Anda di halaman 1dari 23

METODE KUADRAN

Disusun oleh : Nama : Betta Ady Gunawan Retno Kusuma W. Wawat Carwati Kelompok Asisten : 9 : Imama Nisa Al Husna B1J009025 B1J009024 B1J009025

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI TUMBUHAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2012 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai kendala yang ada

Vegetasi sebagai salah satu komponen dari ekosistem yang dapat menggambarkan pengaruh dari kondisi-kondisi fakta lingkungan yang mudah di ukur dan nyata. Dalam mendeskripsikan vegetasi harus di mulai dari suatu titik padang bahwa vegetasi merupakan suatu pengelompokkan dari suatu tumbuhan yang hidup di suatu hidup tertentu yang mungkin di karakterisasi baik oleh spesies sebagai komponennya maupun oleh kombinasi dan struktur serta fungsi sifat-sifatnya yang mengkarakterisasi gambaran vegetasi secara umum. Di dunia ini terdapat berbagai jenis tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan tersebut ada yang tumbuh liar dan ada pula yang sengaja di tanam. Tumbuhan yang terdapat di suatu area yang cukup luas, tidaklah mudah untuk mengetahui tumbuhan yang mendominansi maupun yang tidak di suatu area tersebut. Untuk mengetahui komunitas dari suatu tumbuhan dapat dilakukan dengan analisis vegetasi. Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan komunitas tumbuhan (komposisi) dan bentuk (struktur) vegetasi suatu masyarakat tumbuhan. Metode kuadran umunya dilakukan bila vegetasi tingkat pohon saja yagng jadi bahan penelitiaan. Metode ini mudah dan lebih cepat digunan untuk mengetahui

komposisi, dominasi pohon dan menksir volumenya. Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis. Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komponen jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Hutan merupakan komponen habitat terpenting bagi kehidupan oleh karenanya kondisi masyarakat tumbuhan di dalam hutan baik komposisi jenis tumbuhan, dominansi spesies, kerapatan nmaupun keadaan penutupan tajuknya perlu diukur. Selain itu dalam suatu ekologi hutan satuan yang akan diselidiki adalah suatu tegakan, yang merupakan asosiasi konkrit. Ada berbagai metode yang dapat di gunakan untuk menganalisa vegetasi ini. Diantaranya dengan menggunakan metode kuadran atau sering disebut dengan kuarter. Metode ini sering sekali disebut juga dengan plot less method karena tidak membutrhkan plot dengan ukuran tertentu, area cuplikan hanya berupa titik. Metode ini cocok digunakan pada individu yang hidup tersebar sehingga untuk melakukan analisa denga melakukan perhitungan satu persatu akan membutuhkanwaktu yang sangat lama, biasanya metode ini digunakan untuk vegetasi berbentuk hutan atau vcegetasi kompleks lainnya Menurut Michael (1994) bahwa metode kuadran adalah metode analisa vegetasi yang menggunakan daerah persegi panjang sebagai sampel uniknya. Ukuran yang digunakan yaitu untuk semak dan pohon digunakan kuadran diameter anti meter. Kerapatan, ditentukan berdasarkan jumlah individu suatu populasi jenis tumbuhan di

dalam area kuadran. Pada beberapa keadaan, kesulitan dalam menentukan batasan individu tumbuhan, kerapatan dapat ditentukan dengan cara pengelompokan berdasarkan criteria tertentu (kelas kerapatan). Kerimbunan, ditentukan berdasarkan penutupan daerah cuplikan oleh populasi jenis tumbuhan. Apabila dalam penentuan kerapatandijabarkan dalam bentuk kerapatan, maka untuk kerimbunannya pun lebih baik dipergunakan kelas kerimbunan. Frekuensi, ditentukan berdasarkan kerapatan dari jenis tumbuhandijumpai dalam sejumlah area cuplikan (n), dibandingkan dengan seluruh atau seluruh cuplikan yang dibuat (N), biasanya dalam %. Adapun parameter yang digunakan adalah kerapatan, dominansi dan frekuensi. Dominansi adalah menyatakan luas arealnyang di tumbuhiboleh suatu jenis tumbuhan. Kerapatan adalah jumlah individu suatu jenis tumbuhan per satuan luas. Frekuensi adalah menunjukan berapa jumlah petak yan di tempati suatu spesies. Indeks nilai penting erupakan gambaran lengkap mengenai karakter sosiologi suatu spesies dalam komunitas Nilai penting harga ini didapatka berdasarkan penjumlahan dari relative dari sejumlah variable yang telah diukur (kerapatan relative, kerimbunan relative dan frekuensi relative). Harga relative ini dapat dicari dengan perbandingan antar harga suatu variable yang didapat dari suatu jenis terhadap nilai total dari variable untuk seluruh jenis yang didapat, dikalikan 100%. Dalam table, jenis-jenis tumbuhan disususn berdasarkan harga nilai penting ini yang biasanya dari harga tumbuhan yang besar harga nilai pentingnya dapat dipergunakan untuk menentukan penanaan bentuk vegetasi tadi (Rahardjantu, 2001). II. TUJUAN

