Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Setiap hari manusia terlibat pada suatu kondisi lingkungan kerja yang berbedabeda dimana perbedaan kondisi tersebut sangat mempengaruhi terhadap kemampuan manusia. Manusia akan mampu melaksanakan kegiatannya dengan baik dan mencapai hasil yang optimal apabila lingkungan kerjanya mendukung. Manusia akan mampu melaksanakan pekerjaannya dengan baik apabila ditunjang oleh lingkungan kerja yang baik. Suatu kondisi lingkungan kerja dikatakan sebagai lingkungan kerja yang baik apabila manusia bisa melaksanakan kegiatannya dengan optimal dengan sehat, aman dan selamat. Ketidakberesan lingkungan kerja dapat terlihat akibatnya dalam waktu yang lama. Lebih jauh lagi keadaan lingkungan yang kurang baik dapat menuntut tenaga dan waktu yang lebih banyak yang tentunya tidak mendukung diperolehnya rancangan sistem kerja yang efisien dan produktif. Lingkungan kerja yang nyaman sangat dibutuhkan oleh pekerja untuk dapat bekerja secara optimal dan produktif, oleh karena itu lingkungan kerja harus ditangani dan atau di desain sedemikian sehingga menjadi kondusif terhadap pekerja untuk melaksanakan kegiatan dalam suasana yang aman dan nyaman. Evaluasi lingkungan dilakukan dengan cara pengukuran kondisi tempat kerja dan mengetahui respon pekerja terhadap paparan lingkungan kerja. Di dalam perencanaan dan perancangan sistem kerja perlu diperhatikan faktorfaktor yang dapat mempengaruhi kondisi lingkungan kerja seperti, kebisingan,
1

pencahayaan, suhu dan lain-lain. Suatu kondisi lingkungan kerja dikatakan baik apabila dalam kondisi tertentu manusia dapat melaksanakan kegiatannya dengan optimal. Ketidaksesuaian lingkungan kerja dengan manusia yang bekerja pada lingkungan tersebut dapat terlihat dampaknya dalam jangka waktu tertentu. Kualitas lingkungan kerja yang baik dan sesuai dengan kondisi manusia sebagai pekerja akan mendukung kinerja dan produktivitas kerja yang dihasilkan. Pengendalian dan penanganan faktor-faktor lingkungan kerja seperti kebisingan, temperatur, getaran dan pencahayaan merupakan suatu masalah yang harus ditangani secara serius dan berkesinambungan. Suara yang bising, temperatur yang panas getaran dan pencahayaan yang kurang di dalam tempat kerja merupakan salah satu sumber yang mengakibatkan tekanan kerja dan penurunan produktivitas kerja.(www.mercubuana.ac.id) Kesehatan adalah factor sangat penting bagi produktifitas dan peningkatan produktifitas tenaga kerja selaku sumber daya manusia. Kondisi kesehatan yang baik merupakan potensi untuk meraih produktifitas kerja yang baik pula. Pekerjaan yang menuntut produktifitas kerja tinggi hanya dapat dilakukan oleh tenaga kerja dengan kondisi kesehatan prima. Sebaliknya keadaan sakit atau gangguan kesehatan menyebabkan tenaga kerja tidak atau kurang produktif dalam melakukan pekerjaannya. Bahaya ditempat kerja yang dapat menimbulkan kecelakaan dan ;penyakit akibat kerja cendrung lebih sering terjadi pada populasi pekerja yang kurang memahami proses industry ditempat kerja, atau tidak cukup dilatih dan dilindungi untuk mengatasi kemungkinan bahaya yang dapat terjadi. Seorang dokter perusahaan bertanggung jawab untuk mendidik dan melatih pekerja untuk menjadi pekerja yang terampil, efisien dan produktif.(Harrianto, 2010)
2

1.2 Batasan Masalah a. Mengetahui pengertian dari Hygiene industri b. Mengetahui tentang konsep dasar dari Hygiene Industri c. Mengetahui tentang program - program Hygiene Industri 1.3 Tujuan a. Untuk mengetahui tentang pengertian Hygiene Industri b. Untuk mengetahui tentang konsep dasar Hygiene Industri c. Untuk mengetahui tentang program program Hygiene Industri

