Mata Kuliah

: Patologi Organisasi

Deskripsi Singkat Mata kuliah ini membahas tentang aspek teoritis birokrasi dan kajian fenomena birokrasi. Aspek teoritis meliputi pengertian dasar, model, patologi, pergeseran paradigma dan reformasi birokrasi, birokrasi daerah. Kajian meliputi aspek birokrasi kerajaan nusantara, era pemerintah belanda, orde lama, orde baru, dan orde reformasi.

Kompetensi Baku Setelah mengikuti mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan, memahami, dan menganalisis aspek teoritis birokrasi dan kajian fenomena birokrasi. Aspek teoritis meliputi pengertian dasar, model, patologi, pergeseran paradigma dan reformasi birokrasi, birokrasi daerah. Kajian meliputi aspek birokrasi kerajaan nusantara, era pemerintah belanda, orde lama, orde baru, dan orde reformasi.

Pokok Bahasan 1. Pengertian Birokrasi 2. Model-model Birokrasi 3. Patologi Birokrasi 4. Pergeseran paradigma dan reformasi birokrasi 5. Birokrasi pemerintah daerah 6. Birokrasi pada era kerajaan nusantara 7. Birokrasi pada era pemerintah belanda 8. Birokrasi pada era orde lama 9. Birokrasi pada era orde baru 10. Birokrasi pada era orde reformasi

Pokok dan Sub Pokok Bahasan 1. Hegelian. Pengertian dasar Birokrasi a) Pengertian Birokrasi b) Klasifikasi Birokrasi c) d) e) f) g) Tujuan Birokrasi Manfaat Birokrasi Aneka Perspektif Birokrasi Latar Belakang Birokrasi Birokrasi Weber. dan Marxis .

Model-model Birokrasi a) b) c) d) e) f) Model Max Weber Model Hegelian/Marxis Model Rego (David Osborne dan Ted Gaebler) Model Pluralis Demokrasi (Doglas Yates) Model Administratif Efisiensi (Doglas Yates) Model Perwakilan Konstitusional (Dunleavy dan O’leavy) g) Model Perhitungan Pluralis (Dunleavy dan O’leavy) h) Model Otonomi Yang Demokratis (Dunleavy dan O’leavy) i) Model Kanan Baru (Dunleavy dan O’leavy) .2.

Patologi Birokrasi a) Pengertian b) Jenis-jenis c) Data Patologi d) Faktor Penyebab e) Implikasi f) Upaya Perbaikan .3.

4. Pergeseran paradigma dan reformasi birokrasi a) Pengertian b) Tujuan c) Latar Belakang d) Pergeseran Paradigma Birokrasi e) Reformasi birokrasi di pemerintah pusat f) Reformasi birokrasi di pemerintah daerah .

dan agen pembangunan. . dan Fungsi d) Transisi birokrasi pemerintah daerah. Tugas. Kedudukan. Birokrasi pemerintah daerah a) Pengertian b) Aspek Kebijakan c) Struktur. dan politik e) Birokrasi pemerintah daerah dalam perspektif manajemen. patologi. pelayanan.5.

6. Birokrasi di Indonesia pada era kerajaan nusantara (Sriwijaya dan Majapahit) a) b) c) d) e) f) g) h) Gambaran Umum Kerajaan Siriwijaya Struktur Pemerintah Pusat Kerajaan Sriwijaya Struktur Pemerintahan Daerah Kerajaan Sriwijaya Analisa kelebihan dan kelemahan birokrasi pada masa kerajaan sriwijaya Gambaran Umum kerajaan Majapahit Struktur Pemerintah Pusat Kerajaan Majapahit Struktur Pemerintahan Daerah Kerajaan Majapahit Analisa kelebihan dan kelemahan birokrasi pada masa kerajaan Majapahit .

7. Birokrasi di Indonesia pada era pemerintah Belanda a) Hubungan pangreh praja dengan bimenlandsch bestuur (BB) b) Hubungan birokrasi dan politik c) Patologi birokrasi yang terjadi d) Upaya-upaya reformasi birokrasi e) model birokrasi yang dikembangkan pada era ini f) Kelebihan dan kelemahan birokrasi pada era ini .

fungsi. dan peran birokrasi Hubungan birokrasi dan politik Patologi birokrasi yang terjadi Upaya-upaya reformasi birokrasi model birokrasi yang dikembangkan pada era ini f) Kelebihan dan kelemahan birokrasi pada era ini . Birokrasi di Indonesia pada era orde lama a) b) c) d) e) Kedudukan.8.

Birokrasi di Indonesia pada era orde baru a) b) c) d) e) Kedudukan. dan peran birokrasi Hubungan birokrasi dan politik Patologi birokrasi yang terjadi Upaya-upaya reformasi birokrasi model birokrasi yang dikembangkan pada era ini f) Kelebihan dan kelemahan birokrasi pada era ini .9. fungsi.

fungsi.10. Birokrasi di Indonesia pada era reformasi a) b) c) d) e) Kedudukan. dan peran birokrasi Hubungan birokrasi dan politik Patologi birokrasi yang terjadi Upaya-upaya reformasi birokrasi model birokrasi yang dikembangkan pada era ini f) Kelebihan dan kelemahan birokrasi pada era ini .

Jurusan Ilmu Pemernitahan Fisip Unila. Penerbit Rineka Cipta. SC Dube dan Fred W. Jakarta. Penerbit Rajawali Pers. Syarief Makhya. Mewirausahakan Birokrasi.2003. Birokrasi. 2003. Penerbit Raja Grafindo. 2004. Penerbit Pustakaraya. Birokrasi dan Politik di Indonesia.2000. Penyunting Aidit Alwi. Lampung. 1989. Peter M.Referensi/Literatur Miftah Thoha. David Osborne dan Ted Gabler. 2000. Cetakan kelima. Jakarta. 1992. Buku ajar. Penerbit Liberty. Kybernologi (Ilmu Pemerintahan Baru) jilid 1 dan 2. Model Reformasi Briokrasi di Indonesia. Miftah Thoha. Jakarta. Syafuan Rozi Soebhan. 1995. 1991. Makalah. Penebit UT. Yogyakarta. Penerbit Pustaka Binawan Presindo. Penerbit MW Mandala. Meyer. Nazaruddin Sjamzudin. LIPI. Birokrasi dalam Masyarakat Modern. Taliziduhu Ndraha. Blau dan Marshall W. Jakarta. Beberapa Aspek Kebijakan Birokrasi. Jakarta. Perspektif Perilaku Birokrasi. Dinamika Sistem Politik Indonesia. Penerbit Gramedia. Ngadisah dkk. Jakarta. Jakarta. Miftah Thoha. . 1993. Riggs dalam buku Elite dan Modernisasi. Yogyakarta. Ilmu Pemerintahan:Telaahan Awal. Jakarta. 2004.

birokrasi daerah. dan UAS (40%).BIROKRASI DI INDONESIA Mata kuliah ini mempelajari aspek teoritis birokrasi dan kajian fenomena birokrasi. patologi. Aspek teoritis meliputi model. dan orde reformasi. Evaluasi PBM: Quis (10%).Tugas (20%). reformasi birokrasi. Mid (30%). pergeseran paradigma. orde baru. Pokok-pokok Bahasan • Konsepsi dasar • Model birokrasi pemerintahan • Patologi birokrasi dan debirokratisasi • Pergeseran paradigma birokrasi • Reformasi birokrasi pemerintahan • Birokrasi pemerintah daerah • Birokrasi pemerintah pada era orde lama • Birokrasi pemerintah pada era orde baru • Birokrasi pemerintah pada era reformasi . Kajian meliputi aspek birokrasi orde lama.

Hegelian.BIROKRASI (KONSEPSI DASAR) • • • • • • • Pengertian Klasifikasi Tujuan Manfaat Perspektif Latar Belakang Birokrasi Weber. dan Marxis .

kita mengenal sbb: • Biro + krasi = Meja + kekuasaan • Demo + krasi = Rakyat + kekuasaan • Tekno+ krasi = Cendikiawan + kekuasaan • Aristo + krasi = Bangsawan + kekuasaan .PENGERTIAN BIROKRASI Secara etimologi.

