Anda di halaman 1dari 13

Tanah memiliki kemampuan memberikan makanan air, maupun udara

sehingga tanaman dapat hidup dan tumbuh. Berdasarkan fakta tersebut, maka
tanah didefenisikan sebagai bahan atau massa yang terdiri dari mineral dan bahan
organik yang mendukung pertumbuhan tanaman di permukaan bumi. Tanah terdiri
dari partikel-partikel batuan, bahan organik, mahluk hidup, udara dan air. Tanah
yang terbentuk dari berbagai proses fisik, kimia dan biologi menghasilkan
lapisan-lapisan yang berbeda dari suatu tempat ke tempat lainnya baik sifat fisik,
kimia maupun sifat biologinya (Mustafa, dkk., 2012).
1. PENGERTIAN KESUBURAN TANAH
Kesuburan tanah adalah suatu keadaan tanah dimana tata air, udara dan
unsur hara dalam keadaan cukup seimbang dan tersedia sesuai kebutuhan
tanaman, baik fisik, kimia dan biologi tanah (Syarif, 1995).
Tanah yang subur adalah tanah yang mempunyai profil yang dalam
(kedalaman yang sangat dalam) melebihi 150 cm, strukturnya gembur remah, pH
6-6,5, mempunyai aktivitas jasad renik yang tinggi (maksimum). Kandungan
unsur haranya yang tersedia bagi tanaman adalah cukup dan tidak terdapat
pembatas-pembatas tanah untuk pertumbuhan tanaman (Sutedjo, 2002).
Tanah memiliki kesuburan yang berbeda-beda tergantung faktor
pembentuk tanah yang merajai di lokasi tersebut, yaitu: Bahan induk, Iklim,
Relief, Organisme, atau Waktu.
Kesuburan tanah ditentukan oleh keadaan fisika, kimia dan biologi tanah
sebagai berikut :
1. Sifat Fisika
Terdapat beberapa sifat fisik tanah yang perlu untuk ditelaah dengan baik
antara lain:
a. Warna
Warna merupakan petunjuk untuk beberapa sifat tanah oleh karena warna
dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terdapat dalam tanah. Adapun
penyebab perbedaan warna tanah umumnya adalah akibat perbedaaan kandungan
bahan organik; semakin banyak kandungan bahan organik tanah tersebut maka
warnanya akan semakin gelap. Sebagian tanah warnanya disebabkan oleh warna
mineral tanah itu sendiri.

b. Tekstur
Tekstur tanah menunjukkan perbandingan relatif antara fraksi tanah baik
pasir, debu, dan liat. Tanah-tanah yang bertekstur pasir, karena butir-butirnya
berukuran lebih besar, maka setiap satuan berat mempunyai luas permukaan yang
lebih kecil sehingga sulit menyerap (menahan) air dan unsur hara. Tanah-tanah
yang bertekstur liat karena lebih halus maka setiap satuan berat mempunyai luas
permukaan yang lebih besar sehingga kemampuan menahan air dan menyediakan
unsur hara tinggi. Tanah-tanah bertekstur halus lebih aktif dalam reaksi kimia
daripada tanah bertekstur kasar.
c. Struktur
Struktur tanah merupakan tersusunnya butiran tanah, atau gumpalan kecil
dari butir-butir tanah; yang sering juga disebut agregat. Pembentukan agregat
dipengaruhi oleh:
-

Bahan Induk, variasi penyusun tanah tersebut mempengaruhi pembentukan


agregat-agregat tanah serta kemantapan yang terbentuk. Kandungan liat
menentukan dalam pembentukan agregat, karena liat berfungsi sebagai
pengikat yang diabsorbsi pada permukaan butiran pasir dan setelah

dihidrasi tingkat reversiblenya sangat lambat.


