Anda di halaman 1dari 12

MODUL FISIKA BUMI

METODE GEOLISTRIK (TAHANAN JENIS)


1. TUJUAN
a. Memahami prinsip fisika serta konsep yang digunakan dalam metode tahanan jenis
b. Memahami teknik akuisisi metode tahanan jenis
c. Memahami teknik pengolahan data serta interpretasi metode tahanan jenis.

2. ALAT-ALAT
Peralatan lapangan yang digunakan dalam eksperimen fisika ini terdiri atas :
a. 1 set resistivitimeter single-channel Naniura (gambar 1), yang terdiri dari :
1 main unit
2 elektroda arus
2 elektroda potensial
2 gulung kabel arus
2 gulung kabel potensial
1 buah accu, digunakan untuk sumber arus pada pengukuran geolistrik.

Gambar 1. Satu set resistivitimeter single channel Naniura.
b. Palu, digunakan menancapkan elektroda.
c. Dua buah meteran tali, digunakan untuk mengukur interval elektroda.
d. Empat buah HT, digunakan untuk berkomunikasi di lapangan (bila diperlukan).
e. Satu buah laptop, digunakan untuk menyimpan data penyelidikan, sekaligus untuk pengolahan
data dan penyusunan laporan (bila diperlukan).

3. TEORI DASAR
Metode geolistrik merupakan metode geofisika yang digunakan untuk menyelidiki keadaan
bawah permukaan bumi dengan cara mempelajari sifat aliran listrik pada lapisan batuan.
Berdasarkan jenis sifat aliran listrik, metode geolistrik dapat diklasifikasikan menjadi metode
potensial diri atau SP (self-potential), polarisasi terimbas atau IP (induced polarization), dan
resistivitas atau tahanan jenis.
Pada metode tahanan jenis, sifat aliran listrik yang dipelajari adalah resistivitas batuan.
Resistivitas batuan merupakan besaran fisis yang berhubungan dengan kemampuan suatu lapisan
batuan dalam menghantarkan arus listrik. Lapisan batuan yang mempunyai nilai resistivitas rendah,
berarti mudah menghantarkan arus listrik. Sebaliknya lapisan batuan yang nilai resistivitasnya
tinggi, berarti sulit menghantarkan arus listrik.
Dalam pengukuran tahanan jenis digunakan 4 elektroda, masing-masing 2 elektroda arus (C
1
dan
C
2
) dan 2 elektroda potensial (P
1
dan P
2
) (Gambar 2.3). Arus listrik berfrekuensi rendah diinjeksikan
ke dalam bumi dengan menggunakan elektroda arus (C
1
dan C
2
). Respon beda potensial antara dua
titik di permukaan yang diakibatkan oleh aliran arus tersebut, diukur melalui dua elektroda
potensial (P
1
dan P
2
). Variasi nilai resistivitas diperoleh dari hasil pengukuran beda potensial
tersebut.
V
I
C1 C2 P2 P1
r4 r3
r2 r1

Gambar 2. Konfigurasi elektroda arus dan potensial

|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
|
= A
4 3 2 1
1 1 1 1
2 r r r r
I
V
t

(1)
dimana:
V A = beda potensial; P
1
dan P
2

I = kuat arus
= resistivitas
r
1
, r
2
, r
3
, r
4
= parameter konfigurasi
Dikarenakan elektroda pada saat melakukan pengukuran disusun sedemikian rupa, maka harus
dilakukan perhitungan terhadap konfigurasi susunan elektroda. Suatu besaran yang berfungsi
sebagai faktor untuk mengkoreksi berbagai konfigurasi elektroda disebut sebagai faktor geometri.
Faktor geometri yang diturunkan untuk konfigurasi elektroda ditunjukkan seperti gambar 2.4 di
bawah ini
A B N M

Gambar 3. Konfigurasi elektroda untuk faktor geometri [Reynolds, 1997]
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|

|
.
|

\
|
= = A
BN AN BM AM
I
V V V
N M
1 1 1 1
2t

(2)
|
|
.
|

\
|
A
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|

|
.
|

\
|
=

I
V
BN AN BM AM
1
1 1 1 1
2t
Sehingga resistivitas semu medium yang terukur dihitung berdasarkan persamaan [van Norstand
et al, 1966; Reynolds 1997; Telford et al, 1990]:
I
V
K
a
A
= (3)
dimana
1
1 1 1 1
2

|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
BN AN BM AM
K t (4)
Nilai resistivitas yang dihitung bukanlah nilai resistivitas bawah permukaan yang sebenarnya,
namun merupakan nilai resistivitas semu (apparent resistivity) yang merupakan resistivitas dari
bumi yang dianggap homogen yang memberikan nilai resistansi yang sama untuk susunan elektroda
yang sama.
Faktor geometri (K) merupakan besaran penting dalam pendugaan resistivitas vertikal maupun
horizontal. Besaran ini tetap untuk konfigurasi elektroda yang tetap. Berikut ini beberapa faktor
geometri yang sering digunakan dalam pengukuran metode tahanan jenis:
a. Konfigurasi Sclumberger
Konfigurasi Schlumberger biasa digunakan untuk memperoleh struktur kedalaman pada suatu titik
(sounding).

