Anda di halaman 1dari 1

IUGS (International Union of Geological Science) menyatakan klasifikasi batuan beku berdasarkan ukuran kristal.

Batuan beku faneritik diklasifikasikan sebagai plutonik (dibagi menjadi bagian asam-basa serta bagia ultra basa), sedangkan yang afanitik diklasifikasikan sebagai vulkanik. Pada masing-masing kategori utama tersebut, batuan diberi nama berdasarkan persentase mineralnya. Dalam klasifikasi ini digunakan diagram segitiga dengan mineral acuan diletakan di ujung masing-masing sudut segitiga, tidak seperti klasifikasi lainnya yang menggunakan tabel biasa. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam plotting satu titik dalam diagram tersebut. (gambar klasifikasi halaman 60) (A) Klasifikasi IUGS pada batuan plutonik (faneritik) dengan komposisi mineralogi menggunakan diagram QAPF. Q=Kuarsa; A=Ortoklas; P=Plagioklas dan F=Feldspatoid. Batuan haus memiliki kurang dari 90% mineral basa. (Le Mairte, 2002, dalam Blatt, 2006). (B) nama grup secara umum (untuk penggunaan lapangan) jika persentasi mineral tidak bisa ditentukan dengan presisi. Ketika feldspatoid hadir dalam garis A-P, namanya harus digunakan sebagai qualifier, seperti nephelin syenitoid (Streckeisen, 1976, dalam Blatt, 2006) Teknik klasifikasi ini melibatkan penentuan persentase folume masing masing A, P dan Q atau unsur F. Klasifikasi ini akan efektif digunakan ketika informasi mineral sangat baik, memiliki tingkat presisi yang tinggi. ketika pengamatan mineral kurang presisi, seperti ketika melakukan pekerjaan lapangan atau penelitian hanya dari contoh setangan tanpa penelitian di bawah mikrosop, biasanya menggunakan klasifikasi grup (Gambar . Batuan beku ultra basa selalu terlihat faneritik dan memiliki kandungan Q + A + P + yang kurang dari 10 %; mineral basa menyusun lebih dari 90 % batuan tersebut. Mineral basa yang umumnya terdapat dalam batuan beku ultra basa adalah olivin, augit, ortopiroksen dan hornblenda. Contoh batuan ultrabasa yang umum ditemukan adalah peridotit, harzburgit, dunit, kimberlit dan lamproit. (gambar klasifikasi halaman 63) Skema klasifikasi IUGS untyk batuan beku ultrabasa. Ol= olivin; Opx=ortopiroksen, dan Cpx=klinopiroksen. Nama piroksenit digunakan ketika kandungan olivin 0-40%, sementara peridotit berkaitan dengan kandungan olivin 40-100%. (Le Maitre, 2002, dalam Blatt, 2006) Dalam beberapa kasus, batuan beku vulkanik dinamakan berdasarkan diagram yang sama dengan batuan beku plutonik. Akan tetapi, kecenderungan ukuran kristal yang halus membuat klasifikasi yang digunakan pada batuan plutonik susah digunakan, apalagi jika komposisinya merupakan gelasan. Maka dari itu, klasifikasi batuan vulkanik akan lebih akurat jika menggunakan kriteria kandungan kimianya. Perbedaan antara basalt dan andesit pada dasarnya didasarkan atas indeks warna dan kandungan silika. Batuan yang kandungan ssilikanya kurang dari 52% adalah basalt, sementara yang memiliki kandungan silika lebih dari 52% adalah andesit.