Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH KONSERVASI TANAH DAN AIR

Peningkatan Produktifitas Lahan Kritis

OLEH :
ABDI WIGATI
05071281320038

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDERALAYA
2015

ABSTRACT

Lahan kritis adalah gundul, berkesan gersang, dan bahkan


muncul batu-batuan di permukaan tanah, topografi lahan pada
umumnya berbukit atau berlereng curam. Tingkat produktivitas rendah
yang ditandai oleh tingginya tingkat kemasaman tanah, kekahatan hara
P, K, C dan Mg, rendahnya kapasitas tukar kation (KT), kejenuhan basa
dan kandungan bahan organik, tingginya kadar Al dan Mn, yang dapat
meracuni tanaman dan peka terhadap erosi. Selain itu, pada umumnya
lahan

kritis

ditandai

dengan

vegetasi

alang-alang

yang

mendominasinya dengan sifat-sifat lahan padang alang-alang memiliki


ph tanah relatif rendah sekitar 4,8-6,2, mengalami pencucian tanah
tinggi, ditemukan rizoma dalam jumlah banyak yang menjadi hambatan
mekanik dalam budidaya tanaman, terdapat reaksi alelopati dari akar
rimpang alang-alang yang menyebabkan gangguan pertumbuhan pada
lahan tersebut

BAB I
PENDAHULUAN

Tantangan pembangunan pertanian di masa mendatang adalah


penyediaan pangan bagi penduduk , yang lebih dikenal dengan istilah
ketahanan pangan. Menurut UU Pangan Nomor 7 tahuan 1996 pasal 1 ayat
17, ketahanan pangan didefinisikan sebagai kondisi terpenuhinya pangan
bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup
dalam jumlah, mutu, aman, merata dan terjangkau. Sedangkan menurut
World Food Conference on Human Right 1993 dan World Food Summit 1996
adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan gizi setiap individu dalam jumlah dan
mutu agar dapat hidup aktif dan sehat secara berkesinambungan sesuai
dengan budaya setempat
Tantangan

penyediaan

pangan

semakin

hari

semakin

berat.

Degradasi lahan dan lingkungan, baik oleh ulah manusia maupun gangguan
alam, semakin meningkat. Lahan subur untuk pertanian banyak beralih
fungsi menjadi lahan nonpertanian. Sebagai akibatnya kegiatan-kegiatan
budidaya pertanian bergeser ke lahan-lahan kritis yang memerlukan input
tinggi dan mahal untuk menghasilkan produk pangan per satuan luas.
Pertanyaannya adalah begitu pentingkah kita memeras pikiran dan tenaga
untuk ketahanan pangan ini ?.
Data menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia berdasarkan
sensus penduduk 1990 sebesar 178,6 juta jiwa dan pada tahun 2000
meningkat menjadi 203,5 juta jiwa. Laju pertumbuhan penduduk 1990 2000
berdasarkan sensus tahun 2000 tercatat sebesar 1,36 %. Jika laju
pertumbuhan penduduk tepat (sebesar 1,36 % per tahun), maka pada tahun
2020 nanti jumlah penduduk Indonesia diperkirakan 266,6 juta jiwa.
Sastrosoedarjo dan Juwita (1996) memperkirakan bahwa konsumsi
kalori per kapita pada tahun 2000 sebesar 2100,53 g kalori/kapita/hari,

