Anda di halaman 1dari 10

SISTEM PENGELOLAAN LAHAN KERING

DI DAERAH ALIRAN SUNGAI


BAGIAN HULU

Amiruddin Syam
Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Jalan A. Yani No. 70, Bogor 16161

ABSTRAK

Upaya pemerintah dalam memperbaiki pengelolaan lahan kering di daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu telah
dilakukan melalui berbagai proyek. Proyek tersebut bertujuan untuk meningkatkan produktivitas lahan dan
pendapatan petani, serta untuk mendorong partisipasi petani dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. Hasil
kajian menunjukkan bahwa sistem usaha tani konservasi teras bangku dan teras gulud dapat meningkatkan
produktivitas usaha tani dan pendapatan petani, serta dapat menurunkan laju erosi. Tingkat adopsi teknologi
secara parsial cukup tinggi, khususnya teknologi pola tanam, varietas unggul, budi daya tanaman pakan dan usaha
ternak, serta upaya tindakan konservasi tanah secara vegetatif. Hasil tersebut diduga karena evaluasi dan analisis
alternatif sistem konservasi belum memberikan informasi yang komprehensif. Untuk mengadopsi paket teknologi
secara utuh, para petani mengalami kesulitan karena beberapa kendala seperti keterbatasan modal dan tenaga kerja
keluarga. Implikasi kebijakan pada tahapan perbaikan teknologi dan formulasi kebijakan perlu memperhatikan
upaya untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. Pada tahap awal,
pemerintah berperan untuk meningkatkan sumber daya manusia dan subsidi, dan pada tahap pengembangan untuk
mendorong pihak swasta agar berinvestasi di lahan tersebut.
Kata kunci: Lahan kering, pengelolaan daerah aliran sungai, pengelolaan lahan

ABSTRACT
Dry land management at upstream part of watershed area

Government efforts in improving management of dry land in upstream part of a watershed area have been carried
out through some projects. The general objectives of the projects were to increase land productivity, and farmers’
income, and to support farmers’ participation in land and water resource conservation. The results of the
assessment showed that application of bench terrace and bund terrace could increase crop productivity and
farmers’ income, and decrease erosion rate. The level of technology adoption was partially high enough, especially
cropping pattern, improved variety, fodder crop culture, animal husbandry, and vegetative land conservation. The
results were assumed because the evaluation and analysis of conservation system were based on limited information.
Some constraints inhibitted farmers in adopting the complete package of technology one capital and family labor.
Technology improvement and policy formulation should stressed on the community participation in implementing
land and water resource conservation. In early stage, the government needs to improve quality of human resources
and through the provision of subsidy. At the development stage, government needs to encourage private sector in
dry land investment.
Keywords: Uplands, watershed management, land management

L ahan kering di Indonesia mem-


punyai potensi yang sangat besar
untuk pembangunan pertanian. Namun,
sosial ekonomi seperti tekanan penduduk
yang terus meningkat dan masalah biofisik
(Sukmana 1994).
memacu meluasnya banjir pada musim
hujan. Masalah tersebut memerlukan
perhatian serius karena dapat mengham-
produktivitas umumnya rendah, kecuali Lahan kering terutama di daerah aliran bat pembangunan pertanian khususnya
sistem pertanian lahan kering dengan sungai (DAS) bagian hulu umumnya peningkatan produksi pangan.
tanaman tahunan/perkebunan. Pada menghadapi masalah kerusakan ling- Upaya pemerintah untuk menangani
usaha tani lahan kering dengan tanam- kungan yang makin parah sehingga masalah kerusakan lingkungan pada
an pangan semusim, produktivitas menurunkan produktivitas lahan, me- lahan kering di DAS sebenarnya sudah
relatif rendah serta menghadapi masalah ningkatkan erosi dan sedimentasi, serta dimulai sebelum perang kemerdekaan.

162 Jurnal Litbang Pertanian, 22(4), 2003


Pada tahun 1950, pemerintah meng- di kawasan DAS makin kompleks (Proyek ternak yang banyak dipelihara adalah sapi
anjurkan petani untuk menanam pohon- Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah peranakan ongole (PO), kambing kacang,
pohonan secara besar-besaran, dan pada dan Air 1985). kambing peranakan etawa (PE), domba
tahun 1967 mulai dianjurkan untuk Dalam upaya menangani lahan kering gibas, dan ayam buras. Jenis pakan yang
membuat teras bangku (DHV Consultants yang tergolong kritis, pemerintah telah diberikan berupa campuran rumput gajah,
1990). Namun, upaya tersebut belum menetapkan 80 DAS yang tergolong kritis rumput setaria ditambah hijauan tanaman
berhasil. Luas lahan kritis yang pada karena erosi. Dari 80 DAS bermasalah tahunan dan limbah tanaman pangan.
tahun 1980 mencapai 6.936.408 ha (Biro tersebut, 36 DAS tergolong DAS prioritas, KEPAS (1985) mengidentifikasi
Pusat Statistik 1981) hanya turun men- dan 11 DAS di antaranya terdapat di permasalahan di daerah lahan kering
jadi 6.400.400 ha pada tahun 1994 (Biro Pulau Jawa, seperti DAS Citarum, sebagai berikut:
Pusat Statistik 1994) atau turun 7,70% Cimanuk, Citanduy, Solo, Jratunseluna, 1) Upaya pemerintah dalam pembangun-
selama 14 tahun. Namun, perbaikan dan Brantas (Sutadipradja et al. 1986). an pertanian di masa lampau terlalu
tersebut terjadi di luar kawasan hutan Luas lahan kritis di kawasan DAS ter- dipusatkan pada padi sawah, sedang-
(hanya 32%). Di dalam kawasan hutan, sebut diperkirakan meningkat rata-rata kan lahan kering (termasuk DAS
luas lahan kritis justru makin meningkat 400.000 ha/tahun jika tidak ada upaya bagian hulu) kurang mendapatkan
(16,30%) dalam periode yang sama. rehabilitasi lahan dan konservasi tanah perhatian sehingga tidak memperoleh
Permasalahan yang dihadapi dalam yang memadai. Peningkatan luas lahan keuntungan dari program-program
pengelolaan DAS cukup serius. Sukmana kritis terutama disebabkan oleh penge- pembangunan yang disponsori pe-
et al. (1988) mengemukakan bahwa, upaya lolaan yang tidak benar, antara lain merintah. Satu-satunya program
pemerintah untuk mengatasi masalah penggunaan lahan yang tidak sesuai khusus untuk lahan kering adalah
tersebut dimulai pada awal tahun 1970-an dengan kemampuannya serta tidak program penghijauan dan reboisasi
melalui proyek DAS Solo, kemudian disertai dengan usaha konservasi tanah untuk tanah negara. Namun, program
disusul Proyek Citanduy I dan II, Proyek dan air. ini pun dihadapkan kepada berbagai
Wonogiri, dan Proyek Bangun Desa. Hardianto et al. (1992) mengemuka- kesulitan yang antara lain disebabkan
Pada tahun 1985 dibentuk Proyek Pertani- kan bahwa umumnya petani di wilayah oleh relatif kurangnya perhatian,
an Lahan Kering dan Konservasi Tanah DAS di Jawa merupakan pemilik- sehingga kondisi infrastruktur yang
(P2LK2T) yang lebih dikenal dengan nama penggarap dengan luas pemilikan lahan ada jauh lebih buruk daripada di
Upland Agriculture and Conservation 0,30–2 ha. Lahan tersebut umumnya daerah dataran rendah.
Project (UACP) untuk menangani lahan berupa areal pemukiman/pekarangan, 2) Di daerah lahan kering, potensi erosi
kritis di DAS Brantas (Jawa Timur) dan tegalan, dan perbukitan. Tegalan sebagian cukup tinggi karena intensitas hujan
DAS Jratunseluna (Jawa Tengah), ke- besar sudah diteras bangku, sedangkan cukup tinggi, lereng curam, dan pola
mudian National Watershed Management perbukitan umumnya berupa lahan tandus tanam kurang baik. Erosi yang
and Conservation Project (NWMKP) yang terlantar. Tegalan digunakan untuk berlangsung lama telah menurunkan
yang dimulai tahun 1995 dan berakhir budi daya tanaman pangan, pekarangan tingkat kesuburan tanah dan bahkan
bulan September 1999 (Abdurachman dan untuk tanaman tahunan, dan perbukitan mengurangi atau menghilangkan la-
Agus 2000). untuk tanaman penghasil kayu. Tanaman pisan olah tanah.
Tulisan ini bertujuan untuk mem- pangan yang diusahakan adalah jagung, 3) Modal dan motivasi penduduk ter-
bahas permasalahan DAS bagian hulu, ubi kayu, padi gogo, kedelai, kacang batas akibat rendahnya pendapatan
mengemukakan program penanggulangan tanah, kacang hijau, dan kacang tunggak. dan produktivitas lahan. Di samping
dan implementasinya, serta mengiden- Di samping itu, petani menanam kacang itu, tipe penguasaan lahan berhubung-
tifikasi kendala pengembangan dan cara gude, koro benguk, dan koro pedang an erat dengan sistem usaha tani
menanggulanginya. sebagai tanaman sela. Tanaman tahunan dan konservasi tanah di daerah lahan
yang dominan adalah kelapa, melinjo, kering. Pemilikan lahan yang relatif
petai, mangga dan pisang, sedangkan sempit serta sistem sewa dan sakap
tanaman sayuran yang diusahakan adalah ikut memberikan dampak negatif
KONDISI LAHAN KERING cabai, bawang merah, kacang panjang, terhadap sistem usaha tani berwawas-
DI DAERAH ALIRAN mentimum, dan tomat. Selain itu, juga an lingkungan.
SUNGAI diusahakan tanaman penghasil bahan 4) Kegiatan penyuluhan dihadapkan
industri seperti kenanga dan randu, kepada kendala sosial budaya dan
Lahan kering di DAS kawasan barat penghasil kayu seperti jati, sengon, prasarana/sarana perhubungan se-
Indonesia pada umumnya mempunyai akasia, johar, dan mahoni, serta tanaman hingga penyuluhan relatif kurang.
curah hujan tinggi, topografi curam, dan penghasil pakan ternak seperti lamtoro, Keterampilan petani umumnya hanya
formasi geologi lemah sehingga tanah turi, kaliandra, glirisidia, lamtoro merah, bersifat kebiasaan yang diwariskan
peka terhadap erosi. Selain itu, tekanan dan flemingia. dan berorientasi pada subsistensi,
kepadatan penduduk yang terus me- Lebih lanjut Hardianto et al. (1992) sedangkan program penyuluhan
ningkat, pola tanam yang kurang baik, menjelaskan bahwa usaha ternak me- yang ada seperti penghijauan, per-
lahan usaha tani sempit, serta keadaan rupakan kegiatan yang cukup penting kebunan, dan kehutanan hanya ber-
fisik lingkungan dan sosial ekonomi untuk menambah pendapatan, menyedia- kaitan dengan aspek tertentu dan
masyarakat petani yang sangat heterogen kan tenaga kerja dalam pengolahan tanah, kurang menekankan pada partisipasi
menyebabkan pengelolaan lahan kering dan menghasilkan pupuk organik. Jenis petani.

