Anda di halaman 1dari 7

Makalah Seminar Akuntansi

AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN SOSIAL (SOCIAL RESPONSIBILITY ACCOUNTING)

KELOMPOK 6 INDRI ISWARDHANI DECKY FIRMANSYAH MIRA IRAWATI A311 09 011 A311 09 101 A311 09 273

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012

Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial


AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN SOSIAL Setiap perusahaan didirikan untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan, tujuan perusahaan dalam suatu kondisi perekonomian yang kompetitif untuk memperoleh keuntungan maksimal dengan pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang dan juga untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan itu sendiri. Dalam usaha untuk mencapai tujuannya, maka setiap perusahaan senantiasa berusaha untuk meningkatkan efektifitas maupun efisiensi kerjanya. Munculnya akuntansi sosial tidak terlepas dari kesadaran perusahaan terhadap kepentingan lain selain untuk memaksimalkan laba bagi perusahaan. Perusahaan menyadari bahwa mereka selalu bersinggungan dengan berbagai kontroversi dan masalah sosial sehingga perusahaan mulai memperhatikan hubungan dengan lingkungan sosial. Akuntansi sosial yang dikenal selama ini berbentuk corporate social responsibility (CSR). Akuntansi CSR menjadi perhatian perusahaan sesuai dengan teori legitimasi dimana perusahaan berusaha untuk memenuhi harapan berbagai pihak yang terkait dalam upaya mendapat dukungan dan kepercayaan dari masyarakat. Definisi Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial Berikut ini beberapa definisi akuntansi sosial, yaitu: Ramanathan (1976): proses pemilihan variabel-variabel yang menentukan tingkat prestasi sosial perusahaan baik secara internal maupun eksternal. Lee D Parker (1986): proses pengukuran, pengaturan dan pengungkapan dampak pertukaran antara perusahaan dengan lingkungannya. Hadibroto (1988); Bambang Sudibyo (1988) dan para pakar akuntansi di Indonesia: menggunakan istilah Akuntansi pertanggung jawaban sosial (APS) sebagai akuntansi yang memerlukan laporan mengenai terlaksananya pertanggungjawaban sosial perusahaan. Hendriksen (1994), menggambarkan akuntansi sosial sebagai suatu pernyataan tujuan, serangkaian konsep sosial dan metode pengukurannya, struktur pelaporan dan komunikasi informasi kepada pihakpihak yang berkepentingan. Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa akuntansi sosial erat berkaitan dengan beberapa masalah berikut ini: 1) Penilaian dampak sosial dari kegiatan entitas bisnis; 2) mengukur kegiatan tersebut; 3) melaporkan tanggungjawab sosial perusahaan, dan ; 4) sistem informasi internal dan eksternal atas penilaian terhadap sumber-sumber daya perusahaan dan dampaknya secara sosial ekonomi. KELOMPOK 6

Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial


Akuntansi CSR didefinisikan sebagai proses seleksi variable-variabel kinerja sosial tingkat perusahaan, ukuran, dan prosedur pengukuran, yang secara sistematis

mengembangkan informasi yang bermanfaat untuk mengevaluasi kinerja sosial perusahaan dan mengkomunikasikan informasi tersebut kepada kelompok sosial yang tertarik, baik di dalam maupun di luar perusahaan (Angraini, 2006: 5). Akuntansi pertanggungjawaban sosial merupakan usaha yang dilakukan perusahaan untuk bertanggungjawab secara umum. Menurut Ahmed Belkaoui (2001:248), pengertian akuntansi pertanggungjawaban sosial adalah: The process of ordering, measuring, and disclosing, the impact of canged between is firm and its social environment. (Proses penataan, pengukuran dan pengungkapan, dampak pertukaran antara perusahaan dengan lingkungan masyarakat). Tujuan Akuntansi Sosial Tujuan akuntansi sosial menurut Hendriksen (1994) adalah untuk memberikan informasi yang memungkinkan pengaruh kegiatan perusahaan terhadap masyarakat dapat di evaluasi. Tujuan akuntansi sosial menurut Ramanathan (1976) antara lain: (1) mengidentifikasikan dan mengukur kontribusi sosial neto periodik suatu perusahaan, (2) membantu menentukan apakah strategi dan praktik perusahaan yang secara langsung mempengaruhi relatifitas sumberdaya dan status individu, masyarakat dan segmensegmen sosial (3) memberikan dengan cara yang optimal, kepada semua kelompok sosial, informasi yang relevan tentang tujuan, kebijakan, program, strategi dan kontribusi suatu perusahaan terhadap tujuan-tujuan sosial perusahaan. Akuntansi untuk Biaya dan Manfaat Sosial Sebagian landasan teori Akuntansi Sosial muncul dari analisis biaya dan manfaat dari A.C. Pigou pada tahun 1948. A.C. Pigou adalah pakar ekonomi klasik yang memperkenalkan konsep biaya dan manfaat ekonomi mikro pada tahun 1920. Pertimbangan pentingnya adalah bahwa Optimalitas-Pareto (nilai kemakmuran ekonomi bilamana nilai ini tidak

