Laporan GPR
Laporan GPR
METODE GEOFISIKA
GPR GROUND PENETRATING RADAR
Studi Daerah Panasbumi Tiris, Kabupaten Probolinggo
Tgl. Akuisisi : 8 November 2014
Asisten : Dwi Febriana Rohmah
Penanggung Jawab:
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2014
LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014
Daftar Isi
LAMPIRAN ............................................................................................................................. 27
Daftar Gambar
Gambar 2.1. Prinsip umum survey elektromagnetik (Kearey, et al, 2002). ............................... 6
Gambar 2.2. Pengukuran dengan menggunakan meode GPR .................................................. 12
Gambar 2.3. Wide Angel Reflection And Refraction (WARR) ............................................... 13
Gambar 2.4. Common-Midpoint (CMP) .................................................................................. 13
Gambar 2.5. Transillumination ................................................................................................ 14
Gambar 4. 1. Sebaran lokasi pengambilan data metode GPR di area panasbumi Tiris. .......... 21
Gambar 4. 2. Hasil scanning metode GPR di daerah panasbumi Tiris. ................................... 22
Gambar 4. 3. Peta tentative daerah panasbumi Tiris ................................................................ 24
Gambar 4. 4. Sebaran titik manifestasi daerah panasbumi Tiris. ............................................. 24
BAB I
PENDAHULUAN
Potensi energi panas bumi di Indonesia mencakup 40% potensi panas bumi dunia,
tersebar di 251 lokasi pada 26 propinsi dengan total potensi energi 27.140 MW atau setara
219 Milyar ekuivalen Barrel minyak. Akan tetapi dari keseluruhan potensi yang ada, baru
sekitar 4,6% saja yang dimanfaatkan. Tingginya potensi panas bumi di Indonesia didukung
oleh banyaknya jumlah gunung api di Indonesia yang dikenal sebagai Ring Of Fire. Di Jawa
Timur sendiri, telah banyak ditemukan daerah potensi panasbumi. Salah satu potensi tersebut
dapat ditemukan di daerah desa Segaran, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo.
a. Data yang digunakan adalah data hasil scanning dari penggunaan mettode GPR
yakni berupa pola gradasi warna yang menunjukkan konduktivitas batuan.
b. Analisa dilakukan terhadap seluruh data yang diperoleh dari akuisisi kelima
kelompok penelitian.
c. Interpretasi dilakukan dengan membandingkan data dengan informasi geologi
yang telah diperoleh.
d. Interpretasi hanya dapat dilakukan untuk mengetahui kondisi bawah permukaan
secara dangkal.
[Link] Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini diharapkan dapat memberika manfaat yakni untuk
memberika informasi kondisi bawah permukaan daerah panasbumi Tiris dengan kedalam
yang dangkal sehingga informasi dapat digunakan sebagai informasi pendukung dalam
melakukan penelitian selanjutnya di daerah panasbumi Tiris.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
(1)
Dan kedalaman penetrasi dinyatakan dalam persamaan (2)
(2)
dimana d dalam meter, konduktivitas tanah () dalam Sm-1dan frekuensi (f) dalam Hz.
Medan elektromagnetik dapat dideteksi melalui berbagai cara. Cara yang paling
sederhana adalah dengan memanfaatkan kumparan yang terbuat dari lilitan kawat tembaga
berbetuk lingkaran atau persegi dengan diameter 0,5m atau 1 m. Ujung kumparan
dihubungkan pada suatu amplifier. Amplitudo dari tegangan yang terinduksi oleh medan
magnet pada kumparan akan bebrbading lurus dengan komponen medan yang tegak lurus
terhadap bidang kumparan. Dengan demikian, maka besarnya sinyal akan maksimum ketika
bidang kumparan berada pada sudut sebelah kanan terrhadap arah medan yang datang
(Kearey, et al, 2002).
