Anda di halaman 1dari 161

xviii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1

Penampang balok komposit

8

Gambar

2.2

Distribusi tegangan plastis

9

Gambar 2.3

Metode transfornasi luasan

11

Gambar

2.4

Penampang kolom komposit

14

Gambar

4.1

Denah tangga

34

Gambar

4.2

Potongan A-A tangga

34

Gambar

4.3

Tampak anak tangga

35

Gambar 4.4

Tampak melintang anak tangga

36

Gambar

4.5

Sketsa pembebanan pelat tangga

37

Gambar 4.6

Sketsa pembebanan balok utama tangga

40

Gambar 4.7

Sketsa bidang momen pada balok tangga

43

Gambar 4.8

Sketsa profil Canal 260.90.10.14

44

Gambar 4.9

Sketsa pembebanan balok penumpu bordes

46

Gambar 4.10 Sambungan balok bordes dengan balok penumpu bordes

48

Gambar 4.11 Sambungan balok tangga dengan balok tumpuan tangga

49

Gambar 4.12 Potongan pelat Atap

52

Gambar 4.13 Potongan plat lantai 1 dan 3 sampai dengan 11

53

Gambar

4.14 Potongan plat lantai 2

55

Gambar 4.15 Potongan plat lantai mesin lift

56

Gambar 4.16 Detail sambungan balok anak dan balok induk

66

Gambar 4.17 Detail plat siku

68

Gambar 4.18 Denah lift

71

Gambar 4.19 Sketsa mekanika pehitungan balok penggantung lift

72

Gambar 4.20 Distribusi tegangan plastis

74

Gambar 4.21 Sketsa mekanika pehitungan balok penumpu lift 78

Gambar 4.22 Distribusi tegangan plastis

80

Gambar

5.1

Pemodelan Struktur

91

Gambar

5.2

Pemodelan Stuktur 3D

92

xx

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Ukuran Minimum Las Sudut

20

Tabel

5.1

Berat Struktur per lantai

90

Tabel

5.2

Nilai Xcr dan Ycr

95

Table 5.3 Eksentrisitas Rencana Bangunan

pp96

Table

5.4

Modal Participating Mass Ratio

99

Tabel 5.5 Selisih Periode antar Mode yang Berdekatan

100

Tabel

5.6

Simpangan

102

Tabel

5.7

Analisa Δs akibat gempa arah x

103

Tabel

5.8

Analisa Δs akibat gempa arah y

103

Tabel 5.9 Analisa Δm akibat gempa arah x

104

Tabel 5.10 Analisa Δm akibat gempa arah y

105

xxii

1

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang

Kota Jakarta merupakan kota metropolitan dengan jumlah penduduk yang sangat padat. Kebutuhan akan sarana dan prasarana pendukung di kota tersebut sangat diperlukan salah satunya adalah kebutuhan akan tempat tinggal yang terus meningkat. Sementara itu ketersediaan lahan untuk tempat tinggal di kota tersebut semakin sempit, hal tersebut menjadi satu alasan banyak bangunan tempat tinggal di kota Jakarta dibangun bertingkat dan salah satunya adalah Tower Albergo. Tower Albergo merupakan satu diantara empat tower The Bellezza, dimana tower tersebut merupakan gedung apartemen yang dibangun dengan menggunakan beton bertulang konvensional. Apartemen tersebut terdiri dari 36 lantai, kemudian direncanakan ulang dengan menggunakan struktur komposit baja beton. Struktur komposit semakin banyak dipakai dalam rekayasa struktur. Dari beberapa penelitian, struktur komposit mampu memberikan kinerja struktur yang baik dan lebih efektif dalam meningkatkan kapasitas pembebanan, kekakuan dan keunggulan ekonomis ( Vebriano Rinaldy & Muhammad Rustailang, 2005 ). Balok komposit merupakan campuran beton dengan baja profil, dimana pada beton bertulang gaya-gaya tarik yang dialami suatu elemen struktur dipikul oleh besi tulangan tetapi pada struktur komposit ini gaya-gaya tarik yang terjadi pada suatu elemen struktur dipikul oleh profil baja. Komposit balok baja dan pelat beton adalah satu usaha dalam mendapatkan suatu konstruksi yang baik dan efisien. Keistimewaan yang nyata dalam sistem komposit adalah (1) Penghematan berat baja, (2) Penampang balok baja yang digunakan lebih kecil, (3) kekakuan lantai meningkat, (4) kapasitas menahan beban lebih besar, (5)

2

Panjang bentang untuk batang tertentu dapat lebih besar ( Charles G. Salmon,1991 ). Pada Tugas Akhir ini menggunakan peraturan SNI 03- 2847-2002 tentang tata cara perhitungan beton untuk bangunan gedung dan SNI 03-1726-2002 tentang tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk bangunan gedung serta SNI 03-1729- 2002 tentang tata cara perencanaan struktur baja.

I.2 Permasalahan

Permasalahan yang ditinjau dalam modifikasi perancangan gedung Apartemen Albergo dengan struktur komposit baja beton, antara lain :

1. Bagaimana menentukan Preliminary design penampang struktur primer dan struktur sekunder.

2. Bagaimana menghitung pembebanan setelah adanya modifikasi.

3. Bagaimana memodelkan dan menganalisa struktur setelah adanya modifikasi.

4. Bagaimana merencanakan sambungan yang memenuhi kriteria perancangan struktur.

5. Bagaimana merencanakan pondasi yang sesuai dengan besar beban yang dipikul dan kondisi tanah di lapangan

6. Bagaimana menuangkan hasil perhitungan dan perencanaan dalam bentuk gambar teknik.

I.3 Tujuan

Adapun tujuan dari modifikasi perancangan gedung Apartemen Albergo dengan struktur komposit baja beton, yaitu :

1. Dapat menentukan Preliminary design penampang struktur primer dan struktur sekunder. 2. Dapat menghitung pembebanan setelah adanya modifikasi.

3

3. Dapat memodelkan dan menganalisa struktur dengan menggunakan program bantu

4. Dapat merencanakan sambungan yang memenuhi kriteria perancangan struktur.

5. Bagaimana merencanakan pondasi yang sesuai dengan besar beban yang dipikul dan kondisi tanah di lapangan

6. Dapat menuangkan hasil perhitungan dan perencanaan dalam bentuk gambar teknik.

I.4 Batasan masalah

1. Perencanaan struktur utama meliputi balok induk dan kolom, struktur sekunder meliputi balok anak, tangga dan pelat lantai.

2. Jumlah lantai yang akan direncanakan ulang menggunakan struktur komposit baja beton sebanyak 12 tingkat.

3. Tidak meninjau dari segi analisa biaya, arsitektural, dan manajemen konstruksi.

4. Meninjau metode pelaksanaan yang hanya berkaitan dengan perhitungan struktur.

5. Analisa struktur menggunakan program bantu ETABS

v9.2.0

I.5 Manfaat

Manfaat yang bisa didapatkan dari modifikasi perencanaan ini adalah :

1. Dapat merencanakan struktur komposit yang memenuhi persyaratan keamanan struktur.

2. Dari perencanaan ini bisa diketahui hal-hal yang harus diperhatikan pada saat perencanaan sehingga kegagalan struktur bisa diminimalisasi.