sedangkan

konsumsi

pangan

setara

beras

mencapai

120

kg

beras/kapita/tahun. Perkiraan ini jauh lebih tinggi dari rata-rata konsumsi


beras per kapita sesungguhnya yaitu sebesar 200 g/kapita/hari. Dengan
konsumsi per kapita per hari 200 g maka kebutuhan bahan pangan (setara
beras) per hari sebesar 40.700 ton atau sebesar 14,86 juta ton per tahun.
Jika asumsi konsumsi pangan setara beras per tahun tetap, maka pada
tahun 2020 nanti kebutuhan pangan setara beras mencapai 53.320 ton/hari
atau sebesar 19,46 juta ton per tahun
Jika produksi lahan sebesar 2 ton beras/ha, maka kebutuhan pangan
setara beras pada tahun 2020 nanti harus dipenuhi dari luasan panen sekitar
9,73 juta ha. Sementara menurut data Biro Pusat Statistik tahun 1989 luas
lahan sawah kita hanya 7,3 juta ha. Ketimpangan ini ditambah lagi dengan
laporan Lopulisa (1995) bahwa tahun 1991-1993 luas sawah beralih fungsi
ke perumahan, industri dan perkantoran, serta lainnya mencapai 114 ribu
hektar dan 56,2 % diantaranya di Jawa dan Bali. Degradasi lahan subur di
pulau Jawa ini diperkirakan akan terus bertambah, untuk kepentingan
nonpertanian.
Akibat pengelolaan yang tidak tepat, lahan kritis di Indonesia
meningkat setiap tahun. Pada tahun 1977 luas lahan kritis di pulau-pulau
besar di Indonesia (kecuali Jawa) hanya 15 juta ha, pada tahun 1987
meningkat menjadi 19 juta hektar (BPS 1988) dan dewasa ini telah mencapai
20 juta hektar.
Degradasi lahan pertanian yang sering mengakibatkan penururan
kualitas lahan garapan dan lingkungan bukan hanya tanggung jawab petani,
tetapi juga tanggung jawab pemerintah daerah dan pusat yang mendapat
masukan berupa rekomendasi dari para ahli (Bennema and Meester, 1981).
Di banyak negara, terlihat jelas adanya kesenjangan yang besar antara
kepedulian masyarakat dengan pemerintah terhadap masalah erosi dengan
tindakan nyata yang komprehensif untuk mengatasinya (Hauk, 1981)

Berbagai cara

untuk menangani lahan kritis telah dilakukan oleh

pemerintah, antara lain melalui program reboisasi dan penghijauan. Fakultas


Pertanian Andalas (1992) melaporkan bahwa keberhasilan fisik reboisasi
selama Pelita IV baru sekitar 68 %, sedangkan penghijauan hanya 21 %. Hal
ini mungkin disebabkan karena kurang tepatnya teknologi yang digunakan,
atau kondisi lahan belum dipelajari dengan cermat, atau karena teknologi
tidak diterapkan sepenuhnya.
Ditinjau dari segi pelestarian lingkungan dan efisiensi penggunaan
dana dalam program ekstensifikasi maka pemanfaatan lahan kritis dengan
perbaikan produktivitas mungkin lebih baik daripada membuka hutan.
Produktivitas beberapa jenis lahan kritis misalnya lahan alang-alang relatif
lebih mudah diperbaiki untuk budidaya tanaman pangan.
Peningkatan sustainabilitas sistem produksi perlu memperhatikan halhal berikut : (1) peningkatan produksi pangan yang nyata untuk memenuhi
kebutuhan mereka, (2) mencegah terjadinya degradasi sumberdaya, dan (3)
mengurangi pengaruh negatif teknologi produksi terhadap lingkungan
(Manwan, 1993).
Tulisan ini mengkaji peluang pemanfaatan lahan kritis melalui
usahatani konservasi untuk penyediaan pangan.

BAB II
PEMBAHASAN

Karakteristik Lahan Kritis


Ciri utama lahan kritis adalah gundul, berkesan gersang, dan bahkan
muncul batu-batuan di permukaan tanah, topografi lahan pada umumnya
berbukit atau berlereng curam (Hakim et al., 1991). Tingkat produktivitas
rendah yang ditandai oleh tingginya tingkat kemasaman tanah, kekahatan
hara P, K, C dan Mg, rendahnya kapasitas tukar kation (KT), kejenuhan basa
dan kandungan bahan organik, tingginya kadar Al dan Mn, yang dapat
meracuni tanaman dan peka terhadap erosi. Selain itu, pada umumnya lahan
kritis ditandai dengan vegetasi alang-alang yang mendominasinya dengan
sifat-sifat lahan padang alang-alang memiliki pH tanah relatif rendah sekitar
4,8-6,2, mengalami pencucian tanah tinggi, ditemukan rizoma dalam jumlah
banyak yang menjadi hambatan mekanik dalam budidaya tanaman, terdapat
reaksi alelopati dari akar rimpang alang-alang yang menyebabkan gangguan
pertumbuhan pada lahan tersebut
Pada umumnya, penduduk yang tinggal di daerah tersebut relatif
miskin (sedikit kesempatan untuk memperoleh income), yang disebabkan
pemberdayaan tanah kritis tersebut berhubungan erat dengan masalah
kemiskinan penduduknya, tingginya kepadatan populasi, kecilnya luas lahan,
kesempatan kerja terbatas dan lingkungan yang terdegradasi. Oleh karena
itu perlu diterapkan sistem pertanian berkelanjutan dengan melibatkan
penduduk dan kelembagaan.
Permasalahan Lahan Kritis
Meluasnya lahan kritis disebabkan oleh beberapa hal antara lain
1 1.