(3)
dimana adalah permitivitas relatif sebuah medium yang dilewati oleh gelombang. Daftar
nilai permitivitas relatif dan kecepatan gelombang elektromagnetik dalam berbagai medium
berbeda beda terdapat dalam tabel 1.
Tabel 1. Daftar Nilai Permitivitas Relatif atau Konstan dielektrik dan Kecepatan
Gelombang Elektromagnetik dalam Berbagai Mineral Geologi (Indriasari, 2010).
Mineral Kecepatan (mm/ns)
Udara 1 300
Air (bersih) 81 33
Air (laut) 81 33
Salju kutub 1,4 3 194 252
Es Kutub 3 3,15 168
Es Hangat 3,2 167
Es murni 3,2 167
Danau Air Tawar yang membeku 4 150
Laut Beku 2,5 8 78 - 157
Petrmafrost 18 106 - 300
Pasir Pantai (Kering) 10 95
Pasir (Kering) 36 120 170
Pasir (Basah) 25-30 55 60
Silt (Basah) 10 95
Tanah Liat (Basah) 8 15 86 110
Tanah Liat (Kering) 3 173
Rawa 12 86
Dataran agrikultur 15 77
Dataran kepastoran 13 83
Rata rata Lahan 16 75
Granit 58 106 120
Batu gamping 79 100 113
Dolomite 6,8 8 106 115
Basalt (Basah) 8 106
Serpihan Batu (basah) 7 113
Batu Pasir (basah) 6 112
Batu bara 4-5 134 - 150
Kwarsa 4,3 145
Beton 6-30 55 112
Aspal 35 134 173
PVC, Epoxy, Polyesters 3 173
2.3. Metode Geofisika GPR (Ground Penetrating Radar)
GPR merupakan teknik eksplorasi geofisika yang menggunakan gelombang
elektromagnetik, yang digunakan untuk mendekteksi objek objek yang terkubur di dalam
tanah. Ground Penetrating Radar memiliki komponen yang penting yaitu antena. Antena
merupakan komponen yang penting untuk memancarkan dan menerima sinyal gelombang
elektromagnetik. Secara praktis antena tidak mengumpulkan sinyal tunggal tetapi banyak
sinyal. Sinyal yang tampak dibentuk dari gelombang sinus dan cosinus. Kemampuan penetrasi
GPR bergantung pada frekuensi sinyal sumber, efisiensi radiasi antena dan sifat dilektrik
material. Sinyal radar dengan frekuensi yang tinggi akan menghasilkan resolusi yang tinggi,
tetapi kedalaman penetrasi terbatas. Atenuasi juga berpengaruh terhadap Ground penetrating
Radar. Material kering mempunyai atenuasi sinyal yang lebih kecil daripada material basah
(Jayanto, 2009).
Ground Penetrating Radar (GPR) memiliki cara kerja yang sama dengan radar
konvensional. GPR mengirim sinyal energi antara 10 1000 MHz ke dalam tanah oleh antena
pemancar lalu mengenai suatu lapisan objek dengan suatu konstanta dielektrik (permitivitas)
berbeda selanjutnya sinyal akan dipantulkan kembali dan diterima oleh antena penerima.
Dalam prinsipnya, faktor yang mendominasi untuk mempengaruhi jalannya sinyal GPR
adalah sifat listriknya, sedangkan variasi magnetnya sangat kecil. Medan listrik yang
merambat pada sebuah material ditentukan oleh pergerakan arus listrik yang terdiri dari arus
konduksi dan arus pergeseran (Syahril, 2007).
Keberhasilan dari metode GPR adalah bergantung pada variasi bawah permukaan
yang dapat menyebabkan gelombang ditransmisikan. Penelitian ini dilakukan dengan
mengidentifikasi variasi material bawah permukaan dengan menggunakan GPR. Penjalaran
gelombang elektromagnetik yang melewati medium ditentukan oleh beberapa sifat dari
material tersebut. Diantara sifat sifat material yang mempengaruhinya adalah konstanta
permitivitas , permeabilitas dan konduktivitas . Permitivitas dielektrik berkaitan dengan
kemampuan medium untuk mempolarisasikan dan mengontrol kecepatan gelombang
elektromagnetik yang berjalan melalui medium tersebut (Maghfiroh, 2010).
