Anda di halaman 1dari 28

DAFTAR ISI BAB 1. BAB II Pendahuluan....2 Isi..3 I. Etiologi............................................................................4 II. Epidemiologi....................................................................5 III. Work diagnosis.................................................................6 IV. Different diagnosis............................................................

6 V. Faktor resiko..............................................................................................8 VI. Patofisiologi..............................................................................................16 VII. Klasifikasi.................................................................................................18 VIII. Stadium klinis...........................................................................................19 IX. Gejala klinis..............................................................................................21 X. Diagnosis..................................................................................................22 I. Anamnesis.........................................................................22 II. Pemeriksaan fisik..............................................................22 III. Pemeriksaan penunjang.....................................................23 XI. Penatalaksanaan........................................................................................25 XII. Prognosis...................................................................................................26 XIII. Komplikasi................................................................................................26 XIV. Pencegahan................................................................................................27 BAB III. Penutup..28

DAFTARPUSTAKA....29

PENDAHULUAN Kanker paru adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran napas atau epitel bronkus. Terjadinya kanker ditandai dengan pertumbuhan sel yang tidak normal, tidak terbatas, dan merusak sel-sel jaringan yang normal. Proses keganasan pada epitel bronkus didahului oleh masa pra kanker. Perubahan pertama yang terjadi pada masa prakanker disebut metaplasia skuamosa yang ditandai dengan perubahan bentuk epitel dan menghilangnya silia. Kanker paru adalah salah satu jenis penyakit paru yang memerlukan penanganan dan tindakan yang cepat dan terarah. Penegakan diagnosis penyakit ini membutuhkan ketrampilan dan sarana yang tidak sederhana dan memerlukan pendekatan multidisiplin kedokteran. Penyakit ini membutuhkan kerja sama yang erat dan terpadu antara ahli paru dengan ahli radiologi diagnostik, ahli patologi anatomi, ahli radiologi terapi dan ahli bedah toraks, ahli rehabilitasi medik dan ahli-ahli lainnya. 1,2,3 Menurut konsep masa kini kanker adalah penyakit gen. Sebuah sel normal dapat menjadi sel kanker apabila oleh berbagai sebab terjadi ketidak seimbangan antara fungsi onkogen dengan gen tumor suppresor dalam proses tumbuh dan kembangnya sebuah sel.Perubahan atau mutasi gen yang menyebabkan terjadinya hiperekspresi onkogen dan/atau kurang/hilangnya fungsi gen tumor suppresor menyebabkan sel tumbuh dan berkembang tak terkendali. Perubahan ini berjalan dalam beberapa tahap atau yang dikenal dengan proses multistep carcinogenesis. Perubahan pada kromosom, misalnya hilangnya heterogeniti kromosom atau LOH juga diduga sebagai mekanisme ketidak normalan pertumbuhan sel pada sel kanker. 4,6 Dari berbagai penelitian telah dapat dikenal beberapa onkogen yangberperan dalam proses karsinogenesis kanker paru, antara lain gen myc, gen k-rassedangkan kelompok gen tumor suppresor antaralain, gen p53, gen rb. Sedangkan perubahan kromosom pada lokasi 1p, 3p dan 9p sering ditemukan pada sel kanker paru.

ISI I. Etiologi dan Faktor Risiko Kanker Paru Seperti umumnya kanker yang lain, penyebab yang pasti dari kanker paru belum diketahui, tapi paparan atau inhalasi berkepanjangan suatu zat yang bersifat karsinogenik merupakan faktor penyebab utama disamping adanya faktor lain seperti kekebalan tubuh, genetik, dan lain-lain. Dibawah ini akan diuraikan mengenai faktor risiko penyebab terjadinya kanker paru : 1,3,4 a. Merokok Menurut Van Houtte, merokok merupakan faktor yang berperan paling penting, yaitu 85% dari seluruh kasus. Rokok mengandung lebih dari 4000 bahan kimia, diantaranya telah diidentifikasi dapat menyebabkan kanker. Kejadian kanker paru pada perokok dipengaruhi oleh usia mulai merokok, jumlah batang rokok yang diisap setiap hari, lamanya kebiasaan merokok, dan lamanya berhenti merokok. b. Perokok pasif Semakin banyak orang yang tertarik dengan hubungan antara perokok pasif, atau mengisap asap rokok yang ditemukan oleh orang lain di dalam ruang tertutup, dengan risiko terjadinya kanker paru. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa pada orangorang yang tidak merokok, tetapi mengisap asap dari orang lain, risiko mendapat kanker paru meningkat dua kaliUniversitas Sumatera Utara Diduga ada 3.000 kematian akibat kanker paru tiap tahun di Amerika Serikat terjadi pada perokok pasif c. Polusi udara Kematian akibat kanker paru juga berkaitan dengan polusi udara, tetapi pengaruhnya kecil bila dibandingkan dengan merokok kretek. Kematian akibat kanker paru jumlahnya dua kali lebih banyak di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah pedesaan. Bukti statistik juga menyatakan bahwa penyakit ini lebih sering ditemukan pada masyarakat dengan kelas tingkat sosial ekonomi yang paling rendah dan berkurang pada mereka dengan kelas yang lebih tinggi. Hal ini, sebagian dapat dijelaskan dari kenyataan bahwa kelompok sosial ekonomi yang lebih rendah cenderung hidup lebih dekat dengan tempat

pekerjaan mereka, tempat udara kemungkinan besar lebih tercemar oleh polusi. Suatu karsinogen yang ditemukan dalam udara polusi (juga ditemukan pada asap rokok) adalah 3,4 benzpiren. d. Paparan zat karsinogen Beberapa zat karsinogen seperti asbestos, uranium, radon, arsen, kromium, nikel, polisiklik hidrokarbon, dan vinil klorida dapat menyebabkan kanker paru. Risiko kanker paru di antara pekerja yang menangani asbes kira-kira sepuluh kali lebih besar daripada masyarakat umum. Risiko kanker paru baik akibat kontak dengan asbes maupun uranium meningkat kalau orang tersebut juga merokok. e. Diet Beberapa penelitian melaporkan bahwa rendahnya konsumsi terhadap betakarotene, selenium, dan vitamin A menyebabkan tingginya risiko terkena kanker paru f. Genetik Terdapat bukti bahwa anggota keluarga pasien kanker paru berisiko lebih besar terkena penyakit ini. Penelitian sitogenik dan genetik molekuler memperlihatkan bahwa mutasi pada protoonkogen dan gen-gen penekan tumor memiliki arti penting dalam timbul dan berkembangnya kanker paru. Tujuan khususnya adalah pengaktifan onkogen (termasuk juga gen-gen K-ras dan myc) dan menonaktifkan gen-gen penekan tumor (termasuk gen rb, p53, dan CDKN2) g. Penyakit paru Penyakit paru seperti tuberkulosis dan penyakit paru obstruktif kronik juga dapat menjadi risiko kanker paru. Seseorang dengan penyakit paru obstruktif kronik berisiko empat sampai enam kali lebih besar terkena kanker paru ketika efek dari merokok dihilangkan. II. EPIDEMIOLOGI Penyakit paru kerja penting dikenali karena dapat dicegah dan diobati. Pajanan bahan ber-bahaya di tempat kerja dapat menyebabkan atau memperburuk penyakit seperti asma, kanker, dermatitis atau tuberkulosis.1-3Diperkirakan jumlah kasus baru penyakit akibat kerja di Amerika Serikat 125.000 sampai 350.000 kasus pertahun dan terjadi 5,3 juta kecelakaan kerja pertahun. Biaya yang dikeluar-kan lebih dari 60 trilyun dolar pertahun. 2 Penyakit akibat kerja dapat dijumpai di tempat industri dan pertanian.1.7