4

”Halaman ini sengaja dikosongkan”

5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Umum

Baja merupakan salah satu bahan konstruksi yang penting. Sifat-sifatnya yang terutama penting dalam penggunaan dibandingkan terhadap bahan lain yang tersedia dan sifat ductility. Ductility adalah kemampuan untuk berdeformasi secara nyata baik dalam tegangan maupun regangan sebelum terjadi kegagalan (Charles G. Salmon, 1991). Penampang komposit adalah penampang yang terdiri dari profil baja dan beton digabung bersama untuk memikul beban tekan dan lentur. Batang yang memikul lentur umumnya disebut dengan balok komposit sedangkan batang yang memikul beban tekan, tekan dan lentur umumnya disebut dengan kolom komposit. Penampang komposit mempunyai kekakuan yang lebih besar dibandingkan dengan penampang lempeng beton dan gelagar baja yang bekerja sendiri-sendiri dan dengan demikian dapat menahan beban yang lebih besar atau beban yang sama dengan lenturan yang lebih kecil pada bentang yang lebih panjang. Apabila untuk mendapatkan aksi komposit bagian atas gelagar dibungkus dengan lempeng beton, maka akan didapat pengurangan pada tebal seluruh lantai, dan untuk bangunan- bangunan pencakar langit, keadaan ini memberikan penghematan yang cukup besar dalam volume, pekerjaan pemasangan kabel- kabel, pekerjaan saluran pendingin ruangan, dinding-dinding, pekerjaan saluran air, dan lain-lainnya.(Amon, Knobloch &

Mazumder,1999).

Dalam perhitungan perencanaan ada tiga macam metode perhitungan yaitu metode elastis, metode plastis, dan metode LRFD (Load and Resistance Factor Design).

6

a) Metode Elastis

Metode ini berdasarkan beban kerja dimana akibat beban kerja yang direncanakan tegangan yang terjadi harus lebih kecil

dari tegangan yang diijinkan.

Tegangan ijin =

Teganganleleh

FaktorKeamanan

b) Metode Plastis

σ

y

atau w = FK

Metode ini berdasarkan pada sifat baja yang mempunyai sifat daktilitas. Baja akan memiliki cadangan kekuatan di atas kekuatan elastis. Sehingga beban kerja yang direncanakan dikalikan dengan faktor beban dan struktur direncanaan berdasarkan kekuatan keruntuhan (collapse).

LF (Q) R n

c) Metode LRFD

Metode ini berdasarkan pada konsep keadaan batas (limit state), yaitu suatu keadaan dimana struktur atau elemen struktur didesain sampai menunjukkan perilaku tidak dapat berfungsi lagi. Ada dua kategori yang menyatakan keadaan batas (limit state) :

- Strength limit state : kemampuan struktur memikul beban

- Serviceability limit state: kelakuan struktur memikul beban Secara umum perumusan untuk pendekatan desain metode LRFD ini dapat dituliskan sebagai berikut :

2.2 Balok komposit

ϕR n ≥γ o ∑γ i Qi

Balok adalah salah satu diantara elemen-elemen struktur yang paling banyak dijumpai pada setiap struktur. Balok adalah elemen struktur yang memikul beban yang bekerja tegak lurus dengan sumbu longitudinalnya. Hal ini akan menyebabkan balok melentur (Spiegel & Limbrunner,1998).

7

Sebuah balok komposit (composite beam) adalah sebuah balok yang kekuatannya bergantung pada interaksi mekanis diantara dua atau lebih bahan (Bowles,1980). Beberapa jenis balok komposit antara lain :

a. Balok komposit penuh Untuk balok komposit penuh, penghubung geser harus disediakan dalam jumlah yang memadai sehingga balok mampu mencapai kuat lentur maksimumnya. Pada penentuan distribusi tegangan elastis, slip antara baja dan beton dianggap tidak terjadi (SNI 03-1729-2002 Ps.12.2.6).

b. Balok komposit parsial

Pada balok komposit parsial, kekuatan balok dalam memikul lentur dibatasi oleh kekuatan penghubung geser. Perhitungan elastis untuk balok seperti ini, seperti pada penentuan defleksi atau tegangan akibat beban layan, harus mempertimbangkan pengaruh adanya slip antara baja dan beton (SNI 03-1729-2002 Ps. 12.2.7).

c. Balok baja yang diberi selubung beton Walaupun tidak diberi angker, balok baja yang diberi

selubung beton di semua permukaannya dianggap bekerja secara komposit dengan beton, selama hal-hal berikut terpenuhi (SNI 03- 1729-2002 Ps.12.2.8) 1) Tebal minimum selubung beton yang menyelimuti baja tidak kuang daripada 50 mm, kecuali yang disebutkan pada butir ke-2 di bawah.

Posisi tepi atas balok baja tidak boleh kurang daripada 40

mm di bawah sisi atas pelat beton dan 50 mm di atas sisi

bawah plat. 3) Selubung beton harus diberi kawat jaring atau baja tulangan dengan jumlah yang memadai untuk

menghindari terlepasnya bagian selubung tersebut pada

2)

saat balok memikul beban.

8

8 a) Balok Komposit (tanpa deck) b) Balok baja diberi selu bung beton Gambar 2.1 Penampang

a) Balok Komposit (tanpa deck)

8 a) Balok Komposit (tanpa deck) b) Balok baja diberi selu bung beton Gambar 2.1 Penampang

b) Balok baja diberi selubung beton

Gambar 2.1 Penampang balok komposit

2.2.1 Kekuatan Balok Komposit dengan Penghubung Geser

a.Kuat

Lentur

positif

rencana

ditentukan

sebagai

berikut

(LRFD Pasal 12.4.2.1) :

-

untuk

dengan

h 1680 ≤ tw fy
h
1680
tw
fy

φ = 0,85 dan M n dihitung berdasarkan distribusi

b

tegangan plastis pada penampang komposit.

h 1680 - untuk > tw fy dengan φ = 0,9 dan M n dihitung
h
1680
- untuk
>
tw
fy
dengan
φ
= 0,9 dan M n dihitung berdasarkan superposisi
b

tegangan-tegangan elastis yang memperhitungkan pengaruh tumpuan sementara plastis pada penampang komposit.

b.Kuat Lentur negatif rencana

.M n harus dihitung untuk

penampang baja saja, dengan mengikuti ketentuan- ketentuan pada butir 8 (LRFD Pasal 12.4.2.2) :

φ

b

9

2.2.2 Lebar efektif plat lantai :

- Untuk gelagar interior :

b

b E bo (untuk jarak balok yang sama)

L

4

E

- Untuk gelagar eksterior :

L

8

b

b E bo + (jarak dari pusat balok ke pinggir slab)

E

dimana : L

= bentang balok

bo = bentang antar balok

2.2.3 Menghitung momen nominal

Perhitungan Mn berdasar distribusi tegangan plastis :

Perhitungan Mn berdasar distribusi tegangan plastis : Gambar 2.2. Distribusi tegangan plastis (Sumber :Charles G.

Gambar 2.2. Distribusi tegangan plastis (Sumber :Charles G. Salmon, 1996)

Menghitung momen nominal ( Mn ) positif

1. Menentukan gaya tekan ( C ) pada beton :

C = 0,85.f’ c .t p .b eff Menentukan gaya tarik ( T) pada baja :

T = As.fy Dipilih nilai yang terkecil dari kedua nilai di atas

.

10

2. Menentukan tinggi blok tekan effektif :

a =

As fy

.

0,85.

f

'

.

c b

eff

3. Kekuatan momen nomimal :

Mn = C.d atau T.d 1 Bila kekuatan nominal dinyatakan dalam bentuk gaya baja akan diperoleh :

1

Mn =

As fy ⎜ ⎛ d

.

2

+

ts

a 2 ⎞ ⎟

Menghitung momen nominal ( Mn ) negatif. 1.Menentukan lokasi gaya tarik pada balok baja T = n.A r .f yr Pyc = As.fy Gaya pada sayap ; Pf = bf .tf . fy

Gaya pada badan ;

aw

=

Pw

tw fy

.

