Anda di halaman 1dari 11

Laporan Genetika Oleh : Risma Natalia NIM 412010002 Nani Ervatiwi NIM 412010010 Setyo Budi Prakoso NIM

412010013

Fakultas Biologi Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga 2012

I.

Pendahuluan

A.

Latar Belakang

Dihasilkannya individu yang bervariasi dipengaruhi karena adanya peristiwa persilangan dua DNA melalui persilangan dua organisme. Ciri-ciri yang dihasilkan kadang hilang dan muncul pada generasi berikutnya. Mendel memiliki gagasan yang sedang berlaku pada saat itu adalah sperma dan sel telur mengandung sebuah sampling/cuplikan intisari dari berbagai bagian pada tubuh induk; sehingga pada proses pembuahan, intisari ini bercampur entah bagaimana untuk membentuk sifat individu baru yang dihasilkan. Ide ini yang disebut blending inheritance (keturunan campuran) disusun untuk menjelaskan fakta bahwa hasil keturunan biasanya menunjukkan beberapa sifat yang sama dengan kedua induknya. Namun, ada beberapa masalah yang dihasilkan dari ide ini, satu diantaranya adalah hasil keturunan tidak selalu merupakan campuran antara sifat kedua induknya. Usaha baik tentang hereditas (Suryo 2008). Kebenaran tentang Hukum Mendel ke II yang mengatakan bahwa gen-gen yang terletak pada kromosom yang berlainan akan terjadi segregasi secara bebas dan akan dihasilkan empat macam fenotipe dengan perbandingan 9:3:3:1 yang dapat dibuktikan melalui persilangan dihibrid. Selain itu, untuk mengetahui bahwa suatu gen bersifat dominant maka harus dilakukan monohibridisaasi yaitu persilangan dengan dua sifat beda, antara 2 individu bergalur murni yang memiliki sifat kontras. Untuk persilangan dihibrid, digunakan lalat Drosophila melanogaster sebagai sampelnya. Banyak hal yang dapat dijadikan alasan kenapa dipilih lalat Drosophila melanogaster sebagai sampel (Suryo 2008). Penggunaan lalat buah sebagai alat percobaan genetika sudah berlangsung sejak sekitar tahun 1903. Penggunaan lalat buah ini juga disebabkan karena faktor lalat buah memiliki suatu mekanisme penentuan kelamin yang seimbang. Suatu keseimbangan antara jumlah autosom dengan jumlah kromosom X. Keuntungan digunakannya lalat buah disebabkan karena mudah didapat, pemeliharaan yang mudah dan murah, siklus hidup yang pendek, mudah dibedakan antara jantan dan betina, jumlah keturunan yang dihasilkan sangat banyak, memiliki banyak mutan, jumlah kromosom sedikit, memiliki kromosom raksasa, dan lalat buah jantan tidak mengalami pindah silang (Anonim 2012). untuk mengembangkan dan meningkatkan teori ini tidak mengarahkan pada pengertian yang lebih

B. Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui hasil persilangan yang muncul antara persilangan mutan lalat buah.

C. Waktu dan Tempat Praktikum


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 31 Januari Selasa, 14 Januari 2012 pukul 10.00-12.00 WIB. Bertempat di laboratorium Biologi Dasar, Fakultas Biologi Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.

II.

Bahan dan Metode


A. Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah botol selai, kertas buram, plastik, karet, cawan petri, kapas, mortar, dan pestle. Bahan-bahan yang digunakan adalah lalat buah, kloroform, tape, dan pisang.

C. Metode
Pisang dan tape singkong yang merupakan bahan medium dihaluskan dengan menggunakan mortar. Pisang dan tape singkong yang telah halus tersebut dimasukkan ke dalam botol selai dengan perbandingan 3 (pisang) : 1 (selai). Kertas buram yang telah dipotong persegi panjang dengan ukuran 5 cm x 3 cm dilipat dengan bentuk seperti kipas dan diletakan dalam botol diatas medium. Lalat diambil dan dimasukkan ke dalam botol, setelah itu dibius dengan digunakannya kapas yang dibasahi kloroform. Lalat yang pingsan tersebut diletakkan pada cawan petri. Lalat diambil dengan pinset sesuai dengan persilangan, dan lalat tersebut tidak dibunuh. Lalat tersebut dimasukkan ke dalam botol selai dan diletakkan pada kertas buram yang berbentuk kipas untuk dikawinkan. Botol ditutup dengan kain kasa. Perkembangan hari ke hari diamati dan dicatat dari telur sampai dewasa 10 sampai 14 hari dan dilakukan perhitungan F1.

