Anda di halaman 1dari 43

P K S WA TC H

CATATAN SEORANG SIMPATISAN KEPADA PARTAI KEADILAN SEJAHTERA, DIBUAT ATAS DASAR CINTA PADA GERAKAN DAKWAH YANG LURUS DAN KONSISTEN DI JALAN ALLAH.

<< Home
28 APRIL 2008

Adakah Virus Pemikiran NII di PKS?


Pengantar DOS Sebuah komentar di artikel "Penyimpangan-Penyimpangan Dalam Gerakan Da'wah Islam" (komentar nomor 6), mengingatkan saya pada sebuah informasi lama yang sempat bertubi-tubi masuk melalui email ketika awal-awal saya membuka blog PKSWatch (versi 1). Informasi tentang keterkaitan salah seorang tokoh pendiri PKS dengan gerakan NII (Negara Islam Indonesia), sebagian pembaca saya yakin tentu sudah mengetahui bahwa beliau yang saya maksud adalah ustadz Hilmi Aminuddin, ketua Majelis Syuro PKS, ketua MRA PKS (Maktab Riqobah Ammah) sekaligus sebagai muraqib amm jamaah ikhwan di Indonesia. Komentar spontan dari kader/simpatisan yang baru mengetahui hal ini mungkin berupa lontaran bahwa ini fitnah. Untuk menentukan fitnah atau bukan harus berhati-hati, karena agak "tersebar dalam spektrum", tergantung seperti apa informasi yang diberikan. Kalau keterkaitan itu dalam masalah ideologis/manhaj/metode, maka menurut saya ini fitnah, karena manhaj dakwah yang diusung oleh PKS jauh berbeda dengan manhaj yang diusung oleh NII. Tapi kalau keterkaitan itu (paling tidak) karena adanya hubungan biologis antara ustadz Hilmi dan tokoh NII, maka ini adalah fakta yang bahkan sudah diketahui umum, bahwa beliau adalah putra dari alm Danu Mohammad Hasan, seorang tokoh NII. Informasi yang saya terima itu pelan-pelan saya coba telusuri kebenarannya dari studi literatur atau bertanya kiri kanan, sekedar sebagai tambahan pengetahuan mengenai jamaah. Namun demikian, hingga saat saya membuat artikel ini, saya belum pernah memuat informasi tersebut di blog PKSWatch (sejak versi 1), karena pertimbangan bahwa informasi tersebut tidak relevan dengan gerakan dakwah di ranah politik yang diusung oleh PKS, hence juga tidak

relevan dengan kritik yang saya lakukan. Tapi "perkembangan" PKS belakangan ini kembali memicu pemikiran saya, apakah memang betul-betul tidak ada keterkaitan antara PKS dan NII? Sekali lagi yang saya maksudkan bukanlah keterkaitan ideologis atau manhaj, siapapun yang mempelajari manhaj dakwah ikhwan yang diadopsi oleh PKS akan tahu bahwa itu berbeda sama sekali dengan NII. "Perkembangan" yang saya maksud tersebut adalah adanya ahwa ingin cepat berkuasa dari qiyadah di PKS sehingga agak mengabaikan manhaj dan nilai-nilai dakwah yang seharusnya menjadi ruh total perjuangan. Bahkan muncul pula dari berbagai kalangan di PKS gagasan atau pemikiran yang menurut saya sudah melenceng dari manhaj dakwah, tapi justru jadi rada mirip dengan pemikiran NII, katakanlah "men-qiyas-kan" pilkadal dengan perang Badar, "meng-qiyaskan" mahar politik (entah untuk jadi calon kepala daerah, calon direksi BUMN, dsb) dengan ganimah, sehingga bahkan muncul pemikiran bahwa ketidakcocokan antara berbagai eksponen qiyadah itu bukan lagi sekedar sebuah dinamika politik tapi karena pembagian ganimah yang tidak adil, naudzubillah. NII sendiri terbagi dalam berbagai spektrum pemikiran, tapi benang merah yang bisa saya simpulkan adalah bahwa gerakan ini ingin menerapkan syariah secara revolusioner, dengan perubahan yang radikal (silahkan dikoreksi kalau saya salah), berbeda jauh dengan manhaj dakwah ikhwan atau Islam secara umum yang mengandalkan dakwah bil hikmah (QS An Nahl: 125). Salah satu konsekwensi sikap radikal tersebut adalah adanya anggapan bahwa Indonesia saat ini adalah darul harb (negara musuh) sehingga muncul perlakuan khas masa perang, seperti menganggap harta orang (termasuk muslim) yang berada di luar kelompoknya adalah sebagai fa'i atau ganimah. Menurut Ensiklopedi Islam Indonesia, definisi fa'i adalah harta kekayaan yang diperoleh umat Islam dari pihak non muslim tanpa peperangan, seperti melalui jalan damai atau menyerah kalah sebelum terjadinya pertempuran. Sementara definisi ganimah adalah harta rampasan yang diperoleh lewat peperangan. Pembaca yang sering mengikuti berbagai diskursus pemikiran kontemporer kader/simpatisan PKS mungkin sudah pernah

mendengar adanya pemikiran yang saya sebut di atas, seperti menganggap "mahar politik" (baca: suap) sebagai ganimah, bahkan yang lebih keblinger menganggap pilkadal (seperti Banten) ibarat perang Badar, sebuah anggapan yang overdosis. Nah, dari sini terpicu sebuah pemikiran, apakah saya masih bersikukuh bahwa PKS itu tidak ada hubungannya dengan NII, atau saya sudah harus mulai membuka pikiran untuk melihat bahwa PKS pelan-pelan mulai terkontaminasi virus pemikiran dari NII. Ini sebuah tantangan kekritisan pemikiran untuk para kader dan simpatisan PKS agar waspada terhadap gejala-gejala ini. Ketika sebuah harakah mendeklarasikan dirinya sebagai harakah dakwah yang mengusung nilai-nilai Quran dan sunnah, maka ia terikat pada aturan-aturan yang ada di dalam dua perkara tersebut. Dalam artikel sebelumnya (baik pada pengantar, artikelnya sendiri atau diskusi pada fasilitas komentar) sudah dijelaskan bahwa ultimate goal dari dakwah adalah penegakan kalimat tauhid (terutama aspek uluhiyah) ((An Nahl: 36, Al Anbiyaa': 25, Az Zumar: 11) dan berhukum pada hukum Allah (Al Maa'idah: 44, Yusuf: 40, As Syuura: 13), negara atau khilafah itu hanyalah sasaran antara. Sementara cara menegakkannya sudah ditegaskan dengan cara seruan hikmah (An Nahl: 125), dan Allah menjanjikan kekuasaan di muka bumi bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh (An Nuur: 55). Allah sudah menegaskan tujuan, cara dan jaminan keberhasilan bagi dakwah. Yang tidak dijamin oleh Allah adalah waktu, kapan itu akan terjadi, wallahualam. Yang bisa dilakukan oleh manusia adalah terus berdakwah dengan sabar dan tanpa putus asa, karena jalan dakwah memang bukan jalan dengan karpet merah (Al An'aam: 10, Al An'aam: 34), bukan pula jalan yang bertabur harta "ganimah hasil musyarokah" (Al An'aam: 90, Huud: 29). Banyak lagi dalil lain baik di Quran maupun sunnah yang juga menegaskan hal-hal tersebut di atas. Nah, di sinilah rupa-rupanya sebagian qiyadah/aktivis dakwah agak kehilangan kesabarannya, nilai-nilai dakwah mulai agak terkesampingkan oleh ahwa ingin cepat berkuasa. Ketika dakwah sudah menjadi wasilah politik (bukan politik yang menjadi wasilah dakwah seperti seharusnya), ketika ahwa kekuasaan semakin kasat mata, ketika kuantitas sudah lebih diutamakan ketimbang kualitas, maka sudah saatnya buat kita untuk waspada dan saling mengingatkan agar kembali kepada manhaj dakwah yang lurus.

Kembali kepada virus pemikiran NII di PKS, berikut ini saya tampilkan sebuah tulisan, yang dari banyak tulisan lainnya merupakan tulisan yang lebih mendekati kebenaran. Beberapa waktu yang lalu seorang tokoh senior di PK(S) juga mengirimkan artikel yang isinya kurang lebih mirip, juga dilengkapi dengan data-data, dan beliau meminta artikelnya dimuat di blog ini, tetapi tokoh tersebut tidak mau ditampilkan namanya. Dengan pertimbangan bahwa tulisan seperti ini sebaiknya bukan dari penulis anonim, maka saya putuskan untuk memuat artikel dari ustadz Umar Abduh, karena kebetulan tulisan ustadz Umar memiliki kemiripan, walau redaksi bahasanya berbeda dan informasinya agak kalah lengkap dibandingkan dengan tulisan yang saya terima. Khusus untuk artikel ini, karena sensitifnya informasi, saya akan menerapkan moderasi ketat pada fasilitas komentar. Saya membatasi diskusi hanya seputar masalah keterkaitan pemikiran (ala) NII di PKS, bukan tentang NIInya sendiri, jadi bukan tentang sejarah NII (DI/TII), berbagai pecahan NII, ma'had terkenal di Indramayu, dll, kecuali kalau informasi tersebut memang terkait dengan topik yang ingin disampaikan. Jadi kalau hanya ingin jiddal atau membuat komentar ad hominem, sebaiknya jangan buangbuang waktu. Tulisan ustadz Umar ini sudah dimuat dua tahun yang lalu di website Swaramuslim, dengan judul 'Latar Belakang Gerakan Komando Jihad', dan mungkin sudah banyak yang membaca, jadi ini bukan tulisan gelap. Meskipun isi tulisan lebih banyak bercerita mengenai keterkaitan NII dengan jaringan intelijen negara zaman Orba, tapi ada informasi keterkaitan ketua MS PKS di dalamnya. Buat saya sebetulnya tidak ada kaitannya kalau ketua MS PKS pernah terlibat NII binaan intelijen, maka PKS juga sama. Karena PK(S) awalnya berdakwah dengan manhaj dakwah yang benar. Tapi sekali lagi, melihat perkembangan arah dakwah PKS belakangan ini, sebaiknya kita berpikir kritis, betulkah memang tidak ada virus pemikiran NII di tubuh PKS? Wallahualam bishowab. DOS

Latar Belakang Gerakan Komando Jihad


Oleh Umar Abduh

Sekjen CeDSoS (Center for Democtaric and Social Justice Studies), Jakarta. Pengantar Redaksi (Swaramuslim) Tulisan berjudul Latar Belakang Gerakan Komando Jihad ini, berasal dari makalah yang disampaikan Umar Abduh pada forum "Diskusi Ahli: Penelitian Komando Jihad" yang diselenggaran oleh Tim Riset Pusham UII (Universitas Islam Indonesia, Jogjakarta) dan Elsham (Jakarta), yang berlangsung pada tanggal 14 Februari 2006 di Hotel Jogja Plaza, Jogjakarta. Makalah tersebut dilengkapi dengan lampiran yang jumlah keseluruhannya mencapai 30 halaman lebih. Namun untuk keperluan publikasi di swaramuslim, lampiran tersebut tidak disertakan. Berbicara tentang Komando Jihad, tidak bisa lepas dari gerakan NII (DI/TII) pimpinan SM Kartosoewirjo (SMK). Karena, seluruh tokoh penting yang terlibat di dalam gerakan Komando Jihad ini, adalah petinggi NII (DI/TII) pimpinan SMK yang dieksekusi pada September 1962 di sebuah pulau di Teluk Jakarta. Boleh dibilang, gerakan Komando Jihad merupakan salah satu bentuk petualangan politik para pengikut SMK pasca dieksekusinya sang imam. Sebelumnya, pada Agustus 1962, seluruh warga NII (DI/TII) yang jumlahnya mencapai ribuan orang, mendapat amnesti dari pemerintah. Termasuk, 32 petinggi NII (DI/TII) dari sayap militer, belum termasuk Haji Isma'il Pranoto (Hispran) dan anak buahnya, yang baru turun gunung (menyerah kalah kepada pasukan Ali Moertopo) pada 1974. Dari 32 petinggi NII (DI/TII) yang telah menyerah[1] kepada pihak Soekarno tanggal 1 Agustus 1962 itu, sebagian besar menyatakan ikrar bersama, yang isinya: "Demi Allah, akan setia kepada Pemerintah RI dan tunduk kepada UUD RI 1945. Setia kepada Manifesto Politik RI, Usdek, Djarek yang telah menjadi garis besar haluan politik Negara RI. Sanggup menyerahkan tenaga dan pikiran kami guna membantu Pemerintah RI cq alat-alat Negara RI. Selalu berusaha menjadi warga Negara RI yang taat baik dan berguna dengan dijiwai Pantja Sila." [2]

Sebagian kecil di antara mereka tidak mau bersumpah setia, yaitu Djadja Sudjadi, Kadar Shalihat, Abdullah Munir, Kamaluzzaman, dan Sabur. Dengan adanya ikrar tersebut, maka kesetiaan mereka kepada sang Imam telah bergeser, sekaligus mengindikasikan bahwa sebagai sebuah gerakan berbasis ideologi Islam, NII (DI/TII) sudah gagal total. Dan sisa-sisa gerakan NII pada saat itu (1962) dapat dikata sudah hancur lebur basis keberadaannya. Setelah tiga tahun vakum, ada di antara mereka yang berusaha bangkit melanjutkan perjuangan, namun dengan meninggalkan karakter militeristik dan mengabaikan struktur organisasi kenegaraan NII. Mereka inilah yang meski sudah menerima amnesti

namun tidak mau bersumpah-setia sebagaimana dilakukan oleh sebagian besar mantan petinggi NII lainnya.