Pw

=

Pyc

T

2

Pf

2.Menghitung jarak ke centroid d 1 = hr + tb – c

d 2 =

d 3 =

(

Pf

.0,5.

tf

) + (

Pw ( tf

+ 0,5.

a

web

)

d

2

Pf

+

Pw

3.Menghitung momen ultimate :

Mn = T(d 1 + d 2 ) + Pyc(d 3 - d 2 )

11

b efektif btr ts hr GNE GNE komposit GN baja d yt Gambar 2.3. Metode
b efektif
btr
ts
hr
GNE
GNE komposit
GN baja
d
yt
Gambar 2.3. Metode transformasi luasan

Perhitungan Mn berdasar distribusi tegangan elastis :

1. Menghitung nilai transformasi beton ke baja

Ec

=

4700 .

Es

n

MpaMenghitung nilai transformasi beton ke baja Ec = 4700 . Es n = 200000 Mpa =

= 200000 Mpa

=

Es

Ec

untuk beton normal.

b tr

=

b

eff

n

= 2. Menentukan letak garis netral penampang transformasi (dimomen ke ambang atas)

Atr

btr . ts

GNE =

A

ts

+ ⎜

A

+

d ⎞ ⎞ ⎟

tr

.

2

s

.

⎛ ⎜ ts

 

2

 

(

A

tr

+

A

)

 
 

s

3. Menghitung momen inersia penampang transformasi

It =

b

tr

. (ts)

3

+ A

G NE

ts

2

+

Ix

+

A

⎛ ⎜ ⎛ d

 

12

tr

2

s

2

+ ts

+

h

r ⎟−

NE

G

2

4. Menghitung modulus penampang transformasi

yc

= GNE

=

yt

d + ts + hr - GNE

12

S tr.c

=

I tr

yc

dan

S tr.t

=

I tr

yt

5. Menghitung momen ultimate Kapasitas momen positif penampang balok komposit penuh digunakan dari nilai yang terkecil dari :

Mn Mn Jadi : Mu

2

= = . Mn

1

0,85 . fc’ . n . S tr.c fy . S tr.t

2.2.4 Penghubung Geser Kekuatan penghubung geser jenis paku (LRFD Pasal 12.6.3)

Qn = 0,5.Asc.

⎛ ⎞ ⎜ fc'.Ec .rs ≤ Asc.fu ⎜ ⎜ ⎟ ⎟ ⎟ ⎟ ⎜ ⎝
fc'.Ec .rs ≤ Asc.fu
⎜ ⎝

Dimana : rs untuk balok tegak lurus balok

rs =

0.85 ⎛ wr ⎞ ⎛ Hs ⎞ * ⎜ ⎟ * − 1 ⎟≤ Nr
0.85
⎛ wr ⎞ ⎛ Hs ⎞
*
*
− 1 ⎟≤
Nr
hr
⎠ ⎝ hr
1

rs untuk balok sejajar balok

rs = 0.6*

wr ⎞ ⎛ Hs

*

1⎟≤ 1

hr

hr

:

:

Nr

= jumlah stud setiap gelombang

Hs

= tinggi stud

Hr

= tinggi bondek

Wr

= lebar effektif bondek

Asc

= Luas penampang shear connector

fu

= Tegangan putus penghubung paku/stud

Qn

= Kuat nominal geser untuk penghubung geser

Jumlah

penghubung

geser

(shear

connector)

yang

dibutuhkan

yaitu : n =

C

Qn

13

2.2.5 Kontrol lendutan (Deflection)

Batasan lendutan atau deflection pada biaya telah diatur didalam SNI 03-1729-2002. Lendutan diperhitungkan berdasarkan hal-hal sebagai berikut :

Lendutan yang besar dapat mengakibatkan rusaknya barang- barang atau alat-alat yang didukung oleh balok tersebut. Penampilan dari suatu struktur akan berkurang dari segi estetika dengan lendutan yang besar. Lendutan yang terlalu besar akan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi penghuni banguna tersebut.Perhitungan lendutan pada balok berdasarkan beban kerja yang dipakai di dalam perhitungan struktur, bukan berdasar kan beban berfaktor. Besar lendutan dapat dihitung dengan rumus :

ƒ

max

=

5.

ql

4

384.

E I

.

untuk beban terbagi merata, dan

ƒ Pl

max

=

3

48.

E . I

untuk beban terpusat di tengah bentang

14

2.3 Kolom Komposit

Kolom komposit didefinisikan sebagai “ kolom baja yang dibuat dari potongan baja giling (rolled) built-up dan di cor di dalam beton struktural atau terbuat dari tabung atau pipa baja dan diisi dengan beton struktural (Salmon & Jonson, 1996).

Ada dua tipe kolom komposit, yaitu :

Kolom komposit yang terbuat dari profil baja yang diberi selubung beton di sekelilingnya (kolom baja berselubung beton).

Kolom komposit terbuat dari penampang baja berongga (kolom baja berintikan beton).

dari penampang baja berongga (kolom baja berintikan beton). Profil Baja dibungkus beton Pipa baja O didisi

Profil Baja dibungkus beton

(kolom baja berintikan beton). Profil Baja dibungkus beton Pipa baja O didisi beton Gambar 2.4. Penampang

Pipa baja O didisi beton

Gambar 2.4. Penampang kolom komposit

Kriteria untuk kolom komposit bagi komponen struktur tekan (SNI 03-1729-2002 Ps.12.3.1) :

Luas penampang profil baja minimal sebesar 4% dari luas penampang komposit total. 1. Selubung beton untuk penampang komposit yang berintikan baja harus diberi tulangan baja longitudinal dan tulangan pengekang lateral.

15

2. Tulangan baja longitudinal harus menerus pada lantai struktur portal, kecuali untuk tulangan longitudinal yang hanya berfungsi memberi kekangan pada beton.

3. Jarak antar pengikat lateral tidak boleh melebihi 2/3 dari dimensi terkecil penampang kolom komposit. Luas minimum penampang tulangan transversal (atau lonitudinal) terpasang. Tebal bersih selimut beton dari tepi terluar tulangan longitudinal dan transveersal minimal sebesar 40 mm;

4. Mutu beton yang digunakan tidak lebih 55 Mpa dan tidak kurang dari 21 Mpa untuk beton normal dan tidak kurang dari 28 Mpa untuk beton ringan.