Jurnal Litbang Pertanian, 22(4), 2003 163


USAHA KONSERVASI YANG Penghijauan merupakan cara kon- tanah dan air untuk mencegah penurunan
SUDAH DILAKUKAN servasi lahan yang efektif khususnya produktivitas lahan akibat erosi oleh air
untuk menjaga fungsi hidrologis lahan di hujan (Suwardjo 1981). Di Indonesia yang
Upaya Departemen Terkait DAS hulu. Erosi dan aliran permukaan memiliki iklim basah, pada umumnya
masing-masing dapat menurun 95,80% erosi terjadi karena air hujan (Sofijah dan
Upaya mengatasi masalah lahan kritis di dan 76,90% (Pakpahan et al. 1992). Namun Suwardjo 1979). Sehubungan dengan itu,
DAS perlu memperhatikan beberapa hal, karena penghijauan lebih banyak ber- penanganan lahan kering di DAS Brantas
antara lain sumber terjadinya lahan kritis, tujuan melestarikan sumber daya lahan dan Jratunseluna bagian hulu dilakukan
tingkat kekritisan lahan, jenis tanah dan dibanding kepentingan petani, maka dengan usaha tani konservasi yang
iklim, kondisi sosial ekonomi, dan tingkat pelaksanaannya banyak menemui ham- mengkombinasikan teknik konservasi
bahaya erosi. Upaya itu perlu diformulasi- batan. Menurut Pusat Pengembangan secara mekanik dan vegetatif dalam suatu
kan dengan tepat dalam tiga komponen Agribisnis (1991), tingkat adopsi teras pola usaha tani terpadu (Proyek Penelitian
penanganan, yaitu perbaikan teknologi, melalui rehabilitasi lahan dan konservasi Penyelamatan Hutan, Tanah, dan Air
kebijakan yang tepat, dan partisipasi tanah (RLKT) pada daerah unit pelestarian 1990). Sasarannya adalah meningkatkan
masyarakat secara penuh (Nelson 1991). sumber daya alam (UPSA) masih rendah produktivitas usaha tani dan pendapatan
Berdasarkan tingkat kekritisan lahan, yaitu 33%. Sejumlah petani (20%) sudah petani, menurunkan laju erosi, serta
selanjutnya ditetapkan prioritas pe- mengadopsinya tetapi masih perlu meningkatkan partisipasi petani dalam
nanganan. Dengan memperhatikan dam- ditingkatkan, sedangkan sisanya belum pelestarian sumber daya tanah dan air.
pak yang lebih luas dan kemungkinan mengadopsi upaya RLKT tersebut. Empat model usaha tani konservasi yang
keberhasilan yang besar, maka prioritas Proyek Pertanian Lahan Kering dan diuji yaitu:
utama penanganan adalah lahan dengan Konservasi Tanah (P2LK2T) yang lebih Model A: Sistem usaha tani yang di-
tingkat kekritisan ringan, yaitu lahan dikenal dengan nama UACP, juga lakukan oleh petani sebagai pem-
yang berpotensi kritis dan semikritis. mempunyai tujuan pokok bukan semata- banding.
Konservasi ditujukan untuk mencegah mata meningkatkan penghasilan petani, Model B: Sistem usaha tani konservasi
terjadinya degradasi lebih lanjut dan tetapi juga melindungi infrastruktur teras bangku, ditanami tanaman
menghindari hilangnya lahan produktif. (waduk, saluran irigasi) di bagian hilirnya. pangan dan tahunan pada bidang
Prawiradiputra et al. (1995) men- Daerah kerja UACP meliputi lahan kering olah, rumput pakan pada bibir dan
jelaskan bahwa pengelolaan DAS di dengan kemiringan 15% dan erosi sudah tampingan teras, serta melibatkan
Indonesia merupakan kegiatan multi- mengancam produktivitas lahan. Melalui ternak.
sektoral sebagaimana dituangkan dalam kegiatan UACP dilakukan penyempur- Model C: Sistem usaha tani konservasi
Program Inpres Reboisasi dan Peng- naan teras bangku dengan tanaman teras gulud, ditanami tanaman pangan
hijauan (Inpres No. 8/1976). Dalam Inpres penguat teras yang selain berfungsi untuk dan tanaman tahunan pada bidang
tersebut dinyatakan bahwa ada enam menstabilkan lahan juga untuk me- olah, rumput dan leguminosa pohon
instansi pemerintah pusat yang ber- nyediakan pakan ternak. Proyek tersebut pada guludan, dan ternak.
tanggung jawab atas pelaksanaan prog- dikelola secara lintas sektoral dengan Model D: Sistem usaha tani konservasi
ram tersebut, yaitu Departemen Dalam Departemen Dalam Negeri selaku teras individu, ditanami tanaman
Negeri (instansi pimpinan), Departemen pelaksana utama (leading agency) tahunan, rumput, dan leguminosa
Kehutanan (perencanaan dan pemantau- (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan pohon, serta ternak.
an), Departemen Keuangan (pengawas Tanah dan Air 1985). Kesesuaian ketiga model usaha tani
keuangan), Departemen Pertanian (ban- Kebijakan pengembangan lahan introduksi (B,C,D) didasarkan pada
tuan teknis), Departemen Pekerjaan Umum kering di DAS bagian hulu berpedoman kemiringan lahan, kedalaman tanah,
(bantuan teknis), dan Bappenas. pada Surat Keputusan Menteri Pertanian kepekaan terhadap erosi, dan pola usaha
Pencetusan Pekan Penghijauan No.175/Kpts/RC.220/4/1987 tentang tani. Model B dan C diarahkan untuk
Nasional (PPN) di Gunung Mas, Bogor Pedoman Pola Pembangunan di DAS yang memperbaiki usaha tani di tegalan, atau
tahun 1961 ternyata tidak berhasil meng- dalam pelaksanaannya perlu memper- kemiringan lahan 15−45%, sedangkan
hentikan perluasan lahan kritis. Pada hatikan kesesuaian lahan, kemiringan model D untuk memulihkan lahan per-
tahun 1975, lahan kritis di Indonesia lahan, kultur teknis, dan asas-asas bukitan yang tandus dengan kemiringan
mencapai 10.751.000 ha, tahun 1988 turun konservasi yang berwawasan lingkungan lahan lebih besar dari 45% .
menjadi 9.731.000 ha, pada tahun 1993 (Departemen Pertanian 1987). Di Jawa Tabel 1 menyajikan produksi tanaman
naik 22% (dibandingkan kondisi 1975) Tengah, kebijakan tersebut telah di- pangan, tanaman tahunan, dan tanaman
menjadi 13.218.970 ha, atau setara luas jabarkan dalam berbagai petunjuk pakan pada setiap model usaha tani. Dua
Pulau Jawa. Padahal program reboisasi pelaksanaan yang berisikan strategi, model introduksi (B dan C) menghasilkan
dan penghijauan bertujuan untuk meng- langkah-langkah, dan kegiatan pem- produktivitas usaha tani lebih tinggi
hentikan proses pengkritisan lahan dan binaan. dibanding model petani (model A). Pada
mengurangi jumlah lahan kritis. Untuk model B dan C, hasil panen selain
meningkatkan usaha reboisasi dan peng- diperoleh dari tanaman pangan juga dari
hijauan, pemerintah mencanangkan Penelitian dan Pengembangan tanaman tahunan dan pakan ternak,
Gerakan Satu Juta Pohon (Direktorat sehingga secara kumulatif memberikan
Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Pengelolaan lahan kering di DAS bagian nilai produksi dan pendapatan bersih
Lahan 1985). hulu perlu memperhatikan konservasi lebih tinggi (Tabel 2). Pada usaha tani