3 Kejadian penyakit yang disebabkan oleh debu mineral menurun di negara-negara pascaindustri dan asma muncul sebagai penyakit paru kerja yang utama.4Asma kerja merupakan penyakit paru kerja yang sering dijumpai di negara berkembang, prevalensinya bervariasi antara 2-20% III. Work diagnosis Kanker paru adalah penyebab kematian utama pada kelompok kematian akibat keganasan dan cenderung terus meningkat hampir di seluruh dunia'-mungkin termasuk lndonesia.Kekerapan merokok berdasarkan survei 87 negara yang dilakukan WHO pada 85% populasi dunia menunjukkan 47% laki-laki dan 12% perempuan berusia 15 tahun ke atas3 Suwei tersebut dilakukan 20 tahun yang lalu dan laporan lebih baru diperkirakan jumlah perokok laki-laki menurun tetapi sebaliknya meningkat pada perernpuan. Angka itu menjadi penting jika dikaitkan dengan perkiraan jumlah kasus baru kanker paru. Jamel dkk mengeluarkan laporan tahunan tentang estimasi atau perkiraan kasus baru dan kematian akibat kanker paru dan mengatakan terlihat korelasi antara jurnlah perokok dengan angka estimasi tersebut.' lndonesia dikelompokkan dalam negara dengan tingkat konsumsi rokok yang besar tetapi sulit didapat angka pastinya. Data-data hasil penelitian yang akurat , menyakini bahwa rokok adalah salah satu faktor risiko terkuat untuk kanker paru. IV. diagnosis banding Tuberkulosis

Tuberkulosis atau TBC pernah menjadi penyakit yang sangat menakutkan di Indonesia, yaitu pada masa kemerdekaan dulu. Penyakit ini mudah menular, seperti halnya flu biasa dan cepat menyebar pada orang-orang yang hidup bersama penderita. Bahkan, panglima besar Jendral Sudirman pun akhirnya tidak berdaya melawan penyakit ini. Sekarang, upaya pencegahan sejak dini telah dilakukan, yaitu dengan paket imunisasi BCG pada balita. Walau demikian, Indonesia belum terbebas 100 % dari penyakit ini. Apa itu TBC paru-paru ?

Tuberkulosis adalah penyakit infeksi akibat infeksi kuman Mycobacterium yang bersifat sistemis (menyeluruh) sehingga dapat mengenai hampir seluruh organ tubuh, dengan lokasi terbanyak di paru-paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi yang pertama kali terjadi. Apa penyebabnya ? Bakteri Mycobacterium tuberculosa, bakteri ini dapat menular. Jika penderita bersin atau batuk maka bakteri tuberculosi akan bertebaran di udara. Infeksi awal yang terjadi pada anak-anak umunya akan menghilang dengan sendirinya jika anak-anak telah mengembangkan imunitasnya sendiri selama periode 6-10 minggu. Tetapi banyak juga terjadi dalam berbagai kasus, infeksi awal tersebut malah berkembang menjadi progressive pernafasan (parutuberculosis yang menjangkiti organ paru dan organ tubuh lainnya. Jika sudah terkena infeksi yang progresif Organ ini maka gejala yang terlihat adalah demam, berat badan paru)

turun, rasa lelah, kehilangan nafsu makan dan batuk-batuk. Dalam kasus reactivation tuberculosis, infeksi awal tuberculosis (primary tuberculosis) mungkin telah lenyap tetapi bakterinya tidak mati melainkan hanya "tidur" untuk sementara waktu. 1,2 Bilamana kondisi tubuh sedang tidak fit dan dalam imunitas yang rendah, maka bakteri ini akan aktif kembali. Gejala yang paling menyolok adalah demam yang berlangsung lama denga keringat yang berlebihan pada malam hari dan diikuti oleh rasa lelah dan berat badan yang turun. Jika penyakit ini semakin progresif maka bakteri yang aktif tersebut akan merusak jaringan paru dan terbentuk rongga-rongga (lubang) pada paruparu penderita maka si penderita akan batuk-batuk dan memproduksi sputum (dahak) yang bercampur dengan darah. V. Faktor resiko

Penyakit

TBC

adalah

penyakit

yang

dapat

ditularkan terutama melalui percikan ludah dari orang yang menderita, namun bila daya tahan tubuh seseorang itu baik maka kuman yang ada didalam tubuh hanya akan menetap dan tidak akan menyebabkan infeksi dan saat daya tahan tubuh sedang turun maka kuman akan menjadi aktif dan menyebabkan tersebut. 1,4 Inkubasinya sangat tergantung kepada individu dan level dari infeksi tersebut, apakah termasuk dasar, progresif atau aktif kembali. TBC adalah penyakit kronis yang dapat berlangsung selama bertahun-tahun jika tidak ditangani secara benar. Jika sudah terinfeksi TBC sebaiknya penderita dirawat di rumah sakit atau sanatorium sampai sembuh betul. Gejala klinis Gejala umum/nonspesifik antara lain :

Perokok sangat beresiko menderita penyakit TBC

timbulnya

infeksi

pada

orang

Berat badan turun tanpa sebab yang jelas atau pada anak berat badan tidak naik dalam 1 bulan dengan penanganan gizi Tidak nafsu makan dan pada anak terlihat gagal tumbuh serta penambahan berat badan tidak memadai sesuai umur Demam lama dan berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifoid, malaria atau infeksi saluran nafas akut), dapat disertai adanya keringat pada malam hari Adanya pembesaran kelenjar seperti di leher atau ketiak Batuk lama lebih 30 hari dengan atau tanpa dahak atau dapat juga berupa batuk darah

