Anda di halaman 1dari 10

Tugas Resume Teori Akuntansi Keuangan: Bab X Expense

Disusun Oleh: Thomas Hensi Arindra Indarnoto Kunto W. Dhika Hikmawan Ares Albirru Amsal Ilham Bachtiar Eric Nurcahyo Atmahadi 0806352145 0906643805 0806351123 0806465094 0806391751 0806391505

Universitas Indonesia Depok April 2011

LO 1 EXPENSES DEFINED
Menurut Framework, expense adalah penurunan economic benefits berbentuk outflow atau depletion (penggunaan) dari suatu asset, atau terbentuknya liabilitas yang mengakibatkan berkurangnya equity selain dikarenakan adanya distribusi untuk partisipasi dari banyak pihak di dalam komponen ekuitas. Pada Framework juga dinyatakan bahwa loss secara nature tidak berbeda dengan expense-expense lainnya karena sama-sama menurunkan economic benefits dari suatu aset.

Change in assets and liabilities


Framework menyatakan bahwa terjadinya suatu expense akan berdampak terhadap penurunan nilai dari suatu aset maupun peningkatan nilai dari suatu liabilitas. Namun pendefinisian expense tersebut terlalu bersifat umum, pada dasarnya akan lebih cocok untuk mengkorelasikan expense suatu perusahaan dengan aktivitas penggunaan resource dalam rangka mendukung kegiatan yang membentuk profit.

Expenses and costs


Prinsip yang harus diingat dalam mendefinisikan expense adalah no cost, no expense. Yakni ketika kita sebagai entitas tidak mengeluarkan biaya dalam memperoleh suatu manfaat maka kita tidak perlu mengakui adanya expense dari manfaat yang kita peroleh tersebut. Terkadang, expense didefinisikan juga sebagai expired cost.

LO 2 EXPENSE RECOGNITION
Ada dua kriteria yang harus dipenuhi dalam expense recognition yaitu: 1. Adanya probabilitas bahwa akan ada future economic benefits yang terlibat dalam item tersebut akan mengalir dari atau kepada entitas bisnis kita. Expense dikatakan probable karena pada umumnya kita berada di lingkungan yang penuh dengan uncertainty. Untuk memastikan probabilitas tersebut maka kita harus membuat degree of uncertainty. Degree oof uncertainty ini juga harus memenuhi karakteristik prudence (kehati-hatian dalam menetapkan degree probabilitas dalam melakukan judgement yang dibutuhkan dalam mengestimasi keadaan yang kondisinya uncertain) dan neutrality (free from bias).

2. Item tersebut harus memiliki cost atau value yang dapat diukur secara reliable. Pengukuran yang reliable maksudnya adalah ketika pengukuran membutuhkan estimasi, maka harus ada bukti yang cukup untuk mendukung validitas dari estimasi tersebut. Misalnya untuk mengakui suatu item sebagai expense maka bukti yang valid adalah adanya penurunan pada nilai suatu aset atau kenaikan nilai liabilitas.

LO 3 EXPENSE MEASUREMENT
Pengukuran Beban Pengertiannya adalah pengukuran beban dalam periode saat ini, beberapa keputusan diperlukan untuk membuat bagaimana beban seharusnya dialokasikan di masa depan yang dihasilkan dari pendapatan. Ada beberapa standar akuntansi yang menyediakan petunjuk pada persoalan tersebut, namun menawarkan beberapa metode dari beban dan proporsionalan pendapatan. Alokasi beban Satu pendekatan untuk mengukur beban adalah untuk mengalokasikan pada periode dimana mereka berada. Proses matching berhubungan dengan kekonsistenan atau terhubungnya pengakuan pendapatan dan beban yang dihasilkan langsung dan secara tergabung dari transaksi atau kejadian yang lainnya. Matching secara benar merupakan tugas yang susah, dan berkait dengan keputusan yang besar di bagian akuntan. Akuntan tersebut harus mengidentifikasikan asset yang mana yang terpakai dan jumlah yang seharusnya di hapus terhadap pendapatan untuk suatu periode. Konsept matching adalah kepentingan yang kritis di dalam akuntansi historical cost. Hal tersebut menyediak petunjuk para akuntan dalam memutuskan biaya yang mana seharusnya dibebankan dan di matchkan terhadap revenue untuk periode tersebut, dan biaya yang mana dianggap masih berlaku. Untuk mengatasi masalah-masalah yang terlibat dengan menentukan dan mengukur biaya yang akan dibebankan dan di carried forward, terdapatnya tiga metode dasar dari matching yang secara umum, yaitu:
Associating cost and effect Systematic and rational allocation Immediate recognition