Bahan organik tanah, merupakan bahan pengikat setelah mengalami
pencucian. Pencucian tersebut dipercepat dengan adanya organisme tanah.
Sehingga bahan organik dan organisme di dalam tanah saling berhubungan

erat.
Tanaman pada suatu wilayah dapat membantu pembentukan agregat yang
mantap. Akar tanaman dapat menembus tanah dan membentuk celah-

celah.
Organisme tanah dapat mcmpercepat terbentuknya agregat. Selain itu juga
mampu berperan langsung dengan membuat !ubang dan menggemburkna

tanaman
Waktu menentukan semua faktor pembentuk tanah berjalan. Semakin lama
waktu berjalan, maka agregat yang terbentuk pada tanah tersebut semakin

mantap.
Iklim berpengaruh terhadap proses pengeringan, pembasahan, pembekuan,
pencairan. Iklim merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap
pembentukan agregat tanah.

2. Sifat Kimia
a. pH, untuk menentukan mudah tidaknya unsur-unsur hara diserap
tanaman. Pada umumnya hara tanaman akan lebih mudah untuk diserap pada
kisaran pH netral (Gambar 1) oleh karena pada kisaran pH tersebut kebanyakan
unsur hara larut dalam air. Pada tanah masam unsur P tidak dapat diserap tanaman
karena diikat oleh Al sedangkan pada tanah alkalis, P sulit diserap tanaman karena
difiksasi oleh Ca.

pH menunjukkkan kemungkinan adanya unsur-unsur beracun (Gambar 1).


Pada tanah-tanah masam banyak ditemukan ion-ion Al didalam tanah, yang
kecuali memfiksasi P juga merupakan racun bagi tanaman. Pada tanah rawa yang
pH tanah rendah (sangat masam) menunjukkan kandungan sulfat tinggi yang
bersifat meracun bagi tanaman. Disamping itu, pada tanah yang masam, unsurunsur mikro juga menjadi mudah larut, sehingga ditemukan unsur mikro yang

terlalu banyak. Unsur mikro Mo dapat menjadi racun kalau pH tanah terlalu
alkalis.
pH mempengaruhi perkembangan mikroorganisme antara lain,
-

Bakteri berkembang baik pada pH 5,5 atau sedang pada pH <5,5

perkembangannya sangat terhambat.


Jamur dapat berkembang baik pada segala tingkat kemasaman tanah.

Pada pH tanah >5,5 jamur harus bersaing dengan bakteri.


Bakteri pengikat nitrogen dari udara dan bakteri nitrifikasi hanya dapat
berkembang dengan baik pada pH >5,5.

b. Kapasitas Tukar Kation (KTK)


Kation adalah ion bermuatan positif seperti Ca++, K+, Na+, NH4+, H+,
Al3+ dsb. Didalam tanah, kation-kation tersebut terlarut di dalam air tanah atau
dijerap oleh koloid-koloid tanah. Banyaknya kation yang dapat dijerap oleh tanah
persatuan berat tanah dinamakan kapasitas tukar kation (KTK).
KTK adalah sifat kimia yang berkaitan dengan kesuburan tanah. Tanah
dengan KTK tinggi mampu menjerap dan menyediakan unsur hara lebih baik
daripada tanah KTK rendah. Tanah dengan KTK tinggi bila didominasi oleh
kation basa seperti Ca, Mg, K, Na dapat meningkatkan kesuburan tanah, tetapi
bila didominasi oleh kation asam seperti Al dan H dapat mengurangi kesuburan
tanah. Tanah dengan kandungan bahan organik atau kadar liat tinggi mempunyai
KTK lebih tinggi daripada tanah-tanah dengan kandungan bahan organik rendah
atau tanah berpasir.
c. Unsur-unsur hara esensial
Unsur hara yang sangat diperlukan tanaman dan fungsinya dalam tanaman tidak
dapat digantikan oleh unsur lain disebut unsur hara esensial. Unsur hara makro
adalah unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah banyak, sedangkan unsur hara
mikro adalah unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah yang sangat sedikit.
- Unsur makro : C, H, O, N, P, K, Ca, Mg, dan S
- Unsur mikro : Fe, Mn, B, Mo, Cu, Zn, Cl, dan Co
3. Sifat Biologi