Gerakan tersebut menamakan diri sebagai gerakan NII Fillah (bersifat Non Struktural). Kepemimpinan gerakan dijalankan secara kolektif oleh Kadar Shalihat dan Djadja Sudjadi. Munculnya kelompok Fillah atau NII non struktural ini, ditanggapi serius oleh pihak militer NKRI. Yaitu, dengan menciptakan "keseimbangan", dengan cara melakukan penggalangan kepada para mantan "mujahid" NII yang pernah diberi amnesti dan telah bersumpah setia pada Agustus 1962 lalu. Melalui jalur dan kebijakan Intelejen, pihak militer memberikan santunan ekonomi sebagai bentuk welfare approach (pendekatan kesejahteraan) kepada seluruh mantan "mujahid" petinggi NII yang menyerah dan memilih menjadi desertir sayap militer NII. Nama-nama Tokoh Penting di Belakang Gerakan Komando Jihad Nama Danu Mohammad Hasan[3] yang pertama kali dipilih Ali Murtopo untuk didekati dan akhirnya berhasil dibina menjadi 'orang' BAKIN, pada sekitar tahun 1966-1967. Pendekatan intelejen itu sendiri secara resmi dimulai pada awal 1965, dengan menugaskan seorang perwira OPSUS bernama Aloysius Sugiyanto.[4] Tokoh selanjutnya yang menyusul dibidik Ali Murtopo adalah Ateng Djaelani Setiawan. Tokoh lain yang diincar Ali Murtopo dalam waktu bersamaan yang didekati Aloysius Sugiyanto adalah Daud Beureueh mantan Gubernur Militer Daerah Istimewa ACEH tahun 1947 yang memproklamirkan diri sebagai Presiden NBA (Negara Bagian Aceh) pada 20 September 1953, dan menyerah, kembali ke NKRI Desember tahun 1962. Selanjutnya pendekatan terhadap para mantan petinggi sayap militer DI-TII yang lain yang berpusat di Jawa Barat dilakukan oleh Ibrahim Aji, Pangdam Siliwangi saat itu.[5] Mereka yang dianggap sebagai "petinggi NII" oleh Ibrahim Aji itu di antaranya: Adah Djaelani dan Aceng Kurnia. Kedua mantan petinggi sayap militer DI ini pada saat itu setidaknya membawahi 24-26 nama (bukan ulama NII). Sedangkan mereka yang dianggap sebagai mantan petinggi sayap sipil DI yang selanjutnya menyatakan diri sebagai NII Fillah antara lain adalah Kadar Shalihat, Djadja Sudjadi dan Abdullah Munir dan Kamaluzzaman membawahi puluhan ulama NII. Pengaruh dan Akibat Kebijakan Intelejen Ali Murtopo ORDE BARU. Baik menurut kubu para mantan petinggi sayap militer maupun sayap sipil NII, politik pendekatan pemerintah orde baru melalui Ibrahim Aji yang menjabat Pangdam Siliwangi tersebut, sangat diterima dengan baik, kecuali oleh beberapa pribadi yang konon menolak uluran pemerintah tersebut, yaitu Djadja Sudjadi[6]

dan Abdullah Munir. Para mantan tokoh sayap militer dan sayap sipil DI selanjutnya menjadi makmur secara ekonomi. Hampir masing-masing individu mantan tokoh DI tersebut diberi modal cukup oleh Pitut Suharto berupa perusahaan CV (menjadi kontraktor) dilibatkan dalam proyek Inpres, SPBU atau agen Minyak Tanah. Kebijakan OPSUS dan Intelejen selanjutnya menggelar konspirasi dengan meminta para mantan laskar NII tersebut mengkonsolidasikan kekuatan melalui reorganisasi NII ke seluruh Jawa dan Sumatra. Pada saat itu Ali Murtopo masih menjabat Aspri Presiden selanjutnya menjadi Deputi Operasi Ka BAKIN dan merangkap Komandan OPSUS ketika mendekati detik-detik digelarnya 'opera' konspirasi dan rekayasa operasi intelejen dengan sandi Komando Jihad di Jawa Timur. Dalam waktu yang bersamaan Soeharto menyiapkan Renstra (Rencana Strategis) Hankam (1974-1978) sebagaimana dilakukan ABRI secara sangat terorganisir dan sistematis melalui penyiapan 420 kompi satuan operasional, 245 Kodim sebagai aparat teritorial dan 1300 Koramil sebagai ujung tombak intelejen dalam gelar operasi keamanan dalam negeri yang diberi sandi Opstib dan Opsus. Yang tidak boleh dilupakan, pada saat yang bersamaan di tahun 1971-1973 tersebut Ali Murtopo juga melindungi sekaligus menggarap Nurhasan alUbaidah Imam kelompok Islam Jama'ah yang secara kelembagaan telah dinyatakan sesat dan terlarang oleh Kejaksaan Agung tahun 1971, namun pada waktu yang sama justru dipelihara serta diberi kesempatan seluas-luasnya melanjutkan kiprahnya menyesatkan ummat Islam melalui lembaga baru LEMKARI (Lembaga Karyawan Islam) di bawah naungan bendera Golkar dan berganti nama menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) yang berlanjut hingga sekarang. Dari sinilah pendekatan itu berkembang menjadi makin serius dan signifikan, ketika Ali Murtopo mengajukan ide tentang pembentukan dan pembangunan kembali kekuatan NII, guna menghadapi bahaya laten komunis dari utara maupun dalam rangka mengambil alih kekuasaan. Ide Ali Murtopo ini selanjutnya diolah Danu Mohammad Hasan dan dipandu Pitut Suharto, disambut Dodo Muhammad Darda, Tahmid Rahmat Basuki (anak SMK) dan H.Isma'il Pranoto (Hispran). Keberadaan dan latar belakang Pitut Suharto yang memiliki kedekatan hubungan pribadi dengan Andi Sele di Makassar, juga dengan H. Rasyidi [7] di Gresik Jawa Timur, pada tahun 1968 akhirnya ditugaskan Ali Murtopo untuk mengolah hubungan dan keberadaan para mantan petinggi NII yang sudah dirintisnya sejak 1965 tersebut dengan kepentingan membelah mereka menjadi 2 faksi. Faksi pertama diformat menjadi moderat untuk memperkuat Golkar, dan faksi kedua diformat bagi kebangkitan kembali organisasi Neo NII. Keterlibatan Pitut Suharto yang akhirnya dinaikkan pangkatnya menjadi

menjabat sebagai Dir Opsus di bawah Deputi III BAKIN terus berlanjut, Pitut tidak saja bertugas untuk memantau aktifitas para mantan tokoh DI tersebut, tetapi Pitut sudah terlibat aktif menyusun berbagai rencana dan program bagi kebangkitan NII, baik secara organisasi maupun secara politik termasuk aksi gerakannya. Ketika terjadi program-program pemberangkatan atau pengiriman pemuda (aktifis kader) Indonesia ke Timur Tengah seperti Libya dan Saudi Arabia yang ujung-ujungnya terkait dengan konflik Moro (MNLF) dan kelompok perlawanan Aceh Pitut Suharto-lah yang ditunjuk Ali Murtopo untuk mengantisipasi (memantau, mengurus dan menyelesaikan) masalah tersebut, sekalipun keberangkatan para kader aktifis Indonesia ke Libya tersebut terbukti hanya sebatas melakukan pelatihan militer semata. Tetapi antisipasi yang dilakukan pihak pemerintah Indonesia pada saat itu terlampau maju dan cepat, sekitar tahun 1975 keberadaan kedutaan Libya di Jakarta dipaksa tutup. Tetapi skenario Opsus terhadap kebangkitan organisasi NII terus digelindingkan. Bahkan Pitut (pihak intelejen/orde baru) justru menggunakan isu politik Libya di mata Barat dan bangkitnya NII tersebut dijadikan sebagai isu sentral terkait dengan bahaya laten kekuatan ekstrem kanan di Indonesia. Kebijakan Abbuse of Power Intelejen Ali Murtopo Bersamaan dengan kebijakan itu (memanfaatkan situasi politik terhadap Libya tersebut) strategi Opsus yang dilancarkan melalui Pitut Suharto berhasil meyakinkan para Neo NII tersebut untuk sesegera mungkin menyusun gerakan jihad yang terkonsentrasi di Jawa dan Sumatra untuk melawan dan merebut kekuasaan Soeharto. Semakin cepat hal tersebut dilaksanakan semakin berprospek mendapat bantuan persenjataan dari Libya, yang sudah diatur Ali Murtopo. Berkat panduan Letnan Kolonel TNI AD Pitut Suharto[8] kegiatan musyawarah dalam rangka reorganisasi NII yang meliputi Jawa-Sumatra tersebut berlangsung beberapa hari, hal itu justru dilaksanakan di markas BAKIN jalan Senopati, Jakarta Selatan. Di sinilah situasi dan kondisi (hasil rekayasa BAKIN-Ali Murtopo dan Pitut Suharto melalui kubu Neo NII Sabilillah di bawah Daud Beureueh, Danu Mohammad Hasan, Adah Djaelani, Hispran dkk) berhasil didesakkan kepada kubu Fillah yang dipimpin secara kolektif oleh Djaja Sudajadi, Kadar Shalihat dan Abdullah Munir dkk untuk memilih kepemimpinan. Hasil musyawarah kedua kubu (Fillah dan Sabilillah ini) yang dilakukan pada tahun 1976 ini menetapkan, kepemimpinan NII diserahkan kepada Tengku Daud Beureueh sekaligus membentuk struktur organisasi pemerintahan Neo NII yang terdiri dari Kementrian dan Komando kewilayahan (dari Komandemen Wilayah hingga Komandemen Distrik dan Kecamatan)

namun tanpa dilengkapi dengan Majelis Syura maupun Dewan Syura. Provokasi dan jebakan OPSUS terhadap para mantan tokoh DI berhasil, Struktur organisasi NII kepemimpinan Daud Beureueh berdiri dan berlangsung di bawah kendali Ali Murtopo yang saat itu menjabat sebagai Deputi Operasi Ka BAKIN melalui Kolonel Pitut Suharto. Gerakan dakwah agitasi dan provokasi neo NII Sabilillah sponsor Pitut dan Ali Murtopo mulai berkembang ke seantero pulau Jawa. Muatan dakwah, agitasi dan provokasi para tokoh Neo NII bentukan Ali Murtopo-Pitut Suharto hanya berkisar seputar pentingnya struktur organisasi NII secara riil. Karenanya kegiatan seluruh anggota kabinet Neo NII adalah melakukan rekrutmen melalui pembai'atan secepatnya untuk mengisi posisi pada struktur wilayah (Gubernur sekaligus sebagai Pangdam = Komandemen Wilayah) dan posisi pada struktur Distrik (Bupati sekaligus sebagai Kodim = Komandemen Distrik) seraya menebar janji akan segera memperoleh supply persenjataan dari Libya sebanyak satu kapal[9] yang akan mendarat di pantai selatan Pulau Jawa. Sasaran rekrutmen (pembai'atan) dilakukan hanya sebatas mengisi posisi pada komandemen distrik struktur Neo NII, maka sasaran rekrutmen dipilih secara tidak selektif di antaranya adalah para tokoh pemuda Islam dan ulama atau kiai yang nota bene sangat awam politik maupun organisasi. Tugas rekrutmen untuk Jawa Tengah dan Jawa Timur dilakukan oleh H. Isma'il Pranoto dan H. Husein Ahmad Salikun. Di Jawa Timur aktifitas rekrutmen bagi kebangkitan Neo NII yang dilakukan oleh H. Isma'il Pranoto tersebut sama sekali tidak terlihat ada tindak lanjut apapun, baik yang berbentuk pelatihan manajemen dakwah dan organisasi maupun yang bersifat fisik baris berbaris, menggunakan senjata atau merakit bom. Tetapi hanya terhitung selang sebulan atau dua bulan kemudian, aparat keamanan dari Laksus tingkat Kodam, Korem dan Kodim menggulung dan menyiksa mereka tanpa ampun. Jumlah korban penangkapan oleh pihak Laksusda Jatim yang digelar pada tanggal 6-7 Januari 1977 terhadap para rekrutan baru H. Isma'il Pranoto mencapai sekitar 41 orang, 24 orang di antaranya diproses hingga sampai ke pengadilan. H. Ismail Pranoto divonis Seumur Hidup, sementara para rekrutan Hispran yang juga disebut sebagai para pejabat daerah struktur Neo NII tersebut, baru diajukan ke persidangan pada tahun 1982, setelah "disimpan" dalam tahanan militer selama 5 tahun, dengan vonis hukuman yang bervariasi. Ada yang divonis 16 tahun, 15 tahun, 14 tahun hingga paling ringan 6 tahun penjara. H. Ismail Pranoto disidangkan perkaranya di Pengadilan Negeri Surabaya tahun 1978 dengan memberlakukan UU Subversif PNPS No 11 TH 1963 atas tekanan Pangdam VIII Brawijaya saat itu, Mayjen TNI-AD Witarmin[10]. Sejak itulah UU Subversif ini digunakan sebagai senjata utama untuk menangani semua kasus yang bernuansa maker dari kalangan Islam.

