Anda di halaman 1dari 78

TPP-MESIN PERKAKAS

1 BAB I

PENERAPAN PERAWATAN TERENCANA (PREVENTIVE AND CORECTIVE MAINTENANCE) Konsep Dasar Perawatan Terencana Pekerjaan pertama yang paling mendasar dalam perawatan adalah membersihkan peralatan dari debu maupun kotoran-kotoran lain yang dianggap tidak perlu. Debu ini akan menjadi inti bermulanya proses kondensasi dari uap air yang berada di udara. Butir air yang terjadi pada debu tersembut lambat laun akan merusak permukaan kerja dari peralatan tadi sehingga secara keseluruhan peralatan tersebut akan menjadi rusak. Pekerjaan membersihkan ini pada umumnya diabaikan orang karena dianggap tidak penting, dan dalam melakukan pekerjaan ini perlu adanya petunjuk tentang: Bagaimana cara melakukan pekerjaan tersebut? Kapan pekerjaan tersebut dilakukan? Alat bantu apa saja yang diperlukan? Hal-hal apa saja yang harus dihindari dalam melakukan pekerjaan tersebut? Pekerjaan kedua adalah memeriksa bagian-bagian dari peralatan yang dianggap perlu. Pemeriksaan terhadap unit instalasi perlu dilakukan secara teratur mengikuti pola jadual tertentu. Jadual ini dibuat atas dasar pertimbangan-pertimbangan yang cukup mendalam antara lain: 1. Berdasarkan pengalaman yang lalu dalam suatu jenis perkerjaan yang samadiperoleh informasi mengenai selang waktu atau frekuensi untuk melakukan pemeriksaan seminimal mungkin dan seekonomis mungkin tanpa menimbulkan resiko yang berupa kerusakan pada unit instalasi yang bersangkutan. 2. 3. Berdasarkan sifat operasinya yang dapat menimbulkan kerusakan Berdasarkan rekomendasi dari pabrik pembuat unit instalasi yang setelah unit instalasi beroperasi dalam selang waktu tertentu. bersangkutan.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

Pekerjaan selanjutnya adalah memperbaiki bila terdapat kerusakankerusakan pada bagian unit instalasi sedemikian rupa sehingga kondisi unit instalasi tersebut dapat mencapai standar semula dengan usaha dan biaya yang wajar. Dengan perkembangan teknologi secara pesat dalam bidang industri maka perawatan terhadap peralatan produksi secara sadar dinilai sangat penting. Pada permulaan tumbuhnya industri, perawatan terhadap peralatan biasanya baru mendapat perhatian setelah peralatan tersebut mengalami kerusakan, karena tidak pernah mendapat perhatian yang layak. Beberapa kerusakan pada peralatan produksi tidak hanya berakibat terhentinya sebagian alat produksi tetapi seluruh peralatan produksi lainnya juga akat ikut berhenti. Dengan meningkatnya persaingan yang cukup ketat dalam bidang industri, jelas perhatian akan ditujukan kepada hal-hal yang menyangkut usaha-usaha untuk dapat meningkatkan produktifitas, meningkatkan kualitas dan menurunkan biaya operasi produksi dengan segala cara yang memungkinkan. Dalam hal ini adalah mengarah kepada peningkatan efektifitas perawatan peralatan dengan cara yang lebih ilmiah yang dikenalkan dengan perawatan terencana (planned maintenance). Dalam perawatan terencana suatu peralatan akan mendapat giliran perbaikan sesuai dengan interval waktu atau disebut siklus perbaikan (repair cycle) yang telah ditentukan sengan demikian kerusakan yang lebih besar dapat dihindari. Interval waktu perbaikan ini dapat ditentukan berdasarkan beban dan derajat kerumitan (repair complexity) dari peralatan yang bersangkutan. Jadi dengan perawatan terencana ini (termasuk preventive dan corrective maintenance) diharapkan dapat memperpanjang umur pakai dari peralatan 3 sampai 4 kali lebih panjang dan dapat mengurangi terjadinya kerusakan yang tidak diharapkan. Disamping itu dengan perawatan terencana diharapkan pula dapat menjamin ketelitian peralatan produksi sehingga kualitas dan kelangsungan produksi dapat terpelihara dengan baik. Derajat Kerumitan Perawatan (repair complexity) Derajat/tingkat kerumitan perawatan (repair complexity) merupakan suatu nilai/besaran relatif dari tingkat kerumitan perawatan suatu mesin. Repair complexity dari berbagai mesin oleh H.P GARD (1976) sudah ditampilkan dalam bentuk tabel (Lampiran 1).
Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

Derajat kerumitan perawatan ditujukan untuk

TPP-MESIN PERKAKAS

menentukan siklus perawatan (repair cycle), tipe produksi, bahan benda produksi yang dikerjakan, giliran kerja perhari, yang biasanya 1 shift ( 8 jam kerja per hari). Selain itu derajat kerumitan perawatan juga berfungsi untuk menentukan periode antara dua masa dalam siklus dan dua masa bongkar total (over houl) dalam tahun. Metode ini sangat berguna apabila tidak terdapat buku instruksi perawatan tentang penentuan siklus perawatan. Siklus Perawatan (repair cycle) Metode perawatan terancana merupakan suatu bentuk pelaksanaan perawatan yang terjadual. Oleh karena itu siklus perawatan menjadi penting keberadaannya. Klasifikasi perawatan mesin dalam Preventive Maintenance, menurut HP.GARD (1976) dapat dibagi menjadi 4 kategori (keadaan), yaitu; 1. 2. 3. 4. Inspection (I) Small Repair (S) Medium Repair (M) Overhaul (O)

Masing-masing tingkatan/kategori di atas (ISMO) mempunyai batasan-batasan kerja secara umum untuk melaksanakan perawatan untuk pencegahan (preventive maintenance) yaitu; Inspection (I) a. potong. b. c. d. Memeriksa dan menyetel kopling gesek, kopling roda gigi, poros Membersihkan filter oli pelumas dan oli pendingin, sistem pengolian Mengencangkan mur-mur dan baut-baut pengikat, ganti bila perlu. utama dan bantalan, peluncur, rem, mur pembawa. dan penyalur oli, serta serbuk kotoran dan debu dari pengarah. Memeriksa fungsi dari mekanisme kecepatan putar dan kecepatan

Small Repair (S) a. b. Kerjakan semua kegiatan yang dilakukan pada inspection. Membongkar 2-3 unit bagian peralatan yang kemungkinan besar

akan aus atau kotor dan membersihkannya, jika diperlukan lamak lagi kantongkantong oli, ganti bagian yang sudah rusak lalu rakit dan setel.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

c. inspeksi.

Mengadakan perbaikan bila diperlukan atau yang telah dicatat pada

Medium Repair (M) a. Kerjakan semua kegiatan perawatan yang dilakukan di small repair, ditambah dengan membongkar semua bagian yang kemungkinan akan aus dan harus diganti atau diperbaiki. b. c. Overhaul (O) a. Ulangi semua tindakan perawatan yang dilakukan pada medium repair, tetapi pembongkaran yang menyangkut setiap unit, semua komponen yang sudah rusak dan aus diganti dengan komponen baru. b. Pemeriksaan pondasi mesin (pemasangan kedalaman pondasi) dan perbaiki jika diperlukan. c. Gerinda/lamak semua permukaan pengarah (guide surface). d. Mengecat semua permukaan yang harus dicat dengan cat yang baru. Mengecat permukaan mesin yang sudah rusak. Kalibrasi ulang dengan melakukan levelling pada mesin.

1.1 Waktu berhenti mesin selama perawatan preventif Waktu pelaksanaan kegiatan perawatan preventif diatur seperti tabel berikut: Tabel 1.1 Waktu berhenti mesin Kategori perawatan preventif Inspection (I) Small Repair (S) Medium Repair (M) Overhaul (O) Jumlah hari yang diijinkan per unit dari derajat kerumitan perawatan beberapa jam 0,25 0,65 1.00

Dari tabel di atas digunakan sebagai patokan agar kegiatan produksi bisa berjalan lancar dan tidak terlalu lama dalam melakukan perawatan dan perbaikan. Oleh karena bagian divisi maintenance harus bisa mempertimbangkan biaya, persediaan suku cadang, perlengkapan peralatan (tools kit) dan jumlah tenaga kerja untuk melakukan pekerjaan, sehingga target waktu tersebut tercapai. Siklus perawatan dan periode antara dua keadaan yang berurutan ditunjukkan dalam tabel 1.2.
Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

Tabel 1.2 Siklus Perawatan dengan metode ISMO


SIKLUS PERAWATAN (CYCLE REPAIR) PERIODE ANTARA DUA MASA PERAWATAN DALAM BULAN (t) PERIODE ANTARA DUA OVERHAUL DALAM TAHUN (T)

DERAJAT KERUMITAN PERAWATAN (REPAIR COMPLEXITY)

M S I

0 s/d 30

O-I1-S1-I2-S2-I3-M1-I4S3-I5-S4-I6-M2-I7-S5-I8S6-I9-O

2 6 9

30 s/d 150

O-I1-I2-I3-S1-I4-I5-I6-S2-I7-I8-I9M1-I10-I11-I12-S3-I13-I14-I15-S4I16-I17-I18-M2-I19-I20-I21-S5-I22I23-I24-S6-I25-I26-I27-O

2 6 27

Diatas 150

O-I1-I2-I3-S1-I4-I5-I6-S2-I7-I8-I9S3-I10-I11-I12-M1-

2 9 36

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

Keterangan: T : Lamanya waktu dari siklus perawatan yaitu ditunjukan oleh waktu antara overhaul pertama dengan overhaul berikutnya atau O ke O. t : Periode antara dua tingkatan yang berurutan dari kategori perawatan preventif (ISMO), sebagaimana ditunjukan oleh tanda ( ) O-I1-S1-I2-S2-I3-M1-I4-S3-I5-S4-I6-M2-I7-S5-I8-S6-I8-O Pada umumnya mesin dapat dilakukan perawatan preventif (metode ISMO) hingga 2-3 kali siklus perawatan (T), selebihnya dari segi biaya perawatan sudah tidak ekonomis. Contoh: Tentukan siklus perawatan dari sebuah mesin bubut senter mempunyai ukuran (315 mm x 1000 mm) memproduksi suatu benda kerja dari bahan baja carbon dan cor secara massal. Mesin tersebut bekerja selama 8 jam perhari. Pembahasan: Diketahui repair complexity mesin bubut : 7 (lampiran 1), shift kerja: 1, sehingga siklus perawatan dapat ditentukan sebagai berikut: Repair complexity 0 s/d 30 Siklus perawatan siklus M S O-I1-S1-I2-S2-I3-M1I4-S3-I5-S4-I6-M2-I72 6 S5-I8-S6-I9-O I 9 t (bulan) 6 T (tahun) 9

