapkan kadar etanol antara lain metode berat jenis yang merupakan metode konvensional dan kromatografi gas yang merupakan metode instrumental. Masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, dilakukan perbandingan validitas kedua metode, apakah validitas kedua metode berbeda bermakna atau tidak.

Kromatografi gas adalah GC (Gas Chromatography) yang biasa disebut juga Kromatografi gas (KG) merupakan teknik instrumental yang dikenalkan pertama kali pada tahun 1950-an. GC merupakan metode yang dinamis untuk pemisahan dan deteksi senyawa-senyawa organik yang mudah menguap dan senyawa-senyawa gas anorganik dalam suatu campuran Perkembangan teknologi yang signifikan dalam bidang elektronik, komputer, dan kolom telah menghasilkan batas deteksi yang lebih rendah serta identifikasi senyawa menjadi lebih akurat melalui teknik analisis dengan resolusi yang meningkat. GC menggunakan gas sebagai gas pembawa/fase geraknya. Ada 2 jenis kromatografi gas, yaitu : 1. Kromatografi gas cair (KGC) yang fase diamnya berupa cairan yang diikatkan pada suatu pendukung sehingga solut akan terlarut dalam fase diam. 2. Kromatografi gas-padat (KGP), yang fase diamnya berupa padatan dan kadang-kadang berupa polimerik. SISTEM PERALATAN KROMATOGRAFI GAS (GC)

1. Kontrol dan penyedia gas pembawa; 2. ruang suntik sampel; 3. kolom yang diletakkan dalam oven yang dikontrol secara termostatik; 4. sistem deteksi dan pencatat (detektor dan recorder); serta 5. komputer yang dilengkapi dengan perangkat pengolah data.

1. Fase gerak Fase gerak pada GC juga disebut dengan gas pembawa karena tujuan awalnya adalah untuk membawa solut ke kolom, karenanya gas pembawa tidak berpengaruh pada selektifitas. Syarat gas pembawa adalah: tidak reaktif; murni/kering karena kalau tidak murni akan berpengaruh pada detektor; dan dapat disimpan dalam tangki tekanan tinggi (biasanya merah untuk hidrogen, dan abu-abu untuk nitrogen)

2. Ruang suntik sampel Lubang injeksi didesain untuk memasukkan sampel ecara cepat dan efisien. Desain yang populer terdiri atas saluran gelas yang kecil atau tabung logam yang dilengkapi dengan septum karet pada satu ujung untuk mengakomodasi injeksi dengan semprit (syringe). Karena helium (gas pembawa) mengalir melalui tabung, sejumlah volume cairan yang diinjeksikan (biasanya antara 0,1-3,0 L) akan segera diuapkan untuk selanjutnya di bawa menuju kolom. Berbagai

macam ukuran semprit saat ini tersedia di pasaan sehingga injeksi dapat berlangsung secara mudah dan akurat. Septum karet, setelah dilakukan pemasukan sampel secara berulang, dapat diganti dengan mudah. Sistem pemasukan sampel (katup untuk mengambil sampel gas) dan untuk sampel padat juga tersedia di pasara. Pada dasarnya, ada 4 jenis injektor pada kromatografi gas, yaitu: a) Injeksi langsung (direct injection), yang mana sampel yang diinjeksikan akan diuapkan dalam injector yang panas dan 100 % sampel masuk menuju kolom. b) Injeksi terpecah (split injection), yang mana sampel yang diinjeksikan diuapkan dalam injector yang panas dan selanjutnya dilakukan pemecahan. c) Injeksi tanpa pemecahan (splitness injection), yang mana hampir semua sampel diuapkan dalam injector yang panas dan dibawa ke dalam kolom karena katup pemecah ditutup; dan d) Injeksi langsung ke kolom (on column injection), yang mana ujung semprit dimasukkan langsung ke dalam kolom. Teknik injeksi langsung ke dalam kolom digunakan untuk senyawa-senyawa yang mudah menguap; karena kalau penyuntikannya melalui lubang suntik secara langsung dikhawatirkan akan terjadi peruraian senyawa tersebut karena suhu yang tinggi atau pirolisis

3. Kolom Kolom merupakan tempat terjadinya proses pemisahan karena di dalamnya terdapat fase diam. Oleh karena itu, kolom merupakan komponen sentral pada GC. Ada 3 jenis kolom pada GC yaitu kolom kemas (packing column) dan kolom kapiler (capillary column); dan kolom preparative (preparative column). Perbandingan kolom kemas dan kolom kapiler dtunjukkan oleh gambar berikut :

Kolom Kemas

Kolom Kapiler

Kolom kemas terbuat dari gelas atau logam yang tahan karat atau dari tembaga dan aluminium. Panjang kolom jenis ini adalah 1 5 meter dengan diameter dalam 1-4 mm. Kolom kapiler sangat banyak dipakai karena kolom kapiler memberikanefisiensi yang tinggi (harga jumlah pelat teori yang sangat besar > 300.000 pelat). Kolom preparatif digunakan untuk menyiapkan sampel yang murni dari adanya senyawa tertentu dalam matriks yang kompleks.