BAB II ISI

2.1. Pengertian Hygiene perusahaan atau industri adalah spesialisasi ilmu hygiene beserta prakteknya yang lingkup dedikasinya adalah mengenali, mengukur dan melakukan penilaian (evaluasi) terhadap factor penyebab gangguan kesehatan atau penyakit dalam lingkungan kerja dan perusahaan. Hasil pengukuran dan evaluasi demikian dipergunakan sebagai dasar tindakan korektif serta guna pengembangan

pengendalian yang lebih bersifat preventif terhdapa lingkungan kerja/ perusahaan. Kesehatan kerja adalah spesialisasi dalam ilmu kesehatan/ kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan, agar pekerja/masyarkat pekerja memperoleh derajat kesehatan sebaik-baiknya (dalam hal dimungkinkan; bila tidak cukup derajat kesehatan yang optimal), fisik, mental, emosional, maupun penyakit atau gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh pekerjaan dan /atau lingkungan kerja, serta terhadap penyakit pada umumnya. (Sumamur, 2009) Hygiene perusahaan dan kesehatan kerja sebagai suatu kesatuan upaya dengan tujuan mewujudakan sumber daya manusia yang sehat dan produktif dapat diterjemahkan dalam bahasa asing sebagai Industrial Hygiene and Occupational Health, yang cendrung diartikan sebagai lapangan kesehatan yang mengurusi problematika kesehatan kerja secara menyeluruh. Dalam rangka upaya menjadikan tenaga sumber daya manusia yang sehat dan produktif, kesehatan kerja diartikan sebagai ilmu kesehatan dan penerapannya
4

yang bertujuan mewujudkan tenaga kerja sehat, produktif dalam bekerja, berada dalam keseimbangan yang mantap antara kapasitas kerja, beban kerja dan keadaan lingkungan kerja, serta terlindung dari penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja. Maksud dan tujuan hygiene perusahaan adalah melindungi pekerja dan masyarakat sekitar suatu perusahaan atau industry dari resiko bahaya khususnya factor fisis, kimiawi dan biologis yang mungkin timbul oleh karena beroperasinya suatu proses produksi. Sasaran suatu kegiatan hygiene perusahaan adalah factor lingkungan dengan jalan identifikasi bahaya dan pengukuran agar tahu secara kualitatif dan kuantitatif bahaya yang sedang di hadapi atau yang mungkin timbul, dan dengan pengetahuan yang tepat tentang resiko factor bahaya tersebut diselenggarakan tindakan korektif yang merupakan prioritas utama waktu itu serta selanjutnya upaya pencegahan yang bersifat menyeluruh. Wewenang dan tanggung jawab dalam bidang hygiene industry perusahaan dibagi anatara berbagai sector yaitu pada sector ketenagakerjaan atas dasar hygiene industry merupakan spesialisasi dalam keselamatan dan kesehatan kerja, pada sector kesehatan oleh alas an hygiene perusahaan tidak berdiri sendiri melainkan banyak kaitannya dengan hygiene usaha umum serta pada lingkungan hidup karena lingkungan kerja adalah satu aspek dalam lingkungan pemukiman. Masyarakat sekitar perusahaan dan masyarakat umum harus dilindungi Dario pengaruh buruk yang mungkin ditimbulkan oleh beroperasinya suatu perusahaan. Semua sector penyebab gangguan kesehatan dan penyakit serta gangguan umum lainnya yang mungkin mengenai pekerja dapat pula menyebabkan
5

hal serupa kepada masyarakat sekitar suatu perusahaan dan masyarakat umum. Seperti hawa panas yang keluar dari pabrik atau asap yang mengandung aneka zat kimia melalui cerobong asap. Hygiene industry dengan kompetensinya dlam hal identifikasi, pengukuran, evaluasi dan pengendalian factor yang bersifat fisis, kimiawi dan biologis dapat sangat berperan dalam upaya menyelenggarakan perlindungan kepada penduduk yang berada di luar perusahaan. 2.2. Konsep dari Hygiene Industri Konsep dasar dari hygiene industry adalah agar seorang tenaga kerja berada dalam keserasian sebaik-baiknya, yang beraarti bahwa yang bersangkutan dapat terjamin keadaan kesehatan dan produktifitas kerjanya secara optimal, maka perlu ada keseimbangan yang positif-konstruktif, antara unsur unsur ; 1. Beban kerja Setiap pekerjaan merupakan beban bagi pelakunya. Beban dimaksud mungkin fisik, mental, dan atau social. Seorang tenaga kerja yang secara fisik bekerja berat seperti halnya buruh bongkar muat barang dipelabuhan, memikul lebih banyak beban fisik dari pada beban mental maupun social. Berlainan dari itu adalah beban kerja seorang pengusaha atau manjemen, tanggung jawabnya merupakan beban mental yang relati jauh lebih besar dari beban fisik yang dituntut oleh pekerjaannya. Adapun petugas social misalnya penggerak lembaga swadaya masyarakat atau gerakan mengentaskan kemiskinan, mereka lebih menghadapi dan memikul beban kerja social kemasyarakatan.setiap tenaga kerja memiliki kemampuan tersendiri dalam hal kapasitas dalam menanggung beban kerjanya.
6