D (4)
xH J
t
B
xE (5)
t
xB 0 (6)
xE (7)
B = Permeabilitas magnetik
= konstanta dielektrik
= Konduktifitas
= Tahanan jenis
Dari persamaan Maxwell di atas dapat diperoleh nilai kecepatan gelombang EM pada
berbagai medium, kecepatan ini tergantung kepada kecepatan cahaya (c), konstanta relatif
dielektrik (r) dan permeabilitas magnetik (r = 1 untuk material non magnetik). Persamaan
kecepatan gelombang EM dalam suatu medium (persamaan 8) adalah :
c
Vm 1 (8)
r r
2
2 1 P 1
2
dimana :
= permitifitas dielektrik
f = frekuensi gelombang EM
Pada material dengan tingkat loss factor yang rendah sehingga P = 0, maka kecepatan
gelombang dapat diketahui melalui persamaan (9).
c 0,3
Vm (9)
r r
Loss factor menunjukkan sejumlah energi yang hilang penjalaran (propagasi) muatan
atau sinyal karena terjadi penyerpan oleh medium yang dilewati. Energi tersebut sebenarnya
tidak lenyap tetapi bertransformasi menjadi suatu bantuk yang berbeda, misalnya dari energi
EM menjadi energi termal (panas) sama halnya seperti yang berlaku pada alat masak oven
microwave. Tetapi terkadang energi tersebut tidak berubah bentuk melainkan mengalami
multiphating. Penyebaran geometrik dan penghamburan (scattering) yang berlebihan,
sehingga tidak dapat lagi diobservasi oleh antena.
Selain beberapa besaran yang telah dijelaskan sebelumnya, terdapat suatu koefisien
refleksi (R) yang didefinisikan sebagai perbandingan energi yang dipantulkan dan energi yang
datang , persamaan (10) untuk koefesien refleksi adalah sebagai berikut :
R
r 2 /( r ) (10)
dimana V1 dan V2 secara berturut-turut adalah kecepatan gelombang pada lapisan 1 dan 2,
sedangkan 1 dan 2 adalah konstanta dielektrik relatif (r) lapisan 2. didefinisikan sebagai
kapasitas dari suatu material dalam melewatkan muatan saat medan elektromagnetik
melaluinya, memiliki hubungan erat dengan porositas material tersebut, dan diformulasikan
pada persamaan (11) sebagai berikut :
1 m w (11)
dimana :
= porositas
Gelombang yang dikirimkan bergerak dengan kecepatan tinggi dan melewati media
bawah permukaan. Gelombang tersebut dapat diserap oleh media, dapat pula dipantulkan
kembali. Gelombang akan diterima oleh receiver dalam selang waktu tertentu dalam beberapa
puluh hingga ribuan nanosekon. Lama waktu tempuh tersebut tergantung pada keadaan media
yang dilewati oleh media tersebut.
Mode konfigurasi antena transmitter dan receiver pada GPR terdiri dari mode
monostatik dan bistatik. Mode monostatik yaitu bila transmitter dan receiver digabung dalam
satu antena, sedangkan mode bistatik adalah bila kedua antenna tersebut memiliki jarak
pemisah yang disebut offset. Receiver diatur untuk dapat melakukan scan secara normal
mencapai 32 hingga 512 scan perdetik. Setiap hasil scan akan ditampilkan dalam layer
monitor sebagai fungsi waktu two-way travel time, yaitu waktu yang diperlukan oleh sinyal
untuk menempuh jarak dari transmitter menuju target dan dipantulkan kembali menuju
receiver. Tampilan ini disebut radargram, analog dengan seismogram pada penyelidikan
menggunakan metode seismik (Jayanto, 2009).