Tujuan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat memahami dan mempraktekan metode kuarter ini dengan baik di lapangan dan mendata jumlah pohon dari suatu areal. III. MATERI DAN METODE A. Materi Alat yang digunakan dalam praktikum metode kuadran anatara lain tali rafia, patok bambu 8 buah, kamera digital, alat tulis, dan meteran kain. Bahan yang digunakan yaitu vegetasi tumbuhan yang terdapat di Hutan Wanagama. B. Metode Adapun cara kerja yang dilakukan pada metode kuadran adalah a. Dibuat garis lurus dengan mengambil 5 titik poin, jarak antara titik poin satu dengan yang lain disesuaikan. b. Pada setiap titik poin, sample diambil dengan mengukur jarak terdekat antara titik poin dengan anakan pohon tersebut. c. Jarak pohon ke titik pusat diukur, dan diameter pohon tersebut dihitung berdasarkan data keliling batang pohon yang telah diukur setinggi dada.
d. Diameter anakan pohon diukur dan ditulis nama spesies untuk masing-masing

kuadran,dibuat tabel dan dianalisis. e. Menghitung parameter yang di amati seperti jumlah spesies, kerapatan, dominansi dan frekuensi.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Tabel Hasil Analisa Kuantitatif dengan cara kwadran, pada 5 titik pengukuran di Hutan Wanagama. Nomor Titik Pengukuran I Nomor Kuadran 1 2 3 4 II 1 2 3 4 III 1 2 3 4 IV 1 2 3 4 V 1 2 Jenis Kayu putih (Eucaliptus alba) Mahoni (Swietenia mahagoni) Akasia (Acacia greggii) Flamboyan (Delonix regia ) Flamboyan (Delonix regia ) Akasia (Acacia greggii) Akasia (Acacia greggii) Flamboyan (Delonix regia ) Flamboyan (Delonix regia ) Akasia (Acacia greggii) Akasia (Acacia greggii) Akasia (Acacia greggii) Akasia (Acacia greggii) Flamboyan (Delonix regia ) Flamboyan (Delonix regia ) Akasia (Acacia greggii) Flamboyan (Delonix regia ) Akasia (Acacia Jarak (m) 2,12 3 2,55 4 3 4,95 6,76 5,52 4,25 4,10 5,58 4,10 1,12 2,90 3 1,22 2,33 4,25 Keliling Pohon (m) 0,33 0,52 0,51 0,19 1,35 2,75 1,21 1,38 1,91 1,11 1,33 2,27 1,75 1 2,28 2,25 1,15 2,10 Diameter (m) 0,105 0,166 0,162 0,061 0,43 0,876 0,385 0,439 0,608 0,354 0,424 0,732 0,557 0,318 0,726 0,717 0,366 0,669 Luas Bidang Dasar (m2) 0,0089 0,022 0,020 0,0029 0,145 0,602 0,116 0,151 0,290 0,098 0,141 0,420 0,243 0,079 0,414 0,404 0,287 0,384

3 4 Jumlah Perhitungan :

greggii) Akasia (Acacia greggii) Akasia (Acacia greggii)

3,22 3,45 61,74

3,25 2,08 32,97

1,035 0,662 9,792

0,841 0,344 5,013

Jarak pohon rata-rata = =

jumlahJarak jumlahPohon
61,74 20 Luas ( jarakpohonrata rata) 2

= 3,087 m Kerapatan seluruh jenis = =

5,013 3,087

= 1,634 m Kerapatan seluruh jenis/ha = =


10.000 ( jarakpohonrata rata) 2

10000 3,087

= 3239,39 m Kerapatan Relatif = Jumlah pohon suatu jenis Jumlah pohon suatu jenis Kayu putih (Eucaliptus alba) X 100%

= 1 X 100% = 0,05 % 20 = 1 X 100% = 0,05 % 20 = 11 X 100% = 0,55 % 20 = 7 X 100% = 0,35 % 20

Mahoni (Swietenia mahagoni)