Nama Komando Jihad sendiri menurut H. Isma'il Pranoto merupakan tuduhan dan hasil pemberkasan pihak OPSUS, baik pusat maupun daerah (atas ide Ali Murtopo dan Pitut Suharto). Sementara penyebutan yang berlaku dalam tahanan militer Kodam VIII Brawijaya ASTUNTERMIL di KOBLEN Surabaya, mereka dijuluki sebagai jaringan Kasus Teror Warman (KTW). Sementara keberadaan Pitut Suharto sendiri sejak tanggal 6 Januari 1977 saat dimulainya penangkapan terhadap H. Isma'il Pranoto dan orang-orang yang direkrutnya sebagai kelompok Komando Jihad Pitut justru menyelamatkan diri ke Jerman Barat, dan baru kembali ke Indonesia setelah 6 atau 7 tahun kemudian. Di Jawa Tengah sendiri aksi penangkapan terhadap anggota Neo NII rekrutan H. Isma'il Pranoto dan H. Husen Ahmad Salikun oleh OPSUS, seperti Abdullah Sungkar maupun Abu Bakar Ba'asyir dan kawan-kawan berjumlah cukup banyak, sekitar 50 orang, akan tetapi yang diproses hingga sampai ke pengadilan hanya sekitar 29 orang. Penangkapan terhadap anggota Neo NII wilayah Jawa Tengah rekrutan H. Isma'il Pranoto dan H. Husen Ahmad Salikun berlangsung tahun 1978-1979. Di Sumatera, aksi penangkapan secara besar-besaran berdasarkan isu Komando Jihad ini terjadi sepanjang tahun 1976 hingga tahun 1980, dan berhasil menjaring ribuan orang. Sementara penangkapan terhadap para elite Neo NII yang musyawarah pembentukan strukturnya dilakukan di markas BAKIN (jalan Senopati, Jakarta Selatan) seperti Adah Djaelani Tirtapradja, Danu Mohammad Hasan, Aceng Kurnia, Tahmid Rahmat Basuki Kartosoewirjo, Dodo Muhammad Darda Toha Mahfudzh, Opa Musthapa, Ules Suja'i, Saiful Iman, Djarul Alam, Seno alias Basyar, Helmi Aminuddin Danu[11], Hidayat, Gustam Effendi (alias Ony), Abdul Rasyid dan yang lain dengan jumlah sekitar 200 orang, mereka ditangkap Laksus sejak akhir 1980 hingga pertengahan 1981. Namun dari sekitar 200 orang anggota Neo NII yang ditangkap OPSUS tersebut, hanya sekitar 30 elitenya saja yang dilanjutkan ke persidangan, selebihnya dibebaskan bersyarat oleh OPSUS termasuk beberapa nama yang menjadi tokoh komando KW-9 [12], kecuali satu nama tokoh, yaitu Menlu kabinet Neo NII yang bernama Helmi Aminuddin bin Danu. Akan tetapi isu dan dalih keterkaitan dengan bahaya kebangkitan NII, Komando Jihad dan Teror warman berdasarkan hasil pengembangan penyidikan pihak keamanan terhadap mereka yang pernah ditangkap maupun yang diproses ke pengadilan, oleh pihak OPSUS digunakan terus untuk melakukan penangkapanpenangkapan secara continue dan konsisten. Sekitar medio 1980 OPSUS Jawa Timur melakukan penangkapan terhadap 5 tokoh pelanjut Komandemen Wilayah Jawa Timur, Idris Darmin

Prawiranegara. Kemudian dilanjutkan dengan penangkapan berikutnya pada medio 1982, terhadap orang-orang baru yang direkrut Idris Darmin di wilayah jawa timur dengan jumlah sekitar 26 orang.

Kesimpulan Secara substansi, makna kebangkitan Neo NII yang lahir berkat dibidani dan buah karya operasi intelejen OPSUS tersebut, dengan demikian hal tersebut sangat tidak layak untuk dinilai dan atau diatasnamakan sebagai wujud perjuangan politik berbasis ideologi Islam (apalagi sampai dikategorikan sebagai jihad suci fie sabilillah). Hakekat substansi dan orientasi kiprah gerakan reorganisasi yang dilakukan para mantan tokoh sayap militer NII tersebut adalah lebih didorong oleh dan dalam rangka memperoleh serta memperturutkan syahwat duniawi (materi dan kedudukan politis) kemudian bertemu-bekerjasama (bersimbiosis mutualistis) dengan para tokoh intelejen jahiliyah yang terkenal kebusukannya dan terkenal pula kerakusannya terhadap dunia (syahwat duniawi). Dengan demikian timbangan yang adil dan benar terhadap kasus Komando Jihad, Kebangkitan Neo NII maupun Fundamentalisme Jihad para mantan tokoh sayap militer DI tersebut merupakan wujud perjuangan atau pengorbanan yang bathil. Hakekat orientasi dan substansi motivasi para pihak atau pribadi yang dilakukan karena semangat dan ketulusan untuk memperjuangkan Islam, yang tidak didorong dalam rangka memperoleh dan memperturutkan syahwat duniawi sebagaimana halnya sikap dan tindakan para mantan tokoh sayap sipil DI tersebut, hal itu menjadikan posisi mereka sebagai korban sekaligus menjadi bukti kebodohan mereka sendiri dalam bergama dan berpolitik akibat kebohongan, kebodohan dan kebathilan para mantan tokoh sayap militer DI sendiri dalam berpolitik dan beragama. Seluruh bentuk kerugian atau efek samping apa saja yang muncul dan terkait akibat kebodohan dan pembodohan yang dilakukan atau menimpa masyarakat Neo NII dan Komando Jihad, terjadi akibat mengikuti efek domino dari provokasi dan agitasi para mantan tokoh sayap militer DI, yang secara sadar dan sepakat untuk dijebak dan diprovokasi oleh kebijakan intelejen OPSUS (orde baru). Oleh karenanya segala kerugian tersebut merupakan tanggungjawab mereka bersama (para korban Neo NII dan para subyek Neo NII maupun para aparat OPSUS) sekalipun bentuk dan wujud tanggungjawab masing-masing mereka berbeda-beda. Mengingat motivasi dan orientasi tanggungjawab ketiga pihak tersebut juga berbeda-beda, dalam pengertian:

Eksistensi pihak ke III, adalah orang-orang yang bersedia direkrut dan memposisikan dirinya sebagai para pihak yang secara sadar telah terdorong dan termotivasi untuk berjihad secara ikhlas dan ihsan di jalan Islam namun terperosok dan terlanjur masuk ke dalam struktur gerakan Neo NII. Mereka harus bertanggungjawab atas dirinya sendiri untuk menyadari, menghentikan kesalahannya sendiri, selanjutnya bertanggung jawab untuk menentang kegiatan bodoh dan kekeliruan fundamental yang dilakukan pihak ke II - Neo NII. Selanjutnya posisi keberadaan mereka telah patut untuk disebut sebagai korban tak sadar dari abuse of Power, system dan kebijakan politik maupun intelejen Orde Baru. Namun secara Aqidah, ideology, syari'ah dan etika Islam mereka tidak diperkenankan melakukan penuntutan dalam bentuk apapun, baik terhadap pihak ke II maupun pihak ke I.

Pihak ke II adalah para pihak yang secara sengaja dan sadar menjalin hubungan dengan pihak ke I, yang dikenal dan dipahami sebagai pejabat intelejen militer sekaligus sebagai pejabat pemerintah dan Negara yang jahat, culas, bengis dan kejam. Selain itu secara hukum, perundangan dan ideologi antara pihak ke II dan pihak ke I adalah berhadap-hadapan, bahkan cenderung membenci, memusuhi dan menentang secara lahir bathin terhadap keberadaan perjuangan politik dan agama Islam. Dengan demikian bentuk dan wujud tanggungjawab yang harus dipikul dan dilakukan oleh pihak ke II menurut hukum, undang-undang dan etika Islam adalah melakukan tobat dan memohon maaf kepada Allah, juga kepada pihak ke III dan ummat Islam. Selanjutnya mereka wajib menghentikan dan meninggalkan peran buruknya sebagai mitra persekongkolan dalam tindak kejahatan politik dan kebijakan intelejen Orde Baru, sekalipun untuk itu mereka tidak mendapatkan bayaran sebagaimana halnya dahulu saat pertama kali menerima kesepakatan kerja dengan iblis dan atau setan intelejen tersebut.

Pihak ke I terdiri dari para pihak yang berada dalam posisi sebagai aparat territorial, sejak dari tingkat Kodim, Korem hingga Kodam yang pada masa itu disebut sebagai aparat Laksusda (DenSatgas Intel atau Intel Balak = Intelejen Badan Pelaksana) yang bertugas melakukan penangkapan, penyiksaan hingga pemberkasan terhadap jaringan gerakan Islam (Neo NII, Komando Jihad, Teror Warman, Teror Imran* dan Usrah) yang menjadi target obyek operasi intelejen. Pihak berikutnya adalah para pemrakarsa, pembuat scenario dan sutradara dari operasi intelejen yang dirancang oleh sayap intelejen yang berkuasa penuh di bawah struktur Kopkamtib. Pihak ke I bisa juga disebut sebagai kekuatan bayangan dari struktur kekuasaan yang ada saat itu namun diformat memiliki kewenangan penuh untuk merancang program, mekanisme dan pengelolaan (mengendalikan) terhadap perjalanan system politik, ekonomi dan pemerintahan yang berlaku. Pihak ke I sangat dimungkinkan untuk melakukan kerjasama dan

menerima order, baik dari penguasa domestic maupun asing, mengingat hukum Politik, kepentingan kekuasaan dan intelejen selalu mengglobal, sesuai peta dan kubu ideology yang eksis di dunia atau berlaku universal. Oleh karena itu pihak ke I diberi kewenangan luar bisa, baik dalam menyusun grand scenario hingga tingkat pelaksanaan (juklak) yang dilakukan secara rahasia dan rapi, selanjutnya dikordinasikan penerapan aturan mainnya dengan lemhannas dan departemen-departemen maupun kementrian. Dengan demikian tugas, peran dan keberadaan pihak ke I menurut garis besar haluan negara merupakan hal yang legal dan wajar, sekalipun untuk kepentingan itu harus mengorbankan apa saja (abuse of power: terhadap demokrasi dan HAM) atau membuat sandiwara dan rekayasa apa saja. Itulah hukum yang berlaku dalam dunia politik, kepentingan kekuasaan dan intelejen. Selanjutnya pihak ke I adalah para pihak yang menjadi inisiator membangkitkan neo NII, memberikan stigma kepada ummat Islam, menciptakan beban psikologis kepada ummat Islam Indonesia yang hingga kini diposisikan sebagai produsen gerakan radikal bahkan pelaku teror. Sebagai aparat negara seharusnya mereka menggali potensi rakyat dan memberdayakan potensi tersebut ke tempat semestinya, bukan justru dijadikan instrumen politik untuk menggapai kekuasaan dan atau mempertahankan kekuasaan. Secara aqidah, syari'ah dan etik Islam, peran dan keberadaan Pihak ke I telah sesuai dengan standar dari sifat dan wujud system kekuasaan dictatorial, dzhalim dan kuffar. Karenanya segala bentuk kejahatan, tindak kekerasan dan pelanggaran terhadap HAM yang dilakukan Pihak ke I terhadap pihak II dan pihak ke III hanya dipandang salah dan dapat dituntut atau dikenakan sanksi hukum berdasarkan hukum dan undangundang internasional yang berwujud Declarations Of Human Right. Atas kesalahan dan keterlibatan Militer dan intelejen secara serius dan mendetil dalam dunia politik praktis, maka Pihak ke I harus bertobat kepada Allah Tuhan semua manusia, seraya memohon maaf kepada ummat Islam yang telah diperdaya dan didzhaliminya, bahkan Pihak ke I harus memohon maaf kepada seluruh rakyat Indonesia, karena telah memasyarakatkan budaya konflik horizontal yang keberlangsungannya terus terjadi hingga sekarang.

* Keterangan Tambahan Mengenai Teror Imran Munculnya kasus Jama'ah Imran pada pertengahan tahun 1980 berlangsung melalui proses yang berdiri sendiri. Dalam artian, tidak ada keterkaitan dan tidak

ada hubungan baik secara ideologi, fiqh maupun sikap dan warna politik dengan eksistensi gerakan Neo NII atau Komando Jihad dan Teror Warman. Memang sempat terjadi "interaksi" antara anggota Jama'ah Imran dengan beberapa elite KW-9 (Komandemen Wilayah 9) dalam struktur Neo NII atau Komando Jihad hasil ciptaan Ali Murtopo dan Pitut Suharto tersebut. Bentuk "interaksi" yang terjadi pada akhir 1980-an itu, bukanlah "interaksi" yang kooperatif tetapi justru saling kecam dan saling ancam. Hal ini terjadi, karena H.M. Subari (alm) yang merupakan elite (orang struktur) Neo NII KW-9 pernah mengatakan, "dalam satu wilayah tidak boleh ada 2 Jama'ah dan 2 Imam yang berlangsung secara bersamaan, kecuali salah satunya harus dibunuh." Hal ini perlu penulis sampaikan, untuk menepis salah kaprah selaligus untuk mempertegas bahwa tidak ada kaitan apapun antara Jama'ah Imran dengan Gerakan Neo NII pasca SMK. FOOTNOTE [1] Padahal, amanat/wasiat sang imam (SMK) adalah tidak boleh menyerah. [2] Rahmat Gumilar Nataprawira, RUNISI (Rujukan Negara Islam Indonesia). Dipertegas juga oleh pernyataan lisan dari Abdullah Munir dan tertulis dari Abdul Fatah Wirananggapati (pemegang amanah KUKT dari SMK 1953). [3] Mantan Panglima Divisi atau Komandan Resimen DI-TII, pada saat sidang pengadilan Militer MAHADPER, Agustus 1962 mengaku salah dan memberi kesaksian yang isinya menyalahkan sikap dan kebijakan politik SM Kartosoewiryo. Hubungan ini kemudian memberi OPSUS bunga menguntungkan yang tidak disangka-sangka. "Saya berperan sebagai petugas pengawas Danu," kenang Sugiyanto, "dan di bulan Maret 1966, kami menggunakannya dan anak buahnya untuk memburu anggota BPI yang sedang bersembunyi di Jakarta." Selanjutnya sejak tahun 1971, Danu Muhammad Hasan dan Daud Beureueh sering terlihat di jalan Raden Saleh 24 Jakarta Pusat (salah satu kantor Ali Murtopo), terkadang di Jalan Senopati (Kantor BAKIN), ada kalanya di Tanah Abang III (Kantor CSIS). [4] Menurut Sugiyanto hubungan ini kemudian memberi OPSUS bunga menguntungkan yang tidak disangka-sangka. "Saya berperan sebagai petugas pengawas Danu," kenang Sugiyanto, "dan di bulan Maret 1966, kami menggunakannya dan anak buahnya untuk memburu anggota BPI yang sedang bersembunyi di Jakarta." (lebih jelasnya lihat Kenneth Conboy, Intel: Inside Indonesia's Inteligence Services). [5] Seperti pengakuan Ules Suja'i: "Soal pak Adah yang santer diisukan

