Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH ANALISIS SOSIAL PADA SUKU TERASING

Disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Kebidanan Komunitas

OLEH : KELOMPOK 2

1. Yuanita Arisa Wandani 2. Raden Maria Veronika W 3. Shelia Fahmi Hidayati 4. Ni Made Ari Febriyanti 5. Yunita Miftahul Masita 6. Rosyida Aisyah 7. Ulfa Nurrita Karisma 8. Ulfa Nurani 9. Linda sri Kusumawati

(1102410002) (1102410006) (1102410010) (1102410015) (1102410019) (1102410023) (1102410027) (1102410031) (1102410035)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG PROGRAM STUDI DIV BIDAN PENDIDIK 2012

KATA PENGANTAR

Segala Puji bagi Tuhan YME atas segala ramat, karunia serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul Analisis Sosial Pada Suku Terasing. Pada kesempatan ini penulis turut mengucapkan terima kasih sebesarbesarnya kepada : 1. Temu Budiarti, S.Pd., M.Kes selaku Ketua Jurusan Kebidanan 2. Sri Rahayu, S.Kep.Ns, M.Kes selaku Ketua Program Studi D-IV Kebidanan Malang 3. Rita Yulifah, S.Kp., M.Kes selaku dosen mata kuliah Kebidanan Komunitas 4. Semua pihak yang membantu dalam pengerjaan makalah ini

Penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna kesempurnaan penulisan makalah selanjutnya. Atas kritik dan saran penulis mengucapkan banyak terima kasih.

Malang, 15 April 2012

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar..........................................................................................................i Daftar Isi..................................................................................................................ii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1 1.2 Tujuan.....................................................................................................2 1.3 Manfaat ...................................................................................................2 BAB II TINJAUAN TEORI 2.1 Konsep Gender ......................................................................................3 2.2 Konsep Kesehatan Reproduksi................................................................ 2.3 Konsep Analisi Sosial ............................................................................ 2.4 Konsep Suku Terasing ..........................................................................3 2.5 Konsep Incest ........................................................................................4 BAB III PEMBAHASAN 3.1 Analisis Sosial suku Polahi ...................................................................8 3.3 Solusi alternatif permasalahan suku Polahi ..........................................9 BAB IV Penutup 4.1 Kesimpulan ..........................................................................................10 4.2 Saran ........................................................................................................ DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................11

ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Badan Pusat Statistik (BPS) dalam sensus penduduk 2010 mendata ada 10.030 orang suku terasing di Indonesia. Mereka ini tersebar di delapan provinsi di Indonesia. Suku terasing yang dimaksud BPS adalah kelompok atau komunitas masyarakat yang sifat kehidupannya terisolasi dibanding masyarakat secara umum. Mereka teridentifikasi dalam suatu kelompok berbeda-beda dan memiliki batas wilayah dengan sifat sendiri-sendiri. Data yang diperoleh BPS diantaranya adalah suku terasing di Sumatera Barat sebanyak 70 orang, Jambi 3.198 orang, Kalimantan Timur 15 orang, Sulawesi Tengah 4.516 orang, Maluku 1.087 orang, Maluku Utara 27 orang, Papua 865 orang dan Papua Barat 252 orang. Salah satu suku terasing di Indonesia yang mendapat sorotan adalah suku Polahi di daerah Gorontalo. Masyarakat suku Polahi merupakan sebuah komunitas/populasi yang menarik perhatian seiring dengan perkembangan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia. Karena mereka hidup di hutan-hutan gunung Boliyohuto dengan hidup secara berkelompok dan mempunyai adat istiadat yang unik dan khas. Suku polahi ini bahkan jauh lebih tertinggal daripada suku-suku yang masih dianggap primitif lainnya di Indonesia. Hal ini disebabkan karena kondisi geografis yang terdiri dari hutan-hutan sehingga sulit dijangkau. Dengan adanya kondisi tersebut, maka akses terhadap pendidikan maupun kesehatan juga belum masuk dalam suku tersebut Suku Polahi tak mengenal sekolah dan fasilitas kesehatan modern. Mereka terbelakang, tak hanya karena keterpencilan dan tak