164 Jurnal Litbang Pertanian, 22(4), 2003


Tabel 1. Hasil tanaman pangan, tanaman tahunan, dan tanaman pakan ternak dari empat model usaha tani konservasi
di Desa Sumberkembar, Blitar, Jawa Timur, 1985/86− 1990/91.

Urutan Hasil (t/ha)


Model Rataan
tanaman 1985/86 1986/87 1987/88 1988/89 1989/90 1990/91

A Jagung + 0,52 2,12 3,49 1,40 1,50 1,40 1,74


ubi kayu+ 7,50 1,43 11,18 2,18 1,50 1,20 4,17
kedelai 0,94 0,71 − 0,69 − − 0,78
/kacang tanah − − − − 0,68 0,60 0,68
B Jagung + 0,93 1,38 2,80 2,95 1,90 2,10 2,01
kacang tanah + 1,13 1,33 1,50 − 1,20 1,35 1,30
ubi kayu- 7,20 2,58 10,10 2,50 2 1,75 4,36
kedelai/ 1,48 0,30 0,33 0,75 0,80 0,70 0,73
Kacang tunggak − − − 0,57 0,75 0,50 0,61
Rumput setaria3 6,50 6,90 4,25 4,61 5,73 6,32 5,72
Rumput gajah3 6,12 7,49 3,64 5,12 4,60 4,26 5,21
Pisang − 0,08 0,04 25 1 405 1 152 1 −
Adpokat − − − − 55 2 72 2 65
Pepaya − − − 410 2 4.050 2 2.100 2 2.186
C Jagung + − 1,22 3,65 2 1,75 3,50 2,42
kacang tanah + 0,68 1,00 0,87 − 0,80 − 0,84
ubi kayu- − 2,83 9,67 1,90 1,81 2,20 3,68
kedelai/ 1,47 0,28 0,44 0,64 0,76 0,85 0,74
Kacang tunggak − − − 0,45 0,50 0,72 0,56
Rumput setaria3 7,20 6,05 8,10 7,28 7,38 8,34 7,39
Rumput gajah3 5,54 4,82 6,50 6,12 5,08 5,96 5,67
Pisang − 0,04 0,04 20 1 106 1 55 1 −
Adpokat − − − − 35 2 58 2 46,50
Pepaya − − − 620 2 1.700 2 725 2 0,09
D Jagung’ 1,10 − − − − − −
Sentro 0,75 0,23 − − − − 0,49
Lamtoro 3 1,15 0,08 0,04 − − 0,10 0,09
Pisang − 0,03 0,05 34 1 − 421 18 1
Adpokat − − − − 56 2 78 2 67
Jati − − − 14 14 34 2,30
− = tidak diusahakan/belum berproduksi; 1dalam satuan tandan; 2dalam satuan buah; 3
Produksi bahan kering; 4dalam satuan pohon.
Sumber: Hardianto et al. (1992); Sembiring et al. (1991).

model D, hasil panen lebih mengandalkan model C, dan 5,20 t/ha/tahun untuk Pemanfaatan Tanaman Tahunan
pada tanaman tahunan (buah-buahan model D (Tim Survei Tanah DAS Brantas
dan kayu-kayuan), sehingga selama 1988). Sembiring et al. (1991) mengemuka- Tanaman tahunan mempunyai peran
tanaman tersebut belum menghasilkan, kan bahwa penurunan erosi sampai penting dalam meningkatkan pendapatan
tingkat produktivitas usaha taninya pada ambang laju erosi terjadi pada dua petani lahan kering di DAS. Setiap ting-
masih rendah, bahkan lebih rendah model introduksi, yaitu model B sebesar kat kelerengan, tebal solum dan kepekaan
dibandingkan dengan model petani. 3,20 t/ha/tahun pada 1990/91 dan model tanah terhadap erosi membutuhkan
Setelah tahun ketiga, pendapatan C yang mencapai 6,40 t/ ha/tahun pada keberadaan tanaman tahunan dengan
usaha tani dari model B dan C semakin 1990/91. Pada dua model lainnya (A dan proporsi 25–100% (Proyek Penelitian
meningkat dan stabil, sedangkan pada D), erosi telah menurun tetapi masih di Penyelamatan Hutan, Tanah, dan Air
model petani relatif tetap. Sebaliknya atas ambang laju erosi, yaitu berturut- 1987).
pendapatan bersih model D setiap tahun turut 20,20 dan 11,40 t/ha/tahun. Pe- Namun, petani umumnya kurang
berfluktuasi, karena hasil panen masih nurunan erosi ini diduga karena kondisi menyadari manfaat tanaman tersebut
bergantung pada tanaman kayu-kayuan teras yang semakin mantap, tanaman sehingga motivasi mereka untuk me-
dan ternak kambing. penguat teras dan tanaman tahunan ngembangkan tanaman tahunan relatif
Batas ambang laju erosi setiap model sudah berkembang, serta pengelolaan kecil. Sebagai contoh, di Desa Sumber-
usaha tani konservasi sebesar 10,60 t/ha/ tanaman dan lahan yang semakin baik. Ini kembar dan Srimulyo (DAS Brantas),
tahun untuk model A, 10,50 t/ha/tahun terlihat dari nilai crops practice (CP) yang tanaman tahunan yang ditanam kurang
untuk model B, 8,40 t/ha/tahun untuk semakin kecil. mendapat perawatan sehingga banyak

Jurnal Litbang Pertanian, 22(4), 2003 165


Tabel 2. Analisis usaha tani (per ha) dan tingkat erosi pada empat model usaha tani konservasi di Desa Sumberkembar,
Blitar, Jawa Timur, 1985/86−1990/91.