memungkinkan untuk meningkatkan kemakmuran seseorang tanpa mengurangi kemakmuran orang lain) tidak dapat dicapai sepanjang jika produk bersih sosial dan produk bersih privat tidak sama. Sebuah analisis serupa dapat dilakukan melalui pemusatan biaya. Menurut Pigou, biaya-biaya sosial terdiri dari semua biaya pembuatan produk, biaya yang berkaitan dengan siapa yang membiayanya. Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh produsen disebut biaya privat. KELOMPOK 6

Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial


Perbedaan antara biaya sosiual dengan biaya privat (disebut biaya sosial yang tidak dapat dikompensasi) dapat disebabkan oleh beberapa factor. Perusahaan yang melakukan pencemaran dikenakan biaya terhadap masyarakat, tetapi tidak dikenakan biaya ganti rugi masyarakat. Disini disebut disekonomi eksternal. Menurut Pigou, optimalitas-Pareto hanya dicapai jika manfaat sosial marjinal sama dengan biaya sosial marjinal.

Teori Akuntansi Sosial Berdasarkan analisis Pigou dan konsep ikatan sosial, K.V. Ramanathan

mengembangkan sebuah landasan teori untuk akuntansi biaya dan manfaat sosial. Menurut pendapat Ramanathan, perusahaan memiliki ikatan (kontrak) yang dinyatakan untuk memberikan manfaat sosial nyata kepada masyarakat. Manfaat nyata adalah perbedaan antara dukungan perusahaan kepada masyarakat dengan hambatan perusahaan terhadap kemunduran masyarakat. Pada pendekatan Ramanathan, terdapat dua masalah penting. Pertama, untuk mengetahui kontribusi nyata kepada masyarakat, beberapa jenis sistem manfaat digunakan. Sebuah argument dapat digunakan untuk kesesuaian kepentingan, apakah perusahaan harus berupaya mengembangkan pernyataan kontribusi sosial berdasarkan pada nilai-nilai manajemen atau harus melibatkan pihak luar untuk melakukan audit sosial. Masalah kedua adalah mengenai pengukuran. Disini sulit untuk mengukur jumlah item yang akan dilibatkan pada sebuah pernyataan mengenai kontribusinyata untuk masyarakat. Pengukuran Dalam penerapannya, akuntansi pertanggungjawaban sosial mengalami berbagai kendala, terutama dalam masalah pengukuran elemen-elemen sosial dan dalam rangka penyajiannya di laporan keuangan yang bersifat kuantitatif. Masalah pengukuran timbul terutama karena tidak semua elemen sosial dapat diukur dengan satuan uang serta belum terdapatnya standar akuntansi yang baku mengenai pengukuran dan pelaporan pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan. Satu alasan penting terhadap lambatnya kemajuan Akuntansi Sosial adalah kesulitan dalam pengukur dukungan dan hambatan. Disini merupakan proses tiga-tahap: (1) Menetapkan apa saja biaya dan manfat sosial. (2) Mencoba menjumlahkan semua item-item (pernyataan) yang relevan. (3) Menetapkan nilai dollar pada jumlah terakhir. Metode yang biasa dipakai dalam pengukuran Akuntansi sosial yaitu; KELOMPOK 6

Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial


Menggunakan penilaian dengan menghitung Opportunity cost approach Menggunakan daftar kuesioner Menggunakan hubungan antara kerugian massal dengan permintaan untuk barang perorangan dalam menghitung kerugian masyarakat Menggunakan reaksi pasar dalam menentukan harga Laporan Pertanggungjawaban Sosial Akuntansi pertanggungjawaban merupakan sistem akuntansi yang mengakui berbagai pusat pertanggungjawaban pada keseluruhan perusahaan yang mencerminkan rencana dan tindakan setiap pusat pertanggungjawaban dengan menetapkan pendapatan dan biaya tertentu. Akuntansi pertanggungjawaban sebenarnya timbul sebagai akibat adanya wewenang yang diberikan dan bagaimana mempertanggungjawabkan dalam bentuk suatu laporan tertulis. Beberapa teori yang mendukung penyampaian laporan pertanggungjawaban sosial dan lingkungan adalah legitimacy theory dan stakeholder theory (Deegan, 2004: 292). Legitimacy theory menjelaskan bahwa organisasi secara kontinu akan beroperasi sesuai dengan batas-batas dan nilai yang diterima oleh masyarakat di sekitar perusahaan dalam usaha untuk mendapatkan legitimasi. Proses untuk mendapatkan legitimasi berkaitan dengan kontrak sosial antara yang dibuat oleh perusahaan dengan berbagai pihak dalam masyarakat. Kinerja perusahaan tidak hanya diukur dengan laba yang dihasilkan oleh perusahaan, tetapi ukuran kinerja lainnya yang berkaitan dengan berbagai pihak yang berkepentingan. Untuk mendapatkan legitimasi perusahaan memiliki insentif untuk melakukan kegiatan sosial yang diharapkan oleh masyarakat di sekitar kegiatan operasional perusahaan. Kegagalan untuk memenuhi harapan masyarakat akan mengakibatkan hilangya legitimasi dan kemudian akan berdampak terhadap dukungan yang diberikan oleh masyarakat kepada perusahaan. Pengungkapan perusahaan melalui laporan keuangan tahunan merupakan usaha perusahaan untuk mengkomunikasikan aktivitas sosial yang telah dilakukan oleh perusahaan untuk mendapatkan legitimasi dari masyarakat sehingga kelangsungan hidup perusahaan terjamin. Perusahaan akan menunjukkan bahwa perusahaan mampu memenuhi kontrak sosial dengan masyarakat di sekitarnya. Stakeholder theory mempertimbangkan berbagai kelompok (stakeholders) yang terdapat dalam masyarakat dan bagimana harapan kelompok stakeholder memiliki dampak

KELOMPOK 6

Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial


yang lebih besar (lebih kecil) terhadap strategi perusahaan. Teori ini berimplikasi terhadap kebijakan manajemen dalam mengelola harapan stakeholder. Stakeholder perusahaan pada dasarnya memiliki ekspektasi yang berbeda mengenai bagaimana perusahaan dioperasikan. Perusahaan akan berusaha untuk mencapai harapan stakeholder yang berkuasa dengan penyampaikan pengungkapan, termasuk pelaporan aktivitas sosial dan lingkungan. Pelaporan informasi sosial dan lingkungan ternyata bermanfaat bagi perusahaan. Bewley dan Magnes (2008) menemukan bahwa perusahaan mengungkapkan perusahaan menggunakan pengungkapan lingkungan untuk membedakan perusahaan dengan perusahaan lain. Pengungkapan merupakan signal mengenai informasi keuangan perusahaan pada masa depan. Mahoney et al. (2008) menemukan laporan CSR secara positif mempengaruhi Return on Asset Perusahaan. Praktik pelaporan akuntansi sosial yang terdiri dari : Praktik yang sederhana, yaitu laporan terdiri dari uraian akuntansi sosial yang tidak disertai dengan data kuantitaif, baik satuan uang maupun satuan yang lainnya Praktik yang lebih maju, yaitu laporan terdiri dari uraian akuntansi sosial dan disertai dengan data kuantitatif Praktik yang paling maju, yaitu laporan dalam bentuk kualitatif, perusahaan juga menyusun laporannya dalam bentuk neraca Praktik pengungkapan sosial (Social Disclosure) di Indonesia Sebagaimana tertulis pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) no 1 (Revisi 1998). Paragraf 9 yang berbunyi sebagai berikut: Perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan seperti laporan mengenai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah ( value added statement), khususnya bagi industri dimana faktor faktor lingkungan hidup memegang peranan penting dan bagi industri yang menganggap pegawai sebagai kelompok pengguna laporan yang memegang peranan penting. Regulasi mengenai akuntansi pertanggungjawaban sosial di Indonesia telah diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 57 yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).

KELOMPOK 6

Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial


Daftar pustaka

Angraini. 2006. Pengungkapan Informasi Sosial dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan Informasi Sosial dalam Laporan Keuangan Tahunan (Studi Empiris pada Perusahaan-Perusahaan yang Terdaftar Bursa Efek Jakarta). Disampaikan di Simposium Nasional Akuntansi 9 Padang. Bewley. 2008. The Impact of A Change in Regulation on Environmental Disclosure: SAB92 and the US Chemical Industry. Issues in Social and Enviromental Accounting. Vol. 2, No. 1, June 2008, pp. 6188. Deegan, Craig. 2004. Financial Accounting Theory. Australia: McGraw-Hill Mahoney, Lois, LaGore, W., dan Scazzero, J. A. 2008. Corporate Social Performance, Financial Performance for Firm that Restate Earnings. Issues in Social and Enviromental Accounting. Vol. 2, No. 1, June 2008, pp. 104130. Suaryana, Agung. Implementasi Akuntansi Sosial dan Lingkungan di Indonesia. Universitas Udayana (www.google.co.id), diakses 24 April 2012. www.google.co.id

KELOMPOK 6