0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan40 halaman

Laporan GPR

Metode GPR digunakan untuk mendeteksi sumber panas bumi di Desa Segaran, Kabupaten Probolinggo. Tujuannya adalah untuk memetakan pola konduktivitas bawah permukaan daerah tersebut guna mengidentifikasi potensi sumber panas bumi di area tersebut. Laporan ini membahas metode dan hasil survey GPR selama 5 hari di lokasi panasbumi Tiris.

Diunggah oleh

Ika Wahyu Utami
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan40 halaman

Laporan GPR

Metode GPR digunakan untuk mendeteksi sumber panas bumi di Desa Segaran, Kabupaten Probolinggo. Tujuannya adalah untuk memetakan pola konduktivitas bawah permukaan daerah tersebut guna mengidentifikasi potensi sumber panas bumi di area tersebut. Laporan ini membahas metode dan hasil survey GPR selama 5 hari di lokasi panasbumi Tiris.

Diunggah oleh

Ika Wahyu Utami
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

METODE GEOFISIKA
GPR GROUND PENETRATING RADAR
Studi Daerah Panasbumi Tiris, Kabupaten Probolinggo
Tgl. Akuisisi : 8 November 2014
Asisten : Dwi Febriana Rohmah

Penanggung Jawab:

SRI DWI WURYANI

BIDANG MINAT GEOFISIKA JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2014
LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

Daftar Isi

Daftar Isi ..................................................................................................................................... 1

Daftar Gambar ............................................................................................................................ 3

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 4

1.1. Latar Belakang .............................................................................................. 4

1.2. Tujuan Penelitian........................................................................................... 5

1.3. Rumusan Masalah ......................................................................................... 5

1.4. Batasan Masah............................................................................................... 5

1.5. Manfaat Penelitian......................................................................................... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................... 6

2.1. Metode Geofisika Elektromagnetik ..................................................................... 6

2.2. Teori Dasar Medan Elektromagnetik .................................................................. 7

2.3. Metode Geofisika GPR (Ground Penetrating Radar) .......................................... 8

2.4. Pengukuran dengan Metode GPR ..................................................................... 11

BAB III METODOLOGI ........................................................................................................ 15

3.1. Waktu dan Tempat Penelitian............................................................................ 15

3.2. Instrumentasi Penelitian .................................................................................... 15

3.3. Spesifikasi Alat Future 2005 ............................................................................. 17

3.4. Metode Pengambilan Data ................................................................................ 18

3.4. Metode Pengolahan dan Interpretasi Data ......................................................... 19

BAB IV PEMBAHASAN ....................................................................................................... 21

4.1. Data Hasil Penelitian ......................................................................................... 21

4.2. Interpretasi dan Pembahasan ............................................................................. 21

BAB V PENUTUP ................................................................................................................... 25

5.1. Kesimpulan ........................................................................................................ 25

5.2. Saran .................................................................................................................. 25

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................... 26

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 1


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

LAMPIRAN ............................................................................................................................. 27

1. Data hari ke-1: Sabtu, 8 November 2014 ........................................................ 27

2. Data hari ke-2: Minggu, 9 November 2014 ...................................................... 28

3. Data hari ke-3: Senin, 10 November 2014 ....................................................... 32

4. Data hari ke-4: Selasa, 11 November 2014 ...................................................... 35

5. Data hari ke-5: Rabu, 12 November 2014 ........................................................ 38

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 2


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

Daftar Gambar

Gambar 2.1. Prinsip umum survey elektromagnetik (Kearey, et al, 2002). ............................... 6
Gambar 2.2. Pengukuran dengan menggunakan meode GPR .................................................. 12
Gambar 2.3. Wide Angel Reflection And Refraction (WARR) ............................................... 13
Gambar 2.4. Common-Midpoint (CMP) .................................................................................. 13
Gambar 2.5. Transillumination ................................................................................................ 14

Gambar 3. 1. Lokasi desain survey metode GPR ..................................................................... 15


Gambar 3. 2. Lintasan pengambilan data georadar. (a) zig-zag; (b) parallel. .......................... 18
Gambar 3. 3. Rangkaian alat Future 2005. (a) Pemasangan probe; (b) Pemasangan control
unit; (c) pemasangan Bluetooth ke laptop ......................................................................... 19

Gambar 4. 1. Sebaran lokasi pengambilan data metode GPR di area panasbumi Tiris. .......... 21
Gambar 4. 2. Hasil scanning metode GPR di daerah panasbumi Tiris. ................................... 22
Gambar 4. 3. Peta tentative daerah panasbumi Tiris ................................................................ 24
Gambar 4. 4. Sebaran titik manifestasi daerah panasbumi Tiris. ............................................. 24

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 3


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Panasbumi adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air panas, uap air,
dan batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara genetik semuanya tidak dapat
dipisahkan dalam suatu sistem Panas Bumi dan untuk pemanfaatannya diperlukan proses
penambangan. Pemanfaatan panas bumi relatif ramah lingkungan, terutama karena tidak
memberikan kontribusi gas rumah kaca, sehingga perlu didorong dan dipacu perwujudannya.
Pemanfaatan panas bumi akan dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar
minyak sehingga dapat menghemat cadangan minyak bumi.