Uraian 1985/86 1986/87 1987/88 1988/89 1989/90 1990/91 Rataan

Model A
Pendapatan kotor (Rp 000) 1.127 589,50 855,70 794 851,50 914,20 855,50
Total biaya (Rp 000) 608,80 226,90 232,50 322,20 245 234,50 311,70
Pendapatan bersih (Rp 000) 519 362,60 623,20 471,80 606,50 679,70 543,80
Tingkat erosi (t/ha/tahun) − 22 25,90 19,70 21,70 20,20 21,90
(0,0447) (0,0135)
Model B
Pendapatan kotor (Rp 000) 2.257,70 1.056,60 1.976,90 1.495,50 2.102,50 2.019 1.818
Total biaya (Rp 000) 1.789,70 633,20 675,90 548,30 684,20 554,60 814,30
Pendapatan bersih (Rp 000) 468 423,40 1.301 947,20 1418,30 1464,40 1.003,70
Tingkat erosi (t/ha/tahun) 324 15,50 10,40 3,80 3,30 3,20 7,20
(0,0214) (0,0035)
Model C
Pendapatan kotor (Rp 000) 1.562,80 996,70 1.616,20 1.149,10 2180,80 2030,50 1.589,40
Total biaya (Rp 000) 1.211,40 662,90 525,40 434,90 646,80 597,40 679,80
Pendapatan bersih (Rp 000) 351,40 373,80 1.090,80 714,20 1.534 1433,10 909,60
Tingkat erosi (t/ha/tahun) − 17,10 19,60 6,80 6,30 6,40 10,10
(0,0236) (0,0007)
Model D
Pendapatan kotor (Rp 000) 221,50 156,40 105 669 195,50 622,80 328,40
Total biaya (Rp 000) 256 58,80 60,50 201,50 105 174,50 142,70
Pendapatan bersih (Rp 000) -34,50 97,60 44,50 167,50 90,50 448,30 185,70
Tingkat erosi (t/ha/tahun) − 9,10 32,50 12 13,20 11,40 13,50
(0,0013) (0,0001)

Sumber: Hardianto et al. (1992); Sembiring et al. (1991).

yang mati (Proyek Penelitian Penyelamat- struktur teknik konservasi belum dihitung yang akan dialami jika diterapkan suatu
an Hutan, Tanah, dan Air 1988). Penelitian sebagai pengeluaran. tindakan konservasi. Ketiga, manfaat
di Desa Kates menunjukkan bahwa Analisis proyek seharusnya dapat investasi penerapan teknologi konservasi
keengganan petani untuk memelihara menjangkau periode manfaat ekonomi diperoleh dengan mengurangi nilai kini
tanaman tahunan selain jeruk disebab- secara penuh, seperti diuraikan oleh Lutz (net present value) biaya dan manfaat
kan oleh ketidaktahuan petani akan peran et al. (1994) dan Current et al. (1995). Akan tanpa dan dengan teknologi konservasi.
tanaman tersebut (Proyek Penelitian lebih sempurna bila dianalisis dari dua Selanjutnya, manfaat dan biaya marginal
Penyelamatan Hutan, Tanah, dan Air sisi, yaitu manfaat bagi masyarakat dan dapat dihitung dan diperbandingkan satu
1989). Di beberapa daerah, tanaman individu petani. Namun, dari sisi petani sama lain.
tahunan terutama jeruk berkembang saja sudah cukup memadai karena: 1)
cukup pesat, seperti di Desa Sumberejo pengambilan keputusan penggunaan
(Blitar) dan Desa Kates (Tulungagung) lahan dilakukan oleh petani (bukan oleh
(Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, pemerintah) berdasarkan tujuan, manfaat PROSPEK PENGEMBANGAN
Tanah, dan Air 1988). yang dapat diperoleh dan kendala yang USAHA TANI KONSERVASI
Model analisis di atas kurang dihadapi, dan 2) penggunaan lahan
LAHAN KERING
memadai untuk tanaman buah-buahan umumnya tergantung pada sifat-sifat
atau pada model/sistem usaha tani lain biofisik spesifik lokasi yang bervariasi
yang mempunyai komponen tanaman walaupun dalam luasan yang kecil. Prospek Pengembangan
tahunan yang mempunyai nilai ekonomi, Analisis proyek perlu dilakukan
seperti kayu, getah, pupuk kompos, dan mengikuti prinsip berikut ini. Pertama, Adnyana dan Manwan (1993) menge-
makanan ternak (Syam et al. 1993). Periode pengaruh erosi terhadap produktivitas mukakan bahwa pengembangan usaha
evaluasi P3HTA selama 6 tahun belum berbeda-beda pada setiap titik waktu tani terpadu berkelanjutan ditentukan
menggambarkan nilai ekonomi sepenuh- (misalnya satu tahun) selama periode oleh empat faktor utama, yaitu: 1) komit-
nya dari tanaman tahunan, karena dalam yang diinginkan. Data setiap titik waktu men kebijakan dan program pemerintah;
periode tersebut, baru 2–3 tahun tanaman tersebut kemudian dipakai untuk men- 2) dukungan eksternal (penyuluhan,
tahunan memberikan manfaat. Berkaitan duga manfaat tiap tahun. Kedua, peng- kredit, subsidi, pemasaran, serta ke-
dengan itu, nilai investasi untuk membuat hitungan tersebut diulangi untuk kondisi lembagaan dan unsur pelayanan lainnya);

