Anda di halaman 1dari 6

GEL Uji gel a.

Viskositas Pengujian viskositas ini dilakukan untuk mengetahui besarnya suatu viskositas dari sediaan, dimana viskositas tersebut menyatakan besarnya tahanan suatu cairan untuk mengalir. Makin tinggi viskositas maka makin besar tahanannya (Martin et.al, 1993). b. Daya sebar Pengujian ini ditujukan untuk mengetahui kecepatan penyebaran gel pada kulit yang sedang diobati dan untuk mengetahui kelunakan dari sedian gel untuk dioleskan pada kulit. c. Daya lekat Pengujian terhadap daya lekat ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan gel melekat pada kulit. d. Pengukuran pH, digunakan untuk mengetahui pH gel apakah sesuai dengan pH kulit. e. Mikrobiologi, Uji ini digunakan untuk mengetahui besarnya pelepasan zat aktif untuk menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara mengukur diameter hambatan pertumbuhan bakteri. Pemerian Bahan. a. Glycerolum (gliserin)

CH2OH CHOH CH2OH C3H8O3, BM = 92,10 Gambar 2. Struktur Gliserin (Anonim, 1979) Pemerian cairan seperti siperti sirop, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, manis diikuti rasa hangat, higroskopik jika disimpan beberapa lama pada suhu rendah dapat memadat membentuk massa hablur tidak berwarna yang dapat melebur hingga suhu mencapai kurang lebih 20C. Konsentrasi gliserin : 30. Kelarutan dapat campur dengan air dan dengan etanol (95%)P, praktis tidak larut dalam kloroform p, dalam eter p dan dalam minyak lemak k. Fungsinya adalah sebagai humectant, antimikroba (Anonim, 1979). b. Trietanolamin (TEA) Trietanolamina adalah campuran dari trietanolamina, dietanolamina dan monoetanolamina. Mengandung tidak kurang dari 99,0 % dan tidak lebih dari 107,4 % dihitung terhadap zat anhidrat sebagai trietanolamina. N(C2H4OH)3. Pemerian cairan kental; tidak berwarna hingga kuning pucat; bau lemah mirip amoniak; higroskopik. Kelarutan mudah larut dalam air dan dalam etanol (95%) P; larut dalam kloroform. Fungsinya : zat tambahan dan menbantu stabilitas gel dengan basis karbopol (Anonim, 1979). c. Karbopol 934 (carbomer 934)

Karbopol 934, merupakan kelompok acrilic polimer cross-linked dengan polialkenil ether. Digunakan konsentrasi sekitar 0,5%. Dapat larut dalam air dan gliserin. Pemerian serbuk putih, higroskopik dan mempunyai bau khas. Fungsinya adalah : suspending agent (Rowe dkk, 2006). d. Metil paraben (Nipagin M). Gambar 3. Struktur Nipagin (Anonim, 1979) Metil paraben mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 101,0% C8H8O3. Pemerian serbuk hablur halus, putih, hampir tidak berbau, tidak mempunyai rasa, kemudian agak membakar diikuti rasa tebal. Kelarutan larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air mendidih, dalam 3,5 bagian etanol (95%) P dan dalam 3 bagian aseton p, mudah larut dalam eter p dan dalam larutan alkali hidroksida, larut dalam 60 bagian gliserol p panas dan dalam 40 bagian minyak lemak nabati panas, jika didinginkan larutan tetap jernih. Fungsinya adalah preservatif dan zat pengawet (Anonim, 1979). Propilenglikol Propilenglikol berfungsi sebagai pengawet, emollient, humektan, plasticizer dan pelarut yang bercampur dengan air. Propilenglikol merupakan cairan jernih kental, tidak berwarna, tidak berbau dan memiki rasa manis. Propilenglikol dapat

bercampur dengan etanol, gliserin, dan air, serta tidak bercampur dengan minyak mineral, tetapi bercampur dengan minyak esensial. Pada suhu rendah, propilenglikol tetap stabil dalam wadah tertutup rapat, tetapi pada suhu tinggi dan di tempat terbuka, propilenglikol akan teroksidasi. Propilenglikol bersifat higroskopis dan harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, terhindar dari cahaya, serta di tempat sejuk dan kering. Propilenglikol incompatible dengan zat-zat pengoksidasi seperti kalium permanganat dan bersifat lebih iritan terhadap kulit dari pada gliserin (Wade, 1994). 6.1 EVALUASI FISIKA 6.1.1 Organoleptis Pemeriksaan organoleptis meliputi bentuk, warna dan bau yang diamati secara visual. 6.1.2 Homogenitas Pengujian homogenitas dilakukan dengan mengoleskan zat yang akan diuji pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok, harus menunjukkan susunan yang homogen (DepKes RI, 1979). 6.1.4 Uji Daya Sebar Uji daya sebar ditentukan dengan cara berikut. Sebanyak 0,5 gram gel diletakkan dengan hati-hati di atas kertas grafik yang dilapisi plastik transparan, dibiarkan sesaat (15 detik) dan luas daerah yang diberikan oleh sediaan dihitung kemudian tutup lagi dengan plastik yang diberi beban tertentu masingmasing 1, 2, dan 5 g dan dibiarkan selama 60 detik pertambahan luas yang diberikan oleh sediaan dapat dihitung (Voigt, 1994). 6.2 EVALUASI KIMIA 6.2.1 Pengukuran pH