Potensi energi panas bumi di Indonesia mencakup 40% potensi panas bumi dunia,
tersebar di 251 lokasi pada 26 propinsi dengan total potensi energi 27.140 MW atau setara
219 Milyar ekuivalen Barrel minyak. Akan tetapi dari keseluruhan potensi yang ada, baru
sekitar 4,6% saja yang dimanfaatkan. Tingginya potensi panas bumi di Indonesia didukung
oleh banyaknya jumlah gunung api di Indonesia yang dikenal sebagai Ring Of Fire. Di Jawa
Timur sendiri, telah banyak ditemukan daerah potensi panasbumi. Salah satu potensi tersebut
dapat ditemukan di daerah desa Segaran, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo.

Manifestasi panas bumi permukaan diperkirakan terjadi karena adanya perambatan


panas dari bawah permukaan atau karena adanya rekahan-rekahan yang memungkinkan fluida
panas bumi mengalir ke permukaan. Agar diketahui sumber panasbumi, maka diperlukan
suatu metode yang mempunyai kemampuan langsung yang mendeteksi sumber panas bumi.
Dalam hal ini, penerapan metode geofisika sangat berperan dalam mengidentifikasi kondisi
atau struktur bawah permukaan dari suatu daerah, termasuk daerah panas bumi. Saat ini,
berbagai penelitian geofisika telah diterapkan guna mendeteksi keberadaan potensi panas
bumi di Indonesia. Salah satu metode geofisika yang diterapkan guna mendeteksi keberadaan
potensi panasbumi di daerah Tiris adalah metode GPR atau Ground Penetrating Radar.
Metode ini bekerja berdasarkan prinsip gelombang elektromagnetik yang merambat melalui
medium di bawah permukaan. Survei GPR dapat memberikan informasi mengenai kondisi
bawah permukaan secara dangkal berdasarkan perbedaan konduktivitas batuan. Dengan
menganalisa konduktivitas batuan, maka jenis batuan akan dapat diperkirakan. Pada survey
kali ini, metode GPR diterapkan guna mengetahui sebaran potensi sumber panasbumi di Desa
Segaran.

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 4


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

1.2. Tujuan Penelitian


Tujuan dari penelitian dengan menggunakan metode geofisika GPR ini antara lain
adalah:

a. Untuk mendapatkan pola konduktivitas bawah permukaan dari daerah potensi


panasbumi di daerah Tiris.
b. Untuk memperkirakan kondisi geologi dari daerah panasbumi Tiris secara dangkal
berdasarkan konduktivitas bawah permukaan.
c. Untuk menganalisa sebaran potensi panasbumi daerah Tiris dengan menganalisa
data visual GPR.

1.3. Rumusan Masalah


Rumusan permasalahan yang diajukan pada penelitian ini adalah:

a. Bagaimana pola konduktivitas bawah permukaan dari daerah paasbumi Tiris?


b. Bagaimana kondisi geologi yang dapat dianalisa dengan menggunakan data
konduktivitas batuan yang diperoleh dari penerapan metode GPR?
c. Bagaimana pola sebaran potensi panasbumi yang ada di daerah Tiris?

1.4. Batasan Masah


Batasan masalah yang diberikan pada penelitian ini antara lain sebagai berikut.

a. Data yang digunakan adalah data hasil scanning dari penggunaan mettode GPR
yakni berupa pola gradasi warna yang menunjukkan konduktivitas batuan.
b. Analisa dilakukan terhadap seluruh data yang diperoleh dari akuisisi kelima
kelompok penelitian.
c. Interpretasi dilakukan dengan membandingkan data dengan informasi geologi
yang telah diperoleh.
d. Interpretasi hanya dapat dilakukan untuk mengetahui kondisi bawah permukaan
secara dangkal.

[Link] Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini diharapkan dapat memberika manfaat yakni untuk
memberika informasi kondisi bawah permukaan daerah panasbumi Tiris dengan kedalam
yang dangkal sehingga informasi dapat digunakan sebagai informasi pendukung dalam
melakukan penelitian selanjutnya di daerah panasbumi Tiris.

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 5


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Metode Geofisika Elektromagnetik


Metode geofisika elektromagnetik merupakan metode survey yang memanfaatkan
respon tanah terhadap perambatan medan elektromagnetik, yang mana medan tersebut
merupakan perubahan dari intensitas listrik dan gaya magnetik. Umumnya medan
elektromagnetik ditimbulkan ketika suatu arus listrik melewati sebuah kumparan yang terbuat
dari lilitan kawat. Respon pada tanah yang dihasilkan merupakan medan elektromagnetik
sekunder dan resultan medan dapat dideteksi dengan mengalirkan arus yang akan
menginduksi kumparan penerima melalui proses induksi elektromagnetik. Medan
elektromagnetik utama menjalar dari kumparan pemancar ke kumparan penerima melalui
bagian atas maupun bawah permukaan. Pada kondisi bawah permukaan yang homogen, tidak
ada perbedaan antara medan yang menjalar pada kedua tempat selain penurunan amplitudo
sebagai akibat perbedaan medium. Keberadaan tubuh konduktif mengakibatkan komponen
magnetik yang menjalar menimbulkan medan elektromagnetik yang menginduksi arus bolak-
balik atau arus Eddy untuk dapat menjalar di konduktor. Arus Eddy sendiri akan menciptakan
medan elektromagnetik sekunder yang akhirnya menjalar ke penerima. Penerima akan
mendeteksi resultan dari medan primer dan sekunder sehingga respon medan akan memiliki
perbedaan fase dan amplitudo dari responnya terhadap medan primer (Gambar 2.1).
Perbedaan tersebut akan menunjukkan adanya lapisan konduktor beserta informasi mengenai
geometri dan sifat kelistrikannya (Kearey, et al, 2002).