166 Jurnal Litbang Pertanian, 22(4), 2003


3) partisipasi masyarakat (petani dan kedelai, kacang tanah, cabai, dan bawang Kemampuan optimal satu rumah
swasta), dan 4) ketersediaan teknologi. merah. Peluang pengembangan tanaman tangga petani, dengan ketersediaan
Faktor-faktor tersebut saling terkait satu tersebut cukup besar karena memberikan tenaga kerja keluarga 3 orang, dalam
sama lain sehingga memerlukan pen- keuntungan yang relatif tinggi. memelihara ternak kambing berkisar antara
dekatan secara terpadu dalam suatu Analisis usaha tani empat pola 4−5 ekor. Pemeliharaan kambing di atas 7
sistem. tanam alternatif menunjukkan bahwa ekor dinilai kurang efisien oleh petani,
Sehubungan dengan hal tersebut, pola tanam kedelai dan kacang tanah khususnya dalam penggunaan tenaga
teknologi yang diteliti di lahan kering dapat meningkatkan pendapatan usaha kerja keluarga, sehingga petani cenderung
DAS merupakan teknologi usaha tani tani. Dari keempat pola alternatif ter- mengalihkan usahanya ke ternak sapi
konservasi yang dikembangkan dari hasil- sebut, pola III memberikan keuntungan yang dianggap lebih bernilai.
hasil penelitian verifikasi teknologi, yang bersih tertinggi (Rp 1.478.350/ha), dan Jumlah petani penggaduh pada awal
terdiri atas komponen teknologi ternak terendah pada pola II (Rp 120.000/ha). tahun proyek (1985) sebanyak 6 orang.
dan pakan, tanaman tahunan/hortikultura, Pola I dan IV memberikan pendapatan Pada tahun 1988 dan 1990 jumlah
konservasi tanah, dan tanaman pangan. hampir sama, masing-masing Rp 877.850/ penggaduh bertambah masing-masing
Dalam pelaksanaannya dilakukan per- ha dan Rp 873.525/ha. Pada pola III, sebanyak 4 orang, dengan ternak gaduhan
baikan secara bertahap menuju sistem komponen penerimaan terbesar diperoleh berasal dari hasil pengembangan ternak
usaha tani dengan produktivitas yang dari hasil penjualan kedelai dan kacang kambing penggaduh pertama. Hal ini
stabil dan lestari dengan tetap mem- tanah. Kedua komoditas tersebut mem- menunjukkan bahwa ternak kambing
perhatikan kebutuhan dan kemampuan berikan hasil cukup tinggi, dan harga relatif lebih cepat memeratakan subsidi
petani. Konservasi tanah diarahkan pada jualnyapun cukup baik. Untuk pola II, kepada petani lainnya.
penutupan lahan oleh vegetasi (kon- rendahnya penerimaan disebabkan hasil
servasi vegetatif) dengan penanaman cabai cukup rendah, hanya 447 kg/ha
rumput di bibir dan tampingan teras, karena iklim yang terlalu kering atau
pertanaman lorong, dan tumpang sari. musim kemarau panjang (Hardianto et Faktor Pendukung Upaya
Hardianto et al. (1992) menge- al. 1992 dan Sembiring et al. 1991). Di Pengembangan
mukakan hasil pengujian teknologi usaha lahan kering Kabupaten Trenggalek dan
tani konservasi tanah selama enam Malang (Jawa Timur), pemberian pupuk Abdurachman et al. (1993) mengemukakan
tahun di Kabupaten Blitar yang termasuk kandang 10−15 ton yang dikombinasi- bahwa hal-hal yang perlu diperhatikan
kawasan DAS Brantas. Pola tanam yang kan dengan 200 kg urea, 200 kg TSP, dan dalam pengembangan teknologi usaha
diintroduksikan adalah model A: jagung 200 kg KCl/ha, memberikan hasil cabai tani konservasi lahan kering adalah: 1)
+ ubi kayu + kedelai/kacang tanah; model 4,43−5,13 t/ha di Trenggalek dan 5,81−6,50 komitmen dan dukungan pemerintah
B: jagung + kacang tanah + ubi kayu- t/ha di Malang (Hendarto et al. 1991). daerah; 2) adanya keterkaitan peneliti,
kedelai/kacang tunggak, rumput setaria, Ditinjau dari aspek konservasi tanah, penyuluh dan kelompok tani; 3) tingkat
rumput gajah, pisang, adpokat, pepaya; pengembangan komoditas yang bernilai partisipasi petani; 4) sistem pendukung/
model C: jagung + kacang tanah + ubi ekonomi tinggi mempunyai dampak positif pelayanan; dan 5) kelayakan teknologi
kayu-kedelai/kacang tunggak, rumput terhadap kesuburan tanah, karena petani anjuran dan tingkat adopsi. Dukungan
setaria, rumput gajah, pisang, adpokat, cenderung memberikan pupuk kandang ke pemerintah daerah dalam penerapan
pepaya, dan model D: jagung, sentro lahan sehingga meringankan biaya teknologi konservasi sangat penting
sema, lamtoro, pisang, adpokat, jati. investasi. Di samping itu, dengan makin karena petani kurang mampu melaksana-
Hasil pengujian menunjukkan bahwa menurunnya tingkat erosi dan sudah mem- kan teknologi konservasi secara mandiri.
model B dan C dapat menurunkan tingkat budayanya pemberian pupuk kandang, Selain dukungan dari atas, peran kelom-
erosi sampai di bawah batas ambang dan kesuburan lahan akan meningkat sehingga pok tani dan lembaga-lembaga pedesaan
meningkatkan pendapatan petani, se- membuka peluang untuk budi daya juga sangat penting. Abdurachman et al.
hingga kedua model tersebut mempunyai tanaman komersial lainnya. (1993) menyimpulkan bahwa integrasi
prospek untuk dikembangkan. Tanaman Selain dari tanaman pangan dan proyek dengan lembaga pedesaan
pangan yang dominan dan memberikan tanaman tahunan, petani model B, C, dan seperti LKMD dan kelompok tani serta
hasil relatif stabil adalah jagung, ubi D juga memperoleh pendapatan dari usaha adanya kerja sama antara peneliti,
kayu, kedelai, dan kacang tanah. Tanam- pemeliharaan ternak kambing. Ternak penyuluh, aparat desa, dan petani telah
an tahunan seperti kelapa, pisang, dan kambing yang diberikan pada tahun 1985 memperkuat kemampuan desa dalam
melinjo mempunyai potensi untuk di- masing-masing 1 ekor pejantan dan 4 ekor pengembangan sistem usaha tani kon-
kembangkan, demikian juga ternak induk per petani telah berkembang pesat servasi.
kambing, karena dapat menambah dan (Hardianto et al. 1992). Laju peningkatan Keterkaitan antara peneliti, penyuluh,
menstabilkan pendapatan petani. populasi per tahun tertinggi terjadi pada dan kelompok tani sangat penting.
Usaha tani di wilayah batuan kapur petani model D, rata-rata 44%, sedangkan Asisten lapang dan (3−4 orang di tiap
didominasi oleh tanaman pangan (Soe- pada petani model B hanya 35,60% dan lokasi) yang tinggal di desa memudahkan
marno et al. 1985), dan ada kecenderungan model C 28,90%. Laju kelahiran pada komunikasi dengan kelompok tani dan
terjadi pergeseran bertahap dari tanaman model B dan D relatif tinggi, masing- koordinasi dengan penyuluh lapangan.
pangan yang kurang mempunyai nilai masing 105,50% dan 102,20%, tetapi pada Partisipasi petani umumnya sangat baik
ekonomi seperti ubi kayu ke tanaman lain model C dan D masih rendah masing- pada awal proyek, tetapi selanjutnya
yang bernilai ekonomi lebih tinggi, seperti masing hanya 56,30% dan 12,60%. menurun.