menerima jatah minyak dari militer, memang dulu itu saya tahu pak Adah pernah menerima jatah minyak dan oli dari RPKAD (KOPASSUS sekarang, pen), karena setiap pasukan itu kan memiliki jatah dari Pertamina, nah oleh RPKAD jatah tersebut diberikan ke pak Adah. Itu mah lewat perjuangan. Saya sendiri dengan pak Adah memang pernah dipanggil oleh Ibrahim Aji mendapat surat supaya dibantu oleh Pertamina lalu masuk ke Pertamina pusat jawabannya kurang memuaskan, malah kalau saya sendiri sampai ke WAPERDAM sampai ketemu Khaerus Shaleh, ya Alhamdulillah berhasil." [6] Djadja Sudjadi akhirnya tewas dibunuh Ki Empon atas perintah Adah Djaelani. Ironisnya, hingga akhir hayatnya Ki Empon meninggal dalam keadaan miskin dan serba susah sedangkan Adah Djaelani hidup terpandang dan lumayan sejahtera sebagai petinggi yang lebih dihormati dari AS Panji Gumilang di lingkungan mabes NII di Ma'had Al-Zaytun, Indramayu. [7] H. Rasyidi, adalah bapak kandung Abdul Salam alias Abu Toto alias Syaikh A.S. Panji Gumilang, yang kini menjadi syaikhul Ma'had Al-Zaytun yang dikenal sebagai "mabes" NII yang kental dengan nuansa misteri intelejen. Abu Toto alias Abdul Salam Panji Gumilang sendiri sejak mahasiswa menjadi kader intelejen kesayangan Pitut Suharto. [8] Pitut Suharto pensiun dengan pangkat Kolonel, kini berdomisili di Surabaya. [9] Janji serupa ini juga berulang pada diri Nur Hidayat, provokator kasus Lampung (Talangsari) yang terjadi Februari 1989. Nur Hidayat dkk ketika itu yakin sekali bahwa rencana makarnya pasti berhasil karena akan mendapat bantuan senjata satu kapal yang akan mendarat di Bakauheni, Lampung. [10] Witarmin, menurut penuturan H Isma'il Pranoto di masa pergolakan DI-TII adalah sebagai komandan Batalyon 507 Sikatan yang sempat dilucuti oleh pasukan TII di bawah komando H. Ismail Pranoto. [11] Helmi Aminuddin adalah putera Danu Mohammad Hasan, yang pada awal 1980-an membentuk komunitas Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin versi Indonesia), yang merupakan cikal-bakal PK (Partai Keadilan). Kini PK menjadi PKS (Partai Keadilan Sejahtera). [12] Pada tahun 1984, para para elite NII Komandemen Wilayah IX (yang ditangkap OPSUS pada pertengahan tahun 1980 hingga pertengahan tahun 1981, bersama dengan para pimpinan Neo NII, Adah Djaelani-Aceng Kurnia) dibebaskan bersyarat dari Rumah tahanan militer Cimanggis, tanpa melalui proses hukum (Pengadilan), mereka itu adalah: Fahrur Razi, Royanuddin, Abdur Rasyid, Muhammad Subari, Ahmad Soemargono SE, Amir, Ali Syahbana, Abdul Karim Hasan, Abidin, Nurdin Yahya dan Muhammad Rais Ahmad, Anshory dan Helmi Aminuddin bin Danu M Hasan.

Sumber : Cedsos.com
POSTED BY DOS )|( BERI KOMENTAR 18 KOMENTAR:

1. 2008 April 28 22:29,

abu menulis...

DOS..ada baiknya soal ke'miripan' style PKS skrg dengan NII, ngambil tulisan dan informasi dr kalangan 'internal' saja..karena kalo 'hanya' dari tulisannya Umar Abduh (yg juga sering 'bermasalah' membuat analisa), kayaknya kurang pas..kalo dr kalangan 'internal' saya rasa akan semakin berat bobotnya dan lebih fair.. tapi secara pribadi jamaah ini ada kemungkinan di'susupi' ..saya percaya..
BERI KOMENTAR

2. 2008 April 29 18:12,

sik asik menulis...

hmmm daripada berprasangka yang mungkin belum tentu benar tentang ustadz hilmi, oke lah beliau adalah putra Danu M Hasan, tapi apakah afiliasi dan pemikiran saat ini masih sama ? ini khan perlu dibuktikan ... gak bisa pakai asumsi aja ... ya analisa historis penting, tapi juga perlu diperhatikan perkembangan dari perjalanan beliau. selama ini pengamatan dari pihak2 yang berpikir ustadz hilmi ada hubungan2 tertentu dengan NII sehingga kader PKS harus hati2 hanya berhenti sampai catatan2 seperti pada tulisan ini, tiba2 aja jadi justifikasi bahwa kader PKS yang ikhlas harus hati2, jangan-jangan ini permainan intelijen .... ini khan ibaratnya berangkat dari kenaifan menuju kenaifan lainnya ... tadinya mau ngkritik kader taat yang dinilainya terjebak dalam kenaifan, tetapi argumennya pun tak kalah naif ... lebih baik anda mencoba gunakan sumber-sumber yang lebih otoritatif seperti : Buku Menghapus Trauma Persepsi, kumpulan taujih ustadz Hilmi Aminuddin, yang ekarang udah dijual bebas, diterbitkan oleh sekjen bid arsip dan sejarah DPP PKS Buku Strategi Dakwah Gerakan Islam, terbitan pustaka tarbiyatuna, ini buku yang ditulis oleh ustadz hilmi juga. Dari dua buku di atas saya yakin yang membaca dan mengalami pembinaan di PKS akan memperoleh benang merahnya antara manhaj ikhwan yang diadopsi dan operasionalisasinya di PKS pada setiap

masa /mihwarnya . Buku yang kedua itu lebih menggambarkan dari masa2 awal dan buku yang pertama itu sangat kekinian sekali. nah kalo ingin mengecek apakah platform PKS disusupi virus2 ... coba saja anda lihat platform PKS yang baru aja dilaunching. di situ khan ada tentang falsafah dasar perjuangan ... nah coba liat disitu. pada belom punya, atau minimal baca sumber2 di atas ? ... katanya kader dan simpatisan pecinta PKS .... tanya kenapa ? saya pernah mengajukan kritik di blog ini bahwa terkadang para pengkritik / komentator artikel hanya meng-generalisasi dan menjustifikasi pendapatnya masing2 dengan sedikit fakta yang mereka peroleh di lapangan, padahal bisa jadi fakta yang ada di pikiran dia itu terbangun dari konstruki dia sendiri terhadap PKS. saya menantang untuk para pecinta PKS di blog ini untuk mengkritik sumber-sumber yang otoritatif , demi semakin memperbaiki hal-hal yang masih harus diperbaiki oleh gerakan dakwah PKS .... di artikel2 kemarin sudah cukup ada peningkatan dengan mengupload tulisan2 dari sumber yang cukup otoritatif, yaitu ustadz2 yang diakui keilmuannya di PKS, walaupun saya hanya fokus memperhatikan isi tulisan ustadznya nya saja, bukan komen (atau konstruksi yang dibuat) oleh bang DOS. nah koq untuk tema yang ini saya menilai jadi agak turun yah ... semacam ada set back gitu .....
BERI KOMENTAR

3. 2008 April 30 17:14,

kopitiam menulis...

Dos, Kenapa judul-nya menggunakan kata 'virus'? Bagus kalau ante definisikan dulu bagian-bagian mana dari pemikiran NII yang boleh di bilang sebagai 'virus' sebelum-nya sehingga jelas buat kita di konteks manakah penyimpangan/penyakit yang di diderita PKS. Apakah memang 100% pemikiran NII itu virus? NII yang mana? Analisis sejarah-dalam tulisan ente kali ini pun sekedar melihat hubungan 'darah' antara HA dengan Danu. Mudah-mudahan ini cuma pengantar ke sebuah tulisan DOS yang lebih

tajam yang menjelaskan dengan detail kemiripan-2 kebijakan komtemporer PKS dengan 'virus' pemikiran NII yang udah lebih dulu di jelaskan semacam apa pemikiran tersebut. Thanks kalau komen saya di tampilkan.
BERI KOMENTAR

4. 2008 Mei 1 10:54,

Zul menulis...

Yth. DOS dan para komentator 1. Info PKS, NII, dan yang sejenisnya sudah biasa bagi PKS. Ini juga sudah menjadi isu-isu yang biasa bagi BIN, TNI dan aparat-aparat sejenis. Juga bagi CIA, MOSAD dan agensi2 sejenis. Artinya PKS bukan sebuah gerakan bawah tanah lagi tapi lebih tepat ia adalah gerakan bawah air. Orang dapat melihat dengan kasat mata dapat melihat "ikan2" berseliweran di air tersebut. Dan itulah memang yang menjadi "asholah" dari dakwah yaitu keterusterangan. PKS ingin agar seluruh umat mengetahui PKS secara terang sehingga tidak lagi timbul kecurigaan kepada PKS. Untuk itulah PKS me launch paltformnya dengan komentator Sri Mulyani untuk ekonomi, Jamly Ashidiqi untuk Polkum, dan Azyumardi Azra untuk Sosbud. AD ART PKS dapat diakses oleh siapapun. Kemudian PKS sounding ke TNI (bahwa PKS bukan musuh negara), tokoh lintas agama (momen Bali, bahwa PKS menghargai kelompok minoritas), para konglomerat (bahwa PKS adalah market friendly), Bahwa PKS tidak berminat mendirikan negara Islam tapi sebuah masyarakat yang islami, sebuah pemerintahan yang islami yang menghargai nilai2 ketuhanan, Bahwa PKS akan menyayangi dan menyantuni seluruh lapisan masyarakat yang cina, yang jawa, yang berdosa, yang beriman, yang minoritas. Inilah akhlaq Rasulullah yang amat mengasihi umat manusia. 2. Boleh saja DOS dan para "kritikus" PKS dan para pengamat PKS, para elit di negeri ini mendelegitimasi PKS dengan segala macam dan caranya, tapi ingat bahwa pada akhirnya rakyat lah yang akan menjadi juri yang akan menentukan vonisnya. Sore tapi, sehabis syukuran pilkada, seorang ibu tua yang sederhana ngomong ke saya, "jangan takut pak, kita dukung PKS". Dia ngomong dengan gembira dan polos. Saya bersyukur bahwa masyarakat bisa "melihat" kejujuran dan ketulusan kami ini. Mereka melihat dengan hati nurani. Dari pada analis2 yang keminter seperti DOS dan para komentator PKS di blog ini, yang melihat PKS hanya dari sudut pandang perilaku elitnya saja, bukan dari keseluruhan entitas warga PKS yang berdakwah dengan kesederhanaan dan ketulusan siang dan malam.

3. DOS mencurigai virus NII hanya karena mendengan istilah gonimah, fa'i, mahar, dlsb. Saya sungguh geli dengan analisis dungu seperti ini. Bahwa mentang2 pak Danu ayah ust Hilmi, berarti Ustad Hilmi adalah NII atau terkontaminasi NII. wake up DOS, sekarang ini jaman modern, jangan pakai analisis abad pertengahan Eropa pada masa sekarang. Pakai dong metode ilmiah dikit ya. (sorry to say). Perlu diketahui, dalam majelis2 resmi seperti rapat DPP, MS, dan forum2 lainnya, halaqoh dsb, nggak pernah ada gagasan2 seperti itu muncul. Kalaupun ada, ungkapan2 itu muncul dilapangan dari kader/elit PKS dalam sebatas gurauan, atau lontaran2 iseng. Maklum, sebagaian dari mereka adalah mantan NII yang sudah sadar. Alam bawah sadar mereka mungkin masih ada residu NII. Tapi jangat takut, alam sadar mereka adalah non NII. Saya bisa pastikan ini. 4. DOS menyajikan sebuah dokumen sampah yang tidak berarti. Dalam tulisan itu cuma kata "Danu Mohammad Hasan" yang ada kaitannya dengan PKS (itupun tidak langsung) karena memang beliau ayah dari USt Hilmy. Selebihnya NOTHING. Tulisan Umar Abduh itu tidak nyambung dengan tesis Virus NII di PKS. Itu adalah masa lalu yang memang fakta. Tapi untuk mengatakan ada virus NII di PKS perlu fakta lain yang lebih kuat dan lebih masuk akal. Saya tantang DOS dapat memposting tulisan lain yang lebih bermutu dan lebih ngilmiah dikit. 5. DOS memakai logika orde baru dalam mengkategorikan seseorang sebagai PKI, yaitu hanya karena seseorang mempunyai ayah, paman, atau saudara yang PKI. DOS menggunakan entry point Pak Danu sebagai pisau analisisnya. 6. Atau mungkin di lain posting DOS akan mengungkap background beberapa elit PKS yang pernah dibina NII. Kalau ini benar diungkap, ini adalah kebodohan DOS yang lain lagi. Mengapa? karena dengan demikian DOS tidak mengizinkan seseorang untuk memperbaiki kesalahannya pada masa lalu dan masa lalunya itu akan menempel di jidat yang bersangkutan sampai dia meninggal. Ketahuilah DOS, latar belakang kader PKS macam2, ada preman, islam jemaah, NII, non muslim, HMI, PII, dll. Tapi itu sudah tutup buku DOS. Yang kurang baik mereka telah tinggalkan, yang jika ada yang baik, dijalankan terus donk. 7. Ungkapan "ingin cepat berkuasa" yang dilontarkan DOS, dianggap sebagai bukti adanya virus NII. Ketahuilah, kita ingin bikin partai 2010, bukan 1998. Tapi karena ada momentum reformasi, kita mengambil momentum itu. Ini Bukan bukan soal ingin cepat berkuasa, tapi ini soal kecerdasan dalam berstrategi dalam mengambil momentum. Para sahabat inginnya kafilah Abu sofyan, tapi Allah mengantarkan pasukan Abu Jahal. Dan ternyata perang badar inilah yang mempercepat laju dakwah di

kemudian hari. (DOS, jangan gara2 ane pakai istilah perang badar, ente anggap ane NII. ha...ha...ha). Kita akan sering menghadapai kondisi2 seperti ini, dimana ada momentum2 berharga yang tidak boleh diabaikan. Sekali lagi, ini masalah kecerdasan DOS. Ini dulu ya. Tnx DOS
BERI KOMENTAR

5. 2008 Mei 1 21:12,

Observato menulis...