Pada anak-anak, primary pulmonary tuberculosis (infeksi pertama yang disebabkan oleh bakteri tuberculosis) tidak menampakkan gejalanya meskipun dengan pemeriksaan sinar X-ray. Kadang-kadang; ini pun jarang; terlihat adanya pembesaran kelenjar getah bening 7

dan batuk-batuk. Dalam banyak kasus jika tuberculin skin test-nya menunjukkan hasil positif maka si penderita diindikasikan menderita penyakit TBC. Anak-anak dengan dengan tuberculin test positif, meskipun tidak menampakkan gejala, harus mendapatkan perawatan serius. Pengobatan Obat untuk TBC berbentuk paket selama 6 bulan yang harus dimakan setiap hari tanpa terputus. Bila penderita berhenti ditengah pengobatan maka pengobatan harus diulang lagi dari awal, untuk itu maka dikenal istilah PMO (pengawas minum obat) yaitu adannya orang lain yang dikenal baik oleh penderita maupun petugas kesehatan (biasanya keluarga pasien) yang bertugas untuk menngawasi dan memastikan penderita meminum obatnya secara teratur setiap hari. Pada 2 bulan pertama obat diminum setiap hari sedangkan pada 4 bulan berikutnya obat diminum selang sehari. Regimen yang ada antara lain : INH, Pirazinamid, Rifampicin, Ethambutol, Streptomisin. Yang dapat anda lakukan:

Konsultasi ke dokter anda. Minumlah obat anti tuberkulosa, sesuai nasihat dokter secara teratur, dan jangan menghentikan pengobatan tanpa sepengetahuan dokter, karena kan mendorong kuman jadi kebal terhadap pengobatan anti tuberkulosa. Biasanya penyembuhan paling cepat sekitar 6-9 bulan kalau minum obat secara teratur.

Makanlah makanan bergizi. Menyederhanakan cara hidup sehari-hari agar tidak menyebabkan stres dan banyak istirahat terutama di tempat berventilasi baik. Menghentikan merokok, bila anda perokok.

Tindakan dokter untuk anda

Memastikan diagnosa melalui pemeriksaan dahak, pemeriksaan rontgen dada atau pada temapat lain yang disesuaikan keperluan, pemeriksaan darah dan kadar gula darah.

Memberi resep obat-obat anti TB. Menganjurkan anda untuk masuk rumah sakit bila dipandang perlu, dengan tujuan memulihkan kesehatan dan istirahat, agar melampaui saat gawat selesai. Melakukan operasi untuk membuang bagian-bagian tubuh yang gterkena bila dipandang perlu. Memeriksa keluarga atau orang-orang terdekat dengan anda, mencari sumber infeksi dan kemungkinan terkena TB juga. Memberikan petunjuk mengenai cara batuk agar tidak menyebarkan kuman dan meludah harus dikumpulkan dengan diberi cairan pembunuh kuman (antara lain : lisol), cara hidup yang teratur dan menenangkan pikiran agar daya tahan tubuh mengatasi penyakit dengan cepat.5

Pencegahan

Imunisasi BCG pada anak balita, Vaksin BCG sebaiknya diberikan sejak anak masih kecil agar terhindar dari penyakit tersebut. Bila ada yang dicurigai sebagai penderita TBC maka harus segera diobati sampai tuntas agar tidak menjadi penyakit yang lebih berat dan terjadi penularan. Jangan minum susu sapi mentah dan harus dimasak Bagi penderita untuk tidak membuang ludah sembarangan. Pencegahan terhadap penyakit TBC dapat dilakukan dengan tidak melakukan kontak udara dengan penderita, minum obat pencegah dengan dosis tinggi dan hidup secara sehat. Terutama rumah harus baik ventilasi udaranya dimana sinar matahari pagi masuk ke dalam rumah.

Tutup mulut dengan sapu tangan bila batuk serta tidak meludah/mengeluarkan dahak di sembarangan tempat dan menyediakan tempat ludah yang diberi lisol atau bahan lain yang dianjurkan dokter dan untuk mengurangi aktivitas kerja serta menenangkan pikiran. Bronkiektasis

Pengertian

Bronkiektasis merupakan kelainan morfologis yang terdiri dari pelebaran bronkus yang abnormal dan menetap disebabkan kerusakan komponen elastis dan muscular dinding bronkus. Bronkiektasis berarti suatu dilatasi yang tak dapat pulih lagi dari bronchial yang disebabkan oleh episode pnemonitis berulang dan memanjang,aspirasi benda asing, atau massa ( mis. Neoplasma) yang menghambat lumen bronchial dengan obstruksi. Etiologi 1. Infeksi 2. Kelainan heriditer atau kelainan konginetal 3. Faktor mekanis yang mempermudah timbulnya infeksi 4. Sering penderita mempunyai riwayat pneumoni sebagai komplikasi campak, batuk rejan, atau penyakit menular lainnya semasa kanak-kanak.

Tanda dan Gejala 1. Batuk yang menahun dengan sputum yang banyak terutama pada pagi hari,setelah tiduran dan berbaring. 2. Batuk dengan sputum menyertai batuk pilek selama 1-2 minggu atau tidak ada gejala sama sekali ( Bronkiektasis ringan ) 3. Batuk yang terus menerus dengan sputum yang banyak kurang lebih 200 - 300 cc, disertai demam, tidak ada nafsu makan, penurunan berat badan, anemia, nyeri pleura, dan lemah badan kadang-kadang sesak nafas dan sianosis, sputum sering mengandung bercak darah,dan batuk darah. 4. Ditemukan jari-jari tabuh pada 30-50 % kasus. Tumor sekunder pada paru

Tersiar berita bahwa Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih terdeteksi mengidap penyakit kanker paru-paru. Bahkan dikabarkan sudah masuk kategori stadium empat berarti sudah menyebar ke organ tubuh lainnya. Penyakit berbahaya itu baru diketahuinya sejak Oktober 2010 ketika melakukan kewajiban check-up bagi para menteri-menteri setiap