Jurnal Litbang Pertanian, 22(4), 2003 167


Telah disadari bahwa peran lembaga batasan kemampuan, pengetahuan, dan induk tanah dari bahan vulkan. Pada
pelayanan seperti lembaga pemasaran, desakan kebutuhan petani. Untuk tanah bersolum dangkal, atau yang
perkreditan, dan penyalur sarana pro- mendorong petani agar aktif dalam bersolum dalam tetapi kaya akan unsur
duksi sangat penting dalam proses adopsi pemasaran hasil, perlu dibentuk rantai tata beracun seperti Al dan Fe, pembuatan
teknologi usaha tani konservasi di DAS niaga minimal dari produsen (petani) teras bangku kurang baik untuk per-
bagian hulu. Selain itu, adanya perbedaan sampai pedagang penyalur. Untuk tumbuhan tanaman pangan.
faktor fisik dan sosial-ekonomi petani memasarkan hasil tanaman semusim, Penanganan lahan perbukitan tandus
menyebabkan teknologi yang dianjurkan seperti jagung, gaplek, kedelai, kacang masih belum memberikan hasil memuas-
juga perlu disesuaikan dengan kondisi tanah, kacang hijau, kacang panjang dan kan sehingga usaha tani konservasi
yang ada. Rachman et al. (1989) menge- cabai, petani umumnya tidak menemui dengan teras individu perlu disempurna-
mukakan bahwa sistem pertanaman kesulitan karena mereka dapat men- kan. Alternatif perbaikan yang dapat
lorong tidak dapat diterapkan di seluruh jualnya langsung ke pasar desa, pasar ditempuh adalah penanaman tanaman
lahan penelitian karena lahan sudah kecamatan, atau melalui tengkulak yang leguminosa yang dapat tumbuh cepat
diteras. Begitu pula pola tanam tidak datang ke desa. sehingga cepat menutup tanah, serta
dapat diseragamkan di semua lokasi tahan terhadap kondisi tanah marginal.
karena adanya perbedaan jenis tanah, Beberapa jenis tanaman leguminosa
curah hujan, dan keinginan petani. Aspek teknis yang dapat digunakan untuk mereha-
Di lahan kering DAS, petani banyak bilitasi lahan kritis dengan jenis tanah
yang telah mengadopsi teknologi sistem Sembiring et al. (1989) mengemukakan Troporthent adalah koro pedang (Cana-
usaha tani konservasi karena mereka bahwa pembuatan teras bangku dan teras vala ensiformis), koro benguk (Mucuna
sudah mengetahui manfaatnya. Legum gulud dapat mengurangi erosi secara pruriens), gude (Cajanus cajan), dan
penutup tanah misalnya dapat mem- efektif. Hal ini karena bangunan teras komak (Dilichos lablab). Koro pedang
perbaiki kesuburan tanah sehingga me- berfungsi untuk: 1) mengurangi panjang dapat berproduksi 1,80 t biji/ha dan 0,36 t
ningkatkan hasil ubi kayu sampai 1 ton lereng sehingga dapat mengurangi laju pupuk hijau/ha dengan kemampuan
gaplek, dan jagung 0,30 ton pipilan aliran permukaan, 2) mengatur aliran air ke penutupan tanah 90%. Koro benguk
kering. Di samping itu, tanaman koro saluran pembuangan dengan mengurangi menghasilkan 0,51 t biji/ha dengan pe-
juga dapat menghasilkan biji sekitar penghanyutan; dan 3) meningkatkan nutupan tanah 90%. Gude menghasilkan
40 kg/600 m2 guludan (Sembiring et al. infiltrasi air ke dalam tanah. Penerapan 0,53 t biji/ha dengan penutupan tanah
1989). Selanjutnya Syam et al. (1989) teknik konservasi tanah selayaknya 70%, serta komak menghasilkan 1,04 t
menyimpulkan bahwa adopsi teknologi mempertimbangkan tiga hal, yaitu curah biji/ha dengan penutupan tanah 90%
bukan hanya terjadi pada petani hujan, kondisi tanah (kemiringan, (Sembiring et al. 1989). Produk tanaman
kooperator, tetapi juga pada petani ketebalan solum, sifat tanah), dan leguminosa tersebut, selain dikonsumsi
nonkooperator, seperti teknologi pem- kemampuan petani (biaya, waktu dan juga dapat dijual dengan harga yang
buatan teras, penanaman tanaman tenaga kerja keluarga yang tersedia). cukup tinggi, serta daunnya dapat
penguat teras, pembuatan saluran pem- Rachman et al. (1989) mengemuka- digunakan sebagai pupuk hijau. Pe-
buangan air (SPA), pola tanam, dan kan bahwa hampir seluruh petani telah nanaman leguminosa dapat dilakukan
penggunaan varietas unggul padi gogo menerapkan teknologi teras bangku tanpa dengan biaya rendah.
dan jagung. memperhitungkan kesesuaiannya dengan
Terdapat tiga aspek pendukung jenis dan kondisi tanah. Akibatnya
yang perlu diperhatikan dalam program bangunan teras sering rusak, seperti Aspek sosial ekonomi
pengembangan/transfer teknologi usaha tampingan teras runtuh, bidang teras
tani konservasi kepada petani, yaitu aspek bergeser, dan tanaman penguat teras Tingkat migrasi penduduk yang cukup
pemasaran, aspek teknis, dan aspek sosial lepas. Di samping itu, air drainase lebih tinggi merupakan gejala umum di daerah
ekonomi. terpusat sehingga dibutuhkan tenaga lahan kering DAS, sehingga jumlah tenaga
khusus untuk penanganan saluran air. kerja produktif di desa menjadi terbatas.
Teknik konservasi alternatif yang lebih Tingginya tingkat migrasi tersebut ber-
Aspek pemasaran sesuai untuk tanah dangkal dan tanah kaitan dengan perbaikan tingkat pen-
yang didominasi liat 2:1 adalah teras gulud didikan kaum muda dan rendahnya
Ketersediaan pasar diperlukan untuk atau pertanaman lorong. Hal tersebut kesempatan berusaha di desa. Di masa
mengimbangi peningkatan produksi. didukung oleh Fagi et al. (1988) yang mendatang, keterbatasan tenaga kerja
KEPAS (1985) mengemukakan bahwa mengemukakan bahwa bangunan teras keluarga merupakan kendala pengem-
pemasaran merupakan salah satu kunci bangku terbukti tidak stabil pada tanah bangan usaha tani yang menuntut curahan
keberhasilan pengembangan sistem bertekstur berat dan mengandung mineral tenaga lebih intensif. Modal juga
usaha tani. Namun, masalah ini masih liat 2:1 (Vertisol/Grumusol), serta tanah merupakan kendala pengembangan,
merupakan titik lemah bagi petani lahan yang bersolum dangkal. Begitu juga khususnya untuk budi daya tanaman
kering di DAS. Dalam memasarkan hasil Suwardjo et al. (1984) menyatakan bahwa komersial yang membutuhkan modal
kelapa, adpokat, melinjo, dan jeruk, usaha pencegahan erosi dengan pem- relatif besar, sehingga hanya petani
petani lebih banyak bertindak pasif dan buatan teras bangku memang cukup baik, mampu saja yang dapat mengusaha-
menunggu didatangi oleh tengkulak atau tetapi hanya sesuai untuk tanah yang kannya. Petani yang bermodal lemah
pedagang pengumpul, karena keter- mempunyai solum dalam dengan bahan hanya dapat mengusahakannya dalam