mempunyai pendidikan formal, bahkan dalam kebudayaan mereka tak dikenal hitung-menghitung dan tak dikenal hari. Yang paling unik dari suku ini adalah sistem perkawinan. Mereka mungkin satu satunya suku di indonesia yang menganut perkawinan sedarah, dimana jika satu keluarga memiliki anak laki laki dan perempuan maka

mereka otomatis akan di nikahkan dengan saudaranya tersebut. Jadi anak anak mereka sekaligus menjadi menantu mereka. Bahkan sang ibu bisa menikahi anak lelakinya dan sang ayah bisa menikahi anak perempuannya.

Maka dari itu, pada makalah ini akan dibahas tentang analisis sosial pada suku Polahi dan ditinjau dari aspek gender dan kesehatan reproduksi.

1.2 TUJUAN 1. Mengidentifikasi permasalahan pada suku Polahi dan 2. Mengetahui konsep suku terasing 3. Mengetahui konsep gender 4. Mengetahui konsep kesehatan reproduksi 5. Mengetahui konsep analisis sosial 6. Menganalisis permasalahan pada suku Polahi berdasarkan analisis sosial 7. Mengetahui solusi pada permasalahan yang terjadi pada suku Polahi

1.3 MANFAAT Makalah tentang Analisis Sosial Suku Terasing ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pemahaman mahasiswa tentang fakta permasalahan yang terjadi pada suku terasing (suku polahi) serta solusi dari masalah tersebut .

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Gender 1. Pengertian Gender adalah perbedaan peran, fungsi, dan tanggungjawab antara laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan jaman. 2. Bentuk-bentuk diskriminasi gender a. Sterotype Pemberian citra baku atau label/cap kepada seseorang atau kelompok yang didasarkan pada suatu anggapan yang salah atau sesat b. Kekerasan Tindak kekerasan, baik fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh salah satu jenis kelamin atau sebuah institusi keluarga, masyarakat atau negara terhadap jenis kelamin lainnya. c. Marjinalisasi Suatu proses peminggiran akibat perbedaan jenis kelamin yang mengakibatkan kemiskinan d. Subordinasi Suatu penilaian atau anggapan bahwa suatu peran yang dilakukan oleh satu jenis kelamin lebih rendah dari yang lain. e. Beban Ganda adalah adanya perlakuan terhadap salah satu jenis kelamin dimana yang bersangkutan bekerja jauh lebih banyak dibandingkan dengan jenis kelamin lainnya 2.2 Konsep Kesehatan Reproduksi 1. Pengertian kesehatan reproduksi Menurut ICPD Cairo (1994) Kesehatan reproduksi adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang utuh dan bukan hanya tidak adanya penyakit dan kelemahan, dalam segala hal yang berhubungan dengan system reproduksi dan fungsi-fungsi serta proses-prosesnya (Suryati dan Anna, 2009).

Menurut WHO kesehatan reproduksi adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi, serta prosesnya (Suryati dan Anna, 2009). 2. Tujuan kesehatan reproduksi a. Tujuan umum Meningkatkan kemandirian dalam mengatur fungsi dan proses

produksinya, termasuk kehidupan seksualitasnya, hak-hak reproduksi dapat terpenuhi. b. Tujuan khusus 1) Meningkatkan kemandirian wanita dalam memutuskan peran dan fungsi reproduksinya 2) Meningkatkan hak dan tanggung jawab sosial wanita dalam menentukan kapan hamil, jumlah dan jarak antara kelahiran 3) Meningkatkan peran dan tanggung jawab sosial laki-laki terhadap akibat dari perilaku seksnya 4) Dukungan yang menunjang wanita untuk membuat keputusan yang berkaitan dengan proses reproduksinya 3. Sarana kesehatan reproduksi a. Remaja (pubertas) 1) Diberi penjelasan tentang masalah kesehatan reproduksi yang diawali dengan pemberian pendidikan seks 2) Membantu remaja dalam menghadapi menarch secara fisik, psikis, sosial, dan higienis sanitasinya b. Wanita 1) WUS (wanita usia subur) a) Penurunan 33 % angka prevalensi anemia pada wanita usia 15 sampai 45 tahun b) Peningkatan jumlah yang bebas dari kecacatan sebesar 15 % 2) PUS (pasangan usia subur) a) Terpenuhinya kebutuhan nutrisi dengan baik