Akasia (Acacia greggii)

Flamboyan (Delonix rega )

Kerapatan = Kerapatan relatif suatu jenis 100 Kayu putih (Eucaliptus alba)

X kerapatan seluruh jenis

= 0,05 X 3239,39 = 1,62 100 = 0,05 X 3239,39 = 1,62 100 = 0,55 X 3239,39 = 17,81 100 = 0,35 X 3239,39 = 11,34 100 Jumlah Rata-rata bidang dasar (m2) 0,0089/1 = 0,0089 0,022/1 = 0,022 3,613/11 = 0,328 1,369/7 = 0,196

Mahoni (Swietenia mahagoni)

Akasia (Acacia greggii)

Flamboyan (Delonix rega)

Species Kayu putih (Eucaliptus alba) Mahoni (Swietenia mahagoni) Akasia (Acacia greggii) Flamboyan (Delonix rega)

Jumlah bidang dasar 0,0089 0,022 0,03 0,36

Dominansi = kerapatan suatu jenis x nilai rata-rata dominansi tertentu Kayu putih (Eucaliptus alba) Mahoni (Swietenia mahagoni) Akasia (Acacia greggii) Flamboyan (Delonix rega) = 1,62 x 0,0089 = 0,014 = 1,62 x 0,022 = 0,037 = 17,81 x 0,328 = 5,842 = 11,34 x 0,196

= 2,222 Dominansi Relatif = Jumlah bidang dasar dari suatu jenis Jumlah bidang dasar semua jenis X 100%

Kayu putih (Eucaliptus alba)

0,0089 X 100% = 0,016 % 0,5549 0,022 X 100% = 0,039 % 0,5549 0,328 X 100% = 0,591 % 0,5549

Mahoni (Swietenia mahagoni)

Akasia (Acacia greggii)

Flamboyan (Delonix rega ) =

0,196 X 100% = 0,353 % 0,5549

Frekuensi suatu jenis =

jumlah PlotDitemukan Suatu jenis jumlah Seluruh Plot

Kayu putih (Eucaliptus alba)

= 1 5 = 1 5 = 5 5 =1

= 0,2

Mahoni (Swietenia mahagoni) Akasia (Acacia greggii)

= 0,2 =1

Flamboyan (Delonix rega ) = 5 5 Frekuensirelatif =

Frekuensi Dari Suatu Jenis x 100 % Frekuens Dari Seluruh Jenis

Kayu putih (Eucaliptus alba)

0,2 X 100% 2,4 0,2 X 100% 2,4 1 X 100% 2,4

= 0,083 %

Mahoni (Swietenia mahagoni)

= 0,083 %

Akasia (Acacia greggii)

= 0,417 %

Flamboyan (Delonix rega )

1 X 100% 2,4

= 0,417 %

Nilai Penting Relatif

(NP) = Frekuensi relatif + Dominansi Relatif + Kerapatan = 0,083 % + 0,016 % + 0,05 % = 0,149 % = 0,083 % + 0,039 % + 0,05 % = 0,172 % = 0,417 % +0,591 % + 0,55 % = 1,558 % = 0,417 % + 0,353 % + 0,35 % = 1,12 % DR 0,016 % 0,039 % 0,591 % 0,353 % KR 0,05 % 0,05 % 0,55 % 0,35 % FR 0,083 % 0,083 % 0,417 % 0,417 % NP 0,149% 0,172% 1,558% 1,12%

Kayu putih (Eucaliptus alba) Mahoni (Swietenia mahagoni) Akasia (Acacia greggii) Flamboyan (Delonix rega ) Species Kayu putih (Eucaliptus alba) Mahoni (Swietenia mahagoni) Akasia (Acacia greggii) Flamboyan (Delonix rega)