Gambar 2.1. Prinsip umum survey elektromagnetik (Kearey, et al, 2002).

Kedalaman penetrasi dari suatu medan elektromagnetik bergantung pada frekuensi


medan dan konduktivitas kelistrikan medium yang dirambati. Medan elektromagnetik akan
mengalami pelemahan selama perjalanannya melalui laisan tanah, dimana amplitudonya akan

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 6


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

menurun secaa ekponensial terhadap kedalaman. Kedalaman penetrasi d didefinisikan sebagai


kedalaman domana amplitude medan Ad menurun dengan factor e-1 dibandingkan dengan
amplitudonya dipermukaan Ao, atau dinyatakan pada persamaan (1) (Kearey, et al, 2002).

(1)
Dan kedalaman penetrasi dinyatakan dalam persamaan (2)

(2)

dimana d dalam meter, konduktivitas tanah () dalam Sm-1dan frekuensi (f) dalam Hz.

Medan elektromagnetik dapat dideteksi melalui berbagai cara. Cara yang paling
sederhana adalah dengan memanfaatkan kumparan yang terbuat dari lilitan kawat tembaga
berbetuk lingkaran atau persegi dengan diameter 0,5m atau 1 m. Ujung kumparan
dihubungkan pada suatu amplifier. Amplitudo dari tegangan yang terinduksi oleh medan
magnet pada kumparan akan bebrbading lurus dengan komponen medan yang tegak lurus
terhadap bidang kumparan. Dengan demikian, maka besarnya sinyal akan maksimum ketika
bidang kumparan berada pada sudut sebelah kanan terrhadap arah medan yang datang
(Kearey, et al, 2002).

Beberapa metode yang dapat diterapkan untuk melakukan survey elektromagnetik


antara lain: metode tilt-angle seperti metode VLF (very-low frequency), metode AFMAG;
metode pengukuran fase; metode Telluric dan medan magnetotelluric; dan metode georadar
seperti GPR (Ground Penetrating Radar).

2.2. Teori Dasar Medan Elektromagnetik


Menurut Maxwell energi yang tersimpan dalam bentuk medan magnet dapat berubah
menjadi energi dalam bentuk medan listrik. Pembentukan ini dapat terjadi sebaliknya energi
yang tersimpan dalam bentuk medan listrik dapat berubah menjadi medan magnet.
Pembentukkan ini dapat terjadi bolak balik dan saling mempengaruhi dalam bentuk
pancaran energi yang dinamakan gelombang elektromagnetik.

Berdasarkan sifat gelombang elektromagnetik yang pertama yaitu gelombang


elektromagnetik dapat merambat tanpa membutuhkan medium, sehingga gelombang
elektromagnetik dapat merambat pada segala medium. Gelombang elektromagnetik dapat
merambat pada medium udara, medium konduktor dan medium non konduktor. Nilai rasio
kecepatan gelombang elektromagnetik di udara terhadap kecepatan gelombang
elektromagnetik medium non konduktor, yang disebut dengan indeks bias, n maka menjadi
persamaan (3) (Supriyanto, 2007).

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 7


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

(3)

dimana adalah permitivitas relatif sebuah medium yang dilewati oleh gelombang. Daftar
nilai permitivitas relatif dan kecepatan gelombang elektromagnetik dalam berbagai medium
berbeda beda terdapat dalam tabel 1.

Tabel 1. Daftar Nilai Permitivitas Relatif atau Konstan dielektrik dan Kecepatan
Gelombang Elektromagnetik dalam Berbagai Mineral Geologi (Indriasari, 2010).
Mineral Kecepatan (mm/ns)
Udara 1 300
Air (bersih) 81 33
Air (laut) 81 33
Salju kutub 1,4 3 194 252
Es Kutub 3 3,15 168
Es Hangat 3,2 167
Es murni 3,2 167
Danau Air Tawar yang membeku 4 150
Laut Beku 2,5 8 78 - 157
Petrmafrost 18 106 - 300
Pasir Pantai (Kering) 10 95
Pasir (Kering) 36 120 170
Pasir (Basah) 25-30 55 60
Silt (Basah) 10 95
Tanah Liat (Basah) 8 15 86 110
Tanah Liat (Kering) 3 173
Rawa 12 86
Dataran agrikultur 15 77
Dataran kepastoran 13 83
Rata rata Lahan 16 75
Granit 58 106 120
Batu gamping 79 100 113
Dolomite 6,8 8 106 115
Basalt (Basah) 8 106
Serpihan Batu (basah) 7 113
Batu Pasir (basah) 6 112
Batu bara 4-5 134 - 150
Kwarsa 4,3 145
Beton 6-30 55 112
Aspal 35 134 173
PVC, Epoxy, Polyesters 3 173
2.3. Metode Geofisika GPR (Ground Penetrating Radar)
GPR merupakan teknik eksplorasi geofisika yang menggunakan gelombang
elektromagnetik, yang digunakan untuk mendekteksi objek objek yang terkubur di dalam
tanah. Ground Penetrating Radar memiliki komponen yang penting yaitu antena. Antena
merupakan komponen yang penting untuk memancarkan dan menerima sinyal gelombang
elektromagnetik. Secara praktis antena tidak mengumpulkan sinyal tunggal tetapi banyak
sinyal. Sinyal yang tampak dibentuk dari gelombang sinus dan cosinus. Kemampuan penetrasi

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 8


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

GPR bergantung pada frekuensi sinyal sumber, efisiensi radiasi antena dan sifat dilektrik
material. Sinyal radar dengan frekuensi yang tinggi akan menghasilkan resolusi yang tinggi,
tetapi kedalaman penetrasi terbatas. Atenuasi juga berpengaruh terhadap Ground penetrating
Radar. Material kering mempunyai atenuasi sinyal yang lebih kecil daripada material basah
(Jayanto, 2009).