Dengan demikian dapat disimpulkan bila dilakukan perawatan setiap 6 bulan sekali sesuai dengan tingkatan siklus perawatan maka mesin bubut tersebut akan di bongkar total (overhaul) setelah 9 tahun. Klasifikasi peralatan produksi konvensional Secara umum peralatan produksi dibagi menjadi 3 kategori utama, yaitu mesin perkakas (machine tools), pesawat angkat (handling equipment) dan peralatan pengecoran logam (foundry equipment). Untuk mesin perkakas dapat dibedakan menjadi 3 bagian yang didasarkan atas bahan benda kerja yang diproduksi yaitu (1) Mesin potong logam (metal cutting machines), (2) Mesin pengerjaan logam (metal working machines), (3) Mesin pengerjaan kayu (wood working machines). Pembagian kategori perkakas produksi ini secara mendetail dapat dilihat dalam gambar 1.1.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

Gambar 1.1 Klasifikasi Peralatan Produksi


Production Equipment

Handling Equipment

Machine Tools

Foundry Equipment

Cranes (bridge crane, jib crane, suspension crane) Mono-rail, chain pulley block, electric telphar, electric winch Belt conveyor, roller conveyor, elevator. Electric/battery trolley, fork lifter

Sand mixing mill Vibrating and rotary screens Sand reclamation machine Moulding machine Core making machine Knock-out grid Cleaning drum Shot blasting chamber Pressure die casting 10.Centrifugal casting machines

Metal Cutting Machine

Metal Working Machine

Wood Working Machine

Lathe Vertical boring machine Turret and capstan lathe Horizontal boring machines Drilling machines Shaping,sloting, planing & broaching machines Milling & plano-milling machines hobbing & other gear milling machines grinding machines miscellaneous machines (rellieving lathe, metal band saw, hacksaw,circular saw, tapping machine, thread milling/rolling machine)

Presses-mechanical (crank, screw, friction), hidraulic, pneumatic operated. Plate shears, cropping and punching machines plate bending ada straightening machines forging hammerpneumatic or steam operated

Log sawing frame Circular and band saw Four side planer, planer and thicknesser, planer and jointer Spindle moulder or patern milling machine Corner locking machine Drilling and recessing machine Wood turning lathe

Dari gambar 1.1 terlihat bahwa mesin perkakas banyak macamnya, oleh karenanya materi dalam buku ini selanjutnya dibatasi hanya 4 mesin perkakas potong yaitu mesin bubut, frais, bor dan sekrap. Nama Mesin Bentuk Mesin Proses

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

Mesin Bubut (Lathe)

Mesin Frais Horisontal (Horizontal milling machine)

Mesin Bor Meja (Bench Drilling Machine)

Mesin Sekrap (Shaping Machine)

Gambar 1.2 Jenis mesin perkakas yang dilakukan perawatan

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

A. TUGAS I Menentukan Repair Complexity Mesin Perkakas Potong LEMBAR KERJA (JOB SHET) Nama/Kelas Pokok Bahasan Tanggal Waktu : : Perencanaan perawatan terencana : : 1. Identifikasi mesin-mesin perkakas (Metal cutting machine) yang ada di bengkel produksi. 2. Catat spesifikasi umum mesin yang ada : 3. Tentukan derajat kerumitan perawatan (repair complexity) berdasarkan spesifikasi mesin tersebut. Lembar jawaban Repair Model Spesifikasi Complexity

Rincian Tugas

Nama mesin

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

10

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

11

B. TUGAS II Menentukan Siklus Perawatan (Cycle Repair) Mesin Perkakas Potong LEMBAR KERJA (JOB SHET) Nama/Kelas Pokok Bahasan Tanggal Waktu : : Perencanaan perawatan terencana : : 1. Tentukan repair complexity (RC) mesin yang ada. 2. Tentukan siklus perawatan dari mesin tersebut 3. Hitung total kegiatan perawatan Inspeksi, Small repair dan Medium : repair 4. Asumsikan berapa shift mesin itu beroperasi 5. Tentukan waktu perawatan antara dua tingkatan ISMO (t) 6. Tentukan waktu overhaul (T) Lembar jawaban Nama mesin
RC

Rincian Tugas

Siklus perawatan siklus M S

t T (bulan) (tahun)

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

12

BAB II TEORI PELUMAS DAN PELUMASAN 2.1 Pelumas Faktor utama yang paling sering mengakibatkan kerusakan mesin adalah masalah pelumasan, yaitu jenis yang salah, tingkat viskositas yang salah, kapasitas yang tidak sesuai, penggantian minyak pelumas yang tidak teratur, atau bahkan sama sekali tidak pernah dilumasi. Dalam keadaan ini seperti ini pelumasan yang tepat dapat berfungsi sebagai perawatan mencegah (preventive maintenance). Oleh karena pentingnya pelumasan dalam perawatan mesin, maka penulis bahas terlebih dahulu pengertian dasar yang berkaitan dengan pelumas dan pelumasan. Adapun secara mendetail tentang ilmu ini dapat dipelajari lebih dalam pada ilmu tribologi (the friction enginering). Berikut dijelaskan beberapa pengertian dasar, yaitu: Pelumas adalah suatu zat yang dapat dipakai sebagai pelapis film benda yang saling bergesekan, zat tersebut dapat berupa: zat padat, cair, dan gas. Gesekan adalah suatu bentuk gaya yang berlawanan dengan arah gerak benda yang besarnya tergantung dari kondisi atau kekasaran permukaan dan beban normal. Adanya gesekan (friction) akan mengakibatkan kehilangan energi dan mempercepat keausan benda.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

13

a. Fungsi Pelumas:

Sebagai pelindung, pendingin, perapat dan Membentuk lapisan film diantara benda yang

pembersih.

saling bergerak stau sama lain sehingga dapat mencegah kontak/langsung pada permukaan logam agar keausan bisa dikurangi.

Meredam hentakan/getaran terutama pada Media transfer panas dan tenaga. Lemak hewani dari biri-biri, ikan, babi. Lemak nabati dari buah kelapa, kelapa sawit, Pelumas sintetis yaitu bahan hasil reaksi Pelumas mineral diperoleh dari minyak bumi. c. Bentuk Pelumas Pelumas cair (Oli)

gear box.

b. Bahan dasar pelumas


jagung dan jarak

kimia beberapa unsur yang dapat menghasilkan zat yang bersifat pelumas.

Syarat pemilihaan oli yang baik adalah: viskositas sesuai, multigrade, tidak mudah terbakar, tidak bereaksi dengan oksigen dan udara keliling. Pelumas cair (oli) banyak digunakan untuk mesin tenaga karena lebih efektif sebagai pelicin, pendingin, pembersih, perapat, dan pemindah tenaga (hidrolik) Pelumas setengah padat (grease/gemuk lumas) Bahan dasar dari grease/gemuk adalah pelumas cair yang telah diberi bahan pengental, dengan kandungan oli 70% sampai 90%. Keuntungan dari penggunaan pelumas setengah padat adalah merupakan penutup yang baik, biasanya lebih tahan terhadap suhu tunggi, tidak tercecer dan penggantian tidak perlu sering. Sedangkan kerugiannya adalah pendinginan kurang baik, friksi lebih besar, penanganan dan pengaplikasian lebih rumit, dan perlindungan yang kurang merata. Syarat-syarat performa grease adalah mampu melumasi dalam kondisi servis apapun, mempunyai kualitas struktural dan konsistensi, harus mampu mancapai daerah kerja yang vital,

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

14

mempunyai daya tahan kimia serta mempunyai daya tahan kebocoran pada temperatur servis maksimum. Grease berdasarkan bahan pengental dibagi menjadi: (1). Grease dasar sabun logam (metallic soap base) Gemuk lumas ini dibuat dengan mencampurkan sabun metal kedalam pelumas cair, biasanya pelumas gemuk roda gigi. Sabun yang ditebarkan kedalam minyak membentuk seart-serat kecil secara menyilang, yang menamgkap serta mencegah terjadinya pengaliran pelumas dari serat-serat tersebut. lumas tersebut, diantaranya:

Sifat-sifat grease

tergantung dari jenis sabun dan pelumas yang digunakan dalam pembuatan gemuk Grease sabun Kalsium

Mempunyai sifat: stabilitas yang kurang baik, tidak cocok untuk penggunaan dimana kenaikan suhu lebih dari 180oF, tahan kontak langsung dengan air, sangat baik untuk: pelumas chasis, plan bearing (rpm rendah), pompa air dan mesin-mesin pertanian.

Grease sabun Sodium

Mempunyai sifat: titik tuang(300oF-350oF), berserabut (tekstur spongy) dan berserat (fibros), berwarna kuning atau hijau, tidak tahan air, baik dipergunakan pada bagian mesin yang beroperasi pada suhu tinggi, bearing dan untuk aplikasi industripada umumnya.

Grease sabun Barium

Mempunyai sifat: titik tuang diatas 350oF, mampu bekerja pada rentang suhu yang besar tetapi suhu operasi dibawah 275oF, tidak cocok untuk suhu rendah dan kecepatan tinggi, warna kuning kemerahan.

Grease sabun Lithium

Mempunyai sifat: dapat digunakan dalam berbagai kondisi, tahan air, mampu mengatasi suhu ekstrim (60 s/d 300oF), merupakan gabungan ciri-ciri terbaik dari grease sabun sodium dan grease sabun kalium, stabilitas baik, daya tahan yang tinggi terhadap geser, titik tuang (300-390)oF, dapat bekerja terus-menerus pada suhu 300oF, warna merah kecoklatan dan bertekstur buttery.

Grease sabun Aluminium

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

15

Mempunyai sifat: dapat dipergunakan untuk keperluan khusus, warna transparan, titik tuang rendah (diatas 170oF), berubah tektur dan pecah pada sekitar 150oF, daya tahan gesek rendah, daya tahan oksidasi kurang, daya tahan terhadap air baik, melekat dengan baik pada permukaan yang dilumasi.

Grease sabun Stronsium dan Timbal

Jenis ini digunakan untuk keperluan khusus, baik digunakan pada suhu ruang berbentuk fluida.