Alat pH meter dikalibrasi menggunakan larutan dapar pH 7 dan pH 4. Satu gram sediaan yang akan diperiksa diencerkan dengan air suling hingga 10 mL. Elektroda pH meter dicelupkan ke dalam larutan yang diperiksa, jarum pH meter dibiarkan bergerak sampai menunjukkan posisi tetap, pH yang ditunjukkan jarum pH meter dicatat (DepKes RI, 1995). 6.2.2 Keseragaman Sediaan Persyaratan ini digunakan untuk sediaan mengandung satu zat aktif dan sediaan mengandung dua atau lebih zat aktif. Keseragaman sediaan dapat ditetapkan dengan salah satu metode dari dua metode, yaitu: Keseragaman bobot Keseragaman ini dapat diterapkan pada produk kapsul lunak berisi cairan, atau pada produk yang mengandung zat aktif 50 mg atau lebih yang merupakan 50% atau lebih, dari bobot, satuan sediaan. Persyaratan keseragaman bobot dapar diterapkan pada sediaan padat (termasuk sediaan padat steril) tanpa mengandung zak aktif atau inaktif yang ditambahkan, yang telah dibuat dari larutan asli dan dikeringkan dengan cara pembekuan dalam wadah akhir dan pada etiket dicantumkan cara penyiapan ini. Keseragaman kandungan Keseragaman dari zat aktif lain, jika ada dalam jumlah yang lebih kecil, dipersyaratkan dengan keseragaman kandungan. Keseragaman ini juga dapat diterapkan pada semua sediaan. Uji keseragaman kandungan diperlukan pada tablet bersalut, termasuk tablet bersalut selaput, untuk sistem transdermal, untuk sediaan suspensi dalam wadah dosis tunggal atau dalam kapsul lunak, dan untuk inhalasi bertekanan dengan dosis terukur. Uji ini juga diperlukan untuk sediaan padat (termasuk sediaan padat steril) yang mengandung bahan inaktif atau aktif yang ditambahkan. Kecualii bahwa uju keseragaman bobot dapat diterapkan untuk situasi khusus seperti tercantum di atas (Depkes RI, 1995). 6.2.3 Penetapan Kadar Ditimbang 60 mg dengan seksama, lakukan penetapan seperti yang tertera pada Pembakaran dengan Labu Oksigen (50 L) menggunakan labu 1000 mL dan campuran 10 mL air dan 5,0 mLhydrogen peroksida LP sebagai cairan penyerap. Jika pembakaran telah sempurna isi bibir labu dengan air dan buku sumbat. Panaskan isi labu sampai mendidih dan didihkan selama lebih kurang 2 menit. Dinginkan sampai kamar dan titrasi dengan natrium hidroksida 0,1 N NV menggunakan indikator fenolftalein LP. Lakukan penetapan blanko(Depkes RI, 1995).

DAFTAR PUSTAKA Anonim a. 2006. Pharmaceutical Excipient. London : Royal Pharmaceutical Society of Great Britain. Anonim b. 2007. MIMS Petunjuk Konsultasi Edisi 7. Jakarta : PT Info Master Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi keempat. Jakarta: Universitas Indonesia. DepKes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. DepKes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Lachman, L, Lieberman, dan Kanig. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Bandung: ITB Press Martin, John. 2007. British National Formulasi (BNF-45). BMJ Publishing Group Ltd and RPS Publishing. McEvoy,G.K. 2002. AHFS Drug Information. USA.: American Society of HealthSystem Pharmacistsm,Inc Rahardja, K. & Tan Hoan Tjay. 2002. Obat-Obat Penting. Jakarta: Elex Media Komputindo Sweetman, Sean C. 2002. Martindale The Complete Drug Reference Thirty-Third edition. London Chicago : Pharmaceutical Press. Voigt, R. 1994. Buku Pelajaran Teknlogi Farmasi. Jogjakarta : Gadjah Mada University Press