2.PENGERTIAN BIROKRASI Taliziduhu Ndraha (2003) Tiga macam pengertian birokrasi yang berkembang saat ini: 1. Birokrasi sebagai tipe ideal organisasi. Birokrasi diartikan sebagai sifat atau perilaku pemerintahan yang buruk (patologi). 3. . Birokrasi diartikan sebagai aparat yang diangkat penguasa untuk menjalankan pemerintahan (government by bureaus).

peran. dan pengawas kebijakan (manajemen pemerintahan). (3) perencana. pelaksanan. misi. . (2) pelaksana pembangunan yang profesional (merrit system). • Fungsi dan peran birokrasi meliputi hal-hal sebagai berikut: (1) melaksanakan pelayanan publik. dan kewenangan dalam melaksanakan pemerintahan. dan program yang telah ditetapkan. (4) alat pemerintah untuk melayani kepentingan (abdi) masyarakat dan negara yang netral dan bukan merupakan bagian dari kekuatan atau mesin politik (netralitas birokrasi). • Kewenangan birokrasi adalah kewenangan formal yang dimiliki dengan legitimasi produk hukum bukan dengan legitimasi politik.• Pengertian birokrasi (pemerintahan) dalam mata kuliah ini adalah suatu organisasi pemerintahan yang terdiri dari sub-sub struktur yang memiliki hubungan satu dengan yang lain. tujuan. dalam rangka mencapai suatu visi. yang memiliki fungsi.

departemen. pemerintah daerah. sekolah swasta. birokrasi terbagi sbb: 1. birokrasi terbagi 2 yakni: 1. Pemerintah Kabupaten/Kota 4. dll) Dilihat dalam arti luas dan sempit. Birokrasi eksekutif (contoh: kabinet. Pemerintah Desa . Birokrasi negara (eks. Pemerintah Pusat 2. leg. yudikatif) Dilihat dari tingkatan pemerintahan. dll) 2. birokrasi terbagi 2 yakni: 1. Pemerintah Provinsi 3. Birokrasi sektor privat (contoh: perusahaan swasta. Birokrasi sektor publik (contoh: pemerintah pusat. dll) 2. NGO.KLASIFIKASI BIROKRASI Dilihat dari sisi pelaksana. kementerian negara.

TUJUAN BIROKRASI • Sejalan dengan tujuan pemerintah • Melaksanakan kegiatan dan program demi tercapainya visi dan misi pemerintah dan negara • Melayani masyarakat dan melaksanakan pembangunan dengan netral dan profesional • Menjalankan manajemen pemerintahan. represif. dll . mulai dari perencanaan. resolusi. prepentif. koordinasi. evaluasi. pelaksanaan. pengawasan. antisipatif. sinkronisasi.

mempercepat. mendukung. mengefektifkan. mempermudah. dan mengefisienkan pencapaian tujuan-tujuan pemerintahan • Memudahkan masyarakat dan pihak yang berkepetingan untuk memperoleh layanan dan perlindungan • Menjamin keberlangsungan sistem pemerintahan dan politik suatu negara .MANFAAT BIROKRASI • Memsistematiskan.

mudah.Birokrasi dalam Perspektif Administrasi Publik Badan atau organisasi pemerintahan yang melaksanakan layanan publik yang profesional. dan produktif. efisien. Birokrasi mesti melaksanakan tugas sesuai aturan. efektif. cepat. dan menghasilkan. tepat. murah. .

terlibat dalam perencanaan kebijakan/keputusan politik. . dan dapat menjadi organisasi mobilisasi massa. memiliki kewengan. yang cenderung memihak (kepentingan penguasa dan rakyat).Birokrasi dalam Perspektif Politik Badan pemerintah yang merupakan bagian dari sistem politik atau kepanjangan tangan dari pihak (partai) berkuasa.

pengawasan. dan partispatif). akuntabilitas. koordinasi. melaksanakan etika birokrasi dan tata pemerintahan yang baik (transparansi. penetapan kebijakan publik.Birokrasi dalam Perspektif Pemerintahan Badan pemerintah yang melaksanakan fungsi-fungsi manajemen pemerintahan (perencanaan. bersikap netral dan profesional. evaluasi. resolusi konflik. dll). . pelaksanaan.

SC Dube. karangan Miftah Thoha. 2003) disebutkan unsur negara meliputi unsur konstitutif dan unsur deklaratif. Jakarta. Jakarta. Penerbit Pustakaraya. penerbit Liberty Yogyakarta. Hegel. Blau dan Marshall W. Riggs dalam buku Elite dan Modernisasi . 2003. dinyatakan bahwa upaya manusia memenuhi kebutuhan hidupnya (ekonomi) harus ditunjang dengan adanya oragnisasi atau birokrasi yang bisa melayani kebutuhan manusia tersebut. Dalam teori organisasi modern dan kelas (Max Webber. regulasi perdagangan yang dikelola sistematis. Penerbit Bumi Aksara. Unsur deklaratif pengakuan secara defacto dan dejure oleh negara lain. dan Organisasi) • Dalam teori negara (pemikiran Logemann. Fred W. Kebutuhan Ekonomi. 1989). Meyer. rakyat dan pemerintah.Latar Belakang Birokrasi (Perspektif Teori Negara. Pemerintah menjalankan fungsifungsi pemerintahannya dengan mengandalkan mesin birokrasi pusat sampai dengan yang terendah (desa). dinyatakan bahwa tujuan individu dan kelompok dalam suatu organisasi dapat dicapai apabila ditopang dengan adanya instrumen ideal organisasi modern atau birokrasi serta mekanisme kerja. Contoh perlu tata niaga. karangan Kusmiaty. penyunting Aidit Alwi. Jakarta. dan Lemaire dalam buku Tata Negara. Penerbit RajaGrafindo. dalam buku Birokrasi dalam Masyarakat Modern. • • . dan Marx dalam buku Birokrasi dan Politik di Indonesia. Dalam teori kebutuhan ekonomi (Peter M. Wilson. 2000). Unsur konstitutif meliputi wilayah.

5. 2. Model Max Weber Model Hegelian/Marxis Model Rego (David Osborne dan Ted Gaebler) Model Pluralis Demokrasi (Doglas Yates) Model Administratif Efisiensi (Doglas Yates) Model Perwakilan Konstitusional (Dunleavy dan O’leavy) 7. Model Otonomi Yang Demokratis (Dunleavy dan O’leavy) 9. Model Perhitungan Pluralis (Dunleavy dan O’leavy) 8. 4. 6. Model Kanan Baru (Dunleavy dan O’leavy) .Model-Model Birokrasi Pemerintahan 1. 3.

Jakarta) mengaitkan atau menamakan konsepsi tipe ideal organisasi pemerintah yang rasional dan profesional ala weber sebagai birokrasi pemerintahan. Rajawali Pers. Sebelum itu. the free press. (2) otoritas kharismatik. Perspektif Perilaku Birokrasi. mengemukakan tentang konsepsi tipe ideal organisasi pemerintah yang rasional dan profesional. lihat bukunya “Bureaucracy. tahun 1970. New York”. dalam bukunya “the theory of social and economic organization. Martin Albrow mempopulerkan istilah ”birokrasi” sebagai nama lain organisasi pemerintah. Selanjutnya para pakar (misalkan Fred Kramer. Weber mengenal tiga otoritas (1) otoritas tradisional. . 1991. New York”. 1974. dll.BIROKRASI MAX WEBER Max Weber. Pemikiran Weber didorong keinginannya menciptakan organisasi modern yang bisa digunakan pemerintah menjalankan modernisasi dan pembangunan. 1970. sosiolog Jerman abad 19 ini. (3) otoritas legal-rasional (birokrasi). lihat buku Miftah Thoha. FAP.