Grease sabun Sodium Kalsium

Mempunyai sifat: daya tahan terhadap air dan suhu tinggi, tektur buttery, dapat dipergunakan untuk pelumas bearing. (2). Grease dengan pengental sabun logam kompleks (metal based complexes) Selain penambahan dengan sabun-sabun logam, sering ditambahakan juga bahan-bahan berbentuk garam-garam khusus. Jenis grease ini mempunyai sifat: tahan terhadap temperatur tinggi, titik tuang tinggi, baik untuk daerah operasi tekanan tinggi, tidak cukup stabil. (3). Grease dengan pengental bukan sabun Jenis ini mempunyai keuntungan lebih ekonomis dan bekerja pada segala situasi, tetapi mempunyai kelemahan yaitu melunak pada suhu sedang. Gemuk pelumas ini diolah dengan menebarkan bahan pengental seperti tanah liat dengan proses khusus atau sejenis silica gel kedalam minyak sintetis. Pengental bukan sabun yang terbaik contohnya pengental common mineral (bentonit) yang mempunyai sifat sebagai berikut: daya tahan dengan oli, sulit untuk diberi bahan additive. Untuk meningkatkan sifat-sifat dan kemampuan dari kerja grease pada penggunaan tertentu, maka ditambahkan beberapa additive diantaranya anti oksidan, anti karat, extreme pressure. Selain itu terdapat pula additive yang berbentuk padat, seperti graphite dan molibdenum disulphide, yang sering terhadap air cukup baik, tahan terhadap gaya geser, mempunyai daya tahan terhdap fase pemisah, kuat bersatu

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

16

dipergunakan untuk memperkuat sifat-sifat gemuk pelumas pada permukaan yang licin dengan beban operasi yang terus-menerus. Hal-hal yang tidak boleh dilakukan pada proses greasing: (1) jangan terlalu banyak memberikan grease, (2) jangan memcampur, (3) gunakan gun dan kontainer hanya untuk satu jenis grease saja, (4) kontainer, grease gun, dan fitting harus diberi label dengan nomor identifikasi, (5) hindari pencemaran dengan selalu menggunakan alat-alat bersih. Pelumas padat Secara umum yang banyak dikenal adalah pelumas dalam bentuk cair (oli) dan grease (gemuk), tetapi sebenarnya ada yang berbentuk padat dan gas/udara. Kelebihan pelumas padat ini adalah dapat bekerja pada suhu operasi 250 300oC dan dibawah 60oC. Pada suhu tersebut pemakaian oli atau gemuk tidak memungkinkan lagi. Pelumas padat dalam bentuk bedak, partikelnya berukuran 0,5 m hingga beberapa m. Pelumas padat terdiri atas dua jenis yaitu:

Graphite

Graphite adalah jenis karbon dengan struktur halus. Mempunyai sifat: gaya gesek antara lapisan partikel sangat rendah, adhesi dengan logam baik, suhu operasi 350-700oC.

Molibdenum Disulphide(MoS2)

Molibdenum Disulphide mempunyai sifat sebagai berikut: struktur sangat halus/tipis, koefisien gesek lebih rendah dari graphite (0,05 dan 0,1), adhesi dengan logam baik, suhu operasi dibawah 400oC dan terendah 180oC, pada suhu 400oC akan beroksidasi menjadi MoS3 yang bersifat bukan pelumas. Pelumas padat berbentuk powder atau sebagai suspensi dalam oli atau cairan yang mudah menguap dan apabila cairan menguap, film pelumas tetap tertinggal. Kelompok pelumas zat padat lamelar: grafit, boraks, mika dan iodida tertentu. Pelumas padat mempunyai ciri-ciri sebgai berikut: (1) harganya mahal, (2) penggantian tidak secepat pelumasan konvensional, (3) merupakan alternatif selain oli dan gemuk pelumas, (4) tidak cocok untuk mesin pemroses makanan, (5) suhu kerja tinggi, (6) cocok untuk semua bahan bearing, (7) tahan terhadap beberapa fluida seperti: air ledeng, xylene, dioxane, trichloroethylene dan oli turbin.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

17

Pelumas padat direkomendasikan untuk digunakan apabila: ada masalah dengan galling dan seizing, daerah pelumasan yang tidak terjangkau/terabaikan dalam perawatan rutin, pengoperasian tidak kontinu, suhu tinggi atau rendah yang tidak dapat diatasi oleh oli, korosi tidak dapat dihindari, kontaminasi tidak dapat dihindari dan daerah operasi daerah berdebu. Contoh aplikasi pelumas padat yaitu pada: cetakan logam, bagian berulir, slevee bearing, saklar kontak dan relay, alat penyuling minyak, katub flens. Pelumas gas Jenis pelumas gas digunakan untuk melumasi tempat-tempat yang tidak mungkin dilumasi, karena mempunyai putaran kurang lebih 100.000 rpm. Biasanya diaplikasikan pada peralatan pembangkit energi nuklir dan beberapa instalasi turbin gas. d. Sifat fisik dan kimia pelumas Warna Sebagai pedoman ada dua bahan dasar yang menyebabkan terjadinya perbedaan warna, yaitu parafine: kehijau-hijauan dan Naftenic : kebiru-biruan. Beberapa pelumas bila terkena sinar (refleksi sinar) akan menampilkan warna hijau. Pada umunya pelumas berwarna mulai dari bening hingga gelap. Semakin tinggi titik didihnya semakin gelap warnanya. Hal ini dikarenakan adanya ikatan fraksi berat seperti aspal akan cenderung berkumpul pada fraksi yang ttik didihnya tinggi. Tidak tertutup kemungkinan pelumas diberi warna oleh pabriknya untuk membedakan satu dengan yang lainnya. Oksidasi (oxidation stability) Semua produk minyak bumi dapat bereaksi secara kimia dengan udara. Sebenarnya oksidasi pada pelumas berlangsung sangat lambat pada suhu ruang, tetapi semakin cepat bila suhu naik. Semakin lembab udara semakin besar kandungan oksigennya sehingga mempercepat oksidasi. Katalisator terjadinya oksidasi dapat berupa baja, aluminium dan tembaga. Hasil oksidasi yang tidak larut berupa lumpur akan menyumbat lubang-lubang saluran. Sedangkan yang larut bersifat asam, tetap terbawa oleh pelumas dan mempercepat korosi dan terak yang menempel dengan kuat pada permukaan logam. Oleh karena itu hampir semua

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

18

pelumas diberi oxidation inhibitor. Aditif ini mengikat langsung oksigen sebelum kontak dengan hidrokarbon pada minyak pelumas. Keasaman (acid) Pada umumnya proses penyulingan pelumas sifat asam tidak bisa dinetralisir secara sepenuhnya. Adanya sedikit asam ini sebenarnya tidak berpengaruh secara fisik maupun kimiawi. Asam yang dikandung tersebut akan menjadi aktif apabila bereaksi dengan asam hasil oksidasi. Keasaman pada pelumas diukur dengan suatu besaran angka yang disebut TAN (Total Acid Number), minyak pelumas yang terlalu asam (TAN tinggi) tidak boleh dipergunakan, karena akan mengakibatkan sifat korosif pada logam. Kebasaan (base) Sifat basa yang dimiliki pelumas menunjukkan bahwa pelumas tersebut mengandung aditif terutama jenis detergent dan dispersant. Tingkat kebasaan dari pelumas diketahui dari kandungan TBN (Total Base Number). Angka TBN pelumas bekas akan lebih rendah dari pelumas yang baru, karena sebagian basa telah digunakan untuk menetralisir asam-asam yang terbentuk ataupun yang telah dipakai untuk menghancurkan kotoran. Emulsifikasi Air dan minyak sulit untuk bercampur, tetapi dengan adanya kontaminan (debu dari luar dan partikel logam dari mesin itu sendiri) dapat mengakibatkan emulsi air dalam pelumas atau sebaliknya (demulsif). Pelumas yang terkontaminasi akan terkondensasi kemudian membentuk endapan berupa lumpur. Pada mesin perkakas potong digunakan cutting oil yang mempunyai daya emulsifikasi yang kuat sehingga larut dalam air, seperti dromus B. Kandungan Sulfur Sulfur dibutuhkan pada minyak pemotongan. Tetapi harus masih dalam batas nonkorosif. Untuk menjamin hal itu maka pada penyimpanan dan penggunaan, harus selalu pada batas suhu konstan. Bila tidak demikian maka sulfur akan bersifat reaktif. Ikatan sulfur berupa sulfat (hidrogen sulfida dan polisulfida) kencendurangannya bersifat korosif. Disamping itu apabila oli sudah terkontaminasi apabila bercampur dengan air atau oksigen bisa membuat larutan asam sulfat yang sangat keras.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

19

Titik Nyala (flash point) Suhu dimana cairan berubah menjadi uap dan akan terbakar dalam sekejab, bila dikenai sumber api. Nyala api terjadi sejauh percikan api diberikan, bila sumber api diambil maka nyala tersebut akan segera padam Titik api Suhu dimana pelumas/cairan berubah menjadi uap dan akan terbakar terus menerus, bila dikenai sumber api. Apabila suhu ini dilampaui, maka uap tersebut akan terbakar sendiri walau tidak dikenai sumber api. Titik kabut Suhu dimana kristalisasi mulai terbentuk setelah sebelumnya muncul kabut. Jika suhu turun lagi maka pelumas akan beku. Titik tuang (Pour point) Suhu terendah dimana pelumas masih dapat mengalir/dituang. Kerapatan relatif (Specific Gravity). Specific Gravity (SG) merupakan perbandingan berat minyak pelumas dengan air yang mempunyai volume sama pada suhu tertentu. Dari rumusan diketahui bahwa SG berhubungan dengan berat jenis maupun massa jenis. Pada umumya SG dari minyak pelumas pada suhu 60oF adalah 0,85-0,90. Kerapatan relatif (SG) dari suatu minyak pelumas pada suhu (oF) tertentu dapat dicari dengan menggunakan rumus: SGt = SG60 c(t-60) Dimana, SGt = Kerapatan relatif pelumas pada suhu t (oF) SG60 = Kerapatan relatif pelumas pada suhu 60oF c t = 0,00036, yaitu nilai rata-rata normal koefisien muai minyak per0F = Suhu dimana nilai SG minyak dicari (oF)

Kekentalan (Viscosity) Kekentalan/viskositas adalah besarnya tahanan aliran yang dimiliki fluida. Sehingga semakin tinggi viskositas suatu minyak pelumas maka akan semakin besar daya perlawanan pengaliran. Viskositas akan berubah sejalan dengan perubahan suhu sehingga metode pengukuran viskositas bermacam-macam, antara lain:

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

20 Viskositas dinamis, satuan: Pa/s, kg/m.s (1 g/cm.s = 1 Poise)

Viskositas kinematis, satuan: m2/s ( 1 cm2/s = 1 Stokes) Derajat Engler (oE), suhu ukur standar: 20oC, 50oC dan 100oC Second Saybolt Universal (SSU), suhu ukur standar: 100oF, 130oF dan 210oF Second Redwood I (RI) atau Redwood Standard atau Redwood commercial, suhu ukur standar: 70oF, 100oF dan 140oF Second Redwood II (RII) atau Redwood Admiralty, suhu ukur standar: 210oF Second DIN 4 Second Cawan Ford Society of Automotive Engineering (SAE) American Petroleum Institute (API)