Yang pertama adalah jalan yang paling ideal, dimana yang kedua dan ketiga ketika yang pertama tidak dapat digunakan. 1. Associating cost and effect Akuntan memutuskan dimana beberapa barang dan jasa digunakan harus memiliki pertolongan dalam pembuatan pendapatan pada suatu periode. Pendapatan dari menjual produk biasanya berhubungan dengan biaya dari produk yang dijual tersebut. Tidak adanya biaya dari seuatu penjualan jika tidak adanya pendapatan. Contohnya adalah long term contracts. Akuntan tidak secara langsung menghubungkan biaya dengan pendapatan, namun menyamakannya dengan biaya interval waktu. Systematic and allocation procedure Pengasosiasian cause dan effect tidak dapat digunakan untuk semua beban. Ketika tidak dapat diterapkan, terdapat suatu alternative untuk menggunakan systematic dan prosedur alokasi rasional. Proses matching dimulai dengan pengasosiasian bebang dengan beberapa segmen waktu. IAS 16/AASB 16 PPE menerjemahkan depresiasi sebagai alokasi sistematis dari jumlah yang dapat didepresiasi dari suatu asset pada umur penggunaanya. Depresiasi adalah fenomena yang terjadi dan beban yang dicatat adalah reflek keuangan. Depresiasi merupakan penurunan dalam nilai suatu asset, penurunan nilai biasanya dikarenakan penurunan harga nilai pasar. Penurunan tersebut dapat didasarkan karena faktor fisik dan ekonomis. Alokasi biaya adalah konsep matching yang menjunjung terhadap prosedur yang bervariasi. Idea ini adalah untuk menemukan beberapa metode yang kurang lebih berhubung dengan patter dari jasa atau benefit yang disediakan oleh asset untuk periode masa depan. Terdapat tiga bentuk share based payment, yakni:
Equity settled share-based payments Cash-settled share-based payments Other transactions

2. Alokasi Sistematis dan Rasional Sesuai dengan prinsip penandingan (matching principle), beban untuk suatu periode ditentukan dengan mengaitkannya dengan pendapatan tertentu atau dengan periode tertentu.. Beban diakui : jika terdapat hubungan langsung atau sebab akibat dengan penjualan produk atau penyerahan jasa, pada periode terjadinya, yakni pada saat kas dikeluarkan jika tidak terdapat hub. Langsung atau sebab akibat dengan penjualan produk atau jasa, Namun jika 2 syarat itu tidak terpenuhi, maka prosedur alokasi yang sistematis dan rasional yang digunakan. Tujuannya adalah untuk mengalokasikan biaya kepada periode-periode yang menerima manfaat (dikonsumsi atau kedaluwarsa). Salah satu contoh implementasi alokasi yang sistematis dan rasional adalah depresiasi. IAS 16/AASB 116 tentang Property, Plant and Equipment mendefinisikan depresiasi sebagai alokasi sistematis dari jumlah yang dapat didepresiasikan dari suatu aset selama masa manfaatnya (par.6). IAS 16/AASB 116 par.60 juga menyatakan bahwa metode depresiasi yang digunakan harus mencerminkan pola dimana manfaat ekonomi aset di masa depan diharapkan diterima/dikonsumsi. Jadi, penyusutan adalah proses alokasi, bukan penilaian. Alokasi sendiri diartikan sebagai proses pembagian nilai awal dan penerapan bagian-bagian nilai tersebut ke dalam periode-periode. Kerasionalan metode pemisahan ini diartikan bahwa pemisahan tersebut harus dikaitkan dengan manfaat yang diharapkan dalam tiap pemisahan. Secara umum depresiasi dapat dilihat sebagai fenomena nyata yang terjadi, dimana pencatatannya sebagai beban adalah efek moneternya. Secara umum akuntan melihat depresiasi sebagai penurunan nilai aset yang biasanya juga berarti penurunan harga pasar yang dikarenakan (1) faktor fisik seperti keausan dan penurunan daya guna karena pemakaian, dan (2) faktor ekonomi misalnya keusangan. Akan tetapi pemakaian dan keusangan tidak dapat diukur dengan normal dan tidak ada jejak hubungan antara alokasi dengan pendapatan atau periode pembebanan penyusutan. Penyusutan, karenanya , didefinisikan sebagai suatu alokasi rasional dan sistematis atas biaya ke periode-periode aset dianggap dipakai. Dengan pemaknaan penyusutan sebagai alokasi nilai perolehan ke dalam masa manfaat aset, maka praktik penyutan akan sangat dipengaruhi oleh: (1) Metode alokasi

