Anda di halaman 1dari 9

ACARA VI POLIEMBRIONI A. Pendahuluan 1.

Latar Belakang Jeruk merupakan salah satu komoditas pertanian yang penting saat ini dan menempati posisi teratas dalam bidang agroindustri, baik sebagai buah segar maupun dalam bentuk olahan. Para petani jeruk di Indonesia sering menggunakan batang bawah saat menanam jeruk. Sebagian besar jenis batang bawah yang digunakan oleh petani memiliki sifat poliembrioni. Poliembrioni merupakan pembentukan embrio dalam bakal biji yang jumlahnya lebih dari satu embrio yang terbentuk. Dalam hal ini ketika suatu biji dikecambahkan maka akan terdapat lebih dari satu tanamanyang akan tumbuh dari satu biji tanaman tersebut. Poliembrioni merupakan peristiwa terdapatnya lebih dari satu embrio dalam satu biji. Poliembrioni dapat terjadi akibat apomiksis dan amfimiksis yang terjadi bersamaan. Peristiwa ini sering dijumpai pada nangka, jeruk dan mangga. Sifat tanaman yang terbentuk dari perkecambahan biji poliembrioni ini adalah hanya ada satu yang berbeda dari induknya, tanaman inilah yang sebenarnya berasal dari peleburan gamet jantan dan betina sehingga tanaman ini memiliki gen dari kedua induknya, sedangkan tanaman lain yang terbentuk merupakan tanaman yang tumbuh dari pembiakan vegetatif tanaman tersebut, sehingga tanaman ini memiliki sifat yang sama dengan induknya. 2. Tujuan Praktikum Praktikum Acara VI Poliembrioni ini bertujuan untuk mengetahui poliembrioni pada benih.

B. Tinjauan Pustaka Poliembrioni pada spesies Citrus sering terjadi dalam satu biji terdapat embrio zigotik (muncul dari penyatuan satu sel telur dan satu sel gamet jantan) dan sejumlah embrio yang dibentuk secara vegetatif (sehingga dikatakan embrio adventif). Embrio adventif ini beregenerasi dari sel sel dalam jaringan nusellus dan integumen. Sel sel somatik tersebut mengalami pembelahan dan membentuk embrio tambahan. Embrio tambahan tersebut akan menghasilkan anakan secara genetik identik dengan tanaman induknya (Wiladsen, 2010). Poliembrioni adalah dalam satu biji terdapat lebih dari satu endosperm (2-3 endosperm). Masing-masing endosperm tidak mempunyai endocarp (kulit tanduk) sendiri-sendiri. Gamet betina dibentuk di dalam bakal biji (ovule) atau kantung lembaga. Pada bagian ini terdapat sel induk megaspora (sel induk kantug lembaga) yang diploid. Sel ini akan membelah secara meiosis dan dari satu sel induk kantung lembaga membentuk 4 sel yang haploid. Tiga sel akan mereduksi dan lenyap tinggal satu yang berkembang. Selanjutnya, sel ini membelah secara mitosis 3 kali dan terbentuklah 8 sel. Dari sel yang berjumlah 8 ini, 3 sel akan bergerak menuju arah yang berlawanan dengan mikropil, 2 sel lainnya menjadi kandung tembaga sekunder, dan 3 sel terakhir menuju ke dekat mikropil. Dari 3 sel (yang menuju dekat mikropil) yang terakhir ini dua menjadi sinergid dan satu sel lagi menjadi sel telur. Dalam keadaan seperti ini kandung lembaga sudah masak dan siap untuk dibuahi. Putik yang sudah masak biasanya mengeluarkan cairan lengket pada ujungnya yang berfungsi sebagai tempat melekatnya serbuk sari (Pichot et al, 2000). Embrio tumbuhan umumnya berasal dari sinergit. Embrio sinergit dapat bersifat haploid dan diploid, tergantung pada ada tidaknya sperma yang membuahi sinergit. Pada tumbuhan, dalam setiap ovulum dapat dijumpai lebih dari satu kandung lembaga. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya poliembrioni.

Terdapatnya kandung lembaga dalam satu ovulum karena kandung lembaga : 1. 2. 3. Berasal dari sel induk megaspora yang sama Merupakan derivat 2 atau lebih sel induk megaspora Berasal dari sel sel nuselus (Eriyani, 2009) Penggunaan teknik pemuliaan cara biasa (konvensional) sulit dilakukan berhubung mangga Indonesia, misalnya Arumanis bersifat poliembrionik yaitu satu biji mangga mempunyai lembaga (embrio) lebih dari satu. Dari semua embrio tersebut hanya satu yang merupakan hasil silangan, sedangkan lainnya bukan hasil silangan. Apabila biji tadi dikecambahkan maka yang tumbuh hanya embrio nucellus yang sama dengan induknya sedangkan embrio zigotik atau hasil silangan tidak tumbuh (Shalahuddin, 2009). Selain secara alami, poliembrioni dapat diinduksi dengan menggunakan senyawa kimia. Pada Eranthis hiemalis, biji mempunyai embrio berbentuk seperti pir dengan suspensor yang panjang. Setelah dewasa embrio diperlakukan dengan bufer asam (pH 4). Setelah perlakuan, badan embrional mati, sedangkan suspensor dapat hidup dan berkembang menjadi embrio adventif yang baru. Perlakuan serupa diulangi lagi dan embrio yang berasal dari suspensor mati dan terbentuk embrio adventif kedua dari sel - sel suspensor (Kamil, 1979). Pada biji poliembrioni terdapat embrio seksual (embrio zigotik) dan embrio aseksual (embrio nucellar). Embrio zigotik berasal dari peleburan pollen dan ovum, sedangkan embrio nucellar merupakan hasil perkembangan dari sel nuselus tanaman induk. Embrio zigotik dapat tumbuh dan menghasilkan tanaman baru (Hibrid) yang mempunyai sifat berlainan dengan pohon induknya sedangkan embrio nucellar akan tumbuh sebagai semai vegetatif yang mempunyai sifat sama dengan induknya. Umumnya tanaman zigotik lebih kecil daripada nucellar, tetapi tidak semua dapat dibedakan berdasarkan penampakan