b) Terpenuhinya kebutuhan ber-KB c) Penurunan angka kematian ibu hingga 50% d) Penurunan proporsi BBLR menjadi < 10% e) Pemberantasan neonatorum f) Semua individu berpasangan mendapatkan akses informasi dan penyuluhan pencegahan kehamilan yang terlalu dini, terlalu dekat jaraknya, terlalu tua, dan terlalu banyak anak c. Lansia 1) Proporsi yang memanfaatkan pelayanan kesehatan untuk pemeriksaan dan pengobatan penyakit menular seksual minimal 70% 2) Pemberian makanan yang banyak mengandung zat-zat kalsium untuk mencegah osteoporosis 3) Memberi persiapan secara benar dan pemikiran yang positif dalam menyongsong masa menopause 4. Ruang lingkup kesehatan reproduksi a. Gangguan sistem reproduksi b. Gender dan seksualitas c. Kehamilan tidak diinginkan d. Kekerasan dan perkosaan terhadap perempuan 5. Faktor yang mempengaruhi kesehatan reproduksi a. Status kesehatan b. Tingkat pendidikan c. Praktek budaya d. Sarana dan prasarana kesehatan e. Pelayanan kesehatan 6. Indikator kesehatan reproduksi di Indonesia a. Angka kematian ibu b. Tingkat aborsi c. Anemia kehamilan d. Infertiliti e. Kematian neonatal

f. Penyakit hubungan seksual 7. Hak-hak reproduksi Hak :

kekuasaan untuk berbuat sesuai dengan peraturan, undang-undang dan ketentuan hukum Hak reproduksi :

hak asasi yang telah diakui dalam hukum internasional dan dokumen asasi internasional untuk meningkatkan sikap saling menghormati secara setara dalam hubungan perempuan dan laki-laki, meliputi: a. Hak mendapatkan informasi pendidikan dan kesehatan reproduksi b. Hak mendapatkan pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi yang berkualitas c. Hak untuk bebas membuat keputusan tentang hal yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi tanpa paksaan, diskriminasi serta kekerasan d. Hak kebebasan dan tanggung jawab dalam menentukan jumlah dan jarak waktu memiliki anak e. Hak untuk hidup f. Hak atas kebebasan dan keamanan berkaitan dengan kehidupan reproduksi g. Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakukan buruk termasuk perlindungan dari perkosaan, kekerasan, penyiksaan dan pelecehan seksual h. Hak mendapatkan manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan tentang kesehatan reproduksi i. Hak atas kerahasiaan pribadi dengan kehidupan reproduksinya. j. Hak membangun dan merencanakan keluarga k. Hak kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi l. Hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi dalam kehidupan berkeluarga dan kehidupan reproduksi

2.3 Konsep Analisis Sosial 1. Pengertian Analisis Sosial Analisis Sosial (ansos) merupakan salah satu metodologi yang dikembangkan untuk mengetahui dan mendalami realitas sosial. Holland-Henriot, mendefinisikan analisis social sebagai usaha memperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang sebuah situasi social dengan menggali hubungan-hubungan histories dan strukturalnya Analisis sosial merupakan usaha untuk menganalisis sesuatu keadaan atau masalah sosial secara objektif. Analisis sosial diarahkan untuk memperoleh gambaran lengkap mengenai situasi sosial dengan menelaah kaitan-kaitan histories, structural dan konsekuensi masalah. Analisis sosial akan mempelajari struktur sosial, mendalami fenomena-fenomena sosial, kaitan-kaitan aspek politik, ekonomi, budaya dan agama. Sehingga akan diketahui sejauh mana terjadi perubahan sosial, bagaimana institusi sosial yang menyebabkan masalah-masalah sosial, dan juga dampak sosial yang muncul akibat masalah sosial 2. Langkah-langkah Analisis Sosial Proses analisis sosial meliputi beberapa tahap antara lain: a. Memilih dan menentukan objek analisis Pemilihan sasaran masalah harus berdasarkan pada pertimbangan rasional dalam arti realitas yang dianalsis merupakan masalah yang memiliki signifikansi sosial dan sesuai dengan visi atau misi organisasi. b. Pengumpulan data atau informasi penunjang Untuk dapat menganalisis masalah secara utuh, maka perlu didukung dengan data dan informasi penunjang yang lengkap dan relevan, baik melalui dokumen media massa, kegiatan observasi maupun investigasi langsung dilapangan. Re-cek data atau informasi mutlak dilakukan untuk menguji validitas data. c. Identifikasi dan analisis masalah Merupakan tahap menganalisis objek berdasarkan data yang telah dikumpulkan. Pemetaan beberapa variable, seperti keterkaitan aspek