2. Beban tambahan akibat dari pekerjaan dan lingkungan kerja Ada lima factor penyebab beban tambahan dimaksud ; a) Factor fisik yang meliputi keadaan fisik seperti bangunan gedung atau volume udara, atau luas lantai kerja maupun hal-hal yang bersiat fisik seperti penerangan, suhu udara, kelembabab udara, tekanan udara, kecepatan aliran udara, kebisingan, vibrasi mekanis, radiasi gelombang elektromagnetis. b) Factor kimiawi yaitu semua zat kimia anorganis dan organis yang mungkin wujud fisiknya merupakan salah satu atau lebih dalam bentuk gas, uap, debu, kabut, fume (uap logam), asap. Awan, cairan, dan atau zat padat. c) Factor biologis, yaitu semua makhluk hidup baik dari golongan tumbuhan maupun hewan d) Factor fisiologis/ergonomis, yaitu interaksi antar faal kerja manusia dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya seperti kontruksi mesin yang disesuaikan dengan fungsi indra manusia, postur dan cara kerja yang mempertimbangkan aspek antropometris dan fisiologis manusia. e) Factor mental dan psikologis, yaitu reaksi mental dan kejiwaan terhadap suasana kerja, hubungan antara pengusaha dan tenaga kerja, struktur dan prosedur organisasi pelaksanaan kerja dan lain-lain. 3. Kapasitas kerja Kemampuan kerja seorang tenaga kerja berbeda dari satu dengan yang lainnya dan sangat bergantung kepada motivasi kerja, pengalaman, latar belakang pendidikan, keahlian, ketrampilan, kesesuaian terhadap pekerjaan,

kondisi kesehatan, keadaan gizi, jenis kelamin, usia dan ukuran antropometri tubuh serta reaksi kejiwaan. Semakin tinggi mutu ketrampilan kerja yang dimiliki, kian efisien tenaga kerja bekerja sehingga beban menjadi relative jauh lebih ringan. Tidak mengherankan angka kesakitan sangat kurang bagi mereka yang memiliki ketrampilan tinggi, lebih lagi bila mereka mendedikasikan hidupnya kepada pekerjaannya. 2.3. Program Hygiene Industri Program dan implementasinya yang meliputi ruang lingkup berikut ini; 1. Pemeliharaan tempat dan lingkungan kerja yang mendukung efisiensi dan produktifitas serta kenyamanan kerja atau memungkinkan kondisi kerja berada dalam koridor yang aman menurut standar hygiene perusahaan, kesehatan kerja dan ergonomic. 2. Penyerasian pekerjaan dan lingkungan kerja kepada karakteristika factor manusia serta penerapan cara bekerja yang memenuhi syarat keselamatan, kesehatan, hygiene ondustri dan ergonomic. 3. Pelaksanaan program kedokteran-kesehatan kerja promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative sebagai perwujudan upaya kedokteran-kesehatan yang komprehensif antara lain pelaksanaan pemeriksaan kesehatan tenaga kerja sebelum bekerja, pra penempatan, alih tugas, pasca pelaksanaan suatu tugas, berkala, dan saat memasuki masa pensiun. cukup termotivasi untuk

4. Penerangan, penyuluhan dan pendidikan tentang hubungan kesehatan dengan eisiensi dan produktifitas kerja, serta upaya agar terhindar dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. 5. Upaya kuratif (P3K, pengobatan dan perawatan, rehabilitasi medis) yang mengurangi secara kuantitatif dan kualitatif absenteisme dan kecacatan akibat kerja. 6. Pengumpulan dan analisis data hubungan tingkat kesehatan dan produktifitas tenaga kerja dan juga produktifitas perusahaan atas dasar angka sakit, absenteisme, tingkat keparahan penyakit dan kecelakaan serta hasil pelaksanaan kerja. 7. Pembinaan fisik, mental dan social terhadap tenaga kerja secara luas yang menunjang kualitas kesehatan dan efisiensi serta produktifitas kerja. 8. Penelitian dan upaya pengembangan dalam peningkatan program hygiene perusahaan dan kesehatan kerja. 9. Pencegahan terhadap pencemaran lingkungan sebagai akibat beroperasinya industri atau juga kegiatan lainnya. 2.4. Pelayanan kesehatan di perusahaan Tujuan pelayanan kesehatan kerja didasarkan pada rekomendasi ILO No. 112 (1959) yang didukung oleh Masyarakat ekonomi eropa (1962) dan Majelis eropa (1972). Tujuan itu didukung pula oleh konvensi ILO 161 dan rekomendasi No. 171 (1985). Tujuan itu adalah sebagai berikut ; a. Melindungi pekerja dari bahaya kesehatan ditempat kerja b. Menyesuaikan pekerjaan agar serasi dengan status kesehatan pekerja
9