Gambar 4. Konfigurasi elektroda Schlumberger

Untuk konfigurasi Shlumberger, nilai faktor geometri dapat dihitung menggunakan persamaan (4),
dimana:
K
( )
b
b a
2
2 2

=
t

(5)
b. Konfigurasi Wenner
Konfigurasi Wenner baik digunakan untuk pendugaan struktur resistivitas bawah permukaan secara
lateral.

Gambar 5. Konfigurasi elektroda Wenner

Dengan memperhitungkan susunan elektroda maka diperoleh nilai faktor geometri untuk
konfigurasi Wenner, dimana:

K a t 2 = (6)
c. Konfigurasi dipole-dipole
Konfigurasi dipole-dipole baik digunakan apabila kondisi topografi di daerah penyelidikan cukup
bervariasi.
na a a
I
B A
V
N M

Gambar 6. Konfigurasi elektroda dipole-dipole
Nilai faktor geometri untuk konfigurasi dipole-dipole dapat diperoleh dengan menggunakan
rumus sebagai berikut:
K ) 2 )( 1 ( n n n a + + = t (7)
4. TUGAS PENDAHULUAN
a. Jelaskan hukum fisika yang mendasari metode geolistrik tahanan jenis?!
b. Hasil pengukuran metode tahanan jenis berupa resistivitas semu (apparent resistivity). Apa itu
resistivitas semu? Jelaskan konsep serta perbedaannya dengan resistivitas sebenarnya.
c. Dalam metode tahanan jenis, terdapat beberapa konfigurasi elektroda yang sering digunakan.
Sebutkan beberapa konfigurasi tersebut serta gambarkan perbedaaan konfigurasi
elektrodanya.
d. Turunkan pula faktor geometri untuk masing-masing elektroda tersebut.
e. Jika dibandingkan, jelaskan kelebihan serta kekurangan masing-masing konfigurasi.
f. Menurut anda, metode tahanan jenis cocok digunakan untuk mencari apa? Jika dihubungkan
dengan parameter fisis, jelaskan berdasarkan pemahaman fisika anda.
g. Sebutkan pula kelebihan serta kekurangan metode tahanan jenis jika dibandingkan dengan
metode geolistrik lainnya.

5. LANGKAH EKSPERIMEN
A. Pengukuran 1D (Sounding)
Pengukuran sounding menggunakan konfigurasi Schlumberger, dengan nilai
( )
2 2
2
a b
K
b
t
=
.
Langkah-langkah pengukuran sounding adalah sebagai berikut:
1. Buatlah rangkaian alat seperti gambar 4. A dan B adalah elektroda arus sedangkan M dan
N adalah elektroda potensial.
2. Gunakan meteran untuk mengetahui jarak a (AB/2) dan b (MN/2) di lapangan. Perhatikan
jarak a dan b, sesuaikan dengan tabel pengukuran (tabel 1)
3. Hubungkan masing-masing elektroda ke alat menggunakan kabel
4. Hubungkan multimeter ke alat
5. Hubungkan alat dengan sumber arus (accu)
6. Nyalakan alat, perhatikan setiap indikator telah berfungsi dengan baik
7. Injeksikan arus, kemudian catat nilai pembacaan potensial dan arus pada tabel
8. Hitung
a
untuk setiap pengukuran
9. Plot hasil perhitungan
a
pada kurva semi log (gambar 8)
10. Ulangi tahapan pengukuran sounding di atas untuk setiap jarak a dan b yang berbeda.
B. Pengukuran 2D (Mapping)
Pengukuran mapping menggunakan konfigurasi Wenner, dengan nilai 2 K a t = . Langkah-
langkah pengukuran mapping adalah sebagai berikut:
1. Buatlah rangkaian alat seperti gambar 5. A dan B adalah elektroda arus sedangkan M dan
N adalah elektroda potensial.
2. Gunakan meteran untuk mengetahui jarak a antar elektroda. Posisi masing-masing
elektroda disesuaikan dengan tabel pengukuran (tabel 2)
3. Hubungkan masing-masing elektroda ke alat menggunakan kabel
4. Hubungkan multimeter ke alat
5. Hubungkan alat dengan sumber arus (accu)
6. Nyalakan alat, perhatikan setiap indikator telah berfungsi dengan baik
7. Injeksikan arus, kemudian catat nilai pembacaan potensial dan arus pada tabel
8. Hitung
a
untuk setiap pengukuran
9. Ulangi tahapan pengukuran sehingga hasil pengukuran membentuk pseudosection
(stacking chart) seperti pada gambar 7.