III. Hasil dan Pembahasan

A. Hasil
Berdasarkan hsil yang didapatkan pada pengamatan F1 persilangan Drosophila melanogaster terhadap mutan eboni dan curled didapatkan data berupa tabel seperti berikut:
Tabel 1. Hasil persilangan F1 pada lalat Drosophila melanogaster dengan mutan eboni dan curled

Persilangan 1 ulangan I 1 ulangan II 2 ulangan I 2 ulangan II

Hasil Persilangan (F1) Coklat hitam sayap terangkat : coklat hitam sayap lurus 38 : Curled : Eboni 4

18 : 30 Hitam sayap terangkat : Coklat sayap terangkat 20 : Curled : Eboni 14 : 21 20

Berdasarkan hasil tersebut antara persilangan mutan lalat eboni dan curled dihasilkan data berupa anakan lalat dengan tipe curled, eboni dan terjadi mutasi anakan berupa lalat dengan tubuh coklat hitam sayap terangkat, coklat hitam sayap lurus, hitam sayap terangkat dan coklat sayap terangkat.

B.Pembahasan
Persilangan antara lalat Drosophila melanogaster dengan mutan curled dan eboni. Penggunaan Drosophila melanogaster dikarenakan perkembangan siklus hidup pendek 12 hari, pada suhu kamar sehingga mudah diamati; perkembangan mulai telur, larva, pupa dan imago berada di luar tubuh; mudah dipelihara dalam laboratorium, karena makanan yang sederhana,tempat hidup kecil dan tubuh kuat untuk bertahan hidup; keturunan yang dihasilkan berjumlah banyak; dan lalat jantan dan betina mudah dibedakan (Anonim 2012). Medium yang digunakan pada lalat ini adalah pisang : tape singkong dengan perbandingan 3 : 1. Pisang digunakan sudah matang karena memicu lalat untuk hinggap, pisang dan tape merupakan buah yang disukai oleh lalat. Kandungan yeast pada singkong bertujuan agar medium mengembang dan tahan lama. Perbandingan 3 : 1 merupakan perbandingan yang paling cocok untuk medium (Anonim 2011) Persilangan pada lalat saat praktikum digunakan Drosophila melanogaster dengan mutan curled dan eboni. Persilangan dilakukan 4 kali pada lalat eboni dan curled baik jantan maupun betina. Persilangan pertama yaitu pada lalat 4 eboni jantan dengan 2 curled betina. Persilangan kedua adalah 2 curled jantan dengan 4 eboni betina. Persilangan ketiga adalah 2 eboni jantan dan 4 curled betina. Pada persilangan keempat yaitu persilangan 4 curled jantan dan 2 eboni betina. Jumlah induk yang hidup pada persilangan eboni jantan 4 dengan curled betina 2 adalah eboni jantan 2 dan curled betina 2. Persilangan curled jantan 2 dengan eboni betina 4 adalah 1 curled jantan dan 1 eboni betina. Persilangan pada 2 eboni jantan dan 4 curled betina adalah 2 eboni jantan dan 1 eboni betina. Persilangan 4 curled jantan dan 2 eboni betina adalah 1 crled jantan dan 1 curled betina. Factor yang menyebabkan kematian jumlah induk adalah suhu lingkungan, ketersediaan makanan, tingkat kepadatan botol pemeliharaan, dan cahaya. Pada suhu lingkungan suhu idealnya adalah 25-280C, kemungkinan suhu dalam botol lebih ataupun kurang dengan suhu tersebut sehingga terjadi kematian induk dalam botol. Tingkat kepadatan botol pemeliharaan sebaiknya diisi oleh beberapa pasang saja, apabila terlalu banyak pasang maka akan terjadi kondisi yang tidak ideal, misalnya saja perebutan betina sehingga terjadi perkelahian dan meyebabkan kematian lalat. Pada intensitas cahaya, lalat akan senang