Ada yang menyandang kekuasaan lebih besar dan ada yang lebih kecil. . Uraian tugas masing-masing pejabat merupakan domain yang menjadi wewenang dan tanggung jawab yang harus dijalankan sesuai kontrak. 2. Jabatan-jabatan itu disusun dalam tingkatan hirarki dari atas ke bawah dan ke samping. Setiap pejabat mempunyai kontrak jabatan yang harus dijalankan. Tugas dan fungsi masing-masing jabatan dalam hirarki itu secara spesifik berbeda satu dengan lainnya.KONSEPSI BIROKRASI RASIONAL MAX WEBER 1. Individu pejabat secara personal bebas. Pejabat tidak bebas menggunakan jabatannya untuk keperluan dan kepentingan pribadinya termasuk keluarganya. akan tetapi dibatasi oleh jabatannya manakala ia menjalankan tugas-tugas atau kepentingan individu dalam jabatannya. Konsekuensinya ada jabatan atasan dan bawahan. 3. 4.

9. Setiap pejabat mempunyai gaji termasuk termasuk hak untuk menerima pensiun sesuai dengan tingkatan hirarki jabatan yang disandangnya. Setiap pejabat diseleksi atas dasar kualifikasi profesionalitasnya.KONSEPSI BIROKRASI RASIONAL MAX WEBER 5. Setiap pejabat bisa memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan jabatannya sesuai dengan keinginannya dan kontraknya bisa diakhiri dalam keadaan tertentu. Terdapat struktur pengembangan karir yang jelas dengan promosi berdasarkan senioritas dan penilaian obyekif (merit system). 8. Setiap pejabat berada di bawah pengendalian dan pengawasan suatu sistem yang dijalankan secara disiplin. . 6. idealnya melalui ujian kompetitif. 7. Setiap pejabat tidak dibenarkan menjalankan jabatannya dan sumber daya instansinya untuk kepentingan pribadi dan keluarga.

. Powering (kekuasaan) bukan satu-satunya cara mengendalikan birokrasi. misalnya). birokrasi politis dapat dilihat pada poin (2) dan (3). (3) dapat keluar dari fungsinya yang tepat karena anggotanya cenderung dari klas sosial partikular (parpol. Birokrasi yang netral bisa dilihat pada poin (1). Miftah Thoha (2003) Birokrasi weberian –diistilahkans sebagai officialdom atau kerajaan pejabat-. (2) kekuatan independen. Heckscher dan Donellon (1994) Bentuk organisasi masa depan adalah “post bureaucratic organization” yang tidak sama dengan birokrasi weberian. melainkan perlu empowering (pemberdayaan).memiliki dua pemahaman yaitu birokrasi yang rasional (netral) dan birokrasi yang sarat dengan kekuasaan (potensi politis). jika ingin survive birokrasi harus menyesuaikan diri dengan perkembangan atau perubahan lingkungan. David Bheetham (1975) Birokrasi Weber memiliki ciri-ciri pokok (1) instrumen teknis. Oleh karena itu. belum tentu cocok untuk lingkungan yang kompleks. Lawrence dan Lorch (1967) Birokrasi yang bersifat rutin dan stabil.PANDANGAN TERHADAP BIROKRASI WEBERIAN Warren Bennis (1967) Birokrasi hirarki piramida pada masa depan akan diganti dengan sistem sosial baru sesuai harapan masyarakat.

BIROKRASI HEGELIAN dan MARXIS Hegel “Birokrasi adalah jembatan penghubung antara negara (pemerintah) dengan masyarakatnya”. Karl Marx Didasari teori perjuangan kelas. Birokrasi merupakan instrumen yang digunakan oleh kelas yang dominan untuk melaksanakan kekuasaan dominasinya atas klas sosial lainnnya. 3. Karl Marx berpendapat tentang birokrasi sbb: 1. birokrasi menjadi tiada arti karena fungsi birokrasi dijalankan oleh semua anggota masyarakat. dan pengembangan komunisme. Birokrasi adalah negara atau pemerintah itu sendiri. Dalam masyarakat komunis kelak (tiada kelas sosial. semua sama). krisis kapitalisme. 2. .

Birokrasi Hegelian termasuk dalam kategori birokrasi netral. . Birokrasi Marxis termasuk dalam kategori birokrasi politik atau tidak netral.PANDANGAN TERHADAP BIROKRASI HEGELIAN/MARX Miftah Thoha (2003) 1. 2.

6. Antisipatif (mencegah daripada mengobati) 9. Katalis (mengarahkan ketimbang mengayuh) 2. Pemerintahan yang kompetitif. Digerakan oleh misi bukan aturan. 5. bukan dilayani atau melayani diri sendiri. Pemerintah beroreintasi pasar. 4. 3.BIROKRASI DAVID OSBORNE dan TED GAEBLER (1993) Birokrasi pemerintah sebaiknya bercirikan sebagai berikut: 1. Desentrasi ketimbang sentralisasi 10. . 7. Memberi wewenang ketimbang melayani. Melayani pelanggan. Menghasilkan ketimbang membelanjakan. Berorientasi hasil bukan masukan. 8.

berideologi liberal. 3. Akan lebih mudah diterapkan di negara yang telah maju. berpendidikan. Pergerseran paradigma birokrasi pemerintahan ini tidak bisa segera diterapkan tetapi memerlukan waktu yang cukup lama. dan juga di negara berkembang yang korup dan birokrasinya terlanjur buruk. Konsep birokrasi pemerintahan ini banyak dipengaruhi konsep enterpreneurship (wirausaha) dunia swasta atau bisnis.PANDANGAN TERHADAP BIROKRASI DAVID OSBORNE/TED GAEBLER Miftah Thoha (2003) 1. kaya. 2. . dan kaku). sedangkan konsep briokrasi pemerintahan umumnya dipengaruhi konsep weberian (birokrasi rasional. hirarki. Sulit diterapkan di negara komunis. swasta/ masyarakat yang kuat dan mandiri. pasar bebas.

5) Birokrasi pemerintah harus terbuka dan partisipatif. 6) Birokrasi pemerintah harus mampu menghasilkan proses bargaining yang luas. Model Pluralist Democracy Ciri-ciri birokrasi pemerintahannya: 1) Birokrasi pemerintah menyediakan banyak pusat kekuasaan (vertikal dan horisontal) sebagai sarana keseimbangan dan mengecek jika terjadi konsentrasi kekuasaan. 3) Birokrasi pemerintah mempunyai kemauan dan elemen yang kuat untuk melakukan desentralisasi. 2) Birokrasi pemerintah memberikan fasilitas atau kemudahan kepada kelompok-kelompok kepentingan agar terwakili dengan menyediakan titik-titik akses yang berlipat ganda.Menurut Douglas Yates (1982) ada 2 model birokrasi pemerintahan: 1. . 4) Birokrasi pemerintah harus menjadikan dirinya secara internal bisa bersaing.

dipilih dan diangkat dengan kompetisi dan merrit system. 4) Struktur birokrasi ditata efektif dan sesuai keahlian. Model Administrative Efisiensi Ciri-ciri birokrasi pemerintahannya: 1) Birokrasi pemerintah harus menghasilkan kebijakan publik yang rasional dan bebas nilai.2. 7) Birokrasi pemerintah bersandar kepada perencanaan yang baik. . 3) Birokrat harus profesional. keputusan yang baik. 6) Birokrasi pemerintah harus mampu berkoordinasi dengan baik. 5) Sistem birokrasi pemerintahan memisahkan administrasi dan politik secara jelas. 2) Kebijakan birokrasi pemerintah haruslah efisien. dan sentralisasi manajemen fiskal.

4) Birokrasi pemerintahan diisi oleh pejabat karir (pegawai negeri) dan pejabat politik.Menurut Dunleavy dan O’leavy (1987) ada 4 model birokrasi pemerintahan: 1. 5) Pejabat politik boleh memimpin dan mengendalikan pejabat birokrasi. Model Perwakilan Konstitusional Ciri-ciri birokrasi pemerintahannya: 1) Pemerintah (birokrasi) harus netral. . berkumpul. namun pejabat birokrasi tidak boleh memihak dan berpolitik. 3) Wakil rakyat di lembaga perwakilan dipilih langsung melalui pemilu bukan diangkat. dan berpartai. 2) Rakyat bebas berserikat. dan demokratis. tidak memihak.