Ground Penetrating Radar (GPR) memiliki cara kerja yang sama dengan radar
konvensional. GPR mengirim sinyal energi antara 10 1000 MHz ke dalam tanah oleh antena
pemancar lalu mengenai suatu lapisan objek dengan suatu konstanta dielektrik (permitivitas)
berbeda selanjutnya sinyal akan dipantulkan kembali dan diterima oleh antena penerima.
Dalam prinsipnya, faktor yang mendominasi untuk mempengaruhi jalannya sinyal GPR
adalah sifat listriknya, sedangkan variasi magnetnya sangat kecil. Medan listrik yang
merambat pada sebuah material ditentukan oleh pergerakan arus listrik yang terdiri dari arus
konduksi dan arus pergeseran (Syahril, 2007).

Keberhasilan dari metode GPR adalah bergantung pada variasi bawah permukaan
yang dapat menyebabkan gelombang ditransmisikan. Penelitian ini dilakukan dengan
mengidentifikasi variasi material bawah permukaan dengan menggunakan GPR. Penjalaran
gelombang elektromagnetik yang melewati medium ditentukan oleh beberapa sifat dari
material tersebut. Diantara sifat sifat material yang mempengaruhinya adalah konstanta
permitivitas , permeabilitas dan konduktivitas . Permitivitas dielektrik berkaitan dengan
kemampuan medium untuk mempolarisasikan dan mengontrol kecepatan gelombang
elektromagnetik yang berjalan melalui medium tersebut (Maghfiroh, 2010).

Penggunaan gelombang elektromagnetik dalam ground penetrating radar didasarkan


atas persamaan Maxwell yang merupakan perumusan matematis untuk hukum-hukum alam
yang melandasi semua fenomena elektromagnetik. Perumusan tersebut dirumuskan dalam
persamaan (4) hingga persamaan (7) sebagai berikut :

D (4)
xH J
t

B
xE (5)
t

xB 0 (6)


xE (7)

masing-masing parameter memiliki hubungan D= E, B= H, dan J= E, dimana :

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 9


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

E = Kuat medan listrik

H = Fluks medan magnet

B = Permeabilitas magnetik

J = Rapat arus listrik

= konstanta dielektrik

= Konduktifitas

= Tahanan jenis

Dari persamaan Maxwell di atas dapat diperoleh nilai kecepatan gelombang EM pada
berbagai medium, kecepatan ini tergantung kepada kecepatan cahaya (c), konstanta relatif
dielektrik (r) dan permeabilitas magnetik (r = 1 untuk material non magnetik). Persamaan
kecepatan gelombang EM dalam suatu medium (persamaan 8) adalah :

c
Vm 1 (8)
r r

2

2 1 P 1
2

dimana :

c = kecepatan cahaya dalam ruang hampa (3 x 108 m/s)

r = konstanta dielektrik relatif

r = permeabilitas magnetik relative

P = loss factor, dimana P = / , dan adalah konduktifitas

= 2f dan f adalah frekuensi

= permitifitas dielektrik

f = frekuensi gelombang EM

o= permitifitas ruang bebas (8,854 x 10-12 F/m)

Pada material dengan tingkat loss factor yang rendah sehingga P = 0, maka kecepatan
gelombang dapat diketahui melalui persamaan (9).

c 0,3
Vm (9)
r r

Loss factor menunjukkan sejumlah energi yang hilang penjalaran (propagasi) muatan
atau sinyal karena terjadi penyerpan oleh medium yang dilewati. Energi tersebut sebenarnya

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 10


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

tidak lenyap tetapi bertransformasi menjadi suatu bantuk yang berbeda, misalnya dari energi
EM menjadi energi termal (panas) sama halnya seperti yang berlaku pada alat masak oven
microwave. Tetapi terkadang energi tersebut tidak berubah bentuk melainkan mengalami
multiphating. Penyebaran geometrik dan penghamburan (scattering) yang berlebihan,
sehingga tidak dapat lagi diobservasi oleh antena.

Selain beberapa besaran yang telah dijelaskan sebelumnya, terdapat suatu koefisien
refleksi (R) yang didefinisikan sebagai perbandingan energi yang dipantulkan dan energi yang
datang , persamaan (10) untuk koefesien refleksi adalah sebagai berikut :

R = (V1 V2)/(V1 + V2) atau

R
r 2 /( r ) (10)

dimana V1 dan V2 secara berturut-turut adalah kecepatan gelombang pada lapisan 1 dan 2,
sedangkan 1 dan 2 adalah konstanta dielektrik relatif (r) lapisan 2. didefinisikan sebagai
kapasitas dari suatu material dalam melewatkan muatan saat medan elektromagnetik
melaluinya, memiliki hubungan erat dengan porositas material tersebut, dan diformulasikan
pada persamaan (11) sebagai berikut :