168 Jurnal Litbang Pertanian, 22(4), 2003


jumlah terbatas. Hasil penelitian di DAS perhatikan kelemahan petani dalam hal prioritas. Akumulasi permasalahan terjadi
Jratunseluna memberikan informasi bah- permodalan dan pengetahuan, serta karena selama ini program rehabilitasi dan
wa ada hubungan antara kelompok umur besarnya ketergantungan pada alam. konservasi lahan kurang memadai. Petani
kepala keluarga dengan aktivitas luar Namun, tingkat adopsi teknologi oleh yang umumnya miskin mempunyai lahan
usaha tani. Kepala keluarga usia muda petani tetap masih rendah yang antara lain garapan sempit dan menggunakan lahan
cenderung lebih aktif bekerja di luar disebabkan oleh: tidak sesuai dengan kemampuannya serta
usaha tani, terutama pada kelompok usia z Partisipasi penyuluh masih kurang tidak disertai tindakan konservasi yang
35−44 tahun (Rahmanto et al. 1989). dan jumlah penyuluh terbatas, tepat. Di samping itu, program pemerintah
Luas penguasaan lahan yang relatif sehingga perannya masih perlu kurang memfokuskan perhatian kepada
sempit menyebabkan petani tidak dapat ditingkatkan Setiani et al. 1991). partisipasi petani karena kendala sosial
memanfaatkan tenaga kerja secara pro- z Penyuluhan dan pembinaan petani budaya, serta sarana/prasarana per-
duktif serta pendapatan yang diperoleh lebih bersifat perseorangan (bukan hubungan.
dari usaha tani belum mampu memenuhi kelompok tani) karena lokasi petani Berbagai program penelitian dan
kebutuhan hidupnya (Napitupulu 1979). yang berjauhan. pengembangan model rakitan teknologi
Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, z Meskipun penelitian memperhatikan usaha tani konservasi dapat memberikan
petani aktif pada berbagai kegiatan usaha tani sebagai suatu sistem, dalam sumbangan besar terhadap pengelolaan
produktif di luar usaha tani. Menurut kenyataannya penelitian komponen DAS bagian hulu. Model yang dirancang
Kristianto (1985), dalam melakukan teknologi lebih menonjol, sehingga tidak saja bertujuan meningkatkan
kegiatan usaha tani petani umumnya kesimpulan yang diperoleh juga ber- produktivitas lahan dan pendapatan
hanya mengandalkan tenaga kerja ke- sifat komponen atau parsial. petani, tetapi juga untuk melindungi
luarga. Petani mengelola usaha taninya z Peneliti mendapat kesukaran dalam infrastruktur di bagian hilirnya. Di DAS
selama musim hujan, yaitu 5−6 bulan da- menganalisis data karena kurangnya Brantas bagian hulu, penerapan model
lam setahun. Setelah panen selesai, lahan ulangan/perlakuan, materi kurang yang tepat dapat menurunkan erosi 24–
diberakan dan petani mencari pekerjaan seragam, data kurang lengkap (petani 69% di bawah batas ambang erosi, selain
lain di desanya atau di kota terdekat untuk melakukan panen tanpa sepengetahu- meningkatkan produksi.
mendapat tambahan pendapatan. an peneliti, karena petak percobaan Pengembangan teknologi usaha tani
Teknologi usaha tani konservasi tersebar), dan sering kali peningkatan konservasi perlu didukung oleh pe-
lahan kering sudah cukup banyak, baik produksi tidak nyata karena masukan merintah daerah, kerja sama peneliti,
yang bersifat komponen tunggal maupun rendah. penyuluh dan petani, lembaga pelayanan,
gabungan beberapa komponen yang Sehubungan dengan hal itu, pengem- dan partisipasi petani. Dukungan yang
saling memperkuat, misalnya penanaman bangan sistem usaha tani konservasi kurang optimal akan menyebabkan
rumput pakan unggul pada teras bangku perlu dilakukan dengan memperhatikan pengembangan atau adopsi teknologi
dan pengelolaan pakan/limbah pertanian tiga hal, yakni: 1) bertitik tolak dari kondisi, usaha tani konservasi oleh petani menjadi
untuk meningkatkan produktivitas ternak. kebutuhan, partisipasi dan aspirasi petani; terhambat.
Di samping itu, tanaman pangan atau 2) berorientasi pada pemecahan masalah
hortikultura yang ditata berdasarkan pola petani dan wilayah; dan 3) melibatkan
tanam yang sesuai dapat meningkatkan peneliti interdisiplin yang bekerja sama IMPLIKASI KEBIJAKAN
pendapatan petani dan mengurangi erosi dengan penyuluh, petani dan pihak
tanah. Teknologi konservasi tersebut terkait lainnya. Dalam evaluasi teknologi usaha tani
sudah disampaikan kepada petani oleh Pengukuran dampak dan manfaat konservasi perlu digunakan analisis
P3HTA melalui demonstrasi model usaha penerapan teknologi konservasi di- proyek sehingga informasi yang didapat
tani dan oleh Sustainable Upland lakukan dengan mengikuti pendekatan lebih sempurna. Setiap DAS mempunyai
Farming System (SUFS) melalui demplot. sebelum dan sesudah pengembangan karakteristik yang spesifik sehingga
Namun, tampaknya proses adopsi tek- (before and after approach) pada lokasi memerlukan rakitan teknologi yang
nologi hanya terjadi pada petani ko- tempat teknologi dirakit. Untuk daerah spesifik lokasi.
operator dan itu pun tidak secara lain yang memiliki kondisi yang sama Partisipasi petani dalam pengelolaan
berkelanjutan, misalnya bibir teras digunakan pendekatan nol-satu (zero one DAS perlu diperluas, tidak hanya dalam
ditanami lagi dengan ubi kayu, varietas approach) atau kooperator vs non- tahap pengembangan teknologi dan
tanaman pangan kembali ke varietas lokal, kooperator. adopsi tetapi juga dalam pengelolaan
dan sisa panen tidak dikembalikan ke DAS. Pada tahap perbaikan teknologi,
dalam tanah atau dibakar (Abdurachman formulasi kebijakan perlu ditekankan pada
et al. 1993). upaya mendorong partisipasi masyarakat.
Agar petani mau dan mampu me- KESIMPULAN Pada tahap awal, peran pemerintah
nerapkan teknologi konservasi sederhana diperlukan untuk meningkatkan kualitas
dan murah, P3HTA melaksanakan pe- Permasalahan lahan kritis terutama di DAS sumber daya manusia dan memberikan
nelitian usaha tani dengan pendekatan bagian hulu perlu mendapat perhatian subsidi, dan pada tahap pengembangan
bottom-up yaitu partisipasi petani diberi yang besar, karena 45% DAS tergolong untuk mendorong pihak swasta agar
prioritas. Pendekatan ini sangat mem- prioritas dan 27,50% merupakan super- berinvestasi di lahan tersebut.