. 5 2) Tambahannya atau bedanya adalah birokrasi pemerintah memiliki otonomi dalam menetapkan kebijakan pemerintah sessuai dengan preferensi yang ada. Model Otonomi Yang Demokratis Ciri-ciri birokrasi pemerintahannya: 1) Ciri-cirinya hampir sama dengan model perwakilan point 1 s. 3.2.d. Model Perhitungan Pluralis Ciri-ciri birokrasi pemerintahannya: 1) Ciri-cirinya hampir sama dengan model perwakilan point 1 s.d. 5 2) Tambahannya atau bedanya adalah birokrasi dapat dipandang sebagai kelompok kepentingan di luar parlemen yang dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah.

2) Kebijakan birokrasi pemerintah harus benar-benar efektif. Model Kanan Baru 1) Birokrasi pemerintah harus berhat-hati terhadap partai politik dan kelompok kepentingan yang berpotensi besar menjadi pemburu rente (rent seeking). 3) Birokrasi pemerintah harus bisa menghindari pemborosan dan inefisiensi. tepat sasaran.4. . dan bermanfaat bagi rakyat. efisien.

PATOLOGI BIROKRASI Sub Pokok Bahasan • • • • • • Pengertian Jenis-jenis Data Patologi Faktor Penyebab Implikasi Upaya Perbaikan .

atau penyimpangan yang dilakukan pejabat atau lembaga birokrasi dalam rangka melayani publik. Miftah Thoha. Peter M. David Osborne. Blau. (Lihat: Taliziduhu Ndraha.PENGERTIAN Patologi birokrasi adalah penyakit. melaksanakan tugas. dan menjalankan program pembangunan. perilaku negatif. JW Schoorl) .

.PENGERTIAN PATOLOGI BIROKRASI • Birokrasi sebagai organisasi yang berpenyakit (patologis) • Organisasi dan perilaku birokrat yang inefektif dan inefisien • Struktur dan fungsi organisasi besar yang sering melakukan kesalahan dan tidak mampu berubah.

Praktek KKN/imbalan 5. Penggelapan barang bukti 9. Bertindak tidak layak 10. Penanganan berlarut 2. Melalaikan kewajiban 6. Inkompetensi (Sumber: News Letters Ombudsman Edisi Maret 2005) . Pemalsuan 7. Penyalahgunaan wewenang 4. Intervensi 11.JENIS-JENIS PATOLOGI BIROKRASI 1. Penyimpangan prosedur 3. Nyata-nyata berpihak/Politis 8.

sehingga kehidupan masyarakat menjadi dikendalikan oleh birokrasi.  birokrasi “orwellian” yakni proses pertumbuhan kekuasaan birokrasi atas masyarakat. tidak efektif . tetapi semata-mata untuk memenuhi tuntutan struktur dan kekuasaan.JENIS PATOLOGI: SISTEM ORGANISASI  Birokrasi “parkinsonian”. dimana terjadinya proses pertumbuhan jumlah personil dan pemekaran struktur dalam birokrasi secara tidak terkendali. Pemekaran yang terjadi bukan karena tuntutan fungsi.  Promosi dan rotasi bukan atas dasar kompetensi dan kebutuhan organisasi tetapi kepentingan kekuasaan dan dilakukan  Ritualisme/simbolisme: – berbagai kegiatan serimonial yang berlebihan  Kinerja yang rendah (tokenisme) atau paling tinggi mediocre – pemborosan.

spoil system.mark up. kuitansi fiktif. padahal tuntutan telah berubah. suap. formalisme dan Kurang inisiatif (takut membuat kesalahan) Inertia (lamban dalam berbagai urusan/keputusan) duplikasi kegiatan dan departementalisme Red tape (cara kerja yang berbelit-belit dan ditunda-tunda) Peraturan dijadikan tujuan dan menjadi senjata para birokrat untuk melindungi kepentingannya dan mempertahankan status quo. kolusi  illegal corruption: menyalahi aturan yang ada  mercenary corruption: penggelapan uang. ruislag.  Budaya korupsi ( korupsi berjamaah) :  discretionary corruption: diskriminasi.JENIS PATOLOGI: SISTEM ORGANISASI/KELOMPOK       Terlalu percaya pada preseden. komisi.  ideological corruption: Kebijakan yang memihak partai/ideologi .

JENIS PATOLOGI:PERILAKU BIROKRAT • Penyalahgunaan Wewenang dan Jabatan (Korupsi): menerima suap. bonus dsb. penipuan. • Tindakan sewenang-wenang: ekstorsi (pemerasan secara kasar/halus). • Nepotisme/primordialisme : perekrutan dan penempatan posisi atas dasar “pertalian darah” /kesukuan kedaerahan bukan kompetensi. menetapkan imbalan. gaji dsb • Empire Building dengan menciptakan para aktor dependent disekelilingnya: promosi (pangkat dan jabatan) . markup. Misalnya: pemotongan insentif. kontrak fiktif. rapel. • Sycophancy (kecenderungan ingin memuaskan atasan dengan cara yang counter productive) • Konsumerisme dan hedonisme .

JENIS PATOLOGI:PERILAKU BIROKRAT….. Lanjutan…1 • Takut mengambil keputusan/mengambil resiko (Decidiophiobia): – – – – – – – – – Begitulah peraturannya disini Maaf saya lagi sibuk Anda perlu menunggu hingga atasan saya datang Saya sedang menunggu persetujuan Itu pekerjaan mereka bukan saya Tak seorang pun menyuruh saya untuk mengerjakannya Usulan itu tidak sesuai dengan prosedur yang berlaku Itu bukan bidang/bagian kerja saya Saya sudah menyampaikan permintaan itu pada atasan saya .

JENIS PATOLOGI:PERILAKU BIROKRAT….. Lanjutan. pura-pura sibuk. tidak sopan. diskriminasi.. • Disiplin dan Semangat kerja umumnya rendah • Armandiloisme : mamalia penggangsir yang melindungi diri dengan memo. rapat dan perangkat peraturan • HYPERPOLYSYLLABICOMIA: gemar memakai kata-kata jargon (samar) dan yang muluk untuk menutupi kelemahannya .2 • Mutu Pelayanan terhadap pelanggan rendah: acuh tak acuh .

PENYEBAB PATOLOGI BIROKRASI • FAKTOR INTERNAL ORGANISASI – DESAIN STRUKTUR – KARAKTERISTIK BIROKRAT – PRAKTEK DAN KEBIJAKAN MANAJEMEN • FAKTOR EKSTERNAL ORGANISASI – SISTEM POLITIK – EKSEKUTIF – LEGISLATIF – PENEGAKKAN HUKUM – MASYARAKAT .

MODEL HIPOTETIS PATOLOGI BIROKRASI IN T E R N A L DESAIN STRUKTUR KARAKTERTIK BIROKRAT PRAKTEK DAN KEBIJAKAN MANAJEMEN PATOLOGI BIROKRASI F A K T O R SISTEM ORGANISASI/ KELOMPOK E K S T E R N A L SISTEM POLITIK EKSEKUTIF DAN LEGISLATIF PENEGAK HUKUM MASYARAKAT PERILAKU BIROKRAT .

PENYEBAB PATOLOGI BIROKRASI • FAKTOR INTERNAL ORGANISASI – DESAIN STRUKTUR TIDAK ADAPTIF – KARAKTERISTIK BIROKRAT – PRAKTEK DAN KEBIJAKAN MANAJEMEN – BUDAYA ORGANISASI • FAKTOR EKSTERNAL ORGANISASI – SISTEM POLITIK – EKSEKUTIF – LEGISLATIF – PENEGAKKAN HUKUM – MASYARAKAT .

Teknologi. kualitas SDM.FAKTOR INTERNAL ORGANISASI…. Lingkungan eksternal organisasi.. • DESAIN STRUKTUR – Penerapan desain Kurang memperhatikan prediktor : Strategi. – Sentralisasi yang terlalu kuat – Formalisasi yang sangat tinggi – Analisis jabatan yang kabur – Koordinasi antar intra dan inter organisasi lemah – Spesialisasi fungsi/departemetalisasi yang tinggi .