1 m w (11)

dimana :

= porositas

m = konstanta relatif dielektrik untuk matrilks batuan

w = konstanta relatif dielektrik untuk fluida

2.4. Pengukuran dengan Metode GPR


Walau tergolong baru dipopulerkan pada dekade 1980-an, namun sebenarnya prinsip-
prinsip dasar ground penetrating radar telah lama dikenal, sejak diperkenalkannya radar
untuk penelitian ilmiah pada dekade 1960-an dan menjelang perang dunia II. Prinsip
penggunaan metode ini tidak jauh berbeda dengan metode seismik pantul, suatu sistem radar
terdiri dari sebuah pembangkit sinyal, antena pengirim (transmitter) dan antena penerima
(receiver). Sinyal radar ditransmisikan sebagai pulsa-pulsa yang berfrekuensi tinggi 500
MHz, umumnya antara 900 MHz sampai 1 GHz (Jayanto, 2009).

Gelombang yang dikirimkan bergerak dengan kecepatan tinggi dan melewati media
bawah permukaan. Gelombang tersebut dapat diserap oleh media, dapat pula dipantulkan
kembali. Gelombang akan diterima oleh receiver dalam selang waktu tertentu dalam beberapa

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 11


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

puluh hingga ribuan nanosekon. Lama waktu tempuh tersebut tergantung pada keadaan media
yang dilewati oleh media tersebut.

Mode konfigurasi antena transmitter dan receiver pada GPR terdiri dari mode
monostatik dan bistatik. Mode monostatik yaitu bila transmitter dan receiver digabung dalam
satu antena, sedangkan mode bistatik adalah bila kedua antenna tersebut memiliki jarak
pemisah yang disebut offset. Receiver diatur untuk dapat melakukan scan secara normal
mencapai 32 hingga 512 scan perdetik. Setiap hasil scan akan ditampilkan dalam layer
monitor sebagai fungsi waktu two-way travel time, yaitu waktu yang diperlukan oleh sinyal
untuk menempuh jarak dari transmitter menuju target dan dipantulkan kembali menuju
receiver. Tampilan ini disebut radargram, analog dengan seismogram pada penyelidikan
menggunakan metode seismik (Jayanto, 2009).

Gambar 2.2. Pengukuran dengan menggunakan meode GPR

Pada Gambar 2.2, menunjukkan tentang peralatan yang umum digunakan dalam
penyelelidikan tentang bawah permukaan menggunakan GPR (A), potongan melintang
lintasan target yang dilalui sinyal (B), dan tampilan radargram yang diperoleh dari
penyelidikan (C).

Terdapat tiga model untuk memperoleh data penyelidikan GPR yakni : reflection
profiling (antena monostatik maupun bistatik), wide angel reflection and refraction (WARR),
common-midpoint (CMP) sounding yang merupakan pengembangan dari WARR, dan
transilluminasi atau disebut juga radar tomografi (Jayanto, 2009).

1. Radar reflection profiling


Cara ini dilakukan dengan membawa antena bergerak secara simultan di atas
permukaan tanah dimana nantinya hasil tampilan pada radargram akan merupakan kumpulan
dari tiap-tiap pengamtan. Cara ini serupa dengan cara countinous seismik reflektion profiling

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 12


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

pada metode seismik. Kedalaman target atau reflektor dapat diketahui jika cepat rambat
gelomabang diketahui.

2. Wide Angel Reflection And Refraction (WARR) atau Common-Midpoint (CMP)


Cara WARR sounding ini dilakukan dengan meletakkan sumber pemancar atau
transmitter pada suatu posisi yang tetap, sedangkan receiver dipindah-pindah sepanjang
lintasan penyelidikan (Gambar 2.3). Cara ini umumnya digunakan untuk reflektor yang
realatif datar atau memiliki kemiringan yang rendah. Tetapi asumsi bahwa reflektor cendrung
datar adalah tidak selalu benar, maka untuk mengatasi kelemahan ini digunakan cara CMP
(Gambar 2.4), yang hanya sedikit berbeda dengan cara WARR, pada CMP sounding, kedua
antena bergerak menjauhi satu sama lainnya dengan titik tengah pada titik yang tetap, kedua
cara ini merupakan cara yang paling umum digunakan.

Gambar 2.3. Wide Angel Reflection And Refraction (WARR)

Gambar 2.4. Common-Midpoint (CMP)

3. Transillumination
Cara ini dilakukan dengan menempatkan transmitter dan receiver pada posisi yang
berlawanan. Sebagai contoh jika transmitter diletakkan pada lubang bor maka receiver
diletakkan pada lubang bor lainnya (Gambar 6). cara ini umumnya digunakan pada kasus
non-destructive testing (NDT) dengan menggunakan frekuensi antena yang tinggi, sekitar 900
Mhz.

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 13


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

Gambar 2.5. Transillumination

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 14


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

BAB III
METODOLOGI

3.1. Waktu dan Tempat Penelitian


Pengambilan data dengan menggunakan metode geofisika GPR dilakukan pada
tanggal 7 - 12 November 2014. Pengambilan data dilaksanakan di daerah panasbumi Tiris,
Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur dengan line yang berbeda untuk setiap kelompok
penelitian. Lokasi pengambilan data dapat dilihat pada Gambar 3.1. Pada gambar tersebut,
desain survey untuk akuisisi data metode GPR ditunjukkan dalam bentuk kotak yang terbeagi
ke dalam 4 area akuisisi.