B. Pembahasan

Hutan Pendidikan Wanagama I, adalah hutan buatan yang dibangun untuk kepentingan pendidikan, disamping sebagai pola percontohan untuk mengembangkan hutan serbaguna, khususnya dalam mengatasi kekritisan dan penghijauan. Hutan Pendidikan Wanagama I memiliki luas 80 ha, dikelola oleh Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Para remaja dan mereka yang berminat mendalami masalah - masalah kehutanan akan memperoleh manfaat yang besar bilamana berwidyawisata (study-tour) ke Hutan Pendidikan ini. Di lokasi ini tersedia pula areal untuk berkemah dengan kapasitas 200 orang. Dalam perjalanan ke kota Wonosari, kita akan melintas desa Gading yang terletak lebih kurang 35 kilometer dari kota Yogyakarta. Dari desa Gading ini, kita akan tiba di Hutan Pendidikan Wanagama I, yang berjarak 1 kilometer dari Gading, terletak di tepi sungai Oya, sehingga tempat ini merupakan perpaduan pemandangan alam yang sangat indah. Praktikum metode kuadran ini dilakukan di hutan Wanagama. Hutan Wangama merupakan sebuah kawasan hutan lindung seluas 600 hektar di wilayah Kabupaten Gunung Kidul. Tujuan utama dibangunnya kawasan Wanagama adalah untuk mencari model cara menanggulangi kekritisan tanah di Gunung Kidul. Di samping itu, hutan ini juga difungsikan sebagai hutan pendidikan dan penelitian lapangan bagi Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Pada awal pembangunannya, Wanagama merupakan bukit gundul yang gersang dan tandus. Nama Wanagama berasal dari dua kata yaitu wana yang berarti alas atau hutan dan gama merupakan kependekkan dari Gadjah Mada (Wanagama, 2012). Pada praktikum ini dengan menggunakan metode kuadran atau sering disebut dengan kuarter. Metode ini sering sekali disebut juga dengan plot less method karena tidak membutuhkan plot dengan ukuran tertentu, area cuplikan hanya berupa titik. Metode ini cocok digunakan pada individu yang hidup tersebar sehingga untuk

melakukan

analisa

denga

melakukan

perhitungan

satu

persatu

akan

membutuhkanwaktu yang sangat lama, biasanya metode ini digunakan untuk vegetasi berbentuk hutan atau vegetasi kompleks lainnya. Metode kuadran umumnya dipergunakan untuk pengambilan contoh vegetasi tumbuhan jika hanya vegetasi fase pohon yang menjadi objek kajiannya. Metode ini mudah dikerjakan, dan lebih cepat jika akan dipergunakan untuk mengetahui komposisi jenis, tingkat dominansi, dan menaksir volume pohon. Syarat penerapan metode kuadran adalah distribusi pohon yang diteliti harus acak. Metode kuadran atau metode titik pusat kuadran merupakan metode sampling tanpa petak contoh yang dapat dilakukan secara efisien karena dalam pelaksanaannya di lapangan tidak memerlukan waktu lama dan mudah dikerjakan (Kusmana, 1997 dalam Indriyanto, 2008). Menurut Walver dan Demeats (1980) bahwa metode kuadran adalah metode analisa vegetasi yang menggunakan daerah persegi panjang sebagai sampel uniknya. Kerapatan ditentukan berdasarkan jumlah individu suatu populasi jenis tumbuhan di dalam area cuplikan (kuadrat). Pada beberapa keadaan, kesulitan dalam menentukan batasan individu tumbuhan, kerapatan dapat ditentukan dengan cara pengelompokkan berdasarkan kriteria tertentu (kelas kerapatan). Metode garis merupakan suatu metode yang menggunakan cuplikan berupa garis. Penggunaan metode ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada kompleksitas hutan tersebut. Dalam hal ini, apabila vegetasi sederhana maka garis yang digunakan akan semakin pendek. Untuk hutan, biasanya panjang garis yang digunakan sekitar 50 m-100 m. sedangkan untuk vegetasi semak belukar, garis yang digunakan cukup 5 m-10 m. Metode ini digunakan pada vegetasi yang lebih sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 m (Syafei, 1990). Pada metode garis ini, system analisis melalui variable-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang

selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat (Syafei, 1990). Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar (Rohman, 2001). Kerimbunan ditentukan berdasarkan penutupan daerah cuplikan oleh populasi jenis tumbuhan. Apabila dalam penentuan kerapatan dijabarkan dalam banyak kelas kerapatan, maka untuk kerimbunannya lebih baik digunakan kelas kerimbunan. Frekuensi ditentukan berdasarkan kerapatan dari jenis tumbuhan dijumpai dalam sejumlah area cuplikan (n) dibandingkan dengan seluruh atau total area cuplikan yang dibuat (N) biasanya dalam % (Rahardjanto, 2001). Metode garis digunakan untuk menganalisis vegetasi panjang sampel/ percontoh berupa garis, untuk vegetasi hutan dapat lebih dari 50 meter, semak belukar sepanjang minimal satu meter. Sistem analisis berdasarkan pada variable kerapatan, kerimbunan dan frekuensi. Hal ini menurut Curtis catlon (1964) bahwa untuk setiap plot yang disebarkan dilakukan perlindungan terhadap variable-variabel frekuensi. Frekuensi ditentukan berdasarkan kerapatan dan spesies yang di temukan dari sejumlah kuadrat yang dibuat. Nilai penting harga ini didasarkan pada penjumlahan dari harga relative dan kerapatan, kerimbunan dan frekuensi. Hal ini sesuai pernyataan Rahardjanto (2001), bahwa kerapatan didasarkan pada perhitungan jarak antara individdu-individu sejenis yang melewati garis. Kerimbunan berdasarkan pada panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan atau bila dinyatakan dalam % dapat dilakukan berdasarkan