FAKTOR INTERNAL ORGANISASI…. lanjut • KARAKTERISTIK BIROKRAT – Kemampuan/ kompetensi rendah – Ahlaq/moral /etika buruk – Motivasi kerja rendah – Persepsi peran yang keliru – Kepribadian reaktif (locus kendali eksternal) .

tetapi lebih bersifat intuitif Sistem penggajian yang rendah Sistem reward dan funisment tidak berjalan Bercampurnya kepentingan politik dengan kepentingan birokrasi Kurang pendidkan dan latihan yang sesuai kebutuhan kerja – – – – .Lanjut 1 • PRAKTEK DAN KEBIJAKAN MANAJEMEN – – – – Pemimpin birokrat yang tidak kompeten Kurang adanya “ lead by example”-keteladanan Komitmen pemimpin yang rendah terhadap organisasi Kebijakan yang tidak berorientasi pada visi dan misi. .FAKTOR INTERNAL ORGANISASI…..

FAKTOR EKSTERNAL ORGANISASI –SISTEM POLITIK –EKSEKUTIF –LEGISLATIF –PENEGAK HUKUM –MASYARAKAT .

Komisi Ombudsman.600 laporan keluhan atau sekitar 3 keluhan per hari.DATA PATOLOGI • Presiden Gus Dur yang peduli terhadap birokrasi dan pelayanan publik sempat mengeluarkan Keppres No.44/2000 pada Maret 2003 untuk membentuk Komisi Ombudsman yang bertugas mengawasi (pelayanan prima) penyelenggaraan negara dan pemerintahan. mencatat sejak Maret 2000Maret 2005 terdapat 4. .

SIAPA YANG MELAPOR ? (5%) (1%) (10%) Perorang an Kuasa Hukum Pokmas (18%) (65%) Badan Hukum Sumber: News Letters Ombudsman Edisi Maret 2005 Instansi pemerint ah .

SIAPA YANG TERLAPOR? 35 Sumber: News Letters Ombudsman Edisi Maret 2005 13 9 9 7 5 3 2 1 D PR /D PR D a ag b m Le n ila rad Pe h an ta lisi ir n e epo m K Pe i ns sta In da m Pe an sa ak ej K PN B N UM B I TN .

APA YANG DIKELUHKAN 1% 1% PELAPOR? (4%) (5%) (5%) (6%) (15%) (7%) (12%) Sumber: News Letters Ombudsman Edisi Maret 2005 Penanganan Berlarut Penyimpangan Prosedur Penyalahgunaan Wewenang KKN/Imbalan Melalaikan Kewajiban Pemalsuan Berpihak/Politis Penggelapan Barang Bukti Bertindak Tidak Layak Intervensi Inkompetensi (16%) (14%) .

berisi himbauan moral agar “kembali ke jalan yang benar” dan tidak dikenai sanksi hukum. . Hasil dan dampaknya bagaimana? Adakah perubahan berarti? Lagi-lagi kita mesti mengurut dada dan bersabar. Progres perbaikan sangat –sangat lamban.• Komisi Ombudsman menindaklanjuti keluhan pelapor kepada terlapor melalui surat rekomendasi.

patrimonial. Sistem rekrutmen dan promosi tidak baik 4. Kekurangan Administrator yang cakap 2. Anasir tradisional (nepotisme. Blau dan Marshal W Meyer (2000). Lemahnya pengawasan . Gaji rendah 3. Menurut Miftah Thoha (2003). Sentralisasi dan besarnya kekuasaan birokrasi.FAKTOR PENYEBAB PATOLOGI BIROKRASI Menurut JW Schoorl (1984): 1. Luasnya tugas pemerintahan 4. Lemahnya faktor moral 2. Taliziduhu Ndraha (2003): 1. Birokrasi berpotensi politis 6. hirarkis) 5. Peter M. Aturan dan mekanisme kerja belum jelas 5. Besarnya jumlah aparat birokrasi 3.

• Memicu kerawanan sosial dan perubahan sistem secara evolusi dan revolusi. dan kesejahteraan. bangsa dan negara.IMPLIKASI PATOLOGI BIROKRASI • Merugikan birokrasi sendiri (krisis kepercayaan. • Menghambat tercapainya kemajuan. . stakeholder. dll). masyarakat. modernisasi. delegitimasi sosial.

Reengineering 3. tidak berpihak/politis. Debirokratisasi 4.UPAYA PERBAIKAN Menurut Taliziduhu Ndraha upaya penyehatan birokrasi melalui: 1. Redesigning 2. yakni: sistem birokrasi didesain netral. dan profesional (merryt sistem) . Reformasi Menurut Nazarudin Syamsudin.

yakni melaksanakan reinventing goverment. .UPAYA PERBAIKAN Menurut David Osborne dan Ted Gaebler. artinya menggeser birokrasi weberian menjadi birokrasi enterpreneur. peran serta masyarakat. yakni peningkatan pengawasan. dan penerapan prinsip good governance. Menurut kalangan LSM (MTI).

Peter M. Syafuan Rozi Soebhan. Blau dan Marshall W. Penerbit Gramedia. News Letters Ombudsman Edisi Maret 2005 .Referensi/Literatur Miftah Thoha. Birokrasi dan Politik di Indonesia. 1995. Penerbit Pustaka Binawan Presindo. Dinamika Sistem Politik Indonesia. Cetakan kelima. Penyunting Aidit Alwi. Birokrasi dalam Masyarakat Modern. Birokrasi. Yogyakarta. Buku ajar. Lampung. Penebit UT. Model Reformasi Briokrasi di Indonesia. Jakarta. Ngadisah dkk. Mewirausahakan Birokrasi. Riggs dalam buku Elite dan Modernisasi. Penerbit Rineka Cipta. Penerbit Liberty. Ilmu Pemerintahan:Telaahan Awal. SC Dube dan Fred W. 2003. 2004. Jakarta. David Osborne dan Ted Gabler. Syarief Makhya. Kybernologi (Ilmu Pemerintahan Baru) jilid 1 dan 2. 1989. 2004. Jakarta. Penerbit Pustakaraya. Penerbit Raja Grafindo. Jakarta. Jurusan Ilmu Pemernitahan Fisip Unila. 1993. 2000. Jakarta. Nazaruddin Sjamzudin. LIPI. Jakarta. Makalah.2000.2003. Taliziduhu Ndraha. Jakarta. Meyer.

Pengembangan Organisasi Birokrasi .

ARTI BIROKRASI • Government By Bureus yaitu pemerintahan biro oleh aparat yang diangkat oleh pemegang Kekuasaan baik dalam organisasi formal publik maupun privat ( Rigss ) • Birokrasi sebagai tipe ideal organisasi  konsep organisasi rasionalistik melalui aktivitas kolektif dari weber • Birokrasi sebagai sifat pemerintahan yang kaku. bertele-tele tuduhan yang negatif terhadap instansi yang berkuasa  Biropatologi .

Vietnam dan India. Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berbasis di Hongkong meneliti pendapat para eksekutif bisnis asing (expatriats).Birokrasi Indonesia • Buruknya birokrasi tetap menjadi salah satu problem terbesar yang dihadapi Asia. .meskipun lebih baik dibanding keadaan Cina. hasilnya birokrasi Indonesia dinilai termasuk terburuk dan belum mengalami perbaikan berarti dibandingkan keadaan di tahun 1999.

0 atau jauh di bawah rata-rata ini diperoleh berdasarkan pengalaman dan persepsi expatriats yang menjadi responden bahwa antara lain menurut mereka masih banyak pejabat tinggi pemerintah Indonesia yang memanfaatkan posisi mereka untuk memperkaya diri sendiri dan orang terdekat.Birokrasi Indonesia • Di tahun 2000.0 atau tak bergerak dari skor 1999. dari kisaran skor yang dimungkinkan. Skor 8. . yakni nol untuk terbaik dan 10 untuk terburuk. Indonesia memperoleh skor 8.

Birokrasi Indonesia • Para eksekutif bisnis yang disurvei PERC juga berpendapat. sebagian besar negara di kawasan Asia masih perlu menekan hambatan birokrasi (red tape barriers). Mereka juga mencatat beberapa kemajuan. terutama dengan tekanan terhadap birokrasi untuk melakukan reformasi. .