Fase diam yang dipakai pada kolom kapiler dapat bersifat non polar, polar, atau semi polar. Fase diam non polar yang paling banyak digunakan adalah metil polisiloksan (HP-1; DB-1; SE30; CPSIL-5) dan fenil 5%-metilpolisiloksan 95% (HP-5; DB-5; SE-52; CPSIL-8). Fase diam semi polar adalah seperti fenil 50%-metilpolisiloksan 50% (HP-17; DB-17; CPSIL-19), sementara itu fase diam yang polar adalah seperti polietilen glikol (HP-20M; DB-WAX; CP-WAX; Carbowax-20M) (6).

4. Detektor Komponen utama selanjutnya dalam kromatografi gas adalah detektor. Detektor merupakan perangkat yang diletakkan pada ujung kolom tempat keluar fase gerak (gas pembawa) yang membawa komponen hasil pemisahan. Detektor pada kromatografi adalah suatu sensor elektronik yang berfungsi mengubah sinyal gas pembawa dan komponenkomponen di dalamnya menjadi sinyal elektronik. Sinyal elektronik detektor akan sangat berguna untuk analisis kualitatif maupun kuantitatif terhadap komponen-komponen yang terpisah di antara fase diam dan fase gerak.

Pada garis besarnya detektor pada KG termasuk detektor diferensial, dalam arti respons yang keluar dari detektor memberikan relasi yang linier dengan kadar atau laju aliran massa komponen yang teresolusi. Kromatogram yang merupakan hasil pemisahan fisik komponenkomponen oleh GC disajikan oleh detektor sebagai deretan luas puncak terhadap waktu. Waktu tambat tertentu dalam kromatogram dapat digunakan sebagai data kualitatif, sedangkan luas puncak dalam kromatogram dapat dipakai sebagai data kuantitatif yang keduanya telah dikonfirmasikan dengan senyawa baku. Akan tetapi apabila kromatografi gas digabung dengan instrumen yang multipleks misalnya GC/FT-IR/MS, kromatogram akan disajikan dalam bentuk lain.

Beberapa sifat detektor yang digunakan dalam kromatografi gas adalah sebagai berikut : Jenis Detektor Hantaran panas Ionisasi nyawa Penangkap elektron Jenis Sampel Batas Deteksi 5-100 ng 10-100 pg Kecepatan Alir (ml/menit) Gas H2 Udara Pembawa 15-30 20-60 30-60 30-60 200500 -

Senyawa umum Hidrokarbon

Halogen 0,05-1 pg organic, pestisida NitrogenSenyawa 0,1-10 g fosfor nitrogen organik dan fospat organic Fotometri Senyawa10-100 pg nyala (393 senyawa sulfur nm) Fotometri Senyawa1-10 pg nyala (526 senyawa fosfor nm) Foto ionisasi Senyawa yang 2 pg terionisasi dg C/detik UV Konduktivitas Halogen, N, S 0,5 pg C elektrolitik 12 pg S 4 pg N Fourier Senyawa1000 pg Transformsenyawa inframerah organic (FTIR) Selektif Sesuai untuk 10 pg-10 massa senyawa ng apapun Emisi atom Sesuai untuk 0,1-20 pg elemen apapun

20-40

1-5

700-100

20-40

50-70

60-80

20-40

120-170

100-150

30-40

20-40

80

3-10

0,5-30

60-70

5. Komputer Komponen GC selanjutnya adalah komputer. GC modern menggunakan komputer yang dilengkapi dengan perangkat lunaknya (software) untuk digitalisasi signal detektor dan mempunyai beberapa fungsi antara lain:
y

Memfasilitasi setting parameter-parameter instrumen seperti: aliran fase gas; suhu oven dan pemrograman suhu; serta penyuntikan sampel secara otomatis.

Menampilkan kromatogram dan informasi-informasi lain dengan menggunakan grafik berwarna.

y y

Merekam data kalibrasi, retensi, serta perhitungan-perhitungan dengan statistik. Menyimpan data parameter analisis untuk analisis senyawa tertentu.

BAB II METODE

A. Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum ini meliputi :Salah satu minuman beralkohol yang beredar di pasaranBir G , Na2SO4, Aquabidest, Etanol p.a (etanol murni 99,9%). B. Alat Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah seperangkat alat kromatografi gas, alat destilasi ,labu takar 100 ml, mkropipet, Beaker glass, Corong, Gelas ukur, GC-MS Shimadzu QP2010, Mikropipet dan tip, Vortex. C. Tata Cara Pelaksanaan Praktikum ini menggunakan sampel salah satu merk minuman keras yang beredar di pasaran di ciputat. Sampel yang diambil sebanyak 1 botol minuman keras dengan volume 250 ml.