(2) Nilai yang dapat disusutkan, dan (3) Nilai sisa Metode alokasi yang sering dilakukan adalah metode garis lurus, unit produksi, metode yang dipercepat dll. Namun metode alokasi sistematis dan rasional tetap memiliki kelemahan, yaitu sangat mengandalkan pada estimasi dan asumsi yang subjektif dan sewenang-wenang. Salah satu contoh alokasi berbasiskan biaya yang subjektif dan sewenang-wenang adalah amortisasi goodwill. Sebelum adopsi stndar IASB di 2005, banyak entitas yang mengamortisasikan goodwill selama 20 tahun atau kurang, kebanyakan berdasarkan metode garis lurus. Banyak yang berargumen bahwa goodwill tidak mengalami penurunan nilai sehingga tidak perlu diamortisasi. Sejak 1 Januari 2005, IFRS tidak mewajibkan goodwill diamortisasi. IFRS 3/AASB 3 Business Combination par. 54 menyatakan bahwa setelah diakuisisi, goodwill yang diperoleh melalui kombinasi bisnis diukur sesuai biaya perolehan dikurangi kerugian impairment. Sehingga proses estimasi untuk menentukan amortisasi goodwill tidak terlalu diperlukan. Salah satu area lain dimana alokasi maz digunakan adalah yang berkenaan dengan pembayaran berbasis saham (share-based payments). PSAK 53 Akuntansi kompensasi berbasis saham mengatur hal ini. PSAK 53 melingkupi seluruh transaksi pembayaran berbasis saham, yang didefinisikan sebagai berikut: Equity-settled, Diselesaikan dengan instrumen ekuitas, entitas yang menerima barang atau jasa yang dibayar dengan instrumen ekuitas milik entitas (termasuk saham dan opsi saham) Cash-settled, Diselesaikan dengan pembayaran kas, entitas yang memperoleh barang atau jasa akan menimbulkan liabilitas kepada pemasok barang atau jasa untuk suatu jumlah tertentu yang dihitung berdasarkan harga (nilai) saham milik entitas atau instrumen ekuitas entitas; dan Transaksi dimana entitas menerima barang atau jasa dimana entitas

maupun pemasok barang atau jasa memiliki pilihan atas transaksi tersebut untuk diselesaikan secara tunai (atau aset lain) atau instrumen ekuitas.