Peringkat Thailand dan Korea Selatan tahun 2000 membaik.09 untuk kroniisme dengan skala penilaian yang sama antara nol yang terbaik hingga sepuluh yang terburuk.91 untuk korupsi dan 9. hasil penelitian PERC menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat korupsi tertinggi dan sarat kroniisme dengan skor 9.5 dari tahun lalu yang 8.14 dan 8. meskipun di bawah rata-rata. Tahun lalu (1999). .Birokrasi Indonesia • Reformasi menurut temuan PERC terjadi di beberapa negara Asia seperti Thailand dan Korea Selatan. yakni masinng-masing 6.7.5 dan 7.

tidak bisa lagi dianggap sebagai kabar menggembirakan. melainkan justru merupakan pertanda malapetaka dan bencana baru yang menakutkan .Penyakit Birokrasi • Menurut Blau dan Meyer: Kecenderungan birokrasi dan birokratisasi pada masyarakat modern benarbenar dipandang memprihatinkan. sehingga digambarkan adanya ramalan mengenai makin menggejalanya dan berkembangnya praktek-praktek birokrasi yang paling rasionalpun.

keperilakuan. tindakan melanggar hukum. Hal itu dicirikan oleh kecenderungan patologi karena persepsi. mempertahankan statusquo dan resisten terhadap perubahan. • Kartasasmita (1995) menyebutkan. masalah pengetahuan dan ketrampilan. perilaku dan gaya manajerial.Gejala-gejala penyakit Birokrasi • Siagian (1994). dan memusatkan kekuasaan. dan adanya situasi internal. . bahwa birokrasi memiliki kecenderungan mengutamakan kepentingan sendiri (self serving). misalnya. mengakui adanya patologi birokrasi.

tidak efektif (over consuming and under producing). tidak obyektif. birokrasi di kebanyakan negara berkembang termasuk Indonesia cenderung bersifat patrimonialistik : tidak efesien. .• Islamy (1998:8). tidak mengabdi kepada kepentingan umum. tidak lagi menjadi alat rakyat tetapi telah menjadi instrumen penguasa dan sering tampil sebagai penguasa yang sangat otoritatif dan represif. menjadi pemarah ketika berhadapan dengan kontrol dan kritik.

birokrasi Indonesia semakin membesar (big bureaucracy) dan cenderung tidak efektif dan tidak efesien. dimana terjadinya proses pertumbuhan jumlah personil dan pemekaran struktur dalam birokrasi secara tidak terkendali. Pada kondisi yang demikian.Disamping itu terjadinya birokrasi “orwellian” yakni proses pertumbuhan kekuasaan birokrasi atas masyarakat. sehingga kehidupan masyarakat menjadi dikendalikan oleh birokrasi. Pemekaran yang terjadi bukan karena tuntutan fungsi. 1998). Fatah. Akibatnya. 1993. Thaba. tetapi semata-mata untuk memenuhi tuntutan struktur. sangat sulit diharapkan birokrasi siap dan mampu melaksanakan kewenangankewenangan barunya secara optimal. 1996. .• Hasil penelitian Santoso. bahwa birokrasi di Indonesia ada kecenderungan berkembang kearah “parkinsonian”.

• Islamy (1998:7) menyebutkan keadaan birokrasi publik dengan istilah organizational slack yang ditandai dengan menurunnya kualitas pelayanan yang diberikannya . dalam kehidupan keseharian manusia birokrasi berbedabeda dalam kecerdasan. birokrasi sendiri tidak kebal terhadap perubahan sosial. manusia birokrasi tidak selalu berada (exist) hanya untuk organisasi.birokrasi dirancang untuk semua orang. kekuatan. – Ketiga.• Gejala demikian menunjukkan bahwa birokrasi dan birokratisasi tidak pernah tampil dalam bentuk idealnya. Alasannya. pengabdian dan sebagainya. nampak dalam praktek kerjanya antara lain: – Pertama. sehingga mereka tidak dapat saling dipertukarkan untuk peran dan fungsinya dalam kinerja organisasi birokrasi. – Keempat. – Kedua.

dan semakin bertambah gemuknya unit-unit birokrasi publik yang tidak difasilitasi dengan 3P (personalia. visi pelayanan yang sempit. • Sebagai konsekuensinya. peralatan dan penganggaran) yang cukup dan handal (viable bureaucratic infrastructure).• Karalteristik organizational slack adalah orientasi pelayanan yang kaku. tidak responsif terhadap aspirasi dan kepentingan publik serta lemah beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi di lingkungannya. • Dampaknya Akibatnya. perlu dipertanyakan mengenai posisi aparat pelayanan ketika berhadapan dengan masyarakat atau kliennya – Apakah birokrasi publik itu alat rakyat? – Alat penguasa? – Ataukah penguasa itu sendiri? . penguasaan terhadap administrative engineering yang tidak memadai. aparat birokrasi publik menjadi lamban dan sering terjebak ke dalam kegiatan rutin.

Elizabeth. Melakukan perubahan lingkungan kerja.Pengembangan Birokrasi • Guna merespon kesan buruk birokrasi seperti itu : 1. dalam The End of Bureaucracy and The Rise of The Intelligent Organization . salah satunya masukan Gifford and Pinchot.

Elizabeth. The End of Bureaucracy and The Rise of The Intelligent Organization adalah : .• Menurut Gifford and Pinchot.

(b) birokrasi perlu melakukan penyempurnaan organisasi yang bercirikan organisasi modern. dan menghindarkan kesan pendekatan kekuasaan dan kewenangan. efektif dan efesien yang mampu membedakan antara tugas-tugas yang perlu ditangani dan yang tidak perlu ditangani (termasuk membagi tugas-tugas yang dapat diserahkan kepada masyarakat).• Melakukan beberapa perubahan sikap dan perilakunya (a) birokrasi harus lebih mengutamakan sifat pendekatan tugas yang diarahkan pada hal pengayoman dan pelayanan masyarakat. ramping. .

inovatif.(c)birokrasi harus mampu dan mau melakukan perubahan sistem dan prosedur kerjanya yang lebih berorientasi pada ciri-ciri organisasi modern yakni : pelayanan cepat. efesiensi biaya dan ketepatan waktu. tepat. . akurat. terbuka dengan tetap mempertahankan kualitas. (d) birokrasi harus memposisikan diri sebagai fasilitator pelayan publik dari pada sebagai agen pembaharu pembangunan. fleksibel dan responsif. (e) birokrasi harus mampu dan mau melakukan transformasi diri dari birokrasi yang kinerjanya kaku (rigid) menjadi organisasi birokrasi yang strukturnya lebih desentralistis.

• Berikut ini paradigma baru atau model yang ditawarkan untuk birokrasi Indonesia masa depan adalah : .

• Perlu dibangun birokrasi berkultur dan struktur rasional-egaliter, bukan irasional-hirarkis. Caranya dengan pelatihan untuk menghargai penggunaan nalar sehat dan mengunakan hasil-hasil ilmu pengetahuan. Perlunya memiliki semangat pioner, bukan memelihara budaya minta petunjuk dari atasan. Perlu dibiasakan mencari cara-cara baru yang praktis untuk pelayanan publik, inisiatif, antisipatif dan proaktif, cerdas membaca keadaan kebutuhan publik, memandang semua orang sederajat di muka hukum, menghargai prinsip kesederajatan kemanusian, setiap orang yang berurusan diperlakukan dengan sama pentingnya.

• Birokrasi yang propartisipan-outonomus bukan komando-hirarkis. Birokrasi Indonesia ke depan perlu mendukung dan melakukan peran pemberdayaan dan memerdekakan masyarakat untuk berkarya dan berkreatifitas. Perlu dikurangi kadar pengawasan dan represi terhadap hak ekspresi masyarakat. Perlu ditinggalkan cara-cara penguasaan masyarakat lewat kooptasi kelembagaan dan dihindari sikap dominasi.