10

tahun sekali. Namun baru tersiar ke publik pada 17 Januari 2011 dalam sebuah pertemuan Menkes dengan sejumlah wartawan di Kantor Kemenkes Jalan Rasuna Said, Kuningan Jakarta. Meski divonis menderita penyakit kanker paru, Endang Rahayu Sedyaningsih bertekad tetap beraktivitas sebagai Menteri Kesehatan sambil menjalani pengobatan. Dari kasus penyakit kanker paru-paru yang diderita Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih dapat menjadi bukti bahwa penyakit dapat menyerang siapa saja, sekalipun seorang menteri yang sehari-hari membina kesehatan masyarakat. Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih pada saat test kesehatan sebagai calon menteri pada 22 Oktober 2009 lalu tidak terdeteksi gejala penyakitnya, namun setahun kemudian dokter memvonisnya memiliki gejala kanker paru-paru. Gejala Kanker Penyakit kanker paru-paru banyak menyerang kaum pria dan wanita dan merupakan penyebab utama dari kematian akibat kanker. Sumber kanker paru-paru berasal dari selsel di dalam paru-paru, meski kanker pada bagian tubuh lainnya dapat juga menyebar ke paru-paru. Awal terjadinya kanker paru-paru bermula pada saluran udara besar yang masuk ke paru-paru yang disebut bronki. Karena itu kanker sering disebut karsinoma bronkogenik. Pada umumnya, penyakit kanker paru-paru diklasifikasikan menjadi dua berdasarkan penyebarannya yakni kanker paru-paru primer dan kanker paru-paru sekunder. Pada kanker paru-paru primer, memiliki 2 type utama, yaitu Small cell lung cancer (SCLC) dan Non-small cell lung cancer (NSCLC). SCLC adalah jenis sell yang kecil-kecil (banyak) dimana memiliki daya pertumbuhan yang sangat cepat hingga membesar. Biasanya disebut oat cell carcinomas (karsinoma sel gandum). Type ini sangat erat kaitannya dengan perokok, Penanganan cukup berespon baik melalui tindakan chemotherapy and radiation therapy. Sedangkan NSCLC adalah merupakan pertumbuhan sell tunggal, tetapi seringkali menyerang lebih dari satu daerah di paru-paru, misalnya Adenoma, Hamartoma kondromatous dan Sarkoma. Sementara kanker paru-paru sekunder merupakan penyakit kanker paru yang timbul sebagai dampak penyebaran

11

kanker dari bagian organ tubuh lainnya, yang paling sering adalah kanker payudara dan kanker usus (perut). Kanker menyebar melalui darah, sistem limpa atau karena kedekatan organ Salah satu ciri dari penyakit kanker pada umumnya adalah tidak ada tanda - tanda atau memiliki gejala kemunculan sampai pada stadium tertentu. Namun beberapa kemungkinan gejala yang dideteksi sebagai penyakit kanker adalah dahak berdarah berubah warna dan makin banyak, napas sesak dan pendek-pendek, batuk yang terus menerus atau menjadi hebat, kehilangan selera makan atau turunnya berat badan tanpa sebab yang jelas, pembengkakan di wajah atau leher, suara serak/parau dan kelelahan kronis (Wikipedia). Pada stadium awal, gejala - gejala tersebut sering tidak terdeteksi. Setelah stadium akhir, baru penderita mencari pertolongan medis. Dari semua jenis kanker, menurut WHO kanker paru merupakan penyebab kematian utama baik pria maupun wanita. Ada beberapa penyebab seseorang menderita penyakit kanker paru-paru. Penyebab pertama adalah virus human papillomavirus (HPV). Virus ini dikenal sebagai penyebab kanker leher rahim. Sebuah penelitian dari sekelompok ilmuwan Taiwan pada tahun 2001 menemukan fakta adanya sejumlah wanita usia baya di Taiwan mengidap kanker paru disebabkan oleh HPV. Padahal sejumlah wanita itu tidak merokok, sebagaimana pada umumnya penyebab kanker paru. Penyebab kedua adalah polusi udara dari zat - zat dalam asap hitam kendaraan, arsen, klorometil eter, nikel, kromat, gas mustard dan banyak lagi. Sekitar 10% - 15% pada pria dan 5% pada wanita disebabkan oleh zat-zat yang disebut diatas. Berdasarkan hasil kajian American Cancer Society mengungkap fakta bahwa peningkatan jumlah partikel halus sebanyak 1% saja sudah mampu meningkatkan risiko kanker paru sebanyak 14%. Semakin kecil ukuran partikel maka semakin jauh partikel tersebut bisa memasuki organ paru. Penyebab ketiga adalah benda padat bernama asbes yang sering digunakan sebagai bahan atap. Di Amerika saja, setiap tahun ada 2000-3000 kasus kematian akibat kanker paru yang berhubungan erat dengan terhirupnya asbes ke dalam paru. Penyebab keempat adalah merokok. Merokok adalah penyebab utama penyakit kanker paru - paru pada pria

12

dan wanita. Diperkirakan orang yang menderita kanker paru, sekitar 90% diderita oleh kaum pria dan sekitar 70% pada wanita. Semakin banyak menghisap rokok, semakin besar risiko untuk menderita kanker paru-paru. Sindroma hormonal yang berhubungan dengan kanker paru-paru adalah: pembesaran payudara pada pria (ginekomastia), kelebihan hormon tiroid (hipertiroidisme), dan perubahan kulit (kulit di ketiak menjadi lebih gelap) serta perubahan bentuk jari tangan, jari kaki, dan perubahan pada ujung tulang-tulang panjang. Pencegahan dan Pengobatan Pengelompakan (stadium) kanker dilakukan guna menentukan jenis pengobatan yang akan dilakukan. Stadium kanker dapat dilakukan berdasarkan: ukuran tumor, penyebaran ke kelenjar getah bening di dekatnya, dan penyebaran ke organ lain. Untuk mengetahui seseorang memiliki potensi terkena kanker paru-paru, diagnosa awal bisa dilakukan dengan memperhatikan batuk yang menetap dan terus menerus hingga kondisi memburuk. Bila gejala ini muncul maka sebaiknya menggunakan alat rontgen dada untuk menemukan sebagian besar tumor paru-paru. Bila hasilnya positif terkena kanker paru-paru, akan ditemukan bayangan pada rontgen dada seseorang meskipun tidak semua bayangan yang terlihat merupakan kanker. Bayangan kecil yang tidak tampak pada foto rontgen dada bisa dilihat melalui CT scan. Dengan menggunakan alat CT scan, pembesaran kelenjar getah bening dapat diketahui termasuk bila ada penyebaran ke hati, kelenjar adrenal atau otak. Sementara penyebaran ke tulang bisa dilihat melalui skrening tulang. Pemeriksaan mikroskopik juga dapat mendiagnosa gejala kanker paru-paru dengan memeriksa dahak penderita (sitologi dahak). Kadang dilakukan bronkoskopi untuk mendapatkan jaringan yang diperlukan. Setelah tahap diagnosa penyakit, tahap berikutnya adalah pengobatan kanker paru-paru. Pembedahan merupakan pilihan pengobatan yang kerap dilakukan pada karsinoma sel kecil yang belum menyebar. Pada karsinoma sel kecil telah menyebar ke bagian tubuh lainnya kanker ini diobati dengan kemoterapi. Dari semua pilihan pengobatan kanker,