Jurnal Litbang Pertanian, 22(4), 2003 169


DAFTAR PUSTAKA
Abdurachman, A., D. Lubis, dan H.M. Toha. Tanah dan Air, Badan Litbang Pertanian, Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah,
1993. Penelitian pengembangan sistem Jakarta. hlm. 99−120. dan Air. 1989. Laporan Tahunan 1988/89.
usaha tani konservasi di DAS bagian hulu. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan,
Hendarto, T., Djumali, dan N.L. Nurida. 1991.
Risalah Penelitian Pengembangan Sistem Tanah dan Air, Badan Litbang Pertanian,
Usaha perbaikan teknologi pemupukan dan
Produksi Pertanian. Pusat Penelitian dan Jakarta. 89 hlm.
peran cabai merah dalam sistem usaha tani
Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor. konservasi di lahan kering DAS Brantas. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah,
hlm. 235−248. Seminar Penelitian dan Pengembangan dan Air. 1990. Petunjuk Teknis Usaha Tani
Abdurachman, A. dan F. Agus. 2000. Pengem- Sistem Usaha Tani Konservasi di Lahan Konservasi Daerah Aliran Sungai. Proyek
bangan teknologi konservasi tanah pasca- Kering DAS Jratunseluna dan Brantas. Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah dan
NWMCP. Prosiding Lokakarya Nasional Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Air, Badan Litbang Pertanian, Jakarta. 85
Pembahasan Hasil Penelitian Pengelolaan Tanah dan Air, Badan Litbang Pertanian, hlm.
Daerah Aliran Sungai. Alternatif Teknologi Jakarta. hlm. 185−194.
Pusat Pengembangan Agribisnis. 1991. Layanan
Konservasi Tanah. Sekretariat Tim Pengen- KEPAS. 1985. The Critical Uplands of Eco- Konsultasi Monitoring dan Evaluasi. Proyek
dali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. system in Java: An Agro-Ecosystem Analy- Rehabilitasi Lahan dan Pengembangan
Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, sis. 72 hlm. Agroforestry untuk Sub DAS Cimanuk Hulu.
Bogor. hlm. 25−38. Pusat Pengembangan Agribisnis, Jakarta. 45
Kristianto, K. 1985. Peranan peternakan dan
Adnyana, M.O. dan I. Manwan. 1993. Prosedur hlm.
pertanian lahan kering Dalam Peluang Kerja
pelaksanaan, strategi dan program pe- dan Berusaha di Pedesaan. BPFE, Yogya- Rachman, A., H. Suwardjo, R.L. Watung, dan H.
nelitian pengembangan. Risalah Penelitian karta. 69 hlm. Sembiring. 1989. Efisiensi teras bangku dan
Pengembangan Sistem Produksi Pertanian. teras gulud dalam pengendalian erosi.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanam- Lutz, E., S. Pagiola, and C. Reiche. 1994. The
Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian
an Pangan, Bogor. hlm 1−17. cost and benefits of soil conservation. The
Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di
Farmer ’s Viewpoint. The World Bank
Biro Pusat Statistik. 1981. Statistik Indonesia Daerah Aliran Sungai. Proyek Penelitian
Research Observer 9(2): 273−295.
1980/81. Biro Pusat Statistik. Jakarta. 125 Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air, Badan
hlm. Napitupulu, M. 1979. Meningkatkan martabat Litbang Pertanian, Jakarta. hlm. 11−18.
petani buruh sesuai tujuan pembangunan
Biro Pusat Statistik. 1994. Statistik Indonesia Rahmanto, B., P. Amir, dan A. Syam. 1989.
nasional Dalam Seminar Petani Buruh.
1994. Biro Pusat Statistik. Jakarta. 131 hlm. Penjajagan persepsi petani terhadap nilai
Jakarta. hlm. 25−38.
lahan garapan dan biaya pembuatan teras
Current, D., E. Lutz, and S.J. Scherr. 1995. The Nelson, R. 1991. Managing Drylands. Finance serta preferensi petani dalam menanamkan
cost and benefits of agro-forestry to farmers. and Development. IMF & World Bank. p. modal. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Pe-
The World Bank Research Observer 10(2): 11−19. nelitian Pertanian Lahan Kering dan
151−180. Konservasi di DAS. Proyek Penelitian
Pakpahan, A., N. Syafa’at, A. Purwoto, H.P. Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air, Badan
Departemen Pertanian. 1987. Surat Keputusan Saliem, dan G.S. Hardono. 1992. Kelembaga-
Menteri Pertanian No. 175/Kpts/RC. 220/ Litbang Pertanian, Jakarta. hlm. 257−266.
an lahan dan konservasi tanah dan air. Pusat
4/1987 Tentang Pedoman Pola Pembangun- Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Sembiring, H., M. Thamrin, A. Farid, G. Kartono,
an Pertanian Di Daerah Aliran Sungai. Monograph Series No.5: 98 hlm. A. Rachman, dan S. Sukmana. 1989.
Departemen Pertanian, Jakarta. 15 hlm. Pengaruh bentuk teras terhadap erosi dan
Prawiradiputra. B.R., S. Sukmana, A.N. Ginting, produktivitas tanah aquic tropudalf di
Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi dan A. Syam. 1995. Tinjauan beberapa
Lahan. 1985. Program pengelolaan DAS di Srimulyo, Malang. Risalah Diskusi Ilmiah
proyek sistem usaha tani konservasi di Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan
Indonesia. Makalah disampaikan pada daerah aliran sungai bagian hulu (dengan
Lokakarya Pengembangan Program Studi Konservasi di DAS. Proyek Penelitian
perhatian khusus pada komponen peneli- Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air, Badan
Pengembangan DAS pada Fakultas Pasca- tian). Prosiding Lokakarya Pemantapan
sarjana IPB, Bogor. hlm 1−21. Litbang Pertanian, Jakarta. hlm. 18−24.
Rencana Penelitian 1995/96. Keragaan
DHV Consultants. 1990. Laporan Akhir Pe- Teknologi Usaha Tani dan Rencana Pe- Sembiring, H., A. Farid, A. Ispandi, G. Kartono,
ngalaman Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. nelitian DAS. Bagian Proyek Peningkatan dan H. Suwardjo. 1991. Kajian beberapa
Proyek Kali Konto Fase Ke-3 dan Per- Kemampuan Perencanaan Penghijauan dan jenis tanaman legum penutup tanah untuk
panjangan Fase ke-3. Jilid I. Departemen Reboisasi Pusat, Pusat Penelitian Tanah dan rehabilitasi lahan kritis. Risalah Diskusi
Kehutanan Republik Indonesia dan Depar- Agroklimat, Bogor. hlm. 15−32. Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan
temen Luar Negeri Kerajaan Belanda. 65 hlm. Kering dan Konservasi di DAS. Proyek
Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah, Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah dan
Fagi, A.M., I.G. Ismail, U. Kusnadi, Suwardjo, dan Air. 1985. Program Penelitian Pola Air, Badan Litbang Pertanian, Jakarta. hlm.
dan A.S. Bagyo. 1988. Penelitian sistem Usaha Tani Terpadu dan Konservasi Tanah 24−28.
usaha tani di daerah aliran sungai. Risalah 1986/87–1990/91. Badan Litbang Per-
Lokakarya Penelitian Lahan Kering dan tanian, Jakarta. 51 hlm. Setiani, C., B. Prasetyo, dan U. Haryati. 1991.
Konservasi. Proyek Penelitian Penyelamat- Peranan kelembagaan dalam adopsi sistem
Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah, usaha tani konservasi (demplot) dan kapas
an Hutan, Tanah dan Air, Badan Litbang dan Air. 1987. Laporan Tahunan 1986/87.
Pertanian, Jakarta. hlm. 1−14. (IKR), suatu tinjauan sosiologi. Prosiding
Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Seminar Hasil Penelitian Lahan Kering dan
Hardianto, R., T. Hendarto, E. Masbula, dan N.L. Tanah dan Air, Badan Litbang Pertanian, Konservasi Tanah di Lahan Sedimen dan
Nurida. 1992. Status dan prospek pengem- Jakarta. 75 hlm. Vulkan DAS Bagian Hulu. Proyek Penelitian
bangan sistem usaha tani konservasi di Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah, Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air, Badan
lahan kering berkapur DAS Brantas. dan Air. 1988. Laporan Tahunan 1987/88. Litbang Pertanian, Jakarta. hlm. 77−90.
Prosiding Seminar Penelitian dan Pengem- Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan,
bangan Sistem Usaha Tani Konservasi di Soemarno, M., M. Mustadjab, and I. Semaoen.
Tanah dan Air, Badan Litbang Pertanian, 1985. Overview of Agriculture and Rural
Lahan Kering DAS Jratunseluna dan Brantas. Jakarta. 83 hlm.
Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Development in East Java and The Brantas

170 Jurnal Litbang Pertanian, 22(4), 2003


Basin. Brawidjaja University Research Watershed management approaches in Lahan Kering dan Konservasi di DAS.
Center, Malang. hlm 21−31. Indonesia. Proceeding of Workshop on Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan,
Standardization of Guidelines for Watershed Tanah dan Air, Badan Litbang Pertanian,
Sofijah, A. dan Suwardjo. 1979. Pengaruh teras,
Management Approaches and Research in Jakarta. hlm. 217−224.
sistem pengelolaan tanaman dan sifat hujan
the ASEAN Region, Chang Mai, Thailand,
terhadap erosi dan aliran permukaan pada Syam, A., Al Sri Bagyo, dan M.O. Adnyana.
21−30 November 1984. hlm. 68−82.
tanah Latosol Darmaga. Pusat Penelitian 1993. Perbandingan teras bangku, teras gulud
Tanah dan Agroklimat, Bogor. 14 hlm. Suwardjo. 1981. Peranan Sisa Tanaman dalam dan tanpa teras: suatu analisis ekonomi.
Konservasi Tanah dan Air pada Sistem Usaha Prosiding Seminar Perakitan dan Pengem-
Sukmana, S. 1994. Budi daya lahan kering
Tani Tanaman Semusim. Disertasi Sekolah bangan Teknologi Sistem Usaha Tani
ditinjau dari konservasi tanah. Prosiding
Pascasarjana, IPB, Bogor. 85 hlm. Tanaman Pangan. Buku-I. Pusat Penelitian
Penanganan Lahan Kering Marginal melalui
dan Pengembangan Tanaman Pangan,
Pola Usaha Tani Terpadu di Jambi. Pusat Suwardjo, N. Sinukaban, dan A. Barus. 1984.
Bogor. hlm. 47−65.
Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor. Makalah erosi dan kerusakan tanah di daerah
hlm. 18−29. transmigrasi. Prosiding Pertemuan Teknis Tim Survei Tanah DAS Brantas. 1988. Laporan
Penelitian Pola Usaha Tani Menunjang Survei dan Pemetaan Tanah Detail DAS
Sukmana, S., Suwardjo, U. Kusnadi, dan A. Syam.
Transmigrasi, Cisarua, Bogor, 27−29 Brantas Hulu, Kabupaten Malang, Blitar,
1988. Usaha konservasi di daerah aliran
Februari 1984. hlm. 15−35. Tulungagung, dan Trenggalek, Propinsi Jawa
sungai bagian hulu. Sistem Usaha Tani di
Timur. No.31/PPT/1988. Proyek Pertanian
Lima Agroekosistem. Risalah Lokakarya Syam, A., U. Kusnadi, S. Sukmana, G. Kartono,
Lahan Kering dan Konservasi Tanah.
Penelitian Sistem Usaha Tani. Pusat R. Hardianto, A. Ispandi, dan N.L. Nurida
Bappeda Tingkat I Jawa Timur–Pusat
Penelitian dan Pengembangan Tanaman 1989. Tingkat Pendapatan Petani Model
Penelitian Tanah, Bogor. 185 hlm.
Pangan, Bogor. hlm. 199−222. Usaha Tani Konservasi di DAS Brantas.
Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian
Sutadipradja, E., A.N. Ginting, O. Satjapradja,
H. Soediman, and Hadipurnomo. 1986.

Jurnal Litbang Pertanian, 22(4), 2003 171