Sifat biologi tanah meliputi bahan organik tanah, flora dan fauna tanah
(khususnya mikroorganisme penting seperti bakteri, fungi dan Algae), interaksi

mikroorganisme tanah dengan tanaman (simbiosa) dan polusi tanah. Tanah


dikatakan subur bila mempunyai kandungan dan keragaman biologi yang tinggi.
Didalam tanah hidup berbagai jenis mikroorganisme yang dapat dibedakan
menjadi flora dan fauna baik makro maupun mikro. Organisme tersebut ada yang
bermanfaat dan ada pula yang mengganggu pertumbuhan tanaman.
Makrofaun, dapat dibedakan menjadi :
a. Cacing tanah
Cacing tanah makan bahan organik mati sisa hewan atau tanaman, tidak makan
vegetasi hidup. Bahan organik dan tanah halus yang dimakan cacing kemudian
dikeluarkan sebagai kotoran (ekskresi) atau casting yang berupa agregat-agregat
berbentuk granular dan tahan terhadap pukulan air hujan serta banyak
mengandung unsur hara yang tersedia bagi tanaman.
b. Jenis arthropoda, memakan sisa tumbuhan yang membusuk dan membantu
memperbaiki tata udara tanah dengan membuat lubang kecil pada tanah. Namun
ada beberapa diantaranya yang bersifat mengganggu tanaman karena makan
tumbuhan yang hidup.
Mikrofauna; Protozoa dan Nematoda
Protozoa merupakan hewan bersel satu yang makan bakteri sehingga dapat
menghambat daur ulang unsur-unsur hara ataupun menghambat berbagai proses
dalam tanah yang melibatkan bakteri. Ada tiga jenis protozoa yaitu Amoeba,
Flagellata dan Chiliata. Nematoda adalah cacing yang sangat kecil seperti
benang, tidak berbuku-buku. Nematoda dibagi 3 yaitu: (1) Pradaceous, (2)
Parasitik, (3) Omnivorous. Nematoda parasit dapat menyerang semua jenis
tanaman.
Makroflora, Akar-akar tanaman mempengaruhi keseimbangan hara tanah
akibat penyerapan unsur-unsur hara oleh akar-akar tersebut. Disamping itu akar
juga mempunyai pengaruh langsung terhadap ketersediaan unsur hara karena
dapat membentuk asam-asam organik di permukaannya yang dapat meningkatkan
kelarutan unsur hara. Ketersediaan unsur hara sangat dipengaruhi oleh bahanbahan yang dikeluarkan oleh akar dan aktivitas mikroorganisme di rhizosphere.
Mikroflora, Mikroflora dalam tanah antara lain: bakteri, fungi,
actinomycetes, dan algae. Bakteri, fungi dan aktinomisetes membantu

pembentukan struktur tanah yang mantap karena kemampuannya dalam


mengeluarkan zat perekat yang tidak mudah larut dalam air.

2. INDIKATOR KESUBURAN TANAH


1.

Kapasitas Absorbsi
Kapasitas Absorbsi dihitung dengan milli equivalent, adalah kemampuan

tanah untuk mengikat/ menarik suatu kation oleh partikel-partikel kolloid tanah
(partikel kolloid itu terdiri dari liat dan organik), dan ini secara langsung
mencerminkan kemampuan tanah melakukan aktifitas pertukaran hara dalam
bentuk kation. Semakin tinggi nilai kapasitas absorbsi, maka tanah dikatakan
kesuburannya semakin baik, yang biasanya susunan kationnya didominasi oleh
unsur K (Kalium), Ca (Calsium) dan Mg (Magnesium), sehingga nilai pH tanah
normal (berkisar 6,5).
2.

Tingkat Kejenuhan Basa


Nilainya dalam bentuk persen, mencerminkan akumulasi susunan kation.