13

sekitar 10% - 35% kanker diangkat melalui pembedahan, meski tidak semua pembedahan dapat menghasilkan kesembuhan bagi penderita kanker paru-paru. Tes fungsi paru-paru dilakukan sebelum pembedahan untuk mengetahui baik atau tidaknya paru-paru dalam menjalankan fungsinya. Paru-paru yang tidak berfungsi baik tidak dimungkinkan untuk pembedahan. Untuk mengurangi gangguan pernafasan pada penderita kanker paru-paru yang mengalami penurunan fungsi paru-paru bisa diberikan terapi oksigen. Selain terapi oksigen, diberikan juga obat yang dapat melebarkan saluran udara (bronkodilator) Selain itu, pembedahan urung dilakukan bila kanker telah menyebar keluar paru-paru, kanker terlalu dekat dengan trakea, penderita kanker dalam keadaan yang serius seperti penyakit paru-paru berat. Bila tidak dapat dilakukan pembedahan, pilihan pengobatan lainnya adalah terapi penyinaran. Tujuan dari terapi penyinaran untuk memperlambat pertumbuhan kanker, tetapi bukan untuk penyembuhan. Terapi ini juga dapat mengurangi nyeri otot, penekanan saraf tulang belakang dan sindroma vena kava superior. Namun efek penyinaran bisa menyebabkan peradang paru-paru (pneumonitis) dengan gejala berupa batuk, sesak nafas dan demam. Gejala tersebut bisa dikurangi dengan corticosteroid, misalnya prednisone.Tahap pencegahan kanker paru-paru adalah langkah paling penting sebelum terserang penyakit mematikan ini. Sebagaimana diketahui perilaku merokok adalah faktor penyebab utama karena itu pencegahannya dengan tidak merokok, berhenti merokok dan menghindari terpapar asap rokok. Jika belum pernah merokok maka jangan mendekati rokok atau mencoba-coba merokok untuk menghindari faktor risiko utama kanker paru-paru. Bila terlanjur merokok, maka berhenti merokok sekarang juga dengan meminta bantuan dan tips-tips berhenti merokok yang dapat memandu untuk menjauhi rokok, sekalipun sudah merokok bertahun-tahun lamanya. Bila tinggal atau bekerja bersama dengan perokok dan ingin menghindari asap rokok, maka dorong perokok itu untuk berhenti merokok atau merokok pada area bebas rokok. Pencegahan di rumah dan di tempat kerja adalah langkah penting untuk menghindari terpapar kanker paru-paru. Pencegahan di rumah dengan cara memeriksa kadar radon rumah, utamanya apabila tinggal pada wilayah dengan kadar radon yang tinggi. Rumah dapat diperbaiki guna mencegah kadar radon yang tinggi dengan tes radon. Sementara pencegahan di tempat kerja adalah menghindari karsinogen berupa perlindungan diri dari 14

paparan bahan kimia beracun. Penggunaan masker adalah salah satu cara perlindungan diri dari ancaman bahan kimia beracun. Pencegahan primer dari segala macam penyakit dengan menerapkan pola hidup sehat seperti olahraga dan makan makanan yang mengandung karbohidrat, protein dan vitamin. Kegiatan olahraga sebaiknya dilakukan minimal 30 menit setiap hari dalam seminggu. Olahraga berjalan dan berlari-lari kecil (jogging) adalah pilihan jenis olahraga yang ringan, selain bersepeda atau berenang. VI. patofisiologis Merokok merupakan penyebab utama penyakit paru-paru bersifat kronis dan obstruktif, misalnya bronkitis dan empisema. Sekitar 85% dari penderita penyakit ini disebabkan oleh rokok. Pada perokok pria, kematian karena penyakit ini 4-25 kali lipat lebih tinggi dibandingkan bukan perokok. Perokok wanita memberikan efek jauh lebih tinggi terhadap jenis penyakit ini dibandingkan perokok pria. Gejala yang ditimbulkan berupa batuk kronis, berdahak, dan gangguan pernafasan-banyak dijumpai pada perokok. Apabila diadakan uji fungsi paru-paru maka pada perokok jauh lebih jelek dibandingkan dengan bukan perokok. Merokok juga terkait dengan influenza dan radang paru-paru lainnya. Pada penderita asma, merokok akan memperparah gejala asma sebab asap rokok akan lebih menyempitkan saluran pernapasan. Menurut Aditama, kebiasaan merokok juga dihubungkan dengan peningkatan kadar suatu bahan yang disebut imunoglobulin E yang spesifik. Kadar antibodi terhadap bahan ini ternyata empat sampai lima kali lebih tinggi pada perokok bila dibandingkan dengan bukan perokok. Penelitian lain melaporkan pula peningkatan hitung jenis sel basofil dan eosinofil pada perokok. Jumlah sel Goblet yang ada di saluran napas juga terpengaruh akibat asap rokok dan mengakibatkan terkumpulnya lendir di saluran napas. Ada juga penelitian yang mengemukakan bahwa epithelial serous cells di saluran napas dapat berubah menjadi sel goblet akibat paparan asap rokok dan polutan lainnya.

15

Gambar 2.1. Skema Bahan Kimia Rokok Menyebabkan Terjadinya Kanker Paru. Menurut Hecht (2003) dalam Ibrahim (2007), skema ini menggambarkan peran utama perubahan DNA dalam proses karsinogenesis. Dalam skema ini, nikotin menyebabkan sifat adiksi ingin terus merokok dan menyebabkan pajanan kronis terhadap bahan karsinogen. Karsinogen secara metabolik dapat diaktifkan untuk bereaksi dengan DNA, membentuk produk kovalen gabungan yang disebut DNA yang berubah ( DNA adducts). Bersaing dengan proses metabolik ini, proses detoksifikasi produk karsinogen gagal untuk diekskresikan. Jika DNA yang sudah berubah tersebut dapat diperbaiki ( repair) oleh enzim perbaikan seluler, DNA akan kembali menjadi bentuk normalnya. Akan tetapi jika perubahan terus berlangsung selama replikasi DNA, kegagalan pengkodean DNA dapat terjadi, yang cenderung menjadi mutasi permanen dalam urutan DNA. Sel-sel dengan DNA rusak atau bermutasi dapat dilisiskan dengan proses apoptosis. Jika mutasi terjadi pada bagian utama dalam gen-gen yang krusial, seperti RAS atau MYC onkogen atau TP53 atau CDKN2A tumor supresor gen, hanya dapat terjadi kehilangan kontrol regulasi pertumbuhan sel-sel normal dan terjadi pertumbuhan tumor. Nikotin dan karsinogen dapat juga berikatan secara langsung dengan reseptor beberapa sel, selanjutnya mengaktivasi protein kinase B (AKT), protein kinase A (PKA) dan faktorfaktor lain. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya penurunan proses apoptosis, peningkatan angiogenesis, dan peningkatan transformasi sel. Bahan isi tembakau juga berisi promotor tumor dan kokarsinogen, yang dapat mengaktifkan proses karsinogenesis. VII. Klasifikasi Kanker Paru Kanker paru dibagi menjadi kanker paru sel kecil (small cell lung cancer, SCLC) dan kanker paru sel tidak kecil (non-small lung cancer, NSCLC). Klasifikasi ini digunakan