1. Preparasi Sampel

PREPARASI SAMPLE
1. 2. 3. 250 ml sample bir didestilasi dengan menggunakan alat destilasi sederhana pada suhu 760

80 C 13 ml destilat yang didapat disaring dengan kertas saring dan ditambahkan Na2SO4

secukupnya 7,2 ml filtrat divortex hingga homogen kemudian disimpan di dalam botol vial untuk dilakukan analisis kadar alkohol dengan menggunakan GC-MS 4. Sebagai sample yang akan dianalisis menggunakan GC-MS, filtrat diencerkan hingga 5 kalinya dengan mengambil 0,2 ml filtrat sample menggunakan mikropipet yang dimasukkan ke dalam botol vial kemudian ditambahkan dengan 0,8 ml aquabidest

PREPARASI STANDARD ETANOL


1. Standard etanol 1%

0,2 ml standard etanol 5% diambil dengan menggunakan mikropipet ke dalam botol vial kemudian ditambahkan dengan 0,8 ml aquabidest. Selanjutnya divortex hingga homogen. 2. Standar etanol 2,5% 0,5 ml standard etanol 5% diambil dengan menggunakan mikropipet ke dalam botol vial kemudian ditambahkan dengan 0,5 ml aquabidest. Selanjutnya divortex hingga homogen.

2. Validasi Metode Kromatografi Gas a. Pembuatan seri larutan baku etanol. Disiapkan seri baku dengan konsentrasi berikut: etanol etanol etanol 1% 2,5% 5%

ANALISIS KADAR ALKOHOL DALAM SAMPLE BIR HITAM (Stout) Gas Chromatography Mass Spectroscopy (GCMS) merupakan alat yang digunakan untuk menganalisis kadar alkohol yang terdapat dalam sample bir hitam (stout). Analisis GCMS dilakukan di Pusat Laboratorium Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan menggunakan GCMS-QP2010 Shimadzu dengan kondisi sebagai berikut: Suhu kolom 60 C, injektor mode split dengan suhu injektor 210 C, suhu detektor 210 C, tekanan 94,5 kPa, laju alir total 104 ml/menit, gas pembawa helium, kolom Rtx-1MS (panjang kolom 30m, diameter kolom 0,25 mm, ketebalan film 0,25 m)
0 0 0

BAB III PEMBAHASAN

Pada praktikum penentuan kadar etanol pada minuman beralkohol dengan GC MS ini, kami tidak melakukannya dikarenakan beberapa kendala. Sehingga kami tidak mendapatkan data kromatogram yang semestinya, untuk itu kami melakukan study literature dalam praktikum kali ini. Praktikum kali ini mengenai Sampel minuman beralkohol, minuman beralkohol banyak mengandung kadungan selain etanol. Kandungan lain dalam minuman beralkohol tersebut antara lain: gula pasir,,air,perisai dll. Pemisahan kandungan-kandungan lain dalam minuman anggur dilakukan dengan cara distilasi. Kelemahan metode distilasi biasa adalah tidak bisa memisahkan senyawa dengan selisih titik didih sempit. Etanol (titik didih 78,3C) dan metanol (titik didih 64,5C) tidak dapat dipisahkan dengan distilasi ini. Pada praktikum penentuan kadar etanol pada minuman beralkohol dengan GC MS ini, kami tidak melakukannya dikarenakan beberapa kendala. Sehingga kami tidak mendapatkan data kromatogram yang semestinya, untuk Kromatografi gas selain dapat mengidentifikasi jenis komponen ( analisa kualitatif ) dari suatu campuran, dapat juga memberikan informasi kuantitatif. Analisa kuantitatif dengan kromatografi gas dapat didasarkan pada salah satu pendekatan, tinggi peak atau area peak analit dan standar. selanjutnya terdapat beberapa jenis metode analisa kuantitatif kromatografi gas

yaitu metode standar kalibrasi, metode standar internal. Berikut akan dibahs keuntungan dan kelemahan berbagai pendekatan dan metode analisis kuantitatif.

A.1Pendekatan tinggi peak ( peak high ) Tinggi peak kromatogram dapat diperoleh dengan membuat base lines pada suatu peak dan mengukur tinggi garis tegak lurus yang menghubungkan base line dengan peak, seperti diperlihatkan gambar tersebut.

Pendekatan ini berlaku kalau lebar peak standart dan analit tidak berbeda. dengan kata lain variasi kondisi kolom tidak boleh menyebabkan perubahan lebar peak. oleh karena itu, beberapa variable harus dikontrol, seperti suhu kolom, laju aliran eluen dan laju injeksi cuplikan. selain itu volume injeksi yang berlebih harus dicegah.