Pada Gambar 2.2, menunjukkan tentang peralatan yang umum digunakan dalam
penyelelidikan tentang bawah permukaan menggunakan GPR (A), potongan melintang
lintasan target yang dilalui sinyal (B), dan tampilan radargram yang diperoleh dari
penyelidikan (C).
Terdapat tiga model untuk memperoleh data penyelidikan GPR yakni : reflection
profiling (antena monostatik maupun bistatik), wide angel reflection and refraction (WARR),
common-midpoint (CMP) sounding yang merupakan pengembangan dari WARR, dan
transilluminasi atau disebut juga radar tomografi (Jayanto, 2009).
pada metode seismik. Kedalaman target atau reflektor dapat diketahui jika cepat rambat
gelomabang diketahui.
3. Transillumination
Cara ini dilakukan dengan menempatkan transmitter dan receiver pada posisi yang
berlawanan. Sebagai contoh jika transmitter diletakkan pada lubang bor maka receiver
diletakkan pada lubang bor lainnya (Gambar 6). cara ini umumnya digunakan pada kasus
non-destructive testing (NDT) dengan menggunakan frekuensi antena yang tinggi, sekitar 900
Mhz.
BAB III
METODOLOGI
c) GPS Garmin
f) Papan dada
(a) (b)
Pengambilan data menggunakan GPR Future 2005 dilakukan dengan urutan sebagai
berikut.
(a) (b)
(c)
Gambar 3. 3. Rangkaian alat Future 2005. (a) Pemasangan probe; (b) Pemasangan control unit;
(c) pemasangan Bluetooth ke laptop
Interpretasi visual dilakukan dengan dasar sebagai berikut. Warna biru menunjukkan
nilai pengukuran negative dan dapat diinterpretasikan sebagai rongga, endapan atau aliran air,
ataupun galian di bawah tanah. Warna hijau merepresentasikan nilai pengukuran normal dari
tanah tanpa adanya anomali lainnya. Warna hijau biasanya terdapat diantara skala warna biru
dan merah. Warna kuning atau jingga menunjukkan kondisi di antara nilai warna merah dan
hijau dan mengindikasikan adanya mineralisasi di dalam tanah atau adanya logam yang
terkubur secara dalam. Sedangkan warna merah merepresentasikan nilai pengukuran posotif
dan menunjukkan adanya sinyal logam. Selain itu, warna erah juga dapat menunjukkan
adanya mineralisasi yang kuat di dalam logam.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1. Data Hasil Penelitian
(Terlampir)
Pada daerah panas bumi, respon gelombang elektromagnetik yang dicari adalah respon
negatif. Keberadaan respon gelombang yang negatif menunjukkan adanya keberadaan rongga
ataupun fluida berupa air. Rongga yang dimaksud kemungkinan besar adalah patahan atau
crack dimana fluida bawah permukaan mengalir hingga mencapai permukaan. Pada area
panasbumi Tiris, penerapan metode GPR dilakukan di beberapa area di dekat sungai. Hal ini
dikarenakan manifestasi panabumi banyak ditemukan di daerah sungai. Area pengambila data
ditunjukkan pada gambar 4.1.
Gambar 4. 1. Sebaran lokasi pengambilan data metode GPR di area panasbumi Tiris.
Penerapan metode GPR ini ditujukan untuk mengetahui pola sebaran manifestasi
panasbumi di daerah Tiris berdasarkan pola konduktivitas batuan bawah permukaan. Pola
konduktivitas ini ditunjukkan dalam bentuk gradasi warna. Dalam setiap pengukuran,
diperoleh pola warna yang berbeda pada daerah akuisisi yang berbeda (Gambar 4.2). Dari
pola warna yang ada, diketahui bahwa kandungan yang paling banyak di bawah permukaan
daerah Tiris adalah mineral dan fluida. Hal ini ditunjukkan dengan pola warna kuning-orange
yang membentuk suatu area. Keberadaan mineral ini ditemukan di dekat daerah fluida
(ditunjukkan dengan warna biru pada hasil scan). Hal ini dimungkinkan merupakan
mineralisasi yang terjadi pada tanah akibat kontak dengan mineral yang terkandung pada
fluida panasbumi yang kemudian turut merembes melalui pori-pori pada tanah. Rembesan
fluida ini berada di daerah dekat aliran sungai, yang mana pada sungai ditemukan beberapa
titik manifestasi panasbumi.