16

untuk menentukan terapi. Termasuk didalam golongan kanker paru sel tidak kecil adalah epidermoid, adenokarsinoma, tipe-tipe sel besar, atau campuran dari ketiganya. Karsinoma sel skuamosa (epidermoid) merupakan tipe histologik kanker paru yang paling sering ditemukan, berasal dari permukaan epitel bronkus. Perubahan epitel termasuk metaplasia, atau displasia akibat merokok jangka panjang, secara khas mendahului timbulnya tumor. Karsinoma sel skuamosa biasanya terletak sentral di sekitar hilus, dan menonjol ke dalam bronki besar. Diameter tumor jarang melampaui beberapa sentimeter dan cenderung menyebar secara langsung ke kelenjar getah bening hilus, dinding dada, dan mediastinum. Karsinoma ini lebih sering pada laki-laki daripada perempuan. Adenokarsinoma, memperlihatkan susunan selular seperti kelenjar bronkus dan dapat mengandung mukus. Kebanyakan jenis tumor ini timbul di bagian perifer segmen bronkus dan kadang-kadang dapat dikaitkan dengan jaringan parut lokal pada paru dan fibrosis interstisial kronik. Lesi sering kali meluas ke pembuluh darah dan limfe pada stadium dini dan sering bermetastasis jauh sebelum lesi primer menyebabkan gejalagejala. Karsinoma bronkoalveolus dimasukkan sebagai subtipe adenokarsinoma dalam klasifikasi terbaru tumor paru dari WHO. Karsinoma ini adalah sel-sel ganas yang besar dan berdiferensiasi sangat buruk dengan sitoplasma yang besar dan ukuran inti bermacam-macam. Sel-sel ini cenderung timbul pada jaringan paru perifer, tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat-tempat yang jauh. Karsinoma sel kecil umumnya tampak sebagai massa abu-abu pucat yang terletak di sentral dengan perluasan ke dalam parenkim paru dan keterlibatan dini kelenjar getah bening hilus dan mediastinum. Kanker ini terdiri atas sel tumor dengan bentuk bulat hingga lonjong, sedikit sitoplasma, dan kromatin granular. Gambaran mitotik sering ditemukan. Biasanya ditemukan nekrosis dan mungkin luas. Sel tumor sangat rapuh dan sering memperlihatkan fragmentasi dan crush artifact pada sediaan biopsi. Gambaran lain pada karsinoma sel kecil, yang paling jelas pada pemeriksaan sitologik, adalah

17

berlipatnya nukleus akibat letak sel tumor dengan sedikit sitoplasma yang saling berdekatan. Karsinoma sel besar adalah sel-sel ganas yang besar dan berdiferensiasi sangat buruk dengan sitoplasma yang besar dan ukuran inti bermacam-macam. Sel-sel ini cenderung timbul pada jaringan paru perifer, tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat-tempat yang jauh. Bentuk lain dari kanker paru primer adalah adenoma, sarkoma, dan mesotelioma bronkus. Walaupun jarang, tumor-tumor ini penting karena dapat menyerupai karsinoma bronkogenik dan mengancam jiwa. VIII. Stadium Klinis Pembagian stadium klinis kanker paru berdasarkan sistem TNM menurut International Union Against (IUAC)/The American Joint Comittee on Cancer (AJCC) 1997 adalah sebagai berikut : Tabel 2.1. Stadium Klinis Kanker Paru. STADIUM Karsinoma tersembunyi Stadium 0 Stadium IA Stadium IB Stadium IIA Stadium IIB T3, N0, M0 Stadium IIIA T1-3, N2, M0 Stadium IIIB Stadium IV Keterangan : Status Tumor Primer (T) T0 : Tidak terbukti adanya tumor primer. Tx : Kanker yang tersembunyi terlihat pada sitologi bilasan bronkus, tetapi tidak terlihat pada radiogram atau bronkoskopi. TNM Tx, N0, M0 Tis, N0, M0 T1, N0, M0 T2, N0, M0 T1, N1, M0 T2, N1, M0 T3, N1, M0 T berapa pun, N3, M0 T4, N berapa pun, M0 T berapa pun, N berapa pun, M1

18

Tis : Karsinoma in situ. T1 : Tumor berdiameter 3 cm dikelilingi paru atau pleura viseralis yang normal. T2 : Tumor berdiameter > 3 cm atau ukuran berapa pun yang sudah menyerang pleura viseralis atau mengakibatkan ateletaksis yang meluas ke hilus; harus berjarak > 2 cm distal dari karina. T3 : Tumor ukuran berapa saja yang langsung meluas ke dinding dada, diafragma, pleura mediastinalis, dan perikardium parietal atau tumor di bronkus utama yang terletak 2 cm dari distal karina, tetapi tidak melibatkan karina, tanpa mengenai jantung, pembuluh darah besar, trakea, esofagus, atau korpus vertebra. T4 : Tumor ukuran berapa saja dan meluas ke mediastinum, jantung, pembuluh darah besar, trakea, esofagus, korpus vertebra, rongga pleura/perikardium yang disertai efusi pleura/perikardium, satelit nodul ipsilateral pada lobus yang sama pada tumor primer. Keterlibatan Kelenjar Getah Bening Regional (N) N0 : Tidak dapat terlihat metastasis pada kelenjar getah bening regional. N1 : Metastasis pada peribronkial dan/atau kelenjar hilus ipsilateral. N2 : Metastasis pada mediastinal ipsilateral atau kelenjar getah bening subkarina. N3 : Metastasis pada mediastinal atau kelenjar getah bening hilus kontralateral; kelenjar getah bening skalenus atau supraklavikular ipsilateral atau kontralateral. Metastasis Jauh (M) M0 : Tidak diketahui adanya metastasis jauh. M1 : Metastasis jauh terdapat pada tempat tertentu misalnya otak (Huq, 2010). IX. Gejala Klinis Pada fase awal kebanyakan kanker paru tidak menunjukkan gejala-gejala klinis. Bila sudah menampakkan gejala berarti pasien dalam stadium lanjut. Gejala-gejala dapat bersifat : Lokal (tumor tumbuh setempat) : Batuk baru atau batuk lebih hebat pada batuk kronis Hemoptisis