B. Pendekatan area peak Area peak dapat diperhitungkan lebar peak sehingga lebar peak yang berbeda antara standar dan analit tidak masalah. Oleh karena itu, melalui pendekatan ini lebih memuaskan daripada tinggi peak, dari sudut parameter analisis karena memperhitungkan aspek lebar peak. Akan tetapi, tinggi peak lebih mudah diukur dan lebih teliti ditentukan untuk peak yang runcing. Biasanya, instrumen kromatografi gas mutakhir dilengkapi dengan komputer yang dapat menghitung area peak secara tepat. Selain manual, area peak dihitung dengan memperkalikan tinggi peak dengan lebar peak pada setengah tinggi peak. Standar deviasi relatif dengan cara komputerisasi dan cara menual masing-masing adalah 0,44% dan 2,6%. Beberapa alternatif untuk mengukur luas peak, adalah sebagai berikut: 1) Kromatografi biasanya dilengkapi dengan komputer dengan programnya untuk menghitung luas peak secara otomatis. Bila base line miring maka kemiringan diperhitungkan dalam meughitung luas peak. 2) Luas peak dapat diperhitungkan dengan mempergunakan alat mekanik yang disebut planimeter.

3) Untuk peak berbentuk Gaussian, luas peak dapat dihitung sebagai hasil kali tinggi dengan lebar peak pada setengah tinggi. Cara ini mempunyai ketelitian 84%. 4) Luas peak dapat diukur dengan menggambarkan segitiga pada peak tersebut kemudian luas segitiga tersebut dihitung 1/2 (alas x tinggi ). Cara ini mempunyai ketelitian 96%. 5) Bila peak sangat runcing maka tinggi peak dapat menggantikan luas peak

Gambar 5.5. Menentukan area peak area peak = X(tinggi peak) x Y(lebar peak pada setengah tinggi peak). C.Metode kalibrasi Analisa kuantitatif dengan metode ini kita harus mempersiapkan sederet larutan standar yang komposisinya sama dengan analit. Kemudian tiap larutan standar diukur dengan kromatografi gas sehingga diperoleh kromatogram untuk tiap larutan standar selanjutnya diplot area peak atau tinggi peak sebagai fungsi konsentasi larutan standar. Plot data harus diperoleh garis lurus yang memotong titik nol ( gambar 5.6). Restandarisasi diperlukan untuk mendapatkan ketelitian tinggi. Sumber kesalahan dengan metode ini biasanya variasi volume cuplikan dan kadang-kadang laju injeksi menjadi suatu faktor kesalahan. Kesalahan dapat terjadi pada krornatografi gas-cair karena cuplikan harus disuntikkan kedalam tempat cuplikan yang dipanaskan, disini penguapan dan jarum suntik menyebabkan perubahan volume cuplikan yang berarti. Kesalahan yang disebabkan perubahari volume cuplikan dapat dikurangi dengan menggunakan rotary sampel valve.

D. Metode Normalisasi Area Metode analisis kuantitatif ini dimaksudkan untuk mengurangi kesalahan yang berhubungna dengan injeksi cuplikan. Dengan metode ini dapat diperlukan elusi yang sempurna semua komponen campuran harus keluar dari kolom, area peak yang muncul di

ditung. Kemudian area

area peak tersebut dikoreksi terhadap respon detector untuk

Janis senyawa yang berbeda. Selanjutnya konsentrasi analit ditentukan dengan membandingkan area eak terhdap totalaeea suma komponen.

BAB IV PENUTUP

IV.1 Kesimpulan  Preparasi sampel dapat dilakukan dengan metode destilasi sederhana tanpa penambahan aquadest (pelarut).  Untuk menentukan kadar etanol dalam sampel secara kuantitatif dapat ditentukan dengan 3 metode :
Pendekatan ketinggian peak Pendekatan area peak Metode kalibrasi

 Kami melakukan praktikum ini hanya sampai proses preprasi sampel, karena banyaknya kendala yang qt alami pada praktikum mini project. Sehingga kami tidak mendapatkan kadar ethanol pada sampel kami.

IV.2 Daftar pustaka Anonim, 1999, Martindale The Complete Drug Reference, 1099-1101, 32nd Edition, edited by Kathleen Parfitt, Pharmaceutical Press, London, UK.

Anonim, 2005, United State Pharmacopeia 28, 2749 - 2751, United State Pharmacopeial Convention, Inc., Rockville. Martin, A., Swarbrick, J., dan Cammarata, A., 1983, Farmasi Fisik, edisi ke-3, 8, penerjemah Yoshita, UI Press, Jakarta.