Karakteristik viskositas dan perbandingan dari viskositas kinematis untuk beberapa satuan pengukuran kekentalan dapat dilihat pada lampiran 2. Indek kekentalan (Viscosity Index) Viscosity index (IV) merupakan besarnya angka indeks atau skala yang menunjukan kecenderungan perubahan kekentalan minyak pelumas terhadap perubahan suhu. Standar temperatur yang dipakai untuk mengukur VI adalah pada suhu 100oF dan 210oF dan pada umumnya menggunakan viskositas kinematis. Minyak pelumas yang mempunyai VI tinggi tidak banyak mengalami perubahan kekentalan akibat perubahan suhu, atau sebaliknya. e. Standarisasi pelumas Metode klasifikasi pelumas yang dipakai didunia ada beberapa yaitu: 1. SAE (The Society of Automotive Engineering)

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

21 2. API 3. ASTM (American (American

Petroleum Institute) Standard of Testing and Material) 4. BS 5. DIN (Deuthsche Norm) 6. ISO 3448 (Industrial Standard Organization) Standarisasi Pelumas Kendaraan Kekentalan pelumas kendaraan berdasarkan penggolongan angka SAE dibedakan: Simbol SAE 20 SAE 40 W SAE J300 SAE J306 : : khusus untuk pelumas mesin khusus untuk roda gigi dan transmisi Keterangan Tingkat kekentalan menurut SAE nomor 20, dipakai untuk kendaraan yang tinggal didaerah tropis saja. Tingkat kekentalan menurut SAE nomor 40, dipakai untuk kendaraan yang tinggal didaerah dingin saja. Dapat dipergunakan pada musim dingin sesuai dengan SAE nomor 20 dan pada musim panas sesuai dengan SAE nomor 40. sehingga pergantian musim tidak perlu ganti minyak pelumas. Pelumas ini disebut juga oli dengan dua indek( multigrade oil) of 4232 (British 51519 Industry Standard)

Tabel 2.1 Arti simbol pada pelumas kendaraan

SAE 20W-40

Standarisasi Pelumas Industri Kekentalan pelumas khusus untuk industri ini diklasifikasikan menurut ISO. Kegunaan dari sistem ISO ini adalah untuk menyeragamkan tingkat kekentalan (Viscosity Grade/VG) dalam kinematic viscosity pada 40oC, supaya memudahkan

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

22

dalam memilih kekentalan pelumas industri yang cocok dalam penggunaanya. Sistem ISO VG ini tidak berlaku untuk pelumas mesin dan roda gigi transmisi kendaraan. Untuk nilai konversi viskositas minyak pelumas kendaraan dengan minyak pelumas industri dapat dilihat di lampiran 3. 2.2 Bahan Tambahan (Additive) a. Tujuan penambahan Additive pada pelumas

Melindungi/memperbaiki mutu pelumas terhadap perubahan-perubahan sifat kimiawi atatu penurunan mutu suatu pelumas. Melindungi kerusakan mesin terhadap produk-produk hasil pembakaran (deposit) Memperbaiki sifat fisis pelumas atu untuk memberikan sifat baru terhadap suatu pelumas yang sesuai dengan penggunaannya. b. Unsur penyusun Additive Additive terdiri atas unsur-unsur kimia seperti; barium, calcium, phosporus,

sulfur, clorine, zinc, lead, molybdenum, silicone, fats, polymer dan soaplike compounds c. Jenis additive pada pelumas Oxidation Inhibitor Corrosion Inhibitor Rush Inhibitor Detergent dispersant Viscosity Index Improver Antiwear Agent Anti Foam Agent Extreme Pressure 2.3 Pelumasan a. Pengertian pelumasan Pelumasan adalah suatu cara/prosedur/metode untuk mengurangi gesekan antara dua permukaan benda yang saling bergesekan dengan menambahkan suatu zat pelumas diantara permukaan tersebut. Pelumasan merupakan salah satu cara untuk merawat mesin-mesin perkakas agar dapat berfungsi sebagimana mestinya. b. Tujuan pelumasan Tujuan dilakukan pelumasan adalah sebagai berikut :

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

23 Mengurangi semaksimal mungkin gesekan yang Mengusahakan agar keausan terjadi seminal mungkin Mendinginkan bagian-bagian mesin yang panas Menghalangi masuknya debu Mencegah terjadinya korosi

terjadi diantara bagian-bagian yang bergerak.


akibat gesekan

c. Cara pemberian pelumas Metode pemberian pelumas pada komponen ada beberapa cara yaitu: 1. Manual dengan kuas Pelumasan secara sederhana dengan tangan memakai lap atau kuas

2. Tabung semprot Pelumasan dengan menggunakan tabung pelumas bertekanan atau semprot

3. Pistol gemuk atau oli Pelumasan dengan menggunakan pistol untuk nipel gemuk atau oli

4. Mangkuk gemuk Metode pelumasan gemuk ini ada yang menggunakan jenis tutup berulir dan jenis pegas tekan yang diputar secara periodik untuk mendorong gemuk melalui lubang.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

24

5. Tetes Pelumasan secara teratur akan menetes melalui pipa yang dapat disetel tekanannya terjadi karena gravitasi atau pengaruh getaran mesin.

6. Sumbu Pelumasan dengan menggunakan sumbu sebagai media untuk mengalir oli dari bak atas 7. Sumbu dari bawah Pelumasan yang menggunakan prinsip kapilaritas seperti pada lampu tempel minyak tanah

8. Celup (bak oli) Komponen yang dilumasi terendam sebagian dan membawa oli keatas sekaligus melumasi komponen lain yang bersinggungan dengannya 9. Pelumasan sendiri Pelumasan yang diberikan pada saat alat tersebut dibuat/dirakit. Umur pelumas sama dengan umur alat, seperti pelumasan pada bantalan.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

25

10. Pompa mekanik Pelumasan disemprotkan melalui pipapipa kecil ke komponen dengan memanfaatkan tekanan periodik dari pipa.

11. Kabut Pengabutan pelumas digunakan untuk alat-alat pneumatik, untuk melumasi komponen yang dilalui udara bertekanan 12. Percikan Komponen yang didesain sedemikian rupa yang berfungsi untuk memercikan pelumas yang berada diatasnya.

13. Sirkulasi Cara ini memakai pompa oli untuk mengalirkan pelumas secara merata dan terus menerus. Pelumas secara efektif menyerap panas dan membawa deposit kedalam tangki

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

26

TUGAS

LEMBAR KERJA (JOB SHET) Nama/Kelas Pokok Bahasan Tanggal Waktu : : Teori Pelumas dan Pelumasan : : 1. Apa fungsi pelumas? 2. Sebutkan dan berikan contoh bentuk pelumas yang anda ketahui? 3. Apa yang dimaksud TAN dan TBN? 4. Suatu minyak pelumas x mempunyai = 870 gr/cm3 : yang diukur pada suhu 60oF, hitunglah Spesific Gravity (SG) pelumas x tersebut jika dia beroperasi pada suhu 150oC? 5. Konversikan nilai kekentalan pelumas Shell Tellus 27 yang mempunyai kekentalan 3,0 oE kedalam satuan cSt, SSU dan RI ! Lembar jawaban

Pertanyaan

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

27 BAB III

PELUMASAN MESIN PERKAKAS

3.1 Metode Umum Pelumasan Mesin Perkakas Pada dasarnya metode yang digunakan untuk melakukan pelumasan mesin perkakas, adalah menerapkan prinsip dasar pelumasan terencana yaitu: a.Apa yang harus dilumasi? b.Bagaimana melumasinya? c.Kapan dilumasi? d.Pelumas mana yang digunakan? Oleh karena itu perlu dilakukan metode pelumasan terencana untuk melakukan pelumasan pada mesin-mesin perkakas (lampiran 4). Pelumasan terencana dengan metode kontrolnya, pada umumnya mudah diterapkan dan menghasilkan keuntungan lebih nyata dibandingkan dengan kegiatan perawatan lainnya. a. Langkah umum dalam melakukan pelumasan: Pelajari dahulu buku pedoman mesin perkakas yang ada (mesin bubut, frais dan sebagainya), kalau tidak ada jangan paksakan dengan buku pedoman mesin yang lain. Usahakan memakai buku pedoman sesuai dengan nama mesinnya. 1.

Mempersiapkan titik-titik pelumasan antara lain : Diagram pelumasan Petunjuk pelumasan Pelumasan mingguan Pelumasan nipel Pelumasan setiap 2000 jam Pelumasan terbuka Pelumasan tambahan Membersihkan nipel Pengetapan dan pengisian serta pembersihan gelas penduga. Pengetahuan tentang keselamatan kerja dalam proses penanganan Jenis pelumas yang dibutuhkan dan persamaannya yang ada

2. 3.

pelumas dan pelumasan

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

28

4. 5. 6.

Jenis peralatan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pelumasan Urutan pelumasan yang dilakukan. Mengontrol hasil pelumasan setelah dilakukan penanganan

Untuk memudahkan pemberian pelumasan pada mesin perkakas, biasanya disekitar titik-titik pelumasan diberikan tanda berupa simbol dan kode warna pelumasan. b. Simbol untuk waktu pelumasan Berikut diberikan tabel bentuk simbol untuk waktu pelumasan. Tabel 3.1 Simbol waktu pelumasan Simbol Waktu pelumasan Setiap hari Gelas penduga 3 hari sekali Setiap minggu Simbol Waktu pelumasan Setiap bulan Setiap 3 bulan Setiap tahun

c. Kode Warna Bentuk simbol yang sudah ada tadi, selanjutnya ditandai dengan warna yang menunjukkan jenis pelumas yang digunakan. Dibawah ini diberikan contoh daftar pengelompokkan pelumas berdasarkan kode warna beserta penggunaan dan viskositasnya. Tabel 3.2 Daftar jenis pelumas berdasar kode warna Kode warna Putih Tellus 11 Nama Viskositas (oE) Penggunaan Poros ulir pada perkakas potong

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

29 1,70 1,55 1,67 1,50 1,40 3,0 3,0 2,8 2,9 3,0 4,8 4,8 4,8 4,8 5,3 5,0 5,3 5,2 5,0 10,0 9,6 10,0 10,2 9,8 Oli spindel