19

Mengi (wheezing, stridor) karena ada obstruksi saluran nafas Kadang terdapat kavitas seperti abses paru Ateletaksis Invasi lokal : Nyeri dada Dispnea karena efusi pleura Invasi ke perikardium terjadi tamponade atau aritmia Sindrom vena cava superior Sindrom Horner (facial anhidrosis, ptosis, miosis) Suara serak, karena penekanan pada nervus laryngeal recurrent Sindrom Pancoast, karena invasi pada pleksus brakhialis dan saraf simpatis servikalis Gejala Penyakit Metastasis : Pada otak, tulang, hati, adrenal Limfadenopati servikal dan supraklavikula (sering menyertai metastasis) Sindrom Paraneoplastik : terdapat 10% kanker paru dengan gejala : Sistemik : penurunan berat badan, anoreksia, demam Hematologi : leukositosis, anemia, hiperkoagulasi Hipertrofi osteoartropati Neurologik : dementia, ataksia, tremor, neuropati perifer Neuromiopati Endokrin : sekresi berlebihan hormon paratiroid (hiperkalsemia) Dermatologik : eritema multiform, hiperkeratosis, jari tabuh Renal : syndrome of inappropriate antidiuretic hormone Asimtomatik dengan kelainan radiologis Sering terdapat pada perokok dengan COPD yang terdeteksi secara radiologis. Kelainan berupa nodul soliter X. Diagnosis Anamnesis

20

Anamnesis yang lengkap serta pemeriksaan fisik merupakan kunci untuk diagnosis tepat. Keluhan dan gejala klinis permulaan merupakan tanda awal penyakit kanker paru. Batuk disertai dahak yang banyak dan kadang-kadang bercampur darah, sesak nafas dengan suara pernafasan nyaring (wheezing), nyeri dada, lemah, berat badan menurun, dan anoreksia merupakan keadaan yang mendukung. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan pada pasien tersangka kanker paru adalah faktor usia, jenis kelamin, keniasaan merokok, dan terpapar zat karsinogen yang dapat menyebabkan nodul soliter paru. 1,5,6 Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan ini dilakukan untuk menemukan kelainan-kelainan berupa perubahan bentuk dinding toraks dan trakea, pembesaran kelenjar getah bening dan tanda-tanda obstruksi parsial, infiltrat dan pleuritis dengan cairan pleura. Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan laboratorium ditujukan untuk : a. Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru. Kerusakan pada paru dapat dinilai dengan pemeriksaan faal paru atau pemeriksaan analisis gas. b. Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru pada organ-organ lainnya. c. Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru pada jaringan tubuh baik oleh karena tumor primernya maupun oleh karena metastasis. i. Radiologi Pemeriksaan radiologi adalah pemeriksaan yang paling utama dipergunakan untuk mendiagnosa kanker paru. Kanker paru memiliki gambaran radiologi yang bervariasi.

21

Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan keganasan tumor dengan melihat ukuran tumor, kelenjar getah bening, dan metastasis ke organ lain. Pemeriksaan radiologi dapat dilakukan dengan metode tomografi komputer. Pada pemeriksaan tomografi komputer dapat dilihat hubungan kanker paru dengan dinding toraks, bronkus, dan pembuluh darah secara jelas. Keuntungan tomografi komputer tidak hanya memperlihatkan bronkus, tetapi juga struktur di sekitar lesi serta invasi tumor ke dinding toraks. Tomografi komputer juga mempunyai resolusi yang lebih tinggi, dapat mendeteksi lesi kecil dan tumor yang tersembunyi oleh struktur normal yang berdekatan. ii. Sitologi Sitologi merupakan metode pemeriksaan kanker paru yang mempunyai nilai diagnostik yang tinggi dengan komplikasi yang rendah. Pemeriksaan dilakukan dengan mempelajari sel pada jaringan. Pemeriksaan sitologi dapat menunjukkan gambaran perubahan sel, baik pada stadium prakanker maupun kanker. Selain itu dapat juga menunjukkan proses dan sebab peradangan. Pemeriksaan sputum adalah salah satu teknik pemeriksaan yang dipakai untuk mendapatkan bahan sitologik. Pemeriksaan sputum adalah pemeriksaan yang paling sederhana dan murah untuk mendeteksi kanker paru stadium preinvasif maupun invasif. Pemeriksaan ini akan memberi hasil yang baik terutama untuk kanker paru yang letaknya sentral. Pemeriksaan ini juga sering digunakan untuk skrining terhadap kanker paru pada golongan risiko tinggi. iii. Bronkoskopi Setiap pasien yang dicurigai menderita tumor bronkus merupakan indikasi untuk bronkoskopi. Dengan menggunakan bronkoskop fiber optik, perubahan mikroskopik mukosa bronkus dapat dilihat berupa nodul atau gumpalan daging. Bronkoskopi akan lebih mudah dilakukan pada tumor yang letaknya di sentral. Tumor yang letaknya di perifer sulit dicapai oleh ujung bronkoskop.

22

iv. Biopsi Transtorakal Biopsi aspirasi jarum halus transtorakal banyak digunakan untuk mendiagnosis tumor pada paru terutama yang terletak di perifer. Dalam hal ini diperlukan peranan radiologi untuk menentukan ukuran dan letak, juga menuntun jarum mencapai massa tumor. Penentuan letak tumor bertujuan untuk memilih titik insersi jarum di dinding kulit toraks yang berdekatan dengan tumor. v. Torakoskopi Torakoskopi adalah cara lain untuk mendapatkan bahan guna pemeriksaan histopatologik untuk kanker paru. Torakoskopi adalah pemeriksaan dengan alat torakoskop yang ditusukkan dari kulit dada ke dalam rongga dada untuk melihat dan mengambil sebahagian jaringan paru yang tampak. Pengambilan jaringan dapat juga dilakukan secara langsung ke dalam paru dengan menusukkan jarum yang lebih panjang dari jarum suntik biasa kemudian dilakukan pengisapan jaringan tumor yang ada (Soeroso, 1992). XI. Penatalaksanaan Pembedahan

Pembedahan pada kanker paru bertujuan untuk mengangkat tumor secara total berikut kelenjar getah bening disekitarnya. Hal ini biasanya dilakukan pada kanker paru yang tumbuh terbatas pada paru yaitu stadium I (T1 N0 M0 atau T2 N0 M0), kecuali pada kanker paru jenis SCLC. Luas reseksi atau pembedahan tergantung pada luasnya pertumbuhan tumor di paru. Pembedahan dapat juga dilakukan pada stadium lanjut, akan tetapi lebih bersifat paliatif. Pembedahan paliatif mereduksi tumor agar radioterapi dan kemoterapi lebih efektif, dengan demikian kualitas hidup penderita kanker paru dapat menjadi lebih baik. Pembedahan untuk mengobati kanker paru dapat dilakukan dengan cara : 5,7

23

a. Wedge Resection, yaitu melakukan pengangkatan bagian paru yang berisi tumor, bersamaan dengan margin jaringan normal. b. Lobectomy, yaitu pengangkatan keseluruhan lobus dari satu paru. c. Pneumonectomy, yaitu pengangkatan paru secara keseluruhan. Hal ini dilakukan jika diperlukan dan jika pasien memang sanggup bernafas dengan satu paru. Radioterapi