Assalamualaikum. 5. DOS memakai logika orde baru dalam mengkategorikan seseorang sebagai PKI, yaitu hanya karena seseorang mempunyai ayah, paman, atau saudara yang PKI. DOS menggunakan entry point Pak Danu sebagai pisau analisisnya. Dari sumber yg diposting Dos, Bp. Helmi Bin Danu adalah menteri luar negeri Neo NII. Dapat saya kutipkan: ..selebihnya dibebaskan bersyarat oleh OPSUS termasuk beberapa nama yang menjadi tokoh komando KW-9 [12], kecuali satu nama tokoh, yaitu Menlu kabinet Neo NII yang bernama Helmi Aminuddin bin Danu. Jadi kesimpulan DoS bukan dengan logika orde baru spt yg dinyatakan Sdr. Zul. Kita bisa mencross check tulisan Abduh dgn Buku "Menguak Tabir Intelijen Indonesia" di bagian Komando Jihad dan agaknya cukup bisa dipertanggungjawabkan dan tulisan tersebut sebaiknya tidak dilabeli sampah. Pelabelan tulisan dengan sampah tidak mempengaruhi nilai benar dan salahnya. Seandainya DoS menuduh (sementara ia tidak menuduh), bahwa Bp Hilmi adalah binaan intelijen karena ayahnya demikian, baru bisa dikatakan DoS menggunakan logika orde baru. Wassalamualaikum.

BERI KOMENTAR

6. 2008 Mei 1 23:34,

abu hilmy menulis...

Untuk kali ini, saya sangat tidak sepakat dengan DOS, apalagi mengambil tulisan Umar Abduh sebagai "amunisi"nya. Meskipun ini tulisan yang sudah bisa diakses oleh orang banyak, tapi kebenarannya masih dipertanyakan. Mungkin memang benar, tapi di swaramuslim sendiripun tulisan ini dikategorikan X-file, yang sulit dikonfirmasi kebenarannya. Bahwa memang benar Ust HA adalah putra Pak Danu, ini memang tak dibantah. Tapi, selebihnya seperti persoalan "binaan" intelejen dsb, tidak ada yg bisa memastikan. Kritik yang berangkat dari gosip, saya pikir ini lebih pada area gibah. (jangan suruh saya baca tulisan antum tentang ghibah, karena saya sudah dan saya menyetujuinya). Hemat saya, DOS juga mustinya fokus. Kritisi yang jelas terjadi saat ini. Setiap orang punya second chance. Kalau DOS menembak bahwa virus NII (yang "virus" ini sendiri harus diperjelas lagi) menjangkiti PKS, dengan data bahwa Ust. HA adalah putra Pak Danu, sesungguhnya DOS sudah melakukan pembunuhan karakter ala orde baru. Sorry DOS, antum kok jadi begini ya? Thx kalau dimuat.
BERI KOMENTAR

7. 2008 Mei 2 04:37,

Fulan bin Fulan menulis...

To Zul (no. 4) Di tulisan Umar Abduh juga ada tentang HA langsung "Sementara penangkapan terhadap para elite Neo NII yang musyawarah pembentukan strukturnya dilakukan di markas BAKIN (jalan Senopati, Jakarta Selatan) seperti Adah Djaelani Tirtapradja, Danu Mohammad Hasan, Aceng Kurnia, Tahmid Rahmat Basuki Kartosoewirjo, Dodo Muhammad Darda Toha Mahfudzh, Opa Musthapa, Ules Suja'i, Saiful Iman, Djarul Alam, Seno alias Basyar, Helmi Aminuddin Danu[11], Hidayat, Gustam Effendi (alias Ony), Abdul Rasyid dan yang lain dengan

jumlah sekitar 200 orang, mereka ditangkap Laksus sejak akhir 1980 hingga pertengahan 1981. Namun dari sekitar 200 orang anggota Neo NII yang ditangkap OPSUS tersebut, hanya sekitar 30 elitenya saja yang dilanjutkan ke persidangan, selebihnya dibebaskan bersyarat oleh OPSUS termasuk beberapa nama yang menjadi tokoh komando KW-9 [12], kecuali satu nama tokoh, yaitu Menlu kabinet Neo NII yang bernama Helmi Aminuddin bin Danu." HA terlibat NII, ditangkap, dibebaskan, dan lalu dekat dengan orang intelijen S. Bagaimana antum menjelaskan ini? Juga bagaimana antum menjelaskan cara-cara tekanan, intimidasi dan fitnah yang menimpa beberapa asatidz senior dan kader seperti ukti dari Garut yang ada di awal blog ini?
BERI KOMENTAR

8. 2008 Mei 2 16:45,

AR urun rembug menulis...

Buat Akh DOS, akh Zul, dan para pencinta PKS. Assalamu 'alaikum wr wb. 1. "Unzhur maa qaala walaa tanzhur man qaala." Selalulah melihat "content" pembicaraan, komentar, tulisan atau artikel. Jangan melihat "siapa" yang berbicara atau menulis. Agar kita bisa melihat kebenaran dengan jernih dan objektif, terhindar dari sikap emosi, kebencian, kemarahan dan ketidakadilan. Tidak jarang kita mendapatkan kebenaran justru datang dari orang yang tidak kita sukai atau benci. Dan adakalanya, kesalahan malah datang dari seseorang yang kita kagumi dan puji-puji. Itulah misteri, rahasia Allah, yang kita tidak mengerti, dalam mengungkap kebenaran, yang kerap kali kita tidak inginkan. Peristiwa demi peristiwa yang menghentak nurani dan mengagetkan logika berbaris rapi setiap hari menunggu kemunculannya di media massa. Demikianlah, sejarah selalu mengungkapkan kebenaran dengan caranya sendiri; walau kita telah berusaha membungkusnya dengan rapi.

2. Islam tidak mempersoalkan latar belakang seseorang sebelum berIslam, apakah Yahudi, Komunis, Kafir dzimmi, atau munafik. Apabila dia telah bertaubat nasuha, meninggalkan perilaku lamanya, dan berlari menuju pelukan Islam, maka ia diposisikan sama mulianya dengan muslim lainnya yang secara genetis telah menjadi muslim. 3. Tetapi setiap muslim, kecuali Rasulullah saw, sesuai dengan sifat kodrati kemanusiannya dan pengaruh kuat lingkungannya bisa saja terpengaruh oleh godaan harta, tahta, atau wanita yang memang menggiurkan. Prediksi fenomenologis ayat yang dibacakan sang Maksum: "Dan sungguh (da'wah) ini adalah jalanku yang lurus. Maka ikuti aku., Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain yang akan mencerai beraikan kalian dari jalanku ini." ketika melihat tanda-tanda diantara sebagian sahabat ada yang mulai "melirik" jalan lain; adalah bukti kebenaran statement ini. Sejarah pasang surut gerakan Islam di seluruh dunia memberikan pelajaran yang sangat berharga bahwa: Kehancuran gerakan-gerakan Islam atau merosotnya dukungan terhadap Partai-partai politik Islam, yang dibentuk oleh, atau berafiliasi kepada jama'ah Ikhwanul Muslimin, di seluruh negara-negara muslim disebabkan karena para pemimpinnya yang telah memilih "jalan lain" tadi, meskipun platform organisasinya sangat bagus. Mereka terlalaikan oleh nikmatnya harta yang dengan mudahnya diperoleh melalui tahta. Mereka lupa akan misi awal dibentuknya gerakan atau partai ini. Mereka menjadi pandai membangun alasan dan konsideran untuk melegitimasi semua perbuatan mereka. Mereka mencoba membohongi para kader dan konstituennya, tetapi ternyata Allah tidak bisa dibohongi. Simaklah pasang surut perjalanan gerakan atau partai-partai Islam di Mesir, Siria, Aljazair, Yordania, Kuwait, dan Sudan. Atau yang lebih jauh, kajilah sejarah jatuhnya khalifah Utsman radhiyallahu 'anhu, keruntuhan kekhalifahan Abassiyah dan kehancuran kekhalifahan Utsmaniyah. Organisasi mereka semua secara resmi berasaskan Al-Qur'an dan AsSunnah. Dan merumuskan platform gerakan atau negaranya bersumber langsung dari keduanya.Tetapi toh tetap runtuh. Kita yang membacanya akan terhenyak, merinding, menangis dan hanya bisa beristighfar... 4. Platform bukanlah satu-satunya ukuran untuk menilai kebaikan atau keburukan sebuah organisasi. Sebagian besar masyarakat, termasuk kader, (99%)tidak pernah membaca platform organisasi yang didukungnya. Seluruh organisasi massa atau partai politik, pasti akan membuat paltform

yang sebagus-bagusnya. Platform Golkar dan PDIP tidak kalah bagusnya dengan platform PKS yang baru saja di launch. Bahkan platform PPP dan PBB "lebih Islami" dibanding PKS. Tetapi kita menilai orpol-orpol tersebut bukan karena platformnya; tetapi lebih dikarenakan akhlak, sikap dan perilaku para pemimpin dan aktifisnya yang tampak dan kasat mata. Banyak diantara pengurus orpol-orpol yang kita nilai "sekuler" tersebut ternyata jauh lebih islami kepribadian sehari-harinya dibanding pengurus PKS. Tetapi kenapa kita tidak memilih mereka?... Kita memilih dan mendukung suatu organisasi apabila kita nilai para pemimpin dan aktifisnya "selaras" antara kata dan perbuatan. "Seimbang" antara teori dan praktek. "Balance" antara platform dengan kebijakan. "Tawazun" antara taujih dan tatbiq. "Seiya sekata" antara janji dengan realisasi. 5. NII atau DI/TII adalah salah satu gerakan Islam di Indonesia yang baik yang memiliki misi yang mulia, yaitu tegaknya syari'ah Islam di Indonesia. Kartosuwiryo dan Muhammad Natsir adalah bersahabat. Keduanya memiliki obsesi untuk memperjuangkan tegaknya syari'at di bumi Indonesia. Tetapi keduanya berbeda ijtihad. Muhammad Natsir berbendapat bahwa tegaknya syari'at di Indonesia hanya bisa diwujudkan melalui perjuangan di parlemen, melalui Partai. Sedangkan Kartosuwiryo berpendapat bahwa syari'at tidak akan pernah bisa tegak secara penuh melalui perjuangan di parlemen' dia hanya bisa diwujudkan melalui jihad qitali. Akhirnya keduanya sepakat untuk "fastabiqul khairat" melalui ijtihad masing-masing. Pak Natsir mendirikan partai Masyumi; dan Pak Karto mendirikan NII/DI TII. Sejarah membuktikan bahwa kedua tokoh tersebut berjuang dengan sangat gigih demi tegaknya syari'at Islam, dan istiqamah tanpa cacat hingga keduanya, menghadap Sang Khaliq Azza wa Jalla. Kita, umat Islam di Indonesia, kehilangan figur tokoh, ulama, mujahid, pejuang yang telah terbukti konsisten dan tak bergeming dengan iming2 harta dan tahta dari penguasa hingga akhir hayatnya. Semoga Allah Swt mengangkat derajat keduanya sejajar dengan posisi para nabiyyin, shiddiqin, syuhada dan shalihin. Kita jangan terprovokasi oleh rezim Orde Baru dan Orde kini yang memberi stigma negatif kepada NII maupun Masyumi. Sungguh kesalahan fatal apabila kita mempercayai stigma tersebut. Sebab, mereka adalah para pejuang syari'at yang sesungguhnya, dan telah dibuktikan

oleh sejarah. Sedangkan kita, masih tengah di "fit and Proper" oleh sejarah. Dan belum dinyatakan lulus. Tetapi sayangnya, sebagaimana Partai Masyumi, NII pun tidak mampu melahirkan kader-kader yang sekualitas pendirinya. Bahkan, dalam perjalanannya, NII kerap dijadikan proyek politik penguasa Orde Baru. Sebagian dari mereka ada yang tetap istiqamah dangan "jalan yang lurus". Sebagian lainnya memilih "jalan-jalan lain" yang akhirnya mencerai beraikan mereka. NII yang semula dikenal sebagai "Kapal" bagi para aktifis pejuang syari'at. Setelah menghantam badai dan karang besar yang diciptakan Ali Murtopo, menjadi hancur berkeping-keping. Para penumpangnya menyelamatkan diri dengan "sekoci-sekoci". Karena kesadaran akan perlunya jama'ah dan imamah, masing-masing sekoci mengklaim diri sebagai jama'ah yang sah menggantikan kapal tersebut. Dan masing-masing dari mereka membai'at imam di sekoci tsb. Sejak itulah bermunculan berbagai kelompok jama'ah dengan imamnya masing-masing. Pemerintah Orba penasaran, karena ternyata NII belum juga habis setelah dihantam badai dan karang. Bahkan bermetamorfosis menjadi NII-NII kecil yang banyak. Untuk menghabisi mereka dibuatlah strategi "babat habis" dengan dua skenario: 1. Membentuk Neo NII yang terdiri dari unsur-unsur NII dan TNI, dengan janji bertujuan menghadapi serbuan komunisme dari Utara. Dan mereka yang direkrut diberi posisi dan fasilitas materi. 2. Membentuk NII "jejadian" untuk merusak citra gerakan Islam. Bakin mengirim 7 kader intelijen ke bbrp negara Timur Tengah untuk belajar Islam dan gerakan Islam. Sepulang dari sana mereka ditugaskan membentuk "usrah-usrah" yang memberi ajaran Islam yang "aneh dan menyimpang". Diantaranya: menilai kafir orang yang tidak sekelompok, termaasuk orang tuanya. Tidak mau shalat bersama orang di luar kelompoknya, karena dianggap najis, Memberlakukan fa'i, dll. Kelompokkelompok usrah ini mengajarkan ekstrimisme. Dan opini masyarakat pun terbentuk bahwa setiap pengajian usrah itu sesat menyesatkan. Ketika kelompok2 ini ditangkapi, "ustadz-ustadz" mereka tidak pernah tertangkap, hingga kini. Tetapi sekoci-sekoci tsb tetap hidup dan berkembang. Peristiwa tsb marak di tahun 1979 hingga 1980-an. Dan sampai sekarang sulit bagi banyak orang membedakan mana "sekoci yang benar/asli" dan