Peningkatan nilai persen kejenuhan basa mencerminkan semakin tingginya


kandungan basa-basa tanah pada posisi nilai pH tanah yang menyebabkan nilai
kesuburan kimiawi optimal secara menyeluruh. Nilai kesuburan kimiawi secara
sederhana dicermnkan oleh nilai pH, karena nilai pH akan mampu mempengaruhi
dan mencerminkan aktifitas kimiawi sekaligus aktifitas biologis dan kondisi fisik
di dalam tanah.
3.

Kandungan Liat
Kandungan liat, merupakan ukuran kandungan partikel kolloid tanah.

Partikel dengan ukuran ini (kolloid) akan mempunyai luas permukaan dan ruang
pori tinggi sehingga mempunyai kemampuan absorbsi juga tinggi serta diikuti
kemampuan saling tukar yang tinggi pula diantara partikel kolloid. Kemampuan
absorbsi ini bisa untuk air maupun zat hara, sehingga menjadi cermin peningkatan
kesuburan tanah. Namun jika kandungan liat pada komposisi dominan atau tinggi
menjadi tidak ideal untuk budidaya maupun pengolahan tanah. Kandungan liat
yang tinggi menyebabkan perkolasi, inlfiltrasi, permeabilitas, aerasi tanah menjadi
lebih rendah sehingga menyulitkan peredaran air dan udara.

4.

Kandungan Bahan Organik


Kandungan bahan organik yang cukup di dalam tanah dapat memperbaiki

kondisi tanah agar tidak terlalu berat dan tidak terlalu ringan dalam pengolahan
tanah. Berkaitan dengan pengolahan tanah, penambahan bahan organik akan
meningkatkan kemampuannya untuk diolah pada lengas yang rendah. Di samping
itu, penambahan bahan organik akan memperluas kisaran kadar lengas untuk
dapat diolah dengan alat-alat dengan baik, tanpa banyak mengeluarkan energi
akibat perubahan kelekatan tanah terhadap alat. Pada tanah yang bertekstur halus
(lempungan), pada saat basah mempunyai kelekatan dan keliatan yang tinggi,
sehingga sukar diolah (tanah berat), dengan tambahan bahan organik dapat
meringankan pengolahan tanah. Pada tanah ini sering terjadi retak-retak yang
berbahaya bagi perkembangan akar, maka dengan tambahan bahan organik
kemudahan retak akan berkurang. Pada tanah pasiran yang semula tidak lekat,
tidak liat, pada saat basah, dan gembur pada saat lembab dan kering, dengan
tambahan bahan organik dapat menjadi agak lekat dan liat serta sedikit teguh,
sehingga mudah diolah.
Kandungan BO merupakan indikator paling penting dan menjadi kunci
dinamika kesuburan tanah. Bahan organik mempunyai peran yang multifungsi,
yaitu mampu merubah sifat fisik, sifat kimia dan sifat biologi tanah. Selain itu
bahan organik juga mampu berperan mengaktifkan persenyawaan yang
ditimbulkan dari dinamikanya sebagai ZPT (zat pengatur tumbuh), sumber Enzim
(katalisator reaksi-reaksi persenyawaan dalam metabolisme kehidupan) dan
Biocide (obat pembasmi penyakit dan hama dari bahan organik).
Bahan organik dikatakan mampu merubah sifat fisik tanah, karena kondisi
fisik tanah yang keras/liat (pejal) akan dapat berubah menjadi tanah yang gembur
oleh adanya bahan organik. Akibatnya porositas dan permeabilitas tanah semakin
baik sehingga aerasi udara meningkat, ini bermanfaat untuk menghindari
kejenuhan air yang menyebabkan kebusukan akar.
Demikian pula bila kondisi sebaliknya, yaitu kondisi tanah yang lepas
(sangat berpasir), maka fisik tanah dapat dibuat menjadi kompak, karena agregasi
meningkat oleh adanya bahan organik. Ruang pori tanah juga meningkat,
akibatnya kemampuan tanah dalam menyimpan air dan menyediakan ruang udara