perbandingan panjang penutupan garis yang melewati individu tumbuhan terhadap panjang garis yang dibuat. Frekuensi pada dasarnya agak sulit menentukan apabila garis yang dibuat merupakan garis tunggal. Apabila garis itu dibagi dalam beberapa sektor-sektor garis. Bila garisnya majemuk maka perhitungan tidak berbeda seperti pada metode kuadrat. Sedangkan nilai penting prinsipnya sama dengan metode kuadrat Hasil pengukuran lapangan dilakukan dianalisis data untuk mengetahui kondisi kawasan yang diukur secara kuantitatif. Beberapa rumus yang penting diperhatikan dalam menghitung hasil analisa vegetasi, yaitu (Gapala, 2010) ; 1. Kerapatan (Density) Banyaknya (abudance) merupakan jumlah individu dari satu jenis pohon dan tumbuhanlain yang besarnya dapat ditaksir atau dihitung.Secara kualitatif kualitatif dibedakan menjadi jarang terdapat ,kadang-kadang terdapat,sering terdapat dan banyak sekali terdapat jumlah individu yang dinyatakan dalam persatuan ruang disebut kerapatan yang umunya dinyatakan sebagai jumlah individu,atau biosmas populasi persatuan areal atau volume,missal 200 pohon per Ha 2. Dominasi Dominasi dapat diartikan sebagai penguasaan dari satu jenis terhadap jenis lain (bisa dalam hal ruang ,cahaya danlainnya),sehingga dominasi dapat dinyatakan dalam besaran: a) Banyaknya Individu (abudance)dan kerapatan (density) b) persen penutupan (cover percentage) dan luas bidang dasar(LBD)/Basal area(BA) c) Volume d) Biomas

e) Indek nilai penting(importance value-IV) Kesempatan ini besaran dominan yang digunakan adalh LBH dengan pertimbangan lebih mudah dan cepat,yaitu dengan melakukan pengukuran diameter pohon pada ketinggian setinggi dada (diameter breas heigt-dbh) 3. Frekuensi Frekuensi merupakan ukuran dari uniformitas atau regularitas terdapatnya suatu jenis frekuensi memberikan gambaran bagimana pola penyebaran suatu jenis,apakah menyebar keseluruh kawasan atau kelompok.Hal ini menunjukan daya penyebaran dan adaptasinya terhadap lingkungan. Raunkiser dalam shukla dan Chandel (1977) membagi frekuensi dalm lima kelas berdasarkan besarnya persentase,yaitu:

Kelas A dalam frekuensi 01 20 % Kelas B dalam frekuensi 21-40 % Kelas C dalm frekuensi 41-60% Kelas D dalam frekuensi 61-80 % Kelas E dalam frekuensi 81-100%

4. Indek Nilai Penting(importance value Indeks) Merupakan gambaran lengkap mengenai karakter sosiologi suatu spesies dalam komunitas (Contis dan Mc Intosh, 1951) dalam Shukla dan chandel (1977).Nilainya diperoleh dari menjumlahkan nilai kerapatan relatif, dominasi relaif dan frekuensi relatif,sehingga jumlah maksimalnya 300%. Metode intersepsi titik merupakan suatu metode analisis vegetasi dengan menggunakan cuplikan berupa titik. Pada metode ini tumbuhan yang dapat dianalisis hanya satu tumbuhan yang benar-benar terletak pada titik-titik yang disebar atau yang diproyeksikan mengenai titik-titik tersebut. Dalam menggunakan metode ini variable-