Gambar 7. Contoh stacking chart.

6. TUGAS LAPORAN
a. Jelaskan hubungan antara resistivitas semu, resistivitas sebenarnya, dan kedalaman?!
b. Jelaskan juga hubungan antara jarak antara elektroda dengan kedalaman?!
c. Lakukan inversi terhadap data hasil akuisisi 1D dengan menggunakan software IP2WIN sehingga
diperoleh nilai resistivitas terhadap kedalaman!
d. Lakukan interpretasi berdasarkan hasil inversi 1D tersebut!
e. Lakukan inversi terhadap data hasil akuisisi 2D dengan menggunakan software Res2Dinv!
f. Kemudian lakukan interpretasi terhadap hasil inversi 2D tersebut!
g. Carilah beberapa aplikasi metode tahanan jenis dengan menggunakan konfigurasi Schlumberger
maupun dengan menggunakan konfigurasi Wenner! Tuliskan dan jelaskan!

V
I
7. MATA KULIAH TERKAIT
- Fisika Dasar II
- Fisika Matematika I dan Fisika Matematika II
- Listrik Magnet
- Metode Fisika Bumi
- Pemodelan dan Inversi

8. REFERENSI
[1]
Telford, W. M., et al. 1996. Applied Geophysics 2
nd
Edition, Cambridge University Press.
[2]
Reynold, J. M. 1997. An Introduction to Applied and Environmental Geophysics, John Wiley &
Sons Ltd.



Gambar 8. Kurva Semi Log


Tabel 1. Tabel Akuisisi Pengukuran Geolistrik Tahanan Jenis 1D Konfigurasi Schlumberger



No.Titik : Posisi :
Lokasi : Pengamat :
1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2
1.5 6.28
2.5 18.85
4 49.48
6 112.31 3.46
8 200.28 12.25
10 313.37 23.56
12 451.60 37.38 6.91
15 706.07 62.83 19.63
20 1255.85 117.81 47.12
25 1962.71 188.50 82.47
30 2826.65 274.89 125.66 17.28
40 5025.76 494.80 235.62 61.26
50 7853.20 777.54 376.99 117.81
60 11308.95 1123.12 549.78 186.92
75 17670.67 1759.29 867.86 314.16
100 31415.14 3133.74 1555.09 589.05
rho rho (overlap)
TABEL AKUISISI DATA
GEOLISTRIK TAHANAN JENIS 1D
SOUNDING SCHLUMBERGER
0.5 5 10 25
I I (overlap) V V (overlap)


No.Lintasan : Posisi :
Lokasi : Pengamat :
A M N B I
1
I
2
V
1
V
2

1

2
1 1 0 1 2 3 6.28
2 1 1 2 3 4 6.28
3 1 2 3 4 5 6.28
4 1 3 4 5 6 6.28
5 1 4 5 6 7 6.28
6 1 5 6 7 8 6.28
7 1 6 7 8 9 6.28
8 1 7 8 9 10 6.28
9 1 8 9 10 11 6.28
10 1 9 10 11 12 6.28
11 1 10 11 12 13 6.28
12 1 11 12 13 14 6.28
13 1 12 13 14 15 6.28
14 1 13 14 15 16 6.28
15 1 14 15 16 17 6.28
16 1 15 16 17 18 6.28
17 1 16 17 18 19 6.28
18 1 17 18 19 20 6.28
19 1 18 19 20 21 6.28
20 1 19 20 21 22 6.28
21 1 20 21 22 23 6.28
22 1 21 22 23 24 6.28
23 1 22 23 24 25 6.28
24 1 23 24 25 26 6.28
25 1 24 25 26 27 6.28
26 1 25 26 27 28 6.28
27 1 26 27 28 29 6.28
28 1 27 28 29 30 6.28
29 2 24 26 28 30 12.57
30 2 23 25 27 29 12.57
31 2 22 24 26 28 12.57
32 2 21 23 25 27 12.57
33 2 20 22 24 26 12.57
34 2 19 21 23 25 12.57
35 2 18 20 22 24 12.57
36 2 17 19 21 23 12.57
37 2 16 18 20 22 12.57
38 2 15 17 19 21 12.57
39 2 14 16 18 20 12.57
40 2 13 15 17 19 12.57
41 2 12 14 16 18 12.57
42 2 11 13 15 17 12.57
43 2 10 12 14 16 12.57
44 2 9 11 13 15 12.57
45 2 8 10 12 14 12.57
46 2 7 9 11 13 12.57
47 2 6 8 10 12 12.57
48 2 5 7 9 11 12.57
49 2 4 6 8 10 12.57
50 2 3 5 7 9 12.57
K
I (mA) V (mV)
a
(Ohm meter)
TABEL AKUISISI DATA
GEOLISTRIK TAHANAN JENIS 2D
MAPPING WENNER
No. a (m)
Arus Potensial Arus