PSAK 53 juga diterapkan untuk transfer oleh shareholders kepada pihak lain (termasuk karyawan) yang telah mentransfer barang atau jasa lepada entitas. Termasuk transfer instrumen ekuitas dari induk kepada entitas anak dimana entitas menyediakan barang atau jasa. PSAK 53 juga diterapkan ketika entitas tidak menerima barang atau jasa yang tidak dapat diidentifikasi secara khusus, namun kondisi lain mengindikasikan bahwa barang atau jasa telah diterima. Untuk pengakuannnya, Entitas harus mengakui barang atau jasa yang diterima atau diperoleh dalam transaksi pembayaran berbasis saham pada saat memperoleh barang atau pada saat jasa diterima. Entitas juga harus mengakui kenaikan nilai ekuitas terkait jika barang atau jasa diterima dalam transaksi pembayaran berbasis saham yang diselesaikan dengan instrumen ekuitas, atau kenaikan nilai liabilitas jika barang atau jasa diperoleh dalam transaksi pembayaran berbasis saham yang diselesaikan dengan kas. Ketika barang atau jasa yang diterima atau diperoleh dalam transaksi pembayaran berbasis saham tidak memenuhi kualifikasi pengakuan sebagai aset, maka barang atau jasa tersebut harus diakui sebagai beban. Untuk pengukuran equity-settled share-base payment transactions (transaksi pembayaran berbasis saham yang diselesaikan dengan instrumen ekuitas), entitas harus mengukur barang atau jasa yang diterima, dan kenaikan ekuitas terkait, secara langsung, pada nilai wajar barang atau jasa yang diterima, kecuali jika nilai wajar tersebut tidak dapat diestimasi secara andal. Jika entitas tidak dapat mengestimasi nilai wajar barang atau jasa yang diterima secara andal, maka entitas harus mengukur nilai barang dan jasa tersebut, dan kenaikan ekuitas terkait, secara tidak langsung, dengan mengacu pada nilai wajar instrumen ekuitas yang diberikan. Untuk pengukuran Cash-settled share-based payment transactions (transaksi pembayaran berbasis saham yang diselesaikan dengan kas), entitas harus mengukur barang atau jasa yang diperoleh dan liabilitas yang timbul sebesar nilai wajar liabilitas. Sampai dengan liabilitas tersebut diselesaikan, entitas harus mengukur kembali nilai wajar liabilitas pada setiap akhir periode pelaporan dan pada tanggal penyelesaian, dimana setiap perubahan nilai wajar diakui dalam laporan laba rugi pada periode tersebut. Sedangkan untuk pengukuran transaksi dengan karyawan, instrumen ekuitas yang diberikan diukur pada nilai wajar pada tanggal pemberian. Tanggal pemberian instrumen yang diukur pada nilai wajar diakui setelah vesting period. Untuk transaksi dengan non-karyawan :

Barang atau jasa yang diperoleh entitas diukur pada nilai wajar pada Jika nilai wajar barang atau jasa yang diterima tidak dapat diukur secara

tanggal entitas memperoleh barang atau menerima jasa. handal, maka diukur dengan merujuk pada nilai wajar instrumen ekuitas yang diberikan. LO 4 CHALLENGES FOR ACCOUNTING STANDARD SETTERS Matching Bunyi dari theoretical framework untuk financial statement dapat berarti bahwa antara balance sheet (statement dari financial position) dan income statement mepresentasikan informasi dengan karakteristik dari kerelevansian dan representational faithfulness. Framework bertugas untuk menyediakan definisi dan kriteria pengakuan, untuk meningkatkan konsistensi antara standard. Ditambah lagi, secara spesifik framework mengungkapkan bahwa konsep matching tidak seharusnya diaplikasi pada salah satu cara untuk menizinkan pengakuan terhadap items pada balance sheet yang bertemu dengan definisi dari asset dan liabilities. Conservatism Konsep Matching membutuhkan penilaian yang baik dari keputusan dalam menentukan apakah nilai dari biaya dapat dijalankan untuk masa depan atau pada periode ini. hal ini sangat penting untuk pemintaan akuntan terhadap bukti objektif untuk pengakuan dari revenue, tetapi terdapat kekurangan pada diskusi dari bukti objektif dihubungkan untuk pengakuan ekspense. Satu alasan untuk lebih kurang kebutuhan untuk bukti objective dalam peengakuan ekspense dibanding dengan revenue adalah kovensi dari conservatism. konvensi memanggil untuk mencatat dari ekspense, losses dan liabilities sesegera mungkin walaupun terdapatbukti yang lemah. Beberapa pendapat yang conservatism didasarkan pada profitability dan reability criteria yang terekspose dalam framework. syarat yang memungkinkan berarti keadaan pada masa yang akan datang seperti pengkonfirman dari loss dan ekspense. ACCOUNTING FOR EXPENSES Jim Martin Pada tahun 2000, Public Oversight Board Panel menemukan terdapat tujuh kesalahan pengungkapan transakasi dan Ekspense merupakan akun yang menempati