Gambar 3. 1. Lokasi desain survey metode GPR

3.2. Instrumentasi Penelitian


Penelitian dengan menggunakan metode GPR dilaksanakan dengan beberapa peralatan
diantaranya:

a) Seperangkat alat Future 2005 yang terdiri atas:

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 15


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

i. Control Unit ii. Probe

iii. Penopang probe iv. Accu/ Power Supply beserta kabel


penghubungnya

v. USB Bluetooth Dongle vi. Headphone

vii. Instruments Case

b) Laptop PC yang telah ter-install visualizer 3D

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 16


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

c) GPS Garmin

d) Kamera atau alat rekam

e) Kertas dan alat tulis

f) Papan dada

g) Jas hujan atau payung

3.3. Spesifikasi Alat Future 2005


Alat georadar yang digunakan dalam penelitian ini adalah Future 2005. Alat ini
dikhususkan untuk mendeteksi adanya logam (metal) dan rongga (cavity). Alat ini dapat
diatur untuk scanning dengan lintasan parallel maupun zigzag. Scanning dapat dilakukan baik
pada medan yang horizontal maupun vertical. Dalam penelitian ini, scanning yang dilakukan
adalah scanning secara horizontal. Untuk lintasan yang bebentuk zig-zag, perpindahan
lintasan dilakukan dari kanan ke kiri seperti pada Gambar 3.2(a).

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 17


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

(a) (b)

Gambar 3. 2. Lintasan pengambilan data georadar. (a) zig-zag; (b) parallel.

3.4. Metode Pengambilan Data


Pengambilan data metode Ground Penetrating Radar dilaksanakan selama 5 hari
dengan lintasan berbeda di setiap harinya. Lintasan yang diambil banyak memiliki perbedaan
dengan desain survey karena kondisi medan pengambilan data tidak memungkinkan untuk
dilakukan akuisisi berdasarkan deasin yang telah dibuat sebelumnya. Lintasan yang diambil
pada setiap akuisisi umumnya berbentuk zigzag untuk memudahkan dalam melakukan
akuisisi. Pada daerah yang memungkinkan, maka beberapa lintasan dapat diambil dalam
sekali scanning. Sebelum dilakukan scanning, maka alat Future 2005 dirangkai seperti pada
Gambar 3.3.

Pengambilan data menggunakan GPR Future 2005 dilakukan dengan urutan sebagai
berikut.

1. Seluruh perlengkapan alat metode GPR dirangkai. Kemudian tombol power


dinyalakan dengan menekan tombol power pada control unit.
2. Setelah alat dihidupkan, kemudian dipilih mode scanning data. Untuk metode
georadar, maka mode yang dipilih adalah ground scan.
3. Untuk perekaman data, terdapat dua mode yakni manual dan automatic. Mode
manual digunakan untuk men-scan dengan menembankkan impulse secara manual.
Sedangkan mode automatic digunakan untuk scanning dengan impulse otomatis.
Umumnya, mode yang dipilih adalah mode automatic. Setelah itu, ditentukan
jumlah impulse yang akan digunakan. Semakin banyak impuls yang digunakan,
maka semain panjang pula area yang dapat di-scan oeh alat. Impuls maksimum
yang dapat dibaca oleh computer adalah 50.
4. Setelah control unit diatur, maka kemudian adalah menghubungkan antara alat
dangankomputer melalui Bluetooth.

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 18


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

5. Scanning dilakukan setelah semua perlengkapan terhubung dengan baik dan


perekaman dapat terbaca.

(a) (b)

(c)

Gambar 3. 3. Rangkaian alat Future 2005. (a) Pemasangan probe; (b) Pemasangan control unit;
(c) pemasangan Bluetooth ke laptop

3.4. Metode Pengolahan dan Interpretasi Data


Data yang diperoleh dari penerapan metode Ground Penetrating Radar (GPR) dengan
menggunakan alat tipe Future 2005 tidak memerlukan adanya pengolahan data. Hal ini
dikarenakan, data GPR akuisisi langsung ditampilkan secara visual sesuai dengan kondisi
bawah permukaan oleh program visualizer 3D. Selanjutnya hanya dilakukan interpretasi
terhadap gambaran visual kondisi bawah permukaan yang mana hasil ini diberikan dalam
bentuk pola perbedaan warna.

Interpretasi visual dilakukan dengan dasar sebagai berikut. Warna biru menunjukkan
nilai pengukuran negative dan dapat diinterpretasikan sebagai rongga, endapan atau aliran air,
ataupun galian di bawah tanah. Warna hijau merepresentasikan nilai pengukuran normal dari
tanah tanpa adanya anomali lainnya. Warna hijau biasanya terdapat diantara skala warna biru
dan merah. Warna kuning atau jingga menunjukkan kondisi di antara nilai warna merah dan
hijau dan mengindikasikan adanya mineralisasi di dalam tanah atau adanya logam yang
terkubur secara dalam. Sedangkan warna merah merepresentasikan nilai pengukuran posotif

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 19


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

dan menunjukkan adanya sinyal logam. Selain itu, warna erah juga dapat menunjukkan
adanya mineralisasi yang kuat di dalam logam.