akan semakin proporsional (baik). Hal ni bermanfaat untuk menghindarkan


tekanan kekeringan pada perakaran.
Bahan organik juga dapat merubah sifat kimia tanah, yaitu melalui proses
dekomposisi yang dilakukan oleh mikroba yang memang selalu menempel pada
bahan organik. Proses dekomposisi akan melepaskan zat-zat hara ke dalam larutan
di dalam tanah dan juga menjadikan bahan organik menjadi bentuk yang lebih
sederhana dan bersifat kolloid. Kondisi ini akan meningkatkan kemampuan
absorbsi tanah yang berkaitan juga dengan kapasitas tukar kation (KTK) tanah
karena meningkatnya luas permukaan partikel tanah. Hal ini menjadikan tanah
mempunyai kemampuan menyimpan unsur-unsur hara yang semakin baik,
mengurangi penguapan Nitrogen, maupun pencucian hara-hara kation lain. Pada
saatnya berarti pula meningkatkan kapasitas tanah untuk melepas hara kation bagi
kebutuhan tanaman, baik melalui proses pertukaran secara langsung maupun pasif
oleh proses difusi.
Bahan organik juga mampu mengeliminir bahan-bahan racun, terutama
yang dakibatkan oleh kation-kation mikro seperti Co (Cobalt), Cu (Cuprum/
tembaga), B (Boron), dan lain-lain; dengan membentuk ikatan khellat. Ikatan
khellat ini bersifat preventif (dari efek meracuni) dan konservatif, karena sewaktuwaktu katio-kation logam yang terjerap dalam ikatan khelat juga masih bisa
dimanfaatkan oleh tanaman. Bahkan ada yang mengatakan bahwa terjadinya
ikatan khelat ini justru meningkatkan mobilitas banyak kation, karena ikatan ni
memang bisa larut sehingga memudahkan tanaman untuk memanfaatkannya.
Bahan organik bisa merubah sifat biologi tanah dengan meningkatkan
populasi mikroba di dalam tanah. Populasi mikroba yang meningkat (baik jenis
dan jumlahnya) menyebabkan dinamika tanah akan semakin baik dan menjadi
sehat alami. Peningkatan mikroba (khususnya fungi bermiselia seperti micorhiza,
dll) akan meningkatkan kemantapan agregasi partikel-partikel penyusun tanah.
Mikroba dan miselianya, yang berupa benang-benang, akan berfungsi sebagai
perajut/ perekat/glue antar partikel tanah. Dengan demikian menyebabkan struktur
tanah menjadi lebih baik karena ketahanannya menghadapi tekanan erodibilitas
(perusakan) tanah. Kemampuan merubah sifat biologi tanah ke arah positif

sehingga meningkatkan populasi mikroba yang menguntungkan tanaman sehingga


tanaman tumbuh sehat tanpa perlu campur tangan pupuk buatan dan pestisida.
Bahan organik juga berperan sebagai ZPT, karena proses dekomposisi
akan menghasilkan proses akhir menjadi humus. Humus disebut juga sebagai
asam humat (humic acid) yang merupakan bahan kolloidal terpolidispersi yang
bersifat amorf, berwarna kuning hingga coklat-hitam dan mempunyai berat
molekul relatif tinggi dan bervariatif. Asam humat banyak dikaitkan dengan
perkecambahan bji di dalam tanah, pertumbuhan bagian atas tanaman,
pemanjangan semaian muda atau pemanjangan akar dari akar terpotong secara in
vitro, karena asam humat menunjukkan pengaruh hormonal dalam pertumbuhan.
Asam humat juga berperan dalam perbaikan tanah secara fisik, melalui
mekanisme perbaikan agregasi, aerasi, permeabilitas serta kapasitas memegang
air, sehingga tanaman akan tumbuh secara normal dan sehat.
Bahan organik merupakan salah satu bagian penyusun tanah dengan sifatsifat

kolloid,

dan

hanya

satu-satunya

yang

mempunyai

kemampuan

mendinamisasi untuk mempengaruhi sifat fisik, kimia maupun biologi tanah.