mana "sekoci buatan Bakin". 6. Kelahiran komunitas tarbiyah di Indonesia memang dibidani oleh Ust Hilmi Aminuddin putera tokoh Neo NII, Muhammad Danu. Tetapi Komunitas tarbiyah pada waktu itu tidak menggunakan manhaj NII, melainkan manhaj Ikhwanul Muslimin yang didapatkan ust HA ketika belajar di Saudi Arabia. Dalam perkembangannya, muncul kader-kader tarbiyah yang memiliki ilmu lebih dalam dari ust HA setelah mereka pulang menjadi Master atau Doktor yang juga menmpelajari manhaj IM ketika belajar di Timteng. Juga Kader-kader "Sekuler" yang non Timteng yang mempelajari manhaj tsb langsung dari kitab-kitab IM yang membanjiri Indonesia, sehingga memiliki pemahaman yang tidak kalah dari ikhwah Timteng. Mereka inilah yang berjasa mengembangkan komunitas tarbiyah hingga berdirinya Partai Keadilan. 7. Dalam perjalanan da'wahnya di kancah politik, pimpinan dan pengurus PK pada waktu itu dinilai banyak kalangan mampu istiqamah mempertahankan misinya. Namun ketika mengubah nama jadi PKS dan menjadi besar, sebagian dari pimpinan dan pengurus PKS mulai lalai, terlupa, dan memilih "jalan lain" tadi. Banyak kalangan dari politisi, pengusaha, hingga wartawan media massa menilai bahwa PKS sekarang sudah berubah total dari PK yang dulu. Kini PKS menjadi partai yang sama sekali tidak berbeda dengan partai-partai lain yang dulu dikritiknya. Bahkan dalam beberapa sisi, lebih memprihatinkan. Dalam kondisi demikian, memori kolektif publik seakan dibangkitkan kembali, dan "dipaksa" merewind serta menganalisis keterkaitan PKS dengan Neo NII. Sebab ada kemiripan perilaku politik pemimpin keduanya, yaitu: - Tidak lagi bersemangat menegakkan syari'at Islam. - Membuat ijtihad untuk pembenaran politik bagi tidak perlunya memperjuangkan syari'at Islam. - Berambisi memperkaya (men"Sejahtera"kan) diri. - Terobsesi memperoleh kekuasaan, posisi, jabatan, tanpa evaluasi apakah keberadaan di posisi tsb signifikan bagi tegaknya nilai-nilai syari'at, atau bermanfaat bagi umat. - Menggunakan posisi dan jabatan untuk memperoleh proyek-proyek dalam rangka memperkaya diri dan kelompok elit. - Tidak memperdulikan siapapun yang diusung untuk menduduki jabatan tertentu, asal memiliki komitmen untuk memberikan proyek-proyek menguntungkan bagi elit organisasi. - Sulit mendengarkan masukan dari para kader atau orang lain.

- Bersikap otoriter terhadap kader-kader yang dianggap tidak loyal dan taat kepada pimpinan. - Mudah mengadili atau memecat kader yang berbeda pendapat, dan dianggap membahayakan eksistensinya. Itu adalah sebagian kecil dari ciri-ciri pemimpin di gerakan Neo NII yang kini nampak pula di dalam diri pemimpin PKS. Jadi jangan salahkan publik, apabila menganalisis PKS telah tertular "virus" Neo NII. 8. PKS bukanlah agama. Dia tidak boleh disakralkan. Dia adalah institusi tempat berkumpulnya beragam manusia dengan misi "hiden" nya masingmasing. Dia harus dipantau, diawasi, diaudit, dikritik, bahkan jika perlu dijewer, agar kesalahannya terminimalisir. Itulah bentuk kecintaan kita pada lembaga ini. 9. Ust HA adalah manusia biasa. Seperti kita juga, dan orang-orang dekat di sekitarnya. Beliau bukan Nabi, dan tidak maksum. Kita tidak boleh mendewa-dewakan beliau. Beliau memang banyak berjasa bagi da'wah di Indonesia. Tetapi bukannya tidak mungkin beliau berbuat salah. Menganggap beliau tidak mungkin salah berarti menyamakan beliau dengan Nabi, Rasulullah saw. Dan ini bisa menggelincirkan kita kedalam perilaku syirik. Apabila beliau membuat kebijakan yang benar, kita dukung beliau. Apabila kebijakannya aneh, kita kritisi beliau. Apabila tidak berubah, kita tinggalkan beliau. 10. Mari kita berda'wah secara syar'i, rasional, kritis dan bertanggung jawab. Kritisisme adalah modal besar untuk mengembangkan gerakan da'wah ini agar menjadi peradaban alternatif. Sikap taqlid, mengekor bebek, hanya akan menjadikan da'wah ini bonsai; enak dipandang tapi tidak berkembang. Sikap tasahul, menggampangkan, hanya akan membuat da'wah ini benalu, cepat tumbuh dan berkembang tapi merugikan dan mematikan. Wallahu a'lam bish-shawwab. Wassalaamu 'alaikum wr wb.
BERI KOMENTAR

9. 2008 Mei 2 16:56,

maverick menulis...

To. Zul

1. Buah jatuh ga akan jauh dari pohonnya. pohon duren akan menghasilkan buah duren, pohon mangga akan menghasilkan buah mangga, dst. paham kann zull?? apa mau dibongkar abiss semuanya disini? 2. Kesamaan Pemikiran NII dengan PKS (HA): a. sama-sama memiliki tujuan mendirikan negara Islam di Indonesia. PKS menggunakan metode yang sama dengan NII dalam rangka mencapai tujuan tersebut. Metode yang dimaksud yaitu: i. berusaha mencapai kekuasaan dengan waktu secepat2nya dengan menggunakan berbagai macam alasan dan cara. zul berpendapat, bahwa sekarang ada momentum untuk memasuki dunia politik (eksekutif n legislatif). tapi, PKS (HA) rupanya ga punya kaca, biar bisa NGACA DIRI, untuk ngukur kemampuan. akibat ga punya KACA n GA PERNAH NGACA. maka PKS (HA), PD JAYA ABISS, untuk mengambil momentum tersebut untuk masuk ke dunia politik (legislatif dan eksekutif). dan apabila di kemudian hari timbul dampak2 negatif dari keputusan yang HA ambil, maka seluruh elemen jamaah wajib ikut menanggungya (dari Buku Strategi Dakwah Gerakan Islam by. HA). ii. menerapkan fa'i / ghanimah yang dianggap HALAL dalam aktivitas politik. adanya mahar politik, misal. pada pilpres dan pilkadal jakarta. Jadi harta dari manapun, baik dari koruptor, penjahat, maling, dsb dianggap halal karena merupakan fa'i. makanya jangan heran timbul anismisme (AM). (pokonya, "jangan tanya uangnya dari mana"). contoh. pembangunan gedung DPP dari uang CT yg merupakan Obligor BLBI bermasalah. (jgn dicut dos). fa'i ini juga ada di NII. iii. sama-sama menyingkirkan orang yg tidak sepaham dengan HA. ini merupakan cara NII paling busuk. kalau di NII, orang yang tidak sepaham dengan pemimpin dianggap murtad, kalau di PKS, mirip. NII pengen bikin "kerajaan" dan HA juga sudah bikin "kerajaan" di PKS. dan akan dimulai dari JAwa Barat setelah HADE menang. (HADE menang karena HOQI, padahal awalnya pengen koalisi dengan golkar, eh ditolak, dengan PDIP, ditolak juga, akhirnya sama PAN karena kepepet). kader2 PKS mayoritas intelek. jadi bisa membedakan mana yg benar n salah. iv. sekarang masih pada periode mekkah, belum periode madinah. jadi belum wajib menegakkan syariat islam. ini merupakan kesamaan NII dengan PKS. statement mahfuz sidiq terakhir (Pncasila dan UUD sdh FINAL) jg mendukung statement ini. v. ada sebuah ungkapan, yg menyatakan, "agama itu candu, dan para

pemimpinnya menjadi penghisap umatnya sendiri". ini merupakan statement Karl Marx. kenapa sengaja saya tulis disini. karena saya melihat kenyataannya sekarang spt itu di PKS. bagi KI di PKS pasti tahu bahwa mereka mereka tiap bulannya membayar IWB (infaq wajib bulanan), IWP (infaq wajib Personal), Zakat Maal, Zakat Profesi, Infaq Dunia Islam dst. Uang2 tsb akan mengalir ke DPP (Bendahara->Luthfi). Anda bayangkan saja, misal ada 200.000 KI di PKS yang masing2 orang tiap bulan membayar IWB, IWP, Zakat Profesi, dsb. rata2 sebesar 100.000 dan 50% untuk DPP maka akan ada uang sebanyak 10 Milyar tiap bulan untuk DPP. katakanlah buat operasional DPP 5 Milyar/bulan. maka sisa 5 milyar lagi kemana? intinya metode ini sama dengan yang digunakan NII. dan yang palin penting, keuangan DPP ga transparan dan ga diaudit. jadi sangat2 mungkin terjadi korupsi untuk kepentingan pribadi. bisa beli alphard, bentley, mercy, bmw, jaguar.. dsb. v. sama-sama menggunakan sistem sel. baik PKS maupun NII menggunakan sistem sel dalam pengkaderannya. dikenal, dengan halaqoh, usroh, dsb. halaqoh untuk kader pendukung, dan usar untuk kader inti. vi. sama-sama menggunakan baiat untuk menjadi kader. yang mana baiat tersebut berlaku seumur hidup. PKS mengqiyaskan dirinya sebagai jamaatul muslimin dengan menggunakan baiat. padahal PKS sbg jamaatul minal muslimin tidak berhak melakukan baiat. baiat hanya dilakukan pada jamaatul muslimin dan dilakukan kepada Khalifah. jadi, baiat PKS/IM sama sekali tidak mengikat. karena tidak ada dasarnya di AL QURAN dan HADITS. metode baiat juga digunakan di NII. untuk menjaga anggotanya aga r tidak keluar. bagi yang melanggar baiat dianggap telah murtad. doktrin ini sama baik di PKS maupun di NII. vii. sama-sama menekankan basis pengkaderan pada segmen anak muda intelek, kampus dan sekolah. viii. sama-sama menganggap qiyadah sebagai amirul mukminin. ix. peraturan di PKS: 1. Qiyadah Tidak Pernah Salah. 2. Jika Qiyadah Salah Lihat No. 1. sama saja mau di PKS atau di NII. Qiyadah dianggap seperti, Wali, Ulama, Malaikat dst. x. sama-sama otoriter, membangun kultus individu, tidak membangun sistem yang baik dan sehat. katakanlah HA besok meninggal. kemudian siapa yang jadi MA berikutnya? anaknya? atau Anis matta? Jamaah udah jadi kaya perusahaan keluarga aja.. udah tau PKS jadi PT, udah Go Public lagi... udah terdaftar di Bursa lagi.. harga saham bisa naik

turun, sangat tergantung dari fundamental, kinerja emiten, dan sentimen pasar. ngerti kan? apa mau delisting aja?? jadi perusahaan privat lagi?? b. selain, keterkaitan sejarah, tokoh2 NII dulu malah jadi qiyadah di PKS. DUlu, Jamaah ikhwan didirikan oleh 4 orang: Hilmi Aminuddin(ketua), Salim segaf, Ust. Baharmus, Ust. Syakur (alm.). sebelum dibaiat menjadi anggota IM, mereka terlebih dulu dibaiat menjadi anggota NII oleh HA. jadi HA menciptakan IM ala Indonesia, bukan yg sesuai dengan IM Mesir. c. HA. pernah dipenjara zaman soeharto karena terlibat gerakan NII. dan peristiwa Tanjung Priok. tapi kemudian dibebaskan. d. dulu ketika, jamaah masih awal2 berdiri tahun 1980-an, HA sudah bangun rumah mewah tingkat tiga di kali malang, jakarta. yang kemudian menjadi bahan pembicaraan ikhwah2 yang tinggal di sekitarnya. mobilnya pun pada waktu itu tahun 1980-an sudah berjejer.. jadi ini bukan merupakan suatu hal yang baru.. ini sudah menjadi watak dan karakter HA. qiyadah macam apa itu?? Hasan Al Banna ketika ditanya mengapa naik kereta kelas ekonomi? dia menjawab karena tidak ada kelas yang lebih rendah dari ekonomi. Hasan Al Banna pun syahid kemudian. kenapa nilai2 IM bisa berbeda 180 derajat dengan PKS? karena PKS (HA) lebih condong pemikirannya ke NII dibanding IM. penyakit lama kumat lagi. 3. Masih lebih baik Salafy dan HTI, daripada PKS. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah) pernah berkata: "Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah". Di PKS sekarang kader2 berebutan jadi Pengurus, mulai dari DPC, DPD, DPW, sampai DPP, alasannya supaya biar bisa jadi anggota DPRD tk.II, DPRD tk. I, DPR, jadi Walikota, Bupati, Gubernur, dst. Tidak ada yang melarang orang jadi kaya. tapi darimana dia mendapatkan kekayaannya itu? dari kerja keras? atau jual jamaah? jualan umat? jadi broker? dst. ini sama saja dengan NII, dulu teman saya, mantan NII pernah cerita, di NII pada tingkatan qiyadah tertentu akan dapat jatah rumah, jatah mobil sampai jatah istri.. enak bangett.. yahhh?? 4. Orang Padang bilang, Bila tersesat di jalan, kembalilah ke pangkal jalan. jangan berbohong pada hati nurani. atau hati nurani nya sudah mati? Di Condet, Jaktim, Ada Kader INTI, yang anak-anaknya menderita BUSUNG LAPAR, sampe sekarang masih dirawat di rumah sakit. tapi sama sekali ga ada perhatian sedikit pun dari jamaah. itu yang di jakarta, bagaimana yang di daerah?? JAMAAH MACAM APA INI?? hanya memikirkan perutnya sendiri. mana ITSAR? BULLSHIT SEMUA. Ngomong ayat2 di pertemuan2, setelah selesai jadi bandit2 bertopeng. (jgn dicut dos)

5. semua ini pasti ada akhirnya. kebenaran akan muncul. dan ga usah melakukan pembodohan2 lagi, sperti yang dilakukan Zul ini. saya bukan orang bodoh, bukan robot, dan bukan anak kecil yang bisa ditepu. "WAHAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, MENGAPA KAMU MENGATAKAN APA2 YANG TIDAK KAMU LAKUKAN? SUNGGUH KEMURKAAN YANG BESAR DI SISI ALLAH. DAN INGATLAH AZAB ALLAH AMATLAH PEDIHH".
BERI KOMENTAR