Coklat

Shell Tellus 15 Mobil oil velocity 6 Esso mentor 28 BP Energol HLP-D 10 Agip OSO 15 Shell Tellus 27 Mobil DTE 24 Esso Teresso 43 BP Energol HL 65 Agip OSO 35 Shell Tellus Mobil DTE 25 Esso Nuto H 46 BP Energol HLP ISO Shell Tonna 33 Mobil Oil Vectra no.2 Esso Febis K-53 BP Energol HP 20xC Agip Exidia 5 Shell Tellus 69 Mobil DTE 28 Esso Teresso 75 BP Energol HP 60 Agip OSO 105 Shell Alvania Grease 2 Mobil Plex 47 Esso Andak B BP Energol RBB 2 Agip GR MU 2 Oli campur air BP Energol HP 60 dan air contoh: - Gerinda (1:50) - Umum (1:20)

Hijau

Pelumas umum Pelindung karat Oli eretan

Merah

Oli Hidrolik

Biru

Oli roda gigi

Hitam

Minyak pemotongan

kuning

Gemuk pelumas

Orange

Emulsi Oli campur air (dromus)

Violet

Penggunaan khusus

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

30

3.2 Pelumasan Mesin Bubut Hal-hal yang berkaitan dengan keselamatan kerja pada saat melakukan pelumasan mesin bubut:

Melumasi roda gigi pengganti mesin harus dimatikan. Melumasi kepala tetap dalam pengujian tidak ada percikan yang berarti. Hindarkan pelumasan yang berlebihan. Melumasi roda gigi dengan gemuk, pengetesannya dalam keadaan tertutup. Pilihlah posisi pelumasan yang enak (sesuai). Perhatikan jenis minyak pelumas yang harus dipakai jangan mencampur adukan SAE 40 dengan SAE 90. Bersihkan percikan atau tumpahan pelumas disekitar mesin. Mengembalikan peralatan pelumas pada tempat semula. Lembar titik-titik pelumasan
U R A I AN Mempelajari diagram pelumasan Mempelajari petunjuk pelumasan Mengelompokkan bagian yang dilumasi harian Mengelompokkan bagian yang dilumasi 3 harian Mengelompokkan bagian yang dilumasi mingguan Mengelompokkan bagian yang dilumasi bulanan Mengelompokkan bagian yang dilumasi 3 bulanan Mengelompokkan bagian yang dilumasi tahunan Menentukan bagian yang dilumasi terbuka Menentukan bagian yang dilumasi hanya dengan menambahkan oli baru Menentukan bagian pelumasan nipel Membersihkan nipel-nipel tempat memasukkan pelumas Mengeluarkan oli lama pada eretan/apron Mencuci bagian yang dilumasi dengan minyak tanah/oli pencuci pada eretan Membersihkan bagian-bagian yang dilumasi terbuka Membersihkan bagian permukaan gigi pengganti /kuadran Mengeluarkan oli lama pada roda gigi kepala tetap Mengeluarkan oli lama pada roda gigi kecepatan Mengeluarkan oli lama pada roda gigi ingsutan Mencuci bak pelumas pada roda gigi kecepatan, kepala tetap, ingsutan YA TIDAK CATATAN

a.
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Lembar penyiapan titik-titik pelumasan mesin bubut

b.

Titik-titik pelumasan pada mesin bubut

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

31

Gambar 3.1 Titik-titik pelumasan mesin bubut


c. Urutan Pelumasan mesin bubut

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

32

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. d. 1. 2.

Kepala tetap Bantalan poros kepala tetap Roda gigi kecepatan Eretan (apron) Roda gigi ingsutan Bantalan batang ulir pembawa As gigi pengganti Badan luncuran sadel utama Luncuran melintang dan rumah pahat Kepala lepas Batang ulir, rak dan meja Mengontrol hasil pelumasan sistem percik/rendam Tutup bak pelumas Jalankan mesin pelan-pelan hingga maksimal agar permukaan oli

benar-benar datar. Hal ini disebabkan minyak pelumas dipaksakan bergerak dan bersikulasi sehingga rongga-rongga kecil akan terisi. Karena permukaan minyak pelumas akan turun dengan sendirinya. 3. Diamkan 10 menit, agar permukaan oli kelihatan. Kontrol lagi gelas penduga, apabila permukaan oli dibawah standart maka tambahkan minyak pelumas yang sama sampai batas permukaan yang distandartkan. Ulangi lagi seperti yang diatas agar betul-betul tercapai batas pelumasannya. 4. 5. Pelumasan bantalan dengan sistem nipel yang beradadidalam dan Untuk hal diatas dapat kita putar-putar poros yang baru saja tidak mungkin untuk dikeluarkan, sulit untuk mengecek dengan penglihatan. dilumasi, apabila dirasa berat tambahkan minyakpelumassampil porosnya diputar. Minyak pelumas sudah bekerja apabila diputar terasa ringan.

3.3 Pelumasan Mesin Frais a. Hal umum dalam pelumasan frais

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

33

Metode pelumasan yang dilakukan pada mesin frais sebenarnya hampir sama dengan mesin-mesin perkakas yang lain. Secara umum mesin harus selalu dilumasi dan selalu dalam keadaan bersih sebelum dan sesudah operasi. Bagian mesin yang selalu akan digunakan sebagai lintasan luncur dan selalu berputar harus selalu dilumasi sebelum mesin dioperasikan. Pada nipel (tempat memasukkan grease/pelumas) harus terlebih dahulu dibersihkan sebelum melakukan penambahan grease atau minyak pelumas lainnya. Semua pekerjaan pelumasan harus sesuai dengan petunjuk/instruksi manual book yang diberikan oleh produsen mesin. Operator mesin hendaknya secara teratur ikut memeriksa ketinggian minyak pelumas pada gelas penduga, untuk melihat apakah oli pelumas cukup atau kurang. Kekurangan oli pelumas dapat mengakibatkan kerusakan pada mesin. Penggantian oli pelumas mesin tidak dapat dipastikan sama untuk semua mesin, karena banyak tergantung dari jenis mesin, beban kerjanya, jenis bahan pembuat mesin dan faktor lainnya. Berikut contoh pelumasan yang dilakukan pada mesin frais model Schaublin 53 N. Mesin Model Pelumasan Jumlah Jenis oli (Liter) Tonna 33 Tellus 27 Tonna 33 Tonna 33 2,3 2,5 3,0 0,5 Penggantian (bln) 12

Bak oli - Poros ulir vertikal - Bak roda gigi - Spindel pemakanan - Poros ulir memanjang

frais

Schaublin 53 N

Pada tabel di atas tampak bahwa pelumas yang digunakan adalah jenis oli dengan merk tertentu. Sebenarnya jenis pelumas bisa diganti dengan pelumas yang lainnya asalkan terlebih dahulu diketahui sifat-sifat minyak pelumas pengganti. Sifat minyak pengganti harus ekivalen dengan minyak pelumas yang disarankan oleh pabrik pembuat mesin. Diagram pelumasan Frais Berikut diagram pelumasan pada mesin frais universal model Aciera F3.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

34

Gambar 3.2 Diagram pelumasan mesin frais Aciera F3

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

35

TUGAS Merencanakan dan Melaksanakan Pelumasan Untuk Mesin Bubut dan Mesin Frais

LEMBAR KERJA (JOB SHET) Nama/Kelas Pokok Bahasan Tanggal Waktu : : Pelumasan mesin perkakas : : 1. 2. 3. 4. : 5. Menggambar diagram pelumasan Membuat simbol-simbol pelumasan Mencatat minyak pelumas/gemuk yang digunakan Mengisi kartu mesin yang disediakan Membuat grafik/jadual pelumasan dan mengganti-kan minyak pelumas 6. Membuat daftar peralatan/suku cadang yang perlu diganti atau diperbaiki. Lembar jawaban

Tugas

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

36 BAB IV

PENGUKURAN KERATAAN (LEVELLING) MESIN 4.1 Levelling Mesin Bubut 1. Penyelarasan terhadap bed dan carriage Macam Pengujian No Skema a. Kelurusan pada arah longitudinal B1 b. Pada arah transversal
Penyimpangan yang diijinkan (mm)

Hasil pengujian

a. DC 500 0,01 convex


500DC 1000 0,02 convex 1000<DC 2000

0,03 convex
b. 0,04/1000

Spirit level Carriage Meja

Gambar 3.1 Levelling Meja Kelurusan pada arah longitudinal


Posisi 0-1 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 6-7 7-8 Kiri Arah Maju Kanan Arah Mundur Kiri Kanan Rata-rata

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

37

Alat ukur dan alat bantu yang dipergunakan :

Kesimpulan :

2. Kelurusan Gerakan Carriage No Skema Macam Pengujian


Penyimpangan yang diijinkan (mm)

Hasil pengujian

DC<500 0,015
500<DC<1000

B2

Pada bidang horisontal

0,02
1000<DC<2000

0,025

Alat ukur dan alat bantu yang digunakan :

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

38
Penyesuaian bila titik mula dan akhir nol (m) Kesalahan terhadap garis nol (m)

Pembacaan(mm) Posisi Jarak (mm)

Kekanan

Kekiri

Rata- Rata (m)

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500

Grafik B 2:

Kesimpulan :

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

39

3. Kesejajaran gerak pindah tailstock relatif terhadap gerak pindah carriage No Skema Macam Pengujian a. Pada bidang horisontal b. Pada bidang vertikal
Penyimpangan yang diijinkan (mm)

Hasil pengujian

a. 0,03

b. 0,03

B3

Alat ukur dan alat bantu yang digunakan :

Posisi

Jarak

Pembacaan

0 1 2 3 4 5 6

(mm) 0 10 20 30 40 50 60

Hor

Ver

Posisi

Jarak

Pembacaan

7 8 9 10 11 12 13

(mm) 70 80 90 100 110 120 130

Hor

Ver

Posisi

Jarak

Pembacaan

(mm)

Hor

Ver

140 150 160 170 180 190 200

Grafik B 3:

Kesimpulan :

4. Ketelitian Spindel Utama

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

40 Macam Pengujian a. Kesalahan aksial b. Kemiringan bidang muka


Penyimpangan yang diijinkan (mm)

No

Skema

Hasil pengujian

a. 0,01

B4

b. 0,02 termasuk kesalahan aksial

Dial

Indikator Poros Pemb antu

Gambar 3.2 Levelling spindel utama Alat ukur dan alat bantu : Kesimpulan : 5. Eksentrisitas Spindel Utama No Skema Macam Pengujian
Penyimpangan yang diijinkan (mm)

Hasil pengujian

B5

Eksentrisitas dari pada "spindel nose"

0,01

Alat ukur dan alat bantu : Kesimpulan :

6. Simpang putar (run-out) sumbu spindel utama

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

41 Macam Pengujian a. Didekat spindel nose


Penyimpangan yang diijinkan (mm)

No

Skema

Hasil pengujian

a. 0,01

B6

b. Pada jarak 300 mm dari spindel nose

b. 0,02 untuk 300 mm

Alat ukur dan alat bantu : Kesimpulan :