• Birokrasi bertindak profesional terhadap publik. Berperan menjadi pelayan masyarakat (public servent). Dalam memberikan pelayanan ada transparansi biaya dan tidak terjadi pungutan liar. PNS perleu memberikan informasi dan transparansi sebagai hak masyarakat dan bisa dimintai pertanggungjawabannya (public accountibility) lewat dengar pendapat (hearing) dengan legislatif atau kelompok kepentingan yang datang. Melakukan pemberdayaan publik dan mendukung terbangunnya proses demokratisasi.

bukan minta dilayani atau membebani masyarakat dengan pungutan liar. Birokrasi yang memberikan reward merit system (memberikan penghargaan dan imbalan gaji sesuai pencapaian prestasi) bukan spoil system (hubungan kerja yang kolutif. salah urus. pola reward dan punishment kurang berjalan). tidak memanfaatkan fasilitas negara untuk kepentingan partai politik tertentu. • Birokrasi yang bersikap netralitas politik. tidak diskriminatif.• Birokrasi yang saling bersaing antar bagian dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas dalam melayani publik secara kompetitif. dan ketidakpedulian. • Birokrasi yang melakukan rekruitmen sumber daya manusianya melalui seleksi fit and proper test. . diskriminatif dan kurang mendidik. bukan mengangkat staf atau pimpinan karena alasan kolusi dan nepotisme.

REFORMASI ADMINSITRASI/BIROKRASI .

2. 4.GARIS BESAR PERKULIAHAN 1. 5. Pengertian Reformasi Birokrasi/Administrasi Urgensi Reformasi Birokrasi/Administrasi Model Reformasi Birokrasi/Administrasi Model Reinventing Government Strategi Reinventing Government Upaya Reformasi Birokrasi di Indonesia . 6. 3.

1967) REFORMASI ADMINISTRASI = REFORMASI BIROKRASI .REFORMASI ADMINISTRASI “Administrative reform is a political process designed to adjust the relationships between a bureaucracy and other elements in society. Montgomery. or within the bureaucracy itself” (John D.

pola sikap. dan pola tindak) birokrasi pemerintahan perubahan tingkat kedua – radikal dalam birokrasi pemerintahan perubahan manajemen kinerja. Proses Transformasi birokrasi . cara berpikir (pola pikir. dan Penerapan pendekatan manajemen profesional pada sektor publik.HAKEKAT REFORMASI BIROKRASI perubahan mind-set.

fleksibel dan responsif dalam memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan masyarakat . pengawasan. sumber daya manusia aparatur.REFORMASI BIROKRASI • Reformasi Birokrasi merupakan upaya sistematis. terpadu dan komprehensif untuk mewujudkan kepemerintahan yang baik (good governance). ketatalaksanaan. meliputi aspek kelembagaan. dan pelayanan publik. • Reformasi Birokrasi merupakan transformasi birokrasi menjadi organisasi yang inovatif. akuntabilitas.

management keuangan. kapasitas managerial. teknologi yang memadai) • Rekonfigurasi peran pemerintah (kemitraan dengan swasta) • Revitalisasi demokrasi (meningkatkan partisipasi publik dalam kebijakan) .REFORMASI BIROKRASI meliputi: • Konstruksi atau rekonstruksi sebuah pemerintahan (perubahan proses dan institusi) • Modernisasi pemerintahan (struktur administrasi.

 “Learning Organization/Knowledge Organization”.  “Good Governance” Edralin (1997)  “ Knowledge Management” Tannembaum (1998) .  “Market Based Public Pdministration” Lan dan Rosenbloom (1992).  “New Public Management” Hood (1991). Peter Senge (1990)  “Reinventing Government / Entrepreneurial Government” Osborn dan Gaebler (1992).KONSEP REFORMASI ADMINISTRASI Beberapa Model Reformasi Administrasi/Birokrasi:  “Managerialism” Pollitt (1990).

BAGIAN DUA: URGENSI REFORMASI BIROKRASI .

URGENSI REFORMASI BIROKRASI • Mengatasi Patologi Birokrasi Sistem Organisasi/Kelompok • Mengatasi Patologi Birokrasi Perilaku Individual Birokrat • Pencapaian Efektivitas dan Efisiensi Pemerintahan .

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI • • • • • • • • INTERNAL BIROKRASI Faktor Individu Faktor Struktur Organisasi Praktek dan Kebijakan manajemen Faktor Budaya EKSTRNAL BIROKRASI Sistem Politik Eksekutif dan Legislatif Penegak Hukum Masyarakat .

BAGIAN EMPAT: MODEL REGO MODEL REINVENTING GOVERNMENT .

– Wirausaha: memindahkan berbagai sumber ekonomi dari suatu wilayah dengan produktifitas rendah ke wilayah ke produktivitas tinggi dan hasil yang lebih besar – Tujuan pembaharuan adalah efesiensi tetapi yang lebih penting adalah efektifitas. – Transformasi ini dicapai dengan mengubah tujuan. efisiensi dan kemampuan mereka untuk melakukan inovasi. sistem intensif. – Pembaruan (reinvention) adalah transformasi sistem dan organisasi pemerintah secara fundamental guna menciptakan peningkatan dramatis dalam efektivitas. pertanggungjawaban. . struktur kekuasaan dan budaya sistem dan organisasi pemerintah.• • • MODEL REINVENTING GOVERNMENT Osborne dan Gaebler (1992) “Reinventing Government “ dan Osborne dan Plastrik (1997) “ Banishing Bureaucracy: The Five Strategy for Reinventing Government” Model Deskriptif bukan preskriptif PENGERTIAN REINVENTING GOVERNMENT : – Reinventing Government (Pemerintah wirausaha) adalah pembaruan berupa penggantian sistem yang birokratis menjadi sistem yang bersifat wirausaha.

. Pemerintah berjiwa wirausaha (entreprising government): earning rather than spending. 9. . Put it all together. Pemerintah terdesentralisasi (decentralized government): from hierarchy to participation and teamwork. Pemerintah yang berorientasi pelanggan (customer-driven government): meeting the needs of the customers. dan 10. 2. 8. not the bureaucracy. not inputs. 7. pemerintah berorientasi hasil (result-oriented government): finding outcomes. 3. 4. 5. Pemerintah berorientasi misi (mission-driven government): transferring rule-driven organization. 6. Pemerintah yang tanggap (anticipatory government): prevention rather than cure. Pemerintah yang kompetitif (competitive government): injecting competition into service delivery. Pemerintah berorientasi pasar (market-oriented government): leveraging change through the market.1. 10 FORMULA REINVENTING Pemerintah katalis (catalytic government): steering rather thall rowing GOVERNMENT Pemerintah milik masyarakat (community-awned government): empowering rather han serving.

swasta. – Pemerintah menetapkan kebijakan. . – pemerintah harus menyediakan (Providing) beragam pelayanan publik. tetapi tidak harus terlibat secara langsung dengan proses produksinya (Producing).PRINSIP-PRINSIP REINVENTING GOVERNMENT 1. PEMERINTAH KATALIS : – Fokus pemerintah pada pemberian pengarahan bukan pelaksanaan pelayanan publik. memberikan dana kepada badan pelaksana (pemerintah. NGO) dan menilai kinerja.

birokrat dan politisi akan memeiliki komitmen yang lebih baik.PRINSIP-PRINSIP REINVENTING GOVERNMENT 2. – Pemerintah sebaliknya memberikan wewenang kepada masyarakat sehingga masyarakat berdaya untuk mengontrol pelayanan yang diberikan birokrasi dan mampu menjadi masyarakat yang menolong dirinya sendiri (Community Self-Help). peduli dan kreatif dalam memecahkan permasalahan publik . – Dengan adanya kontrol dari masyarakat.PEMERINTAH MILIK MASYARAKAT: – Mengalihkan wewenanga kontrol yang dimilikinya kepada masyarakat.

banyak pelayanan publik yang dapat ditingkatkan kualitas pelayanan tanpa harus memperbesar biaya . – menyuntikan semangat kompetisi dalam pemberian jasa dan pelayanan publik – Kompetisi adalah satu-satu nya cara untuk menghemat biaya sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan. PEMERINTAH YANG KOMPETITIF. Dengan kompetisi.PRINSIP-PRINSIP REINVENTING GOVERNMENT 3.