variabel yang digunakan adalah kerapatan, dominansi, dan frekuensi (Rohman, 2001). Kelimpahan setiap spesies individu atau jenis struktur biasanya dinyatakan sebagai suatu persen jumlah total spesises yang ada dalam komunitas, dan dengan demikian merupakan pengukuran yang relatife. Dari nilai relative ini, akan diperoleh sebuah nilai yang merupak INP. Nilai ini digunakan sebagai dasar pemberian nama suatu vegetasi yang diamati.Secara bersama-sama, kelimpahan dan frekuensi adalah sangat penting dalam menentukan struktur komunitas (Michael, 1994). Menurut Greig-Smith (1983) nilai frekuensi suatu jenis dipengaruhi secara langsung oleh densitas dan pola distribusinya. Nilai distribusi dapat memberikan informasi tentang keberadaan tumbuhan tertentu dalam suatu plot dan belum dapat memberikan gambaran tentang jumlah individu pada masing-masing plot. Menurut Kimmins (1987), variasi struktur dan komposisi umbuhan dalam suatu komunitas dipengaruhi antara lain oleh fenologi, dispersal, dan natalitas. Keberhasilannya menjadi individu baru dipengaruhi oleh vertilitas dan ekunditas yang berbeda setiap spesies sehingga terdapat perbedaan struktur dan komposisi masing-masing spesies. Kerapatan suatu spesies menunjukkan jumlah individu spesies dengan satuan luas tertentu, maka nilai kerapatan merupakan gambaran mengenai jumlah spesies tersebut pada lokasi pengamatan. Nilai kerapatan belum dapat memberikan gambaran tentang bagaimana distribusi dan pola penyebarannya. Gambaran mengenai distribusi individu pada suatu jenis tertentu dapat dilihat dari nilai frekwensinya sedangkan pola penyebaran dapat ditentukan dengan membandingkan nilai tengah spesies tertentu dengan varians populasi secara keseluruhan (Arrijani.2006). Analisa ekologis padatanaman tanaman dikumpulkan dari habitat alami pada situs berbeda di Lembah Soone selama semua empat musim (musim angur, musim dingin, bersemi dan musim panas) untuk empat tahun berurutan (2002 - 2006). Untuk

musim gugur, musim dingin, bersemi dan musim musim panas data ekologis direkam selama minggu lalu September, Desember, Berbaris dan Juni berturut-turut. Ekologis data direkam mempergunakan cara acak sampling pangkat dua. Lima belas pangkat dua tetap dari 12untuk herbal dan 5 m untuk semak belukar dan pohon dipergunakan di masing-masing lokasi dan semua pabrik individu pada pangkat dua dihitung. Data dipergunakan untuk hitungan dari kepadatan, frekuensi, sampul, rapat nisbi, frekwensi relatif, dominansi relatif, nilai kepentingan dari suatujenis tanaman (Ahmad et all., 2010) Menurut Devi danYadava (2006), iklim pada area adalah monsoonic dengan hangat musim panas lembab dan musim dingin kering dinginkan. maksudkan suhu maksimum membedakan dari 24-150C (Januari) ke 35,9 0C dan maksudkan suhu minimum terbentang dari 4,50C(Januari) ke 23,10C (Agustus). Rata-rata curah hujan bulanan terbentang dari 4.5 mm (Januari ke 196 mm (Juli). Curah hujan tahunan ratarata adalah 1245 mm. Kelembaban relatif rata-rata dari udara dibedakan di antara 61.5% (Pebruari) ke 82.8% (Juli). Tanah dari area pembahasan adalah berpasir di tekstur dan keasam-asaman di sifat alami. Kesempurnaan jenis dan gubahan adalah faktor penting di daya tahan fisik, komunitas gaya pegas, fungsi ekosistem, habitat kehidupan rimba, dan bermacammacam dengan atribut ekologis yang lain. Ekosistem berhutan, pohon besar didirikan akan mungkin mempunyai yang terbesar dampak), tetapi pohon pemuda, semak belukar, dan pabrik herbaceous juga boleh melayani ekologis yang penting berfungsi (misalnya. sumber makanan kehidupan rimba, pemantapan tanah) (Ramagedan Kevin, 2007) Berdasarkan perhitungan nilai penting yang terbesar yaitu pada pohon Mahoni (Swietenia mahagoni) dengan nilai indeks penting sebesar 1,558 % hal ini menandakan

bahwa pohon Mahoni (Swietenia mahagoni) merupakan pohon yang memiliki fungsi ekologi yang penting pada areal cikamal pangandaran. Sedangkan nilai indeks penting yang terendah yaitu pada tumbuhan Jambu (Eugenia aquea Burm.F) dengan nilai indeks penting sebesar 0.419%. Beberapa spesies pohon kayu yang tedapat di Wanagama:
1. Mahoni (Swietenia mahagoni)