hidup pada cahaya yang remang-remang, kemungkinan lalat tersebut diletakkan pada cahaya yang terang sehingga terjadi kematian pada beberapa lalat (Anonim 2011). Pengeluaran induk lalat, sehingga jumlah induk lalat yaitu satu betina curled/eboni dan satu jantan curled/eboni menghasilkan telur. Hari pertama telur menetas adalah pada hari ke 3 sampai hari keempat, hal ini sesuai dengan pustaka yang didapatkan. Pustaka yang didapatkan Drosophila sp betina yang dewasa akan bertelur pada hari kedua setelah menjadi lalat dewasa, hingga seminggu dan meletakkan 50-75 telur/hari dan dalam 10 hari maksimum 400-500 buah. Telur tersebut dilapisi dua lapisan, yaitu selaput vitellin tipis yang mengelilingi sitoplasma sedangkan bagian luar khorion (selaput tipis kuat) dan anterior terdapat 2 tangkai tipis (Anonim 2011). Pada hari ke 7 setelah telur bertelur, telur berubah menjadi larva instar satu, yaitu berbentuk seperti ulat dengan ukuran yang masih relatif kecil, motil. Umur larva instar satu adalah kurang lebih biasanya selama satu hari, kemudian berubah menjadi larva instar dua dengan ukuran yang membesar dan memanjang, terlihat adanya warna kehitaman pada bagian anterior larva, bagian kehitaman itu adalah mulut larva. Drosophila berada dalam bentuk larva instar dua selama satu hari, kemudian larva Drosophila mengalami pembesaran menjadi lebih besar dari sebelumnya, dimana bagian tubuhnya menjadi terlihat lebih jelas karena lebih besar, warna kehitaman pada bagian anterior larva menjadi lebih terlihat jelas berbentuk sungut (Ghostrecon 2008). Drosophila berada dalam bentuk larva instar tiga selama dua hari. Setelah melalui fase larva, Drosophila terlihat beberapa pada dinding botol, mulai bergerak pelan dan akhirnya berdiam di satu tempat dikarenakan pada saat dilakukan saat perhitungan jumlah induk yang hidup setelah persilangan hanya didapatkan beberapa pasang yang hidup pada setiap botolnya. Terlihat adanya selaput yang mengelilingi larva, inilah saatnya Drosophila dalam siklus hidupnya mengalami fase prepupa. Prepupa merupakan tahapan sebelum menjadi pupa seutuhnya, warna prepupa masih krem agak transparant. Masa prepupa hanya terjadi selama kurang lebih satu hari, kemudian prepupa mengalami perubahan warna menjadi lebih coklat, inilah yang dinamakan fase pupa (Ghostrecon 2008). Pada fase prepupa dan masa pupa Drosophila terlihat tidak aktif , namun sesungguhnya di dalamnya sedang terjadi proses pembentukan organ-organ tubuh yang nantinya akan membentuk imago, sebuah insecta Drosophila melanogaster yang sempurna, dengan sayap, kepala, thorax, abdoment, kaki, mata majemuk dan mata oceli yang sempurna. Pada literature, saat masa pupa juga terjadi peristiwa fagositosis, yaitu peristiwa pemakanan sel-sel tubuh larva tertentu sebagai sumber makanan dalam fase pupa. Di mana pada saat larva Drosophila membentuk cangkang pupa, tubuhnya memendek, kutikula menjadi keras dan berpigmen, tanpa