Tanah-tanah marjinal (baik tanah mineral maupun yang dominan liatnya) akan
dapat diperbaiki sifat pejal maupun porositasnya pada tingkat yang optimal.
Demikian juga permeabilitas, aerasi, perkolasi maupun agregasi, dengan peran
dinamisasi dari BO, keadaan tanah menjadi gembur dan subur. Hal ini berkaitan
dengan menegemen air dan udara dalam tanah, bermanfaat bagi kelangsungan
perkembangan perakaran tanaman dan hara tanaman di dalam tanah. Dengan
berkembangnya perakaran tanaman akan mempengaruhi bagian atas tanaman di
atas permukaan tanah.
3. USAHA MENJAGA KESUBURAN TANAH
Kesuburan alamiah sutau tanah bergantung pada banyak sedikitnya hara
yang dapat diberikan oleh bahan induk. Penyedian ini tidak dapat bertahan lama
dalam sistem kesuburan tanah diakibatkan banyaknya kebocoran yang terjadi.
Oleh karena itu sistem kesuburan tanah harus dijaga dan tingkatkan. Usaha-usaha
yang dapat dilakukan dalam menjaga sistem kesuburan tanah, yaitu:
1. Mengurangi air perkolasi

2. Mengurangi laju erosi


3. Mengurangi penguapan unsur hara essensial
4. Mengurangi perubahan unsur hara tersedia menjadi unsur hara tak tersedia
5. Mengurangi kebocoran hara pada saat panen
6. Melakukan usaha pemupukan
Pupuk adalah suatu bahan yang digunakan untuk memperbaiki kesuburan
tanah, sedangkan pemupukan adalah penambahan bahan tersebut ke tanah agar
tanah menjadi lebih subur. Oleh karena itu, pemupukan pada umumnya diartikan
sebagai penambahan zat hara tanaman ke dalam tanah. Dalam arti luas
pemupukan sebenarnya juga termasuk penambahan bahan-bahan yang dapat
memperbaiki sifat-sifat tanah misalnya pemberian pasir pada tanah liat,
penambahan tanah mineral pada tanah organik, pengapuran dan sebagainya yang
disebut ameliorasi.
4. KLASIFIKASI PUPUK
Klasifikasi pupuk telah banyak dilakukan oleh para ahli untuk
membedakan, jenis, bahan asal dan cara/sifat kerjanya, yaitu:
Klasifikasi pupuk berdasarkan sifat kerja:
1. Pupuk langsung: pupuk-pupuk yang mengandung unsur hara tanaman dan
pengaruhnya langsung kepada tanaman, seperti pupuk N,P,K dan lain-lainnya,
juga termasuk pupuk cair.
2. Pupuk tidak langsung; pengaruh utama adalah terhadap tanah, tetapi juga
mengandung unsur hara, seperti pengapuran dan penambahan bahan organik.
Klasifikasi pupuk berdasarkan kecepatan kerja
1. Pupuk yang kerja cepat ( fast acting/fast release): pengaruhnya cepat terlihat,
contohnya pupuk yang bersifat higroskopis
2. Pupuk yang kerja lambat (slow acting/slow release): pupuk-pupuk yang efektif
hanya setelah terjadi perubahan dalam tanah.
Klasifikasi berdasarkan tipe senyawa kimia
1. Pupuk organik