Tanaman mahoni merupakan tanaman tahunan, dengan tinggi rata-rata 5 - 25 m (bahkan ada yang mencapai lebih dari 30 m), berakar tunggang dengan batang bulat, percabangan banyak, dan kayunya bergetah. Daunnya berupa daun majemuk, menyirip genap, helaian daun berbentuk bulat telur, ujung dan pangkal daun runcing, tepi daun rata, tulang menyirip dengan panjang daun 3 - 15 cm. Daun yang masih muda berwarna merah dan setelah tua jreng..jreng.. bukan sulap bukan sihir, berubah menjadi hijau. Bunga tanaman mahoni adalah bunga majemuk, tersusun dalam karangan yang keluar dari ketiak daun. Ibu tangkai bunga silindris, berwarna coklat muda. Kelopak bunganya lepas satu sama lain dengan bentuk menyerupai sendok, berwarna hijau. Mahkota bunga silindris, berwarna kuning kecoklatan. Benang sari melekat pada mahkota. Kepala sari berwarna putih/kuning kecoklatan. Tanaman mahoni ini baru akan berbunga setelah usia 7 atau 8 tahun. Setelah berbunga, tahap selanjutnya adalah berbuah. Buah mahoni merupakan buah kotak dengan bentuk bulat telur berlekuk lima. Ketika buah masih imut berwarna hijau, dan setelah besar berwarna coklat. Di dalam buah terdapat biji berbentuk pipih dengan ujung agak tebal dan warnanya coklat kehitaman. Buah yang sudah renta alias tua sekali kulit buahnya akan pecah dengan sendirinya dan biji-biji pipih itu akan bebas berterbangan kemana angin meniup. Bila jatuh ke tanah yang cocok akan tumbuh menjadi tanaman mahoni generasi baru.

Klasifikasi Mahoni (Swietenia mahagoni) menurut Anonim (2012) adalah : Subkingdom : Tracheobionta Super Divisi : Spermatophyta Divisi Kelas SubKelas Ordo Famili: Genus Spesies Jacq
2. Kayu putih (Eucaliptus alba)

: Magnoliophyta : Magnoliopsida : Rosidae : Sapindales : Meliaceae : Swietenia : Swietenia mahagoni (L.)

Kingdom Divisi Kelas Ordo Family Genus Species

: Plantae : Spermatophyta : Dicotiledonae : Myrtales : Myrtaceae : Eucaliptus : Eucaliptus alba

Habitus pohon, tinggi 10 m. Batang berkayu, bulat, kulit mudah mengelupas, bercabang, kuning kecoklatan. Daun tunggal, lanset, ujung dan pangkal njncing, tepi rata, permukaan berbulu, pertulangan sejajar, hijau. Bunga majemuk, bentuk bulir, panjang 7-7,5 cm, benang sari banyak, tangkai sari putih, kepala sari kuning, putik satu, putih, mahkota 5 helai, putih. Buah kotak, beruang tiga, tiap ruang terdapat banyak biji. Biji kecil, banyak, coklat. Akar tunggang, putih.

3. Akasia (Acacia greggii)

Kingdom : Plantae Divisi Kelas Ordo Famili Marga Spesies : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Fabales : Fabaceae : Acacieae : Acacia greggii Inggris: [ke]) adalah genus dari semak-

Akasia (ejaan

semak dan pohon yang termasuk dalam subfamiliMimosoideae dari famili Fabaceae, pertama kali diidentifikasi di Afrika oleh ahli botani Swedia Carl Linnaeus tahun 1773. Banyak spesies Akasia non-Australia yang cenderung berduri, sedangkan mayoritas Akasia Australia tidak. Akasia adalah tumbuhan polong, dengan getah dan daunnya biasanya mempunyai bantalan tannin dalam jumlah besar. Nama umum ini berasal dari (akakia), nama yang diberikan oleh dokter-ahli botani Yunani awal Pedanius Dioscorides(sekitar bukunya Materia karakteristik 40-90 Masehi) Medica. Nama Akasia untuk pohon dari obat A. kata bahasa (akis, nilotica dalam Yunani karena "duri"). Nama

ini berasal yang

tanaman

berduri,

spesies nilotica diberikan oleh Linnaeus dari jajaran pohon Akasia yang paling terkenal di sepanjang sungai Nil. 4. Flamboyan Kingdom : Plantae Kelas : Magnoliopsida