kepala dan sayap disebut larva instar 4. Formasi pupa ini ditandai dengan pembentukan kepala, bantalan sayap, dan kaki. Puparium (bentuk luar pupa), menggunakan kutikula pada instar ketiga, pada stadium pupa ini, larva dalam keadaan tidak aktif, dan dalam keadaan ini, larva berganti menjadi lalat dewasa, struktur dewasa tampak jelas selama periode pupa pada bagian kecil jaringan dorman yang sama seperti pada tahap embrio. Pembatasan jaringan preadult (sebelum dewasa) disebut anlagen. Fungsi utama dari pupa adalah untuk perkembangan luar dari anlagen ke bentuk dewasa. Dewasa pada Drosophila melanogaster dalam satu siklus hidupnya berusia sekitar 9 hari. Setelah keluar dari pupa, lalat buah warnanya masih pucat dan sayapnya belum terbentang. Pada fase akhir pupa, yaitu hari ke tiga fase pupa, terlihat bahwa Drosophila sudah membentuk bagian tubuh yang sempurna dan siap untuk menjadi imago, dan setelah fase pupa berakhir Drosophila menjadi imago yang sempurna. Sementara itu, lalat betina akan kawin setelah berumur 8 jam dan akan menyimpan sperma dalam jumlah yang sangat banyak dari lalat buah jantan (Ghostrecon 2008). Dalam persilangan antara lalat buah mutan curled dengan ebony. Persilangan tersebut dilakukan 4 kali yaitu dengan parental 4 eboni (jantan) + 2 curled (betina), 2 curled (jantan) + 4 eboni (betina), 4 curled (jantan) + 2 ebony (betina), dan 2 ebony (jantan) + 4 curled (betina). Dari masing-masing persilangan ini didapatkan F1 sebagai berikut : 2 curled (jantan) + 4 eboni (betina) = F1 nya adalah 10 curlet (jantan), 8 curlet (betina), 5 eboni (jantan), 25 eboni (betina). Pada persilangan antara 4 curled (jantan) + 2 ebony (betina) dan persilangan antara 4 eboni (jantan) + 2 curled (betina) dihasilkan keturunan yang jauh dari dugaan karena dihasilkan mutan. Pada persilangan 4 curled (jantan) + 2 ebony (betina) dihasilkan mutan yaitu 30 coklat hitam sayap ke atas (jantan), 8 coklat hitam sayap ke atas (betina), 2 coklat hitam sayap lurus (jantan), 2 coklat hitam sayap lurus (betina). Dari hasil tersebut bahwa selamanya persilangan antara curled dengan ebony tidak akan menghasilkan F1 yang terdapat ebony dengan curled. Hal ini berarti hasil yang didapat pada dua persilangan tersebut menyimpang dari normal. Munculnya warna coklat hitam dari hasil persilangan teresebut kemungkinan hasil mutasi dari gen hitam yang dibawa oleh ebony atau mutasi pada gen coklat pada curled atau juga terjadinya mutasi spontan. Lalat buah curled merupakan mutan dari lalat buah yang memiliki ciri sayap yang keriting. Hal ini menyebabkan tidak bisa terbang seperti lalat buah tipe liar. Mutasi ini disebabkan karena adanya kecacatan pada kromosom nomer 3 lokus 50,0. Gen curled pada lalat ini merupakan gen dominan yang membuat sayap melengkung ke atas. Lalat buah ebony memiliki tubuh hitam mengkilat. Hal ini disebabkan karena adanya kelainan pada gen eboni, yang berfungsi memberi pigmen warna cokla pada lalat tipe liar sehingga memunculkan warna tubuh yang hitam dan mengkilat (Ashburner 2007).

Dari hasil anakan yang telah didapat, dapat diperkirakan pekiraan genotipe dari parentalnya. Perkiraan dari genotipe dari parentalnya adalah kkTt (eboni, sayap turun) x Kktt (curled, sayap terangkat). Perkiraan hasil dari persilangan dugaan genotip parental adalah curled sayap turun, curled sayap terangkat, ebony sayap turun, dan ebony sayap terangkat. Namun pada kenyataannya, pada persilangan yang telah dilakukan tidak hanya menghasilkan anakan seperti pada persilangan dugaan parental. Hal ini disebabkan karena pada persilangan antara 4 curled (jantan) + 2 ebony (betina) dan persilangan antara 4 eboni (jantan) + 2 curled (betina) dihasilkan keturunan yang jauh dari dugaan karena dihasilkan mutan. mutan-mutan ini diperkirakan disebabkan karena adanya faktor yang mempengaruhi pada saat persilangan atau bisa disebabkan juga kesalahan pada waktu pengamatan. Hal ini bisa dilihat dari jumlah mutan yang cukup banyak. Perbandingan rasio fenotipe yang didapat adalah coklat hitam sayap ke atas (jantan) : coklat hitam sayap keatas (betina) : coklat hitam sayap lurus (jantan) : coklat hitam sayap lurus (betina) : curled (jantan) : curlet (betina) : eboni (jantan) : eboni (betina) = 30 : 8 : 2 : 2 : 10 : 8 : 5 : 25.

Kesimpulan
Induk yang telah disilangkan dalam botol selai beberapa lalat akan mengalami kematian. Hal ini disebabkan oleh factor cahaya, banyaknya pasangan yang dikawinkan dan suhu lingkungan. Hasil dari persilangan lalat tersebut menghasilkan telur pada hari ke 3 sampai hari 4. Siklus Droshophila yang didapatkan disini yaitu mulai bertelur pada hari ke 3 4. Kemudian mulai menjadi larva pada hari ke 7 dan berkembang menjadi pupa pada hari ke 9 dan mulai berkembang menjadi imago yang sempurna pada hari ke 14. Persilangan dari lalat buah antara eboni dan curlet menghasilkan keturunan dengan rasio fenotipe coklat hitam sayap ke atas (jantan) : coklat hitam sayap keatas (betina) : coklat hitam sayap lurus (jantan) : coklat hitam sayap lurus (betina) : curled (jantan) : curlet (betina) : eboni (jantan) : eboni (betina) = 30 : 8 : 2 : 2 : 10 : 8 : 5 : 25. Dari persilangan tersebut juga muncul mutan berupa coklat hitam sayap ke atas (jantan) , coklat hitam sayap keatas (betina), coklat hitam sayap lurus (jantan) , coklat hitam sayap lurus (betina). Hal ini kemungkinan disebabkan karena adanya mutasi antara gen eboni dengan gen curlet.