7. Kesejajaran sumbu spindel utama terhadap gerak carriage dalam arah longitudinal No Skema Macam Pengujian a. Pada arah horizontal B7 b. Pada arah vertikal Horizontal
Posisi Jarak Penyimpangan Rata-2 Penyimpangan yang diijinkan (mm)

Hasil pengujian

a. 0,015/300 kedapan b. 0,02/300 keatas

Vertikal
00 1800 mm
Posisi Jarak Penyimpangan Rata2

mm

mm

00

1800

mm

0 1 2 3 4 5 6

0 50 100 150 200 250 300

0 1 2 3 4 5 6

0 50 100 150 200 250 300

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

42

Grafik B 7:

Alat ukur dan alat bantu : Kesimpulan :

8. Simpang Putar (Run-Out) Penyenter (Centre) No Skema Macam Pengujian Kesalahan putar dari center spindel nose
Penyimpangan yang diijinkan (mm)

Hasil pengujian
Total penyimpanga n= penyimpanga n terbesar dibagi cos

0,015

B8

Alat ukur dan alat bantu :

Kesimpulan :

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

43

9. Kesejajaran sumbu peluncur (sleeve) luar tailstock terhadap gerakan carriage. No Skema Macam Pengujian a. Pada bidang horizontal B9 b. Pada bidang vertikal Horizontal
Posisi 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jarak (mm) 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Penyimpangan (mm)
Penyimpangan yang diijinkan (mm)

Hasil pengujian

a. 0,015/100 kedapan b. 0,02/200 keatas

Vertikal
Posisi 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jarak (mm) 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Penyimpangan (mm)

Grafik B 9 :

Alat ukur dan alat bantu : Kesimpulan :

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

44

10. Kesejajaran lubang konis peluncur tail-stock terhadap gerakan carriage No Skema Macam Pengujian a. Pada bidang horizontal B10 b. Pada bidang vertikal Horizontal Posisi 0 1 2 3 4 5 6 Jarak (mm) 0 25 50 75 100 125 150 Penyimpangan (mm) Vertikal Posisi 0 1 2 3 4 5 6 Jarak (mm) 0 25 50 75 100 125 150 Penyimpangan (mm) b. 0,02/200 keatas
Penyimpangan yang diijinkan (mm)

Hasil pengujian

a. 0,02/300 kedepan

Grafik B 10:

Alat ukur dan alat bantu : Kesimpulan :

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

45

11. Senter headstock dan senter tailstock No Skema Macam Pengujian Perbedaan tinggi antara kedua center
Penyimpangan yang diijinkan (mm)

Hasil pengujian

B11

0,04/300 tailstock lebih tinggi dari pada headstock

Posisi 0 1 2 3 4 5 6

Jarak (mm) 0 25 50 75 100 125 150

Penyimpangan (mm)

Posisi 7 8 9 10 11 12 13

Jarak (mm) 175 200 225 250 300 325 350

Penyimpangan (mm)

Grafik B 11:

Alat ukur dan alat bantu : Kesimpulan :

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

46

12. Kesejajaran gerak peluncur atas terhadap sumbu spindel utama No Skema Macam Pengujian
Penyimpangan yang diijinkan (mm)

Hasil pengujian

B12

Arah Longitudinal

0,04/300

Pengukuran dilakukan pada bidang vertikal

Posisi 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Grafik B 12:

Jarak (mm) 0 25 50 75 100 125 150 175 200 225 250

Penyimpangan (mm)

Alat ukur dan alat bantu : Kesimpulan :

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

47

4.2 Levelling Mesin Bor Meja 1. Kelurusan Tiang / Colum No Skema Macam Pengujian
Penyimpangan yang diijinkan (mm)

Hasil pengujian

D1

Kelurusan Tiang /colum

0,04/300

Alat ukur dan alat bantu : Kesimpulan :

2. Kedataran Meja Kerja No Skema

Macam Pengujian

Penyimpangan yang diijinkan (mm)

Hasil pengujian

a. Horizontal D2 b. Vertical Alat ukur dan alat bantu : Kesimpulan :

a. 0,05/300

b. 0,08/300

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

48

3. Landasan No Skema Macam Pengujian a. Horizontal D3 b. Vertical b. 0,08/300


Penyimpangan yang diijinkan (mm)

Hasil pengujian

a. 0,05/300

Alat ukur dan alat bantu : Kesimpulan :

4. Kesejajaran lubang pemegang chuck No Skema Macam Pengujian Kesejajaran chuck terhadap colum
Penyimpangan yang diijinkan (mm)

Hasil pengujian

D4

0,03/300

Alat ukur dan alat bantu : Kesimpulan :

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

49

5. Eksentrisitas spindel utama No Skema Macam Pengujian


Penyimpangan yang diijinkan (mm)

Hasil pengujian

D5

Eksentrisitas dari pada spindel

0,01

Alat ukur dan alat bantu : Kesimpulan :

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

50

4.3 Levelling Mesin Frais (Milling) 1. Penyelarasan terhadap meja kerja No Skema Macam Pengujian a. Pada arah longitudinal F0 b. Pada arah transversal Alat ukur dan alat bantu : Kesimpulan :
Penyimpangan yang diijinkan (mm)

Hasil pengujian

a. 0,04/1000
b. 0,04/1000

2. Kelurusan gerak vertikal lutut No Skema Macam Pengujian


Penyimpangan yang diijinkan (mm)

Hasil pengujian

a Pada arah a. 0,025/300 vertikal simetris dengan mesin F1 b. Pada arah tegak b.0,025/300 lurus vertikal simetris dengan mesin a. Pada arah Vertikal Jarak Penyimpangan Posisi (mm) (mm) 0 0 1 50 2 100 3 150 4 200 5 250 6 300 Alat Ukur dan alat bantu : Kesimpulan : b. Pada arah TegakLurus Jarak Penyimpangan Posisi (mm) (mm) 0 0 1 50 2 100 3 150 4 200 5 250 6 300

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

51

Grafik F1:

3. Ketegak Lurusan Permukaan Meja Terhadap Kolom Pembimbing No Skema Macam Pengujian a Pada arah vertikal simetris dengan mesin b. Pada arah tegak lurus vertikal simetris dengan mesin
Penyimpangan yang diijinkan (mm)

Hasil pengujian

F2

a. 0,025/300 dengan 90

b.0,025/300

Catatan : Pengambilan data Lutut dalam keadaan terkunci a. Pada arah Vertikal b. Pada arah TegakLurus Posisi Jarak Penyimpangan Posisi Jarak Penyimpangan (mm) (mm) (mm) (mm) 0 0 0 0 1 50 1 50 2 100 2 100 3 150 3 150 4 200 4 200 5 250 5 250 6 300 6 300 4. Ketegak lurusan permukaan meja terhadapgerak vertikal spindel utama

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

52 Macam Pengujian a Pada arah vertikal simetris dengan mesin b. Pada arah tegak lurus vertikal simetris dengan mesin
Penyimpangan yang diijinkan (mm)

No

Skema

Hasil pengujian

F3

a. 0,025/300 dengan 90 b. 0,025/300

a. Pada arah Vertikal Posisi Jarak Penyimpangan (mm) (mm) 0 0 1 20 2 40 3 60 4 80 5 100 6 120 Grafik F 3

b. Pada arah TegakLurus Posisi Jarak Penyimpangan (mm) (mm) 0 0 1 20 2 40 3 60 4 80 5 100 6 120

Alat Ukur dan Alat Bantu : Kesimpulan:

5. Kedataran permukaan meja

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

53 Macam Pengujian
Penyimpangan yang diijinkan (mm)

No

Skema

Hasil pengujian

F4

Kedataran

0,05 Toleransi lokal 0,02 Untuk panjang pengukuran 300

Catatan: Pengujian ini tidak dilakukan

6. Kesejajaran Gerak Meja Kerja No Skema Macam Pengujian a. Pada arah longitudinal b. Pada arah transversal a. Transversal Jarak Posisi (mm)
0 1 2 3 4 5 6 0 20 40 60 80 100 120
Penyimpangan yang diijinkan (mm)

Hasil pengujian

a. 0,025/300 b. 0,025/300 Penyimpangan max. 0,05 Penyimpangan (mm)

F5

Penyimpangan (mm)

b. Longitudinal Jarak Posisi (mm)


0 1 2 3 4 5 6 0 20 40 60 80 100 120

Grafik F5

Alat Ukur dan Alat Bantu : Kesimpulan: 7. Ketelitian spindel utama

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS Penyimpangan yang diijinkan (mm)

54 Macam Pengujian a. Simpang putar spindel utama bagian luar b. Kesalahan aksial c. Kemiringan bidang muka
Hasil pengujian

No

Skema

a. 0,01 b. 0,01 c. 0,02

F6

Alat Ukur dan Alat Bantu :

Kesimpulan:

8. Simpang putar (run out) sumbu spindel utama No Skema Macam Pengujian Penyimpangan
yang diijinkan (mm)

Hasil pengujian

a. Didekat mulut spindel F7 b. Pada jarak 300 mm dari mulut spindel

a. 0,01 b. 0,02

Alat Ukur dan Alat Bantu :

Kesimpulan:

9. Kesejajaran sumbu spindel

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

55 Macam Pengujian
Penyimpangan yang diijinkan (mm)

No

Skema

Hasil pengujian

F8

Kesejajaran : 0,025/300 Sumbu spindel kebawah relatif terhadap permukaan meja

Alat Ukur dan Alat Bantu : Kesimpulan:

10. Ketegak Lurusan Sumbu Spindel Terhadap Permukaan Meja No Skema Macam Pengujian a Pada arah vertikal simetris dengan mesin b. Pada arah tegak lurus vertikal simetris dengan mesin
Penyimpangan yang diijinkan (mm)

Hasil pengujian

F9

a. 0,025/300 dengan 90 b. 0,025/300

Alat Ukur dan Alat Bantu :

Kesimpulan:

11. Kesejajaran sumbu spindel relatif terhadap gerak transversal meja Penyimpangan Hasil No Skema Macam
yang diijinkan

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

56 Pengujian a Pada arah vertikal


(mm)

pengujian

a.0,025/300 b.0,025/300

F10 b. Pada arah horisontal

a. Pada arah Vertikal Posisi Jarak Penyimpangan (mm) (mm) 0 0 1 50 2 100 3 150 4 200 5 250 6 300 Grafik F10

b. Pada arah Horisontal Posisi Jarak Penyimpangan (mm) (mm) 0 0 1 50 2 100 3 150 4 200 5 250 6 300

Alat Ukur dan Alat Bantu :

Kesimpulan:

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

57
Penyimpangan yang diijinkan (mm)

12. Kelurusan Alur " T" (tee slot) No Skema Macam Pengujian Kelurusan celah alur Tee dari meja kerja
Hasil pengujian

F11 Alat Ukur dan Alat Bantu :

0,01/500 Penyimpangan Max.0,03

Kesimpulan:

13. Ketegak lurusan sumbu spindel No F12 Skema Macam Pengujian Sumbu spindel tegak lurus terhadap alur T dari meja
Penyimpangan yang diijinkan (mm)

Hasil pengujian

0,02/300

Alat Ukur dan Alat Bantu : Kesimpulan:

4.4 Levelling Mesin Sekrap

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

58

1. Ketegak Lurusan Permukaan Meja TerhadapGerak Horizantal Spindel Utama No Skema Macam Pengujian a Pada arah vertikal simetris dengan mesin b. Pada arah tegak lurus vertikal simetris dengan mesin
Penyimpangan yang diijinkan (mm)

Hasil pengujian

a.0,025/300 dengan 90 b.0,025/300

S1

a. Pada arah Vertikal b. Pada arah TegakLurus Posisi Jarak Penyimpangan Posisi Jarak (mm) (mm) (mm) 0 0 0 0 1 20 1 20 2 40 2 40 3 60 3 60 4 80 4 80 5 100 5 100 6 120 6 120 Grafik S1

Penyimpangan (mm)

Alat Ukur dan Alat Bantu : Kesimpulan: 2. Kedataran permukaan meja

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS Penyimpangan yang diijinkan (mm)

59 Macam Pengujian
Hasil pengujian

No

Skema

S2

Kedataran

0,05 Toleransi lokal 0,02 Untuk panjang pengukuran 300

Grafik S2

Alat Ukur dan Alat Bantu : Kesimpulan:

3. Kesejajaran sumbu spindel No S3 Skema Macam Pengujian Kesejajaran : Sumbu spindel relatif terhadap permukaan meja
Penyimpangan yang diijinkan (mm)

Hasil pengujian

0,025/300 kebawah

Alat Ukur dan Alat Bantu : Kesimpulan:

4. Ketegak lurusan sumbu spindel

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS Penyimpangan yang diijinkan (mm)

60 Macam Pengujian Sumbu spindel tegak lurus terhadap alur T dari meja
Hasil pengujian

No

Skema

0,02/300

S4

Alat Ukur dan Alat Bantu : Kesimpulan:

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

61 BAB V

PERAWATAN KECIL (SMALL REPAIR) PADA MESIN PERKAKAS 5.1 Mesin Bubut a. Bagian utama mesin bubut 1. Meja Mesin (Bed) 2. Kepala tetap (Head Stock) 3. Gear Box (Rumah gigi percepatan) 4. Pembawa/eretan (Carriage) 5. Kepala lepas (Tail stock) Headstock Tail stock

Meja Gear box

Carriage

Gambar 5.1 Bagian mesin bubut b. 1. Perawatan bagian utama mesin bubut Meja

Meja tidak akan rusak atau cacat apabila tidak tebentur benda keras dan tajam, tetapi meja perlu dirawat agar tidak berkarat karena adanya debu dan geram benda kerja. Prosedur perawatan meja bubut (lathe bed) adalah sebagai berikut: 1. 2. Bersihkan meja dari kotoran maupun debu Bersihkan meja dari sisa-sisa pendingin benda kerja (dromus)

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

62

3. 4. 5. 6.

Bersihkan meja dari sisa-sisa geram Jika terlihat meja berkarat, gunakan kertas gosok water proff 400 Setelah hilang karatnya dan dibersihkan lakukan langkah ke 6 Beri solar atau minyak pelumas pada meja agar tidak berkarat

untuk menghilangkannya

2. Kepala Tetap (Head Stock) Fungsi dari kepala tetap adalah untuk memegang benda kerja, dimana tiga rahang akan mencekam benda kerja. Tiga rahang dapat bergerak maju mundur karena ada ulir didalamnya. Geram atau kotoran banyak yang masuk didalam ulir sehingga gerakan tiga rahang agak sulit. Selain itu baut pengikat antara kepala tetap dengan main spindle sering dol, oleh karena itu perlu perawatan sebagai perikut : Chuck

Spindel utama

Gambar Headstock (a) Langkah-langkah perawatan:

5.2

1. Bersihkan kepala tetap dari kotoran / geram yang ada. 2. Periksa kekuatan bautbaut pengikatnya. 3. Dengarkan suara, dan getaran yang timbul jika dirasa tidak wajar perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut/perawatan sedang. (b) 1. Langkah-langkah pembongkaran dan pemasangan: Matikan panel listrik.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

63

2. 3.

Tekan tombol emergency dan kunci pada posisi off. Lepaskan tiga rahang dengan memutar kearah berlawanan jarum jam

hexagon holl pada kepala tetap


Pemutar Chuck Tiga Rahang Chuck

Gambar 5.3 Pelepasan tiga rahang 4. 5. 6. 7. 8. 9. plastik. 10. 11. 12. 13. 14. Bersihkan bagian-bagian yang telah terpisah dan periksa jika ada bagian Pasang kembali dengan urutan kebalikan dari proses pembongkaran Yang perlu diperhatikan adalah dalam memasang tiga rahang perhatikan Masukkan satu persatu sambil diputar ulirnya Pasang kembali kepala tetap pada spindle utama yang cacat atau rusak Kendorkan baut pengikat antara bagian kepala tetap depan dan belakang Kendorkan baut pengikat ulir Pindahkan ke meja kerja bangku Lepaskan baut pengikat yang telah kendor Lepaskan mur pengikat Pisahkan bagian-bagian kepala tetap dengan memukulnya dengan palu

nomor rahang dan nomor rumah harus sama.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

64

15. 16. 17.

Cek kekuatan baut-baut pengikat Diuji coba dengan memutar bolak-balik hexagon holl apakah tiga Jika ok bearti komponen siap untuk dipakai.

rahang bergerak dengan halus dan tidak ada selisih

3. Gear box Pada mesin bubut ada 2 gear box, yaitu gear box pada spindle utama sebagai pengatur kecepatan dan gear box pada eretan. Keduanya pendinginnannya sama menggunakan sistim celup.

Gigi Percepatan

Tuas pemidah

Tuas Pemindah Tuas Pemindah Gambar 5.4 Gear Box (a). Perawatan

Gear box jarang rusak jika perawatan / pemberian pelumas secara berkala dilaksanakan, tetapi jika penggantian, pengecekan pelumas tidak pernah dilakukan gear box akan cepat rusak. Langkah-langkah perawatan: 1. penduga. 2. 3. Jika kurang dari setengah ketinggian gelas penduga maka Cek dulu keadaan pelumas, apakah sudah berbuih, kotor perlu ditambah minyak pelumasnya. atau tercampur dengan air. Cek volume pelumas gear box dengan melihat dari gelas

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

65 Sebelum melakukan langkah c matikan mesin dan buka Jika perlu diganti pelumas, buka baut tap oli dibawah gelas

4. penutup. 5.

penduga, jika hanya menambah buka baut penutup diatasnya. (b) Langkah-langkah pembongkaran pemasangan: 1. 2. segera bersihkan 3. 4. 5. bentuk tirus 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Tarik dan lepas poros pemindah kecepatan Lepas baut spindle utama Lepas pasak countershaft Lepas baut pada cover dan tarik countershaft keluar Keluarkan spindle utama dengan cara memukulnya dari Letakkan sesuai dengan urutannya dimeja bangku kerja Periksa bagian-bagian transmisi (sabuk beralur, spline, Pasang kembali dengan urutan kebalikan pembongkaran Setelah terpasang semua, periksa pemindahan kecepatan Buka tutup transmisi (gear box) dengan melepas baut Lepas sabuk beralur, hati-hati melepasnya jangan sampai Lepas pen pada tuas pemindah kecepatan, ingat pen dalam pengikat menggunakan kunci L sobek atau kecelakaan bagi operator Matikan panel, dan kunci dalam keadaan off Keluarkan minyak pelumas, hati-hati jika tumpah dilantai

belakang dengan menggunakan palu plastik.

roda gigi, poros, tuas penggungkit dan bantalan)

roda gigi, jika tidak ada masalah lanjutkan ke langkah 15 tetapi jika pemindahan terasa berat perlu diperiksa kembali rangkaian, posisi dari transmisi. 15. 16. Isi dengan minyak pelumas yang sesuai Diuji coba apakah getaran terlalu tinggi, timbul suara yang

tinggi dan apakah ada tumpahan minyak pelumas. Jika terjadi itu perlu diperiksa kembali tetapi jika tidak berarti mesin siap untuk dipakai. 4. Pembawa (Carriage)

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

66

Berfungsi membawa toll post untuk melakukan pemakanan atau penyayatan. Yang perlu diperhatikan adalah spindle-spindelnya, poros berulir otomatis dan pelumas pada gearbox pembawa.

Toolpost

Carriage

Gambar 5.5 Carriage (a) Langkah-langkah perawatan Yang perlu dirawat pada bagian ini adalah : Kebersihan dari poros pembawa, jangan Periksa pen otomatis, jika putus segera Cek dari kaca penduga volume pelumas Periksa kebersihan dari poros berulir, jika Langkah-langkah pembongkaran dan pemasangan Matikan panel listrik Matikan power mesin dan kunci pada posisi off Siapakan peralatan yang digunakan Keluarkan minyak pelumas dari gearbox, hati-hati Lepaskan tollpost dari eretan melintang dengan cara sampai berkarat atau banyak kotoran/geram yang menempel padanya diganti karena jika putus tidak bisa digunakan untuk operasi otomatis pada gearbox, jika kurang tambahkan. (b). 1. 2. 3. 4. 5. karat atu kurang greas bersihkan dan tambahkan

jangan sampai tumpah di lantai jika tumpah segera bersihkan. memutar cone knob sampai lepas baru tollpost ditarik keatas.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

67 Lepaskan baut pengikat lead screw mount dan Lepas baut pengunci wedge gib dan tarik keluar Lepas pen pengunci bottom slid Dengan memutar-mutar top slide kendorkan mur Setelah cukup kendor tarik keluar bottom slid dan Lepaskan baut-baut pengikat eretan melintang Lepaskan baut pengikat bearing block dan tarik Tarik eretan melintang kesamping sampai lepas dari Lepaskan poros berulir, poros kecepatan dan poros Periksa gigi-gigi pada gearbox, bagian-bagian eretan, Periksa kedataran permukaan eretan dan slide Periksa poros ulir slide Bersihkan dan beri pelumas sebelum dipasang Pasang kembali dengan urutan kebalikan dari urutan Setelah terpasang semua periksa kekencangan bautIsi gear box dengan minyak pelumas yang Beri greas pada poros ulirnya dan oli pada poros

6. 7. 8. 9. pengikat clamping ring. 10. letakkan dimeja kerja 11. dengan meja 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. kembali 19. pembongkaran 20. 21. 22. kecepatan

lepaskan lead screw dengan memutar kearah kiri sampai keluar sambil mendorong top slide keluar

keluar jika sulit pukullah dengan palu plastik, sambil menahan eretan melintang porosnya dan bawa ke meja kerja penahan hati-hati dengan pin, pegas dan ringnya. bearing dan slide apakah ada kerusakaan atau kotoran.

baut pengikatnya dan stel gerakan daripada eretan dan toolpost disarankan dan periksa volumenya

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

68 Dicoba gerakan dari pada eretan melintang dan slide

23.

jika dirasakan telalu berat lakukan penyetelan ulang. 5. Kepala lepas (Tail Stock) Fungsi dari pada kepala lepas adalah untuk memegang benda kerja (dua center), meletakkan pencekam mata bor, center drill (proses pengeboran di mesin bubut). Sedang kerusakan sering terjadi poros berulir terlepas dari rumah ulirnya, micrometer dial tidak berfungsi, hilangnya clamp dan rusaknya bearing.