Tekanan penduduk

2 2.

Perluasan areal pertanian yang tidak sesuai,

3 3.

Perladangan berpindah

4 4.

Padang penggembalaan yang berlebihan

5 5.

Pengelolaan hutan yang tidak baik

6 6.

Pembakaran yang tidak terkendali

Fujisaka dan Carrity (1989) mengemukakan bahwa masalah utama yang


dihadapi di lahan kritis antara lain adalah lahan mudah tererosi, tanah
bereaksi masam dan miskin unsur hara.
III. Strategi Pengelolaan Lahan Kritis
Akhir-akhir ini ada pendapat yang menyatakan bahwa strategi
swasembada pangan perlu diubah menjadi swadaya pangan. Artinya, yang
harus

diutamakan

bukan

meningkatkan

produksi

tetapi

bagaimana

menumbuhkan kemampuan membeli bahan pangan. Dalam kondisi yang


tidak menguntungkan,

impor pangan tertentu merupakan alternatif yang

dianggap baik.
Apapun strategi yang dianut, pengelolaan usahatani tanaman pangan
tetap perlu dilakasanakan sebaik mungkin dengan tujuan produksi tinggi dan
berwawasan lingkungan agar kebutuhan pangan nasional tidak tergantung
kepada negara lain. Dalam kaitan itu, penelitian dan pengembangan
teknologi usahatani perlu ditingkatkan, termasuk penelusuran perluasan
areal baru, baik oleh pengambil kebijakan maupun para ahli dan pihak terkait
lainnya.
1. Aplikasi Usahatani Konservasi
Banyak teknologi yang dianjurkan untuk menekan erosi tanah, seperti
pembuatan teras dan galengan. Akan tetapi, petani pada umumnya tidak
memiliki cukup biaya untuk pembuatan teras. Oleh karena itu, belakangan ini
telah dianjurkan pula sistem usahatani konservasi.
Sistem usahatani konservasi adalah penataan usahatani yang stabil
berdasarkan daya dukung lahan yang didasarkan atas tanggapannya

terhadap faktor-faktor fisik, biologis dan sosial ekonomis serta berlandaskan


sasaran dan tujuan rumah tangga petani dengan mempertimbangkan
sumber daya yang tersedia (UACP-FSR 1990).
Penanganan masalah secara parsial yang telah ditempuh selama ini
ternyata tidak mampu mengatasi masalah yang kompleks dan juga tidak
efisien ditinjau dari segi biaya. Pendekatan parsial untuk mengatasi masalah
produktivitas tanaman adalah ciri suatu penelitian yang berbasis komoditas.
CGIAR

(Consultative

Group

on

International

Agriculture

Research)

mengubah strategi penelitian melalui pendekatan holistik dengan fokus


sumberdaya. Dalam skala makro strateginya disebut ecoregional initiative
dan dalam skala mikro dijabarkan dalam integrated crop management
(Kartaatmadja dan Fagi, 1999).
Kunci keberhasilan budidaya tanaman pangan berkelanjutan antara
lain 1) mengusahakan agar tanah tertutup tanaman sepanjang tahun guna
melindungi tanah dari erosi dan pencucian 2) mengembalikan sisa-sisa
tanaman,

kompos

dan

pupuk

kandang

ke

dalam

tanah

guna

memperbaiki/mempertahankan bahan organik tanah (Effendi et al, 1986).


Sedangkan kebiasaan petani

dalam mengusahakan tanaman pangan

sebagian besar limbah pertaniannya diangkut keluar untuk pakan dan kayu
bakar, dibakar pada saat persiapan tanah atau terbawa erosi, oleh karena itu
makin lama kandungan bahan organik tanah makin menurun dan diikuti oleh
peningkatan erosi tanah karena kurangnya tindakan konservasi tanah.
Upaya dalam mempertahankan atau meningkatkan produktivitas
lahan kritis hendaknya didekati dengan menerapkan sistem usahatani
konservasi melalui, pengaturan pola tanam, penambahan bahan organik
dengan daur ulang sisa panen dan gulma, serta penerapan budidaya lorong
(Adiningsih dan Mulyadi, 1992). Penerapan teknologi tersebut akan
memberikan

pengaruh

positif

terhadap

produktivitas

tanah

seperti

meningkatnya ketersediaan P dan bahan organik tanah serta menurunnya


kadar Al.