Daftar Pustaka
Anonim. 2012. Siklus Hidup Lalat (www.iptek.net.id/ind/_Siklus_Hidup_Lalat/index.php? id=80&ch=pd_ind). Diakses pada tanggal 21 Januari 2012. Ashburner,Michael. 2007. Drosophila Genomics. (http:// www. gen. cam. ac. uk/Research/ashburner). Diakses pada tanggal 26 Februari 2012. Filter, W. G. 1989. Fisiologi Lingkungan Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Ghostrecon. 2008. Dhrosophila melanogaster. (http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugasmakalah/biologi-umum/drosophila-melanogaster/). Diakses pada tanggal 25 Februari 2012. Suryo. 2008. Genetika Strata 1. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Lampiran
Lampiran Jumlah Induk Awal

Ulangan 1 : Eboni 4 ( Jantan) + Curlet 2 ( Betina) Ulangan 1 : Curlet 2 ( Jantan) + Eboni 4 ( Betina) Ulangan 2 : Eboni 2 ( Jantan) + Curlet 4 ( Betina) Ulangan 2 : Curlet 4 ( Jantan) + Eboni 2 ( Betina) Jumlah Induk yang Hidup Setelah Persilangan

Ulangan 1 = Eboni 4 (Jantan) + Curlet 2 (Betina) Eboni 2 ( Jantan) + Curlet 2 (Betina) Ulangan 1 = Curlet 2 ( Jantan) + Eboni 4 (Betina) Curlet 1 ( Jantan) + Eboni 1 ( Betina) Ulangan 2 = Eboni 2 ( Jantan) + Curlet 4 (Betina) Eboni 2 ( Jantan) + Curlet 1 (Jantan) Ulangan 2 = Curlet 4 ( Jantan) + Eboni 2 (Betina) Curlet 1 ( Jantan) + Eboni 1 (Betina)

Hari Pertama Bertelur

( Hari ke 3 4)

Hari menjadi larva

Hari ke 7

Hari menjadi pupa

Hari ke 9

Jumlah anakan F1

Ulangan 1 = Eboni 4 ( Jantan) + Curlet 2 ( Betina) = Eboni 2 ( Jantan) + Curlet 2 ( Betina) Hasil F1 = Coklat Hitam Sayap Terangkat Jantan = 30 Betina = 8 Coklat Hitam Sayap Lurus Jantan = 2 Betina = 2 Coklat Jantan = 0 Betina = 1

Ulangan 1 = Curlet 2 ( Jantan) + Eboni 4 ( Betina) = Eboni 1 ( Jantan) + Eboni 1 ( Betina) Hasil F1 = Curlet Jantan = 10 Eboni Jantan = 5

Betina = 8

Betina = 25

Ulangan 2 = Eboni 2 ( Betina ) + Curlet 4 ( Jantan) = Eboni 1 ( Jantan) + Curlet 1 ( Betina) Hasil F1 Hitam Sayap terangkat = 20 Coklat Sayap terangkat = 20 Ulangan 2 = Eboni 2 ( Jantan) + Curled 4 ( Betina) = Eboni 2 ( Jantan) + Curlet 1 ( Betina) Hasil F1 = Curlet Jantan = 8 Betina = 6 Rasio Fenotipe Eboni Jantan = 11 Betina = 21

Coklat hitam sayap ke atas (jantan) : coklat hitam sayap keatas (betina) : coklat hitam sayap lurus (jantan) : coklat hitam sayap lurus (betina) : curled (jantan) : curlet (betina) : eboni (jantan) : eboni (betina) = 30 : 8 : 2 : 2 : 10 : 8 : 5 : 25. Dugaan Genotipe

Eboni kkTt (hitam, sayap turun) Kt KkTt kT

>< ><

Curled Kktt (kuning, sayap terangkat) Kt

Kktt (curled) Kktt (hitam, terangkat)

(kuning, sayap turun) kt kkTt (hitam, ebony)