No.Lintasan : Posisi :
Lokasi : Pengamat :
A M N B I
1
I
2
V
1
V
2

1

2
51 2 2 4 6 8 12.57
52 2 1 3 5 7 12.57
53 2 0 2 4 6 12.57
54 3 0 3 6 9 18.85
55 3 1 4 7 10 18.85
56 3 2 5 8 11 18.85
57 3 3 6 9 12 18.85
58 3 4 7 10 13 18.85
59 3 5 8 11 14 18.85
60 3 6 9 12 15 18.85
61 3 7 10 13 16 18.85
62 3 8 11 14 17 18.85
63 3 9 12 15 18 18.85
64 3 10 13 16 19 18.85
65 3 11 14 17 20 18.85
66 3 12 15 18 21 18.85
67 3 13 16 19 22 18.85
68 3 14 17 20 23 18.85
69 3 15 18 21 24 18.85
70 3 16 19 22 25 18.85
71 3 17 20 23 26 18.85
72 3 18 21 24 27 18.85
73 3 19 22 25 28 18.85
74 3 20 23 26 29 18.85
75 3 21 24 27 30 18.85
76 4 18 22 26 30 25.13
77 4 17 21 25 29 25.13
78 4 16 20 24 28 25.13
79 4 15 19 23 27 25.13
80 4 14 18 22 26 25.13
81 4 13 17 21 25 25.13
82 4 12 16 20 24 25.13
83 4 11 15 19 23 25.13
84 4 10 14 18 22 25.13
85 4 9 13 17 21 25.13
86 4 8 12 16 20 25.13
87 4 7 11 15 19 25.13
88 4 6 10 14 18 25.13
89 4 5 9 13 17 25.13
90 4 4 8 12 16 25.13
91 4 3 7 11 15 25.13
92 4 2 6 10 14 25.13
93 4 1 5 9 13 25.13
94 4 0 4 8 12 25.13
95 5 0 5 10 15 31.42
96 5 1 6 11 16 31.42
97 5 2 7 12 17 31.42
98 5 3 8 13 18 31.42
99 5 4 9 14 19 31.42
100 5 5 10 15 20 31.42
K
I (mA) V (mV)
a
(Ohm meter)
TABEL AKUISISI DATA
GEOLISTRIK TAHANAN JENIS 2D
MAPPING WENNER
No. a (m)
Arus Potensial Arus



Tabel 2. Tabel Akuisisi Pengukuran Geolistrik Tahanan Jenis 2D Konfigurasi Wenner

No.Lintasan : Posisi :
Lokasi : Pengamat :
A M N B I
1
I
2
V
1
V
2

1

2
101 5 6 11 16 21 31.42
102 5 7 12 17 22 31.42
103 5 8 13 18 23 31.42
104 5 9 14 19 24 31.42
105 5 10 15 20 25 31.42
106 5 11 16 21 26 31.42
107 5 12 17 22 27 31.42
108 5 13 18 23 28 31.42
109 5 14 19 24 29 31.42
110 5 15 20 25 30 31.42
111 6 12 18 24 30 37.70
112 6 11 17 23 29 37.70
113 6 10 16 22 28 37.70
114 6 9 15 21 27 37.70
115 6 8 14 20 26 37.70
116 6 7 13 19 25 37.70
117 6 6 12 18 24 37.70
118 6 5 11 17 23 37.70
119 6 4 10 16 22 37.70
120 6 3 9 15 21 37.70
121 6 2 8 14 20 37.70
122 6 1 7 13 19 37.70
123 6 0 6 12 18 37.70
124 7 0 7 14 21 43.98
125 7 1 8 15 22 43.98
126 7 2 9 16 23 43.98
127 7 3 10 17 24 43.98
128 7 4 11 18 25 43.98
129 7 5 12 19 26 43.98
130 7 6 13 20 27 43.98
131 7 7 14 21 28 43.98
132 7 8 15 22 29 43.98
133 7 9 16 23 30 43.98
134 8 6 14 22 30 50.27
135 8 5 13 21 29 50.27
136 8 4 12 20 28 50.27
137 8 3 11 19 27 50.27
138 8 2 10 18 26 50.27
139 8 1 9 17 25 50.27
140 8 0 8 16 24 50.27
141 9 0 9 18 27 56.55
142 9 1 10 19 28 56.55
143 9 2 11 20 29 56.55
144 9 3 12 21 30 56.55
K
I (mA) V (mV)
a
(Ohm meter)
TABEL AKUISISI DATA
GEOLISTRIK TAHANAN JENIS 2D
MAPPING WENNER
No. a (m)
Arus Potensial Arus