Tailstock Pemegang

Handle

Gambar 5.6 Tail Stock (a) Langkah-langkah perawatan 1. 2. 1. 2. 3. kerja 4. 5. 6. 7. 8. Lepaskan hexagonal screw dan lepaskan pembawa Lepaskan clamp piece Lepaskan mur pengunci pemutar (handwhell) Lepaskan ring, handel pemutar, micrometer (pengukur), Tarik tail stock jika sulit pukul dengan palu plastic (wedge) dan plate pencekam (clamp plate) Bersihkan kepala lepas dari kotoran Beri greas pada batang ulirnya Siapkan peralatan yang dibutuhkan Kendorkan hexagonal screw dengan memutar lever Geser dan angkat kepala lepas dari bed dan bawa ke meja

(b) Langkah-langkah pembongkaran dan pemasangan

bushing, ring pegas dan pasak

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

69 Lepaskan bearing Lepaskan bushing Lepaskan poros berulir dari tail stock Lepaskan baut-baut pengunci Lepaskan mur pengunci landasan kepala lepas Dengan sedikit pukulan dengan palu plastik akan terpisah Bersihkan semua bagian-bagian dari kepala lepas Atur penempatannya dan periksa bagian-bagiannya, jika Pasang kembali dengan urutan kebalikan dari proses Jika telah terpasang semua bawa ke mesin dan pasang Ujicoba dengan memutar handel keluar masuk jika Jika dalam ujicoba terasa berat maka perlu dibongkar

9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. pembongkaran 18. 19. 20. kembali.

antara landasan dan kepala lepas.

ada yang rusak diganti atau diperbaiki bila dapat diperbaiki

dirasakan tidak ada masalah berarti siap untuk dioperasikan

5.2Mesin Bor Meja a. Bagian Utama Mesin Bor 1. Motor listrik 2. Pully dan sabuk 3. Roda penerus 4. Roda Pemutar 5. Tuas

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

70

6. Chuck / pemegang mata bor 7. Colum mesin 8. Meja mesin 9. Alas meja

Power

Cover Transmisi Belt

Chuck Colum Meja

Gambar 5.7 Mesin bor meja 2. Perawatan Mesin Bor Meja Dalam perawatan mesin bor ini, jika beban yang diberikan tidak terlalu besar atau melebihi kapasitas mesin maka motor listrik mesin bor akan awet. Untuk konstruksi mesinnya sendiri perawatan yang perlu dilakukan adalah : 1. Sebelum dan setelah bekerja bersihkan lingkungan kerjanya. 2. Pemeriksaan secara rutin terhadap kondisi sabuk dan pully. 3. Pemberian pelumas terhadap bagian-bagian yang berputar kecuali sabuk dan pully (b) Langkah-langkah pembongkaran dan pemasangan 1. Matikan panel listrik 2. Putuskan hubungan listrik 3. Buka tutup sabuk dan pully 4. Buka tombol listrik 5. Lepas sabuk V 6. Lepas pulley dengan tracker

(a) Langkah-langkah perawatan

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

71

7. Lepas stopper 8. Lepas kolom transmisi dengan cara memukulnya dari atas dengan palu plastic 9. Ambil poros penerus transmisi 10. Susun di meja kerja 11. Periksa dengan teliti komponen-komponen yang ada 12. Lakukan pembersihan dan pemberian greas jika perlu 13. Pemasangan kembali komponen dengan urutan kebalikan dari pembongkaran 14. Ujicoba, jika dirasa kurang sesuai lakukan pembongkaran kembali

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

72

5.3 Mesin Frais (Milling) a. Bagian utama mesin frais Mesin frais terdiri dari : 1. 2. 3. Spindel vertical-horizontal Kolom/tiang Meja mesin
Spindel

Arbor Power

Colum

Meja

Gambar 5.8 Bagian Utama Mesin Frais b. Perawatan Mesin Frais (1) Langkah-langkah perawatan mesin frais Spindel ini merupakan transmisi yang menghubungkan putaran dari motor ke arbor/pahat potong, dimana transmisinya berupa roda gigi. Jadi perawatannya selain memeriksa kondisi sabuk dan pulley dari motor juga memeriksa pelumas yang ada pada spindle. Pelumas berupa greas, jangan sampai kurang atau kotor karena dan langkah-langkah perawatannya adalah: 1. Periksa kondisi sabuk, sobek, retak-retak kering atau masih bagus 2. Periksa kondisi pulley 3. Beri pelumas/greas secukupnya pada spindle 4. Jaga tiang agar tidak berkarat 5. Bersihkan meja dari kotoran / sisa-sisa geram dan pendingin benda kerja 6. Beri minyak pelumas cair pada kolom dan meja agar tidak berkarat (b) Langkahlangkah pembongkaran/pemasangan mesin frais 1. 2. 3. Matikan panel listrik Posisi kunci off dan saklar pada posisi nol Buka tutup atas dan bawah penutup sabuk dan pulley

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

73
Tutup

Pulley

Belt

Gambar 5.9 Melepas belt 4. Lepas belt, hati-hati jangan sampai sobek dan terjepit 5. Lepas baut pengikat spindle utama 6. Geser dan angkat spindle letakkan di meja kerja 7. Lepas baut pada pemegang arbor 8. Tarik spindle kebelakang, jika sulit pukul sedikit dengan palu plastic 9. Periksa kondisi roda gigi dan greas yang ada 10. Periksa putaran, dengan memutar kekiri dan kekanan apakah putaran terasa halus ataukah ada beban 11. Jika grease perlu diganti, bersihkan dulu dan cuci dengan solar keringkan baru dikasih grease yang baru 12. Langkah pemasangan kebalikan dari langkah-langkah pembongkaran, dan yang perlu diperhatikan adalah ketepatan menempatkan lubang baut pada spindle jangan dipaksakan jika sulit tanyakan instruktur 13. Jika spindle telah terangkai semuanya, angkat dan letakkan diatas mesin 14. Hati-hati memasangnya perhatikan alurnya, jika belum tepat jangan dipaksakan 15. Kencangkan baut pengikatnya 16. Tepatkan kepala spindle tegak lurus, perhatikan tanda-tandanya baru dikencankan baut pengikatnya.

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

74

17. Dalam memasang sabuk perhatikan kelurusan sabuk, nomor pulley harus sama 18. Setelah terpasang semua ujicoba secara manual yaitu putar pulley dengan tangan dan perhatikan suara dan rasakan putarannya apakah terasa ada beban atau tidak 19. Jika dirasakan tidak ada masalah, dapat diujicobakan dengan mengoperasikan mesin. Perhatikan getaran yang ada dan suara mesin yang khas. 5.4 Mesin Sekrap a. Bagian utama mesin sekrap 1. Tool holder 2. Ragum mesin 3. Meja mesin 4. Penahan meja 5. Motor penggerak 6. Saklar utama 7. Tuas penggerak

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

75

Gambar 5.10 Komponen utama mesin Sekrap b. Perawatan Mesin sekrap (a) Langkah-langkah perawatan mesin frais Prinsip kerja mesin sekrap adalah pahat potong bergerak maju sambil memotong benda kerja dan bergerak mundur tanpa memotong benda kerja, dengan kedalam potong yang dapat diatur melalui tuas pengatur kedalaman yang umumnya dilakukan secara manual sedang tebal pemakanan dapat dilakukan secara manual atau otomatis Perawatannya: 1. 2. 3. 4. 5. 1. 2. 3. Bersihkan mesin dari debu dan kotoran Periksa keadaan pelumas, jika kurang ditambah dan bila saluran bocor Beri greas pada nipel-nipelnya Periksa sabuk/transmisi beltnya Periksa baut-baut pengikatnya, sudah kencang atau belum Matikan panel listrik Putar saklar pada posisi off Buka penutup transmisi sabuk
Sabuk Datar Beralur

diperbaiki dahulu

(b) Langkah-langkah pembongkaran/pemasangan:

Penutup

Gambar 5.11 Penutup Transmisi 4. Lepas sabuk dari pulley

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

76

5. Buka baut penutup mesin 6. Periksa volume dan kondisi minyak pelumas 7. Periksa baut-baut pengikat apakah sudah kencang 8. Langkah pemasangan kebalikan dari langkah pembongkaran 9. Ujicoba mesin

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

77

TUGAS Small Repair Mesin Perkakas

LEMBAR KERJA (JOB SHET) Nama/Kelas Pokok Bahasan Tanggal Waktu : : Perawatan Kecil (Small Repair) pada Mesin Perkakas : : 1. Sebutkan bagian utama mesin beserta prinsip kerjanya. 2. Tentukan kegiatan small repair pada masing-masing komponen utama mesin ..tersebut. 3. Buatlah spesifikasi kerja untuk kegiatan small repair yang anda lakukan. 4. Sebutkan peralatan dipergunakan untuk melakukan small repair. yang

5. Lakukan pembongkaran sesuai dengan prosedur yang benar. Tugas : 6. Identifikasi dan analisa kerusakan yang terjadi pada saat melakukan small repair. 7. Lakukan perawatan, perbaikan dan penggantian jika diperlukan sesuai dengan spesifikasi kerja kegiatan small repair. 8. Rakit kembali dan setel ulang bagian mesin yang sudah dilakukan perawatan 9. Catat urutan pembongkaran dan perakitan pada small repair. 10. Buatlah gambar exploded dari bagian mesin yang dismall repair. Lembar jawaban

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas

TPP-MESIN PERKAKAS

78

Bengkel Perawatan Mesin Perkakas