Anda di halaman 1dari 5

PEMERIKSAAN TANDA-TANDA VITAL

I.

Tujuan Umum: Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital tubuh pasien pada awal pemeriksaan.

II.

Tahapan
A.

Pengarahan Sebelum berlatih mahasiswa mempelajari dasar-dasar teori mengenai

ketrampilan yang akan dilakukan. Pemahaman tentang prosedur latihan dilakukan dengan melihat demonstrasi yang diperagakan oleh instruktur Persiapan bahan dan alat: Bahan : kapas dan alkohol Alat : - termometer badan Stop watch atau bisa menggunakan jam tangan
B.

Mahasiswa dibagi menjadi 2 kelompok, Sesi ldan Sesi 2, kedua

kelompok tersebut masing - masing dibagi lagi menjadi 4 sub kelompok. Satu sub kelompok terdiri dari 12-14 mahasiswa yang akan dibimbing oleh 1 instruktur.
C.

Mahasiswa berlatih dengan saling periksa secara bergantian dengan Pengukuran dilakukan tiga kali pada tiap-tiap pemeriksaan dan hasil

temannya.
D.

yang diambil adalah hasil rata-ratanya.


III. Dasar

teori

Tanda-tanda vital adalah nadi, respirasi, suhu, dan tekanan darah. Semua tanda vital tersebut sebaiknya diukur pada setiap awal pemeriksaan. Tanda-tanda tersebut penting karena merupakan acuan pengukuran klinis kuantitatif nilai yang baik untuk melakukan tindakan medik selanjutnya. Pengukuran nadi bertujuan untuk menentukan kecepatan dan keteraturan kerja jantung dan keadaan aliran arteri. Denyut nadi identik dengan denyut jantung, dimana kecepatan denyut jantung berubah-ubah oleh karena perubahan keseimbangan pengaruh saraf parasimpatis pada nodus sinoatrium (SA). Sistem parasimpatis mengontrol kerja jantung dalam situasi-situasai yang santai dan tenang sehingga memperlambat denyut jantung, sedangkan sistem simp^tis mengontrol jantung kerja jantung pada situasi-situasi darurat seperti pada rasa cemas, ketakutan atau pada saat berolahraga, yang memerlukan peningkatan kebutuhan ak.in aliran darah sehingga denyut jantung menjadi cepat. Pada orang

denyut nadi istirahat yang lebih rendah daripada orang normal yang hidup santai 70 denyut / menit). Pengukuran respirasi bertujuan untuk menentukan kecepatan pernafasan untuk menilai integritas dan fungsi kardiopulmonar dan neurologik. Kecepatan respirasi yang normal adalah 12-18 siklus/menit pada orang dewasa muda dan orang setengah baya yang sehat dan agak lebih cepat pada orang berumur tua yang sehat. Kecepatan respirasi yang normal tidak berarti bahwa oksigenusinya memadai. Penyakit paru obstruksi kronik dan obat narkotik dapat memperlambat respon respirasi. Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan distres (mempercepat) pernafasan yaitu disfungsi jantung, terutama sisi kiri jantung (ventrikel kiri); penyakit paru; masalah respirasi ekstrapulmonar (kelainan pada hidung, nasofaring, laring, trakea); asidosis; anxietas dan stimulus psikologik seperti panik dan cemas. Pengukuran suhu tubuh bertujuan menentukan normalitas, demam dan hipotermia tubuh pasien. Suhu tubuh normal secara tradisional dianggap berada pada 37C. Namun sebenarnya tidak ada suhu tubuh normal karena suhu bervariasi dari \ organ ke organ. Suhu di inti bagian dalam yang terdiri dari organ-organ abdomen, toraks, sistem saraf pusat, serta otot rangka umumnya relatif konstan. Suhu oral dan rektum merupakan tempat yang mudah digunakan untuk memantau suhu tubuh. Suhu oral istirahat rata-rata adalah 37C dengan rentang normal 36,1C - 37,2C. Suhu rektum rata-rata 37,6C lebih tinggi 0,6C, berkisar antara 36,1C - 37,8C. Pengukuran suhu tubuh juga dapat dilakukan secara aksiler, yaitu dengan menempatkan termometer di bawah ketiak pasien. Pengukuran cara ini umum dilakukan, tetapi yang paling ideal adalah pengukuran pada oral dan rektum.

IV.

Cara Pemeriksaan Tanda-tanda vital


A.

Pemeriksaan Denyut Nadi


1. 2.

Pasien dalam keadaan duduk/berbaring Lengan dalam keadaan bebas dan relaks, bebaskan dari tekanan karena pakaian. Raba dan hitung kulit yang menutupi arteri yang berdenyut, umumnya sebagian besar dilakukan pada arteri radialis pada pergelangan tangan. Bila kesulitan menemukan, coba lakukan fleksi pergelangan tangan secara pasif pada beberapa derajat. Bila kesulitan menemukan, cobalah di tempat lain, misalnya di arteri karotis komunis pada pertengahan atas lateral leher, dan arteri temporalis superficialis anterior telinga.