5. Tegangan leleh profil dan tulangan baja yang digunakan untuk perhitungan kekuatan kolom komposit tidak boleh lebih dari 380 Mpa;

Tebal minimum dinding pipa baja atau penampang baja

untuk setiap sisi

berongga yang diisi beton adalah b

selebar b pada penampang persegi dan D fy / 8E untuk penampang bulatyang mempunyai diameter luar D.

fy / 3E

bulatyang mempunyai diameter luar D. f y / 3 E 2.3.1 Kuat rencana kolom komposit (SNI
bulatyang mempunyai diameter luar D. f y / 3 E 2.3.1 Kuat rencana kolom komposit (SNI
bulatyang mempunyai diameter luar D. f y / 3 E 2.3.1 Kuat rencana kolom komposit (SNI

2.3.1 Kuat rencana kolom komposit (SNI 03-1729-2002 Ps. 12.3.2)

Kuat rencana kolom komposit yang menumpu beban aksial adalah ø c N n dengan ø c = 0,85

Nn = As fcr dan fcr =

fmy

ω

untuk

untuk

λr 0,25

0,25 λr 1,2

maka ω = 1

maka

ω

=

1,43

1,6

0,67

λc

untuk

λr 0,25

maka

ω = 1,25λc

dengan ,

2

16

kcL fmy λ c = r π Em m ⎛ A ⎞ ⎛ A ⎞
kcL
fmy
λ c =
r
π
Em
m
⎛ A ⎞
⎛ A ⎞
r
c
fmy = fy +
c
fyr ⎜
+
c
fc' ⎜
1
2
A
A
⎝ ⎜
s ⎠
⎝ ⎜
s ⎠

E

E

m =

E

+

c E

3

c = 0,041

w

1,5

c

A

s

⎜ ⎜

c

A

f c '
f c
'

Keterangan :

A

A

E

E

E

s

r

c

m

f cr

f

y

f

y

adalah luas penampang beton, mm 2

adalah luas penampang tulangan longitudinal, mm 2

adalah modulus elastis baja, MPa

adalah modulus elastisitas beton, MPa

adalah modulus elastisitas untuk perhitungan kolom komposit, MPa

adalah tegangan tekan kritis, MPa

adalah tegangan leleh untuk perhitungan kolom komposit,

MPa

adalah tegangan leleh profil baja, MPa

f

c

k

N

r

c

n

m

λ

ø

c

c

' adalah kuat tekan karakteristik beton, MPa

adalah faktor panjang efektif kolom

adalah kuat aksial nominal, N

adalah jari-jari girasi kolom komposit, mm

adalah parameter kelangsingan adalah faktor reduksibeban aksial tekan

ω adalah faktor tekuk

17

Pada persamaan di atas,

yang besarnya a). Untuk pipa baja yang diisi beton :

c ,

1

c ,dan

2

c =

1

1,

c =

2

0,85

,dan

c

3

=0,4

c

3 adalah koefisien

b). Untuk profil baja yang diberi selubung beton :

c =

1

1,

c =

2

0,85

,dan

c =0,4

3

Kekuatan rencana kolom komposit yang menahan beban kombinasi aksial dan lentur (LRFD Pasal 7.4.3.3).

dimana :

Nu

a. 0,2

ϕ

c.Nn

Nu

8

Mux

Mny

+

+

ϕ

.Nn

9

.

ϕ

b.Mnx

ϕ

b.Mny

1,0

Nu

b. < 0,2

ϕ

c.Nn

Nu

Mux

Mny

+

+

2.

ϕ

.Nn

ϕ

b.Mnx

ϕ

b.Mny

1,0

Nu = Gaya aksial (tarik atau tekan) terfaktor, N Nn = Kuat nominal penampang, N

= Faktor reduksi kekuatan

c = 0,85 (struktur tekan)

b = 0,90 (struktur lentur)

Mnx , Mny =Momen lentur nominal penampang komponen struktur masing-masing terhadap sumbu x dan sumbu y, N.mm Mux , Muy =Momen lentur terfaktor masing-masing terhadap sumbu x dan sumbu y, N.mm

18

2.4 Sambungan

Sambungan terdiri dari komponen sambungan (pelat pengisi, pelat buhul, pelat pendukung, dan pelat penyambung) dan alat pengencang (baut dan las).

2.4.1 Klasifikasi sambungan :

1. Sambungan kaku / Rigid connection adalah sambungan yang dianggap memiliki kekakuan yang cukup untuk mempertahankan sudut-sudut di antara komponen- komponen struktur yang akan disambung.

2. Sambungan semi kaku / Semi rigid connection adalah sambungan yang tidak memiliki kekakuan yang cukup mempertahankan sudut-sudut diantara komponen- komponen struktur yang disambung, namun harus dianggap memiliki kapasitas yang cukup untuk memberikan kekangan yang dapat diukur terhadap perubahan sudut- sudut tersebut

3. Sambungan sendi / Simple connection adalah sambungan yang pada kedua ujung komponen struktur dianggap bebas momen. Sambungan sendi harus dapat berubah bentuk agar memberikan rotasi yang diperlukan pada sanbungan. Sambungan tidak boleh mengakibatkan momen lentur terhadap komponen struktur yang disambung.

momen lentur terhadap komponen struktur yang disambung. Semi Rigid Connection R i g i d C

Semi Rigid Connection

komponen struktur yang disambung. Semi Rigid Connection R i g i d C o n n

Rigid Connection

Semi Rigid Connection R i g i d C o n n e c t i

Rigid Connection

Gambar 2.5. Sambungan pada baja

19

2.4.2 Perencanaan sambungan

Kuat rencana setiap komponen tidak boleh kurang dari

beban terfaktor yang dihitung. Perencanaan sambungan harus memenuhi persyaratan (SNI 03-1729-2002 Ps. 13.1.3) :

1. Gaya dalam yang disalurkan berada dalam keseimbangan dengan gaya-gaya yang bekerja pada sambungan.

2. Deformasi pada sambungan masih berada dalam batas kemampuan deformasi sambungan.

3. Sambungan dan komponen yang berdekatan harus mampu memikul gaya-gaya yang bekerja padanya.

2.4.3 Sambungan Baut

Kuat geser φRnv Kuat tumpu φRnt

Jumlah baut,

Kontrol jarak baut :

Jarak tepi minimum : 1.5db (LRFD 13.4.2) Jarak tepi maksimum : (4tp + 100 mm) atau 200 mm (LRFD 13.4.3) Jarak minimum antar baut : 3db (LRFD 13.4.1) Jarak maksimum antar baut : 15tp atau 200 mm (LRFD 13.4.3)

= φ.fv.Ab.m

= φ.(1.8)fy.db.tp

200 mm (LRFD 13.4.3) = φ .fv.Ab.m = φ .(1.8)fy.db.tp diambil yang terkecil Vu n =

diambil yang terkecil

= φ .fv.Ab.m = φ .(1.8)fy.db.tp diambil yang terkecil Vu n = φ Rn Kontrol Kekuatan

Vu

n =

φRn

Kontrol Kekuatan Pelat

φPn = 0.75× 0.6 × fu × Anv

Vu < φPn

2.4.4 Sambungan Las

Ru ϕRnw

dengan,

φ

f .Rnw

=

0.75

×

t

e

×

(0.6

×

fuw)

(las)

20

φ

f .Rnw

keterangan :

=

0.75

×

t

e

×

(0.6

×

fu)

(bahan dasar)

f uw : tegangan tarik putus logam las

f u

: tegangan tarik putus bahan dasar t e : tebal efektif las (mm)

Tebal bagian paling tebal, t

Tebal minimum las sudut, a

 

(mm)

 

(mm)

 

t

7

3

7

<

t

10

4

10

<

t

<

15

5

 

15

<

t

6

Tabel 2.1.Ukuran Minimum Las Sudut

2.5 Perencanaan Pondasi

Pondasi pada umumnya berlaku sebagai komponen struktur pendukung bangunan yang terbawah dan berfungsi sebagai elemen terakhir yang meneruskan beban ke tanah. Dalam perencanaan pondasi ada dua jenis pondasi yang umum dipakai dalam dunia konstruksi, yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam. Pondasi dangkal dipakai untuk struktur dengan beban yang relatif kecil, sedangkan untuk pondasi dalam dipakai untuk struktur dengan beban yang relatif besar seperti pada gedung yang berlantai banyak, dikatakan pondasi dalam jika perbandingan antara kedalaman pondasi (D) dengan diameternya (B) adalah lebih besar sama dengan 10 (D/B > 10).Pondasi dalam ini ada beberapa macam jenis, antara lain pondasi tiang pancang, pondasi tiang bor ( pondasi sumuran ), pondasi caisson dan lain sebagainya.