PRINSIP-PRINSIP REINVENTING GOVERNMENT 4. kepegawaian. pengadaan) – Mensyaratkan setiap organisai dan satuan kerja pemerintah memiliki misi yang jelas. serta memberikan diskresi kepada manajer untuk menemukan best practise mewujudkan misi namun tetap dalam koridor legal . Pemerintah yang digerakkan oleh misi : – mengubah organisasi yang digerakan oleh peraturan menjadi organisasi yang digerakan oleh misi – Pemerintah melakukan deregulasi internal : penyederhanaan peraturan–prosedur dan penyederhanaan sistem administratif (anggaran.

akan mengembangkan suatu standar kinerja.PRINSIP-PRINSIP REINVENTING GOVERNMENT 5. . Semakin baik kinerjanya. yang mengukur seberapa baik suatu badan/ satker mampu memecahkan permasalahan yang menjadi tanggungjawab nya. Mengubah fokus input (kepatuhan pd peraturan dan membelanjakan barang sesuai ketentuan) menjadi akuntabilitas pada output dan outcome – Pemerintah Wirausaha. Semangkin banyak pula dana yang akan dialokasikan untuk mengganti semua dana yang telah dikeluarkan oleh unit kerja tersebut. PEMERINTAH YANG BERORIENTASI HASIL : – membiayai hasil bukan masukan peraturan dan membelanjakan.

orang yang mengurus KTP. – Pemerintah yang memperlakukan masyarakat yang dilayani.sebagai pelanggan – Pemerintah melakukan survei pelanggan. menetapkan standar pelayanan. pembayar pajak. Pemerintah berorientasi pada pelanggan . bukan birokrasi. pemerintah mendesain organisasi untuk menyampaikan nilai optimal kepada pelanggan . orang tua siswa. dsb. – Dengan masukan dan desain ini. memberi jaminan. – memenuhi kebutuhan pelanggan.PRINSIP-PRINSIP REINVENTING GOVERNMENT 6. pelanggan PLN. siswa.

pemberian hak guna usaha yang menarik pada para pengusaha dan masyarakat penyertaan . Pemerintah wirausaha : mampu Menghasilkan dan tidak sekedar membelanjakan – Pemerintah tradisional cenderung berpandangan bahwa mereka sedang mengerjakan pekerjaan dan karenanya tidak pantas berbicara tentang upaya untuk menghasilkan pendapatan dari aktivitasnya. misalnya : BPS DAN BAPPEDA. yang dapat menjual informasi tentang daerahnya kepada pusat-pusat penelitian. – Pemerintah Daerah Berwirausaha dapat mengembangkan beberapa pusat pendapatan . Banyak yang bisa dilakukan untuk menghasilkan pendapatan dari proses penyediaan pelayanan publik.PRINSIP-PRINSIP REINVENTING GOVERNMENT 7. badan usaha milik daerahnya (baik yang menjual jasa maupun barang).

PRINSIP-PRINSIP REINVENTING GOVERNMENT 8. Ia menggunakan perencanaan strategi untuk menciptakan visi pemerintah. Pemerintah Antisipatif : berupaya mencegah dari pada mengobati . apabila tidak ada kebakaran (masalah) maka tidak akan ada upaya pemecahan . tetapi juga berupaya keras untuk mengantisipasi masa depan. . Pemerintah birokratis cenderung bersifat reaktif : seperti suatu satuan pemadam kebakaran. Pemerintah Wirausaha tidak reaktif tetapi proaktif. dan pemerintah daerah untuk meraih peluang yang tak terduga serta menghadapi krisis yang takterduga pula. – Visi pemerintah membantu masyarakat. – Tidak hanya mencoba untuk mencegah masalah. tanpa menunggu perintah. – Pemerintah tradisional yang birokratis memusatkan diri pada produksi pelayanan publik untuk memecahkan masalah publik. bisnis.

Pemerintah Desentralisasi . – dari hirarkimenuju partisipasi dan tim kerja – Wewenang diberikan pada unit terdepan – Hiraki dikurangi – Visi dan misi diwujudkan bersama – Tim kerja bebas menentukan cara kerjanya untuk mencapai hasil terbaik .PRINSIP-PRINSIP REINVENTING GOVERNMENT 9.

makanisme pasar terbukti sebagai yang tebaik dalam mengalokasi sumberdaya. . (sesuai dengan prosedur tersebut). yaitu mekanisme pasar dan mekanisme administratif. – Dalam mekanisme pasar. – Pemerintah tradisional menggunakan mekanisme administratif. sedangkan pemerintah wirausaha menggunakan mekanisme pasar. mengeluarkan prosedur dan definisi baku dan kemudian memerintahkan orang untuk melaksanakannya. pemerintah daerah wirausaha tidak memerintahkan dan mengawasi tetapi mengembangkan dan menggunakan sistem insentif agar orang tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang merugikan masyarakat. Pemerintah berorientasi pada (Mekanisme) pasar: mengadakan perubahan dengan mekanisme pasar terbukti sebagai yang terbaik dalam mengalokasi sumberdaya. pemerintah tradisional menggunakan perintah dan pengendalian. Dari keduanya. – ada dua cara alokasi sumberdaya. – Dalam mekanisme administratif.PRINSIP-PRINSIP REINVENTING GOVERNMENT 10.

Bagian Kelima STRATEGI REINVENTING GOVERNMENT .

STRATEGI REINVENTING GOVERNMENT • Strategi Inti (Core Strategy ). untuk menerapkan konsekwensi atas kinerja organisasi • Strategi Pelanggan (Customer Strategy). untuk menciptakan pertanggungjawaban organisasi pemerintah terhadap pelanggan • Strategi Pengendalian (Control Strategy). untuk mengubah perilaku. perasaan. persepsi birokrat . untuk memberdayakan organisasi dan pegawainya agar bisa berinovasi • Strategi budaya ( Culture Strategy). untuk memperjelas misi organisasi • Strategi Konsekwensi ( Qoncequences Strategy).

STRATEGI REFORMASI BIROKRASI 1. adanya peraturan mengenai standar minimal pelayanan publik dan sanksi yang diberikan bagi yang melanggarnya. 6. unsur pemerintah. 5. De-kooptasi Birokrasi oleh Partai Politik (Dikotomi Birokrasi dan Politik) 7. merubah persepsi dan paradigma birokrasi mengenai konsep pelayanan. 2. Penguatan Desentralisasi atau ke arah Federalisme? . dst. adanya kepemimpinan yang kuat (strong leadership) dalam melaksanakan komitmen pelayanan publik. “Profesionalisasi dan Modernisasi Birokrasi” 9. privat dan masyarakat harus merupakan all together yang sinergi. 4. 3. “Minimal Structure” di Pusat 8. Pembangunan Hukum Administrasi Negara 10. adanya upaya untuk memberdayakan masyarakat (empowerment) secara terus menerus dan demokratis.

Tingkatan dan Fokus Pengembangan Kapasitas Birokrasi
Level of Leverage Individual

Fokus SDM teknis dan Profesional

Tipe Program/Aktivitas
Job requirements & skill levels; training & retraining; learning and on the-job training; career progression; accountability / ethics; access to information; personal / professional networking; performance / conduct; incentives / security; values, integrity and attitudes; morale and motivation; work redeployment and job sharing; interrelationship, interdependencies and teamwork; communication skill, attitudes, motives, traits, self-concept. Incentive systems, utilization of personnel, leadership, organizational culture, communication, managerial structures, mission and strategy; culture / structure and competencies.

Organisasi

Sistem Manajemen untuk peningkatan kinerja, serta tugas dan fungsi spesifik, Microstructure
Lembaga dan Sistem; Macrostructures

Sistem

Rules of the game for economic and political regimes, policy and legal change, constitutional reform, policy and regulatory dimension; management / accountability dimension; resources dimension; process dimension, decentralized governance.

Bagian Keenam

UPAYA REFORMASI DI INDONESIA

UPAYA REFORMASI DI INDONESIA
Kerjasama pemerintah daerah dengan lembaga donor internasional : • Performance Budgeting BIGG (Building Institutions for Good Governance), USAID/CIDA; • SfGG - Support for Good Governance. Pelayanan Publik dan Pakta Integritas, GtZ Jerman; • Performance Management for Regions, USAID; • Community/Local Governmentt Support Sector Development Program, ADB; • CLGI, Capacity Building Assessment for Regions/Exxon Mobil/USAID; Local Governance Capacity Building, GtZ/USAID; • Change Management, CIDA; • Strategic Management for Local Government, CIDA; • Civil Service Reform and Partnership diagnostic and roadmap, World Bank/ADB/Singapore/Canadian Training; • BRIDGE (Building and Reinventing Democratic Governance)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful