Anda di halaman 1dari 17

PRAKTIKUM EKOLOGI TUMBUHAN

METODA KUADRAT

DISUSUN OLEH :

Nama :

Chindy Sulastri Ningsih

F1072151023

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS TANJUNGPURA

PONTIANAK

2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kumpulan berbagai jenis organisme disebut komunitas biotik yang terdiri atas komunitas
tumbuhan (vegetasi), komunitas hewan dan komunitas jasad renik. Ketiga macam komunitas
itu berhubungan erat dan saling bergantung. Di dalam komunitas percampuran jenis-jenis tidak
demikian saja terjadi, melainkan setiap spesies menempati ruang tertentu sebagai kelompok
yang saling mengatur di antara mereka. Kelompok ini disebut populasi sehingga populasi
merupakan kumpulan individu-individu dari satu macam spesies. Karena ada hubungan yang
khas antara lingkungan dan organisme, maka komunitas di suatu lingkungan bersifat spesifik.
Dengan demikian pola vegetasi di permukaan bumi menunjukkan pola diskontinyu. Seringkali
suatu komunitas bergabung atau tumpang tindih dengan komunitas lain.
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis
yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut
terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri
maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh
serta dinamis.
Vegetasi, tanah dan iklim berhubungan erat dan pada tiap-tiap tempat mempunyai
keseimbangan yang spesifik. Vegetasi di suatu tempat akan berbeda dengan vegetasi di tempat
lain karena berbeda pula faktor lingkungannya. Dari segi floristis ekologis pengambilan
sampling dengan cara random sampling hanya mungkin digunakan apabila lapangan dan
vegetasinya homogen, misalnya padang rumput dan hutan tanaman.
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis
yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Vegetasi di tempat tersebut mempunyai variasi
yang berbeda antara vegetasi satu dengan vegetasi yang lain. Dengan adanya variasi yang
dimiliki oleh suatu vegetasi akan menudukung suatu kehidupan organisme tertentu. Oleh
karena itu, untuk menganalisis suatu vegetasi dalam area tertentu dengan menggunakan
variabel kerimbunan, kerapatan, dan frekuensi, maka dilakukan analisis vegetasi menggunakan
metode kuadrat.
B. Masalah
1) Bagaimana hasil pengamatan yang telah dilakukan ?
2) Apa yang dimaksud dengan metode kuadrat ?
3) Bagaimana kondisi lingkungan tempat pembuatan petak contoh ?
4) Mengapa dalam praktikum analisis vegetasi ini, menggunakan metode kuadrat ?
5) Bagaimana kelebihan dan kekurangan metode kuadrat ?
6) Apa bentuk petak contoh yang digunakan dalam praktikum ?
7) Bagaimana hasil perhitungan masing-masing spesies ?

C. Tujuan
Untuk mengetahui komposisi jenis,peranan,penyebaran,dan struktur dari suatu tipe vegetasi
yang diamati.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Metode kuadrat adalah salah satu metode analisis vegetasi berdasarkan suatu luasan petak
contoh. Kuadrat yang dimaksud dalam metode ini adalah suatu ukuran luas yang diukur dengan
satuan kuadrat seperti m, cm dan lain-lain. Bentuk petak contoh pada metode kuadrat pada
dasarnya ada tiga macam yaitu bentuk lingkaran, bentuk bujur sangkar dan bentuk empat
persegi panjang. Dari ketiga bentuk petak contoh ini masing-masing bentuk memiliki kelebihan
dan kekurangannya. Bentuk lingkaran akan lebih menguntungkan jika dapat dipakai untuk
analisis vegetasi herba yang bergerombol, karena ukuran dapat cepat diperluas dan teliti dengan
menggunakan seutas tali yang dikaitkan pada titik pusat lingkaran. Untuk vegetasi herba rendah
bentuk empat persegi panjang akan lebih efisien dibandingkan dengan bentuk bujur sangkar
pada ukuran yang sama. Hal ini disebabkan karena kelompok tumbuhan cenderung akan
tumbuh membentuk lingkaran, sehingga bentuk petak contoh berbentuk empat persegi panjang
akan lebih banyak kemungkinannya untuk memotong kelompok tumbuhan dibandingkan
dengan bentuk bujur sangkar pada luasan yang sama, dengan demikian jumlah jenis yang
teramati akan lebih banyak (Kusmana, C, 1997).

Kerapatan, ditentukan berdasarkan jumlah individu suatu populasi jenis tumbuhan di


dalam area tersebut. Kerimbunan ditentukan berdasarkan penutupan daerah cuplikan oleh
populasi jenis tumbuhan. Dalam praktikum ini, khusus untuk variabel kerapatan dan
kerimbunan, cara perhitungan yang dipakai dalam metode kuadrat adalah berdasarkan kelas
kerapatan dan kelas kerimbunan yang ditulis oleh Braun Blanquet (1964). Sedangkan frekuensi
ditentukan berdasarkan kekerapan dari jenis tumbuhan dijumpai dalam sejumlah area sampel
(n) dibandingkan dengan seluruh total area sampel yang dibuat (N), biasanya dalam persen (%)
. Harga relatif ini dapat dicari dengan perbandingan antara harga suatu variabel yang didapat
dari suatu jenis terhadap nilai total dari variabel itu untuk seluruh jenis yang didapat, dikalikan
100% dalam table. Jenis-jenis tumbuhan disusun berdasarkan urutan harga nilai penting, dari
yang terbesar sampai yang terkecil. Dan dua jenis tumbuhan yang memiliki harga nilai penting
terbesar dapat digunakan untuk menentukan penamaan untuk vegetasi tersebut (Surasana,
1990).
Keragaman spesies dapat diambil untuk menanadai jumlah spesies dalam suatu daerah
tertentu atau sebagai jumlah spesies diantara jumlah total individu dari seluruh spesies yang
ada. Hubungan ini dapaat dinyatakan secara numeric sebagai indeks keragaman atau indeks
nilai penting. Jumlah spesies dalam suatu komunitas adalah penting dari segi ekologi karena
keragaman spesies tampaknya bertambah bila komunitas menjadi makin stabil. (Michael,
1994).

Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan biasanya terdiri dari beberapa jenis


yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut
terdapat interaksi yang erat baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri
maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh
serta dinamis. Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komponen jenis) dan bentuk
(struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Hutan merupakan komponen habitat
terpenting bagi kehidupan oleh karenanya kondisi masyarakat tumbuhan di dalam hutan baik
komposisi jenis tumbuhan, dominansi spesies, kerapatan nmaupun keadaan penutupan tajuknya
perlu diukur. Selain itu dalam suatu ekologi hutan satuan yang akan diselidiki adalah suatu
tegakan, yang merupakan asosiasi konkrit (Natassa, dkk, 2010).

Metode kuadrat mudah dan lebih cepat digunakan untuk mengetahui komposisi,
dominansi pohon dan menaksir volumenya. Metode ini sering sekali disebut juga dengan plot
less method karena tidak membutuhkan plot dengan ukuran tertentu, area cuplikan hanya
berupa titik. Metode ini cocok digunakan pada individu yang hidup tersebar sehingga untuk
melakukan analisa denga melakukan perhitungan satu persatu akan membutuhkan waktu yang
sangat lama, biasanya metode ini digunakan untuk vegetasi berbentuk hutan atau vegetasi
kompleks lainnya. Beberapa Para pakar ekologi memandang vegetasi sebagai salah satu
komponen dari ekosistem, yang dapat menggambarkan pengaruh dari kondisi-kondisi faktor
lingkungn dari sejarah dan pada faktor-faktor itu mudah diukur dan nyata. Dengan demikian
analisis vegetasi secara hati-hati dipakai sebagai alat untuk memperlihatkan informasi yang
berguna tentang komponen-komponen lainnya dari suatu ekosistem. Ada dua fase dalam kajian
vegetasi ini, yaitu mendiskripsikan dan menganalisa, yang masing-masing menghasilkan
berbagi konsep pendekatan yang berlainan. Metode manapun yang dipilih yang penting adalah
harus disesuaikan dengan tujuan kajian, luas atau sempitnya yang ingin diungkapkan, keahlian
dalam bidang botani dari pelaksana (dalam hal ini adalah pengetahuan dalam sistimatik), dan
variasi vegetasi secara alami itu sendiri (Andrie, 2011).

Metode kuadrat mudah dan lebih cepat digunakan untuk mengetahui komposisi, dominasi
pohon dan menaksir volumenya. Metode ini sering sekali disebut juga dengan plot less method
karena tidak membutuhkan plot dengan ukuran tertentu, area cuplikan hanya berupa titik.
Metode ini cocok digunakan pada individu yang hidup tersebar sehingga untuk melakukan
analisa dengan melakukan perhitungan satu persatu akan membutuhkan waktu yang sangat
lama, biasanya metode ini digunakan untuk vegetasi berbentuk hutan atau vegetasi kompleks
lainnya. Beberapa sifat yang terdapat pada individu tumbuhan dalam membentuk populasinya,
dimana sifat-sifatnya bila dianalisa akan menolong dalam menentukan struktur komunitas.
Untuk mempelajari komposisi vegetasi perlu dilakukan pembuatan petak-petak pengamatan
yang sifatnya permanen atau sementara. Menurut Soerianegara (1974) petak-petak tersebut
dapat berupa petak tunggal, petak ganda ataupun berbentuk jalur atau dengan metode tanpa
petak. Pada komunitas dianalisis dengan metode ordinasi yang menurut Dumbois dan
Ellenberg (1974) pengambilan sample plot dapat dilakukan dengan random, sistematik atau
secara subyektif atau faktor gradien lingkungan tertentu (Jumin, 1992).

Analisis komunitas tumbuhan merupakan suatu cara mempelajari susunan atau komposisi
jenis dan bentuk atau struktur vegetasi. Dalam ekologi hutan, satuan vegetasi yang dipelajari
atau diselidiki berupa komunitas tumbuhan yang merupakan asosiasi konkret dari semua
spesies tetumbuhan yang menempati suatu habitat. Oleh karena itu, tujuan yang ingin dicapai
dalam analisis komunitas adalah untuk mengetahui komposisi spesies dan struktur komunitas
pada suatu wilayah yang dipelajari (Tjitrosoepomo, 2002)

Metode kuadrat adalah salah satu metode yang tidak menggunakan petak contoh
(plotless) metode ini sangat baik untuk menduga komunitas yang berbentuk pohon dan tiang,
contohnya vegetasi hutan. Apabila diameter tersebut lebih besar atau sama dengan 20 cm maka
disebut pohon, dan jika diameter tersebut antara 10-20 cm maka disebut pole (tihang), dan jika
tinggi pohon 2,5 m sampai diameter 10 cm disebut saling atau belta (pancang) dan mulai
anakan sampai pohon setinggi 2,5 meter disebut seedling (anakan/semai) (Syafei, 1990).

Cara ini terdiri dari suatu seri titik-titik yang telah ditentukan di lapang, dengan letak bisa
tersebar secara random atau merupakan garis lurus (berupa deretan titik-titik). Umumnya
dilakukan dengan susunan titik-titik berdasarkan garis lurus yang searah dengan mata angin
(arah kompas).Titik pusat kuadran adalah titik yang membatasi garis transek setiap jarak 10 m
(Polunin, 1990).

Metode kuadrat, petak contoh dapat berupa segi empat atau lingkaran yang
menggambarkan luas area tertentu. Luasnya bisa bervariasi sesuai dengan bentuk vegetasi atau
ditentukan dahulu luas minimumnya. Untuk analisis yang menggunakan metode ini dilakukan
perhitungan terhadap variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi (Goldsmith,
2010).

Luas petak contoh mempunyai hubungan erat dengan keanekaragaman jenis yang
terdapat pada arealtersebut. Semakin tinggi keanekaragaman jenis yang terdapat pada areal
tersebut,semakin luas petak contoh yang digunakan. Bentuk luas minimum dapat
berbentukbujur sangkar, empat persegi panjang, dan dapat pula berbentuk lingkaran
(Latifah,2005).

Sedangkan metode intersepsi titik merupakan suatu metode analisis vegetasi dengan
menggunakan cuplikan berupa titik. Pada metode ini tumbuhan yang dapat dianalisis hanya
satu tumbuhan yang benar-benar terletak pada titik-titik yang disebar atau yang diproyeksikan
mengenai titik-titik tersebut. Dalam menggunakan metode ini variable-variabel yang digunakan
adalah kerapatan, dominansi, dan frekuensi (Rohman, 2001)..

Vegetasi yaitu kumpulan dari beberapa jenis tumbuhan yang tumbuh bersama-sama
padasatu tempat di mana antara individu-individu penyusunnya terdapat interaksi yang erat,
baik diantara tumbuh-tumbuhan maupun dengan hewan-hewan yang hidup dalam vegetasi dan
lingkungantersebut. Dengan kata lain, vegetasi tidak hanya kumpulan dari individu-individu
tumbuhanmelainkan membentuk suatu kesatuan di mana individu-individunya saling
tergantung satu samalain, yang disebut sebagai suatu komunitas tumbuh-tumbuhan
(Soerianegara dan Indrawan, 2005).
BAB III
METODOLOGI
A. Waktu dan Tempat
Hari, tanggal : kamis, 26 Oktober 2017
Waktu : 09.30 - selesai
Tempat : Di laboratorium Biologi lantai 2 , FKIP UNTAN dan lapangan rumput
dibelakang ruangan 17

B. Alat dan Bahan


A. Alat:
- Tali Rafia
- Meteran 50m
- Penghitung atau Counter
- Patok tanda pembatas (Pancang)
- Alat tulis dan kertas label
- Perlengkapan pembuatan herbarium
- Buku-buku identifikasi
B. Bahan:
- Komunitas tertentu
C. Cara Kerja
- Tentukan suatu areal tipe vegetasi yang menjadi objek untuk dianalisis.
- Luas petak contoh ditentukan dari hasil pembuatan kurva spesies area dan banyaknya
petak contoh tergantung dari biaya, waktu dan tenaga. Tetapi dari berbagai
pengalaman, pada dasarnya ukuran petak contoh seluas 1 x 1 m2 dibuat untuk
menganalisis tumbuhan herba, 10 x 20 m2 dibuat untuk tumbuhan semak atau
terhadap pohon tingkatan sapling tingginya kurang dari 3 m dan 100 m2 untuk
komunitas yang berbentuk hutan. Bentuk contoh dapat berupa lingkaran, empat
persegi panjang atau bujur sangkar petak tergantung pada komunitas yang akan
diamati.
- Penentuan awal petak contoh dapat dilakukan secara acak atau secara sistematis atau
secara kombinasi keduanya yaitu pertama dibuat acak dan selanjutnya dilakukan
secara sistematis
- Dalam setiap petak contoh dicatat setiap data individu jenis yang ada.
- Hitung data (lihat perhitungan).
- Tentukan besarnya Indeks Nilai Penting (INP) dari masing-masing jenis dengan
menjumlahkan parameter masing-masing jenis tersebut.
- Tentukan Perbandingan Nilai Penting (SDR). SDR menunjukkan jumlah Indeks Nilai
Penting dibagi dengan besaran yang membentuknya. SDR dipakai karena jumlahnya
tidak lebih dari 100% sehingga mudah untuk diinterpretasikan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Tabel Pengamatan Metode Kuadrat
Petak Contoh
No Jenis Spesies Plot
1 2 3 4 5
1. Spesies A 20 10 17 - 8 55 4
2. Spesies B - - 1 8 - 9 2
3. Spesies C - 1 - - - 1 1
4. Spesies D - - - 20 - 20 1
5. Spesies E - - - 19 - 19 1
6. Keladi - - 3 - 3 6 2
7. Rambutan - 3 - - - 3 1
Spesies
Masing-masing 20 14 21 47 11
Plot

2. Tabel Perhitungan
No. Jenis Pengolahan Data
KM KR FM FR INP
1. Spesies A 11 48,67% 0,8 30,76% 79,43%
2. Spesies B 1,8 7,96% 0,4 15,38% 23,34%
3. Spesies C 0,2 0,88% 0,2 7,69% 8,57%
4. Spesies D 4 17,69% 0,2 7,69% 25,38%
5. Spesies E 3,8 16,81% 0,2 7,69% 24,5%
6. Keladi 1,2 5,30% 0,4 15,38% 20,68%
7. Rambutan 0,6 2,65% 0,2 7,69% 10,34%
Total Perhitungan 22,6 2,4

B. PERHITUNGAN
a. Kerapatan Mutlak(KM)
Jumlah individu spesies i
KM = Total luas area(Plot)
55
KM Spesies A = =11
5
6
KM Keladi = 5 =1.2
9
KM Spesies B = 5 =1.8
1
KM Spesies C = 5 =0.2
3
KM Rambutan = 5 =0.6
20
KM Spesies D = =4
5
19
KM Spesies E = = 3.8
5

b. Kerapatan Total
Kerapatan Total = KM Spesies A + KM Keladi + KM Spesies B + KM Spesies C + KM
Rambutan + KM Spesies D + KM Spesies E
= 11 + 1.2 +1.8 + 0.2 +0.6 +4+3.8
= 22.6

c. Kerapatan Relatif (KR)



KR = 100%
11
KR Spesies A= 22.6 100% = 48,67%
1.2
KR Keladi = 22.6 100% = 5,30%
1.8
KR Spesies B = 22.6 100% = 7,96%
0.2
KR Spesies C = 22.6 100% = 0,88%
0.6
KR Spesies Rambutan = 22.6 100% = 2,65%
4
KR Spesies D = 22.6 100% = 17,69%
3.8
KR Spesies D = 22.6 100% = 16,81%

d. Frekuensi Mutlak (FM)


Jumlah individu spesies i tiap plot
FM = jumlah Plot

4
FM Spesies A= 5 = 0,8

2
FM Keladi = 5 =0,4
2
FM Spesies B = 5 = 0,4
1
FM Spesies C = 5 = 0,2
1
FM Spesies Rambutan = 5 = 0,2
1
FM Spesies D = 5 = 0,2
1
FM Spesies E = 5 = 0,2

e. Frekuensi Total
Frekuensi Total = FM Keladi + FM Rumput Teki + FM Spesies A + FM Spesies B + FM
Spesies C + FM Spesies D
= 1+0,4+0,4+0,2+0,2+0,2+0,2
= 2,4
f. Frekuensi Relatif (FR)

FR= 100%

0,8
FR Spesies A = 2,6 100%

0.4
FR Keladi = 2.6 100% = 15,38%
0.4
FR Spesies B = 100% = 15,38%
2.6
0.2
FR Spesies C = 100% = 7,69%
2.6
0.2
FR Rambutan = 100% = 7,69%
2.6
0.2
FR Spesies D = 2.6 100% = 7,69%
0.2
FR Spesies E = 2.6 100% = 7,69%

g. Indeks Nilai Penting (INP)


INP = KR + FR
INP Spesies A=48,67 % + 30,76%= 79,43%
INP Keladi = 5,30% + 15,38% = 20,68%
INP Spesies B= 7,96% + 15,38% =23,34 %
INP Spesies C = 0,88% +7,69 % =8,57 %
INP Rambutan = 2,65% + 7,69 % =10,34 %
INP Spesies D = 17,69% +7,69 % =25,38 %
INP Spesies E = 16,81% + 7,69 % =24,5 %

B .Pembahasan
Metode kuadrat adalah salah satu metode analisis vegetasi berdasarkan suatu luasan petak
contoh. Kuadrat yang dimaksud dalam metode ini adalah suatu ukuran luas yang diukur dengan
satuan kuadrat seperti m, cm dan lain-lain. Bentuk petak contoh pada metode kuadrat pada
dasarnya ada tiga macam yaitu bentuk lingkaran, bentuk bujur sangkar dan bentuk empat persegi
panjang.

Metode kuadrat mudah dan lebih cepat digunakan untuk mengetahui komposisi,
dominansi pohon dan menaksir volumenya. Metode ini sering sekali disebut juga dengan plot
less method karena tidak membutuhkan plot dengan ukuran tertentu, area cuplikan hanya berupa
titik. Metode ini cocok digunakan pada individu yang hidup tersebar sehingga untuk melakukan
analisa denga melakukan perhitungan satu persatu akan membutuhkan waktu yang sangat lama,
biasanya metode ini digunakan untuk vegetasi berbentuk hutan atau vegetasi kompleks lainnya.
Metode kuadrat adalah salah satu metode yang tidak menggunakan petak contoh (plotless)
metode ini sangat baik untuk menduga komunitas yang berbentuk pohon dan tiang, contohnya
vegetasi hutan. Metode kuadrat, petak contoh dapat berupa segi empat atau lingkaran yang
menggambarkan luas area tertentu. Luasnya bisa bervariasi sesuai dengan bentuk vegetasi atau
ditentukan dahulu luas minimumnya.

Kelebihan dari metoda kuadrat adalah dapat dilakukan dengan mudah,memberikan


informasi yang baik bila komunitas vegetasi yang diteliti bersifat homogen.

Kelemahan dari metoda kuadrat adalah terdapat kesulitan dalam menentukan bagian
kurva yang mulai mendatar.

Metode kuadrat,bentuk percontoh atau sampel dapat berupa segiempat atau lingkaran
yang menggambarkan luas area tertentu.Luas nya bisa bervariasi sesuai dengan luas vegetasi
yang ada.Untuk analisis yang menggunakan metoda ini analisis dilakukan dengan perhitungan
terhadap variabel variabel kerapatan,kerimbunan dan frekuensi.Bentuk lingkaran lebih
menguntungkan jika digunakan untuk analisa vegetasi herba yang bergerombol.Untuk vegetasi
herba rendah bentuk segi empat persegi panjang lebih efisien dibanding bentuk bujur sangkar
pada luasan yang sama,ini di sebabkan karena kelompok tumbuhan cenderung akan tumbuh
membentuk lingkaran sehingga bentuk petak contoh empat persegi panjang lebih lebih banyak
kemungkinan nya dibanding dg bentuk bujur sangkar,namun kelemahan nya adalah pada
perbandingan tepi terhadap luas lebih besar dari pada perbandingan panjang tepi bujur sangkar
terhadap luasnya.Dilihat dari segi penyebarannya bentuk bujur sangkar memiliki keuntungan
apabila dibandingkan dengan bentuk lingkaran,namun demikian bentuk lingkaran dengan bentuk
bentuk geometris lainnya.
Pada praktikum analisa vegetasi dengan metode kuadrat ini didapat 5 spesies yaitu spesies
A, spesies B, spesies C, spesies D, spesies E, Keladi dan Rambutan. Tumbuhan-tumbuhan
tersebut tersebar pada 5 plot yang di amati. Berdasarkan data tumbuhan dengan komposisi jenis
tumbuhan Spesies A dominan terhadap spesies lainnya. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai FM
nya (Frekuensi Mutlak) adalah 0,8 dan FR (Frekuensi Relatif) yaitu sebesar 30,79%. Berarti
penyebaran tumbuhan ini dapat ditemukan hampir di setiap plot.Kemudian 2 spesies lain tersebar
di 2 plot, Yaitu spesies B pada plot 3 & 4 dan Keladi pada plot 3 & 5 sebesar 15,38%. Kemudian
4 spesies lainnya yang hanya ditemukan pada 1 plot yaitu spesies C dan rambutan pada plot 2,
spesies D dan spesies E pada plot 4 yaitu sebesar 7,69%
Petak contoh yang digunakan adalah bentuk persegi karena dapat lebih efektif untuk
melihat penyebaran dari tumbuhan herba rendah dengan membuat 5 plotyaitu petak contoh 1,
petak contoh 2, petak contoh 3, petak contoh 4, dan petak contoh 5. Masing-masing mempunyai
ukuran 1 x 1 m dengan jarak maksimal perpetak contoh 50 cm. serta dengan menghitung nilai
KM, KR, FM, FR, dan NP. Sedangkan nilai DM dan DR tidak dihitung, dikarenakan petak
contoh yang diambil tidak berada pada naungan.
Berdasarkan tabel diatas, dapat kita lihat bahwa kerapatan relative, yang diperoleh dari
kerapatan mutlak berbanding kerapatan total. Dimana kerapatan total diperoleh dari jumlah
individu suatu jenis berbanding jumlah total luas area yang digunakan untuk penarikan contoh.
Kondisi lingkungan tempat berlangsungnya praktikum sangat teduh dan memiliki
kelembaban yang cukup tinggi sehingga tumbuhan semak dapat tumbuh subur di area
tersebut.Faktor tanah juga mendukung pertumbuhan tumbuhan sehingga rumput teki dapat
tumbuh mendominasi dari tumbuhan lainnya. Pada masing-masing spesies terjadi kompetisi
dalam mendapatkan makanan baik berupa nutrisi-nutrisi dari dalam tanah, bahan organik, udara,
air, cahaya matahari dan mineral lainnya. Di mana spesies yang mampu bertahan akan terus
hidup dan menguasai daerah tersebut. Sedangkan yang lemah akan punah.
Gambar diatas merupakan petak contoh metode kuadrat segi empat persegi panjang.

Bentuk petak contoh dalam metode kuadrat pada dasarnya ada 3 yaitu bentuk lingkaran,
bentuk bujur sangkar, dan bentuk persegi panjang. Dari ketiga bentuk petak contoh ini mesing-
masing bentuk mewakili kelebihan dan kekurangannya. Bentuk lingkaran akan lebih
menguntungkan jika dipakai untuk analisa vegetasi herba yang bergerombol, karena ukurannya
dapat diperluas dengan cepat dan teliti dengan menggunakan seutas tali yang dikaitkan pada titik
pusat lingkaran. Untuk vegetasi herba rendah bentuk segi empat persegi panjang akan lebih
efisien di bandingkan dengan bentuk bujur sangkar pada luasan yang sama. Hal ini disebabkan
karena kelompok tumbuhan cenderung akan tumbuh membentuk lingkaran sehingga bentuk
petak contoh empat persegi panjang akan lebih banyak kemungkinannya untuk memotong
kelompok tumbuhan dibandingkan dengan bentuk bujur sangkar pada luasan yang sama.namun
demikian empat persegi panjang mempunyai kekurangan terhadap bentuk bujur sangkar karena
perbandiingan panjang tepi terhadap luasnya. Ksalahan tersebut akan lebih meningkat apabila
perbandingan panjang tepi terhadap luasnya meningkat.
BAB V

PENUTUP

A.Kesimpulan

1. Metode kuadrat adalah salah satu metode analisis vegetasi berdasarkan suatu luasan petak
contoh.
2. Bentuk petak contoh pada metode kuadrat pada dasarnya ada tiga macam yaitu bentuk
lingkaran, bentuk bujur sangkar dan bentuk empat persegi panjang.
3. Kelebihan dari metoda kuadrat adalah dapat dilakukan dengan mudah,memberikan
informasi yang baik bila komunitas vegetasi yang diteliti bersifat homogen.
4. Kelemahan dari metoda kuadrat adalah terdapat kesulitan dalam menentukan bagian
kurva yang mulai mendatar.

5. Berdasarkan hasil pengamatan bahwa spesies A lebih dominan daripada sepsies lainnya
yaitu 38,46%

6. Kerapatan didasarkan pada jarak individu spesies sepanjang garis yang di buat, fekuensi
didasarkan pada kerapatan dari spesies yang di jumpai dalam sejumlah garis-garis yang
dibuat, dan nilai penting didasarkan pada penjumlahan harga-harga relatif pada
kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi
DAFTAR PUSTAKA

Andrie. 2011. Ekologi. (http://andriecaale.blogspot.com/2011/06/laporan-tetap-analisis-


vegetasi-metode.html). Diakses tanggal 1 November 2017.

Goldsmith. 2010. Population and Community Structure : Quadrat Sampling Techniques.


Academic Press, New York.

Jumin, Hasan Basri. 1992. Ekologi Tanaman. Rajawali Press: Jakarta

Michael, P. 1995. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. Jakarta: UI
Press.

Rohman, Fatchur.dkk. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Malang: JICA.

Setiadi, D. 1984. Inventarisasi Vegetasi Tumbuhan Bawah dalam Hubungannya dengan


Pendugaan Sifat Habitat Bonita Tanah di Daerah Hutan Jati Cikampek, KPH Purwakarta,
Jawa Barat, Bogor. Bagian Ekologi, Departemen Botani, Fakultas Pertanian IPB

Syafei, Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung: ITB.

Tjitrosoepomo, G. 2002. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press