2.5.1 Pondasi Tiang Pancang

a. Daya Dukung Tiang Pancang Tunggal

Daya dukung pada pondasi tiang pancang ditentukan oleh dua hal, yaitu daya dukung perlawanan tanah dari unsur dasar

21

tiang pondasi ( Q p ) dan daya dukung tanah dari unsur lekatan lateral tanah ( Q f ). Sehingga daya dukung total dari tanah dapat dirumuskan : Qu = Qp + Qs Disamping peninjauan berdasarkan kekuatan tanah tempat pondasi tiang pancang di tanam, daya dukung suatu tiang juga harus ditinjau berdasarkan kekuatan bahan tiang pancang tersebut. Hasil daya dukung yang menentukan yang dipakai sebagai daya dukung ijin tiang. Perhitungan daya dukung dapat ditinjau dari dua keadaan, yaitu :

Daya dukung tiang pancang tunggal yang berdiri sendiri

Daya dukung tiang pancang dalam kelompok. Perhitungan daya dukung tiang pancang ini dilakukan berdasarkan hasil uji Standard Penetration Test ( SPT ) menurut Luciano Decourt ( 1982 )

Ql = Qp + Qs

dimana :

Qp = qp . Ap = ( Np . K ) . Ap

dengan :

Np

= Harga rata-rata SPT di sekitar 4B di atas hingga 4 B di bawah dasar tiang pondasi

K

= Koefisien karakteristik tanah

= 12 t/m 2 , untuk tanah lempung

= 20 t/m 2 , untuk tanah lanau berlempung

= 25 t/m 2 , untuk tanah lanau berpasir

= 40 t/m 2 , untuk tanah pasir

Ap

= Luas penampang dasar tiang

qp

= tegangan di ujung tiang

Qs = qs . As =

Ns +1 ⎞ ⎟

3

. As

22

Dengan :

qs

= tegangan akibat lekatan lateral dalam t/m 2

Ns

= harga rata-rata sepanjang tiang yang tertanam, dengan batasan : 3 N 50

As

=

keliling x panjang tiang yang terbenam

Daya dukung ijin dari satu tiang pancang yang berdiri sendiri adalah daya dukung tiang total dibagi dengan suatu angka keamanan.

Q ijin 1 tiang

Dimana :

=

Qu

SF

SF

= safety factor = 3

N’

= harga SPT di lapangan

N

= harga SPT setelah dikoreksi

= 15 + [ ( N’ – 15 ) /2 ]

b. Daya dukung dukung tiang kelompok

Disaat sebuah tiang merupakan bagian dari sebuah group, daya dukungnya mengalami modifikasi, karena pengaruh dari group tiang tersebut. Dari problema ini, dapat dibedakan dua fenomena sebagai berikut :

Pengaruh group disaat pelaksanaan pemancangan tiang-tiang Pengaruh group akibat sebuah beban yang bekerja Proses pemancangan dapat menurunkan kepadatan di sekeliling tiang untuk tanah yang padat. Namun untuk kondisi tanah didominasi oleh pasir lepas atau dengan tingkat kepadatan sedang, pemancangan dapat menaikkan kepadatan disekitar tiang bila jarak antar tiang < 7 s/d 8 diameter. Untuk daya dukung batas, pengaruh dari sebuah group tiang pondasi tidak perlu diperhitungkan bila jarak as ke as antar tiang

23

adalah > 3 diameter. Sebaliknya, jarak minimum antar tiang dalam group adalah 2 s/d 2.5 diameter tiang. Untuk kasus daya dukung group pondasi, harus dikoreksi terlebih dahulu dengan koefisien efisiensi C e . =

Q L (group)

n = jumlah tiang dalam group

Untuk menghitung koefisien efisiensi C e , digunakan cara Converse – Labarre :

Q L (1 tiang)

× n × C e

Ce = 1

arc

tan

(

/ s

)

90

°

× ⎜ 2

1

m

1 ⎞ ⎟

n

dimana:

: diameter tiang pondasi

S

: jarak as ke as antar tiang dalam group

m

: jumlah baris tiang dalam group

n

: jumlah kolom tiang dalam group

2.5.2 Repartisi beban-beban diatas tiang kelompok

Bila diatas tiang-tiang dalam kelompok yang disatukan oleh sebuah kepala tiang (poer) bekerja beban-beban vertikal (V),

horizontal (H), dan momen (M), maka besarnya beban vertikal ekivalen (P v ) yang bekerja pada sebuah tiang adalah :

P

v

=

V

±

M

y

.x

max

±

M

x

.y

max

dimana :

n

x

2

y

2

P v

 

= Beban vertikal ekivalen

V

= Beban vertikal dari kolom

n

= banyaknya tiang dalam group

M x = momen terhadap sumbu x M y = momen terhadap sumbu y x max = absis terjauh terhadap titik berat kelompok tiang y max = ordinat terjauh terhadap titik berat kelompok tiang x 2 = jumlah dari kuadrat absis tiap tiang terhadap garis netral group

24

y 2 = jumlah dari kuadrat ordinat tiap tiang terhadap garis netral group nilai x dan y positif jika arahnya sama dengan arah e, dan negative bila berlawanan dengan arah e.

Perhitungan jarak tiang ( Dirjen Bina Marga Departemen PU) sebagai berikut :

2,5D S 3D 1,5D S 1 2D

dimana :

S

= jarak antar as tiang pancang.

S 1 = jarak as tiang pancang ke tepi.

D = diameter tiang pancang.

25

BAB III METODOLOGI

3.1 Bagan Alir Penyelesaian Tugas Akhir

Mulai Pengumpulan Data Studi Literatur Perencanaan Struktur Sekunder Preliminary Desain dan Pembebanan Pemodelan dan
Mulai
Pengumpulan Data
Studi Literatur
Perencanaan Struktur Sekunder
Preliminary Desain dan Pembebanan
Pemodelan dan Analisa Struktur
Kontrol Desain
Ok
Perencanaan Pondasi
Penggambaran Hasil Perencanaan
Selesai

Not Ok

26

3.2 Mengumpulkan data yang berkaitan dengan perencanaan Mempelajari gambar eksisting sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan modifikasi perencanaan.

Mempelajari data-data perencanaan secara keseluruhan yang mencakup:

- Data umum bangunan (kondisi Awal)

1.

Nama Gedung

: Gedung Albergo

2.

Lokasi

: JL. Letjen Soepono, Jakarta

3.

Fungsi

: Apartemen

5.

Jumlah lantai

: 36 lantai + Atap

6.

Panjang banguna

: 40 m

7.

Lebar bangunan

: 27 m

8.

Tinggi Bangunan : 140,7 m

10. Struktur Utama

- Data Bahan

: Struktur beton bertulang

3.3 Studi literatur Mencari literatur dan peraturan gedung (building code) yang menjadi acuan dalam pengerjaan tugas akhir ini. Adapun beberapa literatur serta peraturan gedung tersebut antara lain adalah sebagai berikut :

a. G. Salmon, Charles & E.Johnson, John.1991. Struktur Baja Desain Dan Perilaku Jilid 1 Edisi Kedua. Diterjemahkan oleh: Ir. Wira M.S.CE. Jakarta: Erlangga.

b. Wahyudi, Herman. 1999. Daya Dukung Pondasi Dalam. Surabaya : ITS.

c. Amon, Rene ; Knobloch, Bruce & Mazumder,Atanu. 1999. Perencanaan Konstruksi Baja Untuk Insinyur dan Arsitektur 2.Bandung : PT.Pradinya Paramita.

d. Purwono, Rahmat. 2006. Perencanaan Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa.

e.

Rinaldy, Vebriano & Rustailang, Muhammad. 2005

f.

Spiegel & Limbrunner. 1998

g.

American Institute of Steel Construction – Load and Resistance Factor Design (AISC-LRFD).

27

h. Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG)

1983.

i. SNI 03-1726-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung.

j. SNI 03-1729-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung.

k. SNI 03-2847-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung.

3.4 Perencanaan Struktur Sekunder

a. Perencanaan tangga

b. Perencanaan pelat lantai

c. Perencanaan pelat atap

d. Perencanaan balok anak

e. Perencanaan balok lift

3.5 Preliminary Design dan Pembebanan

3.5.1 Preliminary Design Balok

Mu =

φ

Mn

Mn

=

Zp

x

fy

mencapai tegangan plastis)

Zp =

Mn

fy

dari

awal dimensi balok.

(asumsi

tegangan

baja

nilai Zp didapat rencana

Dimana :

Mu : momen ultimate beban

: faktor reduksi lentur Mn : momen nominal

ø

Zp

: momen tahan plastis

fy

: tegangan leleh baja

28

3.5.2 Preliminary dimensi kolom

pu =

fy =

φ

pn

A

Pn

(asumsi tegangan baja mencapai tegangan plastis)

A =

Pn

fy

dari nilai A didapat rencana awal dimensi kolom.

Dimana :

Pu

ø

Pn

A

: gaya aksial ultimate beban

: faktor reduksi gaya aksial tekan : momen nominal

: faktor reduksi gaya aksial tekan : momen nominal

: luas penampang

3.5.3 Pembebanan

Perencanaan pembebanan pada struktur ini berdasarkan Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung

(PPIUG) 1983 dan SNI 03-1726-2002. Pembebanan tersebut antara lain :

a. Beban Mati (PPIUG 1983 Bab1 pasal 1.1) Beban mati ialah berat dari semua bagian dari suatu gedung yang bersifat tetap termasuk segala unsur tambahan, penyelesaian-penyelesaian, mesin-mesin serta peralatan tetap yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung itu. Yang nilainya sebagai berikut :

Berat volume beton : 2400 kg/m 3 (tabel 2.1) Berat volume aspal : 1400 kg/m 3 (tabel 2.1) Berat volume spesi : 2100 kg/m 3 (tabel 2.1) Berat volume tegel : 2400 kg/m 3 (tabel 2.1) Berat volume ps bata merah : 250kg/m 2 (tabel 2.1) Berat volume plafond : 11 kg/m 2 (tabel 2.1) Berat volume penggantung : 7 kg/m 2 (tabel 2.1)

Berat volume AC dan perpipaan :

Berat dinding partisi

10 kg/m 2 (tabel 2.1) 40 kg/m 2 (tabel 2.1)

:

29

b. Beban Hidup (PPIUG 1983 Bab 1 pasal 1. 2) Beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat penghunian atau penggunaan suatu gedung, dan ke dalamnya termasuk beban-beban pada lantai yang berasal dari barang - barang yang dapat berpindah, mesin-mesin serta peralatan yang tidak merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung dan dapat diganti selama masa hidup dari gedung itu, sehingga mengakibatkan perubahan dalam pembebanan lantai dan atap tersebut.

- Beban hidup pada lantai atap diambil sebesar 100 kg/m 2 (pasal 3.2.1)

- Beban hidup pada lantai diambil sebesar 250 kg/m 2 (pasal 3.1)

- Beban hidup pada lantai mesin elevator diambil sebesar 400 kg/m 2 (tabel 3.1)

- Beban hidup pada tangga diambil sebesar 300 kg/m 2 (tabel 3.1)

c. Beban Angin (PPIUG 1983 Bab 1 pasal 1. 3) Beban angin ialah semua beban yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang disebabkan oleh selisih dalam tekanan udara. Beban angin ditentukan dengan menganggap adanya tekanan positif dan tekanan negatif (isapan), yang bekerja tegak lurus pada bidang-bidang yang ditinjau. Besarnya tekanan positif dan tekanan negatif ini dinyatakan dalam kg/m 2 , ditentukan dengan mengalikan tekanan tiup yang ditentukan dalam pasal 4.2 (PPIUG 1983) dengan kefisien- koefisien angin yang ditentukan dalam pasal 4.3 (PPIUG

1983).

d. Beban Gempa (PPIUG 1983 Bab 1 pasal 1.4)

yang

Beban gempa adalah semua beban statik ekivalen

yang

bekerja

pada

gedung

atau

bagian

gedung

30

menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat gempa itu. Dalam hal pengaruh gempa pada struktur gedung ditentukan berdasarkan suatu analisa dinamik, maka yang diartikan dengan beban gempa disini adalah gaya-gaya di dalam struktur tersebut yang terjadi oleh gerakan tanah akibat gempa itu. Gaya geser dasar rencana total, V, ditetapkan sebagai berikut:

V

dimana :

=

C

1

×

I

R

× Wt

; T 1 = Cc (hn) 3/4

V

= Gaya geser dasar Nominalstatik ekuivalen

R

= Faktor reduksi gempa

T 1

= Waktu getar alami fundamental

Wt

= Berat total gedung

I

= Faktor kepentingan struktur

Hn

= Tinggi total gedung

C 1

= Faktor respons gempa

Pembatasan waktu getar alami fundamental (Pasal 5.6 SNI 03 – 1726 – 2002):

T 1 < ς n dimana : ς = Koefisien untuk wilayah gempa tempat struktur gedung berada (Tabel 8). n = Jumlah tingkatnya

Simpangan antar lantai (SNI 03 – 1726 – 2002)

- Kinerja batas layan (pasal 8.1)

:

ΔS

= 0.03 / R

Ambil

ΔS = 30 mm Dimana : R = R SRPMB Baja = 4.5

(pasal 4.3.6)

terkecil

- Kinerja batas ultimit

: ΔM = ΔS * ξ

(pasal 8.2)

31

Kombinasi Pembebanan Kombinasi Pembebanan sesuai dengan LRFD tersebut di atas dengan kombinasi sebagai berikut (metode LRFD) :

- 1,4 D

 

(6.2-1)

- 1,2 D + 1,6 L + 0,5 (La atau H)

(6.2-2)

- 1,2 D + 1,6 (La atau H) + (γ L L atau 0,8 W)

(6.2-3)

- 1,2 D + 1,3 W + γ L L + 0,5 (La atau H)

(6.2-4)

- 1.2

D

+

1,0

E + γ L L

(6.2-5)

- 0,9 D – (1,3W atau 1,0 E)

(6.2-6)

3.6 Pemodelan dan Analisa Struktur

Untuk mengetahui gaya dalam yang timbul pada elemen struktur akibat beban yang bekerja maka dilakukan analisa

struktur dengan menggunakan program bantu ETABS

v9.2.0.

3.7 Kontrol Desain

Setelah melakukan analisa struktur bangunan, tahap selanjunya kita kontrol desain meliputi kontrol terhadap kolom, balok, dan juga perhitungan sambungan dimana dari kontrol tersebut dapat mengetahui apakah desain yang kita rencanakan telah sesuai dengan syarat-syarat perencanaan, dan peraturan angka keamanan, serta efisiensi. Bila telah memenuhi maka dapat diteruskan ke tahap pendetailan. Bila tidak memenuhi maka dilakukan re-design.

3.8 Perencanaan Pondasi

Setelah perencanaan bangunan atas selesai, tahap selanjutnya yaitu kita mendesain pondasi bangunan.