politik, ekonomi, budaya dan agama dilakukan pada tahap ini. Melalui analisis secara komphrehensif diharapkan dapat memahami subtansi masalah dan menemukan saling keterkaitan antara aspek. d. Mengembangkan presepsi Setelah di identifikasi berbagai aspek yang mempengaruhi atau terlibat dalam masalah, selanjutnya dikembangkan presepsi atas masalah sesuai cara pandang yang objektif. pada tahap ini akan muncul beberapa kemungkinan implikasi konsekuensi dari objek masalah, serta pengembangan beberapa alternative sebagai kerangka tindak lanjut. e. Menarik kesimpulan Pada tahap ini telah diperoleh kesimpulan tentang; akar masalah, pihak mana saja yang terlibat, pihak yang diuntungkan dan dirugikan, akibat yang dimunculkan secara politik, sosial dan ekonomi serta paradigma tindakan yang bisa dilakukan untuk proses perubahan sosial. 2.4 Konsep Suku Terasing Suku terasing adalah konsep masyarakat terasing yang bersumber dari prinsip berlaku untuk semua, yakni definisi menurut SK Menteri Sosial No. 5 Tahun 1994, bahwa: Masyarakat terasing adalah kelompokkelompok masyarakat yang bertempat tinggal atau berkelana di tempattempat yang secara geografik terkencil terisolir dan secara sosial budaya terasing dan atau masih terbelakang dibandingkan dengan masyarakat bangsa Indonesia pada umumnya. (Direktorat Bina Masyarakat Terasing Depsos RI, 1997). Definisi tersebut intinya menjelaskan kondisi masyarakat yang terisolasi secara teritorial maupun sosial budaya dari realitas kehidupan bangsa Indonesia secara umum. Masyarakat yang memiliki ciriciri tersebut dinyatakan terasing secara struktural. Oleh sebab itu, mereka harus dikeluarkan dari posisi keterasingan itu melalui pembinaan, yakni pembinaan yang seluruh proses teknis maupun nonteknisnya telah baku dan berlaku kepada semua jenis masyarakat terasing. 2.5 Konsep Incest 1. Pengertian Incest