2. Penggunaan Amelioran
Penggunaan pupuk organik (pupuk kandang atau pupuk hijau ) dan
kapur dapat meningkatkan efisiensi pemakaian pupuk anorganik, karena
kedua unsur tersebut dapat meningkatkan daya pegang air dan hara di
tanah, sementara itu, residu pupuk diharapkan dapat mengurangi jumlah
pemakaian pupuk anorganik pada tanam berikutnya. Hasil penelitian Arief
dan Irman (1993) disimpulkan bahwa pemberian amelioran berupa kapur,
pupuk kandang, daun gamal, jerami padi dan kiserit mampu meningkatkan
hasi padi gogo dan kedelai di tanah podzolik merah kuning.
DAS Jratunseluna (1989) mengemukakan bahwa penggunaan mulsa
segar maupun limbah tanaman dapat meningkatkan hasil kacang hijau.
Rata-rata hasil mencapai 1,22 t/ha. Hasil tertinggi dicapai pada penggunaan
mulsa daun kaliandra sebanyak 10 t/ha. Sisa tanaman yang baik digunakan
sebagai mulsa pertanaman kacang hijau berturut-turut jerami padi, jerami
jagung, jerami kacang tanah dan terakhir jerami kedelai dengan hasil cukup
baik mencapai 1,37; 1,35; 1,25 dan 1,22 t/ha. Mulsa segar kalindra dan
lamtorogung dapat dikembangkan sebagai tanaman pagar dalam sistem
pertanaman lorong.

3. Penerapan Sistem Budidaya Lorong


Salah satu cara untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani
tanaman pangan adalah peningkatan intensitas tanam. Intensitas tanam
yang tinggi melalui pengaturan pola tanam merupakan tindakan konservasi
vegetatif yang sangat dianjurkan. Tetutupnya lahan sepanjang tahun, akan
mengurangi erosi (run off berkurang, infiltrasi air hujan meningkat) serta

menghasilkan limbah tanaman pangan untuk menambah bahan organik


tanah (Effendi, 1987).
Budidaya lorong adalah upaya pemanfaatan lahan dengan tanaman
tahunan dan tanaman semusim. Tanaman semusim ditanam di lorong
tanaman pagar yang umumnya berupa famili kacang-kacangan (Kang,
Wilson dan Lowson, 1984). Tanaman pagar berfungsi sebagai penahan erosi
dan penghasil bahan organik yang dapat meningkatkan produktivitas lahan
(IPB, 1987)

4. Seleksi Tanaman Adaptif Pada Kondisi Cekaman Lingkungan


Masalah mendasar dan tantangan berat yang harus dihadapi pada
lahan kritis adalah bagaimana mengubah lahan tersebut menjadi lahan
produktif dan bagaimana menghambat agar lahan kritis tidak semakin
meluas. Karena itu berbagai teknik rehabilitasi dan sistem budidaya yang
tepat telah banyak dicobakan pada lahan kritis tersebut.
Upaya-upaya yang selama ini dilakukan membutuhkan biaya yang
cukup besar dan memerlukan dukungan semua pihak serta perlu dukungan
ahli ekofisiologi dan pemulia tanaman untuk menghasilkan varietas tanaman
pangan yang adaptif pada lahan kritis yang memiliki karakteristik cekaman
lingkungan tertentu (kesuburan rendah, ketersediaan air terbatas/berlebih
dan lain-lain). Tanaman pangan adaptif yang dimaksud adalah tanaman yang
di satu sisi mampu beradaptasi dan di sisi lain mampu berproduksi secara
optimal sehingga dapat diharapkan sebagai penyedia pangan di masa
mendatang.
Pemuliaan tanaman konvensional akan tetap memegang peranan
utama dalam perbaikan varietas. Berbagai kelemahan dan keterbatasan cara
ini dapat diatasi dengan bantuan bioteknologi. Secara bertahap, bioteknologi
akan dikembangkan untuk mendapatkan atau memindahkan gen tertentu

untuk menghasilkan varietas baru dengan sifat-sifat yang diinginkan.