3.9 Penggambaran hasil perhitungan dalam gambar teknik

Penggambaran hasil Perencanaan dan perhitungan dalam

gambar teknik ini dengan menggunakan AutoCAD.

program bantu

32

”Halaman ini sengaja dikosongkan”

33

BAB IV PERENCANAAN STRUKTUR SEKUNDER

4.1 Perencanaan Tangga

4.1.1 Data perencanaan

Tinggi antar lantai

= 425

cm

Tinggi

bordes

=

212,5 cm

Lebar injakan

=

30

cm

Panjang tangga

= 360

cm

Lebar pegangan tangga

=

5

cm

4.1.2 Perecanaan Jumlah Injakan Tangga

- Persyaratan – persyaratan jumlah injakan tangga 60 cm < ( 2t + i ) < 65 cm

25º

Dimana :

<

a

< 40º t = tinggi injakan (cm) i = lebar injakan (cm) a = kemiringan tangga

- Perhitungan jumlah injakan tangga

Tinggi injakan ( t ) =

Jumlah tanjakan

=

65 30

2

212,5

17,5

Jumlah injakan ( n ) =13-1 Lebar bordes Lebar tangga Panjang Tangga Panjang Bordes

a = arc tg

212,5

30 12

x

= 30,55º

= 17,5 cm

= 13 buah

= 12 buah = 140 cm = 150 cm = 360 cm = 330 cm

Ok

34

Pelat Combideck t= 9 cm Balok Utama Tangga Channel 260x90x10x1 Pelat Anak Tangga t= 3
Pelat Combideck
t= 9 cm
Balok Utama Tangga
Channel 260x90x10x1
Pelat Anak Tangga
t= 3 mm

Gambar 4.1 Denah tangga

Utama Tangga Channel 260x90x10x1 Pelat Anak Tangga t= 3 mm Gambar 4.1 Denah tangga Gambar 4.2

Gambar 4.2 Potongan A – A tangga

35

4.1.3 Perencanaan Pelat Tangga Pelat baja t=3mm Profil Siku 60.60.6 150 cm 30 cm
4.1.3 Perencanaan Pelat Tangga
Pelat baja t=3mm
Profil Siku
60.60.6
150 cm
30 cm

Gambar 4.3 Tampak anak tangga

- Perencanaan tebal pelat tangga =

Tebal pelat tangga Berat jenis baja

Mutu baja Bj 41Tegangan leleh baja = 2500 kg/cm 2

3 mm = 0,003 m = 7850 kg/m 3

- Perencanaan pembebanan pelat tangga

Beban Mati

Berat pelat = 0,003 x 1,50 x 7850 = 35,325 kg/m =

Alat penyambung ( 10 % )

3,53

kg/m +

q D = 38,858 kg/m

Beban Hidup

q L =

300 x 1,50

= 450 kg/m

Perhitungan M D dan M L M D = 1/8 q D l 2 = 0,125 x 38,858 x 0,3 2 M L = 1/8 q L l 2

=

0,437 kgm

= 0,125 x 450 x 0,3 2

=

5,063 kgm

Perhitungan Kombinasi Pembebanan M U M U = 1,4 M D = 1,4 x 0,437 kgm = 0,612 kgm

36

M U = 1,2 M D + 1,6 M L = 1,2 x 0,437 + 1,6 x 5,063 = 8,625 kgm ( menentukan )

Kontrol Momen Lentur Zx = ¼ bh 2 = 0,25 x 150 x 0,3 2 = 3,375 cm 3

φMn = φZx x fy = 0,9 x 3,375 x 2500= 7593,75 kgcm Syarat : φMn > Mu

75,94 kgm > 8,625 kgm

Ok

Kontrol Lendutan

L

f = 360

30

= 360

= 0,0833 cm

Ix =

1 bh

12

3

1

= 12

x 150 x 0,3 3 = 0,3375 cm 4

Ymax =

5

(

q

D

+

q

L

)

l 4

384 EI

x

< f

=

5

365

(

0,38858

+

)

4,35 30

4

6

2.10 .0,3375

= 0,0804 < 0,0833

Ok

4.1.4 Perencanaan Penyangga Pelat Injak

Direncanakan menggunakan profil siku 60x60x6, dengan data sebagai berikut :

b

= 60 mm

Ix = 22,8 cm 4

ix = 1,82 cm

tw

=

6 mm

Iy = 22,8 cm 4

iy = 1,82 cm

W

= 5,42 kg/m

A = 6,91 cm 2

Zx = 9,83 cm 3

Gambar 4.4 Tampak melintang anak tangga

37

- Perencanaan pembebanan

P=100Kg P=100Kg VA VB
P=100Kg
P=100Kg
VA
VB

Gambar 4.5 Sketsa pembebanan pelat tangga

Beban Mati ( ½ lebar injakan)

Berat pelat Berat baja siku

= 0,15 x 0,003 x 7850

60x60x6

=

= 5,42

= 8,953 kg/m

3,533 kg/m

kg/m +

Alat penyambung ( 10 % )

= 0,895 kg/m + q D = 9,848 kg/m

Beban Hidup ( 1/2 lebar injakan ) q L = 300 x 0,15 p L = 100

= 45 kg/m = 100 kg

Perhitungan M D dan M L M D = 1/8 q D l 2

= 0,125 x 9,848 x 1,50 2 = 2,769

kgm

M L = 1/8 q L l 2 akibat beban merata

= 0,125 x 45 x 1,50 2 = 11,827

kgm

M L = 1/3(PL) akibat beban terpusat

= 1/3.100.150 = 5000 kg cm = 50 kgm

Vu =

1

2 ( 1,2.q D .l ) +

1

2 ( 1,6.P.2 )

= 0,5(1,2.9,848.1,50) + 0,5(1,6.100.2) = 168,863 Kg

38

Perhitungan Kombinasi Pembebanan M U

M U

= 1,4 M D

= 1,4 x 2,769

= 3,877 kgm

M U = 1,2 M D + 1,6 M L

= 1,2 x 2,769 + 1,6 x 50= 83,323 kgm

Kontrol Momen Lentur

( menentukan )

φMn = φZx x fy = 0,9 x 9,83 x 2500 = 22117,5 kgcm = 221,175 kgm

Syarat : φMn > Mu 221,175 kgm > 83,323 kgm

Kontrol Lendutan

L

f = 240

150

= 240

= 0,625 cm

Ix = 22,8 cm 4

Ymax =

=

5 (

q D

+ q

L

)

l 4

+ 23

Pl 3

 

384

EI

x

 

648

EI

x

5

(

0,09848

+

)

0,45 150

4

+

23

384

2.10

6

x

22,8

 

648

= 0,605 < 0,625

Ok

(

100

+

Ok

100

)

x

150

3

2.10

6

x

22,8

39

4.1.5 Desain Bordes

Dipakai pelat komposit bondek dengan tebal pelat = 0,75mm. Pembebanan a.Beban Berguna (Superimposed) Beban finishing :

- spesi lantai t = 1cm

= 1.21 kg /m 2

- lantai keramik t = 1cm

= 21 kg/m 2

=

1.24 kg /m 2

=

24

kg/m 2

- sandaran baja Total beban finishing

=

20

kgm 2

=

65

kgm 2

Beban Hidup Beban hidup = 300 kg/m 2

Beban berguna = beban hidup + beban finishing

= 300 kg/m 2 + 65 kg/m 2

= 365 kg/m 2

Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus tanpa tulangan negatif tanpa penyangga didapatkan data-data

sebagai berkut :

- bentang (span)