Radioterapi dapat digunakan untuk tujuan pengobatan pada kanker paru dengan tumor yang tumbuh terbatas pada paru. Radioterapi dapat dilakukan pada NCLC stadium awal atau karena kondisi tertentu tidak dapat dilakukan pembedahan, misalnya tumor terletak pada bronkus utama sehingga teknik pembedahan sulit dilakukan dan keadaan umum pasien tidak mendukung untuk dilakukan pembedahan. Terapi radiasi dilakukan dengan menggunakan sinar X untuk membunuh sel kanker. Pada beberapa kasus, radiasi diberikan dari luar tubuh (eksternal). Tetapi ada juga radiasi yang diberikan secara internal dengan cara meletakkan senyawa radioaktif di dalam jarum, dengan menggunakan kateter dimasukkan ke dalam atau dekat paru-paru. Terapi radiasi banyak dipergunakan sebagai kombinasi dengan pembedahan atau kemoterapi. 5 Kemoterapi

Kemoterapi pada kanker paru merupakan terapi yang paling umum diberikan pada SCLC atau pada kanker paru stadium lanjut yang telah bermetastasis ke luar paru seperti otak, ginjal, dan hati. Kemoterapi dapat digunakan untuk memperkecil sel kanker, memperlambat pertumbuhan, dan mencegah penyebaran sel kanker ke organ lain. Kadang-kadang kemoterapi diberikan sebagai kombinasi pada terapi pembedahan atau radioterapi. Penatalaksanaan ini menggunakan obat-obatan (sitostatika) untuk membunuh sel kanker. Kombinasi pengobatan ini biasanya diberikan dalam satu seri pengobatan, dalam periode

24

yang memakan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan agar kondisi tubuh penderita dapat pulih. XII. Prognosis Yang terpenting pada prognosis kanker paru adalah menentukan stadium penyakit. Pada kasus kanker paru jenis NSCLC yang dilakukan tindakan pembedahan, kemungkinan hidup 5 tahun adalah 30%. Pada karsinoma in situ, kemampuan hidup setelah dilakukan pembedahan adalah 70%, pada stadium I, sebesar 35-40% pada stadium II, sebesar 1015% pada stadium III, dan kurang dari 10% pada stadium IV. Kemungkinan hidup ratarata tumor metastasis bervariasi dari 6 bulan sampai dengan 1 tahun. Hal ini tergantung pada status penderita dan luasnya tumor. Sedangkan untuk kasus SCLC, kemungkinan hidup rata-rata adalah 1-2 tahun pasca pengobatan. Sedangkan ketahanan hidup SCLC tanpa terapi hanya 3-5 bulan Angka harapan hidup 1 tahun untuk kanker paru sedikit meningkat dari 35 % pada tahun 1975-1979 menjadi 41% di tahun 2000-2003. Walaupun begitu, angka harapan hidup 5 tahun untuk semua stadium hanya 15%. Angka ketahanan sebesar 49% untuk kasus yang dideteksi ketika penyakit masih bersifat lokal, tetapi hanya 16% kanker paru yang didiagnosis pada stadium dini 1,6,7 XIII. komplikasi SINDROMA PARANEOPLASTIK Sindroma Paraneoplastik adalah sekumpulan gejala yang bukan disebabkan oleh tumornya sendiri, tetapi oleh zat-zat yang dihasilkan oleh kanker. Beberapa zat yang dapat dihasilkan oleh tumor adalah hormon, sitokinese dan berbagai protein lainnya. Zat-zat tersebut mempengaruhi organ atau jaringan melalui efek kimianya. Bagaimana tepatnya kanker mengenai sisi yang jauh belum sepenuhnya dimengerti. 25

Beberapa kanker mengeluarkan zat ke dalam aliran darah yang merusak jaringan yang jauh melalui suatu reaksi autoimun. Kanker lainnya mengeluarkan zat yang secara langsung mempengaruhi fungsi dari organ yang berbeda atau merusak jaringan. Bisa terjadi kadar gula darah yang rendah, diare dan tekanan darah tinggi. Sering mengenai sistem saraf.1,7 XIV. Pencegahan Penelitian tentang rokok mengatakan bahwa lebih dari 63 jenis bahan yang dikandung asap rokok itu bersifat karsinogenesis. Secara epidemiologik juga terlihat kaitan kuat antara kebiasaan merokok dengan insidens kanker paru, maka tidak dapat disangkal lagi menghindarkan asap rokok adalah kunci keberhasilan pencegahan yang dapat dilakukan. Keterkaitan rokok dengan kasus kanker paru diperkuat dengan data bahwa risiko seorang perempuan perokok pasif akan terkena kanker paru lebih tinggi daripada mereka yang tidak terpajan kepada asap rokok. Dengan dasar penemuan di atas adalah wajar bahwa pencegahan utama kanker paru berupa upaya memberantas kebiasaan merokok Menghentikan seorang perokok aktif adalah sekaligus menyelamatkan lebih dari seorang perokok pasif. Pencegahan harus diusahakan sebagai usaha perang terhadap rokok dan dilakukan terus menerus. 1,2,3,4

PENUTUP Kanker paru adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran napas atau epitel bronkus. Terjadinya kanker ditandai dengan pertumbuhan sel yang tidak normal, tidak terbatas, dan merusak sel-sel jaringan yang normal. Proses keganasan pada epitel bronkus didahului oleh masa pra kanker. Perubahan pertama yang terjadi pada masa prakanker disebut metaplasia skuamosa yang ditandai dengan perubahan bentuk epitel dan 26

menghilangnya silia. Dan merupakan salah satu jenis penyakit paru yang memerlukan penanganan dan tindakan yang cepat dan terarah. Penegakan diagnosis penyakit ini membutuhkan ketrampilan dan sarana yang tidak sederhana dan memerlukan pendekatan multidisiplin kedokteran. Penyakit ini membutuhkan kerja sama yang erat dan terpadu antara ahli paru dengan ahli radiologi diagnostik, ahli patologi anatomi, ahli radiologi terapi dan ahli bedah toraks, ahli rehabilitasi medik dan ahli-ahli lainnya.

DAFTAR PUSTAKA 1. American College of Chest Physician.Lung Cancer Guideline Consensus.2003 2. Hoffman PC et al : Lung cancer.lancet 2000; 355:479 3. Bordow W,Moser KM. Manual of Clinical Problems in Pulmonary Medicine,Little Brown Co,Boston ,6th ed.2003,475-481

27

4. Kvale,PA.Lung Cancer and Solytary Pulmonary Nodule.In: 11th National American College of Chest Physician (ACCP).Pulmonary Board Review,2003,41-56 5. Reif MS et al : Evidence-based medicine in the treatment of non small cell lung cancer.clin chest Med 2000; 21:107 6. Rom WN et al :Molecular and genetic aspect of lung cancer.Am J Respir Crit Care Med 2000;161:1355 7. Smith RA et al: Epidemiology of lung Cancer.Radiol Clin North AM 2000;38:453

28