peringkat kedua setelah revenue. Sebelum kita melihat kesalahan pencatatan pada akun ekspense mari kita melihat sifat dari ekspense itu sendiri. Ekspense menurut Financial Acounting Standard Borad (FASB) didefinisikan sebagai arus keluar dari penggunaan aset atau liabilities atau keduanya selama sebuah periode dari pengiriman atau produksi barang, atau menyajikan servis. atau bisa dikatakan bahwa ekspense adalah bentuk pengorbanan untuk mendapatkan revenue dimana pengorbanan tersebut tidak mempunyai future benefit. Bentuk pengorbanan ini dapat berupa pengeluaran kas seperti pembayaran tagihan listrik bulanan atau perjanjaian akan membayar hutang dari produk yang telah dibeli. Seorang akuntan disini haruslah dapat menidentifikasi mana pengorbanan yang memiliki future benefit atau yang tidak seperti pembelian peralatan dimana terdapat dua hal yakni ketika peralatan tersebut masih mempunyai future benefit seorang akuntan tidaklah harus mencatatnya sebagai ekspense akan tetapi berbeda pula ketika peralatan tersebut sudah tidak mempunyai future benefit sehingga akuntan tersebut haruslah mencatatnya sebagai ekspense. pada beberapa kasus dimana terdapat pengorbanan yang memiliki manfaat untuk kedepannya sehingga akuntan haruslah membagi porsi dari pengorbanan tersebut dan kemudian menunda nilai tersebut untuk periode berikutnya. Tipe Kesalahan dalam Expense
-

Improper deferral of ekspenditures Kesalahan ini terjadi ketika perusahaan banyak yang tidak mencatat pengorbanan yang tidak memiliki future benefit sebagai expense. kesalahan yang sering terjadi yakni pada perhitungan operating expense. operating ekspense terdiri dari tiga kategori yakni: selling, general and administrative (G&A) dan research & development (R&D). Pengecualian untuk beberapa kasus dimana seperti advertising Expense yang mempunyai future benefit untuk penjualan kepada konsumen. hal ini dapat disikapi yakni dengan melihat tingkatan dari future benefit yang perusahaan akan terima. terdapat situasi dimana advertising expense dapat ditunda seperti:
a. ketika advertising terjadi diperuntukan untuk mendapatkan penjualan

kepada konsumen.
b. biaya yang ditimbulkan kita lihat dapat memberikan manfaat.

Berdasarkan SOP 93-7 dimana penundaan advertising cost harus mengikuti recoverability test.
-

Impairment not recognized

Kesalahan yang terjadi yang berikutnya untuk expense adalah tidak dicatatnya sebagai expense untuk impairment ketika impairment loss terjadi. hal ini menimbulkan nilai overstated pada aset tersebut yang ternyata pengorbanan yang perusahaan ketika membeli aset tersebut dimana pengorbanan tersebut tidak memiliki future benefit lagi.
-

Netting and camouflaging expense. Hal ini terjadi ketika nilai expense salah diklasifikasikan sehingga expense tidak secara eksplisit tertera dalam pengurang income statement tetapi langsung atau tidak terlihat dalam income statement dimana langsung mengurangi gain yang didapat sehingga gain tersebut kecil dengan expense yang kecil pula.

Improper charges to reserve accounts Beberapa perusahaan melanggar GAAP dengan mengatur resere yang tidak perlu untuk melindungi tak diperinci.GAAP melarang sebuah bisnis dari membentuk reserve account untuk mengeneralkan sesuatu. GAAP juga mensyaratkan perusahaan untuk secara langsung memperbaiki besaran dari reserve kedalam pendapatan walaupun itu jelas.