Pada hasil scanning, juga dijumpai adanya pola warna biru yang membetuk aliran.
Pola tersebut kemungkinan adalah aliran air bawah tanah yang mengalir dari atas prbukitan
menuju ke sungai. Aliran air ini dapat diperkirakan juga termasuk ke dalam sumber fluida dari
sumber panasbumi. Hal ini dtunjukkan oleh pola aliran yang menuju ke arah sungai tempat
terdapatnya manifestasi panasbumi. Adanya manifestasi panasbumi sehingga muncul sumber
air panas di permukaan diperkirakan terjadi akibat adanya patahan yang mana patahan
tersebut memotong sungai. Akibat adanya zona rapuh di daerah sungai, maka fluida
panasbumi menembus tanah hingga mencapai permukaan yakni di daerah sungai di daerah
Tiris. Karena itulah pengambilan data dengan metode GPR ini lebih difokuskan untuk
dilakukan di dekat sungai.
Pola gradasi warna yang terbaca oleh alat merupakan representasi dari medan
elektromagnetik sekunder yang muncul sebagai respon batuan bawah permukaan terhadap
impuls gelombang elektromagnetik yang dikeluarkan oleh pemancar. Metode ini didasarkan
pada persamaan-persamaan Maxwell mengenai medan elektromagnetik. Jenis batuan bawah
permukaan akan dapat diperkirakan dengan mengetahui konstanta dielektrik batuan. Akan
tetapi dalam penelitian ini, interpretasi hingga jenis batuan bawah permukaan tidak dapat
dilakukan karena keterbatasan yang ada. Interpretasi yang dapat dilakukan terhadap data hasil
scanning dengan alat GPR Future 2005 hanyalah sebatas membedakan kondisi bawah
permukaan secara kasar, yakni membedakan antara tanah, mineral atau logam dan fluida atau
rongga. Tanah ditunjukkan dengan gradasi warna hijau. Mineral atau logam ditunjukkan
dengan warna kuning hingga merah, tergantung jumlah kandungan yang ada di dalam tanah.
Logam dan mineral dibedakan berdasarkan bentuk pola warna yang ditimbulkan dan kondisi
disekitar pola warna yang ada. Sedangkan fluida atau rongga ditunjukkan dengan warna biru
dan yang membedakan adalah pola bentuk warna yang ditimbulkan.
Untuk daerah panasbumi Tiris, pola warna biru semakin banyak terjadi pada
pengambilan data di dekat sungai. Pola warna biru yang dijumpai pada lokasi yang cukup
jauh dari sungai umumnya membentuk suatu aliran soperti aliran air bawah tanah. Sdangkan
warna kunding kemerahan yang dijumpai di dekat sungai dapat diinterpretasikan sebagai hasil
mineralisasi antara tanah dengan mineral panasbumi yang terbawa oleh fluida air. Pada bagian
yang jauh dari sungai, banyak terekam pola warna hijau yang merupakan representasi dari
tanah. Berdasarkan informasi geologi yang diberika di Proseding Seminar Nasional Aplikasi
Teknologi Prasarana Wilayah (2012), daerah panasbumi Tiris berada di antara Gunung
lamongan dengan Gunung Argopuro (Gambar 4.3), tetapi belum diketahui darimana potensi
panasbumi tersebut berasal. Di antara kedua gunung tersebut, terdapat suatu patahan besar
yang mengakibatkan manifestasi panasbumi muncul ke permukaan. Sebaran manifestasi
panasbumi Tiris dapat dilihat pada Gambar 4.4. Namun demikian, berdasarkan informasi dari
peta geologi yang dikeluarkan oleh Suharsono (1992), batuan yang tersebar di daerah
panasbumi Tiris lebih didominasi oleh batuan gunungapi dari Gunug Lamongan yang terdiri
dari batuan lava, tuff halus, lapilli,lahar dan breksi gunungapi.