=

1,4 m

- tebal pelat beton

=

9

cm

b.Beban Mati

- Pelat lantai bondek = 10,1 kg/m 2

= 10,1 kg/m 2

- Pelat beton t = 9 cm

=

4.1.6

0,09 m.2400 kg/m 3

Desain Balok Utama Tangga

= 10,1 kg/m 2

q D2

= 216 kg/m 2 + = 226,1 kg/m 2

Balok utama tangga dianalisa dengan anggapan terletak di atas dua tumpuan sederhana dengan menerima beban merata dari berat sendiri dan beban dari anak tangga. Balok utama tangga

40

direncanakan menggunakan profil Channel 260x90x10x14, dengan spesifikasi sebagai berikut :

A = 48,3 cm 2 Ix = 4820 cm 4 4 W = 37,9 kg/m
A
=
48,3
cm 2
Ix
= 4820 cm 4
4
W
=
37,9
kg/m
Iy
= 317
cm
3
ix
=
9,99
cm
Sx
=
371
cm
iy =
2,56
cm
Sy =
47,7 cm 3
3
Zx =
445
cm 3
Zy =
105
cm
- Perencanaan Pembebanan
BEBAN ANAK TANGGA (qu1)
BEBAN BORDES (qu2)
B
VuC
A
VuA

C

Gambar 4.6 Sketsa pembebanan balok utama tangga

1. Perencanaan pembebanan anak tangga

Beban Mati

Berat pelat = 0,003 x 1,50/2 x 7850

= 17,663 kg/m

Berat profil siku = 5,42 x 2 x0,75 /0,30 = 27,1 =

44,01

kg/m

kg/m

Berat profil = 37,9 / cos 30,55 Berat sandaran besi

=

20

kg/m

Berat alat penyambung (10%)

= 108,773kg/m =

10,887kg/m

q D1 = 119,650 kg/m

41

Beban Hidup qL 1 =

300 x 1,50 x 0,5

= 217,5 kg/m

2. Perencanaan pembebanan bordes

Beban Mati

Berat profil Berat bordes =(65+226,1) x 1,65

Berat penyambung ( 10 % )

Beban Hidup qL 2 = 300 x 1,65

= 37,9 kg/m = 480,315 kg/m = 518,215 kg/m =

51,822 kg/m

q D2 = 570,037 kg/m

=

495

kg/m

- Perhitungan Gaya – Gaya pada Tangga

A.

Beban Mati = {(qd 1 .3,6.3,2) + (qd 2 .1,4.0,7) }/5

= 387,40 kg ( )

= {(qd 2 .1,4.4,3) + (qd 1 .3,6.1,8) }/5

= 841,39 kg ( )

V DA

V DC

Kontrol : Σ V = 0

387,40 +841,39 = (119,650.3,6)+(570,037.1,4)

1228,79 kg = 1228,79 kg

B. Beban Hidup

Ok

V LA = {(ql 1 .3,6.3,2) + (ql 2 .1,4.0,7)}/5 = 598,14 kg ( ) V LC = {( ql 2 .1,4.4,3) + (ql 1 .3,6.1,8)}/5 = 877,86 kg ( )

Kontrol : Σ V = 0 598,14 + 877,86 = ( 217,5.3,6) + (2495.1,4)

OK

1476 kg = 1476 kg

42

C. Gaya – Gaya Dalam Ultimate

qu 1 =1,2.qd 1 + 1,6.ql 1

= (1,2.119,65 + 1,6.217,5) = 491,58 kg/m

qu 2 = 1,2.qd 2 + 1,6.ql 2

= (1,2.570,037 + 1,6.495) = 1476,044 kg/m

V UA = 1,2 V DA + 1,6.V LA

= 1,2. 387,40 + 1,6. 598,14 = 1421,90 kg ( ) V UC = 1,2 V DC + 1,6.V LC

= 1,2. 841,39 + 1,6. 877,86 = 2414,24 kg ( )

M U BC = - (V UC . 1,4) + (qu 2 .1,4.0,7)

= - (2414,24.1,4) + (1476,04.1,4.0,7)

= - 1933,416 kgm

M U BA = (V UA .3,6) – (qu 1 .3,6.1,8)

= (1421,90.3,6) – (491,58.3,6.1,8) = 1933,416 kgm

Kontrol : M U BA = M U BC

Ok

Batang AB Mx 1 = (V UA .x 1 ) – (1/2.qu 1 .x 1 2 )

dMx

1

dx

1

0

= ⇒ V q

UA

U 1

.

x

1

=

0

x

1 =

V UA

= 1421,90

q U1

491,58

= 2,893m

< 3,6m

Ok

M Umax = (V UA .x) - (1/2. qu 1 .x 2 )

= (1421,90.2,893) – (0,5. 491,58.2,893 2 )

= 2056,441 kgm

43

A

B C + + 1933,416 kgm 2056,441 kgm 2,893 m
B
C
+
+
1933,416 kgm
2056,441 kgm
2,893 m

Gambar 4.7 Sketsa bidang momen pada balok tangga

- Kontrol Kekuatan Propil

Penampang Profil fy = 2500 kg/cm 2 untuk sayap :

b 170 ≤ 2 tf fy 90 170 ≤ 2.14 250
b
170
2 tf
fy
90
170
2.14
250

3,21 10,75

untuk badan :

h 1680 ≤ tw fy 200 ≤ 1680 10 250
h
1680
tw
fy
200 ≤
1680
10
250

20 106,25

Penampang profil kompak, maka Mnx = Mpx

Kontrol Lateral Buckling

1.Batang Miring

30

Lb = cos30,55°

= 34,84 cm

Lp = 1,76.

iy

5 E 2.10 . = 1,76.2,22. fy 250
5
E
2.10
.
=
1,76.2,22.
fy
250

= 110,51 cm

Ternyata Lp>Lb, maka Mnx = Mpx

2.Balok Bordes Lb = 0 m Lp = 131,082 cm Ternyata Lp >Lb, maka Mnx = Mpx

44

- Kontrol Momen Lentur

90mm 14mm y1 260mm y2 10mm
90mm
14mm
y1
260mm
y2
10mm

Gambar 4.8 Sketsa profil Canal 260.90.10.14

Mp = Zx.fy = 445.2500 = 1112500 kgcm = 11125 kgm

1,5 My = 1,5 Sx.fy = 1,5.371.2500 = 139125 kgcm

Jadi, Mn = Mp = 1112500 kgcm = 11125 kgm

Syarat : Mu ≤ φMn 2056,441 kgm 0,9. 11125 kgm 2056,441 kgm < 10012,5 kgm

Ok

- Kontrol Kuat Rencana Geser

162 ≤ 110 5,5 250
162 ≤
110
5,5
250

20 < 69,57

plastis

45

Vn

= 0,6 x fy x Aw

45 Vn = 0,6 x fy x Aw Vn = 0,6 x 2500 x (26) =

Vn = 0,6 x 2500 x (26) = 39000 kg

Aw = tw.d = 10.260 = 2600 mm 2

φVn = 0,9 x 39000 = 35100 kg V UA = 1421,904 kg

Syarat :

1421,904 Kg < 35100 kg Jadi profil Channel 260x90x10x4 dapat dipakai.

Vu ≤ φVn

Ok

4.1.7 Desain Balok Penumpu Bordes

Balok penumpu bordes direncanakan menggunakan profil WF 350x175x7x11, dengan data sebagai berikut :

A

= 63,14 cm 2

Ix = 13600 cm 4

Sx = 775 cm 3

W

= 49,6 kg/m

Iy = 984 cm 4

Sy = 112 cm 3

bf

= 175 mm

ix = 17,70 cm

Zx = 841 cm 3