Incest berasal dari kata bahasa latin cestus yang berarti murni. Jadi incestus berarti tidak murni. Incest adalal hubungan badan atau hubungan seksula yang teradi antara dua orang yang mempunyai ikatan pertalian darah atau istilah genetiknya in breeding. Incest menunjukkan pada hubungan seksual antara pria dan wanita yang masih bersaudara atau berkerabat, antara ayah dengan putrinya, anatara kakek dengan cucunya, antara ibu dengan anak lelakinya. Dalam hal ini hubungan seksual sendiri ada yang bersifat sukarela dan ada yang bersifat paksaan Istilah incest juga dianggap suatu hubungan melalui jalur pernikahan antara sesama anggota keluarga/pernikahan sedarah dimana secara hukum atau adat istiadat itu dilarang. Incest sejak dulu memang dianggap suatu hal yang tidak patut untuk dilakukan dalam kehidupan mayarakat dunia pada umumnya. Bahkan di berbagai Negara larangan incest sydah di tetapkan secara hokum tertulis. Incest juga bisa terjadi dalam hubungan seksual yang dilakukan oleh orang-orang, yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali, namun larangan tersebut, disebabkan karena adanya hubungan perkawinan yang mengikat antara sepasang suami istri. Ikatan perkawinan itulah yang menjadikan hubungan antara masing-masing keluarga pasangan menjadi hubungan keluarga seperti pada hubungan keluarga kandung. Seorang kakek tidak dapat melakukan hubungans eksual dengan cucu tirinya, seorang ayah tidak dapat melakukan hubungan seksual dengan anak tirinya, seorang ibu tidak dapat melakukan hubungan seksual dengan anak tirinya demikian juga anatara saudara tiri. 2. Faktor-faktor penyebab a. Faktor Internal 1. Faktor biologis : yaitu dorongan sseksual yang terlalu besara dan ketidakmampuan pelaku mengendalikan nafsu seksnya. 2. Paikologis : pelaku memiliki kepribadian menyimpang, seperti minder, tidak percaya diri, kurang pergaulan atau cenderung menutup diri dari

lingkungan pergaulan, menarik diri dari pergaulan social dengan masyarakat dan sebagainya. b. Faktor eksternal 1. Ekonomi keluarga : masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah atau mempunyai keterbatasan pendapatan untuk bermain diluar lingkungan mereka, sehingga mempengaruhi cara pandang dan mempersempit ruang lingkup pergaulan mereka. 2. Tingkat pendidikan : Tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah sehingga pola berfikir terbatas. 3. Tingkat pemahaman agama serta penerapan akidah serta norma agama yang tidak mereka ketahui 3. Dampak Incet pada segi kesehatan Peristiwa incest apalagi perkosaan incest dapat menyebabkan rusaknya alat reproduksi anak dan resiko tertular penyakit menular seksual. Korban dan pelaku menjadi stress yang akan merusak kesehatan kejiwaan mereka. Dampak lainnya dari hubungan incest adalah kemungkinan menghasilkan keturunan yang lebih banyak membawa gen homozygot. Beberapa penyakit yang diturunkan melalui gen homozygot resesif yang dapat menyebabkan kematian pada bayi yaitu fatal anemia, gangguan penglihatan pada anak umur 4-7 tahun yang bisa berakibat buta, albino, polydactyl dan sebagainya. Pada perkawinan sepupu yang mengandung gen albino maka kemungkinan keturunan albino lebih besar 13,4 kali dibandingkan perkawinan biasa. Kelemahan genetik lebih berpeluang muncul dan riwayat genetik yang buruk akan bertambah dominan serta banyak muncul ketika lahir dari orang tua yang memiliki kedekatan keturunan.

10

BAB III PEMBAHASAN

2.1 Uraian Kasus Suku Terasing Polahi Di zaman modern seperti sekarang ini ternyata masih ada kelompok masyarakat yang memiliki pola kehidupan seperti pada zaman purba. Di pedalaman hutan Boliyohato, Gorontalo hidup beberapa kelompok

masyarakat nomaden yang lebih dikenal dengan sebutan suku Polahi. Konon orang Polahi adalah pelarian pada zaman Belanda, yang katanya untuk menghindari pembayaran pajak. Jumlah mereka

seluruhnya sekitar 500 orang, kira-kira 200 orang di Kecamatan Paguyaman dan 300 orang di Kecamatan Suwawa. Mereka tinggal di hutan dalam kelompok-kelompok kecil. Untuk mencapai kelompok tersebut ditempuh dengan berjalan kaki naik gunung sekitar tujuh jam. Departemen Sosial di tingkat Kabupaten Gorontalo mengidentifikasi masyarakat Polahi dengan Kelompok 9, Kelompok 18, Kelompok 21, Kelompok 70, dan sebagainya, berdasarkan jumlah anggota kelompok dalam satu "kampung". Suku polahi ini bahkan jauh lebih tertinggal daripada suku-suku yang masih dianggap primitive lainnya di Indonesia. Rata rata suku primitive yang lain setidaknya sudah mulai hidup menetap dan mulai terbuka dengan kehidupan luar. Literatur mengenai masyarakat ini tak ada. Suku polahi ini memiliki pola hidup berpindah-pindah (nomaden) dari satu hutan ke hutan yang lain. Mereka juga belum mengenal pakaian, agama bahkan mereka juga tak mengenal hari. Bahasanya menggunakan dialek Gorontalo, dan menganut agama tradisional. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka biasanya berburu babi hutan, rusa dan ular. Selain itu mereka juga mengkonsumsi dedaunan, umbi umbian dan akar rotan sebagai makanan sehari hari. Untuk memasak mereka menggunakan batang bambu sebagai wadah. Cara memasaknya juga amat sangat sederhana yaitu dengan memasukkan semua bahan makanan kedalam lubang bambu lalu membakarnya diatas perapian hingga batang bamboo tadi