Meningkatkan produktivitas melalui rekayasa genetik merupakan suatu
keuntungan tambahan dalam perbaikan sifat tanaman sehingga varietas
yang dihasilkan diharapkan dapat lebih efisien memanfaatkan hara, tahan
terhadap hama dan penyakit serta deraan lingkungan (Manwan, 1993).
Informasi mengenai sifat-sifat yang mudah teramati dapat dijadikan
penduga bagi sifat yang dituju dalam seleksi tanaman adaptif. Semakin erat
hubungan antara sifat penduga dengan sifat yan dituju, maka akan semakin
memudahkan proses seleksi. Sifat-sifat yang berperan menentukan adaptif
tidaknya suatu tanaman yang ekspresinya sangat dipengaruhi oleh
lingkungan. Oleh sebab itu fenotipe yang ditemui di lapangan akan sangat
beragam. Adapun syarat-syarat seleksi tanaman adaptif terhadap lingkungan
kritis adalah tahan terhadap pH tanah rendah, toleran terhadap cekaman air,
tahan terhadap defisiensi hara terutama N dan P dan lain-lain.

Kesimpulan
1 1.

Lahan kritis dapat ditingkatkan produktivtasnya melalui usahatani

koservasi
2 2.

Lahan kritis merupakan pilihan yang lebih bijak dibanding membuka

lahan baru (deforestration)


3 3.

Upaya

menemukan

paket

teknologi

usahatani

konservasi

memerlukan dukungan hasil penelitian dari para peneliti


4 4.

Hasil penelitian yang telah ada masih perlu divalidasi pada tingkat

onfarm yang bersifat spesifik lokasi agar paket teknologi tersebur dapat
diadopsi petani

Daftar Pustaka

Adjid, D.A. 1993. Kebijaksanaan Swasembada dan Ketahanan Pangan.


Proseding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. Jakarat/Bogor
23-25 Agustus 1993. p50 64.
Dariah A. dan A. Rachman. 1989. Pengaruh Mulsa Hijauan Alley Cropping
Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jagung Serta Beberapa Sifat Fisik
Tanah. Pembahasan Hasil Penelitian Tanah, Cipayung 22-24
Agustus 1989.
Evensen, C and R. Joss. 1986. Alley Cropping Experiment 1985/86 Growing
Season. Tropsoil. Field Research Brief CSR Bogor No. 33: 1-7
Effendi, S., G. Ismail dan G Wibawa, 1986. Pola Usahatni Konservasi Pada
Lahan Keirng Podsolik Merah Kuning. Makalah Disampaikan Pada
Lokakarya Usahatni Konservasi Di Lahan Alang-Alang. Palembang
11 13 Pebruari 1986. 21p
FAO and IIRR. 1995. Resource Management For Upland Area In Southeast
Asia. Rapa Publication : 1995/12
Hakim, N. 1985. Pengaruh Sisa Pupuk Hijau, Kapur, Pupuk P Dan Mg Oada
Tanah Podsolik Terhadap Produksi Jagung. Makalah Seminar Hasil
Penelitian Perguruan Tinggi. Bandung, 25-28 Februari 1985. Ditjen
Dikti Depdikbud.-15 Desember 1995.
Muljadi, D. 1977. Sumberdaya Tanah Kering, Penyebaran Dan Potensinya
Untuk Kemungkinan Budidaya Pertanian. Kongres Agronomi, 27-29
Oktober 1977 di Jakarta. Agr. 04:1-16
Pratomo A.G, H. Sembiring, R Hardiyanto, A. Sugiayatno dan B. Supriyono,
2000. Pengkajian Rakitan Teknologi Usahatani Konservasi Di Lahan
Marginal
Perbukitan
Kapur.
Proseding
Seminar
Hasil
Penelitian/Pengkajian BPTP Karangploso
Shaxson, T.F., N.W. Hudson, D.W. Sander, E.Roose and W.C. Modenhauer.
1989. Land Hunsbandry, A Frame Work For Soil And Water
Concervation. Soil and Water Conservation Society. Ankeny, Iowa,
USA.

Sastrosoedarjo, S. dan N.R Juwita. 1996. Kilas Balik Semangat Kongres


PERAGI 1997.
Toha H.M. dan Abdurrahman, A. 1991. Penggunaan Bahan Organik Pada
Pola Tanam Lahan Kering Di Tanah Vulkanik Eutropept
Laboratotoirum Lapangan Uangaran, Semarang. Proyek Penelitian
Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertatanian . Departemen Pertanian.