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 20


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1. Data Hasil Penelitian
(Terlampir)

4.2. Interpretasi dan Pembahasan


Metode geofisika GPR digunakan untuk mengetahui kondisi bawah permukaan
berdasaran konduktivitas batuan. Dengan memanfaatkan gelombang elekteromagnetik yang
dipancarkan melalui sutau transmitter, respon dari batuan bawah permukaan akan terekam
oleh receiver. Respon ini berupa medan resulten medan elektromagnetik sekunder yang
timbul ketika medan elektromagnetik primer dipancarkan.

Pada daerah panas bumi, respon gelombang elektromagnetik yang dicari adalah respon
negatif. Keberadaan respon gelombang yang negatif menunjukkan adanya keberadaan rongga
ataupun fluida berupa air. Rongga yang dimaksud kemungkinan besar adalah patahan atau
crack dimana fluida bawah permukaan mengalir hingga mencapai permukaan. Pada area
panasbumi Tiris, penerapan metode GPR dilakukan di beberapa area di dekat sungai. Hal ini
dikarenakan manifestasi panabumi banyak ditemukan di daerah sungai. Area pengambila data
ditunjukkan pada gambar 4.1.

Gambar 4. 1. Sebaran lokasi pengambilan data metode GPR di area panasbumi Tiris.

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 21


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

Penerapan metode GPR ini ditujukan untuk mengetahui pola sebaran manifestasi
panasbumi di daerah Tiris berdasarkan pola konduktivitas batuan bawah permukaan. Pola
konduktivitas ini ditunjukkan dalam bentuk gradasi warna. Dalam setiap pengukuran,
diperoleh pola warna yang berbeda pada daerah akuisisi yang berbeda (Gambar 4.2). Dari
pola warna yang ada, diketahui bahwa kandungan yang paling banyak di bawah permukaan
daerah Tiris adalah mineral dan fluida. Hal ini ditunjukkan dengan pola warna kuning-orange
yang membentuk suatu area. Keberadaan mineral ini ditemukan di dekat daerah fluida
(ditunjukkan dengan warna biru pada hasil scan). Hal ini dimungkinkan merupakan
mineralisasi yang terjadi pada tanah akibat kontak dengan mineral yang terkandung pada
fluida panasbumi yang kemudian turut merembes melalui pori-pori pada tanah. Rembesan
fluida ini berada di daerah dekat aliran sungai, yang mana pada sungai ditemukan beberapa
titik manifestasi panasbumi.

Gambar 4. 2. Hasil scanning metode GPR di daerah panasbumi Tiris.

Pada hasil scanning, juga dijumpai adanya pola warna biru yang membetuk aliran.
Pola tersebut kemungkinan adalah aliran air bawah tanah yang mengalir dari atas prbukitan
menuju ke sungai. Aliran air ini dapat diperkirakan juga termasuk ke dalam sumber fluida dari
sumber panasbumi. Hal ini dtunjukkan oleh pola aliran yang menuju ke arah sungai tempat
terdapatnya manifestasi panasbumi. Adanya manifestasi panasbumi sehingga muncul sumber

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 22


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

air panas di permukaan diperkirakan terjadi akibat adanya patahan yang mana patahan
tersebut memotong sungai. Akibat adanya zona rapuh di daerah sungai, maka fluida
panasbumi menembus tanah hingga mencapai permukaan yakni di daerah sungai di daerah
Tiris. Karena itulah pengambilan data dengan metode GPR ini lebih difokuskan untuk
dilakukan di dekat sungai.

Pola gradasi warna yang terbaca oleh alat merupakan representasi dari medan
elektromagnetik sekunder yang muncul sebagai respon batuan bawah permukaan terhadap
impuls gelombang elektromagnetik yang dikeluarkan oleh pemancar. Metode ini didasarkan
pada persamaan-persamaan Maxwell mengenai medan elektromagnetik. Jenis batuan bawah
permukaan akan dapat diperkirakan dengan mengetahui konstanta dielektrik batuan. Akan
tetapi dalam penelitian ini, interpretasi hingga jenis batuan bawah permukaan tidak dapat
dilakukan karena keterbatasan yang ada. Interpretasi yang dapat dilakukan terhadap data hasil
scanning dengan alat GPR Future 2005 hanyalah sebatas membedakan kondisi bawah
permukaan secara kasar, yakni membedakan antara tanah, mineral atau logam dan fluida atau
rongga. Tanah ditunjukkan dengan gradasi warna hijau. Mineral atau logam ditunjukkan
dengan warna kuning hingga merah, tergantung jumlah kandungan yang ada di dalam tanah.
Logam dan mineral dibedakan berdasarkan bentuk pola warna yang ditimbulkan dan kondisi
disekitar pola warna yang ada. Sedangkan fluida atau rongga ditunjukkan dengan warna biru
dan yang membedakan adalah pola bentuk warna yang ditimbulkan.

Untuk daerah panasbumi Tiris, pola warna biru semakin banyak terjadi pada
pengambilan data di dekat sungai. Pola warna biru yang dijumpai pada lokasi yang cukup
jauh dari sungai umumnya membentuk suatu aliran soperti aliran air bawah tanah. Sdangkan
warna kunding kemerahan yang dijumpai di dekat sungai dapat diinterpretasikan sebagai hasil
mineralisasi antara tanah dengan mineral panasbumi yang terbawa oleh fluida air. Pada bagian
yang jauh dari sungai, banyak terekam pola warna hijau yang merupakan representasi dari
tanah. Berdasarkan informasi geologi yang diberika di Proseding Seminar Nasional Aplikasi
Teknologi Prasarana Wilayah (2012), daerah panasbumi Tiris berada di antara Gunung
lamongan dengan Gunung Argopuro (Gambar 4.3), tetapi belum diketahui darimana potensi
panasbumi tersebut berasal. Di antara kedua gunung tersebut, terdapat suatu patahan besar
yang mengakibatkan manifestasi panasbumi muncul ke permukaan. Sebaran manifestasi
panasbumi Tiris dapat dilihat pada Gambar 4.4. Namun demikian, berdasarkan informasi dari
peta geologi yang dikeluarkan oleh Suharsono (1992), batuan yang tersebar di daerah
panasbumi Tiris lebih didominasi oleh batuan gunungapi dari Gunug Lamongan yang terdiri
dari batuan lava, tuff halus, lapilli,lahar dan breksi gunungapi.