10. 2008 Mei 2 18:56,

wong yojo menulis...

maveric mengatakan: Buah jatuh ga akan jauh dari pohonnya. pohon duren akan menghasilkan buah duren, pohon mangga akan menghasilkan buah mangga, dst. paham kann zull?? apa mau dibongkar abiss semuanya disini? -------untuk yang lain mungkin saya setuju, atau paling tidak saya akan telusuri terlebih dahulu. Tapi untuk koment diatas saya tidak sepakat. Jika benar apa yang dikatakan Maveric, bukankah para nabi itu orang tuanya ada yang (maaf) tidak baik. salam
BERI KOMENTAR

11. 2008 Mei 3 05:53,

wong yojo menulis...

untuk zul: zul mengatakan "Sore tadi, sehabis syukuran pilkada, seorang ibu tua yang sederhana ngomong ke saya, "jangan takut pak, kita dukung PKS". Dia ngomong dengan gembira dan polos. Saya bersyukur bahwa masyarakat bisa "melihat" kejujuran dan ketulusan kami ini. Mereka melihat dengan hati nurani. Dari pada analis2 yang keminter seperti DOS dan para komentator PKS di blog ini, yang melihat PKS hanya dari sudut pandang perilaku elitnya saja, bukan dari keseluruhan entitas warga PKS yang berdakwah dengan kesederhanaan dan ketulusan siang dan malam." Sepakat, tapi gini: setahu saya blog ini dibangun untuk mengkritik PKS,

tentunya yg dikritik itu yg jelek. Saya tidak mengingkari bahwa rakyat punya simpati pada PKS, dan ada warga yang berdakwah dengan kesederhanaan siang malam. Tapi perlu diingat rakyat dan kader yang bagus2 itupun PERLU DIBERITAHU tentang ISU-ISU YANG ADA SEKARANG. Mereka biar tahu, supaya berfikir mendalam, DEEP THINGKING. so blog ini perlu untuk disebarkan. Sepakat Zul? Zul, kita nggak keminter, kl menurut antum kita keminter, ini adalah ajang diskusi untuk kita berbagi informasi, Oke? Zul, kita saling terbuka saja lah, jangan menklaim keminter dll. Untuk maverick: sepertinya ada kontradiksi antara komentar anda di 2a dan 2.a.iv?

Menurut saya, istilah apapun yg ada di NII gak papa dipake, asalkan jelas dan benar. Misal fa'i, ghanimah dll. Yang penting itu UNTUK APA? Ini mesti transparan. Maverick mengatakan: "bagi yang melanggar baiat dianggap telah murtad" Benar atau tidaknya ini saya tidak tahu, wong sy belum pernah di baiat kok. Tapi ada cerita dari temen anggota yang bisa jadi membenarkan dan mendukung pernyataan mas Maverick ini. Selain itu, pernah saya memberitahu temen tt sebuah pengajian Salafi. Dia anggota PKS, datang ke kajian itu rame2. Sampe disana temen-temennya yg lain kaget, karena itu kajian Salaf dan mengatakan "Mbak apa kita tidak salah tempat ya?"

salam
BERI KOMENTAR

12. 2008 Mei 5 02:09,

budi menulis...

maverick wrote.. 1. Buah jatuh ga akan jauh dari pohonnya. pohon duren akan

menghasilkan buah duren, pohon mangga akan menghasilkan buah mangga, dst. paham kann zull?? apa mau dibongkar abiss semuanya disini? kalo logika begini yg dipakai...maka, seharusnya anaknya abu jahal atau anaknya abdullah bin ubay...HARUS spt bapaknya..kenyataannya mrk jd sahabat Rasulullah.. seandainya maverick or siapapun punya bapak yg bejat..apa otomatis anaknya bejat juga? pls deh..logika konyol spt ini jgn dipake...yg ilmiah aja lah.. maverick wrote.. a. sama-sama memiliki tujuan mendirikan negara Islam di Indonesia. PKS menggunakan metode yang sama dengan NII dalam rangka mencapai tujuan tersebut. Metode yang dimaksud yaitu: i. berusaha mencapai kekuasaan dengan waktu secepat2nya dengan menggunakan berbagai macam alasan dan cara. zul berpendapat, bahwa sekarang ada momentum untuk memasuki dunia politik (eksekutif n legislatif). tapi, PKS (HA) rupanya ga punya kaca, biar bisa NGACA DIRI, untuk ngukur kemampuan. akibat ga punya KACA n GA PERNAH NGACA. maka PKS (HA), PD JAYA ABISS, untuk mengambil momentum tersebut untuk masuk ke dunia politik (legislatif dan eksekutif). dan apabila di kemudian hari timbul dampak2 negatif dari keputusan yang HA ambil, maka seluruh elemen jamaah wajib ikut menanggungya (dari Buku Strategi Dakwah Gerakan Islam by. HA). kalo ada kelompok yg pengen dirikan negara islam di indonesia? trus kenapa? sama kayak NII? wah itu sih logika ngaco juga.. dan apa yg salah kalo PKS masuk kedunia politik? okelah kalo pengen cepet berkuasa itu salah...justru kita mengkritisi dengan cerdas kebijakan2 yg terlalu bernapsu itu, tp yah tetep aja ga bisa maen pukul rata sama kayak NII.. maverick wrote.. ii. menerapkan fa'i / ghanimah yang dianggap HALAL dalam aktivitas politik. adanya mahar politik, misal. pada pilpres dan pilkadal jakarta. Jadi harta dari manapun, baik dari koruptor, penjahat, maling, dsb dianggap halal karena merupakan fa'i. makanya jangan heran timbul anismisme (AM). (pokonya, "jangan tanya uangnya dari mana"). contoh. pembangunan gedung DPP dari uang CT yg merupakan

Obligor BLBI bermasalah. (jgn dicut dos). fa'i ini juga ada di NII. yah ini gunanya blog pkswatch...kita kritisi yg spt2 ini..kita jelaskan klo spt itu tdk bener..tp kalo tetep dipaksain...ini mirip NII...yah terserah... maverick wrote.. v. sama-sama menggunakan sistem sel. baik PKS maupun NII menggunakan sistem sel dalam pengkaderannya. dikenal, dengan halaqoh, usroh, dsb. halaqoh untuk kader pendukung, dan usar untuk kader inti. ini sih lucu...IM juga pake sistem sel, trus apakah IM sama kayak NII...hanya org kurang menggunakan akalnya yg berpendpat spt itu.. maverick wrote.. vii. sama-sama menekankan basis pengkaderan pada segmen anak muda intelek, kampus dan sekolah. alamak yg bodo nya kawan ni punya kesimpulan..HTI fokus binaannya juga anak muda intelek, salafy rame dikampus2 elit..apa mo disamain juga mrk NII??
BERI KOMENTAR

13. 2008 Mei 5 17:56,

wong yojo menulis...

Issue/fakta dan pertanyaan yang saling belum terjawab diantara yang pro dan kontra: dari pengkritik: 1. Ustad Hilmi membangun rumah mewah dan mobil berjejer pada tahun 1980-an. Ini bertentangan dengan Hasan Al Banna sendiri 2. Aturan di PKS --> 1. Qiyadah Tidak Pernah Salah. 2. Jika Qiyadah Salah Lihat No. 1. --> tapi ini belum dicantumkan sumbernya. 3. Zakat K1 yang kemungkinan bisa di korupsi qiyadah 4. Bukan platform partai/organisasi yang dijadikan acuan menilai partai, tapi akhlaq para anggota/pemimpinnya 5.NII itu punya misi mulia, NII di distorsi dan dirusak sejaran perjuangannya oleh ORBA sehingga terkesan Negatif. Yang negatif adalah Neo NII binaan BAKIN. 6. Ketika masih PK bagus, tapi seetelah menjadi PKS menjadi "kacau", dan berfikir untuk kesejahteraan, bukan keadilah. 7.PKS bukan Agama dan HA bukan nabi, keduanya tidak pantas

disakralkan. Boleh dikritik, boleh dibela. 8. Ghanimah dll --> apakah ada larinya kemana? 9. Ada kader inti yang anaknya kelaparan, tapi ada yang bergelimpang harta. dari pro: 1. issu ini (NII & PKS) kurang begitu mengginggit, cari sumber yg lebih top. Ini tantangan buat DOS. 2. Issu ini sudah biasa bagi pks. 3. Issue ini mengingkari kemungkinan manusia untuk menjadi lebih baik/tobat. 4. Istilah ghanimah, fai dll itu hanya sebatas gurauan, di elit tidak ada istilah sperti itu. 5. Meski mantan NII, tapi para qiyadah PKS sudah sadar. 6. PKS sudah bergerak terang2an. Open terhadap semua elemen bangsa, 7. PKS tidak berminat mendirikan negara islam, tapi masyarakat islami. 8. Sepertinya mesti ada pemetaan diskusi, sehingga terlihat point2 mana yang sudah klop dan mana yang belum terjawab diantara kita. Hingga muncul diskusi yang indah, enak dan ada hasilnya.

Issue ini hanya satu issue saja yang dimunculkan maupun tidak di diskusi ini. Dan issue lainnya masih belum selesai. PKS vs Muhammadiyah yang sampai "perang" disuatu tempat (ini oknum lho), kemudian issue, eh fakta tt pemfitnahan di jawabarat yang diskusinya tidak selesai. Sepertinya isue fitnah ini BENAR adanya. Issue faksi keadilan dan kesejahteraan?, issue faksi tarbiyah politik dan dan tarbiyah Dakwah Kemudian Issue virus Anismisme dll. Blum semua selesai didiskusikan.... Zul, DOS dan kawan-kawan semua, mungkin sudah mengetahui bahwa jika ada orang yang keluar dari PKS/ikhwah, ikhwah yang lain ada yang mengatakan "itu sama dengan keluar dari jalan dakwah" semoga tidak mengatakan "keluar dari Islam". Apakah ini juga virus Neo NII, mari kita diskusikan.. wassalam
BERI KOMENTAR

14. 2008 Mei 9 01:45,

maverick menulis...

Assalamu'alaikum.. To. Budi. 1. <[[kalo logika begini yg dipakai...maka, seharusnya anaknya abu jahal atau anaknya abdullah bin ubay...HARUS spt bapaknya..kenyataannya mrk jd sahabat Rasulullah.. seandainya maverick or siapapun punya bapak yg bejat..apa otomatis anaknya bejat juga? pls deh..logika konyol spt ini jgn dipake...yg ilmiah aja lah..]]> ==> Ada sebuah hadits yang berbunyi, setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Nasrani, Yahudi, Majusi atau Islam. Artinya apa? Peran orang tua sangat besar dalam membentuk karakter anaknya dan memberikan pengaruh yang besar pada kepribadian anaknya. Saya berani katakan bahwa 99% anak akan mengambil figur teladan ayahnya. kalau ayahnya dokter, anak2nya kemungkinan besar, 99% akan mengikuti jejak ayahnya. dst. Kecuali seseorang mendapatkan hidayah dari Allah, maka ia akan 99% akan mengikuti jejak orang tuanya. Apakah mungkin seseorang yang dari kecil sampai besar yang dibesarkan dalam lingkungan buruk (termasuk orang tua) akan bisa menjadi baik? Mungkin saja, jika ada hidayah dari Allah. Tapi kemungkinannya sangat kecil. Nabi-nabi memiliki garis silsilah khusus yang terpelihara. Jadi para nabi pun sebenernya keturunan nabi juga, baik secara langsung maupun tidak langsung. Nabi ibrahim misalnya, walaupun ayahnya tidak beriman, tetapi dari garis silsilahnya ia tetap merupakan keturunan nabi. Jadi jangan diartikan orang tua itu hanya orangtuanya saja. Tapi bisa ke atas-atasnya lagi. 2. <[[kalo ada kelompok yg pengen dirikan negara islam di indonesia? trus kenapa? sama kayak NII? wah itu sih logika ngaco juga.. dan apa yg salah kalo PKS masuk kedunia politik? okelah kalo pengen cepet berkuasa itu salah...justru kita mengkritisi dengan cerdas kebijakan2

yg terlalu bernapsu itu, tp yah tetep aja ga bisa maen pukul rata sama kayak NII..]]> ==> Yang lebih saya tekankan adalah kesamaan metode dalam hal ingin mencapai kekuasaan secepat2nya atas nama islam / dakwah. Di Mesir yang sudah lebih dari 70 tahun adanya jamaah IM saja masih bersabar untuk mencapai kekuasaan di dunia politik. Di Indonesia, PKS baru 10 tahun aja udah belagu, ngga ngikutin sodara2 tuanya. Yang lebih parah kalo (elit/oknum) PKS jualan agama, tapi perilakunya justru jauh dari nilai2 ajaran agama Islam. Agama dijadikan barang dagangan. NII di Indonesia sudah lebih dulu ada di Indonesia dibandingkan PKS / IM di Indonesia. Dan banyak mantan NII yang masuk ke IM / PKS. Termasuk kader2 senior PKS. Siapa yang tahu bahwa tujuan mendirikan negara Islam berasal dari IM?? Jadi bisa saja pendiri IM di Indonesia masih menyisakan pemikiran dari NII utk mendirikan negara islam. HA pergi ke Arab Saudi atas bantuan Soeripto yang waktu itu merupakan Agen Intelijen. HA sengaja memilih IM karena memiliki karakteristik yang sama dengan NII, untuk kemudian dijadikan baju baru untuk gerakan bawah tanahnya di Indonesia. 3. <[[yah ini gunanya blog pkswatch...kita kritisi yg spt2 ini..kita jelaskan klo spt itu tdk bener..tp kalo tetep dipaksain...ini mirip NII...yah terserah...]]> ==> Bukan dipaksain, tapi emang faktanya seperti itu. 4. <[[ini sih lucu...IM juga pake sistem sel, trus apakah IM sama kayak NII...hanya org kurang menggunakan akalnya yg berpendpat spt itu..]]> ==> Seperti yang saya katakan sebelumnya, HA merupakan tokoh NII pada waktu itu, kemudian ia pernah dipenjara oleh soeharto. Atas bantuan Soeripto ia dapat dibebaskan dan kemudian diterbangkan ke Arab Saudi untuk "mempelajari Islam". NII yang sebelumnya juga menggunakan sistem sel, coba dipertahankan HA, dengan memilih gerakan yang sesuai dengan karakteristik NII pada waktu itu. dan pilihan jatuhlah kepada IM. Kemudian HA mendekati tokoh2 IM di Arab saudi dan menjadi mutarobbinya. setelah beberapa tahun lamanya, HA kembali ke Indonesia dan mendirikan IM di Indonesia.