11

retak atau pecah sebagai tanda bahwa makanan telah selesai di masak. Makanan tersebut 100% asli tanpa bumbu apapun karena mereka juga belum mengenal bumbu bumbuan. Hal unik lainnya dari suku polahi adalah cara berpakaian. Suku polahi menggunakan cawat yang mereka buat dari daun yang diikat menggunakan tali dari kulit kayu. Cawat ini juga digunakan oleh kaum perempuan. Mereka belum mengenal penutup dada alias bra. Jadi kaum perempuan suku polahi dalam kesehariannya adalah toples alias setengah bugil. Dalam kesehariannya mereka menghabiskan seluruh waktu mereka di dalam hutan dengan hanya mengandalkan gubuk kecil beratapkan dedaunan tanpa dinding sebagai tempat peristirahatan sementara mereka. Mereka membuat dapur yang diletakkan ditengah gubuk yang berfungsi untuk penghangat. Suku Polahi tak mengenal sekolah dan fasilitas kesehatan modern. Mereka terbelakang, tak hanya karena keterpencilan dan tak

mempunyai pendidikan formal, bahkan dalam kebudayaan mereka tak dikenal hitung-menghitung dan tak dikenal hari. Atas bantuan para peneliti, didapatkan informasi bahwa angka maksimum yang dapat mereka hitung adalah empat. Selebihnya adalah "banyak". Yang paling unik dari suku ini adalah system perkawinan. Mereka mungkin satu satunya suku di indonesia yang menganut perkawinan sedarah, dimana jika satu keluarga memiliki anak laki laki dan perempuan maka mereka otomatis akan di nikahkan dengan saudaranya tersebut. Jadi anak anak mereka sekaligus menjadi menantu mereka. Bahkan sang ibu bisa menikahi anak lelakinya dan sang ayah bisa menikahi anak perempuannya. Contohnya adalah Sesepuh pada kelompok

9 yaitu seorang kakek dengan tiga bersaudara, dua saudaranya itu perempuan. Dia mengawini kedua saudara kandungnya ini. Istrinya yang satu tak mempunyai anak, sedangkan satu lagi mempunyai enam anak, dua laki-laki dan empat perempuan. Anaknya mengawini

anaknya, sehingga anaknya menjadi menantunya. Dengan mudah dapat

12

dibayangkan betapa beratnya tantangan untuk memajukan masyarakat ini, mengintegrasikannya dengan pembangunan di Indonesia. 2.2 Analisis Sosial 1. Rumusan masalah Adat istiadat perkawinan sedarah (incest) pada suku polahi 2. Konsep teoritis suku terasing (polahi)incestfaktor-faktor yang mempengaruhi 3. Struktur kunci yang mempengaruhi adanya incest Kepala suku Pemerintah