3.

4.

5.

6.

Sekali anda menemukan denyut nadi, tetaplah di situ selama beberapa saat untuk menilai kecepatan, keteraturan baik waktu, intensitas, karakter maupun kekuatannya.

7.

Setelah itu mulailah menghitung denyut nadi tersebut selama 1 menit atau apabila denyut nadi konstan lakukan per 15 detik (dilakukan 4 untuk mencapai 1 menit)

8.

Lakukan

pengukuran

sebanyak

kali,

kemudian

dirata-rata 4

untuk

menentukan jumlah denyut nadinya.


B.

Pemeriksaan Respirasi
1. 2.

Pasien dalam keadaan duduk/berbaring Lengan dalam keadaan bebas dan relaks, bebaskan dari tekanan karena pakaian

j 3. Berdiri di belakang pasien dan tanpa sepengetahuannya observasi rongga dadanya


4.

Teknik alternatif adalah dengan melakukan auskulasi pada daerah atas sternum (tidak pada trakea), atau 'pasien diminta meletakkan tangannya di daerah atas sternum, jelaskan kepada pasien bahwa anda sedang menghitung denyut pernafasannya. Amati selama beberapa saat untuk menilai kecepatan,, keteratur baik waktu, intensitas, karakter maupun kekuatannya. Setelah itu mulailah menghitung denyut respirasi tersebut selama 1 menit atau apabila denyut respirasi konstan lakukan per 15 detik (dikalikan 4 untuk f mencapai 1 menit)

5.

6.

7.

Lakukan penghitungan dalam waktu yang lebih lama jika denyut respirasi

8.

Lakukan pengukuran sebanyak 3 kali, kemudian dirata-rata untuk menentukan jumlah denyut respirasinya.

Pemeriksaan Suhu Tubuh


1. 2.

Pasien dalam keadaan duduk/berbaring Lengan dalam keadaan bebas dan relaks, bebaskan dari tekanan karena pakaian. Siapkan termometer merkuri dan bersihkan dengan alkohol. Sebelum melakukan pengukuran, turunkan suhu termometer dengan cara menggoyangkan termometer merkuri sampai mencapai angka 35C atau di bawahnya.

3. 4.

5. 6.

Lakukan pengukuran suhu dimulut. Letakkan termometer di bawah lidah. Instruksikan pasien untuk menggigit instrument dengan gigi, cukup ditekan dengan lidahnya dan mulut tertutup rapat. Pertahankan posisi tersebut sampai 5 menit, kemudian dilakukan pembacaan suhu dengan mengamat titik tertinggi merkuri yang tertera pada termometer. Lakukan pengukuran sebanyak 3 kali, kemudian dirata-rata untuk menentukan suhu tubuh dari mulutnya. Lakukan pula pengukuran suhu di aksilar di bawah ketiak. Letakkan termometer pada aksila di bawah ketiak, dengan ipsilateral lengan diaduksikan secara pasif dan dimobilisasi untuk mengepit termometr tersebut.

7.

8.

9.

10.

Pertahankan posisi tersebut sampai 5 menit, kemudian dilakukan pembacaan suhu dengan mengamat titik tertinggi merkuri yang tertera pada termometer. Lakukan pengukuran sebanyak 3 kali, kemudian dirata-rata untuk menentukan suhu tubuh dari aksilanya.

11.

PEMERIKSAAN TANDA-TANDA VITAL PASIEN Kelompok Nama Mahasiswa No.


1.

DAFTAR PUSTAKA

Mahasiswa Sherwood, L., 2001, Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem, terj. Pendit, B.U., cet. 1, Penerbit EGC, Tanggal Skill lab Jakarta Waktu Wilims, J.L., Schneiderman. H., 2005, Buku Saku Diagnosis Fisik, terj. Sadikin, V., cet. 1, Penerbit EGC, Jakarta

2.

A. Data Probandus 3. Juniper, R.P., Parkins, B.J., 1996, Kedaruratan dalam Praktek Dokter Gigi, terj. 1. Jenis Kelamin Hutauruk, C., cet. 1, Penerbit EGC, Jakarta 2. Umur : 3. Tinggi Badan : 4. Berat Badan : Hasil pengukuran 1 Pengukuran denyut nadi
.

2. Pengukuran denyut respirasi 3. Pengukuran suhu tubuh a. Di mulut b. Di aksila

C.

Pembahasan :

D.

Kesimpulan :

Kediri,

2013

Tanda tangan Instruktur

Tanda tangan Mahasiswa