Melalui interpretasi data, dapat diketahui bahwa utnuk penerapan metode GPR pada
daerah panas bumi, maka anomali yang dicari adalah anomali negatif, yang menunjukkan
adanya rekahan yang memungkinkan fluida panasbumi naik ke permukaan. Selain itu, daerah
yang dicari adalah daerah denga konduktivitas yang rendah karena konduktivitas batuan akan
menurun akibat terkena panas dari sumber panasbumi. Metode GPR sendiri merupakan
metode geofisika yang akan memberikan informasi mengenai kondisi bawah permukaan
secara kasar namun penggunaan metode ini sangat mudah, dimana tidak memerlukan adanya
pengolahan data dan data dapat langsung diinterpretasi.
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian dengan menggunakan metode georadar di daerah panasbumi
Tiris, adapat disimpulkan bahwa pda daerah yang cukup dekat dengan sungai banyak
ditemukan dominasi oleh anomali negatif yang ditunjukkan oleh warna biru pada data
georadar. Anomali negatif ini menunjukkan keberadaan fluida, baik fluida panasbumi maupun
air sungai yang merember melalui pori-pori tanah. Selain itu, penggunaan metode goeradar ini
dapat membantu untuk mengetahui sebaran potensi panasbumi dengan memetakan adanya
rekahan di bawah permukaan yang dapat dialiri oleh fluida panasbumi dari dalam bumi
menuju ke permukaan. Selain anomaly negatif, pada daerah di dekat dominasi fluida, juga
dijumpai beberapa pola mineralisasi yang dimungkinkan merupakan hasil dari mineralisasi
tanah dengan mineral bawaan fluida panasbumi.
5.2. Saran
Untuk penelitian selanjutnya, diharapkan penerapan metode georadar dapar dilakukan
dengan lebih menyeluruh yang melingkupi area panasbumi dan membuat lintasan yang lebih
luas.
DAFTAR PUSTAKA
Indriasari, Devi Nurwidya Yhuswita. 2010. Kalibrasi Ground Penetrating Radar (georadar)
untuk Mendeteksi Jenis Tanah berdasarkan Sifat Kelistrikannya. Malang: Universitas
Negeri Malang.
Jayanto, Agustinus Dwi. 2009. Metode Ground Penetrating Radar. Universitas Sriwijaya
Kearey, Philip, Michael Brooks, Ian Hill. 2002. An Introduction to Geophysical Exploration.
London: Blackwell Science.
Maghfiroh, Imrotul. 2010. Studi Potensi Longsor Plengsengan di Daerah Aliran Sungai
(DAS) Brantas Kelurahan Oro Oro Dowo Kecamatan Klojen Kota Malang dengan
Menggunakan Ground Penetrating Radar (GPR).
Proseding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah (ATPW). 2012. ISSN
2301-6752. Surabaya
Syahril. 2007. Studi Rekahan Pada Terowongan Kereta Api dengan Metode Ground
Penetrating Radar (GPR) (Studi Kasus di Daerah Sasaksaat) Padalarang Jawa Barat.
Jurnal Geliga [Link] 1, No.2, halaman 36 44.
LAMPIRAN
Line 1-4
Line 5-6
Line 7
Line 8
Line 9
Line 10
Line 11
Line 12
Line 1 Line 2
Line 3 Line 4
Line 5 Line 6
Line 7
Line 8
Line 1
Line 2
Line 3
Line 3B
Line 4a
Line 4B