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 23


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

Gambar 4. 3. Peta tentative daerah panasbumi Tiris

Gambar 4. 4. Sebaran titik manifestasi daerah panasbumi Tiris.

Melalui interpretasi data, dapat diketahui bahwa utnuk penerapan metode GPR pada
daerah panas bumi, maka anomali yang dicari adalah anomali negatif, yang menunjukkan
adanya rekahan yang memungkinkan fluida panasbumi naik ke permukaan. Selain itu, daerah
yang dicari adalah daerah denga konduktivitas yang rendah karena konduktivitas batuan akan
menurun akibat terkena panas dari sumber panasbumi. Metode GPR sendiri merupakan
metode geofisika yang akan memberikan informasi mengenai kondisi bawah permukaan
secara kasar namun penggunaan metode ini sangat mudah, dimana tidak memerlukan adanya
pengolahan data dan data dapat langsung diinterpretasi.

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 24


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian dengan menggunakan metode georadar di daerah panasbumi
Tiris, adapat disimpulkan bahwa pda daerah yang cukup dekat dengan sungai banyak
ditemukan dominasi oleh anomali negatif yang ditunjukkan oleh warna biru pada data
georadar. Anomali negatif ini menunjukkan keberadaan fluida, baik fluida panasbumi maupun
air sungai yang merember melalui pori-pori tanah. Selain itu, penggunaan metode goeradar ini
dapat membantu untuk mengetahui sebaran potensi panasbumi dengan memetakan adanya
rekahan di bawah permukaan yang dapat dialiri oleh fluida panasbumi dari dalam bumi
menuju ke permukaan. Selain anomaly negatif, pada daerah di dekat dominasi fluida, juga
dijumpai beberapa pola mineralisasi yang dimungkinkan merupakan hasil dari mineralisasi
tanah dengan mineral bawaan fluida panasbumi.

5.2. Saran
Untuk penelitian selanjutnya, diharapkan penerapan metode georadar dapar dilakukan
dengan lebih menyeluruh yang melingkupi area panasbumi dan membuat lintasan yang lebih
luas.

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 25


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

DAFTAR PUSTAKA

Indriasari, Devi Nurwidya Yhuswita. 2010. Kalibrasi Ground Penetrating Radar (georadar)
untuk Mendeteksi Jenis Tanah berdasarkan Sifat Kelistrikannya. Malang: Universitas
Negeri Malang.

Jayanto, Agustinus Dwi. 2009. Metode Ground Penetrating Radar. Universitas Sriwijaya

Kearey, Philip, Michael Brooks, Ian Hill. 2002. An Introduction to Geophysical Exploration.
London: Blackwell Science.

Maghfiroh, Imrotul. 2010. Studi Potensi Longsor Plengsengan di Daerah Aliran Sungai
(DAS) Brantas Kelurahan Oro Oro Dowo Kecamatan Klojen Kota Malang dengan
Menggunakan Ground Penetrating Radar (GPR).

Proseding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah (ATPW). 2012. ISSN
2301-6752. Surabaya

Supriyanto. 2007. Perambatan Gelombang [Link]: Universitas Indonesia.

Syahril. 2007. Studi Rekahan Pada Terowongan Kereta Api dengan Metode Ground
Penetrating Radar (GPR) (Studi Kasus di Daerah Sasaksaat) Padalarang Jawa Barat.
Jurnal Geliga [Link] 1, No.2, halaman 36 44.

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 26


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

LAMPIRAN

1. Data hari ke-1: Sabtu, 8 November 2014


a. Lintasan pengambilan data.

b. Hasil scanning GPR.

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 27


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

2. Data hari ke-2: Minggu, 9 November 2014


a. Desain survey

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 28


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

b. Hasil scanning GPR.

Line 1-4

Line 5-6

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 29


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

Line 7

Line 8

Line 9

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 30


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

Line 10

Line 11

Line 12

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 31


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

Gabungan seluruh line

3. Data hari ke-3: Senin, 10 November 2014


a. Desain survey

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 32


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

b. Hasil scanning GPR.

Line 1 Line 2

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 33


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

Line 3 Line 4

Line 5 Line 6

Line 7
Line 8

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 34


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

Gabungan seluruh lintasan

4. Data hari ke-4: Selasa, 11 November 2014


a. Desain survey

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 35


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

b. Hasil scanning GPR

Line 1

Line 2

Line 3

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 36


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

Line 3B

Line 4a

Line 4B

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 37


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

Gabungan seluruh lintasan

5. Data hari ke-5: Rabu, 12 November 2014

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 38


LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA 2014

Plot hasil scanning

Metode Ground Penetrating Radar (GPR) | 39

Anda mungkin juga menyukai