2. Pupuk anorganik atau pupuk mineral: mengandung satu atau lebih senyawa
anorganik.
Klasifikasi berdasarkan menurut jumlah unsur hara
1. Pupuk tunggal: pupuk yang hanya mengandung satu macam unsur hara
essensial.
2. Pupuk majemuk: pupuk yang mengandung beberapa unsur hara, contoh pupuk
NPK.
Klasifikasi menurut jumlah yang dibutuhkan
1. Pupuk hara makro (major nutrient fertilizers): pupuk yang mengandung unsur
hara makro, yaitu: N,P,K, Ca, Mg, S dan diberikan dalam jumlah yang lebih
besar dibandingkan pupuk mikro.
2. Pupuk hara mikro: pupuk yang mengandung unsur mikro serta dibutuhkan
dalam jumlah kecil.
Klasifikasi menurut keadaan fisik
1. Pupuk padat, contohnya: urea, TSP, KCl dan lain-lain.
2. Pupuk cair
3. Pupuk gas; amoniak dan gas belerang
Pupuk Organik
Usaha lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesuburan tanah adalah
dengan pemberian pupuk organik atau pupuk kandang. Kandungan unsur hara
dalam pupuk kandang tidak terlalu tinggi, tetapi jenis pupuk ini mempunyai
keistimewaan lain yaitu dapat memperbaiki sifat-sifat fisik tanah seperti
permeabilitas tanah, porositas tanah, struktur tanah, daya menahan air dan kationkation tanah dsb.
Pupuk kandang
Hal penting yang diperhatikan dari pupuk kandang yaitu sifat-sifat pupuk kandang
oleh karena tiap jenis hewan yang dipelihara menghasilkan pupuk kandang
dengan sifat yang berbeda-beda. Kandungan unsur hara pakan juga ditentukan
oleh makanan ternak/hewan yang diberikan.

Pupuk hijau
Pupuk hijau dapat diartikan sebagai hijauan muda dan dapat sebagai penambah N
dan unsur-unsur lain, atau sisa-sisa tanaman yang dikembalikan ke tanah. Pupuk
hijau sebagai pengganti pupuk kandang apabila pupuk kandang sedikit, sedangkan
tanah sangat memerlukan pupuk organik. Pupuk hijau umumnya berupa tanaman
leguminosa dan sering ditanam sebagai tanaman sela atau sebagai tanaman rotassi
untuk memanfaatkan waktu sehingga tanah tidak diberakan. Tanaman pupuk hijau
harus memenuhi syarat-syarat sbb:
1. Cepat tumbuh dan banyak menghasilkan bahan hijauan
2. Sukulen, tidak banyak mengandung kayu
3. Banyak mengandung N
4. Tahan kekeringan
5. Bila sebagai tanaman sela maka dipilih jenis yang tidak merambat
Kompos
Selain pukan dan pupuk hijau, dalam penyedian pupuk organik dapat digunakan
kompos. Kompos adalah bahan organik yang dibusukkan pada suatu tempat yang
terlindung dari matahari dan hujan, diatur kelembabannya dengan menyiram air
bila terlalu kering.
Pupuk organik buatan
Pupuk organik buatan adalah pupuk organik yang dibuat dengan teknologi tinggi
sehingga dihasilkan pupuk yang bersifat organik tetapi dengan bentuk fisik dan
cara kerja seperti pupuk kimia (anorganik). Pupuk ini dapat memperbaiki sifat
fisik tanah dan biologi tanah dan dapat menyediakan unsur hara lebih cepat dan
lebih efektif seperti pupuk kimia.

Pupuk daun
Pupuk daun adalah pupuk anorganik yang cara pemberiannya dilakukan dengan
penyemprotan ke daun. Kelebihan pupuk daun dibandingkan dengan pupuk akar

adalah penyerapan hara melalui mulut daun (stomata) berjalan cepat, sehingga
perbaikan tanaman cepat terlihat. Unsur hara itu, unsur hara yang diberikan lewat
daun hampir seluruhnya dapat diambil tanaman dan tidak menyebabkan kelelahan
atau kerusakan tanah. Kekurangan pupuk yang diberikan lewat daun adalah bila
dosis yang diberikan terlalu besar, maka daun akan rusak. Kecuali itu, pupuk daun
tidak dapat diberikan pada tanaman yang dikonsumsi daunnya (misalnya sayuran)
atau buah yang berkulit tipis (tomat). Harga pupuk daun lebih mahal daripada
pupuk akar dan pemeberiannya memerlukan alat khusus.

DAFTAR PUSTAKA
Mustafa, M., Asmita A., Ansar, M., Syafiuddin, M., 2012. Buku Ajar Dasar-Dasar
Ilmu Tanah. Universitas Hassanudin, Makassar.
Syarif, Effendi., 1995. Ilmu Tanah. Edisi ketiga. PT. Mediyatama Sarana Perkasa,
Jakarta.