Kenapa sistem sel? Karena sistem pengkaderan jenis ini sangat cocok pada pemerintahan soeharto pada waktu itu. Tapi kenapa sistem sel masih digunakan sampe sekarang?? Katanya dakwahnya sifatnya terbuka?? Kenapa masih ada liqo2 yang sifatnya eksklusif?? Katanya sudah masuk mihwar mu'asasi, kenapa sistem pengkaderannya masih menggunakan sistem sel?? Di zaman rasulullah "sistem sel" hanya dilakukan pada mihwar tanzhimi dan sya'bi. setelah memasuki mihwar muasasi dan mihwar dauli, sistem pengkaderannya sifatnya terbuka. Hayo tanya kenapa?? 5. <[[alamak yg bodo nya kawan ni punya kesimpulan..HTI fokus binaannya juga anak muda intelek, salafy rame dikampus2 elit..apa mo disamain juga mrk NII??]]> Memang banyak gerakan yang membidik segmen anak muda, intelek, kampus dan sekolah. seperti jamaah tabligh, salafy, hizbut tahrir, ikhwanul muslimin (PKS/tarbiyah), ahmadiyah, NII, dsb. Tetapi tidak ada yang seintensif dan semasif PKS dan NII. Dan yang paling jago, tentu saja PKS (IM). Akan tetapi keterkaitan antara PKS dan NII, tidak terbatas pada itu saja. IM Indo memiliki keterkaitan sejarah dengan NII. Dan banyak anak2 sekolah, mahasiswa, dsb. ketika ikut mentoring, liqo, dauroh, dsb. tidak tahu akan dibawa kemana?? Baik NII maupun PKS sama2 tidak menjelaskan kepada segmen yang akan dibidiknya akan dibawa kemana mereka, mau dijadikan apa, akan didoktrin apa, dsb. Dulu, saya hampir pernah direkrut menjadi kader NII. Ceritanya begini, saya punya temen yang kemudian saya tahu dia anggota NII,. Saya , yg waktu itu lagi di kampus diajak oleh teman saya tsb. untuk ke rumah temannya. Kemudian saya diajak ke Pasar Minggu ke rumah temannya tersebut. Sesampainya disana, saya sendirian "dimentoring" oleh temannya teman saya tersebut. Isi doktrinnya mirip dengan materi awal2 saya liqo di tarbiyah dan cara yang digunakan juga mirip, sehingga saya sulit membedakan ini tarbiyah atau NII? Padahal saya sudah menjadi KI (Muntashib) di PKS waktu itu. Akhirnya berkat kekritisan dan kejelian saya waktu itu, saya tahu bahwa itu NII, saya ga jadi masuk NII.

Oleh sebab itu, jangan heran banyak mahasiswa yang terjerat masuk NII karena kurang paham Islam. Dan juga banyak mahasiswa2 lugu yang kemudian secara ga sengaja menjadi kader tarbiyah. Termasuk antum semua barangkali?? Bisa saya katakan 90% kader PKS menjadi kader secara ga sengaja (artinya bukan atas inisiatifnya sendiri). Tetapi karena secara ga sadar. Jarang ada orang yang benar2 aktif dan inisiatif untuk ikut tarbiyah, dst. Jadi, intinya sangat-sangat mudah direkrut dan memiliki banyak keunggulan dibanding segmen2 lainnya. 6. Jangan ngatain orang bodoh segala. Kalo ga setuju ya udah bilang aja ga setuju, kasih argumennya. Jangan ada embel2 "alamak yg bodo nya kawan ni punya kesimpulan". Apa anda mau kalo saya bilang argumen anda itu Bodoh, Ngaco, Konyol, dsb?? saya tahu anda ini intelek. Apa gelar anda sudah Ph.D.? Doktor? masa orang intelek ngomongnya kaya gitu? apa bedanya sama tukang ojek?? Ga ada bedanya dong sama tukang ojek. Wassalam.
BERI KOMENTAR

15. 2008 Mei 9 03:17,

budi menulis...

3. <[[yah ini gunanya blog pkswatch...kita kritisi yg spt2 ini..kita jelaskan klo spt itu tdk bener..tp kalo tetep dipaksain...ini mirip NII...yah terserah...]]> maverick wrote.. Bukan dipaksain, tapi emang faktanya seperti itu. diatas ngomongnya FAKTA nya begitu..berarti bukan hipotesa lagi tp udah kesimpulan kalo PKS = NII tp tulisan berikutnya anda bicara.. "Jadi bisa saja" pendiri IM di Indonesia masih menyisakan pemikiran dari NII utk mendirikan negara islam. nah yg diatas malah msh asumsi... trus apa yg salah pengen mendirikan negara ISLAM?? coba kasih dalil yg melarang mendirikan negara Islam...?? HTI malah pengen bikin khilafah bukan sekedar negara Islam..salafy pengen negara yg berhukum dengan quran dan sunnah..trus what's wrong dengan negara Islam..org kristen aja pengen bikin negara dgn hukum kristen...org sosialis pengen bikin negara

dengan sistem kapitas, gt juga org komunis dll...semuanya kalo berkuasa pengen bikin negara dengan ideologi yg mrk punya...trus kenapa kalo ada yg pengen punya cita2 negara Islam di artikan negatif????? maverick wrote.. Memang banyak gerakan yang membidik segmen anak muda, intelek, kampus dan sekolah. seperti jamaah tabligh, salafy, hizbut tahrir, ikhwanul muslimin (PKS/tarbiyah), ahmadiyah, NII, dsb. Tetapi tidak ada yang seintensif dan semasif PKS dan NII. Dan yang paling jago, tentu saja PKS (IM). dpt data drmana bos??? udah keliling kampus di indonesia...atau cmn qila wa qola..?? saya hampir kampus negeri di sumatera uda saya kunjungi jaman mash kuliah dulu...ada yg kampusnya rame jamaah tabligh dan sampe hampir mhs muslim yg baru..pasti pernah ikutan khuruj ala tabligh...dan dakwah mrk ke msh baru sangat masif dan intens...ada kampus yg rame HT...dan skrg malah yg intensif dan masif di kampus2 negeri malah HTI dan salafy..coba cek klo ga percaya..justru anak2 tarbiyah/pks dikampus lemah saat ini..dikampus saya dl...malah NII ga ada gaungnya..ngga laku jualannya... maverick wrote.. 6. Jangan ngatain orang bodoh segala. Kalo ga setuju ya udah bilang aja ga setuju, kasih argumennya. Jangan ada embel2 "alamak yg bodo nya kawan ni punya kesimpulan". Apa anda mau kalo saya bilang argumen anda itu Bodoh, Ngaco, Konyol, dsb?? saya tahu anda ini intelek. Apa gelar anda sudah Ph.D.? Doktor? masa orang intelek ngomongnya kaya gitu? apa bedanya sama tukang ojek?? Ga ada bedanya dong sama tukang ojek. yah silakan aja bilang argumen saya bodoh, ngaco, konyol atau apapun yg sejenis...ga masalah...saya tdk tersinggung...biasa aja kalee.. gelar saya belum doktor..dan tdk pengen bergelar doktor..:) kalo disamain dengan tukang ojek..no problem...keren kan tukang ojek bisa 'melayani' diskusi degan intelek spt anda... intinya bos...anda itu maksa kalo PKS hrs sama dengan NII..kalo ada yg beda kesimpulannya anda ga terima..dan anda tetep maksa HARUS SAMA..yah kalo dah maen ngotot2an gt...yah up to u dah..... dan about Negara Islam...Yusril paling fasih bicara soal ini...sekalian aja bos, yusril dengan PBB nya disamain dengan NII...

BERI KOMENTAR

16. 2008 Mei 9 03:22,

DOS menulis...

Dear all, Diskusi sejauh ini masih berjalan baik, tolong fokus pada masalah, dan hindari segala sebutan buruk atau segala hal yang tidak perlu, yang bisa membuat diskusi keluar dari rel. Sejauh ini saya hanya memantau. FYI, kalau saya tidak menerapkan sensor komentar yg sangat ketat pada diskusi ini, mungkin jumlah komentar yang ada sudah tiga kali lipat. Artinya, jauh lebih banyak yang saya reject di diskusi ini.
BERI KOMENTAR

17. 2008 Mei 10 01:53,

Fulan bin Fulan menulis...

Dalam tulisannya "Penyimpangan-Penyimpangan Dalam Gerakan Da'wah Islam" ust. AbRi menyatakan: "e. Membiarkan Jama'ah Dipimpin dan Dikuasai Orang yang Tidak Jelas Gerakan Islam harus memiliki kepribadian Islam yang jelas, dalam pemahaman, tujuan, langkah dan keputusan-keputusannya. Ia tidak boleh tunduk kepada penguasa. Tidak boleh tergiur oleh harta dan tahta. Musuh-musuh gerakan Islam memiliki cara tertentu untuk menghancurkan gerakan da'wah. Apabila cara-cara fisik dianggap tidak efektif meredam laju gerakan da'wah, maka adakalanya mereka menggunakan cara yang lebih halus tetapi daya rusaknya hebat. Seperti misal, menyusupkan agen intelijen ke dalam saf gerakan Islam. Agen ini berusaha untuk diterima seluruh elemen jama'ah, menempel pada qiyadah jama'ah, mempengaruhinya dalam setiap pengambilan keputusan, dan secara licin dan lihai membelokkan arah gerakan ini menuju lembah kebinasaan. Sejarah keruntuhan kekhalifahan Utsmaniyah di Turki, karena disusupi intelijen Yahudi, mestinya menjadi pelajaran berharga bagi setiap gerakan Islam." Mengapa ust. AbRi sampai merasa perlu untuk menulis yang demikian? Ust. AbRi punya tujuan jelas sehingga sampai menulis yang demikian dan

tentunya punya landasan yang sangat kuat. Siapa yang dimaksud ust. AbRi? Siapa agen intelijen yang menempel pada qiyadah. Punya kaitan apa agen intelijen tersebut dengan qiyadah? Hubungan agen intelijen tersebut dengan qiyadah sudah sejak kapan? Tolong direnungkan! Atau tanyakan pada ust. AbRi secara langsung apa yang dimaksud dalam tulisannya itu.
BERI KOMENTAR

18. 2008 Mei 21 07:24,

Abu Rijal menulis...

'audzubillahi minasy syaithan Ketika thn 90-an, muncul kasus baso dari daging tikus, banyak orang enggan untuk beli baso, padahal tidak semua penjual baso menggunakan daging tikus. Kalau penjual baso asli jadi tidak laku, salah siapa ya Bung Dos? Mungkin ini analogi yang pas untuk menggambarkan PKS dan NII (walaupun tdk pantas membandingkan antara sebuah partai dengan sebuah negara) Ana berpendapat semua gerakan yang menghambat/menyimpang dari tegaknya Islam, baik halus/kasar,sembunyi/terang2an merupakan produk dari intelijen nasionalis (thn 40-an dari 3 kekuatan di Jawa, islam (Jabar), nasionalisme(Jogja&Jateng) dan komunisme(Madiun), Nasionalislah yang menang dan berkuasa sampai skg, dgn semua variannya (Islamnasionalis, Sisio-Nasionalis, Nasionalis Tradisional, dll segala bentuk kesombongan/kebanggan jahiliyah) Menilai sebuah organisasi, baik itu partai atau negara tidak cukup hanya menilai orangnya saja, tepi setidaknya ada 3 aspek, aturannya, orang2nya dan wadahnya itu sendiri. Dan Allah sudah menegaskan, jika terjadi perbedaan pendapat, kembalikan kepada Al Quran dan As Sunah (Qouliyah/fi'liyah&taqririyah, bukan hanya Al Hadits). Setidaknya, untuk menilai lembaga yang haq punya ciri2 sbb (Q.S. 48/28,9/33). 1. Berdasarkan Al Quran dan As Sunah (bukan hanya lips service saja) 2. Bercita2 menegakkan Din Islam (Aqimud din) dalam suatu tempat

(maDINnah), atau memenangkan din islam dari din yg lain 3. Walaw karihal kafirin, walaupun dibenci kaum kafir/musyrik, sehingga tidak menjadi infrastruktur thaghut) 4. Wakaffa billahi syahidah, cukup Allah sebagai saksi, hanya karena Allah, bukan karena dunia

Jzk JIKA ditampilkan


BERI KOMENTAR

Mohon perhatiannya...
Komentar dimoderasi. Tujuan moderasi sama sekali BUKAN untuk menyensor opini kontra, tetapi semata agar menjaga diskusi tetap sehat, menghindari spam, atau fitnah. Beberapa di antara yang penting adalah sbb:

Nama harus diisi, silahkan isi nama palsu, tapi jangan pilih option "Anonim". Paling direkomendasikan, Anda bikin account Google/Blogger untuk menghindari pembajakan identitas (lihat gambar). Tapi kalau tidak, pilih opsi ketiga (nama). Pilihan yang jatuh pada opsi keempat (Anonim) hanya akan membuat komentar Anda saya reject. Pengisian nama bukan untuk registrasi, semata hanya untuk menjaga keindahan diskusi agar mudah untuk saling mereferensi.

Fokus kepada topik, kalau perlu copy-paste bagian yang Anda mau komentari. Hindari menyerang pribadi, berdiskusilah dengan adu argumen/hujjah, serta kalau bisa dengan referensi. Jangan ngambek... kalau kira-kira Anda orang yang perasa, emosional, lebih baik hindari diskusi di sini, bahkan hindari membaca blog ini :)

Lebih lengkapnya silahkan baca aturan berkomentar.


K L I K D I S I N I U N TU K M E M B E R I K OM E N T A R A T A U B E R D I SKU SI .

<< Home