4. Pertanyaan dalam konteks masalah incest a. Bagaimana struktur demografi suku terasing polahi? b. Apakah suku polahi mendapatkan berbagai akses meliputi: pendidikan dan kesehatan? 5. Data tentang kejadian incest pada suku terasing polahi Jumlah suku Polahi seluruhnya sekitar 500 orang, kira-kira 200 orang di Kecamatan Paguyaman dan 300 orang di Kecamatan Suwawa. Seluruh masyarakat suku Polahi menganut perkawinan sedarah (100%). Mereka mungkin satu satunya suku di indonesia yang menganut perkawinan sedarah, dimana jika satu keluarga memiliki anak laki laki dan perempuan maka mereka otomatis akan di nikahkan dengan saudaranya tersebut. Jadi anak anak mereka sekaligus menjadi menantu mereka. Bahkan sang ibu bisa menikahi anak lelakinya dan sang ayah bisa menikahi anak perempuannya 6. Penyusunan model untuk mengkaji relevansi 1. Perencanaan a. Mempelajari struktur wilayah melalui peta b. Mempelajari kebudayaan suku polahi terkait dengan incest 2. Pelaksanaan a. Melakukan survei ke wilayah suku polahi secara langsung (sensus penduduk)

13

b. Melakukan wawancara dengan kepala suku c. Melakukan observasi mengenai kesehatan masyarakat suku polahi 7. Korelasi dan keabsahan Untuk menemukan korelasi dan keabsahan dapat dilakukan dengan cara menganalisis data yang ada meliputi kejadian inces dan faktor yang mempangaruhinya jika hasilnya ada korelasi, selanjutnya bisa

menentukan strategi pemecahan masalah sesuai hasil analisa. 8. Menggali masalah lain yang muncul Berdasarkan analisa sosial mengenai permasalahan pada Suku Terasing, di peroleh delapan permasalahan antara lain : keterbelakangan pendidikan, keadaan geografis yang tidak mendukung, persoalan ekonomi, tingkat kesadaran masyarakat untuk hidup sehat masih rendah, tidak ada akses kesehatan maupun tenaga kesehatan, kurangnya kebersihan diri dan lingkungan, kondisi rumah yang tidak memenuhi syarat dan masih ada budaya perkawinan sedarah.

2.10 Solusi alternatif dari permasalahan di suku Polahi Berikut ini adalah solusi yang ada di kehidupan suku terasing Polahi 1. Pembangunan jalan serta menyediakan sarana transportasi 2. Pembangunan MCK 3. Pembangunan sekolah-sekolah 4. Pembangunan pos kesehatan 5. Bekerjasama dengan tokoh masyarakat untuk memberikan informasi melalui kepala suku 6. Bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat untuk menempatkan tenaga kesehatan di daerah tersebut

14

BAB IV PENUTUP

4.1. Kesimpulan Dari pembahasan masalah dapat disimpulkan : 1. Suku terasing sangat membutuhkan pelayanan kesehatan yang memadai akan tetapi kendala seperti kesulitan ekonomi, pendidikan yang rendah dan kondisi geografis yang tidak mendukung seringkali menjadi penghalang bagi mereka untuk memperoleh akses tersebut. Untuk mengatasinya diperlukan upaya serius dalam pemerataan pembangunan baik secara fisik maupun non fisik dengan kerja sama lintas sektor dan pemberdayaan masyarakat. 2. Keterbatasan tenaga kesehatan di daerah terpencil juga menjadi isu sentral dalam upaya memberikan pelayanan kesehatan yang memadai bagi suku terasing. Untuk menanggulanginya pemerintah khususnya Dinas

Kesehatan harus bersungguh-sungguh dalam mengelola Sumber Daya Tenaga Kesehatan. Pemerintah juga dapat memberikan beasiswa bagi putra daerah yang ingin melanjutkan pendidikan kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

15

. 2010. Suku polahi. http://id.wikipedia.org/wiki/ diakses tanggal 9 April 2012 .2011. Suku polahi potret suku terasing di indonesia.

http://dasanbaru.wordpress.com. diakses tanggal 9 April 2012 .2012.Suku Terasing di Indonesia Capai 10.030 Orang. reformasi. com. diakses tanggal 9 April 2012 Kumalasari. 2012. Kesehatan Reproduksi. Jakarta : Salemba Medika Romauli, Suryati, dkk. 2009. Kesehatan Reproduksi untuk mahasiswa bidan.Yogyakarta: Nuha Medika Sundari,Sri.2009. Konsep dan Teori Gender. Jakarta: BKKBN http :// cahaya

16