c. Menyumbang pembangunan dan pemeliharaan kesejahteraan fisik dan mental yang setinggi-tingginya ditempat kerja. (Harrington, 2005) 2.4.1 Dokter perusahaan Dokter perusahaan adalah setiap dokter yang ditunjuk atau bekerja di perusahaan, memimpin dan menjalankan pelayanan kesehatan bagi tenaga kerja diperusahaan yang bersangkutan. Antara kesejateraan pekerja dan keuntungan yang menjadi tujuan dunia usaha terdapat peluang untuk timbul konflik berkepanjangan yang tidak mudah diselesaikan. Dokter yang praktek melayani kesehatan pekerja berada dilingkungan seperti itu dan tidak ada alternative lain baginya untuk menghadapi kenyataan seperti itu. Seorang dokter tidak boleh memihak dan dokter perusahaan harus bekerja sebagai dokter yang mematuhi sumpah dokternya dan menjalankan prakteknya dengan objektif sejujur-jujurnya. Dalam rangka menuju sasaran yaitu kesehatan dan produktifitas kerja yang optimal, misi dari dokter perusahaan adalah sesuai dengan tujuan dari pelayanan kesehatan seperti yang dijelaskan diatas. Dan dokter perusahaan harus mempunyai hubungan baik dan kerja sama erat dengan dokter luar, ia harus mengatur konsultasi ke dokter ahli, bilamana diperlukan. Ia kadang-kadang perlu pula mengatur penggunaan fasilitas kesehatan yang terdapat di wilayah tempat perusahaan berada atau didaerah lain untuk kepentingan pemeliharaan kesehatan atau pengobatan penyakit pada pekerja atau unsure pimpinan perusahaan, misalnya rujukan ke rumah sakit. 2.4.2 Perawat Perusahaan Tenaga paramedis perusahaan adalah setiap tenaga paramedic yang ditunjuk atau ditugaskan untuk melaksanakan atau membantu penyelenggaraan tugas-tugas pelayanan
10

kesehatan kerja diperusahaan atas petunjuk dan bimbingan dokter perusahaan. Perawat adalah salah satu dari tenaga paramedic perusahaan tersebut. Seorang perawat dalam pelayanan kesehatan kerja diperusahaan merupakan pembantu utama bagi dan mewakili dokter perusahaan, apabila dokter tidak berada ditempat. Seorang perawat hyperkes adalah seorang yang berijazah perawat dan memiliki pengalaman/training keperawatan dalam hyperkes dan bekerja melayani kesehatan tenaga kerja di perusahaan atau komunitas tenaga kerja lainnya. Suatu syarat yang sangat penting adalah pengetahuan dan ketrampilan dalam dasar-dasar dan teknik keperawatan, serta juga dalam soal pertolongan pertama pada kecelakaan dan keadaan darurat khususnya yang ringan. Seorang perawat hiperkes dalam pekerjaannya harus mempunyai hubungan dengan unsur-unsur; dokter perusahaan, pengusaha, tenaga kerja, dokter umum/spesialis, fasilitas kesehatan diluar perusahaan, dan ikatan perawat yang ada.

11

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan. Konsep dasar dari hygiene industry adalah agar seorang tenaga kerja berada dalam keserasian sebaik-baiknya, yang beraarti bahwa yang bersangkutan dapat terjamin keadaan kesehatan dan produktifitas kerjanya secara optimal, maka perlu ada keseimbangan yang positif-konstruktif, antara unsur beban kerja, beban tambahan akibat dari pekerjaan dan lingkungan kerja dan kapasitas kerja. Gangguan pada kesehatan dan daya kerja akibat berbagai factor dalam pekerjaan dan lingkungan kerja bias dihindarkan, asal saja perusahaan, pimpinan atau manajemen perusahaan dan pekerja serta serikat pekerja ada kemauan yang kuat untuk mencegahnya. Peraturan perundang-undangan tidak aka nada faedahnya, apabila perusahaan tidak melaksanakan ketetapan yang berlaku sebagaimana diatur oleh perundang-undangan, juga sama halnya apabila pengurus perusahaan dan pekerja tidak mengambil peranan proaktif dalam menghindarkan terjadinya gangguan terhadap kesehatan, daya kerja dan produktiitas tenaga kerja. 3.2. Saran. 1. Diharapkan agar pimpinan perusahaan, manjemen perusahaan dan pekerja memahami betul konsep dari hygiene industry. 2. Diharapkan pihak perusahaan dapat menjalankan semua program hygiene industri agar produktiitas tenaga kerja tetap terjaga.

12

13