visualnya. Pengenalan secara visual menjadi metode yang paling mudah dan efektif apabila tetua jantan dan betina berbeda secara signifikan. Dalam usaha perbaikan tanaman (pemuliaan tanaman) embrio zigotik merupakan sumber variasi genetik yang diperlukan, sedangkan embrio nucellar diperlukan untuk penyediaan bibit batang bawah karena sifatnya yang seragam. Embrio nucellar ini dapat dihambat dengan melalui kultur embrio, karena buah hasil persilangan antara beberapa varietas jeruk Siam (Siam Banjar, Siam Madu, Siam Mamuju, Siam Pontianak) dengan jeruk Satsuma sudah dapat dipanen pada umur 10-14 minggu, pada umur tersebut jaringan nuselus masih belum membentuk embrio (Sutanto dan Purnomo, 2004). C. Metode Praktikum 1. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum Acara VI Poliembrioni dilaksanakan pada hari Senin tanggal 9 Mei 2012 pukul 13.00 WIB -15.00 WIB, yang bertempat di Laboratorium Ekologi dan Manajemen Produksi Tanaman Fakultas Pertanian UNS. 2. Alat dan Bahan a. Alat 1) Petridish 2) Pinset 3) Kertas Buram b. Bahan 1) Benih rekalsitran jeruk (Citrus sp.) 2) Aquadest 3. Cara Kerja a. Menyiapkan benih rekalsitran jeruk. b. Merendam dalam aquades selama 2 jam atau lebih. c. Menghilangkan selaput pada kulit biji dengan pinset

d. Mengecambahkan benih pada petridis dengan media kertas buram yang telah dibasahi baik benih yang utuh maupun dipisah e. Mengamati embrio yang ada, tinggi atau panjang biji (setelah berkecambah), jumlah bibit normal dan abnormal.

D. Hasil Pengamatan dan Pembahasan 1. Hasil Pengamatan Tabel 6.1 Hasil Pengujian Jumlah Embrio Jeruk (Citrus sp.) Kelompok 1 Ulangan Jumlah Jumlah biji embrio Jumlah Jumlah embrio Hari ke 7 embrio embrio Hari ke normal abnormal 14 1 3 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 1 1 1 4 4 2 2 2 5 3 3 3 3 Total 16 12 11 10 1 Sumber: Laporan Sementara Tabel 6.2 Rekapan Data Perkecambahan embrio Jeruk (Citrus sp.) Kelompok embrio embrio yang berkecambah embrio pada hari ke 14 normal 1 16 11 10 2 18 13 4 3 17 9 6 4 18 10 2 5 16 13 4 6 22 10 4 7 19 14 8 14 9 9 9 18 12 11 158 101 50 Sumber: Laporan Sementara Keterangan : embrio abnormal 1 9 3 8 9 6 14 1 51

Gambar 6.1 Poliembrio Dalam Biji

Keterangan :

Gambar 6.2 Bibit Normal Keterangan :

Gambar 6.3 Bibit Abnormal Keterangan

Gambar 6.4 Bibit Mati

Analisis Data 1. % embrio yang berkecambah = 2. % embrio yang tumbuh normal = 3. % embrio mati = 36,1 % 63,9 % 31,6 %

2. Pembahasan E. Kesimpulan dan Saran 1. 2. Kesimpulan Saran

DAFTAR PUSTAKA Eriyani, V. 2009. Biji terbuka dan Tertutup. http://vinaeriyani-vina.blogspot.com/. Diakses pada 2 Mei 2012. Kamil, J. 1979. Teknologi Benih 1. Angkasa Raya. Padang Pichot, C., Fady, B., & Hochu, I. 2000. Lack of mother tree alleles in zymograms of Cupressus dupreziana A. Camus embryos. Ann. For. Sci. 57: 1722.

Shalahuddin, M. 2009. Evaluasi secara molekuler mangga hasil persilangan Arumanis 143 dengan Podang. Tesis pada Program Studi Ilmu Tanaman Program Pascasarjana Universitas Brawijaya. Sutanto, A. S. Purnomo. 2004. Penyelamatan Embrio Jeruk Menggunakan Kultur In Vitro Ovule Buah Muda Hasil Penyerbukan Silang. Prosiding Lokakarya Perhimpunan Ilmu Pemuliaan Indonesia. Willadsen, S.M. 1979. A method for culture of micromanipulated sheep embryos and its use to produce monozygotic twins. Nature, 277:298-300