Sub Kelas : Rosidae Ordo Famili : Fabales : Fabaceae

Genus Spesies

: Delonix : Delonix regia

Flamboyan memiliki bunga yang besar dengan 4 daun bunga berwarna merah tua atau oranye kemerahan yang panjangnya sampai 8cm. Daun flamboyant berbentuk seperti bulu dan berwarnahijau muda. Setiap daunnya memiliki panjang 30 50 cm dan memiliki 20 40 pasang daun utama (menyirip genap) dan terbagi lagi menjadi 10 20 pasang daun sekunder. Berdasarkan hasil praktikum, tumbuhan yang mendominasi untuk spesies pohon Mahoni (Swietenia mahagoni) dengan Nilai Penting 0,172 %, Dominansi Relatif 0,039 %, Kerapatan Relatif 0,05 % dan Frekuensi relatif sebesar 0,083 %%. Kayu putih (Eucaliptus alba) dengan Nilai Penting 0,149%, Dominansi Relatif 0,016 %, Kerapatan Relatif 0,05 % dan Frekuensi relatif sebesar 0,083 %. Sedangkan

Akasia (Acacia greggii) dengan Nilai Penting 1,558%, Dominansi Relatif 0,591 %, Kerapatan Relatif 0,55 % dan Frekuensi relatif sebesar 0,417 %. Flamboyan (Delonix regei) dengan Nilai Penting 1,12%, Dominansi Relatif 0,353 %, Kerapatan Relatif 0,35 % dan Frekuensi relatif sebesar 0,417 %.

V. KESIMPULAN Berdasarkanperhitungandanpembahasan di atas dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :


1. Spesies yang mendominasi dari areal tersebut adalah Akasia Akasia (Acacia

greggii) dengan nilai NP 1,558 % sehingga pohon Akasia (Acacia greggii)) memiliki fungsi ekologi yang penting di areal hutan Wanagama. 2. Keuntungan dari metode kuadran adalah tidak memerlukan plot dengan ukuran tertentu dan pada setiap titik hanya di dapat 4 jumlah individu.

3. Metode kuadran umun digunakan untuk tanaman yang berupa pohon dan

anakannya.

DAFTAR REFERENSI Ahmad I., Muhammad S.A.A, Mumtaz .H, Muhammad. A, M. Yasin and Mansoor H. 2010. Spatiotemporal Aspects Of Plant Community Structure In Open Scrub Rangelands of Sub-mountainous Himalayan Plateaus. Pak. J. Bot., 42(5): 34313440. Devi S. & P.S. Yadava. 2006 . Floristic Diversity Assessment And Vegetation Analysis Of Tropical Semievergreen Forest Of Manipur, North East India. tropical ecology 47(1): 89-9.

Greig-Smith, P. 1983. Quantitative Plant Ecology, Studies in Ecology. Volume 9. Oxford: Blackwell Scientific Publications Kimmins, J.P. 1987. Forest Ecology. New York: Macmillan Publishing Co. Kurniawan A. Parikesit. 2008. Persebaran Jenis Pohon Di Sepanjang Factor Lingkungan Di Cagar Alam Pananjung Pangandaran, Jawa Barat. volume 9, nomor 4 oktober 2008 halaman: 275-279. Michael, P. 1995. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. Jakarta: UI Press. Purnamasari Q., Andry Indrawan dan E.K.S. Harini Muntasib. 2005. Kajian Pengembangan Produk Wisata Alam Berbasis Ekologi di Wilayah Wana Wisata Curug Cilember (WWCC), Kabupaten Bogor. Jurnal manajemen hutan tropika vol. Xi no. 1 : 14-30. Rahardjanto, 2001. Ekologi Tumbuhan UMM Press. Malang Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Malang: JICA. Santosa Y., Fredy Sitorus. 2008. Pendugaan Parameter Demografi dan Pola Penyebaran Spasial Walabi Lincah (Macropus agilis papuanus) di Kawasan Taman Nasional Wasur Studi Kasus di Savana Campuran Udi-Udi Seksi Pengelolaan III Wasur, Papua . Media konservasi vol. 13, no. 2 agustus 2008 : 65 70 Sutomo. 2009. Kondisi Vegetasi Dan Panduan Inisiasi Restorasi Ekosistem Hutan Di Bekas Areal Kebakaran Bukit Pohen Cagar Alam Batukahu Bali (Suatu Kajian Pustaka). jurnal biologi xiii (2) : 45 - 50 Syafei, Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung. ITB.